DUEL DI PUNCAK LAWU
oleh
Firman Raharja
1
Gunung Lawu menjulang tinggi.
Dari kejauhan kelihatan hanya warna biru, dengan kabut putih me- nutupi
sebagian puncaknya. Asri sekali kelihatannya. Seakan dipenuhi oleh kedamaian.
Selama ini, belum ada seorang pun
yang datang ke puncak Gunung Lawu. Entah karena orang berpikir percuma ke
puncak gunung itu. Atau memang ada se- suatu di balik keasrian dan
kedamaiannya.
Seorang lelaki berjubah hitam
tengah berlari- lari menuju Gunung Lawu. Alisnya yang putih, me- manjang hingga
menutupi sebagian mata. Dan sekujur dagunya ditutupi jenggot putih yang
panjang. Sesekali lelaki itu menengok ke belakang, seperti tengah meya- kinkan
dirinya kalau tak ada seorang pun yang melihat Lelaki tua itu menghentikan
langkahnya dan kembali memandang ke belakang. Rambut putihnya yang panjang
dengan gelungan di atas kepala, teriap ditiup angin.
Dilihat dari taut wajahnya,
sepertinya dia me- nyimpan penderitaan batin yang dalam.
"Rupanya apa yang kudengar
selama ini me- mang benar," gumam lelaki tua bertubuh kurus tinggi yang
bernama Catrik Ireng itu. Dihelanya napas pan- jang-panjang. "Ah, benarkah
dia Singo Edan?"
Ki Catrik Ireng masih berdiri
mematung. Mata kelabunya memandang Gunung Lawu yang memben- tang dari timur ke
barat. Puncaknya menjulang tinggi, berwarna biru sebagian tertutup kabut.
Ki Catrik Ireng tercenung.
Ingatannya melayang ke masa puluhan tahun silam, ketika usianya sekitar dua
puluh lima tahun.
"Ah, mengapa aku harus
melamun di tempat ini? Aku harus segera menolong muridku," gumam Ki Catrik
Ireng, tersadar dari lamunannya. Kemudian dengan sekali lompat, tubuhnya
berkelebat cepat me- ninggalkan tempat itu.
Lari orang tua berjubah hitam itu
sangat cepat. Dalam sekejap tubuhnya telah berada di lereng Gu- nung Lawu.
Langkahnya telah dihentikan. Lalu kepa- lanya menengok ke bawah. Kembali orang
tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun itu mengamati sekeli- lingnya,
meyakinkan dirinya kalau-kalau ada yang menguntit tanpa diketahui.
Setelah yakin tak ada seorang pun
yang men- guntitnya, Ki Catrik Ireng kembali berlari dengan cepat untuk mendaki
puncak Gunung Lawu yang tinggi.
Tubuhnya serta pemuda di
pundaknya menghi- lang di balik batu cadas yang tinggi. Sepertinya, ada sesuatu
yang tersembunyi di balik batu cadas itu. Jika dilihat begitu saja, memang tak
akan nampak sama sekali. Kecuali batu-batu cadas belaka. Tapi jika di- amati
dengan seksama, di balik batu cadas yang men- julang tinggi itu terdapat sebuah
goa.
Memang sulit untuk dapat melihat
goa itu. Di kanan dan kirinya terdapat batu cadas yang menutupi. Di atas dan
bawahnya pun begitu. Hanya ada lubang kecil yang dapat dimasuki oleh seekor
tikus.
Ki Catrik Ireng berdiri di depan
lubang kecil itu. Setelah memandang ke sekelilingnya sekali lagi, tangan
kirinya menjulur ke lubang dan menggerakkan batu cadas yang ada di atasnya.
Krek...! Keanehan terjadi.
Batu-batu cadas di samping dan atas lubang kecil itu tiba-tiba bergerak.
Semakin melebar dan akhirnya nampaklah lubang besar yang
dapat dimasuki oleh dua orang.
Ki Catrik Ireng melangkah ke
dalam lubang itu. Kemudian tangannya kembali memutar batu cadas yang menonjol
di dalam. Kejadian aneh kembali teru- lang. Batu-batu cadas di sisi dan di atas
lubang berge- rak menyempit. Kini hanya lubang sebesar tubuh tikus saja yang
ada. Lubang itu digunakan untuk keluar masuknya udara.
Pintar sekali Ki Catrik Ireng
membuat tempat tinggalnya. Maka tak heran, jika selama itu belum ada seorang
pun yang melihatnya. Terlebih dengan tem- patnya yang begitu tinggi. Sulit bagi
orang persilatan biasa untuk sampai di goa aneh itu.
Ki Catrik Ireng dengan masih
memanggul tu- buh pemuda berbaju kuning, melangkah menyelusuri lorong goa yang
menurun. Semakin ke dalam, lorong itu semakin ke bawah.
Ki Catrik Ireng terus melangkah,
menuruni lo- rong yang memang telah dibuat undak-undakan tang- ga. Kemudian dia
masuk ke sebuah ruangan di samp- ing kanan lorong. Ternyata di dalam goa itu
terdapat banyak sekali ruangan. Sepertinya di tempat itu ba- nyak sekali
penghuninya.
Benar juga. Dari ruangan-ruangan
yang tertu- tup, muncullah orang-orang berjubah hitam. Tatapan mata mereka
begitu kosong. Kaki mereka melangkah kaku. Mereka bagai manusia yang tidak
memiliki pera- saan. Tanpa sedikit pun tegur sapa, atau sekadar ter- senyum.
"Kalian rawatlah dia," kata Ki Catrik Ireng, me- merintah pada
orang-orang aneh itu. Nampaknya me- reka menurut pada Ki Catrik Ireng.
Buktinya, mereka segera melaksanakan apa yang diperintahkan lelaki tua itu.
Ki Catrik Ireng kemudian
mendekati sebuah ba- tu besar yang permukaannya rata. Kemudian duduk di atasnya
untuk melakukan semadi. Dibiarkannya para pengikutnya bekerja untuk memulihkan
luka dalam pemuda yang dibawanya. Mereka bergerak cepat. Satu mengambil
obat-obatan. Satu mengambil air. Dan lima orang yang lain menguruti tubuh
pemuda tersebut
Mereka bekerja bagai tak mengenal
lelah. Sete- lah membuka baju pemuda itu, salah seorang dari me- reka
menempelkan kedua telapak tangan ke dada si pemuda. Beberapa saat kemudian,
nampak asap men- gepul dari dada pemuda tampan yang tergeletak itu.
"Aaakh...!" Pemuda itu
tiba-tiba memekik. Tubuhnya menggeliat-geliat bagai terbakar. Keringat tampak
ber- cucuran membasahi tubuhnya.
Orang berjubah hitam yang
berkumis tipis tak menghiraukan jeritan pemuda itu. Dia dan keempat rekannya
terus bekerja. Tangannya yang menempel di dada pemuda itu, laksana melekat.
Sementara ma- tanya melotot merah.
Tak lama kemudian, tubuh pemuda
itu bersi- nar, laksana diselimuti api yang membara. Cahaya me- rah itu
mengalir dari tubuh orang berjubah hitam ber- kumis tipis, yang wajahnya kini
membara pula.
"Aaakh...!" Orang
berjubah hitam tiba-tiba memekik keras. Matanya melotot membara, dan tubuhnya
tergetar he- bat. Kemudian terkulai jatuh.
Rupanya itulah cara pengobatan
yang dite- rapkan oleh Ki Catrik Ireng. Dan orang-orang berjubah hitam itu
sepertinya memang khusus ditugaskan un- tuk mengobati. Kalau sudah tak berarti,
mereka harus menerima kematian.
Mengerikan sekali keadaan lelaki
berjubah hi- tam berkumis tipis itu. Tubuhnya gosong, bagai diba- kar api yang
membara.
Sementara, Ki Catrik Ireng yang
tengah mela- kukan semadi, tampak membuka matanya. Ditatapnya para pengikutnya
yang tengah memulihkan pemuda tampan itu.
"Hm.... Rupanya dia telah
kembali hadir. Tan- tanganku dulu, rupanya ditanggapi olehnya," gumam Ki
Catrik Ireng sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian kenangan pahit masa
lima puluh tahun yang silam kembali terkuak dalam benaknya.
***
Lima puluh tahun silam, di
kalangan persilatan ada dua pemuda gagah yang tingkat kepandaiannya tinggi.
Seorang di antaranya pemuda berwatak dan bertingkah laku persis orang gila.
Pemuda itu bernama Singo Edan dari Goa Setan. Yang kemudian terkenal dengan
sebutan Pendekar Gila dari Goa Setan. Meski nama sebenarnya adalah Singo Arya
Yuda.
Seorang lagi bernama Catrik
Sandangkara. Ka- rena perbuatannya yang sangat aneh dengan ilmu- ilmu tinggi,
akhirnya orang lebih mengenalnya dengan sebutan Catrik Aneh. Karena Catrik Aneh
itu selalu memakai jubah hitam, dia kemudian disebut juga se- bagai Catrik
Ireng.
Kalau Catrik Ireng selalu
melanglang rimba persilatan untuk mencari dan menundukkan lawan, sebaliknya
Singo Edan lebih suka membantu yang le- mah. Sebenarnya Catrik Ireng dalam
melakukan tin- dakan tidak terlalu telengas. Dia hanya mau bertarung dengan
para pendekar untuk mengalahkan atau dika-
lahkan. Namun akibat tindakannya
yang selalu me- nantang setiap pendekar, dunia persilatan menjadi gempar. Ki
Ranu Baya yang memimpin dunia persilatan waktu itu segera mengumpulkan para
pendekar untuk membahas masalah sepak terjang Catrik Ireng.
"Bagaimana kalau Singo Edan
yang mewakili kita untuk menghentikan sepak terjang Catrik Ireng...?" usul
Ki Ranu Baya, yang akhirnya disepakati oleh para pendekar lainnya.
Karena diberi amanat untuk
menghentikan se- pak terjang Catrik Ireng, Singo Edan pun melaksana- kan
tugasnya. Dia berkelana untuk mencari Catrik Ireng. Selama itu dia terus
menolong orang lemah. Sampai akhirnya Singo Edan pun termasyhur dengan sebutan
Pendekar Gila dari Goa Setan.
Rupanya kemasyhuran nama Pendekar
Gila da- ri Goa Setan, menarik perhatian Catrik Ireng yang memang bermaksud
mencari pendekar sejati yang bisa menandinginya. Selama itu, pendekar yang
ditemuinya dapat dikalahkan hanya dalam beberapa gebrakan sa- ja.
"Katakan pada Pendekar Gila
jika kalian berte- mu, bersiap-siaplah untuk menghadapi Catrik Ireng!"
kata Catrik Ireng setiap kali bertemu dengan orang- orang persilatan yang dapat
dikalahkannya.
Akhirnya mereka pun bertemu di
puncak Gu- nung Lawu. Tempat itu menjadi penentu bagi kedua- nya untuk
memastikan siapa si antara mereka yang ilmunya lebih tinggi.
"Catrik Ireng, aku datang
untuk memintamu agar tidak meneruskan tindakanmu yang ugal-ugalan," ujar
Singo Edan sambil menggaruk-garuk kepala. Mu- lutnya cengengesan, persis orang
gila.
"Pendekar Gila, aku akan
menundukkanmu! Atau aku akan mengundurkan diri dari rimba persila- tan, jika
kau dapat mengalahkanku!" tantang Catrik Ireng.
Singo Edan tertawa
tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, mengapa kita
harus bertarung? Apa- lah artinya ilmu kita, yang belum seberapa dibanding- kan
ilmu yang dimiliki Hyang Widhi," tutur Singo Edan.
"Pengecut! Ternyata nama
besar Pendekar Gila dari Goa Setan hanya omong kosong!"
"Terserah kau, Catrik.
Kurasa tak ada artinya kita bertarung untuk memperebutkan pepesan ko-
song.,.." "Phuih...! Rupanya kau berusaha lari dari se- mua tanggung
jawabmu! Huh! Tak pantas seorang pendekar bersikap sepertimu."
"Baiklah kalau itu yang kau
inginkan, Catrik. Terpaksa aku melayanimu...."
Pertarungan kedua tokoh muda
rimba persila- tan yang ilmunya saat itu belum ada yang menandingi tak dapat
dielakkan. Keduanya bertarung tiada henti. Dari sore hari, sampai pagi datang.
Keduanya sama- sama memiliki kesaktian yang tinggi. Sangat sulit un- tuk
menentukan siapa di antara mereka yang akan ka- lah dan menang. Keduanya tetap
sama-sama gesit dan lincah, walau bertempur semalaman.
Keduanya kini telah mengeluarkan
senjata masing-masing. Catrik Ireng mengeluarkan senjata berbentuk bumerang
kembar. Sedangkan Singo Edan mengeluarkan Suling Naga Sakti.
"Heaaa...!"
"Yeaaat..!"
Bumerang kembar melesat ke tubuh
Singo Edan, yang dengan cepat melemparkan Suling Naga Saktinya ke arah bumerang
kembar itu.
Trang! Dua senjata itu beradu di
udara, memercikkan api. Kemudian kedua senjata itu kembali pada tuan- nya.
Suling Naga Sakti utuh tak ada cacat sedikit pun. Sedangkan mata Catrik Ireng
membelalak, menyaksi- kan salah satu senjatanya patah menjadi dua bagian.
"Pendekar Gila, saat ini
kaulah yang menang. Tapi, kutunggu kau di Puncak Lawu ini! Lima puluh tahun
lagi, aku akan datang...."
Usai berkata begitu, Catrik Ireng
berkelebat meninggalkan tempat itu. Sejak saat itulah Catrik Ireng tak
terdengar kabar beritanya lagi, menghilang dari dunia persilatan bagai ditelan
bumi. Dia terus menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang diciptakan- nya. Sampai
akhirnya dia muncul kembali!
***
Ki Catrik Ireng tersenyum-senyum
setelah mengingat semua kejadian lima puluh tahun yang si- lam. Kejadian yang
sangat berkesan di hatinya. Keja- dian itu tak akan pernah dilupakannya. Dan
mung- kinkah kejadian itu akan terulang lagi? Ya, akan terja- di lagi! Namun
kini akan lain dengan lima puluh tahun yang silam. Tekad hati Ki Catrik Ireng
dengan bibir ter- senyum. "Pendekar Gila, rupanya kita akan bertemu
kembali untuk menentukan siapa di antara kita yang benar-benar tinggi ilmunya!
Ha ha ha...! Kali ini kau akan kalah, Pendekar Gila! Kau akan menerima bala-
san ku!" ujar Ki Catrik Ireng seraya tertawa terbahak-
bahak.
Ki Catrik Ireng bangun dari
duduknya. Kakinya melangkah meninggalkan tempat itu dengan langkah perlahan,
menuju ke tempat di mana muridnya bera- da.
Nampak pemuda berbaju kuning kini
terbaring dikelilingi oleh orang-orang berjubah hitam. Kelihatan- nya luka
dalam pemuda itu telah dapat disembuhkan. Di samping tempat tidur pemuda itu,
tergeletak seo- rang lelaki berjubah hitam dengan keadaan gosong. Tentunya
lelaki itu telah menunaikan tugasnya.
"Bawa dia ke tempat penggodokan!"
perintah Ki Catrik Ireng.
Enam orang berjubah hitam lainnya
segera mengangkat tubuh rekannya, lalu membawanya pergi dari tempat itu. Mereka
benar-benar menurut sekali dengan Ki Catrik Ireng.
"Ha ha ha...! Laskar Setan
ku rupanya telah siap untuk menyambut pertarungan akbar. Hm, aku akan menjadi
pemimpin tertinggi rimba persilatan! Tak akan ada yang dapat
mengalahkanku...!"
Ki Catrik Ireng tertawa
terbahak-bahak mem- bayangkan bagaimana dia dengan Laskar Setannya akan menjadi
sebuah kekuatan yang sulit ditandingi. Anak buahnya benar-benar patuh pada
semua perin- tahnya. Mereka tak berani menolak atau menentang, meski nyawa
mereka sebagai taruhannya.
Ki Catrik Ireng melangkah ke arah
pemuda berpakaian kuning yang sedang tertidur lelap. Dipan- danginya wajah
pemuda itu, dan dihelanya napas pan- jang-panjang.
"Memang kau bukan
tandingannya, Anakku. Meski ilmumu tinggi, namun bukan apa-apa jika di-
bandingkan Pendekar Gila."
Ki Catrik Ireng tak puas-puasnya
memandangi pemuda itu. Wajah pemuda itu sama persis dengan wajahnya waktu muda
dulu. Rupanya pemuda berpa- kaian kuning yang ternyata anak tunggalnya itu me-
warisi wajah dan perawakan Ki Catrik Ireng.
'Prabasangka, seharusnya kau
tidak menderita, Nak. Ibumu memang wanita lacur! Kau ditinggal sejak kecil,
sejak masih bayi. Entah di mana kini ibumu be- rada," gumam Ki Catrik
Ireng dengan wajah murung.
