Sunday, April 14, 2019

003 Dendam Bidadari Bercadar


DENDAM BIDADARI BERCADAR

SATU

Malam tergelincir dari peraduannya. Gelap menyelimuti bumi. Suasana di Desa Randu Pitu kelihatan sunyi dan lengang. Tidak seperti kemarin, saat pesta pernikahan dua remaja yang berlangsung meriah. Kini suasananya kembali sepi. Tak ada orang berlalu lalang. Hanya desah angin malam yang terasa mencekam, ditambah rasa dingin yang menggigit.
Malam itu, merupakan malam pertama yang indah bagi sepasang pengantin baru. Malam untuk menentukan segalanya. Di mana malam pertama adalah malam awal bagi keduanya untuk mengarungi kehidupan baru. Dari masa remaja yang manis, memasuki masa dewasa yang penuh tantangan.
Wulandari duduk di tempat tidur dengan kepala tertunduk malu, tangannya membuka satu persatu pakaiannya.

Lelaki muda tampan dengan pakaian putih lengan panjang berdiri di hadapannya. Di bibir lelaki muda yang bernama Selo, tersungging senyuman. Matanya menatap lekat sang istri yang tengah membuka pakaiannya.
"Kangmas...," desis Wulandari. Perlahan wajahnya ditengadahkan, lalu memandang penuh harap pada sang Suami. Di bibirnya tersungging senyuman pula.
"Diajeng...," ucap Selo seraya melangkah untuk mendekati istrinya.
Sementara itu, sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam rumah mereka yang cukup besar. Ketika orang yang menyelinap itu melanggar kursi
bambu di ruang depan, keduanya tersentak.
"Siapa itu?!" bentak Selo sambil berlari keluar kamar mengejar bayangan tadi.
Belum juga Selo menemukan orang yang me- nyelinap ke dalam rumahnya, tiba-tiba dari luar terdengar bentakan keras.... "Selo, keluar kau...!" Selo tersentak kaget. Dengan hati bertanya-tanya, kakinya melangkah keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Oh, rupanya kalian," kata Selo dengan bibir tersenyum ramah, setelah tahu siapa yang datang.
Tiga orang berwajah angker yang dikenal Selo dengan julukan Tiga Barka Kembar itu berdiri dengan sikap angkuh di depan rumahnya. Ketiganya mengenakan rompi hitam dengan ikat pinggang merah. Di kepala masing-masing terdapat ikat kepala batik.
"Ada apa Kisanak bertiga datang ke tempatku?" tanya Selo.
"Masih juga berpura-pura tidak tahu!" dengus Barka Sulung dengan mata melotot.
"Rupanya diam-diam kau menyembunyikan Pendekar Gila, Selo! Di mana dia sekarang...?!" bentak Barka Panengah. Kemudian tanpa menghiraukan Selo, Barka Penengah dan Barka Bungsu berkelebat masuk ke dalam. Namun tidak lama kemudian, keduanya telah keluar kembali.
"Di mana kau sembunyikan, Selo?!" hardik Barka Bungsu seraya tangannya menampar wajah Selo. Tubuh lelaki muda itu pun sempoyongan lalu jatuh.
"Katakan, di mana kau sembunyikan pemuda gila itu, heh?!" kini Barkah Sulung ganti menghardik.
"Pendekar Gila...? Bagaimana mungkin dia ke rumahku?" tanya Selo dengan tangan menyeka darah
yang keluar dari sela bibirnya. Tubuhnya beringsut bangkit. Plak! Sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Selo. "Aduh...!" pekik Selo. Tubuhnya sempoyongan kembali. Sementara tangannya memegangi pipi yang terasa panas. Darah meleleh lagi di sela bibirnya.
"Cepat katakan, di mana lelaki muda bertopeng itu?!" bentak Barka Sulung dengan mata melotot. Sedangkan kedua adiknya mengelilingi rumah Selo untuk mencari orang yang mereka maksudkan. Tidak lama kemudian, keduanya kembali dengan wajah menggambarkan kejengkelan hebat.
"Tak ada juga! Rasanya memang bersembunyi di dalam rumah. Atau mungkin disembunyikan oleh dia!" lapor Barka Panengah, membuat kakaknya semakin bertambah marah.
"Seret dia! Kalau sampai di tempat kita belum juga mau mengaku, dia akan tahu akibatnya!" dengus Barka Sulung. "Ayo...!" Barka Penengah segera menendang pantat Selo, membuat lelaki muda itu tersuruk mencium tanah. Namun tiga orang kasar itu tak peduli, kaki mereka terus menendang. "Jalan cepat...!" "Jangan siksa aku. Sungguh aku tidak tahu," ratap Selo berusaha mengambil hati Tiga Barka Kembar. Namun nampaknya mereka tidak peduli dengan ucapan Selo. Bahkan mereka semakin beringas.
"Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh pendekar berkedok itu, heh?!" bentak Barka Sulung. "Dia telah merebut seorang perempuan dari kami. Dan membunuhnya setelah terlebih dahulu diperkosa!"
Mata Selo membelalak saat mendengar penuturan Barka Sulung barusan. Padahal dia sering dengar kalau Pendekar Gila tidak pemah melakukan hal-hal tercela.
"Pendekar Gila...?!" gumam Selo seakan tidak percaya.
"Ya! Sekarang tunjukkan, di mana dia!" hardik Barka Sulung.
"Sungguh, aku tidak tahu. Kalau kutahu, sudah dari tadi kukatakan pada kalian," kata Selo berusaha meyakinkan mereka.
""Huh...! Masih juga kau menyembunyikannya! Hih...!"
Sebuah tamparan keras kembali mendarat telak di pipi Selo. Lelaki muda itu kembali mengeluh kesakitan.
"Sungguh, aku tidak tahu," ratap Selo, hampir menangis karena rasa sakit yang luar biasa di pipinya. Rupanya jawaban Selo tidak membuat Tiga Barka Kembar percaya begitu saja. Mereka malah semakin marah dan langsung menendang serta memukul lelaki muda itu.
Mendengar ribut-ribut di luar, Wulandari yang masih belum mengenakan seluruh pakaiannya beranjak bangun. Dikenakannya kain sebatas dada, kemudian kakinya melangkah keluar untuk melihat keadaan suaminya.
Matanya membelalak ketika menyaksikan suaminya diseret tiga lelaki yang meninggalkan tempat itu. Rasa kaget yang datang tiba-tiba membuat tangannya mendekap mulut yang memekik tertahan.
"Lepaskan suamiku...!" seru Wulandari untuk menghentikan ketiga lelaki yang semakin jauh menyeret tubuh suaminya.
Wanita muda yang cantik itu segera mengejar. Namun langkah mereka terlalu cepat buatnya. Sedangkan Wulandari yang gemetaran karena takut suaminya akan mendapatkan celaka, jadi tersendaT sendat dalam mengejar ketiga orang yang menyeret suaminya.
"Tolong...! Tolooong...!" jerit Wulandari sambil tetap mengejar ketiga orang yang tengah menyeret suami- nya. Beberapa warga Desa Randu Pitu yang mendengar jeritan Wulandari, bergegas keluar dari rumahnya. Mereka ingin tahu apa yang terjadi pada pasangan pengantin baru itu.
"Ada apa, Wulandari?" tanya kepala desa dengan napas memburu.
"Kakang Selo, Ki... Kakang Selo dibawa oleh tiga lelaki itu," tutur Wulandari terbata-bata.
"Ke mana mereka...?!" tanya Kepala Desa Randu Pitu lagi dengan wajah tegang.
"Ke sana. Tolonglah suamiku...," ratap Wulandari sambil menunjuk arah kepergian orang-orang yang membawa suaminya.
Warga Desa Randu Pitu dengan kepala desanya segera mengejar ke arah yang ditunjukkan Wulandari. Tak lama kemudian, mereka dapat melihat tiga orang yang dimaksud Wulandari.
"Hai, tunggu...!" seru kepala desa sambil terus mengejar ketiga orang itu bersama beberapa warga desa. Namun tiba-tiba mereka memekik, manakala puluhan senjata rahasia menderu cepat ke arah mereka.
Zwing, zwing, zwing...! Jlep, jlep, jlep...! "Aaakh...!"
Pekikan-pekikan kematian, seketika terdengar membelah kesunyian malam. Diikuti gelak tawa Tiga Barka Kembar yang semakin pongah.
Wulandari ikut memekik menyaksikan kepala desa dan beberapa orang warga yang mengejar telah bergelimpangan jadi mayat. Tapi rasa cinta terhadap suaminya mampu mengalahkan kengerian yang muncul di hatinya. Dengan nekat, kakinya melangkah untuk mengejar kembali.
"Jangan...! Lepaskan suamiku! Lepaskan...!" jerit Wulandari sambil terus berlari.
Wanita muda itu sudah tak peduli pada apa pun. Tidak peduli pada ketakutannya menyaksikan pem- bantaian keji di depan matanya. Tak pedulikan resiko kematian yang bisa menimpanya. Bahkan dia tak peduli lagi pada pakaiannya yang yang tidak karuan. Tangannya menggapai-gapai, berusaha menghenti- kan tiga orang lelaki berpakaian rompi hitam yang terus menyeret suaminya.
Ketiga lelaki berpakaian rompi hitam dengan ikat pingang berwarna merah serta ikat kepala batik, tak mempedulikan wanita itu. Ketiganya terus melangkah sambil menyeret tubuh Selo yang mengerang kesakitan.
"Lepaskan aku... Sungguh, aku tak tahu," ratap lelaki muda itu dengan meneteskan air mata. Selo berusaha mengambil hati ketiga lelaki bertampang garang dengan kumis tebal melintang di atas mulutnya.
"Tutup bacotmu, Selo! Katakan, di mana Pendekar Gila?! Aku yakin, kau tahu di mana dia!" desak Barka Sulung.
"Ya! Katakan saja, di mana Pendekar Gila !" sambung Barka Bungsu.
"Sungguh, aku tak tahu sama sekali di mana dia...," jawab Selo dengan mimik muka memelas untuk meyakinkan ketiga lelaki yang terkenal kejam itu. "Kunyuk! Apa kau kira kami mau dibohongi olehmu, heh?! Kami tahu, kalau pendekar muda dan gila itu baru saja bertandang ke rumahmu!" hardik Barka Panengah dengan mata melotot. Lalu dengan bengis, kakinya menendang iga Selo.
Dugk! "Aduh...!" pekik Selo kesakitan. Tulang iganya serasa remuk akibat tendangan Barka Panengah. Belum juga hilang rasa sakit di tulang iganya, tangan Barka Sulung telah mencengkeram rambutnya.
"Katakan, di mana Pendekar Gila, heh?!" sentak Brka Sulung sambil menjenggut rambut Selo hingga wajahnya terangkat dan memandang ke arah Barka Sulung sambil meringis.
Sementara, di belakang mereka istri Selo terus berlari menuju Tiga Barka Kembar dan suaminya berada. Wanita itu tak menghiraukan keadaan dirinya, sampai-sampai tak menggubris kain penutup tubuhnya yang agak merosot.
Ketika Tiga Barka Kembar melihat hal itu, mata mereka langsung terbelalak. Ketiganya menelan ludah, dengan napas yang mulai turun-naik.
"Ck, ck, ck..." Tiga Barka Kembar berdecak kagum menyaksikan tubuh istri Selo yang mulus menantang dengan penutup yang sudah tidak karuan.
"Wulan, cepat pergi dari sini...!" seru Selo kepada istrinya.
Wulandari yang mengkhawatirkan keadaan suami- nya tak mempedulikan seruan sang Suami. Dia terus
berlari menuju tempat itu.
"Lepaskan suamiku! Lepaskan...!" serunya. Tiga Barka Kembar yang masih terpesona menyaksikan tubuh Wulandari, tak menghiraukan jeritan wanita muda yang cantik itu. Ketiganya masih berdecak kagum. Sedangkan kepala mereka meng- geleng-geleng.
"He he he...! Rupanya istrimu montok sekali, Selo...," ujar Barka Sulung sambil memandang tiada henti pada tubuh Wulandari. "Sungguh kau lelaki yang pintar, Selo."
"Ya! Kau pintar sekali menyuguhi kami, Selo," sambung Barka Panengah. Dia pun tak henti-hentinya berdecak kagum.
"Ayo, Kakang. Mengapa kita harus menunggu?" ajak Barka Bungsu pada kedua kakaknya untuk segera memburu mangsa empuk yang akan mem- bawa mereka ke puncak kenikmatan.
"Kalian berdua tangkap kelinci manis itu. Biar aku yang menangani si Selo," kata Barka Sulung pada kedua adiknya.
Tanpa diperintah dua kali, Barka Bungsu dan Barka Panengah segera meninggalkan sang Kakak untuk memburu Wulandari yang masih berlari ke arah mereka.
"Ayo, Kakang. Kita berlomba! Siapa cepat, dia yang akan mendapatkan bagian lebih dahulu...!" tantang Barka Bungsu seraya menggenjot kaki dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya.
"Ayo...! Heaaa...!" "Hiyaaa...!" Kedua Barka bersaudara itu memacu larinya, berusaha saling mendahului. Keduanya sampai di depan Wulandari bersamaan, kemudian dengan
cepat tangan mereka meraih tangan kanan dan kiri Wulandari.
"Lepaskan...! Kalian bajingan! Lepaskan...!" Wulandari terus berusaha melepaskan cengkeraman tangan kedua lelaki yang kini tertawa tergelak-gelak. Tangan kedua lelaki itu bergerak nakal, menjamah tubuh Wulandari dengan semena-mena.
"Auh...! Kurang ajar...!" maki Wulandari penuh kebencian. Matanya memandang penuh amarah ke arah dua lelaki yang kurang ajar itu.
***

