DURJANA
BERPARAS DEWA
Oleh Firman Raharja
1
Pagi nampak cerah.
Langit biru tak berawan ter- hampar di atas Desa Swargadana. Di sebelah selatan
desa itu tampak membentang gunung yang membiru indah dari timur sampai ke barat
Di sebelah barat, rimbun pepohonan yang menghijau menambah asri pemandangan.
Sedangkan di sebelah timur dan utara, sejauh mata memandang tampak tanah
persawahan hijau yang luas.
Sungai kecil nampak
meliuk-liuk seperti ular raksasa, menghiasi Desa Swargadana. Membuat kea- daan
desa itu bertambah indah laksana surga bagi penduduknya.
Penduduk Desa Swargadana
sebagian besar mencari nafkah dengan berdagang dan bertani. Wajar kalau desa
itu cukup ramai dikunjungi para pelancong. Di samping ingin melihat keadaan
pemandangan desa, biasanya mereka juga berdagang di desa itu.
Desa Swargadana
dipimpin seorang kepala desa yang cukup disegani. Berbudi pekerti luhur, adil
dalam memutuskan segala perkara, juga tidak tamak. Bahkan sikap rela berkorban
bagi kepentingan desa melekat erat dalam jiwanya.
Ki Baya Kitri, nama
kepala desa itu. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun. Bertubuh
tinggi tegap dengan wajah yang selalu mencerminkan kesa- baran dan ketenangan
jiwanya. Matanya tajam, setajam mata burung elang. Penampilannya sederhana.
Ki Baya Kitri memiliki
seorang anak gadis cantik bernama Arum Sari. Kecantikan gadis itu sangat terkenal
di seluruh Desa Swargadana. Bukan hanya di desa itu saja kecantikan Arum Sari
terkenal, tapi bahkan sampai ke seluruh Kadipaten Blambangkara yang dipimpin
Adipati Sepa Waroagung.
Pagi itu langit tampak
cerah. Seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tujuh tahun berpa- kaian
ungu, melangkah menyelusuri jalanan di Desa Swargadana. Saat itu telah ramai
orang berjalan me- nuju Desa Swargadana.
Hampir semua orang yang
berpapasan dengan pemuda tampan berpakaian ungu itu menghentikan langkah. Mulut
mereka berdecak kagum, melihat ke- tampanannya. Namun, pemuda yang bernama
Galapati itu terus melangkah, seolah tak menghiraukan ke- kaguman semua orang
yang melihatnya.
"Ck ck ck...!
Tampan sekali pemuda itu," gumam seorang wanita setengah baya berbaju
kuning dengan mulut berdecak kagum. "Kalau aku masih muda, ingin rasanya
aku menjadi kekasihnya."
"Iya, ya. Pemuda
kok tampan begitu," sambung temannya, wanita berusia sekitar empat puluh
lima tahun dengan kening lebar dan berpakaian merah muda. Galapati tak
menghiraukan suara orang-orang yang membicarakan dirinya. Kakinya terus saja
me- langkah, menyelusuri jalan ranah di Desa Swargadana yang indah dan berudara
sejuk. Kini kakinya melang- kah ke selatan, menuju rumah Kepala Desa Swargadana.
Tak lama kemudian, Galapati telah sampai di depan halaman rumah Ki Baya Kitri.
Tampak dua orang berpakaian biru tua dengan wajah garang ten- gah
bercakap-cakap. Rambut mereka yang lebat ditutup kain biru mirip blangkon.
Yang seorang berbadan
besar, mukanya dihiasi cambang bauk lebat. Sedangkan yang seorang lagi hanya
dihiasi kumis tebal melintang. "Selamat pagi...!" sapa Galapati.
Kedua orang berbadan
tinggi besar yang ten- tunya pengawal Ki Baya Kitri seketika menghentikan percakapan
mereka. Keduanya langsung memandang orang yang menyapa mereka. Kemudian dengan
ken- ing berkerut dan menatap tajam wajah Galapati, mereka mendekat
"Selamat
pagi...!" sahut keduanya hampir bersa- maan. "Ada apa, Kisanak?"
tanya lelaki bercambang bauk. Matanya masih menatap tajam Galapati yang tampak
tenang menghadapi kedua orang berwajah ga- rang itu.
"Saya mau bertemu
kepala desa," sahut Galapati. "Kisanak siapa? Dari mana dan ada
urusan apa ingin bertemu dengan kepala desa?" tanya Raparata, orang yang
berkumis melintang.
Galapati tersenyum,
masih menunjukkan kete- nangan. Meski dua orang yang sedang dihadapi ber-
tampang sangar, nampaknya Galapati tak merasa ta- kut sedikit pun. Sikapnya
tenang, bahkan tetap terse- nyum. Beruntung wajahnya sangat tampan, sehingga
tak segera membuat kedua pengawal Ki Baya Kitri ma- rah. Keduanya seakan
terpesona melihat ketampanan Galapati.
"Aku ingin melamar
kerja," jawab Galapati. "Apa kepandaianmu, Kisanak?" tanya
Rarapita, lelaki bercambang bauk. "Tak pantas orang setampan dirimu
melamar kerja kasar. Sedangkan di sini tak ada kerjaan yang ringan."
"Apa pun
pekerjaannya, aku sanggup. Meski mencari rumput sekalipun, aku sanggup. Karena
aku memang sudah terbiasa melakukannya," jawab Gala- pati berusaha
meyakinkan keduanya.
Dua orang pengawal Ki
Baya Kitri mengerutkan kening. Mata mereka memperhatikan dengan seksama wajah
Galapati, seperti tak percaya mendengar jawa- ban Galapati. Bagaimana mungkin
pemuda tampan dengan tubuh yang tak begitu berotot mampu mela- kukan pekerjaan
kasar? Pikir keduanya, masih belum yakin dengan apa yang dikatakan Galapati.
Galapati tersenyum,
seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua pengawal kepala desa itu.
"Kalian sepertinya
menyangsikan tubuhku," gu- mamnya menyentakkan kedua pengawal Ki Baya
Kitri.
"Ya. Kami tak
yakin, kau akan sanggup bekerja keras," tukas Raparata.
Galapati kembali
tersenyum. Kepalanya digeleng- gelengkan. Lalu setelah menghela napas panjang,
den- gan bibir masih mengurai senyum dia berkata,
"Kurasa, kalian
memandang orang hanya dari luar saja."
"Apa maksudmu,
Kisanak?" tanya Rarapita. "Ya, kalian menganggap hanya kalian yang mampu
melakukan pekerjaan berat. Sedangkan orang-orang sepertiku, kalian anggap lemah
dan tiada daya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat," sahut Galapati
dengan tenang. Bahkan senyumnya semakin mengembang di bibirnya.
"Ada apa,
Rarapita?" Tiba-tiba dari dalam terdengar suara berat yang sepertinya
keluar dari mulut seorang lelaki tua. Tak lama kemudian, muncul seorang lelaki
berusia sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi tegap, dan berma- ta tajam.
Namun raut wajahnya menggambarkan ke- tenangan dan kesabaran. Tentunya lelaki
berusia seki- tar lima puluh tahun ini tak lain Ki Baya Kitri, Kepala Desa
Swargadana.
"Maaf, Ki. Ada
seorang pemuda yang hendak me- lamar pekerjaan di sini," sahut lelaki
bercambang bauk yang bernama Rarapita.
"Hm,
mana...?" tanya Ki Baya Kitri. "Itu, Ki," sahut Rarapita sambil
menunjuk Gala- pati yang masih berhadapan dengan rekannya.
Galapati tersenyum,
kemudian membungkukkan badannya ketika Ki Baya Kitri memandang dirinya. Hal itu
membuat kepala desa itu membalas tersenyum, kemudian melangkah mendekati
Galapati.
"Kau mau melamar
kerja di sini, Bocah?" tanya Ki Baya Kitri.
"Benar, Ki."
"Apa kebisaanmu?" "Saya tak bisa apa-apa, Ki. Maka itu, menjadi
tukang arit rumput pun mau," sahut Galapati. Tindak tanduknya yang penuh
rasa hormat, membuat Ki Baya Kitri semakin mengerutkan kening. Lelaki muda itu
tampak heran melihat sikap yang ditunjukkan pemu- da tampan itu.
Tindak-tanduknya mencerminkan ka- lau dirinya bukan orang bodoh, melainkan
cermin jiwa seseorang yang memiliki ilmu serta budi pekerti.
Hm, kurasa dia bukan
pemuda sembarangan. Dari sikap dan tindak tanduknya, jelas dia orang yang
berpendidikan serta berbudi pekerti baik. Gumam Ki Baya Kitri dalam hati.
Matanya masih memperhatikan secara seksama pemuda tampan di hadapannya. Kepalanya
manggut-manggut, seakan sedang mendalami siapa sebenarnya pemuda itu.
"Benarkah kau mau
menjadi tukang rumput?" tanya Ki Baya Kitri belum percaya dengan kesanggu-
pan pemuda tampan yang berdiri dengan sikap hormat di hadapannya. Mata lelaki
tua itu masih memandang penuh selidik terhadap pemuda itu. Tatapannya seakan
hendak memastikan siapa sesungguhnya pemuda tampan itu.
"Benar, Ki. Saya
memang ingin bekerja demi mendapatkan sesuap nasi guna melangsungkan kehi-
dupanku," jawab
Galapati sambil membungkukkan badan, berusaha meyakinkan Ki Baya Kitri.
Ki Baya Kitri masih
memandangi dengan penuh seksama, seperti masih berpikir siapa sebenarnya pemuda
itu.
"Hm, baiklah kalau
itu yang kau inginkan. Siapa namamu, Anak Muda...?" tanya Ki Baya Kitri.
"Nama saya
Galapati," jawab Galapati masih me- nunjukkan sikap hormat.
"Dari manakah
asalmu, Anak Muda...?" "Saya dari Parang Gumilar, Ki," jawab
Galapati. "Hm.... Baiklah, mulai saat ini kuterima kau menjadi tukang
rumput di sini."
"Terima kasih,
Ki." Tiga kali Galapati membungkukkan badan, menjura hormat dan
mengucapkan terima kasih atas ke- sediaan Ki Baya Kitri menerimanya sebagai
tukang rumput di rumahnya.
"Raparata dan
Rarapita akan menunjukkan tem- pat tinggalmu. Mereka juga akan memberitahukan
padamu aturan-aturan di sini," tutur Ki Baya Kitri.
"Baik, Ki,"
sahut Rarapita dan Raparata. "Antar dia ke tempatnya!" perintah Ki
Baya Kitri. "Baik, Ki." "Galapati, ikut kami!" ajak
Rarapita. Galapati pun menurut, mengikuti kedua pen- gawal Ki Baya Kitri.
Mereka akan menunjukkan di mana pemuda itu harus tinggal dan segala macam ke-
biasaan, aturan, dan larangan yang berlaku. Pemuda tampan itu tersenyum. Entah
apa arti senyumnya. Kakinya terus melangkah, mengikuti kedua pengawal Ki Baya
Kitri menuju belakang rumah.
"Kita tinggal di
sini, Gala," ujar Rarapati sambil membuka pintu rumah yang ada di belakang
rumah Ki Baya Kitri. Sebuah rumah yang cukup besar. Di samp-
ing itu, terdapat
sebuah kandang kuda. Di dalamnya ada tiga ekor kuda besar dan kekar.
"Hm...,"
gumam Galapati tak jelas. Matanya me- mandang ke sekeliling tempat itu, seperti
ada sesuatu yang tengah dicarinya.
"Hal-hal yang tak
boleh kau langgar antara lain, kau tak boleh masuk ke rumah induk. Kedua,
jangan sekali-kali kau berusaha membuat keributan di sini. Karena, jika hal itu
terjadi, kau akan berhadapan den- gan kami," sambung Raparata.
"Hm, baik,"
sahut Galapati. "Mari masuk!" ajak Rarapita. Mereka segera masuk ke
rumah itu. Kemudian membereskan barang-barang di rumah yang bakal di- tempati
Galapati dan kedua pengawal Ki Baya Kitri.
***
Galapati mengurusi
ketiga kuda milik Ki Baya Ki- tri. Pemuda itu sedang menyikat tubuh kuda dan
memberi makan, ketika seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh dua tahun,
bertubuh langsing dengan kulit bersih, keluar dari rumah induk. Gadis ber-
pakaian serba hijau itu, mengerutkan keningnya ketika melihat seorang pemuda
tampan sedang memberi makan dan menyikat tubuh kuda milik ayahnya.
"Siapa pemuda
itu?" tanya gadis cantik yang tak lain Arum Sari. Dengan wajah tertegun,
Arum Sari melangkah mendekati kandang kuda, berusaha melihat dari dekat siapa
pemuda tampan itu.
Mara Arum Sari menyipit
ketika semakin dekat dengan pemuda tampan itu. Wajah pemuda tampan itu bagaikan
wajah Dewa Kamajaya. Elok, bersih, dan bercahaya terang. Seketika hati Arum
Sari tergoda ingin berkenalan dengan pemuda itu.
"Hm...,"
gumam Arum Sari berusaha menarik perhatian, dengan harapan pemuda itu akan menghentikan
pekerjaannya dan menoleh padanya. Namun ternyata harapannya sia-sia. Pemuda
berpakaian serba ungu yang di kepalanya tertutup kain ungu membentuk sudut ke
atas itu, tetap melakukan pekerjaannya tanpa menghiraukan orang yang menggumam.
Bahkan pemuda itu kini
bekerja semakin giat. Gerakan tangannya yang menyikat tubuh kuda, terli- hat
lincah. Hal itu membuat putri Ki Baya Kitri sema- kin terpesona melihat
ketampanan dan cara kerja pe- muda itu. Hasrat hatinya ingin berkenalan dengan
pemuda itu kian menggebu. Namun Galapati masih te- tap tak acuh. Seakan-akan
tak melihat kehadiran Arum Sari.
"Ehem...!"
Arum Sari mendehem lebih keras. Galapati tersentak, seketika dia menghentikan
kerjanya. Lalu dengan tersipu-sipu sambil menunduk, Galapati membungkukkan
badannya menghormat
"Maaf, Den Putri!
Hamba tidak tahu," ujar Gala- pati masih menunjukkan hormatnya. Tangannya
disatukan di dada. Kepalanya menunduk, seperti tak be- rani beradu pandang
dengan gadis berpakaian hijau di hadapannya.
"Ah, tak
apa...," sahut Arum Sari sambil terse- nyum. "Kau orang baru di
sini?"
"Benar, Den
Putri." "Ah, mengapa kau memanggilku begitu? Panggil saja namaku,
Arum Sari!" ujar Arum Sari mulai memperkenalkan dirinya.
"Rasanya tidak
pantas, Den Putri Arum Sari. Ba- gaimanapun juga, Den Putri anak majikan saya.
Manalah mungkin sebagai hamba saya berlaku tak so- pan?" tutur Galapati,
semakin membuat Arum Sari bertambah mengerutkan kening. Mata lembut gadis itu
memandang tak berkedip pada Galapati. Seakan tak percaya mendengar penuturan
pemuda tampan itu.
Hm.... Dilihat dari
rata caranya dalam berbicara dan bertindak-tanduk, jelas dia bukan pemuda keba-
nyakan. Tapi, mengapa dia mau menjadi tukang rumput? Gumam Arum Sari dalam hati
dengan mata masih memperhatikan Galapati yang menundukkan kepala.
"Siapa
namamu...?" tanya Arum Sari. "Nama hamba yang bodoh ini Galapati, Den
Pu- tri."
"Galapati, jangan
kau panggil aku dengan sebu- tan Den Putri! Aku bukan anak raja. Panggil saja
namaku!" pinta Arum Sari dengan bibir masih mengurai senyum.
Ada sesuatu perasaan
yang tiba-tiba muncul di hati gadis itu, setelah melihat ketampanan pemuda itu,
serta tindak-tanduknya yang sopan dan santun. Mata Arum Sari lebih jelas
menatap penuh rasa kagum pada Galapati. Tatapannya tidak sekadar tatapan
seorang majikan pada kacungnya. Tak jemu-jemunya Arum Sari memandang penuh
perhatian pada wajah pemuda tampan di hadapannya. Sementara itu Gala- pati pun
tampak mulai mencuri-curi pandang.
"Galapati,"
desis Arum Sari memanggil nama pemuda tampan yang tanpa disadari telah
menyentuh jiwanya.
"Hamba, Den
Putri." "Galapati...," kembali Arum Sari memanggil. "Hamba,
Den Putri," sahut Galapati masih me- nundukkan kepala, menjadikan Arum
Sari gemas. Dia ingin Galapati menatap wajahnya, tanpa membung- kuk-bungkuk
seperti itu.
"Galapati...,"
desis Arum Sari lebih keras.
"Hamba, Den Putri,"
jawab Galapati. Kali ini matanya memandang Arum Sari, sehingga mata keduanya saling
bertatapan. Darah Arum Sari berdesir halus, ketika matanya bertatapan dengan
mata Galapati. Mulutnya terperangah, menyaksikan ketampanan wajah pemuda
berpakaian ungu itu.
