TENGKORAK
DARAH
oleh Firman Raharja
1
Kerajaan Bumi Wandra
yang terletak di perba- tasan wilayah timur Pulau Dewata berdiri dengan me-
gah. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja berusia hampir enam puluh delapan
tahun yang bernama Brah Salagatri. Raja Brah Salagatri mempunyai seorang
permaisuri yang masih muda dan cantik bernama Dewi Sekaton Ayu. Anaknya yang
cantik dan menginjak dewasa bernama Dyah Ayu Sawang Sari
Sebelum menjadi raja,
Brah Salagatri merupa- kan pangeran yang tampan. Dia pernah menjalin hu- bungan
cinta dengan wanita bernama Rubiati. Hubun- gan gelap itu akhirnya membuat
Rubiati hamil. Namun sejak itu, Brah Salagatri tidak pernah menjenguk ke- kasihnya
lagi.
Tiga puluh tahun sudah
kejadian itu berselang tanpa terasa. Selama itu, Brah Salagatri tak pernah
mendengar kabar berita tentang kekasihnya. Setelah dia menikah dengan anak Raja
Banyu Wangi bernama Dewi Sekaton Ayu, dia lupa sama sekali dengan keka- sihnya.
Malam itu angin menderu kencang bagai akan datang badai besar. Hawa dingin
terasa menggigit hingga ke tulang sumsum. Rintik air hujan yang turun dari
langit membuat suasana semakin terasa dingin bagi siapa pun yang malam itu
belum tidur.
Desa Karapan nampak
sepi, hanya terlihat em- pat peronda sedang melakukan tugas. Keempatnya tengah
duduk berbincang di gardu sambil menghisap rokok kawung. Tubuh mereka
berselimut kain sarung. Hanya wajah mereka saja yang terlihat, jika api rokok
membesar kala dihisap.
Hujan rintik-rintik
terus meluncur dari langit,
seakan tak bakal
berhenti. Rasa dingin semakin menghebat, ditambah oleh angin kencang yang menderu
bagai hendak datang badai.
"Huh..., tidak
biasanya malam seperti ini," gu- mam Kapri mengeluh. Matanya memandang
nanar ke depan. Pada gelap yang menghampar. Lelaki itu bertu- buh pendek, wajah
bulat, dan hidung pesek serta tahi lalat di bawah matanya.
"Entahlah. Padahal
saat ini musim kemarau," sahut Jalnoto. Berbeda dengan Kapri, Jalnoto
bertu- buh tinggi dan padat. Wajahnya tampan, dengan hi- dung mancung. Kumis
tipis menghiasi atas bibirnya. Matanya tajam jika memandang.
"Ya, begitulah
alam. Siapa pun tak tahu apa yang akan terjadi. Hanya Sang Hyang Widi saja yang
mengerti," kata Pilan berusaha menenangkan hati ke- dua temannya. Pilan
bertubuh kurus dan wajahnya agak pucat, tapi menggambarkan ketenangan. Kumis-
nya panjang dengan cambang pendek, sedang matanya terlihat sayu.
"Tapi hujan ini
aneh, Lan," tukas Bawul, lelaki berbadan agak gemuk dengan perut agak
buncit. Wajahnya persegi dengan kumis lebat dan jenggot tebal. Begitu juga
dengan alisnya, tumbuh tebal di bawah keningnya yang lebar. "Bulu kudukku
sampai merind- ing. Jangan-jangan...;"
Bawul tak meneruskan
kata-katanya. Matanya memandang tegang ke sekeliling gardu yang tampak sepi dan
gelap, membuat bulu kuduknya meremang.
"Jangan-jangan
kenapa, Wul?" tanya Jalno pe- nasaran karena temannya tidak meneruskan
ucapan- nya.
"Ah, tidak. Tidak
apa-apa," jawab Bawul, meng- hindar. "Setan maksudmu?" terka
Kapri.
Bawul hanya mengangguk
kecil. Matanya ma- sih melirik-lirik tegang ke sekelilingnya yang gelap dan
mencekam. Apalagi angin menderu semakin kencang. Bulu kuduknya kian meremang
hebat.
Kapri tertawa kecil.
Tawanya terdengar sum- bang karena dipengaruhi suasana yang mencekam. Dia pun
merasakan bulu kuduknya meremang, namun dia berusaha menekan rasa takutnya
sedalam mung- kin.
"Wul... Wul, kamu
ini kayak anak kecil saja," gumam Kapri sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. "Sudah besar kok masih takut sama setan," godanya
kemudian.
"Bukan begitu,
Pri. Bulu kudukku memang berdiri. Dan..., heh..., bau kemenyan, Pri!"
desis Bawul tiba-tiba. Tubuhnya bergidik seketika, manakala hi- dungnya mencium
bau kemenyan yang menyengat. Seperti ada orang yang membakar dupa.
Hidung ketiga temannya
mengendus-ngendus, berusaha mencium bau kemenyan. Dan seketika keti- ganya
merasakan bulu kuduk meremang ketika hi- dung mereka juga mencium bau kemenyan
yang me- nyengat. Ditambah lagi dengan wangi bunga kamboja, mengingatkan mereka
pada tanah pekuburan.
"Benar, Wul. Bau
kemenyan dan bunga kambo- ja," kata Jalno dengan mata membelalak.
"Hiii....
Sepertinya ada setan," Pilan bergidik dengan muka pucat. Mereka rasanya
ingin lari me- ninggalkan gardu ronda, namun suasana di luar gardu sangat
menyeramkan. Kegelapan yang menghampar, disertai rintik hujan dan deru angin
seperti desah na- pas seribu mambang. Belum tentu mereka akan te- nang kalau
lari.
Tubuh keempat peronda
itu menggigil ketaku- tan, apalagi ditambah rasa dingin yang semakin menggigit.
Saat itu rintik gerimis bertambah deras. Sedang angin bertiup semakin kencang.
Tubuh keempat peronda
itu kini meringkuk da- lam ketakutan. Hanya mata mereka saja yang berge-
rak-gerak, memandang tegang ke sekelilingnya yang sunyi dan sepi. Benar-benar
mencekam perasaan dan mengusik bulu kuduk mereka.
Wusss! Krak! Mata
keempat peronda itu membelalak, ketika terdengar hembusan asap dan retaknya
tanah. Seakan dari dalam tanah di sekeliling gardu ronda akan mun- cul sesuatu.
Wusss! Krak! Asap tebal
keluar dari dalam tanah berjarak li- ma tombak di depan gardu. Gumpalan asap
itu tidak hanya satu, tapi ada sepuluh. Tanah di mana asap itu mengepul,
merekah pecah. Seakan ada makhluk dari dalam tanah yang hendak keluar.
Mata keempat peronda
itu memandang dengan pandangan tegang, tak berkedip ke arah sepuluh gum- palan
asap yang membubung keluar dari retakan ta- nah. Bulu kuduk mereka semakin
meremang. Tubuh mereka menggigil ketakutan.
Asap putih
kehitam-hitaman yang tebal itu per- lahan-lahan berubah warna. Semakin lama,
asap itu menjadi berwarna merah darah. Lalu membentuk so- sok-sosok yang
mengerikan. Sosok manusia wajah tengkorak berjubah panjang dengan kerudung
warna merah darah.
"Tengko...,
tengkorak hidup," ucap Bawul terba- ta-bata. Matanya semakin membelalak
tegang, me- nyaksikan beberapa ujud yang muncul di hadapannya. Ujud menyeramkan
yang membuat jantungnya hamper berhenti berdetak.
"Se....,
setan...!" pekik Jalno. "Wua...! Teng..., korak hidup...!" jerit
Kapri. Tu- buh keempat peronda itu kini saling merapat ketaku- tan. Tak ada
yang berani lari, karena sepuluh makhluk merah bermuka tengkorak berdiri di
hadapan mereka. Bahkan makhluk-makhluk bermuka tengkorak itu kini kian
mendekat. Sepertinya makhluk-makhluk bermu- ka tengkorak itu hendak melakukan
sesuatu terhadap keempat peronda yang semakin bertambah ketakutan itu.
Kesepuluh manusia bermuka
tengkorak itu per- lahan mengelilingi gardu ronda, membuat keempat peronda
bertambah ketakutan. Terlebih saat mata mere- ka memandang wajah makhluk
bermuka tengkorak yang berlumuran darah dan tampak menyeringai seram.
"To...,
tolooong...!" pekik keempat peronda itu ketakutan. Mereka saling merangkul
satu sama lain, dengan wajah pucat pasi tanpa darah.
Makhluk-makhluk bermuka
tengkorak itu ber- bicara dalam bahasa mereka. Kemudian salah satu dari mereka
menunjuk ke arah Jalno yang berwajah pal- ing tampan di antara keempat peronda
tersebut. Sedangkan makhluk lain di sampingnya mengangguk- angguk, seakan
menyetujui apa yang dikatakan re- kannya. Kemudian makhluk bermuka tengkorak
yang mengangguk-angguk tadi memerintah anak buahnya untuk menangkap Jalno.
"Tidak! Jangan...!"
jerit Jalno, berusaha menolak ketika dua makhluk berwajah tengkorak maju ke
arahnya dan siap menangkap.
Kedua makhluk merah
bermuka tengkorak seperti tidak peduli dengan teriakan Jalno. Keduanya segera
mencengkeram tangan Jalno dan menyeret tubuhnya. "Jangan...!" teriak
Jalno seraya berusaha beron- tak. "Tolooong...!"
Ketiga temannya
kebingungan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Jalno. Se-
dangkan mereka sendiri dalam ketakutan luar biasa yang mengganyang nyali
masing-masing. Tubuh keti- ganya menggigil. Tak ada yang berani melangkah un-
tuk menolong Jalno, karena makhluk merah bermuka tengkorak yang lain masih
mengepung mereka.
Saking takutnya, ketiga
lelaki itu terkencing- kencing. Wajah mereka sepucat kapas. Dan bulu-bulu halus
di tengkuk mereka seperti hendak lepas, tegang menyaksikan kengerian di depan
mata mereka.
Wesss! Tiba-tiba makhluk-makhluk
bermuka tengkorak yang membawa Jalno berubah kembali menjadi asap. Lalu
terdengar suara pecahnya tanah di sekitar gardu. Bersamaan dengan itu, tubuh
makhluk- makhluk menyeramkan yang membawa Jalno menghi- lang.
"Hah?!"
ketiga pasang mata peronda yang keta- kutan itu membelalak, karena rasa takut
dan takjub yang campur aduk melihat kejadian yang aneh itu.
"Toloong.,.!
Setan..!" Akhirnya mereka lari tunggang-langgang, sam- bil
berteriak-teriak tak karuan.
"Tolong ada
setan...! Tolong...!" Warga Desa Karapan yang mendengar teriakan para
petugas ronda langsung keluar. Mereka ingin ta- hu apa yang terjadi. Bahkan
Kepala Desa Karapan tu- rut keluar.
"Ada apa, Bawul,
Kapri, Pilan? Seperti orang di- kejar setan saja kalian jejeritan di malam
begini?" tanya Ki Walapaya, lelaki tinggi kurus berpakaian war-
na abu-abu tua dengan
lengan panjang. Wajahnya angker berhias kumis tebal melintang. Lelaki berusia
sekitar lima puluh lima tahun ini adalah kepala Desa Karapan.
"Setan, Ki.
Setan-setan itu membawa Jalno," lapor Pilan.
Semua orang membelalak,
mendengar berita yang baru disampaikan Pilan. Namun Ki Walapaya seakan tidak
percaya dengan cerita itu, malah dengan mendengus Ki Walapaya membentak.
"Kau jangan
main-main, Pilan?" "Benar, Ki," seta Bawul. "Lihat, kami
sampai terkencing-kencing begini."
Bawul menunjuk ke
selangkangannya. Celana panjangnya yang berwarna kuning terang basah kuyup
dengan bau pesing yang tidak ketulungan. Begitu juga dengan Pilan dan Kapri.
Semua warga yang
melihat ketiga peronda itu ngompol, seketika tertawa riuh-rendah. Membuat kesunyian
malam seketika pecah menjadi gelak tawa.
Saat itu juga,
tiba-tiba dari arah rumah Ki Lu- rah Karapan terdengar jeritan seorang wanita.
"Tolong! Tolooong...!"
***
Ki Walapaya dan warga
desa yang mendengar jeritan menantu Ki Walapaya seketika berlarian ke arah
rumah kepala desa itu. Mereka menemukan be- berapa makhluk bermuka tengkorak
menyeramkan tengah membawa tubuh Samikantra, anak Ki Lurah yang baru menikah
dua bulan lalu dengan Prawanti.
"Setan! Setan
tengkorak...!" jerit warga ketaku- tan, menyaksikan makhluk-makhluk
bermuka tengkorak berlumuran darah tengah berusaha membawa anak Ki Lurah.
Menyaksikan hal itu, Ki
Walapaya yang tidak ingin anaknya dibawa oleh makhluk-makhluk menyeramkan
segera menghadang kesepuluh manusia ber- muka tengkorak.
"Berhenti!
Lepaskan anakku!" bentak Ki Wa- layapa dengan keras, seperti tidak takut
sedikit pun terhadap sosok-sosok makhluk yang kini memandang dengan wajah
mengerikan ke arahnya.
Salah satu makhluk
bermuka tengkorak meng- gerakkan tangannya, seperti memerintah anak buah- nya
untuk membereskan Ki Walapaya.
"Hng!" Tiga
makhluk itu maju menghadapi Ki Lurah yang masih tegak berdiri dengan mata
memandang tajam. Tampaknya Ki Lurah belum yakin kalau mereka itu
sungguh-sungguh setan.
"Buka kedok
kalian! Jangan kira aku takut menghadapi kalian!" dengus Ki Walapaya,
memerintah tiga makhluk yang perlahan mendekat untuk membu- ka kedoknya. Tapi
ketiganya tidak terlihat akan mem- buka kedoknya, malah mereka menggeram marah.
"Hng!" Ketiga
makhluk bermuka tengkorak itu seketi- ka menyerang berbareng ke arah Ki
Walapaya. Tangan mereka yang hanya tulang belulang berkuku panjang dan runcing,
mencakar Ki Walapaya. Mendadak Ki Lu- rah tersentak setelah melihat kalau
makhluk-makhluk itu memang bukan manusia.
"Tengkorak
hidup...!" pekiknya, seraya menge- lakkan serangan ketiga lawannya.
Matanya masih membelalak tegang, ngeri menyaksikan kenyataan yang ada. Warga
Desa Karapan yang melihat tangan makhluk bermuka tengkorak yang hanya tulang
belu-
lang, seketika menjerit
ketakutan. Mereka langsung la- ri potang-panting. Terlebih-lebih ketiga peronda
yang sebelumnya telah melihat. Mereka lari sipat kuping ba- gai dikejar setan-setan
tengkorak itu.
"Tolong! Setan
tengkorak tolooong...!" Jeritan warga seketika menggema memecah ke-
sunyian malam. Kini tak ada lagi warga yang berani membantu Ki Walapaya
menghadapi makhluk tengko- rak berdarah yang tengah bertarung dengan kepala de-
sanya.
Ki Walapaya kini
menghadapi ketiga tengkorak seorang diri. Dia telah telanjur menghadapi ketiga
makhluk yang tentunya siluman itu. Dicabutnya keris yang tadi terselip di
pinggangnya. Dengan keris 'Simbang Mega' yang mengeluarkan sinar hijau, Ki Wa-
lapaya meladeni gempuran ketiga siluman tengkorak darah dengan jurus 'Kembaran
Mega Berarak'.
"Heaaa...!"
Keris 'Simbar Mega' di tangan Ki Walapaya ber- gerak cepat menusuk dada salah
satu siluman tengkorak darah dengan cepat. Kilatan cahaya hijau itu terus
menyeruak, berusaha menekan ketiga lawannya.
Sementara itu, siluman
tengkorak darah yang membawa anak Ki Walapaya kini telah raib entah ke mana,
setelah berubah ujud menjadi kepulan asap lalu menyusup ke dalam tanah retak.
Hal itu memaksa ma- ta Ki Walapaya membelalak lebar, tegang menyaksikan
kejadian aneh itu. Kejadian yang tidak masuk akal ba- gi dirinya yang hanya
tahu ilmu olah kanuragan sema- ta, tanpa mengerti ilmu gaib.
Tusukan keris di tangan
Ki Walapaya yang ke- ras, seperti dibiarkan oleh salah satu makhluk bermuka
tengkorak darah. Tak ayal lagi....
Jlep! Keris 'Simbar
Mega' menghujam dada makhluk bermuka tengkorak darah. Keris itu terus menembus
ke dalam, seperti disedot oleh sebuah kekuatan. Hal itu membuat Ki Walapaya
tersentak kaget
"Akh! Mengapa
kerisku tertarik ke dalam?!" pe- kik Ki Walapaya kaget Dia berusaha
menarik keluar kerisnya dari tubuh siluman tengkorak, namun tu- buhnya malah
ikut tertarik oleh kekuatan aneh di tu- buh siluman tengkorak darah. Ki
Walapaya bertambah tegang. Apalagi saat sekujur tubuhnya merasakan pa- nas
menyengat, bagai ada api yang menyambar.
Ki Walapaya berusaha
sekeras mungkin agar dapat menarik kerisnya yang menancap pada dada la- wan.
Namun keris itu bagai melekat keras sekali pada tubuh lawan dan sulit untuk
ditarik. Sebaliknya tubuh Ki Walapaya perlahan-lahan disedot oleh tubuh lawan.