"Ha ha ha...! Kau semakin menyenangkan jika marah, Manis," goda Barka Panengah. Tangannya kembali bergerak nakal.
"Tidak! Kakang, tolooong...!" teriak Wulandari sambil terus memberontak. Sesekali tangannya memukul tangan kedua lelaki kasar itu.
"Lepaskan! Jangan ganggu istriku!" seru Selo, mengharap kedua Barka bersaudara itu tidak meneruskan tindakan mereka. Namun keduanya bahkan semakin menjadi-jadi. Selo hendak lari, tapi sebuah hantaman keras membuatnya limbung dan jatuh.
Degk! "Ukh...!" keluh Selo. "Mau lari ke mana kau?!" ujar Barka Sulung sinis. Sementara, Barka Bungsu dan Barka Panengah yang sudah tidak tahan melihat tubuh Wulandari, tidak mau membuang-buang waktu lagi. Barka Panengah berkelebat cepat. Di tangannya ter- genggam dua butir pil. Tangan kirinya mencengkeram keras tangan Wulandari.
"Auh...!" pekik Wulandari. Pada saat itu, dengan cepat tangan kanan Barka Sulung menyumbat mulutnya, membuat pil yang ada di tangannya tertelan Wulandari.
"Auh, tidak!" Barka Sulung dan Barka Panengah tergelak-gelak, menyaksikan Wulandari sempoyongan. Pandangan wanita cantik itu berkunang-kunang.
"Oh...!" keluh Wulandari. Tangannya memegangi kepalanya yang terasa pening. Pandangan matanya mengabur dan tubuhnya terasa amat lemah. Akhir- nya, tubuh wanita itu jatuh terkulai di tanah.
"Ha ha ha...! Akhirnya kita dapat menunduk- kannya," kata Barka Panengah sambil tertawa-tawa bersama adiknya.
"Semuanya telah beres, Kakang! Tak sabar aku rasanya...," gumam Barka Bungsu sambil melangkah hendak mendekati tubuh Wulandari yang terkulai. Dia hendak melakukan sesuatu, tapi tiba-tiba Barka Panengah mencegahnya...
"Tunggu...!" "Ada apa lagi, kakang?" tanya Barka Bungsu dengan nada tak senang. "Bukankah semuanya telah beres? Mengapa kita harus membuang-buang waktu?"
"Aku yang pertama. Sebab aku yang men- dapatkannya!"
Barka Bungsu menghela napas. Matanya memandang tidak senang. Namun akhirnya kakinya melangkah mundur, membiarkan kakaknya men- dekati tubuh Wulandari.
"Hai, tunggu...!" Belum juga Barka Panengah melakukan sesuatu, terdengar Barka Sulung membentak. Hal itu membuat
Barka Panengah mengurungkan niatnya untuk me- lampiaskan nafsu pada Wulandari. Dengan bersungut-sungut, kakinya melangkah mundur.
"Aku yang tertua. Akulah yang pertama," kata Barka Sulung sambil melangkah mendekati tubuh Wulandari. Matanya memandang penuh nafsu pada tubuh yang terkulai tanpa daya itu. Kepalanya meng- geleng-geleng.
"Ck, ck, ck...! Tidak kusangka, di Desa Randu Pitu ini ternyata ada gadis secantik dan sebahenol ini."
Barka Sulung melangkah semakin dekat. Dia baru hendak membuka pakaiannya, ketika tiba-tiba ter- dengar gelak tawa menggelegar. Disusul oleh makian keras penuh ejekan.
"Ha ha ha...! Sungguh tidak tahu malu! Itukah orang-orang yang menamakan dirinya Tiga Barka Kembar?!"
Tiga Barka Kembar tersentak mendengar suara itu. Dengan wajah merah karena marah, ketiganya segera memandang ke asal suara. Kemudian dengan gusar, Barka Sulung yang mengurungkan niatnya mem- perkosa Wulandari membentak..
"Bangsat! Siapa kau...?!" "Ha ha ha...! Rupanya kalian masih punya nyali, berani membentakku...!" kembali terdengar suara lelaki menggema. Nadanya terdengar sinis.
"Pengecut! Kalau kau lelaki, tunjukkan tampang- mu! Hadapi kami, Tiga Barka Kembar...!" seru Barka Panengah marah, mendengar ejekan sinis itu. Matanya dengan tajam menyapu ke sekeliling tempat itu. "Kalianlah yang pengecut! Beraninya hanya dengan orang lemah! Di mana nama besar kalian?!"
"Bangsat! Katakan, siapa kau dan tunjukkan
rupamu! Kuhancurkan batok kepalamu!" maki Barka Bungsu tak kalah sewot dibandingkan kedua kakak- nya. Napasnya mendengus turun naik. "Kaukah yang bernama Pendekar Gila?!"
"Ha ha ha...! Rupanya pendengaran kalian cukup tajam! Ya, akulah Pendekar Gila," sahut pemilik suara dengan nada penuh kesombongan.
"Bedebah! Apakah kau kira kami takut meng- hadapimu, Pendekar Gila!" tantang Barka Sulung.
"Tunjukkan tampangmu! Biar korobek mulut besar- mu!" sambung Barka Panengah dengan tangan mengepal. Sementara gigi-giginya saling beradu, menandakan kemarahannya. Matanya menyapu ke sekeliling tempat itu dengan penuh kebengisan.
"Ayo...! Tunjukkan dirimu, Pemuda Sombong!" bentak Barka Bungsu, tidak tinggal diam. Seperti kedua kakaknya, dia pun merasa marah dihina begitu rupa. Napasnya mendengus dan matanya tajam menyapu ke sekelilingnya.



DUA
Suara gelak tawa menggema kembali terdengar di sekeliling tempat tersebut. Suara itu seperti berada di mana-mana. Membuat Tiga Barka Kembar kebingungan untuk menentukan tempat orang itu berada.
"Apakah kalian sudah siap menghadapiku, Manusia-manusia Pengecut?!" tanya suara itu dengan penuh kesombongan. Diikuti gelak tawa yang tiada henti-hentinya. Membuat Tiga Barka Kembar semakin marah karena merasa dihina begitu rupa.
"Kurang ajar! Apakah kau kira kami takut meng- hadapimu, Pendekar Gila?! Kami memang ke sini untuk mencarimu! Untuk mencoba sampai di mana kehebatan ilmumu yang diagung-agungkan itu! Keluarlah! Hadapi kami!" tantang Barka Sulung.
Tak terdengar jawaban. Ketiga lelaki berpakaian rompi hitam itu semakin gusar. Dengan penuh amarah, ketiganya melancarkan pukulan jarak jauh ke sekitar tempat itu.
"Yeaaa...!" "Heaaa...!" "Yiaaa...!" Tiga sinar berwarna merah, kuning, dan biru menderu dari tangan Tiga Barka Kembar.
Glarrr! Brakkk! Duarrr! Terdengar ledakan-ledakan dan derak pepohonan yang tumbang. Namun mereka belum juga dapat
menemukan asal suara itu. Bahkan terdengar gelak tawa kembali, diikuti oleh seruan mengejek....
"Sudah kukatakan, kalian bukan apa-apa bagiku! Jangankan kalian, guru kalian si Kempala bodoh itu pun tak akan sanggup menghadapiku!"
Semakin memuncak kemarahan Tiga Barka Kembar ketika mendengar nama guru mereka di- remehkan begitu rupa. Kalau nama mereka, mungkin amarah mereka masih bisa ditahan. Tetapi pemilik suara itu telah keterlaluan dengan menghina guru mereka.
"Bedebah! Tutup mulutmu! Tunjukkan wujudmu, biar korobek mulutmu yang sombong itu...!" bentak Barka Sulung disertai dengus kebencian, serta amarah yang meluap-luap.
"Kurang ajar! Sudah kelewatan mulutmu, Pendekar Gila! Tunjukkan mukamu, Monyet! Jangan sampai kami hilang kesabaran!" timpal Barka Panengah dengan mata membelalak marah.
"Akan kuhancurkan batok kepalamu yang sombong! Ayo, jangan hanya bersembunyi! Keluar- lah...! Hadapi Tiga Barka Kembar!" sentak Barka Bungsu.
"Baik! Agar kalian tak penasaran, aku akan menampakkan diriku! Meski kalian tak ada artinya sama sekali bagiku! Nah, bersiaplah menyambut- ku...!"
Usai ucapan sombong itu terdengar, tiba-tiba terdengar suara laksana ribuan tawon terbang. Tidak lama kemudian, di hadapan Tiga Barka Kembar telah berdiri sesosok lelaki muda dengan senyum sinis mengembang di bibirnya.
Pemuda itu berbaju lengan panjang warna kuning. Rambutnya gondrong, dengan ikat kepala warna
gading. Sedangkan ikat pinggangnya berwarna hijau daun. Wajah pemuda itu tertutup oleh sebuah topeng berhidung besar warna merah, hingga kelihatan buruk.
Mata Tiga Barka Kembar menyipit, untuk mengawasi lelaki muda yang berdiri di hadapan mereka. Diperhatikannya dengan seksama pemuda itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Begitukah kelakuan seorang pendekar yang namanya akhir-akhir ini membubung tinggi?! Pengecut! Tak berani menunjukkan mukanya yang buruk!" ejek Barka Sulung dengan senyum sinis.
"Sudah kukatakan, tak ada gunanya kalian bagiku! Untuk apa aku harus menunjukkan mukaku...?" kata pemuda bertopeng itu, sambil bersedakap, men- cerminkan keangkuhan dirinya.
Nada suaranya yang sinis dan sangat dingin, membuat Tiga Barka Kembar semakin geram. Mereka benar-benar merasa direndahkan oleh pemuda bertopeng itu.
"Kurang ajar! Rupanya kau benar-benar sombong, Pendekar Gila! Jangan kau kira kami takut dengan nama besarmu! Baik, bersiaplah...!" tantang Barka Panengah yang sudah tidak sabar lagi. Ucapan pemuda bertopeng itu dirasakan sangat menggigit perasaan dan membuat telinganya panas.
"Ha ha ha...!" pemuda bertopeng yang mengaku Pendekar Gila itu tertawa bergelak. "Hm, ternyata cecurut tanah sepertimu masih berani unjuk gigi! Sobat, apakah ucapanmu telah kau pikirkan lebih dulu...?"
"Bedebah! Kau boleh berkoar sesuka hati, sebelum kurobek mulutmu!" dengus Barka Bungsu dengan tangan mengepal keras. Gigi-giginya saling
beradu, menimbulkan suara gemeretak keras.
"Auh, apakah kau kira mudah merobek mulutku, Sobat?" tanya pemuda bertopeng dengan suara tak berubah, sinis dan dingin serta merendahkan lawan "Apakah tidak akan terjadi sebaliknya...?"
"Banyak omong...! Serang...!" seru Barka Sulung, memerintah kedua adiknya sambil menggerakkan tangan.
"Heaaa...! "Ceaaat..!" Tiga Barka Kembar yang sudah dilanda amarah, seketika melompat ke depan dan mengurung pemuda bertopeng yang masih tertawa-tawa. Sepertinya, dia benar-benar memandang remeh ketiga lawannya. "Mengapa tidak sekalian gurumu, si Kempala tolol itu?!" ejek pemuda bertopeng itu,
Untuk yang kedua kalinya, Tiga Barka Kembar tersentak mendengar nama guru mereka dilecehkan pemuda yang kini dalam kurungan mereka. Mata Tiga Barka Kembar melotot bengis pada pemuda bertopeng yang masih tergelak-gelak.
"Bangsat! Kau benar-benar mencari mampus! Heaaa...!"
***

Tubuh Tiga Barka Kembar bergerak cepat. Ketiganya berputar laksana angin puting beliung. Tangan dan kaki mereka bergantian menyerang dengan pukulan dan tendangan.
"Ha ha ha...! Jurus kuno seperti itu masih kalian pakai saja," ejek lawannya sambil melenting ke udara, untuk mengelitkan serangan Tiga Barka Kembar.
"Sombong! Rupanya mulutmu memang besar,
Pendekar Gila!" bentak Barka Sulung dengan dengusan penuh amarah. Mereka segera memburu ke arah pemuda bertopeng.
"Kurobek mulutmu! Heaaa...!" "Patah kakimu, Pendekar Gila. Yeaaa...!" Tiga Barka Kembar terus merangsek lawan dengan jurus 'Elang Menyambar dan Mematuk Mangsa'. Tangan mereka laksana cakar dan paruh burung elang. Menyambar dan mematuk dengan cepat dan keras.
"Heaaa...!" Pemuda bertopeng itu melenting ke angkasa, kemudian dengan cepat kedua kakinya bergerak hendak menjejak tangan ketiga lawan yang mencakar ke atas.
Melihat pemuda bertopeng hendak menjejakkan kaki ke tangan mereka, secepat kilat ketiga lelaki berpakaian rompi hitam mengubah serangan. Tangan kanan yang mencakar ke atas, dengan cepat ditarik. Disusul satu sabetan tangan kiri menebas dada lawan.
"Yeaaat..!" Tiga tangan menyabet bersamaan. Kalau saja pemuda bertopeng itu tidak segera melompat kembali ke atas, sudah tentu kakinya akan patah terhantam ketiga tangan berisi tenaga dalam itu.
"Hebat! Rupanya jurus 'Elang Menyambar dan Mematuk Mangsa' yang kalian miliki cukup sempurna! Namun kalian jangan bangga dulu... Sebab jurus yang baru saja kalian keluarkan, sama sekali bukan jurus yang berarti bagiku!" ejek pemuda bertopeng.
"Jangan banyak omong! Hiaaat...!" bentak Barka bungsu sambil merangsek maju. Sepasang tangannya
bergerak bergantian. Tangan kanan mencakar, disusul tangan kiri yang menyabet.
Melihat adiknya terus menyerang, Barka Sulung dan Barka Panengah tak mau tinggal diam. Keduanya segera bantu menyerang dengan jurus yang sama. Hingga lawan yang diserang harus menguras tenaga untuk bersalto dan melompat mengelakkan serangan ketiganya yang keras dan cepat
"Hm, sayang sekali.... Sayang sekali kalian berhadapan denganku," gumam pemuda bertopeng dengan nada sinis. "Kalau saja kalian menghadapi lawan ingusan, tentunya kalian sudah menang. Tapi aku bukanlah bocah ingusan, Kawan. Tak ada artinya jurus yang kalian keluarkan!"
Sombong benar kata-kata pemuda bertopeng itu. Sepertinya ketiga lawan yang tengah menyerangnya, tidak berarti baginya. Padahal Tiga Barka Kembar adalah nama yang cukup disegani di rimba persilatan. Ilmu mereka pun bukan ilmu rendahan. Mereka telah membuktikannya dengan sejumlah korban yang tewas di tangan mereka.
Tapi pemuda bertopeng itu hanya memandang sebelah mata pada Tiga Barka Kembar. Dengan seenaknya menghina jurus-jurus ketiga lelaki berompi hitam yang menyerangnya. Malah dia sengaja hanya mengelak, tidak mau balik menyerang.
Dengan penuh kemarahan, Tiga Barka Kembar tanpa banyak kata lagi terus melancarkan serangan- serangan pada lawan. Mereka secepatnya berusaha menjatuhkan pemuda itu. Dan kalau perlu, mencabik- cabik mulutnya yang sombong dan lancang menghina mereka.
"Hiaaat..!" "Jebol perutmu, Pemuda Sombong...!" hardik Barka
Panengah sambil mencakar ke perut lawan.
"Uts...! Kurang tepat, Kawan!" Kembali pemuda bertopeng itu mengejek. Tubuhnya mengelit ke samping. Kemudian tangan kirinya menepis serangan lawan. Sedangkan tangan kanannya menghantam ke muka lawannya.
Serangan yang dilakukan pemuda bertopeng itu sangat cepat, membuat Barka Panengah terkejut mendapat serangan yang tak terduga itu. Cepat-cepat tubuhnya dirundukkan ke bawah, mengelakkan serangan cepat yang dilancarkan lawannya.
"Gila...!" pekiknya seraya menunduk rendah. Pukulan tangan lawan menderu beberapa rambut di atas punggungnya.
Melihat lawannya dapat mengelakkan pukulannya, pemuda bertopeng tak berhenti sampai di situ. Kaki kanannya kini menendang dengan cepat dan keras.
"Heaaa...!" "Celaka...!" desis Barka Sulung dan Barka Bungsu hampir bersamaan. Mereka terkejut menyaksikan saudaranya terdesak hebat oleh serangan yang dilancarkan pemuda bertopeng.
"Kakang, kita harus membantunya...!" seru Barka Bungsu seraya melesat ke arah pemuda bertopeng. Tujuannya untuk menyelamatkan kakaknya yang kini dalam bahaya dengan memancing pemuda bertopeng agar perhatiannya beralih ke arahnya. Sehingga sang Kakak dapat terbebas dari serangan lawan.
Apa yang diusahakannya mendapatkan hasil. Kini, perhatian pemuda bertopeng beralih padanya. Termasuk mengalihkan serangannya pada Barka Bungsu.
"Rupanya kau dulu yang ingin kuhajar!" bentak pemuda bertopeng seraya mempercepaat serangan.
"Heaaa...!" Tubuh pemuda bertopeng itu melesat ke atas, kemudian menukik ke bawah setelah mencapai ketinggian yang cukup. Sepasang tangannya bergerak lincah. Satu menyerang dengan pukulan, yang lain menyambar dengan sabetan yang keras. Gerakan kedua tangan itu sangat cepat, hingga merepotkan Barka Bungsu yang membelalakkan mata.
"Celaka...! Kakang, bantu aku...!" seru Barka Bungsu sambil berusaha mengelakkan serangan- serangan lawan yang cepat, keras dan bertubi-tubi.
"Kau harus kulumpuhkan! Heaaat..!" Pemuda bertopeng dengan cepat menghantamkan tangannya ke dada lawan. Sehingga, Barka Bungsu yang terdesak tak mampu lagi mengelak.
Degk! "Ukh...!" Barka Bungsu mengeluh tertahan. Tubuhnya seketika sempoyongan ke belakang. Tangannya memegangi dada yang terasa sakit akibat pukulan telak itu. Dari bibirnya meleleh darah kental.
"Bungsu...!" pekik Barka Sulung sambil memburu ke arah tubuh adiknya yang terpelanting ke tanah dengan luka dalam.
***