Prabasangka menggeliat. Dia
terbangun setelah tidur cukup lama. Matanya mengerjap-ngerjap sesaat lalu
memandang ke sekelilingnya.
"Ayah...," desisnya,
memanggil Ki Catrik Ireng. Ki Catrik Ireng tersenyum.
"Hampir saja kau tak
tertolong, Anakku.... Un- tung Ayah lewat di tempat itu."
"Benarkah dia Pendekar Gila
yang lima puluh tahun lalu bertarung dengan Ayah...?" tanya Praba- sangka.
"Mengapa dia masih muda belia? Bahkan lebih muda dariku?"
Ki Catrik Ireng tak langsung
menjawab. Dihe- lanya napas panjang-panjang. Tangannya bersidekap. Dan matanya
memandang lepas ke depan.
"Ya, itulah yang Ayah tidak
mengerti. Tapi se- mua tingkah laku dan Suling Naga Saktinya memang miliknya.
Dan itu adalah bukti bahwa dia memang Pendekar Gila."
"Mungkin anaknya,
Ayah?" Ki Catrik Ireng menggelengkan kepala. Di bibir- nya tersungging
senyuman.
"Pendekar Gila tidak pernah
menikah. Bagai- mana mungkin dia punya anak? Meski Ayah bersem- bunyi, tapi
Ayah sering keluar untuk menyelidik. Dan dia tak pernah menikah. Mungkin
ilmunya menjadikan
dia awet muda," jelas Ki
Catrik Ireng. "Dua purnama lagi duel itu akan terulang. Ayah berharap
selama itu kau mempersiapkan diri. Jika Ayah kalah, kaulah yang akan menjadi
pemimpin Laskar Setan."
"Baik, Ayah." "Aku
ingin, kau seperti Ayah dulu. Taklukkan semua perguruan atau perkumpulan.
Bawalah Laskar Setan bersamamu."
Usai berkata begitu, Ki Catrik
Ireng tertawa ter- bahak-bahak. Kemudian dengan masih tertawa, Ki Ca- trik
Ireng meninggalkan putranya yang masih terdu- duk.
***
2
Matahari tepat berada di
ubun-ubun, dengan panasnya yang terasa menyengat Seorang pemuda berpakaian
rompi kulit ular sanca tampak tengah me- nyelusuri perbukitan. Bibirnya
meringis karena didera panas terik yang memanggang tubuhnya. Sesekali ke-
palanya digaruk, kemudian menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Uhhh...! Panas sekali hari
ini," keluh pemuda tampan itu yang tidak lain Sena Manggala atau Pende-
kar Gila dari Goa Setan
Saat itu Sena tengah melakukan
perjalanan, berkelana mengikuti kata hatinya. Sekaligus berusaha mencari paman
dan bibinya. Hanya mereka yang dapat dijadikan tempat bertanya dan berbagi
duka. Namun entah di mana mereka, tak jelas hutan rimbanya.
Sena terus melangkah, membawa
kakinya un-
tuk menyelusuri kehidupan.
Tingkah lakunya yang se- perti orang gila, semakin bertambah lucu dengan kea-
daan yang panas menyengat seperti itu. Sesekali kepa- lanya digaruk-garuk,
kemudian mulutnya meringis bo- doh.
"Anak muda, tunggu...!"
Tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita, memerintah Sena untuk menghentikan
langkahnya.
Sena menghentikan langkahnya.
Tubuhnya langsung berbalik untuk melihat orang yang menyu- ruhnya berhenti.
Keningnya berkerut dan mulutnya nyengir, melihat seorang wanita tua yang
bungkuk me- langkah ke arahnya. Wanita tua itu mengenakan pa- kaian serba
hitam. Rambutnya terurai lepas, dengan ikat kepala berwarna hitam pula.
Dilihat dari wajahnya, tentu
semasa mudanya wanita itu cantik jelita. Wajahnya bulat telur dengan hidung
bangir. Sedangkan matanya diperindah oleh alis tipis serta bulu mata yang
lentik.
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepalanya. Mulutnya cengar-cengir. Tingkahnya persis seekor mo- nyet yang
kepanasan dipanggang matahari
"Kenapa kau menyuruhku
berhenti, Nek?" tanya Sena masih dengan bertingkah seperti monyet
kepanasan.
"Hik hik hik..! Pucuk
dicinta ulam tiba," ucap nenek yang ternyata Nyi Kendil, guru Bidadari
Cadar Merah (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode
"Dendam Bidadari Cadar Merah").
Sena mengerutkan kening mendengar
ucapan Nyi Kendil. Kemudian tawanya meledak. Sambil meng- garuk-garuk kepala
mulutnya mengoceh,
"Hi hi hi.... Mengapa Nenek
mencintai pucuk? Lucu sekali.,.. Lagi pula, beruntung sekali kalau dapat
ulam, Nek. Wah, mengapa kau tidak
bagi-bagi aku?"
Alis putih milik Nyi Kendil
terangkat saat men- dengar ucapan pemuda itu.
"Tak salah... tak salah
lagi...," gumamnya se- raya mengangguk-angguk.
"Apanya yang tak salah, Nek?
Ah, sudahlah. Aku harus segera pergi lagi. Ada apa, Nek..?" tanya Sena
masih bertingkah laku aneh.
"Anak muda, jawablah
pertanyaanku. Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Gila dari Goa Setan yang
tersohor itu...?!" tanya Nyi Kendil dengan suara lan- tang, setengah
membentak.
Pendekar Gila tersentak.
Sampai-sampai me- nyurutkan dadanya ke belakang. Matanya menyipit, dan
keningnya berlipat-lipat. Kemudian tingkahnya kembali seperti semula,
cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, terlalu
berlebihan jika disebut terso- hor untuk pemuda sebodoh aku, Nek. Memang kena-
pa...?" balik Sena setelah menjawab pertanyaan Nyi Kendil. "Jadi kau
pendekar itu? He he he.... Bagus...," gumam Nyi Kendil sambil
terkekeh-kekeh. "Namamu yang besar sering kudengar. Menggugah hatiku untuk
membuktikannya. Itu sebabnya aku keluar dari sa- rangku." Sena
menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir. Kemudian sambil tersenyum-senyum
kepa- lanya digelengkan.
"Ah, mengapa begitu, Nek?
Aku bukan manusia aneh. Aku tetap manusia biasa yang memiliki kelema- han.
Bukan dewa yang harus dicari-cari. Apa gunanya Nenek berusaha mencariku? Bahkan
hendak mencoba ilmuku?"
"Hik hik hik...!" Nyi
Kendil tertawa-tawa, mem- buat tubuhnya turut terguncang-guncang. "Weleh,
mendengar kata-katamu yang luhur, aku semakin pe- nasaran saja. Nah, Pendekar
Gila, kuharap kau sudi memberi beberapa pelajaran untukku yang tua bangka ini.
Bersiaplah...!"
Pendekar Gila kembali
menggaruk-garuk kepala dengan mulut masih cengengesan. Namun ketika Nyi Kendil
hendak menyerang dengan cepat Sena berse- ru....
"Tunggu...!" Nyi Kendil
mengerutkan kening. Ditatapnya pemuda itu dengan sinar mata tak mengerti.
"Ada apa lagi, Pendekar
Gila?" tanyanya masih dengan mata memandang tajam serta kening berkerut
"Nyi, kalau kau menantangku
hanya untuk menjajal ilmuku, lebih baik aku mengalah. Kaulah yang menang. Nah,
permisi."
"Tunggu...!" seru Nyi
Kendil, ketika melihat Se- na hendak berlalu.
Sena tak menghiraukan seruan itu.
Kakinya te- rus melangkah, meninggalkan wanita tua yang menan- tangnya. Hal itu
membuat Nyi Kendil marah. Dia me- rasa telah diremehkan oleh pendekar itu.
"Kurang ajar! Rupanya kau
menyangka begitu mudah lari dariku, Anak Muda! Heaaa...!"
Tubuh wanita tua itu melenting ke
atas, kemu- dian melesat cepat untuk mengejar Pendekar Gila. Ge- rakannya
begitu ringan, menandakan kalau ilmunya bukan ilmu pasaran. Dengan usia setua
itu, tentu ke- matangan ilmunya amat luar biasa.
Jleg! Nyi Kendil menghentakkan
kakinya ke tanah sejauh dua tombak di depan Pendekar Gila yang seke-
tika menghentikan langkahnya.
"Ha ha ha.... Kau
benar-benar aneh, Nek. Men- gapa kau masih saja tak puas? Bukankah telah kuka-
takan bahwa kaulah yang menang?" kata Sena sambil tertawa dan
menggaruk-garuk kepala, membuat Nyi Kendil berungut kesal.
"Kurang ajar! Apakah dengan
begitu aku akan membiarkan mu pergi! Aku jauh-jauh mencarimu un- tuk menjajaki
ilmumu yang termashur. Tak akan ku- biarkan orang yang kucari pergi begitu
saja. Bersiap- lah! Yeaaat..!"
Kedua tangan Nyi Kendil bergerak
merentang lalu mencakar ke depan. Sepasang tangannya bagai- kan sebuah sayap.
Merentang lurus, kemudian diang- kat ke atas. Lalu diarahkan ke depan,
membentuk pu- kulan dan sabetan. Sementara kedua kakinya bergerak laksana
kaki-kaki seekor binatang yang tengah meng- hisap madu pada bunga. Itulah jurus
'Kupu-kupu Menghisap Bunga'.
Menyaksikan jurus yang
dikeluarkan wanita tua itu, kening Pendekar Gila berkerut. Seingatnya, dia
pernah melihat jurus itu digunakan untuk menye- rangnya. Ketika Sena masih
berusaha mengingat-ingat siapa orang yang pernah menyerangnya dengan jurus itu,
serangan Nyi Kendil semakin dekat ke arahnya. Siap menghantam dada dan
kemaluan.
Wuttt! "Uts...!" Sena
tersentak kaget. Dengan cepat tubuhnya melompat mundur, kemudian meliuk-liuk
laksana me- nari dengan gemulai. Dielakkannya setiap serangan yang dilancarkan
wanita tua itu.
Nyi Kendil yang merasa serangan
pertamanya
gagal, kembali melancarkan
serangan susulan. Malah daya serangnya kini semakin hebat. Tangan kanannya
menghantam ke dada lawan. Sedangkan tangan ki- rinya mencengkeram ke
selangkangan.
Pendekar Gila yang diserang
begitu rupa, cepat- cepat menggunakan jurus 'Si Gila Menari Menepuk La- lat'.
Gerakannya kelihatan lemah dan lamban. Tubuh- nya bergerak meliuk-liuk laksana
menari, dengan se- sekali tangannya menepuk ke dada lawan.
Sambil terus mengelakkan serangan
yang di- lancarkan oleh Nyi Kendil, Pendekar Gila berusaha mengingat-ingat
siapa orang yang pernah mengguna- kan jurus keji dan ganas itu. Jurus yang
selalu menga- rah ke titik kematian, ke arah kemaluan lawan.
"Heaaa...!" "Uts!
He he he...! Mengapa kau sudah tua ma- sih cabul, Nek?" seloroh Sena
sambil bergerak meliuk- liukkan tubuhnya, mengelakkan serangan.
"Tutup mulutmu, Gila!
Heaaat..!" Nyi Kendil semakin beringas. Tangan kanannya laksana seribu,
mencecar gencar ke dada lawan. Se- dangkan tangan kirinya yang mencengkeram ke
arah selangkangan pun tak kalah keras. Membuat Pendekar Gila harus mengerahkan
tenaga dalam untuk memen- tahkannya.
"Wah wah wah, mengapa kau
sadis, Nek? Aduh...! Celaka kalau wanita setua mu masih cabul. Bisa-bisa tak
ada gadis yang laku...."
Kembali Sena berseloroh. Tubuhnya
masih me- liuk-liuk, berusaha mengelakkan serangan-serangan Nyi Kendil yang
mengarah pada tempat-tempat mema- tikan.
Nyi Kendil yang diledek begitu
rupa, semakin bertambah geram. Dengan dengusan penuh amarah,
wanita tua itu semakin
mempergencar serangannya. Tangannya yang memukul dan mencengkeram bagai tak
pernah berhenti. Kakinya pun tak mau diam, me- nendang dan menyapu kaki lawan.
"Yeaaat..!" Serangan
Nyi Kendil semakin beringas dan ga- nas, Membuat Pendekar Gila tersentak kaget.
Tapi se- bagai orang yang sudah sering menghadapi hal-hal se- perti itu,
Pendekar Gila tak kebingungan. Bahkan ma- sih dengan gaya seekor monyet,
diimbangi terus seran- gan-serangan yang dilancarkan Nyi Kendil.
"Jangan hanya mengelak saja,
Gila! Tunjukkan ilmumu yang kesohor itu...!" bentak Nyi Kendil beru- saha
memancing amarah pendekar muda itu. "Kalau kau tidak juga mau menunjukkan
ilmumu, jangan sa- lahkan kalau aku membunuhmu! Yeaaat..!"
Pendekar Gila yang tahu kalau
wanita tua itu tengah mencoba memancing amarahnya, tertawa riuh. Seakan-akan
tidak terpengaruh oleh tantangan itu. Tubuhnya meliuk-liuk, mengelakkan setiap
serangan yang dilancarkan wanita tua itu.
Merasa usahanya untuk memancing
kemara- han Pendekar Gila tak berhasil, Nyi Kendil bertambah marah. Kekuatan
tenaga dalamnya ditambah, dan se- rangannya semakin buas dan ganas. Kedua
tangannya bergerak kian liar.
"Awas, Nek...!"
"Uts...!" Nyi Kendil tersentak kaget ketika tiba-tiba Pen- dekar Gila
melepaskan serangan tanpa diduga sebe- lumnya. Tangannya bergerak memukul ke
wajah Nyi Kendil. Membuat wanita tua itu kaget bukan kepalang.
"Ha ha ha...!" Sena
tertawa seraya menarik se- rangannya.
Nyi Kendil melompat dua tindak ke
belakang. Matanya memandang tajam ke arah Pendekar Gila. Na- fasnya memburu,
karena dilanda amarah yang bergo- lak di dadanya.
***
Pendekar Gila kian
tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya membuat wanita tua
itu semakin sengit
"Pendekar Gila, jangan kau
senang dulu! Aku belum kalah olehmu! Yeaaat..!"
Nyi Kendil kembali melesat Kedua
tangannya merentang, kemudian bersama-sama menghantam ke depan. Disambung
dengan lentingan tubuhnya ke atas, dengan kaki-kaki yang menghentak
Melihat serangan yang dilancarkan
lawannya, Pendekar Gila semakin mengerutkan kening. Benak- nya terus berusaha
mengingat-ingat kembali siapa se- benarnya orang yang pernah menyerangnya
dengan ju- rus-jurus yang kini diperagakan oleh nenek itu.
"Wet hampir saja...!"
pekik Sena sambil memi- ringkan tubuhnya ke samping.
Kemudian tubuhnya diliukkan,
mengelakkan serangan cepat yang dilancarkan Nyi Kendil. Lalu den- gan cepat
Pendekar Gila balas menyerang.
"Jaga dadamu, Nek!
Yeaaa...!" Tangan kanan Pendekar Gila dengan telapak tangan terbuka,
menghantam ke dada Nyi Kendil. Wa- nita tua itu tersentak kaget, hampir tak
percaya me- nyaksikan jurus lawannya. Gerakan tangan lawan ke- lihatan lemah
dan pelan, namun kenyataannya sung- guh di luar dugaannya. Kalau saja tadi
tidak melompat mundur, tentu dadanya akan jebol.
"Edan! Benar-benar ilmu
edan!" maki Nyi Kendil bersungut-sungut. Sedangkan Pendekar Gila kembali
tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepala.
"Nek kurasa sudah cukup
permainan kita. Aku kira, tak ada perlunya kita ngotot," kata Sena dengan
tingkah lakunya yang persis orang tolol. "Kuharap kau mau mengerti. Tak
baik mencari musuh. Lagi pula, an- tara kita tak ada silang sengketa...."
"Tutup mulutmu!" bentak
Nyi Kendil, membuat mata Sena melotot kaget "Enak benar kau berkata di
antara kita tak ada silang sengketa...!"
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala dengan kening masih berkerut Nafasnya mendesah pelan, dan kepalanya
menggeleng-geleng.
"Nek, kau dan aku belum
pernah bertemu. Ba- gaimana mungkin antara kita ada silang sengketa?"
"Diam! Kau kira karena kita
baru bertemu ma- ka antara kita tak ada silang sengketa?!" dengus Nyi
Kendil masih dengan suara membentak. Matanya ma- sih melotot marah.
"Pendekar cabul! Sungguh sangat disayangkan kalau seorang pendekar yang
namanya diagung-agungkan ternyata cabul! Suka memperkosa gadis dan istri
orang!"
