Sunday, April 14, 2019

002 Kumbang Hitam Dari Neraka


KUMBANG HITAM DARI NERAKA
oleh Firman Raharja

1
Malam baru saja meninggalkan bumi, sehingga pagi masih teramat buta. Kokok ayam jantan terdengar bersahutan, seperti menyambut sang Fajar. Keadaan masih meremang, belum banyak orang yang terban- gun. Mungkin masih banyak yang bergumul dengan selimut karena hawa terasa dingin.
Adipati Joyo Kerto terjaga, ketika menyadari sang istri tidak ada di sampingnya. Lelaki berbadan besar dengan muka bulat dihiasi oleh kumis lebat dan mata agak sipit serta hidung besar itu duduk di pinggir tempat tidur. Wajahnya tercenung, seakan tengah memikirkan kepergian istrinya sepagi buta ini.
"Hm, ke mana dia?" tanya sang Adipati lirih, setelah bergumam.
Perlahan dia bangun. Beberapa saat tubuhnya menggeliat Setelah menguap beberapa kali, kakinya melangkah pelan ke pintu kamar. Dan setelah membuka pintu, matanya diedarkan ke seluruh ruangan di dalam kadipaten.

Sepi! Sang Adipati melangkah ke luar. firasatnya tidak enak. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi di kadipaten. Terlebih dengan ketidakadaan istrinya di kamar. Tak biasanya istrinya bangun sepagi buta be- gini. Baru saja kakinya melangkah dua tindak melewati pintu kamar, tiba-tiba didengarnya suara yang menggelitik telinganya. Suara wanita yang terkikik- kikik manja ditimpali oleh suara lelaki.
"Ih, sabar sedikit kenapa, Truna.... Bukankah waktu kita masih panjang?"
"Ah, bagaimana mungkin aku sabar, Diajeng....
Sebentar lagi pagi. Tentunya adipati dungu itu bangun," sahut lelaki yang dipanggil Truna.
Darah Adipati Joyo Kerto seketika bagai mendi- dih, dan dadanya bergemuruh riuh. Sementara tan- gannya mengepal lalu meninju telapak tangan kirinya. Wajahnya membara, terbakar amarah.
"Kunyuk! Dikasih hati ternyata bocah itu meminta jantung!" dengus Adipati Joyo Kerto.
Penguasa Kadipaten Tegal Arang itu benar-benar marah. Bagaimana tidak? Pemuda itu telah dito- longnya. Dari pemuda miskin tiada guna, kini menjadi pengawal pribadinya. Tapi balasan pemuda itu sangat menyakitkan. Bukan hanya dia disebut adipati dungu, tetapi istrinya juga kini termakan rayuan gombal pe- muda itu. Keduanya kini berada dalam satu kamar. Apa- lagi yang diperbuat dua lawan jenis dalam satu kamar tanpa pengawasan? Tentunya mereka melakukan per- buatan yang tidak senonoh.
Dugaan Adipati Joyo Kerto memang benar. Di dalam kamar yang terletak paling belakang, dua orang manusia dalam keadaan tanpa busana tengah bercumbu. Pemuda berambut gondrong, bertubuh kurus dengan ikat kepala hitam itu mencumbu istrinya yang menggelinjang-gelinjang sambil tertawa manja.
"Truna! Sabar, Sayang.... Masa' kau ingin mela- kukan lagi? Bukankah kita tadi baru melakukannya," desis istri Adipati Joyo Kerto yang bernama Rana.
"Aku tak sabar, Diajeng.... Kau sangat menggiurkan, sehingga mampu membangkitkan kelelakian ku," sahut Truna masih terus mencumbu wanita cantik yang matanya mengerjap-ngerjap laksana mata seekor kelinci itu. Sedangkan bibirnya mendesis-desis, bagaikan kepedasan.
Keringat membanjir deras dari tubuh mereka yang telanjang. Tapi hal itu tidak menjadikan pengha- lang bagi keduanya untuk terus menikmati kemaksia- tan itu. Keduanya terus bercumbu rayu, memacu naf- su.
"Oh, Truna...!" "Diajeng, uhhh...!" keluh Truna. Tubuh pemuda itu mengejang. Matanya mem- beliak, merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Tangannya mencengkeram rambut Rana itu kuat-kuat. Berusaha mencari pegangan ketika dirasakan tulang-tulangnya bagaikan dilolosi dari tubuh.
Saat keduanya dalam puncak kenikmatan, tiba-tiba.... Brakkk!
Pintu kamar itu hancur, ditendang oleh seseo- rang dari luar. Menjadikan Truna dan Rana yang ten- gah melayang di puncak kenikmatan tersentak. Belum juga mereka tahu siapa yang telah mendobrak pintu kamar, terdengar makian keras....
"Bangsat! Inikah balas budi kalian?! Manusia- manusia iblis! Kalian harus mati! Heaaa...!"
"Adipati...," desis Truna dengan mata membelalak tegang, menyaksikan Adipati Joyo Kerto menggenggam golok besar sementara tubuhnya melesat hendak menyerang mereka.
Wajah pemuda kurus yang agak pucat itu kian bertambah pucat. Wajar saja wajahnya jadi begitu, karena kedudukannya memang tidak menguntungkan. Bisa saja tubuhnya berguling ke samping untuk mengelak. Tapi kalau hal itu dilakukan, Rana pasti akan menjadi korban.
"Celaka...!" pekik Truna dengan seluruh tubuh tegang tatkala sang Adipati meluruk semakin bertambah dekat Golok di tangan Adipati Joyo Kerto siap membelah tubuh. Tak ada pilihan lain baginya, kecuali menghindar.
"Heaaa...!" Golok di tangan Adipati Joyo Kerto bergerak cepat, membabat ke arah tubuh Truna yang berada di atas tubuh Rana. Pemuda itu dengan cepat menggu- lingkan tubuh ke samping kanan sebelum golok besar itu sampai. Tanpa ampun, tubuh Rana-lah yang menjadi sasaran. Cras! "Aaakh...!" Lengking kematian yang menyayat terdengar dari mulut Rana. Tubuh sintal tanpa sehelai benang itu seketika bermandikan darah.
"Diajeng,..!" pekik Adipati Joyo Kerto terkesiap. Beberapa saat dia tertegun bagai patung baru. Ma- tanya melotot ke arah tubuh istrinya yang menggelepar-gelepar sekarat dengan darah menyembur keluar, hingga kasur itu seketika berubah menjadi merah.
Tubuh Rana terus menggelepar-gelepar sekarat Dari mulutnya terdengar rintihan memelas.
"Maafkan aku, Kakang.... Maafkan aku! Oh...." Kepala Rana tergolek lemas. Jiwanya melayang seketika, meninggalkan raga yang tergolek tanpa gerak.
"Diajeng...!" pekik Adipati Joyo Kerto sambil menubruk tubuh istrinya yang telah mati. Lelaki berbadan besar dengan perut agak buncit itu menangis sejadi-jadinya. Sedangkan pemuda bernama Truna yang telah mengenakan pakaiannya kembali, tersenyum sinis penuh kemenangan.
***

Rupanya kejadian tersebut terdengar oleh para pengawal kadipaten yang tengah berjaga. Beberapa orang pengawal bergegas masuk untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Gusti, apa yang terjadi?" tanya seorang pengawal berbadan besar dengan otot menonjol. Wajahnya menampakkan kegarangan dan kasar. Tulang pipinya menonjol. Matanya terbelalak memandang mayat istri Adipati Joyo Kerto.
"Pengawal! Tangkap kunyuk itu...!" perintah sang Adipati sambil menunjuk ke arah Truna yang ter- senyum sinis.
Mendengar perintah atasannya, lima orang pengawal kadipaten yang berada di tempat itu segera maju untuk menangkap Truna. Namun dengan gesit pemuda itu berkelit, kemudian melenting ke atas dan tahu-tahu telah berada di luar kamar.
"Kejar dia! Bunuh...!" seru sang Adipati kalap. Kelima pengawal itu kembali memburu. Tombak di tangan mereka kini siap berbicara. Namun pemuda bernama Truna itu sepertinya tidak gentar sedikit pun menghadapi kelima pengawal bersenjata. Senyum sinisnya masih mengembang, seolah mengejek para pengejarnya.
"Percuma kalian menangkapku. Kalian hanya akan membuang-buang nyawa"
Usai berkata demikian, dengan cepat Truna mengibaskan tangan kanannya ke depan disertai tenaga dalam.
"Terimalah ini, heaaat..!" Kelima pengawal itu tersentak kaget, menyaksikan selarik pukulan dahsyat terlontar ke arah mereka. Mata kelima pengawal itu melotot tegang, berusaha
mengelakkan pukulan itu. Tapi, pukulan yang dilontarkan secara tiba-tiba itu terlalu cepat untuk dihindari, sehingga....
Desss! "Aaa...!" Jeritan kematian seketika terdengar. Dua orang pengawal yang berada paling depan menggelepar. Dada mereka hangus dengan lingkaran hitam. Tubuh keduanya mengejang sesaat, kemudian diam tanpa nyawa dengan darah hitam meleleh dari hidung, telinga serta mulut.
Tiga orang pengawal yang masih hidup kini hanya mematung. Nyali mereka seketika menciut, menyaksikan bagaimana kedua teman mereka mati secara mengerikan.
"Ha ha ha...! Lihatlah, itu contoh bagi kalian! Jika kalian berani coba-coba menangkapku, kalian pun akan mengalami hal seperti itu!" ancam Truna.
"Jangan hiraukan ocehannya! Bunuh dia...!" perintah Adipati Joyo Kerto. Nadanya penuh amarah. Bahkan kini, dengan golok besarnya dia menerjang kalap.
Melihat Adipati Joyo Kerto turut menyerang, ketiga pengawal yang semula telah ciut nyalinya kembali berani. Ketiganya segera bantu menyerang. Tombak di tangan mereka bergerak cepat, berusaha menusuk tubuh lawan.
Diserang serentak begitu rupa, tidak menjadikan pemuda berwajah pucat itu gentar. Tubuhnya segera berkelit dari serangan itu. Bahkan dengan cepat tangannya menyambar salah satu senjata lawan.
"Hea...!" Prajurit yang tombaknya direbut tersentak. Dia berusaha keras mempertahankan senjatanya. Akibatnya justru sangat parah. Pemuda itu menyentakkan senjata lawan yang telah dipegangnya, sehingga tubuh lawan terpental ke atas. Sedangkan kaki dan tangan kirinya menendang dan memukul dua orang pengawal. Gerakan tangan dan kaki kiri pemuda bermuka pucat itu sangat cepat, hingga kedua penjaga yang ilmu silatnya memang jauh di bawah pemuda itu tak mampu mengelak. Tanpa ampun lagi, keduanya mengalami hal serupa dengan teman mereka. Tubuh keduanya mencelat ke belakang, lalu jatuh membentur tembok dengan kepala pecah!
Betapa marahnya Adipati Joyo Kerto menyaksikan kelima prajuritnya dalam satu gebrakan saja dapat dibinasakan oleh pemuda yang semula dianggap enteng. "Kuhancurkan tubuhmu, Iblis! Heaaa...!" bentak Adipati Joyo Kerto, geram.
Dengan kemarahan memuncak, Penguasa Kadipaten Tegal Arang itu membabatkan goloknya ke tubuh lawan. Golok itu berkelebat ganas, membuat Truna agak kaget. Tidak diduganya kalau adipati berbadan gemuk dan berperut buncit itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Malah serangan yang dilancarkan olehnya senantiasa mengarah pada titik kematian.
Hampir saja golok besar di tangan Adipati Joyo Kerto membabat tubuh Truna, kalau pemuda itu tidak segera melebarkan kakinya sambil merundukkan tubuh. Golok itu hanya mendesir di atas rambutnya.
"Hiaaat..!" Setelah dapat mengelakkan sabetan golok lawan, dengan cepat Truna melancarkan jotosan ke perut lawan. Jotosan itu begitu keras, karena dibarengi tenaga dalam penuh. Celakalah Adipati Joyo Kerto jika tidak segera menghindar dengan cepat. Ternyata adipati bertubuh gemuk itu memang tidak berusaha menghindar. Dia hanya menghempaskan napas untuk mengerahkan tenaga dalam ke perutnya.
Buggg! Adipati Joyo Kerto menyeringai saat menerima pukulan keras lawan. Sepertinya dia tidak merasakan apa-apa. Justru pemuda berwajah pucat yang menyerangnya terlihat meringis kesakitan. Wajah pemuda itu semakin memucat. Bagaimanapun juga pemuda itu merasa tegang, menyaksikan lawan bagaikan tak me- rasakan pukulan 'Bara Neraka' yang dianggapnya dahsyat itu. Malah kini tangannya lengket dengan kulit perut sang Adipati.
Celaka...! Keluh Truna dalam hati. Ilmu apa yang digunakannya.
Sementara, bibir Adipati Joyo Kerto kembali menyeringai, menyaksikan lawannya semakin memucat.
"Iblis cabul, nyawa istriku harus kau tebus! Terimalah kematianmu. Heaaa...!"
Adipati Joyo Kerto mengangkat golok di tangannya tinggi-tinggi. Rupanya dia benar-benar tidak ingin membuang waktu maupun memberi waktu bagi pemuda itu untuk bertobat.
Golok besar di tangan sang Adipati terangkat tinggi. Kemudian dengan cepat meluncur ke bawah, siap membelah batok kepala pemuda itu. Namun tanpa diduga pemuda berwajah pucat yang telah meng- hancurkan rumah tangganya telah mendahului. Tangan kiri pemuda itu telah meraih sebuah senjata yang terselip di dalam pakaiannya. Senjata berbentuk bundar seperti kipas dan berwarna hitam itu disabetkan ke perut sang Adipati.
Cras!
"Akh...! Kau..," pekik Adipati Joyo Kerto dengan mata melotot penuh kemarahan. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang seraya memegangi perutnya yang menganga lebar. Darah tampak tersembur dari luka di perutnya.
"Ha ha ha....! Mampuslah kau, Adipati Dungu! Heaaa...!" Setelah tertawa terbahak-bahak melihat lawannya tak berdaya, Truna melemparkan benda bulat seperti kipas berwarna hitam ke arah sang Adipati. Benda itu berdesing memekakkan telinga. Begitu cepat benda itu melaju, membuat sang Adipati yang terluka tidak mampu menangkis atau mengelakkannya. Tak ampun lagi, senjata aneh milik Truna menghantam le- hernya. Cras!
"Aaa...!" Lolongan kematian membahana di udara pagi buta. Tubuh adipati malang itu terhuyung ke bela- kang. Kedua tangannya kini memegangi leher yang mengucurkan darah. Nampaknya leher Adipati Joyo Kerto terkoyak. Matanya membesar dan gigi-giginya siding beradu, berusaha menahan rasa sakit yang tia- da terkira.
"Bangsat..! Licik..! Terkutuklah kau, Iblis!" maki Adipati Joyo Kerto tersendat-sendat Tubuhnya masih berusaha bertahan untuk tetap berdiri. Namun rupanya darah sudah banyak yang keluar, sehingga tu- buh besar itu ambruk, menimbulkan suara bagai gempa.
Truna kembali tergelak-gelak. Ditangkapnya senjata hitam seperti kipas miliknya yang melayang kembali padanya setelah memangsa leher Adipati Joyo Kerto. Setelah memasukkan senjata itu ke balik baju pemuda berwajah pucat itu kembali tertawa sambil mendekati mayat Rana.
"Memang seharusnya kau mati, Perempuan Dungu! Kau tidak berarti bagiku."
Setelah memandangi tubuh bersimbah darah itu, Truna kini melangkah ke arah mayat Adipati Joyo Kerto. Kakinya menendang mayat bertubuh besar itu hingga telentang. Lalu dengan congkak diludahinya.
"Cuhhh...!" Usai melakukan semuanya, tiba-tiba pemuda itu tertegun. Dia rupanya mengingat sesuatu.
"Hei, mengapa aku tidak mengingat Suci...?" Tanpa pikir panjang lagi, dilangkahinya mayat- mayat yang bergelimpangan itu. Tubuh Truna melesat untuk mencari anak gadis Adipati Joyo Kerto yang cantik. Yang senantiasa menggoda nafsunya untuk menikmati kecantikan dan keperawanan si gadis.
Namun betapa gusarnya Truna setelah mengetahui kalau gadis itu telah pergi. Rupanya ketika se- muanya terjadi, Suciati melihatnya, dan secara diam- diam pergi dari sana.
"Bangsat! Bahaya kalau gadis itu dibiarkan berkeliaran! Dia akan menceritakan pada orang apa yang terjadi, bahkan pada kerajaan," gerutunya den- gan sinar wajah khawatir.
Setelah mengobrak-abrik beberapa bagian ruangan kadipaten, pemuda itu pun melesat meninggalkan tempat itu.

