Tuesday, April 16, 2019

015 Durjana Berparas Dewa


DURJANA BERPARAS DEWA
Oleh Firman Raharja

1
Pagi nampak cerah. Langit biru tak berawan ter- hampar di atas Desa Swargadana. Di sebelah selatan desa itu tampak membentang gunung yang membiru indah dari timur sampai ke barat Di sebelah barat, rimbun pepohonan yang menghijau menambah asri pemandangan. Sedangkan di sebelah timur dan utara, sejauh mata memandang tampak tanah persawahan hijau yang luas.
Sungai kecil nampak meliuk-liuk seperti ular raksasa, menghiasi Desa Swargadana. Membuat kea- daan desa itu bertambah indah laksana surga bagi penduduknya.
Penduduk Desa Swargadana sebagian besar mencari nafkah dengan berdagang dan bertani. Wajar kalau desa itu cukup ramai dikunjungi para pelancong. Di samping ingin melihat keadaan pemandangan desa, biasanya mereka juga berdagang di desa itu.

Desa Swargadana dipimpin seorang kepala desa yang cukup disegani. Berbudi pekerti luhur, adil dalam memutuskan segala perkara, juga tidak tamak. Bahkan sikap rela berkorban bagi kepentingan desa melekat erat dalam jiwanya.
Ki Baya Kitri, nama kepala desa itu. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Bertubuh tinggi tegap dengan wajah yang selalu mencerminkan kesa- baran dan ketenangan jiwanya. Matanya tajam, setajam mata burung elang. Penampilannya sederhana.
Ki Baya Kitri memiliki seorang anak gadis cantik bernama Arum Sari. Kecantikan gadis itu sangat terkenal di seluruh Desa Swargadana. Bukan hanya di desa itu saja kecantikan Arum Sari terkenal, tapi bahkan sampai ke seluruh Kadipaten Blambangkara yang dipimpin Adipati Sepa Waroagung.
Pagi itu langit tampak cerah. Seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun berpa- kaian ungu, melangkah menyelusuri jalanan di Desa Swargadana. Saat itu telah ramai orang berjalan me- nuju Desa Swargadana.
Hampir semua orang yang berpapasan dengan pemuda tampan berpakaian ungu itu menghentikan langkah. Mulut mereka berdecak kagum, melihat ke- tampanannya. Namun, pemuda yang bernama Galapati itu terus melangkah, seolah tak menghiraukan ke- kaguman semua orang yang melihatnya.
"Ck ck ck...! Tampan sekali pemuda itu," gumam seorang wanita setengah baya berbaju kuning dengan mulut berdecak kagum. "Kalau aku masih muda, ingin rasanya aku menjadi kekasihnya."
"Iya, ya. Pemuda kok tampan begitu," sambung temannya, wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan kening lebar dan berpakaian merah muda. Galapati tak menghiraukan suara orang-orang yang membicarakan dirinya. Kakinya terus saja me- langkah, menyelusuri jalan ranah di Desa Swargadana yang indah dan berudara sejuk. Kini kakinya melang- kah ke selatan, menuju rumah Kepala Desa Swargadana. Tak lama kemudian, Galapati telah sampai di depan halaman rumah Ki Baya Kitri. Tampak dua orang berpakaian biru tua dengan wajah garang ten- gah bercakap-cakap. Rambut mereka yang lebat ditutup kain biru mirip blangkon.
Yang seorang berbadan besar, mukanya dihiasi cambang bauk lebat. Sedangkan yang seorang lagi hanya dihiasi kumis tebal melintang. "Selamat pagi...!" sapa Galapati.
Kedua orang berbadan tinggi besar yang ten- tunya pengawal Ki Baya Kitri seketika menghentikan percakapan mereka. Keduanya langsung memandang orang yang menyapa mereka. Kemudian dengan ken- ing berkerut dan menatap tajam wajah Galapati, mereka mendekat
"Selamat pagi...!" sahut keduanya hampir bersa- maan. "Ada apa, Kisanak?" tanya lelaki bercambang bauk. Matanya masih menatap tajam Galapati yang tampak tenang menghadapi kedua orang berwajah ga- rang itu.
"Saya mau bertemu kepala desa," sahut Galapati. "Kisanak siapa? Dari mana dan ada urusan apa ingin bertemu dengan kepala desa?" tanya Raparata, orang yang berkumis melintang.
Galapati tersenyum, masih menunjukkan kete- nangan. Meski dua orang yang sedang dihadapi ber- tampang sangar, nampaknya Galapati tak merasa ta- kut sedikit pun. Sikapnya tenang, bahkan tetap terse- nyum. Beruntung wajahnya sangat tampan, sehingga tak segera membuat kedua pengawal Ki Baya Kitri ma- rah. Keduanya seakan terpesona melihat ketampanan Galapati.
"Aku ingin melamar kerja," jawab Galapati. "Apa kepandaianmu, Kisanak?" tanya Rarapita, lelaki bercambang bauk. "Tak pantas orang setampan dirimu melamar kerja kasar. Sedangkan di sini tak ada kerjaan yang ringan."
"Apa pun pekerjaannya, aku sanggup. Meski mencari rumput sekalipun, aku sanggup. Karena aku memang sudah terbiasa melakukannya," jawab Gala- pati berusaha meyakinkan keduanya.
Dua orang pengawal Ki Baya Kitri mengerutkan kening. Mata mereka memperhatikan dengan seksama wajah Galapati, seperti tak percaya mendengar jawa- ban Galapati. Bagaimana mungkin pemuda tampan dengan tubuh yang tak begitu berotot mampu mela- kukan pekerjaan kasar? Pikir keduanya, masih belum yakin dengan apa yang dikatakan Galapati.
Galapati tersenyum, seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua pengawal kepala desa itu.
"Kalian sepertinya menyangsikan tubuhku," gu- mamnya menyentakkan kedua pengawal Ki Baya Kitri.
"Ya. Kami tak yakin, kau akan sanggup bekerja keras," tukas Raparata.
Galapati kembali tersenyum. Kepalanya digeleng- gelengkan. Lalu setelah menghela napas panjang, den- gan bibir masih mengurai senyum dia berkata,
"Kurasa, kalian memandang orang hanya dari luar saja."
"Apa maksudmu, Kisanak?" tanya Rarapita. "Ya, kalian menganggap hanya kalian yang mampu melakukan pekerjaan berat. Sedangkan orang-orang sepertiku, kalian anggap lemah dan tiada daya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat," sahut Galapati dengan tenang. Bahkan senyumnya semakin mengembang di bibirnya.
"Ada apa, Rarapita?" Tiba-tiba dari dalam terdengar suara berat yang sepertinya keluar dari mulut seorang lelaki tua. Tak lama kemudian, muncul seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi tegap, dan berma- ta tajam. Namun raut wajahnya menggambarkan ke- tenangan dan kesabaran. Tentunya lelaki berusia seki- tar lima puluh tahun ini tak lain Ki Baya Kitri, Kepala Desa Swargadana.
"Maaf, Ki. Ada seorang pemuda yang hendak me- lamar pekerjaan di sini," sahut lelaki bercambang bauk yang bernama Rarapita.
"Hm, mana...?" tanya Ki Baya Kitri. "Itu, Ki," sahut Rarapita sambil menunjuk Gala- pati yang masih berhadapan dengan rekannya.
Galapati tersenyum, kemudian membungkukkan badannya ketika Ki Baya Kitri memandang dirinya. Hal itu membuat kepala desa itu membalas tersenyum, kemudian melangkah mendekati Galapati.
"Kau mau melamar kerja di sini, Bocah?" tanya Ki Baya Kitri.
"Benar, Ki." "Apa kebisaanmu?" "Saya tak bisa apa-apa, Ki. Maka itu, menjadi tukang arit rumput pun mau," sahut Galapati. Tindak tanduknya yang penuh rasa hormat, membuat Ki Baya Kitri semakin mengerutkan kening. Lelaki muda itu tampak heran melihat sikap yang ditunjukkan pemu- da tampan itu. Tindak-tanduknya mencerminkan ka- lau dirinya bukan orang bodoh, melainkan cermin jiwa seseorang yang memiliki ilmu serta budi pekerti.
Hm, kurasa dia bukan pemuda sembarangan. Dari sikap dan tindak tanduknya, jelas dia orang yang berpendidikan serta berbudi pekerti baik. Gumam Ki Baya Kitri dalam hati. Matanya masih memperhatikan secara seksama pemuda tampan di hadapannya. Kepalanya manggut-manggut, seakan sedang mendalami siapa sebenarnya pemuda itu.
"Benarkah kau mau menjadi tukang rumput?" tanya Ki Baya Kitri belum percaya dengan kesanggu- pan pemuda tampan yang berdiri dengan sikap hormat di hadapannya. Mata lelaki tua itu masih memandang penuh selidik terhadap pemuda itu. Tatapannya seakan hendak memastikan siapa sesungguhnya pemuda tampan itu.
"Benar, Ki. Saya memang ingin bekerja demi mendapatkan sesuap nasi guna melangsungkan kehi-
dupanku," jawab Galapati sambil membungkukkan badan, berusaha meyakinkan Ki Baya Kitri.
Ki Baya Kitri masih memandangi dengan penuh seksama, seperti masih berpikir siapa sebenarnya pemuda itu.
"Hm, baiklah kalau itu yang kau inginkan. Siapa namamu, Anak Muda...?" tanya Ki Baya Kitri.
"Nama saya Galapati," jawab Galapati masih me- nunjukkan sikap hormat.
"Dari manakah asalmu, Anak Muda...?" "Saya dari Parang Gumilar, Ki," jawab Galapati. "Hm.... Baiklah, mulai saat ini kuterima kau menjadi tukang rumput di sini."
"Terima kasih, Ki." Tiga kali Galapati membungkukkan badan, menjura hormat dan mengucapkan terima kasih atas ke- sediaan Ki Baya Kitri menerimanya sebagai tukang rumput di rumahnya.
"Raparata dan Rarapita akan menunjukkan tem- pat tinggalmu. Mereka juga akan memberitahukan padamu aturan-aturan di sini," tutur Ki Baya Kitri.
"Baik, Ki," sahut Rarapita dan Raparata. "Antar dia ke tempatnya!" perintah Ki Baya Kitri. "Baik, Ki." "Galapati, ikut kami!" ajak Rarapita. Galapati pun menurut, mengikuti kedua pen- gawal Ki Baya Kitri. Mereka akan menunjukkan di mana pemuda itu harus tinggal dan segala macam ke- biasaan, aturan, dan larangan yang berlaku. Pemuda tampan itu tersenyum. Entah apa arti senyumnya. Kakinya terus melangkah, mengikuti kedua pengawal Ki Baya Kitri menuju belakang rumah.
"Kita tinggal di sini, Gala," ujar Rarapati sambil membuka pintu rumah yang ada di belakang rumah Ki Baya Kitri. Sebuah rumah yang cukup besar. Di samp-
ing itu, terdapat sebuah kandang kuda. Di dalamnya ada tiga ekor kuda besar dan kekar.
"Hm...," gumam Galapati tak jelas. Matanya me- mandang ke sekeliling tempat itu, seperti ada sesuatu yang tengah dicarinya.
"Hal-hal yang tak boleh kau langgar antara lain, kau tak boleh masuk ke rumah induk. Kedua, jangan sekali-kali kau berusaha membuat keributan di sini. Karena, jika hal itu terjadi, kau akan berhadapan den- gan kami," sambung Raparata.
"Hm, baik," sahut Galapati. "Mari masuk!" ajak Rarapita. Mereka segera masuk ke rumah itu. Kemudian membereskan barang-barang di rumah yang bakal di- tempati Galapati dan kedua pengawal Ki Baya Kitri.
***

Galapati mengurusi ketiga kuda milik Ki Baya Ki- tri. Pemuda itu sedang menyikat tubuh kuda dan memberi makan, ketika seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh dua tahun, bertubuh langsing dengan kulit bersih, keluar dari rumah induk. Gadis ber- pakaian serba hijau itu, mengerutkan keningnya ketika melihat seorang pemuda tampan sedang memberi makan dan menyikat tubuh kuda milik ayahnya.
"Siapa pemuda itu?" tanya gadis cantik yang tak lain Arum Sari. Dengan wajah tertegun, Arum Sari melangkah mendekati kandang kuda, berusaha melihat dari dekat siapa pemuda tampan itu.
Mara Arum Sari menyipit ketika semakin dekat dengan pemuda tampan itu. Wajah pemuda tampan itu bagaikan wajah Dewa Kamajaya. Elok, bersih, dan bercahaya terang. Seketika hati Arum Sari tergoda ingin berkenalan dengan pemuda itu.
"Hm...," gumam Arum Sari berusaha menarik perhatian, dengan harapan pemuda itu akan menghentikan pekerjaannya dan menoleh padanya. Namun ternyata harapannya sia-sia. Pemuda berpakaian serba ungu yang di kepalanya tertutup kain ungu membentuk sudut ke atas itu, tetap melakukan pekerjaannya tanpa menghiraukan orang yang menggumam.
Bahkan pemuda itu kini bekerja semakin giat. Gerakan tangannya yang menyikat tubuh kuda, terli- hat lincah. Hal itu membuat putri Ki Baya Kitri sema- kin terpesona melihat ketampanan dan cara kerja pe- muda itu. Hasrat hatinya ingin berkenalan dengan pemuda itu kian menggebu. Namun Galapati masih te- tap tak acuh. Seakan-akan tak melihat kehadiran Arum Sari.
"Ehem...!" Arum Sari mendehem lebih keras. Galapati tersentak, seketika dia menghentikan kerjanya. Lalu dengan tersipu-sipu sambil menunduk, Galapati membungkukkan badannya menghormat
"Maaf, Den Putri! Hamba tidak tahu," ujar Gala- pati masih menunjukkan hormatnya. Tangannya disatukan di dada. Kepalanya menunduk, seperti tak be- rani beradu pandang dengan gadis berpakaian hijau di hadapannya.
"Ah, tak apa...," sahut Arum Sari sambil terse- nyum. "Kau orang baru di sini?"
"Benar, Den Putri." "Ah, mengapa kau memanggilku begitu? Panggil saja namaku, Arum Sari!" ujar Arum Sari mulai memperkenalkan dirinya.
"Rasanya tidak pantas, Den Putri Arum Sari. Ba- gaimanapun juga, Den Putri anak majikan saya. Manalah mungkin sebagai hamba saya berlaku tak so- pan?" tutur Galapati, semakin membuat Arum Sari bertambah mengerutkan kening. Mata lembut gadis itu memandang tak berkedip pada Galapati. Seakan tak percaya mendengar penuturan pemuda tampan itu.
Hm.... Dilihat dari rata caranya dalam berbicara dan bertindak-tanduk, jelas dia bukan pemuda keba- nyakan. Tapi, mengapa dia mau menjadi tukang rumput? Gumam Arum Sari dalam hati dengan mata masih memperhatikan Galapati yang menundukkan kepala.
"Siapa namamu...?" tanya Arum Sari. "Nama hamba yang bodoh ini Galapati, Den Pu- tri."
"Galapati, jangan kau panggil aku dengan sebu- tan Den Putri! Aku bukan anak raja. Panggil saja namaku!" pinta Arum Sari dengan bibir masih mengurai senyum.
Ada sesuatu perasaan yang tiba-tiba muncul di hati gadis itu, setelah melihat ketampanan pemuda itu, serta tindak-tanduknya yang sopan dan santun. Mata Arum Sari lebih jelas menatap penuh rasa kagum pada Galapati. Tatapannya tidak sekadar tatapan seorang majikan pada kacungnya. Tak jemu-jemunya Arum Sari memandang penuh perhatian pada wajah pemuda tampan di hadapannya. Sementara itu Gala- pati pun tampak mulai mencuri-curi pandang.
"Galapati," desis Arum Sari memanggil nama pemuda tampan yang tanpa disadari telah menyentuh jiwanya.
"Hamba, Den Putri." "Galapati...," kembali Arum Sari memanggil. "Hamba, Den Putri," sahut Galapati masih me- nundukkan kepala, menjadikan Arum Sari gemas. Dia ingin Galapati menatap wajahnya, tanpa membung- kuk-bungkuk seperti itu.
"Galapati...," desis Arum Sari lebih keras.
"Hamba, Den Putri," jawab Galapati. Kali ini matanya memandang Arum Sari, sehingga mata keduanya saling bertatapan. Darah Arum Sari berdesir halus, ketika matanya bertatapan dengan mata Galapati. Mulutnya terperangah, menyaksikan ketampanan wajah pemuda berpakaian ungu itu.
Arum Sari terpaku, mematung dengan mata ber- kedip, memandang Galapati yang berusaha tersenyum. Perlahan-lahan Arum Sari membuka mulutnya tersenyum malu-malu. Malah kini kepalanya ditolekan, berusaha tidak melihat tatapan mata pemuda itu. Ah! Tampan sekali! Bagaikan dewa yang baru tu- run dari kahyangan! Desis hati Arum Sari dengan ma- sih tersipu malu, membuang muka ke bawah.
Ketika kedua muda-mudi itu tengah terlibat da- lam getaran aneh di hati mereka, tiba-tiba terdengar suara Ki Baya Kitri berseru.
"Galapati, siapkan kereta dan kudanya...!" "Baik, Ki!" sahut Galapati tersentak. "Arum, kenapa kau di situ? Ayo masuk...!" perin- tah Ki Baya Kitri memanggil putrinya agar meninggalkan kandang kuda.
"Baik, Rama," sahut Arum Sari. "Galapati, ku- tunggu kau."
Usai berkata begitu, Arum Sari pun segera me- ninggalkan kandang kuda.
Sementara Galapati hanya terbengong mendengar kata-kata Arum Sari. Kutunggu? Apa maksudnya? Tanya Galapati dalam hati, berusaha memahami maksud ucapan Galapati. Mungkinkah dia.... Ah, kurasa begitu. Galapati tersenyum. Tangannya bergerak cepat, melepaskan ikatan tali kuda yang diminta Ki Baya Ki- tri. Pikirannya masih terus diliputi bayangan gadis cantik anak Ki Baya Kitri yang baru saja mengatakan hendak menunggu. Meskipun kata-kata itu tak jelas maksudnya, Galapati sudah menduga-duga apa yang sebenarnya dikehendaki gadis itu. Dan hal itulah se- benarnya yang ditujunya. Kedatangannya ke Desa Swargadana dan melamar kerja di rumah Ki Baya Kitri pun sebetulnya hanya kedok belaka. Tujuannya hanya satu, mengambil hati gadis cantik anak Ki Baya Kitri!
Setelah melepaskan tali-temali pengikat kereta kuda, Galapati pun segera menuntun kereta kuda itu menuju tempat Ki Baya Kitri berada.
"Ini, Ki." "Hm, bagus. Tak percuma kau kuterima kerja di sini, Galapati. Tapi perlu kau ketahui, jangan sesekali menggoda anakku. Karena Arum tak pantas bersand- ing denganmu."
Ki Baya Kitri segera menggandeng istrinya, mem- bawa naik ke kereta. Tak lama kemudian kuda-kuda itu telah berjalan menghela kereta yang dinaiki tuan- nya.
"Ck ck ck...! Heaaa...!" Galapati hanya tersenyum kecut mendengar ancaman Ki Baya Kitri, kemudian dia melangkah kembali ke rumah di belakang, tempat dirinya berteduh.