"Akh!" jerit
Ki Walapaya. "Hng!" Makhluk bermuka tengkorak menggeram keras. Pada
saat itu, bagian tubuhnya yang terhujam keris Ki Walapaya tampak bersinar
hijau. Sinar itu terus mem- besar, hingga akhirnya menyelimuti sekujur tubuh
makhluk itu lalu mulai merambat ke tangan Ki Wala- paya.
"Wuaaa...!"
Ki Walapaya menjerit setanggi langit ketika tubuhnya tersengat oleh sinar hijau
yang keluar dari tubuh makhluk bermuka tengkorak. Seperti sen- gatan arus
listrik kuat yang menyambar tubuhnya.
Ki Walapaya berusaha
melepaskan keris yang menancap di tubuh lawan, tapi tangannya bagai telah
melekat erat pada keris itu. Sehingga sangat sulit ba- ginya untuk dapat
melepaskan keris tersebut. Semakin kuat dia berontak, semakin lengket tangannya
pada gagang keris. Semakin kuat pula tarikan aneh dari da- lam tubuh makhluk
bermuka tengkorak.
"Hng!"
"Hik hik
hik!" "Wuk wek wek!" Ketiga makhluk bermuka tengkorak itu
berkata dengan bahasa mereka yang sulit dimengerti oleh Ki Walapaya. Sementara
Ki Walapaya terus berusaha me- lepaskan pegangan tangannya pada gagang keris.
Dia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, namun te- naga dalamnya tak mampu
melepaskan tangan yang melekat pada gagang keris. Tenaga dalamnya malah
tersedot habis.
"Ukh!" Ki
Walapaya mengeluh lirih. Wajahnya semakin pucat-pasi setelah tenaga dalamnya
terkuras habis. Matanya membelalak tegang jiwanya diseret ke dalam saat-saat
sekarat, "Wuaaa...!"
Dengan jeritan yang
terakhir, Ki Walapaya ak- hirnya terkulai lemas. Nyawanya melayang dengan
keadaan mengerikan. Tubuhnya pucat-pasi bagai tak berdarah. Matanya mendelik
mengerikan.
"Wuk wek
wek!" "Wsss ngik!" Kedua makhluk bermuka tengkorak darah lainnya
mengangguk. Seakan memerintah temannya untuk melepaskan korban yang telah
kehilangan nya- wanya. "Hng!"
Usai melepaskan tubuh
Ki Walapaya, ketiga makhluk bermuka tengkorak darah itu menjatuhkan sesuatu
dari tangannya yang tepat menimpa wajah Ki Walapaya. Sebuah gambar tengkorak
dengan warna merah terbuat dari darah!
Wsss! Krak! Tubuh
ketiganya berubah menjadi kepulan asap putih kehitam-hitaman yang perlahan
menyusup ke dalam tanah.
2
"Mayat..!
Mayat..!" teriak seorang petani muda berusia sekitar tujuh belas tahun
dengan wajah keta- kutan sambil berlari-lari meninggalkan tempat di mana dua
mayat telanjang tergeletak dalam keadaan menge- rikan. Tubuh kedua mayat tak
jelas ujudnya, karena dirubung oleh hewan-hewan berbisa.
Warga Desa Sela Kapilu
langsung gempar oleh jeritan pemuda tanggung itu. Segera semua warga ber-
duyun-duyun datang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka serentak melangkah
menuju ke perbatasan Desa Sela Kapilu dengan Desa Karapan. Orang-orang Desa
Karapan yang mendengar kejadian itu ikut da- tang. Mereka ingin tahu siapa yang
menjadi korban.
Warga Desa Karapan yang
baru saja berduka atas kematian lurah mereka, menjadi marah setelah tahu kalau
korban mengerikan yang tergeletak di per- sawahan kering di batas Desa Karapan
dengan Desa Sela Kapilu adalah peronda dan anak Ki Lurah.
"Jelas ini
perbuatan warga Desa Sela Kapilu...," kata seorang warga Desa Karapan
menuduh.
"Ya! Buktinya
kedua korban ada di tempat ini," sambung rekannya.
"Mungkin ada yang
menganut ilmu sesat di De- sa Sela Kapilu!" tambah yang lain semakin
menusuk.
"Kita serang
saja!" timpal warga desa yang lain. Mendengar ribut-ribut warga Desa
Karapan, warga Desa Sela Kapilu yang merasa dituduh seketika menjadi gusar.
Mereka yang tidak merasa melakukan hal itu, langsung membentak marah.
"Enak saja kalian
menuduh!" hardik Wakil Ke- pala Desa Sela Kapilu marah. "Apa buktinya
kalian menuduh warga kami yang melakukan semuanya?!"
"Mayat-mayat ini!
Tidak mungkin kalau bukan warga Desa Sela Kapilu yang melakukannya. Buktinya
mayat-mayat ini ada di perbatasan!" tak kalah sengit Wakil Kepala Desa
Karapan membentak.
"Kurang ajar!
Fitnah! Tak pernah warga Desa Sela Kapilu berbuat keji seperti itu! Mungkin
warga desamu yang melakukan semuanya! Lalu kami yang kini di-jadikan kambing
hitam!"
"Sembarangan kau
berkata, Pronco!" dengus Pabean, Wakil Kepala Desa Karapan. Lelaki kurus
ber- wajah garang itu semakin gusar. Bagaimana tidak? Be- lum juga hilang rasa
dukanya atas kematian kepala desa, kini dua warga desanya ditemukan dalam kea-
daan yang mengerikan. "Bagaimanapun juga, wargamu patut dicurigai."
"Setan alas!"
bentak Pronco tak mau kalah. Le- laki pendek dan berbadan gemuk itu melotot
garang. "Sembarangan kau berkata! Kami Warga Desa Sela Kapilu tak pernah
berbuat sehina itu! Tak seperti war- ga desamu yang suka buat gara-gara!"
"Bedebah! Serang
Desa Sela Kapilu!" perintah Pabean. "Yeaaa!"
Warga Desa Karapan
dengan senjata seadanya serentak bergerak maju untuk melakukan serangan
terhadap warga Desa Sela Kapilu.
Menyaksikan warga Desa
Karapan hendak me- nyerang, Pronco pun tak tinggal diam. Dia segera berseru
lantang, menyuruh warga desanya untuk mem- bendung serangan lawan.
"Hadang warga Desa
Karapan! Serang...!" "Yeaaa!" "Hancurkan...!" Warga
Desa Sela Kapilu dengan senjata yang sederhana pun merangsek menyerang.
Pertempuran yang seharusnya tidak perlu terjadi akhirnya berkobar. Keduanya
sama-sama tak sudi dituduh dan sama- sama tak mau mengalah.
"Aku lawanmu,
Pronco!" bentak Pabean sambil berkelebat menghadang Pronco yang mengamuk
dengan senjata clurit di tangannya yang telah menjatuh- kan beberapa korban.
Begitu pula dengan Pabean, dengan senjata keris dia telah membunuh beberapa
warga Desa Sela Kapilu.
"Bagus! Kita
tentukan siapa di antara kita yang memang tinggi ilmunya!" sambut Pronco
sambil melompat, menjauhi warga Desa Karapan.
"Bersiaplah untuk
mampus, Pronco!" "Kau yang mesti bersiap ke neraka!"
"Yea!" "Yea!" Kedua pemimpin warga desa kini berkelebat
menyerang dengan senjata tradisional. Clurit di tangan Pronco bergerak
menyambar-nyambar dengan jurus- jurus 'Babat Raga' yang cepat dan mengarah pada
tempat-tempat yang mematikan.
Swit! "Uts!"
Pabean mengelakkan sabetan Clurit lawan den- gan cara merundukkan tubuh ke
bawah, lalu meng- geser kaki ke samping. Kemudian dengan cepat, ditu- sukkan
kerisnya ke lambung lawan yang tengah con- dong ke arahnya dengan jurus
'Patukan Semut Merah'.
Wettt! "Yea!"
"Uts! Hop...!" Pronco dengan cepat mengelit ke samping, hingga keris
di tangan Pabean hanya meleset beberapa senti di samping tubuhnya. Kemudian
dengan cepat Pronco mengerahkan kaki kanannya ke muka lawan dengan tendangan
'Sampul Silang'.
Wettt!
"Yeaaa!" Cepat-cepat Pabean menggeser kaki ke samping kanan. Dengan
tubuh setengah doyong dikelitkannya tendangan lawan. Kemudian dengan cepat,
diajukan jotosan tangan kirinya ke selangkangan lawannya.
"Yeaaa!"
Pronco tersentak kaget mendapatkan serangan yang datang tiba-tiba itu.
Cepat-cepat kakinya ditarik ke belakang, kemudian dengan cepat pula tubuhnya
mundur dua tindak ke belakang sambil membabatkan cluritnya ke tangan lawan.
"Heaaa!"
Wettt! Pabean tersentak. Segera jotosannya ditarik un- tuk menghindari sabetan
clurit lawan. Kemudian sece- pat kilat kerisnya ditusukkan ke perut lawannya
yang buncit
Trang! Dua senjata
beradu, menimbulkan dentingan keras. Kemudian tubuh keduanya melompat ke belakang.
Mata mereka saling pandang dengan tajam, be- rusaha mengukur kemampuan
masing-masing. Den- gan sudut mata mereka memperhatikan setiap gerak- gerik
lawan.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Beriring pekikan menggelegar, keduanya kem- bali bergerak
merangsek. Clurit di tangan Pronco ber- suit-suit mencari sasaran. Sedangkan
keris di tangan Pabean bergerak ganas mengarah ke perut lawan.
Trang!
"Heaaa!" Puluhan jurus telah mereka keluarkan untuk
dapat mengalahkan lawan
masing-masing. Senjata me- reka bergerak mencari sasaran yang mematikan di tubuh
lawan. Namun masing-masing rupanya memiliki ketangkasan yang cukup hebat dalam
mengelakkan serangan lawannya.
Sementara itu, telah
banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak yang tengah bertarung. Tapi me-
reka seperti tidak akan menghentikan pertumpahan darah yang sia-sia itu.
Keduanya masih memperta- hankan pendapat mereka, meski harus mereka bayar
dengan darah atau nyawa.
Benturan senjata dan
jerit kematian dari kedua belah pihak kerap kali terdengar. Namun semuanya tidak
membuat mereka jera, membuat mereka justru semakin telengas dan bernafsu untuk
membunuh la- wan. Saat pertarungan berlangsung kian seru, tiba- tiba terdengar
bentakan keras dari seorang lelaki. Ben- takan keras itu, cukup membuat semua
orang yang bertarung seketika menghentikan pertarungan mereka.
"Berhenti...!"
Seorang lelaki tua dengan sorban di kepala ser- ta berjubah putih sampai ke
mata kaki, nampak me- langkah menuju warga kedua desa yang mendadak
menghentikan pertumpahan darah itu. Seketika mere- ka yang ada di tempat itu
menjura memberi hormat. Termasuk Pronco dan Pabean.
"Selamat datang,
Ki Gede," hatur keduanya dengan ramah.
"Hm...," Ki
Gede Mantingan menggumam tak je- las. Matanya memandang tajam pada orang-orang
yang menundukkan kepala di hadapannya, seakan le- laki tua itu tak suka pada
tindakan bodoh mereka yang terlalu terburu nafsu.
Ki Gede Mantingan,
lelaki berusia sekitar enam puluh delapan tahun berjenggot putih panjang pera-
wakannya tinggi. Dilengkapi wajah yang penuh kete- nangan. Dia menyapukan
pandangannya ke segenap penjuru tempat itu.
"Apa kalian semua
sudah dirasuki iblis?!" seru Ki Gede Mantingan dengan suara lantang dan
penuh wibawa. Matanya masih memandang tajam ke seluruh warga desa yang
menundukkan kepala kian dalam. "Bukan begini cara menyelesaikan masalah!
Kalian te- lah lupa dengan ajaran yang telah kuberikan?!"
Semua tergugu dalam
diam. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Apalagi mengadu pandang dengan
Ki Gede Mantingan.
Orang tua itu merupakan
guru besar di desa mereka, yang senantiasa mengajari mereka norma- norma agama
yang setarap dengan Brahmana. Sese- puh yang dihormati dan dihargai oleh semua
warga kedua desa itu.
"Kalian mestinya
bisa menjaga emosi! Jangan grusa-grusu, karena sikap seperti itu hanya sikap
dan tindakan-tanduk setan!" kembali Ki Gede Mantingan berkata. Suaranya
masih tegas dan penuh kewiba- waan. "Kalau sudah begini, siapa yang
rugi?!"
Semua terdiam, tak ada
yang berani membuka suara sepatah kata pun. Kepala mereka semakin me- nunduk
dalam-dalam. Tanpa terasa air mata mereka berlinang. Tampaknya semua warga
kedua desa itu menyesali tindakan mereka yang tidak berlandaskan akal sehat
Ki Gede Mantingan
menghela napas panjang. Ditengadahkan wajahnya ke langit mencari jawaban tentang
watak manusia yang terkadang sulit dipahami. Kemudian terdengar desah napasnya
yang terasa be- rat. "Bencana apa yang telah melanda desa kalian?
Ini yang perlu kalian
pikirkan! Bukan main saling tu- duh dan saling bunuh seperti binatang!"
sambungnya lagi. "Kalian manusia yang diberi akal dan pikiran oleh Sang
Hyang Widi."
Kebisuan terus
menyelimuti warga kedua desa yang habis bertarung itu.
Dari arah Desa Sela
Kapilu, Ki Lurah Jarang Lanang berlari-lari ke arah mereka. Seketika Ki Lurah
Jarang Lanang menjura, melihat Ki Gede Mantingan.
"Ampun, Ki Gede.
Kami mohon ampun atas ke- jadian ini," mohonnya mengiba sambil terus
menjura. "Saya sedang menemui Kanjeng Wedono, jadi tidak ta- hu masalahnya
sama sekali."
"Tak ada yang
salah, Ki Lurah," jawab Ki Gede Mantingan pada orang tua berpakaian adat
Jawa dengan wajah bersih tanpa kumis dan cambang bawuk. Tubuh lelaki tua itu
gemuk. Beruntung agak tinggi, hingga tidak terlihat bulat. Blankon di kepalanya
ter- balik. Mungkin Ki Lurah Jarang Lanang terburu-buru setelah mendengar dari
warganya tentang kejadian tersebut
"Saya khawatir, Ki
Gede. Takut kalau salah pa- ham ini akan berlarut-larut," kata Ki Lurah
Jaran Lanang dengan wajah menunjukkan kekhawatiran.
"Tak akan, Ki.
Asal kedua belah pihak saling mengerti dan menyadari. Ini bukan perbuatan manu-
sia, tapi iblis! Maka, kuharap kalian waspada. Kemarin malam, Desa Karapan yang
mengalami musibah. Siapa tahu nanti malam justru Desa Sela Kapilu yang terke-
na musibah."
Semua diam terpekur tak
ada yang berkata. Suasana menjadi sepi sesaat di perbatasan ke- dua desa itu.
Kemudian Ki Gede Mantingan kembali melanjutkan. "Penjagaan harus
diperketat. Kalian ha- rus ingat itu. Adakan perondaan setiap malam, agar jangan
sampai kecolongan."
"Baik, Ki
Gede...!" serentak mereka menjawab. "Sekarang bubarlah. Urus yang
mati. Jalinlah tali kasih dan persaudaraan!"
Setelah memberi petuah,
Ki Gede Mantingan pun berlalu meninggalkan tempat itu. Kini tinggal orang-orang
kedua desa yang tengah sibuk mengurus mayat-mayat korban.
***
Sore telah datang,
mentari tergelincir di sudut barat. Sebentar lagi raja siang itu akan
tenggelam, kemudian hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam. Tampak para
petani pulang dari sawah dengan peralatan terpanggul di pundaknya.
Burung-burung
beterbangan pulang ke sarang masing-masing dengan suara yang bersahut-sahutan.
Bias merah jingga merasuki langit sebelah barat, menandakan mentari telah
tersungkur. Desir angin sore terasa agak dingin, seperti datang bersama
kegelisahan.
Dua sosok bayangan
tampak melangkah dalam keremangan senja. Kedua muda-mudi itu bersenda gu- rau
dengan riang, seperti menikmati suasana senja yang indah. Bagai tidak
menghiraukan kejadian yang tengah menimpa sebuah desa yang mereka lalui.
"Kakang, nampaknya
desa ini tengah berduka," kata gadis cantik berpakaian putih dengan rambut
di- gelung dua di atas. Kulit gadis itu kuning langsat. Hi- dungnya tidak terlalu
mancung. Sedang matanya lentik dan indah bila mengerling.
"Hm," gumam
pemuda berpakaian rompi kulit ular, berambut gondrong yang agak berombak. Kulit
pemuda itu bersih, wajahnya tampan.
Serasi sekali kedua
anak muda itu. Yang lelaki tampan dan gagah, sedangkan yang perempuan cantik
nan elok. Pedang tersandang di pundak gadis cantik yang berpakaian ala Cina
itu. Sedangkan di pinggang pemuda tampan itu terselip sebuah suling berkepala
naga.
Dilihat dari senjata
serta pakaian mereka, ke- dua sejoli itu tidak lain Sena Manggala atau Pendekar
Gila dengan kekasihnya Mei Lie, si Bidadari Pencabut Nyawa. Sena meringis
dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya menyapu ke sekelilingnya yang
nam- pak sepi dan senyap. Ada bendera kuning terpajang di pintu masuk desa itu.