Pendekar Gila tersentak mendengar
tuduhan yang dilontarkan nenek itu. Namun amarahnya beru- saha ditahan. Dia
yakin kalau semua itu hanya fitnah. Atau mungkin masalah pemuda bertopeng yang
men- gaku-aku dirinya.
"Nek, kau menuduhku cabul.
Apakah kau punya bukti?" tanyanya masih berusaha tenang.
"Ya!" dengus Nyi
Kendil. "Hm, katakanlah bukti apa?" Nyi Kendil tidak langsung
menjawab. Matanya bertambah tajam memandang pemuda di hadapannya.
"Muridku buktinya!"
Pendekar Gila mengerutkan kening. Kemudian tertawa tergelak-gelak setelah ingat
dengan semuanya. Dia pun ingat kalau jurus yang diperagakan oleh ne- nek itu
sama dengan jurus Wulandari atau Bidadari Cadar Merah. Kemudian tangannya
menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum.
"Ah ah ah.... Kalau aku
tidak salah, bukankah muridmu yang bernama Wulandari atau Bidadari Ca- dar
Merah?" tanya Sena.
Mata Nyi Kendil semakin berkilat
penuh ama- rah. Wanita tua itu menyangka kalau Sena-lah yang telah memperkosa
muridnya. Wajar saja kalau dia ta- hu nama muridnya.
"Ya! Bukankah kau yang
memperkosanya?!" Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak. Suaranya lepas di
udara, lalu terbawa oleh angin. Kemudian dengan tingkah anehnya, Sena kembali
berkata....
"Rupanya itu yang menjadi
silang sengketa an- tara kau dan aku, Nek? Hm, kau boleh tanya pada mu- ridmu.
Apakah benar aku yang telah memperko- sanya...?" tegas Sena. "Nah,
aku mohon pamit."
Usai berkata begitu, Sena segera
menjura hor- mat dan hendak melangkah pergi. Namun Nyi Kendil kembali berseru
menghentikan langkahnya.
"Tunggu...!" Pendekar
Gila tak menghiraukan. Kakinya te- rus melangkah. Namun baru beberapa langkah,
nam- pak olehnya seorang wanita bercadar merah lari ke arahnya. Seketika itu
pula Nyi Kendil berseru, menye- but nama wanita bercadar merah itu.
"Wulandari...!"
"Tuan Pendekar, tunggu...!" panggil Wulandari. Tubuhnya terus melaju
ke arah Pendekar Gila yang
menghentikan langkahnya.
"Biar ku jelaskan pada guru."
Wulandari segera mengajak Sena ke
tempat gu- runya berdiri. Kemudian wanita yang berjuluk Bidadari Cadar Merah
itu menjura hormat, membuat Nyi Kendil mengangguk-anggukkan kepala.
"Wulan..., bukankah pemuda
itu yang telah me- renggut kehormatanmu?" tanya Nyi Kendil kemudian.
"Bukan, Guru. Malah dialah
yang telah meno- longku. Kalau saja dia tak ada, mungkin pemuda ber- topeng itu
telah kembali memperkosaku," tutur Wu- landari dengan mata mengerling
sungkan pada Sena yang cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Nah! Kau telah dengar
sendiri, Nek. Masihkah kau akan menuduhku cabul? Bukankah jurusmu yang
sebenarnya cabul?" sindir Sena, membuat mata Nyi Kendil langsung melotot.
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala sambil tertawa tergelak-gelak. Sementara Wulandari yang me- nyaksikan
gurunya melotot, hanya tersenyum. Kemu- dian dia berusaha menenangkan suasana
yang tidak enak itu. "Tuan Pendekar, ternyata duel penentuan anta- ra
orang tua itu dengan tuan telah tersebar. Semua orang persilatan telah mendapatkan
undangannya."
"Hah...?!" Sena
bengong.
***
3
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala dengan tangan kanannya. Kepalanya digeleng-gelengkan sam-
bil tersenyum-senyum.
"Duel...? Apakah aku tak
salah dengar, Nyi?" "Tidak, Tuan. Lelaki tua yang telah menyela-
matkan si keparat yang menodai ku dulu telah menye- bar pengumuman, ini
buktinya...."
Wulandari mengambil lipatan daun
lontar di ikat pinggangnya. Kemudian, diserahkannya pada Se- na yang segera
membacanya.
Bagi semua pendekar rimba
persilatan! Kami mengundang Anda pada dua bulan pur- nama yang akan datang di
Puncak Lawu, untuk me- nyaksikan penentuan siapa yang pantas menjadi orang
nomor satu di rimba persilatan.
Duel penentu ini, sekaligus duel
ulang yang per- nah kami lakukan lima puluh tahun yang silam. Semoga Pendekar
Gila masih memiliki jiwa besar!
Catrik Ireng.
"Edan! Apa maksudnya?"
gerutu Sena sambil melipat daun lontar kembali. Tangannya menggaruk- garuk kepala.
Wajahnya kini menengadah ke langit, di mana matahari kini agak condong ke arah
barat.
"Catrik Ireng mengatakan
bahwa duel itu ada- lah ulangan dari kejadian lima puluh tahun yang si- lam.
Apa maksudnya?" tanya Wulandari tak mengerti
"Catrik Ireng...?!"
seru Nyi Kendil kaget dengan mata membelalak. Membuat Wulandari dan Sena me-
mandang wanita tua itu dengan wajah bertanya-tanya.
"Ada apa, Guru? Apakah Guru
mengenalnya?" tanya Wulandari.
"Ya! Dia lelaki bajingan!
Dialah yang telah membuatku harus kehilangan harapan! Kehilangan masa
depan!" dengus Nyi Kendil, semakin membuat
Wulandari dan Sena
terheran-heran.
Mereka terus memperhatikan
bagaimana wajah nenek itu berubah merah. Tampak Nyi Kendil marah, setelah
mendengar nama Catrik Ireng tadi. Mulailah ingatannya melayang pada kejadian
puluhan tahun yang silam.
"Guru, kalau boleh ku tahu,
apakah yang terja- di antara Guru dengan Catrik Ireng?" tanya Wulandari
setelah menyaksikan gurunya diam saja.
"Hm, aku pun menaruh dendam
padanya," dengus Nyi Kendil.
"Dendam apa, Guru?"
desak Wulandari ingin tahu.
"Nanti kuceritakan. Sekarang
kita pergi dari si- ni," ajak Nyi Kendil pada muridnya.
"Bagaimana dengan Tuan
Pendekar?" "Ah, aku pun harus pergi. Terima kasih atas pemberitahuan
yang telah kau berikan padaku, Nyi. Aku mohon pamit"
Usai berkata begitu, Pendekar
Gila berkelebat pergi meninggalkan guru dan murid yang hanya bisa memandang
terpana. Dari mulut mereka terdengar de- cak kagum.
"Ck ck ck.... Sungguh luar
biasa," puji Wulan- dari. Kekaguman yang tergambar pada rona wajahnya
begitu dalam.
"Ya! Tadi aku pun telah
menjajalnya. Ternyata ilmunya memang hebat. Semuda itu telah memiliki il- mu
yang tinggi," sambut Nyi Kendil.
"Jadi...." "Ya!
Mulanya aku menyangka dialah yang telah memperkosa mu. Kami pun bertarung.
Sungguh luar biasa. Kalau dia mau, sudah dari tadi aku menjadi mayat!"
Wulandari semakin kagum mendengar
keteran- gan yang disampaikan gurunya tentang pemuda tam- pan itu. Perlahan
hari Bidadari Cadar Merah itu dijala- ri perasaan yang aneh. Wulandari tak
yakin kalau itu hanya perasaan suka. Dia lebih suka mengatakan ka- lau perasaan
itu adalah cinta yang mulai membentuk di kedalaman hatinya. Tapi, mungkinkah
dia mau me- nerima cintaku? Dia masih perjaka asli. Sedangkan aku.... Oh, aku sudah
tak suci lagi. Keluh hatinya.
Nyi Kendil menyaksikan muridnya
nampak mu- rung dengan mata memandang ke arah kepergian Pen- dekar Gila. Sambil
tersenyum, kakinya melangkah mendekati muridnya.
"Kau mencintainya,
Wulan?" tanya Nyi Kendil hati-hati. Wulandari tersipu malu. Pipinya yang
tertutup cadar tentunya merah merona. Matanya mengerjap- ngerjap laksana mata
seekor kelinci. Membuat gu- runya semakin tersenyum lebar.
"Mungkinkah itu, Guru?"
tanya Wulandari, ma- lu-malu "Mengapa tidak? Dia lelaki dan kau
wanita."
"Maksudku, aku sudah tak
suci lagi, Gum. Se- dangkan dia masih perjaka...," desah Wulandari lirih,
kemudian kepalanya menunduk.
Nyi Kendil memegangi pundak
muridnya perla- han. Bibirnya masih menyunggingkan senyum penuh kasih sayang.
"Wulan, cinta tidak selalu
menyatu. Kalau kau memang mencintainya, tunjukkanlah padanya ketulu- san cinta
mu. Sedapatnya kau mengabdi tanpa harus berpikir untuk memiliki. Bila perlu,
kau harus rela berkorban," kata Nyi Kendil pelan, memberi petuah pada muridnya
yang semakin tertunduk sendu.
"Aku akan berusaha,
Guru." "Sekarang kita pulang. Bukankah kau ingin ta- hu tentang aku
dan lelaki busuk yang menantang pe- muda itu? Lagi pula, aku pun ingin
mendengar bagai- mana hasil petualanganmu" "Baik, Guru."
"Ayo kita pulang." Kemudian keduanya segera melesat meninggal- kan
tempat itu, berlari menuju selatan. Tak lama ke- mudian, tubuh mereka
menghilang di dalam kerimbu- nan hutan.
***
Nyi Kendil bersama Wulandari
duduk di atas ti- kar pandan. Di hadapan mereka tersedia singkong re- bus dan
gula merah di piring yang terbuat dari tanah liat
Dua buah cangkir yang juga
terbuat dari tanah liat ada di dekat kaki mereka.
Keduanya mengambil singkong rebus
dan gula merah. Kemudian menyantapnya dengan penuh ke- nikmatan. Setelah itu
mereka meneguk air putih dari cangkir tanah liat
"Bagaimana pengalamanmu,
Wulan? Dan ba- gaimana pula sampai kau mengenal pendekar muda itu?" tanya
Nyi Kendil memulai percakapan dengan se- nyum terulas di bibir. Mata muridnya
mengerjap- ngerjap risih saat nama pendekar muda itu disebut. Tentu saja yang
dimaksud Nyi Kendil adalah Sena Manggala alias Pendekar Gila dari Goa Setan.
Wulandari terlihat semakin
cantik, setelah ca- dar merah yang menutupi wajahnya dibuka. Kulit wa- jahnya
yang kuning langsat, bertambah mempesona
dengan seulas senyum
tersipu-sipu.
"Kenapa, Wulan? Kau ingat
dia lagi...?" seloroh Nyi Kendil, membuat Wulandari semakin tersipu-sipu.
Pipinya kian merona merah. "Ah, Guru...." "Sudahlah, aku pun
tahu. Aku juga pernah muda. Nah, katakanlah...."
Wulandari menghela napas sesaat.
Rona merah masih menghias kedua pipinya. Dengan menundukkan kepala perlahan,
Wulandari menceritakan semua pen- galamannya selama berkelana. Sampai akhirnya
dia bertemu dengan Pendekar Gila, yang perlahan meno- reh hatinya dengan
bilur-bilur cinta, sejak pertama kali mereka bertemu di hutan setelah ia
mengalahkan Tiga Barka Kembar (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar
Gila dalam episode "Dendam Bidadari Cadar Merah"). "Begitulah
ceritanya, Guru," kata Wulandari, mengakhiri ceritanya.
Nyi Kendil mengangguk-anggukkan
kepala. Di- helanya napas panjang-panjang. Ditatapnya wajah Wulandari
dalam-dalam, seakan ada sesuatu yang tengah diperhatikan pada wajah muridnya.
"Anakku...," tiba-tiba
dari mulut Nyi Kendil ter- dengar suara desahan cukup keras, yang entah ditu-
jukan pada siapa. Hal itu membuat Wulandari menge- rutkan kening. Namun dia
tidak berani bertanya. Hanya matanya menatap lekat ke wajah Nyi Kendil, tak
mengerti akan desah gurunya tadi.
Wajah Nyi Kendil nampak muram.
Matanya menatap penuh kasih ke arah Wulandari, yang juga menatap dengan penuh
ketidakmengertian akan se- muanya. "Wulan, sungguh malang benar nasib
kita. Se-
pertinya semua telah disuratkan
oleh Hyang Widhi. Kau dan aku sama-sama mendapatkan celaka. Sama- sama ditimpa
bencana yang sebenarnya tidak kita in- ginkan." Hati Wulandari terenyuh
seketika mendengar penuturan gurunya. Mulutnya terbungkam. Perlahan- lahan
kepalanya kembali menunduk dalam-dalam. Ti- dak terasa, air matanya mengalir
perlahan membasahi kedua pipinya.
Nyi Kendil kembali menghela
napas. Matanya nampak berkaca-kaca. Ditatapnya Wulandari yang masih menundukkan
kepala dalam-dalam. Dia tahu apa yang sebenarnya tengah berkecamuk dalam jiwa
muridnya. Dia juga seorang wanita dan pernah muda seperti Wulandari. Juga
mendapat nasib yang hampir sama dengan apa yang dialami Wulandari.
"Aku tahu perasaanmu, Wulan.
Ya... mungkin kita memang telah digariskan oleh Hyang Widhi untuk bertemu.
Berbagi suka dan duka yang telah kita alami. Nah, kini kau dengarlah cerita ku.
Agar kau tahu siapa aku sebenarnya...."
Wulandari menganggukkan kepala
dengan ma- sih menunduk. Tangannya menyapu air mata yang membasahi pipinya yang
halus.
Didahului helaan napas panjang,
Nyi Kendil mulai menceritakan dirinya dan Ki Catrik Ireng.
Suatu hari nampak seorang gadis
kecil berusia sekitar lima belas tahun tengah bermain-main dengan
teman-temannya. Bersuka ria di sebuah lapangan di pinggir desa. Gadis cantik
yang baru menginjak dewa- sa itu bernama Roro Kendari. Di antara teman-
temannya, gadis itu yang terlihat paling cantik. Begitu pula dengan pakaian
yang dikenakannya. Paling bagus di antara gadis yang lain.
Gadis itu tiada lain anak Ki
Lurah Manujaya. Meski anak seorang lurah, namun kepribadiannya baik. Senang
bergaul dan tidak sombong. Itu sebabnya dia banyak disenangi oleh
teman-temannya.
Tengah gadis-gadis tanggung itu
bermain-main, muncul Catrik Ireng yang kebetulan lewat di desa itu. Melihat
kecantikan Roro Kendari, Catrik Ireng menjadi tertarik. Dengan bibir tersenyum,
didekatinya gadis itu. Kemudian dengan nakal, tangannya membelai da- gu Roro
Kendari.
"Cah ayu, siapa
namamu...?" tanya Catrik Ireng masih tersenyum.
Mata Roro Kendari melotot marah
pada Catrik Ireng. Ia menganggap perbuatan Catrik Ireng kurang ajar.
"Lelaki kurang ajar!"
makinya marah. Keempat teman gadisnya menyurut ke belakang tubuh Roro Kendari.
Mara mereka pun memandang penuh rasa tidak suka terhadap lelaki muda yang telah
lancang berani membelai dagu Roro Kendari.
"Hei, mengapa kau marah, Cah
Ayu?" tanya Ca- trik Ireng dengan kening berkerut "Apakah salah jika
nama mu ku tanya?"
"Huh, mengapa kau berani
membelai dagu ku?! Bukankah itu kurang ajar?!" ketus dan keras suara Roro
Kendari. Matanya masih melotot sepertinya tidak merasa takut sedikit pun
terhadap lelaki muda berju- bah hitam di hadapannya.
"O, itu karena kau cantik,
Cah Ayu." "Lancang mulutmu!" bentak Roro Kendari. "Apakah
kau tidak pernah diajar adat?!"
Catrik Ireng tersentak kaget
melihat keberanian gadis itu. Wajahnya langsung memerah, merasa malu dibentak
begitu rupa di depan orang banyak.
"Gadis edan! Kuhajar
mulutmu!" dengus Catrik Ireng.
"Hajar kalau memang
berani!" tantang Roro Kendari seraya menyodorkan wajahnya ke arah Catrik
Ireng.
Cup! "Auw...!" Roro
Kendari memekik kaget. Sedangkan te- man-temannya berlarian meninggalkan tempat
itu, merasa takut pada lelaki muda berjubah hitam.
"Bagaimana, Cah
Ayu...?" tanya Catrik Ireng masih tersenyum.
Roro Kendari bertambah marah.
Tidak didu- ganya sama sekali kalau lelaki muda itu malah men- ciumnya, bukan
menampar. Matanya melotot garang. Pipinya merona merah karena malu.
