TOMBAK PANCA WARNA
1
Malam telah datang menjelang. Kegelapan pun mu-lai
menyelimuti persada. Suasana malam ini terasa berbeda dengan sebelumnya. Tidak
terdengar suara kukuk burung hantu, kepak kelelawar, serta kerik jangkrik.
Suasana terasa hening dan sepi
Suasana seperti itu sebenarnya sudah cukup me-nyeramkan.
Tapi, yang lebih mengiriskan hati adalah keadaan malam ini. Langit merah
membara seperti terbakar! Tidak ada awan, bulan ataupun bintang di angkasa raya
Seluruh penjuru langit berwarna merah. Keadaan ini sungguh berbeda dengan
biasanya.
Peristiwa aneh ini membuat orang-orang yang me-nyaksikan
kaget bercampur ngeri. Orang-arang yang tidak mengerti ilmu silat buru-buru
masuk ke dalam rumah lalu ditutupnya pintu dan jendela rapat-rapat. Mereka
semua merasa yakin keadaan alam yang demi-kian suatu pertanda akan terjadi
sesuatu yang menge-rikan.
Berbeda dengan para penduduk desa itu, orang-orang yang
merasa memiliki ilmu bela diri tak bersem-bunyi. Di antara mereka adalah tiga
sosok tubuh yang kini tengah berdiri di halaman rumah dengan kepala menengadah
menatap langit
"Apa yang terjadi sebenarnya, Ayah?" tanya salah
satu dari ketiga sosok itu. Dia seorang gadis berusia dua puluh tahun. Tubuhnya
padat ramping dengan le-kuk-lekuk yang menawan. Wajahnya cantik jelita,
ber-kulit halus dan putih.
"Aku juga tak mengerti, Wati," jawab sosok yang
dipanggil ayah. Sang ayah adalah seorang kakek tinggi kurus berjenggot putih
panjang mirip kambing. Sang-
gara namanya. "Tapi yang jelas, sesuatu yang hebat
pasti akan terjadi," lanjut Sanggara.
Gadis cantik yang bernama lengkap Kusumawati terlihat
mengangguk-anggukkan kepala.
"Kejadian apa, Ayah?" tanya Kusumawati kemu-dian.
"Sabarlah, Wati," sergah sosok yang satu lagi.
Seo-rang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun dan berpakaian putih.
"Maafkan aku, Kak Angruna," ucap Kusumawati pelan
sambil menundukkan kepala.
Angruna, pemuda bertubuh kekar itu, adalah ka-kak kandung
dari Kusumawati. Permintaan maaf adiknya disambutnya dengan senyum penuh
penger-tian. Sanggara membiarkan saja keributan kecil itu terjadi. Hal seperti
itu memang sudah biasa. Meski ke-duanya saling akrab satu sama lain, tapi
perselisihan kecil juga kadang terjadi. Itulah sebabnya, kakek ini tak mau ikut
campur.
"Kurasa...," ucap Sanggara sambil mengerutkan
kening, setelah berdiam diri beberapa saat lamanya. "Kejadian seperti ini
bukan disebabkan dari dunia kita. Aku lebih condong menduga hal-hal seperti ini
berasal dari alam gaib."
"Apa yang kau katakan itu benar, Sanggara."
Hampir berbarengan Sanggara, Angruna, dan Ku-
sumawati menolehkan kepala ke arah asal suara. Ta-hu-tahu
saja, tak jauh dari tempat mereka berada te-lah berdiri seorang kakek tinggi
besar. Cambang bauk berwarna hitam dan lebat tampak menghias wajahnya. Pakaian
dalamnya berwarna merah menyala, kemu-dian dibungkus dengan jubah hitam kelam.
"Ah...! Kiranya Setyaki...." sambung Sanggara.
"Apa maksud ucapanmu, Adi Setyaki?"
Kakek tinggi besar yang dipanggil Setyaki tidak se-gera
menjawab. Kakinya melangkah menghampiri Sanggara.
"Dugaan yang kau katakan itu benar, Sanggara,"
tegas Setyaki.
Angruna dan Kusumawati mengerutkan alis meli-hat Setyaki.
Keduanya merasa seram melihat penampi-lan Setyaki yang mengiriskan. Kendati
demikian, ka-kak beradik ini tak berkata apa-apa. Ayah mereka te-lah bercerita
cukup banyak tentang kakek itu.
Setyaki adalah kawan akrab Sanggara. Sejak muda mereka
sudah bersahabat Setyaki dan Sanggara per-nah belajar silat dari guru yang
sama, sebelum akhir-nya mereka berpisah karena Setyaki lebih menyukai ilmu-ilmu
gaib. Puluhan tahun mereka berpisah. Me-reka bertemu lagi sekitar tiga tahun
lalu. Namun, baru kali ini Setyaki mengunjungi Sanggara.
"Maksudmu..., semua keanehan alam ini karena hal-hal
gaib?" Sanggara menegaskan.
"Benar," Setyaki menganggukkan kepala. "Ada
hal yang luar biasa terjadi di mayapada ini sehingga me-maksaku keluar dari
tempat tinggalku."
"Ah...!" Sanggara berseru kaget Kakek berjenggot
kambing ini baru teringat kalau Setyaki tinggal agak jauh dari tempat
tinggalnya. Meski memang berada di gunung yang sama, tapi di lereng yang
berlawanan. Keberadaannya di sini jelas karena adanya urusan yang amat penting.
Padahal, kakek itu sudah berkein-ginan tak akan terjun lagi ke dunia ramai.
"Bisa kau ceritakan lebih jelas, Setyaki?" pinta
Sanggara penuh perasaan tertarik.
"Hhh...!"
Setyaki menghela napas berat. Sementara Sangga-ra dan
anak-anaknya menunggu keluarnya ucapan da-
ri mulut kakek tinggi besar itu.
"Kalau menuruti perasaan, lebih baik aku tak
men-ceritakannya. Agar kalian tak ikut menjadi ngeri kare-nanya...," pelan
dan satu-satu ucapan yang dikelua-rkan Setyaki.
"Aku tak setuju dengan pendapatmu, Setyaki,"
bantah Sanggara. "Menurut pendapatku, lebih baik kau katakan saja apa yang
sebenarnya tengah terjadi. Dengan begitu mungkin kita bisa bersiap-siap untuk
menghadapinya."
Setyaki menghembuskan napas kuat-kuat setelah terlebih dulu
menariknya dalam-dalam.
"Sejak tiga hari yang lalu aku selalu merasa gelisah
tanpa sebab. Perasaan hatiku selalu tak enak," Setyaki memulai ceritanya
dengan suara kering dan getir.
Sanggara, Angruna, dan Kusumawati mendengar-kannya dengan
sabar. Mereka tak ingin menyelak, kendati Setyaki berhenti beberapa saat
"Dengan kemampuan yang kumiliki kucoba menca-ri sebab
kegelisahanku. Tapi hasilnya peralatan yang kugunakan untuk menyelidiki
porak-poranda. Tentu saja hal ini membuatku kaget karena peristiwa seperti ini
tak pernah ku alami sebelumnya."
Setyaki menghentikan ceritanya lagi. Diperhati-kannya satu
persatu wajah-wajah yang berada di seke-lilingnya. Wajah-wajah yang penuh rasa
ingin tahu, di samping rasa tegang yang tersirat jelas.
"Meskipun hasil yang ku peroleh mengejutkan, tapi aku
tidak kapok. Aku malah merasa ditantang," lanjut Setyaki. "Baru
ketika usahaku yang kedua juga men-galami kegagalan, aku tak berani mencobanya
lagi. Terlalu dahsyat akibat yang kuterima. Tidak hanya pe-ralatan ku yang
hancur tapi tubuhku juga terpental ke belakang...."
"Lalu dari mana kau tahu kalau penyebab keane-han ini
dari alam gaib?" kejar Sanggara tak puas.
"Hasil yang ku peroleh dari usahaku," jelas
Setyaki. "Meski memang tak memuaskan, tapi cukup meyakin-kan aku kalau hal
itu disebabkan dari ilmu gaib. Dan menilik dari kekuatannya, aku merasa yakin
bukan manusia biasa yang menjadi penyebabnya...."
"Maksudmu siluman?" tanya Sanggara meminta
penegasan dengan suara seperti tercekik di tenggoro-kan.
"Kira-kira demikian, Sanggara."
Sanggara tidak memberikan tanggapan lagi. Dalam hal ilmu
gaib Setyaki memang ahlinya. Dia sendiri tak tahu apa-apa.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Setyaki?"
tanya Sanggara kebingungan.
Ucapan kakek berjenggot kambing memecahkan keheningan yang
menyelimuti tempat itu. Keheningan yang menegangkan hati.
Setyaki terlihat menggelengkan kepala.
"Aku pun tak tahu, Sanggara. Meski demikian aku akan
tetap berusaha mencari tahu, sebelum nyawaku keburu melayang."
"Apa maksudmu, Setyaki? Siapa yang mengancam
mu?!"
"Tak ada yang mengancamku, Sanggara," jawab
Se-tyaki sambil tersenyum pahit. "Hanya saja, aku merasa yakin bahaya akan
datang dari alam gaib. Sesuatu yang menjadi penyebab keanehan alam ini pasti
tahu aku telah berusaha menyelidikinya. Aku akan dica-rinya untuk dilenyapkan.
Karena itu, sebelum terjadi aku harus menyingkap rahasia ini."
Sanggara terdiam. Campur tangan Setyaki memang bisa jadi
telah diketahui oleh sesuatu dari alam gaib
itu. Campur tangan itu pasti tak menyenangkannya.
"Tidak adakah jalan untuk mengetahui bahaya
yang mengancam, Setyaki? Jika memang mencegahnya merupakan
hal yang tak mungkin, dengan mengetahui berupa apakah bahaya itu kita akan
lebih siap meng-hadapinya."
"Karena itulah aku datang menjumpai mu, Sangga-ra. Aku
khawatir akan lebih dulu tewas sebelum mem-beritahukan mu. Kau satu-satunya
sahabatku. Nah, dengarkan baik-baik. Juga kalian, Anak-anak Muda," ucap
Setyaki seraya menatap Angruna dan Kusuma-wati
Putra-putri Sanggara itu buru-buru menundukkan kepala
ketika bertemu pandang dengan Setyaki. Mere-ka tak kuat menahan rasa ngeri
melihat sepasang ma-ta yang memiliki sinar aneh itu. Sinar dari orang yang
memiliki ilmu gaib tinggi.
"Setelah gagal mengungkapkan rahasia keanehan alam
itu, lalu kucoba mengalihkan usaha. Ku kerah-kan seluruh kemampuan untuk
mencari orang-orang yang bisa mengungkapkan rahasia itu. Kali ini aku mujur.
Aku berhasil mengetahuinya."
"Syukurlah...!" desah Sanggara dengan wajah
ber-seri-seri, karena merasa lega.
"Jangan bergembira dulu, Sanggara. Bukan tak mungkin
orang-orang yang kumaksudkan ini tak akan pernah kau temukan. Hhh...! Baru kali
ini aku me-nyesal karena jarang terjun ke dunia persilatan. Kalau tidak,
mungkin aku akan mengetahui nama atau julu-kan orang-orang ini."
"Bukankah kau bisa menyebutkan ciri-cirinya?"
hi-bur Sanggara.
"Itu memang benar, Sanggara," masih terasa nada
keluhan dalam ucapan Setyaki. "Orang yang pertama
kali muncul adalah seorang kakek kecil bertelanjang dada
dan hanya mengenakan celana pendek kumal."
Sanggara mengernyitkan kening. Dia berpikir un-tuk
mengingat-ingat. Barangkali saja pernah melihat atau mendengar tentang tokoh
persilatan yang memili-ki ciri-ciri demikian. Tapi sampai dahinya berkeringat,
dia tak mampu menemukannya.
"Rupanya tokoh-tokoh itu termasuk orang seperti-ku.
Gemar bersembunyi juga. Kalau tidak, mana mungkin kau yang berpengalaman luas
tidak menge-tahuinya," ujar Setyaki agak kecewa melihat ketidak-tahuan Sanggara.
"Mungkinkah tokoh itu bukan seorang tokoh persi-latan,
Kek?" Kusumawati yang sejak tadi diam membe-ranikan diri angkat bicara.
"Tokoh yang ku maksud bukan hanya orang persi-latan
saja, Nona Kecil. Dia seorang tokoh berilmu san-gat tinggi. Sorot sepasang
matanya yang tajam berkilat menandakan kuatnya tenaga dalam yang
dimiliki!" tandas Setyaki.
"Barangkali saja dia merupakan tokoh sepertimu,
Kek?" Angruna membela adiknya. "Tokoh yang tak ter-jun ke dunia
persilatan. Meski memiliki kepandaian tinggi dia cenderung menyembunyikan
diri"
"Jawabanmu lebih bagus! Tapi itu tidak menjadi alasan
untuk berputus asa mencarinya. Sekarang ku-beritahukan tokoh yang lain. Yang
kedua seorang pe-muda berambut putih keperakan dan berpakaian un-gu. Kulihat
ada guci perak tergantung di punggung-nya."
"Dia pasti Dewa Arak!" sergah Kusumawati
"Dewa Arak?!" Setyaki mengernyitkan kening.
"Benar, Setyaki," Sanggara ikut memberikan
jawa-ban. "Seorang pendekar muda yang belakangan ini
menggemparkan dunia persilatan dengan tindakan-tindakannya
yang luar biasa."
"Bagus, kalau kau mengetahuinya Dengan demi-kian lebih
mudah untuk mencarinya. Kini sudah saat-nya bagiku untuk mohon diri. Yang perlu
kalian keta-hui adalah aku tak akan tinggal diam. Selama nyawa-ku masih melekat
di tubuh, dua tokoh itu akan kuca-ri!"
Setyaki kemudian melesat meninggalkan tempat itu. Sanggara,
Angruna, dan Kusumawati hanya mena-tap kepergiannya.
"Sungguh tak kusangka tokoh yang selama ini Ayah
ceritakan sebagai orang yang tak pernah peduli pada dunia persilatan ternyata
mempunyai perhatian penuh terhadap malapetaka yang akan menimpa per-sada
ini," gumam Kusumawati.
"Kau salah menduga. Wati," ralat Sanggara.
"Dia bersusah payah melakukan hal itu bukan demi orang lain. Tapi karena
rasa ingin tahunya akan kejadian langka ini. Sebagai seorang yang mengerti
ilmu-ilmu gaib, kejadian aneh seperti ini bagai tantangan terha-dapnya!"
Kusumawati mengernyitkan kening, bingung. Tapi Angruna
tidak. Pemuda itu bisa merasakan kebenaran yang terkandung dalam ucapan
ayahnya.
"Wati, Angruna, kurasa sudah tiba saatnya bagi ki-ta
menyumbangkan kemampuan yang kita miliki un-tuk keamanan dunia
persilatan," ajak Sanggara kemu-dian pada anak-anaknya.
***
"Hooop...!"
Seorang lelaki bertubuh kekar dan berpakaian lu-
suh menarik tali kekang kudanya tepat di depan pintu
gerbang sebuah bangunan megah. Tindakannya mem-buat kuda coklat yang
ditunggangi menghentikan langkah. Dengan gerakan yang indah dan manis lelaki
berkumis, cambang, dan jenggot kasar tak teratur itu melompat dari atas punggung
kuda. Ringan tanpa sua-ra kedua kakinya menjejak tanah.
Tingkah lelaki itu membuat dua orang berseragam prajurit
yang menjaga pintu gerbang memperhatikan dengan penuh rasa curiga. Apalagi
ketika melihat lela-ki lusuh itu menghampiri pintu gerbang. Serentak ke-duanya
bergerak menghadang seraya meraba gagang golok masing-masing. Kelihatan
keduanya bersiap un-tuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
"Mengapa kalian menghalangi jalanku?" tanya
lela-ki lusuh. Nada suaranya sedikit mengandung teguran.
Kedua penjaga pintu gerbang terlihat saling ber-pandangan.
Sorot mata mereka memancarkan kebin-gungan. Tidak salahkah pendengaran mereka?
"Maaf, kalau boleh kami tahu siapakah kau, Sobat? Apa
maksudnya datang kemari?" tanya salah seorang pengawal yang berkumis tapis
dan jarang. Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada hati-hati.
"Kalian tak mengenalku? O ya, mungkin kalian orang
baru di sini. Apakah kalian pernah mendengar nama Antaboga?" Lelaki lusuh
itu malah balik ber-tanya.
Wajah kedua penjaga itu langsung berubah. Meski memang
belum pernah melihat orang yang bernama Antaboga, tapi namanya sering mereka
dengar.
Kedua penjaga itu segera menganggukkan kepala.
"Benar," jawab pengawal yang bermuka hitam. "Apa
hubunganmu dengan Antaboga, Sobat?"
"Akulah orang yang bernama Antaboga itu!" tegas
lelaki lusuh. "Ah...!"
Kedua penjaga itu mengeluarkan seruan kaget. Pe-rasaan
terkejut yang sangat menghias wajah mereka:
"Kalau begitu maafkan kami, Pangeran. Kami tidak
mengenal pangeran sehingga bersikap tidak sopan," ucap kedua pengawal itu
sambil membungkukkan tu-buh.
"Hmh...!" Laki-laki berpakaian lusuh yang mengaku
bernama Antaboga itu mendengus. "Menyingkirlah ka-lian! Aku ingin
lewat!"
Pengawal yang bermuka hitam segera beringsut menyingkir.
Tapi, tidak demikian halnya dengan pen-gawal yang berkumis jarang-jarang. Dia
tetap berdiri menghadang jalan.
"Maafkan kami, Pangeran. Sebelum kami yakin ka-lau
Pangeran benar-benar Pangeran Antaboga, kami tak bisa memperkenankan masuk.
Maafkan kami, Pangeran. Kami tak ingin terjadi sesuatu atas diri Ra-den Ajeng
Dewi Cipta Rasa."
Pengawal bermuka hitam tercekat. Ucapan rekan-nya
menyadarkan dirinya kalau lelaki lusuh itu belum tentu Pangeran Antaboga. Maka,
dia pun segera me-langkah maju dan berdiri di sebelah temannya.
Pangeran Antaboga tersenyum.
"Bagus! Aku ingin tahu kepandaian kalian. Ingin
kulihat apakah kalian mampu menghalangiku," ujar Pangeran Antaboga bernada
menantang.
"Maafkan kami, Pangeran. Kami hanya menjalan-kan
tugas," pengawal bermuka hitam rupanya masih merasa tidak enak dengan
tindakan yang dilakukan-nya.
"Tidak usah banyak berbasa-basi! Ayo, serang
aku!" bentak Pangeran Antaboga.
"Maafkan kami, Pangeran Hiyaaa...!"
Pengawal berkumis jarang-jarang lalu menyerang Pangeran
Antaboga. Kaki kanannya diayunkan dalam bentuk tendangan miring.
Pangeran Antaboga hanya mendengus pelan. Tu-buhnya
didoyongkan ke belakang sehingga tendangan itu mengenai tempat kosong di
depannya. Pada saat yang bersamaan, tangan kanan Pangeran itu bergerak cepat.
Tappp! "Akh...!"
Pengawal berkumis jarang-jarang memekik kaget. Pergelangan
kakinya berhasil dicekal lawan, kemudian disentakkan dengan keras. Kuat bukan
main tenaga sentakan itu. Tubuh lelaki Itu sampai terlempar ke atas.
Pengawal bermuka hitam tentu saja terkejut meli-hat rekannya
dengan mudah ditanggulangi. Tanpa ra-gu-ragu lagi goloknya segera dicabut. Lalu
diputarnya sambil mendekati Pangeran Antaboga yang tetap berdi-ri tenang.
Dengan mengeluarkan seruan melengking nyaring, golok itu ditusukkannya ke arah
perut Pange-ran Antaboga. Tapi, lelaki lusuh itu, tidak bertindak apa pun.
Pangeran Antaboga tak mengelak atau pun menangkis.
Pengawal bermuka hitam yang tidak bermaksud untuk membunuh
menjadi kaget Sedapat mungkin se-rangannya diurungkan. Tapi dia tak mampu. Yang
da-pat dilakukannya hanya mengurangi tenaga!
Wukkk!
Kengerian pengawal bermuka hitam berganti den-gan
keterkejutan. Tampak jelas batang golok menem-bus perut, tapi tidak terdengar
suara apa pun. Tidak ada darah yang keluar. Tubuh Pangeran Antaboga tak
ubahnya bayangan! Batang golok yang seharusnya se-bagian
tak terlihat karena masuk ke dalam perut, ter-lihat semuanya.
Pengawal bermuka hitam terpaku bagai orang kena sihir.
Matanya membelalak lebar penuh ketidakper-cayaan. Pemandangan yang
disaksikannya ini terlalu luar biasa. Malah, rekannya sendiri pun terkesima di
tempatnya dan tidak melanjutkan penyerangan.
"Nyi Marca...!" seru Pangeran Antaboga ketika
me-lihat sesosok tubuh berpakaian hitam berdiri di bagian dalam pintu gerbang.
Sosok hitam yang ternyata seorang wanita berusia sekitar
lima puluh tahun. Wanita itu tertegun menden-gar panggilan Pangeran Antaboga.
"Siapa kau, Sobat! Dari mana kau tahu namaku?"
tanya wanita berpakaian hitam. Kakinya diayunkan mendekati Pangeran Antaboga.
Wanita yang dipanggil Nyi Marca ini menatap sekujur tubuh Pangeran Anta-boga
dengan penuh selidik.
Nyi Marca memang patut merasa heran. Nama yang disebutkan
Pangeran Antaboga adalah nama as-linya. Nama itu jarang diketahui orang. Dia
tak pernah memperkenalkan namanya kecuali pada junjungannya dan keluarganya.
Selain keluarga junjungannya, orang hanya mengenal dirinya sebagai Camar Hitam!
***
2
Pangeran Antaboga mengembangkan senyum geli. Tapi karena
keadaan wajahnya yang tak terurus dan kotor berdebu, senyuman yang diukirnya
terlihat se-
perti seringai kesakitan.
"Kau lupa padaku, Nyi Marca?" tanya Pangeran
An-taboga, tak dipedulikannya pertanyaan Camar Hitam.
Wajah Camar Hitam tampak menegang. Dahinya berkerut-kerut.
Wanita anggun yang menjadi pengawal pribadi Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa ini
kelihatan ber-pikir keras.
"Rasanya aku memang seperti pernah mengenal-mu, Anak
Muda. Sayang, aku lupa...," gumam Nyi Marca.
"Aku Antaboga, Nyi," sahut lelaki lusuh
memberi-tahu.
"Ya Allah...! Aku memang sudah pikun sehingga tak
mengenalmu lagi, Pangeran!" pekik Nyi Marca pe-nuh rasa kaget. Kelihatan
jelas rasa gembira membias di wajah wanita tua itu. "Beliau adalah
Pangeran Anta-boga," beritahu Nyi Marca pada kedua pengawal yang menjaga
pintu gerbang.
"Ah...! Maafkan kami, Pangeran. Kami telah bertin-dak
lancang. Kami siap menerima hukuman," ucap kedua pengawal itu buru-buru
seraya membungkuk hormat
"Lupakanlah. Aku bangga kalian berdua telah
men-jalankan tugas dengan baik," sahut Pangeran Antabo-ga.