Bendera itu menandakan kalau desa itu tengah berkabung.
"Aha, mungkin
kematian biasa, Mei Lie." "Tapi, Kakang...," potong Mei Lie.
"Aha, kau begitu nakal, Mei Lie. Ayolah, kita cepat pergi. Sebentar lagi
malam. Kita harus segera mencari tempat untuk menginap," ajak Sena sambil
menggandeng tangan Mei Lie. Tapi gadis Cina itu me- nolak.
"Tunggu, Kakang.
Firasatku mengatakan, telah terjadi sesuatu di sini."
Sena tertawa
tergelak-gelak mendengar penutu- ran Mei Lie. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak
seperti monyet. Hal itu membuat Mei Lie lantas cemberut.
Sena langsung menghentikan
tingkahnya yang persis orang gila itu setelah melihat Mei Lie merengut. Dengan
tetap cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, Sena menghela napas
panjang-panjang.
"Hi hi hi..!
Nakalmu semakin jadi, Mei Lie. Ah ah ah, tentunya di desa ini memang telah
terjadi sesu- atu. Kematian, bukan?" goda Sena, membuat Mei Lie bertambah
merengut. Matanya mendelik pada Sena yang makin cengengesan.
"Uh, Kakang,"
keluh Mei Lie cemberut "Aku sungguh-sungguh, Kakang."
"Aha, aku lebih
sungguh-sungguh, Mei Lie," tukas Sena, masih saja menggoda. Semakin
membuat Mei Lie mendelik kesal. "Ah ah ah, gawat kalau begini. Sudahlah,
Mei Lie. Sebentar lagi malam, kita harus segera mencari tempat
penginapan."
Sena kembali mengajak
Mei Lie pergi mening- galkan tempat itu. Akhirnya Mei Lie pun menurut. Kaki
keduanya melangkah meninggalkan desa itu. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba
mereka dikejutkan oleh bentakan seseorang. "Berhenti!" Sena dan Mei
Lie berhenti, keduanya memba- likkan tubuh melihat siapa yang telah menyuruh
me- reka berhenti: Tampak seorang lelaki berbadan kurus dengan kumis panjang
yang melintang di atas bibirnya berdiri dengan pandangan penuh rasa curiga pada
me- reka. Di belakang lelaki yang tidak lain Pabean, berdiri beberapa orang
warga. Wajah mereka pun menggam- barkan rasa curiga.
Sena tertawa renyah.
Tingkah lakunya yang konyol kembali muncul. Dia menggaruk-garuk kepala sambil
cengengesan. Kemudian tangannya menepuk- nepuk pantat
Menyaksikan tingkah
konyol pemuda berpa- kaian rompi kulit ular di hadapannya, Pabean seketika
mengerutkan kening. "Rasanya aku pernah mendengar tentang pemuda ini. Ah,
benarkah dia Pendekar Gila?" tanya Pabean dalam hati. Alisnya bertaut saat
meman- dang penuh selidik pada Pendekar Gila dan Mei Lie. "Dan kalau tidak
salah, gadis Cina ini yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa. Benarkah mereka
berdua pendekar itu?"
"Hi hi hi...!
Kalian ini aneh. Mengapa tiba-tiba menghentikan langkah kami? Hi hi
hi...!" Sena tetap konyol, menepuk-nepuk pantat sambil berjingkrak-
jingkrak. Sedangkan Mei Lie malah bersiap-siap, was- pada kalau para
penghadangnya hendak bermaksud jahat
"Siapa
kalian?" tanya Pabean berusaha mencari tahu.
"Hi hi hi...!
Lucu. Kau lucu sekali, Kisanak." Sena semakin cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala. "Aha, kalian ingin tahu siapa kami? Baiklah, kami
sepasang muda-mudi yang sedang melancong mengikuti kemauan kaki. Nah, apa cukup
jelas?"
"Apakah kalian
Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa?" selidik Pabean berusaha
memasti- kan dugaannya.
"Ya!" sahut
Mei Lie memotong. "Ada apa kalian menghadang kami?" tanyanya
kemudian.
"O, maafkanlah
tindakan kami yang lancang. Kalau benar kalian Pendekar Gila dan Bidadari
Penca- but Nyawa, kami mengharap kalian sudi singgah ke rumah kami," pinta
Pabean, santun.
"Hm, untuk
apa?!" tanya Mei Lie tegas. "Aha, jangan galak begitu, Mei Lie!
Bagaimana kalau kita terima undangannya. Bukankah kita adalah tamu di
sini?" tanya Pendekar Gila berusaha mene- nangkan Mei Lie yang ketus.
Tampaknya Mei Lie masih dihantui kejadian di Lembah Lamur, saat orang-orang
yang dekat dengannya kedapatan mati. Itu sebabnya dia tidak mudah percaya
dengan orang lain (Mengenai kejadian Mei Lie, silakan baca serial Pendekar Gila
da- lam episode "Titisan Dewi Kuan Im").
"Baiklah! Tapi
jangan sekali-sekali bermaksud jahat. Aku tak akan segan-segan membunuh kalian!
Bahkan seluruh penduduk desa sini!" ancam Mei Lie.
"Baik, Nona
Pendekar," sahut Pabean penuh hormat. "Aha, ayolah," ajak
Pendekar Gila.
Mereka pun melangkah mengikuti
Pabean dan warganya. Sementara kegelapan telah menyelimuti desa itu.
***
3
Rumah Pabean nampak
terang benderang. Lampu tempel besar dan lampu gantung yang biasanya
dipadamkan, malam itu dinyalakan semua. Suasana dalam rumah menjadi terang
benderang. Khususnya di beranda. Tiga orang tengah duduk di kursi rotan, sementara
yang lainnya duduk bersila di bawah. Tampaknya mereka tengah berkumpul, setelah
kematian lurah mereka.
Sena, Mel Lie, dan
Pabean duduk di atas bang- ku. Ketiganya tengah membicarakan kejadian yang
melanda Desa Karapan dan telah menelan tiga korban.
"Kemarin malam
desa ini didatangi oleh kawa- nan makhluk bermuka tengkorak. Mereka menculik
salah seorang petugas ronda dan anak Ki Lurah. Se- mentara Ki Lurah sendiri
mengalami kematian yang mengerikan sekali. Tubuhnya hangus, bagai
terbakar," tutur Pabean menceritakan semua kejadian yang ter- jadi kemarin
malam.
"Hm," gumam
Sena tidak jelas. Sedangkan Mei Lie memperhatikan cerita yang dibeberkan Pabean
dengan seksama. "Aneh, makhluk berwajah tengkorak dari mana?"
"Itulah yang
tengah kami pikirkan. Keris sakti milik Ki Lurah Walapaya yang bernama 'Simbar
Mega' hilang entah ke mana. Kata orang yang melihat, keris itu masuk ke dada
makhluk bermuka tengkorak."
"Heh?!" seru
Sena dengan mata membelalak kaget.
"Hhh," desah
Mei Lie. Wajahnya kelihatan ge- ram mendengar cerita yang dituturkan Pabean.
"Kura- sa semua ini didalangi seseorang."
"Entahlah.
Didalangi atau tidak, kami rasa hal ini harus dicegah...," kata Pabean
dengan suara agak geram jika ingat kejadian yang menimpa desanya.
"Hm,"
lagi-lagi Pendekar Gila bergumam tak je- las. Mulutnya cengengesan, tangannya
menggaruk- garuk kepala.
"Apa mereka keluar
pada saat malam?" tanya Mei Lie. "Ya!"
"Hm, ada yang tahu
persis, bagaimana cara me- reka muncul?" tanya Mei Lie.
"Saya, Nona
Pendekar," sahut Pilan, salah seo- rang petugas ronda kemarin malam.
"Bisa Kisanak
menjelaskan?" pinta Mei Lie. Secara singkat dan jelas, Pilan pun
mencerita- kan kejadian yang telah dialaminya bersama ketiga pe- ronda lain,
yang salah satunya menjadi korban kawa- nan makhluk bermuka tengkorak darah.
Muka tengko- rak itu berlumuran darah, itu sebabnya dinamakan tengkorak darah:
Sebelum mereka keluar terdengar de- rak tanah retak. Kemudian muncul asap putih
kehi- tam-hitaman yang perlahan menampakkan ujud me- rah me-nyala.
"Begitulah mereka
keluar, Nona Pendekar," ucap Pilan, mengakhiri ceritanya.
"Hm," gumam
Mei Lie sambil menghela napas panjang-panjang.
Sena cengengesan sambil
menggaruk-garuk ke- pala.
"Aha, rupanya ada
juga siluman yang ingin mencampuri urusan manusia. Hi hi hi...! Lucu
sekali!" Sena tertawa meringkik. Tingkahnya semakin konyol, membuat semua
orang yang hadir di situ tersenyum- senyum. "Siluman...?" tanya
Pabean dengan mata mem- belalak. "Ya! Kurasa mereka siluman," jawab
Sena masih bertingkah konyol dan lucu.
Semua terdiam. Mereka
merasakan ketegangan setelah mendengar penuturan Pendekar Gila. Hati mereka
bertanya-tanya, dari mana siluman-siluman itu datang? Lalu apa maksud siluman-siluman
itu datang ke alam manusia?
"Hm, kalau memang
mereka siluman, bagaima- na cara menghadapinya?" tanya Pabean nampak ke-
bingungan. Jelas akan sulit sekali manusia biasa se- perti dirinya dan warga
desa untuk menghadapi mak- hluk-makhluk seperti itu. Hanya orang-orang yang
memiliki ilmu gaib saja yang mampu menghadapinya.
Mulut Pendekar Gila
nyengir. Tangannya kem- bali menggaruk-garuk kepala. Dia pun belum bisa berbuat
apa-apa atau mengambil kesimpulan, karena dia belum pernah tahu makhluk seperti
siluman itu. Dia juga belum tahu bagaimana cara menghadapi siluman. "Aha,
sulit juga rasanya," gumam Sena tiba- tiba, menyentakkan semua orang di
tempat itu terma- suk Mei Lie, yang seketika mendelikinya. Pendekar Gila hanya
nyengir, lalu seraya menggaruk-garuk kepala dia melanjutkan, "Kurasa, ada
baiknya kita membica- rakan masalah ini."
"Aku setuju,"
sambut Pabean.
"Bagaimana,
Mei?" tanya Sena. "Aku pun setuju." "Baiklah kalau begitu.
Hm, hari hampir larut, kurasa kita harus secepatnya menyelesaikan pembica-
raan. Bagaimana kalau kita berpencar?" tanya Sena.
"Maksudmu?"
tanya Mei Lie belum mengerti. "Mungkin kawanan siluman itu malam ini akan
datang kembali. Kurasa ada sesuatu yang menyebab- kan kedatangan mereka di desa
ini. Bagaimana kalau kita menyelidikinya?" tanya Pendekar Gila.
"Hm, aku setuju.
Apa yang sekiranya menu- rutmu baik, aku setuju saja," jawab Pabean.
"Aku juga
setuju," sambut Mei Lie. "Bagaimana dengan yang lain?" tanya
Sena. "Kami setuju," sahut warga yang hadir di tem- pat itu.
"Aha, bagus! Kuminta lima orang untuk meron- da. Kalau kalian melihat
makhluk itu datang lagi, bu- nyikan kentongan sebanyak lima kali. Dengan
begitu, aku dan Mei Lie akan segera datang," tutur Sena men- gatur
rencana.
"Ide yang
bagus," puji Pabean. "Sementara yang lainnya, tolong ikut Pabean
untuk memeriksa kampung ini. Aku dan Mei Lie akan mengawasi kampung sebelah
barat. Kita akan bertemu jika kita mendengar salah seorang membunyikan ken-
tongan," papar Sena menjelaskan.
"Baiklah, kalau
begitu malam ini juga kita mu- lai" kata Pabean.
Setelah mengatur
rencana sebaik mungkin, me- reka pun melakukan apa yang telah direncanakan.
Pendekar Gila dan Mei Lie melesat ke arah barat se- dangkan Pabean dan warga
menuju ke arah timur. Li- ma orang peronda nampak masih berada di rumah Pa-
bean, berjaga-jaga dengan kentongan siap di tangan.
***
Sementara itu, di Desa
Sela Kapilu tampak be- berapa orang tengah bergerombol. Ada sepuluh orang yang
malam itu bertugas meronda. Kali ini mereka siap dengan senjata berupa golok.
Berjaga-jaga kalau-kalau terjadi hal yang serupa dengan kejadian di Desa Kara-
pan.
"Apa benar cerita
orang Karapan?" tanya seo- rang peronda bernama Kapri.
"Iya. Mana ada
setan gentayangan membunuh? Mungkin orang Desa Karapan sendiri yang melaku-
kannya," sambung Dayan.
"Ya, mungkin juga
benar," tukas Wiryo. "Mana ada sih yang tega membunuh Ki Lurah? Lagi
pula, kalau memang benar Ki Lurah mati terbakar, tentu warga melihatnya."
"Iya ya. Kok bisa
aneh begitu? Lagi pula, salah seorang petugas ronda hilang dan tadi pagi
tahu-tahu ditemukan mati. Aneh...," gumam Rusdi.
"Sudahlah, jangan
membicarakan itu. Tidak baik. Ingat kata-kata Ki Gede Mantingan, kita tidak boleh
membicarakan orang lain. Yang penting kita harus bisa menjaga keamanan desa
kita," tukas Romlan berusaha mengingatkan teman-temannya agar tak mem-
bicarakan orang lain.
Kebisuan kemudian
menyelimuti para peronda yang sedang berkumpul di gardu. Terlebih malam itu
angin berhembus membawa rasa dingin, membuat su- asana di sekitar tempat itu
bertambah mencekam.
Wesss! Krak! Tiba-tiba
kesepuluh peronda yang tengah ber- jaga-jaga dikejutkan oleh suara tanah retak,
yang di- ikuti oleh suara mendesis dan datangnya asap tebal yang keluar dari
retakan tanah.
"Hei, suara apa
itu?!" seru Dayan. "Seperti asap! Lihat ada asap mengepul!" sam-
but Rusdi.
Mata kesepuluh ronda
itu membelalak, me- mandang tak berkedip pada asap tebal yang membu- bung
keluar dari retakan tanah.
Belum juga rasa kaget
kesepuluh peronda itu hilang, kepulan asap yang jumlahnya banyak itu membentuk
sosok berwarna merah. Kemudian terben- tuklah ujud menyeramkan. Sosok manusia
berwajah tengkorak yang berlumuran darah.
"Se...,
setaaan...!" pekik mereka ketakutan. Tapi tubuh mereka tidak beranjak dari
gardu. Hanya mata mereka yang melotot tegang, memandang sosok-sosok menyeramkan
yang kini melangkah mendekati gardu.
"Jelas makhluk ini
yang kemarin membuat bencana di Desa Karapan...," desis Wiryo, orang yang
agak berani di antara kesepuluh peronda. Malah tan- gannya kini menarik golok
dari sarungnya. "Kita harus serang mereka!"
Tak ada satu temannya
pun yang berani. Mere- ka cuma dapat menggigil ketakutan. Hal itu membuat Wiryo
kebingungan. Kini dirinya dalam keraguan. Ingin melawan seorang diri tapi dia
akut karena takut lawan terlalu banyak. Namun kalau tak melawan, bisa-bisa
mereka akan menjadi korban. Akhirnya tubuh Wiryo ikut merapat dalam kerumunan
temannya.
"Tolong...! Ada
setaaan...!" jerit mereka keras, membuat warga lain yang tengah tidur
seketika ter- bangun. Mereka berbondong-bondong menuju ke gar- du ronda. Namun
warga desa seketika lari mening- galkan tempat itu, manakala menyaksikan
puluhan ujud menyeramkan.
"Wuaaa!
Setaaan...!"
Suasana malam yang sepi
dan mencekam, mendadak dirambati jerit ketakutan para penduduk. Mereka lari
terbirit-birit saking takutnya, tanpa meng- hiraukan lagi nasib kesepuluh
peronda yang masih terkurung di dalam gardu.
Ketegangan semakin
menjadi-jadi, ketika mak- hluk-makhluk bermuka tengkorak itu semakin dekat ke
arah gardu tempat kesepuluh peronda berada.
"Wuaaa...!"
jerit mereka ketakutan, setelah lampu tempel di gardu menerangi wajah makhluk-
makhluk itu, hingga mata mereka menangkap dengan jelas puluhan wajah
menyeramkan itu.
"Kita tidak bisa
begini terus. Kita harus mela- wan," ajak Wiryo, berusaha memberi semangat
pada kesembilan rekannya yang masih ketakutan.
"Tapi..., mereka
bukan manusia," keluh teman- temannya.
"Apa pun mereka,
kita tidak boleh tinggal di- am!" Wiryo terus berusaha memberi semangat
pada teman-temannya untuk melawan makhluk-makhluk menyeramkan itu.
Srttt! Mereka serentak
mencabut golok. Rupanya aja- kan Wiryo mereka tanggapi. Kemudian dengan nekat,
kesepuluh peronda itu menyerang para pengepung yang menyeramkan.
"Heaaa!"
Crak! Crak! Crak! Suara benturan golok dengan tubuh para mak- hluk tengkorak
darah terdengar. Namun golok di tan- gan mereka malah menjadi gompal. Bahkan
ada yang patah menjadi tiga. Kejadian aneh itu membuat mata kesepuluh peronda
semakin membelalak tegang.
"Wik! Wok!
Wik!" salah satu makhluk bermuka tengkorak berkata. Tangannya yang hanya
tulang belulang bergerak-gerak, seperti memerintah yang lain un- tuk
membereskan kesepuluh peronda itu.
