IBLIS BERKABUNG
1
Seekor kuda coklat berpacu cepat melintasi ja-lan berumput
di kaki gunung. Penunggangnya seorang gadis cantik berpakaian hijau yang
bertingkah seperti orang kesetanan. Kendati binatang tunggangannya te-lah
berlari demikian cepat, tetap saja cambuk yang tergenggam di tangan
berkali-kali dilecutkan pada ba-gian belakang kuda coklat!
Saat itu matahari bersinar dengan terik. Keti-dakadaan
awan-awan di langit membuat suasana siang itu panas bukan main. Angin yang
bertiup pun tak membuat kulit dan tubuh terasa nyaman. Namun keadaan itu
tampaknya tak dipedulikan oleh si gadis.
Sekarang dia tengah melalui jalan selebar dua tombak yang
di kanan kirinya terhampar rumput se-tinggi satu tombak. Kecepatan lari kuda
coklat tetap tak berubah. Debu mengepul tinggi tercipta di tempat yang
ditinggalkan kuda itu.
Sing, sing, singng...!
Tiba-tiba bunyi berdesing nyaring yang mengi-ringi
meluncurnya benda-benda berkilat mengejutkan si gadis. Apalagi ketika
diketahuinya benda-benda ber-kilat yang bukan lain pisau-pisau tajam itu
meluncur ke arah kuda tunggangannya,
Gadis berpakaian hijau semakin mempergencar lecutannya
untuk mendahului agar serangan pisau-pisau tak mengenai sasaran. Tapi ketika
disadari tin-dakannya tak akan membawa hasil, karena pisau-pisau yang meluncur
terlalu banyak dan sebagian me-luncur ke arah yang akan dilalui kuda coklat, si
gadis segera melakukan tindakan lain.
Gadis berusia sekitar dua puluh tahun dan
berwajah cantik itu mengepitkan kedua kakinya ke pe-rut
binatang tunggangannya. Lalu, mulutnya yang memiliki sepasang bibir merah basah
mengeluarkan lengkingan tinggi. Maka... kuda coklat terbawa naik ke atas dan
meluncur ke depan bak terbang. Kuda coklat itu baru mendarat kembali di tanah
setelah melayang-layang di udara sejauh lima tombak. Belasan batang pisau
meluncur di bawah kaki binatang itu. Seakan-akan binatang tunggangan si gadis
melompati pisau-pisau.
Begitu kuda coklat berhasil mendarat tanpa menimbulkan
bunyi gaduh si gadis tak segera memacu binatang tunggangannya. Dia malah
menarik tali ke-kang kuda. Sementara kuda coklat yang menyadari adanya bahaya
mengancam bermaksud untuk melari-kan diri sejauh-jauhnya dari tempat itu. Namun
betapa pun keras usahanya untuk kabur binatang itu tak mampu bergeming dari
tempatnya!
Melalui nalurinya akhirnya kuda coklat pun mengerti kalau
penunggangnya memiliki kekuatan jauh di atas bahaya itu. Jadi tak ada gunanya
bersike-ras. Maka meski ringkikan-ringkikan ketakutan dike-luarkan binatang itu
tak memaksakan diri untuk ka-bur lagi. Baru saja kuda coklat itu tenang, dari
balik kerimbunan semak keluarlah puluhan sosok yang di-dahului dengan bunyi
riuh-rendah rerumputan dis-ibakkan.
Si gadis tampak tetap tenang duduk di atas ku-da coklatnya.
Dengan sepasang matanya yang bening diperhatikannya sosok-sosok yang membentuk
lingka-ran untuk mengurungnya. Sosok-sosok yang jumlah-nya tak kurang dari dua
puluh lima orang itu rata-rata bersikap liar dan berwajah kasar. Di tangan
mereka tergenggam senjata yang terhunus siap untuk diper-
gunakan.
"Sungguh tak kusangka gerombolan tikus-tikus buduk
kembali muncul di tempat ini!" dengus gadis berpakaian hijau.
"Rupanya waktu lima tahun telah cukup untuk membuat tempat ini kalian
jadikan dae-rah untuk melakukan tindakan keji!"
"Ha ha ha...!"
Bagai telah disepakati sebelumnya puluhan orang kasar itu
tertawa bergelak. Ucapan si gadis me-reka anggap seperti hal yang lucu dan
mengundang kegelian di hati.
Seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam legam melangkah
maju menghampiri si gadis.
"Rupanya kau cukup tahu daerah ini, Anak Manis?
Sayangnya kau ketinggalan berita. Tempat ini telah menjadi wilayah kekuasaan
kami sejak beberapa bulan lalu. Tak boleh seekor makhluk pun lewat tem-pat ini
tanpa perkenan dari kami!" tandas lelaki hitam yang merupakan pimpinan rombongan
penghadang.
"Kalian mencari penyakit sendiri dengan berani
menghadangku!" sahut si gadis penuh keyakinan akan kemampuan diri.
Kemudian, gadis berpakaian hijau itu melompat turun dari
punggung kuda. Mulutnya berdecak pelan memberikan perintah pada binatang
tunggangannya. Kuda coklat yang memang sejak tadi sudah gelisah itu segera
berlari congklang meninggalkan tempat itu. Rombongan penghadang menyibak
memberi jalan sete-lah melihat isyarat dari lelaki tinggi besar. Kuda coklat
itu pun melaju tanpa mendapatkan gangguan.
"Sekarang aku ingin tahu maksud kalian menghadang
perjalananku. Asal kalian tahu saja aku tak senang dengan gangguan ini. Karena
saat ini aku mempunyai keperluan yang amat penting!" tegas gadis
berpakaian hijau. "Perbuatan kalian cukup untuk
membuatku bertindak keras!"
"Wanita sombong! Kau akan menyesali uca-panmu itu.
Mulutmu yang lancang itu akan mem-buatmu ku perkosa habis-habisan!" Lelaki
berkulit hi-tam menghardik dengan tak kalah sengitnya. Didahu-lui geraman keras
bak binatang buas terluka, lelaki itu kemudian meluruk ke arah si gadis. Kedua
tangannya terkembang dan digerakkan untuk meringkus lawan-nya.
Gadis berpakaian hijau mengerutkan sepasang alisnya melihat
cara penyerangan yang kurang ajar itu. Tentu saja dia tak ingin tubuhnya
dipeluk lelaki tinggi besar yang bau badannya apek. Si gadis segera meng-genjot
kan kaki sehingga tubuhnya melayang ke atas. Lelaki berkulit hitam pun hanya
memeluk angin kare-na orang yang dijadikan sasaran telah berada beberapa jari
di atasnya.
Kenyataan itu saja sudah membuat lelaki tinggi besar
menjadi geram. Dan kegeraman itu semakin menjadi-jadi ketika mengetahui tingkah
si gadis. Gadis berpakaian hijau itu mempergunakan kesempatan di saat berada di
atas lawannya untuk mendorong kepala lelaki tinggi besar. Kemudian, dia
bersalto beberapa kali dan menjejak tanah dengan mantap sekitar satu tombak di
belakang sang pemimpin para penghadang.
Berbeda dengan si gadis. yang mendarat den-gan nyaman,
lelaki berkulit hitam terhuyung-huyung ke depan akibat serangan gadis
berpakaian hijau. Do-rongan itu keras bukan main. Untungnya dia mampu
mematahkan kekuatan adu dorong itu. Kalau tidak wajahnya pasti akan terjerembab
mencium tanah.
"Setan!" maki lelaki tinggi besar penuh geram.
Tubuhnya segera dibalikkan menatap ke arah si gadis
yang berdiri tenang seakan menunggunya. Sepasang mata
lelaki itu menyiratkan kemarahan yang sangat.
"Kau harus menebus mahal kelancanganmu ini, Perempuan
Setan! Tak seorang pun boleh mem-permainkan Bangkalan!"
Lelaki tinggi besar yang bernama Bangkalan ini mencabut
golok besar yang tergantung di punggung. Diawali teriakan keras yang membuat
sebagian besar anak buahnya mendekap telinga. Bangkalan men-gayunkan goloknya.
Wusss!
Lagi-lagi serangan Bangkalan mengenai tempat kosong! Golok
besar yang diayunkan ke arah pinggang si gadis berhasil dielakkan lawan. Begitu
serangan le-wat, kaki kiri si gadis bergerak mencuat ke arah perut. Cepat bukan
main serangan itu dilancarkan.
Bukkk! "Hugh...!"
Keluhan tertahan keluar dari mulut Bangkalan. Kaki mungil
lawannya ternyata mendarat telak di sasa-ran yang dituju. Seketika tubuh lelaki
ini terhuyung-huyung ke belakang bak ditumbuk seekor kerbau.
Kenyataan pahit ini membuat Bangkalan sema-kin mata gelap.
Dia tahu kalau si gadis memiliki ke-pandaian tinggi. Tapi hal itu tetap tak
membuatnya mundur. Begitu berhasil tegak kembali dengan sedapat mungkin dia
menyembunyikan rasa sakit yang mende-ra. Kemudian buru-buru dikeluarkannya
perintah yang menggeledek.
"Bereskan perempuan liar itu!"
Tanpa menunggu perintah dua kali puluhan anak buah
Bangkalan meluruk ke arah gadis berpa-kaian hijau. Senjata beraneka ragam pun
terayun mencari sasaran empuk di tubuh gadis itu.
Gadis berpakaian hijau tetap berdiri bertolak pinggang. Dia
tak kelihatan khawatir sama sekali. Yang ada di benak gadis ini adalah sedikit
keheranan melihat Bangkalan masih mampu berdiri tegak. Pa-dahal tendangannya
itu cukup untuk membuat seekor badak roboh. Tapi Bangkalan tidak! Ini berarti
lelaki hitam itu memiliki kulit tubuh yang kuat.
Serangan-serangan berbagai senjata dari segala arah yang
semakin dekat membuat si gadis segera me-lupakan masalah Bangkalan. Lagi-lagi
kelihayannya dipertunjukkan. Lincah laksana kera dan gesit laksana bayangan
tubuhnya berkelebatan ke sana kemari. Tanpa menemui kesulitan sedikit pun gadis
berpa-kaian hijau menyelinap di antara kelebatan serangan lawan.
Jerit-jerit kesakitan diikuti dengan bermenta-lannya
tubuh-tubuh para penghadang tercipta ketika si gadis mulai balas menyerang.
Setiap kali tangan atau kakinya bergerak seorang lawan terpental keluar dari
kancah pertarungan. Orang yang sial itu roboh dan tak melanjutkan pertarungan
lagi. Memang tak tewas, namun luka yang mereka derita cukup parah!
Bangkalan menggeram melihat nasib yang me-nimpa anak
buahnya. Tapi apa dayanya? Disadarinya kalau saat ini dia dan gerombolannya
keliru memilih korban. Gadis berpakaian hijau terlalu tangguh untuk dihadapi.
Bangkalan tahu jika perlawanan ini terus di-lakukan hanya akan merugikan diri
sendiri.
Karena itu Bangkalan segera mengeluarkan si-ulan nyaring.
Sebuah isyarat pada anak buahnya un-tuk bergerak mundur. Anak buah Bangkalan
yang memang sudah merasa gentar melihat banyaknya re-kan-rekan mereka yang
roboh, buru-buru meninggal-kan kancah pertarungan. Mereka lalu menyelinap ma-
suk di kelebatan hamparan rumput.
Hanya dalam waktu sebentar saja suasana ga-duh yang semula
melanda tempat itu kini hening kem-bali. Yang tinggal di situ hanya gadis
berpakaian hijau dan hampir separo anak buah Bangkalan. Si gadis menyusut peluh
didahinya dengan sapu tangan hijau. Dia tak melakukan pengejaran sama sekali
terhadap lawan-lawannya. Malah kemudian ditinggalkannya tempat itu untuk
melanjutkan perjalanannya yang tadi tertunda.
***
"Keparat!"
Suara makian keras penuh kemarahan dan ke-geraman terdengar
menggelegar. Atap dan dinding ser-ta lantai ruangan di mana sosok pemilik
seruan itu be-rada sampai tergetar keras.
Sosok yang memaki itu adalah seorang gadis cantik jelita
berkulit putih dan halus. Tubuhnya yang padat ramping terbungkus pakaian hijau.
Seorang ga-dis yang menarik!
Gadis berpakaian hijau ini adalah gadis yang beberapa waktu
lalu menghajar Bangkalan dan gerom-bolannya. Di hadapan si gadis yang hanya
terpisah oleh meja berbentuk persegi panjang duduk dua orang lelaki berusia
tiga puluhan.
Lelaki ini sama-sama bersikap dan berwajah gagah. Pakaian
keduanya berwarna putih yang pada dada sebelah kiri atas terdapat sulaman
telapak tan-gan dengan benang merah. Pada wajah yang menyi-ratkan kejantanan
itu tampak kesedihan besar.
"Mengapa aku tak diberitahu mengenai keja-dian ini,
Kak Sandaka?!" tanya si gadis penasaran
sambil menatap lelaki yang berkumis melintang. Sandaka
terdengar menghela napas berat sea-
kan-akan tengah berusaha membuang ganjalan yang menyesakkan
dadanya.
"Maafkan kalau tindakan yang kami ambil ini salah,
Inani. Tapi percayalah, kami bermaksud baik. Kami tak ingin membuatmu
memikirkan kejadian ini yang akan mengganggu latihanmu. Lagipula kami pikir tak
lama lagi kau akan menyelesaikan latihanmu dan kembali ke sini," jawab
Sandaka lirih karena merasa bersalah.
Inani hanya terdiam. Agaknya bisa diterimanya alasan yang
dikemukakan Sandaka.
"Ada hal lain yang membuat kami mengambil keputusan
seperti itu, Inani," tambah lelaki gagah sa-tunya yang berwajah persegi
mirip muka singa.
Inani mengalihkan pandangannya ke arah lela-ki bermuka
singa.
"Tolong beritahukan padaku, Kak Kalaban. Dan juga
tolong ceritakan semua kejadian yang kalian ke-tahui hingga ayahku diculik
orang. Andaikata berita ini terdengar sampai di dunia persilatan, bukankah akan
membuat nama Perkumpulan Tapak Darah jadi bahan tertawaan?"
"Itulah alasan yang kami maksudkan, Inani," jawab
Kalaban. "Karena itu meskipun dengan berat ha-ti masalah itu kami usahakan
untuk tidak sampai di telingamu sebelum kau sendiri tiba di sini. Biarlah
pe-ristiwa ini hanya diketahui oleh perkumpulan kita sa-ja."
"Sebagai tambahan, Inani," sela Sandaka.
"Ka-mi tak berdiam diri saja. Beberapa murid yang memili-ki kepandaian
cukup telah kami utus untuk mencari tahu nasib ayahmu. Tapi beberapa hari yang
lalu
hanya seorang di antara mereka yang kembali dalam keadaan
terluka parah. Sebelum tewas dia sempat memberitahukan kalau rombongan mereka
dihadang oleh gerombolan golongan hitam yang dipimpin oleh seorang tokoh yang
bernama Bangkalan. Lawan yang lebih banyak jumlahnya membuat murid-murid yang
kami utus tak mampu bertahan."
"Keparat! Kalau ku tahu hal itu sebelumnya tak akan
kuampuni mereka semua!" desis Inani sambil mengepalkan jari-jari tangannya
yang halus dan lentik. Kelihatan jelas kalau gadis ini merasa geram.
"Kau telah berjumpa dengan mereka, Inani?!"
Hampir berbarengan Sandaka dan Kalaban mengaju-kan pertanyaan tanpa
menyembunyikan rasa kaget-nya.
"Benar," Inani mengangguk. "Mereka mencoba
menghadang perjalananku. Tapi kemudian mereka me-larikan diri ketika tahu aku
bukan tokoh yang bisa mereka buat permainan."
Sandaka dan Kalaban tak merasa heran men-dengar Inani mampu
membuat rombongan Bangkalan kocar-kacir. Mereka bisa memperkirakan ketinggian
tingkat kepandaian yang dimiliki Inani. Gadis itu men-jadi murid seorang tokoh
golongan putih yang memiliki kepandaian amat tinggi dan berjuluk Singa Berbulu
Emas. Sedangkan dari ayahnya, Ketua Perkumpulan Tapak Darah, Inani hanya
mempelajari dasar-dasar il-mu silat saja. Ketua Perkumpulan Tapak Darah me-mang
memiliki kepandaian amat tinggi. Tapi tentu saja tidak dapat dijajarkan dengan
Singa Berbulu Emas yang merupakan salah seorang datuk golongan putih.
Inani sendiri tampak bersikap tak peduli den-gan kekaguman
kedua lelaki yang terhitung kakak se-perguruannya itu. Benaknya masih dipenuhi
pikiran
mengenai kejadian yang menimpa ayahnya.
"Kalau menurut pendapatku, maaf, bukannya hendak
meremehkan kemampuan Kak Sandaka dan Kak Kalaban, gerombolan Bangkalan akan
bisa di-musnahkan. Keberadaan gerombolan itu di sana akan membuat tercemarnya
perkumpulan kita. Bukankah tempat yang dijadikan daerah kekuasaan gerombolan
itu tak jauh dari perkumpulan ini? Apa kata orang-orang persilatan nanti? Aku
yakin mereka akan men-ganggap Perkumpulan Tapak Darah takut atau tak mampu
membasmi mereka. Padahal aku yakin tak demikian adanya," sambung Inani.
Sandaka dan Kalaban saling berpandangan. "Memang
demikian kenyataannya, Inani," ujar
Sandaka pelan.
Inani terjingkat kaget mendengar jawaban yang tak
disangka-sangkanya itu.
"Apa maksudmu, Kak Sandaka?! Kalian tak mampu
melenyapkan atau setidak-tidaknya mengusir gerombolan Bangkalan?!" Inani
kelihatan begitu heran dan penasaran.
Sandaka dan Kalaban tampak menganggukkan kepala.
"Tidak mungkin!" sentak Inani keras sehingga
membuat seisi ruangan bergetar. Debu-debu berjatu-han dari atap ruangan
pertemuan.
"Memang kedengarannya tak masuk akal, In-ani,"
kilah Sandaka dengan sabar. "Tapi itulah kenya-taannya. Apakah kau tak
melihat kehadiran kami di sini hanya berdua?"
Wajah Inani tampak pias. Dia tahu murid uta-ma ayahnya
memang bukan hanya Sandaka dan Kala-ban. Masih ada dua orang lagi. Tapi
kejadian yang me-nimpa ayahnya membuat gadis itu tak sempat memi-
kirkan dan melihat keanehan yang terjadi. "Maksudmu,
Kak Sandaka...?" ujar Inani den-
gan suara kering. Ia mulai bisa menduga-duga nasib yang
telah menimpa dua murid utama yang lainnya. "Mereka berdua tewas?"
"Mereka berdua tewas bersama dengan belasan murid
perkumpulan ini sewaktu hendak membasmi gerombolan Bangkalan, Inani,"
jawab Kalaban lirih tanpa menyembunyikan kedukaan yang melanda ha-tinya.
"Begitu tinggikah kemampuan Bangkalan?" gumam
Inani seperti bicara pada dirinya sendiri. "Pa-dahal baru kemarin aku
mengalahkannya secara mu-dah. Dan ku nilai kemampuannya biasa-biasa saja."
"Kepandaian Bangkalan memang tak terlalu tinggi,
Inani. Salah seorang di antara kami pun akan mampu mengimbangi atau mungkin
mengalahkan-nya," timpal Sandaka cepat "Hanya saja yang tak mampu
kami hadapi adalah tokoh yang berdiri di bela-kang Bangkalan."
"Ahhh...! Jadi Bangkalan bukan pimpinan ge-rombolan
itu?!" Inani terkejut bukan main. Sekarang murid tunggal Singa Berbulu
Emas ini maklum men-gapa dua murid utama ayahnya tewas.
"Justru tokoh di belakang Bangkalan yang membuatnya berani menantang secara terang-terangan.
Perlu kau ketahui Inani, di dunia persilatan telah muncul tokoh-tokoh hebat
golongan hitam. Ke-munculan mereka membuat orang-orang semacam Bangkalan merasa
memiliki pelindung, sehingga mere-ka berani muncul dan mengacau," jelas
Sandaka.
"Begitukah, Kak Sandaka? Sayang aku belum pernah
mendengarnya. Aku yakin guruku pun tidak mengetahuinya. Bisa kau beritahukan
tokoh-tokoh hi-
tam itu, Kak?"
"Tentu saja, Inani. Hanya saja sepanjang yang
kuketahui. Tapi kurasa itu telah cukup. Karena tokoh-tokoh golongan hitam yang
akan kusebutkan ini begitu muncul telah merajai golongan itu dengan
kemam-puannya yang luar biasa. Celakanya lagi tokoh-tokoh hitam ini tak hendak
berdiri sendiri, melainkan hendak menjadi pemimpin bagi golongannya. Dengan
demikian kekuatan yang terhimpun akan semakin kuat bukan main. Dan bila itu
terjadi celaka besar akan menimpa golongan kita dan dunia persilatan. Kekacauan
dan angkara murka akan merajalela di mana-mana!"
Sandaka menghentikan keterangannya seben-tar untuk mengatur
napas. Wajah lelaki ini tampak menyiratkan kegentaran dan kengerian.
"Tokoh-tokoh itu berjuluk Raja Serigala Hitam dan Raja
Laut Bermuka Setan. Raja Laut Bermuka Se-tan begitu muncul langsung menundukkan
tokoh-tokoh golongan hitam yang selama ini melakukan ke-jahatan secara
sembunyi-sembunyi. Tokoh sesat itu kemudian mengangkat dirinya sebagai
pemimpin. Ke-mudian dengan tokoh-tokoh hitam yang telah ditak-lukkan nya,
diserbunya perkumpulan-perkumpulan golongan putih dan para pendekar. Tingkat
kepan-daiannya yang tinggi membuat banyak pendekar dan tokoh-tokoh persilatan
golongan putih ditewaskannya. Raja Laut Bermuka Setan muncul dari daerah
selatan."
Sandaka kembali menghentikan ceritanya. Di-teguknya air
liur untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Kalaban segera memutuskan
untuk menggantikan saudara seperguruannya bercerita.
"Sedangkan Raja Serigala Hitam muncul dari daerah
utara. Tindakannya sama dengan Raja Laut Bermuka Setan. Mungkin jika terjadi
pertemuan anta-
ra mereka akan tercipta pertarungan untuk mempere-butkan
kedudukan sebagai pimpinan tunggal bagi se-mua tokoh aliran hitam. Dan
Bangkalan serta gerom-bolannya termasuk tokoh-tokoh hitam taklukan Raja
Serigala Hitam."
"Apakah Kak Sandaka dan Kak Kalaban pernah menyaksikan
sendiri kelihaian tokoh-tokoh hitam itu?" tanya Inani ingin tahu.
"Hanya Raja Serigala Hitam, Inani," jawab
San-daka. "Raja Laut Bermuka Setan belum kami saksikan. Kau tahu sendiri
tempat kita termasuk dalam wilayah Raja Serigala Hitam, lagi pula Laut Selatan
jauh dari tempat ini."
"Bagaimana, Kak? Maksudku kepandaian Raja Serigala
Hitam. Apakah benar tingkat kepandaiannya amat tinggi?"
Sandaka menganggukkan kepala. "Raja Serigala Hitam
menyerbu tempat ini seorang diri, Inani. Bebe-rapa murid menjadi korban
amukannya. Namun ayahmu keburu menghadangnya. Ayahmu dan tokoh lihai itu
bertarung. Tak ada yang menang atau kalah. Raja Serigala Hitam yang tahu
kedudukannya tak menguntungkan karena dia datang sendirian kabur meninggalkan
tempat ini. Sepeninggal Raja Serigala Hi-tam ayahmu jatuh sakit. Rupanya beliau
terluka pa-rah. Dan kurasa tokoh hitam itu pun demikian. Bebe-rapa hari setelah
itu ayahmu menghilang. Padahal be-liau belum sembuh dari lukanya. Mengingat
keadaan-nya kami tahu kalau beliau tak menghilang atas ke-mauannya sendiri.
Apalagi pada malam lenyapnya ayahmu beberapa murid tewas dibunuh oleh
penye-rang gelap."
Inani tercenung. Cerita tentang lenyapnya ayahnya dan tokoh
hitam berjuluk Raja Serigala Hitam
membuatnya berpikir keras. Gadis ini sekarang telah bisa
memperkirakan ketinggian ilmu Raja Serigala Hi-tam. Harus diakuinya kalau
tingkat kepandaian tokoh hitam itu amat tinggi. Ayahnya sendiri sampai terluka
parah. Padahal hanya bisa dihitung dengan jari tokoh golongan putih yang
memiliki kepandaian setingkat dengan ayahnya. Tentu saja gurunya, Singa Berbulu
Emas, tak masuk dalam hitungan.
"Yang kami khawatirkan," lanjut Sandaka tan-pa
peduli pada Inani yang tengah tercenung sehingga terpaksa gadis itu membuyarkan
lamunannya. "Keda-tangan Raja Serigala Hitam kembali. Ketidak-beradaan
ayahmu akan membuat perkumpulan ini hancur. Dan bila hal itu terjadi
tokoh-tokoh golongan hitam sema-kin leluasa menyebar angkara murka. Apalagi
yang mereka takuti kalau Perkumpulan Tapak Darah saja dapat dihancurkan?!"
Inani terdiam. Disadarinya kekhawatiran San-daka beralasan.