Melihat adiknya terluka dalam, Barka Sulung dan Barka Panengah semakin marah. Mata keduanya melotot penuh kebencian pada pemuda bertopeng yang masih tertawa penuh kemenangan.
"Bangsat! Kau telah melukai adikku! Kubunuh kau, Pendekar Gila! Heaaat..!"
Barka Sulung berteriak melengking, tubuhnya
kembali berkelebat cepat menyerang pemuda bertopeng itu.
"Percuma kalian melawan!" kata pemuda itu seraya mengelak. Kemudian pemuda berbaju kuning itu balas melakukan serangan yang kencang dan cepat. Angin pukulannya menderu keras, menyentak- kan Barka Sulung.
Melihat kakaknya dalam ancaman, Barka Panengah tidak tinggal diam.
"Kakang, cepat menyingkir! Biar kuhancurkan dia! Yeaaa...!"
Barka Panengah menghantamkan pukulan saktinya ke arah pemuda bertopeng. Namun dengan cepat, lawannya berkelit. Kemudian setelah lolos dari serangan tadi, dia balik menyerang dengan pukulan- pukulan cepat ke arah Barka Panengah.
"Yeaaa...!" Barka Panengah tersentak kaget, ketika melihat tangan lawan membara laksana api dan bergerak cepat ke arahnya.
Menghadapi keadaan genting seperti itu, Barka Panengah segera mencabut senjatanya dari balik rompi. Di tangannya kini tergenggam sebilah trisula. Barka Panengah dengan cepat berusaha menusuk- kan trisulanya, namun tangan lawan ternyata lebih cepat menangkap tangannya.
Tap! Krak! "Akh...!" Barka Panengah memekik keras, ketika tangannya dipatahkan. Matanya membelalak dan mulutnya meringis menahan rasa sakit. Wajahnya pucat pasi laksana tak berdarah.
"Apa kataku?! Kalian tidak lebih cecurut tanah! Cepat minggat dari hadapanku, sebelum kesabaran-
ku hilang!" bentak pemuda bertopeng mengancam.
Tiga Barka Kembar merasa kalau mereka tak akan mampu menghadapi pemuda yang disangka Pendekar Gila itu. Dan dengan beringsut, mereka meninggalkan tempat itu disertai ancaman....
"Pendekar Gila, kali ini kami memang kalah! Tapi nanti kami akan mengadakan perhitungan dengan- mu!" Pemuda bertopeng tertawa gelak mendengar ancaman mereka. Lalu pandangannya beralih ke arah Wulandari yang terduduk lemas dan mata yang memandang penuh harap akan pertolongan pemuda itu. Pemuda bertopeng tertawa, kemudian kakinya melangkah ke arah Wulandari yang masih terduduk lemas. Dibukanya topeng penutup mukanya. Kini nampaklah seraut wajah tampan namun penuh kebengisan.
Wulandari mengerutkan kening lalu menyurut mundur, manakala tangan pemuda itu membelai dagunya.
"Kau cantik sekali, Nyi. Hm...." Pemuda tampan itu dengan cepat merengkuh tubuh Wulandari yang seketika berteriak...
"Lepaskan aku! Oh, lepaskan...!" Bagaikan kehausan, pemuda tampan itu tak menghiraukan teriakan Wulandari. Bahkan teriakan wanita itu dianggapnya sebagai ungkapan memohon. Pemuda itu terus menggeluti tubuh Wulandari, melampiaskan gejolak nafsu binatangnya. Begitulah kenyataan hidup. Seringkali muncul orang-orang bermuka dua. Suatu saat mengumpat kekotoran yang dilakukan orang lain. Dan pada saat lain, dia berpesta pora dengan kekotoran dirinya.
Ketika semuanya terjadi, Wulandari hanya menangis, sedangkan pemuda tampan itu tersenyum sambil mengenakan pakaiannya kembali.
"Seharusnya kau gembira berkenalan denganku, Pendekar Gila yang namanya tersohor."
Usai berkata begitu, pemuda yang mengaku sebagai Pendekar Gila itu melesat pergi setelah menghantamkan pukulan dahsyat ke tubuh Selo hingga hancur.
"Kakang...!" pekik Wulandari, menyaksikan suaminya menggeletak tanpa nyawa.
Wulandari langsung menghampiri tubuh suaminya yang hancur terhantam pukulan maut pemuda mengaku sebagai Pendekar Gila. Wanita muda dan cantik tapi malang itu menangisi kematian suaminya yang mengenaskan.
"Pendekar Gila keparat!" makinya penuh dendam di antara isak tangis.
Tak ada lagi keindahan yang dapat dibayangkan dari pernikahannya. Bulan madu yang seharusnya begitu berkesan, kini hilang sudah. Bahkan keperawanannya telah direnggut oleh manusia laknat tak berperasaan. Mungkin tindakan Tiga Barka Kembar bisa agak dimaklumi, karena mereka memang orang-orang sesat. Tapi perbuatan Pendekar Gila yang katanya selalu membela orang lemah, sangat sulit dilupakannya.
Kebenciannya pada para pendekar, terutama pada Pendekar Gila, tercermin pada matanya yang mem- bara berlinang air mata. Tangannya mengepal, kemudian memukul-mukul tanah yang ada di hadapannya sambil berteriak sejadi-jadinya.
"Kakang, izinkanlah aku membalas semuanya! Akan kutaklukkan semua pendekar! Akan kutakluk-
kan mereka, terutama Pendekar Gila! Akan kucabut jantung dan kemaluan mereka, kuremas hancur seperti tubuhmu. Akan kupersembahkan semua untukmu!"
Usai bersumpah begitu, Wulandari bangun dari sujudnya. Melangkah tertatih-tatih dengan tubuh letih, meninggalkan tempat itu.
Fajar menyingsing di ufuk timur, mengiringi kepergian wanita yang di dadanya tersimpan dendam membara. Dendam pada orang-orang persilatan, terutama Pendekar Gila yang telah menghancurkan hidup dan masa depannya.

TIGA

Pagi masih belum begitu terang. Cahaya matahari baru saja menyingsing, mengabarkan pada makhluk malam bahwa hari baru telah datang lagi. Hewan- hewan mendendangkan tembangnya masing-masing, menciptakan kedamaian kecil dalam dunia yang hingar-bingar.
Seorang wanita dengan wajah pucat dan terlihat letih, berjalan tertatih. Sesekali langkahnya terhenti bersama erangan menahan sakit. Wanita muda berpakaian kebaya layaknya wanita desa itu adalah Wulandari. Sejenak matanya memandang nanar ke arah matahari terbit di ufuk timur.
"Kakang, mampukah aku mengalahkan mereka? Mampukah aku mengalahkan Pendekar Gila?" keluhnya sambil menyapu keringat yang membasahi keningnya. Dihelanya napas panjang-panjang. Kemudian dengan mencoba menguatkan langkahnya, Wulandari kembali meneruskan perjalanannya.
Baru beberapa tindak Wulandari melangkah, tubuhnya terkulai pingsan. Dia masih terlalu lemah setelah menjadi korban nafsu pemuda yang mengaku Pendekar Gila.
Tak berapa lama kemudian, dari arah timur tampak seorang wanita tua dengan tubuh terbungkuk berjalan menuju tempat Wulandari pingsan.
Wanita tua yang bungkuk itu terus melangkah. Tiba-tiba langkahnya berhenti. Matanya yang keriput, semakin menyipit menyaksikan sesuatu tergeletak di jalanan. Diamatinya dengan seksama apa yang
tergeletak di jalanan itu.
"Weleh, rupanya seorang wanita muda. Heh, kenapa dia?" tanyanya terheran-heran. Kemudian dengan terbungkuk-bungkuk wanita tua itu mendekati tubuh Wulandari yang tergeletak pingsan.
Diamatinya kembali tubuh wanita muda itu dengan seksama.
"Hm, kasihan.... Sepertinya dia tengah menghadapi tekanan batin," gumamnya prihatin. Lalu wanita itu jongkok. Telapak tangannya diulurkan untuk meraba dada wanita muda itu. "Masih hidup. Dia hanya pingsan."
Dibolak-baliknya tubuh wanita muda yang pingsan itu beberapa kali. Sepertinya dia berusaha mengetahui sesuatu pada tubuh Wulandari. Kepalanya mengangguk-angguk. Sedangkan mulut- nya tersenyum. Dia seakan senang terhadap wanita muda itu.
"Hm, tak ada jeleknya dia kuangkat menjadi murid. Ah, biarlah masalah Pendekar Gila itu. Toh antara aku dan dia tak ada apa-apa. Tak ada silang sengketa."
Diangkatnya tubuh Wulandari dengan mudah, bagai mengangkat gulungan kapas. Nenek itu kini berlari kembali ke arah timur dengan memanggul tubuh Wulandari.
Nenek itu semakin cepat berlari. Dalam sekejap saja, tubuhnya telah jauh meninggalkan tempat semula.
Wanita tua itu bernama Nyi Kendil. Dia terus berlari dengan membawa tubuh Wulandari menerobos hutan. Larinya sangat kencang, sangat tidak sesuai dengan keadaan tubuhnya yang bungkuk dan tampak renta. Begitu kencangnya dia berlari, sampai-sampai tubuhnya laksana terbang, dan kedua
kakinya bagai tak menjejak tanah.
Nyi Kendil baru berhenti berlari ketika tiba pada sebuah gua di lereng bukit yang dikelilingi pepohonan lebat. Sesaat matanya menyapu ke sekeliling, berusaha memastikan tak ada seorang pun yang melihatnya.
Setelah yakin kalau di sekelilingnya tak ada orang lain, wanita tua itu melesat menuju mulut gua. Kemudian hanya dengan menggunakan tangan kiri, didorongnya pintu gua dari batu yang ditumbuhi lumut dan rerumputan hingga sekilas tak tampak kalau di situ ada gua. Hal itu menunjukkan tingkat tenaga dalam Nyi Kendil yang sangat tinggi.
Kaki Nyi Kendil melangkah masuk lalu menyusuri lorong gua itu. Akhirnya tubuhnya berhenti di depan sebuah dinding gua. Tangan kirinya ditempelkan ke dinding itu, lalu mendorongnya....
Srrrt! Dinding gua yang semula nampak tak bercelah, kini bergerak membuka. Ternyata di baliknya ada sebuah kamar lebar dengan sebuah tempat tidur dari batu datar sepanjang dua depa dan selebar satu depa. Di tempat itulah tubuh Wulandari dibaringkan.
Dipandanginya tubuh Wulandari yang masih dalam keadaan pingsan dengan kepala mengangguk- angguk. Entah mengapa, wanita tua bungkuk yang sudah berpuluh tahun menghilang dari dunia persilatan itu keluar lagi dari persembunyiannya. Kemudian, kakinya melangkah ke arah dinding gua sebelahnya yang ada di depan ruangan di mana Wulandari tiba.
Tangannya kembali menekan dinding gua itu. Lalu nampak dinding gua bergerak membuka, menimbulkan gemuruh halus. Sesaat kemudian,
nampak sebuah ruangan lebar dengan perabotan terbuat dari bebatuan. Nampaknya di ruangan itu si nenek menaruh ramuan-ramuan obat yang diracik sendiri.
Dengan tubuh terbungkuk, si nenek melangkah masuk. Matanya memandangi peralatan yang terbuat dari batu, berupa mangkuk dan kendi-kendi kecil. Lama mata nenek itu beredar ke sekeliling tempat itu, sepertinya mencari obat yang cocok.
"Hm, mungkin ini yang cocok untuknya," gumam si nenek. Diambilnya sebuah mangkuk berisi serbuk ramuan obat. Kemudian diambilnya air dan dituangkan ke mangkuk. Nampak asap mengepul dari dalam mangkuk ketika air itu bercampur dengan serbuk.
Nyi Kendil tertawa senang, lalu berlalu dari ruangan itu dan kembali ke ruangan di mana Wulandari terbaring.
Dibukanya seluruh pakaian Wulandari, lalu dioleskan ramuan itu ke sekujur tubuh wanita muda itu. Seketika mulut Wulandari menjerit keras.
"Akh...! Panas...!" Tubuh Wulandari menggeliat kepanasan. Namun Nyi Kendil bagai tak mengenal kasihan. Tangannya terus membaluri ramuan ke sekujur tubuh Wulandari, dari ujung kaki hingga ke wajah. Mulut Wulandari semakin keras mengerang. Sedangkan tubuhnya menggeliat-geliat tak beda dengan cacing yang tersiram air panas.
"Panas...! Oh, panas...!" pekiknya berusaha menghentikan Nyi Kendil agar tidak terus membaluri sekujur tubuhnya dengan ramuan yang sangat panas itu. Namun nenek itu tak mau peduli. Tetap saja tubuh Wulandari dibaluri dengan ramuan itu. Hingga
tak sejengkal pun yang terlewatkan.
Tubuh Wulandari yang telah dibaluri ramuan itu, seketika mengepulkan asap, dibarengi keluhan dan pekikan wanita muda itu.
"O, panas...! Aduh, panas...!" "He he he...! Sebentar, Nak.... Hanya sebentar panasnya. Setelah itu, kau akan merasakan tubuhmu segar," kata Nyi Kendil dengan mulut terkekeh.
Wulandari merasa sekujur tubuhnya bagai membara. Panasnya semakin menyengat tak tertahankan. Didahului pekikan, tubuh Wulandari kembali terkulai pingsan.
Nyi Kendil terkekeh sambil mengangguk- anggukkan kepala. Dipandanginya tubuh Wulandari yang kini bagai membara. Setelah itu, dia berlalu dari tempat itu dengan senyum menghiasi bibirnya.
Kaki Nyi Kendil melangkah menuju sebuah tempat yang lebar. Di tempat itu terdapat sebuah batu berbentuk persegi. Lalu dengan duduk bersila, nenek itu melakukan semadi.
Tidak begitu lama kemudian, Wulandari kembali siuman. Badannya yang semula linu dan terasa sakit, kini telah menjadi segar. Matanya memandang ke sekeliling tempat itu dengan tatapan heran. Seingatnya, dia berada di jalanan ketika pingsan. Tapi kini, dia berada di sebuah ruangan batu.
"Di mana aku?" tanyanya lirih. Kemudian dia memandang tubuhnya. Seketika matanya membelalak. "O, siapa yang telah menelanjangiku?!"
Wanita muda itu benar-benar marah mendapatkan tubuhnya dalam keadaan telanjang. Dengan cepat, diambilnya pakaian yang berserakan. Setelah mengenakannya kembali, Wulandari bergegas keluar dari ruangan itu untuk mencari orang yang telah
berani menelanjanginya.
"Kurang ajar! Akan kuremukkan batok kepalanya!" dengus Wulandari sengit. Langkahnya lebar, seakan tak sabar lagi untuk menemukan orang yang telah menelanjanginya. Wulandari hendak melangkah ke arah barat, ketika terdengar suara seorang wanita tua berkata....
"Mau ke mana, Anak Bodoh?" Wulandari tersentak. Matanya menyapu ke dalam gua, berusaha mencari pemilik suara yang tadi berkata. Napasnya mendengus penuh amarah. Setelah merasa yakin kalau suara itu datang dari arah belakang, Wulandari segera melangkah ke sana. "Di manakah kau, Wanita Kurang Ajar?!" bentak Wulandari, nadanya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Dia benar-benar telah nekat. Dendamnya pada orang-orang persilatan, menjadikan hatinya gelap. Tak ada pilihan lain, kecuali bertarung dengan orang persilatan, meski dia akan mati.
"Aku di sini, Anak Bodoh!" Terdengar jawaban dari arah depan. Suara itu milik seorang wanita tua.
Wulandari mempercepat langkahnya. Kakinya berhenti, ketika sampai di sebuah ruangan luas tempat wanita tua renta itu duduk. Dengan wajah menggambarkan kemarahan, Wulandari membentak keras....
"Kaukah yang kurang ajar telah menelanjangiku, heh?!"
"Benar, memang akulah yang menelanjangi tubuhmu. Sungguh mulus sekali. Lelaki mana pun sudah tentu akan berusaha mendapatkan tubuhmu," ujar Nyi Kendil seraya tersenyum. "Kalau saja aku lelaki, sudah dari tadi tubuhmu kugeluti...."
"Cabul! Kurang ajar! Kubunuh kau! Heaaa...!" Dengan penuh amarah, Wulandari menyerang nenek itu. Tangannya bergerak untuk memukul kepala Nyi Kendil.
Mendapat serangan dari Wulandari, Nyi Kendil terkekeh dan tak bergeming dari duduknya. Ketika tangan wanita muda itu melesat ke muka, si nenek hanya menekuk lehernya ke samping. Hingga serangan Wulandari menemui tempat kosong.
Merasa serangan pertama gagal, Wulandari semakin gusar. Dia kembali menyerang dengan tendangan ke tubuh Nyi Kendil. Namun nenek itu dengan enteng bergeser ke samping.
"Hi hi hi.... Gerakan kaku seperti itu kau gunakan untuk menyerangku? Anak bodoh!" bentak wanita tua itu. Kemudian dia duduk kembali di atas batu tadi.
"Sombong! Kuremukkan tubuhmu, Nenek Cabul! Heaaa...!"
Tangan dan kaki Wulandari kembali menyerang. Namun lagi-lagi Nyi Kendil dengan mudah berkelit Serangan Wulandari seakan tak berarti sama sekali. Malah nenek itu semakin seru tertawa.
"Anak bodoh! Keluarkan semua tenaga dan kebiasaanmu yang tiada guna itu!" ejek Nyi Kendil.
Wulandari mendengus. Dia kembali menyerang dengan kemarahan memuncak. Tangannya memukul sembarangan ke seluruh Nyi Kendil. Namun, lagi-lagi wanita tua itu berkelit dengan sambil terkekeh- terkekeh.
"Dasar anak tolol! Rupanya kau tak becus ilmu silat! Huh, tolol!"
Wulandari semakin marah diledek begitu. Dia memang tidak tahu apa-apa tentang ilmu silat, namun dia tidak sudi dikatakan tolol. Kembali dengan
teriakan nyaring Wulandari menyerang.
"Heaaa...!"
***