Puluhan tengkorak darah
serentak maju, men- jadikan para peronda semakin ketakutan. Tubuh me- reka kini
menggigil hebat. Keringat dingin bercucuran membanjiri dahi dan leher mereka.
Malah mereka terkencing-kecing, menyaksikan wajah-wajah menyeram- kan itu
bertambah dekat
Tangan para makhluk
bermuka tengkorak itu bergerak. Mulanya menjulur maju, kemudian ditarik ke
belakang. Dari telapak tangan mereka yang hanya tulang belulang, terpancar
sinar biru. Saat itu pula tu- buh kesepuluh peronda tertarik keras ke arah
mereka.
"Wuaaa!
Tolooong...!" Kesepuluh peronda itu berusaha memperta- hankan diri dari
sedotan tenaga aneh lawan, namun tenaga mereka rupanya belum seberapa. Tubuh
mere- ka terus tersedot, sampai menempel dengan tubuh makhluk bermuka
tengkorak. Kesepuluh peronda itu tergagap-gagap, menyaksikan wajah menyeramkan
yang begitu dekat dengan wajah mereka.
"Wuaaa...!
Tolooong...!" Percuma mereka menjerit-jerit, karena warga yang lain malah
kocar-kacir ketakutan.
Dalam keadaan tegang
dan kritis, tiba-tiba ber- kelebat sesosok bayangan berwarna coklat tua ke arah
puluhan makhluk bermuka tengkorak. Bayangan itu langsung menghantamkan pukulan
keras kepada sa- lah satu makhluk itu. Dukkk! "Aduh!" pekik bayangan
coklat, yang tidak lain Ki Lurah Jaran Lanang. Tangannya seketika memar. Seakan
tangannya baru saja memukul logam atau ba- tu karang yang sangat kuat. Mata
lelaki tua berpa- kaian Jawa itu membelalak tegang. Apalagi ketika pe-
mimpin kawanan
tengkorak darah membalikkan tubuh dan memandang ke arahnya. Darah Ki Lurah
Jaran Lanang mendesir hingga cepat, karena kengerian yang tiba-tiba menusuk.
Mulutnya menganga, matanya membuka lebar.
"Ngik! Kik!
Cuik!" Pemimpin makhluk bermuka tengkorak berkata, tampaknya dia sangat
marah atas kehadiran Ki Lurah Jaran Lanang. Malah tubuh me- rahnya kini
melangkah maju, mendekat Ki Lurah Ja- ran Lanang yang semakin membelalak ngeri
dan takut. "Setan...! O, rupanya apa yang dikatakan warga Desa Karapan
memang benar," desis Ki Lurah Jaran Lanang setengah mengeluh. Matanya
semakin membe- lalak tegang. Kakinya berusaha lari, namun tiba-tiba tubuhnya
bagai disedot oleh suatu kekuatan. Kakinya mendadak tertahan, malah semakin
tertarik mundur ke arah pemimpin makhluk bermuka tengkorak
Tubuh Ki Lurah Jaran
Lanang mulai menggigil ketakutan, mengetahui tubuhnya kini terangkat ke atas.
Dan ketika matanya memandang ke belakang, tampak olehnya tangan tengkorak darah
itu tengah bergerak ke atas.
"Nguik!"
Pemimpin makhluk bermuka tengkorak itu menggerakkan tangannya ke bawah, ketika
tubuh Ki Lurah Jaran Lanang telah mencapai ketinggian terten- tu. Saat itu
pula, tubuh Ki Lurah Jaran Lanang me- luncur ke bawah.
Wesss! "Wuaaa...!
Tolooong...!" Tubuh Ki Lurah Jaran Lanang terus melesat turun dengan
cepat, bagai dibanting dari atas. Ketika tubuh lelaki tua itu hampir menghantam
tanah kering, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat menang- kap tubuhnya.
Bayangan itu langsung berhenti, ke-
mudian menurunkan tubuh
Ki Lurah Jaran Lanang. Bersama bayangan yang ternyata Pendekar Gila, mele- sat
pula tubuh Mei Lie.
"Rupanya
siluman-siluman ini!" dengus Mei Lie. Matanya tajam, memandang gerombolan
makhluk bermuka tengkorak darah yang kini menghadap ke arahnya, setelah
membunuh kesepuluh peronda.
"Nguik! Wok! Wik!
Wok!" "Hm, majulah! Biar kuhabisi kalian!" tantang Mei Lie
dengan berani.
Srttt! Dicabutnya
Pedang Bidadari dari sarungnya. Seketika suasana di sekitar tempat itu menjadi
terang benderang oleh sinar kuning kemerahan-merahan. Hal itu membuat ujud
manusia-manusia bermuka tengko- rak semakin terlihat jelas. Keadaan mereka
begitu me- nyeramkan. Muka mereka hanya berupa tengkorak berlumuran darah.
Bagian mata mereka bolong, begitu juga bagian hidung.
"Ngik! Ngok!
Nguik!" Pemimpin gerombolan tengkorak darah itu tampak menutupi matanya
dengan sebelah tangan. Seakan merasa silau oleh sinar yang terbersit dari Pe-
dang Bidadari di tangan Mei Lie. Sedangkan tangan yang lain kini digerakkan,
memerintah pada kesepuluh anak buahnya untuk menyerang.
"Nguik!"
Suara ribut tercipta dari mulut-mulut makhluk tengkorak darah yang hendak
menyerang Mei Lie.
"Bagus! Majulah
sekalian! Heaaa...!" Tanpa membuang-buang waktu, Mei Lie segera bergerak
memapaki serangan lawan. Pedang Bidadari di tangannya bergerak dengan cepat,
memenggal ke kepala lawan dengan jurus 'Tebasan Bidadari'.
Wettt!
Trang!
"Heaaa!" Mei Lie bergerak lincah. Pedang Bidadarinya laksana lengan
Bidadari Pencabut Nyawa. Setiap kali berkelebat pasti mengambil kematian.
Pantas benar dengan julukan yang disandangnya, Bidadari Pencabut Nyawa. Dua
makhluk bermuka tengkorak terpenggal lehernya. Keduanya seketika berubah
menjadi asap, lalu menghilang. Yang lainnya menyerang. Namun Pendekar Gila yang
tidak ingin Mei Lie mendapat cela- ka, segera menarik Suling Naga Sakti. Dengan
suling itu tubuhnya melesat ke udara. Lalu dengan tingkah seperti seekor monyet,
Pendekar Gila memukul kepala para makhluk bermuka tengkorak.
"Hi hi hi! Rasakan
ini, Siluman Buruk! Ha ha ha!"
Tak tuk tak! Tiga
kepala makhluk ganjil itu pecah. Ketiga sosok tengkorak yang terbungkus jubah
merah berke- rudung itu, seketika berubah menjadi asap. Lalu menghilang bagai
ditelan bumi.
"Ngik! Ngok!
Nguk!" Pemimpin kawanan tengko- rak darah seketika memberi perintah dengan
isyarat tangan, lalu sisa makhluk tengkorak darah itu menghi- lang dari hadapan
Pendekar Gila.
"Hi hi hi! Kalian
mau main-main. Baik! Hi hi hi...!" sambil tertawa-tawa dan
berjingkrak-jingkrak seperti monyet, Pendekar Gila meniup Suling Naga Saktinya.
Suara suling melengking tinggi. Saat itu, suatu ledakan terjadi. Lima tengkorak
darah yang menghi- lang bersama pemimpinnya nampak kembali dalam keadaan sudah
mati. Kemudian tubuh mereka menjadi asap yang menipis dan menghilang tersapu
angin.
Pendekar Gila tertawa
sambil berjingkrak- jingkrak. Namun dari arah rumah seorang warga, tiba- tiba
terdengar jeritan.
"Tolooong...!"
Pendekar Gila, Mei Lie, dan Ki Lurah Jaran La- nang segera berkelebat menuju
asal jeritan itu.
***
"Tolooong!
Setaaan...!" Seorang wanita muda menjerit-jerit ketakutan dengan pakaian
tak menentu. Sebagian tubuhnya ti- dak tertutup kain. Mungkin karena terlalu
takut, wani- ta itu tidak ingat keadaannya. Wanita muda yang can- tik dan
hampir telanjang itu ternyata Suri Prapti, anak Ki Lurah Jaran Lanang.
"Ada apa,
Suri?" tanya Ki Lurah Jaran Lanang, menyaksikan anaknya tampak ketakutan.
"Setan Ayah! Setan
tengkorak menculik Kakang Rejo," isak Suri Prapti menangis.
"Hah, Suro Rejo
diculik?!" seru Ki Jaran Lanang dengan mata membelalak, mendengar
penuturan anaknya. Suro Rejo dan Suri Prapti baru saja menikah 7 hari yang
lalu. Kini tiba-tiba muncul manusia- manusia bermuka tengkorak darah,
mengacaukan hari indah mereka.
Belum juga rasa kaget
mereka hilang, karena penculikan Suro Rejo, tiba-tiba para penduduk berte-
riak-teriak. Mereka berhamburan ketakutan. "Setan...! Setan
menggarong!" "Rampok setan...!" "Setan merampok...!"
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak melihat para penduduk berteriak-teriak ketakutan. Tingkahnya
yang konyol, membuat Mei Lie melotot. Sena langsung diam, tidak lagi
tertawa-tawa sambil berjingkrak- jingkrak. Meski begitu, Sena masih cengengesan
sam- bil menggaruk-garuk kepala.
"Ada apa? Ada apa
ini?" tanya Ki Jaran Lanang. "Rumah kami dirampok!" lapor
penduduk den- gan ketakutan yang terlukis di wajahnya.
"Anak kami yang
masih jejaka dibawa!" sam- bung yang lainnya.
"Suami saya juga
dibawa. Padahal kami baru menikah bareng sama Den Suri," isak seorang
gadis muda berkulit kuning langsat dan cantik.
Ki Lurah Jaran Lanang
semakin terlongong bengong. Dia tidak tahu, untuk apa para lelaki muda diambil
oleh siluman tengkorak darah.
Saat warga Desa Sela
Kapilu dilanda kegemparan dengan matinya sepuluh orang peronda dan hi- langnya
beberapa lelaki muda, Pabean dan beberapa orang warganya datang.
"Ada apa,
Sena?" tanya Pabean. Ki Lurah Jaran Lanang menceritakan semua yang
terjadi. Hal itu membuat mata Pabean membela- lak.
"Sama dengan
kejadian kemarin," gumam Pa- bean. "Akh heran, untuk apa
lelaki-lelaki muda dan tampan dibawa pergi? Kemudian keesokan harinya mereka
telah menjadi mayat dengan keadaan mengerikan. Bukankah warga desa sini juga
melihatnya?" "Benar...!" sahut warga Sela Kapilu. Semua terdiam,
tak ada yang berkata. Mereka sama-sama tengah berpikir serta bertanya-tanya
dalam hati. Apa sebenarnya yang terjadi di desa mereka? Dan apa yang
dikehendaki siluman tengkorak merah yang
datang membawa
kegemparan dan kematian?
Hanya Pendekar Gila
yang tetap tersenyum- senyum. Malah sempat bersiul-siul. Wajahnya menen- gadah
ke langit, seperti tengah menikmati bintang yang gemerlapan di langit.
"Apakah
orang-orang yang diculik pernah me- lakukan sesuatu?" tanya Mei Lie
tiba-tiba.
"Maksud,
Nona?" tanya Pabean. "Apakah orang-orang yang diculik pernah me-
lakukan sesuatu pelanggaran. Berbuat jahat misal- nya?" Mei Lie berusaha
menerangkan. Pabean dan Ki Lurah Jaran Lanang terdiam, berusaha mengingat-
ingat setiap perbuatan yang pernah dilakukan oleh pa- ra korban penculikan.
"Kami rasa tidak,"
sahut Ki Lurah Jaran La- nang, akhirnya.
"Anehnya, yang
diculik lelaki tampan dan ga- gah," sambung Pabean.
"Hm, aneh. Untuk
apa mereka itu?" gumam Mei Lie sambil memasukkan pedang kembali ke dalam
warangkanya. Suasana di tempat itu seketika gelap kembali.
Warga desa baru
tersentak kaget, setelah tahu kalau yang membuat suasana di tempat itu menjadi
terang ternyata sebilah pedang. Mata mereka membe- lalak, mulut mereka berdecak
kagum. Tak henti-hen- tinya mereka memandang wajah Mei Lie, lalu bergan- tian
ke Pendekar Gila yang masih acuh sambil cen- gengesan.
"Ki dan Nisanak.
Kalau boleh kami tahu, siapa- kah kalian? Bagaimanapun juga, kalian telah meno-
longku," kata Ki Lurah Jaran Lanang.
Belum juga Sena dan Mei
Lie menjawab, Pa- bean telah mendahului.
"Mereka adalah
Pendekar Gila dan Bidadari
Pencabut Nyawa."
Semuanya tersentak
mendengar nama yang ba- ru saja disebutkan Pabean. Mereka memang sering
mendengar nama keduanya, tapi baru kali ini mereka melihat orangnya.
"O, terimalah
salah hormat kami," hatur Ki Lu- rah Jaran Lanang sambil menjura hormat.
"Ah, sudahlah. Tak
perlu dipersoalkan. Kini kita harus memikirkan bagaimana kita dapat menemukan
tempat siluman itu. Biasanya ada seseorang yang mengundang para siluman untuk
membuat kerusuhan," tutur Sena, mengembalikan pembicaraan.
Semuanya membisu, tak
seorang pun dapat memecahkan masalah yang diajukan Sena. Mereka ti- dak tahu
dari mana siluman tengkorak menyeramkan itu berasal.
"Bagaimana kalau
kita mencarinya di sekeliling desa?" usul Mei Lie menyerahkan.
"Setuju saja!
Tapi, apa mungkin mereka berada di sekitar desa ini?" tanya Ki Lurah Jaran
Lanang, agak ragu.
"Mengenai itu, aku
tak tahu. Yang pasti, kita harus berusaha mencari," tukas Mei Lie.
"Aha, benar juga
pendapatmu, Mei Lie. Nah, bagaimana?" sambung Pendekar Gila.
"Kalau begitu,
memang sebaiknya kita berusa- ha mencari," tambah Pabean.
"Aha, tidakkah
kita harus memakai obor? Siapkanlah obor," kata Pendekar Gila.
Penduduk bergegas
mencari obor. Setelah se- mua keperluan yang diperlukan selesai, mereka pun
dipecah menjadi empat kelompok. Satu ke utara, satu ke selatan, sedang yang
lain ke barat dan ke timur. Suasana di dua desa itu seketika terang benderang,
karena banyak obor yang menyala menerangi malam yang semula gelap-gulita.
Tidak hanya obor,
kentongan pun turut serta. Bunyi kentongan terdengar sahut-menyahut. Suasana
kedua desa menjadi ramai.
Namun sampai seluruh
desa itu mereka kelilin- gi, tidak juga mereka temukan tanda-tanda yang men-
curigakan. Hal itu mengakibatkan semuanya terheran- heran serta bingung, harus
berbuat apa lagi agar dapat menemukan warga Desa Sela Kapilu yang diculik.
"Tak ada. Hm,
sulit sekali...," keluh Pabean. "Hi hi hi...! Lucu sekali. Kita
seperti main petak umpet dengan para siluman," seloroh Sena sambil
menggaruk-garuk kepala.
Mei Lie menyapukan
pandangannya ke sekelil- ing tempat di mana mereka berada kini. Namun tidak
juga ditemukannya tanda-tanda yang mencurigakan. Lalu mereka memutuskan untuk
meneruskan penca- rian di tempat lain. Namun belum juga Mei Lie, Sena serta
yang lain pergi, tiba-tiba terdengar suara ancaman seorang wanita yang memenuhi
udara.
"Ingat baik-baik
Pendekar Gila dan kau Dewi Pencabut Nyawa! Kalian telah ikut campur dalam urusan
ini! Kalian akan mendapatkan balasannya! Tunggu saja nanti! Kalian telah
membunuh sepuluh anak bua- hku!"
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak, seperti tak takut sama sekali dengan ancaman yang baru saja
didengarnya. Bahkan dengan suara lantang Sena balas berkata....
"Ha ha ha...!
Siluman jelek! Jangan kira aku ta- kut menghadapimu! Ayo, keluarlah! Biar ku
jitak pan- tatmu! Hua ha ha...!" Tubuh Sena berguncang- guncang karena
tawanya yang terpingkal-pingkal. Ke- mudian dengan konyol Sena menunggingkan
pantat- nya sambil berseru, "Nih, kentut busukku! Pruttt...!"
Sena kembali tertawa
terbahak-bahak seraya melompat-lompat tak ubahnya seekor monyet. Hal itu
membuat semua penduduk yang berada di tempat itu terbengong-bengong. Heran bercampur
kagum atas keberanian pemuda tersebut
"Kurang ajar!
Tunggulah saatnya nanti, Pende- kar Gila!" Kembali terdengar ancaman
seorang wanita.
"Hua ha ha! Lucu
sekali kau, Siluman! Seha- rusnya aku yang mengancammu. Karena kau telah be-
rani melanggar ketentuan Sang Hyang Widi. Kau lebih berani melanggar garis
alam!" dengus Sena setelah itu tertawa tergelak-gelak kembali. Dengan
berjingkrak- jingkrak pantatnya ditunggingkan lagi. "Nih kentutku.
Pruttt..!" Wesss!
