Monday, April 15, 2019

011 Perjalanan Ke Akherat


Perjalanan Ke Akherat

1
Angin pagi berhembus tidak seperti biasanya. Pagi ini, di sekitar Danau Sambak Neraka angin bertiup sangat keras. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Angin tiba-tiba bagaikan mengamuk, menerbangkan debu dan dedaunan kering.
Danau Sambak Neraka yang terletak di sebelah selatan Desa Krasak, pagi itu masih tertutup kabut tebal yang dingin. Namun, tidak seperti biasanya angin bertiup sangat kencang seperti ini. Biasanya angin bertiup tenang, menghembuskan hawa pagi yang sejuk dan segar, yang akan menambah kenyamanan suasana pagi.
Pagi yang biasanya cerah tiba-tiba berubah menjadi suasana yang mencekam dan menakutkan. Suasana aneh yang rasanya laksana berada di dalam kematian alam akherat.
Sementara itu, dari arah timur nampak sesosok tubuh wanita membopong seorang bayi yang masih merah. Wanita yang nampaknya habis melahirkan itu berlari-lari seperti ada sesuatu yang dicarinya. Wajahnya nampak pucat. Seperti memendam ketakutan. Sesekali menoleh ke belakang, me- mandang ke arah timur. Seakan ada sesuatu yang dikhawatirkannya.
Air mata wanita yang mengenakan pakaian hijau lumut berparas cantik dengan rambut diikat ekor kuda itu, meleleh di kedua pipinya.
“Kakang Anjasmara, bagaimana nasibmu, Kakang?” keluh wanita cantik yang bernama Sambil-sambil terus berlari dengan tangan masih meng- gendong bayi. Sementara bayi di gendongannya terdengar menjerit-jerit tiada henti.
“Oaaa...! Oaaa...!” “Cup, Sayang...! Cup...!” Sambi berusaha me- nenangkan bayinya yang terus menangis. Bayi itu seperti mengerti kalau ayah dan ibunya dalam keadaan menderita. Sesaat tangisnya berhenti. Namun kemudian terdengar kembali menjerit-jerit, seperti ikut merasakan cekaman rasa takut ibunya.
Sementara itu pula, dari kejauhan nampak se- orang lelaki bertubuh tinggi tegap dengan rambut terurai panjang, tengah menghadapi sepuluh orang berpakaian kembar warna ungu yang mengeroyoknya dengan senjata berupa toya.
Lelaki tinggi tegap berwajah tampan itu tiada lain Anjasmara. Sedangkan kesepuluh lelaki dengan pakaian ungu dan berkepala botak itu, ternyata Dasa Toya Kuil Merak. Mereka merupakan para resi dari Kuil Merak.
“Menyerahlah, Anjasmara! Kau harus memper- tanggungjawabkan tindakanmu!” seru resi pertama, bernama Kopayana. Orang itu bertubuh tinggi kurus dan agak bungkuk. Matanya tajam, berhidung mancung seperti paruh betet, dan berjanggut panjang.
“Ya! Kau harus bertanggung jawab pada Ki Badawi, karena kau telah melarikan anaknya!” sambut Resi Udayana, lelaki bertubuh pendek dengan perut gendut. Wajahnya panjang seperti ular, dengan alis mata tebal. Hidungnya tidak terlalu mancung seperti resi pertama.
“Itu bukan urusan kalian!” sahut Anjasmara. “Aku bukan menculik Sambi. Kami saling mencintai!”
“Tak peduli! Yang jelas kau telah merebut Sambi dari calon suaminya! Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!” bantah Resi Sadayana, lelaki berbadan besar dengan wajah garang ditumbuhi kumis tebal melintang.
“Cuh! Enak saja kalian bicara! Sumantri-lah yang telah merebut Sambi dari tanganku!” sentak Anjasmara sengit, dituduh kalau dirinya merebut Sambi dari Sumantri. Padahal antara dirinya dan Sambi telah terjalin ikatan cinta semenjak sama- sama di Perguruan Pedang Darah.
Pertarungan Anjasmara melawan kesepuluh resi yang bergelar Dasa Toya Kuil Merak nampak seru. Meski menghadapi sepuluh orang yang berilmu lumayan, Anjasmara yang merupakan murid kedua dari Perguruan Pedang Darah nampak tak mengalami desakan yang berarti. Bahkan serangan-serangan yang dilancarkannya cukup mengejutkan kesepuluh resi berbaju ungu itu.
Baiklah, untuk mengetahui siapa sebenarnya Anjasmara, Sumantri, dan Sambi, mari kita kembali pada kejadian sepuluh tahun yang silam! Ketika itu ketiganya masih menjadi satu dalam didikan seorang tokoh rimba persilatan yang bernama Ki Badawi atau Dewa Pedang.
Sumantri, Anjasmara, dan Sambi merupakan kakak beradik pada Perguruan Pedang Darah. Ketiganya dididik dan digembleng oleh guru sekaligus orangtua angkat mereka yang bernama Ki Badawi.
Ki Badawi merupakan orang tua yang paling sayang terhadap anak-anak telantar. Ki Badawi menemukan Sumantri dan Anjasmara ketika tengah berlanglang buana. Dua bocah kecil tampan yang entah anak siapa, berada di tengah hutan. Karena
kasihan, dibawanya pulang. Kemudian dirawat.
Selang beberapa hari kemudian, ketika Ki Badawi kembali dari bepergian, dia menemukan seorang bocah perempuan kecil tengah menangis di tengah- tengah amukan api.
Ki Badawi yang melihat bocah kecil menangis di antara gelimpangan mayat warga Desa Pasuruhan, segera mengambil anak itu. Kemudian membawanya pula ke perguruan yang berada di Bukit Cagar Buana.
Dididik dan diasuhnya ketiga anak itu dengan penuh kasih sayang. Sehingga tumbuhlah ketiganya menjadi dewasa. Mereka menjadi pemuda-pemudi yang tampan dan cantik jelita. Yang lelaki diberi nama Sumantri dan Anjasmara. Sedang yang perempuan bernama Sambi.
Semenjak kecil, di antara mereka memang senantiasa terjadi perselisihan. Dari dulu, Sumantri yang memiliki watak ingin menang sendiri, selalu berusaha mengalahkan Anjasmara. Namun Anjasmara tidak bisa dikalahkan begitu saja.
Sikap ingin menang sendiri selalu ditunjukkan Sumantri, baik di setiap latihan, maupun ketika melakukan kegiatan sehari-hari. Mulanya Ki Badawi menganggap persaingan itu hal yang biasa saja, karena mereka masih anak-anak. Biasanya anak- anak kecil memiliki sikap ingin menunjukkan keunggulan dirinya.
Persaingan antara Sumantri dan Anjasmara ber- langsung terus-menerus tiada henti. Sampai mereka sama-sama tumbuh menjadi pemuda. Pemuda dewasa yang gagah dan tampan, persaingan terus terjadi. Pada masa ini, kedua pemuda tampan itu tidak lagi bersaing untuk membuktikan ketinggian ilmu
mereka. Sumantri menyadari kalau ilmu yang dikuasainya tidak sehebat milik saudara angkatnya itu. Karena Sumantri memang tidak setekun Anjasmara. Dirinya sering kurang giat dalam berlatih. Di samping sering merasa manja dan besar kepala karena Ki Badawi memang lebih menyayangi dirinya ketimbang terhadap Anjasmara maupun Sambi.
Kini Sumantri berusaha hendak mendapatkan adik angkatnya yang cantik jelita itu. Beberapa kali Sumantri berusaha mendekati Sambi, tapi gadis cantik yang juga memiliki ilmu pedang itu terus berusaha menolaknya.
Sampai pada suatu hari, ketika Sambi tengah mandi di sebuah pancuran, diam-diam Sumantri mengikutinya.
Sambi yang tidak menduga kalau Sumantri mengikutinya, tanpa segan-segan membuka pakaiannya. Kemudian dengan bernyanyi-nyanyi tubuhnya dicemlungkan ke kubangan air pancuran.
Menyaksikan pemandangan yang menggiurkan, darah lelaki bertubuh tinggi tegap dengan kumis menghias di atas bibirnya itu seketika bergolak laksana air pancuran. Lelaki muda berpakaian abu- abu tanpa lengan dan berambut panjang dengan ikat kepala kulit macan tutul itu, merasakan getaran yang dahsyat dalam jiwanya.
Hampir saja dia melakukan sesuatu yang tercela. Namun tiba-tiba Sumantri ingat akan segala petuah gurunya.
“Jika kau mencintai seseorang, katakanlah dengan kejujuranmu! Aku akan bangga, memiliki anak yang menjunjung tinggi kehormatan kaum yang lemah.”
Sumantri tersentak dan mengurungkan niatnya memperkosa Sambi. Bergegas dia pulang ke
perguruan. Ketika dilihatnya Anjasmara sedang bekerja membelah kayu, Sumantri tersenyum sinis. Namun Anjasmara tak menggubrisnya, dia tetap membelahi kayu-kayu yang akan digunakan untuk memasak. Namun ketika Sumantri masuk ke rumah gubuk tempat gurunya berada, seketika perasaan lelaki berpakaian rompi dari kulit rusa ini berubah.
Pemuda tampan berhidung mancung dengan kumis tipis menghias di atas bibirnya, dan bermata tajam laksana mata burung elang itu menghentikan pekerjaannya. Kening Anjasmara berkerut seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Entah mengapa, seketika dia ingin tahu apa yang sedang diadukan Sumantri pada Ki Badawi.
Dengan hati-hati, Anjasmara berusaha mendengar aduan yang tengah disampaikan Sumantri pada guru mereka. Matanya terbelalak, ketika mendengar apa yang tengah diadukan Sumantri pada Ki Badawi.
“Guru, terus terang aku mencintai Sambi. Kuharap Guru sudi menjodohkan kami, karena kami sama- sama mencintai,” kata Sumantri berdusta.
Anjasmara menarik napas dalam-dalam. Seketika perasaannya bergemuruh riuh tidak karuan.
Benarkah Sambi juga mencintai Sumantri? Tanya Anjasmara dalam hati. Sungguh wanita murahan jika dia membagi cintanya untuk Sumantri dan diriku.
Anjasmara kembali memusatkan perhatiannya pada pembicaraan gurunya dan Sumantri.
“Apa kau tak salah ngomong, Mantri?” tanya Ki Badawi.
“Tidak, Guru. Aku yakin kalau Sambi mencintaiku.” “Kau sudah mengatakan padanya?” “Sudah, Guru. Bahkan jika Guru merestui, Sambi bersedia menikah secepatnya,” jawab Sumantri
berbohong, berusaha meyakinkan gurunya.
Dari dalam terdengar helaan napas Ki Badawi. Sepertinya orang tua berambut digelung seperti para resi dengan pakaian jubah putih itu dalam keadaan bingung. Bagaimanapun juga, Ki Badawi sering melihat Sambi bersama Anjasmara ngobrol. Itu yang meyakinkan Ki Badawi kalau Sambi mencintai Anjasmara, bukan Sumantri! Tapi kini, tiba-tiba Sumantri mengatakan kalau dirinya dan Sambi telah sepakat untuk menjadi suami istri.
Kurang ajar kau, Sumantri! Dengus Anjasmara dalam hati. Celaka kalau guru sudah membicara- kannya pada Sambi. Gadis itu tentu akan menurut apa kata Guru!
Karena dihinggapi rasa takut kalau Sambi akan menurut kata-kata guru mereka, Anjasmara yang tahu bahwa Sambi sedang mandi, segera berlari ke pancuran. Dia tidak ingin Sambi dimiliki oleh Sumantri. Dari dulu dirinya selalu mengalah terhadap Sumantri. Haruskah kini dia juga mengalah? Padahal masalah ini sangat penting, karena menyangkut harga diri. Pikir Anjasmara yang hatinya semakin kalut.
“Kakang, ada apa kau menyusul ke sini?” tanya Sambi ketika melihat Anjasmara menyusul dirinya saat mandi di pancuran.
“Cepatlah naik, Sambi! Aku ingin bicara dengan- mu,” sahut Anjasmara buru-buru.
“Nampaknya kau tak sabar, Kakang. Kenapa...?” tanya Sambil masih belum memahami apa yang membuat pemuda tampan kekasihnya itu tampak tak sabar, tidak seperti biasanya. Biasanya Anjasmara nampak tenang dan sabar. Dan karena sikapnya yang tenang itu, Sambi memilih Anjasmara menjadi kekasihnya.
“Naiklah, Sambi!” perintah Anjasmara semakin tak tenang.
Dengan wajah diliputi perasaan heran, Sambi pun menurut. Sampai-sampai ia lupa kalau tubuhnya dalam keadaan telanjang.
“Ada apa, Kakang?” tanya Sambi. “Pakailah pakaianmu dulu!” sahut Anjasmara setelah terpaku memandangi keadaan tubuh kekasihnya yang mulus dan kuning langsat. “Heh...! Oh! I... iya. Aku sampai lupa.” Sambi agak kaget dan malu. Lalu cepat-cepat menutup bagian terlarang di tubuhnya dengan tangan. Kemudian, kakinya melangkah untuk meng- ambil pakaiannya yang tergeletak di atas batu yang permukaannya datar. Dan dengan terburu-buru pakaiannya segera dikenakan.
“Ada apa?” tanya Sambi setelah mengenakan pakaiannya. Matanya memandang penuh keheranan pada pujaan hatinya yang kelihatan gelisah. “Kau tampak gelisah, Kakang. Katakanlah! Apa yang terjadi?”
Anjasmara menghela napas panjang. “Benarkah kau telah bersepakat akan menikah dengan Sumantri?”
“Hah?! Apa...?!” Sambi terkejut mendengar pertanyaan kekasihnya. Keningnya berkerut, matanya memandang tak berkedip ke wajah Anjasmara. “Siapa yang berkata begitu, Kakang?”
“Sumantri. Dia mengadu pada guru dan meng- inginkan agar guru merestui pernikahannya dengan- mu,” sahut Anjasmara agak marah.
“Oh! Mengapa Kakang Sumantri berbuat itu? Tidak, Kakang! Cintaku hanya untukmu. Ke mana pun kau bawa, aku akan menurut. Aku hanya ingin mengabdi padamu,” keluh Sambi berusaha meyakin- kan kekasihnya.
“Kalau begitu, sebelum guru dan Sumantri melakukan semuanya, sebaiknya kita minggat dari sini!” ajak Anjasmara.
Sambi pun setuju dengan tekad itu. Tanpa sepengetahuan Ki Badawi dan Sumantri keduanya meninggalkan Bukit Cagar Buana yang berada di sisi Hutan Prajawelerang.
Waktu berlalu. Keduanya menjadi satu dalam hidup. Sampai akhirnya pasangan Anjasmara dan Sambi dikaruniai seorang bayi laki-laki mungil. Sementara, kabar tentang Sumantri dan Ki Badawi tak pernah terdengar di telinga mereka berdua. Sampai pada akhirnya, entah dari mana sumbernya, banyak para tokoh persilatan mencari Anjasmara dan Sambi. Mereka mengaku diperintah Ki Badawi untuk menangkap Anjasmara dan Sambi. Hingga Anjasmara dan Sambi yang baru memiliki seorang bayi kecil itu harus lari untuk menyelamatkan diri, meninggalkan Hutan Semar Kembar tempat keduanya bersembunyi selama ini.
***

Pertarungan Anjasmara yang bersenjatakan pedang melawan Dasa Toya Kuil Merak masih berjalan seru. Nampaknya murid dan anak angkat Ki Badawi bukanlah lawan yang enteng bagi kesepuluh resi dari Kuil Merak itu. Bahkan beberapa kali Anjasmara mampu membuat kewalahan kesepuluh lawan-lawannya.
Dengan jurus 'Lingkaran Pedang Sinar' Anjasmara
mampu membuat kesepuluh resi yang berusaha menangkapnya kalang-kabut. Dan mau tak mau mereka harus melompat ke belakang mengelakkan dan menjauhi serangan pedangnya.
“Heaaa...!” “Setan!” maki Resi Narayana kaget sambil melompat mundur, mengelakkan babatan pedang lawan yang cepat, sehingga mampu membuat gerakan memutar membentuk lingkaran. Namun....
