Monday, April 15, 2019

007 Titisan Dewi Kwan MI


TITISAN DEWI KWAN IM
oleh Firman Raharja

1
Suasana pagi di Desa Tambak Rejo tampak ra- mai. Tidak biasanya sepagi itu banyak orang berlalu la- lang. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang per- silatan. Entah mengapa, Desa Tambak Rejo yang berjarak sekitar sepuluh mil ke arah utara dari Lembah Lamur sejak kemarin banyak didatangi orang-orang rimba persilatan
Tampak tiga lelaki melangkah beriringan. Mereka mengenakan jubah berwarna merah darah. Rambut yang berwarna merah dibiarkan terurai dengan ikat kepala berwarna merah darah pula. Ketiga lelaki itu berwajah jelek dengan hidung pesek dan mata besar. Dagu mereka dihiasi cambang bauk serta kumis tebal. Di tangan masing-masing tergenggam cambuk yang bentuknya serupa. Ketiganya terkenal dengan julukan Tiga Setan Rambut Api.
Tiga tokoh aliran hitam itu memiliki perawakan yang hampir sama, berotot dengan tinggi sedang. Wa- jah mereka garang, menunjukkan keangkuhan.

Yang tertua bernama Untara. Lelaki yang kedua bernama Undani, dan yang terakhir bernama Umbaka- ra. Mereka kini tengah melangkah menuju sebuah ke- dai yang siang itu tampak ramai disinggahi para pen- gunjung.
"Kalian lihat, di sini banyak sekali orang persila- tan," kata Untara. Matanya mengawasi pengunjung kedai yang kebanyakan dari rimba persilatan.
"Benar, Kakang," sahut Undani. Seperti kakak- nya, dia pun menyapukan pandangannya ke seluruh ruang kedai yang penuh oleh para pengunjung. "Nam- paknya ada sesuatu yang membuat mereka datang ke tempat ini."
Ketika Tiga Setan Rambut Api mengawasi semua pengunjung kedai, terdengar ucapan seseorang yang baru masuk ke dalam kedai.
"Aha, rupanya Tiga Setan Rambut Api juga hadir di tempat ini."
Tiga Setan Rambut Api seketika membalikkan tubuh dan memandang ke arah suara itu. Begitu juga dengan pengunjung kedai lain. Seketika mata mereka memandang Tiga Setan Rambut Api, lalu berganti me- mandang orang tua berpakaian compang-camping dengan rambut putih tak teratur serta wajah dihiasi goresan-goresan kelabu.
Dilihat dari penampilan serta tangan yang meme- gang tongkat dan tempurung, orang persilatan yang ada di kedai itu dapat dengan mudah menduga kalau lelaki tua itu tak lain Pengemis Tempurung Sakti, pe- mimpin para pengemis dari wilayah barat.
"O, rupanya Pengemis Tempurung Sakti yang da- tang. Selamat datang...," sambut Untara sambil menju- ra hormat, diikuti oleh kedua saudaranya.
"Aku Undani menyampaikan hormat padamu, Pengemis Tempurung Sakti," kata Undani sambil membungkuk "Begitu juga aku," timpal Umbakara. Pengemis Tempurung Sakti terkekeh-kekeh sam- bil membelai-belai jenggot putihnya yang panjang. Ma- tanya yang sipit, semakin bertambah sipit
"Aha, tampaknya banyak orang persilatan ber- kumpul di sini. Tiga Setan Rambut Api, Ki Kenjono si Pedang Iblis, Ki Bardawala dari Perguruan Cinde Bua- na dan Sepasang Serigala Merah. Ada apa geran- gan...?" tanya Pengemis Tempurung Sakti sambil me- langkah masuk, diikuti oleh lima anak buahnya yang semuanya berpakaian compang-camping. Bedanya, ke-
lima pengemis itu hanya membawa tongkat kayu hi- tam. Mereka tersohor dengan julukan Lima Pengemis Tongkat Hitam.
Yang menguasai wilayah timur bernama Gandra- na. Pakaiannya penuh dengan tambalan dan berwarna ungu. Bibirnya tipis dengan mata agak sipit. Hidung- nya besar dan pesek. Rambutnya lurus terurai dengan ikat kepala berwarna ungu pula. Wajahnya menggam- barkan kekasaran.
Yang menguasai daerah selatan bernama Jalan- tra. Pakaiannya berwarna abu-abu, dan rambutnya di- gelung ke atas. Berbeda dengan orang pertama, hidung Jalantra mancung. Bibir dan alis matanya tebal den- gan mata agak juling.
Yang ketiga bernama Sampra. Dia Ketua Per- kumpulan Pengemis daerah utara. Berpakaian jingga dengan tambalan seperti lainnya. Rambutnya ikal se- batas bahu. Hidungnya mancung seperti paruh burung betet Matanya lebar dengan alis mata tipis. Wajahnya nampak sinis jika tersenyum.
Yang keempat dan kelima adalah lelaki kembar bernama Jantruk dan Jantrik. Pakaian yang mereka kenakan pun kembar, berwarna merah dadu. Wajah keduanya hampir serupa. Hidung mereka mancung dengan alis mata tebal. Sedang bibir mereka tipis. Hanya rambut yang membedakan satu sama lain. Yang satu lurus tak teratur, sedangkan yang lain ikal berge- lombang.
Di bibir mereka tersungging senyuman. Wajah mereka menggambarkan kewibawaan. Meski berpe- nampilan tak sedap dipandang mata, tapi mereka ada- lah orang-orang yang dipercaya untuk memimpin para pengemis. Ilmu mereka pun bukan ilmu sembarangan, dan patut diperhitungkan.
Pengemis Tempurung Sakti segera mendekati satu bangku lalu duduk seenaknya, seperti tidak tahu aturan sebagaimana pengemis lain. Kelima pengemis lainnya ikut duduk di samping kanan dan kirinya.
"Nampaknya ada sesuatu yang mengundang me- reka kemari, Ketua," kata Gandrana, Ketua Perkumpulan Pengemis daerah timur.
Pengemis Tempurung Sakti mengangguk- anggukkan kepala. Tangannya masih membelai-belai jenggotnya yang putih dan panjang. Sementara ma- tanya tetap memandang ke sekelilingnya.
"Nampaknya ada sesuatu yang menarik," gumam Pengemis Tempurung Sakti. "Terbukti Tiga Setan Rambut Api datang ke tempat ini."
"Aha, rupanya Pengemis Tempurung Sakti men- getahui apa yang ada di sini...!" seru Umbakara tiba- tiba.
"Ya! Mengapa tidak kita tanyakan saja, ada apa sebenarnya?" usul Undani.
"Benar juga katamu, Undani," timpal Untara. "Mengapa kita mesti bingung?"
Untara dan kedua adiknya bangkit dari bang- kunya. Mereka melangkah mantap ke arah Pengemis Tempurung Sakti. Kemudian dengan menjura, Tiga Se- tan Rambut Api duduk di hadapan keenam pengemis itu.
"Pengemis Tempurung Sakti, sudikah kau menje- laskan pada kami, kenapa kau dan lima ketua partai pengemis sampai datang ke sini...?" tanya Untara. Tin- dak-tanduk mereka agak tidak sopan, mencerminkan watak ketiganya yang berasal dari aliran sesat
"Weh weh weh.... Mengapa jadi terbalik? Justru kami yang ingin bertanya pada kalian," balas Pengemis Tempurung Sakti. "Apa tidak mungkin kalau kalian hanya berpura-pura saja?"
Tiga Setan Rambut Api saling pandang karena di-
tuduh Pengemis Tempurung Sakti kalau mereka me- nyembunyikan sesuatu. Padahal mereka juga belum tahu sesuatu yang terjadi di tempat itu, sehingga para pendekar rimba persilatan berdatangan ke tempat itu.
"Hei, mengapa kalian seperti orang bodoh?" tanya Pengemis Tempurung Sakti, menyentakkan Tiga Setan Rambut Api. Namun Untara segera berusaha menutupi ketidakmengertian mereka akan pertanyaan dan seka- ligus tuduhan dari Pengemis Tempurung Sakti.
"O, rupanya Pengemis Tempurung Sakti men- ganggap kami sudah mengetahui masalahnya. Ah, sangat disayangkan. Kami sebenarnya justru hendak bertanya," ucapnya setenang mungkin.
Kini giliran keenam ketua perkumpulan pengemis yang saling pandang. Kening mereka berkerut dan ma- ta mereka menyipit Pengemis Tempurung Sakti masih mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
"Weh, bagaimana ini? Kami pikir kalianlah yang telah tahu. Tapi mengapa kalian seperti menuduh ka- mi?" tanya Pengemis Tempurung Sakti sambil mengge- leng-gelengkan kepala.
"Hm.... Bagaimana kalau kita tanyakan pada Ki Kenjono? Rupanya si Pedang Iblis juga datang," usul Untara.
"Ya, sebaiknya kita tanyakan padanya?" sambut Pengemis Tempurung Sakti.
Pengemis Tempurung Sakti dan Untara bangkit, kemudian keduanya mendekati meja di sampingnya, di mana lelaki berpakaian rompi hitam dengan rambut panjang yang- dibiarkan terlepas tengah menyantap makanannya.
"Oh, nikmat sekali kau makan, Ki?" tegur Penge- mis Tempurung Sakti dengan tetap membelai-belai jenggotnya yang putih.
Lelaki yang tengah makan itu menghentikan ma-
kannya. Kepalanya ditolehkan ke belakang.
"Ah, kukira siapa. Rupanya Pengemis Tempurung Sakti dan Setan Rambut Api. Hm, apa kalian minta ku bayari makan? Pesanlah...."
"Keparat!" maki Untara. "Aku menemuimu bukan untuk mengemis seperti Pengemis Tempurung Sakti, Kenjono!"
"Setan alas! Kalian kira aku tak sanggup mem- bayar makanan kalian!" dengus Pengemis Tempurung Sakti sengit, merasa dirinya diremehkan sebagai gem- bel yang hanya bisa meminta-minta. "Kalau saja aku tidak punya kepentingan untuk mengetahui hal yang terjadi di sini, sudah kutampar mulut kalian!"
Ki Kenjono dan Untara saling pandang. Kemu- dian keduanya tertawa tergelak-gelak, membuat Pen- gemis Tempurung Sakti makin gusar. Hampir saja Pengemis Tempurung Sakti yang keras kepala dan pe- marah itu kembali membentak, kalau saja Untara ti- dak mendahului.
"Aha, kuharap kau tidak mengumbar marah, Pengemis Tempurung Sakti. Bukankah kita sama- sama ingin tahu, apa sebenarnya yang tengah terjadi di sini?" Pengemis Tempurung Sakti menurut.
"Apa yang hendak kalian tanyakan padaku?" tanya Ki Kenjono kemudian.
"Begini, Ki Kenjono. Kami ingin tahu apa yang terjadi di sini? Mengapa orang-orang berdatangan ke tempat ini...?" tanya Untara.
"Weh weh weh.... Jadi kalian juga belum tahu?" "Ya," sahut Pengemis Tempurung Sakti singkat. "Aha, kalau begitu kita sama. Dan mungkin se- mua orang yang datang di sini, sama-sama tidak tahu apa yang mereka tuju. Tapi, bukankah kalian telah mendapat kabar tentang Titisan Dewi Keberuntungan yang ada di sekitar Kadipaten Wuwungan ini?" tanya
Ki Kenjono,
"Ya," sahut Untara. "Jadi mereka datang untuk mencari Titisan Dewi Kwan Im?" tanya Pengemis Tempurung Sakti.
"Tepat!" jawab Ki Kenjono. "Jadi Lembah Lamur ada di sekitar Kadipaten Wuwungan ini?" tanya Untara.
"Mungkin, karena hampir semuanya berdatangan ke tempat ini," sahut Ki Kenjono. "Ah, sudahlah. Aku harus makan dulu."
Tanpa menghiraukan kedua orang itu, Ki Kenjono yang bersikap angkuh meneruskan makannya. Hal itu membuat Pengemis Tempurung Sakti dan Untara sal- ing pandang. Hampir saja mereka marah, kalau saja mereka tidak ingat bahwa mereka sama-sama sealiran. Meski begitu, keduanya agak jengkel juga menyaksi- kan tingkah laku Ki Kenjono yang dianggap terlalu angkuh. Lalu dengan memandang sinis, keduanya kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Bagaimana, Kakang?" tanya Undani. "Rupanya semuanya datang ke tempat ini dengan tujuan yang sama," jawab Untara.
"Mencari Titisan Dewi Kwan Im?" tanya Umbaka- ra. Suaranya berusaha menegaskan.
"Ya!" "Hm.... Kalau begitu, kita tidak boleh keduluan mereka," bisik Undani.
"Kita harus mendahului mereka." "Benar, Kakang. Kita harus segera mencari Lem- bah Lamur," sambut Umbakara.
"Ya! Kita harus secepatnya mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im itu. Ayo...," ajak Untara berbisik sambil bangkit dari bangkunya, diikuti oleh kedua adiknya.
***