2
Pucuk dicinta ulam tiba, begitu pepatah menga- takan. Hal itu pun terjadi pada diri Galapati. Kehadirannya di Desa Swargadana sebenarnya hanya untuk memikat anak Ki Baya Kitri yang terkenal cantik jelita. Dan apa yang diharapkannya, kini terpenuhi. Meski belum sepenuhnya. Namun tanda-tanda keberhasilan telah mulai nampak.
Berawal dari pertemuan di kandang kuda, keduanya merasakan getaran jiwa yang lain. Setiap kali mereka berusaha mengadakan pertemuan dengan secara sembunyi-sembunyi, agar tidak diketahui Ki Baya Kitri dan kedua pengawalnya yang selalu menjaga ke- tat Arum Sari jika Ki Baya Kitri pergi.
Benih-benih asmara terus tumbuh. Di hati Arum Sari benih-benih itu tulus dan agung. Sedangkan di hati Galapati, hanyalah sebagai sandaran sementara.
Malam telah larut dengan kegelapan yang menyelimuti bumi. Angin malam bertiup lembut, membisikkan kesyahduan. Bulan purnama bersinar terang, menampakkan keindahan di langit biru yang cerah.
Sesosok tubuh mengendap-endap, keluar dari rumah belakang. Matanya memandang liar ke sekeli- lingnya yang sepi. Samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap di depan rumah induk, tempat Arum Sari tidur. Suara itu tentu berasal dari pengawal Ki Baya Kitri yang tengah berjaga-jaga, karena kepala de- sa itu sedang pergi menghadiri perkawinan salah seo- rang warga desa.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara gamelan mengalun merdu, berasal dari pesta perkawi- nan berlangsung. Dan ke tempat itulah Ki Baya Kitri pergi untuk menghadiri dan memberi restu atas per- kawinan salah seorang anak warga desanya.
Sosok bayangan ungu terus mengendap-endap, memperhatikan ke tempat pengawal Ki Baya Kitri berada. Kemudian setelah merasa aman, bayangan ungu itu berlari dengan ringan menuju kamar tempat Arum Sari berada.
"Hm, kurasa mereka sedang asyik ngobrol," gu- mam bayangan ungu yang tak lain Galapati. Matanya diarahkan sesaat ke tempat kedua pengawal Ki Baya Kitri tengah berjaga. Kemudian setelah yakin kedua- nya tak melihat, Galapati mulai mendekat ke jendela kamar Arum Sari.
Tok, tok, tok...! Pelan sekali suara ketukan jari tangan Galapati ke daun jendela di kamar Arum Sari. Dengan harapan tak terdengar telinga kedua pengawal Ki Baya Kitri.
Jendela terbuka pelan. Lalu nampaklah seraut wajah cantik yang tak lain Arum Sari.
"Ayo masuk!" ajak Arum Sari sambil memben- tangkan daun jendela lebar-lebar.
"Kau belum tidur?" tanya Galapati. "Belum. Aku menunggumu, Gala," desis Arum Sari lirih, kemudian membantu Galapati naik ke jendela. Lalu setelah Galapati masuk, pelan-pelan Arum Sari menutup jendela kamarnya.
"Bagaimana kalau ayahmu tahu, Arum?" tanya Galapati.
"Ayah biasanya pulang pagi kalau ada acara begitu. Ayolah, jangan lama-lama!" ajak Arum Sari.
Gadis yang hatinya sudah dilanda gejolak itu tampak tak sabar. Tangannya yang lembut segera membuka pakaiannya. Hal itu membuat Galapati ter- belalak, memandangi tubuh Arum Sari yang kini polos tanpa tertutup sehelai benang pun.
Galapati pun segera mendekap tubuh Arum Sari, kemudian dibimbingnya ke tempat tidur. Lalu dengan penuh birahi, digelutinya tubuh Arum Sari.
Keduanya terus bergumul dengan napas membu- ru dan tersengal-sengal. Desahan-desahan birahi pun mulai terdengar dari kedua mulut mereka yang tu- buhnya terus dibasahi peluh.
Sementara di luar, kedua orang penjaga rumah Ki Baya Kitri nampak masih bercakap-cakap. Keduanya masih belum menyadari apa yang sebenarnya kini tengah terjadi di dalam kamar Arum Sari.
"Kalau saja tak ada bocah itu, tentunya kita bisa ikut dengan Ki Baya Kitri, nonton hiburan," gumam Raparata.
"Iya. Padahal Tandak Ki Begol terkenal cantik- cantik dan bahenol," sambung Rarapita.
"Ah, udara malam semakin dingin lagi," keluh Raparata.
"Ya, namanya tugas. Kita harus menjalankan dengan sebaik mungkin. Eh, ngomong-ngomong, di mana anak muda itu? Bukankah lebih baik kita ajak ngobrol-ngobrol?"
"Ayo, kita ajak dia!" ajak Raparata. Keduanya beranjak meninggalkan halaman de- pan rumah Ki Baya Kitri untuk memanggil Galapati. Namun, ketika keduanya melintas di samping kamar Arum Sari, seketika keduanya menghentikan langkah. Mata mereka terbelalak, ketika mendengar suara desah napas dan rintihan-rintihan kenikmatan di dalam kamar itu.
"Hei, suara siapa itu?" gumam Raparata. "Kurang ajar! Pasti pemuda itu," dengus Rarapita geram. "Kau periksa rumah belakang! Biar aku me- nunggu di sini."
Raparata segera melesat cepat menuju rumah belakang untuk memeriksa apakah Galapati masih ada atau tidak. Seketika matanya membelalak ber- campur marah, setelah tak mendapatkan Galapati di sana. "Kurang ajar! Ditolong malah lancang memasuki kamar Arum Sari," dengus Raparata.
Raparata kembali berlari menghampiri Rarapita yang menjaga di samping jendela kamar Arum Sari.
"Bagaimana?" tanya Rarapita. "Dia tak ada." "Kurang ajar! Galapati, keluar kau...!" bentak Ra- rapita gusar, setelah yakin kalau yang ada di dalam
kamar Arum Sari tiada lain pemuda tampan yang ber- nama Galapati. Dengan geram didobraknya jendela kamar itu.
Mata keduanya membelalak, menyaksikan dua sosok tubuh telanjang bulat tengah bergumul di tem- pat tidur. Seketika mendidih darah kedua pengawal Ki Baya Kitri yang sudah ditugasi untuk menjaga rumah dan melindungi Arum Sari.
"Kurang ajar! Lancang sekali kau, Galapati!" ben- tak Rarapita marah.
"Kubunuh kau, Pemuda Keparat!" dengus Rapa- rata.
Galapati dan Arum Sari tersentak kaget. Kedua- nya buru-buru mengenakan pakaian. Kemudian Gala- pati berusaha lari melalui jendela dengan melompati kedua orang penjaga rumah Ki Baya Kitri.
Wsss! "Bangsat! Kubunuh kau...!" maki Rarapita sambil merundukkan kepala agar tak tersambar tendangan kaki Galapati, yang melesat cepat. Dengan cepat Rara- pita mencabut golok di pinggangnya.
Srt! Wrt! Rarapita membabatkan goloknya ke arah Galapa- ti yang melesat di atas tubuhnya. Tapi gerakan pemu- da itu sangat gesit dan cepat, sehingga luput dari ba- batan golok lawan.
"Hih!" Galapati bersalto beberapa kali di atas kedua penjaga rumah Ki Baya Kitri. Kemudian dengan terse- nyum-senyum tenang, kakinya mendarat di tanah ber- jarak lima tombak dari kedua pengawal Ki Baya Kitri.
"Ha ha ha...! Kalian rupanya ngiri, ya?" ejek Ga- lapati sambil tertawa bergelak-gelak, semakin mem- buat Rarapita dan Raparata mendengus marah.
"Bedebah! Rupanya dugaanku selama ini benar. Katakan, siapa kau sebenarnya, Bocah Keparat!" ben- tak Raparata.
Galapati hanya tersenyum sinis, lalu mencibir bibir, mengejek kedua lelaki bertubuh tinggi besar pengawal kepala desa itu.
"Ha ha ha...! Dasar orang-orang berotak kerbau! Kini aku puas, kalianlah yang menanggung semuanya. Nah, selamat tinggal," usai berkata begitu, Galapati bermaksud pergi meninggalkan tempat itu, namun dengan cepat kedua pengawal Ki Baya Kitri melesat mengejar.
"Hei, Keparat! Jangan harap kau bisa lari dari si- ni! Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Dengan marah kedua pengawal Ki Baya Kitri me- lesat mengejar Galapati yang masih tampak tenang. Di tangan keduanya golok terhunus siap dibabatkan ke tubuh pemuda tampan itu. Kini Raparata dan Rarapi- ta telah menghadang, lalu dengan cepat pula kedua- nya membabatkan golok ke tubuh Galapati.
Wrt! Wrt...! "Eits!" Dengan gesit Galapati mengelak. Tubuhnya di- rundukkan, lalu dengan cepat pula diegoskan ke samping. Dan golok kedua lawan pun hanya menderu di sampingnya.
"Hih!" Galapati yang sudah terlepas dari babatan golok lawan, dengan cepat melancarkan tendangan keras disertai membalik tubuh dengan cepat
"Heaaa...!" Wrt! Rarapita dan Raparata tersentak menyaksikan tendangan lawan yang sangat cepat. Mata mereka membelalak lebar, dengan cepat mereka melompat mundur mengelakkan tendangan lawan yang keras dan cepat
"Eits!" "Kurang ajar! Rupanya kau memang bukan pe- muda sembarangan, Bocah! Tapi jangan harap kau bi- sa lolos dari Sepasang Golok Gerhana. Yeaaa...!"
"Yeaaa...!"
***

Setelah mengetahui kalau lawan mereka bukan pemuda sembarangan, kedua pengawal Ki Baya Kitri yang berjuluk Sepasang Golok Gerhana kini tak main- main lagi. Dengan mengeluarkan jurus 'Golok Gerhana Menyeka Mendung' mereka melesat menyerang Gala- pati.
Wut! Wut..! Golok di tangan mereka menderu cepat melaku- kan serangan dari dua arah. Rarapita menyerang dari depan. Sedangkan Raparata menyerang dari belakang lawan. "Buntung lehermu, Keparat!"
"Hih!" Wut! Golok Rarapita menderu. Dengan cepat Galapati mengelak ke samping, kemudian melancarkan satu tendangan kaki kanannya ke lambung lawan.
"Hih!" "Haits!" Rarapita tersentak kaget, ketika merasakan an- gin tendangan yang menderu keras ke arahnya. Dari deru angin tendangannya, jelas kalau lawan bukan pemuda berilmu rendah. Paling tidak lawan memiliki tenaga dalam yang sempurna, setaraf dengannya.
Melihat Rarapita terdesak, Raparata pun tak tinggal diam. Dirinya yang menyerang dari belakang segera bergerak dengan tebasan goloknya ke kepala lawan. "Pecah kepalamu, Bocah Iblis! Hiaaa...!"
Wrt! Galapati menarik mundur serangan terhadap Ra- rapita. Kemudian dengan memutar cepat tubuhnya, tendangan kaki kanan yang cepat dan keras berbalik menyerang lawan di belakangnya. Tubuhnya dimiring- kan ke samping kiri sambil menunduk, mengelakkan babatan golok lawan.
Wut! Serangan golok luput, tak mengenai sasaran di tubuhnya. Galapati cepat membalas dengan tendan- gan keras, menggunakan jurus 'Jangka Maut'. Ka- kinya menderu begitu cepat, memburu tubuh lawan. Ke mana lawan lari, kakinya terus mengejar tiada hen- ti.
"Hiaaa...!" Wrt! Raparata terkejut mendapatkan serangan begitu gencar. Kaki lawan yang bergerak bagaikan tak men- genal lelah, terus berkelebat begitu cepat dan keras memburu tubuhnya. Ke mana tubuh Raparata menge- lak, kaki Galapati terus memburu.
"Celaka! Ilmu setan...!" maki Raparata kaget sambil terus bergerak mengelakkan serangan- serangan yang dilancarkan Galapati yang terus mem- buru diri-nya.
Rarapita yang melihat saudara seperguruannya terdesak, segera melesat menyerang. Golok di tangan- nya digerakkan bagaikan baling-baling yang berputar cepat, dengan jurus 'Golok Gerhana Mengebut Kabut'.
"Heaaa...!"
Wut! Wut! "Hancur tubuhmu, Bocah! Yeaaa...!" Golok di tangan Rarapita berkelebat begitu cepat, membabat dan menusuk ke tubuh lawan. Angin kebu- tannya terasa menyentak dan menderu keras di atas kepala Galapati.
"Hats! Hih...!" Galapati merundukkan tubuhnya ke bawah, ber- gerak membalik untuk mengelakkan serangan. Kemu- dian dengan cepat pula Galapati balas menyerang dengan pukulan tangan kanan. Sedangkan tangan ki- rinya, kini bergerak memapak serangan yang datang dari belakang. Itulah jurus 'Tarian Jigor Maut'. Sebuah jurus yang menyerupai tarian jaipong. Namun, dari pukulan tangan Galapati, menderu angin yang sangat keras. "Yeaaa...!" "Heaaa...!" "Hih!" Kedua pengawal Ki Baya Kitri kini mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk dapat mengalah- kan pemuda tampan yang kini telah berlaku kurang ajar terhadap tuannya. Golok di tangan mereka men- deru keras. Silih berganti menyerang begitu cepat ke tubuh lawan yang terus mengelak, memapak, dan se- sekali balas menyerang.
Pertarungan terus berlangsung semakin seru. Kedua orang pengawal kepala desa itu terus menye- rang dengan sabetan-sabetan golok mereka yang cepat dan mengarah pada bagian-bagian mematikan tubuh lawan. "Heaaa!"
"Yeaaa...!" Wrt! Wrt! "Aits! Hih...!"
Dengan cepat Galapati berkelit. Tubuhnya me- runduk, lalu dengan meliuk cepat Galapati mengi- baskan tangannya ke tubuh lawan. Serangkum angin pukulan pun menderu, menyentakkan kedua lawannya.
"Hih!" "Haits....!" Keduanya melompat ke belakang, mengelakkan pukulan Galapati. Kemudian kembali menyerang den- gan gerakan yang lebih cepat dan keras dalam jurus- jurus pamungkas andalan mereka.
"'Cinde Buana Purnama'. Heaaa....!" "Yeaaa....!" Dengan jurus 'Cinde Buana Purnama' keduanya melesat cepat, membabatkan golok ke tubuh lawan disertai pengerahan tenaga dalam yang sempurna.
Menyaksikan kedua lawannya telah mengelua- rkan jurus pamungkas, Galapati segera bergerak men- cabut sesuatu dari batik bajunya.
Wrt! Sebuah kipas lebar berwarna ungu kini tergeng- gam di tangan Galapati. Kemudian dengan jurus 'Kipasan Sayap Kumbang' Galapati memapaki seran- gan kedua lawannya. Kipas mautnya yang bernama Kipas Iblis Racun Kelabang Ungu digerakkan memben- tuk putaran cepat.
Wrt! Prak, prak! "Akh...!" "Heh?!" Rarapita dan Raparata tersentak kaget, lalu me- lompat mundur. Mata mereka terbelalak kaget, ketika melihat golok di tangan mereka telah patah menjadi dua. Keduanya menatap bengis pada lawan yang tam- pak tersenyum dan mencibirkan bibir.
"Kini terimalah kematian kalian! Heaaa...!" Wrt! Sring, sring! Kedua pengawal Ki Baya Kitri itu tersentak keti- ka melihat dari kebutan kipas Galapati, melesat bebe- rapa bilah pisau kecil berkilatan putih memburu me- reka. Pisau-pisau itu menyebarkan hawa beracun yang sangat menyesakkan dada.
"Awas!" "Celaka!" Keduanya melenting dan berjumpalitan di udara, mengelakkan serangan-serangan pisau kecil yang mengandung racun ganas. Mata Rarapita dan Rapara- ta terbelalak lebar, ngeri menyaksikan pisau-pisau ke- cil yang terus memburu tubuh mereka. Sampai akhir- nya.... Jlep, jlep!
"Akh...!" "Aaa...!" Keduanya menjerit. Tubuh mereka terhuyung- huyung ke belakang dengan mata semakin terbelalak lebar. Dua bilah pisau kecil menghunjam di paha dan perut kedua pengawal kepala desa itu.
"Ha ha ha...! Mampuslah kalian!" Galapati terta- wa terbahak-bahak. Kemudian tanpa mengenal belas kasihan sedikit pun, pemuda tampan itu kembali mengibaskan kipas mautnya ke arah kedua lawannya yang sudah tak berdaya.
Wrt! "Kau! Akh...!" keduanya terpekik, lalu ambruk dengan leher tergores hampir putus. Darah mengucur deras, dari goresan di leher mereka.
Galapati tertawa terbahak-bahak, lalu dengan tenang berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kakang, tunggu...!" seru Arum Sari mengejar.
"Cuh! Pergi! Aku tak butuh kau lagi. Ha ha ha...!" "Kakang...!" Arum Sari berusaha memeluk kaki Galapati. Namun, dengan kasar pemuda itu mendorong tubuh Arum Sari hingga terjengkang dan menangis, meratapi nasibnya yang malang. Kegadisannya telah diserahkan pada Galapati, tapi dirinya kini dicampakkan begitu saja.

