PUTRI TERATAI MERAH
1
Bunyi kukuk burung hantu terdengar memecah kesunyian malam.
Langit tampak bersih. Hanya ada sedikit awan yang menggantung di sana. Itu pun
tipis saja. Hingga, meskipun bulan hanya sepotong namun suasana terlihat cukup
terang.
Dalam suasana seperti itulah tampak sesosok bayangan
berkelebat cepat. Karena suasana cukup te-rang, sosok bayangan itu terlihat
agak jelas. Sosok itu bertubuh tinggi kurus dan berpakaian serba hitam.
Wajahnya putih pucat seperti orang berpenyakitan se-pasang matanya yang besar
berwarna merah.
Lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun ini berlari
cepat menuju sebuah bangunan besar yang ter-lihat menjulang kokoh di kejauhan.
Larinya cepat bu-kan main hingga dua kakinya bagai tak menginjak ta-nah!
Berkat ilmu larinya yang luar biasa, lelaki berpa-kaian
serba hitam ini dalam waktu yang tidak terlalu lama tiba di tempat yang dituju.
Tanpa mengendurkan kecepatan larinya, lelaki ini melompat ke atas pagar tembok
yang mengurung bangunan-bangunan di da-lamnya. Tinggi pagar ini tidak kurang
dari tiga tombak!
"Hey! Siapa kau...?!"
Teguran keras terdengar tiba-tiba menyambut je-jak kedua
lelaki tinggi kurus itu di atas pagar tembok.
Lelaki tinggi kurus hanya mendengus. Dia tidak kaget
mendengar teguran yang ditujukan terhadapnya. Teguran yang dikeluarkan seorang
lelaki berpakaian seragam kerajaan. Tembok tempat lelaki berpakaian hitam
menjejakkan kaki memang tembok yang menge-lilingi istana kerajaan.
Nampak dua prajurit kerajaan menjadi marah ke-tika lelaki
berpakaian hitam tidak memberikan jawa-ban. Hampir berbarengan kedua prajurit
yang berada di bagian dalam tembok itu mengayunkan tombaknya.
Suasana malam yang hening langsung dipecahkan oleh bunyi
mendesing dua batang tombak yang melun-cur ke arah lelaki tinggi kurus. Tapi
lelaki ini hanya mendengus penuh ejekan. Tidak terlihat kakinya diin-jakkan,
tubuhnya sudah melayang ke atas hingga dua batang tombak itu meluncur di
bawahnya!
Kedua prajurit kerajaan terkejut bukan main me-lihat lelaki
berpakaian hitam menjejakkan kaki di ke-dua batang tombak. Keterkejutan mereka
semakin ber-tambah ketika tombak-tombak berbalik dan meluncur kembali ke arah
pemiliknya dengan membawa tubuh lelaki itu di atasnya. Tombak-tombak itu
meluncur mengancam dada! Bergegas keduanya merendahkan diri. Tapi tombak-tombak
itu ikut menukik ke bawah.
Dua jeritan menyayat hati pun dikeluarkan kedua prajurit
yang malang itu. Tombak-tombak menembus hingga ke punggung! Darah
muncrat-muncrat. Se-dangkan lelaki tinggi kurus melompat melewati kepala mereka
di saat tombak-tombak mendarat di sasaran. Tanpa mengeluarkan bunyi lelaki itu
menjejakkan ta-nah
Keributan yang timbul membuat belasan prajurit berlarian
menuju tempat itu. Lelaki berpakaian hitam langsung dikepung rapat-rapat. Namun
dia tetap terli-hat tenang, meski belasan prajurit yang mengurung-nya telah
menghunus senjata dengan sikap mengan-cam. Mereka tidak segera menyerang karena
menyem-patkan diri melihat rekan-rekan mereka yang tergolek di tanah
bermandikan darah.
Sesaat kemudian, hujan senjata meluruk ke ber-
bagai bagian tubuh lelaki tinggi kurus! Kembali dia
mendengus pelan. Kedua tangannya bergerak cepat menangkis serangan-serangan
yang datang.
Tak tak...!
Bunyi berdentang keras seperti beradunya logam-logam keras
terdengar ketika tangan lelaki tinggi kurus berbenturan dengan senjata para
pengeroyoknya. Se-ketika terdengar seruan keterkejutan. Mereka merasa-kan
tangan-tangannya bagai lumpuh. Apalagi ketika melihat senjata-senjata mereka
berpatahan!
Belum sempat para prajurit itu berbuat sesuatu. Tangan
lelaki tinggi kurus bergerak mengibas cepat bukan main. Para prajurit pun
berpentalan ke sana ke mari susul-menyusul dengan jerit kematian yang
men-dirikan bulu roma.
Meskipun tahu betapa lihainya lawan. Namun pa-ra prajurit
lain tak menjadi gentar karenanya. Mereka melakukan perlawanan dengan semangat
tinggi! Gugur satu kembali datang penggantinya. Keributan yang ter-jadi memang
telah menarik perhatian para prajurit lainnya untuk datang. Pembantaian
besar-besaran pun terjadi. Para prajurit ini seperti semut-semut yang
me-nerjang api. Mereka berguguran sebelum sempat me-lukai sang pengacau yang
luar biasa ini!
"Mundur semua...!"
Bentakan keras mengatasi riuh rendahnya perta-rungan.
Disusul dengan munculnya dua sosok tubuh berpakaian panglima.
Mendengar bentakan keras menggelegar itu, ber-gegas belasan
orang prajurit yang tersisa berlompatan mundur. Mereka mengenali pemilik suara
itu. Lelaki berpakaian hitam tidak berusaha mengejar. Dia hanya berdiri
menanti. Tatapannya ditujukan pada dua orang panglima yang tengah melangkah
menghampirinya
dengan tatapan penuh selidik,
"Kau... Panglima Nambi?!" seru dua panglima
ke-rajaan itu kemudian, kaget dan tidak percaya. Seruan ini mereka keluarkan
hampir berbarengan.
"Syukurlah, kalian masih ingat padaku!" dengus
lelaki tinggi kurus penuh ejekan. Meski demikian, raut wajahnya tetap dingin.
"Bukankah kalian berdua Sora dan Wardana? Dua di antara anak-anak buahku
yang berkhianat. Nasib kalian rupanya sungguh baik. Ka-lian telah menjadi
panglima-panglima kerajaan. Waktu dua puluh tahun lebih rupanya telah membuat
nasib kalian lebih beruntung!"
"Mau apa kau kemari, Nambi?!" sentak Panglima
Sora, yang bertubuh tinggi besar dan kekar laksana batu karang. Panglima ini
tidak tampak terkejut lagi. Guncangan perasaan itu telah berhasil diredamnya.
"Benar. Mau apa kau kemari? Kau bukan pangli-ma
kerajaan ini lagi. Kau tak lebih dari seorang pengkhianat kerajaan!" sambung
Panglima Wardana yang bertubuh sedang tapi tegap.
Para prajurit kerajaan yang mendengarkan perca-kapan itu
berdebar tegang. Mereka adalah prajurit ba-ru yang belum dua puluh tahun
mengabdi di kerajaan. Sehingga, mereka tak mengenal Panglima Nambi. Ken-dati
demikian, cerita-cerita mengenai tokoh itu telah mereka dengar. Dengan perasaan
tertarik mereka mengikuti percakapan yang terjadi di depan mata.
Sen-jata-senjata di tangan tetap terhunus agar dapat diper-gunakan secara cepat
apabila Panglima Sora dan Pan-glima Wardana terancam.
Nambi terdengar mendengus keras. Sikapnya te-tap kelihatan
tenang
"Meski menjadi panglima, otak kalian berdua ru-panya
masih otak tamtama! Tidak bisakah kalian men-
gira-ngira maksud kedatanganku kemari? Tentu saja untuk
merampungkan maksudku yang dulu belum terlaksana. Bukankah Putri Teratai Putih
masih sendi-ri? Cepat panggil dia! Katakan, Nambi telah datang un-tuk
mempersuntingnya!"
"Keparat!" Panglima Sora yang berwatak
beranga-san, menggeram. "Sungguh lancang kau berani me-nyebut Yang Mulia
Gusti Ratu Teratai Putih begitu sa-ja. Nyawamu tak cukup untuk kelancangan yang
kau lakukan itu, Nambi!"
Panglima yang tidak bisa menahan kemarahannya ini segera
melompat menerjang. Jari-jari tangannya mengembang membentuk cakar. Yang kanan
menga-rah ubun-ubun, sedangkan yang kiri mengancam peli-pis.
Prattt!
Tubuh Panglima Sora terpental balik ke alas kem-bali begitu
Nambi memapaki serangannya. Sekujur tangannya terasa sakit bukan main. Dadanya
pun sangat sesak.
"Jadi..., Putri Teratai Putih sekarang telah menjadi
ratu!?" ujar Nambi selesai menangkis serangan. "Sung-guh kebetulan
sekali! Berarti aku sekarang bisa men-jadi raja!"
"Hal itu tak akan terjadi selama kami mash hidup,
Keparat!" Panglima Wardana menyambuti.
Kemudian, panglima ini menerjang Nambi. Pan-glima Sora
segera membantu. Lelaki tinggi besar ini tahu kalau Panglima Wardana bukan
tandingan Nambi yang sekarang telah memiliki kepandaian mengiriskan.
Dalam sekejap saja Nambi dikeroyok Panglima So-ra dan
Panglima Wardana. Tapi, bekas panglima kera-jaan ini memang luar biasa. Dia
tidak terdesak sama sekali. Malah, dua lawannya yang kewalahan.
Panglima Sora dan Panglima Wardana penasaran bukan main.
Nambi tidak mampu mereka desak. Pa-dahal, dulu bekas panglima itu dilatih oleh
mereka! Jangankan menghadapi pengeroyokan, seorang di an-tara mereka saja telah
cukup untuk membuat Nambi roboh dengan mudah. Sekarang keadaannya telah jauh
berbalik! Nambi menghadapi mereka tanpa bergeming sedikit pun dari tempatnya.
"Kurasa sudah saatnya kalian pergi ke neraka...!"
Setelah berkata demikian, Nambi menjulurkan
kedua tangannya. Jari-jarinya ditujukan lurus ke de-pan.
Dari ujung-ujung jari itu melesat sepuluh larik sinar kemerahan yang meluncur
deras ke arah Pangli-ma Sora dan Panglima Wardana.
Dua panglima gagah berani ini tidak sempat men-gelak.
Keduanya menjerit ketika sinar-sinar merah mengenai tubuh mereka. Bagian yang
terkena lang-sung hangus. Dagingnya gosong dengan disertai asap mengepul. Yang
lebih mengerikan lagi, luka yang se-mula kecil itu membesar dengan cepat,
membawa ke-hancuran daging seperti lilin terkena api!
Para prajurit kerajaan menatap dengan ngeri. Bu-lu kuduk
mereka berdiri. Lidahnya terasa kelu tidak bisa digerakkan. Kejadian yang
terpampang terlalu mengejutkan sehingga mereka terkesima. Yang dilaku-kan hanya
menatap Panglima Sora dan Panglima War-dana. Mereka meregang maut tanpa sanggup
bertindak apa-apa!
Geliatan tubuh kedua panglima kerajaan itu ter-henti ketika
nyawa mereka melayang. Raungan kesaki-tan mereka pun tidak terdengar lagi.
Nambi yang sejak tadi memperhatikan semuanya dengan wajah dingin sekarang
mengalihkan perhatian pada para prajurit. Wajah mereka tampak memucat. Ngeri
membayangkan
kematian yang akan mereka alami!
"Kalau kalian tidak ingin mengalami nasib yang sama,
cepat bawa aku menghadap Putri Teratai Putih!" hardik Nambi
Belasan prajurit itu saling berpandangan satu sa-ma lain.
Mereka tampak bingung. Keberanian mereka mencair seperti es yang disorot sinar
matahari. Kema-tian Panglima Sora dan Panglima Wardana secara mengerikan telah
membuat nyali mereka ciut!
"Maafkan kami, Tuan," ujar seorang prajurit yang
masih memiliki keberanian untuk berbicara. "Gusti Ra-tu tengah tidak berada
di istana...."
"Apa katamu...?!" dengus Nambi marah.
Telunjuk-nya segera ditudingkan. Selarik sinar merah menyam-bar. Dan, prajurit
yang malang itu pun mengunjungi akhirat dengan cara yang sama seperti Panglima
Sora dan Panglima Wardana.
Prajurit-prajurit yang tersisa semakin ngeri. Mere-ka tanpa
sadar melangkah mundur. Semangat mereka melayang entah ke mana melihat rekannya
mengalami nasib yang sial.
"Mengapa itu bisa terjadi, hah?!" tanya Nambi
lagi. Tapi, tak ada yang berani menjawab. Bagaikan te-
lah disepakati sebelumnya, semua prajurit itu menun-dukkan
wajah. Nambi semakin murka. Telunjuknya kembali ditudingkan. Kali ini malah
berkali-kali. Jeri-tan-jeritan menyayat hati disertai geliatan tubuh yang
merasakan siksaan menjelang ajal pun terjadi saling susul-menyusul.
Prajurit-prajurit yang tersisa semakin terpuruk dalam
ketakutan. Jangankan mengangkat wajah, ber-napas pun hampir-hampir ditahan!
"Barang siapa yang tidak memberikan jawaban, akan
menjadi korban selanjutnya!" desis Nambi "Kata-
kan cepat di mana Putri Teratai Putih?!"
Peringatan Nambi membuat para prajurit yang tersisa
berlomba-lomba memberikan jawaban. Riuh rendah kedengarannya. Tapi, Nambi dapat
mendengar jelas. Lelaki ini baru percaya ketika mendengar adanya kesamaan dalam
jawaban mereka.
"Gusti Ratu tengah mengunjungi makam ayahnya. Telah
dua hari beliau pergi. Rencananya, seminggu kemudian baru kembali."
Nambi tidak puas mendengar jawaban itu. Dia ti-dak tahan
lagi untuk bertemu dengan pimpinan ter-tinggi kerajaan itu. Tapi, disadarinya
kalau sekarang hal itu tidak mungkin.
"Apakah Putri Teratai Putih pergi bersama Pende-kar
Naga Emas?!" tanya Nambi lagi
"Tidak, Tuan. Pendekar Naga Emas sudah lama ti-dak
terdengar beritanya. Bahkan, Gusti Ratu telah mengirim banyak prajurit untuk
mencarinya. Tapi usahanya sia-sia."
Nambi tersenyum puas. Senyum yang mengeri-kan. Lebih mirip
seringai karena wajah dan matanya tidak ikut tersenyum.
"Ini hadiahku untuk kalian...!"
Nambi menudingkan telunjuknya berkali-kali, mengirimkan
sinar-sinar merah pada prajurit-prajurit yang tersisa. Jerit kematian kembali
berkumandang. Kali ini lebih gaduh dari sebelumnya.
***
Sang surya telah bergeser jauh dari tempat terbit-nya.
Meskipun demikian, belum mencapai titik tengah ketika iring-iringan sebuah
kereta kuda memasuki hu-tan kecil di lereng gunung.
Iring-iringan itu terdiri dari sebuah kereta dan de-lapan
ekor kuda. Kedudukan binatang yang berpe-nunggang sosok-sosok gagah itu
melindungi kereta. Tiga di bagian belakang dan depan, serta satu pada
masing-masing sisi kereta.
Seperti juga binatang tunggangannya yang semua berwarna
hitam, sosok-sosok gagah di atas punggung kuda itu pun mengenakan pakaian yang
sama. Sera-gam pasukan kerajaan.
Menilik sikap sosok-sosok berpakaian seragam ke-rajaan itu,
bisa diperkirakan kalau yang berada di da-lam kereta adalah orang penting.
Kereta itu sendiri be-gitu indah dan mewah!
"Hooop...!"
Tiba-tiba salah satu dari tiga penunggang kuda terdepan
mengangkat tangannya ke atas seraya mena-rik tali kekang binatang
tunggangannya.
Seketika itu pula rombongan yang berada di bela-kang ketiga
prajurit itu menghentikan langkah kuda mereka. Seiring dengan itu masing-masing
prajurit bersikap waspada. Mereka melihat ada sosok tubuh berpakaian kulit
harimau terbaring dengan posisi me-nutupi jalan. Sosok itu tidur telentang di
atas sehelai tambang yang direntangkan pada dua batang pohon yang mengapit jalan
selebar empat tombak. Tinggi tambang itu satu tombak dari atas tanah.
"Harap kalian semua berwaspada. Aku yakin hal-hal yang
tidak kita inginkan kemungkinan besar akan terjadi. Perketat penjagaan terhadap
kereta," beritahu salah seorang dari tiga prajurit penunggang kuda
ter-depan.
Prajurit berkumis tebal itu lalu melompat turun. Ringan
sekali gerakannya. Ketika kedua kakinya men-jejak tanah, tidak terdengar bunyi
sedikit pun. Dengan
sikap tenang prajurit berkumis tebal menghampiri tempat
sosok berpakaian kulit harimau terbaring. Tin-dakan prajurit yang menjadi
pimpinan iring-iringan itu tidak luput dari perhatian rekannya.
Baru saja prajurit itu melangkah tiga tindak, pa-dahal
jarak sosok berpakaian kulit harimau sekitar li-ma tombak, terdengar bunyi yang
cukup keras. Bunyi dengkur orang tidur. Hanya saja bunyinya tak pantas keluar
dari manusia karena lebih mirip dengan deng-kur seekor babi!
Bukan dengkur itu yang menyebabkan prajurit berkumis tebal
terperanjat lalu menghentikan langkah. Tapi, tarikan napas sosok berpakaian
kulit harimau membuat cabang-cabang pohon seperti ditarik dan di-lepaskan! Saat
sosok berkulit harimau itu menarik na-fas, cabang-cabang pohon tertarik ke
bawah. Sedang-kan di saat napasnya dihembuskan, cabang pohon itu tersentak ke
atas dengan memperdengarkan bunyi berkerosokan nyaring!
Prajurit berkumis tebal tahu kalau hal demikian hanya dapat
dilakukan oleh orang yang memiliki tena-ga dalam amat kuat! Prajurit itu lalu
memberi isyarat pada ketujuh rekannya untuk lebih meningkatkan ke-waspadaan.
Dia sendiri segera melanjutkan langkah-nya dengan sekujur urat-urat syaraf
menegang. Praju-rit ini telah bersiap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan
yang tidak diharapkan.
Begitu berada dekat diperhatikannya sosok berpa-kaian kulit
harimau lebih jelas. Dia ternyata seorang kakek kecil kurus bermuka merah.
Kumis dan jeng-gotnya pendek serta kasar. Sepasang mata kakek ini terpejam.
"Maafkan kalau aku mengganggu istirahatmu, Kek,"
ucap prajurit itu kemudian dengan sopan. "Tapi,
aku dan kawan-kawanku hendak lewat Bisakah kau menyingkir
sebentar?"
Si kakek menggeliat dan menggulingkan tubuhnya ke kiri.
Tindakan ini membuat tubuhnya tidak berada di atas tambang lagi. Kendati
demikian, tubuhnya te-tap mengambang di udara seakan-akan tidur di tanah biasa!
"Demi segala setan penghuni neraka!" tanpa
membuka mata, si kakek mengomel, "Baru saja meme-jamkan mata sudah
didatangi seekor anjing buduk yang tak henti-hentinya menggonggong. Nasibku
me-mang benar-benar jelek!"
Wajah prajurit berkumis tebal langsung berubah merah padam.
Dia tahu kalau dirinya yang dimaksud dengan seekor anjing. Penghinaan itu
membuat ama-rahnya bergolak. Dan, kemarahan membuat prajurit itu melupakan
kalau kakek bermuka merah memiliki kepandaian tinggi.
"Keparat! Rupanya kau memang hendak mengha-langi
perjalanan kami, Kakek Iblis! Ingin kulihat apa-kah kau mampu melaksanakan
maksud jahatmu itu!"
Prajurit berkumis tebal yang telah murka menca-but pedang
yang tergantung di pinggang. Kemudian, secepat kilat dibabatkannya ke tubuh si
kakek
"Anjing buduk ini benar-benar tidak tahu diri.
Ki-ranya tak puas hanya menggangguku dengan hanya menggonggong. Sekarang dia
malah hendak menggigit. Sungguh celaka!"
Sambil mengomel panjang pendek, kakek bermu-ka merah
menggulingkan tubuh kembali ke tempat semula. Sehingga, tubuhnya kembali
terbaring di atas tambang. Berbarengan dengan itu dia mendengus. Cai-ran kental
tampak meluncur keluar dari salah satu lu-bang hidungnya. Cairan menjijikkan
itu meluncur
dengan mengeluarkan bunyi berdesing nyaring mema-paki
pedang si prajurit!
Trakkk!
Tubuh prajurit berkumis tebal terjengkang ke be-lakang.
Pedangnya hampir terlepas dari pegangan. Be-gitu berhasil memperbaiki kedudukan
dan memperha-tikan senjatanya, wajahnya langsung memucat. Batang pedangnya
berlubang!
"Setan penggoda seisi bumi, kali ini nasibku sung-guh
mujur. Tak perlu bercapek lelah mencari telah ber-temu sendiri!" ujar
kakek bermuka merah tiba-tiba dengan gembira.
Kakek ini sekarang telah berdiri tegak di tanah. Sepasang
matanya yang hampir berupa satu garis me-natap pedang yang tergenggam di tangan
prajurit ber-kumis tebal.
"Kiranya kau mempunyai hubungan dengan Per-kumpulan
Sepasang Malaikat, Anjing Buduk? Kulihat balang pedangmu berwarna merah dan
putih. Senjata berciri demikian hanya dimiliki Perkumpulan Sepasang
Malaikat!"
"Kalau kau telah tahu mengapa tidak buru-buru
menyingkir, Kakek Iblis? Apakah kau menunggu kami mengusir dengan
kekerasan?!" prajurit berkumis tebal mempunyai alasan untuk menggertak
"Setan belang! Kau kira aku takut pada Perkum-pulan
Sepasang Malaikat?! Andaikata dua kakek jom-po itu masih hidup pun aku tidak
takut! Akan kubuk-tikan pada dunia persilatan kalau aku lebih lihai dari
mereka!" sambut kakek bermuka merah, tak mau ka-lah mengeluarkan ancaman.
Jawaban kakek bermuka merah membuat amarah prajurit
berkumis tebal meluap. Dia kembali menye-rang. Tiga orang rekannya meninggalkan
kereta dan
membantu prajurit itu menghadapi kakek bermuka merah.
Pertarungan yang kelihatannya tidak adilpun ber-langsung.
Seorang kakek yang bertubuh kecil dike-royok oleh empat lelaki gagah dan kekar.
Sang kakek tidak bersenjata, sedangkan lawan-lawannya semua menggunakan pedang.
Meski demikian, kakek bermuka merah tetap be-rada di atas
angin. Dua tangan telanjangnya enak saja menyampoki setiap serangan yang
meluncur. Padahal setiap serangan pedang prajurit-prajurit itu mengelua-rkan
bunyi mendesing nyaring pertanda ditopang oleh tenaga dalam yang amat kuat!
Tak sampai tiga jurus empat prajurit itu jatuh sa-tu
persatu. Mereka semua terbanting keras di tanah setelah terjengkang. Empat
prajurit itu pun tidak bangkit lagi. Bahkan, tidak sempat berteriak sama
se-kali. Di dada mereka tampak tertera telapak tangan berwarna merah!
"Demi segala Iblis! Hanya sampai di sini sajakah
kemampuan orang-orang Perkumpulan Sepasang Ma-laikat? Tidakkah ada yang sedikit
lebih pandai?!"
Empat prajurit yang tersisa tersinggung menden-gar ucapan
penuh ejekan itu. Mereka juga sakit hati melihat kematian rekan-rekannya secara
menge-naskan. Kalau saja tak mengingat penumpang di da-lam kereta, sudah mereka
terjang kakek bermuka me-rah itu walau nyawa taruhannya.
Empat prajurit itu hanya menggertakkan gigi pe-nuh
kegeraman. Mereka ingin menyambuti ucapan ka-kek bermuka merah, tapi tak tahu
harus berkata apa. Dan rupanya mereka memang tak perlu memberikan tanggapan.
Karena sesaat kemudian, terdengar sambu-tan atas ucapan kakek bermuka merah
dengan nada
dingin dan penuh ancaman!
"Orang gila dari mana yang berani mati menghina
Perkumpulan Sepasang Malaikat?!"
***
2
Brakkk!
Atap kereta yang indah dan mewah itu hancur be-rantakan
menimbulkan bunyi gaduh ketika sesosok bayangan putih melesat dari dalam
kereta. Di udara sosok ini bersalto beberapa kali sebelum menjejak ta-nah
dengan ringannya. Tiga tombak dari kakek ber-muka merah berdiri.
"Demi segala roh jahat yang bergentayangan! Ak-hirnya,
muncul juga tokoh Perkumpulan Sepasang Ma-laikat yang memiliki sedikit
kepandaian!" seru kakek bermuka merah, gembira.
Empat prajurit yang sejak tadi menjaga kereta se-gera
memberi hormat kepada sosok berpakaian putih. Meski sosok itu tidak melihat
karena ia berdiri membe-lakangi. Setelah itu, empat prajurit ini bergegas
meng-hampiri sosok berpakaian putih.
