MISTERI
GADIS GILA
1
"Guru...!"
Terdengar
seruan bernada takut-takut yang be-rasal dari mulut mungil seorang gadis
berkulit tubuh putih mulus terbungkus pakaian hitam. Sehingga, ter-lihat
menyolok sekali dengan warna pakaiannya. Dia berdiri di belakang sosok
berpakaian merah yang ten-gah duduk di pinggir sungai dengan pandangan tertuju
ke depan. Entah, apa yang tengah ditatapnya.
"Hm...!"
Sosok
berpakaian merah itu sukar digambar-kan ciri-cirinya, karena pakaiannya longgar
membuat bentuk tubuhnya tak terlihat jelas. Apalagi wajahnya ditutupi topeng
tengkorak sungguhan, sehingga sukar dikenali. Dia hanya menggumam pelan, tanpa
sedikit pun bergeming atau bahkan menoleh.
"Sejak
keluar beberapa minggu yang lalu dan kembali dalam keadaan terluka, Guru jadi
sering ber-laku seperti ini. Aku jadi ikut sedih dan terharu. Aku tidak ingin
Guru bersedih. Aku ingin berbuat sesuatu untuk membantu Guru. Katakan, Guru.
Apa yang te-lah terjadi?! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu,"
ujar gadis berpakaian hitam, mulai bera-ni. Padahal menilik dari jari-jemarinya
yang saling genggam dan dipermainkan, bisa terlihat kegelisahan hatinya.
"Hhh…!"
Sosok
bertopeng tengkorak menghembuskan napas berat, seakan hendak menyingkirkan
beban yang mengganjal dalam dada.
"Aku
tidak bermaksud untuk membuatmu ber-sedih atau bingung, Linggar. Kuharap lebih
baik kau tidak usah memikirkan persoalan ini. Terlalu rumit! Kau akan bingung
dan pusing nantinya!" sahut sosok berpakaian merah, yang dipanggil guru.
"Tidak,
Guru. Aku tidak akan pusing! Dan lagi, apa artinya pusing sedikit dibanding
pengorbananmu. Guru telah memelihara ku sejak kecil, hingga sebesar ini dengan
penuh kasih sayang. Guru telah mengang-gapku seperti anak sendiri. Bahkan aku
menganggap-mu sebagai orangtua ku sendiri. Tentu saja, itu kalau Guru tidak
keberatan. Jadi, tidak ada salahnya kalau Guru menceritakan masalah yang
menghimpit batin-mu," ujar gadis berpakaian hitam yang dipanggil Ling-gar,
panjang lebar sambil duduk di sebelah sosok ber-topeng tengkorak yang tetap tak
menoleh.
Sosok
bertopeng tengkorak tidak memberi ja-waban apa-apa. Diam. Sementara Linggar
menunggu dengan sabar, kendati tidak bisa menduga apa yang tengah berkecamuk
dalam batin sosok gurunya ini. Amat sulit untuk membaca perasaan lewat wajah
itu. Karena yang terlihat hanya topeng belaka, yang sejak dulu sorotnya selalu
dingin!
"Ayolah,
Guru. Tidak baik menyimpan masalah sendirian. Lagi pula, bila mengeluarkan
masalah yang mengganjal hati, akan membuat dada dan pikiran menjadi lega,"
bujuk Linggar setengah bernada meng-gurui.
"Kau
benar," akhirnya keluar juga ucapan lewat mulut yang tidak pernah terlihat
"Tidak ada salahnya kau kuberitahukan. Barangkali saja kau bisa
meme-cahkan masalah yang ku alami. Toh, kau telah cukup dewasa, dan memiliki
kepandaian cukup untuk terjun dalam dunia persilatan."
"'Terima
kasih atas kepercayaanmu, Guru," ucap Linggar dengan wajah berseri-seri.
Linggar
sama sekali tidak tahu kalau di balik topengnya, sosok berpakaian merah itu
tersenyum mendengar ucapannya.
"Kau
pernah kuceritakan mengenai anakku, bukan?!" tanya sosok berpakaian merah
longgar itu sambil menoleh dan menatap sepasang mata Linggar lekat-lekat
Linggar
sampai bergidik di dalam hati ketika melihat sepasang mata yang tajam mencorong
dan bersinar kehijauan yang memancar dari balik topeng itu. Sorot mata yang
seakan-akan dapat mengetahui apa yang tengah tersembunyi di dalam hati.
"Benar,
Guru," jawab Linggar agak serak ka-rena suaranya mendadak tercekat di
tenggorokan.
Perasaan
ngeri yang muncul tiba-tiba menye-babkan suara Linggar demikian. Dan dia
mempunyai alasan yang kuat. Apalagi setelah menyadari kalau gu-runya bukan dari
golongan baik-baik. Malah sebalik-nya! Meski terhadap dirinya amat baik, tapi
Linggar ti-dak berani bertindak sembarangan. Dia tahu gurunya memiliki watak
amat aneh. Bisa saja tanpa alasan so-sok berpakaian merah itu akan
menghukumnya. Bah-kan membunuhnya kalau kebetulan tengah tidak se-nang hati!
"Nah!
Itulah sebabnya, Linggar. Beberapa hari yang lalu, ketika tengah terjun ke
dunia persilatan lagi, aku bertemu seorang pemuda yang wajahnya amat mi-rip
dengan orangtuanya. Sehingga aku yakin, jangan-jangan anak itu adalah anakku
yang terpaksa berpisah karena keadaan."
Linggar tak
begitu kaget mendengarnya. Apalagi gurunya telah terlalu sering bercerita
tentang anaknya.
"Apakah
putramu itu mengenalmu, Guru?!" "Tentu saja tidak! Topeng yang ku
kenakan ini
membuat
wajahku tidak dikenalnya. Celakanya lagi, sebelum aku sempat menemukan akal
agar dapat memperkenalkan diriku padanya, muncul seorang pendekar muda berjuluk
Dewa Arak yang langsung mencampuri urusan ini. Kami terlibat pertarungan. Dan
ternyata, dia lihai bukan main. Aku dapat dika-lahkannya. Beruntung aku bisa
melarikan diri. Kalau tidak..., entah apa yang terjadi dengan diriku..."
Barulah
Linggar saat ini benar-benar kaget. "Jadi..., luka yang Guru derita karena
bentrok dengan Dewa Arak?! Hhh...! Biar aku yang akan membalaskan dendammu itu,
Guru. Akan kucari Dewa Arak. Akan kubalaskan sakit hatimu, Guru. Dan apabila,
dia terla-lu lihai, akan kucari cara lain untuk mengalahkannya! Aku berjanji,
Guru!" tandas Linggar seraya bangkit dengan kedua tangan terkepal.
Sikapnya terlihat gagah bukan main.
"Kalau
begitu, wakililah aku untuk menemukan putraku itu. Juga balaskan dendamku pada
Dewa Arak!" titah sosok berpakaian merah longgar.
"Akan
kulaksanakan perintahmu, Guru! Kapan aku harus berangkat?!"
"Sekarang
juga!"
"Baik,
Guru!" jawab Linggar mantap. "Sekarang juga akan kupersiapkan semua
yang kuperlukan un-tuk bekalku."
Sosok berpakaian
merah tidak memberi jawa-ban. Tapi, Linggar tidak menjadi kecil hati. Dia telah
kenal betul watak gurunya yang aneh. Maka dengan semangat menggebu tubuhnya
berbalik untuk kembali ke pondoknya untuk segera berangkat mencari Dewa Arak
"Aku
pergi dulu, Guru!"
***
Linggar
melakukan perjalanan tanpa tergesa-gesa. Sambil melangkah, kepalanya ditolehkan
ke ka-nan dan ke kiri, menikmati pemandangan indah yang terhampar di
sekitarnya.
Tempat
tinggal Linggar bersama gurunya me-mang di atas puncak Gunung Merbabu. Sewaktu
me-ninggalkan gurunya, dia langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang
membuat sosoknya tidak ter-lihat saking cepatnya bergerak. Bahkan kedua kakinya
bagai tak menyentuh tanah! Tapi begitu telah berada di lereng, perjalanan
dilakukan secara biasa.
Ketika
mengalihkan perhatian ke depan, Ling-gar terperanjat Di kejauhan dari kaki
gunung, tampak berkelebat tiga sosok hitam di kejauhan. Gerakannya cepat bukan
main. Dan mata Linggar yang tajam, sege-ra saja mengetahui kalau itu adalah
tiga sosok tubuh yang memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa! Je-las,
mereka adalah orang-orang persilatan!
Jantung
Linggar berdetak jauh lebih cepat. Arah yang dituju tiga sosok itu adalah
puncak Gunung Merbabu tempat gurunya tinggal! Perasaan tidak enak, mulai
merayapi hatinya. Karena Linggar tahu, tempat gurunya tinggal sangat terpencil,
tidak pernah dida-tangi orang!
Maka tak
heran kalau Linggar mulai mengkha-watirkan keadaan gurunya. Bukan tidak mungkin
ka-lau tiga sosok itu memang ingin menemui gurunya tanpa maksud baik.
Meskipun
demikian, Linggar berusaha tenang dengan sikap tak peduli. Kakinya terus
terayun. Tapi
baru
beberapa betas tindak, terpaksa langkahnya di-hentikan. Karena, tiga sosok itu
telah berdiri berjajar menghalangi jalannya.
"Siapa
kalian?! Mengapa menghalangi perjala-nanku?!" tanya Linggar dengan sikap
tenang sambil merayapi tiga sosok yang berdiri di hadapannya.
"Ha ha
ha...!"
Salah
seorang dari tiga sosok yang berdiri da-lam jarak tiga tombak di depan Linggar
tertawa terba-hak-bahak. Seakan-akan pertanyaan yang diajukan gadis itu sangat
lucu. Sosok itu memiliki tubuh tinggi besar dan bercambang bauk lebat
"Kau
seorang gadis luar biasa, Anak Manis! Sungguh berani kau bersikap seperti itu
pada kami! Kau tahu, siapa kami?!"
"Kami
berjuluk Tiga Setan Langit Bumi!" sam-bung lelaki yang bertubuh kecil
kurus. Kemudian, jari tangannya yang kecil-kecil menuding kawannya yang lebih
dulu berbicara. "Dia berjuluk Setan Tenaga Rak-sasa. Sedangkan aku
berjuluk Setan Tanpa Bayan-gan."
"Dan
aku Setan Pisau!" sambut lelaki terakhir yang warna kulit wajahnya
kekuningan.
Linggar
terkejut. Tapi dengan pandainya, pera-saan itu disembunyikan hingga tidak
terlihat pada wa-jahnya yang cantik. Gurunya, pernah menceritakan tentang
tokoh-tokoh dunia persilatan, baik dari golon-gan putih maupun hitam. Dan, Tiga
Setan Langit Bumi ini termasuk dalam golongan hitam yang memiliki ke-pandaian
tinggi. Namun, Linggar tidak merasa gentar.
"Dan
maksud kalian menghadang perjalanan-ku?!" Linggar mengulang pertanyaannya
yang belum terjawab dengan sikap masih tenang
"Hanya
untuk menanyakan keperluanmu bera-
da di
tempat ini," sahut Setan Pisau dengan sikap te-nang.
Di samping
memiliki sikap tenang, Linggar juga memiliki watak cerdik. Maka mendapat
pertanyaan ringan itu, tidak langsung dijawabnya. Dari pertanyaan seperti itu
bisa jadi dirinya terperangkap bila memberi jawaban sejujurnya. Tentu saja
keselamatan gurunya sangat dikhawatirkan. Dia tahu, gurunya banyak mempunyai
musuh! Dan bukan tidak mungkin Tiga Setan Langit Bumi merupakan musuhnya.
"Kalau
aku tidak mau menjawab?!" pancing Linggar.
"Ha ha
ha...!"
Setan
Bertenaga Raksasa tertawa bergelak. To-koh ini memang gemar tertawa.
"Ingin
kami tahu, sampai berapa lama kau bisa bertahan untuk tidak memberi
jawaban!"
"Biar
aku yang memaksanya!"
Setelah
berkata demikian, Setan Pisau menu-bruk Linggar. Tangan kanannya dengan
jari-jari mene-gang kaku ditusukkan ke arah dada gadis berpakaian hitam ini.
Bunyi mencicit tajam terdengar, ketika jari-jari tangan itu merobek udara.
Linggar
tahu, tusukan jari tangan Setan Pisau amat berbahaya. Bahkan tak kalah
berbahaya jika di-banding tusukan senjata tajam. Jari-jari itu bahkan mampu
menghujam batu karang yang paling keras se-kalipun! Secepat kilat Linggar
melompat ke belakang sambil menghunus pedang dan membabatkannya ke leher Setan
Pisau.
Setan Pisau
terperanjat melihat serangan bala-san yang cepat ini. Kenyataan ini menyadarkan
dirinya kalau gadis muda ini tak bisa dipandang remeh! Maka dengan kecepatan
menakjubkan, diambilnya pisau da-
ri balik
bajunya. Lalu dengan kecepatan dahsyat, di-tangkisnya pedang yang mengancam
leher.
Trang!
Bunyi
nyaring disertai bunga api berpijar men-giringi terjadinya benturan pedang
Linggar dengan se-bilah pisau mengkilap di tangan kiri Setan Pisau.
Sementara
itu Setan Tenaga Raksasa dan Setan Tangan Bayangan membelalakkan mata saking
kaget-nya, ketika melihat tubuh Setan Pisau terhuyung-huyung empat langkah ke
belakang akibat benturan keras tadi. Padahal Linggar hanya terhuyung dua
langkah!
Setan Pisau
yang mengalami sendiri kejadian itu tidak hanya kaget saja, tapi juga marah.
Dia benar-benar malu! Kenyataan ini pun menyadarkan dirinya kalau gadis ini
bukan lawan ringan! Maka sambil men-geluarkan teriakan kemarahan, lelaki
bermuka kuning ini menerjang. Kali ini tindakannya tidak setengah-setengah
lagi. Setan Pisau langsung mengeluarkan se-luruh kemampuannya!
Memang
tidak percuma bila lelaki bermuka ku-ning ini berjuluk Setan Pisau. Sepasang
pisau yang be-rada di tangannya, berkelebatan laksana kilat men-gancam ke
berbagai bagian tubuh Linggar. Sebuah permainan pisau yang benar-benar luar
biasa.
Meskipun
demikian, Linggar tidak ciut nya-linya. Bahkan gadis ini mampu mengirimkan
serangan yang tak kalah berbahaya! Ketenangannya membuat setiap serangan Setan
Pisau selalu berhasil dikan-daskan! Bahkan Linggar yang tahu kelebihannya
da-lam tenaga, selalu mengajak untuk berbenturan senja-ta.
Tentu saja
Setan Pisau yang telah kenyang pengalaman mengetahui maksud lawannya. Maka dia
berusaha
secepat mungkin untuk menghindari terja-dinya benturan senjata. Andaikata tidak
mungkin, di-usahakannya untuk berbenturan secara tidak lang-sung, agar tidak
terlalu merugikan dirinya. Tindakan yang diambil ini, membuat Setan Pisau jadi
berada di pihak yang terdesak.
Sementara
Setan Tenaga Raksasa dan Setan Tanpa Bayangan tahu kalau dibiarkan terus, rekan
mereka akan menghadapi bahaya. Bahkan bukan ti-dak mungkin akan tewas. Maka
setelah saling berpan-dangan sebentar, kedua anggota Tiga Setan Langit Bumi ini
mengeluarkan senjata masing-masing. Setan Tanpa Bayangan mencabut golok
besarnya, sedangkan Setan Tenaga Raksasa mengeluarkan ruyung berba-tang tiga.
Lalu sambil berteriak keras bagai harimau terluka, mereka terjun dalam kancah
pertarungan!
Hanya dalam
beberapa gebrakan, keadaan lam kancah pertarungan berubah! Linggar yang tadi
berada dalam kedudukan mendesak, sekarang menjadi terde-sak!
Satu hal
yang menguntungkan Linggar adalah ketenangannya. Karena sifat itulah, dia dapat
bertahan lebih lama!
Memang,
siasat yang dipergunakan Linggar kali ini cukup jitu. Betapa pun gencar
serangan-serangan yang meluncur, tapi karena kuatnya pertahanannya, tak satu
pun yang mengenai sasaran yang dituju. Bahkan setiap tangkisan membuat lawannya
ter-huyung-huyung.
Kendati
demikian, Tiga Setan Langit Bumi tidak cepat putus asa. Bahkan berkat
pengalaman dalam kancah dunia persilatan, ketiga tokoh sesat itu segera
menemukan siasat untuk menarik keuntungan dari cara yang dipergunakan Linggar
dengan melancarkan
serangan
bergiliran tanpa putus-putus.
Cara Tiga
Setan Langit Bumi ini memang cerdik bukan main. Serangan yang bergantian,
membuat Linggar terus-menerus mengerahkan tenaga penuh tanpa istirahat.
Sedangkan lawan-lawannya mempu-nyai waktu untuk memulihkan tenaga. Maka hanya
dalam beberapa jurus saja tenaga Linggar telah jauh berkurang.
Des!
Karena
kurang cepat menangkis akibat terlalu lelah, tendangan Setan Tanpa Bayangan
mendarat di paha Linggar. Tubuhnya kontan terjengkang ke bela-kang. Pedangnya
terlempar. Sebelum dia sempat ber-buat sesuatu, golok Setan Tanpa Bayangan
telah me-nempel di lehernya. Sedikit saja ditekankan, nyawa gadis ini akan
melayang ke alam baka.
Linggar pun
mengendurkan urat-urat syarafnya yang telah menegang, karena siap untuk
dipergu-nakan. Disadari kalau tidak ada gunanya lagi melaku-kan perlawanan.
"Tunggu
apa lagi?! Ayo, bunuhlah aku! Kau kira aku orang yang takut mati?!"
tantang Linggar, tenang.
"Membunuhmu
semudah membalikkan telapak tangan, Anak Manis!" kata Setan Tenaga Raksasa
pa-rau, setelah terlebih dulu tertawa bergelak. "Tapi, un-tuk apa?! Kami
hanya ingin mengajukan satu perta-nyaan padamu. Dan apabila kau bersedia
menjawab-nya, akan kami bebaskan! Bagaimana?!"
Linggar
diam. Sikap tenang membuatnya tidak segera menjawab, melainkan
mempertimbangkan.
"Bukankah
kau punya hubungan dengan Teng-korak Darah?!" tanya Setan Pisau yang
mempunyai watak tidak sabar, waktu Linggar terdiam.
Linggar
sama sekali tidak terkejut mendengar
dugaan yang
demikian tepat. Dia sudah menduga, ka-lau kedatangan Tiga Setan Langit Bumi ini
ada hubun-gan dengan gurunya, Tengkorak Darah. Dan menilik tingkah mereka, bisa
diketahui kalau maksud yang terkandung tidak baik. Maka gadis berpakaian serba
hitam ini diam membisu, tidak memberi jawaban sedi-kit pun.
Setan Pisau
menggertakkan gigi karena geram melihat pertanyaannya tidak dipedulikan.
Seketika ke-dua tangannya yang menggenggam pisau digerakkan dengan kecepatan
mengagumkan. Sehingga yang terli-hat hanya kelebatan sinar-sinar yang
menyilaukan mata.
Sementara
Linggar hanya memejamkan mata untuk menanti datangnya maut, ketika melihat
Setan Pisau menggerakkan sepasang senjatanya. Tapi, ter-nyata yang
ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Gadis itu hanya merasa kelebatan angin
bermain di bagian atas tubuhnya. Lalu, desingan pisau lelaki bermuka kuning itu
tidak terdengar lagi. Berbarengan dengan itu, Linggar merasakan hawa dingin
meng-hembus bagian atas tubuhnya.
Perasaan
heran membuat Linggar membuka matanya. Dan, gadis itu kontan terpekik keras
dengan wajah merah padam. Dengan kedua tangannya dia be-rusaha menutupi
sepasang payudara yang menyembul seakan ingin melompat keluar. Ternyata,
sekujur tu-buh bagian atasnya telah tidak tertutup pakaian lagi! Sedangkan
pakaian hitam bagian atasnya telah berse-rakan di tanah dalam keadaan
tercabik-cabik!
Dalam
keadaan lain, Linggar mungkin menga-gumi kehebatan permainan pisau Setan Pisau,
se-hingga mampu mencabik-cabik pakaian yang melekat di tubuh tanpa melukai
kulitnya sedikit pun. Tapi se-
karang,
yang ada di benaknya hanya perasaan malu yang amat sangat dan marah! Tapi apa
dayanya? Ujung golok Setan Tanpa Bayangan ternyata masih menempel di lehernya.
Sedangkan di sebelah kirinya, Setan Tenaga Raksasa pun siap melancarkan
serangan maut dengan ruyung berbatang tiganya.
Sikap
tenang Linggar mulai tidak terlihat De-ngan gugup, bagian tubuhnya yang
telanjang berusaha disembunyikan dengan kedua tangannya. Tapi, tinda-kannya
hampir tidak berguna sama sekali. Sebagian payudaranya tetap saja terlihat.
Apalagi bagian tubuh-nya yang lain, yang tidak bisa disembunyikan. Terlihat
putih, halus, dan mulus. Sehingga, membuat sepasang mata Tiga Setan Langit Bumi
tertuju pada tubuh telan-jang itu dengan sorot seakan-akan ingin menelan
bu-lat-bulat. Sorot nafsu memancar pada mata-mata yang terbelalak lebar, seakan
hendak melompat keluar dari rongganya!
"Apakah
kau masih mau bersikeras juga, Anak Manis?!" ancam Setan Pisau lagi. Suara
napasnya memburu, karena cengkeraman nafsu birahi yang mu-lai berkobar.
"Sekali sepasang pisauku ini bergerak la-gi, kau akan berdiri dalam keadaan
telanjang bulat di sini. Dan setelah itu, tinggal menerima nasib menjadi
permainan kami sampai kami puas! Sampai kau mati kelelahan! Pilih saja salah
satu! Menjawab pertanyaan itu atau..."
"Iblis-iblis
keparat!" maki Linggar geram dan putus asa, karena tidak berdaya menerima
pilihan yang menyulitkan ini. Hatinya merasa ngeri mem-bayangkan Setan Pisau
akan melaksanakan an-camannya. "Kalian tidak memberiku pilihan lain!"
"Jadi
kau bersedia menjawab pertanyaan ka-mi?!" tanya Setan Pisau lagi dengan
pandang masih
melahap
bagian tubuh Linggar yang telanjang. Linggar mengangguk, meski dengan hati
berat
"Aku
memang mempunyai hubungan dengan Tengkorak Darah. Beliau adalah
guruku...," jawab ga-dis ini, lirih.
"Jadi...,
Tengkorak Darah benar tinggal di tem-pat ini?! Di atas Puncak Merbabu
sana?!" Setan Tenaga Raksasa ikut mengajukan pertanyaan.
Sama
seperti Setan Pisau, mata lelaki tinggi be-ar ini leluasa menjilati tubuh
Linggar yang telanjang. Sinar matanya seperti mata seekor harimau lapar
me-lihat kambing gemuk!
Linggar
mengangguk.
Tiga Setan
Langit Bumi saling berpandang se-bentar. Kemudian hampir bersamaan mereka
tertawa bergelak.
"Aku
telah menjawab pertanyaan kalian. Berar-ti, aku bisa pergi dari sini
sekarang," tagih Linggar.
Lagi-lagi
Tiga Setan Langit Bumi saling berpan-dang dan tertawa bergelak. Seakan-akan
pertanyaan yang diajukan gadis itu merupakan sebuah hal yang amat lucu.