Tentu saja kedua pengawal itu menjadi girang bu-kan main.
Tadi ketika Camar Hitam memanggil lelaki lusuh itu dengan Pangeran Antaboga,
mereka menjadi gelisah. Menurut dugaan mereka, sang pangeran akan memberikan
hukuman. Ternyata Pangeran Antaboga sama sekali tak marah. Malah, mereka
mendapat pu-jian.
"Mari, Pangeran. Aku yakin Raden Ajeng akan gembira
melihat kedatangan Pangeran," ajak Camar
Hitam. Dibawanya Pangeran Antaboga memasuki ban-gunan megah
itu.
"Boga...! Antaboga, Anakku...!"
"Ibu...!"
Pangeran Antaboga memburu ke arah seorang wa-nita berpakaian
indah. Wanita yang kelihatan anggun itu baru saja ke luar dari ruangan dalam.
Sedangkan Pangeran Antaboga berdiri baru memasuki ambang pintu ruangan tengah
yang mewah dan megah.
Pangeran Antaboga menjatuhkan tubuhnya duduk bersimpuh di
hadapan Ibunya. Dipeluknya kedua kaki wanita berusia sekitar lima puluh lima
tahun itu.
"Ibu, betapa rindunya aku pada Ibu...," adu
Pange-ran Antaboga.
"Aku pun demikian, Boga," balas Raden Ajeng Dewi
Cipta Rasa sambil mengusap-usap rambut sang pan-geran dengan penuh kasih
sayang. "Aku hampir tak percaya ketika mendengar berita kedatanganmu,
Boga. Kukira aku tak akan pernah bertemu dengan dirimu lagi."
"Nasib baik berpihak kepadaku, Ibu," jawab
Pange-ran Antaboga. Wajahnya ditengadahkan untuk bisa menatap wajah ibunya yang
sudah lama tak dijum-painya. "Aku tidak saja selamat. Tapi juga telah
men-dapatkan kepandaian, Ibu."
Pangeran Antaboga lalu perlahan-lahan bangkit berdiri.
Tubuhnya yang jangkung membuat Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa terpaksa agak
menengadah agar bisa menatap wajah putranya.
"Syukurlah kalau demikian, Boga," ujar Raden
Ajeng Dewi Cipta Rasa. "Karena memandang muka Ibu, mungkin Gusti Prabu
tidak memperpanjang masa-lah yang telah lalu."
"Dia boleh melupakan masalah itu, Ibu. Tapi aku
tak akan pernah lupa! Tua bangka yang tak tahu diri dan
telah menyengsarakan Ibu itu akan ku binasa-kan!" tandas Pangeran
Antaboga.
Lelaki jangkung ini mengepalkan tangan kanannya sehingga
menimbulkan bunyi bergemeretak nyaring. Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa kelihatan
terkejut. Bu-kan hanya karena sekitar ruangan itu bergetar seiring dengan
timbulnya bunyi itu, tapi juga karena sikap Pangeran Antaboga.
"Apa maksudmu, Boga?" tanya Raden Ajeng Dewi
Cipta Rasa dengan suara bergetar.
"Artinya, aku akan kembali menyusun kekuatan untuk
meruntuhkan kekuasaan tua bangka itu, Ibu!" tegas Pangeran Antaboga.
Sepasang mata Pangeran Antaboga memancarkan hawa membunuh.
Wajahnya yang meskipun tak tera-wat tapi kelihatan gagah dan tampan itu tampak
membesi. Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa sampai me-langkah mundur dengan bibir
gemetar. Kentara jelas keterkejutan melanda wanita itu
"Boga, Anakku...," setelah terdiam beberapa saat
akhirnya keluar juga ucapan dari mulut Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa. Suaranya
terdengar sarat dengan kekhawatiran. "Urungkan saja niatmu. Nak. Aku tak
ingin kehilangan kau. Kaulah satu-satunya anak ibu. Gusti Prabu tak akan
menyakitimu. Apalagi jika kau datang kepadanya untuk meminta maaf.
Dan...."
"Ibu!" Meski tetap lembut, tapi ucapan Pangeran
Antaboga dipenuhi tekanan. "Selama nyawa masih ada di badan dan selama
darahku masih berwarna merah, tak akan pernah terjadi Pangeran Antaboga meminta
maaf pada tua bangka licik itu!"
Sekujur tubuh Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa lang-sung
menggigil. Air mata mengalir membasahi kedua
pipinya. Selir raja ini merasa sedih bukan main men-dengar
keputusan yang diambil putranya. Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa tahu maksud
Pangeran Antaboga tak bisa dicegah lagi. Dirasakan adanya kesungguhan yang
besar dalam ucapan lelaki jangkung itu.
"Boga, Anakku.... Apakah kau tak sayang lagi pada Ibu,
Nak? Tegakah kau melihat Ibu yang telah renta ini tinggal sendiri? Kalau niatmu
itu kau teruskan, Gusti Prabu tak akan mengabulkan permintaan Ibu, Nak. Gusti
Prabu tak akan memaafkanmu lagi. Kau akan dihukum mati, Boga," ujar Raden
Ajeng Dewi Cipta Ra-sa dengan suara tersendat dan air mata mengalir de-ras.
"Aku tak perlu ampunan tua bangka gila itu, Ibu! Aku
lebih suka mati daripada beroleh maafnya. Maaf-kan aku, Bu. Aku tak bisa
memenuhi permintaanmu yang satu ini. Apa pun yang terjadi, raja sialan itu akan
ku gulingkan!"
Tangis Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa semakin men-jadi-jadi.
Wanita ini sampai menutupi wajahnya den-gan kedua tangan. Pangeran Antaboga
yang amat sayang pada ibunya menggertakkan gigi kuat-kuat agar tak ikut
terharu.
"Ingatlah, Boga...," ujar Raden Ajeng Dewi Cipta
Rasa. "Biar bagaimanapun Gusti Prabu adalah ayah-mu. Dia yang telah
menyebabkan kau lahir ke dunia ini. Tak baik seorang anak membunuh ayahnya
sendi-ri...."
"Aku tak pernah menganggapnya sebagai ayahku,
Bu!" geram Pangeran Antaboga dengan wajah merah padam. "Sejak kecil
aku tak pernah merasa kasih sayangnya. Dia lebih sayang pada anak-anaknya yang
lain. Malah, kedudukan sebagai raja akan diberikan-nya pada si keparat
Kertasana! Padahal akulah pange-
ran yang paling tua di antara semua pangeran yang ada.
Tidakkah Ibu melihat semua ketidakadilan ini?!"
Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa hanya membisu. Apa yang
dikatakan putranya memang benar. Raja telah bertindak tak adil. Padahal menurut
perhitungan Pan-geran Antabogalah yang seharusnya diangkat sebagai raja. Ibunya
adalah selir pertama raja, sementara per-maisuri tak mempunyai keturunan.
"Maafkan aku, Ibu. Aku tak bisa memenuhi
per-mintaanmu," ujar Pangeran Antaboga. Dia lalu me-langkah meninggalkan
Raden Ajeng Dewi Cipta Rasa yang tenggelam dalam kedukaan.
***
"Ibu..."
Suara pelan mengandung isak tangis memecah ke-sunyian pagi.
Suara itu berasal dari seorang gadis ber-pakaian kuning. Dia tengah duduk
bersimpuh di de-pan gundukan tanah merah sebuah kuburan.
"Aku dan Kakak Angruna akan pergi merantau un-tuk
menunaikan sebuah tugas suci, Ibu. Kami tak bisa lagi menjengukmu setiap hari
seperti biasanya. Kuha-rap kau berbaring tenang di tempat istirahat mu, Bu.
Doakan agar aku dan Kakak Angruna berhasil menye-lesaikan tugas suci itu. Aku
mohon pamit, Bu"
Sosok yang bukan lain dari Kusumawati itu bang-kit
perlahan-lahan. Bunga di tangan ditaburkannya ke atas makam ibunya. Angruna
yang sejak tadi berdiri dengan wajah ditundukkan ikut menaburkan bunga. Setelah
melepaskan pandangan berat yang terakhir ka-linya, Kusumawati dan Angruna
membalikkan tubuh. Kaki-kaki mereka diayunkan meninggalkan area pe-makaman.
Tapi baru beberapa langkah, ayunan kaki sepasang muda-mudi
ini terhenti. Pendengaran mereka menang-kap bunyi-bunyi yang mencurigakan dari
arah bela-kang. Hampir berbarengan Kusumawati dan Angruna menolehkan kepala ke
sana. Dan... seketika mata me-reka membelalak dengan mulut ternganga.
Pemandangan yang mereka saksikan terlalu mengi-riskan hati!
Permukaan gundukan semua tanah kubu-ran yang ada di situ tak terkecuali makam
ibu mereka, bergetar keras seperti ada sesuatu yang hendak ke-luar.
Kusumawati dan Angruna adalah pemuda-pemudi gemblengan.
Mereka telah memiliki kepandaian tinggi. Menghadapi ancaman maut pun kakak
beradik ini akan dapat menghadapinya dengan hati tenang. Tapi apa yang mereka
saksikan ini terlalu mengerikan. An-gruna dan Kusumawati terdiam di tempat
dengan jan-tung memukul keras. Wajah kakak beradik ini tampak tegang bukan
main!
Getaran pada makam-makam semakin menghebat Angruna dan
Kusumawati yang berdiri terpaku tak sa-dar kalau kaki-kaki mereka menggigil
keras. Rasa nye-ri membersit baik dari sorot mata maupun wajah me-reka.
"Oooh...!"
Kusumawati tak kuasa untuk menahan jeritan li-rih.
Gundukan-gundukan tanah kuburan ambrol ka-rena ada tangan-tangan berkuku
runcing kehitaman menyembul dari dalamnya.
Angruna yang lebih tabah masih sempat mengga-mit tangan
Kusumawati. Meski demikian, kengerian yang mencekam membuat tangan Angruna menggigil
seperti orang terkena demam tinggi.
Angruna dan Kusumawati hampir tak percaya akan
penglihatan mereka. Sosok-sosok tubuh tampak keluar dari
lubang kuburan! Sosok yang memiliki ciri-ciri mengiriskan hati. Tubuh mereka
kurus kering, tak memiliki daging dan terbungkus pakaian koyak-koyak. Sehelai
pakaian yang telah rapuh terjatuh ke tanah ke-tika angin berhembus agak keras.
Sosok-sosok itu adalah mayat-mayat yang bangkit dari
kuburnya! Ciri-ciri mereka, dan terutama sekali bau bangkai yang menyebar dari
sekujur tubuh, telah menjadi bukti tak terbantahkan lagi!
Mayat-mayat itu dengan langkah kaku bergerak mendekati
Angruna dan Kusumawati. Jumlah mereka puluhan. Bau busuk yang hampir membuat
Angruna dan Kusumawati muntah-muntah semakin menyengat, seiring dengan
mendekatnya mayat-mayat. Angruna yang lebih tabah segera sadar akan adanya
bahaya mengancam.
"Kuatkanlah hatimu, Wati. Bangkitkan semangat mu.
Kalau tidak makhluk-makhluk jahanam itu akan merencah-rencah kita,"
beritahu Angruna dengan sua-ra bergetar, menahan perasaan ngeri.
Ucapan Angruna membangkitkan kesadaran Ku-sumawati.
Ditariknya napas dalam-dalam lalu dibu-sungkan kuat-kuat untuk menenangkan
hati. Cara itu memang berhasil mengurangi ketegangan yang melan-da dirinya.
Angruna sendiri telah mencabut golok yang menja-di senjata
andalannya. Kusumawati segera mengikuti dengan meloloskan sabuknya. Sabuk
jingga berbau harum.
Ctarrr!
Kusumawati yang tak ingin sabuknya menyentuh tubuh
mayat-mayat hidup, sengaja melecutkan senja-tanya ke udara. Diharapkan lecutan
nyaring yang ter-
cipta akan membuat makhluk-makhluk menjijikkan itu menjauh.
Tapi harapan Kusumawati kandas. Mayat-mayat hidup sama
sekali tak mempedulikan bunyi sabuk. Mereka terus bergerak menghampiri.
Gerakan-gerakan makhluk menjijikkan ini sekarang jauh lebih gesit. Rupanya
mereka mulai terbiasa bergerak.
Melihat kebandelan mayat-mayat hidup ini Kusu-mawati tak
mempunyai pilihan lain. Gadis ini tak ingin bau busuk yang menyergap hidungnya
semakin men-jadi-jadi. Kusumawati segera melecutkan ujung sa-buknya ke arah
mayat hidup terdepan. Sabuk melun-cur dan menghantam dada makhluk menjijikkan
itu.
Ctarrr!
Mayat hidup yang sial itu terhuyung-huyung ke be-lakang
beberapa langkah. Pakaiannya hancur beranta-kan pada bagian yang terkena
lecutan. Mayat hidup itu sendiri sedikit pun tak terluka! Begitu kekuatan yang
membuat tubuhnya terhuyung punah, mahluk menji-jikkan itu kembali merangsek
maju.
Bukan hanya Kusumawati saja yang terkejut meli-hat kekuatan
mayat hidup itu, Angruna pun demikian. Lecutan sabuk adiknya mampu
menghancurkan batu karang yang paling keras sekalipun. Dia sendiri bila terkena
lecutannya akan terluka berat. Tapi, mayat hi-dup itu tak kurang suatu apa!
Makhluk menjijikkan itu bagai tak merasakan.
Angruna dan Kusumawati tak bisa berlama-lama tenggelam
dalam keheranannya. Mayat-mayat hidup telah semakin dekat. Sambil berteriak
keras untuk menguatkan semangatnya, Angruna membolang-balingkan
golok di depan dada.
Seperti juga Kusumawati, Angruna menerima ke-nyataan pahit.
Serangan-serangannya sama sekali tak
berarti. Betapa pun telah dikerahkan seluruh tenaga
babatan, bacokan, dan tikaman goloknya tidak mampu membuat buntung anggota
tubuh makhluk-makhluk menjijikkan itu. Malah serangan-serangan yang menu-suk
dada dan perut tak ubahnya menusuk batang pi-sang. Amblas ke sasaran tapi tak
membuahkan hasil sama sekali!
Angruna dan Kusumawati tak putus asa. Kedua anak Sanggara
ini dengan gagah berani melakukan perlawanan. Tak terhitung sudah senjata,
tangan, atau kaki mereka mengenai sasaran. Tapi, kesudahannya hanya membuat
tubuh makhluk-makhluk menjijikkan itu terhuyung-huyung. Setelah itu,
mayat-mayat hidup kembali menyerbu. Dan meskipun Angruna serta Ku-sumawati
telah mempergunakan berbagai cara, hasil yang didapat tetap sia-sia.
Kedua kakak beradik ini sadar benar lama-kelamaan merekalah
yang akan celaka. Tenaga mereka mulai berkurang dan akan terus berkurang.
Sementa-ra makhluk-makhluk menjijikkan itu bagai memiliki tenaga yang tak
pernah habis. Kekuatan dan kegesitan mereka sedikit pun tak berkurang.
Tak sampai dua puluh jurus Angruna dan Kusu-mawati sudah
terdesak. Serangan-serangan yang se-mula gencar semakin tak terlihat. Gerakan
senjata yang mereka lakukan sebagian besar hanya untuk menangkis serangan
lawan.
"Wati...! Tak ada gunanya melakukan perlawanan!
Selamatkan dirimu...!"
Seiring dengan selesainya seruan itu Angruna me-lesat
menerjang dengan nekat. Tanpa mempedulikan pertahanan diri pemuda ini
mengerahkan seluruh ke-mampuan yang masih tersisa. Goloknya diputar laksa-na
kitiran kemudian dibabatkan ke arah lawan-
lawannya.
Kenekatan Angruna tidak sia-sia. Kerumunan mayat hidup
langsung membuyar. Beberapa di antara mereka berpentalan tak tentu arah. Namun,
tindakan nekat itu harus ditebus cukup mahal oleh Angruna. Dua di antara mayat-mayat
hidup berhasil menya-rangkan sampokan yang mengenai perut dan bahu ka-nan.
Tidak ada jeritan atau keluhan dikeluarkan putra Sanggara
ini. Hanya seringai pada mulutnya menun-jukkan kalau pemuda ini merasa
kesakitan. Darah mengalir dari bagian tubuh Angruna yang tersampok. Bagian
perut dan bahunya tergurat oleh kuku-kuku mayat-mayat hidup yang runcing dan
kehitaman.
"Kak Angruna...!" jerit Kusumawati kaget dan
kha-watir. Gadis ini segera bergerak untuk menolong ka-kaknya.
"Jangan pedulikan aku! Cepat kau tinggalkan tem-pat
ini!" cegah Angruna sebelum Kusumawati mende-kat.
Pemuda itu lalu kembali menyerang lawannya den-gan membabi
buta. Serangannya tidak ditujukan pada seorang lawan, melainkan semuanya.
Tindakan itu di-lakukan untuk mengalihkan penyerangan mayat-mayat hidup dari
Kusumawati
"Tapi, Kak...!"
Ucapan Kusumawati terhenti di tengah jalan kare-na dua
mayat hidup menyerbunya. Gadis ini memain-kan sabuknya hingga terbentuk
gulungan-gulungan seperti gelang besar. Dan, gelang-gelang itu menghan-tam tubuh
mayat-mayat hidup hingga terpental ke be-lakang.
"Pergilah cepat, Wati! Aku akan menyusulmu...!"
perintah Angruna penuh tekanan.
Kusumawati tak membantah lagi. Dengan hati dia melesat
meninggalkan tempat itu. Dirasakan benar ucapan Angruna tak menghendaki adanya
bantahan. Karena itu Kusumawati tak berani menentangnya. Ku-sumawati amat
menghormati kakaknya karena gadis ini tahu kalau Angruna amat sayang padanya.
Tiga mayat hidup berusaha mencegah kepergian Kusumawati.
Tapi dengan lecutan sabuknya gadis ini mampu membuat makhluk-makhluk
menjijikkan itu mencium tanah. Angruna tersenyum lega melihat adiknya berhasil
lolos. Sekarang pemuda ini berjuang sendiri untuk mempertahankan nyawanya.
Kusumawati terus berlari tanpa mengendurkan ke-cepatannya.
Sempat dilihatnya beberapa mayat hidup mengejarnya. Lari mereka ternyata cukup
cepat. Na-mun demikian makhluk-makhluk menjijikkan itu tak mampu menandingi
kecepatan lari Kusumawati.
Gadis itu berlari menuju arah yang akan ditem-puhnya
bersama Angruna. Dengan begitu kakaknya nanti akan bisa menemukannya.
Kusumawati baru menghentikan lari ketika tak melihat pengejaran dari
mayat-mayat hidup. Disandarkannya punggungnya pada salah satu pohon yang ada di
dekatnya. Peluh yang membasahi sekujur wajah disusutnya dengan sa-pu tangan
warna jingga. Kusumawati memutuskan un-tuk menunggu Angruna di tempat ini.
Sambil membayangkan kejadian mengerikan yang ditemuinya,
Kusumawati mengedarkan pandangan ke sekitar. Tampak pohon besar yang rata-rata
tingginya sama. Dia rupanya tengah berada di hutan karet
Debaran jantung Kusumawati yang telah mulai me-reda
tiba-tiba berpacu dengan cepat lagi. Perasaan khawatir kembali melanda ketika
pendengarannya me-nangkap suara langkah-langkah mendekati tempatnya
berada. Bunyi langkah bergemuruh seakan-akan ada
serombongan orang tengah bergerak. Nadanya terden-gar tetap dan berirama.
Kusumawati memutar benaknya sebentar untuk mencari jalan
selamat. Pengalaman pertamanya terjun ke dunia persilatan yang mengerikan tadi
membuatnya jadi bersikap lebih hati-hati. Setelah memperhatikan keadaan
sekitarnya sebentar, Kusumawati melompat ke atas. Laksana seekor kera
Kusumawati melompat dari satu cabang ke cabang yang lain. Dan, pada ca-bang
pohon yang tinggi dan banyak ditumbuhi daun-daun gadis ini berhenti melompat
lalu duduk di da-hannya.
Dari balik kerimbunan dedaunan Kusumawati mengintai ke
bawah. Tampak serombongan pasukan berkuda tengah menuju ke tempat putri
Sanggara ini tadi berada. Jarak antara pasukan berkuda dengan tempat Kusumawati
berada tak kurang dari lima belas tombak. Hanya karena terhalang banyak pohon
mere-ka tak bisa saling melihat
Pasukan berkuda itu berjumlah dua puluh orang. Yang berkuda
paling depan adalah dua orang bersera-gam panglima.
"Benarkah Pangeran Antaboga telah kembali,
So-ka?" tanya panglima bermuka kuning.
"Hhh...!" Panglima Soka yang bertubuh tinggi
besar terlebih dulu menghela napas berat "Menurut berita yang kudengar
memang demikian, Gardika. Karena itu Gusti Prabu menyuruh kita untuk mencek
kebenaran-nya, Gusti Prabu khawatir Pangeran Antaboga akan kembali
memberontak!"
"Aku sependapat dengan Gusti Prabu, Soka," ujar
Panglima Gardika. "Dulu aku tak setuju Gusti Prabu menghukum buang
pangeran pemberontak itu. Aku
cenderung menginginkan Pangeran Antaboga dihukum mati agar
peristiwa pemberontakan itu tak terulang la-gi."
"Gusti Prabu tak ingin mengecewakan Raden Ajeng Dewi
Cipta Rasa. Raden Ajenglah yang membuat Pan-geran Antaboga lolos dari hukuman
mati. Raden Ajeng meminta pada Gusti Prabu agar Pangeran Antaboga
diampuni," sambung Panglima Soka setengah menye-salkan keputusan rajanya.
"Apakah Gusti Prabu tak tahu kalau Pangeran An-taboga
merupakan orang yang amat berbahaya?" ujar Panglima Gardika lagi
"Padahal melihat keinginan dan kepandaian Pangeran Antaboga sudah
seharusnya dia dihukum mati. Dulu pun tak ada tokoh kerajaan yang mampu
menandingi kepandaiannya. Entah sekarang apakah kepandaian Pangeran Antaboga
telah maju pe-sat. Tapi aku yakin pangeran itu lebih berbahaya dari-pada
dulu."
Panglima Soka terlihat menganggukkan kepala. "Terlepas
dari kekhawatiran dan dugaan kita, aku
lebih suka kalau Pangeran Antaboga menyadari
kekeli-ruannya. Tentu saja jika berita mengenai kembalinya Pangeran Antaboga
itu benar."
"Aku pun berharap demikian, Soka," dukung
Pan-glima Gardika.
***
3
Brosss! Brosss! Brosss!
Panglima Soka dan Panglima Gardika bergegas menghentikan
langkah kuda mereka, ketika sekitar sa-
tu tombak di depan mereka muncul sosok-sosok dari dalam
tanah. Sosok mayat hidup!
Tindakan kedua panglima itu membuat pasukan di belakang
mereka menghentikan laju kudanya. Mereka semua lalu mencabut pedang yang
tergantung di ping-gang. Bunyi-bunyi berdesing nyaring terdengar.
