PEWARIS ILMU TOKOH
SESAT
Oleh Aji Saka
1
Brakkk...!
Terdengar suara berderak keras,
ketika sepasang tangan kokoh seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus berompi
kuning, menghantam daun pintu gerbang Perguruan Kumbang Merah.
Kontan, daun pintu itu hancur berkeping-keping mengeluarkan suara hiruk pikuk.
Padahal daun pintu gerbang itu terbuat dari kayu jati yang keras dan tebal.
Suara ribut-ribut itu tentu saja
membuat murid-murid Perguruan Kumbang Merah berlarian menuju ke arah asal
suara. Apalagi murid-murid yang mendapat tugas jaga. Merekalah yang tahu lebih
dahulu. Dan buru-buru melesat ke arah pintu gerbang.
"Siapa kau?!" tanya
salah seorang murid yang bertubuh pendek gemuk bernada kasar.
Laki-laki inilah yang bertugas
sebagai kepala jaga hari itu. Ditatapnya wajah orang yang berdiri di
hadapannya. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. Berwajah meruncing
ke depan, dengan bola mata yang selalu berputar liar. Di tangan kanannya
tergenggam sebuah trisula.
"He he he...!"
Hanya suara tawa terkekeh saja
yang menyahuti pertanyaan murid bertubuh pendek gemuk itu.
''Tidak usah banyak basa-basi
lagi, Kang Gilang. Hajar saja pengacau ini!" ucap salah seorang yang
berdiri di belakang laki-laki pendek gemuk yang bernama Gilang. Memang kepala
jaga itu berdiri paling depan. Sementara rekan-rekannya yang berjumlah tiga
orang, berada di belakangnya. Mereka telah menghunus senjata masing-masing.
Sebatang pedang yang batangnya berwarna merah.
"Hmh...!" laki-laki
berompi kuning itu mendengus dan mendesis tajam. "Kalianlah yang akan
mampus!"
"Keparat!"
Seorang murid Perguruan Kumbang
Merah yang berambut merah, tidak kuat lagi menahan kemarahan. Sambil berteriak nyaring, dia melompat menerjang laki-laki
berompi kuning itu. Pedang di tangannya ditusukkan cepat ke arah leher.
Tapi, laki-laki berompi kuning
itu hanya tersenyum sinis. Tanpa menggeser kaki, didoyongkan tubuhnya ke samping
kanan, sehingga serangan itu mengenai tempat kosong. Lewat setengah
jengkal di sebelah kiri lehernya. Dan pada saat yang sama, trisulanya
ditusukkan ke arah perut lawan.
Wukkk!
Angin mengiuk keras mengiringi
tibanya sambaran trisula itu. Suatu pertanda kalau trisula itu dimainkan oleh
orang yang memiliki tenaga dalam tinggi.
Laki-laki berambut merah terkejut
bukan main. Serangan lawan datang secara tiba-tiba dan cepat sekali. Padahal,
saat itu posisinya tidak menguntungkan. Tubuhnya masih berada di udara.
Jangankan mengelak, menangkis pun sudah tidak ada waktu lagi.
Gilang dan kedua temannya pun
mengetahui bahaya maut yang tengah mengancam rekannya ini. Dan tanpa
membuang-buang waktu lagi, hampir berbarengan mereka melesat untuk menolong.
Tapi..,
Jrebbb...!
Trisula milik laki-laki berompi
kuning, telah lebih dulu menghunjam dalam di perut murid yang sial itu. Darah
pun bermuncratan dari luka yang menganga lebar ketika trisula itu dicabut
kembali.
Brukkk!
Suara berdebuk keras terdengar,
begitu tubuh laki-laki berambut merah ambruk di tanah. Sesaat tubuhnya
menggelepar-gelepar. Kemudian diam tidak bergerak lagi.
Bertepatan dengan robohnya tubuh
murid yang sial itu, serangan Gilang dan rekan-rekannya menyusul tiba. Kembali
trisula di tangan laki-laki berompi kuning itu berkelebat
Tranggg, tranggg, tranggg...!
Suara berdentangan nyaring
terdengar. Bunga-bunga api pun memercik ke udara, diikuti dengan berpentalannya senjata murid-murid Perguruan Kumbang Merah. Karena tangan yang menggenggam senjata terasa
lumpuh! Tapi tindakan laki-laki
berompi kuning itu tidak hanya sampai di situ saja. Trisulanya kembali
berkelebat. Dan....
Crattt, crattt, crattt!
Darah segar bermuncratan ketika
trisula merobek perut dan dada, serta leher Gilang dan kawan-kawannya. Suara jerit memilukan
terdengar saling susul. Jeritan kematian. Seketika itu juga, tubuh Gilang dan
kawan-kawannya ambruk di tanah. Diam tidak bergerak lagi untuk
selama-lamanya. Luar biasa! Hanya dalam segebrakan saja,
ketiga murid Perguruan Kum-bang Merah itu telah menggeletak tanpa nyawa.
Baru saja Gilang dan kedua
rekannya melepas nyawa, muncul sembilan murid Perguruan Kumbang Merah lainnya.
Memang sejak mendengar hiruk-pikuk hancurnya pintu gerbang, mereka telah
bergegas memburu ke arah asal suara. Tapi, karena jarak yang agak jauh,
kedatangan mereka terlambat. Apalagi, para murid penjaga pintu gerbang itu
tewas hanya dalam segebrakan!
Begitu tiba,
sembilan orang murid Perguruan Kumbang Merah langsung
terpaku.
Menatap ke arah mayat-mayat saudara
seperguruan mereka yang bergeletakan tanpa nyawa. Tapi hanya sesaat saja,
kemudian telah berganti dengan perasaan marah dan dendam yang berkobar-kobar.
"Iblis! Kau harus menebus
semua ini dengan nyawamu!" seru seorang murid yang berwajah bopeng.
"Ha ha ha...!"
Laki-laki berompi kuning itu tertawa terbahak-bahak. Tawa yang penuh ejekan.
"Majulah kalian semua!"
"Kawan-kawan...! Serbu...!
Kita cincang iblis ini!" seru murid yang berwajah bopeng itu lagi seraya
bergerak mendahului menyerang. Tentu saja kawan-kawannya tidak tinggal diam.
Mereka pun meluruk menyerang tamu tak diundang ini sambil berteriak-teriak
penuh kemarahan.
Tapi Laki-laki berompi kuning itu
hanya tersenyum mengejek. Jelas kalau dia memandang rendah murid-murid
Perguruan Kumbang Merah. Baru setelah serangan-serangan itu menyambar dekat,
tubuhnya menyelinap di antara hujan senjata lawan-lawannya. Dengan ilmu
meringankan tubuh yang berada jauh di atas lawan-lawannya, tidak sulit bagi
laki-laki berompi kuning itu untuk melakukannya.
Begitu berhasil mengelakkan diri,
laki-laki berompi kuning itu lalu melancarkan serangan balasan. Trisula di
tangannya berkelebatan cepat mencari-cari sasaran. Hebatnya, setiap kali
senjatanya berkelebat, sudah
dapat dipastikan ada seorang murid Perguruan Kumbang Merah yang roboh. Suara
jerit kematian terdengar saling susul. Sampai akhirnya, tidak ada lagi seorang
pun yang masih hidup.
"Biadab...!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring penuh kegeraman. Disusul
dengan melayangnya sesosok tubuh, yang kemudian hinggap di depan laki-laki
berompi kuning itu.
Laki-laki berompi kuning tersenyum
sinis. Sepasang matanya menatap orang yang berdiri di hadapannya lekat-lekat.
Dilihatnya seorang pria bertubuh tegap, berwajah gagah, berkumis dan berjenggot
rapi, berdiri di hadapannya. Usianya paling banyak tiga puluh lima tahun.
Pakaiannya, seperti juga pakaian murid-murid Perguruan Kumbang Merah lainnya,
berwarna merah. Inilah Ketua Perguruan Kumbang Merah. Suntara namanya.
Sepasang mata Suntara merayapi sekitarnya. Terdengar
suara gemeletuk dari mulutnya. Ketua Perguruan Kumbang Merah ini merasa
geram, ketika melihat belasan muridnya bergelimpangan tumpang tindih tanpa
nyawa. Murid-murid yang telah bertahun-tahun
dididiknya dengan susah payah. Perguruan Kumbang Merah
memang terbilang sebuah perguruan silat yang kecil. Jumlah
murid-muridnya hanya belasan orang. Dan sama sekali
belum punya murid-murid kepala. Jadi,
Suntaralah yang turun tangan mendidiknya sendiri.
"Bagaimana, Suntara?"
tanya laki-laki berompi kuning seraya menyunggingkan senyum mengejek.
Ketua Perguruan Kumbang Merah menggertakkan gigi. Kemarahannya semakin meluap mendengar ucapan itu.
Dengan sekuat tenaga, ditahannya amarah yang hampir meledak. Sekujur tubuh
laki-laki berkumis dan berjenggot rapi ini, nampak menggigil menahan kemarahan
yang a mat sangat.
"Siapa kau, Keparat Keji?! Mengapa membantai semua muridku?!" suara Suntara terdengar
bergetar. Ada nada ancaman dalam ucapannya.
"He he he...!"
laki-laki berompi kuning itu terkekeh pelan. "Kau lupa padaku,
Suntara?"
Wajah Suntara seketika berubah.
Ketua Perguruan Kumbang Merah ini mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat
sesuatu. Suara orang ini sepertinya memang pernah didengar dan dikenalnya.
Tapi, dia lupa kapan dan di mana. Amarah yang sudah bergelora, membuatnya sulit
berpikir.
"Aku tidak peduli siapa kau,
Keparat! Yang jelas..., kau harus menebus nyawa semua muridku!" tegas
Suntara tandas.
"Kau telah jadi pikun
sebelum tua, Suntara. Seharusnya bukan kau yang mengucapkan perkataan itu. Tapi
aku!" tegas laki-laki berompi kuning itu keras. Lenyap sudah tawanya.
Rupanya ucapan Ketua Perguruan Kumbang Merah membuat dia teringat pada maksud
kedatangannya ke sini!
"Katakan siapa kau
sebenarnya, sebelum hilang kesabaranku!" sambut Suntara tak sabar.
Kemarahannya hampir tidak bisa ditahan lagi.
"Aku Wisanggeni! Asalku Desa
Babut!" sahut laki-laki berompi kuning itu keras.
"Wisanggeni...? Desa Babut?!" gumam Suntara dengan wajah berubah hebat. Jelas kalau
ucapan laki-laki yang mengaku bernama Wisanggeni itu membuatnya
terkejut. Ingatannya langsung melayang pada kejadian belasan tahun silam di
desa kelahirannya, Desa Babut, yang membuat keluarganya pindah dari desa itu.
Dulu, di desa itu, dia memang terkenal sebagai orang yang memiliki ilmu
kepandaian paling tinggi.
"Ya. Aku, Wisanggeni!"
sahut laki-laki berompi kuning itu menegaskan. "Aku datang untuk membalas
kematian kakakku di tanganmu!" "Kakakmu memang layak mati, Wisanggeni!" sergah Suntara
tak kalah keras. "Dia
telah menodai adikku!"
"Menodai?!" ejek
Wisanggeni sinis. "Adikmu memang sudah bukan gadis lagi saat berkenalan
dengan kakakku. Dan..., semua
peristiwa itu pun terjadi karena kebinalan adikmu sendiri!"
"Keparat! Kau harus mampus
di tanganku!" bentak Ketua Perguruan Kumbang Merah keras.
Setelah berkata demikian, Suntara mencabut senjata andalannya.
Sepasang tombak pendek berwarna hitam mengkilat yang sejak tadi ditancapkan di
tanah.
Wuk, wuk, wuk...!
Angin menderu cukup keras, begitu
Ketua Perguruan Kumbang Merah memutar sepasang tombaknya laksana baling-baling
hingga lenyap bentuknya. Terdengar suara mengaung keras begitu tombak itu
diputar.
Melihat Suntara sudah mulai
memainkan jurus-jurus mautnya, maka Wisanggeni tidak bersikap main-main lagi.
Trisula di tangannya pun diputar-putar di depan dada sehingga mengeluarkan suara mengiuk
nyaring.
"Hiyaaa...!"
Suntara berteriak nyaring seraya
cepat menusukkan tombak pendek di tangan kanannya ke arah perut. Sementara
tombak yang satu lagi, disilangkan di depan dada. Berjaga-jaga bila lawan mengirimkan
serangan balasan.
Wunggg!
Suara mengaung terdengar cukup
keras, begitu tombak itu meluncur deras menuju sasaran. Wisanggeni yang ingin
melihat dulu perkembangan ilmu lawannya, tidak langsung
menangkis. Tapi segera
melangkahkan kakinya ke kanan, sehingga ujung tombak itu lewat setengah jengkal
di samping kiri pinggangnya. Dan pada saat yang bersamaan, Wisanggeni segera menusukkan trisulanya ke leher
Suntara.
Ketua Perguruan Kumbang Merah
yang memang sudah menduga hal itu, tidak menjadi gugup. Tombak yang berada di
tangan kiri segera digerakkan untuk menangkis.
Tranggg!
Keras bukan main benturan kedua
senjata itu. Bunga-bunga api pun sampai memercik ke sana kemari.
Suntara terperanjat kaget ketika merasakan sekujur tangannya tergetar
hebat. Hampir-hampir tombaknya lepas dari genggaman. Bahkan bukan hanya itu
saja, tubuhnya pun sampai terhuyung-huyung dua langkah ke belakang. Sementara Wisanggeni
sama sekali tidak bergeming.
"Ha ha ha...!"
Wisanggeni tertawa terbahak-bahak melihat keunggulannya. "Ajalmu hampir
tiba, Suntara!"
Ketua Perguruan Kumbang Merah ini
menggertakkan gigi. Tanpa mempedulikan ejekan lawannya, laki-laki berkumis dan
berjenggot rapi ini segera melompat, dan kembali menyerang dengan mengerahkan
seluruh kemampuan yang dimilikinya. Hanya dua pilihan yang ada dalam benaknya.
Membunuh atau dibunuh!
Tapi bukan hanya Suntara saja
yang mempunyai tekad begitu. Wisanggeni pun mempunyai tekad serupa. Maka tak aneh
jika laki-laki berompi kuning ini mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Pertarungan sengit dan mati-matian pun tidak bisa dihindarkan lagi.
***
Sementara itu dari balik pintu
sebuah bangunan yang daun pintunya sedikit terbuka, nampak beberapa kepala
mengintai ke arah pertarungan. Kepala seorang laki-laki setengah tua bermata
juling. Seorang anak lelaki berusia dua belas tahun berpakaian coklat, dan
seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun berpakaian biru.
"Apakah ayah mampu
mengalahkan orang jahat itu, Paman?" tanya bocah lelaki berpakaian coklat
pada laki-laki bermata juling.
Laki-laki setengah tua yang
sebenarnya bernama Wijaya itu menoleh. Dia adalah pelayan sekaligus pengasuh
anak majikannya.
"Entahlah, Den Wuraji. Aku
khawatir sekali. Tampaknya orang jahat itu memiliki kepandaian amat
tinggi...," sahut Wijaya setengah mendesah. Raut kekhawatiran tergambar
jelas di wajahnya.
"Jadi..., ayah akan kalah,
Paman?" tanya anak berpakaian coklat yang ternyata bernama
Wuraji. Nada suara dan wajahnya
menyorotkan ketidakpercayaan. Memang, bocah ini tidak percaya kalau ayahnya
akan kalah. Selama ini dia menganggap ayahnya adalah orang yang paling sakti di
jagat ini!
"Aku tidak tahu, Den," Wijaya
menggelengkan kepalanya. "Tapi, marilah kita berdoa agar ayah Aden bisa
mengalahkan penjahat itu."
Wuraji tidak menyahuti ucapan pengasuhnya. Pandangannya
dilayangkan ke arah pertempuran. Baru kali ini dia melihat ayahnya bertarung.
Dan bocah kecil ini merasa kagum sekali. Wuraji yakin kalau ayahnya akan
menang. Ayahnya sangat sakti, ucapnya dalam hati penuh rasa bangga.
Tapi Wuraji sama sekali tidak
tahu kalau ayahnya tengah berada dalam cengkeraman maut. Memang pada
jurus-jurus awal, pertarungan antara kedua orang itu berjalan imbang. Tapi,
begitu menginjak jurus ke lima belas, Ketua Perguruan Kumbang Merah itu mulai
terdesak
Dan seiring dengan semakin
lamanya pertarungan, keadaan Suntara kian terdesak hebat. Ruang gerak permainan
sepasang tombak pendeknya semakin lama semakin menyempit. Suntara hanya mampu
mengelak dan bertahan. Hanya sesekali saja dia mampu balas menyerang.
"Haaat..!"
Tiba-tiba Wisanggeni berteriak
nyaring. Trisulanya berputar cepat di depan dada.
Kemudian masih dengan gerakan berputar, trisula itu melesat ke arah perut
Suntara.
Wunggg...!
Suara mengaung keras mengiringi
tibanya
serangan trisula.
"Apakah ayah mampu
mengalahkan orang
jahat itu, Paman?" tanya
bocah lelaki berpakaian coklat yang bernama Wuraji itu.
