Monday, April 15, 2019

008 Pedang Penyebar Maut


Pedang Penyebar Maut

1
Suasana Desa Padas Gempal yang terletak di kaki Bukit Sigar malam itu nampak hiruk-pikuk. Api berkobar-kobar menggapai angkasa. Lalu semakin membesar tatkala tertiup angin malam. Jeritan ketakutan terdengar menggema, memecah kesunyian malam.
Setelah menjarah Desa Padas Gempal dan merampok harta penduduk, Tiga Setan Rambut Api membakar desa itu. Kebiasaan itu tidak pernah hilang dari dulu. Itu sebabnya sepak terjang mereka cepat diketahui, karena mereka memiliki ciri khas tersendiri. Mereka akan membakar desa yang telah dirampok.
Kini ketiga tokoh sesat berpakaian serta berambut merah itu telah berada di sebelah timur Desa Padas Gempal sambil tertawa-tawa senang, menyaksikan hasil dari tindakan mereka yang biadab. Sudah merampok penduduk desa, membakar pula (Mengenai Tiga Setan Rambut Api, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Titisan Dewi Kuan Im").
"Ha ha ha...!" "Dasar Setan...!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras, diikuti berkelebatnya dua bayangan lelaki. Orang yang di depan mengenakan pakaian warna jingga. Sedangkan di belakangnya seorang lelaki berbadan tegap dan berpakaian coklat tua. Keduanya melesat ke arah Tiga Setan Rambut Api yang seketika tersentak dan menghentikan tawa mereka.
Mata Tiga Setan Rambut Api memandang penuh selidik ke arah dua lelaki yang baru datang. Lelaki yang berbaju jingga berusia sekitar lima puluh tahun dan bertubuh tinggi kurus, namun berotot. Seorang lagi lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun, berbadan tegap dengan otot menonjol kekar. Wajahnya nampak garang. Tentunya lelaki muda berwajah garang ini pengawal lelaki berpakaian jingga.
Wajah lelaki berpakaian lengan panjang berwarna jingga nampak memerah karena marah. Lelaki itu berkumis panjang melintang. Rambutnya terurai dengan ikat kepala berwarna jingga pula. Matanya tajam dengan alis mata tipis. Hidungnya mancung. Lelaki ini adalah Kepala Desa Padas Gempal yang bernama Ki Adi Pamukti. Sedangkan lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah garang yang menjadi pengawalnya bernama Samparan. Dialah jawara di Desa Padas Gempal ini.
"Ha ha ha...!" Tiga Setan Rambut Api kembali tertawa terbahak-bahak setelah melihat siapa yang datang.
"Rupanya kau, Kepala Desa Tolol!" dengus Untara. Matanya mencorong tajam, menyiratkan kebengisan.
"Mau apa kau, Orang Tua Tolol?!" sambung Undani, tak kalah keras. Matanya juga memandang tajam penuh kebengisan. Tangan kanannya yanag memegang cambuk, kini digerak-gerakkan.
"Ha ha ha...! Apakah kau datang untuk memberi kami upeti, heh?!" ledek Umbakara, orang termuda dari Tiga Setan Rambut Api.
Napas Ki Adi Pamukti dan Samparan tampak turun naik. Amarah di dalam dada mereka bergejolak,
seakan sulit dibendung lagi. Apalagi jika ingat desa mereka yang dibumihanguskan oleh ketiga lelaki dari aliran sesat itu.
"Tiga Setan Rambut Api! Kuakui nama kalian memang menyeramkan! Tapi Adi Pamukti tak akan gentar menghadapi kalian! Kejahatan kalian harus dihentikan!" dengus Ki Adi Pamukti tak kalah gertak. Tangannya mengepal, siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Matanya me- mandang tiga tokoh sesat yang ada di hadapannya dengan seksama. Setiap gerak-gerik Tiga Setan Rambut Api yang terkenal licik, diperhatikannya.
"Ha ha ha...! Ucapanmu sungguh hebat, Ki! Hm.... Apakah kau kira gampang mengalahkan kami?" tanya Untara dengan nada sinis. Seakan merendahkan lelaki tua di hadapannya. Bahkan senyumnya ber- kesan mengejek.
Undani dan Umbakara turut tertawa terbahak- bahak, mengejek Ki Adi Pamukti yang masih tampak tenang.
"Kuakui kalian memang bukan iblis sembarangan. Namun untuk membela kebenaran dan keadilan, aku siap mati!" tegas Ki Adi Pamukti.
"Hm.... Apa kau mengandalkan lelaki tolol di belakangmu? Sehingga kau berani menantang kami?" bentak Undani.
Napas Ki Adi Pamukti semakin memburu. Gigi- giginya bergemeletuk keras. Matanya berkilat penuh amarah. Jari tangannya meremas-remas geram.
"Bedebah! Kalian telah banyak memakan korban! Kalian harus mati!" dengus Ki Adi Pamukti.
"Ha ha ha...! Bukan sebaliknya, Orang Tua Tolol?!" ejek Untara.
"Kurang ajar! Yeaaat...!"
Dengan jurus 'Bangau Terbang Mematuk Ikan', Ki Adi Pamukti bergerak menyerang Untara. Kedua tangannya direntang lebar dengan kaki kanan diangkat membentuk siku. Kemudian bagai seekor bangau, Ki Adi Pamukti mematukkan tangan kanan dan kiri bergantian. Lalu diikuti olch tendangan dan cengkeraman.
Sementara Samparan yang melihat Ki Adi Pamukti telah menyerang, tidak tinggal diam. Dia pun melesat untuk membantu kepala desanya.
"Heaaat...!" Melihat Samparan menyerang, Undani dan Umbakara segera menghadang. Keduanya langsung menarik cambuk yang menjadi senjata andalan mereka.
"Mampuslah kau, Tolol!" dengus Umbakara seraya melecutkan cambuk ke tubuh Samparan.
Ctar! "Uts!" Samparan berusaha mengelak, dan berhasil. Tapi dari arah lain Undani telah melanjutkan serangan adiknya dengan lecutan cambuk pula.
"Yiaaat..!" Ctarrr! "Uts! Hop...!" Kembali Samparan dapat mengelakkan serangan tersebut. Kemudian, setelah mengeluarkan goloknya, Samparan cepat balas menyerang dengan jurus 'Langsat Belah'. Tubuhnya berputar seraya mem- babatkan senjatanya ke arah lawan.
"Yiaaat..!" "Uts! Bisa juga kau unjuk gigi, Kerbau Dungu!" dengus Umbakara sambil mengelitkan serangan lawan, lalu dengan cepat dia kembali menyerang.
Dengan jurus 'Tapak Setan Neraka' yang dibarengi oleh lecutan cambuk, Undani dan Umbakara memburu Samparan.
Ctar, ctar...! Bret! "Aaakh...!" Samparan memekik keras. Kepalanya tengadah, ketika tubuhnya terbabat cambuk kedua lawannya. Matanya membelalak lebar. Di punggung dan dadanya menancap jarum-jarum maut yang keluar dari cambuk di tangan Undani dan Umbakara. Tubuh Samparan ambruk dengan nyawa melayang.
"Ha ha ha...! Ternyata kerbau dungu ini hanya begini kemampuannya!" kata Undani dengan suara angkuh.
Sementara itu pertarungan antara Ki Adi Pamukti dengan Untara masih berlangsung seru.
"Hih! Heaaat...!" Untara berkelit dengan jurus 'Bayangan Arwah'. Disusul dengan serangan keras yang menggunakan jurus 'Tapak Setan Neraka'. Tubuhnya berkelit begitu cepat laksana bayangan. Sedangkan tepakan tangannya mampu mengeluarkan deru angin yang keras.
"Uts!" Ki Adi Pamukti tersentak kaget. Dengan cepat dia mengepakkan tangan kiri ke bawah untuk menangkis tepakan tangan lawan. Kemudian secepat itu pula, Ki Adi Pamukti melancarkan serangan dengan patukan tangan kanannya ke wajah lawan.
Wut! "Uh! Ets...!" Tubuh Untara tersurut ke samping. Kakinya ditekuk membentuk siku. Dengan tetap mengguna- kan jurus semula, Untara kembali menyerang.
Sementara Untara menghadapi Ki Adi Pamukti, kedua adiknya tampak tersenyum-senyurn sambil menyaksikan pertarungan itu.
"Ayo, Kakang! Habisi saja orang tua tolol itu!" seru Undani dan Umbakara memberi semangat pada kakaknya yang terus menyerang dengan gempuran- gempuran dahsyat, membuat Ki Adi Pamukti terdesak.
"Hiaaat...!" Dengan jurus 'Terkaman Setan Merobek Nyawa', Untara terus berusaha merangsek Ki Adi Pamukti Namun orang tua itu dengan cepat berkelit meng- gunakan jurus 'Bangau Terbang Membelah Angin' yang dilanjutkan dengan jurus 'Gempuran Paruh Bangau'.
"Yiaaat...!" Tangan Ki Adi Pamukti bergerak laksana paruh bangau, mematuk ke sana kemari dengan cepat. Sasarannya kini tertuju ke dada dan wajah lawan. Kakinya juga tidak mau diam, menyodok ke perut lawan.
"Heaaat..!" Ki Adi Pamukti mengarahkan saru tendangan ke perut lawan. Namun dengan cepat Untara menggeser tubuh ke sampjng, dilanjutkan dengan jotosan ke wajah lawan.
"Heit!" "Uts...!" Ki Adi Pamukti mengelak dengan menekuk leher ke samping kanan, disertai dengan menggeser kakinya ke kanan. Kemudian dengan cepat tubuhnya dirundukkan ke bawah. Disusul dengan sebuah jotosan ke arah perut lawan dengan jurus 'Paruh Bangau Mematuk Ikan'. Tangan Ki Adi Pamukti yang
meruncing, menusuk ke perut dan ulu hati lawan dengan cepat "Hiaaat...!" Untara tersentak kaget. Segera tubuhnya mengeHt dua tindak ke belakang. Kemudian dengan cepat tangan kirinya menepis serangan lawan. Sedangkan tangan kanannya dengan cepat pula menghantam dengan pukulan 'Sandra Pemecat Nyawa' ke dahi Ki Adi Pamukti yang tengah merunduk.
Wut! Angin pukulan panas menderu ke arah kening Ki Adi Pamukti, membuat orang tua itu tersentak kaget. Matanya membelalak, menyaksikan telapak tangan Untara kini membara bagai dibakar api.
"Uhhh...!" keluh Ki Adi Pamukti. Dengan cepat Kepala Desa Padas Gempal itu berusaha mengelakkan serangan lawan. Namun serangan lawan begitu cepat, seperti tidak memberi kesempatan bagi Ki Adi Pamukti untuk dapat lepas dari ancaman maut Ke mana pun Ki Adi Pamukti mengelak, Untara terus memburunya.
Ki Adi Pamukti benar-bena terdesak oleh serangan yang demikian gencar. Apalagi yang menyerang bukan orang sembarangan. Lawannya adalah seorang dari Tiga Setan Rambut Api, yang namanya cukup terkenal di rimba persilatan. Meski begitu, Ki Adi Pamukti tampaknya tidak mau mengalah begitu saja. Tubuhnya terus bergerak mengelakkan serangan-serangan lawan.
"Ayo, Kakang! Habisi dia...!" seru Umbakara dengan wajah gemas, bagai tak sabar melihat kakaknya yang belum juga menyudahi pertarungan.
"Ambil saja cambukmu, Kakang!" timpal Undani, juga tak sabar melihat pertarungan yang berlarut-larut dan kelihatannya akan memakan waktu cukup lama.
Untara juga merasa jengkel karena lawannya yang semula dianggap tidak memiliki apa-apa, ternyata mampu menghadapinya sampai puluhan jurus.
"Keparat! Orang tua ini rupanya berisi juga," geram Untara. Segera tangan kanannya melepas pukulan ke dada lawan, disusul dengan tendangan ke selangkangan. Sedangkan tangan kirinya menyikut ke tulang iga lawan. Sebuah jurus yang sangat cepat bernama 'Bahana Merenggut Nyawa', kini dikeluarkan oleh Untara dalam usaha menyudahi pertarungan itu.
"Uts! Hop...!" Ki Adi Pamukti yang tanggap akan keadaan itu, segera melompat ke belakang, mengelakkan serangan lawan. Kemudian dengan cepat kembali menggempur dengan jurus 'Sambaran Bangau Sakti'. Tangannya mengepak ke samping. Salah satu kakinya diangkat membentuk siku. Kemudian dengan cepat, tangan kanan dan kirinya bergerak menyambar dengan pukulan-pukulan keras, ditunjang oleh tendangan dan gerakan mengelak.
"Hiaaat..!"
***