Wuttt! Brettt! “Uts! Setan gundul...!” maki Narayana sengit, ketika pakaian resinya sobek terkena sabetan pedang Anjasmara. Lelaki botak dengan hidung pesek itu mengumpat dan mencaci-maki dengan kesal. Kalau saja dia terlambat mengelak, sudah pasti perutnya yang agak buncit itu terkena sabetan pedang Anjasmara.
“Bedebah! Rupanya tikus ini minta mampus!” dengus Andayana sengit, menyaksikan kemampuan lawan. Toya di tangannya diputar cepat dengan jurus 'Toya Dewa Mengundang Bayu'. Dari putaran toyanya, keluar angin kencang yang dahsyat.
Menyaksikan Andayana telah memutar tongkatnya dengan jurus 'Toya Dewa Mengundang Bayu', kesembilan resi lainnya serentak melakukan hal yang sama.
“Kuremukkan batok kepalamu, Tikus Busuk!” dengus Resi Dupayana. “Heaaa...!”
Lelaki botak bertubuh kurus dan jangkung dengan mata juling itu menggebrak ke arah lawan, diikuti oleh rekan-rekannya menyerang Anjasmara dengan jurus 'Toya Dewa Mengundang Bayu'.
“Hiaaat...!”
Wuttt! “Heaaa...!” Teriakan-teriakan nyaring mengawali serangan Dasa Toya Kuil Merak memburu lawan.
“Yeaaa...!” Anjasmara yang merasakan angin keluar dari toya mereka, dengan cepat mengubah jurus pedangnya. Kali ini dengan jurus 'Sapuan Angin Menerjang Belantara', dia menghadang serangan kesepuluh lawannya.
Siiing...! Siiing...! Pertempuran kembali berjalan dengan seru. Dengan jurus andalan, para resi itu berusaha mendesak Anjasmara. Toya di tangan Dasa Toya Kuil Merak bergerak cepat, hingga menimbulkan angin yang keras dan menyentak.
Wuttt! Wuttt! Wusss...! Dasa Toya Kuil Merak nampaknya tidak mau mengalami kekacauan serangan mereka seperti tadi. Kesepuluh resi itu terus bergerak dengan kompak. Satu menyerang, yang lainnya bergerak melindungi dan ganti menyerang. Gerakan mereka begitu serasi dan susul menyusul dengan jurus 'Dasa Merak Terbang dan Hinggap Sambil Mematuk'.
Seorang dari Dasa Toya Kuil Merak menyerang dengan cepat, kemudian dengan cepat pula tubuhnya merunduk. Dari belakang melesat di atas tubuh rekannya, lalu menyerang ke tubuh Anjasmara. Begitu seterusnya susul-menyusul. Siapa yang telah menyerang, segera merundukkan tubuh untuk dilompati rekannya untuk menyerang lawan.
“Hiaaat...!” Wuttt! Wuttt! Hebat juga jurus 'Dasa Merak Terbang dan
Hinggap Sambil Mematuk'. Dengan jurus itu, kesepuluh resi dari Kuil Merak mampu mendesak Anjasmara. Sehingga pendekar pedang dari Perguruan Pedang Darah itu harus menguras tenaga untuk dapat mengelakkan serangan beruntun dan susul-menyusul yang di lancarkan kesepuluh resi itu.
“Uts! Celaka...! Ilmu apa yang digunakan kesepuluh resi ini?” tanya Anjasmara setengah mengeluh lirih sambil bergerak mengelakkan pentungan toya kesepuluh resi berkepala botak itu. Dia tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk balas menyerang ke arah lawan-lawannya.
Dasa Toya Kuil Merak tak pernah berhenti menyerang. Satu menyerang, yang lainnya menyusul dengan serangan yang sama dan cepat. Hal itu cukup merepotkan Anjasmara yang hanya seorang diri. Terlebih tenaganya terkuras dalam pertarungan yang berjalan lama.
“Menyerahlah, Tikus Busuk!” seru Resi Indrayana sambil menggerakkan toyanya menyerang.
Wuttt! “Benar! Menyerahlah, agar kau tak mati percuma!” sambung Resi Trijayana seraya melompat meng- gantikan kedudukan Indrayana. Lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan kumis tebal melintang, serta badan gendut itu terus merangsek ke arah Anjasmara.
“Cuh! Kalianlah yang busuk! Kalian telah berlaku tidak selayaknya sebagai para resi. Hanya karena tergiur hadiah dan imbalan yang diberikan Sumantri keparat itu, kalian rela melepas kedudukan sebagai resi!” dengus Anjasmara tak mau kalah.
“Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, Bocah!” bentak Resi Warayana. Mata lelaki bertubuh kaku ini nampak garang. Hidungnya yang besar kembang- kempis, dengan napas mendengus marah.
“Kupecahkan batok kepalamu, Setan!” sambung Resi Ragayana. Bergantian dengan Resi Warayana, Resi Ragayana menyerang ke arah Anjasmara. Serangan mereka semakin gencar dan dahsyat, mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan.
Ketika petarungan masih berjalan sengit, dan Anjasmara dalam keadaan terdesak, tiba-tiba angin badai berhembus dahsyat menggulung tempat pertempuran.
Wusss...! “Wuaaa...!” Kesepuluh resi itu berusaha mengelakkan terjangan angin yang datangnya sangat kencang, namun gerakan mereka terlambat. Akibatnya, tubuh berpakaian ungu itu tersapu badai dahsyat. Tubuh mereka mencelat ke belakang laksana terbang.
Anjasmara tersentak kaget. Matanya terbelalak ketika tiba-tiba di dalam gulungan angin yang membentuk pusaran itu terlihat sosok wanita yang sudah sangat dikenalnya.
“Sambi...!” seru Anjasmara sambil berlari memburu angin besar yang berpusar dan bergerak mengelilingi Sambi yang menggendong bayinya.
“Ka..., Kakang...!” “Sambi...!” Anjasmara terus berlari dengan wajah cemas, menyaksikan istri dan anaknya dalam kekuasaan angin besar yang terus menggulung keduanya. Dengan nekat, Anjasmara segera menerobos masuk ke putaran angin kencang itu.
“Sambi...!” Seketika tubuh Anjasmara ditelan pusaran angin besar di mana istri dan bayinya berada. Angin besar bergulung-gulung itu terus berputar. Tapi anehnya, setelah Anjasmara masuk di dalamnya, tiba-tiba angin itu bergerak meninggalkan tepian Danau Sambak Neraka. Angin itu terus bergerak ke arah air danau yang sangat dalam.
Byurrr! Byurrr...! Tubuh Sambi dan Anjasmara jatuh ke dalam air Danau Sambak Neraka. Bayi dalam pelukan Sambi pun tetap dibawanya. Tidak terdengar sedikit pun suara tangisnya. Mereka terus dibawa ke tengah danau yang sangat luas itu. Baik Sambi maupun Anjasmara, tak mengerti akan dibawa ke mana diri mereka.
Ternyata angin bergulung dan berputar-putar itu terus mengusung mereka ke Pulau Karang Api yang berada di tengah-tengah Danau Sambak Neraka. Semakin dekat tampaklah pulau itu menyala merah laksana api. Dan karena itulah pulau itu dinamakan Pulau Karang Api.
Sementara itu, tubuh Anjasmara dan Sambi yang tercebur ke Danau Sambak Neraka seketika mengalami perubahan. Tubuh mereka memanjang. Wajah mereka kini pun berubah, dengan mulut moncong ke depan. Lalu mata mereka menyipit dan kepala mereka tumbuh tanduk. Tubuh yang memanjang perlahan-lalian ditumbuhi sisik. Keduanya kini berubah menjadi dua ekor naga berwarna merah dengan mata yang membara bagaikan mengandung api! “Ssszzzt...!”
Kedua sosok yang telah berubah menjadi naga itu menggeliat. Matanya tajam memandang ke daratan. Kemudian dari mulut dan mata keduanya menyemburkan api yang membara ke arah sepuluh resi yang tengah berlari ke arah Danau Sambak Neraka.
Wurrrs...! “Wuaaa...!” Kesepuluh resi yang tak menyangka akan mendapat serangan berupa semburan api dari tengah danau itu terkejut bukan main. Tiada ampun lagi, tubuh mereka terbakar hangus.
Saat itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan bergema di sekitar Danau Sambak Neraka. Tampak- nya suara itu milik seorang lelaki.
“Kalian telah menjadi wargaku! Kalian berdua telah menjadi anak-anakku. Biarlah anak kalian kudidik! Kelak, dia akan menjadi pemuda perkasa! Hua ha ha...!”
Kedua naga berwarna merah itu terdiam, kemudian dengan gerakan yang lamban, mereka menyelam ke kedalaman air Danau Sambak Neraka.
***

Sepuluh tahun sudah peristiwa di Danau Sambak Neraka berlalu. Sumantri masih berpikir tentang Anjasmara dan Sambi, yang raib entah ke mana. Dia juga masih berpikir, siapa yang telah menewaskan kesepuluh resi dari Kuil Merak di tepi Danau Sambak Neraka.
Suasana pagi yang cerah nampak melingkupi di sekitar Danau Sambak Neraka. Matahari yang baru saja muncul di ufuk timur bersinar merah tembaga. Nampak seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan kumis tebal dan jenggot pendek, berpakaian khas saudagar tengah melangkah menyusuri tepian Danau Sambak Neraka.
Lelaki tampan dengan rambut terurai panjang berbaju jubah abu-abu itu ternyata Sumantri. Dia tampak tengah mengawasi sekitar Danau Sambak Neraka. Pikirannya masih belum menerima peristiwa aneh sepuluh tahun silam di tepi danau itu.
“Aneh,” gumam Sumantri lirih sambil matanya memandang ke sekeliling Danau Sambak Neraka.
“Bagaimana mungkin Anjasmara dan Sambi menghilang?”
Selama sepuluh tahun terakhir ini, Sumantri telah beberapa kali membayar orang-orang rimba per- silatan untuk mencari kedua orang yang raib bagai ditelan bumi itu. Tapi selalu saja mengalami kegagalan. Tak satu pun orang-orang suruhannya yang menemukan jejak Anjasmara dan Sambi.
“Mungkinkah mereka benar-benar menghilang?” tanyanya pada diri sendiri. “Ah, tidak mungkin! Guru tak pernah mengajari Anjasmara dan Sambi ilmu menghilang....”
Sumantri terus berdiri di tepi Danau Sambak Neraka. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika memandang arah Pulau Karang Api di tengah-tengah danau.
“Heh! Apakah aku tak salah lihat?!” gumam Sumantri terkejut, ketika matanya melihat seorang bocah berusia sekitar sepuluh tahun berbadan penuh sisik tengah berlari-lari kecil.
Bocah bertubuh penuh sisik itu tampaknya merasa ada yang memperhatikan. Wajahnya memandang ke arah Sumantri.
“Ah! Bocah atau setan!?” Kembali Sumantri terkejut, menyaksikan mata bocah itu berwarna merah membara laksana api, menyorot tajam wajahnya. Bukan hanya itu yang membuat Sumantri tersentak kaget. Ternyata gigi bocah kecil itu bertaring menyeramkan, ketika menyeringai memandangnya.
“Ghrrr...! Terdengar suara keras menggelegar, ketika bocah kecil penghuni Pulau Karang Api itu menyeringai. Bersamaan dengan itu, seketika hawa panas menyelubungi sekitar danau, membuat Sumantri tersentak.
“Uh, celaka! Apa yang dilakukan bocah setan itu?” keluh Sumantri. Tubuhnya kini menggeliat-geliat bagaikan dipanggang di atas bara api yang sangat panas.
“Wuaaa...! Aaa...!” Sumantri menjerit-jerit merasakan hawa panas yang tiada terkira menyengat tubuhnya. Dirasakan tubuhnya seperti dikelilingi api yang membara.
“Aaa...!” Pekikan keras kembali terdengar dari mulut Sumantri yang terus berusaha mempertahankan tubuhnya agar tidak mati lemas oleh hawa panas. Namun, semakin mengerahkan tenaga dalam untuk melawan pengaruh panas yang menyengat tubuhnya, hawa panas terasa semakin menjadi-jadi.
“Celaka! Aku bisa mati terbakar kalau terus- menerus di sini,” keluh Sumantri.
Sumantri berusaha menjauh dari tepi danau. Nampaknya dia berhasil. Dengan cara beringsut menggunakan lututnya yang tertekuk, Sumantri berusah menggeser kedudukannya semakin menjauh dari tempat itu.
“Bocah setan! Bagaimana mungkin bocah sekecil itu memiliki kekuatan api yang kuat, sampai mampu menyerangku?” umpat Sumantri lirih sambil terus beringsut menjauh.
Wusss...! Angin menderu kencang ke arah tubuh Sumantri. Seketika itu pula, tubuhnya melayang terbawa angin kencang itu.
“Wuaaa...!” Sumantri menjerit ketakutan ketika tubuhnya diterbangkan angin dahsyat itu dan terlempar sekitar seratus tombak jauhnya dari tepian danau.
Brukkk! “Aduh...! Angin setan!” maki Sumantri yang tampak marah.
Wusss...! Tiba-tiba angin dahsyat itu berhembus ke arahnya. Angin badai itu seakan-akan tahu ucapan Sumantri barusan. Mata lelaki itu terbelalak kaget dan ketakutan. Keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
“Oh! Tidaaak...! Ampun, jangan....!” pekik Sumantri ketakutan.
Dan anehnya lagi, angin itu bagaikan mengerti apa yang diminta Sumantri. Seketika angin itu bergulung dan berputar-putar di depan tubuhnya. Seolah-olah mengatakan sesuatu dan mengancam Sumantri. Sesaat kemudian angin besar itu bergerak cepat kembali ke Danau Sambak Neraka.
“Aneh!” gumam Sumantri keheranan tak mengerti. “Bagaimana mungkin angin bisa mengerti ucapan- ku?” Sumantri masih terduduk terbengong-bengong keheranan terhadap kejadian yang baru saja dialaminya.
“Aneh! Benar-benar ada yang aneh di Pulau
Karang Api itu. Aku yakin, pulau itu ada penghuninya,” kata Sumantri sambil berlari meninggalkan tempat yang bernama Lembah Akherat ini.
Bergidik juga hati Sumantri jika teringat kejadian yang baru saja dialaminya. Rasanya sangat tak masuk akal. Bagaimana mungkin bocah kecil berusia sepuluh tahun berbadan penuh sisik mampu mengeluarkan kekuatan sedahsyat itu? Bocah ber- tubuh penuh sisik dengan mata merah laksana api itu mampu mengeluarkan hawa panas. Juga mampu mengerahkan angin aneh.
“Bocah itu tentunya bocah sakti. Ah, kalau saja aku bisa mendapatkannya, tentu aku akan menjadi orang yang tak tertandingi di rimba persilatan. Bocah kecil itu dapat kumanfaakan. Hua ha ha...! Sumantri akan menjadi orang yang ditakuti! Aku harus mendapatkan bocah itu...!” gumam Sumantri sambil terus berlari meninggalkan Lembah Akherat.
***

2
Setelah menitipkan Mei Lie pada Ki Gede Mantingan, Sena melanjutkan pengembaraannya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi ini. Karena itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pendekar. Selain itu, batinnya tidak suka melihat penderitaan dan kesengsaraan orang lemah ditindas dan disiksa oleh yang kuat dan durjana.
Setelah menghancurkan Istana Tengkorak Merah, Sena dan Mei Lie diajak Ki Gede Mantingan singgah di padepokannya yang bernama Padepokan Karang Tinalang. Letak padepokan itu berada di sebelah selatan Desa Karapan dan Desa Sala Kapitu. Tepatnya di Bukit Singgala Putri (Mengenai Ki Gede Mantingan, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode “Tengkorak Darah”).
Setelah tiba di Padepokan Karang Tinalang, akhirnya Sena menitipkan Mei Lie pada orang tua yang baik itu. Mulanya Mei Lie menolak, tetap setelah Ki Gede Mantingan turut menasihati, akhirnya gadis itu pun menurut. Terlebih Ki Gede Mantingan telah menganggap Mei Lie sebagai anaknya sendiri, karena orang tua itu tidak dikarunai anak. Masih teringat di benak Sena ucapan Mei Lie ketika hendak melepas kepergiannya.