3
Ki Baya Kitri yang tengah menikmati hiburan be- rupa tandak tiba-tiba merasakan hatinya tak tenang. Batinnya seketika gelisah. Pikiran lelaki berusia lima puluh tahun itu, tiba-tiba tertuju ke rumahnya. Fira- sat hatinya mengatakan ada sesuatu kejadian buruk di rumahnya.
"Ada apa, Kakang?" tanya Sariti, istri Ki Baya Ki- tri, melihat kegelisahan suaminya.
Perhatian Sariti kini tertuju ke arah suaminya yang semakin kelihatan gelisah. Padahal di tempat itu tandak masih terus main. Goyangan pinggul para pe- nari tandak yang melenggak-lenggok, cukup menggiurkan. Namun, suaminya seperti tak bergairah sedikit pun untuk turun, menari dengan tandak-tandak yang bahenol.
"Entahlah, Diajeng. Tiba-tiba pikiranku teringat di rumah. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi di rumah," gumam Ki Baya Kitri.
"Apakah mau pulang, Kakang?" tanya Sariti. "Ya. Pikiranku tak tenang. Tentu ada kejadian yang tak menyenangkan di rumah."
"Kalau begitu, ayolah kita pulang!" ajak Sariti. Keduanya segera berpamitan pada tuan rumah.
Keduanya bergegas menuju ke kereta. Tak lama ke- mudian, keduanya telah meninggalkan tempat perkawinan. Dengan kereta kuda, Ki Baya Kitri dan istrinya menembus keremangan malam menjelang pagi menuju rumahnya.
"Hatiku benar-benar gelisah, Diajeng," kata Ki Baya Kitri sambil menghela tali kuda-kudanya yang terus melaju menembus kegelapan malam.
"Tenanglah, Kakang! Semoga tak terjadi apa-apa di rumah!" kata istrinya berusaha menenangkan sang Suami. Kuda-kuda itu terus berjalan menarik kereta, menembus malam di bawah keremangan cahaya bulan. Tiba-tiba kuda mereka meringkik, seperti melihat sesuatu di hadapannya. Hal itu membuat Ki Baya Kitri mengerutkan kening. Kemudian dengan mata meman- dang ke depan. Tampak sesosok tubuh mengenakan pakaian ungu melangkah tenang. Mata Ki Baya Kitri semakin terbelalak, ketika tahu siapa pemuda yang tengah melangkah menyelusuri kegelapan malam.
"Galapati...! Hei, mau ke mana kau?" tanya Ki Baya Kitri dengan mata terbelalak.
"Ha ha ha.... Apa yang kau tanyakan, Ki? Jelas aku akan pergi sesuai kemauan langkah kakiku!" sa- hut Galapati tanpa rasa hormat sedikit pun. Bahkan kini sikapnya tampak angkuh. Bibirnya mencibir sinis, membuat Ki Baya Kitri mendengus marah.
"Bocah tak tahu diuntung! Ditanya baik-baik, malah menjawab dengan pongah. Minggat kau...!" ben- tak Ki Baya Kitri marah.
"Ha ha ha...! Itu memang yang kuinginkan, Orang Tua Tolol! Aku memang ingin pergi. Muak aku bersama kalian!"
"Bangsat! Lancang sekali mulutmu! Kau perlu dihajar, Bocah! Yeaaa...!" Ki Baya Kitri yang muak melihat sikap dan mendengar ucapan Galapati melompat menyerang. Hal itu rupanya sudah diduga Galapati, yang dengan cepat dan ringan bergerak mengelitkan serangan.
"Hih! Uts!" "Kuhancurkan kepalamu yang keras kepala, Bo- cah! Heaaa...!"
Ki Baya Kitri kembali bergerak menyerang. Tan- gannya menyambar-nyambar dengan cepat ke arah kepala Galapati. Sambaran tangannya mengeluarkan angin pukulan yang keras. Dengan jurus 'Camar Laut Memburu Ikan', Ki Baya Kitri terus menyerang. Lelaki tua itu berusaha tak memberi kesempatan sekali pun pada lawan untuk dapat membalas serangan.
"Yeaaa...!" "Haits! Hih...!" Setelah dapat melepaskan diri dari serangan Ki Baya Kitri, dengan cepat Galapati balas menyerang. Tangan dan kakinya bergerak cepat susul-menyusul, menyerang Ki Baya Kitri. Lelaki tua itu tersentak.
"Eits! Celaka...!" pekik Ki Baya Kitri kaget dengan mata melotot, melihat serangan yang dilancarkan pe- muda tampan berpakaian ungu itu. Selama ini me- mang telah diduganya kalau Galapati bukan pemuda biasa. Namun kini Ki Baya Kitri harus membuka mata. Dugaannya yang mengatakan Galapati bukan pemuda sembarangan, terbukti sudah. Bahkan dirinya dibuat kaget melihat serangan gencar pemuda itu. Gerakan- gerakan menyerang yang dilancarkan Galapati ternyata dengan jurus-jurus yang tak sembarangan.
"Heaaa...!" "Haits! Bocah iblis! Siapa kau sebenarnya?!" ben- tak Ki Baya Kitri setelah berhasil mengelakkan seran- gan yang dilancarkan Galapati.
"Ha ha ha...! Kini rupanya kau baru membuka
mata, Orang Tua Dungu! Siapa sebenarnya aku. Yang jelas kau harus mampus di tanganku. Heaaa...!"
Dengan jurus 'Tarian Jigor Maut', Galapati berge- rak menyerang. Kedua tangannya bergerak laksana menari, memapak sambil memukul dengan cepat ke tubuh Ki Baya Kitri yang bergerak mengelakkan se- rangan-serangan gencar itu.
Orang tua itu benar-benar tak mengira kalau pemuda tampan berpakaian ungu itu memiliki jurus- jurus yang membahayakan. Beruntung gerakannya masih gesit, sehingga serangan lawan yang mematikan dapat dielakkan. Nyawanya yang hampir terancam, kini terlepas dari maut. Tapi bukan berarti jiwanya te- rus terbebas dari maut yang kini memburunya. Seran- gan Galapati tak berhenti, terus mendesak dan mem- buru tubuhnya. "Heaaa...!" "Haps!" Pertarungan keduanya semakin seru. Malam yang semula tenang, seketika berubah riuh karena suara-suara jeritan mereka dalam menyerang.
Melihat suaminya kini tampak kewalahan menghadapi lawan, Sariti berteriak-teriak memanggil penduduk desa. Seketika warga desa berdatangan ke tempat pertarungan.
"Tolong...! Tolooong...!" Orang-orang desa yang tengah menonton tandak pun seketika berlarian menuju tempat itu setelah mendengar suara teriakan Sariti. Dengan membawa senjata berupa golok, warga Desa Swargadana mem- buru ke arah mereka.
"Ada apa, Nyi Lurah?" "Tolong, Ki Lurah sedang berkelahi," jawab Sariti sambil menunjuk ke arah tempat pertarungan. Seketi- ka warga Desa Swargadana memburu ke asal suara
pertarungan itu.
"Tangkap pemuda itu!" seru Ki Baya Kitri setelah melihat warga desanya berdatangan.
"Heaaa...!" "Cincang...!" "Tangkap!" Warga desa yang patuh dan sangat menghormati kepala desanya segera menyerbu Galapati. Hal itu membuat Galapati kini harus menghadapi keroyokan warga Desa Swargadana.
Pertarungan semakin seru. Penduduk Desa Swargadana terus merangsek, berusaha menangkap Galapati. Ketika pertarungan tengah berlangsung seru, tiba-tiba dari arah timur tampak seorang gadis berpa- kaian hijau berlari-lari sambil menangis.
"Arum...! Ada apa...?" tanya Ki Baya Kitri. "Rama....! Oh, Rama. Arum kini tak ada artinya lagi, Rama...," keluh gadis itu masih menangis. "Ibu, maafkan Arum...."
"Ada apa, Anakku?" tanya Sariti sambil memeluk tubuh anaknya penuh kasih sayang. Dibelai-belainya rambut putri satu-satunya itu dengan lembut "Arum telah ternoda, Bu."
"Apa?" terbelalak mata Ki Baya Kitri dan Sariti mendengar pengakuan Arum Sari.
"Siapa yang telah lancang berani menodaimu, Arum?" tanya Ki Baya Kitri dengan amarah yang bera- pi-api. Matanya membelalak lebar penuh amarah. Gi- ginya saling beradu, mengeluarkan suara gemerutuk
"Dia..., Galapati...." "Kurang ajar! Kubunuh kau, Galapati! Heaaa....!" Ki Baya Kitri yang semakin kalap, melesat dengan ke- ris terhunus. Keris yang mengeluarkan sinar jingga bernama Ki Kebo Werda, berkelebat cepat dan mende- ru memburu Galapati yang tengah sibuk menghadapi keroyokan warga Desa Swargadana.
"Yeaaa....!" "Bunuh bajingan itu!" teriak Ki Baya Kitri sambil melesat menyerang Galapati dengan keris pusakanya. "Heaaa...!"
"Hm...," Galapati yang sudah menduga lawan akan mengeluarkan senjata pusakanya, tanpa sung- kan-sungkan lagi segera mencabut kipas mautnya.
Wrt! Sing! Sing...! Jlep! Jlep! "Wuaaa...!" "Aaa...!" Pekikan kematian seketika terdengar. Lima orang warga desa tersungkur dengan dada tertancap pisau- pisau maut itu. Tubuh mereka sesaat mengejang, ke- mudian ambruk tanpa nyawa dengan mata melotot mengerikan.
"Bedebah! Kubunuh kau, Keparat!" maki Ki Baya Kitri semakin bertambah kalap, menyaksikan bagai- mana pemuda itu dengan seenaknya membunuh lima warga desanya. "Yeaaa...!" "Heaaa...!" Trang! "Ukh!" Ki Baya Kitri terpekik kesakitan. Tubuh- nya terdorong ke belakang dengan mata melotot te- gang. Tangannya tergetar hebat ketika kerisnya ber- benturan dengan senjata Galapati. Keris sakti yang bernama Ki Kebo Werda tak berarti menghadapi kipas maut berwarna ungu di tangan pemuda tampan itu.
"Ha ha ha...! Percuma kalian menghadapiku!" te- riak Galapati sombong. Semuanya kini hanya terpaku diam, ketika me- nyaksikan bagaimana Ki Baya Kitri hampir tergetar menghadapi pemuda tampan itu. Nyali mereka seketi- ka menciut, apalagi setelah melihat lima orang warganya mati mengerikan.
***