Arum Sari terpaku,
mematung dengan mata ber- kedip, memandang Galapati yang berusaha tersenyum.
Perlahan-lahan Arum Sari membuka mulutnya tersenyum malu-malu. Malah kini
kepalanya ditolekan, berusaha tidak melihat tatapan mata pemuda itu. Ah! Tampan
sekali! Bagaikan dewa yang baru tu- run dari kahyangan! Desis hati Arum Sari
dengan ma- sih tersipu malu, membuang muka ke bawah.
Ketika kedua muda-mudi
itu tengah terlibat da- lam getaran aneh di hati mereka, tiba-tiba terdengar
suara Ki Baya Kitri berseru.
"Galapati, siapkan
kereta dan kudanya...!" "Baik, Ki!" sahut Galapati tersentak.
"Arum, kenapa kau di situ? Ayo masuk...!" perin- tah Ki Baya Kitri
memanggil putrinya agar meninggalkan kandang kuda.
"Baik, Rama,"
sahut Arum Sari. "Galapati, ku- tunggu kau."
Usai berkata begitu,
Arum Sari pun segera me- ninggalkan kandang kuda.
Sementara Galapati
hanya terbengong mendengar kata-kata Arum Sari. Kutunggu? Apa maksudnya? Tanya
Galapati dalam hati, berusaha memahami maksud ucapan Galapati. Mungkinkah
dia.... Ah, kurasa begitu. Galapati tersenyum. Tangannya bergerak cepat, melepaskan
ikatan tali kuda yang diminta Ki Baya Ki- tri. Pikirannya masih terus diliputi
bayangan gadis cantik anak Ki Baya Kitri yang baru saja mengatakan hendak
menunggu. Meskipun kata-kata itu tak jelas maksudnya, Galapati sudah
menduga-duga apa yang sebenarnya dikehendaki gadis itu. Dan hal itulah se-
benarnya yang ditujunya. Kedatangannya ke Desa Swargadana dan melamar kerja di
rumah Ki Baya Kitri pun sebetulnya hanya kedok belaka. Tujuannya hanya satu,
mengambil hati gadis cantik anak Ki Baya Kitri!
Setelah melepaskan
tali-temali pengikat kereta kuda, Galapati pun segera menuntun kereta kuda itu
menuju tempat Ki Baya Kitri berada.
"Ini, Ki."
"Hm, bagus. Tak percuma kau kuterima kerja di sini, Galapati. Tapi perlu
kau ketahui, jangan sesekali menggoda anakku. Karena Arum tak pantas bersand-
ing denganmu."
Ki Baya Kitri segera
menggandeng istrinya, mem- bawa naik ke kereta. Tak lama kemudian kuda-kuda itu
telah berjalan menghela kereta yang dinaiki tuan- nya.
"Ck ck ck...!
Heaaa...!" Galapati hanya tersenyum kecut mendengar ancaman Ki Baya Kitri,
kemudian dia melangkah kembali ke rumah di belakang, tempat dirinya berteduh.
2
Pucuk dicinta ulam
tiba, begitu pepatah menga- takan. Hal itu pun terjadi pada diri Galapati.
Kehadirannya di Desa Swargadana sebenarnya hanya untuk memikat anak Ki Baya
Kitri yang terkenal cantik jelita. Dan apa yang diharapkannya, kini terpenuhi.
Meski belum sepenuhnya. Namun tanda-tanda keberhasilan telah mulai nampak.
Berawal dari pertemuan
di kandang kuda, keduanya merasakan getaran jiwa yang lain. Setiap kali mereka
berusaha mengadakan pertemuan dengan secara sembunyi-sembunyi, agar tidak
diketahui Ki Baya Kitri dan kedua pengawalnya yang selalu menjaga ke- tat Arum
Sari jika Ki Baya Kitri pergi.
Benih-benih asmara
terus tumbuh. Di hati Arum Sari benih-benih itu tulus dan agung. Sedangkan di
hati Galapati, hanyalah sebagai sandaran sementara.
Malam telah larut
dengan kegelapan yang menyelimuti bumi. Angin malam bertiup lembut, membisikkan
kesyahduan. Bulan purnama bersinar terang, menampakkan keindahan di langit biru
yang cerah.
Sesosok tubuh
mengendap-endap, keluar dari rumah belakang. Matanya memandang liar ke sekeli-
lingnya yang sepi. Samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap di depan
rumah induk, tempat Arum Sari tidur. Suara itu tentu berasal dari pengawal Ki
Baya Kitri yang tengah berjaga-jaga, karena kepala de- sa itu sedang pergi
menghadiri perkawinan salah seo- rang warga desa.
Dari kejauhan,
sayup-sayup terdengar suara gamelan mengalun merdu, berasal dari pesta perkawi-
nan berlangsung. Dan ke tempat itulah Ki Baya Kitri pergi untuk menghadiri dan
memberi restu atas per- kawinan salah seorang anak warga desanya.
Sosok bayangan ungu
terus mengendap-endap, memperhatikan ke tempat pengawal Ki Baya Kitri berada.
Kemudian setelah merasa aman, bayangan ungu itu berlari dengan ringan menuju
kamar tempat Arum Sari berada.
"Hm, kurasa mereka
sedang asyik ngobrol," gu- mam bayangan ungu yang tak lain Galapati.
Matanya diarahkan sesaat ke tempat kedua pengawal Ki Baya Kitri tengah berjaga.
Kemudian setelah yakin kedua- nya tak melihat, Galapati mulai mendekat ke
jendela kamar Arum Sari.
Tok, tok, tok...! Pelan
sekali suara ketukan jari tangan Galapati ke daun jendela di kamar Arum Sari.
Dengan harapan tak terdengar telinga kedua pengawal Ki Baya Kitri.
Jendela terbuka pelan.
Lalu nampaklah seraut wajah cantik yang tak lain Arum Sari.
"Ayo masuk!"
ajak Arum Sari sambil memben- tangkan daun jendela lebar-lebar.
"Kau belum
tidur?" tanya Galapati. "Belum. Aku menunggumu, Gala," desis
Arum Sari lirih, kemudian membantu Galapati naik ke jendela. Lalu setelah
Galapati masuk, pelan-pelan Arum Sari menutup jendela kamarnya.
"Bagaimana kalau
ayahmu tahu, Arum?" tanya Galapati.
"Ayah biasanya pulang
pagi kalau ada acara begitu. Ayolah, jangan lama-lama!" ajak Arum Sari.
Gadis yang hatinya
sudah dilanda gejolak itu tampak tak sabar. Tangannya yang lembut segera
membuka pakaiannya. Hal itu membuat Galapati ter- belalak, memandangi tubuh
Arum Sari yang kini polos tanpa tertutup sehelai benang pun.
Galapati pun segera
mendekap tubuh Arum Sari, kemudian dibimbingnya ke tempat tidur. Lalu dengan
penuh birahi, digelutinya tubuh Arum Sari.
Keduanya terus bergumul
dengan napas membu- ru dan tersengal-sengal. Desahan-desahan birahi pun mulai
terdengar dari kedua mulut mereka yang tu- buhnya terus dibasahi peluh.
Sementara di luar,
kedua orang penjaga rumah Ki Baya Kitri nampak masih bercakap-cakap. Keduanya
masih belum menyadari apa yang sebenarnya kini tengah terjadi di dalam kamar
Arum Sari.
"Kalau saja tak
ada bocah itu, tentunya kita bisa ikut dengan Ki Baya Kitri, nonton
hiburan," gumam Raparata.
"Iya. Padahal
Tandak Ki Begol terkenal cantik- cantik dan bahenol," sambung Rarapita.
"Ah, udara malam
semakin dingin lagi," keluh Raparata.
"Ya, namanya
tugas. Kita harus menjalankan dengan sebaik mungkin. Eh, ngomong-ngomong, di
mana anak muda itu? Bukankah lebih baik kita ajak ngobrol-ngobrol?"
"Ayo, kita ajak
dia!" ajak Raparata. Keduanya beranjak meninggalkan halaman de- pan rumah
Ki Baya Kitri untuk memanggil Galapati. Namun, ketika keduanya melintas di
samping kamar Arum Sari, seketika keduanya menghentikan langkah. Mata mereka
terbelalak, ketika mendengar suara desah napas dan rintihan-rintihan kenikmatan
di dalam kamar itu.
"Hei, suara siapa
itu?" gumam Raparata. "Kurang ajar! Pasti pemuda itu," dengus
Rarapita geram. "Kau periksa rumah belakang! Biar aku me- nunggu di
sini."
Raparata segera melesat
cepat menuju rumah belakang untuk memeriksa apakah Galapati masih ada atau
tidak. Seketika matanya membelalak ber- campur marah, setelah tak mendapatkan
Galapati di sana. "Kurang ajar! Ditolong malah lancang memasuki kamar Arum
Sari," dengus Raparata.
Raparata kembali
berlari menghampiri Rarapita yang menjaga di samping jendela kamar Arum Sari.
"Bagaimana?"
tanya Rarapita. "Dia tak ada." "Kurang ajar! Galapati, keluar
kau...!" bentak Ra- rapita gusar, setelah yakin kalau yang ada di dalam
kamar Arum Sari tiada
lain pemuda tampan yang ber- nama Galapati. Dengan geram didobraknya jendela kamar
itu.
Mata keduanya
membelalak, menyaksikan dua sosok tubuh telanjang bulat tengah bergumul di tem-
pat tidur. Seketika mendidih darah kedua pengawal Ki Baya Kitri yang sudah
ditugasi untuk menjaga rumah dan melindungi Arum Sari.
"Kurang ajar!
Lancang sekali kau, Galapati!" ben- tak Rarapita marah.
"Kubunuh kau,
Pemuda Keparat!" dengus Rapa- rata.
Galapati dan Arum Sari
tersentak kaget. Kedua- nya buru-buru mengenakan pakaian. Kemudian Gala- pati
berusaha lari melalui jendela dengan melompati kedua orang penjaga rumah Ki
Baya Kitri.
Wsss! "Bangsat!
Kubunuh kau...!" maki Rarapita sambil merundukkan kepala agar tak
tersambar tendangan kaki Galapati, yang melesat cepat. Dengan cepat Rara- pita
mencabut golok di pinggangnya.
Srt! Wrt! Rarapita
membabatkan goloknya ke arah Galapa- ti yang melesat di atas tubuhnya. Tapi
gerakan pemu- da itu sangat gesit dan cepat, sehingga luput dari ba- batan
golok lawan.
"Hih!"
Galapati bersalto beberapa kali di atas kedua penjaga rumah Ki Baya Kitri.
Kemudian dengan terse- nyum-senyum tenang, kakinya mendarat di tanah ber- jarak
lima tombak dari kedua pengawal Ki Baya Kitri.
"Ha ha ha...!
Kalian rupanya ngiri, ya?" ejek Ga- lapati sambil tertawa bergelak-gelak,
semakin mem- buat Rarapita dan Raparata mendengus marah.
"Bedebah! Rupanya
dugaanku selama ini benar. Katakan, siapa kau sebenarnya, Bocah Keparat!"
ben- tak Raparata.
Galapati hanya
tersenyum sinis, lalu mencibir bibir, mengejek kedua lelaki bertubuh tinggi
besar pengawal kepala desa itu.
"Ha ha ha...! Dasar
orang-orang berotak kerbau! Kini aku puas, kalianlah yang menanggung semuanya.
Nah, selamat tinggal," usai berkata begitu, Galapati bermaksud pergi
meninggalkan tempat itu, namun dengan cepat kedua pengawal Ki Baya Kitri
melesat mengejar.
"Hei, Keparat!
Jangan harap kau bisa lari dari si- ni! Heaaa...!"
"Yeaaa...!"
Dengan marah kedua pengawal Ki Baya Kitri me- lesat mengejar Galapati yang
masih tampak tenang. Di tangan keduanya golok terhunus siap dibabatkan ke tubuh
pemuda tampan itu. Kini Raparata dan Rarapi- ta telah menghadang, lalu dengan
cepat pula kedua- nya membabatkan golok ke tubuh Galapati.
Wrt! Wrt...!
"Eits!" Dengan gesit Galapati mengelak. Tubuhnya di- rundukkan, lalu
dengan cepat pula diegoskan ke samping. Dan golok kedua lawan pun hanya menderu
di sampingnya.
"Hih!"
Galapati yang sudah terlepas dari babatan golok lawan, dengan cepat melancarkan
tendangan keras disertai membalik tubuh dengan cepat
"Heaaa...!"
Wrt! Rarapita dan Raparata tersentak menyaksikan tendangan lawan yang sangat cepat.
Mata mereka membelalak lebar, dengan cepat mereka melompat mundur mengelakkan
tendangan lawan yang keras dan cepat
"Eits!"
"Kurang ajar! Rupanya kau memang bukan pe- muda sembarangan, Bocah! Tapi
jangan harap kau bi- sa lolos dari Sepasang Golok Gerhana. Yeaaa...!"
"Yeaaa...!"
***
Setelah mengetahui
kalau lawan mereka bukan pemuda sembarangan, kedua pengawal Ki Baya Kitri yang
berjuluk Sepasang Golok Gerhana kini tak main- main lagi. Dengan mengeluarkan
jurus 'Golok Gerhana Menyeka Mendung' mereka melesat menyerang Gala- pati.
Wut! Wut..! Golok di
tangan mereka menderu cepat melaku- kan serangan dari dua arah. Rarapita
menyerang dari depan. Sedangkan Raparata menyerang dari belakang lawan.
"Buntung lehermu, Keparat!"
"Hih!" Wut!
Golok Rarapita menderu. Dengan cepat Galapati mengelak ke samping, kemudian
melancarkan satu tendangan kaki kanannya ke lambung lawan.
"Hih!"
"Haits!" Rarapita tersentak kaget, ketika merasakan an- gin tendangan
yang menderu keras ke arahnya. Dari deru angin tendangannya, jelas kalau lawan
bukan pemuda berilmu rendah. Paling tidak lawan memiliki tenaga dalam yang
sempurna, setaraf dengannya.
Melihat Rarapita
terdesak, Raparata pun tak tinggal diam. Dirinya yang menyerang dari belakang
segera bergerak dengan tebasan goloknya ke kepala lawan. "Pecah kepalamu,
Bocah Iblis! Hiaaa...!"
Wrt! Galapati menarik
mundur serangan terhadap Ra- rapita. Kemudian dengan memutar cepat tubuhnya,
tendangan kaki kanan yang cepat dan keras berbalik menyerang lawan di
belakangnya. Tubuhnya dimiring- kan ke samping kiri sambil menunduk,
mengelakkan babatan golok lawan.
Wut! Serangan golok
luput, tak mengenai sasaran di tubuhnya. Galapati cepat membalas dengan tendan-
gan keras, menggunakan jurus 'Jangka Maut'. Ka- kinya menderu begitu cepat,
memburu tubuh lawan. Ke mana lawan lari, kakinya terus mengejar tiada hen- ti.
"Hiaaa...!"
Wrt! Raparata terkejut mendapatkan serangan begitu gencar. Kaki lawan yang
bergerak bagaikan tak men- genal lelah, terus berkelebat begitu cepat dan keras
memburu tubuhnya. Ke mana tubuh Raparata menge- lak, kaki Galapati terus
memburu.
"Celaka! Ilmu
setan...!" maki Raparata kaget sambil terus bergerak mengelakkan serangan-
serangan yang dilancarkan Galapati yang terus mem- buru diri-nya.
Rarapita yang melihat
saudara seperguruannya terdesak, segera melesat menyerang. Golok di tangan- nya
digerakkan bagaikan baling-baling yang berputar cepat, dengan jurus 'Golok
Gerhana Mengebut Kabut'.
"Heaaa...!"
Wut! Wut! "Hancur
tubuhmu, Bocah! Yeaaa...!" Golok di tangan Rarapita berkelebat begitu
cepat, membabat dan menusuk ke tubuh lawan. Angin kebu- tannya terasa menyentak
dan menderu keras di atas kepala Galapati.
"Hats!
Hih...!" Galapati merundukkan tubuhnya ke bawah, ber- gerak membalik untuk
mengelakkan serangan. Kemu- dian dengan cepat pula Galapati balas menyerang
dengan pukulan tangan kanan. Sedangkan tangan ki- rinya, kini bergerak memapak
serangan yang datang dari belakang. Itulah jurus 'Tarian Jigor Maut'. Sebuah
jurus yang menyerupai tarian jaipong. Namun, dari pukulan tangan Galapati,
menderu angin yang sangat keras. "Yeaaa...!" "Heaaa...!"
"Hih!" Kedua pengawal Ki Baya Kitri kini mengeluarkan segenap
kemampuan mereka untuk dapat mengalah- kan pemuda tampan yang kini telah
berlaku kurang ajar terhadap tuannya. Golok di tangan mereka men- deru keras.
Silih berganti menyerang begitu cepat ke tubuh lawan yang terus mengelak,
memapak, dan se- sekali balas menyerang.
