SETAN
BONGKOK
1
"Siluman
Harimau...! Manusia licik...! Jangan lari kau…!"
Seorang
kakek berpakaian putih berteriak-teriak mengayunkan kaki berlari cepat.
Sosok yang
disebut Siluman Harimau tampak tidak mempedulikan teriakan itu. Bahkan, menoleh
pun tidak. Dia terus berlari cepat
Kakek
berpakaian putih yang bertubuh jangkung dan bermuka pucat menggertakkan gigi.
Ia geram bukan main. Sorot matanya yang tertuju pada Siluman Harimau
menyiratkan kemarahan besar. Sepasang matanya yang sipit semakin bertambah
sipit. Kakek itu meengerahkan seluruh ilmu larinya.
Tapi, usaha
kakek berpakaian putih hampir tidak berarti. Meski lari kakek ini cepat bukan
main sehingga tubuhnya terlihat sebagai kelebatan saja, jarak antara mereka
tidak berubah. Siluman Harimau juga memiliki kecepatan lari yang menakjubkan.
Kedua kakinya seperti tidak menjejak tanah karena cepatnya digerakkan
Sebentar
kemudian, jarak telah terlampaui ratusan tombak. Meski begitu, kakek berpakaian
putih tetap belum bisa merubah jarak. Kakek ini semakin geram. Beberapa kali
kedua tangannya dihentakkan bergantian ke depan. Angin luar biasa keras
berhembus ke arah Siluman Harimau. Tapi, serangan itu dengan mudah dipatahkan.
Siluman Harimau melompat ke atas sehingga angin deras itu lewat di bawah kedua
kakinya.
Kakek
berwajah pucat ini berseri wajahnya ketika melihat bukit-bukit kapur terhampar
di depannya. Arah yang dituju si kakek dan Siluman Harimau memang puncak
gunung. Mereka kini tengah berlari cepat di lerengnya. Lereng Gunung Kidul!
Si kakek
kembali menghentikan kedua tangannya. Seperti yang diduganya, Siluman Harimau
kembali melompat ke atas hingga pukulan jarak jauh itu lewat di bawah kedua
kakinya. Tapi, begitu Siluman Harimau menjejakkan kaki di tanah, sesuatu yang
direncanakan kakek berpakaian putih
pun
terjadi. Batu-batu kapur sebesar kepala kerbau yang terkena pukulan jarak jauh
kakek berpakaian putih meluncur ke arah Siluman Harimau dan kakek itu.
Siluman
Harimau tidak menjadi gugup.Dia menggeram keras laksana seekor harimau murka.
Batu-batu yang mengancamnya berpentalan ke berbagai arah sebelum berhasil
menyentuh kulit tubuhnya, seakan di sekitar tubuh Siluman Harimau memancarkan
kekuatan menolak yang luar biasa!
Kakek
berpakaian putih tidak menjadi kecil hati. Dia tahu batu-batu itu tak akan
dapat melukai, apalagi sampai membunuh Siluman Harimau. Tokoh itu memiliki kepandaian tinggi. Jadi, tak
akan semudah itu ditaklukkan.
Tindakan
tadi dilakukan si kakek hanya untuk menghambat lari Siluman Harimau. Waktu yang
hanya sekejap itu telah membuat si kakek berhasil menyusul lawannya.
"Hendak
lari ke mana lagi kau, Siluman licik?!" ejek kakek berpakaian putih.
Siluman
Harimau yang juga seorang kakek, hanya saja bertubuh tinggi besar, menatap
kakek berpakaian putih yang telah berada di depannya. Dua pasang mata saling
berpandangan dengan sorot penuh tantangan. Sikap mereka tak ubahnya dua ekor
ayam jago yang hendak berlaga.
"Ha ha
ha...!" Tawa bergelak dikeluarkan Siluman Harimau. Tawa yang membuat
tubuhnya berguncang-guncang. Wajahnya yang memang mirip wajah harimau, apalagi
dengan adanya dua buah taring di sudut-sudut mulutnya, terlihat menyeramkan dan
menggiriskan hati. "Rupanya kau sudah ingin melihat alam kubur, Donggala?
Kalau belum, mumpung aku belum kehilangan kesabaran, cepat menyingkir dari hadapanku!"
"Aku
akan menyingkir apabila kau mengembaliain kitab milik majikanku, dengan
ditambah sebelah taringmu atas kekurangajaranmu mempermainkanku, Siluman Harimau!" tandas Donggala,
dingin.
Tawa
Siluman Harimau semakin keras. Ancaman Donggala dianggapnya lelucon. Kakek
bermuka harimau ini tidak marah atau pun tersinggung. Wataknya yang periang
membuatnya tidak mudah dipengaruhi amarah.
"Kau
lucu, Donggala. Ingin kulihat berapa tebal kulit wajahmu sehingga kau begitu
tak tahu malu menyebut-nyebut tua bangka yang bernasib malang itu sebagai
majikanmu! Kau yang telah diperlakukannya dengan baik malah mencelakai dan
mencuri kitabnya! Seekor anjing pun tak akan bertindak sekeji itu pada tuannya,
Donggala! Kau lebih hina dari pada seekor anjing! Kitab ini tak akan kuberikan
padamu! Sekarang kau mau apa?!"
Donggala
menggertakkan gigi. Ucapan
Siluman Harimau jelas-jelas merupakan tantangan. Tidak ada pilihan baginya
untuk mendapatkan kitab itu kembali kalau tidak melalui perkelahian.
"Kalau
itu maumu, aku tidak punya pilihan lain! Kau yang memaksaku untuk menjadikanmu
harimau mati! Aku tidak akan berlaku lunak lagi padamu, Siluman Harimau! Mulai
sekarang kau bukan rekanku lagi!" tandas Donggala, keras.
Siluman
Harimau kembali tertawa keras. Ancaman Donggala tidak membuatnya gentar. Bahkan
tawanya berkesan melecehkan.
"Pada
orang lain kau mungkin bisa mengucapkan kata-kata palsu seperti itu, Donggala.
Tapi tidak padaku! Orang macam kau mana bisa dipercaya?! Jangankan aku yang
tidak pernah menanam budi padamu, majikanmu yang demikian baik hati padamu saja
kau balas dengan perbuatan keji!"
Hanya
sampai di situ kata-kata Siluman Harimau. Donggala dengan kemarahan yang
meluap-luap telah mendorongkan kedua tangannya bergantian ke depan secara
perlahan. Angin dingin yang diiringi bau busuk menyengat berhembus ke
arahSiluman Harimau.
"Ilmu
'Pukulan Racun Bunga Salju'...," desis Siluman Harimau begitu merasakan
akibat pukulan Donggala. "Rupanya kau masih ingat ilmu jelekmu itu,
Donggala, kendati kau lama menjadi budak tua bangka yang telah kau khianati
itu...!"
Siluman
Harimau melompat ke belakang. Ia bersalto beberapa kali untuk menjauhi
Donggala. Kedua tangannya dipukulkan bertubi-tubi ke depan secara cepat.
Seketika deru angin berhawa panas disertai bau sangit menguak. Bunyi letupan
terdengar begitu dua angin pukulan itu bertemu di
udara.
Titik-titik air berjatuhan. Tanah kapur yang semula putih kekuningan langsung
berubah hitam pekat seperti terbakar ketika terkena tetesan air.
Donggala,
yang seperti juga Siluman Harimau, terhuyung-huyung ke belakang akibat benturan
itu. Ia mendengus mengejek.
'"Pukulan
Seribu Macan Api'-mu masih cukup bagus, Siluman Harimau...!"
Meski
kelihatan seperti memuji, Siluman Harimau tahu kalau Donggala mengejeknya.
Tapi, dia malah tertawa. Tawa yang lebih mirip auman seekor harimau!
Donggala
menyambut tawa itu dengan terjangan. Ia mempergunakan 'Ilmu Pukulan Racun Bunga
Salju' yang menjadi andalan. Siluman Harimau menyambutinya.
Pertarungan antara mereka pun tidak bisa dielakkan lagi.
Dua tokoh
itu sama-sama lihai. Mereka mempunyai ilmu yang memiliki dasar tenaga dalam
berlawanan. Jalannya pertarungan tampak seru sekali. Siluman Harimau
mempunyai gerakan yang cepat dan liar serta penuh dengan penyerangan.
Sebaliknya, Donggala lebih memusatkan pada pertahanan. Gerakannya lambat tapi
penuh dengan tenaga!
Sebentar
saja belasan jurus telah terlampaui. Selama itu jalannya pertarungan belum
berubah. Dua kakek itu sama-sama tangguh!
***
"Donggala...!
Manusia tak kenal budi! Kau harus mendapat hukuman atas kekejian yang kau
lakukan terhadap Guru...!"
Seruan
lantang penuh getaran kemarahan itu berkumandang. Keras dan berpengaruh hebat!
Dinding-dinding kapur sampai bergetar keras. Pertarungan antara Donggala dan
Siluman Harimau langsung terhenti. Kedua kakek itu bersamaan melompat mundur
dan mengalihkan perhatian pada si pendatang baru.
"Kiranya
kau, Lesmana. Sungguh besar nyalimu mengejarku, Bocah Bau Kencur? Pergilah
cepat! Tinggalkan tempat ini! Atau, kau ingin kujadikan seperti tua bangka
dungu yang menjadi gurumu itu...!" sahut Donggala dengan sikap meremehkan.
Pemilik
seruan, Lesmana, seorang pemuda bertubuh tegap, dan berahang kokoh, mengepalkan
tinju. Sepasang matanya menatap tajam ke arah Donggala, bak mata seekor burung
elang mengincar mangsa! Tajam bukan main dan penuh ancaman!
"Kaulah
yang akan kuseret ke hadapan Guru untuk mempertanggungjawabkan perbuatan biadabmu. Cepat serahkan Kitab Seribu
Racun Tanpa Obat! Jangan tunggu sampai aku merampasnya darimu!"
"Ha ha
ha...!" Siluman Hanmau tertawa bergelak. Kakek itu kelihatan gembira
sekali. "Donggala..., Donggala... Nasibmu jelek sekali. Seorang bocah yang
baru lepas dari tetek ibunya berani mengancammu seperti itu!"
"Tutup
mulutmu, Siluman Harimau!" sentak Donggala dengan wajah merah padam menahan
amarah.
"Setelah
menghancurkan mulut bocah yang kurang ajar ini, kau pun akan kubereskan!"
Wajah Lesmana berubah. Ditatapnya Siluman Harimau. Dia telah mendengar
banyak tentang tokoh itu. Seorang pentolan kaum sesat yang memiliki kepandaian
amat tinggi. Kejam dan memiliki ilmu racun hebat! Jantung Lesmana berdebar
tegang.
"Kau
kelihatan kaget mendengar ucapanku, Bocah Sombong?!" dengus Donggala.
"Tak menyangka kau akan bertemu dengan Siluman Harimau? Sebagai tambahan
dan untuk menghilangkan kesombonganmu, kuberitahu kalau aku saingan terberat
Siluman Harimau. Aku yakin tua bangka gila yang dungu itu telah bercerita
banyak padamu!"
"Siapa
kau sebenarnya, manusia tak kenal budi...?!" "Orang yang kau kenal
selama ini sebagai Donggala
tak lain
dari Mayat Sejuta Bunga, Pemuda Ingusan...!" selak Siluman Harimau sebelum
Donggala memberikan jawaban.
Lesmana
terjingkat ke belakang saking kagetnya. Dengan pandangan tak percaya ditatapnya
Donggala. Kakek itu hanya mendengus.
"Sekarang
tidak ada gunanya lagi, Pemuda Sombong! Meski kau merangkak-rangkak memohon
ampun, aku tidak akan memenuhinya. Kesempatan yang tadi kuberikan tidak kau
gunakan. Bersiaplah menerima kematian! Tapi, bisa jadi aku akan membiarkanmu
pergi dari sini. Tentu saja dengan satu syarat! Kau harus memaki-maki gurumu.
Dengan begitu
mungkin aku akan memperbincangkan untuk tidak
membunuhmu. Mungkin hanya kedua kakimu yang kuambil. Bagaimana?!"
"Sampai
mati pun aku tidak sudi! Jangan kau kira aku takut. Apa pun yang terjadi kau
akan kubawa ke hadapan guruku, Donggala!"
"Kalau
begitu, mampuslah...!"
Donggala
alias Mayat Sejuta Bunga membuka serangan dengan ilmu andalan. Lesmana tidak
gentar. Pemuda ini berteriak keras bagai garuda murka. Tangannya didorongkan ke
depan.
Tidak hanya
Mayat Setuju Bunga, Siluman Harimau pun kaget melihat angin serangan Donggala
terhempas balik. Siluman Harimau sendiri tidak mampu melakukan hal itu!
Mayat
Sejuta Bunga marah bukan main. Ia merasa malu melihat hasil serangannya.
Serangan yang lebih hebat pun dilancarkan. Tapi, Lesmana memang seorang pemuda
luar biasa. Dia mampu menghadapinya dengan baik.
Setelah
lima belas jurus pertarungan berlangsung, Mayat Sejuta Bunga kehabisan
kesabaran. Ilmu andalannya penuh keistimewaan. Kekuatan tenaga dalam Lesmana
membuat serangannya membalik sebelum mendekati sasaran. Malah, beberapa
kali Mayat Sejuta Bunga sendiri yang mengisap hawa beracun dari serangannya.
Tentu saja sebagai pemiliknya hal itu tidak berarti apa-apa.
Siluman Harimau kendati terkejut melihat
kemampuan Lesmana, tak henti-hentinya mengeluarkan ejekan terhadap saingannya.
Hal ini membuat kemarahan Mayat Sejuta Bunga semakin berkobar. Karena yakin
Mayat Sejuta Bunga tidak akan bisa merobohkan Lesmana dengan cepat, Siluman Harimau dengan sikap seenaknya meninggalkan tempat itu. Mayat
Sejuta Bunga geram bukan main. Tapi, apa dayanya? Lesmana tidak membiarkan dia
meninggalkan kancah pertarungan.
Mayat
Sejuta Bunga hanya bisa melihat sekejap kepergian Siluman Harimau. Kecil sekali
kemungkinannya kitab yang dibawa Siluman Harimau dapat direbutnya. Itu terjadi
karena kehadiran Lesmana. Maka, kepada pemuda itu luapan amarahnya
dilampiaskan!
Mayat
Sejuta Bunga melempar tubuh ke belakang menjauhi Lesmana. Pemuda itu mengejar
seraya bersiap
melancarkan
serangan. Mayat Sejuta Bunga yang telah memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan,
langsung bertindak.
Kakek
berpakaian putih ini menarik napas dengan kedua tangan dirangkapkan ke depan
dada. Kemudian, cepat dihembuskannya. Wangi bunga yang aneh menyebar dari
sekujur tubuh kakek itu. Lesmana yang tidak memperhitungkan hal ini
segera menahan napas. Namun, tindakan pemuda ini terlambat. Bau wangi itu
keburu dihisapnya. Seketika rasa pusing menyergap. Tenaganya langsung lenyap.
Tubuh Lesmana ambruk sebelum serangannya dirampungkan!
Mayat
Sejuta Bunga menghembuskan napas berat. Itulah ilmu yang membuatnya dijuluki
Mayat Sejuta Bunga. Sebuah ilmu yang hanya digunakan dalam keadaan terjepit.
Bila lawan mampu segera menangkalnya, dia yang akan kehabisan tenaga. Ilmu itu
memang banyak menguras tenaga.
Mayat Sejuta Bunga menghampiri Lesmana.
Kemudian, ujarnya dengan sinis dan penuh ancaman.
"Kau
akan menerima ganjaran atas perbuatanmu yang sok pahlawan, Pemuda
Sombong!"
***
"Sebenarnya
untuk apakah kita ke sana, Nek? Bukankah lebih enak tinggal di tempat kita.
Berhari-hari sudah kita melakukan perjalanan dan kau hanya
menyebutkan nama tempat itu, tanpa kutahu maksud dan kepergian kita ke
sana," ucap seorang gadis cantik dengan penuh penasaran.
Sang nenek yang menjadi tumpahan kekurangsenangan gadis
berpakaian kuning itu hanya terkekeh pelan. Dia terus saja mengayunkan kaki
dengan dibantu tongkat bututnya. Di sebelah si nenek, gadis berpakaian kuning
menunggu jawaban dengan perasaan tidak sabar yang terlihat jelas di wajahnya.
Tingkah
sang nenek yang beranting-anting sebesar gelang dan berpakaian hitam membuat si
gadis tidak sabar lagi. Ia rupanya memiliki watak manja. Dengan mulut
meruncing,
menunjukkan bibirnya yang indah dan ranum, si gadis menghentikan langkah.
"Mengapa
berhenti, Cendana?" tanya si nenek pelan, sarat dengan kasih sayang. Ia
sedikit pun tidak marah melihat sikap si gadis. Si nenek berhenti melangkah.
Beberapa tindak di depan Cendana, tubuhnya dibalikkan. "Dalam beberapa
hari kita akan sampai di sana. Ayo, teruskan perjalanan."
"Tidak!"
bantah Cendana dengan mulut cemberut "Sebelum Nenek memberikan penjelasan
kepadaku mengenai kepergian kita, aku tidak akan beranjak dari sini!"
Cendana
menguatkan tekadnya dengan duduk di tanah. Kedua kakinya terjulur. Ia tak
peduli tindakan itu membuat celananya kotor.
Si nenek
menghela napas berat. Didekatinya Cendana. Gadis itu berpura-pura tidak
melihat. Sepasang matanya yang bening indah dilayangkan ke sekitarnya, yang
terlihat hanya batu kapur.
"Baiklah, Cendana.Aku akan memenuhi permintaanmu."
"Nah!
Begitu dong, Nek. Nenek memang bijaksana. Aku yakin Nenek akan memenuhi
permintaanku!" sambut Cendana dengan gembira. Ia bangkit berdiri dan
mencium pipi si nenek
Sang nenek
terkekeh pelan hingga kelihatan bagian mulutnya yang sudah tidak bergigi lagi.
"Kau
memang pandai membuat orang menuruti kehendakmu, Cendana," tegur si nenek
yang ditanggapi Cendana dengan tawa. "Dengar baik-baik," si nenek
mulai dengan penjelasannya. "Kita akan pergi ke Puncak Bukit Angsa, di balik
Gunung Kidul ini, untuk menemui seorang pendekar besar berilmu tinggi, yang
disegani belasan tahun lalu. Sayang, pendekar ini memiliki satu cacat."
Cendana
mengernyitkan kening. Dirasakan ada keluhan di dalam suara si nenek. Cendana
adalah seorang gadis yang cerdik. Dia segera dapat menduga kalau si nenek
memiliki hubungan yang cukup erat dengan sang pendekar.
"Pendekar
itu tak boleh melihat jidat licin," sambung si nenek dengan nada getir.
"Jidat
licin, Nek? Apa itu?" tanya Cendana bingung. Si nenek terkekeh. Geli
melihat kepolosan muridnya.
"Cendana...
Cendana.... Jidat licin itu, maksudnya wanita cantik."
Cendana mengangguk-anggukkan kepala sambil membulatkan bibirnya.
"Apakah
aku termasuk jidat licin, Nek?"
"Bukan
saja licin, Cendana. Tapi, sangat licin!" tandas si nenek "Kau tahu,
Cendana. Kau memiliki wajah yang amat cantik. Yakin kau akan menjadi rebutan
para pemuda."
"Mereka
akan terkaing-kaing pergi dariku, Nek!" sahut Cendana.
"Heh?
Mengapa begitu, Cendana?!"
"Aku
tak mau direbut-rebutkan. Aku kan bukan benda atau makanan. Lagipula, aku lebih
suka tinggal bersama Nenek. Nenek kan sudah tua. Siapa lagi yang akan merawat
Nenek kalau bukan aku!"
Sang nenek
terkekeh geli. Kepalanya digoyang-goyangkan sehingga sepasang antingnya
terayun-ayun
"Percayalah,
Cendana. Kau tak akan bisa mengingkari kodrat. Akan tiba masanya kau jatuh hati
pada lelaki. Dan...."
"Sudahlah,
Nek. Aku jemu mendengar tentang lelaki! Aku lebih suka kau ceritakan tentang
maksud kepergian kita!" potong Cendana yang merasa kurang senang mendengar
uraian sang Nenek.
"Baiklah, Cendana."Nenek berpakaian hitam mengalah. "Tapi,
camkan kata-kataku itu. Sekarang
mengenai sang pendekar. Setiap kali melihat jidat licin, dia terpincuk.
Pendekar itu memang gila wanita cantik. Anehnya, entah mengapa setiap wanita
selalu mencintainya. Karena itu, dunia persilatan menjulukinya sebagai Pendekar
Penyebar Asmara. Tak terhitung sudah wanita-wanita cantik yang patah hati
karena tindakannya."
"Jahat
sekali dia!" tandas Cendana, geram. "Kalau bertemu nanti, akan
kuketuk kepalanya!"
Si nenek
tersenyum. Geli hatinya mendengar ancaman Cendana.
"Dia
tidak jahat, Cendana. Bagi wanita-wanita yang mau hidup bersamanya, harus rela
menekan perasaan. Beberapa di antara mereka mampu. Pendekar Penyebar Asmara
hidup bersama tiga istrinya. Mereka rela dimadu daripada kehilangan pendekar
itu."
Cendana
mengepalkan tinju. Tampak jelas rasa tidak senangnya
"Lalu,
untuk apa kita pergi ke sana?" "Mempertemukanmu dengan Pendekar Penyebar
Asmara."
"Untuk
apa, Nek?"
"Sedikit
membalas sakit hatiku, Cendana," jawab sang nenek dengan suara agak
bergetar. Sepasang mata tuanya tampak dipenuhi air.
Cendana
menatap wajah si nenek penuh selidik. Ada rasa iba di hatinya. Kendati sering
membantah dan tak menuruti ucapan si nenek, Cendana menyayanginya. Karenanya, kesedihan si nenek membuat gadis itu
mengambil keputusan untuk memenuhi perminttannya.
"Apakah
Nenek termasuk wanita yang patah hati oleh perbuatan Pendekar Mata Bongsang
itu?"
"Pendekar
Mata Bongsang?" ulang si nenek. Sesaat dia lupa pada kesedihannya.
"Bukankah
orang yang mudah terpincuk oleh wanita cantik disebut mata keranjang, Nek? Dan,
keranjang masih ada pertalian saudara dengan bongsang. Apa salahnya kalau
kusebut dia Pendekar Mata Bongsang?" kilah Cendana.
Sang nenek
terkekeh geli. Harus diakuinya, semenjak tinggal dengan Cendana, tak terhitung
sudah tawa lepas keluar dari mulutnya. Tingkah Cendana yang lucu dan polos
membuatnya tak bisa menahan tawa. Perasaan sedih tak pernah lama bersarang di hatinya. Cendana selalu menemukan cara yang tepat untuk mengusir
kesedihannya.
2
"Tidak,
Cendana." Si nenek menggeleng. "Aku tidak termasuk dalam deretan
wanita-wanita yang tertarik pada Pendekar Penyebar Asmara. Tapi harus kuakui,
lelaki itu memang amat menarik. Kalau saja belasan tahun lalu usiaku lebih muda
dua puluh tahun, mungkin aku pun akan tertarik padanya."
"Kalau
demikian, mengapa nenek sakit hati padanya?" kejar Cendana, penasaran.
"Muridku
tewas akibat ulahnya. Meski bukan sepenuhnya kesalahan Pendekar Penyebar
Asmara, tap dia bertanggung jawab atas kematian muridku!" tegas di nenek
sambil mengarahkan pandangan ke langit. Seakan-akan di sana ada sesuatu yang
dicarinya. Sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Kejadian bertahun silam itu
rupanya masih membekas di hatinya.