Pengemis Tempurung Sakti terkekeh, menyaksi- kan Tiga Setan Rambut Api pergi meninggalkan kedai. Tampaknya Pengemis Tempurung Sakti dan lima ketua perkumpulan pengemis membiarkan mereka pergi le- bih dahulu untuk mencari Titisan Dewi Kwan Im.
"He he he...! Mereka kira akan mudah untuk mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im," seloroh Pengemis Tempurung Sakti. Tangannya membelai-belai jenggot- nya yang panjang dan putih.
"Ketua, apakah tidak sebaiknya kita susul mere- ka?" tanya Jalantra, yang merupakan Ketua Perkum- pulan Pengemis daerah selatan.
"Benar, Ketua. Apakah tidak sebaiknya kita me- nyusul mereka? Aku takut mereka akan mendahului kita," tambah Gandrana.
Pengemis Tempurung Sakti menggeleng- gelengkan kepala sambil tersenyum. Tangannya kem- bali membelai-belai jenggotnya yang panjang dan ber- warna putih.
"Biarkan saja mereka mendahului. Apakah kalian kira mereka akan mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im yang cantik menjadi istri mereka? Ha ha ha...!" Penge- mis Tempurung Sakti tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh kelima ketua pengemis lainnya. Hal itu membuat para pendekar yang ada di tempat itu memandang me- reka. Tidak terkecuali Ki Kenjono.
"Pengemis butut! Mengapa kalian mesti tertawa- tawa?!" bentak Ki Kenjono kesal. Matanya mendelik le- bar, memperlihatkan warna merah bagai gejolak api.
"Iblis bau comberan! Apa hakmu menghentikan tawa kami!" ujar Sampra, Ketua Perkumpulan Pengemis daerah utara.
"Sontoloyo! Kalianlah yang bau kentut! Huh...!" balas Ki Kenjono tak mau kalah. Kemudian dia meneruskan makannya, tanpa menghiraukan keenam pen- gemis yang masih menatapnya dengan jengkel.
"Rupanya orang itu perlu dihajar, Ketua," kata Gandrana.
"Aha, memang mulutnya yang busuk itu perlu dihajar," jawab Pengemis Tempurung Sakti, membuat Ki Kenjono tersentak.
Dengan wajah bengis, Ki Kenjono bangun dari tempat duduknya. Matanya yang tajam penuh amarah menantang keenam pengemis yang masih tertawa- tawa. "Pengemis butut! Rupanya kalian di mana pun selalu menyebalkan! Kalian harus diajar adat!" maki Ki Kenjono seraya mendengus marah.
"Aha, seharusnya kaulah yang harus diajar adat, Kenjono!" balas Pengemis Tempurung Sakti.
"Bedebah! Kuhajar kau, Pengemis Butut! Yeaaa...!"
Srrrt! Ki Kenjono mengeluarkan pedangnya, kemudian dengan penuh amarah tubuhnya melesat ke arah Pengemis Tempurung Sakti. Namun dengan cepat, Gan- drana telah menghadangnya dengan membabatkan tongkat kayu hitam ke pedang lawan.
Trang! Kemarahan Ki Kenjono kian menggila ketika mengetahui Gandrana memapaki serangannya. Matanya semakin berkilat tajam. Didahului pekikan menggelegar, Ki Kenjono kembali membuka serangan dengan babatan pedang ke arah Ketua Perkumpulan Pengemis daerah timur itu.
"Yeaaa...!" "Keluarkan semua ilmu pedang bututmu!" tan- tang Gandrana seraya mengelakkan tebasan dan baba- tan pedang lawan. Kemudian dengan cepat tangannya
menggerakkan tongkat kayu hitam. Seketika, tongkat itu menjadi baling-baling, bergerak membentuk perisai sekaligus menjadi senjata yang sangat berbahaya.
"Heaaa...!" Wut, wut! Tring, trang...! Dentingan beradunya dua senjata itu terdengar susul-menyusul. Diikuti oleh gerakan keduanya yang menyerang dan mengelak. Tangan kiri mereka yang ti- dak memegang senjata tak mau diam, turut bergerak menyerang dan menangkis dengan kebutan- kebutannya.
"Beri dia pelajaran, Gandrana!" seru Pengemis Tempurung Sakti sambil terus memperhatikan jalan- nya pertarungan antara anggotanya yang memegang pimpinan di wilayah timur melawan Kejono. Kemudian Pengemis Tempurung Sakti tertawa bergelak-gelak, di- ikuti oleh empat anggotanya yang lain.
Ki Kenjono semakin marah karena ditertawakan oleh para pengemis. Serangannya semakin diting- katkan. Pedangnya bergerak kian cepat, membabat dan menusuk ke tubuh lawannya.
"Yeaaah...!" Ki Kenjono benar-benar bernafsu untuk secepat- nya menjatuhkan lawan. Pedangnya bergerak semakin cepat, tidak ubahnya baling-baling maut yang setiap saat dapat merenggut nyawa lawannya.
Menyaksikan serangan lawan yang cepat dan mematikan, tidak membuat Gandrana gentar. Justru dengan serangan lawan seperti itu, dia semakin mudah melihat kelemahan-kelemahan serangan yang dilan- carkan lawannya.
Dengan sedikit berkelit, Gandrana mampu men- gelakkan serangan lawan yang dirasuki amarah. Kemudian dengan cepat, balas menyerang dengan tidak
kalah gencar. Tongkat kayu hitam di tangannya me- mukul dan menusuk lawan secara bertubi-tubi.
"Yeaaat..!" Wut, wut..! Tongkat kayu hitam di tangan Gandrana kini ti- dak ubahnya sebilah pedang tajam yang terbuat dari logam pilihan. Angin serangannya menimbulkan deru yang dahsyat menghambur ke arah lawan.
"Uts...! Setan!" maki Ki Kenjono kaget, menda- patkan serangan balik yang tidak diduganya. Kalau sa- ja tidak cepat-cepat mengelak, tentu tubuhnya akan menjadi korban dari sabetan dan tusukan tongkat kayu hitam di tangan lawannya.
"Ha ha ha...!" Pengemis Tempurung Sakti tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan Gandrana mampu mendesak Ki Kenjono. Hal itu membuktikan kalau Perkumpulan Pengemis bukanlah perkumpulan yang rendah, namun harus diperhitungkan di rimba persila- tan.
Serangan yang dilancarkan oleh Gandrana sema- kin membuat Ki Kenjono kewalahan. Nampaknya ilmu pedang yang selama ini dirasa cukup tangguh, tiada arti sama sekali menghadapi jurus-jurus 'Tongkat Kayu Hitam' yang dilancarkan Gandrana. Bahkan be- berapa kali, Ki Kenjono hampir kecolongan oleh sabe- tan-sabetan tongkat itu.
Kelima pengemis yang lain tertawa riuh rendah menyaksikan bagaimana Ki Kenjono atau lebih dikenal dengan sebutan Pedang Iblis, kini mengalami ketegan- gan. Wajahnya pucat pasti, menyadari serangan- serangannya tak satu pun yang mengenai sasaran. Bahkan kini dia yang terdesak oleh lawan.
"Percuma mulutmu besar, Kenjono! Kalau ilmu- mu hanya kelas pasaran...! Ha ha ha...!" seru Pengemis Tempurung Sakti diikuti oleh gelak tawa.
Ucapan itu tentu saja membuat Ki Kenjono ber- tambah marah. Namun menyadari kedudukannya saat itu, Ki Kenjono tak mampu berbuat apa-apa. Jangan- kan untuk melawan Pengemis Tempurung Sakti, me- lawan anak buahnya saja dia sudah terdesak.
"Huh...! Memang aku saat ini kalah! Tapi setelah aku mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im, kepala kalian akan kupenggal satu persatu!"
Usai berkata demikian, tanpa rasa malu sedikit pun Ki Kenjono segera melesat ke belakang. Kemudian dengan cepat meninggalkan kedai. Hal itu semakin membuat gerombolan pengemis itu tertawa bergelak- gelak. "Ha ha ha...!"
"Kalian lihat sendiri, bagaimana Perkumpulan Pengemis kini bukan kumpulan orang gembel. Per- kumpulan Pengemis kini menjadi perkumpulan yang akan disegani oleh para pendekar rimba persilatan! Tak akan ada yang berani mencari penyakit dengan Perkumpulan Pengemis...," kata Pengemis Tempurung Sakti. Nadanya agak pongah dan sombong. Seakan- akan hanya dia dan anak buahnya saja yang memiliki ilmu tinggi.
Selesai berkata begitu, Pengemis Tempurung Sakti segera mengajak kelima anak buahnya berlalu meninggalkan kedai.
"Pengemis gembel sombong...!" dengus para pen- dekar. Kesal juga mereka dengan tingkah laku dan ke- sombongan para pengemis itu. Terlebih pada Pengemis Tempurung Sakti. Kalau saja mereka memiliki ilmu yang tinggi, tentunya mereka akan melabrak para pen- gemis itu.
Sepeninggal Tiga Setan Rambut Api, Ki Kenjono, dan para pengemis, kedai kembali tenang. Bahkan kini satu persatu para pendekar meninggalkannya, untuk meneruskan mencari Titisan Dewi Kwan Im yang me- reka dengar berada di Lembah Lamur.

2
Angin malam yang dingin berhembus kencang, menerobos belukar, pucuk pepohonan dan rerumpu- tan. Semak alang-alang merunduk-runduk tanpa daya, ditampar derasnya angin.
Di saat suasana malam seperti ini, tampak seo- rang pemuda berwajah tampan dengan pakaian rompi kulit ular, tengah menyelusuri jalan yang gelap dan sepi. Seakan-akan pemuda tampan itu tak peduli den- gan keadaan cuaca yang tak ramah. Wajahnya tampak menunduk penuh penyesalan.
Pemuda yang tak lain Sena atau Pendekar Gila itu baru saja berkunjung ke Perguruan Bintang Emas untuk membuktikan kebenaran cerita tentang kema- tian Dewi Pandagu. Sesampainya di sana, berita yang disampaikan dua lelaki di kedai itu ternyata benar. Dewi Pandagu, wanita cantik yang telah membuatnya hanyut dalam arus asmara, telah tewas.
Hati Pendekar Gila remuk redam menyaksikan mayat Dewi Pandagu. Belum lagi peristiwa penculikan Mei Lie yang diculik entah oleh siapa. Lelaki yang men- culik Mei Lie sangat misterius. Datang begitu cepat dengan pakaian yang sama dengan pakaian Kauw Cien Lung (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gi- la dalam episode "Singa Jantan dari Cina").
Kalau saja saat itu Sena tidak tengah bertarung dengan Kauw Cien Lung, tentunya dia akan mengejar lelaki misterius itu.
"Setan!" maki Sena kesal. Kakinya menendang sebuah batu kecil yang ada di depannya.
Wut! Batu itu melesat jauh, bagai dilempar dengan ke- kuatan penuh.
Sena menghela napas. Matanya menyapu ke se- kelilingnya yang sepi dan senyap. Sebuah lembah yang dikepung perbukitan, dengan angin yang bertiup ken- cang laksana hembusan napas beribu mambang ma- lam.
"Huk huk huuuk...!" Samar-samar telinga Sena menangkap suara aneh itu. Bulu kuduknya meremang. Langkahnya se- ketika terhenti. Matanya menyapu ke sekelilingnya dengan tajam, berusaha mencari asal suara menye- ramkan yang baru saja didengarnya.
"Huk huk huuuk...!" Suara itu kembali terdengar. Suaranya persis se- perti suara burung hantu. Namun Sena merasa yakin kalau itu bukan suara burung hantu. Dia telah biasa bergelut dengan kegelapan malam di dalam hutan. Se- dikit banyak, telinganya telah akrab dengan suara bu- rung hantu yang sebenarnya.
"Suara apa itu...?" desis Sena. Suaranya agak ke- lu, karena perasaannya tercekam. Bulu kuduknya me- remang kembali.
Meski ketegangan menyelimuti jiwanya, namun entah mengapa Sena tetap berdiri di situ. Matanya ma- sih mengamati dalam remang cahaya bulan. Seper- tinya, Sena ingin menyaksikan apa yang akan terjadi di hadapannya dan meyakinkan suara yang baru saja di- dengarnya.
Ketika mata Sena menyapu tempat itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih. Begitu cepatnya bayangan itu berkelebat, sampai-sampai tubuh Sena tersentak.
"Hei, siapa dia?" tanyanya pada diri sendiri. Ke- mudian tanpa banyak kata lagi, tubuhnya melesat cepat untuk mengejar bayangan putih yang sempat dili- hatnya sekilas.
Bayangan putih itu berkelebat ke arah bukit di sebelah selatan, kemudian menghilang di balik bukit
"Berhenti...!" seru Sena sambil terus berlari. Na- mun bayangan putih itu rupanya telah lebih dahulu menghilang. Karena begitu cepatnya menghilang, sam- pai Sena tak mampu mengejarnya.
"Edan!" umpat Sena jengkel. Pandangannya dis- apukan ke sekeliling tempat itu. Namun tetap saja tidak ditemukan siapa pun di tempat itu. Padahal dia yakin kalau bayangan putih itu berlari ke tempatnya kini berdiri. Kalau bersembunyi rasanya tidak mung- kin. Di sekeliling tempat itu tak ada sesuatu pun yang bisa digunakan untuk bersembunyi.
Sena mengerutkan kening. Matanya masih men- gamati sekitarnya yang semakin mencekam. Bulu kuduknya lagi-lagi meremang, setelah dia tidak berhasil menemukan bayangan putih tadi.
"Huk huk huuuk...!" Suara menyeramkan itu kembali terdengar. Se- pertinya suara itu ada di dekatnya. Sena menajamkan telinga dan matanya, berusaha meyakinkan dari mana asal suara menyeramkan itu.
"Hm.... Aku yakin bukan hantu. Jelas sekali itu suara manusia," desis Sena. Tapi matanya belum juga menemukan tanda-tanda kalau bayangan putih itu akan muncul kembali.
Angin lembah semakin keras berhembus, membawa hawa dingin yang terasa menggigit. Dikawal oleh suara menyeramkan yang kembali terdengar.
"Aku harus hati-hati. Mungkin orang itu memiliki ilmu yang tinggi," gumam Sena dengan mata berkilat penuh kewaspadaan.
Wusss! Angin semakin berhembus kencang, bertemu di tengah-tengah lembah, kemudian bergulung-gulung membentuk pusaran yang besar dan kencang.
"Uh!" Sena tersentak kaget. Dengan mata membelalak, berusaha dihindarinya pusaran angin yang besar itu. Tubuhnya melompat ke belakang dan bersalto dengan cepat. Namun pusaran angin itu seperti mengerti kalau lawannya berusaha mengelak. Angin itu terus bergu- lung ke arah Sena mengelak.
Wut! "Edan!" maki Sena kaget menyaksikan pusaran angin itu ternyata mengejarnya. Seakan-akan angin itu memiliki mata. "Kurang ajar! Ini bukan main-main!"
Wusss...! Pusaran angin itu terus mengejar tubuh Pende- kar Gila, memaksanya bersalto untuk mengelakkan se- rangan angin besar itu. Walau begitu, hampir saja tu- buhnya dapat dihantam pusaran angin itu.
"Auh...! Kurang ajar! Hampir saja aku kena!" ma- ki Sena sambil terus melenting kian kemari. Bahkan kini dia harus menggunakan ilmu peringan tubuh 'Panca Guna' warisan Singo Edan.
Dengan menggunakan ilmu 'Panca Guna', kini tubuhnya dapat bergerak dengan ringan tanpa men- ginjak tanah. Tubuhnya bagaikan tak memiliki beban sedikit pun, tidak ubahnya sehelai bulu yang menari di atas angin.
"Aku harus dapat memecahkan pusaran angin ini," desis Sena sambil terus mengelitkan sambaran- sambaran pusaran angin yang keras dan terus mem- buru. "Heaaa...!"
Tubuh Sena melesat beberapa tombak ke bela-
kang. Kemudian dengan menggunakan jurus 'Si Gila Mengaduk Samudera', Pendekar Gila kembali melesat. Kini dia bertekad menerobos pusaran angin kencang itu. Tangannya disilangkan di depan, dengan jari-jari membentuk cengkeraman. Kemudian kedua tangannya digerakkan seperti mengaduk-aduk samudera.
Wut..! Angin pusaran itu terus memburu maju, siap menelan tubuh Pendekar Gila yang melesat maju lak- sana elang dengan kedua tangan siap mengaduk-aduk.
"Yeaaa...!" Blasss! Tubuh Sena menyeruak ke dalam rongga pusa- ran angin itu. Tangannya terus bergerak, mengaduk- aduk pusaran angin yang telah menelan tubuhnya. Namun pusaran angin itu bagai tak mengalami apa- apa. Malah semakin keras Pendekar Gila berusaha menghancurkan, semakin keras pula tubuhnya digu- lung.
"Celaka!" pekik Sena dengan mata membelalak tegang, menyadari kalau semua pukulannya tak berar- ti sama sekali. "Oh! Napas ku terasa sesak sekali. Se- pertinya, angin ini menyerap seluruh tenagaku."
Sena kini merasakan otot di persendiannya bagai direjam. Tubuhnya terus bergulung, mengikuti pusa- ran angin itu. Namun dia tak mau mengalah begitu sa- ja. Terus diserangnya pusaran angin itu. Pukulan sak- tinya segera dikerahkan.
"Pukulan 'Inti Bayu'. Yeaaah...!" Pukulan 'Inti Bayu' merupakan ajian yang mam- pu mengeluarkan angin deras dan besar. Bahkan mampu menerbangkan pohon raksasa sekalipun.
Wusss! Angin bertemu dengan angin. Keduanya berusa- ha saling mengalahkan. Namun pukulan 'Inti Bayu' yang dikerahkan Pendekar Gila ternyata tak mampu menghancurkan pusaran angin itu. Sena semakin ter- jepit. Nafasnya kian terasa sesak dan tersengal-sengal.
"Celaka! Pukulanku tak berarti...!" rintih Sena. Pendekar Gila merasakan tulang-tulangnya bagai remuk, dihimpit dan digulung oleh pusaran angin itu. Dan tubuhnya terpontang-panting di dalamnya.
"Oh, apa yang harus kulakukan?" tanya Sena se- tengah mengeluh. "Ku coba dengan 'Inti Api'. Yeaaah...!"
Tangan Pendekar Gila kini merah membara. Ke- mudian, nampaklah api melesat ketika Pendekar Gila menghantamkan tangannya ke arah pusaran angin itu.
Wusss! Dap, dap, dap...! Api yang meluncur dari tangan Pendekar Gila, padam seketika. Sepertinya, api yang kekuatannya se- ratus kali dari api biasa, tak ada gunanya sama sekali.
Pusaran angin itu semakin keras menghimpit tu- buh Pendekar Gila. Membuatnya kian menderita akibat himpitan itu. Namun begitu, pantang baginya un- tuk mengalah atau pasrah. Dicabutnya Suling Naga Sakti. Kemudian dengan meringis menahan sakit, mu- lutnya segera meniup Suling Naga Sakti.
"Tuiiit, tuiiit..!" Alunan Suling Naga Sakti tercipta. Mulanya me- lantun lembut, namun semakin lama semakin me- lengking keras. Dari kedua mata di kepala naga pada pangkal suling itu, melesat selarik sinar merah ke pu- saran angin. Wusss! Pendekar Gila terus meniup Suling Naga Saktinya sambil memutarkan arah mata naga di suling itu ke sekelilingnya, membuat larikan-larikan sinar dari mata naga laksana memotong pusaran angin itu.
Wusss, wusss...! Pusaran angin itu semakin lama semakin pelan. Sampai akhirnya hilang sama sekali. Tubuh Pendekar Gila terpelanting, lalu jatuh terduduk.
"Hilang...!" seru Sena dengan mata membelalak, menyaksikan pusaran angin itu hilang dengan sendi- rinya, seakan raib begitu saja. Bahkan angin lembah yang semula kencang, kini turut menghilang.
Sena masih belum mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi di lembah itu. Juga dengan hilangnya an- gin yang membentuk pusaran, serta angin lembah yang tiba-tiba mereda. Tapi suara menyeramkan yang didengarnya tadi justru terdengar lagi.
"Huk huk huuuk...!" Sena seketika tersentak. Matanya menyapu ke sekelilingnya yang sepi dan mencekam untuk mencari asal suara yang didengarnya.
"Hm.... Tentunya suara itu sebagai tanda suara pertama," gumam Sena. Dongkol juga Sena mengha- dapi semuanya. Belum lagi rasa dukanya hilang kare- na kematian dan penculikan orang-orang yang dicintai, kini harus pula menghadapi hal aneh.
Suling Naga Sakti diselipkannya di pinggang. La- lu tubuhnya tak bergeming, menunggu setiap ke- mungkinan yang bakal terjadi. "Huk huk huuuk...!" "Keluarlah! Apa pun wujud mu, aku tak akan la- ri!" bentak Sena, yang semakin dibuat jengkel oleh su- ara itu. Hatinya yang sedang diliputi duka dan sedih, menjadi marah.
Wusss! Kembali terdengar suara angin bertiup keras, mengejutkan Pendekar Gila. Seketika tubuhnya berba- lik, lalu memandang arah datangnya suara itu.
Mata Pendekar Gila membelalak. Mulutnya tern-
ganga tanpa sadar, ketika menyaksikan sosok besar yang berada tiga tombak di hadapannya. Sosok menye- ramkan yang tingginya melebihi bukit, dengan tubuh sebatas perut ke bawah diliputi oleh asap tebal ber- warna gelap.
"Oh...! Makhluk apa itu?!" seru Sena dengan ma- ta masih membelalak dan mulut ternganga.
Makhluk itu menyerupai monyet, namun telin- ganya panjang dengan ujung meruncing. Di kepalanya, terdapat tanduk yang berkilat tajam dan runcing. Mata makhluk itu besar, berwarna merah membara laksana api. Lidahnya juga merah, menjulur panjang. Dengus nafasnya terdengar keras. Tubuhnya dipenuhi bulu hi- tam kemerah-merahan. Kuku-kukunya panjang dan runcing.
"Hogm...!" Makhluk menyeramkan itu mengeluarkan sua- ranya yang memekakkan telinga.
Kaki Sena melangkah mundur dengan mata ma- sih memandangi makhluk menyeramkan yang keliha- tannya siap melakukan serangan terhadapnya.
"Hm.... Apa lagi yang akan terjadi?" gumam Sena sambil terus melangkah mundur. Dia telah waspada penuh untuk mengelak, sekaligus membalas serangan yang akan dilakukan makhluk menyeramkan itu.
Makhluk tinggi besar menyeramkan itu kini me- nyerang ke arah Pendekar Gila. Sepasang tangannya yang besar berkuku panjang dan runcing, menyambar cepat. Sedang dari mulutnya tersembur api yang besar, siap membakar tubuh Pendekar Gila.
Wosss! "Uts!" Sena segera melenting ke samping dengan bersal- to beberapa kali untuk mengelakkan sambaran tangan makhluk menyeramkan itu. Lalu dengan cepat pula, tubuh Pendekar Gila melesat ke arah makhluk menye- ramkan itu. Pukulan tenaga dalamnya dikerahkan un- tuk menghantam wajah makhluk itu.
"Heaaa...!" Makhluk menyeramkan itu tidak mengelak, sea- kan membiarkan pukulan tenaga dalam Pendekar Gila menghantam tubuhnya.
Desss! Mata Pendekar Gila membelalak dengan mulut menganga mendapatkan kenyataan yang sulit dipercaya. Pukulan saktinya bagai menghantam angin. Saat itu pula tangan makhluk menyeramkan itu menyam- bar ke arah tubuhnya.
Wut! "Uh!" Beruntung Pendekar Gila masih memiliki kewas- padaan tajam, sehingga mampu berkelit dari sambaran tangan makhluk itu. Tubuhnya melenting ke belakang, bersalto di udara beberapa kali, sebelum kakinya men- darat di tanah dengan ringan. Matanya memandang ta- jam pada makhluk menyeramkan yang ada di hada- pannya, seakan tak percaya pada apa yang telah di- alami. Wusss!
Api membara kembali keluar dari mulut makhluk menyeramkan itu, menyambar ke arah tubuh Pende- kar Gila. Sementara, Sena segera membuang tubuhnya dengan bersalto ke samping, kemudian dengan cepat balas menyerang.
"Yeaaah!" Tubuh Pendekar Gila yang sangat kecil diban- dingkan makhluk menyeramkan itu, melesat cepat laksana terbang. Tangan kanannya mengepal. Sedang- kan tangan kirinya diletakkan di depan dada. Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam, Pendekar Gila me-
lontarkan pukulan saktinya.
"Yeaaa!" Wut..! Untuk yang kedua kalinya Pendekar Gila tersen- tak kaget mendapatkan pukulannya tak berarti apa- apa. Makhluk menyeramkan itu bahkan dengan cepat membalas. Tangannya menyambar ke tubuh Pendekar Gila.
Plak! "Ukh!" keluh Sena. Tubuhnya terpelanting ke be- lakang akibat hantaman tangan makhluk menyeram- kan itu. Saat itu pula rasa panas menyengat tubuh- nya.
Pendekar Gila meringis, merasakan sakit pada tubuhnya. Segera dia bangkit sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian kakinya ditarik ke samping setengah menekuk dan tangannya menghantam ke depan. Itu- lah jurus 'Tamparan Sukma'. Dengan menggunakan jurus itu, Pendekar Gila berharap dapat mengalahkan makhluk menyeramkan itu.
Tubuh Pendekar Gila kembali melesat laksana terbang. Kemudian tangan kirinya melakukan tampa- ran ke wajah makhluk menyeramkan yang telah di- jangkaunya.
Blak! "Aaarghhh...!" Makhluk menyeramkan itu meraung keras, men- dapat tamparan yang dirasakan hantaman ribuan hali- lintar yang menggelegar. Padahal gerakan yang dilaku- kan Pendekar Gila kelihatan sangat lemah dan pelan. Bahkan dilakukan dengan mata terpejam serta hanya mengandalkan kekuatan jiwanya. Namun hasilnya sangat dahsyat Makhluk menyeramkan itu meraung- raung kesakitan. Kemudian tubuhnya perlahan-lahan menghilang, berganti dengan kabut tebal yang terbang
bersama angin.
"Hhh...," Sena menghela napas panjang. Matanya kembali menyapu ke sekelilingnya.
"Pendekar Gila, saat ini kau menang! Tapi tunggu pembalasanku...!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang mengancam Pendekar Gila, sehingga membuatnya tersentak.
"Hei, siapa itu! Tunjukkan wujud mu!" bentak Sena. Tapi tak ada sahutan. Lembah itu kembali sepi, diselimuti kegelapan yang bisu.
Sena menghela napas. Pandangan matanya bere- dar ke sekeliling tempat itu. Kemudian setelah yakin tak ada apa-apa lagi, tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu untuk mencari Mei Lie.