Pertarungan terus
berlangsung semakin seru. Kedua orang pengawal kepala desa itu terus menye-
rang dengan sabetan-sabetan golok mereka yang cepat dan mengarah pada
bagian-bagian mematikan tubuh lawan. "Heaaa!"
"Yeaaa...!"
Wrt! Wrt! "Aits! Hih...!"
Dengan cepat Galapati
berkelit. Tubuhnya me- runduk, lalu dengan meliuk cepat Galapati mengi- baskan
tangannya ke tubuh lawan. Serangkum angin pukulan pun menderu, menyentakkan
kedua lawannya.
"Hih!"
"Haits....!" Keduanya melompat ke belakang, mengelakkan pukulan
Galapati. Kemudian kembali menyerang den- gan gerakan yang lebih cepat dan
keras dalam jurus- jurus pamungkas andalan mereka.
"'Cinde Buana
Purnama'. Heaaa....!" "Yeaaa....!" Dengan jurus 'Cinde Buana
Purnama' keduanya melesat cepat, membabatkan golok ke tubuh lawan disertai
pengerahan tenaga dalam yang sempurna.
Menyaksikan kedua
lawannya telah mengelua- rkan jurus pamungkas, Galapati segera bergerak men-
cabut sesuatu dari batik bajunya.
Wrt! Sebuah kipas lebar
berwarna ungu kini tergeng- gam di tangan Galapati. Kemudian dengan jurus
'Kipasan Sayap Kumbang' Galapati memapaki seran- gan kedua lawannya. Kipas
mautnya yang bernama Kipas Iblis Racun Kelabang Ungu digerakkan memben- tuk
putaran cepat.
Wrt! Prak, prak!
"Akh...!" "Heh?!" Rarapita dan Raparata tersentak kaget,
lalu me- lompat mundur. Mata mereka terbelalak kaget, ketika melihat golok di
tangan mereka telah patah menjadi dua. Keduanya menatap bengis pada lawan yang
tam- pak tersenyum dan mencibirkan bibir.
"Kini terimalah
kematian kalian! Heaaa...!" Wrt! Sring, sring! Kedua pengawal Ki Baya
Kitri itu tersentak keti- ka melihat dari kebutan kipas Galapati, melesat bebe-
rapa bilah pisau kecil berkilatan putih memburu me- reka. Pisau-pisau itu
menyebarkan hawa beracun yang sangat menyesakkan dada.
"Awas!"
"Celaka!" Keduanya melenting dan berjumpalitan di udara, mengelakkan
serangan-serangan pisau kecil yang mengandung racun ganas. Mata Rarapita dan
Rapara- ta terbelalak lebar, ngeri menyaksikan pisau-pisau ke- cil yang terus
memburu tubuh mereka. Sampai akhir- nya.... Jlep, jlep!
"Akh...!"
"Aaa...!" Keduanya menjerit. Tubuh mereka terhuyung- huyung ke
belakang dengan mata semakin terbelalak lebar. Dua bilah pisau kecil menghunjam
di paha dan perut kedua pengawal kepala desa itu.
"Ha ha ha...!
Mampuslah kalian!" Galapati terta- wa terbahak-bahak. Kemudian tanpa mengenal
belas kasihan sedikit pun, pemuda tampan itu kembali mengibaskan kipas mautnya
ke arah kedua lawannya yang sudah tak berdaya.
Wrt! "Kau!
Akh...!" keduanya terpekik, lalu ambruk dengan leher tergores hampir
putus. Darah mengucur deras, dari goresan di leher mereka.
Galapati tertawa
terbahak-bahak, lalu dengan tenang berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kakang,
tunggu...!" seru Arum Sari mengejar.
"Cuh! Pergi! Aku
tak butuh kau lagi. Ha ha ha...!" "Kakang...!" Arum Sari
berusaha memeluk kaki Galapati. Namun, dengan kasar pemuda itu mendorong tubuh
Arum Sari hingga terjengkang dan menangis, meratapi nasibnya yang malang.
Kegadisannya telah diserahkan pada Galapati, tapi dirinya kini dicampakkan
begitu saja.
3
Ki Baya Kitri yang
tengah menikmati hiburan be- rupa tandak tiba-tiba merasakan hatinya tak
tenang. Batinnya seketika gelisah. Pikiran lelaki berusia lima puluh tahun itu,
tiba-tiba tertuju ke rumahnya. Fira- sat hatinya mengatakan ada sesuatu
kejadian buruk di rumahnya.
"Ada apa,
Kakang?" tanya Sariti, istri Ki Baya Ki- tri, melihat kegelisahan
suaminya.
Perhatian Sariti kini
tertuju ke arah suaminya yang semakin kelihatan gelisah. Padahal di tempat itu
tandak masih terus main. Goyangan pinggul para pe- nari tandak yang melenggak-lenggok,
cukup menggiurkan. Namun, suaminya seperti tak bergairah sedikit pun untuk
turun, menari dengan tandak-tandak yang bahenol.
"Entahlah,
Diajeng. Tiba-tiba pikiranku teringat di rumah. Firasatku mengatakan ada
sesuatu yang terjadi di rumah," gumam Ki Baya Kitri.
"Apakah mau
pulang, Kakang?" tanya Sariti. "Ya. Pikiranku tak tenang. Tentu ada
kejadian yang tak menyenangkan di rumah."
"Kalau begitu,
ayolah kita pulang!" ajak Sariti. Keduanya segera berpamitan pada tuan rumah.
Keduanya bergegas
menuju ke kereta. Tak lama ke- mudian, keduanya telah meninggalkan tempat perkawinan.
Dengan kereta kuda, Ki Baya Kitri dan istrinya menembus keremangan malam
menjelang pagi menuju rumahnya.
"Hatiku
benar-benar gelisah, Diajeng," kata Ki Baya Kitri sambil menghela tali
kuda-kudanya yang terus melaju menembus kegelapan malam.
"Tenanglah,
Kakang! Semoga tak terjadi apa-apa di rumah!" kata istrinya berusaha
menenangkan sang Suami. Kuda-kuda itu terus berjalan menarik kereta, menembus
malam di bawah keremangan cahaya bulan. Tiba-tiba kuda mereka meringkik,
seperti melihat sesuatu di hadapannya. Hal itu membuat Ki Baya Kitri
mengerutkan kening. Kemudian dengan mata meman- dang ke depan. Tampak sesosok
tubuh mengenakan pakaian ungu melangkah tenang. Mata Ki Baya Kitri semakin
terbelalak, ketika tahu siapa pemuda yang tengah melangkah menyelusuri
kegelapan malam.
"Galapati...! Hei,
mau ke mana kau?" tanya Ki Baya Kitri dengan mata terbelalak.
"Ha ha ha.... Apa
yang kau tanyakan, Ki? Jelas aku akan pergi sesuai kemauan langkah
kakiku!" sa- hut Galapati tanpa rasa hormat sedikit pun. Bahkan kini
sikapnya tampak angkuh. Bibirnya mencibir sinis, membuat Ki Baya Kitri
mendengus marah.
"Bocah tak tahu
diuntung! Ditanya baik-baik, malah menjawab dengan pongah. Minggat
kau...!" ben- tak Ki Baya Kitri marah.
"Ha ha ha...! Itu
memang yang kuinginkan, Orang Tua Tolol! Aku memang ingin pergi. Muak aku
bersama kalian!"
"Bangsat! Lancang
sekali mulutmu! Kau perlu dihajar, Bocah! Yeaaa...!" Ki Baya Kitri yang
muak melihat sikap dan mendengar ucapan Galapati melompat menyerang. Hal itu
rupanya sudah diduga Galapati, yang dengan cepat dan ringan bergerak
mengelitkan serangan.
"Hih! Uts!"
"Kuhancurkan kepalamu yang keras kepala, Bo- cah! Heaaa...!"
Ki Baya Kitri kembali
bergerak menyerang. Tan- gannya menyambar-nyambar dengan cepat ke arah kepala
Galapati. Sambaran tangannya mengeluarkan angin pukulan yang keras. Dengan
jurus 'Camar Laut Memburu Ikan', Ki Baya Kitri terus menyerang. Lelaki tua itu
berusaha tak memberi kesempatan sekali pun pada lawan untuk dapat membalas
serangan.
"Yeaaa...!"
"Haits! Hih...!" Setelah dapat melepaskan diri dari serangan Ki Baya
Kitri, dengan cepat Galapati balas menyerang. Tangan dan kakinya bergerak cepat
susul-menyusul, menyerang Ki Baya Kitri. Lelaki tua itu tersentak.
"Eits!
Celaka...!" pekik Ki Baya Kitri kaget dengan mata melotot, melihat
serangan yang dilancarkan pe- muda tampan berpakaian ungu itu. Selama ini me-
mang telah diduganya kalau Galapati bukan pemuda biasa. Namun kini Ki Baya
Kitri harus membuka mata. Dugaannya yang mengatakan Galapati bukan pemuda
sembarangan, terbukti sudah. Bahkan dirinya dibuat kaget melihat serangan
gencar pemuda itu. Gerakan- gerakan menyerang yang dilancarkan Galapati ternyata
dengan jurus-jurus yang tak sembarangan.
"Heaaa...!"
"Haits! Bocah iblis! Siapa kau sebenarnya?!" ben- tak Ki Baya Kitri
setelah berhasil mengelakkan seran- gan yang dilancarkan Galapati.
"Ha ha ha...! Kini
rupanya kau baru membuka
mata, Orang Tua Dungu!
Siapa sebenarnya aku. Yang jelas kau harus mampus di tanganku. Heaaa...!"
Dengan jurus 'Tarian
Jigor Maut', Galapati berge- rak menyerang. Kedua tangannya bergerak laksana
menari, memapak sambil memukul dengan cepat ke tubuh Ki Baya Kitri yang bergerak
mengelakkan se- rangan-serangan gencar itu.
Orang tua itu
benar-benar tak mengira kalau pemuda tampan berpakaian ungu itu memiliki jurus-
jurus yang membahayakan. Beruntung gerakannya masih gesit, sehingga serangan
lawan yang mematikan dapat dielakkan. Nyawanya yang hampir terancam, kini
terlepas dari maut. Tapi bukan berarti jiwanya te- rus terbebas dari maut yang
kini memburunya. Seran- gan Galapati tak berhenti, terus mendesak dan mem- buru
tubuhnya. "Heaaa...!" "Haps!" Pertarungan keduanya semakin
seru. Malam yang semula tenang, seketika berubah riuh karena suara-suara
jeritan mereka dalam menyerang.
Melihat suaminya kini
tampak kewalahan menghadapi lawan, Sariti berteriak-teriak memanggil penduduk
desa. Seketika warga desa berdatangan ke tempat pertarungan.
"Tolong...!
Tolooong...!" Orang-orang desa yang tengah menonton tandak pun seketika
berlarian menuju tempat itu setelah mendengar suara teriakan Sariti. Dengan
membawa senjata berupa golok, warga Desa Swargadana mem- buru ke arah mereka.
"Ada apa, Nyi
Lurah?" "Tolong, Ki Lurah sedang berkelahi," jawab Sariti sambil
menunjuk ke arah tempat pertarungan. Seketi- ka warga Desa Swargadana memburu
ke asal suara
pertarungan itu.
"Tangkap pemuda
itu!" seru Ki Baya Kitri setelah melihat warga desanya berdatangan.
"Heaaa...!"
"Cincang...!" "Tangkap!" Warga desa yang patuh dan sangat
menghormati kepala desanya segera menyerbu Galapati. Hal itu membuat Galapati
kini harus menghadapi keroyokan warga Desa Swargadana.
Pertarungan semakin
seru. Penduduk Desa Swargadana terus merangsek, berusaha menangkap Galapati.
Ketika pertarungan tengah berlangsung seru, tiba-tiba dari arah timur tampak
seorang gadis berpa- kaian hijau berlari-lari sambil menangis.
"Arum...! Ada apa...?"
tanya Ki Baya Kitri. "Rama....! Oh, Rama. Arum kini tak ada artinya lagi,
Rama...," keluh gadis itu masih menangis. "Ibu, maafkan
Arum...."
"Ada apa,
Anakku?" tanya Sariti sambil memeluk tubuh anaknya penuh kasih sayang.
Dibelai-belainya rambut putri satu-satunya itu dengan lembut "Arum telah
ternoda, Bu."
"Apa?"
terbelalak mata Ki Baya Kitri dan Sariti mendengar pengakuan Arum Sari.
"Siapa yang telah
lancang berani menodaimu, Arum?" tanya Ki Baya Kitri dengan amarah yang
bera- pi-api. Matanya membelalak lebar penuh amarah. Gi- ginya saling beradu,
mengeluarkan suara gemerutuk
"Dia...,
Galapati...." "Kurang ajar! Kubunuh kau, Galapati! Heaaa....!"
Ki Baya Kitri yang semakin kalap, melesat dengan ke- ris terhunus. Keris yang
mengeluarkan sinar jingga bernama Ki Kebo Werda, berkelebat cepat dan mende- ru
memburu Galapati yang tengah sibuk menghadapi keroyokan warga Desa Swargadana.
"Yeaaa....!"
"Bunuh bajingan itu!" teriak Ki Baya Kitri sambil melesat menyerang
Galapati dengan keris pusakanya. "Heaaa...!"
"Hm...,"
Galapati yang sudah menduga lawan akan mengeluarkan senjata pusakanya, tanpa
sung- kan-sungkan lagi segera mencabut kipas mautnya.
Wrt! Sing! Sing...!
Jlep! Jlep! "Wuaaa...!" "Aaa...!" Pekikan kematian seketika
terdengar. Lima orang warga desa tersungkur dengan dada tertancap pisau- pisau
maut itu. Tubuh mereka sesaat mengejang, ke- mudian ambruk tanpa nyawa dengan
mata melotot mengerikan.
"Bedebah! Kubunuh
kau, Keparat!" maki Ki Baya Kitri semakin bertambah kalap, menyaksikan
bagai- mana pemuda itu dengan seenaknya membunuh lima warga desanya.
"Yeaaa...!" "Heaaa...!" Trang! "Ukh!" Ki Baya
Kitri terpekik kesakitan. Tubuh- nya terdorong ke belakang dengan mata melotot
te- gang. Tangannya tergetar hebat ketika kerisnya ber- benturan dengan senjata
Galapati. Keris sakti yang bernama Ki Kebo Werda tak berarti menghadapi kipas
maut berwarna ungu di tangan pemuda tampan itu.
"Ha ha ha...!
Percuma kalian menghadapiku!" te- riak Galapati sombong. Semuanya kini
hanya terpaku diam, ketika me- nyaksikan bagaimana Ki Baya Kitri hampir
tergetar menghadapi pemuda tampan itu. Nyali mereka seketi- ka menciut, apalagi
setelah melihat lima orang warganya mati mengerikan.
***
"Hua ha
ha...!" Ketika semua warga Desa Swargadana terdiam mematung, takut menghadapi
Galapati, mendadak mereka dikejutkan suara gelak tawa membahana.
Suara tawa itu bagaikan
berada di sekitar tempat itu. Pemilik suara seolah-olah ada di mana-mana. Sehingga
suara tawa itu terdengar bersahut-sahutan.
"Hua ha ha...!
Kasihan sekali, ada tikus tertangkap basah. Hi hi hi...!" suara itu mirip
ucapan orang gila, menyindir Galapati.
"Bedebah! Siapa
kau?! Keluarlah, tunjukkan mukamu!" bentak Galapati marah, merasa ucapan
itu tertuju padanya. Matanya memandang liar ke sekelil- ing tempat itu. Kipas
maut masih tergenggam di tan- gannya, siap untuk dikibaskan jika ada orang yang
be- rani menyerang.
"Hua ha ha...!
Rupanya seperti itu mukamu? Hi hi hi...!"
"Setan! Keluar
kau?! Tunjukkan mukamu, Pen- gecut! Hih...!"
Wrt! Swing, swing...!
Puluhan pisau-pisau kecil meluncur ke pepoho- nan di sekitar tempat itu, ketika
kipas di tangan Gala- pati dikibaskan.
"Aha, percuma saja
kau membuang-buang mai- nanmu, Tikus Busuk! Aku ada di belakangmu."
Bukan hanya Galapati
yang tersentak kaget den- gan mata terbelalak, melainkan semua yang ada di tempat
itu merasa heran. Mereka benar-benar kaget, karena tak melihat berkelebatnya
tubuh pemuda berpakaian rompi kulit ular yang bertingkah laku seperti orang
gila.
"Pemuda gila!
Siapa kau?!" bentak Galapati sengit, karena merasa pemuda bertingkah gila
itu telah turut campur urusannya.
"Hi hi
hi...!" Pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tak lain Sena Manggala atau
Pendekar Gila itu tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu dengan
mulut cengengesan, matanya membeliak.
"Aha, siapa
diriku, kurasa tak jadi masalah. Yang pasti, penduduk desa ini benar-benar muak
dengan tampangmu."
Terbelalak mata
Galapati mendengar ucapan Sena. Nafasnya mendengus dengan gigi bergemerutuk
keras. "Jangan ikut campur urusanku, Pemuda Gila!" dengus Galapati
sengit.
