Monday, April 15, 2019

010 Tengkorak Darah


TENGKORAK DARAH
oleh Firman Raharja

1
Kerajaan Bumi Wandra yang terletak di perba- tasan wilayah timur Pulau Dewata berdiri dengan me- gah. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja berusia hampir enam puluh delapan tahun yang bernama Brah Salagatri. Raja Brah Salagatri mempunyai seorang permaisuri yang masih muda dan cantik bernama Dewi Sekaton Ayu. Anaknya yang cantik dan menginjak dewasa bernama Dyah Ayu Sawang Sari
Sebelum menjadi raja, Brah Salagatri merupa- kan pangeran yang tampan. Dia pernah menjalin hu- bungan cinta dengan wanita bernama Rubiati. Hubun- gan gelap itu akhirnya membuat Rubiati hamil. Namun sejak itu, Brah Salagatri tidak pernah menjenguk ke- kasihnya lagi.
Tiga puluh tahun sudah kejadian itu berselang tanpa terasa. Selama itu, Brah Salagatri tak pernah mendengar kabar berita tentang kekasihnya. Setelah dia menikah dengan anak Raja Banyu Wangi bernama Dewi Sekaton Ayu, dia lupa sama sekali dengan keka- sihnya. Malam itu angin menderu kencang bagai akan datang badai besar. Hawa dingin terasa menggigit hingga ke tulang sumsum. Rintik air hujan yang turun dari langit membuat suasana semakin terasa dingin bagi siapa pun yang malam itu belum tidur.

Desa Karapan nampak sepi, hanya terlihat em- pat peronda sedang melakukan tugas. Keempatnya tengah duduk berbincang di gardu sambil menghisap rokok kawung. Tubuh mereka berselimut kain sarung. Hanya wajah mereka saja yang terlihat, jika api rokok membesar kala dihisap.
Hujan rintik-rintik terus meluncur dari langit,
seakan tak bakal berhenti. Rasa dingin semakin menghebat, ditambah oleh angin kencang yang menderu bagai hendak datang badai.
"Huh..., tidak biasanya malam seperti ini," gu- mam Kapri mengeluh. Matanya memandang nanar ke depan. Pada gelap yang menghampar. Lelaki itu bertu- buh pendek, wajah bulat, dan hidung pesek serta tahi lalat di bawah matanya.
"Entahlah. Padahal saat ini musim kemarau," sahut Jalnoto. Berbeda dengan Kapri, Jalnoto bertu- buh tinggi dan padat. Wajahnya tampan, dengan hi- dung mancung. Kumis tipis menghiasi atas bibirnya. Matanya tajam jika memandang.
"Ya, begitulah alam. Siapa pun tak tahu apa yang akan terjadi. Hanya Sang Hyang Widi saja yang mengerti," kata Pilan berusaha menenangkan hati ke- dua temannya. Pilan bertubuh kurus dan wajahnya agak pucat, tapi menggambarkan ketenangan. Kumis- nya panjang dengan cambang pendek, sedang matanya terlihat sayu.
"Tapi hujan ini aneh, Lan," tukas Bawul, lelaki berbadan agak gemuk dengan perut agak buncit. Wajahnya persegi dengan kumis lebat dan jenggot tebal. Begitu juga dengan alisnya, tumbuh tebal di bawah keningnya yang lebar. "Bulu kudukku sampai merind- ing. Jangan-jangan...;"
Bawul tak meneruskan kata-katanya. Matanya memandang tegang ke sekeliling gardu yang tampak sepi dan gelap, membuat bulu kuduknya meremang.
"Jangan-jangan kenapa, Wul?" tanya Jalno pe- nasaran karena temannya tidak meneruskan ucapan- nya.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa," jawab Bawul, meng- hindar. "Setan maksudmu?" terka Kapri.
Bawul hanya mengangguk kecil. Matanya ma- sih melirik-lirik tegang ke sekelilingnya yang gelap dan mencekam. Apalagi angin menderu semakin kencang. Bulu kuduknya kian meremang hebat.
Kapri tertawa kecil. Tawanya terdengar sum- bang karena dipengaruhi suasana yang mencekam. Dia pun merasakan bulu kuduknya meremang, namun dia berusaha menekan rasa takutnya sedalam mung- kin.
"Wul... Wul, kamu ini kayak anak kecil saja," gumam Kapri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah besar kok masih takut sama setan," godanya kemudian.
"Bukan begitu, Pri. Bulu kudukku memang berdiri. Dan..., heh..., bau kemenyan, Pri!" desis Bawul tiba-tiba. Tubuhnya bergidik seketika, manakala hi- dungnya mencium bau kemenyan yang menyengat. Seperti ada orang yang membakar dupa.
Hidung ketiga temannya mengendus-ngendus, berusaha mencium bau kemenyan. Dan seketika keti- ganya merasakan bulu kuduk meremang ketika hi- dung mereka juga mencium bau kemenyan yang me- nyengat. Ditambah lagi dengan wangi bunga kamboja, mengingatkan mereka pada tanah pekuburan.
"Benar, Wul. Bau kemenyan dan bunga kambo- ja," kata Jalno dengan mata membelalak.
"Hiii.... Sepertinya ada setan," Pilan bergidik dengan muka pucat. Mereka rasanya ingin lari me- ninggalkan gardu ronda, namun suasana di luar gardu sangat menyeramkan. Kegelapan yang menghampar, disertai rintik hujan dan deru angin seperti desah na- pas seribu mambang. Belum tentu mereka akan te- nang kalau lari.
Tubuh keempat peronda itu menggigil ketaku- tan, apalagi ditambah rasa dingin yang semakin menggigit. Saat itu rintik gerimis bertambah deras. Sedang angin bertiup semakin kencang.
Tubuh keempat peronda itu kini meringkuk da- lam ketakutan. Hanya mata mereka saja yang berge- rak-gerak, memandang tegang ke sekelilingnya yang sunyi dan sepi. Benar-benar mencekam perasaan dan mengusik bulu kuduk mereka.
Wusss! Krak! Mata keempat peronda itu membelalak, ketika terdengar hembusan asap dan retaknya tanah. Seakan dari dalam tanah di sekeliling gardu ronda akan mun- cul sesuatu.
Wusss! Krak! Asap tebal keluar dari dalam tanah berjarak li- ma tombak di depan gardu. Gumpalan asap itu tidak hanya satu, tapi ada sepuluh. Tanah di mana asap itu mengepul, merekah pecah. Seakan ada makhluk dari dalam tanah yang hendak keluar.
Mata keempat peronda itu memandang dengan pandangan tegang, tak berkedip ke arah sepuluh gum- palan asap yang membubung keluar dari retakan ta- nah. Bulu kuduk mereka semakin meremang. Tubuh mereka menggigil ketakutan.
Asap putih kehitam-hitaman yang tebal itu per- lahan-lahan berubah warna. Semakin lama, asap itu menjadi berwarna merah darah. Lalu membentuk so- sok-sosok yang mengerikan. Sosok manusia wajah tengkorak berjubah panjang dengan kerudung warna merah darah.
"Tengko..., tengkorak hidup," ucap Bawul terba- ta-bata. Matanya semakin membelalak tegang, me- nyaksikan beberapa ujud yang muncul di hadapannya. Ujud menyeramkan yang membuat jantungnya hamper berhenti berdetak.
"Se...., setan...!" pekik Jalno. "Wua...! Teng..., korak hidup...!" jerit Kapri. Tu- buh keempat peronda itu kini saling merapat ketaku- tan. Tak ada yang berani lari, karena sepuluh makhluk merah bermuka tengkorak berdiri di hadapan mereka. Bahkan makhluk-makhluk bermuka tengkorak itu kini kian mendekat. Sepertinya makhluk-makhluk bermu- ka tengkorak itu hendak melakukan sesuatu terhadap keempat peronda yang semakin bertambah ketakutan itu.
Kesepuluh manusia bermuka tengkorak itu per- lahan mengelilingi gardu ronda, membuat keempat peronda bertambah ketakutan. Terlebih saat mata mere- ka memandang wajah makhluk bermuka tengkorak yang berlumuran darah dan tampak menyeringai seram.
"To..., tolooong...!" pekik keempat peronda itu ketakutan. Mereka saling merangkul satu sama lain, dengan wajah pucat pasi tanpa darah.
Makhluk-makhluk bermuka tengkorak itu ber- bicara dalam bahasa mereka. Kemudian salah satu dari mereka menunjuk ke arah Jalno yang berwajah pal- ing tampan di antara keempat peronda tersebut. Sedangkan makhluk lain di sampingnya mengangguk- angguk, seakan menyetujui apa yang dikatakan re- kannya. Kemudian makhluk bermuka tengkorak yang mengangguk-angguk tadi memerintah anak buahnya untuk menangkap Jalno.
"Tidak! Jangan...!" jerit Jalno, berusaha menolak ketika dua makhluk berwajah tengkorak maju ke arahnya dan siap menangkap.
Kedua makhluk merah bermuka tengkorak seperti tidak peduli dengan teriakan Jalno. Keduanya segera mencengkeram tangan Jalno dan menyeret tubuhnya. "Jangan...!" teriak Jalno seraya berusaha beron- tak. "Tolooong...!"
Ketiga temannya kebingungan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Jalno. Se- dangkan mereka sendiri dalam ketakutan luar biasa yang mengganyang nyali masing-masing. Tubuh keti- ganya menggigil. Tak ada yang berani melangkah un- tuk menolong Jalno, karena makhluk merah bermuka tengkorak yang lain masih mengepung mereka.
Saking takutnya, ketiga lelaki itu terkencing- kencing. Wajah mereka sepucat kapas. Dan bulu-bulu halus di tengkuk mereka seperti hendak lepas, tegang menyaksikan kengerian di depan mata mereka.
Wesss! Tiba-tiba makhluk-makhluk bermuka tengkorak yang membawa Jalno berubah kembali menjadi asap. Lalu terdengar suara pecahnya tanah di sekitar gardu. Bersamaan dengan itu, tubuh makhluk- makhluk menyeramkan yang membawa Jalno menghi- lang.
"Hah?!" ketiga pasang mata peronda yang keta- kutan itu membelalak, karena rasa takut dan takjub yang campur aduk melihat kejadian yang aneh itu.
"Toloong.,.! Setan..!" Akhirnya mereka lari tunggang-langgang, sam- bil berteriak-teriak tak karuan.
"Tolong ada setan...! Tolong...!" Warga Desa Karapan yang mendengar teriakan para petugas ronda langsung keluar. Mereka ingin ta- hu apa yang terjadi. Bahkan Kepala Desa Karapan tu- rut keluar.
"Ada apa, Bawul, Kapri, Pilan? Seperti orang di- kejar setan saja kalian jejeritan di malam begini?" tanya Ki Walapaya, lelaki tinggi kurus berpakaian war-
na abu-abu tua dengan lengan panjang. Wajahnya angker berhias kumis tebal melintang. Lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun ini adalah kepala Desa Karapan.
"Setan, Ki. Setan-setan itu membawa Jalno," lapor Pilan.
Semua orang membelalak, mendengar berita yang baru disampaikan Pilan. Namun Ki Walapaya seakan tidak percaya dengan cerita itu, malah dengan mendengus Ki Walapaya membentak.
"Kau jangan main-main, Pilan?" "Benar, Ki," seta Bawul. "Lihat, kami sampai terkencing-kencing begini."
Bawul menunjuk ke selangkangannya. Celana panjangnya yang berwarna kuning terang basah kuyup dengan bau pesing yang tidak ketulungan. Begitu juga dengan Pilan dan Kapri.
Semua warga yang melihat ketiga peronda itu ngompol, seketika tertawa riuh-rendah. Membuat kesunyian malam seketika pecah menjadi gelak tawa.
Saat itu juga, tiba-tiba dari arah rumah Ki Lu- rah Karapan terdengar jeritan seorang wanita.
"Tolong! Tolooong...!"
***
Ki Walapaya dan warga desa yang mendengar jeritan menantu Ki Walapaya seketika berlarian ke arah rumah kepala desa itu. Mereka menemukan be- berapa makhluk bermuka tengkorak menyeramkan tengah membawa tubuh Samikantra, anak Ki Lurah yang baru menikah dua bulan lalu dengan Prawanti.
"Setan! Setan tengkorak...!" jerit warga ketaku- tan, menyaksikan makhluk-makhluk bermuka tengkorak berlumuran darah tengah berusaha membawa anak Ki Lurah.
Menyaksikan hal itu, Ki Walapaya yang tidak ingin anaknya dibawa oleh makhluk-makhluk menyeramkan segera menghadang kesepuluh manusia ber- muka tengkorak.
"Berhenti! Lepaskan anakku!" bentak Ki Wa- layapa dengan keras, seperti tidak takut sedikit pun terhadap sosok-sosok makhluk yang kini memandang dengan wajah mengerikan ke arahnya.
Salah satu makhluk bermuka tengkorak meng- gerakkan tangannya, seperti memerintah anak buah- nya untuk membereskan Ki Walapaya.
"Hng!" Tiga makhluk itu maju menghadapi Ki Lurah yang masih tegak berdiri dengan mata memandang tajam. Tampaknya Ki Lurah belum yakin kalau mereka itu sungguh-sungguh setan.
"Buka kedok kalian! Jangan kira aku takut menghadapi kalian!" dengus Ki Walapaya, memerintah tiga makhluk yang perlahan mendekat untuk membu- ka kedoknya. Tapi ketiganya tidak terlihat akan mem- buka kedoknya, malah mereka menggeram marah.
"Hng!" Ketiga makhluk bermuka tengkorak itu seketi- ka menyerang berbareng ke arah Ki Walapaya. Tangan mereka yang hanya tulang belulang berkuku panjang dan runcing, mencakar Ki Walapaya. Mendadak Ki Lu- rah tersentak setelah melihat kalau makhluk-makhluk itu memang bukan manusia.
"Tengkorak hidup...!" pekiknya, seraya menge- lakkan serangan ketiga lawannya. Matanya masih membelalak tegang, ngeri menyaksikan kenyataan yang ada. Warga Desa Karapan yang melihat tangan makhluk bermuka tengkorak yang hanya tulang belu-
lang, seketika menjerit ketakutan. Mereka langsung la- ri potang-panting. Terlebih-lebih ketiga peronda yang sebelumnya telah melihat. Mereka lari sipat kuping ba- gai dikejar setan-setan tengkorak itu.
"Tolong! Setan tengkorak tolooong...!" Jeritan warga seketika menggema memecah ke- sunyian malam. Kini tak ada lagi warga yang berani membantu Ki Walapaya menghadapi makhluk tengko- rak berdarah yang tengah bertarung dengan kepala de- sanya.
Ki Walapaya kini menghadapi ketiga tengkorak seorang diri. Dia telah telanjur menghadapi ketiga makhluk yang tentunya siluman itu. Dicabutnya keris yang tadi terselip di pinggangnya. Dengan keris 'Simbang Mega' yang mengeluarkan sinar hijau, Ki Wa- lapaya meladeni gempuran ketiga siluman tengkorak darah dengan jurus 'Kembaran Mega Berarak'.
"Heaaa...!" Keris 'Simbar Mega' di tangan Ki Walapaya ber- gerak cepat menusuk dada salah satu siluman tengkorak darah dengan cepat. Kilatan cahaya hijau itu terus menyeruak, berusaha menekan ketiga lawannya.
Sementara itu, siluman tengkorak darah yang membawa anak Ki Walapaya kini telah raib entah ke mana, setelah berubah ujud menjadi kepulan asap lalu menyusup ke dalam tanah retak. Hal itu memaksa ma- ta Ki Walapaya membelalak lebar, tegang menyaksikan kejadian aneh itu. Kejadian yang tidak masuk akal ba- gi dirinya yang hanya tahu ilmu olah kanuragan sema- ta, tanpa mengerti ilmu gaib.
Tusukan keris di tangan Ki Walapaya yang ke- ras, seperti dibiarkan oleh salah satu makhluk bermuka tengkorak darah. Tak ayal lagi....
Jlep! Keris 'Simbar Mega' menghujam dada makhluk bermuka tengkorak darah. Keris itu terus menembus ke dalam, seperti disedot oleh sebuah kekuatan. Hal itu membuat Ki Walapaya tersentak kaget
"Akh! Mengapa kerisku tertarik ke dalam?!" pe- kik Ki Walapaya kaget Dia berusaha menarik keluar kerisnya dari tubuh siluman tengkorak, namun tu- buhnya malah ikut tertarik oleh kekuatan aneh di tu- buh siluman tengkorak darah. Ki Walapaya bertambah tegang. Apalagi saat sekujur tubuhnya merasakan pa- nas menyengat, bagai ada api yang menyambar.
Ki Walapaya berusaha sekeras mungkin agar dapat menarik kerisnya yang menancap pada dada la- wan. Namun keris itu bagai melekat keras sekali pada tubuh lawan dan sulit untuk ditarik. Sebaliknya tubuh Ki Walapaya perlahan-lahan disedot oleh tubuh lawan.
"Akh!" jerit Ki Walapaya. "Hng!" Makhluk bermuka tengkorak menggeram keras. Pada saat itu, bagian tubuhnya yang terhujam keris Ki Walapaya tampak bersinar hijau. Sinar itu terus mem- besar, hingga akhirnya menyelimuti sekujur tubuh makhluk itu lalu mulai merambat ke tangan Ki Wala- paya.
"Wuaaa...!" Ki Walapaya menjerit setanggi langit ketika tubuhnya tersengat oleh sinar hijau yang keluar dari tubuh makhluk bermuka tengkorak. Seperti sen- gatan arus listrik kuat yang menyambar tubuhnya.
Ki Walapaya berusaha melepaskan keris yang menancap di tubuh lawan, tapi tangannya bagai telah melekat erat pada keris itu. Sehingga sangat sulit ba- ginya untuk dapat melepaskan keris tersebut. Semakin kuat dia berontak, semakin lengket tangannya pada gagang keris. Semakin kuat pula tarikan aneh dari da- lam tubuh makhluk bermuka tengkorak.
"Hng!"
"Hik hik hik!" "Wuk wek wek!" Ketiga makhluk bermuka tengkorak itu berkata dengan bahasa mereka yang sulit dimengerti oleh Ki Walapaya. Sementara Ki Walapaya terus berusaha me- lepaskan pegangan tangannya pada gagang keris. Dia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, namun te- naga dalamnya tak mampu melepaskan tangan yang melekat pada gagang keris. Tenaga dalamnya malah tersedot habis.
"Ukh!" Ki Walapaya mengeluh lirih. Wajahnya semakin pucat-pasi setelah tenaga dalamnya terkuras habis. Matanya membelalak tegang jiwanya diseret ke dalam saat-saat sekarat, "Wuaaa...!"
Dengan jeritan yang terakhir, Ki Walapaya ak- hirnya terkulai lemas. Nyawanya melayang dengan keadaan mengerikan. Tubuhnya pucat-pasi bagai tak berdarah. Matanya mendelik mengerikan.
"Wuk wek wek!" "Wsss ngik!" Kedua makhluk bermuka tengkorak darah lainnya mengangguk. Seakan memerintah temannya untuk melepaskan korban yang telah kehilangan nya- wanya. "Hng!"
Usai melepaskan tubuh Ki Walapaya, ketiga makhluk bermuka tengkorak darah itu menjatuhkan sesuatu dari tangannya yang tepat menimpa wajah Ki Walapaya. Sebuah gambar tengkorak dengan warna merah terbuat dari darah!
Wsss! Krak! Tubuh ketiganya berubah menjadi kepulan asap putih kehitam-hitaman yang perlahan menyusup ke dalam tanah.