Tiba-tiba angin bertiup
kencang laksana serbuan badai, menjadikan semua warga desa tersentak kaget.
Angin besar itu datang dari arah selatan.
"Aha, rupanya kau
mau bercanda denganku, Siluman Jelek?! Baik. Ayo kita main-main petak um-
pet!" Sena segera melangkah mundur. Tangannya ber- gerak memerintah semua
warga untuk tiarap.
"Kalian mundurlah.
Mei Lie, jaga mereka." "Baik, Kakang." Setelah warga mundur,
Sena segera menyatu- kan telapak tangannya di depan dada. Kemudian di-
angkatnya kedua telapak tangan ke atas, lalu digerak- kan melebar ke samping.
Setelah menarik napas da- lam-dalam, Sena membalas serangan angin topan yang
datang entah dari mana.
"'Inti Bayu'.
Heaaa...!" dihembuskan tenaga da- lamnya melalui kedua telapak tangan.
Saat itu, se- rangkum angin besar menderu kencang laksana pra- hara. Angin
'Inti Bayu' bergerak menerjang angin la- wan.
Wesss! Jlegar! Ledakan
dahsyat seketika menggelegar, ketika dua angin besar bertemu. Bahkan tanah
tempat kedua angin itu beradu, seketika berhamburan hingga mem- bentuk sumur
lebar.
Suasana kembali lagi,
tak ada lagi ancaman yang terdengar. Dan tidak juga hembusan angin menggila.
"Hm," gumam
Sena tak jelas. Matanya kembali menyapu ke atas, "Kurasa, malam ini dia
sedikit kapok. Tapi penjagaan harus senantiasa ketat. Biar ba- gaimana, siluman
tak pernah puas."
"Apa yang kau
sarankan, akan kami laksana- kan," jawab Pabean.
Malam itu juga,
beberapa penduduk berjaga- jaga. Mereka tidak ingin kecolongan dengan kedatan-
gan siluman tengkorak darah ke desa mereka.
Malam semakin sepi,
menyelimuti Desa Kara- pan dan Desa Sela Kapilu. Membawa rasa dingin yang
menusuk tulang sungsum. ***
Sementara itu, di alam
siluman yang tidak ter- jangkau penglihatan manusia, Siluman Tengkorak Da- rah
tampak berlari-lari dengan bibir melelehkan darah. Tangannya memegangi dada
yang terasa direjam sejuta duri.
"Ukh...!"
Ratu Siluman Tengkorak Darah men- geluh, merasakan sakit di dadanya akibat
benturan kekuatan tenaga dalamnya melawan Pendekar Gila. Kakinya terus berlari,
lalu masuk ke dalam istana yang dijaga dua pengawal bermuka tengkorak. Keduanya
segera menjura hormat ketika dia melewati gerbang istana.
"Sri Ratu, apa
yang terjadi?" tanya pengawal yang berdiri di sebelah kiri.
"Ukh, aku luka
dalam," sahut Ratu Siluman Tengkorak Darah sambil terus berlari masuk ke
dalam istana. "Cepat panggilkan ibu!" perintahnya pada ke- dua
pengawal tadi.
"Sendika Sri
Ratu," sahut kedua pengawal itu berbareng. Mereka bergegas mengayun
langkah ke bangunan di samping istana.
Tidak lama kemudian,
kedua pengawal itu telah kembali bersama seorang wanita berusia sekitar enam
puluh tahun. Namun kecantikan wanita itu masih utuh. Kalau dilihat sepintas
usianya masih sekitar dua puluh satu tahun. Dia adalah ibu dari Ratu Siluman
Tengkorak Darah.
Wajah wanita berkebaya
biru dengan rambut disanggul itu tampak cemas, setelah mendengar penu- turan
kedua siluman tengkorak yang menjadi prajurit- nya. Kaki wanita berparas cantik
yang sangat jauh di- bandingkan usia yang sebenarnya itu, melangkah den- gan
terburu-buru ke istana.
Wanita itu langsung
masuk ke dalam kamar Ratu Siluman Tengkorak Darah. Wajahnya semakin menampakkan
kekhawatiran ketika menyaksikan anaknya terbaring di ranjang. "O, kenapa
kau, Nak?" "Aduh, Bu," keluh Ratu Siluman Tengkorak Darah sambil
meringis memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.
"Kau habis
bertarung, Nak?" tanyanya pada ga- dis cantik jelita yang berpakaian tipis
dan minim. Hanya buah dada dan kewanitaannya saja yang ditutupi secarik kain
putih. Sedangkan bagian tubuh lainnya hanya diselimuti oleh jubah berwarna
merah darah tembus pandang, sehingga lekuk tubuhnya yang elok terlihat jelas.
Lekuk tubuhnya sangat menggai- rahkan bagi setiap lelaki yang melihat.
Gadis cantik itu
mengangguk. Mulutnya masih meringis-ringis, menahan rasa sakit
."Siapa yang
melakukannya, Nak?" tanya sang Ibu semakin cemas berbalut amarah. Matanya
berkilat penuh kegusaran. Tampaknya dia tidak senang atas kekalahan anaknya.
"Pendekar Gila,
Bu" "Pendekar Gila?" Kening wanita berkebaya biru dengan kain
warna coklat tua itu mengerut. Sepertinya dia pernah mendengar nama yang baru
saja dis- ebutkan anaknya. "Apakah yang kau maksud pemuda berpakaian rompi
kulit ular?"
Gadis cantik yang
menjadi ratu Siluman Teng- korak Darah menganggukkan kepala membenarkan.
"Hm, kurang ajar!
Dia memang penghalang sa- tu-satunya bagi kita!" dengus wanita cantik yang
sebe- narnya berusia enam puluh tahun itu. Tangannya memijat dan mengurut
sendi-sendi di tubuh sang Anak, yang menjadikan Ratu Siluman Tengkorak Da- rah
meringis. "Tahanlah sedikit, Nak."
"Auhhh...!"
keluh Ratu Siluman Tengkorak Da- rah, merasakan rasa sakit yang tak terkira.
Asap men- gepul dari dadanya yang luka. Kemudian lambat laun rasa sakit itu
menghilang.
"Nah, kini kau
telah sembuh. Hati-hatilah, jan- gan sampai kau bentrok dengannya lagi. Bila
perlu, rayulah dia. Jika dia menjadi suamimu, maka kau akan menguasai dunia
ini," tutur sang Ibu.
Ratu Siluman Tengkorak
Darah tersenyum, kemudian tubuhnya bangkit.
"Apakah aku boleh
menikmati tawanan itu, Bu?"
Sang Ibu rupanya
mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya. Dia menyadari, kalau sifat anaknya
me- rupakan titisan sifatnya. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa melarang
kemauan anak satu-satunya yang telah dewasa. Tentunya birahi anaknya pun sama
dengan birahinya.
Sang Ibu tersenyum
mengangguk. "Ambillah lima orang untukmu," katanya ke- mudian.
"Terima kasih, Bu."
Setelah ibunya berlalu,
Ratu Siluman Tengko- rak Darah memanggil prajuritnya.
"Hamba Kanjeng
Ratu!" "Bawa salah satu dari mereka kemari!" perin- tahnya.
"Tapi, Kanjeng Ratu. Bukankah itu milik Kan- jeng Ibunda?" tanya
prajurit berusaha mengingatkan.
"Jangan membantah!
Ibunda telah mengizin- kan!" bentak Ratu Siluman Tengkorak Darah dengan
mata melotot, menjadikan kedua prajurit tengkorak darah menurut. Setelah
menyembah, kedua prajurit itu berlalu meninggalkan kamar ratunya.
Sang Ratu segera
membaringkan kembali tu- buhnya di atas kasur seputih bunga melati dengan wangi
cendana. Dari luar, masuk dua prajuritnya den- gan membawa seorang lelaki
tampan dan gagah yang diculik oleh prajurit tengkorak darah.
Ratu Siluman Tengkorak
Darah menggerakkan kepala, mengusir kedua prajuritnya untuk pergi. Tanpa
membantah, kedua prajurit bermuka tengkorak itu meninggalkan kamar ratunya.
"Ayo Cah Bagus,
mendekatlah," rayu Ratu Si- luman Tengkorak Darah dengan suara yang
merang- sang. Lelaki muda yang tampan bertubuh setengah telanjang itu, kini
melangkah mendekat. Kemudian dengan buas, lelaki yang diculik dari Desa Sela
Kapilu itu menggeluti tubuh Ratu Siluman Tengkorak Darah.
"Hi hi hi...!
Bagus! Teruskan...," rengek sang Ratu sambil mendesis-desis merasakan
kenikmatan akibat gelutan dan lumatan lelaki muda itu. Matanya memejam-mejam,
napasnya tersengal-sengal.
Keduanya terus
bergelut. Satu persatu pakaian yang dikenakan mereka lepas. Sri Ratu menutup
tirai kelambu tempat tidurnya yang di sudut-sudutnya ter- gantung tengkorak
kepala lelaki.
Lama keduanya saling
bergelut, sampai akhir- nya terdengar jeritan kematian dari lelaki muda itu.
"Aaakh...!"
"Hik hik hik...!" Ratu Siluman Tengkorak Darah tertawa puas.
Dibukanya tirai kelambu tempat tidur- nya. Saat itu tampak sesuatu yang sangat
mengerikan. Tubuh lelaki gagah dan tampan itu, kini telah berubah menjadi sosok
tulang belulang. "Kini kau adalah abdi- ku! Kau harus menuruti semua
perkataan ku."
Manusia tengkorak itu
mengangguk, lalu be- rangsur meninggalkan kamar.
"Hik hik
hik...!" Ratu Siluman Tengkorak Darah tertawa melengking.
***
5
Empat prajurit penjaga
pintu gerbang malam itu tengah melakukan tugas jaga. Seperti hari-hari biasanya,
pintu gerbang Istana Kerajaan Bumi Wandra di-jaga ketat oleh empat orang
prajurit.
Malam turun bersama
udara dingin, sepertinya malam ini cuaca tidak sebaik malam-malam lalu. Meski
setiap malam udara memang dingin, namun malam ini udara terasa sangat lain.
Udara malam ini terasa sangat dingin, sampai tubuh keempat prajurit jaga
menggigil. Padahal mereka telah merokok kawung, berusaha menghilangkan rasa
dingin yang menusuk tulang sum-sumnya.
"Hoaaahhh?!"
salah seorang dari keempat pra- jurit itu menguap lebar, merasa mengantuk.
Selain dingin suasana malam itu, juga membuat mata menja- di be-rat
"Ngantuk sekali aku...," keluhnya sambil menggeleng-gelengkan kepala,
berusaha mengusir rasa kantuk yang menyerang matanya.
"Kerjamu memang
molor, To," seloroh temannya yang bernama Dasir.
"Huh, enak saja
kau ngomong, Sir. Tidak bi- asanya aku ngantuk begini," keluh Broto
tangannya mengucak-ngucak matanya agar tidak mengantuk. Namun matanya masih
tetap saja seperti digelayuti se- suatu.
"Iya ya. Aku juga
merasakan hal serupa," sela Rukino membela Broto. "Matamu juga
ngantuk."
"Wah, payah kalau
begini. Tidak ada kopi lagi," sambung Jalari.
"Iya, tak ada kopi
lagi," tambah Dasir akhirnya, turut mengeluh.
Baru saja keempat
penjaga pintu gerbang itu selesai mengeluh, mata mereka yang semula agak
ngantuk tiba-tiba membelalak lebar, manakala dalam jarak lima batang tombak di
hadapan mereka terden- gar tanah merekah. Krak! Belum habis rasa kaget keempat
prajurit jaga itu, mereka kembali dikejutkan oleh munculnya bau kemenyan dan
wangi bunga kamboja.
"Heh, bau apa
ini?" tanya Dasir dengan hidung kembang-kempis berusaha memastikan bau
yang baru diciumnya.
"Bau
kemenyan," desis Broto. "Heh, bau bunga kamboja," sambung Jalari
dengan bulu kuduk meremang. Matanya tak berkedip tegang, memandang ke arah
suara tanah retak terdengar. Saat itu, dari rekahan tanah di hadapan mereka,
membubung asap putih kehitam-hitaman yang bergerak lamban seakan gerakannya
hendak mengintai.
"Hai, asap apa
itu?!" seru Broto. Ketiga temannya memandang asap putih kehitam-hitaman
yang merayap naik di kegelapan. Kemudian asap putih kehitam-hitaman itu,
membentuk ujud berwarna merah. Ujud itu semakin lama semakin nyata.
Mata keempat penjaga
pintu gerbang membela- lak dengan mulut menganga, tatkala menyaksikan so-
sok-sosok menyeramkan terbentuk dari asap putih ke- hitam-hitaman itu. Tapi
keempat prajurit yang men- talnya sudah terlatih itu segera menyiapkan senjata
berupa tombak yang semula disenderkan di dinding pintu gerbang.
"Siapa
kalian?!" bentak Dasir sambil menga- rahkan mata tombak ke arah kawanan
siluman teng- korak darah yang kini melangkah maju mendekati me- reka.
"Kurang ajar!
Ditanya bukannya menjawab! Apakah kalian bisu, heh?!" bentak Jalari gusar.
"Ngik! Ngok!
Nguk!" Hanya suara itu yang terdengar dari mulut para makhluk bermuka
tengkorak. Hal itu semakin me- mancing kemarahan keempat prajurit jaga.
"Rupanya kalian
nekat! Jangan salahkan kami kalau kalian kami bunuh!" ancam Rukino sambil
mengajukan mata tombak ke arah gerombolan makhluk ganjil tersebut. Tapi para
makhluk bermuka tengkorak itu bagai tidak peduli dengan ancaman mereka. Mak-
hluk-makhluk bermuka tengkorak itu malah semakin maju mendekat, membuat mata
keempat prajurit mendadak membeliak tegang menyaksikan beberapa wajah
menyeramkan di hadapan mereka.
"Setaaan...!"
pekik mereka berbarengan. Mata mereka semakin melotot tegang. Tubuh mereka
gemetar ketakutan. Bulu kuduk mereka me- remang hebat dengan tengkuk terasa
dingin.
Belum juga keempat
prajurit jaga itu sadar dari rasa takutnya, tiba-tiba kawanan makhluk bermuka
tengkorak itu mengarahkan telapak tangannya pada mereka. Dari telapak tangan
makhluk-makhluk men- gerikan itu, seketika keluar sinar biru yang melesat ke
tubuh para prajurit jaga.
Jrottt!
"Wuaaa...!" Mulut keempat prajurit jaga itu memekik keras. Tubuh
mereka seketika gosong. Tubuh mereka meng- gelepar-gelepar sesaat, kemudian
diam tak bergerak dengan nyawa melayang.
"Ngik! Ngok!
Nguk!" Pemimpin kawanan makhluk bermuka tengko- rak melambaikan tangannya
untuk memerintah anak buahnya agar menerobos masuk.
Brakkk! Gerbang istana
dilabrak. Pintu yang terbuat da- ri kayu jati, hancur berantakan. Suara
jebolnya pintu gerbang, seketika menyentakkan prajurit jaga yang be- rada di
pintu bagian dalam istana. Bergegas mereka bangkit dari duduknya. Dengan sigap
mereka raih sen- jata. Lalu enam orang prajurit memburu ke arah datangnya suara
itu.
Mata mereka membalalak
seketika, menyaksi- kan sosok-sosok menyeramkan yang kini menghampiri mereka.
Keempat prajurit itu berusaha menghalangi kesepuluh siluman tengkorak darah
dengan menga- rahkan mata tombak ke tubuh lawan. Namun kesepu- luh makhluk
bermuka tengkorak itu bagai tak takut. Kaki mereka terus melangkah, setapak
demi setapak.
"Berhenti!"
bentak salah seorang prajurit Kawanan siluman tengkorak darah tak peduli,
mereka terus saja merambah maju. Tentu saja keenam prajurit itu menjadi kalap.
Mereka menusukkan tom- baknya ke dada lawan. Tapi....
Trak! "Hah?!"
Mulut mereka menganga, menyaksikan mata tombak mereka patah menjadi dua.
Seakan-akan mata tombak mereka beradu dengan batu karang yang ko- koh.
"Berhenti!"
bentak salah seorang prajurit Kawanan siluman tengkorak darah tak peduli,
mereka terus merambah maju. Keenam prajurit itu men- jadi kalap. Mereka segera
menusukkan tombaknya....
Trak!
"Hah...?!" Prajurit-prajurit itu terlongong bengong, menyaksikan mata
tombak mereka berpatahan!
Ketakutan seketika
menjalari tubuh keenam prajurit jaga itu, mendapatkan makhluk-makhluk bermuka
tengkorak yang berlumur darah tak mempan tusukan tombak. Mereka hendak lari
untuk memanggil prajurit yang lain, tapi makhluk-makhluk menyeram- kan itu
telah mendahului mereka.
Makhluk-makhluk menyeramkan
itu membuka jari-jari tangannya yang hanya tulang belulang, kemu- dian
mengarahkan telapak tangannya yang juga hanya berupa tulang ke arah keenam
prajurit jaga. Dari tela- pak tangan mereka membersit sinar biru yang meng-
hantam tubuh para prajurit jaga.
Crot! Desss!
"Wuaaa...!" jerit kematian melengking dari mu- lut korban. Tubuh
keenam prajurit itu sesaat mere- gang, lalu ambruk kehilangan nyawa.
Suasana istana kerajaan
seketika menjadi gempar karena semua prajurit dan penghuni kerajaan lainnya terbangun
mendengar jerit kematian keenam prajurit tadi.