"Kurang ajar! Kau
benar-benar lelaki bajingan!" Dibentak begitu rupa, tidak membuat lelaki
muda berjubah hitam itu marah. Catrik Ireng malah memeluk tubuh Roro Kendari
diiringi gelak tawanya. Kemudian dengan gemas, diciuminya pipi Roro Kenda- ri.
"Kurang ajar!
Lepaskan..!" bentak Roro Kendari sambil memukul dada Catrik Ireng, dengan
harapan pemuda berjubah hitam itu akan menghentikan ci- umannya. Tapi Catrik
Ireng tak juga melepaskan pelu- kannya. Semakin Roro Kendari berontak, semakin
kencang pelukannya. Dan semakin buas pemuda itu mencium pipinya.
"Tak akan kulepaskan,
sebelum kau bersedia menjadi istriku!"
"Cuh! Tak sudi! Kau lelaki
bajingan...!" Roro Kendari menyemburkan ludah ke wajah Catrik Ireng,
membuat pemuda itu semakin beringas
menciumi wajahnya, Malah kini
merambat ke leher jenjang Roro Kendari.
"Bajingan!
Lepaskan...!" pekik Roro Kendari sambil terus meronta, berusaha melepaskan
pelukan pemuda itu. Namun Catrik Ireng benar-benar tak pe- duli. Pelukan dan
ciumannya semakin menjadi-jadi.
Saat pemuda berjubah hitam itu
menciumi leh- er Roro Kendari, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam
punggungnya.
Bugk! Catrik Ireng tersentak.
Pelukannya terlepas. Hal itu tidak disia-siakan oleh Roro Kendari yang segera
berlari ke arah ayah dan ibunya.
"Ayah, pemuda itu jahat!
Bajingan...!" Catrik Ireng tersenyum sinis, setelah tahu siapa yang telah
memukulnya.
"Hm, rupanya kau?!
Seharusnya kau berterima kasih, karena putri mu telah mendapat kehormatan untuk
ku cium. Apakah kau tak tahu siapa aku, heh?!" ujar Catrik Ireng, sombong.
"Huh, siapa pun kau, aku tak
peduli! Kau bu- kan orang baik-baik! Kau harus ditangkap...!" jawab Ki
Lurah Manujaya.
Mendengar kata-kata itu, Catrik
Ireng seketika tertawa tergelak-gelak
"Lancang sekali mulutmu,
Orang Tua! Apakah kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa, heh?! Pantang
bagi Catrik Ireng membiarkan keinginannya berlalu! Serahkan anakmu padaku,
untuk kujadikan istri!"
"Sombong! Biar namamu
menjulang sampai ke langit, aku tak takut. Demi kebenaran dan kebaikan, aku
rela mati!" sengit Ki Lurah Manujaya.
"Kurang ajar! Rupanya kau
menantangku!
Yeaaat..!"
"Heaaat..!" Keduanya pun
bertarung. Rupanya, pemuda berjubah hitam itu jauh lebih tinggi ilmunya
dibanding Ki Lurah Manujaya. Dalam beberapa gebrakan saja, Ki Lurah Manujaya
dapat dibunuh.
Menyaksikan suaminya tewas, istri
Ki Lurah Manujaya seketika menjerit lalu menubruk tubuh su- aminya. "Kang
Mas...!" ratap istri Ki Lurah Manujaya. "Bajingan! Kubunuh
kau...!"
Dengan tangan menggenggam keris
milik sua- minya, istri Ki Lurah Manujaya menerjang Catrik Ireng. Ditusukkannya
keris ke arah lawan. Namun dengan cepat pemuda berjubah hitam itu mengelak-
kannya, lalu tanpa diduga tangannya menekan tangan wanita itu.
Bles! "Akh...!" jerit
istri Ki Lurah Manujaya. Keris di tangannya tepat menusuk perutnya sendiri.
"Ibu...!" jerit Roro
Kendari Mata Roro Kendari memandang pemuda berju- bah hitam itu penuh
kebencian. Kemudian Roro Ken- dari lari meninggalkan tempat itu. Gadis itu
tahu, pasti pemuda berjubah hitam itu hendak bermaksud jahat padanya. Sungguh
tak sudi jika dia menjadi istri pem- bunuh ayah dan ibunya.
Catrik Ireng yang sudah terpikat
oleh kecanti- kan Roro Kendari, tak mau membiarkan gadis itu per- gi. Dia
segera mengejar untuk mencari gadis itu. Setiap penduduk ditanya, di mana Roro
Kendari bersem- bunyi. Banyak penduduk yang dibunuh jika tidak mau memberi tahu
tempat Roro Kendari bersembunyi.
Akhirnya pemuda berjubah hitam
itu menemu-
kan tempat persembunyian Roro
Kendari. Di sebuah rumah yang belum dihuni, milik kedua orang tuanya.
"Hm, akhirnya kau kutemukan
juga, Cah Ayu. Ke mana pun kau lari, aku akan mengejarmu."
Roro Kendari ketakutan. Dia
berusaha mela- wan. Tapi sia-sia saja karena dia tidak memiliki ilmu silat.
Jangankan dia, ayahnya yang memiliki ilmu silat saja dapat dikalahkan hanya
dalam beberapa gebra- kan.
Nafsu pemuda berjubah hitam itu
rupanya tak terbendung lagi. Tangannya segera merenggut pakaian yang dikenakan
Roro Kendari.
Breeet...! "Auh,
tidak...!" Roro Kendari berusaha meronta. Tetapi tena- ganya tak cukup
untuk menghempas tubuh Catrik Ireng. Bahkan untuk sekadar lepas dari
sergapannya. Pemuda itu lalu mempreteli pakaiannya dengan mata berkilat-kilat
penuh nafsu. Terlebih setelah tubuh ga- dis itu tanpa sehelai benang pun.
Tanpa ada perlawanan, dengan
leluasa pemuda itu melampiaskan nafsunya. Kemudian dibawanya Ro- ro Kendari
pergi dari desa itu. Sampai akhirnya Roro Kendari melahirkan seorang bocah
lelaki yang diberi nama Prabasangka.
"Begitulah ceritanya, Wulan.
Ah, aku tidak me- nyangka kalau Prabasangka akan menuruni sifat ayahnya. Dan
kau menjadi korbannya," keluh Nyi Kendil atau Roro Kendari.
Wulandari terdiam menundukkan
kepala. "Apakah jika Praba lepas dari ayahnya kau mau memaafkannya, Wulan?
Maukah kau menjadi istrinya jika dia telah sadar nanti?"
Wulandari tak menjawab. Sulit
baginya untuk
menjawab pertanyaan gurunya.
Benih cinta itu tum- buh untuk Pendekar Gila, bukan untuk Prabasangka yang
telah memperkosa dan menghancurkan masa de- pannya. Karena tak kuat menahan
kesedihannya, Wu- landari lari meninggalkan tempat itu.
"Wulan, tunggu...!"
seru Nyi Kendil sambil ber- lari mengejar muridnya.
***
4
Malam datang membawa kegelapan
yang dis- elimuti halimun. Binatang malam berdendang riang, seakan tengah
berpesta dalam satu upacara ganjil. Menjadikan suasana malam semakin mencekam.
Apa- lagi kala suara burung hantu dan lolongan anjing hu- tan menimpali.
Di sebuah perguruan yang terletak
di kaki Bu- kit Jagalan Batu, suasana malam itu nampak lengang. Hanya empat
orang wanita yang masih hilir mudik me- ronda.
Perguruan Bintang Emas dengan
ketuanya seo- rang wanita bernama Dewi Pandagu merupakan pergu- ruan yang cukup
besar. Perguruan itu juga merupakan perguruan pertama yang semua anggotanya
terdiri dari kaum wanita. Meski begitu, nama Perguruan Bintang Emas cukup
disegani di rimba persilatan
Malam semakin bertambah mencekam,
ketika dari hutan yang mengelilingi perguruan itu terdengar suara-suara aneh.
Suara-suara yang mampu mendiri- kan bulu kuduk
"Huuu...!"
"Kakkk kakkk..!"
"Nguiiik..!" Keempat wanita yang tengah melakukan tugas jaga,
seketika saling pandang mendengar suara-suara aneh itu. Bulu kuduk mereka
meremang tiba-tiba.
"Pari, kau dengar suara
itu?" tanya Bintang Sa- si
"Ya! Suara itu menyeramkan
sekali. Sampai- sampai bulu kudukku meremang," sahut Bintang Pari
Tanpa mereka sadari, saat itu
puluhan pasang mata memandang keempat wanita yang tengah berja- ga-jaga itu.
Dari kilatannya, terlihat bagaimana buas- nya pemilik mata itu.
"Nguiiik...!" Suara itu
sangat keras, sepertinya sebuah isya- rat untuk menyerang. Keempat gadis yang
tengah ber- jaga tersentak. Mata mereka membelalak, ketika me- nyaksikan
puluhan lelaki berjubah hitam dengan tata- pan mata buas berkelebat ke arah
mereka.
"Celaka, kita
diserang...!" seru Bintang Kanti. "Cepat bunyikan kentongan!"
perintah Bintang Sasi pada temannya, Bintang Murai.
Bintang Murai segera lari ke arah
kentongan. Kemudian dipukulnya kentongan sebanyak tiga kali, pertanda keadaan
dalam bahaya.
Sementara, puluhan lelaki
berjubah hitam itu dengan buas menyerbu ke arah perguruan. Melihat hal itu,
tubuh keempat gadis itu menegang, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Keempatnya segera berusaha menghalau para penyerang yang ganas.
Pertarungan seru pun terjadi.
Keempat murid Perguruan Bintang Emas dengan gigih berusaha menghalau. Namun
karena jumlah mereka tak seim- bang, dalam sekejap saja mereka dapat
dilumpuhkan.
Tubuh mereka kaku, tertotok oleh
lawan.
"Nguik nguiiik..!" Para
penyerang berjubah hitam itu terus me- nyerbu ke dalam perguruan. Mulut mereka
tidak men- geluarkan suara. Mereka terus merangsek masuk den- gan membongkar
pintu gerbang.
"Kita diserang
musuh...!" seru salah seorang murid Perguruan Bintang Emas yang terbangun
lebih dahulu setelah mendengar suara kentongan. Yang lainnya turut terbangun,
termasuk ketua mereka Dewi Pandagu.
"Hadang mereka...!"
perintah Dewi Pandagu, seorang wanita cantik jelita berpakaian seperti orang
India. Hidungnya mancung. Rambutnya yang disasak, menggambarkan sifat keibuan.
"Heaaat..!" Murid-murid
Perguruan Bintang Emas yang semuanya wanita itu dengan berani segera mengha-
dang para penyerang yang berusaha merangsek. Perta- rungan di tengah malam pun
seketika berkobar.
"Laskar Setan...!"
pekik Dewi Pandagu, setelah melihat simbol yang ada di dada sebelah kiri pada
se- tiap jubah lelaki yang menyerbu ke perguruannya.
Dewi Pandagu berkelebat cepat,
membantu mu- rid-muridnya menghadang lawan Setiap jejakan kaki dan pukulan
tangannya, selalu mengenai sasaran. Namun sungguh aneh. Mereka yang terkena
pukulan- nya bagaikan tak mengalami apa-apa. Tubuh mereka hanya tersurut dua
tindak ke belakang. Kemudian kembali menyerang. Bahkan serangannya semakin ga-
nas.
Dewi Pandagu tersentak
menyaksikan kejadian itu. Dia kembali menyerang. Kali ini pukulan yang di-
lontarkan bukan pukulan biasa, melainkan pukulan
sakti.
"Hiaaat..!" Dewi
Pandagu kembali melejit ke atas. Kemu- dian dengan gerakan yang cepat,
dikirimkannya puku- lan sakti 'Lintang Sakal' ke arah lawan. Dari tangan wanita
secantik Dewi Sinta itu, keluar sinar merah membara berbentuk bintang-bintang
yang menderu ke arah lawan-lawannya.
Bintang-bintang yang keluar tiada
henti itu langsung menghantam tubuh lawan-lawannya. Tapi jumlah Laskar Setan
tidak juga berkurang. Hal itu membuat Dewi Pandagu berpikir keras untuk terus
mengumbar pukulan saktinya. Terlebih saat matanya melihat lelaki muda berbaju
kuning yang sepak ter- jangnya jauh berbahaya di banding Laskar Setan.
Dewi Pandagu kebingungan. Kalau
pemuda berbaju kuning itu tidak dihentikan, tentunya korban akan bertambah
banyak "Hiaaat..!" Setelah melontarkan pukulan saktinya, Dewi Pandagu
segera berkelebat ke arah pemuda berbaju kuning yang jurus-jurusnya cabul.
Tangannya yang bergerak senantiasa mengarah ke arah buah dada mu- rid-muridnya.
"Uhhh...!" Salah
seorang murid terkena cengkeraman tan- gan pemuda berbaju kuning itu. Setelah
menggelepar dengan mata membelalak, wanita itu langsung tewas.
"Celaka...! Pemuda itu
benar-benar berbahaya! Aku harus segera menghentikannya! Yeaaat..!"
Dewi Pandagu segera melesat untuk
menyerang pemuda berbaju kuning yang tiada lain Prabasangka.
Melihat serangan datang,
Prabasangka dengan cepat berkelit Kemudian tangannya bergerak menye-
rang dengan nakal. Arah
serangannya ke buah dada Dewi Pandagu.
Dewi Pandagu menggerakkan tangan
kanan un- tuk menepis, sedangkan tangan kirinya balas menye- rang. Kedua
kakinya menendang ke arah dada dan wa- jah lawan bergantian.
"Uts...! Rupanya kau
ketuanya, Manis!" Prabasangka mengelak ke samping. Kemudian dengan
terkekeh dia membalas menyerang lawan. Tan- gan kanannya berusaha menangkap
tangan kiri Dewi Pandagu. Sedangkan tangan kirinya yang tadi menye- rang,
ditarik kembali dan dengan cepat menyerang lagi ke buah dada Dewi Pandagu.
"Setan cabul...!" maki
Dewi Pandagu marah bercampur kaget, mendapatkan serangan yang da- tangnya cepat
itu. Dengan memutar cepat tubuhnya, Dewi Pandagu berusaha mengelakkan serangan
lawan. Kakinya menendang ke dagu lawan, disusul oleh sabe- tan selendangnya.
Ctar! Lecutan selendang Dewi
Pandagu begitu keras, laksana terbuat dari logam. Ledakannya menggelegar,
hingga menimbulkan percikan bunga api.
"Uhhh...!" Prabasangka
tersentak kaget. Cepat-cepat tu- buhnya melenting ke atas untuk mengelakkan
seran- gan selendang lawan. Kemudian dengan cepat dibalas- nya dengan tendangan
menyamping.
"Setan cabul...!" maki
Dewi Pandagu marah. Tubuhnya segera diputar disertai tendangan ke arah dagu
lawan, disusul sabetan selendangnya....
Ctar! "Uhhh...!"
Prabasangka tersentak kaget. Cepat- cepat tubuhnya melenting ke atas, mengelak
dari se- rangan selendang lawan.
Dewi Pandagu kembali melecutkan
selendang- nya ke kaki lawan yang menendang. Sedangkan tan- gan kirinya memukul
ke dada lawan.
Ctar! "Heat..!"
Prabasangka yang tidak ingin kakinya buntung oleh lecutan selendang Dewi
Pandagu, segera menarik kakinya. Sedangkan tangan kanannya kembali berge- rak
untuk menangkap tangan lawan.
Sementara, tangan kirinya hendak
mencengke- ram ke arah buah dada Dewi Pandagu.
"Uts...!" Dewi Pandagu
menarik tangan kirinya, lalu di- putarnya ke depan untuk memapak tangan lawan
yang hendak menjangkau buah dadanya. Tubuhnya dimi- ringkan ke kanan. Kemudian
tangan kanannya yang memegang selendang, disentakkan dari bawah ke wa- jah
lawan.
Ctar! Prabasangka membuang
kepalanya ke samping kanan dengan tubuh agak miring. Kemudian tubuhnya diputar
hingga menunduk ke depan. Lalu tangan ka- nannya dengan nakal bergerak ke arah
selangkangan Dewi Pandagu.
Ketua Perguruan Bintang Emas
tersentak kaget mendapat serangan yang tak terduga itu. Tubuhnya berusaha
mundur agar tangan pemuda cabul itu tak mengenai selangkangannya. Namun begitu,
ujung jari pemuda itu sempat menyentuh juga.
"Auh...! Iblis cabul!
Kubunuh kau...!" Setelah melompat mundur, Dewi Pandagu yang semakin marah
kembali menyerang dengan selendang dan pukulan. Kali ini kakinya agak merapat.
Hal itu membuat gerakan-gerakannya agak kaku, dan seran-
gannya pun tidak segarang dan
seganas tadi.