Dengan menguras seluruh tenaganya, Wulandari terus menyerang Nyi Kendil. Namun serangan yang tak dilandasi ilmu silat itu menjadi mentah. Nenek itu memang bukan wanita tua biasa. Dia adalah seorang nenek sakti yang di masa mudanya pernah malang- melintang di dunia persilatan,
Menghadapi serangan Wulandari yang tidak berarti dan tidak didasari ilmu silat, Nyi Kendil bagai mendapat permainan yang menyenangkan. Tubuhnya bagai menari-nari, membuat Wulandari merasa diper- mainkan. Wajahnya bertambah geram dan gerakan- nya makin membabi buta. Tapi mulut Nyi Kendil malah makin sering menghina. Kian memancing amarah wanita muda itu.
"Heaaa...!" "Hi hi hi.... Lucu sekali gerakanmu, Anak Tolol! Gerakanmu seperti pelepah pisang. Kaku...!" ejek Nyi Kendil sambil terkekeh. Lalu kakinya diangkat ke atas, manakala kaki Wulandari menyapu. Kemudian dengan melenting ke atas, si nenek menotok punggung Wulandari.
Tuk! "Ukh...!" Terdengar Wulandari mengeluh, kemudian tubuh- nya mematung tanpa dapat digerakkan. Hanya matanya saja yang memandang penuh kebencian.
"Lepaskan aku, Pengecut..!" bentaknya sengit. Nyi Kendil tertawa terkekeh. Tangannya bertolak pinggang. Setelah puas tertawa, kakinya melangkah
menuju tubuh Wulandari yang masih mematung.
"Kau kutemukan di jalanan dalam keadaan pingsan. Lalu kubawa ke tempat ini. Kalau tadi aku mempreteli bajumu, itu karena aku hendak me- mulihkan tubuhmu yang terlalu lemah. Kau mengerti?" urai Nyi Kendil tepat di hadapan Wulandari. Setelah itu, tangannya bergerak untuk membebaskan totokan pada tubuh Wulandari.
Tuk! Wulandari terkulai jatuh dengan keadaan terduduk serta kepala menunduk di depan Nyi Kendil.
"Maafkan aku, Nek. Ampuni aku.... sungguh, aku tidak tahu kalau kau menolongku...," ratap Wulandari sambil bersujud.
Nyi Kendil terkekeh. "Sudahlah. Ayo bangun.... Tidak perlu berbuat begitu."
Kemudian Nyi Kendil membimbing Wulandari bangun, dan mengajak wanita muda itu ke tempatnya duduk tadi. Nyi Kendil bersila, di atas batu persegi. Sedangkan Wulandari kini bersila di hadapannya.
"Nenek, terimalah aku sebagai muridmu. Kumohon, terimalah aku sebgai muridmu," pints Wulandari.
Nyi Kendil kembali terkekeh sambil menggeleng- gelengkan kepala mendengar rengekan wanita muda depannya.
"Bocah, mengapa kau tiba-tiba meminta aku menjadi gurumu?"
Wulandari menangis. Tanpa diminta dia pun menceritakan kejadian yang telah menimpa dirinya. Diceritakan tentang awal mula kejadian itu. Dia dan Selo baru saja menikah, ketika tiga orang yang mengaku bernama Tiga Barka Kembar datang ke
rumah mereka. Ketiga orang itu mencari Pendekar Gila. "Pendekar Gila...?" tanya Nyi Kendil.
"Benar, Nek." "Hm, untuk apa mereka mencari pendekar muda sakti itu? Apakah mau mengadu ilmu...?" tanya Nyi Kendil lagi. Keningnya masih berkerut dalam.
"Begitulah, Nek," jawab Wulandari. "Hm...," gumam Nyi Kendil. Tangan kanan wanita tua itu memegang dan mengelus dagunya yang berlipat. Kepalanya meng- angguk-angguk, entah apa yang dipikirkannya.
"Teruskan ceritamu," pinta Nyi Kendil, agar Wulandari meneruskan ceritanya.
Karena merasa tidak menyembunyikan Pendekar Gila, Selo pun tidak mengakui tuduhan ketiga lelaki bertampang kasar itu. Hal itu membuat Tiga Barka Kembar marah. Mereka menangkap Selo dan menyeretnya. Dengan cara menyiksa, ketiga orang itu berusaha mengetahui di mana Pendekar Gila berada.
"Tidak masuk akal...!" ujar Nyi Kendil tiba-tiba, membuat Wulandari menghentikan ceritanya. Matanya memandang tak mengerti ke arah wanita tua itu.
"Kenapa, Nek?" tanya Wulandari. "Tidak masuk akal, kalau pendekar kesohor bersembunyi...," gumam Nyi Kendil. "Jelas Tiga Barka Kembar hanya mencari-cari alasan untuk menyiksa suamimu. Hm, apakah antara suamimu dan ketiganya pernah saling bersengketa?"
Wulandari menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, Nek." "Hm, baiklah.... Ceritakan selanjutnya." Wulandari pun meneruskan ceritanya.
Setelah tak juga mendapatkan jawaban dari Selo, ketiganya bermaksud memperkosa Wulandari. Bahkan salah seorang dari Tiga Barka Kembar hampir saja merenggut kehormatannya. Lalu datang pemuda bertopeng yang mengaku berjuluk Pendekar Gila. Mereka pun bertarung. Namun rupanya orang yang mengaku sebagai Pendekar Gila jauh lebih lihai dari mereka. Dengan mudah ketiganya dapat dikalahkan.
Setelah Tiga Barka Kembar pergi, pemuda ber- topeng yang memiliki wajah tampan itu memperkosa Wulandari. Bukan hanya itu saja, pemuda bertopeng yang mengaku berjuluk Pendekar Gila membunuh suaminya dengan pukulan maut. Hingga tubuh suaminya hancur berantakan.
"Aku dendam pada orang-orang persilatan! Aku ingin membalas mereka, terutama Pendekar Gila!" dengus Wulandari mengakhiri ceritanya.
"Membalas dendam?" tanya Nyi Kendil sambil tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Wulandari mengerutkan kening, tak mengerti mengapa si nenek mentertawakannya.
"Mengapa Nenek tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Wulandari tak mengerti.
"Ya. Kau lucu sekali, Bocah. Eh, siapakah nama- mu?"
"Wulandari, Nek," jawab Wulandari. "Tapi lebih sering dipanggil Wulan saja."
"Wulan, bagaimana kau mau membalas dendam? Orang-orang rimba persilatan bukanlah manusia- manusia lemah. Terutama Pendekar Gila. Mereka memiliki ilmu kesaktian dan ilmu silat yang tinggi. Nah, bagaimana kau dapat mengalahkan mereka tanpa memiliki kemampuan?"
Wulandari terdiam dengan kepala tertunduk.
Memang benar apa yang dikatakan wanita tua itu. Jika dia tidak memiliki apa-apa, tak mungkin dendamnya dapat terbalaskan.
"Kalau begitu aku memohon pada Nenek, sudilah kiranya Nenek memberikan pelajaran ilmu silat pada aku yang lemah ini. Aku berjanji, akan mentaati semua peraturan yang Nenek berikan. Tolonglah, Nek. Aku akan mengabdi padamu."
Nyi Kendil terkekeh-kekeh kembali dengan mengangguk-angguk. Kemudian tawanya terhenti. Ditatapnya wajah Wulandari dalam-dalam. Nenek itu sepertinya dapat mengetahui kalau Wulandari mau berbuat apa saja demi dendamnya. Itu yang menjadikan wanita muda itu menyanggupi untuk mentaati semua syarat-syarat yang diberikan si nenek. Wanita tua itu merasa iba melihat keadaan Wulandari.
"Hm, aku tahu semangatmu sungguh besar, Wulan. Baiklah, tapi kau harus mau menerima ujian berat dariku. Dan kau harus patuh menjalankan semua perintahku, jika kau memang ingin cepat mendapatkan ilmu silat yang handal. Dan ingat, jangan coba-coba kau bermalas-malasan...!" ucap Nyi Kendil akhirnya.
Wulandari yang mendengar tutur kata si nenek jadi tersenyum. Segera tubuhnya bersujud penuh hormat.
"Terima kasih. Nek.., hm, Guru.... Ujian dan perintah Guru akan kujalankan dengan senang hati...."


EMPAT
Pagi cerah dengan udara yang sejuk. Angin berhembus semilir, mengusik dedaunan pada pucuk pohon. Hembusannya juga membuat beberapa daun kering menari-nari di udara.
Seorang pemuda tampan mengenakan rompi kulit ular sanca, menggeliat perlahan. Pemuda itu terjaga dari tidurnya ketika sinar matahari menerpa wajahnya yang tampan.
Pemuda yang tak lain Sena Manggala atau
Pendekar Gila itu menguap lebar. Tangannya mengucek-ucek mata yang menyipit karena silaunya sinar matahari.
"O, sudah pagi...," gumamnya perlahan. Sena duduk di atas cabang pohon yang digunakannya untuk tidur. Matanya memandang ke sekeliling. Tak lama kemudian, dengan enteng tubuhnya melesat turun dari atas pohon besar itu.
"Hm, cacing-cacing di dalam perutku sepertinya sudah tidak sabar lagi," gumam Sena sambil menepuk-nepuk perutnya. Tiada angin, tiada hujan tiba-tiba dia tertawa tergelak-gelak, seperti ada yang lucu. Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil melompat-lompat, layaknya seorang bocah kecil yang kegirangan.
Suasana pagi yang tenang, seketika dipecahkan gelak tawa ceria Pendekar Gila. Menjadikan burung- burung yang sedang bertengger seketika beterbagan karena kaget.
Sena masih tertawa-tawa. Dan dengan menyanyi- nyanyi, kakinya melangkah untuk pergi dari tempat itu. Perutnya terasa semakin lapar. Menuntut untuk diisi. "Sabar, perutku...," gumam Sena seorang diri. Tangan kirinya kembali menepuk-nepuk perut yang dirasakan sangat lapar.
Kakinya terus melangkah, meninggalkan hutan belantara tempatnya tidur semalam. Masih dengan tingkah seperti orang gila, Sena terus menyelusuri lembah yang dihimpit bukit.
Tengah kakinya melangkah, nampak sebuah pedati yang dikendarai seorang lelaki tua berbaju serba putih. Kepalanya diikat oleh kulit rusa. Wajah lelaki tua itu tampak tenang, mencerminkan suatu
kemantapan jiwanya.
Melihat tingkah aneh pemuda tampan berpakaian kulit ular, seketika lelaki tua itu menghentikan pedatinya. Matanya memandangi pemuda itu dengan seksama. Kemudian terdengar gumaman dari mulutnya....
"Mungkinkah pemuda ini yang dinamakan Pendekar Gila dari Gua Setan itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Dipandanginya pemuda tampan yang melintas berapa tombak di depannya. Kemudian lelaki berbaju putih yang dikenal sebagai Ki Martanu segera turun dari pedatinya. Dihampirinya Sena. Hatinya yakin kalau pemuda yang kini ditemuinya adalah pendekar muda yang disebut Pendekar Gila.
"Ya Aku yakin, dialah Pendekar Gila. Tentunya orang gila biasa tidak mungkin memiliki pakaian seperti pemuda itu. Apalagi suling itu. Hei, bukankah itu Suling Naga Sakti?" gumam Ki Martanu sambil mengerutkan kening. Matanya semakin lekat, mem- perhatikan pemuda itu. Sementara kakinya terus melangkah.
Ki Martanu semakin mendekat Dan ketika Sena telah di depannya, badannya dibungkukkan untuk menjura.
"Ah, rupanya hari ini aku sangat beruntung, bisa bertemu denganmu, Pendekar Gila. Terimalah salam hormatku," sapa Ki Martanu.
Pendekar Gila yang tengah tertawa-tawa, seketika menghentikan tawanya. Matanya menyipit dan keningnya berkerut. Dipandanginya lekat-lekat lelaki setengah tua berbaju putih yang menjura di depan- nya. "Ah ah ah, mengapa kau menjura begitu, Ki? Dan
siapakah engkau?" tanya Sena dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Keningnya tetap berkerut.
"Aku Martanu, orang tua yang tiada gunanya. Orang menjulukiku Sabit Kembar dari Timur," sahut Ki Martanu, memperkenalkan diri.
"Aha, akulah yang beruntung bisa bertemu denganmu, Ki! Akulah yang harus menghormatimu," kata Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Tubuhnya membungkuk, untuk menjura hormat pada Ki Martanu.
"Ah, sudahlah! Tuan Pendekar jangan merendah begitu. Siapa yang tidak kenal denganmu. Sungguh beruntung sekali, aku yang tua dan lapuk ini bisa berjumpa denganmu sebelum mati," tutur Ki Martanu. Kalau boleh aku tahu, hendak ke mana tujuanmu?"
Pendekar Gila tersenyum-senyum. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Kemudian wajah- nya ditengadahkan, memandang langit yang biru.
"Aku hendak mencari kedai, Ki. Perutku ini sudah tidak tahan lagi," jawab Sena sambil menepuk-nepuk perutnya dengan tangan kanan. Tingkah lakunya sangat lucu, membuat Ki Martanu hampir tertawa dibuatnya. Beruntung orang tua itu tahu, siapa pemuda di hadapannya. Jadi dia berusaha menahan tawanya menyaksikan tingkah laku Sena yang lucu.
"Kalau kau tidak keberatan, bagaimana jika jalan bersamaku? Sungguh suatu kehormatan bagiku yang tua ini, jika kau berkenan naik di pedatiku," ajak Ki Martanu.
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian terdengar tawanya lepas.
"Ah ah ah, sungguh baik sekali kau, Ki. Tak dapat aku menolak ajakanmu," jawab Sena, membuat Ki Martanu tersenyum senang.
"Mari, Tuan," ajak Ki Martanu sambil mengiringi Pendekar Gila ke pedatinya.
Pendekar Gila segera naik ke pedati itu, lalu duduk di samping Ki Martanu. Kemudian lelaki tua itu menjalankan pedatinya, meninggalkan tempat itu.
"Hendak ke manakah tujuanmu, Ki?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya menyapu pada deretan bukit menjulang di sekelilingnya.
"Aku hendak pulang, Tuan. Baru saja aku ber- tandang ke rumah Kanjeng Tumenggung Pandan Laras," jawab Ki Martanu yang dikenal dengan julukan Sabit Kembar dari Timur.
"Aha, ada apa gerangan di sana, Ki?" Ki Martanu tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Tuan Pendekar. Aku diundang karena Kanjeng Tumenggung meminta anak mantu- nya diboyong ke ketemenggungan."
"Jadi, kini kau menjadi besan Kanjeng Tumenggung, Ki?"
"Ya, begitulah," jawab Ki Martanu. "Aha.... Kuucapkan selamat, Ki," ujar Sena seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Terima kasih," jawab Ki Martanu, seraya melakukan hal yang sama.
"Maaf, aku tidak bisa datang di hari pemikahan putramu, Ki. Karena aku tidak tahu," sesal Sena.
"Akulah yang harus meminta maaf, sebab lalai tidak mengundangmu, Tuan Pendekar. Entah karena apa, aku melupakan Tuan yang memiliki nama besar." "Ah ah ah, jangan terlalu menyanjungku, Ki. Aku belum seberapa jika dibandingkan dengan nama besarmu," elak Pendekar Gila seraya menggaruk- garuk kepala.
Tanpa terasa, mereka telah memasuki per-
kampungan. Ki Martanu memperlambat laju pedati- nya, sebab banyak orang berlalu-lalang di jalan perkampungan itu.
"Ah, rupanya kita sudah sampai, Ki. Aku harus turun untuk mencari kedai," ucap Sena. Kemudian dia menyatukan kedua tangan di depan dada. Lalu kepalanya dirundukkan, sebagai tanda hormat.
Ki Martanu membalas dengan melakukan hal yang sama.
"Jika ada waktu, bertandanglah ke perguruanku, Tuan," ujarnya.
"Jika Hyang Widhi mengizinkan, aku akan bertandang, Ki. Sekali lagi, terima kasih." Setelah berkata demikian, Pendekar Gila berkelebat mening- galkan tempat itu.
"Ck, ck, ck...! Sungguh bukan pendekar sembarangan. Beruntung sekali aku berkenalan dengannya. Ah, kalau saja aku punya waktu panjang, rasanya ingin sekali bisa berjalan bersamanya sambil berguru barang beberapa ilmu dan budi pekerti," gumam Ki Martanu setelah berdecak kagum. Matanya masih memandang ke arah Pendekar Gila berkelebat pergi.
***