2
"Mayat..! Mayat..!" teriak seorang petani muda berusia sekitar tujuh belas tahun dengan wajah keta- kutan sambil berlari-lari meninggalkan tempat di mana dua mayat telanjang tergeletak dalam keadaan menge- rikan. Tubuh kedua mayat tak jelas ujudnya, karena dirubung oleh hewan-hewan berbisa.
Warga Desa Sela Kapilu langsung gempar oleh jeritan pemuda tanggung itu. Segera semua warga ber- duyun-duyun datang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka serentak melangkah menuju ke perbatasan Desa Sela Kapilu dengan Desa Karapan. Orang-orang Desa Karapan yang mendengar kejadian itu ikut da- tang. Mereka ingin tahu siapa yang menjadi korban.
Warga Desa Karapan yang baru saja berduka atas kematian lurah mereka, menjadi marah setelah tahu kalau korban mengerikan yang tergeletak di per- sawahan kering di batas Desa Karapan dengan Desa Sela Kapilu adalah peronda dan anak Ki Lurah.
"Jelas ini perbuatan warga Desa Sela Kapilu...," kata seorang warga Desa Karapan menuduh.
"Ya! Buktinya kedua korban ada di tempat ini," sambung rekannya.
"Mungkin ada yang menganut ilmu sesat di De- sa Sela Kapilu!" tambah yang lain semakin menusuk.
"Kita serang saja!" timpal warga desa yang lain. Mendengar ribut-ribut warga Desa Karapan, warga Desa Sela Kapilu yang merasa dituduh seketika menjadi gusar. Mereka yang tidak merasa melakukan hal itu, langsung membentak marah.
"Enak saja kalian menuduh!" hardik Wakil Ke- pala Desa Sela Kapilu marah. "Apa buktinya kalian menuduh warga kami yang melakukan semuanya?!"
"Mayat-mayat ini! Tidak mungkin kalau bukan warga Desa Sela Kapilu yang melakukannya. Buktinya mayat-mayat ini ada di perbatasan!" tak kalah sengit Wakil Kepala Desa Karapan membentak.
"Kurang ajar! Fitnah! Tak pernah warga Desa Sela Kapilu berbuat keji seperti itu! Mungkin warga desamu yang melakukan semuanya! Lalu kami yang kini di-jadikan kambing hitam!"
"Sembarangan kau berkata, Pronco!" dengus Pabean, Wakil Kepala Desa Karapan. Lelaki kurus ber- wajah garang itu semakin gusar. Bagaimana tidak? Be- lum juga hilang rasa dukanya atas kematian kepala desa, kini dua warga desanya ditemukan dalam kea- daan yang mengerikan. "Bagaimanapun juga, wargamu patut dicurigai."
"Setan alas!" bentak Pronco tak mau kalah. Le- laki pendek dan berbadan gemuk itu melotot garang. "Sembarangan kau berkata! Kami Warga Desa Sela Kapilu tak pernah berbuat sehina itu! Tak seperti war- ga desamu yang suka buat gara-gara!"
"Bedebah! Serang Desa Sela Kapilu!" perintah Pabean. "Yeaaa!"
Warga Desa Karapan dengan senjata seadanya serentak bergerak maju untuk melakukan serangan terhadap warga Desa Sela Kapilu.
Menyaksikan warga Desa Karapan hendak me- nyerang, Pronco pun tak tinggal diam. Dia segera berseru lantang, menyuruh warga desanya untuk mem- bendung serangan lawan.
"Hadang warga Desa Karapan! Serang...!" "Yeaaa!" "Hancurkan...!" Warga Desa Sela Kapilu dengan senjata yang sederhana pun merangsek menyerang. Pertempuran yang seharusnya tidak perlu terjadi akhirnya berkobar. Keduanya sama-sama tak sudi dituduh dan sama- sama tak mau mengalah.
"Aku lawanmu, Pronco!" bentak Pabean sambil berkelebat menghadang Pronco yang mengamuk dengan senjata clurit di tangannya yang telah menjatuh- kan beberapa korban. Begitu pula dengan Pabean, dengan senjata keris dia telah membunuh beberapa warga Desa Sela Kapilu.
"Bagus! Kita tentukan siapa di antara kita yang memang tinggi ilmunya!" sambut Pronco sambil melompat, menjauhi warga Desa Karapan.
"Bersiaplah untuk mampus, Pronco!" "Kau yang mesti bersiap ke neraka!" "Yea!" "Yea!" Kedua pemimpin warga desa kini berkelebat menyerang dengan senjata tradisional. Clurit di tangan Pronco bergerak menyambar-nyambar dengan jurus- jurus 'Babat Raga' yang cepat dan mengarah pada tempat-tempat yang mematikan.
Swit! "Uts!" Pabean mengelakkan sabetan Clurit lawan den- gan cara merundukkan tubuh ke bawah, lalu meng- geser kaki ke samping. Kemudian dengan cepat, ditu- sukkan kerisnya ke lambung lawan yang tengah con- dong ke arahnya dengan jurus 'Patukan Semut Merah'.
Wettt! "Yea!" "Uts! Hop...!" Pronco dengan cepat mengelit ke samping, hingga keris di tangan Pabean hanya meleset beberapa senti di samping tubuhnya. Kemudian dengan cepat Pronco mengerahkan kaki kanannya ke muka lawan dengan tendangan 'Sampul Silang'.
Wettt! "Yeaaa!" Cepat-cepat Pabean menggeser kaki ke samping kanan. Dengan tubuh setengah doyong dikelitkannya tendangan lawan. Kemudian dengan cepat, diajukan jotosan tangan kirinya ke selangkangan lawannya.
"Yeaaa!" Pronco tersentak kaget mendapatkan serangan yang datang tiba-tiba itu. Cepat-cepat kakinya ditarik ke belakang, kemudian dengan cepat pula tubuhnya mundur dua tindak ke belakang sambil membabatkan cluritnya ke tangan lawan.
"Heaaa!" Wettt! Pabean tersentak. Segera jotosannya ditarik un- tuk menghindari sabetan clurit lawan. Kemudian sece- pat kilat kerisnya ditusukkan ke perut lawannya yang buncit
Trang! Dua senjata beradu, menimbulkan dentingan keras. Kemudian tubuh keduanya melompat ke belakang. Mata mereka saling pandang dengan tajam, be- rusaha mengukur kemampuan masing-masing. Den- gan sudut mata mereka memperhatikan setiap gerak- gerik lawan.
"Heaaa...!" "Yeaaa...!" Beriring pekikan menggelegar, keduanya kem- bali bergerak merangsek. Clurit di tangan Pronco ber- suit-suit mencari sasaran. Sedangkan keris di tangan Pabean bergerak ganas mengarah ke perut lawan.
Trang! "Heaaa!" Puluhan jurus telah mereka keluarkan untuk
dapat mengalahkan lawan masing-masing. Senjata me- reka bergerak mencari sasaran yang mematikan di tubuh lawan. Namun masing-masing rupanya memiliki ketangkasan yang cukup hebat dalam mengelakkan serangan lawannya.
Sementara itu, telah banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak yang tengah bertarung. Tapi me- reka seperti tidak akan menghentikan pertumpahan darah yang sia-sia itu. Keduanya masih memperta- hankan pendapat mereka, meski harus mereka bayar dengan darah atau nyawa.
Benturan senjata dan jerit kematian dari kedua belah pihak kerap kali terdengar. Namun semuanya tidak membuat mereka jera, membuat mereka justru semakin telengas dan bernafsu untuk membunuh la- wan. Saat pertarungan berlangsung kian seru, tiba- tiba terdengar bentakan keras dari seorang lelaki. Ben- takan keras itu, cukup membuat semua orang yang bertarung seketika menghentikan pertarungan mereka.
"Berhenti...!" Seorang lelaki tua dengan sorban di kepala ser- ta berjubah putih sampai ke mata kaki, nampak me- langkah menuju warga kedua desa yang mendadak menghentikan pertumpahan darah itu. Seketika mere- ka yang ada di tempat itu menjura memberi hormat. Termasuk Pronco dan Pabean.
"Selamat datang, Ki Gede," hatur keduanya dengan ramah.
"Hm...," Ki Gede Mantingan menggumam tak je- las. Matanya memandang tajam pada orang-orang yang menundukkan kepala di hadapannya, seakan le- laki tua itu tak suka pada tindakan bodoh mereka yang terlalu terburu nafsu.
Ki Gede Mantingan, lelaki berusia sekitar enam puluh delapan tahun berjenggot putih panjang pera- wakannya tinggi. Dilengkapi wajah yang penuh kete- nangan. Dia menyapukan pandangannya ke segenap penjuru tempat itu.
"Apa kalian semua sudah dirasuki iblis?!" seru Ki Gede Mantingan dengan suara lantang dan penuh wibawa. Matanya masih memandang tajam ke seluruh warga desa yang menundukkan kepala kian dalam. "Bukan begini cara menyelesaikan masalah! Kalian te- lah lupa dengan ajaran yang telah kuberikan?!"
Semua tergugu dalam diam. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Apalagi mengadu pandang dengan Ki Gede Mantingan.
Orang tua itu merupakan guru besar di desa mereka, yang senantiasa mengajari mereka norma- norma agama yang setarap dengan Brahmana. Sese- puh yang dihormati dan dihargai oleh semua warga kedua desa itu.
"Kalian mestinya bisa menjaga emosi! Jangan grusa-grusu, karena sikap seperti itu hanya sikap dan tindakan-tanduk setan!" kembali Ki Gede Mantingan berkata. Suaranya masih tegas dan penuh kewiba- waan. "Kalau sudah begini, siapa yang rugi?!"
Semua terdiam, tak ada yang berani membuka suara sepatah kata pun. Kepala mereka semakin me- nunduk dalam-dalam. Tanpa terasa air mata mereka berlinang. Tampaknya semua warga kedua desa itu menyesali tindakan mereka yang tidak berlandaskan akal sehat
Ki Gede Mantingan menghela napas panjang. Ditengadahkan wajahnya ke langit mencari jawaban tentang watak manusia yang terkadang sulit dipahami. Kemudian terdengar desah napasnya yang terasa be- rat. "Bencana apa yang telah melanda desa kalian?
Ini yang perlu kalian pikirkan! Bukan main saling tu- duh dan saling bunuh seperti binatang!" sambungnya lagi. "Kalian manusia yang diberi akal dan pikiran oleh Sang Hyang Widi."
Kebisuan terus menyelimuti warga kedua desa yang habis bertarung itu.
Dari arah Desa Sela Kapilu, Ki Lurah Jarang Lanang berlari-lari ke arah mereka. Seketika Ki Lurah Jarang Lanang menjura, melihat Ki Gede Mantingan.
"Ampun, Ki Gede. Kami mohon ampun atas ke- jadian ini," mohonnya mengiba sambil terus menjura. "Saya sedang menemui Kanjeng Wedono, jadi tidak ta- hu masalahnya sama sekali."
"Tak ada yang salah, Ki Lurah," jawab Ki Gede Mantingan pada orang tua berpakaian adat Jawa dengan wajah bersih tanpa kumis dan cambang bawuk. Tubuh lelaki tua itu gemuk. Beruntung agak tinggi, hingga tidak terlihat bulat. Blankon di kepalanya ter- balik. Mungkin Ki Lurah Jarang Lanang terburu-buru setelah mendengar dari warganya tentang kejadian tersebut
"Saya khawatir, Ki Gede. Takut kalau salah pa- ham ini akan berlarut-larut," kata Ki Lurah Jaran Lanang dengan wajah menunjukkan kekhawatiran.
"Tak akan, Ki. Asal kedua belah pihak saling mengerti dan menyadari. Ini bukan perbuatan manu- sia, tapi iblis! Maka, kuharap kalian waspada. Kemarin malam, Desa Karapan yang mengalami musibah. Siapa tahu nanti malam justru Desa Sela Kapilu yang terke- na musibah."
Semua diam terpekur tak ada yang berkata. Suasana menjadi sepi sesaat di perbatasan ke- dua desa itu. Kemudian Ki Gede Mantingan kembali melanjutkan. "Penjagaan harus diperketat. Kalian ha- rus ingat itu. Adakan perondaan setiap malam, agar jangan sampai kecolongan."
"Baik, Ki Gede...!" serentak mereka menjawab. "Sekarang bubarlah. Urus yang mati. Jalinlah tali kasih dan persaudaraan!"
Setelah memberi petuah, Ki Gede Mantingan pun berlalu meninggalkan tempat itu. Kini tinggal orang-orang kedua desa yang tengah sibuk mengurus mayat-mayat korban.
***