Perkumpulan Tapak Darah memang merupakan perkumpulan aliran putih terbesar.
Ke-hancuran perkumpulan ini akan menimbulkan puku-lan berat bagi golongan
putih. Sebaliknya, golongan hi-tam akan semakin berbesar hati. Itu berarti
mereka akan semakin berani menyebar angkara murka di ma-na-mana.
"Kurasa hal itu tak perlu terlalu kalian risau-kan,
Kak Sandaka. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah tindakan Raja
Serigala Hitam. Demi Perkumpulan Tapak Darah dan terutama sekali demi tegaknya
kebenaran dan keadilan, akan ku pertaruh-kan nyawaku untuk menentang Raja
Serigala Hitam!" tegas Inani penuh semangat.
"Syukurlah kalau demikian, Inani. Tenagamu memang amat
berarti. Kaulah yang menjadi andalan
kami untuk menghadapi keangkaramurkaan Raja Se-rigala
Hitam," sahut Sandaka sambil mengembangkan senyum gembira.
Inani tak memberikan tanggapan. Sementara kendati di wajah
dan mulut Sandaka serta Kalaban menampakkan kegembiraan, namun di dalam hati
me-reka timbul kekhawatiran besar. Apakah Inani akan mampu menghadapi Raja
Serigala Hitam yang demi-kian lihai. Memang mereka tahu guru Inani, Singa
Berbulu Emas, merupakan tokoh golongan putih yang memiliki tingkat kepandaian
tak terukur tingginya. Ta-pi Inani? Gadis itu tak akan mungkin sehebat
gu-runya. Dan lagi sebagai seorang gadis muda yang baru tamat berguru
pengalaman bertarungnya boleh dibi-lang tak ada. Padahal kemenangan dalam
pertarungan tak hanya didasarkan pada ketinggian ilmu. Pengala-man bertarung pun
amat menentukan.
Sandaka dan Kalaban tahu, sebagai datuk kaum sesat wilayah
utara Raja Serigala Hitam, seba-gaimana tokoh sesat lainnya, memiliki sifat
licik. Perta-rungan yang dilakukannya penuh dengan siasat dan tipuan. Mampukah
Inani yang masih hijau itu me-nangkalnya?
Kalau saja Singa Berbulu Emas yang turun tangan, dua murid
utama Perkumpulan Tapak Darah ini akan merasa yakin Raja Serigala Hitam tak
akan mampu bertindak seenaknya. Sayangnya tokoh golon-gan putih yang telah
merasa dirinya tua itu tak mau ikut campur lagi dalam kancah kerasnya dunia
persila-tan.
"O ya Kak Sandaka, Kak Kalaban," ujar Inani
setelah terdiam beberapa lama. Ucapan ini membuat Kalaban dan Sandaka
menghentikan alun pikiran me-reka. Perhatiannya kini dialihkan pada Inani.
"Ada apa, Inani?" Kalaban yang mendahului
mengajukan pertanyaan.
"Selama menunggu Raja Serigala Hitam me-nyerbu tempat
ini, aku bermaksud memberikan petun-juk-petunjuk pada murid-murid. Bagaimana,
Kak?" usul Inani dengan mata berbinar-binar. Gadis itu terli-hat penuh
semangat.
"Sebuah gagasan yang bagus sekali!" puji San-daka
dan Kalaban berbarengan dengan perasaan gem-bira yang tampak jelas pada wajah
dan sorot mata me-reka.
"Apakah kami pun termasuk dalam orang-orang yang akan
kau beri petunjuk itu, Inani?" tanya Kalaban setengah bercanda.
"Tentu saja!" tandas Inani cepat dengan sikap
bersungguh-sungguh.
Kalaban dan Sandaka mengeluh dalam hati. Ini adalah salah
satu sifat pada diri Inani yang sangat me-reka sayangkan.
Inani terlalu menganggap dirinya berkemam-puan tinggi.
Gadis itu memiliki watak angkuh. Padahal sifat seperti ini seharusnya tak ada
pada diri seorang pendekar. Karena keangkuhan dan memandang tinggi diri sendiri
akan membuat sikap hati-hatinya berku-rang. Dan lagi sifat itu dapat mengurangi
kesungguhan nya dalam berlatih.
Kendati demikian Kalaban dan Sandaka tak be-rani
mengutarakan perasaannya itu. Mereka khawatir Inani akan tersinggung. Biarlah
pengalaman yang akan membuka mata gadis itu kalau di bumi ini banyak
to-koh-tokoh lihai. Kalaban dan Sandaka malah menun-jukkan sikap gembira atas
jawaban yang diberikan In-ani.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu, Inani,"
ujar Kalaban. Yang disambut dengan anggukan kepala oleh
Sandaka sebagai tanda menyetujui ucapan Kala-ban.
***
2
Glarrr!
Untuk yang kesekian kalinya halilintar mengge-legar di
angkasa. Beberapa saat lamanya suasana siang yang agak kelam, karena sinar sang
surya terha-lang gumpalan awan hitam pekat yang memenuhi ang-kasa menjadi
terang-benderang. Titik-titik hujan per-lahan turun membasahi bumi dengan
diiringi hembu-san angin dingin yang membekukan tulang.
Dalam suasana seperti itu rasanya orang lebih suka tinggal
di dalam rumah. Tapi tak demikian hal-nya dengan sosok bayangan serba hitam
yang tengah berlari di bawah curahan air hujan. Tubuhnya kecil kurus namun
gerakannya cepat bukan main, sehingga tak terlihat bentuk tubuhnya selain
bayangan tak je-las!
Sosok bayangan hitam itu ternyata seorang ka-kek berusia
sekitar enam puluh tahun. Kulitnya hitam legam bak arang. Tubuhnya yang kecil kurus
dibung-kus pakaian hitam pekat, Kakek ini kelihatan angker bukan main. Apalagi
dengan adanya dua buah taring di sisi-sisi kiri dan kanan mulutnya.
Kakek berpakaian hitam itu ternyata tak hanya sendirian
berlari di waktu keadaan alam sedang tak menyenangkan seperti itu. Di
belakangnya berkeleba-tan puluhan sosok yang mengenakan pakaian aneka
ragam dan bentuk tubuh bermacam-macam, namun rata-rata
memiliki gerakan gesit.
Kakek berpakaian hitam berlari terus tanpa mempedulikan
puluhan sosok di belakangnya. Sepa-sang matanya menatap tajam di depan. Tampak
se-buah bangunan besar dan megah yang dikelilingi pa-gar kayu bulat. Pada
bagian atas pintu gerbangnya terdapat sebuah papan tebal berukir yang
bertuliskan huruf-huruf yang berbunyi 'Perkumpulan Tapak Da-rah'.
Kakek berpakaian hitam ini rupanya tengah menuju bangunan
itu. Demikian juga dengan puluhan sosok yang menilik sikap mereka agaknya
berasal dari golongan hitam. Di antara mereka tampak Bangkalan!
Kakek berpakaian hitam merupakan orang per-tama yang mendekati
pintu gerbang. Sayang kedatan-gannya telah diketahui oleh murid-murid
Perkumpulan Tapak Darah di saat si kakek dan rombongannya ma-sih jauh di luar
pagar.
Dari dalam bangunan-bangunan yang terdapat salam markas
Perkumpulan Tapak Darah berkelebatan belasan orang. Di antara mereka terdapat
Kalaban dan Sandaka. Karena telah terlebih dulu diketahui, begitu kakek
berpakaian hitam menjejak tanah setelah me-lompati pagar kayu bulat, di
depannya telah berdiri puluhan murid Perkumpulan Tapak Darah.
Kakek berpakaian hitam segera mengedarkan pandangan
memperhatikan satu persatu wajah-wajah di depannya. Ada sesuatu yang tengah
dicari si kakek
"Mengapa hanya keroco-keroco seperti kalian yang
muncul? Mana Sokapanca? Suruh dia keluar!" seru kakek berpakaian hitam keras.
"Beliau tengah mempunyai satu urusan. Tapi andaikata
kau bersedia menunggu tak lama lagi pun
beliau akan menjumpaimu," jawab Sandaka dengan
berusaha bersikap tenang.
Lelaki berkumis tebal ini diam-diam merasa te-gang dan
gelisah bukan main. Kakek berpakaian hitam yang bukan lain dari Raja Serigala
Hitam telah mun-cul. Tapi Inani yang dijadikan andalan saat ini tengah mandi.
Dia dan seluruh murid Perkumpulan Tapak Darah hanya bisa berharap agar murid
Singa Berbulu Emas itu segera selesai dengan urusannya. Atau, seti-dak-tidaknya
Raja Serigala Hitam bersedia menunggu.
Raja Serigala Hitam mendengus. Tarikan wa-jahnya
menyiratkan ketidaksabaran. Kelihatan jelas kalau tokoh ini merasa bimbang
untuk bertindak. Saat itulah terdengar bunyi derap kaki bergemuruh meng-hantam
bumi. Sesaat kemudian puluhan rombongan tokoh hitam di bawah pimpinan Bangkalan
meluruk masuk ke halaman Perkumpulan Tapak Darah. Meli-hat kenyataan ini
murid-murid Perkumpulan Tapak Darah tak bisa tinggal diam. Mereka segera
menghu-nus senjata masing-masing dan menyambut serbuan Bangkalan dan
gerombolannya.
Dentang senjata beradu pun mulai menyema-raki suasana yang
semula hening. Sesekali terdengar jerit tertahan dari sosok-sosok yang terkena
serangan lawan. Darah mengalir membasahi halaman Perkum-pulan Tapak Darah.
Tubuh-tubuh bertumbangan ke bumi. Tak hanya di pihak Perkumpulan Tapak Darah,
tapi juga korban dari pihak rombongan Bangkalan. Je-ritan kematian terdengar
paling susul-menyusul.
Raja Serigala Hitam yang semula hanya me-nyaksikan jalannya
pertarungan dengan tenang tam-pak mengernyitkan alis. Kakek ini segera tahu
kalau tingkat kemampuan anak buah Bangkalan masih be-rada di bawah murid-murid
Perkumpulan Tapak Da-
rah.
Hanya Bangkalan seorang yang memiliki ke-mampuan di atas
tingkat rata-rata murid Perkumpulan Tapak Darah itu. Tapi kelebihan Bangkalan
pun tak berarti. Karena baru saja dia mengamuk Sebentar se-gera dihadang oleh
Kalaban. Dua pentolan kelompok masing-masing ini dalam waktu singkat telah
terlibat dalam pertarungan sengit.
Raja Serigala Hitam menggeram keras. Kakek ini kelihatan
marah bukan main. Sekejap kemudian tubuhnya melesat ke dalam kancah
pertarungan. Raja Serigala Hitam mengamuk. Dan akibatnya memang mengiriskan
hati. Ke mana saja tangan atau kakinya bergerak sudah dapat dipastikan ada
murid Perkum-pulan Tapak Darah yang roboh tanpa nyawa. Hanya dalam waktu
sebentar saja telah lima orang tewas di tangannya.
"Keparat Keji...! Akulah lawanmu...!" Berbarengan
dengan selesainya ucapan itu se-
kelebatan bayangan hijau melesat masuk ke dalam kancah
pertarungan. Sosok hijau itu langsung menye-rang Raja Serigala Hitam dengan
serangan-serangan dahsyat.
Raja Serigala Hitam mengenal serangan berba-haya. Dia tahu
ada lawan tangguh yang menyerang-nya. Maka buru-buru kakek ini melompat mundur
menjauhi kancah pertarungan. Serangan sosok hijau itu pun mengenai tempat
kosong.
"Siapa kau?!" tanya Raja Serigala Hitam ketika
melihat jelas penyerangnya dan mendapati dia adalah seorang gadis berpakaian
hijau.
Semula Raja Serigala Hitam menyangka penye-rangnya adalah
Sokapanca, Ketua Perkumpulan Tapak Darah. Sungguh pun bentakan yang mengawali
seran-
gan itu dikenalinya sebagai suara seorang perempuan! Inani
menentang pandang mata Raja Serigala
Hitam dengan berani. Dadanya dibusungkan ketika memberikan
jawaban. Tindakan itu membuat bukit kembar yang menonjol di dada Inani semakin
terlihat jelas.
"Kau ingin tahu siapa aku? Aku adalah putri tunggal
dari Ketua Perkumpulan Tapak Darah!" tandas Inani mantap.
"Ha ha ha,..!"
Raja Serigala Hitam tertawa terbahak-bahak. Kakek ini
merasa geli setelah tahu siapa yang akan menghadapinya.
"Lucu sekali! Apakah si keparat Sokapanca su-dah
kehabisan orang untuk menandingiku sehingga mengutus bocah yang masih bau
kencur seperti kau? Bocah, cepat kau panggil Sokapanca keluar dan menghadapiku
sebelum aku lupa kalau kau hanya seorang gadis muda!"
"Menghadapi orang seperti kau tak perlu ayah-ku. Aku
sendiri yang akan mengirim nyawamu ke ak-hirat, Serigala Hangus!" sesumbar
Inani.
Gadis itu menutup ucapannya dengan persia-pan untuk
menyerang. Jari-jari tangannya terkembang membentuk cakar. Kemudian dengan
didahului leng-kingan keras tangan kanannya meluruk ke arah ulu hati. Sementara
cakar tangan kiri menempel di perge-langan tangan. Kedudukan tangan kiri terpalang
di de-pan dada.
Raja Serigala Hitam terperanjat ketika menden-gar bunyi
bercicitan tajam yang mendahului serangan Inani. Kakek yang telah kenyang
pengalaman ini sege-ra tahu kalau lawannya yang masih muda ini memiliki tenaga
dalam kuat. Hanya orang yang memiliki tenaga
dalam kuat saja mampu menimbulkan bunyi bercici-tan nyaring
dalam serangannya.
Kenyataan ini menyadarkan Raja Serigala Hi-tam kalau Inani
memiliki kemampuan tinggi. Maka, datuk kaum sesat ini tak bertindak
setengah-setengah lagi. Dengan pengerahan tenaga dalam penuh dipapa-kinya
serangan putri Sokapanca.
Prattt!
Tubuh Inani terhuyung dua langkah. Sementa-ra Raja Serigala
Hitam hanya terdorong satu langkah.
Inani dan Raja Serigala Hitam segera memper-baiki kedudukan
yang tak menguntungkan itu. Kenda-ti demikian keduanya tak saling bergebrak
kembali. Balk Inani maupun Raja Serigala Hitam masih terpe-ranjat dengan hasil
benturan yang terjadi.
Raja Serigala Hitam tak menyangka lawannya yang masih muda
ternyata memiliki tenaga dalam de-mikian kuat. Rasanya sulit untuk dipercaya
kalau So-kapanca mampu mendidik putrinya sampai memiliki kepandaian seperti
ini.
Di lain pihak Inani tak kalah terkejutnya. Gadis ini tak
menyangka Raja Serigala Hitam demikian lihai. Sehingga dalam adu tenaga mampu
mengunggulinya. Kenyataan ini memukul perasaan Inani yang selama ini mengira
kepandaiannya sulit menemukan tandin-gan. Gadis ini baru percaya kalau Sandaka
dan Kala-ban tak melebih-lebihkan berita mengenai kemampuan Raja Serigala
Hitam.
Meskipun demikian Inani tak merasa gentar sedikit pun. Bak
macan luka gadis ini mendahului menyerang Raja Serigala Hitam, Inani
mengerahkan seluruh kemampuannya. Bahkan ilmu andalan gu-runya langsung
dipergunakan. Pertarungan sengit pun terjadi ketika Raja Serigala Hitam menyambutinya.
Hanya dalam waktu sebentar saja sepuluh jurus telah
terlampaui.
Lewat lima belas jurus Inani mulai terdesak. Gadis ini
memang bukan tandingan Raja Serigala Hi-tam. Tak hanya dalam tenaga Inani harus
mengakui keunggulan lawannya, tapi juga dalam pengalaman bertempur. Untungnya
putri Sokapanca itu masih memiliki kelebihan dalam ilmu meringankan tubuh. Mutu
ilmu silatnya pun setingkat di atas lawan. Itu se-babnya Inani masih mampu
mempertahankan diri.
"Gadis Liar! Apa hubunganmu dengan Singa Berbulu Emas?!"
tanya Raja Serigala Hitam sambil te-rus melancarkan desakan-desakan berbahaya.
Kakek berpakaian hitam ini berhasil mengeta-hui kalau Inani
tidak menggunakan ilmu-ilmu Soka-panca. Selewat sepuluh jurus Raja Serigala
Hitam mempunyai dugaan tentang pemilik ilmu yang dimain-kan Inani.
Gerakan-gerakan Inani mengingatkannya pada tokoh persilatan aliran putih yang
telah beberapa tahun ini tak terdengar lagi beritanya.
"Untuk apa kau bertanya-tanya tentang guru-ku,
Serigala Hangus? Apakah kau ingin nyawamu le-pas dari badan?!" sahut Inani
masih ketus kendati keadaannya sudah terhimpit
"Ha ha ha...!"
Raja Serigala Hitam memperdengarkan tawa mengejek.
"Kalau tua bangka tolol yang menjadi gurumu itu tak
keburu menyembunyikan diri sudah lama nya-wanya kukirim ke neraka!"
"Tutup mulutmu, Keparat!"
Baru saja Inani mengeluarkan makian menden-gar ucapan Raja
Serigala Hitam terhadap gurunya, se-buah pukulan si kakek bersarang di
perutnya.
"Hugh...!"
Sambil memperdengarkan keluhan tertahan tubuh Inani
terjengkang ke belakang. Cairan merah kental mengalir dari sudut mulutnya.
Raja Serigala Hitam benar-benar tokoh kawa-kan berdarah
dingin. Inani yang telah tak berdaya aki-bat serangannya bergegas diburunya.
Kakek ini ber-maksud mengirim nyawa gadis itu ke neraka agar bisa segera
membantu gerombolan Bangkalan yang tengah terdesak.
Raja Serigala Hitam melompat memburu Inani yang masih
terhuyung-huyung. Di pertengahan jalan tubuhnya dibalikkan sambil mengirimkan
kibasan ka-ki ke arah pelipis. Kakek ini ingin menghancurkan ke-pala putri
Sokapanca!
Wuttt! "Heh...?!"
Raja Serigala Hitam mengeluarkan seruan. Ki-basannya
mengenai tempat kosong! Inani telah tak be-rada di tempatnya lagi ketika kaki
kakek ini melayang.
Raja Serigala Hitam murka bukan main. Dia tahu ada
seseorang yang telah menyelamatkan calon korbannya. Dugaan si kakek memang tak
salah. Sebe-lum kepala Inani hancur terhantam kaki Raja Serigala Hitam, sehelai
sabuk melayang dan melilit tubuh Inani lalu menariknya ke belakang. Tarikan
sabuk ini yang membuat serangan Raja Serigala Hitam mengenai tem-pat kosong.
Raja Serigala Hitam menatap dengan sorot ma-ta penuh
kemarahan pada tokoh yang telah menolong Inani. Tokoh itu terlihat duduk
mencangkung di atas genting salah satu bangunan. Sang penolong yang ter-nyata
seorang pemuda berpakaian abu-abu balas me-natap Raja Serigala Hitam sambil
menggulung sabuk
yang tadi dipakai membelit tubuh Inani.
Inani sendiri berdiri bersandar di dinding ban-gunan tepat
di bawah penolongnya. Gadis itu tampak tak berdaya. Serangan Raja Serigala
Hitam memang dahsyat bukan main. Inani agaknya terluka parah!
"Siapa kau, Monyet Kurap?! Sungguh berani mencampuri
urusan Raja Serigala Hitam!" bentak Raja Serigala Hitam seraya
memperhatikan pemuda berpa-kaian abu-abu lekat-lekat.
Raja Serigala Hitam tak segera melancarkan se-rangan. Kakek
ini tak berani memandang rendah pe-muda itu setelah menghadapi kenyataan kalau
Inani yang demikian muda telah memiliki kepandaian tinggi. Bukan tak mungkin
pemuda berpakaian abu-abu itu memiliki kepandaian tinggi pula. Raja Serigala
Hitam rupanya kini bertindak hati-hati.
"Mengapa harus takut terhadap tua bangka yang
beraninya hanya terhadap seorang gadis?" ejek pemuda berpakaian abu-abu.
Usai berkata demikian pemuda itu melayang turun dari atas
genting. Raja Serigala Hitam sampai membelalakkan mata karena kaget melihat
cara pe-muda itu turun. Kedua tangannya hanya dikibaskan ke belakang tanpa
adanya gerakan pada tubuh atau kaki. Tapi toh tubuh pemuda itu meluncur turun
den-gan sangat ringannya.
"Kalau begitu kau harus mampus!" bentak Raja
Serigala Hitam. Bersamaan dengan ucapan itu dia mengirimkan gedoran kedua
tangan terbuka ke arah dada pemuda berpakaian abu-abu yang baru saja
menjejakkan kedua kakinya di tanah.
"Ganas sekali...!" ucap pemuda berpakaian abu-abu
dengan wajah memancarkan kengerian yang di-buat-buat.
Pemuda itu lalu melompat tinggi ke atas. Lagi-lagi gerakan
itu dilakukannya tanpa menjejakkan kaki yang berarti. Raja Serigala Hitam hanya
melihat seke-lebatan bayangan menyambar ke atas dan serangan yang dilancarkannya
pun mengenai tempat kosong.
Raja Serigala Hitam marah karena merasa di-permainkan.
Dengan amarah meluap-luap kembali di-kirimkannya serangan lanjutan. Serangan
ini lebih dahsyat daripada sebelumnya.
"Jangan! Tolong...! Tolooong...!" Seperti layak-nya
orang ketakutan pemuda berpakaian abu-abu menjerit-jerit dengan sikap ngeri.
Wajahnya kelihatan kebingungan ketika serangan Raja Serigala Hitam me-nyambar
ke arahnya.
Raja Serigala Hitam merasa heran melihat ting-kat pemuda
itu. Apalagi ketika melihat sampai seran-gan yang dikirimkannya hampir mengenai
sasaran si pemuda belum mengelak atau menangkis, setidak-tidaknya membuat
persiapan. Pemuda itu malah me-nutupi wajahnya seperti orang yang merasa ngeri.
Ba-ru ketika serangan hampir mendarat di sasaran, den-gan gerakan seperti tak
disengaja dan asal-asalan se-rangan Raja Serigala Hitam dibuat punah!
Raja Serigala Hitam jadi penasaran. Benaknya digayuti
pertanyaan besar. Benarkah pemuda ini tak memiliki kepandaian yang berarti?
Rasa penasaran menyebabkan Raja Serigala Hitam terus melancarkan serangan.
Sampai lima jurus Raja Serigala Hitam melan-carkan
serangkaian serangan dahsyat susul-menyusul. Tapi tak satu pun yang mengenai
sasaran. Pemuda berpakaian abu-abu selalu berhasil mengelakkan se-tiap serangan
kendati dengan gerakan seperti asal-asalan. Sementara mulutnya senantiasa
menyerukan
teriakan ketakutan.
Raja Serigala Hitam pun sadar kalau pemuda itu seorang
tokoh berkepandaian tinggi. Hanya saja kemampuannya disembunyikan dengan
tingkahnya yang aneh. Tiba-tiba, masih dengan serangan yang te-rus dilancarkan,
Raja Serigala Hitam teringat akan se-suatu yang membuat detak jantungnya
bertambah ce-pat.
Tokoh hitam itu teringat pada datuk golongan putih yang
setingkatan dengan Singa Berbulu Emas. Tokoh ini terkenal akan ilmu-ilmunya
yang aneh dan wataknya yang ganjil. Di samping tokoh aneh ini me-miliki ilmu
meringankan tubuh dan kecepatan gerak yang luar biasa. Itulah sebabnya dunia
persilatan men-julukinya Dewa Gila Tanpa Bayangan! Mungkinkah pemuda ini mempunyai
hubungan dengan datuk yang aneh itu? Tanya Raja Serigala Hitam dalam hati.
"Hey, Pemuda Gila! Apakah kemampuanmu hanya bergerak
ke sana kemari seperti monyet lapar? Apakah kau tak mempunyai kemampuan lain?
Atau-kah kau takut bertempur denganku?!"
Raja Serigala Hitam memanas-manasi agar pe-muda yang
menjadi lawannya mau melakukan perla-wanan. Dengan demikian dia dapat menilai
kemam-puan lawan. Setelah itu bisa diketahui apakah pemuda berpakaian abu-abu
ini mempunyai hubungan dengan Dewa Gila Tanpa Bayangan.
Raja Serigala Hitam melambung tinggi ke uda-ra. Kemudian
dari atas dia menukik turun menyerang ubun-ubun si pemuda dengan jari-jari
tangan terpen-tang lebar.
"Gila! Raja Serigala Hitam, seharusnya kau mengganti
julukanmu dengan burung hitam! Hi hi...!"
Pemuda berpakaian abu-abu masih sempat ter-
tawa-tawa. Sebelum melakukan. tindakan yang sejak tadi tak
dilakukannya. Dia memapaki serangan Raja Serigala Hitam!
Plakkk!
Benturan yang menimbulkan bunyi keras terja-di. Tubuh Raja
Serigala Hitam terpental balik ke udara sedangkan si pemuda tak bergeming
sedikit pun. Tapi, kedua kakinya amblas ke dalam tanah sampai melewa-ti mata
kaki! Rupanya tekanan dari atas yang terlalu dahsyat tak mampu ditahan oleh
tanah.
