Mawar
Maut Perawan Tua
1
Udara malam itu terasa
sangat dingin. Halimun turut hadir menyertai. Suara lolongan anjing dan
lengkingan burung hantu membuat suasana malam terasa mencekam. Belum lagi angin
yang berderak menerpa rumpun bambu. Menambah suasana malam itu makin mengerikan.
Tampak empat orang
lelaki penjaga pintu gerbang lingkungan Kadipaten Pamakasan sedang duduk di
gardu. Tangan mereka menggenggam tombak yang setiap waktu siap digunakan. Rokok
kelobot yang mereka linting kini telah dinyalakan.
"Huh! Udara malam
ini panas sekali," keluh Gimin, sambil menghembuskan asap rokok kawung
setelah menghisapnya dalam-dalam.
"Iya ya,
Kang," sahut Damus. "Padahal, seharusnya tengah malam seperti ini
udara dingin. Malam ini memang aneh sekali..."
Keempat penjaga itu
kemudian melangkah menyusuri lingkungan kadipaten untuk meronda. Setelah merasa
aman, mereka kembali menuju pos jaga. Sepi sekali suasana sekitar kadipaten.
Keempat orang prajurit jaga itu kembali menghisap rokok kawungnya dalam-dalam.
Lalu mereka telibat dalam percakapan yang menuangkan isi hati masing- masing.
"Sejak Kanjeng
Adipati menikah lagi, tugas kita semakin bertambah berat saja," keluh
Gimin.
"Iya, Kang. Coba
bayangkan. Dulu kita tidak pernah melakukan pekerjaan yang sangat berat. Bahkan
setiap jaga, Kanjeng Adipati senantiasa menengok
kita. Memberi uang
tambahan atau makanan. Tapi sekarang...," Sarnopo membuka telapak
tangannya dengan raut wajah kurang senang.
"Ya. Bagaimana
lagi? Kita orang kecil, Dimas," Karja berusaha menyabarkan hati temannya
sekaligus hatinya. Memang sejak Adipati Pamakasan yang bernama Sumagatri
menikah lagi, mereka memikul tanggung jawab yang lebih berat dibanding sewaktu
adipati itu belum menikah.
"Benar, Kang.
Sulit bagi kita yang hanya prajurit. Jadi serba salah...," gumam Damus
yang termuda di antara mereka.
"Aaa...!"
Tengah keempat prajurit itu asyik mengobrol, tiba- tiba terdengar jeritan
menyayat seorang wanita dari dalam kadipaten.
Mereka tersentak kaget.
Dan segera berhamburan ke dalam untuk melihat apa yang terjadi. Tidak lama
berselang, keempatnya mendengar suara teriakan Adipati Sumagatri
"Prajurit,
tolong...!" terdengar suara Adipati Sumagatri.
"Hei, ada apa,
Kang?" tanya Damus. "Entahlah! Sepertinya ada yang tidak beres!"
sahut Gimin dengan mata membelalak.
Keempat prajurit itu
bergegas menuju kamar Adipati Sumagatri. Mata mereka membelalak ketika
menyaksikan istri Adipati Pamakasan yang baru saja dinikahi tujuh hari yang
lalu telah terkapar tanpa nyawa. Dada wanita itu ditembus sekuntum mawar merah.
"Prajurit, kenapa
kalian tidak melihat ada orang masuk?!" bentak Adipati Sumagatri.
"Ampun, Kanjeng.
Kami telah berjaga dengan
seksama. Dan kami tidak
melihat seorang pun masuk ke dalam kadipaten," jawab Gimin ketakutan.
"Bodoh! Apakah
kalian tidak melihat buktinya?!" dengus Adipati Sumagatri gusar. Matanya
melotot merah terbakar api amarah.
Keempat prajurit itu
terdiam seraya menundukkan kepala.
"Jangan hanya
mematung, Tolol! Cepat kejar dan tangkap pembunuh itu!" perintah Adipati
Sumagatri.
"Baik,
Kanjeng," jawab mereka bersamaan. Setelah menjura hormat, keempat prajurit
itu ber- kelebat keluar mencari pembunuh istri Adipati Sumagatri.
***
Setelah cukup lama
mencari, mereka tidak juga menemukan jejak pembunuh itu. Walaupun sudah
memeriksa ke segenap penjuru kadipaten, namun tetap tak ditemukan jejaknya.
"Aneh! Bagaimana
mungkin orang itu bisa masuk?" gumam Gimin. Matanya terus memandang ke
sekeliling yang sepi dan gelap. Tak ada tanda-tanda kalau ada orang masuk ke
tempat itu.
"Mungkin dari
atas, Kang." Mereka memandang ke atas bangunan kadipaten. Namun, tetap
tidak terlihat adanya sesosok bayangan.
"Tak ada,
Kang," kata Sarnopo. "Mungkinkah orang dalam?" tanya Karja
menaruh curiga. "Bagaimana kalau kita geledah semua yang ada di dalam
kadipaten?"
"Setuju! Bukankah
Kanjeng Adipati telah me- merintahkan kita mencari si pembunuh?" sambut
Damus.
"Ya! Semua patut
dicurigai," tambah Gimin. "Semua ini untuk keamanan," sambung
Sarnopo. "Ayo kita segera ke sana!" ajak Karjo. Keempat prajurit jaga
itu sepakat untuk memeriksa di dalam kadipaten, yang dicurigai telah menyelinap
seorang pembunuh. Belum juga tiba di tempat yang dituju, keempatnya merasakan
ada yang membuntuti. Seketika langkah mereka terhenti dan berbalik sigap,
degnan tombak siap menusuk.
"Hm... Apa kau
tidak merasa ada yang mengikuti kita, Dimas?" tanya Sarnopo. Matanya
ditajamkan, memandang ke sekeliling tempat itu.
"Ya. Aku merasa
ada yang mengikuti," sambut Karja.
"Aneh. Tidak
terlihat siapa pun," gumam Gimin. Bulu kuduknya meremang. Padahal, tadi
dia merasa ada yang mengikuti dari belakang.
"Mungkin perasaan
kita saja, Kang,"' tambah Damus.
Sarnopo menghela napas.
Matanya masih menyapu ke sekeling dengan tajam. Berusaha meyakinkan diri bahwa
tak ada yang mengikuti mereka.
"Hhh.... Apa
mungkin perasaanku saja?" gumam Sarnopo. Nada suaranya tidak yakin. Dia
merasa ada yang mengikutinya.
"Mungkin, Kang.
Sudahlah, kita harus segera memeriksa seisi kadipaten," ajak Gimin.
Mereka kembali
melangkah untuk memeriksa ruang dalam kadipaten. Tapi tiba-tiba....
Zwing, zwing....! Empat
buah benda yang entah dari mana datang- nya, melesat cepat ke arah empat prajurit
itu. Mereka tersentak ke belakang seraya membalikkan tubuh. Berusaha melihat
suara yang mendesing itu. Mata keempatnya membelalak. Empat buah benda
berbentuk bunga mawar merah melesat ke arah mereka. Tanpa dapat dielakkan,
keempat bunga itu menghunjam ke dalam dada mereka dengan tangkai terlebih
dahulu.
Zleb zleb...!
"Aaa...!" "Wuaaa...!" Terdengar jeritan susul-menyusul.
Dari dada keempat prajurit itu menyembur darah segar. Mata mereka melotot
tegang. Setelah mengejang sesaat, lalu ambruk tanpa nyawa. Di dada keempat
prajurit itu terbenam setangkai mawar merah.
Hebat sekali pelempar
bunga-bunga mawar itu. Orang itu pasti memiliki tenaga dalam tinggi. Sekuntum
bunga mampu menembus dada manusia, bahkan merenggut nyawanya. Suasana di
halaman kadipaten menjadi sepi dan mencekam.
"Prajurit...!"
seru Adipati Sumagatri dari dalam, berusaha memanggil keempat prajurit itu yang
belum juga nampak batang hidungnya.
Tak ada jawaban.
Adipati Sumagatri tidak tahu kalau para prajurit itu telah tergeletak tanpa
nyawa dengan bunga mawar merah menghunjam di dada.
Mereka tak ada yang
menyahuti, Adipati Sumagatri dengan gusar berlari keluar. Saat itu orang-orang
dalam kadipaten turut terbangun setelah mendengar suara Adipati Sumagatri.
"Ada apa, Kanjeng?"
tanya lelaki tua berjubah ungu dengan rambut putih digelung ke atas. Walau
sudah berusia tua, lelaki yang bernama Ki Balacatra ini masih terlihat tampan.
Dia dulu adalah Panglima
Kerajaan Sumba Lawang,
dan kini menjabat sebagai penasihat Kadipaten Pamakasan.
"Bodoh
semuanya!" dengus Adipati Sumagatri. Semua merundukkan kepala. Tidak
terkecuali Ki Balacatra. Lelaki tua berjubah ungu itu tak berani membantah atau
melawan.
"Apa kalian tidak
mendengar istriku terbunuh?" Semua mata membelalak saling pandang,
mendengar berita mengejutkan itu. Mereka sungguh tidak menyangka kalau istri
sang Adipati yang baru dinikahi tujuh hari yang lalu telah tewas.
"Siapa
pembunuhnya, Kanjeng?" Ki Balacatra memberanikan diri bertanya.
"Huh! Kalau tahu
pembunuhnya, sudah kubunuh dia!" dengus Adipati Sumagatri kesal.
Kembali semua mata
membelalak. Kening mereka berkerut mendengar penuturan Adipati Pamakasan itu.
Dan, bertanya-tanya heran dalam hati. Kalau tidak tahu siapa pembunuhnya,
bagaimana mungkin mereka menangkap si pelaku?
"Ki Balacatra,
kuperintahkan kau mencari pembunuh itu!"
"Daulat,
Kanjeng." "Cepat!" "Baik, Kanjeng." Tanpa membantah,
Ki Balacatra segera menyembah. Diiringi beberapa prajurit, lelaki tua ini
meninggalkan tempat itu untuk mencari pembunuh istri Adipati Sumagatri. Tapi
baru saja Ki Balacatra keluar, langkahnya segera terhenti. Matanya ber-
tumbukan dengan tubuh empat orang prajurit yang tewas dengan dada tertembus
bunga mawar merah.
"Hm.... Tentu
pelakunya bukan orang sem- barangan. Hanya dengan sekuntum bunga, dia
mampu membunuh
orang," gumam Ki Balacatra sambil memandang keempat mayat prajurit itu.
Kemudian pandangan Ki
Balacatra beralih ke sekeliling tempat itu, mencari jejak pelaku. Tapi, tidak
ditemukannya tanda-tanda yang mencurigakan. Seakan semuanya berjalan
sebagaimana mestinya. Ki Balacatra mengerutkan kening. Namun, penciuman lelaki
tua itu sangat tajam. Hidungnya mendengus- dengus, mencium bau yang lain dengan
bau orang- orangnya.
"Hm.... Benar
juga. Rupanya, ada orang yang masuk ke kadipaten ini," kembali Ki
Balacatra ber- gumam lirih. "Sayang, dia telah pergi."
"Siapa orangnya,
Ki?" tanya Wedatama, salah seorang punggawa kadipaten.
"Dari baunya, dia
seorang wanita," jawab Ki Balacatra.
"Wanita, Ki?"
"Ya," sahut Ki Balacatra. "Kita harus mengejarnya." Tanpa
diperintah dua kali, orang-orang kadipaten itu bergegas keluar. Mencari
pembunuh istri Adipati Sumagatri
***
Ki Balacatra dan
orang-orangnya tak mampu menemukan jejak pembunuh itu. Dia seperti meng- hilang
ditelan kegelapan malam. Bau wangi seorang wanita yang bercampur bau bunga
mawar meng- hilang seketika. Tak tercium hidung Ki Balacatra.
"Berhenti!"
"Ada apa, Ki?" tanya Wedatama. Tak mengerti, mengapa Ki Balacatra
menghentikan pengejaran.
"Kurasa percuma
saja kita terus mengejarnya," kata Ki Balacatra.
"Mengapa...?"
Wedatama belum mengetahui apa alasan Ki Balacatra.
"Kau harus
berpikir bahwa pengejaran kita akan sia-sia belaka. Kita tidak tahu siapa
pelaku pembunuhan itu. Di dunia persilatan aku banyak mengenal tokoh-tokoh
wanita. Namun yang bersenjatakan setangkai bunga mawar, rasanya aku baru
mendengarnya. Dia tentu seorang wanita yang berilmu tinggi. Sulit bagi kita
untuk menghadaplnya," ujar Ki Balacatra menjelaskan alasannya.
"Lalu apa yang
harus kami lakukan, Ki?" tanya Wedatama lagi. Punggawa kadipaten ini
berpakaian abu-abu. Ototnya tampak bersembulan keluar. Rambutnya diikat dengan
kain hitam dari serat kulit kayu kuat. Wajahnya menunjukkan kewibawaan. Alis
matanya tipis dengan kumis tebal melintang.
Ki Balacatra mendesah
pelan. "Huh. Aku juga tak tahu harus bagaimana. Rasanya, semua kejadian
ini sebuah misteri yang sulit untuk disingkap. Terlebih senjata pembunuh itu
sangat aneh dan belum pernah ada di rimba persilatan," gumam Ki Balacatra.
"Apa tidak
sebaiknya kita tanyakan pada orang- orang persilatan di kadipaten ini,
Ki?" tanya Wedatama.
"Itu yang sedang
kupikirkan, Weda. Bagaimanapun juga, masalah ini adalah masalah kita bersama.
Pembunuh itu bermaksud merongrong kadipaten," tutur Ki Balacatra.
Semua terdiam. Mata
mereka memandang ke sekeliling tempat itu dengan tajam, takut jika si pembunuh
tiba-tiba muncul. Namun sampai ayam jantan berkokok, pembunuh misterius itu
tidak juga muncul.
"Huh! Rupanya, pembunuh
itu telah benar-benar pergi," gumam Ki Balacatra. "Entah bencana apa
yang akan terjadi di kadipaten ini...?"
Ki Balacatra akhirnya
mengajak orang-orangnya untuk kembali ke kadipaten.
Di ufuk timur nampak
cahaya matahari merambat naik. Pagi telah tiba. Burung-burung berkicau riang,
berbeda dengan apa yang tengah terjadi di Kadipaten Pamakasan..
Pagi itu, suasana di
kadipaten gempar. Kematian istri sang Adipati dan keempat prajurit jaga telah
mengejutkan warga di sekeliling kadipaten Mereka berbondong-bondong datang ke
kadipaten untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Di dalam kadipaten
sendiri, Adipati Sumagatri sedang berduka dan mengurung diri di dalam kamar.
Adipati Pamakasan yang bertubuh tinggi besar ini masih memikirkan kejadian aneh
yang menimpa kadipatennya. Rasanya seperti dalam mimpi. Semua orang di dalam
kadipaten tak ada yang tahu kapan pembunuh itu masuk. Jika dilihat senjatanya
yang berupa bunga mawar, kemungkinan pelakunya seorang wanita. Tapi siapa...?
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab Adipati Sumagatri.
Jangankan melihat
pelakunya, saat kematian istrinya saja Adipati Sumagatri tidak tahu. Lelaki
setengah baya ini terbangun ketika istrinya telah menjadi mayat dengan dada
tertancap sekuntum mawar merah.
"Kanjeng, Ki
Balacatra hendak menghadap!" ucap seorang prajurit dari luar ruangan itu.
"Apakah Kanjeng berkenan menerimanya?"
"Suruh dia
masuk!" perintah Adipati Sumagatri.
Pintu kamar terbuka.
Kemudian, masuklah seorang lelaki tua berjubah ungu yang menjadi penasihat
kadipaten. Lelaki tua itu langsung bersila di depan Adipati Sumagatri.
"Maaf. Hamba
mengganggu, Kanjeng Adipati," ujar Ki Balacatra seraya merapatkan kedua
telapak tangannya di depan hidung.
"Ada apa,
Ki?" tanya Adipati Sumagatri. "Hamba ingin mengatakan sesuatu pada
Kanjeng." "Katakanlah." "Bagaimana jika kita mengadakan
sayembara. Semua orang rimba persilatan diundang. Bagi siapa yang dapat
menangkap pembunuh itu, akan diberi hadiah," usul Ki Balacatra.
"Coba terangkan
lebih jelas," pinta Adipati Sumagatri.