"Aha, aku tak akan
ikut campur, kalau tinda- kanmu tak sewenang-wenang," sahut Sena sambil
cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Kemudian diambilnya
bulu burung, lalu digunakan untuk mengilik telinganya. Mulutnya semakin
nyengir, dengan mata terpejam.
"Benar! Dia harus
dihukum...!" seru seorang penduduk desa.
"Dia telah membuat
onar di desa ini...!" sambung yang lainnya.
Semakin marah Galapati
mendengar penuturan Pendekar Gila. Mulutnya mendengus geram. Dengan mata
terbelalak, pemuda tampan itu menatap liar penuh kebencian. Sementara itu Sena
masih cengengesan sambil mengorek telinga dengan bulu burung.
"Kurang ajar! Kau
mencari mampus, Pemuda Gila! Heaaa...!"
Merasa lawan bukanlah
orang sembarangan, Galapati kini tak tanggung-tanggung menyerang Pendekar Gila.
Kipas mautnya dikibaskan-kibaskan menderu keras, mengeluarkan racun yang sangat
ganas.
Wrt! "Haits! He he
he...!" Pendekar Gila dengan cengengesan bergerak ce- pat mengelakkan
serangan lawan. Tubuhnya meliuk- liuk cepat seperti menari, sesekali tangannya
menepuk ke dada lawan. Itulah jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Sebuah
jurus 'Ilmu Silat Si Gila' yang amat dahsyat. Gerakannya yang seperti orang
menari, nampaknya lamban dan lemah. Namun ternyata cukup mengejutkan lawan,
maupun orang-orang desa.
"Gila! Jurus apa
yang dilakukan pemuda itu?" gumam Ki Baya Kitri dengan mata terbelalak,
menyak- sikan jurus silat aneh yang dilakukan Pendekar Gila. "Gerakannya
sangat lamban dan lemah. Tapi mampu mengejar gerakan lawan. Benar-benar jurus
hebat."
"Heaaa...!"
Wrt! Galapati kembali berusaha merangsek dengan kibasan kipas mautnya yang
mengandung racun kelabang ungu. Dari kibasan kipas itu, keluar gulungan asap
ungu yang memburu Pendekar Gila.
"Hi hi
hi...!" Sena masih cengengesan sambil bergerak meli- ukkan tubuh.
Tangannya sesekali menepuk ke dada lawan. Dia seperti tak terpengaruh sedikit
pun oleh asap racun kelabang ungu yang keluar dari kipas maut Galapati. Hal itu
membuat Galapati mengerutkan kening, merasa heran menyaksikan lawannya tak
terpengaruh asap beracun itu. Padahal kalau orang lain, tentu sudah mati
berdiri.
Hei, dia sepertinya tak
mempan terhadap racun kelabang ungu yang keluar dari kipas ku! Desis Gala- pati
dalam hati dengan mata melotot, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Mungkin
kurang banyak. Akan ku coba mengerahkan tenaga dalam.
"Heaaa...!"
Wrt, wrt...! Kipas maut itu kembali dikibaskan ke arah Pen- dekar Gila. Kali
ini semakin cepat. Asap ungu beracun pun semakin bertambah banyak keluar.
"Haits! He he
he...!" Pendekar Gila bergerak meliuk ke samping ka- nan, dengan tubuh miring.
Kemudian dengan cepat tangannya menepuk ke arah dada lawan.
"Hih!"
"Edan!" maki Galapati kaget sambil melompat mundur, ketika angin
tepukan tangan lawan begitu keras menderu. Baru angin pukulan saja, Galapati
te- lah merasakan hentakan yang sangat keras dan terasa panas. "Hi hi
hi...! Kenapa diam, Tikus Busuk? Hi hi hi..!" Sena tertawa cekikikan
dengan mulut cengengesan.
"Cuih! Jangan kira
aku akan kalah olehmu, Pe- muda Gila! Heaaa...!"
Wrt, wrt! Galapati
kembali mengebutkan kipas mautnya ke arah Pendekar Gila. Membelalak mata warga
desa me- lihat kibasan kipas pemuda berparas seperti Dewa Kamajaya itu.
"Hei, dari
kipasnya keluar pisau...!" "Lihat, ada kabutnya...!" "Awas
serangan...!" Warga Desa Swargadana tersentak kaget, mereka
berusaha mengelakkan
serangan pisau-pisau kecil yang keluar dari kipas maut di tangan Galapati.
Swing, swing...!
"Setan! Pengecut..!" maki Sena sambil bersalto mengelakkan puluhan
pisau yang meluncur ke tubuhnya. Pisau-pisau itu meleset, tak menerjang dirinya.
Tapi, senjata-senjata tajam itu meluncur ke arah warga desa yang tak sempat
bergerak menghin- dar. Hingga....
Jlep, jlep!
"Wuaaa...!" "Akh...!" Jeritan-jeritan kematian seketika
terdengar dari sepuluh warga desa. Di dada dan leher mereka tertan- cap pisau-pisau
kecil beracun. Saat itu juga, pemuda berpakaian ungu melesat cepat meninggalkan
tempat pertarungan, ketika warga desa sibuk mengelakkan pisau-pisau beracunnya.
"Pemuda gila,
tunggulah balasan ku!" "Kurang ajar! Mau lari ke mana kau, Tikus Bu-
suk!" maki Sena sambil melesat mengejar. Namun mendadak puluhan pisau
berkelebatan dan menderu ke arahnya.
Swing, swing...!
"Hop! Setan...! Dengan berjumpalitan ke atas, tangan Pendekar Gila
bergerak cepat, menangkapi pisau-pisau belati yang meluruk cepat di depannya.
Tap, tap...!
"Kurang ajar! Hi hi hi...! Mainan anak-anak," Sena tertawa sambil
menggelen-gelengkan kepala. "Ke mana kau pergi, Tikus?!"
Pendekar Gila pun
segera berkelebat, memburu Galapati. Tak lama kemudian seorang gadis berbaju
hijau yang tak lain Arum Sari melesat dengan isak tangis. "Galapati,
tunggulah pembalasanku!"
Malam semakin gelap,
ketika Ki Baya Kitri dan istrinya serta warga Desa Swargadana mengejar Arum
Sari.
"Arum, Anakku!
Tunggu...!" seru Sariti.
4
Pagi yang cerah.
Matahari bersinar menerangi bumi. Cahayanya terasa hangat di tubuh. Semilir an-
gin pagi menghembuskan hawa yang menambah sejuk suasana. Sementara kicau
burung-burung di pepo- honan semakin menambah tenteram dan damai Hutan Jalarak.
"Hoa...!"
seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular menggeliat dari tidurnya di atas
sebuah cabang pohon. "Huh, ke mana perginya tikus itu? Cepat sekali."
Pendekar Gila
menggeliat, bangun dari tidurnya. Lalu duduk di cabang pohon. Mulutnya nyengir,
kemudian tangannya menggaruk-garuk kepala. Dibenarkan ikat kepalanya yang juga
terbuat dari kulit ular.
"Wua! Pulas sekali
aku tidur," gumam Sena. Baru saja hendak turun dari cabang pohon, ketika
dilihatnya dari kejauhan lima orang lelaki tua berpakaian jubah warna-warni
melangkah ke arahnya. Wajah mereka menggambarkan ketegangan. Tampaknya ada
sesuatu yang tengah mereka masalahkan.
"Aha, ada apa
orang-orang tua itu?" tanya Sena pada diri sendiri sambil cengengesan.
Tangannya menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memandang ke arah lima lelaki
tua yang membisu dengan wajah menggambarkan ketegangan.
"Kita tentukan di
sini!" lelaki berpakaian merah tua membuka suara. Lelaki ini berusia
sekitar tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah memutih dengan ikat di atas kepala.
Jenggotnya yang panjang telah putih.
"Heh! Kau kira
gampang mengatur pertarungan, Gondra!" dengus lelaki berjubah biru yang
bernama Ki Gendala. Lelaki ini juga berusia sekitar tujuh puluh tahun.
Rambutnya terurai lurus. Dan hidungnya yang mancung berhias kumis putih.
Matanya hampir tertutup alis panjang dan lebat
"Benar! Menurut
perjanjian, kita tak boleh menentukan sendiri-sendiri. Kita harus mencari orang
lain untuk dijadikan penilai," sambut lelaki berjubah coklat. Lelaki ini
berusia sekitar enam puluh delapan tahun. Rambutnya masih banyak yang hitam.
"Hm.... Bagaimana
mungkin di hutan sepi seperti ini kita bisa mencari manusia?" gumam lelaki
tua bernama Gondra, yang di tangannya tergenggam senjata berupa sapu lidi
bertangkai kayu cendana hijau. Dia lebih dikenal dengan julukan Sapu Buana.
"Hm.... Benar
juga. Mana ada manusia di Hutan Jalarak ini?" sambung lelaki berjubah
abu-abu yang menggenggam senjata berupa cambuk berekor lima. Itu sebabnya dia
lebih terkenal dengan julukan Cambuk Panca Geni. Kelima ekor cambuknya dapat
mengeluarkan api jika dilecut dengan kekuatan tenaga dalam yang sempurna.
"Hm.... Lalu
bagaimana kalau tak ada orang yang dijadikan penilai?" tanya lelaki
berusia sekitar enam puluh enam tahun yang berpakaian jubah warna loan- ing
keemasan. Di tangan lelaki ini tergenggam sebilah pedang yang memiliki tiga
lekukan. Pedang itu bernama Pedang Weling Giling.
Melihat kelima lelaki
tua itu kebingungan mencari penilai, Pendekar Gila yang sejak tadi memperhatikan
tingkah laku mereka segera melompat turun dari atas pohon.
"Hop! Hi hi
hi...!" Kelima lelaki tua itu tersentak ketika tiba-tiba seorang pemuda
bertampang gila dengan baju rompi kulit ular telah berada di antara mereka.
"Siapa kau, Anak
Muda?" tanya lelaki berjubah merah. "Hi hi hi...! Lucu sekali kalian.
Kalian sudah tua seharusnya tinggal memikirkan akherat. Mengapa ma- sih
memikirkan hal-hal duniawi? Hi hi hi... Lucu sekali," gumam Sena sambil
cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Lalu dengan seenaknya ke-
palanya digeleng-gelengkan dengan mulut masih cengengesan.
"Bocah, apa
urusanmu? Kami memang sedang mencari penilai. Kalau kau mau, kami akan mengang-
katmu menjadi penilai," ujar lelaki tua berjubah coklat. Kening lelaki ini
berkerut, begitu juga kawan- kawan-nya. Mereka heran melihat tingkah laku pemuda
di hadapannya yang seperti orang gila.
"Penilai...? Hi hi
hi.... Penilai apa?" tanya Sena masih konyol. Matanya dipelototkan.
Kemudian nyengir sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, Bocah Edan!
Jelas pengawas pertarungan yang akan kami lakukan, Tolol!" sentak lelaki
berjubah abu-abu.
"Tolol? Hi hi
hi...? Kalian rupanya tolol? Ah, ku- rasa kalian bukan tolol, tapi pikun. Hua
ha ha...!" Sena makin menjadi-jadi konyolnya. Sambil berjingkra- kan yang
membuat mata kelima lelaki tua itu melotot dengan kening berkerut, Sena
menggaruk-garuk kepala.
"Bocah
gendeng!" maki lelaki berjubah biru. "Ka- lau kau tak mau,
pergilah!"
"Pergi? Aha, enak
sekali kau mengusirku, Ki. Hi hi hi...! Sejak kapan kau menyewa hutan ini? Hi
hi hi...!" Kelima lelaki tua itu kembali mengerutkan ken- ing, menyaksikan
kekonyolan pemuda di hadapannya. Mereka semakin bertambah heran, dan berusaha
menduga-duga siapa sebenarnya pemuda bertingkah laku seperti orang gila itu
"Bocah sinting,
kaukah yang berjuluk Pendekar Gila?" akhirnya lelaki tua berjubah biru tua
bertanya, ketika pikirannya teringat ciri-ciri Pendekar Gila.
"Hi hi hi..! Gila?
Ah, rupanya kalian gila. Kasi- han, pantas sekali sudah tua kalian mau berkelahi.
Padahal kalian tinggal menunggu ajal. Seharusnya ka- lian mengabdi pada Hyang
Widhi."
"Dasar bocah
sinting!" dengus lelaki tua berjubah merah, jengkel. "Pendekar Gila,
bagaimanapun juga kami telah tahu siapa kau sebenarnya. Nah, maukah kau menjadi
penilai?"
Pendekar Gila nyengir,
kemudian dengan tangan menggaruk-garuk kepala mulutnya cengengesan. Kepalanya
digeleng-gelengkan, seakan-akan tak percaya kalau orang-orang tua yang
seharusnya sudah tak memikirkan keduniawian, masih saja bertingkah se- perti
orang muda.
"Bagaimana,
Pendekar Gila?" tanya lelaki berju- bah coklat.
"Aha, baiklah.
Tapi, aku mau bertanya dulu pada kalian."
"Tentang
apa?" tanya lelaki berjubah biru. "Apakah kalian melihat pemuda
berusia sekitar dua puluh tujuh tahun mengenakan pakaian serba ungu? Kepalanya
terikat kain ungu pula?" tanya Sena.
Kelima lelaki tua itu
mengerutkan kening. Mulut mereka seperti terbungkam mendengar pertanyaan
Pendekar Gila. Mata
mereka menatap wajah Pendekar Gila. Hal itu menjadikan Pendekar Gila turut
menge- rutkan kening. Kemudian cengengesan sambil meng- garuk-garuk kepala.
"Aha, kenapa
kalian diam?" "Maksudmu, Galapati?" tanya lelaki berjubah
abu-abu.
"Aha, aku tak tahu
siapa namanya. Tapi mung- kin dia," sahut Sena.
"Kalau Galapati
yang kau cari, kami pun sedang mencarinya. Justru karena anak itu kami hendak
sal- ing bertarung," tutur Ki Gondra.
"Aha, kenapa
kalian hendak saling bertarung?" tanya Sena seraya membelalakkan mata.
"Di antara kami
berlima saling menyalahkan." "Saling menyalahkan? Hi hi hi...! Lucu
sekali!" "Ya. Kami merasa murid kami salah," tutur Ki Gondra
yang berjubah merah? "Kami senantiasa me- rasa, kalau semua tindakan Galapati
disebabkan keti- dakbecusan kami mendidiknya."
"Benar. Kami
selalu salah-menyalahkan, karena merasa di antara kami berlima ada yang
bersalah da- lam mendidiknya," sambung Ki Gendala.
Pendekar Gila bengong,
mendengar penuturan orang tua itu. Kemudian mulutnya kembali cengenge- san
sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hi hi hi.... Lucu
sekali kalian. Mengapa hanya karena tikus busuk itu kalian hendak saling
bunuh?" tanya Sena, tertarik ingin tahu.
"Karena kami tak
mau dituduh sembarangan," sahut lelaki berjubah abu-abu yang terkenal
dengan julukan Cambuk Panca Geni.
"Aha, kalau boleh
ku tahu, siapa sesungguhnya kalian ini? Dan ada hubungan apa dengan tikus bu-
suk itu?" tanya Sena.
"Aku
Gendala," lelaki tua berjubah biru memper- kenalkan diri.
"Aku Gondra,"
kata lelaki berjubah merah. "Aku Sandika," tambah lelaki berjubah
abu-abu. "Aku Wilakupa," sambung yang berjubah coklat "Dan aku
Karadena," terakhir lelaki berjubah kuning emas.
"Baiklah, tentunya
kalian telah mengenal nama- ku," kata Sena. "Kini aku ingin tahu, ada
hubungan apa kalian dengan Galapati?"
"Kami adalah
gurunya," sahut Gendala. "Aha, jadi kalian gurunya? Kebetulan sekali,
aku harus menangkap kalian," kata Sena.
"Sabar, Pendekar
Gila. Memang kami gurunya. Tapi justru kamilah yang kini tengah disibukkan oleh
tingkah lakunya. Kami mendidik Galapati dengan il- mu-ilmu yang baik,"
tutur Sandika. "Tapi, rupanya watak anak itu sangat buruk. Dia telah
membuat se- mua pendekar menganggap kami tak ada artinya. Bahkan melebihi
sampah!"
"Ya! Semua pendekar
menuduh kami yang salah. Mereka meminta kami agar menyerahkan bocah kepa- rat
itu," sambung Karadena.
"Aha, lalu apa
maksud kalian hendak saling bu- nuh?" tanya Sena.
Sesaat kelima lelaki
tua itu diam dan saling ber- pandangan. Napas mereka terasa sangat berat. Wajah
mereka seketika berubah muram, seakan merasakan beban dalam batin. Beban jiwa
sebagai guru, yang te- lah membuahkan murid laknat. Mereka sebenarnya sebagai
tokoh tua sakti berhaluan lurus. Tapi murid mereka justru bertindak durjana dan
menimbulkan petaka.
***
"Hm...! Baiklah,
Pendekar Gila. Kami akan men- ceritakan padamu siapa sebenarnya Galapati,"
akhir- nya Ki Gendala, orang tertua di antara kelima lelaki tua itu membuka
suara.