3
Kabut tebal menyelimuti sebuah bangunan besar dan megah yang menyerupai candi. Bangunan tua itu adalah istana gaib tempat Dewi Pemuja Setan. Bangu- nan itu berada di dalam gumpalan kabut tebal. Mem- buat orang persilatan sulit untuk menemukannya.
Di dalam istana, tepatnya di dalam sebuah ruang kamar yang semuanya berwarna putih, nampak Dewi Pemuja Setan tengah duduk bersila. Di hadapannya terdapat dupa yang mengepulkan asap. Di sisi dupa, terdapat kembang tujuh warna.
Dewi Pemuja Setan memandang ke tempat tidur yang berwarna putih, dengan kelambu terbuat dari su- tera putih. Di atas tempat tidur, tergeletak sesosok ga- dis cantik. Gadis itu berkulit kuning langsat, dengan rambut digelung dua di atas kepala. Berbaju putih lengan panjang, serta bibir tipis dan hidung tidak begitu mancung. Ternyata dia adalah Mei Lie.
Dewi Pemuja Setan yang setiap kehadirannya se nantiasa didahului oleh kabut tebal, nampak berparas cantik jelita. Berbaju putih seperti jubah, dengan ikat pinggang merah. Rambutnya terurai panjang dan ber- gelombang. Di kepalanya terdapat sebuah ikat kepala dengan hiasan tengkorak manusia.
"Hm...," Dewi Pemuja Setan bergumam tidak je- las. "Singo Edan, kali ini kau akan mendapatkan bala- sanku! Begitu juga dengan muridmu!"
Dewi Pemuja Setan memejamkan mata. Mulutnya komat kamit membaca mantera. Tangannya berside- kap di depan dada. Asap dupa semakin mengepul. Bersamaan dengan itu, tubuh Dewi Pemuja Setan ter- getar hebat.
"Mei Lie...!" panggilnya lirih. "Uh," Mei Lie mengeluh. "Bangunlah, Mei Lie! Bangunlah dari ragamu!" Roh Mei Lie menurut untuk bangun. Nampak samar-samar sebuah bayangan keluar dari tubuh Mei Lie lalu berdiri di hadapan Dewi Pemuja Setan yang duduk bersila.
"Ada apa Sri Ratu memanggilku?" terdengar sua- ra arwah Mei Lie bertanya.
"Tugas untukmu! Bunuh orang yang kini hendak ke Lembah Lamur!" perintah Dewi Pemuja Setan.
"Baik, Sri Ratu," jawab roh Mei Lie. "Berangkatlah. Aku akan mengiringi mu dengan Kabut Iblis! Kita harus bisa membuat semua orang persilatan membuka mata! Ha ha ha...!" Dewi Pemuja Setan tertawa terbahak-bahak.
Roh Mei Lie melayang keluar, meninggalkan ka- marnya diikuti oleh Dewi Pemuja Setan yang masih tertawa terbahak-bahak.
***

Siang itu Lembah Lamur sangat sepi. Angin ber- tiup kencang, seakan-akan badai hendak datang. Kabut tebal menyelimuti sekeliling berubah. Membuat suasana Lembah Lamur menjadi menyeramkan. Ca- haya matahari yang memanggang, seakan tidak mam- pu menembus ketebalan kabut yang menyelimuti lem- bah itu. Seorang lelaki berlari-lari menuju Lembah Lamur dari arah utara. Dilihat dari pakaian yang dikenakan serta pedang bergagang tengkorak manusia kecil, ten- tunya lelaki itu tiada lain Ki Kenjono.
"He he he...!" Ki Kenjono tertawa tergelak-gelak. "Rupanya mereka tidak tahu di mana Lembah Lamur berada. Ah, akulah yang paling beruntung. Aku yang bakal mendapatkan Dewi Kwan Im."
Ki Kenjono tersenyum-senyum seorang diri, me- rasa kalau dirinya yang bakal mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im.
"Akulah yang akan menjadi orang terhormat dan tak akan dapat dikalahkan oleh siapa pun juga. Ha ha ha...!" Ki Kenjono kembali tertawa sambil terus berlari menuju Lembah Lamur. Matanya terus menyapu ke sekeliling tempat itu, berusaha meyakinkan kalau hanya dia yang ada di tempat itu.
Saat Ki Kenjono tertawa-tawa sambil terus berlari ke arah Lembah Lamur, tiba-tiba dilihatnya seorang gadis cantik jelita dengan senyum menawan tengah berdiri memandang ke arahnya seperti mengundang Ki Kenjono untuk mendekatinya.
Ki Kenjono seketika menghentikan larinya. Mu- lutnya ternganga, menyaksikan seorang gadis cantik jelita bak bidadari baru turun dari kahyangan berada di tengah lembah. Senyumnya sangat mempesona, membuat kecantikan gadis itu bagai tiada bandingannya.
Gadis itu berkulit kuning langsat dengan rambut digelung dua di atas kepalanya. Matanya agak sipit. Bibirnya tipis mungil. Hidungnya tidak terlalu man- cung. Pakaian yang dikenakannya bergaya pakaian ga- dis Cina, berlengan panjang dengan lebar di ujungnya dan berwarna putih. Panjang pakaiannya sampai ke mata kaki.
"Oh! Mungkinkah dia Titisan Dewi Kwan Im?" tanya Ki Kenjono dengan mata tidak berkedip, mema- ku pandangannya ke arah gadis Cina yang cantik jeli- ta. "Ya. Mungkin dialah Titisan Dewi Kwan Im."
Ki Kenjono masih terpana tanpa gerak, menyak- sikan kecantikan gadis itu. Diusapnya kedua matanya dengan tangan, berusaha meyakinkan penglihatannya. Namun gadis cantik jelita itu tetap berdiri dengan anggun.
Gadis cantik jelita itu tersenyum mengundang. Matanya yang indah mengerjap-ngerjap seperti mata kelinci. Bibirnya merah merekah. Benar-benar tak ada cacat celanya.
Ki Kenjono membalas senyuman wanita cantik je- lita itu. Kakinya melangkah pelan, berusaha meng- hampiri wanita cantik jelita yang sebagian kakinya dis- elimuti kabut tebal, sehingga tidak nampak dari lutut ke bawah.
"Sungguh beruntung aku. Rupanya akulah yang akan mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im," kata Ki Kenjono dengan senyum mengembang di bibir. Ka- kinya melangkah setapak demi setapak menuju Lem- bah Lamur yang tinggal beberapa tombak saja.
Kabut semakin tebal menyelimuti Lembah Lamur yang kian mencekam. Meski terik matahari terasa menyengat, namun sinarnya tiada berarti sama sekali, terhalang gumpalan kabut pekat yang merambah lembah.
Ki Kenjono yang dalam kegembiraannya, tak lagi sempat berpikir panjang. Langkah kakinya semakin dipercepat. Dan ketika dia masuk ke dalam kabut itu, seketika dirasakannya sesuatu yang lain.
"Oh, di mana aku? Di mana gadis Titisan Dewi Kwan Im itu?" gumam Ki Kenjono kebingungan. Ma- tanya menyapu ke sekelilingnya yang terasa asing. Ga- dis cantik yang dilihatnya tadi kini tak ada lagi. Ma- tanya hanya menangkap hutan belantara yang masih perawan, belum pernah dijamah tangan manusia.
"Mengapa aku ada di sini...?" tanya Ki Kenjono terheran-heran, masih belum mengerti mengapa tiba- tiba dia telah berada di tempat yang asing. Padahal dia tadi berada di lembah tanpa satu pun pepohonan. Yang ada hanya perbukitan yang mengelilingi lembah tersebut.
"Hik hik hik...!" Terdengar tawa terkikik yang menyeramkan. Su- ara tawa seorang wanita yang membuat bulu kuduk Ki Kenjono meremang hebat. Meski dari aliran sesat, na- mun selama ini baru didengarnya tawa wanita yang mengikik seperti itu.
Mata Ki Kenjono membelalak tegang dan menya- pu ke sekelilingnya dengan perasaan tercekam.
"Hik hik hik...!" Tawa wanita itu kembali terdengar. Bergema di sekelilingnya. Membuat Ki Kenjono kian tegang. Tan- gannya kini bergerak ke gagang Pedang Iblisnya, ke- mudian pedang itu ditarik dari sarungnya.
Ki Kenjono kini mempersiapkan Pedang Iblisnya untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Ma- tanya masih menyapu ke sekelilingnya yang asing. Su- asana di tempat itu terasa kian memompa degup jan- tungnya. Suara-suara aneh, terdengar susul-
menyusul. Bagaikan panggilan dari alam kematian.
"Hih!" Ki Kenjono mengibaskan tubuhnya ketika bulu kuduknya bertambah meremang. Dan ketika ke- palanya menengok ke belakang, seketika matanya membelalak lebar hampir keluar. Cepat-cepat tubuh- nya melompat ke belakang untuk mengelakkan samba- ran tangan besar berbulu lebat menyeramkan.
"Hogrrrh...!" Dengus napas makhluk itu sangat menyeramkan. Apalagi tubuhnya yang tinggi besar, hitam, dan berbu- lu lebat. Matanya merah membara laksana api neraka. Taringnya mencuat keluar dari mulutnya, menghias sudut-sudut bibirnya hingga tampak bertambah me- nyeramkan. Di atas kepalanya mencuat pula sepasang tanduk seruncing mata tombak. Meski wajahnya tam- pak seperti kera, namun sulit sekali makhluk itu dis- ebut hewan. Lebih tepat jika disebut mambang atau sejenisnya.
"Uh, makhluk apakah ini?" keluh Ki Kenjono dengan mata masih membelalak, menyaksikan mak- hluk menyeramkan yang berdiri sepuluh tombak di depannya.
"Hogrrr...!" Makhluk menyeramkan itu kembali menggeram, kemudian tangannya bergerak menyambar ke arah Ki Kenjono. Angin sambarannya sangat keras, menyen- takkan Ki Kenjono.
"Edan!" umpat Ki Kenjono sambil melompat men- gelakkan sambaran tangan makhluk menyeramkan itu. Kemudian dengan cepat, pedangnya dibabatkan.
Wut! Tepat sekali pedang di tangan Ki Kenjono mem- babat tangan makhluk menyeramkan itu, namun pedang itu bagai tak berarti. Makhluk menyeramkan itu tidak luka sedikit pun. Bahkan nampak bertambah be-
ringas. "Edan! Benar-benar setan!" maki Ki Kenjono sambil menghindari sambaran tangan makhluk yang sebagian tubuhnya terbungkus kabut tebal. Yang tam- pak hanya bagian perut hingga kepalanya saja.
Ki Kenjono terus bersalto, berusaha mengelakkan serangan-serangan yang dilancarkan makhluk menye- ramkan yang berwajah kera, namun memiliki taring dan tanduk. Dengus napas makhluk itu laksana angin kencang yang menyapu tubuh Ki Kenjono.
"Uts! Ilmu sihir!" umpat Ki Kenjono setelah bebe- rapa kali menyabetkan pedang ke tubuh makhluk itu, namun tidak mendapatkan hasil apa-apa. Pedangnya laksana membabat angin belaka. Hal itulah yang membuat dia merasa yakin kalau makhluk menyeram- kan itu tak lain hanya ciptaan dari ilmu sihir.
Tangan makhluk menyeramkan itu kini mencoba mencengkeram tubuh Ki Kenjono. Namun Ki Kenjono terus berkelit dengan melepas pukulan saktinya.
Wesss! Selarik sinar terbersit keluar dari telapak tangan Ki Kenjono, lalu menghantam tubuh makhluk menyeramkan itu. Namun tetap saja makhluk itu tidak men- galami apa-apa. Malah wajahnya semakin garang berapi-api. Tangannya bergantian menyabet tubuh Ki Kenjono, membuat lelaki itu kewalahan.
"Gila! Bisa-bisa tenagaku habis!" rutuk Ki Kenjo- no. Keringat semakin membasahi pakaiannya. Puku- lan-pukulan sakti yang dihantamkan ke arah makhluk menyeramkan itu rupanya telah menguras tenaga da- lamnya. Tapi makhluk menyeramkan itu bagai karang kokoh yang tak bergeming ditampar ombak.
"Hogrrr...!" Makhluk menyeramkan itu kini menyerang den- gan kuku-kukunya yang hitam dan panjang. Menceng-
keram ke arah Ki Kenjono yang semakin kewalahan.
"Uts!" Beberapa kali Ki Kenjono dibuat pontang-panting ke sana kemari untuk mengelakkan sambaran- sambaran tangan makhluk itu. Pedang Iblis di tangan- nya tak berarti sama sekali. Makhluk itu semakin ga- nas dan menyerang dengan membabi-buta. Geraman- geramannya membuat suasana di sekitar tempat itu menjadi bergetar.
***