"Tangkap
mereka...!" seru Patih Rangga Wuni memerintah para prajuritnya untuk
menangkap mak- hluk-makhluk menyeramkan yang ganas. Lelaki ini berbadan kekar
dan bertelanjang dada. Rambutnya di- gelung ke atas dengan ikat kepala terbuat
dari emas, penampilannya tampak gagah. Apalagi dengan kumisnya yang melintang.
Dia langsung terkejut melihat makhluk-makhluk yang baru kali ini dilihatnya
selama hidup.
Prajurit-prajurit yang
telah bersiaga penuh saat diperintah oleh sang Patih, seketika bergerak mengepung
kesepuluh kawanan siluman tengkorak darah.
"Tangkap mereka!
Seraaang...!" kembali Patih Rangga Wuni berseru. "Heaaa!"
"Cincang mereka!" Para prajurit bergerak serentak untuk menang- kap
makhluk-makhluk menyeramkan itu. Senjata di tangan mereka, berkelebat merangsek
kawanan silu- man tengkorak darah yang balas menyerang mereka.
"Nguik!"
Setiap gerakan tangan dan kaki makhluk- makhluk tengkorak itu mendapatkan
hasil. Nyawa pra- jurit yang terdekat menjadi korban.
Brettt!
"Wuaaa!" Pertarungan sengit antara para prajurit kera- jaan melawan
makhluk-makhluk tengkorak darah itu bergejolak seru. Beberapa prajurit berusaha
menye- rang dengan membabatkan pedang. Tapi apa yang ter- jadi...?
Trakkk! Trakkk! Pedang
di tangan para prajurit patah seperti sebatang kayu kering tak mampu memenggal
kepala siluman tengkorak darah. Bahkan makhluk bermuka tengkorak itu semakin
ganas menyerang.
"Serang
terus...!" perintah Patih Rangga Wuni berusaha memberi semangat para
prajuritnya. Tapi serangan para Prajurit Kerajaan Bumi Wandra yang ter- kenal
unggul dalam bertempur, kini bagai serbuan gerombolan lalat menghadapi sepuluh
siluman tengkorak darah. Senjata mereka yang terkenal mampu memburu nyawa,
terpatah jika berbenturan dengan tangan atau tubuh lawan.
Menyaksikan hal itu,
Pari Rangga Wuni segera mencabut keris pusakanya. Kemudian dengan geram
tubuhnya melompat menerjang musuh. Ditusukkan keris 'Ki Gimring'nya ke tubuh
lawan. Namun kejadian aneh terjadi. Keris pusaka 'Ki Gimring' di tangan Patih
Rangga Wuni kini menghujam terus di dada salah satu siluman. Patih Rangga Wuni
terperanjat kaget. Dia berusaha menarik keris pusakanya. Namun semakin keras
dia menarik, semakin kuat pula kerisnya tersedot.
"Celaka! Ilmu apa
yang digunakan oleh mak- hluk-makhluk ini?" gumam Patih Rangga Wuni dengan
tegang. Segera dilepaskannya keris pusaka itu. Tu- buhnya bersalto ke belakang,
kemudian dengan cepat dia mengirimkan serangan dengan pukulan sakti 'Semburan
Naga'.
"Heaaa!" Wesss!
Jledarrr! Satu siluman terkena ajian 'Semburan Naga' yang dilontarkan Patih
Rangga Wuni. Makhluk bermu- ka tengkorak itu ambruk. Tubuhnya mengepulkan asap,
lalu menghilang tanpa bekas.
Menyaksikan salah satu
temannya binasa, pe- mimpin makhluk-makhluk bermuka tengkorak itu mengeluarkan
suara aneh. Terdengar seperti siulan, namun melengking keras.
"Nguiiikkk...!"
Bersamaan dengan itu, bersemburan asap pu- tih kehitam-hitaman dari dalam
tanah. Kemudian nampaklah ujud-ujud menyeramkan berupa siluman
tengkorak darah. Jumlah
mereka semakin banyak, membuat para prajurit kerepotan.
Patih Rangga Wuni yang
menyaksikan jumlah makhluk itu bertambah banyak segera menyerang dengan
pukulan-pukulan sakti 'Semburan Naga'. Den- gan tubuh berkelebat kian kemari,
tangan Patih Rang- ga Wuni memuntahkan pukulan demi pukulan sak- tinya.
"Heaaa!
Heaaa...!" Jlegarrr!
***
Meski banyak juga
korban di pihak lawan sete- lah Patih Rangga Wuni melancarkan serangan dengan
'Semburan Naga', namun tenaga dalamnya terkuras juga. Hal itu jelas
mempengaruhi penyerangannya. Tu- buh Patih Rangga Wuni kini kelihatan agak
lemah da- lam menyerang. Makin jarang dia melakukan serangan dengan ajian
'Semburan Naga'. Kini dia lebih sering mengelakkan serangan-serangan lawan.
Pertarungan di halaman
istana itu berjalan cu- kup alot. Korban di kedua belah pihak telah berjatu-
han. Jumlah korban yang paling banyak diderita di pi- hak kerajaan. Korban di
pihak kerajaan empat kali lipat dari korban di pihak makhluk bermuka tengkorak.
Belum juga pertarungan
benar-benar tuntas, dari dalam istana terdengar jeritan anak raja yang meminta
tolong.
"Tolong...!
Tolooong...!" jerit Dyah Ayu Sawang Sari, putri raja tersebut.
Patih Rangga Wuni yang
sedang berusaha menghalau lawan-lawannya, tentu saja terkejut. Tu- buhnya
melompat meninggalkan arena pertempuran, lalu berkelebat masuk ke dalam istana.
Dilihatnya se-
sosok makhluk bermuka
tengkorak darah tengah membopong tubuh seorang lelaki muda yang menjadi suami
Dyah Ayu Sawang Sari.
"Berhenti...!"
bentak Patih Rangga Wuni. Wesss! Siluman yang tertangkap basah segera melan-
carkan serangan dengan pukulan maut yang mengelu- arkan sinar biru ke arah
Patih Rangga Wuni.
"Hop!
Yeaaa...!" Patih Rangga Wuni bersalto di udara, mengelakkan serangan
lawan. Sinar biru itu te- rus melesat, kemudian menghantam tiang penyangga
istana.
Jlegarrr! Krak! Bummm!
Tiang itu kontan hancur, terhantam pukulan maut yang dilontarkan makhluk
berwajah tengkorak. Hampir saja tiang itu mengenai tubuh Patih Rangga Wuni,
kalau tubuhnya tidak segera mencelat menge- lak. Namun setelah Patih Rangga
Wuni dapat mengua- sai diri, matanya tidak melihat lagi makhluk yang membawa
tubuh suami Dyah Ayu Sawang Sari.
"Bedebah! Ke mana
perginya makhluk jahanam itu?!" umpat Patih Rangga Wuni marah. Tubuhnya segera
mencelat keluar, namun di luar tidak ditemukan- nya gerombolan tengkorak darah
lagi. Yang ada hanya gelimpangan mayat prajurit kerajaan dan sisa-sisa pra-
jurit yang mematung dalam keadaan tertotok
"Kurang
ajar!" maid Patih Rangga Wuni gusar, menyaksikan para prajuritnya banyak
yang gugur, termasuk beberapa senapati dan hulubalang. Tinggal beberapa
prajurit dan senapati yang masih hidup. Me- reka pun dalam keadaan tak berdaya.
"Paman Patih, apa
yang terjadi?!" tanya Raja Brah Salagatri dengan wajah cemas, menyaksikan
banyak sekali prajuritnya yang mati. Belum lagi dengan anaknya yang menangis
menyebut-nyebut nama suaminya.
Ketika terjadi kejadian
itu, sang Raja yang bi- jaksana dan sangat arif dalam memimpin tengah tertidur
di ruang dalam istana. Tepatnya berada di sebelah selatan alun-alun istana
tempat pertempuran berlang- sung. Hingga tidak tahu kejadian yang meletus di
sa- na.
Sang Raja yang saat itu
sempat terjaga segera lari ke alun-alun, ketika sayup-sayup didengarnya jeri-
tan-jeritan kematian.
"Ampun, Baginda.
Barusan saja terjadi perta- rungan. Serombongan manusia tengkorak menyerbu,"
tutur Patih Rangga Wuni setelah menyembah.
"Manusia
tengkorak?!" pekik Raja Brah Salaga- tri dengan mata membelalak.
"Benar,
Baginda." "Lalu apa yang terjadi?" Patih Rangga Wuni
menceritakan semua keja- dian yang baru saja berlalu, tentang kerajaan yang
diserang gerombolan tengkorak darah. Tengkorak da- rah itu kebal terhadap
segala jenis senjata. Bahkan ke- ris milik Patih Rangga Wuni yang bernama 'Ki
Gimring' tak mampu mengalahkan mereka. Malah keris itu dite- lan tubuh salah
satu tengkorak darah.
"Begitulah
ceritanya, Baginda. Mereka bukan manusia biasa, mungkin juga siluman. Sebab
hamba rasa, tak mungkin manusia seperti itu dapat hidup."
Baginda Raja Brah
Salagatri tercenung, benak- nya berusaha mencerna cerita Rangga Wuni. Rasanya
cerita itu sangat aneh. Namun melihat korban dan menilai kejujuran Patih Rangga
Wuni, mau tidak mau baginda raja harus mempercayai juga kata-katanya.
"Rama.... O, Kangmas
Lingga diculik setan," isak Dyah Ayu, membuat Baginda Raja Brah Salagatri
semakin percaya pada cerita patihnya.
"Hm, bencana apa
yang tengah melanda kera- jaan?" gumam baginda raja lirih.
Mata baginda raja
memandang mayat-mayat prajuritnya. Tubuh mereka bergelimpangan dalam keadaan
yang mengenaskan, dikerubuti oleh binatang- binatang berbisa. Sangat
menjijikkan sekali!
"Kau yakin mereka
bukan manusia, Paman Pa- tih?" tanyanya, seakan ingin lebih yakin lagi.
"Ampun, Baginda.
Hamba rasa mereka bukan manusia. Seperti yang hamba katakan, mereka tengkorak
hidup. Tubuh mereka hanya tulang belulang...," tutur Patih Rangga Wuni.
"Benar, Rama. Apa
yang dikatakan oleh Paman Patih Rangga Wuni memang benar," sambung Dyah
Ayu di sela isak tangisnya. "Mereka menyeramkan. Tu- buh mereka hanya
tulang belulang belaka. Sangat me- nakutkan, Rama. Dan mereka menculik Kangmas
Lingga." Raja Brah Salagatri termangu diam. Matanya memandang ngeri ke
mayat-mayat prajuritnya yang dikerumuni binatang-binatang berbisa yang entah
da- tang dari mana. Ada juga mayat prajuritnya yang ha- ngus terbakar, seakan
baru dipanggang di atas jilatan api.
"Hm, seumurku,
baru kali ini aku melihat silu- man ikut campur dalam urusan manusia,"
gumam Raja Brah Salagatri masgul. "Mengapa kita yang dis- erang?
Sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan, Paman Patih"
"Ampun, Baginda.
Kalau boleh hamba tahu, apa yang mencurigakan menurut perkiraan Baginda?"
tanya Patih Rangga Wuni
Lelaki tua berusia
sekitar enam puluh serta berpakaian warna keemasan, bertubuh sedang dengan
penampilan tenang itu terdiam. Dihelanya napas pan- jang-panjang, berusaha
membuang kesedihan yang menghujam dada.
"Besok
kuperintahkan padamu untuk mengun- dang para pendekar dan para sesepuh istana
untuk mengadakan rapat. Sebar juga pengumuman untuk mencari tahu tentang
manusia tengkorak darah itu."
"Aku yakin ada
maksud tersembunyi di balik kejadian ini."
"Daulat, Baginda.
Segala titah Baginda, akan hamba junjung tinggi dan laksanakan," jawab
Patih Rangga Wuni sambil menyembah.
"Bagaimana dengan
Kangmas Lingga, Rama?" tanya Dyah Ayu dengan muka cemas.
"Tenanglah, Nduk.
Kuharap para pendekar da- pat membantu kita membuka tabir misteri kejadian
ini," gumam sang Raja sambil membimbing anaknya masuk, diikuti oleh Patih
Rangga Wuni.
Suasana duka
menyelimuti Kerajaan Bumi Wandra.
***
6
Pagi lahir kembali,
dikawal angin yang berhembus sejuk. Langit terlihat ramah, tanpa awan kelabu
yang menutupi. Pasar Ngaplak yang merupakan pasar ter-besar di wilayah Kerajaan
Bumi Wandra pagi itu tampak banyak pengunjungnya. Rupanya ada sesuatu yang
mendorong orang-orang berdatangan ke pasar itu.
Di sudut pasar, pada
sebuah penyangga bangunan pasar terdapat sebuah pengumuman dari kera- jaan. Itu
pula yang membuat para pedagang maupun yang hendak berbelanja berkerumun di
sana. Mereka ingin mengetahui apa isi pengumuman tersebut
Bukan hanya pedagang
dan orang-orang yang hendak berbelanja di pasar itu yang berkerumun membaca
pengumuman dari kerajaan. Penduduk di sekitar Pasar Ngaplak pun turut datang.
Mereka sama- sama ingin mengetahui isi pengumuman yang diedar- kan oleh raja.
Barang siapa yang dapat
memberikan keteran- gan tentang manusia tengkorak atau menangkap pe- mimpinnya,
raja akan memberi hadiah seratus keping uang emas. Patih Kerajaan Rangga Wuni
"Wah, hadiahnya
banyak sekali! Tentunya ba- ginda sangat murka terhadap manusia bermuka teng-
korak," ujar seorang penjual di pasar itu setelah mem- baca pengumuman.
"Wah, kalau aku
bisa menangkap mereka, ten- tu aku akan kaya raya. Aku bisa menjadi
saudagar," celoteh yang lainnya.
"Hanya pemuda
tampan dan gagah serta beril- mu tinggi saja yang bisa menangkap mereka,"
sela seorang wanita cantik berkerudung biru dari kebaya biru pula serta kain
batik coklat tua, menyentakkan semua orang di tempat itu yang langsung
memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kok Nyai tahu?
Apa Nyai pernah melihat mere- ka?" tanya seorang lelaki yang biasa
berjualan di pasar.
"Ya, bukannya
tahu. Tapi siapa sih yang bisa
menangkap mereka?
Orang-orang kerajaan saja tak dapat berbuat apa-apa," sahut wanita cantik
tadi. Kemudian dia berlalu begitu saja dari tempat itu, diikuti oleh
pemandangan seluruh orang yang terkesima ke- cantikan wanita itu.
Setelah wanita cantik
itu berlalu jauh, barulah mereka berdecak kagum atas kecantikannya.
"Ck ck ck!
Perempuan kok bahenol amat..." "Iya ya? Istri siapa ya? Cantik
sekali." "Wah, baru kali ini kulihat wanita cantik dan sebahenol
dia," sambung yang lain.
Orang-orang di pasar
itu yang semula membi- carakan masalah pengumuman sang Raja, kini malah beralih
membicarakan wanita berkerudung biru yang cantik jelita. Wanita yang memiliki
kecantikan sem- purna.
"Wah, kalau aku
bisa menangkap manusia bermuka tengkorak, ingin rasanya aku mencari wanita
cantik tadi. Kujadikan dia istriku," gumam Dakir, pen- jual tempe yang
giginya mancung ke depan.
"Mana dia mau sama
kamu, Kir...!" seloroh Parmin. "Loh, namanya saja kaya. Siapa sih
yang tidak mau sama orang kaya?" kelit Dakir dengan membu- sungkan dada.
"Huh, lagakmu saja
yang sok berani. Baru ke- temu kucing saja kamu lari...!"
Suasana pagi itu diisi
oleh gumaman khayal tentang hadiah dari sang Raja dan wanita cantik ber-
kerudung biru yang tadi berada di pasar itu.
***
Sementara itu, tidak
begitu jauh dari pasar Ngaplak, tampak dua sejoli melangkah masuk ke dalam
sebuah kedai yang telah banyak pengunjungnya. Lelaki tampan dan wanita cantik
jelita itu, tidak lain Sena, si Pendekar Gila dan Mei Lie, si Bidadari Penca- but
Nyawa.
Baru saja kedua
pendekar muda itu duduk, suasana di luar kedai seketika menjadi riuh dengan
kehadiran dua orang prajurit istana yang sedang me- masang pengumuman di pohon
ara yang besar. Lang- sung saja semuanya bergerak mendekati pohon ara tempat
kedua prajurit kerajaan memasang pengumu- man.
"Pengumuman dari
baginda yang mulia Raja Brah Salagatri!" seru salah seorang prajurit yang
tidak memasang pengumuman. "Diumumkan bagi siapa saja yang bisa menangkap
atau memberi petunjuk tentang keberadaan manusia tengkorak akan diberi hadiah
se- ratus keping uang emas dari raja!"
Bisik-bisik pun
terdengar di sana-sini. Mereka pada umumnya ingin sekali mengikuti pengumuman
itu, menangkap tengkorak darah yang sudah banyak menculik pemuda-pemuda tampan
dan gagah.
"Memang kalau
tidak segera dibasmi, bisa-bisa lelaki tampan di kerajaan ini akan habis,"
celoteh seorang warga.
"Benar! Kita harus
secepatnya membasmi teng- korak darah! Kalau tidak, maka lelaki muda dan tam-
pan akan habis!" sambung yang lainnya.