"Aku
tidak mengerti apa yang kau maksudkan, Anak Manis," ujar Setan Tenaga
Raksasa dengan suara mengejek.
"Bukankah
kalian telah berjanji untuk membe-baskan aku, apabila pertanyaan kalian
kujawab?! Nah! Pertanyaan kalian telah kujawab! Sekarang, aku me-nagih janji!
Ataukah..., kalian ini hanya sekelompok pengecut hina yang biasa menarik janji
yang telah di-ucapkan?! Apakah ucapan yang keluar dari mulut ka-lian tak
ubahnya kotoran yang keluar dari lubang du-bur kalian?! Setelah dikeluarkan,
lalu dilupakan begitu saja?!"
2
Tajam bukan
main ucapan Linggar. Apalagi, di-ucapkan dengan suara keras. Sampai-sampai
wajah Tiga Setan Langit Bumi berubah-ubah karena pedas-nya nada ucapan itu.
"Siapa
yang tidak menepati janji, Nona Bermu-lut Lancang?!"
Setan
Tenaga Raksasa masih mampu meredam kemarahannya. Sehingga, tidak
melampiaskannya da-lam bentuk perbuatan. Hanya saja ucapan lelaki tinggi besar
ini penuh getaran kemarahan.
"Kalian
semua!" tandas Linggar berani sambil menatap wajah tiga tokoh sesat itu.
Kemarahan
membuat gadis ini bertindak demi-kian. Kemarahan yang timbul karena merasa
ditipu. Juga khawatir akan terjadinya peristiwa mengerikan terhadap dirinya.
"Bukankah
kalian telah berjanji untuk membe-baskan bila aku menjawab pertanyaan? Tapi,
mengapa aku tidak boleh pergi dari sini?! Bukankah itu berarti kalian melanggar
perjanjian yang telah dibuat sendi-ri?!"
"Siapa
bilang?!" tukas Setan Tenaga Raksasa dengan suara tinggi. "Kaulah
yang tidak menyimak perjanjian yang telah disepakati, Nona Berpikiran Pen-dek!
Ingat! Bukankah aku berjanji akan membe-baskanmu kalau telah selesai berurusan
denganmu! Paling tidak setelah berurusan dengan tubuhmu yang molek!"
Linggar
mengutuk dalam hati. Dia tahu, Tiga Setan Langit Bumi memang sengaja bertindak
licik
dengan
mencari celah-celah kelemahan dari janji yang dibuat, demi keuntungan diri
sendiri. Tapi, apa yang bisa dilakukannya sekarang?!
Dalam waktu
yang hanya sebentar, Linggar be-rusaha keras untuk mencari jalan keluar agar
bisa lo-los dari malapetaka yang mengerikan. Tapi, rasanya sukar! Dia tahu,
ketiga lawannya telah siap sedia. Se-dikit saja, otot-otot atau urat sarafnya
menegang, me-reka akan lebih dulu bertindak! Dan gadis ini yakin ka-lau akan
kalah cepat bergerak, mengingat kedudukan-nya yang tidak menguntungkan.
Linggar
bimbang. Haruskah membiarkan saja Setan Pisau melakukan perbuatan tak senonoh
yang lebih mengerikan? Menyayat celananya dengan sepa-sang pisaunya? Ataukah
dia bergerak untuk menyela-matkan diri, dengan akibat terkena serangan Setan
Tanpa Bayangan atau Setan Tenaga Raksasa?!
Dalam
saat-saat yang menentukan, mendadak Linggar mendengar ucapan di telinganya.
Begitu jelas, sehingga hatinya merasa khawatir kalau Tiga Setan Langit bumi
mendengarnya. Tapi ketika melihat ketiga tokoh sesat itu masih bersikap biasa,
dia tahu kalau ucapan itu hanya ditujukan padanya seorang.
Linggar
yang memiliki seorang guru berkepan-daian tinggi, segera tahu kalau ucapan itu
hanya bisa dilakukan melalui ilmu mengirimkan suara dari jauh. Sebuah ilmu yang
hanya bisa dikuasai oleh orang yang telah memiliki tenaga dalam sukar diukur
tingkatan-nya.
"Jangan
kaget, Nona. Aku akan menarik tu-buhmu ke belakang. Kuharap kau jangan
melakukan perlawanan. Ikuti saja kekuatan tarikan itu, agar aku lebih mudah
menolongmu...."
Jantung
Linggar berdebar tegang. Dia tahu ada
orang sakti
yang berusaha menolongnya. Dan karena keadaannya yang sulit untuk ditolong secara
biasa, orang sakti itu hendak menolongnya dengan cara tak lazim. Menarik! Dan
Linggar tahu, cara itu membutuh-kan tenaga dalam amat kuat!
Sementara
itu, Setan Pisau masih memper-mainkan sepasang pisaunya di depan dada. Rupanya,
perasaan Linggar ingin disiksanya lebih dulu, sebelum melaksanakan ancamannya.
Memang, bagi orang seke-jam Setan Pisau, semakin tersiksa hati lawan, semakin
gembira hatinya. Lelaki bermuka kuning ini sengaja mengulur-ulur waktu untuk
mencabik-cabik celana Linggar, kendati sebenarnya nafsu birahinya telah
me-ledak-ledak di ubun-ubun!
Sementara,
Setan Tenaga Raksasa dan Setan Tanpa Bayangan diam-diam mendongkol bukan main
melihat sikap rekannya. Kedua tokoh dari Tiga Setan Langit Bumi ini sudah
hampir tidak tahan lagi untuk melihat Linggar berbugil ria di hadapan mereka.
"Hey...!"
Seruan
kaget itu keluar hampir berbareng dari mulut Tiga Setan Langit Bumi ketika
melihat tubuh Linggar tahu-tahu tertarik secara keras ke belakang. Padahal,
mereka tidak melihat adanya gelagat kalau gadis berpakaian hitam itu akan
melakukan sebuah gerakan pun.
Tiga Setan
Langit Bumi segera tahu kalau ada pihak ketiga yang telah campur tangan.
Kemarahan besar pun bergolak di hati mereka. Bagai diberi perin-tah, tubuh
mereka melesat memburu tubuh Linggar yang tengah melayang deras ke belakang.
Tiga Setan Langit Bumi berusaha untuk merampas tubuh gadis itu.
Tapi
sebelum maksud Tiga Setan Langit Bumi
terlaksana,
dari balik kerimbunan pepohonan melun-cur tiga benda berwarna kehijauan. Cepat
sekali lun-curannya, hingga mengeluarkan bunyi melengking nyaring. Arah yang
dituju adalah leher tiga Setan Lan-git Bumi!
Tiga tokoh
sesat ini tidak berani bertindak ge-gabah. Dari bunyi yang terdengar bisa
diketahui kalau tiga benda kehijauan itu cukup dahsyat. Maka tanpa membuang-buang
waktu lagi, senjata andalan masing-masing segera digunakan untuk memapaki.
Trang,
trang, trang!
Tiga Setan
Langit Bumi tanpa sadar menyeri-ngai, ketika merasakan tangan yang menggenggam
senjata terasa sakit-sakit dan bergetar hebat. Hal ini benar-benar mengejutkan
hati! Apalagi, ketika melihat kalau benda kehijauan itu hanya berupa daun!
Sung-guh tidak bisa dipercaya kalau tiga helai daun mampu membuat tangan mereka
kesemutan hebat! Demikian kuatkah tenaga dalam orang yang lelah campur tangan itu,
sehingga mampu membuat senjata yang lebih be-sar dan berat hampir terlepas dari
pegangan!
Akibat
tangkisan pada daun-daun itu, Tiga Se-tan Langit Bumi terpaksa menggagalkan
maksud men-gejar Linggar. Sebelum mereka sempat berbuat sesua-tu, dari arah
kerimbunan pepohonan melesat sesosok bayangan. Dan hanya dengan sekejap saja,
sosok bayangan itu telah berdiri di depan Tiga Setan Langit Bumi!
Tiga Setan
Langit Bumi terpaksa mengalihkan pandangan dari tubuh Linggar yang telah lenyap
di ba-lik kerimbunan pepohonan, ke arah sosok yang berdiri di hadapan mereka.
"Keparat!
Rupanya kau yang telah mencampuri urusan kami?! Sebutkan namamu sebelum kami
kirim
ke akhirat,
Bangsat?!" bentak Setan Pisau penuh ke-marahan, sambil menatap tajam pada
sosok yang ber-diri di hadapannya. Seakan dia ingin menelan bulat-bulat lewat
sorot matanya.
"Orang
berwatak keji seperti kalian, tidak patut untuk mengenal namaku!" tandas
sosok yang telah menyelamatkan Linggar dengan suara penuh getar kemarahan.
Sosok ini
adalah seorang pemuda berambut pu-tih keperakan, berpakaian ungu. Siapa lagi
kalau bu-kan Arya Buana alias si Dewa Arak? Pendekar muda yang paling benci
melihat kejahatan berupa pelecehan harkat wanita. Tak aneh kalau Arya demikian
marah pada Tiga Setan Langit Bumi.
"Keparat!
Kucincang kau...!"
Setan Pisau
yang tidak bisa mengekang ama-rahnya lagi melihat sambutan Dewa Arak, langsung
menerjang maju dengan tusukan sepasang pisaunya secara bertubi-tubi.
Tapi dengan
sikap tenang, Dewa Arak mengelak di antara kelebatan sinar pisau. Sekali kedua
tangan-nya bergerak menotok siku, Setan Pisau mengeluh ter-tahan.
Tuk!
"Aaakh!"
Kedua
tangan Setan Pisau mendadak lumpuh. Maka tanpa dapat dicegahnya lagi, sepasang
senja-tanya jatuh ke tanah. Dan sebelum dia sempat menya-dari apa yang telah terjadi,
Dewa Arak telah menepuk kedua pangkal lengannya secara cepat.
Pak!
"Aaakh...!"
Untuk kedua
kalinya, Setan Pisau memekik ter-tahan. Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan
ke-
dua tangan
tergantung di sisi pinggang. Wajah lelaki ini yang memang sudah kuning, semakin
kuning kare-na rasa sakit yang amat sangat. Tulang pangkal lengan Setan Pisau
telah hancur berantakan. Dan ini berarti, lelaki tokoh Tiga Setan Langit Bumi
ini tidak akan ku-asa lagi mengerahkan tenaga dalam pada kedua tan-gannya.
Dengan sendirinya, Setan Pisau telah kehilan-gan kemampuannya yang diandalkan.
Setan Tanpa
Bayangan dan Setan Tenaga Rak-sasa terkejut campur marah ketika melihat keadaan
rekan mereka. Sama sekali tidak disangka kalau lawan yang dihadapi demikian
sakti, sehingga mampu mem-buat Setan Pisau tidak berdaya hanya dalam
segebra-kan. Perasaan marah membuat sisa tokoh Setan Langit Bumi ini meluruk
menerjang Dewa Arak.
Setan
Tenaga Raksasa mengayunkan ruyung ke arah kepala. Sedangkan Setan Tanpa
Bayangan mem-babatkan golok ke arah leher!
Sementara
Dewa Arak tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya, kendati menghadapi dua
buah se-rangan maut yang amat berbahaya. Sikapnya tetap te-nang.
Baru ketika
serangan-serangan itu menyambar dekat, pemuda berambut putih keperakan ini bertin-dak.
Hantaman ruyung pada kepalanya ditangkis den-gan tangan kanan. Sedangkan
babatan golok pada leh-er dibiarkan saja, setelah mengerahkan tenaga dalam
untuk membuat leher itu lebih keras daripada baja!
Pyar! Tak!
Ruyung
Setan Tenaga Raksasa kontan hancur berantakan ketika berbenturan dengan tangan
Dewa Arak yang penuh getaran tenaga dalam kuat. Sedang-kan golok Setan Tanpa
Bayangan yang menghantam sasaran, terpental kembali seakan menghantam gum-
palan karet
keras!
Dua tokoh
Setan Langit Bumi ini terperanjat. Dan kesempatan itu dipergunakan Dewa Arak
sebaik-baiknya untuk melancarkan serangan. Dia segera mendesak maju. Kemudian,
dua tangannya menepak dada lawan-lawannya. Masing-masing sekali, dan tidak
begitu keras.
Pak! Pak!
Kendati
demikian, tubuh Setan Tenaga Raksasa dan Setan Tanpa Bayangan kontan
terjengkang ke be-lakang bagai diseruduk kerbau liar. Dari mulut mereka
mengalir darah segar.
Dua anggota
Setan Langit Bumi ini tahu, bila melawan terus tidak ada gunanya. Pemuda itu
terlalu kuat untuk dapat ditandingi. Apalagi setelah mereka terluka dalam
seperti ini. Maka setelah terlebih dulu melemparkan pandangan kebencian, tubuh
Tiga Setan Langit Bumi ini berbalik lalu melangkah tertatih-tatih meninggalkan
tempat itu.
Sementara
Dewa Arak tidak mengejar. Pemuda berambut putih keperakan ini hanya
memperhatikan-nya, hingga tubuh tiga sosok sesat itu lenyap di kejau-han. Arya
tahu, tidak ada yang perlu di-khawatirkan terhadap Tiga Setan Langit Bumi.
Mereka memang ti-dak berbahaya lagi, bagai harimau kehilangan taring. Tidak
hanya Setan Pisau yang kehilangan sebagian be-sar kemampuannya, tapi juga Setan
Tanpa Bayangan dan Setan Tenaga Raksasa. Tepakan Dewa Arak telah membuat mereka
terluka dalam yang amat parah dan membuat isi dada terguncang. Mereka bisa saja
sem-buh, tapi tidak akan mungkin bisa memiliki tenaga da-lam yang cukup kuat
lagi!
***
"Terima
kasih atas pertolonganmu..., nggg..., Arya. Namamu Arya bukan?!"
Sebuah
suara dari belakang membuat Arya membalikkan tubuh. Seperti yang sudah diduga,
Ling-garlah yang mengatakannya. Sekarang, gadis itu telah rapi seperti biasa
setelah mengganti pakaiannya di se-mak-semak. Bagian atas tubuhnya telah
terbungkus pakaian hitam. Linggar memang membawa pakaian sewarna yang cukup
banyak, di dalam buntalannya.
"Benar
sekali, Nona. Namaku memang Arya. Arya Buana. Dan kuminta jangan mempersoalkan
per-tolongan tadi. Aku hanya kebetulan lewat tempat ini, dan kebetulan melihat
kejadian ini. Aku memang pal-ing benci dengan penjahat-penjahat semacam
itu," sa-hut Arya tanpa menanyakan nama gadis yang dito-longnya, dan
mengapa bisa berada di tempat seperti ini. Sekali lihat saja, bisa diketahui
kalau Linggar ada-lah gadis dari persilatan!
"Apa
pun katamu, aku tetap berterima kasih atas pertolongan yang kau berikan. Tanpa adanya
per-tolongan ini, mungkin aku sudah...," Linggar tidak be-rani melanjutkan
perkataannya. Karena baru mengin-gat kejadian tadi, bulu kuduknya sudah berdiri
"O ya. Namaku Linggar."
Sambil
tersenyum Arya menyambut uluran ta-ngan gadis berpakaian hitam itu. Linggar
memang bu-kan seorang gadis pemalu, meskipun memiliki watak pendiam. Kesan yang
terlihat, Linggar tampak matang.
"Kau
pasti seorang pendekar, Arya. Kepan-daianmu hebat sekali! Tiga Setan Langit
Bumi yang sakti itu pun berhasil kau halau dengan mudah," puji Linggar
penuh perasaan kagum sambil melepaskan genggaman tangannya.
Arya
tertawa pelan.
"Kau
terlalu memuji, Linggar. Kalau tidak kebu-ru takut bila kau segera ikut campur
dalam pertarun-gan, mana mungkin mereka melarikan diri?!" timpal Arya
merendah hingga memancing tawa lunak Linggar.
Linggar
merasakan sesuatu yang aneh menye-ruak dalam dada. Perasaan suka yang timbul
ketika melihat wajah dan tingkah Arya. Bahkan perasaan itu semakin membesar
begitu menyaksikan sendiri sikap rendah hati pemuda berambut putih keperakan
itu. Gadis ini merasakan jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari semula.
Suasana
langsung hening. Linggar memang pendiam. Kendati memiliki sikap tenang, namun
tidak mampu membuka percakapan selanjutnya.
"Kau
sendiri, mengapa bisa berada di sini, Ling-gar?!" tanya Arya untuk
memecahkan keheningan yang melingkupi.
"Ah,
iya. Hampir saja aku lupa. Aku mempu-nyai sebuah urusan yang harus segera
kuselesaikan. Urusan yang menjadi perintah guruku. Apakah kau bersedia? Aku
harus segera turun gunung," Linggar terjingkat karena teringat akan
urusannya. "Kau sen-diri..., hendak ke mana, Arya?!"
Linggar
mengajukan pertanyaan itu dengan pe-nuh perasaan harap-harap cemas. Dalam
pertanyaan itu sebenarnya terkandung ajakan terselubung, apabi-la pemuda
berambut putih keperakan itu tidak mem-punyai tujuan pasti. Bukankah pemuda itu
tadi men-gatakan keberadaan di tempat ini hanya sekadar le-wat? Berarti dia
memang tidak mempunyai tujuan. Dan tidak ada salahnya kalau mereka melakukan
per-jalanan bersama. Tapi, tentu saja Linggar tidak berani mengajukan penawaran
karena merasa malu.
Tapi
harapan di hati Linggar langsung kandas ketika mendengar sambutan Arya.
"Ah...!
Kalau begitu, keberadaanku di sini mengganggu urusanmu, Linggar. Silakan
berangkat. Aku sendiri akan mengikuti ke mana kakiku melang-kah. Silakan."
"Kalau
begitu, selamat tinggal, Arya. Sekali lagi, terima kasih atas pertolongan yang
kau berikan. Aku berjanji, meski kau tidak mengharapkannya, akan ku-balas budi
baikmu ini."
Dengan
menahan kekecewaan, Linggar berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu.
Perasaan ke-cewa membuatnya langsung mengeluarkan ilmu lari cepatnya. Sehingga
dalam sekejapan saja, tubuhnya telah tidak terlihat lagi.
"Seorang
gadis yang hebat!" puji Arya penuh perasaan kagum.
Seketika
itu pula Dewa Arak teringat kembali akan kekasihnya, Melati. Di mana gadis
berpakaian putih yang cantik jelita itu sekarang?! Ah! Betapa rin-du hatinya
untuk segera bertemu Melati! Pertemuan-nya dengan Linggar, membuatnya teringat
akan Melati dan mendatangkan kerinduan yang menggebu-gebu.
Arya
menggeleng-geleng keras untuk mengusir bayangan Melati dari kepalanya.
Disadari, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan Melati. Ada hal penting yang
harus diselesaikannya. Dia telah men-dengar akan keluarnya dua datuk sesat yang
amat sakti dari pertapaannya, karena tergiur Telur Elang Pe-rak. Dan dengan
keluarnya datuk sesat itu, berarti ma-lapetaka besar bagi dunia persilatan akan
terjadi. Dan sudah kewajiban Arya untuk menumpasnya!
Arya
mengedarkan pandangan ke sekeliling. Keberadaannya di tempat ini sebenarnya
bukan secara
kebetulan.
Melainkan, atas petunjuk seorang tokoh persilatan yang memiliki kemampuan luar
biasa. Teru-tama dalam hal ilmu meramal! Tokoh itu berjuluk Pe-ramal Gendeng!
***
Teringat
Peramal Gendeng, membuat Arya ter-ingat kembali akan pertemuannya dengan kakek
Aneh yang selalu mengenakan pakaian terbalik itu. Maka benaknya langsung
menerawang, mengingat kejadian itu.
Dewa Arak
yang waktu itu memang hendak mencari dan menemukan Peramal Gendeng, sehabis
menolong Jumpena dan Dirgantara dari tangan maut Tengkorak Darah, segera
melesat menuju tempat yang dimaksud (Untuk jelasnya mengenai kejadian antara
Tengkorak Darah, Dewa Arak, Jumpena, dan Dirganta-ra, silakan baca serial Dewa
Arak dalam episode : "Iblis Buta").
Namun belum
begitu jauh Dewa Arak melesat, mendadak saat itu telinga Arya mendengar....
"Huakh...!"
Bunyi khas
dari orang yang memuntahkan da-rah segar terdengar jelas oleh telinga Dewa Arak
yang saat itu tengah melalui kerimbunan semak-semak dan pepohonan lebat
Bunyi itu
memaksa pemuda berambut putih keperakan ini untuk mempercepat langkah. Dia
tahu, dan orang yang tengah membutuhkan pertolongan, meski belum diketahui
mengapa orang itu sampai memuntahkan darah.
Dewa Arak
segera mengerahkan kemampuan-nya sehingga kerimbunan semak-semak lebih dulu
terkuak,
sebelum tubuh berambut putih keperakan itu menerobosnya. Pengerahan tenaga
dalam ke sekujur tubuh, telah menimbulkan getaran hebat. Sehingga membuat
kerimbunan semak-semak terkuak, sebelum tubuh pemuda berambut putih keperakan
itu mela-braknya.
Bunyi
berkerosakan nyaring terdengar setiap kali tubuh Dewa Arak menerobos kerimbunan
semak-semak, yang kendati pun telah terkuak, tetap saja ter-langgar tubuhnya.
"Tahan...!"
Begitu
keluar dari kerimbunan semak-semak, Dewa Arak langsung mengeluarkan teriakan
mengge-ledek disertai pengerahan tenaga dalam luar biasa. Da-lam cengkeraman
perasaan kekhawatiran, Arya sampai mengeluarkan teriakan dengan tenaga dalam
sepe-nuhnya.
Seruan
pemuda berambut putih keperakan itu memang keras bukan kepalang, membuat
sesosok tu-buh jangkung yang tengah mengejar-ngejar sesosok tubuh kecil kurus
yang tengah bergulingan, menghen-tikan pengejaran. Dan dia segera menoleh ke
belakang. Sosok jangkung yang ternyata seorang kakek berwajah muram ini
merasakan dadanya tergetar he-bat, pertanda orang yang mengeluarkan seruan
memi-
liki tenaga
dalam amat kuat!
Arya
menghembuskan napas lega ketika meli-hat sosok kecil kurus yang ternyata
seorang kakek berpakaian terbalik, belum mengalami kejadian yang
mengkhawatirkan. Meski memang di sekitar mulutnya tampak cucuran darah yang
keluar akibat luka dalam. Arya tahu, luka itu tidak akan membahayakan nyawa
apabila segera dilakukan tindak penanggulangan.
Maka, dengan
sikap tenang Dewa Arak men-
gayunkan
kaki mendekati. Dua sosok itu yang bukan lain dari Peramal Gendeng dan
Jerangkong Penjagal Nyawa memang masih berjarak sekitar delapan tombak darinya.
Dan Jerangkong Penjagal Nyawa berada lebih dekat dengannya.
Sikap Dewa
Arak membuat Jerangkong Penjag-al Nyawa semakin murka. Kakek Jangkung ini
me-mang memiliki watak pemarah. Tentu saja tindakan-nya yang terganggu dalam
menamatkan riwayat Pe-ramal Gendeng, membuatnya murka. Sekarang ditam-bah lagi
dengan sikap Dewa Arak yang terlihat jelas seperti tidak memandang rendah
padanya Maka Je-rangkong Penjagal Nyawa menjadi kalap!
"Pemuda
Gila tak tahu diri! Rupanya kau ingin segera menghadap malaikat maut?!"