2
Seorang gadis cantik berbaju hijau dengan rambut terurai nampak berlari dengan wajah ketakutan. Dia adalah Suciati, anak Adipati Joyo Kerto yang telah melihat bagaimana ayahnya mati oleh pemuda berparas pucat yang diangkat oleh sang Ayah sebagai pengawal pribadinya. Sudah berkali-kali ayahnya diperingati agar hati-hati dengan pemuda itu. Tapi selalu saja ayahnya meremehkan peringatannya itu.
Suatu hari, ketika Suciati memergoki ibu tiri nya tengah berbisik-bisik dengan pemuda itu, hatinya mengatakan kalau pemuda itu bukan orang baik-baik. Dan Suciati berusaha menyampaikan hal itu pada ayahnya. "Ayah. Suci berharap Ayah hati-hati dengan pemuda berwajah pucat itu," kata Suciati suatu ketika saat berdua dengan ayahnya.
"Memangnya kenapa, Anakku? Kulihat, pemu- da itu baik," jawab ayahnya. "Janganlah berprasangka yang tidak-tidak, Anakku. Berprasangka itu tidak balk."
"Tapi, Ayah...," Suciati hendak kembali berkata, tapi ayahnya menukas dengan cepat.
"Sudahlah, kau tak perlu khawatir." Suciati tak dapat berkata lagi. Dia tidak berani membantah kata-kata ayahnya. Dari kecil dia dididik agar tidak membantah. Apalagi dia seorang gadis, yang harus mematuhi semua aturan orang tuanya.
Jauh di lubuk hatinya, Suciati benar-benar cemas. Takut kalau-kalau pemuda berwajah pucat itu menyimpan maksud yang buruk. Terlebih pemuda itu sering dilihatnya bersama ibu tiri nya.
Apa sebenarnya yang terjadi antara Truna dengan ibu tiri ku? Nampaknya mereka merencanakan sesuatu. Bisik hati Suciati menduga-duga.
Dugaannya terbukti juga. Karena suatu malam, ketika dia terbangun dari tidur, telinganya menangkap suara tawa kecil di kamar samping. Tawa manja seorang wanita. Dan gadis itu sangat mengenali suara wanita itu, yang tidak lain suara ibu tiri nya. Lalu suara lelaki itu adalah suara Truna, pengawal pribadi ayahnya. Heh, sedang apa mereka? Tanya Suciati dalam hati malam itu. Rasa ingin tahunya menjadikan gadis itu keluar perlahan-lahan dari kamar. Kemudian dengan mengendap-endap, gadis itu menuju ke kamar sebelah di mana suara itu terdengar.
Sesaat Suciati berhenti, dan mengawasi keadaan sekeliling. Setelah yakin tak ada orang yang melihat, gadis itu meneruskan langkahnya. Dengan mengendap-endap didekatinya pintu kamar itu.
Uh, hampir ketahuan! Desis Suciati dalam hati ketika melihat pintu kamar tidak tertutup rapat. Untung tubuhnya segera menyelinap ke tembok, hingga kedua orang yang ada di dalam kamar tak melihatnya.
Perlahan Suciati menjulurkan kepala untuk mengintip dari celah pintu. Matanya tiba-tiba melotot, dan darahnya pun berdesir. Kemudian tubuhnya ditenderkan ke tembok. Giginya bergemeretak keras, berusaha menahan gejolak dadanya setelah menyaksikan pemandangan tadi. Sebuah pemandangan yang cukup membuat jantungnya berdetak kencang .
Jagat Dewa Batara.... Terkutuklah kalian! Desis Suciati dalam hati sambil berusaha menahan gelora dalam dadanya. Bayangan dua tubuh polos saling rengkuh itu, seakan tidak mampu dienyahkan dari pikirannya. Oh, tidak! Aku tidak boleh melihat terus! Bantah hati Suciati. Kemudian dengan tertatih lemas, di tinggalkannya tempat itu. Pelan dibukanya pintu kamar lalu dikuncinya. Dengan lemas gadis itu terduduk di tepi tempat tidur.
Rintihan-rintihan di kamar sebelah masih terdengar. Membuat tubuh gadis itu kian menggigil. Jiwanya melayang, entah ke mana. Bayangan dua sosok polos yang saling berpacu masih melekat di benaknya. Sulit sekali hal itu dienyahkan.
Gadis itu merebahkan diri. Kedua telinganya ditutupi dengan tangan agar tidak mendengar. Tapi tak bisa, suara rintihan kenikmatan ibu tiri nya masih juga terdengar.
Saat benak Suciati disesaki bayangan kejadian yang menimpa keluarganya, terdengar suara tawa keras. Tawa itu langsung membuyarkan lamunannya.
Betapa kagetnya gadis itu ketika tahu kalau tawa itu terlepas dari mulut Truna yang di belakangnya.
Dengan segera Suciati lari meninggalkan tempat itu. Di wajahnya tergambar kecemasan dan keta- kutan. Dia yakin, tentunya pemuda bermuka pucat itu punya maksud tak baik.
Truna masih tertawa, seperti membiarkan gadis berbaju hijau itu lari ketakutan. Lalu, tiba-tiba tubuh- nya melompat laksana terbang. Dalam sekejap telah berada di depan gadis itu
"Mau lari ke mana, Cah Ayu...?" tanya Truna sambil bertolak pinggang. Kembali tawanya terdengar, menjadikan Suciati semakin ketakutan.
"Tidak...! Jangan ganggu aku...!" jerit si gadis. Gadis itu segera membalikkan tubuh untuk lari meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya seketika tertahan, manakala dirasakan ada yang menariknya dari belakang. Ketika kepalanya menoleh, ternyata ikat pinggangnya dipegangi oleh pemuda bermuka pucat itu.
"Ha ha ha...! Mau lari ke mana, Cah Ayu? Bukankah saat seperti ini yang kau tunggu?" seloroh Truna sambil tertawa-tawa. Tangannya masih memegang erat pinggang si gadis.
"Lepaskan! Kurang ajar...!" sentak Suciati, berusaha melepaskan ikat pinggangnya dari genggaman tangan pemuda itu. Namun rontaannya justru semakin membuat pemuda itu senang.
"Jangan berpura-pura, Cah Ayu...," Truna kembali tertawa. Kemudian ditariknya ikat pinggang gadis itu, membuat tubuh Suciati tertarik ke arahnya. Lalu dengan tergelak-gelak dipeluknya tubuh Suciati penuh nafsu.
"Lepaskan! Lepaskan aku...!" Gadis itu meronta-ronta untuk melepaskan diri dari pelukan Truna. Tapi rontaannya sebagai gadis biasa, tidak berarti sama sekali bagi Truna. Meski bertubuh kurus, tapi pemuda itu memiliki tenaga dalam hingga tetap sanggup menguasai Suciati.
"Mengapa malu-malu, Cah Ayu.... Bukankah di sini tak ada siapa-siapa, selain kita berdua?"
Truna kembali tertawa terbahak-bahak. Kemudian tanpa mempedulikan rontaan Suciati, tubuhnya segera melesat membawa gadis itu meninggalkan tempat tersebut
"Lepaskan aku! Lepaskan...!" jerit Suciati sambil terus meronta untuk melepaskan diri dari panggulan Truna. Tangannya memukuli punggung pemuda itu yang masih saja tergelak-gelak sambil terus berlari.
"Nanti kau kulepaskan, setelah aku mendapatkan tubuhmu dan kegadisan mu.... Ha ha ha...!"
"Tidak! Aku tidak mau...!" jerit Suciati histeris. Dengan sekuat tenaga dipukulinya punggung Truna. Namun pukulannya bagai tidak berarti sama sekali.
Jangankan pukulannya yang sekadar mengandalkan tenaga luar, pukulan pendekar pun masih sanggup di tahan pemuda itu.
"Nanti pun kau akan mau," sahut Truna meledek.
Pemuda berwajah pucat itu terus berlari sambil memanggul tubuh Suciati ke arah timur, menuju hutan yang terbentang luas. Nampaknya Truna hendak membawa Suciati ke sana, lalu menggagahinya di tempat itu. Pemuda itu berpikir kalau di hutan dia akan tenang. Tak akan ada orang yang mengganggunya.
Mereka mulai memasuki pedalaman hutan yang sepi. Pepohonan besar berdiri angkuh di sana sini, membuat sinar matahari sulit untuk menerobos masuk. Keadaan yang teduh dan agak gelap itu membuat Truna semakin tergesa-gesa untuk melaksanakan niat busuknya.
Tanpa disadarinya, sepasang mata mengawasinya dari rerimbunan semak. Sepasang mata itu menyipit, melihat kepanikan seorang gadis di bahu pemuda kurus yang tertawa terbahak-bahak. Mulutnya yang semula bersiul kini terhenti. Dan ketika jarak Truna kian mendekat, pemilik sepasang mata itu melenting ke atas pohon.
"Manusia keparat! Apa yang hendak dia laku- kan terhadap gadis itu?" gumam pemuda yang telah hinggap di sebuah dahan besar sambil terus mengawasi. "Hm, dunia ini memang aneh. Baik, aku ingin tahu apa yang hendak dilakukannya."
Pemuda itu segera menyelinap pada dahan yang lebih rimbun. Matanya terus mengawasi pemuda yang memanggul seorang gadis berbaju hijau. Sedangkan pemuda bermuka pucat itu mengenakan pakaian berwarna hitam, dengan ikat kepala hitam pula.
Sekitar lima tombak dari pohon besar tempat pengintai tadi bersembunyi, Truna menghentikan la- rinya, lalu segera menghempaskan tubuh Suciati yang memandangnya dengan sinar mata ketakutan.
"Jangan...! Aku tidak mau...!" ratap gadis itu menghiba, ketika melihat pemuda berwajah pucat itu hendak membuka pakaiannya.
"Kau harus mau, Cah Ayu.... Sebab aku sangat menginginkan mu. Kini, kau akan merasakan hal yang kau lihat semalam," desis Truna seraya merenggut pakaian bagian atas Suciati dengan kasar.
Breeet! "Auh, tidak...!" pekik Suciati. Segera kedua tangannya menutupi bagian dadanya yang tampak karena bajunya terkoyak. Melihat hal itu, Truna semakin beringas. Mata jalangnya menggerayangi tubuh Suciati seperti hendak menelannya bulat-bulat.
Dengan menggeram bagai seekor macan lapar, Truna hendak menubruk tubuh Suciati. Namun tiba- tiba, terdengar suara tawa seseorang diselingi sebuah syair.
"Ha ha ha.... Lucu! Lucu sekali. Bagaikan macan kelaparan. Nafsumu laksana setan. Jika setan bersarang di dada, manusia pun akan buta. Ha ha ha...!"
Kemudian disusul oleh alunan suling yang amat merdu, seakan ditiup dengan nurani yang bersih. "Kurang ajar! Siapa kau...?!" bentak Truna marah karena merasa kesenangannya terusik. "Kalau kau manusia, keluarlah...!"
Setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Truna segera menotok tubuh Suciati yang tak akan dibiarkan lepas begitu saja.
Bukannya sesosok tubuh yang muncul sebagai jawaban dari tantangan yang dilontarkan Truna, me-
lainkan gelak tawa yang menggema terdengar. Suara tawa yang mampu menggugurkan daun-daun pohon.
"Bangsat! Tunjukkan wujud mu! Hadapi aku...!" kembali pemuda berwajah pucat itu berkoar menan- tang. Matanya memandang tajam ke atas pohon, berusaha mencari orang usil yang telah mengganggunya.
"Hi hi hi.... Lucu, kau seperti orang linglung," tiba-tiba terdengar tawa keras seorang lelaki.
Pemuda berwajah pucat itu membalikkan tubuh. Seketika keningnya berkerut menyaksikan ting- kah laku seorang pemuda berusia di bawahnya. Pemuda itu tersenyum cengengesen. Sedang tangannya menggaruk-garuk kepala, seperti orang bodoh dan gila. Dia mengenakan rompi kulit ular dengan ikat kepala yang juga terbuat dari kulit ular. Meski cengar-cengir bodoh, wajahnya tergolong tampan dan bersih. Sedangkan jari-jari kaki kanannya menggaruk-garuk betis kaki kiri.
Hampir saja Truna tertawa melihat tingkah pemuda itu, kalau saja dia tidak segera ingat pada cara datangnya yang begitu tiba-tiba. Berarti pemuda gila ini bukan sembarangan, pikirnya. Lagi pula, dia masih ada kepentingan lain dengan Suciati.
"Pemuda gila! Lekas pergi dari sini, sebelum kesabaranku hilang!" bentak Truna, berusaha menahan tawa melihat tingkah lucu pemuda gila itu.
Pemuda yang persis orang gila itu adalah Sena Manggala yang lebih dikenal oleh tokoh rimba persilatan dengan julukan Pendekar Gila! Mendapat sambutan tak ramah dari orang di depannya, mulutnya melepas tawa nyaring. Tangan kanannya semakin cepat menggaruk-garuk kepala. Sedangkan tangan kirinya kini menepuk pantat berkali-kali.
"Lucu sekali.... Kau mengusirku, Kisanak? Padahal hutan ini bukan milikmu. Ah, dunia ini benar- benar gila! Mengapa kalian hendak berkencan di hutan?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Sebenarnya dia hanya berniat menyindir, sebab dia tahu kalau gadis berbaju hijau yang kini duduk menyandar di pohon nampak ketakutan. Berarti pemuda bermuka pucat itu bukan pemuda baik-baik.
"Pemuda gila, apa urusanmu! Cepat pergi dari sini, atau tanganku akan menghajarmu, hah?!" bentak Truna, gusar melihat tingkah laku Sena.
"Wah, memang bukan urusanku. Baiklah, aku mau pergi," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala dengan wajah yang masih seperti orang bodoh yang kurang waras.
Kemudian setelah cengengesan dan tersenyum-senyum, Sena melangkah hendak meninggalkan tempat itu. "Tuan, tolonglah aku...!" jerit Suciati melihat pemuda aneh itu hendak pergi.
Langkah Sena terhenti. Kembali tangannya menggaruk kepala yang tak gatal.
"Nona, mengapa kau minta tolong padaku? Bukankah lelaki bermuka mayat itu kekasihmu?" tanya Sena, sengaja memancing kemarahan Truna.
"Pemuda gila, rupanya kau harus diajar adat," geram Truna, yang tak dapat lagi menahan kemarahannya setelah mendengar pemuda gila itu menyebutnya muka mayat
"Adat..?" Pendekar Gila mengerutkan kening. "Ya, ya.... Memang kau harus diajar adat"
"Kurang ajar! Kau benar-benar harus dihajar! Heaaa...!" Truna segera membuka jurus. Tangannya di- rentangkan ke samping, bagai merentangkan sayap.
Kemudian diangkat ke atas, membentuk sebuah lingkaran di atas kepalanya. Jurus yang tengah dilakukan bernama 'Gagak Hitam Mengepak Sayap'. Jurus itu merupakan jurus pembuka dari sekian banyak jurus yang dimiliki Truna. Meski begitu, itu bukan jurus sembarangan. Karena menilik dari gerakan tangan Truna yang keras dan cepat, tentunya jurus itu sangat berbahaya dan mematikan.
"Yeaaa...!" bentak Truna seraya melompat untuk memulai serangan.
Dengan masih cengengesan, Pendekar Gila menekuk lututnya agak ke bawah. Tangannya bergerak ke atas kepala. Kemudian kaki kanannya melangkah maju, dengan tangan kiri bergerak ke depan guna menangkis serangan lawannya.
"Heaaa...!" Gerakan Pendekar Gila yang kelihatannya lambat, ternyata mampu mendahuluinya. Menjadikan Truna tersentak kaget. Dia segera melompat ke belakang.
Sena nyengir sambil menggaruk-garuk kepala, membuat Truna semakin bertambah marah.
"Yeaaa...!" bentak Truna seraya menggerakkan tangan kirinya dengan keras dan cepat
Melihat hal ini, Pendekar Gila hanya menyongsong perlahan dengan tangan kirinya.
"Heaaa ..!" Gerakan Pendekar Gila yang kelihatannya lambat, ternyata mampu menangkis serangan lawan dengan baik
"Kurang ajar! Kuremukkan batok kepalamu! Yeaaa...!" bentak Truna dengan mata melotot.

