TITISAN
DEWI KWAN IM
oleh Firman Raharja
1
Suasana pagi di Desa
Tambak Rejo tampak ra- mai. Tidak biasanya sepagi itu banyak orang berlalu la-
lang. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang per- silatan. Entah mengapa,
Desa Tambak Rejo yang berjarak sekitar sepuluh mil ke arah utara dari Lembah
Lamur sejak kemarin banyak didatangi orang-orang rimba persilatan
Tampak tiga lelaki
melangkah beriringan. Mereka mengenakan jubah berwarna merah darah. Rambut yang
berwarna merah dibiarkan terurai dengan ikat kepala berwarna merah darah pula.
Ketiga lelaki itu berwajah jelek dengan hidung pesek dan mata besar. Dagu
mereka dihiasi cambang bauk serta kumis tebal. Di tangan masing-masing
tergenggam cambuk yang bentuknya serupa. Ketiganya terkenal dengan julukan Tiga
Setan Rambut Api.
Tiga tokoh aliran hitam
itu memiliki perawakan yang hampir sama, berotot dengan tinggi sedang. Wa- jah
mereka garang, menunjukkan keangkuhan.
Yang tertua bernama
Untara. Lelaki yang kedua bernama Undani, dan yang terakhir bernama Umbaka- ra.
Mereka kini tengah melangkah menuju sebuah ke- dai yang siang itu tampak ramai
disinggahi para pen- gunjung.
"Kalian lihat, di
sini banyak sekali orang persila- tan," kata Untara. Matanya mengawasi
pengunjung kedai yang kebanyakan dari rimba persilatan.
"Benar,
Kakang," sahut Undani. Seperti kakak- nya, dia pun menyapukan pandangannya
ke seluruh ruang kedai yang penuh oleh para pengunjung. "Nam- paknya ada
sesuatu yang membuat mereka datang ke tempat ini."
Ketika Tiga Setan
Rambut Api mengawasi semua pengunjung kedai, terdengar ucapan seseorang yang
baru masuk ke dalam kedai.
"Aha, rupanya Tiga
Setan Rambut Api juga hadir di tempat ini."
Tiga Setan Rambut Api
seketika membalikkan tubuh dan memandang ke arah suara itu. Begitu juga dengan
pengunjung kedai lain. Seketika mata mereka memandang Tiga Setan Rambut Api,
lalu berganti me- mandang orang tua berpakaian compang-camping dengan rambut putih
tak teratur serta wajah dihiasi goresan-goresan kelabu.
Dilihat dari penampilan
serta tangan yang meme- gang tongkat dan tempurung, orang persilatan yang ada
di kedai itu dapat dengan mudah menduga kalau lelaki tua itu tak lain Pengemis
Tempurung Sakti, pe- mimpin para pengemis dari wilayah barat.
"O, rupanya
Pengemis Tempurung Sakti yang da- tang. Selamat datang...," sambut Untara
sambil menju- ra hormat, diikuti oleh kedua saudaranya.
"Aku Undani
menyampaikan hormat padamu, Pengemis Tempurung Sakti," kata Undani sambil
membungkuk "Begitu juga aku," timpal Umbakara. Pengemis Tempurung
Sakti terkekeh-kekeh sam- bil membelai-belai jenggot putihnya yang panjang. Ma-
tanya yang sipit, semakin bertambah sipit
"Aha, tampaknya
banyak orang persilatan ber- kumpul di sini. Tiga Setan Rambut Api, Ki Kenjono
si Pedang Iblis, Ki Bardawala dari Perguruan Cinde Bua- na dan Sepasang
Serigala Merah. Ada apa geran- gan...?" tanya Pengemis Tempurung Sakti
sambil me- langkah masuk, diikuti oleh lima anak buahnya yang semuanya
berpakaian compang-camping. Bedanya, ke-
lima pengemis itu hanya
membawa tongkat kayu hi- tam. Mereka tersohor dengan julukan Lima Pengemis
Tongkat Hitam.
Yang menguasai wilayah
timur bernama Gandra- na. Pakaiannya penuh dengan tambalan dan berwarna ungu.
Bibirnya tipis dengan mata agak sipit. Hidung- nya besar dan pesek. Rambutnya
lurus terurai dengan ikat kepala berwarna ungu pula. Wajahnya menggam- barkan
kekasaran.
Yang menguasai daerah
selatan bernama Jalan- tra. Pakaiannya berwarna abu-abu, dan rambutnya di-
gelung ke atas. Berbeda dengan orang pertama, hidung Jalantra mancung. Bibir
dan alis matanya tebal den- gan mata agak juling.
Yang ketiga bernama
Sampra. Dia Ketua Per- kumpulan Pengemis daerah utara. Berpakaian jingga dengan
tambalan seperti lainnya. Rambutnya ikal se- batas bahu. Hidungnya mancung
seperti paruh burung betet Matanya lebar dengan alis mata tipis. Wajahnya
nampak sinis jika tersenyum.
Yang keempat dan kelima
adalah lelaki kembar bernama Jantruk dan Jantrik. Pakaian yang mereka kenakan
pun kembar, berwarna merah dadu. Wajah keduanya hampir serupa. Hidung mereka
mancung dengan alis mata tebal. Sedang bibir mereka tipis. Hanya rambut yang
membedakan satu sama lain. Yang satu lurus tak teratur, sedangkan yang lain
ikal berge- lombang.
Di bibir mereka
tersungging senyuman. Wajah mereka menggambarkan kewibawaan. Meski berpe-
nampilan tak sedap dipandang mata, tapi mereka ada- lah orang-orang yang
dipercaya untuk memimpin para pengemis. Ilmu mereka pun bukan ilmu sembarangan,
dan patut diperhitungkan.
Pengemis Tempurung
Sakti segera mendekati satu bangku lalu duduk seenaknya, seperti tidak tahu
aturan sebagaimana pengemis lain. Kelima pengemis lainnya ikut duduk di samping
kanan dan kirinya.
"Nampaknya ada
sesuatu yang mengundang me- reka kemari, Ketua," kata Gandrana, Ketua
Perkumpulan Pengemis daerah timur.
Pengemis Tempurung
Sakti mengangguk- anggukkan kepala. Tangannya masih membelai-belai jenggotnya
yang putih dan panjang. Sementara ma- tanya tetap memandang ke sekelilingnya.
"Nampaknya ada
sesuatu yang menarik," gumam Pengemis Tempurung Sakti. "Terbukti Tiga
Setan Rambut Api datang ke tempat ini."
"Aha, rupanya
Pengemis Tempurung Sakti men- getahui apa yang ada di sini...!" seru
Umbakara tiba- tiba.
"Ya! Mengapa tidak
kita tanyakan saja, ada apa sebenarnya?" usul Undani.
"Benar juga
katamu, Undani," timpal Untara. "Mengapa kita mesti bingung?"
Untara dan kedua
adiknya bangkit dari bang- kunya. Mereka melangkah mantap ke arah Pengemis
Tempurung Sakti. Kemudian dengan menjura, Tiga Se- tan Rambut Api duduk di
hadapan keenam pengemis itu.
"Pengemis
Tempurung Sakti, sudikah kau menje- laskan pada kami, kenapa kau dan lima ketua
partai pengemis sampai datang ke sini...?" tanya Untara. Tin- dak-tanduk
mereka agak tidak sopan, mencerminkan watak ketiganya yang berasal dari aliran
sesat
"Weh weh weh....
Mengapa jadi terbalik? Justru kami yang ingin bertanya pada kalian," balas
Pengemis Tempurung Sakti. "Apa tidak mungkin kalau kalian hanya
berpura-pura saja?"
Tiga Setan Rambut Api
saling pandang karena di-
tuduh Pengemis
Tempurung Sakti kalau mereka me- nyembunyikan sesuatu. Padahal mereka juga
belum tahu sesuatu yang terjadi di tempat itu, sehingga para pendekar rimba
persilatan berdatangan ke tempat itu.
"Hei, mengapa
kalian seperti orang bodoh?" tanya Pengemis Tempurung Sakti, menyentakkan
Tiga Setan Rambut Api. Namun Untara segera berusaha menutupi ketidakmengertian
mereka akan pertanyaan dan seka- ligus tuduhan dari Pengemis Tempurung Sakti.
"O, rupanya
Pengemis Tempurung Sakti men- ganggap kami sudah mengetahui masalahnya. Ah,
sangat disayangkan. Kami sebenarnya justru hendak bertanya," ucapnya
setenang mungkin.
Kini giliran keenam
ketua perkumpulan pengemis yang saling pandang. Kening mereka berkerut dan ma-
ta mereka menyipit Pengemis Tempurung Sakti masih mengelus-elus jenggotnya yang
panjang.
"Weh, bagaimana
ini? Kami pikir kalianlah yang telah tahu. Tapi mengapa kalian seperti menuduh
ka- mi?" tanya Pengemis Tempurung Sakti sambil mengge- leng-gelengkan kepala.
"Hm.... Bagaimana
kalau kita tanyakan pada Ki Kenjono? Rupanya si Pedang Iblis juga datang,"
usul Untara.
"Ya, sebaiknya
kita tanyakan padanya?" sambut Pengemis Tempurung Sakti.
Pengemis Tempurung
Sakti dan Untara bangkit, kemudian keduanya mendekati meja di sampingnya, di
mana lelaki berpakaian rompi hitam dengan rambut panjang yang- dibiarkan
terlepas tengah menyantap makanannya.
"Oh, nikmat sekali
kau makan, Ki?" tegur Penge- mis Tempurung Sakti dengan tetap
membelai-belai jenggotnya yang putih.
Lelaki yang tengah
makan itu menghentikan ma-
kannya. Kepalanya
ditolehkan ke belakang.
"Ah, kukira siapa.
Rupanya Pengemis Tempurung Sakti dan Setan Rambut Api. Hm, apa kalian minta ku
bayari makan? Pesanlah...."
"Keparat!"
maki Untara. "Aku menemuimu bukan untuk mengemis seperti Pengemis
Tempurung Sakti, Kenjono!"
"Setan alas!
Kalian kira aku tak sanggup mem- bayar makanan kalian!" dengus Pengemis
Tempurung Sakti sengit, merasa dirinya diremehkan sebagai gem- bel yang hanya
bisa meminta-minta. "Kalau saja aku tidak punya kepentingan untuk
mengetahui hal yang terjadi di sini, sudah kutampar mulut kalian!"
Ki Kenjono dan Untara
saling pandang. Kemu- dian keduanya tertawa tergelak-gelak, membuat Pen- gemis
Tempurung Sakti makin gusar. Hampir saja Pengemis Tempurung Sakti yang keras
kepala dan pe- marah itu kembali membentak, kalau saja Untara ti- dak
mendahului.
"Aha, kuharap kau
tidak mengumbar marah, Pengemis Tempurung Sakti. Bukankah kita sama- sama ingin
tahu, apa sebenarnya yang tengah terjadi di sini?" Pengemis Tempurung
Sakti menurut.
"Apa yang hendak
kalian tanyakan padaku?" tanya Ki Kenjono kemudian.
"Begini, Ki
Kenjono. Kami ingin tahu apa yang terjadi di sini? Mengapa orang-orang
berdatangan ke tempat ini...?" tanya Untara.
"Weh weh weh....
Jadi kalian juga belum tahu?" "Ya," sahut Pengemis Tempurung
Sakti singkat. "Aha, kalau begitu kita sama. Dan mungkin se- mua orang
yang datang di sini, sama-sama tidak tahu apa yang mereka tuju. Tapi, bukankah
kalian telah mendapat kabar tentang Titisan Dewi Keberuntungan yang ada di
sekitar Kadipaten Wuwungan ini?" tanya
Ki Kenjono,
"Ya," sahut
Untara. "Jadi mereka datang untuk mencari Titisan Dewi Kwan Im?"
tanya Pengemis Tempurung Sakti.
"Tepat!"
jawab Ki Kenjono. "Jadi Lembah Lamur ada di sekitar Kadipaten Wuwungan
ini?" tanya Untara.
"Mungkin, karena
hampir semuanya berdatangan ke tempat ini," sahut Ki Kenjono. "Ah,
sudahlah. Aku harus makan dulu."
Tanpa menghiraukan
kedua orang itu, Ki Kenjono yang bersikap angkuh meneruskan makannya. Hal itu
membuat Pengemis Tempurung Sakti dan Untara sal- ing pandang. Hampir saja
mereka marah, kalau saja mereka tidak ingat bahwa mereka sama-sama sealiran.
Meski begitu, keduanya agak jengkel juga menyaksi- kan tingkah laku Ki Kenjono
yang dianggap terlalu angkuh. Lalu dengan memandang sinis, keduanya kembali ke
tempat duduk masing-masing.
"Bagaimana,
Kakang?" tanya Undani. "Rupanya semuanya datang ke tempat ini dengan
tujuan yang sama," jawab Untara.
"Mencari Titisan
Dewi Kwan Im?" tanya Umbaka- ra. Suaranya berusaha menegaskan.
"Ya!"
"Hm.... Kalau begitu, kita tidak boleh keduluan mereka," bisik
Undani.
"Kita harus
mendahului mereka." "Benar, Kakang. Kita harus segera mencari Lem-
bah Lamur," sambut Umbakara.
"Ya! Kita harus
secepatnya mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im itu. Ayo...," ajak Untara
berbisik sambil bangkit dari bangkunya, diikuti oleh kedua adiknya.
***
Pengemis Tempurung
Sakti terkekeh, menyaksi- kan Tiga Setan Rambut Api pergi meninggalkan kedai.
Tampaknya Pengemis Tempurung Sakti dan lima ketua perkumpulan pengemis
membiarkan mereka pergi le- bih dahulu untuk mencari Titisan Dewi Kwan Im.
"He he he...!
Mereka kira akan mudah untuk mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im," seloroh Pengemis
Tempurung Sakti. Tangannya membelai-belai jenggot- nya yang panjang dan putih.
"Ketua, apakah
tidak sebaiknya kita susul mere- ka?" tanya Jalantra, yang merupakan Ketua
Perkum- pulan Pengemis daerah selatan.
"Benar, Ketua.
Apakah tidak sebaiknya kita me- nyusul mereka? Aku takut mereka akan mendahului
kita," tambah Gandrana.
Pengemis Tempurung
Sakti menggeleng- gelengkan kepala sambil tersenyum. Tangannya kem- bali
membelai-belai jenggotnya yang panjang dan ber- warna putih.
"Biarkan saja
mereka mendahului. Apakah kalian kira mereka akan mendapatkan Titisan Dewi Kwan
Im yang cantik menjadi istri mereka? Ha ha ha...!" Penge- mis Tempurung
Sakti tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh kelima ketua pengemis lainnya. Hal itu
membuat para pendekar yang ada di tempat itu memandang me- reka. Tidak
terkecuali Ki Kenjono.
"Pengemis butut!
Mengapa kalian mesti tertawa- tawa?!" bentak Ki Kenjono kesal. Matanya
mendelik le- bar, memperlihatkan warna merah bagai gejolak api.
"Iblis bau comberan!
Apa hakmu menghentikan tawa kami!" ujar Sampra, Ketua Perkumpulan Pengemis
daerah utara.
"Sontoloyo!
Kalianlah yang bau kentut! Huh...!" balas Ki Kenjono tak mau kalah.
Kemudian dia meneruskan makannya, tanpa menghiraukan keenam pen- gemis yang masih
menatapnya dengan jengkel.
"Rupanya orang itu
perlu dihajar, Ketua," kata Gandrana.
"Aha, memang
mulutnya yang busuk itu perlu dihajar," jawab Pengemis Tempurung Sakti,
membuat Ki Kenjono tersentak.
Dengan wajah bengis, Ki
Kenjono bangun dari tempat duduknya. Matanya yang tajam penuh amarah menantang
keenam pengemis yang masih tertawa- tawa. "Pengemis butut! Rupanya kalian
di mana pun selalu menyebalkan! Kalian harus diajar adat!" maki Ki Kenjono
seraya mendengus marah.
"Aha, seharusnya
kaulah yang harus diajar adat, Kenjono!" balas Pengemis Tempurung Sakti.
"Bedebah! Kuhajar
kau, Pengemis Butut! Yeaaa...!"
Srrrt! Ki Kenjono
mengeluarkan pedangnya, kemudian dengan penuh amarah tubuhnya melesat ke arah
Pengemis Tempurung Sakti. Namun dengan cepat, Gan- drana telah menghadangnya
dengan membabatkan tongkat kayu hitam ke pedang lawan.
Trang! Kemarahan Ki
Kenjono kian menggila ketika mengetahui Gandrana memapaki serangannya. Matanya
semakin berkilat tajam. Didahului pekikan menggelegar, Ki Kenjono kembali
membuka serangan dengan babatan pedang ke arah Ketua Perkumpulan Pengemis
daerah timur itu.
"Yeaaa...!"
"Keluarkan semua ilmu pedang bututmu!" tan- tang Gandrana seraya
mengelakkan tebasan dan baba- tan pedang lawan. Kemudian dengan cepat tangannya
menggerakkan tongkat
kayu hitam. Seketika, tongkat itu menjadi baling-baling, bergerak membentuk
perisai sekaligus menjadi senjata yang sangat berbahaya.
"Heaaa...!"
Wut, wut! Tring, trang...! Dentingan beradunya dua senjata itu terdengar
susul-menyusul. Diikuti oleh gerakan keduanya yang menyerang dan mengelak.
Tangan kiri mereka yang ti- dak memegang senjata tak mau diam, turut bergerak
menyerang dan menangkis dengan kebutan- kebutannya.
"Beri dia
pelajaran, Gandrana!" seru Pengemis Tempurung Sakti sambil terus
memperhatikan jalan- nya pertarungan antara anggotanya yang memegang pimpinan
di wilayah timur melawan Kejono. Kemudian Pengemis Tempurung Sakti tertawa
bergelak-gelak, di- ikuti oleh empat anggotanya yang lain.
