Perjalanan
Ke Akherat
1
Angin pagi berhembus
tidak seperti biasanya. Pagi ini, di sekitar Danau Sambak Neraka angin bertiup
sangat keras. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Angin tiba-tiba bagaikan
mengamuk, menerbangkan debu dan dedaunan kering.
Danau Sambak Neraka
yang terletak di sebelah selatan Desa Krasak, pagi itu masih tertutup kabut
tebal yang dingin. Namun, tidak seperti biasanya angin bertiup sangat kencang
seperti ini. Biasanya angin bertiup tenang, menghembuskan hawa pagi yang sejuk
dan segar, yang akan menambah kenyamanan suasana pagi.
Pagi yang biasanya
cerah tiba-tiba berubah menjadi suasana yang mencekam dan menakutkan. Suasana
aneh yang rasanya laksana berada di dalam kematian alam akherat.
Sementara itu, dari arah
timur nampak sesosok tubuh wanita membopong seorang bayi yang masih merah.
Wanita yang nampaknya habis melahirkan itu berlari-lari seperti ada sesuatu
yang dicarinya. Wajahnya nampak pucat. Seperti memendam ketakutan. Sesekali
menoleh ke belakang, me- mandang ke arah timur. Seakan ada sesuatu yang
dikhawatirkannya.
Air mata wanita yang
mengenakan pakaian hijau lumut berparas cantik dengan rambut diikat ekor kuda
itu, meleleh di kedua pipinya.
“Kakang Anjasmara,
bagaimana nasibmu, Kakang?” keluh wanita cantik yang bernama Sambil-sambil
terus berlari dengan tangan masih meng- gendong bayi. Sementara bayi di
gendongannya terdengar menjerit-jerit tiada henti.
“Oaaa...! Oaaa...!”
“Cup, Sayang...! Cup...!” Sambi berusaha me- nenangkan bayinya yang terus
menangis. Bayi itu seperti mengerti kalau ayah dan ibunya dalam keadaan
menderita. Sesaat tangisnya berhenti. Namun kemudian terdengar kembali
menjerit-jerit, seperti ikut merasakan cekaman rasa takut ibunya.
Sementara itu pula,
dari kejauhan nampak se- orang lelaki bertubuh tinggi tegap dengan rambut
terurai panjang, tengah menghadapi sepuluh orang berpakaian kembar warna ungu
yang mengeroyoknya dengan senjata berupa toya.
Lelaki tinggi tegap
berwajah tampan itu tiada lain Anjasmara. Sedangkan kesepuluh lelaki dengan
pakaian ungu dan berkepala botak itu, ternyata Dasa Toya Kuil Merak. Mereka
merupakan para resi dari Kuil Merak.
“Menyerahlah,
Anjasmara! Kau harus memper- tanggungjawabkan tindakanmu!” seru resi pertama,
bernama Kopayana. Orang itu bertubuh tinggi kurus dan agak bungkuk. Matanya
tajam, berhidung mancung seperti paruh betet, dan berjanggut panjang.
“Ya! Kau harus
bertanggung jawab pada Ki Badawi, karena kau telah melarikan anaknya!” sambut
Resi Udayana, lelaki bertubuh pendek dengan perut gendut. Wajahnya panjang
seperti ular, dengan alis mata tebal. Hidungnya tidak terlalu mancung seperti
resi pertama.
“Itu bukan urusan
kalian!” sahut Anjasmara. “Aku bukan menculik Sambi. Kami saling mencintai!”
“Tak peduli! Yang jelas
kau telah merebut Sambi dari calon suaminya! Kau harus bertanggung jawab atas
perbuatanmu!” bantah Resi Sadayana, lelaki berbadan besar dengan wajah garang
ditumbuhi kumis tebal melintang.
“Cuh! Enak saja kalian
bicara! Sumantri-lah yang telah merebut Sambi dari tanganku!” sentak Anjasmara
sengit, dituduh kalau dirinya merebut Sambi dari Sumantri. Padahal antara
dirinya dan Sambi telah terjalin ikatan cinta semenjak sama- sama di Perguruan
Pedang Darah.
Pertarungan Anjasmara
melawan kesepuluh resi yang bergelar Dasa Toya Kuil Merak nampak seru. Meski
menghadapi sepuluh orang yang berilmu lumayan, Anjasmara yang merupakan murid
kedua dari Perguruan Pedang Darah nampak tak mengalami desakan yang berarti.
Bahkan serangan-serangan yang dilancarkannya cukup mengejutkan kesepuluh resi
berbaju ungu itu.
Baiklah, untuk
mengetahui siapa sebenarnya Anjasmara, Sumantri, dan Sambi, mari kita kembali
pada kejadian sepuluh tahun yang silam! Ketika itu ketiganya masih menjadi satu
dalam didikan seorang tokoh rimba persilatan yang bernama Ki Badawi atau Dewa
Pedang.
Sumantri, Anjasmara,
dan Sambi merupakan kakak beradik pada Perguruan Pedang Darah. Ketiganya
dididik dan digembleng oleh guru sekaligus orangtua angkat mereka yang bernama
Ki Badawi.
Ki Badawi merupakan
orang tua yang paling sayang terhadap anak-anak telantar. Ki Badawi menemukan
Sumantri dan Anjasmara ketika tengah berlanglang buana. Dua bocah kecil tampan
yang entah anak siapa, berada di tengah hutan. Karena
kasihan, dibawanya
pulang. Kemudian dirawat.
Selang beberapa hari
kemudian, ketika Ki Badawi kembali dari bepergian, dia menemukan seorang bocah
perempuan kecil tengah menangis di tengah- tengah amukan api.
Ki Badawi yang melihat
bocah kecil menangis di antara gelimpangan mayat warga Desa Pasuruhan, segera
mengambil anak itu. Kemudian membawanya pula ke perguruan yang berada di Bukit
Cagar Buana.
Dididik dan diasuhnya
ketiga anak itu dengan penuh kasih sayang. Sehingga tumbuhlah ketiganya menjadi
dewasa. Mereka menjadi pemuda-pemudi yang tampan dan cantik jelita. Yang lelaki
diberi nama Sumantri dan Anjasmara. Sedang yang perempuan bernama Sambi.
Semenjak kecil, di
antara mereka memang senantiasa terjadi perselisihan. Dari dulu, Sumantri yang
memiliki watak ingin menang sendiri, selalu berusaha mengalahkan Anjasmara.
Namun Anjasmara tidak bisa dikalahkan begitu saja.
Sikap ingin menang
sendiri selalu ditunjukkan Sumantri, baik di setiap latihan, maupun ketika
melakukan kegiatan sehari-hari. Mulanya Ki Badawi menganggap persaingan itu hal
yang biasa saja, karena mereka masih anak-anak. Biasanya anak- anak kecil
memiliki sikap ingin menunjukkan keunggulan dirinya.
Persaingan antara
Sumantri dan Anjasmara ber- langsung terus-menerus tiada henti. Sampai mereka
sama-sama tumbuh menjadi pemuda. Pemuda dewasa yang gagah dan tampan,
persaingan terus terjadi. Pada masa ini, kedua pemuda tampan itu tidak lagi
bersaing untuk membuktikan ketinggian ilmu
mereka. Sumantri
menyadari kalau ilmu yang dikuasainya tidak sehebat milik saudara angkatnya
itu. Karena Sumantri memang tidak setekun Anjasmara. Dirinya sering kurang giat
dalam berlatih. Di samping sering merasa manja dan besar kepala karena Ki
Badawi memang lebih menyayangi dirinya ketimbang terhadap Anjasmara maupun
Sambi.
Kini Sumantri berusaha
hendak mendapatkan adik angkatnya yang cantik jelita itu. Beberapa kali
Sumantri berusaha mendekati Sambi, tapi gadis cantik yang juga memiliki ilmu
pedang itu terus berusaha menolaknya.
Sampai pada suatu hari,
ketika Sambi tengah mandi di sebuah pancuran, diam-diam Sumantri mengikutinya.
Sambi yang tidak
menduga kalau Sumantri mengikutinya, tanpa segan-segan membuka pakaiannya.
Kemudian dengan bernyanyi-nyanyi tubuhnya dicemlungkan ke kubangan air
pancuran.
Menyaksikan pemandangan
yang menggiurkan, darah lelaki bertubuh tinggi tegap dengan kumis menghias di
atas bibirnya itu seketika bergolak laksana air pancuran. Lelaki muda
berpakaian abu- abu tanpa lengan dan berambut panjang dengan ikat kepala kulit
macan tutul itu, merasakan getaran yang dahsyat dalam jiwanya.
Hampir saja dia
melakukan sesuatu yang tercela. Namun tiba-tiba Sumantri ingat akan segala
petuah gurunya.
“Jika kau mencintai
seseorang, katakanlah dengan kejujuranmu! Aku akan bangga, memiliki anak yang
menjunjung tinggi kehormatan kaum yang lemah.”
Sumantri tersentak dan
mengurungkan niatnya memperkosa Sambi. Bergegas dia pulang ke
perguruan. Ketika
dilihatnya Anjasmara sedang bekerja membelah kayu, Sumantri tersenyum sinis.
Namun Anjasmara tak menggubrisnya, dia tetap membelahi kayu-kayu yang akan
digunakan untuk memasak. Namun ketika Sumantri masuk ke rumah gubuk tempat
gurunya berada, seketika perasaan lelaki berpakaian rompi dari kulit rusa ini
berubah.
Pemuda tampan berhidung
mancung dengan kumis tipis menghias di atas bibirnya, dan bermata tajam laksana
mata burung elang itu menghentikan pekerjaannya. Kening Anjasmara berkerut seperti
ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Entah mengapa, seketika dia ingin tahu apa
yang sedang diadukan Sumantri pada Ki Badawi.
Dengan hati-hati,
Anjasmara berusaha mendengar aduan yang tengah disampaikan Sumantri pada guru
mereka. Matanya terbelalak, ketika mendengar apa yang tengah diadukan Sumantri
pada Ki Badawi.
“Guru, terus terang aku
mencintai Sambi. Kuharap Guru sudi menjodohkan kami, karena kami sama- sama
mencintai,” kata Sumantri berdusta.
Anjasmara menarik napas
dalam-dalam. Seketika perasaannya bergemuruh riuh tidak karuan.
Benarkah Sambi juga
mencintai Sumantri? Tanya Anjasmara dalam hati. Sungguh wanita murahan jika dia
membagi cintanya untuk Sumantri dan diriku.
Anjasmara kembali
memusatkan perhatiannya pada pembicaraan gurunya dan Sumantri.
“Apa kau tak salah
ngomong, Mantri?” tanya Ki Badawi.
“Tidak, Guru. Aku yakin
kalau Sambi mencintaiku.” “Kau sudah mengatakan padanya?” “Sudah, Guru. Bahkan
jika Guru merestui, Sambi bersedia menikah secepatnya,” jawab Sumantri
berbohong, berusaha
meyakinkan gurunya.
Dari dalam terdengar
helaan napas Ki Badawi. Sepertinya orang tua berambut digelung seperti para
resi dengan pakaian jubah putih itu dalam keadaan bingung. Bagaimanapun juga,
Ki Badawi sering melihat Sambi bersama Anjasmara ngobrol. Itu yang meyakinkan
Ki Badawi kalau Sambi mencintai Anjasmara, bukan Sumantri! Tapi kini, tiba-tiba
Sumantri mengatakan kalau dirinya dan Sambi telah sepakat untuk menjadi suami
istri.
Kurang ajar kau,
Sumantri! Dengus Anjasmara dalam hati. Celaka kalau guru sudah membicara-
kannya pada Sambi. Gadis itu tentu akan menurut apa kata Guru!
Karena dihinggapi rasa
takut kalau Sambi akan menurut kata-kata guru mereka, Anjasmara yang tahu bahwa
Sambi sedang mandi, segera berlari ke pancuran. Dia tidak ingin Sambi dimiliki
oleh Sumantri. Dari dulu dirinya selalu mengalah terhadap Sumantri. Haruskah
kini dia juga mengalah? Padahal masalah ini sangat penting, karena menyangkut
harga diri. Pikir Anjasmara yang hatinya semakin kalut.
“Kakang, ada apa kau
menyusul ke sini?” tanya Sambi ketika melihat Anjasmara menyusul dirinya saat
mandi di pancuran.
“Cepatlah naik, Sambi!
Aku ingin bicara dengan- mu,” sahut Anjasmara buru-buru.
“Nampaknya kau tak
sabar, Kakang. Kenapa...?” tanya Sambil masih belum memahami apa yang membuat
pemuda tampan kekasihnya itu tampak tak sabar, tidak seperti biasanya. Biasanya
Anjasmara nampak tenang dan sabar. Dan karena sikapnya yang tenang itu, Sambi
memilih Anjasmara menjadi kekasihnya.
“Naiklah, Sambi!”
perintah Anjasmara semakin tak tenang.
Dengan wajah diliputi
perasaan heran, Sambi pun menurut. Sampai-sampai ia lupa kalau tubuhnya dalam
keadaan telanjang.
“Ada apa, Kakang?”
tanya Sambi. “Pakailah pakaianmu dulu!” sahut Anjasmara setelah terpaku
memandangi keadaan tubuh kekasihnya yang mulus dan kuning langsat. “Heh...! Oh!
I... iya. Aku sampai lupa.” Sambi agak kaget dan malu. Lalu cepat-cepat menutup
bagian terlarang di tubuhnya dengan tangan. Kemudian, kakinya melangkah untuk
meng- ambil pakaiannya yang tergeletak di atas batu yang permukaannya datar.
Dan dengan terburu-buru pakaiannya segera dikenakan.
“Ada apa?” tanya Sambi
setelah mengenakan pakaiannya. Matanya memandang penuh keheranan pada pujaan
hatinya yang kelihatan gelisah. “Kau tampak gelisah, Kakang. Katakanlah! Apa yang
terjadi?”
Anjasmara menghela
napas panjang. “Benarkah kau telah bersepakat akan menikah dengan Sumantri?”
“Hah?! Apa...?!” Sambi
terkejut mendengar pertanyaan kekasihnya. Keningnya berkerut, matanya memandang
tak berkedip ke wajah Anjasmara. “Siapa yang berkata begitu, Kakang?”
“Sumantri. Dia mengadu
pada guru dan meng- inginkan agar guru merestui pernikahannya dengan- mu,”
sahut Anjasmara agak marah.
“Oh! Mengapa Kakang
Sumantri berbuat itu? Tidak, Kakang! Cintaku hanya untukmu. Ke mana pun kau bawa,
aku akan menurut. Aku hanya ingin mengabdi padamu,” keluh Sambi berusaha
meyakin- kan kekasihnya.
“Kalau begitu, sebelum
guru dan Sumantri melakukan semuanya, sebaiknya kita minggat dari sini!” ajak
Anjasmara.
Sambi pun setuju dengan
tekad itu. Tanpa sepengetahuan Ki Badawi dan Sumantri keduanya meninggalkan
Bukit Cagar Buana yang berada di sisi Hutan Prajawelerang.
Waktu berlalu. Keduanya
menjadi satu dalam hidup. Sampai akhirnya pasangan Anjasmara dan Sambi
dikaruniai seorang bayi laki-laki mungil. Sementara, kabar tentang Sumantri dan
Ki Badawi tak pernah terdengar di telinga mereka berdua. Sampai pada akhirnya,
entah dari mana sumbernya, banyak para tokoh persilatan mencari Anjasmara dan
Sambi. Mereka mengaku diperintah Ki Badawi untuk menangkap Anjasmara dan Sambi.
Hingga Anjasmara dan Sambi yang baru memiliki seorang bayi kecil itu harus lari
untuk menyelamatkan diri, meninggalkan Hutan Semar Kembar tempat keduanya
bersembunyi selama ini.
***
Pertarungan Anjasmara
yang bersenjatakan pedang melawan Dasa Toya Kuil Merak masih berjalan seru.
Nampaknya murid dan anak angkat Ki Badawi bukanlah lawan yang enteng bagi
kesepuluh resi dari Kuil Merak itu. Bahkan beberapa kali Anjasmara mampu
membuat kewalahan kesepuluh lawan-lawannya.
Dengan jurus 'Lingkaran
Pedang Sinar' Anjasmara
mampu membuat kesepuluh
resi yang berusaha menangkapnya kalang-kabut. Dan mau tak mau mereka harus
melompat ke belakang mengelakkan dan menjauhi serangan pedangnya.
“Heaaa...!” “Setan!”
maki Resi Narayana kaget sambil melompat mundur, mengelakkan babatan pedang
lawan yang cepat, sehingga mampu membuat gerakan memutar membentuk lingkaran.
Namun....
Wuttt! Brettt! “Uts!