3
Dengan penuh amarah, Truna kembali menye- rang. Tangannya bergerak cepat, memukul ke arah ke- pala Pendekar Gila. Meski tangan pemuda bermuka pucat itu tidak besar, namun angin pukulannya terasa berdesir keras.
"Heaaa...!" Wettt! Melihat serangan lawan yang cepat, Pendekar Gila membelalakkan mata. Keningnya berkerut, kemu- dian dengan cengengesan ditariknya kaki kanan ke belakang. Sementara kaki kirinya digeser dan ditekuk agak mendatar.
"Uts...! Rupanya kepalaku masih licin, Sobat..!" ledeknya sambil memutar kepala dengan menunduk, mengelakkan serangan lawan. Kemudian dengan tubuh meliuk-liuk, Pendekar Gila maju selangkah sambil tangannya menepuk.
Plak! "Edan!" maki Truna dengan mata membelalak. Tubuhnya melompat mundur untuk mengelakkan serangan lawan yang aneh dan sulit dipercaya. Gerakan lawan kelihatannya lamban, namun hasilnya sangat di luar dugaan. Kalau saja dia tidak melompat ke belakang, tentu dadanya sudah remuk.
"Heaaat..!" Dengan melancarkan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat', Pendekar Gila kembali menyerang. Tubuhnya meliuk-liuk seperti menari, dengan sesekali menepuk. Melihat gerakan lawan yang terlihat tak bertenaga, Truna kembali bergerak untuk memapaki serangan lawan. Namun, belum juga sampai, Pendekar Gila tiba-tiba telah kembali menepuk ke arah dadanya. Hal itu membuat Truna segera menarik serangannya kembali. Dia tak mau mengambil resiko.
"Gila...! Ilmu apakah yang digunakannya?" gumam Truna dengan mata membelalak
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian kembali dia menyerang dengan jurus yang sama.
"Hi hi hi.,.. Yeaaa...!" Truna yang sudah merasakan kedahsyatan jurus itu, segera bersalto ke udara. Tapi, baru saja kakinya hendak menjejak tanah, lawan telah menyerangnya kembali.
"Celaka...!" pekik Truna kaget. Mau tak mau, dia harus kembali bersalto, untuk mengelakkan serangan lawan yang aneh itu.
"He he he...!" Sena terkekeh. Tangannya masih bergerak lemah gemulai. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari. Kelihatannya sangat lemah dan lambat, namun dengan gerakan seperti itu, ternyata Pendekar Gila mampu mengejar lawan yang telah mengerahkan segenap tenaganya.
"Pemuda gila! Katakan, siapa kau sebenarnya?!" bentak Truna sambil terus mengelakkan serangan- serangan aneh yang dilancarkan lawannya.
Pendekar Gila terkekeh. Tangannya menggaruk-garuk kepala tanpa berhenti menyerang. hal itu menjadikan Truna semakin geram dan marah. Dia segera mengeluarkan jurus 'Gagak Hitam Mengepak Sayap', berusaha menghancurkan serangan lawan. Namun serangannya malah berantakan, ketika Pendekar Gila kembali meliuk dan menepuk.
"Jurus edan...!" maki Truna dengan wajah semakin pucat sambil berusaha mengelakkan serangan lawan.
"He he he...! Lucu sekali kau dengan keadaan seperti itu, Sobat! Wajahmu pucat laksana mayat! Matamu keluar laksana jengkol tua...! He he he...!"
Truna semakin bertambah marah mendengar ledekan itu. Gigi-giginya bergemerutuk keras, dan matanya melotot. Kemudian dengan mendengus, pemuda berwajah pucat itu kembali mencoba menyerangnya dengan jurus 'Gagak Hitam Mengepak Sayap' untuk meredam jurus lawan.
"Heaaat..!" Tangan Truna mengepak, dan sesekali mencakar ke arah lawan. Tapi serangan yang dilancarkan dengan tenaga dalam penuh itu tak mampu juga me- mecahkan jurus Pendekar Gila. Bahkan serangan yang dilancarkan oleh Truna yang berupa kepakan, cakaran, serta hantaman, bagai membentur batu karang kokoh.
"Edan! Benar-benar jurus edan...!" kembali Truna memaki-maki seorang diri. Wajahnya kian memucat, setelah menyadari kalau lawannya bukan pemuda sembarangan. Namun Truna tidak mau mengalah begitu saja. Dengan mendengus, pemuda berwajah pucat itu kembali menyerang.
"Kuhancurkan tubuhmu.... Heaaa...!" "He he he... Kau begitu marah, Sobat? Ah, sesungguhnya berkelahi dalam keadaan marah sangat berbahaya," celoteh Pendekar Gila sambil bergerak meliuk-liuk. Untuk mengelakkan tamparan dan pukulan tangan lawan.
Truna benar-benar bernafsu untuk secepatnya menjatuhkan lawan. Gerakan tangan dan kakinya semakin lama bertambah kencang. Tangannya seperti sepasang sayap yang mengepak dan menghantam. Kedua kakinya tak tinggal diam, ikut menyapu dan menendang. Disusul dengan cengkeraman dan cakaran keras yang mematikan.
"He he he...!" Pendekar Gila terkekeh, menyaksikan lawan terlihat semakin bernafsu untuk mengalahkannya. Dengan tangan menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila merubah jurusnya. Tubuhnya mendadak seperti orang mabuk. Itulah jurus 'Dewa Mabuk Membelenggu Sukma'.
Melihat Pendekar Gila bagai tak memiliki tenaga sedikit pun, Truna semakin bernafsu untuk dapat menjatuhkan lawan. Kemudian bersama pekikan menggelegar, Truna mempercepat serangannya.
"Heaaat..!" Dengan jurus 'Gagak Hitam Mencabik Bangkai' Truna berkelebat. Tangannya yang mengejang, mencakar ganas ke muka dan dada lawan.
"Terimalah kematianmu, Pemuda Gila!" Dengan tetap terhuyung-huyung, Pendekar Gila segera menggeser tubuh ke samping. Tangannya menepis serangan lawan dengan lemas.
"Akh...!" Truna tersentak. Ditariknya cakaran tadi. Kemudian kembali menyerang dengan cakaran tangan yang lain.
"Uts...!" Pendekar Gila merundukkan kepala, membuat cakaran lawan melesat di atas tubuhnya, lalu menghunjam pohon.
Crab! Pendekar Gila dengan gerakan aneh, menampar perut lawan dengan punggung tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya, memukul dada lawan sambil mendorong.
Degk! Bettt! "Uhk...!" keluh Truna tertahan. Tubuhnya langsung terlontar ke belakang. Beruntung pukulan yang dilancarkan Pendekar Gila tidak seberapa keras, hingga dia tidak mengalami luka dalam yang berarti.
Pendekar Gila tertawa dengan tangan menggaruk-garuk kepala, membuat Truna semakin marah.
"Bedebah...! Aku akan mengadu nyawa den- ganmu, Gila! Heaaa...!"
Dengan kemarahan yang meluap-luap, Truna kembali melakukan serangan. Bahkan kini dia menjadi nekat, sehingga serangan-serangannya membabi buta
"He he he...!" Pendekar Gila terkekeh. Sementara itu, Suciati yang masih dalam keadaan tertotok memandangi kedua pemuda itu dengan harap-harap cemas. Meskipun belum mengetahui siapa pemuda bertingkah gila itu, dia berharap agar Pendekar Gila dapat memenangkan pertarungan itu. Namun dilihat dari sikapnya, pemuda tampan berompi kulit ular sanca itu adalah pemuda baik-baik
"Hyang Widhi, semoga pendekar itu dapat mengalahkan lelaki yang membunuh ayahku," bisik Suciati dengan mata masih memandang pada pertarungan itu. "Celaka! Edan...! Benar-benar jurus edan!" rutuk Truna dengan wajah tegang. Dia sungguh tidak menyangka kalau serangannya akan hancur begitu rupa. Padahal lawan sepertinya mabuk
"He he he...!" Pendekar Gila kembali terkekeh, lalu dengan gaya orang mabuk dia kembali menyerang.
"Uts...!" Truna segera bersalto, berusaha mengelakkan tamparan tangan Pendekar Gila. Wajahnya kini ber- tambah tegang, malah hampir seputih kapas.
Suciati yang melihat pemuda berwajah pucat itu terdesak, kini tanpa sadar tersenyum. Entah mengapa, dia begitu mengharapkan pemuda gila itu memenangkan pertarungan.
"Oh, Jagat Dewa Batara! Semoga kau mengabulkan doa ku," desis Suciati penuh harap. Senyumnya semakin mengembang, saat menyaksikan pemuda gila itu terus mendesak lawan. Membuat Truna semakin mundur dan mundur.
Pendekar Gila semakin mendesak lawan, hingga keduanya jauh meninggalkan hutan. Kini mereka berada di alam terbuka ketika tiba-tiba terdengar suara orang berseru,
"Tunggu...!"
***

Pendekar Gila menghentikan serangan lalu melompat dua tombak ke belakang. Matanya memandang ke arah timur, di mana terlihat empat lelaki tua berlari menuju ke arahnya. Dan setelah dekat keempat lelaki tua itu segera menjura hormat
"Terimalah salam hormat kami, Kisanak," kata keempat lelaki tua itu berbareng.
Sena menggaruk-garuk kepala. Dia tak mengerti mengapa keempat lelaki tua itu menyampaikan hormat padanya.
"Ah, mengapa Kisanak semua berbuat begitu? Seharusnya, aku yang melakukan hal tersebut. Karena menurutku, kalianlah yang patut dihormati."
"Ah, tidak begitu, Kisanak Kamilah yang harus memberi hormat padamu," tutur lelaki tua bertubuh sedang dengan otot menonjol, yang mengenakan rompi coklat tua. Seperti warna ikat kepalanya, rambutnya ikal tidak terlalu gondrong.
Wajah lelaki itu begitu tenang, meski cambang bauk menghiasi. Alis matanya tebal dan lebat Matanya tajam, namun tak garang. Malah nampaknya sangat ramah. Lelaki itu bernama Ki Wirapati, Ketua Padepokan Cakra Geni.
Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang mungkin seusia Ki Wirapati. Rambutnya agak putih serta panjang terurai. Ikat kepalanya kuning dengan lukisan kepala macan. Hidungnya mancung dan matanya agak sipit. Tak ada kumis, hanya jenggot tebal. Sedangkan baju yang dikenakannya rompi seperti loreng macan. Dialah Ki Panca Loreng, Ketua Perguruan Macan Loreng. Salah satu perguruan besar di wilayah tengah. Di sisi Ki Panca Loreng, berdiri seorang lelaki berpakaian warna putih yang aneh. Keanehan itu terletak pada lengannya yang buntung. Sedangkan jari-jari lengan kanannya, bukan jari-jari biasa. Tapi terbuat dari logam. Rambutnya putih terurai dengan ikat kepala dari akar pohon. Wajahnya agak murung melukiskan keprihatinan. Entah apa yang menjadi beban pikirannya. Lelaki tua itu bernama Ki Yaksa Asti, Ketua Perguruan Cakar Sewu.
Dan seorang lagi adalah lelaki bertubuh tinggi besar dengan sorot mata tajam. Rambutnya digelung ke atas. Pakaiannya mirip seorang resi. Di tangannya tergenggam senjata berupa tombak bermata dua yang panjangnya se lengan. Hidungnya besar, sedangkan mulutnya tertutup oleh kumis yang lebat Dialah Ki Tunggal Manik dari Perguruan Teratai Putih.
Setelah memandangi satu persatu keempat lelaki tua yang masih tersenyum ramah ke arahnya, Sena mengaruk-garuk kepala sambil cengengesan
"Ah ah ah.... Kenapa harus begini?" tanyanya masih menggaruk-garuk kepala. "Ah, antara kita belum saling mengenal. Mengapa kalian menghormatiku yang gila ini?"
Tanpa menghilangkan rasa hormat, keempat lelaki tua itu memperkenalkan nama dan dari mana asal mereka sebenarnya satu persatu.
Kepala Sena mengangguk-angguk. Sementara tangannya masih menggaruk-garuk kepala. Di bibirnya tersungging senyum yang terlihat aneh. Kini mulai di ketahui, siapa mereka sebenarnya. Rupanya keempat lelaki tua itu adalah orang-orang nomor satu di perguruan masing-masing. Nama mereka memang pernah didengarnya.
"Hm...," gumam Sena perlahan. "Tak pantas rasanya aku menerima hormat kalian. Bukankah kalian lebih tua dariku dan memiliki nama besar yang patut dihormati pula?"
"Kami yakin tak keliru," sahut Ki Wirapati. "Benar," sambung Ki Yaksa Asti. "Kami yakin, kaulah Pendekar Gila dari Gua Setan."
"Ah, rupanya pandanganmu tajam juga, Ki," gumam Sena sungkan, sambil tetap cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. "Tak dapat aku menutup diri lagi dari pandangan kalian."
"Kami berharap, Kau sudi menerima hormat kami...!" ujar keempat lelaki tua itu, seraya menjura hormat "Ah..., ah! Kalian jangan berlebihan terha- dapku. Sekarang katakanlah, mengapa kalian menghentikan pertarungan kami?" tanya Sena tegas.
"Maafkan kalau kami lancang. Sesungguhnya kami ada urusan juga dengan bocah...," tiba-tiba Ki Wirapati menghentikan ucapannya. Matanya meman-
dang ke tempat Truna tadi berada. "Celaka, dia telah pergi...!"