"Hik hik hik...!". Pada saat nyawanya dihadapkan pada gerbang kematian, Ki Kenjono kembali mendengar suara tawa wanita yang ganjil tadi. Tawa melengking itu mengge- ma di sekelilingnya. Bersamaan dengan itu berkelebat sebuah bayangan putih.
"Dewi Kwan Im!" seru Ki Kenjono dengan mata membelalak, menyaksikan sosok wanita cantik berke- lebat ke arahnya. Di tangan wanita itu tergenggam se- bilah pedang yang memancarkan cahaya merah ke- kuning-kuningan.
"Hik hik hik...!" Wanita cantik jelita itu kembali tertawa-tawa. Pe- dang di tangannya seketika berkelebat cepat, memba- bat ke arah tubuh Ki Kenjono.
Cras! "Uhk! Aaakh...!" Ki Kenjono melolong panjang, ti- dak mampu mengelakkan serangan yang dilancarkan gadis cantik itu. Matanya membelalak lebar. Wajahnya kini tersayat hingga mengucurkan darah. Sebuah luka bekas babatan, menganga dari atas ke bawah wajah- nya. Ki Kenjono seketika meregang, kemudian ambruk tanpa nyawa.
"Hik hik hik...!" Wanita cantik itu kembali tertawa terkikik, lalu dengan cepat tangannya mencengkeram tubuh Ki Ken- jono. Bersamaan dengan itu, makhluk menyeramkan yang tadi menyerang Ki Kenjono lenyap begitu saja.
Wanita cantik itu pun berkelebat sambil memba- wa tubuh Ki Kenjono, dan menghilang dalam kegela- pan hutan. Seketika itu juga, kabut bergulung dengan cepat. Berarak pergi, membawa semua misteri yang ada.
Suasana Lembah Lamur kembali hening dan se- pi, menyimpan sejuta tanda tanya. Kini keadaan nam- pak kembali seperti semula. Sebuah lembah yang ger- sang dan sepi. Dan debu-debunya beterbangan tersapu angin. Mentari telah condong ke arah barat, menanda- kan hari menjelang sore. Angin bertiup sepoi-sepoi, se- hingga suasana di sekitar tempat itu menjadi sejuk.
Saat itu, tiga orang laki-laki dengan pakaian In- dia tampak melangkah menuju Lembah Lamur. Keti- ganya berhidung mancung dengan kumis tebal melin- tang. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki gemuk berpakaian kulit kambing. Wajah pemimpin mereka yang bernama Amal Meshk, nampak bengis. Cambang bauk kasar menghiasi wajahnya. Alis mata dan bibir- nya tebal.
Lelaki gemuk itu sengaja datang dari daratan In- dia. Dia adalah Ketua Perguruan Samarakasta, sebuah perguruan besar di tanah India. Tentunya kedatangan mereka berkaitan erat dengan berita tentang Titisan Dewi Kwan Im.
Di belakang lelaki gemuk itu, berjalan dua lelaki bertubuh gempal. Wajah kedua lelaki ini pun dipenuhi cambang bauk yang kasar, membuat kesan wajah me- reka terlihat bengis pula. Pakaian keduanya juga terbuat dari kulit kambing berwarna belang. Di tangan orang sebelah kin, tergenggam sebuah lambang dari perguruan mereka dengan gambar seekor elang hitam.
"Masih jauhkah Lembah Lamur, Ketua?" tanya Rabindra, orang yang berjalan di sebelah kanan bela- kang sang Ketua.
"Hm.... Kurasa tidak. Bukankah orang itu me- nunjukkan di sekitar sini," guman sang Ketua yang bernama Amal Meshk atau Elang Hitam. Matanya me- mandang ke depan, pada sebuah lembah yang mem- bentang, sepi dan gersang. Di sana debu beterbangan tertiup angin.
Saat kaki mereka melangkah ke arah Lembah Lamur, tiba-tiba angin bertiup kencang. Hal itu mem- buat Amal Meshk dan anak buahnya tersentak. Mere- ka membelalakkan mata, memandang kaget ke arah Lembah Lamur.
"Hei, lihat! Angin itu datangnya dari bukit! Ah, aneh sekali. Seakan ada yang mendatangkan angin itu!" seru Amal Meshk sambil melangkah mundur, be- rusaha menahan tubuhnya yang gemuk dari sapuan angin lembah yang kencang.
Wusss! Angin lembah semakin kencang, menderu-deru ke arah mereka. Angin itu seperti sengaja ditujukan kepada mereka, hingga hembusannya hanya ke arah mereka saja.
"Awas...! Jelas ini ada yang sengaja mengarahkan angin ke arah kita...!" seru Amal Meshk, mengingatkan anak buahnya agar berhati-hati.
Wusss! "Celaka! Angin ini benar-benar bukan angin alam! Angin ini sengaja dibuat oleh seseorang untuk menghalangi niat kita...!" seru Amal Meshk. "Kajit Singh, cepat kau bertindak!"
Lelaki yang memegang panji segera bertindak. Dengan teriakan yang menggelegar, Kajit Singh melesat
"Yeaaah...!" Tangan Kajit Singh bergerak cepat, saling silang dan kemudian mengibas. Dari gerakan tangannya, ke- luar angin yang begitu cepat. Semakin cepat tangan Kajit Singh bergerak, semakin cepat pula angin ber- hembus.
Perlahan-lahan angin yang menderu ke arah me- reka dapat diatasi. Kini angin yang keluar dari tangan Kajit Singh, terus menekan angin yang datangnya dari bukit. Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih. Begitu cepat bayangan itu berkelebat sampai-sampai mereka tidak dapat melihat dengan pasti bagaimana rupanya.
Kajit Singh tersentak kaget. Matanya membela- lak. Dia berusaha menghindar, namun ternyata baba- tan pedang yang mengeluarkan sinar merah kekuning- kuningan di tangan bayangan putih itu lebih cepat membabat wajah Kajit Singh.
Cras! "Aaa...!" Kajit Singh memekik keras. Tangannya seketika menutupi wajahnya yang terbabat pedang. Darah de- ras keluar membanjiri wajahnya. Sesaat tubuhnya me- regang, kemudian ambruk tanpa nyawa.
Amal Meshk tersentak kaget, menyaksikan seo- rang anak buahnya dapat dirobohkan oleh bayangan putih yang belum jelas siapa orangnya.
"Kajit...!" Amal Meshk hendak lari mendekati tubuh Kajit Singh, namun angin kembali berhembus kencang.
"Angin keparat!" maid Amal Meshk marah. Den- gan beringas, tangannya bergerak, menyapu deru an- gin yang menyerang ke arahnya. "Yeaaat...!"
Amal Meshk yang sudah marah tak lagi menghi- raukan apa yang bakal terjadi. Tubuhnya terus berke- lebat sambil menggerak-gerakkan tangan.
"Keluarlah kau! Hadapi Amal Meshk!" bentak Amal Meshk penuh kemarahan, menantang bayangan putih yang tiba-tiba saja menjadi malaikat maut bagi Kajit Singh.
Wusss! Angin kembali menderu kencang. Pada saat itu, sebuah sosok bayangan putih yang memegang pedang bersinar merah kekuning-kuningan kembali muncul. Bayangan itu berkelebat cepat, kemudian tangannya bergerak membabatkan pedang ke arah Amal Meshk.
Amal Meshk tersentak. Tubuhnya menyurut mundur, kemudian segera mengelakkan babatan pe- dang itu. Tangannya dengan sigap mencabut senja- tanya yang berbentuk cakar elang. Kemudian dengan membuat jurus 'Elang Hitam Mengepak Sayap Men- cengkeram Mangsa', Amal Meshk balas menyerang.
"Kau...!" Amal Meshk terperanjat ketika melihat wajah bayangan putih itu. Namun hanya itu yang keluar dari mulutnya. Matanya membelalak, menyaksikan sinar terang yang terpancar dari pedang dan tubuh bayan- gan putih itu. Setelah itu, pedang bersinar merah ke- kuning-kuningan telah menebas wajahnya.
"Aaa...!" Amal Meshk memekik. Di wajahnya nampak sayatan pedang dari atas sampai ke bawah, seakan membelah wajahnya. Matanya melotot tubuh- nya mengejang sebelum ambruk tanpa nyawa. Begitu juga dengan seorang anak buahnya yang lain.
Suasana Lembah Lamur kembali sepi, hanya ti- upan angin yang menderu kencang dan sesosok bayangan putih yang masih berada di lembah itu. Se- dangkan ketiga orang India itu telah bergelimpangan
menjadi mayat
"Hik hik hik...!" Bayangan putih itu tertawa, lalu melesat dengan membawa tiga tubuh yang menjadi korbannya. Kemu- dian, menghilang dalam gulungan kabut yang tebal.

4
Sena Manggala tampak tengah melangkah me- nyelusuri gelapnya malam dalam usaha mencari tem- pat beristirahat. Seharian kakinya telah melangkah untuk mencari berita tentang Mei Lie yang diculik en- tah oleh siapa. Namun sampai sejauh itu, berita ten- tang gadis itu belum juga didapatkan.
"Mei Lie, di manakah kau berada? Ah, telah jauh sekali aku berjalan mencarimu. Bahkan entah di mana aku kini berada. Mungkin aku telah sampai di perba- tasan wilayah tengah dan timur," desis Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Mulutnya tersenyum hampa. Kaki Sena terus melangkah menyelusuri jalan, sampai akhirnya dia tiba di dekat sebuah bangunan tua. Malam telah larut dengan kegelapan yang menye- limuti bumi. Udara terasa sangat dingin, menusuk tu- lang sumsum. Kabut bergerak perlahan, melengkapi kegelapan malam yang semakin mencekam.
"Auuung...!" Lolongan anjing hutan dari kejauhan terdengar mendirikan bulu kuduk yang mendengarnya. Namun Sena tak menghiraukan. Dia malah tertawa cekikikan. Tingkah lakunya seperti orang gila atau terlihat seperti kera kebingungan.
Bangunan tua menjulang tinggi dengan megah. Meski dalam kegelapan, namun mata Sena mampu melihat kemegahan bangunan itu.
Mata Sena menatap puncak bangunan sekaligus menatap langit yang gelap. Malam itu tiada satu pun bintang terlihat, terlebih bulan. Langit hanya dipadati oleh arakan mega berwarna pekat
"Hi hi hi.... Malam gelap. Ah..., gulita," gumam Sena sambil cengengesan dengan tangan masih meng- garuk-garuk kepala. Lalu tertawa tergelak-gelak.
Angin berhembus semakin dingin, dibarengi oleh kabut yang kian mencekam.
"Auuung...!" Lolongan anjing hutan terdengar sayup-sayup. Sinar lidah petir berkilat, membuat suasana di sekelil- ing tempat itu untuk sementara tenang. Saat itulah matanya melihat sesosok tubuh berjalan terhuyung- huyung. Nampak orang itu tengah terluka dalam.
"Hei, siapakah itu?!" tegur Sena setengah berte- riak. "Hi hi hi.... Rupanya aku tidak sendiri?"
Orang itu berkelebat cepat ketika mendengar te- guran Sena. Hal itu membuat semakin membuat Sena penasaran.
"Lho, kenapa lari?! Eit, tunggu! Hi hi hi...!" Sambil tertawa terkikik-kikik, Sena berkelebat mengejar. Namun bayangan itu seketika menghilang seakan raib begitu saja, membuat mata Pendekar Gila membelalak. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Keningnya berkerut.
"Hilang! Ah, dia menghilang!" Merasa belum yakin kalau bayangan itu hilang, Sena berusaha mencarinya. Sekeliling tempat itu dije- lajahinya. Tapi bayangan itu tetap tak ditemukan, le- nyap bagai ditelan bumi.
"Ah ah ah.... Kenapa bersembunyi? Hi hi hi...!" Sena mengerutkan kening. Tangannya mengga- ruk-garuk kepala. Matanya menyapu ke sekelilingnya,
berusaha meyakinkan bahwa bayangan yang tadi dili- hatnya benar-benar telah menghilang.
"Hi hi hi.... Aneh, dia menghilang. Hm, siapakah orang itu? Apa mungkin setan...?" pikir Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya terus menyapu ke sekelilingnya, berusaha mencari bayangan itu. "Ah ah ah.... Setan?"
Clrrrt...! Glarrr! Kilatan lidah petir kembali menyala, membuat sekeliling tempat itu kembali terang. Dan seketika itu pula, Sena kembali melihat bayangan hitam itu yang melangkah beberapa puluh tombak di hadapannya.
"Aha...! Rupanya dia sengaja mempermainkan ku!" duga Sena berbisik, merasa dirinya dipermainkan. "Hi hi hi.... Baik kalau begitu."
Tubuh Sena kembali melesat, memburu ke arah bayangan hitam itu. Namun lagi-lagi bayangan hitam itu melesat pergi, seakan mengetahui kalau dirinya di- kejar. "Setan! Tunggu.... He he he.... Jangan lari!"
Dengan masih tertawa-tawa, Pendekar Gila beru- saha mengejar bayangan hitam itu. Namun kembali dia kehilangan jejak. Bayangan hitam itu hilang begitu sa- ja, seperti dilahap kegelapan. Tinggal Sena yang meng- garuk-garuk kepala sambil cengengesan. Keningnya di- tepuk. "Oh! Kenapa dia menghilang?!"
"Auuung...!" Lolongan anjing hutan dari kejauhan berkuman- dang. Begitu memelas lolongannya. Tak ubahnya ar- wah-arwah penasaran yang terhimpit di antara dua kehidupan, dan sulit untuk menembusnya.
"Hi hi hi...!" Sena tertawa lucu. Tampangnya se- perti orang bodoh. Seluruh panca inderanya dipu- satkan menjadi satu, sehingga jika ada gerak sedikit
saja, dia akan dapat menangkapnya. Matanya menya- pu ke sekeliling tempat itu. Hanya kegelapan mence- kam yang dilihatnya. Tak ada tanda-tanda bayangan itu akan kembali muncul.
Kilat kembali menjilati bumi, membuat suasana di sekeliling tempat itu kembali terang. Pada saat itu pula, bayangan hitam itu tampak sekali lagi. Dan kini telah berada di depan pintu bangunan tua yang tinggi itu.
"Hi hi hi.... Dia sudah ada di sana," gumam Sena. "Hm, rupanya dia benar-benar ingin mempermainkan aku! Heh...!"
Sena kembali berkelebat ke arah bangunan tua itu, memburu bayangan hitam yang tengah berdiri te- nang. Seakan tidak pernah beranjak dari tempat itu.
"Hi hi hi...! Rupanya kau hendak mempermain- kan ku, Sobat! Baik kalau kau mau main kucing- kucingan denganku!" kata Sena agak sewot, merasa dipermainkan oleh bayangan hitam itu. Dan kini ilmu lari 'Sapta Bayu' dikerahkannya, berusaha menangkap bayangan hitam yang begitu cepat menghilang.
Wusss! Tubuh Sena dalam sekejap saja telah melesat laksana angin. Tahu-tahu tubuhnya telah berada di dekat bayangan hitam yang hendak lari kembali. Den- gan cepat, Sena segera menghadangnya.
"Mau lari ke mana kau?!" bentak Sena. Tangan Pendekar Gila bergerak cepat, berusaha menangkap bayangan hitam itu. Namun belum juga tangannya sempat menjamah, tiba-tiba....
"Anak tolol!" Sena tersentak kaget dibentak begitu rupa. Be- lum pernah dia dibentak seperti itu. Tapi kini bayan- gan hitam itu telah berani membentaknya. Bahkan bentakannya sangat kasar dengan suara yang mengge-
legar. Tubuh Sena tersurut dua tindak ke belakang. Keningnya mengerut saat memandang bayangan hitam yang masih membelakangi tubuhnya.
"Hi hi hi...! Siapakah kau?!" tanya Sena. "Kenapa kau membentak ku?"
"Hua ha ha...! Dasar bocah edan!" maki bayangan hitam itu. "Ketololan mu yang akan membuatmu cela- ka!"
"Heh?! Hi hi hi...!" Sena menggaruk-garuk kepala. "Kau...."
Belum juga Sena selesai berkata, lelaki itu mem- buka jubah hitamnya. Kini nampaklah lelaki yang mengenakan baju panjang berwarna putih dengan ikat pinggang merah dan rambut digelung ke atas.
"Aha, Guru rupanya...!" seru Sena sambil meng- garuk-garuk kepala dengan mulut cengengesan.
Tubuh lelaki tua itu membalik. Dan nampaklah wajah Singo Edan.
"Hua ha ha...!" Singo Edan tertawa tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk kepala, seperti yang di- lakukan Sena. Hal itu menggelitik Sena untuk turut tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha...! Kenapa Guru ada di sini?" tanya Se- na seraya menjura hormat
Mata Singo Edan melotot. "Dasar anak tolol! Rupanya ketololan mu yang membuatmu tak tahu gelagat!" maki Singo Edan, den- gan tingkah laku seperti orang gila.
"Tolol...? Hi hi hi..! Bukan tolol, tapi gila, Guru!" sahut Sena sambil tertawa bergelak dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Guru dan murid itu tertawa bergelak-gelak. Sea- kan ingin memuaskan suka hati mereka. Tingkah laku mereka persis dua orang gila.
Singo Edan lalu melangkah ke dalam bangunan tua itu, diikuti Sena.
"Ikut aku!" bentak Singo Edan. "Hi hi hi... Baik, Guru." Guru dan murid itu menuju ke bangunan tua yang menyerupai candi itu, lalu masuk ke dalamnya. Keduanya berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas dalam keadaan gelap gulita.
Keduanya kemudian duduk berhadap-hadapan di ruangan itu. Singo Edan menggosok-gosok kuku ja- rinya. Seketika dari kuku jarinya keluar percikan api, yang semakin lama bertambah besar. Dalam sekejap ruangan itu menjadi terang.
"Bocah tolol! Tentunya kau lapar, bukan?" "Lapar? Hi hi hi..! Ya. Aku lapar, Guru," jawab Sena. "Hua ha ha...! Memang dari dulu hanya makan yang kau pikirkan, Bocah Edan! Kau benar-benar edan...!" maki Singo Edan. Matanya memandang tajam muridnya yang duduk di hadapannya. "Ku bawakan kau makanan. Lihatlah...!"
Sena mengikuti telunjuk gurunya. Seketika ma- tanya membelalak, menyaksikan sesuatu yang terasa sangat aneh baginya. Tiga buah kepala manusia ter- tancap dengan bambu!
Sejak kapan guruku berbuat keji? Oh, benarkah ini guruku yang dulu baik? Tanya Sena dalam hati. Namun wajahnya seketika kembali seperti semula.
"Ha ha ha...! Lucu sekali. Apakah itu permainan Guru sekarang?"
"Hua ha ha...!" Singo Edan turut tertawa. "Kau rupanya kaget, Bocah Edan?"
"Kaget? Ha ha ha...!" Sena tertawa bergelak-gelak dengan tangan kembali menggaruk-garuk kepala. "Ka- get Guru? Aku hanya heran, sejak kapan Guru memi-
liki permainan seperti ini?"
"Kurang ajar! Sejak kapan kau berani menentang gurumu, heh?!" sentak Singo Edan marah. Matanya melotot geram. Api yang menyala dari kuku-kukunya kian besar. Seakan api itu merupakan lambang dari jiwa lelaki tua itu.
"Ampun, Guru.... Sebenarnya, tidak sekali pun aku berani kurang ajar padamu. Tapi...."
"Diam!" bentak Singo Edan. Sena menurut "Ketahuilah olehmu, kepala itu adalah kepala mereka yang berani menentang ku!" tegas Singo Edan, semakin membuat Sena tercengang. Dia benar-benar merasa aneh dengan tingkah laku dan kata-kata gu- runya. Tapi sebagai seorang murid yang berbakti, Sena tak mampu membantah. Hanya dalam hatinya saja yang masih diliputi ketidakmengertian.
Plok, plok, plok! Singo Edan bertepuk tiga kali. Dan sesaat kemudian, dari dalam candi muncul tujuh wanita cantik jelita dengan pakaian yang minim. Hanya pada bagian dada dan bawah pusar saja yang ditutupi. Itu pun sangat minim sekali. Hal itu mem- buat Sena kian kebingungan, tak mengerti maksud dari gurunya.
Sena menggaruk-garuk kepala. Mulutnya nam- pak cengengesan, menyaksikan pemandangan yang membuat matanya membelalak. Rasa herannya sema- kin menjadi-jadi, semakin tidak mengerti dengan maksud gurunya.
***