Ki Balacatra segera
menjelaskan rencananya. Semua rencana itu dijalankan dengan rapi dan
tersembunyi, agar si pembunuh tidak mendengarnya.
"Bila perlu, kita
mengundang Pendekar Gila. Bagaimana, Kanjeng?"
Adipati Sumagatri
terdiam sejenak. Kepalanya mengangguk-angguk. Seakan menerima saran
penasihatnya.
"Kalau memang itu
jalan yang terbaik, aku setuju. Segeralah sebar undangan pada semua
pendekar."
"Daulat,
Kanjeng!" Ki Balacatra menyembah, lalu beringsut mundur. Dan keluar
meninggalkan Adipati Sumagatri yang kembali seorang diri, mengurung di dalam
kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk tidak menentu.
2
Pagi itu tampak dua
orang berpakaian prajurit kadipaten tengah memacu kudanya dengan kencang menuju
Desa Sewogiring. Di tangan mereka tergenggam gulungan daun lontar. Kedua
prajurit itu sedang mengantarkan surat undangan Adipati Sumagatri, yang akan
disampaikan pada Pendekar Gila dan Nyi Gendis Awit.
"Hiya,
hiya...!" Kedua prajurit itu menggebah kudanya agar berlari kencang.
Keduanya nampak memburu waktu agar segera sampai di tempat tujuan. Tengah
mereka melaju dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba kuda-kuda mereka meringkik
keras. Larinya yang semula kencang kini berhenti sama sekali. Sepertinya kuda-
kuda itu merasa takut.
"Hieeekh...!"
Kedua kuda itu meringkik keras, dengan kaki depan diangkat tinggi-tinggi.
Seakan berusaha memberi tahu tuannya bahwa ada bahaya di tempat itu. "Hei,
kenapa kuda-kuda ini?" tanya prajurit yang bernama Galarana terheran-heran.
Kudanya seketika menjadi beringas dan menolak meneruskan berjalan. Kuda itu
terus meminta kembali.
"Hush, hush...!
Ayo, kita harus segera sampai," perintah prajurit yang bernama Bandra Gali
pada kudanya yang juga binal, sambil menarik tali kekang sekuat mungkin agar
tidak jatuh.
"Hieeekh...!"
Kuda-kuda itu tetap tak
mau berjalan. Kedua binatang itu seperti melihat sesuatu yang menakutkan di
hadapannya, hingga tak berani melangkah maju.
Galarana berwajah
tampan. Rambutnya digelung ke atas seperti prajurit lainnya. Matanya tajam
lebar dengan alis mata tipis. Kumisnya melintang dengan dagu panjang. Tubuhnya
berotot karena latihan keras selama menjadi prajurit.
Sementara Bandra Gali
lebih muda usianya dari Galarana. Wajahnya bulat agak gemuk. Bertubuh agak
pendek dan bermata tajam serta beralis lebat. Rambutnya digelung ke atas.
Hidungnya tidak begitu mancung. Kumis tipis menghias atas bibirnya yang agak
tebal.
"Hm.... Ada apa
dengan kuda-kuda ini?" gumam Galarana terus berusaha mengendalikan tali
kekang kudanya.
"Mungkin ada
sesuatu yang mencurigakan, Galarana," ujar Bandra Gali. "Biasanya
binatang lebih peka dari manusia."
"Hm...,"
Gialarana menggumam lirih. Matanya menyapu ke sekeliling. Tampak pepohonan
tumbuh lebat di kanan dan kiri jalan yang tengah dilalui. Namun sejauh itu tak
ada tanda-tanda ada sesuatu yang mencurigakan atau membuat takut kuda-kuda itu.
Galarana masih berusaha mengendalikan kudanya yang beringas dan berusaha
berputar ke arah semula. Pendengarannya dipasang tajam-tajam agar suara sekecil
apa pun dapat terdengar.
Kresek!
"Hm...," gumam Galarana. "Bandra Gali, kau mendengar suara orang
melangkah?"
"Ya."
"Kurasa itu yang membuat kuda-kuda kita beringas," dengus Galarana.
Belum lagi kedua
prajurit itu tahu siapa orang yang bersembunyi, tiba-tiba terdengar desingan
keras yang disertai kelebatan dua benda ke arah mereka.
Swing, swing...!
"Awas...!" seru Galarana. "Hop!" Mereka segera melenting ke
atas dan berputaran beberapa kali, mengelakkan senjata-senjata yang melesat ke
arah mereka. Dua buah benda berwarna merah darah yang terbuat dari logam besi
terus menderu dengan kencang. Kecepatannya melebihi dua prajurit yang bersusah
payah mengelakkan serangan gelap itu.
"Uts!
Celaka...!" pekik Galarana dengan mata melotot. Senjata rahasia lawan
seperti memiliki mata hingga mampu mengejar.
"Uh! Mati
aku...!" Bandra Gali pun memekik kaget Kedua prajurit kadipaten itu
terdesak. Nyawa mereka terancam. Tinggal menunggu saat-saat kematian yang
tragis ketika tiba-tiba terdengar suara suling mengalun merdu. Tiupan suling
itu mampu menghantam dua buah senjata rahasia yang menyerang mereka.
Sehingga....
Pluk, pluk! Dua senjata
rahasia itu runtuh, berjatuhan ke tanah. Mata kedua prajurit kadipaten itu
membelak kaget. Tapi, hati mereka lega karena terhindar dari kematian.
"Kurang ajar!
Siapa yang berani mencampuri urusanku?!"
Terdengar suara wanita
membentak keras. Dari
balik pepohonan, muncul
sesosok tubuh wanita setengah tua dengan pakaian warna biru laut. Matanya
lebar, memandang dua prajurit kadipaten yang menyurut mundur.
Wanita berpakaian biru
laut dengan rambut terurai itu berusia sekitar empat puluh lima tahun. Di
punggungnya tersandang pedang kembar. Meski usianya sudah berkepala empat,
namun kecantikannya masih terlihat. Dia adalah Nyi Gendis Awit atau Perawan Tua
dari Dagelan.
"Bedebah! Rupanya
kau, Nyi?" dengus Bandra Gali setelah mengetahui siapa orang yang telah
menyerang mereka. Ternyata seorang pendekar wanita dari wilayah Kadipaten
Pamakasan sendiri.
"Hm.... Ada apa
orang kadipaten datang ke wilayahku?" tanya Nyi Gendis Awit. Matanya
memandang dengan nakal ke arah dua prajurit itu.
"Kami
diperintahkan Kanjeng Adipati untuk mengantarkan undangan padamu," jawab
Galarana. Kemudian disodorkannya surat undangan yang berada di tangannya kepada
Nyi Gendis Awit yang segera menerimanya. Kemudian, segera dibukanya surat
undangan itu.
"Hm.... Jadi
Kanjeng Adipajj mengalami kesulitan?" tanya Nyi Gendis Awit.
"Benar, Nyi,"
sahut Galarana. "Aku akan ke sana. Kini aku ingin tahu, siapa yang tadi
meniup suling hingga mampu merontokkan senjataku. Ayo, keluar! Jangan bisanya
hanya bersembunyi...!" seru Nyi Gendis Awit menantang.
"Ha ha
ha...!" Terdengar suara gelak tawa dari balik pepohonan. Suara itu berasal
dari atas. Nampaknya pemilik suara itu tengah berada di atas pohon. Tawanya
berkumandang laksana
berada di setiap penjuru angin.
"Kurang ajar!
Cepat keluar!" bentak Nyi Gendis Awit. Matanya memandang ke sekeliling
tempat itu, berusaha mencari asal suara tawa yang menggelegar.
"Ha ha
ha...!" Sebuah bayangan berkelebat, kemudian muncul seorang pemuda tampan
berbaju rompi kulit ular. Di tangannya tergenggam sebuah suling terbuat dari
emas murni dengan kepala naga. Kedatangan pemuda tampan yang tingkah lakunya
seperti orang gila ini cukup mengejutkan ketiga orang itu.
Pemuda berpakaian rompi
kulit ular itu tersenyum- senyum. Jalannya seperti seekor kera. Tingkah lakunya
yang seperti orang gila, membuat ketiganya bertanya-tanya siapa pemuda tampan
berbaju rompi kulit ular itu.
"Hm.... Mungkinkah
pemuda gila ini yang berjuluk Pendekar Gila?" tanya Bandra Gali, seolah
berbicara pada diri sendiri.
"Dari tingkah
lakunya, dialah yang dimaksudkan Kanjeng Adipati...," kata Galarana. Mata
kedua prajurit itu mengawasi gerak-gerik pemuda itu.
"Mungkinkah dia
Pendekar Gila?" tanya Nyi Gendis Awit mencoba menebak-nebak. Dia memang
sering mendengar nama Pendekar Gila. Tapi melihatnya belum pernah.
"Aha! Rupanya
kalian tengah berpesta. Mengapa tidak mengajakku...?" tanya Sena alias
Pendekar Gila. Wajahnya mendongak ke atas, lalu terdengar tawanya kembali.
"Ha ha
ha...!" "Anak muda. Katakan, siapa kau sebenarnya? Dan apa urusanmu
merontokkan senjataku?" tanya Nyi
Gendis Awit seraya
memandang tajam sosok pemuda tampan di hadapannya.
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak seraya menyelipkan Suling Naga Sakti ke sabuk di pinggangnya.
"Ah. Kukira namaku
tak ada artinya, Nyi. Aku hanya tidak ingin melihat ada pembunuhan keji tanpa
tahu ujung pangkalnya."
Membelalak mata Nyi
Gendis Awit mendengar ucapan Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Apa
kau kira ucapanmu akan kudengarkan?!"
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Tingkah lakunya yang persis
orang gila, semakin membuat Nyi Gendis Awit bertambah jengkel. Sedangkan kedua
prajurit kadipaten semakin mengerutkan kening, menyaksikan tingkah laku pemuda
itu.
"Ah! Itu urusanmu,
Nyi. Kau mau percaya atau tidak. Sudahlah. Tak perlu dipersoalkan lagi. Kurasa
kalian memiliki maksud tertentu. Aku mohon pamit," ujar Sena seraya
menjura hormat.
Nyi Gendis Awit yang
ingin melihat sampai sejauh mana ilmu pemuda itu, tidak mau membiarkan Pendekar
Gila berlalu dari tempat itu. Sambil membentak, perempuan setengah tua itu
menyerang dengan jurus 'Cengkeraman Elang'.
"Jangan pergi
dulu! Terimalah seranganku! Hiaaa...!"
"Uts!" Sena
meminngkan tubuh ke samping, mengelakkan serangan Nyi Gendis Awit yang datang
cepat dan secara tiba-tiba. Hampir saja jari-jari tangan Nyi Gendis Awit
mencakar mukanya. Untung
Pendekar Gila segera
mengelakkan serangan itu. Kemudian cepat Sena balas menyerang dengan tepukan.
"Plak!"
"Uts...!" Nyi Gendis Awit tersentak. Tidak disangka kalau tepukan
tangan lawan yang kelihatan sangat pelan ternyata kuat dan keras. Padahal
kelihatannya sangat lamban dan lemah.
Melihat jurus lawan
yang aneh, dengan cepat Nyi Gendis Awit bersalto ke udara. Berputaran beberapa
kali sebetum mendaratkan kaki di tanah. Matanya memandang tajam pemuda
bertingkah laku gila yang masih menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum- senyum
sendiri.
"Pemuda edan,
siapa kau sebenarnya?! "Ha ha ha...! Lucu sekali," gumam Sena sambil
menepuk-nepuk pantat. "Tapi baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Namaku
Sena Manggala. Orang biasa memanggilku Pendekar Gila. Nah! Cukup jelas, bukan?"
Mata ketiga orang itu
melotot ketika tahu siapa pemuda tampan berbaju kulit ular di hadapan mereka.
"Pendekar
Gila...?!" Mereka berseru bersamaan. Bahkan, kedua prajurit Kadipaten
Pamakasan yang masih berada di atas kuda, melompat turun dan memberi hormat.
"Terimalah hormat
kami, Tuan Pendekar." "Ah. Mengapa kalian bertingkah seperti itu? Aku
bukan raja atau adipati. Sudahlah. Aku tidak punya waktu banyak. Aku harus
segera pergi."
"Tapi, Tuan
Pendekar...," cegah Bandra Gali. "Hm...," gumam Sena seraya
menghentikan
langkahnya.
"Tuan, kami
diperintahkan untuk menyampaikan undangan pada Tuan," tutur Galarana
sambil menyodorkan gulungan daun lontar pada Pendekar Gila yang segera membuka
dan membacanya.
"Baiklah. Aku akan
ke sana." Usai berkata demikian, Pendekar Gila berkelebat pergi
meninggalkan tempat itu. Begitu cepat gerakannya, sampai-sampai ketiga orang
yang melihatnya termangu bingung.
"Aku pun harus ke
sana secepatnya," kata Nyi Gendis Awit setelah termangu beberapa saat.
"Apakah kalian akan bersamaku?"
"Kami hanya
diperintahkan untuk mengantar undangan padamu dan Pendekar Gila," sahut
Bandra Gali. "Kalau begitu, ayolah," ajak Nyi Gendis Awit.
Ketiganya pun melangkah
meninggalkan tempat itu. Nyi Gendis Awit dan kedua prajurit kadipaten sampai di
perbatasan Desa Lawang Ireng. Saat itu mentari telah condong ke barat. Sebentar
lagi malam akan datang. Mereka membutuhkan waktu semalaman untuk sampai di
Kadipaten Pamakasan.
Kedua prajurit
kadipaten itu merasa agak tenang berjalan bersama tokoh rimba persilatan.
Keduanya mengikuti langkah Nyi Gendis Awit yang kelihatan tegar walau hanya
seorang wanita. Padahal, mereka sudah kehabisan tenaga. Beberapa kali keduanya
berhenti melangkah.
"Hm.... Kulihat
kalian lelah." "Naikilah kuda kalian. Biar aku berjalan kaki,"
kata Nyi Gendis Awit, kasihan melihat kedua prajurit itu.
"Ah. Tidak, Nyi.
Kami cukup kuat," jawab Galarana.
"Benar...?"
tanya Nyi Gendis Awit tak yakin. "Benar, Nyi," sambung Bandra Gali.
"Perjalanan ke kadipaten masih jauh. Kalian harus ingat itu."
Kembali Nyi Gendis Awit
menyarankan mereka agar mau naik kuda. Namun keduanya menolak. Malu. Seorang
wanita saja kuat berjalan, mengapa mereka yang lelaki tidak? Terlebih mereka
merupa- kan prajurit-prajurit kadipaten. Sudah seharusnya prajurit menunjukkan
ketahanan tubuhnya.
"Kalau kalian
lelah, katakan. Kita bisa beristirahat dan menginap di penginapan," saran
Nyi Gendis Awit.
Kedua prajurit itu
mengangguk. Malam pun datang menggantikan siang. Cahaya matahari yang semula
terang benderang, kini hilang, berganti dengan cahaya rembulan yang indah.
Namun begitu, suasana di Desa Lawang Ireng kelihatan tidak menyenangkan. Hawa
dingin yang menggigilkan dan suasana sepi membuat malam itu terasa mencekam.
Tiga sosok tubuh itu
terus melangkah menyelusuri jalanan yang sepi dan lengang. Di kanan dan kiri
jalan terdapat pepohonan.
"Apakah tidak
sebaiknya kita istirahat dulu?" tanya Nyi Gendis Awit.
"Terserah Nyai
saja," sahut Bandra Gali. "Baiklah. Kita harus mencari penginapan
untuk beristirahat," kata Nyi Gendis Awit kemudian.
Ketiganya kembali
meneruskan langkah untuk mencari penginapan yang ada di desa itu. Tidak lama
kemudian, mereka menemukan rumah penginapan itu. Setelah memesan dua buah
kamar, ketiganya masuk ke dalam kamar masing-masing. Kamar Nyi Gendis Awit
berdampingan dengan kamar kedua prajurit tu.
"Hm.... Malam ini
aku akan mendapatkan kepuasan yang sangat menyenangkan. Kurasa keduanya pasti
mau meladeni permainanku," desis Nyi Gendis Awit, mengingat kedua prajurit
itu.