"Bagaimana
kejadiannya, Nek? Mengapa selama ini Nenek tak pernah menceritakannya padaku?
Mengenai peristiwa itu, maupun tentang murid Nenek sebelum aku."
"Aku
sengaja tidak menceritakannya, Cendana," jawab si nenek tanpa mengalihkan
pandangan. "Aku tidak ingin mengorek luka lama. Dengan tidak
menceritakannya, aku seperti lupa akan hal itu. Apalagi keberadaanmu lebih
berarti dari pada muridku yang dulu"
Si nenek
kemudian menatap wajah Cendana lekat-lekat. Dua pasang mata mereka saling
bertatapan.
"Muridku
yang terpikat hatinya oleh Pendekar Pe-nyebar Asmara telah menyerahkan jiwa dan
raganya pada pendekar itu. Tapi, ketika muridku meminta Pendekar Penyebar
Asmara untuk menjadikannya sebagai istri, si pendekar itu mengajukan syarat.
Muridku tidak bisa mengekang kebebasannya. Jadi, Pendekar Penyebar Asmara boleh
memiliki istri semaunya, asal wanita yang diingininya bersedia. Syarat Pendekar
Penyebar Asmara tidak bisa dipenuhi muridku.Pendekar Penyebar Asmara lalu meninggalkannya."
"Kejam
sekali dia!" rutuk Cendana. "Apakah murid Nenek itu tidak menghalangi
kepergiannya?"
"Apa
daya muridku yang memiliki ilmu seujung kuku Pendekar Penyebar Asmara? Tanpa
menemui kesulitan pendekar itu pergi. Muridku yang ternoda dan dalam cekaman
rasa kecewa, setelah mengadu padaku, ia lalu membunuh diri di hadapanku! Dia
tidak pantas lagi hidup, katanya."
"Itu
kejadian belasan tahun silam. Sekarang kau baru hendak membalas dendam,
Nek?" tanya Cendana dengan tidak senang.
"Aku
tidak bermaksud melakukan pembalasan secara keras, Cendana. Kepandaian Pendekar
Penyebar Asmara terlalu tinggi untuk kuhadapi. Tak sampai setahun setelah
kematian muridku, aku yang mencari-cari pendekar itu berhasil menemukannya.
Pertarungan antara kami terjadi. Aku berhasil dirobohkannya. Tapi, Pendekar
Penyebar Asmara tidak membunuhku. Bahkan, dia menyatakan penyesalan ketika
mendengar dariku tentang nasib naas yang menimpa muridku," si nenek
mengakhiri kisahnya.
Suasana
menjadi hening setelah nenek berpakaian hitam menghentikan ceritanya. Kedua
wanita itu tenggelam dalam alun pikiran sendiri-sendiri.
"Pembalasan
apa yang hendak kau lakukan, Nek?" tanya Cendana memecah keheningan yang
mencekik.
"Begini,
Cendana. Kau memiliki wajah yang amat cantik. Aku yakin sembilan dari sepuluh
lelaki akan jatuh cinta padamu. Pendekar Mata Bongsang itu pun akan terpikat
padamu. Kuharap kau sudi membalas sakit hatiku dengan berpura-puram menyukainya. Kau harus
mempermainkannya dan jangan sampai terpikat padanya. Buktikan kalau ucapan yang
tadi kau katakan mengenai lelaki, benar adanya."
"Bagaimana
kalau pendekar itu melakukan kekerasan padaku, Nek? Bukankah kepandaiannya amat
tinggi? Tidak akan sulit baginya melakukan
hal itu!" Cendana mengutarakan kekhawanrannya.
Si nenek
tersenyum lebar dan menggelengkan kepala. "Itu tidak akan terjadi,
Cendana. Meski gemar wajah-
wajah
cantik, Pendekar Penyebar Asmara tidak pernah melakukan kekerasan untuk
mendapatkan tubuh wanita yang disukainya. Dia terlalu tinggi hati untuk
melakukan hal serendah itu. Tambahan lagi, dia merupakan tokoh golongan
putih.
Pantangan besar bagi seorang pendekar melakukan hal seperti itu" Cendana
membisu
"Bagaimana,
Cendana?" tagih si nenek "Apakah kamu sekarang masih hendak mogok
jalan?"
"Tentu
saja tidak, Nek. Dengan senang hati aku akan ikut denganmu. Ceritamu mengenai
Pendekar Bermata Bongsang itu semakin menambah besar keinginanku untuk ikut.
Aku jadi ingin tahu sampai di mana ketampanan pendekar itu hingga membuat
wanita tergila-gila kepadanya!"
Nenek berpakaian hitam tersenyum gembira bercampur geli. Lenyap sudah
kesedihan yang semula melanda hatinya, bak awan tertiup angin.
***
"Lurik...! Kembali...!" seru seorang gadis. Pandangannya diarahkan ke
angkasa. Di sana yang dipanggilnya berada.
Lurik yang
ternyata seekor burung elang hitam berbintik-bintik putih seakan tidak
mendengar seruan itu. Dia terus melesat ke arah puncak salah satu gunung di
deretan Pegunungan Sewu.
Gadis
berpakaian hijau pupus tampak cemas bukan main. Setelah kebingungan sesaat, dia
melesat mengejar ke arah yang dituju burung itu. Tentu saja gadis yang memiliki
wajah cantik dengan bentuk wajah bulat telur harus beberapa kali melihat ke
angkasa agar tidak kehilangan jejak.
Gadis
berpakaian hijau pupus ini mengejar dengan perasaan heran. Baru kali ini Lurik
tidak mempedulikan seruannya. Biasanya binatang itu amat penurut. Malah, tidak
pernah meninggalkan tempatnya bertengger di cabang pohon dekat pondok si gadis.
"Larasati,
hendak ke mana kau...?!" seru seorang lelaki berusia sekitar lima puluh
tahun, berkulit hitam legam dan bergigi tonggos.
Lelaki ini
tengah berada di dalam rumah. Ia keluar karena mendengar kegaduhan di depan.
Larasati,
si gadis berpakaian hijau pupus, menoleh sebentar.
"Aku
hendak mengejar Lurik dulu, Ayah. Tingkahnya kelihatan aneh bukan main!"
jawab Larasati.
"Hati
hati, Laras...!" seru lelaki bergigi tonggos lagi. Kali ini tidak
mendapatkan jawaban dari Larasati. Meskipun demikian, lelaki ini tidak menjadi
kecil hati. Dia yakin Larasati mendengar seruannya. Itu sudah cukup. Larasati
adalah seorang anak yang taat pada orangtuanya, terutama sekali ayahnya. Setiap nasihat ayahnya selalu
diperhatikannya baik-baik. Itulah sebabnya, kendati tidak mendapatkan jawaban,
lelaki itu tidak menjadi khawatir.
"Apa
yang terjadi, Kak Tanggur?" tanya seorang wanita setengah baya ketika
lelaki bergigi tonggos melangkah ke ambang pintu, hendak masuk kembali ke dalam
rumah.
"Lurik
bertingkah aneh. Larasati tengah mengejarnya untuk membawanya pulang,"
jawab lelaki itu.
"Kau biarkan dia pergi, Kak?" desak wanita berpakaian abu-abu, tak puas. Sinar
matanya penuh tuntutan.
"Mengapa
tidak, Sakini? Larasati bukan gadis sembarangan. Dia telah memiliki bekal yang
cukup untuk menghadapi bahaya di jalan. Lagi pula, tempat ini sepi. Tidak
pernah dikunjungi orang. Untuk apa dicemaskan?" bantah Tanggur, ringan.
"Kalau
terjadi sesuatu padanya di tengah jalan, bagaimana?" Si wanita yang
menjadi istri Tanggur ini tampak begitu khawatir.
Tanggur
menatap wajah istrinya lekat-lekat. Dia tidak menyalahkan sikap istrinya yang
terlalu mencemaskan Larasati.
"Larasati
sudah dewasa. Aku yakin dia dapat menjaga diri. Dan lagi kepergiannya tidak
jauh. Ingat, Sakini. Tak lama lagi Larasati harus terjun ke dunia persilatan
untuk mengamalkan ilmunya dan mencari pengalaman. Di samping itu, agar mendapat
jodoh yang sesuai. Apakah kau tidak ingin segera menimang cucu?"
Sakini
mulai sedikit tenang. Ucapan Tanggur rupanya masuk akalnya juga.
"Meski
demikian, aku tetap khawatir, Kak Tanggur. Larasati masih terlalu hijau,
sedangkan dunia persilatan demikian kejam dan tak kenal ampun...."
"Tenangkan
hatimu, Sakini," hibur Tanggur. "Kelak apabila saatnya turun gunung
tiba, aku akan memberikan
nasihat-nasihat
yang amat berguna untuk bekalnya. Berdoa saja pada Tuhan agar dia diberikan
keselamatan."
Sakini
sekarang benar-benar tenang. Dirasakan kebenaran semua ucapan suaminya. Dia tak
membantah ketika Tanggur mengajaknya ke dalam.
Sementara
di tempat lain, Larasati harus menguras seluruh kemampuannya agar tidak
kehilangan jejak Lurik. Burung itu tidak mengalami hambatan dalam
perjalanannya. Namun, tidak demikian halnya dengan Larasati. Lereng yang terjal
dan curam membuatnya harus mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki. Jika tidak ingin celaka.
Begitu
hampir mencapai puncak, Larasati mendengar bunyi pekikan khas burung. Tapi
tidak hanya satu, melainkan dua! Satu di antaranya dikenal gadis itu sebagai
pekikan Lurik. Larasati semakin bersemangat untuk secepatnya tiba di puncak. Pekikan
Lurik yang didengarnya adalah pekik kemarahan! Ini berarti ada sesuatu yang
membuatnya marah.
Begitu
menjejakkan kaki di puncak, Larasati menjadi tidak senang. Di puncak yang
memiliki dataran rata itu tampak Lurik tengah berusaha untuk terbang. Ia
mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. Tapi, binatang itu tidak mampu terbang. Lurik
hanya diam di angkasa dengan kedua sayap terkepak-kepak
Di bawah,
duduk tiga orang kakek yang memiliki ciri-ciri menyeramkan. Salah satu di
antaranya mirip monyet besar. Mulutnya membentuk sedemikian rupa, mirip orang
yang tengah mengisap sesuatu.
Larasati
yang memiliki kecerdikan segera mengetahui kalau bentuk mulut si kakek bukan
karena dia tengah bermain-main. Karena mulut kakek gorilla itulah Lurik tidak
bisa terbang! Kakek gorilla itu agaknya memiliki kepandaian tinggi.
Setidak-adaknya dalam hal tenaga dalam. Tapi, Larasati tidak menjadi gentar
karenanya. Kekhawatiran akan nasib Lurik membuatnya berani!
"Kakek
jahat! Lepaskan burungku...!" seru Larasati. Kemudian melompat mengirimkan
tendangan bertubi-tubi ke arah dada si kakek. Tendangan yang menimbulkan deru
angin keras.
Kakek
gorilla tersenyum dengan mempergunakan matanya. Bentuk mulutnya diubah. Tidak
untuk menyedot melainkan meniup! Kembali Lurik mengeluarkan pekikan nyaring.
Tubuh binatang itu terhempas jauh ke atas bagai dihembus angin yang luar biasa
keras.
Des, des,
desss!
Tendangan
Larasati mendarat di sasaran dengan telak, karena kakek gorilla tidak
mengelakkannya sama sekali. Tapi, kesudahannya bukan si kakek yang kesakitan.
Justru Larasati yang memekik tertahan karena kaget dan sakit.
Tubuh
Larasati terpental ke belakang. Mulutnya yang memiliki sepasang bibir indah
mengeluarkan jeritan. Larasati merasakan seolah yang ditendangnya bukan tubuh
manusia yang terdiri dari daging dan tulang, melainkan gumpalan karet yang
keras dan kenyal!
"Raja
Monyet, tak disangka kita menemukan alat yang dapat digunakan untuk menguji
kemampuan kita! Sekarang, kita buktikan siapa yang lebih berhak untuk menduduki
tempat pertama. Kau atau aku. Atau, Kelabang Merah!" Kakek yang memiliki
tubuh pendek bulat dan gemuk mirip bola, membuka suara.
"Benar!"
sambung kakek terakhir yang dipanggil Kelabang Merah. Tokoh ini memiliki bentuk
tubuh luar biasa. Tinggi kurus mirip bambu. Kulit tubuhnya merah seperti besi
dipanaskan.
***
Larasati
yang telah berhasil menjejak tanah, wajahnya berubah hebat, begitu mendengar
percakapan ketiga kakek itu. Ayahnya telah bercerita banyak tentang tokoh-tokoh
dunia persilatan, baik dari golongan hitam maupun putih.
Di antara
tokoh-tokoh golongan hitam, julukan Raja Monyet yang lengkapnya Raja Monyet
Bertangan Seribu, Kelabang Merah, dan Gajah Kecil merupakan tokoh-tokoh
terbesar kaum hitam! Saking besarnya, mereka sampai malu untuk terjun ke dunia
persilatan. Mereka merasa tidak memiliki lawan yang seimbang. Ketiga tokoh ini
dikenal dengan sebutanTiga Binatang Iblis Neraka!
Larasati
tidak pernah membayangkan akan bisa bertemu dengan pentolan-pentolan dunia
hitam yang sudah menjauhkan diri dari dunia persilatan ini. Menurut kabar,
Tiga
Binatang lblis Neraka lebih sibuk menentukan siapa di antara mereka bertiga
yang paling lihai. Sekitar lima belas tahun mereka telah mengasingkan diri, dan
mengadakan pertemuan lima tahun sekali untuk menentukan pihak yang terlihai dan
patut disebut datuk sesat nomor satu.
Dari
percakapan yang didengarnya, Larasati tahu kalau dirinya akan dijadikan sasaran
uji coba pertandingan tiga tokoh sesat itu. Larasati tidak menginginkan hal itu
terjadi. Maka, ketika dilihatnya Lurik telah bebas dari pengaruh ilmu Raja
Monyet Bertangan Seribu, Larasati segera membalikkan tubuh dan berlari cepat
meninggalkan tempat itu.
Tapi, baru
beberapa kali lesatan larinya segera dihentikan. Beberapa tombak di depannya,
telah berada Tiga Binatang lblis Neraka dalam sikap yang sama saat
ditinggalkan! Mereka sibuk bercakap-cakap.
Larasati
merasakan adanya ancaman bahaya. Tiga Binatang lblis Neraka tidak mau
melepaskannya pergi. Karena itu mereka menghadangnya. Entah bagaimana hal itu
terjadi, Larasati tidak mengerti. Dia tidak melihat ketiga kakek itu berlari
mendahuluinya. Tahu-tahu mereka telah berada di depannya.
Kejadian
kedua ini mengakibatkan Larasati lebih yakin kalau Tiga Binatang Iblis Neraka
benar-benar memiliki kepandaian luar biasa tinggi. Rasanya tidak mungkin
melarikan diri dari mereka dengan cara kekerasan. Maka, Larasati memasang
senyum manis di bibir.
"Orang-orang
tua gagah, berilah aku jalan. Aku hendak pulang dan menemui orangtuaku. Aku
yakin sekarang mereka tengah menungguku dengan hati cemas," ujar Larasati
dengan suara lembut dan sesopan mungkin.
Kelabang
Merah mendengus. Sepasang matanya yang hampir tak ubahnya sebuah garis, menatap
Larasati. Si gadis mengkirik bulu kuduknya melihat sepasang mata yang menyorot
kehijauan itu!
"Salahmu
sendiri mengapa datang ke tempat ini. Kau tidak bisa pergi sebelum urusanmu
dengan kami selesai!"
"Kalau
kau memiliki kepandaian, mungkin bisa meninggalkan tempat ini, Nona
Cantik!" Gajah Kecil ikut menimpali sambil tersenyum lebar. Kakek ini
memang terlihat aneh. Wajahnya selalu kelihatan tersenyum.
"Aku
memiliki sedikit kepandaian. Tapi, apa artinya jika dibandingkan dengan
kepandaian kalian, Orang-orang Tua Gagah yang memiliki kesaktian demikian
menakjubkan!" bantah Larasati sedikit memuji.
"Kau
pandai mengambil hati, Nona," Raja Monyet Bertangan Seribu tak mau
ketinggalan. Kakek ini berbicara dengan tenang dan kelihatan penuh kesungguhan.
"Harus kami akui kalau ucapanmu itu tepat! Karena itulah, kami tidak akan
menarik keuntungan dari kelebihan yang kami miliki. Asal kau mampu bertahan dan
serangan kami sejurus saja, kau boleh meninggalkan tempat ini. Kau boleh
melakukan tindakan apa pun sesukamu, yang penting kau tidak roboh dalam
sejurus. Bagaimana?"
Larasati
terdiam sejenak. Gadis ini merasa heran. Raja Monyet Bertangan Seribu yang
memiliki ciri-ciri mengerikan ternyata mempunyai sikap yang demikian halus.
Perkataannya sopan dan lemah lembut, seperti bukan keluar dari tokoh sesat
sakti yang mirip monyet besar itu.
"Bagaimana
kalau aku tidak mau?" pancing Larasati untuk mengetahui kelanjutan
tindakan yang akan diambil Tiga Binatang Iblis Neraka. Terutama Raja Monyet
Bertangan Seribu yang memiliki sikap sopan dan lemah lembut itu.
"Tentu
saja tidak apa-apa, Nona," jawab Raja Monyet Bertangan Seribu masih dengan
suara halus. "Hanya saja kami, terutama aku, akan memintamu memberikan
tanda mata sebagai kenang-kenangan kalau kita telah pernah bertemu."
"Boleh
kutahu tanda mata itu, Kek?" desak Larasati penuh rasa ingin tahu.
"Tidak
banyak dan mudah saja, Nona. Hanya dua biji matamu, dan potongan ujung
hidungmu, serta dua kakimu. Itu saja sudah cukup."
Leher
Larasati bagai tercekik. Raja Monyet Bertangan Seribu kiranya tidak memiliki
hati baik seperti ucapan-ucapannya yang sopan dan lembut. Kakek gorila ini
memiliki hati yang luar biasa keji! Apa jadinya dengan dirinya bila tanda mata
untuk kakek itu diberikan? Berdiri bulu kuduk Larasati membayangkannya.
Larasati
marah bukan main, ia merasa dirinya dipermainkan. Tapi, kecerdikannya
melarangnya untuk
mengumbar
kemarahan. Hal itu hanya akan merugikan dirinya.
"Kalau
begitu, aku pilih menghadapimu selama satu jurus, Kek. Tapi, apakah janji yang
kau ucapkan bisa dipercaya? Tidakkah sia-sia apabila aku berhasil bertahan
sejurus, kau akan menjilat ludah dan mengingkari janji?"
"Kalau
kau mampu bertahan, Nona Cantik," Gajah Kecil memberikan jawaban lebih
dulu. "Tidak hanya kami biarkan pergi. Tapi, kami bersedia menjadi
budakmu! Ha ha ha...!"
"Akan
kuingat kata-katamu itu, Kek!!" sambut La-rasati cepat dengan hati lega.
Secercah harapan bersemi di hatinya. Satu jurus tidak lama. Dia yakin akan
mampu bertahan.
Larasati
segera mundur dua langkah untuk mengatur jarak. Dibentuknya kuda-kuda
pertahanan yang amat kuat
"Aku
sudah siap, Kek. Silakan mulai. Siapa di antara kalian yang akan maju?!"
beritahu Larasati setengah menantang. Gadis ini sengaja tidak bertindak sebagai
penyerang, kemungkinan untuk dirobohkan lebih besar. Dalam penyerangan, banyak
bagian-bagian yang terbuka dapat dijadikan sasaran penyerangan. Ini dapat
membuatnya lebih mudah untuk dirobohkan! Lain halnya bila dibentuk pertahanan.
Semua celah yang ada tertutup!
"Kau
cerdik, Nona," puji Raja Monyet Bertangan Seribu dengan mulut
menyunggingkan senyum. Hanya, senyum yang terbentuk lebih mirip seringai karena
wajah si kakek yang mengerikan "Tapi, kecerdikan seperti itu tidak ada
artinya bila ditujukan padaku."
Belum juga
lenyap gema suaranya, Raja Monyet Bertangan Seribu telah melesat ke arah
Larasati dalam keadaan masih bersila! Kakek ini tak ubahnya melayang.
Larasati
yang memang sudah bersiaga sejak tadi langsung melompat ke belakang. Raja Monyet
Bertangan Seribu tetap memburunya. Jauh lebih laju dari pada gerakan menghindar
Larasati. Begitu jarak antara mereka telah masuk dalam jangkauan serangan,
kakek gorila itu melancarkan serangan dengan kedua tangannya yang besar dan
berbulu!
Larasati
kelabakan, melihat tangan Raja Monyet Hertangan Seribu seperti berjumlah
banyak. Sukar untuk
diketahuinya
mana yang asli dan bagian yang akan dijadikan sasaran serangan. Dengan
sekenanya digerakkan kedua tangannya untuk membuat pertahanan!
Larasati
mengeluh tertahan ketika kedua tangannya lemas begitu dirasakan ada jari-jari
tangan menyentuh sikunya. Sebelum keterkejutannya hilang, jari-jari tangan lain
telah menotok bahunya.
Tubuh
Larasati langsung lemas dan ambruk ke tanah tak ubahnya karung basah. Raja
Monyet Bertangan Seribu memenuhi janjinya, merobohkan Larasati sebelum satu
jurus usai!
'"Ilmu Tangan Bayangan'-mu masih memiliki keampuhan juga, Raja Monyet,"
dengus Kelabang Merah bersikap merendahkan.
"Setidak-tidaknya
masih lebih ampuh dari pada 'Ilmu Kelabang Terbang'-mu, Kelabang Merah!"
sahut Raja Monyet Bertangan Seribu.
"Rupanya
kau ingin membuktikannya sekarang juga?!" Kelabang Merah yang memiliki
sikap berangasan segera melangkah maju.
Raja Monyet
Bertangan Seribu tenang-tenang saja. Kakek itu tetap diam di tempatnya.
Sebaliknya, Gajah Kecil cepat-cepat menengahi. Kakek ini dengan langkah mirip
menggelinding, menyelak di antara kedua saingannya.
"Kau
jangan mau menang sendiri, Kelabang. Bukan hanya kau dan Raja Monyet saja yang
ingin memperebutkan kedudukan pertama. Aku juga!"
"Barangkali
saja dia sudah tidak sabar untuk segera mencoba kedahsyatan ilmu 'Kelabang
Terbang'ku!" rutuk Kelabang Merah. Suaranya agak lebih lembut
"Mungkin
saja begitu," sambut Gajah Kecil. "Tapi, salah seorang dari kalian
pasti akan mendapat dua lawan. Aku! Karena, aku tidak akan berdiam diri tanpa
adanya lawan. Seperti biasanya, kita tentukan siapa yang lebih berhak untuk
bertarung lebih dulu!"
Kelabang
Merah hanya mendengus. Sedangkan Kaja Monyet Bertangan Seribu menyeringai, mempertunjukkan
gigi-geriginya yang besar-besar dan runcing.
"Usul
yang bagus," puji Raja Monyet Bertangan Seribu. "Bagaimana
pelaksanaannya?"
"Tidakkah
membosankan selalu begitu untuk memulai pertarungan?" dengus Kelabang
Merah.
"Kau
mempunyai usul yang lebih baik, Kelabang?!" Gajah Kecil malah menantang.
Kelabang Merah melotot, marah. Tapi kemudian dia diam dengan dengus kesal
dikeluarkan dari hidungnya.