"Aku tidak tahu, Den," Wijaya
menggelengkan kepalanya. "Tapi, marilah kita berdoa agar ayah Aden bisa
mengalahkan penjahat itu."
Hati Suntara tersekat karena
senjata yang berputaran itu membuatnya bingung bukan main. Sepasang matanya jadi berkunang-kunang. Meskipun begitu, Ketua
Perguruan Kumbang Merah ini berusaha keras menyelamatkan
selembar nyawanya. Jalan satu-satunya hanya menangkis. Dan
itulah yang sekarang dilakukannya. Kedua tombak pendeknya disilangkan di depan dada.
Trang, trang...!
"Uh...!"
Suntara mengeluh tertahan.
Sepasang tombak pendeknya seketika terlepas dari genggaman. Serangan trisula
yang berputar seperti orang mengebor itu, membuatnya mati kutu. Dan sebelum
Ketua Perguruan Kumbang Merah ini sempat berbuat sesuatu, trisula yang
masih berputaran terus meluncur
ke arah perutnya.
Crattt, crattt...!
Darah segar bermuncratan dari
perut yang koyak-koyak dibor trisula. Seketika itu juga tubuh Suntara
terjengkang ke belakang disertai jeritan menyayat yang keluar dari mulutnya.
Tapi tindakan Wisanggeni tidak
hanya sampai di situ saja. Trisula di tangannya kembali melesat. Kali ini ke
arah leher. Meluncur deras, tanpa berputaran lagi. Dan....
Crasss!
Seketika kepala Suntara terlepas
dari leher, begitu ujung trisula mengenai sasaran. Tanpa bersuara lagi,
tubuhnya roboh ke tanah. Nyawa Ketua Perguruan Kumbang Merah melayang saat itu
juga.
"A.... Hps...!"
Wijaya cepat-cepat mendekap mulut Wuraji, sebelum bocah lelaki itu
sempat menjerit ketika melihat ayahnya
tewas di tangan Wisanggeni. Pada saat yang sama,
tangan yang satunya lagi menepuk tengkuk gadis kecil berpakaian biru. Perlahan
saja kelihatannya, tapi hebatnya, gadis kecil itu langsung pingsan. Dan sekali
tangan pelayan ini bergerak menekan tengkuk Wuraji, seketika itu juga putra
Ketua Perguruan Kumbang Merah ini pingsan.
Kemudian dengan langkah hati-hati
tapi bergegas, Wijaya segera meninggalkan tempat itu.
Pelayan setia ini bergerak cepat
menuju ke dapur, sambil memondong tubuh kedua anak itu di bahunya. Dia harus
memburu waktu, kalau tidak ingin didahului laki-laki berompi kuning.
Sesampainya di dapur, Wijaya
segera menekan ke bawah batang obor yang tertempel di dinding.
Grrrkkk...!
Terdengar suara berderak keras
yang disusul dengan bergesernya salah satu dinding dapur. Dan di balik dinding,
terlihat sebuah tangga batu yang menuju ke bawah.
Tanpa ragu-ragu Wijaya segera
menuruni anak tangga batu. Dan begitu laki-laki bermata juling ini melangkah
masuk, tiba-tiba pintu ruangan itu tertutup kembali.
Wijaya melangkahkan kakinya
perlahan-lahan menuruni anak tangga. Cukup lama juga dia bergerak turun,
sebelum akhirnya tidak ada lagi anak tangga. Tangga itu ternyata berakhir di
sebuah ruangan yang cukup luas.
Berkat lampu obor yang terpasang
di dinding-dinding ruangan bawah tanah ini, Wijaya dapat melihat cukup jelas
suasana di sekitarnya. Ternyata hanya ada sebuah jalan yang ada di ruangan ini.
Jalan yang berbentuk sebuah lorong panjang.
Untuk yang kesekian kalinya,
tanpa ragu-ragu Wijaya menempuhnya. Berjalan melalui lorong yang panjang dan
lengang. Agak meremang
juga bulu kuduk laki-laki bermata
juling ini melihat suasana yang cukup seram itu. Hanya kesunyian yang
melingkupi suasana lorong. Yang terdengar hanyalah desah napas Wlyaya yang
memburu, dan detak suara langkahnya di lantai.
Entah sudah berapa lama dia
berjalan, Wijaya tidak tahu pasti. Yang dia tahu, kedua kakinya telah hampir
tidak kuat lagi melangkah, ketika akhirnya mengetahui lorong itu berakhir di
sebuah pintu.
Kriiittt...!
Suara berderit tajam dan nyaring
bergema di sepanjang lorong, tatkala Wijaya membuka pintu. Ternyata di balik
pintu itu tidak ada jalan lagi. Yang ada hanyalah ruang kecil berukuran satu
tombak kali satu tombak.
Yang pertama kali dilihat pelayan
setia berpakaian serba hitam ini adalah sebuah tangga kayu yang menjulang ke
langit-langit ruangan.
Wijaya mengedarkan pandangannya
ke setiap tudut ruangan. Seketika wajahnya berseri-seri ketika melihat sebuah
pot bunga bertengger di sudut. Bergegas dia melangkahkan kakinya menghampiri.
Lalu membungkukkan tubuhnya dan meletakkan kedua bocah yang dipanggulnya di tanah.
Baru setelah itu laki-laki bermata juling ini memegang pot dengan kedua tangan.
Kemudian memutarnya ke kanan.
Grrrrggghhh...!
Sesaat kemudian terdengar suara
berderak keras, yang membuat dinding-dinding dan atap ruangan bergetar. Sesaat
kemudian, di atap ruangan, tepat di bawah tangga, terpampang sebuah lubang
bergaris tengah setengah tombak. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Wijaya segera
menaiki anak-anak tangga sambil membawa tubuh kedua bocah itu satu persatu. Tak
lama kemudian, laki-laki bermata juling ini telah berada di atas.
Wijaya memandang ke
sekelilingnya. Yang tampak hanyalah kelebatan pepohonan dan rerimbunan
semak-semak. Rupanya pelayan setia ini telah berada di dalam sebuah hutan.
Laki-laki bermata juling ini lalu memutar sebuah gundukan batu. Seketika itu
pula, salah sebuah kelompok rerimbunan semak bergerak. Sesaat kemudian, lubang
tadi telah tertutup rerimbunan semak-semak.
"Uhhh...!"
Terdengar suara keluhan. Wijaya menolehkan kepalanya.
Dilihatnya Wuraji mulai siuman. Putra almarhum Ketua
Perguruan Kumbang Merah ini
mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak
"Uhhh...!"
Kembali terdengar keluhan lirih,
yang disusul dengan mengeriap-ngerjapnya sepasang mata bening milik gadis kecil
berpakaian biru.
"Syukurlah, kalian sudah
sadar...," ucap Wijaya sambil memandang wajah kedua anak itu bergantian.
"Di mana kita, Paman?"
tanya gadis berpakaian biru sambil mengedarkan
pandangannya berkeliling. Tapi yang dilihatnya hanya rerimbunan semak dan
pepohonan yang lebat.
"Di sebuah tempat yang aman,
Marni," jawab Wijaya, seraya menatap wajah gadis kecil berpakaian biru
yang ternyata bernama Marni.
"Ayah...," desah Wuraji
lirih ketika teringat kembali pada semua kejadian yang dilihatnya. Memang,
sejak siuman, anak berpakaian coklat ini tercenung. Sepasang matanya nampak merembang berkaca-kaca. Bahkan
kedua bibirnya terlihat gemetar. Jelas kalau bocah laki-laki ini dilanda
perasaan sedih yang amat sangat. Hanya kekerasan hatinya saja yang membuat dia
tidak menitikkan air mata.
"Kuatkanlah hatimu,
Den," hibur Wijaya seraya menatap wajah bocah di hadapannya penuh rasa
haru. Laki-laki bermata juling ini dapat merasakan betapa sedih dan terpukulnya
hati anak tunggal majikannya ini. Karena Wijaya tahu kalau selama ini Wuraji
amat mengagumi ayahnya. Wuraji menganggap ayahnya adalah orang yang paling
sakti. Bagaimana hatinya tidak terpukul? Dengan mata kepala sendiri, bocah itu
melihat ayah yang sangat
dikaguminya tewas terbunuh!
"Aku sama sekali tidak
menyangka kalau Paman adalah seorang pengecut! Bahkan Paman telah membawa-bawa aku menjadi seorang pengecut! Melarikan diri
dari musuh yang telah membunuh ayah dan menghancurkan perguruan!" Dengan
berapi-api, Wuraji mencela pelayannya. Sepasang matanya menatap penuh
penyesalan pada laki-laki bermata juling di hadapannya. "Aku lebih suka
mati bersama ayah daripada menjadi seorang pengecut seperti ini!"
Keras dan tajam sekali ucapan
yang keluar dari mulut bocah berpakaian coklat ini. Seketika itu juga wajah
Wijaya merah padam. Kalau saja tidak mengingat orang yang mencelanya adalah
putra tunggal majikannya, mungkin sudah ditamparnya mulut itu.
Dia bukanlah seorang pengecut!
Dan paling tidak suka dimaki seperti itu.
"Wuraji...!" tegur
Marni seraya menatap tajam putra tunggal Ketua Perguruan Kumbang Merah itu.
Gadis kecil ini kasihan pada Wijaya yang dimaki sekasar itu.
"Tutup mulutmu...! Ini bukan
urusan anak perempuan!" bentak Wuraji kasar
Seketika wajah Marni memucat.
Kontan dia terdiam. Agak heran juga hatinya mendengar kata-kata kasar yang
dilontarkan Wuraji barusan. Biasanya setiap kali ditegur, Wuraji akan
mengalah. Tapi kali ini, bocah
itu malah membentaknya.
Melihat kejadian itu, Wijaya segera
mengelus rambut Marni dan menganggukkan kepalanya. Gadis kecil ini segera tahu
apa arti anggukan itu. Dia disuruh diam, dan tidak usah ikut campur.
"Hhh...!"
Wijaya hanya dapat menghela napas
berat. Laki-laki bermata juling ini memaklumi mengapa anak yang biasanya sopan
dan hormat kepadanya, dan pengalah kepada Marni, kini bicara sekasar itu.
Wijaya tahu kalau hati Wuraji masih terguncang hebat dengan kejadian yang baru
saja dilihatnya.
"Kau salah sangka,
Den," sahut Wijaya dengan suara berdesah. "Asal kau tahu saja, Den. Semua
ini kulakukan atas perintah ayahmu. Kau tahu, kalau menuruti perasaan, aku
lebih suka tewas bersama-sama yang lain. Tapi, aku juga tidak berani menolak
perintah. Walau dengan hati berat, terpaksa kusanggupi perintah ini...."
''Tidak mungkin!" bantah Wuraji
cepat dan dengan suara keras. ''Tak mungkin ayah memberi perintah seperti
itu!"
"Dengar dulu penjelasanku,
Den," sahut Wijaya tetap sabar.
Wuraji pun terdiam seketika.
"Ayahmu punya banyak alasan
untuk menyuruhku berbuat seperti ini."
Wijaya menghentikan ucapannya
sejenak. Menghela napas panjang seraya melihat tanggapan anak berpakaian coklat
ini. Tapi Wuraji tetap diam saja.
"Ayahmu tahu kalau musuh
yang datang tadi memiliki kepandaian amat tinggi. Dan dia tidak yakin dapat
mengalahkannya. Maka dia berpesan padaku, apabila sesuatu terjadi pada dirinya,
aku harus cepat menyelamatkanmu dan Marni. Ayahmu tidak ingin kau mati percuma,
Den! Dan untuk itu, ayahmu telah memberitahu jalan rahasia untuk membawamu
kabur."
"Tapi, aku tidak takut
mati!" selak Wuraji keras. Wijaya tersenyum getir.
"Ayahmu juga tahu hal itu,
Den. Demikian pula aku. Oleh karena itu, ayahmu telah menyuruhku. Yahhh...,
kalau memang terpaksa, aku diijinkan menggunakan kekerasan untuk membawamu
pergi."
Wuraji menurup wajahnya yang pucat
pasi dengan kedua telapak tangannya. Beberapa saat lamanya anak berpakaian
coklat ini berbuat seperti itu.
"Mengapa ayah berbuat
seperti itu....?" keluh putra tunggal Ketua Perguruan Kumbang Merah ini
lirih. Seperti berbicara pada dirinya sendiri. Perlahan-lahan kepalanya diangkat
kembali.
"Karena ayahmu ingin kau
selamat, Den," sahut Wijaya cepat.
"Aku tahu itu, Paman,"
sergah Wuraji. Masih dengan nada tinggi. "Tapi untuk apa?!"
"Karena ayahmu tidak ingin
kau mati sia-sia, Den. Ayahmu menginginkan kau memiliki ilmu kepandaian lebih
tinggi darinya. Baru setelah itu, kau bdeh menghadapi musuh tadi!"
"Jadi...," sepasang
mata Wuraji terbelalak. "Ya! Setelah kau memiliki ilmu kepandaian
tinggi, baru kau bisa membalaskan
sakit hati ayah dan juga kakak-kakak seperguruanmu! Kalau bukan kau, lalu siapa lagi yang akan
membalaskannya. Itulah sebabnya, ayahmu
memerintahku untuk menyelamatkanmu...''
Kini Wuraji mulai mengerti.
Maksud ayahnya memang benar! Untuk apa dia ikut melawan, kalau akhirnya hanya
akan mengantar nyawa sia-sia! Perlahan-lahan emosinya pun mulai reda.
"Tapi, apakah ada orang yang
memiliki kepandaian tinggi selain ayah, Paman?" tanya bocah berpakaian
coklat itu beberapa saat kemudian.
Wijaya tersenyum lebar.
"Dunia sangat luas, Den.
Orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi tak terhitung jumlahnya. Mudah-mudahan saja
kau bernasib baik. Menemukan tokoh sakti yang bersedia menjadikanmu sebagai
muridnya."
"Tapi..., apakah orang itu memiliki
kepandaian melebihi ayah, Paman?"
"Perlu kau ketahui, Den.
Orang yang memiliki kepandaian melebihi ayahmu tidak sedikit jumlahnya di dunia
ini. Salah satu contohnya adalah pembunuh ayahmu. Jadi, kau tidak perlu
khawatir." Wijaya menjelaskan dengan sabar. Hatinya menjadi lega melihat
Wuraji sudah bisa ditenangkan.
"Lalu..., ke mana kita harus
mencari orang sakti itu, Paman?" tanya Wuraji lagi. Nada suaranya
menyiratkan keragu-raguan.
Seketika itu juga Wijaya terdiam.
Ya, ke mana dia harus mencari orang sakti? Dan andaikata sudah bertemu, belum
tentu orang itu bersedia mengambil Wuraji sebagai murid.
"Aku juga tidak tahu, Den.
Tapi yang jelas, aku akan berusaha. Kalau perlu kita datangi
perguruan-perguruan silat aliran putih yang besar dan ternama."
Wuraji menganggukkan kepalanya.
Kini wajahnya mulai berseri-seri. Begitu pula Marni yang sejak tadi hanya diam
mendengarkan tanpa berkata-kata.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi, Paman? Mart kita cari orang sakti itu!" ucap Wuraji penuh semangat
seraya bergegas bangkit.
"Mari, Den," sahut Wijaya seraya
menggandeng tangan kedua anak itu. Wuraji di kiri dan Marni di kanan. Baru
setelah itu, dilangkahkan kakinya, menerobos rerimbunan semak dan pepohonan
yang lebat.
Wuraji dan Marni melangkah penuh
semangat. Ucapan Wijaya benar-benar membuat semangat mereka bangkit. Kini kedua
anak itu sudah punya tujuan. Mencari orang-orang sakti untuk berguru.
Lega hati Wijaya melihat kedua
anak itu mulai melupakan kesedihannya. Meskipun begitu, ada perasaan tidak
tenang yang menyelimuti hatinya. Ke mana dia harus mencari orang sakti untuk
guru kedua anak ini? Tapi, laki-laki bermata juling ini tidak ingin menampakkan
kecemasan hatinya. Justru perasaan gembiranya yang ditonjolkan.
Setelah menerobos rerimbunan
semak-semak dan pepohonan, di hadapan ketiga orang ini terpampang sebuah sungai
yang lebar dan cukup deras arusnya.
Wijaya mengedarkan pandangannya
ke sepanjang aliran sungai. Sepasang matanya berbinar. Wajahnya pun berseri
tatkala melihat sebuah rakit terapung di pinggir sungai.
Dengan langkah penuh semangat,
masih tetap menggandeng tangan Wuraji dan Marni, laki-laki bermata juling ini
bergegas melangkah menuju rakit itu.
***
2
Wijaya, Marni, dan Wuraji segera
menaiki rakit. Dan begitu semua telah berada di atasnya, Wijaya mengayuh rakit
itu menuju seberang. Dengan menggunakan sebatang bambu panjang, laki-laki
bermata juling itu berusaha melawan derasnya arus sungai.
Karena tenaga yang mendorong
rakit itu tertalu lemah, ditambah lagi derasnya arus sungai, meskipun rakit itu
sedikit demi sedikit dapat menuju ke seberang, tapi arahnya tidak lurus,
melainkan miring.