"Bawakan bocah gila ini makanan!" perintah Sin- go Edan pada ketujuh gadis cantik berpakaian minim yang lantas menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Kemudian ketujuh gadis cantik itu menjura hormat, sebelum melangkah meninggalkan tempat itu.
"Guru...." "Diamlah!" potong Singo Edan. "Bukankah kau lapar?! Jangan sekali-kali berani menentang ku, jika kau tak ingin seperti ketiga lelaki itu."
Sena kembali menurut. Bukannya dia takut ke- palanya dipenggal, namun dia diam karena harus menghormati lelaki tua di hadapannya. Sebagai orang yang berjasa mengajarkannya ilmu kedigdayaan.
Plok, plok, plok! Singo Edan kembali bertepuk tiga kali. Saat itu pula, ketujuh gadis-gadis cantik berpakaian minim ke- luar. Di tangan mereka, terdapat makanan-makanan lezat yang mengundang selera. Nasi putih yang masih panas. Ikan bakar. Sambal lengkap dengan lalap petai. Serta sayur-mayur lainnya. Tidak ketinggalan buah- buahan segar.
Mata Sena membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya dikucek-kucek, namun semuanya masih tetap ada. Gadis-gadis cantik berpa- kaian minim dengan makanan-makanan lezat, masih dilihatnya.
O, bukan mimpi. Ah, sejak kapan Guru bertabiat begini? Tanya Sena dalam hati. Hatinya masih diliputi ketidakmengertian atas sikap gurunya yang begitu aneh. Meski dia tahu gurunya juga aneh seperti di- rinya, namun keanehannya kini di luar kebiasaan.
Singo Edan adalah pendekar yang tidak pernah berhubungan dengan wanita. Bagaimana mungkin kini memiliki dayang-dayang cantik? Hal lain, Singo Edan tak pernah memenggal kepala manusia. Tapi kini tiga orang telah terpenggal kepalanya. Itu yang tidak dapat dipercaya Sena.
"Ayo makan," perintah Singo Edan.
"Guru, aku masih belum mengerti," tukas Sena. "Hm.... Ada apa lagi...?" Sena menghela napas berat. Matanya meman- dang tujuh dayang cantik jelita yang duduk di samping kanan dan kiri gurunya. Kemudian pandangannya kembali ke arah kepala-kepala yang terpenggal itu. Terakhir pandangannya tertuju ke makanan lezat yang mengundang selera.
"Guru, kau telah begitu baik padaku. Tapi..., bagaimana mungkin aku harus lancang mendahuluimu?" tanya Sena yang merasa ragu akan makanan-makanan yang terlihat lezat itu.
"Ha ha ha...!" Singo Edan tertawa terbahak- bahak. Matanya memandang genit ke arah dayang- dayang cantik yang duduk di kanan-kirinya. Dibalas pula oleh ketujuh gadis cantik itu dengan genit. "Ru- panya kau sekarang sudah kurang ajar pada gurumu, heh?!" Akhirnya, sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan, Sena menurut. Diambilnya makanan yang ada di depannya. Dicicipinya makanan itu. Lezat juga rasanya. Jauh lebih lezat dari makanan yang bi- asa dimakannya. Aneh, makanan ini enak sekali! Kata Sena dalam hati.
"He, mengapa tidak dimakan semuanya?" tanya Singo Edan dengan raut wajah tak senang.
"Bukan begitu, Guru. Bukankah Guru sendiri yang mengajarkan padaku, bahwa aku harus waspada. Guru juga mengatakan, aku tidak boleh percaya pada siapa pun, termasuk Guru sendiri...?" jawab Sena be- ralasan. Padahal hatinya merasakan sesuatu yang ti- dak beres pada diri gurunya. Itu sebabnya dia tidak berani berlaku sembrono. Terlebih makanan di hada- pannya sangat merangsang selera. Seakan ada bumbu lain pada makanan itu.
"Ha ha ha...! Benar apa yang kau katakan," kata Singo Edan sambil tertawa nyaring. "Baiklah, aku akan mendahuluinya."
Singo Edan segera mengambil makanan itu. Ke- mudian menyantapnya sampai habis dengan terse- nyum-senyum. Sedangkan Sena memperhatikan den- gan seksama. Meski dia kebal terhadap racun apa pun, namun Sena tidak berani gegabah. Racun Kabut Ungu adalah ciptaan gurunya. Tentunya Singo Edan pun memiliki racun yang melebihi Racun Kabut Ungu.
"Kau lihat, aku tak apa-apa. Makanlah, tentunya kau lapar," perintah Singo Edan.
Sena tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian makanan itu diambilnya. Lalu dimakan sampai habis. Tak ada akibat apa-apa pada dirinya.
"Ha ha ha...! Bagus! Itu tandanya kau murid yang paling setia dan berbakti!" kata Singo Edan sambil ter- tawa-tawa.
Sena turut tertawa. Namun tiba-tiba tubuhnya terasa membara. Keringat dingin bercucuran. Matanya membelalak, merasakan sakit yang tiada taranya. Pada saat itu, telinganya mendengar jeritan Mei Lie. Seper- tinya gadis itu memanggil-manggil namanya dan me- minta tolong padanya.
"Sena...! Tolong aku...!" "Mei Lie, di mana kau?!" Dalam keadaan tubuh didera panas hebat, Sena berusaha bangun. Namun tubuhnya seketika lemas. Tulang-belulangnya bagai dilolosi dari tubuh. Hal itu membuat matanya kini memandang tajam pada lelaki yang persis gurunya.
"Hua ha ha...! Akhirnya kau akan mampus juga, Pendekar Gila! Hua ha ha...!" lelaki tua yang dari tu- buh, suara, serta wajahnya persis dengan Singo Edan terbahak-bahak menyaksikan Pendekar Gila kini berkelojotan dengan tubuh bagai membara.
"Kau?! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Sena sambil berusaha memulihkan kekuatannya. Tapi ra- cun yang telah dimakannya teramat kuat mencengke- ram tubuhnya.
"Hua ha ha...! Siapa pun aku, kau tak perlu tahu! Yang pasti, kau harus mampus!" lelaki yang penampi- lannya persis Singo Edan kini mengangkat kedua tan- gannya. Dan dari telapak tangannya, terpancar sinar merah kehitam-hitaman.
"Sena...! Tolong aku...!" Suara Mei Lie masih saja terdengar, memanggil- manggil Sena yang dalam keadaan kritis. Terlebih tan- gan lelaki di hadapannya semakin dekat ke arah kepa- la Sena yang kini masih bergelinjangan.
"Mampuslah kau! Yeaaa...!" Sesaat lagi, nyawa Pendekar Gila akan melayang. Kepalanya akan hancur dihantam oleh pukulan maut lelaki itu. Sebelum semuanya terjadi, tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat menyambar tubuh Pende- kar Gila sambil menangkis pukulan tangan lelaki itu.
Blarrr! Ledakan terdengar menggelegar, dibarengi oleh keluhan lelaki yang mirip Singo Edan. Tubuh lelaki itu terdorong ke belakang. Sedangkan ketujuh gadis yang menjadi dayangnya berpentalan dengan keadaan yang mengerikan. Wajah mereka hancur, terkena tenaga hantaman dua kekuatan dahsyat.
"Ukh...! Setan alas! Siapa kau...?!" bentak lelaki mirip Singo Edan seraya bangkit dan mengejar bayan- gan putih yang telah membawa tubuh Pendekar Gila. Namun bayangan putih itu telah menghilang dalam kegelapan.
Dengan mencaci maki dan merutuk, lelaki tua itu berkelebat pergi. Tubuhnya terbungkus oleh kabut tebal, kemudian lenyap dalam sekejap.

