Sunday, April 14, 2019

004 Duel Di Puncak Lawu


DUEL DI PUNCAK LAWU
oleh Firman Raharja

1

Gunung Lawu menjulang tinggi. Dari kejauhan kelihatan hanya warna biru, dengan kabut putih me- nutupi sebagian puncaknya. Asri sekali kelihatannya. Seakan dipenuhi oleh kedamaian.
Selama ini, belum ada seorang pun yang datang ke puncak Gunung Lawu. Entah karena orang berpikir percuma ke puncak gunung itu. Atau memang ada se- suatu di balik keasrian dan kedamaiannya.
Seorang lelaki berjubah hitam tengah berlari- lari menuju Gunung Lawu. Alisnya yang putih, me- manjang hingga menutupi sebagian mata. Dan sekujur dagunya ditutupi jenggot putih yang panjang. Sesekali lelaki itu menengok ke belakang, seperti tengah meya- kinkan dirinya kalau tak ada seorang pun yang melihat Lelaki tua itu menghentikan langkahnya dan kembali memandang ke belakang. Rambut putihnya yang panjang dengan gelungan di atas kepala, teriap ditiup angin.

Dilihat dari taut wajahnya, sepertinya dia me- nyimpan penderitaan batin yang dalam.
"Rupanya apa yang kudengar selama ini me- mang benar," gumam lelaki tua bertubuh kurus tinggi yang bernama Catrik Ireng itu. Dihelanya napas pan- jang-panjang. "Ah, benarkah dia Singo Edan?"
Ki Catrik Ireng masih berdiri mematung. Mata kelabunya memandang Gunung Lawu yang memben- tang dari timur ke barat. Puncaknya menjulang tinggi, berwarna biru sebagian tertutup kabut.
Ki Catrik Ireng tercenung. Ingatannya melayang ke masa puluhan tahun silam, ketika usianya sekitar dua puluh lima tahun.
"Ah, mengapa aku harus melamun di tempat ini? Aku harus segera menolong muridku," gumam Ki Catrik Ireng, tersadar dari lamunannya. Kemudian dengan sekali lompat, tubuhnya berkelebat cepat me- ninggalkan tempat itu.
Lari orang tua berjubah hitam itu sangat cepat. Dalam sekejap tubuhnya telah berada di lereng Gu- nung Lawu. Langkahnya telah dihentikan. Lalu kepa- lanya menengok ke bawah. Kembali orang tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun itu mengamati sekeli- lingnya, meyakinkan dirinya kalau-kalau ada yang menguntit tanpa diketahui.
Setelah yakin tak ada seorang pun yang men- guntitnya, Ki Catrik Ireng kembali berlari dengan cepat untuk mendaki puncak Gunung Lawu yang tinggi.
Tubuhnya serta pemuda di pundaknya menghi- lang di balik batu cadas yang tinggi. Sepertinya, ada sesuatu yang tersembunyi di balik batu cadas itu. Jika dilihat begitu saja, memang tak akan nampak sama sekali. Kecuali batu-batu cadas belaka. Tapi jika di- amati dengan seksama, di balik batu cadas yang men- julang tinggi itu terdapat sebuah goa.
Memang sulit untuk dapat melihat goa itu. Di kanan dan kirinya terdapat batu cadas yang menutupi. Di atas dan bawahnya pun begitu. Hanya ada lubang kecil yang dapat dimasuki oleh seekor tikus.
Ki Catrik Ireng berdiri di depan lubang kecil itu. Setelah memandang ke sekelilingnya sekali lagi, tangan kirinya menjulur ke lubang dan menggerakkan batu cadas yang ada di atasnya.
Krek...! Keanehan terjadi. Batu-batu cadas di samping dan atas lubang kecil itu tiba-tiba bergerak. Semakin melebar dan akhirnya nampaklah lubang besar yang
dapat dimasuki oleh dua orang.
Ki Catrik Ireng melangkah ke dalam lubang itu. Kemudian tangannya kembali memutar batu cadas yang menonjol di dalam. Kejadian aneh kembali teru- lang. Batu-batu cadas di sisi dan di atas lubang berge- rak menyempit. Kini hanya lubang sebesar tubuh tikus saja yang ada. Lubang itu digunakan untuk keluar masuknya udara.
Pintar sekali Ki Catrik Ireng membuat tempat tinggalnya. Maka tak heran, jika selama itu belum ada seorang pun yang melihatnya. Terlebih dengan tem- patnya yang begitu tinggi. Sulit bagi orang persilatan biasa untuk sampai di goa aneh itu.
Ki Catrik Ireng dengan masih memanggul tu- buh pemuda berbaju kuning, melangkah menyelusuri lorong goa yang menurun. Semakin ke dalam, lorong itu semakin ke bawah.
Ki Catrik Ireng terus melangkah, menuruni lo- rong yang memang telah dibuat undak-undakan tang- ga. Kemudian dia masuk ke sebuah ruangan di samp- ing kanan lorong. Ternyata di dalam goa itu terdapat banyak sekali ruangan. Sepertinya di tempat itu ba- nyak sekali penghuninya.
Benar juga. Dari ruangan-ruangan yang tertu- tup, muncullah orang-orang berjubah hitam. Tatapan mata mereka begitu kosong. Kaki mereka melangkah kaku. Mereka bagai manusia yang tidak memiliki pera- saan. Tanpa sedikit pun tegur sapa, atau sekadar ter- senyum. "Kalian rawatlah dia," kata Ki Catrik Ireng, me- merintah pada orang-orang aneh itu. Nampaknya me- reka menurut pada Ki Catrik Ireng. Buktinya, mereka segera melaksanakan apa yang diperintahkan lelaki tua itu.
Ki Catrik Ireng kemudian mendekati sebuah ba- tu besar yang permukaannya rata. Kemudian duduk di atasnya untuk melakukan semadi. Dibiarkannya para pengikutnya bekerja untuk memulihkan luka dalam pemuda yang dibawanya. Mereka bergerak cepat. Satu mengambil obat-obatan. Satu mengambil air. Dan lima orang yang lain menguruti tubuh pemuda tersebut
Mereka bekerja bagai tak mengenal lelah. Sete- lah membuka baju pemuda itu, salah seorang dari me- reka menempelkan kedua telapak tangan ke dada si pemuda. Beberapa saat kemudian, nampak asap men- gepul dari dada pemuda tampan yang tergeletak itu.
"Aaakh...!" Pemuda itu tiba-tiba memekik. Tubuhnya menggeliat-geliat bagai terbakar. Keringat tampak ber- cucuran membasahi tubuhnya.
Orang berjubah hitam yang berkumis tipis tak menghiraukan jeritan pemuda itu. Dia dan keempat rekannya terus bekerja. Tangannya yang menempel di dada pemuda itu, laksana melekat. Sementara ma- tanya melotot merah.
Tak lama kemudian, tubuh pemuda itu bersi- nar, laksana diselimuti api yang membara. Cahaya me- rah itu mengalir dari tubuh orang berjubah hitam ber- kumis tipis, yang wajahnya kini membara pula.
"Aaakh...!" Orang berjubah hitam tiba-tiba memekik keras. Matanya melotot membara, dan tubuhnya tergetar he- bat. Kemudian terkulai jatuh.
Rupanya itulah cara pengobatan yang dite- rapkan oleh Ki Catrik Ireng. Dan orang-orang berjubah hitam itu sepertinya memang khusus ditugaskan un- tuk mengobati. Kalau sudah tak berarti, mereka harus menerima kematian.
Mengerikan sekali keadaan lelaki berjubah hi- tam berkumis tipis itu. Tubuhnya gosong, bagai diba- kar api yang membara.
Sementara, Ki Catrik Ireng yang tengah mela- kukan semadi, tampak membuka matanya. Ditatapnya para pengikutnya yang tengah memulihkan pemuda tampan itu.
"Hm.... Rupanya dia telah kembali hadir. Tan- tanganku dulu, rupanya ditanggapi olehnya," gumam Ki Catrik Ireng sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian kenangan pahit masa lima puluh tahun yang silam kembali terkuak dalam benaknya.
***

Lima puluh tahun silam, di kalangan persilatan ada dua pemuda gagah yang tingkat kepandaiannya tinggi. Seorang di antaranya pemuda berwatak dan bertingkah laku persis orang gila. Pemuda itu bernama Singo Edan dari Goa Setan. Yang kemudian terkenal dengan sebutan Pendekar Gila dari Goa Setan. Meski nama sebenarnya adalah Singo Arya Yuda.
Seorang lagi bernama Catrik Sandangkara. Ka- rena perbuatannya yang sangat aneh dengan ilmu- ilmu tinggi, akhirnya orang lebih mengenalnya dengan sebutan Catrik Aneh. Karena Catrik Aneh itu selalu memakai jubah hitam, dia kemudian disebut juga se- bagai Catrik Ireng.
Kalau Catrik Ireng selalu melanglang rimba persilatan untuk mencari dan menundukkan lawan, sebaliknya Singo Edan lebih suka membantu yang le- mah. Sebenarnya Catrik Ireng dalam melakukan tin- dakan tidak terlalu telengas. Dia hanya mau bertarung dengan para pendekar untuk mengalahkan atau dika-
lahkan. Namun akibat tindakannya yang selalu me- nantang setiap pendekar, dunia persilatan menjadi gempar. Ki Ranu Baya yang memimpin dunia persilatan waktu itu segera mengumpulkan para pendekar untuk membahas masalah sepak terjang Catrik Ireng.
"Bagaimana kalau Singo Edan yang mewakili kita untuk menghentikan sepak terjang Catrik Ireng...?" usul Ki Ranu Baya, yang akhirnya disepakati oleh para pendekar lainnya.
Karena diberi amanat untuk menghentikan se- pak terjang Catrik Ireng, Singo Edan pun melaksana- kan tugasnya. Dia berkelana untuk mencari Catrik Ireng. Selama itu dia terus menolong orang lemah. Sampai akhirnya Singo Edan pun termasyhur dengan sebutan Pendekar Gila dari Goa Setan.
Rupanya kemasyhuran nama Pendekar Gila da- ri Goa Setan, menarik perhatian Catrik Ireng yang memang bermaksud mencari pendekar sejati yang bisa menandinginya. Selama itu, pendekar yang ditemuinya dapat dikalahkan hanya dalam beberapa gebrakan sa- ja.
"Katakan pada Pendekar Gila jika kalian berte- mu, bersiap-siaplah untuk menghadapi Catrik Ireng!" kata Catrik Ireng setiap kali bertemu dengan orang- orang persilatan yang dapat dikalahkannya.
Akhirnya mereka pun bertemu di puncak Gu- nung Lawu. Tempat itu menjadi penentu bagi kedua- nya untuk memastikan siapa si antara mereka yang ilmunya lebih tinggi.
"Catrik Ireng, aku datang untuk memintamu agar tidak meneruskan tindakanmu yang ugal-ugalan," ujar Singo Edan sambil menggaruk-garuk kepala. Mu- lutnya cengengesan, persis orang gila.
"Pendekar Gila, aku akan menundukkanmu! Atau aku akan mengundurkan diri dari rimba persila- tan, jika kau dapat mengalahkanku!" tantang Catrik Ireng.
Singo Edan tertawa tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, mengapa kita harus bertarung? Apa- lah artinya ilmu kita, yang belum seberapa dibanding- kan ilmu yang dimiliki Hyang Widhi," tutur Singo Edan.
"Pengecut! Ternyata nama besar Pendekar Gila dari Goa Setan hanya omong kosong!"
"Terserah kau, Catrik. Kurasa tak ada artinya kita bertarung untuk memperebutkan pepesan ko- song.,.." "Phuih...! Rupanya kau berusaha lari dari se- mua tanggung jawabmu! Huh! Tak pantas seorang pendekar bersikap sepertimu."
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan, Catrik. Terpaksa aku melayanimu...."
Pertarungan kedua tokoh muda rimba persila- tan yang ilmunya saat itu belum ada yang menandingi tak dapat dielakkan. Keduanya bertarung tiada henti. Dari sore hari, sampai pagi datang. Keduanya sama- sama memiliki kesaktian yang tinggi. Sangat sulit un- tuk menentukan siapa di antara mereka yang akan ka- lah dan menang. Keduanya tetap sama-sama gesit dan lincah, walau bertempur semalaman.
Keduanya kini telah mengeluarkan senjata masing-masing. Catrik Ireng mengeluarkan senjata berbentuk bumerang kembar. Sedangkan Singo Edan mengeluarkan Suling Naga Sakti.
"Heaaa...!" "Yeaaat..!"
Bumerang kembar melesat ke tubuh Singo Edan, yang dengan cepat melemparkan Suling Naga Saktinya ke arah bumerang kembar itu.
Trang! Dua senjata itu beradu di udara, memercikkan api. Kemudian kedua senjata itu kembali pada tuan- nya. Suling Naga Sakti utuh tak ada cacat sedikit pun. Sedangkan mata Catrik Ireng membelalak, menyaksi- kan salah satu senjatanya patah menjadi dua bagian.
"Pendekar Gila, saat ini kaulah yang menang. Tapi, kutunggu kau di Puncak Lawu ini! Lima puluh tahun lagi, aku akan datang...."
Usai berkata begitu, Catrik Ireng berkelebat meninggalkan tempat itu. Sejak saat itulah Catrik Ireng tak terdengar kabar beritanya lagi, menghilang dari dunia persilatan bagai ditelan bumi. Dia terus menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang diciptakan- nya. Sampai akhirnya dia muncul kembali!
***

Ki Catrik Ireng tersenyum-senyum setelah mengingat semua kejadian lima puluh tahun yang si- lam. Kejadian yang sangat berkesan di hatinya. Keja- dian itu tak akan pernah dilupakannya. Dan mung- kinkah kejadian itu akan terulang lagi? Ya, akan terja- di lagi! Namun kini akan lain dengan lima puluh tahun yang silam. Tekad hati Ki Catrik Ireng dengan bibir ter- senyum. "Pendekar Gila, rupanya kita akan bertemu kembali untuk menentukan siapa di antara kita yang benar-benar tinggi ilmunya! Ha ha ha...! Kali ini kau akan kalah, Pendekar Gila! Kau akan menerima bala- san ku!" ujar Ki Catrik Ireng seraya tertawa terbahak-
bahak.
Ki Catrik Ireng bangun dari duduknya. Kakinya melangkah meninggalkan tempat itu dengan langkah perlahan, menuju ke tempat di mana muridnya bera- da.
Nampak pemuda berbaju kuning kini terbaring dikelilingi oleh orang-orang berjubah hitam. Kelihatan- nya luka dalam pemuda itu telah dapat disembuhkan. Di samping tempat tidur pemuda itu, tergeletak seo- rang lelaki berjubah hitam dengan keadaan gosong. Tentunya lelaki itu telah menunaikan tugasnya.
"Bawa dia ke tempat penggodokan!" perintah Ki Catrik Ireng.
Enam orang berjubah hitam lainnya segera mengangkat tubuh rekannya, lalu membawanya pergi dari tempat itu. Mereka benar-benar menurut sekali dengan Ki Catrik Ireng.
"Ha ha ha...! Laskar Setan ku rupanya telah siap untuk menyambut pertarungan akbar. Hm, aku akan menjadi pemimpin tertinggi rimba persilatan! Tak akan ada yang dapat mengalahkanku...!"
Ki Catrik Ireng tertawa terbahak-bahak mem- bayangkan bagaimana dia dengan Laskar Setannya akan menjadi sebuah kekuatan yang sulit ditandingi. Anak buahnya benar-benar patuh pada semua perin- tahnya. Mereka tak berani menolak atau menentang, meski nyawa mereka sebagai taruhannya.
Ki Catrik Ireng melangkah ke arah pemuda berpakaian kuning yang sedang tertidur lelap. Dipan- danginya wajah pemuda itu, dan dihelanya napas pan- jang-panjang.
"Memang kau bukan tandingannya, Anakku. Meski ilmumu tinggi, namun bukan apa-apa jika di- bandingkan Pendekar Gila."
Ki Catrik Ireng tak puas-puasnya memandangi pemuda itu. Wajah pemuda itu sama persis dengan wajahnya waktu muda dulu. Rupanya pemuda berpa- kaian kuning yang ternyata anak tunggalnya itu me- warisi wajah dan perawakan Ki Catrik Ireng.
'Prabasangka, seharusnya kau tidak menderita, Nak. Ibumu memang wanita lacur! Kau ditinggal sejak kecil, sejak masih bayi. Entah di mana kini ibumu be- rada," gumam Ki Catrik Ireng dengan wajah murung.
Prabasangka menggeliat. Dia terbangun setelah tidur cukup lama. Matanya mengerjap-ngerjap sesaat lalu memandang ke sekelilingnya.
"Ayah...," desisnya, memanggil Ki Catrik Ireng. Ki Catrik Ireng tersenyum.
"Hampir saja kau tak tertolong, Anakku.... Un- tung Ayah lewat di tempat itu."
"Benarkah dia Pendekar Gila yang lima puluh tahun lalu bertarung dengan Ayah...?" tanya Praba- sangka. "Mengapa dia masih muda belia? Bahkan lebih muda dariku?"
Ki Catrik Ireng tak langsung menjawab. Dihe- lanya napas panjang-panjang. Tangannya bersidekap. Dan matanya memandang lepas ke depan.
"Ya, itulah yang Ayah tidak mengerti. Tapi se- mua tingkah laku dan Suling Naga Saktinya memang miliknya. Dan itu adalah bukti bahwa dia memang Pendekar Gila."
"Mungkin anaknya, Ayah?" Ki Catrik Ireng menggelengkan kepala. Di bibir- nya tersungging senyuman.
"Pendekar Gila tidak pernah menikah. Bagai- mana mungkin dia punya anak? Meski Ayah bersem- bunyi, tapi Ayah sering keluar untuk menyelidik. Dan dia tak pernah menikah. Mungkin ilmunya menjadikan
dia awet muda," jelas Ki Catrik Ireng. "Dua purnama lagi duel itu akan terulang. Ayah berharap selama itu kau mempersiapkan diri. Jika Ayah kalah, kaulah yang akan menjadi pemimpin Laskar Setan."
"Baik, Ayah." "Aku ingin, kau seperti Ayah dulu. Taklukkan semua perguruan atau perkumpulan. Bawalah Laskar Setan bersamamu."
Usai berkata begitu, Ki Catrik Ireng tertawa ter- bahak-bahak. Kemudian dengan masih tertawa, Ki Ca- trik Ireng meninggalkan putranya yang masih terdu- duk.
***