"Paman! Awas...!"
Wuraji yang berada di pinggir,
terkejut ketika melihat tak jauh di samping kiri rakit terdapat batu besar yang
menonjol di permukaan sungai. Dan rakit itu bergerak menuju ke situ.
Wiyaya terkejut bukan main
mendengar teriakan putra tunggal majikannya. Dengan sekuat tenaga, dia mengayuh
rakit itu menghindari batu yang menonjol. Seluruh urat-urat tangan dan wajahnya menggembung ketika berusaha membelokkan arah rakit. Tapi....
Brakkk...! "Paman..!"
Wuraji berteriak keras ketika
tubuhnya terlempar ke sungai. Benturan yang terjadi antara rakit dan batu besar
begitu keras, sehingga Wuraji yang tengah berada di pinggir, tidak mampu
mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
Byurrr...!
Air memercik ke atas ketika tubuh
putra tunggal Ketua Perguruan Kumbang Merah itu jatuh ke sungai.
"Den Wuraji...!"
"Wuraji...!"
Hampir berbareng Wijaya dan Marni
menjerit keras melihat bocah berpakaian coklat itu terpental ke dalam sungai,
dan langsung terseret arus yang deras.
Tanpa pikir panjang lagi, Wijaya
segera terjun ke sungai. Pelayan setia ini tidak mengkhawatirkan nasib Marni.
Karena yakin kalau anak perempuan itu tidak akan tertimpa bahaya apa-apa.
Wijaya berpikir secara biasa.
Rakit itu tersangkut di batu besar yang menonjol di permukaan sungai, sehingga
tidak bisa bergerak ke sana kemari lagi walaupun arus sungai terus-menerus
mendorongnya.
Byurrr...!
Air sungai kembali memercik ke
atas ketika tubuh Wijaya melayang ke arah sungai. Kali ini percikannya lebih
tinggi dari sebelumnya.
Marni yang tetap tinggal di atas
rakit, berpegangan kuat-kuat. Gadis kecil ini berharap agar Wijaya berhasil
menyelamatkan Wuraji. Ngeri hatinya membayangkan temannya itu tewas dibawa arus
sungai.
"Den Wuraji...! Di mana
kau...?!" teriak Wijaya begitu kepalanya muncul di permukaan sungai,
setelah terbenam beberapa saat lamanya. Diam-diam laki-laki bermata juling ini
terkejut bukan main tatkala merasakan kuatnya arus sungai.
Wijaya sekali tidak
menunggu terdengar
sejenak. sahutan
Tapi sama dari anak
berpakaian coklat itu. Dengan
jantung berdetak keras, pandangannya
diedarkan ke seluruh permukaan sungai. Hatinya mencelos ketika tidak melihat
adanya Wuraji. Tidak ada kemungkinan lain, Wuraji pasti terseret arus sungai.
Begitu kesimpulan laki-laki bermata juling ini.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
segera Wijaya kembali menyelam dan berenang mengikuti arus. Sepasang matanya
berkeliaran ke sana kemari. Barangkali saja dapat menemukan anak tunggal
mendiang majikannya. Air sungai itu memang jernih, sehingga pelayan setia ini
dapat melihat keadaan di sekitarnya dengan jelas.
Wijaya terus berenang mengikuti
arus sungai. Sama sekali dia tidak menyadari kalau semakin lama, arus sungai
semakin deras.
"Den...! Di mana
kau...?!"
Wijaya kembali berseru keras,
ketika untuk yang kesekian kalinya kepalanya muncul di permukaan air. Sepasang
matanya terus menatap berkeliling.
Hati Wijaya tersekat begitu
merasakan arus sungai yang semakin deras. Apalagi ketika pendengarannya yang
tajam mendengar suara gemuruh di depannya. Sebagai seorang yang telah kenyang
pengalaman, laki-laki bermata juling ini tahu apa sebenarnya suara gemuruh itu.
Apalagi kalau bukan air terjun!
Sadar akan bahaya besar yang
mengancam di depannya, Wijaya segera berbalik arah begitu menyadari dirinya
terseret ke air terjun.
Kembali hatinya tersekat ketika
tak lagi melihat rakit beserta Marni yang tadi
ditinggalkannya. Rupanya dia telah terlalu jauh dari tempat semula.
Kini Wijaya berusaha keras
berenang melawan arus yang akan menyeretnya ke air terjun. Tapi, betapapun dia
telah mengerahkan seluruh tenaganya, tetap saja laki-laki bermata juling ini
tidak mampu maju. Tubuhnya hanya bergerak di situ-situ saja.
Semakin lama tenaga Wijaya
semakin lemah. Dan dengan sendirinya, perlahan-lahan mulai terbawa arus.
Seiring dengan tubuhnya terbawa aliran sungai, tenaga arus yang
menyeretnya pun semakin membesar. Sementara
tenaganya sendiri semakin lemah.
Tubuh laki-laki berpakaian hitam ini pun mulai terbawa arus.
Meskipun begitu, Wijaya tidak
putus asa. Tenaganya terus dikerahkan untuk melawan dorongan arus sungai,
meskipun tubuhnya terus saja terseret.
Tapi akhirnya Wijaya terpaksa
mengalah. Tidak ada lagi tenaga yang dimilikinya untuk melawan arus sungai yang
menyeretnya.
Sementara itu, agak jauh di depan
Wijaya, Wuraji terus terseret cepat mendekati pinggir air terjun. Putra tunggal
Ketua Perguruan Kumbang Merah ini memang sama sekali tidak bisa berenang. Maka
seketika itu juga, tubuhnya hanyut terbawa arus yang deras itu.
Dalam keadaan setengah sadar,
Wuraji mendengar suara panggilan pelayannya. Dia berusaha menyahut, tapi tidak
mampu. Hanya suara mirip bisikan saja yang keluar dari mulutnya ketika dia berusaha menyahuti
panggilan Wijaya.
Bahkan, ketika tubuhnya telah
berada di tepi air terjun, dan akhirnya jaruh ke bawah, Wuraji sama sekali
tidak mampu berteriak. Tubuhnya melayang deras ke bawah. Siap untuk
dicabik-cabik batu-batuan yang berada di bawah sana!
***
Di dasar air terjun, sekitar
beberapa tombak dari tempat jatuhnya air, dua sosok tubuh tengah duduk bersila saling berhadapan. Keduanya duduk di sebongkah batu besar dan lebar yang
menonjol di permukaan sungai. Yang satu berpakaian hitam, sedangkan yang
satunya lagi berpakaian kulit ular.
Sosok berpakaian hitam yang duduk
menghadap jatuhnya air terjun terperanjat ketika melihat sesosok tubuh kecil
meluncur deras dari atas.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, disertai teriakan nyaring, sosok
bayangan hitam itu melesat cepat ke arah tubuh yang tengah melayang jatuh. Cepat
bukan main gerakannya. Sehingga yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan
hitam saja. Dan....
Tappp...!
Luar biasa! Tubuh Wuraji berhasil
ditangkap oleh sosok bayangan hitam itu, sebelum sempat terhempas ke
batu-batuan di bawahnya. Kemudian dengan indah dan manis, sosok bayangan hitam
itu melenting dan hinggap di atas salah satu baru yang menonjol di permukaan
sungai.
Perasaan heran yang melanda hati
sosok tubuh berpakaian kulit ular lenyap ketika melihat sosok bayangan hitam
itu mendarat di batu-batuan dengan seorang anak dalam pondongannya. Memang, semula dia
merasa heran
tatkala melihat sosok bayangan
hitam itu melesat meninggalkannya.
Sosok bayangan hitam itu kembali
menggerakkan kakinya. Kelihatannya hanya melangkah perlahan saja. Tapi sekejap
kemudian, tubuhnya sudah berada di sebelah sosok yang mengenakan pakaian kulit
ular.
"Nasib bocah ini baik
sekali, Ular Kaki Seribu," ucap sosok bayangan hitam seraya mengangsurkan
Wuraji yang telah pingsan dalam pondongannya. Suaranya terdengar aneh. Kecil,
tapi melengking tinggi, seperti suara seorang wanita. Sepasang matanya menatap
wajah sosok berpakaian kulit ular yang ternyata adalah seorang laki-laki
setengah baya. Laki-laki itu bertubuh tinggi, berbadan lebar, dan agak bungkuk.
Wajahnya mirip wajah seekor kuda. Apalagi dengan adanya jenggot kasar, panjang
dan jarang-jarang yang menghiasi dagunya.
Pakaiannya terbuat dari kulit ular yang berwarna kuning keemasan.
"Yahhh...," sosok
berpakaian kulit ular yang ter, nyata mempunyai julukan Ular Kaki Seribu hanya
mendesah. "Dia akan jadi murid kita, Monyet Tanpa Bayangan."
Kini terlihat jelas kalau sosok
hitam itu ternyata adalah seorang kakek kecil kurus berpakaian serba hitam.
Pakaiannya yang hitam terbuat dari kulit beruang. Kakek kecil kurus yang berjuluk
Monyet Tanpa Bayangan ini hanya
terkekeh pelan. Kemudian
merebahkan tubuh Wuraji di atas batu.
Ular Kaki Seribu memperhatikan
wajah bocah berpakaian coklat mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
Tampak jelas kalau kakek bertubuh tinggi kurus ini tengah menilai Wuraji.
Setelah memperhatikan beberapa
saat, kemudian Ular Kaki Seribu membungkukkan tubuh dan memegang-megang seluruh
tulang-belulang Wuraji. Secercah senyum gembira menghias bibirnya. Kakek ini
merasa puas ketika mengetahui kalau putra
Ketua Perguruan Kumbang Merah
ini memiliki bakat yang amat baik untuk dilatih ilmu silat.
"Bagaimana, Ular Kaki
Seribu?" tanya Monyet Tanpa Bayangan meminta pendapat rekannya.
"Kurasa anak ini tidak
memalukan kalau menjadi murid kita," jawab Ular Kaki Seribu.
Monyet Tanpa Bayangan tersenyum
lega mendengar keputusan rekannya.
"Mari kita kembali,"
sahut Ular Kaki Seribu seraya bergerak meninggalkan tempat itu.
Tanpa banyak bicara, Monyet Tanpa
Bayangan membungkuk, mengangkat tubuh
Wuraji dan memondongnya. Kemudian membawanya melesat, menyusul
rekannya yang telah berkelebat lebih dulu.
Hebatnya, meskipun Ular Kaki
Seribu bergerak lebih dulu, Monyet Tanpa Bayangan
mampu memperpendek jarak. Bahkan membarenginya. Dan dengan berlari
bersisian, kedua kakek ini bergerak ke arah air terjun.
Lincah dan gesit laksana kera,
kedua kakek itu berlompatan ke sana kemari. Anehnya, Ular Kaki Seribu dan
Monyet Tanpa Bayangan malah melesat ke arah air terjun.
Mendadak langkah kaki kedua kakek
ini terhenti ketika mendengar sebuah jeritan panjang menyayat hati. Hampir
berbarengan keduanya mendongak ke atas. Tampak oleh mereka sesosok tubuh yang
melayang jatuh, bersama dengan curahan air terjun.
Monyet Tanpa Bayangan dan Ular
Kaki Seribu hanya memperhatikan saja hingga sosok tubuh yang tak lain dari
Wijaya jatuh ke dasar air terjun. Terdengar suara berderak keras dari
tulang-belulang yang patah ketika tubuh pelayan setia itu menghantam
batu-batuan. Seketika itu juga nyawa Wijaya langsung lepas dari raganya.
Seolah-olah tidak ada kejadian
apa-apa, kedua kakek sakti ini kembali melanjutkan langkahnya. Dan begitu dekat
dengan air terjun, Monyet Tanpa Bayangan dan Ular Kaki Seribu bergerak
menerobosnya. Menerobos curahan air terjun!
Pyarrr...!
Air yang tercurah dari atas
berpentalan ke sana kemari tatkala tubuh kedua kakek itu menerobos. Ternyata di
balik air terjun terdapat
sebuah gua yang cukup besar.
Inilah tempat tinggal Monyet Tanpa Bayangan dan Ular Kaki Seribu.
Lubang gua itu cukup besar. Garis
tengahnya saja tak kurang dari dua tombak. Kedua kakek itu melangkah pelan ke
dalam gua yang cukup lebar dan sedikit berliku. Di kanan kiri dindingnya tergantung obor, sehingga membuat suasana di dalam agak
terang.
Monyet Tanpa Bayangan lalu
merebahkan Wuraji di atas sebongkah batu pipih berbentuk persegi panjang
seukuran balai-balai. Baru setelah itu, kakek kecil kurus berpakaian kulit
beruang ini duduk bersila, di atas batu pipih dan lebar lainnya. Duduk
berhadapan dengan Ular Kaki Seribu.
"Uhhh...!"
Terdengar suara keluhan yang
disusul dengan mengerjap-ngerjapnya kelopak mata
Wuraji. Sesaat kemudian, setelah kesadarannya pulih, bocah berpakaian coklat ini lalu memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Seketika itu juga pandangannya
tertumbuk pada dua orang kakek yang tengah
memperhatikan dirinya.
"Di manakah aku...?"
tanya Wuraji lirih seperti pada diri sendiri. Sepasang matanya menatap
berkeliling. Sementara benaknya sibuk berpikir keras. Mengingat-ingat semua
kejadian yang dialaminya.
"Kau berada di tempat kami,
Bocah," sahut Monyet Tanpa Bayangan sambil tersenyum.
"Di tempatmu, Kek?"
Wuraji bertanya lagi meminta kepastian.
Kembali Monyet Tanpa Bayangan
yang menjawab. Kepala kakek kecil kurus ini
mengangguk pelan.
"Ya, aku melihat tubuhmu
jatuh dari air terjun. Kau segera kutangkap sebelum menghantam batu-batuan, dan
kubawa ke sini," Monyet Tanpa Bayangan menjelaskan.
Kini Wuraji mulai teringat dengan
kejadian yang dialaminya. Dia telah terseret menuju tepi air terjun dan kemudian jatuh ke dasarnya. Bagaimana dengan nasib Marni
dan Wijaya? tanya anak berpakaian coklat ini dalam hati.
''Terima kasih atas
pertolonganmu, Kek," ucap Wuraji seraya bangkit dari berbaringnya.
"He he he...!" Hanya
suara tawa terkekeh Monyet Tanpa Bayangan yang menyahuti ucapan terima kasih
putra Ketua Perguruan Kumbang Merah ini.
"Siapa namamu, Bocah?"
Ular Kaki Seribu mulai membuka suara.
"Wuraji, Kek," sahut
anak berpakaian coklat itu cepat.
"Wuraji...," gumam Ular
Kaki Seribu seraya men-elus-elus dagunya. "Begini, Wuraji. Hari ini kami
tengah berbahagia. Karena telah berhasil menyempurnakan ilmu-ilmu yang kami
miliki....
Dan karena rasa gembira, kami
telah bersumpah, akan mengangkat murid pada orang yang pertama bertemu dengan
kami. Kebetulan kaulah orang yang bernasib baik itu. Jadi, kaulah yang akan
jadi murid kami."
Jantung Wuraji berdebar mendengar
kata-kata itu. Sungguh sama sekali tidak diduga kalau dirinya akan begitu mudah
mendapat guru. Tapi, masih ada yang dipikirkannya. Apakah tingkat kepandaian
kedua kakek ini melebihi ayahnya. Kalau melebihi, dia pun bersedia menjadi
murid. Tapi kalau tidak, dia akan menolak.
''Tapi, Kek. Aku hanya mau jadi
murid orang yang memiliki kepandaian tinggi, Kek."
"Ha ha ha...." Monyet
Tanpa Bayangan tertawa bergelak. "Kau pintar, Wuraji. Tapi akan kami
penuhi permintaanmu. Nah, sekarang kau perhatikan baik-baik. Akan kami buktikan
kalau kami pantas menjadi guru-gurumu."
Setelah berkata demikian, Monyet
Tanpa Bayangan lalu menoleh. Jari telunjuknya ditudingkan ke arah sebatang obor yang tergantung di dinding. Jaraknya
sekitar lima tombak dari tempatnya berdiri.
"Mampukah kau mematikan obor
itu dari sini, Wuraji?" tanya kakek kurus itu seraya menatap Wuraji.
"Tidak, Kek," Wuraji
menggeleng, setelah memperhatikan obor sejenak. "Apakah Kakek bisa?"
''Tentu saja," sahut Monyet Tanpa
Bayangan cepat. "Kau lihat ini...!"
Setelah berkata demikian, kakek
kecil kurus ini lalu mengepalkan tangan kanannya. Kemudian dipukulkan ke depan.
Wusss...
Angin berhembus keras begitu
Monyet Tanpa Bayangan memukulkan tangannya. Sesaat kemudian, apl obor pun
padam, tanpa meliuk-liuk lebih dahulu!
"Hebat...!" Wuraji
memuji penuh kagum. "He he he...!" Monyet Tanpa Bayangan
terkekeh gembira mendengar pujian calon
muridnya.
''Tapi, ilmu seperti itu tidak
berguna untuk menghadapi musuh," sambung Wuraji seraya menghela napas
panjang.