"Aha, kalau kau
memang berkenan, ceritakan- lah," pinta Sena.
Sesaat orang tua itu
terdiam sambil menghela napas panjang-panjang. Kemudian dengan menun- dukkan
kepala sebentar, lalu mendongakkannya ke atas, Ki Gendala mulai menceritakan
siapa Galapati sebenarnya.
"Lima belas tahun
yang lalu, kami menemukan seorang anak berusia sekitar dua belas tahun. Bocah
itu ditemukan ketika kami sedang melakukan perjala- nan melintas Bukit Kapuran
Kuning. Bocah itu kami temukan bersama seorang mayat wanita yang kea- daannya
mengenaskan. Nampaknya wanita itu habis diperkosa. Di tempat itu juga kami
menemukan kereta dengan dua ekor kuda yang sudah mati. Kami tak ta- hu, siapa
ayah bocah itu. Namun, akhirnya kami ke- tahui kalau bocah itu tiada lain bocah
hasil hubungan gelap. Dan yang telah membunuh ibunya ternyata si bocah itu
sendiri yang tak ingin masalahnya terbong- kar...." "Hm, menarik
sekali. Lalu, mengapa Galapati bertabiat buruk seperti itu?" tanya Sena.
"Itu yang tidak
kami mengerti," sahut Ki Gendala dengan menarik napas panjang.
"Mungkin Galapati dendam? Kami tak tahu. Tapi kalau dendam, sekarang
ayahnyalah yang dijadikan pelampiasan dendam. Hm..., kini dia justru menjadi
durjana pemetik bunga," desah Ki Gendala, setengah mengeluh.
"Mulanya Galapati
hanya mengatakan ingin ker- ja. Secara diam-diam dia mencuri sebuah kipas
besar, sebuah senjata sakti," tutur Ki Gandra menambahkan. "Benar.
Sungguh kami tak menyangka kalau ilmu yang kami berikan, digunakan untuk
kejahatan," sambung Ki Wilakupa.
Pendekar Gila terdiam.
Hanya mulutnya yang cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala.
Kemudian kepalanya didongakkan ke atas, menatap langit pagi yang bening.
"Pendekar Gila,
kalau boleh kami tahu, mengapa kau mencari murid durjana itu?" tanya Ki
Karadena.
"Aha, seperti apa
yang kalian katakan. Dia telah membuat petaka di Desa Swargadana. Galapati
telah menghancurkan masa depan putri Kepala Desa Swar- gadana...," tutur
Sena.
"Kurang ajar!
Jelas bocah itu tak boleh dibiar- kan. Celakalah kalau Galapati masih
gentayangan!" dengus Ki Sandika. Wajahnya nampak memerah kare- na marah.
Nafasnya tersengal-sengal. "Jelas, ini salah kalian!"
"Enak saja kau
ngomong!" dengus Ki Wilakupa. "Kaulah yang tidak becus
mendidiknya."
"Huh, kau yang
memanjakannya!" bantah Ki Sandika.
"Hi hi hi...! Lucu
kalian ini. Bagaimana kalian akan menyelesaikan masalah ini, kalau malah saling
bertengkar?" tanya Sena.
"Karena dia yang
telah memanjakan bocah lak- nat itu!" dengus Ki Sandika sambil menuding Ki
Wila- kupa. "Kurang ajar! Bukankah kau yang selalu membe- lanya, sehingga
anak itu keras kepala!" dengus Ki Wi- lakupa tak mau kalah.
"Aha, kalian
benar-benar seperti anak kecil. Hi hi hi...! Lucu sekali dunia ini. Semakin
tua, kalian malah semakin lucu. Kalian persis anak-anak kecil. Saling
menyalahkan,"
gumam Sena dengan masih cengenge- san sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kurasa, ini bukan cara yang baik menyelesaikan masalah."
Kedua lelaki tua yang
semula bersitegang dan bahkan telah siap untuk melakukan pertempuran, se- ketika
menghentikan perselisihan itu.
"Lalu, apa yang
harus kami lakukan?" tanya Ki Karadena.
"Aha, kenapa
kalian seperti orang bodoh? Jelas kita harus mencarinya," sahut Sena.
"Ya ya ya.... Kau
benar, Pendekar Gila. Kita ha- rus segera mencarinya," sambut Ki Wilakupa.
"Memang benar.
Bagaimanapun juga, bocah itu harus mendapat hukuman yang setimpal," dengus
Ki Sandika.
"Baiklah, Kisanak
sekalian. Kini tak ada waktu lagi Kita harus secepatnya mencari Galapati.
Kuharap kalian mau membuang perselisihan itu. Carilah murid kalian! Aku pun
akan mencarinya. Nah, sampai kete- mu lagi."
Usai berkata begitu,
Pendekar Gila segera mele- sat meninggalkan kelima lelaki tua berjubah itu
untuk melanjutkan perburuannya mencari Galapati.
"Bagaimana dengan
kita?" tanya Ki Gendala ingin tahu. "Kita pun harus mencarinya,"
sahut Ki Wilakupa
"Ayo!" ajak
Ki Gendala. Kelima lelaki tua itu pun segera meninggalkan Hutan Jalarak guna
mencari murid mereka yang telah murtad.
***
5
Kadipaten Blambangkara
yang berbatasan den- gan Gunung Bromo dan Desa Kates Kemba di sebelah timur
serta Hutan Barumba di sebelah barat, sore itu tampak tenang. Di depan
kadipatenan tampak empat orang penjaga pintu gerbang tengah mondar-mandir.
Keempat penjaga pintu gerbang itu memegang senjata berupa tombak.
Sore itu, Adipati Sepa
Woroagung sedang mene- rima seorang tamu. Tamunya tak lain mertua dan istri
keduanya yang bernama Getri Anitia.
Di sebuah ruangan besar
tempat yang biasa di- gunakan Adipati Sepa Woroagung untuk menjamu tamu, nampak
seorang lelaki berusia sekitar enam pu- luh tahun berpakaian jingga. Lelaki tua
berwajah tenang dan sabar itu tak lain Ki Kayaputaka, mertua Adipati Sepa
Woroagung. Wajah lelaki tua itu terhias kumis dan jenggot putih yang tak
terlalu tebal. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, Kayaputaka tentunya orang
dari rimba persilatan.
Duduk di hadapan Ki
Kayaputaka, seorang lelaki bertubuh gemuk dengan kepala agak botak di atasnya.
Hidungnya besar dan bercambang bauk lebat. Dialah Adipati Sepa Woroagung Sang
Adipati berusia sekitar lima puluh tahun. Sorot mata yang tajam, mencer- minkan
kewibawaannya.
Di samping kiri sang
Adipati, duduk seorang wa- nita muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun.
Wajah wanita itu cantik. Matanya yang bening terhias bulu-bulu mata lentik dan
alis tipis. Wanita berkulit mulus yang mengenakan kain setinggi dada atau ang-
kin berwarna hijau tua berhias kuning emas itu, tak lain Getri Anitia. Istri
kedua sang Adipati, putri Ki Kayaputaka.
"Bagaimana keadaan
di perguruan, Rama?" tanya Adipati Sepa Woroagung penuh rasa hormat
"Baik Atas doa
restu Kanjeng Adipati, kami selalu dalam keadaan sehat, tak kurang satu apa
pun...," sahut Ki Kayaputaka.
"Syukurlah kalau
begitu, Rama! Kami merasa senang, jika Perguruan Lembah Barada tenang dan maju,"
ujar Adipati Sepa Woroagung.
"Tentunya Rama
datang kemari karena ada ke- perluan, Kakang," selak Getri Anitia.
"Benarkah begitu,
Rama?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
Ki Kayaputaka tersenyum
mendengar ucapan anaknya. Sebentar letak duduknya dibetulkan, kemu- dian
setelah menghela napas dalam-dalam, Ki Kayapu- taka berkata.
"Apa yang
dikatakan istrimu benar, Kanjeng." "Kalau boleh aku tahu, apakah yang
menjadi ke- perluan Rama?"
Kembali Ki Kayaputaka
terdiam. Sepertinya ada keraguan di hati lelaki tua itu untuk mengutarakan
maksud kedatangannya ke kadipaten. Melihat kera- guan mertuanya, Adipati Sepa
Woroagung kembali berkata, "Katakanlah, Rama! Dalam keadaan ini, aku ada-
lah menantumu, bukan Kanjeng Adipati," ujar Adipati Sepa Woroagung
berusaha meyakinkan sang Mertua.
"Maaf sebelumnya,
kalau nanti ucapanku salah," pinta Ki Kayaputaka.
"Tidak apa, Rama.
Katakanlah!" "Baiklah. Sebenarnya aku hanya ingin memohon kesediaan
Kanjeng Adipati untuk menerima murid saya bekerja di kadipaten ini saja,"
kata Ki Kayaputaka seraya menundukkan kepala.
"O, hanya itu.
Kukira apa. Baiklah, Rama. Aku akan menerimanya. Kapan murid Rama akan
datang?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"Mungkin
lusa," jawab Ki Kayaputaka. "Baiklah, aku akan menyambut dan meneri-
manya."
"Terima kasih,
Kanjeng. Kalau begitu, aku permi- si."
"Apa tak sebaiknya
Rama menginap barang satu malam? Sekalian lusa menyambut kedatangan murid
Rama?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"O, terima kasih.
Tentunya dia tak akan datang, kalau belum kuberi kabar. Rama permisi
pulang."
"Hati-hati,
Rama!" pesan Getri Anitia, "Apakah perlu prajurit, Rama? Untuk
mengawal Rama," kata Adipati Sepa Woroagung menawarkan.
"Ah, tidak usah.
Terima kasih." Orang tua itu pun berlalu, meninggalkan bangsal kadipaten
diiringi anak dan menantunya.
Tak berapa lama setelah
keberangkatan Ki Kaya- putaka, nampak seorang pemuda berpakaian serba ungu
dengan kepala diikat kain membentuk sudut ke atas segitiga berwarna ungu pula
melangkah menuju Kadipaten Blambangkara.
Wajah pemuda itu sangat
tampan, elok bagaikan wajah seorang dewa yang baru turun dari kahyangan.
Matanya yang bening menambah ketampanan pemuda itu.
Pemuda berpakaian ungu
yang tak lain Galapati, semakin dekat dengan pintu gerbang Kadipaten Blambangkara.
Di bibir Galapati tersungging senyuman. Dengan mantap dan tenang kakinya terus
melangkah.
"Siapa kau? Dan
ada keperluan apa datang ke- mari?!!" bentak salah seorang dari prajurit
jaga di pintu gerbang kadipaten.
"Namaku Galapati.
Aku murid Ki Kayaputaka," jawab Galapati.
"Apa maksud
kedatanganmu?" tanya prajurit yang lain. Suaranya tak setajam prajurit
pertama, karena mendengar jawaban bahwa pemuda tampan itu murid Ki Kayaputaka.
"Aku hendak
menyusul guru." Keempat prajurit jaga itu saling pandang, mendengar
jawaban pemuda tampan di hadapan mereka. Mereka tak habis pikir. Bukankah Ki
Kayaputaka baru saja berlalu? Bagaimana mungkin pemuda tampan ini tidak bertemu
dengan gurunya?
"Anak muda, Ki
Kayaputaka baru saja pulang. Apakah kau tak bertemu di jalan?" tanya
prajurit yang berkumis lebat
"Ah,
benarkah?" tanya Galapati pura-pura kaget. "Ya!",sahut prajurit
berkumis lebat. "O, rupanya aku berselisih jalan dengan guruku,"
keluh Galapati.
"Ada apa,
Raka?" Tiba-tiba dari dalam terdengar suara Adipati Se- pa Woroagung.
"Ampun, Kanjeng!
Ada seorang anak muda men- gaku murid Ki Kayaputaka!" sahut prajurit
berkumis lebat yang dipanggil Raka.
"Apa?! Murid
Rama?!" "Benar, Kanjeng." "Suruh dia masuk!" Kembali
terdengar suara Adipati Sepa Woroagung memerintah prajuritnya agar memberi
jalan pada Ga- lapati. "Silakan masuk!" kata Raka.
"Terima
kasih." Dengan bibir mengurai senyum, Galapati me- langkah masuk. Seketika
matanya tertumbuk pada sepasang mata lembut milik seorang wanita berparas
cantik. Wanita itu tak lain Getri Anitia.
Hm.... Inikah yang
bernama Getri Anitia? Tanya Galapati dalam hati. Sungguh cantik wajahnya. Tak
kusangka, akhirnya kutemukan juga wanita secantik ini.
"Anak muda, apakah
benar kau murid Rama Kayaputaka?" tanya Adipati Sepa Woroagung, menyen-
takkan Galapati dari lamunannya.
Sesaat Galapati
terdiam. Matanya mencuri pandang ke wajah Getri Anitia yang juga tengah memandang
dirinya dengan kening berkerut. Sepertinya wanita cantik itu tengah berpikir,
mencoba mengingat- ingat para murid ayahnya.
Dengan
sembunyi-sembunyi agar tak diketahui Adipati Sepa Woroagung, Galapati berusaha
memberi isyarat agar wanita cantik itu menganggukkan kepala jika nanti ditanya
suaminya. "Benar, Kanjeng." "Siapa namamu, Anak Muda?"
"Galapati, Kanjeng." "Hm...," gumam Adipati Sepa Woroagung
sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian wajahnya menoleh dan memandang
istrinya. "Diajeng, apa benar murid Rama ada yang bernama Galapati?"
Getri Anitia terdiam
sesaat. Matanya melirik Galapati yang mengedipkan mata. Hal itu membuat Getri
Anitia nampak bingung. Darahnya berdesir halus, ke- tika beradu pandang dengan
pemuda itu.
Getri Anitia masih
terdiam bimbang. Dia ingin mengatakan tidak. Tapi entah mengapa, setelah mena-
tap wajah pemuda tampan itu, tiba-tiba hatinya terle- kat rasa belas kasihan.
Bahkan Getri Anitia merasa takut kalau pemuda itu akan mendapat hukuman. Bahkan
mungkin dihukum gantung.
Kembali Getri Anitia
mencuri pandang ke arah Galapati yang menganggukkan kepala.
"Bagaimana,
Diajeng? Apakah kau ingat kalau di perguruan Rama ada nama Galapati?"
tanya Adipati Sepa Woroagung.
"Ya. Hamba ingat
Kangmas." "Jadi ada?" "Benar, Kangmas."
"Hm...," kembali Adipati Sepa Woroagung bergumam tak jelas. Lalu
pandangannya kembali tertuju pada Galapati yang masih berdiri menunggu keputu-
sannya. "Galapati, Rama baru saja pulang. Kedatangannya ke sini,
semata-mata untuk meminta padaku agar kau diterima bekerja di sini. Tapi aku
belum ta- hu, jabatan apa yang sekiranya cocok untukmu."
"Ampun, Kanjeng
Adipati...! Kalau memang di- perkenankan, hamba ingin menjadi ketua prajurit di
kadipaten ini," kata Galapati, menyentakkan Adipati Sepa Woroagung.
Sungguh di luar dugaannya kalau pemuda tampan yang kelihatannya pemuda biasa
dan berilmu tidak begitu tinggi, meminta jabatan begitu tinggi. Sedangkan Ki
Kayaputaka saja belum tentu sanggup menjabat pimpinan prajurit kadipaten.
"Apakah kau tidak
bergurau, Galapati?" tanya Adipati Sepa Woroagung dengan kening berkerut
dan mata menyipit. Hatinya sungguh bingung dan tak mengerti mendengar
permintaan pemuda tampan itu.
"Tidak,
Kanjeng." "Kau tahu, bagaimana beratnya tugas pimpinan
prajurit?"
"Sendika,
Kanjeng," jawab Galapati seraya men- ganggukkan kepala.
"Hm...."
Adipati Sepa Woroagung kembali bergumam tak jelas mendengar ucapan Galapati.
Matanya masih menatap tajam wajah Galapati, seperti berusaha meya- kinkan
hatinya akan kemampuan pemuda tampan di hadapannya.
"Galapati...."
"Daulat, Kanjeng." "Sesungguhnya di sini telah ada pimpinan
praju- rit. Namun, jika kau mampu mengalahkannya, aku akan menerima
permintaanmu," ujar Adipati Sepa Wo- roagung.
Sebenarnya maksud
Adipati Sepa Woroagung hanyalah mau menyingkirkan pemuda ini. Hatinya tak suka
dengan apa yang ditunjukkan pemuda itu. Hanya saja karena Adipati Sepa
Woroagung meman- dang pada mertuanya, maka hanya dengan cara halus bisa
menyingkirkan pemuda tampan ini.
Kalau Adipati Sepa
Woroagung menyingkirkan Galapati dengan kekerasan, jelas dia tak ingin mertu-
anya marah. Tapi jika dengan adu tanding melawan Kebo Wulung, bukankah dia bisa
bertanggung jawab pada mertuanya? Adipati Sepa Woroagung akan men- gatakan
kalau Galapati mati dalam ujian. Itu sebabnya dia bermaksud mengadu Galapati
dengan Kebo Wu- lung.