“Kakang, jangan lupakan aku! Aku akan selalu menunggumu. Aku akan tetap menunggu dan mencintaimu,” bisik Mei Lie sambil merebahkan kepalanya di dada Sena.
Rasa haru dan syahdu beraduk menjadi satu dada. Sena mendengar kata-kata Mei Lie. Dengan lembut tangannya membelai rambut gadis itu.
“Aku akan mengingatmu, Mei Lie.” “Terima kasih, Kakang! Aku akan setia menunggumu. Menunggu janjimu....”
Sena tersenyum seraya memeluk Mei Lie penuh kasih sayang. Kemudian dengan perasaan syahdu, kakinya melangkah meninggalkan gadisnya yang nampak melambaikan tangan dengan mata berkaca- kaca Bayangan perpisahannya dengan Mei Lie seketika hilang, ketika tiba-tiba telinganya mendengar jeritan seorang wanita di tengah Hutan Dadap Wangi tempat dirinya berada kini.
“Tolong...! Tidak...!” “Hei....! Kudengar ada seorang wanita meminta tolong,” gumam Sena dengan kening berkerut. Kemudian dapasangnya telinga tajam-tajam, ber- usaha mendengar suara jeritan tadi.
“Tolong...! Lepaskan aku, Biadab!” suara wanita itu kembali terdengar, diikuti oleh caci-makinya.
“Hm, ada juga manusia durjana yang masih senang iseng,” kata Sena sambil cengengesan. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Kemudian tertawa cekikikan. “Hi hi hi...! Lucu sekali! Aha, coba kulihat.”
Sena segera melompat ke atas cabang sebatang pohon yang tinggi, agar bisa melihat ke sekeliling tempat di tengah Hutan Dadap Wangi.
“Hop! Ya...!” Tap! Kedua kakinya hinggap begitu ringan di cabang pohon jati yang banyak tumbuh di hutan itu.
Kemudian dengan cengengesan matanya me- mandang ke sekeliling tempat itu.
“Tolong! Bajingan, lepaskan...!” suara wanita itu kembali terdengar, tapi belum nampak di mata Sena.
“Tak akan ada yang menolongmu! Kau harus menyerahkan tubuhmu pada kami!” kini terdengar suara seorang lelaki mengancam.
Pendekar Gila nyengir sambil pandangannya beredar ke sekeliling tempat itu, berusaha mencari dari mana asal suara tadi. Dan seketika matanya melihat serumpun semak belukar bergoyang-goyang.
“Aha, itu dia!” ujar Sena seraya melompat ke semak-semak yang bergoyang. “Hop! Ya!”
Dua orang lelaki berpakaian merah kecoklatan tiba-tiba tersentak kaget begitu di samping mereka telah berdiri seorang pemuda berpakaian kulit rompi ular yang cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Hua ha ha...! Kenapa kalian kaget?” tanya Sena masih bertingkah laku seperti orang gila. “Ah ah ah...! Kupanya kalian sedang asyik berpesta! Kenapa tak mengundangku? Hi hi hi...!”
“Siapa kau?!” bentak lelaki berwajah garang dengan rambut kaku seperti landak.
“Ha ha ha...! Aku...?” balik Sena bertanya. Kemudian mulutnya nyengir kuda. Matanya menatap sosok wanita muda yang pakaiannya morat-marit tak karuan. “Ah, aku tak ingat namaku. Hi hi hi...! Siapa kalian berdua?”
Membelalak mata kedua lelaki berwajah garang itu, mendengar kata-kata Sena yang persis orang gila. “Pemuda gila dari mana dia?” gumam lelaki berkumis tebal dengan mata lebar. Rambutnya juga kasar berdiri seperti landak.
“Hei, Bocah Gila! Ketahuilah...,” ujar lelaki ber- tubuh tinggi dan beralis tebal. “Aku Cakal Genala!”
“Dan aku, Cakil Gering!” sambung rekannya yang bertubuh agak kurus, berkumis tebal melintang di bibir tebal. “Ha ha ha...! Kami bergelar Dua Landak Hutan Dadap Wangi. Kamilah penguasa dan penghuni hutan ini!”
“Hua ha ha...! Gila...! Hi hi hi...! Kalianlah yang gila!” balik Pendekar Gila sambil berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Sementara tangan kanannya meng- garuk-garuk kepala dan tangan kiri menepuk-nepuk pantat
“Bocah gendeng! Pergi sana! Jangan ganggu kami!” bentak Cakil Gering dengan mata melotot. Rambutnya yang berdiri seperti bulu landak, kian meregang kaku.
Dibentak begitu rupa, bukan membuat Sena takut atau lari. Malah dengan sengaja tingkahnya dibuat konyol. Dengan tenangnya dia melangkah meng- hampiri gadis cantik yang gaun kuningnya sudah awut-awutan. Dara cantik itu ketakutan melihat Sena menghampiri. Kemudian dengan tenang Sena memegang tangan kiri gadis itu.
“Aha, boleh juga! Bagaimana kalau gadis ini untukku?” tanya Sena pada Dua Landak Hutan Dadap Wangi, yang semakin bertambah marah melihat kelancangan dan kekonyolan pemuda itu.
“Kurang ajar! Minggat kau dari sini!” dengus Cakal Genala sambil melepaskan jotosan ke arah Pendekar Gila dengan jurus 'Serudukan Landak'.
“Eits! Ah, galak amat kau, Ki? Mengapa kau tidak mau membagi aku? Aduh kepalaku...!” seru Sena sambil bergerak cepat memnduk, mengelakkan serangan Cakal Genala. Tubuhnya bergerak meliuk ke bawah dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. “Hi hi hi...! Rupanya kau belum pernah ditampar singa, Ki. Nih...!”
Dengan tangan menepuk ke arah dada lawan, Sena bergerak meliuk. Gerakannya sangat lambat, membuat lawan menyangka kalau serangan Sena lemah dan tak perlu ditakuti. Hingga....
Bukkk! “Aaakh...!” Cakal Genala terpekik kesakitan. Lelaki berhidung bulat itu sungguh tak menduga kalau pukulan lawan yang tampak pelan itu ternyata begitu keras. Soalnya gerakan Pendekar Gila tampak lamban dan lemah sekali. Tubuh lelaki berambut kaku itu terlempar deras ke belakang, bagaikan terdorong kekuatan yang dahsyat. Tubuh Cakal Genala baru berhenti, ketika membentur pohon dadap berduri.
Brak! Crab! “Wuaaa...!” kembali Cakal Genala memekik kesakitan. Punggungnya tertancap duri-duri pohon dadap.
“Hi hi hi...! Lucu..! Kenapa kau, Ki? Kalau lari, jangan mundur! Itulah akibat orang lengah!” kata Sena ambil berjingkrak-jingkrak seperti orang gila. Mulutnya nyengir.
“Bocah edan! Kuremukkan kepalamu! Heaaa...!” Cakil Gering yang merasa saudaranya dipermainkan begitu rupa oleh pemuda tampan berbaju rompi kulit ular, segera melancarkan serangan dengan pukulan tangan kirinya meng- gunakan juris 'Landak Mengais'.
“Heaaa!” tangan Cakil Gering melakukan gerakan menyibak cepat, lalu memukul keras ke perut
Pendekar Gila yang masih tampak cengengesan.
Melihat lawan menyerang, dengan cepat Sena menarik kakinya ke belakang. Diangkatnya kaki agak tinggi, kemudian dengan cepat didengkulnya kepala lawan yang agak merunduk.
“Hi hi hi...! Kau rupanya mencari sesuatu, Ki. Aha, kuberi sop lututku! Hih...!”
Cakil Gering tersentak melihat gerakan Pendekar Gila. Segera ditariknya kembali serangan tadi. Tubuh- nya didongakkan, lalu bergerak ke samping. Kemudian dengan cepat bersalto ke samping, ketika melihat tangan Pendekar Gila kembali menepuk.
“Uts! Ilmu edan!” makinya yang telah tahu bagaimana hasil tepukan tangan Sena. Meski kelihatannya lamban dan lemah, ternyata tepukan itu begitu dahsyat dirasakan. Dengan tepukan itu, Pendekar Gila telah mampu mendorong tubuh Cakal Genala begitu keras. Sehingga tubuh lelaki itu terkulai pingsan setelah menerjang pohon berduri.
Mata Cakil Gering terbelalak, setelah merasakan angin keras dari tepukan tangan Pendekar Gila.
“Edan! Jurus apa yang digunakannya?” gumam Cakil Gering masih tak mengerti dan heran. “Padahal gerakannya sangat lamban dan lemah. Tapi dari anginnya saja, mampu menyentakkan tubuhku.”
Pendekar Gila tertawa tergelak-gelak. Tingkah lakunya persis seekor monyet. Hal itu semakin membuat Cakil Gering mengerutkan kening, berusaha mereka-reka siapa sebenarnya pemuda yang ber- tingkah seperti orang gila itu.
“Mungkinkah dia yang berjuluk Pendekar Gila? Ah, dilihat dari tingkah lakunya, semua persis dengan ciri- ciri pendekar muda itu. Mungkin dia orangnya,” gumam Cakil Gering.
“Hi hi hi...! Kenapa melongo, Ki? Nanti kau kerasukan setan,” ujar Sena sambil cengengesan. “Pergilah! Jangan sampai aku memberimu hadiah!”
Cakil Gering yang merasa tidak unggulan meng- hadapi pemuda itu segera mundur. Dia semakin yakin dengan dugaannya kalau pemuda di hadapannya pastilah Pendekar Gila.
“Ayo pergi! Jangan ganggu aku bermesraan dengan gadis ini! Ayo pergi!” bentak Sena dengan garang.
“Baik...! Baik, aku akan pergi,” sahut Cakil Gering ketakutan.
“Hua ha ha...! Bawa sekalian tikus itu!” Cakil Gering merangkak mendekati saudaranya yang masih terkulai pingsan. Kemudian dengan mata menatap tegang pada Pendekar Gila, Cakil Gering segera memondong tubuh saudaranya. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dengan cepat tempat itu ditinggalkannya.
Sepeninggal Cakil Gering dan saudaranya, Sena kembali tertawa bergelak. Tingkah lakunya yang seperti orang gila, membuat gadis cantik itu ketakutan bukan kepalang. Gadis berkulit kuning langsat itu mundur beringsut dengan tangan kanan masih memegangi pakaiannya yang terbuka. Matanya menatap ketakutan pada Pendekar Gila yang meng- garuk-garuk kepala.
“Jangan! Jangan lakukan itu...!” ratap gadis itu mengiba.
“Aha, jangan takut, Nisanak! Aku bukanlah manusia seperti kedua cecurut itu.”
Gadis yang bernama Saka Wuri itu memperhatikan Pendekar Gila penuh seksama. Sepertinya berusaha meyakinkan dirinya kalau pemuda tampan bertingkah
seperti orang gila itu benar-benar hendak me- nolongnya.
Benarkah omongannya? Tanya Saka Wuri dalam hati. Tingkah lakunya seperti orang gila. Tapi, pakaiannya bagus mirip seorang pendekar. Mungkinkah dia pendekar yang sering disebut-sebut sebagai Pendeka Gila?
“Aha, mengapa diam saja? Ayo, biar kuantar sampai ke rumahmu!” ujar Sena menawarkan jasa.
Pendekar Gila tidak ingin gadis itu kembali mengalami musibah, diseret dan hendak diperkosa seperti yang baru saja dialami gadis itu. Kalau saja dirinya tidak segera datang, entah bagaimana nasib gadis itu
“Tuankah yang sering disebut Pendekar Gila?” tanya Saka Wuri.
“Aha, terlalu tinggi julukan itu, Nisanak. Sudahlah yang jelas kau harus pulang! Apakah kau ingin kedua cecurut tadi datang lagi dan memperkosamu?”
Saka Wuri segera bangun dari duduknya, kemudian dengan malu-malu melangkah diiringi Pendeka Gila. Mereka menuju ke Desa Kalasan, tempat Saka Wuri tinggal.
Setelah sampai di rumah, Saka Wuri pun men- ceritakan pada Pendekar Gila dan ayahnya mengapa dirinya sampai hendak diperkosa Dua Landak Hutan Dadap Wangi. Saka Wuri pagi itu hendak mandi di pancuran seperti biasanya. Tiba-tiba dari belakang orang menyekap mulutnya. Dia hendak berteriak, namun kedua orang itu telah membawanya pergi sebelum terlebih dahulu menotoknya.
Sesampainya di Hutan Dadap Wangi, keduanya lalu membuka totokan di tubuh Saka Wuri dan berusaha menggagahi dirinya. Beruntung sebelum perkosaan terjadi, Pendekar Gila telah datang.
Setelah mendengar penuturan Saka Wuri, Pendekar Gila pun bermaksud pamit untuk meneruskan pengembaraannya.
“Mengapa tidak menginap dulu di sini, Tuan?” kata Saka Wuri berusaha mencegah Pendekar Gila agar tidak segera meninggalkan rumahnya. Dia ingin bisa ngobrol lama dengan pemuda tampan bertingkah laku seperti orang gila itu.
“Benar, Tuan. Kenapa tidak menginap barang satu malam. Kami ingin mengenalmu lebih dekat,” sambung Ki Kalaban. Lelaki tua berpakaian adat Jawa Timur itu tampak senang atas telah kembalinya anak gadisnya. Dia merasa hutang budi pada pemuda tampan yang telah diketahuinya sebagai Pendekar Gila. “Ah ah ah.... Terima kasih, Ki! Sebenarnya aku pun ingin menginap di sini. Desa Kalasan sangat damai dan nyaman. Tapi, kurasa masih banyak lagi yang memerlukan pertolongan dariku...,” ujar Sena menolak dengan halus.
“Hendak ke manakah tujuan Tuan?” tanya Ki Kalaban. Kepala Desa Kalasan yang sangat berterima kasih pada Pendekar Gila, berusaha membalas jasa kebaikan Pendekar Gila.
“Ah! Entahlah, Ki. Kurasa langkah kaki tergantung hasrat hati melangkah. Di mana kemauan berkata, di sana aku melangkah,” jawab Pendekar Gila.
Ki Kalaban terdiam. Sulit baginya untuk berusaha membalas jasa atas kebaikan pendekar muda itu. Sementara Saka Wuri masih memperhatikan pemuda tampan yang telah menolongnya. Tak jemu-jemunya gadis cantik bergaun kuning dengan rambut diikat ekor kuda itu memandangi wajah Pendekar Gila. Ada
perasaan aneh yang terselip di relung hatinya. Perasaan yang selama ini belum pernah muncul dalam hati.
“Tuan! Kalau boleh, izinkanlah aku berbakti padamu!” ujar Saka Wuri memohon.
Pendekar Gila tertawa bergelak sambil menggaruk- garuk kepala. Kemudian pemuda tampan itu nyengir sambil menggeleng-geleng kepala.
“Ah! Tak usah berlaku begitu, Dik Wuri! Kini, aku mohon pamit,” kata Sena.
Kemudian setelah menjura, Pendekar Gila segera meninggalkan rumah Kepala Desa Kalasan untuk meneruskan pengembaraannya. Menegakkan kebenaran dan keadilan di atas muka bumi ini.
***

3
Desa Pasut Piring yang terletak di sebelah selatan Bukit Selaparang, nampak tenang malam itu. Sebuah bangunan rumah yang cukup besar untuk ukuran rumah biasa, berdiri megah di bagian timur desa. Rumah besar dan megah yang semuanya diukir indah itu milik Sumantri. Dia dikenal sebagai juragan yang paling kaya di desa itu.
Saat itu, malam yang sunyi menyelimuti bumi. Di ruang tengah rumah yang dijaga ketat empat orang bersenjatakan tombak, tengah duduk seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Lelaki yang tak lain Sumantri, malam itu masih merenungkan apa yang kemarin dialaminya.
Di hadapannya duduk empat orang dari rimba persilatan. Tiga lelaki berwajah garang dan satu lagi seorang wanita cantik berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Keempat orang rimba persilatan itu merupa- kan tangan kanan, sekaligus pengawal pribadi Sumantri.