"Hua ha ha...!" Ketika semua warga Desa Swargadana terdiam mematung, takut menghadapi Galapati, mendadak mereka dikejutkan suara gelak tawa membahana.
Suara tawa itu bagaikan berada di sekitar tempat itu. Pemilik suara seolah-olah ada di mana-mana. Sehingga suara tawa itu terdengar bersahut-sahutan.
"Hua ha ha...! Kasihan sekali, ada tikus tertangkap basah. Hi hi hi...!" suara itu mirip ucapan orang gila, menyindir Galapati.
"Bedebah! Siapa kau?! Keluarlah, tunjukkan mukamu!" bentak Galapati marah, merasa ucapan itu tertuju padanya. Matanya memandang liar ke sekelil- ing tempat itu. Kipas maut masih tergenggam di tan- gannya, siap untuk dikibaskan jika ada orang yang be- rani menyerang.
"Hua ha ha...! Rupanya seperti itu mukamu? Hi hi hi...!"
"Setan! Keluar kau?! Tunjukkan mukamu, Pen- gecut! Hih...!"
Wrt! Swing, swing...! Puluhan pisau-pisau kecil meluncur ke pepoho- nan di sekitar tempat itu, ketika kipas di tangan Gala- pati dikibaskan.
"Aha, percuma saja kau membuang-buang mai- nanmu, Tikus Busuk! Aku ada di belakangmu."
Bukan hanya Galapati yang tersentak kaget den- gan mata terbelalak, melainkan semua yang ada di tempat itu merasa heran. Mereka benar-benar kaget, karena tak melihat berkelebatnya tubuh pemuda berpakaian rompi kulit ular yang bertingkah laku seperti orang gila.
"Pemuda gila! Siapa kau?!" bentak Galapati sengit, karena merasa pemuda bertingkah gila itu telah turut campur urusannya.
"Hi hi hi...!" Pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila itu tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu dengan mulut cengengesan, matanya membeliak.
"Aha, siapa diriku, kurasa tak jadi masalah. Yang pasti, penduduk desa ini benar-benar muak dengan tampangmu."
Terbelalak mata Galapati mendengar ucapan Sena. Nafasnya mendengus dengan gigi bergemerutuk keras. "Jangan ikut campur urusanku, Pemuda Gila!" dengus Galapati sengit.
"Aha, aku tak akan ikut campur, kalau tinda- kanmu tak sewenang-wenang," sahut Sena sambil cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Kemudian diambilnya bulu burung, lalu digunakan untuk mengilik telinganya. Mulutnya semakin nyengir, dengan mata terpejam.
"Benar! Dia harus dihukum...!" seru seorang penduduk desa.
"Dia telah membuat onar di desa ini...!" sambung yang lainnya.
Semakin marah Galapati mendengar penuturan Pendekar Gila. Mulutnya mendengus geram. Dengan mata terbelalak, pemuda tampan itu menatap liar penuh kebencian. Sementara itu Sena masih cengengesan sambil mengorek telinga dengan bulu burung.
"Kurang ajar! Kau mencari mampus, Pemuda Gila! Heaaa...!"
Merasa lawan bukanlah orang sembarangan, Galapati kini tak tanggung-tanggung menyerang Pendekar Gila. Kipas mautnya dikibaskan-kibaskan menderu keras, mengeluarkan racun yang sangat ganas.
Wrt! "Haits! He he he...!" Pendekar Gila dengan cengengesan bergerak ce- pat mengelakkan serangan lawan. Tubuhnya meliuk- liuk cepat seperti menari, sesekali tangannya menepuk ke dada lawan. Itulah jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Sebuah jurus 'Ilmu Silat Si Gila' yang amat dahsyat. Gerakannya yang seperti orang menari, nampaknya lamban dan lemah. Namun ternyata cukup mengejutkan lawan, maupun orang-orang desa.
"Gila! Jurus apa yang dilakukan pemuda itu?" gumam Ki Baya Kitri dengan mata terbelalak, menyak- sikan jurus silat aneh yang dilakukan Pendekar Gila. "Gerakannya sangat lamban dan lemah. Tapi mampu mengejar gerakan lawan. Benar-benar jurus hebat."
"Heaaa...!" Wrt! Galapati kembali berusaha merangsek dengan kibasan kipas mautnya yang mengandung racun kelabang ungu. Dari kibasan kipas itu, keluar gulungan asap ungu yang memburu Pendekar Gila.
"Hi hi hi...!" Sena masih cengengesan sambil bergerak meli- ukkan tubuh. Tangannya sesekali menepuk ke dada lawan. Dia seperti tak terpengaruh sedikit pun oleh asap racun kelabang ungu yang keluar dari kipas maut Galapati. Hal itu membuat Galapati mengerutkan kening, merasa heran menyaksikan lawannya tak terpengaruh asap beracun itu. Padahal kalau orang lain, tentu sudah mati berdiri.
Hei, dia sepertinya tak mempan terhadap racun kelabang ungu yang keluar dari kipas ku! Desis Gala- pati dalam hati dengan mata melotot, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Mungkin kurang banyak. Akan ku coba mengerahkan tenaga dalam.
"Heaaa...!" Wrt, wrt...! Kipas maut itu kembali dikibaskan ke arah Pen- dekar Gila. Kali ini semakin cepat. Asap ungu beracun pun semakin bertambah banyak keluar.
"Haits! He he he...!" Pendekar Gila bergerak meliuk ke samping ka- nan, dengan tubuh miring. Kemudian dengan cepat tangannya menepuk ke arah dada lawan.
"Hih!" "Edan!" maki Galapati kaget sambil melompat mundur, ketika angin tepukan tangan lawan begitu keras menderu. Baru angin pukulan saja, Galapati te- lah merasakan hentakan yang sangat keras dan terasa panas. "Hi hi hi...! Kenapa diam, Tikus Busuk? Hi hi hi..!" Sena tertawa cekikikan dengan mulut cengengesan.
"Cuih! Jangan kira aku akan kalah olehmu, Pe- muda Gila! Heaaa...!"
Wrt, wrt! Galapati kembali mengebutkan kipas mautnya ke arah Pendekar Gila. Membelalak mata warga desa me- lihat kibasan kipas pemuda berparas seperti Dewa Kamajaya itu.
"Hei, dari kipasnya keluar pisau...!" "Lihat, ada kabutnya...!" "Awas serangan...!" Warga Desa Swargadana tersentak kaget, mereka
berusaha mengelakkan serangan pisau-pisau kecil yang keluar dari kipas maut di tangan Galapati.
Swing, swing...! "Setan! Pengecut..!" maki Sena sambil bersalto mengelakkan puluhan pisau yang meluncur ke tubuhnya. Pisau-pisau itu meleset, tak menerjang dirinya. Tapi, senjata-senjata tajam itu meluncur ke arah warga desa yang tak sempat bergerak menghin- dar. Hingga....
Jlep, jlep! "Wuaaa...!" "Akh...!" Jeritan-jeritan kematian seketika terdengar dari sepuluh warga desa. Di dada dan leher mereka tertan- cap pisau-pisau kecil beracun. Saat itu juga, pemuda berpakaian ungu melesat cepat meninggalkan tempat pertarungan, ketika warga desa sibuk mengelakkan pisau-pisau beracunnya.
"Pemuda gila, tunggulah balasan ku!" "Kurang ajar! Mau lari ke mana kau, Tikus Bu- suk!" maki Sena sambil melesat mengejar. Namun mendadak puluhan pisau berkelebatan dan menderu ke arahnya.
Swing, swing...! "Hop! Setan...! Dengan berjumpalitan ke atas, tangan Pendekar Gila bergerak cepat, menangkapi pisau-pisau belati yang meluruk cepat di depannya.
Tap, tap...! "Kurang ajar! Hi hi hi...! Mainan anak-anak," Sena tertawa sambil menggelen-gelengkan kepala. "Ke mana kau pergi, Tikus?!"
Pendekar Gila pun segera berkelebat, memburu Galapati. Tak lama kemudian seorang gadis berbaju hijau yang tak lain Arum Sari melesat dengan isak tangis. "Galapati, tunggulah pembalasanku!"
Malam semakin gelap, ketika Ki Baya Kitri dan istrinya serta warga Desa Swargadana mengejar Arum Sari.
"Arum, Anakku! Tunggu...!" seru Sariti.

4
Pagi yang cerah. Matahari bersinar menerangi bumi. Cahayanya terasa hangat di tubuh. Semilir an- gin pagi menghembuskan hawa yang menambah sejuk suasana. Sementara kicau burung-burung di pepo- honan semakin menambah tenteram dan damai Hutan Jalarak.
"Hoa...!" seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular menggeliat dari tidurnya di atas sebuah cabang pohon. "Huh, ke mana perginya tikus itu? Cepat sekali."
Pendekar Gila menggeliat, bangun dari tidurnya. Lalu duduk di cabang pohon. Mulutnya nyengir, kemudian tangannya menggaruk-garuk kepala. Dibenarkan ikat kepalanya yang juga terbuat dari kulit ular.
"Wua! Pulas sekali aku tidur," gumam Sena. Baru saja hendak turun dari cabang pohon, ketika dilihatnya dari kejauhan lima orang lelaki tua berpakaian jubah warna-warni melangkah ke arahnya. Wajah mereka menggambarkan ketegangan. Tampaknya ada sesuatu yang tengah mereka masalahkan.
"Aha, ada apa orang-orang tua itu?" tanya Sena pada diri sendiri sambil cengengesan. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memandang ke arah lima lelaki tua yang membisu dengan wajah menggambarkan ketegangan.
"Kita tentukan di sini!" lelaki berpakaian merah tua membuka suara. Lelaki ini berusia sekitar tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah memutih dengan ikat di atas kepala. Jenggotnya yang panjang telah putih.
"Heh! Kau kira gampang mengatur pertarungan, Gondra!" dengus lelaki berjubah biru yang bernama Ki Gendala. Lelaki ini juga berusia sekitar tujuh puluh tahun. Rambutnya terurai lurus. Dan hidungnya yang mancung berhias kumis putih. Matanya hampir tertutup alis panjang dan lebat
"Benar! Menurut perjanjian, kita tak boleh menentukan sendiri-sendiri. Kita harus mencari orang lain untuk dijadikan penilai," sambut lelaki berjubah coklat. Lelaki ini berusia sekitar enam puluh delapan tahun. Rambutnya masih banyak yang hitam.
"Hm.... Bagaimana mungkin di hutan sepi seperti ini kita bisa mencari manusia?" gumam lelaki tua bernama Gondra, yang di tangannya tergenggam senjata berupa sapu lidi bertangkai kayu cendana hijau. Dia lebih dikenal dengan julukan Sapu Buana.
"Hm.... Benar juga. Mana ada manusia di Hutan Jalarak ini?" sambung lelaki berjubah abu-abu yang menggenggam senjata berupa cambuk berekor lima. Itu sebabnya dia lebih terkenal dengan julukan Cambuk Panca Geni. Kelima ekor cambuknya dapat mengeluarkan api jika dilecut dengan kekuatan tenaga dalam yang sempurna.
"Hm.... Lalu bagaimana kalau tak ada orang yang dijadikan penilai?" tanya lelaki berusia sekitar enam puluh enam tahun yang berpakaian jubah warna loan- ing keemasan. Di tangan lelaki ini tergenggam sebilah pedang yang memiliki tiga lekukan. Pedang itu bernama Pedang Weling Giling.
Melihat kelima lelaki tua itu kebingungan mencari penilai, Pendekar Gila yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku mereka segera melompat turun dari atas pohon.
"Hop! Hi hi hi...!" Kelima lelaki tua itu tersentak ketika tiba-tiba seorang pemuda bertampang gila dengan baju rompi kulit ular telah berada di antara mereka.
"Siapa kau, Anak Muda?" tanya lelaki berjubah merah. "Hi hi hi...! Lucu sekali kalian. Kalian sudah tua seharusnya tinggal memikirkan akherat. Mengapa ma- sih memikirkan hal-hal duniawi? Hi hi hi... Lucu sekali," gumam Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Lalu dengan seenaknya ke- palanya digeleng-gelengkan dengan mulut masih cengengesan.
"Bocah, apa urusanmu? Kami memang sedang mencari penilai. Kalau kau mau, kami akan mengang- katmu menjadi penilai," ujar lelaki tua berjubah coklat. Kening lelaki ini berkerut, begitu juga kawan- kawan-nya. Mereka heran melihat tingkah laku pemuda di hadapannya yang seperti orang gila.
"Penilai...? Hi hi hi.... Penilai apa?" tanya Sena masih konyol. Matanya dipelototkan. Kemudian nyengir sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, Bocah Edan! Jelas pengawas pertarungan yang akan kami lakukan, Tolol!" sentak lelaki berjubah abu-abu.
"Tolol? Hi hi hi...? Kalian rupanya tolol? Ah, ku- rasa kalian bukan tolol, tapi pikun. Hua ha ha...!" Sena makin menjadi-jadi konyolnya. Sambil berjingkra- kan yang membuat mata kelima lelaki tua itu melotot dengan kening berkerut, Sena menggaruk-garuk kepala.
"Bocah gendeng!" maki lelaki berjubah biru. "Ka- lau kau tak mau, pergilah!"
"Pergi? Aha, enak sekali kau mengusirku, Ki. Hi hi hi...! Sejak kapan kau menyewa hutan ini? Hi hi hi...!" Kelima lelaki tua itu kembali mengerutkan ken- ing, menyaksikan kekonyolan pemuda di hadapannya. Mereka semakin bertambah heran, dan berusaha menduga-duga siapa sebenarnya pemuda bertingkah laku seperti orang gila itu
"Bocah sinting, kaukah yang berjuluk Pendekar Gila?" akhirnya lelaki tua berjubah biru tua bertanya, ketika pikirannya teringat ciri-ciri Pendekar Gila.
"Hi hi hi..! Gila? Ah, rupanya kalian gila. Kasi- han, pantas sekali sudah tua kalian mau berkelahi. Padahal kalian tinggal menunggu ajal. Seharusnya ka- lian mengabdi pada Hyang Widhi."
"Dasar bocah sinting!" dengus lelaki tua berjubah merah, jengkel. "Pendekar Gila, bagaimanapun juga kami telah tahu siapa kau sebenarnya. Nah, maukah kau menjadi penilai?"
Pendekar Gila nyengir, kemudian dengan tangan menggaruk-garuk kepala mulutnya cengengesan. Kepalanya digeleng-gelengkan, seakan-akan tak percaya kalau orang-orang tua yang seharusnya sudah tak memikirkan keduniawian, masih saja bertingkah se- perti orang muda.
"Bagaimana, Pendekar Gila?" tanya lelaki berju- bah coklat.
"Aha, baiklah. Tapi, aku mau bertanya dulu pada kalian."
"Tentang apa?" tanya lelaki berjubah biru. "Apakah kalian melihat pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun mengenakan pakaian serba ungu? Kepalanya terikat kain ungu pula?" tanya Sena.
Kelima lelaki tua itu mengerutkan kening. Mulut mereka seperti terbungkam mendengar pertanyaan
Pendekar Gila. Mata mereka menatap wajah Pendekar Gila. Hal itu menjadikan Pendekar Gila turut menge- rutkan kening. Kemudian cengengesan sambil meng- garuk-garuk kepala.
"Aha, kenapa kalian diam?" "Maksudmu, Galapati?" tanya lelaki berjubah abu-abu.
"Aha, aku tak tahu siapa namanya. Tapi mung- kin dia," sahut Sena.
"Kalau Galapati yang kau cari, kami pun sedang mencarinya. Justru karena anak itu kami hendak sal- ing bertarung," tutur Ki Gondra.
"Aha, kenapa kalian hendak saling bertarung?" tanya Sena seraya membelalakkan mata.
"Di antara kami berlima saling menyalahkan." "Saling menyalahkan? Hi hi hi...! Lucu sekali!" "Ya. Kami merasa murid kami salah," tutur Ki Gondra yang berjubah merah? "Kami senantiasa me- rasa, kalau semua tindakan Galapati disebabkan keti- dakbecusan kami mendidiknya."
"Benar. Kami selalu salah-menyalahkan, karena merasa di antara kami berlima ada yang bersalah da- lam mendidiknya," sambung Ki Gendala.
Pendekar Gila bengong, mendengar penuturan orang tua itu. Kemudian mulutnya kembali cengenge- san sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hi hi hi.... Lucu sekali kalian. Mengapa hanya karena tikus busuk itu kalian hendak saling bunuh?" tanya Sena, tertarik ingin tahu.
"Karena kami tak mau dituduh sembarangan," sahut lelaki berjubah abu-abu yang terkenal dengan julukan Cambuk Panca Geni.
"Aha, kalau boleh ku tahu, siapa sesungguhnya kalian ini? Dan ada hubungan apa dengan tikus bu- suk itu?" tanya Sena.
"Aku Gendala," lelaki tua berjubah biru memper- kenalkan diri.
"Aku Gondra," kata lelaki berjubah merah. "Aku Sandika," tambah lelaki berjubah abu-abu. "Aku Wilakupa," sambung yang berjubah coklat "Dan aku Karadena," terakhir lelaki berjubah kuning emas.
"Baiklah, tentunya kalian telah mengenal nama- ku," kata Sena. "Kini aku ingin tahu, ada hubungan apa kalian dengan Galapati?"
"Kami adalah gurunya," sahut Gendala. "Aha, jadi kalian gurunya? Kebetulan sekali, aku harus menangkap kalian," kata Sena.
"Sabar, Pendekar Gila. Memang kami gurunya. Tapi justru kamilah yang kini tengah disibukkan oleh tingkah lakunya. Kami mendidik Galapati dengan il- mu-ilmu yang baik," tutur Sandika. "Tapi, rupanya watak anak itu sangat buruk. Dia telah membuat se- mua pendekar menganggap kami tak ada artinya. Bahkan melebihi sampah!"
"Ya! Semua pendekar menuduh kami yang salah. Mereka meminta kami agar menyerahkan bocah kepa- rat itu," sambung Karadena.
"Aha, lalu apa maksud kalian hendak saling bu- nuh?" tanya Sena.
Sesaat kelima lelaki tua itu diam dan saling ber- pandangan. Napas mereka terasa sangat berat. Wajah mereka seketika berubah muram, seakan merasakan beban dalam batin. Beban jiwa sebagai guru, yang te- lah membuahkan murid laknat. Mereka sebenarnya sebagai tokoh tua sakti berhaluan lurus. Tapi murid mereka justru bertindak durjana dan menimbulkan petaka.
***