Sosok itu ternyata seorang wanita berusia sekitar empat
puluh lima tahun, Wajahnya yang masih terlihat cantik tampak agung berwibawa.
Rambutnya digelung ke atas. Sorot wajah dan sinar matanya yang dingin
memperlihatkan keangkeran!
"Siapa kau, Kek? Sungguh berani membunuh anggota
Perkumpulan Sepasang Malaikat yang juga menjadi prajurit kerajaan. Untuk
kesalahan itu saja
kau sudah patut dihukum mati! Apalagi setelah berani
menghina Perkumpulan Sepasang Malaikat. Andaikata kau mempunyai nyawa sepuluh
pun tidak cukup un-tuk menebus kesalahan itu!" Datar dan dingin, tapi
penuh ancaman kata-kata yang keluar dari mulut wa-nita berpakaian putih.
"Kau sendiri siapa, Wanita Galak? Mengapa kau yang
marah? Aku tidak menyinggung mu! Aku sedang membicarakan tentang Perkumpulan
Sepasang Malai-kat!" Kakek bermuka merah berpura-pura tak menger-ti.
Kendati dia sudah bisa menduga kalau wanita itu mempunyai hubungan dengan
Perkumpulan Sepasang Malaikat "Aku tengah menyepi untuk memperdalam
kepandaian ketika kudengar bekas kakak sepergurua-nku tewas di tangan tokoh
Perkumpulan Sepasang Ma-laikat. Mengenai siapa aku, sayang aku tidak ingat
namaku. Julukan pun aku tak punya. Tapi, tak ada salahnya kalau ku perkenalkan
julukan baruku. Den-gar baik-baik, Wanita Liar! Julukanku adalah Dewa Tapak
Darah!"
Wajah wanita berpakaian putih tetap dingin. Tidak tampak
beriak sedikit pun. Tapi, sepasang matanya yang menyambar ke arah Dewa Tapak
Darah sarat dengan ancaman!
"Dengar baik-baik, Dewa Tapak Darah! Pasang kuping
tuamu itu dengan benar. Aku adalah ahli waris tunggal Perkumpulan Sepasang
Malaikat. Salah seo-rang dari Sepasang Malaikat itu adalah ayahku. Aku masih
ingat namaku, tidak pikun seperti kau. Namaku adalah Teratai Putih?"
"Kebetulan sekali kalau begitu. Kudengar,
pimpi-nan-pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat sudah pergi ke akhirat,
Biarlah kau yang menjadi pengganti nyawa kakak seperguruanku yang tewas!"
"Siapa kakak seperguruanmu itu, Kakek Lanc-ing?!"
kejar Putri Teratai Putih.
"Pengemis Iblis Tanpa Tanding julukannya sebe-lum
tewas!" jawab Dewa Tapak Darah, mantap. "Berkat bantuan Pendekar Naga
Emas, ayah dan pamanmu itu berhasil membunuh kakak seperguruanku pada dua puluh
tahun yang lalu. Pendekar keparat itu pun akan menerima balasannya
dariku!"
"Kau boleh bawa dendammu itu ke neraka, Dewa Tapak
Darah!" sentak Putri Teratai Putih keras. "Kare-na, kau akan mati di
tanganku sebelum maksudmu itu terlaksana!"
Putri Teratai Putih menutup ucapannya dengan tendangan
bertubi-tubi yang dahsyat. Sekali menye-rang, ahli waris Perkumpulan Sepasang
Malaikat yang sekaligus ratu kerajaan ini menyerang tiga anggota tu-buh
berbahaya. Pusar, ulu hati, dan leher!
Dewa Tapak Darah mendengus penuh ejekan. Da-ri deru
serangan bisa diperkirakannya kekuatan tena-ga dalam Putri Teratai Putih. Maka,
tanpa ragu-ragu lagi serangan beruntun itu ditangkisnya dengan kedua tangan.
Plakkk, plakkk!
Tubuh Putri Teratai Putih terjengkang ke belakang akibat
benturan itu. Sedangkan Dewa Tapak Darah hanya terhuyung selangkah! Dengan
demikian, kakek ini memiliki kesempatan lebih dulu untuk mengirim-kan serangan.
Putri Teratai Putih tidak berani me-nangkis setelah mengetahui tenaga lawan
ternyata le-bih kuat. Wanita ini mengelak kemudian mengirimkan serangan
balasan. Pertarungan pun tak bisa dihindar-kan lagi!
Pertarungan berjalan cepat. Hanya dalam waktu sebentar saja
tujuh belas jurus telah terlewatkan. Putri
Teratai Putih terus didesak! Wanita ini yang semula gencar
melakukan penyerangan sekarang lebih banyak mengelak. Padahal, Putri Teratai
Putih telah mengelua-rkan senjata andalannya. Kipas Baja Putih!
Sementara Dewa Tapak Darah masih bertangan kosong. Malah,
kakek itu belum menggunakan ilmu andalannya!
Desss!
Sebuah tendangan Dewa Tapak Darah yang men-genai sambungan
lutut Putri Teratai Putih membuat Wanita itu terjengkang ke belakang dan
terguling-guling di tanah. Sambungan tulang lututnya langsung lepas!
Si Dewa Tapak Darah benar-benar memenuhi jan-jinya untuk
membunuh Putri Teratai Putih. Dia melu-ruk mengejar Putri Teratai Putih untuk
mengirimkan serangan mematikan. Empat prajurit yang melihat adanya ancaman maut
atas ratu mereka secepat kilat melompat memapaki dengan tusukan-tusukan pedang.
Dewa Tapak Darah tampak marah mendapat serangan ini. Dia mendengus seraya
mengibaskan kedua tan-gannya. Angin keras langsung berhembus ke arah em-pat
prajurit yang setia itu. Mereka kaget bukan main! Angin yang luar biasa itu
hanya menyerbu tangan me-reka yang menggenggam pedang.
Serbuan angin itu demikian dahsyatnya. Sehing-ga, mampu
membuat mata pedang empat prajurit itu berbalik arah. Lalu dengan derasnya
menghunjam pe-rut mereka sampai tembus ke punggung. Empat pa-sang mata prajurit
itu membelalak lebar seakan tak percaya akan apa yang mereka alami. Tubuh
mereka ambruk di tanah dan menggelepar-gelepar sebentar sebelum akhirnya diam
tidak bergerak lagi.
Putri Teratai Putih meraung penuh kemarahan
melihat nasib keempat prajuritnya. Dia menerjang dengan
kedua tangan terkembang membentuk cakar. Kipasnya tidak dipergunakan lagi
karena telah terlem-par jauh begitu tubuhnya terguling-guling tadi.
Sayang, maksud Putri Teratai Putih untuk mem-balaskan
kematian keempat prajuritnya tidak berhasil. Dengan kibasan kedua tangannya,
Dewa Tapak Darah membuat tubuh lawan terlempar deras ke belakang dan menubruk
kereta hingga dindingnya jebol! Putri Teratai Putih tidak mampu menahan
serangan lawan karena keadaannya yang sudah tidak sekuat semula.
Benturan kali ini rupanya lebih dahsyat. Bukan karena
berbenturan dengan kereta. Tapi karena sam-baran angin kibasan Dewa Tapak
Darah. Putri Teratai Putih tidak dapat segera bangkit. Dia tergolek di tanah
telentang tak berdaya. Benturan yang luar biasa keras membuat tubuh Putri
Teratai Putih menjebol dua dind-ing kereta dengan melewati bagian dalamnya!
Dewa Tapak Darah menyeringai puas. Dengan langkah
lambat-lambat dihampirinya Putri Teratai Pu-tih. Kakek ini tidak buru-buru
melancarkan serangan susulan karena tahu luka yang diderita Putri Teratai Putih
cukup parah.
Putri Teratai Putih menyadari akan adanya anca-man maut.
Dia belum ingin mati. Maka dicobanya se-kuat tenaga untuk bangkit berdiri. Tapi
hanya keingi-nan saja yang besar, sedangkan kemampuannya tidak menunjang. Putri
Teratai Putih tidak berhasil bangkit. Tubuhnya terkulai kembali ke tanah
setelah menegang beberapa saat lamanya.
Putri Teratai Putih pun pasrah. Disadarinya kalau dirinya
memang tidak berdaya lagi. Kendati demikian, dengan berani ditatapnya Dewa
Tapak Darah yang te-lah bersiap untuk mengirimkan serangan mematikan.
"Hanya seorang pengecut dan tidak mempunyai rasa malu
akan membunuh lawan yang telah tidak berdaya! Apalagi jika lawan itu seorang
wanita!"
Suara itu tidak keras. Tapi anehnya, bergema ke sekitar
tempat itu dan mampu menggetarkan semua benda yang ada di situ. Seakan-akan ada
gempa kecil. Putri Teratai Putih dan Dewa Tapak Darah pun mera-sakan dada
mereka bergetar.
Dewa Tapak Darah tahu kalau pemilik suara itu seorang tokoh
berkepandaian tinggi. Setidak-tidaknya memiliki tenaga dalam yang amat kuat.
Maka, dia ti-dak berani memandang rendah. Buru-buru tubuhnya dibalikkan karena
dari arah belakang seruan itu be-rasal.
Dewa Tapak Darah kecelik! Tak ada seorang pun di
belakangnya. Kecurigaan membuatnya cepat mem-balikkan tubuh lagi. Dan....
Kejadian itu berlangsung demikian cepat. Kakek ini hanya sempat melihat
ber-kelebatnya sesosok bayangan ungu berhenti di antara dia dan Putri Teratai
Putih. Sosok ungu itu berdiri membelakangi ahli waris Perkumpulan Sepasang
Ma-laikat!
Dewa Tapak Darah memperhatikan sosok ungu itu dengan hati
panas. Kakek ini merasa dipermain-kan. Tamu tak diundang itu rupanya telah
mengguna-kan ilmu memindahkan suara untuk mengecohnya. Sehingga, meski
sebenarnya berada di depan namun sosok ungu itu mampu membuat suaranya seperti
be-rasal dari belakang.
Tapi, kejadian itu tidak membuat Dewa Tapak Da-rah menjadi
gentar. Menurutnya, hal ini tidak mengi-syaratkan kepandaian sosok berpakaian ungu
berada di atasnya. Kalau saja suara itu tidak terdengar sekali saja dan Dewa
Tapak Darah memperhatikan dengan
seksama, tak mungkin sosok ungu itu berhasil menge-cohnya!
Begitu kata hati Dewa Tapak Darah.
Sosok ungu itu bertubuh tegap dan kekar ter-bungkus pakaian
serba ungu. Wajahnya tampan, terli-hat tenang dan matang. Rambutnya yang putih
terge-rai panjang hingga ke punggung. Sosok yang berusia dua puluh tahun lebih
itu tampak kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya. Meskipun demikian, Dewa
Tapak Darah tetap tidak percaya kalau orang semuda itu memiliki kepandaian
tinggi.
Dewa Tapak Darah memang baru keluar dari tem-pat
pertapaannya. Dia tidak tahu kalau di dunia persi-latan telah muncul seorang
pendekar muda bernama Arya Buana yang berjuluk Dewa Arak. Dan, pemuda yang
tengah berdiri dihadapannya itu tidak lain dari Dewa Arak
"Sungguh besar nyalimu, Bocah! Berani-beraninya kau
mencampuri urusanku. Tahukah kau siapa aku? Aku adalah tokoh yang akan
menggantikan kedudukan Pengemis Iblis Tanpa Tanding untuk menjadi tokoh nomor
satu dalam rimba persilatan! Aku adik sepergu-ruan Pengemis Iblis Tanpa
Tanding. Julukanku adalah Dewa Tapak Darah! Atas kelancanganmu mencampuri
urusanku ini kau akan mendapat hukuman yang se-timpal, Bocah!" Dewa Tapak
Darah menyapa Arya den-gan panggilan yang merendahkan.
"Sayang sekali aku tidak takut dengan ancaman-mu, Kek!
Aku lebih suka mati daripada membiarkan adanya ketidakadilan di depanku!"
tandas Arya man-tap tanpa bermaksud menyombongkan diri.
"Sombong!" Dewa Tapak Darah setengah menjerit
karena murkanya. "Orang seperti kau kalau tidak se-gera diberikan
pelajaran akan semakin kurang ajar. Bocah! Sekarang, terimalah hukumanmu!"
Belum lagi gema teriakan itu hilang, Dewa Tapak Darah telah
melesat ke arah Dewa Arak. Kedua tan-gannya yang mengepal dihantamkan ke arah
Arya da-lam sebuah pukulan lurus ke dada. Bunyi meledak-ledak seperti suara
petir menggelegar terdengar mengi-ringi serangan itu. Hawa panas terasa
menyambar se-belum pukulan itu sendiri tiba dekat.
Dewa Arak tidak terkejut. Dia sudah menyangka Dewa Tapak
Darah memiliki kepandaian tinggi. Tak aneh kalau kakek itu memiliki pukulan
yang demikian mengerikan! Jangankan terkena langsung, angin se-rangannya saja
sudah, cukup untuk membuat seba-tang pohon besar hancur lebur.
Dewa Arak yang selalu bersikap hati-hati dan ti-dak pernah
memandang rendah lawan segera saja mengeluarkan 'Delapan Langkah Belalang'nya.
Brakkk!
Sebatang pohon sebesar pelukan dua orang dewa-sa hancur
terkena angin pukulan yang tidak mengenai sasaran. Tubuh Dewa Arak sudah
melesat dari tem-patnya.
"Demi segala setan penghuni neraka!" maki Dewa
Tapak Darah melihat lawannya tiba-tiba lenyap dari hadapan. Untuk sesaat dia
kebingungan. Tapi begitu merasa ada angin mendesir di belakangnya, segera sa-ja
diketahui kalau lawan ada di sana.
Lawannya ternyata memiliki ilmu langkah ajaib yang dapat
membuat pemuda itu mengelakkan seran-gan tanpa diketahui kapan bergerak dan ke
mana arah gerakannya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, ka-kek ini melempar
tubuhnya ke depan kemudian bergu-lingan di tanah.
Dewa Arak tidak memberi kesempatan pada kakek bermuka merah
untuk memperbaiki kedudukan. Sege-
ra diburunya tubuh yang tengah bergulingan itu. Se-rangan
dahsyat langsung dikirimkannya. Tapi, Dewa Tapak Darah mampu menangkalnya.
Bahkan mengi-rimkan serangan yang tak kalah dahsyat!
Pertarungan pun berlangsung mengiriskan hati Putri Teratai
Putih sebagai penonton satu-satunya. Agaknya tokoh-tokoh yang bertarung
memiliki tingkat kepandaian di atasnya. Kenyataan ini membuat pera-saan
kagumnya timbul pada Arya. Pemuda itu masih amat muda tapi telah memiliki
kepandaian tinggi.
Di samping perasaan kagum, rupanya timbul pula rasa
khawatir terhadap keselamatan Dewa Arak. Me-mang julukan Dewa Arak telah sampai
ke telinga Putri Teratai Putih. Pemuda itu hampir belum pernah gagal menumpas
angkara murka yang ditimbulkan tokoh-tokoh sesat dunia persilatan. Tapi melihat
betapa be-lianya Dewa Arak, perasaan tidak yakin mulai bergayut di hati wanita
ini.
Dewa Arak sendiri harus mengakui kalau Dewa Tapak Darah
memiliki kepandaian dahsyat! Seluruh kemampuannya telah dikerahkan. Namun belum
juga mampu mendesak lawannya. Pertarungan masih ber-langsung seimbang!
Pertarungan yang berlangsung alot membuat dua tokoh yang
tengah bertarung kehilangan kesabaran. Ketika Dewa Tapak Darah menerjang ke
arahnya den-gan menghentakkan kedua tangan, Dewa Arak tak ra-gu-ragu untuk
memapakinya!
Blarrr!
Dua pasang tangan yang sama-sama mengandung kekuatan
dahsyat bertemu di udara. Ledakan keras luar biasa terjadi bagaikan gunung
runtuh! Keadaan di sekitar tempat itu bergetar hebat. Pepohonan tampak
bergoyangan keras.
Tapi yang lebih hebat lagi adalah apa yang dialami kedua
tokoh yang tengah bertarung. Dewa Arak mau-pun Dewa Tapak Darah terjengkang ke
belakang. Se-rentetan hawa panas merayap di sekujur tubuh mere-ka. Keduanya
segera menyadari kalau diri mereka te-lah terluka dalam yang cukup parah.
Apabila perta-rungan diteruskan, bukan tidak mungkin mereka akan mati
bersama-sama. Sesaat kedua tokoh ini saling ber-tatapan.
"Kalau saja aku tidak mempunyai urusan lain yang lebih
penting daripada mengurusi bocah macam kau, sudah kuselesaikan riwayat hidupmu
sampai di sini! Kelak apabila urusanku telah selesai, akan kucari kau, Bocah!
Kita tentukan siapa yang lebih unggul di antara kita berdua!"
Usai berkata demikian, Dewa Tapak Darah mem-balikkan tubuh
dan melangkah terhuyung-huyung meninggalkan tempat itu. Dewa Arak tak berusaha
mengejar. Pemuda ini hanya menatap kepergian la-wannya.
Setelah tubuh Dewa Tapak Darah semakin men-gecil di
kejauhan, Arya menghela napas berat. Dia te-lah menanam bibit permusuhan dengan
seorang tokoh yang amat tangguh. Kemudian, Arya membalikkan tu-buh dan
menghampiri Putri Teratai Putih.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Arya," ucap
Putri Teratai Putih seraya menatap pemuda berambut putih keperakan itu dengan
penuh rasa kagum. "Telah lama kudengar nama besarmu. Tapi aku tidak pernah
bermimpi bisa bertemu. Aku, Teratai Putih, tidak akan melupakan pertolongan
yang kau berikan. Suatu saat kelak aku ingin membalas budi ini."
"Teratai Putih?!" ulang Arya agak kaget. Dia
per-nah mendengar nama itu. "Jadi.., kau kiranya tokoh
yang menggemparkan dunia persilatan sekitar dua pu-luh
tahun lalu? Berita mengenai dirimu banyak ku-dengar. Kau, Putri Teratai Putih,
putri dari pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat?"
"Sebuah julukan yang tidak berisi sama sekali,"
timpal Putri Teratai Putih seraya tersenyum pahit. Ia tidak tampak gembira
mendengar pujian Dewa Arak. "Kenyataannya hanya menghadapi Dewa Tapak Darah
aku hampir melawat ke akhirat kalau kau tidak segera datang, Dewa Arak!"
"Kakek itu memang memiliki kepandaian luar bi-asa,
Putri," ujar Arya menghibur. "Kurasa tidak perlu berkecil hati kalah
di tangan Dewa Tapak Darah. Apa-lagi kudengar dia kakak seperguruan Pengemis
Iblis Tanpa Tanding."
Putri Teratai Putih menatap Arya lekat-lekat "Ki-ranya
kau mengetahui tentang datuk sesat itu, Arya?"
"Hanya mendengar sedikit tentangnya, Putri. Ten-tu
saja tidak setahu kau yang telah mengalaminya sendiri," jawab Arya
merendah.
"Seberapa banyak pengetahuan yang kau dapat?"
tanya Putri Teratai Putih ingin tahu.
"Kudengar sekitar dua puluh tahun lalu di dunia
persilatan terdapat empat datuk kaum sesat. Mereka memiliki kepandaian luar
biasa tinggi. Di samping itu juga berwatak kejam. Salah satu di antara mereka
ada-lah Pengemis Iblis Tanpa Tanding. Datuk-datuk sesat itu tewas di tangan
Pimpinan Perguruan Sepasang Ma-laikat yang dibantu oleh seorang pendekar sakti
yang berjuluk Pendekar Naga Emas. Setelah itu Perguruan Sepasang Malaikat
lenyap dari dunia persilatan. Demi-kian pula dengan Pendekar Naga Emas."
"Aku, Ayah, dan seluruh murid Perkumpulan Se-pasang
Malaikat memutuskan untuk mengabdi pada
kerajaan di mana salah seorang adik seperguruan Ayah
menjadi raja," Putri Teratai Putih memberikan jawaban.
"Lalu, Pendekar Naga Emas?"
"Entahlah," Putri Teratai Putih menggelengkan
ke-pala seraya menghela napas berat. Dia kelihatan sedih sekali. Wajahnya
semakin bertambah suram.
Arya tidak berani mengajukan pertanyaan lagi. Melihat sikap
Putri Teratai Putih, dia yakin ada sesua-tu di antara Pendekar Naga Emas dengan
wanita itu.
"Ayahku kemudian meninggalkan istana setelah adik
seperguruannya meninggal karena sakit. Sebelum wafat adik seperguruan Ayah
mengangkat ku menjadi penggantinya. Sampai sekarang aku menjadi ratu di
kerajaan itu," lanjut Putri Teratai Putih, mengalihkan perbincangan
mengenai Pendekar Naga Emas.
"Maaf, bukan bermaksud untuk mengguruimu, Putri.
Adalah lebih tepat kalau kau memberitahukan ayahmu mengenai munculnya Dewa
Tapak Darah. Aku yakin kakak seperguruan Pengemis Iblis Tanpa Tand-ing itu akan
membalaskan sakit hatinya terhadap ayahmu. Bukankah beliau ikut andil dalam
tewasnya Pengemis Iblis Tanpa Tanding?" ujar Arya hati-hati.
"Aku pun berpikir demikian, Arya," sahut Putri
Te-ratai Putih. "Aku sendiri sebenarnya tengah bermak-sud untuk
mengunjungi ayahku. Dengan kejadian ini, aku harus lebih cepat tiba di sana
sebelum hal-hal yang lebih buruk terjadi"
"Boleh aku menyertai perjalananmu, Putri?" Arya
mengajukan diri. "Kurasa dengan keadaanmu seka-rang ini kau tidak akan
dapat membela diri dengan baik. Lagi pula aku tidak yakin Dewa Tapak Darah akan
berdiam diri saja. Kakek itu pasti menunggu ke-sempatan untuk
melenyapkanmu."
Putri Teratai Putih terdiam. Wanita ini tidak lang-sung
segera memberikan jawaban.
"Sebuah usul yang baik, Arya," jawab Putri
Teratai Putih kemudian setelah termenung sebentar. "Kau baik sekali. Sikap
dan tindak-tandukmu mengingatkan ku akan Pendekar Naga Emas. Dia seorang
pendekar yang luar biasa."
"Aku yakin betul akan hal itu, Putri. Karena itu, aku
ingin sekali berkenalan dengannya. Tidak hanya dengannya, tapi juga dengan
ayahmu, Putri. Barangka-li saja banyak petunjuk yang berharga yang akan
dibe-rikannya padaku nanti."
Putri Teratai Putih tersenyum. Sejenak senyuman itu
mengusir kabut kedukaan yang melapisi wajah dan sepasang matanya
"Kau pandai merendah, Arya. Dengan kepandaian yang kau
miliki sekarang, bagaimana mungkin ayahku bisa memberi petunjuk? Malah, bisa
jadi kaulah yang akan memberi petunjuk pada ayahku."
"Kau terlalu tinggi memujiku, Putri," Arya
terse-nyum malu. "Jangankan menghadapi ayahmu, ber-tempur dengan Dewa
Tapak Darah saja nyawaku hampir melayang...."
"Kau melupakan satu hal, Arya. Dewa Tapak Da-rah
adalah kakak seperguruan Pengemis Iblis Tanding. Sebagai kakak seperguruan
kepandaiannya tentu lebih tinggi dari si pengemis jahat itu. Padahal,
menghadapi Pengemis Iblis Tanpa Tanding saja ayahku harus dira-wat
berminggu-minggu karena luka berat yang dideri-tanya."
"Kau sudah cukup kuat untuk melakukan perja-lanan,
Putri?" Arya segera mengalihkan pembicaraan.
Putri Teratai Putih mengangguk Pembicaraan mengenai hal itu
pun dihentikan. Wanita ini tahu Arya
merasa risih mendengar pujian yang dilontarkan
ter-hadapnya. Sikap Arya itu menimbulkan kekaguman besar dalam hati Putri
Teratai Putih.
***
3
Bunyi kecapi dilantunkan dalam nada sedih dan memilukan
hati berkumandang mengiringi langkah kaki kuda coklat. Langkah binatang kurus
itu pun lesu seperti nada yang keluar dari kecapi.
Keadaan pemetik kecapi tak kalah lesunya. Dia duduk di atas
punggung kuda dengan wajah ditun-dukkan. Wajahnya kumal penuh debu. Kumis,
jenggot, dan cambangnya tak terurus menghias wajah. Pakaian lelaki ini kotor
serta lusuh.
Tiba-tiba saja lelaki kumal ini menghentikan per-mainan
kecapinya. Sesaat kemudian mulutnya berde-cak pelan. Dan, kuda coklat pun
melesat ke depan ba-gai anak panah lepas dari busur. Kelihatan tak sesuai
sekali dengan tubuhnya yang kurus.
Hanya dalam waktu sebentar saja kuda coklat itu telah
melampaui ratusan tombak. Medan yang semula berupa tanah gersang ditumbuhi
sedikit rumput kering kini berganti dengan tanah berbatu-batu.
Kuda coklat itu baru menghentikan larinya ketika mendengar
bunyi decak dari mulut penunggangnya. Binatang itu telah berada di pinggir
tebing. Di depan-nya terdapat medan menurun yang terjal. Di bagian yang rata
tampak lima sosok tubuh tengah terlibat da-lam pertarungan.