Karena udara sangat
panas, Nyi Gendis Awit membuka pakaian. Hingga tampak tubuhnya yang
menggairahkan. Tanpa sepengetahuan Nyi Gendis Awit, sepasang mata melihat
tubuhnya yang telanjang lewat celah dinding. Agaknya, Nyi Gendis Awit memang
sengaja melakukan hal itu untuk menarik perhatian dua prajurit yang ada di
kamar sebelah. Sepasang mata itu melotot tak berkedip.
"Hei. Ada apa,
Bandra Gali?" tanya Galarana. "Ssst...! Lihat," bisik Bandra
Gali sambil menunjuk lubang kecil di dinding papan.
Dengan
berjingkat-jingkat, Galarana mendekat. Lelaki itu menempelkan matanya di
dinding ber- lubang kecil. Seketika matanya membelalak. Berkali- kali dia harus
menelan ludah.
"Rupanya dia
sengaja, Bandra," bisik Galarana. "Ya. Ini kesempatan. Mengapa kita
sia-siakan?" "Tunggu dulu. Kita tidak boleh gegabah terhadap wanita
ini. Kau ingat kata-kata Ki Balacatra?" tanya Galarana. "Ya."
"Dia bukan wanita sembarangan. Nyi Gendis Awit terkenal dengan sebutan
perawan tua, karena sampai usianya berkepala empat belum juga menikah."
Tengah kedua prajurit
itu berbisik-bisik, tiba-tiba... "Mengapa kalian berbisik-bisik?
Kemarilah. Bukan- kah kalian lelah? Apakah tidak sebaiknya kalian kupijit?
Mata kedua prajurit
kadipaten itu membelalak
mendengar suara Nyi
Gendis Awit yang bernada memanggil itu. Mereka tersenyum dengan dada berdebar.
Dengan mengendap-endap, mereka keluar dari kamar.
"Hati-hati, jangan
sampai ada orang yang tahu," kata Nyi Gendis Awit dari dalam dengan suara
lirih. "Masuklah."
Setelah melihat ke
kanan dan kiri, kedua prajurit itu segera masuk ke dalam kamar Nyi Gendis Awit.
Wanita itu tengah terbaring di atas dipan. Bibirnya mengurai senyum menyaksikan
kedatangan mereka.
"Kunci
pintunya," perintah Nyi Gendis Awit. Galarana dan Bandra Gali bergegas
hendak mengunci pintu. Nyi Gendis Awit pun tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Kedua prajurit itu terpaku dengan mata tak
berkedip memandang tubuh Nyi Gendis Awit yang polos tanpa sehelai benang pun.
"Mengapa mematung,
mendekatlah," perintah Nyi Gendis Awit.
Kedua prajurit
kadipaten itu mendekat. "Bukalah pakaian kalian." Kembali kedua
prajurit itu menurut. Dan tidak lama kemudian, suasana di kamar itu pun sepi.
Yang terdengar hanya suara tawa Nyi Gendis Awit.
3
Wut, wut...!
Jlep, jlep..!
"Aaa...!" seorang murid Perguruan Kera Merah yang sedang berjaga-jaga
di pintu gerbang perguruan memekik keras.
Sebuah senjata rahasia
berupa sekuntum mawar merah menghujam di dada prajurit itu. Entah dari mana
datangnya, tiba-tiba senjata rahasia itu melesat cepat ke arahnya.
Mendengar temannya
menjerit, tiga orang murid lainnya yang juga tengah berjaga-jaga tersentak.
Ketiganya menoleh, dan betapa terkejutnya mereka melihat temannya terkapar
menjadi mayat.
"Pembunuhan! Mawar
merah...!" seru ketiga murid itu berusaha mengundang perhatian yang
lainnya agar terbangun dari tidur. Namun belum juga ada yang terbangun,
tiba-tiba...
Wut, wut, wut! Tiga
kuntum bunga mawar melesat kea rah mereka.
"Awas...! Akh...!”
Belum juga habis ucapannya, otang itu sudah memekik keras. Dadanya tertancap
sekuntum mawar merah yang menembus ke dalam. Tubuhnya seketika mengejang
kemudian ambruk tanpa nyawa.
Jlep, jlep!
"Aaakh...!" Dua orang lainnya kontan memekik keras, ketika tangkai
bungan mawar itu menghunjam dada. Mata
mereka melotot
menyaksikan sebuah bayangan berkelebat cepat keluar dari kegelapan. Bayangan
merah itu laksana angin yang berhembus. Kedua prajurit itu segera meregang
nyawa dan mati.
Bayangan merah itu
terus melesat ke arah kamar Ketua Perguruan Kera Merah yang bernama Ki Anggada.
Dengan kekuatan penuh, jendela kamar itu didobraknya.
Brak! "Heh?!"
Ki Anggada tersentak. Wut, wut! Dua tangkai mawar merah melesat cepat ke arah
tubuh Ki Anggada. Beruntung lelaki tua itu cepat membuang tubuh dengan
berguling ke samping. Namun tak urung, istri mduanya menjadi sasaran
bunga-bunga mawar.
Jlep, jlep! Tanpa mampu
berteriak, wanita muda yang usianya berbeda jauh dengan Ki Anggada itu tewas.
Di dada dan wajahnya tertancap bunga mawar merah. Ki Anggada geram menyaksikan
istrinya mati di tangan seorang wanita berbaju serba merah. Lelaki berparas
seperti kera dengan rambut tergerai kaku serta ikat kepala berwarna dadu itu
mendengus. Tangannya dengan cepat menyambar senjata dari logam yang berbentuk
empat jari kera. Dengan senjata di tangan kanan, Ki Anggada membentak garang.
"Siapa kau?!"
"Hm.... Kau lupa padaku, Ki?" tanya wanita yang sekujur tubuhnya
ditutupi kain merah. Termasuk wajahnya.
"Bangsat! Ditanya
malah balik bertanya! Katakan siapa kau sebenarnya?!" bentak Ki Anggada
gusar.
"Siapa aku, kau
tak perlu tahu. Yang pasti, kau dan kelima temanmu termasuk adipati keparat itu
harus mampus di tanganku! Hiaaa...!"
Ki Anggada tersentak
kaget diserang begitu cepat dan tiba-tiba. Segera dia melompat ke belakang,
kemudian berkelit ke samping.
"Hop!
Heaaa...!" Ki Anggada berusaha merangsek maju dengan cakaran kedua
tangannya yang menggunakan jurus 'Kera Memetik Buah'. Namun gerakan lawan
begitu cepat. Ki Anggada hampir terkena sambaran tangan lawan. Tapi, orang tua
berwajah kera dengan pakaian rompi merah dadu ini memiliki ketajaman tinggi.
Kalau tidak, tubuhnya sudah menjadi sasaran empuk pukulan lawan.
"Hari ini
bagianmu, Kera Busuk! Yeaaat...!" Wanita berpakaian serba merah itu terus
merangsek maju menyerang Ki Anggada. Serangan- serangannya sungguh dahsyat dan
mengarah pada tempat-tempat mematikan.
Ki Anggada yang tidak
mau menjadi korban wanita misterius itu segera berkelit ke samping. Lalu dengan
gerakan cepat, balas menyerang lawan. Kali ini menggunakan jurus 'Kera
Merangsek Naga'. Tangannya bergerak cepat merangsek ke arah lawan.
Wanita yang sekujur
tubuhnya terbungkus kain merah itu terus menyerang dengan gabungan jurus
'Pukulan Iblis Seribu' dan jurus 'Mawar Pencabut Sukma'. Sesekali tangannya melemparkan
bunga mawar. Meski mawar merah itu nampaknya tak berarti, tapi di tangan wanita
itu sangat berbahaya. Bunga-bunga itu mampu membunuh lawan dalam sekejap.
Swing, swing!
"Uts! Bunga
setan!" maki Ki Anggada seraya mengelakkan bunga-bunga maut yang telah
membunuh istrinya. Tubuh Ki Anggada bergerak ke sana ke mari, terkadang
berputaran di udara untuk mengelakkan serangan bunga-bunga mawar itu.
"Hiaaa!"
"Hop! Uts!" Lawan benar-benar tak mau memberi kesempatan pada Ki
Anggada untuk balas menyerang. Serangan- serangannya begitu cepat, disusul
lemparan- lemparan mawar mautnya yang tak kalah berbahaya.
Mendengar suara
ribut-ribut di dalam kamar gurunya, murid-murid Perguruan Kera Merah
berdatangan hendak membantu sang Guru. Namun baru saja mereka sampai di pintu,
tiba-tiba....
"Awas...!"
seru Ki Anggada mengingatkan. Namun seruan itu terlambat. Secepat kilat wanita
misterius itu melemparkan bunga-bunga mawarnya ke arah murid-murid Ki Anggada.
"Hih!" Swing,
swing...! Jlep, jlep...! "Aaa...!" "Aaakh...!" Tiga orang
murid perguruan yang berada di depan langsung roboh. Di dada mereka menghunjam
setangkai mawar merah. Darah seketika muncrat keluar dari dada mereka.
"Bedebah! Sebelum
kukirim ke neraka, katakan siapa dirimu!" bentak Ki Anggada semakin marah
menyaksikan murid-muridnya menjadi korban keganasan mawar merah lawan.
"Tidak usah banyak
bicara, Kera Keparat! Pikirkanlah nanti di alam sana, siapa aku!
Hiaaa...!"
Tanpa banyak kata lagi,
wanita misterius itu kembali melemparkan bunga-bunga mawar merah ke arah Ki
Anggada yang tersentak kaget.
Swing, swing...!
"Hop! Uts...!" Tubuh Ki Anggada melenting ke atas, kemudian melesat
ke samping kanan untuk mengelakkan serangan lawan dengan jurus 'Lompatan Kera
Menerkam Mangsa'.
"Hiaaa...!"
Wanita misterius itu tak membiarkan lawannya bergerak lebih jauh. Dengan cepat,
pedangnya yang bersinar keperakan dicabut. Mata Ki Anggada silau oleh sinar
yang keluar dari pedang lawan. Ki Anggada memekik menyebutkan nama pedang di
tangan wanita misterius itu.
"Pedang Perak!
Hei. Ada hubungan apa kau dengan Dewi Pedang Beracun?! Siapa kau...?!"
"Hm.... Tak perlu
tahu siapa aku, Kera Busuk! Kini terimalah ajalmu! Hiaaat. .!"
Wanita misterius yang
memiliki Pedang Perak milik Dewi Pedang Beracun itu tak mau membuang waktu
lagi. Segera diserangnya Ki Anggada dengan tebasan dan babatan Pedang Perak
yang mengandung racun ganas. Kali ini, dikeluarkannya jurus 'Sambar Nyawa'.
Wut!
"Uhhh...," Ki Anggada mengeluh. Napasnya terasa sesak oleh racun yang
ditebarkan pedang di tangan lawan. Dalam keadaan terdesak hebat, Ki Anggada
masih bertanya-tanya siapa wanita misterius itu. Kalau dia Dewi Pedang Beracun,
rasanya tidak mungkin.
Dewi Pedang Beracun
telah tiada sejak puluhan tahun silam.
Ki Anggada benar-benar
kaget melihat pedang di tangan lawannya. Dia belum yakin kalau wanita misterius
itu Dewi Pedang Beracun. Namun jurus- jurus pedangnya, sama dengan jurus-jurus
milik Dewi Pedang Beracun. Dan senjata rahasianya....
Dewi Pedang Beracun
adalah tokoh sesat di Kadipaten Pamakasan. Semasa hidupnya pernah membuat heboh
para pendekar di wilayah itu. Dengan bunga-bunga kenanga mautnya, Dewi Pedang
Beracun banyak membunuh pendekar golongan putih. Dewi Pedang Beracun merasa
dendam pada para pendekar yang telah membunuh ayah dan ibunya, atas perintah
Adipati Pamakasan. Namun, sepak terjang Dewi Pedang Beracun dapat dihentikan.
Dia dikalahkan oleh Adipati Sumagatri, Ki Balamprang, Ki Anggada, Ki Mandra
Dupa dan Ki Sangkutra.
Mungkinkah dia Dewi
Pedang Beracun? Tapi... Dewi Pedang Beracun mengenakan pakaian hijau seperti
senjatanya yang berupa bunga kenanga. Sedangkan wanita ini mengenakan pakaian
merah darah seperti bunga yang digunakannya.... Ki Anggada terus bertanya dalam
hati sambil terus mengelakkan sabetan-sabetan senjata lawan. Dadanya semakin
terasa sesak oleh racun pedang lawan.
"Heaaa!"
Pedang di tangan wanita misterius itu terus bergerak, menyambar-nyambar dengan
tebasan dan babatan ke arah lawan. Sinar putih keperakan yang keluar dari
pedang lawan membuat napas Ki Anggada tidak lancar lagi.
"Uhuk,
uhuk...!" Ki Anggada terbatuk-batuk. Tangan kirinya memegangi dada yang
terasa sakit karena terlalu banyak menghisap racun.
"Tamatlah
riwayatmu, Kera Busuk! Hiaaa...!" Wanita misterius itu mengayunkan
pedangnya. Kemudian dengan cepat, menebaskan ke leher Ki Anggada yang tak mampu
lagi mengelakkan serangan lawan. Maka....
Cras! Kepala Ki Anggada
menggelinding ke bawah berlumuran darah. Tubuhnya mengejang sesaat, kemudian
ambruk tanpa nyawa.
Wanita misterius yang
tubuhnya tertutup kain merah segera melesat meninggalkan tempat itu. Gerakannya
begitu cepat, dalam sekejap telah hilang di kegelapan malam.
Seketika suasana di
rumah Ki Anggada ramai. Murid-murid hanya mampu mencaci-maki pembunuh keji yang
telah membunuh guru mereka. Malam itu Perguruan Kera Merah berkabung atas
kematian Ki Anggada.
Dua orang prajurit
Kadipaten Pamakasan tampak memacu kudanya menuju Perguruan Kera Merah untuk
menyampaikan undangan Adipati Sumagatri. Namun seketika mereka memperlambat
lari kudanya ketika melihat bendera kuning dipasang di kanan dan kiri jalan.
"Sagola, kau lihat
bendera kuning itu?" tanya prajurit yang memegang sebuah gulungan daun
lontar. Prajurit itu berparas tampan dan berhidung mancung. Matanya tidak
terlalu lebar.
"Ya," sahut
prajurit yang dipanggil Sagola. "Sepertinya ada kematian."
"Hei, lihat! Ada
keramaian di Perguruan Kera Merah," ujar prajurit pertama yang bernama
Buwala.
"Benar. Ada apa di
sana? Nampaknya banyak
sekali orang
berdatangan," desis Sagola.
"Ayo kita ke
sana." Kedua prajurit Kadipaten Pamakasan itu segera mendekat. Perguruan
Kera Merah tampak dipenuhi oleh orang-orang persilatan dan rakyat biasa.
"Kisanak, ada
apakah?" tanya Sagola pada pemuda berbaju rompi kulit ular yang tengah
menggaruk-garuk kepala.
Pemuda berambut
gondrong yang baru saja keluar dari bangunan perguruan itu mendongakkan kepala,
memandang kedua prajurit yang menegurnya.
"Ah, dunia ini
semakin tua semakin bertambah saja kejahatannya," gumam pemuda yang tak
lain Sena atau Pendekar Gila itu.
Mendengar gumaman
pemuda tampan berambut gondrong itu, Sagola dan Buwala mengerutkan kening
saling pandang. Kemudian mata keduanya memandang lekat wajah pemuda itu, yang
masih tersenyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala.
"Anak muda. Kami
bertanya padamu, mengapa engkau bergumam sendiri?" tanya Sagola hampir
tertawa menyaksikan tingkah laku pemuda itu yang konyol dan lucu. Mirip orang
gila. Terkadang mimik wajahnya sedih, kemudian berubah riang dengan senyum
melekat di bibir. Bahkan yang lebih konyol, pemuda itu suka menggaruk-garuk
kepala dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya asyik mengorek telinga
dengan bulu burung.
"Hi hi
hi...!" Sena tertawa sambil meringis kegelian. Hingga kedua prajurit
kadipaten itu tak mampu membendung tawanya.
"Pemuda
gila...," gumam Sagola. "Ayo kita ke sana." "Hi hi hi...!
Eh, tunggu!" Sena menghentikan mereka. Kedua prajurit kadipaten berhenti
dan menengok ke arahnya.