Jerangkong
Penjagal Nyawa segera mengayun-kan kakinya yang panjang-panjang. Hanya beberapa
langkah saja, dia telah berada di depan Arya dalam ja-rak tiga tombak. Kakek
jangkung ini tidak mempeduli-kan lagi keadaan Peramal Gendeng. Yang ada di
be-naknya adalah, menghancurkan orang yang telah be-rani mengacau urusannya.
"He he
he...!"
Begitu
berhasil bangkit, Peramal Gendeng lang-sung tertawa terkekeh-kekeh. Kelihatan
gembira seka-li, bahkan mengandung ejekan. Karuan saja tindakan kakek ini
membuat Dewa Arak mengernyitkan alisnya. Sungguh seorang kakek yang aneh!
Bukannya segera memulihkan luka dalamnya, tapi malah tertawa. Dan akan
menyebabkan luka dalam itu semakin parah!
"Jerangkong
Penjagal Nyawa! Tengkorak Berja-lan yang bangkit kembali dari lubang kubur,
kali ini kau akan mendapatkan lawan setimpal! Nama besar-mu akan runtuh di
tangan pemuda itu! Dialah Dewa
Arak!
Jagoan muda yang julukannya telah menggeger-kan dunia persilatan! Kau akan
roboh di tangannya. He he he...! Uhugh!"
Peramal
Gendeng menutup ucapan dan ta-wanya dengan batuk-batuk yang memercikkan darah
segar. Maka terpaksa tawanya dihentikan.
Arya yang
telah bersiap-siap menghadapi Je-rangkong Penjagal Nyawa hanya bisa menggeleng
me-nyimpan perasaan tak mengertinya akan sikap Peram-al Gendeng dalam hati.
Perhatiannya semakin besar dipusatkan pada Jerangkong Penjagal Nyawa yang
di-yakini memiliki kepandaian tinggi, karena memang sa-lah seorang dari dua
datuk sesat yang telah lama men-gundurkan diri akibat merasa tua! Sekujur
urat-urat saraf pemuda berambut putih keperakan ini menegang penuh kewaspadaan.
Dalam hatinya,
Dewa Arak berterima kasih pa-da Peramal Gendeng. Dalam sikap anehnya, kakek
berpakaian terbalik itu masih berbaik hati untuk memberitahukan padanya, siapa
lawan yang tengah dihadapi. Sehingga Arya bisa bersikap lebih hati-hati dan
waspada.
3
Tapi bukan
hanya Dewa Arak saja yang merasa terkejut karena ucapan Peramal Gendeng.
Jerangkong Penjagal Nyawa pun tak luput dari rasa kaget. Sikap pandang
rendahnya, meski sebelumnya telah merasa-kan kuatnya getaran tenaga dalam yang
dimiliki Dewa Arak, langsung pupus. Hal itu terjadi karena menden-gar kalau
pemuda berambut putih keperakan yang
berdiri di
hadapannya ini adalah Dewa Arak! Julukan yang amat terkenal dan sempat mampir
di telinganya, begitu turun dari pertapaannya!
Semula
Jerangkong Penjagal Nyawa tidak ter-lalu menganggap tinggi Dewa Arak, meski
telah me-rasakan sendiri kekuatan tenaga dalam pemuda itu.
Tapi,
anggapan itu langsung berubah ketika mengetahui kalau sosok yang berdiri di
hadapannya adalah Dewa Arak! Meskipun hanya seorang pemuda, namun Dewa Arak
tidak bisa disamakan dengan pe-muda lainnya. Dalam usia semuda itu, dia telah
me-rambah kerasnya dunia persilatan. Bahkan kenyang bertarung melawan berbagai
tokoh persilatan tingkat tinggi, terutama sekali dari golongan hitam. Hal
inilah yang menyebabkan Jerangkong Penjagal Nyawa tidak berani memandang
rendah.
"Jadi...,
kau rupanya Dewa Arak yang meng-gemparkan dunia persilatan itu?! Sungguh
kebetulan! Sudah lama kebesaran namamu kudengar. Sudah la-ma pula aku ingin
menjajaki kelihaianmu. Dan seka-rang, kau hadir di sini. Bersiaplah mampus di
tangan-ku, Dewa Arak!" tandas Jerangkong Penjagal Nyawa dengan sikap
beringas, seperti ikan hiu mencium bau darah.
"Aku
pun sudah lama mendengar nama besar-mu, Jerangkong Penjagal Nyawa. Sama sekali
tidak kusangka akan bertemu di sini, Seperti juga kau, aku mempunyai maksud yang
sama denganmu. Kudengar, kau terlalu kejam dengan menyebar maut di mana-mana.
Jadi, merupakan kewajibanku untuk mele-nyapkanmu selama-lamanya. Perjumpaan
kita untuk menentukan siapa yang berhak untuk terus hidup!" sambut Arya
tak kalah gagah dan tegas.
"Cuhhh...!"
Jerangkong
Penjagal Nyawa meludah dengan sikap kasar.
''Tentu
saja kau yang akan melawat ke akherat, Dewa Arak!"
Jerangkong
Penjagal Nyawa mengegoskan kepa-lanya keras-keras. Saat itu juga rambutnya yang
pen-dek, terutama sekali di bagian belakang kepalanya, ja-di terayun seperti
akan ke depan. Yang luar biasa, be-berapa helai rambut kontan terlepas dari
kepala dan meluncur ke arah wajah Dewa Arak diiringi bunyi ber-kesiutan
nyaring.
Tapi Arya
tidak gugup melihat serangan macam ini. Sebelum rambut-rambut itu mengenai
sasaran, Dewa Arak melepaskan hembusan napas lewat tiupan yang mengandung
pengerahan tenaga dalam tinggi. Seketika, rambut-rambut yang semula menegang
kaku laksana jarum melemas kembali dan runtuh ke tanah.
Dewa Arak
tidak bertindak gegabah dengan membiarkan rambut-rambut itu mengenai sasaran.
Meski hanya rambut yang kelihatannya lemas, tapi ka-rena dorongan tenaga dalam
Jerangkong Penjagal Nyawa rambut-rambut itu mampu menembus batu ka-rang yang
paling keras sekali pun.
Semula, Jerangkong
Penjagal Nyawa sudah memperhitungkan kalau serangannya akan berhasil
dikandaskan Dewa Arak. Maka, hatinya tidak merasa heran sama sekali. Serangan
itu memang dimaksud-kan untuk mengalihkan perhatian Dewa Arak. Dan ke-tika
pemuda berambut putih keperakan itu tengah si-buk untuk mematahkan serangan
rambutnya, lang-sung dikeluarkannya ilmu andalan. Tubuhnya lang-sung jungkir
balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Kakek jangkung ini berdiri
dengan memperguna-kan kepala.
Dewa Arak
sampai mengeluarkan seruan kaget, ketika sepasang kaki yang panjang meluncur ke
arah kepalanya. Buru-buru, pemuda ini melompat ke bela-kang hingga serangan ini
gagal mengenai sasaran.
Tapi sambil
mengeluarkan dengusan nyaring, Jerangkong Penjagal Nyawa mengejar Dewa Arak
den-gan cara aneh bukan main. Kakek ini berlompatan mengejar dengan
mempergunakan kepalanya! Sehing-ga, terdengar bunyi berisik ketika batok kepala
itu berbenturan dengan tanah.
Melihat
keanehan ilmu lawannya, Dewa Arak lak ragu-ragu lagi mengeluarkan ilmu
andalannya, 'Belalang Delapan Langkah'. Tak pelak lagi, perta-rungan aneh pun
berlangsung.
Di lain
tempat, yang hanya berjarak beberapa tombak dari situ, Peramal Gendeng sibuk
memperhati-kan jalannya pertarungan. Kakek aneh ini sama sekali tidak mempedulikan
luka dalamnya. Bagaikan seorang bocah menemukan tontonan menarik, demikian
kela-kuannya.
"Bagus!
Bagus, Dewa Arak! Pukul kepalanya! Ya, betul! Ah, sayang meleset! Awas! Awas
kaki yang kurus itu mengenai mukamu! Benar, bagus! Mengelak! Hantam! Serang!
Patahkan saja tulang-tulang Tengko-rak Berjalan itu, Dewa Arak!"
Sambil
mencak-mencak tak karuan, kakek ke-cil kurus ini tak henti-hentinya memberi
semangat pa-da Dewa Arak. Padahal, beberapa kali seruannya ter-henti oleh batuk
beruntun yang memercikkan darah segar. Bahkan beberapa kali ketika
mencak-mencak, seakan-akan dia sendiri yang bertarung, kakek ini me-nyeringai
kesakitan. Tapi, toh kelakuannya itu tetap diteruskan.
Di kancah
pertarungan sendiri, memang ber-
jalan
menarik. Dewa Arak harus mengakui kalau Je-rangkong Penjagal Nyawa benar-benar
memiliki ke-mampuan mengagumkan. Ilmu kakek jangkung itu benar-benar
mengejutkan! Di samping aneh dan sukar ditebak, juga sulit ditangkal! Baik
untuk mengelakkan atau menangkis, benar-benar membuat Dewa Arak ha-rus menguras
seluruh kemampuan.
Yang lebih
mengejutkan Dewa Arak lagi, setiap serangannya sebelum mengenai sasaran sering
melen-ceng, karena ada kekuatan tak nampak menyebar di sekujur tubuh kakek
jangkung itu. Arya benar-benar dipaksa untuk menguras seluruh kemampuan.
Dewa Arak
mengeluh dalam hati. Ilmu lawan-nya benar-benar membuat serangan-serangannya
ke-hilangan keampuhan. Serangan yang seharusnya ter-tuju pada kepala, leher,
atau ulu hati, selalu berbentu-ran dengan lutut atau betis lawan. Cara bertarung
Je-rangkong Penjagal Nyawa memaksa Dewa Arak untuk sesering mungkin
mempergunakan sepasang kakinya, melakukan tendangan-tendangan rendah.
Dewa Arak
merasa jemu bertarung seperti ini. Dia tahu, apabila tidak dilakukan satu
perubahan, pertarungan akan berjalan ulet. Dan hal itu akan membahayakan nyawa
Peramal Gendeng. Kakek itu karena bawaan sifatnya yang aneh, jadi tidak
mempe-dulikan keselamatan diri sendiri. Yang dipentingkan-nya hanya kesenangan
belaka. Menyaksikan jalannya pertarungan yang menarik, dia bukannya memikirkan
pengobatan luka dalamnya. Kalau pertarungan ber-langsung lama, nyawa Peramal
Gendeng bisa teran-cam!
Maka, Dewa
Arak segera memikirkan untuk bertindak nekat. Ketika kedua tangan Jerangkong
Pen-jagal Nyawa meluncur ke arah bawah pusar dan ulu
hati,
sengaja tindakannya berkesan lambat. Dia men-gelak dengan cara menarik tubuh
bagian bawah jauh-jauh ke belakang.
Kelanjutannya,
seperti yang diduga Dewa Arak. Jerangkong Penjagal Nyawa yang melihat
kesempatan baik itu segera melancarkan serangan. Kedua kakinya yang menjulang,
meluncur ke arah kepala. Saat itu, Dewa Arak bertindak sigap. Tubuhnya cepat
ditegak-kan sambil melancarkan tendangan bertubi-tubi ke arah ulu hati dan
pusar!
"Uhhh...!"
Jerangkong
Penjagal Nyawa mengeluarkan ke-luhan tertahan, kaget bukan main. Kalau menuruti
pe-rasaan, serangan itu ingin dibatalkan saja. Karena dengan bangkitnya Dewa
Arak, sasaran yang tertuju kedua kakinya melenceng ke bagian pundak. Di lain
pihak dia sendiri terancam pada bagian yang memati-kan.
Tapi
keinginan itu hanya mudah dipikirkan, ta-pi tidak untuk dilaksanakan. Meskipun
demikian, ka-rena sayang pada nyawa, kakek ini berusaha keras menghindari.
Dengan keahliannya, tanpa membatal-kan serangan, tubuhnya dibuat doyong ke
belakang, dengan hanya sedikit menggerakkan kepala. Pada saat yang bersamaan,
kedua tangannya melakukan tangki-san bertubi-tubi ke arah kaki Dewa Arak.
Duk, duk,
plak, plak, des!
Benturan
nyaring terdengar berkali-kali disusul dengan terhuyung-huyungnya tubuh Dewa
Arak dan Jerangkong Penjagal Nyawa. Arya terhuyung sampai beberapa langkah.
Sebaliknya, Jerangkong Penjagal Nyawa terpaksa berlompatan beberapa kali dengan
ke-palanya ke belakang, karena dorongan keras yang san-gat kuat.
"Huakh...!"
Bahkan
Jerangkong Penjagal Nyawa sampai memuntahkan darah segar dari mulutnya ketika
berdi-ri dengan kedua kakinya kembali. Kakek ini tampak masih terhuyung-huyung.
Sebaliknya,
Dewa Arak berdiri tegak, tidak ku-rang suatu apa pun. Tapi, kedua tangannya terkulai
ke sisi pinggang. Pangkal lengan Arya terlepas dari sam-bungannya akibat
terkena tendangan kaki Jerangkong Penjagal Nyawa yang dilakukan beruntun.
Memang
dalam benturan tadi serangan Je-rangkong Penjagal Nyawa mendarat pada kedua
ba-hunya. Sedangkan serangan Dewa Arak sendiri berha-sil mendarat di perut
lawannya. Hanya satu saja yang mengenai sasaran. Itu pun tidak terlalu telak,
karena Jerangkong Penjagal Nyawa berhasil menangkisnya. Meskipun demikian
serangan itu telah cukup mem-buat kakek jangkung yang konyol itu terluka dalam
yang cukup parah!
"Kau
hebat, Dewa Arak!" Jerangkong Penjagal Nyawa memberikan pujian. ''Tapi aku
belum kalah. Saat ini, tenagaku telah terkuras habis karena telah bertarung
dengan Peramal Gendeng. Lain kali kita akan bertemu lagi. Dan kau akan kukirim
ke akherat! Selamat tinggal!"
Tanpa
mempedulikan Dewa Arak lagi, kakek jangkung ini berbalik dan berlari
tertatih-tatih mening-galkan tempat itu. Kendati demikian, kecepatan larinya
masih luar biasa!
Dewa Arak
menghela napas, antara perasaan kagum dan lega. Diam-diam hatinya meraga kagum
bukan main terhadap Jerangkong Penjagal Nyawa. Dia tidak yakin akan dapat
mengalahkan kakek jangkung yang amat sakti itu.
Karena
lawan yang menolak melanjutkan perta-rungan, tambahan lagi keadaannya sendiri
tidak men-guntungkan, Dewa Arak tidak bisa bertindak apa-apa lagi. Pemuda
berambut putih keperakan ini hanya mengawasi kepergian lawannya.
"Kau
hebat, Dewa Arak. Julukanmu yang meenggemparkan memang tidak hanya berita besar
belaka."
Ucapan serak
yang diikuti batuk-batuk itu membuat Arya tersadar dari kesimanya. Pemuda
be-rambut putih keperakan ini menoleh ke belakang, me-natap Peramal Gendeng.
Lalu, bibirnya tersenyum le-bar.
"Kau
benar-benar seorang kakek yang luar bi-asa, Peramal Gendeng!" ujar Dewa
Arak tanpa me-nyembunyikan perasaan kagumnya, seraya melangkah menghampiri
Peramal Gendeng. "Dalam keadaan ter-luka parah, bukannya berusaha
menyembuhkan lu-kamu, tapi malah bersorak-sorai menyaksikan jalan-nya
pertarungan. Pantas kau berjuluk Gendeng di samping Peramal yang tersandang,
Kek."
"Ah...!
Begitulah, Dewa Arak? Kurasa bukan karena itu aku mendapat julukan demikian.
Tapi, ka-rena kemampuanku menebak pertanyaan orang dan membuat orang lain tidak
bisa menebak pertanyaan-ku. Kalau kau berhasil menebak pertanyaanku, kau boleh
mengajukan satu pertanyaan padaku. Tapi seba-liknya, bila kau tidak bisa
menebaknya, kau harus ganti mengajukan satu pertanyaan padaku? Bagaima-na, Dewa
Arak?! Apakah kau berani menerima tantan-gan yang kuajukan?!"
Dewa Arak
menyembunyikan perasaan geli da-lam hati melihat tingkah Peramal Gendeng yang
tetap tidak mempedulikan luka dalamnya. Hatinya tidak he-
ran melihat
watak Peramal Gendeng yang aneh. Dewa Arak terlalu sering menjumpai tokoh aneh
dalam pe-rantauannya. Bahkan tokoh yang suka tebak-tebakan seperti halnya
Peramal Gendeng (Untuk jelasnya sila-kan baca serial Dewa Arak dalam episode :
"Pembunuh Gelap").
"Semut
apa yang untuk mengangkatnya mem-butuhkan orang yang bertenaga amat kuat! Tidak
sembarang orang bisa mengangkatnya?! Ayo, silakan tebak Dewa Arak! Kuberi waktu
sampai lima puluh hi-tungan!"
Arya
mengernyitkan alis dengan sikap sung-guh-sungguh, seperti layaknya orang yang
tengah ber-pikir keras. Sebuah pertanyaan yang mudah sebetul-nya. Demikian kata
hati pemuda ini. Namun, untuk ti-dak membuat kecil hati Peramal Gendeng, Dewa
Arak pura-pura berpikir keras.
Sementara
itu, Peramal Gendeng mulai menghi-tung begitu selesai mengajukan pertanyaan.
Sejak hi-tungan pertama sampai kelima, dia berhitung dengan tenggang waktu.
Tapi menginjak hitungan keenam, da-sar tokoh berwatak aneh, hitungannya dengan
kecepa-tan membalap. Hingga hanya dalam sekejapan saja, hi-tungannya telah
mencapai hitungan keempat puluh lima.
"Aku
tahu, Kek!" seru Arya sehingga membuat Peramal Gendeng menghentikan
hitungannya. Lang-sung ditatapnya Arya dengan sinar mata setengah tak percaya.
"Apa
jawabanmu, Dewa Arak?!" "Semut raksasa!" tebak Arya, mantap.
"Salah!"
sentak Peramal Gendeng kegirangan, karena pertanyaannya tak terjawab.
Kakek ini
sampai mencak-mencak kegirangan
dan
membuatnya terbatuk-batuk secara hebat! Batuk yang memercikkan darah segar!
Arya hanya
melongo heran, mendengar jawa-bannya dianggap tidak tepat
"Apakah
kau tidak keliru, Kek?!" sergah pemu-da berambut putih keperakan ini karena
merasa pena-saran dan takut Peramal Gendeng salah mendengar. "Jawabannya
adalah Semut Raksasa. Bukankah demi-kian?"
"Bukan
itu jawabannya, Dewa Arak! Mana ada semut raksasa?! Di mana pun, semut selalu
kecil uku-rannya. Dan, tak akan lebih dari ibu jari tangan ma-nusia. Bukan!
Bukan itu jawabannya, Dewa Arak. Cari jawaban lainnya!"
Arya
memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat. Tapi sampai beberapa lama, tetap
saja ti-dak diketahuinya. Sambil menghela napas berat pe-muda ini menggelengkan
kepala.
"Aku
tidak bisa menemukan jawaban lainnya! Pertanyaanmu terlalu sulit."
"Sudah
kuduga, Dewa Arak! Dalam ilmu silat dan berkelahi, kau boleh mengaku nomor
satu! Tapi dalam hal tebak-tebakan, kemampuanmu nol! Kuberi-kan sebuah
pertanyaan yang paling mudah pun, kau tidak mampu menjawabnya! Luar biasa! Kau
ingin ta-hu jawabannya? Semut yang terselip di dalam sebuah batu sebesar gajah!
Ha ha ha...!"
Arya
tersenyum masam. Kalau begitu caranya, sampai mati pun pertanyaan itu tidak
akan bisa dija-wab dengan tepat. Tapi, Dewa Arak tidak merasa pena-saran
sedikit pun. Dia tahu, buat orang seaneh kakek ini, apa pun bisa saja dijadikan
tebakan yang hanya menguntungkan satu pihak!
"Kek...,"
Arya buru-buru menyela ketika Peram-
al Gendeng
yang mulai tertawa-tawa mulai terbatuk-batuk lagi akibat luka dalamnya! Dia
khawatir luka da-lam kakek itu makin parah dan akhirnya tidak bisa te-robati
lagi
"Ada
apa, Dewa Arak...?! Apakah kau minta kuberi tebak-tebakan lagi?! Atau ingin
mengajukan te-bakan! Silakan! Silakan! Keluarkan semua persediaan tebakan yang
kau miliki!" sambut Peramal Gendeng dengan batuk-batuk yang sesekali
menghentikan uca-pannya.
"Tidak
kedua-duanya, Kek," Arya menggeleng "Aku mengaku kalah padamu dalam
hal bermain te-bak-tebakan. Tapi aku mempunyai sebuah permintaan padamu?!
Kuharap...."
"Tidak
bisa, Dewa Arak!" potong Peramal Gen-deng sambil menggoyang-goyangkan
tangan kanan di depan dada. "Ingat perjanjian. Apabila kau ingin
men-gajukan pertanyaan, kau harus bisa menebak satu pertanyaan. Tapi, nyatanya?
Kau tidak mampu menja-wab! Berarti, kau tidak boleh mengajukan pertanyaan!
Mengerti?!"
Arya tidak
menjadi putus asa atau mundur mendengar bantahan Peramal Gendeng.
"Sama
sekali tidak kusangka, Peramal Gendeng yang katanya mampu menjawab pertanyaan
yang di-ajukan orang, tak lebih dari seorang pengecut. Ru-panya berita yang
kudengar terlalu berlebihan. Menu-rut berita, Peramal Gendeng adalah seorang tokoh
yang tidak takut menghadapi pertanyaan orang. Tapi, kenyataannya...?!"
"Siapa
yang takut?!" tukas Peramal Gendeng cepat "Cepat katakan, apa yang
ingin kau tanyakan! Akan kubuktikan kalau berita-berita mengenai kepan-daianku
memberi jawaban tidak berlebihan!"
"Begitukah?!"
Arya sengaja membuat Peramal Gendeng lebih panas dengan sikap tidak percaya
yang ditunjukkannya.
Pemuda ini
tidak khawatir bila kakek berpa-kaian terbalik itu akan murka dan menyerangnya
ha-bis-habisan. Arya tahu, Peramal Gendeng, sebagaima-na tokoh persilatan
lainnya yang memiliki watak aneh, tidak akan sampai hati bertindak keji.
"Jangan-jangan
begitu mengetahui pertanyaan yang kuajukan, kau akan mencari seribu macam
ala-san untuk mengelak karena tidak mampu untuk men-jawabnya," tambah Dewa
Arak.
"Tidak
usah banyak ribut! Katakan saja, apa yang hendak kau tanyakan! Akan kau lihat
sendiri ka-lau aku mampu memberi jawaban yang tepat!" sergah Peramal
Gendeng berapi-api karena penasaran men-gingat kemampuannya diragukan orang.
''Tenang saja,
Kek," Arya menyabarkan Peramal Gendeng yang telah kelabakan mirip
kakek-kakek ke-bakaran jenggot. "Masalah mengajukan pertanyaan, soal
mudah. Tapi, tidak akan seru bila tidak ada taru-hannya."
Sepasang
mata Peramal Gendeng terbelalak le-bar seperti akan melompat keluar. Kakek ini
tampak kaget tapi hanya sebentar saja. Sesaat kemudian rasa gembira yang amat
sangat sudah tampak pada tarikan wajahnya.
Peramal
Gendeng memang memiliki watak aneh. Semakin menarik sebuah masalah yang
diaju-kan, semakin gembira hatinya. Dan Arya pandai men-gemas permasalahan yang
akan dipaparkan, sehingga membuat Peramal Gendeng merasa tertarik bukan main.
