SINGA
JANTAN DARI CINA
oleh Firman Raharja
1
Kapal besar berbendera
Cina semakin mende- kati pelabuhan Banyu Asin. Di pelabuhan itu, para ne- layan
dan kuli panggul tengah sibuk dengan peker- jaannya. Beberapa orang kuli
panggul segera berlari ke tepian, ketika melihat kapal berbendera Cina itu
mera- pat.
Di anjungan kapal
nampak seorang lelaki berdi- ri tegap dengan caping lebar menutupi hampir
separo wajahnya. Baju luarnya berwarna coklat tua, sedang- kan baju dalamnya
berwarna putih. Di punggungnya tersandang sebilah pedang panjang.
Lelaki muda itu
bersidekap. Matanya meman- dang tajam ke arah dermaga, di mana orang-orang
tengah sibuk bekerja.
Angin bertiup lembut,
membelai daun-daun pohon nyiur yang tumbuh di sekitar pelabuhan yang cukup
besar. Air laut beriak-riak, menambah indahnya pemandangan di pelabuhan.
Sementara itu, tiga buah kapal nelayan nampak tertambat di dermaga.
Kapal itu pun merapat
ke dermaga, disambut kuli-kuli pelabuhan dengan wajah ceria. Mereka akan
mendapatkan pekerjaan yang akan menghasilkan uang banyak. Karena biasanya kapal
pesiar dari Cina mem- bawa beragam kerajinan tangan yang akan dijual di Jawa
Dwipa.
Lelaki bercaping lebar
segera melompat turun, lalu mendekati seorang lelaki bertubuh tinggi kurus yang
tengah melakukan pelelangan ikan.
Merasa ada yang
mendekati, lelaki berpakaian serba biru dengan blankon di kepalanya
menghentikan penawaran pada para pembeli. Matanya memandang
lelaki bercaping lebar
seraya tersenyum.
"Ada yang bisa
kubantu, Tuan?" tanya lelaki berusia sekitar tiga puluh delapan tahunan
itu dengan ramah. Senyumnya masih mengembang di bibir.
"Hm...,"
gumam lelaki tua bercaping lebar. Ma- tanya yang tertutup caping, memandang
tajam ke arah lelaki di depannya. "Bisakah kau jelaskan, ke arah mana aku
bisa bertemu pendekar tanah Jawa Dwipa ini?"
Lelaki tinggi kurus itu
mengerutkan kening, mendengar pertanyaan lelaki di hadapannya. Ditatap- nya
tajam-tajam wajah yang tersembunyi di balik cap- ing lebar itu, untuk
mengetahui seperti apa sebenar- nya lelaki yang nampaknya masih muda itu. Namun
lelaki Jawa itu sulit untuk melihat dengan jelas, kare- na caping lelaki itu
terlalu rendah dan lebar.
"Kalau boleh ku
tahu, untuk apa Tuan mencari pendekar tanah Jawa?"
"Mencari
seseorang," sahut lelaki bercaping le- bar.
"Siapa...?"
"Mei Lie." "Mei Lie...?" ulang lelaki jangkung itu seraya
mengerutkan kening. Kembali matanya menatap lekat ke wajah lelaki yang wajahnya
terlindung bayangan caping itu.
"Ya. Mei Lie. Kau
kenal dia...?" "Oh..., menyesal sekali aku tidak mengenalnya,"
jawab lelaki berpakaian biru itu sopan.
Srrrt! Lelaki muda
bercaping itu tiba-tiba mencabut pedangnya, kemudian dengan cepat membabat ke
wa- jah lelaki di depannya.
Lelaki jangkung
bertubuh kurus itu tersentak
kaget. Dengan mata
membelalak, dia berusaha menge- lakkan serangan itu. Namun gerakan pedang lawan
terlalu cepat, membuatnya harus menerima nasib yang malang. Cras!
"Aaakh...!"
lelaki berpakaian biru itu memekik keras ketika pedang lelaki Cina bercaping
lebar me- nyabet keningnya. Sesaat matanya melotot, kemudian ambruk tanpa
nyawa.
Pelabuhan Banyu Asin
pagi itu menjadi gempar oleh kematian Ki Jarotono, lelaki yang mengelola pele-
langan ikan di pelabuhan itu. Anak buah Ki Jarotono yang menyaksikan kejadian
itu, berusaha meringkus lelaki misterius dari Cina. Namun semuanya sia-sia.
Mereka bukan tandingan lelaki itu. Dalam beberapa gebrakan saja, mereka dapat
dijatuhkan. Semua tewas dengan kening terbabat pedang!
"Hhh...."
Lelaki bercaping lebar itu menghela napas. Ma- tanya beredar tajam pada
orang-orang Jawa Dwipa yang mengepung dan memandangnya dengan penuh kebencian.
Namun tak seorang pun dari para buruh pelabuhan atau nelayan yang berani maju.
Mereka ti- dak ingin mati sia-sia seperti anak buah Ki Jarotono.
Lelaki muda dari Cina
yang bercaping lebar itu pergi begitu saja, setelah memperhatikan orang-orang
pelabuhan yang hanya mematung sambil memperhati- kannya dengan pandangan ngeri.
Kini pelabuhan Banyu
Asin menjadi ramai sete- lah kepergian lelaki misterius dari Cina yang telah
membunuh Ki Jarotono dan sepuluh anak buahnya dalam sekali gebrakan.
"Ilmu pedangnya
sangat hebat," gumam seo- rang dari mereka.
"Ya! Rasanya
sangat sulit untuk ditandingi," sambung yang lain.
"Kita harus segera
memberi tahu Kanjeng Adi- pati."
Dengan masih
membicarakan lelaki bercaping lebar tadi, mereka mengurusi mayat Ki Jarotono
dan kesepuluh anak buahnya.
***
"Hai, ada apa di
sana?" bisik Sena Manggala yang tengah menyelusuri jalan di pesisir
sebelah utara. Matanya memandang ke arah pelabuhan. Dilihatnya orang-orang
tengah sibuk melakukan sesuatu. "Seper- tinya ada kejadian. Ah, aku ingin
melihatnya."
Seraya menggaruk-garuk
kepala, Sena melang- kah dengan cepat ke tempat orang-orang yang tengah
mengangkat beberapa mayat. Dan, setelah tiba di de- kat kerumunan, Sena
menghampiri seseorang untuk mencari tahu.
"Kisanak, apa yang
terjadi? Mengapa mereka mati?" tanya Sena pada seorang kuli pelabuhan yang
masih ikut mengerumuni sebelas mayat lelaki yang bernasib naas itu.
"Baru saja orang
bercaping yang datang dari Cina membunuh mereka," sahutnya.
"Ya. Lelaki
bercaping itu seperti orang gila," timpal yang lain.
"Orang
gila...?" tanya Sena dengan kening ber- kerut. Tangannya menggaruk-garuk
kepala. "Mengapa Kisanak mengatakan seperti orang gila?"
"Bagaimana
tidak...? Lelaki dari Cina itu tiba- tiba mencabut pedangnya. Lalu.... Cras,
cras, cras! Ma- tilah Ki Jarotono dan kesepuluh anak buahnya," tukas
lelaki bertubuh tinggi
besar sambil melangkah maju.
Pendekar Gila semakin
mengerutkan kening mendengar penuturan mereka.
"Lelaki dari
Cina?" gumamnya sambil mengga- ruk-garuk kepala. Matanya tiada henti
memandang para kuli yang masih mengangkati mayat-mayat itu. Mayat-mayat yang
kematiannya sangat aneh. Di ken- ing mereka, terdapat luka babatan pedang
tajam.
"Ya. Lelaki itu
berpakaian pesilat Cina berwarna coklat tua. Wajahnya tidak terlihat, karena
capingnya lebar. Dia menanyakan tentang pendekar-pendekar ta- nah Jawa
Dwipa," lanjut lelaki berbadan tinggi besar yang bertelanjang dada.
"Mengapa lelaki
Cina itu membunuh Ki Jaroto- no?" tanya Sena masih tak mengerti. Tangannya
tetap menggaruk-garuk kepala. "Apakah di antara keduanya telah terjadi
keributan?"
"Sama sekali
tidak. Bahkan Ki Jarotono nam- pak ramah, menjawab pertanyaan lelaki bercaping
le- bar itu," jawab lelaki tadi.
"Apa yang
ditanyakan lelaki Cina itu?" Lelaki berbadan tinggi besar yang
bertelanjang dada itu menceritakan semuanya. Dari saat kedatan- gan perahu
besar dari Cina yang ditumpangi lelaki misterius itu sampai Ki Jarotono
menanyakan tujuan- nya. Hingga akhirnya, lelaki misterius itu bertanya ten-
tang seseorang yang bernama Mei Lie. "Mei Lie...?" desis Sena.
"Ya. Apakah Tuan mengenalnya?" Sena menganggukkan kepala. "Ya,
aku mengenalnya. Aku pun sedang menca- rinya," sahut Sena dengan dahi
berkerut. Hm. Siapa- kah lelaki bercaping lebar itu? Tanya Sena dalam hati.
Mengapa dia harus membunuh orang yang tidak men-
genal Mei Lie? Ah, lalu
di mana Mei Lie kini berada?
"Apakah Tuan juga
mengenal lelaki misterius bercaping lebar itu...?"
Pendekar Gila
menggelengkan kepala. Tangan- nya menggaruk-garuk kepala. Dihelanya napas pan-
jang, lalu wajahnya ditengadahkan ke langit.
"Aneh.... Siapa
lelaki bercaping lebar itu?" gu- mam Sena.
Kalau dia benar dari
Cina, tentunya ada tujuan tertentu untuk mencari Mei Lie. Siapa dia? Dilihat
dari caranya membunuh, nampaknya dia bukan orang sembarangan. Tanya Sena lagi
dalam hati.
Sesaat Sena
menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir.
"Sebenarnya...,
justru aku yang ingin mena- nyakan hal itu padamu. Apa Kisanak
mengenalnya?" Sena balik bertanya dengan tangan masih menggaruk- garuk
kepala.
"Sama sekali
tidak. Dia baru saja turun dari kapal itu, Tuan," sahut lelaki tinggi
besar sambil me- nunjuk ke arah kapal berbendera Cina yang belum ter- lihat ada
orang lain yang keluar. Sejak tadi, tak ada orang yang keluar dari kapal itu.
Kecuali lelaki bercap- ing yang membunuh Ki Jarotono dan anak buahnya.
"Hm...,"
gumam Sena. Matanya beralih ke arah kapal berbendera Cina yang telah merapat ke
pelabu- han. Namun seperti kata kuli pelabuhan, dari dalam kapal itu belum juga
ada orang yang keluar.
"Aneh.... Rasanya
ada yang tidak beres." "Benar, Tuan. Coba saja periksa," saran
kuli pe- labuhan. Tangan Sena menggaruk-garuk kepala. Ma- tanya masih memandang
kapal berbendera Cina yang nampak membuang sauh di kejauhan, tanpa terdengar
apa-apa. "Benar,
Tuan. Sepertinya kapal itu mencuriga- kan," sambung yang lainnya, ikut
menyarankan.
"Hm...,"
gumam Sena. "Memang aneh sekali. Ah, bagaimana mungkin selama itu belum
ada seorang pun juga yang keluar?"
Pendekar Gila
menggaruk-garuk kepala. Mu- lutnya nyengir. Tingkah lakunya kembali aneh
seperti orang gila. Hal itu membuat semua orang di pelabuhan itu seketika
memperhatikannya. Mereka terheran- heran melihat tingkah pemuda tampan berbaju
rompi kulit ular itu. Dengan kening berkerut, mereka beru- saha mereka-reka
siapa Sena sebenarnya.
"Oh! Tuankah
Pendekar Gila itu?" tanya lelaki bertubuh tinggi besar seraya menjura,
diikuti yang lain. "Aku Wanggono, menyampaikan hormat."
Pendekar Gila semakin
menggaruk-garuk kepa- la dengan mulut nyengir, menyaksikan Wanggono dan kuli
pelabuhan lainnya menjura padanya.
"Ah ah ah...,
sudahlah. Tidak perlu kalian ber- laku begitu. Bagaimana kalau kita periksa
kapal itu bersama?" ajak Sena.
"Setuju, Tuan. Apa
pun yang Tuan perintahkan, kami akan melaksanakannya," jawab Wanggono.
"Kalau begitu,
kita ke kapal itu." Sena melangkah di depan. Diikuti oleh bebera- pa kuli
pelabuhan. Mereka ingin melihat apa yang se- benarnya terjadi di kapal yang
nampak sepi, bagai tak ada denyut kehidupan.
Tentunya ketika telah
dekat dengan pelabuhan, lelaki bercaping lebar dari dataran Cina itu membunuh
mereka. Dengan harapan tak ada orang yang tahu identitasnya, hingga dia akan
dapat leluasa bergerak di tanah Jawa Dwipa ini.
Mata Sena membelalak
lebar, ketika melihat pintu kapal itu. Di dalam ruang kapal, dilihatnya bebe-
rapa orang kelasi dan nakhoda tergeletak tanpa nyawa. Bahkan para kuli
pelabuhan yang tadi menghampiri kapal itu bergeletakan tanpa nyawa di dek
kapal. Ke- matian mereka sama seperti yang dialami oleh Ki Jara- tono. Di
kening mereka terdapat sayatan pedang yang memanjang hingga pangkal hidung.
"Oh, Hyang Jagat
Dewa Batara.... Keji sekali perbuatannya," desis Sena setengah mengeluh.
Ma- tanya masih memandang lekat ke mayat-mayat yang bergelimpangan dengan luka
sabetan pedang di ken- ing. Luka itu terlihat tidak terlalu besar, namun aneh-
nya mampu membunuh orang.
"Mungkin lelaki
bercaping lebar itu pelakunya, Tuan," duga Wanggono.
Sena menghela napas.
Tangannya menggaruk- garuk kepala. Bibirnya digigit untuk melampiaskan ke-
geraman, setelah menyaksikan akibat tindakan manu- sia bercaping lebar yang
terlalu telengas.
"Ya! Kurasa memang
dialah pelakunya." "Keji sekali!" maki Wanggono. Sena mendekati
mayat-mayat orang Cina itu. Diperiksanya nakhoda kapal dengan seksama. Seketi-
ka matanya membelalak, setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Racun!"
pekiknya tertahan, menyentakkan ku- li-kuli pelabuhan yang mengikutinya.
"Celaka! Ten- tunya orang-orang yang menolong Ki Jarotono pun mengalami
keracunan!"
Semua membelalakkan
mata mendengar penu- turan Sena. Tubuh mereka seperti mengejang seketika. Kalau
benar apa yang dikatakan pendekar muda itu, pasti orang-orang yang mengurus
mayat Ki Jarotono
dan kesepuluh anak
buahnya akan mengalami kema- tian dalam waktu yang cepat!
"Kita harus segera
menolong mereka," kata Se- na sambil berkelebat ke luar, diikuti oleh
kuli-kuli pe- labuhan. "Di mana rumah Ki Jarotono?"
"Ikuti kami,
Tuan," ajak Wanggono. Dengan wajah tegang, mereka berlari menuju rumah Ki
Jarotono. Namun belum juga sampai, mata mereka membelalak. Mereka menemukan
beberapa orang telah mati dengan tubuh membiru.
"Celaka!"
pekik Sena. "Mungkinkah kita terlam- bat?"
"Semoga saja masih
ada yang bisa ditolong, Tuan," harap Wanggono.
"Ada berapa orang
yang menolong Ki Jarotono dan kesepuluh anak buahnya?" tanya Sena dengan
wajah tegang, setelah menyaksikan keganasan racun itu.
"Dua puluh dua
orang, Tuan." "Celaka! Kita harus segera menolong mereka," kata
Sena dengan wajah masih membayang kecema- san.
Dengan cepat mereka
berlari kembali untuk mengejar sisa orang yang masih mungkin hidup.
Belum jauh berlari,
kembali mereka menemu- kan sisa orang yang mengurus mayat Ki Jarotono telah
mati. Tubuh mereka telah membiru dan kaku.
"Hyang Jagat Dewa
Batara, bencana apakah yang akan menimpa dunia?" gumam Sena, terpaku
menyaksikan kematian yang mengenaskan.
Orang-orang yang
mengikutinya turut terdiam. Mata mereka membelalak tegang, menyaksikan kema-
tian tragis yang meminta tumbal berpuluh nyawa da- lam satu hari.
"Tuan, racun apa
yang telah membuat mereka mati dengan waktu yang sangat cepat seperti
itu?" tanya Wanggono.
"Entahlah. Yang
jelas, kalian jangan sampai menyentuh tubuh korban. Racun itu bisa menjalar me-
lalui persentuhan. Dalam bekerjanya, racun itu hanya memerlukan waktu yang
singkat. Tak ada sepeminum teh," tutur Sena menerangkan.
Semua mata kian
membelalak mendengar kete- rangan itu. Kalau racun itu sangat ganas, tak
mungkin orang yang terkena akan luput dari kematian.