3
Seorang
pemuda berpakaian ungu mengayunkan kaki seenaknya menyusuri medan berbatu-batu
kapur. Angin yang sesekali berhembus agak keras mempermainkan rambutnya yang
tergerai putih panjang. Sebuah guci perak tersampir di punggung. Pemuda ini
tidak lain Dewa Arak. Pendekar muda yang menggemparkan dunia persilatan, yang
memiliki nama asli Arya Buana.
Ketenangan
Arya terusik ketika di kejauhan, di lereng bukit kapur, melesat tiga titik yang
semakin membesar dengan cepat. Pemuda yang selalu bertindak hati-hati ini
segera bersembunyi di balik sebatang pohon jati besar. Dari tempat ini Arya
mengintai!
Tiga sosok
yang berasal dari puncak itu melesat dengan kecepatan mengagumkan. Begitu
melihat dengan jelas cara ketiga sosok itu berlari, Arya mengernyitkan kening
karena kaget dan heran.
Sosok yang
pertama, jangkung laksana bambu dan berkulit merah, berlari dengan mengandalkan
sepasang kakinya yang
panjang. Langkahnya lebar-lebar. Tapi terkadang sosok ini
berlari dengan mempergunakan kedua tangannya. Cara ini tidak membuat lari kakek
jangkung berkurang kecepatannya. Malah, semakin bertambah cepat!
Sosok kedua
bertubuh pendek gemuk dan berperut gendut. Ia berlari tak kalah cepat dengan
kakek jangkung. Padahal, kedua kakinya pendek tak ubahnya kaki babi! Sesekali kakek pendek ini bergulingan bak bola
menggelinding. Ini membuat larinya bertambhh laju!
Sosok
ketiga tak kalah aneh caranya berlari. Kakek yang lebih mirip monyet besar
daripada manusia ini lebih banyak melompat-lompat daripada mengayunkan kaki.
Cara yang dipergunakannya membuat dua kakek terdahulu tidak bisa
meninggalkannya. Mereka bertiga berlari berjajar!
Arya
merasakan detak jantungnya bertambah cepat. Dari cara mereka berlari, bisa
diketahui kalau ketiga kakek ini memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi.
Semakin
dekat jarak tiga kakek yang bukan lain Tiga Binatang Iblis Neraka, perasaan
pemuda berambut putih
keperakan
ini semakin menegang. Jika ketiga kakek itu terus berlari ke kaki gunung,
keberadaannya akan diketahui! Bukan tidak mungkin akan terjadi bentrokan. Arya
tahu, banyak tokoh-tokoh aneh di dunia ini yang meskipun tidak ada urusan, bisa
dibuat sengketa yang berakhir dengan pertarungan.
Kekhawatiran
Dewa Arak ternyata tidak beralasan. Beberapa puluh tombak dari tempatnya berada
ketiga kakek yang seperti tengah berlomba itu terlihat tidak akan turun lebih
ke bawah. Mereka mengalihkan perhatian pada batu-batu kapur sebesar gajah yang
berjajar di lereng gunung. Ketiga batu yang menilik letaknya telah diatur
sebelumnya.
Cara tiga
kakek bertindak terhadap batu-batu besar itu kembali mengundang kekaguman di
hati Dewa Arak. Kakek jangkung menjulurkan kedua tangan.Tangannya yang memang
sudah lebih panjang dari tangan manusia umumnya, memanjang lagi. Ia dapat
menjangkau batu, yang hampir lima tombak jauhnya.
Kakek
pendek menggunakan cara yang lebih gila! Batu itu ditabrak dengan gulingan
tubuhnya. Tapi, tidak hancur atau terguling ke kaki gunung. Batu itu malah
bertengger di atas kepalanya.
Kakek
gorila menghentakkan kedua kakinya sehingga membuat batu melayang ke arahnya.
Diterimanya jatuhnya batu dengan menggunakan kepala. Batu itu mendarat dengan
pelan bagai ditaruh dengan hati-hati. Dan, melekat seperti direkatkan!
Begitu mendapatkan batu, ketiga kakek ini
membalikkan tubuh dan bersicepat menuju puncak. Batu sebesar gajah berada di
atas kepala masing-masing. Meski dengan beban seberat itu, kecepatan lari
mereka tidak berkurang.
Dewa Arak
tercenung memperhatikan Tiga Binatang lblis Neraka yang semakin menjauh. Benak
pemuda ini menduga-duga maksud tindakan ketiga kakek berkepandaian luar biasa
itu. Akhirnya, Dewa Arak memutuskan untuk mengikuti mereka. Ingin diketahuinya
secara jelas maksud tindakan mereka. Barangkali saja ada sesuatu yang tidak
menyenangkan yang akan mereka lakukan. Dengan hati-hati, karena khawatir
diketahui Tiga Binatang Iblis Neraka, Dewa Arak melesat ke arah puncak. Tak
sampai puncak telah
didengarnya teriakan-teriakan mereka. Arya sempat
menangkapnya sedikit. Perlombaan tadi dimenangkan oleh Raja Monyet Bertangan
Seribu. Sedangkan Kelabang Merah dan Gajah Kecil, seri!
Begitu tiba
di puncak Dewa Arak segera menyelinap ke gundukan batu besar yang ada di situ.
Pemuda berambut putih keperakan ini memang telah mengincar tempat itu sewaktu
belum mencapai puncak. Dari tempat ini diamatinya sekitar puncak dan Tiga
Binatang Iblis Neraka.
Arya
menghela napas berat ketika melihat keberadaan seorang gadis berpakaian hijau
pupus. Gadis itu tergolek lemas di tanah. Gadis yang bukan lain Larasati itu
tertotok lemas.
Tak jauh
dari tubuh Larasati, tergolek bangkai dua ekor burung elang. Yang satu Lurik,
sedangkan yang lain adalah burung elang yang menjadi kawan hidup Lurik. Lurik
dengan nalurinya tahu akan adanya ancaman terhadap kawan hidupnya. Karena itu,
dia pergi ke puncak Gunung Sewu ini untuk menolong. Tapi, binatang ini pun
menjadi korban pula. Dia tewas akibat tangan Raja Monyet Bertangan Seribu yang
kejam, meski selalu terlihat baik hati karena sikap dan gerak-geriknya yang
lemah lembut.
Lurik
tewas, jatuh ke tanah setelah terbang beberapa tombak. Larasati yang semula mengira binatang kesayangannya itu
selamat, menangis di dalam hati. Marasa keliru kalau mengira Raja Monyet
Bertangan Seribu akan melepaskan burungnya. Jangankan hanya seekor burung,
nyawa manusia pun bagi kakek ini tak ubahnya nyawa nyamuk!
***
"Sekarang
kalian berdua yang harus bertarung untuk menjadi lawanku," ujar Raja Monyet
Bertangan Seribu sambil menatap kedua saingannya bergantian. "Seperti yang
telah disetujui bersama, pertarungan tenaga dalam yang akan kalian lakukan.
Dalam ilmu lari cepat dan meringankan tubuh, kalian berimbang. Sekarang,
buktikan kalau salah satu di antara kalian pantas untuk melawan aku!"
Kelabang
Merah mendengus. Suatu kebiasaan buruk yang telah menjadi ciri khasnya. Dengan
kasar dia membuka percakapan
"Biar
aku yang mulai lebih dulu...!"
Kelabang
Merah kemudian membuat sepasang ta-ngannya bertambah panjang. Kali ini yang
menjadi sasaran adalah tubuh Larasati. Tangan-tangan Kelabang Merah yang
memiliki jari-jari panjang dan berkuku hitam mencekal kedua pinggang Larasati.
Larasati
yang bisa bersuara, memekik pelan. Kaget dan geli karena pinggangnya dicekal.
Pekikannya berganti dengan makian ketika jari-jari tangan Kelabang Merah dengan
liarnya meremas-remas dua bukit kembar di dadanya.
"Rupanya
kau pandai memanfaatkan kesempatan, Kelabang! Atau, kau masih ragu-ragu untuk mulai menentukan keunggulanku?!" ejek Gajah
Kecil.
Gajah Kecil
mengeluarkan perkataan seperti itu bukan karena ingin menolong Larasati dari
rasa malu. Sama sekali tidak! Malah, kakek ini suka melihat Larasati merasa
malu dan menderita. Tapi, yang lebih penting baginya sekarang adalah menentukan
siapa yang lebih unggul agar segera bisa bertarung dengan Raja Monyet
BertanganSeribu.
Kelabang
Merah mendengus. Dengan sorot mata geram dilemparkan tubuh Larasati ke arah
Gajah Kecil. Tak lupa, dibebaskan dulu totokan yang membuat gadis itu tak bisa
bergerak. Kelabang Merah sengaja melakukan hal itu untuk membuat Gajah Kecil
agak repot!
Maksud
Kelabang Merah ternyata tidak berhasil. Gajah Kecil tanpa menemui kesulitan
menangkap tubuh Larasati dan melemparkannya lagi ke arah Kelabang Merah.
Kelabang Merah menangkap dan membalas melempar!
Larasati
yang menjadi korban permainan ini memaki-maki tak henti. Apalagi ketika
beberapa kali bukit kembar di dadanya tercekal tangan Kelabang Merah maupun
Gajah Kecil! Dia mencoba untuk meronta, bahkan mengirimkan serangan begitu
tubuhnya terlontar. Tapi, dengan mudah dipatahkan dan tubuhnya diterima
kemudian dilontarkan kembali.
Menginjak
puluhan kali lemparan, tubuh Larasati lebih sering tertutup pada Gajah Kecil!
Baru selesai melempar
dia telah
menerima kembali. Ini menandakan Gajah Kecil masih kalah kuat tenaga disbanding
saingannya, Kelabang Merah!
Napas Gajah
Kecil mulai memburu. Dahinya yang lebar telah basah oleh keringat. Semakin lama
deru napasnya semakin memburu dengan cepat. Ketika kembali tubuh Larasati
meluncur ke arahnya, Gajah Kecil mengibaskan tangan. Tubuh Larasati pun
melayang. Ke tanah.
"Bagus!
Kau telah mengaku kalah, Gajah!" ujar Raja Monyet Bertangan Seribu,
gembira. "Sudah sejak tadi tanganku gatal-gatal!"
"Rupanya
kau ingin meraih kemenangan dengan memanfaatkan di saat aku masih lelah!"
Kelabang Merah menukas dengan suara agak memburu. Pertandingan dengan Gajah
Kecil cukup membuatnya lelah.
"Tenangkan
hatimu, Kelabang," timpal Raja Monyet Bertangan Seribu, halus.
"Tanganku gatal-gatal bukan untuk bertarung denganmu. Tapi, untuk
memberikan hajaran pada orang yang berani mengintai pertemuan kita!"
Raja Monyet
Bertangan Seribu lalu mengeluarkan sepasang kecer yang berada di punggungnya. Di persembunyiannya, Dewa Arak
bersikap waspada. Didengarnya Raja Monyet Bertangan Seribu telah mengetahui
adanya orang yang mengintai pertemuan mereka. Meski demikian, pemuda berambut
putih keperakan ini tidak mau keluar dari persembunyian. Bukan tidak mungkin
pengintai yang dimaksud adalah orang lain.
Kendati ada
dugaan demikian, Arya tidak berani bersikap ceroboh. Sekujur urat-urat sarafnya
menegang penuh kewaspadaan. Ia bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang
tidak diharapkan.
Arya
berusaha sedapat mungkin untuk tidak me-ngeluarkan bunyi sekecil apa pun. Dia
berdiam di tempatnya. Di lain pihak, Kelabang Merah dan Gajah Kecil memusatkan
pendengaran untuk mengetahui pengintai yang dimaksud Raja Monyet Bertangan
Seribu.
"Pengintip
Hina, keluarlah kau...!"
Raja Monyet Bertangan Seribu membenturkan kecernya satu sama lain dengan
keras. Anehnya, tidak terdengar bunyi sedikit pun. Memang terdengar bunyi keras
menggelegar.
Tapi, berasal dari gundukan batu tempat Arya bersembunyi yang hancur
berkeping-keping.
Dewa Arak
melemparkan tubuh ke belakang sakting kagetnya. Kejadian ini sungguh di luar
perkiraannya. Hanya berkat kesiapsiagaannya dia berhasil melompat ke belakang
untuk menghindari serangan itu.
Sungguh pun
demikian, pecahan batu yang menyebar ke berbagai arah, beberapa di antaranya
mengenai tubuhnya. Berkat tenaga dalam yang dimiliki tidak sedikit pun luka
yang diderita Dewa Arak. Malah, batu-batu itu yang berpentalan begitu mengenai
tubuhnya.
Raja Monyet
Bertangan Seribu tersenyum ketika Arya berhasil menjejak tanah secara mantap.
Kakek ini tidak kelihatan kesal atau marah melihat kegagalan terangannya.
Bahkan, dia gembira karena menemukan seorang lawan yang dianggapnya cukup
tangguh.
"Kau
hebat, Anak Muda. Aku jadi ingin melemaskan otot-ototku yang kaku," ujar
Raja Monyet Bertangan Seribu seraya menyimpan kecernya dan melangkah mendekati
Arya.
"Huh!
Hebat apanya?!" rutuk Kelabang Merah, tak senang. "Tokoh rendahan pun
tidak akan menemui kesulitan mengelakkan serangan itu!"
Gerutuan Kelabang Merah tidak ada yang menanggapi.
Dewa Arak lebih memusatkan perhatiannya pada kakek gorila. Lawan di hadapannya
ini tangguh bukan main! Tahunya Raja Monyet Bertangan Seribu akan tempat
persembunyiannya telah menjadi bukti ketinggian tingkat kepandaiannya.
Kali ini
dia tidak bisa bermain-main. Ada Larasati yang harus segera menolongnya.
Bertindak ayal-ayalan bisa merenggut nyawa gadis itu. Maka, di luar
kebiasaannya, Dewa Arak melancarkan serangan lebih dulu.
Pemuda
berpakaian ungu ini mengirimkan pukulan bertubi-tubi ke arah dada Raja Monyet
Bertangan Seribu. Pukulan-pukulan yang mengeluarkan bunyi berkesiutan nyaring.
Raja Monyet
Bertangan Seribu sampai mengunjukkan giginya yang
tidak enak dilihat saking
gembiranya mengetahui kedahsyatan serangan Dewa Arak. Penyakit lamanya, gemar
untuk bertarung dengan lawan tangguh,
muncul
kembali. Tanpa ragu-ragu lagi dipapakinya serangan Arya.
Duk, duk,
dukkk!
Bunyi keras
seperti logam-logam beradu terdengar ketika dua pasang tangan berbenturan.
Tubuh Raja Monyet Bertangan Seribu terhuyung
selangkah ke belakang, sedangkan Dewa
Arak terpental ke udara.
Dewa Arak memang sudah memperhitungkan
kejadian ini. Lontaran tubuhnya dipergunakan untuk melampaui kepala Raja Monyet
Bertangan Seribu. Ia terus ke belakang dan melesat ke arah di mana tubuh
Larasati tergolek.
Kelabang
Merah dan Gajah Kecil yang menyaksikan jalannya pertarungan tidak tinggal diam.
Meski tidak menduga hal ini akan terjadi, kedua kakek ini mampu bertindak
cepat. Mereka langsung bergerak menghadang. Gajah Kecil mampu mendahului
Kelabang Merah di dalam menghadang Dewa Arak!
Arya tidak menjadi kelabakan. Dia sudah memperhitungkan semuanya. Begitu dilihatnya tubuh Gajah Kecil
meluruk ke arahnya dengan gedoran kedua tangan, segera dihentakkan kedua
tangannya. Dewa Arak langsung menggunakan jurus 'Pukulan Belalang' yang
dahsyat!
Gajah Kecil
mengeluarkan keluhan tertahan. Disadari kalau sebelum serangannya mendarat di
sasaran, serangan Dewa Arak akan lebih dulu menghantamnya. Dia sedikit pun
tidak menyangka Dewa Arak dalam waktu yang demikian singkat mampu mengirimkan serangan
jarak jauh yang sangat dahsyat!
Gajah Kecil segera membanting tubuh dan bergulingan di tanah untuk menyelamatkan
diri. Sedangkan Dewa Arak langsung menjejakkan kaki di tanah. Dilanjutkan
dengan bergulingan ke depan, melewati kolong kedua kaki Kelabang Merah!
Kelabang Merah menjejakkan kaki untuk
menghancurkan tubuh Dewa Arak. Tapi, pemuda itu telah lebih dulu meletik
bangkit sehingga tanah kapur amblas sedalam betis Kelabang Merah.Arya sendiri segera
menyambar tubuh Larasati dan melarikannya secepat mungkin menuruni puncak.
Rentetan
kejadian yang dilakukan Dewa Arak itu berlangsung demikian cepat dan singkat.
Kendati demikian, tidak cukup untuk lolos dari sergapan Raja Monyet Bertangan
Seribu. Kakek gorilla ini membalikkan tubuh dan mengirimkan pukulan jarak jauh
dengan dorongan tangan kanan!
Dewa Arak
mendengar deru bahaya mengancam di belakangnya. Tanpa menghentikan lari,
disampokkan tangan kirinya yang bebas untuk memapak serangan Raja Monyet
Bertangan Seribu.
Blarrr!
Puncak
gunung itu bergetar hebat ketika dua pukulan jarak jauh yang memiliki kekuatan
dahsyat bertemu di udara. Akibatnya, tubuh Dewa Arak terpental ke depan.
Padahal saat itu ia tengah berada di udara. Keseimbangannya kurang terkuasai.
Kakinya menabrak gundukan batu. Dewa Arak pun terjungkal membawa Larasati di
pondongannya.
Gulingan
tubuh Dewa Arak hanya berlangsung sebentar. Dengan jejakan kaki pemuda ini
kembali tegak berdiri dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu.
Kelabang Merah dan Gajah Kecil melesat mengejar.
Tapi,
keberadaan Raja Monyet Bertangan Seribu di hadapan mereka membuat maksud itu
terhalang. Gajah Kecil terutama Kelabang Merah, penasaran bukan main. Keduanya
menatap Raja Monyet Bertangan Seribu dengan sorot penasaran.
"Apakah
kalian hendak menjatuhkan julukan Tiga Bimatang Iblis Neraka dengan melakukan
pengeroyokan terhadap seorang pemuda yang tidak terkenal?!" ujar Raja
Monyet Bertangan Seribu dengan suara lembut tapi sarat dengan teguran.
"Jadi,
menurutmu lebih baik kita biarkan pemuda usilan itu pergi?" sentak
Kelabang Merah. "Tidakkah tindakan itu akan lebih menghancurkan julukan
kita? Apa kata orang-orang persilatan bila tahu seorang pemuda tak terkenal
mampu merampas tawanan Tiga Hlnatang Iblis Neraka di depan hidung kita?!"
"Itu
tidak akan terjadi, Kelabang Merah. Aku akan mencarinya! Aku yakin, tidak sulit
mencari pemuda yang mempunyai ciri-ciri demikian menyolok. Tanganku sudah
gatal-gatal untuk bertarung dengannya!" tandas Raja Monyet Bertangan
Seribu
"Aku
pun demikian, Monyet'" timpal Gajah Kecil. "Kurasa sudah saatnya
bagiku untuk turun gunung dan kembali ke dunia persilatan. Aku yakin, sekarang
banyak tokoh-tokoh hebat telah muncul. Buktinya, orang seusia pemuda itu telah
memiliki kepandaian demikian tinggi!"
Kelabang
Merah tersenyum mengejek. Kakek ini kelihatan tidak senang mendengar ucapan
rekan-rekannya yang memuji-muji Arya.
"Kelak
akan kubuktikan kalau pemuda yang kalian puji-puji itu sebenarnya tak berarti.
Akan kurobek-robek tubuhnya dan kubawa kepalanya ke hadapan kalian!"
"Bagus
sekali!" Gajah Kecil bersorak. "Bagaimana kalau pemuda itu kita
jadikan syarat untuk menentukan siapa di antara kita yang patut menjadi orang
pertama?"
"Bagaimana
maksudmu, Gajah?" tanya Raja Monyet Bertangan Seribu. Kelabang Merah hanya
mendengus tak peduli.
"Siapa
yang lebih dulu membawa kepala pemuda itu, akan menjadi tokoh sesat tanpa
tanding. Bagaimana?"
"Sebuah
usul yang bagus!" puji Raja Monyet Bertangan Seribu, gembira.
"Tidak
terlalu jelek," gumam Kelabang Merah sambil bersungut-sungut.
"Bersiap-siaplah untuk mengangkatku sebagai tokoh sesat tanpa
tanding!"
Raja Monyet
Bertangan Seribu hanya tersenyum lebar. Sedangkan Gajah Kecil tertawa
terbahak-bahak mendengar sesumbar Kelabang Merah.
"Kalian
enak tidak mempunyai urusan lain. Aku masih ada urusan lainnya," keluh
Gajah Kecil, iri. "Di samping mencari pemuda itu, aku harus menemui
Pendekar Penyebar Asmara. Pendekar kemaruk wanita itu harus menerima balasan atas perbuatannya berani-beranian menggauli muridku."
Raja Monyet
Bertangan Seribu hanya tersenyum, tidak kelihatan tertarik dengan cerita itu.
Dia hanya memberikan tanggapan singkat
"Apakah
kau akan balas perbuatannya dengan menggaulinya pula?"
"Mungkin."
Gajah Kecil mengangkat bahu. "Yang jelas, muridku tidak bisa dipermainkan
begitu saja!"
"Aku
masih kurang jelas, Gajah. Yang digauli pendekar cabul itu muridmu atau
gundikmu? Kudengar, orang yang kau sebut muridmu itu gila lelaki!" selak
Kelabang Merah, sinis.
"Apa
salahnya kalau aku menggauli muridku sendiri, Kelabang? Di samping dia
menikmati hubungan itu, dia mendapatkan ilmu-ilmu yang hebat dariku!"
kilah Gajah Kecil sambil tersenyum lebar. "Sayang, umurnya demikian
singkat. Murid kesayanganku itu tewas akibat pendekar kemaruk perempuan
itu!"
"Tidak
salah dengarkah aku? Bukankah kau sendiri yang membunuh muridmu ketika dia
memintamu untuk menurunkan ilmu-ilmu yang lebih tinggi karena Pendekar cabul
itu menolak keinginannya untuk menjadikannya istri?" ejek Kelabang Merah
terus menekan saingannya.
Gajah Kecil
tertawa bergelak. Dia tidak kelihatan sedih atau geram mengingat kematian murid
sekaligus gundiknya. Bahkan, ketika menceritakannya pun wajahnya biasa saja.
Tidak kelihatan ada duka sedikit pun.
"Pendengaranmu
rupanya masih cukup baik, Ke-labang Merah. Muridku mati di tanganku. Tapi,
semua itu akibat ulah Pendekar Penyebar Asrama. Penghinaan ini harus kubalas!
Apa kata orang-orang persilatan bila tahu kematian muridku tidak kubalaskan?
Mereka akan mengira aku, Gajah Kecil, takut terhadap Pendekar Penyebar
Asmara!"
Setelah
berkata demikian, Gajah Kecil melesat meninggalkan tempat itu. Kelabang Merah
dan Raja Monyet Bertangan Seribu berdiam diri saja. Mereka tidak berusaha
mencegah. Malah, keduanya saling bertatapan dengan sinar mata penuh tantangan.
Terutama Kelabang Merah. Di samping kakek jangkung memang memiliki watak
pemarah, dia sudah tak sabar lagi untuk segera menempati urutan pertama di
kelompok Tiga Binatang Iblis Neraka. Tidak nomor dua seperti lima tahun
sebelumnya.