Sore telah datang, mentari tergelincir di sudut barat. Sebentar lagi raja siang itu akan tenggelam, kemudian hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam. Tampak para petani pulang dari sawah dengan peralatan terpanggul di pundaknya.
Burung-burung beterbangan pulang ke sarang masing-masing dengan suara yang bersahut-sahutan. Bias merah jingga merasuki langit sebelah barat, menandakan mentari telah tersungkur. Desir angin sore terasa agak dingin, seperti datang bersama kegelisahan.
Dua sosok bayangan tampak melangkah dalam keremangan senja. Kedua muda-mudi itu bersenda gu- rau dengan riang, seperti menikmati suasana senja yang indah. Bagai tidak menghiraukan kejadian yang tengah menimpa sebuah desa yang mereka lalui.
"Kakang, nampaknya desa ini tengah berduka," kata gadis cantik berpakaian putih dengan rambut di- gelung dua di atas. Kulit gadis itu kuning langsat. Hi- dungnya tidak terlalu mancung. Sedang matanya lentik dan indah bila mengerling.
"Hm," gumam pemuda berpakaian rompi kulit ular, berambut gondrong yang agak berombak. Kulit pemuda itu bersih, wajahnya tampan.
Serasi sekali kedua anak muda itu. Yang lelaki tampan dan gagah, sedangkan yang perempuan cantik nan elok. Pedang tersandang di pundak gadis cantik yang berpakaian ala Cina itu. Sedangkan di pinggang pemuda tampan itu terselip sebuah suling berkepala naga.
Dilihat dari senjata serta pakaian mereka, ke- dua sejoli itu tidak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila dengan kekasihnya Mei Lie, si Bidadari Pencabut Nyawa. Sena meringis dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya menyapu ke sekelilingnya yang nam- pak sepi dan senyap. Ada bendera kuning terpajang di pintu masuk desa itu. Bendera itu menandakan kalau desa itu tengah berkabung.
"Aha, mungkin kematian biasa, Mei Lie." "Tapi, Kakang...," potong Mei Lie. "Aha, kau begitu nakal, Mei Lie. Ayolah, kita cepat pergi. Sebentar lagi malam. Kita harus segera mencari tempat untuk menginap," ajak Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie. Tapi gadis Cina itu me- nolak.
"Tunggu, Kakang. Firasatku mengatakan, telah terjadi sesuatu di sini."
Sena tertawa tergelak-gelak mendengar penutu- ran Mei Lie. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Hal itu membuat Mei Lie lantas cemberut.
Sena langsung menghentikan tingkahnya yang persis orang gila itu setelah melihat Mei Lie merengut. Dengan tetap cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, Sena menghela napas panjang-panjang.
"Hi hi hi..! Nakalmu semakin jadi, Mei Lie. Ah ah ah, tentunya di desa ini memang telah terjadi sesu- atu. Kematian, bukan?" goda Sena, membuat Mei Lie bertambah merengut. Matanya mendelik pada Sena yang makin cengengesan.
"Uh, Kakang," keluh Mei Lie cemberut "Aku sungguh-sungguh, Kakang."
"Aha, aku lebih sungguh-sungguh, Mei Lie," tukas Sena, masih saja menggoda. Semakin membuat Mei Lie mendelik kesal. "Ah ah ah, gawat kalau begini. Sudahlah, Mei Lie. Sebentar lagi malam, kita harus segera mencari tempat penginapan."
Sena kembali mengajak Mei Lie pergi mening- galkan tempat itu. Akhirnya Mei Lie pun menurut. Kaki keduanya melangkah meninggalkan desa itu. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bentakan seseorang. "Berhenti!" Sena dan Mei Lie berhenti, keduanya memba- likkan tubuh melihat siapa yang telah menyuruh me- reka berhenti: Tampak seorang lelaki berbadan kurus dengan kumis panjang yang melintang di atas bibirnya berdiri dengan pandangan penuh rasa curiga pada me- reka. Di belakang lelaki yang tidak lain Pabean, berdiri beberapa orang warga. Wajah mereka pun menggam- barkan rasa curiga.
Sena tertawa renyah. Tingkah lakunya yang konyol kembali muncul. Dia menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Kemudian tangannya menepuk- nepuk pantat
Menyaksikan tingkah konyol pemuda berpa- kaian rompi kulit ular di hadapannya, Pabean seketika mengerutkan kening. "Rasanya aku pernah mendengar tentang pemuda ini. Ah, benarkah dia Pendekar Gila?" tanya Pabean dalam hati. Alisnya bertaut saat meman- dang penuh selidik pada Pendekar Gila dan Mei Lie. "Dan kalau tidak salah, gadis Cina ini yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa. Benarkah mereka berdua pendekar itu?"
"Hi hi hi...! Kalian ini aneh. Mengapa tiba-tiba menghentikan langkah kami? Hi hi hi...!" Sena tetap konyol, menepuk-nepuk pantat sambil berjingkrak- jingkrak. Sedangkan Mei Lie malah bersiap-siap, was- pada kalau para penghadangnya hendak bermaksud jahat
"Siapa kalian?" tanya Pabean berusaha mencari tahu.
"Hi hi hi...! Lucu. Kau lucu sekali, Kisanak." Sena semakin cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. "Aha, kalian ingin tahu siapa kami? Baiklah, kami sepasang muda-mudi yang sedang melancong mengikuti kemauan kaki. Nah, apa cukup jelas?"
"Apakah kalian Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa?" selidik Pabean berusaha memasti- kan dugaannya.
"Ya!" sahut Mei Lie memotong. "Ada apa kalian menghadang kami?" tanyanya kemudian.
"O, maafkanlah tindakan kami yang lancang. Kalau benar kalian Pendekar Gila dan Bidadari Penca- but Nyawa, kami mengharap kalian sudi singgah ke rumah kami," pinta Pabean, santun.
"Hm, untuk apa?!" tanya Mei Lie tegas. "Aha, jangan galak begitu, Mei Lie! Bagaimana kalau kita terima undangannya. Bukankah kita adalah tamu di sini?" tanya Pendekar Gila berusaha mene- nangkan Mei Lie yang ketus. Tampaknya Mei Lie masih dihantui kejadian di Lembah Lamur, saat orang-orang yang dekat dengannya kedapatan mati. Itu sebabnya dia tidak mudah percaya dengan orang lain (Mengenai kejadian Mei Lie, silakan baca serial Pendekar Gila da- lam episode "Titisan Dewi Kuan Im").
"Baiklah! Tapi jangan sekali-sekali bermaksud jahat. Aku tak akan segan-segan membunuh kalian! Bahkan seluruh penduduk desa sini!" ancam Mei Lie.
"Baik, Nona Pendekar," sahut Pabean penuh hormat. "Aha, ayolah," ajak Pendekar Gila.
Mereka pun melangkah mengikuti Pabean dan warganya. Sementara kegelapan telah menyelimuti desa itu.
***

3
Rumah Pabean nampak terang benderang. Lampu tempel besar dan lampu gantung yang biasanya dipadamkan, malam itu dinyalakan semua. Suasana dalam rumah menjadi terang benderang. Khususnya di beranda. Tiga orang tengah duduk di kursi rotan, sementara yang lainnya duduk bersila di bawah. Tampaknya mereka tengah berkumpul, setelah kematian lurah mereka.
Sena, Mel Lie, dan Pabean duduk di atas bang- ku. Ketiganya tengah membicarakan kejadian yang melanda Desa Karapan dan telah menelan tiga korban.
"Kemarin malam desa ini didatangi oleh kawa- nan makhluk bermuka tengkorak. Mereka menculik salah seorang petugas ronda dan anak Ki Lurah. Se- mentara Ki Lurah sendiri mengalami kematian yang mengerikan sekali. Tubuhnya hangus, bagai terbakar," tutur Pabean menceritakan semua kejadian yang ter- jadi kemarin malam.
"Hm," gumam Sena tidak jelas. Sedangkan Mei Lie memperhatikan cerita yang dibeberkan Pabean dengan seksama. "Aneh, makhluk berwajah tengkorak dari mana?"
"Itulah yang tengah kami pikirkan. Keris sakti milik Ki Lurah Walapaya yang bernama 'Simbar Mega' hilang entah ke mana. Kata orang yang melihat, keris itu masuk ke dada makhluk bermuka tengkorak."
"Heh?!" seru Sena dengan mata membelalak kaget.
"Hhh," desah Mei Lie. Wajahnya kelihatan ge- ram mendengar cerita yang dituturkan Pabean. "Kura- sa semua ini didalangi seseorang."
"Entahlah. Didalangi atau tidak, kami rasa hal ini harus dicegah...," kata Pabean dengan suara agak geram jika ingat kejadian yang menimpa desanya.
"Hm," lagi-lagi Pendekar Gila bergumam tak je- las. Mulutnya cengengesan, tangannya menggaruk- garuk kepala.
"Apa mereka keluar pada saat malam?" tanya Mei Lie. "Ya!"
"Hm, ada yang tahu persis, bagaimana cara me- reka muncul?" tanya Mei Lie.
"Saya, Nona Pendekar," sahut Pilan, salah seo- rang petugas ronda kemarin malam.
"Bisa Kisanak menjelaskan?" pinta Mei Lie. Secara singkat dan jelas, Pilan pun mencerita- kan kejadian yang telah dialaminya bersama ketiga pe- ronda lain, yang salah satunya menjadi korban kawa- nan makhluk bermuka tengkorak darah. Muka tengko- rak itu berlumuran darah, itu sebabnya dinamakan tengkorak darah: Sebelum mereka keluar terdengar de- rak tanah retak. Kemudian muncul asap putih kehi- tam-hitaman yang perlahan menampakkan ujud me- rah me-nyala.
"Begitulah mereka keluar, Nona Pendekar," ucap Pilan, mengakhiri ceritanya.
"Hm," gumam Mei Lie sambil menghela napas panjang-panjang.
Sena cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala.
"Aha, rupanya ada juga siluman yang ingin mencampuri urusan manusia. Hi hi hi...! Lucu sekali!" Sena tertawa meringkik. Tingkahnya semakin konyol, membuat semua orang yang hadir di situ tersenyum- senyum. "Siluman...?" tanya Pabean dengan mata mem- belalak. "Ya! Kurasa mereka siluman," jawab Sena masih bertingkah konyol dan lucu.
Semua terdiam. Mereka merasakan ketegangan setelah mendengar penuturan Pendekar Gila. Hati mereka bertanya-tanya, dari mana siluman-siluman itu datang? Lalu apa maksud siluman-siluman itu datang ke alam manusia?
"Hm, kalau memang mereka siluman, bagaima- na cara menghadapinya?" tanya Pabean nampak ke- bingungan. Jelas akan sulit sekali manusia biasa se- perti dirinya dan warga desa untuk menghadapi mak- hluk-makhluk seperti itu. Hanya orang-orang yang memiliki ilmu gaib saja yang mampu menghadapinya.
Mulut Pendekar Gila nyengir. Tangannya kem- bali menggaruk-garuk kepala. Dia pun belum bisa berbuat apa-apa atau mengambil kesimpulan, karena dia belum pernah tahu makhluk seperti siluman itu. Dia juga belum tahu bagaimana cara menghadapi siluman. "Aha, sulit juga rasanya," gumam Sena tiba- tiba, menyentakkan semua orang di tempat itu terma- suk Mei Lie, yang seketika mendelikinya. Pendekar Gila hanya nyengir, lalu seraya menggaruk-garuk kepala dia melanjutkan, "Kurasa, ada baiknya kita membica- rakan masalah ini."
"Aku setuju," sambut Pabean.
"Bagaimana, Mei?" tanya Sena. "Aku pun setuju." "Baiklah kalau begitu. Hm, hari hampir larut, kurasa kita harus secepatnya menyelesaikan pembica- raan. Bagaimana kalau kita berpencar?" tanya Sena.
"Maksudmu?" tanya Mei Lie belum mengerti. "Mungkin kawanan siluman itu malam ini akan datang kembali. Kurasa ada sesuatu yang menyebab- kan kedatangan mereka di desa ini. Bagaimana kalau kita menyelidikinya?" tanya Pendekar Gila.
"Hm, aku setuju. Apa yang sekiranya menu- rutmu baik, aku setuju saja," jawab Pabean.
"Aku juga setuju," sambut Mei Lie. "Bagaimana dengan yang lain?" tanya Sena. "Kami setuju," sahut warga yang hadir di tem- pat itu. "Aha, bagus! Kuminta lima orang untuk meron- da. Kalau kalian melihat makhluk itu datang lagi, bu- nyikan kentongan sebanyak lima kali. Dengan begitu, aku dan Mei Lie akan segera datang," tutur Sena men- gatur rencana.
"Ide yang bagus," puji Pabean. "Sementara yang lainnya, tolong ikut Pabean untuk memeriksa kampung ini. Aku dan Mei Lie akan mengawasi kampung sebelah barat. Kita akan bertemu jika kita mendengar salah seorang membunyikan ken- tongan," papar Sena menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu malam ini juga kita mu- lai" kata Pabean.
Setelah mengatur rencana sebaik mungkin, me- reka pun melakukan apa yang telah direncanakan. Pendekar Gila dan Mei Lie melesat ke arah barat se- dangkan Pabean dan warga menuju ke arah timur. Li- ma orang peronda nampak masih berada di rumah Pa- bean, berjaga-jaga dengan kentongan siap di tangan.
***