Untara terus menggebrak dengan jurus-jurus saktinya, berusaha secepat mungkin untuk menyudahi pertarungan itu. Tetapi Ki Adi Pamukti nampaknya tidak mau dihabisi begitu saja. Tubuhnya pun terus bergerak mengelakkan serangan lawan, disusul dengan serangan balasan yang tidak kalah cepat
"Heaaa...!" "Yeaaa...!"
Undani dan Umbakara tak sabar menyaksikan pertarungan antara kakaknya melawan Ki Adi Pamukti. Mereka juga cemas, kalau-kalau warga desa yang saat itu tengah panik oleh kobaran api akan datang membantu kepala desanya. Tentu mereka akan semakin repot kalau warga desa membantu.
"Ah! Mengapa lama sekali, Kakang! Ambil saja cambukmu!" dengus Undani, merasa tidak sabar lagi melihat pertarungan kakaknya melawan Ki Adi Pamukti yang berlangsung alot. Sesekali matanya melihat ke arah Desa Padas Gempal yang hiruk-pikuk oleh jeritan histeris warga desa yang rumahnya terbakar.
Merasa serangan-serangannya tidak juga menghasilkan kemenangan dan dirasa lawan cukup tangguh, Untara segera melolos cambuknya. Dengan penuh amarah, cambuknya diputar di atas kepala. dengan jurus 'Lecutan Cambuk Buana', cambuknya dihantamkan ke arah Ki Adi Pamukti.
Wut! Ketika cambuk Untara nyaris menghantam tubuh Ki Adi Pamukti, sebuah bayangan putih berkelebat dengan tangan menggenggam pedang yang mengeluarkan sinar merah kekuning-kuningan, dan membabat cambuk yang masih berada di udara.
"Hiaaat!" Prat! Tiga Setan Rambut Api tersentak dengan mata membelalak, menyaksikan cambuk di tangan Untara putus menjadi dua, karena terbabat pedang di tangan seorang gadis Cina yang sangat mereka kenal.
Di hadapan Tiga Setan Rambut Api dan Ki Adi Pamukti kini berdiri seorang gadis cantik dengan rambut digelung dua ke atas. Pakaian yang
dikenakan gadis Cina yang cantik itu berwarna putih. Tubuhnya langsing semampai. Matanya bening, namun memandang tajam dan tidak terlalu sipit. Hidungnya tidak terlalu mancung. Bibirnya yang mungil mencibir.
"Mei Lie?!" seru Tiga Setan Rambut Api kaget "Hm...." Gadis cantik yang memang Mei Lie itu tersenyum sinis. Matanya memandang tajam Tiga Setan Rambut Api yang masih tidak mengerti, mengapa Mei Lie atau titisan Dewi Kuan Im yang dulu bersekutu dengan mereka tiba-tiba menghalangi.
"Kalian memang iblis! Kalian harus disingkirkan dari dunia ini!" bentak Mei Lie.
Mata Tiga Setan Rambut Api semakin membelalak mendengar kata-kata Mei Lie. Kening mereka ber- kerut, semakin tidak mengerti akan tindakan gadis cantik bermata agak sipit itu.
"Mei Lie, kami harap kau tidak usah turut campur urusan kami! Jangan sok pahlawan! Singo Edan saja kini berbuat tidak baik!" hardik Untara sinis sambil mencibir.
"Jangan bawa-bawa nama Singo Edan! Orang yang kau lihat di Lembah Lamur bukan Singo Edan!' sentak Mei Lie gusar. Matanya masih memandang tajam penuh kebencian. Tangan kanannya masih me- megang Pedang Bidadari yang mengeluarkan sinar merah kekuning-kuningan.
Mata Tiga Setan Rambut Api kembali membelalak, setelah mengetahui bahwa orang yang mirip dengan Singo Edan di Lembah Lamur dulu ternyata bukan Singo Edan (Mengenai Lembah Lamur, silaka baca serial Pendekar Gila dalam episode 'Titisan Kuan Im"). "Tidak mungkin! Jelas dia Singo Edan!" bantah Undani.
"Ya! Kami sedikit banyak tahu akan dia," sambung Umbakara.
"Huh! Siapa pun dia, aku tak peduli! Yang pasti, aku datang untuk menyingkirkan kalian!" bentak Mei Lie geram. Jika ingat akan kematian Nyi Bangil dna Lira Kanti, dia menjadi amat murka. Bagaimana tidak, kalau kedua orang yang selama ini baik padanya harus mati di Lembah Lamur oleh orang-orang dari golongan hitam.
Tiga Setan Rambut Api tertawa mendengar ancaman Mei Lie. Tampaknya mereka menganggap enteng gadis Cina itu.
"Ha ha ha...! Omonganmu tinggi sekali, Mei Lie! Hm, apakah tidak sebaiknya kau ikut kami? Menjadi istriku?" ejek Untara sambil mengelus-elus dagunya Hal itu semakin membuat Mei Lie marah.
"Akan kubuktikan! Kisanak, minggirlah! Biar tiga setan ini kukirim ke neraka, tempat asal mereka...," kata Mei Lie pada Ki Adi Pamukti yang menurut menepi
Mei Lie dengan mata tajam memandang lekat Tiga Setan Rambut Api yang masih tersenyum nakal. Mereka memandang dengan sinar mata meremeh- kan, menganggap gertakan Mei Lie hanya pantas bagi anak kecil. Mereka bagai tidak memandang Pedang Bidadari di tangan Titisan Dewi Kuan Im itu.
"Bersiaplah!" dengus Mei Lie sambil menggerakkan Pedang Bidadari dengan jurus 'Tebasan Pedang Memenggal Gunung'. Pedangnya dihunus lurus ke atas di depan dada, kemudian digerakkan ke samping kanan. Dilanjutkan dengan gerakan me- menggal setinggi perut
Wut!
"Mei Lie, apa tidak salah kau memainkan pedang? Sepantasnya kau berada di atas tempat tidur!" ujar Untara sambil tertawa-tawa.
Mei Lie semakin marah mendengar ucapan yang bernada kotor itu. Dengan mendengus, pedangnya digerakkan. Lalu, didahului teriakan menggelegar, Mei Lei pun berkelebat menyerang.
"Yiaaat..!" Pedang Bidadari di tangannya bergerak cepat dengan jurus 'Tebasan Pedang Memenggal Gunung'. Dari pedang itu terpancar sinar merah kekuning- kuningan yang menyilaukan, mengarah ke tubuh lawan.
"Awas!" seru Untara menyadarkan kedua adiknya saat menyaksikan serangan lawan yang begitu cepat dan gesit.
Mata Tiga Setan Rambut Api kini membelalak, Menyadari kekeliruan mereka dengan menganggap enteng Mei Lie. Kini mereka melihat bagaimana gadis Cina itu ternyata mampu menguasai jurus-jurus dari 'Ilmu Pedang Bidadari' yang sangat sempurna.
"Celaka! Dia benar-benar telah menguasai jurus- jurus 'Ilmu Pedang Bidadari'!" seru Undani.
Dengan cepat Tiga Setan Rambut Api segera mengelakkan serangan Mei Lie. Tubuh mereka ber- lompatan ke belakang sambil bersalto. Lalu dengan cepat pula, mereka menyerang dengan jurus 'Tiga Serangkai Cambuk Buana'.
"Heaaat..!" Wut! Cambuk di tangan mereka berputar di atas kepala, kemudian dengan cepat dilecutkan ke tubuh Mei Lie.
Ctar! "Uts!"
Mei Lie berkelit, disertai babatan pedang ke cambuk yang menyabet ke arahnya. Pedangnya dibelitkan pada ujung-ujung cambuk itu.
"Hop! Kena...!" Mei Lie segera menyentakkan pedangnya dengan keras, membuat cambuk ketiganya terputus menjadi dua. Kemudian sebelum Tiga Setan Rambut Api sadar dari rasa kaget, Mei Lie kembali menyerang dengan jurus 'Tebasan Pedang Membelah Karang'.
Pedang di tangan Mei Lie bergerak menyilang lalu tegak lurus ke atas. Disusul dengan tebasan lurus dari atas ke bawah, seakan bermaksud membelah. Hal itu membuat Tiga Setan Rambut Api semakin tersentak kaget. Tubuh mereka bergerak hendak mengelak namun Pedang Bidadari di tangan Mei Lie lebih cepat menebas ke arah mereka.
Cras! "Aaa...!" Umbakara menjerit keras saat tubuhnya terbabat Pedang Bidadari. Anehnya, tubuh orang termuda dari Tiga Setan Rambut Api itu tidak mengalami apa-apa. Namun sesaat kemudian, tubuh Umbakara terbelah menjadi dua. Itulah kehebatan Pedang Bidadari dengan jurus 'Pedang Tebasan Batin'. Korban yang terbabat tak akan mengeluarkan darah, karena darah di dalam tubuhnya telah mengering oleh panasnya pedang.
Untara dan Undani, serta Ki Adi Pamukti yang menyaksikan kejadian itu tersentak. Baru kali ini mereka menyaksikan sebuah jurus yang aneh sekaligus menakjubkan.
Nyali Untara dan Undani seketika ciut menyaksikan adiknya dengan mudah dikalahkan. Terlebih saat menyaksikan kehebatan ilmu pedang
lawan yang semula dianggap enteng.
"Mungkin benar dia Titisan Dewi Kuan Im, Kakang," bisik Undani dengan tubuh dipenuhi keringat dingin. "Buktinya ilmu pedangnya sangat hebat."
"Ya! Kurasa juga begitu," sahut Untara, tak kalah ngeri setelah melihat jurus lawan yang dahsyat.
"Kita tak akan mampu menghadapinya, Kakang. Jangankan kita, guru kita saja mungkin berpikir tujuh kali," kata Undani.
"Lebih baik kita pergi, sebelum nyawa kita melayang seperti Umbakara."
"Ayo, Kakang. Mumpung dia tidak menyerang," ajak Undani.
Dua tokoh sesat itu berusaha lari meninggalkan lempat ini, namun dengan cepat Mei Lie berkelebat mengejar.
"Setan! Mau ke mana kalian! Hiaaat...!" Dengan pedang masih di tangan, tubuh Mei Lie berkelebat mengejar keduanya yang masih terus berlari. Dan tahu-tahu Mei Lie telah berada di depan Untara dan Undani yang tersentak.
"Tak akan kubiarkan kalian hidup!" bentak Mei Lie garang.
Kedua tokoh sesat itu saling berpandangan. Kemudian sambil mengedipkan mata, keduanya bergerak melabrak ke arah Mei Lie dengan nekat. Cambuk mereka yang tinggal sepotong masih diguna- kan untuk menyerang.
"Hiaaat...!" Swing, swing...! Puluhan jarum tiba-tiba keluar dari potongan cambuk di tangan Untara dan Undani, dan menderu ke arah Mei Lie.
"Uts! Licik!" maki Mei Lie sambil bergerak mengelak, kemudian dengan cepat pedangnya diputar, membuat pedang itu laksana menghilang. Kini yang ada hanyalah sinar merah kekuning- kuningan yang melindungi tubuh Mei Lie.
Trang, trang! Jarum-jarum yang hendak menyerang Mei Lie, seketika rontok terkena hantaman Pedang Bidadari. Tak ada satu pun yang dapat bersarang di tubuh Mei Lie. "Kalian harus mampus! Yiaaat...!"
Mei Lie yang semakin marah mendapatkan serangan jarum-jarum beracun, kini menggerakkan Pedang Bidadari dengan jurus andalannya. Jurus pamungkas bernama 'Pedang Tebasan Batin' yang sangat dahsyat
Tangannya bergerak ke samping, lalu lurus ke atas. Diteruskan dengan memutar pedang. Matanya terpejam, kemudian dengan gerakan yang sulit diikut mata lawan, Mei Lie menebaskan pedangnya.
Wut! "Aaakh...!" Untara dan Undani memekik keras. Tubuh mereka memang masih berdiri tegak. Namun ketika angin bertiup, tubuh mereka seketika lebur menjadi debu yang beterbangan.
Mei Lie menundukkan kepala. Dari matanya meleleh air mata. Dia menangis, teringat kematian para pendekar di Lembah Lamur. Terutama kematian Nyi Bangil dan Lira Kanti.
Pedang Bidadari dimasukkannya ke dalam sarung. Dengan air mata masih beriinang, Mei Lie melesat meninggalkan tempat itu.
"Nona Pendekar, tunggu!" seru Ki Adi Pamukti
berusaha mencegah Mei Lie pergi, tapi gadis Cina yang cantik itu telah menghilang dalam kegelapan malam.
***