"Apakah
kau ingin bertarung sekarang, Kelabang? Inginkah kau melanggar ketentuan yang
telah dibuat. Bukan hanya kau, aku pun tak sabar lagi untuk menentukan tempat
teratas di antara kita. Tapi, aku masih bisa menahan sabar. Yang penting bagiku
adalah pemuda berambut putih itu. Tak pernah ada orang yang bisa lolos dari
Raja Monyet
Bertangan
Seribu. Pemuda itu secepatnya harus mati di tanganku!"
Raja Monyet
Bertangan Seribu melompat-lompat meninggalkan Kelabang Merah. Kakek jangkung
ini tak menghalangi kepergian saingan beratnya. Dipandanginya sesaat sebelum
akhirnya meninggalkan tempat itu pula.
4
Arya baru
menghentikan lari ketika dirasakan jaraknya telah jauh dari puncak gunung. Ia
telah tiba di hamparan hutan pohon jati, di kaki gunung.
Larasati
segera melompat turun. Wajah gadis itu merah padam. Amarah yang menyebabkan wajahnya
berwarna demikian. Arya rupanya telah menyentuh-nyentuh pinggulnya di kala
memondongnya. Larasati menganggap Arya sengaja memanfaatkan kesempatan. Maka
begitu totokan yang membuatnya lemas berangsur hilang dan kebetulan Arya
berhenti berlari, dia melompat turun dari pondongan.
"Manusia
kurang ajar...!" maki Larasati geram. Lalu mengirimkan tendangan ke arah
perut Arya. Serangan itu dikirimkan Larasati berbarengan dengan keluarnya
makian dari mulutnya.
Di saat
kaki Larasati terayun, gadis ini baru melihat cairan merah kental mengalir dari
mulut Arya. Pemandangan ini membuat Larasati terkejut dan hampir terpekik.
Sedapat mungkin serangannya dialihkan, karena untuk membatalkannya sudah tidak mungkin lagi.
Tenaga yang dikeluarkan pun dikurangi.
Desss!
Usaha
Larasati tidak sia-sia. Sasaran yang dihantam kakinya adalah paha kanan Arya.
Tubuh pemuda berambut putih keperakan itu terjengkang ke belakang dan
terguling-guling. Ketika gulingannya berhenti, diam tidak bergerak-gerak! Darah
yang keluar dari mulutnya semakin banyak.
Larasati
bergegas memburu. Setengah berjongkok ia memeriksa keadaan Arya dengan penuh
rasa khawatir. Tarikan wajahnya menyiratkan penyesalan yang mendalam.
Larasati
yang sedikit banyak mengetahui pengobatan sadar kalau Dewa Arak terluka dalam
cukup parah. Larasati tidak tahu mengapa penolongnya ini terluka. Yang
dilihatnya, Dewa Arak selalu berhasil lolos dari jegalan Tiga Binatang Iblis
Neraka. Larasati tidak melihat kalau meski jejakan Kelabang Merah berhasil
dielakkan, kibasan tangan kakek jangkung itu sempat menyerempet bahu kanan
Arya.
Akibat
serangan Kelabang Merah telah cukup membuat Dewa Arak terluka dalam. Luka itu
semakin menjadi ketika Arya dalam keadaan terjepit memapaki serangan jarak jauh
Raja Monyet Bertangan Seribu. Padahal, pantangan besar bagi orang yang telah
terluka dalam untuk mengerahkan tenaga dalam. Tindakan itu tidak hanya akan
membuat luka bertambah parah. Tapi, juga dapat menyeret jiwa ke lubang kubur!
Melihat
penolongnya rebah dengan wajah pucat laksana mayat, Larasati menyesal bukan
main telah menyerang. Arya sudah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya.
Tindakan pemuda itu untuk harus berlari dengan tidak mempedulikan
seruan-seruannya yang minta diturunkan, karena ingin selekasnya bebas dari
cengkeraman Tiga Binatang Iblis Neraka. Apabila terkejar pemuda itu pasti akan
dengan mudah digilas lawan-lawan tangguhnya. Dalam keadaan tidak dipengaruhi
amarah Larasati dapat berpikir jernih.
Mengingat
akan pertolongan Dewa Arak, Larasati tidak ragu-ragu untuk menempelkan kedua
tangannya dan mengalirkan tenaga dalam untuk mengobati luka Arya. Tapi, baru
sebentar segera diurungkan karena Larasati tidak merasakan adanya detak
jantung.
Larasati
kebingungan. Bukan karena tidak tahu cara untuk membuat jantung berdetak dan napas
kembali normal. Tapi, karena cara yang akan dilakukannya. Gadis ini berperang
dengan perasaannya sendiri. Beberapa saat peperangan batin itu berlangsung,
sebelum akhirnya Larasati memutuskan untuk melakukannya! Diedarkan pandangan ke
sekelilingnya untuk membuktikan kalau di sekitar tempat itu tidak ada orang
lain.
Dengan
wajah merah padam hingga kedua telinganya, Larasati kemudian menempelkan
mulutnya ke mulut Arya. Larasati menghembuskan napasnya untuk membuat Arya
kembali bernapas. Beberapa saat dia meniup, kemudian menghentikannya, dan
menekan-nekan dada Arya agar detak jantung kembali timbul. Beberapa kali
gerakan pertolongan itu dilakukan sampai detak jantung Arya kembali normal.
Larasati menghentikan pertolongannya. Sesaat
ditatapnya wajah Arya dengan wajah menyemburat merah. Sebuah perasaan aneh
muncul ketika melihat wajah tampan
yang
tarlihat matang dan tenang itu. Perasaan yang belum pernah dirasakan selama
ini. Perasaan suka yang besar! Perasaan itu berkembang semakin besar ketika
teringat tindakan Dewa Arak yang lelah menyelamatkan nyawanya. Rasa takut akan
kehilangan dan tidak bertemu lagi dengan Arya muncul di hatinya.
Setelah
puas memperhatikan pemuda berpakaian ungu itu, Larasati baru memberikan
pertolongan untuk menyembuhkan luka dalam Arya. Gadis ini menyalurkan hawa
murni di dalam tubuhnya.
***
"Arrrggghhh...."
Cendana
menatap wajah gurunya. Yang ditatap kelihatan tenang-tenang saja. Cendana jadi
penasaran. Apakah nenek baju hitam ini tidak mendengarnya? Geraman yang berasal
dari kejauhan tapi mampu menimbulkan getaran pada tanah yang dipijaknya!
"Suara
apakah itu, Nek? Mungkinkah suara binatang buas yang tengah murka?"
Cendana
yang tidak kuat menahan rasa ingin tahu din herannya, mengajukan pertanyaan itu tanpa menghentikan lari. Si
nenek bersikap seperti
tidak mendengarnya dan terus mengayunkan kaki dengan cepat.
"Aku
yakin bukan, Cendana," jawab si nenek. "Suara itu keluar dari mulut
manusia. Seorang yang memiliki kekuatan tenaga dalam luar biasa!"
"Itu
sudah pasti, Nek. Kurasakan sendiri getarannya di tanah," dukung Cendana.
"Kira-kira dari mana asalnya?"
"Kalau
aku tidak salah duga, di sana," jawab si nenek sambil menudingkan jarinya
ke sebelah kiri depan.
Cendana
diam. Dia terus berlari mengikuti si nenek yang beberapa kaki di depannya.
Benak gadis ini dipenuhi pikiran tentang bunyi geraman keras itu. Cendana gadis
manja yang selalu ingin tahu. Maka, bunyi itu menimbulkan rasa ingin tahu yang
besar.
"Tidakkah
kita lihat dulu penyebab bunyi itu, Nek?" "Kurasa lebih baik tidak,
Cendana. Barangkali saja
bunyi itu
keluar dari mulut seorang tokoh sakti berwatak aneh yang tengah berlatih.
Kemunculan kita bisa diartikan
sebagai
gangguan. Itu bisa dijadikannya alasan untuk menyerang kita. Lebih baik kita
menjauhi tempat itu, bukan malah mendekatinya," si nenek memberi nasihat.
"Tapi,
Nek," dengan dua kaki terus terayun agar tidak tertinggal oleh si nenek
baju hitam, Cendana mengajukan bantahan. Bukan karena yakin lebih tahu dari
gurunya, tapi karena rasa ingin tahunya yang besar. "Kita kan tidak
bermaksud jahat. Mana mungkin akan diserang atau dicelakai. Toh, belum tentu
tokoh yang menjadi pemiliknya orang golongan hitam, bagai mana kalau di sana
ada orang teraniaya yang membutuhkan pertolongan?"
Nenek baju
hitam diam. Sambil terus berlari dia menimbang-nimbang. Harus diakui bantahan
Cendana mungkin ada benarnya. Bukan tidak mungkin geraman yang layak keluar
dari mulut binatang buas itu, berasal dari orang yang tengah membutuhkan
pertolongan.
"Ayolah,
Nek. Kita lihat dulu," desak Cendana. Gadis ini yakin si nenek akan
memenuhi keinginannya. Biasanya, si nenek tidak pernah menolak keinginannya.
Dan, apabila itu terjadi, si nenek akan diam seperti saat sekarang ini.
"Tapi
kita tengah mempunyai urusan lain, Cendana. Urusan penting." Si nenek masih mencoba untuk membantah.Tapi, pelan dan
sekadarnya.
"Apa
salahnya, Nek. Kita hanya sebentar saja membuang waktu. Pendekar Mata Bongsang
itu pun tidak akan pergi jauh. Begitu tahu aku dan nenek akan datang, dia pasti
akan sabar menunggu. Bukankah dia gemar wajah cantik berjidat licin sepertiku?
Aku yakin dia akan sabar menunggu," ujar Cendana.
"Dia
tidak tahu akan kedatangan kita, Cendana," kilah si nenek seraya
menghentikan lari.
"Itu
lebih bagus lagi, Nek. Kita jadi tidak terikat, dan mempunyai waktu lebih
banyak untuk mengetahui si milik geraman keras itu!" Cendana tidak kurang
akal untuk memberikan bantahan.
"Baiklah."
Si nenek mengangguk dengan hati kurang setuju. Permintaan Cendana hampir tidak
pernah bisa ditolaknya. Gadis itu terlalu pintar membujuknya. Dan, si nenek
tidak sampai hati untuk menolak. "Tapi ingat, jangan melakukan tindakan
macam-macam. Kau mau berjanji? Kalau tidak, mungkin kali ini aku tidak bisa
memenuhinya."
"Aku
berjanji, Nek," jawab Cendana tanpa pikir panjang lagi, karena terlalu
gembiranya. "Aku sudah yakin nenek akan mengabulkan permintaanku. Nenek
sungguh bijaksana dan baik hati, karena itu pasti akan
memenuhinya."
Si nenek
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Cendana. Bafinnya
bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana nasib Cendana kelak sepeninggalnya? Gadis
itu terlalu polos dan lugu, sedangkan dunia persilatan amat keras dan penuh
tipu. Perasaan si nenek selalu gundah jika mengingat hal ini
Meskipun
demikian, nenek berpakaian hitam ini mampu menyembunyikan kegalauan
perasaannya. Pada wajahnya tidak terlihat gambaran perasaan itu. Dia tidak
ingin Cendana mengetahuinya. Ditunggunya saat yang baik untuk menasihati gadis
ini.
"Ayolah,
Nek. Tunggu apalagi? Nanti pemilik suara itu keburu pergi." Cendana
mengingatkan dengan nada merajuk.
Nenek
berpakaian hitam tersenyum. Satu hal lagi yang membuatnya tidak pernah menolak
keinginan Cendana. Cendana tidak pernah berani mendahuluinya melakukan sesuatu,
kendati telah diizinkan. Padahal, seperti kali ini, bisa saja Cendana karena
telah mendapat izin, melesat lebih dulu ke tempat itu. Tapi Cendana tidak
melakukannya. Dia tidak berani bertindak lancang. Hal ini yang membuat rasa
sayang si nenek semakin besar.
"Jangan
khawatir, Cendana. Aku yakin pemilik suara itu tidak akan pergi," ucap si
nenek dengan bersungguh-sungguh.
"Benarkah
itu, Nek?" tanya Cendana, agak heran. "Aku yakin demikian."
"Mengapa,
Nek?" kejar Cendana.
"Dia
ingin melihat jidatmu yang licin, Cendana. Hi hi hi…" jawab si nenek
sambil melesat meninggalkan Cendana.
Cendana
sadar kalau si nenek menggodanya. Dia pun melesat mengejar dengan mulut
cemberut Berpura-pura marah dan tidak senang!
***
"Jangan
membuat bunyi gaduh, Cendana," bisik si nenek pelan. Tangannya yang keriput disentuhkan kepergelangan tangan kiri muridnya
untuk lebih menguatkan peringatannya.
Cendana
tidak berani membantah. Dirasakan nada kesungguhan dan ketegangan dalam ucapan
gurunya. Napasnya hampir ditahan ketika melayangkan pandangan ke arah yang
ditatap si nenek.
Si nenek dan
Cendana saat itu berada di pinggir tebing bukit kapur. Di hadapan keduanya
terhampar dataran kapur yang rata, sekitar sepuluh tombak di bawah dasar
tebing.
Bukan tanah
kapur datar itu yang menjadi pusat perhatian Cendana dan gurunya. Melainkan
sesosok tubuh tegap milik seorang pemuda berahang kokoh. Lesmana! Pemuda ini
tengah mengamuk. Memukul dan menendang ke sana kemari sambil mengeluarkan bunyi
geraman keras.
Lesmana
tidak sendirian. Di sekitarnya tengah meluruk ke arahnya puluhan ekor ular dari
berbagai jenis. Ular-ular itu berdesis-desis menyeramkan!
Cendana merasa perutnya mual melihat ular sebanyak itu.
Gadis ini merasa jijik bukan main. Perasaan yang dialami si gadis tidak dialami
nenek baju hitam.
Sementara di bawah sana Lesmana kembali
menggeram keras sehingga membuat sekitar tempat itu bergetar hebat. Ular-ular
itu pun menerima pengaruhnya. Beberapa di antaranya berkelojotan meregang maut
Tindakan
Lesmana tidak berhenti sampai di situ. Tangan dan kakinya digerak-gerakkan.
Tidak mengenai ular-ular itu sebenarnya. Tapi, cukup untuk membuat
binatang-binatang itu berpentalan bagai daun kering diterbangkan angin.
"Seorang
pemuda yang hebat…"
Cendana
mendengar ucapan itu di dalam telinganya. Gadis ini tahu kalau nenek baju hitam
mengucapkannya dengan menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh. Sehingga,
hanya Cendana seorang yang mendengarnya.
"Sayang,
ada sesuatu yang membuat akal sehatnya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Sayang sekali.... Pemuda hebat ini akan menjadi ancaman bagi orang lain. Dia akan
menyebar bahaya tanpa menyadarinya. Sungguh keji
orang yang
menyebabkan dia melakukan perbuatan seperti ini...."
"Apa
yang terjadi dengan pemuda itu, Nek?" bisik Cendana
Belum
sempat si nenek memberikan jawaban, Lesmana menengok ke atas. Adu pandang pun
tidak bisa dihindarkan lagi. Cendana dan si nenek tengah memperhatikannya.
Sekarang
Cendana baru bisa memahami mengapa nenek baju hitam memberikan peringatan
terhadapnya. Lesmana memiliki pendengaran luar biasa tajam. Begitu bersitatap,
Cendana merasakan bulu kuduknya berdiri. Mata Lesmana merah membara, seperti
mata binatang buas yang tengah murka. Wajahnya pun beringas menyiratkan hawa
pembunuhan.
"Bersiap-siaplah, Cendana. Pemuda itu akan menyerang kita," beritahu si nenek yang telah
kenyang pengalaman itu. Nenek baju hitam ini tahu tidak ada gunanya menyesalkan
kecerobohan Cendana. Nasi telah menjadi bubur! Yang lebih penting sekarang
adalah bagaimana menghadapi Lesmana.
Baru saja
mulut si nenek terkatup. Lesmana menggeram keras. Kali ini geraman yang mengandung
pengerahan tenaga dalam tinggi itu ditujukan pada Cendana dan gurunya. Si nenek
tidak terlalu terpengaruh karena telah memiliki tenaga dalam amat kuat. Tapi,
tidak demikian dengan Cendana. Gadis ini seperti mendengar bunyi halilintar
yang meledak dekat telinganya!
Dada
Cendana tergetar hebat. Kedua kakinya menggigil keras sehingga tidak bisa
menunjang tubuhnya. Cendana limbung dengan wajah pucat pasi.
"Cendana...!"
seru si nenek khawatir melihat keadaan muridnya.
Hanya
sampai di situ tindakan si nenek. Lesmana telah melompat ke atas dan
menyerangnya dengan hantaman ke arah dada. Si nenek yang tadi mengalihkan
perhatian ke arah Cendana, jadi tidak memiliki kesempatan untuk mengelak.
Dipapakinya serangan itu dengan tinju kirinya.
Dukkk!
Tubuh si
nenek terhuyung-huyung dua langkah ke belakang. Dadanya dirasakan sesak bukan
main. Lesmana
seperti
tidak terpengaruh sama sekali. Pemuda itu meluruk dengan serangan-serangan
lanjutan yang tak kalah dahsyat
Si nenek
tidak punya pilihan lain kecuali membela diri. Dengan seluruh kemampuan
dihadapinya serangan Lesmana. Pertarungan sengit pun berlangsung!
Cendana yang telah berhasil menguasai diri memperhatikan jalannya
pertarungan dengan hati berdebar tegang. Perasaan cemas dan menyesal melanda
hati. Cemas akan keselamatan gurunya dan menyesal karena telah melanggar
larangan nenek itu untuk tidak berbicara.
Saking
cepatnya gerakan dua pihak yang bertarung, Cendana tidak bisa melihat secara
jelas. Tapi, dari bayangan si nenek dan Lesmana yang saling gebrak, bisa diperkirakannya siapa yang berada di pihak
menguntungkan. Dan si nenek kelihatan kewalahan bukan main.
Penilaian
Cendana memang tidak keliru. Meski nenek baju hitam telah menggunakan
tongkatnya dan Lesmana bertangan kosong, tetap saja Lesmana yang berada di atas
angin. Pemuda itu memiliki keunggulan di semua hal. Tidak hanya tenaga dalam
dan ilmu meringankan tubuh, tapi juga ilmu-ilmu silatnya dan usianya yang masih
muda. Tak sampai lima belas jurus Lesmana berhasil mendesak si nenek.
"Cendana...!
Lari...! Tinggalkan tempat ini!"
Dalam
keadaan tenepit si nenek mengingatkan muridnya. Disadari kalau dirinya tak akan
mampu bertahan terus.
Namun,
bukannya menuruti seruan si nenek, Cen-dana malah mencabut pedang dan melompat
masuk dalam kancah pertarungan. Bertepatan dengan itu, si nenek menyabetkan
tongkatnya ke arah leher Lesmana!
Trakkk!
Tongkat
patah tiga ketika Lesmana menyampoknya dengan keras. Tubuh si nenek terhuyung
ke belakang. Saat itu pula Lesmana mengirimkan gedoran ke arah dada!
Cendana yang
melihat ancaman itu segera merubah arah serangannya. Tusukan yang semula
ditujukan ke dada Lesmana, dialihkan ke pergelangan tangan si pemuda yang
tengah meluncur ke arah dada nennek baju hitam!
Takkk!
Desss!
Cendana
memekik tertahan. Mata pedangnya tidak mampu membuat tangan Lesmana buntung.
Pedang itu malah membalik dan gadis ini merasakan tangannya lumpuh. Kibasan
tangan kiri Lesmana yang mengeluarkan deru angin dahsyat membuat tubuh Cendana
terlempar ke belakang.
Di saat
yang bersamaan, tubuh nenek baju hitam pun terjengkang ke belakang. Tubuh murid
dan guru ini jatuh di tanah secara berbarengan. Hanya saja, kalau Cendana meski
terhuyung-huyung mampu mendarat dengan kedua kakinya, si nenek mendarat di
tanah dengan punggungnya!
"Nenek...!"
Tanpa mempedulikan Lesmana lagi, Cendana menghambur ke arah tubuh si
nenek yang tergolek. Suaranya sarat dengan kesedihan dan penyesalan.
"Cendana...,"
sahut si nenek, berusaha menyugingkan senyum untuk menenangkan hati muridnya.
Tapi, justru membuat Cendana semakin dililit perasa sedih. Darah mengalir dari
sudut mulut si nenek.
"Maafkan
aku, Nek. Aku selalu menentang ucapanmu. Aku yang salah, Nek. Akulah yang
menyebabkan nenek jadi seperti ini," ueap Cendana tersendat-sendat menahan
isak di tenggorokan. Gadis ini duduk bersimpuh di dekat si nenek.
Nenek baju
hitam masih mampu menggelengkan kepala.
"Kau
tidak bersalah, Cendana. Ini yang namanya nasib. Malah, kau telah berjasa
besar. Kalau tidak karena pedangmu yang membabat serangan pemuda itu, mungkin
nyawaku telah melayang ke alam baka. Tindakan yang kau lakukan membuat tenaga
serangan yang mengenai dadaku berkurang jauh. Kau telah menyelamatkanku,
Cendana," hibur si nenek.
Cendana
semakin terpuruk dalam kesedihan. Hiburan si nenek menambah kesedihannya. Ia
menyadari betapa besar kasih sayang si nenek terhadapnya, sedangkan balasannya
selalu sikap yang membangkang.
Bahu
Cendana terguncang-guncang karena tangis yang tersendat. Cendana berusaha keras
untuk bertahan agar tidak menangis. Tapi, kodratnya sebagai wanita yang
memiliki perasaan lembut membuatnya harus berjuang keras.
"Sudah
lama aku mendapat firasat ajalku akan datang. Aku sudah bersiap-siap untuk
memberitahukanmu beberapa hal, Cendana," ujar nenek baju hitam.
Cendana
mulai meneteskan air mata. Tidak ada suara tangisan yang keluar. Gadis yang
memiliki watak periang dan manja ini ternyata memiliki kekerasan hati luar
biasa. Dia malu untuk menangis.
"Kuharap
kau tidak menangis, Cendana. Relakan saja kepergianku. Hanya pesanku, kau tidak
boleh berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan. Dan, kau harus berhati-hati
menghadapi orang-orang persilatan. Jangan sampai kau tertipu. Waspadalah
selalu," si nenek mulai dengan wejangannya.
Sementara
Lesmana seperti terkesima melihat adegan mengharukan itu. Sepasang matanya yang
semula merah membara mulai agak meredup. Bahkan, geraman-geraman yang
dikeluarkan sudah tidak sekeras sebelumnya. Rupanya, adegan yang terpampang di
depan matanya berhasil merasuk ke dalam lubuk hatinya! Karena, pada dasarnya
pemuda ini memang bukan orang jahat.
Ketika
melihat Cendana meneteskan air mata, sinar mata Lesmana melembut. Ada
penyesalan di dalamnya. Sambil mengeluarkan bunyi seperti keluhan, tubuhnya
dibalikkan lalu melesat cepat meninggalkan tempat itu.
5
Cendana
duduk tercenung di atas gundukan batu sebesar kerbau yang permukaannya datar
dan rata. Wajahnya muram. Sepasang matanya yang biasanya berseri-seri penuh
kehidupan, kini layu bagaikan lampu kehabisan minyak. Ada gumpalan kabut
kedukaan di sepasang matanya.
Terngiang-ngiang
kembali ucapan gurunya sebelum menghembuskan napas penghabisan di pelukannya.
"Jangan
kau mendendam pada pemuda itu, Cendana. Dia tidak bersalah. Tindakan yang
dilakukannya tidak disadarinya. Aku yakin pemuda itu orang baik-baik.
Gerakan-gerakan pemuda itu kukenali milik seorang pendekar yang disegani. Kalau
bisa, tolong dia. Sembuhkan dari penyakitnya yang membuatnya menjadi buas.