5
Orang berjubah putih yang menyambar tubuh Pendekar Gila terus berlari cepat Begitu cepatnya ber- lari, sampai-sampai kakinya tak menginjak tanah. Dia melesat cepat laksana terbang. Tidak begitu lama, sampailah orang itu di pesisir pantai laut selatan.
Orang itu menghentikan langkahnya. Matanya menyapu ke sekelilingnya, seakan meyakinkan diri ka- lau tak ada seorang pun yang melihatnya. Setelah ya- kin tak ada seorang pun yang melihat, dengan me- manggul tubuh Pendekar Gila tubuhnya melenting ke atas.
"Hih!" Tubuh orang itu bersalto di atas lautan, kemu- dian dengan ringan melesat masuk ke dalam karang besar yang menonjol di lautan. Dan kakinya mendarat ringan di depan sebuah goa.
Orang itu menghela napas seraya memandang wajah Pendekar Gila yang memerah. Kemudian dengan ringan, kakinya melangkah masuk ke dalam goa yang tak lain Goa Setan. Dan tentunya orang berjubah putih itu adalah Singo Edan. Guru Pendekar Gila!
"Hm...," Singo Edan menggumam. Kakinya terus melangkah ke dalam goa. Sesekali dipandanginya wa- jah Sena yang kian membara. "Racun jahat!"
Singo Edan berhenti di sebuah ruangan lebar. Tempat tersebut dulu digunakan untuk tidur Sena Manggala. Di situ terdapat sebuah batu panjang dan cukup lebar berbentuk datar. Batu itulah yang biasa- nya dipakai Sena untuk tidur ketika masih berada di Goa Setan. Tubuh Sena direbahkan di atas batu itu. Setelah memandangi tubuh muridnya, Singo Edan melangkah keluar. Dia kini menuju ruangan yang digunakan untuk menyimpan racun dan obat-obatan.
"Racun Sambuk Nyawa bukanlah racun semba- rangan. Ah, mengapa aku tidak ingat kalau racun itu masih ada?" keluh Singo Edan, menyesali keteledoran- nya. "Kalau saja racun itu kuketahui masih ada, ten- tunya Sena tidak mengalami hal seperti ini."
Singo Edan menggaruk-garuk kepala. Lalu tan- gannya menepuk-nepuk kening. Matanya mencari racun-racun yang ada di ruangan itu.
"Huh! Mengapa racun itu kembali muncul? Bu- kankah racun itu telah musnah bersamaan dengan musnahnya tukang sihir itu?" tanya Singo Edan pada diri sendiri. Nadanya masih menyesali keteledorannya, sehingga muridnya harus mengalami hal yang tak per- nah diduga sama sekali.
Singo Edan terus mencari obat yang bisa mena- warkan Racun Sambuk Nyawa. Matanya terus me- mandangi satu persatu botol-botol obat dan racun ter- sebut. Namun tidak juga ditemukannya.
"Hm.... Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bukankah Dewi Pemuja Setan telah musnah?" kening Singo Edan berkerut, memikirkan keanehan itu. Inga- tannya kembali melayang pada masa mudanya, ketika dia masih malang-melintang di rimba persilatan. Ber- kelana menumpas keangkaramurkaan.
Suatu hari ketika dia tengah berkelana, Singo Edan singgah di sebuah desa. Di situ, didengarnya tentang Dewi Pemuja Setan. Ilmu-ilmunya tinggi, terlebih dalam hal ilmu sihir. Dia bisa menjelma menjadi mak- hluk apa pun yang dikehendakinya.
Di samping ilmu sihirnya yang hebat, wanita itu memiliki ilmu racun yang ganas bernama Sambuk Nyawa. Orang yang terkena racunnya, akan mengalami
kematian yang mengerikan. Tubuhnya akan menjadi mayat yang mengerikan. Bengkak-bengkak, kemudian pecah dengan mengeluarkan nanah. Hal itu terjadi be- rangsur-angsur. Hingga korbannya benar-benar tersiksa hebat
Keduanya bertemu, kemudian bertarung. Singo Edan tak pernah menyangka, kalau Dewi Pemuja Setan yang katanya telah berumur tujuh puluh lima ta- hun itu ternyata masih cantik jelita. Bahkan keliha- tannya masih muda belia, lebih muda dari usianya yang saat itu berumur dua puluh dua tahun.
Keduanya bertarung dengan ilmu-ilmu tinggi. Dewi Pemuja Setan mengeluarkan ilmu-ilmu sihirnya. Namun dengan Suling Naga Sakti, Singo Edan mampu mengatasinya. Sampai akhirnya, Singo Edan diserang dengan Racun Sambuk Nyawa. Hampir saja Singo Edan mengalami kematian. Tapi tanpa diduga, di per- jalanan pulang dalam keadaan luka, kakinya digigit seekor ular berwarna putih.
Setelah digigit ular itu, anehnya Racun Sambuk Nyawa lenyap. Singo segera memotong tubuh ular putih yang bernama Sandra Dewa, lalu mereguk darah- nya sampai habis. Rupanya ular itu adalah obat pena- war dari Racun Sambuk Nyawa yang diambil dari ular merah yang bernama Wiraga Kala.
Singo Edan pun kembali mencari Dewi Pemuja Setan. Keduanya kembali bertarung, sampai akhirnya Dewi Drugadi atau Dewi Pemuja Setan dapat dikalah- kan. Tubuh wanita itu hancur terkena hantaman sinar yang keluar dan sepasang mata naga di pangkal Suling Naga Sakti.
"Ah ah ah...!" Singo Edan menepuk-nepuk ke- ningnya. "Bukankah hanya ada satu obat yang mampu menawarkan Racun Sambuk Nyawa?"
Dengan tingkah laku seperti orang gila, Singo
Edan melangkah keluar dari ruangan itu.
"Aku harus mencari ular putih itu," bisik Singo Edan seraya menggaruk-garuk kepala. "Tapi, apa ular itu ada? Menurut kabar, ular itu muncul setiap seten- gah abad sekali."
Singo Edan menggaruk-garuk kepala. Kemudian bagaikan orang gila, jari tangannya dihitung.
"Ya ya ya...! Tentunya ular itu memang ada seka- rang. Aku harus mencarinya," ujar Singo Edan seraya melangkah ke ruang di mana tubuh Sena tergeletak.
Saat itu tubuh Sena kian merah membara. Per- tanda Racun Sambuk Nyawa mulai bekerja.
"Hm.... Aku harus menghentikan jalan darahnya!" Jari Singo Edan segera menotok beberapa bagian tubuh muridnya untuk menghentikan jalan darah. Dan hasilnya memang baik. Sinar merah yang memba- ra di tubuh Sena sedikit memudar. Kini tinggal wajah- nya saja yang masih membara, namun tidak separah sebelumnya.
"Hm.... Bagus! Kini aku harus segera mencari ular itu. Aku harus ke puncak Gunung Candraka."
Setelah memandangi kembali tubuh Sena yang masih tergeletak pingsan, tubuh Singo Edan melesat meninggalkan tempat itu. Dia harus mencari ular pe- nawar racun yang mengeram dalam tubuh muridnya.
Tidak lama kemudian, Singo Edan telah kembali. Di tangannya tergenggam seekor ular berwarna putih yang masih hidup. Ular itu tak mau menggigit tubuh Singo Edan. Seakan tahu kalau tubuh lelaki tua itu te- lah kebal terhadap racunnya.
Singo Edan mendekati tubuh Sena yang masih terbaring tanpa daya. Kemudian mulut ular putih itu didekatkan ke perut Sena. Sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di tubuh Sena.
Tep, tep, tep!
"Hm, semoga aku berhasil," gumamnya sambil mendekatkan mulut ular putih itu. Seketika itu juga ular putih yang mencium bau racun lawan langsung menggigit perut Pendekar Gila.
Crab! Ular putih itu mendesis-desis. Dengan ganas di- gigitnya perut Sena. Bisanya masuk ke dalam tubuh Sena bersamaan dengan taringnya yang runcing.
Keanehan terjadi. Ular putih itu menggelepar- gelepar sekarat. Sedangkan tubuh Sena mengepulkan asap hitam. Pertanda kalau kedua racun itu tengah berusaha saling mengalahkan dalam tubuh Sena.
Ular putih itu terkulai lemas. Sedangkan tubuh Sena kini bersinar terang.
"Hua ha ha...! Aku berhasil!" seru Singo Edan gi- rang, menyaksikan Racun Sambuk Nyawa telah musnah. Bahkan tubuh muridnya akan kebal terhadap se- gala racun bila meminum darah ular putih itu.
Singo Edan melangkah, meninggalkan tubuh Sena yang masih tak bergeming. Tidak lama kemudian, dia kembali ke tempat itu dengan membawa pisau.
Tuk! Singo Edan menotok urat leher Sena, membuat mulut pemuda tampan itu membuka. Saat itu juga, Singo Edan segera menyayat tubuh ular putih yang lemas itu, lalu meneteskan darahnya ke dalam mulut Sena. "Hm.... Kini semuanya telah beres," gumam Singo Edan. Dia bergegas meninggalkan tempat itu, untuk menunggu sampai muridnya siuman.
Benar juga! Tidak lama kemudian, Sena Siuman. Tubuhnya nampak menggeliat, berusaha melemaskan otot-ototnya yang kaku.
"Oh! Racun itu hilang. Ah, tenagaku pulih!" seru Sena girang. Tubuhnya segera melompat bangkit. Matanya menyapu ke sekeliling tempat itu. "Goa Setan? Ah, bagaimana mungkin aku di sini? Bukankah tadi aku berada di candi?"
Sena masih kebingungan. Hatinya seketika dili- puti oleh amarah. Api amarah itu membakar jiwanya, mana kala benaknya ingat kembali akan perbuatan gurunya di candi itu. Sang Guru yang dihormati dan dijunjung tinggi petuahnya telah tega meracuninya.
"Keparat! Aku harus membalas semuanya! Hm.... Kini aku tak peduli siapa pun dia. Meski dia guruku, tapi dia telah menyakiti ku!"
Sena bergegas keluar dari ruangan itu. Dia hen- dak mencari Singo Edan yang dianggapnya telah ber- buat keji. Malah hampir saja dia binasa.
"Mau ke mana? Tubuhmu masih lemah." Baru beberapa langkah Sena keluar, tiba-tiba terdengar sua- ra Singo Edan.
Amarah Sena meledak, setelah mengetahui gu- runya berada di tempat itu juga. Namun, Sena menjadi agak heran. Dia tak mengerti, mengapa gurunya seper- ti itu? Tadi meracuni dan bahkan hendak membu- nuhnya. Mengapa kini seakan membiarkan dirinya berbuat leluasa?
"Kau masih lemah. Kau perlu istirahat," tegur Singo Edan kembali.
"Persetan dengan omongan mu!" dengus Sena, sengit. "Sena. Tak baik kau berkata begitu," kata Singo Edan masih dengan suara tenang.
Kaki Sena melangkah ke tempat gurunya biasa berada. Kini keduanya berhadap-hadapan. Tapi Singo Edan masih duduk tenang di atas batu yang biasa di- pergunakannya.
"Kau telah mencoba membunuhku! Huh, begitu- kah watak seorang guru?!" dengus Sena sinis, dilandasi oleh kemarahan. "Kau begitu kuhormati! Petuah mu sangat ku agungkan. Namun ternyata kini kau keji! Kau kejam! Tidak kusangka kalau aku memiliki guru yang sesat!"
"Sena...!" seru Singo Edan. "Bertobatlah pada Hyang Widhi, sebelum kukirim kau ke akhirat! Dosamu telah terlalu banyak!" ujar Se- na dengan suara masih tinggi, masih diburu oleh ama- rah.
"Sena, dengarlah. Aku akan menjelaskan pada- mu... " "Persetan denganmu! Berdoalah pada Hyang Widhi, agar perbuatanmu diampuni! Heaaa...!"
Sena segera menerjang dengan cepat Bukan lagi jurus pembuka 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' yang di- gunakan, melainkan jurus 'Si Gila Melebur Gunung Karang'. Tangannya bagai sepasang tangan milik dewa, menghantam dan menyambar tubuh Singo Edan.
"Uts..!" Bukkk! Singo Edan yang tahu kalau muridnya salah pa- ham, sama sekali tidak mau membalas. Dia hanya me- nangkis serangan-serangan yang dilancarkan Sena. Tingkah keduanya persis orang gila yang bercanda da- lam lingkaran maut. Namun justru gerakan-gerakan itu yang sangat dahsyat dan berbahaya.
"Sena, hentikanlah! Kau salah paham, Anak- ku...," bujuk Singo Edan, masih berusaha menyadar- kan muridnya.
"Salah paham? Ha ha ha...! Rupanya nyalimu te- lah ciut! Tidak kusangka, orang yang selama ini ku agung-agungkan ternyata tidak lebih dari iblis bertu- buh manusia! Heaaa...!" Sena terns melancarkan jurus-jurus gilanya. Jurus- jurus yang sangat dahsyat. Namun begitu, Singo Edan
yang juga amat menguasai jurus-jurus itu jelas tak mengalami kerepotan. Kalau mau, tentunya Singo Edan mampu menghentikan semuanya. Tapi Singo Edan tidak melakukannya. Kalau dilakukannya, tentu Sena akan semakin yakin kalau dia yang telah mera- cuninya.
"Rupanya kau telah dikuasai oleh iblis! Hingga kau semakin sombong dan takabur. Lupa akan kekua- saan Hyang Widhi!" dengus Sena marah, menyaksikan Singo Edan tak juga mau balas menyerang.
"Sena, lakukanlah apa yang kau inginkan! Kau tak akan percaya kalau aku menjelaskannya. Untuk itulah, sebagai pendekar yang berpegang teguh atas kebenaran dan keadilan, aku rela mati di tanganmu. Tangan muridku sendiri! Nah, lakukanlah! Cabut Sul- ing Naga Sakti, sebab hanya senjata itulah yang mam- pu membunuhku!" seru Singo Edan.
"Sena, dengarlah. Aku akan menjelaskan...." "Persetan denganmu! Berdoalah pada Hyang Wid- hi, agar perbuatanmu diampuni! Heaaa...!"
"Uts...!" Bukkk! Singo Edan tahu kalau muridnya salah paham, maka serangannya hanya ditangkis dan tidak dibalas!
Sena tersentak seraya melompat mundur dua tindak. Matanya menatap tajam wajah gurunya yang masih tersenyum. Tangannya memegang Suling Naga Sakti yang terselip di pinggangnya.
"Kau ragu, Sena? Kalau begitu, lakukanlah den- gan jurus maut mu yang dahsyat. Yang kau dapatkan di hutan dari seekor kera. Bukankah jurus 'Tamparan Sukma' yang kau kuasai, jauh lebih dahsyat diban- dingkan dengan jurus-jurus gila? Ayo, lakukanlah!" tantang Singo Edan, menyaksikan muridnya kini hanya terdiam. Nampaknya Sena dilanda kebimban- gan.
Singo Edan tertawa terbahak-bahak. "Kau takut Sena?" "Tidak...!" "Mengapa tidak kau lakukan?" tanya Singo Edan. "Baik! Jangan menyesal kalau aku membunuhmu! Maaf...!"
Usai berkata demikian, Sena segera memperaga- kan jurus 'Tamparan Sukma'nya. Singo Edan tak ber- geming dari tempatnya berdiri. Bahkan mulutnya ma- sih tersenyum. Matanya masih memandangi gerakan- gerakan yang dilakukan muridnya.
"Heaaa...!" Sena bergerak hendak menyerang. Namun saat itu juga, sebuah bayangan berkelebat menghadang ge- rakannya. Bayangan itu segera memapaki jurus yang
dilakukan Sena.
"Nguk!" Desss! "Ukh...!" Sena mengeluh pendek. Matanya seketika mem- belalak, menyaksikan siapa yang telah menghadang jurus 'Tamparan Sukma'nya. Ternyata seekor kera.
"Kau...?! Mengapa kau menghalangi niatku, Ka- wan?! Dia jahat! Dia telah membunuh orang dengan keji. Dia telah melanggar sumpahnya untuk tidak main perempuan. Dia juga telah meracuni ku. Uhuk...!"
Sena terbatuk-batuk. Tenaganya yang belum pu- lih benar, membuat tubuhnya belum kuat. Hanya karena amarah saja, membuatnya memaksakan diri un- tuk bangkit. Tubuh Sena terhuyung-huyung, dan kembali jatuh pingsan.
Entah sudah berapa lama Sena tak sadarkan diri. Ketika terbangun, tubuhnya telah berada di atas pembaringan semula. Di kanan dan kirinya, Singo Edan dan Kera Sakti menungguinya.
"Kawan, mengapa kau membela orang yang ja- hat?" tanya Sena pada Kera Sakti.
"Nguk, nguk...!" Kera Sakti menggeleng-gelengkan kepala. Kemu- dian dengan bahasa isyarat, Kera Sakti mengatakan kalau Sena justru yang telah salah sangka. Singo Edan tetap seperti dulu. Tetap gurunya yang bijaksana. Bahkan Kera Sakti menjelaskan, bahwa Singo Edan yang membawa Sena ke Goa Setan.
"Guru.... Ampunilah saya. Hukumlah saya yang telah lancang dan berdosa," ratap Sena, menyesali perbuatannya yang telah lancang terhadap sang Guru.
Singo Edan tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lucu sekali kau, Bocah Gila! Hua ha ha...! Mengapa kau meratap seperti itu, Bocah Edan! Kau tidak salah. Bangunlah! Kebetulan sahabatku datang kemari," kata Singo Edan.
Sena segera bangun. Lalu menyembah dan men- cium kaki gurunya. Kemudian setelah Singo Edan memegang pundaknya dan menyuruhnya berdiri, Sena pun menurut dan berdiri.
"Kita ngobrol-ngobrol. Bagaimana, Sahabat?" tanya Singo Edan pada Kera Sakti.
"Nguk, nguk...!" Kera Sakti mengangguk-angguk. Lalu mereka bertiga melangkah ke tempat Sena dan gurunya berta- rung. Singo Edan duduk di tempat biasa. Sementara Sena dan Kera Sakti duduk bersila di bawah.
"Dengarlah baik-baik olehmu, Sena," tutur Singo Edan. Kemudian dia pun menceritakan siapa sebenar- nya Kera Sakti itu, juga hubungannya dengan mereka yang mewarisi ilmu Pendekar Gila dari Goa Setan.
Kera Sakti itu adalah sahabat baik dari Pendekar Gila terdahulu. Asalnya, orangtua sekaligus guru dari Kera Sakti, dikeroyok oleh manusia. Sepasang kera itu dikeroyok oleh orang-orang rimba hitam karena diang- gap menjadi penghalang sepak terjang mereka. Hampir saja kedua orangtua Kera Sakti binasa. Saat itu datang Ki Amba Dewa atau Pendekar Gila dari Goa Setan yang menolong mereka dan mengalahkan para tokoh rimba hitam. "Nah, sejak saat itulah Eyang Guru bersahabat dengan kedua orangtua Kera Sakti. Bukan begitu, Kera Sakti?" tanya Singo Edan. "Nguk, nguk...!" Kera Sakti mengangguk-angguk. "Itu sebabnya dia menolongmu, Sena. Sekarang kalian dengarlah tentang apa yang telah menimpa Se- na."
Kembali Singo Edan menceritakan tentang Dewi Drugani atau Dewi Pemuja Setan. Secara singkat Singo Edan menceritakan semuanya.
"Aku heran, bagaimana mungkin racun itu ada lagi? Padahal Dewi Pemuja Setan telah lenyap puluhan tahun silam."
"Kalau begitu, biarlah aku yang akan menyelidi- kinya, Guru."
"Ya! Berangkatlah. Doa ku akan selalu mengiringi mu," kata Singo Edan.
Setelah menjura, Sena beranjak pergi meninggal- kan tempat itu untuk meneruskan petualangannya yang sempat tertunda akibat kelalaiannya.
Kera Sakti pun meninggalkan Goa Setan, selang beberapa saat setelah kepergian Sena (Mengenai Kera Sakti, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Duel di Puncak Lawu").



6
Lembah Lamur pagi itu masih diselimuti kabut tebal. Dari arah utara, nampak tiga lelaki berambut merah melangkah menuju lembah itu. Dilihat dari warna rambut dan jubahnya, jelas ketiga lelaki itu adalah Tiga Setan Rambut Api.
Seperti tujuan orang-orang persilatan lainnya, Tiga Setan Rambut Api juga bermaksud mencari Titisan Dewi Kwan Im, yang menurut kabar berada di Lembah Lamur. Ketika Tiga Setan Rambut Api melangkah menuju ke arah Lembah Lamur, tiba-tiba berkelebat dua bayangan. Seorang berjubah putih dan berwajah persis dengan Singo Edan. Sedangkan satu lagi seorang gadis cantik berkulit kuning langsat seperti orang Cina. Di pundak gadis itu tersandang sebilah pedang yang ga- gangnya terbuat dari emas.
Melihat kehadiran gadis cantik berbaju putih tersebut, seketika Tiga Setan Rambut Api membelalakkan mata. "Dewi Kwan Im...!"
"Hua ha ha...! Rupanya mata kalian masih belum buta, Tiga Setan Rambut Api," kata lelaki berwajah Singo Edan. Nada suaranya menunjukkan kesombon- gan. "Apa yang kalian lihat memang benar. Dialah Titi- san Dewi Kwan Im. Dan akulah yang memilikinya."
Tiga Setan Rambut Api membelalakkan mata, mendengar ucapan lelaki tua yang berdiri sekitar sepu- luh tombak di depan mereka. Kemudian ketiganya sal- ing pandang dengan kening berkerut
"Bukankah dia Singo Edan?" tanya Untara. "Ya!" sahut kedua adiknya. "Hm, bagaimana mungkin Singo Edan punya niat untuk mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im?" tanya Un- tara bergumam. Matanya masih memandang lekat pa- da lelaki tua yang persis dengan Singo Edan, kemu- dian beralih pada gadis cantik di sampingnya.
"Hua ha ha...! Apa yang kalian bingungkan?" tanya lelaki tua yang wajahnya persis Singo Edan. "Kusarankan pada kalian, lebih baik kalian bergabung denganku!"
"Hm...," Untara bergumam. Matanya mengerling pada kedua adiknya yang menganggukkan kepala. "Aha, sungguh tidak kuduga kalau Singo Edan ru- panya masih saja tergiur oleh hal duniawi. Ternyata sumpahmu untuk tidak menikah hanya omong ko- song!" "Hua ha ha...! Kau salah, Untara. Bagaimanapun juga, aku lelaki normal. Lagi pula, aku pun ingin men- jadi orang yang tak tertandingi. Bukankah dengan memiliki Titisan Dewi Kwan Im, keberuntungan ada padaku?"
Tiga Setan Rambut Api kembali saling pandang mendengar penuturan Singo Edan. Kening mereka se- makin berkerut. Mereka benar-benar tidak mengerti, bagaimana mungkin Singo Edan bisa berubah? Yang mereka ketahui, Singo Edan adalah tokoh aliran lurus yang gigih menumpas kejahatan. Mana mungkin sece- pat itu berubah? Mungkinkah selama menghilang Sin- go Edan telah mengubah pikirannya?
Tiga Setan Rambut Api benar-benar tak habis pi- kir. Bagaimanapun juga, mereka telah mendengar nama besar Singo Edan. Begitu juga dengan sepak ter- jangnya puluhan tahun yang silam. Kalau kini tiba- tiba berubah, rasanya sangat aneh sekali.
"Hm.... Kau benar, Singo Edan. Memang setiap manusia memiliki ambisi. Kami tahu siapa kau. Namun begitu, kami pun tak mau kehilangan Titisan De- wi Kwan Im," kata Untara setelah lama merenung, mencoba menyibak keanehan Singo Edan.
"Jadi kalian ingin mengambilnya dariku?" "Ya!" sahut Untara. "Hua ha ha...! Kuakui nama besar kalian memang menakutkan. Tapi Singo Edan bukan anak kecil yang bisa digertak!" dengus Singo Edan. "Kusarankan, agar kalian cepat bersujud meminta ampun atas tindakan kalian yang berani datang ke Lembah Lamur ini, sebe- lum aku berubah pikiran."
"Kurang ajar! Jangan kira kami takut menghada- pimu, Singo Edan! Untuk mendapatkan Titisan Dewi Kwan Im, kami siap bersabung nyawa denganmu!" dengus Undani.
"Ya! Lagi pula, kami memang ingin sekali-sekali mencoba ilmumu!" timpal Umbakara.
Singo Edan tertawa tergelak-gelak mendengar tantangan yang diucapkan Tiga Setan Rambut Api. Sepertinya tantangan mereka bagai tiada arti sama sekali baginya.
"Percuma kalian menantangku. Guru kalian se- kalipun tak akan mampu menandingi ku!" kata Singo Edan, pongah.
"Tutup mulutmu, Singo Edan! Kuharap kau mau memberikan gadis itu pada kami! Atau kami terpaksa menghajarmu!" bentak Untara marah.
"Hua ha ha...! Kalian lucu sekali. Bagaimana mungkin kalian yang tolol memiliki Titisan Dewi Kwan Im? Hua ha ha...!" Singo Edan kembali tertawa terba- hak-bahak. Kemudian senyumnya mengembang den- gan sinis. Membuat Tiga Setan Rambut Api semakin dibakar oleh amarah mendengar ucapan itu.
"Hhh...! Sombong!" rutuk Undani. "Rupanya mu- lutmu memang harus disobek!"
"Lebih baik kita hajar saja, Kakang," tukas Um- bakara. Singo Edan kembali tertawa.
Amarah Tiga Setan Rambut Api kian membara, mendengar ucapan Singo Edan serta tawanya yang penuh ejekan. Ketiganya segera meloloskan cambuk. Kemudian dengan mendengus, mereka maju serentak.
Ctar! "Yiaaat..!" "Mei Lie, bunuh mereka!" perintah lelaki yang berwajah mirip Singo Edan.
Seketika Mei Lie atau Titisan Dewi Kwan Im men- cabut pedangnya. Pada saat itu pula, sinar merah kekuning-kuningan memancar dari mata pedang, mem- buat Tiga Setan Rambut Api tersentak.
"Pedang Bidadari...!" seru ketiganya sambil me- lompat mundur.
"Hua ha ha...! Kalian seperti tikus ketakutan.
Nah, aku kembali menyarankan pada kalian. Lebih baik kalian ikut denganku, daripada kalian harus mampus oleh Pedang Bidadari!" seru lelaki berwajah seperti Singo Edan.
Tiga Setan Rambut Api saling pandang. Kemu- dian mereka memasukkan cambuk ke ikat pinggang masing-masing.
"Baiklah, kami menyerah." "Bagus! Percuma kalian melawanku," ucap Singo Edan masih dengan suara penuh kesombongan. "Ikut aku!" Tubuh kelima orang itu pun berkelebat pergi, masuk ke dalam kabut tebal yang bergulung-gulung. Dalam sekejap mereka telah menghilang.
***