"Hi hi hi...! Kau hebat, Burung Hitam. Sekarang ganti
aku yang menyerang!"
Gema ucapannya belum habis tapi tubuh pe-muda berpakaian
abu-abu telah melesat ke arah Raja Serigala Hitam yang baru saja menjejak
tanah. Tubuh pemuda itu seperti berubah menjadi bayangan. Namun Raja Serigala
Hitam sempat melihat pemuda berpa-kaian abu-abu mengirimkan serangan dengan
gedoran kedua tangan terbuka.
Raja Serigala Hitam masih penasaran dengan benturan yang
baru saja terjadi. Dia tak yakin lawan-nya memiliki tenaga dalam yang demikian
kuat dan mampu mengimbangi tenaga dalamnya. Ketidakpua-san dan ketidakyakinan
itu mendorongnya untuk me-lakukan tindakan nekat!
Sambil mengeluarkan teriakan yang mengge-tarkan sekitar
tempat itu Raja Serigala Hitam melesat menyambuti kedatangan lawannya. Kedua
tangan ka-kek ini pun didorongkan ke depan.
Bresss!
Benturan yang kedua kalinya ini jauh lebih dahsyat dari
sebelumnya. Getaran yang terjadi terasa oleh semua orang yang berada di situ,
juga bangunan-bangunan bergetar keras. Namun akibat yang lebih
hebat diterima oleh Raja Serigala Hitam dan pemuda
berpakaian abu-abu. Tubuh kedua tokoh itu sama-sama terhuyung-huyung empat
langkah ke belakang dengan kedua tangan terasa nyeri.
Sekarang Raja Serigala Hitam sadar kalau la-wannya
benar-benar tangguh bukan main. Maka keti-ka dilihatnya Inani berhasil
memulihkan kekuatannya Raja Serigala Hitam mengeluarkan pekikan yang me-rupakan
isyarat pada gerombolan Bangkalan untuk meninggalkan tempat itu.
Raja Serigala Hitam sendiri melesat cepat lebih dulu.
Bangkalan dan gerombolan sesaat kemudian me-lakukan hal yang sama. Untuk itu
anak buah Bangka-lan harus membuka jalan darah. Beberapa di antara mereka yang
tak mampu melakukan tindakan itu ak-hirnya harus menemui nasib sial tewas di
tangan mu-rid-murid Perkumpulan Tapak Darah. Yang berhasil lo-los hanya
Bangkalan dan hampir separo anak buah-nya. Sisanya tewas dalam pertempuran.
"Ayo mau lari ke mana kau, Burung Hitam? Sampai ke
mana pun kau lari akan kukejar! Ayo...!"
Pemuda berpakaian abu-abu berlari-larian di tempatnya
hingga membuat tanah tergetar hebat. Mu-lutnya tak henti-hentinya mengeluarkan
seruan untuk menakut-nakuti lawan.
Raja Serigala Hitam hanya bisa menahan kema-rahan di hati.
Dia tahu pemuda itu tak mengejarnya. Tapi ucapan-ucapan yang dikeluarkannya
membuat kakek itu seperti berlari karena ketakutan! Di dalam hatinya Raja
Serigala Hitam berjanji akan membuat perhitungan dengan pemuda aneh itu.
Sebenarnya kalau saja Inani tak ada atau gadis itu terluka
parah Raja Serigala Hitam tak akan kabur. Tapi karena luka Inani ternyata tak begitu
parah se-
mentara pemuda aneh itu amat tangguh, sudah pasti
dibutuhkan waktu cukup lama bagi Raja Serigala Hi-tam untuk mengalahkannya.
Apabila hal itu terjadi dan Inani ikut terjun da-lam kancah
pertarungan Raja Serigala Hitam yakin di-rinya akan berhasil dikalahkan
sepasang muda-mudi itu. Maka tokoh sesat yang cerdik ini memutuskan un-tuk
kabur. "Masih banyak waktu dan kesempatan un-tuk membuat
perhitungan," hibur kakek itu dalam ha-ti.
Sandaka dan Kalaban menghela napas lega me-lihat
keberhasilan mereka mengusir penyerbuan Raja Serigala Hitam. Keberuntungan
mereka tak lepas dari pertolongan pemuda aneh. Maka setelah memerintah-kan
adik-adik seperguruan mereka untuk membe-reskan halaman dari mayat-mayat dan
darah, kedua murid utama Perkumpulan Tapak Darah ini mendekati pemuda
berpakaian abu-abu.
"Terima kasih atas pertolongan Anda, sahabat muda yang
perkasa. Tanpa pertolonganmu mungkin gerombolan penjahat itu tak akan dapat
kami usir de-mikian mudah. Boleh kami tahu namamu, Sahabat?" tanya Sandaka
penuh hormat.
Pemuda itu terlihat tersenyum-senyum sendiri sambil
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa yang kulakukan? Aku hanya meladeni monyet hitam
tadi bermain-main. Jadi, tindakanku itu merupakan pertolongan pada kalian?
Syukurlah kalau demikian," jawab pemuda itu. "Mengenai nama
pang-gillah aku Banterang."
"Jangan kau besar kepala, Banterang!" sergah
Inani seraya mengayunkan kaki mendekati. "Aku pun belum tentu kalah oleh
Raja Serigala Hitam. Sayang kau keburu datang dan menggempurnya. Padahal aku
belum mengerahkan seluruh kemampuanku!"
Sandaka dan Kalaban hanya bisa mengeluh da-lam hati melihat
tingkah Inani. Mereka merasa tak enak pada Banterang. Tapi untuk menegur Inani
me-reka lebih tak berani lagi. Maka, kedua murid utama ini hanya bisa berharap
Banterang tak tersinggung.
Harapan Sandaka dan Kalaban ternyata terpe-nuhi. Banterang
tak merasa tersinggung atas ucapan Inani. Pemuda itu malah tersenyum lebar.
"Benar-benar pemuda yang memiliki watak aneh!"
ucap Sandaka dan Kalaban dalam hati.
"Kau benar, Nona," sambut Banterang dengan
ringannya. "Burung hitam tadi memang hampir berha-sil kau kalahkan. Lagi
pula apa susahnya mengalah-kan burung?"
"Tak usah berbelit-belit bicara, Banterang!"
ser-gah Inani ketus. "Benarkah kau murid Dewa Gila Tan-pa Bayangan?!"
"Luar biasa! Kau ternyata tak hanya lihai saja, Nona.
Tapi juga cerdik. Aku memang murid Dewa Gila Tanpa Bayangan."
"Buang puji-pujian kosong itu, Banterang! Ke-tahuilah,
aku bernama Inani. Guruku adalah Singa Berbulu Emas. Kurasa kau tahu apa
artinya bukan?" sela Inani lagi seraya menatap wajah Banterang
lekat-lekat. Sinar mata gadis ini terlihat penuh tantangan.
"Tentu saja, Inani," jawab Banterang masih
ka-lem, kendati Inani selalu bicara dengan nada tinggi dan ketus.
"Bukankah kau, aku dan murid datuk-datuk lainnya harus bertarung untuk
menentukan guru siapa yang lebih unggul?"
"Benar!" jawab Inani cepat "Dan waktunya
ada-lah dua minggu lagi di Puncak Dunia. Aku harap kau tak lupa untuk pergi ke
sana agar bisa ditentukan sia-
pa yang lebih unggul!" Banterang hanya tertawa.
"Waktunya masih cukup lama, Inani. Aku akan pergunakan
sisa waktu itu untuk bermain-main dulu menikmati dunia indah ciptaan Tuhan ini;
Tapi apabila waktunya tiba, aku akan datang!"
Ucapan Banterang masih terdengar. Tapi tu-buhnya sudah tak
berada di situ lagi. Sandaka dan Ka-laban tanpa sadar berdecak kagum melihat
kenyataan ini. Mereka tak melihat Banterang bergerak tapi tahu-tahu pemuda itu
sudah tak ada di situ lagi! Inani se-benarnya terkejut juga. Tapi keangkuhan mendorong-nya
untuk tak memperlihatkan perasaan itu. Bahkan gadis itu malah mendengus.
"Kemampuan seperti itu saja dipamerkan di
de-panku!" ucap gadis berpakaian hijau ini sambil mem-balikkan tubuh dan
melangkah pergi.
Sandaka dan Kalaban saling berpandangan. Kedua murid utama
Perkumpulan Tapak Darah ini sangat menyayangkan sikap tinggi hati Inani.
Sayang-nya mereka merasa tak enak hati untuk menegurnya. Sandaka dan Kalaban
hanya bisa menatap punggung putri ketua mereka dengan sorot mata penyesalan.
***
3
Lelaki itu berusia sekitar lima puluh lima ta-hun. Tubuhnya
kurus dengan kumis tipis dan jarang-jarang menghiasi wajahnya yang berbentuk
tirus mirip tikus. Hidungnya memiliki ujung yang melengkung se-dikit ke bawah
mirip paruh burung. Lelaki ini keliha-
tan angker bukan main. Apalagi karena sepasang ma-tanya
yang sipit menyorot tajam dan memancarkan kekejaman.
Lelaki yang mengenakan pakaian rompi dari benang emas ini
tengah duduk di atas sebuah kursi indah. Kepalanya disandarkan pada sandaran
kursi yang layaknya hanya dimiliki seorang raja, karena tan-gan-tangan kursi
dihiasi taburan permata.
Di kanan-kiri lelaki kurus itu berdiri dua orang wanita
muda berwajah cantik. Keduanya hanya men-genakan penutup tubuh ala kadarnya
untuk menutupi dada dan bagian bawah pusar sehingga kelihatan jelas kulit
tubuhnya yang putih halus.
Dua wanita muda itu memegang kipas bertang-kai panjang.
Kipas yang terbuat dari bulu-bulu burung itu digerakkan tak henti-hentinya
mengipasi lelaki be-rompi indah. Beberapa kali dua wanita muda ini tam-pak
menggigit bibir ketika tangan-tangan lelaki kurus merayapi tubuh mereka. Mereka
hanya diam membisu tak bisa bertindak apa pun. Hanya sorot sepasang ma-ta
keduanya yang menyatakan kalau tindakan lelaki kurus tak berkenan di hati
mereka.
Di sudut ruangan besar dan megah itu duduk seorang wanita
muda yang juga berpakaian ala kadar-nya. Wanita ini tengah memainkan kecapi.
Petikan na-da-nadanya terdengar merdu di telinga.
Tok, tok, tok...!
Bunyi ketukan pelan pada daun pintu ruangan itu membuat lelaki
berompi indah menegakkan kepala. Sepasang matanya terlihat menyiratkan
kemarahan karena keasyikannya merasa terganggu.
"Apakah kau sudah tak sayang nyawa lagi se-hingga
berani mengganggu istirahatku?!" dengus lelaki kurus pada orang yang
mengetuk daun pintu.
"Ampunkan hamba, Yang Mulia Raja Laut," ja-wab
suara dari balik daun pintu penuh rasa takut. "Hamba tak bermaksud
mengganggu. Tapi...."
"Kalau begitu, cepat menyingkir dari sini sebe-lum
kesabaranku hilang dan kau mendapat hukuman yang besar!" potong lelaki
kurus yang bukan lain dari Raja Laut Bermuka Setan.
Ucapan datuk sesat wilayah selatan ini mem-buat sekitar
ruangan itu bergetar keras. Akibat yang tak kalah dahsyat terjadi pada tiga
wanita muda yang berada di ruangan itu. Tubuh mereka menggigil keras sehingga
kipas-kipas di tangan lepas dari cekalan dan bahkan salah satu tali kecapi
putus!
Raja Laut Bermuka Setan tahu hal itu. Tapi dia sama sekali
tak peduli. Sepasang matanya yang me-nyorot penuh kemarahan tetap tertuju pada
daun pin-tu.
"Ka belum beranjak dari tempatmu, Keparat! Apakah kau
tak sayang nyawamu?!" seru Raja Laut Barmuka Setan dengan suara semakin
meninggi.
Datuk sesat yang sebelumnya merupakan ke-pala bajak laut
ini dengan pendengarannya yang tajam tahu kalau pengetuk pintu belum beranjak
dari tem-patnya. Hal itu yang membuat kemarahannya semakin berkobar.
"Hamba mohon ampun, Yang Mulia Raja Laut," ujar
sosok dari balik daun pintu dengan suara menggi-gil. "Tapi di luar ada
orang yang hendak bertemu den-gan Yang Mulia."
"Goblok! Tolol! Tidak bisakah kau menyuruh-nya
menunggu, Bego?!" bentak Raja Laut Bermuka Se-tan. "Aku sedang
istirahat!"
"Orang itu tak mau menunggu, Yang Mulia. Hamba telah
menyuruhnya menunggu, tapi dia tetap
berkeras hendak menjumpai Yang Mulia. Maka...."
"Bodoh! Manusia tak berotak!" Lagi-lagi Raja
Laut Bermuka Setan memotong dengan makian. "Ka-lau
orang itu tak mau menunggu usir saja! Kalau perlu bunuh!"
"Orang itu lihai sekali, Yang Mulia. Saat ini dia
tengah dikeroyok. Tapi kawan-kawan roboh di tangan-nya," jawab pemilik
suara dari balik daun pintu.
"Keparat! Kau tahu siapa orang yang tak tahu diri dan
mencari penyakit itu?!"
"Dia memperkenalkan diri sebagai Raja Serigala Hitam,
Yang Mulia!"
Raja Laut Bermuka Setan terdiam. Keningnya berkernyit
dalam. Dia telah mendengar berita kalau di wilayah utara telah muncul tokoh
sesat yang berjuluk Raja Serigala Hitam. Raja Laut Bermuka Setan pun ta-hu
kalau Raja Serigala Hitam mempunyai maksud yang sama dengannya, merajai dunia
kaum sesat dan mengangkat diri sebagai datuk. Namun sungguh tak disangka
secepat ini Raja Serigala Hitam bertindak menyatroni tempat kediamannya.
"Kembali ke tempatmu, Manusia Tolol! Aku akan ke sana
dan mengambil nyawa tokoh tak tahu di-ri itu!"
Terdengar langkah-langkah kaki menjauhi daun pintu. Raja
Laut Bermuka Setan bangkit dari kursinya lalu mengambil dayung baja berlapis
emas. Kemudian, dia melangkah meninggalkan ruangan.
Di halaman depan bangunan megah dan indah milik Raja Laut
Bermuka Setan memang tengah terjadi pertarungan sengit.
Raja Serigala Hitam mengamuk menghadapi keroyokan anak buah
Raja Laut Bermuka Setan yang sebagian besar adalah para bajak laut. Sekitar dua
pu-
luh orang yang mengeroyok Raja Serigala Hitam. Tapi tokoh
ini tak tampak terdesak, bahkan beberapa la-wannya telah bergeletakan di tanah.
Raja Laut Bermuka Setan berdiri tegak di am-bang pintu
bangunan tempat tinggalnya yang besar. Dayung yang menjadi senjata andalannya
dipegang oleh lelaki bermata satu di sebelah kirinya. Raja Laut Bermuka Setan
memperhatikan jalannya pertarungan sebentar dengan sepasang alis berkerut.
Kepala bajak laut selatan ini harus mengakui kalau Raja
Serigala Hitam memiliki kepandaian tinggi. Dia merasa tidak yakin akan mampu
mengalahkan to-koh wilayah utara itu. Namun tentu saja. Raja Laut Bermuka Setan
tak menjadi gentar karenanya. Dengan langkah lebar diayunkan kakinya menuruni
tangga ba-tu yang menuju ke halaman luas di depannya.
"Mundur semua...!" seru Raja Laut Bermuka Setan
keras begitu telah berada di halaman.
Belasan anak buah Raja Laut Bermuka Setan berlompatan
mundur dan menjauhi Raja Serigala Hi-tam. Raja Laut Bermuka Setan menatap wajah
tamu tak diundang itu tajam-tajam. Raja Serigala Hitam tak mau kalah. Dia balas
menatap dengar tak kalah ga-rangnya. Untuk sesaat kedua pimpinan kaum sesat
dari wilayah yang berbeda ini saling bertatapan, sea-kan-akan tengah mengadu
kekuatan melalui sinar ma-ta.
"Kau terlalu lancang, Serigala Hitam," dengus
Raja Laut Bermuka Setan. "Di wilayahmu boleh kau bertingkah seenakmu. Tapi
di wilayah ini, apalagi di tempat kediamanku, kau sama saja dengan mengantar
nyawa bila melakukan tindakan seperti ini!"
"Kau terlalu sombong, Muka Setan!" sahut Raja
Serigala Hitam tak mau kalah gertak. Saingannya me-
nyapanya dengan membuang gelar raja. Maka dia pun melakukan
hal yang sama. "Perlu kau ketahui, aku tak takut terhadapmu! Tapi perlu
kukatakan kalau keda-tanganku kemari tak bermaksud untuk mencari per-musuhan
denganmu!"
Raja Laut Bermuka Setan tersenyum mengejek. "Tak ingin
mencari permusuhan katamu, Seri-
gala Hitam? Tapi di sini kau menyebar kekacauan, me-lukai
banyak anak buahku! Dan katamu bukan hen-dak mencari permusuhan? Ucapan macam
apa itu?!"
"Kalau saja anak buahmu tak terlalu berkeras
mencegahku tentu aku tak perlu melakukan tindakan ini, Muka Setan!" tandas
Raja Serigala Hitam. "Namun perlu kau catat keteranganku ini bukan berarti
aku membela diri. Aku tak takut terhadapmu, Muka Se-tan!"
"Aku pun tak takut, Serigala Hitam!" balas Raja
Laut Bermuka Setan tak mau kalah. "Kau ingin berta-rung sekarang?!"
Raja Laut Bermuka Setan segera melangkah untuk mengatur
jarak bertarung. Tapi Raja Serigala Hitam tetap diam di tempat. Lelaki berompi
hitam ini malah menggelengkan kepala.
"Bertarung itu mudah, Muka Setan. Kapan pun kau
inginkan aku siap, tapi tidak sekarang! Bukan ka-rena apa-apa. Aku datang
kemari membawa urusan penting. Urusan yang menyangkut golongan kita,"
ki-lah Raja Serigala Hitam.
Raja Laut Bermuka Setan mengendurkan kem-bali urat-urat
sarafnya yang tadi menegang. Dilihatnya ada kesungguhan yang besar dalam ucapan
kakek be-rompi hitam itu.
"Urusan apa, Serigala Hitam?"
"Kurasa kau tak keberatan kalau kita bicara di
dalam saja, Muka Setan," Raja Serigala Hitam
menga-jukan usul. "Makan waktu yang cukup panjang untuk mengatakannya.
Atau kau lebih suka kita bicara di sini sambil berdiri? Barangkali saja kau
takut mengajakku ke dalam istanamu."
Sepasang mata Raja Laut Bermuka Setan berki-lat-kilat penuh
kemarahan. Dia merasa tersinggung dikatakan takut oleh Raja Serigala Hitam.
Kendati de-mikian kalau langsung diturutinya perkataan datuk sesat wilayah
utara itu, apa kata anak buahnya?
"Masuk dan berbicara soal gampang. Tapi aku ingin tahu
persoalan apakah yang akan kau bicarakan. Tidak semua persoalan dapat dengan
mudah dibicara-kan di istanaku. Ingin kuketahui dulu pantas tidaknya persoalan
yang kau bawa itu," ujar Raja Laut Bermuka Setan dengan nada meremehkan.
Raja Serigala Hitam merasakan hatinya terba-kar. Dia merasa
terhina sekali oleh sikap Raja Laut Bermuka Setan. Kedudukannya tak kalah
tinggi den-gan kepala bajak laut itu. Tapi perlakuan yang diteri-manya amat
merendahkan dirinya. Kalau menuruti pe-rasaan Raja Serigala Hitam ingin
menerjang saingan beratnya memperebutkan kedudukan sebagai datuk kaum sesat
itu. Tapi mengingat pentingnya urusan yang dibawa maka maksudnya cepat-cepat
diurung-kan.
"Kau tentu mendengar tentang datuk-datuk persilatan
pada puluhan tahun yang lalu," ujar Raja Serigala Hitam separo
mengingatkan.
"Tentu saja," jawab Raja Laut Bermuka Setan
kalem. "Lalu mengapa?"
Raja Serigala Hitam menggertakkan gigi karena geram melihat
sambutan Raja Laut Bermuka Setan yang dingin. Ingin diludahinya wajah lelaki
kurus itu
kalau tak mengingat akibat yang terjadi.
"Datuk-datuk persilatan itu ternyata mempu-nyai
murid-murid, Muka Setan. Dua di antara mereka telah kutemui. Entah datuk-datuk
lainnya apakah me-reka mempunyai murid atau tidak aku belum tahu..."
"Ha ha ha...!"
Raja Laut Bermuka Setan memotong ucapan Raja Serigala Hitam
dengan tawa bergelak bernada me-rendahkan.
"Kukira persoalan apa, tak tahunya hanya ma-salah
bocah-bocah yang baru kemarin kenal dunia persilatan. Ha ha ha...! Lucu sekali,
Kau katakan ini persoalan penting, Serigala Hitam? Jangankan hanya
murid-muridnya, biar datuk-datuk persilatan itu sen-diri yang keluar dari tempat
persembunyiannya dan sekaligus mengeroyokku, Raja Laut Bermuka Setan tak akan
mundur selangkah pun. Mereka akan ku basmi. Ha ha ha...!"
Wajah Raja Serigala Hitam tampak merah pa-dam. Kemarahan
yang sejak tadi sudah melanda ma-kin bergolak. Namun dengan sekuat tenaga
amarah yang hendak terlontar itu ditahannya.
"Serigala Hitam," ucap Raja Laut Bermuka Se-tan
lagi setelah puas mengumbar tawa. "Kalau belum apa-apa kau sudah ketakutan
setengah mati, copot sa-ja gelar raja dari julukanmu. Setelah itu mundurlah kau
dari dunia persilatan. Kau tak pantas menjadi da-tuk kaum sesat wilayah
utara!"
Terdengar bunyi berkerotokan dari sekujur tu-buh Raja
Serigala Hitam. Padahal kakek ini tak meng-gerakkan anggota tubuhnya sama
sekali. Aliran tenaga dalamnya yang menyebar sendiri karena kemarahan yang
melanda menyebabkan bunyi itu terjadi.
"Sungguh tak kusangka tanggapan seperti ini
yang ku peroleh darimu, Muka Setan," agak bergetar
ucapan Raja Serigala Hitam karena menahan kemara-han. "Ucapan dan sikap
yang kau pertunjukkan se-layaknya keluar dari mulut bocah ingusan yang baru
belajar satu dua macam pukulan. Kau tak ubahnya katak dalam tempurung, Muka
Setan! Orang-orang berpikiran kerdil sepertimu yang membuat golongan kita tak
pernah berjaya dan selalu menjadi pihak yang dikalahkan!"
"Keparat! Tutup mulutmu, Serigala Hitam!" Raja
Laut Bermuka Setan yang merasa sangat
tersinggung dengan ucapan Raja Serigala Hitam lang-sung
memuntahkan amarahnya dengan melancarkan serangan. Lelaki kurus ini mengawali
serangannya dengan sebuah tendangan lurus kaki kanan ke arah perut.
Raja Serigala Hitam tak menjadi gugup melihat serangan itu.
Sejak tadi dia memang sudah bersiap siaga menghadapi hal-hal seperti ini. Maka
tanpa ragu-ragu ditangkisnya tendangan itu dengan sabetan tan-gan kanan.
"Heh?!"
Raja Serigala Hitam mengeluarkan seruan ka-get melihat Raja
Laut Bermuka Setan menarik pulang serangannya di tengah jalan. Secara cepat dan
tak ter-duga-duga kemudian pimpinan tokoh sesat wilayah se-latan ini
menggantikannya dengan tendangan miring ke arah dada.
Serangan ini memaksa Raja Serigala Hitam mencondongkan
tubuh ke belakang, sehingga seran-gan lawan hanya mengenai tempat kosong. Saat
itulah tangan kanannya bergerak cepat melakukan totokan ke arah mata kaki Raja
Laut Bermuka Setan. Totokan yang mengeluarkan bunyi bercicitan nyaring bak
bela-
san ekor tikus mencicit.
Raja Laut Bermuka Setan tak menginginkan mata kakinya
hancur oleh totokan Raja Serigala Hitam. Buru-buru kakinya ditarik pulang.
Namun Raja Seriga-la Hitam tak berhenti sampai di situ saja. Begitu se-rangan
pertamanya tak mengenai sasaran segera diki-rimkannya serangan bertubi-tubi
dengan gedoran tan-gan kanan dan kiri.
Kali ini Raja Laut Bermuka Setan tak mengelak. Dengan kedua
jari-jari tangan terbuka dipapakinya se-rangan-serangan itu.
Plak, plakkk!
Berturut-turut serangan itu tertangkis hingga menimbulkan
bunyi riuh rendah. Akibatnya, tubuh kedua tokoh itu terhuyung-huyung tiga
langkah ke be-lakang.
"Dengan kemampuan seperti ini kau berani me-remehkan
datuk-datuk persilatan? Hanya menghadapi salah satu dari murid datuk itu saja
kau tak akan mampu menang, Muka Setan?!" ejek Raja Serigala Hi-tam setelah
berhasil mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung.
Raja Laut Bermuka Setan memberikan isyarat dengan suitan nyaring.