Sementara itu, di Desa Sela Kapilu tampak be- berapa orang tengah bergerombol. Ada sepuluh orang yang malam itu bertugas meronda. Kali ini mereka siap dengan senjata berupa golok. Berjaga-jaga kalau-kalau terjadi hal yang serupa dengan kejadian di Desa Kara- pan.
"Apa benar cerita orang Karapan?" tanya seo- rang peronda bernama Kapri.
"Iya. Mana ada setan gentayangan membunuh? Mungkin orang Desa Karapan sendiri yang melaku- kannya," sambung Dayan.
"Ya, mungkin juga benar," tukas Wiryo. "Mana ada sih yang tega membunuh Ki Lurah? Lagi pula, kalau memang benar Ki Lurah mati terbakar, tentu warga melihatnya."
"Iya ya. Kok bisa aneh begitu? Lagi pula, salah seorang petugas ronda hilang dan tadi pagi tahu-tahu ditemukan mati. Aneh...," gumam Rusdi.
"Sudahlah, jangan membicarakan itu. Tidak baik. Ingat kata-kata Ki Gede Mantingan, kita tidak boleh membicarakan orang lain. Yang penting kita harus bisa menjaga keamanan desa kita," tukas Romlan berusaha mengingatkan teman-temannya agar tak mem- bicarakan orang lain.
Kebisuan kemudian menyelimuti para peronda yang sedang berkumpul di gardu. Terlebih malam itu angin berhembus membawa rasa dingin, membuat su- asana di sekitar tempat itu bertambah mencekam.
Wesss! Krak! Tiba-tiba kesepuluh peronda yang tengah ber- jaga-jaga dikejutkan oleh suara tanah retak, yang di- ikuti oleh suara mendesis dan datangnya asap tebal yang keluar dari retakan tanah.
"Hei, suara apa itu?!" seru Dayan. "Seperti asap! Lihat ada asap mengepul!" sam- but Rusdi.
Mata kesepuluh ronda itu membelalak, me- mandang tak berkedip pada asap tebal yang membu- bung keluar dari retakan tanah.
Belum juga rasa kaget kesepuluh peronda itu hilang, kepulan asap yang jumlahnya banyak itu membentuk sosok berwarna merah. Kemudian terben- tuklah ujud menyeramkan. Sosok manusia berwajah tengkorak yang berlumuran darah.
"Se..., setaaan...!" pekik mereka ketakutan. Tapi tubuh mereka tidak beranjak dari gardu. Hanya mata mereka yang melotot tegang, memandang sosok-sosok menyeramkan yang kini melangkah mendekati gardu.
"Jelas makhluk ini yang kemarin membuat bencana di Desa Karapan...," desis Wiryo, orang yang agak berani di antara kesepuluh peronda. Malah tan- gannya kini menarik golok dari sarungnya. "Kita harus serang mereka!"
Tak ada satu temannya pun yang berani. Mere- ka cuma dapat menggigil ketakutan. Hal itu membuat Wiryo kebingungan. Kini dirinya dalam keraguan. Ingin melawan seorang diri tapi dia akut karena takut lawan terlalu banyak. Namun kalau tak melawan, bisa-bisa mereka akan menjadi korban. Akhirnya tubuh Wiryo ikut merapat dalam kerumunan temannya.
"Tolong...! Ada setaaan...!" jerit mereka keras, membuat warga lain yang tengah tidur seketika ter- bangun. Mereka berbondong-bondong menuju ke gar- du ronda. Namun warga desa seketika lari mening- galkan tempat itu, manakala menyaksikan puluhan ujud menyeramkan.
"Wuaaa! Setaaan...!"
Suasana malam yang sepi dan mencekam, mendadak dirambati jerit ketakutan para penduduk. Mereka lari terbirit-birit saking takutnya, tanpa meng- hiraukan lagi nasib kesepuluh peronda yang masih terkurung di dalam gardu.
Ketegangan semakin menjadi-jadi, ketika mak- hluk-makhluk bermuka tengkorak itu semakin dekat ke arah gardu tempat kesepuluh peronda berada.
"Wuaaa...!" jerit mereka ketakutan, setelah lampu tempel di gardu menerangi wajah makhluk- makhluk itu, hingga mata mereka menangkap dengan jelas puluhan wajah menyeramkan itu.
"Kita tidak bisa begini terus. Kita harus mela- wan," ajak Wiryo, berusaha memberi semangat pada kesembilan rekannya yang masih ketakutan.
"Tapi..., mereka bukan manusia," keluh teman- temannya.
"Apa pun mereka, kita tidak boleh tinggal di- am!" Wiryo terus berusaha memberi semangat pada teman-temannya untuk melawan makhluk-makhluk menyeramkan itu.
Srttt! Mereka serentak mencabut golok. Rupanya aja- kan Wiryo mereka tanggapi. Kemudian dengan nekat, kesepuluh peronda itu menyerang para pengepung yang menyeramkan.
"Heaaa!" Crak! Crak! Crak! Suara benturan golok dengan tubuh para mak- hluk tengkorak darah terdengar. Namun golok di tan- gan mereka malah menjadi gompal. Bahkan ada yang patah menjadi tiga. Kejadian aneh itu membuat mata kesepuluh peronda semakin membelalak tegang.
"Wik! Wok! Wik!" salah satu makhluk bermuka tengkorak berkata. Tangannya yang hanya tulang belulang bergerak-gerak, seperti memerintah yang lain un- tuk membereskan kesepuluh peronda itu.
Puluhan tengkorak darah serentak maju, men- jadikan para peronda semakin ketakutan. Tubuh me- reka kini menggigil hebat. Keringat dingin bercucuran membanjiri dahi dan leher mereka. Malah mereka terkencing-kecing, menyaksikan wajah-wajah menyeram- kan itu bertambah dekat
Tangan para makhluk bermuka tengkorak itu bergerak. Mulanya menjulur maju, kemudian ditarik ke belakang. Dari telapak tangan mereka yang hanya tulang belulang, terpancar sinar biru. Saat itu pula tu- buh kesepuluh peronda tertarik keras ke arah mereka.
"Wuaaa! Tolooong...!" Kesepuluh peronda itu berusaha memperta- hankan diri dari sedotan tenaga aneh lawan, namun tenaga mereka rupanya belum seberapa. Tubuh mere- ka terus tersedot, sampai menempel dengan tubuh makhluk bermuka tengkorak. Kesepuluh peronda itu tergagap-gagap, menyaksikan wajah menyeramkan yang begitu dekat dengan wajah mereka.
"Wuaaa...! Tolooong...!" Percuma mereka menjerit-jerit, karena warga yang lain malah kocar-kacir ketakutan.
Dalam keadaan tegang dan kritis, tiba-tiba ber- kelebat sesosok bayangan berwarna coklat tua ke arah puluhan makhluk bermuka tengkorak. Bayangan itu langsung menghantamkan pukulan keras kepada sa- lah satu makhluk itu. Dukkk! "Aduh!" pekik bayangan coklat, yang tidak lain Ki Lurah Jaran Lanang. Tangannya seketika memar. Seakan tangannya baru saja memukul logam atau ba- tu karang yang sangat kuat. Mata lelaki tua berpa- kaian Jawa itu membelalak tegang. Apalagi ketika pe-
mimpin kawanan tengkorak darah membalikkan tubuh dan memandang ke arahnya. Darah Ki Lurah Jaran Lanang mendesir hingga cepat, karena kengerian yang tiba-tiba menusuk. Mulutnya menganga, matanya membuka lebar.
"Ngik! Kik! Cuik!" Pemimpin makhluk bermuka tengkorak berkata, tampaknya dia sangat marah atas kehadiran Ki Lurah Jaran Lanang. Malah tubuh me- rahnya kini melangkah maju, mendekat Ki Lurah Ja- ran Lanang yang semakin membelalak ngeri dan takut. "Setan...! O, rupanya apa yang dikatakan warga Desa Karapan memang benar," desis Ki Lurah Jaran Lanang setengah mengeluh. Matanya semakin membe- lalak tegang. Kakinya berusaha lari, namun tiba-tiba tubuhnya bagai disedot oleh suatu kekuatan. Kakinya mendadak tertahan, malah semakin tertarik mundur ke arah pemimpin makhluk bermuka tengkorak
Tubuh Ki Lurah Jaran Lanang mulai menggigil ketakutan, mengetahui tubuhnya kini terangkat ke atas. Dan ketika matanya memandang ke belakang, tampak olehnya tangan tengkorak darah itu tengah bergerak ke atas.
"Nguik!" Pemimpin makhluk bermuka tengkorak itu menggerakkan tangannya ke bawah, ketika tubuh Ki Lurah Jaran Lanang telah mencapai ketinggian terten- tu. Saat itu pula, tubuh Ki Lurah Jaran Lanang me- luncur ke bawah.
Wesss! "Wuaaa...! Tolooong...!" Tubuh Ki Lurah Jaran Lanang terus melesat turun dengan cepat, bagai dibanting dari atas. Ketika tubuh lelaki tua itu hampir menghantam tanah kering, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat menang- kap tubuhnya. Bayangan itu langsung berhenti, ke-
mudian menurunkan tubuh Ki Lurah Jaran Lanang. Bersama bayangan yang ternyata Pendekar Gila, mele- sat pula tubuh Mei Lie.
"Rupanya siluman-siluman ini!" dengus Mei Lie. Matanya tajam, memandang gerombolan makhluk bermuka tengkorak darah yang kini menghadap ke arahnya, setelah membunuh kesepuluh peronda.
"Nguik! Wok! Wik! Wok!" "Hm, majulah! Biar kuhabisi kalian!" tantang Mei Lie dengan berani.
Srttt! Dicabutnya Pedang Bidadari dari sarungnya. Seketika suasana di sekitar tempat itu menjadi terang benderang oleh sinar kuning kemerahan-merahan. Hal itu membuat ujud manusia-manusia bermuka tengko- rak semakin terlihat jelas. Keadaan mereka begitu me- nyeramkan. Muka mereka hanya berupa tengkorak berlumuran darah. Bagian mata mereka bolong, begitu juga bagian hidung.
"Ngik! Ngok! Nguik!" Pemimpin gerombolan tengkorak darah itu tampak menutupi matanya dengan sebelah tangan. Seakan merasa silau oleh sinar yang terbersit dari Pe- dang Bidadari di tangan Mei Lie. Sedangkan tangan yang lain kini digerakkan, memerintah pada kesepuluh anak buahnya untuk menyerang.
"Nguik!" Suara ribut tercipta dari mulut-mulut makhluk tengkorak darah yang hendak menyerang Mei Lie.
"Bagus! Majulah sekalian! Heaaa...!" Tanpa membuang-buang waktu, Mei Lie segera bergerak memapaki serangan lawan. Pedang Bidadari di tangannya bergerak dengan cepat, memenggal ke kepala lawan dengan jurus 'Tebasan Bidadari'.
Wettt!
Trang! "Heaaa!" Mei Lie bergerak lincah. Pedang Bidadarinya laksana lengan Bidadari Pencabut Nyawa. Setiap kali berkelebat pasti mengambil kematian. Pantas benar dengan julukan yang disandangnya, Bidadari Pencabut Nyawa. Dua makhluk bermuka tengkorak terpenggal lehernya. Keduanya seketika berubah menjadi asap, lalu menghilang. Yang lainnya menyerang. Namun Pendekar Gila yang tidak ingin Mei Lie mendapat cela- ka, segera menarik Suling Naga Sakti. Dengan suling itu tubuhnya melesat ke udara. Lalu dengan tingkah seperti seekor monyet, Pendekar Gila memukul kepala para makhluk bermuka tengkorak.
"Hi hi hi! Rasakan ini, Siluman Buruk! Ha ha ha!"
Tak tuk tak! Tiga kepala makhluk ganjil itu pecah. Ketiga sosok tengkorak yang terbungkus jubah merah berke- rudung itu, seketika berubah menjadi asap. Lalu menghilang bagai ditelan bumi.
"Ngik! Ngok! Nguk!" Pemimpin kawanan tengko- rak darah seketika memberi perintah dengan isyarat tangan, lalu sisa makhluk tengkorak darah itu menghi- lang dari hadapan Pendekar Gila.
"Hi hi hi! Kalian mau main-main. Baik! Hi hi hi...!" sambil tertawa-tawa dan berjingkrak-jingkrak seperti monyet, Pendekar Gila meniup Suling Naga Saktinya. Suara suling melengking tinggi. Saat itu, suatu ledakan terjadi. Lima tengkorak darah yang menghi- lang bersama pemimpinnya nampak kembali dalam keadaan sudah mati. Kemudian tubuh mereka menjadi asap yang menipis dan menghilang tersapu angin.
Pendekar Gila tertawa sambil berjingkrak- jingkrak. Namun dari arah rumah seorang warga, tiba- tiba terdengar jeritan.
"Tolooong...!" Pendekar Gila, Mei Lie, dan Ki Lurah Jaran La- nang segera berkelebat menuju asal jeritan itu.
***

       
"Tolooong! Setaaan...!" Seorang wanita muda menjerit-jerit ketakutan dengan pakaian tak menentu. Sebagian tubuhnya ti- dak tertutup kain. Mungkin karena terlalu takut, wani- ta itu tidak ingat keadaannya. Wanita muda yang can- tik dan hampir telanjang itu ternyata Suri Prapti, anak Ki Lurah Jaran Lanang.
"Ada apa, Suri?" tanya Ki Lurah Jaran Lanang, menyaksikan anaknya tampak ketakutan.
"Setan Ayah! Setan tengkorak menculik Kakang Rejo," isak Suri Prapti menangis.
"Hah, Suro Rejo diculik?!" seru Ki Jaran Lanang dengan mata membelalak, mendengar penuturan anaknya. Suro Rejo dan Suri Prapti baru saja menikah 7 hari yang lalu. Kini tiba-tiba muncul manusia- manusia bermuka tengkorak darah, mengacaukan hari indah mereka.
Belum juga rasa kaget mereka hilang, karena penculikan Suro Rejo, tiba-tiba para penduduk berte- riak-teriak. Mereka berhamburan ketakutan. "Setan...! Setan menggarong!" "Rampok setan...!" "Setan merampok...!"
Pendekar Gila tertawa tergelak-gelak melihat para penduduk berteriak-teriak ketakutan. Tingkahnya yang konyol, membuat Mei Lie melotot. Sena langsung diam, tidak lagi tertawa-tawa sambil berjingkrak- jingkrak. Meski begitu, Sena masih cengengesan sam- bil menggaruk-garuk kepala.
"Ada apa? Ada apa ini?" tanya Ki Jaran Lanang. "Rumah kami dirampok!" lapor penduduk den- gan ketakutan yang terlukis di wajahnya.
"Anak kami yang masih jejaka dibawa!" sam- bung yang lainnya.
"Suami saya juga dibawa. Padahal kami baru menikah bareng sama Den Suri," isak seorang gadis muda berkulit kuning langsat dan cantik.
Ki Lurah Jaran Lanang semakin terlongong bengong. Dia tidak tahu, untuk apa para lelaki muda diambil oleh siluman tengkorak darah.
Saat warga Desa Sela Kapilu dilanda kegemparan dengan matinya sepuluh orang peronda dan hi- langnya beberapa lelaki muda, Pabean dan beberapa orang warganya datang.
"Ada apa, Sena?" tanya Pabean. Ki Lurah Jaran Lanang menceritakan semua yang terjadi. Hal itu membuat mata Pabean membela- lak.
"Sama dengan kejadian kemarin," gumam Pa- bean. "Akh heran, untuk apa lelaki-lelaki muda dan tampan dibawa pergi? Kemudian keesokan harinya mereka telah menjadi mayat dengan keadaan mengerikan. Bukankah warga desa sini juga melihatnya?" "Benar...!" sahut warga Sela Kapilu. Semua terdiam, tak ada yang berkata. Mereka sama-sama tengah berpikir serta bertanya-tanya dalam hati. Apa sebenarnya yang terjadi di desa mereka? Dan apa yang dikehendaki siluman tengkorak merah yang
datang membawa kegemparan dan kematian?
Hanya Pendekar Gila yang tetap tersenyum- senyum. Malah sempat bersiul-siul. Wajahnya menen- gadah ke langit, seperti tengah menikmati bintang yang gemerlapan di langit.
"Apakah orang-orang yang diculik pernah me- lakukan sesuatu?" tanya Mei Lie tiba-tiba.
"Maksud, Nona?" tanya Pabean. "Apakah orang-orang yang diculik pernah me- lakukan sesuatu pelanggaran. Berbuat jahat misal- nya?" Mei Lie berusaha menerangkan. Pabean dan Ki Lurah Jaran Lanang terdiam, berusaha mengingat- ingat setiap perbuatan yang pernah dilakukan oleh pa- ra korban penculikan.
"Kami rasa tidak," sahut Ki Lurah Jaran La- nang, akhirnya.
"Anehnya, yang diculik lelaki tampan dan ga- gah," sambung Pabean.
"Hm, aneh. Untuk apa mereka itu?" gumam Mei Lie sambil memasukkan pedang kembali ke dalam warangkanya. Suasana di tempat itu seketika gelap kembali.
Warga desa baru tersentak kaget, setelah tahu kalau yang membuat suasana di tempat itu menjadi terang ternyata sebilah pedang. Mata mereka membe- lalak, mulut mereka berdecak kagum. Tak henti-hen- tinya mereka memandang wajah Mei Lie, lalu bergan- tian ke Pendekar Gila yang masih acuh sambil cen- gengesan.
"Ki dan Nisanak. Kalau boleh kami tahu, siapa- kah kalian? Bagaimanapun juga, kalian telah meno- longku," kata Ki Lurah Jaran Lanang.
Belum juga Sena dan Mei Lie menjawab, Pa- bean telah mendahului.
"Mereka adalah Pendekar Gila dan Bidadari
Pencabut Nyawa."
Semuanya tersentak mendengar nama yang ba- ru saja disebutkan Pabean. Mereka memang sering mendengar nama keduanya, tapi baru kali ini mereka melihat orangnya.
"O, terimalah salah hormat kami," hatur Ki Lu- rah Jaran Lanang sambil menjura hormat.
"Ah, sudahlah. Tak perlu dipersoalkan. Kini kita harus memikirkan bagaimana kita dapat menemukan tempat siluman itu. Biasanya ada seseorang yang mengundang para siluman untuk membuat kerusuhan," tutur Sena, mengembalikan pembicaraan.
Semuanya membisu, tak seorang pun dapat memecahkan masalah yang diajukan Sena. Mereka ti- dak tahu dari mana siluman tengkorak menyeramkan itu berasal.
"Bagaimana kalau kita mencarinya di sekeliling desa?" usul Mei Lie menyerahkan.
"Setuju saja! Tapi, apa mungkin mereka berada di sekitar desa ini?" tanya Ki Lurah Jaran Lanang, agak ragu.
"Mengenai itu, aku tak tahu. Yang pasti, kita harus berusaha mencari," tukas Mei Lie.
"Aha, benar juga pendapatmu, Mei Lie. Nah, bagaimana?" sambung Pendekar Gila.
"Kalau begitu, memang sebaiknya kita berusa- ha mencari," tambah Pabean.
"Aha, tidakkah kita harus memakai obor? Siapkanlah obor," kata Pendekar Gila.
Penduduk bergegas mencari obor. Setelah se- mua keperluan yang diperlukan selesai, mereka pun dipecah menjadi empat kelompok. Satu ke utara, satu ke selatan, sedang yang lain ke barat dan ke timur. Suasana di dua desa itu seketika terang benderang, karena banyak obor yang menyala menerangi malam yang semula gelap-gulita.
Tidak hanya obor, kentongan pun turut serta. Bunyi kentongan terdengar sahut-menyahut. Suasana kedua desa menjadi ramai.
Namun sampai seluruh desa itu mereka kelilin- gi, tidak juga mereka temukan tanda-tanda yang men- curigakan. Hal itu mengakibatkan semuanya terheran- heran serta bingung, harus berbuat apa lagi agar dapat menemukan warga Desa Sela Kapilu yang diculik.
"Tak ada. Hm, sulit sekali...," keluh Pabean. "Hi hi hi...! Lucu sekali. Kita seperti main petak umpet dengan para siluman," seloroh Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
Mei Lie menyapukan pandangannya ke sekelil- ing tempat di mana mereka berada kini. Namun tidak juga ditemukannya tanda-tanda yang mencurigakan. Lalu mereka memutuskan untuk meneruskan penca- rian di tempat lain. Namun belum juga Mei Lie, Sena serta yang lain pergi, tiba-tiba terdengar suara ancaman seorang wanita yang memenuhi udara.
"Ingat baik-baik Pendekar Gila dan kau Dewi Pencabut Nyawa! Kalian telah ikut campur dalam urusan ini! Kalian akan mendapatkan balasannya! Tunggu saja nanti! Kalian telah membunuh sepuluh anak bua- hku!"
Pendekar Gila tertawa tergelak-gelak, seperti tak takut sama sekali dengan ancaman yang baru saja didengarnya. Bahkan dengan suara lantang Sena balas berkata....
"Ha ha ha...! Siluman jelek! Jangan kira aku ta- kut menghadapimu! Ayo, keluarlah! Biar ku jitak pan- tatmu! Hua ha ha...!" Tubuh Sena berguncang- guncang karena tawanya yang terpingkal-pingkal. Ke- mudian dengan konyol Sena menunggingkan pantat- nya sambil berseru, "Nih, kentut busukku! Pruttt...!"
Sena kembali tertawa terbahak-bahak seraya melompat-lompat tak ubahnya seekor monyet. Hal itu membuat semua penduduk yang berada di tempat itu terbengong-bengong. Heran bercampur kagum atas keberanian pemuda tersebut
"Kurang ajar! Tunggulah saatnya nanti, Pende- kar Gila!" Kembali terdengar ancaman seorang wanita.
"Hua ha ha! Lucu sekali kau, Siluman! Seha- rusnya aku yang mengancammu. Karena kau telah be- rani melanggar ketentuan Sang Hyang Widi. Kau lebih berani melanggar garis alam!" dengus Sena setelah itu tertawa tergelak-gelak kembali. Dengan berjingkrak- jingkrak pantatnya ditunggingkan lagi. "Nih kentutku. Pruttt..!" Wesss!
Tiba-tiba angin bertiup kencang laksana serbuan badai, menjadikan semua warga desa tersentak kaget. Angin besar itu datang dari arah selatan.
"Aha, rupanya kau mau bercanda denganku, Siluman Jelek?! Baik. Ayo kita main-main petak um- pet!" Sena segera melangkah mundur. Tangannya ber- gerak memerintah semua warga untuk tiarap.
"Kalian mundurlah. Mei Lie, jaga mereka." "Baik, Kakang." Setelah warga mundur, Sena segera menyatu- kan telapak tangannya di depan dada. Kemudian di- angkatnya kedua telapak tangan ke atas, lalu digerak- kan melebar ke samping. Setelah menarik napas da- lam-dalam, Sena membalas serangan angin topan yang datang entah dari mana.
"'Inti Bayu'. Heaaa...!" dihembuskan tenaga da- lamnya melalui kedua telapak tangan. Saat itu, se- rangkum angin besar menderu kencang laksana pra- hara. Angin 'Inti Bayu' bergerak menerjang angin la- wan.
Wesss! Jlegar! Ledakan dahsyat seketika menggelegar, ketika dua angin besar bertemu. Bahkan tanah tempat kedua angin itu beradu, seketika berhamburan hingga mem- bentuk sumur lebar.
Suasana kembali lagi, tak ada lagi ancaman yang terdengar. Dan tidak juga hembusan angin menggila.
"Hm," gumam Sena tak jelas. Matanya kembali menyapu ke atas, "Kurasa, malam ini dia sedikit kapok. Tapi penjagaan harus senantiasa ketat. Biar ba- gaimana, siluman tak pernah puas."
"Apa yang kau sarankan, akan kami laksana- kan," jawab Pabean.
Malam itu juga, beberapa penduduk berjaga- jaga. Mereka tidak ingin kecolongan dengan kedatan- gan siluman tengkorak darah ke desa mereka.
Malam semakin sepi, menyelimuti Desa Kara- pan dan Desa Sela Kapilu. Membawa rasa dingin yang menusuk tulang sungsum. ***
Sementara itu, di alam siluman yang tidak ter- jangkau penglihatan manusia, Siluman Tengkorak Da- rah tampak berlari-lari dengan bibir melelehkan darah. Tangannya memegangi dada yang terasa direjam sejuta duri.
"Ukh...!" Ratu Siluman Tengkorak Darah men- geluh, merasakan sakit di dadanya akibat benturan kekuatan tenaga dalamnya melawan Pendekar Gila. Kakinya terus berlari, lalu masuk ke dalam istana yang dijaga dua pengawal bermuka tengkorak. Keduanya segera menjura hormat ketika dia melewati gerbang istana.
"Sri Ratu, apa yang terjadi?" tanya pengawal yang berdiri di sebelah kiri.
"Ukh, aku luka dalam," sahut Ratu Siluman Tengkorak Darah sambil terus berlari masuk ke dalam istana. "Cepat panggilkan ibu!" perintahnya pada ke- dua pengawal tadi.
"Sendika Sri Ratu," sahut kedua pengawal itu berbareng. Mereka bergegas mengayun langkah ke bangunan di samping istana.
Tidak lama kemudian, kedua pengawal itu telah kembali bersama seorang wanita berusia sekitar enam puluh tahun. Namun kecantikan wanita itu masih utuh. Kalau dilihat sepintas usianya masih sekitar dua puluh satu tahun. Dia adalah ibu dari Ratu Siluman Tengkorak Darah.
Wajah wanita berkebaya biru dengan rambut disanggul itu tampak cemas, setelah mendengar penu- turan kedua siluman tengkorak yang menjadi prajurit- nya. Kaki wanita berparas cantik yang sangat jauh di- bandingkan usia yang sebenarnya itu, melangkah den- gan terburu-buru ke istana.
Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar Ratu Siluman Tengkorak Darah. Wajahnya semakin menampakkan kekhawatiran ketika menyaksikan anaknya terbaring di ranjang. "O, kenapa kau, Nak?" "Aduh, Bu," keluh Ratu Siluman Tengkorak Darah sambil meringis memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.
"Kau habis bertarung, Nak?" tanyanya pada ga- dis cantik jelita yang berpakaian tipis dan minim. Hanya buah dada dan kewanitaannya saja yang ditutupi secarik kain putih. Sedangkan bagian tubuh lainnya hanya diselimuti oleh jubah berwarna merah darah tembus pandang, sehingga lekuk tubuhnya yang elok terlihat jelas. Lekuk tubuhnya sangat menggai- rahkan bagi setiap lelaki yang melihat.
Gadis cantik itu mengangguk. Mulutnya masih meringis-ringis, menahan rasa sakit
."Siapa yang melakukannya, Nak?" tanya sang Ibu semakin cemas berbalut amarah. Matanya berkilat penuh kegusaran. Tampaknya dia tidak senang atas kekalahan anaknya.
"Pendekar Gila, Bu" "Pendekar Gila?" Kening wanita berkebaya biru dengan kain warna coklat tua itu mengerut. Sepertinya dia pernah mendengar nama yang baru saja dis- ebutkan anaknya. "Apakah yang kau maksud pemuda berpakaian rompi kulit ular?"
Gadis cantik yang menjadi ratu Siluman Teng- korak Darah menganggukkan kepala membenarkan.
"Hm, kurang ajar! Dia memang penghalang sa- tu-satunya bagi kita!" dengus wanita cantik yang sebe- narnya berusia enam puluh tahun itu. Tangannya memijat dan mengurut sendi-sendi di tubuh sang Anak, yang menjadikan Ratu Siluman Tengkorak Da- rah meringis. "Tahanlah sedikit, Nak."
"Auhhh...!" keluh Ratu Siluman Tengkorak Da- rah, merasakan rasa sakit yang tak terkira. Asap men- gepul dari dadanya yang luka. Kemudian lambat laun rasa sakit itu menghilang.
"Nah, kini kau telah sembuh. Hati-hatilah, jan- gan sampai kau bentrok dengannya lagi. Bila perlu, rayulah dia. Jika dia menjadi suamimu, maka kau akan menguasai dunia ini," tutur sang Ibu.
Ratu Siluman Tengkorak Darah tersenyum, kemudian tubuhnya bangkit.
"Apakah aku boleh menikmati tawanan itu, Bu?"
Sang Ibu rupanya mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya. Dia menyadari, kalau sifat anaknya me- rupakan titisan sifatnya. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa melarang kemauan anak satu-satunya yang telah dewasa. Tentunya birahi anaknya pun sama dengan birahinya.
Sang Ibu tersenyum mengangguk. "Ambillah lima orang untukmu," katanya ke- mudian. "Terima kasih, Bu."
Setelah ibunya berlalu, Ratu Siluman Tengko- rak Darah memanggil prajuritnya.
"Hamba Kanjeng Ratu!" "Bawa salah satu dari mereka kemari!" perin- tahnya. "Tapi, Kanjeng Ratu. Bukankah itu milik Kan- jeng Ibunda?" tanya prajurit berusaha mengingatkan.
"Jangan membantah! Ibunda telah mengizin- kan!" bentak Ratu Siluman Tengkorak Darah dengan mata melotot, menjadikan kedua prajurit tengkorak darah menurut. Setelah menyembah, kedua prajurit itu berlalu meninggalkan kamar ratunya.
Sang Ratu segera membaringkan kembali tu- buhnya di atas kasur seputih bunga melati dengan wangi cendana. Dari luar, masuk dua prajuritnya den- gan membawa seorang lelaki tampan dan gagah yang diculik oleh prajurit tengkorak darah.
Ratu Siluman Tengkorak Darah menggerakkan kepala, mengusir kedua prajuritnya untuk pergi. Tanpa membantah, kedua prajurit bermuka tengkorak itu meninggalkan kamar ratunya.
"Ayo Cah Bagus, mendekatlah," rayu Ratu Si- luman Tengkorak Darah dengan suara yang merang- sang. Lelaki muda yang tampan bertubuh setengah telanjang itu, kini melangkah mendekat. Kemudian dengan buas, lelaki yang diculik dari Desa Sela Kapilu itu menggeluti tubuh Ratu Siluman Tengkorak Darah.
"Hi hi hi...! Bagus! Teruskan...," rengek sang Ratu sambil mendesis-desis merasakan kenikmatan akibat gelutan dan lumatan lelaki muda itu. Matanya memejam-mejam, napasnya tersengal-sengal.
Keduanya terus bergelut. Satu persatu pakaian yang dikenakan mereka lepas. Sri Ratu menutup tirai kelambu tempat tidurnya yang di sudut-sudutnya ter- gantung tengkorak kepala lelaki.
Lama keduanya saling bergelut, sampai akhir- nya terdengar jeritan kematian dari lelaki muda itu.
"Aaakh...!" "Hik hik hik...!" Ratu Siluman Tengkorak Darah tertawa puas. Dibukanya tirai kelambu tempat tidur- nya. Saat itu tampak sesuatu yang sangat mengerikan. Tubuh lelaki gagah dan tampan itu, kini telah berubah menjadi sosok tulang belulang. "Kini kau adalah abdi- ku! Kau harus menuruti semua perkataan ku."
Manusia tengkorak itu mengangguk, lalu be- rangsur meninggalkan kamar.
"Hik hik hik...!" Ratu Siluman Tengkorak Darah tertawa melengking.
***