"Bagaimana,
Galapati?" "Hamba sanggup, Kanjeng." "Hm, begitu...?"
"Daulat, Kanjeng," "Baik Bersiaplah di pelajaran!" perintah
Adipati Sepa Woroagung. "Sendika...!" Galapati sekali lagi mencuri pandang
ke wajah Getri Anitia yang menjadikan wanita cantik istri Adipa- ti Sepa
Woroagung kembali berdesir dadanya. Sesaat kemudian pemuda itu melangkah dengan
mantap me- nuju pelataran. Tenang sekali pemuda itu melangkah.
Sementara itu, hati
Getri Anitia semakin bergetar hebat. Wanita itu bingung dan tak mengerti
mengapa getaran itu terus melanda hatinya. Tiba-tiba pula ada rasa takut,
kalau-kalau pemuda tampan itu akan mengalami kekalahan.
Getri Anitia tahu
persis siapa Kebo Wulung. Seorang tokoh persilatan yang sakti dan kejam. Kebo Wulung
tak pernah melepaskan lawannya dalam keadaan hidup. Itu sebabnya selama puluhan
tahun, Kebo Wulung masih memegang pimpinan prajurit dan belum terkalahkan.
Di samping itu, Kebo
Wulung juga teman dekat Adipati Sepa Woroagung. Tentunya sang Adipati akan
membelanya, jika keadaan memang mendesak.
Kini, seorang pemuda
yang kelihatannya tak memiliki kepandaian tinggi dan mengaku murid Ki
Kayaputaka telah dengan berani menantang Kebo Wu- lung. Bukankah pemuda itu
hanya mencari mati saja?
Pikir Getri Anitia,
antara cemas dan berharap pemuda itu segera membatalkan kesanggupannya.
Galapati tak mencabut
ucapannya. Bahkan se- makin bertambah mantap melangkah ke pelataran Hal itu
membuat hati Getri Anitia bertambah was-was. En- tah mengapa, sejak pandangan pertama,
hatinya merasakan sesuatu keanehan. Getri Anitia begitu terpe- sona melihat
ketampanan pemuda itu.
Adipati Sepa Woroagung
dan Getri Anitia serta dua dayang melangkah menuju tempat duduk yang disediakan
khusus untuk menyaksikan pertarungan.
"Prajurit...!"
seru Adipati Sepa Woroagung me- manggil para prajuritnya yang tengah berkumpul
di bangsal prajurit
Seketika dari bangsal
sisi kanan bangunan utama kadipaten, bermunculan puluhan prajurit lengkap
dengan senjata. Mereka langsung menghadap Adipati
Sepa Woroagung dan
menyembah. "Buat lingkaran!"
"Daulat,
Kanjeng!" Tanpa diperintah dua kali, puluhan prajurit itu langsung membuat
lingkaran. Sedangkan Kebo Wulung kini berdiri di samping tempat duduk Adipati
Sepa Woroagung. Lelaki bertubuh tinggi tegap dan bermata tajam itu bersidekap.
Wajahnya yang garang dengan cambang bauk dan hidung besar menatap pe- nuh
kebencian pada Galapati. Napas Kebo Wulung mendengus keras. Mulutnya
menyeringai sinis.
"Kuremukkan batok
kepalamu, Bocah Sombong!" dengus Kebo Wulung sambil memukul-mukulkan ke-
palan tangannya ke telapak tangan yang lainnya. "Kau rupanya mencari
mampus!"
"Kebo Wulung,
seperti apa yang tadi kukatakan, jika pemuda itu mampu mengalahkanmu, maka
dialah pengganti mu. Kau mengerti, Kebo Wulung?" tanya Adipati Sepa
Woroagung sambil mengedipkan mata pada Kebo Wulung memberi isyarat
Getri Anitia yang
mengerti isyarat suaminya, se- makin berdebar jantungnya. Rasa cemas dan takut
kalau Galapati tewas di tangan Kebo Wulung, mem- buatnya gelisah. Bahkan
keringat dingin kini telah membasahi keningnya.
"Daulat, Kanjeng.
Akan kuremukkan batok kepa- lanya yang sombong itu!" dengus Kebo Wulung
murka. "Kau telah siap, Galapati?" tanya Adipati Sepa Woroagung.
"Hamba telah siap
sejak tadi, Kanjeng. Ingin se- kali hamba melabrak kerbau dungu itu," ujar
Galapati sinis dengan suara sombong.
Kebo Wulung tentu saja
bertambah geram. Tak sabar menunggu pertarungan dimulai.
"Sombong kau,
Bocah! Bersiaplah untuk mam- pus!" geram Kebo Wulung. Matanya semakin
tajam, penuh bara api amarah terhadap Galapati.
"Kalian tak perlu
sesumbar yang tidak-tidak. Yang penting, kalian harus bisa mengalahkan lawan.
Karena siapa yang menang, dialah yang akan menjadi pimpinan prajurit,"
ujar Adipati Sepa Woroagung. "Nah, mulailah!"
Mendengar perintah itu,
Kebo Wulung yang su- dah marah sejak mendengar ejekan dan tingkah laku Galapati
langsung melesat, menggebrak dengan seran- gan dahsyat
"Jaga kepalamu,
Bocah! Heaaa...!" Dengan jurus 'Tanduk Kerbau Menjegal Nyawa', Kebo Wulung
bergerak menyerang. Kedua tangannya mengepal, bagaikan sepasang tanduk Kemudian
silih berganti menyerang dengan pukulan-pukulan keras disertai tenaga dalam.
Deru angin pukulannya saja mampu menyentakkan lawan.
"Haits!
Hih...!" "Yeaaa!" Melihat lawan menyerang dengan jurus andalan,
tanpa sungkan-sungkan Galapati pun langsung me- mapaki serangan lawan dengan
jurus andalan yang bernama 'Tan Jidor Maut'.
"Yeaaa...!"
Kedua tangannya bergerak laksana menari. Satu di belakang, satunya menyerang ke
depan begitu cepat dan beruntun. Tubuhnya agak merendah dengan sa- lah satu
kaki setengah ditekuk. Gerakannya mirip ta- rian jaipongan. Namun
hentakan-hentakan tangannya yang menyerang ke depan diikuti tenaga dalam yang
sempurna, hingga menimbulkan angin pukulan men- deru keras.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Kebo Wulung memajukan tangan kanannya, menyeruduk dengan
pukulan keras. Namun, dengan ce- pat Galapati berkelit ke samping. Tubuhnya
agak me- runduk. Kemudian dengan cepat pula, pemuda tam- pan itu balas
menyerang dengan hentakan punggung tangan kanan ke dada lawan.
Wrt! "Heits!
Hih...!"
"Heaaa...!"
Dengan gerakan memutar, Kebo Wu- lung melancarkan sapuan kaki kanannya mengarah
ke kaki Galapati.
"Haits! Hap!"
Galapati segera melompat ke atas menghindari sapuan kaki lawannya.
Kebo Wulung cepat
menarik tangan kanannya. Lalu segera memiringkan tubuh ke samping, memben- tuk
setengah lingkaran. Tangan kirinya dihentakkan, membentuk siku dari bawah ke
atas, menangkis hen- takan tangan kanan lawan. Kemudian dengan gerak memutar,
Kebo Wulung melancarkan sapuan kaki ka- nannya mengarah ke kaki Galapati.
"Heaaa...!"
"Haits! Hap!" Bergantian keduanya saling menyerang dengan pukulan dan
tendangan yang disertai tenaga dalam. Gerakan tubuh mereka begitu cepat.
Sehingga tubuh keduanya tampak tak jelas. Kini yang tampak hanya bayangan warna
pakaian mereka. Bayangan ungu dan biru tua berkelebat saling serang. Kedua
bayangan itu berusaha mendesak lawan dengan serangan-serangan dahsyat dan
mematikan.
"Heaaa...!"
"Yeaaat...!" Wut! Semua mata yang menonton, melotot tak berke- dip
menyaksikan pertarungan seru itu. Pelataran ka- dipaten yang semula rapi dan
bersih, kini berantakan. Rerumputan berserakan terinjak-injak kaki mereka.
Suasana yang tenang pun terpecah oleh pekikan- pekikan dari keduanya yang
bertarung, maupun dari para prajurit yang menyaksikan
***
6
Pertarungan masih
berlangsung seru, meski sua- sana alam mulai gelap. Mentari telah tenggelam di
balik bumi sebelah barat. Meski begitu, tak menghambat keduanya untuk tetap
bertarung.
"Heaaa...!"
"Yeaaa....'" Galapati kini bergerak dengan jurus 'Tari Tipak Tilu'.
Sebuah gerak gabungan antara tangan dan kaki. Tangan Galapati menyilang
membentuk gunting. Ka- kinya pun melakukan hal yang sama, saling menyi- lang.
Kemudian dengan tangan dibuka mengembang ke samping, kaki kiri pun ditarik ke
samping memben- tuk siku.
"Yeaaa...!"
"Heaaa...!" Melihat lawan membuka serangan dengan jurus baru, Kebo
Wulung pun segera mengeluarkan jurus yang tak kalah hebatnya. Jurus 'Kerbau
Menanduk Gunung' yang merupakan jurus pamungkas mulai di- gerakkan!
Kedua tangannya
menggenggam, kemudian dige- rakkan dari bawah ke atas laksana menanduk. Disusul
dengan pukulan keras kedua tangan lurus ke depan. Kedua kakinya pun bergerak,
merentang lebar, lalu ditarik dan diletakkan ke depan.
"Yeaaa...!"
"Heaaa...!" Keduanya kembali bergerak, berusaha saling mengalahkan.
Dengan jurus-jurus andalan, tangan mereka bergerak cepat melakukan serangan.
Galapati menepiskan tangan kanan dengan tepukan pertama. Disusul dengan gerakan
tangan kiri menepuk, begitu seterusnya secara beruntun.
Kebo Wulung pun tak
kalah diam. Tangan ka- nannya dihentakkan dari arah bawah, membentuk siku
mengarah ke wajah lawan. Lalu disusul dengan tangan kirinya, memukul lurus ke
dada lawan.
Plak! "Hih!"
"Ahhh...!" Secara bergantian menyerang dan menangkis keduanya terus
bergerak menyerang. Hal itu membuat para prajurit yang menyaksikan semakin
tercengang. Adipati Sepa Woroagung berdecak kagum. Tak menyangka kalau Galapati
yang masih muda dan keliha- tannya belum berpengalaman ternyata mampu men-
gimbangi setiap serangan yang dilancarkan Kebo Wu- lung. Apalagi selama ini
mereka mengenal Kebo Wu- lung sebagai kepala prajurit yang ganas dan tak pernah
terkalahkan.
"Ck ck ck...!
Sungguh pertarungan yang hebat. Pantas Galapati berani sesumbar. Ternyata
pemuda itu patut diperhitungkan," gumam Adipati Sepa Wo- roagung sambil
mengangguk-anggukkan kepala.
Sementara Getri Anitia
yang hatinya telah terpaut pada ketampanan Galapati, kini berharap pemu- da itu
dapat mengalahkan Kebo Wulung. Entah mengapa, hatinya bersorak girang melihat
Galapati mam- pu mengimbangi serangan-serangan yang dilancarkan Kebo Wulung.
Rasa cemas akan kekalahan pemuda itu, seketika lenyap, berganti dengan rasa
kagum. Bibirnya mengurai senyum. Senyum yang penuh arti.
Sementara, Kebo Wulung
terbelalak kaget ketika mengetahui tenaga dalam lawan ternyata mampu
mengimbangi tenaga dalamnya. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan, untuk menarik
tangannya yang dalam cengkeraman tangan Galapati.
"Hih...!"
Bret! Akibat tarikan disertai tenaga dalam yang kuat, seketika itu juga daging
tangan Kebo Wulung terkelupas. Darah mengucur keluar dari luka besetan itu.
Semua mata terbelalak,
tak percaya menyaksikan kejadian di hadapan mereka. Baru kali ini mereka
menyaksikan kulit terbeset oleh cengkeraman tangan. Tentunya cengkeraman tangan
itu dikerahkan dengan tenaga dalam yang lebih kuat, sehingga mampu membeset
kulit tangan lawan.
"Akh...!"
Kebo Wulung memekik tertahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Matanya yang tajam
terbelalak, menatap tegang tangannya yang mengucurkan darah.
"Bagaimana, Kebo
Wulung? Apakah kau belum mengakui kekalahanmu?" tanya Galapati bertambah
congkak. Bibirnya tersenyum sinis, mengejek Kebo Wulung.
"Kurang ajar!
Cuih! Jangan harap Kebo Wulung menyerah begitu saja! Mari kita teruskan!"
tantang Kebo Wulung. Kemudian tangannya bergerak cepat, menyambar senjata yang
tersandar di tembok. Sebuah senjata berbentuk kapak dengan gagang panjang. Ka-
pak besar bermata dua itu telah banyak merenggut korban. Tak ada lawan yang
dapat selamat dari kapak itu.
Menyaksikan lawan telah
mengeluarkan senjata, dengan bibir masih mengurai senyum Galapati pun mulai
menarik senjata dari balik bajunya.
Srt! Sebuah kipas besar
berwarna ungu kini telah terbuka lebar di tangan Galapati. Dengan senyum sinis,
pemuda tampan itu mengipas-ngipaskan senjatanya ke tubuh. Hal itu menjadikan
Kebo Wulung bertambah marah, merasa diejek dan diremehkan.
"Cuih! Kau kira
kipas butut macam itu akan mampu menghadapi Kapak Mata Malaikat ku,"
dengus Kebo Wulung.
"Hm, kita
buktikan, Kebo Wulung!" "Cuh! Kubelah kepalamu, Bocah Sombong!
Yeaaa...!"
"Yeaaa...!"
Dengan kapak besar bermata dua Kebo Wulung kini melesat. Kapaknya diangkat ke
atas, kemudian dengan cepat diayunkan ke tubuh Galapati. Namun belum juga kapak
besar itu menurun, Galapati telah lebih dahulu menggerakkan kipas mautnya.
Wrt! Swing, swing...!
Kebo Wulung tersentak mendapat serangan ce- pat dan begitu tiba-tiba. Dengan
cepat lelaki bertubuh besar itu menarik serangannya. Diputarnya kapak bermata
dua membentuk baling-baling untuk melin- dungi tubuhnya dari ancaman
pisau-pisau kecil yang melesat ke tubuhnya. Trak, trak! Wrt! Trak!
"Heaaa...!" Setelah pisau-pisau kecil itu berguguran tersapu
kapaknya, Kebo Wulung yang semakin bernafsu, den- gan cepat mengayunkan
kapaknya.
Wrt! "Haits!"
Galapati membuang tubuh ke samping dengan melompat. Kemudian dengan tubuh masih
agak mir- ing Galapati balas menyerang dengan kibasan kipasnya.
Wrt!
Asap ungu
bergulung-gulung keluar dari kipas maut. Asap itu bergerak mengejar tubuh Kebo
Wu- lung, membuat lelaki bertubuh tinggi besar dan ber- wajah garang itu
berubah pucat. Matanya terbelalak, setelah tahu asap apa yang keluar dari kipas
maut itu.
"Racun Kelabang
Ungu...!" Ketika lawan dalam keadaan terkejut menyaksi- kan racun yang
berbentuk asap ungu yang keluar dari kipas mautnya, dengan cepat Galapati
melesat. Kemu- dian dengan cepat pula kipasnya dikebutkan ke leher lawan. Bret!
Cras! "Wuaaa...!" lolongan kesakitan seketika terdengar dari mulut
Kebo Wulung. Sesaat tubuh lelaki bertu- buh besar itu bergetar hebat. Lalu
ambruk dengan tu- buh membiru. Lehernya terkoyak hampir putus!
Tepuk sorak terdengar
dari para penonton. Na- mun, ada di antara mereka yang terdiam, tak senang
menyaksikan kejadian itu. Seperti halnya Adipati Sepa Woroagung yang terbungkam
dengan mengulum bibir. Dia mengira Kebo Wulung akan mampu mengalahkan Galapati,
ternyata justru keadaannya terbalik. Kebo Wulung harus menerima kematian.
Saat itu juga,
pengangkatan pimpinan prajurit dilangsungkan. Senyum mengembang di bibir
Galapa- ti, begitu pula dengan Getri Anitia. Keduanya dengan mencuri pandang,
berusaha saling mengisyaratkan se- suatu yang ada dalam hati mereka.
***
Sementara itu, kelima
lelaki tua berjubah yang tengah mencari Galapati tiba di Desa Kembar Pacung.
Kelima lelaki tua sakti yang juga guru Galapati, pagi itu tengah melintasi
persawahan di sebelah utara Desa Kembar Pacung, ketika terdengar suara isak
tangis seorang wanita.
"Hei, kudengar ada
seorang wanita menangis," seru Ki Gendala.
"Hm, benar.
Pagi-pagi begini ada suara tangis," ujar Ki Wilatika.