4
Semua mata seketika mengikuti pandangan Ki Wirapati. Mata mereka terbelalak lebar, karena pemuda berwajah pucat itu telah berkelebat pergi ketika mereka tengah berbicara.
"Kita harus mendapatkannya!" kata Ki Tunggal Manik.
"Sebenarnya, ada urusan apa antara kalian dengan pemuda itu...?" tanya Sena ingin tahu.
Dengan cepat dan singkat, Ki Panca Loreng menceritakan mengapa mereka hendak menangkap sekaligus membunuh pemuda berwajah pucat itu. Pemuda yang dikenal dengan nama Anjasmara, Widura, Rupasa, Kulana, dan kini bernama Truna itu sesungguhnya pemuda hidung belang. Dia telah banyak membuat keresahan. Suka mengganggu istri orang dan gadis-gadis. Bahkan anak-anak mereka mati setelah diperkosa oleh pemuda itu.
"Begitulah ceritanya....." ucap Ki Panca Loreng, mengakhiri ceritanya.
"Heh, mengapa kalian tak bilang dari tadi?" sentak Sena.
Keempat lelaki tua itu tak menjawab. Mereka hanya menundukkan kepala.
"Kalau begitu, kita kejar dia! Aku yakin, dia kembali ke hutan. Ayo, jangan sampai kita terlambat," ajak Sena.
Kemudian, kelima orang ini segera melesat meninggalkan tempat itu untuk mengejar pemuda berwajah pucat yang menjadi buronan keempat lelaki tua tersebut Apa yang diduga oleh Sena ternyata benar. Pemuda berwajah pucat yang memiliki banyak nama itu tengah berlari ke arah hutan di mana Suciati berada. Di bibirnya tersungging senyum, seakan puas dapat lepas dari kelima orang yang tentunya akan membuatnya semakin repot.
"Huh, untung mereka tidak langsung menyerangku. Hm, ada gunanya juga pemuda gila itu..," gumamnya sambil tersenyum-senyum. "Tapi aku tidak habis pikir, siapakah pemuda gila itu? Ki Wirapati dan lainnya menyebut Pendekar Gila. Ah, mungkinkah pendekar yang hidup pada puluhan tahun silam muncul lagi...?"
Truna terus memikirkan siapa sesungguhnya pemuda berompi kulit ular yang seperti orang gila itu. Dia terus mempercepat langkahnya agar segera sampai di tempat Suciati berada.
"Dilihat dari gerakannya, memang persis dengan cerita orang-orang tua tentang Pendekar Gila. Hm...," gumamnya kembali dengan hati yang dipadati rasa penasaran. "Kalau benar dia Pendekar Gila, celakalah aku! Rimba persilatan akan semakin bersih dari orang-orang sepertiku. Ah, persetan dengan dia! Yang penting aku harus mendapatkan Suci. Gadis itu sangat menggiurkan!"
Truna kembali tersenyum, ketika melihat Suciati masih berada di tempatnya dalam keadaan tertotok. Mata gadis itu membelalak ketakutan, manakala melihat kemunculannya.
"He he he.... Kita akan senang-senang, Manis! Tak ada lagi yang akan mengganggu," kata Truna sambil melangkah mendekati tubuh Suciati yang semakin ketakutan.
Dengan cepat digendongnya tubuh gadis itu di pundak. Pemuda berwajah pucat ini hendak meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba terdengar suara gelak tawa memenuhi hutan.
"Ha ha ha...!" Truna terkejut. Matanya menyapu ke sekelilingnya, mencari asal suara tawa itu.
"Pemuda gila itu...," desisnya kelu. Nampak raut keterkejutan tergambar di wajahnya. Sehingga wajahnya yang pucat semakin pucat pasi.
Tawa itu masih menggema, seakan-akan berada di setiap penjuru hutan. Truna menjadi semakin kebingungan, ketika suara itu berubah-ubah arah. Terkadang di depan, di belakang, kemudian di sampingnya. Pemuda berwajah pucat itu perlahan menurunkan tubuh gadis yang tak berdaya dalam totokannya. Dia berdiri mematung, dengan mata menyapu ke sekeliling dengan wajah tegang.
"Ha ha ha...! Kau lucu sekali, Sobat! Tadi kulihat kau tersenyum-senyum. Mengapa kini kau seperti tikus ketakutan?"
Marah sekali Truna diejek seperti itu. Selama malang-melintang di rimba persilatan, dia belum per- nah takut
"Pemuda gila! Kalau kau memang lelaki, keluarlah! Tunjukkan mukamu! Aku Truna tak pernah takut pada siapa pun!"
"Benarkah...?" Tiba-tiba pemuda gila itu telah di belakangnya. Tingkahnya masih tetap seperti tadi, cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
Truna terkejut, dan matanya melotot tegang ketika mendengar suara pemuda gila itu di belakangnya. Segera tubuhnya diputar.
"Kau..?!" desis Truna, geram. "Ya, aku...," sahut Sena tegas. Namun tingkah lakunya masih tetap seperti semula. Bahkan pemuda gila itu kini tertawa terbahak-bahak. Hingga suaranya menggema dalam sepinya hutan.
"Kenapa kau ikut campur urusanku?" tanya Truna berusaha menutupi kesalahannya.
"Kenapa...? Ha ha ha.... Kau lucu sekali, Sobat. Bukankah tadi kau yang menyuruhku untuk keluar dari persembunyian ku? Itu berarti kau meminta ku untuk ikut campur urusanmu," kata Sena dengan niat meledek. Belum juga mulut pemuda berwajah pucat itu sempat menanggapi ledekan Sena, tiba-tiba dari arah timur terdengar seruan seseorang.
"Kisanak, biarlah pemuda berandal itu kami urus. Dia harus bertanggung jawab kepada kami atas perbuatannya!"
Tidak lama kemudian, muncullah empat orang lelaki tua yang terdiri dari empat pemimpin perguruan berbeda. Truna tersenyum melihat kedatangan empat lelaki tua itu untuk menyembunyikan ketakutannya. Malah dengan berpura-pura ramah, mulutnya melepas basa-basi.
"Ah, sungguh kehormatan bagiku karena kalian sebagai orang penting rimba persilatan sudi menemui- ku."
"Tutup mulutmu, Iblis! Kami datang bukan un- tuk mempercayai kata-katamu yang busuk!" dengus Ki Wirapati kesal.
"Ya! Kami datang bukan untuk mempercayaimu lagi. Tap kami datang untuk menghukum mu!" tambah Ki Yaksa Asti dengan mata tajam menghunjam ke arah pemuda berwajah pucat yang masih tampak tenang.
"Apa salahku, hingga kalian hendak menghukumku?" tanya Truna kalem. Seakan dirinya benar- benar tak berdosa. Hal itu membuat keempat orang tua itu mendengus gusar.
"Bedebah! Masih juga kau menyembunyikan muka di balik kedok bututmu, Bocah! Bukankah gadis itu sebagai bukti siapa kau sebenarnya, hah?!" bentak Ki Panca Loreng.
"Ya, ikutlah kami untuk dihukum! Atau kau harus berhadapan dengan kami?!" ancam Ki Tunggal Manik.
Truna bagaikan tak gentar menghadapi keempat orang tua itu. Mulutnya malah mengumbar tawa, membuat keempat orang tua yang hendak menangkapnya mengerutkan kening dan saling pandang. Mereka seperti terkesima. Dan tanpa mereka sadari, tawa yang dilepaskan pemuda berwajah pucat itu mengandung ilmu tawa 'Pengikat Sukma'. Suatu ilmu yang mampu membuat orang terkesima jika mendengarnya.
Pendekar Gila mengerutkan kening, menyaksikan keempat tokoh tua itu hanya saling pandang kebingungan. Dia hampir tak habis pikir, mengapa semuanya terkesima oleh tawa Pemuda berwajah pucat itu? Karena lucu, tangan kanannya menggaruk-garuk kepala serta tangan kirinya menepuk-nepuk pantat seraya tergelak-gelak.
"Ha ha ha...! Lucu..., lucu...!" oceh Pendekar Gila, diselingi tawa mengguntur yang mampu membuyarkan serangan ilmu tawa Truna.
Keempat lelaki tua itu tersentak, bagai baru tersadar dari mimpi. Mata mereka langsung membelalak. Kemarahan mereka pun semakin menjadi-jadi.
"Kurang ajar! Tangkap dia...!" seru Ki Wirapati.
***

Pendekar Gila yang merasa tak ada urusan dengan pemuda berwajah pucat itu lagi, segera melompat ke arah Suciati. Dibukanya totokan pada tubuh gadis itu. Kemudian diajaknya menjauh dari arena pertempuran antara empat tokoh tua dengan pemuda itu.
Pertarungan antara keempat orang tua gagah yang berusaha menangkap pemuda berwajah pucat itu mulai berlangsung sengit. Keempat tokoh tua yang sudah tahu bagaimana ilmu pemuda itu, tanpa sungkan- sungkan mengeroyoknya.
Urusan mereka sama. Karena mereka telah di- perdayai oleh pemuda itu. Anak dan murid wanita keempat tokoh tua itu telah menjadi korban rayuan gombal si pemuda. Pantaslah jika mereka bergabung untuk menuntut balas.
"Kau harus mampus, Buaya Darat! Heaaat..!" Ki Wirapati membuka serangan dengan jurus 'Seribu Gunturnya yang dahsyat. Kepalan tangannya membara. Setiap dia memukul, deru angin panas laksana guntur bersahutan.
"Hm.... Percuma kau melawanku!" ujar Truna, meremehkan lawannya.
"Bangsat rendah! Jangan sombong! Heaaa...!" Ki Wirapati terus melancarkan serangan. Tangannya bergerak cepat Terkadang memukul, kemudian menangkis. Suatu gerakan yang hebat, cepat dan berbahaya. Namun ucapan pemuda itu terkadang memang tidak kosong. Dengan tenang dia menanggapi serangan lawan.
"Hiaaat..!" "Hup...!" Sambil menekuk kedua kakinya sedemikian rupa, Truna melebarkan kakinya ke samping. Kemudian dengan cepat kaki kanannya diangkat, lalu menendang. Sedangkan tangannya menepak untuk menepis pukulan lawan.
Plak! "Uhhh...!" Cepat-cepat Ki Wirapati membuang tubuh ke samping. Kalau tidak, tentu iganya akan patah terkena tendangan lawan yang keras dan mematikan.
"Sudah kukatakan, percuma kalian melawanku...," ejek pemuda berwajah pucat itu sambil terse- nyum sinis.
"Sombong! Jangan pongah dulu, Buaya Darat! Terimalah kematianmu! Heaaat.."
Kini Ki Yaksa Asti yang menyerang. Tangan kanannya yang terbuat dari logam bergerak cepat, mencakar ke arah lawan. Gerakannya sangat cepat, sehingga tangannya tampak banyak sekali. Karena itulah dia berjuluk si Cakar Seribu.
Truna tersenyum pongah. Dengan tenang serangan lawan dielakkannya. Tubuhnya bergerak lincah, meliuk, dan melentur menghindari. Dengan menggunakan jurus 'Gagak Merunduk Mengelak Elang', pemuda berwajah pucat itu terus berkelit dari cakaran lawan.
"Hiaaat..!" "Uts...! Masih belum, Ki?!" ejeknya. Kepongahan pemuda berwajah pucat itu semakin menjadi-jadi, membuat muka Ki Yaksa Asti merah padam. Matanya semakin melotot lebar. Dia kemudian
meningkatkan serangannya. Tangannya bergerak lin- cah, mencakar ke samping, ke atas, lalu ke bawah.
Kalau saja Truna tak gesit dan lincah dalam mengelak, sudah pasti tubuhnya akan hancur tercabik-cabik cakar lawan. Namun pemuda berwajah pucat itu bagai telah tahu jurus-jurus lawan, dengan enteng dia mengelitkan serangan-serangan lawan.
"Percuma kau mengeluarkan jurus 'Cakar Lan- git'mu, Ki!" ejek Truna ketus, membuat Ki Yaksa Asti terkejut karena jurusnya telah dikenali lawan
"Dari mana kau tahu nama jurusku, Buaya Da- rat!" bentak Ki Yaksa Asti.
"Kau lupa kalau dua tahun aku berada di per- guruanmu," ujar Truna setelah tertawa tergelak-gelak,
"Bangsat..! Heaaa!" Ki Yaksa Asti kembali melancarkan serangan. Kini tak dipedulikannya ocehan pemuda berwajah pucat itu. Dia harus bisa menjatuhkan pemuda itu dan membunuhnya bila perlu.
Namun Truna ternyata benar-benar telah tahu semua jurusnya. Hingga dengan mudah pemuda berwajah pucat itu mampu mengatasi serangannya. Bahkan tanpa diduga Ki Yaksa Asti, dia mampu mengeluarkan suatu jurus gabungan yang dahsyat Jurus 'Cakar Seribu' digabung dengan jurus dari Padepokan Cakar Sewu.
"Celaka...!" pekik Ki Yaksa Asti dengan mata melotot kaget. Bukan hanya dia, Ki Wirapati pun terkejut menyaksikan bagaimana pemuda berwajah pucat itu menggabungkan jurus padepokannya dengan jurus Perguruan Cakar Sewu.
"Kurang ajar! Licik...!" rutuk Ki. Wirapati. "Lebih baik kita serang dia bersama-sama! Kurasa dia pun telah menyerap jurus-jurus milik kita,"
saran Ki Tunggal Manik.
"Baiklah! Kita memang tak perlu malu!" sahut Ki Panca Loreng setuju. Kemudian mereka langsung menyerang Truna bersama-sama.
"Heaaa...!" Meski dikeroyok oleh empat orang tokoh silat berilmu tinggi, pemuda berwajah pucat itu masih tenang. Dia masih mencibirkan bibirnya sambil meladeni serangan-serangan lawan. Meski kelihatannya pemuda itu agak kerepotan mengelakkan serangan keempat lawan, namun wajahnya tak sedikit pun tergambar rasa takut "Rupanya kalian telah menjadi orang pengecut!" dengusnya penuh kesinisan. Sedangkan tangan dan kakinya bergerak menyerang atau menangkis serangan lawan.
"Persetan dengan ucapanmu! kau harus segera kami singkirkan dari dunia, agar gadis-gadis aman!" dengus Ki Panca Loreng sengit. Tangannya yang bergerak seperti tangan macan, terus berusaha merangsek lawan.
"Heaaat..!" "Uts...! Hiyaaa...!" Pertarungan keempat orang tua melawan seorang pemuda yang berwajah pucat itu berlangsung seru. Keempat orang tua itu berusaha secepatnya untuk merobohkan lawan. Jurus-jurus mereka bergantian menyerang. Hal itu cukup merepotkan Truna yang kini hanya mampu bertahan. "Heaaat..!" "Hup...! Heaaa...!" Pertarungan itu masih terus berlangsung. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Semua hanya terpusat pada pertarungan itu. Keempat orang
tua yang terus menyerang, tak mau menganggap enteng pemuda berwajah pucat yang telah menyerap ilmu perguruan mereka. Sedangkan Truna pun tidak mau mati konyol begitu saja. Dia terus saja mengelakkan serangan lawan-lawannya.
Tanpa terasa pertarungan itu terus bergeser dari tempat semula. Kini keempat lelaki tua itu terus menggiring Truna keluar dari hutan.
Sementara Sena dan Suciati hanya menonton. Mereka tak dapat berbuat apa-apa, kecuali mengikuti pertarungan antara pemuda berwajah pucat melawan keempat tokoh tua.
"Kita ikuti mereka, Nona," ajak Sena. Suciati sesaat menatap wajah Sena dalam-dalam, membuat bibir pemuda tampan itu tersenyum-senyum dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya yang persis orang gila datang lagi, setelah hilang beberapa saat
"Terima kasih atas pertolonganmu, Tuan Pendekar," kata gadis itu dengan rasa haru, semakin membuat Sena kebingungan. Terlebih ketika melihat air matanya mengalir membasahi pipi. "Kalau saja tak ada Tuan, entah sudah bagaimana nasibku."
"Ah, mengapa begitu?" ujar Sena setelah tertawa cekikikan. Tangannya masih menggaruk-garuk kepala.
Suciati tak langsung menjawab. Kembali ditatapnya wajah Sena, meski telah melihat tingkah laku pemuda itu sejak awal, namun gadis itu belum yakin kalau pemuda tampan dan gagah itu benar-benar gila. Itu sebabnya dia beberapa kali menatap wajah Sena, seakan-akan ingin meyakinkan hatinya. Setelah yakin kalau pemuda tampan itu memang tidak sungguh- sungguh gila, barulah dia berkata,
"Jika tidak, tentunya pemuda itu sudah memperkosaku."
Tanpa diminta, Suciati menceritakan hal yang telah menimpa dirinya. Ayahnya, Adipati di Tegal Arang telah mati di tangan Truna, ketika dia memergo- ki pemuda berwajah pucat itu tengah bergumul dengan ibu tiri nya. Setelah kematian ayahnya, pemuda itu hendak memperkosanya.
"Untunglah Tuan Pendekar datang.... Kalau tidak, entah bagaimana nasibku," ulang Suciati dengan terisak. "Ah ah ah, jangan menangis, Nona.... Hu hu hu.... Aku jadi sedih," Sena turut menangis. Hatinya terenyuh mendengar penuturan Suciati. Tapi tiba-tiba dia tergerak sambil bergumam lirih. "Oh, persoalan kehidupan memang tak akan ada habisnya. Sudahlah, Nona. Tak perlu ditangisi apa yang telah terjadi. Ayolah, kita lihat apa yang tengah terjadi."
Kemudian Sena menggandeng tangan Suciati meninggalkan tempat itu untuk melihat apa yang terjadi pada keempat pendekar tua yang tengah mengeroyok pemuda berwajah pucat
Pertarungan ternyata masih berlangsung sengit dan telah sampai di bibir sebuah jurang dalam yang menganga. Siap memangsa siapa saja yang terperosok ke dalamnya.
Kelihatannya pemuda berwajah pucat sudah tak dapat berbuat banyak. Wajahnya bersimbah darah seperti ada bekas cakaran. Entah itu hasil serangan Ki Yaksa Asti atau Ki Panca Loreng.
Pemuda berwajah pucat itu benar-benar terde- sak. Pandangan matanya gelap karena tertutup darah. Hingga ketika Ki Wirapati dengan pukulan 'Seribu Guntur'nya menyerang, pemuda itu tak dapat mengelak lagi. "Terimalah kematianmu. Heaaa...!"
Degk! "Uhk...! Wuaaa...!" Darah langsung tersembur dari mulut pemuda itu, kemudian tubuhnya yang limbung terjerumus ke jurang disertai lengkingannya yang menyayat
Keempat orang tua itu tertegun, memandang ke bawah jurang yang sangat dalam. Mereka menghela napas lega, merasa biang keladi yang telah banyak memangsa gadis-gadis telah dapat dibinasakan.
Sena tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala, membuat keempat lelaki tua itu tersentak. Mereka segera mengalihkan pandangan ke arah Pendekar Gila yang berdiri di sisi Suciati.
"Kisanak, kalau kau tak keberatan, kami ingin mengajak mu ke padepokan kami," kata Ki Wirapati setengah mengajak.
"Ah, sebuah kehormatan bagiku. Baiklah, Ki.... Sekalian aku ingin menimba lebih banyak pelajaran hidup darimu," jawab Sena. "Oh, ya. Gadis ini adalah putri Kanjeng Adipati...."
"Putri Kanjeng Adipati...?!" ucap empat tokoh tua itu hampir berbareng.
Mata mereka membelalak setelah mendengar penuturan Sena. Keempatnya seketika memandang ke arah Suciati dengan seksama. Kemudian serentak mereka menjura hormat.
"Ampuni kami yang tak tahu adat ini, Kanjeng Putri!"
"Tak apa, Paman. Aku kini bukan anak Kanjeng Adipati lagi. Ayahanda telah tiada," tutur Suciati sambil berlinang air mata, membuat kelima orang lelaki itu turut terhanyut dalam kesedihannya.
"Kanjeng Putri, kalau kami boleh tahu... apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Ki Wirapati. "Hamba lihat, tadi Kanjeng Putri bersama pemuda iblis itu."
Dengan terisak, Suciati menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Diceritakan awal mula kejadian yang akhirnya menimpa keluarganya. Mulanya datang seorang pemuda berwajah pucat yang mengaku bernama Truna ke kadipaten untuk mencari pekerjaan.
"Dari pertama aku sudah tidak simpati pa- danya. Sorot matanya sangat jalang dan memendam nafsu. Namun ayahanda tak mau percaya...," tutur Suciati. Kelimanya diam. Tak ada yang buka suara. Sena masih menggaruk-garuk kepala. Namun mukanya tidak cengengesan seperti biasa. Pemuda itu seperti turut terbawa alur cerita yang dituturkan Suciati.
Setelah sesat menarik napas panjang dan dalam, Suciati meneruskan.
"Sering aku memergoki pemuda itu bercakap-cakap dengan ibu tiri ku. Aku semakin curiga. Hingga pada akhirnya kulihat sendiri apa yang mereka lakukan. Sungguh terkutuk perbuatan mereka!"
Sampai di sini, mimik muka Suciati nampak geram. Sedangkan sepasang matanya berkilat-kilat menahan amarah.
"Saat itu, sebagai seorang gadis aku tak tahu harus berbuat apa melihat perbuatan terkutuk itu. Aku hanya bisa memendam kejengkelan. Rupanya ayah terjaga ketika hari menjelang pagi. Dan ayah memergoki mereka, hingga terjadi pertarungan antara ayah dan pemuda itu...."
"Kami turut berduka cita," ucap keempat lelaki tua dengan suara penuh keharuan. Apalagi mereka kini mendengar isak tangis Suciati yang semakin menjadi jadi.
"Lalu, apa yang hendak Tuan Putri lakukan?" tanya Ki Panca Loreng memberanikan diri untuk buka mulut.
Suciati hanya menggeleng. Namun kini tatapannya tertuju pada Sena. Sepertinya dia meminta pendapat dari pemuda itu. Sementara yang ditatap hanya menggaruk-garuk kepala, tak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Apakah Tuan Putri hendak ikut Tuan Pendekar?" tanya Ki Wirapati yang melihat Suciati masih memandang Sena.
"Kalau boleh," sahut Suciati, bernada pasrah. Mendengar jawabannya, Sena merasa bingung. Tangannya menggaruk-garuk kepala semakin keras. Lalu dahinya ditepuk dengan tangan kiri.
"Ah, mengapa begitu?" katanya dengan suara lirih.
"Apakah Tuan tak sudi menerimaku? Sedangkan Tuan telah menolongku?" desak Suciati, semakin membuat Sena kebingungan.
Pendekar muda itu cengengesan Kemudian bibirnya memperlihatkan nyengir kuda seraya menggeleng-geleng kepala.
"Ah ah, bukan begitu, Tuan Putri." "Lalu apa yang membuat Tuan ragu?" desak Suciati. "Entahlah, aku tak tahu. Yang pasti, aku tak mungkin membawamu. Ah, mengapa aku bodoh? Bukankah lebih baik kau bersama Ki Wirapati?" saran Sena. "Bagaimana, Ki?"
"Aku tak keberatan," sahut Ki Wirapati. "Ah, syukurlah. Tuan Putri, kuharap kau mau
menerima uluran tangan Ki Wirapati. Bukannya aku tak mau diikuti olehmu. Namun langkahku tak menentu. Aku hanya mengikuti naluri belaka. Kau tak akan sanggup, Tuan Putri. Nah, kuharap Tuan Putri paham...," tutur Sena.
"Bagaimana kalau Kisanak mampir di pesanggrahan ku?" ajak Ki Wirapati.
Sena tak langsung menjawab. Wajahnya mena- tap langit, di mana mentari belum tinggi. Kepalanya digaruk-garuk, sedangkan mulutnya nampak nyengir.
"Baiklah! Tak baik rasanya menolak ajakan mu," setelah terdiam beberapa saat, akhirnya menye- tujui ajakan itu.
Mereka kemudian segera meninggalkan tempat yang kembali sepi itu. Angin pagi bertiup lembut, membawa rasa sejuk bagi siapa saja yang diterpanya. Sedangkan mentari pelan merayap naik.
***