"Siapa bilang?!" Monyet
Tanpa Bayangan mulai bangkit emosinya begitu mendengar ucapan itu. "Dengan
gerakan seperti itu kau dapat membunuh lawan tanpa menyentuhnya!"
"Aku tidak percaya!"
sergah Wuraji cepat dan berani. Memang, anak yang sudah yatim piatu ini
memiliki keberanian luar biasa.
Monyet Tanpa Bayangan menjadi
kesal melihat sikap yang ditunjukkan Wuraji. Tanpa banyak bicara, kepalan
tangan kanannya kembali dipukulkan. Tapi sasaran kali ini adalah
sebongkah batu sebesar anak kambing, yang
berjarak sekitar lima tombak dari
tempatnya duduk bersila.
Wusss...! Brakkk...!
Batu itu langsung hancur
berkeping-keping ketika pukulan jarak jauh kakek berpakaian kulit beruang itu menghantamnya. Pecahannya berpentalan ke segala arah.
Wajah Wuraji pucat seketika. Sama
sekali tidak disangkanya kalau Monyet Tanpa Bayangan memiliki kepandaian begitu
tinggi. Dia tahu betul kalau ayahnya sendiri pun tidak sanggup untuk melakukan
hal seperti yang dilakukan kakek ini. Tanpa pikir panjang lagi, Wuraji segera
memberi hormat.
"Guru...!" tanpa
ragu-ragu lagi, putra Ketua Perguruan Kumbang Merah ini menyebut guru pada
Monyet Tanpa Bayangan. Kakek kecil kurus ini tertawa terkekeh.
"Ular Kaki Seribu pun akan
mengajarmu pula, Wuraji," jelas Monyet Tanpa Bayangan seraya menudingkan
telunjuknya pada kakek bermuka kuda. "Dia memiliki kepandaian yang tidak
kalah denganku."
"Guru...!" panggil
Wuraji pula pada Ular Kaki Seribu.
Sejak saat itu Wuraji menjadi
murid Monyet Tanpa Bayangan dan Ular Kaki Seribu. Putra Ketua Perguruan Kumbang
Merah ini sama sekali tidak tahu kalau orang yang menjadi guru-gurunya adalah
tokoh-tokoh golongan hitam.
Kedua kakek itu adalah pentolan-pentolan
tokoh aliran sesat.
***
3
Krotok, krotok...!
Suara berkerotokan keras terdengar memecahkan keheningan pagi di
sebuah sungai di dasar air terjun. Suara itu ternyata berasal dari seorang
pemuda yang tengah berlatih silat. Pemuda itu berdiri di atas sebongkah batu
pipih dan lebar yang menonjol di permukaan sungai.
Pemuda itu berusia sekitar dua
puluh dua tahun. Wajahnya tampan, tapi terlihat keras. Mungkin disebabkan oleh
tulang rahangnya yang kokoh dan kuat. Tubuhnya yang kekar dan penuh otot-otot
melingkar lampak jelas, karena dia memang tengah bertelanjang dada. Menilik
peluh
yang telah membasahi sekujur
wajah dan tubuhnya, bisa ditebak kalau pemuda berwajah tampan namun keras ini
telah lama berlatih.
Dan itu memang benar. Sejak
pagi-pagi sekali, sebelum sang surya muncul di ufuk Timur, pemuda berwajah
keras ini telah berlatih. Kini, dia hampir menyelesaikan bagian terakhir
latihannya.
Ternyata suara berkerotokan keras
tadi terdengar ketika pemuda tampan berwajah keras itu menarik kedua tangannya
yang terkepal ke sisi pinggang. Perlahan-lahan tapi penuh tenaga, dia menarik
kedua tangan yang terkepal dan saling bersilangan di depan dada. Kedua kakinya
terletak sejajar, dengan kuda-kuda rendah.
"Hih!"
Sambil mengeluarkan pekikan
nyaring, pemuda tampan berwajah keras itu menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Ke arah sebongkah batu sebesar anak kerbau yang terletak di pinggir sungai yang
berjarak sekitar tiga tombak dari tempatnya berdiri.
Wusss!
Angin menderu keras. Debu-debu
pun mengepul tinggi ke udara. Dan....
Blarrr!
Disertai suara hiruk-pikuk, batu
besar itu hancur berkeping-keping. Pecahan-pecahannya berpentalan ke segala
arah. Bahkan ada beberapa di antaranya yang mengenai tubuhnya. Tapi, sama
sekali tidak nampak ada
tanda-tanda kalau dia merasa kesakitan.
"Phhh...!"
Pemuda berwajah keras itu menghembuskan napas panjang. Perasaan
puas tergambar jelas di wajahnya. Dengan punggung tangan, peluh yang membasahi
keningnya segera dihapus.
"Ha ha ha...!"
Terdengar suara tawa bergelak
yang kasar begitu pemuda tampan berwajah keras itu selesai menghapus peluhnya.
Tapi, sama sekali tidak nampak raut keterkejutan di wajahnya. Tenang saja dia
membalikkan tubuh. Tampak sekitar tiga tombak di hadapannya, di seberang
sungai, berdiri dua sosok tubuh.
"Guru...!" ucap pemuda
berwajah keras itu seraya memberi hormat. Kedua kakinya saling bersilangan
dengan tubuh agak direndahkan. Kedua tangannya saling bertemu di depan dada.
Tangan kanan terkepal, sementara tangan kiri terbuka. Ujung jari-jari tangan
kiri menghadap ke atas. Kedua tangannya didorong ke depan. Kemudian dikembalikan
lagi ke depan dada.
"Bagus...! Rupanya kau telah
menguasai 'Pukulan Penghancur Gunung', Wuraji," ucap salah seorang di
antara dua orang itu. Dia bertubuh tinggi, berbadan lebar, dan berwajah mirip
kuda. Usianya sekitar enam puluh tahun. Pakaiannya terbuat dari kulit ular
berwarna
kuning keemasan. Siapa lagi kalau
bukan Ular Kaki Seribu?!
"Tidak percuma kami mengangkatmu sebagai murid, Wuraji,"
ucap kakek yang satunya lagi. Suaranya terdengar aneh. Kecil, tapi
melengking, mirip suara wanita. Kakek ini bertubuh kecil kurus. Wajahnya
terlihat pucat dan layu, seperti orang penyakitan. Pakaiannya yang berwarna
hitam terbuat dari kulit beruang. Masih tampak jelas kekasaran pakaian yang dikenakannya. Kakek itu tak lain
dari Monyet Tanpa Bayangan
Sikap kedua kakek itu tampak
liar, dan tidak menghiraukan sopan santun. Sepasang mata keduanya menyiratkan kekejaman yang
tersembunyi. Memang dua orang kakek ini adalah pentolan-pentolan tokoh golongan
hitam. Mereka terkenal memiliki kepandaian tinggi.
"Semua ini berkat bimbingan Guru
berdua," ucap pemuda berahang kokoh yang ternyata bernama Wuraji. Pelan,
lembut, dan sopan suaranya. Berbeda sekali dengan kedua gurunya yang berwatak
kasar dan liar.
"Ahhh...!" sergah Ular
Kaki Seribu. Keras dan kasar nada suaranya. "Sudah berkali-kali kukatakan,
Wuraji. Buang semua sifat-sifat yang membuat kami muak itu. Bersikaplah seperti
kami!"
"Kukira, ada baiknya kalau
Wuraji kita suruh bergabung dengan Pati Gala, Ular Kaki
Seribu," usul Monyet Tanpa Bayangan. "Barangkali kalau mereka bergaul bersama, sifat
Wuraji akan berubah."
"Itu sudah kupikirkan,
Monyet Tanpa Bayangan," sahut Ular Kaki Seribu.
"Pati Gala? Siapa dia,
Guru?" tanya Wuraji seraya mengernyitkan alisnya. Jelas kalau pemuda
berahang kokoh ini tidak mengenal orang yang disebutkan gurunya. Ditatapnya
wajah kedua kakek itu berganti-ganti.
"Kami memang belum pernah menceritakannya padamu, Wuraji,"
ucap Ular Kaki Seribu.
"Maukah Guru memberitahukannya
padaku?" pinta Wuraji.
"Memang, kami ingin
memberitahumu. Dan harus memberitahumu!" Monyet Tanpa Bayangan ikut
menimpali.
"Pati Gala adalah murid kami
sebelum kau, Wuraji," sambung Ular Kaki Seribu. "Jadi, dia adalah
kakak seperguruanmu."
''Tapi, mengapa aku tidak pernah
mengetahuinya, Guru?" tanya Wuraji lagi. Masih terdengar nada keheranan
dalam suaranya.
"Karena kau jadi murid kami
setelah dia pergi," lagi-lagi Monyet Tanpa Bayangan
menyahuti.
Wuraji mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kini pemuda berahang kokoh ini baru mengerti permasalahannya.
"Jadi..., aku harus mencari kakak
seperguruanku itu, Guru?" tanya Wuraji meminta kepastian.
Ular Kaki Seribu menganggukkan kepalanya.
''Tapi, bagaimana aku bisa
menemukan dia, Guru? Bukankah aku belum pernah bertemu dengan dia?! Dan...,
andaikata bertemu pun, belum tentu dia akan mengenaliku."
"He he he...!"
Ular Kaki Seribu hanya tertawa
terkekeh-kekeh saja melihat muridnya kebingungan.
"Kau cari saja orang yang
berjuluk Siluman Tangan Maut. Aku yakin tidak akan sulit kau menemukan
dia," Monyet Tanpa Bayangan yang menjawab pertanyaan muridnya.
"Sedangkan pertanyaanmu yang lain, tidak perlu kujawab, Wuraji. Kau punya otak, bukan? Nah! Pergunakanlah otakmu!"
Wuraji terdiam seketika.
"Kapan aku harus berangkat,
Guru?" tanya Wuraji setelah terdiam beberapa saat.
''Terserah kau, Wuraji. Tapi,
lebih cepat lebih baik!" sahut Ular Kaki Seribu tegas. Kemudian
dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, diikuti Monyet Tanpa Bayangan.
Kini yang tinggal hanya Wuraji.
"Hhh...!"
Pemuda berahang kokoh ini
menghela napas berat. Ada perasaan tidak enak di hatinya,
melihat tingkah laku kedua
gurunya. Tapi, bagaimana lagi? Guru-gurunya adalah tokoh-tokoh sesat
persilatan. Hanya dia saja yang bernasib tidak begitu baik. Memiliki guru tokoh
golongan hitam! Dan, menjadi pewaris ilmu tokoh sesat
Akan tetapi Wuraji mengusir semua
pikiran-pikiran itu. Dipusatkan perhatian untuk memenuhi tugas gurunya. Di
samping itu juga, di dalam hatinya tersirat niat untuk membalas dendam atas
kematian ayahnya. Dan juga mencari Marni dan Wijaya. Bagaimana keadaan mereka
sekarang? Wuraji tidak pernah tahu. Walaupun sejak menjadi murid Ular Kaki
Seribu dan Monyet Tanpa Bayangan, dia selalu memikirkan nasib kedua orang itu.
Tapi apa dayanya? Kedua gurunya melarang dia mencari mereka. Tapi sekarang
kesempatan itu terbuka. Dia telah bebas.
***
Seorang pemuda berwajah tampan
namun keras, dan berpakaian coklat melangkah pelan memasuki mulut hutan. Sebuah
buntalan yang berisi pakaian tergantung di bahunya.
Pemuda berahang kokoh ini menoleh
ketika pendengarannya yang tajam, menangkap suara derak roda kereta di
belakangnya. Ternyata agak jauh di belakang, dilihatnya sebuah rombongan berkuda. Bergegas dia berjalan agak
ke pinggir, agar tidak mengganggu
jalannya rombongan itu
Semakin lama, rombongan kereta
semakin dekat jaraknya dengan pemuda tampan berahang kokoh itu. Tak lama
kemudian, rombongan kereta itu pun sudah menyusulnya.
Sekilas orang-orang yang berkuda
paling depan memalingkan kepala. Menatap pemuda tampan berahang kokoh itu penuh
perhatian. Pemuda itu pun balas menoleh. Sebentar saja. Bahkan hanya sekilas.
Lalu tidak ambil peduli. Terus saja kakinya melangkah kian jauh ke dalam hutan.
Iring-iringan berkuda itu
ternyata adalah serombongan orang berkuda yang mengawal sebuah kereta. Di
belakang, kanan, kiri, dan belakang kereta, empat orang berwajah dan bersikap
gagah mengiringi. Tampak jelas kalau orang-orang berkuda itu tengah mengawal
kereta.
Semakin lama, rombongan itu pun
semakin jauh meninggalkan pemuda berpakaian coklat itu. Pemuda berahang kokoh
itu terus memandangi rombongan itu hingga semakin jauh ke dalam hutan. Ada
pertanyaan yang bergayut di benaknya. Siapakah gerangan orang yang ada di dalam
kereta? Sehingga sampai dikawal oleh sekumpulan orang yang menilik dari
gerak-geriknya adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat tidak rendah.
Tapi pemuda berahang kokoh itu
tidak ambil peduli. Terus saja dia melanjutkan
perjalanannya. Kini tidak lagi perlahan-lahan seperti tadi, melainkan berlari cepat
mempergunakan ilmu meringankan tubuh.
Ternyata pemuda tampan berahang
kokoh itu memiliki kepandaian tinggi. Gerakannya cepat bukan main. Sehingga
yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan kecoklatan yang melesat cepat
menembus ke dalam hutan.
Pemuda berahang kokoh itu berlari
tidak mengikuti jalan yang ditempuh rombongan kereta tadi. Tapi mengambil jalan
pintas. Menembus rerimbunan pepohonan lebat. Bahkan tidak jarang harus
berlompatan dari satu batang ke batang pohon lainnya. Gerakannya gesit dan lincah
sekali. Tak ubahnya seekor kera.
Mendadak gerakannya terhenti ketika mendengar dentang suara
senjata beradu di kejauhan. Cepat pemuda berbaju coklat ini berhenti sejenak dan mendengarkan lebih seksama. Mencoba mengetahui asal
suara.
Sesaat kemudian, pemuda berahang
kokoh ini telah mengetahui asal suara. Cepat laksana kilat, kakinya. bergerak
menuju ke sana sambil mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya. Berlompatan dari satu pohon ke pohon yang lain.
Tak lama kemudian, pemuda berahang
kokoh ini berhasil menemukan penyebab suara
keributan. Dari cabang sebatang
pohon, pemuda itu melihat rombongan kereta yang tadi
melewannya telah berhenti, dan kini tengah terlibat pertarungan dengan
serombongan orang-orang berwajah kasar.
Beberapa saat lamanya pemuda berpakaian coklat itu
kebingungan. Meskipun sudah dapat menduga kalau rombongan itu dihadang oleh
gerombolan orang kasar. Tapi dia masih belum dapat membedakan rombongan kereta
dan rombongan penghadang.
Tapi sesaat kemudian, pemuda berahang
kokoh ini sudah bisa membedakan. Rombongan berkuda yang tadi mengawal kereta
rata-rata berpakaian hijau muda. Sementara para penghadang rata-rata mengenakan
rompi.
Sama sekali pemuda berpakaian
coklat ini tidak tahu kalau dia bukan hanya berada di pihak yang mengintai.
Tapi juga sedang diintai. Dua sosok yang berpakaian kulit ular dan hitam,
tengah memperhatikannya dari cabang pohon lain. Dan ternyata bukan hanya sosok
berpakaian hitam dan kulit ular saja yang memperhatikan. Tapi juga sepasang muda-mudi.
Yang satu berpakaian ungu dan yang satu lagi berpakaian putih.
Sejenak pemuda berahang kokoh itu
memperhatikan jalannya pertempuran. Sesaat kemudian, dia sudah tahu kalau
kepandaian para pengawal kereta berkuda sebenarnya tidak kalah
dibanding lawan-lawannya. Tapi karena jumlahnya kalah banyak, akhirnya mereka terdesak hebat. Satu orang pengawal
berkuda, rata-rata menghadapi dua sampai tiga penghadang.
Beberapa sosok tubuh yang menilik
dari pakaiannya adalah rombongan pengawal berkuda, sudah bergeletakan bersimbah
darah di tanah. Dan jumlah korban di antara mereka semakin bertambah, ketika
beberapa saat kemudian, terdengar jerit kematian melengking nyaring.
Pemimpin rombongan yang berkumis melintang, marah bukan main
melihat anak buahnya satu demi satu terbantai. Tapi, apa dayanya? Dia
sendiri tengah sibuk mempertahankan selembar nyawanya dari
ancaman maut pimpinan rombongan penghadang. Seorang laki-laki bertubuh tinggi
besar dan bersenjata sebatang golok besar.
Laki-laki berkumis melintang ini menggertakkan gigi. Dan pedang di
tangannya pun berkelebatan
semakin cepat, berusaha merobohkan lawan secepat mungkin.
"Haaat...!"
Seraya mengeluarkan bentakan
nyaring, pedang di tangannya menusuk cepat ke arah leher. Tapi, pimpinan
penghadang hanya tertawa bergelak. Dan sekali memiringkan kepala, tusukan
pedang lewat di samping kepalanya. Dan pada
saat yang sama, golok besar di
tangannya disabetkan ke leher laki-laki berkumis melintang.