2

Matahari tepat berada di ubun-ubun, dengan panasnya yang terasa menyengat Seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular sanca tampak tengah me- nyelusuri perbukitan. Bibirnya meringis karena didera panas terik yang memanggang tubuhnya. Sesekali ke- palanya digaruk, kemudian menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Uhhh...! Panas sekali hari ini," keluh pemuda tampan itu yang tidak lain Sena Manggala atau Pende- kar Gila dari Goa Setan
Saat itu Sena tengah melakukan perjalanan, berkelana mengikuti kata hatinya. Sekaligus berusaha mencari paman dan bibinya. Hanya mereka yang dapat dijadikan tempat bertanya dan berbagi duka. Namun entah di mana mereka, tak jelas hutan rimbanya.
Sena terus melangkah, membawa kakinya un-
tuk menyelusuri kehidupan. Tingkah lakunya yang se- perti orang gila, semakin bertambah lucu dengan kea- daan yang panas menyengat seperti itu. Sesekali kepa- lanya digaruk-garuk, kemudian mulutnya meringis bo- doh.
"Anak muda, tunggu...!" Tiba-tiba terdengar seruan seorang wanita, memerintah Sena untuk menghentikan langkahnya.
Sena menghentikan langkahnya. Tubuhnya langsung berbalik untuk melihat orang yang menyu- ruhnya berhenti. Keningnya berkerut dan mulutnya nyengir, melihat seorang wanita tua yang bungkuk me- langkah ke arahnya. Wanita tua itu mengenakan pa- kaian serba hitam. Rambutnya terurai lepas, dengan ikat kepala berwarna hitam pula.
Dilihat dari wajahnya, tentu semasa mudanya wanita itu cantik jelita. Wajahnya bulat telur dengan hidung bangir. Sedangkan matanya diperindah oleh alis tipis serta bulu mata yang lentik.
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya cengar-cengir. Tingkahnya persis seekor mo- nyet yang kepanasan dipanggang matahari
"Kenapa kau menyuruhku berhenti, Nek?" tanya Sena masih dengan bertingkah seperti monyet kepanasan.
"Hik hik hik..! Pucuk dicinta ulam tiba," ucap nenek yang ternyata Nyi Kendil, guru Bidadari Cadar Merah (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Dendam Bidadari Cadar Merah").
Sena mengerutkan kening mendengar ucapan Nyi Kendil. Kemudian tawanya meledak. Sambil meng- garuk-garuk kepala mulutnya mengoceh,
"Hi hi hi.... Mengapa Nenek mencintai pucuk? Lucu sekali.,.. Lagi pula, beruntung sekali kalau dapat
ulam, Nek. Wah, mengapa kau tidak bagi-bagi aku?"
Alis putih milik Nyi Kendil terangkat saat men- dengar ucapan pemuda itu.
"Tak salah... tak salah lagi...," gumamnya se- raya mengangguk-angguk.
"Apanya yang tak salah, Nek? Ah, sudahlah. Aku harus segera pergi lagi. Ada apa, Nek..?" tanya Sena masih bertingkah laku aneh.
"Anak muda, jawablah pertanyaanku. Benarkah kau yang berjuluk Pendekar Gila dari Goa Setan yang tersohor itu...?!" tanya Nyi Kendil dengan suara lan- tang, setengah membentak.
Pendekar Gila tersentak. Sampai-sampai me- nyurutkan dadanya ke belakang. Matanya menyipit, dan keningnya berlipat-lipat. Kemudian tingkahnya kembali seperti semula, cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, terlalu berlebihan jika disebut terso- hor untuk pemuda sebodoh aku, Nek. Memang kena- pa...?" balik Sena setelah menjawab pertanyaan Nyi Kendil. "Jadi kau pendekar itu? He he he.... Bagus...," gumam Nyi Kendil sambil terkekeh-kekeh. "Namamu yang besar sering kudengar. Menggugah hatiku untuk membuktikannya. Itu sebabnya aku keluar dari sa- rangku." Sena menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir. Kemudian sambil tersenyum-senyum kepa- lanya digelengkan.
"Ah, mengapa begitu, Nek? Aku bukan manusia aneh. Aku tetap manusia biasa yang memiliki kelema- han. Bukan dewa yang harus dicari-cari. Apa gunanya Nenek berusaha mencariku? Bahkan hendak mencoba ilmuku?"
"Hik hik hik...!" Nyi Kendil tertawa-tawa, mem- buat tubuhnya turut terguncang-guncang. "Weleh, mendengar kata-katamu yang luhur, aku semakin pe- nasaran saja. Nah, Pendekar Gila, kuharap kau sudi memberi beberapa pelajaran untukku yang tua bangka ini. Bersiaplah...!"
Pendekar Gila kembali menggaruk-garuk kepala dengan mulut masih cengengesan. Namun ketika Nyi Kendil hendak menyerang dengan cepat Sena berse- ru....
"Tunggu...!" Nyi Kendil mengerutkan kening. Ditatapnya pemuda itu dengan sinar mata tak mengerti.
"Ada apa lagi, Pendekar Gila?" tanyanya masih dengan mata memandang tajam serta kening berkerut
"Nyi, kalau kau menantangku hanya untuk menjajal ilmuku, lebih baik aku mengalah. Kaulah yang menang. Nah, permisi."
"Tunggu...!" seru Nyi Kendil, ketika melihat Se- na hendak berlalu.
Sena tak menghiraukan seruan itu. Kakinya te- rus melangkah, meninggalkan wanita tua yang menan- tangnya. Hal itu membuat Nyi Kendil marah. Dia me- rasa telah diremehkan oleh pendekar itu.
"Kurang ajar! Rupanya kau menyangka begitu mudah lari dariku, Anak Muda! Heaaa...!"
Tubuh wanita tua itu melenting ke atas, kemu- dian melesat cepat untuk mengejar Pendekar Gila. Ge- rakannya begitu ringan, menandakan kalau ilmunya bukan ilmu pasaran. Dengan usia setua itu, tentu ke- matangan ilmunya amat luar biasa.
Jleg! Nyi Kendil menghentakkan kakinya ke tanah sejauh dua tombak di depan Pendekar Gila yang seke-
tika menghentikan langkahnya.
"Ha ha ha.... Kau benar-benar aneh, Nek. Men- gapa kau masih saja tak puas? Bukankah telah kuka- takan bahwa kaulah yang menang?" kata Sena sambil tertawa dan menggaruk-garuk kepala, membuat Nyi Kendil berungut kesal.
"Kurang ajar! Apakah dengan begitu aku akan membiarkan mu pergi! Aku jauh-jauh mencarimu un- tuk menjajaki ilmumu yang termashur. Tak akan ku- biarkan orang yang kucari pergi begitu saja. Bersiap- lah! Yeaaat..!"
Kedua tangan Nyi Kendil bergerak merentang lalu mencakar ke depan. Sepasang tangannya bagai- kan sebuah sayap. Merentang lurus, kemudian diang- kat ke atas. Lalu diarahkan ke depan, membentuk pu- kulan dan sabetan. Sementara kedua kakinya bergerak laksana kaki-kaki seekor binatang yang tengah meng- hisap madu pada bunga. Itulah jurus 'Kupu-kupu Menghisap Bunga'.
Menyaksikan jurus yang dikeluarkan wanita tua itu, kening Pendekar Gila berkerut. Seingatnya, dia pernah melihat jurus itu digunakan untuk menye- rangnya. Ketika Sena masih berusaha mengingat-ingat siapa orang yang pernah menyerangnya dengan jurus itu, serangan Nyi Kendil semakin dekat ke arahnya. Siap menghantam dada dan kemaluan.
Wuttt! "Uts...!" Sena tersentak kaget. Dengan cepat tubuhnya melompat mundur, kemudian meliuk-liuk laksana me- nari dengan gemulai. Dielakkannya setiap serangan yang dilancarkan wanita tua itu.
Nyi Kendil yang merasa serangan pertamanya
gagal, kembali melancarkan serangan susulan. Malah daya serangnya kini semakin hebat. Tangan kanannya menghantam ke dada lawan. Sedangkan tangan ki- rinya mencengkeram ke selangkangan.
Pendekar Gila yang diserang begitu rupa, cepat- cepat menggunakan jurus 'Si Gila Menari Menepuk La- lat'. Gerakannya kelihatan lemah dan lamban. Tubuh- nya bergerak meliuk-liuk laksana menari, dengan se- sekali tangannya menepuk ke dada lawan.
Sambil terus mengelakkan serangan yang di- lancarkan oleh Nyi Kendil, Pendekar Gila berusaha mengingat-ingat siapa orang yang pernah mengguna- kan jurus keji dan ganas itu. Jurus yang selalu menga- rah ke titik kematian, ke arah kemaluan lawan.
"Heaaa...!" "Uts! He he he...! Mengapa kau sudah tua ma- sih cabul, Nek?" seloroh Sena sambil bergerak meliuk- liukkan tubuhnya, mengelakkan serangan.
"Tutup mulutmu, Gila! Heaaat..!" Nyi Kendil semakin beringas. Tangan kanannya laksana seribu, mencecar gencar ke dada lawan. Se- dangkan tangan kirinya yang mencengkeram ke arah selangkangan pun tak kalah keras. Membuat Pendekar Gila harus mengerahkan tenaga dalam untuk memen- tahkannya.
"Wah wah wah, mengapa kau sadis, Nek? Aduh...! Celaka kalau wanita setua mu masih cabul. Bisa-bisa tak ada gadis yang laku...."
Kembali Sena berseloroh. Tubuhnya masih me- liuk-liuk, berusaha mengelakkan serangan-serangan Nyi Kendil yang mengarah pada tempat-tempat mema- tikan.
Nyi Kendil yang diledek begitu rupa, semakin bertambah geram. Dengan dengusan penuh amarah,
wanita tua itu semakin mempergencar serangannya. Tangannya yang memukul dan mencengkeram bagai tak pernah berhenti. Kakinya pun tak mau diam, me- nendang dan menyapu kaki lawan.
"Yeaaat..!" Serangan Nyi Kendil semakin beringas dan ga- nas, Membuat Pendekar Gila tersentak kaget. Tapi se- bagai orang yang sudah sering menghadapi hal-hal se- perti itu, Pendekar Gila tak kebingungan. Bahkan ma- sih dengan gaya seekor monyet, diimbangi terus seran- gan-serangan yang dilancarkan Nyi Kendil.
"Jangan hanya mengelak saja, Gila! Tunjukkan ilmumu yang kesohor itu...!" bentak Nyi Kendil beru- saha memancing amarah pendekar muda itu. "Kalau kau tidak juga mau menunjukkan ilmumu, jangan sa- lahkan kalau aku membunuhmu! Yeaaat..!"
Pendekar Gila yang tahu kalau wanita tua itu tengah mencoba memancing amarahnya, tertawa riuh. Seakan-akan tidak terpengaruh oleh tantangan itu. Tubuhnya meliuk-liuk, mengelakkan setiap serangan yang dilancarkan wanita tua itu.
Merasa usahanya untuk memancing kemara- han Pendekar Gila tak berhasil, Nyi Kendil bertambah marah. Kekuatan tenaga dalamnya ditambah, dan se- rangannya semakin buas dan ganas. Kedua tangannya bergerak kian liar.
"Awas, Nek...!" "Uts...!" Nyi Kendil tersentak kaget ketika tiba-tiba Pen- dekar Gila melepaskan serangan tanpa diduga sebe- lumnya. Tangannya bergerak memukul ke wajah Nyi Kendil. Membuat wanita tua itu kaget bukan kepalang.
"Ha ha ha...!" Sena tertawa seraya menarik se- rangannya.
Nyi Kendil melompat dua tindak ke belakang. Matanya memandang tajam ke arah Pendekar Gila. Na- fasnya memburu, karena dilanda amarah yang bergo- lak di dadanya.
***