2
Kemunculan gadis Cina dengan pedang saktinya yang telah membunuh Tiga Setan Rambut Api, membuat namanya seketika menjadi bahan pembicaraan setiap orang di Desa Padas Gempal. Mereka pada umumnya menyanjung gadis cantik itu. Karena telah membela mereka dari ketelengasan Tiga Setan Rambut Api yang telah membakar desa mereka.
Lebih dari itu, penduduk Desa Padas Gempal menjuluki gadis jelita itu dengan sebutan yang cukup membuat tokoh-tokoh golongan hitam mengernyitkan alis. Sebutan yang mereka berikan adalah Bidadari Pencabut Nyawa.
Sinar mentari baru saja menyapu permukaan bumi. Sebuah kedai yang terletak di sebelah utara Desa Parang Gandrung baru saja dibuka oleh pemiliknya. Pemilik kedai itu adalah seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun. Kesenjangan usianya dapat dilihat dari kerutan di wajahnya yang memiliki mata kelabu dan hidung yang mancung. Dapat juga dilihat dari rambut dan kumis putih atau tubuhnya yang agak bungkuk. Dia mengenakan baju lengan panjang tanpa kerah berwarna biru tua.
Letak kedai itu berada di antara dua kebun yang tidak begitu luas dengan pohon-pohonnya yang asri. Hal itu menjadikan suasana di sekitar kedai menjadi terasa indah. Jika pagi hari, udara terasa begitu sejuk. Sedangkan siang hari, udara di sekitar tempat itu terasa segar, tidak panas, karena di sekeliling kedai
tumbuh pepohonan yang rindang. Di depan kedai tumbuh pohon asam yang besar dan rindang, semakin menambah keindahan tempat itu.
"Baru buka, Ki?" tanya Sena Manggala atau Pendekar Gila. Tingkah lakunya masih seperti orang gila, membuat pemilik kedai mengerutkan kening.
Sena memandang ke atas, kemudian kepalanya menengok ke kanan dan kiri. Mulutnya masih cengengesan, membuat orang tua pemilik kedai yang bernama Ki Jiung semakin mengerutkan kening.
"Ada apa, Anak Muda? Kau hendak meminta makan?" tanya Ki Jiung, menyangka kalau pemuda di hadapannya benar-benar orang gila. Tapi kening lelaki tua itu tambah berkerut, menyaksikan pakaian bagus pemuda itu.
"Aneh, tingkah lakunya seperti orang gila. Tapi pakaiannya rapi dan bagus," gumam Ki Jiung, merasa heran dengan penampilan pemuda itu.
"Hi hi hi...!" Sena tertawa, mendengar pertanyaan Ki Jiung tadi. Diambilnya bulu burung dari ikat pinggang, kemudian dengan tertawa-tawa kupingnya dikorek-korek. Hal itu membuat Ki Jiung semakin heran.
"Apa yang lucu, Anak Muda?" "Hi hi hi...! Kau, Ki. Lucu sekali kau...," kata Sena masih mengorek kuping dengan bulu burung.
Ki Jiung semakin terheran-heran, mendengar ucapan Sena yang mengatakan dia lucu. Matanya memandangi sekujur tubuhnya, berusaha mencari hal yang lucu. Tapi tetap saja tidak ditemukannya.
Ki Jiung kembali memandang Sena. Diamatinya pemuda itu dengan seksama, namun dia masih belum mengerti. Aneh! Kata Ki Jiung dalam hati.
"Anak muda, kenapa kau tertawa?" tanya Ki Jiung
masih dengan kening berkerut.
"He he he...! Ah, tidak apa-apa, Ki. Teruskanlah membuka kedaimu. Aku lapar sekali," ucap Sena sambil membantu memberesi perabotan kedai. Hal itu membuat hati Ki Jiung semakin bertanya-tanya. Terlebih ketika melihat cara kerja Sena yang sangat cepat dan cekatan. Hingga dalam sekejap saja, semuanya sudah beres. Padahal kalau dikerjakan oleh Ki Jiung perlu waktu yang cukup lama.
"Hah?! Tidak salahkah penglihatanku?" tanya Jiung dengan mata membelalak, menyaksikan dagangan serta beberapa bangku panjang yang semula berada di atas meja kini telah siap di samping meja.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak. Kemudian dengan acuh dia duduk di salah satu bangku sambil bersandar. Tangannya masih mengorek telinga dengan bulu burung. Matanya terpejam-pejam, merasakan kenikmatan.
Ki Jiung melangkah ke arah Sena dengan membawa makanan berupa sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
"Ini untukmu, Anak Muda," kata Ki Jiung. Sena tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepala.
"Terima kasih, Ki. Oh, ya. Berapa semuanya tanya Sena sambil mengambil uang di ikat pinggangnya. "Cukupkah uang segini?"
Ki Jiung mengerutkan kening, menyaksikan dua keping uang emas yang dikeluarkan Sena. Dia semakin bingung dengan pemuda yang bertingkah laku gila itu. Dari mana pemuda ini memiliki uang emas? Tanya hatinya. Ki Jiung jadi sangsi kalau pemuda bertingkah laku gila itu pemuda gila biasa.
"Hi hi hi.... Kenapa diam, Ki? Apa ada setan lewat?" tanya Sena seraya menyerahkandua keeping uang emas pada lelaki tua yang hanya mampu menautkan alis, tanpa dapat berbuat apa-apa.
Dengan masih tertegun-tegun, Ki Jiung me- mandang pemuda yang kini dengan acuh menyantap makanan.
Ketika Sena menyantap makanannya, masuk lima orang berpakaian tambalan. Kelimanya memegang tongkat kayu berwarna hitam. Mereka tidak lain Lima Pengemis Tongkat Hitam. Namun kini kehadiran mereka tidak bersama ketuanya, Pengemis Tempurung Sakti.
"Kami minta makan!" seru Ketua Perkumpulan Pengemis dari selatan yang bernama Jalantra.
Dengan rasa was-was, Ki Jiung yang sudah mengenal kelima orang itu segera menghampiri. Wajah lelaki tua itu menggambarkan ketegangan, seakan tengah berhadapan dengan lima hantu yang menyeramkan. Tubuhnya membungkuk-bungkuk, menghampiri Lima Pengemis Tongkat Hitam yang tindakannya terkenal beringas. Tidak seperti pengemis lainnya (Mengenai Lima Pengemis Tongkat Hitam, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode 'Titisan Dewi Kuan In')
"Ki!" seru Sena, ketika Ki Jiung hendak mendekati Lima Pengemis Tongkat Hitam. "Ke sini sebentar!"
Ki Jiung tampak bingung. Tadi dia dipanggil oleh Lima Pengemis Tongkat Hitam. Kini dia kaget mendengar seruan Sena. Pemuda yang bertingkah seperti orang gila yang semula nampak konyol, kini terdengar berwibawa dengan seruannya yang lantang. Bukan hanya Ki Jiung yang kaget mendengar suara Sena, Lima Pengemis Tongkat Hitam pun begitu. Mereka sebenarnya sudah bertarung dengan Pendekar Gila, tapi rupanya mereka tidak tahu kalau
pemuda berambut panjang yang sedang makan itu adalah Sena.
"Hm.... Rupanya pemuda edan itu ada di sini!" dengus Ketua Perkumpulan Pengemis daerah utara yang bernama Sampra. Wajahnya nampak sinis, mencerminkan ketidaksukaannya pada Pendekar Gila. "Ya! Tak kami sangka, akhirnya kami harus ber- temu dengan Pendekar Gila!" sambung Gandrana dengan suara yang tidak kalah sinis.
"Kalau di Lembah Lamur dulu kita belum melihat sejauh mana ilmunya. Mengapa tidak sekarang saja?" tambah Jantrik.
Sena tertawa tergelak gelak sambil menggerak- gerakkan kepalanya dengan cepat.
"Ha ha ha...! Ki, mengapa lalat-lalat busuk itu kau biarkan masuk? Bukankah sebaiknya kau usir saja?" ledek Sena dengan acuh sambil terus menyantap makanannya.
Lima Pengemis Tongkat Hitam yang dikatakan lalat busuk serentak membelalak marah. Mereka men- dengus kesal.
"Kurang ajar! Rupanya kegilaanmu harus kami hentikan!" bentak Jalantra. Kemudian dengan penuh amarah Ketua Perkumpulan Pengemis daerah selatan ini bergerak menyerang. Tongkatnya disodok- kan ke punggung Pendekar Gila.
"Huh! Lalat busuk ini rewel sekali, Ki!" ujar Sena seraya melemparkan piring ke arah Jalantra.
Ketua Perkumpulan Pengemis daerah selatan itu tersentak. Segera niatnya diurungkan untuk menyodokkan tongkat ke punggung lawan. Malah kini tubuhnya bersalto mengelitkan serangan lawan dengan mulut mencaci-maki.
"Pemuda edan!" "Ha ha ha...! Lihat, Ki. Ada lalat yang kebingungan ditampar oleh piring!"
Sena tertawa terbahak-bahak. Dia bangkit dari duduknya, berdiri sambil cengengesan memandang keempat ketua perkumpulan pengemis lainnya.
"Kurang ajar! Kau memang harus dihajar, Bocah Gila!" dengus Gandrana sengit.
Sena kembali tertawa riuh rendah. Tangan kirinya menepuk-nepuk pantat. Sedangkan tangan kanannya dikibas-kibaskan. Seketika nasi yang melekat di jari- jari tangannya berhamburan ke arah Lima Pengemis Tongkat Hitam.
"Kunyuk! Kubunuh kau!" maki Jantruk, Ketua Perkumpulan Pengemis daerah barat sambil ber- kelebat menyerang, disusul oleh keempat rekannya. Dengan jurus 'Lima Pusaran Angin Merobohkan Dinding Karang', kelimanya bergerak menyerbu.
"Hiaaat..!" Pendekar Gila masih tertawa-tawa. Bahkan kini dia nungging sambil memperdengarkan suara kentut dari mulutnya. Lalu dengan tertawa-tawa, Sena bertepuk tangan.
"Ha ha ha...! Kalian lucu sekali, Lalat Busuk! Ha ha ha...!"
Tongkat Lima Pengemis Tongkat Hitam bergerak menyambar ke seluruh tubuh Sena. Jantruk ke arah kepala. Jalantra ke arah leher. Gandrana ke arah dada dan punggung. Sampra ke arah perut. Sedangkan Jantrik menyerang ke bagian pusar ke bawah.
Gerakan mereka dalam menyerang begitu cepat dan tergabung dengan teratur, susul menyusul. Hal itu akan membuat lawan kesulitan untuk dapat
melepaskan diri dari kepungan serangan mereka.
"Wau, apa lagi yang kalian lakukan, Kecoa? Hi hi hi..!" Dengan berjumpalitan kian kemari, Sena mengelakkan serangan lawan dengan jurus 'Kera Gila Menyambar Buah'. Sena bergerak bagai seekor kera yang berayun dari satu pohon ke pohon lain. Tangannya sesekali mencengkeram, dengan kaki bergantian menjejak ke arah lawan.
"Haiiit..!" Lima Pengemis Tongkat Hitam segera mengelakkan serangan Sena dengan jurus 'Lima Angin Balik'. Tubuh mereka berputar laksana angin. Kalau mulanya menyerang, kini berbalik mengelakkan serangan lawan. Kemudian dengan cepat pula, kelimanya kembali melakukan gempuran.
"Yeaaat!" Lima Pengemis Tongkat Hitam menyodokkan ujung tongkat masing-masing ke arah Pendekar Gila. Dengan cepat, Pendekar Gila melenting ke udara. Lalu melancarkan serangan dengan jurus 'Dewa Angin Menyapu Banteng'. Dengan jari-jari tegak, tangannya menghantam ke arah kepala lawan dengan gerakan kilat
"Heaaa...!" Plak! "Ukh...!" Gandrana memekik. Kepalanya langsung pecah.
Kejadian itu membuat Ki Jiung yang sejak tadi melihat pertarungan dan belum tanu siapa pemuda yang bertingkah gila, membelalakkan mata. Dari mulutnya terlontar pekikan kaget. Tubuhnya gemetar menyaksikan kejadian yang mengerikan itu.
"Ohhh...!" Ki Jiung segera menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, tak berani menyaksikan pertarungan yang sangat mengerikan itu. "Pemuda edan! Kau harus mampus!" dengus Sampra.
"Ya! Kau telah membunuh salah seorang dari kami! Kau harus mampus!" tambah Jantruk.
Sena tertawa tergelak-gelak mendengar ancaman mereka. Dengan menepuk-nepuk pantat, Sena memonyongkan mulutnya.
Brut! "Ha ha ha...! Kalian lucu sekali! Kenapa kalian minta mati?" tanya Sena. "Padahal orang mati minta hidup."
Keempat Ketua Perkumpulan Pengemis itu semakin marah mendengar omongan Pendekar Gila. Kemudian dengan mendengus marah, mereka kembali menyerbu.
"Hiaaat..!" Empat tongkat di tangan mereka bergerak mengepung dari empat penjuru mata angin. Menusuk dan menyambar dengan keras ke tubuh Pendekar Gila dengan jurus 'Sapuan Empat Penjuru Angin'. Pukulan tongkat itu menciptakan angin keras yang menerpa ke arah Pendekar Gila.
"Hi hi hi...!" Sena tertawa, lalu dengan menungngkan pantatnya, dia bergerak mengelakkan serangan lawan. Tubuhnya meliuk-liuk dengan irama yang aneh. Sesekali tangannya menepuk ke dada lawan.
***

Prak! Satu tongkat kayu hitam terkena tepakan tangan Pendekar Gila. Tongkat di tangan Jalantra patah menjadi dua, sedangkan pemiliknya terhuyung- huyung lengan wajah pucat. Tidak hanya sampai di situ, Pendekar Gila terus menggebrak dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari, dan tangannya sesekali menepuk ke dada lawan.
"Heaaa...!" Plak! "Ukh...!" Jalantra mengeluh. Dadanya terasa pecah akibat tepakan tangan Pendekar Gila. Asap mengepul dari dadanya. Matanya membelalak. Dari sudut bibirnya meleleh darah segar. Mulut Jalantra meringis, menahan rasa sakit yang tak terkirakan. Sesaat tubuhnya meregang, kemudian ambruk tanpa nyawa.
Ketiga Ketua Perkumpulan Pengemis lainnya segera melompat mundur, menyaksikan Jalantra tewas di tangan lawannya yang kini masih cengengesan sambil menepuk-nepuk pantat. Tubuhn- ya berjingkrak-jingkrak tak ubahnya seekor monyet.
"Ha ha ha...! Siapa lagi yang ingin mati?" tanya Sena, masih dengan tingkah laku seperti kera. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
Ki Jiung yang menyaksikan bagaimana pemuda bertingkah laku gila itu dalam beberapa gebrakan saja mampu membunuh dua dari Lima Pengemis Tongkat Hitam, amat terperangah. Dia tidak menyangka kalau pemuda itu ternyata berilmu tinggi.
Pantas saja dia bekerja sangat cepat. Gerakannya ternyata sangat cepat, sehingga dalam waktu singkat daganganku tersusun rapi olehnya. Puji Ki Jiung dalam hati. Dengan takut-takut matanya menyaksikan pertarungan yang sangat seru dan mendebarkan itu.
Tiga Ketua Perkumpulan Pengemis itu kembali melabrak Pendekar Gila. Rupanya kematian dua rekannya tidak membuat ketiganya jera. Malah mereka bertambah beringas dalam melakukan serangan.
"Kau harus mampus, Bocah Edan!" maki Jantrik "Kuremukkan batok kepalamu!" sambung Jantruk. "Meski namamu telah menjulang tinggi, pantang bagi kami untuk lari! Heaaat...!"
Tubuh Sampra dengan cepat melesat melakukan serangan. Tongkat hitam di tangannya bergerak menyambar dan menusuk. Kadangkala memukul dari atas ke bawah, berusaha meremukkan batok kepala Pendekar Gila.
Melihat rekannya menyerang, kedua pengemis lainnya turut meluruk maju. Kini dengan jurus 'Tiga Sakra Tongkat Maut' ketiganya bergerak menusuk dan membabat ke arah Sena. Serangan mereka sangat cepat, menimbulkan deru angin yang menyambar-nyambar.
Srrrt! Sena segera menarik Suling Naga Sakti dari ikat pinggangnya. Kemudian dengan sigap, sulingnya diputar ke arah tongkat di tangan para pengemis yang menyerangnya, membentuk setengah lingkaran. Sedangkan tangannya memukul dengan telapak tangan menggunakan jurus 'Si Gila Melempar Batu'.
Tak! Prak! Tongkat kayu hitam di tangan Jantruk dan Sampra patah menjadi dua. Sedangkan tangan Pendekar Gila masih bergerak memukul ke dada lawan.
Begk!
"Ukh...!" Jantrik mengeluh pendek. Tangan kirinya mendekap dada yang terasa remuk akibat pukulan lawan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan mulut meringis. Darah dari sudut bibir pun menyapu dagunya dengan warna merah.
Sesaat tubuh Jantrik meregang, lalu ambruk dengan nyawa melayang.
Menyaksikan kematian rekan mereka, nyali kedua pengemis lainnya mendadak ciut. Jiwa keduanya bagai dihimpit oleh ketakutan.
Kedua orang itu bermaksud lari. Namun dengan cepat Pendekar Gila segera meniup Suling Naga Sakti. Suara sulingnya mengalun dengan merdu dan mendayu-dayu.
Keanehan terjadi! Tubuh kedua pengemis itu seketika meregang kaku, terpaku di ambang pintu masuk kedai bagai arca.
"Ha ha ha...! Lucu... lucu sekali kalian! Mengapa kalian seperti patung?" tanya Sena sambil tertawa nyaring. Sedangkan mata Ki Jiung membelalak, menyaksikan kejadian yang sangat aneh itu. Dia tidak melihat kejadian apa-apa, namun mengapa kedua pengemis itu kini mematung?
"Bocah edan! Lepaskan totokanmu!" geram Sampra.
"Ha ha ha...! Kurasa aku tidak menotokmu!" dalih Sena. "Aha, apa kalian ingin menari? Baik, menarilah!"
Sena kembali meniup sulingnya dengan alunan yang mendayu. Kembali kejadian aneh terjadi. Kedua pengemis itu kini menari-nari, mengikuti irama suling yang ditiup Sena.
Ki Jiung loan membelalakkan mata, menyaksikan kejadian luar biasa itu. Baru kali ini matanya melihat
bagaimana suara suling mampu membuat orang menari. Ki Jiung tidak tahu, kalau irama suling yang ditiup Sena adalah tiupan 'Pelayung Sukma', di mana orang yang dituju akan terpengaruh sukmanya untuk mengikuti irama suling.
Ki Jiung benar-benar tak tahan melihat gerakan lemah gemulai dan lenggokan tubuh dua pengemis itu. Dia lantas tertawa tergelak-gelak bagai orang gila. Kemudian dengan masih tertawa-tawa, Ki Jiung turut menari.
Beruntung Sena tidak meniup Suling Naga Sakti dengan irama sedih. Kalau saja Sena meniupnya dengan irama sedih, tentu ketiga orang itu akan menangis meraung-raung.
Sena menghentikan tiupan sulingnya. Seketika kedua pengemis itu kembali mematung. Sementara Sena masih tertawa tergelak-gelak dengan tangan menepuk-nepuk pantat
"Ki, menjauhlah dari sini," katanya, meminta Ki Jiung agar menjauh dari tempat itu.
"Nah, Sobat-sobat. Bagaimana kalau kalian menangis? Hi hi hi...! Mungkin selama ini kalian tak pernah menangis, walau banyak orang yang telah kalian siksa! Ayo, menangislah..."
Usai berkata begitu, Sena kembali meniup Suling Naga Saktinya dengan irama sedih. Seketika kedua lelaki yang menjadi bulan-bulanan itu menangis meraung-raung, seakan meratapi nasib mereka yang sangat malang.
Ki Jiung kembali terperanjat, menyaksikan kejadian yang amat langka itu. Hanya mendengar irama suling, kedua pengemis itu menangis sesenggukan.
Lama kelamaan tubuh keduanya ambruk, tak kuat
menahan rasa sedih yang tiada terkira. Mereka tewas tak mampu menahan siksaan batin yang sangat hebat
Sena kembali tertawa menyaksikan kejadian itu. Seakan kejadian yang ada di hadapannya adalah guyonan lucu.
"Ki, aku permisi," pamit Sena, hendak berlalu. "Lalu, bagaimana dengan kelima mayat ini, Tuan?"
"Aha, aku lupa..." Sena merogoh ikat pinggangnya, kemudian mengeluarkan lima keping uang emas. "Cukupkah lima keping uang emas ini untuk mengurus mayat mereka, Ki? Suruhlah orang-orang mengurusnya."
"Bu..., bukan itu, Tuan. Tapi..." "Sudahlah, Ki. Terimalah uang ini." Sena menyodorkan lima keping uang emas itu, kemudian dengan cepat berkelebat meninggalkan kedai milik Ki Jiung.
Ki Jiung hanya dapat terbengong-bengong, menyaksikan bagaimana pemuda bertingkah gila itu mampu melesat sangat cepat laksana angin.
***