Sena Manggala melangkah masuk ke dalam kedai dengan tingkah lakunya yang lucu. Pagi itu, kedai masih kelihatan sepi. Hanya ada empat lelaki yang tengah duduk sambil menyantap makanan.
Melihat seorang pemuda tampan berpakaian rompi kulit ular, pemilik kedai segera menemuinya. Orang tua setengah baya itu menjura hormat. Dia memang sudah tahu siapa pemuda itu. Cerita tentang
diri Sena sering didengarnya dari percakapan orang- orang persilatan yang singgah di kedainya.
"Selamat datang di kedaiku, Tuan. Silakan duduk. Apakah yang bisa saya bantu, Tuan?" sambutnya dengan penuh hormat.
Sena menggaruk-garuk kepalanya ketika men- dapatkan penghormatan begitu rupa.
"Ki, bisakah aku meminta sepiring nasi dan lauknya?" pinta Sena dengan bibir cengar-cengir.
Orang tua pemilik kedai tersenyum. "Dengan senang hati, Tuan...." Kemudian pemilik kedai segera berlalu me- ninggalkan Pendekar Gila. Tak lama kemudian, seora gadis cantik jelita anak pemilik kedai keluar dengan membawakan sepiring nasi dan sepotong ayam bakar.
"Silakan, Tuan," kata gadis cantik itu mem- persilakan.
"Ah, mengapa ayam bakar? Padahal uangku tidak cukup untuk membayarnya. Untuk arak saja, rasanya masih kurang," gumam Sena dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Pemilik kedai tersenyum. Kemudian menghampiri Sena.
"Untuk Tuan, tidak bayar pun tak apa," katanya, membuat kening Sena berkerut. Dipandanginya wajah pemilik kedai dan putrinya yang tersenyum manis. Keduanya menganggukkan kepala dengan bibir terhias senyum.
"O, tidak bisa begitu, Ki. Bagaimanapun juga, kau berdagang. Tentu aku harus membayarnya. Ah, aku ada uang hanya segini," Sena mengeluarkan tiga keping uang emasnya, membuat mata pemilik kedai membelalak. "Bagaimana, Ki? Cukup...?"
"Ah, mengapa Tuan repot-repot? Saya memberinya dengan rela," kata pemilik kedai, berusaha menolak bayaran yang besar itu.
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepala. Bibirnya tersenyum.
"Tidak, Ki. Siapa pun harus membayar kalau makan di kedaimu. Terimalah...."
Pemilik kedai akhirnya menerima juga pembayaran itu. Sedangkan Sena dengan lahap menyantap makanannya.
Saat itu, tiga lelaki berpakaian rompi hitam masuk ke kedai. Di pinggang mereka terselip trisula. Mereka adalah Tiga Barka Kembar. Ketiganya melangkah penuh kesombongan, dengan mata memandang tajam ke sekeliling tempat itu.
"Aha, rupanya di sini ada bunganya juga, Kakang," kata Barka Bungsu ketika melihat seorang anak gadis pemilik kedai. Tangannya mengelus-elus dagunya yang kasar. Matanya memandang tajam dan nakal pada gadis itu.
Mata gadis itu memandang dengan takut-takut seraya merapat pada tubuh ayahnya. Begitu pula dengan pemilik kedai, setelah tahu siapa yang datang ke kedai mereka.
"Tiga Barka Kembar," desis pemilik kedai tegang. "Hm.... Rupanya gadis itu anakmu, Ki?" tanya Barka Panengah.
Sedangkan Barka Sulung menghampiri pemuda berpakaian rompi kulit ular yang gerak-geriknya lucu.
"Bagaimana kalau anakmu untukku, Ki?" lanjut Barka Panengah, lancang.
Barka Panengah dan Barka Sulung tertawa ter- gelak-gelak saat menyaksikan pemilik kedai dan putrinya ketakutan. Lalu dengan mata berbinar nakal,
Barka Bungsu mendekati pemilik kedai dan anak gadisnya. Tangannya membelai dagu gadis cantik itu.
"Cantik sekali kau, Cah Ayu...." "Ah...! Kurang ajar...!" maki gadis cantik itu takut- takut.
"Jangan takut, Cah Ayu... Kalau kau menurut maka kau akan kujadikan istriku. Kedai ayahmu, akan kami bangun menjadi kedai paling besar di wilayah ini. Bukan begitu, Kakang?" kata Barka Bungsu pada kedua kakaknya. Tangannya semakin nakal, bergerak ke arah dada gadis itu.
"Kurang ajar! Tuan, tolong...!" seru gadis itu ketakutan.
"Eh, siapa yang kau panggil tuan? Pemuda tolol itukah? Ah, mana berani dia pada kami, Cah Ayu. Siapa nama anakmu, Ki?" tanya Barka Panengah.
"Milah, Tuan...," jawab pemilik kedai, masih ketakutan. "Jangan ganggu anakku, Tuan."
Kedua kakak beradik kembar itu tertawa bergelak- gelak. Semakin membuat pemilik kedai dan anaknya ketakutan. Begitu juga dengan empat pengunjung kedai. Satu persatu mereka meninggalkan tempat itu. "Aku tak akan mengganggu, Ki. Asal kau berikan anakmu padaku untuk kujadikan istri," kata Barka Panengah seenak perut.
Sementara, Pendekar Gila tampak mendengus. Jelas, hatinya tak senang melihat tingkah ketiga orang itu.
"Rupanya ada tiga ekor lalat yang mengganggu makanku, Ki? Mengapa tidak kau usir saja?"
Tersentak Tiga Barka Kembar mendengar gerutuan pemuda berpakaian rompi kulit ular yang ditujukan pada mereka.
"Kurang ajar! Siapa kau?! Berani benar kau
berkata lancang pada Tiga Barka Kembar, heh?!"
Pendekar Gila tertawa tergelak-gelak. Tangan kirinya menggaruk-garuk kepala.
"Aha, rupanya tiga lalat itu semakin brengsek! Huh...!" Pendekar Gila menyentak piring makannya. seketika, benda itu melayang deras ke arah Barka Panengah dan Barka Bungsu yang dekat dengan pemilik kedai.
Zwing! Mata Tiga Barka Kembar terbelalak menyaksikan hal itu. Cepat-cepat Barka Panengah dan Barka Bungsu memiringkan tubuh ke belakang untuk meng- elakkan serangan piring yang dihentakkan oleh Pendekar Gila.
Jlep! Piring itu menancap telak di bangku penyangga kedai, membuat Tiga Barka Kembar semakin mem- belalakkan mata.
"Kurang ajar! Kurencah tubuhmu, Pemuda Sombong!" maki Barka Sulung.
"Dia perlu dihajar, Kakang!" tambah Barka Bungsu. Pendekar Gila tertawa tergelak-elak. Tuak yang ada di atas meja ditenggaknya, kemudian sebelum ketiganya menyerang, disemburkannya tuak itu arah mereka.
"Cuihhh...!" Semburan tuak itu menghantam wajah mereka, membuat Tiga Barka Kembar kepedihan. Mulut mereka mencaci-maki sambil mendekap wajah.
"Setan alas! Sebutkan siapa namamu, sebelum kami kirim kau ke akhirat?!" bentak Barka Sulung. Tubuhnya lalu berkelebat menyerang Sena, yang dengan cepat berkelit dengan tangan menggaruk- garuk kepala.
"Kalianlah yang harus dikirim ke akhirat, Manusia- manusia Cabul!" dengus Sena. "Tapi baiklah, agar kalian tidak penasaran di neraka sana, akan ku- jelaskan siapa aku. Aku Sena Manggala. Orang-orang sering menyebutku Pendekar Gila dari Gua Setan!"
"Kurang ajar! Rupanya kau...! Heaaa...!" Tiga Barka Kembar menyerang serempak. Mereka tidak tanggung-tanggung untuk mengeluarkan jurus- jurus andalan. Namun Pendekar Gila dengan enteng mengelakkan serangan mereka. Jurus-jurusnya yang aneh, membuat Tiga Barka Kembar mengerutkan kening.
"Hai, aneh sekali jurus-jurusnya. Lalu, siapakah pemuda berbaju kuning yang kutemui waktu itu?" gumam Barka Sulung. Dengan kaget dia melompat mundur, mengelakkan serangan-serangan Pendekar Gila yang aneh.
Tubuh Pendekar Gila meliuk-liuk laksana menari. Sesekali tangannya menepuk. Gerakannya terlihat sangat lambat namun kenyataannya mampu mem- buat Tiga Barka Kembar terperanjat kaget.
"Jurus gila!" maki Barka Panengah jengkel, ketika tangan Pendekar Gila menepuk ke arah dadanya secara tiba-tiba. Kalau saja tidak segera melompat, sudah pasti dadanya remuk terkena tepukan tangan itu. Pendekar Gila masih bergerak. Tubuhnya meliuk- liuk mengelakkan serangan ketiga lawannya. Tangan- nya sesekali menepuk.
"Heaaa...!" Plak! "Ukh...!" keluh Barka Sulung. Tubuhnya terlontar deras keluar, kemudian jatuh setelah menabrak orang. Yang ditabrak langsung pingsan. Sedangkan
Barka Sulung meringis dengan bibir berdarah.
Melihat Barka Sulung dalam beberapa gebrakan saja dapat dikalahkan oleh pemuda tampan yang tingkahnya seperti orang gila itu, seketika nyali Barka Panengah dan Barka Bungsu ciut. Dengan segera, keduanya berkelebat meninggalkan kedai. Mengambil tubuh kakaknya, lalu melesat pergi.
"Hai, tunggu...!" seru Sena, berusaha meng- hentikan Tiga Barka Kembar. Namun ketiganya yang sudah ketakutan, tak mau menghiraukan seruan itu. Mereka terus berlari.
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepalanya. Dengan tersenyum-senyum, dihampirinya pemilik kedai dan putrinya yang juga tersenyum padanya.
"Maafkan apa yang telah kuperbuat, Ki," kata Sena, menyesali hal yang telah terjadi di kedai itu.
"Ah, tidak apa-apa, Tuan. Bahkan kami sangat berterima kasih atas pertolongan Tuan," jawab pemilik kedai.
"Sudahlah, Ki. Tak usah berkata begitu. Siapakah ketiga orang kembar itu, Ki?" tanya Sena kemudian.
"Mereka orang jahat yang cabul. Mereka bernama Tiga Barka Kembar."
"Baiklah, Ki. Aku hendak mengejar mereka. Aku mohon pamit."
Usai berkata begitu, Pendekar Gila berkelebat laksana terbang meninggalkan pemilik kedai dan anaknya yang terperangah menyaksikan bagaimana pendekar itu menghilang dengan cepat