Pendekar Gila kian tergelak-gelak. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya membuat wanita tua itu semakin sengit
"Pendekar Gila, jangan kau senang dulu! Aku belum kalah olehmu! Yeaaat..!"
Nyi Kendil kembali melesat Kedua tangannya merentang, kemudian bersama-sama menghantam ke depan. Disambung dengan lentingan tubuhnya ke atas, dengan kaki-kaki yang menghentak
Melihat serangan yang dilancarkan lawannya, Pendekar Gila semakin mengerutkan kening. Benak- nya terus berusaha mengingat-ingat kembali siapa se- benarnya orang yang pernah menyerangnya dengan ju- rus-jurus yang kini diperagakan oleh nenek itu.
"Wet hampir saja...!" pekik Sena sambil memi- ringkan tubuhnya ke samping.
Kemudian tubuhnya diliukkan, mengelakkan serangan cepat yang dilancarkan Nyi Kendil. Lalu den- gan cepat Pendekar Gila balas menyerang.
"Jaga dadamu, Nek! Yeaaa...!" Tangan kanan Pendekar Gila dengan telapak tangan terbuka, menghantam ke dada Nyi Kendil. Wa- nita tua itu tersentak kaget, hampir tak percaya me- nyaksikan jurus lawannya. Gerakan tangan lawan ke- lihatan lemah dan pelan, namun kenyataannya sung- guh di luar dugaannya. Kalau saja tadi tidak melompat mundur, tentu dadanya akan jebol.
"Edan! Benar-benar ilmu edan!" maki Nyi Kendil bersungut-sungut. Sedangkan Pendekar Gila kembali tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepala.
"Nek kurasa sudah cukup permainan kita. Aku kira, tak ada perlunya kita ngotot," kata Sena dengan tingkah lakunya yang persis orang tolol. "Kuharap kau mau mengerti. Tak baik mencari musuh. Lagi pula, an- tara kita tak ada silang sengketa...."
"Tutup mulutmu!" bentak Nyi Kendil, membuat mata Sena melotot kaget "Enak benar kau berkata di antara kita tak ada silang sengketa...!"
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala dengan kening masih berkerut Nafasnya mendesah pelan, dan kepalanya menggeleng-geleng.
"Nek, kau dan aku belum pernah bertemu. Ba- gaimana mungkin antara kita ada silang sengketa?"
"Diam! Kau kira karena kita baru bertemu ma- ka antara kita tak ada silang sengketa?!" dengus Nyi Kendil masih dengan suara membentak. Matanya ma- sih melotot marah. "Pendekar cabul! Sungguh sangat disayangkan kalau seorang pendekar yang namanya diagung-agungkan ternyata cabul! Suka memperkosa gadis dan istri orang!"
Pendekar Gila tersentak mendengar tuduhan yang dilontarkan nenek itu. Namun amarahnya beru- saha ditahan. Dia yakin kalau semua itu hanya fitnah. Atau mungkin masalah pemuda bertopeng yang men- gaku-aku dirinya.
"Nek, kau menuduhku cabul. Apakah kau punya bukti?" tanyanya masih berusaha tenang.
"Ya!" dengus Nyi Kendil. "Hm, katakanlah bukti apa?" Nyi Kendil tidak langsung menjawab. Matanya bertambah tajam memandang pemuda di hadapannya.
"Muridku buktinya!" Pendekar Gila mengerutkan kening. Kemudian tertawa tergelak-gelak setelah ingat dengan semuanya. Dia pun ingat kalau jurus yang diperagakan oleh ne- nek itu sama dengan jurus Wulandari atau Bidadari Cadar Merah. Kemudian tangannya menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum.
"Ah ah ah.... Kalau aku tidak salah, bukankah muridmu yang bernama Wulandari atau Bidadari Ca- dar Merah?" tanya Sena.
Mata Nyi Kendil semakin berkilat penuh ama- rah. Wanita tua itu menyangka kalau Sena-lah yang telah memperkosa muridnya. Wajar saja kalau dia ta- hu nama muridnya.
"Ya! Bukankah kau yang memperkosanya?!" Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak. Suaranya lepas di udara, lalu terbawa oleh angin. Kemudian dengan tingkah anehnya, Sena kembali berkata....
"Rupanya itu yang menjadi silang sengketa an- tara kau dan aku, Nek? Hm, kau boleh tanya pada mu- ridmu. Apakah benar aku yang telah memperko- sanya...?" tegas Sena. "Nah, aku mohon pamit."
Usai berkata begitu, Sena segera menjura hor- mat dan hendak melangkah pergi. Namun Nyi Kendil kembali berseru menghentikan langkahnya.
"Tunggu...!" Pendekar Gila tak menghiraukan. Kakinya te- rus melangkah. Namun baru beberapa langkah, nam- pak olehnya seorang wanita bercadar merah lari ke arahnya. Seketika itu pula Nyi Kendil berseru, menye- but nama wanita bercadar merah itu.
"Wulandari...!" "Tuan Pendekar, tunggu...!" panggil Wulandari. Tubuhnya terus melaju ke arah Pendekar Gila yang
menghentikan langkahnya. "Biar ku jelaskan pada guru."
Wulandari segera mengajak Sena ke tempat gu- runya berdiri. Kemudian wanita yang berjuluk Bidadari Cadar Merah itu menjura hormat, membuat Nyi Kendil mengangguk-anggukkan kepala.
"Wulan..., bukankah pemuda itu yang telah me- renggut kehormatanmu?" tanya Nyi Kendil kemudian.
"Bukan, Guru. Malah dialah yang telah meno- longku. Kalau saja dia tak ada, mungkin pemuda ber- topeng itu telah kembali memperkosaku," tutur Wu- landari dengan mata mengerling sungkan pada Sena yang cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Nah! Kau telah dengar sendiri, Nek. Masihkah kau akan menuduhku cabul? Bukankah jurusmu yang sebenarnya cabul?" sindir Sena, membuat mata Nyi Kendil langsung melotot.
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala sambil tertawa tergelak-gelak. Sementara Wulandari yang me- nyaksikan gurunya melotot, hanya tersenyum. Kemu- dian dia berusaha menenangkan suasana yang tidak enak itu. "Tuan Pendekar, ternyata duel penentuan anta- ra orang tua itu dengan tuan telah tersebar. Semua orang persilatan telah mendapatkan undangannya."
"Hah...?!" Sena bengong.
***
3

Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala dengan tangan kanannya. Kepalanya digeleng-gelengkan sam-
bil tersenyum-senyum.
"Duel...? Apakah aku tak salah dengar, Nyi?" "Tidak, Tuan. Lelaki tua yang telah menyela- matkan si keparat yang menodai ku dulu telah menye- bar pengumuman, ini buktinya...."
Wulandari mengambil lipatan daun lontar di ikat pinggangnya. Kemudian, diserahkannya pada Se- na yang segera membacanya.
Bagi semua pendekar rimba persilatan! Kami mengundang Anda pada dua bulan pur- nama yang akan datang di Puncak Lawu, untuk me- nyaksikan penentuan siapa yang pantas menjadi orang nomor satu di rimba persilatan.
Duel penentu ini, sekaligus duel ulang yang per- nah kami lakukan lima puluh tahun yang silam. Semoga Pendekar Gila masih memiliki jiwa besar!
Catrik Ireng.
"Edan! Apa maksudnya?" gerutu Sena sambil melipat daun lontar kembali. Tangannya menggaruk- garuk kepala. Wajahnya kini menengadah ke langit, di mana matahari kini agak condong ke arah barat.
"Catrik Ireng mengatakan bahwa duel itu ada- lah ulangan dari kejadian lima puluh tahun yang si- lam. Apa maksudnya?" tanya Wulandari tak mengerti
"Catrik Ireng...?!" seru Nyi Kendil kaget dengan mata membelalak. Membuat Wulandari dan Sena me- mandang wanita tua itu dengan wajah bertanya-tanya.
"Ada apa, Guru? Apakah Guru mengenalnya?" tanya Wulandari.
"Ya! Dia lelaki bajingan! Dialah yang telah membuatku harus kehilangan harapan! Kehilangan masa depan!" dengus Nyi Kendil, semakin membuat
Wulandari dan Sena terheran-heran.
Mereka terus memperhatikan bagaimana wajah nenek itu berubah merah. Tampak Nyi Kendil marah, setelah mendengar nama Catrik Ireng tadi. Mulailah ingatannya melayang pada kejadian puluhan tahun yang silam.
"Guru, kalau boleh ku tahu, apakah yang terja- di antara Guru dengan Catrik Ireng?" tanya Wulandari setelah menyaksikan gurunya diam saja.
"Hm, aku pun menaruh dendam padanya," dengus Nyi Kendil.
"Dendam apa, Guru?" desak Wulandari ingin tahu.
"Nanti kuceritakan. Sekarang kita pergi dari si- ni," ajak Nyi Kendil pada muridnya.
"Bagaimana dengan Tuan Pendekar?" "Ah, aku pun harus pergi. Terima kasih atas pemberitahuan yang telah kau berikan padaku, Nyi. Aku mohon pamit"
Usai berkata begitu, Pendekar Gila berkelebat pergi meninggalkan guru dan murid yang hanya bisa memandang terpana. Dari mulut mereka terdengar de- cak kagum.
"Ck ck ck.... Sungguh luar biasa," puji Wulan- dari. Kekaguman yang tergambar pada rona wajahnya begitu dalam.
"Ya! Tadi aku pun telah menjajalnya. Ternyata ilmunya memang hebat. Semuda itu telah memiliki il- mu yang tinggi," sambut Nyi Kendil.
"Jadi...." "Ya! Mulanya aku menyangka dialah yang telah memperkosa mu. Kami pun bertarung. Sungguh luar biasa. Kalau dia mau, sudah dari tadi aku menjadi mayat!"
Wulandari semakin kagum mendengar keteran- gan yang disampaikan gurunya tentang pemuda tam- pan itu. Perlahan hari Bidadari Cadar Merah itu dijala- ri perasaan yang aneh. Wulandari tak yakin kalau itu hanya perasaan suka. Dia lebih suka mengatakan ka- lau perasaan itu adalah cinta yang mulai membentuk di kedalaman hatinya. Tapi, mungkinkah dia mau me- nerima cintaku? Dia masih perjaka asli. Sedangkan aku.... Oh, aku sudah tak suci lagi. Keluh hatinya.
Nyi Kendil menyaksikan muridnya nampak mu- rung dengan mata memandang ke arah kepergian Pen- dekar Gila. Sambil tersenyum, kakinya melangkah mendekati muridnya.
"Kau mencintainya, Wulan?" tanya Nyi Kendil hati-hati. Wulandari tersipu malu. Pipinya yang tertutup cadar tentunya merah merona. Matanya mengerjap- ngerjap laksana mata seekor kelinci. Membuat gu- runya semakin tersenyum lebar.
"Mungkinkah itu, Guru?" tanya Wulandari, ma- lu-malu "Mengapa tidak? Dia lelaki dan kau wanita."
"Maksudku, aku sudah tak suci lagi, Gum. Se- dangkan dia masih perjaka...," desah Wulandari lirih, kemudian kepalanya menunduk.
Nyi Kendil memegangi pundak muridnya perla- han. Bibirnya masih menyunggingkan senyum penuh kasih sayang.
"Wulan, cinta tidak selalu menyatu. Kalau kau memang mencintainya, tunjukkanlah padanya ketulu- san cinta mu. Sedapatnya kau mengabdi tanpa harus berpikir untuk memiliki. Bila perlu, kau harus rela berkorban," kata Nyi Kendil pelan, memberi petuah pada muridnya yang semakin tertunduk sendu.
"Aku akan berusaha, Guru." "Sekarang kita pulang. Bukankah kau ingin ta- hu tentang aku dan lelaki busuk yang menantang pe- muda itu? Lagi pula, aku pun ingin mendengar bagai- mana hasil petualanganmu" "Baik, Guru." "Ayo kita pulang." Kemudian keduanya segera melesat meninggal- kan tempat itu, berlari menuju selatan. Tak lama ke- mudian, tubuh mereka menghilang di dalam kerimbu- nan hutan.
***
Nyi Kendil bersama Wulandari duduk di atas ti- kar pandan. Di hadapan mereka tersedia singkong re- bus dan gula merah di piring yang terbuat dari tanah liat
Dua buah cangkir yang juga terbuat dari tanah liat ada di dekat kaki mereka.
Keduanya mengambil singkong rebus dan gula merah. Kemudian menyantapnya dengan penuh ke- nikmatan. Setelah itu mereka meneguk air putih dari cangkir tanah liat
"Bagaimana pengalamanmu, Wulan? Dan ba- gaimana pula sampai kau mengenal pendekar muda itu?" tanya Nyi Kendil memulai percakapan dengan se- nyum terulas di bibir. Mata muridnya mengerjap- ngerjap risih saat nama pendekar muda itu disebut. Tentu saja yang dimaksud Nyi Kendil adalah Sena Manggala alias Pendekar Gila dari Goa Setan.
Wulandari terlihat semakin cantik, setelah ca- dar merah yang menutupi wajahnya dibuka. Kulit wa- jahnya yang kuning langsat, bertambah mempesona
dengan seulas senyum tersipu-sipu.
"Kenapa, Wulan? Kau ingat dia lagi...?" seloroh Nyi Kendil, membuat Wulandari semakin tersipu-sipu. Pipinya kian merona merah. "Ah, Guru...." "Sudahlah, aku pun tahu. Aku juga pernah muda. Nah, katakanlah...."
Wulandari menghela napas sesaat. Rona merah masih menghias kedua pipinya. Dengan menundukkan kepala perlahan, Wulandari menceritakan semua pen- galamannya selama berkelana. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Pendekar Gila, yang perlahan meno- reh hatinya dengan bilur-bilur cinta, sejak pertama kali mereka bertemu di hutan setelah ia mengalahkan Tiga Barka Kembar (Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Dendam Bidadari Cadar Merah"). "Begitulah ceritanya, Guru," kata Wulandari, mengakhiri ceritanya.
Nyi Kendil mengangguk-anggukkan kepala. Di- helanya napas panjang-panjang. Ditatapnya wajah Wulandari dalam-dalam, seakan ada sesuatu yang tengah diperhatikan pada wajah muridnya.
"Anakku...," tiba-tiba dari mulut Nyi Kendil ter- dengar suara desahan cukup keras, yang entah ditu- jukan pada siapa. Hal itu membuat Wulandari menge- rutkan kening. Namun dia tidak berani bertanya. Hanya matanya menatap lekat ke wajah Nyi Kendil, tak mengerti akan desah gurunya tadi.
Wajah Nyi Kendil nampak muram. Matanya menatap penuh kasih ke arah Wulandari, yang juga menatap dengan penuh ketidakmengertian akan se- muanya. "Wulan, sungguh malang benar nasib kita. Se-
pertinya semua telah disuratkan oleh Hyang Widhi. Kau dan aku sama-sama mendapatkan celaka. Sama- sama ditimpa bencana yang sebenarnya tidak kita in- ginkan." Hati Wulandari terenyuh seketika mendengar penuturan gurunya. Mulutnya terbungkam. Perlahan- lahan kepalanya kembali menunduk dalam-dalam. Ti- dak terasa, air matanya mengalir perlahan membasahi kedua pipinya.
Nyi Kendil kembali menghela napas. Matanya nampak berkaca-kaca. Ditatapnya Wulandari yang masih menundukkan kepala dalam-dalam. Dia tahu apa yang sebenarnya tengah berkecamuk dalam jiwa muridnya. Dia juga seorang wanita dan pernah muda seperti Wulandari. Juga mendapat nasib yang hampir sama dengan apa yang dialami Wulandari.
"Aku tahu perasaanmu, Wulan. Ya... mungkin kita memang telah digariskan oleh Hyang Widhi untuk bertemu. Berbagi suka dan duka yang telah kita alami. Nah, kini kau dengarlah cerita ku. Agar kau tahu siapa aku sebenarnya...."
Wulandari menganggukkan kepala dengan ma- sih menunduk. Tangannya menyapu air mata yang membasahi pipinya yang halus.
Didahului helaan napas panjang, Nyi Kendil mulai menceritakan dirinya dan Ki Catrik Ireng.
Suatu hari nampak seorang gadis kecil berusia sekitar lima belas tahun tengah bermain-main dengan teman-temannya. Bersuka ria di sebuah lapangan di pinggir desa. Gadis cantik yang baru menginjak dewa- sa itu bernama Roro Kendari. Di antara teman- temannya, gadis itu yang terlihat paling cantik. Begitu pula dengan pakaian yang dikenakannya. Paling bagus di antara gadis yang lain.
Gadis itu tiada lain anak Ki Lurah Manujaya. Meski anak seorang lurah, namun kepribadiannya baik. Senang bergaul dan tidak sombong. Itu sebabnya dia banyak disenangi oleh teman-temannya.
Tengah gadis-gadis tanggung itu bermain-main, muncul Catrik Ireng yang kebetulan lewat di desa itu. Melihat kecantikan Roro Kendari, Catrik Ireng menjadi tertarik. Dengan bibir tersenyum, didekatinya gadis itu. Kemudian dengan nakal, tangannya membelai da- gu Roro Kendari.
"Cah ayu, siapa namamu...?" tanya Catrik Ireng masih tersenyum.
Mata Roro Kendari melotot marah pada Catrik Ireng. Ia menganggap perbuatan Catrik Ireng kurang ajar.
"Lelaki kurang ajar!" makinya marah. Keempat teman gadisnya menyurut ke belakang tubuh Roro Kendari. Mara mereka pun memandang penuh rasa tidak suka terhadap lelaki muda yang telah lancang berani membelai dagu Roro Kendari.
"Hei, mengapa kau marah, Cah Ayu?" tanya Ca- trik Ireng dengan kening berkerut "Apakah salah jika nama mu ku tanya?"
"Huh, mengapa kau berani membelai dagu ku?! Bukankah itu kurang ajar?!" ketus dan keras suara Roro Kendari. Matanya masih melotot sepertinya tidak merasa takut sedikit pun terhadap lelaki muda berju- bah hitam di hadapannya.
"O, itu karena kau cantik, Cah Ayu." "Lancang mulutmu!" bentak Roro Kendari. "Apakah kau tidak pernah diajar adat?!"
Catrik Ireng tersentak kaget melihat keberanian gadis itu. Wajahnya langsung memerah, merasa malu dibentak begitu rupa di depan orang banyak.
"Gadis edan! Kuhajar mulutmu!" dengus Catrik Ireng.
"Hajar kalau memang berani!" tantang Roro Kendari seraya menyodorkan wajahnya ke arah Catrik Ireng.
Cup! "Auw...!" Roro Kendari memekik kaget. Sedangkan te- man-temannya berlarian meninggalkan tempat itu, merasa takut pada lelaki muda berjubah hitam.
"Bagaimana, Cah Ayu...?" tanya Catrik Ireng masih tersenyum.
Roro Kendari bertambah marah. Tidak didu- ganya sama sekali kalau lelaki muda itu malah men- ciumnya, bukan menampar. Matanya melotot garang. Pipinya merona merah karena malu.
"Kurang ajar! Kau benar-benar lelaki bajingan!" Dibentak begitu rupa, tidak membuat lelaki muda berjubah hitam itu marah. Catrik Ireng malah memeluk tubuh Roro Kendari diiringi gelak tawanya. Kemudian dengan gemas, diciuminya pipi Roro Kenda- ri.
"Kurang ajar! Lepaskan..!" bentak Roro Kendari sambil memukul dada Catrik Ireng, dengan harapan pemuda berjubah hitam itu akan menghentikan ci- umannya. Tapi Catrik Ireng tak juga melepaskan pelu- kannya. Semakin Roro Kendari berontak, semakin kencang pelukannya. Dan semakin buas pemuda itu mencium pipinya.
"Tak akan kulepaskan, sebelum kau bersedia menjadi istriku!"
"Cuh! Tak sudi! Kau lelaki bajingan...!" Roro Kendari menyemburkan ludah ke wajah Catrik Ireng, membuat pemuda itu semakin beringas
menciumi wajahnya, Malah kini merambat ke leher jenjang Roro Kendari.
"Bajingan! Lepaskan...!" pekik Roro Kendari sambil terus meronta, berusaha melepaskan pelukan pemuda itu. Namun Catrik Ireng benar-benar tak pe- duli. Pelukan dan ciumannya semakin menjadi-jadi.
Saat pemuda berjubah hitam itu menciumi leh- er Roro Kendari, tiba-tiba sebuah pukulan keras menghantam punggungnya.
Bugk! Catrik Ireng tersentak. Pelukannya terlepas. Hal itu tidak disia-siakan oleh Roro Kendari yang segera berlari ke arah ayah dan ibunya.
"Ayah, pemuda itu jahat! Bajingan...!" Catrik Ireng tersenyum sinis, setelah tahu siapa yang telah memukulnya.
"Hm, rupanya kau?! Seharusnya kau berterima kasih, karena putri mu telah mendapat kehormatan untuk ku cium. Apakah kau tak tahu siapa aku, heh?!" ujar Catrik Ireng, sombong.
"Huh, siapa pun kau, aku tak peduli! Kau bu- kan orang baik-baik! Kau harus ditangkap...!" jawab Ki Lurah Manujaya.
Mendengar kata-kata itu, Catrik Ireng seketika tertawa tergelak-gelak
"Lancang sekali mulutmu, Orang Tua! Apakah kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa, heh?! Pantang bagi Catrik Ireng membiarkan keinginannya berlalu! Serahkan anakmu padaku, untuk kujadikan istri!"
"Sombong! Biar namamu menjulang sampai ke langit, aku tak takut. Demi kebenaran dan kebaikan, aku rela mati!" sengit Ki Lurah Manujaya.
"Kurang ajar! Rupanya kau menantangku!
Yeaaat..!"
"Heaaat..!" Keduanya pun bertarung. Rupanya, pemuda berjubah hitam itu jauh lebih tinggi ilmunya dibanding Ki Lurah Manujaya. Dalam beberapa gebrakan saja, Ki Lurah Manujaya dapat dibunuh.
Menyaksikan suaminya tewas, istri Ki Lurah Manujaya seketika menjerit lalu menubruk tubuh su- aminya. "Kang Mas...!" ratap istri Ki Lurah Manujaya. "Bajingan! Kubunuh kau...!"
Dengan tangan menggenggam keris milik sua- minya, istri Ki Lurah Manujaya menerjang Catrik Ireng. Ditusukkannya keris ke arah lawan. Namun dengan cepat pemuda berjubah hitam itu mengelak- kannya, lalu tanpa diduga tangannya menekan tangan wanita itu.
Bles! "Akh...!" jerit istri Ki Lurah Manujaya. Keris di tangannya tepat menusuk perutnya sendiri.
"Ibu...!" jerit Roro Kendari Mata Roro Kendari memandang pemuda berju- bah hitam itu penuh kebencian. Kemudian Roro Ken- dari lari meninggalkan tempat itu. Gadis itu tahu, pasti pemuda berjubah hitam itu hendak bermaksud jahat padanya. Sungguh tak sudi jika dia menjadi istri pem- bunuh ayah dan ibunya.
Catrik Ireng yang sudah terpikat oleh kecanti- kan Roro Kendari, tak mau membiarkan gadis itu per- gi. Dia segera mengejar untuk mencari gadis itu. Setiap penduduk ditanya, di mana Roro Kendari bersem- bunyi. Banyak penduduk yang dibunuh jika tidak mau memberi tahu tempat Roro Kendari bersembunyi.
Akhirnya pemuda berjubah hitam itu menemu-
kan tempat persembunyian Roro Kendari. Di sebuah rumah yang belum dihuni, milik kedua orang tuanya.
"Hm, akhirnya kau kutemukan juga, Cah Ayu. Ke mana pun kau lari, aku akan mengejarmu."
Roro Kendari ketakutan. Dia berusaha mela- wan. Tapi sia-sia saja karena dia tidak memiliki ilmu silat. Jangankan dia, ayahnya yang memiliki ilmu silat saja dapat dikalahkan hanya dalam beberapa gebra- kan.
Nafsu pemuda berjubah hitam itu rupanya tak terbendung lagi. Tangannya segera merenggut pakaian yang dikenakan Roro Kendari.
Breeet...! "Auh, tidak...!" Roro Kendari berusaha meronta. Tetapi tena- ganya tak cukup untuk menghempas tubuh Catrik Ireng. Bahkan untuk sekadar lepas dari sergapannya. Pemuda itu lalu mempreteli pakaiannya dengan mata berkilat-kilat penuh nafsu. Terlebih setelah tubuh ga- dis itu tanpa sehelai benang pun.
Tanpa ada perlawanan, dengan leluasa pemuda itu melampiaskan nafsunya. Kemudian dibawanya Ro- ro Kendari pergi dari desa itu. Sampai akhirnya Roro Kendari melahirkan seorang bocah lelaki yang diberi nama Prabasangka.
"Begitulah ceritanya, Wulan. Ah, aku tidak me- nyangka kalau Prabasangka akan menuruni sifat ayahnya. Dan kau menjadi korbannya," keluh Nyi Kendil atau Roro Kendari.
Wulandari terdiam menundukkan kepala. "Apakah jika Praba lepas dari ayahnya kau mau memaafkannya, Wulan? Maukah kau menjadi istrinya jika dia telah sadar nanti?"
Wulandari tak menjawab. Sulit baginya untuk
menjawab pertanyaan gurunya. Benih cinta itu tum- buh untuk Pendekar Gila, bukan untuk Prabasangka yang telah memperkosa dan menghancurkan masa de- pannya. Karena tak kuat menahan kesedihannya, Wu- landari lari meninggalkan tempat itu.
"Wulan, tunggu...!" seru Nyi Kendil sambil ber- lari mengejar muridnya.
***
 4