Lelaki kumal yang berusia sekitar lima puluh ta-
hun ini mengarahkan pandangan ke bawah, ke tempat
pertarungan tengah berlangsung sengit
"Ti... tidak mungkin..." desis lelaki itu
terbata-bata.
Wajah lelaki kumal ini terlihat tegang bukan main. Sepasang
matanya membelalak lebar seperti orang me-lihat hantu. Mulutnya pun terbuka.
Hingga, andal kata ada lalat masuk mungkin lelaki ini tidak mengeta-huinya.
Sepasang mata lelaki kumal yang mencorong kehi-jauan bak
mata seekor harimau dalam gelap menatap hampir tak berkedip. Bukan pada
jalannya pertarun-gan, melainkan pada salah satu dari orang-orang yang tengah
bertarung.
Di kancah pertarungan, dalam jarak sekitar sepu-luh tombak,
seorang wanita muda berpakaian merah menyala tengah berhadapan dengan empat
orang lelaki kasar bersenjata golok. Wanita itu sendiri hanya ber-senjatakan
sebatang pedang pendek.
Yang menjadi pusat perhatian lelaki kumal adalah si wanita
muda. Lelaki ini memperhatikan bagai orang terkena sihir!
"Ya Tuhan...! Apakah aku tengah bermimpi?! Bu-kankah
gerakan yang dimainkan oleh wanita itu ada-lah ilmu Pedang Sepasang Malaikat?
Ilmu yang menja-di andalan pimpinan-pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat.
Dan, wajah itu... benarkah dia Putri Teratai Putih? kalau benar dia, mengapa
pakaiannya merah?!" gumam lelaki kumal dengan bibir bergetar.
Sementara di kancah pertarungan pertempuran terjadi semakin
sengit. Wanita berpakaian merah keli-hatan terdesak. Lawan-lawannya terlalu
lihai dan ba-nyak. Andaikata seorang demi seorang mungkin dia akan keluar
sebagai pemenang. Kemampuan wanita
itu di atas kepandaian lawan-lawannya. "Haaat..!"
Salah seorang pengeroyok yang bertubuh tinggi kurus
berteriak nyaring sambil melompat menerjang lawannya. Golok di tangannya
dibabatkan ke arah leh-er.
Wanita muda berpakaian merah menarik tubuh-nya ke belakang
sehingga serangan itu kandas. Na-mun, pengeroyok yang bertubuh pendek
menusukkan golok dari samping kanan. Sementara dari sebelah kiri pengeroyok
lainnya membabatkan golok ke arah teng-kuk. Dan, golok yang meluncur dari
sebelah kanan mengancam pelipis!
Wanita perkasa itu bertindak cepat dengan me-rendahkan
tubuhnya. Sehingga, semua serangan itu meluncur di atas kepala. Berbarengan
dengan itu pe-dang pendeknya ditusukkan ke arah pengeroyok yang berada di
kanan.
Crasss...!
Ujung pedang si wanita berhasil menyerempet pe-rut lelaki
berkulit hitam yang menjadi sasaran seran-gan. Padahal lelaki itu telah
berusaha sebisa-bisanya untuk mengelak
Tapi sebelum si wanita sempat melancarkan se-rangan susulan
pada lelaki hitam yang tengah ter-huyung-huyung, lelaki tinggi besar telah
mengguling-kan tubuh. Kaki kanannya diayunkan menyapu kaki wanita berpakaian
merah.
Bukkk!
Telak dan keras sekali sapuan lelaki itu menghan-tam
sasaran. Seketika itu juga tubuh wanita berpa-kaian merah terpelanting jatuh.
Melihat kesempatan yang menguntungkan itu, pa-ra
pengeroyoknya tidak mau membiarkan. Bagai ber-
lomba mereka saling mendahului melancarkan seran-gan.
Wanita berpakaian merah mengeluh di dalam hati. Jalan untuk
mengelak sudah tidak ada lagi. Maka, dia hanya mampu berdiam diri menanti
datangnya maut.
Bahaya yang mengancam keselamatan wanita muda itu tak luput
dari perhatian lelaki kumal yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertarungan.
Jari-jari tangannya dengan tangkas memetik dawai-dawai ke-capi.
Tung, tung, tung..!
Bunyi-bunyi yang nikmat untuk didengar telinga pun terdengar
menghentak. Akibatnya sungguh mengi-riskan hati! Empat lelaki kasar yang tengah
melancar-kan serangan bagai ditubruk gajah liar! Tubuh mereka terpental balik
ke belakang dan melayang di udara dengan derasnya.
Wanita muda berpakaian merah tampak terkejut melihat
keadaan keempat lawannya. Tapi, wanita itu tidak merasa heran. Kejadian yang
menimpa lawan-lawannya terjadi karena bunyi kecapi. Wanita itu meli-hat
keberadaan lelaki kumal yang duduk di atas pung-gung kuda ketika mengedarkan
pandangan. Dia segera tahu kalau lelaki kumal itu memiliki kepandaian ting-gi.
Hanya orang yang bertenaga dalam luar biasa kuat saja yang mampu melakukan hal
seperti tadi.
Lelaki kumal itu sendiri bergegas melompat dari punggung
binatang tunggangannya dan melesat ke arah wanita berpakaian merah berada.
Wanita itu membelalakkan mata melihat tindakan lelaki kumal. Jelas-jelas
dilihatnya lelaki itu tidak menggerakkan tu-buh bagian bawah. Tubuhnya tampak
melayang! Ter-nyata kepandaian lelaki itu tidak hanya tenaga dalam-nya saja tetapi
juga ilmu meringankan tubuhnya!
"Kau tidak apa-apa, Nona?" tanya lelaki kumal
ke-tika telah berada di depan wanita berpakaian merah yang telah berdiri.
Sementara keempat lawannya su-dah melesat meninggalkan tempat itu dengan
langkah terhuyung-huyung. Mereka kabur karena tahu lawan-nya mendapat
pertolongan.
"Tidak apa-apa, Paman," jawab wanita itu sambil
tersenyum. "Terima kasih atas pertolongan yang kau berikan. Kalau tidak
ada kau mungkin nyawaku telah melayang ke alam baka!"
"Syukurlah kalau demikian," sambut lelaki kumal,
gembira. Lelaki ini telah berhasil menekan guncangan perasaan yang tadi melanda
sehingga wajah maupun sikapnya terlihat biasa. "Boleh ku tahu mengapa kau
bentrok dengan mereka. Nona? Maaf, bukan maksud-ku untuk mengetahui urusanmu.
Tapi, gerakan-gerakanmu mengingatkan ku pada seorang tokoh. Bahkan wajahmu pun
mirip dengan orang yang pernah kukenal itu," lanjutnya kemudian.
Wanita muda itu menatap wajah lelaki kumal pe-nuh selidik.
Rupanya, dia tidak mau percaya saja pada ucapan penolongnya.
"Boleh ku tahu tokoh yang kau maksudkan itu Paman?
Bukannya aku tak mempercayaimu, tapi keja-dian yang ku alami membuatku tidak
berani memper-kenalkan diri pada sembarang orang. Bahkan, aku di-beritahu kalau
sembarangan membuka mulut akan membahayakan diriku. Banyak musuh yang akan
mencelakai ku. Sekali lagi maafkan aku, Paman."
"Suatu tindakan yang bagus sekali, Nona," lelaki
kumal malah memuji. Ia tidak tersinggung atas tang-gapan yang diperolehnya.
"Kau tak perlu meminta maaf. Memang seharusnya demikian tindakan yang kau
lakukan. Tokoh yang kumaksudkan itu adalah
pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat. Aku yakin kau
mempunyai hubungan dengannya, Nona. Kulihat kau menggunakan senjata berciri
khas perkumpulan itu."
"Ini tidak menjadi jaminan untuk mempercayai kalau kau
bukan termasuk musuh, Paman," kilah wa-nita muda itu belum mau percaya.
"Memang kuakui kalau aku mempunyai hubungan dengan orang yang kau
maksudkan. Tapi, seorang musuh bisa saja men-genal setiap anggota Perkumpulan
Sepasang Malaikat dengan hanya melihat gerakan-gerakannya. Ada hal lebih
penting yang hanya diketahui oleh sahabat-sahabat tokoh yang kau maksudkan itu.
Sekali lagi maaf, bukannya aku tak mau memperkenalkan diri. Aku hanya khawatir
kalau-kalau kejadian yang sama terulang. Aku banyak dipesan agar berhati-hati
terha-dap orang yang tidak kukenal. Kendati orang itu telah menolongku siapa
tahu ia mempunyai maksud-maksud tertentu"
Lelaki kumal tertawa terbahak-bahak. Di dalam hatinya
lelaki ini merasa heran. Telah bertahun-tahun lamanya dia tidak tersenyum.
Namun, sekarang dia tertawa! Wanita di hadapannya ini rupanya telah
me-nimbulkan rasa gembira yang besar di hatinya.
"Kau seorang gadis yang cantik sekali, Nona. Me-mang
apa yang kau katakan itu benar. Tidak semba-rang orang mengenal secara dekat
pimpinan-pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat. Mereka amat mera-hasiakan
nama! Hanya sahabat-sahabat yang diper-caya saja mendapat kehormatan untuk
mengetahui nama mereka. Itu pun dengan pesan keras agar tidak memberitahukannya
pada orang lain. Dan, sahabat-sahabat baik itu pun berjanji memenuhinya.
Sebagai seseorang yang mendapat kehormatan untuk bersaha-
bat dengan mereka, tentu saja aku tahu nama-nama pemimpin
Perkumpulan Sepasang Malaikat itu!" tan-das lelaki kumal.
Wanita muda berpakaian merah membisu me-nunggu kelanjutan
ucapan lelaki kumal. Sorot kecuri-gaan pada sepasang matanya tampak sudah jauh
ber-kurang. Apa yang dikatakan lelaki itu diakui kebena-rannya.
Pimpinan-pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat memang amat merahasiakan nama
mereka.
"Dengar baik-baik, Nona. Katakan kalau aku tidak benar
menyebutkan nama mereka. Orang yang tertua bernama Banyak Ngampar. Sedangkan
yang lebih mu-da bernama Banyak Catra. Ada satu lagi adik sepergu-ruan mereka
yang tidak ikut dalam kepengurusan per-guruan. Jarang orang yang tahu karena
tokoh ini men-jadi raja pada sebuah kerajaan. Nama tokoh ini adalah Banyak
Santang. Sedangkan wajahmu yang kukatakan tadi mirip seseorang adalah putri
dari Banyak Catra. Namanya Teratai Putih. Orang-orang lebih mengenal-nya
sebagai Putri Teratai Putih," jelas lelaki kumal panjang lebar.
Wanita berpakaian merah tersenyum. Lelaki kum-al harus
mengakui kalau senyum itu membuat wajah-nya menjadi berlipat kali lebih cantik.
"Kau benar-benar salah seorang sahabat, Paman,"
ujar wanita itu dengan penuh perasaan lega. "Bahkan, lebih dari seorang
sahabat. Apa yang kau ketahui de-mikian banyak. Namaku Teratai Merah, Putri
Teratai Merah. Memang mirip dengan nama Putri Teratai Pu-tih. Tapi, tidak
berarti ada hubungan antara aku den-gan Putri Teratai Putih. Hubungan yang ada
hanyalah karena aku menjadi murid ayahnya."
"Sudah kuduga kalau kau murid dari Banyak Ca-tra,
Teratai Merah," ujar lelaki kumal menyebut wanita
itu dengan namanya.
"Kau sendiri siapa, Paman? Mendengar pengeta-huanmu
yang banyak itu aku yakin kau merupakan sahabat yang paling dipercaya. Siapakah
kau Paman?"
Tanggapan dari pertanyaan Putri Teratai Merah adalah
tundukan kepala lelaki kumal. Terdengar he-laan napas berat dari mulutnya.
Kentara jelas kalau pertanyaan itu menimbulkan kenangan yang tak menggembirakan
hatinya.
Putri Teratai Merah yang tak menyangka hal itu menjadi
tidak enak karenanya.
"Maafkan kalau pertanyaanku menyusahkan ha-timu,
Paman. Kurasa lebih baik kau tidak usah men-jawabnya. Lagipula, aku sudah
merasa yakin kalau kau adalah salah seorang sahabat terbaik guruku."
Lelaki kumal itu tersenyum. Sikap Putri Teratai Merah yang
tahu diri amat menyenangkan hatinya. Di-akuinya kalau dekat dengan wanita muda
yang umur-nya tak lebih dari dua puluh tahun itu susah untuk berlama-lama
sedih. Tentu saja ini juga karena ke-mampuannya mengendalikan perasaan.
"Tidak apa-apa, Teratai Merah. Aku tidak apa-apa.
Hanya..., memang ada sesuatu yang mengganggu piki-ranku. Tapi itu tak berarti
harus merahasiakan hal ini terhadapmu. Namaku Kamandaka. Aku hanya seorang
pengelana yang mengikuti ke mana kakiku ini melang-kah."
"Kasihan sekali kau, Paman," desah Putri Teratai
Merah. Sepasang matanya yang bening indah mem-perhatikan sekujur tubuh lelaki
kumal "Kau tidak mengurus dirimu sehingga seperti... maaf, Paman se-perti
gembel. Apakah kau tidak mempunyai keluarga? Aku yakin kau dulunya seorang
pemuda yang gagah dan tampan. Rasanya tidak mungkin kalau tidak ada
wanita yang tertarik padamu...."
Putri Teratai Merah menghentikan ucapannya di tengah jalan.
Dia sadar telah keterlepasan bicara. Per-cakapan itu membawa mereka ke masa
silam lelaki kumal yang tidak menggembirakan. Dan, dia merasa menyesal telah
kembali menyinggungnya.
Tapi, penyesalan itu pupus ketika dilihatnya tang-gapan
Kamandaka. Lelaki kumal ini tertawa geli. Dia tidak tampak bersedih seperti
perkiraan Putri Teratai Merah.
"Kau ini bisa saja, Teratai Merah. Kalau ada wani-ta
yang menyukaiku, mana mungkin sampai sekarang aku masih sendiri? Aku tak menarik
wanita mana pun Teratai. Mana ada wanita yang tertarik pada gembel
sepertiku?" ujar Kamandaka.
Putri Teratai Merah ikut tertawa. Kamandaka ha-rus mengakui
kalau gadis ini benar-benar mirip den-gan Putri Teratai Putih yang dikenalnya.
Tidak hanya wajah, tapi juga caranya tertawa! Putri Teratai Merah pun memiliki
kecantikan yang tak kalah dengan Putri Teratai Putih. Kecantikan kedua wanita,
itu hampir sama!
Putri Teratai Merah memang memiliki kecantikan luar biasa.
Kulitnya putih halus. Hidungnya yang mancung serta sepasang bibir merah
tipisnya men-gundang orang untuk menciumnya. Kecantikan itu masih ditunjang
lagi dengan bentuk tubuhnya yang indah dan padat berisi.
"Kau hendak ke mana, Teratai?" tanya Kamanda-ka
setelah tawa mereka reda. "Bukankah tempat ting-gal gurumu jauh dari sini?
Kudengar mereka semua tinggal di istana kerajaan."
Putri Teratai Merah menghela napas berat "Aku sendiri
tidak tahu mengapa, Paman. Guru pindah dari
istana dengan membawaku setahun setelah tinggal di sana.
Paman Guru Banyak Santang telah meninggal dunia karena sakit-sakitan. Aku
sekarang tinggal ber-sama kakek guru."
"Lalu, Putri Teratai Putih?" desak Kamandaka
in-gin tahu.
"Putri Teratai Putih tetap tinggal di istana. Tapi,
setahun sekali beliau berkunjung ke tempat kami. Be-liau amat baik hati. Dia
sangat memperhatikan ku, Paman. Malah, sejak sepuluh tahun lalu setiap tiga
purnama sekali beliau datang berkunjung. Putri Tera-tai Putih cantik sekali,
Paman," tutur Putri Teratai Me-rah.
"Dia memang cantik sekali, Teratai," jawab
Ka-mandaka. "Tapi, kau pun tidak kalah cantiknya. Kau memiliki wajah dan
potongan tubuh yang mirip sekali dengannya. Di waktu muda dulu aku pernah
melihat-nya. Tidak ada bedanya sedikit pun denganmu! Hanya warna pakaian saja
kalian berdua memiliki perbedaan yang menyolok! Putri Teratai Putih menyukai
warna-warna putih. Sedangkan kau warna merah. Sepertinya kalian berdua hampir
tidak mempunyai perbedaan sama sekali. Malah, aku menduga kau adalah
pu-trinya!"
"Hi hi hi...!" Putri Teratai Merah tertawa geli
sea-kan-akan ada sesuatu yang lucu.
"Mengapa kau tertawa, Teratai? Ada yang lucu?"
tanya Kamandaka dengan mulut menyunggingkan se-nyum. Tawa geli Putri Teratai
Merah mendorongnya untuk ikut merasa geli.
"Bagaimana aku tidak tertawa, Paman," celetuk
Putri Teratai Merah dengan setengah tertawa. "Kau menyangka aku putri dari
orang yang belum menikah. Bagaimana Putri Teratai Putih bisa mempunyai anak
kalau suami saja dia tidak punya?"
"Jadi..., Putri Teratai Putih belum bersuami sam-pai
sekarang?!" tanya Kamandaka terkejut dan seten-gah tak percaya.
Putri Teratai Merah mengangguk. "Aku pun mera-sa
heran, Paman," gadis cantik ini mendesah. "Orang secantik beliau mana
mungkin tidak disukai laki-laki? Bahkan, semasa dia menjadi putri angkat Paman
Ba-nyak Santang tak terhitung pangeran-pangeran dan raja-raja yang melamarnya.
Aneh memang!"
"Sama sekali tidak kusangka," gumam Kamanda-ka
pelan seperti pada dirinya sendiri.
"Apa yang tidak Paman sangka?"
"Putri Teratai Putih..." jawab Kamandaka.
"Menga-pa tidak bersuami?"
"Menurut cerita Guru..., Putri Teratai Putih tidak
bisa menerima orang lain untuk menjadi suaminya ke-cuali Pendekar Naga Emas.
Mengingat pendekar itu aku menjadi gemas, Paman. Ingin ku jewer telinganya.
Bahkan, ingin sekali ku tuding-tuding dia. Sungguh tak pantas perbuatannya
meninggalkan Putri Teratai Putih yang demikian cantik dan berbudi. Wanita
ba-gaimana lagi yang ingin dicarinya? Betapa pun Guru memuji-mujinya setinggi
langit, aku tidak kagum pa-danya. Lelaki macam apa dia? Kudengar dia dan Putri
Teratai telah saling mencinta, tapi mengapa dia pergi begitu saja?"
Putri Teratai Merah berbicara dengan penuh se-mangat.
Wanita itu kelihatan penasaran sekali. Wa-jahnya merah padam. Kedua tangannya
yang berjari-jari lunak serta halus dikepalkan. Andaikata Pendekar Naga Emas
ada di depannya, mungkin saat itu juga akan terjangnya!
Kamandaka hanya membisu. Putri Teratai Merah
tak berbicara lagi. Keheningan pun tercipta.
"Jadi..., kau meninggalkan gurumu untuk mencari
Pendekar Naga Emas, Teratai?" Kamandaka memecah-kan keheningan.
"Sekalian, Paman. Aku bermaksud hendak men-gunjungi
Putri Teratai Putih. Tentu saja mengenai niat untuk membuat perhitungan dengan
pendekar penge-cut itu tidak kukatakan pada Guru. Aku bisa dimara-hinya
habis-habisan. Entah apa yang membuat Guru demikian menghormati pendekar
pengecut itu. Apakah karena pertolongannya di waktu menghadapi penyer-buan
iblis-iblis yang merajai kaum sesat?"
"Mungkin sekali, Teratai," sahut Kamandaka
me-nanggapi dugaan Putri Teratai Merah, "Padahal, kalau menurut pendapatku
orang yang berjuluk Pendekar Naga Emas itu memang tidak patut mendapatkan
penghormatan demikian besar."
"Bagus sekali, Paman. Kalau demikian kita sepa-ham.
Dengan adanya dirimu mungkin aku bisa meme-nuhi keinginanku itu. Masalahnya,
menurut Guru, ke-pandaian Pendekar Naga Emas itu amat tinggi! Bah-kan, katanya
lebih tinggi dari kepandaian Guru. Ba-gaimana mungkin aku bisa menjewer
telinganya? Tapi dengan adanya kau, Guru tidak akan berani memara-hiku. Tentu
saja kalau kau membelaku, Paman. Bu-kankah kau sahabat baik Guru? Bagaimana,
Paman. Apakah kau mau membantuku?"
"Dengan segala senang hati, Teratai!" Kamanda
mengangguk, mantap.
"Ah...! Terima kasih, Paman. Kau baik sekali! Aku
yakin Paman akan memenuhi permintaanku. Bahkan aku yakin Paman akan membuat
pendekar pengecut itu terkentut-kentut melarikan diri. Paman kan mem-punyai
kepandaian tinggi!" seru Putri Teratai Merah,
gembira.
Kamandaka tak tahan untuk tidak tertawa men-dengar
perkataan terakhir Putri Teratai Merah. Perka-taan gadis itu memang lucu untuk
didengar. Membuat Pendekar Naga Emas jadi terkentut-kentut.
Gelak tawa kembali terdengar. Kamandaka dan Putri Teratai
Merah tertawa geli.
"Kau bilang tadi semasa Putri Teratai Putih men-jadi
putri angkat Prabu Banyak Santang dia mendapat banyak lamaran, Teratai?"
tanya Kamandaka ketika te-ringat ucapan Putri Teratai Merah tadi. "Lalu,
sekarang Putri Teratai Putih menjadi apa di istana?"
"Beliau menjadi ratu, Paman! Sebelum meninggal Paman
Banyak Santang mengangkat Putri Teratai Pu-tih menjadi penggantinya memimpin
kerajaan."
"Ah...! Kiranya demikian?" Kamandaka
mengang-guk-anggukkan kepala.
"Kau kelihatannya tertarik sekali dengan keadaan Putri
Teratai Putih, Paman. Apakah kau mempunyai maksud-maksud tertentu
terhadapnya?" tanya Putri Teratai Merah seraya menatap Kamandaka penuh
seli-dik.
"Tidak ada maksud apa-apa, Teratai," jawab
Ka-mandaka sedikit kikuk melihat sikap Putri Teratai Me-rah yang
menyelidikinya. "Aku hanya merasa heran sa-ja. Tapi, aku pun kagum atas
keteguhan cinta kasih-nya pada Pendekar Naga Emas."
"Apakah kau termasuk orang yang menyukai Putri Teratai
Putih, Paman?" desak Putri Teratai Merah, tak puas dengan jawaban yang
diberikan Kamandaka.
Kamandaka lebih dulu menghela napas berat se-belum
menganggukkan kepala.
"Tapi, aku bagaikan pungguk merindukan bulan, Teratai.
Mana mungkin Putri Teratai Putih yang memi-
liki kedudukan demikian tinggi akan sudi berjodoh
denganku?"
Putri Teratai Merah dapat menangkap kepedihan dalam keluhan
Kamandaka. Rasa iba tiba-tiba terpatri di hatinya.
"Apakah penyebab kau tidak mengurus dirimu adalah
Putri Teratai Putih yang tidak bisa kau persunt-ing. Paman?"
Kamandaka tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ditatapnya
wajah Putri Teratai Merah lekat-lekat. Bulu kuduk gadis itu jadi merinding
melihat sepasang mata yang mencorong kehijauan tertuju lurus ke arahnya. Sinar
mata yang seakan mampu membaca isi hati dan pikirannya.
"Hanya kepadamu aku membuka rahasia ini, Te-ratai.
Mungkin karena sikapmu dan keberadaanmu yang mengingatkan aku akan dia, aku
sendiri tidak tahu pasti. Yang jelas, sejujurnya kukatakan, iya!"
Putri Teratai Merah serta Kamandaka lalu membi-su. Suasana
menjadi hening. Tapi, keheningan itu ti-dak berlangsung lama. Kamandaka segera
memecah-kannya.
"Mengapa kita menjadi cengeng begini, Teratai. Kalau
terus menuruti perasaan, kapan urusan yang ingin kita selesaikan bisa
beres?"
"Kau benar, Paman!" Putri Teratai Merah bagai
di-gugah dari lamunannya. "Aku memang sudah tidak sabar untuk berjumpa
dengan pendekar pengecut itu!"
"Kalau demikian, mari kita berangkat!" ajak
Ka-mandaka.
Putri Teratai Merah segera menganggukkan kepa-la. Mereka
berdua pun kemudian bergegas mengayuh-kan langkah meninggalkan tempat itu.
4
"Ha ha ha...!"
Terdengar suara tawa keras memecah kesunyian. Tampak
sesosok tubuh berpakaian serba merah yang tengah bersemadi membuka matanya dan
memandang ke arah asal suara tawa menggelegar yang membuat isi dadanya
tergetar. Enam tombak di hadapan kakek berpakaian merah itu terlihat berdiri
seorang pemuda berwajah tampan. Bibirnya tersenyum sinis. Dan, se-pasang
matanya berkilat-kilat tajam!
Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun. Ku-litnya
kekuningan seperti juga warna pakaiannya. Di kiri pinggangnya terselip sebatang
pedang
"Kaget, Malaikat Merah?!" tanya pemuda itu
men-gejek. Sikapnya terlihat memandang rendah kepada orang di depannya.