5
Empat prajurit penjaga pintu gerbang malam itu tengah melakukan tugas jaga. Seperti hari-hari biasanya, pintu gerbang Istana Kerajaan Bumi Wandra di-jaga ketat oleh empat orang prajurit.
Malam turun bersama udara dingin, sepertinya malam ini cuaca tidak sebaik malam-malam lalu. Meski setiap malam udara memang dingin, namun malam ini udara terasa sangat lain. Udara malam ini terasa sangat dingin, sampai tubuh keempat prajurit jaga menggigil. Padahal mereka telah merokok kawung, berusaha menghilangkan rasa dingin yang menusuk tulang sum-sumnya.
"Hoaaahhh?!" salah seorang dari keempat pra- jurit itu menguap lebar, merasa mengantuk. Selain dingin suasana malam itu, juga membuat mata menja- di be-rat "Ngantuk sekali aku...," keluhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir rasa kantuk yang menyerang matanya.
"Kerjamu memang molor, To," seloroh temannya yang bernama Dasir.
"Huh, enak saja kau ngomong, Sir. Tidak bi- asanya aku ngantuk begini," keluh Broto tangannya mengucak-ngucak matanya agar tidak mengantuk. Namun matanya masih tetap saja seperti digelayuti se- suatu.
"Iya ya. Aku juga merasakan hal serupa," sela Rukino membela Broto. "Matamu juga ngantuk."
"Wah, payah kalau begini. Tidak ada kopi lagi," sambung Jalari.
"Iya, tak ada kopi lagi," tambah Dasir akhirnya, turut mengeluh.
Baru saja keempat penjaga pintu gerbang itu selesai mengeluh, mata mereka yang semula agak ngantuk tiba-tiba membelalak lebar, manakala dalam jarak lima batang tombak di hadapan mereka terden- gar tanah merekah. Krak! Belum habis rasa kaget keempat prajurit jaga itu, mereka kembali dikejutkan oleh munculnya bau kemenyan dan wangi bunga kamboja.
"Heh, bau apa ini?" tanya Dasir dengan hidung kembang-kempis berusaha memastikan bau yang baru diciumnya.
"Bau kemenyan," desis Broto. "Heh, bau bunga kamboja," sambung Jalari dengan bulu kuduk meremang. Matanya tak berkedip tegang, memandang ke arah suara tanah retak terdengar. Saat itu, dari rekahan tanah di hadapan mereka, membubung asap putih kehitam-hitaman yang bergerak lamban seakan gerakannya hendak mengintai.
"Hai, asap apa itu?!" seru Broto. Ketiga temannya memandang asap putih kehitam-hitaman yang merayap naik di kegelapan. Kemudian asap putih kehitam-hitaman itu, membentuk ujud berwarna merah. Ujud itu semakin lama semakin nyata.
Mata keempat penjaga pintu gerbang membela- lak dengan mulut menganga, tatkala menyaksikan so- sok-sosok menyeramkan terbentuk dari asap putih ke- hitam-hitaman itu. Tapi keempat prajurit yang men- talnya sudah terlatih itu segera menyiapkan senjata berupa tombak yang semula disenderkan di dinding pintu gerbang.
"Siapa kalian?!" bentak Dasir sambil menga- rahkan mata tombak ke arah kawanan siluman teng- korak darah yang kini melangkah maju mendekati me- reka.
"Kurang ajar! Ditanya bukannya menjawab! Apakah kalian bisu, heh?!" bentak Jalari gusar.
"Ngik! Ngok! Nguk!" Hanya suara itu yang terdengar dari mulut para makhluk bermuka tengkorak. Hal itu semakin me- mancing kemarahan keempat prajurit jaga.
"Rupanya kalian nekat! Jangan salahkan kami kalau kalian kami bunuh!" ancam Rukino sambil mengajukan mata tombak ke arah gerombolan makhluk ganjil tersebut. Tapi para makhluk bermuka tengkorak itu bagai tidak peduli dengan ancaman mereka. Mak- hluk-makhluk bermuka tengkorak itu malah semakin maju mendekat, membuat mata keempat prajurit mendadak membeliak tegang menyaksikan beberapa wajah menyeramkan di hadapan mereka.
"Setaaan...!" pekik mereka berbarengan. Mata mereka semakin melotot tegang. Tubuh mereka gemetar ketakutan. Bulu kuduk mereka me- remang hebat dengan tengkuk terasa dingin.
Belum juga keempat prajurit jaga itu sadar dari rasa takutnya, tiba-tiba kawanan makhluk bermuka tengkorak itu mengarahkan telapak tangannya pada mereka. Dari telapak tangan makhluk-makhluk men- gerikan itu, seketika keluar sinar biru yang melesat ke tubuh para prajurit jaga.
Jrottt! "Wuaaa...!" Mulut keempat prajurit jaga itu memekik keras. Tubuh mereka seketika gosong. Tubuh mereka meng- gelepar-gelepar sesaat, kemudian diam tak bergerak dengan nyawa melayang.
"Ngik! Ngok! Nguk!" Pemimpin kawanan makhluk bermuka tengko- rak melambaikan tangannya untuk memerintah anak buahnya agar menerobos masuk.
Brakkk! Gerbang istana dilabrak. Pintu yang terbuat da- ri kayu jati, hancur berantakan. Suara jebolnya pintu gerbang, seketika menyentakkan prajurit jaga yang be- rada di pintu bagian dalam istana. Bergegas mereka bangkit dari duduknya. Dengan sigap mereka raih sen- jata. Lalu enam orang prajurit memburu ke arah datangnya suara itu.
Mata mereka membalalak seketika, menyaksi- kan sosok-sosok menyeramkan yang kini menghampiri mereka. Keempat prajurit itu berusaha menghalangi kesepuluh siluman tengkorak darah dengan menga- rahkan mata tombak ke tubuh lawan. Namun kesepu- luh makhluk bermuka tengkorak itu bagai tak takut. Kaki mereka terus melangkah, setapak demi setapak.
"Berhenti!" bentak salah seorang prajurit Kawanan siluman tengkorak darah tak peduli, mereka terus saja merambah maju. Tentu saja keenam prajurit itu menjadi kalap. Mereka menusukkan tom- baknya ke dada lawan. Tapi....
Trak! "Hah?!" Mulut mereka menganga, menyaksikan mata tombak mereka patah menjadi dua. Seakan-akan mata tombak mereka beradu dengan batu karang yang ko- koh.
"Berhenti!" bentak salah seorang prajurit Kawanan siluman tengkorak darah tak peduli, mereka terus merambah maju. Keenam prajurit itu men- jadi kalap. Mereka segera menusukkan tombaknya....
Trak! "Hah...?!" Prajurit-prajurit itu terlongong bengong, menyaksikan mata tombak mereka berpatahan!
Ketakutan seketika menjalari tubuh keenam prajurit jaga itu, mendapatkan makhluk-makhluk bermuka tengkorak yang berlumur darah tak mempan tusukan tombak. Mereka hendak lari untuk memanggil prajurit yang lain, tapi makhluk-makhluk menyeram- kan itu telah mendahului mereka.
Makhluk-makhluk menyeramkan itu membuka jari-jari tangannya yang hanya tulang belulang, kemu- dian mengarahkan telapak tangannya yang juga hanya berupa tulang ke arah keenam prajurit jaga. Dari tela- pak tangan mereka membersit sinar biru yang meng- hantam tubuh para prajurit jaga.
Crot! Desss! "Wuaaa...!" jerit kematian melengking dari mu- lut korban. Tubuh keenam prajurit itu sesaat mere- gang, lalu ambruk kehilangan nyawa.
Suasana istana kerajaan seketika menjadi gempar karena semua prajurit dan penghuni kerajaan lainnya terbangun mendengar jerit kematian keenam prajurit tadi.
"Tangkap mereka...!" seru Patih Rangga Wuni memerintah para prajuritnya untuk menangkap mak- hluk-makhluk menyeramkan yang ganas. Lelaki ini berbadan kekar dan bertelanjang dada. Rambutnya di- gelung ke atas dengan ikat kepala terbuat dari emas, penampilannya tampak gagah. Apalagi dengan kumisnya yang melintang. Dia langsung terkejut melihat makhluk-makhluk yang baru kali ini dilihatnya selama hidup.
Prajurit-prajurit yang telah bersiaga penuh saat diperintah oleh sang Patih, seketika bergerak mengepung kesepuluh kawanan siluman tengkorak darah.
"Tangkap mereka! Seraaang...!" kembali Patih Rangga Wuni berseru. "Heaaa!" "Cincang mereka!" Para prajurit bergerak serentak untuk menang- kap makhluk-makhluk menyeramkan itu. Senjata di tangan mereka, berkelebat merangsek kawanan silu- man tengkorak darah yang balas menyerang mereka.
"Nguik!" Setiap gerakan tangan dan kaki makhluk- makhluk tengkorak itu mendapatkan hasil. Nyawa pra- jurit yang terdekat menjadi korban.
Brettt! "Wuaaa!" Pertarungan sengit antara para prajurit kera- jaan melawan makhluk-makhluk tengkorak darah itu bergejolak seru. Beberapa prajurit berusaha menye- rang dengan membabatkan pedang. Tapi apa yang ter- jadi...?
Trakkk! Trakkk! Pedang di tangan para prajurit patah seperti sebatang kayu kering tak mampu memenggal kepala siluman tengkorak darah. Bahkan makhluk bermuka tengkorak itu semakin ganas menyerang.
"Serang terus...!" perintah Patih Rangga Wuni berusaha memberi semangat para prajuritnya. Tapi serangan para Prajurit Kerajaan Bumi Wandra yang ter- kenal unggul dalam bertempur, kini bagai serbuan gerombolan lalat menghadapi sepuluh siluman tengkorak darah. Senjata mereka yang terkenal mampu memburu nyawa, terpatah jika berbenturan dengan tangan atau tubuh lawan.
Menyaksikan hal itu, Pari Rangga Wuni segera mencabut keris pusakanya. Kemudian dengan geram tubuhnya melompat menerjang musuh. Ditusukkan keris 'Ki Gimring'nya ke tubuh lawan. Namun kejadian aneh terjadi. Keris pusaka 'Ki Gimring' di tangan Patih Rangga Wuni kini menghujam terus di dada salah satu siluman. Patih Rangga Wuni terperanjat kaget. Dia berusaha menarik keris pusakanya. Namun semakin keras dia menarik, semakin kuat pula kerisnya tersedot.
"Celaka! Ilmu apa yang digunakan oleh mak- hluk-makhluk ini?" gumam Patih Rangga Wuni dengan tegang. Segera dilepaskannya keris pusaka itu. Tu- buhnya bersalto ke belakang, kemudian dengan cepat dia mengirimkan serangan dengan pukulan sakti 'Semburan Naga'.
"Heaaa!" Wesss! Jledarrr! Satu siluman terkena ajian 'Semburan Naga' yang dilontarkan Patih Rangga Wuni. Makhluk bermu- ka tengkorak itu ambruk. Tubuhnya mengepulkan asap, lalu menghilang tanpa bekas.
Menyaksikan salah satu temannya binasa, pe- mimpin makhluk-makhluk bermuka tengkorak itu mengeluarkan suara aneh. Terdengar seperti siulan, namun melengking keras.
"Nguiiikkk...!" Bersamaan dengan itu, bersemburan asap pu- tih kehitam-hitaman dari dalam tanah. Kemudian nampaklah ujud-ujud menyeramkan berupa siluman
tengkorak darah. Jumlah mereka semakin banyak, membuat para prajurit kerepotan.
Patih Rangga Wuni yang menyaksikan jumlah makhluk itu bertambah banyak segera menyerang dengan pukulan-pukulan sakti 'Semburan Naga'. Den- gan tubuh berkelebat kian kemari, tangan Patih Rang- ga Wuni memuntahkan pukulan demi pukulan sak- tinya.
"Heaaa! Heaaa...!" Jlegarrr!
***