Malam datang membawa kegelapan yang dis- elimuti halimun. Binatang malam berdendang riang, seakan tengah berpesta dalam satu upacara ganjil. Menjadikan suasana malam semakin mencekam. Apa- lagi kala suara burung hantu dan lolongan anjing hu- tan menimpali.
Di sebuah perguruan yang terletak di kaki Bu- kit Jagalan Batu, suasana malam itu nampak lengang. Hanya empat orang wanita yang masih hilir mudik me- ronda.
Perguruan Bintang Emas dengan ketuanya seo- rang wanita bernama Dewi Pandagu merupakan pergu- ruan yang cukup besar. Perguruan itu juga merupakan perguruan pertama yang semua anggotanya terdiri dari kaum wanita. Meski begitu, nama Perguruan Bintang Emas cukup disegani di rimba persilatan
Malam semakin bertambah mencekam, ketika dari hutan yang mengelilingi perguruan itu terdengar suara-suara aneh. Suara-suara yang mampu mendiri- kan bulu kuduk
"Huuu...!"
"Kakkk kakkk..!" "Nguiiik..!" Keempat wanita yang tengah melakukan tugas jaga, seketika saling pandang mendengar suara-suara aneh itu. Bulu kuduk mereka meremang tiba-tiba.
"Pari, kau dengar suara itu?" tanya Bintang Sa- si
"Ya! Suara itu menyeramkan sekali. Sampai- sampai bulu kudukku meremang," sahut Bintang Pari
Tanpa mereka sadari, saat itu puluhan pasang mata memandang keempat wanita yang tengah berja- ga-jaga itu. Dari kilatannya, terlihat bagaimana buas- nya pemilik mata itu.
"Nguiiik...!" Suara itu sangat keras, sepertinya sebuah isya- rat untuk menyerang. Keempat gadis yang tengah ber- jaga tersentak. Mata mereka membelalak, ketika me- nyaksikan puluhan lelaki berjubah hitam dengan tata- pan mata buas berkelebat ke arah mereka.
"Celaka, kita diserang...!" seru Bintang Kanti. "Cepat bunyikan kentongan!" perintah Bintang Sasi pada temannya, Bintang Murai.
Bintang Murai segera lari ke arah kentongan. Kemudian dipukulnya kentongan sebanyak tiga kali, pertanda keadaan dalam bahaya.
Sementara, puluhan lelaki berjubah hitam itu dengan buas menyerbu ke arah perguruan. Melihat hal itu, tubuh keempat gadis itu menegang, siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Keempatnya segera berusaha menghalau para penyerang yang ganas.
Pertarungan seru pun terjadi. Keempat murid Perguruan Bintang Emas dengan gigih berusaha menghalau. Namun karena jumlah mereka tak seim- bang, dalam sekejap saja mereka dapat dilumpuhkan.
Tubuh mereka kaku, tertotok oleh lawan.
"Nguik nguiiik..!" Para penyerang berjubah hitam itu terus me- nyerbu ke dalam perguruan. Mulut mereka tidak men- geluarkan suara. Mereka terus merangsek masuk den- gan membongkar pintu gerbang.
"Kita diserang musuh...!" seru salah seorang murid Perguruan Bintang Emas yang terbangun lebih dahulu setelah mendengar suara kentongan. Yang lainnya turut terbangun, termasuk ketua mereka Dewi Pandagu.
"Hadang mereka...!" perintah Dewi Pandagu, seorang wanita cantik jelita berpakaian seperti orang India. Hidungnya mancung. Rambutnya yang disasak, menggambarkan sifat keibuan.
"Heaaat..!" Murid-murid Perguruan Bintang Emas yang semuanya wanita itu dengan berani segera mengha- dang para penyerang yang berusaha merangsek. Perta- rungan di tengah malam pun seketika berkobar.
"Laskar Setan...!" pekik Dewi Pandagu, setelah melihat simbol yang ada di dada sebelah kiri pada se- tiap jubah lelaki yang menyerbu ke perguruannya.
Dewi Pandagu berkelebat cepat, membantu mu- rid-muridnya menghadang lawan Setiap jejakan kaki dan pukulan tangannya, selalu mengenai sasaran. Namun sungguh aneh. Mereka yang terkena pukulan- nya bagaikan tak mengalami apa-apa. Tubuh mereka hanya tersurut dua tindak ke belakang. Kemudian kembali menyerang. Bahkan serangannya semakin ga- nas.
Dewi Pandagu tersentak menyaksikan kejadian itu. Dia kembali menyerang. Kali ini pukulan yang di- lontarkan bukan pukulan biasa, melainkan pukulan
sakti.
"Hiaaat..!" Dewi Pandagu kembali melejit ke atas. Kemu- dian dengan gerakan yang cepat, dikirimkannya puku- lan sakti 'Lintang Sakal' ke arah lawan. Dari tangan wanita secantik Dewi Sinta itu, keluar sinar merah membara berbentuk bintang-bintang yang menderu ke arah lawan-lawannya.
Bintang-bintang yang keluar tiada henti itu langsung menghantam tubuh lawan-lawannya. Tapi jumlah Laskar Setan tidak juga berkurang. Hal itu membuat Dewi Pandagu berpikir keras untuk terus mengumbar pukulan saktinya. Terlebih saat matanya melihat lelaki muda berbaju kuning yang sepak ter- jangnya jauh berbahaya di banding Laskar Setan.
Dewi Pandagu kebingungan. Kalau pemuda berbaju kuning itu tidak dihentikan, tentunya korban akan bertambah banyak "Hiaaat..!" Setelah melontarkan pukulan saktinya, Dewi Pandagu segera berkelebat ke arah pemuda berbaju kuning yang jurus-jurusnya cabul. Tangannya yang bergerak senantiasa mengarah ke arah buah dada mu- rid-muridnya.
"Uhhh...!" Salah seorang murid terkena cengkeraman tan- gan pemuda berbaju kuning itu. Setelah menggelepar dengan mata membelalak, wanita itu langsung tewas.
"Celaka...! Pemuda itu benar-benar berbahaya! Aku harus segera menghentikannya! Yeaaat..!"
Dewi Pandagu segera melesat untuk menyerang pemuda berbaju kuning yang tiada lain Prabasangka.
Melihat serangan datang, Prabasangka dengan cepat berkelit Kemudian tangannya bergerak menye-
rang dengan nakal. Arah serangannya ke buah dada Dewi Pandagu.
Dewi Pandagu menggerakkan tangan kanan un- tuk menepis, sedangkan tangan kirinya balas menye- rang. Kedua kakinya menendang ke arah dada dan wa- jah lawan bergantian.
"Uts...! Rupanya kau ketuanya, Manis!" Prabasangka mengelak ke samping. Kemudian dengan terkekeh dia membalas menyerang lawan. Tan- gan kanannya berusaha menangkap tangan kiri Dewi Pandagu. Sedangkan tangan kirinya yang tadi menye- rang, ditarik kembali dan dengan cepat menyerang lagi ke buah dada Dewi Pandagu.
"Setan cabul...!" maki Dewi Pandagu marah bercampur kaget, mendapatkan serangan yang da- tangnya cepat itu. Dengan memutar cepat tubuhnya, Dewi Pandagu berusaha mengelakkan serangan lawan. Kakinya menendang ke dagu lawan, disusul oleh sabe- tan selendangnya.
Ctar! Lecutan selendang Dewi Pandagu begitu keras, laksana terbuat dari logam. Ledakannya menggelegar, hingga menimbulkan percikan bunga api.
"Uhhh...!" Prabasangka tersentak kaget. Cepat-cepat tu- buhnya melenting ke atas untuk mengelakkan seran- gan selendang lawan. Kemudian dengan cepat dibalas- nya dengan tendangan menyamping.
"Setan cabul...!" maki Dewi Pandagu marah. Tubuhnya segera diputar disertai tendangan ke arah dagu lawan, disusul sabetan selendangnya....
Ctar! "Uhhh...!" Prabasangka tersentak kaget. Cepat- cepat tubuhnya melenting ke atas, mengelak dari se- rangan selendang lawan.
Dewi Pandagu kembali melecutkan selendang- nya ke kaki lawan yang menendang. Sedangkan tan- gan kirinya memukul ke dada lawan.
Ctar! "Heat..!" Prabasangka yang tidak ingin kakinya buntung oleh lecutan selendang Dewi Pandagu, segera menarik kakinya. Sedangkan tangan kanannya kembali berge- rak untuk menangkap tangan lawan.
Sementara, tangan kirinya hendak mencengke- ram ke arah buah dada Dewi Pandagu.
"Uts...!" Dewi Pandagu menarik tangan kirinya, lalu di- putarnya ke depan untuk memapak tangan lawan yang hendak menjangkau buah dadanya. Tubuhnya dimi- ringkan ke kanan. Kemudian tangan kanannya yang memegang selendang, disentakkan dari bawah ke wa- jah lawan.
Ctar! Prabasangka membuang kepalanya ke samping kanan dengan tubuh agak miring. Kemudian tubuhnya diputar hingga menunduk ke depan. Lalu tangan ka- nannya dengan nakal bergerak ke arah selangkangan Dewi Pandagu.
Ketua Perguruan Bintang Emas tersentak kaget mendapat serangan yang tak terduga itu. Tubuhnya berusaha mundur agar tangan pemuda cabul itu tak mengenai selangkangannya. Namun begitu, ujung jari pemuda itu sempat menyentuh juga.
"Auh...! Iblis cabul! Kubunuh kau...!" Setelah melompat mundur, Dewi Pandagu yang semakin marah kembali menyerang dengan selendang dan pukulan. Kali ini kakinya agak merapat. Hal itu membuat gerakan-gerakannya agak kaku, dan seran-
gannya pun tidak segarang dan seganas tadi.
Prabasangka yang melihat keadaan Dewi Pan- dagu, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Se- gera dilancarkannya jurus-jurus cabulnya. Kedua tan- gannya bergerak ke atas dan ke bawah. Tangan kanan ke arah buah dada Dewi Pandagu, sedangkan tangan kiri ke arah selangkangan wanita cantik itu.
Menyaksikan jurus lawan kini mengarah ke tempat-tempat terlarang, Dewi Pandagu semakin mempercepat sabetan selendangnya. Setiap kali tangan Prabasangka hendak menyerang, dengan cepat Dewi Pandagu mengebutkan selendang untuk memapa- kinya.
Ctar!
***