"Basmi tengkorak
darah...!" "Hancurkaaan...!" Kemarahan penduduk yang sudah
mendengar kekejian sepak terjang tengkorak darah seketika me- luap. Mereka
berteriak-teriak untuk membasmi gerom- bolan tengkorak darah yang telah
meresahkan pendu- duk di Kerajaan Bumi Wandra.
"Tenang saudara-saudara.
Tenang...!" seru prajurit yang membacakan pengumuman. "Ada dua pengumuman
lagi yang harus kalian dengarkan."
"Katakanlah, kami
ingin segera mendengar!" se- ru warga.
"Apakah ada yang
tertangkap?" tanya yang lain. "Cincang saja! Preteli
tulang-tulangnya!"
"Kasihkan pada
kucing dan anjing biar digero- goti...!" Betapa menggebu amarah warga.
Mereka tam- paknya tidak sabar lagi untuk mengetahui apa yang te- lah terjadi.
"Berita kedua
mengenai berita duka!" kata pra- jurit yang menjadikan semua warga
terdiam. "Dengar oleh kalian baik-baik. Kemarin malam, istana kerajaan
telah diserang oleh kawanan tengkorak darah. Mereka banyak membunuh prajurit
dengan cara yang sangat keji! Cara iblis! Bukan hanya itu, suami Putri Dyah Ayu
diculik. Sampai sekarang belum diketahui berada di mana...."
Semua warga
membelalakkan mata mendengar isi pengumuman duka cita itu. Wajah mereka
terlihat marah. Mungkin kalau di situ ada salah satu tengko- rak darah, mereka
akan langsung menyerang dan mempreteli tulang belulangnya.
"Berita yang
kedua. Jika di antara kalian ada- lah seorang pendekar, Baginda berharap agar
sudi datang ke istana...!"
Semua terdiam saling
pandang, berusaha ber- tanya-tanya siapa di antara mereka yang merupakan
pendekar. Sedangkan Pendekar Gila dan Bidadari Pen- cabut Nyawa nampak masih
tenang menyantap maka- nannya. Seakan mereka tidak menghiraukan pengu- muman
itu.
"Ki dan Nisanak,
dilihat dari pakaian yang ka- lian kenakan, tentunya kalian dari rimba persilatan,"
tegur pemilik kedai
setelah menghampiri keduanya.
Sena tersenyum bodoh.
Tangan kirinya meng- garuk-garuk kepala. Dipandanginya pemilik kedai yang tadi
berkata, membuat lelaki berusia sekitar empat pu- luh tahun itu tersenyum.
"Aha, pantaskah
kami menjadi pendekar, Ki? Hi hi hi..! Lucu sekali kalau kami ini
pendekar," oceh Sena sambil tertawa cekikikan. Pemilik kedai menge- rutkan
kening melihat tingkah pemuda tampan be- rambut ikal gondrong dengan pakaian
rompi kulit ular yang seperti orang gila.
Mei Lie menyikut
kekasihnya agar diam. Sena menurut diam, meski sempat menggerutu.
"Kakang, tampaknya
gerombolan siluman itu telah menjarah kerajaan," bisik Mei Lie.
"Ya! Aku heran,
mengapa istana juga dijarah? Tengkorak darah benar-benar cari penyakit,"
gumam Sena setengah berbisik.
"Jadi kalian benar
dari rimba persilatan...?" tanya pemilik kedai.
"Aha, benar
katamu, Ki. Tapi kami bukan pen- dekar," sangkal Sena semakin bertingkah
konyol. Lagi- lagi pemilik kedai yang bernama Ki Sanip mengerutkan kening.
Tampaknya lelaki itu bingung dengan ucapan pemuda tampan di depannya.
"Maksud Kisanak...?"
tanya Ki Sanip belum jelas.
"Hi hi hi...! Kau
kebingungan, Ki. Ah ah ah, be- gini. Kami memang dari dunia persilatan, tapi
kami bukan pendekar. Kami hanya seorang pengelana saja," jawab Sena,
berpura-pura.
"Ah, rupanya
Kisanak hanya merendahkan diri. Tak mungkin orang persilatan berkelana kalau
bukan seorang pendekar."
"Ah, mengapa
begitu, Ki?" tanya Sena. "Apakah
tidak boleh kalau orang
yang bukan pendekar berkelana untuk mencari pengalaman?"
"Ya, boleh saja.
Namun rimba persilatan ini ga- nas, Kisanak. Jika macan buas, tapi manusia
lebih buas. Macan tidak akan memangsa jenisnya sendiri. Tapi manusia, tega
membunuh manusia lain," tutur Ki Sanip, bijak.
"Hi hi hi...! Ah
ah ah, kau sungguh hebat, Ki. Petuahmu lebih sakti dari ilmu kedigdayaan. Tanpa
pe- tuah yang baik, orang sakti akan menjadi sesat. Bukan begitu, Ki...?"
tambah Sena turut berpetuah, membuat Ki Sanip semakin heran dengan pemuda
bertingkah gi- la itu. Tingkahnya memang seperti orang gila, tetapi pengalaman
dan pikirannya seperti orang sehat. Bah- kan seperti seorang pendekar yang
digdaya.
Siapa sebenarnya pemuda
gondrong ini? Tin- dak-tanduknya seperti orang gila. Namun cara bicara dan tata
kramanya seperti orang berpendidikan tinggi dan berilmu, gumam Ki Sanip dalam
hati. Matanya masih menatap wajah Sena dengan seksama, seperti berusaha
meyakinkan siapa sebenarnya pemuda tam- pan yang terkadang tertawa sendiri,
lalu cengengesan, atau tersenyum-senyum bodoh.
Ketika Sena dan Mei Lie
tengah ngobrol dengan Ki Sanip, dari luar masuk seorang lelaki tinggi besar
berkepala botak. Wajahnya amat garang. Kumis tebal yang panjang melintang
menghiasi atas bibirnya. Alis mata lelaki tinggi besar itu lebar. Di tangannya
terda- pat dua golok besar. Hidungnya mancung. Pakaian le- laki itu terbuat
dari kulit serigala berwarna belang kuning kecoklatan. Umurnya kurang lebih
empat pu- luh tahun.
Lelaki tinggi besar yang
memeluk sepasang go- lok besar seketika bertingkah sopan, ketika dilihatnya dua
orang yang tengah makan di kedai itu.
"Oho, rupanya
Pendekar Gila hadir di sini," ka- ta lelaki yang bergelar Serigala Merah
Golok Kembar itu sambil menjura hormat "Terimalah salam dari Seri- gala
Merah."
Ki Sanip tersentak,
setelah mendengar Serigala Merah menyebut nama pemuda tampan yang kini ter-
tawa tergelak-gelak
"Jadi, dia
Pendekar Gila?" gumam Ki Sanip da- lam hati dengan mata membelalak.
"Pantas..., pan- tas...."
Pendekar Gila bangkit
dari bangkunya, diikuti oleh Mei Lie. Mereka membalas juraan Serigala Merah
yang cukup terperangah, melihat gadis yang duduk bersama Sena.
"Oho, rupanya
Bidadari Pencabut Nyawa pun hadir di sini. Maaf, mata tuaku kurang dapat
melihat dengan baik."
"Ah, tidak
mengapa, Kisanak. Silakan duduk. Mari kita makan bersama," ajak Mei Lie
dengan penuh wibawa. Ki Sanip semakin terkejut, setelah tahu bahwa gadis Cina
itu juga seorang pendekar yang namanya akhir-akhir ini menjadi buah bibir. Julukannya
cukup membuat para tokoh rimba hitam harus berpikir pulu- han kali untuk
menghadapinya. Apalagi dengan Pe- dang Pusaka Bidadari yang ampuh, sulit bagi
para pendekar pedang untuk bisa menandinginya.
Serigala Merah pun
duduk bersama kedua pendekar muda yang cukup disegani baik oleh kawan maupun
lawan.
Ki Sanip segera
mengambil makanan untuk Se- rigala Merah.
Ketiga pendekar itu pun
menyantap makanan sambil membicarakan masalah yang telah terjadi di rimba
persilatan wilayah timur. Malah mereka kini
membicarakan masalah
tengkorak darah yang telah berani menjarah istana.
"Bagaimana
menurutmu dengan masalah ini, Tuan Pendekar?" tanya Serigala Merah ingin
tahu tanggapan Sena.
Sena nyengir sambil
menggaruk-garuk kepala sesaat
"Aha, bagaimana
aku menjelaskannya? Hi hi hi...! Kau ini lucu sekali, Sobat. Mana aku tahu
masa- lah ini?" sahut Sena sambil cengengesan.
"Ya ya, aku tahu.
Tapi aku baru saja membaca pengumuman itu. Di situ dijelaskan, bagi siapa saja
yang dapat menangkap tengkorak darah akan menda- patkan hadiah seratus keping
uang emas. Apa kau ti- dak berminat mengikuti sayembara itu."
Sena masih cengengesan
sambil menggaruk- garuk kepala. Setelah melirik Mei Lie yang hanya ter- senyum,
Sena menjawab.
"Ah, kurasa tidak,
Sobat. Apakah kau berkenan mengikutinya?" balik Sena bertanya.
"Ya! Aku ingin
mengikutinya," jawab Serigala Merah. "Dapatkah kau memberi penjelasan
apa yang seharusnya kulakukan?" pinta Serigala Merah. Sena kembali tertawa
cekikikan. "Aha, kurasa aku hanya bisa berkata kau harus berhati-hati,
Sobat. Yang akan kau hadapi bukan ma- nusia seperti kita."
"Jadi...?"
alis Serigala Merah terangkat "Para tengkorak darah adalah gerombolan si-
luman," jawab Mei Lie, mendahului kekasihnya.
"Siluman?!"
"Ya, begitulah. Mereka bukanlah manusia, tapi siluman," ulang Mei Lie
menegaskan.
"Hm."
Serigala Merah bergumam tak jelas. Ma- tanya kini menerawang keluar.
"Kalau memang tengkorak darah adalah siluman. Tentu sangat sulit bagi ma-
nusia untuk mengalahkannya," nilai Serigala Merah.
"Kisanak, ada
baiknya kau mencoba. Tapi se- perti yang kukatakan tadi, hati-hatilah.
Percayakan semua jiwa dan ragamu pada Sang Hyang Widi. Hanya dia yang
menentukan hidup dan mati makhluk di du- nia ini," tutur Sena berusaha
menasihati.
"Jadi menurutmu
aku bisa mengikuti sayemba- ra itu?" "Aha, semua orang bisa, Sobat.
Kau, aku, Bida- dari Pencabut Nyawa, dan lain-lainnya, bisa mengikuti. Semua
kini tergantung dari nasib dan kehendak Sang Hyang Widi. Jika nasib kita baik atas
kehendak Sang Hyang Widi, tentu kita akan menang...," tutur Pende- kar
Gila. Kemudian dia menambahkan.... "Bagaimana- pun juga, suatu saat aku
harus mengikuti, Sobat. Secara langsung maupun tak langsung, aku pasti akan
turut berusaha memberantas segala macam bentuk kejahatan dan keangkaramurkaan
di muka bumi ini."
"Ya ya, aku
mengerti," sahut Srigala Merah. "Kalau begitu aku bisa mengikuti
sayembara itu?"
"Ya ya, kami
berdoa, semoga engkau dalam lin- dungan Sang Hyang Widi," kata Mei Lie.
"Terima kasih.
Dengan dorongan semangat dari kalian, tekadku semakin bulat," hatur
Serigala Merah.
"Kita makan dulu,
Sobat," ajak Sena. Ketiganya kembali menyantap makanan mere- ka. Setelah
selesai, Serigala Merah membayar semua makanan yang telah mereka pesan.
Kemudian mereka keluar meninggalkan kedai itu.
"Hendak ke arah
mana tujuan kalian?" tanya Serigala Merah.
"Ah, entahlah,
Sobat. Kami hanya mengikuti langkah kaki kami. Ke mana angin bertiup, ke sana
kami menuju," jawab Sena.
"Kalau begitu kita
berpisah dulu. Semoga kita dapat bertemu di lain waktu. Permisi...,"
Serigala Me- rah menjura hormat, dan dibalas oleh Pendekar Gila dan Bidadari
Pencabut Nyawa (Mengenai julukan Mei Lie sebagai Bidadari Pencabut Nyawa,
silakan anda ikuti serial Pendekar Gila dalam episode "Titisan Dewi Kuan
Im" dan "Pedang Pencabut Nyawa").
Kedua pendekar muda itu
sesaat mematung di tempat yang berjarak sekitar dua puluh lima batang tombak
dari kedai. Mata mereka memandang ke seke- liling yang nampak asri dengan
barisan tumbuhan hijau.
"Hendak ke mana
kita, Kakang?" tanya Mei Lie. "Aha, kenapa kau bertanya? Bukankah
kita se- dang bertualang? Ke mana angin berhembus, ke sana pula kita melangkah,"
jawab Sena berseloroh, membuat Mei Lie gemas.
"Kau nakal,
Kakang. Selalu saja menggodaku!" sungut Mei Lie manja.
"Karena aku suka
menggodamu. Apa tak bo- leh...?"
"Hm...," Mei
Lie bergumam, sedang matanya menatap penuh arti ke wajah tampan Sena yang saat
itu tersenyum. "Kakang...."
"Hm, ada
apa?" tanya Sena sambil menengok ke gadis pujaannya.
"Lama kita
berpisah. Saat itu, ingin rasanya aku bertemu denganmu. Tapi setelah bertemu,
kau nakal. Kau suka menggodaku," kata Mei Lie dengan suara manja.
Sena tertawa ngakak.
"Kalau tidak menggoda, lalu harus bagaimana?" tanya Sena berpura-pura
tidak tahu.
Mei Lie terdiam,
tersipu-sipu malu. Sena me- langkah mendekati kekasih hatinya. Dipegangnya
pundak Mei Lie dengan
lembut. Kemudian dibelainya rambut Mei Lie.
"Kita berangkat,
Mei Lie?" ajak Sena. "Kakang belum mengatakan padaku," desak Mei
Lie cemberut.
"Tentang
apa?" "Ketika kita berpisah," jawab Mei Lie. "Aha, kurasa kau
telah mengerti, Mei Lie. Seperti hatimu, aku pun merasakan hal yang
serupa...," jawab Sena dengan suara meyakinkan, membuat Mei Lie tersenyum.
Dengan iringan angin
yang bertiup lembut, ke- duanya pun melangkah untuk meneruskan perjalanan
mereka.
***
7
Suasana Istana Kerajaan
Siluman Tengkorak Darah nampak sibuk. Mereka hendak mengadakan pesta. Seluruh
siluman tengkorak darah, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Umbul-umbul
berbaris sepanjang jalan alam siluman. Benar-benar hendak melaksanakan satu
acara besar.
Di ruangan lebar yang
biasanya digunakan untuk pertemuan, duduk di singgasana seorang wanita muda
yang cantik berpakaian minim. Wanita cantik yang ternyata Ratu Siluman Tengkorak
Darah, duduk dengan penuh keanggunan. Matanya yang lentik, memandang tajam pada
para punggawa kerajaan yang berupa tengkorak darah juga. Para punggawa, hulu-
balang dan patih kerajaan duduk di ruangan lebar itu
Sulit untuk membedakan
mana yang prajurit, mana yang hulubalang dan mana yang patih serta tu-
menggung. Semuanya bermuka tengkorak menyeram- kan. Hanya ada pembeda bagi
mereka, yaitu darah yang melumuri muka tengkorak
Patih kerajaan memiliki
banyak lumuran darah di muka. Bahkan menutupi semua mukanya. Panglima perang
dan para hulubalang serta tumenggung pun memiliki ciri lain. Darah yang
menutupi muka mereka lebih sedikit daripada patih.
Begitulah seterusnya.
Semakin rendah pang- katnya, semakin pucat wajah tengkorak itu.
Ada juga ciri lain dari
para tengkorak darah, yaitu pada lengan bajunya. Kalau patih lengan bajunya
terdapat bunga kamboja sebanyak empat kuntum. Panglima perang tiga, hulubalang
dua kuntum, sedangkan tumenggung satu dan prajurit tak ada.
"Paman Patih, hari
ini ibunda hendak melaku- kan upacara usia yang ke enam puluh lima tahun. Un-
tuk itu, aku titahkan pada Paman Patih agar menjaga istana dengan ketat. Jangan
sampai ada bangsa lain yang masuk dan membuat kekacauan. Kalau ada, kuperintahkan
membunuhnya!"
"Sendika Kanjeng
Ratu," jawab Patih Tengkorak Darah.
"Kini kalian boleh
bubar, jangan sekali-sekali menggangguku," kata Ratu Siluman Tengkorak
Darah.
"Sendika, Sri
Ratu." Setelah melakukan sem- bah, para prajurit dan pembesar istana pun
mundur dari hadapan ratu mereka yang kini bangkit dari sing- gasananya,
melangkah masuk ke dalam kamar yang telah tersedia seorang lelaki muda yang
gagah, berpa- ras tampan, serta bersih.
Lelaki muda itu
ternyata Lingga, suami Dyah Ayu yang diculik. Lingga yang sudah terpengaruh
oleh ilmu sihir Ratu Siluman Tengkorak Darah kini bagai
lupa segalanya.
Tubuhnya terbaring telanjang di atas tempat tidur.
Dari luar, masuk Ratu
Siluman Tengkorak Da- rah. Bibir sang Ratu mengurai senyum. Saat itu pula,
Lingga segera bangkit. Bibir lelaki tampan itu men- gembangkan senyum.