"Ada apa kau
menghentikan kami?" tanya Sagola. "Tentu kalian prajurit kadipaten,
bukan?" tanya Sena seraya menggaruk-garuk kepala.
"Ya!" sahut
keduanya. "Aha! Kebetulan sekali kalau begitu," seru Sena sambil
mengorek telinganya dengan bulu burung. "Kebetulan aku hendak ke
kadipaten. Tolong Kisanak beri tahu, ke arah mana aku harus pergi?"
Kedua prajurit
kadipaten mengerutkan kening, mendengar pertanyaan pemuda bertingkah laku aneh
itu. "Hm.... Untuk apa kau ke kadipaten, Pemuda Edan?" tanya Buwala.
"Bukankah di
kadipaten ada pesta? Tentu banyak makanan di sana. Itu sebabnya aku hendak ke
sana. Aku diundang Kanjeng Adipati," tutur Pendekar Gila.
Sagola tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Menurutnya, pemuda bertingkah laku gila itu hanya
bercanda. Mana mungkin Adipati Sumagatri mengundang pemuda edan seperti ini?
Tanya Sagola dalam hati.
"Pemuda gila....
Ah, Kanjeng Adipati tidak mengundang pemuda gila sepertimu, Kisanak. Tapi,
Kanjeng Adipati mengundang para pendekar. Tak ada pesta di sana," tutur
Sagola.
"Sudahlah, Sagola.
Mengapa kita harus meladeni pemuda gila ini?" rungut Buwala mengajak
temannya meneruskan berjalan.
"Tunggu!"
kembali Sena memanggil mereka. Buwala menghela napas. Kesal juga hatinya
melihat tingkah laku pemuda itu.
"Pemuda gila! Apa
sebenarnya yang kau inginkan, heh?!"
Sena tersenyum
mendengar bentakan itu. "Aha! Kalian ini tolol. Bukankah sudah kukatakan,
bahwa aku hanya ingin tahu arah jalan menuju kadipaten?!" Sena membentak
tak kalah keras. "Untuk apa kau ke sana?" dengus Buwala. Sena
tersenyum. Diambilnya gulungan daun lontar yang diberikan dua prajurit
kadipaten padanya. Sagola segera menerima dan cepat membuka gulungan itu.
Seketika mata keduanya membelalak setelah membaca tulisan di daun lontar itu.
"Pendekar
Gila...!" seru mereka bersamaan. "Oh. Ampuni ketololan kami, Tuan
Pendekar. Sungguh kami tidak tahu kalau Tuan adalah Pendekar Gila," ujar
Sagola sambil turun dari kudanya dan menjura memberi hormat.
"Benar, Tuan
Pendekar. Jika Tuan mau, hukumlah kelancangan kami," tambah Buwala.
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak menyaksikan kedua prajurit itu menyembahnya.
"Sudahlah. Kalian
tidak perlu minta maaf. Sekarang katakan, ke arah mana aku harus
berjalan?" tanya Sena, masih dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Ampun, Tuan
Pendekar. Kalau diperkenankan, biarlah nanti kami bersama Tuan," pinta
Sagola.
"Oho. Sangat
menyesal. Aku harus segera sampai di sana. Bahaya akan mengancam kadipaten ini.
Ki Anggada telah tewas di tangan seseorang yang bersenjatakan bunga
mawar," tutur Pendekar Gila.
Untuk kedua kalinya,
Sagola dan Buwala membelalakkan mata. Kaget mendengar Ki Anggada yang hendak
didatangi telah tewas. Tapi, yang membuat mereka sangat kaget adalah cara
kematian Ki Anggada sama dengan cara kematian istri Adipati Sumagatri dan empat
orang teman mereka.
"Kenapa kalian
kaget?" tanya Sena. "Oh! Bencana apakah yang tengah melanda Kadipaten
Pamakasan?" keluh Sagola.
"Hm.... Apa
maksudmu?" tanya Sena masih belum mengerti.
"Lima korban telah
dibantainya. Pertama, istri Kanjeng Adipati dan empat orang teman kami yang
tengah berjaga. Kini Ki Anggada," gumam Sagola setengah mengeluh.
"Semuanya sama, mati oleh mawar merah."
"Hm...," Sena
bergumam tak jelas. Kedua prajurit kadipaten itu tercenung diam. Mata mereka
memandang ke arah Perguruan Kera Merah yang tengah berkabung.
"Siapakah
pelakunya?" tanya Sagola, seolah bertanya pada diri sendiri.
"Ayolah, kita
harus segera ke kadipaten," ajak Sena yang dituruti kedua prajurit
kadipaten. Ketiganya menempuh perjalanan menuju Kadipaten Pamakasan.
4
Pendekar Gila dan kedua
prajurit Kadipaten Pamakasan menyelusuri jalan setapak di tengah hutan
Waranggalih. Malam telah larut. Udara dingin terasa menggigit. Namun ketiganya
masih saja melangkah. Kegelapan yang mengelilingi tempat itu menjadikan suasana
terasa mencekam. Terlebih dengan adanya suara-suara menyeramkan binatang-
binatang hutan.
"Kurasa kita harus
beristirahat di dalam hutan ini, Kisanak," kata Sena sambil menghentikan
langkahnya.
"Kami terserah
pada Tuan Pendekar saja," jawab kedua prajurit kadipatan itu bersamaan.
"Baiklah kalau
begitu. Kita harus membuat api dulu."
Sena melompat ke atas
mencari ranting-ranting kering. Gerakannya cepat tak dapat dilihat kedua
prajurit itu. Terdengar suara ranting-ranting patah. Tidak lama berselang,
Pendekar Gila turun dengan membawa ranting-ranting kering.
"Buatlah
api," pinta Sena. Kedua prajurit itu kebingungan. Mereka tidak tahu harus
bagaimana membuat api. Biasanya mereka menggunakan batu api. Tapi, bagaimana
mungkin mereka mencari batu api dalam keadaan gelap seperti ini?
Sena menggaruk-garuk
kepala. Rupanya, mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua prajurit itu.
Sejenak Pendekar Gila mencari-cari, kemudian
berkelebat pergi. Tidak
lama berselang, kembali dengan membawa dua buah batu api. "Ini batu api
yang kalian butuhkan." Kemudian, kedua batu api itu disodorkan pada
mereka. Dan dengan menggosok-gosokkan kedua batu itu, tidak lama kemudian api
pun menyala. Ketiganya segera mengelilingi api unggun yang cukup memberikan
kehangatan.
"Tentu kalian
lapar. Hm.... Sebentar, akan kucarikan ayam hutan. Tunggulah di sini,"
kata Sena, lalu dengan cepat tubuhnya berkelebat menembus kerimbunan pohon.
Dua prajurit kadipaten
menunggu kedatangan Pendekar Gila dengan perasaan tercekam. Mereka takut berada
di tengah hutan lebat dan gelap seperti itu. Selama ini, keduanya tidak pernah
berada di dalam hutan. Tapi, di kadipaten yang ramai dan terang.
"Sagola, kita
harus waspada," kata Buwala mengingatkan.
"Ya! Kuharap
Pendekar Gila tidak lama." Mereka menarik pedang, siap menghadapi apa pun
yang akan terjadi selama Pendekar Gila pergi. Mata mereka memandang ke
sekeliling tempat itu dengan tajam. Baru saja keduanya mempersiapkan diri,
tiba-tiba terdengar suara mendesing senjata rahasia.
"Awas, ada yang
menyerang!" seru Sagola, meng- ingatkan temannya sekaligus mengundang
Pendekar Gila agar segera datang ke tempat itu.
Swing, swing...! Dua
buah benda melesat ke arah kedua prajurit itu. Senjata rahasia itu bergerak
begitu cepat, entah dari mana datangnya.
"Celaka! Bunga
mawar!" pekik Buwala kaget. Hidungnya mencium bau wangi bunga mawar. Mata
lelaki itu membelalak tegang dan bulu kuduknya meremang. Saat itu, sekuntum
mawar merah melesat ke arahnya. Tanpa dapat dielakkan, bunga itu menghunjam
dadanya.
Jlep! "Ukh!"
Bulawa mengeluh. Tubuhnya sesaat mengejang dengan mata melotot, lalu ambruk
tanpa nyawa.
Jlep! Bunga yang lain
menancap di dada Sagola yang juga tak sempat mengelak. Seperti Buwala, Sagola
pun mengeluh kesakitan. Dan tewas setelah tubuhnya mengejang dengan mata
melotot.
Bersamaan dengan itu,
Pendekar Gila datang dengan membawa tiga ekor ayam hutan. Sena tersentak kaget
mendapatkan kedua prajurit kadipaten itu telah tewas. Matanya menyapu ke
sekeliling. Dari kegelapan, tiba-tiba melesat beberapa kuntum bunga ke arahnya.
Swing, swing...!"
"Kurang ajar! Siapa kau...!" bentak Sena sambil bergerak menghindar.
Tubuhnya berjumpalitan di udara. Tangannya dikibaskan dengan jurus 'Si Gila
Melempar Batu'. Deru angin yang keluar dari tangan Pendekar Gila mampu
menjatuhkan beberapa bunga mawar yang menyerangnya.
Belum lagi Sena
berhasil merontokkan bunga- bunga itu, serangan berikutnya datang. Bunga-bunga
mawar merah kembali melesat ke arahnya.
"Edan! Rupanya ada
orang yang menginginkan nyawaku!" dengus Sena sambil terus berjumpalitan
mengelakkan bunga-bunga yang menyerangnya.
Dicabutnya Suling Naga
Sakti. Kemudian dengan cepat dibabatkan ke arah bunga-bunga itu.
"Heaaa...!"
Prak, prak...! Pluk, pluk...! Bunga-bunga mawar merah yang menyebarkan aroma
wangi jatuh berguguran, terkena sambaran Suling Naga Sakti Pendekar Gila.
"Pengecut!
Tunjukkan dirimu!" bentak Pendekar Gila sambil menghantamkan pukulan ke
arah tempat bunga-bunga mawar itu berasal.
Tak ada sahutan. Sena
semakin bertambah geram, merasa diper- mainkan lawan.
"Kurang ajar!
Rupanya, mau main petak umpet denganku. Baik. Ha ha ha...!"
Dengan tertawa-tawa,
Pendekar Gila mengerahkan ajian 'Sapta Bayu'. Seketika tubuhnya melesat laksana
angin, memutari wilayah itu. Larinya yang begitu cepat membuat tubuhnya bagai
menghilang. Yang tampak hanyalah bayangannya saja. Beberapa kali Pendekar Gila
memutari tempat itu, namun tidak ditemukannya seorang pun di situ.
"Hm.... Aneh. Tak
ada seorang pun di sini. Lalu siapa yang menyerangku?" gumam Pendekar
Gila. Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir kuda.
Pendekar Gila kembali
ke tempat perapian. Dipandanginya kedua mayat prajurit kadipaten. Di dada
keduanya tertancap bunga mawar.
"Hm...," Sena
bergumam tak jelas. Dia segera berjongkok mengambil bunga mawar yang menancap
di dada dua prajurit itu.
Prul!
Bunga mawar itu
tercabut. Seketika mata Pendekar Gila membelalak, menyaksikan sesuatu yang
aneh. Bunga mawar yang tadinya segar dalam sekejap berubah layu.
"Heh. Bunga mawar
apa ini?" tanyanya tertegun seraya memandangi bunga mawar di tangannya.
Pandangannya segera beralih pada bunga mawar di dada prajurit kadipaten yang
lain. Keduanya sangat berbeda. Yang masih menghunjam di dada prajurit itu
nampak segar. Sedangkan yang di tangannya telah layu. Pendekar Gila kembali
menggaruk-garuk kepala. Keningnya semakin berkerut heran menyaksikan keanehan
itu. Dicobanya ditusukkan kembali ke tubuh prajurit itu. Keanehan pun terjadi.
Bunga mawar yang semula layu menjadi segar.
"Hah?! Apa aku tak
salah lihat?" gumam Sena dengan mata melotot dan mulut ternganga.
Sena kembali menyapukan
pandangan ke sekeliling tempat itu, berusaha meyakinkan diri kalau penyerang
yang belum diketahui wujud dan rupanya itu memang telah pergi dari situ.
"Hm.... Rupanya,
mawar merah ini bukan bunga biasa. Bunga iblis penghisap darah," gumam
Sena lirih setelah melihat bagaimana bunga-bunga itu makin lama tambah merekah.
Pendekar Gila
menggosok-gosok mata. Tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Bunga-bunga mawar
itu semakin berkembang. Kian lama kian membesar. Dari kuntum kecil dengan
kelopak- kelopak kecil berubah menjadi sebesar cengkeraman tangan. Tubuh kedua
prajurit itu pun mengalami perubahan. Tubuh itu berangsur-angsur memucat. Ada
sesuatu yang aneh, daging kedua mayat itu
mengempis. Mata pecah
dan kepala retak-retak.
"Oh! Apa yang
terjadi?" Sena semakin penasaran menyaksikan kejadian aneh itu. Dengan
perasaan ingin tahu, dicabu bunga mawar yang semakin membesar. Prul!
Mata pemuda itu
membelalak tegang. Bulu ku duknya merinding. Bunga mawar itu kini memiliki aka
panjang sampai ke batok kepala korban.
"Oh. Pantas batok
kepala mayat ini retak. Benar benar bunga iblis," gumam Sena sambil
membuai bunga itu jauh-jauh.
Pendekar Gila menuju
mayat satunya. Denga merinding, dicabutnya bunga mawar yang menancap dan tumbuh
pada tubuh prajurit itu. Lalu dibuangnya jauh-jauh.
"Hhh...!"
Sena mendesah. "Bencana apa lagi yang akan melanda kadipaten ini?"
Malam semakin larut.
Pendekar Gila melesat meninggalkan tempat itu setelah mematikan api unggun.
Ditembusnya kegelapan malam dengan menggunakan ilmu larinya yang melebihi
kecepatan angin.
***
Pagi kembali hadir
menerangi persada. Seorang pemuda tampan berbaju rompi kulit ular nampak
menggeliat bangun dari tidurnya.
"Hua...!"
pemuda yang tidak lain Sena itu menguap. Tangannya mengucek-ucek mata. Sekali
lompat tubuhnya melayang turun dari atas cabang pohon di Hutan Waranggalih.
Tubuhnya digerakkan
untuk melemaskan otot- ototnya yang agak kaku. Seketika matanya tertumbuk
pada sebuah tulisan di
pohon, yang jaraknya sekitar sepuluh tombak dari tempat dia tidur.
"Heh! Rupanya ada orang
yang datang ke tempat ini," gumam Sena lirih. "Hm. Bagaimana mungkin
aku sampai tidak tahu?"
Pendekar Gila
menggaruk-garuk kepala. Kakinya melangkah menuju ke pohon itu. Dengan tangan
masih menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila membaca tulisan di kulit pohon itu.
Pendekar Gila, Kuharap
kau jangan mencampuri urusanku!
Mawar Maut. Sena
mengerutkan kening. Diambilnya bulu burung yang diselipkan di pinggang. Lalu
dengan nikmat kupingnya dikorek. Mulutnya meringis-ringis, sedangkan tangan
kirinya menggaruk-garuk kepala.
"Hm.... Apa pula
maksudnya?" tanya Sena setelah bergumam. "Kurasa dia bukan orang
sembarangan. Kalau dia mau sangat mudah membunuhku."
Sena memandang
berkeliling, berusaha mencari jejak seseorang yang lewat di tempat itu. Tapi
tak ditemukan jejak apa pun.
"Orang itu tentu
berilmu tinggi. Jejak kakinya tak ada sama sekali," gumam Sena, bicara
pada diri sendiri. Pemuda itu berusaha menebak, siapa tokoh Mawar Maut yang
senjata rahasianya berupa Mawar Penghisap Darah.
Setelah menghela napas
panjang, Pendekar Gila meninggalkan tempat itu. Pemuda ini tidak gentar sedikit
pun dengan ancaman Mawar Maut. Bahkan semakin ingin menyibak misteri tokoh itu.
Sepak terjangnya sangat membahayakan. Terutama senjata rahasianya yang berupa
bunga mawar merah.
"Hm.... Semakin
kau mengancam, aku semakin penasaran, Mawar Maut!" gumam Sena sambil
melangkah menyelusuri jalan setapak di dalam hutan itu. Belum begitu jauh
Pendekar Gila melangkah, tiba- tiba matanya melihat sebaris tulisan. Kali ini
bukan ancaman, melainkan sebuah petunjuk.