"Katakan
cepat, Dewa Arak! Bagaimana taru-
han
itu?!" tanya Peramal Gendeng tak sabaran. "Mudah saja, Kek,"
jawab Arya berkesan meng-
gampangkan.
"Kita bertaruh. Aku dan kau sama-sama menebak, apakah pertanyaan yang akan
kuajukan berhasil kau jawab atau tidak. Sebuah pertanyaan yang amat sukar, dan
tidak pernah ada orang yang bi-sa menjawabnya."
Peramal
Gendeng menelan ludah penuh minat. Mendengar penegasan Arya kalau pertanyaan
itu amat sukar dan belum pernah berhasil dijawab orang, dia merasa tertantang.
Sebagai seorang tukang jawab, ti-dak ada kebahagiaan lain yang didapatkan,
selain bisa menjawab sebuah pertanyaan yang amat sukar. Apala-gi apabila
pertanyaan itu belum pernah dijawab orang seorang pun! Peramal Gendeng jadi
semakin mengilar.
4
"Cepat
katakan apa taruhannya, Dewa Arak?!" desak Peramal Gendeng hampir tidak
bisa menahan kesabarannya lagi.
"Kalau
kau bisa menjawab pertanyaan itu, aku mengajukan satu permintaan padamu.
Sedangkan ka-lau kau tidak bisa menjawab, aku boleh mengajukan satu permohonan
padamu," jawab Arya dengan sikap sungguh-sungguh.
Pemuda
berambut putih keperakan itu tidak sungkan-sungkan lagi mengikuti tingkah
Peramal Gendeng. Dia tahu, untuk memahami bahkan menga-lahkan orang gila, dia
harus ikut-ikutan gila! Kalau ti-dak, segalanya akan berantakan!
Tapi, dasar
Peramal Gendeng memiliki watak aneh. Dia benar-benar tak menyimak kata-kata
Dewa Arak. Padahal, taruhan bagi pertanyaan itu tidak men-guntungkan pihaknya
sama sekali. Bahkan hanya menguntungkan Dewa Arak. Tapi dia malah
bersorak-sorak kegirangan.
"Bagus
sekali, Dewa Arak! Sungguh sebuah ta-ruhan yang adil sekali! Bagus! Aku setuju!
Nah! Seka-rang ajukan pertanyaanmu!"
Arya
melongo. Meski sebelumnya memang telah mengetahui watak kakek berpakaian
terbalik ini, tetap saja tidak menyangka akan seperti ini jawaban yang
didapatkan. Untungnya, pemuda berambut putih ke-perakan ini termasuk dalam
jenis orang yang tidak ter-lalu lama tenggelam dalam alun perasaan. Hanya
da-lam waktu sebentar saja, dia sudah bisa bersikap bi-asa.
"Pertanyaan
yang hendak kuajukan adalah, di mana adanya Iblis Buta, Kek?!"
Arya hampir
terlontar, ketika melihat Peramal Gendeng malah tertawa bergelak hingga
terbatuk-batuk. Meski heran, pemuda ini tidak mengajukan per-tanyaan lagi.
Ditunggunya hingga kakek itu sendiri yang memberi jawaban.
"Luar
biasa! Mengapa begitu banyak tokoh per-silatan yang mencari-cari Iblis Buta?!
Mengapa tidak ada seorang pun yang mencari-cariku?! Apakah orang buta itu
memiliki wajah yang lebih tampan daripada aku?!"
Arya tak
tahan untuk tidak tersenyum mende-ngar ucapan-ucapan Peramal Gendeng. Tapi
senyum-nya langsung lenyap, ketika melihat wajah Peramal Gendeng langsung
berubah. Tidak penuh guyon dan canda seperti sebelumnya, melainkan terlihat
demikian
sungguh-sungguh.
Sikap ini membuatnya tampak angker. Apalagi karena sepasang matanya yang
mena-tap Dewa Arak itu seperti hendak membaca hati pe-muda itu.
"Sama
sekali tidak kusangka seorang pendekar seperti kau tidak berbeda dengan
Jerangkong Penjagal Nyawa dan tokoh-tokoh hitam lainnya. Mengilar terha-dap
pusaka milik orang lain!"
Wajah Arya
kontan merah padam. Kendati de-mikian, sikapnya tetap tenang. Dia tidak
terkejut sama sekali mendengar ucapan Peramal Gendeng. Baik me-lihat sikap
kakek itu yang demikian cepat berubah, maupun tuduhan yang dilontarkan padanya.
"Kau
salah menduga, Kek," sergah Arya tenang. "Justru keberadaanku di
tempat ini untuk meminta petunjuk karena ingin menyelamatkan Iblis Buta.
Se-mula aku mencari sendiri, di mana adanya tokoh yang dulu menggemparkan dunia
persilatan itu. Tapi jejak-nya lenyap. Dia bagaikan ditelan bumi. Maka, aku
da-tang kemari. Itu pun karena rasa tanggung jawabku terhadap keamanan dunia
persilatan. Maaf, bukannya aku menyombongkan diri, Kek."
"Lanjutkan
keteranganmu, Dewa Arak?!" ujar Peramal Gendeng, sama sekali tidak peduli
dengan permintaan maaf Dewa Arak.
"Kudengar,
pusaka di tangan Iblis Buta yang bernama Telur Elang Perak mempunyai banyak
kha-siat. Di antaranya, mampu membuat orang menjadi muda kembali. Entah
bagaimana caranya, aku tidak tahu persis. Kudengar, karena alasan itulah
tokoh-tokoh sakti seperti Jerangkong Penjagal Nyawa dan Se-tan Gila, keluar
dari pertapaan. Kalau sampai salah satu di antara mereka berhasil
mendapatkannya, dan kembali menjadi muda, aku tidak tahu malapetaka apa
yang akan
menimpa dunia persilatan! Dalam usia tua saja, mereka sudah demikian tangguh.
Apalagi bila te-lah kembali menjadi muda! Untuk mencegah terjadinya hal ini,
aku ikut mencari Iblis Buta! Setidak-tidaknya, dengan keberadaan bersamanya,
akan sedikit mem-bantu. Apabila dia menghadapi banyak tokoh tangguh yang
menjadi lawannya!"
Wajah
Peramal Gendeng yang tegang mencair kembali. Sikapnya malah kembali seperti
semula. Wa-jahnya berseri-seri dengan sinar mata berputar penuh sikap menggoda
orang lain. Sorot tak waras pun me-mancar baik pada wajah maupun sinar matanya.
"Kalau
begitu.., tidak ada masalah lagi, Dewa Arak."
Dengan
suara berbisik seperti takut didengar orang lain, kakek berpakaian terbalik ini
memberita-hukan di mana terlihatnya jejak Iblis Buta yang terak-hir kalinya,
sebelum lenyap bagai ditelan bumi!
Arya
tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala. Karena Peramal Gendeng
telah memberikan jawaban, berarti kesempatan untuk men-gajukan satu permintaan
baginya telah terbuka.
"Sekarang
giliranku untuk mengajukan satu permintaan padamu, Kek."
"Silakan,
Dewa Arak!" sambut Peramal Gendeng mengajukan tantangan.
"Aku
minta kau segera mengobati luka dalam-mu, Kek."
"Ha ha
ha...!"
Tawa
Peramal Gendeng meledak. Permintaan yang diajukan Dewa Arak tidak patut disebut
per-mintaan, karena tidak menguntungkan pemuda itu.
"Permintaanmu
aneh, Dewa Arak. Tapi karena telah berjanji tidak ada pilihan lain bagiku
kecuali
memenuhinya,
aku, Peramal Gendeng, bukanlah se-macam orang yang mudah mengobral janji untuk
ke-mudian mengingkarinya. Tapi percayalah, Dewa Arak. Setelah selesai mengobati
luka dalamku, lukamu pun akan kuobati."
***
Sampai di
sini, ingatan Dewa Arak membuyar karena pendengarannya yang tajam menangkap
bunyi mencurigakan. Memang saat itu benaknya tengah me-layang-layang mengingat
pertemuannya dengan Pe-ramal Gendeng. Tapi, pendengarannya tetap mampu mendengar
gerak atau bunyi-bunyi tak wajar di seki-tarnya.
Bunyi yang
tertangkap telinga Dewa Arak ada-lah bunyi gemerisik pelan dari daun-daun
kering yang terinjak kaki! Karena asalnya dari sebelah kanan, ke-palanya
menoleh ke sana.
Dari
celah-celah yang tercipta di antara kerim-bunan semak-semak yang berjarak
sekitar delapan tombak di sebelah kanan, Dewa Arak melihat sesosok tubuh
berlari cepat menuruni lereng. Kelihatan terge-sa-gesa sekali. Cepatnya gerakan
sosok itu, membuat Arya tidak bisa melihat secara jelas. Yang tampak
se-kelebatan bayangan samar-samar.
Melihat hal
ini, perasaan curiga pun timbul di hati Dewa Arak. Menurut keterangan Peramal
Gen-deng, tempat ini merupakan tempat di mana jejak Iblis Buta terakhir kali
terlihat. Siapa tahu, sosok itu ada hubungannya dengan urusan mengenai Iblis
Buta.
Perasaan
tertarik yang sebagian besar dilandasi perasaan curiga, membuat Arya melesat
mengikuti so-sok bayangan itu. Dia khawatir kalau-kalau sosok itu
adalah
salah satu dari sekian banyaknya tokoh persila-tan yang mengejar Iblis Buta.
Dan siapa tahu, sosok itu malah telah mendapatkan Telur Elang Perak!
Saat itu
juga, Dewa Arak mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya. Dia tahu, jalur yang
ditempuh so-sok bayangan itu akan berakhir, dan mau tidak mau menuju jalan
tanah berbatu yang pada bagian kirinya terdapat gundukan batu. Maka segera
diputuskannya untuk segera tiba di balik batu itu sebelum sosok bayangan itu
tiba.
Maksud Arya
ternyata terkabul. Dia telah tiba lebih dulu di tempat yang dimaksud. Dewa Arak
berdiri di tengah-tengah jalan yang lebarnya tak lebih dari sa-tu tombak.
Bagian kanannya berupa gundukan batu yang besar, sedangkan sebelah kiri
terdapat dinding tebing yang menjulang tinggi seakan hendak mengga-pai langit.
Arya
mengernyitkan alis dengan perasaan tidak enak, ketika melihat sosok bayangan
itu di kejauhan. Cepat sekali gerakannya, hingga hanya dalam sekeja-pan saja
telah terlihat jelas. Dan apa yang terlihat jelas inilah yang membuat pemuda
ini mengernyitkan alis.
Sosok
bayangan itu ternyata seorang pemuda berpakaian indah. Seorang pemuda pesolek,
karena terlalu banyak riasan. Wajahnya memang tampan. Tapi karena terlalu
banyak riasan, jadi terlihat tidak jantan, berkesan lembut dan banci!
Kalau hanya
melihat pemuda pesolek ini, Dewa Arak akan bersikap seperti biasa. Tapi
pemandangan lainnya yang terlihatlah, menjadi penyebabnya. Pada kedua tangan
pemuda pesolek itu tampak terbopong sesosok tubuh ramping berpakaian kuning,
milik seo-rang gadis yang berwajah amat jelita. Melihat kea-daannya, langsung
diketahui kalau gadis itu tengah
dalam
keadaan tertotok.
Bukan hanya
Arya yang merasa tidak senang, pemuda pesolek itu pun demikian. Meski masih
berja-rak beberapa tombak, Arya dapat melihat sinar keti-daksenangan yang
memancar pada wajah dan sepa-sang mata pemuda berpakaian indah itu.
"Minggir...!
Minggir kau, Hey, Orang Gila...!" Pemuda pesolek itu mengeluarkan seruan,
tanpa bisa menyembunyikan perasaan tidak senangnya. Hal ini semakin menambah
kecurigaan Arya. Sikap yang di-perlihatkan hanya menunjukkan kalau dia tengah
me-rasa gelisah dan khawatir. Dalam sekejapan saja, otak Dewa Arak bekerja.
Jelas, pemuda pesolek itu pasti te-lah menculik gadis berpakaian kuning ini.
Karena
keyakinan akan dugaannya, Dewa Arak sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.
Bahkan, renggangan kakinya semakin diperlebar. Tindakan ini membuat pemuda
pesolek semakin geram.
"Mampuslah
kau, Orang Gila tak tahu diri!" Saat itu juga pemuda pesolek itu
menghentakkan tan-gan kanannya ke arah Dewa Arak, setelah terlebih da-hulu
memindahkan tubuh yang dipondong ke tangan kirinya. Maka hembusan angin keras
langsung me-nyambar ke arah Arya.
Sudah
terbayang di benak pemuda berpakaian indah ini kalau pemuda berambut putih
keperakan itu terjengkang ke belakang sambil menjerit memilukan karena nyawanya
melayang akibat dadanya hancur. Pukulan jarak jauhnya memang luar biasa!
Jangankan tubuh manusia. Batu karang yang paling keras pun akan hancur
berantakan apabila terkena secara lang-sung.
Ketidaksenangan
Arya semakin menjadi-jadi melihat serangan ini. Dia tahu, serangan itu sangat
dahsyat
mengandung maut. Kalau orang yang diserang kurang cepat bergerak dan tidak
memiliki tenaga da-lam amat kuat, jelas sudah cukup mengirim nyawanya ke
neraka!
Dari sini
saja Arya sudah bisa mengira-ngira, dari golongan mana pemuda berpakaian indah
itu be-rasal! Seorang yang memiliki watak gagah, tak akan mengirimkan serangan
demikian keji sebelum jelas masalah yang tengah dihadapi!
Maka saat
itu juga Dewa Arak menjulurkan ta-ngan kanannya ke depan. Seketika hembusan
angin keras yang meluncur dari tangan pemuda pesolek itu lenyap seperti
tertelan oleh sesuatu yang keluar dari tangan Arya!
Pemuda
pesolek itu terkejut melihat kenyataan ini. Kegagalan serangannya tidak akan
terlalu mem-buatnya kaget, kalau tidak seperti ini kejadiannya. Apa yang telah
dilakukan oleh pemuda berpakaian ungu itu?
Kenyataan
ini membuat pemuda pesolek ini ta-hu kalau orang di hadapannya bukan lawan yang
bisa dipandang ringan. Cara dalam memunahkan pukulan jarak jauhnya, telah
menjadi pertanda kalau pemuda berambut keperakan itu memiliki tenaga dalam
tinggi.
Maka meski
tengah tergesa-gesa, pemuda ber-pakaian indah ini menghentikan larinya. Kini
dia ber-diri dalam jarak dua tombak dari Arya.
"Mengapa
kau menghadang jalanku, Sobat. Maaf, menyingkirlah sedikit. Berilah jalan
padaku. Aku, Lanang, akan berterima kasih sekali apabila kau bersedia
mengabulkannya," ujar pemuda pesolek yang mengaku bernama Lanang dengan
suara lembut pe-nuh nada membujuk.
"Aku
bersedia untuk memenuhi permintaanmu,
Lanang.
Tapi, aku mempunyai sebuah syarat," timpal Arya tak kalah tenang dan
halus.
Meski
demikian, tidak berarti pemuda beram-but putih keperakan ini terjebak oleh
sikap manis La-nang. Pengalaman telah menunjukkan padanya kalau sikap manis
biasanya ada udang di balik batu.
Arya yang
sempat memperhatikan gadis ber-pakaian kuning di bopongan Lanang, dan sekarang
te-lah dipindahkan ke bahu jadi berpikir keras. Dia yakin, pernah melihat gadis
ini. Hanya saja, lupa kapan dan di mana. Bentuk mulut, wajah, dan sepasang mata
itu diingatnya betul.
"Katakanlah
syaratmu itu, Sobat," ujar Lanang, mengumbar senyum manis.
Pemuda
pesolek ini memang memiliki kecerdi-kan mengagumkan. Sebagai putra Naga Sakti
Berwa-jah Hitam yang terkenal sebagai datuk besar persila-tan, tentu saja
Lanang memiliki kepandaian tinggi. Ta-pi, dia tahu kalau Dewa Arak juga
memiliki kepan-daian tinggi. Bisa jadi dia tidak kalah. Tapi, akan san-gat
membutuhkan waktu untuk mengalahkannya. Se-dangkan dia sendiri tengah memburu
waktu. Kalau ada cara lain yang lebih mudah dan cepat, mengapa memilih yang
sukar?! Maka, Lanang tidak ragu-ragu lagi meladeni permintaan Dewa Arak.
"Katakan
saja, Sobat. Kalau bisa tentu saja akan ku penuhi. Bukankah lebih baik
bersahabat, da-ripada saling gontok-gontokan?!"
"Apa
yang kau katakan itu memang benar, La-nang. Aku pun tidak suka gontok-gontokan.
Maka, kuharap kau mau mengabulkan syarat yang kuajukan. Yaitu, bebaskan gadis
yang kau bawa. Dan, kita tidak menjadi saling bentrok karenanya.
Bagaimana?!"
Wajah
Lanang langsung merah padam. Sepa-
sang
matanya yang tajam memancarkan kilatan maut. Ucapan Dewa Arak membuat hatinya
terbakar amarah. Tapi, lagi-lagi kecerdikan melarangnya untuk bertin-dak
macam-macam. Toh, siasat yang dipergunakannya belum mencapai puncak. Maka,
sebuah senyum lebar pun menghias mulutnya, kendati hatinya memaki-maki.
"Kalau
begitu kau salah sangka, Sobat. Kau ki-ra aku orang macam apa?! Penculik
gadis-gadis?! Ga-dis yang tengah kubawa ini adalah saudaraku sendiri. Dia
kubawa tergesa-gesa, karena hendak kumintakan obat pada Raja Obat Sakti di
lereng sebelah timur. Dia terluka dalam akibat salah mempelajari sebuah ilmu
yang diajarkan ayah," jelas Lanang panjang lebar, ter-bungkus kebohongan.
Arya
terdiam. Bukan karena menerima begitu saja penjelasan Lanang, tapi tengah
mempertimbang-kan jawaban yang diberikan. Memang masuk akal ala-san yang
dikemukannya. Tapi, Dewa Arak tidak mu-dah percaya.
"Bisa
kuajukan pertanyaan sendiri padanya, Lanang. Maaf, bukannya curiga. Tapi,
berhati-hati," ujar Arya, tenang.
"Sayang
sekali, Sobat," sambut Lanang dengan sikap terlihat penuh penyesalan.
"Adikku ini justru ti-dak bisa berbicara, akibat salah latihan itu. Telah
be-berapa hari dia bisu mendadak. Maka begitu menden-gar adanya seorang jago
obat di sekitar sini, segera sa-ja kubawa untuk segera diobati."
"Boleh
aku melihatnya, Lanang?! Barangkali sa-ja aku bisa mengobatinya. Sedikit
banyak, aku men-gerti cara untuk mengobati luka dalam. Terutama se-kali, karena
salah latihan!" ujar Arya, masih belum hi-lang rasa curiganya.
Lagi-lagi
terlihat oleh Arya, wajah Lanang mem-besi. Memang hanya sebentar, tapi cukup
terlihat oleh sepasang mata Dewa Arak yang tajam. Diam-diam pe-muda berambut
putih keperakan ini memuji kemam-puan Lanang mengendalikan perasaannya.
"Silakan,
Sobat," sambut Lanang dengan sikap gembira yang dipaksakan.
Terlihat
jelas oleh Arya yang telah kenyang pen-galaman menghadapi beragam orang dengan
berbagai watak kalau kata-kata itu seperti dipaksakan.
"Aku
justru gembira kalau kau mampu mengo-batinya. Sehingga, aku tidak perlu
bersusah-payah membawanya pada Raja Obat Sakti di lereng timur gu-nung
ini," tambah Lanang.
Dengan
sikap tidak peduli, Arya mendekati tu-buh gadis berpakaian kuning yang telah
direbahkan Lanang di tanah. Sementara pemuda pesolek itu sendi-ri berdiri tak
jauh darinya, bersikap mengawasi.
Kini Arya
sudah berjongkok, agar bisa melihat keadaan gadis berpakaian kuning lebih
jelas. Dan saat itulah, Lanang mengirimkan tendangan dahsyat den-gan kaki kanan
ke arah kepala Dewa Arak.
Namun pemuda
pesolek itu keliru kalau mengi-ra Dewa Arak akan sedemikian mudah dapat
diroboh-kan. Walaupun terlihat sembarangan dan kelihatan tampak tidak menaruh
kecurigaan sama sekali, sebe-narnya sekujur urat-urat saraf pemuda berambut
pu-tih keperakan itu telah menegang waspada. Tentu saja Arya telah
bersiap-siaga untuk menerima serangan yang datang tanpa terduga-duga.
Maka ketika
kaki Lanang dengan kecepatan ki-lat dan kekuatan dahsyat menyambar, Dewa Arak
me-lompat ke samping dan menggulingkan tubuhnya men-jauh. Sehingga, membuat
serangan itu kandas.
Lanang
menggeram. Penasaran karena seran-gannya tidak sesuai yang diharapkan, membuat
pe-muda berpakaian indah ini menubruk mengikuti Dewa Arak Sambil mengejar,
dikirimkannya serangan bertu-bi-tubi dengan kedua tangan serta kaki.
Kali ini,
Dewa Arak yang telah berhasil bangkit cepat.
Plak!
"Aaakh...!"
Bunyi
nyaring terdengar berkali-kali. Lanang menjerit tertahan. Tubuhnya kontan
terhuyung. Dan tangan dan kakinya terasa nyeri bukan main, ketika berbenturan.
Seakan-akan yang dibentur adalah ba-tang baja yang amat kuat!
Hasil
benturan ini menyadarkan Lanang kalau pemuda berambut putih keperakan itu
memiliki tenaga dalam lebih kuat. Maka sekali tarik, sabuk emas yang terselip
di pinggang telah berada di tangannya. Lalu cepat sekali pemuda pesolek ini
mengibaskannya.
Tarrr!
Ledakan
nyaring terdengar, ketika sabuk emas itu meledak di udara. Sementara, Arya
telah lebih dulu menarik kepalanya ke belakang, sebelum luncuran sa-buk emas
itu menghantamnya.
Pemuda
pesolek itu semakin geram. Seluruh kemampuannya memainkan sabuk dikeluarkan,
hing-ga lenyap bentuknya. Bahkan berubah-menjadi rente-tan patuk-patuk yang
mirip paruh ular. Terkadang mengejang kaku laksana golok yang panjang. Tapi tak
jarang melecut-lecut laksana cambuk! Perkembangan permainan senjata lemas ini
memang sulit diduga.
Ketika
untuk kesekian kalinya, sabuk Lanang meluncur ke arah ubun-ubunnya, Dewa Arak
men-doyongkan tubuh ke samping. Dan sebelum pemuda
pesolek itu
menarik pulang senjatanya, Arya telah le-bih dulu mengulur tangan untuk
menangkapnya.
Tap!
"Heh?!"
Lanang
terperanjat ketika melihat senjata anda-lannya berada dalam genggaman lawan.
Tiba-tiba dita-riknya senjata itu dengan keras untuk membuat tubuh Dewa Arak
ikut tertarik. Tapi, maksudnya tidak ter-sampaikan. Tubuh pemuda berambut putih
keperakan itu sama sekali tidak bergeming, bak sebongkah gu-nung!
Melihat hal
ini Lanang menggeram kesal. Maka dengan menggunakan pengerahan tenaga dalamnya,
pemuda pesolek ini membuat sabuk itu bergelombang bak permukaan air laut.