Setan gundul...!” maki Narayana sengit, ketika pakaian resinya sobek terkena
sabetan pedang Anjasmara. Lelaki botak dengan hidung pesek itu mengumpat dan
mencaci-maki dengan kesal. Kalau saja dia terlambat mengelak, sudah pasti
perutnya yang agak buncit itu terkena sabetan pedang Anjasmara.
“Bedebah! Rupanya tikus
ini minta mampus!” dengus Andayana sengit, menyaksikan kemampuan lawan. Toya di
tangannya diputar cepat dengan jurus 'Toya Dewa Mengundang Bayu'. Dari putaran
toyanya, keluar angin kencang yang dahsyat.
Menyaksikan Andayana
telah memutar tongkatnya dengan jurus 'Toya Dewa Mengundang Bayu', kesembilan
resi lainnya serentak melakukan hal yang sama.
“Kuremukkan batok
kepalamu, Tikus Busuk!” dengus Resi Dupayana. “Heaaa...!”
Lelaki botak bertubuh
kurus dan jangkung dengan mata juling itu menggebrak ke arah lawan, diikuti
oleh rekan-rekannya menyerang Anjasmara dengan jurus 'Toya Dewa Mengundang
Bayu'.
“Hiaaat...!”
Wuttt! “Heaaa...!”
Teriakan-teriakan nyaring mengawali serangan Dasa Toya Kuil Merak memburu
lawan.
“Yeaaa...!” Anjasmara
yang merasakan angin keluar dari toya mereka, dengan cepat mengubah jurus
pedangnya. Kali ini dengan jurus 'Sapuan Angin Menerjang Belantara', dia
menghadang serangan kesepuluh lawannya.
Siiing...! Siiing...!
Pertempuran kembali berjalan dengan seru. Dengan jurus andalan, para resi itu
berusaha mendesak Anjasmara. Toya di tangan Dasa Toya Kuil Merak bergerak
cepat, hingga menimbulkan angin yang keras dan menyentak.
Wuttt! Wuttt! Wusss...!
Dasa Toya Kuil Merak nampaknya tidak mau mengalami kekacauan serangan mereka
seperti tadi. Kesepuluh resi itu terus bergerak dengan kompak. Satu menyerang,
yang lainnya bergerak melindungi dan ganti menyerang. Gerakan mereka begitu
serasi dan susul menyusul dengan jurus 'Dasa Merak Terbang dan Hinggap Sambil
Mematuk'.
Seorang dari Dasa Toya
Kuil Merak menyerang dengan cepat, kemudian dengan cepat pula tubuhnya
merunduk. Dari belakang melesat di atas tubuh rekannya, lalu menyerang ke tubuh
Anjasmara. Begitu seterusnya susul-menyusul. Siapa yang telah menyerang, segera
merundukkan tubuh untuk dilompati rekannya untuk menyerang lawan.
“Hiaaat...!” Wuttt!
Wuttt! Hebat juga jurus 'Dasa Merak Terbang dan
Hinggap Sambil
Mematuk'. Dengan jurus itu, kesepuluh resi dari Kuil Merak mampu mendesak
Anjasmara. Sehingga pendekar pedang dari Perguruan Pedang Darah itu harus
menguras tenaga untuk dapat mengelakkan serangan beruntun dan susul-menyusul
yang di lancarkan kesepuluh resi itu.
“Uts! Celaka...! Ilmu
apa yang digunakan kesepuluh resi ini?” tanya Anjasmara setengah mengeluh lirih
sambil bergerak mengelakkan pentungan toya kesepuluh resi berkepala botak itu.
Dia tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk balas menyerang ke arah
lawan-lawannya.
Dasa Toya Kuil Merak
tak pernah berhenti menyerang. Satu menyerang, yang lainnya menyusul dengan
serangan yang sama dan cepat. Hal itu cukup merepotkan Anjasmara yang hanya
seorang diri. Terlebih tenaganya terkuras dalam pertarungan yang berjalan lama.
“Menyerahlah, Tikus
Busuk!” seru Resi Indrayana sambil menggerakkan toyanya menyerang.
Wuttt! “Benar! Menyerahlah,
agar kau tak mati percuma!” sambung Resi Trijayana seraya melompat meng-
gantikan kedudukan Indrayana. Lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun
dengan kumis tebal melintang, serta badan gendut itu terus merangsek ke arah
Anjasmara.
“Cuh! Kalianlah yang
busuk! Kalian telah berlaku tidak selayaknya sebagai para resi. Hanya karena
tergiur hadiah dan imbalan yang diberikan Sumantri keparat itu, kalian rela
melepas kedudukan sebagai resi!” dengus Anjasmara tak mau kalah.
“Kurang ajar! Lancang
sekali mulutmu, Bocah!” bentak Resi Warayana. Mata lelaki bertubuh kaku ini nampak
garang. Hidungnya yang besar kembang- kempis, dengan napas mendengus marah.
“Kupecahkan batok
kepalamu, Setan!” sambung Resi Ragayana. Bergantian dengan Resi Warayana, Resi
Ragayana menyerang ke arah Anjasmara. Serangan mereka semakin gencar dan
dahsyat, mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan.
Ketika petarungan masih
berjalan sengit, dan Anjasmara dalam keadaan terdesak, tiba-tiba angin badai
berhembus dahsyat menggulung tempat pertempuran.
Wusss...! “Wuaaa...!”
Kesepuluh resi itu berusaha mengelakkan terjangan angin yang datangnya sangat
kencang, namun gerakan mereka terlambat. Akibatnya, tubuh berpakaian ungu itu
tersapu badai dahsyat. Tubuh mereka mencelat ke belakang laksana terbang.
Anjasmara tersentak
kaget. Matanya terbelalak ketika tiba-tiba di dalam gulungan angin yang
membentuk pusaran itu terlihat sosok wanita yang sudah sangat dikenalnya.
“Sambi...!” seru
Anjasmara sambil berlari memburu angin besar yang berpusar dan bergerak
mengelilingi Sambi yang menggendong bayinya.
“Ka..., Kakang...!”
“Sambi...!” Anjasmara terus berlari dengan wajah cemas, menyaksikan istri dan
anaknya dalam kekuasaan angin besar yang terus menggulung keduanya. Dengan
nekat, Anjasmara segera menerobos masuk ke putaran angin kencang itu.
“Sambi...!” Seketika
tubuh Anjasmara ditelan pusaran angin besar di mana istri dan bayinya berada.
Angin besar bergulung-gulung itu terus berputar. Tapi anehnya, setelah
Anjasmara masuk di dalamnya, tiba-tiba angin itu bergerak meninggalkan tepian
Danau Sambak Neraka. Angin itu terus bergerak ke arah air danau yang sangat
dalam.
Byurrr! Byurrr...!
Tubuh Sambi dan Anjasmara jatuh ke dalam air Danau Sambak Neraka. Bayi dalam
pelukan Sambi pun tetap dibawanya. Tidak terdengar sedikit pun suara tangisnya.
Mereka terus dibawa ke tengah danau yang sangat luas itu. Baik Sambi maupun
Anjasmara, tak mengerti akan dibawa ke mana diri mereka.
Ternyata angin
bergulung dan berputar-putar itu terus mengusung mereka ke Pulau Karang Api
yang berada di tengah-tengah Danau Sambak Neraka. Semakin dekat tampaklah pulau
itu menyala merah laksana api. Dan karena itulah pulau itu dinamakan Pulau
Karang Api.
Sementara itu, tubuh
Anjasmara dan Sambi yang tercebur ke Danau Sambak Neraka seketika mengalami
perubahan. Tubuh mereka memanjang. Wajah mereka kini pun berubah, dengan mulut
moncong ke depan. Lalu mata mereka menyipit dan kepala mereka tumbuh tanduk. Tubuh
yang memanjang perlahan-lalian ditumbuhi sisik. Keduanya kini berubah menjadi
dua ekor naga berwarna merah dengan mata yang membara bagaikan mengandung api!
“Ssszzzt...!”
Kedua sosok yang telah
berubah menjadi naga itu menggeliat. Matanya tajam memandang ke daratan.
Kemudian dari mulut dan mata keduanya menyemburkan api yang membara ke arah
sepuluh resi yang tengah berlari ke arah Danau Sambak Neraka.
Wurrrs...! “Wuaaa...!”
Kesepuluh resi yang tak menyangka akan mendapat serangan berupa semburan api
dari tengah danau itu terkejut bukan main. Tiada ampun lagi, tubuh mereka
terbakar hangus.
Saat itu, tiba-tiba
terdengar suara keras dan bergema di sekitar Danau Sambak Neraka. Tampak- nya
suara itu milik seorang lelaki.
“Kalian telah menjadi
wargaku! Kalian berdua telah menjadi anak-anakku. Biarlah anak kalian kudidik!
Kelak, dia akan menjadi pemuda perkasa! Hua ha ha...!”
Kedua naga berwarna
merah itu terdiam, kemudian dengan gerakan yang lamban, mereka menyelam ke
kedalaman air Danau Sambak Neraka.
***
Sepuluh tahun sudah
peristiwa di Danau Sambak Neraka berlalu. Sumantri masih berpikir tentang
Anjasmara dan Sambi, yang raib entah ke mana. Dia juga masih berpikir, siapa
yang telah menewaskan kesepuluh resi dari Kuil Merak di tepi Danau Sambak Neraka.
Suasana pagi yang cerah
nampak melingkupi di sekitar Danau Sambak Neraka. Matahari yang baru saja
muncul di ufuk timur bersinar merah tembaga. Nampak seorang lelaki berusia
sekitar tiga puluh lima tahun dengan kumis tebal dan jenggot pendek, berpakaian
khas saudagar tengah melangkah menyusuri tepian Danau Sambak Neraka.
Lelaki tampan dengan
rambut terurai panjang berbaju jubah abu-abu itu ternyata Sumantri. Dia tampak
tengah mengawasi sekitar Danau Sambak Neraka. Pikirannya masih belum menerima
peristiwa aneh sepuluh tahun silam di tepi danau itu.
“Aneh,” gumam Sumantri
lirih sambil matanya memandang ke sekeliling Danau Sambak Neraka.
“Bagaimana mungkin
Anjasmara dan Sambi menghilang?”
Selama sepuluh tahun
terakhir ini, Sumantri telah beberapa kali membayar orang-orang rimba per-
silatan untuk mencari kedua orang yang raib bagai ditelan bumi itu. Tapi selalu
saja mengalami kegagalan. Tak satu pun orang-orang suruhannya yang menemukan
jejak Anjasmara dan Sambi.
“Mungkinkah mereka
benar-benar menghilang?” tanyanya pada diri sendiri. “Ah, tidak mungkin! Guru
tak pernah mengajari Anjasmara dan Sambi ilmu menghilang....”
Sumantri terus berdiri
di tepi Danau Sambak Neraka. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika memandang arah
Pulau Karang Api di tengah-tengah danau.
“Heh! Apakah aku tak
salah lihat?!” gumam Sumantri terkejut, ketika matanya melihat seorang bocah
berusia sekitar sepuluh tahun berbadan penuh sisik tengah berlari-lari kecil.
Bocah bertubuh penuh
sisik itu tampaknya merasa ada yang memperhatikan. Wajahnya memandang ke arah
Sumantri.
“Ah! Bocah atau
setan!?” Kembali Sumantri terkejut, menyaksikan mata bocah itu berwarna merah
membara laksana api, menyorot tajam wajahnya. Bukan hanya itu yang membuat
Sumantri tersentak kaget. Ternyata gigi bocah kecil itu bertaring menyeramkan,
ketika menyeringai memandangnya.
“Ghrrr...! Terdengar
suara keras menggelegar, ketika bocah kecil penghuni Pulau Karang Api itu
menyeringai. Bersamaan dengan itu, seketika hawa panas menyelubungi sekitar
danau, membuat Sumantri tersentak.
“Uh, celaka! Apa yang
dilakukan bocah setan itu?” keluh Sumantri. Tubuhnya kini menggeliat-geliat
bagaikan dipanggang di atas bara api yang sangat panas.
“Wuaaa...! Aaa...!”
Sumantri menjerit-jerit merasakan hawa panas yang tiada terkira menyengat
tubuhnya. Dirasakan tubuhnya seperti dikelilingi api yang membara.
“Aaa...!” Pekikan keras
kembali terdengar dari mulut Sumantri yang terus berusaha mempertahankan
tubuhnya agar tidak mati lemas oleh hawa panas. Namun, semakin mengerahkan
tenaga dalam untuk melawan pengaruh panas yang menyengat tubuhnya, hawa panas
terasa semakin menjadi-jadi.
“Celaka! Aku bisa mati
terbakar kalau terus- menerus di sini,” keluh Sumantri.
Sumantri berusaha
menjauh dari tepi danau. Nampaknya dia berhasil. Dengan cara beringsut
menggunakan lututnya yang tertekuk, Sumantri berusah menggeser kedudukannya
semakin menjauh dari tempat itu.
“Bocah setan! Bagaimana
mungkin bocah sekecil itu memiliki kekuatan api yang kuat, sampai mampu menyerangku?”
umpat Sumantri lirih sambil terus beringsut menjauh.
Wusss...! Angin menderu
kencang ke arah tubuh Sumantri. Seketika itu pula, tubuhnya melayang terbawa
angin kencang itu.
“Wuaaa...!” Sumantri
menjerit ketakutan ketika tubuhnya diterbangkan angin dahsyat itu dan terlempar
sekitar seratus tombak jauhnya dari tepian danau.
Brukkk! “Aduh...! Angin
setan!” maki Sumantri yang tampak marah.
Wusss...! Tiba-tiba
angin dahsyat itu berhembus ke arahnya. Angin badai itu seakan-akan tahu ucapan
Sumantri barusan. Mata lelaki itu terbelalak kaget dan ketakutan. Keringat
dingin bercucuran membasahi tubuhnya.
“Oh! Tidaaak...! Ampun,
jangan....!” pekik Sumantri ketakutan.
Dan anehnya lagi, angin
itu bagaikan mengerti apa yang diminta Sumantri. Seketika angin itu bergulung
dan berputar-putar di depan tubuhnya. Seolah-olah mengatakan sesuatu dan
mengancam Sumantri. Sesaat kemudian angin besar itu bergerak cepat kembali ke
Danau Sambak Neraka.
“Aneh!” gumam Sumantri
keheranan tak mengerti. “Bagaimana mungkin angin bisa mengerti ucapan- ku?”
Sumantri masih terduduk terbengong-bengong keheranan terhadap kejadian yang
baru saja dialaminya.
“Aneh! Benar-benar ada
yang aneh di Pulau
Karang Api itu. Aku
yakin, pulau itu ada penghuninya,” kata Sumantri sambil berlari meninggalkan
tempat yang bernama Lembah Akherat ini.
Bergidik juga hati
Sumantri jika teringat kejadian yang baru saja dialaminya. Rasanya sangat tak
masuk akal. Bagaimana mungkin bocah kecil berusia sepuluh tahun berbadan penuh
sisik mampu mengeluarkan kekuatan sedahsyat itu? Bocah ber- tubuh penuh sisik
dengan mata merah laksana api itu mampu mengeluarkan hawa panas. Juga mampu
mengerahkan angin aneh.
“Bocah itu tentunya
bocah sakti. Ah, kalau saja aku bisa mendapatkannya, tentu aku akan menjadi
orang yang tak tertandingi di rimba persilatan. Bocah kecil itu dapat
kumanfaakan. Hua ha ha...! Sumantri akan menjadi orang yang ditakuti! Aku harus
mendapatkan bocah itu...!” gumam Sumantri sambil terus berlari meninggalkan
Lembah Akherat.
***
2
Setelah menitipkan Mei
Lie pada Ki Gede Mantingan, Sena melanjutkan pengembaraannya untuk menegakkan
kebenaran dan keadilan di muka bumi ini. Karena itu merupakan tanggung jawabnya
sebagai pendekar. Selain itu, batinnya tidak suka melihat penderitaan dan
kesengsaraan orang lemah ditindas dan disiksa oleh yang kuat dan durjana.
Setelah menghancurkan
Istana Tengkorak Merah, Sena dan Mei Lie diajak Ki Gede Mantingan singgah di
padepokannya yang bernama Padepokan Karang Tinalang. Letak padepokan itu berada
di sebelah selatan Desa Karapan dan Desa Sala Kapitu. Tepatnya di Bukit
Singgala Putri (Mengenai Ki Gede Mantingan, silakan baca serial Pendekar Gila
dalam episode “Tengkorak Darah”).
Setelah tiba di
Padepokan Karang Tinalang, akhirnya Sena menitipkan Mei Lie pada orang tua yang
baik itu. Mulanya Mei Lie menolak, tetap setelah Ki Gede Mantingan turut
menasihati, akhirnya gadis itu pun menurut. Terlebih Ki Gede Mantingan telah
menganggap Mei Lie sebagai anaknya sendiri, karena orang tua itu tidak
dikarunai anak. Masih teringat di benak Sena ucapan Mei Lie ketika hendak
melepas kepergiannya.