Lelaki bermata picak yang se-jak tadi menggenggam dayung pimpinannya segera
me-lemparkan senjata itu. Tanpa membalikkan tubuh dan bahkan tanpa melihatnya
sedikit pun Raja Laut Ber-muka Setan menangkapnya dengan tangan kiri!
"Kalau kau mampu bertahan menghadapi sen-jataku ini
selama lima puluh jurus, maksudmu mene-muiku akan kudengar dan kupertimbangkan.
Tapi bila tidak, menggelindinglah dari sini dengan selamat apa-bila kau
berhasil melakukannya!" tandas Raja Laut Bermuka Setan.
Wuk, wuk, wukkk!
Deru angin yang menyakitkan telinga langsung terdengar
ketika kepala bajak laut selatan itu memutar dayungnya. Cepat bukan main
sehingga membuat ben-tuk dayung lenyap. Yang kelihatan hanya cahaya kee-masan
melingkar di seputar tubuh lelaki kurus.
"Keluarkan senjatamu, Serigala Hitam!" sera Raja
Laut Bermuka Setan di tengah kesibukannya memutar dayung.
Raja Serigala Hitam tersenyum pahit Bukannya mencabut atau
mengeluarkan senjatanya dia malah membuang ludah ke tanah dengan sikap kasar.
Cairan kental itu menghantam tanah dan tembus ke dalam!
"Simpan senjatamu, Muka Setan! Kemam-puanmu itu hanya
akan berarti bila kau pertunjukkan pada keroco-keroco dan anak buahmu. Aku tak
kera-san berlama-lama berdekatan dengan orang berpikiran kerdil sepertimu.
Kelak setelah sarangmu diobrak-abrik mereka, kau akan mengerti!"
Setelah berkata demikian Raja Serigala Hitam membalikkan
tubuh dan melesat meninggalkan tempat itu. Kakek ini tak hendak meladeni
keinginan lawan-nya. Karena bila hal itu dilakukan menurutnya sama saja dengan
merendahkan diri. Padahal kedudukannya setingkat dengan Raja Laut Bermuka
Setan.
"Jangan lari kau, Pengecut...!" bentak Raja Laut
Bermuka Setan seraya bergerak mengejar.
Tapi Raja Serigala Hitam tak mempedulikan makian
saingannya. Kakek itu terus berlari. Tindakan itu memaksa Raja Laut Bermuka
Setan yang terlanjur murka terus mengejarnya. Pemimpin bajak Laut sela-tan ini
baru menghentikan pengejarannya setelah ra-tusan tombak mengejar dan jarak
antara dirinya den-gan buruannya tetap tak berubah. Dengan hati dong-
kol lelaki kurus ini kembali ke tempat tinggalnya.
Dis-adarinya tak akan mungkin bisa menyusul Raja Seri-gala Hitam. Ilmu lari
cepat tokoh Wilayah utara itu tak berada di bawahnya.
***
"Iblis Berhati Manusia! Berhenti...!"
Bentakan keras penuh kemarahan membuat la-ri Raja Laut
Bermuka Setan tertahan. Dia merasa se-ruan dari arah belakangnya itu ditujukan
untuk di-rinya. Dengan kemarahan yang memuncak segera di-balikkan tubuhnya.
Tampak sesosok tubuh tengah berlari menuju ke arahnya.
Gerakannya cepat. Sehingga dalam waktu sebentar saja sosok yang ternyata
seorang gadis ber-pakaian merah telah berada tiga tombak di depan Raja Laut
Bermuka Setan.
Amarah Raja Laut Bermuka Setan berkurang banyak ketika
melihat orang yang mengeluarkan ben-takan. Gadis berpakaian merah itu memiliki
wajah yang luar biasa cantik. Kulitnya halus putih. Bentuk tubuhnya ramping
padat dan begitu menawan. Raja Laut Bermuka Setan yang gemar pada perempuan
can-tik langsung tertarik.
"Siapa kau, Nona Cantik? Apakah aku orang yang kau
minta untuk berhenti?" tanya Raja Laut Bermuka Setan dengan pandang mata
seperti hendak menelan bulat-bulat sosok di depannya.
"Tidak salah!" sahut gadis cantik itu mantap.
"Bukankah kau orang yang berjuluk Raja Laut Bermu-ka Setan? Orang yang gemar
menculik gadis-gadis un-tuk memenuhi keinginan terkutukmu!"
"Ha ha ha...!"
Raja Laut Bermuka Setan tertawa. Dia tidak marah mendengar
ucapan gadis berpakaian merah yang ketus dan kasar.
"Aku memang orang yang kau maksudkan itu. Nona Cantik?
Dan aku memang gemar dengan gadis-gadis cantik sepertimu. Tentu saja kalau kau
bersedia ikut denganku aku tak perlu menyuruh anak buahku untuk menculik mu.
Nah, bagaimana? Apakah kau bersedia ikut denganku?"
"Tutup mulutmu yang kotor itu, Binatang! Ke-tahuilah,
aku datang untuk melenyapkan kau dari muka bumi ini agar kekejian yang kau
lakukan hilang dari mayapada. Sebetulnya aku bermaksud menyatro-ni tempat
tinggalmu. Tapi karena kau telah kutemu-kan, maka di sini pun kurasa cocok
untuk menjadi tempat akhir hidupmu. Bersiaplah untuk menjumpai malaikat maut,
Manusia Binatang!"
Seiring dengan selesainya ucapan itu gadis ber-pakaian
merah melompat. Dari atas tangan kanannya yang berbentuk cakar meluncur ke arah
ubun-ubun Raja Laut Bermuka Setan, sementara tangan kirinya diletakkan di
pinggang.
Raja Laut Bermuka Setan tampak terperanjat kaget. Dia tak
berani memandang remeh gadis cantik itu lagi. Dari bunyi bercicitan nyaring
yang mengiringi serangan itu bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang
terkandung di dalamnya. Lelaki kurus ini tahu apabila serangan mengenai sasaran
nyawanya akan melayang ke alam baka!
Buru-buru Raja Laut Bermuka Setan melang-kah mundur
setindak seraya menarik kepalanya ke be-lakang. Sederhana saja gerakan yang
dilakukan lelaki kurus itu. Kendati demikian, serangan maut lawan jadi lewat di
atas kepalanya. Seluruh rambut dan pakaian
pimpinan bajak laut selatan ini berkibaran keras keti-ka
serangan cakar lawannya lewat.
Tapi serangan si gadis tak hanya berhenti sam-pai di situ
saja. Begitu serangan pertamanya lolos kaki kanannya menyambar cepat ke arah
dada. Tidak ada pilihan lain bagi Raja Laut Bermuka Setan kecuali me-lempar
tubuh ke belakang lalu berputaran beberapa kali di udara. Tindakan ini membuat
serangan gadis berpakaian merah kembali lolos.
Gadis cantik itu ternyata benar-benar luar bi-asa. Begitu
kedua kakinya menyentuh tanah langsung dijejakkan lagi hingga tubuhnya kembali
melesat ke arah lelaki kurus. Kedua tangan yang jari-jarinya ter-buka lurus
ditotokkan bertubi-tubi ke arah ulu hati dan dada. Sebuah pertarungan aneh pun
terjadi. Gadis berpakaian merah yang terus memburu dengan seran-gan-serangan
maut sementara Raja Laut Bermuka Se-tan tak henti-hentinya bersalto ke belakang
untuk me-nyelamatkan diri.
Raja Laut Bermuka Setan akhirnya menyadari jika keadaan
seperti ini tak segera diubahnya dia bisa celaka. Diserang terus-menerus tanpa
mempunyai ke-sempatan untuk menangkis atau balas melancarkan serangan akan
mencelakakan dirinya.
Sungguh tak disangkanya seorang gadis muda mampu memiliki kepandaian
demikian tinggi!
Sekelebatan dugaan mencuat di benak Raja Laut Bermuka
Setan. Gadis inikah yang dimaksud Ra-ja Serigala Hitam? Ataukah gadis lainnya
lagi yang me-rupakan murid salah satu dari empat datuk golongan putih?
Sekarang pikiran Raja Laut Bermuka Setan ba-ru terbuka.
Kalau gadis ini saja sudah selihai ini ba-gaimana pula dengan ayah atau guru
yang mendidik-
nya? Benarkah tingkat kepandaian datuk-datuk golon-gan
putih demikian tinggi?
"Kraaakh...!"
Sambil bersalto untuk menyelamatkan nya-wanya Raja Laut
Bermuka Setan memekik bagai see-kor burung garuda yang tengah murka. Bukan
semba-rang teriakan, melainkan didasari dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.
Lenguhan tertahan dikeluarkan gadis berpa-kaian merah.
Tubuhnya yang tengah melayang mengi-kuti ke mana lawannya bergerak terhenti di
tengah ja-lan dan melayang turun. Gadis berpakaian merah ini merasakan
telinganya sakit bukan main seperti ditu-suki jarum-jarum panas yang amat
banyak. Dadanya pun bergetar hebat sehingga membuat aliran tenaga dalamnya
terganggu. Untungnya dia masih memiliki kemampuan cukup hingga mampu mendarat
di tanah dengan kedua kaki. Memang agak terhuyung-huyung, tapi tak terjerembab
di tanah.
Raja Laut Bermuka Setan yang telah kenyang pengalaman
bertarung segera mengetahui lawannya belum mampu mengusir pengaruh teriakannya.
Maka begitu berhasil tegak di tanah dayungnya dibolang-balingkan di depan dada.
Bunyi mengaung timbul mengiringi lenyapnya bentuk dayung. Sinar kuning keemasan
seakan membungkus tubuh datuk Wilayah selatan ini saking cepatnya dayung
berputar.
Gadis berpakaian merah meski memiliki ke-mampuan tinggi
rupanya belum mempunyai pengala-man bertarung, sehingga pengaruh teriakan Raja
Laut Bermuka Setan tak segera mampu diusirnya. Saat itu justru datuk wilayah
selatan ini kembali melancarkan serangan melalui bunyi dayungnya.
Bunyi mengaung meluncur masuk ke telinga si
gadis. Sakit bukan main kedua telinganya seperti
ditu-suk-tusuk paku berani. Rasa yang sama melanda ba-gian dalam tubuh gadis
itu.
Gadis berpakaian merah menggeliat-geliat da-lam cekaman
rasa sakit yang mendera. Sesaat kemu-dian ketika rasa yang diderita semakin
menggila dia duduk bersila mengerahkan tenaga dalam untuk membendung pengaruh
bunyi dayung lawan
Keringat sebesar biji-biji jagung bermunculan wajah yang
memiliki kulit halus. Raja Laut Bermuka Setan sendiri merasa gembira bukan main
melihat tin-dakan yang diambil gadis itu. Tindakan itu menanda-kan gadis
berpakaian merah belum berpengalaman bertempur.
Tindakan yang dilakukan si gadis andaikata te-naga dalamnya
setingkat dengan Raja Laut Bermuka Setan tetap akan menimbulkan kerugian pada
dirinya. Gadis cantik itu hanya bertahan. Lain halnya apabila gadis berpakaian
merah menghadapi serangan Raja Laut Bermuka Setan dengan bunyi pula. Akibat
yang diterima tidak hanya tertuju pada diri gadis itu tapi ju-ga pada Raja Laut
Bermuka Setan.
Baru sebentar merebahkan tubuh Baru sekejap memicingkan
mata Keributan dan keonaran telah tercipta
Tak dapatkah aku beristirahat sebentar saja?
Kata-kara gerutuan yang dikeluarkan secara berirama itu
sebenarnya pelan. Tapi mampu mengatasi kegaduhan yang ditimbulkan oleh bunyi
dayung Raja Laut Bermuka Setan.
Kenyataan ini saja sudah membuat Raja Laut Bermuka Setan
terperanjat setengah mati. Yang lebih
mengejutkan adalah ketika mengetahui getaran-getaran yang
keluar dari gerutuan menimbulkan pen-garuh dahsyat yang membendung bunyi
putaran dayungnya. Malah, getaran yang terkandung dalam ge-rutuan itu mampu
menekan bunyi dayung!
Meski tahu ada tokoh pandai yang telah mem-bantu lawannya,
Raja Laut Bermuka Setan tak mun-dur. Sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam
puta-ran tongkatnya diperdahsyat. Bunyi yang ditimbulkan pun semakin keras.
Seperti hendak mengimbangi bunyi dayung, ge-rutuan yang
terdengar dari salah satu pohon di dekat Raja Laut Bermuka Setan terus
terdengar. Isi gerutuan itu sama dengan sebelumnya. Hanya saja pengaruh yang
muncul jauh lebih dahsyat. Raja Laut Bermuka Setan menggertakkan gigi dan
memaksakan diri untuk terus bertahan melakukan perlawanan. Tapi keadaan itu tak
berlangsung lama.
"Huakh...!"
Raja Laut Bermuka Setan memuntahkan darah segar dari
mulutnya. Tubuhnya pun terhuyung-huyung ke belakang. Dayung yang tergenggam di
tan-gan hampir-hampir lepas dari cekalan.
Bunyi gerutuan pun terhenti. Raja Laut Ber-muka Setan
mendekap dadanya yang dirasakan sakit dan nyeri bukan main. Lelaki kurus itu
sadar kalau di-rinya telah terluka dalam. Pemilik gerutuan yang bera-da di atas
pohon ternyata memiliki tenaga dalam di atasnya. Pimpinan bajak laut selatan
ini menjadi ge-ram sekali. Raja Laut Bermuka Setan segera menga-rahkan
pandangan ke tempat suatu gerutuan berasal.
"Kalau bukan pengecut tunjukkan wajahmu, Orang
Usilan!" seru Raja Laut Bermuka Setan sambil mendekap dadanya yang terasa
semakin sakit karena
memaksakan diri berbicara.
Dari atas pohon sesaat kemudian tampak me-layang turun
sesosok bayangan ungu. Sosok itu men-jejak tanah sekitar dua tombak di depan
Raja Laut Bermuka Setan. Raja Laut Bermuka Setan memperha-tikan sosok di
depannya dengan penuh selidik.
"Kau... kau Dewa Arak...?!" tanya Raja Laut
Bermuka Setan dengan suara tercekat di tenggorokan.
Lelaki kurus ini sedikit pun tak menyangka so-sok di atas
pohon adalah seorang pemuda berwajah tampan dan berambut putih keperakan. Tubuh
pemu-da yang tegap dan kekar itu terbungkus pakaian war-na ungu. Di punggungnya
tergantung guci arak yang terbuat dari perak.
Raja Laut Bermuka Setan memang telah men-dengar kabar
tentang Dewa Arak yang menggegerkan dunia persilatan. Maka sekali melihat
ciri-cirinya da-tuk sesat wilayah selatan ini telah bisa menduga, Ken-dati
demikian ketika melihat betapa tokoh yang meng-gemparkan itu demikian muda,
Raja Laut Bermuka Se-tan jadi tak yakin juga.
Sosok yang bukan lain Dewa Arak alias Arya Buana tersenyum
lebar tanpa memberikan jawaban. Tapi hal itu sudah cukup bagi Raja Laut Bermuka
Se-tan.
"Kali ini aku mengaku kalah, Dewa Arak. Tapi lain kali
apabila berjumpa kembali kekalahan ini akan ku tebus!"
Tanpa menunggu jawaban Dewa Arak, Raja Laut Bermuka Setan
berlari terhuyung-huyung me-ninggalkan tempat itu. Arya tak berusaha
mengejar-nya. Dia tak tahu urusan yang terjadi antara dua orang yang bertempur
itu. Ikut campurnya Arya kare-na tak ingin melihat gadis berpakaian merah
tewas.
Karena menilik dari ciri-ciri dan sikap keduanya, Arya
sedikit banyak bisa memperkirakan gadis itu berada di pihak yang benar.
***
4
"Huakh...!"
Gadis berpakaian merah memuntahkan darah segar ketika Arya
baru saja mengayunkan kaki meng-hampirinya. Buru-buru pemuda itu mempercepat
langkah. Tapi tepat ketika Arya berada di dekatnya ga-dis itu mengeluh
tertahan. Tubuhnya lalu terkulai le-mas.
Arya segera memeriksanya karena merasa he-ran. Kalau gadis
berpakaian merah itu memuntahkan darah, bukan persoalan. Barangkali saja
sewaktu ber-tarung dengan Raja Laut Bermuka Setan gadis itu mengerahkan tenaga
yang melampaui batas. Tapi mengapa harus pingsan?
Arya tiba-tiba berseru kaget ketika melihat wa-jah si gadis
bersemu kehijauan. Sebelum sebuah du-gaan sempat didapatkan pemuda ini
merasakan kepa-lanya pusing. Tubuhnya pun lemas dan pandangan matanya mulai
berkunang-kunang. Sebagai pendekar muda yang telah kenyang pengalaman Arya
segera ta-hu apa artinya semua ini
"Racun," desis Arya dalam hati. Pemuda be-rambut
putih keperakan ini buru-buru duduk berse-madi. Hawa murninya dikerahkan untuk
mengusir ra-cun di dalam tubuh. Meski hanya mempunyai waktu sebentar dia segera
tahu racun itu menyebar melalui
udara. Racun yang cepat daya kerjanya tapi tidak tera-sa
dan berbau. Keracunan itu baru ketahuan setelah tanda-tanda muncul.
Arya bersemadi beberapa saat lamanya. Uap berwarna
kehijauan pun keluar dari lubang hidung. Baru ketika dirasakan racun itu telah
terusir dari tu-buh Arya menghentikan semadinya.
Pemuda berambut putih keperakan ini bangkit dari duduknya
dan memeriksa keadaan gadis berpa-kaian merah. Benak Arya bertanya-tanya
sendiri ten-tang asal racun itu. Mungkinkah Raja Laut Bermuka Setan yang
menyebarkannya sebelum melesat pergi meninggalkan tempat itu?
Tapi Dewa Arak tak bisa berlama-lama tengge-lam dalam alun
pikirannya. Gadis berpakaian merah bisa melayang nyawanya apabila tidak
lekas-lekas dito-long. Maka tanpa membuang-buang waktu Arya me-nempelkan kedua
tangannya ke tubuh si gadis. Dia mengerahkan hawa murninya untuk mendorong
ke-luar racun yang masuk ke dalam tubuh gadis berpa-kaian merah.
Sebentar kemudian dari hidung, mulut, dan te-linga gadis
ini keluar uap berwarna hijau. Mula-mula tipis dan sedikit tapi lama-kelamaan
menebal dan ak-hirnya menipis lagi sampai akhirnya tak ada lagi uap hijau yang
keluar.
Arya segera menghentikan penyaluran hawa murninya. Pemuda
ini kemudian bangkit berdiri. Tapi baru saja tegak tubuhnya limbung karena
sekujur tu-buhnya seperti lunglai tak bertenaga. Arya pun sadar kalau racun
yang masuk ke dalam tubuhnya belum se-luruhnya terusir keluar. Dan itu berarti
demikian pula dengan gadis berpakaian merah.
Kenyataan ini benar-benar mengejutkan Dewa
Arak. Sama sekali tak disangka akan didapatkannya racun
seperti ini. Maka buru-buru diteguk araknya yang mampu menawarkan berbagai
macam racun. Kendati demikian dalam pengalamannya Arya menda-pati banyak racun
yang tak berhasil dipunahkan oleh araknya.
Seteguk Arya menenggak araknya. Dan sesaat kemudian
dirasakan sebagian besar tenaganya kemba-li. Arak dalam gucinya ternyata mampu
memunahkan racun tersebut.
Tentu saja Arya tak berani meminumkan arak pada gadis
berpakaian merah. Di samping khawatir akan menimbulkan urusan dengan gadis itu
juga ka-rena nyawanya telah berhasil diselamatkan, kendati pengaruh racun masih
bercokol di dalam tubuhnya.
Mereka berdua agaknya harus menemukan orang yang mempunyai
ilmu pengobatan tinggi agar dapat mengusir racun seluruhnya. Dan hal itu bukan
merupakan masalah. Arya memang bermaksud untuk menemui tokoh yang di samping
mahir dalam ilmu pengobatan juga memiliki kepandaian yang amat ting-gi. Dewa
Arak tengah dalam perjalanan untuk men-jumpai tokoh yang berjuluk Malaikat Obat
Sakti!
Malaikat Obat Sakti adalah termasuk salah sa-tu dari empat
datuk golongan putih yang telah men-gundurkan diri dari dunia persilatan. Arya
ingin me-nemui datuk itu karena puluhan tahun yang lalu ayahnya, Tribuana yang
berjuluk Pendekar Ruyung Maut, mendapat pertolongan dari Malaikat Obat Sakti
sewaktu terluka keracunan akibat bertarung mengha-dapi seorang tokoh sesat
Maka tanpa membuang-buang waktu, karena menyadari akan
bahayanya racun itu, Dewa Arak sege-ra membopong tubuh gadis berpakaian merah
dan
membawanya melesat meninggalkan tempat itu. Tak sampai
seribu tombak berlari Arya mengalami kejadian yang mengejutkan. Tenaganya terus
menyusut secara cepat. Rasa lemas kembali menyerangnya. Arya tahu keadaan ini
akibat pengaruh racun. Ini berarti arak yang diminumnya tak mampu memunahkan
racun se-cara keseluruhan!
Namun karena untuk mencapai tempat tinggal Malaikat Obat Sakti
dibutuhkan kemampuan dengan pengerahan tenaga dalam, Arya menenggak araknya
sekadar untuk memulihkan sebagian besar tenaganya. Setiap kali tenaganya
menyusut dan rasa lemas me-nyerang Dewa Arak menenggak araknya kembali. Hanya
itu yang bisa dilakukan Dewa Arak sebelum tiba di tempat tinggal Malaikat Obat
Sakti.
Arya bersyukur setelah melewati hutan karet matanya melihat
pondok yang atapnya berbentuk se-tengah lingkaran. Arya tahu pondok itu adalah
tempat tinggal Malaikat Obat Sakti karena ayahnya pernah menceritakannya.
Melihat pondok itu semangat Arya yang semula mengendur timbul kembali. Pemuda
be-rambut putih keperakan ini menggertakkan gigi untuk mengerahkan seluruh
tenaga yang tersisa agar dapat segera mencapai pondok.
Saat itu keadaan Dewa Arak memang mengkhawatirkan. Tenaganya terus
menyusut padahal arak dalam gucinya telah habis. Maka, pemuda be-rambut putih
keperakan ini berusaha sekuat tenaga agar bisa mencapai pondok yang jaraknya
masih ratu-san tombak.
Lari Dewa Arak sudah tak sewajarnya lagi. Pe-muda berambut
putih keperakan ini berlari terhuyung-huyung seperti akan jatuh. Arya sampai
menggigit bi-bir erat-erat karena usahanya yang keras untuk men-
gerahkan tenaga yang tersisa. Brukkk!
Arya tak mampu lagi bertahan ketika pondok yang dituju tinggal
lima belas tombak. Pemuda itu ja-tuh terjerembab dengan membawa serta tubuh
gadis berpakaian merah. Seperti disengaja, tubuh gadis itu berada di bawah
dalam keadaan telentang dan Arya berada di atas menindih tubuhnya. Memang tidak
ter-lalu tepat benar tapi wajah Dewa Arak berada di atas dada si gadis.
Karuan saja hal ini membuat Arya kelabakan. Dia adalah
seorang pemuda. Darahnya masih panas. Kenyataan seperti ini membuat darahnya
bergolak. Apalagi ketika mencium keharuman khas tubuh wani-ta yang memabukkan.
Kalau saja saat itu Arya masih memiliki tenaga pemuda ini
akan segera bangkit berdiri. Arya khawatir gadis berpakaian merah keburu sadar.
Apabila hal itu terjadi kesalahpahaman tak akan mungkin bisa dihin-darkan lagi.
Arya berusaha sekuat tenaga agar bisa bangkit. Tapi ketidakadaan tenaga dan
lemasnya selu-ruh otot dan urat tubuhnya membuat usaha pemuda berambut putih
keperakan itu sia-sia. Kenyataan ini membuat Arya gelisah bukan main.
"Apa yang tengah kau lakukan di sini, Anak Muda
Berambut Aneh?!"
Kalau saja Arya mampu bergerak teguran itu akan membuatnya
terjingkat. Arya tak mendengar bunyi apa pun tapi tahu-tahu tepat di depannya
telah berdiri sepasang kaki. Pemuda berambut putih kepe-rakan ini bisa
memperkirakan ketinggian ilmu merin-gankan tubuh pemilik sepasang kaki itu,
hingga keda-tangannya tak tertangkap telinga Arya yang memiliki pendengaran
luar biasa tajam.
Arya ingin mendongakkan kepala untuk dapat melihat wajah
pemilik sepasang kaki itu. Tapi otot-otot lehernya tak mempunyai daya sama
sekali. Jangankan menggerakkan leher, ujung jari kelingking pun Arya tak mampu!
"Ahhh...!"
Pemilik sepasang kaki ternyata seorang kakek berjenggot
putih yang panjang sampai ke dada. Kakek yang memiliki wajah segar seperti,
layaknya kulit wa-jah orang muda itu mengeluarkan seruan keterkejutan ketika
melihat wajah gadis berpakaian merah. Dia ba-ru melihat wajah gadis itu karena
tadi perhatiannya di-tujukan pada Arya. Lagi pula wajah gadis berpakaian merah
sebelumnya tertutup oleh rambut Arya yang tergerai.