Orang yang pertama berusia sekitar lima puluh tahun. Berambut gondrong awut-awutan dan kepala- nya terikat kain warna hijau tua. Matanya tajam dan garang. Hidungnya besar dan beralis mata lebat. Kumis tebal yang menghiasi bibirnya semakin me- nunjukkan kegarangannya. Lelaki berpakaian hijau tua lengan panjang itu bernama Jalna Kumilang atau Hantu Hijau dari Gunung Bangau.
Orang kedua memiliki rambut dibuat ekor kuda. Alis mata tebal dengan hidung pesek menyerupai kera dengan cambang bauk lebat. Tubuhnya agak gemuk dan pendek. Pakaian yang dikenakan ber- warna merah. Dia bernama Sugatra.
Di sampingnya merupakan adik seperguruan Sugatra yang bernama Sugatri. Lelaki berusia sebaya dengan Sugatra sekitar tiga puluh lima tahun itu, memiliki pakaian dan rambut yang sama seperti kakaknya, pesek hampir menyerupai hidung kera. Tubuhnya tidak terlalu gemuk seperti Sugatra.
Di punggung kedua lelaki berpakaian merah itu tersampir senjata berupa golok. Mereka berdua ber- juluk Sepasang Kera Bergolok Biru. Hal itu karena golok mereka dapat mengeluarkan sinar biru.
Sedangkan yang terakhir seorang wanita muda dan cantik. Berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Bergaun merah hati dengan rambut dikepang dua. Dia nampak tidak memegang senjata, karena senjata yang digunakannya berupa selendang warna ungu yang terikat di pinggangnya. Itu sebabnya dia lebih dikenal dengan julukan Iblis Selendang Ungu.
“Tuan Sumantri, kami lihat sejak tadi Tuan nampak termenung. Kalau boleh kami tahu, apa gerangan yang telah membebani pikiran Tuan...?” tanya Jalna Kumilang. Orang paling tua di antara keempat tangan kanan Sumantri.
“Benar, Tuan. Mengapa Tuan bermuram durja. Sepertinya, setelah pulang dari Danau Sambak Neraka ada sesuatu yang Tuan pikirkan. Adakah sesuatu yang mengganjal pikiran dan hati Tuan?” sambung Sugatra.
Sumantri menarik napas dalam-dalam. Dihempas- kan napasnya panjang-panjang. Tatapan matanya menerawang ke atas, memandang ke genteng rumahnya.
“Hhh!” desah Sumantri. “Apa yang kalian duga memang benar.”
Keempat tangan kanan Sumantri saling pandang. Namun mereka masih diam, karena memang belum tahu apa yang membuat majikan mereka kelihatan murung terus. Hanya hati mereka saja yang bertanya- tanya. Mungkinkah majikan mereka melihat Anjasmara dan Sambi?
“Tuan, kalau boleh kami tahu. Hal apakah yang membuat Tuan bermuram durja?” tanya Sugatri memberanikan diri, setelah lama terdiam.
“Apakah Tuan Sumantri melihat Anjasmara dan Sambi?” sambung Iblis Selendang Ungu dengan senyum menggoda.
“Bukan masalah Anjasmara dan Sambi yang membuatku gelisah dan terus berpikir,” sahut Sumantri seraya bangkit dari duduknya, berjalan ke pintu rumahnya yang terbuka. Dia berdiri di ambang pintu, memandang lepas ke luar.
“Lalu apa yang menjadikan Tuan nampak murung?” tanya Jalna Kumilang seraya menatap majikannya yang masih diam berdiri di ambang pintu.
Sumantri menghela napas dalam-dalam, berbalik ke arah meja. Keempat tangan kanannya tampak masih duduk di kursi masing-masing. Sumantri kembali duduk.
“Kemarin aku melihat sesuatu di Pulau Karang Api. Seorang bocah bertubuh penuh sisik dengan lidah bercabang. Sebelumnya aku bermimpi, kalau bocah itu merupakan bocah sakti. Siapa pun yang men- dapatkan bocah itu, akan merajai dunia persilatan. Nah, aku ingin mendapatkan bocah itu. Siapa pun yang mendapatkannya, akan kuberi separo dari harta kekayaanku. Untuk itu, kuperintahkan kalian menyebar sayembara!” kata Sumantri menerangkan.
“Kalau memang itu yang Tuan inginkan, kami siap melaksanakannya,” sahut Iblis Selendang Ungu.
“Ya! Malam ini juga, kami laksanakan,” sambut Sugatra.
Sumantri tersenyum mendengar kesanggupan empat anak buahnya, yang menunjukkan kesetiaan mereka terhadapnya. Kepalanya diangguk-anggukkar dengan bibir masih tersenyum.
“Tidak usah terburu-buru! Kalian bisa melaku- kannya besok. Malam ini, kalian tulis isi sayembara itu,” perintah Sumantri.
“Apa yang mesti kami tulis?” tanya Jalna Kumilang. “Barang siapa yang bisa mendapatkan bocah bertubuh penuh sisik, akan diberi hadiah sebagian dari hartaku,” kata Sumantri menjelaskan isi sayembara yang hendak ditulis anak buahnya itu.
“Baiklah, kami akan segera membuatnya,” kata Jalna Kumilang.
Setelah semuanya disepakati, Sumantri dan keempat anak buahnya pun meninggalkan ruang pertemuan untuk melakukan apa yang hendak mereka lakukan.
Sumantri masuk ke kamarnya. Di dalam kamar itu, seorang gadis cantik berkebaya merah muda tengah terbaring di tempat tidur. Gadis cantik yang wajahnya nampak masih menggambarkan kepolosan itu tengah menangis. Seketika dia tersentak bangun ketika pintu kamar dibuka. Matanya menatap ketakutan, ber- campur rasa benci pada Sumantri.
“Cah ayu, kenapa kau masih bersikap dingin? Ayolah, malam ini aku ingin sekali menikmati tubuh- mu,” ujar Sumantri sambil melangkah mendekat. Gadis itu pun tampak semakin ketakutan.
“Tidak! Aku tidak mau...!” seru gadis cantik itu dengan wajah ketakutan. “Bajingan! Kau benar-benar bajingan! Kembalikan aku ke desaku...!”
Sumantri tersenyum sinis sambil menggeleng- gelengkan kepala. Kakinya melangkah mendekat ke tempat tidur. Gadis yang mengingatkannya pada Sambi, semakin bertambah ketakutan. Tubuhnya ber- ingsut ke sudut tempat tidur. Matanya menatap ketakutan ke wajah Sumantri yang masih tersenyum.
“Tidak mungkin, Cah Ayu. Kau harus menjadi istriku,” kata Sumantri. Kemudian dengan penuh nafsu, Sumantri segera menubruk gadis cantik yang wajahnya memang mirip dengan Sambi.
“Auw! Tidak...!” teriak gadis cantik berkebaya merah muda yang bernama Delimasari, berusaha mengelak. Matanya semakin ketakutan. Namun, Sumantri yang sudah bernafsu sekali tak hanya diam sampai di situ. Bahkan dengan mengelaknya Delimasari, semakin bertambah nafsu lelaki bertubuh kekar itu.
“Mau lari ke mana, Cah Ayu? He he he...!” Sumantri yang sudah dibakar nafsu iblis, terus mendekap tubuh Delimasari yang terus berontak dan meronta-ronta. Namun, semakin keras dia berontak, semakin bertambah menggelegak nafsu Sumantri.
Bret! “Auw!” Delimasari terpekik, ketika kebaya merah mudanya direnggut hingga sobek. Tampaklah pundak kuning mulus gadis itu. Mata Sumantri terbelalak penuh nafsu. Apalagi ketika kebaya gadis itu terlepas karena tetap ditarik tangan Sumantri.
“He he he...!” Sumantri tertawa terkekeh. Kemudian kembali menubruk tubuh Delimasari. Gulatan antara keduanya pun terjadi. Akhirnya
Sumantri yang sudah bernafsu, mampu menguasai tubuh Delimasari yang lemah. Meskipun meronta- ronta sekuat tenaga gadis itu tak kuasa menghadapi nafsu iblis Sumantri.
Delimasari hanya mampu menangis, meratapi nasibnya yang buruk. Kekecewaan, dendam, dan marah beraduk menjadi satu di hatinya. Keterlaluan sekali kedua orangtuanya, yang telah menyerahkan dirinya pada lelaki bajingan seperti Sumantri.
Padahal Delimasari telah memiliki pemuda pujaan hatinya yang saling mencintai. Namun dengan kedatangan Sumantri meminangnya, tak mungkin cinta mereka dilanjutkan. Itulah yang menjadikan Delimasa merasa nasibnya buruk. Meski Sumantri gagah, namun Delimasari tidak suka dengan perbuatan lelaki itu yang selalu ingin menang sendiri.
***

Sayembara yang diadakan Sumantri ternyata ditanggapi orang-orang dari kalangan persilatan. Mereka sebagian tertarik dengan hadiah yang ditawarkan Sumantri. Namun ada juga yang merasa tertarik dengan berita tentang bocah aneh bertubuh penuh sisik dan memiliki kesaktian. Barang siapa menguasai anak ini akan dapat menjadi orang sakti!
Dua orang muda berparas elok dengan pedang di pundak melangkah menyelusuri jalan menuju Lembah Neraka. Yang pemuda berwajah tampan dengan rambut terurai panjang. Sosok tubuhnya tegap dan tinggi. Wajahnya bersih, dengan hidung mancung. Kumis tipis menghias di atas bibirnya. Dia bernama Sarawendo. Seorang lagi, wanita muda dan cantik. Rambutnya berombak dengan hidung mancung dan dagu berbentuk indah. Dia bernama Saraswati. Keduanya memakai pakaian biru yang panjangnya sampai ke lutut. Mereka adalah sepasang suami istri yang terkenal dengan julukan Dewa-Dewi Paras Elok.
Wajah mereka memang tampan dan cantik jelita, mirip dengan dewa dan dewi dari kahyangan. Bukan hanya kecantikan dan ketampanan mereka saja yang membuat orang kalangan persilatan merasa kagum. Ilmu pedang keduanya juga sangat tersohor. Terutama dengan jurus 'Sepasang Pedang Memburu Hati', yang merupakan jurus pamungkas bagi mereka. Sulit bagi lawan-lawan mereka untuk melepaskan diri dari serangan keduanya.
Dewa-Dewi Paras Elok melangkah menuju Lembah Akherat sehubungan dengan keikutsertaan mereka dalam sayembara yang diadakan Sumantri. Sebenar- nya tujuan mereka bukan mencari kekayaan. Mereka hanya ingin membuktikan kebenaran yang mereka baca dari pengumuman seyembara itu.
Sebagai pendekar, keduanya memang selalu ingin membuktikan kebenaran suatu berita. Apalagi berita yang dianggap aneh. Keduanya ingin senantiasa menguji sampai di mana ilmu mereka. Di samping berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan, keduanya juga ingin menimba pengalaman yang lebih banyak di rimba persilatan.
“Kakang, apa benar jalan yang sedang kita tuju?” tanya Saraswati.
“Entahlah! Aku juga kurang begitu paham daerah sekitar tempat ini,” jawab Sarawendo sambil meng- edarkan pandangannya ke sekeliling daerah itu. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan petak-petak sawah.
Saat itu, keduanya tengah memasuki wilayah Desa Tarub, yang sepertiga bagian wilayahnya merupakan petak-petak sawah. Penduduk Desa Tarub memang sebagian besar bercocok tanam, karena letak desa mereka tidak memenuhi syarat untuk niaga atau nelayan. Karena tak ada aliran sungai, maupun tempat berjualan yang ramai. Hanya ada pasar kecil di Desa Tarub yang ramainya hanya pada waktu- waktu tertentu.
“Bagaimana kita bisa sampai ke Lembah Akherat?” gumam Saraswati agak cemas. Meski mereka tidak bertujuan mendapatkan salah satu kemungkinan antara harta dan anak sakti itu, keduanya merasa penasaran dan ingin melihat seperti apa bocah sakti yang telah mengundang banyak tokoh rimba persilatan berdatangan untuk mendapatkannya.
Sarawendo menghela napas panjang. Matanya memandang ke sekelilingnya yang masih merupakan hamparan persawahan. Dia berusaha mencari salah seorang petani yang dapat memberi petunjuk arah.
“Nah! Itu ada dua orang petani! Bagaimana kalau kita tanyakan pada mereka...?” ajak Sarawendo.
“Ayolah,” jawab Saraswati. Langkah keduanya segera dipercepat untuk dapat mengejar kedua petani yang berjalan di depan. Sesaat kemudian, keduanya sudah berada di dekat kedua petani itu.
“Sampurasun...!” sapa sepasang suami istri itu dengan ramah, yang menjadikan kedua petani itu menghentikan langkahnya. Keduanya membalikkan tubuh memandang ke arah sepasang pendekar cantik dan tampan.
“Rampes...!” sahut kedua petani itu berusaha ramah.
“Ada apa gerangan kalian berdua mengejar kami?” tanya lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun dengan wajah tampak sabar. Kumis yang memutih menghias di atas bibirnya. Matanya menatap tajam sepasang pendekar itu.
“Maaf, Ki!” kata Sarawendo. “Namaku Sarawendo dan ini istriku Saraswati. Kami ingin bertanya, ke arah mana kami harus melangkah agar sampai ke Lembah Akherat?”
“Benar, Ki. Kami hendak ke sana,” Saraswati menimpali sambil tersenyum.
Kedua petani itu seketika mengerutkan kening, mendengar pertanyaan yang dilontarkan pasangan muda berparas elok itu. Kedua petani itu seperti tak percaya, kalau pasangan muda berwajah elok itu bertujuan ke tempat yang sangat dikeramatkan penduduk desa-desa sekitar Danau Sambak Neraka.
Tak seorang pun yang berani pergi ke Danau Sambak. Tapi kini tiba-tiba ada sepasang pendekar yang bermaksud pergi ke Danau Sambak Neraka. Meski keduanya tidak menyebutkan nama Danau Sambak Neraka, kedua petani itu telah maklum kalau sebenarnya yang hendak dituju keduanya tidak lain Danau Sambak Neraka. Hal itu dapat diketahui karena danau itu berada di wilayah Lembah Akherat.
Seperti apa tempat itu? Siapa pun yang akan datang ke tempat itu niscaya bagaikan hendak menuju ke akherat saja.
“Ke Lembah Akherat?” tanya petani yang berusia di bawah petani yang satunya. Petani ini berambut hitam. Wajahnya bersih dari kumis. Hidungnya pesek matanya lebar. Mulutnya agak lebar dengan bibir tebal.
“Benar. Ada apakah hingga Kisanak nampak
kaget?” tanya Saraswati dengan kening berkerut, menyaksikan tanggapan kedua petani itu ketika menceritakan tentang tujuannya.
“Aduh, kami harap kalian jangan ke sana! Lebih baik kalian pulang saja!” saran petani yang lebih tua. Hal itu membuat Dewa-Dewi Paras Elok semakin mengerutkan keningnya.
“Memangnya kenapa, Ki?” tanya Saraswati ingin tahu.
“Kami mengharap, urungkan saja niat kalian ke Lembah Akherat!” tegas lelaki berkumis putih itu.
Dewa-Dewi Paras Elok saling pandang dengan kening berkerut. Mereka semakin tidak memahami apa maksud kedua petani itu melarang mereka. Belum juga keduanya sempat bertanya, petani yang lebih muda malah menambahkan.
“Kasihan kalau kalian yang tampan dan cantik harus menerima kemalangan!”
“Kemalangan? Maksudmu, Ki?” tanya Sarawendo masih belum memahami kata-kata petani itu. Matanya menatap tajam petani muda itu.
“Ya! Sangat berbahaya jika kalian ke tempat itu. selama ini, tak seorang pun yang berani pergi ke Danau Sambak Neraka. Bukankah kalian hendak ke sana...?” balik tanya petani tua yang bernama Ki Maeskarya.
“Benar, Ki?” sahut Saraswati “Ah, urungkanlah niat kalian! Sia-sia saja kalian ke tempat itu,” ujar Ki Wadul, petani yang lebih muda.
“Terima kasih atas nasihat kalian! Tapi kami tetap hendak ke tempat itu. Kalau kalian tahu jalannya, sudilah kiranya kalian memberitahukan pada kami,” pinta Sarawendo.
Kedua petani itu kembali saling berpandangan
dengan kening berkerut. Mereka tidak menyangka, kalau kedua pasangan muda ini akan nekat ke tempat itu.