“Kakang, jangan lupakan
aku! Aku akan selalu menunggumu. Aku akan tetap menunggu dan mencintaimu,”
bisik Mei Lie sambil merebahkan kepalanya di dada Sena.
Rasa haru dan syahdu
beraduk menjadi satu dada. Sena mendengar kata-kata Mei Lie. Dengan lembut
tangannya membelai rambut gadis itu.
“Aku akan mengingatmu,
Mei Lie.” “Terima kasih, Kakang! Aku akan setia menunggumu. Menunggu janjimu....”
Sena tersenyum seraya
memeluk Mei Lie penuh kasih sayang. Kemudian dengan perasaan syahdu, kakinya
melangkah meninggalkan gadisnya yang nampak melambaikan tangan dengan mata
berkaca- kaca Bayangan perpisahannya dengan Mei Lie seketika hilang, ketika
tiba-tiba telinganya mendengar jeritan seorang wanita di tengah Hutan Dadap
Wangi tempat dirinya berada kini.
“Tolong...! Tidak...!”
“Hei....! Kudengar ada seorang wanita meminta tolong,” gumam Sena dengan kening
berkerut. Kemudian dapasangnya telinga tajam-tajam, ber- usaha mendengar suara
jeritan tadi.
“Tolong...! Lepaskan
aku, Biadab!” suara wanita itu kembali terdengar, diikuti oleh caci-makinya.
“Hm, ada juga manusia
durjana yang masih senang iseng,” kata Sena sambil cengengesan. Tangannya
menggaruk-garuk kepala. Kemudian tertawa cekikikan. “Hi hi hi...! Lucu sekali!
Aha, coba kulihat.”
Sena segera melompat ke
atas cabang sebatang pohon yang tinggi, agar bisa melihat ke sekeliling tempat
di tengah Hutan Dadap Wangi.
“Hop! Ya...!” Tap!
Kedua kakinya hinggap begitu ringan di cabang pohon jati yang banyak tumbuh di
hutan itu.
Kemudian dengan
cengengesan matanya me- mandang ke sekeliling tempat itu.
“Tolong! Bajingan,
lepaskan...!” suara wanita itu kembali terdengar, tapi belum nampak di mata
Sena.
“Tak akan ada yang
menolongmu! Kau harus menyerahkan tubuhmu pada kami!” kini terdengar suara
seorang lelaki mengancam.
Pendekar Gila nyengir
sambil pandangannya beredar ke sekeliling tempat itu, berusaha mencari dari
mana asal suara tadi. Dan seketika matanya melihat serumpun semak belukar
bergoyang-goyang.
“Aha, itu dia!” ujar
Sena seraya melompat ke semak-semak yang bergoyang. “Hop! Ya!”
Dua orang lelaki
berpakaian merah kecoklatan tiba-tiba tersentak kaget begitu di samping mereka
telah berdiri seorang pemuda berpakaian kulit rompi ular yang cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala.
“Hua ha ha...! Kenapa
kalian kaget?” tanya Sena masih bertingkah laku seperti orang gila. “Ah ah
ah...! Kupanya kalian sedang asyik berpesta! Kenapa tak mengundangku? Hi hi
hi...!”
“Siapa kau?!” bentak
lelaki berwajah garang dengan rambut kaku seperti landak.
“Ha ha ha...! Aku...?”
balik Sena bertanya. Kemudian mulutnya nyengir kuda. Matanya menatap sosok
wanita muda yang pakaiannya morat-marit tak karuan. “Ah, aku tak ingat namaku.
Hi hi hi...! Siapa kalian berdua?”
Membelalak mata kedua
lelaki berwajah garang itu, mendengar kata-kata Sena yang persis orang gila.
“Pemuda gila dari mana dia?” gumam lelaki berkumis tebal dengan mata lebar.
Rambutnya juga kasar berdiri seperti landak.
“Hei, Bocah Gila!
Ketahuilah...,” ujar lelaki ber- tubuh tinggi dan beralis tebal. “Aku Cakal
Genala!”
“Dan aku, Cakil
Gering!” sambung rekannya yang bertubuh agak kurus, berkumis tebal melintang di
bibir tebal. “Ha ha ha...! Kami bergelar Dua Landak Hutan Dadap Wangi. Kamilah
penguasa dan penghuni hutan ini!”
“Hua ha ha...! Gila...!
Hi hi hi...! Kalianlah yang gila!” balik Pendekar Gila sambil
berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Sementara tangan kanannya meng-
garuk-garuk kepala dan tangan kiri menepuk-nepuk pantat
“Bocah gendeng! Pergi
sana! Jangan ganggu kami!” bentak Cakil Gering dengan mata melotot. Rambutnya
yang berdiri seperti bulu landak, kian meregang kaku.
Dibentak begitu rupa,
bukan membuat Sena takut atau lari. Malah dengan sengaja tingkahnya dibuat
konyol. Dengan tenangnya dia melangkah meng- hampiri gadis cantik yang gaun
kuningnya sudah awut-awutan. Dara cantik itu ketakutan melihat Sena
menghampiri. Kemudian dengan tenang Sena memegang tangan kiri gadis itu.
“Aha, boleh juga!
Bagaimana kalau gadis ini untukku?” tanya Sena pada Dua Landak Hutan Dadap
Wangi, yang semakin bertambah marah melihat kelancangan dan kekonyolan pemuda
itu.
“Kurang ajar! Minggat
kau dari sini!” dengus Cakal Genala sambil melepaskan jotosan ke arah Pendekar
Gila dengan jurus 'Serudukan Landak'.
“Eits! Ah, galak amat
kau, Ki? Mengapa kau tidak mau membagi aku? Aduh kepalaku...!” seru Sena sambil
bergerak cepat memnduk, mengelakkan serangan Cakal Genala. Tubuhnya bergerak
meliuk ke bawah dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. “Hi hi hi...!
Rupanya kau belum pernah ditampar singa, Ki. Nih...!”
Dengan tangan menepuk
ke arah dada lawan, Sena bergerak meliuk. Gerakannya sangat lambat, membuat
lawan menyangka kalau serangan Sena lemah dan tak perlu ditakuti. Hingga....
Bukkk! “Aaakh...!”
Cakal Genala terpekik kesakitan. Lelaki berhidung bulat itu sungguh tak menduga
kalau pukulan lawan yang tampak pelan itu ternyata begitu keras. Soalnya
gerakan Pendekar Gila tampak lamban dan lemah sekali. Tubuh lelaki berambut
kaku itu terlempar deras ke belakang, bagaikan terdorong kekuatan yang dahsyat.
Tubuh Cakal Genala baru berhenti, ketika membentur pohon dadap berduri.
Brak! Crab! “Wuaaa...!”
kembali Cakal Genala memekik kesakitan. Punggungnya tertancap duri-duri pohon
dadap.
“Hi hi hi...! Lucu..!
Kenapa kau, Ki? Kalau lari, jangan mundur! Itulah akibat orang lengah!” kata
Sena ambil berjingkrak-jingkrak seperti orang gila. Mulutnya nyengir.
“Bocah edan! Kuremukkan
kepalamu! Heaaa...!” Cakil Gering yang merasa saudaranya dipermainkan begitu
rupa oleh pemuda tampan berbaju rompi kulit ular, segera melancarkan serangan
dengan pukulan tangan kirinya meng- gunakan juris 'Landak Mengais'.
“Heaaa!” tangan Cakil
Gering melakukan gerakan menyibak cepat, lalu memukul keras ke perut
Pendekar Gila yang
masih tampak cengengesan.
Melihat lawan
menyerang, dengan cepat Sena menarik kakinya ke belakang. Diangkatnya kaki agak
tinggi, kemudian dengan cepat didengkulnya kepala lawan yang agak merunduk.
“Hi hi hi...! Kau
rupanya mencari sesuatu, Ki. Aha, kuberi sop lututku! Hih...!”
Cakil Gering tersentak
melihat gerakan Pendekar Gila. Segera ditariknya kembali serangan tadi. Tubuh-
nya didongakkan, lalu bergerak ke samping. Kemudian dengan cepat bersalto ke
samping, ketika melihat tangan Pendekar Gila kembali menepuk.
“Uts! Ilmu edan!”
makinya yang telah tahu bagaimana hasil tepukan tangan Sena. Meski kelihatannya
lamban dan lemah, ternyata tepukan itu begitu dahsyat dirasakan. Dengan tepukan
itu, Pendekar Gila telah mampu mendorong tubuh Cakal Genala begitu keras.
Sehingga tubuh lelaki itu terkulai pingsan setelah menerjang pohon berduri.
Mata Cakil Gering
terbelalak, setelah merasakan angin keras dari tepukan tangan Pendekar Gila.
“Edan! Jurus apa yang
digunakannya?” gumam Cakil Gering masih tak mengerti dan heran. “Padahal
gerakannya sangat lamban dan lemah. Tapi dari anginnya saja, mampu menyentakkan
tubuhku.”
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak. Tingkah lakunya persis seekor monyet. Hal itu semakin membuat
Cakil Gering mengerutkan kening, berusaha mereka-reka siapa sebenarnya pemuda
yang ber- tingkah seperti orang gila itu.
“Mungkinkah dia yang
berjuluk Pendekar Gila? Ah, dilihat dari tingkah lakunya, semua persis dengan
ciri- ciri pendekar muda itu. Mungkin dia orangnya,” gumam Cakil Gering.
“Hi hi hi...! Kenapa
melongo, Ki? Nanti kau kerasukan setan,” ujar Sena sambil cengengesan.
“Pergilah! Jangan sampai aku memberimu hadiah!”
Cakil Gering yang
merasa tidak unggulan meng- hadapi pemuda itu segera mundur. Dia semakin yakin
dengan dugaannya kalau pemuda di hadapannya pastilah Pendekar Gila.
“Ayo pergi! Jangan
ganggu aku bermesraan dengan gadis ini! Ayo pergi!” bentak Sena dengan garang.
“Baik...! Baik, aku
akan pergi,” sahut Cakil Gering ketakutan.
“Hua ha ha...! Bawa
sekalian tikus itu!” Cakil Gering merangkak mendekati saudaranya yang masih
terkulai pingsan. Kemudian dengan mata menatap tegang pada Pendekar Gila, Cakil
Gering segera memondong tubuh saudaranya. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah
kata pun, dengan cepat tempat itu ditinggalkannya.
Sepeninggal Cakil
Gering dan saudaranya, Sena kembali tertawa bergelak. Tingkah lakunya yang
seperti orang gila, membuat gadis cantik itu ketakutan bukan kepalang. Gadis
berkulit kuning langsat itu mundur beringsut dengan tangan kanan masih
memegangi pakaiannya yang terbuka. Matanya menatap ketakutan pada Pendekar Gila
yang meng- garuk-garuk kepala.
“Jangan! Jangan lakukan
itu...!” ratap gadis itu mengiba.
“Aha, jangan takut,
Nisanak! Aku bukanlah manusia seperti kedua cecurut itu.”
Gadis yang bernama Saka
Wuri itu memperhatikan Pendekar Gila penuh seksama. Sepertinya berusaha
meyakinkan dirinya kalau pemuda tampan bertingkah
seperti orang gila itu
benar-benar hendak me- nolongnya.
Benarkah omongannya?
Tanya Saka Wuri dalam hati. Tingkah lakunya seperti orang gila. Tapi,
pakaiannya bagus mirip seorang pendekar. Mungkinkah dia pendekar yang sering
disebut-sebut sebagai Pendeka Gila?
“Aha, mengapa diam
saja? Ayo, biar kuantar sampai ke rumahmu!” ujar Sena menawarkan jasa.
Pendekar Gila tidak
ingin gadis itu kembali mengalami musibah, diseret dan hendak diperkosa seperti
yang baru saja dialami gadis itu. Kalau saja dirinya tidak segera datang, entah
bagaimana nasib gadis itu
“Tuankah yang sering
disebut Pendekar Gila?” tanya Saka Wuri.
“Aha, terlalu tinggi
julukan itu, Nisanak. Sudahlah yang jelas kau harus pulang! Apakah kau ingin
kedua cecurut tadi datang lagi dan memperkosamu?”
Saka Wuri segera bangun
dari duduknya, kemudian dengan malu-malu melangkah diiringi Pendeka Gila.
Mereka menuju ke Desa Kalasan, tempat Saka Wuri tinggal.
Setelah sampai di
rumah, Saka Wuri pun men- ceritakan pada Pendekar Gila dan ayahnya mengapa
dirinya sampai hendak diperkosa Dua Landak Hutan Dadap Wangi. Saka Wuri pagi
itu hendak mandi di pancuran seperti biasanya. Tiba-tiba dari belakang orang
menyekap mulutnya. Dia hendak berteriak, namun kedua orang itu telah membawanya
pergi sebelum terlebih dahulu menotoknya.
Sesampainya di Hutan
Dadap Wangi, keduanya lalu membuka totokan di tubuh Saka Wuri dan berusaha
menggagahi dirinya. Beruntung sebelum perkosaan terjadi, Pendekar Gila telah
datang.
Setelah mendengar
penuturan Saka Wuri, Pendekar Gila pun bermaksud pamit untuk meneruskan
pengembaraannya.
“Mengapa tidak menginap
dulu di sini, Tuan?” kata Saka Wuri berusaha mencegah Pendekar Gila agar tidak
segera meninggalkan rumahnya. Dia ingin bisa ngobrol lama dengan pemuda tampan
bertingkah laku seperti orang gila itu.
“Benar, Tuan. Kenapa
tidak menginap barang satu malam. Kami ingin mengenalmu lebih dekat,” sambung
Ki Kalaban. Lelaki tua berpakaian adat Jawa Timur itu tampak senang atas telah
kembalinya anak gadisnya. Dia merasa hutang budi pada pemuda tampan yang telah
diketahuinya sebagai Pendekar Gila. “Ah ah ah.... Terima kasih, Ki! Sebenarnya
aku pun ingin menginap di sini. Desa Kalasan sangat damai dan nyaman. Tapi,
kurasa masih banyak lagi yang memerlukan pertolongan dariku...,” ujar Sena
menolak dengan halus.
“Hendak ke manakah
tujuan Tuan?” tanya Ki Kalaban. Kepala Desa Kalasan yang sangat berterima kasih
pada Pendekar Gila, berusaha membalas jasa kebaikan Pendekar Gila.
“Ah! Entahlah, Ki.
Kurasa langkah kaki tergantung hasrat hati melangkah. Di mana kemauan berkata,
di sana aku melangkah,” jawab Pendekar Gila.
Ki Kalaban terdiam.
Sulit baginya untuk berusaha membalas jasa atas kebaikan pendekar muda itu.
Sementara Saka Wuri masih memperhatikan pemuda tampan yang telah menolongnya.
Tak jemu-jemunya gadis cantik bergaun kuning dengan rambut diikat ekor kuda itu
memandangi wajah Pendekar Gila. Ada
perasaan aneh yang
terselip di relung hatinya. Perasaan yang selama ini belum pernah muncul dalam
hati.
“Tuan! Kalau boleh,
izinkanlah aku berbakti padamu!” ujar Saka Wuri memohon.
Pendekar Gila tertawa
bergelak sambil menggaruk- garuk kepala. Kemudian pemuda tampan itu nyengir
sambil menggeleng-geleng kepala.
“Ah! Tak usah berlaku
begitu, Dik Wuri! Kini, aku mohon pamit,” kata Sena.
Kemudian setelah
menjura, Pendekar Gila segera meninggalkan rumah Kepala Desa Kalasan untuk
meneruskan pengembaraannya. Menegakkan kebenaran dan keadilan di atas muka bumi
ini.
***
3
Desa Pasut Piring yang
terletak di sebelah selatan Bukit Selaparang, nampak tenang malam itu. Sebuah
bangunan rumah yang cukup besar untuk ukuran rumah biasa, berdiri megah di
bagian timur desa. Rumah besar dan megah yang semuanya diukir indah itu milik
Sumantri. Dia dikenal sebagai juragan yang paling kaya di desa itu.
Saat itu, malam yang
sunyi menyelimuti bumi. Di ruang tengah rumah yang dijaga ketat empat orang
bersenjatakan tombak, tengah duduk seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh
lima tahun. Lelaki yang tak lain Sumantri, malam itu masih merenungkan apa yang
kemarin dialaminya.
Di hadapannya duduk
empat orang dari rimba persilatan. Tiga lelaki berwajah garang dan satu lagi
seorang wanita cantik berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Keempat orang
rimba persilatan itu merupa- kan tangan kanan, sekaligus pengawal pribadi
Sumantri.