Ki Kenjono semakin
marah karena ditertawakan oleh para pengemis. Serangannya semakin diting-
katkan. Pedangnya bergerak kian cepat, membabat dan menusuk ke tubuh lawannya.
"Yeaaah...!"
Ki Kenjono benar-benar bernafsu untuk secepat- nya menjatuhkan lawan. Pedangnya
bergerak semakin cepat, tidak ubahnya baling-baling maut yang setiap saat dapat
merenggut nyawa lawannya.
Menyaksikan serangan
lawan yang cepat dan mematikan, tidak membuat Gandrana gentar. Justru dengan
serangan lawan seperti itu, dia semakin mudah melihat kelemahan-kelemahan
serangan yang dilan- carkan lawannya.
Dengan sedikit
berkelit, Gandrana mampu men- gelakkan serangan lawan yang dirasuki amarah. Kemudian
dengan cepat, balas menyerang dengan tidak
kalah gencar. Tongkat
kayu hitam di tangannya me- mukul dan menusuk lawan secara bertubi-tubi.
"Yeaaat..!"
Wut, wut..! Tongkat kayu hitam di tangan Gandrana kini ti- dak ubahnya sebilah
pedang tajam yang terbuat dari logam pilihan. Angin serangannya menimbulkan
deru yang dahsyat menghambur ke arah lawan.
"Uts...!
Setan!" maki Ki Kenjono kaget, menda- patkan serangan balik yang tidak
diduganya. Kalau sa- ja tidak cepat-cepat mengelak, tentu tubuhnya akan menjadi
korban dari sabetan dan tusukan tongkat kayu hitam di tangan lawannya.
"Ha ha
ha...!" Pengemis Tempurung Sakti tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan
Gandrana mampu mendesak Ki Kenjono. Hal itu membuktikan kalau Perkumpulan
Pengemis bukanlah perkumpulan yang rendah, namun harus diperhitungkan di rimba
persila- tan.
Serangan yang
dilancarkan oleh Gandrana sema- kin membuat Ki Kenjono kewalahan. Nampaknya
ilmu pedang yang selama ini dirasa cukup tangguh, tiada arti sama sekali
menghadapi jurus-jurus 'Tongkat Kayu Hitam' yang dilancarkan Gandrana. Bahkan
be- berapa kali, Ki Kenjono hampir kecolongan oleh sabe- tan-sabetan tongkat
itu.
Kelima pengemis yang
lain tertawa riuh rendah menyaksikan bagaimana Ki Kenjono atau lebih dikenal
dengan sebutan Pedang Iblis, kini mengalami ketegan- gan. Wajahnya pucat pasti,
menyadari serangan- serangannya tak satu pun yang mengenai sasaran. Bahkan kini
dia yang terdesak oleh lawan.
"Percuma mulutmu
besar, Kenjono! Kalau ilmu- mu hanya kelas pasaran...! Ha ha ha...!" seru
Pengemis Tempurung Sakti diikuti oleh gelak tawa.
Ucapan itu tentu saja
membuat Ki Kenjono ber- tambah marah. Namun menyadari kedudukannya saat itu, Ki
Kenjono tak mampu berbuat apa-apa. Jangan- kan untuk melawan Pengemis Tempurung
Sakti, me- lawan anak buahnya saja dia sudah terdesak.
"Huh...! Memang
aku saat ini kalah! Tapi setelah aku mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im, kepala
kalian akan kupenggal satu persatu!"
Usai berkata demikian,
tanpa rasa malu sedikit pun Ki Kenjono segera melesat ke belakang. Kemudian
dengan cepat meninggalkan kedai. Hal itu semakin membuat gerombolan pengemis
itu tertawa bergelak- gelak. "Ha ha ha...!"
"Kalian lihat
sendiri, bagaimana Perkumpulan Pengemis kini bukan kumpulan orang gembel. Per-
kumpulan Pengemis kini menjadi perkumpulan yang akan disegani oleh para
pendekar rimba persilatan! Tak akan ada yang berani mencari penyakit dengan
Perkumpulan Pengemis...," kata Pengemis Tempurung Sakti. Nadanya agak
pongah dan sombong. Seakan- akan hanya dia dan anak buahnya saja yang memiliki
ilmu tinggi.
Selesai berkata begitu,
Pengemis Tempurung Sakti segera mengajak kelima anak buahnya berlalu
meninggalkan kedai.
"Pengemis gembel
sombong...!" dengus para pen- dekar. Kesal juga mereka dengan tingkah laku
dan ke- sombongan para pengemis itu. Terlebih pada Pengemis Tempurung Sakti.
Kalau saja mereka memiliki ilmu yang tinggi, tentunya mereka akan melabrak para
pen- gemis itu.
Sepeninggal Tiga Setan
Rambut Api, Ki Kenjono, dan para pengemis, kedai kembali tenang. Bahkan kini
satu persatu para pendekar meninggalkannya, untuk meneruskan mencari Titisan
Dewi Kwan Im yang me- reka dengar berada di Lembah Lamur.
2
Angin malam yang dingin
berhembus kencang, menerobos belukar, pucuk pepohonan dan rerumpu- tan. Semak
alang-alang merunduk-runduk tanpa daya, ditampar derasnya angin.
Di saat suasana malam
seperti ini, tampak seo- rang pemuda berwajah tampan dengan pakaian rompi kulit
ular, tengah menyelusuri jalan yang gelap dan sepi. Seakan-akan pemuda tampan
itu tak peduli den- gan keadaan cuaca yang tak ramah. Wajahnya tampak menunduk
penuh penyesalan.
Pemuda yang tak lain
Sena atau Pendekar Gila itu baru saja berkunjung ke Perguruan Bintang Emas
untuk membuktikan kebenaran cerita tentang kema- tian Dewi Pandagu. Sesampainya
di sana, berita yang disampaikan dua lelaki di kedai itu ternyata benar. Dewi
Pandagu, wanita cantik yang telah membuatnya hanyut dalam arus asmara, telah
tewas.
Hati Pendekar Gila
remuk redam menyaksikan mayat Dewi Pandagu. Belum lagi peristiwa penculikan Mei
Lie yang diculik entah oleh siapa. Lelaki yang men- culik Mei Lie sangat
misterius. Datang begitu cepat dengan pakaian yang sama dengan pakaian Kauw
Cien Lung (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gi- la dalam episode
"Singa Jantan dari Cina").
Kalau saja saat itu
Sena tidak tengah bertarung dengan Kauw Cien Lung, tentunya dia akan mengejar
lelaki misterius itu.
"Setan!" maki
Sena kesal. Kakinya menendang sebuah batu kecil yang ada di depannya.
Wut! Batu itu melesat
jauh, bagai dilempar dengan ke- kuatan penuh.
Sena menghela napas.
Matanya menyapu ke se- kelilingnya yang sepi dan senyap. Sebuah lembah yang
dikepung perbukitan, dengan angin yang bertiup ken- cang laksana hembusan napas
beribu mambang ma- lam.
"Huk huk
huuuk...!" Samar-samar telinga Sena menangkap suara aneh itu. Bulu kuduknya
meremang. Langkahnya se- ketika terhenti. Matanya menyapu ke sekelilingnya
dengan tajam, berusaha mencari asal suara menye- ramkan yang baru saja
didengarnya.
"Huk huk
huuuk...!" Suara itu kembali terdengar. Suaranya persis se- perti suara
burung hantu. Namun Sena merasa yakin kalau itu bukan suara burung hantu. Dia
telah biasa bergelut dengan kegelapan malam di dalam hutan. Se- dikit banyak,
telinganya telah akrab dengan suara bu- rung hantu yang sebenarnya.
"Suara apa
itu...?" desis Sena. Suaranya agak ke- lu, karena perasaannya tercekam.
Bulu kuduknya me- remang kembali.
Meski ketegangan
menyelimuti jiwanya, namun entah mengapa Sena tetap berdiri di situ. Matanya
ma- sih mengamati dalam remang cahaya bulan. Seper- tinya, Sena ingin
menyaksikan apa yang akan terjadi di hadapannya dan meyakinkan suara yang baru
saja di- dengarnya.
Ketika mata Sena
menyapu tempat itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih. Begitu cepatnya
bayangan itu berkelebat, sampai-sampai tubuh Sena tersentak.
"Hei, siapa
dia?" tanyanya pada diri sendiri. Ke- mudian tanpa banyak kata lagi,
tubuhnya melesat cepat untuk mengejar bayangan putih yang sempat dili- hatnya
sekilas.
Bayangan putih itu
berkelebat ke arah bukit di sebelah selatan, kemudian menghilang di balik bukit
"Berhenti...!"
seru Sena sambil terus berlari. Na- mun bayangan putih itu rupanya telah lebih
dahulu menghilang. Karena begitu cepatnya menghilang, sam- pai Sena tak mampu
mengejarnya.
"Edan!" umpat
Sena jengkel. Pandangannya dis- apukan ke sekeliling tempat itu. Namun tetap
saja tidak ditemukan siapa pun di tempat itu. Padahal dia yakin kalau bayangan
putih itu berlari ke tempatnya kini berdiri. Kalau bersembunyi rasanya tidak
mung- kin. Di sekeliling tempat itu tak ada sesuatu pun yang bisa digunakan
untuk bersembunyi.
Sena mengerutkan
kening. Matanya masih men- gamati sekitarnya yang semakin mencekam. Bulu kuduknya
lagi-lagi meremang, setelah dia tidak berhasil menemukan bayangan putih tadi.
"Huk huk
huuuk...!" Suara menyeramkan itu kembali terdengar. Se- pertinya suara itu
ada di dekatnya. Sena menajamkan telinga dan matanya, berusaha meyakinkan dari
mana asal suara menyeramkan itu.
"Hm.... Aku yakin
bukan hantu. Jelas sekali itu suara manusia," desis Sena. Tapi matanya
belum juga menemukan tanda-tanda kalau bayangan putih itu akan muncul kembali.
Angin lembah semakin
keras berhembus, membawa hawa dingin yang terasa menggigit. Dikawal oleh suara
menyeramkan yang kembali terdengar.
"Aku harus
hati-hati. Mungkin orang itu memiliki ilmu yang tinggi," gumam Sena dengan
mata berkilat penuh kewaspadaan.
Wusss! Angin semakin
berhembus kencang, bertemu di tengah-tengah lembah, kemudian bergulung-gulung
membentuk pusaran yang besar dan kencang.
"Uh!" Sena
tersentak kaget. Dengan mata membelalak, berusaha dihindarinya pusaran angin
yang besar itu. Tubuhnya melompat ke belakang dan bersalto dengan cepat. Namun
pusaran angin itu seperti mengerti kalau lawannya berusaha mengelak. Angin itu
terus bergu- lung ke arah Sena mengelak.
Wut! "Edan!"
maki Sena kaget menyaksikan pusaran angin itu ternyata mengejarnya. Seakan-akan
angin itu memiliki mata. "Kurang ajar! Ini bukan main-main!"
Wusss...! Pusaran angin
itu terus mengejar tubuh Pende- kar Gila, memaksanya bersalto untuk mengelakkan
se- rangan angin besar itu. Walau begitu, hampir saja tu- buhnya dapat dihantam
pusaran angin itu.
"Auh...! Kurang
ajar! Hampir saja aku kena!" ma- ki Sena sambil terus melenting kian
kemari. Bahkan kini dia harus menggunakan ilmu peringan tubuh 'Panca Guna'
warisan Singo Edan.
Dengan menggunakan ilmu
'Panca Guna', kini tubuhnya dapat bergerak dengan ringan tanpa men- ginjak
tanah. Tubuhnya bagaikan tak memiliki beban sedikit pun, tidak ubahnya sehelai
bulu yang menari di atas angin.
"Aku harus dapat
memecahkan pusaran angin ini," desis Sena sambil terus mengelitkan
sambaran- sambaran pusaran angin yang keras dan terus mem- buru.
"Heaaa...!"
Tubuh Sena melesat
beberapa tombak ke bela-
kang. Kemudian dengan
menggunakan jurus 'Si Gila Mengaduk Samudera', Pendekar Gila kembali melesat.
Kini dia bertekad menerobos pusaran angin kencang itu. Tangannya disilangkan di
depan, dengan jari-jari membentuk cengkeraman. Kemudian kedua tangannya
digerakkan seperti mengaduk-aduk samudera.
Wut..! Angin pusaran
itu terus memburu maju, siap menelan tubuh Pendekar Gila yang melesat maju lak-
sana elang dengan kedua tangan siap mengaduk-aduk.
"Yeaaa...!"
Blasss! Tubuh Sena menyeruak ke dalam rongga pusa- ran angin itu. Tangannya terus
bergerak, mengaduk- aduk pusaran angin yang telah menelan tubuhnya. Namun
pusaran angin itu bagai tak mengalami apa- apa. Malah semakin keras Pendekar
Gila berusaha menghancurkan, semakin keras pula tubuhnya digu- lung.
"Celaka!"
pekik Sena dengan mata membelalak tegang, menyadari kalau semua pukulannya tak
berar- ti sama sekali. "Oh! Napas ku terasa sesak sekali. Se- pertinya,
angin ini menyerap seluruh tenagaku."
Sena kini merasakan
otot di persendiannya bagai direjam. Tubuhnya terus bergulung, mengikuti pusa-
ran angin itu. Namun dia tak mau mengalah begitu sa- ja. Terus diserangnya
pusaran angin itu. Pukulan sak- tinya segera dikerahkan.
"Pukulan 'Inti
Bayu'. Yeaaah...!" Pukulan 'Inti Bayu' merupakan ajian yang mam- pu
mengeluarkan angin deras dan besar. Bahkan mampu menerbangkan pohon raksasa
sekalipun.
Wusss! Angin bertemu
dengan angin. Keduanya berusa- ha saling mengalahkan. Namun pukulan 'Inti Bayu'
yang dikerahkan Pendekar Gila ternyata tak mampu menghancurkan pusaran angin
itu. Sena semakin ter- jepit. Nafasnya kian terasa sesak dan tersengal-sengal.
"Celaka! Pukulanku
tak berarti...!" rintih Sena. Pendekar Gila merasakan tulang-tulangnya
bagai remuk, dihimpit dan digulung oleh pusaran angin itu. Dan tubuhnya
terpontang-panting di dalamnya.
"Oh, apa yang
harus kulakukan?" tanya Sena se- tengah mengeluh. "Ku coba dengan
'Inti Api'. Yeaaah...!"
Tangan Pendekar Gila
kini merah membara. Ke- mudian, nampaklah api melesat ketika Pendekar Gila
menghantamkan tangannya ke arah pusaran angin itu.
Wusss! Dap, dap,
dap...! Api yang meluncur dari tangan Pendekar Gila, padam seketika.
Sepertinya, api yang kekuatannya se- ratus kali dari api biasa, tak ada gunanya
sama sekali.
Pusaran angin itu
semakin keras menghimpit tu- buh Pendekar Gila. Membuatnya kian menderita akibat
himpitan itu. Namun begitu, pantang baginya un- tuk mengalah atau pasrah.
Dicabutnya Suling Naga Sakti. Kemudian dengan meringis menahan sakit, mu-
lutnya segera meniup Suling Naga Sakti.
"Tuiiit,
tuiiit..!" Alunan Suling Naga Sakti tercipta. Mulanya me- lantun lembut,
namun semakin lama semakin me- lengking keras. Dari kedua mata di kepala naga
pada pangkal suling itu, melesat selarik sinar merah ke pu- saran angin. Wusss!
Pendekar Gila terus meniup Suling Naga Saktinya sambil memutarkan arah mata
naga di suling itu ke sekelilingnya, membuat larikan-larikan sinar dari mata
naga laksana memotong pusaran angin itu.
Wusss, wusss...!
Pusaran angin itu semakin lama semakin pelan. Sampai akhirnya hilang sama
sekali. Tubuh Pendekar Gila terpelanting, lalu jatuh terduduk.
"Hilang...!"
seru Sena dengan mata membelalak, menyaksikan pusaran angin itu hilang dengan
sendi- rinya, seakan raib begitu saja. Bahkan angin lembah yang semula kencang,
kini turut menghilang.
Sena masih belum
mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di lembah itu. Juga dengan hilangnya
an- gin yang membentuk pusaran, serta angin lembah yang tiba-tiba mereda. Tapi
suara menyeramkan yang didengarnya tadi justru terdengar lagi.
"Huk huk
huuuk...!" Sena seketika tersentak. Matanya menyapu ke sekelilingnya yang
sepi dan mencekam untuk mencari asal suara yang didengarnya.
"Hm.... Tentunya
suara itu sebagai tanda suara pertama," gumam Sena. Dongkol juga Sena
mengha- dapi semuanya. Belum lagi rasa dukanya hilang kare- na kematian dan
penculikan orang-orang yang dicintai, kini harus pula menghadapi hal aneh.
Suling Naga Sakti
diselipkannya di pinggang. La- lu tubuhnya tak bergeming, menunggu setiap ke-
mungkinan yang bakal terjadi. "Huk huk huuuk...!" "Keluarlah!
Apa pun wujud mu, aku tak akan la- ri!" bentak Sena, yang semakin dibuat
jengkel oleh su- ara itu. Hatinya yang sedang diliputi duka dan sedih, menjadi
marah.
Wusss! Kembali
terdengar suara angin bertiup keras, mengejutkan Pendekar Gila. Seketika
tubuhnya berba- lik, lalu memandang arah datangnya suara itu.
Mata Pendekar Gila
membelalak. Mulutnya tern-
ganga tanpa sadar,
ketika menyaksikan sosok besar yang berada tiga tombak di hadapannya. Sosok
menye- ramkan yang tingginya melebihi bukit, dengan tubuh sebatas perut ke
bawah diliputi oleh asap tebal ber- warna gelap.
"Oh...! Makhluk
apa itu?!" seru Sena dengan ma- ta masih membelalak dan mulut ternganga.
Makhluk itu menyerupai
monyet, namun telin- ganya panjang dengan ujung meruncing. Di kepalanya,
terdapat tanduk yang berkilat tajam dan runcing. Mata makhluk itu besar,
berwarna merah membara laksana api. Lidahnya juga merah, menjulur panjang.