Tampaknya dia benar-benar se- nang melihat kedatangan Ratu Siluman Tengkorak
Da- rah.
"Anak bagus,
rupanya kau telah lama menung- gu," desis Ratu Siluman Tengkorak Darah
sambil men- gulurkan tangannya, yang disambut oleh Lingga den- gan pelukan
mesra. Tidak hanya sampai di situ, Lingga kemudian menciumi seluruh wajah Ratu
Siluman Tengkorak Darah, lalu merambah turun ke leher Ratu Siluman Tengkorak
Darah yang jenjang dan menan- tang.
Lingga yang sudah
terbius pengaruh sihir Ratu Siluman Tengkorak Darah, benar-benar lupa sega-
lanya. Bahkan istri tercintanya kini tak ada lagi di ke- dalaman hatinya, yang
ada hanya nafsu liar yang mendidih. Lama kemudian membisu. Hanya desah- desah
napas jalang saja yang terdengar. Sampai akhir- nya....
"Aaakh...!"
Tiba-tiba Lingga mengejang. Matanya melotot menahan sekarat. Sedangkan Ratu
Siluman Tengkorak Darah tertawa cekikikan. Seakan senang menyaksikan bagaimana
Lingga bergelinjang menghadapi maut
"Aaakh!"
"Hik hik hik...!" Kau puas, Cah Bagus! Kini ayahku akan melihat
bagaimana pembalasan ibu! Hua ha ha...!" "Akh, ampun...!" jerit
Lingga terus menggeliat- geliat kesakitan. Bagian bawah tubuhnya bagai ada yang
menggigit. Bahkan kini seperti putus. Darah me-
nyembur dari kemaluan
Lingga yang putus. Sedangkan dari kemaluan Ratu Siluman Tengkorak Darah, tam-
pak seekor binatang berbentuk ular tengah melumat kemaluan Lingga.
Lingga
menggelepar-gelepar sekarat, kemudian terkulai dengan nyawa melayang.
"Hua ha ha...!
Ayah, lihat pembalasan ibu! Li- hat! Kau telah menyia-nyiakan aku dan ibu! Kini
kau lihatlah semua!" tawa Ratu Siluman Tengkorak Darah menggelegar,
disertai gemuruhnya angin yang memba- dai. Entah siapa yang disebut sebagai
ayahnya.
"Prajurit!"
Dua orang prajurit bergegas masuk, kemudian menyembah.
"Hamba Kanjeng
Ratu...." "Bawa tubuh lelaki ini, buang ke alam manusia di dekat
istana!" perintah Ratu Siluman Tengkorak Darah.
"Sendika, Sri
Ratu." Kedua orang prajurit yang bermuka tengkorak itu segera mengangkat
mayat Lingga keluar mening- galkan kamar ratu mereka yang masih tertawa.
***
"Mayat..!
Mayaaat..!" Seorang prajurit yang sedang bertugas mengeli- lingi tembok
istana menjerit-jerit, ketika menyaksikan sesosok tubuh tanpa pakaian
dikerumuni oleh bina- tang-binatang berbisa menjijikkan. Rupanya mayat Lingga
yang mengalami kematian mengerikan dibuang di tempat itu.
"Mayat! Mayat Den
Lingga...!" Sepontan semua penghuni istana termasuk sang Raja keluar untuk
melihat apa yang terjadi. Mata
mereka serentak
membelalak, menyaksikan mayat Lingga tiba-tiba telah tergolek di buritan istana
dalam keadaan mengerikan.
"Kangmas
Lingga...!" Dyah Ayu yang melihat suaminya telah mati da- lam keadaan
mengenaskan seketika menjerit histeris. Tubuhnya gontai, lalu pingsan tak kuat
menerima guncangan batin.
Patih Rangga Wuni dan
Baginda Raja Brah Sa- lagatri menghela napas dalam-dalam.
Kematian yang sama
dialami oleh para prajurit kerajaan tiga hari lalu. Tapi mayat Lingga kini
lebih mengerikan, karena kemaluannya hilang. Seperti digi- git oleh binatang
berbisa, yang menjadikan tubuhnya membiru.
"Ini
keterlaluan!" dengus baginda raja geram. "Kita harus segera meringkus
pelaku semua ini. Aku tak peduli itu bangsa siluman atau manusia!"
Patih Rangga Wuni
terdiam. Sulit baginya un- tuk mengutarakan kata-kata. Bagaimanapun juga, dia
harus berpikir beratus kali untuk bisa menjawab se- mua misteri ini. Kalau
benar pelakunya siluman, apa dasarnya sehingga bangsa siluman begitu dendam
ter- hadap Kerajaan Bumi Wandra?
"Patih, kau harus
memanggil para pendekar untuk datang ke istana secepatnya. Aku tak ingin kor-
ban semakin banyak berjatuhan. Kita harus segera menghentikan semuanya!"
dengus baginda raja marah. "Sendika, Yang Mulia. Hamba akan segera men-
jalankan tugas."
"Lakukanlah
sekarang juga." "Sendika, Yang Mulia." Patih Rangga Wuni segera
menyembah, kemu- dian tubuhnya pun berlalu meninggalkan buritan ista- na di
mana raja dan kerabat istana masih berdiri di tempat itu.
Sore telah menjelang.
Sebentar lagi kegelapan malam akan segera merambah. Matahari terpulas le- lah.
Suasana duka menyelimuti kerabat istana. Mereka tak pernah tahu apa yang telah
terjadi belakangan ini. Semua masih gelap, menjadi tabir misteri yang sulit untuk
dikuak.
Orang-orang istana
tampak sibuk mengurus mayat Lingga. Wajah mereka dirundung duka yang da- lam
atas kematian menantu baginda raja. Mereka tidak tahu, mengapa mesti keluarga
raja yang menjadi kor- ban. Padahal baginda raja sangat arif dan bijaksana
memimpin kerajaan. Tak pernah sekalipun baginda berlaku tidak adil dan kasar,
yang akan membuat orang dendam.
Mereka tak tahu. Semua
orang tak tahu, kalau ada sesuatu yang terjadi di balik semua itu. Dendam
seorang wanita dan anaknya yang merasa disia-siakan. Dendam yang membuat
keduanya bersumpah untuk mengabdi di alam kegelapan.
Dendam itu kini
terwujud, setelah diterimanya kedua ibu dan anak menjadi bangsa siluman, bangsa
kegelapan. Dengan cara mengorbankan jiwa dan raga mereka. Kalau saja semuanya
tahu, tentu semua tak akan bingung dan resah menghadapi kejadian- kejadian yang
aneh dan penuh misteri.
Hujan rintik turun
mengiringi duka keluarga is- tana atas kematian Lingga. Dengan derai air mata
yang berbaur dengan derai hujan, mayat Lingga dikebumi- kan sebagaimana adat
kerajaan.
Dyah Ayu masih
terseguk-seguk, bahkan bebe- rapa kali jatuh pingsan, tak kuat menahan
kesedihan yang dialaminya. Mereka baru menikah sebulan yang lalu. Dalam keadaan
yang seharusnya gembira, tiba-
tiba tengkorak darah
merenggut Lingga dari pelukan- nya. Lalu setelah tiga hari menghilang,
tiba-tiba Lingga diketemukan telah menjadi mayat yang sangat menge- rikan.
"Ibu, mengapa
semua ini terjadi? Hu hu hu...!" "Entahlah, Cah Ayu. Ibu juga tak
mengerti," ka- ta ibunda Dyah Ayu sambil memeluk tubuh anaknya. Tangannya
dengan lembut membelai-belai rambut sang Anak.
Wanita cantik jelita
yang sangat sayang pada anaknya itu bertubuh ramping dengan rambut disang- gul.
Wajahnya tampak lembut, tenang, dan penuh ka- sih. Matanya lentik serta
berbibir mungil, meski usianya sudah menginjak tua. Sabar sekali tingkah la-
kunya.
"Sudahlah, Dyah.
Mungkin semua ini suratan Sang Hyang Widi!" tambah ayahnya, Raja Kerajaan
Bumi Wandra dengan masgul.
"Tapi, Rama,
Mengapa harus kita yang meneri- manya? Mengapa?"
Raja Brah Salagtari
menghela napas dalam- dalam. Dengan air mata berlinang, Raja Brah Salagatri
berusaha menjawab pertanyaan anaknya.
"Sang Hyang Widi
tak pandang siapa manusia itu, Dyah. Kalau dia menghendaki, pasti akan terjadi.
Mungkin hari ini Lingga, besok siapa tahu Ayah."
"Tapi ini bukan
kehendak Sang Hyang Widi, Rama," bantah Dyah Ayu.
"Sudahlah, Cah
Ayu. Terimalah semuanya den- gan hati yang tabah. Serahkan semuanya pada Sang
Hyang Widi. Semoga Dia menerima arwahnya," hibur sang Ibu Suasana duka
masih menyelimuti mereka. Pe- kuburan kerabat istana kembali sepi dan senyap.
Hanya terdengar desah angin yang bergesek dengan
daun-daun pohon kering.
Berderit lirih penuh duka.
Satu persatu mereka
meninggalkan pekuburan itu, masih dengan membawa tangis. Pekuburan pun
benar-benar sepi. Malam merambat datang, dengan kegelapannya yang terasa
semakin mencekam.
Krakkk! Tiba-tiba
kuburan tempat Lingga dimakamkan berbunyi. Ada sesuatu yang terjadi. Bersamaan
dengan itu, terdengar suara berseru sayup-sayup.
"Atas nama
tengkorak darah! Bangunlah...!" Krakkk! Werrr! Angin menderu dengan
kencang, seiring dengan suara pecahnya tanah di kuburan Lingga. Dari kegela-
pan yang mencekam, tampak se sosok tubuh berdiri. Tangannya terangkat ke atas.
Matanya tajam meman- dang kuburan Lingga yang merekah.
"Bangkitlah! Atas
nama tengkorak darah. Bangkit! Bangkit dari kuburmu! Bunuh Raja Brah Sa-
lagatri! Bunuh...!"
Krakkk! Duarrr! Ledakan
dahsyat menggelegar, memecahkan kesunyian malam yang dingin, disertai rintik
hujan ge- rimis. Sepasang tangan kaku dengan kuku-kuku pan- jang, merayap naik
perlahan-tahan. Lalu tampak-lah kepala Lingga yang mengerikan. Kepala
menyeramkan itu muncul ke permukaan tanah. Matanya berwarna merah menyala.
Kemudian sosok menyeramkan itu berdiri di atas liang kuburnya. Matanya
memandang sosok wanita yang berdiri di tengah kegelapan.
"Aku
bangkit..." "Kemarilah!" seru wanita dalam kegelapan me-
merintah.
Sosok mayat hidup itu
melangkah mendeka- tinya.
"Apa yang harus
kulakukan?" tanya mayat hi- dup itu dengan suara berat dan serak. Bau
busuk me- nebar di udara malam.
"Hua ha ha...!
Bagus! Bagus...! Kau adalah ab- diku yang setia! Kau akan menjadi penghancur
keluar- ga kerajaan! Bawa anak lelaki Brah Salagatri! Bawa ke tempatku!"
perintah wanita yang berdiri di kegelapan.
"Hanya itu?"
tanya mayat hidup. "Untuk kali ini. Hanya itu!" "Baik, aku akan
melakukannya." "Bagus! Pergilah segera...!" Wanita itu
menghilang. Kini tinggallah mayat hidup yang melangkah membelah malam. Desah
na- pasnya yang berat, membuat suasana di sekelilingnya semakin mencekam.
Dentuman langkahnya pun se- makin membahana, menggetarkan kesunyian.
Mayat hidup itu
melangkah menuju istana. Enam orang penjaga pintu gerbang tersentak, manakala
melihat sesosok menyeramkan menuju ista- na. Mata mereka membelalak tegang.
Sepontan mereka menjerit ketakutan, membuat orang-orang istana ter- sentak dan
berhamburan lari keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Mayat
hidup...!" seru mereka ketakutan "Lingga! O, apa yang terjadi
denganmu?" tanya Raja Brah Salagatri dengan mata melotot tegang, me-
nyaksikan mayat menantunya yang baru dikubur sore tadi, kini bangkit. Mata
Lingga bersinar merah menye- ramkan. "Gerrr! Minggir...!" bentak
mayat hidup itu sambil menggerakkan tangan.
Wettt! Para penjaga
pintu gerbang dicengkeramnya, kemudian dengan enteng dilemparkan keenam
prajurit itu sampai melayang di udara. Lalu jatuh ke tanah
dengan nyawa melayang.
Menyaksikan kebengisan
mayat Lingga, Raja Brah Salagatri segera memerintah para prajuritnya untuk
membunuh mayat itu. "Bunuh iblis itu...!" Serentak berpuluh prajurit
bergerak maju untuk menyerang. Dengan pedang dan tombak, mereka menyerang mayat
Lingga.
Swing, swing, swing!
Jlep, jlep, jlep! Puluhan anak panah dan tombak menghujani tubuh mayat Lingga
yang hidup kembali. Beberapa ba- gian tubuhnya tertembus telak. Bahkan ada yang
sempat menembus hingga bagian belakang tubuh. Tapi mayat hidup itu bagai tidak
merasakan apa-apa. Ma- lah dicabutnya senjata-senjata yang menghujam di tu-
buhnya. Kemudian dengan penuh amarah, dilempar- kannya kembali senjata itu ke
para prajurit.
"Gerrr! Ini
senjata kalian kukembalikan! Heaaa...!" Puluhan senjata itu melesat laksana
dilontar- kan tenaga raksasa. Tanpa ampun....
Jlep, jlep, jlep!
"Wuaaa...!" Puluhan prajurit menjerit setinggi langit. Tubuh mereka
tertembus senjata-senjata yang tadi mereka le- paskan. Raja Brah Salagatri
semakin bertambah cemas menyaksikan keganasan mayat hidup menantunya. Dia
segera lari masuk ke dalam sambil berseru meme- rintah prajuritnya untuk
membunuh mayat hidup itu.
"Gerrr! Minggir
kalian...!" Wuttt! Tangan mayat hidup bergerak cepat, menyam- bar tubuh
para prajurit yang berusaha menghalanginya. Seketika mereka terlempar ke udara
bersama je- rit kematian yang menyayat.
"Wuaaa...!"
Bug, bug, bug! Menyaksikan kematian teman-temannya, nyali para prajurit lainnya
mendadak ciut. Mereka segera menyingkir, ketika mayat hidup itu melangkah mende-
kati mereka. Mayat hidup itu terus melangkah masuk. Namun tiba-tiba dia
dihalangi oleh seorang lelaki tua berjubah ungu. Di tangan lelaki tua berjubah
ungu yang bernama Ki Gendut Kluntung, tergenggam tom- bak pendek bermata dua
yang dinamakan 'Ki Basupati',
"Minggatlah kau ke
alammu! Heaaa...!" Ki Gen- dut Kluntung yang, keadaan tubuhnya kurus tidak
seperti namanya itu, merangsek dengan senjata pusa- kanya.
"Heaaa...!"
"Gerrr! Minggir kau!" bentak mayat hidup sam- bil bergerak menyerang
Ki Gendut Kluntung. Dia ada- lah Pendekar Istana Bumi Wandra yang berusia
sekitar lima puluh tujuh tahun. Berambut panjang dengan bagian atas kepala
botak, berhidung pesek dan berma- ta lebar. Tubuhnya harus berjumpalitan
mengelakkan serangan lawan yang menimbulkan angin panas mem- bakar.
"Edan! ilmu
iblis...!" maki Ki Gendut Kluntung dengan mata membelalak, menyaksikan
keganasan pukulan tangan lawan.
Saat itu, ketika Ki
Gendut Kluntung mengelak, mayat hidup berlari menuju kamar putra Raja Brah
Salagatri yang bernama Citro Buono. Diambilnya pemuda tanggung yang
menjerit-jerit ketakutan itu.
"Rama,
tolooong...!" "Anakku! Anakkuuu...! Jangan bawah anakkuuu!" seru
Raja Brah Salagatri, berusaha mencegah mayat hidup. Tapi tubuh mayat hidup telah
menghilang lewat jendela kamar anaknya.
"Iblis! Jangan lari...!"
bentak Ki Gendut Kluntung mengejar.
***
8
Sia-sia saja Ki Gendut
Kluntung mengejar, sebab mayat hidup itu telah menghilang dalam kegelapan entah
ke mana. Seperti menyusup ke dasar bumi.
Dengan penuh
kekecewaan, Ki Gendut Klun- tung kembali ke kerajaan. Namun baru beberapa lang-
kah kakinya bergerak, tiba-tiba tanah di sekelilingnya merekah. Bersamaan
dengan itu, dari rekahan tanah muncul asap putih kehitam-hitaman mengurung tu-
buh Ki Gendut Kluntung.
"Heh, apa
itu?!" desis Ki Gendut Kluntung den- gan mata membelalak, menyaksikan
sesuatu yang aneh. "Uh, bau kemenyan dan bunga kamboja.
Wesss! Krakkk! Suara
asap mengepul disertai derak tanah re- tak kembali terdengar. Samar-samar, kini
tampak pu- luhan makhluk-makhluk menyeramkan mengelilingi Ki Gendut Kluntung.
"Hah...?! Mereka
dari dalam tanah! Oh, mereka benar-benar siluman tengkorak darah," desis
Ki Gen- dut Kluntung dengan mata membelalak tegang. Cepat- cepat disiapkan
senjata pusakanya, tombak pendek Ki Basupati.
"Gerrr!
Nguikkk...!"
No comments:
Post a Comment