“Apakah telah kalian pikirkan semuanya?” tanya Ki Maeskarya.
“Sudah, Ki,” jawab Dewa Dewi Paras Elok bersamaan.
Ki Maeskarya dan Ki Wadul menghela napas berat. Sepertinya kedua orang petani itu merasa sayang jika kedua pasangan berwajah elok itu harus menemui ajal sia-sia di tempat itu. Namun apa hendak dikata, rupanya kedua sejoli itu telah membulatkan tekad untuk datang ke tempat yang sangat keramat dan paling ditakuti penduduk di sana. Bahkan mungkin para dewa pun akan segan ke tempat itu.
Meski mereka tidak pernah tahu siapa sebenarnya penghuni Pulau Karang Api yang ada di tengah-tengah Danau Sambak Neraka, selama turun-temurun mereka tak pernah berani menjarah tempat tersebut.
“Baiklah, kalau memang itu yang kalian kehendaki. Berjalanlah ke selatan. Di sana, sekitar setengah hari perjalanan, kalian akan mendapatkan lembah yang dikelilingi hutan bakau. Itulah Lembah Akherat. Kemudian sekitar seratus tombak dari Lembah Akhirat itu, kalian akan melihat Danau Sambak Neraka. Hati-hatilah!” kata Ki Maeskarya meng- ingatkan.
“Terima kasih atas petunjukmu, Ki,” kata Sarawendo.
Kemudian setelah menjura kepada kedua petani yang telah memberi petunjuk dan peringatan, Dewa Dewi Paras Elok segera melesat cepat menuju ke Lembah Akherat tempat Danau Sambak Neraka berada.
“Hah?!” Ki Maeskarya terkejut dan menggeleng- gelengkan kepala melihat gerakan mereka.
“Dilihat dari gerakan, pakaian dan senjata yang disandang mereka, tampaknya kedua orang itu pendekar, Ki,” gumam Ki Wadul seraya menggeleng- gelengkan kepala.
“Ya!” desah Ki Maeskarya. “Tapi aku belum yakin, apakah mereka akan selamat di Danau Sambak Neraka.”
Sesaat keduanya terdiam. Mata keduanya mata memperhatikan kedua sejoli yang berlari begitu cepat menuju ke arah Lembah Akherat yang bagi mereka sangat mengerikan. Nampaknya kedua pendekar itu menggunakan ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi, sehingga dalam sekejap saja keduanya telah berada jauh sekali. Bahkan sesaat kemudian telah sampai di Lembah Akherat. Keduanya segera mencabut pedang dari warangka masing-masing.
Sret! Sret! “Kita telah sampai, Dinda. Mungkin inilah yang dinamakan Danau Sambak Neraka. Dan pulau yang menyala itu, tentu Pulau Karang Api. Kabarnya pulau itu dihuni bocah sakti itu,” ujar Sarawendo.
“Ya! Kita harus hati-hati, Kakang,” sahut Saraswati. Dewa-Dewi Paras Elok kini melangkah perlahan. Setapak demi setapak kaki mereka melangkah, meyusuri Lembah Akherat yang sepi dan mencekam. Meski lembah itu terang karena tak ada pepohonan, namun jika ingat akan kematian mengerikan sepuluh resi dari Kuil Merak, mau tak mau Dewa-Dewi Paras elok harus waspada.
Baru beberapa langkah kaki mereka maju, tiba- tiba angin bertiup dengan kencang laksana mem- badai. Angin itu menuju ke arah mereka, berusaha
menerbangkan tubuh keduanya.
“Awas, Dinda! Ini serangan pertama..!” seru Sarawendo mengingatkan Istrinya. “Kita satukan pedang kita dengan aji 'Sirep Buana'. Heaaa...!”
“Mari Kakang! Heaaa...! Trang! Dengan menyilangkan kedua pedang, keduanya berusaha menahan serangan dahsyat berupa angin yang tiba-tiba berhembus kencang itu. Dari kedua pedang yang menyilang, keluar sinar pelangi bergulung-gulung dan membesar. Sinar pelangi itu seketika mendesak angin yang membadai dahsyat itu. “Heaaa...!” Wusss! Angin yang membadai seketika lenyap dengan sendirinya. Sedangkan sinar pelangi itu tampak masih bergulung-gulung di udara tak tentu arah.
“Arahkan ke Pulau Karang Api itu, Kakang!” ajak Saraswati.
“Bagaimana kalau sinar itu membunuh bocah yang kita cari?” tanya Sarawendo.
Saraswati terdiam. Apa yang dikatakan suaminya memang beralasan. Mereka datang ke tempat itu semata-mata untuk membuktikan kebenaran ucapan para tokoh persilatan, juga berita sayembara Sumantri.
Setelah mendapatkan serangan pertama, mereka merasa yakin kalau apa yang diceritakan Sumantri tentu ada benarnya.
“Kita tarik saja dulu, Dinda.” “Baiklah,” sahut Saraswati. Baru saja keduanya hendak menarik mundur serangannya, tiba-tiba serangkum sinar melesat
cepat ke arah mereka. Secepat itu pula, mereka merasa hembusan hawa panas membakar tubuh. Mereka berusaha sekuat tenaga mempertahankan diri, tapi tiba-tiba serangkum sinar itu bergerak menyambar ke dada mereka dengan cepat.
Slats...! Cras! Cras! “Aaa...!” Tubuh Dewa-Dewi Paras Elok terjungkal dengan dada tergores penuh luka. Puluhan jarum beracun menancap di dada mereka. Tanpa ampun, mereka langsung meregang nyawa dan mati!
Lembah Akherat kembali sepi. Hanya serangkum sinar membara yang bergerak seperti cambuk itu yang masih melesat cepat ke arah Pulau Karang Api, kemudian menghilang di sana.
***

4
Siang itu udara terasa sangat panas. Langit bersih tanpa awan. Terik matahari terasa menyengat. Beruntung sesekali angin bertiup semilir, membuat suasana agak terasa sejuk. Apalagi jika berada di bawah pohon yang rindang. Mata akan terasa ngantuk.
Hutan Kawi-kawi yang berada di sebelah barat Pegunungan Punakawan juga tertimpa teriknya mentari siang itu. Sebatang pohon beringin yang sangat rindang, tumbuh di tepi Hutan Kawi-kawi. Di bawah pohon beringin itu, duduk seorang pemuda tampan, berpakaian rompi kulit ular.
Pemuda tampan yang tidak lain Pendekar Gila, siang itu tampaknya tengah menikmati semilirnya angin yang sejuk sambil menyuarakan tiupan merdu Suling Naga Sakti. Mendendangkan lagu-lagu pujaan pada alam yang ada di sekitarnya.
Semilir angin terus mengimbangi suasana teriknya mentari yang semakin menggarang. Sementara itu dari dalam hutan, tampak berkelebat sesosok bayangan merah berlari dengan cepat. Bayangan merah itu melintas sekitar dua batang tombak jauhnya di sebelah kiri Sena. Seketika sosok bayangan merah itu berhenti ketika matanya melihat Sena tengah duduk sambil meniup sulingnya.
Bayangan merah itu tak lain Serigala Merah. Lelaki berbadan tinggi tegap dengan senjata sepasang golok besar itu mengerutkan kening dan menghampiri
Pendekar Gila.
“O, rupanya kita bertemu lagi, Sena. Apa kabar?” sapanya ramah sambil melangkah mendekat. Setelah dekat, Serigala Merah menjura hormat.
Sena yang tengah meniup sulingnya, segera menghentikan tiupannya, ketika melihat Serigala Merah menjura. Dia segera bangun dari duduknya, kemudian balas menjura pada Serigala Merah.
“Aha, ada apa gerangan sampai kau berlari-lari seperti itu, Serigala Merah?” tanya Sena sambil menyelipkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggangnya.
Serigala Merah tidak segera menjawab. Keningnya berkerut dan matanya menatap heran pada Pendekar Gila. “Apakah kau belum mendengar tentang sayembara berhadiah besar, Sena?”
“Ah ah ah...! Rupanya ada sayembara lagi,” gumam Sena sambil nyengir dan menggaruk-garuk kepala.
“Benar. Kali ini hadiahnya sangat menarik, Sena.” “Benarkah?” “Ya!” sahut Serigala Merah. “Aha, kalau boleh aku tahu, hadiah macam apakah yang dijanjikan? Dan sayembara macam apa yang tengah dilaksanakan itu?” tanya Sena sambil cengengesan. Pandangannya menyapu ke sekeliling pinggiran hutan. Sebentar kemudian mendongak ke langit, yang nampak biru dan bersih tak bernoda.
Dari arah utara, nampak sekawanan burung pemakan bangkai berkaok keras membelah angkasa bim. Burung-burung itu terbang mengepakkan sayapnya ke selatan, sepertinya di sana ada makanan yang sangat memuaskan.
“Kau tertarik, Sena?” Serigala Merah balik tanya. Sena nyengir sambil menggaruk-garuk kepala.
Kemudian dengan cengengesan kepalanya mengangguk, walau sebenarnya bukan karena hadiah yang inginkan. Dia hanya ingin tahu sayembara macam apa yang diceritakan Serigala Merah.
“Ah, dari tadi tidak kulihat Bidadari Pencabut Nyawa. Ke manakah...?” tanya Serigala Merah. Matanya mencari-cari ke sekeliling tempat itu, tapi dia tidak juga menemukan Mei Lie. “Bukankah Bidadari Pencabut Nyawa selalu bersamamu, Pendekar Gila?”
Sena tertawa terbahak-bahak. Tingkah laku yang seperti kera kembali muncul. Berjingkrak sambil menggaruk kepala dan menepuk-nepuk pantat
“Aha, rupanya pandanganmu cermat sekali, Srigala Merah!” ujarnya bergumam. “Dia memang tidak ikut”
“Hm, kenapa? Apakah dia sakit?” tanya Serigala Merah.
“Ah, tidak. Aku ingin berjalan seorang diri sepertimu. Oh, mengapa pembicaraan kita jadi melantur, Serigala Merah?” sahut Sena.
“Ah, benar. Apa yang tadi kau tanyakan padaku...?” tanya Serigala Merah.
“Mengenai sayembara dan hadiahnya,” jawab Pendekar Gila. “Ah, mengapa kau jadi pikun begitu Serigala Merah? Hi hi hi...! Lucu, kau lebih tepat menjadi Serigala Pikun dan Tua.”
Serigala Merah yang sudah tahu tabiat dan watak Pendekar Gila malah tertawa mendengar ejekan Pendekar Gila barusan.
“Ya ya, kau benar, Sena. Memang lebih pantas kalau julukanku Serigala Tua Pikun. Ha ha ha...!”
Seketika tepian Hutan Kawi-kawi yang semula sepi menjadi riuh oleh suara gelak tawa dari keduanya. Sampai-sampai burung yang sedang bertengger di ranting-ranting pohon beterbangan, karena kaget.
“Ah, jangan terlalu bertele-tele, Serigala Tua! Hi hi hi...! Ayo, katakanlah sayembara macam apa dan apa hadiahnya?” tanya Pendekar Gila setelah tawanya berhenti.
Serigala Merah tersenyum. Kemudian segera menceritakan semua yang didengar dan dibacanya pada selebaran yang dipasang di beberapa tempat. Selebaran yang dikeluarkan oleh Saudagar Sumantri itu berisikan tentang sayembara besar dengan hadiah yang sangat menggiurkan.
“Saudagar Sumantri menawarkan pada semua pendekar baik dari aliran putih maupun hitam hadiah yang cukup besar. Dia memberikan separo harta kekayaannya jika ada yang bisa mendapatkan bocah sakti yang ada di Pulau Karang Api,” tutur Serigala Merah mengakhiri ceritanya.
“Aha, sebuah berita yang menarik!” seru Sena. “Kau tertarik, Sena?” “Tertarik! Ah... ya ya! Aku tertarik. Tapi aku tidak suka dengan hadiahnya. Aku hanya tertarik ingin tahu kebenaran berita tentang bocah sakti itu,” jawab Sena.
“Bagaimana kalau kita ke sana?” ajak Serigala Merah.
Pendekar Gila tersenyum-senyum. Tangannya menggaruk-garuk kepala, seperti merasakan sesuatu. “Ah, kurasa aku belum ingin ke sana, Serigala Merah. Kalau kau ingin ke sana, berangkatlah! Nanti jika aku telah berpikir ke sana, aku akan segera menyusulmu. Di mana kau berada nanti?” tanya Sena “Entah. Tapi mungkin aku akan berada di daerah terdekat dengan tempat bocah sakti itu berada.”
Setelah saling menjura, Serigala Merah segera meninggalkan tepian Hutan Kawi-kawi, berlari ke arah tenggara menuju tempat yang tadi dikatakannya.
Pendekar Gila nampak masih berdiri di bawah pohon beringin yang rindang. Wajahnya nampak nyengir, memandang ke angkasa. Matahari bersinar dengan teriknya, seperti hendak memanggang bumi.
“Aha, mengapa aku diam di sini?” gumam Sena mengalihkan pandangannya ke selatan. Di sana tampak Gunung Petruk menjulang tinggi. Sena masih pikir-pikir, hendak ke arah manakah kakinya berjalan. Apakah hendak berjalan ke arah tenggara menyusul Serigala Merah? Atau hendak ke selatan, ke Gunung Petruk?
Belum juga Sena sempat menentukan tujuan nampak dari arah barat tiga orang lelaki berjalan menuju arahnya. Tiga lelaki berpakaian kuning itu tampak berjalan tergesa-gesa. Sepertinya ada sesuatu yang mendorong mereka mempercepat langkah.
Pendekar Gila mengerutkan keningnya, melihat ketiga lelaki berpakaian kuning itu. Apalagi ketika tahu kalau ketiga lelaki itu berasal dari perkumpulan orang-orang sesat.
“Hm, ada apa kiranya? Nampaknya Tri Pakit Palimping juga hendak menuju ke arah yang tadi dituju Serigala Merah,” gumam Sena.
Apa yang diduganya benar juga. Tri Pakit Palimpingkini dengan terburu-buru dan mempercepat langkah kaki mereka setelah melihat Pendekar Gila berjalan menuju arah tenggara. Ketiga lelaki berpakaian kuning itu tampak segan jika bertemu dengan Pendekear Gila. Itu sebabnya mereka bergegas meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari. Sena tertawa-tawa menyaksikan ketiganya yang tampak segan padanya. Kepalanya digeleng- gelengkan dengan bibir masih tersenyum-senyum.
“Sebaiknya aku ke sana, agar bisa melihat apa yang terjadi...,” kata Sena. Kemudian dia pun melangkah meninggalkan tempat itu, menuju arah tenggara menyusul Serigala Merah dan Tri Pakit Palimping.
Angin siang berhembus perlahan, menambah rasa kantuk semakin menyekat. Gemerisik daun kering terdengar, ketika angin bertiup. Daun-daun kering itu beterbangan, dihembus angin yang cukup kencang.
Kegagalan Dewa-Dewi Paras Elok akhirnya terdengar. Keduanya dikabarkan telah binasa di Lembah Akherat. Hal itu cukup mengejutkan para pendekar yang hendak menuju ke lembah tersebut. Mereka kini berpikir lagi. Sepertinya mereka tidak ingin mengalami nasib yang dialami Dewa-Dewi Paras Elok. Di sebuah kedai yang terletak di sebelah barat Desa Kalimas, nampak berkumpul para pendekar, baik dari aliran lurus maupun sesat. Kedai itu cukup besar, sekitar sepuluh tombak di samping kedai itu, ada sebuah penginapan yang cukup luas. Sehingga bagi mereka yang hendak menginap, tinggal berjalan beberapa langkah saja. Beberapa orang pendekar pun telah berada di penginapan itu.
Di kedai itu, nampak Serigala Merah, Tujuh Iblis dari Sarang Hantu, Nyi Rawit Abang dan Ki Braga Kumba, Tri Pakit Palimping, serta pendekar-pendekar lainnya.
“Kurasa pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sendiri- sendiri,” kata Serigala Merah.