Rasa penasaran melihat keberadaan dua sosok yang
bertumpukan itu membuat kakek berwajah legar menyibakkan rambut yang menutupi
wajah si gadis. Kakek itu hanya menggerakkan tangan seperti orang mengusir
nyamuk dan rambut Arya pun tersibak memperlihatkan wajah gadis berpakaian
merah.
"Kiranya kalian berdua keracunan hebat," desis
kakek berjenggot panjang.
Kakek itu kembali mengibaskan kedua tangan-nya. Tubuh Arya
dan gadis berpakaian merah segera melayang naik ke atas dan diterimanya dengan
kedua tangan. Arya di tangan kanan dan si gadis di tangan kiri. Kakek itu tak
tampak keberatan seakan-akan tu-buh sepasang muda-mudi itu segumpal kapas.
Kakek berpakaian putih kemudian melesat ke arah pondok yang
atapnya berbentuk setengah lingka-ran. Gerakannya cepat bukan main. Keberadaan
tubuh Arya dan gadis berpakaian merah sedikit pun tak mempengaruhi kecepatan
larinya.
Kakek berjenggot panjang ini adalah tokoh yang hendak
ditemui Arya. Dialah yang berjuluk Malaikat Obat Sakti. Salah satu dari
datuk-datuk persilatan kaum putih. Hanya dalam sekejapan kakek berwajah segar
ini telah berada di dalam rumah. Dengan ceka-tan tubuh Arya dan gadis
berpakaian merah diletak-kan di atas balai-balai yang ada di ruangan tengah.
Kemudian kakek itu masuk ke ruangan khu-susnya. Dia kembali
dengan membawa dua baki berisi ramuan obat-obatan yang masih mengepulkan asap.
***
"Sekarang kalian berdua telah bebas dari mara
bahaya," ujar Malaikat Obat Sakti seraya menatap Arya dan gadis berpakaian
merah berganti-gantian. Kakek berjenggot panjang ini duduk di sebuah kursi kayu
di dekat balai-balai bambu.
Arya dan gadis berpakaian merah menatap Ma-laikat Obat
Sakti dengan sinar mata penuh terima ka-sih.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Kek," ucap Arya
dengan suara lemah. Tenaga pemuda berambut putih keperakan ini memang belum
pulih benar.
"Aku pun mengucapkan terima kasih, Kek. Aku berjanji
apabila mempunyai kesempatan akan berusa-ha membalas budi baikmu ini,"
ucap gadis berpakaian merah lirih. "O ya namaku Sumbi, Kek."
Malaikat Obat Sakti terkekeh pelan. "Tak usah kau
berjanji demikian, Sumbi. Aku menolong tidak un-tuk menanam budi atau meminta
balas jasa. Ini meru-pakan kewajibanku selaku manusia. Kebetulan aku mampu
untuk menolong kalian. Bukankah manusia hidup harus tolong-menolong?"
"Aku Arya, Kek," Arya memperkenalkan diri.
"Kalau aku tak salah terka bukankah kau Malaikat Obat Sakti? Ayahku banyak
bercerita tentang dirimu. Dan aku pun sebenarnya dalam perjalanan untuk
mengunjungimu. Sayang, di tengah jalan aku menda-pat masalah ini."
"Apakah kau tokoh yang berjuluk Dewa Arak itu,
Arya?" terka Malaikat Obat Sakti. "Aku telah ba-nyak mendengar
tentang dirimu. Tindakan-tindakan terpujimu telah sampai ke telingaku. Aku
bersyukur sekali ada tokoh muda yang akan meneruskan tugas orang-orang tua dan
sudah tak berguna seperti aku dan sahabat-sahabatku."
"Jadi..., sekarang aku tengah berhadapan den-gan
Malaikat Obat Sakti," ujar Sumbi dengan suara bergetar dan terbata-bata
karena rasa kagetnya. "Gu-ruku banyak bercerita tentang dirimu, Kek."
"Begitukah, Sumbi?" sambut Malaikat Oban Sakti
dengan senyum tersungging di bibir. "Boleh ku tahu siapa gurumu itu?"
"Kau pasti mengenalnya dengan amat baik, Kek. Guruku
berkata kalau beliau termasuk salah seo-rang sahabatmu. Pendekar Seribu Tangan,
julukan-nya," beritahu Sumbi dengan wajah berseri-seri.
"Ahhh...!" seru Malaikat Obat Sakti kaget.
"Kau muridnya, Sumbi?"
Sumbi tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.
"Betapa beruntungnya Seribu Tangan itu," ke-luh
Malaikat Obat Sakti dengan wajah mulai dirayapi kedukaan. Helaan napas berat
beberapa kali dikelua-rkannya. "Mungkin si Singa dan si Gila pun telah
mempunyai ahli waris pula...."
"Apakah kau tidak mempunyai murid, Kek?"
tanya Arya yang bisa menerka penyebab kemurungan Malaikat
Obat Sakti. "Aku yakin kalau kau mau siapa pun ingin menjadikanmu sebagai
guru untuk anak-anaknya."
"Aku terlalu sibuk dengan urusan obat-obatan, Arya.
Sehingga tak sempat terpikirkan seorang murid pun untuk kuangkat sebagai
pewaris ilmu-ilmuku. Pa-dahal, meski kemampuanku tak seberapa tapi aku tak
ingin membawa ilmu-ilmu ini ke lubang kubur bersa-ma diriku."
Sumbi yang semula terpaku melihat kesedihan Malaikat Obat
Sakti terlihat mengernyitkan alis. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tapi
sebelum hal itu diutarakan, Arya telah mendahuluinya.
"Menurut pendapatku masih terbuka kesempa-tan bagimu
untuk mewariskan ilmu-ilmu yang kau mi-liki itu, Kek."
"Mungkin kau benar, Arya," jawab Malaikat Ob-at
Sakti bernada tak yakin.
"Kek...!"
Ucapan Sumbi membuat keheningan yang me-lingkupi tempat itu
sesaat setelah Malaikat Obat Sakti memberikan tanggapan, terpecahkan. Malaikat
Obat Sakti menoleh ke arah Sumbi. Arya pun mengalihkan perhatiannya pula.
"Kau tadi mengatakan kemampuanmu tak se-berapa. Lalu
bagaimana pula denganku? Kalau boleh ku tahu, ucapan itu hanya sekadar sikap
rendah hati atau karena ada hal-hal lainnya?" Sumbi mengelua-rkan perasaan
yang mengganjal dadanya. Arya merasa geli di dalam hati mendengar ucapan Sumbi.
Sebagai orang yang terbiasa merendahkan diri. Arya lebih con-dong menduga kalau
ucapan Malaikat Obat Sakti se-bagai tanda sifat rendah hatinya. Lagi pula
memang
harus diakui kalau di dunia persilatan terlalu banyak orang
pandai. Sikap yang ditunjukkan Malaikat Obat Sakti adalah sikap yang biasa
dimiliki tokoh-tokoh yang tak merasa dirinya besar sendiri.
Malaikat Obat Sakti tak segera memberikan ja-waban. Kakek
itu malah menatap lekat-lekat wajah Sumbi seperti hendak membaca isi hati gadis
itu den-gan sepasang matanya yang tajam mencorong bak ma-ta harimau dalam gelap.
"Apakah gurumu tak pernah menceritakan se-suatu yang
berkaitan dengan ucapanku ini?" Malaikat Obat Sakti malah balas bertanya
Jawaban kakek berjenggot panjang membuat Dewa Arak
terkejut. Hal ini sama sekali tak disang-kanya. Arya jadi merasa tertarik. Ingin
diketahuinya rahasia besar apakah yang membuat kakek ahli pen-gobatan ini
merasa kepandaian yang dimilikinya tak berarti. Arya yakin hal ini sebuah
rahasia karena Sumbi sendiri tak diberitahu oleh gurunya.
Arya melihat dengan jelas Sumbi menggeleng, Bahkan
telinganya menangkap dengan jelas jawaban Sumbi yang bernada keheranan.
"Tidak, Kek. Guru tak pernah bercerita apa-apa
sehubungan dengan ucapanmu itu. Guru hanya men-ceritakan tokoh-tokoh besar
dunia persilatan. Juga sahabat-sahabatnya seperti kau, Singa Berbulu Emas, dan
Dewa Gila Tanpa Bayangan. Diingatkan pula ka-lau beliau dan sahabat-sahabatnya
bersepakat untuk menentukan siapa yang lebih unggul melalui pertarun-gan murid
masing-masing di Puncak Dunia. Lain dari itu tidak!"
Malaikat Obat Sakti menghela napas berat. Ka-kek yang telah
berusia hampir sembilan puluh tahun namun masih memiliki kulit segar itu
termenung se-
perti ada sesuatu yang memberatkan pikirannya. "Apakah
gurumu tak bercerita tantang tokoh
yang berjuluk Iblis Berkabung?" tanya Malaikat Obat
Sakti yang rupanya masih tak yakin dengan jawaban Sumbi.
Sumbi dengan tegas menggeleng.
"Kau pernah mendengar tokoh yang berjuluk Iblis
Berkabung, Arya?" Malaikat Obat Sakti mengalih-kan pertanyaannya pada Dewa
Arak.
"Tidak, Kek. Mendengarnya pun baru kali ini,"
Jawab Arya sejujurnya.
"Tak aneh kalau kau tak pernah mendengar tentang tokoh
yang berjuluk Iblis Berkabung itu, Arya," ucap Malaikat Obat Sakti setelah
menghela napas be-rat. "Karena memang telah hampir seratus tahun
julu-kannya tak pernah terdengar lagi. Mungkin yang ma-sih ingat dengan tokoh
yang luar biasa lihai itu hanya aku dan tiga datuk lainnya termasuk gurumu,
Sumbi."
"Sudah hampir seratus tahun tak pernah ter-dengar
lagi, Kek?!" Sumbi mengulang sebagian ucapan Malaikat Obat Sakti dengan
kening berkernyit dalam. Nada suaranya pun menyiratkan keheranan besar. Sumbi
malah menganggap Malaikat Obat Sakti keliru menyebutkan tahun.
"Benar, Sumbi. Seratus tahun," jawab kakek ahli
obat itu menegaskan.
"Kalau demikian...," kali ini Arya yang
membe-rikan tanggapan. "Iblis Berkabung telah muncul di du-nia persilatan
sejak kau masih kecil, Kek?"
"Bukan hanya itu, Arya," kilah Malaikat Obat
Sakti. "Iblis Berkabung telah merajalela di dunia persi-latan jauh sebelum
aku lahir ke dunia ini!"
"Ahhh...!"
Arya dan Sumbi berdesah kaget hampir berba-
rengan.
"Iblis Berkabung telah membuat kegemparan sekitar dua
ratus tahun lalu," tegas Malaikat Obat Sak-ti, "Ayahku yang
menceritakannya. Tepatnya, tokoh yang mengiriskan itu telah malang-melintang di
dunia persilatan di masa guru dari ayahku. Saat itu Iblis Berkabung benar-benar
di puncak kejayaannya. Tokoh itu bukan hanya menjadi raja kaum sesat tapi juga
memiliki kerajaan. Belasan tahun Iblis Berkabung menjadi raja di raja sebelum
akhirnya kejayaannya be-rakhir. Beberapa buah kerajaan bergabung dan ditam-bah
lagi dengan ratusan pendekar menyerbu kera-jaannya, membuat Iblis Berkabung
terlunta-lunta me-larikan diri. Di pelariannya tokoh itu tewas di tangan
belasan pendekar yang mengeroyoknya. Dan salah sa-tu pengeroyoknya adalah guru
dari ayahku."
"Jadi Iblis Berkabung telah tewas, Kek?!" tanya
Sumbi dengan suara bergetar.
"Semula guru dari ayahku dan belasan tokoh golongan
putih lainnya menyangka demikian. Memang setelah itu keadaan dunia persilatan
tak sekacau sebe-lumnya. Jarang terjadi tindak kejahatan yang semula terjadi di
mana-mana. Tapi lima belas tahun kemudian muncul lagi julukan Iblis Berkabung.
Saat itu ayahku masih berguru pada gurunya. Pembantaian terhadap tokoh-tokoh
golongan putih terjadi di mana-mana ka-rena balas dendam Iblis Berkabung."
"Apakah Iblis Berkabung yang muncul belakan-gan itu
adalah Iblis Berkabung yang telah mati, Kek?" tanya Sumbi lagi.
"Bukan."
"Lalu, mengapa julukannya sama dengan tokoh terdahulu
yang telah tewas?" desak Sumbi penasaran.
"Karena tokoh yang baru muncul ini memiliki
ciri-ciri dan ilmu yang sama dengan Iblis Berkabung
sebelumnya. Tokoh ini pun menggelari dirinya sendiri dengan julukan demikian.
Mungkin Iblis Berkabung yang kedua ini merupakan keturunan atau murid dari
Iblis Berkabung yang telah meninggal!" jelas Malaikat Obat Sakti.
Sumbi mengangguk-anggukkan kepala seperti layaknya orang
yang telah mengerti
"Dunia persilatan kembali kacau. Apalagi mun-culnya
Iblis Berkabung membuat tokoh-tokoh hitam yang selama ini merasa gentar untuk
membuat keka-cauan muncul lagi dan menimbulkan korban di sana-sini. Semula
tokoh-tokoh hitam itu melakukan keka-cauan secara sembunyi-sembunyi. Tapi
kemunculan Iblis Berkabung membuat mereka berani menciptakan kekacauan secara terang-terangan."
Malaikat Obat Sakti menghentikan ucapannya sejenak untuk
mengambil napas.
"Guru ayahku kembali turun gunung. Bersama dengan
belasan tokoh golongan putih yang dulu mem-bunuh Iblis Berkabung dibuatnya
perangkap untuk menjebak Iblis Berkabung yang baru. Jebakan yang dibuat
ternyata berhasil. Iblis Berkabung kedua ini pun tewas di tangan belasan tokoh
golongan putih."
"Syukurlah kalau demikian," ujar Sumbi den-gan
wajah berseri.
"Dunia kembali tenang. Tapi tiga puluh tahun setelah
itu kembali muncul Iblis Berkabung. Peristiwa seperti sebelumnya terulang.
Tokoh-tokoh golongan putih yang telah bersiap-siap untuk beristirahat kem-bali
turun tangan. Kemunculan Iblis Berkabung yang ketiga ini tak beda dengan yang
kedua. Tokoh-tokoh persilatan yang menyebabkan kematian Iblis Berka-bung
sebelumnya dibantai. Tokoh yang sudah tak ada
lagi yang mendapat pembalasan dendam adalah ketu-runannya.
Saat itu guru dari ayahku telah tewas kare-na usia tua. Ayahkulah yang turun
tangan. Ayahku bekerja sama dengan enam tokoh golongan putih. Tiga di antaranya
adalah guru dari Singa Berbulu Emas, ayah dari Pendekar Tangan Maut, dan guru
dari Dewa Gila Tanpa Bayangan."
"Apakah Iblis Berkabung berhasil dibunuh Kek?"
Sumbi yang tak sabaran segera mengajukan per-tanyaan ketika dilihatnya Malaikat
Obat Sakti terdiam.
Malaikat Obat Sakti mengangguk. "Iblis Berka-bung kali
ini bernasib lebih sial. Dia belum lama mun-cul dan merajai dunia kaum sesat.
Tapi telah lebih du-lu tewas di tangan tujuh tokoh golongan putih yang merupakan pentolan-pentolan dunia persilatan.
Sayang tiga di antara mereka harus gugur. Yang ber-hasil selamat adalah ayah
dan guru dari kami berem-pat," ujar Malaikat Obat Sakti menutup ceritanya.
"Setelah itu apakah Iblis Berkabung muncul
la-gi?" kali ini Dewa Arak yang bertanya.
"Sampai saat ini belum, Arya," jawab Malaikat
Obat Sakti. "Tapi aku yakin tokoh itu akan muncul la-gi. Hanya entah kapan
waktunya aku tak tahu."
"Menurutmu apakah Iblis Berkabung yang muncul kedua
dan seterusnya merupakan keturunan dari Iblis Berkabung yang pertama,
Kek?" tanya Arya lagi.
"Entahlah, Arya. Semula guru dari ayahku mengira
demikian. Tapi mengapa keturunan itu tak pernah putus? Mungkinkah setiap Iblis
Berkabung yang muncul selalu meninggalkan anak atau murid le-laki? Aku sendiri
jadi merasa heran. Tapi mudah-mudahan saja demikian dan ketidakmunculan Iblis
Berkabung selanjutnya karena tak ada lagi keturu-
nannya," harap Malaikat Obat Sakti.
Suasana menjadi hening setelah Malaikat Obat Sakti selesai
berbicara. Masing-masing tenggelam da-lam alun pikirannya.
"Itukah alasannya kau menganggap kemam-puan yang kau
miliki tak seberapa, Kek?" celetuk Sumbi memecahkan keheningan yang
mencekik.
"Benar, Sumbi. Kemampuan yang kumiliki te-rus terang
masih belum mencapai tingkatan ayahku. Dan menurut dugaanku tingkat gurumu dan
dua da-tuk lainnya pun demikian. Padahal Iblis Berkabung sa-ja dulu dikeroyok
oleh tujuh pentolan persilatan baru bisa dikalahkan. Bagaimana pula jika hanya
aku sen-diri yang diperbandingkan dengan Iblis Berkabung?" urai Malaikat
Obat Sakti.
"Tapi bukan mustahil Iblis Berkabung yang akan muncul
ke dunia persilatan nanti kepandaian yang dimilikinya lebih rendah dari yang
sebelumnya," Sumbi mengajukan pendapatnya.
"Itulah yang aneh untuk dipikirkan, Sumbi, Arya,"
keluh Malaikat Obat Sakti. "Tingkat kepandaian Iblis Berkabung dari yang
pertama sampai yang terak-hir tidak semakin rendah melainkan semakin mening-gi.
Guru dari ayahku lebih lihai dan gurunya, karena ayah belajar tidak pada satu
guru. Mungkin tingkatku hanya menyamai guru ayahku. Kalau Iblis Berkabung
muncul lagi dengan kemampuan seperti yang pertama saja aku bukanlah apa, apa
baginya."
Sumbi pun diam karena bisa merasakan kebe-naran yang tak
dapat dibantah dalam ucapan Malaikat Obat Sakti. Arya juga membisu memikirkan
ucapan Malaikat Obat Sakti. Tiba-tiba terbersit satu pikiran di benak Arya.
"Kok, tadi kau katakan aku telah bebas dari
pengaruh racun. Bagaimana aku bisa yakin kalau ucapanmu
benar. Maaf Kek, bukannya aku tak mem-percayai ucapanmu atau meragukan
kemampuan pen-gobatanmu. Tapi aku sudah dua kali tertipu." Secara singkat
dan jelas Arya kemudian menceritakan keja-dian yang dialaminya.
"Sewaktu tenagamu pulih kembali setelah men-gusir
racun itu dengan semadi dan juga dengan arak dari gucimu, bukankah kau
mengerahkan tenaga da-lam?"
Pertanyaan Malaikat Obat Sakti itu dijawab Arya dengan
anggukan kepala.
"Apakah kau merasakan adanya denyut di ma-tamu, meski
hanya sebentar?"
"Benar, Kek," jawab Arya singkat.
"Nah! Itulah pertanda kalau racun masih bersa-rang di
tubuhmu, Arya. Racun ini memang luar biasa. Tak bisa terusir tuntas oleh
pengerahan hawa murni atau sembarang obat. Obat itu harus khusus karena racun
ini pun jarang didapat. Adanya hanya di sekitar Laut Selatan dan terdapat pada
seekor ikan pari yang muncul setiap lima tahun sekali. Ikan pari merah! Ikan
yang mungkin belum pernah kau lihat seumur hidup-mu."
Arya dan Sumbi tampak mengerahkan tenaga dalam mereka.
Denyut seperti yang dikatakan Malaikat Obat Sakti tak dirasakan lagi.
"Kau harus menunggu beberapa hari agar tena-gamu pulih
kembali seperti sedia kala, Arya. Racun itu memang tak bisa terusir seluruhnya
secara sekaligus. Racun itu keluar sedikit demi sedikit di saat kau
ber-napas," tambah Malaikat Obat Sakti.
Arya dan Sumbi mengangguk-anggukan kepala mengerti.
"Ah, ya...! Aku hampir lupa akan dirimu, Arya. Apakah
maksud kedatanganmu kemari? O ya, aku in-gat. Tapi aku masih belum tahu tokoh
yang kau mak-sudkan sebagai ayahmu itu."
"Beliau berjuluk Pendekar Ruyung Maut, tapi namanya
adalah Tribuana," beritahu Arya.
"Tribuana?" ulang Malaikat Obat Sakti dengan
wajah berseri. "Ah betapa pikunnya aku, Arya. Padahal sejak pertama kali
melihatmu aku merasa mengenal dirimu. Wajahmu amat mirip sekali dengan
Tribuana. Beliau seorang pendekar yang mengagumkan, Arya. Dulu sebelum
meninggalkan tempat ini memintaku untuk memberikan nama pada anaknya jika dia
meni-kah nanti. Lalu ku usulkan saja nama Arya. Tribuana berjanji untuk
memenuhi usulku. Malah dia bermak-sud menambahkan kata Buana di belakang nama
Arya. Apakah kau mempunyai nama lengkap Arya Bu-ana?"
Arya mengangguk seraya tersenyum lebar. "Sungguh tak
kusangka Tribuana akan mene-
pati janjinya," gumam Malaikat Obat Sakti setengah tak
percaya. Sepasang matanya dilayangkan ke langit-langit seakan di sana tertera
gambar Pendekar Ruyung Maut. (Untuk jelasnya mengenai tokoh yang berjuluk
Pendekar Ruyung Maut, silakan baca serial Dewa Arak episode: "Pedang
Bintang").
Arya membiarkan saja Malaikat Obat Sakti tenggelam dalam
lamunannya.
"Bagaimana kabar Tribuana sekarang, Arya? Ah, betapa
rinduku kepadanya. Puluhan tahun la-manya dia meninggalkan tempat ini. Ayahmu
seorang yang berwatak baik, Arya. Berbanggalah kau memiliki ayah
sepertinya," ujar Malaikat Obat Sakti kemudian setelah tersadar dari
lamunannya.
"Beliau telah gugur, Kek," beritahu Arya tenang.
Luka hatinya akibat kematian ayahnya telah tak terasa lagi. Kendati memang
harus diakui Arya kalau rasa se-dihnya sulit untuk dilenyapkan.
Seperti yang telah diduga Arya, Malaikat Obat Sakti tak
terlihat menampakkan keterkejutan di wa-jahnya. Bagi orang seperti kakek
berjenggot panjang ini guncangan perasaan yang melanda hati bisa diredam-nya
hingga tak tampak di wajah. Tanpa dimintai Arya kemudian menceritakan semua
kejadian yang menye-babkan ayahnya tewas. Malaikat Obat Sakti menden-garkannya
dengan penuh perhatian (Untuk jelasnya si-lakan baca episode perdana Dewa Arak:
"Pedang Bin-tang").
"Aku bangga dan merasa ikut bahagia Tribuana bisa
menurunkan seorang pendekar muda sepertinya. Kau tak ubahnya dia di waktu muda,
Arya," ucap Ma-laikat Obat Sakti setelah Arya menyelesaikan ceri-tanya.
Arya hanya tersenyum. Sumbi pun ikut terse-nyum. Kemudian
gadis ini mengerling ke arah Arya.
"Terima kasih atas pertolongan yang kau beri-kan
padaku, Arya," ucap Sumbi.
Murid Pendekar Seribu Tangan ini memang ta-hu kalau Dewa Arak
yang menolongnya dari ancaman maut Raja Laut Bermuka Setan. Hanya saja dia tak
ta-hu kalau wajah Dewa Arak pernah mampir di dadanya!
"Pertolongan macam apa, Sumbi? Aku pun mendapatkan
pertolongan yang sama dari Malaikat Obat Sakti. Beliaulah yang patut kau
ucapkan terima kasih."
Baru saja Arya menyelesaikan ucapannya, ter-dengarlah bunyi
tawa yang menggelegar. Keras bukan main sehingga mampu membuat pondok tempat
Ma-
laikat Obat Sakti, Arya, dan Sumbi berada berguncang bagai
digoyang-goyangkan.
Arya saling berpandangan dengan Malaikat Ob-at Sakti. Wajah
kedua tokoh ini tampak memancarkan keterkejutan besar. Bunyi tawa yang membuat
pondok itu bergoncang keras dan mungkin akan roboh menja-di pertanda kalau
pemilik tawa memiliki tenaga dalam sukar diukur. Yang lebih mengagetkan lagi
adalah tak adanya pengaruh sedikit pun pada diri mereka bertiga!
Kenyataan ini menunjukkan pada Dewa Arak dan Malaikat Obat
Sakti kalau pemilik tawa benar-benar memiliki kepandaian yang tak masuk di
akal. Tenaga dalamnya dapat digunakan untuk memporak-porandakan pondok tanpa
mengganggu penghuninya!
***
5
Sumbi yang masih kurang pengalaman segera bangkit dari
berbaringnya. Wajah gadis ini menampak-kan ketegangan hebat Dia duduk di atas
balai-balai dengan kedua kaki terjulur. Ditatapnya Dewa Arak dan Malaikat Obat
Sakti. Dua tokoh itu tetap tenang di tempatnya. Arya masih terbaring di
balai-balai, se-dangkan Malaikat Obat Sakti tetap duduk di kursinya. Kedua
tokoh ini bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Sumbi jadi malu hati. Maka
maksudnya untuk me-ninggalkan balai-balai diurungkan. Gadis ini tetap du-duk
dengan kedua kaki terjulur.