"Heh! Aneh sekali
Mawar Maut ini. Tadi dia mengancamku. Mengapa sekarang memberi petunjuk?"
Dengan benak dipenuhi
berbagai dugaan, Sena membaca tulisan Itu, Jangan teruskan langkahmu.
Berbahaya! Beloklah ke kanan.
Pendekar Gila
menggaruk-garuk kepala. Heran dengan tingkah laku Mawar Maut yang dirasa sangat
aneh. Sena yakin kalau semua yang ditulis Mawar Maut benar. Terbukti, orang itu
tidak membunuhnya sewaktu tidur.
"Hm.... Aku ingin
tahu, apa yang akan terjadi jika aku berjalan lurus," gumam Sena. Kemudian
kakinya pun melangkah terus, menentang petunjuk Mawar Maut.
Seluruh panca inderanya
dipasang dengan tajam. Hingga jika ada sesuatu dapat cepat diketahui. Kakinya
terus melangkah menyelusuri jalanan setapak.
Brosss!
"Akh!" Sena memekik. Tiba-tiba kakinya terperosok ke bawah. Tubuhnya
melayang cepat ke dalam lubang perangkap.
"Ha ha ha...!
Mampuslah kau di dalam sana, Pendekar Gila! Bukankah sudah kukatakan jangan
berjalan lurus! Nah,
kini tetaplah di situ menunggu kematianmu!" dari atas terdengar suara
seorang wanita.
"Hhh. Apa yang
ditulisnya ternyata benar. Siapakah dia?" gumam sena, menduga-duga siapa
Mawar Maut itu. Saat itulah, tiba-tiba telinganya menangkap suara desisan keras
dari arah samping.
"Zsss...!"
Pendekar Gila tersentak. Cepat-cepat tubuhnya berbalik memandang arah asal
suara. Seketika matanya beradu dengan sepasang mata merah menyala.
"Ular!" desis
Sena seraya menyurut mundur. "Rupanya ini sarang ular."
Pendekar Gila terus
melangkah mundur. Matanya tajam memandang pemilik sepasang mata merah membara
itu. Namun baru beberapa langkah, dari belakang terdengar desisan yang keras.
"Hei. Ada dua ekor!" seru Sena kaget. Dua ekor ular hitam kelam
dengan mata merah menyala merayap ke arahnya. Lidah kedua binatang menyeramkan
itu menjulur-julur keluar. Mulutnya yang mendesis-desis terbuka lebar,
menunjukkan gigi-giginya yang runcing dan berbisa.
"Ular-ular ini tentu
sepasang. Hm.... Mereka mengira mudah memangsaku. Baik kawan, kita main-
main," dengus Sena sambil mencabut Suling Naga Sakti.
Kedua ular besar hitam
kelam itu semakin mendekati Pendekar Gila. Mata mereka bersinar menyeramkan.
Mulutnya menganga, siap memangsa Sena.
Pendekar Gila segera
duduk bersila. Ditiupnya Suling Naga Sakti dengan perlahan hingga
menimbulkan suara
mengalun merdu mendayu-dayu. Lubang tempat Pendekar Gila berada bagai dilanda
badai. Dari atas lubang menyeruak masuk beratus- ratus ekor ular kecil.
Ular-ular itu seperti dipanggil oleh tiupan suling Pendekar Gila.
"Zsss...!"
Ular-ular kecil itu mendesis-desis. Bagaikan diperintah, ular-ular itu
menyerang kedua ular hitam besar yang semula hendak memangsa Sena. Dalam
sekejap, pertarungan dua ekor ular besar dengan ratusan ekor ular kecil
berlangsung. Ular-ular kecil itu dengan ganas menggigiti tubuh kedua ular hitam
besar.
Semakin lama Pendekar
Gila meniup sulingnya, semakin bertambah banyak ular-ular kecil ber- datangan.
Ular hitam besar
menggelepar-gelepar, merasakan sakit akibat gigitan ular-ular kecil.
Sampai-sampai Sena sendiri merasa bergidik menyaksikan banyaknya ular-ular
kecil itu. Dalam sekejap, kedua ular hitam besar itu lumat dimangsa ular-ular
kecil. Kemudian dengan aneh, ular-ular kecil itu membentuk sebuah tangga.
seperti menyuruh Pendekar Gila untuk naik ke atas.
Dengan bergidik, Sena
segera mendaki naik. "Terima kasih, Sahabat. Kalian telah menolongku.
Pergilah."
Ular-ular itu menurut.
Berbondong-bondong mereka meninggalkan Pendekar Gila yang masih tertegun heran
menyaksikan kejadian yang baru saja dialami.
"Hyang Jagat Dewa
Batara. Terima kasih atas pertolongan-Mu padaku," desah Sena. Kemudian
melesat pergi meninggalkan tempat itu.
5
Pagi yang cerah itu, di
aula Kadipaten Pamakasan tampak telah hadir beberapa orang undangan yang
sengaja diundang Adipati Sumagatri. Mereka adalah Ki Balamprang, Nyi Gendis
Awit, Ki Sangkutra, Ki Mandra Dupa, Ki Lurah Banjilan dan Sena Manggala atau
Pendekar Gila. Keenam pendekar itu bermukim di wilayah Kadipaten Pamakasan.
Selain mereka, tempat itu hadir pula Ki Balacatra, orang tua yang menjadi
penasihat kadipaten.
Tidak begitu lama,
muncullah Adipati Sumagatri yang dikawal dua orang prajurit pilihan. Semua yang
hadir seketika bangun dari duduknya dan menjura hormat.
"Terima kasih atas
kedatangan kalian," kata Adipati Sumagatri. "Silakan duduk
kembali."
Mereka menurut dan
duduk kembali di kursi yang sudah disediakan. Sejenak semuanya terdiam. Mata
Adipati Sumagatri memandang seluruh pendekar yang hadir di tempat itu.
"Kurasa ada yang
tidak hadir di sini," katanya kemudian.
"Benar,
Kanjeng," sahut Ki Balacatra. "Ki Anggada tewas oleh pembunuh
misterius yang sampai saat ini belum diketahui siapa sebenarnya."
Adipati Sumagatri
mengangguk-angguk mengerti. Dengan menghela napas, Adipati Pamakasan itu duduk
di kursinya. Semua pendekar yang hadir di tempat itu terdiam, seperti turut
berduka atas kematian Ki Anggada.
"Kalian telah
mendengar sendiri apa yang terjadi di kadipaten ini, bukan? Contoh yang nyata
adalah Ki Anggada, Ketua Perguruan Kera Merah," ujar Adipati Sumagatri
setelah terdiam beberapa saat.
"Benar, Kanjeng.
Akhir-akhir ini semua penduduk dicekam rasa takut dengan kemunculan pembunuh
misterius yang bersenjatakan bunga mawar merah...," tutur Ki Balamprang,
orang yang paling tua di antara mereka. Lelaki berjenggot panjang putih dengan
hidung mancung dan bibir tipis itu adalah orang yang dianggap sesepuh di
kadipaten setelah Ki Balacatra. Lelaki tua berbaju sederhana warna hijau ini
tidak lain guru besar di Perguruan Tambak Segara.
"Ya. Kemunculannya
yang tiba-tiba membuat orang kewalahan menghadapinya. Senjatanya mengingat- kan
kita pada tokoh yang pernah membuat kerusuhan di kadipaten ini. Tentu Ki
Balamprang, Ki Lurah Banjilan, Ki Sangkutra masih ingat siapa tokoh
bersenjatakan bunga kenanga, bukan?" tanya Ki Balacatra, mengejutkan
semuanya termasuk Adipati Sumagatri.
"Maksudmu, Dewi
Pedang Beracun?" tanya Adipati Sumagatri. "Benar." "Dari
mana kau tahu, Ki?" tanya Ki Balamprang. "Ya. Dari mana kau bisa
menyimpulkan hal itu?" sambut Ki Lurah Banjil.
"Aku telah
memperhatikan dengan seksama korban-korban tokoh itu. Bunga mawar merah itu
ternyata bunga iblis yang bisa hidup jika menancap di tubuh korbannya,"
ujar Ki Balacatra menjelaskan.
"Aha. Apa yang kau
katakan benar, Ki," tiba-tiba Pendekar Gila yang sejak tadi hanya
tersenyum- senyum dan menggaruk-garuk kepala kini ikut bicara.
"Apakah kau juga
tahu, Pendekar Gila?" tanya Adipati Sumagatri.
Sena sesaat
menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum-senyum.
"Ya! Dua orang
prajurit kadipaten yang kemarin malam bersamaku diserang oleh Mawar Maut. Mawar
itu aneh sekali. Bisa tumbuh di tubuh orang. Jika dicabut, mawar itu akan
layu," tutur Sena.
"Hm... Pantas
keduanya belum kembali sampai saat ini," gumam Adipati Sumagatri sambil
meng- angguk-angguk. Wajahnya kelihatan agak murung.
"Itulah, Kanjeng
Adipati," ujar Sena. "Ke manakah kau waktu itu, Pendekar Gila?"
tanya Ki Balacatra. Penasihat kadipatan itu ingin tahu mengapa dua prajurit itu
sampai terbunuh Mawar Maut. Padahal, pendekar muda itu bukan orang sembarangan.
Tidak mungkin menjaga dua orang prajurit saja tidak sanggup. Setelah
menggaruk-garuk kepala, Sena mencerita- kan apa yang terjadi kemarin malam.
"Begitulah
ceritanya," kata Sena tanpa mencerita- kan bagaimana dia terperosok ke
dalam lubang yang berisi dua ekor ular besar berwama hitam.
Semua yang mendengar
mengangguk-angguk. Mereka yakin dan percaya dengan cerita Pendekar Gila. Meski
sebelumnya mereka belum pernah bertemu dengan pendekar muda itu, namun tokoh
yang dikenal arif dan bijaksana itu tak akan mungkin berkata bohong.
"Kalau begitu,
orang yang bersenjatakan mawar maut itu memang bukan orang sembarangan.
Mungkinkah Dewi Pedang Beracun hidup kembali?" tanya Ki Balamprang
setengah bergumam.
"Mungkin
juga," sahut Nyi Gendis Awit.
"Ah. Bagaimana
kita bisa membuktikannya? Bukankah kita telah membunuhnya? Bahkan, kuburnya pun
kita yang membuatkan. Bukan begitu, Ki Mandra?" tanya Ki Sangkutra. Lelaki
ini paling muda di antara pendekar Kadipaten Pamakasan. Berhidung mancung
dengan kumis tipis menghias di atas bibir. Matanya sedang dan alis matanya
tidak terlalu tebal. Bertubuh tinggi dengan otot-totot kekar. Pakaian yang
dikenakannya hijau tua.
"Benar! Kami
berlima, aku, Ki Sangkutra, Ki Anggada, Ki Balamprang dan Kanjeng Adipati
menyaksikannya. Rasanya, mustahil orang yang sudah mati hidup kembali,"
bantah Ki Mandra Dupa, seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun.
Wajahnya kelihatan agak kasar, dihiasi cambang bauk lebat. Matanya lebar
memandang garang. Hidungnya tidak begitu mancung. Berdagu panjang hingga
wajahnya seperti wajah ular. Pakaiannya berwarna coklat muda.
Adipati Sumagatri
mengangguk-angguk membenar- kan. "Benar, apa yang dikatakan Ki Mandra Dupa
dan Ki Sangkutra. Sepuluh tahun lalu, kamilah yang menguburkan Dewi Pedang
beracun beserta pedangnya," sambung Adipati Sumagatri memperkuat kata-kata
Ki Sangkutra dan Ki Mandra Dupa.
"Hm....!"
Mendengar penuturan tokoh-tokoh yang terlibat dalam pembunuhan Dewi Pedang
Beracun, Pendekar Gila mengangguk-angguk dan bergumam tak jelas.
"Tapi, cara orang
itu membunuh hampir sama dengan Dewi Pedang Beracun," tutur Ki Balamprang.
"Apakah benar orang itu Dewi Pedang Beracun yang sepuluh tahun silam kita
bunuh?"
Semua terdiam. Larut
dalam pikiran masing- masing. Mereka sungguh tak mengerti, mengapa kejadian
puluhan tahun silam kembali terulang. Kalau benar Dewi Pedang Beracun yang
melakukannya, sudah pasti itu arwahnya. Arwah penasaran Dewi Pedang Beracun.
Mengerikan sekali jika benar arwah Dewi Pedang Beracun muncul dan bermaksud
menuntut balas. Sulit untuk menanggulanginya.
"Kisanak. Kalau
boleh aku tahu, bisakah Kisanak menceritakan kejadian sepuluh tahun silam
itu?" tanya Sena.
"Dengan senang
hati," jawab Ki Balamprang. Kemudian Ki Balamprang menceritakan semua
kejadian yang menyangkut Dewi Pedang Beracun.
Sepuluh tahun silam,
Kadipaten Pamakasan yang dipimpin Adipati Kerto Amabrang dihebohkan oleh
seorang tokoh wanita sesat berpakaian serba hijau dengan senjata bunga kenanga.
Wanita cantik itu memiliki sebatang pedang perak yang mengeluarkan racun ganas.
Hingga wanita itu berjuluk Dewi Pedang Beracun.
Kemunculannya hanya
ingin mengumbar nafsu belaka. Membalas dendam dengan membunuh para pendekar dan
merongrong Kanjeng Adipati.
Setelah diselidiki,
akhirnya diketahui kalau Dewi Pedang Beracun anak sepasang suami istri yang
telah dibunuh para pendekar Kadipaten Pamakasan atas perintah Kanjeng Adipati
Pamakasan. Sedangkan guru Dewi Pedang Beracun adalah Dewi Kandri.
Melihat keadaan cukup
genting, Adipati Kerto Amabrang mengundang lima pendekar yang ada di wilayah
itu, yaitu, Ki Balamprang, Ki Sangkutra, Ki Anggada, Ki Mandra Dupa dan
pendekar muda yang kini menjadi adipati. Dengan kerjasama yang kuat
akhirnya mereka mampu
mengalahkan Dewi Pedang Beracun dan menguburkannya di atas Bukit Lawa Ireng.
"Begitulah
ceritanya. Maka jika Dewi Pedang Beracun benar-benar hidup kembali, rasanya
mustahil. Mungkinkah arwahnya? Hingga gerakannya melebihi Dewi Pedang Beracun yang
sebenarnya?" tanya Ki Balamprang, mengakhiri ceritanya.
Pendekar Gila
menggaruk-garuk kepala. Dia pun merasa heran setelah mendengar cerita Ki
Balamprang. Ingatannya segera melayang pada kejadian kemarin, saat dia
terperosok ke dalam lubang. Sena sempat melihat sesosok bayangan berkelebat.
Kakinya menginjak tanah.
"Kurasa bukan
arwah Dewi Pedang Beracun," kata Sena pasti.
"Dari mana kau
tahu?" tanya Ki Balamprang. "Ya. Bagaimana kau tahu, Pendekar
Gila?" sambut Adipati Sumagatri.
"Aha. Mudah saja.
Kurasa ada orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saat semua lalai
oleh keadaan, dia muncul dengan gerak- gerik yang sama persis dengan Dewi
Pedang Beracun. Sayang, dia lupa akan senjata rahasia Dewi Pedang
Beracun," tutur Sena membuat semuanya ter- cengang. Mereka tak mengira
kalau Pendekar Gila mampu rnenarik kesimpulan dari cerita yang baru saja
didengarnya.
"Kami belum
mengerti, Pendekar Gila. Kalau berkenan, berilah penjelasan yang
sempurna," pinta Ki Balacatra.
"Sebenarnya mudah
sekali jika Kisanak sekalian mau memperhatikan dengan seksama. Pertama, Dewi
Pedang Beracun membunuh orang dengan
bunga kenanga yang
menancap di kening korban, seperti yang diceritakan Ki Balamprang. Tapi orang
ini membunuh dengan bunga mawar merah yang bisa hidup pada tubuh korban. Mawar
itu tumbuh bagai ditanam. Kedua, pakaian yang dikenakan mereka. Dan ketiga,
cara membunuh korban dengan pedang. Mungkin pedangnya sama, tapi cara
menggunakan jurusnya agak berbeda."