"Tapi, Tuan...,"
mata Wanggono menatap Sena dengan cemas. "Bukankah tadi Tuan menyentuh
nak- hoda kapal? Kalau begitu, Tuan pun dalam ancaman maut"
"Iya, Tuan.
Bagaimana kami bisa menolong- mu?" sambung yang lain dengan wajah cemas.
Sena tersenyum sambil
menggaruk-garuk kepa- la. Kemudian kepalanya digeleng-gelengkan, dengan tingkah
seperti orang gila.
"Kalian tak perlu
merisaukan ku. Yang penting, kalian jangan sesekali menyentuh tubuh korban.
Nah, sekarang aku mau tanya, ke arah mana lelaki miste- rius itu pergi?"
"Dia pergi ke arah
selatan, Tuan," sahut Wang- gono.
Sena mengangguk-angguk.
Matanya kini me- mandang ke arah selatan. Dihelanya napas dalam- dalam,
kemudian tangannya kembali menggaruk- garuk kepala.
"Baiklah, aku
harus segera mencarinya. Kuha- rap kalian tidak menyentuh mayat-mayat
itu," pesan Sena. Kemudian tubuhnya melesat cepat meninggal- kan tem-pat
itu.
Semuanya terpana
menyaksikan bagaimana pemuda gila itu berlari. Belum pernah mereka melihat
seorang pemuda memiliki ilmu lari laksana angin.
"Ck ck ck...
Sungguh hebat," puji Wanggono di- iringi decakan kagum. Matanya tak
beralih dari arah Sena pergi. Begitu juga dengan yang lainnya.
2
Kedai Ki Mayang Jambe
yang berada di wilayah Kadipaten Lebak Wungu tengah ramai dikunjungi oleh para
musafir, atau orang yang memang sengaja datang ke kedai itu untuk sekadar minum
tuak atau makan. Kedai Ki Mayang Jambe memang terkenal. Tidak hanya terkenal
dengan masakannya yang nikmat, na- mun ada hal lain yang menjadi daya tariknya.
Seorang gadis jelita yang menjadi penerima tamu dengan se- nyumnya yang ramah,
itu yang juga mengundang para tamu.
Sepagi itu, kedai Ki
Mayang Jambe telah ba- nyak pengunjungnya. Sambil memesan makanan dan tuak,
mereka menggoda gadis cantik anak Ki Mayang Jambe yang bernama Telasih.
Seorang lelaki
bercaping lebar dan berpakaian pesilat Cina, melangkah masuk. Bajunya panjang
sampai di bawah lutut dengan belahan di samping ka- nan dan kirinya. Di
pundaknya bertengger sebilah pe- dang panjang. Langkahnya begitu mantap saat
mena- paki lantai kedai yang terbuat dari kayu.
Lelaki bercaping lebar
itu mengambil tempat duduk. Dengan kasar tangannya menarik kursi, mem- buat
orang di sekelilingnya tersentak. Seketika, mata
semua orang di kedai
itu memandangnya.
Ki Mayang Jambe
mengerutkan kening. Berge- gas didekatinya lelaki yang baru datang itu.
"Ada yang dapat
saya bantu, Tuan?" tanya Ki Mayang Jambe, berusaha tersenyum ramah.
"Hm...."
Lelaki bercaping lebar itu hanya menggumam. Pembawaannya nampak tenang. Kedua
tangannya di- taruh di atas meja. Dan nafasnya ditarik dalam-dalam.
"Aku lapar.
Bawakan aku nasi dan lauk-pauk," kata lelaki bercaping lebar itu, dengan
kata-kata yang terdengar kaku.
"Baik, Tuan."
Ketika Ki Mayang Jambe hendak melangkah untuk mengambilkan pesanan, pundaknya
ditahan oleh lelaki bercaping lebar itu.
"Tunggu...!"
"Iya, Tuan. Ada apa lagi...?" tanya Ki Mayang Jambe gugup.
"Di mana aku bisa
menemui Segoro Wedi?" Ki Mayang Jambe mengerutkan kening. Perta- nyaan itu
tidak segera dijawabnya. Hatinya malah ber- tanya heran. Ada hubungan apa
antara orang miste- rius ini dengan Segoro Wedi? (Untuk mengetahui tokoh yang
bernama Segoro Wedi, silakan baca serial Pende- kar Gila dalam episode
"Suling Naga Sakti").
"Haya.... Apa kamu
tidak mendengar perta- nyaanku, hah?!" sentak lelaki bercaping lebar. Na-
danya kelihatan marah, karena merasa pertanyaannya tidak digubris Ki Mayang
Jambe.
"Eh! Dengar, Tuan.
Untuk apa Tuan menanya- kan orang yang sudah mati?" Ki Mayang Jambe balik
bertanya. Keningnya masih berkerut, tak mengerti apa yang sebenarnya
dikehendaki oleh lelaki bercaping le-
bar itu. "Hm, jadi
dia telah mati?"
"Benar,
Tuan," jawab Ki Mayang Jambe. "Sebe- narnya ada apa, Tuan?"
"Jangan banyaak
tanya!" bentak lelaki bercap- ing lebar dengan nada bengis. "Kamu
tidak perlu tahu urusanku! Kamu hanya jawab. Mengerti...?"
"Me... mengerti,
Tuan," jawab Ki Mayang Jambe terbata-bata.
"Siapa yang telah
membunuh Segoro Wedi?" Ki Mayang Jambe semakin heran dengan pertanyaan-
pertanyaan lelaki bercaping lebar itu. Pertanyaan- pertanyaannya sangat aneh.
Ada hubungan apa dia dengan Segoro Wedi? Ah, benar-benar lelaki aneh. Gumam Ki
Mayang Jambe dalam hati.
"Haya...! Kamu
bisa membuatku marah, Orang Tua!" bentak lelaki bercaping lebar dengan
kasar. Bah- kan tangannya menggebrak meja makan, yang seketi- ka patah menjadi
dua.
Orang yang tengah makan
di sampingnya ter- sentak dengan mata melotot marah karena makanan- nya
berantakan ke mana-mana.
"Kurang ajar!
Kunyuk dari mana yang berani lancang ini?! Apa tidak tahu siapa aku?!"
maki lelaki berkumis lebat dengan pakaian hitam lengan panjang serta golok
tersandang di pinggang.
Lelaki berambut terurai
itu bangkit dari du- duknya. Tangan kanannya menarik golok yang terselip di
pinggangnya.
Srrrt! "Kunyuk
sepertimu harus disingkirkan! Yeaaa...!" Lelaki itu siap membabatkan
goloknya ke tu- buh lelaki bercaping lebar. Namun dengan gerak cepat
yang sulit diikuti
mata, lelaki bercaping lebar itu tahu- tahu telah meloloskan pedangnya.
Srrrt! Dalam sekejap
tangannya bergerak, membuat lelaki tinggi besar berwajah garang itu tersentak.
Dia berusaha mengelak, namun gerakan lelaki bercaping lebar itu ternyata lebih
cepat
Wut! Cras! Secepat
angin, pedang panjang lelaki bercaping lebar itu melesat ke wajah lawannya. Tak
lebih dari se- kedipan mata, pedang itu telah membabat kening lela- ki itu.
"Aaakh...!"
lelaki berwajah garang itu memekik. Matanya melotot lebar. Sesaat tubuhnya
mengejang sekarat, lalu ambruk dengan keadaan mengerikan.
Menyaksikan hal itu,
para pengunjung kedai seketika bertambah benci pada lelaki bercaping yang
mengenakan pakaian pesilat Cina itu. Mereka meman- dang penuh kebencian.
"Orang asing!
Lancang benar kau bertindak! Jangan harap kau bisa bertindak sesukamu! Di sini,
kau hanya orang baru!"
Srrrt! Srrrt! Mereka
mencabut golok, siap melakukan se- rangan ke arah lelaki bercaping yang
kelihatannya ma- sih tenang. Bahkan tangannya bergerak pelan untuk menyeka
bekas darah korban yang membasahi mata pedangnya.
"Siapa di antara
kalian yang tahu keberadaan Mei Lie?!" bentak lelaki bercaping itu.
"Persetan dengan
orang yang kau sebutkan! Kau telah berani berbuat lancang di sini! Kau harus
mampus! Seraaang...!" seru lelaki berbaju merah len-
gan panjang dengan kain
sarung membelit di pinggang.
"Heaaa...!"
"Rencah saja tubuhnya!" Lima orang temannya melesat maju. Mereka
berbadan tegap dan berwajah garang dengan kumis ti- pis di atas bibir. Dua di
antaranya memiliki jenggot pendek. Dengan golok yang berkilat seperti meminta
guyuran darah, mereka siap membabat lelaki bercap- ing itu. Namun belum juga
bisa menyarangkan seran- gan, lelaki bercaping lebar bergerak secepat kilat.
Pe- dang di tangannya bergerak tanpa dapat diikuti mata. Dalam sekali gebrak,
terdengar jerit kematian yang menggiriskan.
Wut! Cras!
"Aaa...!" Empat orang dengan kening dibasahi darah, kini meregang
nyawa. Mata mereka melotot, menahan rasa sakit yang tiada terkira. Gigi-gigi
mereka saling beradu. Kemudian tubuh keempat lelaki itu ambruk bersamaan.
Melihat kenyataan
tersebut, wajah lelaki berba- ju merah lengan panjang seketika pucat Kumisnya
yang tebal, kini tiada artinya lagi. Matanya membelalak tegang. Tubuhnya
gemetaran diguncang rasa takut yang tiada terkira. Begitu juga dengan satu
temannya yang masih hidup.
Sementara pengunjung
lain yang masih duduk di kedai, kini bergegas meninggalkan kedai setelah
meninggalkan uang bayaran di meja masing-masing. Mereka merasa ngeri
menyaksikan tindakan lelaki as- ing itu. Hanya dalam sekali gebrak, orang-orang
persi- latan itu dapat dibunuh. Padahal kelima orang kor- bannya merupakan
orang-orang yang ditakuti di Kadi-
paten Lebak Wungu.
"Ampun, Tuan....
Ampunilah nyawa kami yang tidak berharga ini," ratap lelaki berbaju merah.
Semen- tara temannya hanya menundukkan kepala, tidak be- rani menatap lelaki
dari Cina itu.
Lelaki bercaping lebar
tersenyum sinis. Tangan kanannya masih memegang pedang yang berlumuran darah.
Disekanya darah itu dengan tangan kiri. Kemu- dian didekatinya dua lawannya
yang ketakutan.
"Katakan, di mana
Mei Lie berada?!" bentaknya garang. "Ampun, Tuan. Kami tidak
tahu...."
Lelaki bercaping lebar
itu mendengus. Kemu- dian tangannya menebaskan pedang dengan cepat ke wajah
kedua lelaki yang semakin ketakutan. Keduanya berusaha mengelakkan serangan
itu, namun gerakan lelaki bercaping lebar ternyata sangat sulit untuk di-
elakkan. Cras, cras...!
"Aaa...!"
kedua lelaki itu memekik keras dengan tangan memegangi kening. Mata mereka
membelalak dengan tubuh meregang. Lalu, ambruk tanpa nyawa.
Telasih menjadi
ketakutan menyaksikan pem- bunuhan yang terjadi di kedai milik ayahnya.
"Auh,
Ayah...!" Telasih membenamkan kepala ke pundak ayahnya. Dia tak berani
melihat korban yang begitu mengerikan di depan matanya.
Lelaki bercaping lebar
menyeka darah yang membasahi mata pedangnya. Kemudian dimasukkan pedang itu ke
dalam sarungnya. Bibirnya tersenyum sinis, kemudian dengan tenang didekatinya
Ki Mayang Jambe yang ketakutan bersama anak gadisnya.
"Ampun, Tuan.
Jangan bunuh kami," ratap Ki Mayang Jambe.
"Hm....,"
gumam lelaki bercaping lebar. "Kata- kan, siapa yang telah membunuh Segoro
Wedi? Kalau kau tidak mau mengatakannya, maka aku tak akan segan-segan
membunuhmu!"
"Ba... baik, Tuan.
Orang yang mengalahkan Ki Segoro Wedi tak lain seorang pendekar muda yang
tingkah lakunya persis orang gila. Dia dikenal dengan sebutan Pendekar
Gila," ungkap Ki Mayang Jambe dengan suara terbata-bata.
"Hm..."
Kembali lelaki bercaping lebar itu bergumam. Tangannya mengambil sesuatu dari
balik bajunya yang panjang. Sebuah kantong kecil berisi uang. Diambilnya
beberapa keping uang emas. Kemudian disodorkannya kepada Ki Mayang Jambe.
"Cukupkah uang itu
untuk mengganti semua- nya?"
"Oh! Tidak usah,
Tuan. Biarlah kami yang me- nanggungnya," Ki Mayang Jambe berusaha
menolak.
"Hm.... Kau mau
menolak pemberianku?!" Ki Mayang Jambe semakin ketakutan menden- gar
pertanyaan lelaki bercaping lebar itu. Mau tak mau, diterimanya juga lima
keping uang emas dari le- laki itu. "Terima kasih, Tuan."
Lelaki bercaping lebar
Itu tak berkata apa-apa. Tubuhnya langsung melesat cepat, meninggalkan ke- dai.
Dengan sekali genjot, tubuhnya telah menghilang.
"Ohhh...," Ki
Mayang Jambe mengeluh lega. Se- jak tadi, dia merasakan tekanan jiwa yang
begitu dah- syat. Bahkan hampir saja dia mati ketakutan, kalau saja lelaki
bercaping lebar itu tidak segera meninggal- kan kedainya.
Dengan masih
takut-takut, Telasih mengangkat
kepalanya yang tadi
dibenamkan di pundak ayahnya.
***
Ketika Ki Mayang Jambe
hampir menyentuh mayat salah seorang korban lelaki bercaping lebar, ti-
ba-tiba....
"Jangan disentuh,
Ki!" Ki Mayang Jambe tersentak, dan segera mengu- rungkan niat untuk
menyentuh mayat korban lelaki bercaping lebar. Matanya seketika memandang
seorang pemuda tampan berpakaian kulit ular tanpa lengan yang tiba-tiba telah
berada di ambang pintu kedai. Pe- muda itu menggaruk-garuk kepala dengan mulut
cen- gengesan. Tingkahnya persis orang gila.
"Korban lagi.
Uhhh" Sena menggaruk-garuk ke- pala sambil mendekati mayat-mayat yang
tubuhnya te- lah membiru.
Ki Mayang Jambe dan
Telasih terus memperha- tikan Sena yang menarik perhatian mereka. Kening anak
dan bapak itu mengerut, berusaha mengingat- ingat siapa pemuda tampan yang
bertingkah laku gila itu.
"Ki, apakah orang
bercaping lebar yang telah melakukan ini semua?" tanya Sena seraya
memandang Ki Mayang Jambe.
"Benar, Tuan. Dan
kalau tidak salah, apakah Tuan yang sering disebut Pendekar Gila?" balik
tanya Ki Mayang Jambe. Matanya masih memperhatikan dengan seksama sosok pemuda
tampan yang tingkah- nya lucu dan konyol itu.
Sena tersenyum-senyum
sambil menggeleng- gelengkan kepala. Kemudian tangannya menggaruk- garuk
kepala.
"Ah, rasanya
julukan itu terlalu tinggi, Ki. Su- dahlah, tak perlu kau permasalahkan hal
itu," ucap- nya merendah.
Kemudian Sena memeriksa
mayat-mayat itu dengan seksama. Semua korban memiliki kesamaan. Selalu saja ada
sayatan di kening. Sayatan itu sebe- narnya tidak berbahaya, sebab hanya
merobek kulit. Tapi dengan racun yang ganas, luka itu benar-benar dapat mematikan.
Jangankan yang terluka, orang yang menyentuh saja bisa mati dalam sekejap.
"Hm, racun apa
yang digunakan lelaki miste- rius itu? Sungguh ganas sekali," gumam Sena
dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memperhatikan dengan
seksama mayat korban yang membiru. Mata Telasih langsung membelalak ketika men-
dengar kalau korban di kedai milik ayahnya keracu- nan.
"Jadi mereka
keracunan?!" tanya Ki Mayang Jambe setengah tidak percaya.
"Ya! Racun yang
ganas. Kalau saja kau tadi menyentuhnya, kau akan mati pula, Ki," tutur
Sena, menjelaskan.
Mata Ki Mayang Jambe
membelalak tegang. Tubuhnya bergidik jika ingat ucapan Sena dan ingat bagaimana
tadi dia akan menyentuh tubuh korban. Kalau sempat disentuhnya, celakalah dia.
Tentunya kini dia telah mati keracunan.
"Kalau kau tak
percaya, kau boleh mencobanya dengan binatang hidup, Ki. Ambillah
ayam...," kata Se- na, berusaha meyakinkan.
Ki Mayang Jambe segera
pergi ke belakang. Ti- dak lama kemudian, dia telah kembali dengan mem- bawa
seekor ayam. Dilemparkannya ayam itu ke arah
mayat Seketika ayam itu
menggelepar-gelepar sekarat, kemudian kaku tanpa nyawa!