Prabasangka yang melihat keadaan
Dewi Pan- dagu, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Se- gera
dilancarkannya jurus-jurus cabulnya. Kedua tan- gannya bergerak ke atas dan ke
bawah. Tangan kanan ke arah buah dada Dewi Pandagu, sedangkan tangan kiri ke
arah selangkangan wanita cantik itu.
Menyaksikan jurus lawan kini
mengarah ke tempat-tempat terlarang, Dewi Pandagu semakin mempercepat sabetan
selendangnya. Setiap kali tangan Prabasangka hendak menyerang, dengan cepat
Dewi Pandagu mengebutkan selendang untuk memapa- kinya.
Ctar!
***
Dewi Pandagu terus menyerang
lawan, dengan harapan lawan tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang
dengan jurus-jurus cabulnya. Rupanya perhitungannya keliru. Lawan bukanlah
pemuda sem- barangan, meski usia mereka tidak terpaut jauh. La- wan yang tengah
dihadapi adalah anak tunggal Catrik Ireng. Salah seorang tokoh rimba persilatan
yang di masanya dulu merupakan salah satu dari dua pende- kar muda tanpa
tanding.
Dewi Pandagu yang tidak tahu
siapa pemuda berbaju kuning yang usianya sekitar tiga tahun di atasnya itu
terus mencecar lawan dengan lecutan se- lendangnya.
"Heaaat..!" Ctar!
Prabasangka terus berkelit dan sesekali mem- balas serangan. Tangannya
senantiasa mengarah ke
arah buah dada lawan. Suatu saat
tubuhnya bergerak ke samping, mengelakkan sabetan selendang lawan. Kemudian
dengan cepat, tangan kanannya menangkap selendang itu.
Tap! Selendang lawan tertangkap.
Membuat mata Dewi Pandagu melotot kaget bercampur marah. Tan- gan kanannya
disentakkan dengan kuat, dengan hara- pan selendangnya terlepas. Namun pegangan
tangan Prabasangka rupanya sangat kuat
"He he he...!"
Prabasangka terkekeh. Senyum- nya mengembang di bibir. "Akhirnya kau
kudapat juga, Manis...." Pucat seketika wajah cantik yang mengenakan
pakaian wanita India berwarna putih itu. Matanya me- lotot penuh amarah.
Kemudian dengan nekat tangan- nya menghantam ke dada lawan.
"Hiaaat..!" Prabasangka
tersentak kaget. Tidak diduganya kalau wanita cantik itu akan menyerang.
Beruntung dia segera membawa tubuhnya ke samping hingga pu- kulan sakti yang
dilontarkan Dewi Pandagu meleset di sampingnya.
"Rupanya kau benar-benar
ganas, Manis! Yeaaat..!" Setelah luput dari hantaman pukulan sakti yang
dilontarkan Dewi Pandagu, Prabasangka meng- hentak kedua kakinya. Tubuh
meluncur ke atas den- gan tangan masih memegangi selendang lawan. Kemu- dian
dengan cepat tubuhnya menukik. Tangannya ber- gerak ke arah buah dada lawan
Melihat lawan menyerang Dewi
Pandagu segera memukulkan telapak tangannya ke arah lawan. Ka- kinya menendang
pula.
"Yeaaat..!" Prabasangka
yang sudah menduga kalau Dewi Pandagu akan memapaki serangannya dengan balas
menyerang, seketika menarik kembali serangannya. Tubuhnya melenting, dan tiba
di belakang Dewi Pan- dagu. Dengan cepat tangannya menotok punggung wanita
cantik itu.
Tuk! "Hugkh...!" Dewi
Pandagu terkesiap. Dia berusaha memba- likkan tubuh untuk memapaki serangan
lawan. Na- mun seluruh otot tubuhnya mengejang setelah jalan darahnya ditotok
lawan. Tubuhnya seketika kaku.
Prabasangka tertawa
tergelak-gelak karena me- rasa telah menang. Dihampirinya tubuh Dewi Pandagu
yang kini berdiri mematung tanpa dapat berbuat apa- apa.
"Akhirnya kau akan
menikmatinya, Manis...." "Cuh! Lepaskan aku...! Pengecut lepaskan
aku!" bentak Dewi Pandagu penuh amarah. Tak segan-segan diludahinya kembali
wajah Prabasangka.
Prabasangka menyeka ludah Dewi
Pandagu di wajahnya dengan jari, kemudian dijilatinya ludah itu.
"Orangnya cantik ludahnya
pun terasa manis." Dewi Pandagu kembali melecutkan selendang- nya ke kaki
lawan yang menendang. Sedangkan tan- gan kirinya memukul ke dada lawan.
Ctar! Pengecut lepaskan
totokanmu! Kita bertarung sampai salah satu di antara kita mati!" dengus
Dewi Pandagu kian marah.
Prabasangka tak menggubris
tantangan itu. Dengan cepat tangannya bergerak untuk membopong tubuh Dewi
Pandagu. Kemudian kakinya melangkah,
hendak membawa tubuh Dewi Pandagu
ke dalam ban- gunan utama Perguruan Bintang Emas.
"Lepaskan, Pengecut!
Lepaskan...!" Dewi Pandagu berteriak-teriak, memaksa agar Prabasangka
melepaskan totokannya. Namun pemuda berbaju kuning itu tak menggubrisnya.
Kakinya terus melangkah, membawa tubuh Dewi Pandagu menapaki halaman bangunan.
Ketika kakinya berada di depan
pintu bangu- nan itu, tiba-tiba terdengar jeritan susul-menyusul da- ri anak
buahnya. Prabasangka tersentak kaget. Tu- buhnya langsung berbalik ingin
melihat apa yang ter- jadi. Matanya membelalak ketika melihat seorang pe- muda
berbaju rompi kulit ular tengah menghajar anak buahnya.
"Pendekar Gila....!"
desis Prabasangka kaget. Diturunkannya tubuh Dewi Pandagu. Kemudian tanpa
banyak kata, tubuhnya melesat meninggalkan Pergu- ruan Bintang Emas.
Sosok pemuda berpakaian kulit
ular yang me- mang Pendekar Gila itu, nampak terus berkelebat. Tangan kanannya
menghantam ke arah puluhan lelaki berjubah hitam. Tangan kirinya yang
menggenggam Suling Naga Sakti, tak mau diam. Senjata pusaka itu terus
dipukulkan ke kepala lawan.
"Yeaaa...!" Plak!
Bugkh! Sena Manggala bagaikan orang gila yang men- gamuk. Kakinya menendang ke
semua penjuru dengan cepat. Tangannya memukul dan menyabetkan Suling Naga Sakti
ke kepala lawan. Dan suling pusaka itulah rupanya yang mampu menjatuhkan Laskar
Setan!
"He he he...! Rupanya Laskar
Setan ini hanya
bisa dikalahkan oleh sulingku!
Yeaaa...!"
Setelah tahu kalau Laskar Setan
hanya dapat dikalahkan oleh Suling Naga Sakti, Pendekar Gila mempercepat
serangannya. Gerakannya yang seperti orang gila mengamuk seketika membuat
tubuhnya laksana menghilang. Tahu-tahu terdengar suara bera- dunya Suling Naga
Sakti dengan batok kepala dan tu- buh lawan.
Plak! Bugkh! Satu persatu Laskar
Setan yang tadi nyaris memenangkan pertempuran jatuh tak bangun lagi. Jumlah
mereka semakin lama semakin menipis. Na- mun Pendekar Gila tak puas sampai di
situ, tubuhnya terus bergerak cepat seraya memukulkan sulingnya.
Semakin cepat gerakan Pendekar
Gila, semakin banyak Laskar Setan yang tewas. Sementara itu semua murid
Perguruan Bintang Emas hanya dapat menon- ton amukan Pendekar Gila.
"Yeaaat..!" Wuttt!
Plak! Jumlah Laskar Setan yang semula puluhan, kini tinggal lima orang.
Pendekar Gila kembali mence- lat ke atas, kemudian menukik ke bawah sambil
menggerakkan tangan kirinya yang menggenggam Sul- ing Naga Sakti ke kepala
empat orang Laskar Setan. Sedangkan tangan kanannya, menotok salah seorang dari
mereka.
Pletak! Pletak...! Suara
beradunya Suling Naga Sakti dengan empat kepala Laskar Setan terdengar
susul-menyusul. Diikuti oleh jatuhnya keempat lelaki itu
5
Sena menggaruk-garuk kepala
setelah menyele- saikan lawan-lawannya. Kemudian dengan tersenyum- senyum
sambil menggaruk-garuk kepala, kakinya me- langkah ke arah satu orang Laskar
Setan yang sengaja dibiarkan hidup.
"Katakan, siapa
pemimpinmu?" Anggota Laskar Setan itu tak menjawab. Hanya matanya saja
yang membara penuh amarah pada Sena yang semakin tergelak-gelak menyaksikan
kemara- hannya. Tiba-tiba Sena mengerutkan kening, tawanya terhenti seketika.
Matanya memandang tajam pada ta- wanannya.
"Weh weh weh.... Rupanya ada
yang tidak beres dengan manusia ini. Keji...! Sungguh keji orang yang telah
melakukan semuanya. Hm, tapi baiklah. Aku akan berusaha menolongmu,
Sobat," gumamnya sam- bil mengangguk-angguk. Kakinya melangkah, memuta- ri
tubuh tawanannya. Tampak dia tengah mengamati sesuatu pada tubuh orang itu.
"Tuan, tolonglah bukakan
totokanku...!" seru Dewi Pandagu, menyentakkan Sena.
Seketika Sena mengurungkan
usahanya untuk mencari rahasia yang menyebabkan lelaki itu tak bisa berbicara,
bahkan bagai tak memiliki perasaan.
Sena menengok ke arah pemilik
suara yang merdu itu. Mulutnya tertawa tergelak-gelak sambil menggaruk-garuk
kepala, menyaksikan gadis cantik je- lita berpakaian putih seperti orang India
berdiri mema- tung tanpa daya.
"Ah! Kenapa kau...?"
tanya Sena. "Tolong, bukakan totokan ini," pinta Dewi Pan-
dagu
Kemudian sambil tersenyum-senyum,
Sena me- langkah mendekati Dewi Pandagu. Kemudian dengan gerakan yang sulit
diikuti mata, dibukanya totokan di tubuh Dewi Pandagu.
Tuk! Setelah membuka totokan Dewi
Pandagu, Sena termenung. Sepertinya dia tengah memikirkan orang yang telah
menotok gadis cantik Ketua Perguruan Bin- tang Emas itu.
"Terima kasih, Tuan
Pendekar. Untung Tuan segera datang tepat pada waktunya. Kalau tidak, entah
bagaimana nasibku dan murid-muridku...," keluh Dewi Pandagu. Sena
menggeleng-gelengkan kepala. Mulutnya masih cengengesan.
"Aneh sekali, bagaimana
murid tunggal Dewi Lintang Wangi dapat diperdaya?" gumamnya. "Hm,
tentunya pemimpin Laskar Setan itu bukan orang sembarangan."
Dewi Pandagu tertunduk. Dia
merasa malu mendengar ucapan Pendekar Gila yang menyebut na- ma gurunya. Dewi
Lintang Wangi bukan tokoh wanita sembarangan. Ilmunya cukup tinggi. Tapi Dewi
Panda- gu yang menjadi pewaris ilmunya, ternyata tak berdaya menghadapi pemuda
berbaju kuning yang jurus- jurusnya cabul.
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala. "Dewi, siapakah pemimpin Laskar Setan itu?" tanya Sena.
"Seorang pemuda berbaju
kuning," jawab Dewi Pandagu.
"Apakah ikat kepalanya
kuning juga?" "Benar! Apakah Tuan kenal...?" Rata Dewi Pan-
dagu balik bertanya.
Pendekar Gila menghela napas
sambil mengga- ruk-garuk kepala. Kemudian matanya memandang le- laki anggota
Laskar Setan yang masih tertotok. "Benar-benar keji," gumam Sena.
"Kenapa...?" "Kau tahu Laskar Setan itu?" tanya Sena sambil
menunjuk ke arah tawanannya.
"Ya," sahut Dewi
Pandagu. "Mengapa tidak di- bunuh sekalian?"
Sena menggelengkan kepala.
"Hm, sesuatu telah terjadi padanya. Jalan da- rah yang menuju otaknya
telah ditotok dengan totokan yang bukan sembarangan. Untuk melepaskannya, di-
perlukan tenaga dalam yang kuat. Aku akan berusaha membuka totokan itu."
Mata Dewi Pandagu seketika
terbelalak men- dengar penuturan Sena.
"Untuk apa...? Bukankah dia
berbahaya?" tanya Dewi Pandagu.
Sena tertawa tergelak-gelak.
Tangannya kemba- li menggaruk-garuk kepala. Kemudian dengan kepala
menggeleng-geleng maksudnya segera dijelaskan.
"Kurasa, dia berbahaya
karena keadaan pikiran dan perasaannya tak berfungsi. Tetapi, jika keadaan
pikiran dan perasaannya berfungsi, dia akan menyada- ri siapa dirinya."
"Jadi menurutmu, orang itu
dalam keadaan tak sadar?" "Ya," sahut Sena. "Kau mau
membantuku, De- wi?"
Dewi Pandagu tersenyum. Matanya
yang lentik dan indah mengerling.
"Kenapa tidak? Untuk Tuan,
aku selalu siap."
Sena tertawa tergelak-gelak.
Kembali tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, jangan panggil
aku tuan. Aku bukan tuanmu. Lagi pula, hubungan antara gurumu dengan guruku
cukup baik. Tak sepantasnya seorang sahabat memanggil tuan pada
sahabatnya...," tutur Sena, me- rendah. Dewi Pandagu tersipu. Matanya
masih mengerl- ing penuh arti. Senyumnya terlihat, seirama dengan kerlingan
matanya yang indah.
"O, mengapa malam-malam
begini kita harus di luar? Bukankah sebaiknya kita di dalam?" ajak Dewi
Pandagu.
"Terima kasih, aku harus ke
Gunung Lawu," kata Sena, berusaha menolak.
"Mengapa malam-malam begini?
Bukankah le- bih baik besok pagi?"
Dewi Pandagu semakin manja.
Matanya kian mengerling penuh arti. Senyumnya yang merekah, se- pertinya
mengundang.
"Ayolah...," desak Dewi
Pandagu. Tangan Sena menggaruk-garuk kepala. Mulut- nya cengengesan.
Dewi Pandagu semakin tak sabar.
Tangannya kini memegangi tangan Sena. Matanya mengerling manja. Senyumnya
menggoda. Sungguh tak ada cacat celanya kecantikan gadis itu. Setiap lelaki,
pasti akan terpesona melihat kecantikannya yang sempurna.
"Baiklah, Dewi. Tapi aku
harus menolong dia. Adakah sebuah kamar untuknya?" tanya Sena seraya
menunjuk ke arah tawanannya.
"Mengapa kau pedulikan
dia?" "Aku, kau ataupun dia, sama-sama manusia. Sama dicipta oleh
Hyang Widhi, Dewi. Kalau Hyang
Widhi mau mengasihi dan
mengampuni kita, mengapa kita tidak bisa mengasihi sesamanya?" tanya Sena
se- tengah berfilsafat.
"Baiklah...," kata Dewi
Pandagu setelah terdiam beberapa saat
"Terima kasih. Kau telah
turut membantuku." "Ah, kaulah yang telah menolongku," balik
Dewi Pandagu dengan nada riang nan manja. Senyumnya yang menggoda, masih
mengembang di bibirnya yang menawan.
"Jadi kau ada kamar untuk
kami?" tanya Sena. Dewi Pandagu mengerutkan kening. Matanya memandang
penuh harap pada Sena, membuat pemu- da itu menggaruk-garuk kepala dipandang
begitu rupa. Apalagi yang memandang seorang wanita cantik jelita.
"Mengapa untuk kalian? Untuk
anggota Laskar Setan itu saja. Untukmu, aku akan memberikan ka- mar lain."
Tangan Sena semakin keras
menggaruk-garuk kepala. Wajahnya kini menengadah, memandang langit yang gelap
menghitam diselimuti malam. Mulutnya cengengesan, membuat Dewi Pandagu
tersenyum sambil memandangi tingkah laku pemuda tampan itu.
"Ayolah.... Bawa anggota
Laskar Setan itu," ajaknya. "Baik"
Kaki Sena melangkah ke arah
tawanannya. Dengan ringan dipanggulnya tubuh lelaki itu. Sena la- lu mengikuti
Dewi Pandagu yang masuk ke dalam bangunan perguruan.
Banyak sekali kamar di dalam
bangunan utama itu. Tentunya kamar-kamar itu berpenghuni. Sudah pasti murid
Perguruan Bintang Emas-lah yang me- nempati.
Mereka terus melangkah ke
belakang. Sampai di kamar paling ujung, Dewi Pandagu berhenti.
"Kamar ini untuk anggota
Laskar Setan yang kau bawa.."