5
Tubuh Truna menukik deras ke dalam jurang yang dinamakan Jurang Neraka. Tentu tubuhnya akan hancur, jika menghunjam dasar Jurang Neraka yang berbatu setajam pisau.
Saat tubuh Truna melayang, berkelebat sesosok tubuh bungkuk bagai terbang. Kemudian dengan cepat menyambar tubuh pemuda itu, sebelum sampai ke dasar Jurang Neraka.
Tappp! Tubuh kecil dan bungkuk berpakaian serba hi- tam itu ternyata seorang wanita tua. Dia terus berkelebat sambil memanggul tubuh Truna. Dilihat dari caranya menangkap tubuh pemuda itu, tentunya dia bukan orang sembarangan. Dialah Dewi Bunga Iblis, tokoh wanita sesat yang pernah malang-melintang di rimba persilatan puluhan tahun silam. Kini tiba-tiba dia muncul kembali, menolong pemuda berwajah pucat yang tubuhnya hampir saja hancur.
"Licik...! Mereka licik! Tunggu saatnya, kalian akan mendapatkan balasan atas perbuatan kalian!" rutuk Dewi Bunga Iblis sendirian sambil berlari membawa pemuda yang wajahnya bersimbah darah.
Dewi Bunga Iblis membawa tubuh pemuda itu ke sebuah tempat di sekitar Jurang Neraka, tepatnya sebuah gubuk yang sangat sederhana. Di dalam gubuk itu, terdapat sebuah tempat tidur yang terbuat dari ba- tu. Di situlah tubuh Truna dibaringkan.
Perempuan tua itu sejenak memandangi tubuh Truna.
"Hm.... Rupanya puluhan tahun aku tak berkecimpung dalam rimba persilatan, menjadikan mereka tenang mempelajari dan memperdalam ilmu," gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepala perlahan.
Perlahan perempuan tua itu membuka pakaian Truna yang penuh darah. Matanya seketika membelalak, saat menyaksikan sesuatu di dada pemuda itu.
"Pukulan 'Seribu Guntur'!" pekiknya tanpa sadar.
Dewi Bunga Iblis menyurut mundur dengan mata masih memandang tajam ke dada pemuda yang ditolongnya. Sepertinya dia sangat mengenali pukulan itu
"Wiasa keparat! Rupanya dia telah melanggar janji!" dengusnya dengan wajah bengis. "Licik! Dia telah mengangkat murid!"
Lalu kaki perempuan tua itu kembali melangkah, mendekati tubuh Truna. Dirabanya dada si pemuda.
Kepala perempuan tua itu mengangguk-angguk, sementara bibirnya terulas senyum tipis. Kemudian dari bibir yang keriput itu terdengar gumaman.
"Wiasa, karena kau telah mengangkat murid, maka aku pun akan mengangkat murid pula. Bocah ini akan menjadi muridku! Dialah yang akan menggan- tikan ku! Hik hik hik...," ujar Dewi Bunga Iblis sambil tertawa mengikik nyaring.
Kemudian dengan mulut berkomat-kamit merapal mantera, Dewi Bunga Iblis menekankan telapak tangannya ke dada Truna. Dan tak lama kemudian, asap mengepul di antara tangan dan dada yang menyatu itu.
"Akh...!" Truna menjerit kesakitan. Tubuhnya menggeliat, berusaha menahan rasa sakit Namun Dewi Bunga Iblis tak peduli. Dia terus menekan telapak tangannya dengan mulut masih komat-kamit merapal mantera. Sedangkan matanya terpejam rapat. Semakin keras tekanan telapak tangannya, semakin banyak asap yang mengepul.
"Aaakh...!" Truna makin keras menjerit. Keringat sebesar biji jagung yang bercampur darah tersembul dari wajahnya yang pucat. Begitu juga dengan Dewi Bunga Iblis. Keringat tampak membanjiri seluruh tubuhnya.
Lama kejadian itu berlangsung. Pada akhirnya, dengan napas terengah perempuan tua itu berhenti. Dan ketika tangannya diangkat, bekas pukulan yang menghitam di dada Truna telah hilang.
Dewi Bunga Iblis terhuyung meninggalkan tempat itu. Dia harus melakukan semadi untuk memulihkan tenaga dalamnya yang telah dikuras untuk menyembuhkan luka akibat pukulan maut 'Seribu Guntur'.
Pemuda yang tadi menjerit-jerit kesakitan den- gan tubuh bergelinjangan, kini terdiam. Rupanya dia tertidur pulas. Napasnya yang tadi tersengal-sengal, kini terdengar agak teratur.
***

"Uhhh...!" Terdengar keluhan lirih dari mulut Truna. Bi- birnya meringis, merasakan sakit yang masih mendera wajahnya.
Dari dalam sebuah kamar, Dewi Bunga Iblis melangkah terbungkuk-bungkuk. Wajahnya yang semula letih, kini telah kembali seperti semula. Malah langsung berbinar manakala melihat pemuda yang ditolongnya nampak menggeliat sadar.
"Hik hik hik...! Akhirnya kau sadar juga," kata Dewi Bunga Iblis sambil menghampiri tubuh Truna yang masih terbaring di atas pembaringan batu.
"Di mana aku...?" tanya Truna setengah bergu- mam sambil memandang ke sekelilingnya. Kemudian matanya tertuju ke sosok tua renta, bungkuk, dan agak menyeramkan. "Siapa kau? Apakah aku di neraka...?"
Dewi Bunga Iblis terkikik mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh anak muda itu. Kepalanya mengangguk-angguk, sedang matanya menyipit memandang Truna.
"Kau memang ada di neraka. Hik hik hik... Kita
memang ada di neraka, Anak Muda. Namun sebentar lagi kau akan ke surga. Hik hik hik,..!"
Tubuh Truna terlonjak mendengar jawaban perempuan tua itu. Dia hendak bangun, tapi cepat dicegah Dewi Bunga Iblis.
"Jangan bangun dulu, Anak Muda. Kau masih lemah. Hik hik hik...! Tenanglah, kau aman di sini," kata Dewi Bunga Iblis sambil menekankan jari-jarinya ke dada si pemuda.
"Siapa kau, Nek?" "Aku...? Orang-orang menyebutku Dewi Bunga Iblis. Hik hik hik...! Dan siapa kau, Anak muda...?" balik tanya perempuan tua itu. Matanya yang menyipit memandangi wajah Truna yang dikotori darah.
"Dewi Bunga Iblis...!" sentak Truna mendengar nama wanita tua itu. "Tidakkah aku benar-benar di alam kematian? Bukankah menurut kabar kau telah mati?"
Dewi Bunga Iblis tertawa mendengar pertanyaan tadi. Dan karena terlalu kuatnya tertawa, tubuh bungkuknya sampai terguncang-guncang.
"Hik hik hik...! Itu omong kosong! Aku memang sengaja menghilang dari rimba persilatan. Tapi setelah melihatmu, hatiku tertarik untuk kembali. Aku juga ingin tahu desas-desus yang telah kudengar...," celotehnya. "Jadi...."
"Ya! Aku akan kembali ke rimba persilatan untuk membuktikan desas-desus tentang Pendekar Gila dari Gua Setan. Hik hik hik...! Kalau dulu aku pernah di-pecundangi, tapi kini tak akan lagi! Hik hik hik...!"
"Benar apa yang kau katakan, Nek," tukas Truna cepat "Pendekar Gila memang muncul kembali. Ta- pi...."
"Tapi apa...?" potong Dewi Bunga Iblis. "Dia masih muda." "Ah...?!" Mata Dewi Bunga Iblis membelalak, memandang tajam pada pemuda di hadapannya. Sepertinya dia tidak percaya mendengar penuturan pemuda itu.
"Apakah kau tak bercanda, Bocah?!" "Sama sekali tidak, Nek. Bahkan aku tadi sempat bertarung dengannya," jawab pemuda berwajah pucat itu, meyakinkan.
Dewi Bunga Iblis mengangguk-angguk mengerti. Lama dia tercenung setelah mendengar penuturan pemuda itu. Keningnya berkerut, seperti tengah memikirkan kebenaran penuturan Truna.
"Hm, rupanya rimba persilatan telah banyak berubah. Hik hik hik...! Aku semakin tertarik. Hm, tapi biarlah dulu. Kau harus ku didik dahulu, sebelum kembali ke luar. Dengar baik-baik, Anak Muda. Sejak saat ini, kau kuangkat sebagai muridku!"
Truna mengeryitkan dahi. Alisnya bertaut rapat. Dia tak percaya pada perkataan yang baru saja didengarnya. Menjadi murid Dewi Bunga Iblis, tokoh tingkat atas golongan sesat?
"Apa..., apakah aku tidak salah dengar. Nek?" tanyanya ragu.
Dewi Bunga Iblis menggeleng mantap, seraya menyunggingkan senyumnya yang tampak seperti se- buah seringai.
"Oh, terima kasih, Nek. Aku sungguh senang menjadi muridmu," ucap Truna seraya bangkit dan hendak berlutut, namun perempuan tua itu mencegahnya. "Sudahlah, tak perlu berlaku begitu. Kau harus sabar di Jurang Neraka ini selama empat puluh hari
untuk melakukan latihan ilmu yang akan aku wariskan padamu. Ilmu itu bernama 'Kumbang Hitam Menyengat Bunga'," ucap Dewi Bunga iblis dengan getar bangga pada suaranya.
"Terima kasih, Guru...." Sejak saat itu, Truna resmi menjadi murid tunggal Dewi Bunga Iblis. Seorang tokoh sesat yang pernah malang-melintang di rimba persilatan puluhan tahun silam, tanpa ada yang mampu mengalahkannya, kecuali Pendekar Gila dari Gua Setan. Dan sejak dipe- cundangi pendekar aneh tersebut, dia memutuskan untuk meninggalkan rimba persilatan.
***