"Hih...!" Ki
Mayang Jambe berdesis ngeri. Ma- tanya bersinar tegang, setelah menyaksikan
keadaan ayam yang sangat mengerikan. Selama hidupnya baru kali ini dia
menyaksikan akibat dari racun yang begitu ganas. Belum ada orang Jawa Dwipa
yang mampu membuat racun begitu ganas. Tak ada sepeminum teh, orang akan mati.
"Hah?!
Tidak...!" pekik Telasih, kembali ketaku- tan menyaksikan bagaimana ayam
jago yang dilempar- kan ayahnya seketika mati.
"Kau sudah
percaya, Ki?" tanya Sena, masih dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Ki Mayang Jambe
mengangguk. Matanya masih terlihat memancarkan kengerian, saat memandang ayam
yang kini bagai terpanggang hangus. Mengerikan sekali!
"Ke arah mana
lelaki bercaping itu pergi, Ki?" tanya Sena setelah lama termenung.
Matanya menya- pu ke luar kedai, pada kerumunan orang yang ingin melihat
suasana di dalam.
"Tuan, orang yang
bercaping tadi menanyakan masalah Ki Segoro Wedi. Juga menanyakan tentang Tuan
dan... Mei... ah! Siapa ya...?" Ki Mayang Jambe berusaha mengingat-ingat
ucapan lelaki bercaping le- bar, namun sulit sekali untuk menyebutkannya.
"Mei Lie...?"
tanya Sena. "Ya, ya! Benar...! Nona Mei Lie." "Hm...,"
gumam Sena perlahan. "Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dan ada
hubungan apa antara dia dengan Mei Lie. Semua orang yang ditemuinya di- tanya
tentang Mei Lie. Lalu kalau tidak tahu, dia akan membunuhnya."
"Oh! Benar, Tuan.
Orang-orang ini pun mu- lanya ditanya tentang Nona Mei Lie. Dan mereka tidak
dapat menjawab. Itu sebabnya mereka dibunuh," tim- pal Ki Mayang Jambe
membenarkan.
Kepala Sena
mengangguk-angguk. Kemudian tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Matanya
masih memandang ke luar. Di sana, orang-orang hanya berkerumun tanpa ada yang
berani masuk
"Hm.... Sangat
berbahaya. Sungguh sebuah bencana besar. Tentunya ada maksud-maksud tak baik
pada orang itu...," gumam Sena sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Bagaimana orang tahu di mana Mei Lie? Melihatnya saja belum pernah. Aku
sendiri, sam- pai saat ini belum tahu di mana dia berada."
"Jadi Tuan
mengenal Nona Mei Lie?" "Ya," sahut Sena singkat. "Ki, aku
harus segera pergi. Kalau kau ingin menyingkirkan mayat-mayat ini, gunakanlah
kayu yang panjang. Terima kasih atas ke- teranganmu."
Usai berkata demikian,
Pendekar Gila melang- kah ke arah pintu. Dengan gerak-gerik seperti orang gila,
tempat itu ditinggalkannya. Semua orang seketika memperhatikannya. Mata mereka
menyipit, menyaksi- kan Sena yang mengingatkan mereka pada desas- desus tentang
seorang pendekar muda yang berting- kah seperti orang gila.
"Mungkin dia
orangnya," bisik salah seorang warga.
"Coba kita
tanyakan pada Ki Mayang Jambe," saran warga lainnya.
Mereka yang semula
hanya berdiri di luar, ma- suk ke dalam kedai untuk menanyakan Ki Mayang Jambe.
Sekaligus ingin melihat apa yang telah terjadi. Mata mereka membelalak, setelah
menyaksikan mayat
bergelimpangan dengan
keadaan yang sangat mengeri- kan. Ketika salah seorang dari mereka hendak meme-
gang, dengan cepat Ki Mayang Jambe mencegah.
"Jangan sentuh
mereka...!" "Kenapa, Ki?" "Mereka keracunan! Apakah kalian
tidak meli- hat ayam itu?"
Semua memandang ke arah
ayam yang terlihat hangus. Mata mereka kian membelalak menyaksikan kejadian
mengerikan yang tampak di hadapan mereka. Namun ada juga salah seorang dari
mereka yang be- lum percaya. Dengan nekat, orang itu memegang tu- buh salah
seorang korban yang merupakan sauda- ranya. Seketika itu juga....
"Akh...!"
orang itu memekik pendek. Tubuhnya mengepulkan asap laksana terbakar. Matanya
melotot bagai hendak keluar, kemudian ambruk dan mati.
"Itulah orang yang
tidak mau percaya!" rutuk Ki Mayang Jambe kesal. Dia sudah memperingatkan,
tapi masih saja orang itu nekat menyentuh korban.
Sementara itu, Sena
semakin jauh meninggal- kan kedai Ki Mayang Jambe. Setelah jauh dari orang-
orang yang tadi berkerumun di luar kedai, tubuhnya segera berkelebat cepat
untuk memburu lelaki miste- rius bercaping lebar.
3
Hembusan angin pagi
bertiup sejuk Diwarnai oleh nyanyian burung yang riang, menyambut kehadi- ran
matahari yang hadir kembali untuk menyinari bumi. Embun-embun belum semuanya
pupus dari re-
rumputan dan daun
pohon. Dari kejauhan terdengar teriakan sengit dua wanita, memporak-porandakan
kedamaian pagi.
"Ceaaat...!"
"Heaaa...!" Dua wanita muda dengan tangan memegang pedang, nampak
tengah bergerak lincah. Tubuh mere- ka bersalto ke udara, lalu menggerakkan
pedang mas- ing-masing. Gemuruh air terjun di samping mereka, kalah oleh
jeritan keduanya yang menggelegar.
Wut, wut..! Trang!
"Hiaaa...!" "Yeaaat...!" Setelah saling menyerang, dengan
cepat mereka melontarkan tubuh ke belakang. Tubuh keduanya ber- jumpalitan di
udara beberapa kali, sebelum kaki-kaki mereka yang mungil kembali menapak di
batu yang li- cin.
Trap! Kedua wanita muda
dan cantik itu sating pan- dang. Pedang di tangan mereka kini disilangkan di
de- pan dada. Secara bersamaan tangan kiri mereka dige- rakkan ke depan,
melakukan gerakan silat. Sedangkan kaki yang menginjak batu, digeser sedikit ke
samping. Menjadikan tubuh mereka kini dalam posisi miring.
"Bersiaplah, Mei
Lie.... Kita harus melakukan jurus 'Tebasan Pedang Bidadari'!" seru wanita
berbaju merah jambu yang bertubuh sintal. Wanita muda yang cantik itu adalah
Nyi Bangil (Baca serial Pendekar Gila dalam episode "Suling Naga
Sakti").
"Aku telah siap,
Kak," sahut gadis Cina berpa- kaian warna hijau daun yang dipanggil Mei
Lie. Wanita cantik berkulit kuning langsat inilah yang telah me-
nambat hati Sena
Manggala atau Pendekar Gila sejak pertemuan pertama.
"'Tebasan Pedang
Bidadari'. Heaaa...!" "Hiaaat...!" Tubuh Nyi Bangil melesat dan
bersalto di uda- ra, laksana seekor burung seriti yang lincah. Tangan kirinya
bergerak melakukan pukulan dan tangkisan. Sedangkan tangan kanannya menebaskan
pedang dengan cepat, sampai pedangnya tidak terlihat.
"Hiaaat..!"
Wut wut..! Pedang di tangan Nyi Bangil menebas air terjun yang ada di
sampingnya. Namun air itu masih saja terpercik pertanda gerakannya belum
sempurna.
"Hiaaa...!"
Mei Lie pun mencelat, lalu bersalto di udara dengan tangan kiri memukul ke
depan. Kemu- dian disusul dengan tebasan pedang ke air terjun itu.
Wut..! Prat! Air terjun
masih terpercik, menandakan gera- kannya juga belum sempurna. Namun Mei Lie tak
puas begitu saja. Setelah bersalto mundur di udara, tubuhnya kembali mencelat
dan membabatkan pe- dangnya ke air terjun.
"Heaaa...!"
Wut! Kali ini air terjun itu tidak sedikit pun terper- cik, membuat mata Nyi
Bangil membelalak. Mulutnya menganga tanpa sadar, menyaksikan hasil yang telah
diperoleh Mei Lie.
Tubuh Mei Lie bersalto
ke belakang sambil memukulkan tangan kirinya ke depan. Kemudian ka- kinya
kembali hinggap di atas batu yang licin. Dengan tersenyum pedangnya kembali
dimasukkan ke dalam sarung.
"Bagaimana,
Kak?" "Hebat! Kau telah menguasainya, Mei Lie," puji Nyi Bangil
dengan bibir tersenyum. Wajahnya yang nampak cerah, menggambarkan kegembiraan.
"Benarkah,
Kak?" tanya Mei Lie tak yakin. "Ya! Bukankah kau telah membacanya
sendiri, bahwa jika air terjun itu tak terpercik, itu berarti kau telah
menguasai jurus 'Tebasan Pedang Bidadari'."
"Bolehkah aku
mencobanya lagi, Kak?" pinta Mei Lie. "Lakukanlah."
Mei Lie mencabut
pedangnya. Tangan kanan- nya ditarik ke belakang. Sedangkan tangan kirinya di-
gerakkan di depan tubuh. Jari-jari tangan kiri merapat dengan telapak tangan
menghadap ke depan. Matanya memandang tajam ke arah air terjun. Nafasnya diatur
sebaik mungkin.
"Heaaat..!"
Mei Lie menekan tangan kirinya ke depan, lalu diputar dengan pelan. Setelah
itu, bersa- maan dengan hentakan tangan kiri, tubuhnya berkele- bat ke udara.
Pedang di tangan kanannya digerak-kan dengan cepat. Wuttt! Kembali mata Nyi
Bangil membelalak, menyak- sikan air terjun itu sedikit pun tak terpercik oleh
sabe- tan pedang Mei Lie. Hal itu menandakan kalau Mei Lie benar-benar telah
menguasai jurus 'Tebasan Pedang Bidadari', yang mereka pelajari dari kitab
'Ilmu Pedang Bidadari'.
"Hebat! Kau
benar-benar telah berhasil, Mei Lie!" seru Nyi Bangil. Tanpa sadar,
tangannya berte- puk. Kepalanya menggeleng-geleng karena kekaguman yang begitu
saja datang.
"Oh! Terima kasih,
Kak Semua ini atas bantuan
Kakak" Nyi Bangil
tersenyum, kemudian melompat ke daratan. Diikuti oleh Mei Lie.
"Kau memang hebat,
Mei Lie. Semua itu karena kemauanmu yang keras, bukan karena aku. Buktinya
sekian tahun aku tidak mampu juga menguasai jurus 'Tebasan Pedang
Bidadari'."
"Ah, Kakak terlalu
merendah," tukas Mei Lie dengan wajah tersipu malu. Pipinya merona merah.
"Kau harus
memperdalam jurus itu, Mei Lie. Setelah jurus itu benar-benar dikuasai, barulah
kau akan mempelajari jurus 'Pedang Tebasan Batin'. Se- buah ilmu pedang yang
dahsyat...," ujar Nyi Bangil se- raya merangkul pundak gadis Cina yang
cantik dan te- lah diangkat adik olehnya. Diajaknya Mei Lie melang- kah.
"Mampukah aku
mempelajarinya, Kak?" "Mengapa tidak?" balik tanya Nyi Bangil
seraya memandang Mei Lie dengan bibir tersenyum. "Kalau jurus 'Tebasan
Pedang Bidadari' telah dikuasai, kau pun akan mampu menguasai jurus pamungkasnya."
"Oh,
benarkah?" tanya Mei Lie sambil memba- las tatapan Nyi Bangil.
Nyi Bangil semakin
melebarkan senyum. Tan- gannya kian erat merangkul pundak Mei Lie.
"Ya. Aku yakin,
kaulah yang berjodoh dengan kitab itu. Kelak jika masanya tiba, kau akan
menjadi pendekar wanita yang sulit mendapat tandingan."
Mei Lie menundukkan
kepala. Hatinya memang ingin sekali menguasai jurus-jurus sakti itu. Jika dia
telah menguasai jurus-jurus sakti itu, tentunya tidak akan malu berjalan
sejajar dengan Pendekar Gila yang sakti.
Ah, di manakah dia
sekarang? Keluh Mei Lie
dalam hati, ketika
teringat kembali pada pendekar muda itu. Sena memang tak dapat dilupakannya.
Cin- ta itu datang dan membelenggu hatinya, sejak awal per-temuan mereka.
Rasanya ingin secepatnya Mei Lie menguasai jurus-jurus sakti itu, agar dia
dapat berte- mu segera dengan Sena dan bisa melangkah seiring dengan pendekar
gagah itu (Silakan baca serial Pende- kar Gila dalam episode pertama yang
berjudul "Suling Naga Sakti").
Mei Lie
tersenyum-senyum seorang diri. Hal itu membuat Nyi Bangil tersenyum.
"Hati-hati, Mei
Lie. Nanti kau benar-benar gila seperti Sena. Hi hi hi...!" Nyi Bangil
tertawa.
Mei Lie tersipu-sipu.
"Ah, Kakak..." "Sudahlah, jangan kau pikirkan Sena dulu. Ke- lak
jika kau telah menguasai semuanya, kau pun akan dapat menemuinya. Dan kau tidak
akan merasa ren- dah diri berjalan seiring dengannya. Ingatlah, jika me- mang
kalian jodoh, tentunya kalian akan bersatu," tu- tur Nyi Bangil.
Mei Lie menundukkan
kepala makin dalam. Pi- pinya merona merah dan bibirnya tersipu-sipu. Ah,
benarkah memang dia jodohku? Duh, Jagat Dewa Ba- tara, satukanlah aku
dengannya. Terus terang, aku mencintainya. Aku ingin berdampingan dengannya un-
tuk selama-lamanya. Hyang Widhi kabulkanlah per- mohonanku. Harap Mei Lie dalam
hati.
"Wah wah wah...!
Ngelamun lagi...," seloroh Nyi Bangil, membuat Mei Lie kembali
tersipu-sipu. "Sudah- lah, jangan terlalu dipikirkan. Kita harus makan
siang dulu. Ayo...."
Dengan tertawa-tawa
ceria, keduanya mening- galkan air terjun yang digunakan untuk latihan. Mere-
ka tampak sangat akrab
sekali, seperti kakak beradik saja. Dan itu pula yang membuat Mei Lie dapat
melu- pakan kematian ayahnya ketika Segoro Wedi merajale- la.
***
Di dalam sebuah gubuk
yang terbuat dari daun pandan yang terletak di tengah hutan dekat air terjun
yang biasa digunakan oleh Mei Lie dan Nyi Bangil ber- latih, tiga wanita muda
yang cantik tampak tengah du- duk bersila di atas tikar pandan.
Yang seorang berbaju
merah jambu dengan rambut tergerai bebas, dan berikat kepala berwarna merah
jambu pula. Dialah Nyi Bangil. Seorang lagi berbaju hijau daun dengan lengan
melebar seperti len- gan baju gadis Cina. Gadis ini tidak lain Mei Lie. Se-
mentara seorang lagi, adalah seorang gadis cantik ber- pakaian warna biru laut.
Rambutnya terurai, dengan ikat kepala berwarna biru tua. Dia adalah adik seper-
guruan Nyi Bangil, bernama Lira Kanti.
Ketiga gadis cantik itu
tengah menghadapi tiga piring yang terbuat dari tanah, berisikan nasi dengan
ikan bakar. Mereka nampaknya tengah makan siang.
"Dari mana kau
mendapatkan ikan, Lira?" tanya Nyi Bangil.
"Dari pasar, Kak.
Oh, ya. Tadi aku mendengar sebuah berita yang menarik," kata Lira Kanti.
"Berita...?"
gumam Mei Lie dengan mata me- mandang Lira Kanti.
"Ya."
"Berita apa, Lira?" tanya Nyi Bangil. "Menyangkut masalah Kak
Mei Lie." Mei Lie dan Nyi Bangil saling pandang, kemu-
dian pandangan mereka
tertuju pada Lira Kanti yang tetap menyantap makanannya. Sedangkan keduanya
justru menghentikan makan.
"Coba kau
terangkan, Lira," pinta Nyi Bangil. Lira Kanti tergesa menelan makanannya.
Diambilnya cangkir yang terbuat dari tanah. Setelah minum bebe- rapa teguk Lira
Kanti menghentikan makannya. Na- fasnya diatur sesaat, sebelum menuturkan
berita yang sempat didengarnya.
"Saat ini rimba
persilatan tengah geger oleh be- rita yang menyebutkan bahwa, barang siapa yang
bisa memperistri Kak Mei Lie, maka orang itu akan menjadi seorang pendekar yang
tiada tandingannya. Begitulah berita pertama."
"Hah...?!"
Mei Lie dan Nyi Bangil terpana. Keduanya kem- bali saling pandang dengan kening
berkerut. Kemudian mereka sama-sama memandang Lira Kanti kembali.