"Hm, lumayan." Tangan
Sena mendorong pintu kamar itu. Di- ikuti oleh Dewi Pandagu, tubuh Sena masuk
Di dalam kamar itu ada sebuah dipan yang cukup untuk satu orang. Ditaruhnya
tubuh tawanannya itu di atas di- pan.
"Biarkan dia di sini
dulu," bisik Dewi Pandagu. Tangannya menempel di pundak Sena. Menopang ke-
palanya yang juga rebah di pundak Sena. Dan ketika pemuda tampan itu menengok,
mereka beradu pan- dang.
Dewi Pandagu tersenyum penuh
arti. Matanya dipejamkan perlahan. Bibirnya merekah, menunggu sesuatu. Hal itu
membuat Sena blingsatan kebingun- gan. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Dewi...," desisnya
berusaha menyadarkan ga- dis cantik itu.
Dewi Pandagu tersenyum, lalu
membuka mata kembali. Kemudian dengan manja tangannya membe- lai rambut pemuda
di depannya. Matanya memandang redup, mengharap sesuatu.
"Dewi, sadarlah...!"
kata Sena, berusaha men- gingatkan.
"Aku sadar," desis Dewi
Pandagu. "Aku sadar kalau dari dulu aku memang jatuh hari padamu."
Sena meringis sambil
menggaruk-garuk kepala. Dia kelihatan kebingungan menghadapi gadis cantik yang
kini semakin manja padanya.
"Dewi, di manakah kamar
untukku?" tanya Se- na berusaha menghindar.
"Ayo kutunjukkan," ajak
Dewi Pandagu. Kemu- dian digandengnya tangan Sena. Mereka keluar dari kamar
itu, meninggalkan seorang lelaki berjubah hi- tam yang tergolek tanpa daya.
***
Dewi Pandagu mengajak Sena ke
sebuah kamar yang letaknya agak jauh dengan kamar tadi. Dibu- kanya pintu kamar
itu. Di dalam kamar itu tampak se- buah ranjang berhias kelambu putih dengan
bunga- bunga di sudut-sudutnya. Tak beda dengan ranjang pengantin.
Sena tertegun. Keningnya berkerut
sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, mengapa kamar sebagus
ini untukku? Kamar siapa ini, Dewi?"
Dewi Pandagu tersenyum tanpa
berkata, di- ajaknya Sena masuk. Ditutupnya pintu kamar, mem- buat pemuda itu
semakin mengerutkan keningnya.
"Dewi...!" Belum habis
ucapan Sena, Dewi Pandagu telah memeluk tubuhnya. Kemudian tangan gadis itu
mem- belai-belai dadanya. Membuat Sena semakin kebin- gungan. Seumur-umur, baru
kali ini dadanya dibelai- belai oleh gadis cantik. Kepala Sena menengok ke sana
kemari, kebingungan tak tahu harus berbuat apa.
"Sena, aku
mencintaimu...," desis Dewi Panda- gu sambil mendongakkan kepala. Matanya
perlahan- lahan terpejam dengan bibir merekah.
Sena benar-benar kebingungan.
Selama ini, be- lum pernah dia melakukan hal-hal seperti itu. Berdua di dalam
kamar dengan seorang wanita cantik
Dewi Pandagu terus membelai dada
Sena den-
gan lembut Matanya memandang
penuh harap ke wa- jah pemuda tampan itu. Kemudian diajaknya Sena me- langkah
ke tempat tidur.
"Sena, apakah kau tidak suka
padaku?" tanya Dewi Pandagu manja.
Tangan Sena menggaruk-garuk
kepala. Dia ti- dak tahu harus berkata apa. Wajahnya yang tadi me- nengadah ke
atas, kini memandang dengan kening berkerut ke wajah Dewi Pandagu. Di wajah
gadis itu, tampak seulas senyum merekah indah, dengan mata sayu menatap penuh
arti.
"Suka..?" tanya Sena
bergumam. "Ya. Apakah kau tak suka padaku, Sayang?" "Aku suka,
Dewi.... Tapi, haruskah kita mela- kukannya?"
Dewi Pandagu tersenyum.
"Untukmu, kuserahkan segalanya, Sayang.... Aku rela," bisik Dewi
Pandagu dengan senyum masih mengembang di bibirnya. Kemudian kepalanya dire-
bahkan di dada pemuda itu. Sedangkan tangannya masih membelai dada bidang
Pendekar Gila.
Bayang-bayang seorang gadis Cina,
seketika menyeruak dalam pikiran Sena. Entah mengapa, jika dia mengingat Mei
Lie yang kini tak tahu di mana, ha- tinya seketika terenyuh. Kerinduan untuk
bertemu, kembali muncul mengisi hatinya.
Mulut Sena mendesah lemah. Dia
memang su- ka pada Dewi Pandagu. Namun mungkin hanya seba- tas suka saja.
Sedangkan pada Mei Lie, entah mengapa dia menemukan rasa suka lebih daripada
Dewi Panda- gu. Dia merasakan bahwa perasaannya pada Mei Lie, merupakan
perasaan cinta kasih yang tumbuh dengan sendirinya.
Perasaan itu dulu memang belum
seberapa. Te-
tapi setelah lama berpisah,
perasaan cinta kasih itu semakin terasa. Terlebih setelah banyak gadis-gadis
dan wanita yang pernah dikenalnya. Bahkan kini dia bagai diuji oleh cinta kasih
itu.
Mei Lie, di manakah kau kini
berada? Hatinya bertanya-tanya. Kini aku baru menyadari, sesungguh- nya aku pun
merindukan mu. Entah kapan kita bisa bertemu, Mei Lie...? Kuharap kau tidak
akan melupa- kan ku. Sebagaimana aku, yang tak pernah melupa- kanmu. Bayangan
Mei Lie, makin menyeruak kedala- man hatinya. Membuat Sena tanpa sadar membelai
rambut Dewi Pandagu. Dianggapnya Dewi Pandagu adalah Mei Hie, orang yang
dirindukannya. Orang yang tanpa disadari, telah menawan hatinya.
Dewi Pandagu tersenyum senang.
Memang itu- lah yang diharapkannya. Dibiarkannya tangan Sena membelai-belai
rambutnya dengan mesra. Bahkan kini Dewi Pandagu membimbing Pendekar Gila
menuju ke tempat tidur.
"Sena...," desisnya
lirih. Keduanya rebah di tempat tidur. Dewi Pandagu menutup kelambu. Kemudian
keduanya tampak saling berpelukan, berciuman den- gan penuh kemesraan.
***
"Sena...! Sena,
bangunlah...!" Sena tersentak kaget dari tidurnya ketika telin- ganya
mendengar suara gurunya, Singo Edan. Ma- tanya memandang ke atas, seakan
melihat sosok gu- runya.
"Guru, apa yang telah
terjadi?" tanyanya seten-
gah mengeluh.
"Kau telah kalah oleh
bujukan iblis, Anakku." Kepala Sena tertunduk. Dari matanya meleleh air
mata. Dia menangis, merasakan kekalahan yang sangat menyiksa. Betapa dia telah
kalah melawan iblis yang menggoda.
"Guru, aku telah berdosa.
Hukumlah aku!" "Tidak, Anakku.... Semua memang telah terga- riskan.
Bukan hanya kau, aku atau siapa pun. Dewa pun takkan mampu melawan suratan.
Cepatlah ban- gun. Masih banyak yang harus kau lakukan. Ingat baik-baik
kesalahanmu itu.... Jadikanlah kesalahanmu itu sebagai cambuk. Maka, kau akan
senantiasa beru- saha tidak melupakannya dan akan berusaha berbuat baik.
Pergilah...."
"Baik Guru." Dengan
hati-hati dan pelan, Sena segera men- genakan pakaiannya. Kemudian
perlahan-lahan tu- buhnya turun untuk pergi, dengan harapan Dewi Pan- dagu
tidak terbangun.
Ditatapnya lekat-lekat wajah
gadis itu. Hatinya menangis. Bagaimanapun juga, dia yang telah mereng- gut
kegadisan Dewi Pandagu. Haruskah dia lepas tan- gan begitu saja? Ah, lelaki
macam apakah aku? Keluh Sena dalam hati.
Pendekar Gila tak tega
meninggalkan Dewi Pandagu begitu saja. Dengan lembut dibelainya ram- but gadis
cantik itu, lalu mengecup keningnya.
"Maafkan aku, Dewi.... Aku
harus pergi dulu. Aku berjanji, kelak aku akan datang untuk bertang- gung
jawab," bisik Sena lirih.
Kemudian, Sena menulis beberapa
baris tulisan pada pintu kamar itu. Lalu, tubuhnya berkelebat ke arah kamar di
mana seorang dari Laskar Setan berada.
Diambilnya lelaki itu, lalu
dengan memanggul tubuh- nya, Pendekar Gila meninggalkan tempat itu.
***
6
Setelah Laskar Setan gagal
menghancurkan Perguruan Bintang Emas, perbuatan mereka semakin menjadi-jadi.
Nampaknya ada maksud tersembunyi dari Ki Catrik Ireng dengan mengerahkan Laskar
Se- tannya itu. Mereka sengaja diumpankan untuk me- mancing Pendekar Gila.
Dengan begitu, Pendekar Gila akan bertambah marah.
Seperti malam itu, puluhan Laskar
Setan kem- bali bergerak. Kali ini mereka tidak dipimpin oleh Pra- basangka.
Mereka menyerbu ke Perguruan Teratai Pe- rak yang dipimpin oleh Dewi Teratai
Perak. Tujuan dari penyerbuan itu, tiada lain untuk menundukkan pergu- ruan
itu. "Hiyaaat...!" "Yeaaah...!" Perguruan Teratai Perak
yang semula sepi, se- ketika menjadi ajang pertarungan yang seru. Dengan
dipimpin oleh ketuanya, murid-murid Perguruan Tera- tai Perak berusaha
membendung serbuan Laskar Se- tan.
"Serang terus...!"
perintah Dewi Teratai Perak Pertarungan berlangsung seru. Satu persatu korban
bergelimpangan dari pihak Perguruan Teratai Perak. Para penyerbu memang terlalu
ganas untuk dapat di- lumpuhkan. Serangan mereka sebuas serbuan sege- rombolan
makhluk liar tak berperasaan. Membunuh
dengan pancaran mata haus darah.
Perlawanan mu- rid-murid Perguruan Teratai Perak ibarat kapas di atas arus
sungai deras. Tak berarti apa-apa.
"Celaka! Mereka bukan manusia...!"
seru Dewi Teratai Perak kaget. Meski begitu, tubuhnya terus ber- kelebat sambil
melemparkan senjata andalannya ke arah Laskar Setan.
Zwing, zwing, zwing...! Puluhan
bunga teratai menyambar cepat ke arah Laskar Setan yang semakin ganas.
Jlep! Jlep! Jlep!
"Hgrrr...!" Pemimpin Laskar Setan menggeram murka. Dengan penuh
amarah, tubuhnya melesat ke arah De- wi Teratai Perak. Serangannya sangat
ganas, keras, dan mematikan. Sepertinya, Ki Catrik Ireng sengaja menciptakan
pemimpin Laskar Setan dengan ilmu ke- pandaian yang lebih tinggi dari lawan
yang bakal diha- dapi.
"Uts...!" Dewi Teratai
Perak tersentak. Tubuh- nya segera berkelit. Kemudian dengan cepat tangannya
melemparkan bunga-bunga teratai.
Mata Dewi Teratai Perak
membelalak, menyak- sikan bunga-bunganya tak mempan pada tubuh pe- mimpin
Laskar Setan. Bahkan dengan sekali remas, bunga-bunga yang terbuat dari baja
itu hancur beran- takan.
"Hah?! Dia tak mempan dengan
teratai ku?" "Hgrrr!" Pemimpin Laskar Setan kembali menyerang.
Tangannya bergerak menyambar Dewi Teratai Perak. Membuat wanita berpakaian
putih perak itu terkejut
Cepat-cepat Dewi Teratai Perak
melompat ke samping, berusaha mengelakkan serangan lawan yang
keras.
Wuttt! "Uts! Dia benar-benar
bukan manusia!" pekik Dewi Teratai Perak kaget Tubuhnya bersalto di udara,
untuk terus mengelakkan serangan-serangan lawan.
Di pihak lain, murid-murid
Perguruan Teratai Perak semakin terdesak. Mereka semakin banyak di- bantai
Laskar Setan yang buas.
Setiap murid Perguruan Teratai
Perak menga- lami kegundahan yang berbaur dengan ketakutan, ke- putusasaan dan
kemarahan. Bagaimana mungkin me- reka bisa menghindari perasaan-perasaan itu,
kalau musuh yang dihadapi bagaikan sepasukan iblis dari neraka? Padahal
kekacauan perasaan itu sangat me- rugikan mereka dalam pertempuran
"Serang terus...!"
Tiba-tiba terdengar seruan seorang lelaki, me- nyulut semangat seluruh murid
Perguruan Teratai Pe- rak untuk terus menyerang. Bersamaan dengan itu, dari
luar pagar berkelebat pemuda berpakaian rompi kulit ular. Di tangannya
tergenggam suling berkepala naga yang terbuat dari emas. Suling itu, tiada lain
Sul- ing Naga Sakti. Dan tentunya, pemuda berbaju rompi kulit ular itu tiada
lain Sena Manggala, atau Pendekar Gila dari Goa Setan.
Tubuh Pendekar Gila melesat
laksana terbang, menuju Dewi Teratai Perak yang kerepotan menghada- pi pemimpin
Laskar Setan.
"Bantulah anak buahmu, Nyi!
Biar aku yang menghadapi setan ini," seru Sena.
Dewi Teratai Perak menurut
meskipun belum tahu siapa sebenarnya pemuda itu Segera tubuhnya melesat
meninggalkan pemimpin Laskar Setan, mem- biarkan Pendekar Gila yang
menghadapinya. Sedang-
kan dia kini membantu anak
buahnya.
"Jangan mundur!
Seraaang...!" seru Dewi Tera- tai Perak memberi semangat pada anak buahnya
un- tuk terus menyerang Laskar Setan
Melihat pemimpinnya membantu,
murid-murid Perguruan Teratai Perak yang semula telah ciut nya- linya, kembali
bersemangat. Mereka dengan berani kembali menyerang.
"Hiaaat..!" Jlep!
Pendekar Gila yang menghadapi pemimpin Laskar Setan, telah memulai pertarungan.
Keduanya saling menggebrak dengan jurus-jurus yang sangat ke- ras.
"Ayo, keluarkan semua
kekuatan setanmu!" tantang Sena. Dia tahu kalau lawan hanya dapat di-
lumpuhkan oleh Suling Naga Sakti. Tubuhnya melom- pat ke atas, kemudian dengan
cepat menghantamkan Suling Naga Sakti ke kepala lawan.
Wuttt! "Hgrrr...!"
Lawan rupanya mengerti kalau Pendekar Gila menyerang dari atas. Segera tubuhnya
dirundukkan, kemudian meliuk ke samping. Kemudian dengan pe- nuh amarah,
pemimpin Laskar Setan itu balas menye- rang.
"Hgr...!" Tangan
pemimpin Laskar Setan bergerak cepat mencakar dan mencengkeram ke arah lawan.
Gera- kannya begitu cepat. Jari-jari tangannya laksana baja yang mampu menembus
karang.
Wuttt "Uts! Hebat juga kau,
Setan! Tapi otakmu yang telah diatur oleh seseorang, membuat gerakanmu ka-
ku. Nah, ini untukmu...!"
Dengan tertawa tergelak-gelak dan
tangan menggaruk-garuk kepala, Sena menghantamkan Sul- ing Naga Sakti ke tubuh
lawan.
Bugk! "Ngk..! Uhk..!"
Pemimpin Laskar Setan itu mengeluh pendek. Kepalanya menoleh kian kemari,
kebingungan dengan keadaan sekelilingnya.
"Di mana aku?"
tanyanya, diusik kebingungan yang datang tiba-tiba. Tampaknya dia telah
tersadar dari pengaruh totokan Ki Catrik Ireng yang membuat- nya seperti boneka
suruhan.
***
Pendekar Gila yang semula hendak
memukul dengan Suling Naga Sakti kembali, seketika mengu- rungkan serangannya.
Keningnya berkerut. Dan ma- tanya memandang heran pada lelaki berjubah hitam
itu.
"Tuan, kenapa
denganku?" tanya lelaki itu den- gan sinar wajah heran
"Hei, dia sadar. Aha,
rupanya aku telah mene- mukan cara yang baik untuk menolong mereka!" gu-
mam Pendekar Gila.
Kemudian, dihampirinya pemimpin
Laskar Se- tan yang telah sadar dari pengaruh totokan.
"Kisanak apakah kau tidak
ingat apa-apa?" tanya Sena.
"Tidak" sahut lelaki
berjubah hitam itu. "Hm...," Sena menggumam. "Bagaimana mung-
kin kau tidak ingat semuanya?"