Ketenangan sikap Arya dan Malaikat Obat Sakti karena tahu
kalau pemilik tawa hanya bermaksud memporak-porandakan pondok, tapi tidak untuk
me-
robohkannya. Pengalaman yang mengajarkan pada dua tokoh ini
untuk bisa mengetahuinya. Rupanya ada tokoh hebat yang hendak menjumpai mereka
dengan lebih dulu mempertunjukkan kemampuannya.
Dugaan Dewa Arak dan Malaikat Obat Sakti memang tak keliru.
Setelah beberapa saat terguncang-guncang bagian pondok itu beterbangan
meninggalkan tempatnya. Mula-mula atap pondok yang terbuat dari rumbia,
kemudian disusul dengan dinding-dindingnya yang terbuat dari papan.
Sumbi sampai terlonjak kaget ketika melihat bahan pondok beterbangan.
Hal ini membuat Malaikat Obat Sakti dan kedua tamunya tak tertutup pondok lagi.
Ketiganya tegap di tempat masing-masing, di ba-lai-balai dan kursi. Hanya saja
sekarang sekeliling me-reka adalah hamparan tanah lapang yang luas.
Sumbi tak tahan untuk tidak membelalakkan sepasang matanya.
Potongan-potongan pondok yang beterbangan itu membentuk pondok lagi! Jarak
pon-dok baru ini sekitar sepuluh tombak dari tempat se-mula.
Dewa Arak dan Malaikat Obat Sakti terlihat tak menunjukkan
kekaguman. Padahal, di dalam hati ke-dua tokoh ini merasa terkejut bukan main.
Pertunju-kan yang dilakukan oleh pemilik tawa itu memang ter-lalu luar biasa.
Dengan hanya mempergunakan tawa mampu memporak-porandakan pondok dan
melem-parkannya sejauh beberapa tombak untuk kemudian membentuknya kembali!
Benar-benar sebuah pertun-jukan tenaga dalam yang amat luar biasa.
Malaikat Obat Sakti merasakan ketegangan be-sar merayapi
hatinya. Harus diakuinya kalau dirinya tak akan sanggup melakukan tindakan
demikian. Di lain pihak, Dewa Arak pun merasa ragu akan dapat
berbuat seperti itu.
Tempat di mana seharusnya terdapat pintu pondok berdiri
sesosok tubuh tinggi kurus. Pakaiannya serba putih dan berkibaran ditiup oleh
angin. Sosok yang diyakini Malaikat Obat Sakti, Dewa Arak, dan Sumbi sebagai
lelaki ini sukar untuk diterka usianya. Wajahnya terlihat amat putih seperti
dicat dengan ka-pur. Sepasang matanya yang bersinar kehijauan dan menyorotkan
sinar tajam menusuk tampak menye-ramkan, karena sepasang alisnya menukik tajam
ke tengah-tengah. Lelaki ini kelihatan mengiriskan jan-tung.
Sumbi merasa ngeri melihatnya. Di dalam hati dia hams
mengakui kalau bertemu lelaki berpakaian putih ini sendirian di malam hari,
akan ketakutan se-tengah mati. Lelaki berpakaian serba putih ini lebih mirip
siluman daripada seorang manusia.
"Iblis Berkabung...!" desis Malaikat Obat Sakti
dengan suara tercekik di tenggorokan. Nada ucapan kakek ini menyiratkan
kegentaran.
Sumbi yang memang sudah merasa gentar me-lihat tindakan dan
ciri-ciri pemilik tawa semakin ciut nyalinya begitu mengetahui kalau lelaki
berpakaian serba putih ini adalah Iblis Berkabung.
Dewa Arak juga terkejut bukan main menden-garnya. Sekarang
baru disaksikan sendiri kebenaran ucapan Malaikat Obat Sakti. Iblis Berkabung
memang seorang tokoh sesat yang luar biasa lihai. Pemuda be-rambut putih
keperakan ini merasa menyesal saat ini keadaannya tak memungkinkan untuk
bertarung. Apa-lagi jika lawan yang dihadapi sehebat Iblis Berkabung. Arya
tiba-tiba mengkhawatirkan keselamatan Malaikat Obat Sakti.
"Inikah Iblis Berkabung yang kau ceritakan itu,
Kek?" tanya Arya untuk memastikan.
"Benar," jawab Malaikat Obat Sakti dengan su-ara
seperti keluhan. "Dialah Iblis Berkabung. Ayahku telah menceritakan semua
ciri-cirinya. Selagi masih ada kesempatan segeralah kabur dari sini, Arya. Ajak
pula Sumbi. Aku akan mencoba untuk menahannya. Cepat. Sebelum
terlambat...!"
"Ha ha ha....!"
Iblis Berkabung tertawa bergelak. Tokoh yang mengerikan ini
sejak tadi tak segera melakukan tinda-kan. Dia malah menyapu wajah-wajah yang
berada di depannya dengan pandangan mata. Baru setelah dira-sa cukup
perhatiannya dialihkan pada Malaikat Obat Sakti seraya mengumbar tawa.
"Apakah kau yang berjuluk Malaikat Obat Sak-ti?
Keturunan dari tokoh-tokoh pengecut yang telah membunuh Iblis Berkabung
terdahulu?!"
"Tidak salah!" jawab Malaikat Obat Sakti
me-mantapkan suaranya. "Aku memang Malaikat Obat Sakti, dan keturunan dari
pendekar yang telah mele-nyapkan Iblis Berkabung leluhurmu.!"
"Begitukah?!" dengus Iblis Berkabung dengan suara
yang tak mirip manusia, tapi seperti hantu penghuni kuburan, "Sekarang kau
yang akan menebus kesalahan leluhurmu itu, Manusia Goblok!"
"Kau keliru, Iblis!" sentak Malaikat Obat Sakti
tak mau kalah gertak. "Akulah yang akan mengirim kau ke neraka menyusul
leluhur-leluhurmu!"
Malaikat Obat Sakti kemudian melompat me-nerjang. Tapi di
pertengahan jalan tubuhnya diguling-kan dan begitu bangkit, masih dengan
kuda-kuda ren-dah, dikirimkannya gedoran ke arah pusar Iblis Berka-bung dengan
jari-jari terkepal!
Iblis Berkabung yang sejak tadi tak bergeming
dari tempatnya mendengus melihat serangan itu. Ke-mudian
kepalan tangannya dihentakkan memapaki se-rangan Malaikat Obat Sakti.
Bresss! "Kek...!"
Seruan bernada kekhawatiran itu keluar dari mulut Dewa Arak
dan Sumbi. Mereka melihat tubuh Malaikat Obat Sakti terpental dan
terguling-guling ke belakang setelah benturan terjadi. Di lain pihak, Iblis
Berkabung sedikit pun tak bergeming!
Arya dan Sumbi bangkit dari balai-balai dan bersiap untuk
membantu Malaikat Obat Sakti mela-wan tokoh sesat yang demikian tangguh itu.
Kedua muda-mudi ini tak memperhatikan lagi kalau keadaan mereka tak
memungkinkan untuk bertarung.
Apalagi menghadapi tokoh selihai Iblis Berka-bung. Malah,
Sumbi lupa dengan rasa takutnya karena kekhawatiran yang besar terhadap
keselamatan Malai-kat Obat Sakti.
"Tidak usah pikirkan aku!" sentak Malaikat Ob-at
Sakti. "Cepat kalian tinggalkan tempat ini!"
Malaikat Obat Sakti kembali menerjang Iblis Berkabung. Kali
ini mempergunakan sepasang ka-kinya. Sedapat mungkin kakek ini berusaha untuk
menyembunyikan dari pandangan Arya dan Sumbi akan malapetaka yang menimpa
tangan kanannya. Tangan itu hancur lebur tulang-tulangnya dan rasa nyeri yang
luar biasa mendera. Namun Malaikat Obat Sakti berusaha keras tak mengeluarkan
keluhan. Bah-kan menyeringai pun, tidak!
Dewa Arak dan Sumbi saling berpandangan. Sepasang muda-mudi
ini teringat kembali den-
gan keadaan mereka setelah mendengar seruan Malai-kat Obat
Sakti. Mereka tahu kalau kemampuannya se-
karang tak ada artinya sama sekali. Sungguh pun demikian
untuk membiarkan saja Malaikat Obat Sakti menentang maut sendirian mereka
merasa tak tega. Bagaimana mungkin meninggalkan Malaikat Obat Sak-ti yang telah
menyelamatkan nyawa mereka dari ma-laikat maut?
"Kurasa kau saja yang pergi, Sumbi. Akan ku usahakan
untuk membantu Malaikat Obat Sakti," ujar Arya memberi saran.
"Enak saja! Kau kira hanya dirimu saja yang berwatak
gagah, Dewa Arak? Aku pun bukan seorang pengecut! Kau saja yang menyelamatkan
diri biar aku yang membantu Malaikat Obat Sakti!" bantah Sumbi tak mau
kalah.
Arya pun terdiam. Disadari tak ada gunanya melanjutkan
perdebatan. Pemuda berambut putih ke-perakan ini segera melesat menghampiri
kancah perta-rungan dengan diikuti oleh Sumbi.
Malaikat Obat Sakti tentu saja melihat tinda-kan itu, namun
kakek ini tak berkata apa-apa lagi. Akan sia-sia saja menyuruh kedua muda-mudi
itu per-gi. Mereka tak akan mau menurutinya. Maka tak dis-erukannya lagi
teriakan untuk mencegah. Dia malah kemudian memusatkan perhatian untuk menyerang
Iblis Berkabung.
Selama beberapa gebrakan Iblis Berkabung mengelak ke sana
kemari. Hanya gerakan-gerakan se-derhana yang dilakukannya karena tanpa
berpindah tempat. Tapi tak satu pun serangan Malaikat Obat Sakti yang mengenai
sasaran. Semuanya kandas dan menghantam tempat kosong.
"Kuras seluruh kemampuanmu, Tua Bangka? Hanya sampai
di sini sajakah kemampuan yang kau miliki?!" ejek Iblis Berkabung sambil
mengelakkan se-
tiap serangan yang datang.
Tokoh sesat yang mengiriskan itu rupanya tak ingin segera
menamatkan riwayat Malaikat Obat Sakti. Kakek ahli pengobatan itu
dipermainkannya lebih dulu sebelum dibunuh, persis tingkah seekor kucing
sewak-tu mendapatkan mangsa.
Lima jurus Malaikat Obat Sakti menyerang tanpa hasil. Dan
kenyataan ini membuat datuk persi-latan golongan putih ini merasa tersinggung
bukan main. Tingkah Iblis Berkabung jelas-jelas meremehkan dirinya. Maka
serangan-serangan yang dilancarkan kemudian lebih dahsyat. Kakek berjenggot
panjang ini tak mempedulikan pertahanan diri lagi, yang dititikbe-ratkan hanya
pada menyerang.
Beberapa tombak dari kancah pertarungan De-wa Arak dan
Sumbi memperhatikan jalannya pertem-puran. Sepasang muda-mudi ini belum terjun
mem-bantu Malaikat Obat Sakti. Masing-masing mempunyai alasan yang berbeda.
Sumbi tak segera turun tangan karena merasa heran. Menurut
penglihatannya, Malaikat Obat Sakti berada di pihak yang mendesak. Pandangan
Sumbi memang belum mampu untuk dapat melihat dengan jelas gerakan tokoh-tokoh
yang tengah terlibat perta-rungan. Gerakan Malaikat Obat Sakti dan Iblis
Berka-bung terlalu cepat untuk diikuti sepasang matanya. Yang dilihatnya hanya
bayangan kecoklatan yang te-rus-menerus bergerak melancarkan serangan.
Tak demikian penilaian yang didapat Dewa Arak. Pemuda
berambut putih keperakan itu harus mengakui dalam hati kalau Iblis Berkabung
merupa-kan tokoh yang tak ada taranya. Disaksikannya sendiri kedahsyatan dan
kecepatan setiap serangan Malaikat Obat Sakti. Tapi, toh Iblis Berkabung mampu
menge-
lakkannya secara mudah.
Dewa Arak yakin benar dirinya tak akan mam-pu melakukan
tindakan seperti yang diperbuat Iblis Berkabung. Serangan-serangan Malaikat
Obat Sakti datang terlalu cepat dan penuh gerakan-gerakan lanju-tan yang tak
terduga. Merupakan hal yang berbahaya mengelakkan serangan-serangan seperti itu
tanpa ber-pindah kedudukan. Namun, Iblis Berkabung mampu melakukannya!
Ketidakadaan serangan balasan dari Iblis Ber-kabung yang
membuat Dewa Arak tak turun tangan membantu. Pemuda ini memperhatikan jalannya
per-tarungan dengan sepasang mata hampir tak berkedip.
"Kurasa sudah cukup permainan ini, Tua Bangka!"
Iblis Berkabung berseru keras ketika Malaikat Obat Sakti
telah melancarkan serangan sampai sepu-luh jurus. Dan pada jurus ke sebelas
Malaikat Obat Sakti mengirimkan bacokan sisi tangan kanan ke arah leher Iblis
Berkabung.
Wuttt!
Serangan Malaikat Obat Sakti mengenai angin ketika Iblis
Berkabung merendahkan tubuhnya. Gera-kan itu disusuli dengan gedoran tapak
tangan kanan terbuka ke arah dada.
Desss! "Aaaakh...!"
Malaikat Obat Sakti yang tak bisa mengelakkan serangan itu
karena terlalu bernafsu menyerang, men-geluarkan jeritan menyayat hati. Gedoran
Iblis Berka-bung secara telak menghantam dadanya.
Tubuh Malaikat Obat Sakti melayang deras ke belakang
laksana daun kering diterbangkan angin. Semburan darah kental muncrat dari
mulutnya.
"Kek...!"
Untuk kedua kalinya Dewa Arak dan Sumbi berseru kaget dan
khawatir. Seakan berlomba Sumbi dan Dewa Arak melesat mengejar tubuh Malaikat
Obat Sakti yang masih melayang-layang. Iblis Berkabung hanya tersenyum mengejek
melihat tindakan mereka yang terlalu mengkhawatirkan keselamatan Malaikat Obat
Sakti. Tokoh sesat ini tahu pukulannya telah cu-kup untuk mengirim nyawa Malaikat
Obat Sakti ke ne-raka.
Kendati demikian, Iblis Berkabung yang memi-liki watak
kejam merasa tidak puas. Kekhawatiran Dewa Arak dan Sumbi yang besar terhadap
keselama-tan Malaikat Obat Sakti menimbulkan maksud keji di hatinya. Iblis
Berkabung segera mengembangkan jari-jari tangan kanannya, Sekejap jari yang
semula ber-warna putih seperti dikapur itu merah membara. To-koh sesat ini
kemudian menjentikkan jari-jari itu.
Lima leret sinar kebiruan meluncur dari ujung jari Iblis
Berkabung. Cepat luar biasa sinar-sinar itu mengarah ke tubuh Malaikat Obat
Sakti yang masih melayang-layang di udara.
Zzzbbb...!
Bunyi letupan tak keras terdengar ketika lima larik sinar
kebiruan menghantam tubuh Malaikat Obat Sakti. Kakek berjenggot panjang itu
memekik memilu-kan. Lima bagian depan tubuhnya langsung terbakar seiring dengan
bolongnya bagian-bagian tubuh yang terkena sinar. Hanya dalam sekejap api yang
timbul membakar sekujur tubuh Malaikat Obat Sakti.
"Kek...!"
Kembali jeritan itu dikeluarkan Arya dan Sum-bi. Mereka
terasa terpukul sekali melihat tubuh Malai-kat Obat Sakti telah lebih dulu
dibungkus kobaran api
sebelum berhasil mereka tangkap.
Dewa Arak benar-benar dilibat penyesalan yang amat besar.
Seperti juga Sumbi, pemuda ini menghen-tikan larinya dan menatap tubuh yang
terbungkus ko-baran api itu hingga jatuh di tanah. Arya dan Sumbi terpaku kaku
di tempatnya.
"Ha ha ha...!"
Iblis Berkabung tertawa bergelak melihat kese-dihan yang
diderita kedua muda mudi itu. Maksud ha-tinya untuk memukul perasaan mereka
berhasil den-gan baik.
Sekujur tubuh Dewa Arak menggigil keras se-perti orang
terkena demam tinggi. Pemuda berambut putih keperakan ini geram bukan main
melihat keke-jaman Iblis Berkabung. Arya tahu tanpa diberikan se-rangan
terakhir tadi nyawa Malaikat Obat Sakti pun belum tentu dapat diselamatkan. Tak
selayaknya kalau Iblis Berkabung mengirimkan serangan susulan.
"Terkutuk!" maki Arya dengan wajah merah pa-dam.
"Ha ha ha...!"
Tawa Iblis Berkabung dengan nada yang tak pantas keluar
dari mulut manusia menyambuti ma-kian Dewa Arak. Lelaki berpakaian serba putih
ini ke-lihatan gembira bukan main melihat Arya tengah mur-ka.
"Kau tak senang kalau kakek yang sudah mau mati itu
kubunuh? Mau membalas dendam? Lebih baik kau urungkan saja niatmu. Anjing
kecil. Kau tak termasuk orang-orang yang harus menjadi korbanku! Tapi apabila
kau memaksa, aku pun tak keberatan mengirim nyawamu ke neraka!"
"Keparat!"
Tanpa mempedulikan keadaan dirinya yang tak
memungkinkan untuk menghadapi tokoh selihay Iblis
Berkabung, Dewa Arak melesat menerjang.
Guci araknya diayunkan siap untuk dihantam-kan ke kepala
lawan. Melihat Dewa Arak telah mengi-rimkan serangan, Sumbi tak tinggal diam.
Gadis ber-pakaian merah ini pun meluruk ke arah Iblis Berka-bung.
Dengusan merendahkan dikeluarkan Iblis Ber-kabung. Kekuatan
dan kedahsyatan serangan sepa-sang muda-mudi itu amat jauh di bawah serangan
Ma-laikat Obat Sakti. Padahal, kakek berjenggot panjang itu saja serangannya
hampir tak berarti apa-apa ba-ginya.
"Cecoro-cecoro seperti kalian tak layak untuk berhadapan
denganku!"
Iblis Berkabung mengibaskan tangannya seper-ti orang
mengusir nyamuk. Angin keras yang keluar dari gerakannya membuat Arya dan Sumbi
terdorong ke belakang dan jatuh terguling-guling. Tapi mereka bukan termasuk
orang-orang yang mudah digertak. Begitu kekuatan yang membuat tubuh mereka
jatuh terguling-guling habis, keduanya bergegas bangkit berdiri hendak
menyerang kembali.
"Huakh...!"
Dewa Arak dan Sumbi memuntahkan darah se-gar dari mulutnya.
Angin serangan Iblis Berkabung te-lah membuat sepasang muda-mudi ini terluka
parah. Maksud hati untuk kembali menyerang pun terpaksa diurungkan.
Kalau mereka memaksakan diri menyerang, lu-ka yang diderita
akan semakin parah dan mungkin dapat membawa mereka ke lubang kubur. Sementara
untuk mengerahkan tenaga dalam bisa membuat luka itu semakin parah. Yang dapat
dilakukan sepasang
muda-mudi ini hanya menatap Iblis Berkabung dengan sorot
mata dendam.
"Ha ha ha...!"
Iblis Berkabung hanya tertawa bergelak. Den-gan sorot mata
penuh kemenangan dan ejekan dita-tapnya Arya dan Sumbi.
"Kalian beruntung aku telah cukup gembira dengan
berhasil menewaskan tua bangka itu. Sehing-ga, aku tak berselera lagi untuk
mengirim kalian ber-dua ke akhirat. Apalagi aku telah bersumpah untuk lebih
dulu mengurus keturunan dan ahli waris penge-cut-pengecut yang telah membunuh
Iblis Berkabung terdahulu. Kelak apabila seleraku timbul, kalian akan kubunuh!
Ha ha ha...!"
Sambil tertawa-tawa Iblis Berkabung memba-likkan tubuh dan
melesat meninggalkan tempat itu. Dewa Arak dan Sumbi tak bisa berbuat apa pun
untuk mencegahnya. Kedua orang muda yang tak berdaya ini hanya bisa menatap
kepergian tokoh sesat mengi-riskan hati itu dengan sorot mata penuh kemarahan!
***
Angin malam yang dingin berhembus menusuk sampai ke tulang.
Lolong anjing hutan yang mengaung panjang menambah keseraman suasana malam.
Saat itu langit cukup cerah. Sang dewi malam yang me-nampakkan diri di langit
secara utuh membuat kea-daan di persada kelihatan terang. Bahkan sinar bulan
purnama mampu menerangi gelapnya hutan.
Di hutan kecil itu tampak dua sosok tubuh berdiri saling
berhadapan dalam jarak sekitar lima tombak.
Yang satu bertolak pinggang, sedangkan yang
lain bersedekap. Masing-masing saling menatap sosok di
depannya dengan sinar mata yang sulit untuk diter-ka. Yang jelas, mata kedua
sosok ini mencorong tajam bak mata harimau dalam gelap.
"Apa maksudmu mengirim utusan untuk me-mintaku datang
ke tempat ini, Muka Setan?" tanya so-sok yang bertolak pinggang.
Ucapan ini sebenarnya pelan, tapi ternyata mampu bergema ke
seluruh penjuru tempat itu. Bina-tang-binatang malam yang tengah berkeliaran ke
sana kemari tampak terkejut. Mereka bergegas menjauhkan diri dari tempat
pertemuan kedua tokoh yang sama-sama memiliki ciri-ciri mengiriskan itu.
"Apa maksudmu sewaktu datang ke istanaku Serigala
Hitam?" sosok yang bersedekap malah balas bertanya.
"Maksudku memerintahkanmu untuk datang ke hutan ini
pun demikian."
Dua sosok itu bukan lain dari Raja Serigala Hi-tam dan Raja
Laut Bermuka Setan. Dua tokoh yang menjadi dedengkot di wilayah masing-masing.
Mereka mengangkat diri sendiri di atas pihak yang diajak bica-ra. Oleh karena
Raja Serigala Hitam menggunakan ka-ta Raja Laut Bermuka Setan meminta
kedatangannya. Sebaliknya, Raja Laut Bermuka Setan mempergunakan kata memerintahkan.
"Begitukah?!" ejek Raja Serigala Hitam sinis.
"Bukankah kau semula meremehkan dan bahkan me-nolak usulku? Mengapa kau
mendadak berubah pen-dirian? Apakah bocah-bocah ingusan yang kau kata-kan tak
ada artinya itu datang menyatroni sarangmu dan mengobrak-abriknya?!"
"Ha ha ha...!"
Raja Laut Bermuka Setan meledakkan tawa.
Lelaki kurus ini merasa geli mendengar ucapan sain-gannya.
"Mana mungkin mereka berani menyatroni is-tanaku!
Apakah mereka sudah mempunyai nyawa rangkap? Jangankan bocah-bocah yang belum
hilang dari bau kencur itu, setan sekalipun tak akan berani mendatangi
sarangku!"
Raja Serigala Hitam mendengus. Tawa menge-jek pun
dikeluarkannya. Dia tahu Raja Laut Bermuka Setan menyembunyikan sesuatu. Kalau
tak ada apa-apanya tak akan mungkin pendirian lelaki kurus itu berubah begitu
cepat.
"Aku berubah pendirian karena terpikir olehku dengan
penggabungan kita berdua akan bisa lebih menguntungkan. Kedudukan kita semakin
kuat. Dan itu berarti kita akan bisa berbuat lebih banyak. Bah-kan,
penggabungan kita akan membuat golongan hi-tam berjaya!" lanjut pimpinan
bajak laut selatan men-gajukan alasan yang dicari-cari.
Alasan sebenarnya Raja Laut Bermuka Setan ini adalah
pertemuannya dengan Sumbi dan Dewa Arak yang mengakibatkan nya terluka dalam
beberapa hari yang lalu. Memang benar dia telah menyebarkan racun berbahaya
sebelum pergi meninggalkan Dewa Arak. Tapi, lelaki kurus ini tak yakin Sumbi
dan Dewa Arak akan mati. Tingkat kepandaian Sumbi membuat Raja Laut Bermuka
Setan terbuka pikirannya. Kalau Sumbi saja sudah sehebat itu, bagaimana pula
gu-runya? Padahal tokoh setingkatan guru Sumbi masih ada tiga orang lagi. Dan
tokoh setingkatan Sumbi ke-mungkinan lebih dari satu orang. Belum lagi
diperhi-tungkan keberadaan Dewa Arak. Itulah sebabnya sete-lah berpikir
beberapa hari, Raja Laut Bermuka Satan memutuskan untuk menerima tawaran
bergabung dari
Raja Serigala Hitam.
"Aku bersedia menerima usulmu itu, Muka
Se-tan...," ucap Raja Serigala Hitam menggantung uca-pannya di tengah
jalan.
Raja Laut Bermuka Setan mendengus. Lelaki ini tahu ucapan
yang dihentikan itu menjadi pertanda kalau usul yang dikemukakannya tak akan
demikian mudah diterima oleh Raja Serigala Hitam. Tokoh sesat pimpinan wilayah
utara ini rupanya merasa sakit hati dengan sikapnya waktu itu. Dan sikap Raja
Serigala Hitam yang berbalik enggan membuat Raja Laut Ber-muka Setan merasa
geram.