Dewi Pandagu terus menyerang lawan, dengan harapan lawan tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang dengan jurus-jurus cabulnya. Rupanya perhitungannya keliru. Lawan bukanlah pemuda sem- barangan, meski usia mereka tidak terpaut jauh. La- wan yang tengah dihadapi adalah anak tunggal Catrik Ireng. Salah seorang tokoh rimba persilatan yang di masanya dulu merupakan salah satu dari dua pende- kar muda tanpa tanding.
Dewi Pandagu yang tidak tahu siapa pemuda berbaju kuning yang usianya sekitar tiga tahun di atasnya itu terus mencecar lawan dengan lecutan se- lendangnya.
"Heaaat..!" Ctar! Prabasangka terus berkelit dan sesekali mem- balas serangan. Tangannya senantiasa mengarah ke
arah buah dada lawan. Suatu saat tubuhnya bergerak ke samping, mengelakkan sabetan selendang lawan. Kemudian dengan cepat, tangan kanannya menangkap selendang itu.
Tap! Selendang lawan tertangkap. Membuat mata Dewi Pandagu melotot kaget bercampur marah. Tan- gan kanannya disentakkan dengan kuat, dengan hara- pan selendangnya terlepas. Namun pegangan tangan Prabasangka rupanya sangat kuat
"He he he...!" Prabasangka terkekeh. Senyum- nya mengembang di bibir. "Akhirnya kau kudapat juga, Manis...." Pucat seketika wajah cantik yang mengenakan pakaian wanita India berwarna putih itu. Matanya me- lotot penuh amarah. Kemudian dengan nekat tangan- nya menghantam ke dada lawan.
"Hiaaat..!" Prabasangka tersentak kaget. Tidak diduganya kalau wanita cantik itu akan menyerang. Beruntung dia segera membawa tubuhnya ke samping hingga pu- kulan sakti yang dilontarkan Dewi Pandagu meleset di sampingnya.
"Rupanya kau benar-benar ganas, Manis! Yeaaat..!" Setelah luput dari hantaman pukulan sakti yang dilontarkan Dewi Pandagu, Prabasangka meng- hentak kedua kakinya. Tubuh meluncur ke atas den- gan tangan masih memegangi selendang lawan. Kemu- dian dengan cepat tubuhnya menukik. Tangannya ber- gerak ke arah buah dada lawan
Melihat lawan menyerang Dewi Pandagu segera memukulkan telapak tangannya ke arah lawan. Ka- kinya menendang pula.
"Yeaaat..!" Prabasangka yang sudah menduga kalau Dewi Pandagu akan memapaki serangannya dengan balas menyerang, seketika menarik kembali serangannya. Tubuhnya melenting, dan tiba di belakang Dewi Pan- dagu. Dengan cepat tangannya menotok punggung wanita cantik itu.
Tuk! "Hugkh...!" Dewi Pandagu terkesiap. Dia berusaha memba- likkan tubuh untuk memapaki serangan lawan. Na- mun seluruh otot tubuhnya mengejang setelah jalan darahnya ditotok lawan. Tubuhnya seketika kaku.
Prabasangka tertawa tergelak-gelak karena me- rasa telah menang. Dihampirinya tubuh Dewi Pandagu yang kini berdiri mematung tanpa dapat berbuat apa- apa.
"Akhirnya kau akan menikmatinya, Manis...." "Cuh! Lepaskan aku...! Pengecut lepaskan aku!" bentak Dewi Pandagu penuh amarah. Tak segan-segan diludahinya kembali wajah Prabasangka.
Prabasangka menyeka ludah Dewi Pandagu di wajahnya dengan jari, kemudian dijilatinya ludah itu.
"Orangnya cantik ludahnya pun terasa manis." Dewi Pandagu kembali melecutkan selendang- nya ke kaki lawan yang menendang. Sedangkan tan- gan kirinya memukul ke dada lawan.
Ctar! Pengecut lepaskan totokanmu! Kita bertarung sampai salah satu di antara kita mati!" dengus Dewi Pandagu kian marah.
Prabasangka tak menggubris tantangan itu. Dengan cepat tangannya bergerak untuk membopong tubuh Dewi Pandagu. Kemudian kakinya melangkah,
hendak membawa tubuh Dewi Pandagu ke dalam ban- gunan utama Perguruan Bintang Emas.
"Lepaskan, Pengecut! Lepaskan...!" Dewi Pandagu berteriak-teriak, memaksa agar Prabasangka melepaskan totokannya. Namun pemuda berbaju kuning itu tak menggubrisnya. Kakinya terus melangkah, membawa tubuh Dewi Pandagu menapaki halaman bangunan.
Ketika kakinya berada di depan pintu bangu- nan itu, tiba-tiba terdengar jeritan susul-menyusul da- ri anak buahnya. Prabasangka tersentak kaget. Tu- buhnya langsung berbalik ingin melihat apa yang ter- jadi. Matanya membelalak ketika melihat seorang pe- muda berbaju rompi kulit ular tengah menghajar anak buahnya.
"Pendekar Gila....!" desis Prabasangka kaget. Diturunkannya tubuh Dewi Pandagu. Kemudian tanpa banyak kata, tubuhnya melesat meninggalkan Pergu- ruan Bintang Emas.
Sosok pemuda berpakaian kulit ular yang me- mang Pendekar Gila itu, nampak terus berkelebat. Tangan kanannya menghantam ke arah puluhan lelaki berjubah hitam. Tangan kirinya yang menggenggam Suling Naga Sakti, tak mau diam. Senjata pusaka itu terus dipukulkan ke kepala lawan.
"Yeaaa...!" Plak! Bugkh! Sena Manggala bagaikan orang gila yang men- gamuk. Kakinya menendang ke semua penjuru dengan cepat. Tangannya memukul dan menyabetkan Suling Naga Sakti ke kepala lawan. Dan suling pusaka itulah rupanya yang mampu menjatuhkan Laskar Setan!
"He he he...! Rupanya Laskar Setan ini hanya
bisa dikalahkan oleh sulingku! Yeaaa...!"
Setelah tahu kalau Laskar Setan hanya dapat dikalahkan oleh Suling Naga Sakti, Pendekar Gila mempercepat serangannya. Gerakannya yang seperti orang gila mengamuk seketika membuat tubuhnya laksana menghilang. Tahu-tahu terdengar suara bera- dunya Suling Naga Sakti dengan batok kepala dan tu- buh lawan.
Plak! Bugkh! Satu persatu Laskar Setan yang tadi nyaris memenangkan pertempuran jatuh tak bangun lagi. Jumlah mereka semakin lama semakin menipis. Na- mun Pendekar Gila tak puas sampai di situ, tubuhnya terus bergerak cepat seraya memukulkan sulingnya.
Semakin cepat gerakan Pendekar Gila, semakin banyak Laskar Setan yang tewas. Sementara itu semua murid Perguruan Bintang Emas hanya dapat menon- ton amukan Pendekar Gila.
"Yeaaat..!" Wuttt! Plak! Jumlah Laskar Setan yang semula puluhan, kini tinggal lima orang. Pendekar Gila kembali mence- lat ke atas, kemudian menukik ke bawah sambil menggerakkan tangan kirinya yang menggenggam Sul- ing Naga Sakti ke kepala empat orang Laskar Setan. Sedangkan tangan kanannya, menotok salah seorang dari mereka.
Pletak! Pletak...! Suara beradunya Suling Naga Sakti dengan empat kepala Laskar Setan terdengar susul-menyusul. Diikuti oleh jatuhnya keempat lelaki itu

5

Sena menggaruk-garuk kepala setelah menyele- saikan lawan-lawannya. Kemudian dengan tersenyum- senyum sambil menggaruk-garuk kepala, kakinya me- langkah ke arah satu orang Laskar Setan yang sengaja dibiarkan hidup.
"Katakan, siapa pemimpinmu?" Anggota Laskar Setan itu tak menjawab. Hanya matanya saja yang membara penuh amarah pada Sena yang semakin tergelak-gelak menyaksikan kemara- hannya. Tiba-tiba Sena mengerutkan kening, tawanya terhenti seketika. Matanya memandang tajam pada ta- wanannya.
"Weh weh weh.... Rupanya ada yang tidak beres dengan manusia ini. Keji...! Sungguh keji orang yang telah melakukan semuanya. Hm, tapi baiklah. Aku akan berusaha menolongmu, Sobat," gumamnya sam- bil mengangguk-angguk. Kakinya melangkah, memuta- ri tubuh tawanannya. Tampak dia tengah mengamati sesuatu pada tubuh orang itu.
"Tuan, tolonglah bukakan totokanku...!" seru Dewi Pandagu, menyentakkan Sena.
Seketika Sena mengurungkan usahanya untuk mencari rahasia yang menyebabkan lelaki itu tak bisa berbicara, bahkan bagai tak memiliki perasaan.
Sena menengok ke arah pemilik suara yang merdu itu. Mulutnya tertawa tergelak-gelak sambil menggaruk-garuk kepala, menyaksikan gadis cantik je- lita berpakaian putih seperti orang India berdiri mema- tung tanpa daya.
"Ah! Kenapa kau...?" tanya Sena. "Tolong, bukakan totokan ini," pinta Dewi Pan-
dagu
Kemudian sambil tersenyum-senyum, Sena me- langkah mendekati Dewi Pandagu. Kemudian dengan gerakan yang sulit diikuti mata, dibukanya totokan di tubuh Dewi Pandagu.
Tuk! Setelah membuka totokan Dewi Pandagu, Sena termenung. Sepertinya dia tengah memikirkan orang yang telah menotok gadis cantik Ketua Perguruan Bin- tang Emas itu.
"Terima kasih, Tuan Pendekar. Untung Tuan segera datang tepat pada waktunya. Kalau tidak, entah bagaimana nasibku dan murid-muridku...," keluh Dewi Pandagu. Sena menggeleng-gelengkan kepala. Mulutnya masih cengengesan.
"Aneh sekali, bagaimana murid tunggal Dewi Lintang Wangi dapat diperdaya?" gumamnya. "Hm, tentunya pemimpin Laskar Setan itu bukan orang sembarangan."
Dewi Pandagu tertunduk. Dia merasa malu mendengar ucapan Pendekar Gila yang menyebut na- ma gurunya. Dewi Lintang Wangi bukan tokoh wanita sembarangan. Ilmunya cukup tinggi. Tapi Dewi Panda- gu yang menjadi pewaris ilmunya, ternyata tak berdaya menghadapi pemuda berbaju kuning yang jurus- jurusnya cabul.
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala. "Dewi, siapakah pemimpin Laskar Setan itu?" tanya Sena.
"Seorang pemuda berbaju kuning," jawab Dewi Pandagu.
"Apakah ikat kepalanya kuning juga?" "Benar! Apakah Tuan kenal...?" Rata Dewi Pan-
dagu balik bertanya.
Pendekar Gila menghela napas sambil mengga- ruk-garuk kepala. Kemudian matanya memandang le- laki anggota Laskar Setan yang masih tertotok. "Benar-benar keji," gumam Sena. "Kenapa...?" "Kau tahu Laskar Setan itu?" tanya Sena sambil menunjuk ke arah tawanannya.
"Ya," sahut Dewi Pandagu. "Mengapa tidak di- bunuh sekalian?"
Sena menggelengkan kepala. "Hm, sesuatu telah terjadi padanya. Jalan da- rah yang menuju otaknya telah ditotok dengan totokan yang bukan sembarangan. Untuk melepaskannya, di- perlukan tenaga dalam yang kuat. Aku akan berusaha membuka totokan itu."
Mata Dewi Pandagu seketika terbelalak men- dengar penuturan Sena.
"Untuk apa...? Bukankah dia berbahaya?" tanya Dewi Pandagu.
Sena tertawa tergelak-gelak. Tangannya kemba- li menggaruk-garuk kepala. Kemudian dengan kepala menggeleng-geleng maksudnya segera dijelaskan.
"Kurasa, dia berbahaya karena keadaan pikiran dan perasaannya tak berfungsi. Tetapi, jika keadaan pikiran dan perasaannya berfungsi, dia akan menyada- ri siapa dirinya."
"Jadi menurutmu, orang itu dalam keadaan tak sadar?" "Ya," sahut Sena. "Kau mau membantuku, De- wi?"
Dewi Pandagu tersenyum. Matanya yang lentik dan indah mengerling.
"Kenapa tidak? Untuk Tuan, aku selalu siap."
Sena tertawa tergelak-gelak. Kembali tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, jangan panggil aku tuan. Aku bukan tuanmu. Lagi pula, hubungan antara gurumu dengan guruku cukup baik. Tak sepantasnya seorang sahabat memanggil tuan pada sahabatnya...," tutur Sena, me- rendah. Dewi Pandagu tersipu. Matanya masih mengerl- ing penuh arti. Senyumnya terlihat, seirama dengan kerlingan matanya yang indah.
"O, mengapa malam-malam begini kita harus di luar? Bukankah sebaiknya kita di dalam?" ajak Dewi Pandagu.
"Terima kasih, aku harus ke Gunung Lawu," kata Sena, berusaha menolak.
"Mengapa malam-malam begini? Bukankah le- bih baik besok pagi?"
Dewi Pandagu semakin manja. Matanya kian mengerling penuh arti. Senyumnya yang merekah, se- pertinya mengundang.
"Ayolah...," desak Dewi Pandagu. Tangan Sena menggaruk-garuk kepala. Mulut- nya cengengesan.
Dewi Pandagu semakin tak sabar. Tangannya kini memegangi tangan Sena. Matanya mengerling manja. Senyumnya menggoda. Sungguh tak ada cacat celanya kecantikan gadis itu. Setiap lelaki, pasti akan terpesona melihat kecantikannya yang sempurna.
"Baiklah, Dewi. Tapi aku harus menolong dia. Adakah sebuah kamar untuknya?" tanya Sena seraya menunjuk ke arah tawanannya.
"Mengapa kau pedulikan dia?" "Aku, kau ataupun dia, sama-sama manusia. Sama dicipta oleh Hyang Widhi, Dewi. Kalau Hyang
Widhi mau mengasihi dan mengampuni kita, mengapa kita tidak bisa mengasihi sesamanya?" tanya Sena se- tengah berfilsafat.
"Baiklah...," kata Dewi Pandagu setelah terdiam beberapa saat
"Terima kasih. Kau telah turut membantuku." "Ah, kaulah yang telah menolongku," balik Dewi Pandagu dengan nada riang nan manja. Senyumnya yang menggoda, masih mengembang di bibirnya yang menawan.
"Jadi kau ada kamar untuk kami?" tanya Sena. Dewi Pandagu mengerutkan kening. Matanya memandang penuh harap pada Sena, membuat pemu- da itu menggaruk-garuk kepala dipandang begitu rupa. Apalagi yang memandang seorang wanita cantik jelita.
"Mengapa untuk kalian? Untuk anggota Laskar Setan itu saja. Untukmu, aku akan memberikan ka- mar lain."
Tangan Sena semakin keras menggaruk-garuk kepala. Wajahnya kini menengadah, memandang langit yang gelap menghitam diselimuti malam. Mulutnya cengengesan, membuat Dewi Pandagu tersenyum sambil memandangi tingkah laku pemuda tampan itu.
"Ayolah.... Bawa anggota Laskar Setan itu," ajaknya. "Baik"
Kaki Sena melangkah ke arah tawanannya. Dengan ringan dipanggulnya tubuh lelaki itu. Sena la- lu mengikuti Dewi Pandagu yang masuk ke dalam bangunan perguruan.
Banyak sekali kamar di dalam bangunan utama itu. Tentunya kamar-kamar itu berpenghuni. Sudah pasti murid Perguruan Bintang Emas-lah yang me- nempati.
Mereka terus melangkah ke belakang. Sampai di kamar paling ujung, Dewi Pandagu berhenti.
"Kamar ini untuk anggota Laskar Setan yang kau bawa.."
"Hm, lumayan." Tangan Sena mendorong pintu kamar itu. Di- ikuti oleh Dewi Pandagu, tubuh Sena masuk Di dalam kamar itu ada sebuah dipan yang cukup untuk satu orang. Ditaruhnya tubuh tawanannya itu di atas di- pan.
"Biarkan dia di sini dulu," bisik Dewi Pandagu. Tangannya menempel di pundak Sena. Menopang ke- palanya yang juga rebah di pundak Sena. Dan ketika pemuda tampan itu menengok, mereka beradu pan- dang.
Dewi Pandagu tersenyum penuh arti. Matanya dipejamkan perlahan. Bibirnya merekah, menunggu sesuatu. Hal itu membuat Sena blingsatan kebingun- gan. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Dewi...," desisnya berusaha menyadarkan ga- dis cantik itu.
Dewi Pandagu tersenyum, lalu membuka mata kembali. Kemudian dengan manja tangannya membe- lai rambut pemuda di depannya. Matanya memandang redup, mengharap sesuatu.
"Dewi, sadarlah...!" kata Sena, berusaha men- gingatkan.
"Aku sadar," desis Dewi Pandagu. "Aku sadar kalau dari dulu aku memang jatuh hari padamu."
Sena meringis sambil menggaruk-garuk kepala. Dia kelihatan kebingungan menghadapi gadis cantik yang kini semakin manja padanya.
"Dewi, di manakah kamar untukku?" tanya Se- na berusaha menghindar.
"Ayo kutunjukkan," ajak Dewi Pandagu. Kemu- dian digandengnya tangan Sena. Mereka keluar dari kamar itu, meninggalkan seorang lelaki berjubah hi- tam yang tergolek tanpa daya.
***