"Hm...! Baiklah, Pendekar Gila. Kami akan men- ceritakan padamu siapa sebenarnya Galapati," akhir- nya Ki Gendala, orang tertua di antara kelima lelaki tua itu membuka suara.
"Aha, kalau kau memang berkenan, ceritakan- lah," pinta Sena.
Sesaat orang tua itu terdiam sambil menghela napas panjang-panjang. Kemudian dengan menun- dukkan kepala sebentar, lalu mendongakkannya ke atas, Ki Gendala mulai menceritakan siapa Galapati sebenarnya.
"Lima belas tahun yang lalu, kami menemukan seorang anak berusia sekitar dua belas tahun. Bocah itu ditemukan ketika kami sedang melakukan perjala- nan melintas Bukit Kapuran Kuning. Bocah itu kami temukan bersama seorang mayat wanita yang kea- daannya mengenaskan. Nampaknya wanita itu habis diperkosa. Di tempat itu juga kami menemukan kereta dengan dua ekor kuda yang sudah mati. Kami tak ta- hu, siapa ayah bocah itu. Namun, akhirnya kami ke- tahui kalau bocah itu tiada lain bocah hasil hubungan gelap. Dan yang telah membunuh ibunya ternyata si bocah itu sendiri yang tak ingin masalahnya terbong- kar...." "Hm, menarik sekali. Lalu, mengapa Galapati bertabiat buruk seperti itu?" tanya Sena.
"Itu yang tidak kami mengerti," sahut Ki Gendala dengan menarik napas panjang. "Mungkin Galapati dendam? Kami tak tahu. Tapi kalau dendam, sekarang ayahnyalah yang dijadikan pelampiasan dendam. Hm..., kini dia justru menjadi durjana pemetik bunga," desah Ki Gendala, setengah mengeluh.
"Mulanya Galapati hanya mengatakan ingin ker- ja. Secara diam-diam dia mencuri sebuah kipas besar, sebuah senjata sakti," tutur Ki Gandra menambahkan. "Benar. Sungguh kami tak menyangka kalau ilmu yang kami berikan, digunakan untuk kejahatan," sambung Ki Wilakupa.
Pendekar Gila terdiam. Hanya mulutnya yang cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Kemudian kepalanya didongakkan ke atas, menatap langit pagi yang bening.
"Pendekar Gila, kalau boleh kami tahu, mengapa kau mencari murid durjana itu?" tanya Ki Karadena.
"Aha, seperti apa yang kalian katakan. Dia telah membuat petaka di Desa Swargadana. Galapati telah menghancurkan masa depan putri Kepala Desa Swar- gadana...," tutur Sena.
"Kurang ajar! Jelas bocah itu tak boleh dibiar- kan. Celakalah kalau Galapati masih gentayangan!" dengus Ki Sandika. Wajahnya nampak memerah kare- na marah. Nafasnya tersengal-sengal. "Jelas, ini salah kalian!"
"Enak saja kau ngomong!" dengus Ki Wilakupa. "Kaulah yang tidak becus mendidiknya."
"Huh, kau yang memanjakannya!" bantah Ki Sandika.
"Hi hi hi...! Lucu kalian ini. Bagaimana kalian akan menyelesaikan masalah ini, kalau malah saling bertengkar?" tanya Sena.
"Karena dia yang telah memanjakan bocah lak- nat itu!" dengus Ki Sandika sambil menuding Ki Wila- kupa. "Kurang ajar! Bukankah kau yang selalu membe- lanya, sehingga anak itu keras kepala!" dengus Ki Wi- lakupa tak mau kalah.
"Aha, kalian benar-benar seperti anak kecil. Hi hi hi...! Lucu sekali dunia ini. Semakin tua, kalian malah semakin lucu. Kalian persis anak-anak kecil. Saling
menyalahkan," gumam Sena dengan masih cengenge- san sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kurasa, ini bukan cara yang baik menyelesaikan masalah."
Kedua lelaki tua yang semula bersitegang dan bahkan telah siap untuk melakukan pertempuran, se- ketika menghentikan perselisihan itu.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Ki Karadena.
"Aha, kenapa kalian seperti orang bodoh? Jelas kita harus mencarinya," sahut Sena.
"Ya ya ya.... Kau benar, Pendekar Gila. Kita ha- rus segera mencarinya," sambut Ki Wilakupa.
"Memang benar. Bagaimanapun juga, bocah itu harus mendapat hukuman yang setimpal," dengus Ki Sandika.
"Baiklah, Kisanak sekalian. Kini tak ada waktu lagi Kita harus secepatnya mencari Galapati. Kuharap kalian mau membuang perselisihan itu. Carilah murid kalian! Aku pun akan mencarinya. Nah, sampai kete- mu lagi."
Usai berkata begitu, Pendekar Gila segera mele- sat meninggalkan kelima lelaki tua berjubah itu untuk melanjutkan perburuannya mencari Galapati.
"Bagaimana dengan kita?" tanya Ki Gendala ingin tahu. "Kita pun harus mencarinya," sahut Ki Wilakupa
"Ayo!" ajak Ki Gendala. Kelima lelaki tua itu pun segera meninggalkan Hutan Jalarak guna mencari murid mereka yang telah murtad.
***

5
Kadipaten Blambangkara yang berbatasan den- gan Gunung Bromo dan Desa Kates Kemba di sebelah timur serta Hutan Barumba di sebelah barat, sore itu tampak tenang. Di depan kadipatenan tampak empat orang penjaga pintu gerbang tengah mondar-mandir. Keempat penjaga pintu gerbang itu memegang senjata berupa tombak.
Sore itu, Adipati Sepa Woroagung sedang mene- rima seorang tamu. Tamunya tak lain mertua dan istri keduanya yang bernama Getri Anitia.
Di sebuah ruangan besar tempat yang biasa di- gunakan Adipati Sepa Woroagung untuk menjamu tamu, nampak seorang lelaki berusia sekitar enam pu- luh tahun berpakaian jingga. Lelaki tua berwajah tenang dan sabar itu tak lain Ki Kayaputaka, mertua Adipati Sepa Woroagung. Wajah lelaki tua itu terhias kumis dan jenggot putih yang tak terlalu tebal. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, Kayaputaka tentunya orang dari rimba persilatan.
Duduk di hadapan Ki Kayaputaka, seorang lelaki bertubuh gemuk dengan kepala agak botak di atasnya. Hidungnya besar dan bercambang bauk lebat. Dialah Adipati Sepa Woroagung Sang Adipati berusia sekitar lima puluh tahun. Sorot mata yang tajam, mencer- minkan kewibawaannya.
Di samping kiri sang Adipati, duduk seorang wa- nita muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Wajah wanita itu cantik. Matanya yang bening terhias bulu-bulu mata lentik dan alis tipis. Wanita berkulit mulus yang mengenakan kain setinggi dada atau ang- kin berwarna hijau tua berhias kuning emas itu, tak lain Getri Anitia. Istri kedua sang Adipati, putri Ki Kayaputaka.
"Bagaimana keadaan di perguruan, Rama?" tanya Adipati Sepa Woroagung penuh rasa hormat
"Baik Atas doa restu Kanjeng Adipati, kami selalu dalam keadaan sehat, tak kurang satu apa pun...," sahut Ki Kayaputaka.
"Syukurlah kalau begitu, Rama! Kami merasa senang, jika Perguruan Lembah Barada tenang dan maju," ujar Adipati Sepa Woroagung.
"Tentunya Rama datang kemari karena ada ke- perluan, Kakang," selak Getri Anitia.
"Benarkah begitu, Rama?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
Ki Kayaputaka tersenyum mendengar ucapan anaknya. Sebentar letak duduknya dibetulkan, kemu- dian setelah menghela napas dalam-dalam, Ki Kayapu- taka berkata.
"Apa yang dikatakan istrimu benar, Kanjeng." "Kalau boleh aku tahu, apakah yang menjadi ke- perluan Rama?"
Kembali Ki Kayaputaka terdiam. Sepertinya ada keraguan di hati lelaki tua itu untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke kadipaten. Melihat kera- guan mertuanya, Adipati Sepa Woroagung kembali berkata, "Katakanlah, Rama! Dalam keadaan ini, aku ada- lah menantumu, bukan Kanjeng Adipati," ujar Adipati Sepa Woroagung berusaha meyakinkan sang Mertua.
"Maaf sebelumnya, kalau nanti ucapanku salah," pinta Ki Kayaputaka.
"Tidak apa, Rama. Katakanlah!" "Baiklah. Sebenarnya aku hanya ingin memohon kesediaan Kanjeng Adipati untuk menerima murid saya bekerja di kadipaten ini saja," kata Ki Kayaputaka seraya menundukkan kepala.
"O, hanya itu. Kukira apa. Baiklah, Rama. Aku akan menerimanya. Kapan murid Rama akan datang?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"Mungkin lusa," jawab Ki Kayaputaka. "Baiklah, aku akan menyambut dan meneri- manya."
"Terima kasih, Kanjeng. Kalau begitu, aku permi- si."
"Apa tak sebaiknya Rama menginap barang satu malam? Sekalian lusa menyambut kedatangan murid Rama?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"O, terima kasih. Tentunya dia tak akan datang, kalau belum kuberi kabar. Rama permisi pulang."
"Hati-hati, Rama!" pesan Getri Anitia, "Apakah perlu prajurit, Rama? Untuk mengawal Rama," kata Adipati Sepa Woroagung menawarkan.
"Ah, tidak usah. Terima kasih." Orang tua itu pun berlalu, meninggalkan bangsal kadipaten diiringi anak dan menantunya.
Tak berapa lama setelah keberangkatan Ki Kaya- putaka, nampak seorang pemuda berpakaian serba ungu dengan kepala diikat kain membentuk sudut ke atas segitiga berwarna ungu pula melangkah menuju Kadipaten Blambangkara.
Wajah pemuda itu sangat tampan, elok bagaikan wajah seorang dewa yang baru turun dari kahyangan. Matanya yang bening menambah ketampanan pemuda itu.
Pemuda berpakaian ungu yang tak lain Galapati, semakin dekat dengan pintu gerbang Kadipaten Blambangkara. Di bibir Galapati tersungging senyuman. Dengan mantap dan tenang kakinya terus melangkah.
"Siapa kau? Dan ada keperluan apa datang ke- mari?!!" bentak salah seorang dari prajurit jaga di pintu gerbang kadipaten.
"Namaku Galapati. Aku murid Ki Kayaputaka," jawab Galapati.
"Apa maksud kedatanganmu?" tanya prajurit yang lain. Suaranya tak setajam prajurit pertama, karena mendengar jawaban bahwa pemuda tampan itu murid Ki Kayaputaka.
"Aku hendak menyusul guru." Keempat prajurit jaga itu saling pandang, mendengar jawaban pemuda tampan di hadapan mereka. Mereka tak habis pikir. Bukankah Ki Kayaputaka baru saja berlalu? Bagaimana mungkin pemuda tampan ini tidak bertemu dengan gurunya?
"Anak muda, Ki Kayaputaka baru saja pulang. Apakah kau tak bertemu di jalan?" tanya prajurit yang berkumis lebat
"Ah, benarkah?" tanya Galapati pura-pura kaget. "Ya!",sahut prajurit berkumis lebat. "O, rupanya aku berselisih jalan dengan guruku," keluh Galapati.
"Ada apa, Raka?" Tiba-tiba dari dalam terdengar suara Adipati Se- pa Woroagung.
"Ampun, Kanjeng! Ada seorang anak muda men- gaku murid Ki Kayaputaka!" sahut prajurit berkumis lebat yang dipanggil Raka.
"Apa?! Murid Rama?!" "Benar, Kanjeng." "Suruh dia masuk!" Kembali terdengar suara Adipati Sepa Woroagung memerintah prajuritnya agar memberi jalan pada Ga- lapati. "Silakan masuk!" kata Raka.
"Terima kasih." Dengan bibir mengurai senyum, Galapati me- langkah masuk. Seketika matanya tertumbuk pada sepasang mata lembut milik seorang wanita berparas cantik. Wanita itu tak lain Getri Anitia.
Hm.... Inikah yang bernama Getri Anitia? Tanya Galapati dalam hati. Sungguh cantik wajahnya. Tak kusangka, akhirnya kutemukan juga wanita secantik ini.
"Anak muda, apakah benar kau murid Rama Kayaputaka?" tanya Adipati Sepa Woroagung, menyen- takkan Galapati dari lamunannya.
Sesaat Galapati terdiam. Matanya mencuri pandang ke wajah Getri Anitia yang juga tengah memandang dirinya dengan kening berkerut. Sepertinya wanita cantik itu tengah berpikir, mencoba mengingat- ingat para murid ayahnya.
Dengan sembunyi-sembunyi agar tak diketahui Adipati Sepa Woroagung, Galapati berusaha memberi isyarat agar wanita cantik itu menganggukkan kepala jika nanti ditanya suaminya. "Benar, Kanjeng." "Siapa namamu, Anak Muda?" "Galapati, Kanjeng." "Hm...," gumam Adipati Sepa Woroagung sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian wajahnya menoleh dan memandang istrinya. "Diajeng, apa benar murid Rama ada yang bernama Galapati?"
Getri Anitia terdiam sesaat. Matanya melirik Galapati yang mengedipkan mata. Hal itu membuat Getri Anitia nampak bingung. Darahnya berdesir halus, ke- tika beradu pandang dengan pemuda itu.
Getri Anitia masih terdiam bimbang. Dia ingin mengatakan tidak. Tapi entah mengapa, setelah mena- tap wajah pemuda tampan itu, tiba-tiba hatinya terle- kat rasa belas kasihan. Bahkan Getri Anitia merasa takut kalau pemuda itu akan mendapat hukuman. Bahkan mungkin dihukum gantung.
Kembali Getri Anitia mencuri pandang ke arah Galapati yang menganggukkan kepala.
"Bagaimana, Diajeng? Apakah kau ingat kalau di perguruan Rama ada nama Galapati?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"Ya. Hamba ingat Kangmas." "Jadi ada?" "Benar, Kangmas." "Hm...," kembali Adipati Sepa Woroagung bergumam tak jelas. Lalu pandangannya kembali tertuju pada Galapati yang masih berdiri menunggu keputu- sannya. "Galapati, Rama baru saja pulang. Kedatangannya ke sini, semata-mata untuk meminta padaku agar kau diterima bekerja di sini. Tapi aku belum ta- hu, jabatan apa yang sekiranya cocok untukmu."
"Ampun, Kanjeng Adipati...! Kalau memang di- perkenankan, hamba ingin menjadi ketua prajurit di kadipaten ini," kata Galapati, menyentakkan Adipati Sepa Woroagung. Sungguh di luar dugaannya kalau pemuda tampan yang kelihatannya pemuda biasa dan berilmu tidak begitu tinggi, meminta jabatan begitu tinggi. Sedangkan Ki Kayaputaka saja belum tentu sanggup menjabat pimpinan prajurit kadipaten.
"Apakah kau tidak bergurau, Galapati?" tanya Adipati Sepa Woroagung dengan kening berkerut dan mata menyipit. Hatinya sungguh bingung dan tak mengerti mendengar permintaan pemuda tampan itu.
"Tidak, Kanjeng." "Kau tahu, bagaimana beratnya tugas pimpinan prajurit?"
"Sendika, Kanjeng," jawab Galapati seraya men- ganggukkan kepala.
"Hm...." Adipati Sepa Woroagung kembali bergumam tak jelas mendengar ucapan Galapati. Matanya masih menatap tajam wajah Galapati, seperti berusaha meya- kinkan hatinya akan kemampuan pemuda tampan di hadapannya.
"Galapati...." "Daulat, Kanjeng." "Sesungguhnya di sini telah ada pimpinan praju- rit. Namun, jika kau mampu mengalahkannya, aku akan menerima permintaanmu," ujar Adipati Sepa Wo- roagung.
Sebenarnya maksud Adipati Sepa Woroagung hanyalah mau menyingkirkan pemuda ini. Hatinya tak suka dengan apa yang ditunjukkan pemuda itu. Hanya saja karena Adipati Sepa Woroagung meman- dang pada mertuanya, maka hanya dengan cara halus bisa menyingkirkan pemuda tampan ini.
Kalau Adipati Sepa Woroagung menyingkirkan Galapati dengan kekerasan, jelas dia tak ingin mertu- anya marah. Tapi jika dengan adu tanding melawan Kebo Wulung, bukankah dia bisa bertanggung jawab pada mertuanya? Adipati Sepa Woroagung akan men- gatakan kalau Galapati mati dalam ujian. Itu sebabnya dia bermaksud mengadu Galapati dengan Kebo Wu- lung.
"Bagaimana, Galapati?" "Hamba sanggup, Kanjeng." "Hm, begitu...?" "Daulat, Kanjeng," "Baik Bersiaplah di pelajaran!" perintah Adipati Sepa Woroagung. "Sendika...!" Galapati sekali lagi mencuri pandang ke wajah Getri Anitia yang menjadikan wanita cantik istri Adipa- ti Sepa Woroagung kembali berdesir dadanya. Sesaat kemudian pemuda itu melangkah dengan mantap me- nuju pelataran. Tenang sekali pemuda itu melangkah.
Sementara itu, hati Getri Anitia semakin bergetar hebat. Wanita itu bingung dan tak mengerti mengapa getaran itu terus melanda hatinya. Tiba-tiba pula ada rasa takut, kalau-kalau pemuda tampan itu akan mengalami kekalahan.
Getri Anitia tahu persis siapa Kebo Wulung. Seorang tokoh persilatan yang sakti dan kejam. Kebo Wulung tak pernah melepaskan lawannya dalam keadaan hidup. Itu sebabnya selama puluhan tahun, Kebo Wulung masih memegang pimpinan prajurit dan belum terkalahkan.
Di samping itu, Kebo Wulung juga teman dekat Adipati Sepa Woroagung. Tentunya sang Adipati akan membelanya, jika keadaan memang mendesak.
Kini, seorang pemuda yang kelihatannya tak memiliki kepandaian tinggi dan mengaku murid Ki Kayaputaka telah dengan berani menantang Kebo Wu- lung. Bukankah pemuda itu hanya mencari mati saja?
Pikir Getri Anitia, antara cemas dan berharap pemuda itu segera membatalkan kesanggupannya.
Galapati tak mencabut ucapannya. Bahkan se- makin bertambah mantap melangkah ke pelataran Hal itu membuat hati Getri Anitia bertambah was-was. En- tah mengapa, sejak pandangan pertama, hatinya merasakan sesuatu keanehan. Getri Anitia begitu terpe- sona melihat ketampanan pemuda itu.
Adipati Sepa Woroagung dan Getri Anitia serta dua dayang melangkah menuju tempat duduk yang disediakan khusus untuk menyaksikan pertarungan.
"Prajurit...!" seru Adipati Sepa Woroagung me- manggil para prajuritnya yang tengah berkumpul di bangsal prajurit
Seketika dari bangsal sisi kanan bangunan utama kadipaten, bermunculan puluhan prajurit lengkap dengan senjata. Mereka langsung menghadap Adipati
Sepa Woroagung dan menyembah. "Buat lingkaran!"
"Daulat, Kanjeng!" Tanpa diperintah dua kali, puluhan prajurit itu langsung membuat lingkaran. Sedangkan Kebo Wulung kini berdiri di samping tempat duduk Adipati Sepa Woroagung. Lelaki bertubuh tinggi tegap dan bermata tajam itu bersidekap. Wajahnya yang garang dengan cambang bauk dan hidung besar menatap pe- nuh kebencian pada Galapati. Napas Kebo Wulung mendengus keras. Mulutnya menyeringai sinis.
"Kuremukkan batok kepalamu, Bocah Sombong!" dengus Kebo Wulung sambil memukul-mukulkan ke- palan tangannya ke telapak tangan yang lainnya. "Kau rupanya mencari mampus!"
"Kebo Wulung, seperti apa yang tadi kukatakan, jika pemuda itu mampu mengalahkanmu, maka dialah pengganti mu. Kau mengerti, Kebo Wulung?" tanya Adipati Sepa Woroagung sambil mengedipkan mata pada Kebo Wulung memberi isyarat
Getri Anitia yang mengerti isyarat suaminya, se- makin berdebar jantungnya. Rasa cemas dan takut kalau Galapati tewas di tangan Kebo Wulung, mem- buatnya gelisah. Bahkan keringat dingin kini telah membasahi keningnya.
"Daulat, Kanjeng. Akan kuremukkan batok kepa- lanya yang sombong itu!" dengus Kebo Wulung murka. "Kau telah siap, Galapati?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"Hamba telah siap sejak tadi, Kanjeng. Ingin se- kali hamba melabrak kerbau dungu itu," ujar Galapati sinis dengan suara sombong.
Kebo Wulung tentu saja bertambah geram. Tak sabar menunggu pertarungan dimulai.
"Sombong kau, Bocah! Bersiaplah untuk mam- pus!" geram Kebo Wulung. Matanya semakin tajam, penuh bara api amarah terhadap Galapati.
"Kalian tak perlu sesumbar yang tidak-tidak. Yang penting, kalian harus bisa mengalahkan lawan. Karena siapa yang menang, dialah yang akan menjadi pimpinan prajurit," ujar Adipati Sepa Woroagung. "Nah, mulailah!"
Mendengar perintah itu, Kebo Wulung yang su- dah marah sejak mendengar ejekan dan tingkah laku Galapati langsung melesat, menggebrak dengan seran- gan dahsyat
"Jaga kepalamu, Bocah! Heaaa...!" Dengan jurus 'Tanduk Kerbau Menjegal Nyawa', Kebo Wulung bergerak menyerang. Kedua tangannya mengepal, bagaikan sepasang tanduk Kemudian silih berganti menyerang dengan pukulan-pukulan keras disertai tenaga dalam. Deru angin pukulannya saja mampu menyentakkan lawan.
"Haits! Hih...!" "Yeaaa!" Melihat lawan menyerang dengan jurus andalan, tanpa sungkan-sungkan Galapati pun langsung me- mapaki serangan lawan dengan jurus andalan yang bernama 'Tan Jidor Maut'.
"Yeaaa...!" Kedua tangannya bergerak laksana menari. Satu di belakang, satunya menyerang ke depan begitu cepat dan beruntun. Tubuhnya agak merendah dengan sa- lah satu kaki setengah ditekuk. Gerakannya mirip ta- rian jaipongan. Namun hentakan-hentakan tangannya yang menyerang ke depan diikuti tenaga dalam yang sempurna, hingga menimbulkan angin pukulan men- deru keras.
"Heaaa...!" "Yeaaa...!" Kebo Wulung memajukan tangan kanannya, menyeruduk dengan pukulan keras. Namun, dengan ce- pat Galapati berkelit ke samping. Tubuhnya agak me- runduk. Kemudian dengan cepat pula, pemuda tam- pan itu balas menyerang dengan hentakan punggung tangan kanan ke dada lawan.
Wrt! "Heits! Hih...!"
"Heaaa...!" Dengan gerakan memutar, Kebo Wu- lung melancarkan sapuan kaki kanannya mengarah ke kaki Galapati.
"Haits! Hap!" Galapati segera melompat ke atas menghindari sapuan kaki lawannya.
Kebo Wulung cepat menarik tangan kanannya. Lalu segera memiringkan tubuh ke samping, memben- tuk setengah lingkaran. Tangan kirinya dihentakkan, membentuk siku dari bawah ke atas, menangkis hen- takan tangan kanan lawan. Kemudian dengan gerak memutar, Kebo Wulung melancarkan sapuan kaki ka- nannya mengarah ke kaki Galapati.
"Heaaa...!" "Haits! Hap!" Bergantian keduanya saling menyerang dengan pukulan dan tendangan yang disertai tenaga dalam. Gerakan tubuh mereka begitu cepat. Sehingga tubuh keduanya tampak tak jelas. Kini yang tampak hanya bayangan warna pakaian mereka. Bayangan ungu dan biru tua berkelebat saling serang. Kedua bayangan itu berusaha mendesak lawan dengan serangan-serangan dahsyat dan mematikan.
"Heaaa...!" "Yeaaat...!" Wut! Semua mata yang menonton, melotot tak berke- dip menyaksikan pertarungan seru itu. Pelataran ka- dipaten yang semula rapi dan bersih, kini berantakan. Rerumputan berserakan terinjak-injak kaki mereka. Suasana yang tenang pun terpecah oleh pekikan- pekikan dari keduanya yang bertarung, maupun dari para prajurit yang menyaksikan
***