Tanpa diminta, lelaki berjubah
hitam itu men-
ceritakan apa yang telah
dialaminya. Diceritakannya ketika dia lewat di Gunung Lawu, tiba-tiba seseorang
menyergapnya. Kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Hanya itu yang
kuingat..," kata lelaki berjubah hitam itu, menutup ceritanya.
"Jadi teman-temanmu pun
tidak sadar kalau mereka kini tengah bertarung?" tanya Sena.
"Mungkin. Karena aku sendiri
seperti yang ter- tidur."
"Celaka!" seru Sena.
"Ayo kita bantu menyadar- kan mereka."
Sena dan lelaki berjubah hitam
yang ternyata bernama Trana Jaya itu segera berkelebat ke kancah pertarungan
antara Dewi Teratai Perak dan seluruh muridnya yang menghadapi Laskar Setan.
"Hentikan..!" sergah
Trana Jaya yang berusaha menghentikan rekan-rekannya. Namun tindakannya itu sia-sia
belaka. Malah dia dan Pendekar Gila kini diserang pula.
Wuttt! "Edan!" maki
Sena. "Mereka benar-benar tidak kenal dengan pemimpinnya!"
"Ya! Mereka seperti sedang
bermimpi, Tuan," sahut Trana Jaya sambil mengelakkan serangan- serangan
bekas anak buahnya yang masih dalam pen- garuh totokan Ki Catrik Ireng.
"Terpaksa...!" dengus
Sena sambil melompat ke atas, lalu dengan cepat menghantamkan Suling Naga Sakti
ke tubuh lawan-lawannya.
Bukkk! Bukkk..! Satu persatu
anggota Laskar Setan itu berjatu- han, terhantam Suling Naga Sakti. Sementara
Dewi Te- ratai Perak dan murid-muridnya terus berusaha mem- bendung serangan
lawan. Dibantu oleh Trana Jaya.
"Heaaat..!" Dengan
bantuan Pendekar Gila dan Trana Jaya, Laskar Setan dapat dilumpuhkan satu
persatu. Sampai akhirnya habis tak tersisa.
"Wah...! Rasanya semua bagai
mimpi," gumam Sena setelah menyelesaikan tugasnya. "Manusia- manusia
aneh...!"
"Benar, Tuan," sahut
Trana Jaya. "Aku pun me- rasa seperti bermimpi. Tak pernah kubayangkan,
ka- lau akhirnya aku akan tersadar kembali. Ah, aku ha- rus kembali ke
perguruanku!"
"Di manakah perguruanmu,
Kisanak?" tanya Dewi Teratai Perak yang telah mendengar penuturan bekas
pemimpin Laskar Setan itu.
"Aku dari Perguruan Tirta
Sakti," jawab Trana Jaya.
"O, tidak kusangka aku bisa
bertemu dengan murid Ki Tirta Buana," desis Dewi Teratai Perak. "Ba-
gaimana kabar gurumu sekarang?"
"Entahlah. Sudah lama aku
tidak menemuinya. Mungkin hampir setahun," sahut Trana Jaya.
"Eh, di mana pemuda
itu?!" tiba-tiba Dewi Tera- tai Perak berseru kaget, ketika matanya tidak
menda- patkan Pendekar Gila di tempatnya semula.
"Ha ha ha...! Aku di sini!
Kuharap kalian bisa saling membantu...!" seru Sena dari kejauhan.
"Aku yakin, kalian adalah pasangan yang serasi!"
Trana Jaya dan Dewi Teratai Perak
saling pan- dang. Kemudian tersipu malu.
"Siapakah pemuda sakti
itu?" tanya Dewi Tera- tai Perak entah ditujukan pada siapa.
"Entahlah," jawab Trana
Jaya. "Mungkin dia yang menjadi musuh besar Ketua Laskar Setan."
"Siapa Ketua Laskar
Setan?"
"Ki Catrik Ireng,"
jawab Trana Jaya. "Kalau begitu, mungkin pemuda itu adalah Pendekar Gila!
Oh, sungguh aku tak menyangka. Dan, bukankah tangannya tadi memegang suling
berkepala naga?"
"Ya, benar."
"Tidak salah lagi. Dia memang Pendekar Gi- la...," desis Dewi Teratai
Perak.
Mata Trana Jaya membelalak kaget.
Tidak dis- angkanya kalau Pendekar Gila yang namanya pernah terdengar puluhan
tahun silam ternyata masih muda.
Hening sesaat. Kemudian dengan
malu-malu, Dewi Teratai Perak mengajak Trana Jaya masuk ke da- lam
perguruannya,
***
7
Waktu yang dinanti-nantikan oleh
para pende- kar rimba persilatan tiba. Dua bulan purnama telah berlalu. Kini,
tibalah saat yang dijanjikan Ki Catrik Ireng untuk melakukan duel dengan
pendekar muda yang namanya tengah menjadi buah bibir.
Sesungguhnya niat Ki Catrik Ireng
bukan se- mata-mata melakukan duel ulang dengan Pendekar Gi- la yang pernah
mengalahkannya lima puluh tahun si- lam. Tujuan sebenarnya adalah menunjukkan
pada para pendekar, bahwa dialah yang pantas menduduki jabatan orang nomor satu
di rimba persilatan
Dari setiap penjuru tanah Jawa
Dwipa, berda- tangan para pendekar rimba persilatan. Pada umum- nya mereka
ingin menyaksikan duel dua pendekar itu,
setelah mereka mendapat undangan
dari Ki Catrik Ireng.
Dari arah barat, sekelompok orang
melangkah dengan gagah. Seorang lelaki tua dengan pakaian resi berwarna putih
berjalan paling depan. Di tangannya tergenggam tasbih. Dialah Resi Sarameskari.
Anggota Kuil Wisma Dewa berjalan
di bela- kangnya. Mereka berkepala botak dan berpakaian resi. Di tangan
masing-masing tergenggam sebatang tongkat panjang terbuat dari kayu cendana.
Itulah senjata me- reka. Berbeda dengan Resi Sarameskari yang beram- but
panjang digelung ke atas serta jenggot yang pan- jang dan putih, wajah
anggotanya nampak bersih. Tak ada jenggot atau kumis.
"Guru, mungkinkah Ki Catrik
Ireng tidak ber- maksud memperdayai para pendekar?" tanya salah seorang
resi muda yang berjalan di belakang Resi Sa- rameskari,
"Entahlah...," sahut
Resi Sarameskari. "Tokoh yang satu ini memang terkenal aneh. Lima puluh
ta- hun menghilang dari rimba persilatan, tapi kini mun- cul kembali. Mungkin
dia muncul setelah mendengar kemunculan Pendekar Gila."
"Ada hubungan apa antara Ki
Catrik Ireng den- gan Pendekar Gila itu. Guru?" kali ini yang bertanya
resi muda lain yang juga berjalan di belakang Resi Sa- rameskari.
"Baiklah, sambil berjalan
akan kuceritakan pa- da kalian hubungan antara dua orang sakti itu."
Resi Sarameskari kemudian
menceritakan pada murid-muridnya tentang kedua tokoh sakti rimba per- silatan
itu. Dikatakannya bahwa dua tokoh persilatan itu dulu pernah bertarung. Juga
dikatakan bahwa Ki Catrik Ireng senantiasa tidak puas jika belum menga-
lahkan semua pendekar rimba
persilatan. Hampir se- mua pendekar telah dihadapinya. Hanya Pendekar Gila dari
Goa Setan saja yang belum dikalahkan.
Keduanya saling mencari. Ki
Catrik Ireng men- cari Pendekar Gila dengan tujuan menantang duel. Se- dangkan
Pendekar Gila mencari Ki Catrik Ireng untuk menyadarkan tindakan orang itu.
"Lalu bagaimana selanjutnya,
Guru?" tanya Re- si Bragaskita, salah seorang resi muda yang berjalan di
belakang Resi Sarameskari.
"Mereka pun bertemu."
"Bertarung, Guru?" tanya resi lainnya yang bernama Resi Bramaweda.
"Ya. Mereka bertarung sehari
semalam. Sampai akhirnya mereka mengeluarkan senjata masing- masing. Pendekar
Gila bersenjata Suling Naga Sakti. Suling sakti berkepala naga yang terbuat
dari emas murni. Sedangkan Catrik Ireng bersenjatakan bume- rang kembar."
"Lalu, siapa yang menang,
Guru?" tanya Resi Bramaweda semakin ingin tahu.
Resi Sarameskari tersenyum sambil
mengge- leng-gelengkan kepala. Nafasnya ditarik panjang- panjang sebelum
menjawab pertanyaan muridnya itu.
"Tak ada yang menang dan
kalah. Hanya senja- ta Catrik Ireng saja yang terpotong."
"Apakah itu bukan pertanda
kalah?" tanya Resi Bragaskita.
"Buktinya sekarang dia
menantangnya lagi. Mungkin kekalahan bagi Ki Catrik Ireng hanyalah ke-
matiannya," gumam Resi Sarameskari.
Mereka pun terus melangkah menuju
Gunung Lawu yang terlihat menjulang dengan warna biru. Se- bagian puncaknya
tampak diselimuti kabut tebal.
Sementara itu, dari arah utara
serombongan orang melangkah juga menuju arah selatan di mana Gunung Lawu
berada.
Seorang nenek bertubuh bungkuk
berjalan pal- ing depan. Dia adalah Nyi Kendil. Dan di sampingnya tampak
seorang wanita bercadar merah yang tak lain adalah Wulandari atau yang lebih
dikenal berjuluk Bi- dadari Cadar Merah.
Wajah guru dan murid itu
kelihatan tegang. Mereka tahu siapa yang akan bertarung untuk menen- tukan
keunggulan sebagai pendekar nomor wahid di rimba persilatan.
Wajah Wulandari kelihatan agak
gelisah. Seper- tinya dia tengah memikirkan sesuatu. Mungkin be- naknya tengah
menimbang-nimbang niat Nyi Kendil untuk menjodohkan dia dengan Prabasangka.
Padahal hari Wulandari telah terpaut pada Pendekar Gila. Na- mun sebagai
seorang murid, dia harus patuh pada gu- runya.
Di belakang mereka, menyusul
kelompok dari perguruan aliran putih yang dipimpin seorang lelaki berjubah
putih. Tampak di dada sebelah kirinya terda- pat gambar teratai. Tangan kirinya
menggenggam sen- jata berupa tombak bermata dua sepanjang lengan. Dialah Ki
Tunggul Manik. Ketua Perguruan Teratai Pu- tih. Sementara itu seorang gadis
berbaju hijau berjalan di sampingnya. Gadis itu adalah Suciati (Untuk menge-
tahui tentang mereka, silakan baca serial Pendekar Gi- la dalam episode
"Kumbang Hitam dari Neraka").
Dari arah timur, muncul Dewi
Pandagu dan se- luruh muridnya yang terdiri dari gadis-gadis cantik. Mereka pun
tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat menyaksikan pertarungan
penentu. Se- mua pendekar dari bermacam perguruan, saat itu be-
nar-benar hadir. Mereka ingin
menyaksikan jalannya duel antara dua tokoh sakti itu.
Yang tidak terlihat di situ
hanyalah Nyi Bangil dengan Mei Lie. Entah ke mana mereka. Sejak kejadian di
markas Segoro Wedi, mereka menghilang bagai dite- lan bumi (Mengenai mereka,
silakan baca serial Pende- kar Gila dalam episode perdana "Suling Naga
Sakti").
Mentari bersinar redup di sebelah
barat. Nam- paknya sebentar lagi akan beranjak ke peraduan.
Para pendekar kini telah sampai
di tempat yang dituju. Mereka berdiri mengelilingi sebuah panggung besar yang
telah dibuat oleh pasukan Ki Catrik Ireng, Laskar Setan!
Laskar Setan yang terdiri dari
orang-orang yang tidak memiliki perasaan, telah berjaga-jaga dengan ke- tat.
Mereka sengaja dipersiapkan Ki Catrik Ireng untuk menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan.
***
Mentari semakin tenggelam di kaki
langit sebe- lah barat. Menjadikan suasana di Puncak Lawu terasa agak dingin.
Angin bertiup kencang, seakan-akan hen- dak menyapu orang-orang yang kini
berdiri memutari panggung besar.
Panggung itu masih sepi. Tak ada
seorang pun yang naik ke atas. Semuanya menunggu kehadiran orang yang
mengundang mereka. Sekaligus menunggu kedatangan Pendekar Gila.
Dari balik cadas yang menjulang,
berkelebat sosok bayangan hitam dengan cepat. Kemudian sosok itu berdiri di
atas panggung dengan mata memandang ke sekeliling. Dia tak lain Ki Catrik
Ireng, yang men- gundang para pendekar untuk datang ke tempat itu.
Orang-orang persilatan yang
mengelilingi pang- gung saling berbisik-bisik, menanggapi kedatangan le- laki
tua berjubah hitam itu.
"Saudara-saudara pendekar.
Sengaja saya mengundang kalian ke sini. Tentunya kalian telah tahu apa yang
akan terjadi di tempat ini, bukan..?" ucap Ki Catrik Ireng, mencoba
bersikap ramah.
"Ya...!" sahut para
pendekar. "Perlu saya beritahukan pada kalian. Sesung- guhnya ini bukan
hanya duel ulang antara saya mela- wan Pendekar Gila saja, melainkan ada yang
lebih penting. Yaitu mencari siapa yang paling pantas men- jadi Ketua Rimba
Persilatan...!"
Semua tersentak dengan mata
membelalak mendengar penuturan Ki Catrik Ireng. Kemudian me- reka saling
pandang, bagai tak mengerti maksud lelaki tua itu sebenarnya.
"Nah, untuk menunggu
Pendekar Gila, bagai- mana kalau kita adakan pembukaan!" kata Ki Catrik
Ireng.
Kembali semua mata terbelalak
mendengar pe- nuturan Ki Catrik Ireng. Mereka benar-benar dibuat kaget dengan
ucapan yang baru saja dilontarkan Ki Catrik Ireng. Karena mereka datang ke
Puncak Lawu bukan untuk bertarung satu sama lain, melainkan un- tuk melihat
pertarungan antara Ki Catrik Ireng mela- wan Pendekar Gila.
"Ha ha ha...!" Saat
mereka tengah dalam keadaan kebingun- gan, tiba-tiba terdengar gelak tawa yang
menggelegar. Membuat semua mata seketika memandang ke arah datangnya suara itu.
Dari arah timur, berkelebat
seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular.
"Pendekar Gila...!"
seru para pendekar serem- pak, setelah tahu siapa yang datang
Pemuda bertingkah laku gila itu
masih tertawa tergelak-gelak. Tubuhnya tegak menghadapi Ki Catrik Ireng yang
mengerutkan keningnya setelah melihat ru- pa pemuda itu.
"Kaukah Pendekar Gila
itu?!" tanya Ki Catrik Ireng setengah membentak
"Benar!" sahut Sena
tegas. "Aku tidak percaya! Tentunya kau bukan Pen- dekar Gila. Kau hanya
pemuda gila yang sombong!" dengus Ki Catrik Ireng
Sena tertawa tergelak-gelak
sambil menggaruk- garuk kepala.
"Terserah mu saja, Ki. Kau
mau percaya atau tidak itu urusanmu. Aku hanya ingin tahu, apa mak- sudmu
mengundangku ke sini...?" tanya Sena masih dengan tingkah lakunya yang
aneh.
"Hm...." gumam Ki
Catrik Ireng perlahan Mata lelaki tua itu memandang tajam ke arah Sena yang
tetap bertingkah laku konyol.
"Baik! Katakan, ada hubungan
apa antara kau dan Singo Edan?"
"Aku muridnya," sahut
Sena tenang. "Bagus! Meski kau bukan Pendekar Gila yang lima puluh tahun
lalu mengalahkanku, namun kurasa kau dapat mewakili gurumu! Sengaja aku mengun-
dangmu kemari, untuk menentukan siapa di antara aku dan Pendekar Gila yang
ilmunya lebih tinggi. Mu- lanya yang kuharapkan adalah gurumu. Tapi tak men-
gapa, kau pun boleh menggantikannya," kata Ki Catrik Ireng
"Kalau itu tujuanmu, lebih
baik aku mengalah. Tak ada gunanya bertarung kalau hanya mempere-
butkan pepesan kosong...."
"Pengecut!" maki Ki
Catrik Ireng "Begitukah si- kap seorang pendekar yang sering disebut
sebagai pendekar tanpa tanding?! Lihat..! Kalian telah melihat sendiri,
bagaimana pendekar yang kalian agung- agungkan ternyata hanya kecoa
busuk!"
Kata-kata pedas dan tajam dari
mulut Ki Catrik Ireng yang merendahkan dirinya, tidak membuat Sena marah.
"Ah, kalau aku ini kecoa, tentunya kau kutu busuk Ki!" balik Sena
dengan niat mengejek
Mata Ki Catrik Ireng membelalak
penuh ama- rah.
"Kurang ajar! Siapa pun kau,
aku harus me- nyingkirkan mu!"