Dewi Pandagu mengajak Sena ke sebuah kamar yang letaknya agak jauh dengan kamar tadi. Dibu- kanya pintu kamar itu. Di dalam kamar itu tampak se- buah ranjang berhias kelambu putih dengan bunga- bunga di sudut-sudutnya. Tak beda dengan ranjang pengantin.
Sena tertegun. Keningnya berkerut sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, mengapa kamar sebagus ini untukku? Kamar siapa ini, Dewi?"
Dewi Pandagu tersenyum tanpa berkata, di- ajaknya Sena masuk. Ditutupnya pintu kamar, mem- buat pemuda itu semakin mengerutkan keningnya.
"Dewi...!" Belum habis ucapan Sena, Dewi Pandagu telah memeluk tubuhnya. Kemudian tangan gadis itu mem- belai-belai dadanya. Membuat Sena semakin kebin- gungan. Seumur-umur, baru kali ini dadanya dibelai- belai oleh gadis cantik. Kepala Sena menengok ke sana kemari, kebingungan tak tahu harus berbuat apa.
"Sena, aku mencintaimu...," desis Dewi Panda- gu sambil mendongakkan kepala. Matanya perlahan- lahan terpejam dengan bibir merekah.
Sena benar-benar kebingungan. Selama ini, be- lum pernah dia melakukan hal-hal seperti itu. Berdua di dalam kamar dengan seorang wanita cantik
Dewi Pandagu terus membelai dada Sena den-
gan lembut Matanya memandang penuh harap ke wa- jah pemuda tampan itu. Kemudian diajaknya Sena me- langkah ke tempat tidur.
"Sena, apakah kau tidak suka padaku?" tanya Dewi Pandagu manja.
Tangan Sena menggaruk-garuk kepala. Dia ti- dak tahu harus berkata apa. Wajahnya yang tadi me- nengadah ke atas, kini memandang dengan kening berkerut ke wajah Dewi Pandagu. Di wajah gadis itu, tampak seulas senyum merekah indah, dengan mata sayu menatap penuh arti.
"Suka..?" tanya Sena bergumam. "Ya. Apakah kau tak suka padaku, Sayang?" "Aku suka, Dewi.... Tapi, haruskah kita mela- kukannya?"
Dewi Pandagu tersenyum. "Untukmu, kuserahkan segalanya, Sayang.... Aku rela," bisik Dewi Pandagu dengan senyum masih mengembang di bibirnya. Kemudian kepalanya dire- bahkan di dada pemuda itu. Sedangkan tangannya masih membelai dada bidang Pendekar Gila.
Bayang-bayang seorang gadis Cina, seketika menyeruak dalam pikiran Sena. Entah mengapa, jika dia mengingat Mei Lie yang kini tak tahu di mana, ha- tinya seketika terenyuh. Kerinduan untuk bertemu, kembali muncul mengisi hatinya.
Mulut Sena mendesah lemah. Dia memang su- ka pada Dewi Pandagu. Namun mungkin hanya seba- tas suka saja. Sedangkan pada Mei Lie, entah mengapa dia menemukan rasa suka lebih daripada Dewi Panda- gu. Dia merasakan bahwa perasaannya pada Mei Lie, merupakan perasaan cinta kasih yang tumbuh dengan sendirinya.
Perasaan itu dulu memang belum seberapa. Te-
tapi setelah lama berpisah, perasaan cinta kasih itu semakin terasa. Terlebih setelah banyak gadis-gadis dan wanita yang pernah dikenalnya. Bahkan kini dia bagai diuji oleh cinta kasih itu.
Mei Lie, di manakah kau kini berada? Hatinya bertanya-tanya. Kini aku baru menyadari, sesungguh- nya aku pun merindukan mu. Entah kapan kita bisa bertemu, Mei Lie...? Kuharap kau tidak akan melupa- kan ku. Sebagaimana aku, yang tak pernah melupa- kanmu. Bayangan Mei Lie, makin menyeruak kedala- man hatinya. Membuat Sena tanpa sadar membelai rambut Dewi Pandagu. Dianggapnya Dewi Pandagu adalah Mei Hie, orang yang dirindukannya. Orang yang tanpa disadari, telah menawan hatinya.
Dewi Pandagu tersenyum senang. Memang itu- lah yang diharapkannya. Dibiarkannya tangan Sena membelai-belai rambutnya dengan mesra. Bahkan kini Dewi Pandagu membimbing Pendekar Gila menuju ke tempat tidur.
"Sena...," desisnya lirih. Keduanya rebah di tempat tidur. Dewi Pandagu menutup kelambu. Kemudian keduanya tampak saling berpelukan, berciuman den- gan penuh kemesraan.
***

"Sena...! Sena, bangunlah...!" Sena tersentak kaget dari tidurnya ketika telin- ganya mendengar suara gurunya, Singo Edan. Ma- tanya memandang ke atas, seakan melihat sosok gu- runya.
"Guru, apa yang telah terjadi?" tanyanya seten-
gah mengeluh.
"Kau telah kalah oleh bujukan iblis, Anakku." Kepala Sena tertunduk. Dari matanya meleleh air mata. Dia menangis, merasakan kekalahan yang sangat menyiksa. Betapa dia telah kalah melawan iblis yang menggoda.
"Guru, aku telah berdosa. Hukumlah aku!" "Tidak, Anakku.... Semua memang telah terga- riskan. Bukan hanya kau, aku atau siapa pun. Dewa pun takkan mampu melawan suratan. Cepatlah ban- gun. Masih banyak yang harus kau lakukan. Ingat baik-baik kesalahanmu itu.... Jadikanlah kesalahanmu itu sebagai cambuk. Maka, kau akan senantiasa beru- saha tidak melupakannya dan akan berusaha berbuat baik. Pergilah...."
"Baik Guru." Dengan hati-hati dan pelan, Sena segera men- genakan pakaiannya. Kemudian perlahan-lahan tu- buhnya turun untuk pergi, dengan harapan Dewi Pan- dagu tidak terbangun.
Ditatapnya lekat-lekat wajah gadis itu. Hatinya menangis. Bagaimanapun juga, dia yang telah mereng- gut kegadisan Dewi Pandagu. Haruskah dia lepas tan- gan begitu saja? Ah, lelaki macam apakah aku? Keluh Sena dalam hati.
Pendekar Gila tak tega meninggalkan Dewi Pandagu begitu saja. Dengan lembut dibelainya ram- but gadis cantik itu, lalu mengecup keningnya.
"Maafkan aku, Dewi.... Aku harus pergi dulu. Aku berjanji, kelak aku akan datang untuk bertang- gung jawab," bisik Sena lirih.
Kemudian, Sena menulis beberapa baris tulisan pada pintu kamar itu. Lalu, tubuhnya berkelebat ke arah kamar di mana seorang dari Laskar Setan berada.
Diambilnya lelaki itu, lalu dengan memanggul tubuh- nya, Pendekar Gila meninggalkan tempat itu.
***

6
Setelah Laskar Setan gagal menghancurkan Perguruan Bintang Emas, perbuatan mereka semakin menjadi-jadi. Nampaknya ada maksud tersembunyi dari Ki Catrik Ireng dengan mengerahkan Laskar Se- tannya itu. Mereka sengaja diumpankan untuk me- mancing Pendekar Gila. Dengan begitu, Pendekar Gila akan bertambah marah.
Seperti malam itu, puluhan Laskar Setan kem- bali bergerak. Kali ini mereka tidak dipimpin oleh Pra- basangka. Mereka menyerbu ke Perguruan Teratai Pe- rak yang dipimpin oleh Dewi Teratai Perak. Tujuan dari penyerbuan itu, tiada lain untuk menundukkan pergu- ruan itu. "Hiyaaat...!" "Yeaaah...!" Perguruan Teratai Perak yang semula sepi, se- ketika menjadi ajang pertarungan yang seru. Dengan dipimpin oleh ketuanya, murid-murid Perguruan Tera- tai Perak berusaha membendung serbuan Laskar Se- tan.
"Serang terus...!" perintah Dewi Teratai Perak Pertarungan berlangsung seru. Satu persatu korban bergelimpangan dari pihak Perguruan Teratai Perak. Para penyerbu memang terlalu ganas untuk dapat di- lumpuhkan. Serangan mereka sebuas serbuan sege- rombolan makhluk liar tak berperasaan. Membunuh
dengan pancaran mata haus darah. Perlawanan mu- rid-murid Perguruan Teratai Perak ibarat kapas di atas arus sungai deras. Tak berarti apa-apa.
"Celaka! Mereka bukan manusia...!" seru Dewi Teratai Perak kaget. Meski begitu, tubuhnya terus ber- kelebat sambil melemparkan senjata andalannya ke arah Laskar Setan.
Zwing, zwing, zwing...! Puluhan bunga teratai menyambar cepat ke arah Laskar Setan yang semakin ganas.
Jlep! Jlep! Jlep! "Hgrrr...!" Pemimpin Laskar Setan menggeram murka. Dengan penuh amarah, tubuhnya melesat ke arah De- wi Teratai Perak. Serangannya sangat ganas, keras, dan mematikan. Sepertinya, Ki Catrik Ireng sengaja menciptakan pemimpin Laskar Setan dengan ilmu ke- pandaian yang lebih tinggi dari lawan yang bakal diha- dapi.
"Uts...!" Dewi Teratai Perak tersentak. Tubuh- nya segera berkelit. Kemudian dengan cepat tangannya melemparkan bunga-bunga teratai.
Mata Dewi Teratai Perak membelalak, menyak- sikan bunga-bunganya tak mempan pada tubuh pe- mimpin Laskar Setan. Bahkan dengan sekali remas, bunga-bunga yang terbuat dari baja itu hancur beran- takan.
"Hah?! Dia tak mempan dengan teratai ku?" "Hgrrr!" Pemimpin Laskar Setan kembali menyerang. Tangannya bergerak menyambar Dewi Teratai Perak. Membuat wanita berpakaian putih perak itu terkejut
Cepat-cepat Dewi Teratai Perak melompat ke samping, berusaha mengelakkan serangan lawan yang
keras.
Wuttt! "Uts! Dia benar-benar bukan manusia!" pekik Dewi Teratai Perak kaget Tubuhnya bersalto di udara, untuk terus mengelakkan serangan-serangan lawan.
Di pihak lain, murid-murid Perguruan Teratai Perak semakin terdesak. Mereka semakin banyak di- bantai Laskar Setan yang buas.
Setiap murid Perguruan Teratai Perak menga- lami kegundahan yang berbaur dengan ketakutan, ke- putusasaan dan kemarahan. Bagaimana mungkin me- reka bisa menghindari perasaan-perasaan itu, kalau musuh yang dihadapi bagaikan sepasukan iblis dari neraka? Padahal kekacauan perasaan itu sangat me- rugikan mereka dalam pertempuran
"Serang terus...!" Tiba-tiba terdengar seruan seorang lelaki, me- nyulut semangat seluruh murid Perguruan Teratai Pe- rak untuk terus menyerang. Bersamaan dengan itu, dari luar pagar berkelebat pemuda berpakaian rompi kulit ular. Di tangannya tergenggam suling berkepala naga yang terbuat dari emas. Suling itu, tiada lain Sul- ing Naga Sakti. Dan tentunya, pemuda berbaju rompi kulit ular itu tiada lain Sena Manggala, atau Pendekar Gila dari Goa Setan.
Tubuh Pendekar Gila melesat laksana terbang, menuju Dewi Teratai Perak yang kerepotan menghada- pi pemimpin Laskar Setan.
"Bantulah anak buahmu, Nyi! Biar aku yang menghadapi setan ini," seru Sena.
Dewi Teratai Perak menurut meskipun belum tahu siapa sebenarnya pemuda itu Segera tubuhnya melesat meninggalkan pemimpin Laskar Setan, mem- biarkan Pendekar Gila yang menghadapinya. Sedang-
kan dia kini membantu anak buahnya.
"Jangan mundur! Seraaang...!" seru Dewi Tera- tai Perak memberi semangat pada anak buahnya un- tuk terus menyerang Laskar Setan
Melihat pemimpinnya membantu, murid-murid Perguruan Teratai Perak yang semula telah ciut nya- linya, kembali bersemangat. Mereka dengan berani kembali menyerang.
"Hiaaat..!" Jlep! Pendekar Gila yang menghadapi pemimpin Laskar Setan, telah memulai pertarungan. Keduanya saling menggebrak dengan jurus-jurus yang sangat ke- ras.
"Ayo, keluarkan semua kekuatan setanmu!" tantang Sena. Dia tahu kalau lawan hanya dapat di- lumpuhkan oleh Suling Naga Sakti. Tubuhnya melom- pat ke atas, kemudian dengan cepat menghantamkan Suling Naga Sakti ke kepala lawan.
Wuttt! "Hgrrr...!" Lawan rupanya mengerti kalau Pendekar Gila menyerang dari atas. Segera tubuhnya dirundukkan, kemudian meliuk ke samping. Kemudian dengan pe- nuh amarah, pemimpin Laskar Setan itu balas menye- rang.
"Hgr...!" Tangan pemimpin Laskar Setan bergerak cepat mencakar dan mencengkeram ke arah lawan. Gera- kannya begitu cepat. Jari-jari tangannya laksana baja yang mampu menembus karang.
Wuttt "Uts! Hebat juga kau, Setan! Tapi otakmu yang telah diatur oleh seseorang, membuat gerakanmu ka-
ku. Nah, ini untukmu...!"
Dengan tertawa tergelak-gelak dan tangan menggaruk-garuk kepala, Sena menghantamkan Sul- ing Naga Sakti ke tubuh lawan.
Bugk! "Ngk..! Uhk..!" Pemimpin Laskar Setan itu mengeluh pendek. Kepalanya menoleh kian kemari, kebingungan dengan keadaan sekelilingnya.
"Di mana aku?" tanyanya, diusik kebingungan yang datang tiba-tiba. Tampaknya dia telah tersadar dari pengaruh totokan Ki Catrik Ireng yang membuat- nya seperti boneka suruhan.
***