3
Di Grojokan Perawan, di mana Goa Sandang berada, pagi itu seorang gadis cantik berkulit kuning langsat tengah berlatih ilmu silat. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang mengeluarkan sinar putih bergulung kabut. Hidung gadis itu mancung dan bermata lentik. Rambutnya terurai bergelombang, dan berikat kepala berwarna merah. Dia mirip dengan Mei Lie.
Di depan gadis itu, seorang wanita tua berpakaian minim duduk bersila di atas sebuah batu. Matanya memandang ke arah gadis yang tengah berlatih itu. Wanita tua berusia sekitar sekitar enam puluh tahun dengan hidung mancung dan alis lebat itu adalah guru dari si gadis. Namanya Dewi Sandang. Nama itu diambil dari goa tempatnya menetap yang dikenal dengan sebutan Goa Sandang.
Saat itu, muridnya yang bernama Sarah Dita tengah melakukan jurus pamungkas 'Satuan Raga dan Jiwa' dari sepuluh jurus 'Pedang Titisan Iblis'.
Sarah Dita tampak terdiam sesaat dengan mata terpejam. Mata pedang ditempelkan pada hidungnya. Cara membuka jurus itu hampir sama dengan jurus 'Pedang Tebasan Batin' yang dimiliki Mei Lie.
Setelah lama mengheningkan cipta, dibarengi pekikan nyaring Sarah Dita menggerakkan pedang- nya. "Hiaaat...!" Wut, wut...!
Pedang diarahkan ke batu yang ada di sampingnya dengan gerakan menusuk.
Jreb! Pedang itu langsung tembus sampai ke sisi batu di belakangnya. Begitu hebat pedang bersinar putih itu, sehingga batu yang keras dapat ditembusnya.
"Bagus! He he he...! Kini lengkaplah semuanya! Kau akan bisa menjadi pengganti Bidadari Pencabut Nyawa. He he he...!" Dewi Sandang tertawa-tawa senang. Segera dia bangun dari bersilanya, lalu menghampiri muridnya yang langsung menyembah.
"Terima kasih, Guru. Atas budimu, aku telah berhasil mempelajari semua ilmu pedang yang telah kau ajarkan."
"He he he...! Sudahlah, ayo bangun. Aku akan mengatakan sesuatu padamu," ajak Dewi Sandang.
Keduanya segera melesat meninggalkan tempat itu. Tak berapa lama kemudian, tibalah mereka di dalam goa tempat mereka tinggal selama ini. Dewi Sandang mengajak muridnya duduk di sebuah batu yang ada di dalam goa itu.
"Duduklah, Sarah." Sarah Dita duduk. "Ada apa gerangan, Guru?" tanya Sarah Dita setelah menyeka keringat.
"He he he...!" Dewi Sandang terkekeh. "Kau tahu, mengapa kau kudidik menjadi jago pedang, Sarah Dita?"
"Tidak, Guru. Yang kuketahui, aku akan menjadi jago pedang nomor wahid di rimba persilatan," jawab Sarah Dita.
"He he he...! Bagus! Memang itu yang aku kehendaki. Kau menjadi jago pedang di rimba persilatan dan tak terkalahkan oleh pendekar pedang
mana pun. Tapi...," Dewi Sandang tak meneruskan ucapannya. Hal itu membuat Sarah Dita mengerutkan kening. Matanya memandang sang Guru.
"Ada apa, Guru?" "He he he!..! Tidak apa-apa." "Mengapa Guru tidak meneruskan?" "He he he...! Anak pintar.... Tapi, harapanku seketika musnah, ketika kudengar dari paman gurumu, kalau sekarang ada jago pedang yang sangat hebat dan belum terkalahkan," ujar Dewi Sandang, melanjutkan kata-katanya yang terpenggal.
Sarah Dita mengerutkan dahi. "Siapa dia, Guru? Dan seberapa hebatkah ilmu pedangnya? Kalau boleh, ingin rasanya aku mengujinya," kata Sarah Dita dengan perasaan tak senang. Bagaimanapun juga, dia yang harus menjadi jago dari segala jago pedang. Dia harus dapat mengalahkan siapa saja yang mahir dalam ilmu pedang.
Dewi Sandang sesaat terdiam. Dihelanya napas dalam-dalam. Matanya menatap wajah muridnya yang tampak marah, tak suka mendengar kalau di rimba persilatan ada jago pedang selain dirinya.
"Dia bernama Mei Lie, seorang gadis Cina yang hampir mirip denganmu. Dia bergelar Bidadari Pencabut Nyawa. Itu sebabnya aku selalu mengata- kan kalau kau Bidadari Pencabut Nyawa. Aku ingin kau dapat mengalahkannya." "Akan kulakukan, Guru." "Tunggu dulu.... Dengarlah apa yang akan kukatakan padamu."
Sarah Dita menurut "Kau akan kujadikan Mei Lie. Kau harus memb- antu paman gurumu untuk mengecoh para pendekar.
Sebisanya kau menyamar sebagai Mei Lie. Besok, berangkatlah ke tempat paman gurumu. Aku akan memberikan surat padanya. Antarlah ke sana. Apa pun yang dikatakan paman gurumu, kau harus menurut. Karena hanya dengan cara itulah, kau akan bisa bertemu dengan Mei Lie atau Bidadari Pencabut Nyawa," tutur Dewi Sandang.
"Apakah tidak sekarang saja, Guru?" tanya Sarah Dita setengah mendesak.
"He he he, kau nampak tak sabar. Kalau itu maumu, berangkatlah." "Terima kasih, Guru." Dewi Sandang mengambil surat yang akan diberikan pada paman gurunya yang bernama Daeng Ampra. Setelah memberikan surat itu pada muridnya, Dewi Sandang melepas kepergian Sarah Dita yang akan menjalankan tugasnya.
***

Rimba persilatan semakin geger karena kemunculan Mei Lie. Sepak terjang gadis Cina itu membuat tokoh-tokoh golongan hitam bagai menghadapi seorang malaikat maut. Apalagi dengan tindak-tanduk Sena yang senantiasa berusaha menumpas keangkaramurkaan di muka bumi ini. Membuat tokoh-tokoh golongan hitam kian tersudut kedudukannya.
Ketika terik matahari siang menyengat bumi, tampak seekor kuda berwarna coklat tua berlari kencang menerobos debu yang beterbangan di Lembah Balapulang. Di punggung kuda itu, tampak seorang wanita berpakaian serba putih dengan kepala tertutup caping berwarna hijau dari daun pandan.
Wanita muda itu bermata indah, dengan rambut terurai lurus. Potongan tubuhnya yang ramping, semakin melengkapi kecantikannya. Di punggung gadis cantik yang tubuhnya dibungkus pakaian bergaya Cina warna putih itu tersandang sebilah pedang.
Derap kaki kuda terus melaju, bagai tak menghiraukan terik matahari yang tak bersahabat. Tiba-tiba penunggang kuda itu menghentikan lari binatang tunggangannya.
"Hooop...!" Kuda itu pun berhenti. Gadis penunggangnya tampak mengarahkan matanya ke semak belukar di Lembah Balapulang itu. Tampaknya ada sesuatu yang membuat lari kudanya dihentikan. Telinganya tadi sempat mendengar suara yang mencurigakan di tempat itu.
"Hm...." Gadis cantik dari Cina itu menggumam tak jelas. Matanya masih menyapu ke sekeliling lembah, seakan hendak mencari asal suara yang didengarnya.
Kresek! "Hm...." Kembali gadis Cina itu bergumam. Kemudian dia melompat turun dari punggung kudanya. Matanya masih memandang ke asal suara tadi.
"Siapa yang ada di situ, keluarlah!" Tak ada sahutan. Yang terdengar hanya langkah- langkah kaki yang menginjak daun-daun kering. Dilirik dari suaranya, pemilik langkah kaki itu sepertinya berjumlah lebih dari dua orang.
"Hm.... Rupanya kalian ingin mempermainkan aku! Baik, jangan harap aku akan mengampuni kalian!"
dengus gadis cantik berpakaian Cina itu.
Dari balik semak belukar, berkelebat sepuluh lelaki berpakaian serba hitam. Wajah mereka tertutup kain hitam. Hanya bagian matanya yang terlihat. Ditilik dari sinar mata yang memancar garang, tampaknya mereka bukan orang baik-baik. Di tangan mereka tergenggam sebilah golok tajam. Sepertinya mereka para penyamun yang menjegal setiap orang yang melintasi tempat itu.
"Siapa kalian?!" bentak wanita cantik bercaping daun pandan.
"Ha ha ha...! Siapa pun kami, kau tak perlu tahu. Yang pasti, kami menginginkan kau, Cah Ayu," sambut pemimpin gerombolan berpakaian hitam itu sambil tertawa-tawa.
"Hm.... Tentu kalian yang dinamakan Gerombolan Lowo Ireng?!" dengus gadis bercaping itu.
"Ha ha ha! Pandanganmu tajam sekali, Cah Ayu. Nah, kalau kau sudah tahu siapa kami, kuharap kau tidak usah menentang semua yang kami inginkan! Ikut kami!" perintah pemimpin orang-orang ber- pakaian hitam itu.
"Ha ha ha...! Enak sekali kau bicara, Sarwono!" bentak gadis cantik bercaping, membuat Ketua Gerombolan Lowo Ireng tersentak kaget. Dia tidak menyangka kalau gadis cantik yang mirip gadis Cina itu tahu namanya.
"Siapa kau? Dari mana kau tahu namaku?!" bentak Sarwono dengan mata melotot, memandang tajam ke arah gadis cantik yang menyandang pedang di punggungnya.
"Ha ha ha...! Kau masih belum mengenaliku, Sarwono! Aku Mei Lie, Titisan Dewi Kuan Im. Tapi orang-orang persilatan kini lebih suka menyebutku
Bidadari Pencabut Nyawa. Orang-orang sepertimu yang harus kucabut nyawanya!" ancam gadis bercaping yang penampilannya memang serupa dengan Mei Lie.
"Cuh! Jangan sembarangan bicara, Bocah!" bentak Sarwono gusar. Matanya berkilat-kilat tajam. Napasnya tampak turun-naik dihela kemarahan.
"Ha ha ha. Apa yang sulit untuk menyingkirkan kalian, Kecoa Busuk?!" ledek gadis cantik bercaping itu. "Guru dan pemimpin kalian pun akan kubunuh dengan mudah!"
"Kurang ajar! Rupanya kau mencari mampus!" dengus Sarwono semakin beringas, merasa telah diremehkan oleh seorang gadis muda.
"Ha ha ha! Kalianlah yang mencari mampus!" balik gadis itu dengan tetap bernada angkuh. Tangannya menggapai gagang pedang.
Srrrt! Gadis cantik bercaping itu menarik pedang, seakan menantang Gerombolan Lowo Ireng secara terang-terangan.
"Majulah! Biar dengan cepat aku membereskan Kalian!" tantang gadis itu. Pedang di tangannya terhunus di depan wajah. Siap untuk melakukan serangan.
"Bedebah! Serang dia...!" perintah Sarwono sambil menggerakkan tangan kanannya, mengisyaratkan pada kesembilan anak buahnya untuk segera melakukan serbuan.
"Bagus! Majulah...!" tantang gadis cantik bercaping itu seraya menggerakkan pedangnya dengan jurus yang berbeda dibanding jurus yang biasa digunakan Mei Lie. Begitu juga dengan pedangnya, tidak mengeluarkan sinar merah kekuning-kuningan
sebagaimana Pedang Bidadari.
Dengan jurus 'Sambutan Sampar Kabut' gadis yang mengaku Mei Lie itu menyerang ke arah lawannya.
Kesembilan anggota Gerombolan Lowo Ireng serentak merangsek maju. Golok di tangan mereka bergerak cepat membabat dan menebas ke arah lawan.
Wut! "Hiat..!" Gadis cantik bercaping itu segera berkelit ke samping kanan, kemudian dengan gerak cepat tubuhnya berputar. Pedang di tangannya turut bergerak, membabat ke arah lawan.
Cras! "Aaa...!" "Aaakh...!" Dua orang anak buah Sarwono memekik. Dada mereka tersayat mata pedang gadis cantik itu. Mata keduanya membelalak dengan tubuh limbung ke belakang, kemudian ambruk dengan darah masih mengalir keluar.
"Bangsat! Kubunuh kau, Kuntilanak!" maki Sarwono marah. Dia turut melabrak gadis cantik yang mengaku-aku Mei Lie. Golok di tangannya bergerak membabat dengan jurus 'Simbar Nyawa'.
Wusss! Angin keras yang terasa panas menyengat keluar dari golok di tangan Sarwono, menyentakkan gadis cantik bercaping daun pandan itu.
"Uts! Bagus! Majulah sekalian! Hiaaat...!" Gadis cantik itu dengan cepat memutar pedangnya dengan jurus 'Pampas Gali Sandang', sebuah jurus yang cukup mengejutkan Sarwono. Karena jurus itu
begitu terkenal di rimba persilatan dan dimiliki oleh seorang pendekar pedang yang di masa jayanya sempat malang-melintang di rimba persilatan.
"Ada hubungan apa kau dengan Dewi Sandang, Perempuan Liar?!" tanya Sarwono seraya melompat mundur.
"Ha ha ha...! Rupanya kau kaget, Sarwono! Aku murid tunggalnya!" jawab gadis cantik berbadan ramping dengan bulu mata lentik itu.
"Kalau begitu, tentunya kau bukan Mei Lie!" sangkal Sarwono.
"Ha ha ha! Siapa pun aku, yang pasti kalian harus mampus!" dengus gadis cantik yang tak lain Sarah Dita itu. Matanya yang indah memandang garang ke arah Sarwono, laksana mata seekor harimau lapar.
"Hm, antara gerombolan kami dan Dewi Sandang tak ada permusuhan. Kami adalah teman baiknya. Mengapa pula kau memusuhi kami?!" tanya Sarwono masih belum mengerti, mengapa sikap murid Dewi Sandang yang juga kakak kandung guru mereka bermusuhan.
"Ha ha ha...! Ciut juga nyalimu Sarwono! Hm, baiklah. Aku sebenarnya datang ingin bertemu dengan paman guruku! Sekarang pulanglah, katakan pada guru kalian, kalau murid Dewi Sandang datang," perintah Sarah Dita sambil memasukkan pedangnya ke sarung.
"Baik! Kami akan segera pergi. Ayo anak-anak!" ajak Sarwono pada anak buahnya.
"Tunggu!" tahan Sarah Dita. "Ada apa lagi?" "Bagaimana dengan dua anak buahmu ini?" "Biarkan saja!" jawab Sarwono seraya melambai- kan tangan, memerintah anak buahnya untuk
meninggalkan tempat itu.
Sarah Dita tersenyum tipis. Lalu dengan sekali lompat, tubuhnya telah berada di atas kudanya yang langsung digebah. Dan segera melesat meninggalkan tempat itu, mengikuti arah Sarwono dan anak buahnya pergi.
Sarwono dan anak buahnya tampak lari ke dalam Hutan Warang Belang. Di sana berdiri bangunan megah yang dihiasi ukiran besar terbuat dari kayu bergambar kelelawar berwarna hitam. Ke tempat itulah Sarwono dan anak buahnya pergi, karena di situlah Guru dan Ketua Gerombolan Lowo Ireng berada.
Dalam ruangan lebar di tengah-tengah gedung besar itu, tampak dua lelaki duduk di atas kursi berukir yang terbuat dari gading. Keduanya memakai pakaian hitam-hitam panjang menyerupai jubah. Seorang lelaki tua berwajah garang duduk di sebelah kanan. Jenggot-nya panjang berwarna putih. Matanya yang lebar be-kilat merah. Kumisnya putih, menutupi mulutnya. Rambut putih lelaki tua itu terurai dengan ikat kepala berwarna hitam. Lelaki ini adalah guru dari Ketua Gerombolan Lowo Ireng. Namanya Daeng Ampra.
Daeng Ampra berasal dari tanah Sulawesi. Dia sengaja pergi ke tanah Jawa Dwipa untuk meng- hindari kejaran para pendekar aliran putih yang ber- maksud menangkapnya. Ketika di Andalas, dia pun menjadi pemimpin gerombolan yang sebagian anak buahnya ikut terlibat dalam Gerombolan Lowo Ireng sekarang ini.
"Hm, aku merasa bakal ada tamu, Selendra," kata Daeng Ampra bergumam, pada lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang duduk di sampingnya.
"Benar, Guru," sahut lelaki bertubuh kekar dengan jubah hitam. Matanya juga tajam. Alis matanya lebat. Cambang bauk dan kumis yang menghiasi wajah, menambah kegarangan penampilannya. Rambut lelaki ini masih hitam, terurai lepas dengan ikat kepala berwarna hitam pula. Dialah yang menjadi Ketua Gerombolan Lowo Ireng. Dia pula yang mewarisi semua ilmu yang dimiliki Daeng Ampra.
"Sepertinya ada tamu, Guru. Kupu kejer sejak tadi beterbangan dan hinggap di sini," tambah Selendra.
"Hm...," Daeng Ampra menggumam. Matanya yang tajam memandang lurus ke arah pintu masuk ruangan yang terbentang lebar dengan dua penjaga berdiri tegak. Di tangan kedua penjaga itu tergenggam tombak.
Saat itu dari luar masuk Sarwono dengan ketujuh anak buahnya yang segera menyembah.
"Ampun, Ketua. Kami menghadap," hatur Sarwono setelah menyembah.
"Hm.... Ada apa, Sarwono? Di mana kedua anak buahmu yang lain?" tanya Selendra.
"Ampun, Ketua. Dua anak buahku tewas," sahut Sarwono dengan kepala menunduk, takut kalau ketuanya akan marah.
Mata Ketua Gerombolan Lowo Ireng melotot, mendengar jawaban Sarwono. Dia bangun dari tempat duduknya.
"Apa?!" bentak Selendra murka. Matanya semakin menusuk ke arah Sarwono yang kian menundukkan kepala, tak berani mengadu pandang dengan pemimpinnya. "Siapa yang telah membunuh mereka?!" "Aku...!" Belum juga Sarwono menjawab, dari kejauhan
tiba-tiba terdengar sahutan seorang wanita.
Semua orang yang ada di bangunan milik Gerombolan Lowo Ireng tersentak, mendengar sahutan yang keras itu. Mereka serentak meng- alihkan pandangan keluar. Tampak sesosok tubuh ramping berpakaian serba putih dan bercaping daun pandan berdiri dengan tegap.
Ketua Gerombolan Lowo Ireng beserta gurunya seketika melangkah keluar, diikuti oleh Sarwono dan anak buahnya serta anak buah Selendra yang lain.
"Nisanak, siapa kau? Ada kepentingan apa hingga datang ke markas Lowo Ireng?" tanya Selendra dengan mata tajam memandang gadis cantik yang berdir sekitar sepuluh tombak dari pintu gerbang.
"Aku datang untuk menyampaikan amanat dari guruku!" sahut gadis cantik bercaping daun pandan yang tak lain Sarah Dita.
"Hm, siapa gurumu?!" kali ini Daeng Ampra yang bertanya.
"Dewi Sandang!" sahut Sarah Dita, menyentakkan Daeng Ampra.
"Dewi Sandang...? Hm, lama sekali aku tidak bertemu dengan gurumu, Bocah. Masuklah!" ajak Daeng Ampra. Kemudian tangannya bergerak, memerintah murid-muridnya agar menyingkir untuk memberi jalan gadis cantik itu.
Dengan tenang tanpa rasa takut di wajahnya, Sarah Dita melangkah masuk.
"Silakan," ajak Selendra mempersilakan tamunya agar terus masuk ke dalam.
"Terima kasih." Sarah Dita melangkah masuk, diiringi oleh Selendra dan Daeng Ampra. Ketiganya kemudian duduk di ruangan lebar, tempat Selendra dan Daeng
Ampra duduk tadi.
"Bocah, amanat apa yang gurumu sampaikan padaku?" tanya Daeng Ampra.
"Ini, Paman," ujar Sarah Dita seraya mengeluarkan surat dari gurunya, dan diberikan pada Daeng Ampra yang segera membacanya.
Daeng Ampra mengerutkan kening setelah membaca isi surat tersebut
"Hm.... Kami pun sudah mendengar kabar mengenai Dewi Kuan Im atau Bidadari Pencabut Nyawa," gumam Daeng Ampra seraya menghela napas panjang. Wajahnya nampak murung, mencerminkan kecemasan.
"Lalu, apa yang harus kulakukan, Paman?" tanya Sarah Dita.
Daeng Ampra menghela napas panjang-panjang. Matanya menatap lekat ke wajah gadis cantik di hadapannya. Seakan ingin membuktikan apa yang berada di dalam surat yang dikirim oleh saudara seperguruannya.
"Kau memang cocok sekali dengan tugas yang diberikan oleh gurumu, Bocah," kata Daeng Ampra sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Panggil saja aku dengan namaku, Paman," tukas Sarah Dita, yang merasa agak jengkel juga dipanggil bocah.
"Hm.... Baiklah Sarah Dita. Menurut gurumu, kau akan ditugaskan untuk mengacaukan orang-orang persilatan. Kau harus bisa memerankan Mei Lie dengan sebaik-baiknya. Namun yang patut kau ingat, bahwa sepak terjangmu harus bertentangan dengan Mei Lie atau Titisan Dewi Kuan Im. Kalau dia kini membuat orang-orang dari aliran kita kebingungan, kau harus bisa membuat para pendekar aliran putih
kebingungan. Paham...?"
"Paham, Paman." "Kedua. Dalam setiap sepak terjangmu, kau harus urus menggunakan nama Mei Lie. Setiap waktu kau bisa meminta bantuan Selendra dan gerombolannya yang akan selalu menyertaimu dari jauh," tutur Daeng Ampra.
"Aku mengerti," jawab Sarah Dita. "Bagus! Kini, orang-orang aliran putih akan kebingungan. Kemudian, mereka akan berpaling dan memihak pada kita. Ha ha ha...!" Daeng Ampra tertawa tergelak-gelak, disambut oleh yang lainnya.
"Tapi, Paman...." "Ada apa lagi, Sarah Dita?" tanya Daeng Ampra. "Bagaimana dengan Pendekar Gila?" "Kau takut?" tanya Daeng Ampra. Sarah Dita sejenak terdiam. Nama besar Pendekar Gila memang telah didengarnya, tapi wajah dan ketinggian ilmunya belum pernah dilihatnya.
"Tidak!" sahut Sarah Dita mantap, membuat Daeng Ampra kembali tersenyum.
"Bagus! Kurasa gurumu juga telah mempersiapkan ilmu yang tinggi, sebelum dia menugaskanmu," ucap Daeng Ampra. "Mengenai Pendekar Gila, biar nanti menjadi urusanku dan gurumu."
"Aku pun sebenarnya ingin menjajaki ilmunya, Guru," sambut Selendra.
"Itu lebih bagus. Kau dan anak buahmu, sebisanya memancing Pendekar Gila agar penyamaran Sarah Dita tidak terbuka, Selendra."
"Akan kuusahakan, Guru," jawab Selendra. Daeng Ampra mengangguk-angguk. Wajahnya yang semula murung, kini nampak berbinar puas. Sepertinya dia tidak merasa khawatir Pendekar Gila akan membongkar rahasia tentang dirinya. Kini murid dan kemenakan muridnya telah siap untuk meng- hadapi Pendekar Gila dan mengacaukan rimba persilatan. Dengan begitu, semua tokoh persilatan akan menuduh Mei Lie.
"Kini kalian mengemban tugas berat. Kuharap kalian berhati-hati," pesan Daeng Ampra meng- ingatkan. "Lawan-lawan yang akan kalian hadapi buka lawan sembarangan. Dan yang perlu kalian per- hitungkan adalah Pendekar Gila dan Mei Lie."
"Akan kami usahakan," sahut Sarah Dita dan Selendra serempak.
"Nah! Kini kalian berangkatlah. Ingat pesanku. Kau, Sarah Dita, harus bisa menjaga penyamaranmu. Dan kau, Selendra, sebisanya menarik perhatian Pendekar Gila agar tidak bisa dekat dengan Sarah Dita. Usahakan Sarah Dita jangan sampai bentrok dengan Mei Lie."
"Paman, kalau boleh saya tahu, apa ciri-ciri Pedang Bidadari yang berada di tangan Mei Lie?" tanya Sarah Dita. "Pedang itu mengeluarkan sinar merah kekuning- kuningan. Jika Mei Lie telah menguasai jurus pamungkas yang bernama 'Tebasan Pedang Batin', sulit bagi para pendekar pedang mengalahkannya. Untuk itu kalian harus berhati-hati," tutur Daeng Ampra menerangkan.
"Baik, Paman. Aku mohon pamit untuk men- jalankan tugas," kata Sarah Dita. Setelah memberi hormat, gadis cantik itu pun keluar meninggalkan markas gerombolan Lowo Ireng.
Sepeninggal Sarah Dita, Daeng Ampra tampak masih bercakap-cakap dengan murid tunggalnya yang memimpin Gerombolan Lowo Ireng.
"Selendra, kau harus bisa membantu Sarah Dita. Kerahkan anak buahmu. Namun kau mesti ingat, tujuan kita yang utama adalah mempersatukan tokoh rimba hitam di tanah Jawa Dwipa ini, agar keberadaan kita semakin kuat," kata Daeng Ampra.
"Saya mengerti, Guru." "Setelah Sarah Dita menjalankan tugasnya, panggil para tokoh rimba hitam kemari," lanjut Daeng Ampra memerintah. "Setelah mereka tunduk pada kita, maka gerombolan kita akan semakin jaya. Tak akan ada yang mampu menandingi Gerombolan Lowo Ireng."
Selendra tersenyum senang. Dadanya dibusung- kan. Dia merasa bangga atas ucapan gurunya. Bagaimanapun juga, dialah Ketua Gerombolan Lowo Ireng. Maka, jika Gerombolan Lowo Ireng maju dan menjadi partai yang paling besar, namanyalah yang akan di kenal.
Pendekar Gila harus disingkirkan! Tekad Selendra dalam hati.
"Selendra." "Saya, Guru," sahut Selendra. "Aturlah anak buahmu. Biar mereka bekerja seperti biasanya. Sementara itu, bawalah be berapa anak buahmu untuk memancing Pendekar Gila."
"Baik, Guru." Setelah menyembah, Selendra pun bergegas me- ninggalkan tempat itu untuk menjalankan rencana- nya. Sedangkan Daeng Ampra kini melangkah meninggalkan tempat itu, masuk ke kamar tempatnya biasa melakukan semadi.
***