Meski banyak juga korban di pihak lawan sete- lah Patih Rangga Wuni melancarkan serangan dengan 'Semburan Naga', namun tenaga dalamnya terkuras juga. Hal itu jelas mempengaruhi penyerangannya. Tu- buh Patih Rangga Wuni kini kelihatan agak lemah da- lam menyerang. Makin jarang dia melakukan serangan dengan ajian 'Semburan Naga'. Kini dia lebih sering mengelakkan serangan-serangan lawan.
Pertarungan di halaman istana itu berjalan cu- kup alot. Korban di kedua belah pihak telah berjatu- han. Jumlah korban yang paling banyak diderita di pi- hak kerajaan. Korban di pihak kerajaan empat kali lipat dari korban di pihak makhluk bermuka tengkorak.
Belum juga pertarungan benar-benar tuntas, dari dalam istana terdengar jeritan anak raja yang meminta tolong.
"Tolong...! Tolooong...!" jerit Dyah Ayu Sawang Sari, putri raja tersebut.
Patih Rangga Wuni yang sedang berusaha menghalau lawan-lawannya, tentu saja terkejut. Tu- buhnya melompat meninggalkan arena pertempuran, lalu berkelebat masuk ke dalam istana. Dilihatnya se-
sosok makhluk bermuka tengkorak darah tengah membopong tubuh seorang lelaki muda yang menjadi suami Dyah Ayu Sawang Sari.
"Berhenti...!" bentak Patih Rangga Wuni. Wesss! Siluman yang tertangkap basah segera melan- carkan serangan dengan pukulan maut yang mengelu- arkan sinar biru ke arah Patih Rangga Wuni.
"Hop! Yeaaa...!" Patih Rangga Wuni bersalto di udara, mengelakkan serangan lawan. Sinar biru itu te- rus melesat, kemudian menghantam tiang penyangga istana.
Jlegarrr! Krak! Bummm! Tiang itu kontan hancur, terhantam pukulan maut yang dilontarkan makhluk berwajah tengkorak. Hampir saja tiang itu mengenai tubuh Patih Rangga Wuni, kalau tubuhnya tidak segera mencelat menge- lak. Namun setelah Patih Rangga Wuni dapat mengua- sai diri, matanya tidak melihat lagi makhluk yang membawa tubuh suami Dyah Ayu Sawang Sari.
"Bedebah! Ke mana perginya makhluk jahanam itu?!" umpat Patih Rangga Wuni marah. Tubuhnya segera mencelat keluar, namun di luar tidak ditemukan- nya gerombolan tengkorak darah lagi. Yang ada hanya gelimpangan mayat prajurit kerajaan dan sisa-sisa pra- jurit yang mematung dalam keadaan tertotok
"Kurang ajar!" maid Patih Rangga Wuni gusar, menyaksikan para prajuritnya banyak yang gugur, termasuk beberapa senapati dan hulubalang. Tinggal beberapa prajurit dan senapati yang masih hidup. Me- reka pun dalam keadaan tak berdaya.
"Paman Patih, apa yang terjadi?!" tanya Raja Brah Salagatri dengan wajah cemas, menyaksikan banyak sekali prajuritnya yang mati. Belum lagi dengan anaknya yang menangis menyebut-nyebut nama suaminya.
Ketika terjadi kejadian itu, sang Raja yang bi- jaksana dan sangat arif dalam memimpin tengah tertidur di ruang dalam istana. Tepatnya berada di sebelah selatan alun-alun istana tempat pertempuran berlang- sung. Hingga tidak tahu kejadian yang meletus di sa- na.
Sang Raja yang saat itu sempat terjaga segera lari ke alun-alun, ketika sayup-sayup didengarnya jeri- tan-jeritan kematian.
"Ampun, Baginda. Barusan saja terjadi perta- rungan. Serombongan manusia tengkorak menyerbu," tutur Patih Rangga Wuni setelah menyembah.
"Manusia tengkorak?!" pekik Raja Brah Salaga- tri dengan mata membelalak.
"Benar, Baginda." "Lalu apa yang terjadi?" Patih Rangga Wuni menceritakan semua keja- dian yang baru saja berlalu, tentang kerajaan yang diserang gerombolan tengkorak darah. Tengkorak da- rah itu kebal terhadap segala jenis senjata. Bahkan ke- ris milik Patih Rangga Wuni yang bernama 'Ki Gimring' tak mampu mengalahkan mereka. Malah keris itu dite- lan tubuh salah satu tengkorak darah.
"Begitulah ceritanya, Baginda. Mereka bukan manusia biasa, mungkin juga siluman. Sebab hamba rasa, tak mungkin manusia seperti itu dapat hidup."
Baginda Raja Brah Salagatri tercenung, benak- nya berusaha mencerna cerita Rangga Wuni. Rasanya cerita itu sangat aneh. Namun melihat korban dan menilai kejujuran Patih Rangga Wuni, mau tidak mau baginda raja harus mempercayai juga kata-katanya.
"Rama.... O, Kangmas Lingga diculik setan," isak Dyah Ayu, membuat Baginda Raja Brah Salagatri semakin percaya pada cerita patihnya.
"Hm, bencana apa yang tengah melanda kera- jaan?" gumam baginda raja lirih.
Mata baginda raja memandang mayat-mayat prajuritnya. Tubuh mereka bergelimpangan dalam keadaan yang mengenaskan, dikerubuti oleh binatang- binatang berbisa. Sangat menjijikkan sekali!
"Kau yakin mereka bukan manusia, Paman Pa- tih?" tanyanya, seakan ingin lebih yakin lagi.
"Ampun, Baginda. Hamba rasa mereka bukan manusia. Seperti yang hamba katakan, mereka tengkorak hidup. Tubuh mereka hanya tulang belulang...," tutur Patih Rangga Wuni.
"Benar, Rama. Apa yang dikatakan oleh Paman Patih Rangga Wuni memang benar," sambung Dyah Ayu di sela isak tangisnya. "Mereka menyeramkan. Tu- buh mereka hanya tulang belulang belaka. Sangat me- nakutkan, Rama. Dan mereka menculik Kangmas Lingga." Raja Brah Salagatri termangu diam. Matanya memandang ngeri ke mayat-mayat prajuritnya yang dikerumuni binatang-binatang berbisa yang entah da- tang dari mana. Ada juga mayat prajuritnya yang ha- ngus terbakar, seakan baru dipanggang di atas jilatan api.
"Hm, seumurku, baru kali ini aku melihat silu- man ikut campur dalam urusan manusia," gumam Raja Brah Salagatri masgul. "Mengapa kita yang dis- erang? Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan, Paman Patih"
"Ampun, Baginda. Kalau boleh hamba tahu, apa yang mencurigakan menurut perkiraan Baginda?" tanya Patih Rangga Wuni
Lelaki tua berusia sekitar enam puluh serta berpakaian warna keemasan, bertubuh sedang dengan penampilan tenang itu terdiam. Dihelanya napas pan- jang-panjang, berusaha membuang kesedihan yang menghujam dada.
"Besok kuperintahkan padamu untuk mengun- dang para pendekar dan para sesepuh istana untuk mengadakan rapat. Sebar juga pengumuman untuk mencari tahu tentang manusia tengkorak darah itu."
"Aku yakin ada maksud tersembunyi di balik kejadian ini."
"Daulat, Baginda. Segala titah Baginda, akan hamba junjung tinggi dan laksanakan," jawab Patih Rangga Wuni sambil menyembah.
"Bagaimana dengan Kangmas Lingga, Rama?" tanya Dyah Ayu dengan muka cemas.
"Tenanglah, Nduk. Kuharap para pendekar da- pat membantu kita membuka tabir misteri kejadian ini," gumam sang Raja sambil membimbing anaknya masuk, diikuti oleh Patih Rangga Wuni.
Suasana duka menyelimuti Kerajaan Bumi Wandra.
***

6
Pagi lahir kembali, dikawal angin yang berhembus sejuk. Langit terlihat ramah, tanpa awan kelabu yang menutupi. Pasar Ngaplak yang merupakan pasar ter-besar di wilayah Kerajaan Bumi Wandra pagi itu tampak banyak pengunjungnya. Rupanya ada sesuatu yang mendorong orang-orang berdatangan ke pasar itu.
Di sudut pasar, pada sebuah penyangga bangunan pasar terdapat sebuah pengumuman dari kera- jaan. Itu pula yang membuat para pedagang maupun yang hendak berbelanja berkerumun di sana. Mereka ingin mengetahui apa isi pengumuman tersebut
Bukan hanya pedagang dan orang-orang yang hendak berbelanja di pasar itu yang berkerumun membaca pengumuman dari kerajaan. Penduduk di sekitar Pasar Ngaplak pun turut datang. Mereka sama- sama ingin mengetahui isi pengumuman yang diedar- kan oleh raja.
Barang siapa yang dapat memberikan keteran- gan tentang manusia tengkorak atau menangkap pe- mimpinnya, raja akan memberi hadiah seratus keping uang emas. Patih Kerajaan Rangga Wuni
"Wah, hadiahnya banyak sekali! Tentunya ba- ginda sangat murka terhadap manusia bermuka teng- korak," ujar seorang penjual di pasar itu setelah mem- baca pengumuman.
"Wah, kalau aku bisa menangkap mereka, ten- tu aku akan kaya raya. Aku bisa menjadi saudagar," celoteh yang lainnya.
"Hanya pemuda tampan dan gagah serta beril- mu tinggi saja yang bisa menangkap mereka," sela seorang wanita cantik berkerudung biru dari kebaya biru pula serta kain batik coklat tua, menyentakkan semua orang di tempat itu yang langsung memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kok Nyai tahu? Apa Nyai pernah melihat mere- ka?" tanya seorang lelaki yang biasa berjualan di pasar.
"Ya, bukannya tahu. Tapi siapa sih yang bisa
menangkap mereka? Orang-orang kerajaan saja tak dapat berbuat apa-apa," sahut wanita cantik tadi. Kemudian dia berlalu begitu saja dari tempat itu, diikuti oleh pemandangan seluruh orang yang terkesima ke- cantikan wanita itu.
Setelah wanita cantik itu berlalu jauh, barulah mereka berdecak kagum atas kecantikannya.
"Ck ck ck! Perempuan kok bahenol amat..." "Iya ya? Istri siapa ya? Cantik sekali." "Wah, baru kali ini kulihat wanita cantik dan sebahenol dia," sambung yang lain.
Orang-orang di pasar itu yang semula membi- carakan masalah pengumuman sang Raja, kini malah beralih membicarakan wanita berkerudung biru yang cantik jelita. Wanita yang memiliki kecantikan sem- purna.
"Wah, kalau aku bisa menangkap manusia bermuka tengkorak, ingin rasanya aku mencari wanita cantik tadi. Kujadikan dia istriku," gumam Dakir, pen- jual tempe yang giginya mancung ke depan.
"Mana dia mau sama kamu, Kir...!" seloroh Parmin. "Loh, namanya saja kaya. Siapa sih yang tidak mau sama orang kaya?" kelit Dakir dengan membu- sungkan dada.
"Huh, lagakmu saja yang sok berani. Baru ke- temu kucing saja kamu lari...!"
Suasana pagi itu diisi oleh gumaman khayal tentang hadiah dari sang Raja dan wanita cantik ber- kerudung biru yang tadi berada di pasar itu.
***