"Maksudmu,
Pendekar Gila...?!" tanya Adipati Sumagatri.
"Tidakkah Kanjeng
Adipati mendengar berita kematian Ki Anggada? Dia mati dengan leher tertebas.
Kepalanya menggelinding. Padahal menurut cerita Ki Balamprang, Dewi Pedang
Beracun hanya cukup menggoreskan pedangnya di dada lawan dengan cara menyilang...,"
tutur Sena menjelaskan.
Semua pendekar yang ada
di tempat itu semakin kagum pada Pendekar Gila. Mereka tidak pernah menyangka
kalau pendekar muda itu sanggup menarik kesimpulan dari peristiwa yang penuh
misteri.
"Hm.... Benar
juga. Kini kita tidak lagi dihadapkan pada keanehan dan dugaan sesat,"
kata Ki Balacatra. "Sekarang tinggal bagaimana kita menangkap pelaku
itu."
"Ada yang lebih
penting, Ki," selak Sena. "Apakah itu, Pendekar Gila?" tanya Ki
Balacatra. "Membuktikan ke kuburan Dewi Pedang Beracun." "Hm....
Benar!" sambut Ki Sangkutra. "Ya. Kita harus membuktikan apakah Dewi
Pedang Beracun masih terkubur di sana," sambung Ki Mandra Dupa.
"Bagaimana jika
kita segera ke sana?" ajak Adipati Sumagatri.
"Kurasa tidak
perlu semua. Biar aku dan Ki Balamprang saja," kata Sena. "Bagaimana,
Ki?"
"Aku setuju."
"Baiklah, kita segera ke sana," ajak Sena. Kemudian, keduanya segera
bangun dari kursi. Setelah menjura hormat, mereka bergegas meninggalkan tempat
itu untuk menyelidiki Dewi Pedang Beracun yang berada di Bukit Lawang Ireng.
***
Ki Balamprang yang
merupakan tokoh tua dunia persilatan, harus mengakui kehebatan ilmu lari
Pendekar Gila yang usianya jauh di bawahnya. tidak jarang dirinya tertinggal,
tak sanggup mengejar Pendekar Gila yang melesat melebih angin. Tubuhnya
terlihat bagai terbang.
Ilmu lari apakah yang
digunakannya? Tanya Ki Balamprang dalam hati. Sungguh bukan omong kosong nama
Pendekar Gila. Baru ilmu larinya saja aku sudah jauh tertinggal. Apalagi ilmu
silat dan ilmu kesaktiannya?
Pendekar Gila
menghentikan larinya, setelah sadar Ki Balamprang tertinggal jauh di belakang.
Tangannya menggaruk-garuk kepala. Sedangkan mulutnya cengar-cengir.
"Ah. Kurasa kau
mengujiku, Ki," kata Sena. "Tidak, Pendekar Gila. Sungguh baru
sekarang aku tahu kalau rimba persilatan telah banyak mengalami kemajuan. Salah
satunya kau. Sulit pendekar tua sepertiku dapat menandingimu. Kau sendiri pun
sulit dicari tandingannya," kata Ki Balamprang kagum.
"Jangan terlalu
merendah, Ki. Kau lebih ber- pengalaman dibanding aku," ujar Sena seraya
menggaruk-garuk kepala.
Ki Balamprang tersenyum
senang dengan tutur kata dan tindak tanduk Pendekar Gila. Meski tingkah lakunya
persis orang gila, tapi cukup bijaksana dalam mengambil keputusan.
"Apa masih jauh,
Ki?" tanya Sena sambil me- mandang lurus ke depan. Tangan kirinya bertolak
pinggang, sedangkan tangan kanan menggaruk-garuk kepala. Mulutnya meringis,
mirip seekor kera kepanasan.
"Sebentar lagi
kita sampai, Pendekar Gila." "Panggil saja Sena, Ki," tukas
Sena. "Baiklah, Sena. Kuburan Dewi Pedang Beracun sekitar dua mil lagi
dari sini."
"Hm.... Agak
dekat. Mari kubantu, Ki. Peganglah tangan kiriku. Kita harus segera sampai di
tempat tujuan sebelum matahari terbenam."
Ki Balamprang menurut.
Dipegangnya tangan kiri Pendekar Gila.
"Siap, Ki?"
"Ya." "Berpeganglah kuat-kuat. 'Sapta Bayu'. Yeaaa...!"
Wusss! Pendekar Gila kembali melesat laksana terbang, hingga Ki Balamprang
melotot ngeri merasakan tubuhnya melayang di udara. Sungguh dahsyat ilmu lari
pendekar muda ini. Gumam Ki Balamprang dalam hati. Dalam sekejap mereka tiba di
tempat tujuan.
"Seperti mimpi
rasanya," gumam Ki Balamprang. "Tubuhku laksana terbang. Huh. Aku
hampir ketakutan."
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala, matanya memandang ke atas bukit, di mana tampak dua buah batu nisan.
"Itukah
kuburannya, Ki?" "Hm...," gumam Sena. "Kita harus segera ke
sana. Ayo, Ki...!"
Keduanya berlari-lari
mendaki bukit yang tidak begitu tinggi. Tak begitu lama, mereka pun sampai di
kuburan itu. Mata Ki Balamprang mengerut ketika melihat sebagian kuburan
terbongkar. Seakan mayat Dewi Pedang Beracun benar-benar bangkit dari kubur.
"Ada apa,
Ki?" tanya Sena heran. "Kau lihat, Sena. Kuburan ini terbongkar. Dewi
Pedang Beracun telah keluar dari kuburnya!" desis Ki Balamprang dengan
bulu kuduk meremang.
"Bangkit dari
kubur?!" tanya Sena dengan kening berkerut.
Ki Balamprang
mengangguk. "Ah! Mungkinkah itu, Ki?" "Entahlah. Kalau memang
benar sangat ber- bahaya," desah Ki Balamprang.
"Bagaimana kalau
kita buktikan saja, Ki?" "Maksudmu?" tanya Ki Balamprang tak
mengerti. "Sebentar lagi malam tiba. Bukankah mayat hidup selalu menunggu
malam tiba?"
Ki Balamprang
mengangguk-angguk. "Benar yang kau katakan, Sena. Baiklah, kita cari
tempat yang terlindung untuk mengawasinya."
"Di sana,"
kata Sena sambil menunjuk rimbunan semak belukar yang tidak begitu jauh.
"Kita ke sana, Ki." "Ayo," ajak Ki Balamprang. Keduanya
melesat ke semak-semak yang cukup melindungi tubuh mereka dari penglihatan
orang lain. Sementara, matahari terus bergulir ke barat. Sebentar lagi malam
akan tiba. Suasana di bukit itu terasa mencekam.
6
Malam yang
dinanti-nantikan datang dengan membawa angin dingin. Suasana di sekitar Bukit
Lawang Ireng tempat makam Dewi Pedang Beracun berada makin mencekam perasaan.
Suara-suara yang seperti datang dari alam kematian menyeruak bersama datangnya
kegelapan.
Pendekar Gila dan Ki
Balamprang mengintip dari balik semak. Mata mereka terpaku pada kuburan tua
tempat mayat Dewi Pedang Beracun bersama senjatanya tersimpan.
"Kurasa dugaanku
salah, Sena," desis Ki Balamprang mulai goyah pendiriannya, setelah
menunggu lama namun tidak juga muncul tanda- tanda kalau Dewi Pedang Beracun
hidup kembali.
"Sabarlah, Ki.
Kita tunggu sampai nanti malam," bisik Pendekar Gila pelan.
"Tapi, biasanya
arwah keluar jika hari menjelang gelap seperti ini. Saat matahari tenggelam
arwah akan muncul ke dunia," tutur Ki Balamprang.
"Hhh," Sena
menghela napas. Matanya masih menatap kuburan Dewi Pedang Beracun. Memang tak
ada tanda-tanda kalau mayat Dewi Pedang Beracun akan muncul ke dunia. Padahal
hari sudah mulai gelap.
Krak! Tiba-tiba
terdengar suara berderak keras dari arah kuburan. Mata Sena dan Ki Balamprang
langsung memandang tajam ke arah kuburan dengan penuh kengerian dan tegang.
Krak! Suara itu kembali
terdengar. Bersamaan dengan itu, sebuah bayangan yang diselimuti kabut putih
melesat ke atas.
"Lihat, Ki.
Rupanya, arwah Dewi Pedang Beracun benar-benar muncul," desis Sena.
Matanya memandang tegang bayangan yang diselimuti kabut, yang masih
bergulung-gulung di angkasa.
"Ya! Mungkinkah
dia yang melakukan pem- bunuhan itu?" gumam Ki Balamprang ragu.
"Kita lihat saja,
Ki." Bayangan hijau bunga kenanga itu terus bergulung, lalu melesat
bersama angin ke arah Kadipaten Pamakasan.
"Hei! Dia menuju
kadipaten. Celaka...!" pekik Ki Balamprang semakin tegang.
"Kita harus
mengikutinya, Ki," kata Sena. "Mengikutinya?" tanya Ki
Balamprang dengan pandangan mata penuh ketegangan. Bergidik bulu kuduknya
mendengar kata-kata Pendekar Gila. Bagaimana mungkin mereka mengikutinya? Kalau
benar arwah Dewi Pedang Beracun yang membunuh, tentu sulit bagi mereka untuk menghalangi.
"Kenapa, Ki?
Nampaknya kau ragu," ujar Sena. "Sena, bagaimana mungkin kita
menghadapi arwah? Dia tidak dapat dibunuh."
Sena menggaruk-garuk
kepala. "Aku akan berusaha, Ki. Semoga Suling Naga Sakti dapat
membantuku," kata Sena berusaha menenang- kan hati Ki Balamprang yang
kelihatan sangat gelisah.
"Suling Naga
Sakti?!" Ki Balamprang nampak terkejut mendengar Suling Naga Sakti disebut
Pendekar Gila. Matanya melotot, memandang tajam ke arah Sena yang masih
tersenyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala.
"Benar, Ki."
"Oh! Senjata sakti itu ada padamu, Sena?" tanya Ki Balamprang belum
yakin.
"Ya. Kenapa,
Ki?" "Ck ck ck.... Sungguh kau bukan pendekar sembarangan, Sena.
Dengan Suling Naga Sakti di tanganmu, sulit bagi tokoh persilatan
menandingimu," decak kagum keluar dari mulut Ki Balamprang. Matanya
semakin tajam memandang Pendekar Gila.
"Ah. Sudahlah, Ki.
Kita tidak bisa tinggal diam di sini. Kita harus segera ke kadipaten,"
ajak Sena. "Peganglah tangan kiriku."
Ki Balamprang menurut.
Dipegangnya dengan kuat tangan kiri Pendekar Gila.
"Sudah siap,
Ki?" tanya Sena. "Sudah." "'Sapta Bayu'. Heaaa...!"
Dalam sekejap, tubuh Pendekar Gila serta Ki Balamprang melesat cepat
meninggalkan bukit itu.
Mereka harus segera
sampai di kadipaten sebelum arwah Dewi Pedang Beracun tiba. Namun bayangan
arwah Dewi Pedang Beracun yang mereka ikuti, tiba-tiba menghilang dalam gelap.
Pendekar Gila tersentak dan menghentikan larinya.
"Hilang, Ki."
"Ya." "Hm.... Ke arah mana dia menghilang?" gumam Sena
sambil menyapukan pandangan ke sekeliling tempat itu. Begitu juga Ki
Balamprang.
"Hik hik
hik...!" Tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik yang menyeramkan. Hingga
bulu kuduk kedua orang itu meremang. Bersamaan dengan tawa itu, tiba-tiba...
Swing, swing...!
"Awas, Ki...!" seru Sena mengingatkan, ketika beberapa bunga mawar
merah melesat cepat ke arah mereka.
"Hop!
Heaaa...!" Ki Balamprang segera berputaran di udara mengelakkan serangan
yang datang cepat dan tiba- tiba. Begitu pun dengan Pendekar Gila. Kemudian
keduanya mencabut senjata masing-masing. Dengan Suling Naga Sakti di tangannya,
Pendekar Gila bergerak membabat bunga-bunga mawar maut yang menderu-deru ke
arahnya.
"Yeaaa...!"
Wut! Pluk, pluk! Bunga-bunga mawar maut berguguran terkena sapuan Suling Naga
Sakti. Sementara Ki Balamprang dengan senjatanya yang berupa jala, tak mau
tinggal diam. Jala yang terbuat dari anyaman sari logam itu ditebarkan di
hadapannya.
Wret! Prak, prak!
Bunga-bunga mawar maut yang mengarah ke tubuhnya terbendung jala di tangan Ki
Balamprang. Kemudian dengan geram, Ki Balamprang segera mengangkat senjatanya.
Kemudian diputar-putar di udara, sebelum dihantamkan ke arah bunga-bunga mawar
merah.
Wut! Larikan sinar
merah yang keluar dari ujung jala menderu ke arah bunga-bunga mawar di
hadapannya.
Glarrr!
Ledakan dahsyat
terdengar menggelegar, ber- samaan dengan tumbangnya beberapa pohon yang
terkena hantaman ujung-ujung jala Ki Balamprang.
"Kita kejar,
Ki!" ajak Sena. Keduanya segera melesat ke arah hutan tempta
senjata-senjata rahasia berbentuk bunga mawar merah melesat menyerang. Tapi,
sesampainya di tempat itu, mereka tidak menemukan seorang pun.
"Hilang, Ki!"
"Hm.... Mungkin arwah Dewi Pedang Beracun, Sena. Kita harus
berhati-hati," gumam Ki Balamprang. Matanya memandang ke sekeliling tempat
itu yang gelap dan mencekam.
"Mungkinkan arwah
Dewi Pedang Beracun, Ki? Bukankah Dewi Pedang Beracun menggunakan bunga
kenanga?" tanya Sena masih belum percaya yang menyerang mereka Dewi Pedang
Beracun.
"Entahlah, Sena.
Tapi kalau memang bukan arwah, bagaimana mungkin bisa menghilang begitu
cepat?"
"Kita periksa
lagi, Ki. Siapa tahu masih ber- sembunyi di sekitar tempat ini," ajak
Sena.
"Aku setuju."
Belum juga keduanya memeriksa keadaan di sekitar tempat itu, kembali mereka
dikejutkan oleh suara tertawa mengikik yang mendirikan bulu kuduk.
"Hik hik
hik...!" "Itu dia, Ki!" kata Sena. "Benar. Suaranya seperti
kuntilanak, Sena." "Awas, Ki! Serangan...!" pekik Sena. Matanya
melihat beberapa tangkai bunga mawar melesat ke arah mereka.
"Heaaa!" Ki
Balamprang segera mencelat ke belakang, bersalto mengelakkan serangan
bunga-bunga mawar maut yang menderu cepat ke arahnya.
Swing, swing...!
"Heaaa...! Dengan melompat, Pendekar Gila dan Ki Balamprang segera
mengibaskan senjatanya untuk memapaki serangan bunga-bunga mawar.
Wut! Pluk, pluk..,!
Srat! Suara jaring Ki Balamprang terdengar menderu, menyambar ke arah
bunga-bunga mawar yang melaju. Seketika itu juga, bunga-bunga mawar itu jatuh
berguguran.
"Setan! Rupanya
dia ingin mempermainkan kita, Ki," ujar Sena menggerutu kesal. Kemudian
dengan masih bergerak, ditiupnya Suling Naga Sakti.
Suara suling itu
mengalun keras, melengking dahsyat. Seketika suasana di tempat itu laksana
dihantam prahara. Angin menderu-deru kencang merobohkan beberapa pohon.
Ledakan-ledakan dahsyat tak ubahnya halilintar, menggelegar memecah kesunyian
malam.
Jlegar!
"Aaakh!" Dari dalam Hutan Pranggas terdengar suara pekik kesakitan.
Sepertinya ada seseorang di dalam hutan. Pendekar Gila menghentikan tiupan
sulingnya.
"Ki, seperti ada
suara orang. Kita periksa," ajak Sena.
Keduanya berkelebat
meninggalkan tempat itu menerobos hutan. Tapi, kembali mereka tidak menemukan
seorang pun di hutan itu.
"Mungkinkah arwah
Dewi Pedang Beracun?" Desis Ki Balamprang dengan bulu kuduk meremang,
mendapatkan kenyataan yang ada.