Pemimpin rombongan kereta berkuda
itu terkejut bukan main. Sebisa-bisanya dia berusaha mengelak. Tapi....
Crattt!
Ujung golok besar tadi tahu-tahu
sudah menyerempet bagian atas dada kirinya. Dan seketika itu juga, darah segar
merembes dari luka yang robek cukup lebar. Tapi tidak terdengar suara keluhan
dari mulut laki-laki berkumis melintang itu.
Belum lagi pemimpin rombongan
pengawal ini sempat berbuat sesuatu, pimpinan penghadang yang bertubuh tinggi
besar itu sudah melayangkan kakinya.
Bukkk!
Telak dan keras sekali tendangan
itu mengenai perut laki-laki berkumis melintang. Seketika itu juga tubuhnya
terjengkang ke belakang, dan jatuh berdebuk di tanah.
"Haaat...!"
Melihat lawannya tak berdaya,
pimpinan pengha dang itu segera menubruk tubuh yang tertelentang di tanah,
disertai pekikan melengking nyaring. Golok besar di tangannya, ditusukkan cepat
ke arah perut lawannya.
Laki-laki berkumis melintang terkejut bukan main. Serangan itu
datang begitu tiba-tiba. Sehingga tidak ada waktu lagi baginya untuk
mengelak. Bahkan untuk menangkis
pun sudah tidak sempat lagi. Pedangnya sudah terlempar entah ke mana ketika
perutnya kena tendang. Kini yang dapat dilakukannya hanyalah berdiam diri,
menanti datangnya maut.
Tapi sebelum golok itu menghunjam
perutnya, sesosok bayangan biru melesat cepat, memotong arah lompatan pemimpin
rombongan penghadang itu.
Tranggg...!
Suara berdentang keras terdengar memekakkan telinga. Bunga-bunga api
pun memercik ke sana kemari. Laki-laki tinggi besar itu terkejut bukan main
begitu merasakan seluruh tubuhnya
tergetar hebat. Tangan yang
menggenggam golok terasa lumpuh. Bahkan senjatanya pun hampir terlepas dari
genggaman.
Kini di hadapan laki-laki tinggi
besar, membelakangi pemimpin rombongan pengawal kereta berkuda, berdiri seorang
gadis cantik jelita berambut kepang, berpakaian biru. Di tangan gadis itu
tergenggam sebatang pedang.
"Kurang ajar! Siapa kau,
Wanita Liar! Mengapa mencampuri urusanku?! Apakah sudah bosan hidup?!"
pimpinan penghadang itu memaki kalang kabut.
"Pasang telingamu baik-baik!
Aku Marni! Kedatanganku sengaja untuk membasmimu!" gadis berambut kepang
itu balas membentak tak kalah keras.
"Sapi! Rupanya kau sudah
bosan hidup, sehingga berani menentang Raksageti!"
Setelah berkata demikian,
laki-laki tinggi besar yang ternyata bernama Raksageti itu menyerang Marni.
Golok besarnya dibabatkan ke arah leher.
Tapi Marni hanya tersenyum-senyum
saja. Baru setelah sambaran golok mendekat, dengan enak dia merendahkan tubuh,
sehingga serangan itu lewat di atas kepalanya. Dan begitu sabetan golok besar
itu lewat, tangan kanannya bergerak cepat
Crattt!
Luar biasa sekali kecepatan gerak
Marni! Sebelum Raksageti sempat menyadari, pedang di tangan gadis berpakaian
biru itu telah membabat sikunya. Tak pelak lagi tangan laki-laki tinggi besar
itu buntung sebatas siku. Dan seketika itu juga, darah mengalir deras dari
tangan yang putus itu.
Raksageti menggigit bibir menahan
rasa sakit yang mendera. Buru-buru dia menotok jalan darah di sekitar lukanya
untuk menghentikan aliran darah. Sesaat kemudian aliran darah itu pun terhenti.
"Bagaimana, Raksageti?! Masih mau diteruskan
lagi...?" tanya Marni sambil bertolak pinggang. Cairan merah kental masih
menetes dari batang pedangnya.
Raksageti menggeram keras.
Rupanya laki-laki tinggi besar ini tidak jera melihat akibat yang diterimanya.
Pemimpin rombongan penghadang ini tidak percaya kalau gadis semuda Marni mampu
memiliki kepandaian selihai itu. Dia lebih percaya kalau penyebab tangannya putus adalah
keteledorannya sendiri.
Kini dia memungut golok besarnya
dengan tangan kiri. Dan kembali menyerang Marni. Kali ini Raksageti
mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimilikinya.
Sementara itu, begitu gadis berpakaian
biru menyebut namanya, seketika wajah pemuda berpakaian coklat berubah. Jelas,
kalau nama itu mempunyai arti baginya.
"Apakah Marni yang dulu
kurus dan kerempeng itu kini sudah menjadi gadis yang cantik jelita? Menjadi
gadis berwajah molek dan bertubuh menggiurkan?" tanya pemuda berahang
kokoh itu dalam hati.
Karena didorong rasa ingin tahu
tentang gadis itu, juga di samping ingin menolong rombongan pengawal berkuda
yang sudah dapat dipastikan akan terbantai semuanya, akhirnya pemuda berpakaian
coklat ini melompat ke tengah arena pertempuran.
Dan begitu kedua kakinya mendarat
di tanah, pemuda berahang kokoh itu langsung menyelak ke arah seorang pengawal
yang tengah terdesak hebat oleh tiga orang penghadang.
Hebat dan menggiriskan sekali
tindakan pemuda berahang kokoh itu. Begitu memasuki arena pertempuran, kedua
tangan dan kakinya langsung berkelebat. Dan hanya dalam dua gebrakan saja,
ketiga penghadang itu telah berpentalan jauh, dalam keadaan tanpa nyawa! Jerit
panjang memilukan, mengiringi melayangnya nyawa mereka.
Tapi tindakan pemuda berahang
kokoh itu tidak berhenti hanya sampai di situ saja. Kembali tubuhnya melesat ke
arah kelompok penghadang lain yang tengah mengeroyok seorang pengawal pasukan
berkuda. Kaki dan tangan pemuda ini pun kembali beraksi. Tak lama kemudian,
jerit-jerit kematian pun terdengar saling susul.
Marni melirik sekilas ke arah
pemuda berahang kokoh yang juga tengah melirik ke arahnya. Dua pasang mata pun
saling bertemu. Marni melempar sebuah senyum manis. Dan seketika pemuda berahang
kokoh itu terkesima.
Hanya sesaat memang. Tapi, karena
saat itu pemuda itu tengah dikeroyok banyak lawan, hampir saja membuat lehernya
putus tersambar senjata lawan. Untung saja dia sempat
membanting tubuh ke tanah, sehingga serangan itu berhasil dihindarkan.
"Hi hi hik..!"
Gadis berpakaian biru tertawa
mengikik, melihat kejadian yang menimpa pemuda berahang kokoh. Karuan saja hal
ini membuat sekujur
wajah pemuda berpakaian coklat
merah padam ketika bangkit dari bergulingnya.
Ternyata baik Marni mau pun
pemuda berahang kokoh sama sekali tidak mengalami kesulitan menghadapi
lawan-lawannya. Tingkat kepandaian si gadis dan juga tingkat kepandaian pemuda
berahang kokoh itu berada amat jauh di atas lawan-lawannya.
Apalagi Marni yang hanya
menghadapi seorang lawan. Enak saja dia menghadapi dan mempermainkannya.
Rupanya gadis berpakaian biru ini suka mempermainkan orang. Baru setelah dirasa
cukup, tiba-tiba Marni bergerak cepat. Kaki kanannya melakukan tendangan
bertubi-tubi ke depan.
Plakkk, bukkk, bukkk...!
Terdengar suara keras
berkali-kali ketika kaki Marni menghujani Raksageti. Tubuh pimpinan penghadang itu pun
terlempar jauh ke belakang. Darah segar menetes deras dari mulut hidung, dan
telinganya. Raksageti tewas sebelum tubuhnya ambruk mencium tanah.
Tendangan pertama yang dilepaskan
gadis berpakaian biru itu mengenai pergelangan tangan Raksageti, sehingga sambungan tulang
pergelangan laki-laki itu terlepas, dan senjatanya terlepas dari genggaman.
Tendangan susulan yang dikirimkan Marni, mengenai perut dan dada. Dan tendangan
susulan itulah yang menyebabkan nyawa laki-laki tinggi besar ini melayang
seketika.
Bersamaan dengan tewasnya
Raksageti, pemuda berahang kokoh pun berhasil merobohkan dua orang pengeroyok
yang tersisa.
Seluruh pengawal yang sejak tadi
memperhatikan jalannya pertarungan, menghela napas lega begitu melihat seluruh
rombongan penghadang berhasil dibinasakan.
Laki-laki berkumis melintang, yang menjadi pemimpin rombongan, segera menghampiri sepasang muda-mudi
itu sambil tersenyum lebar.
Tapi baru juga beberapa tindak
kakinya melangkah, gadis berpakaian biru sudah berkelebat meninggalkan tempat itu.
Cepat bukan main gerakannya. Sehingga dalam sekejap saja, tubuh Marni sudah
berada dalam jarak sepuluh tombak dari situ.
"Nisanak! Tunggu...!"
laki-laki berkumis melintang berteriak mencegah. Tapi Marni sama sekali tidak
mempedulikan, dan terus saja melangkahkan kakinya.
"Hhh...!"
Pemimpin rombongan itu menghela
napas berat. Kemudian mengalihkan perhatian ke arah pemuda berpakaian coklat.
Namun, kembali dia tersentak. Ternyata pemuda itu pun melesat pergi. Sia-sia
dia berteriak-teriak menyuruh pemuda penolongnya untuk berhenti melangkah
sejenak.
Akhirnya laki-laki berkumis
melintang hanya bisa mengangkat bahu, kemudian
melangkahkan kakinya. Kembali ke tempat
semula.
"Urus semua kawan-kawan kita
yang tewas atau yang tuka. Dan kita lanjutkan perjalanan!" ucap pemimpin
rombongan itu pada anak buahnya yang masih tersisa.
Tanpa menunggu diperintah dua
kali, sisa pengawal yang masih hidup bergegas melaksanakan perintah
pemimpin mereka. Sementara si
kumis melintang menatap ke depan, ke arah kepergian sepasang muda-mudi perkasa
penolongnya, dengan pandang mata kecewa. Kecewa karena tidak sempat mengenai
kedua orang itu lebih jauh.
Bukan hanya laki-laki berkumis
melintang itu saja yang menatap kepergian sepasang muda-mudi tadi dengan
perasaan kecewa. Masih ada empat pasang mata lagi yang menatap penuh kecewa.
Tapi, rasa kecewa yang melanda mereka, masing-masing berbeda. Mata dari sosok
hitam, kulit ular, dan ungu serta putih.
Dan begitu melihat pemuda
berpakaian coklat tadi melesat pergi, bayangan hitam dan kulit ular itu pun
melesat cepat pula. Menyusul arah kepergian pemuda itu.
Belum lama dua sosok bayangan itu
melesat sosok bayangan ungu dan putih, bergerak pula menguntit dua sosok
bayangan yang menguntit pemuda berahang kokoh.
***
4
"Nisanak...!
Tunggu...!"
Pemuda berpakaian coklat
berteriak keras memanggil, setelah sampai sekian lamanya, tak juga mampu mengejar
gadis berpakaian biru. Padahal dia telah mengerahkan seluruh ilmu meringankan
tubuh yang dimilikinya. Jangankan mengejar, memperpendek jarak pun tidak mampu!
Diam-diam dalam hati pemuda berahang kokoh ini timbul rasa penasaran. Dia
adalah murid seorang tokoh sesat yang terkenal dengan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Dan dia telah mewarisinya.
Mengapa sekarang tidak mampu mengejar seorang gadis muda?
Bukan hanya pemuda berpakaian
coklat itu saja yang merasa penasaran. Marni pun dilanda perasaan serupa. Seluruh ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki telah dikeluarkannya, tapi tetap saja dia
tidak mampu memperpanjang jarak. Hal ini menandakan kalau pengejarnya memiliki
ilmu meringankan tubuh yang tidak berada di bawahnya.
Rasa penasaran itulah yang
membuat gadis ini malah semakin mempercepat larinya. Tapi,
ternyata pemuda yang mengejarnya
tetap saja mampu mengimbangi. Sehingga jarak di antara mereka tetap tidak
berubah.
"Nisanak...! Tunggu
sebentar...!" lagi-lagi pemuda berpakaian coklat itu berteriak.
Kali ini gadis berpakaian biru
tidak meneruskan langkah. Seketika dia menghentikan larinya. Kemudian
membalikkan tubuh. Berdiri menanti pemuda yang mengejarnya. Napas gadis ini
nampak memburu. Bahkan wajahnya yang berkulit putih, halus dan mulus pun nampak
memerah. Peluh membasahi kening dan lehernya.
Pemuda berahang kokoh gembira
bukan main melihat gadis berpakaian biru menghentikan larinya dan berdiri
menunggu. Bergegas dia berlari menghampiri dan menghentikan langkahnya begitu berada dalam jarak dua tombak.
"Mau apa kau
mengejar-ngejarku?!" tanya gadis berpakaian biru itu pelan.
"Aku hanya ingin bertanya
satu hal padamu, Nisanak," ucap pemuda berpakaian coklat, langsung pada
pokok permasalahan. Wajahnya terlihat tegang. Bahkan suaranya pun terdengar
bergetar. Suatu pertanda kalau pemuda ini dilanda perasaan tegang.
"Apa itu? Katakanlah," sahut gadis
berpakaian biru, pelan. Tentu saja dia mengenal pemuda ini sebagai orang
yang telah membantunya
melawan gerombolan orang kasar.
Ada perasaan suka di hatinya
melihat pemuda yang berwajah gagah dan bersikap sopan itu.
"Apakah benar namamu Marni,
Nisanak?" tanya pemuda berahang kokoh. Sepasang matanya menatap wajah
molek gadis di hadapannya penuh selidik.
"Benar. Namaku memang Marni. Memangnya kenapa?" gadis
berpakaian biru malah balik bertanya.
Perasaan heran merayapi hati
gadis ini. Mengapa pemuda berpakaian coklat itu begitu ingin tahu kepastian
namanya?
"Kau... kenal dengan
Wuraji?" pemuda tampan berahang kokoh itu balas bertanya.
"Wuraji...," ucap Marni
lambat-lambat "Aku memang kenal orang yang bernama Wuraji. Dia memang
sahabatku sewaktu kecil. Tapi apakah orang yang kau maksudkan sama dengan
Wuraji yang kukenal, aku tidak yakin. Yang jelas, Wuraji sahabatku itu mungkin
telah tewas."
Ada nada kesedihan dalam ucapan
gadis berpakaian biru itu.
"Mengapa kau begitu yakin
kalau Wuraji sahabatmu itu telah tewas?" sehdik pemuda berpakaian coklat
Marni tercenung sejenak. Tidak
langsung menjawab pertanyaan itu.
"Dalam sebuah perjalanan,
dia terlempar ke sungai yang berarus deras. Dan tak pernah kembali"
"Akulah Wuraji sahabatmu
Marni," ucap pemuda berpakaian coklat.
"Apa?!" Marni
membelalakkan sepasang matanya. "Jangan harap kau bisa membohongiku,
Kisanak. Aku tahu betul wajah Wuraji. Wajahnya tidak sepertimu. Memang ada
sedikit kemiripan antara wajahmu dengannya. Tapi, aku yakin kau bukan
Wuraji."
Pemuda berahang kokoh tersenyum
lebar. "Akulah Wuraji itu, Marni. Suntara, Ketua
Perguruan Kumbang Merah adalah
ayahku." "Kau... kau...." Marni tergagap.
"Aku selamat, Marni. Dua
orang sakti telah menyelamatkanku dari kematian. Bahkan
mengangkatku sebagai murid. Kau pun kulihat telah jadi pendekar wanita yang
lihai. Ceritakanlah semua pengalamanmu, Marni Dan..., mana Paman Wijaya?"
"Aku tidak tahu, Kang,"
kini Marni tidak ragu-ragu lagi kalau pemuda di hadapannya benar-benar Wuraji.
Dan dengan sendirinya perasaan sukanya semakin membesar. "Dia menyusulmu
terjun ke sungai. Dan setelah itu, aku tidak pernah menemuinya lagi."
Wuraji tercenung sejenak.
"Mudah-mudahan saja Paman Wijaya selamat, Marni." Hanya itu saja
yang diucapkan Wuraji.
"Mudah-mudahan, Kang,"
harap Marni pula. Suasana jadi hening sejenak setelah gadis berpakaian biru itu
menghentikan kata-katanya.
"O ya, Marni. Aku ingin
mendengar semua pengalamanmu. Perlu kau ketahui, aku pun sampai tidak
mengenalimu lagi tadi. Kau kini telah jadi seorang gadis yang begini lihai
dan... cantik."
Seketika wajah Marni menyemburat
merah. Pujian Wuraji-lah yang menjadi penyebabnya. Sejenak gadis ini tercenung.