Mungkin karena diracuni orang. Kau mau memenuhi permintaan terakhirku ini,
Cendana?"
Tanpa sadar
Cendana mengangguk seperti yang dilakukannya waktu itu. Anggukan yang dirasakan
gadis ini berat bukan main. Bagaimana mungkin pembunuh gurunya tidak dibalas,
bahkan malah ditolong? Tapi, saat itu Cendana tidak punya pilihan lain. Si
nenek hanya akan meninggalkan dunia dengan hati tenang bila permohonannya
dikabulkan.
Cendana
menggertakkan gigi. Geram. Itu selalu terjadi setiap kali teringat wajah
Lesmana. Tindakannya kali ini membuatnya sadar dari lamunan.
Cendana
melayangkan pandangan ke bawah, ke lereng gunung. Di bagian yang datar
dilihatnya sebuah pondok sederhana. Pondok yang menjadi sebab gurunya keluar
dari tempat tinggal dan akhirnya menemui ajal. Pondok yang menjadi tempat
tinggal Pendekar Penyebar Asmara!
Semangat
Cendana bangkit kembali. Semula, ke-matian gurunya membuatnya tidak bersemangat
untuk hidup. Ada sesuatu yang hilang dari hatinya. Gurunya telah menjadi bagian
yang amat penting dari kehidupannya.
Bangkitnya
semangat Cendana karena menyada masih ada tugas yang dibebankan di pundaknya.
Tugas yang
mungkin
akan dapat menebus perasaan bersalah karena merasa telah menjadi penyebab
kematian gurunya. Tugas itu adalah membalaskan sakit hati gurunya pada Pendekar
Penyebar Asmara!
Tugas ini
membuat Cendana bagai bangkit kematian. Meski kedukaan tidak sirna dari
wajahnya, langkahnya tidak selesu sebelumnya. Cendana melesa menuruni puncak
dengan cepat.
Tak berapa
lama, pondok itu telah berjarak sepuluh tombak lagi. Tapi, Cendana terpaksa
menghentikan lari karena mendengar bentakan keras.
"Hey...!
Berhenti...!"
Dari dalam
pondok melesat sesosok bayangan merah. Tidak terlihat jelas oleh Cendana karena
cepatnya sosok itu bergerak. Hanya, mendengar suaranya yang melengking tinggi
dan nyaring, gadis ini tahu pemilik suara itu adalah seorang wanita.
Dugaan
Cendana memang tidak keliru. Dua tombak di depannya berdiri seorang wanita
berusia sekitar tiga puluh tahun. Wajahnya yang cantik terlihat matang. Apalagi
karena model rambutnya yang digelung ke atas. Sebuah tahi lalat yang cukup
besar menempel di ujung hidungnya. Seorang wanita yang cukup menarik, puji
Cendana dalam hati. Apalagi ketika melihat bentuk tubuh wanita itu yang
menggiurkan.
"Mau
apa kau kemari, Wanita Centil? Cepat pergi dari sini!" usir wanita
berpakaian merah, ketus.
Cendana
yang tengah gusar karena kematian gu-runya, jadi marah bukan main melihat sikap
kasar itu. Sepasang matanya menyambar wajah wanita di depannya dengan kilatan
kemarahan.
"Kau
yang centil! Centil dan gila! Kalau tidak, mengapa tidak ada hujan atau angin
memaki-maki orang?" balas Cendana, tak mau kalah memaki.
"Tak
perlu ada hujan atau angin untuk memakimu! Kau memang centil. Kalau tidak,
untuk apa kau kemari?!" Wanita berpakaian merah menimpali lagi sambil
bertolak pinggang.
"Ada
apa, Mirah? Mengapa ribut-ribut di luar?" sambut sebuah suara sebelum
Cendana memberikan tanggapan.
"Tidak
ada apa-apa, Kak. Hanya gangguan kecil. Dapat kuatasi. Kau tidak usah
keluar!" sambut Mirah, cepat.
Cendana
tersenyum mengejek. Kemudian, kepalanya diangguk-anggukkan.
"Sekarang
aku mengerti mengapa kau kelihatan khawatir sekali, nenek bawel dan
galak!" ujar Cendana, seenaknya. "Kau pasti istri si Pendekar Mata
Bongsang! Wanita tak tahu malu. Kemaruk lelaki seakan-akan di dunia ini hanya
ada satu lelaki, tidak ada lainnya kecuali Pendekar Mata Bongsang yang tidak
tahan melihat jidat licin! Kau takut dia melihatku yang berjidat sangat licin,
hingga akan membuatnya tertarik padaku. Begitu kan?!"
Wajah Mirah
memerah sampai ke daun telinganya. Dia kelihatan marah sekali. Marah dan malu.
Semula wanita ini bingung mendengar julukan Pendekar Mata Bongsang. Tapi,
begitu mendengar ucapan-ucapan selanjutnya, dia jadi mengerti!
"Rupanya
di samping berwatak centil, kau pun memiliki mulut tajam. Kalau tidak dihajar,
sifat kurang ajarmu semakin menjadi-jadi!"
Mirah memenuhi ancamannya. Dia menyerang Cendana dengan sebuah
tamparan ke arah mulut gadis berpakaian kuning itu. Bunyi yang mengiringi
gerakan tangannya menjadi petunjuk kalau bibir menggiurkan milik Cendana akan
kehilangan keindahannya jika menjadi sasaran.
Cendana
tidak mau hal itu terjadi. Tubuhnya ditarik ke belakang sehingga serangan Mirah
luput. Tendangan kaki kanan dikirimkan Cendana ke arah lambung lawan sebagai
balasannya.
Mirah
memekik pelan karena kaget. Serangan itu memaksanya melompat mundur. Amarahnya semakin meluap. Ini membuat terjangannya yang berikut
lebih dahsyat. Cendana menimpali. Pertarungan pun berlangsung sengit.
Dua
perempuan yang sama-sama cantik dan galak ini bertarung dengan menggunakan senjata. Tapi, lewat beberapa jurus keduanya segera
mengeluarkan senjata masing-masing. Cendana dengan pedangnya. Sedangkan Mirah
menggunakan sepasang belati berwarna merah seperti warna pakaiannya.
Cendana
memang lihai. Tapi, Mirah tak kalah lihai! Satu kelebihan Mirah adalah wanita
ini lebih menang pengalaman. Sikapnya bertarung menunjukkan kalau dia telah
kenyang pengalaman bertarung. Bisa diperkirakan jika mengingat usianya.
Sementara Cendana baru turun gunung dan belum pernah terlibat dalam
pertarungan. Lewat beberapa belas jurus gadis ini mulai terdesak.
"Jangan
hiraukan tangan kanan. Tangan kiri akan ditujukan pada leher, tendang
perutnya," terdengar sebuah suara di telinga Cendana. Suara yang diyakini
gadis ini dikirimkan lewat ilmu mengirim suara dari jauh.
Cendana
berpikir cepat. Dia yakin si pengirim suara bermaksud membantunya. Maka, dengan membuta
diikutinya petunjuk itu. Serangan tangan kanan Mirah dibiarkannya. Dia malah
berjaga-jaga terhadap yang kiri. Serangan yang dilancarkannya pun mengikuti
petunjuk pemilik suara tanpa wujud itu.
Pastinya
memang menggembirakan Cendana. Meski serangannya tidak berhasil, tapi bukan
karena kesalahan pemilik suara. Dia yang bertindak kurang cepat karena tadi
berpikir sebentar. Yang jelas, semua pemberitahuan itu benar.
Kenyataan
ini membuat Cendana mengikuti semua petunjuk yang diterimanya tanpa pikir
panjang lagi. Dan memang, sejak itu Mirah berhasil dibuatnya kalang kabut.
Bahkan, sekarang ganti Mirah yang terdesak.
***
"Ha ha
ha...! Sungguh tidak kuduga Pendekar Penyebar Asmara membiarkan
gundik-gundiknya saling bertarung!"
Sosok tubuh
pendek gemuk terjun ke dalam kancah pertempuran. Dia tidak ikut bertarung,
apalagi melancarkan serangan. Sosok itu melesat begitu saja di antara Cendana
dan Mirah tanpa khawatir akan menjadi korban serangan nyasar.
Hal itu
memang tidak terjadi. Begitu sosok gemuk itu menyelak di tengah-tengah, tubuh
Cendana dan Mirah terjengkang ke belakang bagai didorong kekuatan tak nampak.
Cendana
tidak menjadi gentar. Begitu berhasil memperbaiki kedudukan, dia melesat
menerjang sosok pendek gemuk dengan bacokan ke arah leher. Cendana sakit hati
sekali mendengar makian sosok itu yang mengatakan dia gundik Pendekar Penyebar
Asmara.
"Jangan
ceroboh! Kau mencari penyakit sendiri, Nona," pemilik suara tanpa wujud
memberikan peringatan.
Tapi,
peringatan itu datangnya tertambat. Cendana telah lebih dulu melancarkan
serangan. Memang, andaikata gadis itu menghendaki, bisa saja serangan itu
dibatalkan. Tapi, Cendana sudah terlalu marah. Peringatan suara tanpa wujud itu
tidak dipedulikannya lagi.
Sosok
pendek yang bukan lain Gajah Kecil, tertawa terbahak-bahak. Kakek ini memang
memiliki sifat mudah tertawa. Bahkan, dalam marahnya pun dia tertawa.
Seakan-akan Gajah Kecil hidup di satu dunia, yaitu dunia yang penuh dengan
kegembiraan.
"Gundik si Pemadat Perempuan berani menyerangku?!"
Gajah Kecil
mendorongkan tangan kanannya ke depan. Cendana merasakan sekujur tubuhnya
lemas. Tenaganya lenyap entah ke mana. Dan, sebelum dia mengerti apa yang telah
teriadi, Gajah Kecil mengibaskan tangan kiri seperti orang mengusir nyamuk!
Untuk kedua
kalinya tubuh Cendana terlempar ke belakang. Kali ini bahkan lebih jauh dari
sebelumnya. Cendana tidak bisa mendarat dengan kedua kaki. Ia mendarat di tanah
dengan punggungnya!
Cendana
mengernyitkan alis ketika tidak merasakan sakit kendati dirasakan punggungnya
menempel dengan sesuatu, yang diyakininya tanah. Sebuah tangan yang menyentuh
bahu belakangnya dan menyebarkan hawa hangat sehingga tenaga Cendana kembali pulih, menyadarkan gadis ini
akan keanehan itu. Dia ternyata tidak berada di tanah, melainkan beberapa kaki
di atasnya. Punggungnya menempel pada tongkat yang berada di tangan seseorang
yang berada di belakangnya!
Kalau saja
Cendana bukan orang yang berhati besar tentu agak kaget melihat si pemegang
tongkat. Sosok itu memiliki wajah demikian buruk. Wajahnya lebih mirip wajah
kera! Matanya bundar kecil dan berwarna kehijauan.
Hidungnya
pesek dengan mulut lebar serta wajah dipenuhi bulu. Seorang manusia berwajah
setan! Wajah itu lebih buruk dari pada wajah monyet. Di sana-sini terlihat
guratan luka.
Cacat
pemilik tongkat itu masih ditambah lagi dengan tubuhnya yang tidak normal.
Punggungnya bungkuk! Tongkat itu mungkin untuk menahan tubuhnya agar tidak
roboh.
"Menyingkiriah,
Nona. Iblis itu bukan lawanmu," ujar sosok berwajah mirip setan itu,
lembut.
Cendana
tidak membantah. Dia percaya penuh. Bukan karena menyadari Gajah Kecil jauh
lebih tangguh daripadanya. Tapi, karena suara yang keluar dari mulut sosok
berwajah setan ini adalah suara orang yang memberi petunjuk kepadanya ketika
menghadapi Mirah. Sosok berwajah setan ini adalah penolongnya!
"Ha ha
ha...!" Gajah Kecil tertawa bergelak "Kau ini manusia atau setan?
Dibilang manusia kau lebih mirip setan. Benar! Kau... Setan Bongkok! Itu
julukan yang tepat untukmu. Ha ha ha...!"
Sosok yang
disebut Setan Bongkok tidak memberikan tanggapan sedikit pun. Dia menatap Gajah
Kecil penuh selidik dan waspada. Terlihat jelas sikap hati-hatinya.
"Sebelumnya,
kedatanganku kemari hanya untuk mengirim nyawa Pendekar Pemadat Wanita ke
neraka. Tapi, karena kau berani bersikap menantangku, aku jadi ingin membuatmu
bepergian ke alam baka. Mudah-mudahan saja kau senang!" ujar Gajah Kecil.
Gajah Kecil
lalu mengambil napas panjang-panjang. Dia ingin menyedot udara
sebanyak-banyaknya. Setan Bongkok memperhatikannya dengan kewaspadaan tidak
berkurang. Cendana dan Mirah pun demikian. Kedua wanita ini ingin tahu apa yang
akan dilakukan Gajah Kecil.
Mirah dan
Cendana membelalakkan mata ketika melihat tubuh Gajah Kecil melembung seperti
balon ditiup! Tubuhnya yang memang sudah bulat jadi bertambah bundar. Sesaat
kemudian, terdengar bunyi berkerotokan seperti tulang-tulang patah. Padahal, Gajah Kecil tidak
menggerakkan tangan atau kakinya. Dia tetap diam di ternpatnya sambil terus
menarik napas dalam-dalam. Tindakan ini membuat tubuhnya semakin melembung.
Mirah dan
Cendana tidak mengerti maksud tindakan Gajah Kecil. Tapi mereka segera
mengetahuinya ketika bunyi-bunyi yang terdengar itu mulai menimbulkan akibat.
Bunyi-bunyi itu sebenarnya tidak keras. Namun akibatnya tidak sesederhana bunyi
yang terdengar. Mirah dan Cendana merasakan kelelahan merayapi sekujur
otot-otot di tubuhnya. Semakin lama rasa lelah yang mendera semakin besar.
Seiring
dengan semakin membesarnya kelelahan menyergap, rasa kantuk pun timbul. Kantuk
yang luar biasa hebatnya. Sehingga, meski Cendana dan Mirah berusaha keras
untuk bertahan, keduanya tidak mampu. Sepasang mata mereka memejam sendiri.
Kesadaran
yang masih tersisa membuat Mirah dan Cendana berusaha untuk mengadakan
perlawanan. Tapi, sia-sia saja. Pengaruh bunyi yang menyerang langsungmenerjang
urat saraf yang berhubungan dengan kelelahan. Tenaga yang hendak dikerahkan
kedua wanita perkasa ini jadi pupus. Cendana dan Mirah akhirnya tertidur dalam
sikap berdiri!
Kalau
pengaruh yang melanda Mirah dan Cendana saja demikian hebatnya, apalagi yang
dialami Setan Bongkok. Setan Bongkoklah sebenarnya yang menjadi sasaran
penyerangan. Pengaruh yang melanda sosok berwajah mengerikan ini berlipat kali
lebih dahsyat!
Tapi, Setan
Bongkok tidak sampai terpengaruh seperti halnya Mirah dan Cendana. Di samping
tokoh berwajah mengerikan ini memiliki tenaga dalam yang jauh lebih kuat, sejak
semula dia sudah bersikap waspada. Begitu mendengar adanya bunyi ia segera mengetuk-ngetukkan ujung
tongkatnya ke tanah secara berirama. Bunyi yang terdengar dari beradunya ujung
tongkat dengan tanah kapur berpengaruh untuk melawan serangan bunyi yang
diciptakan Gajah Kecil!
"Haaa...!"
Gajah Kecil
membuka mulutnya lebar-lebar sambil mengeluarkan seruan keras. Setan Bongkok
bagai disambar halilintar! Tubuh sosok berwajah kacau balau ini terjengkang ke
belakang. Tongkatnya terpental entah ke mana. Pengaruh seruan Gajah Kecil yang
sudah luar biasa itu masih ditambah dengan hembusan angin dahsyat. Dua serangan
gabungan ini yang menyebabkan tubuh Setan Bongkok lintang pukang!
Bukan hanya
Setan Bongkok yang menerima aki-batnya. Mirah dan Cendana pun tidak luput.
Tubuh kedua wanita ini tersentak seperti orang terkena demam tinggi. Kemudian,
jatuh ambruk ke tanah bagai sehelai karung basah. Meski demikian, keduanya
tidak tergugah dari tidurnya!
Di lain
pihak, Gajah Kecil tidak menunggu lebih lama. Kakek ini sadar kalau Setan
Bongkok merupakan lawan tangguh. Maka, langsung dia menggelinding memburu
lawannya.
Perhitungan
Gajah Kecil memang tidak keliru. Setan Bongkok tidak terluka sama sekali
kendati tubuhnya terjengkang dan terguling-guling.
Sebelum
tubuh Gajah Kecil mendekat, Setan Bongkok melompat ke atas dan melancarkan
serangan balasan. Dua tokoh yang sama-sama memiliki ciri-ciri aneh ini pun
terlibat pertarungan sengit
***
Saat Setan
Bongkok dan Gajah Kecil terlibat dalam pertarungan, dari dalam pondok melesat
sesosok bayangan putih. Sosok yang ternyata seorang lelaki berusia sekitar tiga
puluh tujuh tahun ini berdiri di dekat tubuh Mirah dan Cendana yang tergolek di
tanah. Kendati demikian, pandangannya tertuju pada pertarungan yang tengah
berlangsung.
"Sungguh
berbahaya sekali...," desis lelaki berpakaian putih yang memiliki wajah
tampan dan bertubuh tegap berisi dengan bau wangi menyebar dari sekujur badan.
Kepalanya digeleng-gelengkan. "Gajah Kecil telah keluar dari
persembunyian. Bukan tidak mungkin dua yang lain dari Tiga Binatang Iblis
Neraka telah meninggalkan sarang. Kepandaian Gajah Kecil tidak berkurang.
Malah, bertambah dahsyat."
Lelaki ganteng
yang bukan lain Pendekar Penyebar Asmara ini mengalihkan perhatian pada Setan
Bongkok.
"Siapa
tokoh luar biasa ini? Gerakan-gerakannya mengingatkanku pada tokoh penuh
rahasia yang berjuluk Elang Malaikat. Mungkinkah ada hubungan perguruan
dengannya?"
Cukup lama Pendekar Penyebar Asmara memperhatikan jalannya pertarungan sebelum
akhirnya perhatiannya dialihkan pada Mirah dan Cendana.
Sepasang mata Pendekar Penyebar Asmara menyiratkan rasa kagum ketika menatap Cendana.
Bagai orang yang kehausan melihat air, tatapannya menjelajahi sekujur tubuh
Cendana mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Mirah...,"
sapa Pendekar Penyebar Asmara, lembut seperti layaknya orang yang memanggil
buah hati yang sangat dikasihi. "Sudah cukup kau tenggelam dalam tidur.
Bangun. Mari kita pergi. Ada urusan lain yang menunggu."
Aneh bin
ajaib! Mirah yang sejak tadi bagaikan orang mati, tak bangun kendati jatuh
secara keras di tanah dan adanya bunyi menggelegar di telinga, membuka mata.
"Apa
yang terjadi, Kak? Mengapa aku tiduran di tanah?" tanya Mirah kebingungan.
Kepalanya ditolehkan ke sana kemari. Terlihat olehnya Cendana yang tadi telah
berhasil mendesaknya secara mendadak. Tampak juga Setan Bongkok tengah
bertarung dengan Gajah Kecil.
"Nanti
saja kujawab pertanyaanmu, Mirah," jawab Pendekar Penyebar Asmara tetap
lembut sambil tersenyum manis. "Sekarang, yang penting kita harus segera
tinggalkan tempat ini."
Tanpa
memberi kesempatan pada Mirah untuk berpikir lebih lama, Pendekar Penyebar
Asmara menadahkan kedua tangannya seperti orang tengah berdoa. Mendadak, tubuh
Cendana melayang ke arahnya dan hinggap di kedua tangannya. Seakan ada daya
tarik yang amat kuat dari kedua tangan itu.
"Apa
artinya ini, Kak? Mengapa wanita centil itu kau bawa?!" kecam Mirah.
Pandang matanya dikerlingkan pada Cendana dengan penuh kebencian.
Pendekar
Penyebar Asmara hanya tersenyum kalem. "Nanti pun kau akan tahu,
Mirah."
Hanya itu
jawaban Pendekar Penyebar Asmara sebelum melesat meninggalkan tempat itu. Mirah
tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti, meski dengan bersungut-sungut tidak
senang.
Setan
Bongkok sempat melihat kejadian itu. Ini membuatnya cemas. Tapi, apa dayanya?
Saat itu dia tengah
sibuk
menghadapi Gajah Kecil. Mengalihkan perhatian hanya akan mengirim nyawanya ke
neraka!
Meski demikian,
sekarang Setan Bongkok sulit untuk memusatkan perhatian. Dia tahu siapa adanya
Pendekar Penyebar Asmara. Cendana akan menjadi korbannya. Tokoh aneh ini jadi
gelisah bukan main. Ini membuat keadaannya semakin tidak menguntungkan.
Tingkat
kepandaian Setan Bongkok memang masih di bawah Gajah Kecil. Bertarung dengan
sepenuh hati pun dia kewalahan. Untungnya, mutu ilmu silat yang dimilikinya
lebih unggul dari ilmu Gajah Kecil. Ini yang membuatnya berhasil untuk
bertahan. Apalagi ilmunya memang cukup mempunyai pertahanan yang kokoh hingga
Gajah Kecil sulit untuk merobohkan. Pertarungan jadi berlangsung alot!
Tapi
setelah kejadian yang menimpa Cendana, Setan Bongkok merubah cara bertarung.
Tokoh ini mulai melancarkan serangan-serangan.Tak tanggung-tanggung lagi yang dipergunakan. Serangan yang terdahsyat dan
merupakan ilmu andalannya!
Gajah Kecil
sempat berubah wajahnya ketika melihat Setan Bongkok menerjang sambil
mengeluarkan pekikan melengking nyaring. Pekikan itu membuat nyawanya untuk
sesaat seperti melayang ke alam baka. Isi dadanya sampai terguncang! Buru-buru
dikerahkan tenaga dalam untuk menangkalnya. Pada saat yang hampir bersamaan dia
melompat memapaki serangan Setan Bongkok!
Bresss!
Tubuh Setan
Bongkok dan Gajah Kecil sama-sama terpental ke belakang dan terbanting keras di
tanah. Namun, keduanya segera bangkit berdiri.
Pertarungan
terhenti. Kedua belah pihak tidak ada yang memulai serangan. Yang dilakukan
hanya saling tatap dengan sinar mata penuh tantangan.
"Kau
hendak mengadu nyawa, Gajah Kecil?!" tanya Setan Bongkok, angker.
Gajah Kecil
adalah seorang tokoh kawakan. Dia segera tahu lawan tangguhnya ini memberikan
pilihan padanya untuk menghabiskan masalah ini sampai di situ saja. Setan
Bongkok tidak ingin memperpanjang masalah. Gajah Kecil yang cerdik ini pun bisa
melihat adanya keuntungan dengan
tawaran
itu. Setan Bongkok benar. Tidak ada gunanya meneruskan pertarungan.
"Kalau
kau menginginkannya apa boleh buat, Bongkok? Aku, Gajah Kecil, bukan orang yang
takut mati! Lagi pula, kaulah yang lebih dulu mencampuri urusanku. Ha ha
ha...!"
"Itu
kulakukan karena kau hendak mencelakai gadis yang berada dalam perlindunganku.
Tak satu pun makhluk yang bisa mencelakainya selama aku ada!" tandas Setan
Bongkok.