Orang yang pertama
berusia sekitar lima puluh tahun. Berambut gondrong awut-awutan dan kepala- nya
terikat kain warna hijau tua. Matanya tajam dan garang. Hidungnya besar dan
beralis mata lebat. Kumis tebal yang menghiasi bibirnya semakin me- nunjukkan
kegarangannya. Lelaki berpakaian hijau tua lengan panjang itu bernama Jalna
Kumilang atau Hantu Hijau dari Gunung Bangau.
Orang kedua memiliki
rambut dibuat ekor kuda. Alis mata tebal dengan hidung pesek menyerupai kera
dengan cambang bauk lebat. Tubuhnya agak gemuk dan pendek. Pakaian yang
dikenakan ber- warna merah. Dia bernama Sugatra.
Di sampingnya merupakan
adik seperguruan Sugatra yang bernama Sugatri. Lelaki berusia sebaya dengan
Sugatra sekitar tiga puluh lima tahun itu, memiliki pakaian dan rambut yang
sama seperti kakaknya, pesek hampir menyerupai hidung kera. Tubuhnya tidak
terlalu gemuk seperti Sugatra.
Di punggung kedua
lelaki berpakaian merah itu tersampir senjata berupa golok. Mereka berdua ber-
juluk Sepasang Kera Bergolok Biru. Hal itu karena golok mereka dapat
mengeluarkan sinar biru.
Sedangkan yang terakhir
seorang wanita muda dan cantik. Berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Bergaun
merah hati dengan rambut dikepang dua. Dia nampak tidak memegang senjata,
karena senjata yang digunakannya berupa selendang warna ungu yang terikat di
pinggangnya. Itu sebabnya dia lebih dikenal dengan julukan Iblis Selendang
Ungu.
“Tuan Sumantri, kami
lihat sejak tadi Tuan nampak termenung. Kalau boleh kami tahu, apa gerangan
yang telah membebani pikiran Tuan...?” tanya Jalna Kumilang. Orang paling tua
di antara keempat tangan kanan Sumantri.
“Benar, Tuan. Mengapa
Tuan bermuram durja. Sepertinya, setelah pulang dari Danau Sambak Neraka ada
sesuatu yang Tuan pikirkan. Adakah sesuatu yang mengganjal pikiran dan hati
Tuan?” sambung Sugatra.
Sumantri menarik napas
dalam-dalam. Dihempas- kan napasnya panjang-panjang. Tatapan matanya menerawang
ke atas, memandang ke genteng rumahnya.
“Hhh!” desah Sumantri.
“Apa yang kalian duga memang benar.”
Keempat tangan kanan
Sumantri saling pandang. Namun mereka masih diam, karena memang belum tahu apa
yang membuat majikan mereka kelihatan murung terus. Hanya hati mereka saja yang
bertanya- tanya. Mungkinkah majikan mereka melihat Anjasmara dan Sambi?
“Tuan, kalau boleh kami
tahu. Hal apakah yang membuat Tuan bermuram durja?” tanya Sugatri memberanikan
diri, setelah lama terdiam.
“Apakah Tuan Sumantri
melihat Anjasmara dan Sambi?” sambung Iblis Selendang Ungu dengan senyum
menggoda.
“Bukan masalah
Anjasmara dan Sambi yang membuatku gelisah dan terus berpikir,” sahut Sumantri
seraya bangkit dari duduknya, berjalan ke pintu rumahnya yang terbuka. Dia
berdiri di ambang pintu, memandang lepas ke luar.
“Lalu apa yang
menjadikan Tuan nampak murung?” tanya Jalna Kumilang seraya menatap majikannya
yang masih diam berdiri di ambang pintu.
Sumantri menghela napas
dalam-dalam, berbalik ke arah meja. Keempat tangan kanannya tampak masih duduk
di kursi masing-masing. Sumantri kembali duduk.
“Kemarin aku melihat
sesuatu di Pulau Karang Api. Seorang bocah bertubuh penuh sisik dengan lidah
bercabang. Sebelumnya aku bermimpi, kalau bocah itu merupakan bocah sakti.
Siapa pun yang men- dapatkan bocah itu, akan merajai dunia persilatan. Nah, aku
ingin mendapatkan bocah itu. Siapa pun yang mendapatkannya, akan kuberi separo
dari harta kekayaanku. Untuk itu, kuperintahkan kalian menyebar sayembara!”
kata Sumantri menerangkan.
“Kalau memang itu yang
Tuan inginkan, kami siap melaksanakannya,” sahut Iblis Selendang Ungu.
“Ya! Malam ini juga,
kami laksanakan,” sambut Sugatra.
Sumantri tersenyum
mendengar kesanggupan empat anak buahnya, yang menunjukkan kesetiaan mereka
terhadapnya. Kepalanya diangguk-anggukkar dengan bibir masih tersenyum.
“Tidak usah terburu-buru!
Kalian bisa melaku- kannya besok. Malam ini, kalian tulis isi sayembara itu,”
perintah Sumantri.
“Apa yang mesti kami
tulis?” tanya Jalna Kumilang. “Barang siapa yang bisa mendapatkan bocah
bertubuh penuh sisik, akan diberi hadiah sebagian dari hartaku,” kata Sumantri
menjelaskan isi sayembara yang hendak ditulis anak buahnya itu.
“Baiklah, kami akan
segera membuatnya,” kata Jalna Kumilang.
Setelah semuanya
disepakati, Sumantri dan keempat anak buahnya pun meninggalkan ruang pertemuan
untuk melakukan apa yang hendak mereka lakukan.
Sumantri masuk ke
kamarnya. Di dalam kamar itu, seorang gadis cantik berkebaya merah muda tengah
terbaring di tempat tidur. Gadis cantik yang wajahnya nampak masih
menggambarkan kepolosan itu tengah menangis. Seketika dia tersentak bangun
ketika pintu kamar dibuka. Matanya menatap ketakutan, ber- campur rasa benci
pada Sumantri.
“Cah ayu, kenapa kau
masih bersikap dingin? Ayolah, malam ini aku ingin sekali menikmati tubuh- mu,”
ujar Sumantri sambil melangkah mendekat. Gadis itu pun tampak semakin
ketakutan.
“Tidak! Aku tidak
mau...!” seru gadis cantik itu dengan wajah ketakutan. “Bajingan! Kau
benar-benar bajingan! Kembalikan aku ke desaku...!”
Sumantri tersenyum
sinis sambil menggeleng- gelengkan kepala. Kakinya melangkah mendekat ke tempat
tidur. Gadis yang mengingatkannya pada Sambi, semakin bertambah ketakutan.
Tubuhnya ber- ingsut ke sudut tempat tidur. Matanya menatap ketakutan ke wajah
Sumantri yang masih tersenyum.
“Tidak mungkin, Cah
Ayu. Kau harus menjadi istriku,” kata Sumantri. Kemudian dengan penuh nafsu,
Sumantri segera menubruk gadis cantik yang wajahnya memang mirip dengan Sambi.
“Auw! Tidak...!” teriak
gadis cantik berkebaya merah muda yang bernama Delimasari, berusaha mengelak.
Matanya semakin ketakutan. Namun, Sumantri yang sudah bernafsu sekali tak hanya
diam sampai di situ. Bahkan dengan mengelaknya Delimasari, semakin bertambah
nafsu lelaki bertubuh kekar itu.
“Mau lari ke mana, Cah
Ayu? He he he...!” Sumantri yang sudah dibakar nafsu iblis, terus mendekap
tubuh Delimasari yang terus berontak dan meronta-ronta. Namun, semakin keras
dia berontak, semakin bertambah menggelegak nafsu Sumantri.
Bret! “Auw!” Delimasari
terpekik, ketika kebaya merah mudanya direnggut hingga sobek. Tampaklah pundak
kuning mulus gadis itu. Mata Sumantri terbelalak penuh nafsu. Apalagi ketika
kebaya gadis itu terlepas karena tetap ditarik tangan Sumantri.
“He he he...!” Sumantri
tertawa terkekeh. Kemudian kembali menubruk tubuh Delimasari. Gulatan antara
keduanya pun terjadi. Akhirnya
Sumantri yang sudah
bernafsu, mampu menguasai tubuh Delimasari yang lemah. Meskipun meronta- ronta
sekuat tenaga gadis itu tak kuasa menghadapi nafsu iblis Sumantri.
Delimasari hanya mampu
menangis, meratapi nasibnya yang buruk. Kekecewaan, dendam, dan marah beraduk
menjadi satu di hatinya. Keterlaluan sekali kedua orangtuanya, yang telah
menyerahkan dirinya pada lelaki bajingan seperti Sumantri.
Padahal Delimasari
telah memiliki pemuda pujaan hatinya yang saling mencintai. Namun dengan
kedatangan Sumantri meminangnya, tak mungkin cinta mereka dilanjutkan. Itulah
yang menjadikan Delimasa merasa nasibnya buruk. Meski Sumantri gagah, namun
Delimasari tidak suka dengan perbuatan lelaki itu yang selalu ingin menang
sendiri.
***
Sayembara yang diadakan
Sumantri ternyata ditanggapi orang-orang dari kalangan persilatan. Mereka
sebagian tertarik dengan hadiah yang ditawarkan Sumantri. Namun ada juga yang
merasa tertarik dengan berita tentang bocah aneh bertubuh penuh sisik dan
memiliki kesaktian. Barang siapa menguasai anak ini akan dapat menjadi orang
sakti!
Dua orang muda berparas
elok dengan pedang di pundak melangkah menyelusuri jalan menuju Lembah Neraka.
Yang pemuda berwajah tampan dengan rambut terurai panjang. Sosok tubuhnya tegap
dan tinggi. Wajahnya bersih, dengan hidung mancung. Kumis tipis menghias di
atas bibirnya. Dia bernama Sarawendo. Seorang lagi, wanita muda dan cantik.
Rambutnya berombak dengan hidung mancung dan dagu berbentuk indah. Dia bernama
Saraswati. Keduanya memakai pakaian biru yang panjangnya sampai ke lutut.
Mereka adalah sepasang suami istri yang terkenal dengan julukan Dewa-Dewi Paras
Elok.
Wajah mereka memang
tampan dan cantik jelita, mirip dengan dewa dan dewi dari kahyangan. Bukan
hanya kecantikan dan ketampanan mereka saja yang membuat orang kalangan
persilatan merasa kagum. Ilmu pedang keduanya juga sangat tersohor. Terutama
dengan jurus 'Sepasang Pedang Memburu Hati', yang merupakan jurus pamungkas
bagi mereka. Sulit bagi lawan-lawan mereka untuk melepaskan diri dari serangan
keduanya.
Dewa-Dewi Paras Elok
melangkah menuju Lembah Akherat sehubungan dengan keikutsertaan mereka dalam
sayembara yang diadakan Sumantri. Sebenar- nya tujuan mereka bukan mencari
kekayaan. Mereka hanya ingin membuktikan kebenaran yang mereka baca dari
pengumuman seyembara itu.
Sebagai pendekar,
keduanya memang selalu ingin membuktikan kebenaran suatu berita. Apalagi berita
yang dianggap aneh. Keduanya ingin senantiasa menguji sampai di mana ilmu
mereka. Di samping berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan, keduanya juga
ingin menimba pengalaman yang lebih banyak di rimba persilatan.
“Kakang, apa benar
jalan yang sedang kita tuju?” tanya Saraswati.
“Entahlah! Aku juga
kurang begitu paham daerah sekitar tempat ini,” jawab Sarawendo sambil meng-
edarkan pandangannya ke sekeliling daerah itu. Sejauh mata memandang, yang
terlihat hanya hamparan petak-petak sawah.
Saat itu, keduanya
tengah memasuki wilayah Desa Tarub, yang sepertiga bagian wilayahnya merupakan
petak-petak sawah. Penduduk Desa Tarub memang sebagian besar bercocok tanam,
karena letak desa mereka tidak memenuhi syarat untuk niaga atau nelayan. Karena
tak ada aliran sungai, maupun tempat berjualan yang ramai. Hanya ada pasar
kecil di Desa Tarub yang ramainya hanya pada waktu- waktu tertentu.
“Bagaimana kita bisa
sampai ke Lembah Akherat?” gumam Saraswati agak cemas. Meski mereka tidak
bertujuan mendapatkan salah satu kemungkinan antara harta dan anak sakti itu,
keduanya merasa penasaran dan ingin melihat seperti apa bocah sakti yang telah
mengundang banyak tokoh rimba persilatan berdatangan untuk mendapatkannya.
Sarawendo menghela
napas panjang. Matanya memandang ke sekelilingnya yang masih merupakan hamparan
persawahan. Dia berusaha mencari salah seorang petani yang dapat memberi
petunjuk arah.
“Nah! Itu ada dua orang
petani! Bagaimana kalau kita tanyakan pada mereka...?” ajak Sarawendo.
“Ayolah,” jawab
Saraswati. Langkah keduanya segera dipercepat untuk dapat mengejar kedua petani
yang berjalan di depan. Sesaat kemudian, keduanya sudah berada di dekat kedua
petani itu.
“Sampurasun...!” sapa
sepasang suami istri itu dengan ramah, yang menjadikan kedua petani itu
menghentikan langkahnya. Keduanya membalikkan tubuh memandang ke arah sepasang
pendekar cantik dan tampan.
“Rampes...!” sahut
kedua petani itu berusaha ramah.
“Ada apa gerangan
kalian berdua mengejar kami?” tanya lelaki berusia sekitar lima puluh lima
tahun dengan wajah tampak sabar. Kumis yang memutih menghias di atas bibirnya.
Matanya menatap tajam sepasang pendekar itu.
“Maaf, Ki!” kata
Sarawendo. “Namaku Sarawendo dan ini istriku Saraswati. Kami ingin bertanya, ke
arah mana kami harus melangkah agar sampai ke Lembah Akherat?”
“Benar, Ki. Kami hendak
ke sana,” Saraswati menimpali sambil tersenyum.
Kedua petani itu
seketika mengerutkan kening, mendengar pertanyaan yang dilontarkan pasangan
muda berparas elok itu. Kedua petani itu seperti tak percaya, kalau pasangan
muda berwajah elok itu bertujuan ke tempat yang sangat dikeramatkan penduduk
desa-desa sekitar Danau Sambak Neraka.
Tak seorang pun yang
berani pergi ke Danau Sambak. Tapi kini tiba-tiba ada sepasang pendekar yang
bermaksud pergi ke Danau Sambak Neraka. Meski keduanya tidak menyebutkan nama
Danau Sambak Neraka, kedua petani itu telah maklum kalau sebenarnya yang hendak
dituju keduanya tidak lain Danau Sambak Neraka. Hal itu dapat diketahui karena
danau itu berada di wilayah Lembah Akherat.
Seperti apa tempat itu?
Siapa pun yang akan datang ke tempat itu niscaya bagaikan hendak menuju ke
akherat saja.
“Ke Lembah Akherat?”
tanya petani yang berusia di bawah petani yang satunya. Petani ini berambut
hitam. Wajahnya bersih dari kumis. Hidungnya pesek matanya lebar. Mulutnya agak
lebar dengan bibir tebal.
“Benar. Ada apakah
hingga Kisanak nampak
kaget?” tanya Saraswati
dengan kening berkerut, menyaksikan tanggapan kedua petani itu ketika
menceritakan tentang tujuannya.
“Aduh, kami harap
kalian jangan ke sana! Lebih baik kalian pulang saja!” saran petani yang lebih
tua. Hal itu membuat Dewa-Dewi Paras Elok semakin mengerutkan keningnya.
“Memangnya kenapa, Ki?”
tanya Saraswati ingin tahu.
“Kami mengharap,
urungkan saja niat kalian ke Lembah Akherat!” tegas lelaki berkumis putih itu.
Dewa-Dewi Paras Elok
saling pandang dengan kening berkerut. Mereka semakin tidak memahami apa maksud
kedua petani itu melarang mereka. Belum juga keduanya sempat bertanya, petani
yang lebih muda malah menambahkan.
“Kasihan kalau kalian
yang tampan dan cantik harus menerima kemalangan!”
“Kemalangan? Maksudmu,
Ki?” tanya Sarawendo masih belum memahami kata-kata petani itu. Matanya menatap
tajam petani muda itu.
“Ya! Sangat berbahaya
jika kalian ke tempat itu. selama ini, tak seorang pun yang berani pergi ke
Danau Sambak Neraka. Bukankah kalian hendak ke sana...?” balik tanya petani tua
yang bernama Ki Maeskarya.
“Benar, Ki?” sahut
Saraswati “Ah, urungkanlah niat kalian! Sia-sia saja kalian ke tempat itu,”
ujar Ki Wadul, petani yang lebih muda.
“Terima kasih atas
nasihat kalian! Tapi kami tetap hendak ke tempat itu. Kalau kalian tahu
jalannya, sudilah kiranya kalian memberitahukan pada kami,” pinta Sarawendo.
Kedua petani itu
kembali saling berpandangan
dengan kening berkerut.