Melalui cara ini, biasanya dia mampu membuat lawan melepaskan cekalan. Karena,
sabuk yang bergelombang itu tiba-tiba dapat meng-hantam muka.
Namun,
lagi-lagi maksud Lanang kandas. Keti-ka gelombang pada sabuk itu baru mencapai
perten-gahan jarak, langsung mengendur, kemudian kandas! Sementara dari arah
yang berlawanan, Dewa Arak mengerahkan tenaga dalam untuk membuat gerakan
bergelombang pada sabuk itu lenyap.
Lanang
tidak kehabisan akal. Saat itu, adu ta-rik-menarik masih berlangsung. Maka dengan
mem-pergunakan kekuatan menarik dari lawan, pemuda pe-solek ini melompat ke
depan. Langsung diterjangnya Dewa Arak dengan kecepatan luar biasa. Karena di
samping akibat pengaruh tarikan Arya, masih ditam-bah lagi luncuran yang
dibuatnya.
Dewa Arak
tidak kehabisan akal. Maka ujung sabuk yang digenggamnya segera dilemparkan ke
arah tubuh Lanang yang tengah meluncur.
Lanang
terperanjat bukan main. Saat itu tu-buhnya tengah berada di udara. Untuk
mengelak jelas tidak mungkin. Jalan satu-satunya hanya menangkis. Tapi hal itu
pun sulit dilaksanakan, karena ujung sa-buk yang dilemparkan tidak mengarah ke
tubuhnya, melainkan bagian samping dengan gerakan seperti berputar.
"Ah...!"
Lanang
hanya mampu mengeluarkan pekikan kaget ketika sabuk itu melingkari tubuhnya dan
melilit secara erat. Untung saja kedua tangannya tidak ikut terlilit.
Walaupun
demikian, keadaan tidak disangka-sangka itu membuat Lanang gugup. Padahal saat
itu, Dewa Arak sudah mendorongkan kedua tangannya se-cara bergantian pada tubuh
yang masih berada di uda-ra.
Hembusan
angin keras yang muncul dari kedua telapak tangan Dewa Arak, tidak mampu
dielakkan la-gi. Tapi, pemuda pesolek ini telah mengerahkan tenaga dalam untuk
melindungi tubuhnya. Walaupun begitu, bila Dewa Arak bermaksud buruk, dorongan
itu telah cukup membuat nyawanya terancam! Dorongan yang dilakukan Arya hanya
sekadarnya, tidak dimaksudkan untuk melukai. Hasilnya, tubuh putra Naga Sakti
Ber-wajah Hitam ini terdorong beberapa tombak, kemudian berhasil bangkit
mendarat dengan kedua kaki secara mantap.
Dewa Arak
yang memang tidak bermaksud mencelakai lawannya, tidak melakukan serangan
su-sulan. Di saat tubuh Lanang melayang, kesempatan itu dipergunakan untuk
menghampiri gadis berpa-kaian kuning yang masih tergolek tidak bergerak sama sekali.
Namun....
"Akh...!"
Mendadak
Arya mengeluarkan pekik kesakitan. Dirasakannya kedua pahanya ditusuk tombak!
Arya yakin, tombak itu menembus hingga ke paha belakang. Karena saat itu tengah
melangkah, tak ampun lagi tu-buhnya terguling jatuh.
Gadis berpakaian
kuning yang sudah yakin ka-lau penolongnya akan berhasil membebaskannya,
menjadi terkejut ketika melihat secara tiba-tiba pende-kar muda itu memekik
kesakitan dan terguling roboh. Apa yang terjadi dengan pemuda perkasa itu?
Dewa Arak
sendiri, begitu roboh terguling se-gera mengerahkan pandangan pada sepasang
pa-hanya. Dia tidak percaya kalau ada tombak yang me-nembus di sana, karena
tidak mendengar atau melihat luncurannya.
Tepat
seperti yang diduga pemuda berambut putih keperakan itu, pada pahanya tidak
terdapat apa pun. Jangankan tombak, jarum pun tidak!
Dewa Arak
adalah seorang pendekar yang telah kenyang pengalaman menghadapi ilmu-ilmu
aneh. Maka segera dapat diduga kalau kejadian yang me-nimpanya dilakukan lewat
ilmu gaib. Karena, dia ma-sih merasakan seperti ada dua buah tombak pada
pa-hanya yang menembus sampai ke belakang.
Dugaan ini
membuat Dewa Arak teringat akan peristiwa yang belum lama dialaminya. Saat itu,
dia pun melihat kejadian seperti yang dialaminya ini. Hanya saja kejadiannya
menimpa orang lain. Seorang pemuda berpakaian kuning tersiksa. Padahal, yang
di-lakukan si penyiksa hanya melakukan tusukan terha-dap sebuah boneka!
***
Begitu
teringat pemuda berpakaian kuning yang bernama Jumpena, orang yang mengalami
sik-saan secara aneh itu, Arya hampir memukul kepalanya sendiri. Mengapa dia
demikian pelupa? Gadis berpa-kaian kuning yang tengah tergolek tak berdaya itu
mempunyai wajah yang demikian mirip Jumpena! Ti-dak hanya ciri-ciri tubuh, tapi
juga pakaiannya!
Sebagai
orang yang berakal cerdas, Dewa Arak segera bisa mengetahui kalau gadis
berpakaian kuning ini adalah Jumpena! Pemuda tampan pintar bicara dan keras
hati yang dulu ditemukannya bersama Dirganta-ra (Untuk jelasnya mengenai
Jumpena, Dirgantara, dan pengalaman yang mereka alami silakan baca serial Dewa
Arak dalam episode : "Iblis Buta". Karena cerita ini merupakan
sambungannya).
Tapi, Arya
tidak bisa terlalu lama memikirkan mengenai Jumpena yang sebenarnya adalah
seorang gadis bernama Jumini. Karena saat itu, di tengah be-rada dalam keadaan
mengkhawatirkan. Pemuda be-rambut putih keperakan ini segera sibuk mencari cara
untuk menyelamatkan diri dari pengaruh ilmu aneh dari orang yang belum
diketahui.
Dewa Arak
segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tak lama, matanya tertunduk pada
seorang kakek berpakaian dari kulit ular tengah duduk bersila di atas sebatang
ranting yang ditancapkan di atas se-bongkah batu sebesar gajah bunting!
Ranting itu
kecil, tak lebih dari ibu jari tangan. Panjangnya sekitar satu tombak.
Merupakan sebuah pemandangan aneh sekaligus menakjubkan melihat ranting yang
lemas itu mampu menembus batu yang amat keras. Apalagi, mampu diduduki seorang
manu-sia tanpa meliuk yang terlalu berlebihan. Malah, kakek
berpakaian
dari kulit ular yang berwajah hitam itu du-duk dengan enaknya, seakan pantatnya
telah menem-pel dengan ranting!
Kakek
berwajah hitam ini dengan sikap anteng dan tak peduli duduk memegang sebuah
boneka. Pada bagian paha kanan kiri boneka itu tertancap sebatang jarum
panjang, tembus sampai ke paha belakang!
Di lain
pihak, Lanang yang sudah siap mene-rima serangan Arya, menjadi kaget. Terutama
ketika melihat pemuda berambut putih keperakan itu men-dadak jatuh dan berdiam
di tanah dengan seringai ke-sakitan. Di sini dia merasa mempunyai kesempatan
untuk melancarkan serangan. Dengan cepat sabuk pada tubuhya dilepas. Tapi baru
saja maksudnya hen-dak dilancarkan, Lanang memandang ke arah Dewa Arak, menatap
disertai rasa heran. Seketika wajahnya memucat! Arah tatapan Dewa Arak tertuju
pada kakek yang tengah duduk bersila di atas ranting kecil! Kakek yang amat
dikenalnya. Karena, kakek itu adalah.... ayahnya.
Naga Sakti
Berwajah Hitam!
Tidak aneh
kalau Lanang merasa kaget dan ju-ga takut. Memang, dia telah mempunyai satu
kesala-han besar. Pemuda ini telah berani membawa kabur Jumini karena tertarik
akan kejelitaannya. Bukan di-landasi cinta, karena orang seperti Lanang mana
kenal cinta? Yang ada hanya nafsu! Perasaan itulah yang mendorongnya bertindak
nekat, menentang keputusan ayahnya! Padahal, selama ini pemuda pesolek ini
tidak bertindak demikian. Apalagi Naga Sakti Berwajah Hi-tam amat keras dengan
aturannya. Siapa pun yang be-rani menentang aturannya, akan mendapat hukuman
berat! Tak terkecuali, Lanang putranya.
Lanang
sendiri telah tahu peraturan ayahnya.
Bahkan
telah merasakan hukuman dari ayahnya! Tapi, rasa nafsu mengalahkan rasa
takutnya. Kini melihat keberadaan ayahnya di situ, Lanang langsung pucat pasi!
Perasaan
takut yang luar biasa, membuat La-nang bagai orang kehilangan akal. Bukannya
melaku-kan sesuatu, dia malah tercenung di tempat itu sambil menatap Naga Sakti
Berwajah Hitam seperti orang me-lihat hantu.
Sebenarnya,
kalau hanya birahi saja, tak akan berani Lanang bertindak seperti itu. Ada hal
lain yang lebih mendasar yang membuat dorongan itu jadi mem-besar. Tanpa
sengaja, dia telah membaca buku Naga Sakti Berwajah Hitam yang memang gemar
menulis.
Lanang
tahu, kegemaran ayahnya. Tapi karena setiap kali menulis, Naga Sakti Berwajah
Hitam selalu menyimpan bukunya, Lanang tidak pernah tahu apa yang ditulisnya.
Dan kebetulan, sewaktu pergi berse-madi di ruang rahasia, dia lupa menyimpan
bukunya kembali.
Saat itu
Lanang yang tengah mencari ayahnya, untuk menanyakan perkembangan ilmunya, tak
kuasa untuk menahan keinginan untuk membaca buku itu. Ternyata isinya, semua
pengalaman Naga Sakti Berwa-jah Hitam itu dan asal-usulnya.
Dari buku
itulah, Lanang tahu kalau dirinya bukan putra Naga Sakti Berwajah Hitam itu.
Dia ter-nyata anak seorang panglima yang gagal dalam mela-kukan pemberontakan
terhadap kerajaan. Sebelum mati, si panglima yang merupakan sahabat baik Naga
Sakti Berwajah Hitam, menitipkan Lanang cilik.
Lanang
sekarang mengerti, mengapa ayahnya, Naga Sakti Berwajah Hitam, bersikap dingin
saja. Ti-dak pernah terlihat adanya kasih sayang, baik dalam
ucapan
maupun sikap. Perasaan tidak betah dan kein-ginan untuk melihat keluarganya,
membuat Lanang mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu. Lanang yang
merasa terpukul menerima ke-nyataan ini memutuskan untuk membawa lari Jumini.
Di samping karena birahinya, juga karena keinginan untuk membalas sakit hati.
Sakit yang timbul karena kenyataan ini, selalu dirahasiakan oleh Naga Sakti
Berwajah
Hitam. Maka, pelarian itu pun terjadi.
Naga Sakti
Berwajah Hitam rupanya tahu kalau ada orang yang memperhatikannya. Pandangannya
yang sejak tadi ditujukan pada boneka segera dialih-kan. Maka dua pasang mata
pun bertemu. Yang satu penuh rasa takut, sedangkan yang lain tajam menusuk dan
penuh hawa maut.
"Anjing
tak kenal budi!" seru Naga Sakti Ber-wajah Hitam tajam dan nyaring. Tidak
kelihatan adanya kemik pada bibirnya. "Sejak kecil kau ku peli-hara.
Kuberi pelajaran ilmu silat tinggi. Tapi setelah besar, kau berani
mengkhianatiku! Rupanya kau su-dah ingin bertemu malaikat maut. Baik! Ku penuhi
keinginanmu!"
Wajah
Lanang semakin pucat. Keringat sebesar biji-biji jagung bermunculan di
wajahnya. Kedua ka-kinya pun menggigil hebat. Dia tahu, nyawanya teran-cam.
Bahkan kemungkinan besar akan tewas mengeri-kan! Apalagi bila mengingat
kelihaian ayahnya dengan boneka di tangan. Selama ayahnya melihat
kebera-daannya, selama itu pula melalui boneka, kakek ber-wajah hitam itu mampu
bertindak apa pun terhadap orang yang dituju dengan sarana sebuah boneka.
Karena rasa
takut akan kematian yang menge-rikan, Lanang tidak ragu-ragu lagi menjatuhkan
diri berlutut.
"Ampunkan
aku, Ayah! Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Ampunkanlah aku,
Ayah," ratap Lanang tanpa malu-malu. Pemuda yang cerdik ini mencoba
bersikap seakan belum tahu rahasia dirinya kalau bukan keturunan kakek berwajah
hitam itu!
"Cuhhh!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam meludah ke tanah dengan sikap kasar.
"Jangan
harap aku mengampunimu, Anjing! Aku tidak sudi mengampuni seorang pengkhianat!
Se-karang kau hanya menyabot tawananku! Kelak bila kuampuni, kau akan
membunuhku! Tak ada ampun lagi bagi seorang pengkhianat!"
Tubuh
Lanang yang tengah berlutut itu sema-kin menggigil keras.
"Aku
berjanji, Ayah. Aku tidak akan berani membantah semua ucapanmu lagi. Sampai
hatikah kau membunuh darah daging sendiri, Ayah?!" ratap Lanang masih
mencoba melumerkan hati kakek ber-wajah hitam itu.
"Ha ha
ha...!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam tertawa bergelak. Keras bukan main, sehingga membuat sekitar
tempat itu berguncang-guncang. Tapi anehnya, mulutnya te-tap tidak bergerak
sama sekali!
"Siapa
yang bilang kau anakku, Anjing?! Kau hanya seorang anak telantar yang ku
pungut, dengan harapan bisa membalas budi baikku. Tapi harapanku ternyata
sia-sia! Aku tak lebih dari memelihara seekor anjing! Sedari kecil ku pelihara
dan ku sayang, tapi ke-tika besar malah menggigit ku! Sebelum kau semakin
membahayakan kedudukanku, sudah tiba saatnya ku-lenyapkan dari muka bumi! Lihat
ini baik-baik, Anjing tak kenal budi!"
Ucapan-ucapan
Naga Sakti Berwajah Hitam tak ubahnya pisau berkarat yang menghujam jantung
La-nang secara bertubi-tubi. Berita yang didengarnya te-tap mengejutkan hati,
kendati telah mengetahui sebe-lumnya.
Keterangan
yang mengejutkan, membuat piki-ran Lanang bagaikan menguap. Maka, kalimat
terakhir Naga Sakti Berwajah Hitam tanpa banyak pikir lagi di-turutinya. Lanang
tahu, kalau Naga Sakti Berwajah Hi-tam akan mengunjukkan boneka yang dianggap
di-rinya. Boneka yang menjadi jalan bagi Naga Sakti Ber-wajah Hitam untuk
melakukan tindakan apa pun se-kehendak hatinya!
Dugaan
Lanang memang tepat! Di tangan ka-nan kakek berwajah hitam itu tergenggam
sebuah bo-neka. Lanang yang sejak tadi terkesima, jadi mengge-ram bagai harimau
luka. Perasaan terpukul dan kha-watir yang besar akan kematian mengerikan,
mem-buatnya bertindak nekat. Maka sambil meraung keras, pemuda pesolek ini
bangkit dan melesat sambil meng-hentakkan kedua tangannya. Langsung
dikirimkannya pukulan jarak jauh pada orang yang selama ini diang-gap ayahnya!
Tapi,
sebelum maksudnya terlaksana, Lanang memekik kesakitan. Karena, Naga Sakti
Berwajah Hi-tam telah lebih dulu, menggerakkan jari-jemarinya, meremas boneka
di tangannya.
Akibat
remasan itu, Lanang merasakan tubuh-nya bagai digencet dua buah bongkahan batu
besar! Rasa sakit yang amat sangat mendera sekujur tubuh-nya. Napasnya pun sesak.
Pemuda pesolek ini yakin, tak lama lagi sekujur tulang-belulangnya akan hancur
berantakan!
Lanang
mengeluarkan geraman yang lebih mi-
rip erangan
seekor binatang buas terluka! Dikerah-kannya tenaga dalam untuk bertahan dari
himpitan tak nampak pada tubuhnya. Dia tidak ingin mati sia-sia! Urat-uratnya
sampai bersembulan keluar, saking kuatnya himpitan yang melanda.
Rupanya,
geraman Lanang menyadarkan Dewa Arak yang sejak tadi memperhatikan dan
mendengar-kan jalannya perselisihan antara Naga Sakti Berwajah Hitam dengan
Lanang. Namun pemuda berambut pu-tih keperakan itu tidak bisa berdiri, apalagi
bergerak. Karena, kedua kakinya masih tidak mampu digerak-kan. Tapi tentu saja
kedua tangan Dewa Arak terbe-bas. Maka dengan kedua tangannya dikirimkannya se-rangan
terhadap Naga Sakti Berwajah Hitam yang ber-jarak sekitar delapan tombak,
berupa pukulan jarak jauh dengan jurus 'Pukulan Belalang'!
Seketika
itu pula hembusan angin keras ber-hawa panas menyengat, meluruk ke arah Naga
Sakti Berwajah Hitam. Kakek itu terkejut bukan main me-nyadari serangan amat
berbahaya yang cukup untuk menghantarkan nyawa kea lam baka.
Meski tahu
pukulan jarak jauh itu amat dah-syat, Naga Sakti Berwajah Hitam tidak menjadi
kecil hati. Hatinya tidak merasa gentar, karena terlalu yakin akan
kepandaiannya sendiri. Maka pukulan jarak jauh Dewa Arak tidak dielakkannya,
melainkan dipapaknya. Keras lawan keras. Untuk itu, kakek ini terpaksa
men-jatuhkan boneka-boneka yang tengah digenggamnya ke tanah.
Bresss!
Bumi
bagaikan bergetar hebat ketika dua pu-kulan jarak jauh yang dahsyat berbenturan
di tengah jalan. Akibatnya, tubuh kedua belah pihak sama-sama terjengkang ke
belakang.
Ranting
yang diduduki Naga Sakti Berwajah Hi-tam kontan patah berkeping-keping. Namun,
kakek itu mampu mematahkan kekuatan yang membuat tubuh-nya terlempar dengan
bersalto beberapa kali di udara. Lalu kakinya menjejak tanah dengan mantap.
Di lain
pihak, Dewa Arak sendiri sampai bergu-lingan di tanah. Hal ini membuat rasa
sakit pada pa-hanya semakin menjadi-jadi. Karena meskipun keliha-tannya tidak
ada apa-apa, tapi terasa bagaikan ada dua batang tombak yang menyate pahanya.
Tentu saja hal ini membuat rasa sakitnya semakin menghebat!
***
Sementara
dengan adanya gempuran Dewa Arak, Lanang jadi terbebas dari siksaan. Cepat
dike-rahkannya tenaga dalam untuk mengusir rasa sakit yang masih mencengkeram
sekujur tubuhnya. Kemu-dian tanpa mempedulikan apa-apa lagi, tubuhnya se-gera
melesat menyambar tubuh Jumini yang masih tergolek di tanah.
"Hey...!"
'
Arya yang
telah terbebas dari kekuatan yang membuat tubuhnya terguling-guling, sempat
berseru melihat tindakan Lanang yang memanfaatkan kesem-patan dalam kesempitan.
Secara untung-untungan, tangan kanannya dihentakkan untuk melancarkan ju-rus
'Pukulan Belalang' pada Lanang.
Untuk yang
kedua kalinya, hembusan angin keras berhawa panas menyengat meluncur dari
tangan Dewa Arak. Tapi karena terlalu terburu-buru melan-carkan serangan, maka
Lanang mudah sekali menge-lakkannya dengan melompat jauh ke depan. Setelah itu,
pemuda pesolek yang memiliki watak licik ini lang-
sung
melesat cepat, meninggalkan tempat itu bersama tubuh Jumini.
"Keparat...!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam menggeram murka, melihat bekas putranya berhasil melarikan diri.
Malah dalam waktu sebentar saja, telah berada puluhan tom-bak di depan. Kakek
ini tahu, mengejar bukan meru-pakan hal yang mudah. Apalagi, medan di sini
me-mungkinkan Lanang untuk bersembunyi di berbagai tempat yang ada di situ.
Mumpung tubuh pemuda itu masih terlihat, Naga Sakti Berwajah Hitam ini memu-tuskan
untuk menggunakan boneka, mencegah La-nang melarikan diri.
Kakek
berwajah hitam ini mengerutukkan gigi. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi
ke atas, lalu digetarkan sebentar. Sesaat kemudian, boneka yang merupakan
cermin Lanang, melayang deras dari atas gundukan batu dan meluncur ke arah
tangan kakek itu. Padahal, boneka itu berada di atas gundukan batu yang
tingginya tak kurang dari satu tombak, jarak se-kitar lima tombak dari
tempatnya berada!
Dewa Arak
yang melihat hal ini tahu, apabila boneka Lanang berhasil jatuh ke tangan Naga
Sakti Berwajah Hitam, keselamatan pemuda pesolek itu te-rancam. Ini berarti,
nyawa Jumini pun dalam bahaya. Dan Arya tidak ingin hal itu terjadi.
Maka dalam
waktu singkat, Dewa Arak bisa mengambil keputusan. Lanang harus diselamatkan.
Ini berarti, boneka yang merupakan cerminan pemuda pe-solek itu, tidak boleh
jatuh ke tangan Naga Sakti Ber-wajah Hitam, selama Lanang masih terlihat. Maka
De-wa Arak segera menjulurkan kedua tangannya ke arah boneka Lanang.
Naga Sakti
Berwajah Hitam menggeram penuh
kemarahan,
ketika melihat luncuran boneka Lanang melambat. Seakan-akan, tertahan oleh
kekuatan yang tak nampak. Begitu melihat tangan Dewa Arak yang di-julurkan,
kakek ini langsung tahu apa yang tengah ter-jadi. Memang, Dewa Arak pun
menggunakan tenaga dalam untuk menarik boneka itu ke arahnya!
Perbedaan
kepentingan, membuat boneka La-nang tertarik ke sana kemari. Tapi karena jarak
bone-ka itu dengan Naga Sakti Berwajah Hitam telah lebih dekat, membuat
pengaruh tarikan tenaga Naga Sakti Berwajah Hitam lebih kuat daripada Dewa
Arak. Sete-lah tertahan sebentar, meski agak lambat, boneka itu meluncur ke
arah tangan Naga Sakti Berwajah Hitam.
Dewa Arak
tentu saja mengetahuinya. Dan dia tahu, apabila tetap diteruskan, Naga Sakti
Berwajah Hitam akan unggul. Padahal, saat itu tubuh Lanang masih terlihat.
Maka, pemuda berambut putih ke-perakan ini segera merubah tenaganya. Kalau
semula berusaha menahan, sekarang malah mengirimkan te-naga mendorong.
Perubahan
ini membuat tenaga tarikan Naga Sakti Berwajah Hitam jadi berlipat ganda,
setelah di-tambah tenaga dorong Dewa Arak.
Tindakan
Dewa Arak benar-benar di luar perhi-tungan Naga Sakti Berwajah Hitam. Akibatnya
dia jadi tidak bisa mengendalikan luncuran boneka, yang se-harusnya mendarat di
telapak tangannya, jadi melesat melewatinya.
Naga Sakti
Berwajah Hitam kesal bukan main. Cepat tubuhnya berbalik dan bermaksud
mengambil boneka yang masih melayang deras melewatinya den-gan menggunakan
tarikan tenaga dalamnya.