"Bagaimana
mungkin, Lira?" tanya Mei Lie, ma- sih mengerutkan kening. "Aku bukan
bidadari atau dewi. Aku manusia biasa. Mengapa aku disamakan dengan Dewi Kuan
Im yang membawa keberuntun- gan?"
"Entahlah, aku
sendiri tak mengerti. Namun katanya, pada pusar Kakak terdapat sebuah tanda ka-
lau Kak Mei Lie adalah titisan dari Dewi Kuan Im."
"Benarkah
itu?" tanya Nyi Bangil. Pandangan- nya kini tertuju ke arah Mei Lie.
"Coba aku lihat."
Dengan perasaan tak
mengerti, Mei Lie segera membuka bajunya.
Mata Nyi Bangil dan
Lira Kanti membelalak, ke- tika melihat sebuah gambar bunga Wijaya Kesuma,
tanda Dewi Kuan Im. Gambar itu berwarna emas, se- hingga tidak begitu kentara
di kulit Mei Lie yang kun-
ing langsat
"Oh, benar
juga," desis Nyi Bangil. "Bagaimana mungkin kau tidak mengetahuinya,
Mei Lie?"
"Entahlah, Kak.
Aku tidak peduli dengan gam- bar yang memang sudah ada sejak kecil. Mungkin
gambar ini pula yang menyebabkan Kauw Cien Lung memburuku," tutur Mei Lie.
"Kauw Cien Lung?
Siapa dia...?" tanya Nyi Ban- gil.
"Seorang lelaki
muda berilmu tinggi. Dia juga memiliki ilmu siluman yang mampu mengubah wujud-
nya menjadi singa. Itu sebabnya dia dijuluki Houw San, atau Singa Jantan. Ilmu
pedangnya sangat hebat" "Apakah dia mengenakan caping lebar dan ber-
pakaian coklat tua...?" tanya Lira Kanti, membuat ma- ta Mei Lie
membelalak.
"Benar! Dari mana
kau tahu, Lira?" tanya Mei Lie kaget "Baru saja hendak kuceritakan
padamu. Bahwa orang yang Kakak sebut, kini telah berada di tanah Jawa Dwipa
ini. Dia tengah mencari Kakak dan Pende- kar Gila," tutur Lira, menerangkan
apa yang didengar- nya.
"Apa...?!"
pekik Mei Lie dan Nyi Bangil berba- reng.
"Untuk apa dia
mencari Pendekar Gila?" sam- bung Nyi Bangil.
"Dia menyangka
kalau Kak Mei Lie bersama Sena," jawab Lira Kanti menegaskan.
"Oh...,"
keluh Mei Lie. "Hyang Widhi, lindungi- lah Sena. Aku takut, Kak...."
Nyi Bangil menghela
napas. "Tak perlu kau takutkan, Mei Lie. Sena bukan- lah orang
sembarangan. Ilmunya tinggi."
"Tapi, Kauw Cien
Lung berilmu siluman, Kak. Ilmu pedangnya juga sangat sulit ditandingi. Di
negeri kami, tak ada yang mampu melawannya. Bahkan kai- sar pun sangat
menghormatinya," jelas Mei Lie dengan nada semakin cemas.
Nyi Bangil dan Lira
Kanti terdiam. Keduanya merasakan bagaimana perasaan Mei Lie saat itu. Ten-
tunya gadis Cina itu sangat mengkhawatirkan kesela- matan Pendekar Gila. Itu
dapat dimaklumi, sebab Mei Lie memang mencintai Sena.
"Kita berdoa saja,
Mei Lie. Dan aku yakin, kalau kau telah menguasai jurus 'Pedang Tebasan Batin',
kau akan mampu mengalahkannya. Untuk itulah, kau harus bisa menguasai jurus
pamungkas itu," hibur Nyi Bangil, sekaligus menghibur dirinya sendiri
"Akan kucoba,
Kak." "Apa lagi yang kau dapatkan, Lira?" tanya Nyi Bangil.
Lira Kanti mengerutkan
kening, mengingat- ingat kembali berita yang didengarnya dari orang- orang di
pasar.
"Lelaki bercaping
lebar itu membunuh banyak orang," katanya setelah berhasil mengingat-ingat
"Orang yang ditemuinya, selalu ditanya di mana Kak Mei Lie. Jika mereka
menjawab tidak, langsung dibu- nuh. Dia juga terus mencari para pendekar untuk
di- ajak bertarung."
Nyi Bangil menghela
napas mendengar penutu- ran adik seperguruannya itu. Baru saja masalah Sego- ro
Wedi usai, kini ada lagi orang yang tindakannya ke- ji. Bahkan lebih keji
dibandingkan Segoro Wedi.
Ingat akan Segoro Wedi,
tidak terasa Nyi Bangil menitikkan air mata. Lelaki itu memang sangat diben-
cinya. Tapi sekaligus dicintainya. Bagaimanapun juga,
dia telah merasakan
pelukan dan kehangatan cinta Segoro Wedi. Kalau saja Segoro Wedi mau
memperistri nya, tentunya tak akan terjadi derita seperti itu.
Semua terdiam, membisu
dengan pikiran mas- ing-masing. Lama keadaan hening itu terjadi.
"Aku harus segera
menamatkan kitab itu, Kak. Aku khawatir tindakannya akan semakin
merajalela," ujar Mei Lie, memecahkan kebisuan.
"Aku mengerti, Mei
Lie. Tenanglah... Mempela- jari ilmu tingkat tinggi tidak semudah berbicara.
Terle- bih mempelajari jurus 'Pedang Tebasan Batin'. Jan- gankan kita, guruku
saja perlu bertahun-tahun untuk menguasainya. Sampai beliau meninggal, ilmu itu
be- lum juga bisa dikuasainya. Namun semoga kau mam- pu mempelajarinya, Mei
Lie."
Mei Lie tersenyum.
Dipeluknya tubuh kakak angkatnya itu erat-erat.
"Doamu akan
menambah kemampuanku, Kak. Semoga atas doamu, aku dapat secepatnya menguasai
jurus tersebut"
"Ya. Memang itu
yang kuharapkan," kata Nyi Bangil.
"Nanti sore, aku
akan mempelajarinya. Boleh- kah, Kak?"
Nyi Bangil tersenyum.
"Kenapa tidak? Kau adalah adikku. Maka kau pun berhak mempelajari Kitab
Ilmu Pedang Bidadari. Siapa pun yang akan mampu menguasai, dialah pewa- ris
'Ilmu Pedang Bidadari'," tutur Nyi Bangil dengan senyum masih menghias
bibirnya.
"Oh, terima kasih,
Kak." "Jangan berterima kasih padaku, Mei Lie. Tapi berterima
kasihlah pada Dewi Keberuntungan, Dewi Kuan Im, yang telah menitis
padamu," ujar Nyi Bangil
sambil membalas pelukan
adik angkatnya. "Ayo kita teruskan makan."
Dengan penuh
persaudaraan, ketiganya kemba- li melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.
Mereka makan dengan lahap. Sesekali bibir mereka menyunggingkan senyum.
Angin siang berhembus
pelan, membawa alu- nan mayapada yang mendayu. Meski terik mentari lak- sana
membakar, namun hawa sejuk mampu membuat kesegaran. Sepertinya, alam turut
berdoa untuk Mei Lie yang di hatinya tersimpan semangat. Semangat un- tuk
mempelajari jurus pamungkas 'Pedang Tebasan Batin'.
4
Kehadiran lelaki
misterius bercaping lebar den- gan sepak terjangnya, membuat orang-orang
persilatan bagai ditantang. Salah satunya adalah Ki Tunggul Ma- nik. Ketua
Perguruan Teratai Putih itu benar-benar marah mendengar berita tentang lelaki
itu. Karena itu, Ki Tunggul Manik pergi meninggalkan perguruannya untuk mencari
lelaki bercaping dari Cina.
Semilir angin sore
menerbangkan debu-debu di Lembah Kancah Wala. Tampak dua orang lelaki siap
untuk melakukan pertarungan. Seorang lelaki seten- gah baya berjubah putih
dengan rambut digelung. Ikat kepalanya putih, bergambar teratai. Begitu juga
den- gan simbul di dada sebelah kiri. Lelaki itu tak lain Ki Tunggul Manik,
Ketua Perguruan Teratai Putih.
Sementara lawannya
adalah seorang lelaki ber- jubah coklat tua dengan jubah pesilat Cina.
Kepalanya
ditutupi oleh caping
lebar, sehingga sulit bagi Ki Tung- gul Manik untuk mengenali wajah orang itu.
"Kisanak.., apakah
kau datang dari jauh sema- ta-mata untuk membantai orang-orang persilatan di
tanah Jawa Dwipa ini?!" tanya Ki Tunggul Manik. Ma- tanya mengawasi dengan
tajam setiap gerakan lelaki bercaping lebar.
"Hm...."
Lelaki bercaping lebar itu hanya bergumam. Tangannya masih bersidekap.
Sepertinya, dia sangat merendahkan lelaki setengah baya di hadapannya, meski
tangannya menggenggam sebuah senjata ber- bentuk tombak pendek bermata dua.
"Jika itu memang
tujuanmu, aku Tunggul Ma- nik tak akan tinggal diam!" dengus Ki Tunggul
Manik
"Hm... Kau seorang
pendekar?" tanya lelaki ber- caping lebar dengan suara sinis dan berat.
"Benar!"
"Hm.... Kau tahu di mana Pendekar Gila?" Mata Ki Tunggul Manik
terbelalak mendengar nama Pendekar Gila disebut-sebut oleh lelaki itu. Na-
fasnya mendengus dengan memburu. Tangannya yang memegang tombak bermata dua,
siap melakukan se- rangan. "Untuk apa kau mencarinya?!" tanya Ki
Tung- gul Manik.
"Kau kenal
dengannya?" "Ya! Dia sahabatku," jawab Ki Tunggul Manik masih
waspada.
"Bagus! Katakan
padanya, aku ingin bertarung dengannya! Dia harus mati di tanganku!"
Sombong dan terdengar
merendahkan sekali ucapan lelaki bercaping lebar itu. Seakan ilmunya san- gat
tinggi, sehingga berkata begitu sombong hendak
membunuh Pendekar Gila.
Hal itu juga yang membuat Ki Tunggul Manik kian gusar.
"Kurang ajar!
Rupanya kau terlalu sombong, Orang Asing! Kalaupun bisa membunuhku, itu belum
berarti kau akan mampu mengalahkannya! Hadapi aku dulu...!" tantang Ki
Tunggul Manik sengit
"Hm, begitu?
Baiklah kalau itu kemauanmu. Bersiaplah!"
"Aku sudah
siap!" Usai berkata demikian, Ki Tunggul Manik sege- ra menarik kaki
kirinya dua langkah ke belakang. Tombak pendek bermata dua di tangan kanannya
di- putar dengan cepat. Sedangkan tangan kirinya, dengan jari-jari menyatu
menghentak ke depan. Telapak tan- gannya memukul ke arah la wan.
Sementara itu, lelaki
bercaping lebar seperti tak menghiraukan gerakan yang dilakukan Ki Tunggul
Manik. Dia tetap bersidekap dengan tenang dan me- mandang Ki Tunggul Manik yang
siap menyerang.
"Hm...,"
gumam lelaki bercaping lebar itu. Ke- mudian tangannya yang bersidekap membuka.
Tangan kanan bergerak ke belakang, lalu melolos pedang dari sarungnya.
Wut, wut..! Pedang
panjang yang telah banyak memakan korban itu digerakkannya. Dari pedang itu,
memancar sinar putih kebiru-biruan tertimpa sinar matahari. Di- ciumnya pedang
itu, kemudian digerakkan ke samping kanan. Itulah jurus 'Tebasan Pedang
Membelah Mega'. Sebuah jurus yang telah banyak memakan korban.
Ki Tunggul Manik yang
sudah mendengar se- pak tenang lelaki di hadapannya, tidak mau gegabah. Tombak
pendek bermata dua miliknya diputar cepat. Mengubah tombak itu menjadi
baling-baling yang
membentengi tubuhnya.
Kemudian dengan pekikan mengggelegar, Ki Tunggul Manik menyerang dengan jurus
yang tak kalah hebat bernama 'Perisai Raga Me- nyambar Nyawa'.
"Hiaaa...!" "Hm...." Lelaki bercaping lebar itu bergumam
perlahan. Kemudian pedang di tangan kanannya digerakkan dengan cepat membabat
ke depan dan ke samping. Sementara tangan kirinya diletakkan di depan dada.
"Hiaaa...!"
Ki Tunggul Manik mulai melabrak. Tombak pendek bermata dua berdesing untuk
menembus dada lawan.
Tring! Dengan cepat
lelaki bercaping lebar memba- batkan pedang ke senjata lawan. Kemudian segera
ba- las menyerang dengan tebasan dari atas ke bawah.
"Heaaat..!"
Wut! Tubuh Ki Tunggul Manik segera menyurut ke samping. Tubuhnya dimiringkan
dengan cepat, kemu- dian tombak pendek bermata dua disapukan ke arah lawan
dengan jurus 'Sapuan Tombak Memenggal Ka- rang'.
Tring!
"Hiaa...!" "Ups!" Ki Tunggul Manik berusaha menyerang dengan
cepat agar lawan tidak mendapat peluang. Tombaknya terus menusuk dan membabat
ke tubuh lawan dan se- sekali menangkis babatan pedang lawan.
"Hiaaat..!"
"Yeaaa!"
Keduanya terus
berkelebat serta saling memba- bat dan menusukkan senjata masing-masing. Ki
Tung- gul Manik yang tidak mau mati percuma seperti kor- ban lelaki bercaping,
berusaha mengimbangi serangan lawan. Tombak pendeknya digerakkan dengan cepat
"Hiaaa...!"
Ki Tunggul Manik mulai melabrak. Tombak pendek bermata duanya berdesing,
mengarah ke dada lelaki bercaping bambu.
Dengan tak kalah
sigapnya, lelaki bercaping le-
bar itu membabatkan
pedangnya ke senjata lawan....
Tring! Terdengar suara
berdenting yang ditim- bulkan akibat benturan kedua senjata.
Wut, wut..! Tring!
Trang...! "Heaaa...!" Ki Tunggul Manik telah berusaha sekuat tenaga
untuk dapat mengimbangi serangan lawan. Namun pedang lawan yang menebarkan
racun ganas, mem- buat lelaki setengah baya itu agak lemah. Serangan-
serangannya tidak segarang sebelumnya. Dadanya te- rasa sesak. Matanya malah
berkunang-kunang.
"Racun!"
pekik Ki Tunggul Manik dengan mata mengerjap-ngerjap untuk mengusir rasa pening
yang tiba-tiba mendera. Tidak disangkanya kalau pedang lawan ternyata beracun.
Dengan cepat Ki Tunggul Ma- nik menekan tombol di tombak pendek bermata dua
miliknya. Srrrt..!
Dengan menggunakan
jurus 'Ekor Naga Menu- suk Gunung', Ki Tunggul Manik kembali menyerang. Mata
tombaknya tiba-tiba meluncur dari batang tom- bak, dan terikat pada rantai baja
yang panjang.
"Heit..!"
Lelaki bercaping lebar tersentak kaget. Tubuh- nya melompat mundur dengan
cepat. Kalau saja gera- kan itu tak dilakukannya, tentu perutnya akan ter-
tembus oleh mata tombak yang tiba-tiba melesat cepat. Melihat lawannya kaget,
Ki Tunggul Manik tak menyia-nyiakan kesempatan. Setelah menarik rantai
penghubung mata tombak ke belakang, dia kembali mengubah arah tombak. Kemudian
setelah mata tom- bak yang satunya berada di depan, Ki Tunggul Manik
kembali menekan tombol
di batang tombak.
Srrrt! Mata tombak
kembali melesat cepat ke arah le- laki bercaping lebar. Dengan cepat dia
melenting ke atas, mengelakkan serangan lawan. Kemudian, dengan ringan tubuhnya
mendarat di atas rantai mata tombak yang terentang. Dengan menggunakan jurus
'Singa Melompat' yang dipadukan dengan jurus 'Tebasan Me- renggut Nyawa',
lelaki bercaping lebar itu menyerang.
"Oh...?!" Ki
Tunggul Manik yang tidak pernah menduga lawan akan berjalan di atas rantai
tombaknya menjadi tersentak. Dia berusaha menarik rantai, namun lawan telah
mendahului.
"Hiaaa...!"
Tubuh lelaki bercaping lebar kembali bersalto di udara. Pedang di tangannya
bergerak cepat ke wajah Ketua Perguruan Teratai Putih itu.
Ki Tunggul Manik
berusaha mengelakkan teba- san pedang lawan. Namun gerakan lawan rupanya jauh
lebih cepat di banding gerakan mengelaknya. Tanpa ampun lagi....
"Heaaat..!"
Wut! Cras! "Aaakh...!" Ki Tunggul Manik memekik keras. Matanya
melotot lebar. Di keningnya nampak sayatan pedang lawan. Tubuh lelaki setengah
baya itu menge- pulkan asap laksana terbakar. Lalu mengejang sesaat, sebelum
terjerembab jatuh tanpa nyawa.