Mereka tidak menyangka, kalau kedua pasangan muda ini akan nekat ke tempat itu.
“Apakah telah kalian
pikirkan semuanya?” tanya Ki Maeskarya.
“Sudah, Ki,” jawab Dewa
Dewi Paras Elok bersamaan.
Ki Maeskarya dan Ki
Wadul menghela napas berat. Sepertinya kedua orang petani itu merasa sayang
jika kedua pasangan berwajah elok itu harus menemui ajal sia-sia di tempat itu.
Namun apa hendak dikata, rupanya kedua sejoli itu telah membulatkan tekad untuk
datang ke tempat yang sangat keramat dan paling ditakuti penduduk di sana.
Bahkan mungkin para dewa pun akan segan ke tempat itu.
Meski mereka tidak
pernah tahu siapa sebenarnya penghuni Pulau Karang Api yang ada di
tengah-tengah Danau Sambak Neraka, selama turun-temurun mereka tak pernah
berani menjarah tempat tersebut.
“Baiklah, kalau memang
itu yang kalian kehendaki. Berjalanlah ke selatan. Di sana, sekitar setengah
hari perjalanan, kalian akan mendapatkan lembah yang dikelilingi hutan bakau.
Itulah Lembah Akherat. Kemudian sekitar seratus tombak dari Lembah Akhirat itu,
kalian akan melihat Danau Sambak Neraka. Hati-hatilah!” kata Ki Maeskarya meng-
ingatkan.
“Terima kasih atas
petunjukmu, Ki,” kata Sarawendo.
Kemudian setelah
menjura kepada kedua petani yang telah memberi petunjuk dan peringatan, Dewa
Dewi Paras Elok segera melesat cepat menuju ke Lembah Akherat tempat Danau
Sambak Neraka berada.
“Hah?!” Ki Maeskarya
terkejut dan menggeleng- gelengkan kepala melihat gerakan mereka.
“Dilihat dari gerakan,
pakaian dan senjata yang disandang mereka, tampaknya kedua orang itu pendekar,
Ki,” gumam Ki Wadul seraya menggeleng- gelengkan kepala.
“Ya!” desah Ki
Maeskarya. “Tapi aku belum yakin, apakah mereka akan selamat di Danau Sambak
Neraka.”
Sesaat keduanya
terdiam. Mata keduanya mata memperhatikan kedua sejoli yang berlari begitu
cepat menuju ke arah Lembah Akherat yang bagi mereka sangat mengerikan.
Nampaknya kedua pendekar itu menggunakan ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi,
sehingga dalam sekejap saja keduanya telah berada jauh sekali. Bahkan sesaat
kemudian telah sampai di Lembah Akherat. Keduanya segera mencabut pedang dari
warangka masing-masing.
Sret! Sret! “Kita telah
sampai, Dinda. Mungkin inilah yang dinamakan Danau Sambak Neraka. Dan pulau
yang menyala itu, tentu Pulau Karang Api. Kabarnya pulau itu dihuni bocah sakti
itu,” ujar Sarawendo.
“Ya! Kita harus
hati-hati, Kakang,” sahut Saraswati. Dewa-Dewi Paras Elok kini melangkah
perlahan. Setapak demi setapak kaki mereka melangkah, meyusuri Lembah Akherat
yang sepi dan mencekam. Meski lembah itu terang karena tak ada pepohonan, namun
jika ingat akan kematian mengerikan sepuluh resi dari Kuil Merak, mau tak mau
Dewa-Dewi Paras elok harus waspada.
Baru beberapa langkah
kaki mereka maju, tiba- tiba angin bertiup dengan kencang laksana mem- badai.
Angin itu menuju ke arah mereka, berusaha
menerbangkan tubuh
keduanya.
“Awas, Dinda! Ini
serangan pertama..!” seru Sarawendo mengingatkan Istrinya. “Kita satukan pedang
kita dengan aji 'Sirep Buana'. Heaaa...!”
“Mari Kakang! Heaaa...!
Trang! Dengan menyilangkan kedua pedang, keduanya berusaha menahan serangan
dahsyat berupa angin yang tiba-tiba berhembus kencang itu. Dari kedua pedang
yang menyilang, keluar sinar pelangi bergulung-gulung dan membesar. Sinar
pelangi itu seketika mendesak angin yang membadai dahsyat itu. “Heaaa...!”
Wusss! Angin yang membadai seketika lenyap dengan sendirinya. Sedangkan sinar
pelangi itu tampak masih bergulung-gulung di udara tak tentu arah.
“Arahkan ke Pulau
Karang Api itu, Kakang!” ajak Saraswati.
“Bagaimana kalau sinar
itu membunuh bocah yang kita cari?” tanya Sarawendo.
Saraswati terdiam. Apa
yang dikatakan suaminya memang beralasan. Mereka datang ke tempat itu semata-mata
untuk membuktikan kebenaran ucapan para tokoh persilatan, juga berita sayembara
Sumantri.
Setelah mendapatkan
serangan pertama, mereka merasa yakin kalau apa yang diceritakan Sumantri tentu
ada benarnya.
“Kita tarik saja dulu,
Dinda.” “Baiklah,” sahut Saraswati. Baru saja keduanya hendak menarik mundur
serangannya, tiba-tiba serangkum sinar melesat
cepat ke arah mereka.
Secepat itu pula, mereka merasa hembusan hawa panas membakar tubuh. Mereka
berusaha sekuat tenaga mempertahankan diri, tapi tiba-tiba serangkum sinar itu
bergerak menyambar ke dada mereka dengan cepat.
Slats...! Cras! Cras!
“Aaa...!” Tubuh Dewa-Dewi Paras Elok terjungkal dengan dada tergores penuh
luka. Puluhan jarum beracun menancap di dada mereka. Tanpa ampun, mereka
langsung meregang nyawa dan mati!
Lembah Akherat kembali
sepi. Hanya serangkum sinar membara yang bergerak seperti cambuk itu yang masih
melesat cepat ke arah Pulau Karang Api, kemudian menghilang di sana.
***
4
Siang itu udara terasa
sangat panas. Langit bersih tanpa awan. Terik matahari terasa menyengat.
Beruntung sesekali angin bertiup semilir, membuat suasana agak terasa sejuk.
Apalagi jika berada di bawah pohon yang rindang. Mata akan terasa ngantuk.
Hutan Kawi-kawi yang
berada di sebelah barat Pegunungan Punakawan juga tertimpa teriknya mentari
siang itu. Sebatang pohon beringin yang sangat rindang, tumbuh di tepi Hutan
Kawi-kawi. Di bawah pohon beringin itu, duduk seorang pemuda tampan, berpakaian
rompi kulit ular.
Pemuda tampan yang
tidak lain Pendekar Gila, siang itu tampaknya tengah menikmati semilirnya angin
yang sejuk sambil menyuarakan tiupan merdu Suling Naga Sakti. Mendendangkan
lagu-lagu pujaan pada alam yang ada di sekitarnya.
Semilir angin terus
mengimbangi suasana teriknya mentari yang semakin menggarang. Sementara itu
dari dalam hutan, tampak berkelebat sesosok bayangan merah berlari dengan
cepat. Bayangan merah itu melintas sekitar dua batang tombak jauhnya di sebelah
kiri Sena. Seketika sosok bayangan merah itu berhenti ketika matanya melihat
Sena tengah duduk sambil meniup sulingnya.
Bayangan merah itu tak
lain Serigala Merah. Lelaki berbadan tinggi tegap dengan senjata sepasang golok
besar itu mengerutkan kening dan menghampiri
Pendekar Gila.
“O, rupanya kita
bertemu lagi, Sena. Apa kabar?” sapanya ramah sambil melangkah mendekat.
Setelah dekat, Serigala Merah menjura hormat.
Sena yang tengah meniup
sulingnya, segera menghentikan tiupannya, ketika melihat Serigala Merah
menjura. Dia segera bangun dari duduknya, kemudian balas menjura pada Serigala
Merah.
“Aha, ada apa gerangan
sampai kau berlari-lari seperti itu, Serigala Merah?” tanya Sena sambil
menyelipkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggangnya.
Serigala Merah tidak
segera menjawab. Keningnya berkerut dan matanya menatap heran pada Pendekar
Gila. “Apakah kau belum mendengar tentang sayembara berhadiah besar, Sena?”
“Ah ah ah...! Rupanya
ada sayembara lagi,” gumam Sena sambil nyengir dan menggaruk-garuk kepala.
“Benar. Kali ini hadiahnya
sangat menarik, Sena.” “Benarkah?” “Ya!” sahut Serigala Merah. “Aha, kalau
boleh aku tahu, hadiah macam apakah yang dijanjikan? Dan sayembara macam apa
yang tengah dilaksanakan itu?” tanya Sena sambil cengengesan. Pandangannya
menyapu ke sekeliling pinggiran hutan. Sebentar kemudian mendongak ke langit,
yang nampak biru dan bersih tak bernoda.
Dari arah utara, nampak
sekawanan burung pemakan bangkai berkaok keras membelah angkasa bim.
Burung-burung itu terbang mengepakkan sayapnya ke selatan, sepertinya di sana
ada makanan yang sangat memuaskan.
“Kau tertarik, Sena?”
Serigala Merah balik tanya. Sena nyengir sambil menggaruk-garuk kepala.
Kemudian dengan
cengengesan kepalanya mengangguk, walau sebenarnya bukan karena hadiah yang
inginkan. Dia hanya ingin tahu sayembara macam apa yang diceritakan Serigala
Merah.
“Ah, dari tadi tidak
kulihat Bidadari Pencabut Nyawa. Ke manakah...?” tanya Serigala Merah. Matanya
mencari-cari ke sekeliling tempat itu, tapi dia tidak juga menemukan Mei Lie.
“Bukankah Bidadari Pencabut Nyawa selalu bersamamu, Pendekar Gila?”
Sena tertawa
terbahak-bahak. Tingkah laku yang seperti kera kembali muncul. Berjingkrak
sambil menggaruk kepala dan menepuk-nepuk pantat
“Aha, rupanya
pandanganmu cermat sekali, Srigala Merah!” ujarnya bergumam. “Dia memang tidak
ikut”
“Hm, kenapa? Apakah dia
sakit?” tanya Serigala Merah.
“Ah, tidak. Aku ingin
berjalan seorang diri sepertimu. Oh, mengapa pembicaraan kita jadi melantur,
Serigala Merah?” sahut Sena.
“Ah, benar. Apa yang
tadi kau tanyakan padaku...?” tanya Serigala Merah.
“Mengenai sayembara dan
hadiahnya,” jawab Pendekar Gila. “Ah, mengapa kau jadi pikun begitu Serigala
Merah? Hi hi hi...! Lucu, kau lebih tepat menjadi Serigala Pikun dan Tua.”
Serigala Merah yang
sudah tahu tabiat dan watak Pendekar Gila malah tertawa mendengar ejekan
Pendekar Gila barusan.
“Ya ya, kau benar,
Sena. Memang lebih pantas kalau julukanku Serigala Tua Pikun. Ha ha ha...!”
Seketika tepian Hutan
Kawi-kawi yang semula sepi menjadi riuh oleh suara gelak tawa dari keduanya.
Sampai-sampai burung yang sedang bertengger di ranting-ranting pohon
beterbangan, karena kaget.
“Ah, jangan terlalu
bertele-tele, Serigala Tua! Hi hi hi...! Ayo, katakanlah sayembara macam apa
dan apa hadiahnya?” tanya Pendekar Gila setelah tawanya berhenti.
Serigala Merah
tersenyum. Kemudian segera menceritakan semua yang didengar dan dibacanya pada
selebaran yang dipasang di beberapa tempat. Selebaran yang dikeluarkan oleh
Saudagar Sumantri itu berisikan tentang sayembara besar dengan hadiah yang
sangat menggiurkan.
“Saudagar Sumantri
menawarkan pada semua pendekar baik dari aliran putih maupun hitam hadiah yang
cukup besar. Dia memberikan separo harta kekayaannya jika ada yang bisa
mendapatkan bocah sakti yang ada di Pulau Karang Api,” tutur Serigala Merah
mengakhiri ceritanya.
“Aha, sebuah berita
yang menarik!” seru Sena. “Kau tertarik, Sena?” “Tertarik! Ah... ya ya! Aku
tertarik. Tapi aku tidak suka dengan hadiahnya. Aku hanya tertarik ingin tahu
kebenaran berita tentang bocah sakti itu,” jawab Sena.
“Bagaimana kalau kita
ke sana?” ajak Serigala Merah.
Pendekar Gila
tersenyum-senyum. Tangannya menggaruk-garuk kepala, seperti merasakan sesuatu.
“Ah, kurasa aku belum ingin ke sana, Serigala Merah. Kalau kau ingin ke sana,
berangkatlah! Nanti jika aku telah berpikir ke sana, aku akan segera
menyusulmu. Di mana kau berada nanti?” tanya Sena “Entah. Tapi mungkin aku akan
berada di daerah terdekat dengan tempat bocah sakti itu berada.”
Setelah saling menjura,
Serigala Merah segera meninggalkan tepian Hutan Kawi-kawi, berlari ke arah tenggara
menuju tempat yang tadi dikatakannya.
Pendekar Gila nampak
masih berdiri di bawah pohon beringin yang rindang. Wajahnya nampak nyengir,
memandang ke angkasa. Matahari bersinar dengan teriknya, seperti hendak
memanggang bumi.
“Aha, mengapa aku diam
di sini?” gumam Sena mengalihkan pandangannya ke selatan. Di sana tampak Gunung
Petruk menjulang tinggi. Sena masih pikir-pikir, hendak ke arah manakah kakinya
berjalan. Apakah hendak berjalan ke arah tenggara menyusul Serigala Merah? Atau
hendak ke selatan, ke Gunung Petruk?
Belum juga Sena sempat
menentukan tujuan nampak dari arah barat tiga orang lelaki berjalan menuju
arahnya. Tiga lelaki berpakaian kuning itu tampak berjalan tergesa-gesa.
Sepertinya ada sesuatu yang mendorong mereka mempercepat langkah.
Pendekar Gila mengerutkan
keningnya, melihat ketiga lelaki berpakaian kuning itu. Apalagi ketika tahu
kalau ketiga lelaki itu berasal dari perkumpulan orang-orang sesat.
“Hm, ada apa kiranya?
Nampaknya Tri Pakit Palimping juga hendak menuju ke arah yang tadi dituju
Serigala Merah,” gumam Sena.
Apa yang diduganya
benar juga. Tri Pakit Palimpingkini dengan terburu-buru dan mempercepat langkah
kaki mereka setelah melihat Pendekar Gila berjalan menuju arah tenggara. Ketiga
lelaki berpakaian kuning itu tampak segan jika bertemu dengan Pendekear Gila.
Itu sebabnya mereka bergegas meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari. Sena
tertawa-tawa menyaksikan ketiganya yang tampak segan padanya. Kepalanya
digeleng- gelengkan dengan bibir masih tersenyum-senyum.
“Sebaiknya aku ke sana,
agar bisa melihat apa yang terjadi...,” kata Sena. Kemudian dia pun melangkah
meninggalkan tempat itu, menuju arah tenggara menyusul Serigala Merah dan Tri
Pakit Palimping.
Angin siang berhembus
perlahan, menambah rasa kantuk semakin menyekat. Gemerisik daun kering
terdengar, ketika angin bertiup. Daun-daun kering itu beterbangan, dihembus
angin yang cukup kencang.
Kegagalan Dewa-Dewi
Paras Elok akhirnya terdengar. Keduanya dikabarkan telah binasa di Lembah
Akherat. Hal itu cukup mengejutkan para pendekar yang hendak menuju ke lembah
tersebut. Mereka kini berpikir lagi. Sepertinya mereka tidak ingin mengalami
nasib yang dialami Dewa-Dewi Paras Elok. Di sebuah kedai yang terletak di
sebelah barat Desa Kalimas, nampak berkumpul para pendekar, baik dari aliran
lurus maupun sesat. Kedai itu cukup besar, sekitar sepuluh tombak di samping
kedai itu, ada sebuah penginapan yang cukup luas. Sehingga bagi mereka yang
hendak menginap, tinggal berjalan beberapa langkah saja. Beberapa orang
pendekar pun telah berada di penginapan itu.
Di kedai itu, nampak
Serigala Merah, Tujuh Iblis dari Sarang Hantu, Nyi Rawit Abang dan Ki Braga
Kumba, Tri Pakit Palimping, serta pendekar-pendekar lainnya.
“Kurasa pekerjaan ini
tidak bisa dilakukan sendiri- sendiri,” kata Serigala Merah.
“Memang benar,” sahut
Nyi Rawit Abang. “Kurasa kita harus bersatu untuk mendapatkan Bocah Sakti itu.”