Dengus nafasnya terdengar keras. Tubuhnya dipenuhi bulu hi- tam
kemerah-merahan. Kuku-kukunya panjang dan runcing.
"Hogm...!"
Makhluk menyeramkan itu mengeluarkan sua- ranya yang memekakkan telinga.
Kaki Sena melangkah
mundur dengan mata ma- sih memandangi makhluk menyeramkan yang keliha- tannya
siap melakukan serangan terhadapnya.
"Hm.... Apa lagi
yang akan terjadi?" gumam Sena sambil terus melangkah mundur. Dia telah
waspada penuh untuk mengelak, sekaligus membalas serangan yang akan dilakukan
makhluk menyeramkan itu.
Makhluk tinggi besar
menyeramkan itu kini me- nyerang ke arah Pendekar Gila. Sepasang tangannya yang
besar berkuku panjang dan runcing, menyambar cepat. Sedang dari mulutnya
tersembur api yang besar, siap membakar tubuh Pendekar Gila.
Wosss! "Uts!"
Sena segera melenting ke samping dengan bersal- to beberapa kali untuk
mengelakkan sambaran tangan makhluk menyeramkan itu. Lalu dengan cepat pula, tubuh
Pendekar Gila melesat ke arah makhluk menye- ramkan itu. Pukulan tenaga
dalamnya dikerahkan un- tuk menghantam wajah makhluk itu.
"Heaaa...!"
Makhluk menyeramkan itu tidak mengelak, sea- kan membiarkan pukulan tenaga
dalam Pendekar Gila menghantam tubuhnya.
Desss! Mata Pendekar
Gila membelalak dengan mulut menganga mendapatkan kenyataan yang sulit dipercaya.
Pukulan saktinya bagai menghantam angin. Saat itu pula tangan makhluk
menyeramkan itu menyam- bar ke arah tubuhnya.
Wut! "Uh!"
Beruntung Pendekar Gila masih memiliki kewas- padaan tajam, sehingga mampu berkelit
dari sambaran tangan makhluk itu. Tubuhnya melenting ke belakang, bersalto di
udara beberapa kali, sebelum kakinya men- darat di tanah dengan ringan. Matanya
memandang ta- jam pada makhluk menyeramkan yang ada di hada- pannya, seakan tak
percaya pada apa yang telah di- alami. Wusss!
Api membara kembali
keluar dari mulut makhluk menyeramkan itu, menyambar ke arah tubuh Pende- kar
Gila. Sementara, Sena segera membuang tubuhnya dengan bersalto ke samping,
kemudian dengan cepat balas menyerang.
"Yeaaah!"
Tubuh Pendekar Gila yang sangat kecil diban- dingkan makhluk menyeramkan itu,
melesat cepat laksana terbang. Tangan kanannya mengepal. Sedang- kan tangan
kirinya diletakkan di depan dada. Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam,
Pendekar Gila me-
lontarkan pukulan
saktinya.
"Yeaaa!"
Wut..! Untuk yang kedua kalinya Pendekar Gila tersen- tak kaget mendapatkan
pukulannya tak berarti apa- apa. Makhluk menyeramkan itu bahkan dengan cepat
membalas. Tangannya menyambar ke tubuh Pendekar Gila.
Plak! "Ukh!"
keluh Sena. Tubuhnya terpelanting ke be- lakang akibat hantaman tangan makhluk
menyeram- kan itu. Saat itu pula rasa panas menyengat tubuh- nya.
Pendekar Gila meringis,
merasakan sakit pada tubuhnya. Segera dia bangkit sambil menggaruk-garuk
kepala. Kemudian kakinya ditarik ke samping setengah menekuk dan tangannya
menghantam ke depan. Itu- lah jurus 'Tamparan Sukma'. Dengan menggunakan jurus
itu, Pendekar Gila berharap dapat mengalahkan makhluk menyeramkan itu.
Tubuh Pendekar Gila
kembali melesat laksana terbang. Kemudian tangan kirinya melakukan tampa- ran
ke wajah makhluk menyeramkan yang telah di- jangkaunya.
Blak!
"Aaarghhh...!" Makhluk menyeramkan itu meraung keras, men- dapat
tamparan yang dirasakan hantaman ribuan hali- lintar yang menggelegar. Padahal
gerakan yang dilaku- kan Pendekar Gila kelihatan sangat lemah dan pelan. Bahkan
dilakukan dengan mata terpejam serta hanya mengandalkan kekuatan jiwanya. Namun
hasilnya sangat dahsyat Makhluk menyeramkan itu meraung- raung kesakitan.
Kemudian tubuhnya perlahan-lahan menghilang, berganti dengan kabut tebal yang
terbang
bersama angin.
"Hhh...,"
Sena menghela napas panjang. Matanya kembali menyapu ke sekelilingnya.
"Pendekar Gila,
saat ini kau menang! Tapi tunggu pembalasanku...!"
Tiba-tiba terdengar
suara seorang lelaki yang mengancam Pendekar Gila, sehingga membuatnya tersentak.
"Hei, siapa itu!
Tunjukkan wujud mu!" bentak Sena. Tapi tak ada sahutan. Lembah itu kembali
sepi, diselimuti kegelapan yang bisu.
Sena menghela napas.
Pandangan matanya bere- dar ke sekeliling tempat itu. Kemudian setelah yakin
tak ada apa-apa lagi, tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu untuk mencari
Mei Lie.
3
Kabut tebal menyelimuti
sebuah bangunan besar dan megah yang menyerupai candi. Bangunan tua itu adalah
istana gaib tempat Dewi Pemuja Setan. Bangu- nan itu berada di dalam gumpalan
kabut tebal. Mem- buat orang persilatan sulit untuk menemukannya.
Di dalam istana,
tepatnya di dalam sebuah ruang kamar yang semuanya berwarna putih, nampak Dewi
Pemuja Setan tengah duduk bersila. Di hadapannya terdapat dupa yang mengepulkan
asap. Di sisi dupa, terdapat kembang tujuh warna.
Dewi Pemuja Setan
memandang ke tempat tidur yang berwarna putih, dengan kelambu terbuat dari su-
tera putih. Di atas tempat tidur, tergeletak sesosok ga- dis cantik. Gadis itu
berkulit kuning langsat, dengan rambut digelung dua di atas kepala. Berbaju
putih lengan panjang, serta bibir tipis dan hidung tidak begitu mancung.
Ternyata dia adalah Mei Lie.
Dewi Pemuja Setan yang
setiap kehadirannya se nantiasa didahului oleh kabut tebal, nampak berparas
cantik jelita. Berbaju putih seperti jubah, dengan ikat pinggang merah.
Rambutnya terurai panjang dan ber- gelombang. Di kepalanya terdapat sebuah ikat
kepala dengan hiasan tengkorak manusia.
"Hm...," Dewi
Pemuja Setan bergumam tidak je- las. "Singo Edan, kali ini kau akan
mendapatkan bala- sanku! Begitu juga dengan muridmu!"
Dewi Pemuja Setan
memejamkan mata. Mulutnya komat kamit membaca mantera. Tangannya berside- kap
di depan dada. Asap dupa semakin mengepul. Bersamaan dengan itu, tubuh Dewi
Pemuja Setan ter- getar hebat.
"Mei Lie...!"
panggilnya lirih. "Uh," Mei Lie mengeluh. "Bangunlah, Mei Lie!
Bangunlah dari ragamu!" Roh Mei Lie menurut untuk bangun. Nampak
samar-samar sebuah bayangan keluar dari tubuh Mei Lie lalu berdiri di hadapan
Dewi Pemuja Setan yang duduk bersila.
"Ada apa Sri Ratu
memanggilku?" terdengar sua- ra arwah Mei Lie bertanya.
"Tugas untukmu!
Bunuh orang yang kini hendak ke Lembah Lamur!" perintah Dewi Pemuja Setan.
"Baik, Sri
Ratu," jawab roh Mei Lie. "Berangkatlah. Aku akan mengiringi mu
dengan Kabut Iblis! Kita harus bisa membuat semua orang persilatan membuka
mata! Ha ha ha...!" Dewi Pemuja Setan tertawa terbahak-bahak.
Roh Mei Lie melayang
keluar, meninggalkan ka- marnya diikuti oleh Dewi Pemuja Setan yang masih
tertawa terbahak-bahak.
***
Siang itu Lembah Lamur
sangat sepi. Angin ber- tiup kencang, seakan-akan badai hendak datang. Kabut
tebal menyelimuti sekeliling berubah. Membuat suasana Lembah Lamur menjadi
menyeramkan. Ca- haya matahari yang memanggang, seakan tidak mam- pu menembus
ketebalan kabut yang menyelimuti lem- bah itu. Seorang lelaki berlari-lari
menuju Lembah Lamur dari arah utara. Dilihat dari pakaian yang dikenakan serta
pedang bergagang tengkorak manusia kecil, ten- tunya lelaki itu tiada lain Ki
Kenjono.
"He he
he...!" Ki Kenjono tertawa tergelak-gelak. "Rupanya mereka tidak tahu
di mana Lembah Lamur berada. Ah, akulah yang paling beruntung. Aku yang bakal
mendapatkan Dewi Kwan Im."
Ki Kenjono
tersenyum-senyum seorang diri, me- rasa kalau dirinya yang bakal mendapatkan
Titisan Dewi Kwan Im.
"Akulah yang akan
menjadi orang terhormat dan tak akan dapat dikalahkan oleh siapa pun juga. Ha
ha ha...!" Ki Kenjono kembali tertawa sambil terus berlari menuju Lembah
Lamur. Matanya terus menyapu ke sekeliling tempat itu, berusaha meyakinkan
kalau hanya dia yang ada di tempat itu.
Saat Ki Kenjono
tertawa-tawa sambil terus berlari ke arah Lembah Lamur, tiba-tiba dilihatnya
seorang gadis cantik jelita dengan senyum menawan tengah berdiri memandang ke
arahnya seperti mengundang Ki Kenjono untuk mendekatinya.
Ki Kenjono seketika
menghentikan larinya. Mu- lutnya ternganga, menyaksikan seorang gadis cantik
jelita bak bidadari baru turun dari kahyangan berada di tengah lembah.
Senyumnya sangat mempesona, membuat kecantikan gadis itu bagai tiada bandingannya.
Gadis itu berkulit
kuning langsat dengan rambut digelung dua di atas kepalanya. Matanya agak
sipit. Bibirnya tipis mungil. Hidungnya tidak terlalu man- cung. Pakaian yang
dikenakannya bergaya pakaian ga- dis Cina, berlengan panjang dengan lebar di
ujungnya dan berwarna putih. Panjang pakaiannya sampai ke mata kaki.
"Oh! Mungkinkah
dia Titisan Dewi Kwan Im?" tanya Ki Kenjono dengan mata tidak berkedip,
mema- ku pandangannya ke arah gadis Cina yang cantik jeli- ta. "Ya.
Mungkin dialah Titisan Dewi Kwan Im."
Ki Kenjono masih
terpana tanpa gerak, menyak- sikan kecantikan gadis itu. Diusapnya kedua
matanya dengan tangan, berusaha meyakinkan penglihatannya. Namun gadis cantik
jelita itu tetap berdiri dengan anggun.
Gadis cantik jelita itu
tersenyum mengundang. Matanya yang indah mengerjap-ngerjap seperti mata
kelinci. Bibirnya merah merekah. Benar-benar tak ada cacat celanya.
Ki Kenjono membalas
senyuman wanita cantik je- lita itu. Kakinya melangkah pelan, berusaha meng-
hampiri wanita cantik jelita yang sebagian kakinya dis- elimuti kabut tebal,
sehingga tidak nampak dari lutut ke bawah.
"Sungguh beruntung
aku. Rupanya akulah yang akan mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im," kata Ki
Kenjono dengan senyum mengembang di bibir. Ka- kinya melangkah setapak demi
setapak menuju Lem- bah Lamur yang tinggal beberapa tombak saja.
Kabut semakin tebal
menyelimuti Lembah Lamur yang kian mencekam. Meski terik matahari terasa menyengat,
namun sinarnya tiada berarti sama sekali, terhalang gumpalan kabut pekat yang
merambah lembah.
Ki Kenjono yang dalam
kegembiraannya, tak lagi sempat berpikir panjang. Langkah kakinya semakin
dipercepat. Dan ketika dia masuk ke dalam kabut itu, seketika dirasakannya
sesuatu yang lain.
"Oh, di mana aku?
Di mana gadis Titisan Dewi Kwan Im itu?" gumam Ki Kenjono kebingungan. Ma-
tanya menyapu ke sekelilingnya yang terasa asing. Ga- dis cantik yang
dilihatnya tadi kini tak ada lagi. Ma- tanya hanya menangkap hutan belantara
yang masih perawan, belum pernah dijamah tangan manusia.
"Mengapa aku ada
di sini...?" tanya Ki Kenjono terheran-heran, masih belum mengerti mengapa
tiba- tiba dia telah berada di tempat yang asing. Padahal dia tadi berada di
lembah tanpa satu pun pepohonan. Yang ada hanya perbukitan yang mengelilingi
lembah tersebut.
"Hik hik hik...!"
Terdengar tawa terkikik yang menyeramkan. Su- ara tawa seorang wanita yang
membuat bulu kuduk Ki Kenjono meremang hebat. Meski dari aliran sesat, na- mun
selama ini baru didengarnya tawa wanita yang mengikik seperti itu.
Mata Ki Kenjono
membelalak tegang dan menya- pu ke sekelilingnya dengan perasaan tercekam.
"Hik hik
hik...!" Tawa wanita itu kembali terdengar. Bergema di sekelilingnya.
Membuat Ki Kenjono kian tegang. Tan- gannya kini bergerak ke gagang Pedang
Iblisnya, ke- mudian pedang itu ditarik dari sarungnya.
Ki Kenjono kini
mempersiapkan Pedang Iblisnya untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ma- tanya masih menyapu ke sekelilingnya yang asing. Su- asana di tempat itu
terasa kian memompa degup jan- tungnya. Suara-suara aneh, terdengar susul-
menyusul. Bagaikan
panggilan dari alam kematian.
"Hih!" Ki
Kenjono mengibaskan tubuhnya ketika bulu kuduknya bertambah meremang. Dan
ketika ke- palanya menengok ke belakang, seketika matanya membelalak lebar
hampir keluar. Cepat-cepat tubuh- nya melompat ke belakang untuk mengelakkan
samba- ran tangan besar berbulu lebat menyeramkan.
"Hogrrrh...!"
Dengus napas makhluk itu sangat menyeramkan. Apalagi tubuhnya yang tinggi
besar, hitam, dan berbu- lu lebat. Matanya merah membara laksana api neraka. Taringnya
mencuat keluar dari mulutnya, menghias sudut-sudut bibirnya hingga tampak
bertambah me- nyeramkan. Di atas kepalanya mencuat pula sepasang tanduk
seruncing mata tombak. Meski wajahnya tam- pak seperti kera, namun sulit sekali
makhluk itu dis- ebut hewan. Lebih tepat jika disebut mambang atau sejenisnya.
"Uh, makhluk
apakah ini?" keluh Ki Kenjono dengan mata masih membelalak, menyaksikan
mak- hluk menyeramkan yang berdiri sepuluh tombak di depannya.
"Hogrrr...!"
Makhluk menyeramkan itu kembali menggeram, kemudian tangannya bergerak
menyambar ke arah Ki Kenjono. Angin sambarannya sangat keras, menyen- takkan Ki
Kenjono.
"Edan!" umpat
Ki Kenjono sambil melompat men- gelakkan sambaran tangan makhluk menyeramkan
itu. Kemudian dengan cepat, pedangnya dibabatkan.
Wut! Tepat sekali
pedang di tangan Ki Kenjono mem- babat tangan makhluk menyeramkan itu, namun pedang
itu bagai tak berarti. Makhluk menyeramkan itu tidak luka sedikit pun. Bahkan
nampak bertambah be-
ringas. "Edan!
Benar-benar setan!" maki Ki Kenjono sambil menghindari sambaran tangan
makhluk yang sebagian tubuhnya terbungkus kabut tebal. Yang tam- pak hanya
bagian perut hingga kepalanya saja.
Ki Kenjono terus
bersalto, berusaha mengelakkan serangan-serangan yang dilancarkan makhluk
menye- ramkan yang berwajah kera, namun memiliki taring dan tanduk. Dengus
napas makhluk itu laksana angin kencang yang menyapu tubuh Ki Kenjono.
"Uts! Ilmu
sihir!" umpat Ki Kenjono setelah bebe- rapa kali menyabetkan pedang ke
tubuh makhluk itu, namun tidak mendapatkan hasil apa-apa. Pedangnya laksana
membabat angin belaka. Hal itulah yang membuat dia merasa yakin kalau makhluk
menyeram- kan itu tak lain hanya ciptaan dari ilmu sihir.
Tangan makhluk
menyeramkan itu kini mencoba mencengkeram tubuh Ki Kenjono. Namun Ki Kenjono
terus berkelit dengan melepas pukulan saktinya.
Wesss! Selarik sinar
terbersit keluar dari telapak tangan Ki Kenjono, lalu menghantam tubuh makhluk
menyeramkan itu. Namun tetap saja makhluk itu tidak men- galami apa-apa. Malah
wajahnya semakin garang berapi-api. Tangannya bergantian menyabet tubuh Ki
Kenjono, membuat lelaki itu kewalahan.
"Gila! Bisa-bisa
tenagaku habis!" rutuk Ki Kenjo- no. Keringat semakin membasahi
pakaiannya. Puku- lan-pukulan sakti yang dihantamkan ke arah makhluk menyeramkan
itu rupanya telah menguras tenaga da- lamnya. Tapi makhluk menyeramkan itu
bagai karang kokoh yang tak bergeming ditampar ombak.
"Hogrrr...!"
Makhluk menyeramkan itu kini menyerang den- gan kuku-kukunya yang hitam dan
panjang. Menceng-
keram ke arah Ki
Kenjono yang semakin kewalahan.