Pendekar Gila yang semula hendak memukul dengan Suling Naga Sakti kembali, seketika mengu- rungkan serangannya. Keningnya berkerut. Dan ma- tanya memandang heran pada lelaki berjubah hitam itu.
"Tuan, kenapa denganku?" tanya lelaki itu den- gan sinar wajah heran
"Hei, dia sadar. Aha, rupanya aku telah mene- mukan cara yang baik untuk menolong mereka!" gu- mam Pendekar Gila.
Kemudian, dihampirinya pemimpin Laskar Se- tan yang telah sadar dari pengaruh totokan.
"Kisanak apakah kau tidak ingat apa-apa?" tanya Sena.
"Tidak" sahut lelaki berjubah hitam itu. "Hm...," Sena menggumam. "Bagaimana mung- kin kau tidak ingat semuanya?"
Tanpa diminta, lelaki berjubah hitam itu men-
ceritakan apa yang telah dialaminya. Diceritakannya ketika dia lewat di Gunung Lawu, tiba-tiba seseorang menyergapnya. Kemudian dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Hanya itu yang kuingat..," kata lelaki berjubah hitam itu, menutup ceritanya.
"Jadi teman-temanmu pun tidak sadar kalau mereka kini tengah bertarung?" tanya Sena.
"Mungkin. Karena aku sendiri seperti yang ter- tidur."
"Celaka!" seru Sena. "Ayo kita bantu menyadar- kan mereka."
Sena dan lelaki berjubah hitam yang ternyata bernama Trana Jaya itu segera berkelebat ke kancah pertarungan antara Dewi Teratai Perak dan seluruh muridnya yang menghadapi Laskar Setan.
"Hentikan..!" sergah Trana Jaya yang berusaha menghentikan rekan-rekannya. Namun tindakannya itu sia-sia belaka. Malah dia dan Pendekar Gila kini diserang pula.
Wuttt! "Edan!" maki Sena. "Mereka benar-benar tidak kenal dengan pemimpinnya!"
"Ya! Mereka seperti sedang bermimpi, Tuan," sahut Trana Jaya sambil mengelakkan serangan- serangan bekas anak buahnya yang masih dalam pen- garuh totokan Ki Catrik Ireng.
"Terpaksa...!" dengus Sena sambil melompat ke atas, lalu dengan cepat menghantamkan Suling Naga Sakti ke tubuh lawan-lawannya.
Bukkk! Bukkk..! Satu persatu anggota Laskar Setan itu berjatu- han, terhantam Suling Naga Sakti. Sementara Dewi Te- ratai Perak dan murid-muridnya terus berusaha mem- bendung serangan lawan. Dibantu oleh Trana Jaya.
"Heaaat..!" Dengan bantuan Pendekar Gila dan Trana Jaya, Laskar Setan dapat dilumpuhkan satu persatu. Sampai akhirnya habis tak tersisa.
"Wah...! Rasanya semua bagai mimpi," gumam Sena setelah menyelesaikan tugasnya. "Manusia- manusia aneh...!"
"Benar, Tuan," sahut Trana Jaya. "Aku pun me- rasa seperti bermimpi. Tak pernah kubayangkan, ka- lau akhirnya aku akan tersadar kembali. Ah, aku ha- rus kembali ke perguruanku!"
"Di manakah perguruanmu, Kisanak?" tanya Dewi Teratai Perak yang telah mendengar penuturan bekas pemimpin Laskar Setan itu.
"Aku dari Perguruan Tirta Sakti," jawab Trana Jaya.
"O, tidak kusangka aku bisa bertemu dengan murid Ki Tirta Buana," desis Dewi Teratai Perak. "Ba- gaimana kabar gurumu sekarang?"
"Entahlah. Sudah lama aku tidak menemuinya. Mungkin hampir setahun," sahut Trana Jaya.
"Eh, di mana pemuda itu?!" tiba-tiba Dewi Tera- tai Perak berseru kaget, ketika matanya tidak menda- patkan Pendekar Gila di tempatnya semula.
"Ha ha ha...! Aku di sini! Kuharap kalian bisa saling membantu...!" seru Sena dari kejauhan. "Aku yakin, kalian adalah pasangan yang serasi!"
Trana Jaya dan Dewi Teratai Perak saling pan- dang. Kemudian tersipu malu.
"Siapakah pemuda sakti itu?" tanya Dewi Tera- tai Perak entah ditujukan pada siapa.
"Entahlah," jawab Trana Jaya. "Mungkin dia yang menjadi musuh besar Ketua Laskar Setan."
"Siapa Ketua Laskar Setan?"
"Ki Catrik Ireng," jawab Trana Jaya. "Kalau begitu, mungkin pemuda itu adalah Pendekar Gila! Oh, sungguh aku tak menyangka. Dan, bukankah tangannya tadi memegang suling berkepala naga?"
"Ya, benar." "Tidak salah lagi. Dia memang Pendekar Gi- la...," desis Dewi Teratai Perak.
Mata Trana Jaya membelalak kaget. Tidak dis- angkanya kalau Pendekar Gila yang namanya pernah terdengar puluhan tahun silam ternyata masih muda.
Hening sesaat. Kemudian dengan malu-malu, Dewi Teratai Perak mengajak Trana Jaya masuk ke da- lam perguruannya,
***

7
Waktu yang dinanti-nantikan oleh para pende- kar rimba persilatan tiba. Dua bulan purnama telah berlalu. Kini, tibalah saat yang dijanjikan Ki Catrik Ireng untuk melakukan duel dengan pendekar muda yang namanya tengah menjadi buah bibir.
Sesungguhnya niat Ki Catrik Ireng bukan se- mata-mata melakukan duel ulang dengan Pendekar Gi- la yang pernah mengalahkannya lima puluh tahun si- lam. Tujuan sebenarnya adalah menunjukkan pada para pendekar, bahwa dialah yang pantas menduduki jabatan orang nomor satu di rimba persilatan
Dari setiap penjuru tanah Jawa Dwipa, berda- tangan para pendekar rimba persilatan. Pada umum- nya mereka ingin menyaksikan duel dua pendekar itu,
setelah mereka mendapat undangan dari Ki Catrik Ireng.
Dari arah barat, sekelompok orang melangkah dengan gagah. Seorang lelaki tua dengan pakaian resi berwarna putih berjalan paling depan. Di tangannya tergenggam tasbih. Dialah Resi Sarameskari.
Anggota Kuil Wisma Dewa berjalan di bela- kangnya. Mereka berkepala botak dan berpakaian resi. Di tangan masing-masing tergenggam sebatang tongkat panjang terbuat dari kayu cendana. Itulah senjata me- reka. Berbeda dengan Resi Sarameskari yang beram- but panjang digelung ke atas serta jenggot yang pan- jang dan putih, wajah anggotanya nampak bersih. Tak ada jenggot atau kumis.
"Guru, mungkinkah Ki Catrik Ireng tidak ber- maksud memperdayai para pendekar?" tanya salah seorang resi muda yang berjalan di belakang Resi Sa- rameskari,
"Entahlah...," sahut Resi Sarameskari. "Tokoh yang satu ini memang terkenal aneh. Lima puluh ta- hun menghilang dari rimba persilatan, tapi kini mun- cul kembali. Mungkin dia muncul setelah mendengar kemunculan Pendekar Gila."
"Ada hubungan apa antara Ki Catrik Ireng den- gan Pendekar Gila itu. Guru?" kali ini yang bertanya resi muda lain yang juga berjalan di belakang Resi Sa- rameskari.
"Baiklah, sambil berjalan akan kuceritakan pa- da kalian hubungan antara dua orang sakti itu."
Resi Sarameskari kemudian menceritakan pada murid-muridnya tentang kedua tokoh sakti rimba per- silatan itu. Dikatakannya bahwa dua tokoh persilatan itu dulu pernah bertarung. Juga dikatakan bahwa Ki Catrik Ireng senantiasa tidak puas jika belum menga-
lahkan semua pendekar rimba persilatan. Hampir se- mua pendekar telah dihadapinya. Hanya Pendekar Gila dari Goa Setan saja yang belum dikalahkan.
Keduanya saling mencari. Ki Catrik Ireng men- cari Pendekar Gila dengan tujuan menantang duel. Se- dangkan Pendekar Gila mencari Ki Catrik Ireng untuk menyadarkan tindakan orang itu.
"Lalu bagaimana selanjutnya, Guru?" tanya Re- si Bragaskita, salah seorang resi muda yang berjalan di belakang Resi Sarameskari.
"Mereka pun bertemu." "Bertarung, Guru?" tanya resi lainnya yang bernama Resi Bramaweda.
"Ya. Mereka bertarung sehari semalam. Sampai akhirnya mereka mengeluarkan senjata masing- masing. Pendekar Gila bersenjata Suling Naga Sakti. Suling sakti berkepala naga yang terbuat dari emas murni. Sedangkan Catrik Ireng bersenjatakan bume- rang kembar."
"Lalu, siapa yang menang, Guru?" tanya Resi Bramaweda semakin ingin tahu.
Resi Sarameskari tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala. Nafasnya ditarik panjang- panjang sebelum menjawab pertanyaan muridnya itu.
"Tak ada yang menang dan kalah. Hanya senja- ta Catrik Ireng saja yang terpotong."
"Apakah itu bukan pertanda kalah?" tanya Resi Bragaskita.
"Buktinya sekarang dia menantangnya lagi. Mungkin kekalahan bagi Ki Catrik Ireng hanyalah ke- matiannya," gumam Resi Sarameskari.
Mereka pun terus melangkah menuju Gunung Lawu yang terlihat menjulang dengan warna biru. Se- bagian puncaknya tampak diselimuti kabut tebal.
Sementara itu, dari arah utara serombongan orang melangkah juga menuju arah selatan di mana Gunung Lawu berada.
Seorang nenek bertubuh bungkuk berjalan pal- ing depan. Dia adalah Nyi Kendil. Dan di sampingnya tampak seorang wanita bercadar merah yang tak lain adalah Wulandari atau yang lebih dikenal berjuluk Bi- dadari Cadar Merah.
Wajah guru dan murid itu kelihatan tegang. Mereka tahu siapa yang akan bertarung untuk menen- tukan keunggulan sebagai pendekar nomor wahid di rimba persilatan.
Wajah Wulandari kelihatan agak gelisah. Seper- tinya dia tengah memikirkan sesuatu. Mungkin be- naknya tengah menimbang-nimbang niat Nyi Kendil untuk menjodohkan dia dengan Prabasangka. Padahal hari Wulandari telah terpaut pada Pendekar Gila. Na- mun sebagai seorang murid, dia harus patuh pada gu- runya.
Di belakang mereka, menyusul kelompok dari perguruan aliran putih yang dipimpin seorang lelaki berjubah putih. Tampak di dada sebelah kirinya terda- pat gambar teratai. Tangan kirinya menggenggam sen- jata berupa tombak bermata dua sepanjang lengan. Dialah Ki Tunggul Manik. Ketua Perguruan Teratai Pu- tih. Sementara itu seorang gadis berbaju hijau berjalan di sampingnya. Gadis itu adalah Suciati (Untuk menge- tahui tentang mereka, silakan baca serial Pendekar Gi- la dalam episode "Kumbang Hitam dari Neraka").
Dari arah timur, muncul Dewi Pandagu dan se- luruh muridnya yang terdiri dari gadis-gadis cantik. Mereka pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat menyaksikan pertarungan penentu. Se- mua pendekar dari bermacam perguruan, saat itu be-
nar-benar hadir. Mereka ingin menyaksikan jalannya duel antara dua tokoh sakti itu.
Yang tidak terlihat di situ hanyalah Nyi Bangil dengan Mei Lie. Entah ke mana mereka. Sejak kejadian di markas Segoro Wedi, mereka menghilang bagai dite- lan bumi (Mengenai mereka, silakan baca serial Pende- kar Gila dalam episode perdana "Suling Naga Sakti").
Mentari bersinar redup di sebelah barat. Nam- paknya sebentar lagi akan beranjak ke peraduan.
Para pendekar kini telah sampai di tempat yang dituju. Mereka berdiri mengelilingi sebuah panggung besar yang telah dibuat oleh pasukan Ki Catrik Ireng, Laskar Setan!
Laskar Setan yang terdiri dari orang-orang yang tidak memiliki perasaan, telah berjaga-jaga dengan ke- tat. Mereka sengaja dipersiapkan Ki Catrik Ireng untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
***

Mentari semakin tenggelam di kaki langit sebe- lah barat. Menjadikan suasana di Puncak Lawu terasa agak dingin. Angin bertiup kencang, seakan-akan hen- dak menyapu orang-orang yang kini berdiri memutari panggung besar.
Panggung itu masih sepi. Tak ada seorang pun yang naik ke atas. Semuanya menunggu kehadiran orang yang mengundang mereka. Sekaligus menunggu kedatangan Pendekar Gila.
Dari balik cadas yang menjulang, berkelebat sosok bayangan hitam dengan cepat. Kemudian sosok itu berdiri di atas panggung dengan mata memandang ke sekeliling. Dia tak lain Ki Catrik Ireng, yang men- gundang para pendekar untuk datang ke tempat itu.
Orang-orang persilatan yang mengelilingi pang- gung saling berbisik-bisik, menanggapi kedatangan le- laki tua berjubah hitam itu.
"Saudara-saudara pendekar. Sengaja saya mengundang kalian ke sini. Tentunya kalian telah tahu apa yang akan terjadi di tempat ini, bukan..?" ucap Ki Catrik Ireng, mencoba bersikap ramah.
"Ya...!" sahut para pendekar. "Perlu saya beritahukan pada kalian. Sesung- guhnya ini bukan hanya duel ulang antara saya mela- wan Pendekar Gila saja, melainkan ada yang lebih penting. Yaitu mencari siapa yang paling pantas men- jadi Ketua Rimba Persilatan...!"
Semua tersentak dengan mata membelalak mendengar penuturan Ki Catrik Ireng. Kemudian me- reka saling pandang, bagai tak mengerti maksud lelaki tua itu sebenarnya.
"Nah, untuk menunggu Pendekar Gila, bagai- mana kalau kita adakan pembukaan!" kata Ki Catrik Ireng.
Kembali semua mata terbelalak mendengar pe- nuturan Ki Catrik Ireng. Mereka benar-benar dibuat kaget dengan ucapan yang baru saja dilontarkan Ki Catrik Ireng. Karena mereka datang ke Puncak Lawu bukan untuk bertarung satu sama lain, melainkan un- tuk melihat pertarungan antara Ki Catrik Ireng mela- wan Pendekar Gila.
"Ha ha ha...!" Saat mereka tengah dalam keadaan kebingun- gan, tiba-tiba terdengar gelak tawa yang menggelegar. Membuat semua mata seketika memandang ke arah datangnya suara itu.
Dari arah timur, berkelebat seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular.
"Pendekar Gila...!" seru para pendekar serem- pak, setelah tahu siapa yang datang
Pemuda bertingkah laku gila itu masih tertawa tergelak-gelak. Tubuhnya tegak menghadapi Ki Catrik Ireng yang mengerutkan keningnya setelah melihat ru- pa pemuda itu.
"Kaukah Pendekar Gila itu?!" tanya Ki Catrik Ireng setengah membentak
"Benar!" sahut Sena tegas. "Aku tidak percaya! Tentunya kau bukan Pen- dekar Gila. Kau hanya pemuda gila yang sombong!" dengus Ki Catrik Ireng
Sena tertawa tergelak-gelak sambil menggaruk- garuk kepala.
"Terserah mu saja, Ki. Kau mau percaya atau tidak itu urusanmu. Aku hanya ingin tahu, apa mak- sudmu mengundangku ke sini...?" tanya Sena masih dengan tingkah lakunya yang aneh.
"Hm...." gumam Ki Catrik Ireng perlahan Mata lelaki tua itu memandang tajam ke arah Sena yang tetap bertingkah laku konyol.
"Baik! Katakan, ada hubungan apa antara kau dan Singo Edan?"
"Aku muridnya," sahut Sena tenang. "Bagus! Meski kau bukan Pendekar Gila yang lima puluh tahun lalu mengalahkanku, namun kurasa kau dapat mewakili gurumu! Sengaja aku mengun- dangmu kemari, untuk menentukan siapa di antara aku dan Pendekar Gila yang ilmunya lebih tinggi. Mu- lanya yang kuharapkan adalah gurumu. Tapi tak men- gapa, kau pun boleh menggantikannya," kata Ki Catrik Ireng
"Kalau itu tujuanmu, lebih baik aku mengalah. Tak ada gunanya bertarung kalau hanya mempere-
butkan pepesan kosong...."
"Pengecut!" maki Ki Catrik Ireng "Begitukah si- kap seorang pendekar yang sering disebut sebagai pendekar tanpa tanding?! Lihat..! Kalian telah melihat sendiri, bagaimana pendekar yang kalian agung- agungkan ternyata hanya kecoa busuk!"
Kata-kata pedas dan tajam dari mulut Ki Catrik Ireng yang merendahkan dirinya, tidak membuat Sena marah. "Ah, kalau aku ini kecoa, tentunya kau kutu busuk Ki!" balik Sena dengan niat mengejek
Mata Ki Catrik Ireng membelalak penuh ama- rah.
"Kurang ajar! Siapa pun kau, aku harus me- nyingkirkan mu!"
"Aha, terserah saja, Ki!" tantang Sena. "Bagus! Kalau lima puluh tahun silam aku ka- lah oleh gurumu, maka hari ini kau sebagai wakilnya akan menerima pembalasanku! Bersiaplah...!".
Usai berkata begitu, Ki Catrik Ireng segera me- langkah mundur tiga tindak. Tangannya diangkat ting- gi-tinggi, dengan jari mengepal. Kemudian sepasang tangan itu digerakkan ke muka. Tangan kanan ditekuk dengan tinju ke atas, sedangkan tangan kin dibuka dengan jari-jari lurus.
"Hhh...!" Ki Catrik Ireng memutar tangan kiri ke dalam lalu menyentakkan ke depan lagi. Tangan kanannya ditarik ke belakang, kemudian diputar dengan jari-jari terbuka. Disusul hentakan telapak tangan lurus ke depan. Jurus itu merupakan jurus pembuka yang di- beri nama 'Sampar Cobra'.
Menyaksikan lawan telah membuka jurus, Pen- dekar Gila malah tersenyum sambil menggaruk-garuk
kepala. "Bersiaplah, Pendekar Gila!" dengus Ki Catrik Ireng yang semakin sewot menyaksikan tingkah konyol Pendekar Gila. Membuat hatinya panas meletup-letup.
"Sejak tadi aku sudah siap, Ki," jawab Sena te- nang.
Semua pendekar yang menyaksikan tingkah la- ku Pendekar Gila, seketika tegang. Hati mereka ber- tanya-tanya, mengapa Pendekar Gila seakan menga- cuhkan lawan? Padahal lawan yang dihadapinya bu- kan orang sembarangan. Orang yang pernah bertarung dengan gurunya.
Kecemasan seketika menyelimuti hati semua pendekar. Tapi sesungguhnya, tingkah Sena yang se- perti kera itu tak lain sebuah jurus pembuka bernama 'Monyet Gila Siap Menerkam'.
'Oh, mengapa dia sepertinya belum siap...?" tanya Dewi Pandagu mengeluh. Hatinya cemas me- nyaksikan lelaki pujaannya. Dia begitu takut, kalau- kalau pemuda itu akan mendapat celaka karena belum siap menghadapi Ki Catrik Ireng yang berilmu tinggi.
"Kurasa memang tingkahnya begitu, Dewi," ucap rekannya dari Perguruan Teratai Perak, berusaha menenangkan. "Tenanglah...."
"Kuharap juga begitu," desis Dewi Pandagu. "Lihat! Dia telah membuka jurus!" seru Dewi Teratai Perak membuat mata semua pendekar terpusat penuh ke arah panggung.
***