Keberanian rombongan di bawah pimpinan Pangli-ma Soka dan
Panglima Gardika rupanya tidak dimiliki binatang tunggangan mereka. Kuda-kuda
yang besar dan kuat itu meringkik ketakutan. Kedua kaki depan-nya diangkat
tinggi-tinggi. Binatang-binatang itu ru-panya merasa terancam.
Panglima Soka, Panglima Gardika, dan delapan be-las
prajurit kerajaan berusaha sekuat tenaga mene-nangkan binatang tunggangannya.
Tapi sia-sia belaka. Kuda-kuda yang biasanya amat taat pada perintah
ma-jikannya itu, sekarang jadi tak terkendali. Malah, bina-tang-binatang itu
berusaha sekuat tenaga melempar-kan majikannya.
"Biarkan binatang-binatang itu kabur!" seru
Pan-glima Soka untuk mengatasi riuh rendah ringkik kuda yang ketakutan.
Binatang tunggangan itu sudah tak bisa dikendali-kan lagi.
Tindakan liar binatang-binatang itu akan membuat mereka memusatkan perhatian
untuk men-gendalikannya. Padahal, mayat-mayat hidup telah ber-siap untuk
menyerang.
Perintah Panglima Soka langsung dituruti oleh se-mua
prajurit, tak terkecuali Panglima Gardika. Mereka semua berlompatan ke tanah.
Kuda-kuda yang mereka tunggangi pun berlarian kalang kabut meninggalkan tempat
itu.
Panglima Soka segera memerintahkan para praju-ritnya untuk
membentuk lingkaran, karena mayat-
mayat hidup bermunculan dari dalam tanah di sekelil-ing
tempat mereka. Panglima Soka dan rombongannya terkurung oleh puluhan
mayat-mayat hidup itu.
"Astaga,..! Apakah mereka tak betah tinggal di da-lam
tanah sehingga beramai-ramai keluar?!" ujar Pan-glima Gardika dengan suara
tercekat di tenggorokan.
Panglima bermuka kuning ini telah menghunus pedangnya.
Demikian juga Panglima Soka. Dua pan-glima ini dan seluruh prajurit kerajaan
menatap mak-hluk-makhluk menjijikkan yang mendekati mereka dengan mata
membelalak kaget. Mulut mereka tak henti-hentinya memercikkan ludah. Bau busuk
me-nyengat hidung hingga membuat isi perut seperti hen-dak keluar.
"Ini ada hubungannya dengan tanda aneh di langit
beberapa hari yang lalu aku rasa," ucap Panglima Soka dengan suara kering
karena perasaan tegang. Memang, meskipun Panglima Soka telah puluhan kali
berhada-pan dengan bahaya kematian, tapi menghadapi mayat-mayat hidup merupakan
hal yang belum pernah di-alaminya.
"Kau benar, Soka. Sekarang terjawab sudah teka-teki
keanehan angkasa itu," timpal Panglima Gardika mendukung dugaan kawannya.
Tapi Panglima Soka dan Panglima Gardika tak bisa
berbincang-bincang lebih lama. Mayat-mayat hidup te-lah menerjang mereka.
Rombongan Panglima Soka pun segera menyambutnya.
Wuttt!
Panglima Soka yang mendapat giliran diserang le-bih dulu.
Sesosok mayat hidup menerkam dengan ke-dua cakar terkembang tak ubahnya tingkah
seekor ha-rimau.
Panglima Soka tak ingin maksud mayat hidup itu
tercapai. Di samping merasa ngeri terkena sambaran
kuku-kuku runcing dan hitam itu, dia juga merasa ji-jik. Mayat hidup yang
menyerang panglima ini memang terlalu rusak keadaannya. Daging di sekujur tubuh
makhluk itu sebagian besar telah hilang. Mulutnya mengeluarkan lendir
kekuningan mirip nanah yang berbau amat busuk.
Panglima Soka segera menyambut terkaman mayat hidup itu
dengan tusukan pedang ke arah leher!
Cappp!
Telak dan keras sekali serangan Panglima Soka mendarat di
sasaran. Batang pedang panglima tinggi besar ini sampai amblas ke leher
belakang. Tapi, hasil-nya membuat Panglima Soka terperanjat
Bukan hanya tidak adanya darah yang keluar dari leher mayat
hidup yang tertembus pedang, tapi tak terpengaruhnya mayat hidup itu oleh
tusukan. Mayat itu tetap meluncur ke arah Panglima Soka dengan ca-kar-cakar
siap menghunjam! Panglima Soka terpaksa membanting tubuh ke tanah dan
bergulingan. Pedang-nya tertinggal di leher makhluk menjijikkan itu.
"Mayat hidup itu tak membiarkan buruannya lolos. Tubuh
Panglima Soka yang tengah bergulingan dike-jarnya. Pedang yang masih menembus
leher itu mem-buatnya kerepotan untuk menyerang. Kejadian menak-jubkan ini tak
hanya melanda Panglima Soka. Semua anggota rombongannya pun demikian. Mereka
semua terlibat dalam pertarungan aneh yang baru pertama kali ini mereka alami.
Di atas pohon Kusumawati memperhatikan semua yang terjadi
dengan hati ngeri. Gadis ini tahu lambat laun rombongan pasukan kerajaan akan
hancur. Tan-da-tanda ke arah itu sudah dilihatnya. Kusumawati tak kuasa untuk
terus melihat ketika beberapa orang
prajurit mengalami nasib naas.
Mereka tewas secara mengerikan, direncah-rencah mayat-mayat
hidup. Makhluk-makhluk menjijikkan itu membunuh lawannya tak hanya dengan
cakar. Gigi-gigi mereka yang runcing dan hitam pun dipergunakan untuk menggigit
leher korbannya.
Pertarungan belum berlangsung dua puluh jurus. Tapi, jerit
kematian dari rombongan Panglima Soka tak henti-hentinya berkumandang. Satu
persatu mereka roboh ke tanah. Tubuh-tubuh para prajurit yang ma-lang itu
bergeletakkan memenuhi sekitar tempat itu. Panglima Soka dan Panglima Gardika
yang paling he-bat di antara rombongan itu hanya bisa menggertak-kan gigi.
Untuk menolong mereka tak mempunyai daya sama sekali. Jangankan menolong,
keadaan mereka sendiri tengah terjepit
"Kurasa tak ada gunanya melawan mereka terus,
Gardika!" teriak Panglima Soka.
"Benar, Soka!" sambung Panglima Gardika yang
ju-ga tengah terjepit oleh keroyokan mayat-mayat hidup. "Mereka bukan manusia!
Mereka tak bisa kita binasa-kan!"
"Gusti Prabu harus kita beritahu agar berjaga-jaga
dari serangan makhluk-makhluk jahanam ini, Gardi-ka. Aku khawatir mereka akan
menyebar ke mana-mana dan menimbulkan kekacauan!"
Panglima Soka menyempatkan diri mengerling ke arah anak
buahnya yang masih tersisa.
"Tidak ada gunanya melawan. Tinggalkan mereka!
Selamatkan diri masing-masing. Kerajaan harus tahu akan adanya makhluk-makhluk
jahanam ini. Kembali dan laporkan pada Gusti Prabu...!"
Seruan Panglima Soka itu keras bukan main. Pan-glima ini
memang mengerahkan tenaga dalam ketika
berteriak, agar bisa terdengar oleh semua anak buah-nya.
Seruan Panglima Soka membuat seluruh anggota rombongan berusaha membebaskan
diri dari kepun-gan. Panglima Soka dan Panglima Gardika segera me-nyusul.
Dengan kemampuannya kedua panglima ini berhasil meloloskan diri pari kepungan
Keberuntungan yang diterima Panglima Soka dan Panglima
Gardika tak dialami anak buah mereka. Ke-mampuan para prajurit memang tak bisa
dibanding-kan dengan kedua panglima kosen itu. Meski kemam-puan mayat-mayat
hidup tak melebihi kepandaian pa-ra prajurit, tapi jumlah mereka yang sudah
menyusut jauh membuat setiap prajurit berhadapan dengan tiga mayat hidup. Satu
persatu para prajurit itu roboh da-lam usahanya membebaskan diri dari kepungan
Hanya Panglima Soka dan Panglima Gardika yang berhasil
lolos meninggalkan tempat itu. Untuk usaha keras itu mereka berdua harus
menebusnya dengan luka-luka. Terhuyung-huyung keduanya berlari me-ninggalkan
lawan-lawannya. Panglima Soka setengah menyeret Panglima Gardika yang menderita
luka-luka parah. Di belakang mereka mayat-mayat hidup ber-bondong-bondong
mengejar.
Rupanya, makhluk-makhluk menjijikkan itu tak ingin
melepaskan lawannya hidup-hidup.
"Aku sudah tak kuat lagi, Soka," ujar Panglima
Gardika dengan napas terengah.
Panglima bermuka kuning ini sudah tak kuat lagi mengayunkan
kaki. Darah yang mengalir deras dari luka-luka di sekujur tubuhnya membuat
panglima ini lemas dengan cepat. Apa lagi dalam kuku-kuku mayat-mayat hidup
memang mengandung racun.
"Kuatkan dirimu, Gardika! Aku akan membawamu ke
kerajaan. Tabib-tabib istana akan mengobati luka-
lukamu," sahut Panglima Soka seraya terus berlari
dengan sebelah tangan mencekal pergelangan tangan Panglima Gardika.
Keadaan Panglima Soka sendiri tak terlalu meng-gembirakan.
Luka-luka yang dideritanya memang tak separah Panglima Gardika, tapi racun yang
menyeruak dari luka-luka akibat cakaran mayat-mayat hidup membuatnya lemas dan
pusing. Keadaan membuat ke-cepatan larinya berkurang jauh.
Sementara itu mayat-mayat hidup memiliki kecepa-tan lari di
bawah Panglima Soka. Namun makhluk-makhluk itu bagaikan mempunyai tenaga yang
tak pernah habis. Mereka tetap segar. Maka, jarak yang memisahkan kedua
panglima itu dengan mayat-mayat hidup semakin dekat. Baik Panglima Soka maupun
Panglima Gardika menyadari keadaan yang gawat itu. Meskipun demikian, Panglima
Soka tetap membawa rekannya berlari.
"Tinggalkan aku, Soka. Kau kembalilah ke kera-jaan.
Jangan sia-siakan nyawamu untuk membawaku. Aku sudah tak kuat lagi,"
beritahu Panglima Gardika lagi yang tak ingin rekannya karena ingin
menyela-matkan dirinya lalu ikut dikejar-kejar mayat hidup.
"Tidak!" bantah Panglima Soka berkeras dengan
maksudnya. "Apa pun yang akan terjadi tak akan ku-biarkan kau sendiri
menunggu maut. Kita akan kem-bali ke kerajaan dengan selamat, Gardika. Berdua,
kau dan aku!"
Panglima Gardika menoleh ke belakang. Dilihatnya rombongan
mayat-mayat hidup semakin dekat. Dia ta-hu tak lama lagi mayat-mayat hidup itu
akan berhasil menyusul. Dan bila itu terjadi, dia dan Panglima Soka akan
celaka. Panglima Gardika menggertakkan gigi. Pedang yang masih tergenggam di
tangan dibacokkan
ke arah tangannya yang dicekal Panglima Soka. Panglima Soka
sempat menangkap bunyi desir ge-
rakan pedang Panglima Gardika. Panglima tinggi besar ini
terkejut. Kepalanya cepat-cepat ditolehkan ke bela-kang
"Gardika...!" seru Panglima Soka kaget. Dia tak
menyangka tindakan nekat rekannya.
Panglima Soka tak sempat mencegah perbuatan Panglima
Gardika. Dia hanya sempat melihat tangan Panglima Gardika putus. Sehingga hanya
potongan tangan panglima bermuka kuning itu yang ada di genggaman tangannya.
Panglima Soka yang cerdik segera bisa menerka maksud
Panglima Gardika. Dan, panglima ini tak mau membiarkan maksud rekannya itu
terlaksana. Segera dihentikan larinya dan melesat untuk menangkap Panglima
Gardika.
Panglima Gardika lebih cepat bertindak. Tanpa mempedulikan
darah yang mengalir dari tangannya yang buntung, dia menjejakkan kaki lalu
melempar tubuhnya ke belakang. Panglima bermuka kuning ini malah terjun ke
dalam kerumunan mayat-mayat hi-dup!
"Selamat tinggal, Soka! Sampaikan hormatku un-tuk
Gusti Prabu...!" teriak Panglima Gardika sebelum tubuhnya dihujani
serangan cakar dan gigitan mayat-mayat hidup yang berebut untuk menyambut
kedatan-gan tubuhnya.
"Gardika...!" seru Panglima Soka sekeras-kerasnya
melihat nasib yang menimpa Panglima Gardika.
Panglima tinggi besar ini bergerak untuk menyela-matkan
rekannya. Tapi, langkahnya terhenti ketika menangkap ucapan Panglima Gardika.
"Jangan sia-siakan usahaku ini, Soka...."
Tubuh Panglima Soka menggigil melihat kematian rekannya
tanpa dia mampu berbuat apa pun untuk menolong.
"Tak akan ku sia-siakan pengorbanan mu, Gardi-ka. Aku
akan selamat Tapi kelak akan kubalaskan kematianmu..!" desis Panglima Soka
penuh dendam.
Panglima tinggi besar ini kemudian membalikan tubuh dan
berlari meninggalkan tempat itu. Mayat-mayat hidup mengejarnya
berbondong-bondong. Kali ini makhluk-makhluk menjijikkan itu terus tertinggal.
Semakin lama jarak yang terentang semakin jauh. Te-kad yang besar untuk selamat
agar pengorbanan Pan-glima Gardika tak sia-sia, menyebabkan Panglima So-ka
seperti mendapat tambahan tenaga baru.
Sementara itu, Kusumawati hampir jatuh dari ca-bang pohon
yang didudukinya. Seluruh tenaganya se-perti lenyap. Ingin rasanya gadis ini
menjerit-jerit men-gingat nasib Angruna.
Kusumawati menggigit bibirnya keras-keras untuk mengusir
perasaan sedih dan haru yang menggelegak. Dia tak ingin mengeluarkan bunyi
sekalipun lirih. Ga-dis ini khawatir keberadaannya di atas pohon akan
di-ketahui rombongan mayat hidup. Siapa tahu makhluk-makhluk menjijikkan itu
memiliki pendengaran yang tajam.
Kusumawati sebenarnya tak takut mati. Tapi mati di tangan
mayat-mayat hidup dia merasakan ngeri bu-kan main. Karena itu sedapat mungkin
gadis ini beru-saha untuk tak bergerak. Bahkan bernapas pun ham-pir-hampir
ditahan.
Kusumawati sudah merasa lega ketika melihat mayat-mayat
hidup berbondong-bondong mengejar Panglima Soka. Panglima kerajaan itu berlari
menuju kerajaannya, arah semula dia dan rombongannya da-
tang. Arah itu menjauhi tempat di mana Kusumawati berada.
Dengan hati tegang Kusumawati mengarahkan pandangan ke arah
di mana tadi dia meninggalkan An-gruna. Putri Sanggara ini berharap kakaknya
selamat dan segera tiba di tempat ini. Dia akan mengajak An-gruna bersembunyi
dulu di atas pohon, menunggu sampai mayat-mayat hidup tak ada lagi.
Kusumawati mengarahkan pandangan lagi ke arah mayat-mayat
hidup yang mengejar Panglima Soka. Hampir jantung gadis ini lepas dari dada.
Berbondong-bondong makhluk-makhluk itu menuju kemari! Ku-sumawati tak tahu
apakah nasib yang menimpa Pan-glima Soka. Berhasilkah panglima itu
menyelamatkan diri dari makhluk-makhluk yang haus darah ini.
Pertanyaan yang bergayut di benak Kusumawati itu segera
berganti dengan perasaan tegang, ketika meli-hat mayat-mayat hidup mengedarkan
pandangan ke sekitar tempatnya berada. Tingkah makhluk-makhluk menjijikkan itu
seperti ada yang tengah dicarinya. "Akukah yang dicari-cari mereka?"
tanya Kusumawati dalam hati
Kekhawatiran Kusumawati semakin membesar me-lihat
makhluk-makhluk menjijikkan itu melangkah mendekati pohon tempatnya berada.
Kepala mayat-mayat hidup itu ditolehkan ke sana kemari, Semakin mayat-mayat
hidup mendekat semakin tegang pera-saan Kusumawati. Detak jantungnya berpacu
lebih ce-pat. Semakin besarlah dugaannya kalau dialah yang dicari mayat-mayat
hidup itu!
"Grrrhhh...!"
Tepat di sekitar pohon di mana Kusumawati ber-sembunyi,
mayat-mayat hidup menghentikan langkah. Mereka mengelilingi pohon dengan kepala
didongak-
kan. Geraman yang dikeluarkan terdengar bergemuruh karena
dilakukan secara bersamaan.
Wajah Kusumawati langsung berubah putih laksa-na kapur.
Rasa ngeri yang mencekam hati membuat seluruh kemampuannya buyar. Malah, kedua
kaki dan sekujur tubuh Kusumawati terasa lemas tak bertena-ga.
Sambil menggeram laksana binatang buas salah satu mayat
hidup mencakari batang pohon. Kusuma-wati semakin panik. Tapi, gadis ini tak
mampu berbuat apa pun. Kemudian dengan menggeram sekali lagi mayat hidup itu
mengerahkan tenaga untuk mengang-kat. Batang pohon berguncang keras. Kusumawati
ter-paksa berpegangan agar tak jatuh. Gadis ini tak berani melompat karena
lemahnya tubuhnya. Bahkan, ketika pohon itu tercabut dari tanah dengan membawa
serta akar-akarnya!
Untuk ke sekian kalinya mayat hidup itu mengge-ram keras.
Tangannya diayunkan. Seketika pohon di mana Kusumawati berada meluncur cepat
bak anak panah lepas dari busur. Kusumawati sadar keadaan amat berbahaya.
Diusahakannya untuk menenangkan hati. Ditariknya napas panjang berulang-ulang
selagi pohon itu meluncur. Usaha Kusumawati berhasil. Ke-tenangannya berhasil
dipulihkan dan seiring dengan itu tenaganya mulai timbul kembali.
Kusumawati melompat ketika pohon tempatnya be-rada hampir
menghantam pohon lainnya. Berbarengan dengan menjejaknya kedua kaki gadis ini
di tanah, bunyi hiruk-pikuk terdengar ketika pohon yang me-luncur berbenturan
dengan pohon tersebut. Begitu menjejak tanah Kusumawati langsung berlari.
Seluruh kemampuannya dikerahkan. Gadis ini ingin sejauh mungkin menghindari
mayat-mayat hidup yang men-
gerikan. Sempat dilihatnya rombongan makhluk-makhluk
menjijikkan itu mengejarnya.
Kusumawati berlari sejadi-jadinya. Tak dipeduli-kannya
medan yang ditempuh. Beberapa kali gadis ini hampir terhuyung karena terkait
semak-semak kering yang menghampar. Tapi semua itu tak dipedulikan. Kusumawati
tetap berlari dengan kepala sering dito-lehkan ke belakang untuk melihat
keadaan para pen-gejarnya.
***
Seorang pemuda berambut putih keperakan me-langkah
hati-hati. Pandangannya ditujukan ke depan mengintai melalui celah-celah
kerimbunan semak. Tampak seekor kijang tengah merumput. Binatang itu-lah yang
menarik perhatian pemuda berpakaian ungu itu.
Pemuda yang bukan lain dari Arya Buana alias Dewa Arak ini
menudingkan jari telunjuknya ke arah semak-semak yang masih satu tombak di
depannya. Terlihat salah satu daun putus dari tangkainya dan melayang tanpa
bunyi ke arah Arya. Pemuda ini segera menangkapnya.
Arya lalu melangkah dua tindak. Daun dilontarkan ke arah
kijang yang masih sibuk dengan santapannya. Daun itu meluncur tanpa bunyi
sedikit pun, meski ke-cepatannya bak anak panah lepas dari busur.
Sudah diperkirakan oleh Arya daun itu akan me-nembus kepala
sang kijang, kemudian hewan itu akan menggelepar dan mati. Tapi.. beberapa kaki
lagi daun akan mengenai sasarannya terdengar bunyi berkeroso-kan nyaring. Si
kijang terperanjat dan langsung berlari secepat mungkin meninggalkan tempat
itu. Daun yang
dilontarkan Arya menancap di pohon yang berada di samping
binatang itu.
Arya hanya bisa menahan kecewa melihat buruan-nya berhasil
lolos. Sekelebatan muncul keinginan un-tuk berlari mengejar binatang itu. Tapi
maksudnya di-urungkan ketika melihat seorang gadis berpakaian kuning berlari
menuju tempat kijang tadi berada.
Arya jadi memperhatikan si gadis. Dia ingin tahu penyebab
gadis itu berlari-lari sampai menimbulkan bunyi gaduh. Melihat caranya berlari,
Arya tiba-tiba menjadi curiga. Semakin dekat dengan Arya semakin kelihatan jelas
sosok gadis itu. Arya mengernyitkan dahi melihat wajah si gadis. Wajah itu
tampak sarat dengan kengerian.
Dari tempatnya berada Arya memang dan dengan leluasa
memperhatikan gadis itu tanpa perlu merasa khawatir akan diketahui. Di samping
kerimbunan se-mak-semak melindungi tubuhnya, gadis itu sendiri berlari tanpa
mempedulikan kanan kirinya. Memang sering dilihat Arya gadis itu menolehkan
kepala. Tapi tidak ke kanan atau ke kiri, melainkan ke belakang.
Sifat kependekaran Arya membuatnya memperha-tikan terus
kejadian aneh itu. Arya tahu tak akan mungkin gadis itu kerap kali menoleh ke
belakang ka-lau tak ada apa-apa di sana. Kemungkinan besar gadis itu tengah
dikejar-kejar. Demikian dugaan pemuda berpakaian ungu ini.
***
4
Gadis berpakaian kuning itu telah melewati depan
Arya dan kini berada di sebelah kanannya. Arya jadi
menujukan pandangannya ke sebelah kiri. Namun di sana tidak terlihat apa pun.
"Aaawww...!"
Jerit keterkejutan si gadis membuat Arya buru-buru
mengalihkan perhatian. Sepasang mata pemuda ini membelalak melihat penyebab
keluarnya jeritan da-ri mulut gadis itu. Dari dalam tanah, sekitar dua tom-bak
di depan gadis berpakaian kuning, menyembul tangan-tangan kurus kering berkuku
runcing kehita-man. Sementara gadis berpakaian kuning itu kelihatan ketakutan
bukan main. Larinya dihentikan dan segera dibelokkan arahnya ke kanan menerobos
ke rimbunan semak-semak
"Aaawww...!"
Lagi-lagi gadis itu menjerit setelah menerobos ke-rimbunan
semak-semak melihat adanya sesosok tubuh di sana. Larinya langsung dihentikan.
Tapi ketika me-lihat perbedaan pada sosok-sosok di balik semak-semak ini,
kengeriannya mendadak sirna. Bahkan ada kilatan harapan di wajah dan sorot
matanya.
Sosok yang bukan lain dari Arya sempat kaget dan melangkah
mundur ketika mendapati gadis itu terpe-kik ketakutan melihatnya. Untuk
menghindari kesa-lahpahaman, Arya buru-buru menjulurkan kedua tan-gannya.