"Uts!"
Beberapa kali Ki Kenjono dibuat pontang-panting ke sana kemari untuk
mengelakkan sambaran- sambaran tangan makhluk itu. Pedang Iblis di tangan- nya
tak berarti sama sekali. Makhluk itu semakin ga- nas dan menyerang dengan
membabi-buta. Geraman- geramannya membuat suasana di sekitar tempat itu menjadi
bergetar.
***
"Hik hik
hik...!". Pada saat nyawanya dihadapkan pada gerbang kematian, Ki Kenjono
kembali mendengar suara tawa wanita yang ganjil tadi. Tawa melengking itu
mengge- ma di sekelilingnya. Bersamaan dengan itu berkelebat sebuah bayangan
putih.
"Dewi Kwan
Im!" seru Ki Kenjono dengan mata membelalak, menyaksikan sosok wanita
cantik berke- lebat ke arahnya. Di tangan wanita itu tergenggam se- bilah pedang
yang memancarkan cahaya merah ke- kuning-kuningan.
"Hik hik
hik...!" Wanita cantik jelita itu kembali tertawa-tawa. Pe- dang di
tangannya seketika berkelebat cepat, memba- bat ke arah tubuh Ki Kenjono.
Cras! "Uhk!
Aaakh...!" Ki Kenjono melolong panjang, ti- dak mampu mengelakkan serangan
yang dilancarkan gadis cantik itu. Matanya membelalak lebar. Wajahnya kini
tersayat hingga mengucurkan darah. Sebuah luka bekas babatan, menganga dari
atas ke bawah wajah- nya. Ki Kenjono seketika meregang, kemudian ambruk tanpa
nyawa.
"Hik hik
hik...!" Wanita cantik itu kembali tertawa terkikik, lalu dengan cepat
tangannya mencengkeram tubuh Ki Ken- jono. Bersamaan dengan itu, makhluk
menyeramkan yang tadi menyerang Ki Kenjono lenyap begitu saja.
Wanita cantik itu pun
berkelebat sambil memba- wa tubuh Ki Kenjono, dan menghilang dalam kegela- pan
hutan. Seketika itu juga, kabut bergulung dengan cepat. Berarak pergi, membawa
semua misteri yang ada.
Suasana Lembah Lamur
kembali hening dan se- pi, menyimpan sejuta tanda tanya. Kini keadaan nam- pak
kembali seperti semula. Sebuah lembah yang ger- sang dan sepi. Dan debu-debunya
beterbangan tersapu angin. Mentari telah condong ke arah barat, menanda- kan
hari menjelang sore. Angin bertiup sepoi-sepoi, se- hingga suasana di sekitar
tempat itu menjadi sejuk.
Saat itu, tiga orang
laki-laki dengan pakaian In- dia tampak melangkah menuju Lembah Lamur. Keti-
ganya berhidung mancung dengan kumis tebal melin- tang. Mereka dipimpin oleh
seorang laki-laki gemuk berpakaian kulit kambing. Wajah pemimpin mereka yang
bernama Amal Meshk, nampak bengis. Cambang bauk kasar menghiasi wajahnya. Alis
mata dan bibir- nya tebal.
Lelaki gemuk itu
sengaja datang dari daratan In- dia. Dia adalah Ketua Perguruan Samarakasta,
sebuah perguruan besar di tanah India. Tentunya kedatangan mereka berkaitan
erat dengan berita tentang Titisan Dewi Kwan Im.
Di belakang lelaki
gemuk itu, berjalan dua lelaki bertubuh gempal. Wajah kedua lelaki ini pun
dipenuhi cambang bauk yang kasar, membuat kesan wajah me- reka terlihat bengis
pula. Pakaian keduanya juga terbuat dari kulit kambing berwarna belang. Di
tangan orang sebelah kin, tergenggam sebuah lambang dari perguruan mereka
dengan gambar seekor elang hitam.
"Masih jauhkah
Lembah Lamur, Ketua?" tanya Rabindra, orang yang berjalan di sebelah kanan
bela- kang sang Ketua.
"Hm.... Kurasa
tidak. Bukankah orang itu me- nunjukkan di sekitar sini," guman sang Ketua
yang bernama Amal Meshk atau Elang Hitam. Matanya me- mandang ke depan, pada
sebuah lembah yang mem- bentang, sepi dan gersang. Di sana debu beterbangan
tertiup angin.
Saat kaki mereka
melangkah ke arah Lembah Lamur, tiba-tiba angin bertiup kencang. Hal itu mem-
buat Amal Meshk dan anak buahnya tersentak. Mere- ka membelalakkan mata, memandang
kaget ke arah Lembah Lamur.
"Hei, lihat! Angin
itu datangnya dari bukit! Ah, aneh sekali. Seakan ada yang mendatangkan angin
itu!" seru Amal Meshk sambil melangkah mundur, be- rusaha menahan tubuhnya
yang gemuk dari sapuan angin lembah yang kencang.
Wusss! Angin lembah
semakin kencang, menderu-deru ke arah mereka. Angin itu seperti sengaja
ditujukan kepada mereka, hingga hembusannya hanya ke arah mereka saja.
"Awas...! Jelas
ini ada yang sengaja mengarahkan angin ke arah kita...!" seru Amal Meshk,
mengingatkan anak buahnya agar berhati-hati.
Wusss! "Celaka!
Angin ini benar-benar bukan angin alam! Angin ini sengaja dibuat oleh seseorang
untuk menghalangi niat kita...!" seru Amal Meshk. "Kajit Singh, cepat
kau bertindak!"
Lelaki yang memegang
panji segera bertindak. Dengan teriakan yang menggelegar, Kajit Singh melesat
"Yeaaah...!"
Tangan Kajit Singh bergerak cepat, saling silang dan kemudian mengibas. Dari
gerakan tangannya, ke- luar angin yang begitu cepat. Semakin cepat tangan Kajit
Singh bergerak, semakin cepat pula angin ber- hembus.
Perlahan-lahan angin
yang menderu ke arah me- reka dapat diatasi. Kini angin yang keluar dari tangan
Kajit Singh, terus menekan angin yang datangnya dari bukit. Pada saat itu,
tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih. Begitu cepat bayangan itu
berkelebat sampai-sampai mereka tidak dapat melihat dengan pasti bagaimana
rupanya.
Kajit Singh tersentak
kaget. Matanya membela- lak. Dia berusaha menghindar, namun ternyata baba- tan
pedang yang mengeluarkan sinar merah kekuning- kuningan di tangan bayangan
putih itu lebih cepat membabat wajah Kajit Singh.
Cras!
"Aaa...!" Kajit Singh memekik keras. Tangannya seketika menutupi
wajahnya yang terbabat pedang. Darah de- ras keluar membanjiri wajahnya. Sesaat
tubuhnya me- regang, kemudian ambruk tanpa nyawa.
Amal Meshk tersentak
kaget, menyaksikan seo- rang anak buahnya dapat dirobohkan oleh bayangan putih
yang belum jelas siapa orangnya.
"Kajit...!"
Amal Meshk hendak lari mendekati tubuh Kajit Singh, namun angin kembali berhembus
kencang.
"Angin
keparat!" maid Amal Meshk marah. Den- gan beringas, tangannya bergerak,
menyapu deru an- gin yang menyerang ke arahnya. "Yeaaat...!"
Amal Meshk yang sudah
marah tak lagi menghi- raukan apa yang bakal terjadi. Tubuhnya terus berke-
lebat sambil menggerak-gerakkan tangan.
"Keluarlah kau!
Hadapi Amal Meshk!" bentak Amal Meshk penuh kemarahan, menantang bayangan
putih yang tiba-tiba saja menjadi malaikat maut bagi Kajit Singh.
Wusss! Angin kembali
menderu kencang. Pada saat itu, sebuah sosok bayangan putih yang memegang
pedang bersinar merah kekuning-kuningan kembali muncul. Bayangan itu berkelebat
cepat, kemudian tangannya bergerak membabatkan pedang ke arah Amal Meshk.
Amal Meshk tersentak.
Tubuhnya menyurut mundur, kemudian segera mengelakkan babatan pe- dang itu.
Tangannya dengan sigap mencabut senja- tanya yang berbentuk cakar elang.
Kemudian dengan membuat jurus 'Elang Hitam Mengepak Sayap Men- cengkeram
Mangsa', Amal Meshk balas menyerang.
"Kau...!"
Amal Meshk terperanjat ketika melihat wajah bayangan putih itu. Namun hanya itu
yang keluar dari mulutnya. Matanya membelalak, menyaksikan sinar terang yang
terpancar dari pedang dan tubuh bayan- gan putih itu. Setelah itu, pedang
bersinar merah ke- kuning-kuningan telah menebas wajahnya.
"Aaa...!"
Amal Meshk memekik. Di wajahnya nampak sayatan pedang dari atas sampai ke
bawah, seakan membelah wajahnya. Matanya melotot tubuh- nya mengejang sebelum
ambruk tanpa nyawa. Begitu juga dengan seorang anak buahnya yang lain.
Suasana Lembah Lamur
kembali sepi, hanya ti- upan angin yang menderu kencang dan sesosok bayangan
putih yang masih berada di lembah itu. Se- dangkan ketiga orang India itu telah
bergelimpangan
menjadi mayat
"Hik hik
hik...!" Bayangan putih itu tertawa, lalu melesat dengan membawa tiga
tubuh yang menjadi korbannya. Kemu- dian, menghilang dalam gulungan kabut yang
tebal.
4
Sena Manggala tampak
tengah melangkah me- nyelusuri gelapnya malam dalam usaha mencari tem- pat
beristirahat. Seharian kakinya telah melangkah untuk mencari berita tentang Mei
Lie yang diculik en- tah oleh siapa. Namun sampai sejauh itu, berita ten- tang
gadis itu belum juga didapatkan.
"Mei Lie, di
manakah kau berada? Ah, telah jauh sekali aku berjalan mencarimu. Bahkan entah
di mana aku kini berada. Mungkin aku telah sampai di perba- tasan wilayah
tengah dan timur," desis Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Mulutnya
tersenyum hampa. Kaki Sena terus melangkah menyelusuri jalan, sampai akhirnya
dia tiba di dekat sebuah bangunan tua. Malam telah larut dengan kegelapan yang
menye- limuti bumi. Udara terasa sangat dingin, menusuk tu- lang sumsum. Kabut
bergerak perlahan, melengkapi kegelapan malam yang semakin mencekam.
"Auuung...!"
Lolongan anjing hutan dari kejauhan terdengar mendirikan bulu kuduk yang
mendengarnya. Namun Sena tak menghiraukan. Dia malah tertawa cekikikan. Tingkah
lakunya seperti orang gila atau terlihat seperti kera kebingungan.
Bangunan tua menjulang
tinggi dengan megah. Meski dalam kegelapan, namun mata Sena mampu melihat
kemegahan bangunan itu.
Mata Sena menatap
puncak bangunan sekaligus menatap langit yang gelap. Malam itu tiada satu pun
bintang terlihat, terlebih bulan. Langit hanya dipadati oleh arakan mega
berwarna pekat
"Hi hi hi....
Malam gelap. Ah..., gulita," gumam Sena sambil cengengesan dengan tangan
masih meng- garuk-garuk kepala. Lalu tertawa tergelak-gelak.
Angin berhembus semakin
dingin, dibarengi oleh kabut yang kian mencekam.
"Auuung...!"
Lolongan anjing hutan terdengar sayup-sayup. Sinar lidah petir berkilat,
membuat suasana di sekelil- ing tempat itu untuk sementara tenang. Saat itulah
matanya melihat sesosok tubuh berjalan terhuyung- huyung. Nampak orang itu
tengah terluka dalam.
"Hei, siapakah
itu?!" tegur Sena setengah berte- riak. "Hi hi hi.... Rupanya aku
tidak sendiri?"
Orang itu berkelebat
cepat ketika mendengar te- guran Sena. Hal itu membuat semakin membuat Sena
penasaran.
"Lho, kenapa
lari?! Eit, tunggu! Hi hi hi...!" Sambil tertawa terkikik-kikik, Sena
berkelebat mengejar. Namun bayangan itu seketika menghilang seakan raib begitu
saja, membuat mata Pendekar Gila membelalak. Tangannya kembali menggaruk-garuk
kepala. Keningnya berkerut.
"Hilang! Ah, dia
menghilang!" Merasa belum yakin kalau bayangan itu hilang, Sena berusaha
mencarinya. Sekeliling tempat itu dije- lajahinya. Tapi bayangan itu tetap tak
ditemukan, le- nyap bagai ditelan bumi.
"Ah ah ah....
Kenapa bersembunyi? Hi hi hi...!" Sena mengerutkan kening. Tangannya
mengga- ruk-garuk kepala. Matanya menyapu ke sekelilingnya,
berusaha meyakinkan
bahwa bayangan yang tadi dili- hatnya benar-benar telah menghilang.
"Hi hi hi....
Aneh, dia menghilang. Hm, siapakah orang itu? Apa mungkin setan...?" pikir
Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya terus menyapu ke sekelilingnya,
berusaha mencari bayangan itu. "Ah ah ah.... Setan?"
Clrrrt...! Glarrr!
Kilatan lidah petir kembali menyala, membuat sekeliling tempat itu kembali
terang. Dan seketika itu pula, Sena kembali melihat bayangan hitam itu yang
melangkah beberapa puluh tombak di hadapannya.
"Aha...! Rupanya
dia sengaja mempermainkan ku!" duga Sena berbisik, merasa dirinya
dipermainkan. "Hi hi hi.... Baik kalau begitu."
Tubuh Sena kembali
melesat, memburu ke arah bayangan hitam itu. Namun lagi-lagi bayangan hitam itu
melesat pergi, seakan mengetahui kalau dirinya di- kejar. "Setan!
Tunggu.... He he he.... Jangan lari!"
Dengan masih
tertawa-tawa, Pendekar Gila beru- saha mengejar bayangan hitam itu. Namun
kembali dia kehilangan jejak. Bayangan hitam itu hilang begitu sa- ja, seperti
dilahap kegelapan. Tinggal Sena yang meng- garuk-garuk kepala sambil
cengengesan. Keningnya di- tepuk. "Oh! Kenapa dia menghilang?!"
"Auuung...!"
Lolongan anjing hutan dari kejauhan berkuman- dang. Begitu memelas lolongannya.
Tak ubahnya ar- wah-arwah penasaran yang terhimpit di antara dua kehidupan, dan
sulit untuk menembusnya.
"Hi hi
hi...!" Sena tertawa lucu. Tampangnya se- perti orang bodoh. Seluruh panca
inderanya dipu- satkan menjadi satu, sehingga jika ada gerak sedikit
saja, dia akan dapat
menangkapnya. Matanya menya- pu ke sekeliling tempat itu. Hanya kegelapan
mence- kam yang dilihatnya. Tak ada tanda-tanda bayangan itu akan kembali
muncul.
Kilat kembali menjilati
bumi, membuat suasana di sekeliling tempat itu kembali terang. Pada saat itu
pula, bayangan hitam itu tampak sekali lagi. Dan kini telah berada di depan
pintu bangunan tua yang tinggi itu.
"Hi hi hi.... Dia
sudah ada di sana," gumam Sena. "Hm, rupanya dia benar-benar ingin
mempermainkan aku! Heh...!"
Sena kembali berkelebat
ke arah bangunan tua itu, memburu bayangan hitam yang tengah berdiri te- nang.
Seakan tidak pernah beranjak dari tempat itu.
"Hi hi hi...!
Rupanya kau hendak mempermain- kan ku, Sobat! Baik kalau kau mau main kucing- kucingan
denganku!" kata Sena agak sewot, merasa dipermainkan oleh bayangan hitam
itu. Dan kini ilmu lari 'Sapta Bayu' dikerahkannya, berusaha menangkap bayangan
hitam yang begitu cepat menghilang.
Wusss! Tubuh Sena dalam
sekejap saja telah melesat laksana angin. Tahu-tahu tubuhnya telah berada di
dekat bayangan hitam yang hendak lari kembali. Den- gan cepat, Sena segera
menghadangnya.
"Mau lari ke mana
kau?!" bentak Sena. Tangan Pendekar Gila bergerak cepat, berusaha
menangkap bayangan hitam itu. Namun belum juga tangannya sempat menjamah,
tiba-tiba....
"Anak tolol!"
Sena tersentak kaget dibentak begitu rupa. Be- lum pernah dia dibentak seperti
itu. Tapi kini bayan- gan hitam itu telah berani membentaknya. Bahkan
bentakannya sangat kasar dengan suara yang mengge-
legar. Tubuh Sena
tersurut dua tindak ke belakang. Keningnya mengerut saat memandang bayangan
hitam yang masih membelakangi tubuhnya.
"Hi hi hi...!
Siapakah kau?!" tanya Sena. "Kenapa kau membentak ku?"
"Hua ha ha...!
Dasar bocah edan!" maki bayangan hitam itu. "Ketololan mu yang akan
membuatmu cela- ka!"
"Heh?! Hi hi
hi...!" Sena menggaruk-garuk kepala. "Kau...."
Belum juga Sena selesai
berkata, lelaki itu mem- buka jubah hitamnya. Kini nampaklah lelaki yang
mengenakan baju panjang berwarna putih dengan ikat pinggang merah dan rambut
digelung ke atas.
"Aha, Guru
rupanya...!" seru Sena sambil meng- garuk-garuk kepala dengan mulut
cengengesan.
Tubuh lelaki tua itu
membalik. Dan nampaklah wajah Singo Edan.
"Hua ha
ha...!" Singo Edan tertawa tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk
kepala, seperti yang di- lakukan Sena. Hal itu menggelitik Sena untuk turut
tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha...!
Kenapa Guru ada di sini?" tanya Se- na seraya menjura hormat
Mata Singo Edan
melotot. "Dasar anak tolol! Rupanya ketololan mu yang membuatmu tak tahu
gelagat!" maki Singo Edan, den- gan tingkah laku seperti orang gila.