“Tidak bisa!” bantah lelaki berbadan besar dengan kepala botak di atasnya. Dia
salah seorang dari Tiga Pakit Palimping. “Kami bertiga, mengapa harus takut
menghadapi Penghuni Pulau Karang Api?”
“Aha, benar juga
katamu, Kisanak. Kami bertujuh mengapa mesti takut pada penghuni Pulau Karang
Api?” timpal lelaki tinggi tegap berpakaian merah. Dia adalah salah satu
anggota Tujuh Iblis dari Sarang Hantu. Ketujuh tokoh sesat itu memang memakai
pakaian berbeda.
Orang pertama yang tadi
berbicara bernama Sadra. Berbadan tegap dengan wajah bengis dihiasi cambang
bauk lebat. Rambutnya ikal, tapi tidak terlalu panjang. Hidungnya besar dengan
mata lebar.
Orang kedua yang
memakai pakaian merah muda bernama Saka Gulu. Tubuhnya tinggi, gagah, dan
tegap, hidungnya kecil, namun tidak mancung. Rambutnya lurus dengan ikat kepala
merah muda.
Begitu juga dengan yang
lainnya, memiliki ciri tersendiri dengan keadaan yang lain. Namun watak mereka
sesuai dengan julukan itu, seperti iblis yang datang dari sarang hantu.
Serigala Merah
mendengus, begitu juga dengan Ki Rawit Abang serta Ki Braga Kumba. Kemudian
setelah membayar semua yang dia pesan, Serigala Merah pun meninggalkan kedai
untuk meneruskan perjalanannya menuju Lembah Akherat yang sudah tak begitu jauh
dari Desa Kalimas.
Panas matahari
memanggang bumi, namun Serigala Merah bagaikan tidak menghiraukannya. Kakinya
terus melangkah di jalan berdebu yang menghubungkan Desa Kalimas dengan Lembah
Akherat.
“Huh! Jauh juga jarak
Desa Kalimas dengan Lembah Akherat,” dengus Serigala Merah sambil menyeka
keringat yang bercucuran karena terik matahari yang menyengat.
Serigala Merah sesaat
menghentikan langkahnya. Matanya menatap ke sekelilingnya yang sepi. Hanya
hamparan tanah kering berpasir yang tampak sesekali terhembus angin, hingga
debu pun mengepul ke udara.
“Hm, mengapa aku harus
lewat dari arah sini?” keluh Serigala Merah, merasa bahwa jalan yang dilaluinya
ternyata salah. Kini dia harus mengarungi hamparan pasir yang sangat panas,
apalagi dengan teriknya matahari siang.
Beberapa kali disekanya
keringat yang terus mengalir di dahi, leher dan wajahnya, sambil terus
melanjutkan langkahnya. Serigala Merah tak ingin putus asa dengan apa yang
sedang dilakukannya. Dia harus mendapatkan kemenangan dalam sayembara itu.
Terbayang dalam angannya, dia menjadi orang kaya.
“Seandainya aku dapat
memenangkan sayembara itu, aku akan menjadi orang kaya. Hhh..., akan kubangun
rumah yang megah untuk hidupku yang telah lelah ini. Akan kucari istri yang
cantik lalu aku dapat hidup tenang...,” ujar Serigala Merah saja terus
membayangkan dirinya menjadi orang kaya setelah memenangkan sayembara.
Serigala Merah memang
telah merasa jenuh hidup mengembara menjadi pendekar. Tak pernah ada urusan
duniawi yang dipikirkannya. Kini dia berhasrat sekali dapat menikmati sisa
hidupnya dalam ketenangan jiwa. Dia ingin hidup berkeluarga, dapat bersanding
bersama istri yang cantik, dengan rumah yang megah dan mewah.
“Persetan dengan apa
yang akan dikatakan pendekar lain dan orang-orang rimba persilatan,” gumam
Serigala Merah yang merasa selama ini pengembaraannya tak ada artinya.
Pertarungan demi pertarungan telah dialami. Itu pula yang menyebab- kan dirinya
merasa jemu dengan pengembaraan. Dia ingin menikmati sisa hidupnya dengan
tenang dan berkecukupan. Dan itu pula yang menjadikan dia selama ini senantiasa
berusaha mencari sayembara (Mengenai Serigala Merah, silakan baca serial
Pendekar Gila dalam episode “Tengkorak Darah”).
Bayangan dapat hidup
tenang sebagai orang kaya itulah yang seketika memacu semangatnya. Semula
hatinya mulai lemah dan hampir putus asa akibat rasa panas yang menyengat. Kini
kembali bergairah. Langkah-langkahnya yang tadi pendek, kini panjang- panjang
dan lebih cepat. Hatinya berharap segera sampai di tempat tujuan, agar bisa
mendapatkan apa yang dibayangkan.
“Ha ha ha! Serigala
Merah akan menjadi orang kaya...!” seru Serigala Merah sambil tertawa-tawa.
Kakinya terus melangkah penuh semangat, menyelusuri jalanan berpasir yang
panasnya terasa sangat menyengat. Namun Serigala Merah tidak peduli, terus
melangkah tanpa mengenal lelah.
Ketika matahari agak
condong ke arah barat, Serigala Merah sampai di tempat yang dituju. Lembah
Akherat yang membentang luas telah ada di hadapannya.
“Ah, akhirnya aku
sampai juga ke tempat yang kutuju. Hm, tentunya danau itulah yang dimaksud
Danau Sambak Neraka...,” gumam Serigala Merah berbicara pada diri sendiri.
Serigala Merah kembali
melangkah dengan penuh semangat, berusaha mencapai Danau Sambak Neraka. Namun
tiba-tiba matanya terbelalak ketika melihat dua ekor naga berwarna merah. Naga
itu secara tiba-tiba muncul di permukaan danau. Tampak matanya merah laksana
api yang membara.
“Ghrrrmh...!
Ghrrrmh...!” Suara menggelegar terdengar dari mulut kedua naga berwarna merah
itu.
“Hah?! Tidak salahkah
penglihatanku?!” tanya Serigala Merah dengan mata membelalak, menyaksi- kan
pemandangan yang sangat mengejutkan. Dua ekor naga berwarna merah membara
laksana diselimuti api. Kini naga itu memandang ke arahnya dengan tajam.
“Ghrrrrrh...!
Ghrrrrrrh...!'' Kedua naga itu menggeliat-geliat seperti menampakkan kemarahan.
Kepalanya bergerak ke sana ke mari seperti berusaha mengusir Serigala Merah
dari tempat itu. Dari mulutnya menyembur api yang terasa sangat panas.
“Ghrrrmh...!”
Slarts...! “Hah?! Ular setan...!” maki Serigala Merah sambil melompat
mengelakkan hantaman sinar yang keluar dari kedua naga itu.
Blarrr...! Ledakan
dahsyat menggelegar seketika terdengar, ketika sinar merah yang keluar dari
mulut kedua naga itu menghantam tanah berpasir. Seketika pasir berhamburan,
membubung tinggi sampai sekitar lima puluh tombak tingginya.
“Astaga...! Sinar itu
bukan sembarangan!” gumam Serigala Merah dengan mata membelalak. Tangannya yang
semula bersidekap segera menarik sepasang golok, kemudian dengan cepat
disilangkan di depan dada ketika sinar merah kembali melesat dari mulut kedua
naga itu. “Ghrrrmh...!” Slarts! Slarts! Dua larik sinar merah menyembur dari
mulut naga yang tampak murka itu.
“Heaaa...!” Wut!
Trang...! Terdengar suara benturan yang sangat keras, diikuti oleh pekikan
kaget Serigala Merah. Sinar merah yang meluncur cepat ke arahnya membentur
goloknya.
“Akh...!” Serigala
Merah segera melepas goloknya yang membara merah bagai terbakar api. Seketika
tangan- nya dirasakan begitu panas, bahkan seperti melepuh. Rasa panas itu juga
dirasakan di seluruh tubuhnya.
“Edan! Binatang
sinting!” maki Serigala Merah dengan mata melotot garang. “Kalian harus kuhajar
Heaaat...!”
Serigala Merah segera
mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Kemudian disilangkan di atas kepala
dengan telapak tangan membuka. Setelah itu, kedua tangannya ditarik seraya
menyedot napas dalam dalam. Lalu....
“'Brajamukti'!
Heaaa...!” Dengan mengeluarkan suara keras, Serigala Merah segera menghantamkan
pukulan saktinya yang bernama 'Brajamukti'. Kedua telapak tangan- nya
menghentak keras ke arah kedua naga yang tampak masih bergerak-gerak di tengah
Danau Sambak Neraka.
Wut...! Putaran api
yang bergerigi-gerigi melesat dari pukulan dahsyat Serigala Merah. Putaran api
itu melesat ke arah kedua naga merah. Tampaknya kedua naga itu mengerti.
Sebelum kedua gulungan sinar itu mengenai tubuh mereka, seketika kedua binatang
itu menyelam ke dalam air. Hal itu menjadikan sinar merah bergulung melesat ke
Pulau Karang Api, membentur bagian pulau itu.
Glarrr...! Sisi sebelah
timur Pulau Karang Api runtuh, terkena hantaman aji 'Brajamukti' yang
dilancarkan Serigala Merah. Hal itu membuat penghuni Pulau Karang Api yang
belum diketahui siapa adanya, marah dan dengan gusar terdengar suaranya
membentak.
“Kurang ajar! Ada
manusia yang mencari mati rupanya! Terimalah kematianmu...!”
Sesaat setelah ucapan
itu selesai, dari Pulau Karang Api berhembus angin bergulung-gulung ke arah
Serigala Merah. Lelaki berpakaian merah itu tersentak kaget. Baru kali ini
dilihatnya sesuatu yang mengerikkan. Angin membadai itu, tiba-tiba datang dari
balik Pulau Karang Api.
'“Inti Bayu'...!” pekik
Serigala Merah ketika mengenali ilmu yang kini mengarah ke arahnya. “Hei?!
Bukankah itu ilmu Pendekar Gila?”
Serigala Merah tertegun
tak mengerti dengan semua kejadian di tempat itu. Hatinya benar-benar heran,
mengapa ajian 'Inti Bayu' milik Pendekar Gila kini datang dari Pulau Karang
Api.
Wusss...! “Heaaa...!”
Dengan teriakan keras, Serigala Merah bersalto
mengelakkan serangan
yang dilancarkan oleh entah siapa berupa angin membadai.
“Tidak mungkin! Ilmu
ini milik Pendekar Gila,” gumamnya terheran-heran.
Merasa serangan pertama
gagal, sesuatu yang berada di balik Pulau Karang Api kembali melakukan serangan
dengan ajian lainnya Serigala Merah kembali terkejut. Ajian yang kini keluar
dan menyerangnya merupakan ajian yang dahsyat dan dikenalnya pula.
“Inti Brahma'...?!”
Serigala Merah terpekik kaget, setelah tahu pukulan yang kini menyerangnya.
Tubuh- nya dirasa sangat panas bagaikan dipanggang di bara api yang membara.
“Pendekar Gila yang
menyerangku?” Serigala Merah berusaha bertahan dari serangan hawa panas yang
menyengat. Hawa panas itu ditimbulkan oleh pukulan 'Inti Brahma' yang entah
siapa pelakunya. Serigala Merah menyangka kalau Pendekar Gila pelaku semuanya.
“Tobat, Sena! Jangan
kau lakukan ini...!” ratap Serigala Merah merasakan siksaan yang tak ter-
bendung. Tubuhnya bagaikan dipanggang di atas bara api yang membara. Terasa
begitu panas, melebihi panas matahari yang siang tadi memanggangnya. Malah jauh
lebih panas. Sampai- sampai tubuhnya terasa mulai melepuh. Belum juga hawa
panas itu menghilang, seketika dari balik Pulau Karang Api melesat selarik
sinar laksana cambuk meluncur ke arah Serigala Merah.
Wuuut...! Clat!
“Tobaaat...!” Serigala Merah melolong tinggi. Tubuhnya sesaat mengejang,
kemudian ambruk
dengan tubuh gosong. Di
dadanya terdapat luka-luka bagai digores pedang. Puluhan jarum beracun menancap
di wajah dan dadanya. Sungguh tragis kematian Serigala Merah. Harapannya untuk
menjadi orang kaya melayang bersama nyawanya.
Senja yang cerah tampak
begitu indah menyelimuti suasana di sekitar Danau Sambak Neraka. Suasana itu
sangat berbeda dengan keadaan nasib yang diterima Serigala Merah. Baru saja
benaknya di- penuhi angan-angan menjadi orang kaya, sorenya tewas mengenaskan
di Lembah Akherat. Matahari seperti tidak menghiraukan kejadian itu, terus
menyusup di dua gumpalan awan putih di sebelah barat. Senja pun semakin tua
mengantar kepergian nyawa Serigala Merah.
***
5
“Bagaimana kabar para
pendekar yang mengikuti sayembaraku...?” tanya Sumantri pada keempat anak
buahnya yang saat itu tengah menghadapnya.
“Nampaknya mereka
mengalami kesulitan, Tuan,” jawab Jalna Kumilang.
“Hm...,” gumam Sumantri
tak jelas. Nampaknya lelaki berusia tiga puluh lima tahun ini merasa prihatin
mendengar kegagalan para pendekar yang mengikuti sayembaranya. Pikirannya
semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya bocah bersisik dan penghuni Pulau
Karang Api yang berada di tengah Danau Sambak Neraka.
“Kabar terakhir yang
kami dengar, Tri Pakit Palimping juga didapatkan telah tewas dengan keadaan
yang sama dengan korban-korban sebelum- nya,” sambung Sugatra sambil
menggeleng-geleng- kan kepala.
“Sepertinya, mereka
mati oleh cambuk berapi dan puluhan jarum-jarum beracun,” tambah Sugatri.
Sumantri menghela napas
panjang, mendengar penuturan tangan kanannya. Dia semakin tidak habis pikir,
siapa sebenarnya bocah bertubuh penuh sisik dan juga siapa penghuni Pulau
Karang Api yang memiliki ilmu kesaktian tinggi itu?
“Apakah belum ada yang
mampu menundukkan penghuni Pulau Karang Api...?” tanya Sumantri.
“Kami rasa belum, Tuan,”
jawab Jalna Kumilang. “Hm...,” gumam Sumantri sambil bertopang dagu dengan
jari-jari tangan kanannya. Matanya me- mandang lepas ke pintu rumahnya. Di sana
empat orang penjaga lengkap dengan senjata tombak berada.
Sumantri berdiri dari
duduknya, kemudian melangkah menuju ke pintu. Dihelanya napas panjang-panjang,
kemudian dengan tubuh mem- belakangi keempat anak buahnya dia mendesah gelisah.
“Selama ini, aku belum
juga mengerti. Ke mana hilangnya Anjasmara dan Sambi? Mereka bagaikan ditelan
bumi,” gumam Sumantri lirih. Kemudian perlahan membalikkan tubuh, memandang
keempat anak buahnya.
“Apa Tuan yakin mereka
masih hidup?” tanya Iblis Selendang Ungu.
“Entahlah. Mungkin
mereka masih hidup,” Sumantri menarik napas dalam-dalam. Sesaat ucapannya
berhenti. “Menurut cerita, siapa pun yang datang ke Lembah Akherat, akan mati.
Aneh, kalau mati mengapa tak ada bangkainya...?”
Keempat anak buah
juragan kaya itu terdiam. Mereka tampaknya turut berpikir mengenai pendapat
Sumantri. Memang rasanya aneh kalau orang mati selama puluhan tahun belum juga
ditemukan kerangkanya.
“Apakah tidak mungkin
mereka memiliki ilmu menghilang?” tanya Iblis Selendang Ungu memecah kesunyian.
“Ilmu menghilang? Dari
mana mereka mendapat- kannya? Guru kami tak pernah mengajari ilmu itu. Lagi
pula, ilmu itu hanya berguna sebentar. Tidak ada orang yang menggunakan ilmu
menghilang sampai puluhan tahun?” tanya Sumantri sambil tersenyum kecut.
Kembali semuanya
terdiam, tak ada yang dapat menjawab kemisteriusan semua perisriwa yang terjadi.
Baik penghuni Pulau Karang Api, maupun lenyapnya suami istri Anjasmara dan
Sambi yang belum diketahui bagaimana nasib mereka sebenar- nya. “Coba kalian
pikir!” tiba-tiba Sumantri angkat bicara setelah lama terdiam. Hal itu membuat
keempat anak buahnya tersentak. “Aku punya pendapat mungkin bocah itu anak
Anjasmara dan Sambi.”
Seketika keempat anak
buahnya tersentak kaget. Mata mereka terbelalak mendengar penuturan Sumantri.
Kemudian keempatnya saling ber- pandangan.
“Bagaimana mungkin,
Tuan?” Tanya Jalna Kumilang merasa heran dan tak mengerti.