Kakek yang berjuluk Malaikat Merah adalah salah seorang
dari pimpinan Perkumpulan Sepasang Malai-kat. Kakek itu kini bangkit berdiri
dengan sikap was-pada. Pameran tenaga dalam yang disalurkan lewat suara tadi
menyebabkannya berhati-hati.
"Siapa kau, Anak Muda?}" tanya Malaikat Merah
tanpa mempedulikan pertanyaan pemuda itu. Sepa-sang mata kakek ini menelusuri
sekujur tubuh pemu-da di depannya dengan perasaan kaget yang tidak da-pat
disembunyikan.
"Kau kenal Hantu Rambut Emas?" tanya pemuda itu.
Terdengar dingin dan datar suaranya.
"Apa hubunganmu dengannya?"
Malaikat Merah malah balas mengajukan perta-nyaan. Ia
merasakan tiba-tiba jantungnya berdebar-debar keras. Wajah kakek berpakaian
merah ini seke-
tika berubah. Dia kenal betul siapa Hantu Rambut Emas.
Tokoh itu adalah salah satu dari tiga datuk kaum sesat yang tewas di tangannya.
"Aku masih terhitung adik seperguruannya...," lanjut
pemuda itu.
"Apa?!" Sepasang mata Malaikat Merah terbelalak
bagaikan melihat hantu.
"Kau terkejut, Malaikat Merah? Sekarang kau ten-tu
sudah tahu maksud kedatanganku kemari, bukan?"
Belum juga gema ucapannya habis, adik sepergu-ruan Hantu
Rambut Emas telah melesat menerjang Malaikat Merah. Jari-jari kedua tangannya
terbentang lurus. Tangan kanannya ditusukkan ke arah leher, se-dangkan tangan
kiri terpalang di depan dada.
Angin berdesir tajam, seakan-akan yang meluncur sebatang
pedang yang amat tajam. Malaikat Merah mengenal serangan berbahaya. Maka,
buru-buru di geser kakinya ke samping sehingga serangan itu mele-set beberapa
jari di samping tubuhnya.
Brettt!
Malaikat Merah terkejut bukan main. Pakaian pa-da bahu
bagian kanan robek memanjang seperti ter-sayat pedang!
Malaikat Merah yang telah kenyang pengalaman segera tahu
kalau hal itu terjadi akibat angin serangan lawan yang menyerempet pakaiannya.
"Ilmu Tangan Sakti Pedang Dan Golok?!" kakek
berpakaian merah itu tampak terkejut bukan main.
Ilmu Tangan Sakti Pedang Dan Golok amat diken-al oleh
Malaikat Merah. Karena, kakek itu pernah me-lihat seorang tokoh menggunakannya.
Sebuah ilmu yang mempunyai keistimewaan membuat tangan pemi-liknya tak ubahnya
pedang dan golok. Malah bagi yang memiliki tenaga dalam amat kuat, angin
serangannya
saja tak kalah dahsyatnya dengan tusukan atau baba-tan
pedang! Ilmu itu diketahui secara pasti oleh Malai-kat Merah, dan dimiliki oleh
seseorang yang amat di-kaguminya. Pendekar Naga Emas! Tapi, mengapa pe-muda
berpakaian kuning ini memilikinya? Dari mana ilmu itu didapatkannya?
Malaikat Merah menggeram. Terdengar bunyi ber-kerotokan
keras dari sekujur tubuhnya seakan tulang belulangnya berpatahan. Padahal,
kakek ini tidak menggerakkan tangan atau kaki. Uap tipis tampak mengepul dari
sekujur tubuhnya.
Diawali teriakan melengking nyaring, Malaikat Me-rah
menerjang pemuda berpakaian kuning. Pemuda itu tidak tinggal diam. Langsung
dibalasnya serangan itu dengan tak kalah dahsyat
Dalam waktu sebentar saja pertarungan telah ber-langsung
puluhan jurus. Selama itu Malaikat Merah senantiasa berada di pihak yang
terdesak. Malah, ser-ing kakek ini hanya mampu bermain mundur.
Malaikat Merah sadar kalau pemuda yang menga-ku adik
seperguruan Hantu Rambut Emas ini tak akan mungkin dikalahkannya. Ingin rasanya
mengadu nya-wa. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin melakukan hal
itu. Kakek ini tidak ingin pemuda yang menjadi lawannya itu mati konyol!
"Ayah...!"
Sesosok tubuh berpakaian putih yang melesat dari arah
lereng berteriak keras. Nada suaranya menyi-ratkan keterkejutan dan
kekhawatiran.
"Akh!"
Malaikat Merah tak kuasa untuk menahan jeritan. Jari-jari
tangan lawan menusuk bahu kanannya hing-ga tembus. Darah muncrat-muncrat.
Untungnya kakek ini masih sempat melempar tubuhnya ke belakang.
Hanya saja, karena keadaannya yang tidak mengun-tungkan, tubuhnya
jatuh terguling-guling.
Malaikat Merah benar-benar memiliki kekerasan hati yang
luar biasa. Dengan sigap dia kembali bangkit dan bersiaga untuk menghadapi
segala kemungkinan yang terjadi.
Keadaan kakek ini benar-benar mengenaskan! Se-luruh
pakaiannya koyak-koyak bagai tersayat-sayat senjata tajam. Bahkan, pada
beberapa bagian tubuh-nya terdapat garis kemerahan memanjang. Meskipun
demikian, teriakan yang amat dikenalnya membuat Malaikat Merah menyempatkan
diri untuk mengalih-kan perhatian ke arah asal suara.
"Putih! Cepat pergi dari sini! Cepat!" teriak
Malai-kat Merah, kalap.
Tapi sosok yang dipanggil Malaikat Merah dengan nama Putih,
yang bukan lain adalah Putri Teratai Pu-tih, tidak memenuhi perintah itu. Dia
malah mene-ruskan langkahnya dan berhenti di sebelah kakek ber-pakaian merah.
Sementara itu pemuda berpakaian kuning ru-panya yakin
sekali akan kemenangannya. Dia tidak se-gera melancarkan serangan. Yang
dilakukannya ada-lah berdiri tegak dengan kedua tangan di depan dada. Sepasang
matanya menatap Putri Teratai Putih dengan sorot meremehkan!
Di saat yang bersamaan Putri Teratai Putih pun menatap si
pemuda. Dan, wanita ini langsung melon-go. Sepasang matanya membelalak lebar
bagaikan me-lihat hantu. Mulutnya ternganga. Wajah wanita ini pu-cat pasi dan
kedua kakinya menggigil.
"Ayah...," rintih Putri Teratai Putih dengan
suara pelan. "Apakah aku tidak tengah bermimpi? Katakan kalau aku tengah
bermimpi. Ayah. Katakan!"
Malaikat Merah menggenggam tangan Putri Tera-tai Putih.
Kakek ini tahu perasaan yang tengah bergo-lak di hati putri satu-satunya itu.
Hal ini membuatnya merasa terharu.
"Tidak, Putih," Malaikat Merah menggeleng.
"Kau tidak tengah bermimpi. Apa yang kau lihat ini adalah kenyataan
sesungguhnya!"
Kedua kaki Putri Teratai Putih semakin menggigil. Kalau
saja Malaikat Merah tidak memegang tangannya dan mengerahkan tenaga untuk
membantu, mungkin wanita itu telah jatuh di tanah. Putri Teratai Putih akan
berdiri dengan mempergunakan lututnya.
"Apakah ini akhir dari penantianku. Ayah?" keluh
Putri Teratai Putih lagi. Suaranya gemetar hendak me-nangis. Kelihatan jelas
kalau wanita ini menderita guncangan batin yang hebat "Mungkinkah pemuda
itu putra dia. Ayah?"
Malaikat Merah mengepalkan tangan kirinya. Ka-kek ini
kelihatan geram. Putrinya tengah menderita te-kanan batin yang hebat. Tapi,
rasa iba yang besar juga melanda hati kakek ini. Malaikat Merah tiba-tiba
me-rasa marah sekali. Entah kepada siapa kemarahan itu di tujukannya.
"Aku yakin demikian, Putih," jawab Malaikat
Me-rah sejujurnya. Untuk mengatakan pendapat yang di-yakininya menghancurkan
hati Putri Teratai Putih
Malaikat Merah beberapa kali menelan ludah membasahi
tenggorokannya yang mendadak kering. "Kalau tidak demikian, mana mungkin
ada seorang pemuda yang demikian mirip dengannya, bak pinang dibelah dua?
Melihat pemuda itu tak ubahnya meli-hat... kekasihmu itu di waktu muda. Tidak
ada be-danya sekali pun!"
"Ayah...," keluh Putri Teratai Putih tertahan,
sebe-
lum akhirnya roboh pingsan. Rupanya, guncangan ba-tin yang
diterimanya terlampau besar.
"Putih?" seru Malaikat Merah dengan suara
berge-tar karena rasa iba dan haru yang melanda.
Kakek ini bertindak cepat sehingga tubuh Teratai Putih
tidak merosot jatuh. Dengan hati-hati Malaikat Merah menggeletakkan tubuh
putrinya di tanah.
"Kurasa aku sudah cukup berbuat baik, Malaikat Merah!
Sekarang saatnya bagimu untuk menerima kematian!" Pemuda berpakaian kuning
tiba-tiba berka-ta setelah sejak tadi berdiam diri memperhatikan ayah dan anak
di depannya. "Sebelum kau tewas di tangan-ku, kuberikan padamu kesempatan
untuk mengenali-ku. Namaku adalah Reksanata! Jelas?!"
Malaikat Merah tersenyum getir. Disadarinya ka-lau tak
mungkin lolos dari tangan Reksanata. Hal ini menyebabkan hatinya gundah. Kakek
ini benar-benar rela mati di tangan pemuda tangguh itu.
"Tunggu dulu, Anak Muda!" selak Malaikat Merah,
sebelum Reksanata melancarkan serangan.
"Ada apa lagi, Malaikat Merah?!" Reksanata
meng-hentikan gerakannya. "Kesempatan yang kuberikan untukmu bukan berarti
kau bisa memohon ampunan!"
"Aku tidak ingin meminta ampunan darimu,
Rek-sanata!" sentak Malaikat Merah. Kakek ini merasa ter-singgung dengan
ucapan lawannya. "Aku bukan orang yang takut menghadapi kematian! Aku
hanya ingin ta-hu dari mana kau dapatkan ilmu Tangan Sakti Pedang dan Golok.
Setahuku ilmu itu hanya dimiliki oleh seo-rang kawan baikku. Pendekar Naga Emas
julukannya. Apakah kau menerima ilmu itu darinya?!"
"Kau ngawur, Malaikat Merah!" Reksanata berseru
keras. "Ilmu ini tidak kudapatkan dari sahabatmu. Bahkan, aku sama sekali
tak mengenalnya. Aku men-
dapatkannya dari guruku sendiri. Orang yang pernah menjadi
guru dari Hantu Rambut Emas!"
Malaikat Merah mengernyitkan kening. "Kau tidak
mengenal tokoh yang kusebutkan tadi?"
"Mendengar namanya aku pernah. Guruku sering
menyebutkannya dan menyuruhku untuk membina-sakannya. Tapi, melihatnya aku
belum. Apalagi sampai mengenal dan menerima ilmu darinya. Pendekar Naga Emas
adalah termasuk musuhku! Aku akan membuat perhitungan dengannya!"
Malaikat Merah semakin bingung. Kalau tidak ada hubungan antara
Reksanata dengan Pendekar Naga Emas, mengapa mereka berdua mempunyai cirri-ciri
yang demikian serupa?
"Tak usah mengulur waktu lebih lama, Malaikat Merah!
Kurasa sudah tiba saatnya bagimu untuk me-nemui malaikat dalam kubur!"
potong Raksanata tak sabar.
Malaikat Merah menghembuskan napas berat. Kakek ii
tampaknya sudah pasrah. Meski demikian, melihat sekujur tubuhnya yang menegang,
Malaikat Merah rupanya termasuk orang yang tak akan mem-biarkan nyawanya
dicabut orang begitu saja.
"Hanya seorang berwatak pengecut saja yang akan
membunuh lawan yang sudah tak berdaya...!"
Seruan yang diucapkan tidak terlalu keras tapi bernada
tajam itu membuat Malaikat Merah, terutama sekali Reksanata, menoleh ke arah
asal suara. Reksa-nata merasa geram bukan main mendengar makian itu. Ia adalah
seorang yang berwatak sombong. Tidak ada hal yang paling menyakitkan hatinya
kecuali ang-gapan kalau dirinya seorang pengecut!
Reksanata dan Malaikat Merah agak terperanjat ketika
melihat seorang pemuda berambut putih kepe-
rakan melangkah tenang mendekati tempat mereka berdua.
Pemuda yang bukan lain Arya Buana atau yang lebih dikenal dengan julukan Dewa
Arak!
Kedua tokoh ini sempat merasa heran melihat rambut Arya.
Melihat dari rambutnya, menurut kedua orang itu pemiliknya seharusnya seorang
yang telah berusia lanjut. Tapi kenyataannya rambut itu berada di kepala
seorang pemuda berusia dua puluhan tahun.
"Siapa kau, Rambut Putih?!" bentak Reksanata
keras setelah berhasil menguasai perasaan kagetnya. "Sungguh lancang kau
bersikap seperti itu padaku! Apakah kau hendak buru-buru pergi ke alam kubur?
Kalau kau tidak segera minta ampun dan meninggal-kan tempat ini, rambut setanmu
itu akan ku babat habis!"
"Aku hanya akan pergi dari tempat ini apabila kau
sudah pergi dan tidak melanjutkan tindakan pengecut mu terhadap orang tua yang
sudah tidak berdaya itu," jawab Arya seraya menunjukkan jarinya ke arah
Ma-laikat Merah.
"Keparat! Rupanya kau ingin berlagak menjadi pendekar
sejati, Rambut Aneh! Cepat pergi sebelum kesabaranku hilang dan kujatuhkan
hukuman terha-dapmu. Kau harus menjilat telapak kakiku tujuh kali, dan nyawamu
yang tidak berharga itu kuampuni. Pan-tang bagiku Reksanata, tokoh yang akan
menggem-parkan dunia persilatan, bertarung dengan orang tidak wajar seperti
kau!"
"Benar, Anak Muda," Malaikat Merah yang tidak
ingin ada orang lain terluka atau mati karena membe-lanya, ikut memberi nasihat
pada Arya.
Malaikat Merah bukannya tidak tahu kalau Arya mempunyai
kepandaian tinggi. Sikap pemuda itu yang tenang dan sorot sepasang matanya yang
tajam men-
corong kehijauan telah menjadi bukti nyata. Kendati
demikian, Malaikat Merah tidak yakin Arya akan mampu menandingi Reksanata.
Pemuda berpakaian kuning itu memiliki kepandaian yang demikian dah-syat.
Bahkan, mungkin tidak kalah dengan Pendekar Naga Emas! Padahal, pendekar itu
merupakan jago nomor satu pada masanya.
Arya sendiri hanya tersenyum dan mengangguk-kan kepala
sedikit pada Malaikat Merah. Pemuda itu tahu kakek itu tidak bermaksud
meremehkannya. Hanya khawatir kalau dia akan mengalami celaka di tangan
Reksanata.
"Sayang sekali, Reksanata," ujar Arya tenang
se-raya menatap pemuda sombong itu tepat pada bola matanya. "Aku tidak
bisa memenuhi permintaanmu! Aku bukan seorang pengecut. Dan...."
Arya terpaksa menghentikan ucapannya. Reksa-nata telah
menerjangnya lebih dulu. Teriakan keras menggelegar yang mampu menggetarkan
sekitar tem-pat itu dikeluarkan Reksanata bersamaan dengan me-lesatnya tubuh
pemuda itu ke arah Dewa Arak.
Reksanata mengawali serangannya dengan sebuah tendangan kaki
kanan ke pelipis. Angin menderu keras mengiringi meluncurnya serangan itu.
Sungguh dah-syat serangan Reksanata. Batu karang yang paling ke-ras pun akan
hancur lebur jika terhantam. Maka, bu-ru-buru Arya menarik kaki kanannya ke
belakang se-raya mencondongkan tubuh ke belakang. Serangan Reksanata pun
kandas!
Melihat serangan pertamanya mengalami kegaga-lan dengan
cara yang demikian mudah, Reksanata menjadi penasaran bukan main. Rasa
penasaran yang bercampur kegeraman. Serangan susulan yang tidak kalah dahsyatnya
pun segera dilancarkan. Sesaat ke-
mudian, kedua jago muda itu telah terlibat dalam
per-tarungan sengit! Reksanata benar-benar sudah kehi-langan kesabaran.
Serangan-serangan yang dilancar-kannya selalu mengarah bagian-bagian yang
memati-kan. Pemuda itu agaknya mengerahkan seluruh ke-mampuan yang dimilikinya.
Sehingga, tiap kali seran-gannya meluncur datang maut pun siap merenggut nyawa
Dewa Arak!
Prat, prat, pratt!
Untuk pertama kalinya benturan keras dan bertu-bi-tubi
terjadi. Dua pasang lengan yang mengandung tenaga dalam kuat saling beradu.
Akibatnya, Dewa Arak dan Reksanata terhuyung-huyung empat langkah ke belakang.
Reksanata kelihatan terkejut. Semula pemuda sombong ini
menyangka kalau di dunia persilatan hanya dirinya saja yang memiliki kepandaian
tinggi, te-rutama di kalangan tokoh-tokoh muda. Dia mengang-gap dirinya tak
terlawan lagi. Tapi, kenyataan yang menjadi membuatnya sangat terpukul dan
kecewa. Se-rangan-serangannya kemudian pun dilancarkan sema-kin dahsyat. Jurus
demi jurus berlangsung cepat. Se-bentar saja lima puluh jurus telah terlewat.
Keadaan masih berimbang. Kenyataan ini semakin membuat Reksanata murka.
Serangan-serangannya kini lebih banyak ditujukan pada penyerangan, dan
hampir-hampir tidak mempedulikan pertahanan sama sekali. Rasa kecewa dan
terpukul mengingat ada pemuda lain yang memiliki kepandaian tak kalah dengannya
mem-buat Reksanata nekat! Yang ada di benak pemuda ini adalah mengalahkan Dewa
Arak! Akibat apa pun tidak dipikirkannya sama sekali.
Dukkk, plakkk. Desss!
Tubuh Dewa Arak dan Reksanata sama-sama ter-jengkang ke
belakang. Dewa Arak masih sanggup men-jejak tanah dengan kedua kakinya kendati
terhuyung-huyung. Reksanata mengalami nasib yang lebih buruk. Pemuda ini
terbanting keras di tanah. Memang dia ma-sih mampu bangkit, tapi dari sudut
mulutnya mengalir cairan merah kental.
Reksanata terluka dalam yang cukup parah kare-na tamparan
Arya mengenai pangkal tangan kanan-nya. Sedangkan Arya sendiri hanya terkena
sapuan pada kakinya. Pertarungan langsung terhenti. Reksa-nata menatap Dewa
Arak dengan sinar merah penuh dendam.
"Kali ini aku mengaku kalah, Rambut Setan! Tapi ingat,
kekalahan ini tidak untuk selamanya. Kelak aku akan datang untuk menebusnya
kembali. Ingat baik-baik kataku ini!"
Usai berkata demikian, dengan dada dibusungkan dan dagu
diangkat tinggi-tinggi Reksanata membalik-kan tubuh. Kemudian, dengan agak
terhuyung-huyung ia berlari meninggalkan tempat itu.
Arya tidak mengejar. Pemuda ini malah memper-hatikan
kepergian pemuda berpakaian kuning itu. Ke-mudian napas berat keluar dari
mulutnya. Dia kembali telah menanamkan bibit permusuhan dengan lawan yang
teramat tangguh. Kalau Reksanata saja sudah memiliki kepandaian demikian
tinggi, bagaimana pula orang yang menjadi gurunya? Batin Dewa Arak
"Terima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda. Kalau
tidak ada kau mungkin aku dan anakku hanya tinggal nama sekarang."
Lamunan Arya buyar oleh suara itu. Pemuda be-rambut putih
keperakan ini membalikkan tubuh untuk menghadap Malaikat Merah.
"Tak ada yang perlu diucapkan mengenai perto-longanku
ini, Kek. Hanya suatu kebetulan aku berada di sini. Maaf, apakah Putri Teratai
Putih telah menceri-takan pada Kakek mengenai diriku?"
"Tidak, Anak Muda!" Malaikat Merah menggeleng.
Meski sebenarnya merasa kaget mendengar Arya men-genal Putri Teratai Putih,
kakek ini dengan pandai me-nyembunyikan perasaan itu. "Jadi, kau telah
mengenal anakku, Anak Muda?"
"Kami bertemu di perjalanan secara tidak sengaja. Dan
begitu mendengar tentang dirimu, aku meminta pada Putri Teratai Putih untuk bisa
bertemu dengan-mu. Aku sudah lama mengagumimu."
"Kau bercanda, Anak Muda," Malaikat Merah
ter-senyum getir, "Apa yang bisa dibanggakan dari orang tua sepertiku?
Menghadapi seorang pemuda saja aku hampir tewas kalau kau tidak segera datang
menolong. Boleh ku tahu bagaimana kau bisa bertemu dan ber-kenalan dengan putri
ku?"
Sebelum Arya sempat memberikan jawaban, ter-dengar Putri
Teratai Putih mengeluh. Rupanya, wanita ini telah tersadar dari pingsannya.
Arya dan Malaikat Merah segera mengalihkan perhatiannya
pada Putri Teratai Putih. Wanita itu sen-diri tidak mempedulikan pandangan
mereka. Tatapan-nya diedarkan ke sekitar tempat itu. Terutama ke tem-pat di
mana Reksanata tadi berada.
Malaikat Merah mengeluh dalam hati melihat ke-lakuan
putrinya. Sedangkan Arya yang tidak tahu po-kok permasalahannya berdiam diri
saja,
"Mana dia, Ayah?" tanya Putri Teratai Putih
sete-lah tak menemukan orang yang dicarinya.
"Dia telah pergi, Putih," jawab Malaikat Merah
dengan hati berat. "Kawan seperjalanan mu yang telah
mengusirnya sebelum dia berhasil membunuhku."
"Oooh..." keluh Putri Teratai Putih. Lalu, dia
bangkit berdiri. Kelihatan sekali wanita ini merasa
ke-cewa.
"Hentikan kecengenganmu, Putih! Tidak pantas orang
keturunan Perkumpulan Sepasang Malaikat ber-sikap lemah seperti itu! Tak malu
terhadap kawan se-perjalanan mu yang melihat tingkahmu ini?!" tegur
Malaikat Merah, karena tidak senang melihat sikap Pu-tri Teratai Putih!
Kakek ini sebenarnya tidak sampai hati berkata seperti itu.
Dia tahu mengapa putrinya demikian ter-pukul. Tapi, keberadaan Dewa Arak
membuatnya malu atas sikap yang diperlihatkan putrinya.
Teguran Malaikat Merah membuat Putri Teratai Putih
tersadar. Meski rasa kecewa dan terpukul masih melanda hati, dia mampu
menekannya dengan meng-gertakkan gigi. Disadarinya kebenaran ucapan ayah-nya.
Seorang pendekar tidak pantas untuk menuruti kelemahan hati!
"Maafkan atas sikapku yang tak pantas, Arya,"
ujar Putri Teratai Putih dengan suara serak. "Aku ter-lalu terbawa
perasaan. O ya, ini ayahku, Arya. Malai-kat Merah, pimpinan kedua Perkumpulan
Sepasang Malaikat yang ingin kau temui. Ayah, ini kawan seper-jalanan ku yang
telah menyelamatkan diriku dari maut. Namanya Arya."
Arya dan Malaikat Merah saling menganggukkan kepala seraya
tersenyum lebar. Putri Teratai Putih lalu menceritakan semua kejadian yang
dialaminya sampai bertemu Dewa Arak. Malaikat Merah mendengarkan dengan penuh
perhatian. Beberapa kali kakek ini men-geluarkan seruan kaget.
"Sungguh tak kusangka kalau Pengemis Iblis Tan-
pa Tanding mempunyai seorang kakak seperguruan. Dewa Tapak
Darah julukannya. Sebagai seorang kakak seperguruan, Dewa Tapak Darah pasti tak
kalah lihai dengan Pengemis Iblis Tanpa Tanding. Sungguh ber-bahaya!"
Malaikat Merah menggeleng-geleng dengan sikap prihatin.
"Itulah sebabnya aku datang kemari untuk
mem-beritahukan mu, Ayah. Aku yakin cepat atau lambat Dewa Tapak Darah akan
menyatroni tempat ini. Meski letaknya tersembunyi, tapi dia pasti akan dapat
me-nemukannya," ujar Putri Teratai Putih.
Malaikat Merah mengangguk-angukkan kepala menanggapi ucapan
putrinya.
"Sebenarnya aku sangat senang dengan kedatan-ganmu
kemari, Putih. Apalagi dengan membawa kawan perjalanan yang memiliki kepandaian
demikian tinggi. Sayang, kau datang terlambat"
Putri Teratai Putih mengernyitkan kening. Dia berpikir
sejenak untuk mencerna kata-kata ayahnya. Sebentar kemudian, wanita ini
merasakan ada sesuatu yang tak beres telah terjadi.