"Tolol...? Hi hi
hi..! Bukan tolol, tapi gila, Guru!" sahut Sena sambil tertawa bergelak
dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Guru dan murid itu
tertawa bergelak-gelak. Sea- kan ingin memuaskan suka hati mereka. Tingkah laku
mereka persis dua orang gila.
Singo Edan lalu
melangkah ke dalam bangunan tua itu, diikuti Sena.
"Ikut aku!"
bentak Singo Edan. "Hi hi hi... Baik, Guru." Guru dan murid itu
menuju ke bangunan tua yang menyerupai candi itu, lalu masuk ke dalamnya.
Keduanya berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas dalam keadaan gelap gulita.
Keduanya kemudian duduk
berhadap-hadapan di ruangan itu. Singo Edan menggosok-gosok kuku ja- rinya.
Seketika dari kuku jarinya keluar percikan api, yang semakin lama bertambah
besar. Dalam sekejap ruangan itu menjadi terang.
"Bocah tolol!
Tentunya kau lapar, bukan?" "Lapar? Hi hi hi..! Ya. Aku lapar,
Guru," jawab Sena. "Hua ha ha...! Memang dari dulu hanya makan yang
kau pikirkan, Bocah Edan! Kau benar-benar edan...!" maki Singo Edan.
Matanya memandang tajam muridnya yang duduk di hadapannya. "Ku bawakan kau
makanan. Lihatlah...!"
Sena mengikuti telunjuk
gurunya. Seketika ma- tanya membelalak, menyaksikan sesuatu yang terasa sangat
aneh baginya. Tiga buah kepala manusia ter- tancap dengan bambu!
Sejak kapan guruku
berbuat keji? Oh, benarkah ini guruku yang dulu baik? Tanya Sena dalam hati.
Namun wajahnya seketika kembali seperti semula.
"Ha ha ha...! Lucu
sekali. Apakah itu permainan Guru sekarang?"
"Hua ha
ha...!" Singo Edan turut tertawa. "Kau rupanya kaget, Bocah
Edan?"
"Kaget? Ha ha
ha...!" Sena tertawa bergelak-gelak dengan tangan kembali menggaruk-garuk
kepala. "Ka- get Guru? Aku hanya heran, sejak kapan Guru memi-
liki permainan seperti
ini?"
"Kurang ajar!
Sejak kapan kau berani menentang gurumu, heh?!" sentak Singo Edan marah.
Matanya melotot geram. Api yang menyala dari kuku-kukunya kian besar. Seakan
api itu merupakan lambang dari jiwa lelaki tua itu.
"Ampun, Guru....
Sebenarnya, tidak sekali pun aku berani kurang ajar padamu. Tapi...."
"Diam!"
bentak Singo Edan. Sena menurut "Ketahuilah olehmu, kepala itu adalah
kepala mereka yang berani menentang ku!" tegas Singo Edan, semakin membuat
Sena tercengang. Dia benar-benar merasa aneh dengan tingkah laku dan kata-kata
gu- runya. Tapi sebagai seorang murid yang berbakti, Sena tak mampu membantah.
Hanya dalam hatinya saja yang masih diliputi ketidakmengertian.
Plok, plok, plok! Singo
Edan bertepuk tiga kali. Dan sesaat kemudian, dari dalam candi muncul tujuh
wanita cantik jelita dengan pakaian yang minim. Hanya pada bagian dada dan
bawah pusar saja yang ditutupi. Itu pun sangat minim sekali. Hal itu mem- buat
Sena kian kebingungan, tak mengerti maksud dari gurunya.
Sena menggaruk-garuk
kepala. Mulutnya nam- pak cengengesan, menyaksikan pemandangan yang membuat
matanya membelalak. Rasa herannya sema- kin menjadi-jadi, semakin tidak
mengerti dengan maksud gurunya.
***
"Bawakan bocah
gila ini makanan!" perintah Sin- go Edan pada ketujuh gadis cantik
berpakaian minim yang lantas menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Kemudian ketujuh gadis
cantik itu menjura hormat, sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.
"Guru...."
"Diamlah!" potong Singo Edan. "Bukankah kau lapar?! Jangan
sekali-kali berani menentang ku, jika kau tak ingin seperti ketiga lelaki
itu."
Sena kembali menurut.
Bukannya dia takut ke- palanya dipenggal, namun dia diam karena harus
menghormati lelaki tua di hadapannya. Sebagai orang yang berjasa mengajarkannya
ilmu kedigdayaan.
Plok, plok, plok! Singo
Edan kembali bertepuk tiga kali. Saat itu pula, ketujuh gadis-gadis cantik
berpakaian minim ke- luar. Di tangan mereka, terdapat makanan-makanan lezat
yang mengundang selera. Nasi putih yang masih panas. Ikan bakar. Sambal lengkap
dengan lalap petai. Serta sayur-mayur lainnya. Tidak ketinggalan buah- buahan
segar.
Mata Sena membelalak
lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya dikucek-kucek, namun
semuanya masih tetap ada. Gadis-gadis cantik berpa- kaian minim dengan
makanan-makanan lezat, masih dilihatnya.
O, bukan mimpi. Ah,
sejak kapan Guru bertabiat begini? Tanya Sena dalam hati. Hatinya masih
diliputi ketidakmengertian atas sikap gurunya yang begitu aneh. Meski dia tahu
gurunya juga aneh seperti di- rinya, namun keanehannya kini di luar kebiasaan.
Singo Edan adalah
pendekar yang tidak pernah berhubungan dengan wanita. Bagaimana mungkin kini
memiliki dayang-dayang cantik? Hal lain, Singo Edan tak pernah memenggal kepala
manusia. Tapi kini tiga orang telah terpenggal kepalanya. Itu yang tidak dapat
dipercaya Sena.
"Ayo makan,"
perintah Singo Edan.
"Guru, aku masih
belum mengerti," tukas Sena. "Hm.... Ada apa lagi...?" Sena
menghela napas berat. Matanya meman- dang tujuh dayang cantik jelita yang duduk
di samping kanan dan kiri gurunya. Kemudian pandangannya kembali ke arah
kepala-kepala yang terpenggal itu. Terakhir pandangannya tertuju ke makanan
lezat yang mengundang selera.
"Guru, kau telah begitu
baik padaku. Tapi..., bagaimana mungkin aku harus lancang mendahuluimu?"
tanya Sena yang merasa ragu akan makanan-makanan yang terlihat lezat itu.
"Ha ha
ha...!" Singo Edan tertawa terbahak- bahak. Matanya memandang genit ke
arah dayang- dayang cantik yang duduk di kanan-kirinya. Dibalas pula oleh
ketujuh gadis cantik itu dengan genit. "Ru- panya kau sekarang sudah
kurang ajar pada gurumu, heh?!" Akhirnya, sambil menggaruk-garuk kepala
dan cengengesan, Sena menurut. Diambilnya makanan yang ada di depannya.
Dicicipinya makanan itu. Lezat juga rasanya. Jauh lebih lezat dari makanan yang
bi- asa dimakannya. Aneh, makanan ini enak sekali! Kata Sena dalam hati.
"He, mengapa tidak
dimakan semuanya?" tanya Singo Edan dengan raut wajah tak senang.
"Bukan begitu,
Guru. Bukankah Guru sendiri yang mengajarkan padaku, bahwa aku harus waspada.
Guru juga mengatakan, aku tidak boleh percaya pada siapa pun, termasuk Guru
sendiri...?" jawab Sena be- ralasan. Padahal hatinya merasakan sesuatu
yang ti- dak beres pada diri gurunya. Itu sebabnya dia tidak berani berlaku
sembrono. Terlebih makanan di hada- pannya sangat merangsang selera. Seakan ada
bumbu lain pada makanan itu.
"Ha ha ha...!
Benar apa yang kau katakan," kata Singo Edan sambil tertawa nyaring.
"Baiklah, aku akan mendahuluinya."
Singo Edan segera
mengambil makanan itu. Ke- mudian menyantapnya sampai habis dengan terse-
nyum-senyum. Sedangkan Sena memperhatikan den- gan seksama. Meski dia kebal
terhadap racun apa pun, namun Sena tidak berani gegabah. Racun Kabut Ungu
adalah ciptaan gurunya. Tentunya Singo Edan pun memiliki racun yang melebihi
Racun Kabut Ungu.
"Kau lihat, aku
tak apa-apa. Makanlah, tentunya kau lapar," perintah Singo Edan.
Sena tersenyum sambil
menggaruk-garuk kepala. Kemudian makanan itu diambilnya. Lalu dimakan sampai
habis. Tak ada akibat apa-apa pada dirinya.
"Ha ha ha...!
Bagus! Itu tandanya kau murid yang paling setia dan berbakti!" kata Singo
Edan sambil ter- tawa-tawa.
Sena turut tertawa.
Namun tiba-tiba tubuhnya terasa membara. Keringat dingin bercucuran. Matanya
membelalak, merasakan sakit yang tiada taranya. Pada saat itu, telinganya
mendengar jeritan Mei Lie. Seper- tinya gadis itu memanggil-manggil namanya dan
me- minta tolong padanya.
"Sena...! Tolong
aku...!" "Mei Lie, di mana kau?!" Dalam keadaan tubuh didera
panas hebat, Sena berusaha bangun. Namun tubuhnya seketika lemas.
Tulang-belulangnya bagai dilolosi dari tubuh. Hal itu membuat matanya kini
memandang tajam pada lelaki yang persis gurunya.
"Hua ha ha...!
Akhirnya kau akan mampus juga, Pendekar Gila! Hua ha ha...!" lelaki tua
yang dari tu- buh, suara, serta wajahnya persis dengan Singo Edan
terbahak-bahak menyaksikan Pendekar Gila kini berkelojotan dengan tubuh bagai
membara.
"Kau?! Siapa kau
sebenarnya?!" bentak Sena sambil berusaha memulihkan kekuatannya. Tapi ra-
cun yang telah dimakannya teramat kuat mencengke- ram tubuhnya.
"Hua ha ha...!
Siapa pun aku, kau tak perlu tahu! Yang pasti, kau harus mampus!" lelaki
yang penampi- lannya persis Singo Edan kini mengangkat kedua tan- gannya. Dan
dari telapak tangannya, terpancar sinar merah kehitam-hitaman.
"Sena...! Tolong
aku...!" Suara Mei Lie masih saja terdengar, memanggil- manggil Sena yang
dalam keadaan kritis. Terlebih tan- gan lelaki di hadapannya semakin dekat ke
arah kepa- la Sena yang kini masih bergelinjangan.
"Mampuslah kau!
Yeaaa...!" Sesaat lagi, nyawa Pendekar Gila akan melayang. Kepalanya akan
hancur dihantam oleh pukulan maut lelaki itu. Sebelum semuanya terjadi,
tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat menyambar tubuh Pende- kar Gila sambil
menangkis pukulan tangan lelaki itu.
Blarrr! Ledakan
terdengar menggelegar, dibarengi oleh keluhan lelaki yang mirip Singo Edan.
Tubuh lelaki itu terdorong ke belakang. Sedangkan ketujuh gadis yang menjadi
dayangnya berpentalan dengan keadaan yang mengerikan. Wajah mereka hancur,
terkena tenaga hantaman dua kekuatan dahsyat.
"Ukh...! Setan
alas! Siapa kau...?!" bentak lelaki mirip Singo Edan seraya bangkit dan
mengejar bayan- gan putih yang telah membawa tubuh Pendekar Gila. Namun
bayangan putih itu telah menghilang dalam kegelapan.
Dengan mencaci maki dan
merutuk, lelaki tua itu berkelebat pergi. Tubuhnya terbungkus oleh kabut tebal,
kemudian lenyap dalam sekejap.
5
Orang berjubah putih
yang menyambar tubuh Pendekar Gila terus berlari cepat Begitu cepatnya ber-
lari, sampai-sampai kakinya tak menginjak tanah. Dia melesat cepat laksana
terbang. Tidak begitu lama, sampailah orang itu di pesisir pantai laut selatan.
Orang itu menghentikan
langkahnya. Matanya menyapu ke sekelilingnya, seakan meyakinkan diri ka- lau
tak ada seorang pun yang melihatnya. Setelah ya- kin tak ada seorang pun yang
melihat, dengan me- manggul tubuh Pendekar Gila tubuhnya melenting ke atas.
"Hih!" Tubuh
orang itu bersalto di atas lautan, kemu- dian dengan ringan melesat masuk ke
dalam karang besar yang menonjol di lautan. Dan kakinya mendarat ringan di
depan sebuah goa.
Orang itu menghela
napas seraya memandang wajah Pendekar Gila yang memerah. Kemudian dengan
ringan, kakinya melangkah masuk ke dalam goa yang tak lain Goa Setan. Dan
tentunya orang berjubah putih itu adalah Singo Edan. Guru Pendekar Gila!
"Hm...,"
Singo Edan menggumam. Kakinya terus melangkah ke dalam goa. Sesekali
dipandanginya wa- jah Sena yang kian membara. "Racun jahat!"
Singo Edan berhenti di
sebuah ruangan lebar. Tempat tersebut dulu digunakan untuk tidur Sena Manggala.
Di situ terdapat sebuah batu panjang dan cukup lebar berbentuk datar. Batu
itulah yang biasa- nya dipakai Sena untuk tidur ketika masih berada di Goa
Setan. Tubuh Sena direbahkan di atas batu itu. Setelah memandangi tubuh muridnya,
Singo Edan melangkah keluar. Dia kini menuju ruangan yang digunakan untuk
menyimpan racun dan obat-obatan.
"Racun Sambuk
Nyawa bukanlah racun semba- rangan. Ah, mengapa aku tidak ingat kalau racun itu
masih ada?" keluh Singo Edan, menyesali keteledoran- nya. "Kalau saja
racun itu kuketahui masih ada, ten- tunya Sena tidak mengalami hal seperti
ini."
Singo Edan
menggaruk-garuk kepala. Lalu tan- gannya menepuk-nepuk kening. Matanya mencari
racun-racun yang ada di ruangan itu.
"Huh! Mengapa
racun itu kembali muncul? Bu- kankah racun itu telah musnah bersamaan dengan
musnahnya tukang sihir itu?" tanya Singo Edan pada diri sendiri. Nadanya
masih menyesali keteledorannya, sehingga muridnya harus mengalami hal yang tak
per- nah diduga sama sekali.
Singo Edan terus
mencari obat yang bisa mena- warkan Racun Sambuk Nyawa. Matanya terus me-
mandangi satu persatu botol-botol obat dan racun ter- sebut. Namun tidak juga
ditemukannya.
"Hm.... Bagaimana
mungkin hal itu bisa terjadi? Bukankah Dewi Pemuja Setan telah musnah?"
kening Singo Edan berkerut, memikirkan keanehan itu. Inga- tannya kembali
melayang pada masa mudanya, ketika dia masih malang-melintang di rimba
persilatan. Ber- kelana menumpas keangkaramurkaan.
Suatu hari ketika dia
tengah berkelana, Singo Edan singgah di sebuah desa. Di situ, didengarnya tentang
Dewi Pemuja Setan. Ilmu-ilmunya tinggi, terlebih dalam hal ilmu sihir. Dia bisa
menjelma menjadi mak- hluk apa pun yang dikehendakinya.
Di samping ilmu
sihirnya yang hebat, wanita itu memiliki ilmu racun yang ganas bernama Sambuk
Nyawa. Orang yang terkena racunnya, akan mengalami
kematian yang
mengerikan. Tubuhnya akan menjadi mayat yang mengerikan. Bengkak-bengkak,
kemudian pecah dengan mengeluarkan nanah. Hal itu terjadi be- rangsur-angsur.
Hingga korbannya benar-benar tersiksa hebat
Keduanya bertemu,
kemudian bertarung. Singo Edan tak pernah menyangka, kalau Dewi Pemuja Setan
yang katanya telah berumur tujuh puluh lima ta- hun itu ternyata masih cantik
jelita. Bahkan keliha- tannya masih muda belia, lebih muda dari usianya yang
saat itu berumur dua puluh dua tahun.
Keduanya bertarung
dengan ilmu-ilmu tinggi. Dewi Pemuja Setan mengeluarkan ilmu-ilmu sihirnya.
Namun dengan Suling Naga Sakti, Singo Edan mampu mengatasinya. Sampai akhirnya,
Singo Edan diserang dengan Racun Sambuk Nyawa. Hampir saja Singo Edan mengalami
kematian. Tapi tanpa diduga, di per- jalanan pulang dalam keadaan luka, kakinya
digigit seekor ular berwarna putih.
Setelah digigit ular
itu, anehnya Racun Sambuk Nyawa lenyap. Singo segera memotong tubuh ular putih
yang bernama Sandra Dewa, lalu mereguk darah- nya sampai habis. Rupanya ular
itu adalah obat pena- war dari Racun Sambuk Nyawa yang diambil dari ular merah
yang bernama Wiraga Kala.
Singo Edan pun kembali
mencari Dewi Pemuja Setan. Keduanya kembali bertarung, sampai akhirnya Dewi
Drugadi atau Dewi Pemuja Setan dapat dikalah- kan. Tubuh wanita itu hancur
terkena hantaman sinar yang keluar dan sepasang mata naga di pangkal Suling
Naga Sakti.
"Ah ah
ah...!" Singo Edan menepuk-nepuk ke- ningnya. "Bukankah hanya ada
satu obat yang mampu menawarkan Racun Sambuk Nyawa?"
Dengan tingkah laku
seperti orang gila, Singo
Edan melangkah keluar
dari ruangan itu.
"Aku harus mencari
ular putih itu," bisik Singo Edan seraya menggaruk-garuk kepala.
"Tapi, apa ular itu ada? Menurut kabar, ular itu muncul setiap seten- gah
abad sekali."
Singo Edan
menggaruk-garuk kepala. Kemudian bagaikan orang gila, jari tangannya dihitung.
"Ya ya ya...!
Tentunya ular itu memang ada seka- rang. Aku harus mencarinya," ujar Singo
Edan seraya melangkah ke ruang di mana tubuh Sena tergeletak.