"Hm...."
Lelaki bercaping lebar bergumam. Tangan ki- rinya menyeka darah yang meleleh di
ujung pedang- nya. Kemudian pedangnya dimasukkan ke dalam sa-
rungnya. Setelah
memandang tubuh Ki Tunggul Ma- nik, lelaki bercaping lebar itu berlalu dari
situ.
***
"Jagat Dewa
Batara," keluh Sena lirih, ketika menyaksikan lelaki yang telah menjadi
korban beri- kutnya dari lelaki misterius itu. "Ki Tunggul Manik, malang
benar nasibmu."
Sena Manggala atau
Pendekar Gila berjongkok di depan tubuh Ki Tunggul Manik yang membiru den- gan
kening tergores.
"Terlambat! Ah,
rupanya aku terlambat datang," keluh Sena. Wajahnya tampak sedih, menyaksikan
seorang sahabatnya telah menjadi korban lelaki ber- caping lebar.
Setelah lama memandangi
tubuh Ki Tunggul Manik, tubuh Sena kembali berdiri. Matanya meman- dang ke
sekeliling tempat itu, berusaha mencari jejak lelaki bercaping lebar.
"Huh, sulit sekali
aku mencarinya. Seakan dia memiliki ilmu siluman. Jejaknya tak ada,"
gerutu Sena sambil nyengir dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Sekali
lagi matanya menyapu ke sekeliling tem- pat itu, namun tetap saja tidak
dilihatnya jejak lelaki itu.
"Aneh
sekali," gumam Sena terheran-heran. "Bagaimana mungkin manusia tidak
memiliki jejak?"
Pendekar Gila semakin
keras menggaruk-garuk kepala. Kemudian keningnya ditepuk-tepuk, berusaha
berpikir untuk mendapatkan cara agar dapat mene- mukan lelaki bercaping itu.
"Aha! Bukankah dia
tengah mencariku?" ta-
nyanya pada diri
sendiri. "Aku akan tertawa. Semoga tawaku akan terdengar olehnya."
Pendekar Gila kemudian
tertawa terbahak- bahak dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Ta- wanya
menggelegar laksana suara halilintar di musim hujan. Bersahut-sahutan menembus
cakrawala. Bah- kan banyak sekali pepohonan di sekeliling lembah itu menjadi
tumbang. Dan batu di bukit runtuh dan melu- ruk ke bawah laksana dihajar oleh
badai.
"Ha ha
ha...!" Meski Sena telah mengeluarkan tawanya mele- bihi suara halilintar,
tetap saja orang yang dicarinya tak juga muncul. Sepertinya lelaki bercaping
lebar itu telah jauh sekali meninggalkan tempat tersebut.
"Huh...!"
keluh Sena kesal, setelah usahanya tak berhasil. Tangannya kembali
menggaruk-garuk ke- pala dengan mulut nyengir. "Korban.... Ah, bencana
kembali datang."
Kembali mata Sena
memandangi mayat Ki Tunggul Manik yang membiru.
Tengah Sena memandangi mayat
sahabatnya, dari arah utara berdatangan murid-murid Perguruan Teratai Putih
bersama seorang gadis cantik yang tidak lain Suciati.
"Guru...!"
pekik murid-murid Perguruan Teratai Putih, nyaris berbareng.
Ketika mereka hendak
memeluk tubuh Ki Tunggul Manik, dengan cepat Sena mencegah. "Jangan!
Jangan sentuh dia...!" Semua mengerutkan kening serta mengurung- kan niat
hendak memeluk mayat guru mereka. Kini pandangan mereka beralih pada Pendekar
Gila.
"Tuan Pendekar,
apa maksudmu?" tanya Sucia- ti tak senang.
"Aku tak bermaksud
jahat pada kalian. Per- cayalah," sahut Sena.
"Lalu mengapa Tuan
melarang kami menyentuh mayat guru?" tanya Anggrojoyo, murid tertua dari
Per- guruan Teratai Putih. Wajahnya menggambarkan keti- daksenangan. Kalau saja
dia tidak ingat siapa pemuda di hadapannya, sudah barang tentu lelaki berusia
seki- tar tiga puluh lima tahun yang berwajah bulat dan ber- tubuh besar itu
akan melabrak Sena.
Sementara Sena hanya
menggaruk-garuk kepa- la. Matanya memandang ke angkasa. Ketika di angka- sa
melintas beberapa ekor burung, segera tangannya memungut batu kecil. Kemudian
batu itu disentilkan ke atas. Wut!
Dess!
"Keak..!" Satu burung memekik, lalu meluncur ke bawah terkena
hantaman batu kecil itu. Dengan cepat tubuh Sena melompat ke atas untuk
menangkap burung ter- sebut. Lalu kembali turun dan berdiri di hadapan mu-
rid-murid Perguruan Teratai Putih yang tak mengerti maksud pemuda itu.
"Untuk apa burung
itu?" tanya Anggrojoyo. "Apakah kau akan pamer ilmu pada kami?"
Sena tertawa tergelak-gelak.
Tangan kanannya menggaruk-garuk kepala. Sedang tangan kirinya, ma- sih
memegangi burung yang terus berontak.
"Ah ah ah.... Apa
artinya ilmu untuk murid- murid Perguruan Teratai Putih. Tentunya ilmuku be-
lum seberapa dibandingkan kalian," kata Sena, meren- dahkan diri.
Tapi hal itu rupanya
mendatangkan kesalah- pahaman pada diri Anggrojoyo,
"Bedebah! Kau
menghina kami, Pendekar Gila! Katakan maksudmu yang sebenarnya, jangan sampai
aku menghajarmu!" bentak Anggrojoyo marah, merasa ucapan Sena tadi merupakan
sindiran baginya.
Sena tertawa
tergelak-gelak. Tangannya kemba- li menggaruk-garuk kepala. Lalu kepalanya
digeleng- gelengkan perlahan.
"Maaf jika kau
tersinggung, Kisanak. Tapi aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya berkata yang
se- benarnya."
"Kurang ajar!
Kuhajar mulutmu!" bentak Anggrojoyo lagi. Ketika darahnya mulai sampai di
ke- pala dan hendak menyerang, Suciati dengan cepat me- larangnya.
"Hentikan!"
bentak Suciati, membuat Anggro- joyo mengurungkan niatnya. "Tuan Pendekar,
katakan- lah apa yang kau maksudkan."
"Sebenarnya aku
tidak bermaksud jahat pada kalian. Kalian lihat burung ini masih hidup. Nah,
seka- rang lihatlah."
Sambil berkata begitu,
Pendekar Gila segera melemparkan burung yang ditangkapnya ke tubuh Ki Tunggul
Manik
"Keaaak...!"
Burung itu memekik keras, merasakan kesaki- tan yang tiada taranya. Tubuhnya
menyentuh tubuh Ki Tunggul Manik, seketika mengepulkan asap seperti terbakar.
Burung itu menggelepar-gelepar beberapa saat. Kemudian mati. Tubuhnya hangus,
dengan bulu-bulu terbakar habis. Bagai dipanggang di atas api yang me- nyala.
Semua murid Perguruan
Teratai Putih terma- suk Suciati membelalak. Wajah mereka memperli-
hatkan kesan kengerian.
Kemudian dengan malu- malu, mereka memandang ke arah Sena.
"Kalian lihat apa
yang terjadi?" tanya Sena. Semua menganggukkan kepala. "Kalau kalian
mau coba, silakan. Aku sudah menasihati kalian," kata Sena sambil
menggaruk- garuk kepala.
Semua terdiam tanpa ada
yang menjawab. Se- dangkan Anggrojoyo tampak pucat. Dia didera rasa malu yang
tak terkira, karena telah menuduh yang ti- dak-tidak pada pendekar muda itu.
"Maafkan atas
kekasaranku tadi, Tuan Pende- kar," desis Anggrojoyo dengan kepala
menunduk.
Sena malah tertawa
tergelak-gelak Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala.
"Tak ada yang
salah, Kisanak. Ku maklumi ba- gaimana perasaan kalian."
"Lalu apa yang
harus kami lakukan pada mayat guru kami?" tanya Suciati.
"Tak ada yang
perlu kalian lakukan. Biarkan saja mayat guru kalian begitu. Kalian tak akan
sang- gup menahan racun ganas yang menjalar di tubuh- nya," kata Sena
lirih. Pandangannya kini kembali pada murid-murid Perguruan Teratai Putih.
"Bagaimana dengan
perguruan kami?" tanya Anggrojoyo.
"Itu terserah
kalian. Namun sebaiknya kalian adakan rapat untuk menentukan pengganti Ki
Tunggul Manik. Carilah jalan yang terbaik. Teruskan ajaran Ki Tunggul
Manik," saran Sena.
"Apakah tidak
sebaiknya Tuan turut bersama kami untuk melakukan pengangkatan?" tanya
Suciati.
Sena tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Tangannya masih menggaruk-garuk kepala.
"Ah, terima kasih.
Kalau saja ada kesempatan, tentu aku akan senang mendapat tawaran itu. Tapi aku
tak ada waktu. Aku harus segera menyelidiki pe- laku semuanya ini. Nah, aku
permisi."
Sebelum murid-murid
Perguruan Teratai Putih sempat berkata, tubuh Sena telah melesat pergi. Mem-
buat murid-murid Perguruan Teratai Putih hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepala, ketika terdengar tawa Pendekar Gila dari kejauhan. 5
Akibat sepak terjang
lelaki Cina yang disebut Mei Lie sebagai Kauw Cien Lung atau si Singa Jantan
itu sangat berpengaruh di rimba persilatan. Kaum per- silatan dari aliran hitam
yang semula tak berani unjuk gigi, kini beraksi kembali dengan segala kebejatan
yang mereka bawa. Terlebih setelah tersebar kabar bahwa Mei Lie adalah titisan
Dewi Kuan Im, atau Dewi Kebe- runtungan.
Di antara puluhan tokoh
sesat, yang namanya kini menjadi momok ada dua orang. Yang pertama Ke- bo
Pangawon. Sedang seorang lagi adalah Karto Songo.
Sepak terjang kedua
tokoh hitam itu memang kelewatan. Mereka ibarat memancing di air keruh. Di saat
para pendekar tengah digemparkan oleh kemun- culan Kauw Cien Lung, mereka pun
mengambil ke- sempatan untuk melampiaskan nafsu jahat yang membuat rimba
persilatan kian membara.
Keduanya melakukan
teror. Tidak hanya pada perguruan-perguruan silat, pada rakyat biasa pun me-
reka tak segan-segan melakukan kekejaman.
Sejak kedatangan Kauw
Cien Lung, malam menjadi suasana yang menyeramkan. Sepertinya se- mua orang tak
ada yang berani untuk keluar dari ru- mah. Begitu juga dengan orang-orang
perguruan. Me- reka tak mau menjadi korban kebiadaban dan kekejian lelaki dari
Cina itu.
Begitu juga yang terjadi
pada Perguruan Bin- tang Emas yang dipimpin Dewi Pandagu. Suasana per- guruan
yang baru kembali bangkit setelah diserbu oleh Laskar Setan pimpinan Ki Catrik
Ireng (Untuk jelas- nya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode 'Duel
di Puncak Lawu"). Hanya empat murid perguruan saja yang tampak tengah
berjaga-jaga.
Di tengah malam yang
dikungkung suasana mencekam, dua sosok tubuh mengendap-endap men- dekati
bangunan perguruan tersebut. Mata mereka menyapu ke sekeliling bangunan itu.
Sementara wajah mereka tertutup kain hitam.
Yang seorang bertubuh
gemuk pendek dengan rambut panjang tak terurus. Berpakaian warna ungu lengan
panjang. Alis matanya tebal. Matanya lebar dan bulat Dia adalah Kebo Pangawon.
Seorang lagi bertubuh
kurus. Rambutnya pan- jang terurai. Sedangkan di bagian atas kepalanya bo- tak,
berikat kepala warna jingga seperti pakaiannya. Matanya agak sipit. Alis
matanya tebal. Orang ini ber- nama Karto Songo.
"Hi hi
hi...," Kebo Pangawon tertawa kecil. "Duh, Dewi. Sudah lama aku
mendambakanmu. Ak- hirnya malam ini kau akan kudapatkan."
"Ssst..! Jangan
berisik! Lihat, ada empat orang gadis cantik. Kau dua, aku dua...!
Ayo...!" ajak Karto Songo.
Dengan cepat dan
ringan, tubuh keduanya ber-
kelebat cepat. Sebelum
keempat gadis itu berteriak, keduanya telah melakukan totokan.
Tuk, tuk!
"Ukh...!" Keempat gadis itu mengeluh lirih, sebelum ak- hirnya
terdiam bagai patung. Hanya mata mereka yang membeliak. Mulut mereka yang
hendak menjerit, tak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Hi hi
hi...!" Kebo Pangawon tertawa kecil den- gan tangan menutupi mulutnya.
Kemudian dia me- langkah untuk mendekati wajah salah seorang gadis itu.
Cup! Ciuman Kebo
Pangawon mendarat di pipinya. Mata wanita cantik itu kontan membeliak marah.
Se- dangkan Kebo Pangawon kembali menutup wajahnya dengan kain hitam sambil
tertawa kecil. Tangannya di- lambaikan pada keempat gadis itu, membuat mereka
semakin melotot marah. Namun mereka tak dapat ber- buat apa-apa, selain
menggerutu panjang pendek da- lam hati. Kebo Pangawon dan Karto Songo kini
melang- kah ke dalam lingkungan perguruan dengan tenang, karena tak ada lagi
yang menghalangi mereka.
"Kau ke sana, aku
ke situ," kata Kebo Panga- won dengan berbisik pelan.
"Pintar kamu. Di
situ memang tempat Dewi Pandagu," ujar Karto Songo perlahan.
Setelah saling
mengangguk, tubuh keduanya segera melompat ke atas bangunan.
Dengan mengendap-endap,
Kebo Pangawon me- langkah seperti kucing yang mengintai mangsa. Kemu- dian dia
bersimpuh, setelah merasa yakin kalau dia te- lah berada di atas kamar Dewi
Pandagu. Perlahan-
lahan, tangannya
membuka genteng bangunan itu. La- lu mengintip ke bawah.
"Ah, bukan,"
keluh Kebo Pangawon berbisik. Di- tutupnya kembali genteng itu. Sesaat dia
termenung, mereka-reka di mana letak kamar Dewi Pandagu.
Kebo Pangawon kembali
mengendap-endap. Se- telah lima langkah, dia kembali bersimpuh. Lalu perla-
han-lahan, dibukanya genteng di tempat itu. Matanya memandang ke dalam ruangan
di bawahnya.
Bibirnya tersenyum
tatkala matanya melihat Dewi Pandagu di kamar itu. Kebo Pangawon yang me- mang
sudah tak tahan lagi melihat tubuh Dewi Panda- gu, menyeruak turun dengan cepat.
Brak! Dewi Pandagu
langsung terjaga dari tidurnya ketika mendengar kegaduhan. Saat itu pula,
sesosok tubuh gemuk pendek melayang dari atas, membuat Dewi Pandagu membentak
keras.
"Siapa kau?!"
Lelaki gendut itu menjawabnya dengan tawa li- rih. Kemudian kain hitam yang
menutupi wajahnya di- buka, membuat Dewi Pandagu semakin membelalak- kan mata
setelah tahu siapa lelaki itu
"Kau...?!"
Kebo Pangawon tersenyum nakal. "Ya. Aku.... Lama aku merindukan saat-saat
seperti ini, Dewi. Akhirnya aku mendapat kesempatan juga."
"Kurang ajar!
Lancang benar kau masuk ke kamarku! Heaaat..!"
Dewi Pandagu yang sudah
marah setelah tahu siapa lelaki yang telah menjebol kamarnya, segera me-
nyerang dengan jurus-jurus tingkat tinggi. Tangannya bergerak cepat, memukul ke
arah lawan. Sedangkan
tangan kirinya bergerak
menyambar selendang. Tapi belum juga tangan itu sampai, Kebo Pangawon telah
mendahuluinya.
"He he he..!"
Kebo Pangawon tertawa setelah mengelakkan selendang itu. Kemudian dengan cepat
mengelitkan serangan Dewi Pandagu. "Kau masih saja galak, Dewi. Tapi
memang itu yang aku suka."
"Manusia rendah!
Heaaa...!" Meski tubuh Kebo Pangawon pendek dan ge- muk, namun gerakannya
sangat lincah. Beberapa kali serangan-serangan Dewi Pandagu yang garang dan
mematikan, hanya menebas angin. Setiap kali Dewi Pandagu menyerang, dengan
cepat Kebo Pangawon berkelit. Malah serangan balik yang dilakukannya cu- kup
membuat Dewi Pandagu kewalahan.
"Ini untukmu,
Dewi. Hih...!" Tangan Kebo Pangawon bergerak dengan jari- jari terbuka lebar,
menyerang dada Dewi Pandagu.
"Hiaaa...!"
Dewi Pandagu dengan cepat menyapukan tan- gan kiri untuk memapaki serangan
lawan. Disusul oleh tendangan kaki kanannya ke selangkangan lawan.