Tapi, Dewa
Arak tidak membiarkannya terjadi. Sambil mengeluarkan teriakan keras, pemuda
be-
rambut
putih keperakan ini melompat menerjang sam-bil menghantamkan kedua tangannya
yang terbuka!
Naga Sakti
Berwajah Hitam tidak mempunyai pilihan lain kecuali menangkisnya. Dalam
kemarahan dipapaknya serangan itu dengan pengerahan seluruh kekuatan tenaga
dalamnya.
Plakkk!
Dua pasang
tangan yang sama-sama terbuka saling berbenturan dan melekat. Kedua belah pihak
pun segera mengerahkan tenaga dalam untuk saling menekan.
Tak membutuhkan
waktu lama, segera terlihat pihak yang unggul. Wajah Dewa Arak tampak kuyup
dibasahi peluh. Kedua tangannya menggigil keras se-perti terserang demam
tinggi. Bahkan dari atas kepa-lanya mulai mengepul uap putih. Mula-mula tipis,
tapi makin lama makin banyak dan tebal!
Di pihak
lain, Naga Sakti Berwajah Hitam be-lum terlihat apa-apa. Wajahnya masih biasa
saja, tidak terlalu dibanjiri peluh.
Walaupun
pada kenyataannya Dewa Arak ber-ada di pihak yang terdesak, tapi bukan berarti
kalah kuat dibanding lawannya. Yang jelas Dewa Arak harus membagi sebagian
tenaganya untuk sepasang kakinya. Sebagian tenaganya digunakan untuk menahan
rasa sakit, karena pemuda ini terpaksa berdiri. Sementara sebagian lagi
digunakan untuk menegakkan sepasang kakinya yang sebenarnya tidak layak untuk
dipakai berdiri. Maka tak heran kaki pemuda ini menggigil ke-ras!
Keadaan
Arya semakin mengkhawatirkan. Tak akan lama lagi, pemuda berambut putih
keperakan ini roboh di tangan lawannya. Kalau tidak tewas, paling ringan akan
terluka dalam amat parah.
Naga Sakti
Berwajah Hitam menyadari keung-gulannya. Dan dia tidak sabar lagi untuk segera
me-raih kemenangan. Maka segera diputuskannya untuk memberikan pukulan
terakhir, agar cepat merobohkan lawannya.
"Hhhgrrr...!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam menggereng keras seperti seekor macan murka, disertai tenaga
dalam le-bih besar. Itu pun masih ditambah muncratnya darah segar dari
mulutnya. Bukan darah karena kakek ini terluka dalam, tapi memang dikeluarkan
untuk mengi-rimkan serangan. Saat itu juga gumpalan darah me-luncur ke arah
ubun-ubun Dewa Arak. Apabila men-genai sasaran, maka ubun-ubun Arya akan hancur
be-rantakan.
"Huakh...!"
Dewa Arak
yang memang sudah hampir tidak kuat, langsung terjengkang ke belakang sambil
me-muntahkan darah segar dari mulut. Pengerahan te-naga dalam Naga Sakti
Berwajah Hitam yang disertai gerengan, terlalu kuat untuk bisa ditahannya.
Tapi, ju-stru hal ini yang menyelamatkannya dari maut. Gum-palan darah yang
meluncur ke arahnya lewat beberapa jari di atas kepalanya.
Naga Sakti
Berwajah Hitam terkekeh kegirang-an, melihat lawan tangguhnya berhasil
dirobohkan.
Tanpa
memberi kesempatan pada Dewa Arak yang masih tergolek di tanah, tubuhnya
meluruk me-nyerbu untuk menjatuhkan pukulan maut.
"Akhirnya
kau tewas juga, Dewa Arak! Pendekar tenar yang ditakuti lawan dan kawan,
akhirnya tewas di tanganku. Ingin kudengar sendiri kegemparan da-lam dunia
persilatan! Selamat tinggal Dewa Arak! Sila-kan temui Malaikat Maut!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam mengayunkan ta-ngan kanannya, menghantam kepala Dewa Arak. Saat
itu juga angin keras berhembus sebelum pukulan itu sendiri tiba. Tapi, Dewa
Arak tetap tidak menunjukkan gerakan sedikit pun. Rupanya dia sudah pasrah
menghadapi maut yang akan datang menjemputnya. Tapi....
Tuk!
"Aaakh...!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam mengeluh tertahan ketika ada sesuatu yang menghantam sikunya,
se-belum tangannya menghancurkan kepala Dewa Arak. Akibatnya, aliran tenaga
dalamnya ke tangan lenyap. Sikut tangannya mendadak langsung lumpuh. Dengan
sendirinya, serangan Naga Sakti Berwajah Hitam pun urung.
Alis Naga
Sakti Berwajah Hitam berkernyit. Bingung. Ditatapnya Dewa Arak. Pemuda inikah
yang telah membatalkan serangan dengan lemparan benda kecil pada sikunya? Tapi,
rasanya mustahil! Bukankah pemuda itu tengah berada dalam keadaan tidak
ber-daya. Tidak mungkin dia yang melakukan karena ten-gah terluka parah.
Mengerahkan tenaga dalam, berarti bunuh diri! Sedangkan tindakan yang baru saja
dila-kukan, membutuhkan tenaga dalam tinggi. Kenya-taannya, mampu membuat
tangan Naga Sakti Berwa-jah Hitam itu lumpuh! Ya! Bukan Dewa Arak. Berarti, ada
orang lain yang usil.
Keyakinan
akan dugaannya membuat kakek berwajah hitam ini mengarahkan pandangan ke depan.
Tidak terlihat apa-apa kecuali bongkahan batu besar yang tadi didudukinya.
Lalu, dari mana sesuatu yang membuat tangannya lumpuh itu berasal?
Karena
tidak menemukan sesuatu yang mencu-
rigakan,
Naga Sakti Berwajah Hitam kembali menga-lihkan perhatian pada Dewa Arak.
Kali ini,
kakek ini bertindak cerdik dalam mela-kukan serangan. Dia tidak menggunakan
tangan lagi melainkan kaki. Dengan ujung kaki kanannya, diki-rimkannya
tendangan ke arah leher yang merupakan jalan darah yang mematikan! Tersentak
sedikit saja te-lah cukup untuk membuat nyawa Dewa Arak me-layang.
Tapi
lagi-lagi, sebelum ujung kaki itu menyen-tuh sasaran, ada sesuatu yang
menyambar telak lutut Naga Sakti Berwajah Hitam. Sehingga, membuat ka-kinya
lemas kehilangan tenaga. Untuk yang kedua ka-linya serangan kakek ini kandas.
Naga Sakti
Berwajah Hitam melangkah mun-dur. Langsung pandangannya beredar ke sekeliling.
Tapi, tetap saja tidak terlihat adanya tanda-tanda ka-lau di sekitar tempat itu
ada orang lain. Tentu saja ka-kek ini murka, karena merasa dipermainkan.
"Pengecut!
Keluar kau...! Kalau memang berani, jangan hanya bermain secara
sembunyi-sembunyi! Ayo, hadapi aku! Naga Sakti Berwajah Hitam...!" teriak
kakek itu sambil berkacak pinggang.
Seruan yang
dikeluarkan Naga Sakti Berwajah Hitam keras bukan main, disertai pengerahan
tenaga dalam tinggi. Sehingga tidak hanya bergema di sekitar tempat itu, tapi
juga terdengar sampai jauh.
Sambil
mengeluarkan tantangan demikian, Na-ga Sakti Berwajah Hitam mengedarkan
pandangan ke sekitar tempatnya berdiri. Dan bulu kuduknya tanpa terduga
meremang, karena tidak terlihat adanya benda yang bisa diperkirakannya dilepas
oleh orang yang menolong Dewa Arak. Padahal seharusnya, bila peno-long itu
melemparkan sesuatu, akan tergolek di tanah!
Lalu, apa
yang sejak tadi menyentuh siku dan lutut-nya, sehingga serangan-nya kandas?
Ataukah semua ini perbuatan hantu? Atau, makhluk halus lainnya?
6
Naga Sakti
Berwajah Hitam sebenarnya tidak pernah percaya akan adanya setan atau yang
sejenis-nya. Tapi entah kenapa, kakek ini merasa seram juga.
Tidak
adanya orang lain yang ikut campur uru-sannya di sekitar tempat ini, membuat
kakek berwajah hitam ini yakin betul kalau keanehan ini terjadi akibat campur
tangannya makhluk halus. Dan hatinya sema-kin yakin, dengan tidak adanya
bekas-bekas dari se-suatu yang membentur siku atau lututnya. Padahal, dia yakin
betul bahwa telah terjadi benturan pada siku dan lutut. Tapi, mengapa tidak ada
bekasnya sama se-kali?! Bahkan tidak adanya desir angin yang mengirin-gi
luncuran sesuatu yang telak mengenai siku dan lu-tutnya, terpaksa membuat ciut
nyalinya. Betapapun saktinya orang yang ikut campur tangan, Naga Sakti Berwajah
Hitam yakin kalau pendengarannya akan mampu menangkap sekalipun desir angin itu
amat le-mah.
Naga Sakti
Berwajah Hitam tahu, kendati sosok yang menyelamatkan Dewa Arak memiliki ilmu
'Sirna Raga' atau ilmu 'Halimun' sekalipun, gerakannya tetap akan terdengar.
Setidak-tidaknya, kekuatan yang ter-kandung dalam serangan akan menimbulkan
angin yang tertangkap telinga. Tapi kenyataannya? Ini berar-ti, penolong Dewa
Arak itu tidak menggunakan ilmu
demikian!
Kesimpulan yang paling gampang memang makhluk halus yang menjadi biang
keladinya! Tapi, mungkinkah ada makhluk halus yang demikian usil mencampuri
urusan manusia?
Naga Sakti
Berwajah Hitam menunggu bebe-rapa saat, setelah mengeluarkan tantangan. Tapi
ter-nyata tidak ada jawaban sama sekali. Justru yang ter-dengar adalah gema
ucapannya sendiri yang dipantul-kan tebing-tebing gunung. Terdengar aneh dan
menye-ramkan. Mungkin, beginilah suara makhluk halus itu.
Tapi kalau
benar makhluk halus, kenapa ber-tindak tanggung-tanggung bila hendak membela
Dewa Arak. Mengapa hanya bertindak, sewaktu pemuda be-rambut putih keperakan
itu diserang? Kenapa tidak melancarkan serangan saja? Apakah makhluk halus
tidak pandai menyerang?!
Keberanian
Naga Sakti Berwajah Hitam yang sempat mengalami guncangan, timbul kembali.
Mak-hluk halus atau bukan, kalau memang menghalangi tindakannya, tidak ada
salahnya dilabrak! Apa yang di-takutkan? Bukankah dia merupakan seorang tokoh
persilatan tingkat tinggi?
Naga Sakti
Berwajah Hitam memutuskan untuk bertindak nekat. Satu langkah lagi, Dewa Arak
yang terkenal di dunia persilatan itu berhasil ditewaskan-nya. Tunggu kapan
lagi kesempatan sebaik ini? Maka setelah mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya,
dia melompat menerjang Dewa Arak dengan kedua tangan terbuka. Dan...
Bresss!
"Aaakh...!"
Naga Sakti
Berwajah Hitam tiba-tiba menge-luarkan jeritan menyayat ketika kedua tangannya
ba-gaikan membentur dinding yang tidak tampak. Bahkan
seluruh
tenaga dalamnya seperti membalik. Tubuhnya langsung terlempar deras ke
belakang, dan melayang-layang bagai daun kering diterbangkan angin. Belasan
tombak jauhnya tubuhnya melayang-layang, sebelum akhirnya jatuh di tanah
menimbulkan bunyi keras.
Kakek
berwajah hitam itu bangkit tertatih-tatih dengan wajah pucat pasi. Darah tampak
mengalir dari sudut-sudut bibirnya, akibat luka dalam yang cukup parah karena
tenaga dalamnya sendiri berbalik memu-kul dirinya.
Naga Sakti
Berwajah Hitam menggeleng-geleng untuk mengusir pusing yang menyergap.
Ditatapnya Dewa Arak untuk yang terakhir kali dengan pandan-gan bingung dan
heran. Kemudian tubuhnya berbalik meninggalkan tempat itu.
"Kali
ini kau boleh menghirup udara bebas, Dewa Arak. Tapi lain kali, jangan harap
kau akan se-mujur ini...!"
Cukup keras
dan lantang ucapan kakek berwa-jah hitam ini. Tapi, Dewa Arak tidak
menyambutnya sama sekali. Bukan hanya karena tidak mau, tapi juga karena tidak
mampu. Jangankan untuk berteriak. Un-tuk menggerakkan bibir saja, sukar sekali.
Andaikata-pun bisa, yang keluar dari mulutnya lebih dari sebuah bisikan pelan.
Dalam
keadaan setengah sadar itu, Arya masih mendengar bisikan berasal dari mulut
seorang kakek.
"Aku
pergi dulu, Anak Muda. Tugasku sudah selesai. Kelak, apabila kejadian seperti
ini terulang, mungkin aku akan muncul kembali."
Hanya
sampai di situ ucapan sosok yang tidak terlihat. Tapi itu cukup untuk menjawab
keheranan yang sejak tadi membalut hati Arya. Meski dalam kea-daan terluka
parah, Arya masih sadar dan tahu kalau
Naga Sakti
Berwajah Hitam hendak membunuhnya. Tapi entah karena apa, tak jua terlaksana.
Kiranya ada orang yang menghalangi tindakannya. Arya masih da-pat mengucapkan
terima kasih, kendati yang tercipta hanya kemak-kemik bibirnya. Sesaat
kemudian, pe-muda perkasa ini telah jatuh pingsan.
***
Seorang pemuda
berompi kulit harimau me-langkah cepat menuju kaki lereng Gunung Cikuray.
Sekujur wajahnya kotor berdebu. Wajahnya muram. Rambutnya pun kusut berantakan,
tak terurus. Seper-tinya, pemuda ini telah lama tidak memperhatikan keadaan
dirinya lagi.
Keadaannya
yang tidak terurus, semakin leng-kap dengan sepasang matanya yang sayu seperti
lam-pu kehabisan minyak. Hanya saja, sesekali sepasang mata itu mencorong
tajam. Tulang-tulang wajahnya pun mengeras penuh kebencian. Dan itu selalu
tercip-ta, setiap kali pemuda ini menyebut satu nama dengan suara berdesis
penuh dendam.
"Naga
Sakti Berwajah Hitam.... Apabila kau mengganggu Jumini, aku bersumpah akan
mengadu jiwa denganmu! Aku, Dirgantara, tidak sudi hidup di dunia ini apabila
kau masih bercokol! Hanya ada satu di antara kita yang harus hidup! Kau, atau
aku!"
Terdengar
bunyi berkerotokan keras ketika pe-muda berompi kulit harimau yang mengaku
sebagai Dirgantara menutup ucapannya. Padahal, dia tidak melakukan gerakan apa
pun. Tenaga dalamnya yang telah mencapai tingkat tinggi bergerak sendiri,
menye-babkan terjadinya bunyi seperti itu. Belum juga tuntas kekesalan pemuda
itu, tiba-tiba....
"Ooouw...!"
Sebuah
teriakan nyaring terdengar, dan ber-pengaruh besar terhadap Dirgantara.
Tubuhnya kon-tan terjingkat, bagaikan disengat ular berbisa. Sepa-sang bola
matanya berputar liar, mencari sumber te-riakan tadi. Dan sepasang matanya
memancarkan si-nar penuh harap, ketika terpandang sebuah gubuk ke-cil di tengah
persawahan.
Tempat
Dirgantara berada memang sebuah areal persawahan yang luas. Di sekitarnya yang
terli-hat hanya jejeran padi yang mulai menguning. Pemuda itu sendiri berada di
jalan setapak, yang terdapat di antara kotak sawah yang satu dengan yang lain.
"Jumini...,"
desis Dirgantara penuh perasaan haru.
Ketidak
bergairahan Dirgantara langsung le-nyap. Meski wajahnya masih kusut, tapi
terlihat jelas adanya semangat menyala-nyala. Baik pada wajah, maupun sinar
matanya.
Berbareng
ucapan itu, Dirgantara melesat cepat bukan main gerakannya, sampai-sampai kedua
ka-kinya bagai tak menginjak tanah. Pematang yang kecil dan licin tidak
menghalangi kecepatan larinya. Semen-tara pandangannya tertuju ke arah gubuk di
tepi sa-wah. Sedangkan mulutnya tak henti-hentinya menye-butkan satu nama.
Jumini!
Namun
sebelum Dirgantara sampai di dekat gubuk itu, mendadak dari arah lain melesat
satu sosok bayangan hitam yang juga memburu ke arah gubuk. Mungkin sosok itu
juga mendengar teriakan tadi.
Karena
sosok bayangan hitam itu lebih cepat, terpaksa Dirgantara menghentikan larinya.
Dia ingin tahu, apa yang selanjutnya terjadi. Maka secepat itu pula, tubuhnya
disembunyikan di dalam kerimbunan
padi,
sambil matanya tak lepas mengamati ke arah gu-buk.
***
Sementara
di dalam gubuk, tampak seorang pemuda tampan dengan dandanan macam-macam tengah
menggumuli seorang gadis manis yang terus meronta-ronta berusaha melepaskan
diri.
"Rupanya
kau tidak bisa diperlakukan secara lembut, Jumini! Mungkin kau lebih suka
dikasari lebih dulu, sebelum akhirnya tunduk, heh?! Baik kalau itu yang kau
inginkan, ku penuhi...!"
Dengan
napas memburu hebat karena penga-ruh nafsu birahi yang menyesakkan dada, pemuda
pe-solek yang tak lain Lanang cepat menotok gadis dalam himpitannya yang memang
Jumini.
Tuk!
Saat itu
juga, tubuh Jumini lemas tak berdaya. Sedangkan dengan mata jelalatan, Lanang
langsung melucuti pakaian gadis itu.
Hanya dalam
sekejapan saja, gadis berpakaian kuning itu telah bugil. Dan Lanang yang telah
diamuk nafsu, segera menubruknya dengan buas. Persis see-kor serigala kelaparan
menerkam anak kambing ge-muk!
"Jangan...,
jangan lakukan itu.... Aku mohon, Lanang...," pinta Jumini mengiba dengan
suara meme-las.
Air mata
gadis itu telah mengalir deras memba-sahi sepasang pipinya yang mulus. Air mata
yang mengucur karena cekaman rasa takut dan ngeri akan terjadinya sesuatu hal
yang mengerikan terhadap di-rinya.
"Lebih
baik kau bunuh saja aku...," lanjut Ju-mini
Lanang yang
telah kesetanan tidak mempeduli-kan sama sekali. Bahkan tindakannya semakin
kasar. Di telinganya, rintihan Jumini tak ubahnya nyanyian bidadari yang
membuat semangatnya semakin meng-gebu-gebu.
Sebenarnya,
Lanang tidak begitu suka melaku-kan tindakan ini. Tapi, apa boleh buat? Ini
memang cara satu-satunya untuk menjadikan hati Jumini yang keras mencair. Yang
penting, Jumini mau menjadi pa-sangannya setelah peristiwa ini. Lanang yakin,
Jumini tidak akan mempunyai pilihan lain lagi setelah semua-nya terjadi. Tapi
di saat yang gawat terhadap kehorma-tan Jumini....
Brak!
Tiba-tiba
pintu gubuk terlepas dari engselnya dan dalam keadaan hancur berkeping-keping.
Tentu saja gangguan mendadak ini, membuat Lanang me-lompat dari tubuh Jumini
yang tengah ditindihnya. Se-cepat kilat, dia bersiap untuk menghadapi keadaan
yang tidak memungkinkan.
"Manusia
berhati binatang...!" desis sosok yang ternyata seorang gadis berpakaian
serba hitam. "Ma-nusia seperti kau sudah selayaknya dimusnahkan dari muka
bumi!"
Gadis
berpakaian serba hitam yang tak lain Linggar hanya bertindak sampai di situ.
Dibiarkannya Lanang yang lari sambil meraih pakaiannya dengan menjebol dinding
gubuk hingga jebol. Pemuda pesolek itu mencari tempat untuk mengenakan pakaian,
kare-na saat itu sudah telanjang bulat
"Kenakan
itu, Nona," ujar Linggar teringat akan nasib Jumini yang masih tergolek di
lantai gubuk bera-
laskan
jerami. Namun ketika melihat gadis itu tak ber-gerak, Linggar sadar kalau
Jumini telah tertotok. Maka seketika tangannya bergerak cepat, melepaskan
toto-kan pada tubuh Jumini.
Dengan
wajah masih pucat dan airmata yang mengucur deras, Jumini mengenakan
pakaiannya. Be-berapa kali dia terbalik mengenakannya, karena piki-rannya
melayang-layang.
Beberapa
tombak di luar gubuk, Lanang tam-pak terburu-buru mengenakan pakaian. Pemuda
peso-lek itu ingin segera memberi hajaran pada Linggar. Ke-jadian ini memang
membuat Lanang jadi kehabisan kesabaran dan menyumpah-nyumpah karena pera-saan
kesal. Daging yang sudah berada di depan mata dan tinggal ditelan, telah
terlepas lagi karena campur tangan orang usil.
Maka ketika
akhirnya berhasil mengenakan pa-kaiannya kembali, pemuda pesolek ini mencelat
ke de-pan gubuk. Lega hatinya ketika melihat orang yang te-lah bertindak usil,
telah berada di depan gubuk juga. Jumini masih berada di dalam gubuk.
Sementara
itu, sepasang mata milik Dirgantara terus memperhatikan sosok berpakaian serba
hitam, dan pemuda pesolek yang dikenal sebagai pemuda hi-dung belang. Karena
tidak melihat adanya Jumini, dan menyadari betapa tingginya kepandaian Lanang,
Dir-gantara merasa tak akan mampu menghadapinya. Ma-ka dia segera berbalik,
meninggalkan tempat persem-bunyiannya.
*** 77
"Ha!"
Sementara
Lanang melongo sebentar, kemudian tertawa bergelak.
"Mimpi
apa aku semalam sampai bisa bertemu seorang bidadari dari kahyangan? Siapa kau,
Gadis Ayu?! Apakah kau juga ingin bersenang-senang den-ganku?!"
Jumini yang
sudah muncul di samping Linggar, menggertakkan gigi. Kebenciannya terhadap
Lanang semakin membesar. Belum lama, Lanang mengatakan kalau dirinya adalah
wanita satu-satunya yang dicin-tai. Sekarang pemuda itu telah memuji-muji gadis
ber-pakaian serba hitam. Di depan hidungnya lagi! Benar-benar seorang lelaki
buaya!
"Makhluk
menjijikkan seperti kau memang ti-dak patut dibiarkan lama-lama hidup di dunia
ini!" de-sis Jumini, penuh perasaan geram.
"Apa
yang kau katakan itu tidak salah, Dik. Aku pun tidak mempunyai niat untuk
mengampu-ninya! Serahkan padaku untuk menghukumnya!"
Jumini
menatap wajah Linggar lekat-lekat se-bentar.
"Kau
yakin bisa menanggulanginya sendiri?!" Linggar mau tidak mau tersenyum
melihat
tingkah
Jumini yang kekanak-kanakan.
"Aku
tidak yakin, Dik. Tapi andaikata aku tidak mampu, bukankah masih ada kau?!
Dengan adanya kau, apa lagi yang perlu ku khawatirkan?!"
Jumini
tersenyum. Kemudian setelah melempar senyum manis untuk Linggar, Jumini
melangkah mundur. Diberinya kesempatan pada Linggar untuk menghadapi Lanang.