***
5
"Sejak tadi aku tidak melihat Teratai Merah. Ke mana
dia. Ayah?" tanya Putri Teratai Putih. Dia baru menyadari keanehan ini
karena kesibukannya meng-hadapi Reksanata.
Biasanya, setiap kali Putri Teratai Putih datang, Putri
Teratai Merah yang paling gembira menyambut-nya. Gadis yang menjadi murid
Malaikat Merah itu
memang telah menganggap Putri Teratai Putih sebagai Ibunya
sendiri.
"Itulah sebabnya kukatakan kalau kedatanganmu
terlambat, Putih. Teratai Merah telah lebih dulu pergi sebelum kau tiba. Apakah
kau tak menjumpainya di-perjalanan?" Malaikat Merah balas mengajukan
perta-nyaan.
"Jadi... Teratai Merah telah pergi, Ayah?" Terasa
jelas nada kekecewaan yang besar dalam suara Putri Teratai Putih. "Mengapa
dia pergi? Dan, hendak ke mana? Aku tidak menjumpainya di perjalanan."
Malaikat Merah menghela napas berat "Berarti Te-ratai
Merah mengambil jalan memutar, Putih. Sayang sekali! Padahal, dia ingin
menjumpai mu di istana. Dia ingin sekali-kali memberi kejutan. Karena sebelum
kau datang dia berangkat lebih dulu. Katanya, sekalian me-lihat-lihat
pemandangan di jalan."
"Oooh...!" Putri Teratai Putih mengeluh kecewa.
Wajahnya ditekapkan dengan kedua tangan. Ke-
palanya pun ditundukkan dalam-dalam. "Kalau ku ta-hu
akan begini, pasti jauh-jauh hari aku telah pergi ke mari Ayah. Aku khawatir
dia mendapat bahaya di ja-lan. Dunia persilatan amat keras. Teratai Merah
terlalu polos. Aku khawatir terjadi apa-apa terhadapnya."
"Jangan khawatir, Putih," hibur Malaikat Merah.
"Sebelum Teratai Merah pergi, telah kuberikan nasihat padanya. Bahkan
kuberitahukan padanya untuk ber-sikap hati-hati meski menghadapi orang yang keliha-tannya
baik."
"Aku mengerti. Ayah. Tapi, tipu daya orang persi-latan
terlalu banyak."
"Aku bisa memaklumi kekhawatiranmu," timpal
Malaikat Merah bijaksana, karena mengetahui alasan yang menyebabkan Putri
Teratai Putih demikian kha-
watir. "Tapi cobalah kau bertindak sedikit bijaksana.
Bukankah kau dulu pun begitu? Betapa pun keras kau buang keinginan hatimu tetap
tidak bisa ku bendung. Kenyataannya, kau selamat sampai hari ini. Lagipula mana
mungkin Teratai Merah akan mendapat penga-laman kalau terus-menerus tinggal di
tempat ini?"
Putri Teratai Putih pun terdiam. Disadari ada ke-benaran
yang tak bisa dibantah dalam penjelasan ayahnya. Kendati demikian, perasaan
khawatir yang melanda tetap tak mau sirna.
"Aku masih belum bisa mengerti dengan mak-sudmu,
Putih," kali ini Malaikat Merah yang mengaju-kan keheranan. "Mengapa
kau mesti menyuruh Arya menunggu dan tidak langsung menemui Ayah di sini. Kalau
saja Arya terus menuruti permintaanmu, mung-kin kau dan Ayah telah tewas di
tangan Reksanata."
"Aku khawatir Ayah akan marah. Biar bagaimana pun Arya
orang luar. Padahal Ayah tidak suka jika tempat tinggal Ayah diketahui orang.
Karena itu, ku putuskan untuk menyuruh Arya menunggu sedangkan aku
memberitahukan hal ini pada Ayah. Bukankah pengawal-pengawalku pun demikian
jika aku tengah menemui Ayah?" jawab Putri Teratai Putih memberikan
alasan.
Permintaan Putri Teratai Putih ini yang menye-babkan Arya
datang lebih lambat. Arya menunggu sampai Putri Teratai Putih kembali dan
memberikan jawaban. Tapi ketika pemuda ini mendengar bunyi-bunyi gaduh, dengan
perasaan tak enak diputuskan-nya untuk meninggalkan tempat persembunyian di
ba-lik dinding batu yang menjulang tinggi, lima puluh tombak dari tempat
tinggal Malaikat Merah.
Tindakan yang diambil Arya ternyata tepat. Keda-tangannya
menyebabkan bahaya maut yang mengan-
cam Malaikat Merah dan juga Putri Teratai Putih ber-hasil
dihindarkan.
"Itu memang benar, Putih. Tapi Arya kan lain. Dia
seorang penolongmu. Jadi merupakan tamu kehorma-tan. Mana mungkin aku tidak
menyukai nya?" bantah Malaikat Merah membela diri.
Putri Teratai Putih ingin mengajukan bantahan la-gi. Wanita
yang ternyata berhati keras ini tidak mau dipersalahkan. Tapi sebelum hal itu
dilakukannya, Arya telah buru-buru menengahi. Rupanya ia merasa bertanggung
jawab atas terjadinya perdebatan antara ayah dan anak itu
"Maafkan kalau aku bertindak lancang, Kek, Putri. Tapi
menurut hematku sebaiknya masalah ini disele-saikan saja. Bagiku hal ini tidak
merupakan masalah. Tindakan yang diambil Putri tidak salah, dan peratu-ran
Kakek juga benar. Aku bisa memakluminya."
"Syukurlah kalau kau berpikir demikian, Arya"
timpal Malaikat Merah dengan hati lega. "Aku memang khawatir kau merasa
dicurigai. Sekarang dengan adanya jawabanmu seperti itu, aku merasa lega.
Sekali lagi kuucapkan banyak-banyak terima kasih atas per-tolonganmu."
"Bukankah itu merupakan kewajiban kita selaku
pembela-pembela keadilan, Kek?" kilah Arya setengah mengingatkan.
Malaikat Merah tidak memberikan tanggapan. Ja-waban Arya
mengingatkannya kalau pertolongan yang diberikan pemuda itu bukan merupakan hal
yang luar biasa. Menolong orang yang tertindas memang sudah merupakan kewajiban
setiap tokoh golongan putih!
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Putih?"
tanya Malaikat Merah pada putrinya.
"Aku akan kembali ke dunia persilatan, Ayah! Ha-
tiku tidak merasa tenang kalau belum melihat Teratai Merah
selamat. Peristiwa seperti dua puluh tahun lalu aku yakin akan terulang
kembali. Bukan tidak mung-kin tokoh-tokoh golongan hitam selihai datuk-datuk
sesat dulu akan keluar lagi. Kenyataannya, Dewa Ta-pak Darah telah
muncul."
Malaikat Merah menghela napas berat. Kakek ini terlihat
begitu gusar.
"Aku pun tidak mungkin tenang lagi tinggal di si-ni,
Putih. Munculnya tokoh seperti Dewa Tapak Darah, apalagi Reksanata yang
menyimpan rahasia besar den-gan kesamaan ilmunya seperti Pendekar Naga Emas,
membuatku ingin segera tahu keanehan ini"
"Kalau begitu, kita bersama-sama menyingkapkan rahasia
itu. Ayah?" Putri Teratai Putih mengajukan usul.
"Mungkin sebaiknya kita berpisah, Putih. Kau bersama
Arya dan aku akan menyusul belakangan. Butuh waktu beberapa hari bagiku untuk
meninggal-kan tempat yang kucintai ini."
"Kalau demikian, biar aku berangkat lebih dulu,"
ujar Putri Teratai Putih.
"Begitu pun bagus!" sahut Malaikat Merah
me-nyambuti usul putrinya.
***
Sesosok bayangan hitam berkelebat di bawah te-rangnya
cahaya bulan purnama. Gerakannya cepat bukan main sehingga yang terlihat hanya
kelebatan bayangan hitam saja. Sosok bayangan ini ternyata Nambi yang dulu
menjabat sebagai panglima kerajaan.
Nambi terus berlari cepat. Langkahnya baru diper-lambat
ketika mendekati bangunan besar berhalaman
luas. Sebuah bangunan megah yang dikelilingi pagar kayu
bulat tinggi. Sepasang mata Nambi berbinar-binar begitu menatap bagian atas
pintu gerbang utama tergantung sebuah papan tebal berukir yang tuliskan
huruf-huruf indah berbunyi 'Perkumpulan Pengemis Baju Merah'.
Sekali melompat tubuh lelaki itu telah berada te-pat di
depan pintu gerbang Perkumpulan Pengemis Ba-ju Merah. Kemudian, Nambi
menghantamkan kedua tangannya ke daun pintu.
Brakkk!
Daun pintu gerbang hancur berkeping-keping. Bunyi gaduh
yang timbul mengejutkan orang-orang yang berada di bagian dalam pintu gerbang.
"Ha ha ha....'"
Nambi memperdengarkan tawa aneh. Suaranya pelan dan berat,
tapi bergaung. Tawa yang tidak pan-tas keluar dari mulut manusia. Lelaki ini
menatap pu-luhan sosok berpakaian merah yang berdiri sekitar li-ma tombak di
depannya.
"Rupanya kalian sudah siap menyambut
kedatan-ganku," dengus Nambi tanpa rasa gentar sedikit pun, kendati di
tangan sosok-sosok berpakaian merah pe-nuh tambalan tergenggam tongkat berujung
runcing. Sikap sosok-sosok yang bukan lain anggota Perkumpu-lan Pengemis Baju
Merah tampaknya sudah siap ta-rung.
"Tidak usah banyak basa-basi, Nambi! Telah ku dengar
kalau kau membasmi seluruh isi Perguruan Hutan Larangan dengan kejam! Kami,
Perkumpulan Pengemis Baju Merah, akan membalaskan kematian mereka!" bentak
seorang pengemis kurus kering yang berdiri paling depan. Pengemis yang telah
berusia lan-jut ini adalah pimpinan Perkumpulan Pengemis Baju
Merah. Pengemis Tongkat Badai, julukannya!
"Aku memang tak ingin berbasa-basi," rungut Nambi
tak senang. "Kedatanganku kemari adalah un-tuk membasmi kalian semua
seperti halnya Perkum-pulan Hutan Larangan! Kalian yang telah menyebab-kan
usahaku untuk menjadi raja dan mempersunting Putri Teratai Putih gagal.
Bersiaplah untuk menghadap Malaikat maut!"
Nambi melesat menerjang Pengemis Tongkat Ba-dai. Kedua
tangannya secara berbarengan disampok-kan ke arah dada dan ulu hati lawan.
Bunyi berkero-takan nyaring terdengar sebelum serangan bekas pan-glima kerajaan
itu tiba.
Pengemis Tongkat Badai tidak berani bersikap main-main.
Segera saja tongkatnya diputar bagal kiti-ran. Kemudian, dikelebatkan menangkis
serangan
yang mengancam dada dan ulu hatinya. Brakkk!
Benturan antara tongkat dan sepasang tangan pun tak
terelakkan lagi. Tubuh Pengemis Tongkat Ba-dai terhuyung-huyung empat langkah
ke belakang. Se-kujur tangannya yang memegang tongkat dirasakan lumpuh
seketika. Bahkan, dadanya pun terasa sesak bukan main!
Nambi yang sedikit pun tidak terpengaruh oleh tangkisan
tongkat Pengemis Tongkat Badai kembali mendengus. Kini dia sudah memburu tubuh
yang ten-gah terhuyung-huyung itu.
Melihat nyawa Pengemis Tongkat Badai terancam,
murid-muridnya tak tinggal diam. Mereka bergegas melompat menjegal serangan
Nambi. Seketika ujung belasan tongkat mengarah ke berbagai bagian tubuh bekas
panglima kerajaan itu.
Bukkk! Takk! Dukk!
Telak dan keras bukan main belasan tongkat itu menghantam
sasaran. Tapi Nambi tidak terpengaruh sama sekali. Memang, sebelum membiarkan
serangan-serangan itu mengancam tubuhnya, Nambi telah men-gerahkan tenaga dalam
untuk melindungi tubuhnya.
Nambi tidak bertindak lembut. Segera dicabutnya senjata
andalannya. Serangan balasan berupa samba-ran sepasang senjatanya pun meluncur
ke arah para pengeroyok itu. Seketika tubuh murid-murid Perkum-pulan Pengemis
Baju Merah berpentalan bak dilanda angin topan! Setiap kali tangan Nambi
bergerak, satu tubuh terbanting di tanah dan tak bangkit lagi untuk selamanya.
Tapi, pengemis-pengemis baju merah bukan orang yang
berwatak pengecut. Meski hanya dalam waktu singkat kawan-kawan mereka telah
tewas, tapi dengan semangat tinggi di bawah pimpinan Pengemis Tongkat Badai
mereka melakukan perlawanan mati-matian!
Pertarungan seru pun terjadi. Nambi mengamuk. Jerit
kematian terdengar silih berganti setiap kali tan-gan Nambi bergerak. Hanya
dalam beberapa gebrakan saja halaman markas Perkumpulan Pengemis Baju Me-rah telah
dipenuhi oleh mayat-mayat yang bergelim-pangan. Darah tampak membanjiri tempat
itu.
"Ha ha ha...!"
Nambi kembali tertawa terbahak-bahak. Lelaki itu kelihatan
gembira bukan main.
"Kematianmu sudah di ambang pintu, Pengemis busuk!
Setelah kau, baru giliran Pendekar Naga Emas. Pendekar yang terkenal itu akan
tewas di tanganku. Dan aku, Nambi, akan menjadi tokoh tak terkalahkan dunia
persilatan! Ha ha ha...!"
Pengemis Tongkat Badai hanya dapat mengger-takkan gigi
untuk mengusir kegeraman hatinya. Seka-
rang dia tinggal sendiri. Disadarinya tak akan mungkin
dapat mengalahkan Nambi. Tadi saja sewaktu anak buahnya masih ada tokoh itu tak
bisa dikalahkannya, apalagi sekarang?
Hampir berbarengan dengan usainya gelak tawa Nambi,
terdengar suara tawa nyaring yang menggetar-kan sekitar tempat itu! Pengemis
Tongkat Badai sam-pai mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk me-lawan
pengaruh suara tawa yang membuat isi dadanya bergetar hebat!
"Besar sekali sesumbar mu, Sobat! Kau kira hanya
dirimu seorang yang memiliki kepandaian? Selama ada aku jangan harap maksudmu
itu akan terlaksana! Akulah yang akan menjadi jago tak terkalahkan di du-nia
persilatan!"
Nambi mendengus marah mendengar ucapan itu ditujukan
terhadapnya. Tubuhnya lalu dibalikkan dengan cepat. Dia tahu pemilik suara itu
ada di bela-kangnya.
Dugaan Nambi memang tidak keliru. Dari balik pintu gerbang
yang sudah tak berdaun lagi melesat se-sosok bayangan yang tak terlihat jelas
bentuknya ka-rena cepatnya gerakan yang dilakukannya. Sosok itu berhenti
melesat pada jarak tiga tombak dari Nambi.
"Siapa kau, Mulut Lancang?!" tanya Nambi keras.
Setelah memperhatikan beberapa saat lamanya dia tak juga mengenal siapa
pendatang baru ini
Dia adalah seorang kakek bermuka merah. Sepa-sang matanya
hampir tak terlihat karena hanya beru-pa garis memanjang.
"Kau benar-benar memiliki keberanian dan ke-sombongan
yang melewati batas. Sobat! Rupanya kau belum mengenal siapa adanya aku?!"
gertak kakek bermuka merah. "Pernahkah kau mendengar julukan
Pengemis Iblis Tanpa Tanding?"
"Tentu saja." dengus Nambi penuh ejekan.
"Seo-rang tokoh yang katanya memiliki kepandaian amat tinggi sehingga
mampu menjadi salah seorang datuk persilatan. Tapi kenyataannya? Tak lebih dari
seorang jago di kalangan sendiri. Bayangkan, menghadapi Pen-dekar Naga Emas
saja kalah dan akhirnya tewas! Da-tuk macam apa itu? Sungguh menyesal sekali
aku be-kerja sama dengannya. Kalau tidak, mungkin sekarang aku telah menjadi
raja!"
"Hantu Belang! Jin Hutan! Kau benar-benar me-miliki
mulut yang besar, Anjing Hitam! Aku Dewa Ta-pak Darah, selaku orang yang pernah
menjadi kakak seperguruan Pengemis Iblis Tanpa Tanding, takkan membiarkan mu
seenaknya saja membuka mulut! Akan kubuktikan kalau akulah yang lebih pantas
men-jadi tokoh tak terkalahkan dunia persilatan!" tandas Dewa Tapak Darah,
mantap.
"Keparat!"
Nambi berteriak marah mendengar makian yang ditujukan
kepadanya. Berbarengan dengan dikelua-rkannya teriakan, bekas panglima kerajaan
ini melu-ruk ke arah Dewa Tapak Darah. Serangan bertubi-tubi berupa tendangan
kaki kanan menuju ulu hati, dada dan leher dikirimkannya.
Meski terkejut melihat kedahsyatan serangan Nambi, Dewa
Tapak Darah mengeluarkan dengusan mengejek. Perasaan tak mau kalah mendorongnya
un-tuk memapaki serangan-serangan itu.
Plak, plak, plak!
Dewa Tapak Darah terperanjat ketika mendapati kedua
tangannya terasa sakit. Tubuhnya terhuyung-huyung dua langkah ke belakang.
Sementara Nambi hanya terhuyung satu langkah!
Nambi tertawa mengejek melihat keterkejutan la-wannya.
Sambil mengeluarkan tawa tak putus, diki-rimkannya serangan susulan. Dewa Tapak
Darah me-nyambutinya. Pertarungan sengit pun berlangsung.
Di jurus-jurus awal pertarungan kelihatan seim-bang. Tapi
begitu memasuki jurus kedua puluh lima, Dewa Tapak Darah mulai kewalahan. Kakek
bermuka merah ini lebih banyak mengelak dan menangkis dari-pada menyerang.
***
"Mengapa kita harus berdiam diri saja di sini
Pa-man?"
Ucapan itu keluar dari mulut seorang gadis ber-pakaian
merah. Sepasang matanya yang bening indah menatap lelaki kumal di sebelahnya
dengan tanpa me-nyembunyikan rasa penasaran. Saat itu dua sosok yang bukan lain
Kamandaka dan Putri Teratai Merah itu memang tengah berada di atas genteng
salah ban-gunan.
"Maksudmu bagaimana, Teratai?" Kamanda malah
balas bertanya. Seperti juga Putri Teratai Merah. Ka-mandaka berbicara hampir
berbisik karena tak ingin ucapannya didengar oleh kedua tokoh sesat yang
ten-gah bertarung.
"Kita turun dan memberikan hajaran pada mereka yang
telah begitu kejam membasmi orang-orang Per-kumpulan Pengemis Baju Merah. Menurut
Guru, Per-kumpulan Pengemis Baju Merah mempunyai hubun-gan yang baik dengan
Perkumpulan Sepasang Malai-kat. Berarti sudah kewajibanku dan juga kau untuk
membalaskan kekejian ini. Bukankah kau termasuk sahabat Guru, Paman? Aku yakin
kau pun merupakan
sahabat orang-orang Perkumpulan Pengemis Baju Me-rah.
Benarkah dugaanku ini?"
Kamandaka menganggukkan kepala.
"Apa yang kau katakan itu benar, Teratai. Tapi ki-ta
pun harus menggunakan akal jika hendak melaku-kan suatu tindakan. Dua tokoh
sesat yang sedang ber-tarung itu memiliki kepandaian amat tinggi. Mungkin kalau
hanya salah seorang dari mereka, aku bisa menghadapinya. Tapi dua orang? Hal
lain yang mem-beratkan ku untuk bertindak adalah ketidaktahuan ki-ta mengenai
orang yang melakukan pembantaian itu. Bukankah kita datang saat mereka berdua
tengah ber-tarung? Barangkali saja bukan mereka yang melaku-kannya,"
Kamandaka mengajukan alasan.
"Kau mengenal mereka, Paman?" Putri Teratai
Me-rah mengajukan permasalahan lain.
"Salah satu dari mereka, Teratai. Kakek yang
ber-pakaian hitam," terdengar nada keluhan dalam ucapan Kamandaka.
"Sungguh tidak kusangka kalau waktu dua puluh tahun telah mengubahnya
menjadi seorang tokoh yang memiliki kepandaian demikian tinggi. Mes-tinya
kepandaian yang dimilikinya biasa saja. Dia ada-lah seorang panglima kerajaan
dulunya, di masa kera-jaan masih dipimpin oleh Prabu Banyak Santang. Mungkin
kau bisa menduganya sekarang, Teratai. Se-tidak-tidaknya gurumu pernah
bercerita tentang seo-rang panglima kerajaan yang berkhianat dan membe-rontak.
Dedengkot-dedengkot dunia persilatan dari kaum sesat berdiri di belakangnya.
Untung Pendekar Naga Emas cepat datang. Karena bantuannya kerajaan dapat
diselamatkan...."
"Jangan sebut-sebut tentang pendekar pengecut itu
lagi, Paman." sentak Putri Teratai Merah, tak se-nang.
"Sekarang aku tahu siapa adanya kakek itu, Pan-glima
Nambi bukan?" Kamandaka mengangguk.
"Kakek yang satu lagi kau tidak bisa menduganya,
Paman?"
"Memang ada sedikit dugaan muncul dalam
piki-ranku," Kamandaka mengakui. "Beberapa gerakan ka-kek itu mirip
dengan gerakan-gerakan Pengemis Iblis Tanpa Tanding. Mungkinkah ada hubungannya
antara mereka berdua?"
"Datuk sesat itu, Paman?"
Kamandaka kembali mengangguk. Entah untuk ke berapa kalinya
lelaki kumal itu berlaku demikian.
Kali ini Putri Teratai Merah tak mengajukan per-tanyaan
lagi. Kamandaka pun tidak. Mereka berdua memusatkan seluruh perhatian ke arah
pertarungan yang tengah berlangsung
"Ih..!"
Putri Teratai Merah tak kuasa untuk menahan pekikan
kagetnya. Tampak di arena pertarungan Nam-bi melancarkan serangan yang
menimbulkan bola-bola api bernyala meluncur ke arah Dewa Tapak Darah!
Kamandaka kaget bukan main. Dia tahu dua to-koh yang tengah
bertarung itu akan segera menyadari adanya pengintai-pengintai setelah
mendengar teria-kan kaget Putri Teratai Merah. Maka, tanpa mem-buang-buang
waktu lebih lama, dicekalnya pergelan-gan tangan Putri Teratai Merah. Gadis itu
kelihatan kaget dan berusaha meronta. Tapi, Kamandaka telah lebih dulu
bertindak. Dia melesat meninggalkan tem-pat itu sambil membawa tubuh Putri
Teratai Merah!
Tindakan Kamandaka memang tidak keliru! Begi-tu mendengar
suara jeritan, Nambi dan Dewa Tapak Darah segera tahu kalau mereka tengah
diintai orang. Bagai telah disepakati sebelumnya, keduanya melan-
carkan pukulan jarak jauh ke arah suara jeritan be-rasal!
Brakkk!
Atap tempat Kamandaka dan Putri Teratai merah tadi berada
hancur berantakan. Tapi, Kamandaka dan Putri Teratai Merah berhasil selamat
karena saat itu telah berada di udara. Putri Teratai Merah yang meli-hat
kejadian ini baru mengerti dengan tindakan yang diambil Kamandaka.
Nambi dan Dewa Tapak Darah menggeram melihat
pengintai-pengintai itu lolos dari serangan. Seakan tengah berlomba keduanya
bergegas melesat mengejar. Dan ketika Kamandaka menjejakkan kedua kakinya di
tanah, Nambi yang didampingi Dewa Tapak Darah te-lah berada di depannya. Jarak
antara mereka terpisah tiga tombak. Bagaikan telah diatur sebelumnya, Nambi
berada di kanan dan di kiri berdiri Dewa Tapak Darah!
Kamandaka langsung menyadari kalau melarikan diri merupakan
tindakan yang sulit dilakukan. Karena apabila jalan itu yang diambilnya, Putri
Teratai Merah harus dibopongnya. Kalau tidak, Nambi dan Dewa Ta-pak Darah akan
dengan mudah menangkapnya. Pa-dahal, jika Putri Teratai Merah dipanggulnya akan
mengurangi kecepatan larinya. Di pihak lain Nambi dan Dewa Tapak Darah memiliki
kepandaian luar bi-asa. Bukan tak mungkin mereka akan mampu menyu-sulnya!
"Menyingkirlah, Teratai," ujar Kamandaka seraya
melangkah maju, sehingga Putri Teratai Merah yang semula berada di sisinya jadi
berada di belakang. Putri Teratai Merah tak berani membantah sedikit pun.
Ga-dis ini tahu kalau dua kakek yang berada depannya memiliki kepandaian jauh
di atasnya. Tanpa bicara apa pun dilangkahkan kakinya untuk menyingkir dari
situ.
"Teratai,..?!" Nambi mengulang nama itu dengan
mata membelalak lebar.
Lelaki berpakaian hitam ini memang sudah terke-jut ketika
melihat wajah dan perawakan tubuh Putri Teratai Merah. Semula dikiranya sosok
itu adalah Putri Teratai Putih. Tapi, dugaan ini langsung pupus ketika melihat
pakaiannya yang merah. Sekarang keterkeju-tan Nambi semakin bertambah saat
mendengar sapaan yang diberikan Kamandaka.