"Tenang, Nona. Aku bukan orang jahat,
percaya-lah," ucap Arya sungguh-sungguh agar si gadis per-caya.
Hanya sampai di situ Arya berbicara, karena telah
dilihatnya kilatan harapan di mata dan wajah si gadis. Sorot ketakutan terusir
dari wajahnya. Arya tak me-nyalahkan kalau gadis itu kaget. Dia tengah
ketakutan dan heran bukan main mendapati Arya berada di balik
semak-semak.
"Apakah kau Dewa Arak...?" tanya gadis itu tanpa
basa-basi lagi. Kilatan harapan semakin membesar di wajah dan sorot matanya.
"Benar, Nona. Akulah yang dijuluki Dewa Arak,"
jawab Arya.
"Syukurlah...," desah si gadis gembira. "Aku
me-mang tengah mencari-carimu, Dewa Arak."
"Kurasa mengenai hal itu dapat diurus belakangan,
Nona. Yang penting sekarang mengapa kau kelihatan demikian ketakutan? Apakah
kau dikejar-kejar oleh makhluk-makhluk itu?" tanya Arya sambil menunjuk
mayat-mayat hidup yang tengah bergerak ke arah dia dan gadis berpakaian kuning
berada.
Si gadis menoleh ke arah yang ditunjuk Arya. Tampak olehnya
mayat-mayat hidup yang semula
baru muncul tangan-tangannya telah berbondong-bondong
menuju tempatnya berada. Gerakan mak-hluk-makhluk itu kaku dan lambat
"Memang, yang sejenis dengan mereka tengah
mengejar-ngejarku," jawab gadis itu. "Tapi bukan me-reka. Nah, itu
makhluk-makhluk yang mengejarku!"
Arya menoleh ke arah kiri, tempat di mana tadi pandangannya
sering ditujukan. Tanpa sadar pemuda ini menggeleng-gelengkan kepala.
"Banyak juga jumlah makhluk-makhluk itu," desah
Arya ketika melihat rombongan mayat hidup.
Mayat-mayat hidup yang baru muncul dari dalam tanah memang
tak terlalu banyak. Hanya belasan jum-lahnya.
"Makhluk-makhluk jahanam itu tak bisa dibunuh, Dewa
Arak!" beritahu si gadis tanpa diminta. "Percuma melawan mereka.
Kulihat dengan mata kepalaku sen-diri rombongan prajurit kerajaan mereka
bantai."
Kemudian secara sangat singkat, karena khawatir mayat-mayat
hidup lebih dulu mencapai tempat mere-ka berada, gadis itu menceritakan hal-hal
yang baru saja dialaminya.
"Entah bagaimana nasib kakakku, Dewa Arak. Aku
khawatir dia menjadi korban makhluk-makhluk jaha-nam itu!" ujar si gadis
menutup ceritanya.
Gadis ini memang bukan lain Kusumawati. Nasib baik masih
berpihak padanya. Dewa Arak berada di hutan yang sama dengannya dan kebetulan
melihat-nya.
"Mumpung belum terlambat, kukira lebih baik kita
tinggalkan mereka, Dewa Arak. Mereka tak bisa dibu-nuh!" beritahu
Kusumawati lagi.
"Aku tak bisa membiarkan hal itu, Wati," kilah
Arya sambil menggelengkan kepala. Pemuda ini tak ragu-ragu lagi untuk menyapa
Kusumawati dengan na-manya. Gadis itu tadi memang telah memperkenalkan namanya.
"Mengapa Dewa Arak?"
"Aku khawatir makhluk-makhluk ini akan menye-bar ke
tempat lain dan menimbulkan korban. Akan kucoba untuk mengirim mereka ke
tempatnya semula."
"Tapi...."
"Mudah-mudahan saja caraku berhasil, Wati," sela
Arya buru-buru. "Menyingkirlah sedikit agar makhluk-makhluk itu tak
menyerangmu."
Tanpa banyak bantahan lagi Kusumawati melang-kah mundur.
Meski tahu mayat-mayat itu tak bisa di-bunuh, Kusumawati agak berbesar hati
juga. Julukan Dewa Arak telah sering didengarnya. Tokoh muda itu konon memiliki
kepandaian tinggi. Siapa tahu Dewa Arak mempunyai ilmu yang bisa membuat mayat-mayat
hidup itu mati?
"Ggrrrhhh...!"
Diawali geraman keras yang memekakkan telinga dan
menciutkan hati, dua makhluk menjijikkan itu menerkam Dewa Arak.
Arya mendengus ketika mencium bau bangkai me-nyengat
hidungnya. Pemuda itu tak mau mencium yang lebih bau lagi. Sebelum tubuh-tubuh
mayat hi-dup semakin mendekat, disambutnya dengan pukulan jarak jauh yang
dihentakkan dua kali.
Wusss!
Angin menderu keras keluar dari kepalan tangan Dewa Arak.
Seperti biasanya, mayat-mayat hidup tak mempedulikan serangan itu.
Desss, desss!
Tubuh mayat-mayat hidup melayang jauh ke bela-kang bagaikan
daun kering dihembus angin keras ke-tika terhantam pukulan jarak jauh Arya. Dan
tepat se-perti yang dikatakan Kusumawati, begitu luncuran tu-buh itu terhenti
makhluk-makhluk dari dalam bumi ini kembali merangsek maju. Dewa Arak tak kaget
me-lihat kenyataan ini, kendati angin pukulannya yang mengenai dada mayat-mayat
hidup itu cukup untuk menghancurleburkan batu-batu sebesar gajah.
Berbeda dengan Dewa Arak yang tetap bersikap te-nang,
Kusumawati mulai merasa gelisah. Dilihatnya sendiri Dewa Arak pun tak mampu
membuat mayat-mayat hidup mati meski dengan pukulan yang demi-kian dahsyat.
Sungguh pun demikian putri Sanggara ini tak berkata apa pun. Dia hanya merasa
ngeri ketika melihat Dewa Arak diterkam oleh beberapa mayat hi-dup sekaligus.
Dewa Arak sendiri tak bergeming dari tempatnya. Pemuda ini
mengibaskan kedua tangannya. Angin ke-ras yang berhembus membuat mayat-mayat
hidup
berpentalan tak tentu arah. Kejadian yang sama beru-lang
pada mayat-mayat hidup lainnya. Mereka berpen-talan ke sana kemari sebelum
berhasil menyentuh ku-lit Dewa Arak.
Tapi semua itu tak membuat mayat-mayat hidup kapok.
Serangan-serangan terus dilakukan. Dan pan-dangan yang terlihat bagaikan
semut-semut menyerbu api, rontok sebelum berhasil mendekat. Setelah bebe-rapa
gebrakan bertarung seperti itu, Dewa Arak melo-loskan sabuknya. Dengan senjata
di tangan pemuda berambut putih keperakan itu menghadapi pengeroyo-kan
lawan-lawannya.
Kusumawati adalah gadis yang sangat mahir mem-pergunakan
sabuk. Dia menggunakan sabuk sebagai senjata andalannya. Tapi ketika melihat
permainan sabuk Dewa Arak, gadis ini baru merasa kalau per-mainan sabuknya
belum apa-apa.
Di tangan Dewa Arak sabuk itu justru lebih berba-haya dari pada
senjata tajam lainnya. Terkadang Dewa Arak membuat sabuk menegang kaku laksana
pedang atau golok. Tapi, tak jarang meliuk-liuk laksana ular sehingga sukar
diketahui arah yang dituju. Sering kali pula sabuk itu dipergunakan seperti
cambuk, melecut-lecut memperdengarkan bunyi nyaring.
Ctarrr, ctarrr!
Lecutan ujung sabuk Dewa Arak menghantam ke-pala dua mayat
hidup yang sial. Terdengar bunyi ber-derak keras ketika kepala makhluk-makhluk
itu han-cur. Kusumawati tak kuasa untuk tidak berteriak. Mayat-mayat hidup itu
ambruk ke tanah dan tak bangkit lagi.
Tindakan Dewa Arak benar-benar mengiriskan. Ke mana pun
ujung sabuknya meluncur selalu mendarat di kepala lawannya. Bunyi berderak
keras terdengar
susul-menyusul. Tubuh-tubuh ambruk ke tanah dan tak bangkit
lagi. Hanya dalam waktu sebentar saja le-bih dari separo mayat hidup tergolek
di tanah.
Kusumawati tak henti-hentinya bersorak gembira melihat
keberhasilan Dewa Arak membinasakan la-wan-lawannya. Tak sedikit pun menyeruak
perasaan miris melihat kepala-kepala mayat hidup yang hancur.
Dua lecutan terakhir mengakhiri pertarungan itu. Dewa Arak
lalu menggulung kembali sabuknya dan mengikatkannya di pinggang. Sesaat pemuda
ini mena-tap mayat-mayat yang bergeletakan di tanah sebelum membalikkan tubuh
menghadap Kusumawati. Gadis itu tampak memperhatikan Arya dengan sorot mata
kagum. Kepandaian Dewa Arak berada jauh di atas-nya. Sempat dilihatnya ketika
Arya menggulung sabuk, tak ada noda sedikit pun pada kain berwarna ungu itu.
Padahal, puluhan kepala telah dihancurkan dengan senjata lemas tersebut
"Kau hebat, Dewa Arak!" puji Kusumawati tak
me-nyembunyikan perasaan kagumnya. "Dari mana kau tahu kalau kepala mereka
merupakan kelemahannya?" "Aku pernah menghadapi makhluk-makhluk
seper-
ti ini sebelumnya," ujar Arya kalem. Sekarang mari
kita ke tempat kakakmu berada, Wati. Barangkali saja be-lum terlambat untuk
menolongnya," ajak Arya dengan separo mengingatkan.
"Ah...! Mengapa aku bisa lupa?" sambut
Kusuma-wati. Dia baru teringat kembali dengan keadaan ka-kaknya.
Arya dan Kusumawati pun melesat meninggalkan tempat itu. Di
tengah perjalanan Arya mendapati pa-sukan kerajaan yang menjadi korban amukan
mayat-mayat hidup. Karena sepasang muda-mudi itu mem-pergunakan ilmu lari
cepat, tak lama kemudian areal
pemakaman yang dimaksud Kusumawati telah terlihat
"Mengapa sepi, Dewa Arak?" keluh Kusumawati
tanpa mampu menyembunyikan rasa khawatirnya. Wajah dan
sorot matanya menyiratkan kecemasan yang menggelegak.
Arya tak memberikan tanggapan. Seperti juga Ku-sumawati,
pemuda ini mengkhawatirkan kedatangan mereka terlambat. Areal pemakaman tampak
lengang. Kendati demikian, Arya dan Kusumawati tetap melan-jutkan lari mereka
untuk menuju ke tempat itu.
Apa yang mereka lihat dari kejauhan ternyata tak berbeda
dengan setelah berada di areal pemakaman. Suasana tampak sunyi. Tidak terlihat
sepotong mak-hluk hidup pun di sana. Tempat itu porak poranda se-perti telah
terjadi pertarungan.
Kusumawati berdiri terpaku bagai patung. Wajah gadis ini
pucat bukan main. Sinar kesedihan yang sangat tampak jelas pada sorot matanya
yang seperti lampu kehabisan minyak.
"Tenangkan hatimu, Wati," hibur Arya sebisa
mungkin. Suara pemuda ini penuh perasaan prihatin. "Mudah-mudahan saja
kakakmu selamat. Bukankah tak ada mayatnya di sini?"
Kusumawati tak segera memberikan tanggapan. Gadis ini malah
menarik napas berulang-ulang. Bebe-rapa kali hal itu dilakukan hingga
ketenangannya pun timbul. Seiring dengan itu Kusumawati dapat merasa-kan
kebenaran ucapan Dewa Arak. Benar. Bukankah korban-korban mayat-mayat hidup
dibiarkan begitu saja? Dan, ketidakadaan mayat Angruna di sini bukan tak
mungkin karena pemuda itu berhasil meloloskan diri!
"Tapi mengapa Kak Angruna tak segera menyusul?"
bantah Kusumawati mulai khawatir lagi.
"Barangkali saja karena jalan menuju tempatmu dipenuhi
makhluk-makhluk itu, Wati," jawab Arya se-kenanya. "Atau mungkin
karena usahanya untuk me-nyelamatkan diri, Angruna tak memperhitungkan arah
lagi. Yang penting dia bisa selamat dari ancaman mak-hluk-makhluk itu."
Kusumawati terdiam. Hiburan yang diberikan Arya berhasil
menenangkan hatinya yang resah.
"Menurut ceritamu, aku atau kakek bercelana pen-dek
yang akan mampu menyingkap rahasia aneh di langit," ujar Arya sengaja
mengalihkan pembicaraan.
"Begitulah menurut penuturan Kakek Setyaki, De-wa
Arak"
"Kau tahu di mana Kakek Setyaki tinggal?" tanya
Arya lebih jauh. "Kita akan coba untuk menemuinya."
Kusumawati menggeleng. "Kakek Setyaki tak
mem-beritahukan tempat tinggalnya. Tapi beliau memberi-kan suatu tanda yang
membuatnya akan mengetahui kalau aku atau Kak Angruna bertemu dengan orang yang
kami cari. Setelah itu, dengan mempergunakan ilmunya akan diberitahukan ke mana
kami harus me-nemuinya."
Arya mengangguk-anggukkan kepala. "Sekarang apakah kau
sudah mendapat pemberitahuan untuk menuju ke mana, Wati?"
"Belum, Dewa Arak," jawab Kusumawati.
Arya menghela napas berat. Pemuda ini kelihatan tidak
tenang. Kusumawati jadi merasa heran melihat-nya.
"Ada hal yang menyusahkan pikiranmu, Dewa Arak?"
tanya Kusumawati hati-hati, takut dianggap bertindak lancang.
"Sebenarnya sih tidak, Wati. Aku hanya merasa khawatir
Kakek Setyaki tak akan pernah bisa meng-
hubungi mu."
"Aku belum mengerti maksudmu, Dewa Arak?"
Ku-sumawati tampak mengernyitkan kuning.
"Bukankah kau tahu semua usaha Kakek Setyaki untuk
menyingkap tanda aneh di langit selalu berakhir dengan kegagalan?" Arya
malah balas mengajukan per-tanyaan. Ketika dilihatnya Kusumawati mengangguk,
perkataannya segera dilanjutkan. "Itu menunjukkan kalau seseorang atau
sesuatu yang berada di balik pe-ristiwa aneh ini mengetahui tindak tanduknya.
Semua usaha Kakek Setyaki akan dihalanginya tak terkecuali dengan pemberitahuan
terhadap dirimu, Wati. Bahkan aku khawatir Kakek Setyaki sudah tak ada lagi.
Tokoh yang berada di balik semua kejadian ini tahu pasti Ka-kek Setyaki
merupakan bahaya besar yang harus dile-nyapkan dari muka bumi."
Kusumawati kelihatan terkejut mendengar penjela-san Arya.
Hal seperti itu tak pernah masuk dalam piki-rannya.
"Kalau demikian halnya...," ucap Kusumawati
ke-mudian. "Aku dan Kak Angruna pun tak luput dari in-caran bahaya
itu?"
"Bisa jadi, Wati," jawab Arya sejujurnya.
"Asal kau tahu saja, mayat-mayat itu tak akan mampu hidup lagi tanpa
adanya campur tangan seseorang atau sesuatu. Bukan tak mungkin penyerangan
mayat-mayat hidup terhadap kau dan kakakmu merupakan pekerjaannya."
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, Dewa Arak?" tanya
Kusumawati, bingung bercampur ngeri mengingat kemungkinan mayat-mayat hidup
akan
menyerangnya kembali.
"Bukan hanya kau saja, Wati, tapi juga aku. Kita berdua
akan bekerja sama untuk menyingkapkan ma-salah ini. Untuk langkah pertama, kita
jumpai dulu
ayahmu. Beliau sedikit banyak bisa memperkirakan tempat
tinggal Kakek Setyaki. Tentu saja sambil kita selidiki ke mana Angruna
pergi," usul Arya setelah memperbaiki ucapan Kusumawati.
***
Malam ini tampak begitu cerah. Langit bersih tanpa sepotong
awan pun menggantung di sana. Binatang-binatang leluasa memancarkan sinar
lembutnya ke persada. Bulan purnama berwarna kuning keemasan semakin menambah
indahnya suasana malam.
Dalam suasana seperti itu tampak sosok-sosok tu-buh tengah
bergerak. Mereka memiliki gerakan cepat kendati tak ringan menjejak tanah.
Bunyi langkah so-sok-sosok itu berdebam-debam menghantam tanah tak ubahnya
segerombolan gajah liar yang tengah berlari. Mereka memang tak patut disebut
manusia. Sebagian besar tak memiliki daging yang utuh melekat di tubuh. Bau
bangkai pun menyeruak dari tubuh-tubuh itu. Sosok-sosok ini adalah mayat-mayat
hidup!
Gerombolan mayat hidup berlari dengan pasti me-nuju
kelompok bangunan yang dikelilingi pagar tem-bok tinggi menjulang. Istana
kerajaan! Sinar bulan yang memancar membuat rombongan mayat hidup se-gera
terlihat oleh prajurit-prajurit kerajaan yang berja-ga-jaga di atas tembok
istana.
"Makhluk-makhluk celaka yang dikatakan Pangli-ma Soka
menuju kemari. Sepertinya hendak menye-rang istana. Gila!" teriak prajurit
bertubuh gemuk den-gan suara menyiratkan kengerian.
"Kita akan habisi mereka...!" sahut prajurit yang
berkumis mirip misai tikus.
Setelah berkata demikian, prajurit itu meniup te-
rompet dari tanduk menjangan. Bunyi khas yang men-jadi
pertanda adanya bahaya pun terdengar. Nyaring, menguak kesunyian malam.
Sekejap kemudian suasana kalut melingkupi se isi istana.
Puluhan prajurit berlarian dari beberapa ban-gunan. Gerakan mereka tangkas dan
cepat. Dalam waktu sebentar saja prajurit-prajurit itu telah berada di atas
tembok istana.
"Serang...!" Puluhan anak panah berapi melesat
da-ri busurnya ketika rombongan mayat hidup telah se-makin dekat. Suasana mendadak
menjadi terang ben-derang bak siang hari.
Namun seperti biasanya, mayat-mayat hidup itu tak
mempedulikan akan adanya serangan. Makhluk-makhluk menyeramkan ini terus
berlari. Maka tak pe-lak lagi panah-panah berapi menembus tubuh mereka.
Sebagian besar mayat-mayat hidup yang terkena se-rangan dengan tubuhnya
terbakar tetap merangsek maju bersama rekan-rekannya. Kobaran api di tubuh
mereka sama sekali tak dirasakan.
"Gila!"
"Luar biasa!" "Ajaib!"
Seruan-seruan bernada kaget dan ngeri keluar dari mulut
para prajurit kerajaan. Kendati demikian mere-ka tak mempunyai pilihan lain
kecuali terus melontar-kan anak-anak panah itu. Tapi hasil yang didapat tak
berbeda dengan sebelumnya. Gelombang penyerbuan mayat-mayat hidup tak bisa
dicegah. Seluruh prajurit menjadi panik.
"Panglima Soka benar. Makhluk-makhluk jahanam itu tak
bisa dibunuh," celetuk salah seorang prajurit dengan nada putus asa.
"Mayat-mayat gila! Apakah dunia telah terbalik se-
hingga mereka bangkit dari kubur dan menyerbu kera-jaan?
Apakah makhluk-makhluk itu pun ingin mendi-rikan kerajaan mayat hidup?"
gerutu seorang prajurit lain.
Dalam keadaan biasa ucapan prajurit itu akan memancing rasa
lucu di hati yang lain. Tapi karena saat itu ketegangan menyelimuti, tak ada
seorang pun yang tersenyum, apalagi tertawa!
Para prajurit terpaksa membuang busur-busur dan
menggantinya dengan tombak ketika jarak lawan telah semakin dekat. Bahkan
beberapa mayat hidup mulai berusaha memanjat dinding istana. Sebagian lagi
me-nuju pintu gerbang.
Brakkk!
Daun pintu gerbang yang terbuat dari kayu jati tebal dan
berukir hancur berantakan dilabrak bebera-pa mayat hidup. Hancurnya pintu
membuat mayat-mayat hidup itu meluruk masuk ke dalam istana. Ser-buan ini
segera disambut oleh ratusan prajurit dengan pedang dan tameng. Pertarungan
besar-besaran pun terjadi. Tak hanya di bawah, tapi juga di atas tembok istana.
Korban di pihak pasukan kerajaan pun berjatuhan.
Mayat-mayat hidup itu terlalu tangguh untuk mereka hadapi. Jeritan kematian
terdengar silih berganti di-ikuti dengan robohnya tubuh mereka ke tanah. Darah
membanjiri halaman istana!
Pasukan kerajaan berusaha keras untuk bertahan. Tapi
ketangguhan lawan-lawan yang mereka hadapi membuatnya tak berdaya. Betapapun
keras perlawa-nan yang mereka berikan namun terus terdesak mun-dur ke arah
bangunan istana.
Di antara pasukan kerajaan terdapat Panglima So-ka.
Panglima yang telah sembuh dari luka-lukanya ini
tak kuasa pula untuk diam di tempatnya, Panglima tinggi
besar ini ikut bergerak mundur. Panglima Soka menggertakkan gigi. Dia kesal dan
geram. "Haruskah kerajaan jatuh ke tangan mayat-mayat hidup itu?"
tanya sang panglima dalam hati.
Kekhawatiran Panglima Soka dan semua pasukan kerajaan
tampaknya akan terjadi. Mereka terus terde-sak mundur. Namun sebuah keajaiban
terjadi! Setelah rombongan mayat-mayat hidup masuk lima tombak dari pintu
gerbang istana, makhluk-makhluk itu roboh ke tanah dan tak bergerak lagi!
Kejadian itu menggembirakan pihak pasukan kera-jaan, meski
mereka tak mengerti apa yang telah terja-di. Yang mereka ketahui, setiap kali
mayat-mayat hi-dup melewati jarak lima tombak dari daun pintu ger-bang mereka
lalu roboh dan mati! Panglima Soka sege-ra memerintahkan pasukannya untuk
berada di jarak yang aman. Sorot-sorot kegembiraan dan kelegaan tampak memancar
di wajah pasukan kerajaan
Sisa rombongan mayat hidup rupanya merasa jeri.
Berbondong-bondong makhluk-makhluk itu bergerak mundur dan meninggalkan istana.
Kegeraman rupanya masih bersarang di hati makhluk-makhluk itu. Sambil
meninggalkan istana mereka mengeluarkan geraman-geraman kemarahan.
***
5
"Hhh...!"
Prabu Rancamala menghela napas berat. Dahi raja yang telah
berusia hampir enam puluh lima tahun ini
berkernyit. Sepasang matanya kemudian beredar men-gawasi
sekelilingnya. Satu persatu dirayapinya wajah-wajah orang yang duduk bersila di
depannya.
"Tombak Panca Warna...," gumam Prabu Rancama-la
pelan.
"Benar, Gusti Prabu," sahut seorang kakek
ber-jenggot panjang dan berpakaian putih. "Benda itulah yang membuat
makhluk-makhluk jahanam itu tak mampu mendekati bangunan istana. Jawaban ini
hamba dapatkan melalui semadi hamba, Gusti Prabu."