LIMA

Waktu berlalu dengan cepat. Tidak terasa dua tahun telah berlalu. Saat itu di sebuah gua, seorang wanita muda dengan tekun mempelajari ilmu-ilmu yang diturunkan oleh gurunya. Wanita muda yang tidak lain Wulandari, dengan cepat dapat menyerap semua ilmu Nyi Kendil. Penyebabnya adalah dendam yang terus membara di hatinya, menjadikan semangatnya untuk berlatih bagaikan api yang tak pernah padam. Setiap hari dia berlatih hingga dalam waktu singkat semua ilmu si nenek dapat dikuasainya.
Wulandari yang dulu lemah, kini telah menjadi sosok wanita cantik yang memiliki ilmu tinggi. Pakaian yang dikenakannya bukan lagi pakaian wanita desa, melainkan pakaian seorang pendekar. Berbaju merah jambu dan celana dengan warna sama. Kepalanya juga bertudung merah jambu. Sedangkan wajahnya tertutup secarik kain merah darah sebatas kelopak mata.
"Semua ilmu yang kumiliki, telah semuanya kau kuasai. Maka kini kau harus menggantikanku, Wulan..."
Sesaat Nyi Kendil menghentikan ucapannya. Dihelanya napas dalam-dalam.
"Semula aku hendak turun ke rimba persilatan. Namun kini aku urungkan, sebab aku telah mendapat pengganti. Nah, berangkatlah. Carilah musuh- musuhmu," lanjutnya.
"Terima kasih, Guru. Wulan mohon pamit..." Nyi Kendil mengangguk, kemudian mengiringi
langkah muridnya ke pintu gua yang masih tertutup. Ditekannya telapak tangan pada dinding gua, lalu pintu gua itu seketika terbuka.
"Pergilah dengan hati yang tetap. Ingat, jangan, kembali lagi kemari...," pesan Nyi Kendil setelah melepas muridnya yang akan turun ke rimba persilatan.
"Baik, Nek...," jawab Wulandari. Setelah menjura, Wulandari meninggalkan gua tempat gurunya dengan dendam membara di hati.
Wulandari terus berlari meninggalkan tempat itu menerobos hutan yang ada di hadapannya tanpa merasakan gentar sedikit pun.
Ketika telah berada di tengah hutan, tiba-tiba telinganya yang sudah terlatih mendengar suara gemerisiknya daun kering terinjak kaki manusia. Wulandari cepat menghentikan larinya. Matanya yang tajam menyapu ke sekelilingnya. Telinganya dipasang tajam pula, berusaha mengetahui di arah mana suara itu berasal.
Kresek! "Hm, ada tiga orang lelaki. Nampaknya mereka! bukan bermaksud baik. Kebetulan sekali," gumam Wulandari. Matanya terus mengawasi semak-semak yang ada di sekelilingnya dengan tajam.
Benar juga dugaannya. Dari semak-semak, berlompatan tiga orang lelaki bertampang angker mengenakan rompi hitam. Tak urung membuat wanita berpakaian merah jambu itu terkejut. Napasnya turun naik, sedangkan matanya memandang tajam penuh kebencian pada tiga orang itu. "He he he...! Rupanya di hutan seperti ini menemukan seorang wanita, Kakang...!" seloroh
salah seorang dari ketiga lelaki bertampang kasar itu, yang tiada lain Barka Bungsu.
"Ya, kebetulan sekali.... Lama kita bersembunyi di hutan ini dari kejaran Pendekar Gila. Akhirnya kita dapat juga seorang wanita," timpal Barka Sulung sambil terkekeh, menunjukkan giginya yang kuning.
Wulandari masih diam. Hanya matanya yang tajam memperhatikan gerak-gerik ketiga lelaki yang nengingatkan kembali akan peristiwa dua tahun silam. Ketiga lelaki inilah yang telah menyiksa suaminya dan hampir saja memperkosanya.
"Hendak ke manakah kau, Nona? Mengapa mesti terburu-buru? Bukankah lebih baik bersama kami dulu...?" goda Barka Panengah dengan bibir cengengesan. Ketika tangannya hendak menjamah dada wanita itu, tiba-tiba si wanita menyentak.
Trak! "Auh...!" Barka Panengah memekik, matanya melotot tegang memandang wajah wanita itu. Dia tidak nenduga kalau hentakan tangan wanita itu mampu membuat tulang tangannya terasa nyeri.
Bukan hanya Barka Panengah saja yang terbelalak menyaksikan gerakan si wanita yang begitu cepat dan keras. Kedua saudaranya juga terkejut.
"Heh, rupanya kau bukan wanita sembarangan, Nona," gumam Barka Sulung sambil mengelus dagunya. "Tapi aku lebih senang dengan wanita sepertimu."
"Kalian memang laki-laki bajingan yang harus kusingkirkan dari dunia ini! Bersiaplah. Heaaa...!" Wulandari yang sudah tidak dapat menahan amarah dan dendamnya, segera melancarkan serangan. Tubuhnya membungkuk, sementara tangan kanannya menyambar ketiga lelaki itu. Sedangkan tangan kiri
bergerak mencengkeram ke arah kemaluan mereka.
Bukan alang-kepalang terkejut ketiga lelaki ber- pakaian rompi hitam menyaksikan gerakan serangan wanita berpakaian merah jambu itu. Mereka tak menduga sama sekali, kalau wanita itu akan melakukan serangan yang cepat.
''Heaaa...!" Hampir saja selangkangan mereka menjadi korban cengkeraman tangan kiri wanita itu, kalau saja mereka tidak segera mengelak ke belakang. Mata mereka saling pandang, kemudian dengan cepat ketiganya balik menyerang.
"Heaaa...!" Tiga Barka Kembar merangsek Wulandari ber- bareng dengan melancarkan pukulan yang masih ringan. Sengaja mereka menggunakan seperempat tenaga dalam, karena menganggap lawan yang mereka hadapi bukanlah lawan berat. Apalagi mereka belum tahu kehebatan wanita itu di rimba persilatan.
Tubuh Tiga Barka Kembar bergerak memutari Wulandari yang masih diam dengan membuka kedua tangannya. Sesekali mereka menggoda. Tangan Tiga Barka Kembar serentak menjulur ke dada wanita itu, namun dengan cepat Wulandari mencelat ke atas. Kedua tangannya direntang lebar, kemudian ditarik ke atas dan dilanjutkan dengan menghentak ke bawah.
"Heaaa...!" Serangan pembuka yang dilancarkan Tiga Barka Kembar seketika morat-marit, manakala Wulandari melakukan serangan balasan yang tak mereka duga sama sekali. Serangan yang dilakukan oleh Wulandari benar-benar mengagetkan mereka. Dengan melompat mundur, Tiga Barka Kembar berseru
kaget...
"'Kupu-kupu Emas Merentang Sayap'...!" Mata Tiga Barka Kembar terbuka lebar, dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Setahu mereka, yang memiliki jurus seperti itu adalah seorang tokoh wanita tua yang akhir-akhir ini tak terdengar lagi rimbanya. Namun kini, tiba-tiba jurus itu kembali nampak. Tapi dimainkan oleh seorang wanita yang dilihat dari penampilannya masih muda belia.
"Nona, ada hubungan apa kau dengan Nyi Kendil?" tanya Barka Sulung dengan mata memandang heran pada Wulandari yang tersenyum sinis.
"Apa pun hubunganku dengan wanita yang kau sebut, kau tak perlu tahu! Yang jelas, nyawa kalian harus kurenggut! Heaaa...!"
Tanpa menunggu lawan bersiap-siap lebih dahulu, Wulandari kembali melancarkan serangan. Jurus 'Kupu-kupu Emas Merentang Sayap' yang mengejutkan Tiga Barka Kembar, kini semakin diper- cepat. Lagi-lagi ketiganya tersentak kaget. Mau tak mau, mereka harus mengelakkan serangan lawan yang ganas dan mematikan.
Wulandari tak berhenti sampai di situ. Tangannya yang mengembang kian membabat gencar. Tangan kanannya menyerang ke ulu hati, sedangkan tangan kiri bergerak untuk mencengkeram selangkangan lawan. Gerakannya sangat cepat, hingga mampu membuat Tiga Barka Kembar tersentak.
"Celaka! Dia benar-benar ingin membunuh kita!" pekik Barka Bungsu sambil mengelakkan serangan lawan yang cepat dan mematikan. Sesekali Barka Bungsu menggeser ke samping, kemudian kakinya menendang ke arah dada lawan. Namun serangan
yang dilancarkannya senantiasa berantakan, sebab lawan telah mendahuluinya dengan cepat.
"Heaaa...!" Jurus yang digunakan lawan memang bukan jurus sembarangan. Kehebatan dan keganasan jurus 'Kupu-kupu Emas Merentang Sayap', sudah mereka dengar sejak lama.
Barka Sulung dan Barka Panengah membantu. Namun, kembali mereka harus melontarkan tubuh ke belakang, sebab wanita bercadar merah darah itu telah berbalik menyerang dengan cepat arah mereka.
"Heaaa...!" Tubuh Wulandari yang merunduk, bergerak cepat. Kedua tangannya yang menyerang bergantian bantu dan susul. Hal itu membuat kedua lawannya tak memiliki kesempatan untuk balas menyerang satu kali pun.
"Celaka! Wanita ini benar-benar telah menguasai semua ilmu yang dimiliki Nyi Kendil...!" keluh Barka Sulung semakin kaget, saat menyaksikan ke- sempurnaan jurus-jurus yang dikeluarkan Wulandari. Sepertinya, mereka tengah berhadapan dengan Nyi Kendil sendiri.
Wulandari yang dendamnya masih membara, tak banyak omong. Dia benar-benar berusaha membunuh ketiga lelaki itu secepat mungkin. Serangan- serangannya kian lama kian ganas. Tangannya yang mencengkeram dan menyodok, laksana dua buah senjata tajam yang digerakkan dengan tenaga dalam penuh.
Kedua tangan wanita itu bergerak laksana tiada henti. Satu ke ulu hati lawan, sedangkan yang kedua selangkangan. Bukan itu saja. Kakinya pun tidak tinggal diam. Kakinya turut bergerak, menyapu, atau
menendang ke arah selangkangan.
Barka Sulung dan Barka Panengah berusaha mengelit, kemudian dengan cepat keduanya menyodorkan pukulan ke dada lawan. Namun keduanya segera mengurungkan niat, manakala secara cepat dan tiba-tiba tangan lawan telah mendahului menyerang. Kalau saja mereka menerus- kan serangannya, tidak ampun lagi buah selangkangan mereka akan hancur tercengkeram tangan Wulandari.
"Awas Panengah...!" seru Barka Sulung mengingatkan adiknya. Sedangkan tubuhnya dengan cepat melompat. Sementara kakinya berusaha menepiskan tangan lawan.
Rupanya gerakan yang dilancarkan Barka Sulung dimanfaatkan Wulandari dengan baik. Wanita muda bercadar merah itu secepat kilat menarik tangan kanannya, kemudian seluruh serangannya tertuju pada Barka Panengah.
"Heaaat..!" Mendapatkan serangan cepat yang ditujukan padanya, Barka Panengah tersentak. Dia berusaha melompat mundur untuk mengelakkan serangan lawan. Tangannya melepas satu pukulan maut Tapi Wulandari menepiskan pukulan itu dengan entengnya. Hanya dengan mengebutkan selendang- nya, pukulan maut 'Serat Sapta Geni' tingkat kelima yang dilancarkan Barka Panengah dapat dimusnah- kan. Mata Barka Panengah membelalak kaget. Sama sekali tak diduga kalau pukulan mautnya dapat dimusnahkan hanya oleh kebutan selendang. Saking terpana menyaksikan pukulan mautnya dapat dimusnahkan awan, Barka Panengah tak sempat
mengelakkan serangan susulan lawan. Hingga....
Crak! "Akh...!" Barka Panengah memekik keras, ketika tangan lawan mencengkeram kemaluannya.
Seketika kemaluan laki-laki itu pecah berantakan dan menyemprotkan darah. Barka Panengah langsung memegangi kemaluannya dengan mata membelalak. Sesaat tubuhnya meregang, kemudian ambruk ke tanah. Tewas!
"Panengah...!" seru kedua saudaranya dengan mata membelalak saat menyaksikan Barka Panengah mati dengan keadaan mengerikan. Kemaluannya hancur akibat cengkeraman tangan wanita bertudung merah jambu.
Melihat kedua lawan lain masih terkesiap menyaksikan kematian saudaranya, tanpa mem- buang waktu lagi Wulandari kembali melancarkan serangan.
"Heaaa...!" Tangannya bergerak semakin cepat. Satu mengancam dada lawan, sedangkan tangan yang lain arah selangkangan.
Barka Sulung dan Barka Bungsu terkejut mendapat serangan tiba-tiba itu. Beruntung keduanya segera mengelak. Sehingga mereka tidak mengalami nasib seperti Barka Panengah. Kemudian dengan penuh amarah, keduanya balik menyerang berbareng.
"Heaaa...!" "Kubunuh kau! Heaaa...!" Wulandari yang memendam dendam kepada Tiga Barka Kembar, semakin ganas melancarkan serangan? Wanita bercadar merah itu, laksana seekor harimau betina yang garang. Tangannya mencakar ke arah lawan bertubi-tubi. Menjadikan serangan kedua lawannya
porak-poranda.
"Kalian harus mampus! Yeaaa...!" Wulandari terus merangsek dengan cengkeraman- cengkeraman ke arah selangkangan lawan, membuat kedua lawannya semakin terdesak hebat.
Dalam keadaan di ujung tanduk itu, Barka Sulung dan Barka Bungsu segera mengeluarkan senjata masing-masing. Tangan kedua saudara kembar itu kini tergenggam trisula. Keduanya berusaha menusukkan senjatanya ke arah lawan, namun tetap saja mengalami kegagalan. Gerakan lawan terlalu cepat dan sulit diterka. Lincah laksana kupu-kupu terbang. Gesit laksana harimau betina yang mengamuk.
"Celaka...!" pekik Barka Bungsu kaget dengan wajah tegang ketika serangan lawan yang cepat mengarah padanya. Tangannya berusaha membabat- kan trisulanya ke tangan lawan. Ternyata dugaannya meleset.
Wulandari menarik tangannya menyerang, lalu segera mengirim tendangan telak ke selangkangan lawan. Tanpa ampun lagi, tendangan keras Wulandari tidak sempat dihindari Barka Bungsu.
Begk! "Aaakh...!" Barka Bungsu memekik keras. Trisula di tangannya lepas. Tangannya kini memegangi selangkangannya yang pecah. Matanya membelalak tegang. Mulutnya hendak bersuara, namun nyawanya telah melayang. Tubuh Barka Bungsu ambruk dengan keadaan mengerikan.
"Kau...?!" Menyaksikan kedua saudaranya mati, nyali Barka Sulung ciut. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya segera berkelebat untuk lari meninggalkan tempat itu.
Namun Wulandari tidak mau melepas lawan begitu saja.
"Mau lari ke mana kau, Bajingan?! Heaaa...!" Tubuh Wulandari melesat cepat, bersalto di udara lalu tangannya bergerak cepat menghantam tubuh Barka Sulung dengan keras.
Desss! "Aaakh...!" Barka Sulung memekik keras. Kemudian, sambil membalikkan tubuh dipandanginya Wulandari dengan mata melotot. Kemudian tubuhnya ambruk dengan nyawa melayang.
"Ha ha ha...! Akhirnya aku dapat membalas semuanya! Kakang, lihatlah! Lihatlah dari akhirat, kala istrimu akan mencabut jantung mereka!"
Bagaikan orang gila, Wulandari tertawa tergelak- gelak. Kemudian dengan penuh kebengisan, tangan Wulandari bergerak menusuk dada Tiga Barka Kembar yang telah binasa.
Crakkk! Tangan Wulandari menyeruak masuk ke dalam dada Barka Sulung, kemudian tangannya men- cengkeram jantung lawan. Ditariknya jantung lawan, rongga dadanya. Kemudian dengan tangan berlepota darah, Wulandari mencengkeram kemaluan lawannya dan dibetotnya sampai putus. Diangkatnya jantung dan kemaluan lawan tinggi-tinggi.
"Kakang Selo, lihatlah! Ini jantung dan kemaluan mereka yang kupersembahkan padamu! Semoga kau tenang di alam sana!"
Wulandari kembali tertawa tergelak-gelak sambil meremas-remas jantung dan kemaluan lawan yang telah dibetot dari tubuh Barka Sulung. Setelah itu, kembali Wulandari membetot kemaluan dan jantung Barka Bungsu dan Barka Panengah dengan buas.
Diremasnya sampai hancur. Kemudian mulutnya mengumandangkan tawa bagai orang gila.
Setelah puas melakukan semuanya, Wulandari berlalu. Tempat itu kembali sepi. Tinggal tiga tubuh tergeletak mengerikan. Dada mereka berlubang dan kemaluan mereka hilang.