Kendati demikian, gadis yang se-
benarnya
putri Pendekar Jari Maut ini bersiap-siap memberi pertolongan bila terjadi
sesuatu yang tidak di-inginkan terhadap penolongnya.
Lanang
adalah seorang pemuda yang cerdik bukan main. Sekali lihat saja bisa diketahui
kalau ke-pandaian Linggar amat tinggi. Dan mungkin berada di atas Jumini. Tapi
kalau sampai mereka bersatu untuk mengeroyoknya, dia akan menderita kerugian.
Jelas, dia tidak akan mampu menghadapi mereka berdua. Maka sebelum kedua gadis
ini bersatu, diputuskannya bertindak cepat.
"Cuhhh!"
Tanpa
disangka-sangka, Lanang menyembur-kan ludahnya berkali-kali. Pemuda ini tahu,
sebagian besar orang merasa jijik dengan cairan kental itu. Te-rutama sekali,
wanita.
Dugaan
Lanang tidak meleset. Linggar merasa jijik bukan main melihat gumpalan-gumpalan
ludah kental yang meluncur bertubi-tubi ke arahnya. Cepat gadis itu melompat
jauh ke belakang sejauh empat tombak. Dan dari jarak itu, Linggar mementahkan
semburan-semburan ludah dengan memutar pedang-nya di depan dada hingga
menimbulkan gulungan si-nar kemilau.
Permainan
pedang Linggar ternyata tidak hanya enak dilihat, tapi juga menggiriskan.
Beberapa jengkal dari gulungan sinar pedangnya, gumpalan-gumpalan ludah itu
runtuh ke tanah semuanya. Cairan-cairan menjijikkan itu bagaikan bertemu
dinding tidak nam-pak.
Lanang
sebenarnya terkejut melihat hal ini. Se-ketika itu pula disadari kedahsyatan
tenaga dalam la-wannya. Tapi dia tidak mempedulikannya. Kesempatan itu
dipergunakannya untuk melolos sabuk dan mengi-
rimkan
serangan.
Sabuk itu
meliuk-liuk laksana seekor ular. Ujungnya mematuk-matuk, ke bagian-bagian tubuh
yang berbahaya.
Siasat
Lanang berhasil. Serangan-serangan lu-dahnya memang dimaksudkan untuk membuat
Ling-gar menjauh. Sementara senjata sabuknya memang mempunyai jangkau jauh
lebih panjang daripada pe-dang lawan. Maka bila pertarungan berlangsung dalam
jarak jauh, Lanang akan mendapat satu keuntungan.
Namun,
Lanang keliru bila mengira Linggar da-pat disiasati seperti itu. Gadis
berpakaian serba hitam ini memiliki ketenangan luar biasa. Ketenangan inilah
yang dapat membuatnya berpikir panjang. Hanya da-lam sejekap, Linggar tahu
kalau kedudukan pemuda pesolek itu lebih menguntungkan bila hal ini
berlang-sung. Maka serangan-serangan ujung sabuk Lanang dihadapinya dengan
elakan, lompatan gulungan tubuh ke depan.
Lanang juga
tidak kalah cerdik Dia pun menja-ga jarak dengan cara melompat ke belakang juga
se-raya mengirimkan serangan-serangan berbahaya. Tin-dakannya membuat jarak
antara mereka tidak beru-bah.
Sedangkan
saat itu Jumini mengernyitkan alis-nya, tidak tenang ketika melihat jalannya
pertarungan. Dalam hati, diakui kalau kepandaian Linggar amat tinggi. Bahkan
mungkin tidak berada di bawah ting-katnya sendiri. Tapi agaknya Linggar bukan
tandingan Lanang, putra angkat Naga Sakti Berwajah Hitam. Ter-lihat jelas oleh
Jumini betapa Linggar tidak mampu mendekati Lanang.
Kini
sekujur otot-otot tubuh Jumini sudah me-negang, bersiap terjun ke dalam kancah
pertarungan
dan
menyelamatkan membantu Linggar. Rrrttt!
Jantung
dalam dada Jumini berdetak keras. Hatinya tegang bukan main, ketika melihat
batang pe-dang Linggar terlibat sabuk Lanang. Jumini tahu, Linggar sengaja
melakukannya agar tidak terus-menerus dicecar. Kendati demikian, Jumini tidak
bisa membenarkan pertarungan yang menggunakan tenaga dalam seperti itu. Jumini
tahu betul kalau tenaga da-lam Linggar masih berada di bawah tenaga dalam
La-nang. Dan ini berarti kerugian terbesar akan dialami Linggar.
"Ah...!"
Tanpa sadar
Jumini berteriak kaget ketika me-lihat Linggar melepaskan pedangnya. Saat itu,
adu ta-rik-menarik tengah berlangsung sengit. Dan Lanang berada di pihak yang
unggul. Akibatnya, tubuh Lanang terjengkang ke belakang terbawa tenaga
tarikannya sendiri.
Sementara
Jumini lebih kaget lagi ketika meli-hat Linggar malah duduk bersila. Apa yang
hendak di-lakukan gadis berpakaian hitam itu? Jumini hanya mampu bertanya dalam
hati dengan perasaan terce-kam.
Tapi,
sesaat kemudian keheranan Jumini ber-ganti kekaguman. Samar-samar dari atas
kepala Ling-gar terlihat melesat sesosok bayangan yang mirip Ling-gar yang
tengah duduk bersila. Hanya saja bentuknya hanya berupa bayangan tidak jelas.
Kalau Jumini ti-dak memiliki tenaga dalam tinggi dan memperhatikan pertarungan
sejak semula, tentu tidak akan bisa meli-hatnya.
Sementara
itu, bayangan Linggar melayang ce-pat menuju Lanang. Saat itu pemuda pesolek
ini telah
berhasil
memperbaiki kedudukannya yang tidak men-guntungkan. Dengan agak bergegas, dia
duduk bersila juga. Sebentar kemudian, dari atas kepalanya pun me-layang-layang
sesosok bayangan yang juga mirip den-gan Lanang asli. Sosok bayangan Lanang ini
langsung menyambuti kedatangan sosok bayangan Linggar.
Pertengahan
jalan, dua sosok bayangan ini sa-ling bertemu. Dan seperti layaknya dua orang ma-nusia,
mereka ini saling serang dengan tangan kosong. Keduanya silih berganti
mengirimkan pukulan dan tendangan.
Jumini yang
baru pertama kali melihat per-tarungan semacam ini, menjadi bingung. Meski
demi-kian, karena tingkat kepandaiannya memang sudah cukup tinggi, bisa diduga
akan apa yang tengah terja-di. Linggar dan Lanang tengah mengadu kekuatan
ba-tin. Kedua tokoh itu seperti melepaskan nyawa mereka sendiri.
Cara
pertarungan demikian memang menak-jubkan. Kelihatannya dua belah pihak tidak
berbuat apa-apa, selain duduk bersila dan berdiam diri. Pa-dahal, masing-masing
memusatkan perhatian sepe-nuhnya, untuk mengerahkan seluruh kekuatan batin yang
dimiliki.
Walaupun
hanya duduk bersila dan diam tidak bergerak-gerak bagaikan patung batu, sekujur
tubuh mereka, telah dibanjiri peluh. Bahkan ketika keadaan itu berlangsung agak
lama, dari atas kepala dua tokoh itu mengepul uap. Mula-mula tipis dan tidak
terlihat mata, tapi semakin lama semakin tebal dan banyak.
Jumini
hanya bisa menatap dengan perasaan gelisah, ketika melihat uap yang mengepul
dari atas kepala Linggar jauh lebih banyak. Malah kedua tangan Linggar yang
bersedakap, menggigil keras seperti orang
demam
tinggi. Jumini tahu, Linggar tengah terdesak hebat.
Hati Jumini
gelisah, karena hanya mampu me-nyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa. Gadis ini
tidak tahu, bagaimana caranya membantu Linggar. Pandangan matanya memang dapat
melihat kalau bayangan Linggar terus-menerus terdesak dan terhim-pit. Bahkan
beberapa kali terkena serangan bayangan Lanang.
Jumini
sampai menghentakkan kaki saking ka-getnya, ketika melihat bayangan Linggar
melompat memapak serangan bayangan Lanang. Jumini tahu, Linggar bertindak nekat
"Huakh...!"
Tiba-tiba
Linggar memuntahkan darah segar. Tubuhnya yang masih dalam keadaan duduk
bersila sampai terlipat ke depan. Di lain pihak, Lanang hanya mengeluarkan
keluhan tertahan. Dua bayangan yang tadi saling tarung, mendadak lenyap
seketika itu juga.
"Linggar...!"
Jumini
menghambur ke arah Linggar berada. Hatinya khawatir gadis penolongnya itu akan
celaka. Maka, bergegas dihampirinya Linggar untuk diperiksa.
"Aku
tidak apa-apa, Dik," ucap Linggar terbata-bata.
Terlihat
susah sekali, gadis ini berbicara. Bah-kan pembicaraannya ditutup dengan
mengalirnya da-rah segar dari celah-celah bibirnya.
"Maafkan
aku yang tidak becus ini. Aku tidak mampu mengalahkan lelaki buaya itu. Dia
terlalu lihai untukku," desah Linggar seperti menyesal.
"Biar
aku yang akan melanjutkannya, Kak," sa-hut Jumini sambil menatap ke arah
Lanang yang ma-sih juga duduk bersila. Pemuda pesolek ini walau tidak
terluka,
tapi tenaganya habis karena terlalu terkuras. "Jangan lakukan itu, Dik.
Itu bukan tindakan
ksatria,"
cegah Linggar dengan suara lemah.
Tapi,
Jumini memang memiliki watak keras. Perlakuan Lanang terhadapnya saja sudah
cukup be-ralasan untuk membunuhnya. Tidak peduli bagaimana caranya. Ini, masih
ditambah lagi perbuatannya terha-dap Linggar hingga luka parah. Kemarahan
Jumini bertumpuk-tumpuk. Dengan langkah lebar dan sorot mata penuh ancaman,
dihampiri Lanang.
Lanang
menyadari akan adanya ancaman ba-haya besar. Sama sekali tidak disangka kalau
akhir pertarungan ini bisa seperti ini. Linggar ternyata demi-kian cerdik,
sehingga mampu membuat kemenangan-nya hampir tidak berarti. Sebab, dengan mudah
Jumi-ni akan dapat membunuhnya.
"Lanang...!
Manusia keji...! Penjahat terkutuk! Orang sepertimu harus segera dilenyapkan
dari muka bumi! Bersiaplah untuk menghadap Malaikat Maut, Pemuda Banci!"
hiding Jumini dengan suara sengit, begitu langkahnya berhenti dengan jarak dua tombak
di depan Lanang.
"He he
he...!"
Sungguhpun
tenaganya telah terkuras banyak, Lanang masih memaksakan diri untuk tertawa.
Penuh ejekan.
"Tunggu
apa lagi, Jumini?! Bukankah kau ingin membunuhku?! Silakan! Aku sudah tahu
kalau orang macam kau, memang pandai memanfaatkan peluang. Bukankah lebih enak
membunuh orang yang sudah ti-dak mampu mengadakan perlawanan?! Kau memang mirip
ayahmu yang pengecut! Beraninya hanya meng-hadapi orang yang tidak berdaya! Tak
heran kalau anaknya pun akan menjadi orang yang paling penge-
cut!"
Jumini
mendelik mendengar ejekan itu. Dia ta-hu, Lanang tengah berusaha menyinggung
harga di-rinya, demi untuk menyelamatkan nyawa. Tapi sayangnya, kecerdikan
Lanang membuat keinginannya untuk menjatuhkan hukuman bagi pemuda pesolek itu
berkurang jauh. Tentu saja, Jumini risih dicap pengecut.
Gadis ini
bimbang. Apakah ejekan itu ditangga-pi dan Lanang akan mengambil keuntungan?
Ataukah dibiarkan saja, dan maksudnya bisa diteruskan?
Tapi dasar
Jumini seorang gadis nakal, urakan, dan cerdik. Maka dalam waktu sekejapan
saja, sudah bisa menemukan jalan terbaik untuk memecahkan masalah. Bibirnya
tampak tersenyum mengejek den-gan sepasang mata bersinar-sinar.
Lanang yang
semula sudah merasa yakin de-ngan ejekannya yang mampu menyinggung harga diri
Jumini, kini mulai merasa cemas. Senyum yang semu-la menghias bibirnya, mulai
memudar. Dia tahu, Ju-mini memiliki kecerdikan. Barangkali saja, gadis itu
te-lah menemukan sebuah cara untuk melakukan tinda-kan terhadapnya.
Sementara
itu, Jumini dengan sikap tenang mulai menghunus pedangnya. Sedang Lanang
mem-perhatikan dengan dada berdetak keras, karena jan-tungnya memukul lebih
cepat. Hidungnya mulai mem-baui adanya bahaya.
"Manusia
jahanam! Lanang! Aku bukan sejenis orang berwatak pengecut yang mampu membunuh
orang tidak berdaya. Aku tidak sudi membunuhmu! Tapi, terlalu enak bila
membiarkan mu pergi begitu sa-ja. Orang semacammu harus diberi pelajaran!
Sebelah tanganmu akan kuambil sebagai ganjaran atas keku-
rangajaranmu
terhadapku! Terimalah balasan sikap tak sopanmu terhadapku!"
Jumini
segera menggetarkan pedangnya, hing-ga seperti berjumlah belasan. Bunyi
mengaung ter-dengar mengiringi getaran pedang itu. Kemudian sam-bil memekik
nyaring, gadis ini melompat sambil mengi-rimkan babatan ke arah pangkal tangan
kanan La-nang.
Sementara
itu wajah pemuda pesolek ini pucat pasi membayangkan sebelah tangannya akan
lenyap untuk selamanya. Namun....
Trang!
Jumini
mengeluh tertahan, ketika beberapa jari sebelum batang pedangnya mengenai
sasaran melesat sinar kehijauan dari sebelah kanannya. Sinar hijau yang melesat
cepat dengan bunyi berdesing nyaring, membentur keras mata batang pedang
Jumini.
Benturan
tadi kontan membuat Jumini terpak-sa bersalto ke belakang beberapa kali untuk
mema-tahkan kekuatan yang membuat tubuhnya terlontar. Terasa berat bukan main.
Malah pedangnya hampir terlepas dari pegangan, saking kerasnya.
Begitu
Jumini menjejakkan kaki, terdengar ta-wa mengikik dan terdengar liar! Begitu
tak beraturan!
Dengan hati
panas karena marah atas campur tangan terhadap urusannya, Jumini mengalihkan
pandangan ke arah asal tawa. Ternyata di sana telah berdiri sesosok ramping
dengan bentuk tubuh menggi-urkan. Seorang gadis muda yang memiliki wajah
can-tik. Hanya saja, keadaannya membuat Jumini berde-tak mengkirik.
Gadis yang
telah menyelamatkan Lanang itu memang mempunyai tingkah aneh. Bukan hanya
ka-rena tawanya yang berkesan aneh dan mengerikan, ta-
pi juga
dandanannya. Pakaiannya bercorak kembang-kembang yang dikenakannya terbalik.
Wajah yang se-benarnya cantik itu pun jadi terlihat mengerikan kare-na terlalu
banyak bedak. Sinar matanya kosong, na-mun berkesan liar.
Tingkah dan
penampilan gadis berpakaian kembang-kembang ini saja sudah membuat Jumini
bergidik. Tapi yang lebih membuat hatinya tercekat adalah, ketika melihat benda
yang tadi telah ber-benturan dengan pedangnya. Benda berwarna ke-hijauan itu
ternyata batang alang-alang yang tak lebih besar dari batang lidi.
Jumini tak
habis pikir, bagaimana mungkin se-batang alang-alang yang demikian kecil mampu
mem-bentur batang pedangnya? Seakan-akan yang terjadi tadi benturan antara dua
batang benda tajam yang sama-sama-sama besar dan berat. Yang lebih gila lagi,
batang alang-alang itu mampu membuat pedangnya hampir terlepas dari pegangan.
Benar-benar luar biasa tenaga dalam yang terkandung pada lemparan batang
alang-alang itu. Bagaimana pula, bila yang dilempar-kan untuk menangkis adalah
pedang pula!
Jumini yang
berotak encer, segera bisa menge-tahui kalau gadis berpakaian kembang-kembang
itu memiliki kepandaian tinggi! Kekuatan tenaga da-lamnya telah memberi
petunjuk yang jelas. Dan dia ti-dak yakin akan mampu menghadapinya.
"Siapa
kau, Kak?! Mengapa kau mencegah tin-dakanku yang hendak membunuh bangsat
itu?!" ujar Jumini dengan suara lembut sambil menuding Lanang.
"Kakak? Hi hi hi...!" ulang gadis berpakaian kembang-kembang sambil
tertawa mengikik dengan sepasang bola mata berkeliaran liar ke sana kemari.
"Kapan aku pernah mempunyai adik perempuan seper-
timu?! Aku
tidak mempunyai adik! Apalagi adik yang gila!"
Wajah
Jumini merah karena malu dan tersing-gung. Dia tadi menyebut kakak untuk
menghargai ga-dis berpakaian kembang-kembang ini. Namun sama sekali tidak
disangka kalau tanggapan yang didapat akan seperti ini!
Yang lebih
menyakitkan hati adalah, ketika Jumini malah dimaki sebagai orang gila oleh
gadis berpakaian kembang-kembang ini. Padahal dia yakin, sekali lihat saja
orang akan tahu siapa yang lebih pa-tut dikatakan gila.
"Ah...!
Rupanya aku salah bicara! Kukira aku berhadapan dengan orang! Tak tahunya hanya
seekor iblis betina yang tak waras! Memang pantas sekali Iblis betina tak waras
bergaul dengan seorang lelaki tak ta-hu diri! Tepat sekali!"
"Keparat!"
maki gadis berpakaian kembang-kembang, kelihatan marah sekali. "Berani kau
menga-takan aku gila?! Dasar orang gila! Kau benar-benar mempunyai nyali macan!
Apakah kau telah mempu-nyai nyawa rangkap? Menghinaku saja, telah cukup untuk
membunuhmu. Apalagi setelah kau berani-beranian memaki calon suamiku! Kau akan
kubunuh, Gadis Gila! Hi hi hi..!"
Jumini,
Linggar, lebih-lebih lagi Lanang, terpe-ranjat mendengar penuturan gadis
berpakaian kem-bang-kembang itu yang mengaku-aku Lanang sebagai calon suaminya!
Sedangkan Jumini dan Linggar men-jadi heran. Benarkah gadis yang kelihatan tak
waras itu adalah calon istri Lanang?! Tidak salahkah itu?!
"Mengapa
malah bengong, Wanita Gila?! Kau harus mendapat hukuman atas kelancanganmu
hen-dak membunuh suamiku!"
"Kaulah
yang lebih dulu akan kusingkirkan, Wanita Gila!" sentak Jumini kehabisan
sabar, lang-sung dia melesat menerjang sambil menusukkan pe-dangnya ke arah
leher!
"Uh,
galaknya! Sayang tidak kena!" seru gadis berpakaian kembang-kembang ini
sambil merendah-kan tubuh sampai berjongkok, sehingga serangan ujung pedang
Jumini lewat beberapa jari di atas kepa-lanya.
Jumini
merasa direndahkan. Langsung seran-gannya disusuli dengan tendangan kaki kanan
ke arah kepala. Tapi masih dalam keadaan berjongkok, gadis berpakaian
kembang-kembang itu mengelak. Tak keli-hatan menjejakkan kaki, tapi tubuhnya
telah melayang ke belakang. Sehingga, serangan Jumini kembali kan-das.
Jumini
penasaran bukan main. Dengan kema-rahan semakin memuncak, dikirimkan serangan
susu-lan dengan mengerahkan seluruh kemampuan. Pe-dangnya ditusukkan
bertubi-tubi ke berbagai sekujur tubuh bagian atas yang berbahaya dari gadis
gila itu.
8
Gadis gila
berpakaian kembang-kembang yang sudah berdiri tegak di atas tanah, tidak gugup
melihat serangan bertubi-tubi dari Jumini. Dan hanya mengge-rakkan tubuhnya ke
kanan dan ke kiri, dia telah ber-hasil membuat semua serangan kandas.
Pada satu
kesempatan, Jumini menusukkan pedangnya ke leher. Namun dengan gerakan manis
se-
kali, gadis
itu mengegoskan tubuhnya. Dan sebelum Jumini sempat menariknya, gadis
berpakaian kem-bang-kembang ini telah lebih dulu mengulurkan mu-lutnya.
Krep!
Batang
pedang Jumini di luar dugaan, berhasil digigit gadis berpakaian kembang-kembang
itu.
Jumini
kaget. Cepat pedangnya ditarik kembali dengan keras. Tapi pedangnya bagai
terjepit catut baja saja. Betapapun kerasnya menarik, namun tak ber-geming sama
sekali. Apalagi untuk merobek mulut ga-dis gila itu.
Meski
demikian, Jumini yang memiliki watak keras hati tidak mau mengalah. Seluruh
kemampuan-nya dikerahkan untuk menarik. Dan di saat, gadis berpakaian kuning
ini tengah berada dalam puncak kekuatan tarikannya, gadis gila berpakaian
kembang-kembang itu mengerahkan tenaga menekan pada gigi-giginya.
Krak!
Saat itu
juga, batang pedang Jumini patah menjadi tiga potong. Tubuh gadis itu pun
terjengkang ke belakang, terbawa tenaga tarikannya sendiri. Salah satu potongan
pedang tetap berada di tangannya. Se-dangkan potongan yang lain berada di
antara gigi-gigi gadis gila berpakaian kembang-kembang itu.
Dan di saat
tubuh Jumini masih terhuyung ke belakang karena belum bisa mematahkan kekuatan
yang membuat tubuhnya terjengkang, gadis gila itu mengegoskan kepalanya.
Set!
Seketika,
dua potong batang pedang yang ma-sih di mulut gadis gila itu melesat dengan
kecepatan menakjubkan ke arah Jumini. Yang satu menuju ke
leher,
sedangkan yang lain menuju ke ulu hati. Ru-panya gadis gila itu benar-benar
berniat mengirim nyawa Jumini ke alam baka, dengan mengirimkan dua serangan
yang mematikan.
Di lain
pihak, meski dalam keadaan kurang menguntungkan, Jumini masih mampu melihat
akan adanya ancaman maut. Hanya sekali memperhatikan, dapat diketahui kalau
potongan pedang yang menuju ke leher, yang lebih dulu mengenai sasaran. Karena
di samping meluncur lebih dulu, kecepatan luncurannya pun lebih dahsyat.
Dalam waktu
yang hanya sekejap itu, Jumini mampu berpikir cepat. Dia harus menangkis
potongan pedang yang meluncur ke arah leher. Sedangkan un-tuk potongan
selanjutnya akan dielakkan saja, dengan menggunakan tenaga yang didapat dari
benturan nan-ti.
Begitu
waktu yang ditunggu tiba, Jumini lang-sung mengayunkan pedangnya yang tinggal
sepotong pada sasaran ke leher.
Wut!
"Heh?!"
Hati Jumini
mencelos, ketika melihat potongan pedang yang dikira akan mendarat lebih dulu,
tiba-tiba melambat. Sebaliknya, potongan yang lain, meluncur menakjubkan.
Akibatnya tangkisan Jumini jadi men-genai angin kosong.
Jumini jadi
gugup. Dengan sebisa-bisanya, tu-buhnya dilempar ke belakang untuk menjauhi
Malai-kat Maut. Perubahan serangan yang demikian menda-dak, membuatnya jadi
kehilangan akal. Sehingga....
Cap, cap!