4
Suasana di Desa Landung Sari malam ini terlihat sepi. Angin yang berhembus terasa dingin. Padahal pada malam-malam biasa masih ada beberapa orang hilir- mudik di desa yang menjadi persinggahan para pelancong itu. Paling tidak, untuk menikmati keindahan panorama pesisir pantai di malam hari yang dekat dengan Desa Landung Sari. Namun malam ini desa tersebut terlihat lengang. Penduduk- nya sudah terlelap alam buaian mimpi.
Sejak kehadiran pendekar wanita yang diberi gelar Bidadari Pencabut Nyawa, warga Desa Landung Sari merasa tenang. Karena para bajingan, perampok, atau penyamun yang biasanya menjarah desa mereka, kini agak menghilang. Nampaknya mereka takut oleh kediran Bidadari Pencabut Nyawa yang sepak terjangnya senantiasa memusuhi orang-orang aliran sesat.
Saat ketenangan menyelimuti Desa Landung Sari, dari ujung desa tiba-tiba terdengar jerit kematian yang menyayat dan riuh rendah teriakan panik.
"Aaa...!" "Tolong, rampok...!" Penduduk Desa Landung Sari yang tengah ter- hanyut mimpi seketika bangun. Mereka tersentak kaget, tak menyangka kalau penyamun akan kembali hadir, menjarah desa mereka.
"Rampok! Tolong...!" Tong, tong, tong...!
Suara kentongan tanda bahaya terdengar saling sahut-menyahut. Saat itu pula warga Desa Landung Sari dengan senjata seadanya bergegas keluar. Mereka memburu ke arah datangnya jeritan
"Itu rampoknya! Tangkap...!" seru lelaki bertubuh gemuk dengan kumis melintang. Matanya kelihatan garang. Wajahnya bulat dengan hidung besar. Dan berpakaian kuning keemasan, menunjukkan kalau dia orang berada. Rambutnya tidak terlalu panjang, terurai lepas sebatas bahu. Di tangan lelaki itu tergenggam keris yang telah terhunus. Dialah Ki Marta Pari, Kepala Desa Landung Sari.
Di sampingnya, berdiri seorang lelaki ber- perawakan tinggi kekar. Kumis melintang, hidung besar serta mata tajam. Ikat kepalanya berwarna hitam, berpakaian lengan panjang tanpa leher ber- warna hitam dan putih seperti pakaian orang Madura. Dia adalah Ki Capir Sumpit, pengawal Ki Marta Pari.
"Tangkap perampok-perampok itu!" seru Ki Capir Sumpit seraya berkelebat mengejar para perampok yang menjarah desa.
Ki Capir Sumpit segera merangsek ke arah para perampok, mendahului kepala desanya, untuk mem- bantu penduduk yang sedang bertarung menghadapi perampok yang berjumlah dua puluh orang itu.
Warga Desa Landung Sari yang tidak suka desanya dijarah, dengan nekat menyerang para perampok yang berpakaian hitam. Wajah mereka juga ditutupi kain hitam. Hanya terlihat dua lubang di bagian mata mereka.
Melihat penduduk Desa Landung Sari dan kepala desanya menyerbu, para perampok yang tak lain Gerombolan Lowo Ireng itu dengan sigap menyambutinya. Maka, pertarungan pun tak dapat dielakkan.
"Bantai mereka!" seru Ki Marta Pari. "Hadang mereka...!" seru pemimpin perampok sambil berkelebat menghadang Ki Marta Pari. "Menyerahlah, Ki! Berikan semua harta yang ada di desamu pada kami!"
"Huh, jangan kira aku takut padamu. Meski namamu lebih menakutkan dari hantu, Marta Pati tak akan gentar!" dengus Ki Marta Pari dengan lantang. Matanya yang lebar, memandang penuh kebencian ke arah sosok hitam di depannya.
"Ha ha ha...! Perutmu buncit. Bagaimana kau akan bisa menghadapiku?!" ejek pemimpin perampok yang bernama Sengkolo.
Di dalam Gerombolan Lowo Ireng, terdapat sepuluh orang yang memimpin bagian-bagian gerombolan yang tersebar di seluruh tanah Jawa Dwipa. Kesepuluh pemimpin itu antara lain, Sarwono, memimpin begal-begal di hutan dekat markas mereka. Sengkolo, memimpin para perampok yang bertugas di daerah timur, dan kini menjarah Desa Landung Sari. Samilun, memimpin barisan laut atau sering disebut Bajak Laut selat Madura. Kane-kane, seorang wanita yang memimpin di kotaraja.
Sedangkan yang kelima sampai kesepuluh, semuanya bertugas menjadi pemimpin yang meng- awasi keadaan dunia persilatan. Namun setiap waktu mereka bisa diperbantukan pada keempat pemimpin lain yang membutuhkan.
Keenam pemimpin itu adalah, Segatra, Prabasu, Mantraka, Krada, Bradalupa dan Damar Wangis. Sama dengan yang lainnya, mereka pun berwatak kasar dan bengis. Tak pernah ada kata ampun bagi lawan atau korbannya.
Mendengar ejekan Sengkolo, kemarahan Ki Marta Pari berkobar seketika. Dengan mendengus, lelaki gemuk itu segera meluruk maju. Keris di tangannya bergerak menusuk ke dada lawan dengan jurus 'Sampar Grana'.
"Tembus dadamu, Iblis! Hiaaat..!" "Uts! Belum, Kerbau Dungu!" ledek Sengkolo sambil berkelit mengelakkan serangan yang dilancar- kan Ki Marta Pari.
Kemudian dengan cepat Sengkolo balas menyerang. Tangan kirinya memukul ke arah pundak lawan. Sedangkan golok di tangan kanannya me- nebas leher lawan.
"Putus lehermu!" Wut! Ki Marta Pari terkesiap, merasakan desingan angin yang keluar dari tebasan golok di tangan lawan. Cepat-cepat Ki Marta Pari bergerak mengelit ke samping dengan tubuh agak dirundukkan. Lalu dengan cepat, kerisnya ditusukkan ke perut lawan. Sementara itu tangan kirinya bergerak memukul ke selangkangan lawan dengan jurus 'Tapak Getih'.
Kali ini Sengkolo yang tersentak kaget, menyaksi- kan jurus lawan yang dahsyat. Dari angin pukulannya saja, tergambar bagaimana kekuatan pukulan yang terasa panas menyengat, memaksa tubuh Sengkolo untuk segera mencelat ke belakang.
"Hm.... Rupanya kau mencari mampus, Kerbau Dungu! Baik, bersiaplah untuk mampus!" geram Sengkolo. Dalam keadaan masih memasang kuda-kuda Sengkolo memasukkan golok ke sarungnya, lalu tangannya disatukan di depan wajah. Setelah itu, telapak tangan kiri dan kanan digesekkan satu sama lain. Wusss!
Telapak tangan Sengkolo mengepulkan asap hitam. Bersamaan dengan itu, tangannya menghitam bagai arang. Itulah ajian yang dimiliki pemimpin wilayah Gerombolan Lowo Ireng. Ajian sesat itu bernama 'Warangga Geni'.
"Hiaaat..!" "Yaaat..!" Baik Ki Marta Pari maupun Sengkolo kini telah mengeluarkan ajian tingkat tinggi. Ki Marta Pari dengan 'Tapak Getih'nya, sedangkan Sengkolo dengan 'Warangga Geni'nya.
Tubuh keduanya mencelat cepat ke udara dengan tangan siap melontarkan pukulan masing-masing. Jarak mereka bertambah dekat. Ketika bentrokan dahsyat akan terjadi, tiba-tiba sebuah bayangan putih bergerak membabatkan pedang yang berwarna merah kekuning-kuningan ke arah Sengkolo yang tersentak dan berkelit di udara.
Wut! Di udara malam yang gelap dan menusuk rulang, sinar itu membentuk garis terang pada saat bayangan putih tadi membabatkan pedangnya. Jelas itu sangat mengejutkan kedua lelaki yang sedang bertempur.
Saat kedua kaki lelaki itu menjejak tanah, telah berdiri dengan gagah seorang gadis cantik ber- pakaian putih dengan dua gelung rambut di atas kepalanya. Bola mata gadis itu bening, namun pandangannya tajam, menatap penuh kebengisan kepada Sengkolo.
"Siapa kau?! Mengapa kau ikut campur urusan- ku?!" bentak Sengkolo memberanikan diri, meski dia telah tahu siapa sebenarnya gadis Cina yang sepak terjangnya membuat tokoh-tokoh rimba hitam agak kewalahan.
"Hhh...!" dengus gadis cantik yang tak lain Mei Lie itu. Matanya menatap penuh kebencian pada Sengkolo. "Selama aku masih hidup, tak aka kubiarkan orang-orang sepertimu berlaku sewenang- wenang."
Sengkolo terbeliak. Dia memang telah memahami benar siapa gadis Cina itu, yang diberi gelar oleh orang-orang persilatan sebagai Bidadari Pencabut Nyawa. Sebuah gelar yang menyeramkan bagi tokoh persilatan golongan hitam termasuk Sengkolo.
"Kaukah Mei Lie?!" "Ya!" "Bagus! Pucuk dicinta ulam tiba! Kami memang sengaja mencarimu!"
Mei Lie tersenyum sinis, mendengar ucapan Sengkolo. Matanya masih menatap tajam ke arah Sengkolo. Kemudian kepalanya ditolehkan ke belakang, ke arah Ki Marta Pari.
"Ini urusanku, Ki. Bantulah wargamu memberantas Gerombolan Lowo Ireng yang hendak menjarah harta penduduk," pinta Mei Lie.
"Ba... baik, Nyi Pendekar." Sengkolo tertawa terbahak-bahak, berusaha menutupi rasa gentarnya menghadapi Mei Lie. Bagai- manapun juga, dia tidak boleh menunjukkan rasa takut pada gadis itu, meski julukan gadis Cina di hadapannya bukan nama kosong. Buktinya Tiga Setan Rambut Api dapat ditumpas seperti me- musnahkan alang-alang
"Tak kusangka Bidadari Pencabut Nyawa ini masih bocah bau kecur. Hm.... Kuharap kau berpikir seribu kali untuk berhadapan denganku!" kata Sengkolo,
masih berusaha menenangkan hatinya, menghilang- kan rasa takut yang berdenyut-denyut di dadanya.
"Hm.... Untuk iblis sepertimu, untuk apa aku harus berpikir?" sergah Mei Lie dengan nada mencemooh.
"Bedebah! Rupanya kau menganggap Gerombolan Lowo Ireng tak ada artinya, Bocah!" hardik Sengkolo marah. Gigi-giginya bergemeletuk keras. Walau begitu, dia masih belum mau menyerang. Bagai- manapun juga, Sengkolo harus berpikir dulu untuk menghadapi Bidadari Pencabut Nyawa.
"Sama sekali tak ada. Bahkan Gerombolan Lowo Ireng tak lebih dari sekumpulan anjing-anjing kurap yang mengotori dunia!" sahut Mei Lie dengan senyum sinis melekat di bibirnya.
"Bedebah! Kulumat tubuhmu! Heaaa...!" Dengan nekat, akhirnya Sengkolo merangsek maju. Tangannya dengan cepat menarik golok yang tadi berada di sarungnya.
Srrrt! Dengan jurus 'Lowo Ireng Merentang Sayap Menyambar Mangsa', Sengkolo melabrak. Tangannya membentang lebar, tubuhnya melayang laksana terbang. Kemudian dengan cepat tangannya ber- gerak. Tangan kanan membacokkan golok ke kepala Mei Lie, sedangkan yang kiri menghantam dengan pukulan sakti 'Warangga Geni'.
"Hiaaat..!"
***