"Aha, terserah saja,
Ki!" tantang Sena. "Bagus! Kalau lima puluh tahun silam aku ka- lah
oleh gurumu, maka hari ini kau sebagai wakilnya akan menerima pembalasanku!
Bersiaplah...!".
Usai berkata begitu, Ki Catrik
Ireng segera me- langkah mundur tiga tindak. Tangannya diangkat ting-
gi-tinggi, dengan jari mengepal. Kemudian sepasang tangan itu digerakkan ke
muka. Tangan kanan ditekuk dengan tinju ke atas, sedangkan tangan kin dibuka
dengan jari-jari lurus.
"Hhh...!" Ki Catrik
Ireng memutar tangan kiri ke dalam lalu menyentakkan ke depan lagi. Tangan
kanannya ditarik ke belakang, kemudian diputar dengan jari-jari terbuka.
Disusul hentakan telapak tangan lurus ke depan. Jurus itu merupakan jurus
pembuka yang di- beri nama 'Sampar Cobra'.
Menyaksikan lawan telah membuka
jurus, Pen- dekar Gila malah tersenyum sambil menggaruk-garuk
kepala. "Bersiaplah, Pendekar
Gila!" dengus Ki Catrik Ireng yang semakin sewot menyaksikan tingkah
konyol Pendekar Gila. Membuat hatinya panas meletup-letup.
"Sejak tadi aku sudah siap,
Ki," jawab Sena te- nang.
Semua pendekar yang menyaksikan
tingkah la- ku Pendekar Gila, seketika tegang. Hati mereka ber- tanya-tanya,
mengapa Pendekar Gila seakan menga- cuhkan lawan? Padahal lawan yang
dihadapinya bu- kan orang sembarangan. Orang yang pernah bertarung dengan
gurunya.
Kecemasan seketika menyelimuti
hati semua pendekar. Tapi sesungguhnya, tingkah Sena yang se- perti kera itu
tak lain sebuah jurus pembuka bernama 'Monyet Gila Siap Menerkam'.
'Oh, mengapa dia sepertinya belum
siap...?" tanya Dewi Pandagu mengeluh. Hatinya cemas me- nyaksikan lelaki
pujaannya. Dia begitu takut, kalau- kalau pemuda itu akan mendapat celaka
karena belum siap menghadapi Ki Catrik Ireng yang berilmu tinggi.
"Kurasa memang tingkahnya
begitu, Dewi," ucap rekannya dari Perguruan Teratai Perak, berusaha
menenangkan. "Tenanglah...."
"Kuharap juga begitu,"
desis Dewi Pandagu. "Lihat! Dia telah membuka jurus!" seru Dewi
Teratai Perak membuat mata semua pendekar terpusat penuh ke arah panggung.
***
Benar juga, Pendekar Gila kini
menyurut dua langkah ke belakang. Dengan tertawa-tawa, dimu- lainya jurus
pembuka yang merupakan jurus awal.
Tubuhnya meliuk-liuk seperti
menari. Tangannya ber- gerak lemah gemulai dan lincah.
"Bersiaplah.... Aku akan
mulai! Yeaaat..!" Ki Catrik Ireng memekik keras untuk membuka serangan.
Tubuhnya melesat ke depan dengan tangan menyambar cepat. Tangan kanannya
membentuk siku dengan kepalan ke atas. Sedangkan tangan kirinya di- putar, lalu
dihentakkan ke dada lawan.
Melihat lawan melakukan serangan,
dengan ce- pat Pendekar Gila menggerakkan tubuhnya. Tangan- nya diangkat lurus
ke atas dengan telapak tangan sal- ing berhadapan. Kaki kanan diangkat sampai
ke lutut lalu direntang ke kanan. Diikuti oleh gerakan membu- ka kedua
tangannya. Selanjutnya terlihat gerakan me- nari. Tangan kanan masih di atas,
sedangkan tangan kiri lurus ke bawah.
"Yeaaat..!" Dengan
menggunakan jurus pembuka 'Kera Gi- la Merambah Rimba' Pendekar Gila berteriak
nyaring, lalu dengan cepat tubuhnya melesat ke depan. Tangan kanannya yang
semula di atas, kini menyibak ke de- pan. Sedangkan tangan kirinya diangkat ke
atas dan diteruskan memukul ke arah lawan.
"Yeaaa...!"
"Heaaat..!" Dua orang berilmu tinggi itu kini telah sama- sama
melesat untuk melakukan serangan. Tangan dan kaki mereka bergerak lincah, seirama
dengan gerakan tubuh. Tangan mereka bergantian melakukan seran- gan dan
pertahanan. Sedangkan kedua kaki mereka saling menyapu ke kaki lawan.
"Ha ha ha...! Akhirnya kau
akan mampus, Pen- dekar Gila. Yeaaa..."
Dengan ucapan sombong, Ki Catrik
Ireng segera
berkelebat menyerang. Tangan
kanannya memukul ke dada Pendekar Gila. Sedangkan tangan kirinya mem- bentuk
pertahanan.
"Uts...!" Pendekar Gila
menggeser kaki kanan ke samp- ing, menarik kaki kiri ke kanan, lalu
dilangkahkan ke depan. Diikuti oleh pukulan tangannya.
"Edan..!" maki Ki
Catrik Ireng kaget. Segera di- tariknya pukulan tangan kanannya, lalu diganti
den- gan tangkisan tangan kiri. Setelah itu, kakinya dige- rakkan menendang.
Pendekar Gila meliukkan tubuhnya
ke bawah. Tangannya bergerak menyambar kaki lawan. Hal itu memaksa Ki Catrik
Ireng menarik serangan dengan ce- pat. Matanya semakin membelalak menyaksikan
jurus Pendekar Gila yang semakin sempurna. Jurus itu me- mang pernah
dihadapinya lima puluh tahun yang si- lam, tetapi kini lebih hebat!
"Rupanya selama lima puluh
tahun menghi- lang, gurumu berusaha menyempurnakan jurus-jurus
miliknya...!" seloroh Ki Catrik Ireng seraya melangkah ke belakang
mengelakkan cengkeraman yang dilaku- kan Pendekar Gila. Kemudian dengan cepat
Ki Catrik Ireng menyodorkan pukulan tangan kanannya ke tu- lang rusuk lawan.
"Weit...!" Pendekar
Gila menggeser kaki kiri. Tubuhnya dimiringkan ke kanan. Menjadikan pukulan
tangan lawan meleset di depannya. Kemudian dengan cepat Pendekar Gila
melontarkan serangan tangan kirinya ke samping. Semua mata orang persilatan
memandang pe- nuh kagum. Mata mereka tak berkedip, seakan akan tidak ingin
melewatkan sekedip saja pertarungan itu.
Mulut mereka ternganga dan
sesekali berdecak kagum.
"Ck ck ck..!" "Ini
baru duel seru!"
***
8
Pendekar Gila masih terus
menyerang. Gera- kannya yang seperti monyet, terlihat lucu dan lamban. Namun
kenyataannya, serangan yang dilancarkannya sangat cepat. Tangannya yang menepak
dan menca- kar, susul-menyusul tiada henti.
"Edan! Benar-benar jurus
gila!" maki Ki Catrik Ireng tersentak kaget mendapatkan serangan yang
aneh. Dilihatnya gerakan tangan dan kaki pendekar muda itu lambat. Namun jika
dia tidak cepat berkelit tentunya cakaran dan tepukan tangan Pendekar Gila akan
menghajar tubuhnya.
"Heaaat..!"
"Uts...!" Ki Catrik Ireng lebih terkejut lagi ketika mera- sakan
gerakan lambat itu mampu mengeluarkan angin pukulan yang menderu keras. Seakan
topan besar me- nerpa tubuhnya.
Ki Catrik Ireng cepat-cepat
memutar tubuhnya. Kemudian dengan gerakan cepat pula, orang tua ber- jubah
hitam yang telah banyak makam asam garam di rimba persilatan itu melontarkan
pukulan telapak tan- gan ke dada Pendekar Gila.
"Yeaaa...!" Ki Catrik
Ireng rupanya kini tahu gelagat. Dia yang semula memandang rendah Pendekar Gila,
kini
tidak bisa lagi meremehkannya.
Serangannya yang menggunakan jurus-jurus ular pun dipergencar susul- menyusul.
Tangannya mematuk-matuk, atau menam- par ke dada dan muka lawan.
Pendekar Gila dengan cepat
berkelit. Tubuhnya meliuk ke bawah, ketika tangan lawan mematuk ke wajahnya.
Lalu tubuhnya dimiringkan ke belakang ke- tika tangan lawan menampar dengan
kibasan tangan- nya ke dada. Kakinya bergerak lincah, menjejak ber-
ganti-ganti. Sedangkan tangannya berusaha mengha- lau dan menyambar ke kaki lawan
yang turut menye- rang.
"Ck ck ck..! Hebat..!"
puji Resi Sarameskari dis- elingi decakan kagum, menyaksikan gerakan yang di-
lakukan Pendekar Gila. Walau usianya masih muda, namun tampaknya dia mampu
menghadapi tokoh tua yang namanya pernah menjadi buah bibir para pende- kar.
Bahkan pernah menundukkan banyak pendekar tangguh pada zamannya.
"Diakah Singo Edan itu,
Guru...?" tanya Resi Bragas Wita, ingin lebih jelas tentang Pendekar Gila.
"Kurasa bukan. Mungkin dia
muridnya," jawab Resi Sarameskari.
"Muridnya, Guru? Dari mana
pemuda itu bisa tahu tempat persembunyian Singo Edan...?" tanya Resi
Bramaweda.
"Entahlah, mungkin Singo
Edan yang wataknya aneh itu telah mengambilnya. Kalau pemuda itu yang mencari,
kurasa tidak mungkin...," jelas Resi Sara- meskari. "Mengapa begitu,
Guru?" sambung Resi Bra- maweda. "Jangankan anak kemarin sore. Aku
saja atau pendekar lain yang sebaya denganku, tak ada yang ta-
hu. Ah, sudahlah jangan bertanya
dulu. Kita saksikan saja dulu pertarungan itu," tukas Resi Sarameskari.
Kedua murid utamanya itu menurut
Mereka di- am dan kembali memperhatikan pertarungan antara Pendekar Gila
melawan Ki Catrik Ireng.
Keduanya kini sudah tidak di
panggung lagi. Panggung itu sendiri telah hancur lebur akibat seran-
gan-serangan yang dilancarkan keduanya. Kini mereka berada di alam bebas,
membuat gerakan mereka se- makin leluasa.
Pendekar Gila kali ini bergerak
menyerang den- gan jurus 'Si Gila Membelah Awan'. Kedua tangannya menyapu ke
atas, kemudian menyentak bareng ke de- pan dengan telapak tangan terbuka.
Kaki-kakinya me- nyapu dan menendang bertubi-tubi ke arah lawan.
"Yeaaat..!"
"Uts...! Heaaat..!" Ki Catrik Ireng segera melejit ke samping. Ke-
mudian dengan gerakan membentuk setengah puta- ran, tangannya mematuk ke wajah
lawan. Lalu, setelah melihat Pendekar Gila menggeser kaki ke samping, Ki Catrik
Ireng menyusulkan tamparan tangan kiri ke da- da Pendekar Gila.
Wuttt! Tangan kiri Ki Catrik
Ireng menderu cepat mengarah ke dada lawan. Sedangkan Pendekar Gila yang tidak
menyangka lawan akan kembali menyerang dengan cepat langsung tersentak kaget.
Matanya membelalak. Langkahnya mati. Mendapati hal itu, dengan cepat Pendekar
Gila menyapukan tangan ka- nan untuk memapak tamparan lawan Gerakan tan- gannya
seperti membelah dengan cepat
"Heaaat..!" Ki Catrik
Ireng menarik tamparan tangan ki-
rinya. Lalu mengganti serangan
dengan tendangan ka- ki kanan ke selangkangan lawan. Sedangkan tangan kanannya,
kini kembali mematuk ke wajah Pendekar Gila.
Mendapat serangan cepat Pendekar
Gila segera bersalto ke belakang. Dengan tubuh di udara, kakinya menjejak cepat
ke batu cadas. Kemudian dengan tu- buh membalik Pendekar Gila menyatukan
pukulan tangannya lalu menyerang ke arah lawan.
"Yeaaat..!" Dengan
tubuh meluncur cepat Pendekar Gila kini balik menyerang. Tangannya mencecar Ki
Catrik Ireng, yang menangkis dengan cepat setiap pukulan yang dilancarkannya.
"Heaaa...!" Tangan
mereka kini bergantian memukul dan menangkis serangan lawan. Pendekar Gila
terus me- rangsek lawan dengan tubuh mengapung di udara. Se- dangkan tubuh Ki
Catrik Ireng terus mundur dengan menangkis serangan lawan sambil balas
menyerang.
Semua mata membelalak Tak ada
kata-kata yang keluar dari mulut para pendekar yang menyaksi- kan pertarungan
aneh itu. Dengan tubuh melayang laksana terbang, Pendekar Gila terus meluncur
sambil mencecarkan pukulan dan terkadang menangkis se- rangan lawan.
"Ck ck ck..!" Semua
mendecak kagum dengan kepala meng- geleng-geleng. Jarang sekali mereka melihat
kemam- puan seorang pemuda seperti Pendekar Gila. Meski mereka dari golongan
tua sekalipun, rasanya sangat sulit bertarung dengan tubuh melayang seperti
itu. Bi- sa-bisa tenaga dalam mereka hilang di tengah jalan.
Pendekar muda itu benar-benar
mampu me-
nunjukkan kelasnya. Tubuhnya
terus melayang, sea- kan benar-benar mampu terbang seperti burung. Ka- kinya
terkadang berputar untuk menendang, lalu ber- putar kembali dengan
pukulan-pukulannya.
"Heaaat..!" Kalau saja
yang menjadi lawan bukan Ki Catrik Ireng yang berilmu tinggi dan banyak
pengalaman, su- dah tentu dalam beberapa gebrakan saja akan kewala- han
menghadapi serangan-serangan aneh yang dilan- carkan Pendekar Gila.
Namun kini yang dihadapi Pendekar
Gila ada- lah tokoh kelas wahid yang pernah menundukkan pendekar-pendekar
tangguh rimba persilatan. Bahkan pernah pula bertarung melawan Singo Edan, guru
Pendekar Gila. Tentunya Ki Catrik Ireng telah tahu ju- rus-jurus yang menjadi
andalan Pendekar Gila.
"Rupanya semakin maju saja
ilmu Pendekar Gi- la!" seru Ki Catrik Ireng sambil terus menangkis seran-
gan-serangan Pendekar Gila, dengan sesekali memba- las menyerang.
"Yeaaat..!" Pendekar
Gila melempar tubuhnya ke belakang, kakinya menjejak ke atas batu cadas.
Kemudian berdi- ri dengan posisi siap melakukan serangan. Tangannya bergerak
bagaikan kera yang hendak melempar. Tan- gan kanan diangkat ke atas setengah
menekuk, se- dangkan tangan kirinya berada di perut dengan jari- jari tangan
kejang mencengkeram.
"Jurus 'Kera Gila Melempar
Batu'," gumam Ki Catrik Ireng yang telah tahu jurus itu. "Dulu gurumu
boleh bangga dengan jurus itu. Namun sekarang jurus itu tak ada gunanya bagiku,
Pendekar Gila! Yeaaat..!"
Tubuh Ki Catrik Ireng segera
berkelebat untuk menyerang. Tangan kanannya membentuk kepala ular.
Sedangkan tangan kirinya
direntang ke samping den- gan jari-jari membuat cengkeraman. Kemudian tangan
kanan dan kiri bergantian melakukan patukan dan cengkeraman. Itulah jurus 'Naga
Mencakar Langit'. Sa- lah satu jurus andalan Ki Catrik Ireng.
"Yiaaat..!"
"Heaaa...!" Tubuh keduanya kembali melesat maju, siap melakukan
serangan berikutnya.
***
Cakar dan tamparan Pendekar Gila
kini seperti tangan seekor kera yang tengah melempar batu. Na- mun gerakannya
sangat cepat menghasilkan deru an- gin keras ketika kedua tangannya bergerak.
Sedangkan Ki Catrik Ireng tak mau
tinggal di- am. Tangan kanannya laksana kepala ular naga, me- matuk dan
menampar ke wajah dan dada lawan. Se- dangkan tangan kirinya mencakar dan
menghantam.
"Yiaaat..!" "Uts!
Heaaa...!" Keduanya terus berkelebat cepat dengan tan- gan bergantian
melakukan serangan dan tangkisan. Kaki mereka tak tinggal diam, bergerak cepat
kian ke- mari.
Kemudian melakukan serangan
dengan ten- dangan dan sapuan. Trak! "Yeaaat..!" "Hop...!"
Setiap kali tangan dan kaki mereka beradu, terdengar suara keras memekakkan
telinga. Dan tu- buh keduanya melompat ke belakang dua tindak, lalu
No comments:
Post a Comment