"Rupanya kau mengajukan syarat pula, Seriga-la Hitam?
Kau meniru tingkah ku waktu itu, heh?!"
"Hanya sedikit mirip, Muka Setan," jawab Raja
Serigala Hitam kalem. "Hanya saja persyaratannya berbeda denganmu. Nah,
dengarkan baik-baik. Aku bersedia untuk bergabung denganmu asal aku yang
menjadi pimpinan tertinggi!"
"Syarat gila!" rutuk Raja Laut Bermuka Setan
dengan sorot mata berkilat-kilat karena kemarahan yang melanda.
"Seharusnya malah sebaliknya, Serigala Hitam. Apabila kita bergabung aku
yang harus menjadi pimpinan tertinggi. Dan kau kuberi kedudukan yang terhormat
menjadi wakilku. Bagaimana? Enak bukan?" "Hal itu hanya bisa terjadi
apabila aku telah menjadi mayat, Muka Setan!" tandas Raja Serigala Hi-
tam keras.
"Apa susahnya melakukan hal itu?!" sergah Ra-ja
Laut Bermuka Setan tak kalah kerasnya.
"Kaulah yang akan kubuat menjadi mayat tak berarti,
Muka Setan!"
Raja Serigala Hitam yang tak kuasa menahan amarahnya lagi
segera melompat, menerjang Raja Laut
Bermuka Setan. Di tengah jalan tubuhnya diputar mengikuti
putaran kaki kanannya yang laksana bal-ing-baling. Suasana yang semula hening
segera terpe-cahkan oleh deru angin bercicitan tajam dari putaran kaki Raja Serigala
Hitam. Dengan tubuh serta kaki berputaran tokoh sesat itu meluncur ke arah
lawan-nya. Arah yang dijadikan sasaran serangan adalah ke-pala Raja Laut
Bermuka Setan!
Raja Laut Bermuka Setan mengenal benar sua-tu serangan
maut. Buru-buru tubuhnya dilempar ke belakang sehingga serangan perdana
lawannya men-genai tempat kosong. Tapi, Raja Serigala Hitam segera menyusulinya
dengan serangan lanjutan. Raja Laut Bermuka Setan menyambutnya dengan hangat.
Perta-rungan antara dua pimpinan wilayah yang berbeda ini pun segera
berlangsung.
Hanya berbeda waktu sebentar saja dua datuk sesat yang
semula saling berbincang-bincang untuk bersatu kini telah saling serang untuk
membunuh. Tak puas hanya dengan bertangan kosong, masing-masing pihak
menggunakan senjata andalan. Raja Laut Ber-muka Setan menggunakan dayung.
Sementara Raja Serigala Hitam mempergunakan sepasang cakar baja yang memiliki
tangkai sebagai pegangan. Dengan adanya senjata andalan di tangan kedua tokoh
ini tak ubahnya harimau yang tumbuh sayap. Kedahsyatan serangan mereka berlipat
ganda.
Ternyata tingkat kepandaian kedua datuk kaum sesat ini
berimbang. Puluhan jurus telah ber-langsung namun belum ada pihak yang berhasil
men-desak lawan, jalannya pertarungan tetap sengit. Kedua belah pihak saling
berganti melancarkan serangan.
"Manusia-manusia Goblok...? Mengapa harus saling
bentrok sendiri?!"
Tiba-tiba ucapan bernada penuh teguran ter-dengar mengatasi
kegaduhan yang tercipta dari perta-rungan Raja Laut Bermuka Setan dan Raja
Serigala Hi-tam. Kedua tokoh itu tampak terkejut. Ucapan yang diyakini
ditujukan untuk mereka itu mampu membuat isi dada tergetar hebat. Bahkan,
aliran tenaga mereka pun tersumpal meski hanya sebentar.
Belum lagi lenyap keterkejutan yang mendera hati, terdengar
bunyi mendesing nyaring diiringi den-gan berkelebatannya sinar-sinar kehijauan
ke arah mereka. Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Setan tak mempunyai
pilihan lain kecuali menghenti-kan pertarungan. Sinar-sinar kehijauan itu
meluncur ke arah pelipis mereka. Mendengar dari bunyinya, ke-dua tokoh itu tahu
nyawa mereka bisa melayang apa-bila terkena sasaran. Pelipis mereka bisa hancur
be-rantakan.
Dua datuk sesat pimpinan wilayah yang berbe-da itu bergegas
menggerakkan senjata di tangan untuk memapaki serangan sinar-sinar kehijauan.
Trang, trangng...!
Bunyi berdentang nyaring terdengar ketika ca-kar Raja
Serigala Hitam dan dayung Raja Laut Bermu-ka Setan membentur sinar-sinar. Tubuh
kedua datuk sesat itu terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah. Tangan
mereka terasa kesemutan dan lum-puh sesaat. Cakar baja dan dayung kedua datuk
kaum sesat itu jatuh ke tanah. Tangan yang lumpuh mem-buat jari-jari mereka tak
bisa lagi mencekal senjata.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan terkejut
bukan main melihat kenyataan ini. Kedu-anya segera sadar kalau tokoh yang
mencampuri uru-san mereka memiliki tenaga dalam amat kuat. Terbuk-ti, benturan
yang terjadi membuat senjata mereka le-
pas dari pegangan dan tangan yang mencekal menjadi lumpuh.
Keterkejutan Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka
Setan semakin menjadi-jadi ketika melihat sinar-sinar kehijauan yang telah
membuat senjata me-reka lepas. Sinar-sinar itu ternyata hanya daun! Ham-pir dua
datuk sesat ini tak percaya akan penglihatan mereka. Dua helai daun yang besarnya
tak lebih dari telapak tangan bayi itu ternyata mampu membuat tan-gan mereka
lumpuh. Hati Raja Laut Bermuka Setan dan Raja Serigala Hitam bergidik
membayangkan ke-kuatan tenaga dalam orang yang melontarkannya.
Mereka saling berpandangan sebentar. Tapi da-ri pertemuan
mata itu keduanya telah bermufakat un-tuk menghadapi tokoh yang mencampuri
urusan me-reka.
Bak hantu saja, karena tanpa mengeluarkan bunyi sedikit
pun, sesosok bayangan putih menjejak-kan kaki di tanah. Sekitar dua tombak dari
dua datuk sesat. Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan yang tak
sadar kalau berdiri berdampingan mena-tap pendatang baru itu penuh selidik.
"Mengapa harus bertarung dengan orang
sego-longan?!" tegur sosok yang bukan lain dari Iblis Berka-bung sambil
merayapi wajah-wajah di depannya. "Su-dahi pertarungan kalian. Mulai
sekarang kalian adalah sahabat. Meski kepandaian kalian tak seberapa, kalian
kuangkat sebagai wakil-wakilku!" lanjutnya dengan si-kap angkuh.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan saling
mengerling satu sama lain.
"Siapa kau, Sobat? Apa hakmu sehingga berani
mencampuri urusan Kami? Bahkan kau telah berani-beraninya mengatur kami.
Tahukah kau siapa adanya
kami?!" bentak Raja Serigala Hitam seraya menatap
wajah Iblis Berkabung lekat-lekat.
Di lubuk hatinya Raja Serigala Hitam yang hampir tak
mengenai rasa takut itu merasa ngeri juga melihat Iblis Berkabung. Tokoh yang
terkenal sejak ra-tusan tahun lalu itu memang memiliki wibawa yang mengiriskan.
"Aku adalah Raja Laut Bermuka Setan!" sam-bung
Raja Laut Bermuka Setan tak kalah keren. Bah-kan dadanya dibusungkan ketika
mengucapkan kata-kata demikian. Tapi karena memang kurus, yang tam-pak malah
tulang-tulangnya. "Belasan tahun aku dan kelompokku merajalela di Laut
Selatan tanpa ada yang mampu menghalangi. Tapi sekarang aku adalah datuk sesat
wilayah selatan. Semua tokoh golongan hitam yang berada di wilayah itu
mengakuiku sebagai datuk mereka!"
"Dan, aku berjuluk Raja Serigala Hitam! Kekua-saanku
adalah wilayah utara. Sebagian besar tokoh-tokoh golongan hitam telah menjadi
pengikutnya. Aku-lah datuk sesat wilayah utara!" Raja Serigala Hitam
buru-buru menyambung.
"Pertarungan yang terjadi antara kami adalah untuk
menentukan siapa yang lebih berhak menjadi datuk sesat di delapan penjuru mata angin!"
beritahu Raja Laut Bermuka Setan.
Iblis Berkabung terlihat hanya tersenyum men-gejek.
"Hentikan saja pertarungan tak berguna itu. Aku yang
akan menjadi datuk kalian dan semua tokoh golongan hitam. Aku yang akan membuat
golongan ki-ta berjaya seperti pada masa dua ratus tahun silam!" tandas
Iblis Berkabung mantap.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-
tan merasa heran. Apakah julukan mereka belum per-nah
didengar oleh Iblis Berkabung sehingga tokoh itu tak menjadi gentar?
"Aku cukup gembira karena kalian telah mem-punyai
banyak pengikut," lanjut Iblis Berkabung tanpa mempedulikan keheranan
kedua datuk di depannya. "Tapi jangan berpuas diri dulu. Cari lagi
pengikut se-banyak-banyaknya. Bagi yang tak mau bergabung, bunuh saja! Dan apabila
kalian menemui kesulitan, aku yang akan turun tangan. Nanti setelah pengikut
yang kalian kumpulkan telah banyak, kita serbu kera-jaan. Satu demi satu
kerajaan kita taklukkan, hingga kita akan mempunyai sebuah kerajaan yang amat
be-sar. Kerajaan Setan, demikian namanya! Ha ha ha...!"
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan terpaku
keheranan. Mereka tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Merebut kerajaan dan
membentuk kerajaan sendiri, kerajaan dari golongan mereka! Luar biasa! Sungguh
sebuah usul yang cemerlang. Selama ini mereka hanya berkeinginan untuk mencari
pengi-kut yang banyak, agar bisa menekan golongan putih yang menjadi musuh
bebuyutan. Usul Iblis Berkabung menimbulkan keinginan di benak kedua datuk
sesat itu.
"Kau bicara seakan-akan kami ini bersedia memenuhi
keinginanmu, Sobat?" ujar Raja Laut Ber-muka Setan dengan suara dan sikap
keren. "Kau tahu ucapanmu itu sebenarnya telah cukup menjadi alasan bagi
kami untuk membunuhmu. Tapi karena saat ini kami tengah mempunyai urusan lain,
kami beri ke-sempatan padamu meninggalkan tempat ini dengan nyawa di
badan!"
Sepasang mata Iblis Berkabung seperti meman-carkan api
ketika Raja Laut Bermuka Setan menyele-
saikan ucapannya. Terlihat sekali tokoh luar biasa ini
merasa tersinggung.
***
6
"Mulutmu terlalu lancang, Monyet Buduk! Mu-kamu yang
sudah buruk itu akan kubuat semakin bu-ruk sebagai ganjaran atas
kekurangajaranmu. Setidak-tidaknya hal ini akan menjadi peringatan bagi yang
lain untuk tak bertingkah seenaknya!"
Iblis Berkabung menutup ucapannya dengan sebuah lesatan ke
arah Raja Laut Bermuka Setan. Da-tuk wilayah selatan yang diserang memang sudah
ber-siaga sejak tadi. Dayung yang sudah dipungutnya dari tanah diayunkan ke
arah tubuh Iblis Berkabung.
Hati Raja Laut Bermuka Setan agak tercekat ketika dia hanya
melihat sesosok bayangan melesat ke arahnya. Lelaki ini tak bisa melihat jelas.
Maka, dayung yang dihantamkan digerakkan menurut nalu-rinya saja.
"Akh...!"
Raja Laut Bermuka Setan memekik ketika me-rasakan sakit dan
nyeri pada telinganya sebelah ka-nan. Iblis Berkabung sendiri sudah berada di
tempat-nya lagi. Entah kapan lelaki berpakaian serba putih itu kembali ke
tempatnya. Raja Laut Bermuka Setan ham-pir memekik kaget melihat benda yang
dipamerkan Ib-lis Berkabung. Benda itu diangkat sejajar dengan wa-jahnya.
"Inilah hukuman atas kelancangan mulutmu,
Monyet!" ujar Iblis Berkabung dingin.
Raja Laut Bermuka Setan mengenali benda ter-sebut. Itu
adalah daun telinganya! Sekarang Raja Laut Bermuka Setan tahu kalau rasa sakit
yang melanda te-linga kanannya adalah karena daun telinga itu telah dibikin
penggal! Bergegas Raja Laut Bermuka Setan menotok jalan darah di sekitar luka
untuk menghenti-kan mengalirnya darah. Kemudian, dengan didahului gertakkan
giginya lelaki kurus ini memutar dayungnya, bersiap untuk melancarkan serangan.
Raja Laut Bermuka Setan dilanda amarah yang amat sangat.
Hal-hal lain tak dipikirkannya lagi. Yang ada di benaknya hanya membalas
perlakuan Iblis Ber-kabung. Sedikit pun tak terpikirkan olehnya kalau Iblis
Berkabung memiliki kepandaian lebih tinggi daripa-danya!
Raja Serigala Hitam tidak demikian. Kakek ini melihat
dengan hati ngeri dan telinga Raja Laut Ber-muka Setan yang dipertunjukkan
Iblis Berkabung. Bukan bendanya yang membuat datuk utara ini mera-sa ngeri.
Tapi, dia tak melihat kapan Iblis Berkabung melakukannya! Padahal Raja Serigala
Hitam tak per-nah lekang memperhatikan tindak-tanduk Iblis Berka-bung.
Memang Raja Serigala Hitam melihat sekeleba-tan sinar
putih, namun bentuknya amat tak jelas. Tak bisa tokoh sesat itu melihatnya.
Kalau Iblis Berkabung berkehendak, bukan hanya daun telinga Raja Laut Bermuka
Setan yang diambilnya, tapi juga nyawanya. Mudah baginya untuk menghantam
pelipis Raja Laut Bermuka Setan dalam sekali serang. Kenyataannya da-tuk
selatan itu tak bisa mempertahankan telinganya. Jangankan mempertahankan, tahu
terancam pun ti-dak.
"Simpan dulu kemarahanmu, Muka Setan," be-
ritahu Raja Serigala Hitam sebelum Raja Laut Bermu-ka Setan
mengirimkan serangan. Raja Serigala Hitam bukan khawatir atas keselamatan Raja
Laut Bermuka Setan. Justru dia akan lebih gembira jika datuk sela-tan itu tak
ada.
Kalau datuk utara ini mencegah tindakan Raja Laut Bermuka
Setan hanyalah karena rasa khawatir hal itu akan menimbulkan kemarahan Iblis
Berka-bung. Dirinya bisa jadi ikut terancam apabila Iblis Berkabung murka.
Raja Laut Bermuka Setan menoleh dan mena-tap saingannya
lekat-lekat. Lelaki ini baru ingat kalau dia dan Raja Serigala Hitam akan
bergabung untuk menentang Iblis Berkabung. Tapi mengapa Raja Seriga-la Hitam belum
bersiap-siap?
"Apakah kau takut, Serigala Hitam?" tanya Raja
Laut Bermuka Setan. Sedapat mungkin dia menyem-bunyikan kekhawatirannya kalau
Raja Serigala Hitam membenarkan pertanyaan itu.
"Bukan masalah takut atau tidak, Muka Setan,"
kilah Raja Serigala Hitam. "Kita belum tahu siapa adanya tokoh ini. Aku
ingin tahu siapa dia. Orang ini pasti memiliki julukan. Kepandaiannya
tinggi!"
"Aku memang lupa menjawab pertanyaan ka-lian
tadi," sambut Iblis Berkabung dengan tenang. "Ta-pi tak ada salahnya
jika jawaban itu kuberikan seka-rang. Pernahkah kalian mendengar julukan Iblis
Ber-kabung? Nah, akulah orangnya!"
Kalau saja saat itu ada halilintar menyambar tepat di depan
mereka, tak akan Raja Laut Bermuka Setan dan Raja Serigala Hitam seterkejut
ini. Kedua datuk sesat itu sampai terlonjak ke belakang bagai di-putar ular
berbisa. Keduanya menatap Iblis Berkabung dengan sepasang mata seakan ingin
melompat keluar
dari rongganya.
"Iblis Berkabung?!" desis kedua datuk kaum se-sat
itu dengan bibir bergetar dan suara menggigil. Ter-lihat jelas kegentaran
melanda hati.
Memang, Raja Laut Bermuka Setan maupun Raja Serigala Hitam
pernah mendengar julukan Iblis Berkabung. Tokoh itu merupakan cerita yang
mereka dengar turun-temurun. Hanya saja ketika sampai ke telinga mereka tidak
didengar bagaimana ciri-ciri Iblis Berkabung. Semula kedua datuk sesat ini
lebih con-dong menduga cerita mengenai Iblis Berkabung hanya sebuah dongeng.
Sama sekali tak disangka tokoh yang luar biasa itu muncul kembali dan sekarang
berada di depan mereka.
"Benar. Akulah Iblis Berkabung. Aku akan me-mimpin
kalian dan pengikut-pengikut kalian serta se-mua kawan-kawan segolongan untuk
berjaya seperti pada masa dua ratus tahun lalu!" tandas Iblis Berka-bung.
"Bagaimana kami bisa yakin kau adalah Iblis Berkabung?
Sepanjang yang kami dengar Iblis Berka-bung telah lama tewas," ujar Raja
Serigala Hitam hati-hati.
"Iblis Berkabung tak akan pernah lenyap dari muka
bumi. Iblis Berkabung akan selalu muncul ke dunia persilatan. Memang benar
Iblis Berkabung dulu telah tewas. Bahkan tidak hanya seorang, melainkan tiga.
Tapi aku, Iblis Berkabung yang keempat, tak akan bernasib seperti mereka. Aku
akan membuat kekua-saan Iblis Berkabung lebih jaya dari masa dua ratus tahun
silam!" ujar Iblis Berkabung mantap.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan kelihatan
bingung. Jawaban Iblis Berkabung hanya sebagian kecil saja yang mereka
mengerti. Ja-
waban itu tak menyingkap rahasia besar yang menye-limuti
Iblis Berkabung.
"Untuk lebih meyakinkan kalian kalau aku ada-lah Iblis
Berkabung yang memiliki kepandaian tak ada taranya di muka bumi ini, kalian
berdua boleh maju dan menyerangku. Tak sampai tiga jurus kalian dapat
kurobohkan!"
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan hampir
memaki mendengar ucapan yang menurut mereka keterlaluan itu. Jangankan bersama,
baru seo-rang dari mereka saja jarang tokoh persilatan yang mampu mengimbangi.
Andaikata pun ada belum per-nah ada yang mampu mengalahkan dalam tiga jurus.
Namun Iblis Berkabung sesumbar akan merobohkan mereka berdua dalam tiga jurus!
"Bagaimana kalau dalam tiga jurus kau belum bisa
mengalahkan kami?" pancing Raja Serigala Hitam, ingin tahu tanggapan Iblis
Berkabung.
"Itu tak akan terjadi!" tandas Iblis Berkabung
penuh keyakinan. "Dan andaikata terjadi, aku akan melupakan semua ucapanku
sebelumnya. Aku tak akan pernah mencampuri urusan kalian lagi!"
"Baik! Kami terima janjimu ini, Iblis
Berka-bung," Raja Laut Bermuka Setan yang memberikan ja-waban.
Raja Serigala Hitam langsung menggerak-gerakkan cakar
bajanya ketika saingannya telah sele-sai memberikan sambutan. Raja Laut Bermuka
Setan sendiri menggenggam dayungnya erat-erat. Kedua da-tuk kaum sesat ini
lebih dulu saling bertukar pandang. Keduanya setuju untuk mempergunakan cara
yang le-bih aman agar selama tiga jurus pertarungan Iblis Berkabung tak
berhasil memenuhi janjinya.
"Kami telah siap, Iblis Berkabung!" beritahu Ra-
ja Serigala Hitam.
Iblis Berkabung tertawa bergelak ketika me-nunggu beberapa
saat tak terlihat tanda-tanda dua da-tuk kaum sesat itu akan menyerangnya.
Tokoh sesat yang tak ubahnya dongeng itu segera paham akan tin-dakan yang
diambil lawan-lawannya.
"Buatlah pertahanan yang paling kuat. Akan kubuktikan
kalau tak sampai tiga jurus kalian akan berhasil kurobohkan!"
Belum lagi gema ucapannya lenyap. Iblis Ber-kabung telah
melesat menerjang dua lawannya. Lelaki berambut merah darah ini terpaksa
menyerang karena Raja Laut Bermuka Setan dan Raja Serigala Hitam mengambil
kedudukan bertahan. Rupanya demi untuk memenangkan pertaruhan, kedua datuk kaum
sesat itu tak mau melancarkan serangan lebih dulu. Dengan menyerang kemungkinan
untuk dirobohkan lawan le-bih cepat. Karena setiap penyerangan menimbulkan
celah-celah yang dapat dipergunakan lawan untuk memasukkan serangan.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan
terperanjat ketika hanya melihat sekelebatan sinar putih menyambar ke arah
mereka. Demikian cepat le-satan sinar putih itu, sehingga jangankan arah
seran-gan yang dituju oleh Iblis Berkabung, bentuk serangan yang dilancarkan
pun tak mampu mereka lihat.
Kendati demikian kedua datuk kaum sesat ini tak kehilangan
akal. Senjata-senjata yang ada di tan-gan diputar sekuat mungkin untuk
membungkus selu-ruh tubuh mereka. Seekor lalat pun tak akan bisa me-nembus
gulungan senjata mereka tanpa terkena!
"Ha...!"
Iblis Berkabung membentak keras di saat ten-gah melesat
menyerbu lawan-lawannya. Bukan samba-
ran bentakan. Tapi dialiri tenaga dalam tinggi. Akibat-nya
memang luar biasa. Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Setan merasakan
dada mereka tergetar hebat. Aliran tenaga dalam keduanya tiba-tiba terhen-ti.
Bahkan tanpa dapat dicegah lagi mereka terhuyung-huyung.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan ternyata
mampu mempertunjukkan kalau mereka tak memalukan mendapat julukan datuk-datuk
kaum sesat. Keadaan yang tak menguntungkan itu segera mereka perbaiki dengan
melempar tubuh ke tanah dan bergulingan menjauh.
Seakan telah dirundingkan lebih dulu sebe-lumnya, dua datuk
kaum sesat ini melempar tubuh ke arah yang saling berlawanan. Raja Serigala
Hitam ke kiri sedangkan ke kanan diambil oleh Raja Laut Ber-muka Setan. Iblis
Berkabung tak memusingkan masa-lah itu. Laksana hantu dia mengejar Raja
Serigala Hi-tam dan menghujaninya dengan serangan.
Raja Serigala Hitam mengetahui datangnya ba-haya. Cakar
baja di tangannya diputar untuk melin-dungi tubuh. Tapi hanya sebentar saja
tindakan itu bi-sa dilakukan. Dirasakan ada sesuatu menyentuh bela-kang
sikunya. Siku itu lumpuh sesaat, dan cakar baja datuk utara itu berpindah
tangan.
Sebelum Raja Serigala Hitam sempat bertindak lebih jauh,
dirasakan bahu kanannya disentuh. Maka seketika itu juga tubuh Raja Serigala
Hitam ambruk ke tanah bagai sehelai karung basah. Dengan mempergu-nakan
kecepatan geraknya rupanya Iblis Berkabung telah menotok siku dan bahu kanan
Raja Serigala Hi-tam.
Tanpa mempedulikan Raja Serigala Hitam, Iblis Berkabung
melesat ke arah Raja Laut Bermuka Setan
yang baru saja bangkit dari bergulingnya. Raja Laut Bermuka
Setan berusaha sekuat tenaga untuk berta-han. Namun seperti juga saingannya,
lelaki kurus ini dirobohkan secara mudah oleh Iblis Berkabung.
Iblis Berkabung menatap kedua lawannya yang terkapar di
tanah. Kedua tangan lelaki berpakaian ser-ba putih ini terlipat di depan dada.
"Bagaimana? Apakah kalian masih meragukan kalau aku
adalah Iblis Berkabung? Hanya dalam dua jurus kalian berdua dapat
kurobohkan!" dengus Iblis Berkabung.
"Kami mengaku kalah. Sekarang kami yakin kau memang
Iblis Berkabung. Kami bersedia untuk bekerja sama denganmu dan setuju kau
menjadi pim-pinan kami," jawab Raja Serigala Hitam.
"Ha ha ha...!" Iblis Berkabung tertawa bergelak
penuh kegembiraan. "Sekarang kalian boleh bangkit," ujar lelaki
berambut merah darah ini sambil menden-gus.
Raja Serigala Hitam dan Raja Laut Bermuka Se-tan hampir tak
percaya akan apa yang mereka alami. Totokan yang membelenggu mereka langsung
bebas ketika Iblis Berkabung mendengus. Baru kali ini mere-ka temui ada tokoh
yang mampu membebaskan pen-garuh totokan dengan dengusan! Ini berarti dengan
ca-ra yang sama Iblis Berkabung dapat melumpuhkan mereka.
Dengan penuh rasa gentar dan takjub Raja Se-rigala Hitam
dan Raja Laut Bermuka Setan bangkit berdiri. Mereka telah takluk sepenuhnya.
Keduanya merasa yakin dengan pemimpin selihai Iblis Berkabung jalan mencapai
keinginan mereka untuk membentuk kerajaan sesat akan terlaksana.