“Memang benar,” sahut Nyi Rawit Abang. “Kurasa kita harus bersatu untuk mendapatkan Bocah Sakti itu.” “Tidak bisa!” bantah lelaki berbadan besar dengan kepala botak di atasnya. Dia salah seorang dari Tiga Pakit Palimping. “Kami bertiga, mengapa harus takut menghadapi Penghuni Pulau Karang Api?”
“Aha, benar juga katamu, Kisanak. Kami bertujuh mengapa mesti takut pada penghuni Pulau Karang Api?” timpal lelaki tinggi tegap berpakaian merah. Dia adalah salah satu anggota Tujuh Iblis dari Sarang Hantu. Ketujuh tokoh sesat itu memang memakai pakaian berbeda.
Orang pertama yang tadi berbicara bernama Sadra. Berbadan tegap dengan wajah bengis dihiasi cambang bauk lebat. Rambutnya ikal, tapi tidak terlalu panjang. Hidungnya besar dengan mata lebar.
Orang kedua yang memakai pakaian merah muda bernama Saka Gulu. Tubuhnya tinggi, gagah, dan tegap, hidungnya kecil, namun tidak mancung. Rambutnya lurus dengan ikat kepala merah muda.
Begitu juga dengan yang lainnya, memiliki ciri tersendiri dengan keadaan yang lain. Namun watak mereka sesuai dengan julukan itu, seperti iblis yang datang dari sarang hantu.
Serigala Merah mendengus, begitu juga dengan Ki Rawit Abang serta Ki Braga Kumba. Kemudian setelah membayar semua yang dia pesan, Serigala Merah pun meninggalkan kedai untuk meneruskan perjalanannya menuju Lembah Akherat yang sudah tak begitu jauh dari Desa Kalimas.
Panas matahari memanggang bumi, namun Serigala Merah bagaikan tidak menghiraukannya. Kakinya terus melangkah di jalan berdebu yang menghubungkan Desa Kalimas dengan Lembah Akherat.
“Huh! Jauh juga jarak Desa Kalimas dengan Lembah Akherat,” dengus Serigala Merah sambil menyeka keringat yang bercucuran karena terik matahari yang menyengat.
Serigala Merah sesaat menghentikan langkahnya. Matanya menatap ke sekelilingnya yang sepi. Hanya hamparan tanah kering berpasir yang tampak sesekali terhembus angin, hingga debu pun mengepul ke udara.
“Hm, mengapa aku harus lewat dari arah sini?” keluh Serigala Merah, merasa bahwa jalan yang dilaluinya ternyata salah. Kini dia harus mengarungi hamparan pasir yang sangat panas, apalagi dengan teriknya matahari siang.
Beberapa kali disekanya keringat yang terus mengalir di dahi, leher dan wajahnya, sambil terus melanjutkan langkahnya. Serigala Merah tak ingin putus asa dengan apa yang sedang dilakukannya. Dia harus mendapatkan kemenangan dalam sayembara itu. Terbayang dalam angannya, dia menjadi orang kaya.
“Seandainya aku dapat memenangkan sayembara itu, aku akan menjadi orang kaya. Hhh..., akan kubangun rumah yang megah untuk hidupku yang telah lelah ini. Akan kucari istri yang cantik lalu aku dapat hidup tenang...,” ujar Serigala Merah saja terus membayangkan dirinya menjadi orang kaya setelah memenangkan sayembara.
Serigala Merah memang telah merasa jenuh hidup mengembara menjadi pendekar. Tak pernah ada urusan duniawi yang dipikirkannya. Kini dia berhasrat sekali dapat menikmati sisa hidupnya dalam ketenangan jiwa. Dia ingin hidup berkeluarga, dapat bersanding bersama istri yang cantik, dengan rumah yang megah dan mewah.
“Persetan dengan apa yang akan dikatakan pendekar lain dan orang-orang rimba persilatan,” gumam Serigala Merah yang merasa selama ini pengembaraannya tak ada artinya. Pertarungan demi pertarungan telah dialami. Itu pula yang menyebab- kan dirinya merasa jemu dengan pengembaraan. Dia ingin menikmati sisa hidupnya dengan tenang dan berkecukupan. Dan itu pula yang menjadikan dia selama ini senantiasa berusaha mencari sayembara (Mengenai Serigala Merah, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode “Tengkorak Darah”).
Bayangan dapat hidup tenang sebagai orang kaya itulah yang seketika memacu semangatnya. Semula hatinya mulai lemah dan hampir putus asa akibat rasa panas yang menyengat. Kini kembali bergairah. Langkah-langkahnya yang tadi pendek, kini panjang- panjang dan lebih cepat. Hatinya berharap segera sampai di tempat tujuan, agar bisa mendapatkan apa yang dibayangkan.
“Ha ha ha! Serigala Merah akan menjadi orang kaya...!” seru Serigala Merah sambil tertawa-tawa. Kakinya terus melangkah penuh semangat, menyelusuri jalanan berpasir yang panasnya terasa sangat menyengat. Namun Serigala Merah tidak peduli, terus melangkah tanpa mengenal lelah.
Ketika matahari agak condong ke arah barat, Serigala Merah sampai di tempat yang dituju. Lembah Akherat yang membentang luas telah ada di hadapannya.
“Ah, akhirnya aku sampai juga ke tempat yang kutuju. Hm, tentunya danau itulah yang dimaksud Danau Sambak Neraka...,” gumam Serigala Merah berbicara pada diri sendiri.
Serigala Merah kembali melangkah dengan penuh semangat, berusaha mencapai Danau Sambak Neraka. Namun tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat dua ekor naga berwarna merah. Naga itu secara tiba-tiba muncul di permukaan danau. Tampak matanya merah laksana api yang membara.
“Ghrrrmh...! Ghrrrmh...!” Suara menggelegar terdengar dari mulut kedua naga berwarna merah itu.
“Hah?! Tidak salahkah penglihatanku?!” tanya Serigala Merah dengan mata membelalak, menyaksi- kan pemandangan yang sangat mengejutkan. Dua ekor naga berwarna merah membara laksana diselimuti api. Kini naga itu memandang ke arahnya dengan tajam.
“Ghrrrrrh...! Ghrrrrrrh...!'' Kedua naga itu menggeliat-geliat seperti menampakkan kemarahan. Kepalanya bergerak ke sana ke mari seperti berusaha mengusir Serigala Merah dari tempat itu. Dari mulutnya menyembur api yang terasa sangat panas.
“Ghrrrmh...!” Slarts...! “Hah?! Ular setan...!” maki Serigala Merah sambil melompat mengelakkan hantaman sinar yang keluar dari kedua naga itu.
Blarrr...! Ledakan dahsyat menggelegar seketika terdengar, ketika sinar merah yang keluar dari mulut kedua naga itu menghantam tanah berpasir. Seketika pasir berhamburan, membubung tinggi sampai sekitar lima puluh tombak tingginya.
“Astaga...! Sinar itu bukan sembarangan!” gumam Serigala Merah dengan mata membelalak. Tangannya yang semula bersidekap segera menarik sepasang golok, kemudian dengan cepat disilangkan di depan dada ketika sinar merah kembali melesat dari mulut kedua naga itu. “Ghrrrmh...!” Slarts! Slarts! Dua larik sinar merah menyembur dari mulut naga yang tampak murka itu.
“Heaaa...!” Wut! Trang...! Terdengar suara benturan yang sangat keras, diikuti oleh pekikan kaget Serigala Merah. Sinar merah yang meluncur cepat ke arahnya membentur goloknya.
“Akh...!” Serigala Merah segera melepas goloknya yang membara merah bagai terbakar api. Seketika tangan- nya dirasakan begitu panas, bahkan seperti melepuh. Rasa panas itu juga dirasakan di seluruh tubuhnya.
“Edan! Binatang sinting!” maki Serigala Merah dengan mata melotot garang. “Kalian harus kuhajar Heaaat...!”
Serigala Merah segera mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Kemudian disilangkan di atas kepala dengan telapak tangan membuka. Setelah itu, kedua tangannya ditarik seraya menyedot napas dalam dalam. Lalu....
“'Brajamukti'! Heaaa...!” Dengan mengeluarkan suara keras, Serigala Merah segera menghantamkan pukulan saktinya yang bernama 'Brajamukti'. Kedua telapak tangan- nya menghentak keras ke arah kedua naga yang tampak masih bergerak-gerak di tengah Danau Sambak Neraka.
Wut...! Putaran api yang bergerigi-gerigi melesat dari pukulan dahsyat Serigala Merah. Putaran api itu melesat ke arah kedua naga merah. Tampaknya kedua naga itu mengerti. Sebelum kedua gulungan sinar itu mengenai tubuh mereka, seketika kedua binatang itu menyelam ke dalam air. Hal itu menjadikan sinar merah bergulung melesat ke Pulau Karang Api, membentur bagian pulau itu.
Glarrr...! Sisi sebelah timur Pulau Karang Api runtuh, terkena hantaman aji 'Brajamukti' yang dilancarkan Serigala Merah. Hal itu membuat penghuni Pulau Karang Api yang belum diketahui siapa adanya, marah dan dengan gusar terdengar suaranya membentak.
“Kurang ajar! Ada manusia yang mencari mati rupanya! Terimalah kematianmu...!”
Sesaat setelah ucapan itu selesai, dari Pulau Karang Api berhembus angin bergulung-gulung ke arah Serigala Merah. Lelaki berpakaian merah itu tersentak kaget. Baru kali ini dilihatnya sesuatu yang mengerikkan. Angin membadai itu, tiba-tiba datang dari balik Pulau Karang Api.
'“Inti Bayu'...!” pekik Serigala Merah ketika mengenali ilmu yang kini mengarah ke arahnya. “Hei?! Bukankah itu ilmu Pendekar Gila?”
Serigala Merah tertegun tak mengerti dengan semua kejadian di tempat itu. Hatinya benar-benar heran, mengapa ajian 'Inti Bayu' milik Pendekar Gila kini datang dari Pulau Karang Api.
Wusss...! “Heaaa...!” Dengan teriakan keras, Serigala Merah bersalto
mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh entah siapa berupa angin membadai.
“Tidak mungkin! Ilmu ini milik Pendekar Gila,” gumamnya terheran-heran.
Merasa serangan pertama gagal, sesuatu yang berada di balik Pulau Karang Api kembali melakukan serangan dengan ajian lainnya Serigala Merah kembali terkejut. Ajian yang kini keluar dan menyerangnya merupakan ajian yang dahsyat dan dikenalnya pula.
“Inti Brahma'...?!” Serigala Merah terpekik kaget, setelah tahu pukulan yang kini menyerangnya. Tubuh- nya dirasa sangat panas bagaikan dipanggang di bara api yang membara.
“Pendekar Gila yang menyerangku?” Serigala Merah berusaha bertahan dari serangan hawa panas yang menyengat. Hawa panas itu ditimbulkan oleh pukulan 'Inti Brahma' yang entah siapa pelakunya. Serigala Merah menyangka kalau Pendekar Gila pelaku semuanya.
“Tobat, Sena! Jangan kau lakukan ini...!” ratap Serigala Merah merasakan siksaan yang tak ter- bendung. Tubuhnya bagaikan dipanggang di atas bara api yang membara. Terasa begitu panas, melebihi panas matahari yang siang tadi memanggangnya. Malah jauh lebih panas. Sampai- sampai tubuhnya terasa mulai melepuh. Belum juga hawa panas itu menghilang, seketika dari balik Pulau Karang Api melesat selarik sinar laksana cambuk meluncur ke arah Serigala Merah.
Wuuut...! Clat! “Tobaaat...!” Serigala Merah melolong tinggi. Tubuhnya sesaat mengejang, kemudian ambruk
dengan tubuh gosong. Di dadanya terdapat luka-luka bagai digores pedang. Puluhan jarum beracun menancap di wajah dan dadanya. Sungguh tragis kematian Serigala Merah. Harapannya untuk menjadi orang kaya melayang bersama nyawanya.
Senja yang cerah tampak begitu indah menyelimuti suasana di sekitar Danau Sambak Neraka. Suasana itu sangat berbeda dengan keadaan nasib yang diterima Serigala Merah. Baru saja benaknya di- penuhi angan-angan menjadi orang kaya, sorenya tewas mengenaskan di Lembah Akherat. Matahari seperti tidak menghiraukan kejadian itu, terus menyusup di dua gumpalan awan putih di sebelah barat. Senja pun semakin tua mengantar kepergian nyawa Serigala Merah.
***

5
“Bagaimana kabar para pendekar yang mengikuti sayembaraku...?” tanya Sumantri pada keempat anak buahnya yang saat itu tengah menghadapnya.
“Nampaknya mereka mengalami kesulitan, Tuan,” jawab Jalna Kumilang.
“Hm...,” gumam Sumantri tak jelas. Nampaknya lelaki berusia tiga puluh lima tahun ini merasa prihatin mendengar kegagalan para pendekar yang mengikuti sayembaranya. Pikirannya semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya bocah bersisik dan penghuni Pulau Karang Api yang berada di tengah Danau Sambak Neraka.
“Kabar terakhir yang kami dengar, Tri Pakit Palimping juga didapatkan telah tewas dengan keadaan yang sama dengan korban-korban sebelum- nya,” sambung Sugatra sambil menggeleng-geleng- kan kepala.
“Sepertinya, mereka mati oleh cambuk berapi dan puluhan jarum-jarum beracun,” tambah Sugatri.
Sumantri menghela napas panjang, mendengar penuturan tangan kanannya. Dia semakin tidak habis pikir, siapa sebenarnya bocah bertubuh penuh sisik dan juga siapa penghuni Pulau Karang Api yang memiliki ilmu kesaktian tinggi itu?
“Apakah belum ada yang mampu menundukkan penghuni Pulau Karang Api...?” tanya Sumantri.
“Kami rasa belum, Tuan,” jawab Jalna Kumilang. “Hm...,” gumam Sumantri sambil bertopang dagu dengan jari-jari tangan kanannya. Matanya me- mandang lepas ke pintu rumahnya. Di sana empat orang penjaga lengkap dengan senjata tombak berada.
Sumantri berdiri dari duduknya, kemudian melangkah menuju ke pintu. Dihelanya napas panjang-panjang, kemudian dengan tubuh mem- belakangi keempat anak buahnya dia mendesah gelisah.
“Selama ini, aku belum juga mengerti. Ke mana hilangnya Anjasmara dan Sambi? Mereka bagaikan ditelan bumi,” gumam Sumantri lirih. Kemudian perlahan membalikkan tubuh, memandang keempat anak buahnya.
“Apa Tuan yakin mereka masih hidup?” tanya Iblis Selendang Ungu.
“Entahlah. Mungkin mereka masih hidup,” Sumantri menarik napas dalam-dalam. Sesaat ucapannya berhenti. “Menurut cerita, siapa pun yang datang ke Lembah Akherat, akan mati. Aneh, kalau mati mengapa tak ada bangkainya...?”
Keempat anak buah juragan kaya itu terdiam. Mereka tampaknya turut berpikir mengenai pendapat Sumantri. Memang rasanya aneh kalau orang mati selama puluhan tahun belum juga ditemukan kerangkanya.
“Apakah tidak mungkin mereka memiliki ilmu menghilang?” tanya Iblis Selendang Ungu memecah kesunyian.
“Ilmu menghilang? Dari mana mereka mendapat- kannya? Guru kami tak pernah mengajari ilmu itu. Lagi pula, ilmu itu hanya berguna sebentar. Tidak ada orang yang menggunakan ilmu menghilang sampai puluhan tahun?” tanya Sumantri sambil tersenyum kecut.
Kembali semuanya terdiam, tak ada yang dapat menjawab kemisteriusan semua perisriwa yang terjadi. Baik penghuni Pulau Karang Api, maupun lenyapnya suami istri Anjasmara dan Sambi yang belum diketahui bagaimana nasib mereka sebenar- nya. “Coba kalian pikir!” tiba-tiba Sumantri angkat bicara setelah lama terdiam. Hal itu membuat keempat anak buahnya tersentak. “Aku punya pendapat mungkin bocah itu anak Anjasmara dan Sambi.”
Seketika keempat anak buahnya tersentak kaget. Mata mereka terbelalak mendengar penuturan Sumantri. Kemudian keempatnya saling ber- pandangan.
“Bagaimana mungkin, Tuan?” Tanya Jalna Kumilang merasa heran dan tak mengerti.