Sore itu di Padepokan Cakra Geni nampak du- duk tiga orang di ruang utama. Dua lelaki dan seorang wanita muda nan cantik. Ketiganya adalah Ki Wirapati, Pendekar Gila, dan Suciati. Sore itu mereka tengah berbincang-bincang, membicarakan rencana mereka masing-masing.
"Biarlah Tuan Putri tinggal bersamaku," kata Ki Wirapati menyarankan. "Anggaplah aku yang bodoh dan tak berguna ini sebagai ayahmu."
"Terima kasih, Ki," sahut Suciati. "Sungguh aku tak bisa membalas jasa baikmu ini. Dalam keadaan terkatung-katung sebarang kara, ternyata masih ada yang sudi memperhatikan ku."
"Sudahlah, tak ada yang perlu disedihkan. Kini anggaplah semua kejadian menyakitkan yang menim- pamu sebagai mimpi buruk. Saat kau terbangun, akulah ayahmu. Bukan Kanjeng Adipati," tutur Ki Wirapati penuh ketulusan. Lalu dia mengalihkan pertanyaan pada Pendekar Gila yang duduk di hadapannya. "Bagaimana menurutmu, Sena?"
Bibir Sena nyengir ditanya begitu. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Ah, aku sungguh bahagia mendengarnya. Memang sepantasnya Tuan Putri menerima tawaran Ki Wirapati."
"Terima kasih atas pendapatmu, Sena. Lalu kalau boleh ku tahu, hendak ke mana tujuanmu...?" tanya Ki Wirapati setelah menjura hormat
Sena tidak langsung menjawab pertanyaan orang nomor satu di Padepokan Cakra Geni itu. Wajahnya ditengadahkan, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Entahlah, aku tak tahu harus ke mana. Aku hanya mengikuti ke mana kakiku melangkah. Namun, sebenarnya aku hendak mencari paman ku. Dia satu-satunya keluarga ayahku yang masih hidup. Tapi entah di mana dia kini," gumam Sena.
Ki Wirapati terdiam, tampak terharu mendengar penuturan pendekar muda itu.
"Apakah tidak sebaiknya kau menginap beberapa hari di padepokan ini?" tanyanya kemudian.
"Oh, terima kasih," kata Sena. "Sungguh senang aku mendengar tawaranmu, Ki. Tapi aku tidak bisa tinggal lama. Masih banyak yang harus kulakukan untuk menyelami kehidupan yang beragam ini."
Ki Wirapati mengangguk-angguk mengerti. Dihelanya napas panjang sebelum kembali berkata,
"Kalau begitu, aku tak dapat memaksa. Dunia ini memang masih memerlukanmu, Sena. Aku hanya bisa berdoa, semoga kita dapat bertemu lagi"
"Aku pun berharap begitu," sahut Sena. "Izin- kanlah aku pamit"
"Baiklah. Semoga kau selalu dilindungi Hyang
Widhi," ucap Ki Wirapati seraya bangun dari duduk- nya, diikuti oleh Suciati.
"Kuucapkan terima kasih atas semuanya, Ki," tutur Sena, kemudian matanya memandang Suciati yang tertunduk. "Semoga Tuan Putri betah di sini. Anggaplah Ki Wirapati ayahanda Tuan Putri sendiri. Ki, aku pamit untuk melanjutkan pengembaraanku mencari paman ku dan mempelajari kehidupan."
"Ku iringi dengan doa," kata Ki Wirapati sambil menjura, membalas bungkukan Sena. Kemudian Ki Wirapati dan Suciati melangkah di belakang Sena, mengiringi kepergiannya.
Sampai di pintu gerbang padepokan, Sena menghentikan langkahnya. Tubuhnya dlbalikkan, lalu memandang Ki Wirapati yang berdiri di sisi Suciati.
"Sekali lagi, kuucapkan terima kasih, Ki. Dan untuk Tuan Putri, saya berharap agar dapat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. Aku mohon pamit," kata Sena seraya kembali menjura.
"Jangan sungkan-sungkan bertandang ke sini, Sena. Pintu padepokan senantiasa terbuka untukmu," ucap Ki Wirapati lirih.
"Aku akan bertandang, Ki," janji Sena. Lalu, pendekar muda itu berkelebat dengan cepat. Dalam sekejap tubuhnya menghilang ditelan keremangan senja. Sedangkan Ki Wirapati dan Suciati masih tertegun menyaksikan bagaimana pemuda itu berkelebat sangat cepat.
"Sungguh-sungguh pewaris ilmu Si Gila," bisik Ki Wirapati perlahan. "Mari kita masuk...."
Kemudian tanpa banyak bicara, Suciati segera mengikuti langkah ayah angkatnya. Mereka masuk ke padepokan, di mana puluhan muridnya tengah melakukan latihan.

6
Empat puluh hari telah berlalu sejak kejadian di Jurang Neraka. Selama itu, Kadipaten Tegal Arang kembali tenang. Tak ada perkosaan atau gadis yang mati setelah diperkosa.
Penduduk kadipaten kini merasa yakin kalau pelaku pemerkosaan dan pembunuhan para gadis adalah pemuda berwajah pucat itu. Terbukti setelah pemuda itu hilang, kejadian-kejadian seperti dulu tak ada lagi. Hari menjelang malam. Suasana di Perguruan Cakar Sewu yang dipimpin oleh Ki Yaksa Asti nampak sepi. Semua penghuni perguruan tengah beristirahat setelah seharian melakukan kegiatan.
Di ruangan besar, tempat yang biasa digunakan untuk mengadakan pertemuan, nampak Ki Yaksa Asti duduk di atas kursinya. Di hadapannya bersila dua orang murid utama. Dua pemuda berpakaian rompi loreng dengan tubuh kekar yang menandakan keduanya selama ini melakukan latihan keras, duduk dengan muka tertunduk.
"Wilapati! Dan kau, Wilayuda," panggil Ki Yaksa Asti pada kedua murid utamanya.
"Saya, Guru...," jawab keduanya seraya menjura. Ki Yaksa Asti menghela napas pelan. Matanya memandang ke pintu ruangan yang masih terbuka. Tatapannya kosong, seakan memendam perasaan. Setelah beberapa saat memaku pandangan ke arah pintu, pandangannya dialihkan ke arah dua murid utamanya. "Wilapati dan Wilayuda, ketahuilah oleh kalian berdua. Aku sudah tua. Sepertinya aku harus segera melimpahkan tanggung jawab perguruan ini pada kalian...." Belum juga usai Ki Yaksa Asti, tiba-tiba terden- gar tawa menggelegar dari luar. Tawa itu begitu dahsyat, mampu menggetarkan dada ketiga orang yang berada di ruang pertemuan.
"Ha ha ha...! Kalau kau memang sudah tak sanggup lagi memimpin Perguruan Cakar Sewu, lebih baik kau mampus saja...!"
Ki Yaksa Asti dan kedua muridnya tersentak mendengar suara lancang itu. Ketiganya seketika ber- diri dengan mata mengawasi arah datangnya suara ta- di.
"Kurang ajar! Cecunguk manakah yang berani lancang berkoar di hadapan guru kami?!" bentak Wila- pati, tak bisa mengendalikan gejolak kegusarannya.
Usai berkata demikian, Wilapati melesat keluar diikuti Wilayuda dan sang Guru. Mereka berhenti di halaman perguruan. Mata mereka menatap geram pada dua orang yang sudah berdiri di halaman perguruan.
Tampak seorang lelaki kurus dengan tubuh terbalut kain hitam dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Hanya matanya saja yang terlihat. Rupanya lelaki tinggi kurus terbungkus kain hitam itu yang tadi melontarkan ucapan yang dianggap lancang oleh ketiga orang Perguruan Cakar Sewu.
Seorang lagi adalah perempuan tua berbadan agak bungkuk. Pakaian yang dikenakannya juga hi- tam. Matanya liar dan bengis. Dan ketika terkekeh, nampak giginya yang tinggal beberapa biji.
"Siapa kalian?!" bentak Wilapati. Lelaki berpakaian serba hitam itu tertawa. Begitu juga si nenek Tawa mereka sangat menggetarkan hati yang mendengarnya. Terlebih tawa lelaki terbalut
kain hitam yang sekuat halilintar. Kalau saja ketiga orang itu tak memiliki tenaga dalam tinggi, tentu mereka sudah mati.
"Hei! Apakah kalian orang-orang gila yang ter- sasar ke sini?! Kalau benar, pergilah! Jangan sampai kami mengusirmu!" bentak Wilayuda agak geram melihat kedua orang itu yang seakan meremehkan gurunya.
"Hik hik hik..!" si nenek tertawa. "Mulutmu lancang, Bocah! Begitukah cara kalian menyambut tamu?! Sungguh memalukan! Perguruan Cakar Sewu yang katanya ramah, ternyata hanya bualan kosong belaka!"
Wajah Ki Yaksa Asti merah padam mendengar ucapan nenek itu. Matanya melotot, memandang penuh kemarahan pada kedua tamu yang tak diundang itu. Kemudian tangan kanannya digerakkan, memberi isyarat pada kedua murid utamanya untuk mundur.
"Maafkan atas kelancangan kedua muridku, Nyi. Kalau boleh ku tahu, siapa kalian? Dan ada perlu apa kalian datang ke tempatku?" tanya Ki Yaksa Asti, berusaha menghormati kedua tamunya.
Perempuan tua dan lelaki terbalut kain hitam itu tertawa bergelak
"Kaukah Yaksa Asti atau si Cakar Seribu?" tanya si nenek
"Benar. Akulah orangnya," sahut Ki Yaksa Asti setenang mungkin, berusaha menekan kemarahan menyaksikan tingkah kedua tamu tak diundang itu.
"Hm, bagus! Ketahuilah, aku Dewi Bunga Iblis dari Jurang Neraka. Dan muridku ini adalah orang yang kalian keroyok di tepi Jurang Neraka!" tutur Dewi Bunga Iblis, membuat wajah Ki Yaksa Asti menegang. Pandangannya kini tertuju pada lelaki terbalut kain hi- tam.
"Kau...?!" desis Ki Yaksa Asti tak percaya. Lelaki terbalut kain hitam itu tergelak kemudian matanya menghunjam tajam pada Ki Yaksa Asti.
"Ya, aku.... Rupanya aku masih diberi umur panjang untuk melakukan perhitungan denganmu. Sekaligus mencabut nyawa tuamu, Yaksa Asti...!" jawab lelaki yang tak lain Truna, seraya tertawa penuh kepongahan.
"Bukan hanya mencabut nyawa tuamu, Yaksa Asti! Kami datang untuk mencabut nyawa keempat temanmu juga, termasuk Pendekar Gila...!" sambung Dewi Bunga Iblis.
Seketika telinga ketiga orang Perguruan Cakar Sewu menjadi panas mendengar ucapan sombong yang dilontarkan guru dan murid dari aliran sesat itu. Mata mereka semakin menatap tajam. Gigi Ki Yaksa Asti malah bergemeretuk, menahan kekalapan yang hendak menerobos ubun-ubunnya.
"Sombong! Meski nama Dewi Bunga Iblis pernah menggemparkan rimba persilatan puluhan tahun silam, namun kami dari Perguruan Cakar Sewu tak gentar! Kalianlah yang harus minggat ke neraka!" geram Wilapati. Tampaknya dia hendak segera menye- rang, namun dengan cepat Ki Yaksa Asti mencegahnya dengan merentangkan tangan.
"Jangan gebabah, Muridku. Menghadapi orang- orang seperti ini, kita harus hati-hati," cegah Ki Yaksa Asti sambil melangkah setindak ke muka. "Dewi Bunga Iblis, antara aku dan kau tak ada silang sengketa. Mengapa kau tiba-tiba hendak mencampuri urusan? Aku hanya ada silang sengketa dengan pemuda durja- na di sampingmu."
"Ah, dia tak ada bedanya. Dia adalah muridku. Maka aku pun berhak membelanya."
Ki Yaksa Asti terdiam. Dihelanya napas panjang-panjang. Dia tidak takut menghadapi nenek sakti itu, meski nama Dewi Bunga Iblis telah didengarnya. Bagaimana nenek sakti itu malang melintang di rimba persilatan tanpa tanding pada masanya, dan hanya pernah kalah ketika menantang Pendekar Gila dari Gua Setan. Tapi, apakah aku sanggup menghadapinya?
Sungguh berbahaya bagi rimba persilatan jika tokoh sesat seperti Dewi Bunga Iblis kembali turun. Desis Ki Yaksa Asti dalam hati. Tak dapat dibayang- kan, bagaimana rimba persilatan nantinya.
"Bagaimana, Yaksa Asti. Kau siap menemui ajal?" tanya Truna. Suaranya bernada sinis, mencermin- kan kesombongan dan keangkuhan.
Ki Yaksa Asti mendengus gusar. Namun masih berusaha tenang.
"Untuk kebenaran dan keadilan di rimba persilatan, apa pun akan kuhadapi!"
"Bagus! Berarti kau memang ingin mampus!" dengus Dewi Bunga Iblis tegas.
"Bersiaplah untuk mampus, Yaksa Asti!" sambung Truna sombong.
Disertai gelak tawa yang menggelegar, lelaki terbalut kain hitam itu seketika melakukan serangan ke arah Ki Yaksa Asti.
"Heaaat..!" Sementara itu, seluruh murid Perguruan Cakar Sewu keluar ketika mendengar keributan. Mereka berkumpul dalam barisan yang tak teratur, karena tak menyangka kejadian seperti itu akan terjadi.
***