"Bagaimana kalau
kita cari?" ajak Ki Gondra. Kelima lelaki tua itu pun segera menuju asal
su- ara tangis itu. Tak lama kemudian, mereka menemu- kan seorang gadis
berpakaian hijau sedang menangis sesenggukan seorang din di tepi sungai, di
sebuah dangau yang ada di persawahan itu.
"Kenapa kau
menangis seorang diri di sini, Nak?" tanya Ki Gendala sambil mendekati
gadis cantik berpakaian hijau yang ternyata Arum Sari.
Arum Sari menyeka air
matanya. Kemudian, di- pandanginya kelima orang tua di hadapannya.
"Aku..., aku....
Oh, aku sudah tak ada artinya, Ki!" keluh Arum Sari.
"Heh, apa
maksudmu?" tanya Ki Wilakupa den- gan kening berkerut
"Aku..., aku benci
pada pemuda itu. Dialah yang telah menghancurkan masa depanku. Aku ingin mencari
seorang guru, agar dapat membalas sakit hatiku," ujar Arum Sari sambil
terus terisak-isak
"Siapa pemuda yang
kau maksud, Nak?" tanya Ki Sandika.
"Galapati, Ki. Dia
telah menghancurkan masa depanku. Hu hu hu...!"
"Hhh...! Bocah
keparat itu lagi! Ng.... Siapa na- mamu? Dan dari mana asalmu, Nak?" tanya
Ki Karadena. "Namaku Arum Sari, Ki. Aku berasal dari Desa
Swargadana."
Terbeliak mata kelima
lelaki tua berjubah itu mendengar ucapan Arum Sari. Seketika mereka teringat
akan ucapan Pendekar Gila, yang menceritakan kalau putri Kepala Desa Swargadana
pun telah menjadi korban Galapati.
"Heh, apa kau
putri Kepala Desa Swargadana?" tanya Ki Gendala.
"Benar, Ki. Dari
mana kau tahu?" Arum Sari ba- lik bertanya.
"Kami tahu dari
Pendekar Gila, bahwa putri Ke- pala Desa Swargadana telah menjadi korban bocah
keparat itu," jawab Ki Wilakupa.
"Ki, tolonglah
aku! Tunjukkan padaku, di mana aku dapat menemukan guru yang sakti. Aku ingin
membalas dendam pada pemuda biadab itu," pinta Arum Sari.
"Benarkah kau mau
berguru?" tanya Ki Gendala. "Benar, Ki." "Hm..,," Ki
Gendala menggumam tak jelas. Ma- tanya menoleh dan menatap keempat rekannya,
seper- tinya Ki Gendala bermaksud minta pendapat teman- temannya. Mereka
mengangguk, menyetujui apa yang direncanakan Ki Gendala.
"Baiklah, Nak.
Kami akan mengangkatmu seba- gai murid. Kami akan mengajarkan semua ilmu yang
kami miliki padamu. Kelak setelah selesai mempelajari semua, kami mengharap kau
mau mencari Galapati. Bocah laknat itu harus ditangkap," ujar Ki Wilakupa.
"Ah...,
benarkah?" Arum Sari tersentak gembira mendengar ucapan Ki Wilakupa.
"Ya. Kami terima
kau sebagai murid," tegas Ki Gondra.
"Oh, terimalah
hormatku, Guru! Akan kulaksa- nakan perintah Guru."
Arum Sari segera
bersujud di hadapan kelima le-
laki tua berjubah di
depannya.
"Bagaimana kalau
kita langsung menggembleng bocah ini?" usul Ki Wilakupa.
"Setuju...!"
sahut yang lainnya. "Nah, apakah kau sanggup berlatih sekarang?"
tanya Ki Wilakupa.
"Sanggup,
Guru," jawab Arum Sari penuh se- mangat
"Baiklah. Kita
berlatih sekarang. Nah, ikut aku!" ajak Ki Wilakupa.
Ki Wilakupa mengajak
Arum Sari ke tanah la- pang yang ada di tempat itu. Sementara yang lain membuat
rumah dari kayu dan jerami. Mereka ingin membuat tempat itu sebagai
pesanggrahan sementara, selama mencari Galapati sekaligus mendidik Arum Sa- ri.
Karena untuk kembali ke perguruan mereka, terlalu jauh bagi Arum Sari.
Mulai saat itu Arum
Sari berlatih. Ki Wilakupa memperagakan jurus-jurus ilmu silatnya, sedangkan
Arum Sari mengikutinya. Didorong semangat dan den- dam dalam jiwanya, Arum Sari
dapat mengikuti gera- kan ilmu silat yang diperagakan Ki Wilakupa.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Tubuh keduanya bergerak cepat, dalam jurus- jurus ilmu
silat. Bahkan ketika Ki Wilakupa berhenti, Arum Sari masih terus melakukan
gerakan, mempela- jari jurus-jurus yang tadi diberikan Ki Wilakupa.
Secara bergantian
kelima lelaki tua itu memberi- kan jurus-jurus ilmu silatnya. Tak jemu-jemunya
Arum Sari menerimanya. Semakin lama bahkan gadis itu tampak semakin
memperlihatkan semangatnya. Terus-menerus berusaha keras mempelajari jurus-
jurus silat dari kelima lelaki tua berpakaian jubah yang telah mengangkat Arum
Sari sebagai murid.
***
Keesokan paginya, di
Bukit Semut Abang tampak seorang pemuda berpakaian rompi kuning keemasan tengah
melangkah tenang di bawah sinar matahari pa- gi yang hangat. Di punggung pemuda
berusia sekitar dua puluh lima tahun itu tersandang sebilah pedang. Dilihat
dari pedang dan pakaian yang dikenakan, pe- muda itu tentunya orang persilatan.
Pemuda itu bernama
Sunatra, murid Ki Kayapu- taka yang hendak menuju Kadipaten Blambangkara. Dia
pergi ke sana atas perintah gurunya, yang kemarin lusa datang ke Kadipaten Blambangkara.
Sunatra tengah
melangkah melintasi Bukit Se- mut Abang, ketika tiba-tiba dari arah samping
kanan berdesing puluhan anak panah.
Swing, swing...!
"Hop! Heaaa...!" Sunatra cepat melompat dan bersalto, mengelak- kan
serangan tak terduga yang meluncur ke arahnya. Tubuhnya berjumpalitan di udara
beberapa kali, sebe- lum kemudian mendarat dengan mulus di tanah. Tan- gannya
dengan cekatan berhasil menangkap beberapa anak panah. Matanya yang tajam,
mengawasi sekeli- lingnya, berusaha mencari asal serangan itu.
"Pengecut!
Keluarlah kalian!" bentak Sunatra sengit Swing, swing...!
Jawaban dari seruan
Sunatra, berupa puluhan anak panah melesat memburu tubuhnya. Melihat se- rangan
itu, Sunatra kembali melompat dan berjumpa- litan untuk mengelak.
"Hop! Kurang ajar!
Hih...!" Dengan tubuh masih berjumpalitan di udara, tangannya dengan cepat
melolos pedang yang tersan-
dang di punggung.
Srt!
"Heaaa...!" Wrt! Trak, trak...! Dalam sekali kebut, puluhan anak
panah terba- bat pedang dan berpentalan di tanah.
"Pengecut!
Keluarlah kalian!" seru Sunatra sam- bil mengedarkan pandangannya ke
sekitar tempat itu! Seketika, dari balik semak-semak tak jauh dari Suna- tra
berada, bermunculan puluhan prajurit Kadipaten Blambangkara yang dipimpin
seorang pemuda berwa- jah tampan mengenakan pakaian ungu.
"Apa maksud kalian
menyerangku?!" tanya Su- natra. "Kau harus dibunuh!" dengus
pemuda berpa- kaian ungu yang tak lain Galapati.
"Hm.... Antara
kita tak pernah terjadi sengketa. Guru malah menyuruhku untuk menemui Kanjeng
Adipati," ujar Sunatra merasa heran dan tak mengerti.
"Untuk apa? Dan
siapa gurumu?" tanya Galapati. "Guruku Ki Kayaputaka."
"Bohong! Rupanya kau hendak menipu kami! Prajurit bunuh dia! Dialah si
hidung belang itu...!" se- ru Galapati.
Sunatra tersentak kaget
mendengar perintah dan tuduhan padanya sebagai si durjana. Sunatra hendak
membantah, tapi puluhan prajurit telah menyerang, hingga dia tak sempat berkata
lagi. Hanya ada satu jalan, menghadapi mereka.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Sunatra segera menggerakkan pedangnya den- gan jurus
'Badai Mendera Buana'. Pedangnya bergerak laksana badai yang kencang, memapaki
serangan go-
lok dan tombak yang
dilancarkan para prajurit Kadi- paten Blambangkara.
Wrt! Trang! Prak!
"Ihhh...!" Dalam sekali sabetan, beberapa senjata di tan- gan para
prajurit itu patah menjadi dua. Kenyataan itu membuat para prajurit terbelalak
dan melompat mun- dur.
"Kurang ajar!
Akulah lawanmu! Yeaaa...!" Galapati yang melihat anak buahnya tak mampu
mengalahkan Sunatra, segera melesat menyerang pe- muda murid Ki Kayaputaka itu.
Serangannya tak tanggung-tanggung lagi. Langsung dikeluarkannya ju- rus
andalannya yang bernama jurus 'Tari Ronggeng Menjerat'. Tangannya bergerak
menari, dengan kipas maut berwarna ungunya.
Wrt! Dari gerakan kipas
itu, keluar gulungan asap ungu yang melesat mengejar Sunatra. Sunatra tersen-
tak kaget, ketika tahu asap yang keluar dari kipas maut itu.
"Racun Kelabang
Ungu...?!" pekiknya sambil me- lompat mundur, kemudian dengan cepat
pedangnya diputar dengan jurus 'Kincir Menyapu Kabut'. Pedang di tangan kanan
Sunatra bergerak cepat, berputar lak- sana kincir.
Wrt! Asap ungu beracun
seketika tersapu. Cahaya gemerlap terbias ketika pedang Sunatra berputar begi-
tu cepat dan keras.
"Heaaa...!"
"Yeaaa....!" Galapati melesat memburu lawan. Kipas maut-
nya dikibaskan dengan
tenaga dalam penuh. Kemu- dian dengan secepat kilat dihentakkan.
Wrt! Swing, swing...!
Puluhan pisau-pisau kecil terlontar dan melesat. Sunatra tersentak kaget. Belum
sempat dirinya terbe- bas dari serangan Racun Kelabang Ungu, mendadak harus
menghadapi serangan pisau-pisau kecil yang keluar dari kipas besar di tangan
lawan.
"Hais!
Hih...!" Tubuh Sunatra melompat dengan berjumpalitan di udara, mengelakkan
serangan pisau-pisau kecil itu! Pedangnya terus berkelebat cepat, berputar
laksana kincir untuk menangkis serangan pisau-pisau kecil, sekaligus menepiskan
asap beracun yang juga terus memburu dirinya.
Wut! Wut!
"Heaaa...!" Sunatra terus mengelakkan pedangnya sambil berjumpalitan
mengelakkan serangan lawan. Dia kini benar-benar kewalahan menghadapi gempuran
lawan yang tak henti-hentinya. Serangan lawan begitu terpa- du, antara racun
dan asap, pisau-pisau, dan kibasan- kibasan kipasnya yang begitu cepat dan
keras.
"Heaaa...!"
Wrt! Wrt! Galapati terus memburu lawan dengan kipas mautnya yang mengeluarkan
asap beracun ganas. Keadaan ini semakin membuat Sunatra bertambah ke- labakan.
Sampai pada suatu ketika....
Wrt! Swing! Jlep!
"Akh...!" Tubuh Sunatra terhuyung-huyung, ketika pa-
hanya tertancap pisau
maut Wajahnya memucat den- gan mata terbelalak tegang. Tubuh pemuda itu terus
limbung ke belakang. Sekujur tubuhnya terasa terge- tar hebat akibat hunjaman
pisau beracun itu.
"Ha ha ha...!
Mampuslah kau....' Hiaaa....!" Galapati melesat hendak menghabisi nyawa
Su- natra. Tubuhnya berkelebat cepat memburu Sunatra. Kipas maut di tangannya
bergerak cepat dan melebar, membentuk mata kapak besar yang siap memenggal
leher lawan.
"Hiaaa...!"
"Oh, matilah aku!" keluh Sunatra dengan wajah semakin bertambah pucat
Kipas maut itu semakin
mendekat ke tubuh Su- natra yang sudah dalam keadaan terdesak hebat. Sesaat
lagi, tentunya nyawa Sunatra akan melayang. Ta- pi....
"Hi hi hi....!
Orang jahat! Heaaa....!" Ketika nyawa Sunatra dalam keadaan terancam,
tiba-tiba tampak sesosok bayangan pemuda berambut panjang dengan pakaian rompi
kulit ular berkelebat dan menghantam- kan suling berkepala naga ke kipas maut
Galapati.
Wut! Bret!
"Akh!" Galapati tersentak. Tubuhnya terdorong bebera- pa tindak ke belakang.
Matanya membelalak, karena pinggir kipasnya rusak akibat berbenturan dengan
Suling Naga Sakti di tangan pemuda bertingkah laku seperti orang gila yang tak
lain Pendekar Gila.
"Hi hi hi...!
Tikus busuk! Rupanya tindakanmu benar-benar busuk! Hi hi hi...!" Sena
tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kau?!" mata
Galapati terbelalak setelah tahu siapa yang telah merusakkan kipas mautnya.
"Hi hi hi.... Mau
lari ke mana kau, Tikus Bu-
suk?!" dengus Sena
dengan gerak-gerik yang masih seperti orang gila.
"Kurang ajar! Kau
harus mampus, Pendekar Gila! Serang dia!" perintah Galapati pada
prajurit-prajurit kadipaten, yang seketika itu bergerak menyerang Pen- dekar
Gila.
"Ukh...!"
Sunatra mengeluh, merasakan dadanya sakit. Hal itu membuat Pendekar Gila yang
hendak memapaki serangan lawan segera mengurungkan niatnya. Dengan bertingkah
laku seperti kera, Pende- kar Gila melesat ke arah tubuh Sunatra, lalu dibo-
pongnya tubuh murid Ki Kayaputaka itu.
"Hi hi hi...!
Kurasa belum saatnya kau ku jitak, Tikus Busuk! Aku harus menolong dia
dulu," Sena pun dengan cepat melesat meninggalkan tempat itu sambil
memondong tubuh Sunatra.
"Bedebah! Jangan
lari...!" bentak Galapati sambil memburu Sena. Namun, Pendekar Gila yang
menggu- nakan ilmu lari 'Sapta Bayu' dalam sekejap telah le- nyap dari
pandangan. Kini tinggal Galapati yang men- caci-maki seorang diri. "Kita
pulang...!"
Prajurit-prajurit
Kadipaten Blambangkara menu- rut, kembali ke kadipaten meninggalkan Bukit Semut
Abang.
7
Pendekar Gila terus
membopong tubuh Sunatra meninggalkan Bukit Semut Abang. Kini dia terus me- nuju
barat. Pendekar Gila berusaha mencari tempat aman untuk menyelamatkan nyawa
pemuda itu dari racun ganas yang menjalar di tubuhnya.
"Hi hi hi...!
Tahanlah sedikit, Sobat! Kerahkan tenaga murnimu agar kau bisa bertahan sampai
di
tempat yang aman,"
pinta Sena sambil terus menge- rahkan ilmu lari 'Sapta Bayu', yang membuat
tubuh- nya bagaikan angin melesat kencang.
"Kisanak, kaukah
yang berjuluk Pendekar Gila?" tanya Sunatra sambil berusaha menahan jalan
darah- nya. Tangannya bergerak menotok urat di pahanya yang terkena pisau
beracun.
"Hua ha ha...!
Terlalu tinggi sebutan itu untuk- ku, Sobat. Ah, hanya orang-orang saja yang
menye- butku begitu," sahut Sena masih terus berlari.
"Oh, beruntung
sekali aku bisa bertemu den- ganmu, Pendekar Gila. Selama ini, aku membayang-
kan kalau kau sudah tua dengan rambut putih pan- jang dan jenggot putih."
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak menden- gar penuturan Sunatra yang membayangkan kalau di- rinya
telah tua. Kepalanya digeleng-gelengkan, kemu- dian tangan kirinya
menggaruk-garuk kepala.
"Tak kusangka,
kalau pendekar yang namanya tersohor di tanah Jawa Dwipa ini masih begitu muda.
Seusia denganku," lanjut Sunatra.
Pendekar Gila kembali
tertawa sambil terus me- lesat membawa tubuh Sunatra semakin jauh dari kaki
Bukit Semut Abang.
Tak begitu lama
kemudian, Pendekar Gila yang masih membopong tubuh Sunatra tiba di sebuah pe-
gunungan. Mereka kini berada di dekat sebuah sungai membentang lebar yang
membagi dua wilayah. Itulah Sungai Cipakuyu. Di sebelah timur, tempat kini Pen-
dekar Gila berada merupakan Desa Cipatukan. Se- dangkan di sebelah barat, di
seberang sungai adalah batas Desa Cibalawa. Sungai itu sangat lebar, tapi tak
ada satu pun rakit.