ENAM

Seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular melangkah menyelusuri hutan belukar. Pemuda tampan dengan tingkah laku seperti orang gila itu tiada lain Sena Manggala yang lebih terkenal dengan sebutan Pendekar Gila dari Gua Setan. Saat itu Sena tengah memburu tiga orang yang telah lama dicari- carinya. Matanya sempat melihat mereka masuk ke dalam hutan itu.
"Ah, bodoh sekali aku ini! Mengapa aku mem- biarkan mereka lolos begitu saja? Tolol...!" Sena sambil menggaruk-garuk kepala bagai orang bodoh.
Kemudian keningnya ditepuk dengan tangan sedangkan tangan kanannya masih menggaruk-garuk kepala. Kakinya terus melangkah untuk memasuki hutan lebat itu.
Langkah Sena tertahan kctika melihat seorang wanita berpakaian merah jambu berlari ke arahnya. Tangan wanita bercadar merah itu berlumuran darah. Mata Sena seketika membelalak, sedangkan mulutnya menganga bodoh.
Hai, mengapa tangan wanita itu berlumuran darah? Apa yang telah dilakukannya...? Gumamnya, masih belum percaya pada apa yang baru saja dilihatnya. Kemudian terdengarlah gelak tawa dari mulutnya.
"Ha ha ha...!" . Sena tertawa bergelak sehingga tubuhnya turut terguncang-guncang. Tangan kanannya menggaruk- garuk kepala, sedangkan tangan kirinya mengorek
telinga. Hal itu membuat wanita yang tak lain Wulandari itu menghentikan langkahnya. Matanya memandang tajam ke arah Sena yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
"Diam...!" bentak Wulandari keras. Sena menghentikan tawanya. Namun tangannya masih menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengengesan. Kemudian terdengar dari mulutnya suara cekikikan....
"Hi hi hi...!" Mata Wulandari semakin tajam memandangi wajah pemuda di hadapannya. Tingkah laku serta gerak-gerik pemuda itu tak ada bedanya dengan orang gila. Inikah Pendekar Gila itu? Hm, sungguh berbeda dengan pemuda yang telah memperkosa dan membunuh suamiku. Gumam Wulandari dalam hati. Sena masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Tatapannya mengarah tak menentu. Terkadang pada daun-daun pohon menghijau. Dan sesekali tertuju pada Wulandari. Kemudian Sena kembali tertawa tergelak-gelak, ketika matanya tertuju pada cadar yang dikenakan Wulandari.
"Lucu.... Lucu sekali dunia ini. Ah ah ah.... Rupanya dunia ini penuh kelucuan. Mengapa wanita secantikmu menutupi wajah dengan cadar. .? Aneh.... Hi hi hi...!" Sena cekikikan. Lalu tubuhnya melompat- lompat seperti kera dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Wulandari mengerutkan kening. Dia masih belum percaya pada apa yang kini dilihatnya. Pendekar Gila yang dulu memperkosanya dan membunuh suaminya, bukan pemuda gila yang kini berada di hadapannya.
"Siapa kau?!" bentak Wulandari. "Apa urusanmu
dengan perbuatan yang kulakukan?"
Sena terus tertawa. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Kemudian dengan menarik napas panjang ditatapnya Wulandari lekat-lekat.
"Ah, apalah artinya namaku. Hi hi hi.... Lucu..., mengapa kau menanyakan namaku? Bukankah kau tak ada urusan denganku?" kata Sena balik bertanya. "Ah, sudahlah.... Aku tak ada waktu. Maaf, aku harus pergi."
"Tunggu...!" Sena segera menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik menghadap ke arah Wulandari. Kepalanya digaruk-garuk dengan mulut memperlihatkan senyum bodoh.
"Ah, apakah ada sesuatu yang membuat kau menghentikan langkahku?" tanya Sena.
"Ya!" jawab Wulandari ketus. Sena tersenyum. "Ah, kurasa antara kita tak pemah saling kenal. Ada apa...?"
Wulandari tak langsung menjawab pertanyaan pemuda tampan namun bertingkah laku gila itu. Matanya malah mengawasi Sena dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semuanya lain dengan pemuda yang memperkosanya dan membunuh suaminya. Pakaian pemuda itu berlengan panjang, berwarna kuning. Sedangkan pemuda bertampang gila ini mengenakan baju rompi terbuat dari kulit ular. Wajahnya pun lain. Lebih tampan pemuda di hadapannya sekarang.
Sena yang diperhatikan begitu rupa oleh wanita yang sebagian wajahnya tertutup secarik kain merah itu kembali cengengesan sambil garuk-garuk kepala. Wajahnya ditengadahkan, memandang ke atas.
Lama juga Wulandari ragu. Hatinya diusik pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa secepatnya dijawab. Mungkinkah pemuda berbaju kuning yang dicarinya telah mengubah penampilan dan wajahnya menjadi pemuda yang kini di hadapannya?
Tapi dendam yang menggelegak di dadanya membuat dia tidak ingin berpikir lebih lama. Dia menjadi yakin kalau pemuda yang kini dihadapinya adalah lelaki yang telah menghancurkan hidupnya.
"Melihat tingkah lakumu, sepertinya kau orang gila. Namun dari pakaian yang kau kenakan, tampaknya kau dari orang rimba persilatan. Maka itu, aku yakin kaulah orang yang kucari. Mesti kau berganti muka seribu kali, aku tak akan dapat kau kibuli. Hiaaat..!"
Tanpa banyak kata lagi, Wulandari melabrak Sena dengan ganas. Tubuhnya membungkuk, dengan kedua tangan mengembang dan menyerang. Tangan kanannya menyambar ke ulu hati, sedangkan tangan kirinya bergerak mencengkeram ke selangkangan Sena.
Sena yang tak tahu apa-apa, terkejut menyaksikan wanita tak dikenal itu menyerangnya. Sambil menggaruk-garuk kepala serta kening berkerut, pendekar muda itu melompat ke belakang mengelakkan serangan lawan.
"Eh, mengapa kau menyerangku, Nisanak?" tanya Sena berusaha memahami apa kesalahannya. Namun Wulandari yang sudah yakin kalau pemuda itulah yang memperkosanya serta membunuh suaminya tak mau berhenti. Apalagi di hatinya tersirat api dendam pada orang-orang rimba persilatan.
Wulandari terus menyerang dengan jurus 'Kupu- kupu Emas Merentang Sayap' yang telah mampu membinasakan Tiga Barka Kembar. Tangannya
bergerak cepat, satu menyambar ke arah ulu hati, sedangkan yang satunya mencengkeram ke arah selangkangan Pendekar Gila. Tubuhnya mem- bungkuk, sedangkan kaki-kakinya bergerak menyapu dan terkadang menendang.
"Hei, mengapa wanita cantik ini menyerang ke arah selangkangan?" tanya Sena heran. Dia terheran- heran menyaksikan jurus-jurus yang dilancarkan Wulandari. "Apa yang ingin dilakukannya?"
"Nisanak, tunggu...! Mengapa kau menyerangku?" tanya Pendekar Gila sambil mengelakkan serangan Wulandari dengan cara menggerakkan tubuhnya ke sana kemari dan berputar laksana menari. Kadang tubuhnya membungkuk, tengadah atau limbung ke samping.
"Jangan berpura-pura bodoh, Pendekar Gila! Kau harus mampus di tanganku! Heaaat..!"
Wulandari semakin bemafsu untuk secepatnya menjatuhkan Pendekar Gila. Serangannya dilipat- gandakan. Tangannya yang menebas dan men- cengkeram semakin cepat bergerak. Begitu juga dengan sepasang kakinya.
Pendekar Gila yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh wanita itu, mau tidak mau harus bergerak mengelitkan serangan- serangan lawan yang mengarah pada tempat-tempat mematikan. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari. Kakinya melangkah ke belakang dan ke samping mengelakkan sambaran kaki lawan.
"Nisanak, mungkin kau salah sangka! Tunggu, hentikan seranganmu!" pinta Sena berusaha menyadarkan wanita berpakaian merah jambu dengan sebagian wajah tertutup kain merah.
"Pengecut! Keluarkan jurus-jurus yang dulu pernah
kau tunjukkan di depanku! Jangan hanya mengelak saja...!" bentak Wulandari semakin berang, menyaksikan Pendekar Gila hanya mengelak dan belum berusaha menyerang.
Pendekar Gila yang kebingungan mendapatkan serangan itu hanya menggaruk-garuk kepala. Tubuhnya terus meliuk-liuk sambil sesekali tangannya menggaruk-garuk kepala. Dia masih kebingungan dan bertanya-tanya mengapa wanita yang baru saja bertemu dengannya tiba-riba menyerang.
Sambil terus mengelakkan serangan lawan, Pendekar Gila menguras pikirannya. Jurus-jurus aneh. Mengapa selalu mengarah ke selangkangan? Ah, mengapa wanita secantik ini berlaku begitu? Tanyanya dalam hati.
"Nisanak, hentikanlah! Sungguh aku tak mengerti akan maksudmu...!" seru Pendekar Gila sambil melompat ke belakang. Kemudian dia berdiri sambil menggaruk-garuk kepala.
Wulandari yang melihat Pendekar Gila menghindar dan melompat ke belakang, dengan cepat memburu. Tangan dan kakinya masih bergerak menyerang. Hal itu membuat Pendekar Gila semakin kebingungan. Dia sama sekali tidak memahami keinginan wanita itu. "Nisanak, kenapa kau ini? Tak ada hujan, tak ada badai, mengapa kau menyerangku?" tanya Pendekar Gila masih berusaha menyadarkan wanita yang meyerangnya. Namun semuanya sia-sia, wanita itu tetap saja menyerangnya.
"Jangan banyak omong! Keluarkan ilmumu, kalau kau tak ingin mati percuma...!" sentak Wulandari sambil terus bergerak menyerang.
Pendekar Gila mengangkat kakinya tinggi-tinggi
kemudian melompat ke samping kanan mengelakkan serangan tangan kiri lawan. Sedangkan tubuhnya dicondongkan ke samping, kemudian tangannya menepis serangan tangan kanan lawan.
Desss! Benturan terjadi, membuat keduanya melangkah dua tindak ke belakang. Pendekar Gila garuk-garuk kepala. Sedangkan Wulandari melotot penuh amarah pada Sena.
"Bagus! Memang itulah yang aku inginkan! Jadi aku tidak percuma membunuhmu! Heaaa..."
Usai berkata begitu, Wulandari kembali melancar- kan serangan. Kali ini gerakannya sangat cepat. Kedua tangannya menyerang ke arah bawah, dengan cengkeraman-cengkeraman yang mengarah ke titik kematian. Itulah jurus 'Kupu-kupu Hinggap Sambil Menghisap Madu'.
Kedua tangan Wulandari bergerak cepat saling bergantian dengan cengkeraman-cengkeraman yang mematikan ke selangkangan lawan. Tubuhnya mem- bungkuk, kakinya menyapu dan menendang. Kemudian kedua tangannya bergerak naik ke arah dan berakhir ke muka lawan.
Pendekar Gila yang merasakan desiran angin serangan wanita itu, dengan cepat bergerak mengelit. Dia tidak ingin menjadi korban kesalahpahaman. Itu sebabnya, sampai sejauh itu dia belum juga me- lakukan serangan balasan. Pendekar Gila hanya mengelit dengan meliuk-liukkan tubuh, menggunakan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'.
***

"Keparat! Rupanya kau benar-benar ingin mempermainkan aku, Pendekar Gila! Jangan salahkan kalau aku akan membunuhmu seperti membunuh anjing! Heaaa...!"
Dengan penuh amarah, Wulandari yang merasa dipermainkan Pendekar Gila mempercepat serangan- nya. Tangannya bergerak kian cepat, disambung oleh tendangan dan sapuan kakinya.
Pendekar Gila yang masih belum tahu duduk persoalannya, mengerutkan kening sambil bergerak mengelak.
"Heaaa...!" "Nisanak, tidak bisakah kau hentikan serangan- mu? Kita bicara baik-baik...."
Belum juga selesai Pendekar Gila, tiba-tiba Wulandari telah merangsek kembali ke arahnya dengan serangan-serangan yang mengarah ke kemaluan. Kalau Pendekar Gila tidak cepat mengelak, niscaya kemaluannya akan tercengkeram tangan lentik tapi garang itu.
"Jangan banyak omong! Heaaa...!" Wanita itu benar-benar tak dapat diajak bicara baik-baik lagi. Serangan-serangannya sangat ber- bahaya, disertai tenaga dalam yang cukup sempurna. Lengah sedikit saja, celakalah Pendekar Gila. Yang lebih mengerikan, sasaran serangannya tertuju ke selangkangan, tepatnya ke arah kemaluan.
"Edan! Dunia ini memang sudah gila. Hi hi hi... Bagaimana mungkin wanita secantikmu meng- gunakan jurus cabul...?" Sena tertawa tergelak-gelak sambil terus bergerak mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh Wulandari. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari. Ketihatannya lamban, namun setiap kali Wulandari berusaha menyerang, tahu-tahu
tubuhnya telah berpindah tempat.
Mendapatkan serangannya tak mengenai sasaran, Wulandari semakin bertambah marah. Serangannya dipercepat, berusaha menjatuhkan lawan dengan cepat. Namun hasilnya tetap saja nihil.
"Kurang ajar! Rupanya kau benar-benar mencari mampus! Jangan harap kau akan lepas dari tanganku! Heaaa...!"
Wulandari semakin penasaran mendapatkan lawan yang aneh. Meski gerakan lawan kelihatan lemah namun senantiasa sulit diduga. Setiap kali dia menyerang, dengan cara meliuk pemuda tampan itu mengelak. Liukan tubuh Pendekar Gila terlihat lentur sekali namun tahu-tahu tubuh pemuda itu telah berpindah tempat.
"Nisanak, maaf... aku tak ada waktu lagi bercanda denganmu! Heaaa...!" Pendekar Gila menggerakkan tangannya ke depan dan menepuk. Sebuah rangkaian gerakan dari jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' Gerakannya pelan dan lamban.
Wulandari yang melihat gerakan tangan lawan yang menepuk lamban, segera memapaki dengan pukulan telapak tangannya. Kedua tangan mereka saling beradu.
Desss! "Ukh...!" Wulandari mengeluh tertahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Sedangkan tangannya terasa panas bagai membara. Belum juga keseimbangannya dapat dijaga, tiba-tiba Pendekar Gila telah menepuk kembali punggungnya. Hingga dalam waktu cepat, tubuh Wulandari telah tertotok.
"Nah, Nisanak! Aku tak ada waktu untuk meladeimu. Antara kita tak ada silang sengketa. Dalam waktu sebentar, totokan itu akan hilang
dengan sendirinya. Selamat tinggal."
Usai berkata begitu, sambil menggaruk-garuk kepala Pendekar Gila meninggalkan Wulandari yang masih memperlihatkan sinar penasaran pada wajahnya. Mulutnya mengumpat tak menentu. Sedangkan Pendekar Gila meninggalkan tempat itu dengan menerobos hutan.
Pendekar Gila terus melangkah, menyelusuri hutan untuk mencari ketiga orang yang tengah diburunya. Dia telah jauh meninggalkan Wulandari yang masih tertotok dan berdiri mematung dengan pandangan penuh amarah.
Sambil bernyanyi-nyanyi, Pendekar Gila terus melangkah. Telinganya dipasang tajam-tajam. Matanya pun menyapu ke sekelilingnya dengan pandangan tajam. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
Kakinya terus melangkah, semakin bertambah jauh meninggalkan Wulandari. Sejauh itu, belum juga Pendekar Gila menemukan tanda-tanda ketiga lelaki yang dikejarnya.
"Ah, bodoh sekali aku ini!" seru Sena tiba-tiba sambil menepuk keningnya. "Mengapa aku tidak menanyakan pada wanita itu, apakah dia melihat tiga lelaki berompi hitam? Huh, tolol... tolol sekali.
Sesaat Sena menghentikan langkahnya. Dan berdiri tegak dengan kening berkerut Tangannya menggaruk-garuk kepala. Sementara wajahnya nampak cengengesan seperti orang bodoh. Kemudian kepalanya digeleng-gelengkan. Lalu perjalanannya dilanjutkan mencari ketiga orang itu.
"Ah, biarlah... Akan kucari sendiri. Aku yakin mereka masuk ke dalam hutan ini," gumamnya seperti orang bodoh sambil melangkah menyelusuri
jalan setapak di dalam hutan.
Baru beberapa langkah Pendekar Gila melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba matanya melihat tiga sosok tubuh tergeletak berpencar.
"Hei, bukankah tiga orang itu yang kucari?' tanyanya pada diri sendiri.
Pendekar Gila mempercepat langkahnya agar segera sampai di tempat ketiga tubuh itu tergeletak. Sesampainya di tempat itu, betapa terkejut Pendekar Gila menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Sampai-sampai matanya membelalak dengan mulut menganga. Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan wajah terlihat bodoh. Dari mulutnya keluar gumaman setengah mengeluh....
"Wuah..., mengapa jadi begini? Ah, rupanya aku telah didahului orang lain...."
Pendekar Gila memandangi ketiga mayat yang keadaannya mengerikan.
"Ah, benar!" ujarnya seketika. "Ini pasti perbuatan wanita bercadar merah itu. Ck ck ck..., keji! Sungguh keji sekali! Hm, ternyata dia bukan wanita sembarangan. Dia berbahaya... Tapi, siapa dia sebenarnya...? "
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala. Kemudian dengan menggunakan ilmu larinya, pemuda tampan itu melesat meninggalkan ketiga mayat Tiga Barka Kembar menuju tempat Wulandari tertotok.
"Aku harus menanyakan pada wanita itu, mengapa dia melakukan perbuatan keji," bisik Sena sambil mempercepat larinya, dengan harapan dapat menemukan Wulandari. Namun sesampainya di tempat itu, Pendekar Gila tidak menemukan wanita berbaju merah jambu itu lagi.
Sesaat pandangan Sena beredar ke tempat itu,
namun tidak juga ditemukan tanda-tanda kalau wanita itu masih berada di sana.
"Hei, ke mana wanita itu?" gumamnya sambil menggaruk-garuk kepala. "Huh, bodoh lagi! Ah mengapa aku bodoh terus? Dia bukan wanita baik- baik. Aku harus mencarinya...."
Kemudian dengan tertawa tergelak-gelak mengejutkan hewan penghuni hutan, Pendekar Gila me meninggalkan tempat itu untuk mengejar wanita cadar merah yang sangat telengas perbuatannya.