Gajah Kecil
tersenyum penuh kemenangan. Ucapan lawannya yang terakhir menunjukkan kalau
Setan Bongkok enggan bermusuhan dengannya. Setan Bongkok hanya terpaksa
melawannya. Meski sebenarnya tak takut terhadap Setan Bongkok, tapi Gajah Kecil
tahu untuk membunuh lawannya ini bukan perkara yang mudah. Padahal, dia
mempunyai urusan yang lebih penting. Mencari dan membalaskan sakit hati
muridnya pada Pendekar Penyebar Asmara.
Satu hal
yang menggembirakan hati Gajah Kecil adalah sikap Setan Bongkok yang mengalah.
Hal ini dianggapnya karena keunggulannya. Kendati, dia belum menang secara
mutlak.
"Kalau
itu maumu, lain kali urusan ini kita perpanjang lagi, Bongkok! Ha ha
ha...!"
Gajah Kecil
menggelinding meninggalkan tempat itu. Setan Bongkok pun bergegas pergi. Dia
sudah tidak sabar lagi untuk menolong Cendana.
6
"Nona,
bangunlah. Tidak baik tidur terlalu lama," ujar Pendekar Penyebar Asmara
lembut.
Cendana
bagaikan orang tidur yang diguyur seember air dingin. Dia tersentak bangun.
Yang pertama kali dilihatnya adalah seraut wajah ganteng yang tersenyum penuh
daya pikat. Kumis tipis, sedikit jenggot, dan cambang yang teratur rapi membuat
wajah itu semakin menarik.
Cendana
merasakan hatinya terguncang. Sebuah perasaan aneh muncul di hatinya. Perasaan
tertarik. Lelaki yang duduk bersila sekitar satu tombak di depannya ini amat
menarik! Tidak hanya wajah, suaranya pun penuh daya tank. Demikian lembut dan
menggetarkan hati. Aroma wangi yang nikmat di hidung semakin menambah
ketertarikan hati Cendana. Aroma itu keluar dari tubuh Pendekar Penyebar
As-mara.
Malu karena
hanya berdua saja di dalam gua yang cukup luas ini, Cendana menundukkan kepala.
Gadis ini sempat merasa aneh. Inikah dirinya, Cendana yang periang? Mengapa
sekarang seperti seorang gadis pemalu dilamar orang?
Sekarang
Cendana baru menyadari kebenaran ucapan gurunya yang menyatakan akan tiba
masanya dia jatuh hati pada seorang lelaki. Cendana tidak menyalahkan dirinya.
Lelaki di hadapannya ini memang amat menarik! Cendana sungguh tidak tahu kalau
lelaki di hadapannya itu adalah Pendekar Penyebar Asmara. Orang yang
dicari-carinya!
"Mengapa
aku bisa berada di sini?" tanya Cendana lirih tanpa berani mengangkat
wajah. Samar-sama dia mulai teringat kejadian-kejadian yang dialaminya.
"Aku
yang membawamu kemari, Nona. Kuliha kau tergeletak di tanah," jawab Pendekar
Penyebar Asmara.
Cendana
bagaikan dibuai. Suara Pendekar Penyebar Asmara terasa nyaman di dada. Sejuk!
Ingin didengarnya lagi suara itu.
Pendekar
Penyebar Asmara bangkit dari duduk bersilanya dan turun dari gundukan batu yang
didudukinya. Dengan langkah lambat-lambat dihampirinya Cendana yang
tetap
berdiri dengan wajah tertunduk. Dada gadis itu berombak keras menandakan
besarnya ketegangan yang melanda hati.
Cendana
hampir saja terjingkat ketika Pendekar Penyebar Asmara menyentuh kedua bahunya.
Cendana tiba-tiba merasakan sekujur tubuhnya lemas bagai tak bertulang.
Cendana
tidak memberikan penolakan ketika Pen-dekar Penyebar Asmara mengangkat
wajahnya. Bahkan, ketika lelaki itu mendekatkan wajah. Cendana malah pasrah!
Ketika bibir Pendekar Penyebar Asmara mengulum bibirnya, gadis ini mengeluh
tertahan.
Cendana
malah balas memagut. Dua insan yang berbeda jenis ini saling cium dengan tubuh
berpelukan erat. Cendana hanya sedikit meronta ketika Pendekar Penyebar Asmara
merebahkan tubuhnya ke tanah. Tapi, itu hanya sebentar. Sesaat kemudianhal itu
dibiarkannya.
"Hentikan,
Jahanam...!"
Teriakan
keras penuh kemarahan membuat Pendekar Penyebar Asmara dan Cendana tersentak
bagai disengat kalajengking! Pendekar Penyebar Asmara segera bangkit dari atas
tubuh Cendana. Gadis ini lalu bergegas bangkit dan membereskan pakaiannya yang
telah terbuka di sana sini. Cendana seperti orang yang baru sadar dari mimpi
buruk.
"Menyingkirlah,
Nona," ucap Setan Bongkok, pemilik bentakan tadi Lelaki ini berdiri tegak
di mulut gua. "Tutup matamu dan pergunakan mata hatimu. Pendekar Penyebar
Asmara memang memiliki suatu pengaruh aneh yang membuat setiap wanita tidak
berdaya untuk menolak keinginan bejatnya."
Bagai ada
halilintar menggelegar di tempat itu ketika Cendana mendengar ucapan Setan
Bongkok. Jadi, lelaki ganteng itu adalah Pendekar Penyebar Asmara? Orang yang
telah banyak menjatuhkan hati wanita dan orang yang tengah dicari-carinya untuk membalaskan
sakit hati gurunya! Hampir saja
dia menjadi korban!
Sekarang
Cendana baru mengerti mengapa gurunya begitu khawatir dia akan terpikat pada
Pendekar Penyebar Asmara. Nenek baju hitam benar. Setan Bongkok juga benar.
Pendekar Penyebar Asmar mempunyai pengaruh aneh yang membuat lawan jenisnya
tertarik dan tak berdaya menolak kehendaknya.
Cendana
teringat lagi akan dugaan gurunya. Nenek baju hitam ini mengatakan Pendekar
Penyebar Asmara mungkin menuntut sebuah ilmu aneh. Ilmu yang membuat lawan
jenisnya tertarik dan lupa diri. Ilmu yang jauh lebih dahsyat dan memiliki
pengaruh lebih dari susuk atau pelet!
Cendana
geram bukan main. Marah karena hampir saja menjadi korban seperti halnya murid
gurunya sebelum dia. Perasaan geram membuatnya mencabut pedang dan menyerang
Pendekar Penyebar Asmara. Cendana harus menggertakkan gigi untuk mengusir
perasaan tertariknya.
"Mengapa
mencabut pedang, Nona? Bukankah lebih baik kalau kita bersahabat daripada
bermusuhan," ucap Pendekar Penyebar Asmara lembut dengan senyum memikat.
Pendekar
Penyebar Asmara mengulurkan tangan, menangkap pedang Cendana. Dan, sekali tarik
tubuh gadis itu kembali jatuh ke pelukannya.
Cendana hendak meronta. Tapi seperti juga
sebelumnya, pengaruh aneh yang menyebar dari Pendekar Penyebar Asmara
melarangnya melakukan hal itu. Cendana pasrah!
Sepasang
mata Setan Bongkok berkilat-kilat melihat hal ini. Laksana seekor burung yang
tengah murka, dia memekik nyaring. Pekikan yang membuat Cendana sadar kembali
ciri kungkungan perasaan aneh Cendana meronta. Pendekar Penyebar Asmara sedikit
pun tidak menahannya, sehingga gadis itu berhasil melepaskan diri. Wajah
Cendana merah padam.
***
Setan
Bongkok melesat ke depan dan berdiri di antara Pendekar Penyebar Asmara dan
Cendana.
"Menyingkirlah, Nona. Pengaruh aneh yang
ditimbulkan Pendekar Penyebar
Asmara terlalu kuat untukmu," Setan Bongkok memberi
nasihat dengan suara halus.
Cendana yang sudah merasakan sendiri
kenyataannya, melangkah mundur. Dia bergidik rnembayangkan dirinya menjadi
korban seperti wanita-wanita lain. Gadis ini berdiri bersandar di dinding gua.
Diperhatikannya
jalannya peristiwa yang akan terjadi antara Setan Bongkok dan Pendekar Penyebar
Asmara.
Pendekar
Penyebar Asmara tersenyum. Dia tidak marah dengan kegagalannya menikmati
kegadisan Cendana. Senyumnya yang memikat bahkan tidak hanya ditujukan pada Cendana,
tapi juga pada Setan Bongkok.
"Kukira
kau sudah mati di tangan Gajah Kecil, Sobat," ujar Pendekar Penyebar
Asmara tanpa ada nada permusuhan sama sekali. "Apakah kau berhasil
mengalahkannya?"
"Tidak
usah mengalihkan persoalan, Pendekar Bejat!" bentak Setan Bongkok, keras.
"Bersiaplah untuk menerima hukuman atas kekejian yang kau lakukan!"
"Ha ha
ha...!" Pendekar Penyebar Asmara tertawa. Tidak keras. Cendana harus
mengakui kalau tawa pendekar itu terasa nikmat menyelusup ke dalam dadanya.
"Kekejian
yang mana, Sobat? Kau lihat sendiri kenyataannya., Permainan asmara yang kami
lakukan berdasarkan saling suka. Aku tidak pernah memaksa, meskipun kalau kumau
bukan hal yang sulit!"
Setan
Bongkok diam. Apa yang diucapkan Pendekar Penyebar Asmara memang bukan bualan
belaka. Ini membuatnya bingung untuk melakukan tindakan.
"Kuakui
apa yang kau katakan itu benar, Pendekar. Tapi, perlu kau sadari dan mungkin
telah kau ketahui sendiri, perbuatanmu tidak layak dilakukan oleh seseorang
pendekar. Perbuatan yang kau lakukan ini terkutuk!" tandas Setan Bongkok,
tegas.
"Apa
pun yang kau katakan, aku tidak menganggap perbuatanku terkutuk! Yang kulakukan
dengan wanita-wanita yang menyukaiku adalah atas dasar suka sama suka. Bahkan,
bagi wanita yang mengerti sifatku dan mau mencintaiku, aku tak segan-segan
untuk menjadikannya istri. Perlu kau ketahui, wanita berpakaian merah yang kau
temui di muka gua adalah istriku. Aku yakin kau menjumpainya sebelum masuk
kemari. Entah apa yang kau lakukan terhadapnya."
"Tenangkan
hatimu, Pendekar. Aku tidak melakukan apa pun terhadapnya. Aku melesat masuk
tanpa dia mampu mencegahku," beritahu Setan Bongkok.
"Bagus!"
puji Pendekar Penyebar Asmara dengan hati lega. "Karena bila sampai kau
melukainya, aku tidak akan
berdiam
diri begitu saja. Sekalipun kau mempunyai nyawa rangkap, tak akan kubiarkan kau
hidup!"
Usai
berkata demikian, dengan sikap tenang Pendekar Penyebar Asmara mengayunkan kaki
meninggalkan gua. Tidak kelihatan lelaki ganteng ini berwaspada ketika melalui
Setan Bongkok. Pendekar Penyebar Asmara yakin betul Setan Bongkok tidak akan
menyerangnya. Dan memang, Setan Bongkok tidak berbuat apa pun untuk mencegah
kepergian Pendekar Penyebar Asmara.
Cendana
yang tidak bisa tinggal diam. Gadis ini bergerak untuk menghadang. Tapi, tindakan
itu segera dihentikan ketika didengarnya ucapan Setan Bongkok.
"Jangan
cegah kepergiannya, Nona. Lupakan saja kemarahanmu. Jangan sampai kejadian yang
kau alami berulang kembali."
Cendana
sampai bergidik mengingat hal itu. Maka, meski hatinya penasaran bukan
main, dibiarkannya Pendekar Penyebar
Asmara meninggalkan tempat itu dengan senyum menghias bibir. Senyum yang penuh
daya pikat!
***
Cendana
berdiri menengadah ke langit dengan kedua tangan di punggung. Bola matanya
tidak bergerak-gerak. Seakan ada sesuatu yang menarik perhatiannya di angkasa.
Padahal, kendati menatap ke langit pikiran gadis berpakaian kuning ini
melayang-layang mengingat semua kejadian yang dialami.
Segumpal
penyesalan masih bergayut di hati Cendana ketika teringat gurunya. Gadis ini
trenyuh mengingat ketidakberhasilannya memenuhi permintaan nenek baju hitam
itu. Pendekar Penyebar Asmara tidak bisa dibunuhnya! Pembunuh gurunya pun tidak
mungkin dijadikan sasaran balas dendam. Dua keinginannya kandas!
"Hendak
ke mana lagi kau pergi, Laras? Setengah mati kami mencarimu, kau enak-enakan di
sini. Tidakkah kau tahu kami mengkhawatirkan keselamatan mu?!"
Seruan yang
terdengar dekat itu membuat Cendana terkejut bukan main. Apalagi ketika kedua
bahunya disentuh sepasang tangan. Lamunan Cendana buyar seketika. Dengan cepat
ditampiknya sepasang tangan yang menempel di
bahunya.
Dan, sambil membalikkan tubuh gadis ini menyampokkan tangannya ke arah orang
yang memiliki tangan usil itu.
Sang
pemilik tangan mengeluarkan seruan kaget mendapat serangan tidak
disangka-sangka ini. Lelaki berkulit hitam dengan gigi tonggos ini untungnya
masih sempat melompat ke belakang. Kalau tidak, wajahnya akan porak-poranda terkena sampokan Cendana yang mampu menghancurkan batu karang yang paling keras sekalipun itu
"Manusia
kurang ajar...!" seru Cendana keras, penuh kemarahan. Apalagi ketika
serangannya gagal mengenai sasaran.
Cendana
langsung mengirimkan tendangan ke pusar. Lagi-lagi lelaki tonggos yang bukan
lain Tanggur, ayah Larasati cepat mengelak.
"Hentikan,
Nona. Kau salah paham. Aku tidak bermaksud demikian," beritahu Tanggur
sambil mengelak ke samping sehingga serangan Cendana kembali luput.
Tapi,
Cendana tidak menghentikan tindakannya. Bahkan dia menyerang semakin kalang
kabut. Gadis ini tidak mempedulikan pemberitahuan Tanggur. Kemarahan yang
timbul karena tindakan Tanggur yang dianggapnya kurang ajar dan Cendana memang tengah uring-uringan, membuatnya terus mengumbar kemarahan.
Dalam waktu
sebentar saja Cendana telah menyerang beberapa jurus. Tapi, semua dapat
dipunahkan Tanggur tanpa menemul kesulitan. Tanggur bergerak ke sana kemari. Ia
hanya mengelak dan tak sedikit pun melancarkan serangan balasan. Berkali-kali
dari mulutnya keluar ucapan yang menyatakan kalau kejadian tadi hanya salah
paham. Namun, Cendana tetap menyerang bertubi-tubi
Setelah
berlangsung lima belas jurus dan Cendana terus menyerang. Tanggur sadar
penjelasannya sia-sia belaka. Cendana bukan gadis yang mudah diberikan
pengertian. Cara lain pun terpaksa digunakan. Tanggur memutuskan untuk
merobohkan Cendana. Baru setelah itu diberikan penjelasan. Mungkin dengan cara
itu Cendana mengerti karena terpaksa mendengarkan penjelasannya.
Sebenarnya
bisa saja Tanggur melarikan diri. Dengan nhgkat kepandaiannya yang berada di
atas Cendana, merupakan hal yang mudah untuknya. Tapi Tanggur tidak
mau
melakukan hal demikian. Tindakan itu dianggapnya perbuatan pengecut, dan
melarikan diri hanya menunjukkan kalau sangkaan Cendana benar adanya.
Pada satu
kesempatan, Tanggur mendorong tubuh Cendana hingga jatuh terjengkang di tanah.
Cendana bangkit dengan cepat. Tapi, Tanggur lebih cepat lagi. Lelaki ini
menyerang dengan sebuah totokan arah bahu kanan lawan.
Cendana
kaget. Gadis ini tahu dia kalah cepat bergerak. Tapi sebelum kejadian yang tak
diharap menimpa Cendana, dari samping melesat sesosok bayangan memapaki
seranganTanggur!
"Sungguh
tidak pantas seorang tua menghina yang muda!" seru sosok bayangan itu.
Plakkk!
Tubuh
Tanggur terhuyung-huyung akibat tangkisan sosok yang menolong Cendana. Lelaki
tonggos merasakan sekujur tangannya sakit.
Di depan
Tanggur berdiri membelakangi Cendana, sosok yang bukan lain Setan Bongkok.
Sikapnya tampak angker bukan main.
"Menyingkirlah,
Cendana. Dia bukan lawanmu. Biar aku yang menghadapinya," ujar Setan
Bongkok. "Apa yang terjadi, Cendana?"
"Dia
hendak berbuat kurang ajar padaku!" tandas Cendana berapi-api.
"Itu
tidak benar!" bantah Tanggur. "Hanya salah paham saja. Aku tidak
bermaksud demikian!"
"Kalau
tidak hendak berbuat kurang ajar, mengapa menyentuh-nyentuh bahuku?!" kejar
Cendana tak kalah gertak.
"Kukira
kau anakku, Nona," jelas Tanggur. "Potongan tubuhmu dari belakang
mirip sekali dengan Larasati, putriku. Dia pergi dan belum kembali sampai
sekarang. Aku dan istriku mencari-carinya."
"Alasan!
Dusta! Kau memang tua-tua cabul!"
Cendana
melompat menerjang Tanggur
dengan pukulan bertubi-tubi. Setan Bongkok ingin mencegahnya, tapi terlambat
Cendana telah lebih dulu melesat.
Tanggur
kali ini tidak sesabar sebelumnya. Dia telah terlalu banyak mengalah. Cendana
pun mengetahuinya. Tapi,
tetap saja
tindakannya kasar dan mulutnya tajam. Tanggur jadi tidak senang.
Tanpa pikir
panjang lagi, dengan niat untuk mem-berikan hajaran, serangan Cendana
ditangkisnya. Akibatnya, tubuh gadis itu terjengkang ke belakang dan terbanting
di tanah. Berbeda dengan sebelumnya, Cendana tidak langsung bangkit. Kedua
tangannya yang berbentoran dengan tangan Tanggur terasa sakit bukan main.
Setan
Bongkok berkilat-kilat sepasang matanya. Lelaki ini sangat marah melihat
tindakan Tanggur. Kendati diakui sikap Cendana sudah kelewatan, tapi tindakan
Tanggur pun dinilai Setan Bongkok terlalu keras!
"Mengandalkan
kepandaian untuk melakukan tin-dakan tak adil terhadap orang lemah bukan
tindakan terpuji. Aku, Setan Bongkok, tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.
Majulah, Sobat. Lawan aku! Jangan kau tekan gadis yang bukan tandinganmu itu
kalau kau bukan seorang pengecut!"
Tanggur membusungkan dada. Harga dirinya tersinggung mendengar tantangan yang
diajukan Setan Bongkok. Dengan sorot mata penuh tantangan ditatapnya Setan
Bongkok.
"Apa
boleh buat. Kalau kau memang hendak membela wanita liar bermulut kurang ajar
itu, aku pun, Tanggur bukan orang berwatak pengecut! Kuterima tantanganmu,
Setan Bongkok!" mantap dan tegas kata-kata yang
dikeluarkan Tanggur.
"Hajar
orang kurang ajar itu, Paman Bongkok!" seru Cendana. Ia bangkit berdiri
dan memberi semangat pada Setan Bongkok.
Mata Setan
Bongkok berbinar. Memang hanya sesaat terlihat, tapi bisa diketahui kalau tokoh
aneh ini gembira. Itu tidak terlalu berlebihan. Sejak pertemuannya dengan
Cendana, sewaktu menolong gadis itu dari tangan Gajah Kecil, Cendana tidak
pernah mengajaknya bicara.
Bahkan
ketika mereka melakukan perjalanan berdua setelah Setan Bongkok menyelamatkan
Cendana dari Pendekar Penyebar Asmara, Cendana juga tidak bicara. Gadis ini
banyak termenung ketika beristirahat. Setan Bongkok yang tidak mau
mengganggunya, meninggalkannya untuk mencari makanan. Ketika kembali Cendana
ternyata telah
terlibat
keributan dengan Tanggur. Setan Bongkok pun ikut campur.
***
Ucapan
Cendana membuat semangat Setan Bongkok bergelora. Lelaki ini menerjang Tanggur.
Tanggur yang memang sudah bersiap sedia segera menyambutinya. Pertarungan
antara dua tokoh ini pun berlangsung.
Setan
Bongkok ternyata terlalu tangguh untuk Tanggur. Setelah bergebrak beberapa kali
lelaki tonggos ini segera berada di bawah angin. Setan Bongkok unggul dalam
segala hal. Tidak hanya dalam kecepatan gerak. Tapi juga tenaga dalam dan mutu
ilmu silatnya. Meski demikian, Tanggur berusaha sekuat tenaga melakukan
perlawanan. Beberapa kali dia terpontang-panting!
Cendana
yang melihat keunggulan Setan Bongkok kelihatan gembira bukan main. Dia
bertepuk tangan sambil tak henti-hentinya memberi semangat.
"Ayo,
Paman Bongkok! Hajar lelaki kurang ajar itu! Gebuk saja pantatnya!"
Hampir
Setan Bongkok tertawa karena geli mendengar ucapan Cendana yang terdengar lucu
dan menggelikan. Semangatnya semakin membara. Gerakan-gerakannya semakin dahsyat dan menggiriskan.
Tanggur
semakin terdesak. Di samping itu, lelaki tonggos ini juga merasa sakit hati
dengan ucapan Cendana. "Mengapa pantatnya yang disebut-sebut?" rutuk
Tanggur dalam hati.
Di saat
keadaan Tanggur semakin mengkhawatirkan dan lebih sering terbanting ke sana
kemari, terdengar teriakan melengking nyaring dari kejauhan.
"Ayah...!"
"Kak
Tanggur...!"
Dua seruan
itu keluar hampir bersamaan. Yang satu berasal dari mulut Larasati. Sedangkan
yang satunya lagi diserukan Nilam Sakini, istri Tanggur.
Ibu dan
anak ini masih berjarak tak kurang dua puluh tombak. Tapi, seruan keras itu
telah mereka keluarkan dan sambil terus berlari mendekat. Di sebelah Larasati
dan Sakini tampak berdiri orang lain, seorang pemuda berpakaian
ungu dengan
rambut putih panjang berkibaran. Arya Buana alias Dewa Arak.
Hampir
bersamaan Larasati dan Sakini melompat menyerang Setan Bongkok yang tengah
mendesak Tanggur dengan hebat. Setan Bongkok mendengus. Kedua tangannya
dikibaskan. Bagaikan diterpa angin keras, tubuh ibu dan anak itu terlempar
balik dan jatuh bergulingan di tanah.
Tanggur
menggeram. Lelaki ini marah bukan main melihat kejadian yang menimpa anak dan
istrinya. Namun sebuah sapuan kaki Setan Bongkok telah melemparkan tubuhnya. Tanggur masih mampu menunjukkan keperkasaannya
dengan menjejakkan kedua kaki di tanah. Tanggur tidak menjadi gentar. Lelaki
tonggos ini bertekad untuk terus bertarung sampai tetes darah penghabisan!
Sebuah
tangan yang menyentuh bahunya membuat Tanggur mengurungkan niat itu. Ditolehnya
kepalanya ke belakang. Tidak tergesa-gesa. Sebab, Tanggur tahu orang yang
menyentuh itu tidak bermaksud jahat. Apabila tidak, saat itu nyawanya sudah
melayang!
"Boleh
aku mewakilimu untuk menghadapinya, Paman?" sapa Arya Buana, yang
menyentuh bahu Tanggur.