6
Pertarungan masih berlangsung seru, meski sua- sana alam mulai gelap. Mentari telah tenggelam di balik bumi sebelah barat. Meski begitu, tak menghambat keduanya untuk tetap bertarung.
"Heaaa...!" "Yeaaa....'" Galapati kini bergerak dengan jurus 'Tari Tipak Tilu'. Sebuah gerak gabungan antara tangan dan kaki. Tangan Galapati menyilang membentuk gunting. Ka- kinya pun melakukan hal yang sama, saling menyi- lang. Kemudian dengan tangan dibuka mengembang ke samping, kaki kiri pun ditarik ke samping memben- tuk siku.
"Yeaaa...!" "Heaaa...!" Melihat lawan membuka serangan dengan jurus baru, Kebo Wulung pun segera mengeluarkan jurus yang tak kalah hebatnya. Jurus 'Kerbau Menanduk Gunung' yang merupakan jurus pamungkas mulai di- gerakkan!
Kedua tangannya menggenggam, kemudian dige- rakkan dari bawah ke atas laksana menanduk. Disusul dengan pukulan keras kedua tangan lurus ke depan. Kedua kakinya pun bergerak, merentang lebar, lalu ditarik dan diletakkan ke depan.
"Yeaaa...!" "Heaaa...!" Keduanya kembali bergerak, berusaha saling mengalahkan. Dengan jurus-jurus andalan, tangan mereka bergerak cepat melakukan serangan. Galapati menepiskan tangan kanan dengan tepukan pertama. Disusul dengan gerakan tangan kiri menepuk, begitu seterusnya secara beruntun.
Kebo Wulung pun tak kalah diam. Tangan ka- nannya dihentakkan dari arah bawah, membentuk siku mengarah ke wajah lawan. Lalu disusul dengan tangan kirinya, memukul lurus ke dada lawan.
Plak! "Hih!" "Ahhh...!" Secara bergantian menyerang dan menangkis keduanya terus bergerak menyerang. Hal itu membuat para prajurit yang menyaksikan semakin tercengang. Adipati Sepa Woroagung berdecak kagum. Tak menyangka kalau Galapati yang masih muda dan keliha- tannya belum berpengalaman ternyata mampu men- gimbangi setiap serangan yang dilancarkan Kebo Wu- lung. Apalagi selama ini mereka mengenal Kebo Wu- lung sebagai kepala prajurit yang ganas dan tak pernah terkalahkan.
"Ck ck ck...! Sungguh pertarungan yang hebat. Pantas Galapati berani sesumbar. Ternyata pemuda itu patut diperhitungkan," gumam Adipati Sepa Wo- roagung sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Sementara Getri Anitia yang hatinya telah terpaut pada ketampanan Galapati, kini berharap pemu- da itu dapat mengalahkan Kebo Wulung. Entah mengapa, hatinya bersorak girang melihat Galapati mam- pu mengimbangi serangan-serangan yang dilancarkan Kebo Wulung. Rasa cemas akan kekalahan pemuda itu, seketika lenyap, berganti dengan rasa kagum. Bibirnya mengurai senyum. Senyum yang penuh arti.
Sementara, Kebo Wulung terbelalak kaget ketika mengetahui tenaga dalam lawan ternyata mampu mengimbangi tenaga dalamnya. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan, untuk menarik tangannya yang dalam cengkeraman tangan Galapati.
"Hih...!" Bret! Akibat tarikan disertai tenaga dalam yang kuat, seketika itu juga daging tangan Kebo Wulung terkelupas. Darah mengucur keluar dari luka besetan itu.
Semua mata terbelalak, tak percaya menyaksikan kejadian di hadapan mereka. Baru kali ini mereka menyaksikan kulit terbeset oleh cengkeraman tangan. Tentunya cengkeraman tangan itu dikerahkan dengan tenaga dalam yang lebih kuat, sehingga mampu membeset kulit tangan lawan.
"Akh...!" Kebo Wulung memekik tertahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Matanya yang tajam terbelalak, menatap tegang tangannya yang mengucurkan darah.
"Bagaimana, Kebo Wulung? Apakah kau belum mengakui kekalahanmu?" tanya Galapati bertambah congkak. Bibirnya tersenyum sinis, mengejek Kebo Wulung.
"Kurang ajar! Cuih! Jangan harap Kebo Wulung menyerah begitu saja! Mari kita teruskan!" tantang Kebo Wulung. Kemudian tangannya bergerak cepat, menyambar senjata yang tersandar di tembok. Sebuah senjata berbentuk kapak dengan gagang panjang. Ka- pak besar bermata dua itu telah banyak merenggut korban. Tak ada lawan yang dapat selamat dari kapak itu.
Menyaksikan lawan telah mengeluarkan senjata, dengan bibir masih mengurai senyum Galapati pun mulai menarik senjata dari balik bajunya.
Srt! Sebuah kipas besar berwarna ungu kini telah terbuka lebar di tangan Galapati. Dengan senyum sinis, pemuda tampan itu mengipas-ngipaskan senjatanya ke tubuh. Hal itu menjadikan Kebo Wulung bertambah marah, merasa diejek dan diremehkan.
"Cuih! Kau kira kipas butut macam itu akan mampu menghadapi Kapak Mata Malaikat ku," dengus Kebo Wulung.
"Hm, kita buktikan, Kebo Wulung!" "Cuh! Kubelah kepalamu, Bocah Sombong! Yeaaa...!"
"Yeaaa...!" Dengan kapak besar bermata dua Kebo Wulung kini melesat. Kapaknya diangkat ke atas, kemudian dengan cepat diayunkan ke tubuh Galapati. Namun belum juga kapak besar itu menurun, Galapati telah lebih dahulu menggerakkan kipas mautnya.
Wrt! Swing, swing...! Kebo Wulung tersentak mendapat serangan ce- pat dan begitu tiba-tiba. Dengan cepat lelaki bertubuh besar itu menarik serangannya. Diputarnya kapak bermata dua membentuk baling-baling untuk melin- dungi tubuhnya dari ancaman pisau-pisau kecil yang melesat ke tubuhnya. Trak, trak! Wrt! Trak! "Heaaa...!" Setelah pisau-pisau kecil itu berguguran tersapu kapaknya, Kebo Wulung yang semakin bernafsu, den- gan cepat mengayunkan kapaknya.
Wrt! "Haits!" Galapati membuang tubuh ke samping dengan melompat. Kemudian dengan tubuh masih agak mir- ing Galapati balas menyerang dengan kibasan kipasnya.
Wrt!
Asap ungu bergulung-gulung keluar dari kipas maut. Asap itu bergerak mengejar tubuh Kebo Wu- lung, membuat lelaki bertubuh tinggi besar dan ber- wajah garang itu berubah pucat. Matanya terbelalak, setelah tahu asap apa yang keluar dari kipas maut itu.
"Racun Kelabang Ungu...!" Ketika lawan dalam keadaan terkejut menyaksi- kan racun yang berbentuk asap ungu yang keluar dari kipas mautnya, dengan cepat Galapati melesat. Kemu- dian dengan cepat pula kipasnya dikebutkan ke leher lawan. Bret! Cras! "Wuaaa...!" lolongan kesakitan seketika terdengar dari mulut Kebo Wulung. Sesaat tubuh lelaki bertu- buh besar itu bergetar hebat. Lalu ambruk dengan tu- buh membiru. Lehernya terkoyak hampir putus!
Tepuk sorak terdengar dari para penonton. Na- mun, ada di antara mereka yang terdiam, tak senang menyaksikan kejadian itu. Seperti halnya Adipati Sepa Woroagung yang terbungkam dengan mengulum bibir. Dia mengira Kebo Wulung akan mampu mengalahkan Galapati, ternyata justru keadaannya terbalik. Kebo Wulung harus menerima kematian.
Saat itu juga, pengangkatan pimpinan prajurit dilangsungkan. Senyum mengembang di bibir Galapa- ti, begitu pula dengan Getri Anitia. Keduanya dengan mencuri pandang, berusaha saling mengisyaratkan se- suatu yang ada dalam hati mereka.
***