Rupanya tengah mengumpulkan segenap ingatannya.
"Sewaktu kau terlempar ke
sungai, Paman Wijaya segera menyusulmu. Karena tidak ada hal lain yang dapat
kulakukan, aku hanya diam menunggu di rakit. Tapi sampai bosan menunggu, kau
dan Paman Wijaya tidak pernah datang. Sementara perutku mulai terasa lapar.
Rasa lapar dan takut membuatku tak mampu menahan perasaan hati. Aku
menangis."
Marni menghentikan ceritanya
sejenak untuk mengambil napas, dan juga mencari-cari kata-kata untuk
melanjutkan ceritanya.
"Rupanya suara tangisku
membuat seorang kakek datang. Setelah menceritakan semua yang terjadi kakek itu
lalu mencari kalian. Hebat sekali cara kakek itu mencari, Kang. Dia menggunakan
papan yang agak lebar di bawah tapak sepatunya. Lalu bergerak di atas air.
Meloncat ke sana kemari."
"Hm..., lalu?" tanya
Wuraji menyelak.
''Tak lama kemudian, kakek itu
muncul kembali dengan membawa cerita yang mengejutkan. Katanya kau dan Paman
Wijaya mungkin sudah tewas, terseret air terjun."
"Hm...!" Wuraji bergumam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Rupanya kakek itu kasihan
padaku. Lalu mengajakku ke tempat tinggalnya. Kemudian mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian yang dimilikinya. Kakek itu ternyata
memiliki ilmu yang tinggi, Kang. Terutama sekali ilmu meringankan tubuhnya.
Kakek itu berjuluk Camar Laut Merah."
Wuraji menganggukkan kepalanya.
Dari kedua orang gurunya, dia telah mendengar tokoh yang berjuluk Camar Laut
Merah. Seorang tokoh persilatan aliran putih yang memiliki ilmu kepandaian amat
tinggi, dan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Tidak kalah dengan Monyet
Tanpa Bayangan, gurunya.
"Sepuluh tahun aku
dididiknya, Kang. Lalu aku pamit untuk mencari musuh besar kita. Membalas
dendam kematian ayahmu, orang yang telah menanam budi besar padaku."
Wuraji tercenung. Memang pemuda berpakaian coklat ini telah
mengetahui cerita itu. Ayahnya telah menceritakan padanya kalau Marni adalah
anak yang berhasil ditemukan ayahnya, di sebuah desa yang telah hancur lebur
dijarah perampok. Kala itu Marni baru berusia lima
tahun. Ayahnya lalu membawa Marni
karena sudah tidak punya kerabat lagi.
"Sekarang kau yang ganti
bercerita, Kang. Aku ingin mendengar semua pengalamanmu."
Wuraji pun menceritakan semua pengalamannya. Tapi
sama sekali tidak memberitahukan kalau kedua gurunya
adalah pentolan-pentolan kaum sesat.
"Sekarang ke mana tujuanmu,
Kang?" tanya Marni ketika pemuda berpakaian coklat itu menyelesaikan ceritanya. Sepasang matanya
menatap wajah pemuda itu.
"Hhh...!" Wuraji
menghela napas berat. "Tujuan utamaku adalah mencari pembunuh ayah dan seluruh kakak seperguruanku..., dan membalaskan kematian mereka.
Tapi...."
"Kenapa, Kang?" Marni
merasa heran melihat keragu-raguan yang membayang di wajah pemuda itu.
"Guru-guruku menyuruh
mencari kakak seperguruanku...."
"Apa keperluannya,
Kang?"
"Mereka ingin aku belajar
hidup darinya...," pelan dan berdesah suara Wuraji.
"Belajar hidup?!" dahi
Marni berkernyit. "Aku tidak mengerti maksud ucapan Kakang."
Wuraji terdiam. Pemuda berahang
kokoh ini tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Sementara Marni masih terus
menunggu jawaban dengan penuh rasa ingin tahu.
"Guru-guruku adalah
tokoh-tokoh sesat. Dan mereka ingin agar aku jadi penjahat juga. Tapi, tetap
saja aku tidak bisa. Sehingga mereka menyuruhku bergabung dengan kakak
seperguruanku. Maksud mereka, agar aku dapat meniru-niru kelakuan kakak
seperguruanku."
"Ih...!" Marni berseru
kaget. "Rencana gila! Siapakah nama kakak seperguruanmu itu, Kang?"
"Aku sendiri belum pernah
berjumpa dengannya. Tapi, guruku memberi tahu julukannya, Siluman Tangan
Maut."
"Siluman Tangan Maut?!"
Marni berseru kaget "Dia adalah seorang tokoh hitam yang amat jahat dan
kejam!"
"Kau mengenalnya,
Marni?" Wuraji ingin tahu.
"Kenal sih tidak,"
Marni menggelengkan kepalanya. ''Tapi, sepak terjangnya sudah lama kudengar.
Dia telah membuat kekacauan di dunia persilatan. Sudah tak terhitung lagi
orang-orang yang mati di tangannya. Kau tahu, Kang? Rombongan berkuda yang kita
tolong tadi adalah orang kaya yang melarikan diri dari tempat tinggalnya karena
takut pada Siluman Tangan Maut. Padahal orang kaya itu tahu kalau di hutan ini
ada segerombolan perampok yang akan menghadang perjalanannya. Aku sendiri
mengetahuinya secara kebetulan. Mendengar percakapan orang yang mengawal orang kaya
itu."
"Ah...! Sejahat itukah
dia?" desah Wuraji penuh rasa terkejut
Marni menganggukkan kepalanya.
"Dan kau..., menuruti saja
saran guru-gurumu untuk belajar hidup dari orang seperti dia?!"
Kini ganti Wuraji yang
menganggukkan kepalanya.
"Gila!" desis Marni
tajam. "Mengapa kau mau saja melaksanakan perintah mereka, Kang?! Kau
ingin jadi penjahat?! Ah...! Kalau saja ayahmu mendengar semua ini, mungkin dia
akan bangkit dari liang kuburnya.''
Wuraji tercenung mendengar ucapan berapi-api itu. Kepala pemuda ini
tertunduk dalam.
"Aku terpaksa," sahut
Wuraji. Suaranya terdengar mendesah.
"Maksudmu...? Guru-gurumu
memaksa?!" selak Marni cepat "Jangan khawatir, Kang. Aku ada di
sampingmu. Kita tentang kesewenang-wenangan mereka!"
"Kau salah paham, Marni,"
kembali Wuraji menggelengkan kepalanya. "Guru-guruku sama sekali tidak
memaksa."
"Aku semakin tidak mengerti
maksudmu, Kang."
"Aku terpaksa menerima usul
mereka hanya sekadar, yahhh...! Kuanggap ini sebagai
balas budi atas kebaikan mereka
yang telah susah payah merawat dan mendidikku."
"Lalu..., hanya untuk
membalas budi mereka, kau rela jadi penjahat...?" desak Marni penasaran.
"Siapa yang ingin jadi
penjahat?!" bantah Wuraji cepat
"Heh...?!" Marni
terkejut "Bukankah kau sendiri yang mengatakannya tadi?"
"Aku tidak berkata demikian.
Aku hanya mengatakan, guru menyuruh untuk menjumpai kakak seperguruanku dan
belajar hidup darinya. Kalau aku tetap tidak bisa, tidak jadi masalah. Yang
penting, hati ini tenang, karena telah menunaikan perintah mereka."
"Jadi...?" wajah Marni mulai berseri
kembali.
"Kewajibanku hanya menemui kakak seperguruanku. Masalah mengikuti
jejaknya atau tidak, tergantung pada kemauanku sendiri."
"Kalau begitu..., aku ikut,
Kang," ucap Marni sambil tersenyum gembira. "Aku juga ingin tahu,
seperti apakah tokoh yang menggemparkan itu!"
***
Wuraji dan Marni melangkah
perlahan menuju sebuah bangunan besar berhalaman luas yang dikelilingi pagar
tembok tinggi dan kokoh. Di
bagian depan pintu gerbang,
nampak berdiri dua orang kasar berwajah angker. Sebatang golok nampak
tergantung di pinggang mereka.
Dua orang berwajah kasar itu
mengerutkan alisnya, begitu melihat sepasang muda-mudi yang melangkah mendekati
pintu gerbang.
"Berhenti...!" seru
penjaga yang berwajah bopeng, seraya memasang wajah angker, begitu jarak di
antara mereka ringgal dua tombak lagi.
Wuraji dan Marni langsung
berhenti melangkah.
"Siapa kalian?! Dan mengapa kalian
kemari?!" tanya penjaga yang berkumis jarang. Tangan kanannya bergerak
memelintir kumisnya yang hanya beberapa lembar saja. Sementara sepasang matanya melirik ke arah
Marni. Merayapi wajah molek dan tubuh montok menggiurkan di hadapannya.
Marni langsung membuang muka
melihat tingkah laki-laki berkumis jarang yang
memuakkan itu.
Melihat sikap Marni, wajah laki-laki
berkumis jarang itu merah padam karena marah. Wuraji yang melihat hal ini jadi
merasa khawatir akan terjadi keributan. Dan itu tidak diinginkannya. Maka buru-buru dia
melangkah maju.
"Aku Wuraji. Kedatanganku
kemari untuk bertemu Siluman Tangan Maut."
Ucapan pemuda berahang kokoh itu
terbukti ampuh. Mendengar julukan itu disebut seketika wajah laki-laki berkumis
jarang berubah hebat
"Apa keperluanmu menemui
ketua kami?" tanya laki-laki yang berwajah bopeng. Kali ini suaranya
terdengar lunak. Tidak keras dan kasar seperti sebelumnya.
"Aku adalah adik
seperguruannya," sahut Wuraji pelan
"Ahhh...!"
Tentu saja kedua penjaga itu
terkejut bukan main mendengarnya. Beberapa saat
lamanya mereka terlongong bingung. Menilik sikap dan gerak-geriknya, sepasang
muda-mudi ini bukanlah termasuk golongan kaum sesat. Lalu mengapa pemuda
berpakaian coklat ini mengaku adik seperguruan Siluman Tangan Maut?
"Siapa gurumu?" tanya
laki-laki berkumis jarang. Nada suaranya menyiratkan
ketidakpercayaan
"Guruku berjuluk Ular Kaki
Seribu dan Monyet Tanpa Bayangan."
Kedua penjaga itu tercenung
sejenak. Mereka memang tidak pernah tahu asal-usul ketua mereka. Maka keduanya tidak bisa memastikan kebenaran ucapan Wuraji.
"Kalian tunggu
sebentar," ucap laki-laki berwajah bopeng. "Aku hendak memberitahu
kedatangan kalian pada ketua."
Setelah berkata demikian, dia
bergegas melangkah ke dalam. Pintu gerbang memang sengaja tidak dikunci
sehingga laki-laki berwajah bopeng itu tidak mengalami kesulitan ketika masuk
ke dalam.
Wuraji dan Marni terpaksa
menunggu dengan ditemani penjaga yang berkumis jarang. Cukup lama juga sepasang
muda-mudi itu menunggu, sebelum akhirnya laki-laki berwajah bopeng muncul
kembali.
"Kalian berdua disuruh
masuk," ucap laki-laki itu mempersilakan.
Tanpa merasa ragu-ragu sedikit
pun, Wuraji dan Marni melangkah ke dalam. Dan begitu sampai di halaman yang
luas, sepasang muda-mudi ini melihat sesosok tubuh yang berdiri tegak seperti
sedang menunggu. Kedua tangannya bersedekap di depan dada.
Wajah Wuraji dan Marni kontan
berubah begitu mengenali sosok tubuh itu. Seorang laki-laki berusia sekitar
empat puluh lima tahun dan berwajah meruncing ke depan. Pakaiannya adalah
sebuah rompi berwarna kuning. Tangan kirinya menggenggam sebuah trisula.
Baik Wuraji maupun Marni kenal
betul siapa laki-laki berompi kuning ini. Dialah orang yang telah membunuh
Ketua Perguruan Kumbang Merah, ayah Wuraji! Laki-laki inilah yang dikenal oleh
Wuraji dan Marni bernama Wisanggeni.
Memang sepasang muda-mudi ini
mendengar nama itu dari mulut almarhum ayah Wuraji.
Meskipun kemarahan yang amat
sangat melanda hatinya, tapi Wuraji masih mampu menahan diri untuk tidak
terburu-buru membuat perhitungan. Sebuah dugaan lain yang berkelebat di benaknya, membuatnya masih mampu
menahan diri.
Suara gemeretak di sebelahnya, menyadarkan Wuraji kalau
bukan hanya dirinya saja yang dilanda amarah. Ada seorang lagi yang juga tengah
diamuk dendam. Orang itu adalah Marni. Dan untuk mencegah gadis berpakaian biru
itu tidak langsung menyerang, maka Wuraji segera berbisik pelan di telinga
gadis itu.
''Tahan dulu amarahmu, Marni. Aku
ingin tahu, apakah dia yang berjuluk Siluman Tangan Maut. Menurut guruku, nama kakak
seperguruanku adalah Pati Gala."
Mendengar keseriusan ucapan
Wuraji, Marni tidak berani membantah. Dia tahu betul arti penting hal itu bagi
Wuraji. Ditariknya napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat untuk
meredakan gejolak amarah yang seperti akan memecahkan dadanya.
"Kau yang bernama
Wuraji?" tanya laki-laki berompi kuning yang bukan lain adalah
Wisanggeni.
Wuraji hanya menganggukkan
kepalanya. Dia sengaja tidak menjawab. Khawatir kalau-kalau suaranya akan
terdengar bergetar.
"Benar kau murid Ular Kaki
Seribu dan Monyet Tanpa Bayangan?" tanya Wisanggeni lagi.
Kembali Wuraji menganggukkan
kepalanya.
"Apakah gadis itu saudara
seperguruan kita juga?"
Wuraji menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak bisa bicara,
Wuraji?" Wisanggeni mulai jengkel, begitu menyadari kalau
pertanyaannya hanya dijawab dengan anggukan dan gelengan kepala.
"Bicaralah sebelum hilang kesabaranku. Dan kau kubunuh! Ingat, meskipun
kau adik seperguruanku, aku tidak segan-segan membunuhmu!"
Tidak nampak ada perubahan pada
wajah Wuraji.
"Aku ingin menanyakan
sesuatu. Boleh?" terdengar kaku suara pemuda berahang kokoh ini. Padahal
Wuraji sudah berusaha keras untuk melunakkan suaranya.
Wisanggeni mengerutkan alisnya.
Rupanya laki-laki berpakaian rompi kuning ini menangkap nada suara yang
terdengar agak kasar itu. Kelakuan orang yang mengaku sebagai adik
seperguruannya ini begini aneh sehingga membuatnya curiga. Dengan
sendirinya, seluruh otot-otot dan urat-urat syaraf di tubuhnya pun
menegang. Apalagi ketika melihat
wanita ber-pakaian biru yang sejak tadi menundukkan kepala saja. Tak sedikit
pun mengangkat kepalanya.
"Tanyalah apa yang ingin kau
tanyakan." Wisanggeni menyahut tak kalah kaku.
"Apakah kau yang berjuluk
Siluman Tangan Maut dan bernama Pati Gala?"
"Benar. Akulah orang yang
kau cari," sahut Wisanggeni dingin. ''Tapi sekarang namaku bukan lagi Pari
Gala. Tapi Wisanggeni."
"Mengapa?!" tanya
Wuraji dengan suara kian gemetar karena dugaan yang semakin kuat kalau orang di
hadapannya adalah musuh besarnya.
"Karena musuh besarku telah
berhasil kubunuh. Dulu aku bersumpah, selama belum berhasil membunuh musuh
besarku, nama asliku tidak kuperkenalkan." Siluman Tangan Maut memberi
tahu.
Wuraji mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kini dia mengerti. Rupanya Pati Gala hanya nama samaran.
"Siapakah musuh besarmu,
Wisanggeni?" Wuraji bertanya lagi, ingin memastikan.
"Suntara."
"Kalau begitu, mampuslah
kau!"
Terdengar bentakan nyaring, yang
bukan hanya membuat Siluman Tangan Maut terkejut. Tapi juga Wuraji.
Bentakan itu ternyata keluar dari
mulut Marni. Dan seiring dengan keluarnya suara bentakan, gadis berpakaian biru
ini sudah menyerang Siluman Tangan Maut dengan sebuah serangan mematikan.
Jari-jari telunjuk kedua tangan
Marni menegang kaku. Dan langsung menusuk cepat ke arah tenggorokan Wisanggeni
alias Pati Gala.
Ciiit, ciiit...!
Suara mencicit nyaring terdengar mengiringi tibanya totokan-totokan Marni. Memang hebat bukan main serangan
gadis berpakaian biru ini Apalagi dilakukan dengan tiba-tiba.
Untung, Siluman Tangan Maut sudah
sejak tadi bersikap waspada. Sehingga meskipun serangan Marni tiba begitu
cepat, dia mampu bergerak lebih cepat lagi.
Wisanggeni menarik kaki kanannya
ke belakang, seraya mendoyongkan tubuh, sehingga totokan-totokan itu mengenai
tempat kosong. Sejengkal di depan wajahnya.