Tanggur membutuhkan waktu sejenak untuk mengangguk. Lelaki ini
tertegun melihat ciri-ciri pemuda di hadapannya. Wajah dan potongan tubuhnya
pemuda. Tapi, rambutnya milik orang berusia lanjut!
"Dia
memiliki kepandaian amat tinggi, Anak Muda, Kau harus berhati-hati."
Tanggur masih sempat untuk berpesan. Agak ragu-ragu lelaki tonggos ini menyapa
Arya sebagai pemuda.
"Akan
kuperhatikan nasihatmu, Paman," jawab Arya sopan seraya tersenyum.
Dewa Arak
lalu mengalihkan perhatian ke arah Setan Bongkok. Tokoh ini tidak melakukan
tindakan apa pun setelahTanggur tidak menyerangnya.
Agak jauh
ke belakang Setan Bongkok, Cendana memperhatikan Dewa Arak dengan perasaan
lain. Pemuda ini kelihatan matang dan dewasa karena sikapnya yang tenang dan
rambutnya yang putih. Wajah dan potongan tubuhnya pun menarik. Cendana mulai
menaruh perhatian. Sungguh amat jauh bedanya, bagaikan bumi dan langit jika
dibandingkan denganSetan Bongkok.
7
Setan
Bongkok sadar Dewa Arak tidak bisa disamakan dengan lawan-lawan sebelumnya.
Kendati menilik usianya dia merupakan lawan paling muda dari lawan-lawan
tangguh yang pernah dihadapinya, tapi dari sorot mata Dewa Arak yang tajam
mencorong laksana mata seekor naga dalam gelap, Setan
Bongkok bisa mengetahui ketangguhan
lawannya.
Bukan hanya
Setan Bongkok yang bersikap waspada. Dewa Arak pun demikian. Untuk sesaat kedua
tokoh ini saling memperhatikan gerak-gerik lawan.
Setan
Bongkok yang pertama kali membuka serangan. Dia melompat ke atas dengan kedua
tangan membentuk cakar, siap untuk dikirimkan ke arah Dewa Arak dalam bentuk
serangan dahsyat. Kedua kakinya agak didekatkan ke perut dengan menekuk
lututnya.
Dewa Arak
melangkah mundur seraya mengangkat wajah untuk memperhatikan gerakan lawan.
Pemuda ini melompat agak jauh ke belakang ketika Setan Bongkok melancarkan
serangan bertubi-tubi dalam bentuk sampokan.
Tahu kalau
lawan telah menggunakan ilmu andalan, Dewa Arak segera menggunakan ilmu
'Belalang Sakti'. Setelah beberapa kali mengelak, serangan ba lasan pun
dilancarkan.
Plak,
plakkk, plakkk!
Berturut-turut
benturan terjadi ketika pertarungan berlangsung beberapa jurus. Tubuh Dewa Arak
terhuyung-huyung dua langkah. Tapi, Setan Bongkok terhuyung tiga langkah ke
belakang.
Cendana
bengong melihat hal ini. Sebaliknya, Larasati dan Tanggur serta Sakini tampak
gembira. Pemandangan yang terpampang menjadi pertanda kalau jagoan mereka berada
di pihak yang unggul.
Setan
Bongkok penasaran bukan main. Seluruh ilmunya dikerahkan. Tubuhnya bagai tidak
pernah menjejak tanah. Mulutnya tak henti-henti mengeluarkan pekikan nyaring. Setan Bongkok tidak ingin peristiwa yang
memalukan
tadi terulang kembali. Dia tidak ingin Cendana merasa kecewa.
Tapi,
betapa pun besarnya semangat Setan Bongkok untuk menang, kemampuan yang
tertinggi yang menentukan. Ternyata kemampuan puncak Setan Bongkok masih belum
mampu menandingi Dewa Arak yang mempergunakan ilmu 'Belalang Sakti'. Setan
Bongkok tetap tidak mampu mendesak lawannya.
Di lain
pihak, Dewa Arak dapat mendesak Setan Bongkok. Sementara desakan-desakan lawan dapat
dipunahkan dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang'.
Tak sampai
lima puluh jurus pertarungan Setan Bongkok telah dipaksa untuk bertarung
mundur. Ilmunya yang biasa menang dalam mutu sekarang mati kutu. Ilmu 'Belalang
Sakti' milik Dewa Arak tidak kalah tinggi mutunya!
Di saat
Setan Bongkok terus bergerak mundur tiba-tiba terdengar geraman keras. Dari bunyi
yang tertangkap, Setan Bongkok dan Dewa Arak tahu kalau pemilik suara itu sudah
pasti manusia. Ia berada di tempat yang jauh dari mereka.
Geraman itu
cukup menarik perhatian. Tidak hanya Larasati, Sakini, maupun Tanggur. Juga
Dewa Arak, Setan Bongkok, dan terutama. Cendana. Pertarungan antara Dewa Arak
dan Setan Bongkok seketika terhenti.
Tindakan
Cendana lebih hebat lagi. Wajah gadis itu pucat pasi laksana mayat. Tapi, sinar
mata dan tarikan mulutnya menyiratkan kebencian dan dendam. Cendana menduga pemilik
geraman ini adalah pemuda gila yang telah menewaskan gurunya.
Sesaat
tubuh gadis ini menggigil keras seperti orang terkena demam tinggi. Kemudian,
sambil mengeluarkan keluhan tertahan ia melesat menuju sumber suara geraman.
"Cendana...!
Hentikan...!" seru Setan Bongkok Dalam teriakannya tersirat kekhawatiran
yang dalam.
"Sobat,
di antara kita tidak pernah ada urusan. Dan, aku bukan orang jahat. Mungkin aku
telah bertindak terlalu kasar pada kawan-kawanmu. Tapi, itu kulakukan karena
tidak ada pilihan lain. Aku mohon kau biarkan aku pergi untuk menyusul kawanku
agar dia tidak celaka di tangan orang jahat. Bagaimana?" pinta Setan
Bongkok penuh harap.
Setan
Bongkok sebenarnya tidak gentar. Bahkan, andaikata mati sekalipun dalam
pertarungan ini. Tapi, dia tidak ingin Cendana celaka. Apabila pertarungan ini
dilanjutkan mungkin Cendana sudah pergi terlalu jauh dan dia akan kehilangan
jejak. Tidak ada pilihan lain kecuali meminta kebijaksanaan Dewa Arak.
"Pergilah.
Selamatkan kawanmu," timpal Arya sambil menyimpan gucinya dan melangkah
mundur.
Setan
Bongkok menatap Arya dengan pandangan penuh terima kasih sebelum membalikkan
tubuh dan melesat cepat meninggalkan tempat itu. Tanggur beserta anak dan
istrinya menyaksikan kejadian itu dengan alis berkerut "Mengapa Dewa Arak
membebaskan tokoh jahat itu?" tanya mereka dalam hati.
***
Cendana
berlari bagaikan dikejar hantu. Gadis ini ingin segera tiba di tempat geraman
tadi berasal. Geraman yang diyakininya keluar dari mulut Lesmana. Perasaan
benci membuat Cendana lupa akan nasihat gurunya untuk tidak membalas dendam.
Setelah
berlari beberapa lama, di kejauhan sekitar delapan tombak di depannya, Cendana
melihat dua sosok tengah berdiri berhadapan dalam jarak tiga tombak. Mereka
memiliki ciri-ciri yang amat aneh. Wajah sosok yang satu mirip harimau.
Sedangkan yang satu lagi mirip kera besar.
Cendana
merasa kecewa sekali melihat hal ini. Apalagi ketika mengetahui geraman itu
dikeluarkan kakek berwajah harimau. Dialah Siluman Harimau. Tokoh sesat yang
memiliki kepandaian amat tinggi.
Kakek yang
satu lagi lebih mengerikan dari pada Siluman Harimau. Kakek ini tidak lain dari
Raja Monyet Bertangan Seribu. Tokoh teratas dalam kelompok Tiga Binatang lblis
Neraka.
Kendati
tahu pemilik geraman itu bukan Lesmana, Cendana tidak meninggalkan tempat itu.
Gadis ini malah tertarik untuk mengetahui kelanjutan kejadian yang tengah
disaksikannya.
Tampak oleh
Cendana, Siluman Harimau melompat menerjang Raja Monyet Bertangan Seribu.
Serangannya
ganas bukan
main. Tapi, dengan gerak kaku Raja Monyet Bertangan Seribu mengelakkannya. Ketika tangannya diayunkan secara sembarangan, kakek yang
memiliki wajah mirip kera besar itu berhasil membuat tubuh Siluman Harimau
terhuyung-huyung ke belakang. Padahal, yang melanda Siluman Harimau hanya angin
pukulannya saja!
Cendana
membelalakkan mata saking kagumnya melihat kepandaian Raja Monyet Bertangan
Seribu. Meski melihat gerakan-gerakan Siluman Harimau, gadis ini tahu kalau
tingkat kepandaian kakek itu jauh di atas tingkatnya, bahkan mungkin tidak kalah
dengan Setan Bongkok. Namun kenyataannya Siluman Harimau bagai seekor semut bertarung melawan api.
Setelah
beberapa kali dibuat permainan lawan, Si-luman Harimau mengeluarkan senjatanya.
Sepasang cakar yang memiliki pegangan. Cakar yang terbuat dari baja pilihan itu
pada ujung-ujungnya dibubuhi racun mematikan. Dengan senjata andalan di tangan
Siluman Harimau bagai seekor harimau tumbuh sayap. Serangan-serangannya semakin
dahsyat.
Siluman
Harimau berhasil menyerang selama tiga jurus. Tapi semua itu berhasil dielakkan
Raja Monyet Bertangan Seribu dengan tanpa kesulitan. Bahkan seperti sebelumnya,
Siluman Harimau dibuat terhuyung-huyung dengan angin pukulannya. Raja Monyet
Bertangan Seribu lalu mengeluarkan senjatanya. Sepasang kecer!
Raja Monyet
Bertangan Seribu membenturkan se-pasang kecernya dengan pengerahan seluruh
tenaga. Menurut perhitungan akan terdengar bunyi menggelegar yang luar biasa
keras, mengingat kakek ini memiliki tenaga dalam amat kuat. Namun, tidak
terdengar bunyi sedikit pun! Cendana yang
sudah siap untuk menutup telinga mengernyitkan alis. Heran.
Cendanahampir
tak kuat menahan pekikannya ketika melihat kejadian yang terpampang kemudian.
Siluman Harimau terkesima sebentar. Kemudian, tertawa terbahak-bahak. Demikian
gelinya sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk.
Semula Cendana menduga Siluman Harimau menertawakan serangan Raja Monyet Bertangan
Seribu. Tapi ketika melihat wajah Siluman Harimau, gadis ini mulai
menaruh
curiga. Wajah Siluman Harimau seperti bukan wajah orang yang tengah tertawa. Hanya
mulutnya yang menganga mengeluarkan tawa, tapi wajah dan sinar matanya tidak!
Wajah itu menyiratkan rasa takut yang besar. Kelihatan tegang bukan main!
Kecurigaan
Cendana semakin besar ketika melihat Siluman Harimau terus saja tertawa seperti tidak mempedulikan keberadaan Raja Monyet Bertangan Seribu yang
menjadi lawannya. Raja Monyet Bertangan Seribu sendiri dengan tenang menyimpan
kembali kecernya lalu menyaksikan perbuatan lawan.
Raja Monyet
Bertangan Seribu tentu saja melihat keberadaan Cendana karena medan pertarungan
berupa tanah datar yang luas tanpa ada penghalang sampai belasan tombak. Tapi,
kakek monyet itu bersikap tidak peduli, seakan Cendana tidak berada di situ.
Seluruh perhatiannya ditujukan pada Siluman Harimau.
Siluman
Harimau sendiri terus saja tertawa. Sampai suara tawanya semakin pelan dan
sekujur urat-urat menonjol di sekitar wajah dan leher. Wajahnya pun merah
padam. Matanya telah mengeluarkan air. Tak lama lagi tokoh ini akan tewas
dengan pembuluh darah pecah dan napas putus!
Sekarang
Cendana mulai merasa ngeri. Gadis ini tahu Siluman Harimau akan tewas dalam
keadaan mengerikan. Semua itu terjadi akibat berbenturannya sepasang kecer yang
tidak berbunyi itu.
Cendana
merasa ngeri. Raja Monyet Bertangan Seribu ternyata memiliki watak yang luar
biasa keji. Sebelum dia menjadi korban pula, maka dibalikkan tubuhnya. Cendana
mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu. Tapi ternyata tidak mudah
rencana itu dilaksanakan. Terdengar oleh Cendana, Raja Monyet Bertangan Seribu
menegurnya dengan suara tanpa kemarahan.
"Mengapa
tergesa-gesa, Nona Cilik? Tidakkah kau ingin menyaksikan pertunjukan ini terus.
Belum selesai, bukan?"
Cendana
tidak mempedulikan ucapan itu. Ia tetap meneruskan maksudnya. Tapi begitu
ucapan Raja Monyet Bertangan Seribu selesai, dia tidak bisa menggerakkan
kakinya. Padahai Cendana ingin berlari sejauh-jauhnya.
Cendana
tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. Dia tidak merasakan adanya sentuhan
jari tangan atau totokan pada bagian tubuhnya.
Cendana
tidak tahu kalau begitu menegur, Raja Monyet Bertangan Seribu mengambil kecer dan membenturkannya satu sama lain seperti
yang dilakukan terhadap Siluman Harimau!
"Yang
jantan ada, betina pun sekarang datang. Si jantan telah tertawa. Alangkah
baiknya kalau si betina menangis. Hey, wanita usilan yang terlalu mau tahu
urusan orang, kau akan bersedih untuk menimpali Siluman Harimau!"
Raja Monyet Bertangan Seribu kembali membenturkan sepasang kecernya. Tidak
terdengar oleh Cen-dana. Bahkan terlihat pun tidak. Gadis ini berdiri membelakangi. Tapi,
akibatnya tetap berlangsung sebagaimana yang dikehendaki
Raja Monyet Bertangan Seri-bu.
Cendana
mampu bergerak kembali. Tapi gadis itu tidak memanfaatkannya untuk melarikan
diri, melainkan menangis dengan sedihnya sambil menjatuhkan diri di tanah.
Di lain
pihak, Siluman Harimau sudah tidak terdengar lagi suaranya. Tokoh itu telah
tergeletak di tanah. Diam tidak bergerak-gerak lagi Siluman Harimau telah tewas
dengan mulut masih menganga lebar. Pembuluh darahnya telah pecah!
***
"Khraaak...!"
Pekikan
yang mirip burung marah itu terdengar keras bukan main. Keras dan melengking
nyaring. Cendana yang tengah menangis menggerung-gerung, tapi dengan tidak
adanya kesedihan baik di wajah maupun matanya, langsung menghentikan tangis.
Secepat itu pula Cendana melesat ke arah orang yang mengeluarkan pekikan. Orang
yang tadi masih berjarak belasan tombak ketika Raja Monyet Bertangan Seribu
mulai membenturkan sepasang kecernya.
Dewa
penolong Cendana yang sekarang telah berdiri di depan gadis itu dalam jarak dua
tombak tidak lain Setan Bongkok! Tokoh yang tertinggal Cendana cukup jauh ini
berhasil
menyusul dan menemukan buruannya setelah tersaruk-saruk cukup lama. Tangis Cendana yang membuatnya dapat menemukan
gadis itu.
Setan
Bongkok mengembangkan kedua tangan ketika Cendana menghambur ke arahnya. Sesaat
kemudian, tubuh mungil itu telah berada di pelukan Setan Bongkok yang
merengkuhnya dengan penuh kasih sayang. Setan Bongkok malah membelai-belai
rambut Cendana.
Cendana
adalah seorang gadis manja. Selama ini nenek baju hitam kelewat menyayanginya.
Boleh dikata, Cendana hidup dan tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang yang
besar. Hilangnya si nenek membuat Cendana kehausan kasih sayang. Sekarang Setan Bongkok dirasakannya memberikan kasih sayang
itu. Ini membuat Cendana tidak segera menarik dirinya dari pelukan Setan
Bongkok.
Sebelum
munculnya Setan Bongkok, Cendana merasa ngeri sekali. Gadis ini takut mati
dengan cara mengerikan. Mati karena kebanyakan menangis. Dicobanya untuk
menghentikan tangis atau mengatupkan mulutnya, tapi hai itu tidak bisa
dilakukan. Urat-urat sarafnya seperti bukan menjadi miliknya lagi sehingga
tidak mau diperintah.
"Alangkah
mengharukannya pertemuan ini tidakkah aku merupakan gangguan di sini?"
celetuk Raja Monyet Bertangan Seribu dengan suara khasnya, lembut seperti orang
yang berwatak welas asih dan memiliki sopan santun tinggi.
Teguran
Raja Monyet Bertangan Seribu membuat Cendana melepaskan pelukan. Dengan muka
ditundukkan dia berdiri diam di tempatnya. Cendana tidak berani mengangkat
wajah, lalu!
"Minggirlah,
Cendana. Biar aku yang menghadapi monyet besar ini." Setan Bongkok
menyentuh bahu Cendana dan mendorongnya ke belakangnya dengan halus.
Raja Monyet
Bertangan Seribu tidak kelihatan marah atau tersinggung, meski dia dimaki
monyet besar. Kakek ini malah tersenyum memperlihatkan gjgi-giginya yang
runcing dan kuning.
"Kau
cukup menarik hatiku sebagai lawan, Sobat. Meskipun bukan tandinganku, biasanya
aku tidak bergairah bertarung dengan orang yang jauh dari tingkatanku. Kau
merupakan
kekecualian, Sobat. Pekik yang kau keluarkan mengingatkan aku pada seorang
tokoh penuh rahasia yang berjuluk Elang Malaikat. Tokoh yang tinggal di daerah
pegunungan ini, tapi tidak pernah ketahuan di mana tempatnya yang pasti. Aku
akan bertempur denganmu!"
"Elang
Malaikat? Kau mengenal tokoh luar biasa itu, Raja Monyet?" Setan Bongkok
mengutarakan rasa ingin tahunya.
"Mengenalnya?
Ha ha ha...! Kau lucu, Sobat. Aku bukan saja mengenalnya, tapi amat kenal! Aku
telah pernah bertarung dengannya dan berhasil dikalahkan. Elang Malaikat memang
hebat. Aku jumpa dengannya secara tidak sengaja di saat tengah mencari tempat
kediamannya. Sekarang, ingin kutahu apakah kakek bongkok itu memiliki ilmu yang
sama seperti bertahun-tahun lalu. Bukan tidak mungkin ketuaannya telah membuat ilmu-ilmunya
berkurang. Mataku tidak lamur untuk bisa mengetahui kitab yang tengah dibaca
Siluman Harimau adalah kitab milik Elang Malaikat Seribu Satu Obat Langit Bumi
terkenal sebagai kitab Elang Malaikat"
"Kau
pasti tak perlu menunggu lebih lama untuk mengambilnya, bukan? Aku tahu pasti
tokoh-tokoh sesat seperti kau atau Siluman Harimau tak pernah puas dengan
ilmu-ilmu yang kalian miliki!" tandas Setan Bongkok berapi-api.
"Apa
hubunganmu dengan Elang Malaikat? Aku yakin ada. Kalau tidak, mengapa kau
terlalu mementingkan kitab palsu itu?"
"Kitab
palsu?!" ulang Setan Bongkok. Tokoh itu kelihatan terkejut bukan main.
Raja Monyet
Bertangan Seribu hanya terkekeh sambil menggaruk-garuk dadanya. Tindakan khas binatang bertangan panjang itu.
"Ketidaktahuanmu
akan hal ini menunjukkan kalau hubunganmu dengan Elang Malaikat cukup
jauh," timpal Raja Monyet Bertangan Seribu tenang. "Telah menjadi
rahasia umum kalau Elang Malaikat mempunyai watak yang luar biasa pelit.
Terlebih di dalam ilmu. Tidak pernah ada orang yang mendapatkan cepretan
ilmunya kecuali orang-orang yang teramat dekat dengannya. Andaikata seorang
tokoh seperti Siluman Harimau berhasil membawa kitab miliknya,
apalagi
kitab Seribu Satu Racun Langit Bumi, tidak ada hal Iain kecuali kitab itu
palsu!"
"Mana
mungkin palsu. Raja Monyet!" tandas Setan Bongkok, tidak setuju dengan
kakek gorilla itu. "Kitab itu diambil sendiri oleh pelayannya."
Raja Monyet
Bertangan Seribu terkekeh. Nadanya meremehkan sekali.
"Jangankan
terhadap pelayannya, kepada muridnya sekalipun aku yakin Elang Maiaikat tidak
akan menunjukkan kitab-kitab miliknya. Dia lebih sayang kitab-kitabnya daripada
nyawanya sendiri!"
Setan
Bongkok terdiam. Ia tidak memberikan ban-tahan sedikit pun.
"Dan
lagi," sambung Raja Monyet Bertangan Seribu "Tokoh-tokoh macam
Siluman Harimau mana bisa membawa pergi kitab itu? Tanpa menemui kesulitan sama
sekali Elang Malaikat akan mengambilnya kembali seandainya kitab itu
asli!"
Setelah
berkata demikian, Raja Monyet Bertangan Seribu melompat menerjang Setan
Bongkok. Sepasang kecernya disimpan. Kakek gorilla ini menggunakan tangan
kosong. Gerak-geriknya kelihatan kaku dan lambat, tapi ternyata tetap cepat dan
kuat!
Cendana
segera melompat menjauh. Tapi, tak urung serempetan angin serangan membuat
tubuhnya terguling-guling. Setan Bongkok sendiri telah melompat ke atas. Dari
sana Setan Bongkok melancarkan serangan balasan! Gerakannya cepat dan ganas.
Kendati demikian, Raja Monyet Bertangan Seribu yang tampak bergerak lambat
mampu mengelakkan serangannya! Kakek gorilla ini lalu balas menyerang.
Setan
Bongkok harus mengakui Raja Monyet Ber-tangan Seribu merupakan lawan tertangguh
yang pernah ditemuinya. Bahkan mungkin lebih tangguh dari Dewa Arak. Setiap
gerakan kakek gorilla ini menimbulkan angin kuat dan cukup untuk membuat tubuh
Setan Bongkok terhuyung-huyung. Sekitar tempat itu pun dipenuhi gelombang angin
serangan Raja Monyel Bertangan Seribu.
Meski
demikian, Setan Bongkok berusaha keras melakukan perlawanan. Dia berkali-kali
memekik nyaring
mengeluarkan
ilmu andalan yang mengingatkan orang akan tingkah laku burung yang tengah
murka.
Setan
Bongkok tahu Raja Monyet Bertangan Seribu unggul dalam segala hal. Tenaga
dalam, kecepatan, maupun ilmu silat. Untungnya, di bidang lompat-melompat Setan
Bongkok, meski keadaan tubuhnya demikian, mampu melompat ke sana kemari dengan
lincahnya.
Satu yang
dikhawatirkan Setan Bongkok adalah benturan antara mereka. Sedapat mungkin hal itu
dihindarkannya. Perbedaan tingkat tenaga dalam mereka terlalu jauh. Akan
terjadi hal yang tak menguntungkan pada Setan Bongkok bila benturan itu
terjadi.
Blarrr!
Apa yang
ditakutkan Setan Bongkok terjadi juga. Benturan antara mereka tak bisa
dielakkan lagi. Itu terpaksa dilakukannya untuk menyelamatkan diri. Setan
Bongkok memapaki sampokan Raja Monyet Bertangan Seribu dengan kakinya.
Akibatnya, tubuh tokoh aneh ini terpental ke belakang dan jatuh terbanting
keras di tanah.
"Cendana...!
Cepat lari,..! Tinggalkan tempat ini. Cepat...!"