Saat itu tubuh Sena
kian merah membara. Per- tanda Racun Sambuk Nyawa mulai bekerja.
"Hm.... Aku harus menghentikan
jalan darahnya!" Jari Singo Edan segera menotok beberapa bagian tubuh
muridnya untuk menghentikan jalan darah. Dan hasilnya memang baik. Sinar merah
yang memba- ra di tubuh Sena sedikit memudar. Kini tinggal wajah- nya saja yang
masih membara, namun tidak separah sebelumnya.
"Hm.... Bagus!
Kini aku harus segera mencari ular itu. Aku harus ke puncak Gunung
Candraka."
Setelah memandangi
kembali tubuh Sena yang masih tergeletak pingsan, tubuh Singo Edan melesat
meninggalkan tempat itu. Dia harus mencari ular pe- nawar racun yang mengeram
dalam tubuh muridnya.
Tidak lama kemudian,
Singo Edan telah kembali. Di tangannya tergenggam seekor ular berwarna putih
yang masih hidup. Ular itu tak mau menggigit tubuh Singo Edan. Seakan tahu
kalau tubuh lelaki tua itu te- lah kebal terhadap racunnya.
Singo Edan mendekati
tubuh Sena yang masih terbaring tanpa daya. Kemudian mulut ular putih itu
didekatkan ke perut Sena. Sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di tubuh
Sena.
Tep, tep, tep!
"Hm, semoga aku
berhasil," gumamnya sambil mendekatkan mulut ular putih itu. Seketika itu
juga ular putih yang mencium bau racun lawan langsung menggigit perut Pendekar
Gila.
Crab! Ular putih itu
mendesis-desis. Dengan ganas di- gigitnya perut Sena. Bisanya masuk ke dalam
tubuh Sena bersamaan dengan taringnya yang runcing.
Keanehan terjadi. Ular
putih itu menggelepar- gelepar sekarat. Sedangkan tubuh Sena mengepulkan asap
hitam. Pertanda kalau kedua racun itu tengah berusaha saling mengalahkan dalam
tubuh Sena.
Ular putih itu terkulai
lemas. Sedangkan tubuh Sena kini bersinar terang.
"Hua ha ha...! Aku
berhasil!" seru Singo Edan gi- rang, menyaksikan Racun Sambuk Nyawa telah
musnah. Bahkan tubuh muridnya akan kebal terhadap se- gala racun bila meminum
darah ular putih itu.
Singo Edan melangkah,
meninggalkan tubuh Sena yang masih tak bergeming. Tidak lama kemudian, dia
kembali ke tempat itu dengan membawa pisau.
Tuk! Singo Edan menotok
urat leher Sena, membuat mulut pemuda tampan itu membuka. Saat itu juga, Singo
Edan segera menyayat tubuh ular putih yang lemas itu, lalu meneteskan darahnya
ke dalam mulut Sena. "Hm.... Kini semuanya telah beres," gumam Singo
Edan. Dia bergegas meninggalkan tempat itu, untuk menunggu sampai muridnya
siuman.
Benar juga! Tidak lama kemudian,
Sena Siuman. Tubuhnya nampak menggeliat, berusaha melemaskan otot-ototnya yang
kaku.
"Oh! Racun itu
hilang. Ah, tenagaku pulih!" seru Sena girang. Tubuhnya segera melompat
bangkit. Matanya menyapu ke sekeliling tempat itu. "Goa Setan? Ah, bagaimana
mungkin aku di sini? Bukankah tadi aku berada di candi?"
Sena masih kebingungan.
Hatinya seketika dili- puti oleh amarah. Api amarah itu membakar jiwanya, mana
kala benaknya ingat kembali akan perbuatan gurunya di candi itu. Sang Guru yang
dihormati dan dijunjung tinggi petuahnya telah tega meracuninya.
"Keparat! Aku
harus membalas semuanya! Hm.... Kini aku tak peduli siapa pun dia. Meski dia
guruku, tapi dia telah menyakiti ku!"
Sena bergegas keluar
dari ruangan itu. Dia hen- dak mencari Singo Edan yang dianggapnya telah ber-
buat keji. Malah hampir saja dia binasa.
"Mau ke mana?
Tubuhmu masih lemah." Baru beberapa langkah Sena keluar, tiba-tiba
terdengar sua- ra Singo Edan.
Amarah Sena meledak,
setelah mengetahui gu- runya berada di tempat itu juga. Namun, Sena menjadi
agak heran. Dia tak mengerti, mengapa gurunya seper- ti itu? Tadi meracuni dan
bahkan hendak membu- nuhnya. Mengapa kini seakan membiarkan dirinya berbuat
leluasa?
"Kau masih lemah.
Kau perlu istirahat," tegur Singo Edan kembali.
"Persetan dengan
omongan mu!" dengus Sena, sengit. "Sena. Tak baik kau berkata
begitu," kata Singo Edan masih dengan suara tenang.
Kaki Sena melangkah ke
tempat gurunya biasa berada. Kini keduanya berhadap-hadapan. Tapi Singo Edan
masih duduk tenang di atas batu yang biasa di- pergunakannya.
"Kau telah mencoba
membunuhku! Huh, begitu- kah watak seorang guru?!" dengus Sena sinis, dilandasi
oleh kemarahan. "Kau begitu kuhormati! Petuah mu sangat ku agungkan. Namun
ternyata kini kau keji! Kau kejam! Tidak kusangka kalau aku memiliki guru yang
sesat!"
"Sena...!"
seru Singo Edan. "Bertobatlah pada Hyang Widhi, sebelum kukirim kau ke
akhirat! Dosamu telah terlalu banyak!" ujar Se- na dengan suara masih
tinggi, masih diburu oleh ama- rah.
"Sena, dengarlah.
Aku akan menjelaskan pada- mu... " "Persetan denganmu! Berdoalah pada
Hyang Widhi, agar perbuatanmu diampuni! Heaaa...!"
Sena segera menerjang
dengan cepat Bukan lagi jurus pembuka 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' yang di-
gunakan, melainkan jurus 'Si Gila Melebur Gunung Karang'. Tangannya bagai
sepasang tangan milik dewa, menghantam dan menyambar tubuh Singo Edan.
"Uts..!"
Bukkk! Singo Edan yang tahu kalau muridnya salah pa- ham, sama sekali tidak mau
membalas. Dia hanya me- nangkis serangan-serangan yang dilancarkan Sena.
Tingkah keduanya persis orang gila yang bercanda da- lam lingkaran maut. Namun
justru gerakan-gerakan itu yang sangat dahsyat dan berbahaya.
"Sena,
hentikanlah! Kau salah paham, Anak- ku...," bujuk Singo Edan, masih berusaha
menyadar- kan muridnya.
"Salah paham? Ha
ha ha...! Rupanya nyalimu te- lah ciut! Tidak kusangka, orang yang selama ini
ku agung-agungkan ternyata tidak lebih dari iblis bertu- buh manusia!
Heaaa...!" Sena terns melancarkan jurus-jurus gilanya. Jurus- jurus yang
sangat dahsyat. Namun begitu, Singo Edan
yang juga amat
menguasai jurus-jurus itu jelas tak mengalami kerepotan. Kalau mau, tentunya
Singo Edan mampu menghentikan semuanya. Tapi Singo Edan tidak melakukannya.
Kalau dilakukannya, tentu Sena akan semakin yakin kalau dia yang telah mera-
cuninya.
"Rupanya kau telah
dikuasai oleh iblis! Hingga kau semakin sombong dan takabur. Lupa akan kekua-
saan Hyang Widhi!" dengus Sena marah, menyaksikan Singo Edan tak juga mau
balas menyerang.
"Sena, lakukanlah
apa yang kau inginkan! Kau tak akan percaya kalau aku menjelaskannya. Untuk
itulah, sebagai pendekar yang berpegang teguh atas kebenaran dan keadilan, aku
rela mati di tanganmu. Tangan muridku sendiri! Nah, lakukanlah! Cabut Sul- ing
Naga Sakti, sebab hanya senjata itulah yang mam- pu membunuhku!" seru
Singo Edan.
"Sena, dengarlah.
Aku akan menjelaskan...." "Persetan denganmu! Berdoalah pada Hyang
Wid- hi, agar perbuatanmu diampuni! Heaaa...!"
"Uts...!"
Bukkk! Singo Edan tahu kalau muridnya salah paham, maka serangannya hanya
ditangkis dan tidak dibalas!
Sena tersentak seraya
melompat mundur dua tindak. Matanya menatap tajam wajah gurunya yang masih
tersenyum. Tangannya memegang Suling Naga Sakti yang terselip di pinggangnya.
"Kau ragu, Sena?
Kalau begitu, lakukanlah den- gan jurus maut mu yang dahsyat. Yang kau dapatkan
di hutan dari seekor kera. Bukankah jurus 'Tamparan Sukma' yang kau kuasai,
jauh lebih dahsyat diban- dingkan dengan jurus-jurus gila? Ayo,
lakukanlah!" tantang Singo Edan, menyaksikan muridnya kini hanya terdiam.
Nampaknya Sena dilanda kebimban- gan.
Singo Edan tertawa
terbahak-bahak. "Kau takut Sena?" "Tidak...!" "Mengapa
tidak kau lakukan?" tanya Singo Edan. "Baik! Jangan menyesal kalau
aku membunuhmu! Maaf...!"
Usai berkata demikian,
Sena segera memperaga- kan jurus 'Tamparan Sukma'nya. Singo Edan tak ber-
geming dari tempatnya berdiri. Bahkan mulutnya ma- sih tersenyum. Matanya masih
memandangi gerakan- gerakan yang dilakukan muridnya.
"Heaaa...!"
Sena bergerak hendak menyerang. Namun saat itu juga, sebuah bayangan berkelebat
menghadang ge- rakannya. Bayangan itu segera memapaki jurus yang
dilakukan Sena.
"Nguk!"
Desss! "Ukh...!" Sena mengeluh pendek. Matanya seketika mem- belalak,
menyaksikan siapa yang telah menghadang jurus 'Tamparan Sukma'nya. Ternyata
seekor kera.
"Kau...?! Mengapa
kau menghalangi niatku, Ka- wan?! Dia jahat! Dia telah membunuh orang dengan
keji. Dia telah melanggar sumpahnya untuk tidak main perempuan. Dia juga telah
meracuni ku. Uhuk...!"
Sena terbatuk-batuk.
Tenaganya yang belum pu- lih benar, membuat tubuhnya belum kuat. Hanya karena
amarah saja, membuatnya memaksakan diri un- tuk bangkit. Tubuh Sena
terhuyung-huyung, dan kembali jatuh pingsan.
Entah sudah berapa lama
Sena tak sadarkan diri. Ketika terbangun, tubuhnya telah berada di atas pembaringan
semula. Di kanan dan kirinya, Singo Edan dan Kera Sakti menungguinya.
"Kawan, mengapa
kau membela orang yang ja- hat?" tanya Sena pada Kera Sakti.
"Nguk,
nguk...!" Kera Sakti menggeleng-gelengkan kepala. Kemu- dian dengan bahasa
isyarat, Kera Sakti mengatakan kalau Sena justru yang telah salah sangka. Singo
Edan tetap seperti dulu. Tetap gurunya yang bijaksana. Bahkan Kera Sakti
menjelaskan, bahwa Singo Edan yang membawa Sena ke Goa Setan.
"Guru....
Ampunilah saya. Hukumlah saya yang telah lancang dan berdosa," ratap Sena,
menyesali perbuatannya yang telah lancang terhadap sang Guru.
Singo Edan tertawa
terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lucu sekali kau,
Bocah Gila! Hua ha ha...! Mengapa kau meratap seperti itu, Bocah Edan! Kau
tidak salah. Bangunlah! Kebetulan sahabatku datang kemari," kata Singo
Edan.
Sena segera bangun.
Lalu menyembah dan men- cium kaki gurunya. Kemudian setelah Singo Edan memegang
pundaknya dan menyuruhnya berdiri, Sena pun menurut dan berdiri.
"Kita
ngobrol-ngobrol. Bagaimana, Sahabat?" tanya Singo Edan pada Kera Sakti.
"Nguk,
nguk...!" Kera Sakti mengangguk-angguk. Lalu mereka bertiga melangkah ke
tempat Sena dan gurunya berta- rung. Singo Edan duduk di tempat biasa.
Sementara Sena dan Kera Sakti duduk bersila di bawah.
"Dengarlah
baik-baik olehmu, Sena," tutur Singo Edan. Kemudian dia pun menceritakan
siapa sebenar- nya Kera Sakti itu, juga hubungannya dengan mereka yang mewarisi
ilmu Pendekar Gila dari Goa Setan.
Kera Sakti itu adalah
sahabat baik dari Pendekar Gila terdahulu. Asalnya, orangtua sekaligus guru
dari Kera Sakti, dikeroyok oleh manusia. Sepasang kera itu dikeroyok oleh
orang-orang rimba hitam karena diang- gap menjadi penghalang sepak terjang
mereka. Hampir saja kedua orangtua Kera Sakti binasa. Saat itu datang Ki Amba
Dewa atau Pendekar Gila dari Goa Setan yang menolong mereka dan mengalahkan
para tokoh rimba hitam. "Nah, sejak saat itulah Eyang Guru bersahabat
dengan kedua orangtua Kera Sakti. Bukan begitu, Kera Sakti?" tanya Singo
Edan. "Nguk, nguk...!" Kera Sakti mengangguk-angguk. "Itu
sebabnya dia menolongmu, Sena. Sekarang kalian dengarlah tentang apa yang telah
menimpa Se- na."
Kembali Singo Edan
menceritakan tentang Dewi Drugani atau Dewi Pemuja Setan. Secara singkat Singo
Edan menceritakan semuanya.
"Aku heran,
bagaimana mungkin racun itu ada lagi? Padahal Dewi Pemuja Setan telah lenyap
puluhan tahun silam."
"Kalau begitu,
biarlah aku yang akan menyelidi- kinya, Guru."
"Ya! Berangkatlah.
Doa ku akan selalu mengiringi mu," kata Singo Edan.
Setelah menjura, Sena
beranjak pergi meninggal- kan tempat itu untuk meneruskan petualangannya yang
sempat tertunda akibat kelalaiannya.
Kera Sakti pun
meninggalkan Goa Setan, selang beberapa saat setelah kepergian Sena (Mengenai
Kera Sakti, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Duel di
Puncak Lawu").
6
Lembah Lamur pagi itu
masih diselimuti kabut tebal. Dari arah utara, nampak tiga lelaki berambut
merah melangkah menuju lembah itu. Dilihat dari warna rambut dan jubahnya,
jelas ketiga lelaki itu adalah Tiga Setan Rambut Api.
Seperti tujuan orang-orang
persilatan lainnya, Tiga Setan Rambut Api juga bermaksud mencari Titisan Dewi
Kwan Im, yang menurut kabar berada di Lembah Lamur. Ketika Tiga Setan Rambut
Api melangkah menuju ke arah Lembah Lamur, tiba-tiba berkelebat dua bayangan.
Seorang berjubah putih dan berwajah persis dengan Singo Edan. Sedangkan satu
lagi seorang gadis cantik berkulit kuning langsat seperti orang Cina. Di pundak
gadis itu tersandang sebilah pedang yang ga- gangnya terbuat dari emas.
Melihat kehadiran gadis
cantik berbaju putih tersebut, seketika Tiga Setan Rambut Api membelalakkan
mata. "Dewi Kwan Im...!"
"Hua ha ha...!
Rupanya mata kalian masih belum buta, Tiga Setan Rambut Api," kata lelaki
berwajah Singo Edan. Nada suaranya menunjukkan kesombon- gan. "Apa yang
kalian lihat memang benar. Dialah Titi- san Dewi Kwan Im. Dan akulah yang
memilikinya."
Tiga Setan Rambut Api
membelalakkan mata, mendengar ucapan lelaki tua yang berdiri sekitar sepu- luh
tombak di depan mereka. Kemudian ketiganya sal- ing pandang dengan kening
berkerut
"Bukankah dia
Singo Edan?" tanya Untara. "Ya!" sahut kedua adiknya. "Hm,
bagaimana mungkin Singo Edan punya niat untuk mendapatkan Titisan Dewi Kwan
Im?" tanya Un- tara bergumam. Matanya masih memandang lekat pa- da lelaki
tua yang persis dengan Singo Edan, kemu- dian beralih pada gadis cantik di
sampingnya.
"Hua ha ha...! Apa
yang kalian bingungkan?" tanya lelaki tua yang wajahnya persis Singo Edan.
"Kusarankan pada kalian, lebih baik kalian bergabung denganku!"
"Hm...,"
Untara bergumam. Matanya mengerling pada kedua adiknya yang menganggukkan
kepala. "Aha, sungguh tidak kuduga kalau Singo Edan ru- panya masih saja
tergiur oleh hal duniawi. Ternyata sumpahmu untuk tidak menikah hanya omong ko-
song!" "Hua ha ha...! Kau salah, Untara. Bagaimanapun juga, aku
lelaki normal. Lagi pula, aku pun ingin men- jadi orang yang tak tertandingi.
Bukankah dengan memiliki Titisan Dewi Kwan Im, keberuntungan ada padaku?"
Tiga Setan Rambut Api
kembali saling pandang mendengar penuturan Singo Edan. Kening mereka se- makin
berkerut. Mereka benar-benar tidak mengerti, bagaimana mungkin Singo Edan bisa
berubah? Yang mereka ketahui, Singo Edan adalah tokoh aliran lurus yang gigih
menumpas kejahatan. Mana mungkin sece- pat itu berubah? Mungkinkah selama
menghilang Sin- go Edan telah mengubah pikirannya?
Tiga Setan Rambut Api
benar-benar tak habis pi- kir. Bagaimanapun juga, mereka telah mendengar nama
besar Singo Edan. Begitu juga dengan sepak ter- jangnya puluhan tahun yang
silam. Kalau kini tiba- tiba berubah, rasanya sangat aneh sekali.