Melihat serangan yang
dilancarkan oleh Dewi Pandagu, dengan terkekeh Kebo Pangawon menge- litkannya.
Tubuhnya yang gemuk pendek miring ke samping. Kemudian dengan cepat tangannya
menye- rang perut Dewi Pandagu.
"He he he...! Ini
baru nikmat, Dewi! Hih...!" Bagai seekor belut, Kebo Pangawon menyeruak
masuk ke pertahanan Dewi Pandagu. Dengan jari-jari mengembang, tangannya
menyerang perut lawan.
Dewi Pandagu tersentak.
Dengan cepat tangan- nya dikibaskan ke arah tangan lawan.
Trak!
"Ukh...!"
Dewi Pandagu mengeluh. Tangannya yang beradu dengan tangan Kebo Pangawon terasa
nyeri sekali. Tulang pergelangan tangannya terasa se- perti patah.
"He he
he...!" Kebo Pangawon terkekeh, me- nyaksikan wajah Dewi Pandagu pucat
pasi. "Akhirnya impianku tercapai, Dewi. Kau memang pantas menjadi
istriku." "Kurang ajar! Hiaaat..!"
Sambil menahan sakit,
Dewi Pandagu kembali menyerang. Kali ini hanya menggunakan tangan kiri. Meski
begitu, serangannya ternyata masih keras dan ganas. Kakinya tak mau tinggal
diam, turut bergerak menyerang.
Tapi lawan yang tengah
dihadapinya bukan la- wan biasa. Tapi merupakan salah satu dari tokoh rim- ba
persilatan golongan hitam yang berada di atas Dewi Pandagu.
Serangan-serangannya bagai tak berarti bagi Kebo Pangawon.
"He he he...!
Percuma saja kau melawanku, Dewi!" Kebo Pangawon terkekeh. Kembali
tangannya bergerak. Kali ini ke arah dada Dewi Pandagu.
"Setan!" maki
Dewi Pandagu sambil melompat mundur, berusaha mengelakkan serangan lawan. Tapi
gerakan lawan rupanya sangat cepat, hingga mampu mengejar gerak mundurnya.
"He he
he...!" Kebo Pengawon kembali menye- ringai. Tubuhnya terus melesat dengan
jari-jari tangan terbuka, siap menjamah dada Dewi Pandagu.
Merasa sia-sia kalau
menangkis, Dewi Pandagu berusaha mengelakkan serangan itu. Mulutnya berte-
riak, memanggil murid-muridnya.
"Linteng...!"
Tak lama kemudian, murid-murid Perguruan
Bintang Emas terbangun
dari tidurnya. Mereka segera berlarian menuju ke kamar ketuanya dengan riuh.
Namun mereka tiba-tiba dihadang oleh seorang lelaki bertubuh jangkung dengan
kepala agak botak.
"He he he...!
Biarkan mereka di kamar. Kalian urusanku," kata Karto Songo.
"Serbu...!"
"Hiaaat...!" Murid-murid Perguruan Bintang Emas serem- pak menyerang
Karto Songo. Namun lelaki bertubuh kurus dan jangkung itu dengan mudah
mengelakkan serangan mereka. Tubuhnya berlompatan dengan lin- cah. Tangannya
bergerak menotok tubuh murid-murid Perguruan Bintang Emas.
Dalam beberapa gebrakan
saja, murid-murid Perguruan Bintang Emas dapat ditaklukkannya.
Di saat yang sama, Dewi
Pandagu semakin ter- sudut. Bahkan kini dia tak diberi kesempatan sedikit pun
untuk melakukan pembalasan. Serangan Kebo Pangawon sangat cepat dan sulit
dielakkan. Sedang- kan untuk menangkis, rasanya tidak mungkin. Tenaga dalamnya
berada jauh di bawah lelaki gemuk pendek itu.
Bet!
"Ukh...!" Dewi Pandagu berteriak tertahan, ketika tangan Kebo
Pangawon melesat cepat ke dadanya. Dia tak mau mengelitkan serangan itu,
sehingga dadanya ber- hasil dijamah.
"Kurang ajar! Aku
akan mengadu jiwa dengan- mu! Heaaa...!" bentak Dewi Pandagu gusar,
mendapat perlakuan kurang ajar dari lawannya.
Tangan Dewi Pandagu
kini berpendar sinar kuning kemerah-merahan. Kemudian dengan cepat,
memukul Kebo Pangawon,
yang tersentak kaget dan mengelak Kemudian dengan cepat, Kebo Pangawon ba- las
menyerang dengan pukulan saktinya pula.
"Heaaa...!"
Glar! "Aaakh...!" Dewi Pandagu memekik keras. Tu- buhnya terlempar ke
belakang, sampai membentur dinding bangunan hingga jebol, lalu jatuh ke lantai
dengan dada hancur!
Kebo Pangawon
terbelalak kaget. Dia tidak menduga kalau wanita cantik itu benar-benar nekat.
Wajah Kebo Pangawon seperti menyesali apa yang ter- jadi.
"Kebo...!"
seru Karto Songo dengan mata melo- tot "Mengapa kau membunuhnya?"
Kebo Pangawon semakin kebingungan.
Dia se- benarnya tidak bermaksud membunuh Dewi Pandagu. Namun pukulan maut Dewi
Pandagu rupanya telah membuatnya kaget. Lalu tanpa sadar, seluruh tenaga
dalamnya dikerahkan.
"Celaka! Tentunya
Pendekar Gila akan menga- muk dan memburu kita!" ujar Karto Songo cemas.
"Cepat kita
tinggalkan tempat ini!" ajak Kebo Pangawon.
Kedua lelaki dari
kalangan hitam yang cemas setelah Dewi Pandagu binasa itu, tanpa pikir panjang
segera lari meninggalkan tempat itu. Mereka tak mau berurusan dengan Pendekar Gila,
jika nanti pendekar itu tahu calon istrinya binasa.
Ketika, Kebo Pangawon
dan Karto Songo masih berlari, tiba-tiba dalam jarak tujuh tombak di depan
mereka berdiri seorang lelaki bercaping lebar. Di pung- gung lelaki itu
tersandang pedang panjang yang ga- gangnya berkilat.
"Hm...,"
lelaki bercaping yang tak lain Kauw Cien Lung itu bergumam. Tangannya
bersidekap di de- pan dada.
"Lelaki
bercaping?!" desis Karto Songo dengan mata membelalak.
"Oh?! Mengapa dia
ada di sini?" keluh Kebo Pangawon.
"Kalian
orang-orang tak berguna! Hm.... Sepan- tasnya kalian mampus!" dengus Kauw
Cien Lung den- gan suara yang berat.
"Tidak...! Jangan,
Tuan. Kami segolongan den- ganmu," ratap Karto Songo sambil merunduk.
"Benar, Tuan. Kami
segolongan denganmu. Ja- dikanlah kami pengikutmu," timpal Kebo Pangawon
tu- rut merunduk. Kemudian keduanya menjatuhkan diri, berlutut sambil mencium
tanah.
"Hm.... Bangunlah!
Kalian orang-orang tak ber- guna! Bersiaplah untuk mati...!" bentak Kauw
Cien Lung dengan wajah dingin. Tangan kanannya bergerak memegang gagang pedang.
Srrrt! Mata Karto Songo
dan Kebo Pangawon membe- lalak, mendengar suara pedang ditarik dari sarungnya.
"Bangun...!"
sentak Kauw Cien Lung dengan ke- ras. Tangan kanannya kini telah menggenggam
pedang yang bersinar putih kebiru-biruan. "Jika kalian lelaki, bersiaplah
untuk mati!"
Merasa tak ada
kesempatan untuk memohon ampun, keduanya segera bangun. Percuma mereka menyerah
begitu saja. Tak ada pilihan lain, mereka ha- rus melakukan perlawanan agar
mati dengan terhor- mat.
"Cabut senjata
kalian!" bentak Kauw Cien Lung. Srrrt!
Srrrt! Kebo Pangawon
melolos senjatanya yang ber- bentuk tali baja dengan bola berduri. Sedangkan
Karto Songo, melolos senjatanya yang berbentuk tali baja dengan tombak runcing.
"Bagus! Kalian
bersiaplah!" "Kunyuk! Kami telah siap! Apa kau kira kami
takut?!" balas Kebo Pangawon membentak. Percuma saja dia mengiba pada
lelaki bercaping itu. Lagi pula, dia belum pernah menjajaki ilmu silatnya.
"Ya! Jangan kira
kami takut pada sepak terjang mu! Aku Karto Songo, tak akan gentar!
Heaaa...!"
"Hiaaat..!"
Kebo Pangawon dan Karto Songo dengan cepat bergerak menyerang. Senjata mereka
melesat cepat ke arah Kauw Cien Lung secara bersamaan. Menusuk dan melejit ke
dada dan wajah lelaki Cina yang berjuluk Singa Jantan itu.
"Heaaa...!" Tubuh Kauw Cien Lung segera melejit ke atas, mengelakkan
serangan kedua lawannya. Kemudian dengan cepat tubuhnya bergerak ke depan.
Pedang di tangannya membabat ke arah kedua lawannya secepat kilat.
Wut!
"Hait...!" "Uts...!" Karto Songo dan Kebo Pangawon dengan
cepat berkelit dan berpencar. Kemudian keduanya balas me- lakukan serangan.
Kebo Pangawon kembali meluncur- kan bola baja berdurinya ke dada lawan. Karto
Songo juga tak mau diam. Senjatanya dilecutkan ke wajah lawannya.
Srrrt!
Wut! Singa Jantan dari
Cina itu kembali bergerak mengelitkan serangan keduanya. Kemudian dengan cepat
tangan kirinya menangkap salah satu senjata lawan.
Tap! Bola besi berduri
milik Kebo Pangawon tertang- kap. Tubuh Kauw Cien Lung melejit ke atas, ketika
Kebo Pangawon menyentakkan senjatanya. Kemudian dengan cepat, pedangnya
digerakkan ke tubuh lawan.
"Akh...!"
Kebo Pangawon tersentak kaget. Ma- tanya membelalak, dan mulutnya menganga
menyak- sikan gerakan lawan yang sulit diterka itu. Setiap ba- batan pedang
lawan berusaha dielakkannya, namun gerakannya kalah cepat.
Wut! Cras!
"Aaa...!" Kebo Pangawon melolong, ketika pe- dang lawan menyayat
keningnya. Tubuhnya meregang dengan mata melotot, kemudian tersungkur dengan nyawa
melayang. Tubuhnya mengepulkan asap hitam bagai terbakar.
Menyaksikan Kebo
Pangawon tewas, nyali Karto Songo ciut. Dia ingin lari, namun rasanya percuma.
Tentu lelaki misterius itu akan mengejarnya.
"Kurang ajar! Kau
telah membunuh temanku! Kau harus mampus! Hiaaat..!" Karto Songo memekik
keras, kemudian dengan membabi buta dia kembali menyerang. Senjatanya bergerak
cepat menyambar dan menusuk ke arah lawan.
"Yeaaah...!"
Tubuh Kauw Cien Lung melejit ke atas, ketika rantai bermata tombak milik Karto
Songo melesat ke arahnya. Kemudian dengan ringan, kakinya menginjak
rantai itu, membuat
mata Karto Songo membelalak Senjatanya ditarik sekuat tenaga, berusaha
menjatuh- kan Singa Jantan dari Cina itu.
"Heaaat..!"
Kauw Cien Lung melesat ke atas, kemudian dengan gerakan cepat kembali menukik.
Saat itu, pe- dang di tangannya berkelebat ke wajah Karto Songo.
"Heaaat..!"
Cras! "Wuaaa...!" Karto Songo melolong histeris. Tan- gannya seketika
memegangi kening yang tersayat. Ma- tanya melotot sekarat. Kemudian ambruk
dengan kea- daan yang sangat mengerikan.
"Hm...," Kauw
Cien Lung menggumam. Tangan kirinya menyeka darah pada ujung pedang. Kemudian
setelah memasukkan pedang ke sarungnya, dia berlalu dari tempat itu.
Malam kembali hening,
dicekam kegelapan.
6
Dunia persilatan di
tanah Jawa Dwipa khusus- nya di wilayah tengah semakin tercekam. Kini tidak
hanya para pendekar dari aliran lurus yang merasakan cemas akibat tindakan
lelaki bercaping yang penuh misteri itu. Dari aliran hitam pun merasakan juga.
Ter- lebih setelah mayat Karto Songo dan Kebo Pangawon ditemukan.
Keadaan rimba
persilatan bagai terpanggang, membara panas. Belum lagi dengan berita tentang
titi- san Dewi Kuan Im berupa seorang dara Cina. Mem- buat rimba persilatan
kian bergolak.
Satu pihak, berusaha
mencari jalan keluar un- tuk menyelesaikan masalah lelaki bercaping yang se-
pak terjangnya terlalu telengas. Di pihak lain, ada yang berusaha mencari gadis
titisan Dewi Kuan Im, dengan harapan akan menjadi pendekar nomor wahid di rimba
persilatan. Pendekar tanpa tanding, yang akan menjadi pendekar di antara para
pendekar.
Mei Lie yang menjadi
incaran utama orang- orang rimba persilatan, karena dianggap titisan Dewi Kuan
Im, kini masih mengasingkan diri bersama Nyi Bangil dan Lira Kanti di tempat yang
sepi dan tidak pernah dijamah oleh manusia.
Gadis itu tengah
mempelajari jurus-jurus 'Pedang Bidadari' yang sakti, ditemani oleh Nyi Bangil.
Sementara adik seperguruan Nyi Bangil yang bernama Lira Kanti seperti biasanya
pergi ke pasar untuk mem- beli kebutuhan hidup. Di samping itu, Lira Kanti bertugas
mencari berita tentang Pendekar Gila, di samp- ing mengamati perkembangan dunia
persilatan.
Sembilan jurus telah
dikuasai Mei Lie. Kini tinggal jurus pamungkas dari semua jurus 'Ilmu Pedang
Bidadari'. Jurus 'Pedang Tebasan Batin', sebuah jurus sakti yang mungkin sampai
sejauh ini belum ada yang mampu memecahkannya.
"Hhh...!" Mei
Lie nampak duduk bersila di atas sebuah batu di depan air terjun. Pedang di
tangannya kini dilekatkan ke wajah. Matanya terpejam, kemudian tangannya yang
menggenggam pedang digerakkan ke kanan.
Sedangkan di pinggir
sungai, seorang wanita muda dan cantik bertubuh sintal dengan pakaian merah
jambu, duduk bersila sambil mengawasi Mei Lie. Wanita itu tiada lain Nyi
Bangil, yang sebenarnya pewaris 'Ilmu Pedang Bidadari'. Namun karena Mei Lie
yang mampu memecahkan
semua jurus-jurus itu, Nyi Bangil akhirnya menyerahkannya pada adik angkatnya.
Mata Nyi Bangil tidak berkedip memandang Mei Lie yang tengah melakukan ujian
akhir dari jurus 'Pedang Tebasan Batin'. Orang yang berhasil mengua- sai jurus
itu akan mampu menebas makhluk halus se- kalipun. Telapak tangan Nyi Bangil
saling bertemu. Jari- jarinya tegak di depan dada. Matanya tiada henti me-
mandang ke arah Mei Lie.
"Hhh...," Mei
Lie kembali menggerakkan pedang di tangannya. Kali ini ke arah depan. Kemudian
setelah menarik kembali ke belakang, pedang itu digerakkan ke arah kiri.
Gerakan-gerakan itu
dilakukan berulang-ulang. Dengan napas diatur sedemikian rupa. Matanya terpejam
rapat, hingga tidak melihat sekelilingnya.
"Hhh...!
Hea...!" Mei Lie menggerakkan pedang ke kanan, lalu diangkat ke atas.
Kemudian dengan mata terpejam, pedangnya dibabatkan ke air di bawahnya.
Wut! Pedang menderu
cepat, membabat air. Aneh- nya, air itu tidak terpercik sedikit pun! Bahkan air
laksana terbelah, Bukan itu saja! Pedang itu ternyata membabat seekor ikan yang
ada di dalam air.
Tidak lama kemudian,
nampak seekor ikan mas tersembul ke permukaan air. Tubuh ikan itu masih utuh,
bagai tidak mengalami apa-apa. Namun ketika Mei Lie mengambil ikan itu, tubuh
ikan mas itu ternyata telah terbelah dua!
"Hebat...!"
seru Nyi Bangil tanpa sadar, ketika menyaksikan hasil yang dicapai Mei Lie.
Mei Lie tersenyum.
Dilemparkan ikan yang ke- lihatannya masih utuh itu ke arah Nyi Bangil yang se-
gera menangkapnya.
Nyi Bangil memandang
lekat ke arah Mei Lie yang masih duduk bersila di atas batu dengan pedang
tergenggam di tangan. Lalu dipandanginya lagi ikan di tangannya.
"Kau telah
berhasil, Mei Lie! Kau telah berhasil memecahkan jurus pamungkas. Jurus 'Pedang
Teba- san Batin'," kata Nyi Bangil gembira.