"Aku memang pernah mendengar kabar tentang benda
pusaka itu di kerajaan ini, Eyang," ujar Prabu Rancamala lagi. "Tapi
aku sendiri belum pernah meli-hatnya. Jadi, ku sangsikan kebenaran berita
itu."
"Menurut wangsit yang hamba terima, Gusti
Pra-bu," timpal Eyang Santer, ahli kebatinan kerajaan, "Tombak Panca
Warna dihadiahkan seorang ulama pe-nyebar agama pada buyut Gusti Prabu. Berkat
penga-ruh Tombak Panca Warna buyut Gusti Prabu tidak menghadapi gangguan apa
pun dari makhluk-makhluk halus yang dulu mendiami wilayah kerajaan ini, yang di
waktu zaman buyut Gusti Prabu masih berupa hu-tan liar."
"Ayahanda pun pernah menceritakan hal itu, Eyang. Tapi
betapa pun kucari tak kutemukan pusaka itu di sini. Apakah Eyang mampu
menemukannya?" tanya Prabu Rancamala penuh harap.
"Ampunkan Hamba, Gusti Prabu. Sejauh ini ham-ba belum
berhasil mengetahui tempat Tombak Panca Warna berada," jawab Eyang Santer
seraya memberi hormat
Selebar wajah Prabu Rancamala menyiratkan ke-kecewaan besar
mendengar jawaban itu.
"Ampunkan hamba, Gusti Prabu. Boleh hamba bi-
cara?" tanya Panglima Soka. "Silakan,
Panglima."
Panglima Soka kemudian mengalihkan perhatian pada Eyang
Santer.
"Aku menjumpai hal aneh, Eyang," ujar Panglima
Soka memulai pembicaraannya. "Ini sehubungan den-gan mayat-mayat hidup
itu. Mengapa mayat-mayat hi-dup roboh pada jarak tertentu? Apakah Tombak Panca
Warna menyebarkan hawa yang dapat melumpuhkan mayat-mayat hidup pada jarak tertentu?
Misalnya..., tiga tombak, Eyang? Dengan demikian kita bisa men-carinya dalam
jarak sekian dari batas di mana mayat-mayat itu roboh."
"Tombak Panca Warna tidak mempunyai pengaruh demikian,
Panglima," jawab Eyang Santer. "Tewasnya mayat-mayat hidup itu
menurut wangsit yang kudapat karena pada tempat yang mereka lalui, jarak lima
tom-bak dari pintu gerbang, telah dikucuri air berkhasiat yang diberikan ulama
ratusan tahun lalu. Dan sebe-narnya tempat di mana air itu dikucurkan dulu
adalah dinding istana kerajaan. Karena istana diperluas, tem-pat yang dikucuri
air jadi berada di dalam dinding is-tana. Air itu pun dimaksudkan untuk
mencegah ma-suknya makhluk-makhluk gaib yang bermaksud jahat ke dalam
lingkungan istana."
Eyang Santer lalu mengalihkan perhatian pada Prabu
Rancamala.
"Dan menurut pengetahuan hamba Gusti Prabu, air itu
berasal dari rendaman Tombak Panca Warna. Tapi apabila Tombak Panca Warna
lenyap dari ling-kungan istana, air itu kehilangan kegunaannya. Pen-garuh air
bisa memudar oleh waktu. Keberadaan Tom-bak Panca Warna yang membuat pengaruh
air tetap ada. Karena itu Gusti Prabu, hamba yakin sekali Tom-
bak Panca Warna masih berada di sini."
Prabu Rancamala mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Baiklah kalau demikian, Eyang. Panglima Soka!"
"Hamba, Gusti Prabu," jawab Panglima Soka cepat
sambil memberi hormat.
"Kau perintahkan prajurit untuk mencari di mana adanya
Tombak Panca Warna itu!" titah sang raja yang berkulit wajah kemerahan itu
dengan penuh wibawa.
"Hamba, Gusti Prabu. Titah Gusti Prabu akan, se-gera
hamba laksanakan!"
"Bisa kau beritahukan ciri-ciri Tombak Panca War-na
itu, Eyang?" tanya Prabu Rancamala.
"Ampunkan hamba, Gusti Prabu," Eyang Santer
memberi hormat "Hamba belum mengetahuinya. Akan hamba usahakan untuk
mengetahuinya, Gusti Prabu. Hamba akan bersemadi lagi untuk mendapatkan
wangsit."
Prabu Rancamala terdengar menghela napas berat mendengar
jawaban ahli kebatinan istananya. Disan-darkannya punggungnya ke singgasana
yang mewah dan indah.
***
Bangunan itu besar dan megah. Dinding batu se-tinggi satu
tombak mengelilingi bangunan yang memi-liki halaman luas. Bunga berwarna-warni
menghiasi sebagian besar halaman. Jika melihat tempat ini tak seorang pun akan
menyangka pemiliknya seorang da-tuk kaum sesat berhati kejam dan berwatak
bengis. Ib-lis Gelang Raksasa, julukannya.
Saat itu Iblis Gelang Raksasa, seorang kakek tinggi besar
berpakaian indah dan berkulit putih bersih, ten-
gah duduk di sebuah bangku di halaman samping yang dipenuhi
bunga-bungaan aneka warna. Iblis Ge-lang Raksasa menarik napas dan mengeluarkan
secara berirama, sebagaimana layaknya orang yang tengah bersemadi. Dan memang
sesungguhnya demikian, ka-kek yang telah berusia enam puluh lima tahun itu
ten-gah bersemadi. Dan tempatnya selalu di halaman samping yang tertutup.
Setelah beberapa lama Iblis Gelang Raksasa men-gatur jalan
napasnya, tampaklah perubahan pada wa-jah yang putih bersih itu. Wajah itu
mulai memerah dan akhirnya hitam kelam laksana arang. Kemudian perlahan-lahan
warna hitam memudar menjadi putih seperti sediakala. Perubahan warna itu tak
berhenti hanya sampai di sini. Wajah Iblis Gelang Raksasa se-makin putih pucat
hingga akhirnya berwarna hijau! Tokoh persilatan besar akan dapat mengetahui
peru-bahan seperti ini hanya dapat terjadi akibat pengua-saan tenaga dalam
berhawa dingin dan panas yang sampai ke puncaknya!
Wajah Iblis Gelang Raksasa yang telah berubah hi-jau
kemudian kembali memudar. Namun sebelum sampai seperti sediakala, tampak
kerutan di sepasang alis kakek ini, seakan-akan ada sesuatu yang meng-ganggu
pikirannya. Kendati demikian, latihannya tetap diteruskan hingga warna wajahnya
putih kembali se-perti sediakala. Iblis Gelang Raksasa membuka sepa-sang
matanya. Peluh yang membasahi sedikit dahinya dihapus dengan sapu tangan indah.
"Kunyuk-kunyuk itu rupanya sudah kepingin mati lebih
cepat!" desis Iblis Gelang Raksasa dengan sepa-sang mata memancarkan hawa
pembunuhan. "Berani-beraninya mereka mengganggu latihanku dengan
bunyi-bunyi gaduh."
Iblis Gelang Raksasa lalu bangkit dari semadinya dan
melangkah lebar-lebar menuju pintu halaman samping yang tertutup dan diselot.
Tangan kakek ini diulapkan seperti orang mengusir lalat. Selot di pintu pun
bergerak membuka bagai digerakkan oleh tangan tak nampak. Padahal jarak kakek
itu dengan daun pin-tu masih dua tombak.
Iblis Gelang Raksasa terus melangkah seakan hen-dak
menabrak daun pintu yang belum membuka. Tapi setengah tombak sebelum sampai,
daun pintu itu telah bergerak membuka sendiri. Dengan langkah-langkah lebar dan
wajah bengis Iblis Gelang Raksasa terus me-langkahkan kakinya menuju keluar.
Pendengarannya yang tajam mengisyaratkan kalau bunyi gaduh itu be-rasal dari
halaman depan.
Puluhan langkah berjalan baru Iblis Gelang Raksa-sa sampai
diambang pintu yang berbatasan dengan te-ras. Dari tempat itu tampak
pemandangan yang mem-buat kemarahannya yang berkobar berganti dengan
keterkejutan! Di halaman depan belasan anak buah Ib-lis Gelang Raksasa tengah
terlibat pertarungan meng-hadapi seorang lelaki jangkung. Sepuluh anak buah
datuk kaum sesat ini dengan senjata di tangan, tapi mereka terdesak oleh
lawannya yang tak bersenjata.
Lelaki jangkung itu justru tak bergeming dari tem-patnya.
Hanya kedua tangannya yang digerakkan ke sana kemari menangkis
serangan-serangan yang da-tang. Akibat tangkisan-tangkisan itu tubuh para
pen-geroyoknya berpentalan dan jatuh terguling-guling.
Lelaki jangkung tampak tak terpengaruh sama se-kali akan
tindakan yang dilakukannya. Tak terlihat tanda-tanda dia merasa kesakitan
akibat benturan tangannya yang telanjang dengan senjata-senjata la-wan. Malah,
beberapa kali senjata lawan dibiarkan
mengenai sekujur tubuhnya. Akibatnya, senjata-senjata itu
berbalik dan berpentalan seperti mengenai gumpalan karet kenyal.
"Minggir semua, kecoak-kecoak tak berguna!" seru
Iblis Gelang Raksasa seraya menghampiri kancah per-tarungan.
Tanpa menunggu perintah dua kali anak-anak buah Iblis
Gelang Raksasa berbondong-bondong me-ninggalkan kancah pertarungan. Yang
tinggal hanya lelaki jangkung berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan
dada.
Lelaki jangkung itu menatap tak berkedip pada Ib-lis Gelang
Raksasa. Si iblis sendiri tak mau kalah ger-tak. Sambil mengayunkan kaki
tatapannya ditujukan pada lelaki jangkung. Dua pasang mata yang sama-sama tajam
saling bertemu tanpa ada yang mau men-galah.
"Selamat berjumpa lagi, Iblis Gelang Raksasa,"
ujar lelaki jangkung ketika Iblis Gelang Raksasa telah menghentikan langkahnya.
Lelaki jangkung dan Iblis Gelang Raksasa berdiri berhadapan dalam jarak tiga
tombak.
Iblis Gelang Raksasa terdengar mendengus marah. Ucapan
lelaki jangkung tidak dipedulikannya sama se-kali.
"Apa yang mendorongmu datang kemari, Antabo-ga?!"
tanya Iblis Gelang Raksasa tak ramah. "Meminta ku untuk membantu gerakan
pemberontakan mu la-gi?!"
Lelaki jangkung yang ternyata Pangeran Antaboga langsung
mengelam wajahnya. Sorot sepasang ma-tanya seperti memancarkan api. Namun hanya
seben-tar, kemudian kembali seperti biasa. Tenang dan din-gin.
"Kau keliru besar kalau menduga demikian, Iblis
Gelang!" dengus Pangeran Antaboga. "Aku tahu tak ada gunanya mengajak
orang yang takut. Kedatangan-ku kemari hanya untuk menengok kawan lama."
"Tak usah berbasa-basi denganku, Antaboga! Ce-patlah
menyingkir dari tempat ini sebelum kesabaran-ku habis. Aku tak butuh pangkat
atau kedudukan ka-rena keadaan sekarang sudah enak. Kau boleh menge-jar
keinginanmu, tapi jangan harap aku akan bersedia membantu!" tandas Iblis
Gelang Raksasa.
"Aku malah menunggu habisnya kesabaran mu, Ib-lis
Gelang!" sahut Pangeran Antaboga dengan berani. "Aku ingin tahu apa
yang akan kau lakukan terha-dapku?"
"Kuperingatkan sekali lagi, Antaboga. Pergi dari
si-ni! Ini peringatan terakhir. Kau bukan seorang pange-ran lagi. Raja
Rancamala malah telah membuang mu ke tempat terkutuk. Kendati berhasilnya kau
lolos dari tempat pembuangan itu merupakan teka-teki, namun tak menjadikan ku
gentar. Kalau aku masih mempedu-likan kedudukan dan pangkat, kutangkap kau dan
ku-serahkan pada kerajaan. Tapi aku tak ingin melaku-kan hal itu. Pergilah,
Antaboga!"
"Sesumbar mu besar sekali, Iblis Gelang!" sambut
Pangeran Antaboga dengan suara keras. "Dua tahun yang lalu mungkin kau
bisa berkata demikian. Tapi sekarang tak sepotong makhluk pun boleh menghina
Pangeran Antaboga. Majulah kau, Iblis! Ingin kulihat sampai di mana
kemampuanmu!"
"Keparat! kau mencari penyakit sendiri, Pangeran
Pemberontak! Di istana kau boleh ditakuti dengan ke-mampuan yang kau miliki.
Tapi semua kemampuanmu tak ada artinya bila dipertunjukkan padaku. Sikap
lancang mu cukup membuatku untuk membawamu ke
hadapan raja. Aku yakin Raja Rancamala akan gembi-ra
mendapat oleh-oleh dariku. Kudengar kerajaan me-mang bermaksud membawamu
kembali ke sana seba-gai tahanan!"
"Cuhhhh!"
Dengan kasar Pangeran Antaboga meludah. Bukan ke tanah tapi
ke wajah Iblis Gelang Raksasa. Terdengar bunyi berdesing nyaring bak anak panah
lepas dari busur, ketika cairan yang kental menjijikkan itu me-luncur ke arah
wajah Iblis Gelang Raksasa.
Wajah Iblis Gelang Raksasa merah padam saking marahnya
mendapat serangan seperti itu. Meskipun diakui serangan itu hanya seperti
serangan anak pa-nah, tapi Iblis Gelang Raksasa merasa terhina. Kema-rahan yang
sudah membakar hati berkobar semakin besar!
Iblis Gelang Raksasa tak mengelakkan serangan itu sama
sekali. Tangan kanannya dijulurkan ke depan la-lu diputar ke kiri. Angin menderu
keras dari gerakan itu. Akibatnya, semburan ludah terhenti di tengah ja-lan dan
rubuh ke tanah.
"Kau masih lihai seperti dulu, Iblis Gelang! Tapi
Pangeran Antaboga yang sekarang tak bisa disamakan dengan yang dulu.
Bersiaplah, Iblis Gelang!"
Berbarengan dengan selesainya ucapan itu Pange-ran Antaboga
melesat menerjang Iblis Gelang Raksasa. Kedua tangannya terkembang membentuk
cakar dan dilayangkan ke arah lawan. Cakar kanan mengancam leher sedangkan yang
kiri mengancam dada. Kedudu-kan buku-buku jari tangan kanan menghadap ke
lan-git, bertolak belakang dengan buku-buku jari tangan kiri yang menghadap ke
bumi.
Iblis Gelang Raksasa tak mau kalah gertak. Seran-gan itu
segera di sambutnya dengan dorongan kedua
tangan terbuka. Jari-jari kedua tangannya lurus.
Ujung-ujung jari yang kanan menghadap ke langit se-mentara yang kiri menghadap
ke bumi. Gerakan kakek ini mirip dengan gerakan Pangeran Antaboga. Hanya saja
berbeda kedudukan jari-jarinya.
Prattt!
Diiringi bunyi keras ketika dua pasang tangan ber-benturan
tubuh kedua tokoh itu terhuyung ke bela-kang. Iblis Gelang Raksasa lebih jauh
selangkah dari Pangeran Antaboga.
Iblis Gelang Raksasa hampir-hampir tak percaya akan
kenyataan ini. Telah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya pada tangkisan tadi.
Namun tetap saja Pan-geran Antaboga lebih unggul. Hal ini benar-benar di luar
perhitungannya!
Pangeran Antaboga mengetahui keterkejutan la-wannya. Maka,
dibentuknya seulas senyuman menge-jek. Tindakan pangeran ini membuat kemarahan
Iblis Gelang Raksasa menggelegak. Keheranan yang semula menyelimuti segera
berganti dengan kemarahan besar.
Perasaan ini mendorong Iblis Gelang Raksasa un-tuk
melancarkan serangan lebih dulu. Kakek ini men-gerahkan ilmu andalan dan
seluruh kemampuannya dalam serangan itu. Pangeran Antaboga segera me-nyambutnya
sehingga pertarungan sengit pun terjadi. Bunyi angin menderu, mencicit, dan
mengaung me-nyemaraki jalannya pertarungan. Gerakan kedua to-koh yang sama-sama
cepat membuat bentuk tubuh mereka tak terlihat jelas. Yang kelihatan hanya
bayan-gan coklat dan keemasan saling belit.
Iblis Gelang Raksasa menggertakkan gigi karena perasaan
geram dan penasaran. Pangeran Antaboga tak bisa didesaknya kendati pertarungan
telah melewa-ti jurus kelima puluh. Sungguh tak disangkanya waktu
dua tahun telah membuat sang pangeran memperoleh kemajuan
yang demikian pesat
"Kurasa main-main ini sudah cukup, Iblis!"
Pangeran Antaboga kemudian mengubah gerakan-
nya. Dia tidak lagi mengirimkan serangan secara lang-sung.
Pangeran itu malah berlarian memutari Iblis Ge-lang Raksasa.
Tingkah Pangeran Antaboga membuat Iblis Gelang Raksasa
merasa heran. Meski telah kenyang pengala-man bertempur tapi baru kali ini
Iblis Gelang Raksasa menemui pertarungan semacam ini. Dia pun berdiam diri di
tempatnya dan tak melakukan tindakan apa pun kecuali memperhatikan perbuatan
Pangeran An-taboga.
Mula-mula memang tidak ada hal aneh yang dida-pati Iblis
Gelang Raksasa. Tapi beberapa saat kemu-dian kepalanya dirasakan pening.
Pandangan matanya pun berkunang-kunang karena terus dipergunakan untuk melihat
tubuh Pangeran Antaboga yang berpu-taran di sekelilingnya. Sekarang Iblis
Gelang Raksasa baru mengetahui kedahsyatan yang terkandung dalam cara
pertarungan aneh itu. Kakek ini pun sadar kalau terus diikutinya gerakan lawan
dia akan roboh dengan sendirinya.
Iblis Gelang Raksasa buru-buru berdiri tegak di tempatnya
sambil memejamkan mata. Indera pengliha-tannya tak dipergunakan lagi. Sekarang
yang dipa-kainya adalah sepasang telinganya. Dengan pendenga-rannya yang luar
biasa tajam diikutinya setiap gerakan Pangeran Antaboga.
Pertarungan unik pun terjadi. Iblis Gelang Raksasa berdiam
diri di tempatnya. Tapi ketika pendengarannya menangkap bunyi serangan,
ditangkis dan sekaligus dilancarkannya serangan balasan. Di lain pihak, Pan-
geran Antaboga terus berlari mengitari lawannya sam-bil
sesekali melancarkan serangan.
Tak sampai sepuluh jurus pertarungan aneh itu berlangsung
Iblis Gelang Raksasa telah terdesak hebat. Begitu menginjak jurus ketiga belas
sebuah tendangan Pangeran Antaboga mengenai lututnya
Iblis Gelang Raksasa terjengkang ke belakang. Ber-kat
kelihayannya kakek ini memang tak sampai terja-tuh, tapi sambungan tulang
lututnya terlepas. Iblis Ge-lang Raksasa menggigit bibir menahan rasa nyeri
yang mendera. Kendati demikian, kakek ini bersiap untuk menghadapi serangan
lawan selanjutnya.
Tapi Pangeran Antaboga tak mengirimkan serangan lagi.
Lelaki itu malah menatap lawannya dengan sorot mata kemenangan. Pangeran
Antaboga berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Bagaimana, Iblis? Apakah kau masih berkeras in-gin
melanjutkan pertarungan? Asal kau tahu saja, ma-sih banyak ilmu-ilmu dahsyat
lainnya yang kumiliki. Kurasa hal ini telah cukup untuk membuatmu men-gerti
kalau kau bukan tandinganku!"
Iblis Gelang Raksasa menatap Pangeran Antaboga dengan sorot
yang sukar ditebak maksudnya. Namun yang jelas datuk kaum sesat ini tak percaya
akan apa yang dialaminya.
"Sebenarnya apa maksudmu datang kemari,
Anta-boga?" tanya Iblis Gelang Raksasa meminta kepastian.
"Hanya sebuah maksud kecil," jawab Pangeran
An-taboga ringan. "Memintamu untuk melaksanakan sua-tu pekerjaan."
"Pekerjaan apa?" tanya Iblis Gelang Raksasa
sete-lah berpikir sebentar.
"Mengambil Tombak Panca Warna."
"Tombak Panca Warna?!" Iblis Gelang Raksasa
mengernyitkan dahi. Kakek ini telah mendengar ten-tang
senjata itu. Sebuah senjata pusaka di masa ratu-san tahun silam. Namun, tak ada
seorang pun yang tahu bagaimana bentuknya. "Di mana harus kuda-patkan
benda itu?"
"Di kerajaan," jawab Pangeran Antaboga dengan
si-kap biasa. Tak dipedulikannya keterkejutan Iblis Ge-lang Raksasa.
"Bagaimana? Kau setuju dengan usulku ini, Iblis? Kalau kau tidak mau,
taruhannya adalah nyawamu!" ujar Pangeran Antaboga mantap.
Iblis Gelang Raksasa tak mempunyai pilihan lain. Dihelanya
napas berat kemudian dianggukkan kepa-lanya. Kaku dan perlahan-lahan gerakan
itu dilaku-kan.
"Bisa kau beritahukan di mana letaknya yang
pas-ti?" tanya Iblis Gelang Raksasa dengan suara yang hampir tak
terdengar.
Pangeran Antaboga mengangguk. Kemudian, seca-ra gamblang
diberitahukannya pada Iblis Gelang Rak-sasa. Iblis itu mencatat semua
keterangan Pangeran Antaboga di benaknya.
"Ingat, Iblis Gelang," ujar Pangeran Antaboga
pe-nuh tekanan. "Jangan coba-coba untuk mempermain-kan ku. Akibatnya akan
sangat mengerikan!"
Iblis Gelang Raksasa hanya tersenyum pahit. Kalau menuruti
perasaan, ingin diterjangnya Pangeran Anta-boga untuk mengadu nyawa. Tapi
segera ditekannya keinginan itu karena akibatnya hanya akan mencela-kakan diri
sendiri. Dalam keadaan seperti ini dia tak akan mungkin menang menghadapi
Pangeran Antabo-ga. Mengalah sedikit tak mengapa demi keuntungan, demikian
pikir kakek berpakaian keemasan ini.
***
6
Angin lembut yang membawa hawa dingin menu-suk tulang
berdesir di malam yang hanya diterangi si-nar bulan sepotong. Kendati demikian
suasana di per-sada cukup terang. Bahkan bintang-bintang bertabu-ran di langit.
Dalam suasana malam seperti itu Iblis Gelang Rak-sasa
melesat cepat menuju istana kerajaan. Gerakan-nya yang cepat dengan kedua kaki
bagai tak menginjak tanah membuatnya cepat tiba di dinding tembok ista-na.
Berlainan dengan biasanya, prajurit-prajurit yang bertugas di atas tembok
istana tak melihat kedatangan tamu tak diundang itu.