“Ya! Bagaimana mungkin
manusia bisa punya turunan bocah ular?” sambung Sugatra.
Sumantri tersenyum
kecut. “Aku baru ingat sekarang. Mereka pasti mendapat kutuk penghuni Pulau Karang
Api. Puluhan tahun lamanya, tak seorang manusia pun yang berani ke tempat itu.
Tiba-tiba muncul sepasang suami istri, kedua adik seperguruanku itu,” jawab
Sumantri, yang semakin menyentakkan semua anak buahnya. Kini mereka baru tahu,
kalau Pulau Karang Api bukanlah pulau sembarangan.
“Jadi, siapa pun yang
ke Lembah Akherat akan mengalami kematian. Begitu...?” tanya Jalna Kumilang
menegaskan maksud Sumantri.
“Benar! Mereka telah
menjadi mangsa penunggu danau keramat itu!” sahut Sumantri.
“Lalu mengapa Tuan
membuat sayembara?” “Hua ha ha...! Kau cerdas juga, Jalna. Sebenarnya aku ingin
menjadi orang yang paling sakti dan nomor satu di rimba persilatan. Di samping
itu, aku ingin meyakinkan kalau Anjasmara dan Sambi telah tewas. Sejak aku
pergi ke Lembah Akherat, aku sudah menduga bahwa tak ada seorang pun yang
sanggup datang ke tempat itu....”
“Ada...!” Tiba-tiba
dari luar terdengar sahutan keras, diikuti oleh tawa menggelegar yang disertai
pengerahan tenaga dalam. Tidak begitu lama kemudian, berkelebat masuk sesosok
tubuh pemuda tampan berambut gondrong dengan ikat kepala terbuat dari kulit
ular. Tingkah laku pemuda itu seperti orang gila, cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala. Baik Sumantri maupun keempat anak buahnya tersentak
kaget bukan kepalang.
“He he he...! Mengapa
mesti berputus asa? Tidak baik manusia cepat putus asa,” ujar pemuda tampan
yang ternyata Pendekar Gila.
Sumantri dan keempat
anak buahnya mengerut- kan kening, menyaksikan tingkah laku pemuda yang baru
datang itu. Tingkah lakunya persis orang gila.
“Siapakah kau,
Kisanak?” tanya Sumantri. “Aha, lucu sekali. Mengapa mesti bertanya siapa
diriku? Yang pasti, aku akan ke Lembah Akherat yang kau katakan tadi, Ki.”
“Jadi kau ingin
mengikuti sayembara?” tanya Sumantri.
“Sayembara...? Ha ha
ha...! Lucu sekali omonganmu. Kurasa aku tidak ikut sayembaramu,” jawab Sena
seenaknya, membuat semua orang yang ada di tempat itu semakin mengerutkan
keningnya.
Agak marah juga mereka
mendengar perkataan Sena dan tingkah lakunya yang persis orang gila.
“Bocah edan! Kalau
tidak ikut sayembara, untuk apa kau datang kemari?!” bentak Sumantri gusar.
“Aha, mengapa mesti
marah? Tidak bolehkah aku ikut ngobrol bersama kalian?” tanya Sena masih dengan
ucapan seenaknya. Kemudian dengan acuh kakinya melangkah ke kursi yang tadi
diduduki Sumantri, dan langsung duduk di sana.
“Bocah edan! Jangan
sembarangan kau di sini. Ini bukan tempat nenek moyangmu! Pergi dari sini!”
dengus Jalna Kumilang seraya menyambarkan tangannya ke kepala Pendekar Gila.
Wut! “Uts! Galak sekali
kau, Ki! Eh, meleset! He he...!” ujar Sena sambil merundukkan kepala sehingga
serangan lelaki setengah baya itu melesat beberapa jari di atas kepalanya.
Merasa serangannya
gagal, Jalna Kumilang ber- tambah marah. Dia hendak kembali menyerang, tapi....
“Tunggu....!” ujar
Sumantri, mencegah tindakan Jalna Kumilang.
“Tuan, biar kuhajar
bocah gila ini!” dengus Jalna Kumilang marah dan malu, karena serangannya yang
menjadi andalan jurus silatnya dengan mudah dielakkan lawan.
“Sabar, Ki,” kata Sumantri
seraya melangkah men- dekati Sena. “Anak muda, katakan... siapa sebenar- nya
dirimu! Lalu, apa perlumu datang ke tempat ini tanpa permisi?”
“Permisi? Ha ha ha...!
Untuk apa permisi? Kalian saja kalau berbuat sesuatu tanpa permisi. Lucu
sekali...”
Semakin bertambah
berang saja keempat anak buah Sumantri mendengar ucapan pemuda yang konyol itu.
Mata mereka membelalak penuh amarah.
“Bocah edan ini memang
harus dihajar, Tuan!” kata Sugatra yang nampaknya sudah muak dengan tingkah
laku Pendekar Gila yang konyol.
“Sabar, Sugatra!” cegah
Sumantri. “Anak muda, apa maksud kata-katamu?” tanyanya pada Sena.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala.
“Aha, masih juga kalian
lupa? Kalian telah mengadakan sayembara tanpa mengundang orang- orang
persilatan untuk berembuk. Juga kalian tidak mengundang pihak Kadipaten
Lumajang dan Kerajaan Pahulu.”
Terbelalak mata
Sumantri dan keempat anak buahnya. Mereka semakin bertambah marah dan begitu
tersinggung dengan ucapan pemuda yang bertingkah laku gila itu.
“Bocah gila! Apa
urusanmu?” bentak Sumantri yang semakin gusar. “Kalau kau mau ikut sayembara-
ku, tak perlu banyak tanya. Ikuti saja! Kalau kau menang, dan dapat mengambil
bocah bersisik ular, kau akan kuberi hadiah separo hartaku!”
“Aha, tawaran yang
sangat menggiurkan. Hm.... Baiklah. Aku hendak mengikuti sayembaramu. Nah, kini
katakan, ke mana aku harus pergi agar sampai di tempat yang kau maksudkan,”
kata Sena sambil masih cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
“Berjalanlah lurus ke
arah selatan. Kira-kira setengah hari perjalanan, kau akan sampai,” kata
Sumantri menjelaskan, berusaha menahan amarah atas tingkah laku pemuda yang
seperti orang gila itu.
“Aha, terima kasih.
Sediakan hadiahnya, aku akan
segera kembali kemari!”
ujar Sena seenaknya.
Tentu saja tingkah
pemuda itu membuat kaget keempat anak buah Sumantri. Mata mereka langsung
melotot. Namun Sumantri segera mengangkat tangan memerintah agar mereka tidak
keburu nafsu. Kemudian didekatinya Jalna Kumilang sambil ber- bisik.
“Biarkan saja pemuda
edan ini mati di sana. Bukankah dengan begitu kita tidak perlu turun tangan?”
Sumantri tertawa
terbahak-bahak. Begitu juga Jalna Kumilang dan lainnya setelah mendengar
bisikan Sumantri. Pendekar Gila yang diam-diam mendengar bisikan Sumantri,
turut tertawa tergelak- gelak. Hal itu membuat semuanya tersentak dan diam.
Mereka tidak menyangka kalau Pendekar Gila mendengar bisik-bisik mereka.
Pendengaran Sena yang sudah terlatih tajam dan dengan ilmu 'Penajam Rungu'nya
tentu saja dapat mendengar suara sekecil apa pun jika menggunakan ilmu itu.
“Kenapa diam? Ha ha
ha...! Enak sekali tertawa di malam hari begini, Kisanak. Ayo, kita tertawa, ha
ha...!” kata Sena sambil tertawa terbahak-bahak. Bahkan kini
berjingkrak-jingkrak tidak ubahnya seperti seekor kera yang kegirangan.
Kelima orang yang ada
di tempat itu semakin membelalakkan mata, menyaksikan tingkah laku Pendekar
Gila yang semakin menjadi-jadi kekonyolan- nya. “Aha, kenapa kalian seperti
patung? Hi hi hi...! Ayolah, kita senang-senang merayakan kemenangan- ku!”
katanya dengan tingkah laku konyol. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak masih seperti
seekor monyet
***
Melihat kelima lelaki
itu masih terdiam, tawa Pendekar Gila semakin keras dan tergelak-gelak. Tingkah
lakunya semakin bertambah konyol, dianggapnya ruangan rumah Sumantri sebagai
arena untuk tertawa-tawa dan berjingkrak-jingkrak.
“He he he...! Lucu
sekali kalian. Jika begitu, kalian mirip dengan patung-patung bloon. Ha ha
ha...!”
“Kurang ajar!” maki
Sugatra. “Bocah sinting ini tidak bisa didiamkan, Tuan!”
“Ya! Bisa-bisa kurang
ajar!” tambah Sugatri. “Hm...,” Sumantri bergumam lirih. Matanya tak lepas
memandangi pemuda bertingkah gila di hadapannya yang masih berjingkrakan sambil
tertawa-tawa.
Hal serupa juga
dilakukan Iblis Selendang Ungu. Gadis cantik yang sifarnya buruk itu, pandangan
matanya tak lepas menatap Pendekar Gila. Kening- nya berkerut, rasa kesal dan
tertarik pada ketampanan serta tingkah laku pemuda itu beraduk menjadi satu di
dadanya.
Siapakah pemuda gila
ini? Tanya Iblis Selendang Ungu dalam hati. Matanya masih menatap tajam pada
Pendekar Gila yang tertawa-tawa sambil berjingkrak-jingkrak.
Tingkah lakunya,
mengingatkan aku pada pendekar yang namanya sedang menjadi bahan pembicaraan
orang-orang rimba persilatan! Gumam Suma dalam hati dengan mata tak lepas
merayapi tubuh Pendekar Gila. Mungkinkah pemuda ini orangnya?
“Hua ha ha...! Kenapa
kalian masih diam? Bukankah kalian tadi mengajakku tertawa? Hi hi hi...!” masih
terus tertawa-tawa sambil berjingkrakan. kali tangannya menggaruk-garuk kepala,
lalu menepuk-nepuk pantat.
“Anak muda, kami rasa
tak ada salahnya sebelum kau mengikuti sayembaraku, kita berkenalan lebih
dulu,” ujar Sumantri berusaha ramah sambil mengulurkan tangannya ke arah
Pendekar Gila.
Sena malah tertawa
tergelak-gelak sambil meng- garuk-garuk kepala. Dipandanginya tangan Sumantri
kemudian tatapannya merayap ke wajah saudagar kaya itu. Lalu dengan mulut masih
cengengesan, dijabatnya tangan Sumantri. Namun mendadak Sumantri terbelalak
kaget, karena jabatan tangan Pendekar Gila begitu keras dan dialiri tenaga
dalam yang amat kuat.
“Aku Sena,” ujar
Pendekar Gila cengengesan melihat Sumantri meringis-ringis dengan mata
membelalak. Hal itu membuat keempat anak buahnya semakin marah.
“Bocah edan! Rupanya
kau ingin menunjukkan kebolehanmu! Hadapi aku Jalna Kumilang!” bentak Jalna
Kumilang sambil bergerak menyerang Pendekar Gila yang cengengesan.
Sementara Sumantri yang
meringis-ringis, berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengimbangi tenaga
lawan.
“Yeaaa...!” Dengan
jurus 'Landung Sangkul' Jalna Kumila bergerak menusuk ke wajah Pendekar Gila.
“Heits! Galak sekali
kau, Ki!” Hanya dengan mendoyongkan tubuh ke belakang, Pendekar Gila berhasil
mengelakkan serangan Jalna Kumilang. Kemudian dengan melepaskan tangannya dari
genggaman tangan Sumantri, Pendekar Gila
bergerak dengan jurus
'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuh Pendekar Gila meliuk-liuk laksana menari,
bergerak maju dengan kaki yang terlihat pelan dan aneh. Namun ternyata mampu
mengejar tubuh Jalna Kumilang.
“Heaaa...!” Tangan
Pendekar Gila bergerak menepuk ke dada lawan. Jalna Kumilang tersentak kaget
dengan mata terbelelak. Sungguh tidak disangkanya kalau tangan pemuda itu
bergerak begitu cepat. Padahal gerakan Pendekar Gila tampak pelan dan lemah
sekali.
“Celaka! Jurus
siluman!” pekik Jalna Kumilang dengan mata tegang, merasa gerakannya kini mati
langkah. Hampir saja tangan Pendekar Gila meng- hantam dada Jalna Kumilang,
ketika tiba-tiba sebuah pukulan yang keras menghadangnya.
“Heaaa..!” Sebuah
teriakan mengiringi serangan Sugatra. Dan....
Plak! “Ugkh...!”
Sugatra mengeluh. Dirasakan tangannya kesakitan akibat benturan keras dengan
Pendekar Gila. Dia segera melompat dengan mulut menyeringai kesakitan,
memandang Sena yang tampak tengah cengengesan menggaruk-garuk kepala, serta me-
nepuk pantat seperti kera.
Melihat tangan kakaknya
terluka, Sugatri dengan mendengus langsung merangsek Pendekar Gila. Tidak
tanggung-tanggung lagi, dia segera mencabut senjatanya yang berupa golok mengeluarkan
sinar biru. “Kuhancurkan kepalamu! Heaaa...!”
Wut! Wut!
Golok bersinar biru
berkelebat membabat kepala Pendekar Gila. Namun dengan cepat Sena meng- egoskan
tubuh ke samping. Disertai tingkah lakunya yang konyol seperti seekor kera.
Sena bergerak menyerang dengan jurus 'Si Gila Melepas Lilitan'. Tubuhnya
bergerak seperti melepas lilitan yang mengikatnya, berputar ke kiri. Hal itu
membuat jurus 'Gerak Kala Mengatup' yang dilancarkan Sugatri tak menemui
sasaran.
Setiap serangan datang,
dengan cepat Pendekar Gila bergerak menghindar. Tubuhnya berputar, kemudian
berbalik menyerang lawan dengan pukulan dan tendangan. Meski sepinras
gerakannya terlihat lamban tapi ternyata elakan dan serangan yang dilakukannya
mampu melebih kecepatan gerakan lawan.
“Hiaaat..!” Diiringi
pekikan keras, Sugatri melompat cepat. Hatinya semakin bernafsu menyerang Sena,
karena merasa serangan andalannya tidak berhasil. Meski- pun Sugatri telah
melancarkan serangan dengan cepat. Kini dia mulai menambah kecepatan ber-
geraknya dengan mengubah jurus 'Sengatan Kala Merah Beracun'. Wut! Wut...!
Golok di tangan Sugatri terus bergerak cepat dengan tebasan dan sodokan ke
bagian tubuh yang mematikan lawan. Namun dengan mudah Pendekar Gila mampu
mengelakkan setiap serangan dengan gerakan-gerakan yang tampak lamban.
“Uts! He he he...!
Kurang cepat, Ki! Coba kau terima ini!” sambil berkata begitu, dengan cepat
Pendekar Gila melayangkan jotosan ke wajah lawan- nya.
“Hih...!” Sugatri
tersentak mendapatkan serangan yang kelihatan lambat namun tahu-tahu berkelebat
di depannya. Sugatri berusaha mengelak, tapi rupanya gerakan Pendekar Gila tak
dapat diimbanginya. Maka....
Bugkh! “Wuaaa...!”
pekik Sugatri. Tubuh lelaki berpakaian merah itu terlontar ke belakang dan
terbanting ke meja tempat mereka tadi berkumpul. Tubuh salah seorang dari
Sepasang Kera Bergolok Biru itu melorot keras, kemudian jatuh menimpa kursi
sampai berantakan.
Semakin bertambah marah
semuanya melihat tingkah laku pemuda bertampang gila yang telah mampu
mempecundangi Sugatri, bahkan membuat- nya terluka
“Kurang ajar! Rupanya
kau benar-benar ingin merasakan pukulanku!” dengus Jalna Kumilang marah. “Tuan,
izinkan aku menghajar bocah sombong ini!” “Sombong...? Hi hi hi...! Kalianlah
yang sombong, ada pesta tidak mengundang-undang aku,” sahut Sena sambil
cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
“Huh! Dasar bocah gila!
Rupanya kau harus dihajar!” maki Jalna Kumilang. Wajahnya membara oleh amarah.
Namun karena Sumantri nampaknya belum mengizinkan, Jalna Kumilang masih
berusaha menahan kesabaran.
“Sabar, Ki!” kata
Sumantri. Didekatinya Jalna Kumilang, kemudian dengan berbisik Sumantri
mengatakan sesuatu pada lelaki setengah baya itu. “Kalian tak akan mampu
menghadapinya, Ki.”
“Kenapa?” “Dia bukan
pemuda gila sembarangan. Kurasa dialah Pendekar Gila yang akhir-akhir ini
namanya sedang membubung tinggi,” bisik Sumantri men- jelaskan.