Sementara itu, kelima lelaki tua berjubah yang tengah mencari Galapati tiba di Desa Kembar Pacung. Kelima lelaki tua sakti yang juga guru Galapati, pagi itu tengah melintasi persawahan di sebelah utara Desa Kembar Pacung, ketika terdengar suara isak tangis seorang wanita.
"Hei, kudengar ada seorang wanita menangis," seru Ki Gendala.
"Hm, benar. Pagi-pagi begini ada suara tangis," ujar Ki Wilatika.
"Bagaimana kalau kita cari?" ajak Ki Gondra. Kelima lelaki tua itu pun segera menuju asal su- ara tangis itu. Tak lama kemudian, mereka menemu- kan seorang gadis berpakaian hijau sedang menangis sesenggukan seorang din di tepi sungai, di sebuah dangau yang ada di persawahan itu.
"Kenapa kau menangis seorang diri di sini, Nak?" tanya Ki Gendala sambil mendekati gadis cantik berpakaian hijau yang ternyata Arum Sari.
Arum Sari menyeka air matanya. Kemudian, di- pandanginya kelima orang tua di hadapannya.
"Aku..., aku.... Oh, aku sudah tak ada artinya, Ki!" keluh Arum Sari.
"Heh, apa maksudmu?" tanya Ki Wilakupa den- gan kening berkerut
"Aku..., aku benci pada pemuda itu. Dialah yang telah menghancurkan masa depanku. Aku ingin mencari seorang guru, agar dapat membalas sakit hatiku," ujar Arum Sari sambil terus terisak-isak
"Siapa pemuda yang kau maksud, Nak?" tanya Ki Sandika.
"Galapati, Ki. Dia telah menghancurkan masa depanku. Hu hu hu...!"
"Hhh...! Bocah keparat itu lagi! Ng.... Siapa na- mamu? Dan dari mana asalmu, Nak?" tanya Ki Karadena. "Namaku Arum Sari, Ki. Aku berasal dari Desa Swargadana."
Terbeliak mata kelima lelaki tua berjubah itu mendengar ucapan Arum Sari. Seketika mereka teringat akan ucapan Pendekar Gila, yang menceritakan kalau putri Kepala Desa Swargadana pun telah menjadi korban Galapati.
"Heh, apa kau putri Kepala Desa Swargadana?" tanya Ki Gendala.
"Benar, Ki. Dari mana kau tahu?" Arum Sari ba- lik bertanya.
"Kami tahu dari Pendekar Gila, bahwa putri Ke- pala Desa Swargadana telah menjadi korban bocah keparat itu," jawab Ki Wilakupa.
"Ki, tolonglah aku! Tunjukkan padaku, di mana aku dapat menemukan guru yang sakti. Aku ingin membalas dendam pada pemuda biadab itu," pinta Arum Sari.
"Benarkah kau mau berguru?" tanya Ki Gendala. "Benar, Ki." "Hm..,," Ki Gendala menggumam tak jelas. Ma- tanya menoleh dan menatap keempat rekannya, seper- tinya Ki Gendala bermaksud minta pendapat teman- temannya. Mereka mengangguk, menyetujui apa yang direncanakan Ki Gendala.
"Baiklah, Nak. Kami akan mengangkatmu seba- gai murid. Kami akan mengajarkan semua ilmu yang kami miliki padamu. Kelak setelah selesai mempelajari semua, kami mengharap kau mau mencari Galapati. Bocah laknat itu harus ditangkap," ujar Ki Wilakupa.
"Ah..., benarkah?" Arum Sari tersentak gembira mendengar ucapan Ki Wilakupa.
"Ya. Kami terima kau sebagai murid," tegas Ki Gondra.
"Oh, terimalah hormatku, Guru! Akan kulaksa- nakan perintah Guru."
Arum Sari segera bersujud di hadapan kelima le-
laki tua berjubah di depannya.
"Bagaimana kalau kita langsung menggembleng bocah ini?" usul Ki Wilakupa.
"Setuju...!" sahut yang lainnya. "Nah, apakah kau sanggup berlatih sekarang?" tanya Ki Wilakupa.
"Sanggup, Guru," jawab Arum Sari penuh se- mangat
"Baiklah. Kita berlatih sekarang. Nah, ikut aku!" ajak Ki Wilakupa.
Ki Wilakupa mengajak Arum Sari ke tanah la- pang yang ada di tempat itu. Sementara yang lain membuat rumah dari kayu dan jerami. Mereka ingin membuat tempat itu sebagai pesanggrahan sementara, selama mencari Galapati sekaligus mendidik Arum Sa- ri. Karena untuk kembali ke perguruan mereka, terlalu jauh bagi Arum Sari.
Mulai saat itu Arum Sari berlatih. Ki Wilakupa memperagakan jurus-jurus ilmu silatnya, sedangkan Arum Sari mengikutinya. Didorong semangat dan den- dam dalam jiwanya, Arum Sari dapat mengikuti gera- kan ilmu silat yang diperagakan Ki Wilakupa.
"Heaaa...!" "Yeaaa...!" Tubuh keduanya bergerak cepat, dalam jurus- jurus ilmu silat. Bahkan ketika Ki Wilakupa berhenti, Arum Sari masih terus melakukan gerakan, mempela- jari jurus-jurus yang tadi diberikan Ki Wilakupa.
Secara bergantian kelima lelaki tua itu memberi- kan jurus-jurus ilmu silatnya. Tak jemu-jemunya Arum Sari menerimanya. Semakin lama bahkan gadis itu tampak semakin memperlihatkan semangatnya. Terus-menerus berusaha keras mempelajari jurus- jurus silat dari kelima lelaki tua berpakaian jubah yang telah mengangkat Arum Sari sebagai murid.
***

Keesokan paginya, di Bukit Semut Abang tampak seorang pemuda berpakaian rompi kuning keemasan tengah melangkah tenang di bawah sinar matahari pa- gi yang hangat. Di punggung pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tersandang sebilah pedang. Dilihat dari pedang dan pakaian yang dikenakan, pe- muda itu tentunya orang persilatan.
Pemuda itu bernama Sunatra, murid Ki Kayapu- taka yang hendak menuju Kadipaten Blambangkara. Dia pergi ke sana atas perintah gurunya, yang kemarin lusa datang ke Kadipaten Blambangkara.
Sunatra tengah melangkah melintasi Bukit Se- mut Abang, ketika tiba-tiba dari arah samping kanan berdesing puluhan anak panah.
Swing, swing...! "Hop! Heaaa...!" Sunatra cepat melompat dan bersalto, mengelak- kan serangan tak terduga yang meluncur ke arahnya. Tubuhnya berjumpalitan di udara beberapa kali, sebe- lum kemudian mendarat dengan mulus di tanah. Tan- gannya dengan cekatan berhasil menangkap beberapa anak panah. Matanya yang tajam, mengawasi sekeli- lingnya, berusaha mencari asal serangan itu.
"Pengecut! Keluarlah kalian!" bentak Sunatra sengit Swing, swing...!
Jawaban dari seruan Sunatra, berupa puluhan anak panah melesat memburu tubuhnya. Melihat se- rangan itu, Sunatra kembali melompat dan berjumpa- litan untuk mengelak.
"Hop! Kurang ajar! Hih...!" Dengan tubuh masih berjumpalitan di udara, tangannya dengan cepat melolos pedang yang tersan-
dang di punggung.
Srt! "Heaaa...!" Wrt! Trak, trak...! Dalam sekali kebut, puluhan anak panah terba- bat pedang dan berpentalan di tanah.
"Pengecut! Keluarlah kalian!" seru Sunatra sam- bil mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu! Seketika, dari balik semak-semak tak jauh dari Suna- tra berada, bermunculan puluhan prajurit Kadipaten Blambangkara yang dipimpin seorang pemuda berwa- jah tampan mengenakan pakaian ungu.
"Apa maksud kalian menyerangku?!" tanya Su- natra. "Kau harus dibunuh!" dengus pemuda berpa- kaian ungu yang tak lain Galapati.
"Hm.... Antara kita tak pernah terjadi sengketa. Guru malah menyuruhku untuk menemui Kanjeng Adipati," ujar Sunatra merasa heran dan tak mengerti.
"Untuk apa? Dan siapa gurumu?" tanya Galapati. "Guruku Ki Kayaputaka." "Bohong! Rupanya kau hendak menipu kami! Prajurit bunuh dia! Dialah si hidung belang itu...!" se- ru Galapati.
Sunatra tersentak kaget mendengar perintah dan tuduhan padanya sebagai si durjana. Sunatra hendak membantah, tapi puluhan prajurit telah menyerang, hingga dia tak sempat berkata lagi. Hanya ada satu jalan, menghadapi mereka.
"Heaaa...!" "Yeaaa...!" Sunatra segera menggerakkan pedangnya den- gan jurus 'Badai Mendera Buana'. Pedangnya bergerak laksana badai yang kencang, memapaki serangan go-
lok dan tombak yang dilancarkan para prajurit Kadi- paten Blambangkara.
Wrt! Trang! Prak! "Ihhh...!" Dalam sekali sabetan, beberapa senjata di tan- gan para prajurit itu patah menjadi dua. Kenyataan itu membuat para prajurit terbelalak dan melompat mun- dur.
"Kurang ajar! Akulah lawanmu! Yeaaa...!" Galapati yang melihat anak buahnya tak mampu mengalahkan Sunatra, segera melesat menyerang pe- muda murid Ki Kayaputaka itu. Serangannya tak tanggung-tanggung lagi. Langsung dikeluarkannya ju- rus andalannya yang bernama jurus 'Tari Ronggeng Menjerat'. Tangannya bergerak menari, dengan kipas maut berwarna ungunya.
Wrt! Dari gerakan kipas itu, keluar gulungan asap ungu yang melesat mengejar Sunatra. Sunatra tersen- tak kaget, ketika tahu asap yang keluar dari kipas maut itu.
"Racun Kelabang Ungu...?!" pekiknya sambil me- lompat mundur, kemudian dengan cepat pedangnya diputar dengan jurus 'Kincir Menyapu Kabut'. Pedang di tangan kanan Sunatra bergerak cepat, berputar lak- sana kincir.
Wrt! Asap ungu beracun seketika tersapu. Cahaya gemerlap terbias ketika pedang Sunatra berputar begi- tu cepat dan keras.
"Heaaa...!" "Yeaaa....!" Galapati melesat memburu lawan. Kipas maut-
nya dikibaskan dengan tenaga dalam penuh. Kemu- dian dengan secepat kilat dihentakkan.
Wrt! Swing, swing...! Puluhan pisau-pisau kecil terlontar dan melesat. Sunatra tersentak kaget. Belum sempat dirinya terbe- bas dari serangan Racun Kelabang Ungu, mendadak harus menghadapi serangan pisau-pisau kecil yang keluar dari kipas besar di tangan lawan.
"Hais! Hih...!" Tubuh Sunatra melompat dengan berjumpalitan di udara, mengelakkan serangan pisau-pisau kecil itu! Pedangnya terus berkelebat cepat, berputar laksana kincir untuk menangkis serangan pisau-pisau kecil, sekaligus menepiskan asap beracun yang juga terus memburu dirinya.
Wut! Wut! "Heaaa...!" Sunatra terus mengelakkan pedangnya sambil berjumpalitan mengelakkan serangan lawan. Dia kini benar-benar kewalahan menghadapi gempuran lawan yang tak henti-hentinya. Serangan lawan begitu terpa- du, antara racun dan asap, pisau-pisau, dan kibasan- kibasan kipasnya yang begitu cepat dan keras.
"Heaaa...!" Wrt! Wrt! Galapati terus memburu lawan dengan kipas mautnya yang mengeluarkan asap beracun ganas. Keadaan ini semakin membuat Sunatra bertambah ke- labakan. Sampai pada suatu ketika....
Wrt! Swing! Jlep! "Akh...!" Tubuh Sunatra terhuyung-huyung, ketika pa-
hanya tertancap pisau maut Wajahnya memucat den- gan mata terbelalak tegang. Tubuh pemuda itu terus limbung ke belakang. Sekujur tubuhnya terasa terge- tar hebat akibat hunjaman pisau beracun itu.
"Ha ha ha...! Mampuslah kau....' Hiaaa....!" Galapati melesat hendak menghabisi nyawa Su- natra. Tubuhnya berkelebat cepat memburu Sunatra. Kipas maut di tangannya bergerak cepat dan melebar, membentuk mata kapak besar yang siap memenggal leher lawan.
"Hiaaa...!" "Oh, matilah aku!" keluh Sunatra dengan wajah semakin bertambah pucat
Kipas maut itu semakin mendekat ke tubuh Su- natra yang sudah dalam keadaan terdesak hebat. Sesaat lagi, tentunya nyawa Sunatra akan melayang. Ta- pi....
"Hi hi hi....! Orang jahat! Heaaa....!" Ketika nyawa Sunatra dalam keadaan terancam, tiba-tiba tampak sesosok bayangan pemuda berambut panjang dengan pakaian rompi kulit ular berkelebat dan menghantam- kan suling berkepala naga ke kipas maut Galapati.
Wut! Bret! "Akh!" Galapati tersentak. Tubuhnya terdorong bebera- pa tindak ke belakang. Matanya membelalak, karena pinggir kipasnya rusak akibat berbenturan dengan Suling Naga Sakti di tangan pemuda bertingkah laku seperti orang gila yang tak lain Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Tikus busuk! Rupanya tindakanmu benar-benar busuk! Hi hi hi...!" Sena tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kau?!" mata Galapati terbelalak setelah tahu siapa yang telah merusakkan kipas mautnya.
"Hi hi hi.... Mau lari ke mana kau, Tikus Bu-
suk?!" dengus Sena dengan gerak-gerik yang masih seperti orang gila.
"Kurang ajar! Kau harus mampus, Pendekar Gila! Serang dia!" perintah Galapati pada prajurit-prajurit kadipaten, yang seketika itu bergerak menyerang Pen- dekar Gila.
"Ukh...!" Sunatra mengeluh, merasakan dadanya sakit. Hal itu membuat Pendekar Gila yang hendak memapaki serangan lawan segera mengurungkan niatnya. Dengan bertingkah laku seperti kera, Pende- kar Gila melesat ke arah tubuh Sunatra, lalu dibo- pongnya tubuh murid Ki Kayaputaka itu.
"Hi hi hi...! Kurasa belum saatnya kau ku jitak, Tikus Busuk! Aku harus menolong dia dulu," Sena pun dengan cepat melesat meninggalkan tempat itu sambil memondong tubuh Sunatra.
"Bedebah! Jangan lari...!" bentak Galapati sambil memburu Sena. Namun, Pendekar Gila yang menggu- nakan ilmu lari 'Sapta Bayu' dalam sekejap telah le- nyap dari pandangan. Kini tinggal Galapati yang men- caci-maki seorang diri. "Kita pulang...!"
Prajurit-prajurit Kadipaten Blambangkara menu- rut, kembali ke kadipaten meninggalkan Bukit Semut Abang.