Iblis Gelang Raksasa merapatkan tubuh di dinding beberapa
saat. Kakek ini menanti saat yang mengun-tungkan untuk dapat masuk ke dalam
lingkungan is-tana. Dan ketika saat yang dinantikannya tiba, dia me-lesat ke
atas. Berkat ilmu meringankan tubuh Iblis Ge-lang Raksasa yang telah mencapai
tingkatan tinggi, se-kali menjejakkan kaki tubuhnya telah melesat melewa-ti
dinding istana.
Tanpa menimbulkan bunyi, Iblis Gelang Raksasa menjejakkan
kaki di tanah, di dalam lingkungan ista-na. Untuk kedua kalinya keuntungan
seperti berpihak pada datuk sesat itu. Tak seorang pun anggota pasu-kan
kerajaan yang memergokinya. Prajurit-prajurit yang berkeliling memperhatikan
keadaan di sekitar is-tana telah melewati tempat di mana Iblis Gelang Rak-sasa
mendarat
Iblis Gelang Raksasa menghela napas lega. Dia me-rasa
gembira melihat keberhasilannya di tahap-tahap pertama. Kakek itu tak
membuang-buang waktu. Ber-
gegas dia melesat ke arah salah satu bangunan. Begitu tiba
di bangunan yang dituju Iblis Gelang Raksasa me-lompat ke atas genting. Kembali
tak terdengar bunyi yang berarti ketika kedua kakinya menjejak di sana.
Laksana seekor kucing Iblis Gelang Raksasa berla-rian di
atas genting menuju bagian belakang. Menurut penuturan Pangeran Antaboga tepat
di sebelah bawah puncak genting tersimpan Tombak Panca Warna.
Baru juga mencapai pertengahan jalan, Iblis Gelang Raksasa
merasakan ada keanehan. Pendengaran ka-kek ini yang tajam menangkap suara desah
napas ha-lus di tempat yang ditujunya. Tertangkap oleh penden-garannya desah
napas itu tak hanya keluar dari satu hidung. Banyak lubang hidung yang menimbulkan
bunyi seperti itu! Kecurigaan yang timbul membuat Ib-lis Gelang Raksasa
menghentikan lari. Saat itulah dari balik puncak genting bermunculan banyak
busur da-lam keadaan terentang.
"Matilah kau, Pencuri Hina...!"
Berbarengan dengan keluarnya teriakan yang me-mecahkan
kesunyian malam itu, terdengar bunyi ber-desingan nyaring bertubi-tubi dari
melesatnya belasan anak panah menuju ke arah Iblis Gelang Raksasa!
Iblis Gelang Raksasa segera mengeluarkan senjata
andalannya. Sebuah baja putih besar berbentuk ge-lang. Garis tengah gelang ini
mencapai setengah tom-bak. Tak aneh kalau datuk sesat ini berjuluk Iblis
Ge-lang Raksasa.
Trang, trang, trangngng!
Bunyi berdentang nyaring bertubi-tubi yang diikuti dengan
berpercikannya bunga-bunga api terjadi ketika gelang raksasa memapaki anak-anak
panah. Iblis Ge-lang Raksasa tak berani mengandalkan kekuatan te-naga dalamnya
untuk menerima hunjaman anak-anak
panah. Dari desingan yang terdengar agaknya anak-anak panah
itu dilepaskan oleh tenaga dalam yang amat kuat. Dan tampaknya bukan prajurit
sembaran-gan yang melepaskan.
Baru saja serangan itu berhasil dipatahkan Iblis Gelang
Raksasa, dari tempat di mana busur-busur ter-lihat berlompatan belasan sosok
yang memilik gerakan gesit. Sosok-sosok dalam sekelebatan telah berada di depan
Iblis Gelang Raksasa. Sikap mereka terlihat pe-nuh ancaman.
Iblis Gelang Raksasa dalam hati memaki Pangeran Antaboga.
Kakek ini yakin kedatangannya memang te-lah ditunggu-tunggu. Dia telah dijebak
Oleh siapa lagi kalau bukan pangeran pemberontak itu?
Dugaan itu membuat Iblis Gelang Raksasa merasa geram dan
murka bukan main. Disadarinya kini tinda-kan sang pangeran yang memintanya
untuk mengam-bil Tombak Panca Warna hanya sebuah siasat agar di-rinya dimusuhi
pihak kerajaan. Iblis Gelang Raksasa tahu Pangeran Antaboga mempunyai alasan
kuat un-tuk melakukan hal itu. Bukankah dulu ketika sang pangeran mengajaknya
ikut dalam pemberontakan dia tak mau?
Iblis Gelang Raksasa tak ingin terlibat keributan dengan
pasukan kerajaan. Maka, dibalikkan tubuhnya untuk melesat meninggalkan tempat
itu. Tapi niatnya langsung diurungkan ketika melihat di bawahnya me-nunggu
puluhan pasukan kerajaan bersenjata leng-kap. Di tangan para prajurit itu
tergenggam perisai dan pedang. Sebagian di antaranya bersenjatakan tombak
panjang. Hanya sebagian kecil yang menggenggam anak panah.
Tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin bermun-culan di
wajah Iblis Gelang Raksasa. Dirinya benar-
benar telah masuk perangkap! Jalan lolos sepertinya sudah
tertutup! Satu-satunya cara untuk selamat hanya melawan dengan seluruh
kemampuan yang ada. "Tak ada jalan keluar bagi tamu tak diundang, Iblis
Gelang Raksasa!" ejek Panglima Soka, salah seorang
dari belasan sosok di atas genting.
Iblis Gelang Raksasa hanya menggertakkan gigi se-bagai tanggapan
atas ucapan sang panglima. Bagi da-tuk sesat ini Panglima Soka bukan lawan
tangguh. Di-akuinya panglima tinggi besar itu merupakan jago is-tana. Tapi,
seorang Panglima Soka tak berarti apa-apa baginya!
Sementara sosok-sosok yang bersama Panglima Soka memiliki
kepandaian tak di bawah sang pangli-ma. Melihat tanda-tanda khas di tubuh
mereka, Iblis Gelang Raksasa tahu lima sosok di antara mereka me-rupakan
pasukan khusus kerajaan. Pasukan-pasukan pengawal Raja Rancamala! Tentu saja
sebagai pasukan khusus kepandaian mereka amat tinggi.
Di samping lima anggota pasukan khusus itu ma-sih ada tujuh
sosok yang bersikap gagah dan bermata tajam berkilat. Sorot mata seperti itu
hanya dimiliki oleh tokoh-tokoh bertenaga dalam amat kuat. Dan, Ib-lis Gelang
Raksasa tahu kalau ketujuh sosok itu me-mang lawan-lawan yang cukup tangguh.
Setidak-tidaknya seorang di antara mereka; memiliki kemam-puan di atas Panglima
Soka.
Iblis Gelang Raksasa, memang belum pernah men-jajal
kepandaian ketujuh sosok yang terdiri dari lelaki-lelaki berusia tiga puluhan.
Tapi nama besar Tujuh Pendekar Gunung Harimau telah lama didengarnya sebagai
tokoh-tokoh jarang tandingan. Telah banyak tokoh-tokoh sesat yang tewas di
tangan ketujuh pen-dekar ini. Tujuh Pendekar Gunung Harimau memang
mempunyai hubungan satu perguruan dengan Pangli-ma Soka.
"Sungguh tak kusangka kau bermaksud tak baik terhadap
kerajaan, Iblis Gelang Raksasa," ucap Pan-glima Soka lagi. "Padahal
selama ini kerajaan bersikap tak peduli dengan segala tindakan yang kau
lakukan. Kerajaan tahu, kau menjadi kaya raya dari hasil keja-hatan anak-anak
buahmu. Rumah-rumah judi dan tempat pelacuran yang kau kelola.
Perampokan-perampokan atas perusahaan pengawalan barang, dan masih banyak lagi.
Tapi kau menyangka diamnya kera-jaan karena takut, Iblis Gelang Raksasa.
Sehingga se-cara lancang kau masuk kemari. Sayang sekali mak-sud burukmu itu
berhasil kami ketahui. Sekarang ber-siaplah untuk menerima kematian, Iblis
Gelang Raksa-sa!"
Iblis Gelang Raksasa hampir meledak dadanya mendengar
ucapan Panglima Soka. Yang membuat ka-kek ini marah adalah tindakan licik sang
pangeran dengan menjerumuskannya ke dalam perangkap se-perti ini.
"Pangeran Antaboga! Keparat licik! Keluar kau! Jangan
bersembunyi saja! Mari kita mengadu nyawa sampai salah seorang di antara kita
tergeletak tanpa jiwa!" teriak Iblis Gelang Raksasa dengan pengerahan
tenaga dalamnya, sehingga suaranya berkumandang ke seluruh penjuru. Bahkan
terdengar sampai ke tem-pat yang jauh.
Tingkah Iblis Gelang Raksasa membuat Panglima Soka dan rekan-rekannya
mengernyitkan alis. Mereka kelihatan heran bercampur bingung.
"Jangan kira dapat mengalihkan perhatian kami dengan
tingkahmu yang aneh-aneh, Iblis!" sentak Pan-glima Soka setelah berpikir
sejenak. Panglima tinggi
besar ini menduga tingkah Iblis Gelang Raksasa hanya sebuah
siasat belaka.
Iblis Gelang Raksasa kebingungan mendengar uca-pan Panglima
Soka. Sebagai datuk yang telah kenyang pengalaman kakek ini tahu Panglima Soka
bersung-guh-sungguh dengan ucapannya.
"Benarkah bukan Pangeran Antaboga yang mem-bocorkan
kedatangannya? Kalau begitu, siapa?" tanya hati Iblis Gelang Raksasa.
"Kelihatannya iblis itu tak bermain-main,
Pangli-ma," ujar salah satu tokoh dari Tujuh Pendekar Gu-nung Harimau.
"Barangkali saja Pangeran Antaboga pun ikut menyelusup masuk kemari tanpa
sepengeta-huan kita."
"Andaikata benar demikian kedatangan pangeran itu pun
akan diketahui, Adi," sahut Panglima Soka. "Seluruh sudut istana
telah dijaga ketat oleh para pra-jurit. Jangankan manusia, seekor burung pun
akan ketahuan jika masuk kemari."
Anggota Tujuh Pendekar Gunung Harimau pun di-am. Jawaban
Panglima Soka tak terlalu berlebihan. Hal yang dikatakan panglima itu memang
benar-benar sesuai dengan kenyataan yang dilihatnya.
Iblis Gelang Raksasa segera mempunyai pikiran lain mendengar
percakapan itu. Mungkinkah dirinya dijadikan Pangeran Antaboga sebagai pengalih
perha-tian? Dia dijadikan umpan agar sang pangeran dapat masuk ke istana tanpa
mendapat gangguan!
Banyak pertanyaan yang menggayut di benak Iblis Gelang
Raksasa. Namun dia tak bisa berlama-lama memikirkannya. Tujuh Pendekar Gunung
Harimau te-lah melancarkan serangan. Sesuai julukannya, tokoh-tokoh golongan
putih ini memang menyerang secara bertujuh.
Lima anggota pasukan khusus hendak ikut ambil bagian. Tapi
tindakan itu mereka urungkan ketika me-lihat Panglima Soka memberi isyarat
untuk tidak men-campuri jalannya pertarungan.
Tujuh Pendekar Gunung Harimau ternyata bukan hanya besar
julukan saja. Kepandaian rata-rata mere-ka pun hebat. Memang bila dibandingkan
satu persatu dengan Iblis Gelang Raksasa, mereka bukan tandingan iblis itu.
Tapi begitu maju bertubuh dan dengan meng-gunakan golok yang menjadi senjata
andalan mereka, Iblis Gelang Raksasa dibuat kerepotan bukan main.
Tujuh Pendekar Gunung Harimau mampu bekerja sama secara
baik. Mereka dapat menutup kekurangan masing-masing rekannya dan kemudian
menambah kedahsyatan serangan yang dilancarkan.
Iblis Gelang Raksasa menggertakkan gigi menahan geram.
Semula, menyadari keunggulannya baik dalam kecepatan dan kekuatan tenaga, datuk
sesat ini ber-maksud sesering mungkin membenturkan senjata un-tuk memperoleh
kemenangan. Dengan tenaga dalam-nya yang jauh lebih kuat mudah baginya untuk
mem-buat senjata lawan lepas dari genggaman. Bahkan, dengan benturan yang
terjadi Iblis Gelang Raksasa ya-kin mampu mematahkan tangan lawan-lawannya.
Tapi, semua itu hanya dapat diwujudkan Iblis Ge-lang
Raksasa dalam angan-angan saja. Tujuh Pende-kar Gunung Harimau tak kalah
cerdik. Dalam bentu-ran yang tak terelakkan dengan gelang raksasa lawan, mereka
tak sendiri-sendiri bertindak. Serangan yang dilakukan selalu bertiga.
Hal itu membuat tangkisan Iblis Gelang Raksasa selalu
berbenturan dengan tiga senjata. Gabungan tiga tokoh Pendekar Gunung Harimau
dalam hal tenaga ini ternyata terlalu kuat untuk dapat ditahan Iblis Gelang
Raksasa. Kakek ini selalu terhuyung setiap kali seran-gan
lawan-lawannya ditangkis.
Iblis Gelang Raksasa menguras seluruh kemam-puannya. Tapi
tetap saja harus diakui kalau penge-royokan itu terlalu tangguh. Kalau saja
tujuh pendekar itu tak bekerja sama demikian baik, Iblis Gelang Rak-sasa masih
mempunyai harapan. Tapi kerja sama Tu-juh Pendekar Gunung Harimau yang demikian
baik membuat harapan Iblis Gelang Raksasa pupus di ten-gah jalan
Iblis Gelang Raksasa akhirnya memutuskan untuk bertahan
saja. Sebagai tokoh kawakan datuk sesat ini merasakan kedudukan bertahan jauh
lebih mengun-tungkan daripada menyerang. Gelang raksasanya di-putar
mengelilingi tubuhnya bagaikan benteng. Andai-kata saat itu hujan hebat pun tak
setitik air akan membasahi tubuhnya.
Iblis Gelang Raksasa sambil terus bertahan men-coba mencari
cara agar bisa meninggalkan lawan-lawannya. Jika dia memaksakan diri untuk
terus ber-tahan, hanya akan memperoleh akibat yang merugi-kan!
Di saat-saat genting bagi keselamatan Iblis Gelang Raksasa
itu terjadi kegaduhan di bawah. Pasukan ke-rajaan yang semula menunggu di bawah
dengan sikap siaga kelihatan kalang kabut. Bunyi terompet tanda bahaya menguak
kesunyian malam, mengatasi riuh rendah bunyi pertarungan.
Bunyi tanda bahaya dikeluarkan oleh prajurit-prajurit yang
berjaga-jaga di atas dinding istana. Mere-ka melihat serombongan orang menuju
ke istana. Jumlah rombongan tak kurang dari seratus orang!
Rombongan yang sebagian besar mengenakan se-ragam kerajaan
itu berada di bawah pimpinan Pange-
ran Antaboga! Lelaki jangkung ini berlari paling depan,
meninggalkan rombongannya. Sepertinya, pangeran pemberontak ini sudah tak sabar
untuk merebut ista-na kerajaan.
"Pasukan dari mana itu?" tanya seorang prajurit
yang bertubuh pendek gemuk
"Kalau melihat dari seragamnya sebagian besar pa-sukan
Kadipaten Bringin," jawab prajurit yang bertu-buh tinggi kurus.
"Tapi, sebagian lagi sepertinya orang-orang persilatan!"
"Keparat!" Panglima Soka yang telah berada di
atas dinding istana, karena meninggalkan Tujuh Pendekar Gunung Harimau
bertempur dengan Iblis Gelang Rak-sasa, memaki penuh kemurkaan.
"Berani-beraninya pasukan Kadipaten Bringin memberontak. Akan ku-penggal
kepala Adipati Menak!"
Sambil berkata demikian Panglima Soka menyi-pitkan mata
untuk dapat melihat sosok yang tengah melesat dengan kecepatan menakjubkan.
Kecepatan gerakan Pangeran Antaboga membuat Panglima Soka tak bisa melihatnya
dengan jelas.
Seperti yang sudah diperkirakan Pangeran Antabo-ga, begitu
tubuhnya semakin mendekati tembok istana dan telah berada dalam jangkauan
luncuran anak pa-nah, prajurit-prajurit kerajaan yang sejak semula telah siap
dengan busur terentang segera membidiknya.
Twang, twang, twangngng...!
Puluhan anak panah meluncur ke arahnya, namun tak dipedulikan
sedikit pun oleh Pangeran Antaboga. Lelaki jangkung ini hanya mengerahkan
tenaga da-lamnya. Maka, anak-anak panah yang mendarat di se-kujur tubuhnya
berpentalan kembali bagai mengenai gumpalan karet keras.
Puluhan prajurit istana, tak terkecuali Panglima
Soka, terkejut melihat kenyataan itu. Kendati demi-kian,
para prajurit tetap melepaskan anak-anak pa-nah. Panglima Soka sendiri tak
mencegahnya. Baru ke-tika anak-anak panah kedua runtuh semua dalam keadaan
patah ketika membentur tubuh Pangeran An-taboga, Panglima Soka memerintahkan
sebagian praju-ritnya untuk mengganti senjata dengan golok.
Bertepatan dengan sebagian prajurit itu menghu-nus golok,
Pangeran Antaboga menjejak dinding tem-bok istana. Seketika itu pula belasan
batang golok te-lanjang menghujani sang pangeran.
Pangeran Antaboga hanya mendengus. Tangan dan kakinya
digerakkan ke sekitarnya. Bunyi berpatahan-nya golok-golok pasukan kerajaan
ketika membentur sekujur tubuh Pangeran Antaboga terdengar berbaren-gan dengan
jeritan menyayat hati para pemiliknya. Tu-buh-tubuh prajurit yang malang itu
pun berjatuhan ke tanah. Nyawa mereka telah melayang ke alam baka se-belum
tubuh mereka menimpa tanah.
Panglima Soka menggeram keras melihat tewasnya
prajurit-prajurit bawahannya. Dan, kegeramannya se-makin bertambah ketika
melihat tokoh yang menge-jutkan itu.
"Pangeran Antaboga...!" desis Panglima Soka
sea-kan tak percaya dengan akan apa yang dilihatnya.
Sekarang Panglima Soka baru percaya kalau Pan-geran
Antaboga benar-benar telah lolos dari tempat pengasingan.
"Syukur kau masih mampu mengenaliku, Soka,"
dengus Pangeran Antaboga setelah mengirim nyawa lima orang prajurit yang
mengeroyoknya dengan kiba-san tangan dan kaki. "Kedatanganku kemari di
samp-ing ingin melenyapkan raja keparat itu juga untuk membunuh antek-anteknya
yang setia seperti kau!"
"Jangan mimpi, Antaboga! kaulah yang akan ter-kubur di
sini!" sergah Panglima Soka. Kemudian diki-rimkannya tusukan pedang ke
arah leher lelaki jang-kung itu.
Serangan Panglima Soka berbahaya bukan main. Ujung
pedangnya kelihatan seperti berjumlah belasan ketika meluncur ke arah Pangeran
Antaboga. Namun pangeran itu tetap bersikap tenang.
Kreppp!
Panglima Soka hampir tak percaya. Semula pan-glima tinggi
besar ini yakin betul pedangnya akan me-nembus leher lawan. Tapi dengan
gerakan, cepat yang tak bisa diikuti mata, Pangeran Antaboga merendah-kan tubuh
dengan cara menekuk lututnya. Tusukan pedang yang semula mengarah ke leher jadi
menembus mulut. Dan sebelum ujung pedang melukai tenggoro-kan, Pangeran
Antaboga telah lebih dulu memupusnya dengan menggigitnya! Sekali gigi-gigi itu
ditekankan batang pedang Panglima Soka yang terbuat dari baja pilihan patah
dua!
Tindakan Pangeran Antaboga tak berhenti hanya sampai di
situ. Kepalanya kemudian diegoskan. Aki-batnya, potongan pedang Panglima Soka
yang berada di giginya melayang ke arah panglima itu dengan kece-patan yang
luar biasa tinggi.
Panglima Soka terkejut bukan main. Sebisa-bisanya dia
berusaha mengelak. Tapi jarak yang demi-kian dekat dan kecepatan meluncurnya potongan
pe-dang yang menakjubkan membuat panglima tinggi be-sar ini tak terlalu
berhasil dengan usahanya. Potongan pedang yang semula mengincar jantung jadi
menancap di dada kiri atas Panglima Soka.
Tubuh Panglima Soka terjajar ke belakang akibat hunjaman
potongan pedang. Namun hal inilah yang
menyebabkan nyawa sang panglima lolos dari maut. Pada saat
yang bersamaan dengan meluncurnya po-tongan pedang itu Pangeran Antaboga
mengirimkan tendangan ke arah pusar. Andaikata mengenai sasaran seluruh isi
perut Panglima Soka akan hancur beranta-kan!
Terjajar tubuh Panglima Soka ke belakang mem-buat tendangan
Pangeran Antaboga mendarat di paha kanan. Itu pun tidak telak. Kendati demikian
cukup untuk membuat tubuh Panglima Soka terjengkang ke belakang dengan tulang
paha remuk.
Untungnya Panglima Soka memiliki watak keras hati. Tak
terdengar sedikit pun keluhan dari mulutnya, kendati rasa sakit yang amat
sangat mendera-dera pa-hanya. Bahkan panglima tinggi besar ini tak
mengelua-rkan keluhan kaget meski semangatnya seperti terbang ketika kedua
kakinya tak menginjak landasan lagi. Se-saat kemudian, Panglima Soka baru
tersadar kalau dia telah terjatuh dari tembok istana
Pangeran Antaboga bergegas ikut melompat ke ba-wah. Tapi
tubuh Panglima Soka tak dipedulikannya. Panglima Soka pingsan karena luka-luka
yang dideri-tanya terlalu menyakitkan. Dan Pangeran Antaboga tak mengirimkan
serangan susulan yang akan mem-bawa sang panglima ke neraka. Tanpa dikirimkan
se-rangan susulan lagi pun nyawa Panglima Soka akan sulit untuk diselamatkan.
Luka-luka yang dideritanya terlalu parah!
Bertepatan dengan menjejaknya kedua kaki Pange-ran Antaboga
di tanah, daun pintu gerbang hancur be-rantakan dengan diiringi bunyi
hiruk-pikuk yang me-mekakkan telinga. Rupanya rombongan yang dipimpin Pangeran
Antaboga berhasil tiba di depan pintu ger-bang dan menghancurkannya. Untuk
kedua kalinya
daun pintu gerbang kerajaan hancur. Padahal baru beberapa
hari yang lalu daun pintu itu hancur berkep-ing-keping.
Dengan hancurnya daun pintu gerbang rombongan Pangeran
Antaboga leluasa masuk ke dalam lingkun-gan istana. Berbondong-bondong mereka
masuk yang segera disambut oleh rombongan pasukan kerajaan. Pertarungan
besar-besaran pun terjadi.
Seketika dentang senjata beradu, pekikan-pekikan perang,
dan jerit kematian terdengar saling susul. Tu-buh-tubuh malang berjatuhan ke
tanah dalam kea-daan tak bernyawa. Tanah halaman kerajaan pun ber-simbah darah.