Melihat lawannya telah membuka serangan, Ki Yaksa Asti dan kedua muridnya tak mau tinggal diam. Disertai pekikan keras menyaingi kerasnya teriakan Truna, ketiganya siap meladeni serangan lawan. Ki Yaksa Asti menghadang lelaki terbalut kain hitam. Sedangkan kedua murid utamanya menghadapi Dewi Bunga Iblis.
"Heaaa...!" "Ciaaat..!!" Dengan mengeluarkan jurus 'Cakar Sewu' guru dan kedua muridnya itu melakukan serangan, tangan mereka membentuk cakar yang kuat dan keras dan bergerak cepat. Tangan kanan dan kiri mereka bergantian mencakar dengan jari-jari mengeras laksana baja. Kaki mereka pun turut bergerak cepat, dan saling menyilang setiap melangkah dengan lutut sedikit ditekuk
"Heaaat..!" Ki Yaksa Asti yang hanya memiliki sebelah lengan, nampaknya tetap mampu melancarkan jurus-jurus yang keras dan cepat. Tangan kanannya yang terbuat dari logam, mencakar ke arah lawan. Pertama ke arah wajah, membuat lawan mendongak. Menyusul ke arah dada, lalu ke selangkangan. Gerakan itu dilakukan bertubi-tubi.
Truna yang terbalut kain hitam tergelak, meremehkan serangan yang dilancarkan lawannya. Bahkan dengan berkelit, dia berkata sombong,
"Tak adakah serangan yang lebih mematikan dari ini, Orang Tua?!"
"Bedebah! jangan pongah dulu, Iblis! Hiaaat..!" Kemarahan Ki Yaksa Asti semakin menjadi-jadi, karena merasa diremehkan oleh Truna. Dia tahu kalau pemuda yang pernah tinggal di padepokannya untuk beberapa lama, memang telah menyerap ilmu silatnya.
Namun, begitu, dia tidak yakin kalau semua ilmunya telah diserap. Masih ada jurus-jurus andalan yang belum diketahui Truna. Dan jurus-jurus itulah yang akan digunakannya untuk menghadapi pemuda pongah itu. "Lebih baik kau istirahat di alam baka, ketimbang membuang-buang tenaga, Tua Bangka" ejek Truna, seraya menggeser kaki ke samping. Tubuhnya dimiringkan agak ke belakang untuk mengelitkan seran- gan lawan. Kemudian tangan kanannya bergerak memukul. Serangan balik dari lelaki terbalut kain hitam itu begitu cepat dan keras. Kalau mengena, remuklah muka Ki Yaksa Asti.
Ki Yaksa Asti tersentak kaget. Sama sekali tidak diduganya akan mendapat serangan balasan yang cepat dan keras. Segera tangan kanannya ditarik, kemu- dian sambil melompat mundur kakinya menyabet. Tu- buh bagian atas dilenturkan ke kiri untuk mengelitkan pukulan lawan. Tangan kanan menyiku ke atas, beru- saha menangkis serangan lawan.
"Heaaa...!" "Hm, rupanya kau masih punya simpanan, Orang Tua! Tapi percuma saja! Kau tak akan mampu menghadapi jurusku yang ini!"
Usai berkata demikian, Truna melompat ke belakang. Kemudian dengan mendengus dia menyerang kembali. Tangannya mengembang, bagai sebuah sayap. Tapi anehnya kembangan tangannya tidak seperti biasa. Kedua tangannya yang mengembang, kini berada lurus di depan dada. Kemudian diangkat ke atas, lalu diputar ke dalam dan kembali seperti semula.
Gerakan jurus yang dilakukan oleh Truna kelihatan aneh. Bertentangan dengan jurus kembangan sayap yang biasa dilakukannya. Hal itu membuat Ki Yaksa Asti yang telah banyak makan asam garam ke- hidupan tidak mau gegabah. Orang tua ini langsung maklum kalau itu adalah sebuah jurus baru di rimba persilatan. Tentunya diciptakan oleh Dewi Bunga Iblis.
"Yeaaat..!" Melihat lawan masih mematung dengan mata memperhatikan gerakannya, Truna kembali menyerang disertai pekikan keras. Tangannya bergerak kaku, namun menggambarkan kekuatannya yang penuh. Sepa- sang tangan lelaki itu membuat sebuah gerakan yang berlawanan. Pertama lurus ke muka, kemudian membuka ke samping. Selanjutnya memutar dan memben- tuk perisai, diteruskan dengan tangan kanan memu- kul.
Gerakan kedua kakinya pun tampak kaku. Merentang lebar-lebar bagai hendak melompat, kemudian disilangkan begitu rupa dengan satu kaki agak menekuk. Lalu dilanjutkan dengan tendangan ke arah perut
"Hiaaat..!" Ki Yaksa Asti dengan cepat melempar tubuh ke samping, manakala serangan lawan tiba-tiba meluruk ke arahnya. Sambil melompat, tangan kanannya kem- bali mencakar ke arah lawan. Sedangkan kaki kanannya menendang. Namun Ki Yaksa Asti seketika tersen- tak kaget mengetahui serangan yang baru saja dilan- carkan lawan ternyata merupakan serangan pancin- gan. Sedangkan serangan yang sebenarnya dilakukan ketika Ki Yaksa Asti berkelit
Sebuah tendangan kaki kanan lawan tak mam- pu dielakkan lagi oleh Ki Yaksa Asti. Hingga tanpa am- pun lagi...
Degkh!
"Ukhhh...!" Ki Yaksa Asti mengeluh tertahan, tubuhnya terlontar ke belakang tiga tindak.
"Hoeeekh...!" Darah menyembur dari mulut Ketua Perguruan Cakar Sewu itu. Matanya berkaca-kaca, menahan rasa sakit yang mendera dada. Dipandanginya penuh ke- bencian lelaki berbalut kain hitam yang tertawa senang.
"Guru...!" pekik kedua murid utama Perguruan Cakar Sewu, saat menyaksikan gurunya luka dalam. Hingga perhatian keduanya kini tercurah pada sang Guru.
Melihat kedua lawan yang mengeroyok kini da- lam keadaan tak siap, Dewi Bunga Iblis tak mau mem- buang kesempatan baik itu. Dengan mengerahkan te- naga penuh, perempuan tua itu melancarkan seran- gan.
"Mampuslah kalian! Heaaat..!" "Wilapati, Wilayuda! Awas...!" pekik Ki Yaksa Asti berusaha memperingatkan kedua murid uta- manya. Namun seruan Ketua Perguruan Cakar Sewu itu terlambat Wilapati memang dapat lepas dari seran- gan maut itu dengan membuang tubuhnya ke samping tiga langkah. Tapi Wilayuda yang tak siap, harus me- nerima serangan itu. Degk! "Hugkh...! Kau...!" Wilayuda terhuyung ke belakang dengan tan- gan menekap dadanya yang terasa sesak dan sakit. Dari mulutnya meleleh darah segar. Matanya nanar bersama kemarahannya yang meledak.
"Licik! Kau..., kau licik! Kubunuh kau...!
Heaaat..!" Dengan sisa-sisa tenaganya, Wilayuda berusa- ha menyerang lawan. Namun belum juga sampai, Dewi Bunga Iblis telah mendahuluinya dengan satu pukulan maut yang dinamakan 'Bunga Kematian Menebar Ra- cun'.
"Yeaaat..!" "Wilayuda, awas...!" pekik Wilapati, mencoba mengingatkan adik seperguruannya. Tapi terlambat, pukulan maut itu telah lebih dahulu menghantam tu- buh Wilayuda.
Degk! "Aaa...!" Jeritan menyayat terdengar dari mulut Wilayu- da. Matanya melotot. Tubuhnya meregang, kemudian ambruk tanpa nyawa lagi.
Melihat adik seperguruannya mati dan gurunya terluka dalam, Wilapati jadi mata gelap. Didahului se- buah pekikan menggelegar, Wilapati menyerang nenek sakti itu. "Kubunuh kau, Iblis!"
Dewi Bunga Iblis tidak gentar melihat lawan yang menyerang dengan membabi buta. Bahkan den- gan tertawa mengikik wanita tua itu dengan enteng mengelitkan serangan lawan. Tubuhnya digeser ke samping, hingga serangan lawan meleset di samping- nya. Dan ketika tubuh lawan meluruk, secepat kilat tangan wanita tua itu memukul dari bawah. Wilapati yang tengah merunduk, tak mampu lagi mengelakkan pukulan yang mendarat telak di dadanya. Kemudian disusul sebuah hantaman lutut yang tak kalah keras- nya.
Krak! "Aaakh...!"
Wilapati menjerit kesakitan. Tubuhnya yang ta- di terdongak kini terhuyung-huyung ke belakang. Dari mulutnya menyembur darah segar. Matanya melotot, membara penuh kemarahan.
"Kau..., kau! Aaa...!" Tubuh Wilapati ambruk tanpa nyawa dengan tulang iga patah. Sedangkan Dewi Bunga Iblis tertawa terkekeh-kekeh. Kini perhatiannya tertuju pada perta- rungan antara muridnya dengan Ki Yaksa Asti.
"Serang terus, Kumbang Hitam! Kita harus se- cepatnya membereskan dia, karena sebentar lagi pa- gi...!" seru Dewi Bunga Iblis memberi semangat sekali- gus peringatan pada muridnya.
Serangan sang Murid semakin bertambah gen- car. Ditambah dengan luka dalam yang diderita, sema- kin membuat Ki Yaksa Asti terdesak hebat. Hingga pa- da suatu kesempatan, sebuah pukulan 'Kumbang Me- nyengat' mendarat telak di dada Ki Yaksa Asti
Degk! "Hugkh...!" Ki Yaksa Asti terhuyung dengan mata melotot. Mulutnya kembali mengeluarkan darah.
Sementara itu, murid-murid Perguruan Cakar Sewu yang sejak tadi hanya menyaksikan, segera me- mekik bergemuruh. Mereka segera menyerang dua ta- mu tak diundang itu setelah melihat gurunya terluka dalam.
"Seraaang...!" "Jangan...!" tahan Ki Yaksa Asti, khawatir akan jatuh korban lebih banyak. Tapi murid-muridnya telah telanjur menyerang.
Pertarungan kembali berkobar. Meskipun den- gan jumlah banyak, tapi ilmu mereka belum seberapa dibandingkan dengan ilmu kedua penyerangnya. Da-
lam waktu singkat, korban semakin banyak berjatu- han. Sampai akhirnya, mereka tertumpas semua. Ter- masuk Ki Yaksa Asti yang sejak tadi telah menghem- buskan napas terakhir.
"Bakar, Kumbang Hitam...!" perintah Dewi Bunga Iblis.
Kumbang Hitam dari Neraka segera membakar Perguruan Cakar Sewu, yang penghuninya telah berge- letakan. Nampaknya tak seorang pun yang tersisa. La- lu dengan gelak tawa, guru dan murid itu melesat me- ninggalkan tempat itu.
7
Kehadiran Kumbang Hitam dari Neraka dan gu- runya yang telah membantai Ki Yaksa Asti beserta se- luruh muridnya, seketika menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Dengan cepat sepak terjang Kumbang Hitam dari Neraka dan gurunya tidak lagi menjadi ra- hasia, melainkan telah menjadi pokok pembicaraan se- tiap orang. Baik itu dari dunia persilatan, maupun dari orang-orang kebanyakan yang tahu tentang ilmu silat
Kebanyakan dari orang-orang awam, sangat tercekam sekaligus mengutuk perbuatan biadab Kum- bang Hitam dari Neraka dan gurunya tersebut. Karena mereka tahu pasti, kalau Ki Yaksa Asti orang baik, pe- negak kebenaran dan keadilan.
Siang itu di sebuah kedai, tampak beberapa orang tengah berbincang-bincang membicarakan pe- rihal kematian Ki Yaksa Asti dan hancurnya Perguruan Cakar Sewu.
Seorang pemuda tampan berpakaian rompi ku-
lit ular masuk. Kepalanya digaruk-garuk, ketika men- dengar pembicaraan pengunjung kedai. Keningnya berkerut, lalu bibirnya nyengir kuda.
Pemuda tampan berambut gondrong itu me- langkah santai, lalu duduk di dekat orang yang tengah bercakap-cakap.
"Kau tahu apa yang semalam terjadi?" tanya orang pertama berpakaian longgar warna biru tua den- gan ikat kepala batik. Dilihat dari pakaian yang dike- nakannya, orang itu bukan orang rimba persilatan.
"Ada apa semalam?" tanya temannya, seorang lelaki berbadan tegap dengan kumis tebal. Namun dili- hat dari pakaiannya, dia pun bukan orang persilatan.
"Semalam terjadi bencana di Perguruan Cakar Sewu. Ki Yaksa Asti dan seluruh muridnya terbantai menyedihkan. Dada mereka gosong dengan gambar te- lapak tangan hitam."
"Siapa yang melakukan perbuatan keji itu?" tanya temannya ingin tahu.
"Kabarnya dua orang. Yang satu seluruh tu- buhnya tertutup kain hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia menyebut dirinya Kumbang Hitam. Sedangkan satunya lagi, seorang wanita tua renta den- gan tubuh agak bungkuk. Katanya bernama Dewi Bunga Iblis...," tutur orang yang pertama kali bercerita. Pendekar Gila mengerutkan kening mendengar penuturan lelaki itu Kumbang Hitam? Dewi Bunga Ib- lis? Heh, siapa mereka? Dan mengapa mereka menye- rang Ki Yaksa Asti? Tanya Sena dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sena me- mang tercenung, biarpun wajahnya tetap meringis.
Dicobanya untuk mengingat-ingat siapa Ki Yak- sa Asti. Tiba-tiba dari mulutnya keluar desisan keras,
"Ah, aku tahu! Bukankah Ki Yaksa Asti orang
tua yang berlengan satu!" Sena tertawa cekikikan dan kembali berkata. "Eh! Apakah aku tidak salah dengar?" Kedua orang yang tengah berbincang-bincang seketika mengalihkan pandangannya pada pemuda tampan berpakaian rompi kulit ular itu. Keduanya mengerutkan kening, terlongong heran melihat tingkah laku pemuda itu.
"Kasihan sekali, pemuda se tampan dia harus gila," bisik salah lelaki berpakaian longgar.
"Hush! Jangan sembarangan ngomong! Nam- paknya dia bukan orang sembarangan. Lihat pakaian dan tubuhnya yang berotot," lelaki bertubuh tegap dan berkumis tebal memperingatkan.
"Maksudmu, dia orang rimba persilatan?" "Ya! Atau jangan-jangan dia yang disebut orang Pendekar Gila?" gumam lelaki bertubuh tegap mencoba menebak Sena yang tengah dibicarakan tampak tak menggubris pembicaraan kedua orang itu. Dia masih asyik menggaruk-garuk kepala dengan bibir cengar- cengir.
"Wah, bodohnya aku ini.... Kenapa aku tak ber- tanya?" tanyanya kepada diri sendiri.
Sena lalu melangkah untuk mendekati kedua orang yang tengah berbincang-bincang itu. Dia masih menggaruk-garuk kepala dengan wajah cengar-cengir seperti orang tolol.
"Kisanak kalau boleh ku tahu, apakah yang ta- di kalian bicarakan?" tanyanya setelah menjura hor- mat
Kedua orang yang di tanya kembali menge- rutkan kening. Keduanya memandang lekat-lekat pe- muda di depannya. Mereka merasa heran melihat ting- kah pemuda tampan itu. Lagaknya seperti orang gila,
namun tampaknya mengerti tata krama. Tidak seperti orang gila yang sering mereka lihat
Sena yang dipandangi begitu rupa, kembali nyengir kuda. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. "Kisanak, benarkah Ki Yaksa Asti yang Kisanak maksud bertangan buntung?" tanya Sena lagi, setelah melihat kedua lelaki itu hanya menatapnya.
Semakin tercengang kedua orang itu menden- gar pertanyaan yang dilontarkan pemuda bertampang gila di depannya. Dengan masih terheran-heran, salah seorang dari mereka menjawab. "Benar. Kenapa?" "Apakah yang tadi kudengar itu benar? Pergu- ruan Cakar Sewu diobrak-abrik oleh orang?" tanya Se- na tanpa menjawab pertanyaan kedua lelaki itu.
"Benar. Siapakah Kisanak? Ada hubungan apa Kisanak dengan Ki Yaksa Asti dan Perguruan Cakar Sewu?" tanya lelaki berpakaian longgar warna biru pe- nuh selidik. Keningnya masih berkerut, menandakan keheranannya.
"Ah, aku hanya temannya. Kalau memang be- nar Ki Yaksa Asti mati, siapakah yang membunuh- nya?" kembali Sena meminta ketegasan.
"Kami tak tahu pasti, sebab kami bukan orang persilatan. Namun kami mendengar kalau pelakunya dua orang, guru dan murid. Seorang nenek-nenek dan seorang lagi terbungkus kain hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki," jelas lelaki berpakaian longgar warna biru.
Alis Sena terpaut. Hatinya bertanya-tanya. Sia- pa mereka? Dari aliran apa mereka? Setelah mengga- ruk kepala karena merasa tak mampu menjawab per- tanyaan hatinya, Sena kembali bertanya,
"Maaf, Kisanak. Siapa nama mereka?" "Si nenek bernama Dewi Bunga Iblis. Sedang- kan yang lelaki terbungkus kain serba hitam menama- kan dirinya Kumbang Hitam. Keduanya dari Jurang Neraka," urai orang itu lagi, membuat Sena nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Terima kasih atas pemberitahuan mu. Permi- si...!" ujar Sena sambil menjura hormat
Kemudian, pemuda itu berkelebat cepat me- ninggalkan kedai. Gerakannya sangat luar biasa, hing- ga kedua orang itu bengong dengan mata melotot
"Gila! Ilmu apakah yang digunakannya?!" "Mungkinkah pemuda itu Pendekar Gila dari Gua Setan?"
"Ya! Ilmunya sungguh hebat! Dalam sekejap dia telah menghilang," sambung lelaki bertubuh kekar dan berkumis lebat