Terbelalak mata Jalna
Kumilang setelah tahu siapa pemuda bertampang dan bertingkah laku seperti orang
gila itu. Matanya memandang tak berkedip pada Pendekar Gila. Sepertinya Jalna
Kumilang baru menyadari siapa sesungguhnya pemuda tampan itu.
Sumantri dengan bibir
masih tersenyum, me- langkah mendekati Pendekar Gila.
“Tuan Pendekar, kami
harap Tuan sudilah me- maafkan kami!” kata Sumantri berusaha membujuk Pendekar
Gila agar tak meneruskan pertarungan itu. Sumantri nampaknya menyadari,
bagaimanapun dia dan keempat anak buahnya tak mungkin mampu mengalahkan pemuda
yang bertingkah gila itu.
“Aha, kenapa tidak
sejak tadi? Lucu sekali kalian,” sahut Sena dengan tingkah laku yang tak luput
dari cengengesan dan berjingkrak-jingkrak seperti monyet. “Untuk itulah, kami
minta maaf. Dan kalau memang Tuan bermaksud mengikuti sayembara yang ku adakan,
silakan Tuan datang ke Lembah Akherat. Kalau Tuan mampu menangkap bocah
bersisik itu, kami akan memberikan sebagian harta kami,” tutur Sumantri.
“Aha, menyenangkan!
Baiklah kalau memang begitu, aku akan segera ke sana. Permisi...!”
Usai berkata begitu,
Pendekar Gila segera melesat meninggalkan Sumantri dan keempat anak buahnya
yang masih menyimpan amarah.
“Jadi dia Pendekar
Gila, Tuan?” tanya Iblis Selendang Ungu.
“Ya! Percuma saja kita
berurusan dengannya. Yang pasti, kita harus mempersiapkan penyambutannya. Cepat
atau lambat, tentunya dia akan datang ke tempat ini. Untuk itulah, kuharapkan
kalian mencari teman sebanyak mungkin guna menghadapinya!” kata Sumantri.
“Apakah Tuan tak
percaya kemampuan kami?” tanya Sugatra merasa kurang senang.
“Bukan aku tak percaya
pada kalian. Tapi percayalah, guruku saja mungkin tak akan sanggup
menghadapinya. Dan aku sendiri besok akan memanggil guruku,” ujar Sumantri
meyakinkan. Keempat anak uahnya itu akhirnya menerima juga pendapat majikan
mereka. “Hei, ke mana para penjaga?!”
Mereka serentak keluar
untuk melihat apa yang terjadi. Mata mereka membelalak, ketika menyaksi- kan
delapan penjaga dalam keadaan tertotok.
“Tentunya sebelum masuk
Pendekar Gila telah menotok mereka lebih dahulu,” gumam Sumantri.
“Pantas dari tadi
mereka tak muncul!” sambung Iblis Selendang Ungu.
Mereka segera bergerak
membebaskan totokan di tubuh delapan penjaga keamanan di rumah saudagar kaya
itu.
***
6
Pagi teramat dingin.
Embun pun masih menempel di dedaunan dan membasahi tanah. Mentari belum juga
muncul ke permukaan bumi. Hanya bias merah di ufuk timur yang terlihat,
pertanda kalau sang Raja Siang siap bangkit dari peraduannya. Burung-burung pun
berkicau riang, seakan-akan hendak menikmati indahnya suasana pagi.
Desa Kalimas yang
merupakan desa terdekat jaraknya dengan Lembah Akherat, pagi itu masih sepi.
Belum ada seorang manusia pun yang keluar dari rumahnya. Meskipun mungkin
mereka sudah bangun. Saat itu, tampak dua sosok manusia berjalan menyusuri
jalan Desa Kalimas. Mereka adalah seorang lelaki dan perempuan berusia sekitar
lima puluh tahun. Kedua orang yang berpakaian hijau muda merah itu tampak
berjalan begitu intim menembus suasana pagi yang dingin dan sunyi itu.
Yang wanita berambut
diikat ke atas kepala, dengan ujungnya terurai ke bawah. Bibirnya yang keriput,
menyunggingkan senyum. Dialah Nyi Rawi Abang. Tubuhnya kecil dan tidak begitu
tinggi, kelincahannya dalam bergerak sangat mengagum- kan. Itu sebabnya
perempuan tua ini mendapat julukan si Kijang Emas.
Sedang lelaki tua yang
berjalan di sampingnya berambut lurus tergerai. Tingginya lebih sekepala
dibandingkan dengan Nyi Rawit Abang. Pembawaan- nya tenang. Tubuhnya agak
bungkuk, dengan jenggot
dan kumis menghias di
wajahnya. Hidungnya mancung, dan matanya agak menyipit. Dialah Ki Braga Kumba.
Keduanya bermaksud
berangkat ke Lembah Akherat, atau tepatnya menuju Danau Sambak Neraka. Keduanya
seperti pendekar dan tokoh persilatan lainnya, yang tertarik dengan kabar
mengenai munculnya bocah bersisik di Pulau Karang Api. Hal pertama yang menjadi
tujuan mereka adalah mendapatkan bocah itu, untuk selanjutnya diserah- kan pada
Sumantri. Kedua, mereka juga ingin membuktikan benar tidaknya kabar itu, serta
ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Karang Api yang selama ini
belum seorang tokoh pun mampu menjarah tempat itu.
“Masih jauhkah jarak
yang harus kita tempuh, Ki?” tanya Nyi Rawit Abang.
“Kurasa tidak, Nyi.
Sebab kalau kita sudah melewati Desa Kalimas, tinggal seperempat hari dengan
berjalan biasa, kita akan segera sampai,” jawab Ki Braga Kumba berusaha
menghibur hati kekasihnya.
“Aku tak mengerti.
Bagaimana mereka yang ke Lembah Akherat benar-benar sampai ke akherat? Mereka
tidak pernah pulang,” gumam Nyi Rawit Abang.
Ki Braga Kumba
tersenyum kecut mendengar kata- kata Nyi Rawit Abang. Keduanya memang bukan
suami istri, hanya merupakan sepasang kekasih. Entah mengapa dari dulu mereka
tidak juga menikah. Mereka hanya menjalin hubungan kasih, sampai keduanya
sama-sama tua.
“Siapa sebenarnya
penghuni Lembah Akherat? Sampai-sampai tempat itu sangat ditakuti?” kembali
Nyi Rawit Abang
bertanya, karena penasaran tentang tempat keramat yang kini hendak mereka tuju.
“Mana aku tahu? Kalau
tahu, sudah dari dulu ingin ke tempat itu. Tentu penghuninya bukan sembarangan.
Buktinya tak seorang pun yang berani datang ke tempat itu,” tutur Ki Braga
Kumba.
“Hhh...,” Nyi Rawit
Abang mendesah manja. Matanya melotot nakal, menatap kekasihnya yang hanya tersenyum
cengengesan.
“Ngambek ya?” tanya Ki
Braga Kumba. “Huh!” “Lho lho, kok marah?” “Makanya, jelaskan!” sahut Nyi Rawit
Abang dengan suara manja.
Ki Braga Kumba semakin
melebarkan senyum, “Nampaknya kau semakin cantik jika merengut begitu, Nyi.”
Kini Nyi Rawit Abang
tersipu, mendengar rayuan kekasihnya. Sifatnya yang seperti gadis belasan tahun
jelas masih terlihat, manja dan akan tersipu-sipu genit jika disanjung sang
Kekasih. Tingkah laku keduanya memang sering nampak lucu, tidak ubahnya sepasang
remaja yang dimabuk asmara.
“Bisa saja kau, Ki.”
“Sungguh.” Kembali Nyi Rawit Abang tersipu-sipu malu, semakin bertambah keriput
wajahnya. Tapi itulah yang membuat Ki Braga Kumba semakin bertambah senang.
Buktinya hampir tiga puluh tahun mereka menjalin hubungan, tapi selama itu
belum pernah terjadi perselisihan. Keduanya selalu intim. Di mana ada Braga
Kumba, di situ ada Nyi Rawit Abang.
Saking lengketnya,
pasangan campuran dari golongan hitam dan putih itu terkenal dengan sebutan
Pengantin Tua. Nyi Rawit Abang dari aliran hitam, sedangkan Ki Braga Kumba
berasal dari aliran putih. Namun keduanya tak pernah bentrok. Justru satu sama
lain saling membantu.
Langkah mereka semakin
mendekati tempat yang dituju. Kini keduanya telah berada di luar batas Desa Kalimas.
Sebentar lagi akan memasuki hutan yang menjadi pemisah antara Desa Kalimas
dengan wilayah Lembah Akherat
Mereka sedang melangkah
memasuki Hutan Kawi- kawi ketika tiba-tiba dikejutkan suara bentakan keras yang
disertai munculnya tujuh orang lelaki yang sudah mereka kenali.
“Berhenti...!” “Tujuh
Iblis dari Sarang Hantu! Ada apa kalian menghadang perjalanan kami?” tanya Ki
Braga Kumba dengan mata tajam menatap satu persatu wajah Tujuh Iblis dari
Sarang Hantu yang rata-rata memiliki sifat yang kasar dan bengis.
“Hm.... Apakah kalian
lupa dengan kejadian dua hari yang lalu di kedai?!” bentak Sadra, orang pertama
dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu.
“He he he! Jelas kami
ingat,” sahut Nyi Rawit Abang. “Ada apa dengan kalian?”
“Jangan berpura-pura
tak mengerti, Nyi! Jelas Kami menghendaki nyawa kalian berdua! Kami tak ingin
kalian ikut campur dengan urusan ini!” tukas Saka Gulu, orang kedua dari Tujuh
Iblis dari Sarang Hantu.
“Kurang ajar!” dengus
Ki Braga Kumba. “Kalian kira kami dapat digertak oleh iblis-iblis cacingan
macam kalian, heh?!”
“Bedebah! Lancang
mulutmu, Tua Bangka! Kurobek mulutmu!”
Usai berkata begitu,
Sadra menggerakkan tangan kanannya, sebagai isyarat pada keenam rekannya untuk
menyerang.
“Heaaa...!” Melihat
kekasihnya diserang, Nyi Rawit Abang tak tinggal diam. Sambil mendengus marah,
ditariknya Cambuk Rambut Seribu yang menjadi senjatanya. Kemudian dengan jurus
'Lecutan Kilat Cambuk Seribu' Nyi Rawit Abang menyerang.
“Kalian rupanya mencari
mampus! Berani meng- hadang Pengantin Tua! Heaaa...!”
Ctar! Ctar! Ctar...!
Ribuan rambut di ujung cambuk bergerak menyerang ke arah tujuh lawannya.
Rambut-rambut di ujung cambuk itu laksana hidup, meliuk-liuk ke sana kemari
memburu mangsa.
Mendapatkan serangan
seperti itu, Tujuh Iblis Sarang Hantu segera melompat ke belakang. Kemudian
setelah memberi isyarat, mereka segera membentuk sebuah lingkaran memutari
kedua lawannya dengan jurus 'Untaian Rantai Iblis Menjerat'. Tubuh Tujuh Iblis
dari Sarang Hantu bergerak dalam bentuk lingkaran. Tangan mereka bergerak
menyerang ke arah kedua lawannya yang berada di tengah-tengah lingkaran.
Gerakan itu pun membuat Nyi Rawit Abang dan Ki Braga Kumba pening meng-
hadapinya.
“Hhh...! Kita harus
bisa menembusnya, Nyi!” gumam Ki Braga Kumba.
“Ya! Mari kita gunakan
jurus 'Badai Menyapu Karang'.”
“Mari! Heaaa...!”
“Hiaaa...!” Kedua tokoh tua itu segera mengeluarkan jurus 'Badai Menyapu
Karang'. Gerakan tubuh keduanya
sangat cepat,
menimbulkan angin yang keras.
Wusss...! Melihat lawan
berusaha mendobrak pertahanan, Tujuh Iblis dari Sarang Hantu segera mempercepat
gerakannya dengan jurus yang lain. Dengan jurus 'Putaran Kincir Menyapu Badai'
mereka bergerak begitu cepat. Tangan dan kaki mereka tidak tinggal diam, bergerak
memukul dan menendang ke arah lawan.
“Heaaat...!”
“Hiaaa...!” Teriakan-teriakan keras menggelegar mengiringi gerakan mereka
menyerang dengan cepat
Wut...! Prak! “Ugkh!”
Nyi Rawit Abang mengeluh, ketika tangannya berbenturan dengan tangan beberapa
orang dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu. Hal serupa juga dialami oleh Ki Braga
Kumba. Keduanya meringis merasakan sakit akibat benturan tangan tadi.
Namun bukan hanya kedua
orang itu yang merasakan sakit linu akibat benturan yang terjadi.
Tujuh Iblis dari Sarang
Hantu juga tersentak dengan mata melotot, mendapatkan serangan mereka
berantakan. Tangan mereka dirasakan ngilu. Mata menatap tajam pada Pengantin
Tua yang juga beberapa langkah terhuyung mundur. Kini keduanya sudah tidak lagi
berada dalam kepungan Tujuh Iblis Sarang Hantu.
“Bedebah! Kalian
rupanya masih sanggup meng- hadapi kami!” dengus Saka Gulu.
“Huh! Apa susahnya
menghadapi iblis-iblis cacingan macam kalian?” ejek Ki Braga Kumba
seraya mencibir,
membuat Tujuh Iblis dari Sarang Hantu bertambah marah.
“Kurang ajar! Rupanya
kalian mencari mampus!” maki Sadra, marah.
“Kalianlah yang mencari
mampus!” bentak Nyi Rawit Abang dengan mata melotot, merasa tidak senang
kekasihnya dibentak begitu rupa. “Kalau kalian tak segera minggat, tak
segan-segan kami membunuh kalian!”
“Ha ha ha...!” Tujuh
Iblis dari Sarang Hantu tertawa bergelak-gelak mendengar ancaman Nyi Rawit
Abang. “Apakah tidak terbalik, Perempuan Lacur! Seharus- nya kau minta ampun,
karena telah membela pihak lawan!” bentak lelaki berbadan gendut dengan rambut
dikuncir di atas kepala. Lelaki itu orang ketiga dari Tujuh Iblis dari Sarang
Hantu.
“Cuh!! Apa peduli
kalian?!” bentak Nyi Rawit Abang tak mau kalah. “Rupanya kalian ngiri ya?!”
“Huh! Apa dikira kau
wanita yang paling cantik?!” dengus lelaki berhidung besar dengan kumis
menempel di ujung bibir. Dia orang keempat dari Tujuh Iblis dari Sarang Hantu.
“Kurang ajar! Kubunuh
kalian! Heaaa...!” Nyi Rawit Abang yang marah, kembali bergerak menggempur
lawan-lawannya dengan cambuk. Rambut-rambut di ujung cambuknya bergerak lagi
menyapu ke wajah lawan dengan jurus 'Sapu Buana Mekti'.
“Heaaa!” Wut! Melihat
serangan itu, dengan cepat Tujuh Iblis dari Sarang Hantu tidak tinggal diam.
Mereka segera mencabut senjata yang berupa sabit. Kemudian setelah mengelakkan
serangan lawan, mereka berbalik menyerang dengan jurus 'Sabit Maut Mencari
Jantung'.
Wut! Wut! Wut...!
“Heit..!” Nyi Rawit Abang bergerak mengelak ke samping, menghindari serangan
yang mengarah ke bagian tubuhnya yang mematikan.
Menyaksikan kekasihnya
dalam desakan ketujuh lawan, Ki Braga Kumba segera mencabut ikat pinggangnya
yang bernama Sabuk Sasra Geni. Kemudian dengan jurus 'Sasra Geni' tingkat
ketiga, Ki Braga Kumba merangsek ke arah lawan.
“Heaaa...!” Ki Braga
Kumba dengan cepat terus memutar Sabuk Sasra Geni di tangannya. Dan seketika
sekeliling tempat itu berubah menjadi panas mem- bara. Hal itu membuat Tujuh
Iblis dari Sarang Hantu tersentak kaget Mereka segera melompat mundur, menghindari
sabetan sabuk lawan yang dahsyat.
“Hah?! Celaka...!
Rupanya dia memiliki Sabuk Sasra Geni!” pekik Sadra kaget dengan mata
membelalak. “Cepat kalian lakukan aji 'Penutup Sukma'.”
Mendengar perintah
Sadra, seketika keenam rekan-rekannya merapalkan ajian 'Penutup Sukma' Lalu
setelah merapalkan ajian tersebut, ketujuhnya kembali bergerak menyerang lawan.
“Heaaa...!” “Yeaaat..!”
Pertarungan seru kembali terjadi. Masing-masing pihak kini telah mengeluarkan
jurus dan senjata andalan masing-masing. Beberapa jurus telah mereka keluarkan
untuk mengalahkan lawan, namun sejauh itu belum juga nampak siapa yang bakal
menang.
No comments:
Post a Comment