"Hm.... Kau benar,
Singo Edan. Memang setiap manusia memiliki ambisi. Kami tahu siapa kau. Namun
begitu, kami pun tak mau kehilangan Titisan De- wi Kwan Im," kata Untara
setelah lama merenung, mencoba menyibak keanehan Singo Edan.
"Jadi kalian ingin
mengambilnya dariku?" "Ya!" sahut Untara. "Hua ha ha...!
Kuakui nama besar kalian memang menakutkan. Tapi Singo Edan bukan anak kecil
yang bisa digertak!" dengus Singo Edan. "Kusarankan, agar kalian cepat
bersujud meminta ampun atas tindakan kalian yang berani datang ke Lembah Lamur
ini, sebe- lum aku berubah pikiran."
"Kurang ajar!
Jangan kira kami takut menghada- pimu, Singo Edan! Untuk mendapatkan Titisan
Dewi Kwan Im, kami siap bersabung nyawa denganmu!" dengus Undani.
"Ya! Lagi pula,
kami memang ingin sekali-sekali mencoba ilmumu!" timpal Umbakara.
Singo Edan tertawa
tergelak-gelak mendengar tantangan yang diucapkan Tiga Setan Rambut Api. Sepertinya
tantangan mereka bagai tiada arti sama sekali baginya.
"Percuma kalian menantangku.
Guru kalian se- kalipun tak akan mampu menandingi ku!" kata Singo Edan,
pongah.
"Tutup mulutmu,
Singo Edan! Kuharap kau mau memberikan gadis itu pada kami! Atau kami terpaksa
menghajarmu!" bentak Untara marah.
"Hua ha ha...!
Kalian lucu sekali. Bagaimana mungkin kalian yang tolol memiliki Titisan Dewi
Kwan Im? Hua ha ha...!" Singo Edan kembali tertawa terba- hak-bahak.
Kemudian senyumnya mengembang den- gan sinis. Membuat Tiga Setan Rambut Api
semakin dibakar oleh amarah mendengar ucapan itu.
"Hhh...!
Sombong!" rutuk Undani. "Rupanya mu- lutmu memang harus
disobek!"
"Lebih baik kita
hajar saja, Kakang," tukas Um- bakara. Singo Edan kembali tertawa.
Amarah Tiga Setan
Rambut Api kian membara, mendengar ucapan Singo Edan serta tawanya yang penuh
ejekan. Ketiganya segera meloloskan cambuk. Kemudian dengan mendengus, mereka
maju serentak.
Ctar!
"Yiaaat..!" "Mei Lie, bunuh mereka!" perintah lelaki yang
berwajah mirip Singo Edan.
Seketika Mei Lie atau
Titisan Dewi Kwan Im men- cabut pedangnya. Pada saat itu pula, sinar merah kekuning-kuningan
memancar dari mata pedang, mem- buat Tiga Setan Rambut Api tersentak.
"Pedang
Bidadari...!" seru ketiganya sambil me- lompat mundur.
"Hua ha ha...!
Kalian seperti tikus ketakutan.
Nah, aku kembali
menyarankan pada kalian. Lebih baik kalian ikut denganku, daripada kalian harus
mampus oleh Pedang Bidadari!" seru lelaki berwajah seperti Singo Edan.
Tiga Setan Rambut Api
saling pandang. Kemu- dian mereka memasukkan cambuk ke ikat pinggang
masing-masing.
"Baiklah, kami
menyerah." "Bagus! Percuma kalian melawanku," ucap Singo Edan
masih dengan suara penuh kesombongan. "Ikut aku!" Tubuh kelima orang
itu pun berkelebat pergi, masuk ke dalam kabut tebal yang bergulung-gulung. Dalam
sekejap mereka telah menghilang.
***
Selang beberapa saat
kemudian, ketika kabut yang menyelimuti Lembah Lamur telah hilang. Nampak dua
lelaki melangkah ke tempat itu. Keduanya berwa- jah kembar dan tampan. Pakaian
yang dikenakan kun- ing mengkilat bergaya pakaian Bali. Golok panjang ber-
tengger di punggung mereka. Dilihat dari pakaian ke- duanya, nampaknya mereka
dari golongan atas.
Dua lelaki kembar
berkumis tipis itu datang dari wilayah timur tanah Jawa Dwipa. Mereka pun ten-
tunya telah mendengar berita tentang Titisan Dewi Kwan Im. Di rimba persilatan,
mereka mendapat gelar Manyar Kembar dari Bali. Yang tertua bernama Ma- nyar
Ngesti dan yang muda bernama Manyar Asti.
"Kau yakin di sini
tempatnya, Asti?" tanya Ma- nyar Ngesti.
"Entahlah,"
sahut Manyar Asti dengan mata me- nyapu ke sekelilingnya yang sepi. Tak ada
tanda-tanda kehidupan di lembah itu. Satu pohon pun tidak ada.
Yang ada hanya bukit
kecil dan debu-debu yang beter- bangan manakala angin bertiup.
"Hm.... Bagaimana
mungkin tempat seperti ini dikatakan ada orangnya? Tidak masuk akal,"
gumam Manyar Ngesti. Matanya masih menyapu ke sekeliling tempat itu. Namun
masih saja tidak ada tanda-tanda kehidupan. "Bagaimana mungkin Titisan
Dewi Kwan Im ada di sini?"
"Hhh...! Kurasa
ada misteri di tempat ini, Ka- kang," desah Manyar Asti.
"Mungkin."
"Lihat, ada kabut!" seru Manyar Asti sambil me- nunjuk ke arah kabut
tebal yang bam saja datang dari bukit-bukit kecil di sebelah selatan.
"Ya! Hei, kabut
itu bergerak kemari!" pekik Ma- nyar Ngesti.
"Sepertinya ada
yang menggerakkan, Kakang." "Benar! Cepat kita hadang dengan pukulan
'Sari Rogo'!" "Siap, Kakang! Hiaaa...!"
Mereka segera
menyatukan satu telapak tangan. Sedangkan tangan yang lain, kini digerakkan
mengarah ke gulungan kabut yang merayap menuju mereka. Dari tangan mereka
terbersit sinar bergulung- gulung bagai gelang-gelang terbang berwarna biru.
Lingkaran-lingkaran itu semakin bertambah besar. Sampai akhirnya bertemu dengan
kabut untuk meng- hadangnya.
"Yeaaat..!"
"Waaat..!" Kedua lelaki kembar itu semakin mengerahkan tenaga
dalamnya, menjadikan lingkaran sinar biru kian banyak dan kuat. Namun kabut
yang datang ter- nyata lebih kuat
"Celaka! Angin
membadai datang!" seru Manyar Ngesti kaget
"Benar, kakang!
Apa yang harus kita lakukan?" tanya Manyar Asti.
"Cepat kita ganti
dengan 'Perangkap Buana'." "Mari, Kakang! Yiaaat..!"
"Heaaat..!" Tangan mereka kini terlepas satu sama lain. Dis- ilangkan
ke depan, kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam, keduanya menghentakkan
telapak tan- gan ke arah kabut
Srrrt! Larikan-larikan
sinar kuning bagai bambu, ke- luar dari telapak tangan mereka. Larikan-larikan
lurus itu lalu memagari kabut tebal itu. Seperti perangkap raksasa dari bambu.
"Kita berhasil,
Kakang!" seru Manyar Asti, me- nyaksikan pukulan sakti mereka dapat
menghadang kabut. Namun tiba-tiba angin kencang menyapu ke arah mereka dengan
keras.
"Celaka...!"
pekik Manyar Ngesti. Mata lelaki berwajah tampan itu membelalak te- gang,
merasakan sesuatu yang tidak pernah didu- ganya. Selama ini, keduanya belum
pernah mengalami kegagalan seperti itu. Ajian-ajian yang mereka kerah- kan,
senantiasa mendapatkan hasil. Tapi kini malah berantakan. Tak satu pun bisa
menghadang kabut tebal itu.
"Ini bukan kabut
sembarangan, Asti," desis Ma- nyar Ngesti.
"Sepertinya benar,
Kakang!" sahut Manyar Asti. "Ya! Entah siapa yang memiliki Kabut Gaib
itu," gumam Manyar Ngesti. "Rupanya benar kalau Titisan Dewi Kwan Im
ada di tempat ini. Ini sebuah halangan yang dibuat oleh para dewata."
Wusss! Angin kencang
menderu ke arah mereka, mem- buat pakaian yang mereka kenakan tersibak. Bahkan
kain pengikat kepala mereka terbang tertiup angin. Tubuh mereka gontai,
berusaha menahan hembusan angin yang menderu keras.
Pada saat itu,
tiba-tiba dari kepungan kabut ber- kelebat sebuah bayangan putih. Tangan
bayangan itu menggenggam sebilah pedang bersinar merah kekun- ing-kuningan.
"Heaaat..!"
"Dewi Kwan Im...!" pekik keduanya kaget setelah melihat siapa yang
keluar dari dalam kabut tebal itu. Seorang gadis cantik dengan kulit kuning
langsat
"Awas,
Asti...!" seru Manyar Ngesti mengingatkan adiknya, ketika sosok wanita
cantik berkulit kuning langsat itu membabatkan pedang ke arah mereka. Tangan
kirinya dengan cepat mendorong tubuh Ma- nyar Asti. Sedangkan tangan kanannya
segera menca- but golok panjang di punggungnya.
Srrrt! Trang!
"Hiaaat..!" Manyar Ngesti berusaha membalas serangan la- wan seraya
memiringkan tubuh. Golok panjangnya di- babatkan dengan cepat.
Menyaksikan kakaknya
menyerang, segera Ma- nyar Asti ikut mencabut goloknya. Didahului pekikan
menggelegar, Manyar Asti menyerbu ke arah gadis can- tik dari Cina yang
dianggap oleh mereka sebagai Titi- san Dewi Kwan Im.
"Aha, rupanya
Titisan Dewi Kwan Im sendiri yang menemui kami! Kakang, beruntung sekali kita
rupanya. Jangan sampai dia celaka. Kita harus menang- kapnya hidup-hidup,"
ujar Manyar Asti sambil bergerak melakukan serangan. Tangannya berusaha meno-
tok tubuh gadis cantik dari Cina itu. Namun gadis yang diserang dengan cepat
memutar pedangnya ke tangan lawan.
"Heaaat!"
Wut! "Uts...!" Manyar Asti cepat menarik tangannya. Kurang cepat
sedikit saja, tentu tangan Manyar Asti akan terbabat oleh pedang lawan.
"Celaka! Dia dalam keadaan tak sadar, Kakang! Rupanya ada seseorang yang
mempengaruhinya!"
"Benar! Rupanya
kita telah tertipu oleh cerita me- reka! Dia bukan Titisan Dewi Kwan Im!"
"Ya! Awas,
Kakang!" Wut! Hampir saja pedang di tangan gadis cantik dari Cina itu
membabat tubuh Manyar Ngesti. Untunglah Manyar Ngesti segera mengelakkannya.
"Gadis ini tak
mungkin kita tundukkan, Kakang. Yang bekerja pada otaknya, bukan kehendaknya.
Tapi kehendak orang yang mempengaruhinya!"
"Benar!"
Keduanya kini tidak mau main-main lagi, setelah tahu kalau gadis Cina itu dalam
keadaan terpengaruh. Manyar Ngesti dan Manyar Asti dengan cepat memba- batkan
golok ke arah lawan.
"Yiaaat...!"
Trang! Prak! Manyar Ngesti tersentak kaget, ketika goloknya terbabat pedang di
tangan gadis Cina itu. Goloknya se- ketika patah menjadi dua, tak mampu menahan
baba- tan pedang di tangan lawan.
"Celaka...!"
pekik Manyar Ngesti kaget, ketika pe- dang lawan kini bergerak cepat ke
arahnya. Tentu pedang lawan akan membabat wajahnya, kalau saja tu- buhnya tidak
segera berkelit ke samping.
Gadis Cina itu terus
melabrak. Gerakannya mungkin tidak sehebat para pendekar pedang. Namun pedang
di tangannya bagai menambah kehebatan bagi siapa saja yang memegangnya. Dan itu
yang membuat gadis Cina yang tak lain Mei Lie, bergerak begitu lin- cah, cepat
dan mematikan. Sangat bertentangan sekali dengan jurus 'Pedang Bidadari' yang
dipelajarinya.
"Hiaaa...!"
Wut, wut, wut...! Pedang bidadari bergerak cepat laksana angin, membabat dan
menusuk ke arah dua orang lawan yang kini dalam keadaan terdesak.
"Celaka, Kakang!
Dia benar-benar kerasukan!" keluh Manyar Asti.
"Ya! Kita harus
bisa mematahkan serangannya! Kita gunakan saja aji 'Sari Rogo'."
Setelah mengelak
beberapa tombak ke belakang, keduanya segera membuka ajian 'Sari Rogo' yang mereka
kuasai. Setelah melihat lawan hendak kembali menyerang, mereka segera
melontarkan ajian tersebut
"Yiaaa...!"
"Heaaat..!" Larikan sinar biru bergulung-gulung keluar dari tangan
mereka. Sinar biru itu kembali membelit tubuh Mei Lie. Seketika tubuh gadis itu
bagai dibelenggu oleh sinar biru.
"Ha ha ha...! Kita
berhasil, Kakang!" seru Manyar Asti senang, menyaksikan ajian mereka dapat
membe- lenggu tubuh Mei Lie, sehingga gadis Cina itu tak mampu lagi bergerak.
"Kita bawa saja
dia pergi dari sini," usul Manyar Ngesti. 'Ya! Kurasa dia tidak bersalah.
Kita harus menolongnya," sambut Manyar Asti.
Keduanya hendak membawa
pergi tubuh Mei Lie dengan mengerahkan tenaga dalam mereka agar belenggu yang
membelit tubuh Mei Lie tak lepas. Tapi be- lum juga mereka beranjak pergi,
tiba-tiba....
"Lepaskan
dia!" Kepala lelaki kembar itu langsung menengok ke belakang. Kini nampak
tiga lelaki berjubah merah. Rambut mereka pun berwarna merah bagai api. Ten-
tunya ketiga lelaki ini tiada lain dari Tiga Setan Rambut Api.
"Tiga Setan Rambut
Api. Hm.... Apa urusan ka- lian dengan gadis ini, sehingga kalian mencampuri
urusan kami?" tanya Manyar Ngesti tak senang. Terle- bih setelah tahu
siapa mereka. Tiga lelaki dari aliran sesat tersebut merupakan musuh
masyarakat. Kejaha- tan mereka telah menjadi momok yang menakutkan.
"Aha, beruntung
sekali kami menemukan kalian di sini!" dengus Manyar Asti. "Kebetulan
sekali. Dari jauh kami datang mencari kalian. Tidak disangka, ak- hirnya kami
bisa menemukan kalian di sini!"
Tiga Setan Rambut Api
tersenyum sinis, menyak- sikan kedua lawannya. Seakan ketiganya menganggap
kedua lawan bukan orang-orang yang harus ditakuti. Terlebih karena Singo Edan
bersama mereka. Siapa pun tokoh rimba persilatan, akan berpikir seratus kali
untuk menghadapi Singo Edan.
"Manyar Kembar!
Kuperingatkan pada kalian agar melepaskan gadis itu. Kemudian segeralah me-
nyembah!" bentak Untara dengan mata melotot marah, pertanda marah.
Manyar Kembar dari Bali
tertawa terbahak-bahak mendengar perintah Untara yang dianggapnya sombong.
"Setan laknat! Berani sekali kalian mengancam kami! Kalianlah yang harus
menyerah untuk kami hu- kum!" balas Manyar Asti tak mau kalah. Meski
mereka belum pernah bertarung, namun Manyar Asti merasa yakin dapat menunaikan
tugas para pendekar aliran putih untuk menangkap Tiga Setan Rambut Api.
"Kurang ajar!
Rupanya kalian berdua mencari mampus!" maki Undani. "Jangan salahkan
kalau tan- gan kami akan memecahkan batok kepala kalian!"
"Hm.... Apa tidak
sebaliknya?" ujar Manyar Ngesti sinis. "Mungkin kepala kalianlah yang
akan kami pecahkan!"
"Bedebah! Ku
rencah kepala kalian! Hiaaat..! "Yeaaah...!" Srrrt, srrrt, srrrt!
Tiga Setan Rambut Api menarik cambuknya. Kemudian dilecutkan ke udara.
Ctarrr!
7
Cambuk di tangan Tiga
Setan Rambut Api melecut ke arah Manyar Kembar dari Bali. Menimbulkan
percikan-percikan api dengan suara yang menggelegar melebihi halilintar. Itulah
jurus 'Lecutan Ekor Naga Api Menghantam Bukit'.
Melihat Tiga Setan
Rambut Api telah menyerang, dengan cepat Manyar Kembar dari Bali berkelit Kemu-
dian disusul oleh serangan pukulan dan babatan golok mereka. Dengan menggunakan
jurus 'Sepasang Manyar Menyambar Walang', Manyar Kembar dari Bali balas
menyerang. Golok di tangan mereka menukik laksana paruh dan membabat laksana
sayap burung manyar.
"Hiaaat..!"
Pertarungan dua melawan
tiga dalam sekejap berjalan dengan cepat. Masing-masing berusaha men- galahkan
lawan. Namun begitu, Manyar Kembar dari Bali bukanlah tokoh aliran putih
sembarangan. Ilmu mereka bukan ilmu pasaran. Meski satu orang tidak lagi
memakai golok, namun kekompakan mereka da- lam menyerang masih cukup tangguh.
"Hiaaat...!"
Ctar! Tiga Setan Rambut Api terns mengumbar seran- gan dengan lecutan-lecutan
cambuknya yang mengge- legar laksana halilintar. Di lain pihak, ternyata Manyar
Kembar dari Bali memang sepasang pendekar yang cukup tangguh. Keduanya dengan
mudah mengelak- kan serangan cambuk lawan. Bahkan dengan cepat balas menyerang
dengan babatan golok dan hantaman tangan.
"Kita harus cepat
membereskan mereka, Ka- kang," kata Umbakara.
"Benar! Kalau
tidak, tentunya Singo Edan akan marah pada kita," sambung Undani.