"Hhh," Sena
mendesah. "Kalau benar itu arwah, dia akan musnah, Ki."
"Ya. Suling Naga
Sakti yang baru saja kutiup adalah suara 'Pelayung Sukma'. Apa pun bentuk
iblis, akan dapat dimusnahkan Suling Naga Sakti," jelas Pendekar Gila.
Ki Balamprang
mengangguk-angguk kagum. "Kita harus segera ke kadipaten, Ki. Firasatku
mengatakan terjadi sesuatu di sana."
"Ayo."
***
Malam menyelimuti
Kadipten Pamakasan dengan kegelapan yang mencekam. Suasana di sekeliling kadipaten
tempat para pendekar beristirahat, nampak sepi dan tenang. Sementara di pintu
gerbang empat orang prajurit tengah berjaga-jaga. Jumlah penjagaan ditambah
karena Adipati Sumagatri tidak ingin kecolongan untuk kedua kali. Terlebih di
situ menginap beberapa pendekar.
Malam kian larut dengan
cahaya bulan sabit. Suasana di sekitar kadipaten remang-remang ketika dari
kegelapan melesat beberapa tangkai bunga ke arah keempat prajurit jaga yang
tersentak kaget
Mata mereka membelalak.
Keempat penjaga itu berusaha mengelakkan serangan, namun bunga- bunga mawar
lebih cepat menghantam dada.
Jlep, jlep, jlep...!
"Aaa...!" Pekik kematian seketika terdengar, memecah kesunyian malam.
Cepat sekali gerakan penyerang gelap itu. Sampai-sampai para pendekar yang
sedang beristirahat dan Adipati Sumagatri tidak mendengarnya. Dari kegelapan,
berkelebat sesosok bayangan merah melesat masuk ke lingkungan kadipaten. Terus
menuju kamar sang Adipati. Perlahan-lahan bayangan merah itu membuka jendela
kamar Adipati Sumagatri dengan pedangnya yang putih keperakan. Kemudian dengan
sekali lompat, tubuhnya telah masuk ke dalam kamar.
"Hei, si..."
Belum habis ucapan Adipati Sumagatri, sesosok bayangan merah dengan cepat
menyerang ke arah- nya. Pedangnya yang putih keperakan, membuat Adipati
Sumagatri sulit melihat siapa wanita berpakaian serba merah itu. Namun pedang
di tangan wanita itu sangat dikenalnya. Pedang Perak itu tidak lain milik Dewi
Pedang Beracun.
"Terimalah
pembalasanku, Adipati Keparat! Yeaaat...!"
Pedang Perak di tangan
wanita itu bergerak cepat, menebas ke arah Adipati Sumagatri.
"Tidak mungkin!
Kau sudah mati!" pekik Adipati Sumagatri sambil berusaha mengelakkan
tebasan- tebasan pedang lawan. Meski bertubuh besar dan agak gendut, Adipati
Sumagatri mampu bergerak lincah.
Saat Adipati Sumagatri
terdesak, tiba-tiba pintu kamarnya didobrak orang. Nampak Ki Balacatra dan
beberapa anak buahnya menyerbu masuk.
"Tangkap pembunuh
itu!" seru Ki Balacatra pada anak buahnya.
Melihat orang-orang
kadipaten masuk, wanita itu segera melemparkan beberapa bunga mawar. Kemudian
melesat pergi melalui jendela dan meng- hilang di kegelapan malam.
Jlep, jlep!
"Aaa...!" Beberapa anak buah Ki Balacatra memekik dengan bunga mawar
menancap di dada. Tubuh mereka mengejang, lalu ambruk tanpa nyawa.
"Kejar
dia...!" perintah Ki Balacatra. "Jangan!" cegah Adipati
Sumagatri. Seketika semua menghentikan langkahnya. "Mengapa tidak dikejar,
Kanjeng?" tanya Ki Balacatra tak mengerti. "Bukankah jelas dia
orangnya?"
Adipati Sumagatri
menghela napas. "Percuma kalian mengejarnya. Jangankan kalian, para
pendekar yang ada di sini pun tidak akan mampu menghadapinya. Kita hanya bisa
berharap pada Pendekar Gila," gumam Adipati Sumagatri.
"Ya. Kurasa
Pendekar Gila yang mampu meng- hadapinya."
Bersamaan dengan
selesainya ucapan Adipati Sumagatri, orang yang dimaksud datang bersama Ki
Balamprang. Keduanya langsung masuk ke dalam kamar. Takut jika terjadi sesuatu
pada Adipati Sumagatri.
"Oh! Syukurlah,
Kanjeng Adipati selamat," kata Sena. "Kami sudah mengira di sini akan
terjadi kerusuhan lagi."
"Terima kasih.
Hampir saja nyawaku melayang di tangan Dewi Pedang Beracun," ujar Adipati
Sumagatri. "Jadi, benar dia Dewi Pedang Beracun?" tanya Ki Balamprang
dengan kening berkerut. "Dari mana Kanjeng Adipati tahu?"
"Dari pedangnya,
Ki." "Ah!" pekik Ki Balamprang. "Apa warna pakaian yang
dikenakannya, Kanjeng?"
"Merah,"
jawab Adipati Sumagatri tegas. "Ini benar-benar aneh. Kami baru saja
melihat kenyataan yang ada. Arwah Dewi Pedang Beracun muncul dari kuburnya
dengan pakaian hijau bunga kenanga," ujar Pendekar Gila seraya menggaruk-
garuk kepala.
Semua yang ada di situ
memperhatikan Pendekar Gila yang dibantu Ki Balamprang, menceritakan kejadian
yang dialaminya di Bukit Lawang Ireng.
"Begitulah
ceritanya. Kami juga. Kami juga heran mengapa senjata Dewi Pedang Beracun bunga
mawar? Bukan kenanga seperti yang digunakan tahun silam?" gumam Ki
Balamprang.
"Ya.
Misteri," sambut Adipati Sumagatri. "Ki ada sesuatu di balik semua
ini."
"Maksud Kanjeng
Adipati, ada orang yang memanfaatkan arwah Dewi Pedang Beracun untuk
maksud-maksud tertentu?" tanya Ki Balamprang.
"Tepat! Kita tak
mungkin mengalahkan arwah Dewi Pedang Beracun. Yang bisa kita lakukan hanya
menangkap orang yang telah memperalat Dewi Pedang Beracun," sahut Adipati
Sumagatri.
"Kalau begitu,
sebaiknya kita menyebar. Jika kita berkumpul di sini sangat berbahaya. Kita
harus waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi," saran Sena.
Hari itu juga diadakan
pertemuan untuk mem- bicarakan peristiwa itu. Hasilnya, para pendekar
ditugaskan untuk mencari siapa orang yang mem- peralat arwah Dewi Pedang
Beracun.
7
Siang yang panas
memanggang siapa saja yang berada di bawah teriknya. Demikian pula seorang
pemuda berbaju rompi kulit ular dengan rambut gondrong. Pemuda yang tidak lain
Sena Manggala itu terlihat meringis-ringis kepanasan. Tangannya meng-
garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Saat itu, Pendekar Gila
tengah melangkah menelusuri jalan Desa Wedara bumi. Sena berusaha mencari sebuah
kedai untuk mengisi perutnya yang kosong.
Tampak berdiri megah
sebuah kedai yang cukup besar. Para pengunjung yang kebanyakan kaum pendatang,
memenuhi kedai itu. Terlihat beberapa orang rimba persilatan. Pendekar Gila
melangkah masuk. Matanya seketika tertumpu pada seorang wanita berpakaian
lengan panjang putih dengan pedang tersandang di punggung. Tanpa sadar Sena
memanggil wanita yang duduk membelakanginya itu.
"Mei Lie?"
Wanita itu menengok dengan seulas senyum. Betapa terperangahnya Sena setelah
mengetahui siapa wanita itu. Ternyata bukan Mei Lie, melainkan Nyi Gendis Awit.
"Sena!" seru
Nyi Gendis Awit. "Kemarilah." Pendekar Gila nyengir. Kemudian
tangannya sambil menggaruk-garuk kepala didekatinya Nyi Gendis Awit.
"Aha. Kiranya kau,
Nyi. Mengapa bajumu ganti, Nyi? Aku sampai tidak mengenalimu lagi," ujar
Sena berseloroh sambil duduk di samping Nyi Gendis Awit
Nyi Gendis Awit kembali
tersenyum. "Bukankah kita tengah mencari si Mawar Maut?" tanya Nyi
Gendis Awit. "Ya," sahut Sena. "Itu sebabnya aku menyamar.
Jangankan si Mawar maut, kau saja tertipu oleh penyamaranku," kata Nyi
Gendis Awit bangga.
Pendekar Gila
mengangguk-angguk sambil meng- garuk-garuk kepala.
"Ya ya ya.... Kau
benar. Hm.... Apa kau sudah mendapat petunjuk, Nyi?" tanya Sena.
"Belum. Sulit juga
mencari jejak orang itu," gumam Nyi Gendis Awit.
"Ya. Memang susah.
Kita belum tahu seperti apa orang itu. Hingga kita sulit untuk mencari
jejaknya. Hhh... Kita harus sabar," desah Sena.
Pelayan kedai datang
menghampiri. "Pesan apa, Tuan?" tanyanya. "Nasi dan ikan bakar.
Kalau ada, lalap petainya sekalian," pinta Sena.
"Air putih,"
sahut Sena. Pelayan kedai itu segera pergi. Tidak lama kemudian, dia sudah
kembali dengan membawa pesanan Pendekar Gila. Setelah menaruhnya, pelayan kedai
pun berlalu dari meja Pendekar Gila dan Nyi Gendis Awit.
Pendekar Gila segera
menyantap makanannya. Sesekali dia berbincang-bincang dengan Nyi Gendis Awit.
"Kau hendak ke
mana?" tanya Nyi Gendis Awit. "Entahlah. Aku tak tahu arah mana yang
harus kutuju," jawab Sena.
"Bagaimana kalau
kita sejalan?" Pendekar Gila terdiam. Tangan kirinya menggaruk-
garuk kepala.
"Wah! Kalau aku
sedang santai, ingin rasanya aku berjalan denganmu, Nyi. Di samping bisa
menikmati wajahmu yang cantik, aku juga bisa mempelajari beberapa ilmu
darimu," jawab Sena. "Sayang, saat ini kita tengah menjalankan tugas.
Ah. Bagaimana kalau lain waktu saja?"
Nyi Gendis Awit
cemberut mendengar kata-kata Pendekar Gila. Rupanya, hatinya merasa tidak
senang. Tatapan bola matanya seperti menyimpan suatu harapan.
Selesai menyantap
makanannya, mereka me- ninggalkan kedai dengan arah berlainan. Nyi Gendis Awit
ke arah barat, sedangkan Pendekar Gila ke arah timur.
***
Malam kembali
menyelimuti bumi dengan kegelapan yang mencekam. Angin malam yang berhembus
disertai embun, menambah rasa dingin hingga menusuk tulang sumsum.
Sesosok bayangan merah
yang di punggungnya tersandang sebilah pedang, berkelebat cepat menuju bangunan
Perguruan Tambak Segara. Perguruan yang dipimpin Ki Balamprang itu terletak di
pesisir Desa Wedara Bumi.
Bayangan merah itu
mengendap-endap, dan bersembunyi di balik kerimbunan pohon. Kepalanya menengok
ke kanan dan kiri, memperhatikan sekelilingnya. Setelah merasa aman, bayangan
merah itu melompat ke atas cabang pohon.
"Hup!" Nampak
di dalam lingkungan Perguruan Tambak
Segara beberapa orang
murid tengah melakukan penjagaan. Rupanya, Ki Balamprang telah waspada sehingga
melakukan penjagaan ketat. Dia tidak ingin kecolongan seperti yang dialami Ki
Anggada.
"Hm...."
Bayangan merah itu menggumam tak jelas. Tangannya mengambil sesuatu dari balik
bajunya yang longgar. Kemudian, dilemparkannya bunga- bunga mawar merah ke arah
sepuluh orang murid Ki Balamprang.
Swing, swing!
"Awas serangan...!" terdengar seruan seorang murid Perguruan Tambak
Segara.
Dengan cepat mereka
berpencar dan berusaha mengelakkan serangan gelap itu. Rupanya, laju
bunga-bunga mawar merah itu lebih cepat dari gerakan mereka. Kesepuluh
murid-murid Perguruan Tambak Segara tak mampu menghindar dari bunga- bunga
mawar maut itu.
Jlep, jlep...!
"Aaakh...!" "Aaa...!" Pekik kematian terdengar susul-menyusul.
Diikuti mengejangnya sepuluh murid Perguruan Tambak Segara. Satu persatu mereka
bertumbangan dengan nyawa melayang.
Mendengar keributan di
luar, murid-murid Perguruan Tambak Segara yang lain menghambur keluar. Tapi,
kedatangan mereka disambut oleh serangan gelap bunga-bunga mawar. "Mawar
Maut datang! Awas...!" Swing, swing...! Puluhan mawar merah menderu
kencang ke arah mereka. Murid-murid Perguruan Tambak Segara terpana. Dengan
menjerit keras untuk mengundang yang lainnya, mereka berusaha mengelakkan
serangan Mawar maut.
"Mengelak!
Cepat...!" terdengar suara Ki Balamprang berseru mengingatkan
murid-muridnya. Namun terlambat! Bunga-bunga mawar merah itu begitu cepat
melesat. Maka....
Jlep, jlep...!
"Aaa...!" "Wuaaa...!" Pekikan kematian kembali terdengar
susul- menyusul. Diikuti berjatuhannya tubuh-tubuh korban bunga-bunga mawar
itu.
"Kurang ajar!
Keluar kau! Siapa pun dirimu, aku tak takut!" bentak Ki Balamprang marah,
melihat murid-muridnya banyak yang tewas.
"Hik hik
hik...!" Tiba-tiba terdengar tawa mengikik seperti kuntilanak. Bulu kuduk
Ki Balamprang berdiri. Matanya memandang ke sekeliling tempat itu, namun tidak
terlihat siapa-siapa di situ. Suara tawa itu seakan berada di sekelilingnya.
Hingga Ki Balamprang sulit mencari asalnya.
"Hik hik
hik...!" Ki Balamprang berusaha menekan rasa takut yang mendera jiwanya.
Segera senjatanya yang berupa jala dikeluarkan, dan langsung diputar-putar di
atas kepala. Sambil mendengus dengan penuh kemarahan, jala maut itu dihantamkan
ke arah pepohonan yang ada di sekitarnya.
Wut! Brak! Seketika
suasana menjadi terang oleh sinar merah yang keluar dari ujung-ujung jala.
Pepohonan banyak yang roboh terhantam ujung-ujung jala.
"Perempuan setan!
Keluar kau...!" bentak Ki Balamprang melihat perempuan yang disangkanya
arwah Dewi Pedang Beracun tak muncul juga. Matanya memandang ke sekeliling
dengan tegang.
Tak ada sahutan.
"Dewi Pedang Beracun, keluarlah!" Kembali Ki Balamprang membentak
keras. Senjatanya yang berupa jala diputar-putar di atas kepala siap menyerang
lawan jika sewaktu-waktu muncul.
"Aku di sini,
Balamprang!" Ki Balamprang tersentak ketika dari belakang terdengar suara
wanita menyapanya. Ketika berbalik matanya seketika membelalak. Wanita yang
sekujur tubuhnya tertutup kain merah telah berada di belakangnya.
"Bagus! Rupanya
kau orangnya! Hiaaat...! " Ki Balamprang yang telah mengetahui kehebatan
ilmu lawan, tak mau membuang-buang waktu lagi. Diserangnya wanita itu dengan
jala saktinya. Jurus yang digunakannya bernama 'Rapat Pukat Samudera'
Wut! Brat!
"Uts!" Wanita berpakaian serba merah itu berkelit dengan ringan.
Pedangnya yang memancarkan sinar putih keperakan segera dicabut. Melihat hal
itu, Ki Balamprang tersentak kaget.
"Pedang Perak!
Kau...! Kau benar Dewi Pedang Beracun??"
"Siapa aku, itu
tak penting. Kini terimalah kematianmu! Hiaaa...!"
Wanita berpakaian serba
merah itu dengan cepat menyerang. Pedangnya dibabatkan ke tubuh lawan. Serangan
kini mengarah ke dada lawan dengan jurus 'Belah Wanggala dan Neraka'.