Marni yang tengah diamuk dendam,
tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu serangan totokannya luput, kaki
kanannya mencuat ke arah perut, dengan sebuah tendangan lurus.
Kali ini Siluman Tangan Maut
tidak mengelak. Tapi menangkis dengan membacokkan tangan kanannya ke bawah.
Takkk!
Terdengar suara berdetak keras
seperti beradunya dua buah benda keras, tatkala tangan dan kaki yang sama-sama
mengandung tenaga dalam penuh itu berbenturan.
Marni meringis begitu merasakan
kakinya sakit bukan main. Gadis berpakaian biru ini terhuyung-huyung dua
langkah ke belakang. Sekujur tubuhnya tergetar hebat. Sementara Siluman Tangan
Maut hanya tergetar saja kedua tangannya.
"Keparat! Kenapa kau
menyerangku, Gadis Liar?!" bentak Wisanggeni seraya melempar tubuh ke
belakang, lalu bersalto beberapa kali di udara sebelum mendarat ringan di
tanah.
Sepasang mata gadis ini berapi-api
memandang Siluman Tangan Maut.
"Aku adalah murid musuh
besarmu!" tandas Marni, keras.
"Ooo..., jadi kau murid
Suntara?" kalem dan tenang suara Siluman Tangan Maut
''Tidak usah banyak bicara!"
sergah Marni keras. "Yang jelas, kau harus membayar semua kekejianmu
dengan nyawa!"
Setelah berkata demikian, Marni
kembali melancarkan serangan. Tubuh gadis berpakaian biru ini melayang di udara, melancarkan tendangan terbang.
Wisanggeni hanya tersenyum
mengejek. Dari benturan tadi, dia sudah bisa menebak kalau tenaga dalamnya
masih lebih unggul daripada
tenaga dalam Marni. Oleh karena
itu, dia tidak mau mengelak. Laki-laki berompi kuning ini sengaja akan
menggunakan kelebihannya untuk mendesak gadis berpakaian biru ini.
Sebagai orang yang telah kenyang
makan asam garam dunia persilatan, dan puluhan bahkan mungkin ratusan kali bertempur
menghadapi lawan tangguh, Wisanggeni dapat menduga kalau tendangan terbang itu
kemungkinan besar akan datang beruntun. Maka, dia pun bersiap siaga.
Dugaan laki-laki berompi kuning
ini ternyata tepat. Serangan Marni ternyata tidak hanya sekali saja. Mula-mula
yang datang lebih dulu adalah kaki kanan, ke arah leher Wisanggeni.
Siluman Tangan Maut segera menyilangkan kedua tangannya di
depan wajah. Tanpa ragu-ragu lagi, seluruh tenaga dalam yang
dimilikinya dikerahkan Dukkk!
Saking kuatnya tendangan yang
dilakukan Marni, apalagi ditambah dengan tenaga luncurnya, menyebabkan tenaga serangan
itu jadi berlipat ganda. Maka meskipun telah mengerahkan seluruh tenaganya, tak
urung kuda-kuda Wisanggeni tergempur. Bahkan kedua tangannya goyah.
Dan di saat itulah, kaki kiri
Marni meluncur tiba! Cepat bukan main datangnya serangan yang kedua ini.
Serangan ini memang
merupakan serangan beruntun.
Tapi, masih lebih cepat lagi gerakan Wisanggeni. Laki-laki berompi kuning ini segera menghentakkan kedua
tangannya ke bawah.
Plakkk!
Marni meringis. Kaki kirinya
terasa sakit bukan main. Tangkisan yang dilakukan Siluman Tangan Maut memang
keras sekali. Meskipun begitu, gadis ini masih sempat mempertunjukkan
kelihaiannya. Seraya mengeluarkan pekik
melengking nyaring, tubuhnya melenting ke belakang. Bersalto beberapa kali di
udara, dan mendarat ringan tanpa suara di tanah, walaupun agak terhuyung.
Terdengar suara gemeretak ketika
Siluman Tangan Maut menggertakkan
gigi. Laki-laki berompi kuning ini
memang murka bukan main. Maka begitu melihat Marni menghentikan serangan, dia pun balas
menyerang.
***
5
"Hiyaaa...!"
Sekali menyerang, Siluman Tangan
Maut sudah mengeluarkan ilmu andalannya,
'Tendangan Angin Puyuh'. Kaki kanannya melakukan tendangan miring
bertubi-tubi ke arah perut, dada, dan leher. Cepat bukan main tendangan
beruntun itu. Angin serangannya pun menimbulkan suara menderu-deru yang membuat
batu-batu kecil berpentalan tak tentu arah. Debu pun mengepul tinggi ke udara.
Marni tidak berani bertindak
gegabah. Gadis berpakaian biru ini sadar kalau serangan lawan amat berbahaya.
Tambahan lagi dia belum mengetahui perkembangan gerakan lawan. Maka dia tidak
berani menangkis. Marni langsung melompat mundur ke belakang, sehingga tendangan tadi mengenai tempat kosong. Beberapa jengkal di depan
tubuhnya.
Tapi Wisanggeni yang tengah
murka, tidak mau memberi kesempatan lagi. Begitu
serangannya berhasil dielakkan, dia pun kembali melancarkan serangan susulan.
Sesaat kemudian, kedua tokoh ini sudah terlibat dalam sebuah pertarungan
sengit.
Tentu saja keributan yang
terjadi, segera mengundang perhatian anak buah Siluman
Tangan Maut. Sebentar saja tempat
itu telah dikurung belasan orang berwajah kasar. Tapi mereka sama sekali tidak
berani bertindak, kalau tidak diperintah Wisanggeni.
Wuraji memperhatikan jalannya
pertarungan dengan perasaan cemas bukan main. Di dalam dada pemuda berpakaian
coklat ini tengah terjadi pertentangan batin yang hebat. Sungguh dia tidak
menyangka kalau kakak seperguruan yang belum pernah dilihatnya adalah
pembunuh ayah dan kakak-kakak seperguruannya.
Hal inilah yang membuat pemuda
berpakaian coklat ini terpaku untuk beberapa saat Tak tahu harus berbuat apa.
Sementara itu pertarungan antara
Marni dan Siluman Tangan Maut berlangsung cepat. Kedua orang ini memang
sama-sama memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Hal ini ini tidak aneh.
Karena Wisanggeni adalah murid kesayangan tokoh sesat yang memiliki ilmu
meringankan tubuh luar biasa, dan berjuluk Monyet Tanpa Bayangan. Begitu pula
halnya dengan Marni.
Karena pertarungan yang berjalan
cepat itulah, maka dalam waktu singkat tiga puluh jurus telah berlalu. Dan
mulai tampak kalau Marni bukan tandingan Siluman Tangan Maut yang memiliki
kepandaian menggiriskan.
Marni terdesak hebat. Memang
gadis berpakaian biru ini kalah segala-galanya dibanding lawannya. Kalah
dalam hal tenaga dalam, kecepatan gerak, maupun pengalaman bertarung.
Lewat tiga puluh lima jurus,
Marni hanya mampu mengelak. Sesekali menangkis, dan hanya kadang-kadang
mengjrim serangan balasan.
"Haaat..!"
Marni berteriak keras. Dan
seiring dengan teriakannya, tubuhnya melenting jauh ke belakang,
lalu bersalto beberapa kali di udara. Tapi Wisanggeni tidak
mau memberinya kesempatan.
Begitu melihat tubuh lawannya melenting, segera dia melompat mengejar. Siluman
Tangan Maut tidak mau memberi kesempatan pada Marni untuk memperbaiki posisi.
Tapi kali ini Wisanggeni salah
perhitungan. Sambil bersalto, tangan Marni bergerak cepat ke arah punggung. Dan
begitu serangan yang memburunya menyambar tiba, tahu-tahu pedang gadis ini
melesat cepat memapak.
Wisanggeni terkejut bukan main
melihat hal ini. Sebelum serangannya tiba, sudah dapat dipastikan kalau
tubuhnya akan terlebih dulu tertembus pedang lawan. Oleh karena itu, buru-buru
serangannya dibatalkan.
Bukan hanya itu saja yang
dilakukan laki-laki berompi kuning ini. Seraya menarik pulang serangannya,
tubuhnya dilempar ke samping kiri,
sehingga sabetan pedang Marni
mengenai tempat kosong. Berbareng dengan itu, tangan kanannya dikibaskan.
Takkk!
Pedang Marni terlempar jauh,
ketika tangan Wisanggeni mengenai pergelangan tangan kirinya. Padahal kibasan tangannya hanya menyerempet saja.
Wuraji tentu saja terperanjat
melihat hal itu. Kini pemuda berahang kokoh ini sudah mengambil keputusan untuk
membantu Marni. Apa pun yang terjadi, dia harus membuat perhitungan dengan
orang yang telah membunuh ayah dan kakak-kakak seperguruannya.
Tapi sebelum Wuraji menerjang,
anak buah Wisanggeni yang sejak tadi hanya mengurung, tidak tinggal diam.
Srattt, srattt..!
Sinar-sinar menyilaukan berpendar
tatkala anak buah Siluman Tangan Maut mencabut senjata masing-masing. Dan
secepat senjata mereka terhunus, secepat itu pula diayunkan ke arah pemuda
berpakaian coklat itu. Seketika itu juga, hujan senjata berkelebatan ke arah
berbagai bagian tubuh Wuraji
Terpaksa pemuda berahang kokoh
ini mengurungkan niat hendak menolong Marni, ketika melihat berkelebatannya
senjata-senjata lawan. Dengan gerakan yang lincah laksana kera, Wuraji berhasil
mengelakkan semua serangan.
Tubuhnya berkelebatan di antara
hujan senjata tajam yang mengancam berbagai bagian tubuhnya.
Sebaliknya, setiap kali tangan
atau kaki putra Ketua Perguruan Kumbang Merah ini bergerak, sudah dapat
dipastikan ada yang bergelimpangan di tanah tanpa nyawa.
Sebetulnya Wuraji tidak berniat membunuh keroco-keroco seperti
mereka. Tapi, karena tahu lawan berjumlah banyak, dan lagi keadaan Marni sudah
mengkhawatirkan, maka pemuda berpakaian coklat ini tidak mempunyai pilihan lain
lagi.
Suara jerit kematian terdengar
susul-menyusul mengiringi bertumbangannya tubuh-tubuh tanpa nyawa.
Siluman Tangan Maut menggertakkan
gigi begitu melihat anak buahnya bertumbangan satu persatu. Dan seiring dengan
kemarahannya yang bergolak, serangannya pun jadi kian dahsyat. Dan akibatnya segera dirasakan Marni. Gadis berpakaian biru ini merasakan serangan-serangan Wisanggeni
semakin tambah sulit dibendung.
Tentu saja Wuraji pun tahu
keadaan yang dialami Marni. Maka dia segera bergerak
menerobos kepungan, dan langsung melompat menerjang musuh besarnya.
Begitu Wuraji
ikut campur tangan, keadaan langsung berubah. Kini
Marni tidak
mengalami tekanan berat lagi.
Malah sebaliknya, Siluman Tangan Maut yang kerepotan.
Wuraji kini tidak sungkan-sungkan
lagi mengeluarkan seluruh kemampuannya. Yang ada dalam benaknya hanya satu.
Membalas dendam kepada pembunuh ayah dan saudara-saudara seperguruannya.
Wisanggeni menggertakkan gigi.
Kini dia harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghadapi kedua lawannya.
Kepandaian kedua orang muda itu tidak berselisih jauh dengannya. Tapi, dia
lebih menitikberatkan serangannya pada Marni.
Memang pemuda berpakaian coklat
itu memiliki kepandaian yang tidak kalah dengan Marni. Tapi, ada satu
kekurangan pada Wuraji. Semua ilmu yang dimilikinya, dimiliki Siluman Tangan
Maut. Dan dengan sendirinya Wisanggeni tahu cara mengatasinya.
Berbeda dengan Marni. Gadis
berpakaian biru ini memiliki ilmu-ilmu yang sama sekali tidak dikenalnya.
Itulah sebabnya mengapa Siluman
Tangan Maut lebih memperhatikan setiap serangan gadis itu ketimbang serangan
yang dikirim Wuraji
Begitu bertarung dengan Siluman
Tangan Maut, Wuraji baru sadar kalau ada beberapa ilmu yang tidak dimilikinya.
Di antaranya adalah 'Tendangan Angin Puyuh' yang merupakan ilmu
andalan Ular Kaki Seribu. Dan
juga jurus 'Kera', milik Monyet Tanpa Bayangan
Kini pemuda berpakaian coklat ini
pun sadar kalau guru-gurunya tidak menurunkan seluruh ilmu-ilmu yang mereka
miliki. Tapi Wuraji tidak sempat memikirkan hal itu. Seluruh pikirannya
dipusatkan untuk merobohkan kakak seperguruannya secepat mungkin
Hebat bukan main pertarungan
antara ketiga orang sakti itu. Suara angin menderu-deru dan bercicitan
terdengar meningkahi pertarungan. Batu-batu kecil beterbangan tak tentu arah,
dan tanah terbongkar di sana-sini. Bahkan debu pun mengepul tinggi ke udara.
Tapi lewat lima puluh jurus,
Siluman Tangan Maut mulai terdesak.
"Haaat...!"
Laki-laki berompi kuning
berteriak keras menggelegar. Sesaat kemudian, di tangan kanannya telah tergenggam
trisula yang tadi ditancapkannya
di tanah, sewaktu
Marni melompat menyerangnya. Tahu akan kelihaian Wisanggeni, apalagi
dengan senjata andalan di tangan, Wuraji tidak berani bertindak ceroboh. Cepat
dia mengeluarkan senjata andalannya yang berupa sepasang tombak pendek. Bahkan
Marni pun telah mengambil pedangnya yang tadi telah terlempar ke tanah.
Pertarungan kembali terjadi. Kali
ini lebih seru dari sebelumnya, karena kedua belah pihak
telah mengeluarkan senjata
andalan masing-masing. Suara bercicitan, mendesing, dan mengaung, menyemaraki pertempuran.
Semua anak buah Siluman Tangan
Maut yang sejak tadi sudah menyingkir, menjauhi pertempuran, kini bergerak
semakin menjauh. Mereka khawatir terkena serangan nyasar.
Jangankan terkena telak,
tersambar angin serangannya
saja sudah cukup untuk mengirim nyawa mereka ke alam baka.
Pertarungan berlangsung cepat.
Sehingga tak terasa lima puluh jurus lagi telah berlalu. Dan lagi-lagi,
Wisanggeni harus menelan kenyataan pahit. Dia tetap tidak mampu mengatasi
lawan-lawannya.
Semakin lama keadaan Siluman
Tangan Maut semakin terdesak. Kini dia hanya mampu mengelak. Sesekali
menangkis, dan hanya kadang-kadang saja balas menyerang.
Wisanggeni menggertakkan gigi.
Berusaha menguras seluruh kemampuannya. Tapi karena lawan terlalu kuat, semua
yang dilakukannya tetap saja tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Laki-laki berompi kuning ini tetap saja terdesak hebat
"Haaat..!"
Seraya mengeluarkan pekikan
melengking nyaring, Marni melompat ke atas. Dan laksana seekor burung garuda
menerkam mangsa, dari
atas, tubuhnya menukik deras ke
bawah. Pedang di tangannya ditusukkan cepat ke arah dada.
Hati Siluman Tangan Maut
tersekat. Apalagi pada saat yang sama, Wuraji juga mengirim serangan tak kalah
dahsyat. Sepasang tombak pendek pemuda berpakaian coklat itu berputaran,
sebelum akhirnya menotok deras ke arah ulu hati dan pusar.
"Hih...!"
Tanpa pikir panjang lagi,
Wisanggeni segera membanting tubuh di tanah, dan langsung bergulingan menjauh.
Tapi Wuraji dan Marni mana mau membiarkan musuh besar mereka lolos?
Tanpa membuang-buang waktu,
mereka langsung mengejar
tubuh laki-laki berompi kuning itu. Dan langsung menghujani dengan
serangan-serangan maut
Kini Siluman Tangan Maut jadi
sibuk mengelakkan serangan-serangan itu. Tidak ada jalan lain lagi baginya
untuk menyelamatkan selembar nyawanya kecuali terus bergulingan di atas tanah.
Tapi, sampai berapa lama dia bisa bertahan seperti ini?
Sebuah pemandangan menarik pun
terlihat Tubuh Siluman Tangan Maut yang terus bergulingan. Sementara
Wuraji dan Marni berusaha keras menyarangkan serangan. Menghujani tubuh yang
bergulingan dengan serangan-serangan mematikan.
Sambil terus bergulingan, Wisanggeni memutar otaknya. Sebagai orang
yang kenyang pengalaman bertempur, laki-laki berompi kuning ini sadar kalau dirinya
berada dalam keadaan berbahaya. Kemungkinan untuk terkena sasaran serangan
lawan, besar sekali. Dia harus cepat-cepat membebaskan diri, kalau tidak ingin
celaka. Tapi, bagaimana caranya?
Sampai beberapa saat lamanya,
Siluman Tangan Maut terus bergulingan, sambil memutar trisula di atas tubuh
untuk melindungi selembar nyawanya. Benaknya terus berputar untuk mencari jalan agar bebas dari
keadaan yang tidak menguntungkan ini.