Selang beberapa saat kemudian, ketika kabut yang menyelimuti Lembah Lamur telah hilang. Nampak dua lelaki melangkah ke tempat itu. Keduanya berwa- jah kembar dan tampan. Pakaian yang dikenakan kun- ing mengkilat bergaya pakaian Bali. Golok panjang ber- tengger di punggung mereka. Dilihat dari pakaian ke- duanya, nampaknya mereka dari golongan atas.
Dua lelaki kembar berkumis tipis itu datang dari wilayah timur tanah Jawa Dwipa. Mereka pun ten- tunya telah mendengar berita tentang Titisan Dewi Kwan Im. Di rimba persilatan, mereka mendapat gelar Manyar Kembar dari Bali. Yang tertua bernama Ma- nyar Ngesti dan yang muda bernama Manyar Asti.
"Kau yakin di sini tempatnya, Asti?" tanya Ma- nyar Ngesti.
"Entahlah," sahut Manyar Asti dengan mata me- nyapu ke sekelilingnya yang sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di lembah itu. Satu pohon pun tidak ada.
Yang ada hanya bukit kecil dan debu-debu yang beter- bangan manakala angin bertiup.
"Hm.... Bagaimana mungkin tempat seperti ini dikatakan ada orangnya? Tidak masuk akal," gumam Manyar Ngesti. Matanya masih menyapu ke sekeliling tempat itu. Namun masih saja tidak ada tanda-tanda kehidupan. "Bagaimana mungkin Titisan Dewi Kwan Im ada di sini?"
"Hhh...! Kurasa ada misteri di tempat ini, Ka- kang," desah Manyar Asti.
"Mungkin." "Lihat, ada kabut!" seru Manyar Asti sambil me- nunjuk ke arah kabut tebal yang bam saja datang dari bukit-bukit kecil di sebelah selatan.
"Ya! Hei, kabut itu bergerak kemari!" pekik Ma- nyar Ngesti.
"Sepertinya ada yang menggerakkan, Kakang." "Benar! Cepat kita hadang dengan pukulan 'Sari Rogo'!" "Siap, Kakang! Hiaaa...!"
Mereka segera menyatukan satu telapak tangan. Sedangkan tangan yang lain, kini digerakkan mengarah ke gulungan kabut yang merayap menuju mereka. Dari tangan mereka terbersit sinar bergulung- gulung bagai gelang-gelang terbang berwarna biru. Lingkaran-lingkaran itu semakin bertambah besar. Sampai akhirnya bertemu dengan kabut untuk meng- hadangnya.
"Yeaaat..!" "Waaat..!" Kedua lelaki kembar itu semakin mengerahkan tenaga dalamnya, menjadikan lingkaran sinar biru kian banyak dan kuat. Namun kabut yang datang ter- nyata lebih kuat
"Celaka! Angin membadai datang!" seru Manyar Ngesti kaget
"Benar, kakang! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Manyar Asti.
"Cepat kita ganti dengan 'Perangkap Buana'." "Mari, Kakang! Yiaaat..!" "Heaaat..!" Tangan mereka kini terlepas satu sama lain. Dis- ilangkan ke depan, kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam, keduanya menghentakkan telapak tan- gan ke arah kabut
Srrrt! Larikan-larikan sinar kuning bagai bambu, ke- luar dari telapak tangan mereka. Larikan-larikan lurus itu lalu memagari kabut tebal itu. Seperti perangkap raksasa dari bambu.
"Kita berhasil, Kakang!" seru Manyar Asti, me- nyaksikan pukulan sakti mereka dapat menghadang kabut. Namun tiba-tiba angin kencang menyapu ke arah mereka dengan keras.
"Celaka...!" pekik Manyar Ngesti. Mata lelaki berwajah tampan itu membelalak te- gang, merasakan sesuatu yang tidak pernah didu- ganya. Selama ini, keduanya belum pernah mengalami kegagalan seperti itu. Ajian-ajian yang mereka kerah- kan, senantiasa mendapatkan hasil. Tapi kini malah berantakan. Tak satu pun bisa menghadang kabut tebal itu.
"Ini bukan kabut sembarangan, Asti," desis Ma- nyar Ngesti.
"Sepertinya benar, Kakang!" sahut Manyar Asti. "Ya! Entah siapa yang memiliki Kabut Gaib itu," gumam Manyar Ngesti. "Rupanya benar kalau Titisan Dewi Kwan Im ada di tempat ini. Ini sebuah halangan yang dibuat oleh para dewata."
Wusss! Angin kencang menderu ke arah mereka, mem- buat pakaian yang mereka kenakan tersibak. Bahkan kain pengikat kepala mereka terbang tertiup angin. Tubuh mereka gontai, berusaha menahan hembusan angin yang menderu keras.
Pada saat itu, tiba-tiba dari kepungan kabut ber- kelebat sebuah bayangan putih. Tangan bayangan itu menggenggam sebilah pedang bersinar merah kekun- ing-kuningan.
"Heaaat..!" "Dewi Kwan Im...!" pekik keduanya kaget setelah melihat siapa yang keluar dari dalam kabut tebal itu. Seorang gadis cantik dengan kulit kuning langsat
"Awas, Asti...!" seru Manyar Ngesti mengingatkan adiknya, ketika sosok wanita cantik berkulit kuning langsat itu membabatkan pedang ke arah mereka. Tangan kirinya dengan cepat mendorong tubuh Ma- nyar Asti. Sedangkan tangan kanannya segera menca- but golok panjang di punggungnya.
Srrrt! Trang! "Hiaaat..!" Manyar Ngesti berusaha membalas serangan la- wan seraya memiringkan tubuh. Golok panjangnya di- babatkan dengan cepat.
Menyaksikan kakaknya menyerang, segera Ma- nyar Asti ikut mencabut goloknya. Didahului pekikan menggelegar, Manyar Asti menyerbu ke arah gadis can- tik dari Cina yang dianggap oleh mereka sebagai Titi- san Dewi Kwan Im.
"Aha, rupanya Titisan Dewi Kwan Im sendiri yang menemui kami! Kakang, beruntung sekali kita rupanya. Jangan sampai dia celaka. Kita harus menang- kapnya hidup-hidup," ujar Manyar Asti sambil bergerak melakukan serangan. Tangannya berusaha meno- tok tubuh gadis cantik dari Cina itu. Namun gadis yang diserang dengan cepat memutar pedangnya ke tangan lawan.
"Heaaat!" Wut! "Uts...!" Manyar Asti cepat menarik tangannya. Kurang cepat sedikit saja, tentu tangan Manyar Asti akan terbabat oleh pedang lawan. "Celaka! Dia dalam keadaan tak sadar, Kakang! Rupanya ada seseorang yang mempengaruhinya!"
"Benar! Rupanya kita telah tertipu oleh cerita me- reka! Dia bukan Titisan Dewi Kwan Im!"
"Ya! Awas, Kakang!" Wut! Hampir saja pedang di tangan gadis cantik dari Cina itu membabat tubuh Manyar Ngesti. Untunglah Manyar Ngesti segera mengelakkannya.
"Gadis ini tak mungkin kita tundukkan, Kakang. Yang bekerja pada otaknya, bukan kehendaknya. Tapi kehendak orang yang mempengaruhinya!"
"Benar!" Keduanya kini tidak mau main-main lagi, setelah tahu kalau gadis Cina itu dalam keadaan terpengaruh. Manyar Ngesti dan Manyar Asti dengan cepat memba- batkan golok ke arah lawan.
"Yiaaat...!" Trang! Prak! Manyar Ngesti tersentak kaget, ketika goloknya terbabat pedang di tangan gadis Cina itu. Goloknya se- ketika patah menjadi dua, tak mampu menahan baba- tan pedang di tangan lawan.
"Celaka...!" pekik Manyar Ngesti kaget, ketika pe- dang lawan kini bergerak cepat ke arahnya. Tentu pedang lawan akan membabat wajahnya, kalau saja tu- buhnya tidak segera berkelit ke samping.
Gadis Cina itu terus melabrak. Gerakannya mungkin tidak sehebat para pendekar pedang. Namun pedang di tangannya bagai menambah kehebatan bagi siapa saja yang memegangnya. Dan itu yang membuat gadis Cina yang tak lain Mei Lie, bergerak begitu lin- cah, cepat dan mematikan. Sangat bertentangan sekali dengan jurus 'Pedang Bidadari' yang dipelajarinya.
"Hiaaa...!" Wut, wut, wut...! Pedang bidadari bergerak cepat laksana angin, membabat dan menusuk ke arah dua orang lawan yang kini dalam keadaan terdesak.
"Celaka, Kakang! Dia benar-benar kerasukan!" keluh Manyar Asti.
"Ya! Kita harus bisa mematahkan serangannya! Kita gunakan saja aji 'Sari Rogo'."
Setelah mengelak beberapa tombak ke belakang, keduanya segera membuka ajian 'Sari Rogo' yang mereka kuasai. Setelah melihat lawan hendak kembali menyerang, mereka segera melontarkan ajian tersebut
"Yiaaa...!" "Heaaat..!" Larikan sinar biru bergulung-gulung keluar dari tangan mereka. Sinar biru itu kembali membelit tubuh Mei Lie. Seketika tubuh gadis itu bagai dibelenggu oleh sinar biru.
"Ha ha ha...! Kita berhasil, Kakang!" seru Manyar Asti senang, menyaksikan ajian mereka dapat membe- lenggu tubuh Mei Lie, sehingga gadis Cina itu tak mampu lagi bergerak.
"Kita bawa saja dia pergi dari sini," usul Manyar Ngesti. 'Ya! Kurasa dia tidak bersalah. Kita harus menolongnya," sambut Manyar Asti.
Keduanya hendak membawa pergi tubuh Mei Lie dengan mengerahkan tenaga dalam mereka agar belenggu yang membelit tubuh Mei Lie tak lepas. Tapi be- lum juga mereka beranjak pergi, tiba-tiba....
"Lepaskan dia!" Kepala lelaki kembar itu langsung menengok ke belakang. Kini nampak tiga lelaki berjubah merah. Rambut mereka pun berwarna merah bagai api. Ten- tunya ketiga lelaki ini tiada lain dari Tiga Setan Rambut Api.
"Tiga Setan Rambut Api. Hm.... Apa urusan ka- lian dengan gadis ini, sehingga kalian mencampuri urusan kami?" tanya Manyar Ngesti tak senang. Terle- bih setelah tahu siapa mereka. Tiga lelaki dari aliran sesat tersebut merupakan musuh masyarakat. Kejaha- tan mereka telah menjadi momok yang menakutkan.
"Aha, beruntung sekali kami menemukan kalian di sini!" dengus Manyar Asti. "Kebetulan sekali. Dari jauh kami datang mencari kalian. Tidak disangka, ak- hirnya kami bisa menemukan kalian di sini!"
Tiga Setan Rambut Api tersenyum sinis, menyak- sikan kedua lawannya. Seakan ketiganya menganggap kedua lawan bukan orang-orang yang harus ditakuti. Terlebih karena Singo Edan bersama mereka. Siapa pun tokoh rimba persilatan, akan berpikir seratus kali untuk menghadapi Singo Edan.
"Manyar Kembar! Kuperingatkan pada kalian agar melepaskan gadis itu. Kemudian segeralah me- nyembah!" bentak Untara dengan mata melotot marah, pertanda marah.
Manyar Kembar dari Bali tertawa terbahak-bahak mendengar perintah Untara yang dianggapnya sombong. "Setan laknat! Berani sekali kalian mengancam kami! Kalianlah yang harus menyerah untuk kami hu- kum!" balas Manyar Asti tak mau kalah. Meski mereka belum pernah bertarung, namun Manyar Asti merasa yakin dapat menunaikan tugas para pendekar aliran putih untuk menangkap Tiga Setan Rambut Api.
"Kurang ajar! Rupanya kalian berdua mencari mampus!" maki Undani. "Jangan salahkan kalau tan- gan kami akan memecahkan batok kepala kalian!"
"Hm.... Apa tidak sebaliknya?" ujar Manyar Ngesti sinis. "Mungkin kepala kalianlah yang akan kami pecahkan!"
"Bedebah! Ku rencah kepala kalian! Hiaaat..! "Yeaaah...!" Srrrt, srrrt, srrrt! Tiga Setan Rambut Api menarik cambuknya. Kemudian dilecutkan ke udara.
Ctarrr!