"Apa hubunganmu dengan Putri Teratai Putih?"
tanya Nambi seraya melangkah untuk menghampiri Putri Teratai Merah. Tapi,
maksudnya terhalang den-gan keberadaan Kamandaka. Lelaki kumal itu melang-kah
menghadang jalan Nambi.
"Keparat!"
Nambi menggeram marah sambil melotot. Tapi pandang matanya
yang semula penuh kemarahan tiba-tiba meredup berganti dengan keheranan.
"Siapa kau, Monyet Jelek?! Rasa-rasanya aku
mengenalmu."
"Untuk apa banyak berbasa-basi, Nambi! Serang saja!
Aku tak suka dengan tindakanmu yang berbelit!" cela Dewa Tapak Darah tak
sabar.
"Tutup mulutmu, Monyet Merah!" sentak Nambi.
Rupanya dia merasa terhina mendengar ocehan
Dewa Tapak Darah. "Atau, kau ingin kubereskan lebih
dulu?!"
"Ho ho ho...! Setan Belang! Kau sombong sekali, Nambi.
Kau belum tentu menang menghadapiku. Apa-lagi kalau aku bersekutu dengan orang
yang kau maki-maki itu. Kau akan menderita rugi besar. Ho ho ho...!"
Nambi tidak berani menanggapi lagi. Meski ha-tinya
menuntutnya untuk mencerca, tapi hal itu dita-
hannya. Nambi tahu ancaman Dewa Tapak Darah bu-kan omongan
kosong belaka. Bagi tokoh seperti kakek bermuka merah itu yang diperhitungkan
adalah keun-tungan bagi dirinya sendiri. Karena itu, Nambi tidak berani bicara
sembarangan lagi.
Sementara itu Kamandaka menatap lekat-tekat wajah Nambi.
Tindakannya menunjukkan kalau dia pun tengah memperhatikan bekas panglima kerajaan
itu.
"Kau tanya siapa aku, Sobat? Rasanya biar kuse-butkan
pun kau tidak akan mengenalku. Aku bukan orang yang terkenal atau patut
dikenal. Aku tak men-genalmu. Maka, aku yakin kau pun tak mengenal
diri-ku," sahut Kamandaka kemudian dengan tenangnya.
"Kalau begitu, kau harus menebus kelancangan-mu
mengintai pertarungan kami! Kau harus mati di tanganku, Gembel Busuk!"
bentak Nambi keras "Tapi sebelum itu aku ingin tahu gadis yang bersamamu
itu. Siapa dia?!"
***
6
Kamandaka tersenyum tenang.
"Sayang sekali, Sobat. Aku tidak bisa memenuhi
permintaanmu. Aku bukan orang yang senang mem-perkenalkan diri orang lain.
Jadi, sekali lagi maaf,"
Nambi menggeram. Lelaki ini tidak bisa lagi me-nahan sabar
mendengar jawaban Kamandaka. Diang-gapnya tindakan Kamandaka itu suatu
tantangan. Maka, dia pun menerjang Kamandaka!
Nambi membuka serangannya dengan sampokan
tangan kanan ke arah pelipis. Tangan kirinya disilang-kan
di dada untuk berjaga-jaga terhadap serangan la-wan.
Kamandaka bertindak cepat dengan menarik tu-buhnya ke
belakang. Pada saat yang bersamaan, kaki kanannya diluncurkan ke arah perut
lawan. Nambi tentu saja tidak ingin perutnya tertendang. Dia pun tak mau
mengelak. Lelaki ini terlalu percaya dengan kepandaiannya sendiri Kendati dari
bunyi serangan Kamandaka bisa diketahui besarnya kekuatan tenaga dalam yang
terkandung dalam serangan itu.
Karena kepercayaannya yang besar akan kepan-daiannya, Nambi
meletakkan tangan kirinya yang dis-ilangkan di depan dada.
Takkk!
Benturan antara tangan dan kaki yang sama-sama mengandung
tenaga dalam tinggi tak bisa di-elakkan lagi. Tubuh Kamandaka dan Nambi
sama-sama terhuyung satu langkah ke belakang. Mereka ke-lihatan terkejut
melihat hasil benturan yang terjadi. Sungguh tidak disangka kalau lawan
ternyata memiliki tenaga dalam yang demikian kuat. Tapi kalau Kaman-daka hanya
kaget, Nambi yang terlalu percaya akan kemampuannya sendiri tampak kaget
bercampur ge-ram! Nambi menggeram keras bak seekor binatang buas terluka.
Sepasang tangannya dibentuk cakar ke-mudian digerakkan dengan cepat
menyambar-nyambar mencari sasaran.
Kamandaka tak mempunyai pilihan lain kecuali bertarung
dengan mengerahkan seluruh kemampuan-nya. Disadarinya lawan yang akan dihadapi
tidak hanya seorang. Masih ada seorang lawan lagi yang tak kalah tangguh
menunggunya. Kalau mengulur-ulur waktu, dia khawatir Dewa Tapak Darah akan
keburu
turun tangan. Dan bila itu terjadi keadaannya akan sangat
berbahaya! Di luar kancah pertarungan, Putri Teratai Merah dan Dewa Tapak Darah
menyaksikan ja-lannya pertempuran dengan masing-masing kepala di-belit
pertanyaan yang tidak terjawab! Putri Teratai Me-rah dipusingkan oleh ucapan
Kamandaka yang menga-takan kalau lelaki kumal itu tak mengenal Nambi. Pa-dahal,
tadi Kamandaka yang memberitahukan pada di-rinya mengenai tokoh itu. Mengapa
Kamandaka bersi-kap demikian? Tanya Putri Teratai Merah dalam hati. Lelaki
kumal itu kelihatannya takut dikenali Nambi
Sedangkan Dewa Tapak Darah direpotkan dengan masalah Putri
Teratai Merah. Kakek bermuka merah ini telah melihat Putri Teratai Putih. Kini
gadis yang sekarang ditemuinya ini amat mirip segala-galanya dengan ratu
kerajaan itu. Apa hubungan antara mere-ka?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergayut di benak kendati
pandangan mereka tak melewatkan pertarun-gan yang berlangsung di depan mata.
"Hey...!"
Terdengar seruan kaget Nambi. Lelaki itu melem-par tubuhnya
ke belakang dan bersalto beberapa un-tuk menjauh, membuat Putri Teratai Merah
dan Dewa Tapak Darah merasa heran. Mereka merasa ada nya keterkejutan dalam
seruan Nambi
"Tahan...!" seru Nambi ketika kakinya menjejak
tanah dan dilihatnya Kamandaka terus meluncur ke arahnya dengan serangan yang
siap untuk disarang-kan.
Seruan Nambi membuat Kamandaka menghenti-kan tindakannya.
Sebagai seorang gagah lelaki kumal ini tak mau menyerang lawan yang tak siap
untuk me-nerima serangannya.
"Ada apa, Sobat?" tanya Kamandaka tenang. Tapi,
sepasang matanya menyorotkan kegelisahan berusaha untuk disembunyikan.
"Apakah kau berubah pikiran dan membiarkan kami pergi dari sini dengan
aman?"
Nambi tertawa mengejek.
"Kau tidak bisa mengakaliku lagi, Pendekar Naga Emas!
Kau boleh menyembunyikan wajah dan ciri-cirimu dengan menyamar sebagai gembel.
Tapi aku bukan anak kecil yang bisa kau kelabui, meski sama-ran mu
hampir-hampir saja membuatku terkecoh. Kau tak bisa menyembunyikan ilmu-ilmu
khasmu. Kalau kau bukan seorang pengecut hina, pasti kau akan membenarkan
dugaanku! Ayo, kalau kau ingin menja-di seorang pengecut hina, katakan kau
bukan Pende-kar Naga Emas!" Kamandaka terdiam. Dia tidak mem-berikan jawaban
kecuali menundukkan kepala. Sesaat kemudian dia mengangkatnya lagi dan menghela
na-pas berat.
Putri Teratai Merah dan Dewa Tapak Darah terke-jut bukan
main mendengar ucapan Nambi. Mata kedua orang ini tertuju pada Kamandaka.
Telinganya dipa-sang setajam mungkin. Napas mereka bahkan hampir ditahan karena
khawatir jawaban yang diberikan Ka-mandaka tak terdengar.
"Kau keliru, Nambi!" Putri Teratai Merah akhirnya
yang tak tahan karena Kamandaka tidak juga membe-rikan jawaban. "Dia bukan
pendekar pengecut itu! Ma-lahan, dia dan aku hendak mencari pendekar pengecut
itu untuk membuat perhitungan!"
"Benarkah demikian, Nona Cantik?!" ejek Nambi
sambil tersenyum sinis. "Sekarang kita tunggu saja ja-waban dari orang
yang ingin membantumu mencari pendekar pengecut itu."
"Ayo, Paman Kamandaka! Katakan kalau kau bu-
kan Pendekar Naga Emas si pengecut itu!" seru Putri
Teratai Merah tak sabar.
Suara gadis berpakaian merah ini terdengar berge-tar karena
menahan guncangan perasaan. Putri Tera-tai Merah merasa tegang menanti jawaban
Kamanda-ka. Malah, karena tak sabarnya gadis ini melangkah menghampiri
Kamandaka. Sementara tawa Nambi me-ledak mendengar ucapan Putri Teratai Merah.
"Kau benar-benar dibohongi habis-habisan, Nona Dungu!
Kau tahu nama asli pendekar pengecut yang berjuluk Pendekar Naga Emas itu? Aku
yakin kau ti-dak tahu! Karena itu akan kuberitahukan padamu! Dengan baik-baik,
Nona cantik yang dungu...."
"Cukup, Nambi!" potong Kamandaka dengan suara
keras dan sikap garang. "Kuakui kalau aku adalah Pendekar Naga Emas!"
"Kau dengar itu, Nona yang goblok?!" ejek Nambi.
"Kamandaka adalah nama asli dari pendekar pengecut itu. Kau ditipunya
mentah-mentah! Ha ha ha...!"
Putri Teratai Merah terdiam bagai patung. Gadis ini
terpukul bukan main mengetahui kenyataan itu. Apalagi karena hal itu dia
menjadi korban ejekan Nambi.
Kamandaka alias Pendekar Naga Emas mengeta-hui perasaan
yang berkecamuk di hati Putri Teratai Merah. Dia merasa menyesal sekali. Lelaki
kumal ini merasa bersalah karena telah menyimpan rahasia. Ta-pi, apa boleh
buat? Kamandaka mempunyai alasan yang amat kuat untuk itu.
"Maafkan aku, Teratai. Bukan maksudku untuk menipumu.
Aku...."
"Diam kau...!" potong Putri Teratai Merah dengan
penuh kemarahan. Gadis ini menatap Pendekar Naga Emas dan Nambi berganti-ganti,
sebelum akhirnya
berhenti pada Kamandaka. "Aku benci kau! Kau tidak
hanya pengecut, tapi juga penipu. Aku benci kau! Ben-ci...!"
"Teratai,.!" panggil Kamandaka ketika melihat
Pu-tri Teratai Merah membalikkan tubuh dan berlari me-ninggalkan tempat itu.
Tapi, Putri Teratai Merah tidak mempedulikan panggilan
Kamandaka. Dia terus berlari cepat tanpa menoleh lagi. Kamandaka hanya bisa
menghela napas berat. Sedangkan Nambi tertawa bergelak-gelak meli-hat hasil
ucapannya.
Kamandaka mengalihkan perhatiannya dari Putri Teratai Merah
ketika tubuh gadis itu lenyap ditelan ke-gelapan malam. Pandangannya kini
beralih pada Nam-bi.
"Kau boleh tertawa sepuasmu, Nambi. Sebentar lagi
nyawamu akan kukirim ke neraka. Orang seperti kau tak layak dibiarkan hidup
terus. Dunia akan men-jadi kacau balau!"
Nambi menghentikan tawanya. Dia mendengus keras. Pandangan
matanya seakan hendak menelan Pendekar Naga Emas bulat-bulat.
"Kau keliru, Pendekar Pengecut. Kaulah yang akan
kukirim ke neraka. Dirimulah yang menjadi penyebab berantakannya semua
cita-citaku. Kau akan mem-bayar mahal semuanya malam ini!"
Pendekar Naga Emas melangkah maju. Nambi pun demikian. Mata
mereka saling memperhatikan calon lawannya. Pertarungan yang sempat terhenti
tampak-nya beberapa saat lagi akan pecah kembali.
"Demi segala roh penasaran! Kau jangan serakah Nambi.
Pendekar Naga Emas bukan hanya mempunyai hutang padamu. Dia pun harus membayar
atas keke-jian yang dilakukannya terhadap adik seperguruanku!"
Seruan yang diikuti dengan melangkah majunya Dewa Tapak Darah
membuat Pendekar Naga Emas dan Nambi yang telah siap untuk saling gebrak
menunda maksud mereka.
"Siapa kau, Kakek Aneh? Dan, siapa pula adik
se-perguruanmu yang kau katakan tewas di tanganku ku?" tanya Pendekar Naga
Emas tanpa mengalihkan perhatian dari sosok Nambi.
Pendekar Naga Emas tahu pasti betapa liciknya bekas
panglima kerajaan itu. Maka, dia tak mau me-ninggalkan kewaspadaan sedikit pun.
Karena bagi Nambi cara apa pun akan dipergunakan asalkan sakit hatinya
terbalaskan. Membokong pun tak menjadi per-soalan baginya!
"Buka telingamu lebar-lebar, Naga Emas!" teriak
Dewa Tapak Darah. "Aku Dewa Tapak Darah. Dan adik seperguruanku yang kau
bunuh secara kejam itu ber-juluk Pengemis Iblis Tanpa Tanding!"
"Adik seperguruannya bejat, kakak seperguruan-nya pun
pasti bukan orang baik-baik! Kalian berdua memang sangat layak dikirim ke
akhirat untuk menja-di teman setan-setan penghuni neraka!" sahut Pende-kar
Naga Emas dengan suara lantang.
"Kaulah yang akan menjadi penghuni neraka,
Ke-parat!" bentak Dewa Tapak Darah yang sudah tidak bi-sa mengekang
kemarahannya.
Kakek bermuka merah ini tanpa tanggung-tanggung lagi
mengeluarkan ilmu andalan. Kedua tan-gannya jadi merah laksana besi dibakar!
Hawa panas pun menyebar dari kedua tangannya!
Pendekar Naga Emas bergegas melompat ke bela-kang untuk
mengelakkan serangan itu. Nambi tidak tinggal diam. Lelaki berpakaian hitam ini
pun ikut me-lancarkan serangan. Pertarungan satu melawan dua
pun langsung pecah!
Pendekar Naga Emas alias Kamandaka mengelua-rkan Ilmu
Tangan Pedang Dan Golok yang menjadi ciri khasnya. Sebuah ilmu tangan kosong
yang amat am-puh. Tapi, Nambi dan juga Dewa Tapak Darah memili-ki ilmu tangan
kosong yang tak kalah ampuh pula. Se-telah pertarungan berlangsung lima belas
jurus, Pen-dekar Naga Emas harus mengakui keunggulan lawan-lawannya.
Pengeroyokan Dewa Tapak Darah dan Nam-bi terlalu berat untuknya. Meskipun
demikian, Ka-mandaka yakin andaikata kedua musuhnya itu meng-hadapinya satu
persatu, dia akan dapat mengalahkan mereka. Kendati memang tidak dengan mudah
hal itu dilakukan.
Semakin lama keadaan Pendekar Naga Emas se-makin
mengkhawatirkan. Serangan-serangannya su-dah tidak terlihat lagi. Pendekar ini
sekarang lebih ser-ing mengelak. Dia tidak sempat mengirimkan serangan balasan
karena terlalu bertubi-tubinya serangan dari kedua lawannya.
Pendekar Naga Emas bukan orang bodoh. Dia ta-hu kalau
keadaan seperti ini berlangsung tanpa ada perubahan, dia akan roboh di tangan
keduanya. Itu berarti nyawanya akan melayang ke alam baka! Pa-dahal, Kamandaka
belum ingin tewas. Lelaki ini masih mempunyai ganjalan di hatinya karena
permasalahan-nya dengan Putri Teratai Merah.
Di samping itu, ada hal lain yang ingin diketahui pendekar
Naga Emas. Hal itu adalah mengenai Putri Teratai Merah. Adakah hubungan antara
gadis berpa-kaian merah itu dengan Putri Teratai Putih? Tentu saja yang
dimaksudkan Pendekar Naga Emas adalah hu-bungan keluarga. Rasanya tak mungkin
jika ciri dan nama mereka yang demikian mirip kalau tidak ada
hubungan apa-apa
Dalam suatu kesempatan Pendekar Naga Emas membanting
tubuhnya ke tanah untuk mengelakkan serangan Nambi dan Dewa Tapak Darah
bergegas memburu untuk melancarkan serangan lanjutan. Ke-dua tokoh sesat ini
berlomba ingin lebih dulu menya-rangkan serangan.
Brrr!
Namun, Nambi dan Dewa Tapak Darah secepat ki-lat
menghentikan serangannya lalu melempar tubuh ke belakang. Penyebabnya adalah
serangan serangkum debu dari Pendekar Naga Emas! Pendekar yang mem-punyai
kecerdikan cukup itu rupanya telah memperhi-tungkan tindakan lawannya. Maka
begitu tubuhnya menyentuh tanah, tangannya langsung meraup debu dan
melontarkannya pada kedua lawannya.
Kesempatan yang tercipta dari urungnya serangan Nambi dan
Dewa Tapak Darah tidak disia-siakan oleh Kamandaka. Lelaki kumal itu
melentingkan tubuhnya. Dan sesaat setelah kedua kakinya menjejak tanah dia
langsung melesat cepat dengan pengerahan seluruh ilmu larinya.
"Kamandaka...! Pengecut! Jangan lari kau...!"
seru Nambi marah bercampur kaget
"Pendekar Naga Emas...! Ke mana pun kau pergi jangan
harap dapat lolos dari tanganku!" Dewa Tapak Darah pun berseru pula.
Dua tokoh sesat ini bergegas melesat untuk men-gejar.
Sayangnya pengejaran yang mereka lakukan agak terlambat. Pendekar Naga Emas
telah berada be-lasan tombak di depan. Namun meski demikian, Nambi dan Dewa
Tapak Darah tetap melakukan pengejaran.
Pendekar Naga Emas tentu saja mendengar se-ruan kedua
lawannya. Tapi, lelaki ini pura-pura tidak
mendengar dan terus berlari cepat sekali. Sehingga Nambi
yang telah mengerahkan seluruh kemampuan-nya tetap tak mampu menyusul. Malah,
untuk sekadar memperpendek jarak saja dia tak mampu.
Dewa Tapak Darah lebih parah lagi. Kakek ber-muka merah ini
malah tak bisa mempertahankan jarak semula. Semakin lama jarak antara dia dan
Pendekar Naga Emas semakin jauh. Sampai akhirnya kakek itu malah kehilangan
jejak.
Nambi pun demikian. Meski jaraknya tak berubah tapi
kegelapan malam dan dengan adanya semak-semak serta pepohonan membuatnya
mengalami kesu-litan untuk dapat terus melihat buruannya. Apa yang
dikhawatirkan lelaki ini akhirnya menjadi kenyataan. Ketika melewati kerimbunan
semak-semak, Pendekar Naga Emas lenyap tak berbekas. Nambi mencari den-gan
sia-sia sambil memaki-maki panjang pendek.
***
Arya dan Putri Teratai Putih duduk berhadapan dalam jarak
satu tombak. Kedua orang ini meletak pantatnya pada sebatang pohon yang
melintang tanah.
"Sejak kau meninggalkan pertapaan ayahmu keli-hatan
terus gelisah, Putri. Boleh ku tahu penyebab-nya? Apakah karena kepergian Putri
Teratai Merah?" Arya membuka percakapan dengan pertanyaan yang sejak
beberapa hari ini selalu menggayuti benaknya. Pertanyaan itu dikeluarkan Arya
dengan hati-hati sete-lah dilihatnya sejak tadi Putri Teratai Putih duduk
dengan pandangan menerawang ke langit
Putri Teratai Putih tidak memberikan jawaban se-patah pun.
Malah, terusik pun tidak Wanita ini tidak, dengan keasyikannya sendiri
seakan-akan pertanyaan
Arya tidak didengarnya.
Arya menghela napas berat setelah menunggu be-rapa saat
lamanya tak juga mendapatkan jawaban.
"Aku sebenarnya tak ingin mencampuri urusan-mu,
Putri." ujar Arya lagi. "Tapi, sebagai sahabat aku tak rela melihat
kau senantiasa dilanda kesedihan se-perti ini. Aku ingin ikut membantu masalah
mu. Tentu saja kalau kau tak mau dengan senang hati aku akan menutup
mulut"
Lagi-lagi hanya kesunyian yang menyambuti uca-pan Arya.
Pemuda berambut putih keperakan ini me-nunggu beberapa saat sebelum akhirnya
bangkit dari duduknya.
"Kalau kau ingin sendiri, aku pergi dulu, Putri.
Barangkali saja tindakanku ini akan membuatmu lebih tenang."
Arya lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan
tempat itu. Tapi baru juga beberapa langkah, ayunan kakinya dihentikan. Arya
mendengar Putri Teratai Putih menyerukan namanya.
"Kau memanggilku, Putri?" tanya Arya setelah
membalikkan tubuhnya kembali.
Putri Teratai Putih yang sekarang sudah tak me-natap langit
lagi tampak menganggukkan kepala.
"Aku ingin berbincang-bincang denganmu, Arya. Kau
bersedia?"
"Dengan segala senang hati, Putri," jawab Arya
sambil melangkah kembali ke tempat semula dia du-duk.
"Boleh aku mengajukan pertanyaan yang bersifat agak
pribadi?"
"Boleh saja, Putri. Tapi aku tak menjamin akan
menjawabnya. Itu tergantung dari pertanyaan yang akan kau ajukan," jawab
Arya setelah tercenung se-
bentar.
"Jawaban yang bijaksana. Kau benar-benar seo-rang
pemuda gemblengan, Arya," puji Putri Teratai Pu-tih sehingga wajah Arya
memerah karena malu. "Kau pernah jatuh cinta?"
Arya kelabakan. Andaikata pertanyaan Putri Tera-tai Putih
diumpamakan serangan, mungkin perta-nyaan itu merupakan serangan maut di saat
Dewa Arak belum bersiap. Bahkan mungkin lebih dari itu. Karena, pertanyaan
Putri Teratai Putih membuat Arya terdiam dengan wajah berubah-ubah.
Arya tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Sebagai
seorang pemuda, apalagi yang menanyakan-nya adalah wanita, Arya merasa risih.
Tapi setelah be-berapa saat lamanya kebingungan akhirnya Arya mampu berpikir
jernih. Putri Teratai Putih rupanya ta-hu perasaan yang berkecamuk di hati
Arya. Wanita ini dengan sabar menunggu.
"Pernah, Putri," jawab Arya kemudian dengan
wa-jah memerah.
Pemuda berambut putih keperakan itu memu-tuskan untuk
menjawabnya, karena Arya menduga masalah yang tengah membelit Putri Teratai
Putih ke-mungkinan besar adalah masalah asmara. Tak ada sa-lahnya malu sedikit
tapi dapat memecahkan masalah orang lain, pikir Arya.
"Syukurlah kalau demikian," desah Putri Teratai
Putih lega. "Sekarang, bagaimana perasaanmu kalau orang yang kau cintai
itu pergi. Padahal kau dan dia sama-sama saling cinta. Bertahun-tahun orang
yang kau cintai itu pergi dan kau mengharap-harapkan ke-pulangannya. Hingga dua
puluh tahun lebih keinginan hatimu itu tak terwujud. Kemudian, tahu-tahu kau
bertemu dengan orang yang amat mirip dengannya.
Anggap saja orang yang mirip itu adalah keturunan dari
orang yang kau cintai. Bagaimana perasaanmu, Arya?"
"Tentu saja sangat kecewa, Putri. Mungkin ber-campur
dengan kesal karena merasa ditipu," jawab Arya setelah berpikir beberapa
saat
"Nah, perasaan itulah yang tengah melanda ku, Arya.
Perasaan dikhianati! Padahal..., dengar baik-baik, Arya. Hanya kau seoranglah
yang akan mengeta-hui rahasia ini. Aku tak tahan menyimpannya terus-menerus.
Kau telah kuanggap sebagai adikku sendiri. Maka, padamulah kuberitahukan,"
ucap Putri Teratai Putih dengan suara bergetar karena guncangan pera-saan.
"Terima kasih atas kepercayaan yang kau berikan
padaku, Putri."
"Aku dan kekasihku telah mempunyai seorang anak
perempuan. Tapi sayangnya kekasihku tak men-getahui hal ini. Bahkan mungkin tak
akan pernah ta-hu. Menyedihkan sekali, bukan?" suara Putri Teratai Putih
tersendat menahan tangis. Sepasang mata wani-ta ini tampak berkaca-kaca.
Arya merasa terharu sekali melihatnya. Pemuda ini bisa
merasakan kesedihan yang melanda Putri Te-ratai Putih.