Wut! Asap putih bergulung-gulung
keluar dari pedang di tangan wanita itu. Bersamaan dengan laju pedang yang
membabat dan menusuk ke arah dada lawan, wanita itu sesekali melemparkan
bunga-bunga mawar arah Ki Balamprang.
"Ups!
Celaka...!" pekik Ki Balamprang. Ketua Perguruan Tambak Segara itu semakin
kewalahan menghadapi serangan lawan. Terlebih asap beracun yang keluar dari
pedang lawan mampu membuat dadanya sesak. Ki Balamprang segera menutup jalan
darahnya. Lalu dengan menahan napas, kembali menyerang lawan. Jala di tangannya
menderu-deru dan mencecar lawan dengan jurus 'Sapu Jala Samudera'.
"Hiaaa...!"
"Ups! Yiaaat...!" Wanita misterius itu dengan mudah mengelakkan
setiap serangan Ki Balamprang. Bahkan, menambah gencar serangannya. Gerakan
pedangnya sangat cepat, membabat dan menusuk ke dada lawan. Ditambah lagi
serangan-serangan mawar mautnya.
Meski Ki Balamprang
menyadari kalau lawannya berada satu tingkat di atasnya, namun sebagai seorang
pendekar yang telah banyak makan asam garam, dia tak menjadi gentar. Dengan
gagah berani, diladeninya serangan-serangan lawan dengan sabetan dan lemparan
jala saktinya.
"Hiaaa...!"
Wut! Pertarungan seru terjadi. Dengan senjata pusakanya, masing-masing berusaha
membinasakan
lawan. Tak ada
kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Yang ada hanya bagaimana caranya mem-
binasakan lawan.
Ki Balamprang yang
terdesak hebat, terus ber- usaha menyerang balik. Jala saktinya menderu-deru
keras, menyerang lawan.
Wut! "Kena!"
seru Ki Balamprang ketika ujung jala saktinya berhasil mengenai kain penutup
wajah wanita misterius itu.
Bret! Kini nampaklah
siapa sebenarnya wanita itu. "Kau...?!" Belum sempat Ki Balamprang
menyelesaikan ucapannya, wanita berbaju serba merah itu telah membabatkan
pedangnya ke leher Ki Balamprang.
Cras! Kepala Ki
Balamprang terpenggal dan meng- gelinding ke tanah. Sesaat tubuhnya mengejang
sebelum jatuh ke tanah dengan nyawa melayang. Wanita baju serba merah melesat
meninggalkan Perguruan Tambak Segara, menghilang di kegelapan malam.
***
Tidak berapa lama
kemudian, nampak seorang pemuda berbaju rompi kulit ular berlari-lari menuju
Perguruan Tambak Segara. Pemuda yang tak lain Sena itu melesat masuk ke dalam.
Seketika langkahnya dihentikan, dan matanya membelalak menyaksikan mayat-mayat
yang bergelimpangan. Salah satu mayat kepalanya terpenggal. Mayat Ki
Balamprang!
"Oh, Jagat Dewa
Batara! Rupanya aku terlambat. Mawar Maut telah datang ke tempat ini,"
gumam Sena dengan air muka sedih, menyaksikan mayat- mayat berserakan di
sana-sini. Semua mati dengan dada ditembus bunga mawar merah.
Kresek! Tengah Pendekar
Gila memeriksa mayat-mayat itu, tiba-tiba telinganya menangkap suara gemeresek
daun kering terinjak.
"Siapa itu?!"
Dengan sekali lompat, Pendekar Gila memburu ke arah suara itu. Sesosok bayangan
berkelebat pergi meninggalkan tempat itu. Pendekar Gila semakin penasaran.
Dengan mengerahkan ilmu lari 'Sapta Bayu' Pendekar Gila memburu orang itu.
"Hei,
berhenti!" bentak Sena. Tubuhnya melesat dan mendarat di depan lelaki
berpakaian rompi biru yang menggigil ketakutan.
"Ampun, Tuan.
Jangan bunuh saya," ratap lelaki muda yang pakaiannya sama dengan pakaian
yang dikenakan murid-murid Perguruan Tambak Segara.
Pendekar Gila
mengerutkan kening, memandangi laki-laki itu dengan seksama.
"Kau pasti murid
Perguruan Tambak Segara. Mengapa lari?" tanya Sena. "Aku adalah
sahabat gurumu, Ki Balamprang."
"Ampun, Tuan. Saya
takut. Saya kira, Tuanlah yang telah membunuh teman-teman dan guru saya."
"Hm.... Ke mana
kau waktu kejadian itu?" tanya Sena ingin tahu.
"Saya tidur di
belakang, Tuan," jawab lelaki muda itu masih dengan wajah ketakutan.
Pendekar Gila
mengangguk-angguk. Kini dia tahu mengapa orang ini bisa selamat. Tentu Dewi
Pedang Beracun hanya menginginkan Ki Balamprang saja. Namun karena
murid-muridnya menghadang, Dewi Pedang Beracun membunuh mereka. Buktinya orang
ini masih hidup.
"Bersyukurlah pada
Hyang Widhi, karena umurmu masih dipanjangkan. Siapa namamu, Kisanak?"
tanya Sena.
"Saloka,
Tuan." "Saloka, kuharap kau mau kembali ke pergurun. Ajaklah beberapa
penduduk untuk membantumu menguburkan mayat guru dan saudara seperguruan-
mu...," tutur Sena.
"Tapi,
Tuan...," wajah Saloka nampak tegang. Matanya menggambarkan ketakutan.
"Ada apa? Kau
takut...?" "Benar, Tuan." Sena tersenyum sambil menggaruk-garuk
kepala. "Tak ada yang harus ditakuti. Dewi Pedang Beracun hanya mencari
gurumu. Kalau Ki Balamprang telah meninggal, dia tidak akan mencarimu. Kau tidak
ada sangkut-pautnya dengan Dewi Pedang Beracun.
"Benarkah,
Tuan?" tanya Saloka, belum percaya. "Ya! Kuharap begitu," jawab
Sena. "Oh, ya. Tahukah kau, arah mana Dewi Pedang Beracun pergi?"
"Ke arah timur,
Tuan." "Timur?!" membelalak mata Sena mendengar jawaban Saloka.
"Benar, Tuan."
"Celaka! Aku harus segera ke sana. Tentu dia menuju Kadipaten Pamakasan.
Pulanglah segera ke perguruan."
Dengan cepat Pendekar
Gila melesat meninggal-
kan Saloka. Sementara,
murid Perguruan Tambak Segara yang luput dari kematian itu hanya terpana menyaksikan
ilmu lari cepat Pendekar Gila.
8
Rumah Ki Lurah Banjilan
nampak sepi. Di halaman rumah berukuran besar itu terlihat dua orang penjaga.
Seperti para pendekar lainnya, Ki Lurah Banjilan pun memperketat penjagaannya.
Takut Dewi Pedang Beracun akan datang menyatroni. Sementara, udara malam saat
itu terasa dingin, menambah suasana kian mencekam.
"Hiiiy.... Dingin
sekali malam ini," keluh salal seorang penjaga bertubuh tinggi kurus yang
bemai Barjo.
"lya! Merinding
bulu kudukku," sahut penjaga lainnya yang bernama Gandra. Tubuh lelaki ini
pendek dan kekar. Dengan kumis tipis menghiasi atas bibirnya.
"Hik hik
hik...!" Baru saja keduanya selesai bicara, tiba-tiba ter- dengar suara
tawa mengikik yang membuat bulu kuduk mereka tambah meremang.
"Kun...
kuntilanak! To... tolooong...!" Barjo dan Gandra berseru ketakutan dan
berusaha lari dari tempat itu. Namun belum jauh berlari, dari kegelapan melesat
dua buah benda ke arah mereka. Benda itu menyebarkan bau wangi bunga mawar!
"Mawar Maut...!
Oh! To...." Belum habis keduanya berkata, mawar-mawar maut telah
menghantam mereka. Bunga beracun berwarna merah itu menembus dada keduanya.
Sesaat penjaga-penjaga itu meregang, lalu ambruk tanpa nyawa.
Jeritan Barjo dan
Gandra rupanya membangunkan Ki Lurah Banjilan. Dengan membawa senjatanya yang
berupa golok besar, lelaki bertubuh kekar berotot ini melesat keluar. Tapi baru
saja kakinya sampai di halaman, beberapa kuntum bunga tiba-tiba melesat ke
arahnya.
Swing, swing...!
"Uts!" Ki Lurah Banjilan segera mengelak. Tubuhnya melenting ke atas,
dan berputaran dengan cepat ke samping kanan. Tangannya yang memegang golok,
digerakkan menebas bunga-bunga mawar merah yang terus menderu ke arahnya.
"Yiaaat...!"
Wut! Bunga-bunga mawar itu rontok satu persatu. Berguguran ke tanah dengan
menyebarkan bau wangi menyengat.
"Dewi Pedang
Beracun, keluarlah! Aku telah tahu siapa kau sebenarnya. Meski kau sesosok
arwah, aku tak gentar menghadapimu!" bentak Ki Lurah Banjilan geram.
Matanya menyapu ke sekeliling halaman rumahnya yang ditumbuhi pohon-pohon
bambu.
"Hik hik
hik...!" Terdengar suara tawa mengikik yang mampu mendirikan bulu kuduk.
Mata Ki Lurah Banjilan kian membelalak tegang. Suara tawa itu seperti berada di
sekelilingnya.
"Iblis!
Keluarlah!" "Aku di sini, Bajil!" Ki Lurah Banjilan berbalik,
ketika dari belakangnya terdengar suara orang. Saat itu juga, pedang bersinar
putih keperakan menebas ke arah leher Lurah Banjilan, yang tersentak kaget
melihat wajah wanita
itu.
"Kau...?!" Cras! Seketika, kepala Ki Lurah Banjilan terlepas dari
batang lehernya. Sesaat tubuhnya menggelepar- gelepar, lalu ambruk tanpa nyawa.
Wanita misterius itu
memasukkan pedangnya. Lalu dengan cepat berkelebat meninggalkan tempat itu. Istri
Ki Lurah Banjilan yang mendengar jeritan suaminya, seketika melompat keluar
ingin tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya wanita berusia sekitar lima
puluh tahun itu. Suaminya telah tewas dengan kepala lepas dari lehernya.
"Kangmas...!"
Malam yang sunyi dan mencekam, pecah oleh suara tangis istri Ki Lurah Banjilan.
Suara raungan tangis istri lurah itu membangunkan warga desa.
Berbondong-bondong mereka menuju rumah yang besar itu. Warga desa kontan gempar
melihat lurahnya tewas dengan kepala terpenggal.
"Tabuh
kentongan!" perintah tangan kanan Ki Lurah Banjilan.
Suara kentongan yang
menandakan telah terjadi bencana, terdengar susul-menyusul. Warga desa semakin
banyak berdatangan dengan membawa obor.
"Kita harus
mengejar pelakunya! Ayo ikut aku...!" ajak tangan kanan Ki Lurah Banjilan.
Para lelaki segera
mengikuti tangan kanan lurah itu untuk mencari pembunuh lurah mereka. Saat
itulah mereka melihat sesosok bayangan berkelebat ke arah mereka. Langsung saja
warga desa yang sedang dalam keadaan marah itu bergerak menyerang pemuda
berambut gondrong dengan pakaian rompi ular.
"Dia pembunuhnya!
Seraaang...!" Pemuda yang tak lain Sena itu tersentak kaget mendapat
serangan mendadak dari warga Desa Banjilan. Dia baru saja datang hendak menemui
Ki Lurah Banjilan.
"Hei! Kenapa
kalian?" tanya Sena berusaha menyadarkan penduduk desa yang menyerangnya.
Tubuhnya bergerak mengelakkan bacokan membabi- buta penduduk.
"Jangan beri
kesempatan! Dia pembunuh Ki Lurah! Serang dia...!" perintah lelaki
berkumis lebat dengan baju wama kuning. Tutup kepalanya kain yang meruncing ke
atas.
"Celaka! Mimpi apa
aku semalam?" keluh Sena sambil terus bergerak mengelakkan serangan-
serangan gencar warga desa.
"Hiaaa...!"
"Babat tubuhnya!" "Cincang pembunuh jahanam ini...!"
Suara-suara pekik kemarahan keluar dari mulut warga desa. Serangan mereka
semakin menjadi-jadi berusaha secepatnya membunuh pemuda tampan berrambut
gondrong yang disangka pembunuh Ki Lurah Banjilan.
"Tunggu! Kalian
salah sangka!" seru Sena. Tapi, warga desa tetap tidak peduli dengan
kata-katanya. Malah mereka semakin ganas melancarkan serangan.
"Jangan hiraukan
omongannya!" "Jadikan saja kambing guling!" "Serang
terus!" Pendekar Gila yang tak tahu apa-apa, harus berjumpalitan
mengelakkan serangan-serangan
mereka. Tubuhnya
berkelit ke sana kemari, mengelakkan sabetan dan babatan senjata warga desa
yang beraneka ragam.
"Berhenti! Kalian
salah sangka! Aku datang untuk menemui lurah kalian! Aku sahabatnya!" seru
Sena sambil terus berkelebat menghindar.
"Terus
serang...!" "Dialah pembunuhnya!" "Cincang!" Hampir
hilang kesabaran Pendekar Gila meng- hadapi mereka. Namun ketika ingat kalau
warga desa ini hanya salah paham, Pendekar Gila mengurungkan niatnya menurunkan
tangan jahat.
"Kalian dengar
semua! Aku Pendekar Gila, sahabat Ki Lurah Banjilan! Hentikan...!" bentak
Sena.
Mendengar ucapan itu,
seketika semua warga menghentikan serangan. Bahkan, mereka menyurut mundur
dengan tatapan mata ketakutan. Sedangkan tangan kanan Ki Lurah Banjilan yang
bernama Masopati membungkuk hormat.
"Ampunilah kami,
Tuan. Sungguh kami tidak tahu. Kami sedang sangat berduka."
"Apa yang
terjadi?" tanya Sena. "Ki Lurah dibunuh seseorang. Dua pengawalnya
mati dengan dada tertembus bunga mawar," jelas Masopati.
"Hm...," Sena
bergumam tak jelas. Matanya memandang seluruh warga desa yang merunduk
ketakutan. "Jika memang begitu, tentu Dewi Pedang Beracun yang
membunuhnya. Hm.... Ke arah mana dia pergi?"
"Kami tak tahu,
Tuan Pendekar." Pendekar Gila mengangguk-angguk mendengar jawaban
Masopati. Dihelanya napas panjang-panjang.
"Baiklah. Aku
harus pergi," ujarnya. Setelah menjura, Sena segera melesat mengejar Dewi
Pedang Beracun yang semakin menjadi-jadi tindakannya. Dalam semalam, puluhan
orang telah menjadi korban.
"Untung dia tidak
marah," gumam Masopati. "Kalau dia marah, tentu kita sudah menjadi
bangkai."
"Apa benar dia
Pendekar Gila, Ki?" tanya salah seorang warga.
"Ya! Apa kau tadi
tidak melihat tingkah lakunya yang mirip orang gila?" tanya Masopati balik
bertanya. "Masih begitu muda. Sangat lain dengan dugaanku."
"Ya! Mulanya aku
pun mengira Pendekar Gila dari Goa Setan telah tua. Paling tidak seusia Ki
Lurah," gumam Masopati. "Kita pulang."
"Mengapa tidak
meneruskan mencari pembunuh itu, Ki?"
"Tak perlu. Kalau
Ki Lurah, Barjo, dan Gandra saja dapat dibunuh dengan mudah, apalagi kita?
Terlebih, pembunuh Ki Lurah adalah Dewi Pedang Beracun yang telah mati.
Hiiiy...! Kalau begitu, bukankah arwahnya yang membunuh?"
Semua warga desa
bergidik. Bulu kuduk mereka meremang setelah mendengar nama Dewi Pedang Beracun
yang telah mati sepuluh tahun silam. Tanpa diperintah lagi, mereka segera
meninggalkan tempat itu yang merupakan perbatasan desa dengan hutan.
Malam terus bergulir.
Lolongan anjing hutan, menambah suasana kian mencekam. Terdengar deru angin
yang menggiris hati. Membuat suasana malam itu seperti di pekuburan.
***
No comments:
Post a Comment