“Ya! Bagaimana mungkin manusia bisa punya turunan bocah ular?” sambung Sugatra.
Sumantri tersenyum kecut. “Aku baru ingat sekarang. Mereka pasti mendapat kutuk penghuni Pulau Karang Api. Puluhan tahun lamanya, tak seorang manusia pun yang berani ke tempat itu. Tiba-tiba muncul sepasang suami istri, kedua adik seperguruanku itu,” jawab Sumantri, yang semakin menyentakkan semua anak buahnya. Kini mereka baru tahu, kalau Pulau Karang Api bukanlah pulau sembarangan.
“Jadi, siapa pun yang ke Lembah Akherat akan mengalami kematian. Begitu...?” tanya Jalna Kumilang menegaskan maksud Sumantri.
“Benar! Mereka telah menjadi mangsa penunggu danau keramat itu!” sahut Sumantri.
“Lalu mengapa Tuan membuat sayembara?” “Hua ha ha...! Kau cerdas juga, Jalna. Sebenarnya aku ingin menjadi orang yang paling sakti dan nomor satu di rimba persilatan. Di samping itu, aku ingin meyakinkan kalau Anjasmara dan Sambi telah tewas. Sejak aku pergi ke Lembah Akherat, aku sudah menduga bahwa tak ada seorang pun yang sanggup datang ke tempat itu....”
“Ada...!” Tiba-tiba dari luar terdengar sahutan keras, diikuti oleh tawa menggelegar yang disertai pengerahan tenaga dalam. Tidak begitu lama kemudian, berkelebat masuk sesosok tubuh pemuda tampan berambut gondrong dengan ikat kepala terbuat dari kulit ular. Tingkah laku pemuda itu seperti orang gila, cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Baik Sumantri maupun keempat anak buahnya tersentak kaget bukan kepalang.
“He he he...! Mengapa mesti berputus asa? Tidak baik manusia cepat putus asa,” ujar pemuda tampan yang ternyata Pendekar Gila.
Sumantri dan keempat anak buahnya mengerut- kan kening, menyaksikan tingkah laku pemuda yang baru datang itu. Tingkah lakunya persis orang gila.
“Siapakah kau, Kisanak?” tanya Sumantri. “Aha, lucu sekali. Mengapa mesti bertanya siapa diriku? Yang pasti, aku akan ke Lembah Akherat yang kau katakan tadi, Ki.”
“Jadi kau ingin mengikuti sayembara?” tanya Sumantri.
“Sayembara...? Ha ha ha...! Lucu sekali omonganmu. Kurasa aku tidak ikut sayembaramu,” jawab Sena seenaknya, membuat semua orang yang ada di tempat itu semakin mengerutkan keningnya.
Agak marah juga mereka mendengar perkataan Sena dan tingkah lakunya yang persis orang gila.
“Bocah edan! Kalau tidak ikut sayembara, untuk apa kau datang kemari?!” bentak Sumantri gusar.
“Aha, mengapa mesti marah? Tidak bolehkah aku ikut ngobrol bersama kalian?” tanya Sena masih dengan ucapan seenaknya. Kemudian dengan acuh kakinya melangkah ke kursi yang tadi diduduki Sumantri, dan langsung duduk di sana.
“Bocah edan! Jangan sembarangan kau di sini. Ini bukan tempat nenek moyangmu! Pergi dari sini!” dengus Jalna Kumilang seraya menyambarkan tangannya ke kepala Pendekar Gila.
Wut! “Uts! Galak sekali kau, Ki! Eh, meleset! He he...!” ujar Sena sambil merundukkan kepala sehingga serangan lelaki setengah baya itu melesat beberapa jari di atas kepalanya.
Merasa serangannya gagal, Jalna Kumilang ber- tambah marah. Dia hendak kembali menyerang, tapi....
“Tunggu....!” ujar Sumantri, mencegah tindakan Jalna Kumilang.
“Tuan, biar kuhajar bocah gila ini!” dengus Jalna Kumilang marah dan malu, karena serangannya yang menjadi andalan jurus silatnya dengan mudah dielakkan lawan.
“Sabar, Ki,” kata Sumantri seraya melangkah men- dekati Sena. “Anak muda, katakan... siapa sebenar- nya dirimu! Lalu, apa perlumu datang ke tempat ini tanpa permisi?”
“Permisi? Ha ha ha...! Untuk apa permisi? Kalian saja kalau berbuat sesuatu tanpa permisi. Lucu sekali...”
Semakin bertambah berang saja keempat anak buah Sumantri mendengar ucapan pemuda yang konyol itu. Mata mereka membelalak penuh amarah.
“Bocah edan ini memang harus dihajar, Tuan!” kata Sugatra yang nampaknya sudah muak dengan tingkah laku Pendekar Gila yang konyol.
“Sabar, Sugatra!” cegah Sumantri. “Anak muda, apa maksud kata-katamu?” tanyanya pada Sena.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala.
“Aha, masih juga kalian lupa? Kalian telah mengadakan sayembara tanpa mengundang orang- orang persilatan untuk berembuk. Juga kalian tidak mengundang pihak Kadipaten Lumajang dan Kerajaan Pahulu.”
Terbelalak mata Sumantri dan keempat anak buahnya. Mereka semakin bertambah marah dan begitu tersinggung dengan ucapan pemuda yang bertingkah laku gila itu.
“Bocah gila! Apa urusanmu?” bentak Sumantri yang semakin gusar. “Kalau kau mau ikut sayembara- ku, tak perlu banyak tanya. Ikuti saja! Kalau kau menang, dan dapat mengambil bocah bersisik ular, kau akan kuberi hadiah separo hartaku!”
“Aha, tawaran yang sangat menggiurkan. Hm.... Baiklah. Aku hendak mengikuti sayembaramu. Nah, kini katakan, ke mana aku harus pergi agar sampai di tempat yang kau maksudkan,” kata Sena sambil masih cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
“Berjalanlah lurus ke arah selatan. Kira-kira setengah hari perjalanan, kau akan sampai,” kata Sumantri menjelaskan, berusaha menahan amarah atas tingkah laku pemuda yang seperti orang gila itu.
“Aha, terima kasih. Sediakan hadiahnya, aku akan
segera kembali kemari!” ujar Sena seenaknya.
Tentu saja tingkah pemuda itu membuat kaget keempat anak buah Sumantri. Mata mereka langsung melotot. Namun Sumantri segera mengangkat tangan memerintah agar mereka tidak keburu nafsu. Kemudian didekatinya Jalna Kumilang sambil ber- bisik.
“Biarkan saja pemuda edan ini mati di sana. Bukankah dengan begitu kita tidak perlu turun tangan?”
Sumantri tertawa terbahak-bahak. Begitu juga Jalna Kumilang dan lainnya setelah mendengar bisikan Sumantri. Pendekar Gila yang diam-diam mendengar bisikan Sumantri, turut tertawa tergelak- gelak. Hal itu membuat semuanya tersentak dan diam. Mereka tidak menyangka kalau Pendekar Gila mendengar bisik-bisik mereka. Pendengaran Sena yang sudah terlatih tajam dan dengan ilmu 'Penajam Rungu'nya tentu saja dapat mendengar suara sekecil apa pun jika menggunakan ilmu itu.
“Kenapa diam? Ha ha ha...! Enak sekali tertawa di malam hari begini, Kisanak. Ayo, kita tertawa, ha ha...!” kata Sena sambil tertawa terbahak-bahak. Bahkan kini berjingkrak-jingkrak tidak ubahnya seperti seekor kera yang kegirangan.
Kelima orang yang ada di tempat itu semakin membelalakkan mata, menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila yang semakin menjadi-jadi kekonyolan- nya. “Aha, kenapa kalian seperti patung? Hi hi hi...! Ayolah, kita senang-senang merayakan kemenangan- ku!” katanya dengan tingkah laku konyol. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak masih seperti seekor monyet
***

Melihat kelima lelaki itu masih terdiam, tawa Pendekar Gila semakin keras dan tergelak-gelak. Tingkah lakunya semakin bertambah konyol, dianggapnya ruangan rumah Sumantri sebagai arena untuk tertawa-tawa dan berjingkrak-jingkrak.
“He he he...! Lucu sekali kalian. Jika begitu, kalian mirip dengan patung-patung bloon. Ha ha ha...!”
“Kurang ajar!” maki Sugatra. “Bocah sinting ini tidak bisa didiamkan, Tuan!”
“Ya! Bisa-bisa kurang ajar!” tambah Sugatri. “Hm...,” Sumantri bergumam lirih. Matanya tak lepas memandangi pemuda bertingkah gila di hadapannya yang masih berjingkrakan sambil tertawa-tawa.
Hal serupa juga dilakukan Iblis Selendang Ungu. Gadis cantik yang sifarnya buruk itu, pandangan matanya tak lepas menatap Pendekar Gila. Kening- nya berkerut, rasa kesal dan tertarik pada ketampanan serta tingkah laku pemuda itu beraduk menjadi satu di dadanya.
Siapakah pemuda gila ini? Tanya Iblis Selendang Ungu dalam hati. Matanya masih menatap tajam pada Pendekar Gila yang tertawa-tawa sambil berjingkrak-jingkrak.
Tingkah lakunya, mengingatkan aku pada pendekar yang namanya sedang menjadi bahan pembicaraan orang-orang rimba persilatan! Gumam Suma dalam hati dengan mata tak lepas merayapi tubuh Pendekar Gila. Mungkinkah pemuda ini orangnya?
“Hua ha ha...! Kenapa kalian masih diam? Bukankah kalian tadi mengajakku tertawa? Hi hi hi...!” masih terus tertawa-tawa sambil berjingkrakan. kali tangannya menggaruk-garuk kepala, lalu menepuk-nepuk pantat.
“Anak muda, kami rasa tak ada salahnya sebelum kau mengikuti sayembaraku, kita berkenalan lebih dulu,” ujar Sumantri berusaha ramah sambil mengulurkan tangannya ke arah Pendekar Gila.
Sena malah tertawa tergelak-gelak sambil meng- garuk-garuk kepala. Dipandanginya tangan Sumantri kemudian tatapannya merayap ke wajah saudagar kaya itu. Lalu dengan mulut masih cengengesan, dijabatnya tangan Sumantri. Namun mendadak Sumantri terbelalak kaget, karena jabatan tangan Pendekar Gila begitu keras dan dialiri tenaga dalam yang amat kuat.
“Aku Sena,” ujar Pendekar Gila cengengesan melihat Sumantri meringis-ringis dengan mata membelalak. Hal itu membuat keempat anak buahnya semakin marah.
“Bocah edan! Rupanya kau ingin menunjukkan kebolehanmu! Hadapi aku Jalna Kumilang!” bentak Jalna Kumilang sambil bergerak menyerang Pendekar Gila yang cengengesan.
Sementara Sumantri yang meringis-ringis, berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengimbangi tenaga lawan.
“Yeaaa...!” Dengan jurus 'Landung Sangkul' Jalna Kumila bergerak menusuk ke wajah Pendekar Gila.
“Heits! Galak sekali kau, Ki!” Hanya dengan mendoyongkan tubuh ke belakang, Pendekar Gila berhasil mengelakkan serangan Jalna Kumilang. Kemudian dengan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sumantri, Pendekar Gila
bergerak dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuh Pendekar Gila meliuk-liuk laksana menari, bergerak maju dengan kaki yang terlihat pelan dan aneh. Namun ternyata mampu mengejar tubuh Jalna Kumilang.
“Heaaa...!” Tangan Pendekar Gila bergerak menepuk ke dada lawan. Jalna Kumilang tersentak kaget dengan mata terbelelak. Sungguh tidak disangkanya kalau tangan pemuda itu bergerak begitu cepat. Padahal gerakan Pendekar Gila tampak pelan dan lemah sekali.
“Celaka! Jurus siluman!” pekik Jalna Kumilang dengan mata tegang, merasa gerakannya kini mati langkah. Hampir saja tangan Pendekar Gila meng- hantam dada Jalna Kumilang, ketika tiba-tiba sebuah pukulan yang keras menghadangnya.
“Heaaa..!” Sebuah teriakan mengiringi serangan Sugatra. Dan....
Plak! “Ugkh...!” Sugatra mengeluh. Dirasakan tangannya kesakitan akibat benturan keras dengan Pendekar Gila. Dia segera melompat dengan mulut menyeringai kesakitan, memandang Sena yang tampak tengah cengengesan menggaruk-garuk kepala, serta me- nepuk pantat seperti kera.
Melihat tangan kakaknya terluka, Sugatri dengan mendengus langsung merangsek Pendekar Gila. Tidak tanggung-tanggung lagi, dia segera mencabut senjatanya yang berupa golok mengeluarkan sinar biru. “Kuhancurkan kepalamu! Heaaa...!”
Wut! Wut!
Golok bersinar biru berkelebat membabat kepala Pendekar Gila. Namun dengan cepat Sena meng- egoskan tubuh ke samping. Disertai tingkah lakunya yang konyol seperti seekor kera. Sena bergerak menyerang dengan jurus 'Si Gila Melepas Lilitan'. Tubuhnya bergerak seperti melepas lilitan yang mengikatnya, berputar ke kiri. Hal itu membuat jurus 'Gerak Kala Mengatup' yang dilancarkan Sugatri tak menemui sasaran.
Setiap serangan datang, dengan cepat Pendekar Gila bergerak menghindar. Tubuhnya berputar, kemudian berbalik menyerang lawan dengan pukulan dan tendangan. Meski sepinras gerakannya terlihat lamban tapi ternyata elakan dan serangan yang dilakukannya mampu melebih kecepatan gerakan lawan.
“Hiaaat..!” Diiringi pekikan keras, Sugatri melompat cepat. Hatinya semakin bernafsu menyerang Sena, karena merasa serangan andalannya tidak berhasil. Meski- pun Sugatri telah melancarkan serangan dengan cepat. Kini dia mulai menambah kecepatan ber- geraknya dengan mengubah jurus 'Sengatan Kala Merah Beracun'. Wut! Wut...! Golok di tangan Sugatri terus bergerak cepat dengan tebasan dan sodokan ke bagian tubuh yang mematikan lawan. Namun dengan mudah Pendekar Gila mampu mengelakkan setiap serangan dengan gerakan-gerakan yang tampak lamban.
“Uts! He he he...! Kurang cepat, Ki! Coba kau terima ini!” sambil berkata begitu, dengan cepat Pendekar Gila melayangkan jotosan ke wajah lawan- nya.
“Hih...!” Sugatri tersentak mendapatkan serangan yang kelihatan lambat namun tahu-tahu berkelebat di depannya. Sugatri berusaha mengelak, tapi rupanya gerakan Pendekar Gila tak dapat diimbanginya. Maka....
Bugkh! “Wuaaa...!” pekik Sugatri. Tubuh lelaki berpakaian merah itu terlontar ke belakang dan terbanting ke meja tempat mereka tadi berkumpul. Tubuh salah seorang dari Sepasang Kera Bergolok Biru itu melorot keras, kemudian jatuh menimpa kursi sampai berantakan.
Semakin bertambah marah semuanya melihat tingkah laku pemuda bertampang gila yang telah mampu mempecundangi Sugatri, bahkan membuat- nya terluka
“Kurang ajar! Rupanya kau benar-benar ingin merasakan pukulanku!” dengus Jalna Kumilang marah. “Tuan, izinkan aku menghajar bocah sombong ini!” “Sombong...? Hi hi hi...! Kalianlah yang sombong, ada pesta tidak mengundang-undang aku,” sahut Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
“Huh! Dasar bocah gila! Rupanya kau harus dihajar!” maki Jalna Kumilang. Wajahnya membara oleh amarah. Namun karena Sumantri nampaknya belum mengizinkan, Jalna Kumilang masih berusaha menahan kesabaran.
“Sabar, Ki!” kata Sumantri. Didekatinya Jalna Kumilang, kemudian dengan berbisik Sumantri mengatakan sesuatu pada lelaki setengah baya itu. “Kalian tak akan mampu menghadapinya, Ki.”
“Kenapa?” “Dia bukan pemuda gila sembarangan. Kurasa dialah Pendekar Gila yang akhir-akhir ini namanya sedang membubung tinggi,” bisik Sumantri men- jelaskan.