Benar juga, Pendekar Gila kini menyurut dua langkah ke belakang. Dengan tertawa-tawa, dimu- lainya jurus pembuka yang merupakan jurus awal.
Tubuhnya meliuk-liuk seperti menari. Tangannya ber- gerak lemah gemulai dan lincah.
"Bersiaplah.... Aku akan mulai! Yeaaat..!" Ki Catrik Ireng memekik keras untuk membuka serangan. Tubuhnya melesat ke depan dengan tangan menyambar cepat. Tangan kanannya membentuk siku dengan kepalan ke atas. Sedangkan tangan kirinya di- putar, lalu dihentakkan ke dada lawan.
Melihat lawan melakukan serangan, dengan ce- pat Pendekar Gila menggerakkan tubuhnya. Tangan- nya diangkat lurus ke atas dengan telapak tangan sal- ing berhadapan. Kaki kanan diangkat sampai ke lutut lalu direntang ke kanan. Diikuti oleh gerakan membu- ka kedua tangannya. Selanjutnya terlihat gerakan me- nari. Tangan kanan masih di atas, sedangkan tangan kiri lurus ke bawah.
"Yeaaat..!" Dengan menggunakan jurus pembuka 'Kera Gi- la Merambah Rimba' Pendekar Gila berteriak nyaring, lalu dengan cepat tubuhnya melesat ke depan. Tangan kanannya yang semula di atas, kini menyibak ke de- pan. Sedangkan tangan kirinya diangkat ke atas dan diteruskan memukul ke arah lawan.
"Yeaaa...!" "Heaaat..!" Dua orang berilmu tinggi itu kini telah sama- sama melesat untuk melakukan serangan. Tangan dan kaki mereka bergerak lincah, seirama dengan gerakan tubuh. Tangan mereka bergantian melakukan seran- gan dan pertahanan. Sedangkan kedua kaki mereka saling menyapu ke kaki lawan.
"Ha ha ha...! Akhirnya kau akan mampus, Pen- dekar Gila. Yeaaa..."
Dengan ucapan sombong, Ki Catrik Ireng segera
berkelebat menyerang. Tangan kanannya memukul ke dada Pendekar Gila. Sedangkan tangan kirinya mem- bentuk pertahanan.
"Uts...!" Pendekar Gila menggeser kaki kanan ke samp- ing, menarik kaki kiri ke kanan, lalu dilangkahkan ke depan. Diikuti oleh pukulan tangannya.
"Edan..!" maki Ki Catrik Ireng kaget. Segera di- tariknya pukulan tangan kanannya, lalu diganti den- gan tangkisan tangan kiri. Setelah itu, kakinya dige- rakkan menendang.
Pendekar Gila meliukkan tubuhnya ke bawah. Tangannya bergerak menyambar kaki lawan. Hal itu memaksa Ki Catrik Ireng menarik serangan dengan ce- pat. Matanya semakin membelalak menyaksikan jurus Pendekar Gila yang semakin sempurna. Jurus itu me- mang pernah dihadapinya lima puluh tahun yang si- lam, tetapi kini lebih hebat!
"Rupanya selama lima puluh tahun menghi- lang, gurumu berusaha menyempurnakan jurus-jurus miliknya...!" seloroh Ki Catrik Ireng seraya melangkah ke belakang mengelakkan cengkeraman yang dilaku- kan Pendekar Gila. Kemudian dengan cepat Ki Catrik Ireng menyodorkan pukulan tangan kanannya ke tu- lang rusuk lawan.
"Weit...!" Pendekar Gila menggeser kaki kiri. Tubuhnya dimiringkan ke kanan. Menjadikan pukulan tangan lawan meleset di depannya. Kemudian dengan cepat Pendekar Gila melontarkan serangan tangan kirinya ke samping. Semua mata orang persilatan memandang pe- nuh kagum. Mata mereka tak berkedip, seakan akan tidak ingin melewatkan sekedip saja pertarungan itu.
Mulut mereka ternganga dan sesekali berdecak kagum.
"Ck ck ck..!" "Ini baru duel seru!"
***

8
Pendekar Gila masih terus menyerang. Gera- kannya yang seperti monyet, terlihat lucu dan lamban. Namun kenyataannya, serangan yang dilancarkannya sangat cepat. Tangannya yang menepak dan menca- kar, susul-menyusul tiada henti.
"Edan! Benar-benar jurus gila!" maki Ki Catrik Ireng tersentak kaget mendapatkan serangan yang aneh. Dilihatnya gerakan tangan dan kaki pendekar muda itu lambat. Namun jika dia tidak cepat berkelit tentunya cakaran dan tepukan tangan Pendekar Gila akan menghajar tubuhnya.
"Heaaat..!" "Uts...!" Ki Catrik Ireng lebih terkejut lagi ketika mera- sakan gerakan lambat itu mampu mengeluarkan angin pukulan yang menderu keras. Seakan topan besar me- nerpa tubuhnya.
Ki Catrik Ireng cepat-cepat memutar tubuhnya. Kemudian dengan gerakan cepat pula, orang tua ber- jubah hitam yang telah banyak makam asam garam di rimba persilatan itu melontarkan pukulan telapak tan- gan ke dada Pendekar Gila.
"Yeaaa...!" Ki Catrik Ireng rupanya kini tahu gelagat. Dia yang semula memandang rendah Pendekar Gila, kini
tidak bisa lagi meremehkannya. Serangannya yang menggunakan jurus-jurus ular pun dipergencar susul- menyusul. Tangannya mematuk-matuk, atau menam- par ke dada dan muka lawan.
Pendekar Gila dengan cepat berkelit. Tubuhnya meliuk ke bawah, ketika tangan lawan mematuk ke wajahnya. Lalu tubuhnya dimiringkan ke belakang ke- tika tangan lawan menampar dengan kibasan tangan- nya ke dada. Kakinya bergerak lincah, menjejak ber- ganti-ganti. Sedangkan tangannya berusaha mengha- lau dan menyambar ke kaki lawan yang turut menye- rang.
"Ck ck ck..! Hebat..!" puji Resi Sarameskari dis- elingi decakan kagum, menyaksikan gerakan yang di- lakukan Pendekar Gila. Walau usianya masih muda, namun tampaknya dia mampu menghadapi tokoh tua yang namanya pernah menjadi buah bibir para pende- kar. Bahkan pernah menundukkan banyak pendekar tangguh pada zamannya.
"Diakah Singo Edan itu, Guru...?" tanya Resi Bragas Wita, ingin lebih jelas tentang Pendekar Gila.
"Kurasa bukan. Mungkin dia muridnya," jawab Resi Sarameskari.
"Muridnya, Guru? Dari mana pemuda itu bisa tahu tempat persembunyian Singo Edan...?" tanya Resi Bramaweda.
"Entahlah, mungkin Singo Edan yang wataknya aneh itu telah mengambilnya. Kalau pemuda itu yang mencari, kurasa tidak mungkin...," jelas Resi Sara- meskari. "Mengapa begitu, Guru?" sambung Resi Bra- maweda. "Jangankan anak kemarin sore. Aku saja atau pendekar lain yang sebaya denganku, tak ada yang ta-
hu. Ah, sudahlah jangan bertanya dulu. Kita saksikan saja dulu pertarungan itu," tukas Resi Sarameskari.
Kedua murid utamanya itu menurut Mereka di- am dan kembali memperhatikan pertarungan antara Pendekar Gila melawan Ki Catrik Ireng.
Keduanya kini sudah tidak di panggung lagi. Panggung itu sendiri telah hancur lebur akibat seran- gan-serangan yang dilancarkan keduanya. Kini mereka berada di alam bebas, membuat gerakan mereka se- makin leluasa.
Pendekar Gila kali ini bergerak menyerang den- gan jurus 'Si Gila Membelah Awan'. Kedua tangannya menyapu ke atas, kemudian menyentak bareng ke de- pan dengan telapak tangan terbuka. Kaki-kakinya me- nyapu dan menendang bertubi-tubi ke arah lawan.
"Yeaaat..!" "Uts...! Heaaat..!" Ki Catrik Ireng segera melejit ke samping. Ke- mudian dengan gerakan membentuk setengah puta- ran, tangannya mematuk ke wajah lawan. Lalu, setelah melihat Pendekar Gila menggeser kaki ke samping, Ki Catrik Ireng menyusulkan tamparan tangan kiri ke da- da Pendekar Gila.
Wuttt! Tangan kiri Ki Catrik Ireng menderu cepat mengarah ke dada lawan. Sedangkan Pendekar Gila yang tidak menyangka lawan akan kembali menyerang dengan cepat langsung tersentak kaget. Matanya membelalak. Langkahnya mati. Mendapati hal itu, dengan cepat Pendekar Gila menyapukan tangan ka- nan untuk memapak tamparan lawan Gerakan tan- gannya seperti membelah dengan cepat
"Heaaat..!" Ki Catrik Ireng menarik tamparan tangan ki-
rinya. Lalu mengganti serangan dengan tendangan ka- ki kanan ke selangkangan lawan. Sedangkan tangan kanannya, kini kembali mematuk ke wajah Pendekar Gila.
Mendapat serangan cepat Pendekar Gila segera bersalto ke belakang. Dengan tubuh di udara, kakinya menjejak cepat ke batu cadas. Kemudian dengan tu- buh membalik Pendekar Gila menyatukan pukulan tangannya lalu menyerang ke arah lawan.
"Yeaaat..!" Dengan tubuh meluncur cepat Pendekar Gila kini balik menyerang. Tangannya mencecar Ki Catrik Ireng, yang menangkis dengan cepat setiap pukulan yang dilancarkannya.
"Heaaa...!" Tangan mereka kini bergantian memukul dan menangkis serangan lawan. Pendekar Gila terus me- rangsek lawan dengan tubuh mengapung di udara. Se- dangkan tubuh Ki Catrik Ireng terus mundur dengan menangkis serangan lawan sambil balas menyerang.
Semua mata membelalak Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut para pendekar yang menyaksi- kan pertarungan aneh itu. Dengan tubuh melayang laksana terbang, Pendekar Gila terus meluncur sambil mencecarkan pukulan dan terkadang menangkis se- rangan lawan.
"Ck ck ck..!" Semua mendecak kagum dengan kepala meng- geleng-geleng. Jarang sekali mereka melihat kemam- puan seorang pemuda seperti Pendekar Gila. Meski mereka dari golongan tua sekalipun, rasanya sangat sulit bertarung dengan tubuh melayang seperti itu. Bi- sa-bisa tenaga dalam mereka hilang di tengah jalan.
Pendekar muda itu benar-benar mampu me-
nunjukkan kelasnya. Tubuhnya terus melayang, sea- kan benar-benar mampu terbang seperti burung. Ka- kinya terkadang berputar untuk menendang, lalu ber- putar kembali dengan pukulan-pukulannya.
"Heaaat..!" Kalau saja yang menjadi lawan bukan Ki Catrik Ireng yang berilmu tinggi dan banyak pengalaman, su- dah tentu dalam beberapa gebrakan saja akan kewala- han menghadapi serangan-serangan aneh yang dilan- carkan Pendekar Gila.
Namun kini yang dihadapi Pendekar Gila ada- lah tokoh kelas wahid yang pernah menundukkan pendekar-pendekar tangguh rimba persilatan. Bahkan pernah pula bertarung melawan Singo Edan, guru Pendekar Gila. Tentunya Ki Catrik Ireng telah tahu ju- rus-jurus yang menjadi andalan Pendekar Gila.
"Rupanya semakin maju saja ilmu Pendekar Gi- la!" seru Ki Catrik Ireng sambil terus menangkis seran- gan-serangan Pendekar Gila, dengan sesekali memba- las menyerang.
"Yeaaat..!" Pendekar Gila melempar tubuhnya ke belakang, kakinya menjejak ke atas batu cadas. Kemudian berdi- ri dengan posisi siap melakukan serangan. Tangannya bergerak bagaikan kera yang hendak melempar. Tan- gan kanan diangkat ke atas setengah menekuk, se- dangkan tangan kirinya berada di perut dengan jari- jari tangan kejang mencengkeram.
"Jurus 'Kera Gila Melempar Batu'," gumam Ki Catrik Ireng yang telah tahu jurus itu. "Dulu gurumu boleh bangga dengan jurus itu. Namun sekarang jurus itu tak ada gunanya bagiku, Pendekar Gila! Yeaaat..!"
Tubuh Ki Catrik Ireng segera berkelebat untuk menyerang. Tangan kanannya membentuk kepala ular.
Sedangkan tangan kirinya direntang ke samping den- gan jari-jari membuat cengkeraman. Kemudian tangan kanan dan kiri bergantian melakukan patukan dan cengkeraman. Itulah jurus 'Naga Mencakar Langit'. Sa- lah satu jurus andalan Ki Catrik Ireng.
"Yiaaat..!" "Heaaa...!" Tubuh keduanya kembali melesat maju, siap melakukan serangan berikutnya.
***

Cakar dan tamparan Pendekar Gila kini seperti tangan seekor kera yang tengah melempar batu. Na- mun gerakannya sangat cepat menghasilkan deru an- gin keras ketika kedua tangannya bergerak.
Sedangkan Ki Catrik Ireng tak mau tinggal di- am. Tangan kanannya laksana kepala ular naga, me- matuk dan menampar ke wajah dan dada lawan. Se- dangkan tangan kirinya mencakar dan menghantam.
"Yiaaat..!" "Uts! Heaaa...!" Keduanya terus berkelebat cepat dengan tan- gan bergantian melakukan serangan dan tangkisan. Kaki mereka tak tinggal diam, bergerak cepat kian ke- mari.
Kemudian melakukan serangan dengan ten- dangan dan sapuan. Trak! "Yeaaat..!" "Hop...!" Setiap kali tangan dan kaki mereka beradu, terdengar suara keras memekakkan telinga. Dan tu- buh keduanya melompat ke belakang dua tindak, lalu

No comments:

Post a Comment