Melihat lawan telah melesat menyerang, Mei Lie segera menggeser kaki kanan agak membuka. Ditekuknya kaki kanan membentuk siku. Tangan kiri digerakkan ke atas, lalu ditarik ke bawah dan
dilecutkan di depan dada. Sedangkan Pedang Bidadari di tangannya disabetkankan miring ke samping, lalu ditarik lurus di depan dada. Kemudian, dilanjutkan dengan gerakan memutar di depan tubuh. Disambung lagi lengan gerakan berbareng antara pukulan tangan kiri dan tebasan pedang.
"Heaaa...!" Dengan jurus 'Tebasan Bidadari Menusuk Gunung Karang', Mei Lie memapaki serangan lawan. Pedang Bidadari di tangannya bergerak cepat, memburu tubuh lawan. "Yiaaat...!" Trang! Plak! "Ukh!" Sengkolo mengeluh. Cepat-cepat tubuhnya dilontarkan ke belakang, menghindar dari tusukan pedang lawan yang cepat dan garang. Golok di tangannya telah patah menjadi tiga bagian, terbabat Pedang Bidadari di tangan Mei Lie.
Mata Sengkolo membelalak. Baru kali ini disaksi- kannya jurus pedang yang sangat cepat dan me- matikan. Rasanya selama ini belum ada pendekar pedang yang mampu melakukan gerakan menyerang dengan begitu cepat dan keras.
"Kurang ajar!" maki Sengkolo marah, mendapatkan kenyataan kalau ilmu lawan ternyata berada sampai tiga tingkat di atasnya. Namun begitu, sebagai pemimpin dari salah satu Gerombolan Lowo Ireng, dia tidak boleh menunjukkan rasa takut meski lawan yang dihadapinya sangat tangguh.
"Hm, itu baru golokmu, Iblis! Kini giliran nyawamu...!" dengus Mei Lie, disusul oleh gerakan pedang yang mengeluarkan sinar merah kekuning- kuningan. Membuat keadaan di sekitar tempat itu menjadi terang.
"Bangsat! Jangan harap kau mampu membunuh- ku! Hiaaat..!" Sengkolo dengan nekat kembali menyerang. Pukulan sakti yang dimilikinya dikerahkan habis-habisan. Tangannya kini berubah hitam pekat
Menyaksikan lawan kembali merangsek, Mei Li secepat kilat memapakinya dengan jurus 'Pukulan Bidadari Menjebol Benteng'.
"Yiaaat..!" Tubuh Mei Lie melayang deras dengan tangan kiri menggenggam, memukul lurus ke arah lawan. Sedangkan pedang di tangan kanannya membersit ke arah lawan. Matanya terpejam dan gerakan pedang- nya nampak aneh. Terlihat pelan dan lambat, namun sesungguhnya gerakan itu mengandung kekuatan yang besar. Itulah jurus 'Pedang Tebasan Batin', jurus pamungkas yang sangat dahsyat.
Sengkolo yang sudah mata gelap tak meng- hiraukan apa yang akan terjadi. Dia berkeyakinan kalau pukulan saktinya akan mampu meremukkan tubuh lawan. Tubuhnya masih melesat cepat, dengan tangan bergerak bergantian ke wajah.
"Hiaaat..!" "Heaaa...!" Wut! Srrt! "Ukh!" Dari mulut Sengkolo terdengar jerit tertahan ketika pedang di tangan Mei Lie membabat tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri Mei Lie yang berisi pukulan 'Bidadari Menjebol Benteng' menghantam telak dadanya.
Begk! "Ngk! Uhk...!"
Tubuh Sengkolo teriungkir ke belakang. Dia ber- usaha bangkit dengan sempoyongan. Tangan kanan- nya yang terbabat, terlihat masih utuh, seakan tak terkena babatan pedang lawan. Darah meleleh dari sela-sela bibirnya.
Mei Lie terdiam sesaat, mengatur pernapasan setelah mengerahkan tenaga dalam. Matanya memandang Sengkolo yang kelihatan pucat, dengan kening berkerut Sengkolo tak mengerti mengapa tangannya masih utuh. Padahal tadi dilihatnya ter- babat pedang lawan.
Merasa tidak mengalami apa-apa, Sengkolo hendak menyerang kembali. Namun baru saja kakinya melangkah setindak, tiba-tiba tangan kanan- nya berhamburan menjadi debu. Tanpa darah setetes pun. "Aaa.... Tidak...!" pekik Sengkolo histeris. Matanya membesar nyaris keluar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mei Lie tersenyum sinis. "Itu baru tanganmu, Iblis! Kini bersiaplah, nyawamu akan segera kukirim ke neraka!" ancam Mei Lie. Lalu dengan cepat, pedangnya digerakkan kembali.
Sengkolo yang kini nyalinya ciut, semakin ketakutan. Dia telah merasakan bagaimana kehebatan ilmu pedang lawan. Dia bermaksud lari, namun dengan cepat Mei Lie telah menghadangnya.
"Mau ke mana, iblis?!" "Oh, tidak! Ampunilah nyawaku. Jangan bunuh aku," ratap Sengkolo sambil menangis, mengharap Mei Lie mau mengampuninya.
Mei Lie terdiam. Matanya masih memandang tajam pada Sengkolo yang meratap tersedu-sedu, mengharap ampunannya.
"Baik, kali ini kuampuni. Sekarang pergilah!" bentak Mei Lie.
Sengkolo menurut, dia bangun dari sujudnya. Namun ketika Mei Lie lengah, dengan licik Sengkolo melepaskan pukulan saktinya ke arah Mei Lie.
"Mampuslah kau, hiaaat...!" Mei Lie yang sudah menduga tabiat lelaki tinggi besar yang sekujur tubuhnya tertutup oleh kain hitam itu dengan cepat membuang tubuh ke samping dan bersalto beberapa kali. Dengan cepat pedangnya dibabatkan ke arah lawan.
"Rupanya kau harus mampus, Iblis! Heaaa...!" Wut! Srrrt! "Aaa...! Sengkolo kembali memekik, ketika pedang di tangan Mei Lie menebas tangan kirinya. Dan seperti kejadian sebelumnya, tangan kirinya bagai tak terkena apa-apa. Namun ketika angin bertiup, tangan kirinya tiba-tiba hancur jadi debu!
Belum juga habis kengerian Sengkolo, Mei Lie kembali menyabetkan pedangnya secara menyilang, dan menebas tubuh Sengkolo.
Wut, wut..! "Wuaaa...!" Sengkolo menjerit dalam satu lengkingan panjang yang menggiriskan. Matanya membeliak. Sesaat dia mematung di tempat itu, kemudian tubuhnya lebur jadi debu.
Menyaksikan pemimpinnya hancur jadi debu, anak buah Sengkolo kocar-kacir seperti anak ayam kehilangan induk. Mereka kini semakin terdesak.
Penduduk Desa Landung Sari yang melihat gelagat baik itu, tak menyia-nyiakannya. Dipimpin oleh Ki Capir Sumpit yang menjadi tangan kanan Ki Marta Pati, mereka menggasak sisa-sisa Gerombolan Lowo Ireng.
"Habisi mereka...!" seru Ki Marta Pari. "Ayo, jangan biarkan mereka hidup!" sambung Ki Capir Sumpit sambil berkelebat memimpin penduduk yang segera menyertainya melakukan serangan ter- hadap sisa-sisa Gerombolan Lowo Ireng.
Suara-suara marah berhambur dari mulut penduduk Desa Landung Sari.
Sisa-sisa Gerombolan Lowo Ireng semakin ketakutan menghadapi amarah penduduk. Terlebih di situ ada Bidadari Pencabut Nyawa. Penduduk desa yang kalap, dengan ganas membabat sisa-sisa Gerombolan Lowo Ireng.
Mei Lie yang menyaksikan kejadian itu hanya menghela napas. Sebelum semua penduduk meng- hentikan pelampiasan amarahnya terhadap sisa-sisa Gerombolan Lowo Ireng, Mei Lie telah melesat pergi.
***