TUJUH

Di sebuah tempat yang jauh dari hutan di mana Pendekar Gila tengah mengejar wanita bercadar merah yang tindakannya keji, nampak dari kejauhan sebuah pedati ditarik dua ekor kuda melaju dengan pelan dan tenang. Sebagaimana ketenangan wajah laki setengah baya yang menjadi kusir pedati itu. Mata lelaki itu memandang tajam ke depan. Sesekali menyapu ke kanan dan kirinya. Pakaiannya berwarna putih perak. Kumisnya tebal melintang di atas bibir. Sedang kepalanya diikat dengan kulit rusa.
Melihat dari ciri-cirinya, kusir pedati itu bukanlah orang biasa. Dia tidak lain Ki Martanu, yang lebih terkenal dengan sebutan Sabit Kembar dari Timur. Seperti julukannya, Ki Martanu bersenjatakan sepasang sabit, dan berasal dari wilayah timur.
Ki Martanu dengan tenang mengendarai pedatinya. Sesekali mulutnya berdecak, dengan tangan menghentakkan tali kekang kuda.
"Hiya, hiya...! Ayo, jalanlah dengan tenang," katanya pada kedua kuda yang menarik pedatinya. Bagaikan mengerti, kedua kuda penarik pedati itu pun melangkah dengan tenang.
Di belakang pedati, berjalan lima orang murid utamanya. Pakaian mereka sama, hanya bedanya tidak berlengan. Kalau Ki Martanu mengenakan lengan panjang putih perak, kelima muridnya rompi putih perak. Di tangan kanan kelima murid utama itu terdapat peti berukir indah. Tangan kiri memegang tombak. Pedang tersandang di punggung mereka.
Wajah mereka masih muda, kuning bersih dan tampan. Mata mereka tajam memandang lurus ke depan.
Di dalam pedati, sepasang mempelai muda tengah bercanda penuh kebahagiaan. Yang lelaki, adalah anak Ki Martanu. Sedangkan perempuan cantik di sisinya adalah anak Ki Genda Aren yang menjadi tumenggung di Pandan Laras.
Kedua mempelai itu baru melangsungkan per- nikahan beberapa puluh hari yang lalu. Belum sampai sebulan, atas permintaan Ki Tumenggung, mereka diboyong dari rumahnya.
Saat pedati melaju dengan tenang, tiba-tiba kuda penarik pedati itu meringkik. Kemudian kedua kuda itu ambruk dan mati. Hal itu membuat Ki Marta tersentak kaget, matanya membelalak dan dengan ringan melompat turun dari pedatinya. Tubuhnya salto, kemudian turun dengan enteng menjejak kaki di tanah.
"Keparat!" maki Ki Martanu marah, manakala melihat kuda-kudanya mati karena jarum-jarum beracun yang dilontarkan seseorang. Sedangkan di Di dalam pedati, terdengar jerit ketakutan menantunya.
Mata Ki Martanu memandang tajam ke sekeliling- nya. Napasnya kelihatan memburu, menunjukkan kalau lelaki setengah baya itu benar-benar marah.
Dari belakang, kelima murid utamanya berlari ke arahnya.
"Ada apa, Guru?" tanya Wikala. "Ada yang menyerang kuda-kuda kita," dengus Ki Martanu masih menampakkan kemarahannya. Matanya kembali menyapu ke sekelilingnya, mencari orang yang telah melontarkan jarum-jarum beracun. "Pengecut yang telah menyerang kuda-kudaku,
keluarlah!"
Didahului desingan puluhan jarum yang melesat ke arah mereka, sebuah bayangan warna merah jambu berkelebat keluar dari balik semak-semak.
Zwing! Zwing...! Ki Martanu dan kelima muridnya tersentak kaget, cepat-cepat mereka melontarkan tubuh ke belakang dan bersalto untuk mengelakkan serangan jarum- jarum maut itu. Setelah kaki mereka menjejak tanah kembali, Ki Martanu dan kelima muridnya dengan gusar memandang wanita yang kini tegak di hadapan mereka dengan sikap menantang. Wanita itu ber- pakaian merah jambu dengan separuh wajah tertutup kain merah.
"Siapakah kau, Nisanak? Kenapa kau menyerang kami?" tanya Ki Martanu dengan suara tenang. Matanya mengawasi wanita yang berdiri tiga tombak di depannya.
"Hi hi hi...! Siapa pun aku, kau tak perlu tahu! Yang jelas, kau harus menyerahkan anak lelakimu yang ada di dalam pedati!" dengus Wulandari setelah tertawa cekikikan.
Mendengar jawaban tak bersahabat tadi, lima murid utama Ki Martanu merasa kalau wanita itu telah mempermainkan guru mereka. Lima murid utama itu hendak menyerang. Dengan cepat orang tua itu mencegahnya.
"Nisanak, antara kita tak ada silang sengketa. Kuharap Nisanak sudi memberi jalan pada kami," kata Ki Martanu.
Wulandari kembali tertawa. Matanya kemudian memandang tajam ke arah Ki Martanu.
"Orang tua, sebelum kau menyerahkan mempelai lelaki padaku, aku tak akan membiarkan kalian
lewat!"
"Kurang ajar!" maki murid Ki Martanu yang bernama Aji Genter. Wajahnya seketika memerah, pertanda kemarahannya telah memuncak. "Guru, wanita ini kutampar mulutnya."
"Sabar, Genter," kata Ki Martanu tenang. Kemudian pandangannya dialihkan pada wanita di hadapannya. "Nisanak, untuk apa kau meminta anakku? Antara kau dan anakku tak ada silang sengketa juga, kan?"
"Ya!" jawab Wulandari ketus. "Lalu, untuk apa kau memintanya? Sedar anakku sudah beristri?"
Wulandari tertawa melengking, membuat Ki Martanu dan kelima muridnya mengerutkan kening. Mereka tak mengerti dengan sikap wanita itu.
"Untuk apa? Hi hi hi.... Jelas untuk kujadikan budak yang akan memuaskan keinginanku!" Wulandari seenaknya sambil tertawa cekikikan.
"Wanita jalang!" maki murid Ki Martanu yang bernama Abiyani. Ketika pemuda itu hendak menyerang wanita di depannya, Ki Martanu cepat mencegahnya dengan merentangkan tangan.
"Nisanak, kalau itu yang kau inginkan, dengan menyesal aku tak dapat mengabulkan...."
Bibir Wulandari tersenyum sinis mendengar jawaban orang tua setengah baya itu.
"Kalau begitu, kalian harus mampus! Heaaa...!" bentaknya tiba-tiba.
Wanita berpakaian merah jambu dengan sebagian wajah ditutupi oleh kain merah darah itu dengan cepat melakukan serangan. Kedua tangannya mengembang, kemudian bergerak menyilang. Tangan kanan ke arah ulu hati, sedangkan tangan kiri
mencengkeram ke arah selangkangan. Sementara tubuhnya agak membungkuk, dengan kedua kaki bergerak teratur, yang terkadang melakukan tendangan.
Melihat serangan itu Ki Martanu terkejut dengan mata membelalak.
'"Kupu-kupu Emas Merentang Sayap'...!" desis Ki Martanu tanpa sadar.
Ada senyum angkuh di bibir Wulandari menyaksikan Ki Martanu terkejut melihat jurusnya.
Ki Martanu yang sudah tahu kehebatan serangan lawan, cepat-cepat mengelak ke belakang. Dia bermaksud menahan kelima muridnya, namun mereka telah melesat untuk memapaki serangan wanita itu dengan tombak.
"Heaaa...!" Dengan tombak di tangan, kelima murid utama Ki Martanu berusaha merangsek lawan. Mereka melakukan gerakan mengurung. Tombak di tangan mereka menusuk serentak ke tubuh lawan yang membungkuk.
Mendapat serangan kelima lawannya, dengan cepat Wulandari melenting ke atas. Kemudian turun dengan enteng di luar kurungan mereka.
Melihat lawan telah lolos dari kurungan, cepat- cepat kelima murid utama Ki Martanu bergerak mengurung kembali. Tombak di tangan mereka kembali menusuk dengan ganas.
"Tembus...! Heaaa...!" Sebatang tombak mengancam tubuh Wulandari. Dengan cepat Wulandari memiringkan tubuh ke samping. Hingga tombak itu melesat di sampingnya. Kemudian dengan cepat Wulandari melompat ke atas lalu tubuhnya hinggap di tombak itu bagai seekor
cicak. Melihat wanita muda itu berada di atas tombak temannya, murid utama Ki Martanu yang berada belakang bergerak menyerang. Tombaknya ditusuk- kan ke arah tubuh lawan. Namun dengan cepat Wulandari kembali melompat ke atas. Tak ampun lagi tombak itu menusuk dada temannya sendiri.
Jrab! "Akh...!" Murid Ki Martanu yang bernama Lanang Jingga memekik. Tangannya melepaskan golok yang digenggamnya. Kini kedua tangannya memegangi tombak yang menembus dadanya.
Sedangkan rekannya yang bernama Seta Gawe terperangah. Dia tidak menyangka kalau tombaknya akan menusuk teman sendiri. Wulandari tak menyia- nyiakan kesempatan itu. Kakinya yang masih mengambang di udara, direntangkan untuk me- nendang wajah Seta Gawe.
Dugk! "Ukh...!" Seta Gawe memekik. Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan tangan menutupi wajahnya yang terasa sangat sakit dan perih.
Menyaksikan kedua temannya jatuh, ketiga murid lainnya kembali menyerang dengan ganas. Tombak di tangan mereka berkelebat menusuk dan membabat ke arah lawan. Namun Wulandari dengan mudah mengelakkannya. Kemudian wanita berpakaian merah jambu itu balik menyerang dengan jurus 'Kupu- kupu Emas Merentang Sayap'.
Sepasang tangannya bergerak cepat. Yang kanan menusuk ke arah ulu hati Abiyani. Sedangkan tangan kirinya, bergerak mencengkeram ke arah selang- kangan Rudali. Dibarengi tendangan ke belakang,
kaki kanannya mengancam Sengkapi.
"Heaaa...!" Mendapat serangan balik yang begitu cepat, ketiga murid utama Ki Martanu yang belum siap menjadi terkejut. Dengan cepat tangan mereka memutar tombak di depan tubuh, berusaha menangkis serangan lawan. "Heaaa...!" Tombak di tangan mereka berputar cepat laksana baling-baling, hingga tak lagi terlihat. Yang nampak hanyalah warna gading bulat yang melindungi tubuh ketiganya.
Melihat ketiga lawannya memerisai diri dengan tombaknya, Wulandari tidak kehilangan akal. Cepat- cepat serangannya ditarik, kemudian dengan cepat tubuhnya melenting ke udara. Lalu menukik ke bawah, tepat di belakang salah seorang dari mereka. Tangan kanannya langsung menyerang arah punggung, sedangkan tangan kirinya mengarah kemaluan lawan.
Menyadari ada bahaya, pemuda itu membalikkan tubuh. Namun tiba-tiba sebuah tendangan cepat melesat ke wajahnya.
Pemuda itu berusaha menepiskan tendangan wanita muda itu dengan membabatkan tombak di depan wajahnya. Tapi serangan itu rupanya hanya sebuah pancingan Wulandari belaka. Ketika pemuda itu memutar tombak di depan wajahnya, secepat itu pula Wulandari menarik tendangannya. Sedangkan tangan kirinya yang bebas, segera bergerak men- cengkeram kemaluan lawan.
Crak! "Akh...!" Pemuda itu menjerit, ketika terdengar suara
pecahnya alat kemaluannya. Matanya seketika melotot tegang, dan tubuhnya meregang, kemudian ambruk tanpa nyawa. Darah mengalir dari selang- kangannya.
Mata Ki Martanu terbelalak menyaksikan per- buatan keji wanita muda itu.
"Keji! Biadab...!" makinya gusar.
***

Wanita bercadar merah itu tersenyum sinis. Matanya melotot menunjukkan kebengisan. Seperti- nya tak gentar sedikit pun menghadapi lelaki setengah baya yang namanya cukup kondang itu. Bahkan dengan suara sinis dan sombong, wanita itu bertanya...
"Bagaimana, Ki? Apakah kau mau menyerahkan anakmu?"
"Bedebah! Jangan kau kira semudah itu, Betina!" maki Ki Martanu gusar.
Kesabaran lelaki setengah baya itu sudah habis. Napasnya turun-naik dengan rahang terkatup rapat. Matanya yang tajam, semakin bertambah tajam memandang ke arah wanita bercadar yang masih tersenyum sinis.
"Jadi kau menolaknya, Ki?!" tanya wanita itu tengah mengancam.
"Kurang ajar! Langkahi dulu mayatku! Heaaa...!" Ki Martanu yang sudah tak dapat menahan amarah segera melabrak Wulandari yang tertawa mengejek.
Melihat Ki Martanu mulai menyerang, kedua muridnya yang masih hidup segera membantu. Hingga Wulandari harus kembali menghadapi

No comments:

Post a Comment