Di saat
tubuhnya melayang, Setan Bongkok masih sempat memberikan peringatan. Cendana
hampir menangis melihat dalam keadaan terjepit Setan Bongkok masih ingat akan
nasibnya, bukan nasib dirinya sendiri. Sikap Setan Bongkok sama betul dengan
nenek baju hitam. Kedua tokoh itu menyayanginya dan menginginkan
keselamatannya.
Untuk pertama kalinya Cendana yang gemar membantah tidak
menentang perintah Setan Bongkok sedikit pun. Gadis ini melesat dengan
kecepatan tinggi meninggaikan tempat itu.
Setan
Bongkok, yang bertepatan dengan melesatnya Cendana jatuh ke tanah, merasa lega
melihat kepergian Cendana tapi juga sedikit kecewa. Cendana tidak bertimbang
sama sekali tidak ada perasaan berat sedikit pun meninggalkan dirinya. Bahkan,
gadis itu berlari secepat mungkin. Meski menginginkan Cendana mengikuti perintahnya, Setan
Bongkok akan lebih gembira kalau Cendana menampakkan perasaan berat untuk
pergi. Setidak-tidaknya bila hal itu dilakukan menjadi pertanda kalau
keselamatan Setan Bongkok dipikirkan gadis itu.
Setan
Bongkok tidak bisa berpikir lebih lama karena Raja Monyet Bertangan Seribu
telah menyerbunya. Tokoh berwajah buruk ini pun kembali berjuang keras untuk
menyelamatkan selembar nyawa. Kali ini lebih sulit dari sebelumnya. Benturan tadi
menyebabkan kakinya sakit dan sulit digerakkan.
Setan
Bongkok sadar nasibnya akan segera diten-tukan. Dan, perhitungannya sama sekali
tidak meleset Raja Monyet Bertangan Seribu berhasil menghimpitnya
sedemikian rupa kemudian mengirimkan sampokan tangan kanan dan kiri secara
bergantian
Setan
Bongkok yang telah terjepit tidak dapat berbuat lain kecuali berdiam diri menanti
datangnya maut, Menangkis ia tidak sempat, apalagi mengelak!
8
Wusss!
Deru angin
keras meluncur dari samping. Hawanya panas bukan main. Padahal, pukulan itu
sendiri masih cukup jauh. Serangan jarak jauh itu memotong di tengah-tengah
antara Setan Bongkok dengan Raja Monyet Bertangan Seribu.
Andaikata
Raja Monyet Bertangan Seribu meneruskan maksudnya, sebelum serangan yang dilancarkannya mendarat di sasaran akan terlebih dulu
terlanda serangan angin pukulan berhawa panas menyengat itu. Raja Monyet
Bertangan Seribu tidak punya pilihan
lain kecuali membatalkan serangannya. Kakek gorilla ini
malah menambahkannya dengan melompat ke belakang.
Sekejap
kemudian, melesat sesosok bayangan ungu. Di tempat itu telah berdiri sesosok
tubuh lagi. Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan ini menatap Setan
Bongkok sebentar, lalu mengalihkan perhatian pada Raja Monyet Bertangan Seribu.
"Ternyata
dunia ini sempit, Anak muda," Raja Monyet Bertangan Seribu berkata
setengah berfilsafat "Belum lama kita bertemu sekarang sudah bersua lagi
di sini. Mungkin sudah menjadi jalan nasib kita untuk meneruskan pertarungan
yang waktu itu belum tuntas."
Dewa Arak
tersenyum pahit.
"Dan,
senantiasa di setiap pertemuan kita kulihat kau selalu membuat keonaran, Raja
Monyet!" tandas Dewa Arak.
Raja Monyet
Bertangan Seribu tertawa lembut.
"Siang
malam. Ada gelap ada terang. Disebut pendekar karena adanya penjahat. Tanpa
adanya orang yang selalu menyebar kejahatan mana mungkin orang-orang seperti
kau mendapat nama harum sebagai seorang yang berada di jalan lurus dan gemar
menegakkan kebenaran. Seharusnya kau berterima kasih terhadap golonganku, Anak
Muda. Tanpa adanya kami mana mungkin kau akan memperoleh nama harum?"
"Kurasa
tidak ada gunanya perdebatan ini diteruskan, Raja Monyet. Atau, kau memang
lebih gemar berbicara dari pada bertarung?"
Sambutan
Raja Monyet Bertangan Seribu adalah sambaran kedua tangannya yang memiliki
ukuran panjang di atas tangan manusia umumnya. Kakek gorilla ini memang
memiliki ilmu silat yang sebagian besar bertumpu pada kedua tangan. Jarang
sekali kakinya dipergunakan untuk menyerang.
Dewa Arak
tak ragu-ragu lagi untuk menyambutnya dengan menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'
yang menjadi andalannya. Dua tokoh lihai ini sesaat kemudian telah terlibat
dalam pertempuran dahsyat!
Setan
Bongkok menghela napas berat. Sungguh tidak disangka nyawanya akan tertolong
oleh Dewa Arak. Semakin bertumpuk budi yang diberikan pemuda berpakaian ungu
itu terhadapnya. Entah bagaimana Dewa Arak bisa berada di sini dalam waktu yang
tepat dan cepat Atau, pemuda berpakaian ungu ini mengikuti perjalanannya?
Setan
Bongkok tidak perlu berpikir lebih lama untuk menemukan jawabannya. Di kejauhan
dilihatnya Cendana melesat cepat menuju tempat ini. Pasti Cendana yang
memberitahukan hai ini pada Dewa Arak, duga Setan Bongkok.
"Syukur
kau berhasil selamat, Paman Bongkok,'' ujar Cendana sambil berlari mendekat.
Tak sabar menunggu dirinya lebih dekat dengan Setan Bongkok yang sekarang telah
berdiri tegak. "Aku sudah khawatir sekali usahaku akan terlambat "
Setan
Bongkok tersenyum. Senyum yang lebih pantas disebut seringai.
"Jadi,
kau yang menyebabkan pemuda itu sampai di sini dan menolongku pada saat yang
tepat?" Setan Bongkok berusaha mencari kepastian mengenai dugaannya.
"Aku
tidak punya pilihan lain, Paman Bongkok," Cendana memberikan jawaban
sambil menundukkan kepala. Ia merasa bersalah telah meminta pertolongan pada orang
yang semula justru menjadi lawan tarung Setan Bongkok. "Aku rela kau
marahi daripada harus kehilanganmu, Paman. Kaulah yang selama ini melindungiku.
Tanpa adanya kau
mungkin aku
telah celaka. Cukup sudah aku kehilangan Guru. Aku tidak ingin kau pun pergi
dari sisiku."
Sepasang
mata Setan Bongkok mengerjap beberapa kali untuk mencegah runtuhnya air mata.
Perasaan haru melanda hatinya Kini dia mengerti mengapa tadi Cendana berlari
bagai dikejar hantu. Rupanya, untuk mencari pertolongan! Agak menyesal Setan
Bongkok karena telah menduga jelek terhadap Cendana.
Memang
Cendana bernasib baik. Tepat pada saat dia tiba di tempat semula dirinya
terlibat keributan dengan Tanggur. Dewa Arak baru hendak berpamitan
meninggalkan keluarga Tanggur. Berkumpulnya lagi Tanggur bersama anak dan
istrinya menjadi alasan Arya untuk selekasnya berpisah dengan Larasati. Arya
melihat adanya benih-benih asmara dalam hati gadis itu. Dan, Arya tidak ingin
perasaan suka Larasati terhadapnya semakin membesar.
Seperti dugaan Dewa Arak, Larasati terlihat keberatan. Tapi, sifatnya yang tenang
membuat gadis itu berdiam diri saja. Ia tidak mengajukan keberatannya. Saat
itulah Cendana datang membawa kabar mengenai ancaman maut terhadap Setan
Bongkok. Arya jadi mempunyai alasan kuat untuk meninggalkan tempat itu.
Karena
keadaan sudah gawat, demikian menurut penuturan Cendana, Arya berlari
mendahului agar tidak terlambat. Usaha pemuda berambut putih keperakan itu
ternyata berhasil. Setan Bongkok berhasil diselamatkannya.
"Aku
tidak marah, Cendana. Malah sebaliknya, berterima kasih sekali atas usahamu.
Aku terlalu rendah untuk mendapatkan pertolonganmu, Cendana. Aku orang yang
telah berlumuran darah dan dosa. Tidak pantas untuk ditolong. Apalagi oleh
gadis secantik dan segagah kau!"
Cendana
mengibaskan tangan.
"Apa
pun katamu, Paman Bongkok. Bagiku kau merupakan orang yang paling mulia. Akan
kuterjang orang yang berani menghinamu. Orang sedunia boleh
menganggapmu jahat, tapi aku tidak!" lantang dan penuh semangat ucapan
Cendana.
Setan
Bongkok tidak kelihatan gembira. Dia bahkan semakin menundukkan kepala.
Terpuruk dalam kesedihan yang mendera. Karuan saja hal ini membuat Cendana
heran.
Tapi
sebelum Cendana yang penasaran melihat sikap Setan Bongkok mendesak lebih jauh,
terdengar bentakan-bentakan nyaring. Kedengarannya berasal dari tempat yang
cukup jauh. Terdengar derap langkah kaki sekejap telah menyusul. Tidak hanya
satu, tapi beberapa pasang.
Setan
Bongkok langsung sadar dari cengkeraman perasaannya. Tokoh ini segera
mengetahui ada orang-orang berkepandaian luar biasa tinggi tengah menuju ke
tempat ini. Cepatnya mereka mendekat, padahal dari teriakan-teriakan yang
terdengar jaraknya masih jauh, telah menjadi pertanda ketinggian ilmu mereka.
Setan
Bongkok bersikap waspada. Dia bertindak cepat, berdiri di depan Cendana dengan
sikap melindungi. Padahal lelaki ini teiah terluka! Gempuran-gempuran Raja
Monyet Bertangan Seribu yang dahsyat telah melukai bagian dalam tubuhnya.
Hampir berbarengan dengan pindahnya Setan Bongkok, melesat tiga sosok
yang saling berkejaran. Sosok paling depan dikenali Cendana dan Setan Bongkok
sebagai Pendekar Penyebar Asmara!
Pendekar
Penyebar Asmara berlari sambil membopong tubuh Mirah, istrinya. Di belakangnya
mengejar Kelabang Merah dan Gajah Kecil.
Setan
Bongkok melihat dari sudut mulut Pendekar Penyebar Asmara menetes cairan merah
kental. Kiranya pendekar ganteng itu telah terluka dalam. Karena telah terluka,
tambahan lagi tengah membopong istrinya, dengan satu lompatan, Kelabang Merah berhasil mencegah
perjalanan Pendekar Penyebar Asmara. Mau tidak mau Pendekar Penyebar Asmara
menghentikan lari.
Sekarang,
Pendekar Penyebar Asmara dikepung dari dua arah. Pendekar ganteng yang masih
bisa tersenyum itu menurunkan tubuh Mirah. "Menyingkirlah dari sini,
Mirah!" ucapnya lembut tapi penuh tekanan. Terasa jelas nadanya yang tak
menghendaki bantahan
Mirah tahu
lawan-lawan suaminya amat tangguh. Dia pun tidak akan berarti banyak andaikata
memberikan bantuan. Bahaya maut tengah mengancam suaminya. Dengan terisak Mirah
menyingkir.
"Bersiaplah untuk
menghadap malaikat maut, Pendekar Pemadat Wanita!"
sentak Gajah Kecil penuh
kegembiraan,
karena menyadari sakit hatinya kali ini mungkin akan terbalaskan.
"Belum
tentu, Gajah Kecil!" bantah Pendekar Penyebar Asmara. "Andaikata pun
aku harus menghadap malaikat maut, setidak-tidaknya kau akan kubawa
serta!"
Ucapan
Pendekar Penyebar Asmara ini sebagian besar hanya berupa ancaman. Saat itu dia
telah terluka. Itu terjadi karena pengeroyokan dua lawannya. Semula Pendekar
Penyebar Asmara berhasil mendesak Gajah Kecil, tapi Kelabang Merah muncul dan
membantu saingan beratnya itu. Pendekar Penyebar Asmara tak mampu menghadapi
keroyokan mereka. Untungnya, dia sempat kabur sambil membawa Mirah.
Sayang,
lukanya yang semakin parah karena dipaksa mengerahkan kemampuan untuk terus
berlari membuat Kelabang Merah berhasil menghadangnya. Kelabang Merah yang
memiliki watak tidak sabaran langsung menyerang Pendekar Penyebar Asmara dengan
ilmu andalan.
Gajah Kecil
tidak bisa tinggal diam. Dengan gelindingan
yang menjadi ciri khasnya, dia ikut ambil bagian. Sebentar saja Pendekar
Penyebar Asmara telah dikeroyok dan langsung terdesak.
Setan
Bongkok tidak bisa berpangku tangan melihat hal ini. Meski sebenarnya kurang
suka dengan Pendekar Penyebar Asmara, lelaki ganteng itu tengah diperlakukan
tidak adil. Dikeroyok. Terlepas dari sifat pendekar itu yang jelek, Pendekar
Penyebar Asmara adalah seorang tokoh golongan putih yang sejak bertahun-tahun
lalu menentang kejahatan! Nama dan tingkat kepandaiannya tidak berada di bawah
tingkat kepandaian salah satu anggota Tiga Binatang Iblis Neraka. Pendekar
Penyebar Asmara berada di atas tingkatan tokoh-tokoh seperti Siluman Harimau
atau Mayat Sejuta Bunga.
Maka,
melihat Pendekar Penyebar Asmara didesak hebat, Setan Bongkok terjun dalam
kancah pertarungan. Dia menyerang Gajah Kecil! Dengan terjunnya Setan Bongkok
di tempat itu terjadi tiga kancah pertarungan.
Pertarungan
yang paling dahsyat berlangsung antara Dewa Arak dengan Raja Monyet Bertangan
Seribu. Ilmu tokoh tertinggi dalam kelompok Tiga Binatang Iblis Neraka ini
memang luar
biasa. Dewa Arak kendati telah menggunakan ilmu 'Belalang Sakti' masih juga
kewalahan menghadapinya.
Apalagi ketika Raja Monyet Bertangan Seribu
menggunakan sepasang kecernya. Dewa Arak sempat kelabakan. Benturan kecer lawan
yang tidak berbunyi tapi menimbulkan
akibat-akibat dahsyat sempat membingungkannya.
Tingkat
penguasaan tenaga dalam Raja Monyet Bertangan Seribu memang telah mencapai
puncak. Itu masih ditambah lagi dengan seperti adanya hubungan batin antara
kakek gorilla itu dengan senjatanya. Kedua hal itu membuat Raja Monyet Bertangan Seribu mampu menyalurkan keinginannya
terhadap lawan lewat benturan sepasang kecernya. Menotok lumpuh, menidurkan,
membuat lawan menangis, atau tertawa.
Dewa Arak
sempat dibuat menangis. Untungnya, berkat pengalamannya yang banyak, pemuda
berambut putih keperakan ini segera sadar dan mengusir pengaruh tak wajar itu
dengan teriakan nyaring. Setelah itu setiap kali lawan membenturkan kecer, Dewa
Arak berkumur-kumur dengan araknya. Bunyi kumur-kumur itu menangkal pengaruh
benturan kecer yang tidak bersuara.
Berbeda
dengan pertarungan Dewa Arak dengan Raja Monyet Bertangan Seribu yang tetap
berlangsung sengit, pertarungan Pendekar Penyebar Asmara dan Setan Bongkok
menghadapi lawan lawannya mulai menghadapi puncak!
Lawan-lawan
Pendekar Penyebar Asmara dan Setan Bongkok lebih menguntungkan. Mereka belum
terluka. Apalagi tidak diambil jalan nekat, pertarungan lambat-laun akan
dimenangkan kedua tokoh sesat itu.
Pendekar
Penyebar Asmara dengan tingkat ke-pandaiannya yang hampir sejajar dan
mengerahkan seluruh kemampuan terakhirnya segera membuat lawannya tersudut,
hingga tidak bisa berbuat apa pun kecuali menangkis. Pendekar Penyebar Asmara
menggunakan kesempatan ini untuk melancarkan serangan yang mengadu nyawa!
"Kak...!"
seru Mirah melihat tindakan yang diambil Pendekar Penyebar Asmara. Wanita ini
kaget bukan main.
"Paman
Bongkok...! Jangan...!" Cendana berseru penuh kekhawatiran pula ketika
melihat Setan Bongkok, dengan mengandalkan ilmunya yang istimewa, mengirimkan
serangan
mengadu nyawa yang menutup semua jalan keluar bagi Gajah Kecil.
Maksud
Setan Bongkok dan Pendekar Penyebar Asmara memang tidak sia-sia. Gajah Kecil
dan Kelabang Merah demi untuk menyelamatkan nyawa memapaki serangan itu dengan
seluruh tenaga mereka.
Bresss!
Blarrr!
Dua
benturan keras yang membuat sekitar tempat itu bagai dilanda gempa bumi pun
terdengar. Tubuh empat tokoh yang bertindak nekat itu berpentalan ke belakang
sambil mengeluarkan jeritan menyayat hati!
Dengan
berteriak kaget dan khawatir, Mirah serta Cendana meluruk ke arah tubuh Setan
Bongkok dan Pendekar Penyebar Asmara. Kekhawatiran mereka meledak menjadi
kesedihan ketika mendapati tubuh kedua tokoh perkasa itu tidak bangkit lagi
untuk selama-lamanya!
Dari mulut,
hidung, telinga, bahkan mata Pendekar Penyebar Asmara dan Setan Bongkok
mengalir darah segar. Di tempat yang terpisah, belasan tombak jauhnya, Gajah
Kecil dan Kelabang Merah pun menemui ajal! Keadaan mereka tidak berbeda dengan
Setan Bongkok.
Akibat
benturan keras itu, pertarungan Dewa Arak dan Raja Monyet Bertangan Seribu
terhenti. Keduanya lebih tertarik untuk memeriksa keadaan tokoh-tokoh yang
bertindak nekat itu.
Raja Monyet
Bertangan Seribu tercenung melihat mayat dua orang saingannya. Sementara Dewa
Arak hanya memandangi dua wanita yang tengah berduka. Pandang mata Arya yang
tajam melihat adanya keanehan pada mayat Setan Bongkok.
Arya
menegasi lebih seksama. Ternyata tidak salah. Ada bagian wajah Setan Bongkok,
pada kening sebelah kanan terdapat kulit yang berbeda dengan sekitarnya.
Arya
menghampiri dan duduk bersimpuh. Setelah melempar senyum duka pada Cendana,
diulurkan tangannya memeriksa selebar wajah Setan Bongkok. Cendana yang bingung
melihat tingkah Arya memperhatikannya dengan setengah hati. Dia masih terlalu
sedih untuk memikirkan hal-hal lain
Arya tidak
hanya memeriksa wajah, tapi juga leher dari kulit tubuh lainnya. Tidak sulit
bagi Arya untuk mengetahui kalauSetan Bongkok tidak setua kelihatannya.
"Dia
memakai topeng, Nona. Mungkin kau, sebagai orang yang paling dekat dengannya
ingin mengetahui siapa dia sebenarnya? Hidupnya pasti menyedihkan sehingga dia
harus bersembunyi di balik topeng." beritahu Arya.
Cendana
tidak langsung menanggapi pemberitahuan Arya. Dia masih dibalut kesedihan.
Membutuhkan waktu yang cukup untuk mencerna kata-kata Arya. Kepalanya terasa
pusing hingga tidak bisa diajak berpikir. Bahunya pun masih terguncang-guncang
oleh tangis yang siap meledak.
Kemudian, dengan tangan gemetar Cendana
mengikuti anjurah Arya. Dia pun melihat kalau Setan Bongkok ternyata mengenakan
topeng. Kulit yang berbeda di kening kanan itu adalah kulit asli. Mungkin kulit
topeng terkoyak akibat pertarungan.
"Aaa...!"
Cendana mengeluarkan jeritan tertahan ketika melihat wajah lain di balik
topeng itu. Wajah yang amat dikenalnya. Wajah Lesmana! Hanya saja wajah itu
tidak beringas seperti dulu. Lembut. Sinar sepasang matanya pun tampak lembut.
Cendana
kaget bukan main. Sepasang matanya membelalak lebar. Mulutnya pun menganga
seperti orang melihat hantu. Beberapa saat dia bersikap demikian, sebelum
akhirnya dengan mengeluarkan keluhan tertahan, gadis itu roboh ke tanah.
Cendana pingsan! Dia tak kuat menahan guncangan batin yang bertubi-tubi itu.
Dewa Arak
dan Mirah terkejut melihat kejadian yang menimpa Cendana. Untung, Arya sempat
menyambut sebelum tubuh Cendana ambruk ke tanah.
Pada saat
itu Raja Monyet Bertangan Seribu rupanya berhasil menguasai perasaannya. Dengan
langkah lebar dihampirinya Dewa Arak untuk diajak bertarung kembali!
Arya kaget.
Apalagi ketika melihat Raja Monyet Bertangan Seribu mengeluarkan kecer. Saat
itu tangannya tengah memondong tubuh Cendana. Dewa Arak tidak punya kesempatan
untuk bertindak.
Tepat di
saat Raja Monyet Bertangan Seribu membenturkan kecer, mendadak saja, entah
datang dari
mana di
tempat itu telah berdiri seorang kakek yang luar biasa pendek. Kepalanya botak
mirip tuyul. Tanpa berkata apa pun kakek ini bertepuk tangan.
Seperti
juga kecer, tepukan tangan kakek cebol tidak berbunyi. Tapi, akibatnya sepasang
kecer Raja Monyet Bertangan Seribu hancur berkeping-keping. Tubuh Raja Monyet
Bertangan Seribu sendiri terjengkang ke belakang sambil memuntahkan darah
segar.
"Kali
ini aku mengaku kalah lagi, Elang Malaikat Tapi kelak aku akan kembali,"
rutuk Raja Monyet Bertangan Seribu. Kemudian, berlari tertatih-tatih
meninggalkan tempat itu.
"Terima
kasih atas pertolonganmu, Kek," ujar Dewa Arak dengan tersenyum.
Kakek cebol
tidak menyambuti. Dipanggulnya tubuh Setan Bongkok alias Lesmana.
"Dia
muridku, Anak Muda. Untuk membenrinya pengalaman aku pura-pura terluka parah
ketika Mayat Sejuta Bunga dan Siluman Harimau kupergoki mencuri kitab. Padahal,
luka-luka yang kuderita hanya sandiwara saja. Demikian pula kitab yang dicuri.
Hanya kitab palsu. Aku memang membiarkan diriku dipukul oleh mereka. Sungguh
tidak kusangka kalau perkembangannya akan jadi demikian jauh. Muridku dibuat
gila oleh Mayat Sejuta Bunga. Maksud tokoh itu untuk dijadikan budak. Malang,
dia malah tewas diamuk muridku. Untung aku segera mengobatinya sebelum angkara murka yang ditimbulkan muridku
bertambah." Arya sempat termangu. Kakek itu kelihatan acuh saja.
"Sayangnya,
muridku telah membuat guru gadis itu tewas. Untuk menebus kesalahan dia mencoba
menjadi pelindungnya. Tentu saja untuk itu dia harus menyamar. Namun, segalanya
harus berakhir seperti ini." Kakek cebol yang ternyata Elang Malaikat,
mengakhiri ceritanya.
Tanpa
permisi lagi, Elang Malaikat kemudian melesat meninggalkan Dewa Arak. Angin
bertiup sepoi-sepoi. Arya menatap kepergjan si kakek dengan tubuh Cendana masih
dibopongnya.
SELESAI
No comments:
Post a Comment