5
Nama Bidadari Pencabut Nyawa semakin tersohor, setelah Gerombolan Lowo Ireng yang menjarah Desa Landung Sari dapat ditumpas. Malah pemimpin gerombolan itu hilang tak berbekas, seakan raib ditelan bumi. Hanya penduduk Desa Landung Sari saja yang tahu, kalau pemimpin Gerombolan Lowo Ireng itu musnah menjadi debu, tertebas Pedang Bidadari di tangan Bidadari Pencabut Nyawa.
Angin pagi bertiup semilir, diiringi sinar mentari yang bergerak lamban di kaki langit sebelah timur. Desau angin lembut, senandung burung dan kokok ayam jantan, menyatu dalam satu irama tertentu.
Dari kejauhan di dalam Hutan Selo Kamal terdengar suara nyanyian merdu. Nyanyian itu diselingi tiupan suling yang mendayu, seperti menikmati indahnya pagi.
Samar-samar di kejauhan, tampak seorang pemuda tampan dengan suling emas berkepala naga di tangannya, tengah melangkah sambil bernyanyi. Pakaian pemuda itu terbuat dari kulit ular sanca. Begitu juga ikat kepalanya.
Pemuda tampan yang tengah bernyanyi-nyanyi sambil meniup suling itu, tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila. Didengar dari syair lagunya, tampak- nya Sena tengah merasakan kerinduan pada seorang gadis yang dicintainya. Dan tentunya gadis itu adalah Mei Lie.
Duh, alam yang indah Di mana mentari senantiasa hadir Mengusir embun yang dingin Telah jauh kakiku melangkah Tuk mencari permata hati Namun sejauh ini Belum juga kutemui....
Setelah berdendang, Sena pun duduk di sebatang pohon yang tumbang. Suling Naga Sakti diselipkan pada ikat pinggangnya. Kemudian dengan tertawa- tawa, kepalanya digaruk sambil menatap burung- burung yang bernyanyi riang.
"Hi hi hi...! Kau begitu gembira, Burung! Aha, kau meledekku. Tak apa. Kuakui memang aku sedang bingung...," kata Sena berbicara seorang diri. "Aha, tentunya kau yang bisa terbang tahu di mana kini Mei Lie berada, Burung?"
"Cit, ciiit...!" Sena melompat-lompat sambil tertawa-tawa mendengar suara burung mencuit.
"Aha, rupanya kau tahu. Di mana dia, Burung Cantik?"
"Cuit, cuit..!" Sena mengangguk-angguk sambil cengengesan. Lalu dengan tetap tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepala, Sena bangkit dari duduknya. Wajahnya menengadah ke langit ketika burung- burung pemakan bangkai beterbangan dengan pekikan yang keras.
"Oh, ada apa dengan burung-burung itu? Bukankah mereka burung pemakan bangkai?" gumam Sena dengan kening berkerut .
Dengan mulut masih cengengesan Sena kembali duduk. Matanya beredar ke sekeliling tempat ya ditumbuhi pepohonan hijau menggapai cakrawala.
Kresek! Bibir Sena tersenyum ketika telinganya menangkap suara kaki menginjak daun kering. Dengan acuh sambil tersenyum-senyum, dia bersila. Tangan kanannya menopang dagu seperti sedang merenung.
"Hi hi hi...! Rupanya ada juga tikus yang ber- sembunyi," ucap Sena tenang. Matanya memandang redup dan mulutnya masih cengengesan. Sedangka tangan kirinya menepuk-nepuk paha.
Swing, swing...! Tiba-tiba puluhan senjata rahasia melesat ke arah Sena yang masih duduk bersila.
"Aha! Ada juga tikus yang pandai bercanda!" Sena sambil berjumpalitan di udara. Bersamaan dengan itu, segera dihantamkannya pukulan 'Inti Bayu' ke arah senjata rahasia yang meluncur ke arahnya. "Hi hi hi..! Ini mainan kalian kukembalikan!" Wusss! Swing, swing...! Crab, Crab...! "Aaakh...!" Dari balik semak-semak yang jaraknya sekitar lima belas tombak terdengar jeritan kematian. Kemudian tampak lima orang dengan wajah ditutupi kain hitam meregang. Di leher mereka tertancap lima buah senjata rahasia yang tentunya milik mereka. Kemudian tubuh mereka ambruk dengan nyawa melayang.
"Ha ha ha...! Lucu sekali! Lucu...!" seru Sena sambil berjingkrak-jingkrak seperti kera kegirangan.
"Kurang ajar! Serang dia...!" Dari balik semak-semak, terdengar perintah
seseorang untuk menyerang. Bersamaan dengan itu, muncul puluhan orang-orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup kain hitam. Mereka langsung mengurung Sena yang masih tertawa-tawa sambil melompat-lompat seperti kera.
"Ha ha ha...! Monyet-monyet hitam! Ha ha ha...!" "Bedebah! Bunuh dia...!" seru pemimpin orang- orang berpakaian serba hitam yang segera dipatuhi anak buahnya.
"Hiaaat...!" "Wadauw! Mengapa ganas sekali?!" tanya Sena, sambil memegangi kepalanya. Tubuhnya bergerak meliuk-liuk, mengelakkan serangan lawan.
"Pecah kepalamu, Pemuda Edan!" bentak pemimpin para penyerang sambil menebaskan golok- nya ke kepala Sena.
"Wadauw, aku tidak mau!" teriak Sena sambil meliukkan tubuhnya dengan kaki agak merentang.
Dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' Sena mementahkan serangan yang datang ke arahnya. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari, dan sesekali tangannya bergerak seperti menepuk.
"Hi hi hi...! Rasakan kue apemku! Nih...!" Tangan Sena menepuk ke dada seorang lawan yang menyerang ke arahnya. Tubuhnya masih meliuk- liuk, serta sedikit membungkuk.
Degk! "Wuaaa...!" Orang yang terkena tepukan Pendekar Gila seketika memekik. Tubuhnya terdorong kuat ke belakang, melayang laksana terbang. Tubuh orang itu baru berhenti, ketika menabrak sebatang pohon yang cukup besar.
Brak!
"Aaakh!" Orang itu menjerit. Kain penutup kepalanya bersimbah darah. Tentunya kepala orang itu pecah akibat benturan keras dengan pohon besar tadi.
Hutan yang semula tenang dan asri, seketika riuh dan porak-poranda. Banyak pohon yang tumbang oleh hantaman pukulan mereka. Rumput-rumput yang mulanya segar, kini banyak yang layu terinjak-injak. Hewan-hewan hutan seketika berserabutan ketakutan.
"Hi hi hi...! Siapa lagi yang mau kue apem...?'" tanya Sena sambil bergerak seperti seekor kera. Tangan kirinya menepuk-nepuk pantat. Tubuhnya masih meliuk-liuk laksana menari, mengelakkan serangan lawan.
"Kurang ajar! Bunuh dia...!" seru pemimpin orang- orang berpakain serba hitam yang tentunya dari Gerombolan Lowo Ireng. Tubuh pemimpin gerombolan itu tidak terlalu besar. Suaranya juga bukan suara lelaki. Tentunya dia Kane-kane, wanita yang memimpin Gerombolan Lowo Ireng di kotapraja.
"Cincang dia!" sambut anak buahnya. Serentak mereka kembali menyerang dengan membabatkan golok di tangan masing-masing. Namun dengan cepat Sena kembali bergerak mengelak. Kedua kakinya digeser dengan cepat. Tubuhnya dibungkukkan ke bawah.
"Wah! Ganas sekali tikus betina ini?" ucap Sena sambil terus bergerak mengelak. Pantatnya sengaja ditunggingkan ke arah Kane-kane, yang membuat wanita dari Gerombolan Lowo Ireng itu bertambah marah.
"Haiiit..!" Kane-kane membabatkan goloknya ke pantat
Sena.
"Wadauw! Jangan, Nyi! Pantatku bisulan! Hi hi hi...!" Sambil ber kata begitu, Sena kembali mengelak cepat. Kemudian tangannya menepuk dua orang yang berada di depan dan sampingnya.
Degk! "Wuaaa...!" "Aaa...!" Dua orang korban sasaran pukulan Pendekar Gila memekik. Tubuh mereka terpental deras ke belakang seperti dua batang ranting kering. Lalu menghantam pohon disertai pekikan kematian. Kemudian tubuh keduanya ambruk dengan napas putus.
"Bangsat...! Minggir! Biar kuhadapi dia!" seru Kane- kane kalap, merasa lawannya terlalu berbahaya untuk dihadapi anak buahnya. Bisa habis satu persatu anak buahnya di tangan pemuda tampan yang bertingkah seperti orang gila itu.
Setelah anak buahnya mundur teratur, dengan cepat Kane-kane melabrak maju. Matanya yang nampak dari lubang di kain penutup wajahnya, melotot garang pada Sena yang masih cengar-cengir.
"Kaukah yang berjuluk Pendekar Gila?!" bentak Kane-kane.
"Hi hi hi...! Dari mana kau tahu, Tikus Betina? Ha ha ha...!" Sena tertawa terbahak-bahak dengan tubuh berjingkrakan seperti kera. Tangannya menggaruk- garuk kepala.
"Namamu cukup kondang, Pendekar Gila! Hm, aku datang untuk menantangmu!"
Sena kembali tertawa terbahak-bahak. "Lucu sekali! Lucu sekali omonganmu, Tikus Betina. Mengapa kau menantangku?" tanya Sena masih bergerak-gerik seperti kera. "Karena kau penghalang kami!" "Oh, kurasa kalau kalian bermaksud baik, aku tak akan menghalanginya. Ah ah ah.... Tentunya maksud kalian jahat. Apalagi kalian menutup muka. Hi hi hi. Atau kalian tak punya hidung?!" ledek Sena yang membuat Kane-kane semakin membelalak garang.
"Bedebah! Apa pun yang akan kami lakukan, urusan kami! Kau memang harus disingkirkan, karena kau penghalang utama. Nah, bersiaplah!" bentak Kane-kane sengit
Sena menggaruk-garuk kepala dengan mulut cengengesan.
"Aha, kalau memang itu maumu, baiklah. Aku akan melayanimu." "Hiaaat...!" Kane-kane segera melompat dengan terkaman tangan yang membentuk cakaran. Dengan jurus 'Kelelawar Menyambar Serangga' Kane-kane menyerang. Tangannya bergerak menyilang, lalu men- cengkeram lurus ke arah Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Lucu sekali gerakanmu, Nyi." Sena segera menundukkan kepala, lalu dengan cepat tubuhnya bergerak mengelak sambil berguling. Kakinya menendang ke atas, di mana tubuh Kai kane berada.
"Hi hi hi...! Ini tendangan kuda binal, Nyi!" Kane-kane tersentak kaget mendapatkan serangan yang tiba-tiba itu. Bergegas serangannya berusaha ditarik. Tapi tubuhnya yang sudah melayang sangat sulit untuk dibalikkan ke belakang. Sehingga...
Degk! "Hukh!" Tubuh Kane-kane terlontar ke depan, lalu tersuruk
mencium tanah.
"Ha ha ha...! Mengapa kau mencium tanah, Nyi?" tanya Sena sambil tertawa tergelak-gelak. Tangannya menepuk-nepuk pantat dan menggaruk-garuk kepala sambil melompat-lompat kegirangan. Hal itu mem- buat Kane-kane semakin marah.
"Kurang ajar! Bunuh monyet gila itu!" perintah Kane-kane pada anak buahnya yang langsung bergerak mengurung Pendekar Gila yang masih melompat-lompat seperti kera.
"Heaaa...!" "Cincang tubuhnya!" seru Kane-kane bertambah murka, menyaksikan tingkah Pendekar Gila yang kian menjengkelkan. "Hiaaa...!" "Yeaaah...!" Anak buah Kane-kane langsung menyerbu dengan babatan dan tusukan golok ke tubuh Sena. Mereka nempaknya bernafsu sekali untuk segera menghabisi nyawa pemuda berpakaian rompi kulit ular itu.
Melihat lawan kembali mengeroyok, Pendekar Gila bukannya takut, malah tingkahnya kian menggila. Dengan berjingkrak-jingkrak seperti kera, Sena mengelakkan serangan-serangan lawannya. Tubuh- nya meliuk-liuk bagai sedang menari. Kemudian tangannya bergerak ke beberapa jurusan, meng- hantam dengan tepukan-tepukan yang kelihatannya pelan ke dada lawan.
"Hea...!" Plak! "Wuaaa...!" Satu orang lagi terkena hantaman tepukan tangan Pendekar Gila. Seperti tiga temannya, tubuh orang ini pun melayang jauh ke belakang. Dan baru berhenti
ketika membentur pohon dengan kepala pecah.
Pendekar Gila yang sudah tahu kalau mereka adalah para bajingan, kini tak mau diam dan membiarkan mereka lolos. Tubuhnya bergerak cepat, meliuk dan menepuk dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' disusul dengan jurus yang semakin membuat lawan-lawannya bertambah kalang-kabut Jurus 'Si Gila Menyapu Kabut'.
Wusss...! Dari kedua telapak tangan Pendekar Gila keluar angin deras menghantam ke arah lawan. Para pengeroyoknya seketika terdorong keras. Bahkan pakaian Kane-kane terlepas. Tubuhnya kini tak tertutup sehelai benang pun. Ternyata dia seorang wanita muda yang cantik dengan rambut terurai lepas. Hidungnya bangir dan bibirnya tipis. Hal itu membuat Sena mengerutkan kening sesaat. Tak menyangka kalau gadis secantik Kane-kane ter- jerumus dalam kegelapan dunia hitam.
"Aha, rupanya tikus betina ini cantik?" gumam Sena. "Sayang sekali tindakannya telengas."
Kane-kane kelabakan menutupi auratnya dengan kedua tangan. Wajahnya merah terbakar karena malu Dia kini tak dapat berbuat banyak. Pilihan yang dimilikinya hanya pergi meninggalkan tempat itu sambil meneriakkan ancaman.
"Pendekar Gila! Kali ini aku kalah! Namun kelak, aku akan kembali membuat perhitungan denganmu!" Sena hanya menggeleng sambil tersenyum. Lalu melangkah meninggalkan Hutan Selo Kamal.
***

Hutan Gandring nampak damai dan asri, dengan barisan pohon menghijau dan subur. Burung-burung berkicau dengan riang. Terasa damai suasana di Hutan Gandring siang itu. Angin bertiup dengan alunan yang membuat mata ngantuk.
Hutan yang indah dan asri, seketika berubah mendadak. Banyak pepohonan yang rusak. Kicau burung tidak terdengar lagi. Rumput banyak yang layu. Kedamaian hutan itu terpecah oleh suara teriakan-teriakan orang yang tengah bertarung.
Dua orang lelaki berpakaian pendekar berwarna jingga nampak tengah bertarung menghadapi wanita bercaping daun pandan dengan pakaian putih seperti pakaian gadis Cina. Kedua lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu bertubuh tinggi dan kekar. Wajah mereka tampan dengan kumis tipis menghiasi atas bibirnya.
Kedua lelaki itu bernama Gupala dan Gupali. Mereka berasal dari Perguruan Semeru. Rambut mereka agak ikal terurai panjang, berikat kepala jingga pula. Hidung mereka mancung dengan mata tajam laksana mata seekor elang.
"Mei Lie, antara kita tak ada sangkut paut apa-apa, mengapa tiba-tiba kau menyerang kami?" tanya Gupala tak mengerti mengapa Mei Lie yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa menyerang mereka. Padahal mereka dari golongan putih.
Gadis cantik yang sosok tubuh dan wajahnya mirip Mei Lie itu tak berkata. Gadis yang tak lain Sarah Dita itu terus menyerang kedua kakak-beradik yang berkelit dengan terheran-heran.
"Kakang, jelas dia tidak main-main! Kita harus nenghadapinya dengan tidak main-main pula!" dengus Gupali, setelah tubuh mereka menjauh lima
tombak di depan gadis itu.
"Benar, Dimas. Aku heran, bagaimana mungkin Mei Lie yang kita dengar membela kebenaran dan keadilan menyerang kita," gumam Gupala.
"Jangan banyak omong! Kalian memang harus mampus! Hiaaat..!" bentak Sarah Dita seraya menerjang dengan membabatkan pedang ke arah lawan-lawannya.
Wut! "Hati-hati, Kakang! Dia benar-benar ingin membunuh kita!" kata Gupali mengingatkan. "Kita tak tinggal diam terus. Kita sebaiknya melawan."
"Ayolah! Kita gunakan jurus 'Dwi Sangkur Dewa'!" Setelah mempertimbangkan masak-masak, kini kakak-beradik tersebut bergerak menyerang. Pisau kembar yang menjadi senjata andalan mereka, berdesing tajam ke arah lawan. Hal itu membuat Sarah Dita tersentak. Dia berusaha mengelitkan serangan lawan, kemudian dengan cepat pula balas menyerang dengan jurus andalan 'Sambutan Sampar Kabut'.
Pedang di tangan Sarah Dita bergerak cepat hingga bagai menghilang. Yang nampak hanya kabut putih yang menutupi tubuh gadis cantik itu.
"Hiaaat..!" Wut! Gupala dan Gupali tersentak kaget, menyaksikan jurus pedang lawan yang cepat. Kini keduanya tak mampu melihat sosok tubuh lawan lagi karena tertutup oleh sinar berkabut yang keluar dari pedang lawan.
"Celaka! Dia benar-benar hendak membunuh kita!" seru Gupali tegang, menyaksikan jurus lawan yang cepat dan membahayakan dengan sasaran yang
mematikan ke jantungnya.
"Kurasa dia bukan Mei Lie, Dimas." "Entahlah. Siapa pun dia, kita tak boleh lengah Kakang. Ilmu pedangnya bukan sembarangan."
"Kita gempur dengan 'Sapuan Sangkur' Heaaat..!" "Yiaaat..!" Dengan sigap Gupala dan Gupali melemparkan pisau-pisau kecil mereka ke arah gumpalan sinar putih yang menutupi tubuh lawan.
Swing, swing...! Lima bilah pisau melesat cepat ke arah lawan. Namun dengan tangkas, Sarah Dita mampu merontokkannya. Pisau-pisau yang dilemparkan oleh kakak beradik itu tak ada satu pun yang mampu menembus pertahanannya.
Trang, trang...! Pluk, pluk...! "Celaka! Dia bukan sembarangan jago pedang, Kakang!"
"Ya!" sahut Gupala dengan mata memandang tegang, menyaksikan senjata-senjata mereka dengan mudah dirontokkan. Namun sebagai pendekar, keduanya tidak mau mengalah begitu saja. Keduanya kembali melemparkan pisau-pisaunya ke arah lawan.
"Hiaaat!" Swing, swing...! Enam pisau kembali melesat cepat ke arah Sarah Dita. "Hait!" Sarah Dita segera memutar pedangnya dengan cepat, menangkis pisau-pisau lawan.
Tring, tring...! Kembali pisau-pisau itu berguguran, terkena babatan pedang di tangan Sarah Dita. Bahkan kini tubuh gadis itu melesat maju lalu membabat lawan dengan pedangnya.
"Kalian harus mampus! Hiaaa...!" "Awas, Kakang!" seru Gupali sambil membuang tubuhnya ke samping, mengelakkan babatan pedang lawan. Kemudian dengan cepat tangannya memukul ke tubuh lawan. Tapi rupanya Sarah Dita mengetahui kalau serangan yang dilancarkan lawan dari sebelah kanan. Dengan cepat pedangnya dibabatkan ke tangan lawan yang menyerang.
Wut! Gupali tersentak kaget Dia berusaha menarik serangannya. Tapi babatan pedang lawan ternyata lebih cepat. Sehingga Gupali. tak mampu untuk mengelakkannya. Hingga....
Cras! "Aaa...!" Gupali memekik. Tangan kanannya putus terkena babatan pedang lawan.
"Dimas!" seru Gupala kaget, menyaksikan keadaan adiknya. Belum juga Gupali sempat bergerak untuk mengelak, Sarah Dita telah lebih dulu membabatkan pedang ke dadanya. Diteruskan ke lehernya yang tidak mampu mengelak sama sekali.
Wut! Cras, cras! Kali ini Gupali tak sempat memekik. Lehernya putus dan kepalanya lepas dari tubuh.
"Dimas...!" Kembali Gupala memekik keras dengan mata membelalak, menyaksikan kematian adiknya yang mengenaskan.
"Iblis! Tunggu pembalasanku!" Sebelum Sarah Dita sempat mengejar, tubuh Gupala telah melesat meninggalkan tepian Hutan Gandring. Nampaknya Sarah Dita memang sengaja
membiarkan lawan pergi. Dengan begitu, Gupala akan menceritakan kejadian itu pada para pendekar. Dan tentu Mei Lie yang akan menjadi sasarannya. Sarah Dita tersenyum puas, kemudian melesat meninggalkan tempat itu.
***