Kedua orang itu masih terkesima. Bahkan orang-orang di dalam kedai pun turut terpaku me- nyaksikan kecepatan gerak pemuda tadi. Kedai yang semula tenang, kini riuh oleh pembicaraan tentang pemuda bertampang gila itu.
"Siapakah pemuda gila tadi? Ilmunya sangat tinggi," tanya pemilik kedai.
"Ya, ilmunya sangat tinggi! Hingga dalam seke- jap dia telah menghilang," sambung orang yang duduk di sudut kedai.
"Mungkinkah dia yang disebut Pendekar Gila dari Gua Setan," lelaki berbaju merah menyahuti.
"Pendekar Gila dari Gua Setan?!" pekik yang lain dengan mata membelalak kaget mendengar julu- kan pemuda aneh itu.
"Mungkin! Bukankah tingkahnya memang se- perti orang gila?" timpal yang lain.
"Syukurlah kalau pendekar itu masih ada. Se- moga sepak terjang Kumbang Hitam dan Dewi Bunga Iblis dapat dihentikan," harap orang-orang di kedai yang pada umumnya tidak menyukai kejahatan.
***
Orang yang menjadi pembicaraan di kedai, seat itu telah sampai di tempat yang dituju. Sena mema- tung di dekat puing-puing bangunan Perguruan Cakar Sewu. Hanya papan namanya saja yang tampak masih utuh.
Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan kening berkerut. Tatapan matanya kosong. Beberapa kali pemuda itu menghela napas panjang. Lalu dari mulutnya terdengar gumaman lirih.
"Ah, mengapa kejahatan seperti susul- menyusul? Belum usai yang satu, datang yang lain. Hyang Jagat Dewa Batara, sesungguhnya apa yang te- lah terjadi?" keluhnya lirih. Kemudian, perlahan ka- kinya melangkah memasuki pintu gerbang Perguruan Cakar Sewu yang telah hancur.
Pendekar Gila mematung di dekat puing-puing bangunan Perguruan Cakar Sewu.
Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan kening berkerut. Tatapan matanya kosong.
"Ah, mengapa kejahatan seperti susul- menyusul? Hyang Jagat Dewa Batara, sesungguhnya apa yang telah terjadi?" keluhnya lirih.
Angin siang berhembus semilir, menerbangkan debu-debu dan mengusik rumput kering. Pemuda itu terus melangkah masuk. Dia tertegun dengan mata memandang ke satu tumpukan puing bangunan per- guruan. Saat Sena merenungkan nasib Ki Yaksa Asti, tiba-tiba telinganya menangkap desiran angin dari be- lakang. Cepat-cepat tubuhnya dibalikkan ke belakang. Betapa terkejutnya dia ketika melihat sebilah belati melesat cepat ke arahnya.
Swing! "Heaaa...!" Sena melempar tubuh ke samping, mengelak- kan serangan gelap itu. Dia berhasil. Pisau itu terus meluncur dan akhirnya menancap di sebatang pohon.
Jlep! Sena menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir. Keningnya berkerut ketika melihat di gagang pisau itu terdapat selembar daun lontar. Sepertinya sebuah surat
"Licik!" maki Sena sambil menggaruk-garuk ke- pala. Pandangannya diedarkan ke segenap penjuru. Namun, dia tidak melihat seorang pun. "Hm, rupanya orang itu berilmu tinggi. Tentunya ada maksud terten- tu pada diriku."
Setelah yakin kalau di sekitarnya sudah tidak ada orang lain, Sena kemudian menghampiri pohon yang tertancap pisau bersurat itu. Diamatinya pisau itu dengan seksama. Bibir pemuda itu nyengir, se- dangkan tangannya menepuk kening.
"Ah, hanya sebilah pisau biasa," gumamnya. Lalu dicabutnya pisau itu dari pohon. Kembali diamatinya benda itu. Sebilah pisau kecil yang sangat tajam. Dan ketika tangannya memegang mata pisau,
tiba-tiba benda itu mengeluarkan asap berwarna ungu kemerahan.
"Racun...," bisik Sena masih tersenyum- senyum. Pendekar Gila memang tidak takut terhadap ra- cun. Karena tubuh telah kebal terhadap segala macam racun, akibat Racun Kabut Ungu yang dihisapnya di Gua Setan.
Tanpa sepengetahuannya, orang yang bersem- bunyi di balik bukit cadas terbelalak menyaksikan apa yang terjadi. Pemuda yang bertingkah seperti orang gi- la itu ternyata tak apa-apa. Padahal racun yang di- oleskan pada mata pisau bukan racun sembarangan. Bahkan lebih ganas dari bisa ular laut sekalipun! "Hah...?! Tidak salahkah penglihatanku?!" Tanpa sadar mulut orang itu memekik hingga membuat Pendekar Gila yang semula menyangka tak ada orang, kini terkejut. Tubuhnya langsung berbalik, untuk menemukan asal suara tadi.
"Licik! Keluarlah kau dari persembunyianmu!" seru Pendekar Gila setengah membentak. Kemudian tangannya bergerak memutar. Dan dengan mengerah- kan tenaga dalam, telapak tangannya diarahkan ke bukit cadas, tempat asal suara itu
Selarik pukulan menderu keluar dari telapak tangannya. Itulah pukulan 'Si Gila Melebur Gunung Karang'. Orang yang bersembunyi di balik batu cadas terkesiap. Dia hendak lari, namun pukulan jarak jauh yang dilancarkan pemuda bertampang gila itu lebih cepat menghantam bukit cadas tempatnya bersem- bunyi
Glarrr! "Aaa...!" pekik orang itu. Tubuhnya terlontar ke
atas, lalu jatuh dengan suara berdebum disertai eran- gan.
Pendekar Gila segera memburu ke arah orang yang kini menggeliat-geliat kesakitan. Tangannya me- megangi pinggang yang terasa patah. Pendekar Gila tergelak-gelak, menggaruk-garuk kepala, serta mengge- leng-gelengkannya.
"Ha ha ha...! Mengapa kau main lompat- lompatan! Bukankah jatuhnya sakit?" ledeknya sambil terus terbahak-bahak. Tingkah gila pendekar muda itu kumat lagi. Sementara tangan kanannya menggaruk- garuk kepala, tangan kirinya menepuk-nepuk pantat. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak bagai seekor kera kegi- rangan. Lelaki bercelana hitam sebatas lutut dan berte- lanjang dada itu masih mengerang-erang kesakitan. Bibirnya meringis, sekan-akan hendak menangis.
Pendekar Gila makin tergelak-gelak. Tingkah gi- lanya pun makin menjadi-jadi.
"He he he...! Lucu sekali kau, Sobat. Tadi kau main sembunyi-sembunyian denganku. Tapi, mengapa sekarang malah bermain lompat-lompatan?" celoteh Sena seenaknya, membuat orang bertampang galak itu mendelikkan mata.
Melihat orang itu melotot ke arahnya, timbul niat iseng Sena untuk mempermainkan orang itu. Lalu dengan menggoda kembali dia berkata,
"Sobat, rupanya kau belum puas melompat. Baiklah, aku akan membantumu main lompat- lompatan."
Usai berkata begitu, Pendekar Gila menghen- takkan kakinya dengan tenaga dalam ke tanah di de- kat tubuh lelaki itu. Tubuh orang itu seketika mencelat tinggi, disertai jeritan ketakutan.
"Tolong...! Ampun! Jangan...," ratapnya memo- hon, ketika tubuhnya menukik ke bawah. Sementara Pendekar Gila masih tertawa riuh rendah dengan tan- gan menggaruk-garuk kepala.
"Ha ha ha...! Lucu-lucu sekali kau, Sobat!" seru Sena
"Eh, eh.... Aduh! Tolonglah aku...," ratap orang itu ketakutan ketika tubuhnya semakin dekat ke ta- nah. Sudah terbayang di benaknya, bagaimana tubuh- nya akan remuk jika membentur batu-batu cadas.
"Ha ha ha...! Kau semakin menyenangkan, So- bat! Baiklah, aku akan membantumu."
Pendekar Gila lalu menggerakkan tangan ki- rinya sedemikian rupa. Dan dari telapak tangan itu, berhembus serangkum angin yang menahan tubuh orang itu. Perlahan-lahan tubuh orang itu diturunkan, namun tak urung menimbulkan, suara berdebum dis- ertai erangan kesakitan.
"Aduh.... Pinggangku patah," ratap lelaki berwa- jah seram yang kini pucat pasi. Tubuhnya meliuk-liuk menahan sakit
"Sobat, apa maksudmu menyerangku dari bela- kang?" tanya Sena, setelah puas tertawa.
"Ti..., tidak. Aku tidak bermaksud menyerang- mu. Sungguh!"
"Lalu, apa maumu?" tanya Sena. "Aku..., aku hanya diperintah mengirim surat padamu oleh seseorang," jawab lelaki itu ketakutan, menyaksikan mata Pendekar Gila yang membesar se- perti orang gila yang sedang marah.
"Siapa yang menyuruhmu?" bentak Sena. "Di..., dia tak mengatakan namanya padaku" "Bohong! Katakan, atau kau akan main lompat- lompatan lagi!" ancam Pendekar Gila. Matanya sema-
kin melotot, bagikan hendak mencelat keluar. Wajah- nya yang tampan, kini terlihat bengis.
"Ampun..., jangan...," ratap lelaki itu. "Kalau begitu, katakanlah!" "Dia berpakaian serba hitam. Bahkan seluruh tubuhnya terbalut kain hi..."
Belum juga selesai orang itu berkata, tiba-tiba beberapa pisau melesat ke arah mereka. Pendekar Gila terkejut dan dengan cepat melompat mengelakkan se- rangan gelap itu.
"Licik! Heaaa...!" Dengan menggunakan pukulan 'Inti Bayu', pi- sau-pisau terbang itu dikembalikan ke penyerangnya yang bersembunyi di semak-semak. Maka terdengar je- rit kesakitan yang menyayat susul-menyusul. Sedang- kan salah satu pisau luput dan menghunjam lelaki yang di tanyai Pendekar Gila. Lelaki itu menjerit, mere- gang sesaat kemudian diam tak bernyawa lagi.
Pendekar Gila tersentak. Matanya memandang tubuh lelaki di dekatnya yang seketika membiru. Ter- nyata pisau yang digunakan untuk menyerang telah diolesi racun.
"Benar-benar licik! Huh...!" dengus Sena. Kemudian dengan cepat tubuh Pendekar gila berkelebat cepat ke semak-semak tempat asal pisau- pisau beracun tadi. Dia berusaha mencari seorang yang masih hidup. Ternyata semuanya telah mati den- gan tubuh membiru.
Pemuda tampan itu menggaruk-garuk kepala. Matanya menyapu ke sekeliling untuk memastikan tak ada lagi penyerang gelap. Setelah yakin tak ada, pe- muda itu menghela napas. Ditinggalkannya tempat itu, kembali ke puing-puing Perguruan Cakar Sewu.
Pendekar gila kembali menatap puing-puing re-
runtuhan bangunan. Setelah menghela napas dalam- dalam, dia duduk di atas batu prasasti di bekas hala- man Perguruan Cakar Sewu. Dibukanya lipatan daun lontar yang ada di gagang pisau, kemudian dibacanya.
Satu orang temanmu telah ku binasakan! Satu persatu mereka akan menerima bagian! Dan kau yang terakhir! Setelah itu, aku akan menjadi penguasa rimba persilatan!
Kumbang Hitam dari Neraka.
Pendekar Gila mengerutkan kening. Dicobanya untuk menerka, siapa sesungguhnya Kumbang Hitam dari Neraka itu. Dan mengapa dia membunuh tokoh- tokoh tingkat atas aliran lurus? Dan siapa pula yang dimaksudkan dengan temanku? Tanya Pendekar Gila dalam hati.
Tiba-tiba sepasang alisnya bertemu, seolah-olah teringat sesuatu.
"Celaka! Mungkin Kumbang Hitam dari Neraka adalah pemuda berwajah pucat yang tempo hari jatuh ke dalam Jurang Neraka. Ah, tidak salah lagi.... Na- manya mengingatkan aku pada jurang itu!"
Tanpa membuang waktu lagi, Pendekar Gila melesat cepat meninggalkan tempat itu. Dia harus se- gera menghubungi ketiga tokoh tua yang masih hidup!
8
Ki Panca Loreng, Ketua Perguruan Macan Lo- reng malam itu nampak gelisah. Matanya sulit dipe- jamkan. Pikirannya terus terusik berita kematian salah
seorang rekannya dari Perguruan Cakar Sewu. Hatinya bertanya-tanya, siapakah sebenarnya pelaku pembu- nuhan itu? Siapa orang yang menamakan dirinya Kumbang Hitam yang tubuhnya dibalut oleh kain hi- tam?
"Kumbang Hitam.... Hm, siapa dia? Rasanya seumur hidup, baru kali ini aku mendengar nama itu di rimba persilatan. Menurut kabar, Kumbang Hitam adalah murid Dewi Bunga Iblis. Tapi, bukankah Dewi Bunga Iblis selama hidupnya tidak memiliki murid? Kenapa pula wanita jahat yang telah menghilang pulu- han tahun itu tiba-tiba muncul kembali?" gumam Ki Panca Loreng seakan bertanya pada diri sendiri.
Lelaki tua itu tak habis pikir tentang Dewi Bun- ga Iblis. Dia pernah dengar kalau wanita jahat yang be- rilmu tinggi itu pernah malang-melintang di rimba per- silatan. Tak ada yang dapat mengalahkannya, sampai Pendekar Gila dari Gua Setan muncul, dan mampu menundukkannya.
Sejak saat itu, nama Dewi Bunga Iblis bagai menghilang dari dunia persilatan, terkubur bersama kekalahannya atas Pendekar Gila dari Gua Setan. Ka- lau sekarang dia muncul kembali, tidak dapat di- bayangkan bagaimana tinggi ilmunya.
Ki Panca Loreng memegang dagunya seraya menggelengkan kepala berulang kali. Kemudian dita- riknya napas dalam-dalam.
"Ada apa, Kang Mas? Sudah malam begini kau belum juga tidur?" tanya istrinya, cemas melihat sua- minya belum juga tidur.
Ki Panca Loreng kembali menghela napas pan- jang. Tubuhnya berbalik untuk memandang sang Istri yang kini duduk sambil memandang suaminya. Di- hampirinya sang Istri, kemudian dia duduk di sam-
pingnya. Wajahnya masih menggambarkan kecema- san, membuat istrinya semakin tak mengerti.
"Kang Mas, apa ada masalah dalam pergu- ruan?"
"Tidak" "Lalu, apa yang membuat Kakang begitu ce- mas?" desak istrinya ingin tahu.
Ki Panca Loreng tak langsung menjawab. Kem- bali dia menghela napas dalam-dalam, seolah dengan berbuat seperti itu, segala ganjalan di hatinya dapat dienyahkan.
"Aku tak habis pikir, Diajeng. Bagaimana mungkin Dewi Bunga Iblis yang telah menghilang pu- luhan tahun silam, tiba-tiba muncul kembali? Bahkan dengan muridnya yang berjuluk Kumbang Hitam dari Neraka...."
Istrinya tersentak mendengar penuturan Ki Panca Loreng. Matanya sedikit membelalak lalu mena- tap suaminya lekat-lekat. Wanita itu seakan tak per- caya pada ucapan suaminya tadi.
"Dewi Bunga Iblis?!" tanya wanita itu setengah mendesis ngeri mendengar nama tokoh sesat itu di- ucapkan suaminya. Bahkan suaminya mengatakan ka- lau tokoh sesat itu muncul kembali di rimba persila- tan.
"Ya," jawab Ki Panca Loreng singkat "Apakah telah kau persiapkan murid-murid pi- lihan untuk menghadapinya?"
Ki Panca Loreng menggelengkan kepala. "Kenapa? Bukankah wanita itu adalah tokoh sesat berilmu tinggi?"
"Tak perlu, Diajeng. Sebagai seorang ksatria, seharusnya kita menghadapinya sendiri, tanpa harus mengorbankan orang lain. Makanya, untuk sementara
semua murid-murid perguruan ini kuperintahkan un- tuk pulang ke tempat masing-masing."
Baru saja ucapan Ki Panca Loreng selesai, dari luar tiba-tiba terdengar seseorang berseru disertai te- naga dalam penuh.
"Bagus! Rupanya kau pun telah memper- siapkan kematianmu, Panca Loreng...!"
Ki Panca Loreng dan istrinya tersentak men- dengar seruan yang menggelegar laksana halilintar, memecah kesunyian malam.
"Mereka telah datang," desis Ki Panca Loreng. Lalu, orang tua berpakaian rompi kulit macam itu ber- kelebat keluar, diikuti istrinya yang juga seorang pen- dekar.
Di halaman yang biasanya dipakai murid-murid Perguruan Macan Loreng berlatih, berdiri dua sosok manusia berpakaian serba hitam. Seorang nenek bungkuk, didampingi lelaki yang sekujur tubuhnya terbungkus kain hitam. Hanya matanya yang nampak menyorot tajam. Keduanya tergelak-gelak melihat orang yang diincar telah keluar bersama istrinya.
Ki Panca Loreng menatap tajam pada dua orang tamu tak diundang itu, berusaha mengenali mereka. Yang seorang memang jelas terlihat wajahnya. Ten- tunya nenek itu yang berjuluk Dewi Bunga Iblis. Se- dangkan yang lelaki tentunya yang menamakan di- rinya Kumbang Hitam. Tapi, bagaimana mungkin Ki Panca Loreng dapat mengenali lelaki itu, kalau wajah- nya saja tertutup rapat?
"Kisanak dan Nisanak, ada maksud apa kalian datang ke Perguruan Macan Loreng? Aku rasa, antara kita tak ada silang sengketa," sambut Ki Panca Loreng, berusaha tenang sambil menatap kedua tamunya
Kedua orang berpakaian hitam itu tertawa ter-

No comments:

Post a Comment