7
Cambuk di tangan Tiga Setan Rambut Api melecut ke arah Manyar Kembar dari Bali. Menimbulkan percikan-percikan api dengan suara yang menggelegar melebihi halilintar. Itulah jurus 'Lecutan Ekor Naga Api Menghantam Bukit'.
Melihat Tiga Setan Rambut Api telah menyerang, dengan cepat Manyar Kembar dari Bali berkelit Kemu- dian disusul oleh serangan pukulan dan babatan golok mereka. Dengan menggunakan jurus 'Sepasang Manyar Menyambar Walang', Manyar Kembar dari Bali balas menyerang. Golok di tangan mereka menukik laksana paruh dan membabat laksana sayap burung manyar.
"Hiaaat..!"
Pertarungan dua melawan tiga dalam sekejap berjalan dengan cepat. Masing-masing berusaha men- galahkan lawan. Namun begitu, Manyar Kembar dari Bali bukanlah tokoh aliran putih sembarangan. Ilmu mereka bukan ilmu pasaran. Meski satu orang tidak lagi memakai golok, namun kekompakan mereka da- lam menyerang masih cukup tangguh.
"Hiaaat...!" Ctar! Tiga Setan Rambut Api terns mengumbar seran- gan dengan lecutan-lecutan cambuknya yang mengge- legar laksana halilintar. Di lain pihak, ternyata Manyar Kembar dari Bali memang sepasang pendekar yang cukup tangguh. Keduanya dengan mudah mengelak- kan serangan cambuk lawan. Bahkan dengan cepat balas menyerang dengan babatan golok dan hantaman tangan.
"Kita harus cepat membereskan mereka, Ka- kang," kata Umbakara.
"Benar! Kalau tidak, tentunya Singo Edan akan marah pada kita," sambung Undani.
Manyar Kembar dari Bali langsung tersentak mendengar nama Singo Edan disebut oleh Tiga Setan Rambut Api. Keduanya sesaat menghentikan serangan dan saling pandang dengan heran.
"Apakah omongan mereka benar, Kakang?" tanya Manyar Asti.
"Entahlah. Rasanya mustahil kalau Singo Edan menjadi dalang semuanya."
"Tapi, mereka kelihatannya sungguh-sungguh. Mereka tampak takut," ungkap Manyar Asti masih bimbang. "Kalau benar Singo Edan yang mendalangi semua ini. Jelas dunia bisa hancur. Siapa orang yang mampu mengalahkannya?"
Kecut juga nyali Manyar Kembar dari Bali setelah
mendengar nama Singo Edan disebut. Bagaimanapun juga, nama besar Singo Edan pernah mereka dengar. Jangankan dia, muridnya saja sulit dicari tandingan- nya. Tapi Pendekar Gila adalah penegak kebenaran dan keadilan. Bagaimana mungkin Singo Edan justru memihak kejahatan! Bahkan kini mendalangi kejadian yang telah banyak makan korban? Itu yang tidak dapat diterima oleh pikiran kedua tokoh dari Bali ini.
"Bisa saja mereka hanya menggertak kita, Asti. Bagaimanapun juga, rasanya tidak masuk akal kalau Singo Edan membela mereka dan mendalangi semua ini," tukas Manyar Ngesti, meyakinkan diri mereka.
"Hm, mungkin juga." "Sudahlah, jangan dipikirkan. Yang pasti, kita harus segera menangkap mereka."
"Mari, Kakang. Heaaat..!" "Yiaaat..!" Manyar Kembar dari Bali kembali menggebrak. Manyar Asti membabatkan golok panjangnya ke arah lawan. Sedangkan Manyar Ngesti memukul dengan tangan kosong, menendang dan mencengkeram lawan.
Tiga Setan Rambut Api yang mendapat serangan cepat, tak mau diam. Ketiganya segera memutar cam- buk di atas kepala, kemudian dilecutkan ke arah dua lawannya.
Jurus yang digunakan oleh Tiga Setan Rambut Api ini bernama 'Pecut Buana Api'. Gerakan melingkar di atas kepala bernama 'Gelang Geni' sedangkan lecu- tannya bernama 'Ekor Naga Melebur Gunung'. Sebuah gabungan jurus yang nampaknya sangat dahsyat
Ctarrr! "Yeaaat...!" Pertarungan kembali berjalan seru. Masing- masing mengerahkan kemampuannya untuk dapat menandingi ilmu lawan. Gerakan mereka nampak lin-
cah dalam berkelit dan menyerang. Meski begitu, nam- paknya ilmu Manyar Kembar dari Bali masih berada satu tingkat di atas Tiga Setan Rambut Api. Terbukti setelah tiga tokoh sesat itu menyerang gencar dengan sabetan-sabetan goloknya, mereka tidak mengalami kesulitan sedikit pun.
"Uts! Heaaa...!" "Lepas kepalamu, Setan Jelek!" Manyar Kembar dari Bali balas menyerang den- gan jurus gabungan. Manyar Asti dengan jurus 'Belah Buana Yudha'. Sedangkan Manyar Ngesti dengan jurus andalannya, 'Manyar Menukik Mematuk Mangsa' dis- ambung dengan jurus mengelak dan yang dinamakan 'Manyar Merunduk Menjejak Bumi'. Setelah mampu mengelak, kini keduanya menambah daya serang. Go- lok di tangan Manyar Asti bagai menghilang dalam me- lakukan serangan. Sedangkan tangan dan kaki Manyar Ngesti seperti berjumlah banyak.
Seperti nama mereka, gerakan-gerakan mereka sangat lincah dan cepat bagai sepasang burung ma- nyar yang tengah membuat sarang, mematuk ke sana kemari. Mencakar ke sana kemari, serta menghantam dengan kepakan-kepakan sayap yang cepat dan keras.
"Hiaaat...!" Ctarrr! Tiga Setan Rambut Api berusaha membendung serangan keduanya dengan cambuk. Namun kedua lawan ternyata cukup lincah. Manyar Kembar dari Bali melesat ke samping untuk mengelak, kemudian mem- buru ke arah lawan dengan pukulan dan tusukan go- lok.
Tiga Setan Rambut Api tersentak kaget. Keti- ganya tidak menyangka kalau kedua lawan rupanya berilmu tinggi. Namun begitu, mereka tidak mau men- galah begitu saja. Terlebih jika ingat akan Singo Edan.
Jelas mereka akan mendapat hukuman jika Singo Edan tahu mereka dapat dikalahkan oleh Manyar Kembar dari Bali.
"Uts! Hiaaat..!" Ctar Tiga Setan Rambut Api berusaha membendung serangan kedua lawannya yang dahsyat dengan lecu- tan cambuknya. Lagi-lagi lecutan cambuk mereka ba- gai tiada arti. Karena dengan mudah Manyar Kembar dari Balik berkelit. Bahkan serangan kedua tokoh dari Bali itu semakin cepat membuat Tiga Setan Rambut Api kewalahan.
"Akhirnya kalian akan kami tangkap, Setan!" dengus Manyar Ngesti sambil bergerak cepat, berusaha menotok dua lelaki dari Tiga Setan Rambut Api. Begitu pula dengan Manyar Asti. Dia pun tidak menyia- nyiakan kesempatan itu. Namun belum juga mereka dapat melakukan totokan, tiba-tiba....
"Hua ha ha...!" Manyar Kembar dari Bali menarik tangannya, kemudian tubuh mereka melompat ke belakang. Mata mereka membelalak tatkala mendengar tawa yang membahana. Jelas tawa itu milik Singo Edan. Meski mereka belum pernah bertemu dengan Singo Edan, ta- pi gum mereka telah memberi gambaran bagaimana rupa dan tawa khas tokoh sakti itu.
"Singo Edan...!" "Dia benar-benar datang, Kakang!" Mata Manyar Kembar dari Bali kini mencari asal suara itu. Seketika keduanya memandang ke arah ka- but tebal yang berarak menuju mereka. Dari dalam kabut melesat dua sosok tubuh berpakaian putih.
Seorang lelaki tua yang dikenal oleh mereka se- bagai Singo Edan. Dan seorang lagi gadis cantik dari Cina.
"Kakang, bukankah gadis itu telah kita belenggu tadi?" "Ya! Kapan dia bebas?"
Manyar kembar dari Bali masih terlongong ben- gong menyaksikan gadis cantik dari Cina itu telah terbebas dari belenggu ajian 'Sari Rogo' mereka. Tangan- nya memegang pedang sakti yang bersinar merah kekuning-kuningan. Seperti siap untuk membunuh dua tokoh dari Bali itu.
"Hua ha ha...! Rupanya masih ada juga orang yang berani menantang Singo Edan!" kata Singo Edan dengan sinis.
'Persetan! Kau bukan Singo Edan! Kau iblis yang telah berusaha mengelabui orang-orang persilatan!" seru Manyar Ngesti, merasa yakin kalau lelaki berjubah putih yang perawakan dan wajahnya sama dengan Singo Edan itu sebenarnya bukan Singo Edan.
"Kurang ajar! Kalian tentunya buta!" maki Singo Edan. "Aku Singo Edan. Akulah orang yang paling sak- ti di jagat ini! Tak akan ada yang menandingi ku. Hua ha ha...!"
"Iblis! Jangan kira kami dapat kau kibuli!" lan- tang suara Manyar Asti. "Meski ilmumu setinggi langit, Manyar Kembar dari Bali tak sudi menyerah!"
Singo Edan mendengus. Matanya melotot tajam pada kedua tokoh dari Bali itu.
"Mei Lie, bunuh mereka!" perintahnya. Mei Lie menurut bagai budak. Tubuhnya melesat turun. Dengan Pedang Bidadari di tangan, gadis dari Cina itu meluruk ke arah Manyar Kembar dari Bali.
"Hiaaa...!" "Celaka, Kakang! Apa kita harus menurunkan tangan kejam?"
'Terpaksa, Asti! Heaaat...!" Dengan pukulan-pukulan sakti milik keduanya,
Manyar Kembar dari Bali menghadapi serangan Mei Lie. Tubuh mereka melesat ke angkasa dengan cepat, berusaha memapaki babatan pedang Mei Lie.
Menyaksikan Manyar Kembar dari Bali hendak memburu ke arah Mei Lie, Tiga Setan Rambut Api tak mau diam. Mereka serentak mengambil sesuatu dari balik jubah masing-masing. Lalu ketiganya melontar- kan benda-benda kecil berwarna putih ke arah Manyar Kembar dari Bali.
Zing, Zing...! "Kakang, awas!" seru Manyar Asti. "Keparat! Licik...!" maki Manyar Ngesti. Kemudian kedua tokoh dari Bali itu bergerak un- tuk mengelakkan jarum-jarum beracun yang dilem- parkan Tiga Setan Rambut Api. Perhatian mereka kini tertuju ke arah jarum-jarum beracun. Hal itu men- jadikan Mei Lie yang sudah tidak lagi diperhatikan, dengan leluasa menyerang dari belakang.
"Hiaaa...!" Wut! Cras! "Aaakh...!" Manyar Asti memekik. Kepalanya ter- babat oleh pedang di tangan Mei Lie. Tubuhnya yang masih melesat di atas, seketika menukik ke bawah. La- lu jatuh membentur tanah dengan kepala hancur.
"Asti...!" pekik Manyar Ngesti. Manyar Ngesti yang diliputi oleh amarah, dengan kalap melancarkan pukulan-pukulan saktinya. Sinar biru bergulung-gulung ke arah Mei Lie. Namun dia me- lupakan jarum-jarum beracun yang semakin dekat ke arahnya. Tanpa ampun lagi, senjata rahasia beracun itu menembus tubuhnya.
Cleb, cleb...! "Aaa...!" Lengkingan kematian seketika terdengar dari mu-
lut Manyar Ngesti. Tubuhnya menukik ke bawah, lalu jatuh dengan nyawa lepas. Tubuhnya beku membiru dengan puluhan jarum menancap di punggung serta pahanya.
"Hua ha ha...!" Lelaki tua yang mengaku-aku sebagai Singo Edan tertawa senang bukan main. Setelah puas mengumbar rasa senangnya, tangannya melambai. Saat itu juga, tubuh Mei Lie dan Tiga Setan Rambut Api melesat ke kabut di mana Singo Edan berada. Tubuh mereka hi- lang, bersamaan dengan lenyapnya kabut.
***

Sena Manggala menyeka keringatnya yang bercucuran. Terik matahari terasa memanggang tubuhnya. Sesekali terdengar keluhan dari mulutnya. Tangannya mengambil sesuatu dari pinggang, sebuah bulu bu- rung yang dilepas bulu-bulunya hingga tersisa pada ujungnya saja. Kemudian bulu itu digunakan untuk mengorek telinganya.
"Hi hi hi...!" Sena meringis-ringis merasakan nikmat Lalu ditariknya kembali bulu burung itu. Hi- dungnya mengendus. Setelah menyeka kotoran di bulu burung itu, dimasukkan kembali bulu burung ke ikat pinggangnya.
Sena menarik napas panjang-panjang. Tubuhnya masih berdiri mematung. Matanya menyapu ke sekelil- ing tempat itu. Tempat yang sepi dan senyap di tengah perjalanan ke Lembah Lamur. Sejak hilangnya Mei Lie, entah mengapa dunia dirasakan sepi sekali. Padahal telah lama dia dan Mei Lie berpisah. Tapi pertemuan sesaat itu, memberikan arti bagi dirinya. Arti yang sangat sulit dilukiskan
"Huh, ke mana aku harus mencarinya?" tanya
Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Mulutnya masih nyengir saat matanya menyapu ke sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba matanya tertuju ke arah enam orang le- laki berpakaian pengemis. Keenam lelaki itu juga ten- gah menuju arah yang menjadi tujuannya, Lembah Lamur yang gersang dan tandus.
"Hei, ada apa para pengemis itu ke Lembah La- mur?" tanya Sena dengan kening berkerut. "Ah, men- gapa pengemis-pengemis itu tidak di kota saja? Bu- kankah di kota mereka bisa mendapat banyak maka- nan? Mengapa harus ke lembah yang gersang dan se- pi?"
Sena merasa tertarik juga menyaksikan kedatan- gan para pengemis itu. Tentunya ada sesuatu di Lembah Lamur, yang membuat para pengemis. berdatan- gan ke lembah itu. Belum juga Sena memahami apa yang terjadi, dari arah lain muncul dua orang wanita cantik. Satu di antaranya adalah seorang wanita cantik yang cukup terkenal sejak lama, Nyi Bangil. Sedangkan gadis cantik yang berjalan seiring bersamanya, tentunya adik seperguruan Nyi Bangil yang bernama Lira Kanti.
"Nyi Bangil! Ah, ada apa pula dia datang ke Lembah Lamur?"
Kini bukan hanya para pengemis, Nyi Bangil dan adik seperguruannya yang datang. Tapi hampir selu- ruh pendekar rimba persilatan baik dari aliran lurus maupun sesat datang. Sepertinya akan terjadi sesuatu di Lembah Lamur.
Di antara para tokoh persilatan itu, hadir bebera- pa pendekar aliran sesat seperti Lima Pengemis Tong- kat Hitam dan ketuanya, Pengemis Tempurung Sakti. Datuk Karang Geni, dan Gonggo Asopari. Sedangkan dari aliran putih seperti, Ki Ageng Sampar Bayu, Nyi
Bangil dan adik seperguruannya Lira Kanti, Bidadari Cadar Merah dan gurunya Nyi Kendil, serta suaminya Prabasangka yang telah sadar dari pengaruh ayahnya yang berpihak ke aliran putih. Di sana juga hadir Ratih Puri serta suaminya Kerto Mandra.
Dua golongan itu menempati tempat masing- masing. Aliran sesat menempatkan diri di sebelah barat. Sedangkan aliran lurus menempatkan diri di ba- gian timur.
Sena mencabut bulu burung dari pinggangnya. Kemudian dimasukkan ke telinga sebelah kiri. Dengan mulut nyengir, matanya terus memperhatikan gerak- gerik orang-orang persilatan.
"Kami tak percaya kalau semua ini Singo Edan yang melakukannya! Juga mengenai Titisan Dewi Kwan Im, itu tidak benar!" ujar Ki Ageng Sampar Bayu. Sena mengerutkan kening mendengar nama gu- runya disebut-sebut oleh Ki Ageng Sampar Bayu. Tan- gannya masih mengorek telinganya dengan bulu bu- rung. Matanya terpejam-pejam, merasakan nikmat ki- likan itu.
"Mungkin saat ini kau tak percaya, Sampar Bayu! Tapi nanti kau akan melihat sendiri bahwa Singo Edan pelaku semua ini!" sahut lelaki berjubah hitam.
Lelaki ini bernama Datuk Karang Geni. Dan me- rupakan ketua tokoh aliran hitam yang bengis dan ke- jam. Rambutnya panjang terurai dengan ikat kepala warna hitam pula. Wajahnya dihiasi oleh cambang bauk lebat. Giginya ada yang ompong di sisi kanan dan kiri atas. Matanya nakal jika memandang ke perem- puan cantik.
"Hm, jangan menuduh tanpa bukti, Karang Geni!" dengus Nyi Bangil. "Aku tahu siapa Singo Edan, guru dari Pendekar Gila. Dia tak mungkin berlaku keji!"
"He he he..,!"
Datuk Karang Geni tertawa terkekeh-kekeh. Ma- tanya memandang nakal ke arah Nyi Bangil yang cantik dan bertubuh sintal. Kemudian matanya memandang Pengemis Tempurung Sakti yang juga tersenyum.
"Cah ayu, sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan semua ini. Lebih baik kau mau menjadi istriku," kata Datuk Karang Geni masih dengan senyum dan pandangan nakal ke arah Nyi Bangil.
"Cuih! Tak sudi aku denganmu, Datuk Sesat!" dengus Nyi Bangil.
"He he he...! Semakin kau marah, semakin cantik saja. Bukan begitu Pengemis Tempurung Sakti?" kata Datuk Karang Geni dengan mata mengerling pada Pen- gemis Tempurung Sakti.
"Tutup mulutmu, Iblis! Kurasa, kaulah yang telah menyebarkan desas-desus ini. Padahal kau sendiri bi- ang dari semua kejadian di Lembah Lamur Ini!" bentak Nyi Bangil dengan berani.
"Wuah! Lancang sekali mulutmu, Nyi! Berani be- nar kau berlaku kurang ajar pada ketua kami!" maki Jalantra, Ketua Perkumpulan Pengemis Daerah Sela- tan.
"Kalau saja kami diperkenankan, sudah kurobek mulutmu!" sambut Gandrana, Ketua Perkumpulan Pengemis Daerah Timur.
"Huh, apakah kalian kira kami takut!" ujar Lira Kanti kesal, melihat kakak seperguruannya diremeh- kan. "Menghadapi pengemis busuk macam kalian, pantang bagi kami sebagai pewaris Pedang Bidadari untuk mengalah!"
Suasana di Lembah Lamur semakin terasa pa- nas. Masing-masing aliran saling menyalahkan. Aliran sesat menuduh bahwa tindakan Titisan Dewi Kwan Im alias Mei Lie yang membunuh semua orang-orang per- silatan. Dan Singo Edan adalah dalang dari semua ke-

No comments:

Post a Comment