6
Berita tentang Mei Lie yang membunuh salah seorang murid Perguruan Semeru di pinggir Hutan Gandring, membuat para pendekar kebingungan. Dunia persilatan dibebani pertanyaan yang memusingkan karena kejadian itu. Hampir semua orang, baik dari dunia persilatan maupun dari kalangan biasa ber- tanya-tanya. Bagaimana mungkin Bidadari Pencabut Nyawa kini membunuh salah seorang dari murid Perguruan Semeru?
Perdebatan antara pihak yang yakin kalau Mei Lie yang melakukannya dengan pihak yang tidak percaya, menjamur di mana-mana. Mereka pada umumnya tidak percaya dengan berita itu. Malah ada yang menuduh Gupala hanya membuat-buat cerita untuk menjatuhkan nama baik Mei Lie.
Siang itu, tiga orang lelaki tua dengan jubah berwarna putih melangkah menuju sebuah bangunan besar yang berada di Gunung Semeru. Tiga lelaki tua berjubah putih dengan rambut putih terurai itu adalah tiga tokoh sakti dari aliran lurus. Ketiganya sering disebut Tiga Malaikat Suci. Sampai setua ini, mereka tidak menikah. Jiwa dan raga mereka senantiasa diserahkan pada Hyang Widhi. Di samping itu, mereka berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan. Kedatangan Tiga Malaikat Suci ke Perguruan Semeru, semata-mata atas undangan Ketua Perguruan Semeru yang juga mengundang para pendekar di wilayah Jawa Dwipa bagian timur. Dua prajurit jaga yang melihat Tiga Malaikat Suci segera menyambut mereka dengan menjura hormat
"Selamat datang ke Perguruan Semeru." "Hm.... Terima kasih. Katakan pada ketua kalian kami datang," kata salah seorang dari Tiga Malaikat Suci yang berjalan di tengah.
"Baik! Silakan Eyang sekalian menunggu sebentar," kata penjaga. Kemudian salah seorang dari mereka bergegas masuk untuk memberitahukan pada ketuanya kalau orang yang ditunggu telah datang.
Tiga Malaikat Suci merupakan tiga saudara seperguruan yang ilmu kesaktiannya tinggi. Orang pertama yang berdiri paling kanan bernama Arya Parasu. Yang kedua bernama Arya Somala dan yang ketiga nama Arya Narasi. Ketiganya terkenal arif dan bijaksana da lam menangani segala masalah. Untuk itulah, Ketua Perguruan Semeru mengundang mereka. Tidak lama kemudian, dari dalam muncul murid Perguruan Semeru tadi diikuti oleh ketua mereka.
"Selamat datang ke Perguruan Semeru, Eyang," sambut Ki Malawa. Lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun dengan tubuh tegap dan sorot mata tajam itu menjura. Wajahnya nampak tenang dan ramah. Meski salah seorang murid utamanya tewas, namun tampaknya Ketua Perguruan Semeru yang mengenakan jubah warna kuning dengan pakaian dalam warna coklat muda ini tetap bersikap tenang.
"Hm.... Terima kasih," sahut ketiganya bersamaan. "Ada apa sampai kau memanggil kami, Malawa?" tanya Arya Parasu.
"Ya. Ada apa kau memanggil kami...?" sambun Arya Somala.
"Silakan Eyang bertiga masuk dulu. Di dalam telah banyak para pendekar menunggu."
Tiga Malaikat Suci saling pandang, mendengar para pendekar telah diundang pula oleh Ki Malawa. Hati mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang menyebabkan Ketua Perguruan Semeru itu memanggil para pendekar.
"Silakan, Eyang." Tiga Malaikat Suci akhirnya menurut masuk. Diiringi oleh Ki Malawa, mereka masuk ke sebuah ruangan lebar tempat para pendekar dari wilayah timur berkumpul. Di situ ada Ki Bagel Kara, Nyi Palayuan, Ki Sampra Wika, Dewi Bayangan Bidadari, Ki Naga Kadra serta seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tingkah lakunya persis orang gila. Tiga Malaikat Suci yang melihat pemuda itu sudah dapat menebak, siapa sebenarnya pemuda yang cengengesan dan bertingkah laku konyol itu.
"Hm.... Rupanya Pendekar Gila ada di sini," ucap Arya Parasu sambil menjura hormat, diikuti oleh kedua adik seperguruannya. Hal itu membuat Sena segera bangun dan membalas penghormatan mereka.
"Aha, rupanya aku tak sopan," kata Sena. "Seharusnya aku yang menjura pada kalian. He he he...!"
"Tidak ada salahnya, Pendekar Gila. Kami memang harus menghormati tamu yang datang lebih dahulu...," tukas Arya Narasi.
"Ah ah ah... Kalian orang tua bijak. Tidak sepantasnya aku menerima penghormatan kalian. Malah arusnya aku yang menghormati kalian," sergah Sena sambil cengengesan.
"Sudahlah. Tak perlu kita perdebatkan masalah ini," Arya Parasu menengahi. "Malawa, katakanlah ada apa kau memanggil kami dan para pendekar ke tempat ini?"
"Silakan duduk dulu, Eyang," kata Ki Malawa mempersilakan ketiga orang tua itu duduk. Setelah ketiganya duduk, Ki Malawa meneruskan ucapannya. "Memang sengaja aku mengundang Eyang bertiga datang kemari, juga para sahabat semua. Hal ini berkaitan dengan terbunuhnya salah seorang murid Perguruan Semeru oleh gadis Cina."
Beberapa pendekar yang belum mendengar berita itu menjadi tersentak. Terlebih Sena yang amat tahu siapa gadis berpakaian putih gaya Cina yang tak lain Mei Lie.
"Mei Lie?!" seru beberapa tamu serentak. "Benar!" jawab Ki Malawa tegas. "Bagaimana mungkin Mei Lie yang terkenal dengan julukan Bidadari Pencabut Nyawa bertindak seperti itu?" tanya Ki Sampra Wika. Mata lelaki berumur sekitar enam puluh tahun dengan rambut ikal ini tampak terbelalak. Seperti tidak percaya. Bahkan lelaki tua berbaju merah dadu ini memandang Pendekar Gila.
"Itu sebabnya aku mengundang kalian." "Hm...," gumam Sena tak jelas. Tangannya meng- garuk-garuk kepala. Mulutnya nyengir. "Kurasa kita tidak bisa menuduh sembarangan, Ki. Kita harus memiliki bukti kuat. Siapa tahu ada orang lain yang melakukan semua ini dengan mengatasnamakan Mei Lie." "Tidak mungkin!" bantah Ki Bagel Kara. "Jelas dia Mei Lie."
"Aha, jangan lekas menuduh begitu, Ki. Apa kau
punya saksi?" tanya Sena masih berusaha membela kekasihnya. Nada suaranya terdengar tidak senang atas tuduhan yang dilontarkan Ki Bagel pada kekasihnya.
"Ada!" sahut Nyi Palayuan. "Hm...," gumam Sena lirih. Tangannya menggaruk- garuk kepala dengan mulut nyengir. "Aha, bagaimana kalau saksi itu tidak jelas benar melihatnya?"
"Tidak mungkin. Dia berhadap-hadapan langsung dengan Mei Lie. Bahkan dia bertarung dengan Mei Lie waktu itu bersama adiknya," tukas Ki Naga Badra. Lelaki berusia sekitar empat puluh delapan tahun yang wataknya masih agak keras.
"Sabar!" kata Arya Parasu. "Untuk memecahkan masalah ini, kita jangan saling bantah-membantah dengan kepala panas. Seakan sifat kependekaran kita tak ada lagi."
Semua terdiam, tak ada seorang pun yang membuka suara. Hanya Sena yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Nah, kini bawa saksi mata kemari," pinta Arya Parasu.
"Baik, Eyang," sahut Ki Malawa. Kemudian dengan memberi isyarat pada muridnya, Ki Malawa memerintahkan untuk menjemput Gupala.
Tidak berapa lama kemudian, muncul Gupala menghadap ke tempat itu. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu segera memberi hormat pada para pendekar yang berkumpul di ruangan tersebut.
"Ada apa Guru memanggil saya?" tanya Gupala pada Ki Malawa.
"Gupala, coba kau jelaskan bagaimana kejadiannya sampai kau dan adikmu bertempur dengan gadis Cina itu," pinta Arya Parasu.
Gupala menjura, kemudian dengan singkat dan jelas dia menceritakan tentang kejadian yang dialaminya.
"Kami baru saja pulang untuk menyerahkan undangan dari guru pada Perguruan Kencana Mukti dan Padepokan Randu Kembar dalam rangka mengundang para pemimpin perguruan untuk mengadakan pertemuan untuk membahas masalah persilatan. Pertemuan yang telah sering diadakan di perguruan kami. Ketika kami melintas di Hutan Gandring, kami di hadang oleh seorang gadis cantik bercaping daun pandan. Gadis itu berpakaian putih dan bersenjatakan pedang. Dia mengaku bernama Mei Lie. Mulanya kami ragu dan tak percaya kalau gadis itu Bidadari Pencabut Nyawa. Namun ketika dia menyerang dengan pedangnya yang dahsyat, barulah kami mempercayainya."
Sena menghela napas. Tingkah lakunya tetap seperti orang gila.
"Aha, tentunya kau melihat pedangnya, Ki," kata Sena.
"Benar, Tuan Pendekar." "Bagus. Apakah pedang itu bersinar merah kekuning-kuningan?" tanya Sena. Gupala sesaat terdiam, berusaha mengingat-ingat pedang di tangan gadis cantik yang mengaku Mei Lei.
"Tidak. Pedang di tangan gadis cantik itu berwarna putih," jawab Gupala.
Pendekar Gila tertawa tergelak-gelak bagai tidak dapat menahan rasa gelinya.
"Ah, kini apa kalian masih yakin kalau gadis itu Mei Lie?" tanyanya sambil menggaruk-garuk kepala
"Ya!" Jawab Ki Sampra Wika. "Aha, bagaimana kalian bisa yakin?"
"Sena, Mei Lie bukanlah gadis sembarangan setelah memiliki Pedang Bidadari dan menguasai 'Ilmu Pedang Bidadari'. Siapa pun akan takut untuk mengaku-aku sebagai dirinya," tutur Ki Bagel Kara.
"Benar! Malah semua tokoh hitam dibuat gentar dengan kemunculannya. Kurasa, kalau dia memang tidak bersalah, dia akan datang untuk membuktikan dirinya memang tidak bersalah," sambung Nyi Palayuan.
Sena menggaruk-garuk kepala, seperti bingung mendapatkan kenyataan itu. Bagaimanapun juga, nama baik dan keberadaan Mei Lie kini terancam. Kalau Mei Lie tidak muncul juga, maka para pendekar tentu akan semakin yakin kala pelakunya adalah Mei Lie. Dan tentunya pula, orang yang telah berbuat akan semakin senang, karena secara tidak langsung dia dapat mengadu domba orang-orang persilatan golongan lurus.
Ingatan Sena melayang kembali pada peristiwa di Lembah Lamur. Di sana Mei Lie juga dituduh melakukan hal yang tak pantas bagi seorang pendekar aliran putih. Begitu pula dengan gurunya, Singo Edan. Malah dia pun sempat menuduh kalau gurunya telah meracuninya (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Titisan Dewi Kuan Im").
Mungkinkah sekarang Mei Lie ada yang mempengaruhi? Tanya Sena dalam hati. Biar bagaimanapun juga, aku harus bisa membongkar teka-teki ini!
"Bagaimana, Pendekar Gila?" tanya Arya Parasu. "Baiklah! Semua kuserahkan pada kalian," jawab Sena.
"Kalau begitu, untuk menyelidiki masalah ini
bagaimana kalau Pendekar Gila kita tugaskan untuk menyelidikinya?" tanya Arya Parasu.
"Dengan senang hati," jawab Sena. "Kini semua telah selesai. Kita tinggal menunggu Kedatangan Mei Lie. Kalau dia datang, kita akan bisa membuktikan kebenarannya. Apakah dia bersalah atau tidak. Tapi kalau dia belum juga datang dalam tujuh hari, maka kita akan mencarinya," tutur Arya Somala.
"Bagaimana?" tanya Arya Narasi. "Setuju...!" sahut para pendekar. "Kini kau harus menyelidikinya, Pendekar Gila." "Aku akan segera menjalankan tugas yang telah kalian amanatkan. Aku mohon pamit."
Sena pun segera menjura, kemudian bergegas meninggalkan Perguruan Semeru.
***

Pendekar Gila benar-benar tak mengerti dengan semuanya. Dia tak habis pikir, mengapa Mei Lie selalu mendapat kemalangan. Dari pertama kali ke tanah Jawa Dwipa bersama ayahnya, gadis itu sudah dilanda nasib sial. Ayahnya tewas di tangan anak buah Segoro Wedi. Kemudian setelah berpisah lama dengan Pendekar Gila, muncul Houw San atau Kauw Cien Lung. Baru bertemu, kembali Mei Lie harus menelan kepahitan menjadi sandera Dewi Pemuja Setan. Dan kini, Mei Lie harus menjadi korban fitnah orang (Untuk mengetahui semua kisah Mei Lie, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Suling Naga Sakti", "Singa Jantan dari Cina", dan 'Titisan Dewi Kuan Im").
Sena melangkah menyelusuri jalanan di Lembah

No comments:

Post a Comment