"Mengapa itu bisa terjadi, Putri? Maksudku, kena-pa
kekasihmu tak tahu kalau dia telah meninggalkan seorang anak di dalam
rahimmu?"
"Sayang sekali, Arya. Aku tidak bisa menjawab
pertanyaan itu! Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, Putri," jawab Arya bijaksana.
"Anakmu itu pasti Putri Teratai Merah, bukan?" tebak Arya kemudian.
Putri Teratai Putih hanya bisa mengangguk. Kese-
dihan yang melandanya terlalu besar. Kedua bahunya tampak
sampai terguncang-guncang karena isak tan-gis yang ditahan. Agaknya wanita ini
benar-benar di-landa kekecewaan yang sangat.
***
7
"Kau tahu, Arya," lanjut Putri Teratai Putih
setelah bisa menguasai perasaannya. "Kelahiran Putri Teratai Merah membuat
penyesalan yang besar di hatiku."
"Mengapa demikian, Putri?"
"Ayah angkatku, Prabu Banyak Santang, sakit-sakitan
dan akhirnya meninggal karena batinnya ter-guncang melihat aku melahirkan anak
tanpa suami. Aku tak pernah menikah. Aku malu sekali, Arya. Se-hingga meski tak
ada orang lain yang tahu kecuali ayahku dan ayah angkatku, aku didera
penyesalan yang besar."
Arya terdiam. Pemuda ini menunggu cerita Putri Teratai
Putih selanjutnya.
"Seperti juga ayah angkatku, ayahku juga merasa
terpukul sekali. Beliau malu karena aku, keturunan satu-satunya dari Sepasang
Malaikat, melahirkan anak tanpa nikah. Tapi beliau lebih kuat batinnya daripada
ayah angkatku. Untuk menutupi rasa maluku, beliau membawa Putri Teratai Merah
ke tempat gurunya. Be-liaulah yang mendidiknya di sana. Dan..., sampai Putri
Teratai Merah besar tak juga rahasia ini dibeberkan. Baik aku maupun Ayah tak
berani mengutarakannya. Kecuali... kalau ayah dari Putri Teratai Merah,
Pende-kar Naga Emas, kutemukan dan kuceritakan hal yang
telah terjadi. Tapi sekarang keinginan itu rasanya telah
tidak ada lagi..."
Sampai di sini Putri Teratai Putih tak sanggup membendung
kesedihannya. Dia menangis dengan tanpa suara. Air matanya yang sekian puluh
tahun di-tahannya sekarang mengalir deras bak air sungai.
Arya terpaku bagai patung. Rasa iba yang melan-da hati
pemuda berambut putih keperakan itu. Bisa dirasakannya kesedihan yang sangat
melanda Putri Teratai Putih
"Sudahlah, Putri," hibur Arya sambil menyentuh
tangan Putri Teratai Putih. "Percayalah, aku akan membantumu untuk mencari
Pendekar Naga Emas. Akan kuberitahukan semua hal yang telah kau alami ini
padanya."
Hiburan Arya membuat guncangan pada kedua bahu Putri
Teratai Putih semakin menjadi-jadi. Wanita ini menjatuhkan kepalanya di dada
Arya yang bidang. Hampir saja pemuda berambut putih keperakan ini terlonjak.
Tapi, untungnya dia segera sadar. Dibiarkan saja tingkah Putri Teratai Putih.
Arya tetap diam kendati dadanya dirasakan basah oleh air
mata. Bahkan tanpa sadar tangan kanannya mengelus-elus rambut Putri Teratai
Putih. Tindakan ini membuat kesedihan wanita itu semakin menjadi-jadi.
Dan... bunyi dengusan keras membuat Arya serta Putri
Teratai Putih sadar akan adanya orang lain di se-keliling mereka. Cepat-cepat
kedua orang itu melepas pelukannya. Wajah Putri Teratai Putih tampak merah
seperti udang direbus.
"Hey...! Berhenti kau, Pengintai Hina...?" seru
Arya ketika dilihatnya sesosok tubuh berpakaian lusuh membalikkan tubuh dan
melangkah meninggalkan ke-rimbunan semak-semak. Jarak semak-semak itu den-
gan tempat Arya dan Putri Teratai Putih berada sekitar lima
tombak. Dan di antara kedua tempat itu tak ada apa pun yang menghalangi.
Seruan Arya terdengar kasar karena pemuda be-rambut putih
keperakan itu merasa malu mengingat perbuatannya bersama Putri Teratai Putih
dilihat orang.
Sang pengintai itu tampak menghentikan langkah. Kendati
demikian, tubuhnya tidak dibalikkan. Sosok itu berdiri membelakangi Arya. Arya
sendiri berbaren-gan dengan seruannya telah melesat ke arah si pengin-tai. Dia
kemudian bersalto melewati atas kepalanya. Dan dengan tanpa menimbulkan bunyi
sedikit pun menjejakkan kaki di tanah. Padahal, tanah tempat pemuda berambut
putih keperakan itu menjejakkan kaki dipenuhi dengan semak-semak kering!
"Sungguh tercela sekali perbuatanmu Sobat, men-gintai
orang yang tengah membicarakan masalah," te-gur Arya seraya mengamati si
pengintai yang berjarak dua tombak di depannya.
Sang pengintai, seorang lelaki berusia lima puluh lima
tahun yang berpakaian lusuh, berkumis, jenggot, dan cambang tak teratur
terlihat tersenyum mengejek. "Membicarakan masalah? Apakah aku tak salah
den-gar, Sobat? Kau ini tengah membicarakan masalah atau berbuat mesum?"
sahutnya dengan nada sinis.
"Mulutmu kotor sekali, Sobat!" sentak Arya
den-gan wajah memerah karena malu. "Andaikata pun be-nar kami tengah
melakukan hal yang kau tuduhkan itu, tidak pantas kau mengintainya!"
"Siapa yang mengintai? Kalianlah yang tak tahu diri.
Mengapa berbuat mesum di tempat seperti ini? Aku tidak mengintai! Aku kebetulan
lewat dan melihat perbuatan kalian yang menjijikkan!"
"Tarik kembali ucapanmu itu, Sobat!" ujar Arya
dengan suara semakin meninggi. "Kau telah keliru me-nilai orang. Wanita
yang kau anggap berbuat mesum itu adalah kakakku. Dia tengah mendapat musibah!
Aku sebagai adiknya berusaha untuk menghiburnya! Dan...."
"Ucapan apa ini?! Tak lebih dari bunyi yang keluar
dari lubang dubur manusia yang paling kotor! Belum pernah kudengar putri dari
Banyak Catra, salah seo-rang pimpinan Perkumpulan Sepasang Malaikat, mempunyai
seorang saudara kandung. Sepengetahua-nku dia anak tunggal!" dengus lelaki
lusuh itu tetap dengan nada sinis.
Kalau saja ada halilintar menggelegar di dekat tempat itu,
Arya belum tentu sekaget ini. Dari mana le-laki lusuh itu tahu rahasia ini?
"Siapa kau sebenarnya, Sobat?" tanya Arya.
Sua-ranya mulai melunak
Lelaki lusuh kembali mendengus penuh ejekan. "Betapa
enaknya memutar lidah! Tadi seenaknya me-maki-makiku dengan segala macam
cercaan. Begitu melihat gelagat yang kurang menguntungkan, lalu me-nanyakan
nama. Tak perlu, Sobat. Panggil saja aku dengan sebutan yang semula kau berikan
padaku"
Wajah Arya merah padam. Di samping karena pe-rasaan
tersinggung, dia juga merasa malu. Disadarinya kalau tadi dia telah bersikap
agak berangasan. Meski demikian, Arya tak merasa bersalah. Toh sikap itu muncul
karena perbuatan lelaki lusuh pula. Kalau memang lelaki itu tak mau menimbulkan
keributan tentu begitu melihat adegan yang terjadi antara Dewa Arak dengan
Putri Teratai Putih, dia segera meninggal-kan tempat itu tanpa perlu mendengus.
"Lalu... apa kehendakmu sekarang, Sobat?" tanya
Arya ingin tahu.
"Tidak ada keinginan apa pun," jawab lelaki lusuh
dingin. "Tapi perlu kuberitahukan padamu, Anak Mu-da. Kalau kau hendak
berbuat mesum, pilihlah tempat yang sepi. Di sini terhitung ramai. Nanti tak
ada orang lain lagi yang melihat kemesuman kalian!"
"Sebenarnya... apa yang kau kehendaki, Sobat? Kalau
tak ada apa-apa mustahil kau bersikap demi-kian sinis. Sepertinya kau benci
sekali padaku. Kuberi-tahukan sekali lagi, aku bukan orang yang gemar ber-buat
seperti yang kau tuduhkan. Bahkan, apa yang kau tuduhkan pun sama sekali tidak
benar! Kuharap kau mau mencabut ucapanmu yang kelewatan itu."
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantang
le-laki lusuh tanpa merasa gentar sedikit pun.
"Akan ku paksa agar kau mau melakukan apa yang
kuinginkan!" tandas Arya, mantap. "Kalau perlu dengan memberikan
sedikit hajaran pada mulutmu yang kotor. Barangkali saja setelah itu kau tak
akan sembarangan lagi mengeluarkan perkataan."
"Kau boleh coba laksanakan keinginanmu, Sobat!"
timpal lelaki lusuh tak mau kalah. "Kebetulan jadi aku bisa mengetahui
apakah kemampuan bela dirimu se-besar kemampuanmu bermain mesum!"
"Tutup mulutmu yang kotor, Sobat!"
Arya tak bisa menahan sabar lagi mendengar tanggapan lelaki
lusuh yang tetap kasar. Pemuda be-rambut putih keperakan ini segera menerjang
dengan pukulan kanan dan kiri lurus ke arah dada.
Arya sengaja mengirimkan serangan seperti itu karena tak
ingin membuat lelaki lusuh celaka. Biar ba-gaimana pun juga lelaki ini bukan
orang jahat. Maka serangan yang dilakukan Dewa Arak menggunakan ge-rakan yang
sederhana dan tenaga dalam yang seka-
darnya saja.
Lelaki lusuh mendengus. Dia tidak mengelak se-rangan yang
dikirimkan Arya. Pemuda berambut putih keperakan ini menjadi kaget dan
mengurangi lagi tena-ganya agar lawan tidak terluka berat.
Buk, buk, bukkk!
Benturan yang terjadi antara dada lelaki lusuh dengan
kepalan-kepalan Arya membuat pemuda be-rambut putih keperakan itu menyeringai.
Jari-jari tan-gannya bagai menumbuk besi baja, bukan tubuh ma-nusia yang
terdiri dari daging dan tulang!
"Mengapa kau sungkan-sungkan, Sobat? Tadi ku-lihat di
waktu berbuat mesum kau tak ragu-ragu. Bahkan, segenap kemampuan yang kau
miliki dikelua-rkan semuanya. Apakah tenagamu telah habis untuk bermesum
ria?!" sembur lelaki lusuh, tak pernah kehi-langan ejekan yang berpokok
pangkal dari persoalan itu.
"Kalau itu yang kau inginkan. ku penuhi Sobat!"
desis Arya sambil menggertakkan gigi. Pemuda itu ge-ram bukan main melihat
lelaki lusuh semakin keterla-luan dengan ejekannya. Rupanya sikap welas asih
Arya dijadikan bahan untuk membuat ejekan.
Dewa Arak segera melompat menerjang lawannya. Kali ini
pemuda berambut putih keperakan itu menge-luarkan seluruh kemampuan yang
dimiliki. Bukan hanya karena ucapan dan sikap lelaki lusuh yang me-lampaui
batas, tapi juga karena telah mengetahui ka-lau lawannya itu memiliki
kepandaian tinggi.
Dewa Arak mengirimkan tendangan terbang. Kaki kanannya
meluncur ke arah leher. Sementara kaki ki-rinya yang tertekuk, kendati terlihat
tenang, menyem-bunyikan bahaya yang tak kalah besar. Kaki kiri itu bisa
menyusul kaki yang kanan dan mengancam kese-
lamatan lawan!
Serangan Dewa Arak kali ini berlipat kali lebih dahsyat
dari sebelumnya. Tapi, lelaki lusuh tetap terli-hat tenang. Tak kelihatan kalau
dia merasa gelisah. Malah lelaki itu berdiri di tempatnya.
Tappp! Kreppp!
Tangkisan sekaligus tangkapan tangan lelaki lu-suh membuat
Dewa Arak terkejut bukan main. Ka-kinya dirasakan tergetar hebat. Tapi, hal itu
belum ter-lalu mengejutkan. Yang membuat jantung pemuda berpakaian ungu ini
bagai terhenti berdetak adalah keberhasilan tangan lelaki lusuh menangkap
pergelan-gan kakinya
Meskipun demikian, Dewa Arak mampu bertindak cepat. Maka
ketika kaki kanannya ditangkap, kaki ki-rinya segera disarangkan ke arah dada
lelaki lusuh un-tuk memaksa dia melepaskan cekalannya.
Lelaki lusuh itu mengetahui akan adanya anca-man besar.
Disadarinya tendangan lawan mampu membuat batu karang yang paling keras
sekalipun hancur berantakan. Maka cekalannya dilepaskan, dan bersamaan dengan
itu dia melompat jauh ke belakang.
"Kau hebat, Anak Muda," untuk pertama kalinya
lelaki lusuh memuji. "Tapi, kehebatanmu ini belum se-hebat ilmu
mesummu!"
"Mungkin yang kali ini akan lebih hebat dari
gen-carnya mulutmu mengeluarkan ucapan kotor!" sahut Arya cepat
Arya yang semakin menjadi-Jadi kemarahannya mendengar makian
lelaki lusuh lalu secepat kilat me-nerjang. Kedua tangannya didorongkan dengan
jari-jari tangan terkembang. Pemuda berambut putih kepera-kan ini dalam cekaman
rasa marah yang sangat sete-lah mengerahkan tenaga dalam inti matahari yang
menjadi andalannya.
Angin yang luar biasa panas berhembus dari ke-dua tangan
Arya yang didorongkan. Seketika semak-semak yang berada di sekitar tempat itu
layu! Bebera-pa di antaranya langsung rontok ke tanah dalam kea-daan gosong!
"Sebuah Ilmu pukulan yang hebat..!" Lelaki lusuh
berseru memuji. Kedua tangannya dikembangkan membentuk cakar naga lalu ditarik
ke depan dada dengan cepat. Dan, perlahan kedua tangan itu dihen-takkan ke
depan.
Tidak terdengar deru angin sedikit pun. Tapi Dewa Arak
melihat sekujur tangan, bahkan sebagian besar tubuh lelaki lusuh, diselimuti
sinar kuning keemasan.
Bunyi meletup pelan terdengar kemudian. Tubuh Dewa Arak dan
lelaki lusuh sama-sama terjengkang ke belakang. Masing-masing merasakan dadanya
sesak bukan main. Dan begitu berhasil memperbaiki kedu-dukan baik Arya maupun
lelaki lusuh saling berpan-dangan dengan sinar mata kagum. Mereka tampaknya
kini lebih yakin akan kelihaian lawan yang dihada-pinya
Dewa Arak mulai menurunkan guci arak dari punggungnya.
Pemuda berambut putih keperakan itu mengambil keputusan demikian karena tahu
lawan yang akan dihadapinya sangat lihai.
"Tunggu, Arya...!"
Guci yang telah diangkat di atas kepala dan siap untuk
dituangkan ke mulut, urung dilakukan Arya. Dengan sinar mata penuh pertanyaan
pemuda beram-but putih keperakan itu menatap ke arah Putri Teratai Putih yang
berlari ke tempatnya dan lelaki lusuh bera-da.
Putri Teratai Putih menghentikan larinya ketika
jarak dengan lelaki lusuh tinggal dua tombak. Pandang
wanita ini terpaku pada ke arah punggung lelaki lu-suh. Arya jadi heran
melihatnya. Apalagi ketika meli-hat sinar mata Putri Teratai Putih yang
demikian pe-nuh dengan berbagai perasaan.
"Siapa kau sebenarnya, Sobat?" tanya Putri
Tera-tai Putih dengan suara menggigil. "Ilmu yang kau gu-nakan ketika
menangkis serangan kawanku mengin-gatkan aku pada seseorang. Sepengetahuanku
hanya dialah yang memiliki ilmu seperti itu, Ilmu Emas."
Lelaki lusuh tetap tak bergeming. Tawa ejekan yang
didahului dengan dengusan keras segera diper-dengarkannya.
"Hai, Anak Muda! Jawab yang benar siapa di anta-ra
kalian berdua yang berbohong? Kulihat kau dan wanita itu berbuat mesum. Kau
katakan padaku wani-ta itu adalah kakakmu. Sedangkan wanita itu sendiri
memberitahukan kalau kau adalah kawannya. Mana di antara kalian yang benar?!"
"Dia yang benar, Sobat," jawab Arya dengan wajah
merah. "Tapi, aku pun tak salah. Aku memang saha-batnya. Tapi...."
"Karena persahabatan terlalu erat lalu kalian buat
mesum dengan alasan telah seperti saudara diri. Begi-tu bukan?!" potong
lelaki lusuh.
"Kamandaka, kau terlalu?" bentak Putri Teratai
Putih, keras melengking.
Lelaki lusuh sedikit pun tidak kelihatan terkejut mendengar
panggilan itu. Yang kaget justru Arya. Pe-muda berambut putih keperakan ini
sekarang mengerti mengapa lelaki lusuh ini kelihatan demikian memu-singkan
perbuatannya dengan Putri Teratai Putih. Pan-tas. Lelaki ini bukan lain dari
Pendekar Naga Emas!
Sekarang Arya juga mengerti mengapa lelaki itu
memiliki kemampuan demikian dahsyat. Hal itu tidak aneh
kalau mengingat lelaki ini adalah Pendekar Naga Emas. Pendekar itu terkenal
memiliki kepandaian yang amat tinggi.
"Siapa yang terlalu, Teratai? Kau atau aku...?!"
ba-las lelaki lusuh. Suaranya tidak penuh ejekan dan ke-seriusan seperti tadi.
Suara Pendekar Naga Emas kali ini dikenal baik oleh Putri Teratai Putih sebagai
milik Pendekar Naga Emas yang dikenalnya dulu.
"Tentu saja kau!" bentak Putri Teratai Putih
sam-bil menudingkan tangan.
Pendekar Naga Emas membalikkan tubuh dengan cepat.
Kelihatan jelas kalau lelaki ini tak puas dengan jawaban yang diberikan Putri
Teratai Putih.
"Tidak salahkah apa yang kudengar ini, Teratai?"
bantah Pendekar Naga Emas tak mau kalah. "Kaulah yang keterlaluan! Kau
yang ku pikirkan bertahun-tahun dengan hati berdarah ternyata sedang enak-enak
berbuat mesum."
Tutup mulutmu, Kamandaka...!" jerit Putri Teratai
Putih dengan nada suara lebih tinggi. "Berkacalah ada dirimu sendiri! Kau
yang ku pikirkan siang malam se-lama dua puluh tahun lebih dan kucari-cari
tanpa ha-sil ternyata enak-enakan menikah dengan wanita lain dan mempunyai
anak!"
"Apa kau bilang?!" Kamandaka membentak tak kalah
keras. Tapi, kali ini bercampur dengan rasa ka-get yang besar. Sepasang mata
pendekar ini membela-lak lebar. "Siapa yang menyebar fitnah keji seperti
itu padamu, Teratai? Pemuda yang menjadi temanmu buat mesum inikah?!"
Arya yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran antara
Kamandaka dengan Putri Teratai Putih sangat kaget mendengar tuduhan itu. Arya
yang semula ingin
mencampuri urusan sepasang kekasih itu, setelah di-rinya
dibawa-bawa merasa tak bisa berdiam diri lagi. Meski demikian, pemuda berambut
putih keperakan ini tak mempunyai kesempatan untuk membela diri, Putri Teratai
Putih telah mendahuluinya.
"Kau keliru, Kamandaka! Aku tak mengetahui dari siapa
pun, melainkan bukti yang kulihat jelas dengan mata kepalaku sendiri. Baru
beberapa hari lalu hal ini kuketahui"
"Bukti apa?!" Kamandaka menantang.
"Anakmu datang menyatroni tempat kediaman ayahku.
Kalau saja tak ada seorang pemuda yang kau maki-maki berbuat mesum ini, aku dan
ayahku telah menjadi mayat di tangannya. Pemuda yang kau anggap orang mesum
inilah yang telah menolong nyawa aku dan ayahku. Pemuda itu adalah seorang
pendekar be-sar yang memiliki nama tak kalah harum dengan na-mamu, Kamandaka!
Dia Dewa Arak!"
"Aku tak peduli siapa adanya dia! Aku memang bukan
apa-apa. Aku hanya seorang gembel hina. Tapi dari mana kau bisa tahu kalau
orang yang hendak membunuh kau dan ayahmu adalah keturunan ku. Perlu
kuberitahukan, Teratai, tuduhanmu itu sama kali tak benar! Aku tak pernah menikah
dengan wanita lain. Apalagi sampai mempunyai anak. Aku tak pernah berhubungan
dengan wanita mana pun. Aku malah menyiksa diri setelah pergi jauh darimu. Kau
lihat keadaanku? Tak terurus, bukan? Itu karena aku selalu tak bisa
melupakanmu!"
"Kau kira aku enak-enak saja, Kamandaka?" tim-pal
Putri Teratai Putih dengan suara yang mulai mele-mah.
Wanita ini sejak tadi sebenarnya telah melihat perbedaan
yang menyolok dalam diri pendekar di ha-
dapannya ini.
Pendekar Naga Emas dulu seorang pemuda tam-pan dan selalu
rapi. Tapi sekarang? Tak ubahnya gem-bel! Pemuda itu kelihatan kotor dan tak
terawat.
"Tapi..., mengapa ada orang yang demikian mirip
denganmu bagai pinang dibelah dua," semakin mele-mah suara Putri Teratai
Putih. "Malah pemuda itu pun mempunyai ilmu yang sama denganmu. Kalau
bukan keturunanmu, mengapa dia bisa demikian mirip den-ganmu? Lagi pula, dari
mana ilmu-ilmu khasmu dida-patkannya?"
Pendekar Naga Emas tercenung. Rupanya kata-kata Putri
Teratai Putih mulai membuatnya bimbang. "Mungkinkah ada orang yang hendak
memecah belah kita? Hendak mengadu domba antara kita, Teratai?" ucap
Pendekar Naga Emas setelah berpikir beberapa saat lamanya. "Aku pun telah
bertemu dengan orang wanita muda yang amat mirip denganmu. Bahkan dia memiliki
ilmu-ilmu khas Perkumpulan Sepasang Ma-laikat. Tapi ketika kutanyakan mengenai
hubungannya denganmu, dia tidak tahu-menahu."
"Apakah gadis itu memperkenalkan diri padamu?
Pakaiannya serba merah?" terka Putri Teratai Putih. Kamandaka mengangguk.
"Putri Teratai Merah namanya. Nah, bukankah aneh ada
seseorang yang bisa mirip segala-galanya denganmu tapi tak ada hubungan apa
pun? Maksudku hubungan keturunan."
"Siapa bilang tak ada hubungan apa pun, Kaman-daka.
Gadis itu adalah anakmu. Anak kita!" tandas Pu-tri Teratai Putih
"Apa?!"
Pendekar Naga Emas terjingkat bagai disengat ular berbisa.
Kelihatan jelas keterkejutan melandanya.
"Apakah kamu masih waras, Teratai?! Anak kita?
Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Kita kan tak per-nah... Bagaimana mungkin
bisa terjadi seorang anak?!" Putri Teratai Putih menghela napas berat. Hal
se-
perti ini sudah diduga sebelumnya.
"Oleh karena itulah Kak Kamandaka, sejak dua puluh
tahun lalu aku mencari-carimu. Aku ingin men-ceritakan semuanya. Aku juga
semula tak mengerti. Tapi ketika Paman memberitahukannya, juga Ayah, aku mulai
mengerti..."
"Apa yang mereka katakan?" sambut Pendekar Naga
Emas cepat, penuh rasa ingin tahu.
Suasana jadi hening. Putri Teratai Putih belum memberikan
jawaban. Wanita ini tengah mencari kata-kata yang tepat untuk memulai
ceritanya.
"Ha ha ha...!"
Tawa keras menggelegar membuat Putri Teratai Putih yang
hendak memberikan jawaban jadi urung mengatakannya. Wanita ini menolehkan
kepala ke arah asal suara.
Hal yang sama dilakukan oleh Dewa Arak dan Pendekar Naga
Emas. Seketika jantung mereka berde-tak jauh lebih cepat. Di tempat itu telah
hadir sosok-sosok yang sangat mengejutkan mereka. Nambi dan Dewa Tapak Darah!
"Sama sekali tak kusangka kalau di tempat ini akan
bisa menemukan orang-orang yang kucari sekali-gus! Pendekar pengecut yang dulu
berjuluk Pendekar Naga Emas dan Putri Teratai Putih!"
Nambi yang pertama kali membuka suara. Lelaki ini kelihatan
gembira bukan main.
"Tapi kau harus ingat, Nambi. Pendekar Naga Emas
adalah bagianku. Akulah yang akan memenggal kepalanya!" timpal Dewa Tapak
Darah tak mau kalah.