Pangeran Antaboga tak mempedulikan pertempu-ran itu. Lelaki
jangkung ini merasa dirinya terlampau tinggi untuk mencampuri pertarungan
semacam itu. Pertarungan keroco-keroco. Sang pangeran ini melesat cepat menuju
bangunan istana raja.
Beberapa kali lelaki jangkung ini terpaksa melem-parkan
tubuh-tubuh orang yang menghalangi jalan-nya. Semua itu dilakukan hanya dengan
mengibaskan tangan atau kaki.
Pangeran Antaboga sama sekali tak ambil peduli kalau
rombongannya terdesak hebat. Rombongan yang terdiri dari campuran pasukan
Kadipaten Bringin dan tokoh-tokoh persilatan golongan hitam itu terus dide-sak
mundur ke luar tembok yang melingkari bangu-nan-bangunan istana. Rombongan
Pangeran Antaboga kalah banyak jumlahnya. Karena itu, rombongan ini terdesak
hebat!
***
7
Rombongan pasukan kerajaan sudah berbesar hati melihat
pihak penyerang berhasil mereka desak. Na-mun kegembiraan itu hanya berlangsung
sebentar sa-ja. Perubahan besar-besaran segera terjadi! Gerombo-lan mayat hidup
muncul dan menyerang pihak mere-ka. Sebuah hal yang aneh. Pihak penyerang tidak
mendapatkan serangan mayat-mayat hidup!
Kemunculan makhluk-makhluk menjijikkan itu benar-benar
merupakan malapetaka besar bagi pasu-kan kerajaan. Hanya dalam sekejapan pihak
kerajaan ganti terdesak. Jeritan kematian terdengar saling susul di antara
mereka.
Pihak penyerang semula ikut menyerang pasukan kerajaan.
Tapi sesaat kemudian mereka bertindak se-bagai penonton saja. Rombongan
penyerang menyak-sikan jalannya pertarungan yang lebih layak disebut
pembantaian besar-besaran.
Setapak demi setapak pasukan kerajaan terdesak mundur.
Malah ketika korban yang jatuh semakin ba-nyak dan pasukan kerajaan telah putus
asa, mereka berbondong-bondong bergerak mundur untuk menca-pai tempat di mana
jarak lima tombak dari daun pintu gerbang berada. Mereka ingin secepatnya
berada di tempat yang aman dari serangan mayat hidup.
Yakin akan keampuhan air bekas rendaman Tom-bak Panca Warna
yang dikucurkan mengitari tempat di mana dulu dinding istana terdapat,
rombongan pasu-kan kerajaan berhenti mundur. Mereka semua berdiri menanti
tewasnya mayat-mayat hidup dalam jarak sa-tu tombak dari batasan untuk makhluk
itu. Rombon-gan pasukan kerajaan baru kelabakan ketika menge-
tahui mayat-mayat hidup terus melangkah maju mele-wati
batas tersebut. Mayat-mayat hidup itu tak menga-lami kejadian apa pun ketika
melewati batas maut itu. Malah, berbondong-bondong mereka melaluinya tanpa
terpengaruh sedikit pun!
Rombongan pasukan kerajaan tak mempunyai pili-han lain
kecuali terus bergerak mundur. Yang tak sempat segera melakukan perlawanan
semampunya. Korban-korban di pihak kerajaan kembali berjatuhan. Kejadian itu
tak luput dari perhatian Prabu Rancamala yang menyaksikannya dari bangunan
istana. Belasan pasukan khusus berada di sekeliling raja yang masih terlihat
gagah di usianya yang senja itu.
"Apa yang terjadi, Eyang?" tanya Prabu Rancamala
tanpa mampu menyembunyikan kecemasan di wajah-nya. "Mengapa
makhluk-makhluk celaka itu mampu melewati tempat yang telah dikucuri air
sakti?"
"Ampunkan hamba, Gusti Prabu," jawab Eyang Santer
sambil memberi hormat "Ini berarti Tombak Panca Warna telah tidak berada
di lingkungan istana lagi..."
"Maksud Eyang pusaka itu telah dicuri orang?!"
tanya Prabu Rancamala.
"Begitulah kira-kira, Gusti Prabu."
"Keparat!" geram Prabu Rancamala penuh
kemara-han. Jari-jari tangannya dikepalkan. "Apa kerjanya pa-ra prajurit
itu?!"
Tak ada yang memberikan tanggapan sama sekali. Tak juga
Eyang Santer. Mereka semua khawatir terke-na pelampiasan kemarahan Prabu
Rancamala yang tengah murka.
"Menyesal dulu kubiarkan anak durhaka Antaboga itu
hidup. Kalau ku tahu akan seperti ini jadinya su-dah ku hukum mati dia!"
geram Prabu Rancamala lagi.
"Entah di mana dia memperoleh ilmu yang mampu
membuatnya melakukan hal-hal terkutuk itu!"
Di lain tempat Pangeran Antaboga yang tengah di-maki-maki
oleh Prabu Rancamala sedang melesat me-nuju atas genting, di mana tengah
terjadi pertarungan sengit antara Iblis Gelang Raksasa dengan Tujuh Pen-dekar
Gunung Harimau.
Saat itu kedudukan Iblis Gelang Raksasa sangat
mengkhawatirkan. Gerakan kakek ini sudah tak sege-sit sebelumnya. Iblis Gelang
Raksasa kelelahan karena terus menerus mengadu tenaga dengan lawan-lawannya.
Sekujur tubuh datuk sesat ini dibasahi pe-luh. Gulungan gelang baja yang semula
rapat melin-dungi seluruh tubuhnya kini agak terbuka. Bunyi mengaung yang
mengiringi pergerakan gelangnya juga semakin melemah.
Saat itulah Pangeran Antaboga muncul. Lelaki jangkung ini
langsung terjun ke dalam kancah perta-rungan. Sang pangeran melesat ke
tengah-tengah an-tara Iblis Gelang Raksasa dan ketujuh lawannya. Pa-dahal saat
itu tiga batang golok tengah meluncur ke arah Iblis Gelang Raksasa. Dengan
melesat masuknya Pangeran Antaboga menjadikan lelaki ini sasaran se-rangan!
Cap, cap, cappp!
Ujung tiga batang golok mengenai tiga sasaran di tubuh
Pangeran Antaboga dengan telak. Kendati me-nyambar di tiga tempat, tenaga yang
terkandung dalam setiap serangan merupakan gabungan tenaga tiga orang.
Semula tiga tokoh dari Tujuh Pendekar Gunung Harimau ini
kaget mendapati sesosok bayangan coklat melesat masuk ke dalam kancah
pertarungan dan ter-kena sasaran serangan mereka. Keterkejutan itu se-
makin membesar ketika melihat senjata-senjata mere-ka tak
mampu menembus tubuh Pangeran Antaboga! Golok-golok itu hanya menembus pakaian
sang pange-ran tapi tak bisa melukai kulit. Mereka berusaha un-tuk menarik
senjatanya. Ternyata hal itu tak mampu mereka lakukan.
Senjata itu seakan-akan telah bersatu dengan tu-buh
Pangeran Antaboga.
Di saat tokoh-tokoh dari Tujuh Pendekar Gunung Harimau
berusaha keras menarik pulang senjatanya, Pangeran Antaboga meludah tiga kali!
Tiga gumpalan cairan kental yang menjijikkan pun meluncur ke arah dahi
masing-masing tokoh golongan putih itu. Keti-ganya kelihatan terperanjat.
Serangan ludah itu amat berbahaya. Terkena telak akan membuat dahi berlu-bang
yang mengakibatkan nyawa mereka melayang ke alam baka. Dengan hati terpaksa
golok-golok di tangan pun dilepaskan. Hampir berbarengan ketiganya me-rendahkan
tubuh sehingga serangan yang menjijikkan itu lewat di atas kepala.
Pangeran Antaboga memang menunggu-nunggu saat ini! Serangan
dengan ludahnya itu hanya sekadar tipuan belaka. Dan, serangan yang
sesungguhnya ada-lah tendangan kaki kanan bertubi-tubi ke arah perut ketiga
lawannya.
Des, des, desss!
Tiga kali berturut-turut tendangan Pangeran Anta-boga
mendarat di sasaran. Seketika tubuh tiga pende-kar yang malang itu terjengkang
ke belakang dengan darah menyembur deras dari mulut, hidung, dan telin-ga
mereka, Di saat tubuh pendekar-pendekar itu me-layang, nyawanya pun melayang!
Empat dari Tujuh Pendekar Gunung Harimau yang tersisa
terkejut bukan main melihat hal ini
Rentetan kejadian itu berlangsung demikian cepat, sehingga
mereka tak sempat bertindak untuk mem-bantu. Kemarahan terhadap Pangeran
Antaboga pun menyeruak. Dengan diiringi teriakan nyaring memba-hana mereka
menerjang sang pangeran. Golok-golok di tangan empat tokoh golongan putih itu
lenyap bentuk-nya menjadi gulungan sinar menyilaukan mata yang mengancam
keselamatan Pangeran Antaboga.
Tapi sebelum serangan empat dari Tujuh Pendekar Gunung
Harimau mengenai sasaran, dari belakang Ib-lis Gelang Raksasa telah mengirimkan
serangan den-gan ayunan gelang bajanya ke arah kepala Pangeran Antaboga! Sang
pangeran terkejut bukan main men-dengar deru angin keras dari arah belakangnya.
Dalam sekejapan benaknya memberitahukan akan adanya bahaya maut. Buru-buru
tubuhnya direndahkan.
Saat serangan gelang baja Iblis Gelang Raksasa le-wat jauh
di atas kepalanya, serangan golok-golok em-pat dari Tujuh Pendekar Gunung Harimau
meluncur tiba. Pangeran Antaboga melesat cepat dengan mem-pergunakan tangan dan
kaki melalui bawah para pe-nyerangnya.
Pangeran itu seperti telah berubah menjadi bina-tang
berkaki empat.
Tindakan Pangeran Antaboga membuatnya berada di belakang
lawan-lawannya. Dan sebagai akibatnya, Iblis Gelang Raksasa yang mendapatkan
serangan la-wan-lawan Pangeran Antaboga. Iblis Gelang Raksasa yang tak
mempunyai kesempatan mengelak segera menangkis dengan senjata andalan.
Trangng!
Dentang beradunya dua macam senjata yang diiku-ti
berpercikannya bunga api mengiringi terhuyungnya tubuh Iblis Gelang Raksasa.
Kakek berpakaian indah
ini masih sempat mengirimkan pukulan jarak jauh dengan
tangan kirinya.
Serangan yang mendatangkan deru angin kuat itu membuat
empat pendekar dari Tujuh Pendekar Gu-nung Harimau yang tengah berada di udara
tak kuasa untuk bertahan. Mereka tak terluka. Tapi, ketika men-jejak tanah
tubuh mereka limbung.
Di saat itulah Pangeran Antaboga mencabut pe-dang yang
selama ini tergantung di pinggang dan tak pernah digunakan. Begitu dicabut
pedang itu langsung dikelebatkan. Tak terlihat bentuk pedang itu. Hanya seleret
sinar menyilaukan mata yang melesat. Sesaat kemudian, empat dari Tujuh Pendekar
Gunung Hari-mau yang tersisa memekik meregang maut sebelum ambruk ke tanah.
Di punggung empat tokoh golongan putih yang ma-lang itu
tampak guratan memanjang yang mengalirkan darah. Pangeran Antaboga sendiri
telah menyimpan pedangnya kembali.
Pangeran Antaboga menatap Iblis Gelang Raksasa dengan sorot
tajam. Sinar sepasang matanya maupun raut wajahnya demikian dingin.
Meski merasa gentar, namun karena kemarahan yang melanda
hati mengingat Pangeran Antaboga telah menjebaknya, Iblis Gelang Raksasa balas
menatap. Dua pasang mata tajam mencorong penuh tenaga da-lam kuat saling
beradu.
"Rupanya kau benar-benar bermaksud untuk ber-musuhan
denganku, Iblis Gelang?!" rungut Pangeran Antaboga, datar dan dingin
suaranya. "Apakah kau te-lah mempunyai andalan yang dapat kau pergunakan
untuk melawanku?"
"Cuhhh!"
Iblis Gelang Raksasa malah membuang ludah den-
gan pandang mata penuh tantangan.
Sikap Iblis Gelang Raksasa membuat kemarahan Pangeran
Antaboga semakin menjadi-jadi. Namun pangeran ini masih mampu menahan diri
karena ma-sih mempunyai kepentingan terhadap datuk kaum se-sat itu.
"Aku masih mempunyai persediaan kesabaran, Ib-lis
Gelang. Maka, tindakanmu sekarang dan juga yang tadi ku maafkan. Kau bukan
termasuk musuhku. Apa-lagi kau telah memenuhi janji untuk menyatroni istana ini
dan mengambil Tombak Panca Warna. Kau terma-suk rekan ku pula. Kita sahabat,
Iblis Gelang. Karena itu agar tak merusak persahabatan kita, kuharap kau
bersedia memberikan Tombak Panca Warna kepada-ku!"
"Tak usah bermanis mulut di depanku, Antaboga!"
sentak Iblis Gelang Raksasa dengan nada tinggi. "Kua-kui kau memiliki
kemampuan dahsyat. Tapi itu tak be-rarti kau dapat mempermainkan diriku.
Majulah, Ke-parat! Penghinaan yang kau timpakan padaku hanya dapat ditebus
dengan nyawamu!"
Pangeran Antaboga menggertakkan gigi mendapat sambutan
pedas. Kemarahan semakin membakar ha-tinya. Tapi, besarnya kemarahan itu masih
kalah den-gan rasa heran dan bingung mendengar ucapan Iblis Gelang Raksasa.
Itulah sebabnya Pangeran Antaboga masih bisa bersabar.
"Apa maksudmu, Iblis Gelang? Aku benar-benar ti-dak
mengerti."
"Tidak mengerti?!" ulang Iblis Gelang Raksasa
den-gan suara semakin meninggi. Sepasang matanya membelalak lebar bagaikan
hendak melompat keluar. "Rupanya kau masih mencoba untuk terus
berpura-pura, Boga! Baiklah ku jelaskan agar kau tak me-
nyangka aku demikian bodoh. Permintaanmu untuk mengambil
Tombak Panca Warna hanya merupakan sebuah jebakan?! Kau tak usah mungkir. Yang
tahu masalah ini hanya kau, aku dan sedikit anak buahku. Tapi kenyataannya
begitu aku tiba di sini langsung di-kepung. Kalau tak beruntung mungkin nyawaku
telah melayang. Nah, dari mana pasukan kerajaan tahu aku akan menyatroni tempat
ini kalau bukan darimu?!"
"Jaga mulutmu, Iblis Gelang!" bentak Pangeran
An-taboga murka mendengar tuduhan keji yang diala-matkan padanya. "Untuk
apa aku melakukan hal itu? Membunuhmu dengan tangan sendiri pun tidak sulit.
Untuk apa aku meminjam tangan keroco-keroco untuk menghabisi nyawamu? Kau saja
yang terlalu bodoh sehingga keroco-keroco mengetahui kedatanganmu!"
Iblis Gelang Raksasa menatap Pangeran Antaboga lekat-lekat,
dicobanya melihat kesungguhan lelaki jangkung itu melalui mata dan wajahnya.
Pangeran Antaboga balas menatap. Iblis Gelang Raksasa menjadi bingung.
Dilihatnya ada kesungguhan baik dalam uca-pan maupun sikap Pangeran Antaboga.
"Kalau bukan kau yang membocorkan hal ini, siapa
lagi?" ujar Iblis Gelang Raksasa dengan suara melu-nak. Nada ucapannya
penuh pembelaan terhadap diri sendiri
"Kau yakin bukan anak buahmu?" tanya Pangeran
Antaboga meminta kepastian.
Iblis Gelang Raksasa mengangguk dengan pasti. "Berarti
ada orang lain yang mengetahui hal ini,"
sambut Pangeran Antaboga. "Tapi itu tak penting.
Ba-gaimana dengan Tombak Panca Warna itu? Berhasil kau dapatkan?"
"Bagaimana mungkin aku mendapatkan pusaka itu kalau
sebelum tiba di tempatnya aku telah dikepung
oleh orang-orang kerajaan!" bantah Iblis Gelang
Rak-sasa memberikan alasan kegagalannya.
"Berarti kau belum ke tempat pusaka itu?!"
Pange-ran Antaboga meminta penegasan dengan sorot mata lain.
Iblis Gelang Raksasa mengangguk.
Tanpa membuang-buang waktu Pangeran Antaboga melesat ke
arah puncak genting. Hanya sesaat saja dia di sana, dan kemudian kembali dengan
sikap bingung yang tak tersembunyikan.
Tanpa diberi penjelasan pun Iblis Gelang Raksasa telah bisa
menduga kalau Pangeran Antaboga tak ber-hasil mendapatkan pusaka yang
diinginkannya. Kakek berpakaian indah itu pun lalu diam membisu.
"Benar kau belum mengambil Tombak Panca War-na itu,
Iblis Gelang?!" tanya Pangeran Antaboga den-gan nada ucapan yang
mengandung ancaman.
"Apakah perlu aku bersumpah, Antaboga?" Iblis
Gelang Raksasa malah balas mengajukan pertanyaan.
Pangeran Antaboga tak memberikan jawaban. Dia merasa Iblis
Gelang Raksasa tak berbohong dengan ucapannya.
"Berarti ada orang ketiga yang mengetahui hal
ini," desis Pangeran Antaboga penuh perasaan geram. "Orang itu pula
yang menyebabkan kau seperti terje-bak, Iblis Gelang? Dan... orang itu pula
yang telah mengambil Tombak Panca Warna! Keparat! Pengecut hina itu akan
menyesali perbuatannya!"
Iblis Gelang Raksasa tak memberikan sambutan sama sekali.
Dia tak terlalu memusingkan masalah ada atau tidaknya Tombak Panca Warna.
Karena dia pribadi tak membutuhkan pusaka itu.
Sorak-sorai kemenangan dari bawah menyadarkan Pangeran
Antaboga kalau dirinya masih mempunyai
urusan penting. Tanpa mempedulikan Iblis Gelang Raksasa
dilayangkan pandangannya ke bawah.
Wajah sang pangeran tampak membiaskan keter-kejutan yang
sangat. Pandangannya tertumbuk pada gerombolan mayat hidup yang melesat
berbondong-bondong meninggalkan halaman istana. Di pinggir ber-gerombolan
rombongan yang dipimpinnya, bersorak-sorak memekikkan kemenangan dan
kegembiraan.
Pangeran Antaboga melesat ke bawah. Dalam hati dimaki
dirinya sendiri yang telah melupakan segala hal karena terlalu memikirkan
Tombak Panca Warna. Be-gitu menjejak tanah Pangeran Antaboga langsung
me-layangkan pandangan ke sekelilingnya. Tak terlihat la-gi pasukan kerajaan.
Yang tampak di sana-sini dan di dalam bangunan hanya rombongannya.
"Ke mana raja keparat itu?!" tanya Pangeran
Anta-boga pada seorang anggota rombongannya.
"Mereka semua melarikan diri melalui jalan raha-sia,
Gusti Pangeran," jawab yang ditanya.
"Keparat!" Pangeran Antaboga memukulkan kepa-lan
tangan kanan ke telapak tangan kirinya.
Kelihatan jelas pangeran itu merasa geram dan ke-cewa dengan
kegagalannya. Beberapa kali ditariknya napas panjang untuk menenangkan hati.
"Tak menga-pa. Kelak pun masih ada kesempatan untuk mele-nyapkan nyawa
raja jahanam itu," gumam Pangeran Antaboga pelan. "Tapi benarkah apa
yang kulihat tadi? Mayat-mayat hidup meninggalkan tempat ini?" tanya sang
pangeran ketika teringat lagi dengan pemandan-gan yang menimbulkan keterkejutan
di hatinya.
"Benar, Gusti Pangeran. Bahkan mayat-mayat hi-dup itu
membantu kami memerangi pasukan kerajaan. Tanpa adanya bantuan makhluk-makhluk
itu kami akan dapat dilumpuhkan pasukan raja lalim itu!" ja-
wab orang yang ditanya.
Pangeran Antaboga mengernyitkan kening. Dia memang memiliki
kemampuan untuk membangunkan mayat-mayat dan memerintahkannya melakukan
per-buatan yang dikehendakinya. Tapi tidak kali ini! Pan-geran Antaboga baru
melakukannya dua kali. Pertama, mayat-mayat itu dibangunkan untuk mencegah
keda-tangan rombongan Panglima Soka untuk menemuinya. Yang kedua, sewaktu
menyerbu kerajaan sebagai uji coba kekuatan bala tentara Prabu Rancamala
sebelum serangan sesungguhnya dilancarkan.
"Mungkinkah mayat-mayat hidup itu bangkit sen-diri
lalu melancarkan penyerangan?" tanya hati Pange-ran Antaboga, bingung.
Tapi setelah tidak menemukan jawabannya cukup lama,
Pangeran Antaboga melupakannya. Yang meme-nuhi benaknya sekarang adalah
perasaan gembira ka-rena telah berhasil memenuhi sebagian keinginannya, merebut
kerajaan!
***
8
"Relakanlah kepergiannya, Wati. Semua kejadian yang
ada di muka bumi ini atas kehendak Allah. Ayahmu tewas pun demikian. Kalau kau
terus-menerus terlibat kesedihan seperti ini, sama saja ar-tinya kau tak setuju
dengan keputusan Allah. Itu tak baik, Wati"
Ucapan yang sarat dengan nasihat itu dikeluarkan Arya. Saat
itu dia tengah berdiri di belakang seorang gadis yang duduk bersimpuh di depan
sebuah kubu-
ran. Gadis itu adalah Kusumawati.
"Aku akan dapat menerima kepedihan ini dengan lapang
dada kalau tidak demikian bertubi-tubi, Dewa Arak," timpal Kusumawati.
"Bagaimana mungkin aku tak akan terpukul menerimanya. Baru saja Kak
An-gruna lenyap, telah muncul lagi musibah lain. Ayahku tewas secara demikian
mengerikan. Melihat keadaan mayatnya, pasti beliau direncah-rencah oleh
mayat-mayat hidup jahanam itu! Terkutuk! Akan ku basmi orang yang telah
menggerakkan makhluk-makhluk ja-hanam itu!"
Arya hanya menggelengkan kepala melihat sikap Kusumawati.
Di lubuk hatinya pemuda ini tak bisa menyalahkan gadis itu. Arya bisa merasakan
kepedi-han hatinya. Tewasnya sang ayah saja sebenarnya su-dah memukul perasaan.
Apalagi tewasnya Sanggara dengan cara yang mengenaskan. Tubuh ayah Kusu-mawati
itu cerai-berai seperti dikoyak-koyak binatang buas.
"Sekarang dengan siapa aku harus tinggal, Dewa Arak?
Ayahku tak mempunyai kenalan lagi. Apakah aku boleh ikut bersamamu
merantau," tanya Kusu-mawati setelah membalikkan tubuh dan berdiri
mena-tap wajah Arya lekat-lekat. Sinar mata gadis ini terlihat penuh harapan.
Arya jadi kebingungan. Bagaimana mungkin per-mintaan
Kusumawati bisa diterimanya. Kusumawati adalah seorang gadis. Akan tak baik akibatnya
apabila ikut bersamanya merantau. Apa tanggapan Melati nan-ti? Tapi untuk
menolak terang-terangan Arya tak bera-ni. Pemuda ini takut Kusumawati akan
tersinggung dan semakin larut dalam kesedihan.