"Kurasa semua
berkat doa dan dorongan semangat darimu, Kak. Namun aku belum puas, jika aku
belum melakukan yang lebih baik dari itu," kata Mei Lie.
"Lakukanlah pada
batu itu, Mei Lie!" perintah Nyi Bangil.
"Baiklah, aku akan
mencobanya," jawab Mei Lie.
Kembali Mei Lie
memejamkan mata. Kedua tangannya memegang gagang pedang. Pernafasannya diatur
agar lancar.
"Hhh...," Mei
Lie berusaha memusatkan seluruh daya di tubuhnya pada batinnya.
Nyi Bangil kembali
memperhatikan Mei Lie dengan seksama. Matanya tidak berkedip. Hatinya berharap
agar semua yang dilakukan Mei Lie akan berhasil.
"Hhh...!" Mei
Lie menggerakkan pedang ke kanan. Ke- mudian ke depan. Dilanjutkan ke kiri,
lalu ke depan lagi. Nafasnya terus diatur. Seluruh panca inderanya dipa-dukan.
Kini semuanya benar-benar terpusat ke batin.
"Hhh...!
Heaaa...!" Mei Lie mengangkat pedangnya ke atas, tubuh-
nya berkelebat laksana
terbang. Lalu dengan mata ma- sih terpejam, pedangnya dibabatkan ke batu besar
di dalam air terjun.
Wut! Kejadian aneh
kembali terjadi. Batu itu bagai tidak mengalami apa-apa. Padahal pedang di
tangan Mei Lie telah tembus ke dalam. Begitu juga dengan air terjun, tak ada
percikan sedikit pun. Air terjun itu lak- sana terbelah dua ketika Mei Lie
membabatkan pe- dang.
"Heaaa,.!"
Mei Lie kembali melompat ke belakang dengan bersalto beberapa kali, kemudian
duduk bersila kembali di atas batu semula. Saat itu pula, batu sebesar badan
kerbau yang tadi dibabat oleh pedangnya, hancur berantakan terkena arus air.
Batu besar itu berubah menjadi butiran-butiran kecil!
"Oh, sungguh
dahsyat..!" gumam Nyi Bangil dengan mata semakin membelalak, menyaksikan
keja dian yang aneh itu.
Kepala Nyi Bangil
menggeleng-geleng. Baru kali ini disaksikannya kehebatan jurus 'Pedang Tebasan
Batin'. Tidak percuma Mei Lie mempelajarinya dengan tekun. Hampir tiap hari
gadis itu mempelajari 'Ilmu Pedang Bidadari'. Dan hasil dari ketekunannya
akhir- nya terwujud. Mei Lie telah mampu menguasai semua jurus di Kitab Ilmu
Pedang Bidadari yang selama ini belum terpecahkan.
"Kau berhasil, Mei
Lie! Kau berhasil...!" seru Nyi Bangil girang.
"Benarkah,
Kak?" tanya Mei Lie belum percaya. "Ya! Lihatlah. Batu di belakang
air terjun itu, telah hancur menjadi pasir!" seru Nyi Bangil sambil
menunjuk ke arah air terjun.
Mei Lie memandang ke
air terjun. Seketika matanya membuka lebar, manakala melihat di balik air
terjun itu terdapat sebuah goa.
"Goa...,"
desis Mei Lie masih terpana menyaksikan goa di belakang air terjun.
"Hm.... Rupanya batu besar tadi adalah penutup goa ini."
"Ada apa, Mei
Lie?" tanya Nyi Bangil. "Di balik air terjun ada goa, Kak!" seru
Mei Lie, menyahuti.
"Goa...?"
tanya Nyi Bangil. "Ya!" "Hm.... Mungkinkah itu goa yang
dimaksudkan dalam Kitab Ilmu Pedang Bidadari?" tanya Nyi Bangil.
"Entahlah. Aku akan mencoba masuk, Kak"
"Hati-hatilah!"
Mei Lie melesat cepat. Tangannya menyibak air terjun yang deras. Kemudian
laksana terbang tubuhnya melesat masuk ke dalam, meninggalkan Nyi Bangil yang
memperhatikannya dengan was-was.
***
Mei Lie mengerutkan
kening, setelah masuk ke dalam goa itu. Ternyata goa itu di dalamnya sangat
luas. Ada rasa tegang menyelimuti hati gadis Cina itu, menyaksikan keadaan goa
yang sangat menyeramkan. Namun entah mengapa, hatinya merasakan ada sesuatu
yang menariknya untuk terus menyelusuri goa itu.
"Hm.... Goa apa
ini? Dan...." Belum juga Mei Lie selesai berkata, tiba-tiba matanya
tersentak oleh sinar merah kekuning- kuningan. Sinar itu datangnya dari dalam
goa. Sepertinya ada sesuatu di sana.
Mei Lie semakin tegang.
Keningnya kian berkerut. Bibirnya dikulum dalam-dalam, berusaha menekan
perasaan takut yang melanda jiwanya.
"Sinar apakah
itu?" tanyanya lirih. Kaki Mei Lie kini melangkah bagai ada yang menyeret.
Hatinya berdebar-debar, laksana merasakan getaran dahsyat. Sinar merah
kekuning-kuningan yang memancar itu, seperti menyedot tubuhnya untuk terus
mendekat Dengan perasaan agak tegang, Mei Lie terus melangkah menyusuri goa.
Langkah-langkahnya bagai detak-detak menuju maut. Matanya membuka lebar,
sesekali menyapu ke sekelilingnya yang menyeramkan.
Kakinya semakin lama
semakin jauh melangkah dan kian dekat dengan sinar berwarna merah kekuning-kuningan
yang kian terang. Sampai akhirnya, Mei Lie menjadi takjub. Matanya membelalak
lebar dan berbinar-binar manakala melihat dengan jelas sinar merah
kekuning-kuningan itu. Ternyata sinar itu berasal dari sebilah pedang.
"Pedang...!
Oh...," desis Mei Lie. Matanya tidak berkedip memandang pedang yang
menancap di se- buah kotak panjang. Sedangkan sarungnya yang ter- buat dari
kayu cendana dan menebarkan bau harum, terletak di sampingnya.
Dengan takjub, Mei Lie
menjura ke arah pedang itu. Kemudian perlahan-lahan tangannya menyeka debu yang
menutupi kotak kayu persegi yang besarnya dua kali ukuran pedang. Sepertinya di
kotak kayu itu terdapat sebuah tulisan.
Setelah debu yang
menutup dienyahkan, kini tulisan itu menjadi jelas. Mei Lie membacanya,
Siapa yang telah mampu
menguasai 'Ilmu Pedang Bidadari', dialah pewaris pedang ini. Dengan pedang ini,
jurus-jurus 'Ilmu Pedang Bidadari' akan semakin sempurna.
Dewi Pedang
"Oh! Rupanya ini
Pedang Bidadari. Jagat Dewa Batara, sungguh aku telah beruntung menjadi pewaris
'Ilmu Pedang Bidadari'," bisik Mei Lie, khidmat.
Tangannya kini memegang
gagang pedang. Kemudian dicobanya mengangkat pedang itu. Namun pedang itu bagai
telah menyatu dengan kayu tempat tertancapnya.
"Hei, mengapa
pedang ini sulit dicabut?" Mei Lie terheran-heran. Dipandanginya kembali
Pedang Bidadari di hadapannya yang masih mengeluarkan sinar merah
kekuning-kuningan. Dicobanya lagi. Tetap saja gagal.
Mei Lie mengerahkan
seluruh tenaganya, berusaha mencabut pedang tersebut. Namun sia-sia! Pedang itu
tidak bergeming sedikit pun juga.
"Oh, apa yang
harus kulakukan?" keluh Mei Lie hampir putus asa.
Ditatapnya pedang itu
lekat-lekat, berusaha memahami cara yang baik untuk mencabut pedang itu. Mungkinkah
harus menggunakan batin? Tanya Mei Lie dalam hati. Ya. Mungkin aku harus
memakai kekuatan batin!
Setelah merasa yakin,
Mei Lie segera duduk bersila di hadapan pedang itu. Matanya dipejamkan.
Nafasnya diatur dengan irama tertentu, lalu segenap panca inderanya disatukan
ke pusat batin. Setelah lama melakukan hening diri, dan semuanya telah terpusat
di batin, Mei Lie mengulurkan tangan kanannya ke gagang pedang. Kemudian dengan
tenaga batin, Mei Lie mencabut pedang tersebut.
"Oh, akhirnya aku
berhasil!" ucap Mei Lie nyaris memekik girang ketika pedang itu terlepas
dari tancapannya. Tak jemu-jemu pedang itu dipandangi. Kemudian diambilnya sarung
pedang, lalu Pedang Bidadari dimasukkan ke dalamnya.
Mei Lie segera menjura
setelah menaruh pedang itu di punggungnya. Kemudian Mei Lie melangkah
meninggalkan goa itu.
***
"Mei Lie...! Cemas
aku menunggumu. Apa yang kau lakukan di dalam?" tanya Nyi Bangil dengan
wajah menggambarkan kecemasan, karena Mei Lie lama sekali di dalam goa.
"Kak! Lihat, apa
yang kuperoleh?!" Mei Lie menarik pedang dari sarungnya. Seketika sinar
merah kekuning-kuningan berpijar, menyentakkan Nyi Bangil. Sampai-sampai mata
Nyi Bangil melotot. Mulutnya tanpa sadar menyebut nama pedang itu.
"Pedang
Bidadari!" "Benar, Kak. Pedang ini berada di dalam goa," tutur
Mei Lie.
"Oh, akhirnya kau
berhasil, Mei Lie. Kini lengkaplah apa yang kau miliki. Dengan Pedang Bidadari
di tanganmu, kau akan menjadi jago pedang nomor satu. Kau pantas berjalan
sejajar dengan Pendekar Gila," puji Nyi Bangil turut gembira, melihat Mei
Lie akhirnya berhasil mendapatkan semuanya.
"Semua berkat doa
serta doronganmu, Kak." Mei Lie segera menjura hormat. Namun dengan segera
Nyi Bangil memegangi pundaknya. Diangkatnya tubuh Mei Lie, kemudian gadis Cina
yang telah diangkat menjadi adiknya diminta untuk memandang wa jahnya.
"Aku bersyukur, kau akhirnya berhasil, Mei Lie. Kini aku merasa telah
terbebas dari tanggung jawab. Kalau kau memang ingin mencari Sena, aku tak keberatan.
Namun perlu kau ingat, bahwa para pendekar kini tengah memburumu. Untuk itu,
kau harus hati-hati. Bila perlu, menyamarlah agar tidak kelihatan siapa
dirimu," tutur Nyi Bangil menyarankan.
"Terima kasih,
Kak." "Kita pulang dulu untuk mempersiapkan keberangkatanmu mengembara.
Ayo...," ajak Nyi Bangil sambil membimbing Mei Lie meninggalkan tempat
itu.
Suasana di tempat itu
kembali sepi. Hanya kicau burung saja yang terdengar, ditimpali debur air
terjun yang tiada henti. Seakan air terjun itu jalur hidup manusia. Yang selalu
memiliki alur kehidupan, sebagaimana air.
Sinar matahari pagi
menerobos lewat celah de- daunan, menyinari suasana di tempat itu. Angin bertiup
semilir, membawa kesejukan dan kedamaian hati. Alam pun turut berseri.
7
Orang-orang rimba persilatan
kian dibuat keta- kutan oleh lelaki bercaping lebar yang sepak terjangnya kian
menjadi-jadi. Sejauh itu, belum ada yang tahu siapa sesungguhnya lelaki
bercaping lebar itu. Dan apa tujuan sebenarnya.
Kini orang-orang
persilatan yang dipimpin Ki Ageng Sampar Bayu mengadakan pertemuan untuk
membahas masalah sepak
terjang lelaki bercaping yang oleh kaum rimba persilatan dijuluki Singa Jantan
dari Cina.
Semua orang rimba
persilatan aliran lurus, di- panggil untuk menghadiri pertemuan itu. Di sana,
hadir Resi Sarameskari dan kedua murid utamanya. Ki Kerto Mandra dengan
istrinya Ratih Pun. Juga dari Perguruan Teratai Putih yang diwakili oleh
Suciati dan Anggrojoyo. Dan perguruan-perguruan aliran lurus lainnya. Hanya
satu orang yang belum hadir di situ, yaitu Pendekar Gila.
"Saudara-saudara
pendekar.... Sengaja kami mengundang saudara-saudara ke sini untuk membahas
masalah Singa Jantan dari Cina yang sepak terjangnya akhir-akhir ini semakin
telengas," kata Ki Ageng Sampar Bayu, membuka pertemuan. Sayang satu orang
yang sesungguhnya penting tidak hadir."
"Aha.... Aku telah
datang, Ki!" Tiba-tiba terdengar sahutan seorang pemuda. Kemudian disusul
dengan munculnya seorang lelaki muda berpakaian rompi kulit ular yang
tingkahnya persis orang gila.
Semua mata seketika
mengalihkan pandangannya ke arah Sena yang baru saja hadir. Kehadirannya
membuat wajah-wajah para pendekar agak ceria.
"Selamat datang,
Pendekar Gila," sambut se- mua pendekar seraya menjura hormat, yang
dibalas pula oleh Sena.
"Ah ah ah....!
Mengapa kalian begitu menyambutku?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk
kepala. "Aku adalah bagian dari kalian. Tak perlu kalian berlaku hormat padaku,
karena aku belumlah seberapa dibandingkan kalian."
"Silakan mengambil
tempat, Pendekar Gila," kata Ki Ageng Sampar Bayu, mempersilakan Sena.
"Terima kasih,
Ki," tukas Sena sambil melang- kah ke kursi yang masih kosong.
"Baiklah, kita
mulai pertemuan ini," ujar Ki Ageng Sampar Bayu. "Kita kembali ke
pokok masalah, tentang Singa Jantan dari Cina yang sepak terjangnya akhir-akhir
ini semakin menjadi-jadi. Juga masalah geger wanita titisan Dewi Kuan Im. Nah,
bagaimana tanggapan kalian? Silakan yang hendak mengajukan usul."
"Saya,
Ketua," Resi Sarameskari mengajukan tangan. "Silakan."
"Menurut hemat
saya, tugas ini harus kita bagi. Bagaimanapun juga, semua adalah tanggung jawab
kita bersama."
"Setuju...!"
sambut hadirin. "Baiklah! Kita bagi tugas. Bagaimana kalau Resi
Sarameskari dan Pendekar Gila mengawasi sepak terjang lelaki misterius itu.
Kalau bisa, secepatnya lelaki itu ditangkap, hidup atau mati. Kalau tidak
segera dihentikan, bisa-bisa semua pendekar akan habis dibantainya," urai
Ki Ageng Sampar Bayu.
Semua terdiam seraya
mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya mereka setuju dengan pendapat Ki Ageng
Sampar Bayu.
"Bagaimana, Pendekar
Gila? Apa ada yang dapat kau sampaikan untuk kami?" tanya Ki Ageng Sampar
Bayu.
Sena menggaruk-garuk
kepala sambil berkata, "Ya! Ini sangat penting sekali. Bagi siapa pun
juga, usahakan jangan sampai menyentuh korban Singa Jantan dari Cina itu."
"Kenapa...?"
"Korban telah terkena racun ganas. Siapa pun yang menyentuhnya, akan
mengalami kematian. Tubuhnya dalam sekejap akan terbakar," tutur Sena,
menjelaskan.
"Apa yang
dikatakannya memang benar, Ke- tua," sahut Resi Sarameskari.
"Hm.... Kalau
begitu, orang itu sangat berba- haya," gumam Ki Ageng Sampar Bayu.
"Ya! Maka, kuharap
saudara pendekar sekalian berhati-hati. Usahakan, jangan sampai terkena pedangnya
jika memang bentrok. Kalau memang bisa, hindari bentrokan," kata Sena,
menegaskan.
Semua kembali diam.
Hanya kepala mereka yang mengangguk-angguk, tampaknya memahami ucapan Sena.
Sedangkan Ki Ageng Sampar Bayu menghela napas. Tatapan matanya kini memandang
lepas ke arah pintu, seakan tengah membuang pera- saaan gelisahnya. Biar
bagaimanapun, sebagai pemimpin aliran lurus, dia memikul tanggung jawab yang
sangat berat dengan kehadiran lelaki bercaping itu. Korban telah banyak
berjatuhan. Namun sejauh ini, belum juga ada yang mampu menandingi kehebatan
ilmu pedangnya yang luar biasa. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, siapa
yang pantas untuk menghadapi lelaki bercaping itu?
"Siapa yang mampu
menghadapi Singa Jantan dari Cina itu?" ungkap Ki Ageng Sampar Bayu, meme-
cahkan kebisuan yang tengah terjadi.
Semua terdiam membisu.
Tak ada yang berani untuk mengutarakan pendapat mereka. Singa Jantan dari Cina
bagai sebuah momok yang menakutkan. Lama semua terdiam, sampai akhirnya Sena
berkata....