"Jangan khawatir, Tapak Darah! Setelah kita men-jadi
sobat baik, aku tak pelit untuk memberikan ke-sempatan padamu membalaskan sakit
hati. Tapi, kau harus ingat kalau Putri Teratai Putih adalah bagian-ku!"
tandas Nambi
"Aku tak akan mencampuri urusanmu, Nambi. Yang penting
bagiku adalah Pendekar Naga Emas. Dan, setelah itu semuanya tak akan ku
pikirkan lagi!"
"Ha ha ha...!" Tawa Nambi terdengar semakin
ke-ras membahana.
***
8
"Bukankah itu si keparat Nambi, Kak," ujar Putri
Teratai Putih setelah memperhatikan bekas panglima kerajaan itu beberapa saat
lamanya.
"Benar, Teratai," Pendekar Naga Emas mengang-guk.
Dia tidak ingat lagi kalau Putri Teratai Putih telah mengubah panggilan
terhadap dirinya.
"Hati-hati terhadap kakek muka merah itu, Kak,"
ucap Putri Teratai Putih lagi. "Dia berjuluk Dewa Ta-pak Darah, kakak
seperguruan Pengemis Iblis Tanpa Tanding. Kepandaiannya luar biasa. Aku saja
mungkin telah tewas di tangannya kalau tidak keburu ditolong Dewa Arak "
"Aku tahu, Teratai. Aku telah bertarung dengan-nya.
Dia tidak terlalu berbahaya. Nambi masih lebih li-hai dari padanya," jelas
Pendekar Naga Emas.
Putri Teratai Putih melongo. Kalau saja bukan Pendekar Naga
Emas yang bicara, dia tak akan per-caya. Mungkinkah Nambi yang dulu
berkepandaian ala
kadarnya itu sekarang memiliki tingkat kepandaian di atas
Dewa Tapak Darah? Padahal, kakek bermuka me-rah itu saja sudah memiliki
kepandaian tak terukur!
"Menyingkirlah, Teratai," ujar Pendekar Naga Emas
sambil melangkah maju.
Pendekar yang pernah menjadi jago nomor satu pada jamannya
itu tahu kalau Putri Teratai Putih bu-kan tandingan dua lawan yang amat tangguh
itu. Pe-rasaan khawatir pun bersemayam di hati Kamandaka.
Pendekar Naga Emas tidak mengkhawatirkan ke-selamatan
dirinya, Yang menjadi pikirannya adalah Putri Teratai Putih! Karena, kalau
Nambi dan Dewa Tapak Darah bisa berlaku cerdik, keadaan akan men-guntungkan
mereka.
Apa yang dikhawatirkan Pendekar Naga Emas ter-nyata
beralasan! Nambi dan Dewa Tapak Darah telah cepat membaca kedudukan Pendekar
Naga Emas dan Putri Teratai Putih.
"Kau tangkap Putri Teratai Putih, Tapak Darah,"
beritahu Nambi "Sementara aku yang akan mengurus pendekar pengecut ini.
Tapi ingat, jangan buat putri itu terluka berat. Aku masih membutuhkannya.
Sete-lah kau lumpuhkan dia, kau masih mempunyai ke-sempatan membantuku
menghadapi Pendekar Naga Emas."
"Aku pun berpikir demikian, Nambi. Sebuah usul yang
bagus sekali!" sambut Dewa Tapak Darah.
Pendekar Naga Emas menggertakkan gigi. Di da-lam hati dia
memaki-maki kelicikan kedua lawannya. Tapi menyadari waktu yang amat sempit,
lelaki ini se-gera mendahului menyerang!
Pendekar Naga Emas yang telah tahu kalau lawan yang lebih
ringan adalah Dewa Tapak Darah, segera menyerang kakek itu. Tak tanggung-tanggung
lagi, Il-
mu Tangan Sakti Pedang Dan Golok yang menjadi an-dalannya
dipergunakan.
Bunyi berdesing tajam seakan-akan ada beberapa pedang dan
golok berkelebatan mencari mangsa ter-dengar ketika Pendekar Naga Emas
melancarkan se-rangan. Sinar kekuningannya menyelimuti sekujur ke-dua tangan
Kamandaka.
Dewa Tapak Darah tidak berani menangkis seran-gan Pendekar
Naga Emas yang berupa tusukan dan bacokan. Dia melompat ke belakang untuk
mengelak-kannya. Kakek ini tahu betul kedahsyatan serangan itu. Jangankan
terkena langsung, angin serangannya saja sudah cukup untuk membuat lawan yang
memili-ki tenaga dalam kurang kuat putus anggota tubuhnya.
Pendekar Naga Emas tak tinggal diam. Pendekar ini segera
memburu untuk melancarkan serangan su-sulan. Tapi, Nambi bertindak cepat.
Lelaki ini melom-pat menjegal gerakan Pendekar Naga Emas!
Plak, plakkk!
Bunyi berdetak keras terdengar ketika dua pasang tangan
berbenturan. Nambi berbeda dengan Dewa Ta-pak Darah. Bekas panglima kerajaan
ini tak sungkan-sungkan memapaki serangan Pendekar Naga Emas. Tak ada akibat
apa pun atas kedua tangannya, kecuali pada lengan-lengan bajunya yang robek
memanjang. Nambi memang memiliki tangan sekuat baja!
Saat Pendekar Naga Emas terhuyung ke belakang seperti
halnya Nambi akibat benturan keras itu, Dewa Tapak Darah melompat melewati
kepala sang pendekar dan menyerang Putri Teratai Putih.
Pendekar Naga Emas tak ingin hal itu terjadi. Ke-dua
cakarnya diayunkan memapaki melesatnya tubuh Dewa Tapak Darah. Tapi, baru
setengah jalan langsung diurungkan. Tubuhnya lalu dibanting ke tanah dan di-
gulingkan menjauh karena Nambi telah mengirimkan tendangan
bertubi-tubi!
Nambi benar-benar memenuhi janjinya untuk membuat Dewa
Tapak Darah bisa berurusan dengan Putri Teratai Putih. Bekas panglima kerajaan
ini melu-ruk menyerbu Pendekar Naga Emas dan menghuja-ninya dengan
serangan-serangan dahsyat
Pendekar Naga Emas tak mempunyai pilihan lain kecuali
memberikan perlawanan. Pertarungan yang kedua kali antara kedua musuh bebuyutan
itu ber-langsung.
Keberhasilan Nambi membuat Pendekar Naga Emas kerepotan
hingga Dewa Tapak Darah dapat den-gan leluasa berurusan dengan Putri Teratai
Putih. Sang Putrilah yang kewalahan. Dia pontang-panting ke sana kemari untuk
menyelamatkan diri. Pertarungan tak seimbang pun terpampang di depan mata,
Ternyata bukan hanya Pendekar Naga Emas dan Putri Teratai
Putih yang terlibat dalam pertarungan. Dewa Arak pun demikian. Malah, pemuda
berambut putih keperakan itu menghadapi seorang lawan yang amat tangguh!
Lawan Dewa Arak adalah seorang pemuda berpa-kaian kuning
yang bukan lain Reksanata. Pertarungan telah berlangsung sengit. Jarak
pertempuran dua orang muda ini dengan pertarungan Pendekar Naga Emas serta
Putri Teratai Putih tak lebih dari lima belas tombak
Pertarungan mereka kini sudah mencapai pun-caknya, Dewa
Arak menggunakan jurus 'Belalang Sak-ti'nya. Sementara Reksanata telah
menggunakan ilmu Tangan Sakti Pedang Dan Golok serta Naga Emas!
Di luar kancah pertarungan tampak berdiri seo-rang gadis
berpakaian merah yang bukan lain dari Pu-
tri Teratai Merah. Wajah gadis ini kelihatan agak pu-cat.
Terbayang kembali di benak gadis ini kejadian yang
dialaminya. Putri Teratai Merah tengah tercenung dengan pikiran kusut setelah
pusing memikirkan ma-salah Pendekar Naga Emas. Kenyataan betapa Kaman-daka yang
dikaguminya dan diharapkan dapat menjadi kawan tarung melawan Pendekar Naga
Emas ternyata si pendekar itu sendiri.
Berbagai macam perasaan berkecamuk di benak Putri Teratai
Merah. Rasa marah, malu, dan sedih dan merasa dipermainkan. Perasaan-perasaan
itu mem-buat Putri Teratai Merah terguncang batinnya. Selama berhari-hari dia
melanjutkan perjalanan dengan benak kusut
Sesampainya di tempat ini Putri Teratai Merah bertemu
dengan Reksanata. Pemuda sombong ini ru-panya tertarik melihat gadis cantik
duduk termenung seorang diri, Putri Teratai Merah digodanya!
Putri Teratai Merah yang memang sedang tidak tenang hati
segera menimpalinya dengan marah. Bah-kan, pertarungan antara mereka pun
terjadi.
Tapi, Putri Teratai Merah hanya besar marahnya saja.
Kemampuan yang dimilikinya tak sebesar kema-rahannya. Dengan mudah Reksanata
menangkap se-tiap serangannya. Serangan-serangan Putri Teratai Me-rah tanpa
menemui kesulitan sama sekali berhasil di-elakkan Reksanata.
Sebaliknya, setiap serangan sembarangan Reksa-nata membuat
Putri Teratai Merah pontang-panting menyelamatkan diri. Benturan tangan antara
mereka membuat tubuh gadis itu terhuyung-huyung dengan tangan sakit. Malah,
beberapa kali tubuh Putri Teratai Merah terguling-guling ketika Reksanata mengibaskan
tangan.
Di saat itulah Dewa Arak muncul. Tanpa pikir panjang lagi
pemuda berambut putih keperakan itu segera menerjang Reksanata. Telah
diketahuinya kalau Reksanata, meski tak jahat, tapi tidak berdiri di pihak yang
benar. Maka, Arya berpihak pada Putri Teratai Merah. Arya menduga gadis itu
adalah putri dari Putri Teratai Putih, kendati dia belum pernah melihatnya.
Reksanata yang memang mendendam pada Dewa Arak
menyambutinya dengan penuh semangat. Pemu-da sombong yang telah sembuh dari
luka parahnya itu mengerahkan seluruh kemampuannya. Reksanata be-lum yakin
kalau dirinya kalah oleh Dewa Arak. Perta-rungan pun berlangsung hebat
Jalannya pertarungan tidak diam di tempat. Sedi-kit demi
sedikit bergeser ke tempat Pendekar Naga Emas dan Putri Teratai Putih. Dilain
pihak, pertarun-gan Pendekar Naga Emas dan Putri Teratai Putih pun bergeser ke
tempat di mana Dewa Arak bertarung.
Putri Teratai Merah yang merasa tertarik dengan pertarungan
itu tanpa sadar mengikuti bergesernya arena pertarungan. Dan gadis ini terkejut
bukan main ketika melihat Putri Teratai Putih tengah didesak hebat oleh Dewa
Tapak Darah.
Kakek bermuka merah ini memang memiliki wa-tak licik! Kalau
dikerahkan seluruh kemampuannya sebenarnya Putri Teratai Putih telah roboh
sejak tadi. Tapi bila hal itu terjadi Nambi yang akan beruntung. Bekas panglima
kerajaan itu akan segera terbantu da-lam menghadapi Pendekar Naga Emas.
Dewa Tapak Darah sengaja membiarkan Nambi berjuang keras
menghadapi Pendekar Naga Emas. Nambi yang cerdik tentu saja tahu hal itu. Tapi
dia ti-dak berkata apa-apa. Di samping karena memang tak
sempat, dia juga tak mau.
Meski mulutnya diam, tapi hati Nambi mengutuk Dewa Tapak
Darah habis-habisan. Bahkan, bekas panglima kerajaan ini berjanji akan membalas
perbua-tan Dewa Tapak Darah.
Sementara itu Putri Teratai Merah yang melihat Putri
Teratai Putih tengah didesak hebat tanpa banyak pikir lagi segera mencabut
pedang pendeknya dan ikut terjun dalam kancah pertarungan. Ikut campurnya
Pu-tri Teratai Merah membuat keadaan Putri Teratai Putih tidak terlalu
mengkhawatirkan.
"Jangan takut Putri, aku membantu...!" seru Putri
Teratai Merah seraya menghujani Dewa Tapak Darah dengan serangan-serangan
mematikan.
"Bagus, Teratai Merah," puji Putri Teratai Putih
dengan penuh semangat dan gembira. "Kita habisi ka-kek bermuka aneh
ini!"
Dewa Tapak Darah sekarang terpaksa harus me-nyesali
tindakannya yang main-main. Munculnya Putri Teratai Merah membuat kedudukan
kedua lawannya itu luar biasa kuat. Kakek ini tak tahu kalau ini meru-pakan
keistimewaan ilmu yang dimiliki Sepasang Ma-laikat! Putri Teratai Putih
mendapatkan ilmu-ilmu yang bersifat lembut. Sedangkan Putri Teratai Merah
sebaliknya. Bila hanya dihadapi seorang saja, ilmu-ilmu itu tak terlalu
dahsyat. Tapi bila sudah bersatu, menjadi satu kekuatan yang besar.
Putri Teratai Putih dan Putri Teratai Merah mam-pu bekerja
sama dengan baik. Mereka berdua bisa sal-ing melengkapi. Saling menutupi
kelemahan masing-masing. Sebaliknya, serangan-serangan yang dilancar-kan
semakin bertambah kedahsyatannya!
Dewa Tapak Darah harus menelan kenyataan pa-hit kalau
dirinya tak mampu berbuat banyak. Seran-
gan-serangannya kandas. Sebaliknya, serangan-serangan balasan lawan
membuatnya kelabakan.
Tidak hanya Dewa Tapak Darah, Nambi pun de-mikian. Setelah
bertarung puluhan jurus dia harus mengakui keunggulan Pendekar Naga Emas.
Lelaki ini terus terdesak secara hebat
Hal yang sama pun dialami pula oleh Reksanata! Pemuda
sombong ini harus mengakui kenyataan kalau Dewa Arak terlalu tangguh untuknya.
Semula, bebera-pa kali Dewa Arak harus mengeluarkan seruan kaget karena
serangan-serangannya menyeleweng sebelum mencapai sasaran. Ada daya tolak yang
luar biasa kuat berasal dari sinar kuning keemasan di sekujur tubuh Reksanata.
Tapi seiring dengan semakin lemahnya tenaga ka-rena terlalu
lama bertarung, sinar kuning keemasan yang memancar dari sekujur tubuh
Reksanata memu-dar. Hal itu membuat tenaga tolakannya tidak terasa lagi oleh
Dewa Arak.
Kelelahan yang dialami Reksanata tidak diderita Dewa Arak.
Pemuda berambut putih keperakan masih tetap seperti sedia kala.
Serangan-serangan yang di-lancarkannya masih mengandung tenaga dalam pe-nuh.
Itu karena pengaruh arak yang ditenggaknya da-lam pertarungan. Arak yang
berasal dari yang tersam-pir di punggungnya itu mampu membuat tenaga Arya yang
susut pulih kembali.
Karena itu, menginjak pada jurus ketujuh puluh lima,
perlahan-lahan Dewa Arak mulai bisa mengenda-likan jalannya pertarungan. Lambat
tapi pasti dia mu-lai berada di atas angin. Dan sekarang Reksanata tam-pak
lebih banyak mengelak daripada melancarkan se-rangan.
Bukkk!
Reksanata memekik tertahan ketika pukulan tan-gan kanan
Dewa Arak menghantam bahu kanannya. Tubuh Reksanata langsung terhuyung-huyung.
Dari mulutnya mengalir darah segar. Pemuda sombong itu agaknya terluka dalam.
"Jangan bunuh dia...!" .
Dua buah suara yang dikeluarkan hampir berba-rengan membuat
Dewa Arak menghentikan gerakan-nya. Pemuda berambut putih keperakan ini
bermak-sud ingin melumpuhkan Reksanata agar pemuda som-bong itu tidak terus
mengajaknya bertarung.
Arya mengalihkan pandangan ke arah asal suara. Dilihatnya
dua orang kakek, salah satu di antaranya telah dikenalnya sebagai Malaikat
Merah dan seorang kakek lain berpakaian putih yang diduga Arya sebagai Malaikat
Putih, berdiri tak jauh darinya.
Bertepatan dengan munculnya pimpinan Perkum-pulan Sepasang
Malaikat itu terdengar dua jeritan me-nyayat hati yang disusul dengan
melayangnya dua so-sok tubuh.
Sosok yang pertama kali menjerit adalah Nambi. Tubuh lelaki
ini melayang keras ke belakang karena tendangan Pendekar Naga Emas menghantam
dadanya secara telak. Darah menyembur deras dari mulutnya akibat tulang-tulang
dadanya yang hancur berantakan! Nyawa bekas panglima kerajaan ini melayang saat
itu juga sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
Jeritan kedua berasal dari mulut Dewa Tapak Da-rah. Itu
terjadi akibat serangan-serangan Putri Teratai Putih dan Putri Teratai Merah.
Pedang Putri Teratai Putih menembus perut hingga ke punggung Dewa Ta-pak Darah.
Sedangkan pedang Putri Teratai Merah me-robek punggungnya mendatar dan lebar.
Dewa Tapak Darah menggelepar meregang maut
sebelum akhirnya ambruk ke tanah. Hampir bersa-maan Putri
Teratai Putih dan Putri Teratai Merah menghela napas lega. Mereka lalu
menyarungkan pe-dangnya kembali ke dalam warangkanya di punggung.
Senyum Putri Teratai Merah memudar ketika be-radu pandang
dengan Pendekar Naga Emas. Pendekar yang dicapnya pengecut itu menyunggingkan
senyum. Putri Teratai Merah malah membuang muka. Karuan saja Putri Teratai
Putih yang melihat hal itu menjadi heran. Tapi, tidak diutarakannya.
"Ayah...! Paman...! Terimalah hormatku...," ucap
Putri Teratai Putih memberi hormat
"Guru...!" Putri Teratai Merah tak ketinggalan.
"Selamat berjumpa lagi, Paman Banyak Catra,
Paman Banyak Ngampar," Kamandaka ikut serta memberi
salam.
Banyak Catra dan Banyak Ngampar tersenyum dan menganggukkan
kepala
"Selamat berjumpa lagi, Kamandaka," Banyak Ca-tra
yang mewakili memberikan sambutan. "Kulihat kau banyak mengalami
perubahan. Pasti karena peristiwa di masa lalu."
Kamandaka tersenyum pahit
"Semula kukira kau telah beristri dan melahirkan
seorang anak yang bernama Reksanata. Tapi ternyata tidak. Kakang Banyak Ngampar
yang membuat sega-lanya menjadi jelas," Banyak Catra melanjutkan
uca-pannya sambil menoleh ke arah kakak seperguruan-nya. Kakek berpakaian putih
itu hanya tersenyum sa-ja.
"Kalau tak ada Kakang Banyak Ngampar, mungkin kita
akan terus terlibat dalam salah paham. Kau, Rek-sanata! Kau patut mendengar
cerita ini karena ini ada hubungannya dengan riwayat hidupmu."
Reksanata hanya membisu. Pemuda ini masih terpukul karena
kekalahannya dengan Dewa Arak. Dan, kekalahan yang kedua kali itu membuat
kesom-bongannya berkurang banyak
"Apa yang akan kuceritakan ini tak ada orang yang
tahu," ujar Banyak Catra pada putrinya.
Putri Teratai Putih dengan perasaan tegang me-nunggu cerita
ayahnya. Sempat dilihatnya Kamandaka sekilas. Wajah lelaki itu pun tampak
tegang. Rupanya, apa yang akan diceritakan Banyak Catra amat mende-barkan
hatinya.
"Dua puluh tahun lebih yang lalu Putri Teratai Pu-tih
melahirkan. Anak itu kemudian aku yang menga-suhnya untuk menjaga nama baik
Putri Teratai Putih."
Sesampainya Banyak Catra bercerita pada bagian ini, Putri
Teratai Merah yang semula kurang tertarik merasakan dadanya bagai di tumbuk
pohon besar. Dia mulai menduga-duga hal yang terjadi selanjutnya.
Dengan jantung berdetak kencang Putri Teratai Merah
mendengarkan penuturan Banyak Catra.
"Anak yang ternyata perempuan itu akhirnya be-sar
dalam asuhanku. Ibunya, Putri Teratai Putih sering menjenguknya. Bahkan Ibunya
yang memberi nama Putri Teratai Merah. Nah, Teratai Merah, Putri Teratai Putih
itu adalah Ibu kandungmu sendiri. Berilah hor-mat padanya."
"Ibu...!" Putri Teratai Merah, gembira bercampur
kaget. Gadis ini terharu dan gembira mendengar berita kalau Putri Teratai Putih
adalah ibunya.
"Teratai Merah, Anakku," sambut Putri Teratai
Pu-tih dengan suara terisak. Wanita ini merasa terharu karena akhirnya dia
dapat memanggil anaknya seba-gaimana layaknya seorang ibu.
Ibu dan anak ini pun berpelukan erat dalam ke-
rinduan yang besar.
Putri Teratai Merah menatap Kamandaka dengan mata
membelalak. Masalahnya, dia telah bertekad un-tuk menghukum sang pendekar! Tapi
apa lacur pende-kar itu ternyata ayahnya.
"Reksanata pun tak bersalah! Dia korban siasatku dan
Naga Emas guru dari Pendekar Naga Emas. Kami berdua tahu kalau Pendekar Naga
Emas dan Putri Te-ratai Putih saling mencintai. Maka, kami mengatur sia-sat
untuk menyatukan mereka,"
Banyak Ngampar menelan air liur untuk memba-sahi
tenggorokannya yang kering.
"Kebetulan Naga Emas, sahabat akrabku itu, mempunyai
murid. Bersama-sama kami bentuk dia mirip dengan Pendekar Naga Emas. Ini kami
lakukan agar Pendekar Naga Emas muncul. Kami berikan kete-rangan-keterangan
palsu tanpa setahunya. Ini jelas Reksanata tak bersalah!"
Reksanata merasa terpukul bukan main. Dia malu atas
tindakannya. Sambil menggeleng-gelengkan kepa-la dia membalikkan tubuh dan
berlari meninggalkan tempat itu. Putri Teratai Merah ikut berlari meninggal-kan
tempat itu pula.
"Teratai...!" panggil Putri Teratai Putih seraya
ber-gerak untuk mengejar putrinya yang memberontak da-ri pelukannya dan kabur.
Tapi, tindakan itu segera di-tahannya ketika mendengar ucapan Banyak Catra,
"Tak usah dikejar, Putih. Batin mereka masih
ter-guncang. Beri mereka kesempatan untuk berpikir dan menenangkan hati."
"Tapi, Paman Banyak Catra," kesempatan itu
di-pergunakan oleh Kamandaka untuk mengajukan per-tanyaan. "Bagaimana
mungkin kami bisa mempunyai anak. Aku... maksudku.... Aku tak akan bisa menda-
patkan keturunan. Ilmu Naga Emas membuat cairan
kejantananku tidak subur. Dan...."
Banyak Catra tersenyum bijaksana. Kesempatan itu
dipergunakan Arya untuk minta izin meninggalkan tempat itu. Disadarinya kalau
dirinya sudah tidak di-perlukan lagi kehadirannya.
Banyak Catra, Pendekar Naga Emas, Banyak Ngampar, dan
terutama sekali Putri Teratai Putih, me-lepas kepergian Dewa Arak dengan ucapan
maaf dan berterima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolon-gan yang telah
diberikan.
"Aku tahu hal itu, Kamandaka. Aku mengenal il-mumu
sebagai ilmu sesat yang mampu membuat pe-miliknya kehilangan kesuburan pada
cairan kejanta-nannya alias mandul. Oleh karena itu, kau kujamu se-habis kita
tewaskan datuk-datuk sesat itu. Kuberikan kau ramu-ramuan yang membuat cairan
kejantanan-mu subur kembali. Kau tak tahu itu karena tak ber-bau, berasa, atau
berwarna. Selama seminggu kau ku-cekoki minuman itu," lanjut Banyak Catra
meneruskan keterangannya yang tadi terputus oleh permintaan mohon diri Dewa
Arak.
Kamandaka menghela napas berat. Tidak dipung-kirinya
kejadian itu. Keterangan Banyak Catra me-mang masuk akal.
"Sekarang," tambah Banyak Catra lagi "Sudah
me-rupakan kewajiban kalian untuk menikah. Adi Banyak Santang sudah tak ada.
Jadi, orang yang menentang hubungan kalian tak ada. Jangan lupa dengan anak
kalian. Nah! Kami pergi!"
Kamandaka dan Putri Teratai Putih hanya sempat mengangguk
ketika Banyak Catra dan Banyak Ngam-par melesat meninggalkan tempat itu.
Keduanya ber-pandangan dengan hati gembira. Penghalang cinta ka-
sih mereka memang sudah tak ada. Penghalang yang
menyebabkan Pendekar Naga Emas meninggalkan ke-kasihnya tanpa pamit Prabu
Banyak Santang menen-tang hubungan cinta mereka karena hendak menjo-dohkan
Putri Teratai Putih dengan seorang pangeran.
Entah siapa yang lebih dulu bergerak. Yang jelas, tahu-tahu
tubuh Pendekar Naga Emas dan Putri Tera-tai Putih telah saling berpelukan.
Kerinduan yang ter-pendam puluhan tahun dilampiaskan saat itu. Mereka tak ingat
lagi pada Reksanata dan Putri Teratai Merah. Lagi pula, mereka yakin tak lama lagi
kedua orang muda itu akan kembali.
SELESAI
No comments:
Post a Comment