Jumini
menjerit tertahan, ketika kedua potong-an pedang itu mendarat di sasaran. Yang
satu menan-
cap di
pangkal bahu kanan, sedangkan yang satu lagi menembus dada sebelah kanan bagian
atas. Gerakan terakhir yang dilakukan Jumini tadi memang cukup untuk
menyelamatkan nyawanya dari maut. Kendati, tetap saja dia tidak mampu untuk
menyelamatkan diri dari ancaman potongan pedang.
"Hi hi
hi...!"
Gadis gila
berpakaian kembang-kembang men-gikik ketika melihat Jumini memekik kesakitan
dengan tubuh masih terhuyung-huyung ke belakang.
Linggar
yang sejak tadi belum sempat melaku-kan tindakan untuk mengobati luka dalamnya,
merasa cemas melihat nasib Jumini. Dia ingin meneriakkan seruan saja pada
Jumini agar segera pergi meninggal-kan tempat itu. Karena melawan terus pun
akan per-cuma.
Gadis gila
berpakaian kembang-kembang itu memang memiliki kepandaian menakjubkan. Bahkan
mungkin berada di atas Lanang. Terus melawan sama saja mati konyol!
Untungnya
bukan hanya Linggar yang menya-dari keadaan demikian, tapi juga Jumini. Maka
meski kekuatan yang membuatnya terhuyung telah habis, gadis ini bertingkah
seakan-akan masih dipengaruhi kekuatan itu dengan bergerak ke arah Linggar.
Kemu-dian secara tiba-tiba, Jumini menyambar tubuh Ling-gar, lalu melesat cepat
meninggalkan tempat itu. Pera-saan khawatir bila gadis gila itu mengejar,
membuat seluruh kemampuan larinya terpaksa dikerahkan.
Tapi,
kekhawatiran Jumini ternyata tidak bera-lasan. Gadis gila itu sama sekali tidak
mengejar. Meski memang kaget ketika melihat lawannya mengambil langkah seribu,
gadis berpakaian kembang-kembang itu tidak memburu. Yang dilakukannya hanya
terus
tertawa-tawa
sambil mengeluarkan ejekan cukup me-merahkan telinga.
"Ayo!
Ayo, mau lari ke mana kau, Gadis Gila?! Akan kukejar ke mana pun kau lari!
Ayo...! Awa...! Pe-dang...! Pedang...! Hi hi hi...! Ada orang gila berlari
tunggang langgang! Hi hi hi...!"
***
Gadis
berpakaian kembang-kembang ini baru menghentikan ejekan dan tawanya, ketika
tubuh Ju-mini sudah tidak terlihat lagi. Dengan lagak malu-malu sambil menghias
senyum semanis mungkin, ma-tanya melirik ke arah Lanang.
"Bagaimana,
Suamiku?! Apakah kau telah se-nang sekarang...?! Musuh-musuh kita telah terusir
pergi. Sekarang, mari kita pergi menjumpai Kakek. Dan tua bangka bau tanah
itulah yang akan menikah-kan kita. Bagaimana? Kau mau kan, Suamiku
Sayang?!"
Lanang
susah payah menelan ludahnya seperti orang menelan duri. Di dalam hati, pemuda
pesolek ini memaki kalang kabut. Sama sekali tidak disangka ka-lau perkembangan
nasibnya jadi seperti ini. Semula harapannya akan mendapat dua bidadari. Tak
tahunya mendapat seorang gadis gila!
Jantung
Lanang berdetak jauh lebih cepat keti-ka gadis berpakaian kembang-kembang itu
bergerak menghampirinya dengan langkah terlihat malu-malu. Kedua tangannya di
depan dengan jari-jari diremas dan direntangkan satu sama lain. Wajahnya
ditunduk-kan. Namun dari balik bulu matanya yang kelewat len-tik, matanya
menyambar ke wajah Lanang. Dan pemu-da itu malah muak jadinya.
Semakin
gadis berpakaian kembang-kembang itu dekat, Lanang semakin muak. Perutnya pun
men-dadak mual, ingin muntah.
Lanang
sudah bersiap-siap untuk memaki-maki. Bahkan akan meludahi, apabila gadis
ber-pakaian kembang-kembang itu terus mendekat. Tapi sebelum maksudnya itu
dilaksanakan, mendadak langkah gadis itu berhenti. Wajah yang semula penuh
senyum dan sikap yang malu-malu, seketika berubah. Lanang melihat wajah gadis
itu beringas. Sepasang matanya liar kembali.
"Keparat!
Orang-orang gila dari mana yang be-rani mengintai ku?! Apakah kalian bosan
hidup, se-hingga berani mengintai putri tercantik sedunia yang hendak
bercengkerama dengan calon suaminya?!" sen-tak gadis berpakaian
kembang-kembang ini sambil berbalik.
Lanang
mendadak terperanjat. Benarkah ada banyak orang yang tengah mengintai mereka?
Kalau benar mengapa dia tidak terdengar oleh telinganya? Demikian tinggikah
ilmu meringankan tubuh orang-orang itu? Kalau benar demikian, berarti
kepandaian gadis ini sukar diukur! Lalu, bagaimana pula tingginya tingkat
kepandaian gurunya? Mengingat hal ini Lanang jadi bergidik!
Waktu terus
berlalu. Tapi, orang-orang yang dimaksud gadis berpakaian kembang-kembang ini
tak juga keluar dari tempat persembunyiannya di dalam gubuk tempat Lanang
semula.
Lanang yang
melihat hal ini mulai meragukan keberadaan orang-orang yang dimaksud gadis
ber-pakaian kembang-kembang ini. Bukan tidak mungkin kalau gadis itu hanya
mengada-ada saja. Bukankah gadis itu memang kurang waras?
"Rupanya
kalian lebih gila daripada orang gila yang baru saja kuusir?! Kalian ingin aku
bertindak ke-ras?!"
Gadis
berpakaian kembang-kembang menutup ucapannya dengan dorongan kedua telapak
tangan terbuka, setelah terlebih dulu tersilang di depan dada.
Saat itu
Lanang mendengar bunyi mendesing keras, kemudian pondok sederhana itu berderak
keras seperti diterpa angin ribut. Bahkan pondok itu terang-kat ke atas bagai
dicabut tangan-tangan raksasa yang tidak kelihatan. Lalu potongan-potongan
pondok berja-tuhan, bertumpukan beberapa tombak di sebelah kiri tempat itu.
Dan begitu
pondok itu telah tidak tampak lagi, sepasang mata Lanang terbelalak. Di situ
tampak ber-diri tegak dua sosok yang telah berusia lanjut. Ternya-ta gadis
berpakaian kembang-kembang tidak salah dengar. Dia benar! Dan Lanang mulai
merasakan bulu kuduknya berdiri!
Keterkejutan
Lanang semakin membesar, ke-tika melihat dua sosok itu. Pemuda pesolek ini
teringat akan seorang tokoh besar, ketika melihat ciri-ciri salah seorang di
antara mereka.
Sosok yang
dimaksudkan Lanang berpakaian sederhana. Kulitnya hitam kecoklatan. Wajahnya
terli-hat keras. Sebuah caping bambu bertengger di atas kepalanya yang terhias
rambut-rambut putih. Lanang tahu, kakek itu tak lain adalah Petani Berambut
Putih!
Petani
Berambut Putih tampak bersikap te-nang, kendati baru mengalami kejadian yang
cukup mengejutkan. Demikian pula sosok yang satu lagi, wa-jah dan sikap mereka
biasa saja ketika mengayunkan kaki mendekati tempat Lanang dan gadis berpakaian
kembang-kembang itu berada.
"Kau
yakin kalau pemuda itu yang dimaksud Dirgantara muridmu itu, Petani Berambut
Putih?!" tanya kakek di sebelah Petani Berambut Putih, tubuh-nya kecil
kurus dan bermata sipit
"Aku
yakin, Jari Maut. Muridku menceritakan-nya secara jelas. Pasti pemuda itu yang
bernama La-nang."
"Lalu...,
siapa gadis aneh di sebelahnya itu?" tanya kakek kecil kurus yang ternyata
Pendekar Jari Maut
"Aku
sendiri tidak tahu, Jari Maut. Tapi menilik dari sikap Lanang, aku yakin, dia
tidak mempunyai hubungan apa pun dengannya."
"Seorang
gadis yang hebat. Semuda itu sudah memiliki tenaga dalam yang demikian kuat.
Entah sia-pa gurunya. Sayang, otaknya tidak waras," puji Pende-kar Jari
Maut disertai helaan napas berat.
Percakapan
dua kakek sakti yang merupakan tokoh-tokoh besar dunia persilatan golongan
putih ini membuat jantung Lanang terasa berdetak jauh lebih cepat. Sama sekali
tidak disangka akan bertemu mere-ka. Dua kakek yang memiliki tingkat kepandaian
seja-jar dengan ayahnya, Naga Sakti Berwajah Hitam. Tapi toh, keberadaan mereka
bisa diketahui gadis berpa-kaian kembang-kembang. Lalu, sampai di mana ting-kat
kepandaian gadis gila ini?
Percakapan
dua kakek itu saja sudah menun-jukkan pada Lanang akan ketinggian kepandaian
me-reka. Terlihat jelas kalau Petani Berambut Putih dan Pendekar Jari Maut
bercakap-cakap dengan hanya mengemikkan sedikit bibir. Tapi toh, bunyi yang
ter-dengar amat lantang. Bahkan bergema ke seluruh pen-juru tempat ini.
Berbeda
dengan Lanang, gadis gila berpakaian
kembang-kembang
itu tidak merasa gentar sama seka-li. Bahkan kelihatan sekali marah. Apalagi
ketika meli-hat kedua kakek itu terus melangkah mendekati tem-patnya berada
dengan sikap tak ambil peduli.
"Berhenti,
Orang-orang Gila! Kalau kalian tidak mau patuh juga, kalian akan kujadikan
mayat-mayat gila! Bagus bukan?! Hi hi hi...!"
Pendekar
Jari Maut dan Petani Berambut Putih saling berpandangan tanpa menghentikan
ayunan ka-ki. Di mulut mereka sama-sama tersungging senyum. Kedua kakek sakti
ini merasa geli melihat sikap gadis berpakaian kembang-kembang itu. Semula
seruannya mengandung kemarahan, tapi ditutup tawa mengikik. Dasar orang tak
waras! Kendati demikian, terbit rasa iba di hati mereka terhadap nasib gadis
yang tidak wa-ras itu.
"Rupanya
kalian ingin merasakan gebukanku?!" Seruan itu membuat Pendekar Jari Maut
dan
Petani
Berambut Putih berhenti melangkah. Dan seir-ing selesainya perkataan itu, gadis
berpakaian kem-bang-kembang langsung membuktikan ancamannya. Dua kakek ini
tentu saja tidak takut mendapat gebu-kan. Mereka ingin melihat, tindakan apa
yang akan di-lakukan gadis yang memiliki tenaga dalam amat kuat itu.
Terlihat
gadis berpakaian kembang-kembang berdiri tegak dengan kedua tangan terbuka
bersilang di depan dada. Sepasang matanya berputar liar, khas orang kurang
waras. Padahal, Pendekar Jari Maut dan Petani Berambut Putih tahu kalau gadis
itu tengah mengumpulkan kekuatan batin. Tapi anehnya dengan sikap seperti itu.
Luar biasa!
"Heh?!"
Pendekar
Jari Maut dan Petani Berambut Putih
tersentak
kaget, ketika melihat dua batang ranting se-besar itu jari kaki yang panjangnya
bagai pedang me-layang naik. Padahal, ranting itu berada di sekitar tiga tombak
dari tempat gadis gila berpakaian kembang-kembang ini.
Semula
ranting itu bergerak naik ke udara per-lahan. Tapi kemudian, meluncur ke arah
Pendekar Jari Maut dan Petani Berambut Putih. Bahkan mulai mele-sat menyerang
bagaikan hidup! Hanya saja ranting itu melesat berjajar di kanan dan kiri
sebagaimana layak-nya dipegang sepasang tangan manusia.
Kalau kedua
kakek sakti itu saja terperanjat, apalagi Lanang! Malah biji matanya bagai
hendak me-lompat keluar melihat kejadian ini. Lanang yakin, apa yang dilihatnya
bukan sihir!
Keterkejutan
Lanang semakin menjadi-jadi, ke-tika Pendekar Jari Maut dan Petani Berambut
Putih mulai sibuk menyambut serangan. Seakan-akan rant-ing di depan mereka
dipegang oleh seseorang yang kini menyerang mereka berdua.
Tentu saja
sebagai tokoh-tokoh besar dunia persilatan, Pendekar Jari Maut dan Petani
Berambut Putih tidak mau menghadapi serangan seperti itu ber-sama-sama. Petani
Berambut Putih mengelak dengan melompat mundur, menjauhi tempat itu. Sedangkan
Pendekar Jari Maut menangkis, kemudian balas me-nyerang.
Pertarungan
aneh pun terjadi. Lanang dan Pe-tani Berambut Putih menyaksikannya dengan sinar
mata penuh perhatian. Pertarungan semacam ini me-mang tidak pernah disaksikan
Lanang sebelumnya.
Serangan-serangan
yang tertuju pada Pendekar Jari Maut selalu berbahaya dan mematikan. Tokoh tua
itu dipaksa menguras seluruh kemampuannya. Namun
yang
menyulitkan, serangan tidak bisa dibalas karena tidak adanya orang yang
memegang ranting! Jadi, di-alah yang terus-menerus menjadi korban serangan.
Petani
Berambut Putih mengernyitkan alis. Il-mu seperti ini rasanya pernah
disaksikannya. Hanya saja dia lupa, kapan, di mana, dan siapa pemiliknya. Untuk
itu seluruh perhatiannya dicurahkan pada per-tarungan. Akibatnya dia tidak
memperhatikan sekitar-nya. Bahkan....
"Heh?!"
Petani
Berambut Putih dan Pendekar Jari Maut kaget bukan main ketika mendadak saja
ranting-ranting itu ambruk ke tanah begitu saja. Dan serentak mereka segera
mengalihkan pandangan ke arah gadis berpakaian kembang-kembang berada. Kosong!
Gadis itu telah lenyap! Demikian pula Lanang.
Sementara
Petani Berambut Putih hanya bisa tersenyum lebar bagaikan orang tidak bersalah.
Pa-dahal, Pendekar Jari Maut menatap ke arahnya den-gan sinar mata penuh
penyesalan.
"Bagaimana
gadis itu bisa lolos, Petani?!"
"Aku
terlalu sibuk melihat pertarungan aneh itu, Jari Maut. Aku lupa kapan di mana
aku melihat. Bahkan aku pernah menghadapi hal semacam ini. Aku lupa siapa
pemiliknya," kilah Petani Berambut Putih. "Aku yakin dia meninggalkan
tempat itu secara hati-hati, sambil memperhatikan jalannya pertarungan. Ka-lau
tidak, bagaimana mungkin perlawanan yang dibe-rikan sepasang ranting itu masih
tetap sengit, sebelum akhirnya roboh secara tiba-tiba?"
"Aku
pun tahu itu, Petani. Bahkan aku tahu pula, siapa yang telah memiliki ilmu itu.
Karena, aku pun pernah menghadapinya. Hanya saja aku tidak lu-pa!"
"Benarkah
itu, Jari Maut?! Lalu, siapakah orangnya?!" tanya Petani Berambut Putih
penuh pena-saran.
"Siapa
lagi kalau bukan Iblis Buta?!"
"Ah...!
Mengapa aku demikian pelupa?! Benar! Iblis Buta! Tapi, apa hubungannya gadis
itu dengan-nya. Mungkinkah dia muridnya?!"
"Kemungkinan
itu besar sekali," timpal Pende-kar Jari Maut.
"Aku
jadi ingin mengusut hal aneh ini. Ahhh...! Sama sekali tidak kusangka urusan
jadi bertambah banyak."
"Kita
usut bersamaan saja, Petani. Bukankah tempatnya di sini juga?! Mudah-mudahan
saja Iblis Buta tidak terlalu pelit untuk menyerahkan beberapa butir telur
elang perak pada kita!"
Petani
Berambut Putih diam. Kendati demikian, Pendekar Jari Maut tahu kalau rekannya
setuju. Ma-ka, tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat itu, diikuti Petani
Berambut Putih. Mereka segera mem-perhatikan keadaan jalan, untuk mencari jejak
gadis berpakaian kembang-kembang yang diduga ada hu-bungannya dengan Iblis
Buta!
***
"Hhh...!"
Seorang
kakek berpakaian abu-abu menghela napas berat, seperti hendak melepaskan
ganjalan da-lam batinnya. Sepasang matanya yang merah memba-ra seperti orang
sakit mata menyapu dua sosok yang berdiri di hadapannya. Terutama sekali, pada
sosok yang satu. Seorang pemuda berpakaian mewah dan indah serta pesolek.
Lanang!
Lanang
merasakan bulu kuduknya satu persa-tu berdiri, ketika kakek bermata merah yang
rambut, alis, kumis, jenggotnya telah memutih. Sepasang mata kakek teramat tua
itu seperti hendak meraba-raba se-kujur tubuhnya.
Lanang
yakin, orang ini sepertinya kakek dari gadis berpakaian kembang-kembang yang
berada di sebelahnya. Dan kakek ini tampaknya tengah meni-lainya.
"Jadi...,
pemuda ini yang kau inginkan menjadi calon suamimu, Suri?!" tanya kakek
bermata merah itu tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali. Namun suaranya
terdengar keras dan lantang. Bahkan dinding gua tempat mereka bertiga sekarang
berada, bergetar hebat. Debu-debu halus tampak berjatuhan ke bawah.
Dengan
wajah menunduk, tangan saling belit dan putar, serta kaki yang digurat-guratkan
ke tanah, gadis berpakaian kembang-kembang yang dipanggil Suri mengangguk.
Sikap gilanya berganti dengan sikap malu-malu.
"Bukankah
kau kuperintahkan untuk men-gambil pemuda lainnya? Pemuda yang ku maksud
adalah, berpakaian ungu dan berambut putih kepe-rakan?! Pemuda yang kutolong
nyawanya dari tangan maut Naga Sakti Berwajah Hitam?! Mengapa dia yang kau bawa
kemari?!" sembur kakek bermata merah ini.
Sementara
Lanang merasakan jantungnya ber-detak jauh lebih cepat dari semula. Dia tahu,
siapa yang dimaksud kakek itu. Pasti Dewa Arak! Jadi, pe-muda sakti yang hampir
tewas oleh ayahnya, berhasil ditolong kakek ini? Bagaimana cara kakek itu
meno-longnya?
"Tapi,
aku lebih suka pada dia, Kek!" bantah Suri, berani. Sepasang bola matanya
mulai berputar
liar.
"Kalau tidak dengan dia, aku tidak mau!"
Kakek bermata
merah itu menggeleng-geleng kepala dengan sikap prihatin.
"Lagi
pula, pemuda yang kau maksudkan su-dah tidak ada di situ lagi!" tambah
Suri.
Kakek
bermata merah diam. Terbayang kembali di benaknya, bagaimana dia menyelamatkan
nyawa Dewa Arak dari kematian. Dengan ilmu 'Memindahkan Semangat', tindakan
Naga Sakti Berwajah Hitam mampu dicegahnya. Hanya saja sampai pada batas
menahan, dan tidak mampu menyerang.
Semula
kakek ini tidak tahu akan adanya per-tarungan di tempat yang cukup jauh dari
tempatnya berada, kendati juga berada di Gunung Cikuray. Na-mun karena mata
batinnya yang tengah mencari begi-tu kuat, langsung terasa adanya
getaran-getaran aneh. Dan itu terjadi karena ilmu gaib yang tercipta dari ilmu
hitam Naga Sakti Berwajah Hitam.
"Di
mana sekarang pemuda berambut putih keperakan itu?!" tanya kakek ini dalam
hati
"Bagaimana,
Kek?!" desak Suri tidak sabar lagi, ketika melihat kakeknya bermata merah
itu malah termenung.
"Kau
benar-benar bersedia menjadi suaminya, Anak Muda?!" tanya kakek itu, pada
Lanang.
Lanang yang
tidak mengira akan mendapatkan pertanyaan itu dengan gugup mengangguk.
"Bersedia,
Kek. Tapi dengan satu syarat," jawab Lanang, memberanikan diri.
Memang
Lanang cukup cerdik. Setelah berhasil mengusir rasa jijiknya terhadap Suri, dia
bersedia memenuhi keinginan gadis gila itu. Tentu saja demi mendapatkan ilmu
yang tinggi.
Kakek
bermata merah menatap dengan sinar
mata tajam,
membuat Lanang bergidik. Tapi pemuda itu cepat menguasai perasaan dan bersikap
tenang.
"Katakan
apa syaratmu?!" tanya kakek itu pe-nuh ancaman.
"Aku
harus memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Suri, Kek. Sebagai seorang
suami, aku tidak berharga bila memiliki kepandaian di bawahnya. Ba-gaimana aku
dapat melindunginya dari bahaya?!" ja-wab Lanang mengajukan alasan cepat
dan masuk ak-al.
"Syaratmu
kuterima. Tapi, ingat! Jangan coba-coba main gila. Karena aku dapat membunuhmu
den-gan mudah! Mengerti?!"
"Mengerti,
Kek. Kuminta, pengesahan menjadi suami Suri apabila aku telah memiliki
kepandaian le-bih daripada Suri."
"Itu
mudah saja, Anak Muda. Besok pun kau akan memiliki kepandaian lebih hebat
daripada Suri. Cucuku kelihatan sakti, karena memiliki tenaga dalam tinggi.
Tapi, itu berkat Telur Elang Perak. Kau pun akan kuberikan telur itu, agar
besok telah memiliki te-naga dalam amat tinggi. Aku tahu, kau telah memiliki
ilmu-ilmu tingkat tinggi. Dan secara perlahan-lahan, kau pun akan kuajarkan
ilmuku!"
Lanang
hampir berseru saking kagetnya. Sama sekali tidak disangka kalau dirinya akan
mendapatkan Telur Elang Perak. Bukankah kabarnya telur itu bera-da di tangan
Iblis Buta? Jadi, inikah Iblis Buta? Di-akah tokoh yang menggemparkan itu?!
Tapi, mengapa ciri-cirinya tidak sesuai.
"Boleh
aku tanya sesuatu, Kek?!"
Perasaan
ingin tahu, membuat Lanang berani mengajukan pertanyaan. Apalagi dia yakin
kakek itu tidak akan membunuhhya, karena Suri mencintainya.
Dan kakek
yang diduga Iblis Buta ini amat sayang pa-da cucunya.
Kakek
bermata merah itu diam. "Sepengetahuanku, Telur Elang Perak itu ada di
tangan
Iblis Buta. Mengapa...."
"Akulah
yang berjuluk Iblis Buta!" potong kakek bermata merah, yang ternyata
berjuluk Iblis Buta tidak sabar. "Dulu, aku menyamar karena tidak ingin
diken-al orang. Jelas?! Apabila kurang, nanti akan ku je-laskan lebih lanjut.
Kali ini, cukup! Aku tengah tidak ingin bercakap-cakap lama-lama."
Lanang
terdiam. Hatinya sudah merasa puas mendapat kepastian demikian. Sama sekali
tidak per-nah disangka akan bernasib baik seperti ini. Ternyata, Iblis Buta
hanya merupakan samaran dari kakek men-gerikan ini!
Sementara
itu, Iblis Buta memejamkan mata. Dan Lanang tahu diri, lalu bergerak untuk
duduk. Ti-dak mau mengganggu sedikit pun. Sedangkan Suri tampak
tersenyum-senyum sendiri, lantas duduk di sebelah pemuda pesolek itu.
SELESAI
No comments:
Post a Comment