7
Pendekar Gila terus membopong tubuh Sunatra meninggalkan Bukit Semut Abang. Kini dia terus me- nuju barat. Pendekar Gila berusaha mencari tempat aman untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu dari racun ganas yang menjalar di tubuhnya.
"Hi hi hi...! Tahanlah sedikit, Sobat! Kerahkan tenaga murnimu agar kau bisa bertahan sampai di
tempat yang aman," pinta Sena sambil terus menge- rahkan ilmu lari 'Sapta Bayu', yang membuat tubuh- nya bagaikan angin melesat kencang.
"Kisanak, kaukah yang berjuluk Pendekar Gila?" tanya Sunatra sambil berusaha menahan jalan darah- nya. Tangannya bergerak menotok urat di pahanya yang terkena pisau beracun.
"Hua ha ha...! Terlalu tinggi sebutan itu untuk- ku, Sobat. Ah, hanya orang-orang saja yang menye- butku begitu," sahut Sena masih terus berlari.
"Oh, beruntung sekali aku bisa bertemu den- ganmu, Pendekar Gila. Selama ini, aku membayang- kan kalau kau sudah tua dengan rambut putih pan- jang dan jenggot putih."
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak menden- gar penuturan Sunatra yang membayangkan kalau di- rinya telah tua. Kepalanya digeleng-gelengkan, kemu- dian tangan kirinya menggaruk-garuk kepala.
"Tak kusangka, kalau pendekar yang namanya tersohor di tanah Jawa Dwipa ini masih begitu muda. Seusia denganku," lanjut Sunatra.
Pendekar Gila kembali tertawa sambil terus me- lesat membawa tubuh Sunatra semakin jauh dari kaki Bukit Semut Abang.
Tak begitu lama kemudian, Pendekar Gila yang masih membopong tubuh Sunatra tiba di sebuah pe- gunungan. Mereka kini berada di dekat sebuah sungai membentang lebar yang membagi dua wilayah. Itulah Sungai Cipakuyu. Di sebelah timur, tempat kini Pen- dekar Gila berada merupakan Desa Cipatukan. Se- dangkan di sebelah barat, di seberang sungai adalah batas Desa Cibalawa. Sungai itu sangat lebar, tapi tak ada satu pun rakit.
Hm.... Tak ada jalan lain, kecuali dengan ilmu la- ri di atas air! Gumam Sena dalam hati. "Hop!
Heaaa...!"
Enak sekali Pendekar Gila menerjunkan tubuh ke sungai. Mata Sunatra terbelalak, ketika melihat ka- ki Pendekar Gila menapak di atas permukaan air, tak terendam apalagi tenggelam bersama tubuhnya. Itulah kelebihan Pendekar Gila dengan ilmunya yang berna- ma 'Peringan Raga'. Ilmu yang dapat membuat tubuh- nya seringan kapas itu diperoleh dari gurunya, Singo Edan, ketika Sena digembleng di Goa Setan.
Ck ck ck..! Benar-benar pendekar sejati. Segala jenis ilmu dimilikinya. Gumam Sunatra berdecak ka- gum dalam hati, menyaksikan betapa ringannya tubuh Pendekar Gila melangkah di atas air sungai. Padahal pundaknya memanggul tubuh Sunatra, yang berbadan kekar, sama seperti badan Pendekar Gila. Namun ba- gaikan tanpa beban barang sedikit pun.
Pendekar Gila melangkah sambil tertawa-tawa. Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala. Sesekali ka- kinya melompat-lompat, kemudian melejit bagaikan terbang dan hinggap di tepian sungai sebelah barat
"Hop!" "Wuah, baru kali ini mataku terbuka, Pendekar Gila. Sungguh selama ini aku tak tahu tingginya gu- nung dan dalamnya laut. Rupanya kau benar-benar pendekar sejati," gumam Sunatra memuji.
"Aha, jangan terlalu memujiku, Sobat! Tingginya gunung, tentu masih ada yang lebih tinggi, Dalamnya laut, tentu masih ada yang lebih dalam. Begitu juga dengan ilmu yang dimiliki manusia. Setinggi-tingginya ilmu manusia, tentu ada lagi yang lebih tinggi. Hanya Hyang Widhi yang berada di atas segalanya," tutur Pendekar Gila, semakin membuat Sunatra bertambah kagum mendengarnya. Tak pernah dia sangka, Pende- kar Gila yang ilmunya bagaikan setinggi langit masih tetap merendah. Padahal kalau pendekar lainnya, ten-
tu akan merasa sombong.
"Sungguh baru kali ini kutemui seorang pende- kar yang berhati mulia sepertimu, Pendekar Gila."
"Aha, panggil saja aku Sena, Sobat," ujar Sena. "Ya. Baru kali ini kutemui orang sepertimu, Se- na. Meskipun ilmumu bagaikan setinggi langit, tapi kau tetap berbudi luhur."
"Hi hi hi..! Ilmu tinggi bisa menyesatkan, Sobat." "Namaku Sunatra." "Ya, ilmu tinggi dapat menyesatkan pemiliknya, Sunatra. Sedangkan budi pekerti yang tinggi, akan se- nantiasa mengingatkan kita pada Hyang Widhi, yang telah mencipta alam semesta ini. Sehingga kita akan selalu merasa kecil, jika dibandingkan dengan kekua- saan-Nya."
Sunatra semakin bertambah kagum mendengar tutur kata Pendekar Gila.
"Aha, kita sudah sampai. Kurasa tempat ini aman untuk mengobati lukamu, Sunatra," ujar Sena ketika keduanya sampai di Hutan Waru Kerap.
Pendekar Gila meletakkan tubuh Sunatra di se- batang pohon dan beralaskan rerumputan. Kemudian tubuhnya melesat ke dalam hutan untuk mencari daun waru ungu, yang bisa menyembuhkan Racun Kelabang Ungu.
"Aha, kita sudah sampai. Kurasa tempat ini aman untuk mengobati lukamu, Sunatra," ujar Sena ketika keduanya sampai di Hutan Waru Kerap
Pendekar Gila meletakkan tubuh Sunatra dengan sangat hati-hati di bawah sebatang pohon yang bera- laskan rerumputan.
Tak lama kemudian, Pendekar Gila telah kembali membawa beberapa helai daun waru ungu. Daun waru berwarna ungu itu digilasnya dengan telapak tangan sampai hancur dan berair. Segera Sena meneteskan air dari remasan daun waru ungu di paha Sunatra yang masih tertancap pisau beracun.
"Akh...!" Sunatra terpekik. Pahanya yang terkena tetesan air daun waru ungu dirasakan bagai terbakar. Tubuh- nya menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang tia- da tara. Sena cengengesan. Kemudian disobeknya celana Sunatra di sekitar bagian paha sebelah kiri.
Bret! "Hm...," gumam Sena. Tangannya dengan cepat mencabut pisau kecil beracun. Dan setelah pisau ter- cabut, daun waru yang sudah hancur kembali di- usapkan ke sekeliling bekas pisau beracun itu menan- cap.
"Akh...!" Sunatra kembali memekik keras, merasakan rasa sakit yang hebat. Tubuhnya menggelepar-gelepar, lalu diam pingsan.
"He he he...!" Sena tertawa, kemudian dihelanya napas panjang-panjang. Setelah itu segera pergi men- jauh dari tempat itu. Duduk di bawah sebatang pohon waru yang rindang sambil meniup Suling Naga Sakti dengan merdu. Suara itu mendendangkan lagu peng- hayatan pada alam yang diteruskan dengan lagu ke- rinduan akan pertemuan.
Aku ibarat sebuah perahu Yang tengah mengarungi samudera luas Terombang-ambing ombak dan gelombang Tapi perahu kecil Hu terus berlabuh....
Saat itu Sunatra tampak menggeliat, sadar dari
pingsannya. Murid Ki Kayaputaka itu tersenyum ceria. Nampaknya luka beracun yang tadi dirasakan, kini te- lah hilang. Bahkan bekas biru racun telah lenyap sa- ma sekali.
Sunatra bangun dengan tertatih-tatih, melang- kah mendekati Pendekar Gila yang masih hanyut dengan tiupan Suling Naga Saktinya.
"Merdu sekali suara yang kau dendangkan, Se- na."
"Aha, rupanya kau telah pulih, Sunatra. Syukur- lah kalau begitu!"
"Apakah kita akan meneruskan perjalanan, Se- na?" tanya Sunatra.
"Hm, kurasa tidak. Kau harus memulihkan tena- ga dahulu," jawab Sena dengan tangan menggaruk- garuk kepala. Matanya menatap ke timur, tampak mentari merangkak naik. "Mungkin lusa kita baru be- rangkat"
"Tapi, aku telah pulih, Sena." "Ah, sabarlah! Kita dalam kedudukan yang sulit. Bisa saja tikus busuk itu akan mengerahkan seluruh prajurit untuk memusuhi kita. Aha, sejak tadi kita tak tahu dari mana asal kita," tukas Sena mengalihkan pembicaraan.
Sunatra tersenyum, senang hatinya melihat ting- kah laku Pendekar Gila. Kemudian setelah duduk di sampingnya, Sunatra pun menceritakan siapa dirinya dan asalnya. Juga diceritakan tempat yang hendak di- tuju hingga bertemu dengan Galapati.
"Guru mengutus ku pergi ke Kadipaten Blam- bangkara, karena guru ingin aku bisa menjaga pu- trinya Getri Anitia yang menjadi istri Kanjeng Adipati Blambangkara. Namun rupanya guru tak tahu, kalau ada seorang lelaki durjana yang telah mengaku seba- gai muridnya, hingga Kanjeng Adipati menerimanya."
"Kau yakin Galapati mengaku sebagai murid Ki Kayaputaka?" tanya Sena.
"Ya, karena guru mengatakan bahwa hanya mu- ridnyalah yang akan diterima di Kadipaten Blambang- kara." "Hm, kurasa ada maksud lain, mengapa tikus busuk itu mengaku murid gurumu," gumam Sena dengan tangan kembali menggaruk-garuk kepala.
"Ya! Mungkinkah...." "Tepat!" sentak Sena seraya bangun dari duduk- nya. "Tentu tikus itu mengincar istri Kanjeng Adipati. Keparat! Ini tak boleh dibiarkan!"
"Ya. Maka itu, kita lanjutkan saja perjalanan ki- ta!" ajak Sunatra.
"Hm, baiklah. Ayo!" ajak Sena. Keduanya pun segera melangkah, meninggalkan Hutan Waru Kerap untuk menuju Kadipaten Blam- bangkara.
"Apakah Kanjeng Adipati akan percaya?" tiba- tiba Sena menghentikan langkah. "Kurasa jika hanya kita, Kanjeng Adipati tak akan percaya. Bisa-bisa ma- lah kita yang dituduh hendak membuat keonaran."
Sunatra tercenung dengan kepala mengangguk- angguk. Apa yang dikatakan Pendekar Gila memang ada benarnya. Adipati Sepa Woroagung belum menge- nalnya. Begitu juga Getri Anitia, tentunya tak yakin bahwa dirinya murid Ki Kayaputaka, ayahnya.
"Kau benar, Sena. Tentu kalau kita yang ke sana, sulit sekali untuk dipercaya," kata Sunatra.
"Lalu bagaimana?" "Bagaimana kalau kita menemui guruku?" "Aha, usul yang bagus!" sahut Sena. "Ayo, jangan buang-buang waktu!"
Keduanya yang tadi berhenti melangkah, kini meneruskan langkah kakinya. Tapi mereka kini tak
bermaksud ke Kadipaten Blambangkara, melainkan hendak menemui guru Sunatra, Ki Kayaputaka.
***

Sementara di lain tempat di Desa Kembar Pa- cung, nampak seorang gadis berpakaian pendekar berwarna hijau, tengah berlatih ilmu silat. Semangat yang didorong dendam terhadap Galapati, membuat gadis cantik bernama Arum Sari itu bagaikan tak mengenal lelah sedikit pun. Dia terus saja berlatih, tiada hentinya.
"Heaaa...!" Tubuh gadis itu melompat ke sana kemari, menggerakkan jurus-jurus ilmu silat yang diajarkan kelima lelaki tua yang mengangkatnya sebagai murid. Bahkan kelima lelaki tua berjubah itu kini mengawasi Arum Sari dalam berlatih. Kelimanya mengangguk- anggukkan kepala, melihat perkembangan ilmu silat yang dipelajari sang Murid.
"Hm, tak kusangka dia akan begitu cepat menye- rap ilmu-ilmu silat kita " gumam Ki Karadena yang pe- dangnya tengah digunakan untuk latihan Arum Sari. Pedang berlekuk tiga yang bernama Ki Weling Giling itu semakin bertambah hebat dalam genggaman tan- gan Arum Sari.
"Ya. Tak kita sangka kalau gadis itu begitu ber- semangat. Ilmu silat yang seharusnya dipelajari dalam satu purnama, dia mampu menguasai dalam beberapa hari saja...," tambah Ki Wilakupa.
"Mungkin karena dendamnya pada Galapati, yang membuatnya begitu bersemangat dalam mempe- lajari ilmu-ilmu silat yang kita berikan. Bagaikan tak mengenal lelah," gumam Ki Gendala.
Gadis itu berkelebat cepat, menggerakkan jurus- jurus yang dipelajari dari kelima lelaki tua berilmu tinggi. Arum Sari bagaikan tak mengenal lelah sedikit pun. Dia terus berlatih tiada henti. Hal itu menambah senang dan kagum kelima gurunya.
"Heaaa...!" Dengan jurus 'Tarian Ronggeng Melempar Bunga' Arum Sari kembali bergerak. Kedua tangannya mena- ri-nari dengan lincah, seperti seorang ronggeng yang sedang menari. Pedang berkeluk tiga bergerak menu- suk dan membabat ke depan, seperti sedang menye- rang ke arah lawan.
"Hup! Heaaa....!" Wrt! Arum Sari terus menekuni jurus-jurus 'Tarian Ronggeng Melempar Bunga'. Tangannya terus bergerak menari-nari, diikuti liukan tubuhnya yang lemah ge- mulai. Tapi dari gerakan-gerakan kedua tangan dan tubuhnya, mengeluarkan angin kencang yang mende- ru dan menerpa keras. Sampai-sampai rerumputan yang ada di sekelilingnya bergoyang keras.
"Yeaaa....!" Wut! Wut...! Tubuh Arum Sari terus meliuk-liuk dengan in- dah, menari-nari disertai sabetan-sabetan pedangnya yang menderu. Dalam sekejap saja, tubuhnya telah menghilang, terbungkus gerakan tarian yang gemulai dan cepat
"Hm, tinggal memperdalam tenaga dalamnya. Bocah itu benar-benar akan menjadi seorang pendekar yang tak dapat diremehkan," gumam Ki Wilakupa sambil mengangguk-anggukkan kepala. Hatinya mera- sa kagum menyaksikan kelincahan gerakan silat yang sedang diperagakan muridnya.
"Ya. Jika dia benar-benar telah memperdalam te- naga dalamnya, kurasa akan menjadi gadis berilmu tinggi. Ah, rupanya jurus-jurus yang kita ciptakan, memang cocok untuk seorang wanita, bukan seorang lelaki," sambung Ki Gondra.
"Ya ya. Jurus-jurus itu memang cocok untuk seorang wanita. Dan rupanya kita telah menemukan- nya," gumam Ki Sandika.
Begitulah, setiap hari Arum Sari berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah. Bahkan hari ini, dia ba- gaikan tak merasakan lelah sedikit pun. Gadis itu te- rus memperdalam semua ilmu yang diajarkan kelima gurunya, dengan harapan secepat mungkin akan da- pat mengalahkan Galapati, membalas sakit hatinya atas tindakan Galapati yang telah menghancurkan masa depannya.
Mentari pagi telah mulai tinggi pertanda hari te- lah siang. Tapi Arum Sari bagaikan tak mau berhenti. Dia terus berlatih dan berlatih. Keringat telah bercu- curan membasahi tubuh dan tenaganya pun telah ter- kuras. Namun, tampaknya gadis itu tak menghirau- kannya.
Kelima gurunya semakin mengerutkan kening, menyaksikan latihan murid mereka yang tak hendak berhenti. Meski mentari terik memanggang tubuh, Arum Sari tetap saja berlatih.
Baru ketika hari menjelang sore, Arum Sari nampak menghentikan latihannya. Tubuhnya terlihat sangat letih, membuat kelima gurunya merasa iba.
"Arum, jangan kau paksa tenagamu, Nak! Berla- tihlah yang wajar saja!" tutur Ki Gendala.
"Benar, Nak. Tanpa memaksa tenagamu, asalkan giat berlatih, dalam waktu singkat kau akan mampu menguasai semua ilmu yang kami ajarkan," sambung Ki Wilakupa.
"Tapi, Guru. Saya ingin segera mencari pemuda laknat itu. Rasanya hati saya tak tenteram jika belum membuat perhitungan dengannya," sahut Arum Sari.
Kelima gurunya menggeleng-gelengkan kepala. Di bibir mereka tersungging senyuman. Mereka bangga bercampur tak suka jika ilmu yang mereka turunkan hanya untuk melampiaskan dendam.
"Arum, ilmu bukanlah untuk balas dendam. Jika kau ingin menjadi pendekar seperti Pendekar Gila, il- mu hanyalah untuk menolong yang lemah," kembali Ki Gendala bertutur. "Tak ada artinya ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu Hyang Widhi, Nak"
Arum Sari menundukkan kepala mendengar pe- nuturan Ki Gendala. Hatinya diliputi dendam yang da- lam. Dendam terhadap pemuda laknat yang telah me- renggut keperawanannya dengan seenaknya. Dia telah menyerahkan hatinya, juga segenap jiwa raga, bahkan kehormatannya, tapi pemuda itu malah mencampak- kan begitu saja, seperti sampah tak berguna.
"Apakah tak boleh membalas dendam, Guru?" tanya Arum Sari.
"Boleh, tapi harus ada batasnya, Nak," sahut Ki Wilakupa.
"Baiklah, Guru. Saya akan selalu mengingat hal itu."
"Kita istirahat Ayo!" ajak Ki Gendala. Mereka berlalu meninggalkan tempat itu, ketika matahari tampak telah tergelincir di balik bumi sebe- lah barat.

8
Hubungan cinta gelap antara Galapati dengan Getri Anitia terus berlanjut. Meski hubungan itu ma- sih berkisar antara pandangan mata dan berbincang- bincang secara sembunyi-sembunyi, tapi cukup mem-

No comments:

Post a Comment