"Kita lihat saja nanti, Wati," jawab Arya setelah
mempertimbangkannya sejenak. "Pada pokoknya aku
setuju saja kau ikut bersamaku merantau. Lagi pula saat ini
pun kita tengah bersama-sama merantau un-tuk mencari jejak kakakmu yang lenyap
dan mencari siapa yang menjadi penyebab timbulnya tanda aneh di langit.
Bukankah demikian?"
Kusumawati mengangguk-anggukkan kepala. Ala-san yang
diajukan Arya bisa diterimanya. Bagi gadis ini, asal Arya sudah setuju dia
merasa sangat senang.
"Ssst...! Aku mendengar banyak langkah kaki men-dekati
tempat ini, Wati. Bersembunyilah dulu," berita-hu Arya dengan suara lirih
ketika dilihatnya Kusuma-wati hendak berbicara lagi.
Kusumawati menahan ucapan yang hendak dike-luarkannya. Dia
bergegas berlindung di balik gundu-kan batu yang cukup banyak berada di tempat
itu. Arya pun melakukan hal yang sama. Dari celah-celah yang ada pasangan
muda-mudi ini mengintai ke arah asal suara.
Kusumawati yang belum mendengar bunyi yang dimaksud Dewa
Arak hanya mengikuti ke mana pe-muda itu mengarahkan pandangan. Sepasang mata
Arya ternyata dilayangkan ke arah lubang sebuah gua yang tadi berada di
belakang mereka.
Sebentar kemudian Kusumawati pun mendengar bunyi langkah
yang tadi didengar Arya. Gadis ini se-makin bertambah kagum. Kenyataan ini
menunjukkan ketinggian ilmu pemuda berambut putih keperakan itu. Dengan hati
berdebar tegang karena perasaan in-gin tahu, Kusumawati menunggu.
Tak lama kemudian penyebab suara itu terlihat muncul di
depan gua. Sebagian besar adalah lelaki-lelaki gagah dan kekar terbungkus
pakaian kerajaan. Seragam itu sama dengan seragam yang dikenakan rombongan yang
dipimpin Panglima Soka dan Pangli-
ma Gardika. Rombongan yang diserbu oleh gerombolan mayat
hidup!
Dugaan Kusumawati memang tak keliru. Rombon-gan itu adalah
pasukan kerajaan yang mengawal Pra-bu Rancamala menyelamatkan diri. Di antara
mereka terdapat Eyang Santer.
"Kurasa tempat ini cocok untuk beristirahat. Aku
sangat lelah sekali," ujar Prabu Rancamala yang wa-jahnya sudah dibasahi
peluh.
Seketika itu pula rombongan pasukan khusus be-kerja. Dengan
gerak cepat mereka membersihkan tem-pat itu dan menyediakan hal-hal yang pantas
untuk menyenangkan junjungan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Eyang?"
tanya Prabu Rancamala
Raja yang kelelahan ini kelihatan mengantuk. Be-liau duduk
bersandar dengan dikipasi dua anggota pa-sukan khususnya.
"Ampun, Gusti Prabu," sembah Eyang Santer.
"Me-nurut hemat hamba, yang penting sekarang adalah ki-ta bersantai dulu.
Dengan perut yang kenyang akan mudah dan enak bagi kita untuk berpikir."
Wajah Prabu Rancamala kelihatan berseri. Sebuah usul yang
amat bagus, pikirnya. Saat ini dia memang tengah lapar. Namun, perasaan takut
yang besar akan kehilangan nyawa membuat Prabu Rancamala seperti lupa dengan
hal itu. Dia baru teringat kembali ketika diingatkan.
Prabu Rancamala dengan suara keras segera me-merintahkan
semua prajuritnya untuk mencari maka-nan yang enak-enak. Yang disuruhnya
tinggal hanya dua orang, itu pun yang bertugas mengipasi tubuhnya. "Sambil
kita menunggu makanan tiba tak ada sa-
lahnya kalau perbincangan dilanjutkan, Eyang."
"Benar, Gusti Prabu. Tambahan lagi hamba me-mang
hendak membicarakan sesuatu. Hanya hamba masih ragu."
"Mengapa mesti ragu? Apa yang harus diragukan? Katakan
saja, Eyang!" timpal Prabu Rancamala.
"Baiklah kalau begitu, Gusti Prabu," Eyang Santer
seperti terpaksa. menyerah. "Sebenarnya sudah lama hamba hendak
membicarakan hal ini. Sesungguhnya hamba... maksudku, aku ingin membunuhmu,
Raja Keparat!"
Prabu Rancamala sampai terjingkat kaget menden-gar ucapan
itu. Dua pengawal khususnya pun tersen-tak. Serentak keduanya maju ke depan dua
langkah sehingga berada di kanan dan kiri sang raja. Sikap me-reka terlihat
demikian melindungi.
"Perlu kuberitahukan padamu, Raja Kejam! In-gatkah kau
akan peristiwa pemberontakan Pangeran Antaboga dan aku memintamu untuk
membebaskan seorang pemuda dari hukuman mati? Pemuda yang menjadi anak buah
pangeran itu kukatakan amat me-narik hatiku. Ketahuilah, pemuda itu adalah
cucuku! Ayah dari pemuda itu adalah menantuku. Kau tak akan mengenal anakku
karena aku telah terpisah den-gannya sebelum mengabdi kepadamu!"
Prabu Rancamala tak berkata apa pun selain
menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap bingung. Dua pengawal khususnya telah
mencabut senjata mas-ing-masing untuk menghadapi serangan tak terduga Eyang
Santer.
"Aku dendam sekali akan kejadian itu! Kalau saja dulu
aku berani mengutarakan hal ini, aku khawatir kedudukanku akan dicopot dan ikut
kau hukum mati sebagai seorang pemberontak. Maka meski sakit hati aku mampu
meredamnya."
Eyang Santer menghentikan ucapannya sebentar untuk menelan
liur, membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
"Sakit hati yang berhasil kutekan semakin menya-kitkan
ketika ku tahu anakku meninggal karena me-nanggung kesedihan besar akibat
tewasnya anaknya. Aku sudah mulai berpikir untuk membunuhmu. Tapi, sayang aku
masih khawatir mati sebagai seorang pem-berontak. Aku ingin hidup terhormat.
Maka, ku buang jauh-jauh lagi pikiran itu!"
Prabu Rancamala hanya diam. Raja ini terlalu ka-get
mendengar berita yang didapatnya.
"Tapi sekarang kau bukan lagi seorang Raja! Jadi, aku
tak mempunyai harapan apa pun lagi jika tetap menjadi orangmu! Kau harus mati,
Raja Lalim!"
Setelah berkata demikian, Eyang Santer menyerang Prabu
Rancamala. Kedua tangannya dipukulkan ber-tubi-tubi berupa pukulan kanan dan
kiri ke arah dada orang nomor satu dalam kerajaan itu.
Dua orang anggota pasukan khusus tak tinggal di-am. Mereka
segera bergerak maju dan memapaki da-tangnya serbuan. Tapi hanya dengan kibasan
kedua tangannya Eyang Santer berhasil membuat kedua pen-gawal itu terpental ke
kanan dan kiri. Prabu Rancama-la terperanjat melihat kenyataan ini. Sementara
Eyang Santer melangkah lambat-lambat menghampirinya. Kakek ini kembali
mengirimkan serangan ketika jarak-nya telah dekat.
Dewa Arak tak bisa tinggal diam lagi. Dari perbin-cangan
yang ditangkapnya bisa diketahui kalau Eyang Santer bukan orang baik-baik.
Kendati Prabu Ranca-mala sendiri belum tentu merupakan raja yang baik, tapi
Dewa Arak lebih condong terhadap sang raja. Arya bergegas melompat keluar dari
tempat persembu-
nyiannya. Pemuda ini langsung memapaki serangan Eyang
Santer.
Plak, plak, plakkk!
Bunyi benturan berkali-kali terdengar ketika puku-lan Eyang
Santer berhasil ditangkis Dewa Arak. Tubuh kakek itu terjengkang ke belakang
dan terbanting di tanah. Untung baginya Dewa Arak tak ingin mencela-kainya.
Papakan yang dikirimkannya hanya untuk me-lumpuhkan serangan Eyang Santer.
Begitu berhasil bangkit Eyang Santer membelalak-kan mata
melihat Dewa Arak. Kakek ini sadar seorang tokoh hebat telah datang untuk
menolong Prabu Ran-camala. Dan dirinya bukan tandingan pemuda itu.
Setelah melempar pandang sebentar pada Dewa Arak, Eyang
Santer menggigit lidahnya sendiri sampai putus. Wajah kakek itu memperlihatkan
kenyerian yang besar. Darah tampak mengalir keluar dari mulut-nya.
Dewa Arak terperanjat bukan main melihat tinda-kan yang
diambil Eyang Santer. Nyawa kakek itu tak akan bisa diselamatkan lagi. Arya tak
mengerti menga-pa Eyang Santer membunuh diri? Padahal, dia tak berniat membunuh
kakek berjenggot panjang ini.
Dewa Arak tak tahu kalau Eyang Santer mempu-nyai pendirian
aneh. Dari pada terbunuh orang lain, Eyang Santer lebih suka mati di tangan
sendiri, mem-bunuh diri!
Dewa Arak menghambur ke arah si kakek. Tapi se-belum pemuda
berambut putih keperakan ini berhasil menyentuh tubuh Eyang Santer, kakek itu
ambruk di tanah dan diam tak bergerak lagi.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda. Kalau tak
ada dirimu mungkin saat ini nyawaku telah melayang ke alam baka. Boleh ku tahu
nama atau ju-
lukanmu?" tanya Prabu Rancamala penuh rasa terima
kasih dan gembira. Sambil berkata demikian Prabu Rancamala melangkah
menghampiri Dewa Arak.
"Lupakanlah, Gusti Prabu. Hanya sebuah pertolon-gan
kecil yang tak ada artinya. O ya, namaku Arya Bu-ana. Panggil saja, Arya,"
ujar Arya memperkenalkan di-ri tanpa menyebutkan julukannya.
"Dan aku Kusumawati, Gusti Prabu," sambung
se-buah suara yang melesat dari balik gundukan batu.
Prabu Rancamala menoleh lalu tertawa bergelak. Raja ini
merasa geli melihat tingkah Kusumawati.
"Kalian adalah pasangan pendekar muda yang sa-ma-sama
cakapnya. Senang bertemu kalian di sini."
"Kami pun senang bertemu dengan Gusti Prabu. Entah apa
gerangan keperluan Gusti Prabu di tempat ini. Berburukah?" tanya Arya
ingin tahu.
Wajah Prabu Rancamala jadi tertutup mendung kedukaan. Tentu
saja Arya dan Kusumawati terperan-jat melihatnya. Sebenarnya, ucapan yang
didengar dari Eyang Santer sedikit membuat Arya bisa memperkira-kan apa yang
terjadi. Namun untuk kepastiannya per-tanyaan itu diajukan juga.
"Malapetaka besar menimpa kerajaan kami, Arya,
Wati," beritahu Prabu Rancamala dengan suara sendu.
Kemudian secara singkat diceritakannya semua yang menimpa
kerajaan akibat ulah Pangeran Antabo-ga. Dewa Arak dan Kusumawati mendengarkan
dengan penuh perhatian. Tak sekali pun pasangan pendekar muda ini menyela
cerita.
"Berbahaya sekali...!" cetus Arya ketika Prabu
Ran-camala telah selesai bercerita. "Lalu, apa tindakan yang akan Gusti
Prabu lakukan?"
"Entahlah," jawab Prabu Rancamala sambil
meng-geleng.
"Menurut pendapat hamba, kita minta bantuan pada
kerajaan tetangga. Kita serbu kembali para pem-berontak itu," usul
Kusumawati. "Hamba yakin Pange-ran Antabogalah yang menjadi sumber
kekacauan se-lama ini. Maksudku, kau ingat perkataan Kakek Se-tyaki, Dewa Arak?"
tanyanya kemudian pada Arya.
Pemuda berambut putih keperakan itu mengang-guk. Ketika dia
akan memberikan jawaban, sebuah suara lain mendahuluinya.
"Tapi sebelum mereka menyerbu, agar tak ada lagi mayat
hidup yang mengganggu dan ikut campur dalam pertempuran, setiap prajurit harus
mendapatkan ku-curan air ini!"
Prabu Rancamala, Dewa Arak, dan Kusumawati menolehkan
kepala ke arah asal suara. Mereka melihat dua sosok tubuh berjalan menghampiri.
Dua sosok yang masih berjarak sepuluh tombak.
Sosok yang pertama seorang kakek berkepala bo-tak dan
bertelanjang baju. Hanya sepotong celana pendek membungkus bagian bawah
tubuhnya. Kusu-mawati dan Dewa Arak terkejut bercampur gembira. Kakek inilah
yang dimaksud Setyaki.
Sosok kedua tak dikenal Arya. Dia seorang pemu-da. Tapi
tidak demikian halnya dengan Kusumawati. Wajah gadis ini terlihat menyiratkan
kegembiraan yang sangat. Bahkan, seruan kegembiraan terlontar dari mulutnya.
"Kak Angruna...!" seru Kusumawati dalam luapan
kegembiraan yang besar.
"Kusumawati...!" panggil Angruna tak kalah keras.
Kakak beradik ini berlari menghambur dengan ke-
dua tangan terkembang. Sebentar kemudian tubuh keduanya
telah saling berangkulan.
"Syukurlah kau selamat, Kak Angruna. Aku sangat
gelisah sekali. Kupikir kau telah...," Kusumawati
menghentikan ucapannya di tengah jalan.
"Kakek yang bersamaku ini telah menolongku sebe-lum
mayat-mayat hidup mencelakai ku, Kusumawati," beritahu Angruna.
"Bagaimana kau bisa sampai kemari? Apakah hanya
kebetulan saja?" tanya Kusumawati.
"Tidak, Wati," Angruna menggeleng.
Kakek Setyaki yang memberitahukan kami. Beliau berhasil
menemui kami karena tanda yang telah dibe-rikannya pada kita berdua. Kau ingat
kan, Wati?"
Kusumawati mengangguk.
"Kau mengenal benda ini, Gusti Prabu," tanya
ka-kek botak pada Prabu Rancamala. Gaya bicaranya se-perti berbincang-bincang
dengan seorang kawan yang setingkatan.
Prabu Rancamala memperhatikan benda yang di-angsurkan kakek
botak. Sebuah benda yang aneh ka-rena berbentuk bintang persegi lima.
Ujung-ujungnya mirip tombak kecil. Panjang tiap sisi tak kurang dari dua
jengkal.
"Aku tak pernah melihat benda seperti ini," jawab
Prabu Rancamala setelah memperhatikan beberapa saat lamanya.
"Sekarang lihatlah lagi dengan kau kerahkan sedi-kit
tenaga dalam, Gusti Prabu," ucap kakek botak lagi.
"Ah...!"
Seruan kaget itu bukan hanya keluar dari mulut Prabu
Rancamala, tapi juga Dewa Arak. Tiap-tiap segi pada benda berbentuk segi lima
itu memancarkan warna yang berbeda. Merah, kuning, hijau, biru, dan putih. Lima
macam warna.
"Apakah itu Tombak Panca Warna?!" tanya Prabu
Rancamala ketika teringat akan senjata pusaka kera-
jaan yang telah lenyap.
"Benar, Gusti Prabu. Aku mengambilnya sebelum Pangeran
Antaboga atau tokoh lainnya yang bersem-bunyi di balik Pangeran Antaboga
mencurinya. Aku ta-hu, keduanya bermaksud mengambilnya. Jatuhnya Tombak Panca
Warna ke tangan salah satu di antara mereka berarti malapetaka besar bagi dunia
persila-tan," jelas kakek botak.
Dewa Arak dan Prabu Rancamala hanya menden-garkan semua
keterangan kakek botak dengan sikap takjub.
"Tombak Panca Warna ini akan ku rendam air dan ku
kucurkan pada setiap prajurit. Kemudian, kita ser-bu kerajaan. Dengan
kemukjizatan air rendaman tom-bak ini mayat-mayat hidup tak akan berarti apa
pun. Nah, kau laksanakan penjelasanku tadi, Dewa Arak!"
Kakek botak melemparkan tombak itu pada Arya, yang segera
menangkapnya. Tapi, raut wajah Arya me-nyiratkan keheranan.
"Mengapa harus aku, Kek?"
"Karena kaulah yang memiliki kepandaian seting-kat
dengan iblis-iblis penyebar bencana itu. Tak ada lagi orang lain," jelas
kakek botak tak sabaran.
Arya tak memberikan tanggapan lagi. Prabu Ran-camala
termangu. "Jadi, inikah tokoh yang berjuluk Dewa Arak?" tanya raja
ini dalam hati.
***
Bantuan kerajaan tetangga, tokoh-tokoh persilatan aliran
putih, dan sisa-sisa prajurit kerajaan cukup un-tuk membuat pasukan yang
dipimpin Prabu Rancama-la menjadi besar. Berbondong-bondong mereka menuju
istana kerajaan.
Kedatangan rombongan penyerbu ini segera dike-tahui oleh
pasukan Kadipaten Bringin yang telah men-guasai kerajaan. Anak-anak panah pun
berhamburan bagaikan hujan ke arah rombongan pasukan penyer-bu. Tapi rombongan
yang dipimpin Prabu Rancamala memang telah bersiap sedia. Tameng-tameng yang
me-reka bawa segera dipergunakan untuk memapaki hu-jan anak panah.
Dengan adanya tameng itu serangan anak panah pasukan
Kadipaten Bringin kandas. Pasukan kerajaan terus meluruk maju. Pertempuran
besar-besaran pun terjadi ketika pintu gerbang berhasil didobrak Dewa Arak.
Suasana siang yang semula hening dipecahkan oleh
teriakan-teriakan kemarahan, jerit kesakitan, dan dentang senjata beradu. Darah
mengalir membasahi tanah seiring dengan robohnya beberapa sosok tubuh.
Pertempuran yang terjadi berlangsung sengit. Se-bagian
besar memiliki kemampuan berimbang. Itu ter-jadi karena masing-masing diri
memilih lawan yang seimbang. Hanya Iblis Gelang Raksasa seorang yang bertarung
bagai orang mencabuti rumput. Ke mana pun tangan atau kakinya bergerak akan ada
sesosok tubuh jatuh tak bernyawa lagi.
Dewa Arak yang melihat hal ini tak bisa tinggal di-am.
Pemuda ini menerobos kerumunan orang-orang yang sedang bertempur untuk
menghampiri Iblis Ge-lang Raksasa. Dan ketika kedua tokoh itu telah dekat,
pertarungan pun tak bisa dicegah lagi.
Senjata Iblis Gelang Raksasa memang hebat bukan main.
Apalagi di tangan seorang tokoh seperti datuk sesat ini. Gelang itu dapat
diperlakukan semaunya. Tapi, lawan yang dihadapi datuk sesat itu adalah Dewa
Arak. Dengan gucinya pemuda ini mampu mengim-
bangi lawan, dan bahkan mengirimkan serangan tak kalah
dahsyat.
Jurus demi jurus berlangsung cepat. Sampai em-pat puluh
jurus jalannya pertarungan masih berlang-sung imbang. Kedua belah pihak saling
serang dan tangkis.
Tapi ketika menginjak jurus keenam puluh, Iblis Gelang
Raksasa harus mengakui keunggulan lawan-nya. Perlahan-lahan Dewa Arak mampu
mendesak. Arya mempergunakan kedua tangan, guci, dan sembu-ran arak dari
mulutnya. Dipadu dengan ilmu 'Belalang Sakti' yang aneh serta jurus 'Delapan Langkah
Bela-lang' yang ajaib.
"Haaat!"
Di saat Iblis Gelang Raksasa menyorongkan gelang dengan
kedua tangan pada dada Dewa Arak, pemuda itu melompat ke atas dan mengirimkan
tendangan ke arah dada.
Desss! "Aaakh...!"
Iblis Gelang Raksasa meraung memilukan hati. Tendangan Dewa
Arak secara telak mengenai dadanya. Tubuh datuk sesat ini melayang jauh ke
belakang. Da-rah menyembur dari mulut, hidung, dan kedua telin-ganya. Saat itu
juga nyawa Iblis Gelang Raksasa mela-wat ke akhirat. Tulang-tulang dadanya hancur
beran-takan!
Dewa Arak tak peduli pada Iblis Gelang Raksasa. Pemuda ini
segera melesat ke atas genting dan mele-takkan Tombak Panca Warna di tempat
semula.
Terdengar raungan laksana puluhan ekor macan terluka dari
dalam bangunan istana. Sesaat kemudian sesosok tubuh melesat keluar dengan
kecepatan luar biasa. Sekujur tubuhnya diselimuti kobaran api. Meski
begitu orang mengenalinya sebagai sosok Pangeran An-taboga!
Baru beberapa tombak melalui anak tangga istana yang paling
bawah, terdengar bunyi letupan keras, disusul dengan hancurnya tubuh Pangeran
Antaboga.
Seulas senyum tersungging di mulut Dewa Arak. Dia tak
merasa heran melihat kejadian aneh itu. Kakek botak telah memberitahukannya.
Rupanya, Kakek Se-tyaki bersama-sama dengan kakek botak telah berhasil
mengungkapkan rahasia tanda aneh di langit.
Tanda itu muncul karena sebuah lorong yang menghubungkan
alam gaib dan alam nyata terbuka. Sebenarnya hal ini sering terjadi. Tapi,
tanda itu mun-cul karena adanya keinginan seorang manusia, Pange-ran Antaboga.
Melalui lorong itu dia meninggalkan alam gaib dengan membawa ilmu dari alam
itu. Dua tahun yang lalu sang pangeran terjerumus ke sana se-cara tak sengaja.
Arya kemudian mengalihkan perhatian pada perta-rungan yang
berlangsung. Keadaan sudah dikuasai oleh pasukan kerajaan di bawah pimpinan
Prabu Ran-camala. Kemenangan yang akan dipetik hanya tinggal menunggu waktu
saja. Angruna dan Kusumawati ber-laga dengan penuh semangat. Mereka seperti
berlomba untuk merobohkan lawan sebanyak-banyaknya.
Arya tersenyum lagi ketika teringat akan maksud Kusumawati.
Munculnya Angruna membuat gadis itu tak mempunyai alasan untuk berpetualang
dengannya. Arya merasa lega. Dia lebih suka bertualang dengan Melati.
"Bagaimana kabar Melati sekarang?" tanya pemuda
ini dalam hati dengan rasa rindu yang menggebu-gebu.
Dengan benak masih membayangkan Melati, Dewa Arak melangkah
meninggalkan tempat itu. Tak sampai
lima puluh tombak melangkah, kegaduhan yang ter-dengar
sejak tadi telah sirna. Kini yang terdengar hanya pekik kemenangan dari pihak
kerajaan.
Di antara kegaduhan itu tertangkap oleh telinga Arya seruan
Kusumawati yang mencari-cari dirinya. Arya hanya tersenyum seraya
menggeleng-gelengkan kepala. Dia tetap meneruskan ayunan kakinya.
SELESAI
No comments:
Post a Comment