Terbelalak mata Jalna Kumilang setelah tahu siapa pemuda bertampang dan bertingkah laku seperti orang gila itu. Matanya memandang tak berkedip pada Pendekar Gila. Sepertinya Jalna Kumilang baru menyadari siapa sesungguhnya pemuda tampan itu.
Sumantri dengan bibir masih tersenyum, me- langkah mendekati Pendekar Gila.
“Tuan Pendekar, kami harap Tuan sudilah me- maafkan kami!” kata Sumantri berusaha membujuk Pendekar Gila agar tak meneruskan pertarungan itu. Sumantri nampaknya menyadari, bagaimanapun dia dan keempat anak buahnya tak mungkin mampu mengalahkan pemuda yang bertingkah gila itu.
“Aha, kenapa tidak sejak tadi? Lucu sekali kalian,” sahut Sena dengan tingkah laku yang tak luput dari cengengesan dan berjingkrak-jingkrak seperti monyet. “Untuk itulah, kami minta maaf. Dan kalau memang Tuan bermaksud mengikuti sayembara yang ku adakan, silakan Tuan datang ke Lembah Akherat. Kalau Tuan mampu menangkap bocah bersisik itu, kami akan memberikan sebagian harta kami,” tutur Sumantri.
“Aha, menyenangkan! Baiklah kalau memang begitu, aku akan segera ke sana. Permisi...!”
Usai berkata begitu, Pendekar Gila segera melesat meninggalkan Sumantri dan keempat anak buahnya yang masih menyimpan amarah.
“Jadi dia Pendekar Gila, Tuan?” tanya Iblis Selendang Ungu.
“Ya! Percuma saja kita berurusan dengannya. Yang pasti, kita harus mempersiapkan penyambutannya. Cepat atau lambat, tentunya dia akan datang ke tempat ini. Untuk itulah, kuharapkan kalian mencari teman sebanyak mungkin guna menghadapinya!” kata Sumantri.
“Apakah Tuan tak percaya kemampuan kami?” tanya Sugatra merasa kurang senang.
“Bukan aku tak percaya pada kalian. Tapi percayalah, guruku saja mungkin tak akan sanggup menghadapinya. Dan aku sendiri besok akan memanggil guruku,” ujar Sumantri meyakinkan. Keempat anak uahnya itu akhirnya menerima juga pendapat majikan mereka. “Hei, ke mana para penjaga?!”
Mereka serentak keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mata mereka membelalak, ketika menyaksi- kan delapan penjaga dalam keadaan tertotok.
“Tentunya sebelum masuk Pendekar Gila telah menotok mereka lebih dahulu,” gumam Sumantri.
“Pantas dari tadi mereka tak muncul!” sambung Iblis Selendang Ungu.
Mereka segera bergerak membebaskan totokan di tubuh delapan penjaga keamanan di rumah saudagar kaya itu.
***

6
Pagi teramat dingin. Embun pun masih menempel di dedaunan dan membasahi tanah. Mentari belum juga muncul ke permukaan bumi. Hanya bias merah di ufuk timur yang terlihat, pertanda kalau sang Raja Siang siap bangkit dari peraduannya. Burung-burung pun berkicau riang, seakan-akan hendak menikmati indahnya suasana pagi.
Desa Kalimas yang merupakan desa terdekat jaraknya dengan Lembah Akherat, pagi itu masih sepi. Belum ada seorang manusia pun yang keluar dari rumahnya. Meskipun mungkin mereka sudah bangun. Saat itu, tampak dua sosok manusia berjalan menyusuri jalan Desa Kalimas. Mereka adalah seorang lelaki dan perempuan berusia sekitar lima puluh tahun. Kedua orang yang berpakaian hijau muda merah itu tampak berjalan begitu intim menembus suasana pagi yang dingin dan sunyi itu.
Yang wanita berambut diikat ke atas kepala, dengan ujungnya terurai ke bawah. Bibirnya yang keriput, menyunggingkan senyum. Dialah Nyi Rawi Abang. Tubuhnya kecil dan tidak begitu tinggi, kelincahannya dalam bergerak sangat mengagum- kan. Itu sebabnya perempuan tua ini mendapat julukan si Kijang Emas.
Sedang lelaki tua yang berjalan di sampingnya berambut lurus tergerai. Tingginya lebih sekepala dibandingkan dengan Nyi Rawit Abang. Pembawaan- nya tenang. Tubuhnya agak bungkuk, dengan jenggot
dan kumis menghias di wajahnya. Hidungnya mancung, dan matanya agak menyipit. Dialah Ki Braga Kumba.
Keduanya bermaksud berangkat ke Lembah Akherat, atau tepatnya menuju Danau Sambak Neraka. Keduanya seperti pendekar dan tokoh persilatan lainnya, yang tertarik dengan kabar mengenai munculnya bocah bersisik di Pulau Karang Api. Hal pertama yang menjadi tujuan mereka adalah mendapatkan bocah itu, untuk selanjutnya diserah- kan pada Sumantri. Kedua, mereka juga ingin membuktikan benar tidaknya kabar itu, serta ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Karang Api yang selama ini belum seorang tokoh pun mampu menjarah tempat itu.
“Masih jauhkah jarak yang harus kita tempuh, Ki?” tanya Nyi Rawit Abang.
“Kurasa tidak, Nyi. Sebab kalau kita sudah melewati Desa Kalimas, tinggal seperempat hari dengan berjalan biasa, kita akan segera sampai,” jawab Ki Braga Kumba berusaha menghibur hati kekasihnya.
“Aku tak mengerti. Bagaimana mereka yang ke Lembah Akherat benar-benar sampai ke akherat? Mereka tidak pernah pulang,” gumam Nyi Rawit Abang.
Ki Braga Kumba tersenyum kecut mendengar kata- kata Nyi Rawit Abang. Keduanya memang bukan suami istri, hanya merupakan sepasang kekasih. Entah mengapa dari dulu mereka tidak juga menikah. Mereka hanya menjalin hubungan kasih, sampai keduanya sama-sama tua.
“Siapa sebenarnya penghuni Lembah Akherat? Sampai-sampai tempat itu sangat ditakuti?” kembali
Nyi Rawit Abang bertanya, karena penasaran tentang tempat keramat yang kini hendak mereka tuju.
“Mana aku tahu? Kalau tahu, sudah dari dulu ingin ke tempat itu. Tentu penghuninya bukan sembarangan. Buktinya tak seorang pun yang berani datang ke tempat itu,” tutur Ki Braga Kumba.
“Hhh...,” Nyi Rawit Abang mendesah manja. Matanya melotot nakal, menatap kekasihnya yang hanya tersenyum cengengesan.
“Ngambek ya?” tanya Ki Braga Kumba. “Huh!” “Lho lho, kok marah?” “Makanya, jelaskan!” sahut Nyi Rawit Abang dengan suara manja.
Ki Braga Kumba semakin melebarkan senyum, “Nampaknya kau semakin cantik jika merengut begitu, Nyi.”
Kini Nyi Rawit Abang tersipu, mendengar rayuan kekasihnya. Sifatnya yang seperti gadis belasan tahun jelas masih terlihat, manja dan akan tersipu-sipu genit jika disanjung sang Kekasih. Tingkah laku keduanya memang sering nampak lucu, tidak ubahnya sepasang remaja yang dimabuk asmara.
“Bisa saja kau, Ki.” “Sungguh.” Kembali Nyi Rawit Abang tersipu-sipu malu, semakin bertambah keriput wajahnya. Tapi itulah yang membuat Ki Braga Kumba semakin bertambah senang. Buktinya hampir tiga puluh tahun mereka menjalin hubungan, tapi selama itu belum pernah terjadi perselisihan. Keduanya selalu intim. Di mana ada Braga Kumba, di situ ada Nyi Rawit Abang.
Saking lengketnya, pasangan campuran dari golongan hitam dan putih itu terkenal dengan sebutan Pengantin Tua. Nyi Rawit Abang dari aliran hitam, sedangkan Ki Braga Kumba berasal dari aliran putih. Namun keduanya tak pernah bentrok. Justru satu sama lain saling membantu.
Langkah mereka semakin mendekati tempat yang dituju. Kini keduanya telah berada di luar batas Desa Kalimas. Sebentar lagi akan memasuki hutan yang menjadi pemisah antara Desa Kalimas dengan wilayah Lembah Akherat
Mereka sedang melangkah memasuki Hutan Kawi- kawi ketika tiba-tiba dikejutkan suara bentakan keras yang disertai munculnya tujuh orang lelaki yang sudah mereka kenali.
“Berhenti...!” “Tujuh Iblis dari Sarang Hantu! Ada apa kalian menghadang perjalanan kami?” tanya Ki Braga Kumba dengan mata tajam menatap satu persatu wajah Tujuh Iblis dari Sarang Hantu yang rata-rata memiliki sifat yang kasar dan bengis.
“Hm.... Apakah kalian lupa dengan kejadian dua hari yang lalu di kedai?!” bentak Sadra, orang pertama dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu.
“He he he! Jelas kami ingat,” sahut Nyi Rawit Abang. “Ada apa dengan kalian?”
“Jangan berpura-pura tak mengerti, Nyi! Jelas Kami menghendaki nyawa kalian berdua! Kami tak ingin kalian ikut campur dengan urusan ini!” tukas Saka Gulu, orang kedua dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu.
“Kurang ajar!” dengus Ki Braga Kumba. “Kalian kira kami dapat digertak oleh iblis-iblis cacingan macam kalian, heh?!”
“Bedebah! Lancang mulutmu, Tua Bangka! Kurobek mulutmu!”
Usai berkata begitu, Sadra menggerakkan tangan kanannya, sebagai isyarat pada keenam rekannya untuk menyerang.
“Heaaa...!” Melihat kekasihnya diserang, Nyi Rawit Abang tak tinggal diam. Sambil mendengus marah, ditariknya Cambuk Rambut Seribu yang menjadi senjatanya. Kemudian dengan jurus 'Lecutan Kilat Cambuk Seribu' Nyi Rawit Abang menyerang.
“Kalian rupanya mencari mampus! Berani meng- hadang Pengantin Tua! Heaaa...!”
Ctar! Ctar! Ctar...! Ribuan rambut di ujung cambuk bergerak menyerang ke arah tujuh lawannya. Rambut-rambut di ujung cambuk itu laksana hidup, meliuk-liuk ke sana kemari memburu mangsa.
Mendapatkan serangan seperti itu, Tujuh Iblis Sarang Hantu segera melompat ke belakang. Kemudian setelah memberi isyarat, mereka segera membentuk sebuah lingkaran memutari kedua lawannya dengan jurus 'Untaian Rantai Iblis Menjerat'. Tubuh Tujuh Iblis dari Sarang Hantu bergerak dalam bentuk lingkaran. Tangan mereka bergerak menyerang ke arah kedua lawannya yang berada di tengah-tengah lingkaran. Gerakan itu pun membuat Nyi Rawit Abang dan Ki Braga Kumba pening meng- hadapinya.
“Hhh...! Kita harus bisa menembusnya, Nyi!” gumam Ki Braga Kumba.
“Ya! Mari kita gunakan jurus 'Badai Menyapu Karang'.”
“Mari! Heaaa...!” “Hiaaa...!” Kedua tokoh tua itu segera mengeluarkan jurus 'Badai Menyapu Karang'. Gerakan tubuh keduanya
sangat cepat, menimbulkan angin yang keras.
Wusss...! Melihat lawan berusaha mendobrak pertahanan, Tujuh Iblis dari Sarang Hantu segera mempercepat gerakannya dengan jurus yang lain. Dengan jurus 'Putaran Kincir Menyapu Badai' mereka bergerak begitu cepat. Tangan dan kaki mereka tidak tinggal diam, bergerak memukul dan menendang ke arah lawan.
“Heaaat...!” “Hiaaa...!” Teriakan-teriakan keras menggelegar mengiringi gerakan mereka menyerang dengan cepat
Wut...! Prak! “Ugkh!” Nyi Rawit Abang mengeluh, ketika tangannya berbenturan dengan tangan beberapa orang dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu. Hal serupa juga dialami oleh Ki Braga Kumba. Keduanya meringis merasakan sakit akibat benturan tangan tadi.
Namun bukan hanya kedua orang itu yang merasakan sakit linu akibat benturan yang terjadi.
Tujuh Iblis dari Sarang Hantu juga tersentak dengan mata melotot, mendapatkan serangan mereka berantakan. Tangan mereka dirasakan ngilu. Mata menatap tajam pada Pengantin Tua yang juga beberapa langkah terhuyung mundur. Kini keduanya sudah tidak lagi berada dalam kepungan Tujuh Iblis Sarang Hantu.
“Bedebah! Kalian rupanya masih sanggup meng- hadapi kami!” dengus Saka Gulu.
“Huh! Apa susahnya menghadapi iblis-iblis cacingan macam kalian?” ejek Ki Braga Kumba
seraya mencibir, membuat Tujuh Iblis dari Sarang Hantu bertambah marah.
“Kurang ajar! Rupanya kalian mencari mampus!” maki Sadra, marah.
“Kalianlah yang mencari mampus!” bentak Nyi Rawit Abang dengan mata melotot, merasa tidak senang kekasihnya dibentak begitu rupa. “Kalau kalian tak segera minggat, tak segan-segan kami membunuh kalian!”
“Ha ha ha...!” Tujuh Iblis dari Sarang Hantu tertawa bergelak-gelak mendengar ancaman Nyi Rawit Abang. “Apakah tidak terbalik, Perempuan Lacur! Seharus- nya kau minta ampun, karena telah membela pihak lawan!” bentak lelaki berbadan gendut dengan rambut dikuncir di atas kepala. Lelaki itu orang ketiga dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu.
“Cuh!! Apa peduli kalian?!” bentak Nyi Rawit Abang tak mau kalah. “Rupanya kalian ngiri ya?!”
“Huh! Apa dikira kau wanita yang paling cantik?!” dengus lelaki berhidung besar dengan kumis menempel di ujung bibir. Dia orang keempat dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu.
“Kurang ajar! Kubunuh kalian! Heaaa...!” Nyi Rawit Abang yang marah, kembali bergerak menggempur lawan-lawannya dengan cambuk. Rambut-rambut di ujung cambuknya bergerak lagi menyapu ke wajah lawan dengan jurus 'Sapu Buana Mekti'.
“Heaaa!” Wut! Melihat serangan itu, dengan cepat Tujuh Iblis dari Sarang Hantu tidak tinggal diam. Mereka segera mencabut senjata yang berupa sabit. Kemudian setelah mengelakkan serangan lawan, mereka berbalik menyerang dengan jurus 'Sabit Maut Mencari Jantung'.
Wut! Wut! Wut...! “Heit..!” Nyi Rawit Abang bergerak mengelak ke samping, menghindari serangan yang mengarah ke bagian tubuhnya yang mematikan.
Menyaksikan kekasihnya dalam desakan ketujuh lawan, Ki Braga Kumba segera mencabut ikat pinggangnya yang bernama Sabuk Sasra Geni. Kemudian dengan jurus 'Sasra Geni' tingkat ketiga, Ki Braga Kumba merangsek ke arah lawan.
“Heaaa...!” Ki Braga Kumba dengan cepat terus memutar Sabuk Sasra Geni di tangannya. Dan seketika sekeliling tempat itu berubah menjadi panas mem- bara. Hal itu membuat Tujuh Iblis dari Sarang Hantu tersentak kaget Mereka segera melompat mundur, menghindari sabetan sabuk lawan yang dahsyat.
“Hah?! Celaka...! Rupanya dia memiliki Sabuk Sasra Geni!” pekik Sadra kaget dengan mata membelalak. “Cepat kalian lakukan aji 'Penutup Sukma'.”
Mendengar perintah Sadra, seketika keenam rekan-rekannya merapalkan ajian 'Penutup Sukma' Lalu setelah merapalkan ajian tersebut, ketujuhnya kembali bergerak menyerang lawan.
“Heaaa...!” “Yeaaat..!” Pertarungan seru kembali terjadi. Masing-masing pihak kini telah mengeluarkan jurus dan senjata andalan masing-masing. Beberapa jurus telah mereka keluarkan untuk mengalahkan lawan, namun sejauh itu belum juga nampak siapa yang bakal menang.

No comments:

Post a Comment