Manyar Kembar dari Bali
langsung tersentak mendengar nama Singo Edan disebut oleh Tiga Setan Rambut
Api. Keduanya sesaat menghentikan serangan dan saling pandang dengan heran.
"Apakah omongan
mereka benar, Kakang?" tanya Manyar Asti.
"Entahlah. Rasanya
mustahil kalau Singo Edan menjadi dalang semuanya."
"Tapi, mereka
kelihatannya sungguh-sungguh. Mereka tampak takut," ungkap Manyar Asti
masih bimbang. "Kalau benar Singo Edan yang mendalangi semua ini. Jelas
dunia bisa hancur. Siapa orang yang mampu mengalahkannya?"
Kecut juga nyali Manyar
Kembar dari Bali setelah
mendengar nama Singo
Edan disebut. Bagaimanapun juga, nama besar Singo Edan pernah mereka dengar.
Jangankan dia, muridnya saja sulit dicari tandingan- nya. Tapi Pendekar Gila
adalah penegak kebenaran dan keadilan. Bagaimana mungkin Singo Edan justru
memihak kejahatan! Bahkan kini mendalangi kejadian yang telah banyak makan
korban? Itu yang tidak dapat diterima oleh pikiran kedua tokoh dari Bali ini.
"Bisa saja mereka
hanya menggertak kita, Asti. Bagaimanapun juga, rasanya tidak masuk akal kalau
Singo Edan membela mereka dan mendalangi semua ini," tukas Manyar Ngesti,
meyakinkan diri mereka.
"Hm, mungkin
juga." "Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang pasti, kita harus segera
menangkap mereka."
"Mari, Kakang.
Heaaat..!" "Yiaaat..!" Manyar Kembar dari Bali kembali
menggebrak. Manyar Asti membabatkan golok panjangnya ke arah lawan. Sedangkan
Manyar Ngesti memukul dengan tangan kosong, menendang dan mencengkeram lawan.
Tiga Setan Rambut Api
yang mendapat serangan cepat, tak mau diam. Ketiganya segera memutar cam- buk
di atas kepala, kemudian dilecutkan ke arah dua lawannya.
Jurus yang digunakan
oleh Tiga Setan Rambut Api ini bernama 'Pecut Buana Api'. Gerakan melingkar di
atas kepala bernama 'Gelang Geni' sedangkan lecu- tannya bernama 'Ekor Naga
Melebur Gunung'. Sebuah gabungan jurus yang nampaknya sangat dahsyat
Ctarrr!
"Yeaaat...!" Pertarungan kembali berjalan seru. Masing- masing
mengerahkan kemampuannya untuk dapat menandingi ilmu lawan. Gerakan mereka
nampak lin-
cah dalam berkelit dan
menyerang. Meski begitu, nam- paknya ilmu Manyar Kembar dari Bali masih berada
satu tingkat di atas Tiga Setan Rambut Api. Terbukti setelah tiga tokoh sesat
itu menyerang gencar dengan sabetan-sabetan goloknya, mereka tidak mengalami
kesulitan sedikit pun.
"Uts!
Heaaa...!" "Lepas kepalamu, Setan Jelek!" Manyar Kembar dari
Bali balas menyerang den- gan jurus gabungan. Manyar Asti dengan jurus 'Belah
Buana Yudha'. Sedangkan Manyar Ngesti dengan jurus andalannya, 'Manyar Menukik
Mematuk Mangsa' dis- ambung dengan jurus mengelak dan yang dinamakan 'Manyar
Merunduk Menjejak Bumi'. Setelah mampu mengelak, kini keduanya menambah daya
serang. Go- lok di tangan Manyar Asti bagai menghilang dalam me- lakukan
serangan. Sedangkan tangan dan kaki Manyar Ngesti seperti berjumlah banyak.
Seperti nama mereka,
gerakan-gerakan mereka sangat lincah dan cepat bagai sepasang burung ma- nyar
yang tengah membuat sarang, mematuk ke sana kemari. Mencakar ke sana kemari,
serta menghantam dengan kepakan-kepakan sayap yang cepat dan keras.
"Hiaaat...!"
Ctarrr! Tiga Setan Rambut Api berusaha membendung serangan keduanya dengan
cambuk. Namun kedua lawan ternyata cukup lincah. Manyar Kembar dari Bali
melesat ke samping untuk mengelak, kemudian mem- buru ke arah lawan dengan
pukulan dan tusukan go- lok.
Tiga Setan Rambut Api
tersentak kaget. Keti- ganya tidak menyangka kalau kedua lawan rupanya berilmu
tinggi. Namun begitu, mereka tidak mau men- galah begitu saja. Terlebih jika
ingat akan Singo Edan.
Jelas mereka akan
mendapat hukuman jika Singo Edan tahu mereka dapat dikalahkan oleh Manyar
Kembar dari Bali.
"Uts!
Hiaaat..!" Ctar Tiga Setan Rambut Api berusaha membendung serangan kedua
lawannya yang dahsyat dengan lecu- tan cambuknya. Lagi-lagi lecutan cambuk
mereka ba- gai tiada arti. Karena dengan mudah Manyar Kembar dari Balik
berkelit. Bahkan serangan kedua tokoh dari Bali itu semakin cepat membuat Tiga
Setan Rambut Api kewalahan.
"Akhirnya kalian
akan kami tangkap, Setan!" dengus Manyar Ngesti sambil bergerak cepat,
berusaha menotok dua lelaki dari Tiga Setan Rambut Api. Begitu pula dengan
Manyar Asti. Dia pun tidak menyia- nyiakan kesempatan itu. Namun belum juga
mereka dapat melakukan totokan, tiba-tiba....
"Hua ha
ha...!" Manyar Kembar dari Bali menarik tangannya, kemudian tubuh mereka
melompat ke belakang. Mata mereka membelalak tatkala mendengar tawa yang
membahana. Jelas tawa itu milik Singo Edan. Meski mereka belum pernah bertemu
dengan Singo Edan, ta- pi gum mereka telah memberi gambaran bagaimana rupa dan
tawa khas tokoh sakti itu.
"Singo
Edan...!" "Dia benar-benar datang, Kakang!" Mata Manyar Kembar
dari Bali kini mencari asal suara itu. Seketika keduanya memandang ke arah ka-
but tebal yang berarak menuju mereka. Dari dalam kabut melesat dua sosok tubuh
berpakaian putih.
Seorang lelaki tua yang
dikenal oleh mereka se- bagai Singo Edan. Dan seorang lagi gadis cantik dari
Cina.
"Kakang, bukankah
gadis itu telah kita belenggu tadi?" "Ya! Kapan dia bebas?"
Manyar kembar dari Bali
masih terlongong ben- gong menyaksikan gadis cantik dari Cina itu telah terbebas
dari belenggu ajian 'Sari Rogo' mereka. Tangan- nya memegang pedang sakti yang
bersinar merah kekuning-kuningan. Seperti siap untuk membunuh dua tokoh dari
Bali itu.
"Hua ha ha...!
Rupanya masih ada juga orang yang berani menantang Singo Edan!" kata Singo
Edan dengan sinis.
'Persetan! Kau bukan
Singo Edan! Kau iblis yang telah berusaha mengelabui orang-orang
persilatan!" seru Manyar Ngesti, merasa yakin kalau lelaki berjubah putih
yang perawakan dan wajahnya sama dengan Singo Edan itu sebenarnya bukan Singo
Edan.
"Kurang ajar!
Kalian tentunya buta!" maki Singo Edan. "Aku Singo Edan. Akulah orang
yang paling sak- ti di jagat ini! Tak akan ada yang menandingi ku. Hua ha
ha...!"
"Iblis! Jangan
kira kami dapat kau kibuli!" lan- tang suara Manyar Asti. "Meski
ilmumu setinggi langit, Manyar Kembar dari Bali tak sudi menyerah!"
Singo Edan mendengus.
Matanya melotot tajam pada kedua tokoh dari Bali itu.
"Mei Lie, bunuh
mereka!" perintahnya. Mei Lie menurut bagai budak. Tubuhnya melesat turun.
Dengan Pedang Bidadari di tangan, gadis dari Cina itu meluruk ke arah Manyar
Kembar dari Bali.
"Hiaaa...!"
"Celaka, Kakang! Apa kita harus menurunkan tangan kejam?"
'Terpaksa, Asti!
Heaaat...!" Dengan pukulan-pukulan sakti milik keduanya,
Manyar Kembar dari Bali
menghadapi serangan Mei Lie. Tubuh mereka melesat ke angkasa dengan cepat,
berusaha memapaki babatan pedang Mei Lie.
Menyaksikan Manyar
Kembar dari Bali hendak memburu ke arah Mei Lie, Tiga Setan Rambut Api tak mau
diam. Mereka serentak mengambil sesuatu dari balik jubah masing-masing. Lalu
ketiganya melontar- kan benda-benda kecil berwarna putih ke arah Manyar Kembar
dari Bali.
Zing, Zing...!
"Kakang, awas!" seru Manyar Asti. "Keparat! Licik...!" maki
Manyar Ngesti. Kemudian kedua tokoh dari Bali itu bergerak un- tuk mengelakkan
jarum-jarum beracun yang dilem- parkan Tiga Setan Rambut Api. Perhatian mereka
kini tertuju ke arah jarum-jarum beracun. Hal itu men- jadikan Mei Lie yang
sudah tidak lagi diperhatikan, dengan leluasa menyerang dari belakang.
"Hiaaa...!"
Wut! Cras! "Aaakh...!" Manyar Asti memekik. Kepalanya ter- babat oleh
pedang di tangan Mei Lie. Tubuhnya yang masih melesat di atas, seketika menukik
ke bawah. La- lu jatuh membentur tanah dengan kepala hancur.
"Asti...!"
pekik Manyar Ngesti. Manyar Ngesti yang diliputi oleh amarah, dengan kalap
melancarkan pukulan-pukulan saktinya. Sinar biru bergulung-gulung ke arah Mei
Lie. Namun dia me- lupakan jarum-jarum beracun yang semakin dekat ke arahnya.
Tanpa ampun lagi, senjata rahasia beracun itu menembus tubuhnya.
Cleb, cleb...!
"Aaa...!" Lengkingan kematian seketika terdengar dari mu-
lut Manyar Ngesti.
Tubuhnya menukik ke bawah, lalu jatuh dengan nyawa lepas. Tubuhnya beku membiru
dengan puluhan jarum menancap di punggung serta pahanya.
"Hua ha
ha...!" Lelaki tua yang mengaku-aku sebagai Singo Edan tertawa senang
bukan main. Setelah puas mengumbar rasa senangnya, tangannya melambai. Saat itu
juga, tubuh Mei Lie dan Tiga Setan Rambut Api melesat ke kabut di mana Singo
Edan berada. Tubuh mereka hi- lang, bersamaan dengan lenyapnya kabut.
***
Sena Manggala menyeka
keringatnya yang bercucuran. Terik matahari terasa memanggang tubuhnya.
Sesekali terdengar keluhan dari mulutnya. Tangannya mengambil sesuatu dari
pinggang, sebuah bulu bu- rung yang dilepas bulu-bulunya hingga tersisa pada
ujungnya saja. Kemudian bulu itu digunakan untuk mengorek telinganya.
"Hi hi
hi...!" Sena meringis-ringis merasakan nikmat Lalu ditariknya kembali bulu
burung itu. Hi- dungnya mengendus. Setelah menyeka kotoran di bulu burung itu,
dimasukkan kembali bulu burung ke ikat pinggangnya.
Sena menarik napas panjang-panjang.
Tubuhnya masih berdiri mematung. Matanya menyapu ke sekelil- ing tempat itu.
Tempat yang sepi dan senyap di tengah perjalanan ke Lembah Lamur. Sejak
hilangnya Mei Lie, entah mengapa dunia dirasakan sepi sekali. Padahal telah
lama dia dan Mei Lie berpisah. Tapi pertemuan sesaat itu, memberikan arti bagi
dirinya. Arti yang sangat sulit dilukiskan
"Huh, ke mana aku
harus mencarinya?" tanya
Sena sambil
menggaruk-garuk kepala. Mulutnya masih nyengir saat matanya menyapu ke
sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba matanya
tertuju ke arah enam orang le- laki berpakaian pengemis. Keenam lelaki itu juga
ten- gah menuju arah yang menjadi tujuannya, Lembah Lamur yang gersang dan
tandus.
"Hei, ada apa para
pengemis itu ke Lembah La- mur?" tanya Sena dengan kening berkerut.
"Ah, men- gapa pengemis-pengemis itu tidak di kota saja? Bu- kankah di
kota mereka bisa mendapat banyak maka- nan? Mengapa harus ke lembah yang
gersang dan se- pi?"
Sena merasa tertarik
juga menyaksikan kedatan- gan para pengemis itu. Tentunya ada sesuatu di Lembah
Lamur, yang membuat para pengemis. berdatan- gan ke lembah itu. Belum juga Sena
memahami apa yang terjadi, dari arah lain muncul dua orang wanita cantik. Satu
di antaranya adalah seorang wanita cantik yang cukup terkenal sejak lama, Nyi
Bangil. Sedangkan gadis cantik yang berjalan seiring bersamanya, tentunya adik
seperguruan Nyi Bangil yang bernama Lira Kanti.
"Nyi Bangil! Ah, ada
apa pula dia datang ke Lembah Lamur?"
Kini bukan hanya para
pengemis, Nyi Bangil dan adik seperguruannya yang datang. Tapi hampir selu- ruh
pendekar rimba persilatan baik dari aliran lurus maupun sesat datang.
Sepertinya akan terjadi sesuatu di Lembah Lamur.
Di antara para tokoh
persilatan itu, hadir bebera- pa pendekar aliran sesat seperti Lima Pengemis
Tong- kat Hitam dan ketuanya, Pengemis Tempurung Sakti. Datuk Karang Geni, dan
Gonggo Asopari. Sedangkan dari aliran putih seperti, Ki Ageng Sampar Bayu, Nyi
Bangil dan adik
seperguruannya Lira Kanti, Bidadari Cadar Merah dan gurunya Nyi Kendil, serta
suaminya Prabasangka yang telah sadar dari pengaruh ayahnya yang berpihak ke
aliran putih. Di sana juga hadir Ratih Puri serta suaminya Kerto Mandra.
Dua golongan itu
menempati tempat masing- masing. Aliran sesat menempatkan diri di sebelah barat.
Sedangkan aliran lurus menempatkan diri di ba- gian timur.
Sena mencabut bulu
burung dari pinggangnya. Kemudian dimasukkan ke telinga sebelah kiri. Dengan
mulut nyengir, matanya terus memperhatikan gerak- gerik orang-orang persilatan.
"Kami tak percaya
kalau semua ini Singo Edan yang melakukannya! Juga mengenai Titisan Dewi Kwan
Im, itu tidak benar!" ujar Ki Ageng Sampar Bayu. Sena mengerutkan kening
mendengar nama gu- runya disebut-sebut oleh Ki Ageng Sampar Bayu. Tan- gannya
masih mengorek telinganya dengan bulu bu- rung. Matanya terpejam-pejam,
merasakan nikmat ki- likan itu.
"Mungkin saat ini
kau tak percaya, Sampar Bayu! Tapi nanti kau akan melihat sendiri bahwa Singo
Edan pelaku semua ini!" sahut lelaki berjubah hitam.
Lelaki ini bernama
Datuk Karang Geni. Dan me- rupakan ketua tokoh aliran hitam yang bengis dan ke-
jam. Rambutnya panjang terurai dengan ikat kepala warna hitam pula. Wajahnya
dihiasi oleh cambang bauk lebat. Giginya ada yang ompong di sisi kanan dan kiri
atas. Matanya nakal jika memandang ke perem- puan cantik.
"Hm, jangan
menuduh tanpa bukti, Karang Geni!" dengus Nyi Bangil. "Aku tahu siapa
Singo Edan, guru dari Pendekar Gila. Dia tak mungkin berlaku keji!"
"He he
he..,!"
Datuk Karang Geni
tertawa terkekeh-kekeh. Ma- tanya memandang nakal ke arah Nyi Bangil yang cantik
dan bertubuh sintal. Kemudian matanya memandang Pengemis Tempurung Sakti yang
juga tersenyum.
"Cah ayu,
sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan semua ini. Lebih baik kau mau
menjadi istriku," kata Datuk Karang Geni masih dengan senyum dan pandangan
nakal ke arah Nyi Bangil.
"Cuih! Tak sudi
aku denganmu, Datuk Sesat!" dengus Nyi Bangil.
"He he he...!
Semakin kau marah, semakin cantik saja. Bukan begitu Pengemis Tempurung
Sakti?" kata Datuk Karang Geni dengan mata mengerling pada Pen- gemis
Tempurung Sakti.
"Tutup mulutmu,
Iblis! Kurasa, kaulah yang telah menyebarkan desas-desus ini. Padahal kau
sendiri bi- ang dari semua kejadian di Lembah Lamur Ini!" bentak Nyi
Bangil dengan berani.
"Wuah! Lancang
sekali mulutmu, Nyi! Berani be- nar kau berlaku kurang ajar pada ketua
kami!" maki Jalantra, Ketua Perkumpulan Pengemis Daerah Sela- tan.
"Kalau saja kami
diperkenankan, sudah kurobek mulutmu!" sambut Gandrana, Ketua Perkumpulan
Pengemis Daerah Timur.
"Huh, apakah
kalian kira kami takut!" ujar Lira Kanti kesal, melihat kakak
seperguruannya diremeh- kan. "Menghadapi pengemis busuk macam kalian,
pantang bagi kami sebagai pewaris Pedang Bidadari untuk mengalah!"
Suasana di Lembah Lamur
semakin terasa pa- nas. Masing-masing aliran saling menyalahkan. Aliran sesat
menuduh bahwa tindakan Titisan Dewi Kwan Im alias Mei Lie yang membunuh semua
orang-orang per- silatan. Dan Singo Edan adalah dalang dari semua ke-
No comments:
Post a Comment