Sementara itu, tidak begitu jauh dari pasar Ngaplak, tampak dua sejoli melangkah masuk ke dalam sebuah kedai yang telah banyak pengunjungnya. Lelaki tampan dan wanita cantik jelita itu, tidak lain Sena, si Pendekar Gila dan Mei Lie, si Bidadari Penca- but Nyawa.
Baru saja kedua pendekar muda itu duduk, suasana di luar kedai seketika menjadi riuh dengan kehadiran dua orang prajurit istana yang sedang me- masang pengumuman di pohon ara yang besar. Lang- sung saja semuanya bergerak mendekati pohon ara tempat kedua prajurit kerajaan memasang pengumu- man.
"Pengumuman dari baginda yang mulia Raja Brah Salagatri!" seru salah seorang prajurit yang tidak memasang pengumuman. "Diumumkan bagi siapa saja yang bisa menangkap atau memberi petunjuk tentang keberadaan manusia tengkorak akan diberi hadiah se- ratus keping uang emas dari raja!"
Bisik-bisik pun terdengar di sana-sini. Mereka pada umumnya ingin sekali mengikuti pengumuman itu, menangkap tengkorak darah yang sudah banyak menculik pemuda-pemuda tampan dan gagah.
"Memang kalau tidak segera dibasmi, bisa-bisa lelaki tampan di kerajaan ini akan habis," celoteh seorang warga.
"Benar! Kita harus secepatnya membasmi teng- korak darah! Kalau tidak, maka lelaki muda dan tam- pan akan habis!" sambung yang lainnya.
"Basmi tengkorak darah...!" "Hancurkaaan...!" Kemarahan penduduk yang sudah mendengar kekejian sepak terjang tengkorak darah seketika me- luap. Mereka berteriak-teriak untuk membasmi gerom- bolan tengkorak darah yang telah meresahkan pendu- duk di Kerajaan Bumi Wandra.
"Tenang saudara-saudara. Tenang...!" seru prajurit yang membacakan pengumuman. "Ada dua pengumuman lagi yang harus kalian dengarkan."
"Katakanlah, kami ingin segera mendengar!" se- ru warga.
"Apakah ada yang tertangkap?" tanya yang lain. "Cincang saja! Preteli tulang-tulangnya!"
"Kasihkan pada kucing dan anjing biar digero- goti...!" Betapa menggebu amarah warga. Mereka tam- paknya tidak sabar lagi untuk mengetahui apa yang te- lah terjadi.
"Berita kedua mengenai berita duka!" kata pra- jurit yang menjadikan semua warga terdiam. "Dengar oleh kalian baik-baik. Kemarin malam, istana kerajaan telah diserang oleh kawanan tengkorak darah. Mereka banyak membunuh prajurit dengan cara yang sangat keji! Cara iblis! Bukan hanya itu, suami Putri Dyah Ayu diculik. Sampai sekarang belum diketahui berada di mana...."
Semua warga membelalakkan mata mendengar isi pengumuman duka cita itu. Wajah mereka terlihat marah. Mungkin kalau di situ ada salah satu tengko- rak darah, mereka akan langsung menyerang dan mempreteli tulang belulangnya.
"Berita yang kedua. Jika di antara kalian ada- lah seorang pendekar, Baginda berharap agar sudi datang ke istana...!"
Semua terdiam saling pandang, berusaha ber- tanya-tanya siapa di antara mereka yang merupakan pendekar. Sedangkan Pendekar Gila dan Bidadari Pen- cabut Nyawa nampak masih tenang menyantap maka- nannya. Seakan mereka tidak menghiraukan pengu- muman itu.
"Ki dan Nisanak, dilihat dari pakaian yang ka- lian kenakan, tentunya kalian dari rimba persilatan,"
tegur pemilik kedai setelah menghampiri keduanya.
Sena tersenyum bodoh. Tangan kirinya meng- garuk-garuk kepala. Dipandanginya pemilik kedai yang tadi berkata, membuat lelaki berusia sekitar empat pu- luh tahun itu tersenyum.
"Aha, pantaskah kami menjadi pendekar, Ki? Hi hi hi..! Lucu sekali kalau kami ini pendekar," oceh Sena sambil tertawa cekikikan. Pemilik kedai menge- rutkan kening melihat tingkah pemuda tampan be- rambut ikal gondrong dengan pakaian rompi kulit ular yang seperti orang gila.
Mei Lie menyikut kekasihnya agar diam. Sena menurut diam, meski sempat menggerutu.
"Kakang, tampaknya gerombolan siluman itu telah menjarah kerajaan," bisik Mei Lie.
"Ya! Aku heran, mengapa istana juga dijarah? Tengkorak darah benar-benar cari penyakit," gumam Sena setengah berbisik.
"Jadi kalian benar dari rimba persilatan...?" tanya pemilik kedai.
"Aha, benar katamu, Ki. Tapi kami bukan pen- dekar," sangkal Sena semakin bertingkah konyol. Lagi- lagi pemilik kedai yang bernama Ki Sanip mengerutkan kening. Tampaknya lelaki itu bingung dengan ucapan pemuda tampan di depannya.
"Maksud Kisanak...?" tanya Ki Sanip belum jelas.
"Hi hi hi...! Kau kebingungan, Ki. Ah ah ah, be- gini. Kami memang dari dunia persilatan, tapi kami bukan pendekar. Kami hanya seorang pengelana saja," jawab Sena, berpura-pura.
"Ah, rupanya Kisanak hanya merendahkan diri. Tak mungkin orang persilatan berkelana kalau bukan seorang pendekar."
"Ah, mengapa begitu, Ki?" tanya Sena. "Apakah
tidak boleh kalau orang yang bukan pendekar berkelana untuk mencari pengalaman?"
"Ya, boleh saja. Namun rimba persilatan ini ga- nas, Kisanak. Jika macan buas, tapi manusia lebih buas. Macan tidak akan memangsa jenisnya sendiri. Tapi manusia, tega membunuh manusia lain," tutur Ki Sanip, bijak.
"Hi hi hi...! Ah ah ah, kau sungguh hebat, Ki. Petuahmu lebih sakti dari ilmu kedigdayaan. Tanpa pe- tuah yang baik, orang sakti akan menjadi sesat. Bukan begitu, Ki...?" tambah Sena turut berpetuah, membuat Ki Sanip semakin heran dengan pemuda bertingkah gi- la itu. Tingkahnya memang seperti orang gila, tetapi pengalaman dan pikirannya seperti orang sehat. Bah- kan seperti seorang pendekar yang digdaya.
Siapa sebenarnya pemuda gondrong ini? Tin- dak-tanduknya seperti orang gila. Namun cara bicara dan tata kramanya seperti orang berpendidikan tinggi dan berilmu, gumam Ki Sanip dalam hati. Matanya masih menatap wajah Sena dengan seksama, seperti berusaha meyakinkan siapa sebenarnya pemuda tam- pan yang terkadang tertawa sendiri, lalu cengengesan, atau tersenyum-senyum bodoh.
Ketika Sena dan Mei Lie tengah ngobrol dengan Ki Sanip, dari luar masuk seorang lelaki tinggi besar berkepala botak. Wajahnya amat garang. Kumis tebal yang panjang melintang menghiasi atas bibirnya. Alis mata lelaki tinggi besar itu lebar. Di tangannya terda- pat dua golok besar. Hidungnya mancung. Pakaian le- laki itu terbuat dari kulit serigala berwarna belang kuning kecoklatan. Umurnya kurang lebih empat pu- luh tahun.
Lelaki tinggi besar yang memeluk sepasang go- lok besar seketika bertingkah sopan, ketika dilihatnya dua orang yang tengah makan di kedai itu.
"Oho, rupanya Pendekar Gila hadir di sini," ka- ta lelaki yang bergelar Serigala Merah Golok Kembar itu sambil menjura hormat "Terimalah salam dari Seri- gala Merah."
Ki Sanip tersentak, setelah mendengar Serigala Merah menyebut nama pemuda tampan yang kini ter- tawa tergelak-gelak
"Jadi, dia Pendekar Gila?" gumam Ki Sanip da- lam hati dengan mata membelalak. "Pantas..., pan- tas...."
Pendekar Gila bangkit dari bangkunya, diikuti oleh Mei Lie. Mereka membalas juraan Serigala Merah yang cukup terperangah, melihat gadis yang duduk bersama Sena.
"Oho, rupanya Bidadari Pencabut Nyawa pun hadir di sini. Maaf, mata tuaku kurang dapat melihat dengan baik."
"Ah, tidak mengapa, Kisanak. Silakan duduk. Mari kita makan bersama," ajak Mei Lie dengan penuh wibawa. Ki Sanip semakin terkejut, setelah tahu bahwa gadis Cina itu juga seorang pendekar yang namanya akhir-akhir ini menjadi buah bibir. Julukannya cukup membuat para tokoh rimba hitam harus berpikir pulu- han kali untuk menghadapinya. Apalagi dengan Pe- dang Pusaka Bidadari yang ampuh, sulit bagi para pendekar pedang untuk bisa menandinginya.
Serigala Merah pun duduk bersama kedua pendekar muda yang cukup disegani baik oleh kawan maupun lawan.
Ki Sanip segera mengambil makanan untuk Se- rigala Merah.
Ketiga pendekar itu pun menyantap makanan sambil membicarakan masalah yang telah terjadi di rimba persilatan wilayah timur. Malah mereka kini
membicarakan masalah tengkorak darah yang telah berani menjarah istana.
"Bagaimana menurutmu dengan masalah ini, Tuan Pendekar?" tanya Serigala Merah ingin tahu tanggapan Sena.
Sena nyengir sambil menggaruk-garuk kepala sesaat
"Aha, bagaimana aku menjelaskannya? Hi hi hi...! Kau ini lucu sekali, Sobat. Mana aku tahu masa- lah ini?" sahut Sena sambil cengengesan.
"Ya ya, aku tahu. Tapi aku baru saja membaca pengumuman itu. Di situ dijelaskan, bagi siapa saja yang dapat menangkap tengkorak darah akan menda- patkan hadiah seratus keping uang emas. Apa kau ti- dak berminat mengikuti sayembara itu."
Sena masih cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala. Setelah melirik Mei Lie yang hanya ter- senyum, Sena menjawab.
"Ah, kurasa tidak, Sobat. Apakah kau berkenan mengikutinya?" balik Sena bertanya.
"Ya! Aku ingin mengikutinya," jawab Serigala Merah. "Dapatkah kau memberi penjelasan apa yang seharusnya kulakukan?" pinta Serigala Merah. Sena kembali tertawa cekikikan. "Aha, kurasa aku hanya bisa berkata kau harus berhati-hati, Sobat. Yang akan kau hadapi bukan ma- nusia seperti kita."
"Jadi...?" alis Serigala Merah terangkat "Para tengkorak darah adalah gerombolan si- luman," jawab Mei Lie, mendahului kekasihnya.
"Siluman?!" "Ya, begitulah. Mereka bukanlah manusia, tapi siluman," ulang Mei Lie menegaskan.
"Hm." Serigala Merah bergumam tak jelas. Ma- tanya kini menerawang keluar. "Kalau memang tengkorak darah adalah siluman. Tentu sangat sulit bagi ma- nusia untuk mengalahkannya," nilai Serigala Merah.
"Kisanak, ada baiknya kau mencoba. Tapi se- perti yang kukatakan tadi, hati-hatilah. Percayakan semua jiwa dan ragamu pada Sang Hyang Widi. Hanya dia yang menentukan hidup dan mati makhluk di du- nia ini," tutur Sena berusaha menasihati.
"Jadi menurutmu aku bisa mengikuti sayemba- ra itu?" "Aha, semua orang bisa, Sobat. Kau, aku, Bida- dari Pencabut Nyawa, dan lain-lainnya, bisa mengikuti. Semua kini tergantung dari nasib dan kehendak Sang Hyang Widi. Jika nasib kita baik atas kehendak Sang Hyang Widi, tentu kita akan menang...," tutur Pende- kar Gila. Kemudian dia menambahkan.... "Bagaimana- pun juga, suatu saat aku harus mengikuti, Sobat. Secara langsung maupun tak langsung, aku pasti akan turut berusaha memberantas segala macam bentuk kejahatan dan keangkaramurkaan di muka bumi ini."
"Ya ya, aku mengerti," sahut Srigala Merah. "Kalau begitu aku bisa mengikuti sayembara itu?"
"Ya ya, kami berdoa, semoga engkau dalam lin- dungan Sang Hyang Widi," kata Mei Lie.
"Terima kasih. Dengan dorongan semangat dari kalian, tekadku semakin bulat," hatur Serigala Merah.
"Kita makan dulu, Sobat," ajak Sena. Ketiganya kembali menyantap makanan mere- ka. Setelah selesai, Serigala Merah membayar semua makanan yang telah mereka pesan. Kemudian mereka keluar meninggalkan kedai itu.
"Hendak ke arah mana tujuan kalian?" tanya Serigala Merah.
"Ah, entahlah, Sobat. Kami hanya mengikuti langkah kaki kami. Ke mana angin bertiup, ke sana kami menuju," jawab Sena.
"Kalau begitu kita berpisah dulu. Semoga kita dapat bertemu di lain waktu. Permisi...," Serigala Me- rah menjura hormat, dan dibalas oleh Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa (Mengenai julukan Mei Lie sebagai Bidadari Pencabut Nyawa, silakan anda ikuti serial Pendekar Gila dalam episode "Titisan Dewi Kuan Im" dan "Pedang Pencabut Nyawa").
Kedua pendekar muda itu sesaat mematung di tempat yang berjarak sekitar dua puluh lima batang tombak dari kedai. Mata mereka memandang ke seke- liling yang nampak asri dengan barisan tumbuhan hijau.
"Hendak ke mana kita, Kakang?" tanya Mei Lie. "Aha, kenapa kau bertanya? Bukankah kita se- dang bertualang? Ke mana angin berhembus, ke sana pula kita melangkah," jawab Sena berseloroh, membuat Mei Lie gemas.
"Kau nakal, Kakang. Selalu saja menggodaku!" sungut Mei Lie manja.
"Karena aku suka menggodamu. Apa tak bo- leh...?"
"Hm...," Mei Lie bergumam, sedang matanya menatap penuh arti ke wajah tampan Sena yang saat itu tersenyum. "Kakang...."
"Hm, ada apa?" tanya Sena sambil menengok ke gadis pujaannya.
"Lama kita berpisah. Saat itu, ingin rasanya aku bertemu denganmu. Tapi setelah bertemu, kau nakal. Kau suka menggodaku," kata Mei Lie dengan suara manja.
Sena tertawa ngakak. "Kalau tidak menggoda, lalu harus bagaimana?" tanya Sena berpura-pura tidak tahu.
Mei Lie terdiam, tersipu-sipu malu. Sena me- langkah mendekati kekasih hatinya. Dipegangnya
pundak Mei Lie dengan lembut. Kemudian dibelainya rambut Mei Lie.
"Kita berangkat, Mei Lie?" ajak Sena. "Kakang belum mengatakan padaku," desak Mei Lie cemberut.
"Tentang apa?" "Ketika kita berpisah," jawab Mei Lie. "Aha, kurasa kau telah mengerti, Mei Lie. Seperti hatimu, aku pun merasakan hal yang serupa...," jawab Sena dengan suara meyakinkan, membuat Mei Lie tersenyum.
Dengan iringan angin yang bertiup lembut, ke- duanya pun melangkah untuk meneruskan perjalanan mereka.
***

 7
Suasana Istana Kerajaan Siluman Tengkorak Darah nampak sibuk. Mereka hendak mengadakan pesta. Seluruh siluman tengkorak darah, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Umbul-umbul berbaris sepanjang jalan alam siluman. Benar-benar hendak melaksanakan satu acara besar.
Di ruangan lebar yang biasanya digunakan untuk pertemuan, duduk di singgasana seorang wanita muda yang cantik berpakaian minim. Wanita cantik yang ternyata Ratu Siluman Tengkorak Darah, duduk dengan penuh keanggunan. Matanya yang lentik, memandang tajam pada para punggawa kerajaan yang berupa tengkorak darah juga. Para punggawa, hulu- balang dan patih kerajaan duduk di ruangan lebar itu
Sulit untuk membedakan mana yang prajurit, mana yang hulubalang dan mana yang patih serta tu- menggung. Semuanya bermuka tengkorak menyeram- kan. Hanya ada pembeda bagi mereka, yaitu darah yang melumuri muka tengkorak
Patih kerajaan memiliki banyak lumuran darah di muka. Bahkan menutupi semua mukanya. Panglima perang dan para hulubalang serta tumenggung pun memiliki ciri lain. Darah yang menutupi muka mereka lebih sedikit daripada patih.
Begitulah seterusnya. Semakin rendah pang- katnya, semakin pucat wajah tengkorak itu.
Ada juga ciri lain dari para tengkorak darah, yaitu pada lengan bajunya. Kalau patih lengan bajunya terdapat bunga kamboja sebanyak empat kuntum. Panglima perang tiga, hulubalang dua kuntum, sedangkan tumenggung satu dan prajurit tak ada.
"Paman Patih, hari ini ibunda hendak melaku- kan upacara usia yang ke enam puluh lima tahun. Un- tuk itu, aku titahkan pada Paman Patih agar menjaga istana dengan ketat. Jangan sampai ada bangsa lain yang masuk dan membuat kekacauan. Kalau ada, kuperintahkan membunuhnya!"
"Sendika Kanjeng Ratu," jawab Patih Tengkorak Darah.
"Kini kalian boleh bubar, jangan sekali-sekali menggangguku," kata Ratu Siluman Tengkorak Darah.
"Sendika, Sri Ratu." Setelah melakukan sem- bah, para prajurit dan pembesar istana pun mundur dari hadapan ratu mereka yang kini bangkit dari sing- gasananya, melangkah masuk ke dalam kamar yang telah tersedia seorang lelaki muda yang gagah, berpa- ras tampan, serta bersih.
Lelaki muda itu ternyata Lingga, suami Dyah Ayu yang diculik. Lingga yang sudah terpengaruh oleh ilmu sihir Ratu Siluman Tengkorak Darah kini bagai
lupa segalanya. Tubuhnya terbaring telanjang di atas tempat tidur.
Dari luar, masuk Ratu Siluman Tengkorak Da- rah. Bibir sang Ratu mengurai senyum. Saat itu pula, Lingga segera bangkit. Bibir lelaki tampan itu men- gembangkan senyum. Tampaknya dia benar-benar se- nang melihat kedatangan Ratu Siluman Tengkorak Da- rah.
"Anak bagus, rupanya kau telah lama menung- gu," desis Ratu Siluman Tengkorak Darah sambil men- gulurkan tangannya, yang disambut oleh Lingga den- gan pelukan mesra. Tidak hanya sampai di situ, Lingga kemudian menciumi seluruh wajah Ratu Siluman Tengkorak Darah, lalu merambah turun ke leher Ratu Siluman Tengkorak Darah yang jenjang dan menan- tang.
Lingga yang sudah terbius pengaruh sihir Ratu Siluman Tengkorak Darah, benar-benar lupa sega- lanya. Bahkan istri tercintanya kini tak ada lagi di ke- dalaman hatinya, yang ada hanya nafsu liar yang mendidih. Lama kemudian membisu. Hanya desah- desah napas jalang saja yang terdengar. Sampai akhir- nya....
"Aaakh...!" Tiba-tiba Lingga mengejang. Matanya melotot menahan sekarat. Sedangkan Ratu Siluman Tengkorak Darah tertawa cekikikan. Seakan senang menyaksikan bagaimana Lingga bergelinjang menghadapi maut
"Aaakh!" "Hik hik hik...!" Kau puas, Cah Bagus! Kini ayahku akan melihat bagaimana pembalasan ibu! Hua ha ha...!" "Akh, ampun...!" jerit Lingga terus menggeliat- geliat kesakitan. Bagian bawah tubuhnya bagai ada yang menggigit. Bahkan kini seperti putus. Darah me-
nyembur dari kemaluan Lingga yang putus. Sedangkan dari kemaluan Ratu Siluman Tengkorak Darah, tam- pak seekor binatang berbentuk ular tengah melumat kemaluan Lingga.
Lingga menggelepar-gelepar sekarat, kemudian terkulai dengan nyawa melayang.
"Hua ha ha...! Ayah, lihat pembalasan ibu! Li- hat! Kau telah menyia-nyiakan aku dan ibu! Kini kau lihatlah semua!" tawa Ratu Siluman Tengkorak Darah menggelegar, disertai gemuruhnya angin yang memba- dai. Entah siapa yang disebut sebagai ayahnya.
"Prajurit!" Dua orang prajurit bergegas masuk, kemudian menyembah.
"Hamba Kanjeng Ratu...." "Bawa tubuh lelaki ini, buang ke alam manusia di dekat istana!" perintah Ratu Siluman Tengkorak Darah.
"Sendika, Sri Ratu." Kedua orang prajurit yang bermuka tengkorak itu segera mengangkat mayat Lingga keluar mening- galkan kamar ratu mereka yang masih tertawa.
***