Hm.... Tak ada jalan
lain, kecuali dengan ilmu la- ri di atas air! Gumam Sena dalam hati. "Hop!
Heaaa...!"
Enak sekali Pendekar
Gila menerjunkan tubuh ke sungai. Mata Sunatra terbelalak, ketika melihat ka-
ki Pendekar Gila menapak di atas permukaan air, tak terendam apalagi tenggelam
bersama tubuhnya. Itulah kelebihan Pendekar Gila dengan ilmunya yang berna- ma
'Peringan Raga'. Ilmu yang dapat membuat tubuh- nya seringan kapas itu
diperoleh dari gurunya, Singo Edan, ketika Sena digembleng di Goa Setan.
Ck ck ck..! Benar-benar
pendekar sejati. Segala jenis ilmu dimilikinya. Gumam Sunatra berdecak ka- gum
dalam hati, menyaksikan betapa ringannya tubuh Pendekar Gila melangkah di atas
air sungai. Padahal pundaknya memanggul tubuh Sunatra, yang berbadan kekar,
sama seperti badan Pendekar Gila. Namun ba- gaikan tanpa beban barang sedikit
pun.
Pendekar Gila melangkah
sambil tertawa-tawa. Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala. Sesekali ka- kinya
melompat-lompat, kemudian melejit bagaikan terbang dan hinggap di tepian sungai
sebelah barat
"Hop!"
"Wuah, baru kali ini mataku terbuka, Pendekar Gila. Sungguh selama ini aku
tak tahu tingginya gu- nung dan dalamnya laut. Rupanya kau benar-benar pendekar
sejati," gumam Sunatra memuji.
"Aha, jangan
terlalu memujiku, Sobat! Tingginya gunung, tentu masih ada yang lebih tinggi,
Dalamnya laut, tentu masih ada yang lebih dalam. Begitu juga dengan ilmu yang
dimiliki manusia. Setinggi-tingginya ilmu manusia, tentu ada lagi yang lebih
tinggi. Hanya Hyang Widhi yang berada di atas segalanya," tutur Pendekar
Gila, semakin membuat Sunatra bertambah kagum mendengarnya. Tak pernah dia
sangka, Pende- kar Gila yang ilmunya bagaikan setinggi langit masih tetap
merendah. Padahal kalau pendekar lainnya, ten-
tu akan merasa sombong.
"Sungguh baru kali
ini kutemui seorang pende- kar yang berhati mulia sepertimu, Pendekar
Gila."
"Aha, panggil saja
aku Sena, Sobat," ujar Sena. "Ya. Baru kali ini kutemui orang
sepertimu, Se- na. Meskipun ilmumu bagaikan setinggi langit, tapi kau tetap
berbudi luhur."
"Hi hi hi..! Ilmu
tinggi bisa menyesatkan, Sobat." "Namaku Sunatra." "Ya,
ilmu tinggi dapat menyesatkan pemiliknya, Sunatra. Sedangkan budi pekerti yang
tinggi, akan se- nantiasa mengingatkan kita pada Hyang Widhi, yang telah mencipta
alam semesta ini. Sehingga kita akan selalu merasa kecil, jika dibandingkan
dengan kekua- saan-Nya."
Sunatra semakin
bertambah kagum mendengar tutur kata Pendekar Gila.
"Aha, kita sudah
sampai. Kurasa tempat ini aman untuk mengobati lukamu, Sunatra," ujar Sena
ketika keduanya sampai di Hutan Waru Kerap.
Pendekar Gila
meletakkan tubuh Sunatra di se- batang pohon dan beralaskan rerumputan.
Kemudian tubuhnya melesat ke dalam hutan untuk mencari daun waru ungu, yang
bisa menyembuhkan Racun Kelabang Ungu.
"Aha, kita sudah
sampai. Kurasa tempat ini aman untuk mengobati lukamu, Sunatra," ujar Sena
ketika keduanya sampai di Hutan Waru Kerap
Pendekar Gila
meletakkan tubuh Sunatra dengan sangat hati-hati di bawah sebatang pohon yang
bera- laskan rerumputan.
Tak lama kemudian,
Pendekar Gila telah kembali membawa beberapa helai daun waru ungu. Daun waru berwarna
ungu itu digilasnya dengan telapak tangan sampai hancur dan berair. Segera Sena
meneteskan air dari remasan daun waru ungu di paha Sunatra yang masih tertancap
pisau beracun.
"Akh...!"
Sunatra terpekik. Pahanya yang terkena tetesan air daun waru ungu dirasakan
bagai terbakar. Tubuh- nya menggelepar-gelepar menahan rasa sakit yang tia- da
tara. Sena cengengesan. Kemudian disobeknya celana Sunatra di sekitar bagian paha
sebelah kiri.
Bret!
"Hm...," gumam Sena. Tangannya dengan cepat mencabut pisau kecil
beracun. Dan setelah pisau ter- cabut, daun waru yang sudah hancur kembali di-
usapkan ke sekeliling bekas pisau beracun itu menan- cap.
"Akh...!"
Sunatra kembali memekik keras, merasakan rasa sakit yang hebat. Tubuhnya
menggelepar-gelepar, lalu diam pingsan.
"He he
he...!" Sena tertawa, kemudian dihelanya napas panjang-panjang. Setelah
itu segera pergi men- jauh dari tempat itu. Duduk di bawah sebatang pohon waru
yang rindang sambil meniup Suling Naga Sakti dengan merdu. Suara itu
mendendangkan lagu peng- hayatan pada alam yang diteruskan dengan lagu ke-
rinduan akan pertemuan.
Aku ibarat sebuah
perahu Yang tengah mengarungi samudera luas Terombang-ambing ombak dan gelombang
Tapi perahu kecil Hu terus berlabuh....
Saat itu Sunatra tampak
menggeliat, sadar dari
pingsannya. Murid Ki
Kayaputaka itu tersenyum ceria. Nampaknya luka beracun yang tadi dirasakan,
kini te- lah hilang. Bahkan bekas biru racun telah lenyap sa- ma sekali.
Sunatra bangun dengan
tertatih-tatih, melang- kah mendekati Pendekar Gila yang masih hanyut dengan
tiupan Suling Naga Saktinya.
"Merdu sekali
suara yang kau dendangkan, Se- na."
"Aha, rupanya kau
telah pulih, Sunatra. Syukur- lah kalau begitu!"
"Apakah kita akan
meneruskan perjalanan, Se- na?" tanya Sunatra.
"Hm, kurasa tidak.
Kau harus memulihkan tena- ga dahulu," jawab Sena dengan tangan menggaruk-
garuk kepala. Matanya menatap ke timur, tampak mentari merangkak naik.
"Mungkin lusa kita baru be- rangkat"
"Tapi, aku telah
pulih, Sena." "Ah, sabarlah! Kita dalam kedudukan yang sulit. Bisa
saja tikus busuk itu akan mengerahkan seluruh prajurit untuk memusuhi kita.
Aha, sejak tadi kita tak tahu dari mana asal kita," tukas Sena mengalihkan
pembicaraan.
Sunatra tersenyum,
senang hatinya melihat ting- kah laku Pendekar Gila. Kemudian setelah duduk di
sampingnya, Sunatra pun menceritakan siapa dirinya dan asalnya. Juga
diceritakan tempat yang hendak di- tuju hingga bertemu dengan Galapati.
"Guru mengutus ku
pergi ke Kadipaten Blam- bangkara, karena guru ingin aku bisa menjaga pu-
trinya Getri Anitia yang menjadi istri Kanjeng Adipati Blambangkara. Namun
rupanya guru tak tahu, kalau ada seorang lelaki durjana yang telah mengaku
seba- gai muridnya, hingga Kanjeng Adipati menerimanya."
"Kau yakin
Galapati mengaku sebagai murid Ki Kayaputaka?" tanya Sena.
"Ya, karena guru
mengatakan bahwa hanya mu- ridnyalah yang akan diterima di Kadipaten Blambang-
kara." "Hm, kurasa ada maksud lain, mengapa tikus busuk itu mengaku
murid gurumu," gumam Sena dengan tangan kembali menggaruk-garuk kepala.
"Ya!
Mungkinkah...." "Tepat!" sentak Sena seraya bangun dari duduk-
nya. "Tentu tikus itu mengincar istri Kanjeng Adipati. Keparat! Ini tak
boleh dibiarkan!"
"Ya. Maka itu,
kita lanjutkan saja perjalanan ki- ta!" ajak Sunatra.
"Hm, baiklah.
Ayo!" ajak Sena. Keduanya pun segera melangkah, meninggalkan Hutan Waru
Kerap untuk menuju Kadipaten Blam- bangkara.
"Apakah Kanjeng
Adipati akan percaya?" tiba- tiba Sena menghentikan langkah. "Kurasa
jika hanya kita, Kanjeng Adipati tak akan percaya. Bisa-bisa ma- lah kita yang
dituduh hendak membuat keonaran."
Sunatra tercenung
dengan kepala mengangguk- angguk. Apa yang dikatakan Pendekar Gila memang ada
benarnya. Adipati Sepa Woroagung belum menge- nalnya. Begitu juga Getri Anitia,
tentunya tak yakin bahwa dirinya murid Ki Kayaputaka, ayahnya.
"Kau benar, Sena.
Tentu kalau kita yang ke sana, sulit sekali untuk dipercaya," kata
Sunatra.
"Lalu
bagaimana?" "Bagaimana kalau kita menemui guruku?" "Aha,
usul yang bagus!" sahut Sena. "Ayo, jangan buang-buang waktu!"
Keduanya yang tadi
berhenti melangkah, kini meneruskan langkah kakinya. Tapi mereka kini tak
bermaksud ke Kadipaten
Blambangkara, melainkan hendak menemui guru Sunatra, Ki Kayaputaka.
***
Sementara di lain
tempat di Desa Kembar Pa- cung, nampak seorang gadis berpakaian pendekar
berwarna hijau, tengah berlatih ilmu silat. Semangat yang didorong dendam
terhadap Galapati, membuat gadis cantik bernama Arum Sari itu bagaikan tak
mengenal lelah sedikit pun. Dia terus saja berlatih, tiada hentinya.
"Heaaa...!"
Tubuh gadis itu melompat ke sana kemari, menggerakkan jurus-jurus ilmu silat
yang diajarkan kelima lelaki tua yang mengangkatnya sebagai murid. Bahkan
kelima lelaki tua berjubah itu kini mengawasi Arum Sari dalam berlatih.
Kelimanya mengangguk- anggukkan kepala, melihat perkembangan ilmu silat yang
dipelajari sang Murid.
"Hm, tak kusangka
dia akan begitu cepat menye- rap ilmu-ilmu silat kita " gumam Ki Karadena
yang pe- dangnya tengah digunakan untuk latihan Arum Sari. Pedang berlekuk tiga
yang bernama Ki Weling Giling itu semakin bertambah hebat dalam genggaman tan-
gan Arum Sari.
"Ya. Tak kita
sangka kalau gadis itu begitu ber- semangat. Ilmu silat yang seharusnya
dipelajari dalam satu purnama, dia mampu menguasai dalam beberapa hari
saja...," tambah Ki Wilakupa.
"Mungkin karena
dendamnya pada Galapati, yang membuatnya begitu bersemangat dalam mempe- lajari
ilmu-ilmu silat yang kita berikan. Bagaikan tak mengenal lelah," gumam Ki
Gendala.
Gadis itu berkelebat
cepat, menggerakkan jurus- jurus yang dipelajari dari kelima lelaki tua berilmu
tinggi. Arum Sari bagaikan tak mengenal lelah sedikit pun. Dia terus berlatih
tiada henti. Hal itu menambah senang dan kagum kelima gurunya.
"Heaaa...!"
Dengan jurus 'Tarian Ronggeng Melempar Bunga' Arum Sari kembali bergerak. Kedua
tangannya mena- ri-nari dengan lincah, seperti seorang ronggeng yang sedang
menari. Pedang berkeluk tiga bergerak menu- suk dan membabat ke depan, seperti
sedang menye- rang ke arah lawan.
"Hup!
Heaaa....!" Wrt! Arum Sari terus menekuni jurus-jurus 'Tarian Ronggeng
Melempar Bunga'. Tangannya terus bergerak menari-nari, diikuti liukan tubuhnya
yang lemah ge- mulai. Tapi dari gerakan-gerakan kedua tangan dan tubuhnya,
mengeluarkan angin kencang yang mende- ru dan menerpa keras. Sampai-sampai
rerumputan yang ada di sekelilingnya bergoyang keras.
"Yeaaa....!"
Wut! Wut...! Tubuh Arum Sari terus meliuk-liuk dengan in- dah, menari-nari
disertai sabetan-sabetan pedangnya yang menderu. Dalam sekejap saja, tubuhnya
telah menghilang, terbungkus gerakan tarian yang gemulai dan cepat
"Hm, tinggal
memperdalam tenaga dalamnya. Bocah itu benar-benar akan menjadi seorang
pendekar yang tak dapat diremehkan," gumam Ki Wilakupa sambil
mengangguk-anggukkan kepala. Hatinya mera- sa kagum menyaksikan kelincahan
gerakan silat yang sedang diperagakan muridnya.
"Ya. Jika dia
benar-benar telah memperdalam te- naga dalamnya, kurasa akan menjadi gadis
berilmu tinggi. Ah, rupanya jurus-jurus yang kita ciptakan, memang cocok untuk
seorang wanita, bukan seorang lelaki," sambung Ki Gondra.
"Ya ya.
Jurus-jurus itu memang cocok untuk seorang wanita. Dan rupanya kita telah
menemukan- nya," gumam Ki Sandika.
Begitulah, setiap hari
Arum Sari berlatih dengan tekun tanpa mengenal lelah. Bahkan hari ini, dia ba-
gaikan tak merasakan lelah sedikit pun. Gadis itu te- rus memperdalam semua
ilmu yang diajarkan kelima gurunya, dengan harapan secepat mungkin akan da- pat
mengalahkan Galapati, membalas sakit hatinya atas tindakan Galapati yang telah
menghancurkan masa depannya.
Mentari pagi telah
mulai tinggi pertanda hari te- lah siang. Tapi Arum Sari bagaikan tak mau
berhenti. Dia terus berlatih dan berlatih. Keringat telah bercu- curan membasahi
tubuh dan tenaganya pun telah ter- kuras. Namun, tampaknya gadis itu tak
menghirau- kannya.
Kelima gurunya semakin
mengerutkan kening, menyaksikan latihan murid mereka yang tak hendak berhenti.
Meski mentari terik memanggang tubuh, Arum Sari tetap saja berlatih.
Baru ketika hari
menjelang sore, Arum Sari nampak menghentikan latihannya. Tubuhnya terlihat
sangat letih, membuat kelima gurunya merasa iba.
"Arum, jangan kau
paksa tenagamu, Nak! Berla- tihlah yang wajar saja!" tutur Ki Gendala.
"Benar, Nak. Tanpa
memaksa tenagamu, asalkan giat berlatih, dalam waktu singkat kau akan mampu
menguasai semua ilmu yang kami ajarkan," sambung Ki Wilakupa.
"Tapi, Guru. Saya
ingin segera mencari pemuda laknat itu. Rasanya hati saya tak tenteram jika
belum membuat perhitungan dengannya," sahut Arum Sari.
Kelima gurunya
menggeleng-gelengkan kepala. Di bibir mereka tersungging senyuman. Mereka
bangga bercampur tak suka jika ilmu yang mereka turunkan hanya untuk
melampiaskan dendam.
"Arum, ilmu
bukanlah untuk balas dendam. Jika kau ingin menjadi pendekar seperti Pendekar
Gila, il- mu hanyalah untuk menolong yang lemah," kembali Ki Gendala
bertutur. "Tak ada artinya ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu
Hyang Widhi, Nak"
Arum Sari menundukkan
kepala mendengar pe- nuturan Ki Gendala. Hatinya diliputi dendam yang da- lam.
Dendam terhadap pemuda laknat yang telah me- renggut keperawanannya dengan
seenaknya. Dia telah menyerahkan hatinya, juga segenap jiwa raga, bahkan
kehormatannya, tapi pemuda itu malah mencampak- kan begitu saja, seperti sampah
tak berguna.
"Apakah tak boleh
membalas dendam, Guru?" tanya Arum Sari.
"Boleh, tapi harus
ada batasnya, Nak," sahut Ki Wilakupa.
"Baiklah, Guru.
Saya akan selalu mengingat hal itu."
"Kita istirahat
Ayo!" ajak Ki Gendala. Mereka berlalu meninggalkan tempat itu, ketika
matahari tampak telah tergelincir di balik bumi sebe- lah barat.
8
Hubungan cinta gelap
antara Galapati dengan Getri Anitia terus berlanjut. Meski hubungan itu ma- sih
berkisar antara pandangan mata dan berbincang- bincang secara
sembunyi-sembunyi, tapi cukup mem-
No comments:
Post a Comment