***
Hembusan angin siang yang panas menerbang-kan debu tebal di
sebuah dataran luas di atas puncak sebuah gunung. Tempat ini dinamai Puncak
Dunia!
Dari lereng sebelah barat dan timur berkelebat sesosok
bayangan. Cepat bukan main gerakannya se-hingga membuat bentuk tubuhnya tak
terlihat jelas. Hanya kelebatan bayangan kuning dan bayangan biru dalam bentuk
yang samar. Dua sosok bayangan itu bergerak lincah melalui medan yang sulit.
Beberapa kali dua sosok itu melompat-lompat tinggi tak jarang pula melompat
jauh menyeberangi jurang-jurang yang tak begitu lebar. Tak lama kemudian kedua
sosok itu telah berada di puncak gunung. Mereka bertemu di hamparan tanah
lapang yang berdebu.
Sosok bayangan coklat ternyata seorang kakek berpakaian
coklat. Usianya sekitar enam puluh tahun, tapi tubuhnya yang pendek masih
terlihat kekar. Wa-jahnya yang agak kecoklatan mempunyai sebelah mata yang
selalu berkedip-kedip. Hal ini membuat kakek itu kelihatan lucu. Padahal dia
adalah seorang tokoh be-sar golongan putih. Pendekar Seribu Kepalan,
julu-kannya.
Sosok bayangan kuning memiliki ciri-ciri yang mengiriskan
hati. Dia juga seorang kakek. Wajahnya persegi dan ditumbuhi kumis. Serta
cambang lebat. Pakaiannya serba kuning keemasan. Sekujur tubuh-nya yang tak
tertutup pakaian terlihat ditumbuhi bulu-bulu agak kekuningan. Karena inilah
kakek ini dijuluki orang sebagai Singa Berbulu Emas.
"Mengapa kau kelihatan gelisah, Singa?" tanya
Pendengar Seribu Kepalan. "Apakah kau khawatir mu-ridmu akan dapat
dikalahkan oleh muridku?"
"Lupakan soal pertandingan itu dulu, Kepalan,"
sahut Singa Berbulu Emas dengan menyiratkan kegeli-sahan besar di wajahnya.
"Ada masalah yang lebih penting dan gawat."
"Masalah apa, Singa? Merupakan sebuah masa-lah besar
kukira sehingga mampu membuat orang se-pertimu gelisah. Sayang, aku terlalu
banyak bersem-bunyi di sarang hingga tak mengetahui atau terlihat masalah apa
pun. Apalagi tempat tinggalku tak jauh dari tempat ini. Jadi tak bisa
mengetahui masalah apa yang terjadi di tengah jalan."
"Iblis Berkabung muncul lagi," desis Singa
Ber-bulu Emas dengan suara lirih seakan-akan takut ter-dengar orang lain.
"Apa?!" Pendekar Seribu Kepalan terjingkat ka-get
seperti disengat ular berbisa. Ucapan lirih Singa Berbulu Emas di telinganya
tak kalah mengejutkan da-ri meledaknya halilintar.
"Kudengar dan kulihat sendiri bukti-bukti ke-munculan
tokoh yang mengerikan itu. Beberapa per-kumpulan telah dihancurkannya. Tentu saja
perkum-pulan golongan kita. Kekacauan terjadi di mana-mana. Pengikut-pengikut
iblis itu telah tak terhitung lagi jum-lahnya," urai Singa Berbulu Emas.
"Tak kusangka...," desah Pendekar Seribu Ke-palan
setengah tak percaya. "Padahal kukira iblis itu tak akan muncul lagi. Oleh
karena itu Sumbi, murid-ku, tak kuceritakan dengan tokoh ini."
"Aku pun menduga begitu, Kepalan. Tak kuceri-takan
juga pada Inani, muridku," sambut Singa Berbu-lu Emas.
"Mudah-mudahan saja si Obat dan si Gila men-getahui
hal ini lalu menceritakan pada murid-muridnya," harap Pendekar Seribu
Kepalan.
"Itulah sebabnya aku bergegas ke tempat ini untuk
memberitahukanmu dan juga mengusulkan agar pertandingan untuk sementara
ditunda. Aku ya-kin kau telah berada di sini, Kepalan. Kau yang mem-punyai
tempat ini dan sudah pasti akan memper-siapkannya agar dapat terpakai untuk
pertandingan."
"Kalau demikian halnya kurasa tempat ini akan menjadi
kuburan kita semua, Singa. Iblis Berkabung pasti telah mengetahui rencana kita
dan berencana menyerbu tempat ini. Mudah-mudahan saja mereka lebih dulu datang
agar kita dapat bersama-sama me-nyusun kekuatan untuk menghadapinya. Bila
mereka tiba cepat, kita harus segera meninggalkan tempat ini dan menentukan
tempat-tempat yang dapat kita jadi-kan pemusatan kekuatan."
"Aku pun bermaksud demikian, Kepalan," sam-but
Singa Berbulu Emas. "Setelah selesai mengambil kata sepakat, kita semua
pergi sebelum Iblis Berka-bung menyatroni tempat ini."
"Sebuah rencana yang bagus sekali. Sayang, tak
berjalan sesuai kehendak kalian...!"
Suara yang terdengar jelas di tempat itu me-nyambuti ucapan
Singa Berbulu Emas. Singa Berbulu Emas dan Pendekar Seribu Kepalan terkejut.
Mereka mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mengetahui orang yang telah
berbicara. Tapi tak ada seorang pun yang mereka jumpai. Hanya ada sesosok tubuh
yang belum terlihat jelas di kejauhan dan tengah melesat menuju tempat mereka.
Singa Berbulu Emas dan Pendekar Seribu Ke-palan saling
berpandangan. Jantung keduanya berde-tak kencang karena hati mereka dilanda
ketegangan. Berbagai pertanyaan bergayut di benak kedua datuk golongan putih
ini.
Benarkah sosok itu yang berbicara? Berbicara dari jauh
sekali tapi terdengar jelas bukan hal yang mengejutkan bagi Singa Berbulu Emas
dan Pendekar Seribu Kepalan, tapi mendengar ucapan orang dari ja-rak yang masih
amat jauh merupakan hal yang menge-jutkan!
Bila benar sosok yang tengah melesat ke arah mereka yang
berbicara, berarti sosok itu mendengar pembicaraan mereka. Inilah hal yang
membuat kedua datuk golongan putih itu merasa tegang. Begitu sosok itu terlihat
jelas, wajah Singa Berbulu Emas dan Pen-dekar Seribu Kepalan langsung berubah
hebat.
"Iblis Berkabung!" desis kedua pendekar tua ini
tanpa menyembunyikan keterkejutan yang melanda hati.
Iblis Berkabung sendiri menghentikan lari keti-ka telah
berjarak tiga tombak dari dua datuk golongan putih itu. Tokoh sesat yang penuh
rahasia ini menatap kedua pendekar di depannya sambil tertawa bergelak.
"Kalian kaget?" dengus Iblis Berkabung penuh
ejekan. "Kalian pasti tak menyangka aku akan muncul lagi. Si tua bangka
tukang obat pun demikian sebelum nyawanya kukirim ke neraka!"
Deggg!
Singa Berbulu Emas dan Pendekar Seribu Ke-palan bagai
ditubruk kerbau mendengar berita itu. Ke-duanya tahu tukang obat yang dimaksud
Iblis Berka-bung itu pasti rekan mereka, Malaikat Obat Sakti.
"Kalian kaget?" Ejekan itu dikeluarkan lagi oleh
Iblis Berkabung. Keterkejutan kedua kakek itu keliha-tan menggembirakan
hatinya. "Kalian akan lebih kaget lagi kalau kukatakan tokoh-tokoh yang
akan bertemu di tempat ini tak akan pernah ada yang sampai. Seki-tar jalan
menuju tempat ini telah dijaga oleh pengikut-
pengikutku. Tentu saja secara sembunyi-sembunyi. Betapapun
hebatnya mereka tak akan mampu meng-hadapi ratusan pengikutku!"
"Keparat!" maki Singa Berbulu Emas murka.
"Terkutuk!" geram Pendekar Seribu Kepalan. "Ha ha ha...! Iblis
Berkabung malah mengum-
bar tawa gembira. "Di sana murid-murid kalian
diban-tai, dan di sini kalian akan kujadikan kerak neraka!"
Singa Berbulu Emas dan Pendekar Seribu Ke-palan yang tak
kuasa lagi menahan amarah langsung melesat menerjang. Iblis Berkabung sambil
tertawa ter-lihat mengelak. Lelaki berambut merah darah ini menghadapi kedua
lawannya seperti ketika mengha-dapi Malaikat Obat Sakti. Dia tak
sungguh-sungguh bertarung. Kedua lawannya dipermainkan dulu seenak hatinya.
***
"Kau lihat itu, Pemuda Ajaib?!" Pertanyaan itu
dikeluarkan oleh seorang kakek kecil kurus berpa-kaian lusuh dan kumal.
Wajahnya yang kotor berdebu dan rambutnya yang berantakan membuat si kakek tak
ubahnya orang gila.
Keadaan kakek itu sudah mengherankan. Tapi yang lebih
mengejutkan lagi adalah sepasang matanya. Biji matanya yang kiri tertuju lurus
ke depan. Sedang yang kanan berkeliaran ke sana kemari. Itu pun masih ditambah
dengan adanya asap dua warna yang men-gepul dari atas kepala. Sebelah kiri
putih dan sebelah kanan merah. Asap yang kanan meluncur ke arah dinding ruangan
di mana si kakek berada. Di dinding yang dituju oleh asap merah tampak terlihat
gambar. Puncak Dunia, di mana saat itu Iblis Berkabung ten-
gah terlibat pertarungan dengan Singa Berbulu Emas dan
Pendekar Seribu Kepalan.
"Kedua orang yang tengah bertarung dengan Ib-lis
Berkabung itukah yang berjuluk Singa Berbulu Emas dan Pendekar Seribu Kepalan,
Kek?" tanya pe-muda yang disapa si kakek sebagai pemuda ajaib.
Pemuda itu bukan lain dari Arya Buana alias Dewa Arak. Di
sebelah kiri si kakek, Arya duduk bersi-la. Sedangkan di sebelah kanan duduk
Sumbi. Seperti juga Dewa Arak, Sumbi tengah mengarahkan pandan-gan pada dinding
di mana terpampang pertarungan Ib-lis Berkabung dan dua datuk golongan putih.
"Benar," jawab si kakek yang tak henti-hentinya
tersenyum. "Sekarang jangan sampai kau lengah dari pertarungan itu sekejap
pun. Tunggu hingga Iblis Ber-kabung menyerang, dan akan kau lihat di mana
kele-mahannya."
Arya tak berani menjawab. Dia hanya men-gangguk untuk
menunjukkan pada kakek itu kalau dia mengerti. Sepasang matanya tak berkedip
memperha-tikan jalannya pertarungan di dinding ruangan. Ruan-gan itu sebenarnya
adalah sebuah gua di dalam tanah, di atas Puncak Dunia.
Sumbi pun menujukan pandangan dengan pe-nuh rasa tertarik
pada gambar-gambar di dinding gua. Tapi, sesekali dengan sembunyi-sembunyi
matanya di-kerlingkan pada Dewa Arak. Gadis berpakaian merah ini telah jatuh
hati pada Arya. Semula memang hanya tertarik saja. Tapi semakin lama setelah
mengenal sifat dan pribadi Arya, Sumbi tak bisa mengelak dari ser-buan
panah-panah asmara! Setiap kali mengerling di benak Sumbi terbayang semua
pengalamannya. Teru-tama sekali ketika mereka berdua terluka parah oleh Iblis
Berkabung. Pengalaman ini dan seterusnya terca-
tat di benak Sumbi.
"Kau tak apa-apa, Sumbi?"
Masih terngiang di telinga Sumbi pertanyaan yang diajukan
Dewa Arak ketika Iblis Berkabung telah lenyap dari pandang mata mereka.
Sumbi hanya mampu menggeleng. Perhatian yang diberikan Arya
menimbulkan rasa aneh di ha-tinya. Sumbi merasa tersanjung. Dan saat memberikan
jawaban dia menatap Arya yang saat itu tengah me-mandangnya untuk menanti
jawaban.
Sumbi baru sadar kalau Arya memiliki wajah tampan dan
terlihat jantan. Rambut pemuda itu yang putih panjang dan tergerai di mata
Sumbi semakin membuat Arya menarik. Rambut itu membuat Arya ke-lihatan matang.
"Syukurlah," hanya itu yang dikatakan Arya. Tapi
Sumbi merasakan dalam ucapan itu terpapar rasa lega.
Usai berkata demikian Arya lalu duduk berse-madi. Sepasang
matanya dipejamkan dan kedua tan-gannya yang terbuka dipertemukan di depan
dada. Sumbi mempergunakan kesempatan itu untuk mem-perhatikan Arya secara
leluasa. Wajah Sumbi bak ter-bakar ketika tengah larut memperhatikan, orang
yang diperhatikan membuka matanya. Sumbi buru-buru membuang pandangannya ke
arah lain. Dia merasa malu sekali karena tertangkap basah tengah memper-hatikan
Arya dengan penuh minat
"Kau tak bersemadi untuk mengobati lukamu, Sumbi?
Setelah pulih kita cari Iblis Berkabung dan ki-ta balaskan kematian Kakek
Malaikat Obat Sakti," ujar Arya seakan tak merasakan sikap Sumbi sebagai
hal yang aneh.
"Terima kasih atas pemberitahuanmu, Arya.
Aku memang masih terkenang akan kematian Malaikat Obat
Sakti. Dan aku benci sekali terhadap Iblis Berka-bung," timpal Sumbi
sekenanya.
"Aku bisa mengerti apa yang tengah kau rasa-kan,
Sumbi," sahut Arya, "Aku pun demikian. Tapi ka-lau kita hanya
bersikap begitu saja, kapan akan dapat membuat perhitungan dengan Iblis
Berkabung? Iblis itu akan menyebar bencana lebih banyak. Obati dulu lukamu
Sumbi, setelah itu baru kita pikirkan hal lain-nya."
Tanpa banyak bicara Sumbi segera bersemadi. Sikap Arya yang
seakan tak tahu tingkah Sumbi dan justru mengalihkan pada persoalan lain
membuat ke-kaguman Sumbi semakin membesar. "Benar-benar seorang pemuda
yang bijaksana," puji Sumbi dalam hati.
Cukup lama sepasang muda-mudi ini bersema-di. Semadi itu
baru terhenti karena ada ucapan yang masuk ke telinga mereka. Ucapan yang
diselingi tawa mengekeh.
"Luar biasa...! Luar biasa...! Tak kusangka ada
sepasang muda-mudi yang memiliki wajah elok lebih suka bersemadi ketimbang
bermesraan. He he he...!"
Arya dan Sumbi membuka mata. Di depan me-reka yang duduk
bersemadi bersebelahan berdiri seo-rang kakek kecil kurus. Kakek ini menatap
Arya dan Sumbi berganti-ganti. Kepalanya digeleng-gelengkan dengan senyum
terkembang di bibir.
Arya terkejut bukan main melihat kenyataan ini. Kakek yang
kelihatannya kurang waras itu mampu berada di depannya tanpa dia mendengar
kehadiran-nya. Padahal dalam semadi pendengarannya jauh lebih tajam! Toh, si
kakek mampu ada di dekatnya tanpa di-dengar langkahnya.
Kenyataan ini mengingatkan Arya pada Malai-kat Obat Sakti,
Kakek yang ahli pengobatan itu pun mampu berada di dekatnya tanpa dia ketahui.
"Apakah kakek kecil kurus ini salah satu dari datuk-datuk go-longan
putih?" tanya Arya dalam hati.
"Kalau aku tak salah menebak...." tanpa peduli
pada keheranan Arya juga kemarahan yang terpancar dari sepasang mata Sumbi, si
kakek terus bicara den-gan senyum-senyum memamerkan giginya yang telah banyak
tanggal. "Iblis Berkabung yang telah datang kemari dan menyebarkan
kejadian ini, bukan? Dan aku yakin sahabatku si tukang obat itu sekarang tentu
telah mengadakan perjalanan ke nirwana. Bukankah demikian, Pemuda Ajaib?"
Arya hampir tersenyum mendengar panggilan yang ditujukan
padanya. Tapi pemuda ini mampu me-nahannya. Sebuah dugaan melintas di benaknya
ten-tang siapa adanya kakek itu.
"Apakah aku tengah berhadapan dengan tokoh yang
berjuluk Dewa Gila Tanpa Bayangan, yang meru-pakan salah satu datuk golongan
putih?" tanya Arya.
"He he he...! Julukan kentut. Pemuda Ajaib, mana
mungkin manusia seperti aku kau anggap dewa. Lagi pula mana ada dewa yang gila
dan tak mempu-nyai bayangan? He he he...! Sungguh lucu...!"
Arya dan Sumbi saling berpandangan melihat tanggapan kakek
yang memang berjuluk Dewa Gila Tanpa Bayangan. Tak heran kalau ada kata-kata
gila untuk julukan kakek itu. Sikapnya memang tak layak seperti manusia waras.
"Pemuda Ajaib dan kau juga Nona yang tengah kasmaran,
kita tak mempunyai waktu banyak. Dunia persilatan tengah berada dalam bahaya
besar. Golon-gan hitam tak lama lagi akan berjaya. Cepat ikut
aku...!"
Kakek kecil kurus lalu membalikkan tubuh dan melesat ke
arah dari mana tadi dia datang. Hanya da-lam sekejapan tubuhnya telah mengecil
sebesar ibu ja-ri.
Arya dan Sumbi kembali saling berpandangan. Hampir tawa
keduanya meledak. Bagaimana mungkin mereka mengikuti si kakek kalau dalam
sekejapan saja telah tertinggal demikian jauh. Dalam keadaan tenaga mereka
pulih seluruhnya pun mereka tak akan bisa mengikuti lari kakek itu yang luar
biasa cepatnya. Tak heran jika julukan yang didapatnya tanpa bayangan!
"Hey...!"
Bentakan itu membuat Arya dan Sumbi hampir terlempar karena
kagetnya. Si kakek tadi telah berada di depan mereka lagi. Kedua tangannya
berkacak di pinggang dan wajahnya dipasang seangker mungkin. Sepasang matanya
tampak dibelalakkan selebar-lebarnya seperti tingkah orang dewasa yang sedang
memarahi anak kecil.
"Mengapa kalian malah bengong? Ah! Kalau menuruti
kalian berdua urusan ini tak akan pernah selesai!"
Setelah berkata demikian Dewa Gila Tanpa Bayangan
mengulurkan tangan dan membawa Arya dan Sumbi melesat. Pasangan muda-mudi ini
ingin meronta, tapi begitu si kakek berdehem, sekujur tubuh mereka langsung
lemas bagai tertotok.
Sumbi sampai memejamkan mata karena me-rasa ngeri melihat
betapa cepatnya si kakek berlari. Entah berapa lama berlari, gadis ini tak
tahu. Matanya baru dibuka ketika tak ada lagi angin keras menerpa tubuhnya.
Mereka rupanya telah sampai di tempat yang dituju si kakek.
"Lihat, Pemuda Ajaib...!"
Seruan Dewa Gila Tanpa Bayangan membuat Sumbi tersadar dari
lamunannya. Dilihatnya Iblis Ber-kabung tengah melancarkan serangan. Tentu saja
pa-da gambar di dinding. Terlihat pula Pendekar Seribu Kepalan berhasil
mengelak. Tapi tak demikian halnya dengan Singa Berbulu Emas. Tokoh itu terkena
gedo-ran pada dadanya.
Singa Berbulu Emas ambruk ke tanah dan di-am tak
bergerak-gerak lagi. Mati. Gedoran pada dada itu rupanya membuat
tulang-tulangnya hancur beran-takan dan nyawanya melayang meninggalkan raga.
"Kau lihat itu, Pemuda Ajaib?" tanya Dewa Gila
Tanpa Bayangan untuk memastikan.
Arya mengangguk.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Datangi tempat itu lalu
bereskan Iblis Berkabung dengan menyerang kelemahannya!" sentak Dewa Gila
Tanpa Bayangan.
Dewa Arak tidak membantah sedikit pun. Dia segera melesat
meninggalkan tempat itu. Sumbi ingin ikut bergerak menyusul, tapi dicegah oleh
Dewa Gila Tanpa Bayangan. Sumbi pun membatalkan maksud-nya. Gadis itu
mengarahkan pandangan lagi pada dinding. Tak lama kemudian dilihatnya Dewa Arak
tengah bertarung dengan Iblis Berkabung untuk mem-bantu Pendekar Seribu
Kepalan.
Masuknya Dewa Arak dalam kancah pertarun-gan membuat
kedudukan Iblis Berkabung terdesak. Berkali-kali Iblis Berkabung mengeluarkan
seruan ka-get ketika melihat serangan Dewa Arak tertuju pada kelemahannya. Rasa
khawatirnya semakin memuncak ketika Pendekar Seribu Kepalan mengikuti tindakan
Dewa Arak. Iblis Berkabung terus-menerus didesak. Tokoh sesat yang mengiriskan
hati ini tak mempunyai
kesempatan sedikit pun untuk balas menyerang.
Saat itu di dinding tampak pasangan muda-mudi melesat
menuju kancah pertarungan. Sumbi tak mengenalnya. Tapi tidak demikian halnya
dengan De-wa Gila Tanpa Bayangan. Kakek itu terlihat tersenyum lebar.
"Syukurlah muridku yang gendeng itu, si Bante-rang, mengingat
pesanku," gumamnya dengan gembi-ra.
"Pesan apa, Kek?" tanya Sumbi ingin tahu.
"Tentang adanya penyerbuan besar-besaran ke
tempat ini. Jauh-jauh hari ku pesan padanya untuk mencari
pendekar-pendekar guna menentang rombon-gan hitam itu," beritahu Dewa Gila
Tanpa Bayangan yang rupanya sudah menduga akan terjadi penyer-buan ini.
Pemuda yang dilihat Sumbi dan kakek itu me-mang Banterang.
Sedangkan si gadis adalah Inani, pu-tri Ketua Perguruan Tapak Darah. Pasangan
muda-mudi ini bertemu di kaki gunung saat terlibat perta-rungan dengan rombongan
Iblis Berkabung. Inani dan Banterang segera melesat ke puncak ketika dilihatnya
rombongan pendekar ada di atas angin. Keduanya tiba pada saat pertarungan
tengah berlangsung.
"Haat...!"
Tendangan Pendekar Seribu Kepalan ke ping-gang sebelah kiri
membuat Iblis Berkabung melempar tubuh ke belakang. Kesempatan ini yang
ditunggu-tunggu Dewa Arak. Pemuda itu melompat menerjang. Guci araknya
diayunkan ke arah pinggang sebelah kiri.
Blarrr!
Bunyi keras seperti halilintar menyambar ter-dengar begitu
guci menghantam pinggang Iblis Berka-bung. Baik tubuh Dewa Arak maupun Iblis
Berkabung terpental ke arah yang berlawanan. Sedangkan tempat
di bawah tubuh Iblis Berkabung semula tampak se-buah gambar
kepala manusia bertanduk. Pada kedua sisinya dililit rantai sepanjang kira-kira
satu tombak. Gambar dari logam dan rantai itu hancur berantakan!
Rantai bergambar manusia bertanduk itulah yang dilihat Arya
di saat Iblis Berkabung menyerang. Itulah kelemahan Iblis Berkabung. Arya
segera bangkit berdiri dengan lunglai. Akibat benturan tadi membuat-nya merasa
lemas sekali.
Kendati demikian Arya merasa lega. Dia terse-nyum. Tapi
bukan pada Pendekar Seribu Kepalan. Pe-muda ini tersenyum untuk Dewa Gila Tanpa
Bayangan yang diyakininya melihatnya dari gambar di dinding gua. Tapi Arya
melongo dan merasa malu. Dewa Gila Tanpa Bayangan dan Sumbi tengah berlari
menuju ke arahnya!
Senyum Arya yang lenyap segera terganti den-gan helaan
napas berat begitu didengarnya jeritan pilu.
"Ayaaah...!"
Inani yang mengeluarkan seruan itu. Gadis ini menghambur ke
arah tubuh Iblis Berkabung sambil menangis terisak-isak. Dipeluknya mayat Iblis
Berka-bung yang ternyata adalah Sokapanca, Ketua Pergu-ruan Tapak Darah yang
lenyap secara aneh!
Arya tak merasa heran karena Dewa Gila Tanpa Bayangan telah
memberitahukannya. Rantai bergam-bar manusia bertanduk itulah yang menciptakan
Iblis-Iblis Berkabung. Rantai yang mengandung roh jahat dan selalu berkelana
mencari tokoh yang tengah seka-rat untuk dijadikan Iblis Berkabung! Dan kali
ini yang menjadi korban adalah Sokapanca.
Banterang, Sumbi, Dewa Gila Tanpa Bayangan, dan Dewa Arak
hanya bisa diam. Mereka ikut merasa-kan kesedihan. Mereka bahkan hanya
mengerling keti-
ka sisa rombongan kaum pendekar yang bertarung bergerak
mendatangi tempat itu. Pertarungan rupanya telah selesai dengan kemenangan di
pihak pendekar. Tak terdengar lagi dentang senjata beradu atau jerit kemarahan
dan pekik kematian. Yang terdengar seka-rang hanya tangisan sedih Inani.
SELESAI
No comments:
Post a Comment