"Aku akan
mencobanya."
"Aku juga,"
sambut Resi Sarameskari. "Kalau begitu, kini tinggal bagaimana menyelidiki
masalah berita titisan Dewi Kuan Im," kata Ki Ageng Sampar Bayu.
"Nampaknya, masalah ini juga ada hubungannya dengan Singa Jantan dari Cina
itu." "Benar, Ketua," kata Kerto Mandra. "Kurasa, ki- ta
harus bisa menjaga ketertiban dan keamanan. Tentunya orang-orang persilatan
akan berusaha mendapatkan gadis titisan Dewi Kuan Im itu."
"Apa yang kau
katakan benar, Ki Kerto Mandra. Bagaimana kalau kau dan istrimu kutugaskan
untuk menyelidikinya?" tanya Ki Ageng Sampar Bayu.
"Kami bersedia,
Ki," jawab suami istri itu ham- pir bersamaan.
"Kalau begitu,
semua telah beres. Kini tinggal pelaksanaannya. Kudoakan semoga kalian
senantiasa dalam lindungan Hyang Widhi. Pertemuan saya tutup...."
Semua anggota kini
memberi hormat pada lelaki tua berjubah putih yang menjadi ketua aliran lurus
itu. Kemudian satu persatu mereka meninggalkan tempat pertemuan itu.
Kauw Cien Lung atau
yang lebih dikenal sebagai Singa Jantan dari Cina melangkah tenang, menyelusuri
jalan di dalam hutan dalam usahanya mencari Mei Lie. Langkahnya begitu ringan,
bagai melayang di atas rerumputan. Dilihat dari cara jalannya, jelas menunjukkan
kalau lelaki bercaping itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi.
Kauw Cien Lung terus
melangkah menyusuri hutan. Pedang di punggungnya yang telah banyak memakan
korban terlihat angker. Sebilah pedang yang sangat beracun dan mematikan. Siapa
pun yang terkena, dalam sesaat akan mengalami kematian yang
mengerikan.
"Kisanak,
tunggu...!" Tiba-tiba terdengar seruan yang membuat langkah Kauw Cien Lung
terhenti. Kemudian perlahan tubuhnya berbalik, menghadap ke pemilik suara.
"Hm...," gumam
Kauw Cien Lung ketika melihat tiga orang lelaki berkepala gundul melangkah ke
arahnya.
Ketiga lelaki itu tiada
lain adalah Resi Sara- meskari dan dua orang murid utamanya. Kaki mereka masih
melangkah menghampiri Kauw Cien Lung.
"Hm.... Mengapa
kalian menghentikan langkahku?" tanya Kauw Cien Lung. Tangannya bersidekap
di depan dada.
"Kaukah Singa
Jantan dari Cina itu?" tanya Re- si Sarameskari.
"Hm.... Benar. Ada
apa...?" balik tanya Kauw Cien Lung. "Tentunya antara kita tak ada
masalah, bukan?" "Memang," sahut Resi Sarameskari. "Memang
antara kita tak ada masalah. Namun kami diutus oleh pemimpin para pendekar
tanah Jawa Dwipa untuk meminta kau segera menghentikan sepak terjang mu yang
telengas itu."
"Ha ha ha...! Lucu
sekali. Mengapa seorang padri harus ikut campur urusan dunia persilatan?"
Kauw Cien Lung tertawa tergelak-gelak, seperti ada sesuatu yang lucu pada diri
para penghadangnya. "Bukankah sebaiknya kalian mengurusi kuil...?"
Mata ketiga padri itu
membelalak mendengar ucapan Kauw Cien Lung yang merendahkan kedudukan mereka.
Resi Sarameskari menghela napas. Matanya memandang tajam lelaki bercaping di
hadapan- nya.
"Kisanak, kami
memang padri. Namun jika dunia dalam keadaan kacau oleh tingkah lakumu, jelas
kami tidak mau tinggal diam. Budha telah mengutus kami untuk menjaga ketenteraman
mayapada ini," tutur Resi Sarameskari.
"Hm...!"
gumam Kauw Cien Lung. "Jadi kalian termasuk pendekar?"
"Bisa disebut
begitu," sahut Resi Sarameskari. "Tentunya kalian mendengar berita
Dewi Kuan Im, bukan?" "Ya." "Hm, bagus! Apakah kalian tahu,
di mana Dewi Kuan Im berada?" tanya Kauw Cien Lung.
"Masalah itu, kami
tak tahu. Kami hanya mengingatkan padamu bahwa perbuatanmu telah banyak memakan
korban. Untuk itulah, kami mengharap kau mau menghentikan sepak terjang mu yang
kelewat te- lengas!" tegas Resi Sarameskari.
"Ha ha ha...! Ada
seorang padri yang mau ikut campur urusan dunia persilatan. Jadi maksudmu mau
menghentikan sepak terjangku...?" tanya Kauw Cien Lung.
"Ya!"
terdengar tegas suara Resi Sarameskari. "Haiya.... Baru kali ini aku
melihat seorang padri mau ikut campur urusan persilatan. Sayang sekali, aku tidak
mau tanganku belepotan darah padri."
Usai berkata begitu,
Kauw Cien Lung membalikkan tubuh tanpa menghiraukan Resi Sarameskari dan kedua
muridnya, kemudian dengan seenaknya melangkah meninggalkan tempat itu.
Geram juga Resi
Sarameskari dan kedua murid utamanya melihat tindakan lelaki bercaping lebar
yang tidak menggubris mereka.
"Orang sombong!
Berhenti...!" bentak Resi Sarameskari.
Kauw Cien Lung tak juga
mau berhenti. Ka- kinya masih saja melangkah dengan seenaknya. Sea- kan
benar-benar tidak menghiraukan kemarahan ketiga padri itu.
"Sombong! Apakah
kau kira dengan sepak terjang mu kami menjadi takut! Kau harus dihentikan!
Heaaa...!" Usai berkata begitu, tubuh Resi Sarameskari berkelebat cepat
untuk mengejar lelaki bercaping, diikuti oleh kedua murid utamanya.
"Heaaa...!"
"Yiaaat..!" Tubuh ketiganya langsung menghadang di depan Singa Jantan
dari Cina yang masih terlihat tenang. Bahkan tangannya bersidekap angkuh.
Mungkin matanya yang tertutup oleh caping lebar saat itu tengah memandang tajam
ke arah mereka.
"Mau apa
kalian?" tanya Kauw Cien Lung, se- tengah menantang.
"Menghentikan
sepak terjang mu yang biadab!" dengus Resi Sarameskari tegas. Matanya
memandang semakin tajam, penuh kebencian pada lelaki di hada- pannya. "Ha
ha ha...! Percuma kalian menghalangiku!" ujar Kauw Cien Lung sinis.
"Lebih baik kalian pulang ke kuil saja. Tak perlu kalian ikut campur
urusanku!"
"Kurang ajar!
Rupanya kau harus diajar adat!" maki Resi Sarameskari marah. Gigi-giginya
saling beradu, mengeluarkan suara bergemeletuk.
"Terserah kau
saja, Padri! Aku sudah menyarankan agar kalian tidak ikut campur urusanku. Namun
jika kau masih saja membandel, tak ada pilihan lain," Kauw Cien Lung
akhirnya menanggapi tantangan
Resi Sarameskari.
"Kalian
menyingkirlah dulu. Biar lelaki som- bong ini ku ajar adat! Yeaat...!"
Resi Sarameskari segera bergerak menyerang. Tasbih yang menjadi senjata
andalannya diputar hingga menimbulkan deru angin keras.
Wut! Cletar!
"Haiya...!" Kauw Cien Lung segera melompat ke atas, mengelakkan
sabetan tasbih Resi Sarameskari. Nampaknya dia tidak ingin menggunakan pedang.
Buktinya, dia hanya menyerang dan menangkis dengan kedua tangan.
"Keluarkan
senjatamu, Orang Sombong! Heaaa...!" Serangan Resi Sarameskari semakin
sengit. Bahkan lelaki bercaping lebar itu ditantang agar men- geluarkan
pedangnya. Tasbih di tangannya kembali menderu keras ke arah lawan.
Wut! Cletar!
"Ups...! Sebenarnya aku pantang bertarung denganmu, Padri! Maka, aku tak
akan mengeluarkan pedang," sahut Kauw Cien Lung.
Hal itu membuat Resi
Sarameskari bertambah marah. Dia menganggap kata-kata Singa Jantan dari Cina
itu sebagai sebuah hinaan yang sangat meren- dahkannya.
"Kurang ajar!
Rupanya kau semakin sombong! Heaaat...!"
Dengan penuh amarah,
Resi Sarameskari kembali menggebrak dengan sabetan-sabetan tasbihnya. Dia
berusaha menekan lawannya agar tidak dapat ba- las menyerang. Namun lelaki
bercaping lebar itu den-
gan mudah mengelakkan
serangannya.
"Hiaaa...!"
gerakan Kauw Cien Lung sangat ge- sit, meski tidak menggunakan senjata.
Serangan yang dilancarkan Resi Sarameskari yang keras dan cepat, bagaikan tak
ada artinya, selalu menemui tempat kosong.
"Padri, lebih baik
kau pulang. Jangan sampai aku menurunkan tangan jahat padamu!" bentak Kauw
Cien Lung dengan tubuh masih bergerak untuk mengelakkan serangan yang
dilancarkan Resi Sarameskari. "Setan! Apa kau kira aku anak kecil yang
bisa ditakut-takuti?! Keluarkan pedangmu, hadapi aku! Heaaa...!" Serangan
Resi Sarameskari kian sengit. Sabetan-sabetan tasbihnya menggelegar, menyapu
dan menghantam ke arah Singa Jantan dari Cina itu.
Wut, wut..! Cletar!
Kauw Cien Lung terus mengelak Tubuhnya ber- jumpalitan di udara. Kemudian
tangan dan kakinya balas menyerang. Gerakan ilmu silatnya begitu cepat dan
keras, seakan memiliki kelincahan yang sulit diterka.
"Kau benar-benar
memaksaku, Padri! Baiklah, aku akan menghadapimu sebagai seorang
pendekar!"
Usai berkata demikian,
Singa Jantan dari Cina itu menggerakkan tangan kanannya ke gagang pedang.
Dan....
Srrrt! Kaget juga Resi
Sarameskari menyaksikan lelaki bercaping itu menarik pedang dari sarungnya.
Saat lawan menarik pedang saja seperti ada kekuatan yang menyebar. Apalagi jika
lawan telah melakukan serangan dengan pedangnya.
"Celaka! Guru,
biar kami yang menghadapinya.'" seru Resi Bramaweda.
"Benar, Guru.
Biarkan kami yang menghada- pinya!" sambung Resi Bragaskita, merasa
khawatir kalau-kalau gurunya akan mendapat celaka jika menghadapi lelaki
bercaping lebar itu.
"Ha ha ha...! Mengapa
tidak sekalian saja?!" tantang Kauw Cien Lung dengan nada sombong. Tangan
kanannya yang telah memegang pedang, kini digerakkan ke samping. Kemudian
pedangnya ditarik kembali ke depan.
"Bedebah! Apa kau
kira akan mampu membunuhku, Orang Sombong?! Yeaaa...!" "Bersiaplah,
Padri! Hiaaa...!" Keduanya kembali bergerak. Resi Sarameskari melancarkan
sabetan senjatanya yang berupa tasbih ke arah lawan. Suara sabetan itu
menggelegar, laksana suara halilintar.
Wut! Cletar!
"Haiya...!" Kauw Cien Lung yang di negerinya berjuluk Houw San atau
Singa Jantan itu mencelat ke atas. Tubuhnya bersalto beberapa saat. Tangan
kanannya yang memegang pedang, kini digerakkan dengan cepat, membabat ke arah
lawan. Gerakan pedang itu sangat cepat, sulit sekali diikuti oleh mata.
Resi Sarameskari
tersentak kaget. Sama sekali tidak diduganya kalau gerakan yang dilancarkan
lawan begitu cepat. Dia berusaha menangkis serangan itu dengan tasbih ke atas.
Maka tanpa bisa dihindari lagi, dua senjata dahsyat pun beradu di udara.
Glarrr! Trak!
Tasbih di tangan Resi
Sarameskari hancur le- bur ketika beradu dengan pedang Kauw Cien Lung. Hal ini
membuat mata Resi Sarameskari membelalak tegang. Terlebih ketika pedang lawan
semakin deras mengarah ke wajahnya.
"Oh...!" Resi
Sarameskari berusaha mengelakkan serangan pedang lawan, namun terlambat. Sabetan
pedang Kauw Cien Lung yang menuju ke wajahnya jauh lebih cepat. Hingga....
Wut! Cras!
"Aaakh..!" Resi Sarameskari memekik keras dengan mata melotot lebar.
Tubuhnya langsung ambruk dengan keadaan yang mengerikan. Dan setelah mengejang
sesaat, Resi Sarameskari diam tak bergerak lagi. Mati!
"Guru...!" seru
Resi Bramaweda dan Resi Bragaskita bersamaan. Hampir saja mereka menubruk tubuh
gurunya, namun mereka segera mengingat pesan Pendekar Gila. Kini keduanya
memandang lelaki bercaping yang tengah menyeka darah di ujung pedangnya dengan
tangan kiri.
"Bangsat! Kau
harus mampus! Heaaat..!" Resi Bramaweda dengan cepat melancarkan serangan.
Begi- tu pula dengan Resi Bragaskita. Keduanya serentak menggempur Kauw Cien
Lung, berusaha membalas kematian guru mereka.
"Heaaa...!"
"Percuma kalian melawanku! Yiaaa...!" "Kami akan mengadu nyawa
denganmu, Iblis! Yeaaa...!" Resi Bramaweda dan Resi Bragaskita terus melancarkan
serangan dengan toyanya. Keduanya sudah kalap dan menyerang dengan membabi
buta.
Kauw Cien Lung memutar
pedangnya. Tubuhnya mencelat ke atas. Sambil bersalto, pedang di tangannya
membabat lawan.
Wut! Cras!
"Akh...!" Resi Bramaweda menjerit tertahan. Matanya melotot tegang. Tubuhnya
mengejang sesaat, kemudian tidak bergerak sama sekali dengan keadaan men-
gerikan. Menyaksikan saudara seperguruannya tewas, Resi Bragaskita kian kalap.
Dengan mata gelap, toyanya kembali disodokkan ke dada lawan. Lalu secepat mungkin
toyanya berusaha memukul bergantian dengan kedua ujungnya.
"Pecah kepalamu,
Iblis! Heaaa...!" Wut! "Uts...! Yiaaa...!" Singa Jantan dari
Cina itu kembali mencelat ke udara, kemudian pedang di tangannya cepat digerakkan.
Ketika tubuhnya melayang ke bawah, Resi Bra- gaskita dengan cepat menyodokkan
toya ke tubuhnya.
"Heaaa...! Tembus
perutmu!" Wut! Dugaan Resi Bragaskita ternyata meleset. Ternyata lelaki
bercaping itu dengan cepat kembali melompat ke atas. Sebelum Resi Bragaskita
sempat melakukan serangan lagi, lawannya telah menyerang. Pedang maut di tangan
Kauw Cien Lung dengan cepat membabat wajah Resi Bragaskara.
Wut! Cras!
"Ukh...!" Resi Bragaskita mengeluh pendek. Tangannya memegangi luka
tebasan di keningnya. Be-
berapa saat matanya
melotot. Tubuhnya menegang, kemudian ambruk dengan nyawa melayang.
Kauw Cien Lung menyeka
darah di ujung pe- dangnya. Kemudian, pedang bersinar putih kebiru- biruan itu
dimasukkan kembali ke dalam sarungnya. Setelah memandangi mayat ketiga resi
itu, dengan tenang kakinya melangkah meninggalkan tempat itu.
8
Pagi itu Pendekar Gila
tengah melintasi hutan untuk mencari jejak Singa Jantan dari Cina. Tidak di-
duganya kalau di hutan itu ditemuinya Nyi Bangil yang tengah melakukan latihan
jurus 'Ilmu Pedang Bidadari' di dekat air terjun. Kejadian tak terduga itu
sangat menggembirakan keduanya. Terlebih Nyi Bangil, yang merasa telah ditolong
oleh Pendekar Gila.
"Sena...!"
"Nyi Bangil...!" "Oh! Tidak kusangka kalau kita akan bertemu
kembali, Sena," kata Nyi Bangil.
Pendekar Gila tersenyum
sambil menggaruk- garuk kepala.
"Di mana Mei Lie,
Nyi?" tanyanya langsung. "Dia kini bukan Mei Lie yang dulu kau kenal,
Sena," sahut Nyi Bangil setelah terdiam sesaat.
"Di mana
dia?" tanya Sena seperti tak sabar. "Sebentar, sabar dulu. Bagaimana
kalau kita ke gubukku?" ajak Nyi Bangil. "Kita ngobrol-ngobrol di
sana. Ayo...."
Sambil menggaruk-garuk
kepala, akhirnya Se- na mengikuti ajakan Nyi Bangil. Keduanya meninggal.
No comments:
Post a Comment