"Mayat..! Mayaaat..!" Seorang prajurit yang sedang bertugas mengeli- lingi tembok istana menjerit-jerit, ketika menyaksikan sesosok tubuh tanpa pakaian dikerumuni oleh bina- tang-binatang berbisa menjijikkan. Rupanya mayat Lingga yang mengalami kematian mengerikan dibuang di tempat itu.
"Mayat! Mayat Den Lingga...!" Sepontan semua penghuni istana termasuk sang Raja keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mata
mereka serentak membelalak, menyaksikan mayat Lingga tiba-tiba telah tergolek di buritan istana dalam keadaan mengerikan.
"Kangmas Lingga...!" Dyah Ayu yang melihat suaminya telah mati da- lam keadaan mengenaskan seketika menjerit histeris. Tubuhnya gontai, lalu pingsan tak kuat menerima guncangan batin.
Patih Rangga Wuni dan Baginda Raja Brah Sa- lagatri menghela napas dalam-dalam.
Kematian yang sama dialami oleh para prajurit kerajaan tiga hari lalu. Tapi mayat Lingga kini lebih mengerikan, karena kemaluannya hilang. Seperti digi- git oleh binatang berbisa, yang menjadikan tubuhnya membiru.
"Ini keterlaluan!" dengus baginda raja geram. "Kita harus segera meringkus pelaku semua ini. Aku tak peduli itu bangsa siluman atau manusia!"
Patih Rangga Wuni terdiam. Sulit baginya un- tuk mengutarakan kata-kata. Bagaimanapun juga, dia harus berpikir beratus kali untuk bisa menjawab se- mua misteri ini. Kalau benar pelakunya siluman, apa dasarnya sehingga bangsa siluman begitu dendam ter- hadap Kerajaan Bumi Wandra?
"Patih, kau harus memanggil para pendekar untuk datang ke istana secepatnya. Aku tak ingin kor- ban semakin banyak berjatuhan. Kita harus segera menghentikan semuanya!" dengus baginda raja marah. "Sendika, Yang Mulia. Hamba akan segera men- jalankan tugas."
"Lakukanlah sekarang juga." "Sendika, Yang Mulia." Patih Rangga Wuni segera menyembah, kemu- dian tubuhnya pun berlalu meninggalkan buritan ista- na di mana raja dan kerabat istana masih berdiri di tempat itu.
Sore telah menjelang. Sebentar lagi kegelapan malam akan segera merambah. Matahari terpulas le- lah. Suasana duka menyelimuti kerabat istana. Mereka tak pernah tahu apa yang telah terjadi belakangan ini. Semua masih gelap, menjadi tabir misteri yang sulit untuk dikuak.
Orang-orang istana tampak sibuk mengurus mayat Lingga. Wajah mereka dirundung duka yang da- lam atas kematian menantu baginda raja. Mereka tidak tahu, mengapa mesti keluarga raja yang menjadi kor- ban. Padahal baginda raja sangat arif dan bijaksana memimpin kerajaan. Tak pernah sekalipun baginda berlaku tidak adil dan kasar, yang akan membuat orang dendam.
Mereka tak tahu. Semua orang tak tahu, kalau ada sesuatu yang terjadi di balik semua itu. Dendam seorang wanita dan anaknya yang merasa disia-siakan. Dendam yang membuat keduanya bersumpah untuk mengabdi di alam kegelapan.
Dendam itu kini terwujud, setelah diterimanya kedua ibu dan anak menjadi bangsa siluman, bangsa kegelapan. Dengan cara mengorbankan jiwa dan raga mereka. Kalau saja semuanya tahu, tentu semua tak akan bingung dan resah menghadapi kejadian- kejadian yang aneh dan penuh misteri.
Hujan rintik turun mengiringi duka keluarga is- tana atas kematian Lingga. Dengan derai air mata yang berbaur dengan derai hujan, mayat Lingga dikebumi- kan sebagaimana adat kerajaan.
Dyah Ayu masih terseguk-seguk, bahkan bebe- rapa kali jatuh pingsan, tak kuat menahan kesedihan yang dialaminya. Mereka baru menikah sebulan yang lalu. Dalam keadaan yang seharusnya gembira, tiba-
tiba tengkorak darah merenggut Lingga dari pelukan- nya. Lalu setelah tiga hari menghilang, tiba-tiba Lingga diketemukan telah menjadi mayat yang sangat menge- rikan.
"Ibu, mengapa semua ini terjadi? Hu hu hu...!" "Entahlah, Cah Ayu. Ibu juga tak mengerti," ka- ta ibunda Dyah Ayu sambil memeluk tubuh anaknya. Tangannya dengan lembut membelai-belai rambut sang Anak.
Wanita cantik jelita yang sangat sayang pada anaknya itu bertubuh ramping dengan rambut disang- gul. Wajahnya tampak lembut, tenang, dan penuh ka- sih. Matanya lentik serta berbibir mungil, meski usianya sudah menginjak tua. Sabar sekali tingkah la- kunya.
"Sudahlah, Dyah. Mungkin semua ini suratan Sang Hyang Widi!" tambah ayahnya, Raja Kerajaan Bumi Wandra dengan masgul.
"Tapi, Rama, Mengapa harus kita yang meneri- manya? Mengapa?"
Raja Brah Salagtari menghela napas dalam- dalam. Dengan air mata berlinang, Raja Brah Salagatri berusaha menjawab pertanyaan anaknya.
"Sang Hyang Widi tak pandang siapa manusia itu, Dyah. Kalau dia menghendaki, pasti akan terjadi. Mungkin hari ini Lingga, besok siapa tahu Ayah."
"Tapi ini bukan kehendak Sang Hyang Widi, Rama," bantah Dyah Ayu.
"Sudahlah, Cah Ayu. Terimalah semuanya den- gan hati yang tabah. Serahkan semuanya pada Sang Hyang Widi. Semoga Dia menerima arwahnya," hibur sang Ibu Suasana duka masih menyelimuti mereka. Pe- kuburan kerabat istana kembali sepi dan senyap. Hanya terdengar desah angin yang bergesek dengan
daun-daun pohon kering. Berderit lirih penuh duka.
Satu persatu mereka meninggalkan pekuburan itu, masih dengan membawa tangis. Pekuburan pun benar-benar sepi. Malam merambat datang, dengan kegelapannya yang terasa semakin mencekam.
Krakkk! Tiba-tiba kuburan tempat Lingga dimakamkan berbunyi. Ada sesuatu yang terjadi. Bersamaan dengan itu, terdengar suara berseru sayup-sayup.
"Atas nama tengkorak darah! Bangunlah...!" Krakkk! Werrr! Angin menderu dengan kencang, seiring dengan suara pecahnya tanah di kuburan Lingga. Dari kegela- pan yang mencekam, tampak se sosok tubuh berdiri. Tangannya terangkat ke atas. Matanya tajam meman- dang kuburan Lingga yang merekah.
"Bangkitlah! Atas nama tengkorak darah. Bangkit! Bangkit dari kuburmu! Bunuh Raja Brah Sa- lagatri! Bunuh...!"
Krakkk! Duarrr! Ledakan dahsyat menggelegar, memecahkan kesunyian malam yang dingin, disertai rintik hujan ge- rimis. Sepasang tangan kaku dengan kuku-kuku pan- jang, merayap naik perlahan-tahan. Lalu tampak-lah kepala Lingga yang mengerikan. Kepala menyeramkan itu muncul ke permukaan tanah. Matanya berwarna merah menyala. Kemudian sosok menyeramkan itu berdiri di atas liang kuburnya. Matanya memandang sosok wanita yang berdiri di tengah kegelapan.
"Aku bangkit..." "Kemarilah!" seru wanita dalam kegelapan me- merintah.
Sosok mayat hidup itu melangkah mendeka- tinya.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya mayat hi- dup itu dengan suara berat dan serak. Bau busuk me- nebar di udara malam.
"Hua ha ha...! Bagus! Bagus...! Kau adalah ab- diku yang setia! Kau akan menjadi penghancur keluar- ga kerajaan! Bawa anak lelaki Brah Salagatri! Bawa ke tempatku!" perintah wanita yang berdiri di kegelapan.
"Hanya itu?" tanya mayat hidup. "Untuk kali ini. Hanya itu!" "Baik, aku akan melakukannya." "Bagus! Pergilah segera...!" Wanita itu menghilang. Kini tinggallah mayat hidup yang melangkah membelah malam. Desah na- pasnya yang berat, membuat suasana di sekelilingnya semakin mencekam. Dentuman langkahnya pun se- makin membahana, menggetarkan kesunyian.
Mayat hidup itu melangkah menuju istana. Enam orang penjaga pintu gerbang tersentak, manakala melihat sesosok menyeramkan menuju ista- na. Mata mereka membelalak tegang. Sepontan mereka menjerit ketakutan, membuat orang-orang istana ter- sentak dan berhamburan lari keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Mayat hidup...!" seru mereka ketakutan "Lingga! O, apa yang terjadi denganmu?" tanya Raja Brah Salagatri dengan mata melotot tegang, me- nyaksikan mayat menantunya yang baru dikubur sore tadi, kini bangkit. Mata Lingga bersinar merah menye- ramkan. "Gerrr! Minggir...!" bentak mayat hidup itu sambil menggerakkan tangan.
Wettt! Para penjaga pintu gerbang dicengkeramnya, kemudian dengan enteng dilemparkan keenam prajurit itu sampai melayang di udara. Lalu jatuh ke tanah
dengan nyawa melayang.
Menyaksikan kebengisan mayat Lingga, Raja Brah Salagatri segera memerintah para prajuritnya untuk membunuh mayat itu. "Bunuh iblis itu...!" Serentak berpuluh prajurit bergerak maju untuk menyerang. Dengan pedang dan tombak, mereka menyerang mayat Lingga.
Swing, swing, swing! Jlep, jlep, jlep! Puluhan anak panah dan tombak menghujani tubuh mayat Lingga yang hidup kembali. Beberapa ba- gian tubuhnya tertembus telak. Bahkan ada yang sempat menembus hingga bagian belakang tubuh. Tapi mayat hidup itu bagai tidak merasakan apa-apa. Ma- lah dicabutnya senjata-senjata yang menghujam di tu- buhnya. Kemudian dengan penuh amarah, dilempar- kannya kembali senjata itu ke para prajurit.
"Gerrr! Ini senjata kalian kukembalikan! Heaaa...!" Puluhan senjata itu melesat laksana dilontar- kan tenaga raksasa. Tanpa ampun....
Jlep, jlep, jlep! "Wuaaa...!" Puluhan prajurit menjerit setinggi langit. Tubuh mereka tertembus senjata-senjata yang tadi mereka le- paskan. Raja Brah Salagatri semakin bertambah cemas menyaksikan keganasan mayat hidup menantunya. Dia segera lari masuk ke dalam sambil berseru meme- rintah prajuritnya untuk membunuh mayat hidup itu.
"Gerrr! Minggir kalian...!" Wuttt! Tangan mayat hidup bergerak cepat, menyam- bar tubuh para prajurit yang berusaha menghalanginya. Seketika mereka terlempar ke udara bersama je- rit kematian yang menyayat.
"Wuaaa...!" Bug, bug, bug! Menyaksikan kematian teman-temannya, nyali para prajurit lainnya mendadak ciut. Mereka segera menyingkir, ketika mayat hidup itu melangkah mende- kati mereka. Mayat hidup itu terus melangkah masuk. Namun tiba-tiba dia dihalangi oleh seorang lelaki tua berjubah ungu. Di tangan lelaki tua berjubah ungu yang bernama Ki Gendut Kluntung, tergenggam tom- bak pendek bermata dua yang dinamakan 'Ki Basupati',
"Minggatlah kau ke alammu! Heaaa...!" Ki Gen- dut Kluntung yang, keadaan tubuhnya kurus tidak seperti namanya itu, merangsek dengan senjata pusa- kanya.
"Heaaa...!" "Gerrr! Minggir kau!" bentak mayat hidup sam- bil bergerak menyerang Ki Gendut Kluntung. Dia ada- lah Pendekar Istana Bumi Wandra yang berusia sekitar lima puluh tujuh tahun. Berambut panjang dengan bagian atas kepala botak, berhidung pesek dan berma- ta lebar. Tubuhnya harus berjumpalitan mengelakkan serangan lawan yang menimbulkan angin panas mem- bakar.
"Edan! ilmu iblis...!" maki Ki Gendut Kluntung dengan mata membelalak, menyaksikan keganasan pukulan tangan lawan.
Saat itu, ketika Ki Gendut Kluntung mengelak, mayat hidup berlari menuju kamar putra Raja Brah Salagatri yang bernama Citro Buono. Diambilnya pemuda tanggung yang menjerit-jerit ketakutan itu.
"Rama, tolooong...!" "Anakku! Anakkuuu...! Jangan bawah anakkuuu!" seru Raja Brah Salagatri, berusaha mencegah mayat hidup. Tapi tubuh mayat hidup telah menghilang lewat jendela kamar anaknya.
"Iblis! Jangan lari...!" bentak Ki Gendut Kluntung mengejar.
***

 8
Sia-sia saja Ki Gendut Kluntung mengejar, sebab mayat hidup itu telah menghilang dalam kegelapan entah ke mana. Seperti menyusup ke dasar bumi.
Dengan penuh kekecewaan, Ki Gendut Klun- tung kembali ke kerajaan. Namun baru beberapa lang- kah kakinya bergerak, tiba-tiba tanah di sekelilingnya merekah. Bersamaan dengan itu, dari rekahan tanah muncul asap putih kehitam-hitaman mengurung tu- buh Ki Gendut Kluntung.
"Heh, apa itu?!" desis Ki Gendut Kluntung den- gan mata membelalak, menyaksikan sesuatu yang aneh. "Uh, bau kemenyan dan bunga kamboja.
Wesss! Krakkk! Suara asap mengepul disertai derak tanah re- tak kembali terdengar. Samar-samar, kini tampak pu- luhan makhluk-makhluk menyeramkan mengelilingi Ki Gendut Kluntung.
"Hah...?! Mereka dari dalam tanah! Oh, mereka benar-benar siluman tengkorak darah," desis Ki Gen- dut Kluntung dengan mata membelalak tegang. Cepat- cepat disiapkan senjata pusakanya, tombak pendek Ki Basupati.
"Gerrr! Nguikkk...!"

No comments:

Post a Comment