Desss!
Hati Siluman Tangan Maut tersekat
ketika sebuah tendangan Marni tepat mengenai pergelangan tangannya. Tak pelak
lagi, trisulanya pun terlepas dari genggaman dan terlempar jauh. Di saat itulah
pedang di tangan gadis berpakaian biru itu dan sepasang tongkat Wuraji
menyambar deras ke arah tubuhnya.
Sepasang mata Wisanggeni terbelalak lebar. Dia sudah berada dalam
posisi yang benar-benar terjepit. Tidak ada jalan lagi baginya untuk mengelak.
Tapi di saat gawat bagi
keselamatan nyawa Siluman Tangan Maut tiba-tiba berkelebat sosok bayangan
kuning keemasan dan hitam memapak serangan itu.
Plakkk, plakkk...!
Terdengar suara benturan keras
berkali-kali, disusul dengan terlemparnya tubuh Wuraji dan Marni ke belakang.
Sekujur tubuh mereka tergetar hebat. Dada pun terasa sesak bukan main. Bahkan
tangan yang terbentur itu bagaikan patah-patah. Tanpa dapat dicegah lagi,
senjata mereka pun terlepas dari genggaman.
***
Wuraji dan Marni menatap dua
sosok tubuh yang berdiri membelakangi Siluman Tangan Maut yang kini mulai
bergerak bangkit. Seketika wajah pemuda berahang kokoh itu memucat begitu
mengenali orang yang telah menggagalkan serangannya dan Marni.
Betapa tidak? Di hadapan mereka
telah berdiri dua orang yang tak lain adalah Ular Kaki Seribu dan Monyet Tanpa
Bayangan. Guru-gurunya!
"Guru...," ucap Wuraji pelan seraya
bergerak memberi hormat
Kedua kakek itu hanya mendengus
kasar. "Untung kami tidak percaya penuh
padamu, Wuraji," Monyet
Tanpa Bayangan yang menyahuti. Nada suaranya terdengar datar. Tidak ada nada
penyesalan di dalamnya. "Kalau tidak, Pati Gala sudah terbunuh."
''Tanpa kau ketahui, kami
mengikuti semua perjalananmu," sambung Ular Kaki Seribu. "Kami lihat
semua kelakuanmu yang benar-benar mengecewakan kami. Seperti menolong
rombongan kereta berkuda."
Wuraji hanya diam. Kepalanya
tertunduk dalam. Sama sekali tidak membantah semua ucapan kedua gurunya.
Sementara Marni menatap kedua kakek itu dengan sepasang mata penuh selidik.
Inikah guru-guru Wuraji? tanyanya dalam hati
"Bagaimana ceritanya
sehingga Guru bisa salah memungut murid? Kedua orang ini punya hubungan erat dengan orang yang telah kubunuh!" Siluman Tangan Maut
angkat suara.
"Karena kecerobohan kami juga,"
keluh Monyet Tanpa Bayangan. "Untung saja ilmu-ilmu andalan kami tidak
diturunkan semua."
"Lalu..., apa yang akan Guru
lakukan terhadap murid murtad ini?" Wisanggeni ingin tahu.
"Hanya mengambil kembali
ilmu yang telah kami wariskan kepadanya," jawab Ular Kaki Seribu ringan.
Siluman Tangan Maut tampak
gembira bukan main. Sepasang matanya berbinar-binar. Seulas senyum keji
tersungging di mulutnya. Sementara wajah Wuraji dan Marni berubah pucat. Mereka
tahu apa arti mengambil kembali
ilmu yang telah diberikan itu.
Membuat pemuda berahang kokoh ini menjadi orang cacat
Meskipun begitu, Wuraji sama
sekali tidak bersikap seperti hendak menentang atau melawan. Dia tetap diam
dengan kepala tertunduk. Tentu saja Marni jadi cemas bukan kepalang melihat hal
ini
"Bersiaplah, Wuraji,"
ucap Ular Kaki Seribu seraya melangkah maju. Nada suaranya terdengar dingin.
"Aku akan mengambil kembali ilmu yang telah kami wariskan kepadamu."
"Silakan, Guru," sahut
Wuraji dengan suara bergetar.
''Tidak!" Terdengar suara
bentakan tinggi melengking, disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan biru. Tahu-tahu di depannya, membelakangi Wuraji, berdiri
seorang gadis cantik jelita, berwajah molek, dan bertubuh montok menggiurkan.
"Siapa kau, Nisanak?!"
tanya Ular Kaki Seribu kalem. "Menyingkirlah, sebelum aku lupa kalau kau
hanya seorang gadis ingusan."
"Aku kawan Wuraji!"
jawab Marni ketus. "Dan aku tidak akan membiarkan kau melakukan kekejaman
terhadapnya!"
"Hm...," Ular Kaki Seribu hanya
menggumam pelan. Lalu menatap wajah gadis di hadapannya lekat-lekat.
"Marni! Menyingkirlah...!
Jangan campuri urusanku...!" ujar Wuraji memberi nasihat
''Tidak!" bantah Marni
tegas. "Aku tidak akan menyingkir!"
Berkilat sepasang mata Ular Kaki
Seribu. Laki-laki berpakaian kulit ular ini memang pemarah. Begitu melihat
sikap keras kepala Marni, kemarahannya bergolak seketika.
"Kau membuat kesabaranku
habis, Wanita Sial!" desis Ular Kaki Seribu. Tangan kanannya, dengan
jari-jari terbuka, mengarah ke ubun-ubun Marni. Sebuah serangan keji! Sekali
menyerang, Ular Kaki Seribu telah bermaksud membinasakan gadis berpakaian biru
itu.
Cepat bukan main serangan itu.
Angin yang bercicitan tajam mengiringi tibanya serangan. Tapi, Marni bukan
seorang gadis lemah. Gadis berpakaian biru ini tahu kalau lawan yang dihadapinya
kali ini adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian amat tinggi. Maka
sejak tadi dia sudah bersiap siaga.
Oleh karena itu, begitu melihat
serangan maut Ular Kaki Seribu, Marni tidak menjadi gugup. Cepat tubuhnya
direndahkan, sehingga serangan lawan lewat di atas kepalanya. Semula, gadis
berpakaian biru ini ingin melompat ke belakang, tapi karena di belakangnya ada
Wuraji, maka niatnya diurungkan.
Wuttt..!
Angin bersiutan keras kembali
terdengar, begitu Ular Kaki Seribu melancarkan serangan
susulan. Kaki kanannya mencuat ke
arah perut Marni.
Tidak ada jalan mengelak lagi
bagi Marni. Gadis ini tahu jika dia mengelak, maka Wurajilah yang akan terkena
tendangan itu. Karena pemuda berpakaian coklat itu memang berdiri tepat di
belakangnya. Maka gadis ini pun memaksakan diri menangkis tendangan Ular Kaki
Seribu dengan kedua tangan yang disertai pengerahan seluruh tenaga dalam.
Plakkk...!
Suara keras seperti beradunya dua
batang logam keras, terdengar. Marni meringis. Sekujur tangannya terasa seperti
patah-patah tulangnya. Dadanya pun dirasakan sesak bukan main. Bahkan bukan
hanya itu saja. Tubuhnya pun terlempar keras ke belakang, dan menabrak tubuh
Wuraji. Tak pelak lagi, sepasang muda-mudi itu jatuh saling tumpang tindih.
Dan sebelum Marni sempat berbuat
sesuatu, Ular Kaki
Seribu telah kembali melancarkan serangan. Kaki kirinya
menendang ke arah kepala gadis itu.
Wuraji terperanjat ketika melihat
bahaya maut yang mengancam keselamatan gadis berpakaian biru itu. Pemuda
berpakaian coklat ini tahu betul kedahsyatan tendangan laki-laki bermuka kuda
itu. Jangankan kepala manusia, sebongkah batu karang yang keras pun akan hancur
lebur terkena tendangan itu.
Wuraji tidak bisa menahan diri
lagi melihat gadis yang diam-diam mulai memikat hatinya terancam maut
"Guru...! Jangan...!"
teriak Wuraji keras. Dan dalam kekhawatiran yang amat sangat akan keselamatan Marni, masih dalam keadaan berbaring, Wuraji memapak tendangan
gurunya dengan tendangan kaki kanan juga.
Dukkk!
Dua mengandung
buah kaki yang tenaga dalam tinggi
sama-sama berbenturan.
Wuraji meringis, menahan sakit
yang membuat sekujur tulang-tulang kakinya seperti patah-patah. Bukan hanya itu
saja, tubuhnya pun terjengkang ke belakang dan kembali bergulingan di tanah.
Meskipun begitu, akhirnya Marni berhasil diselamatkan.
"Keparat! Kau berani
melawanku, Murid Murtad?!" Ular Kaki Seribu membentak keras. Amarahnya menggelegak seketika melihat
muridnya berani menangkis serangannya.
"Jangan celakakan dia,
Guru...," pinta Wuraji memohon, seraya bangltit berdiri. Tampak mulut
pemuda ini menyeringai ketika berhasil berdiri. Kaki kanannya tidak lagi
menapak dengan kokoh di tanah. Jelas kalau dia merasa kesakitan akibat benturan
tadi.
Ular Kaki Seribu yang tengah
murka mana mau mendengar ucapan muridnya. Sambil
memutar tubuh, kaki kanannya
dikibaskan ke arah kepala muridnya.
Tapi Wuraji sama sekali tidak
berusaha mengela atau menangkis. Untunglah di saat terakhir, Marni cepat
mencekal tangan pemuda itu dan menariknya ke belakang.
***
6
Wusss...!
Kibasan Ular Kaki Seribu mengenai
tempat kosong. Lewat sejengkal di depan wajah Wuraji. Rambut dan sekujur
pakaian yang dikenakan pemuda berahang kokoh itu berkibaran keras, saking
kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam kibasan kaki tadi.
Ular Kaki Seribu meraung murka
melihat serangannya kembali lolos. Sambil mengeluarkan suara teriakan keras
menggelegar, kakek bermuka kuda ini melompat menerjang. Ular Kaki Seribu
melompat tinggi di udara. Dan
dari atas, tubuhnya menukik deras bagaikan seekor burung garuda. Kedua tangannya yang membentuk cakar mengancam ubun-ubun Marni dan
Wuraji.
"Kalau kau tidak mau
menangkis, aku pun tidak akan menangkis serangan itu, Wuraji," bisik Marni
tajam. "Biarlah aku mati penasaran di tangan gurumu"
Wajah Wuraji berubah seketika
mendengar ucapan Marni. Terpaksa dia mengurungkan niatnya yang hendak
membiarkan serangan gurunya. Rupanya dia tidak mau gadis berpakaian biru itu
tewas karena dirinya.
"Haaat..!"
Wuraji memekik melengking nyaring. Tangan kanannya yang terkembang
membentuk cakar dihentakkan ke depan, menangkis serangan tangan kiri Ular Kaki
Seribu.
"Hyaaa...!" teriak
Marni pula. Tangan kanannya pun dihentakkan menangkis serangan tangan kanan
kakek bermuka kuda itu.
Prattt, prattt..!
Tubuh Wuraji dan Marni
terjengkang ke belakang, dan terbanting keras di tanah. Seluruh tubuh mereka
terasa sakit bukan main. Apalagi tangan yang menangkis. Tangan itu terasa
patah-patah!
Tubuh Ular Kaki Seribu pun
terpental balik ke atas. Namun dengan manis, tubuhnya bersalto
beberapa kali di di udara
kemudian mendarat di tanah.
Dengan raut wajah beku, kakek
bermuka kuda ini menghampiri Wuraji dan Marni yang masih belum mampu bangkit.
Sekujur tubuh sepasang muda-mudi itu terasa lemas. Seolah-olah tidak bertulang
sama sekali. Sementara Ular Kaki Seribu telah siap menjatuhkan serangan
mematikan.
Wuraji dan Marni tidak bisa
berbuat apa-apa lagi selain pasrah menerima nasib. Kakek bermuka kuda itu
memang terlalu kuat untuk mereka. Apabila pertarungan akan terjadi, sepasang
muda-mudi itu pasti akan kalah. Tapi kalau saja Wuraji mau melawan
sungguh-sungguh, tidak akan semudah itu Ular Kaki Seribu dapat merobohkan
mereka berdua.
Namun sebelum Ular Kaki Seribu
menjatuhkan tangan maut, terdengar sebuah seruan cukup keras yang menyindirnya.
"Sebuas-buasnya seekor
harimau, belum pernah kudengar memakan anaknya sendiri. Tapi sekarang, aku
melihat ada seorang guru yang begitu tega hendak membunuh murid yang tidak mau
melawannya."
Ular Kaki Seribu menoleh ke arah
asal suara dengan wajah merah padam. Sepasang matanya berkilat memancarkan hawa
maut. Dia ingin tahu, siapa orang yang telah berani menyindirnya.
Dalam jarak sekitar lima tombak
di samping kirinya, berdiri dua sosok tubuh. Sosok pertama adalah seorang
pemuda berambut putih keperakan dan berpakaian ungu. Sebuah guci arak yang
terbuat dari perak tersampir di punggungnya.
Sedangkan sosok kedua adalah
seorang wanita berpakaian putih berambut panjang
terurai. Sebatang pedang tergantung di
punggungnya.
Sekali lihat saja, Ular Kaki
Seribu tahu kalau orang yang tadi menyindirnya adalah pemuda berambut putih
keperakan itu. Suara yang tadi didengarnya, jelas-jelas suara seorang lelaki.
Oleh karena itu, perhatiannya lebih dicurahkan pada pemuda berambut putih keperakan.
Mendadak jantung kakek bermuka
kuda ini berdebar tegang, tatkala teringat pada seorang tokoh yang
menggemparkan dunia persilatan belum lama ini. Tokoh itu mempunyai ciri-ciri
yang mirip dengan pemuda di hadapannya.
"Siapa kau, Keparat?! Mengapa mencampuri urusanku?!"
bentak Ular Kaki Seribu keras.
"Aku Arya, orang yang
kebetulan lewat. Dan sudah jadi tekadku untuk ikut campur bila melihat tindak
kejahatan berlangsung di depan mataku!" sahut pemuda berambut putih
keperakan yang tidak lain adalah
Arya Buana alias Dewa Arak.
"Hm..., kalau begitu, kaulah
kiranya orang berjuluk Dewa Arak, Manusia Usil?!" Ular Kaki Seribu mulai
yakin dengan dugaannya. Memang telah menjadi rahasia umum kalau Dewa Arak
mempunyai nama asli Arya.
Tapi Dewa Arak sama sekali tidak
tampak marah mendengar ejekan itu. Bahkan pemuda berambut putih keperakan ini
diam-diam merasa geli mendengar makian Ular Kaki Seribu.
"Julukan yang terlalu
berlebihan, Kek," jawab Arya merendah. Masih tetap tersenyum.
"Orang lain boleh gentar mendengar julukanmu, Dewa Arak. Tapi jangan harap kalau aku,
Ular Kaki Seribu akan gentar. Perlu kau ketahui, Dewa Arak. Sudah lama aku
menanti-nanti kesempatan untuk bertarung denganmu!"
"Hhh...!" Arya menghela
napas panjang. Raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan menerima
tantangan itu. Memang, Dewa Arak sebenarnya tidak suka mencari permusuhan.
Kalau bisa, dia ingin agar setiap masalah yang dihadapinya dapat diselesaikan
tanpa perkelahian. Apalagi pertumpahan darah.
Tapi kini, pertarungan pasti
tidak bisa dihindari lagi. Ular Kaki Seribu sudah tidak bisa dicegah. Dewa Arak
tahu kalau kakek bermuka kuda ini memiliki kepandaian tinggi. Nama besar kakek
itu sebagai seorang tokoh kaum sesat yang
ditakuti, telah lama didengarnya.
Dan tadi pun dia telah menyaksikan sendiri kelihaian Ular Kaki Seribu.
Sementara itu Monyet Tanpa
Bayangan dan Siluman Tangan Maut, begitu tahu kalau pemuda berambut putih
keperakan ini adalah Dewa Arak, segera melangkah maju dan berdiri di sebelah
Ular Kaki Seribu. Nama besar Dewa Arak telah lama mereka dengar, tapi baru kali
inilah mereka berkesempatan melihat tokoh muda yang menggemparkan itu.
Arya yang telah dapat
memperkirakan kelihaian kakek bermuka kuda ini, segera menjumput guci araknya.
Kemudian dituangkan ke mulut.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak melewati tenggorokan Dewa Arak. Seketika itu juga, ada hawa hangat yang
merayap di perut Arya. Kemudian bergerak naik ke atas kepala.
"Haaat..!"
Sambil berteriak melengking
nyaring, Ular Kaki Seribu menyerang Dewa Arak. Sekali menyerang, kakek bermuka
kuda ini sudah menggunakan ilmu andalannya, 'Tendangan Angin Puyuh'.
Ular Kaki Seribu membuka serangan
dengan sebuah tendangan lurus ke arah dada.
Dewa Arak tidak berani bertindak
gegabah dengan langsung menangkis serangan itu. Tapi dia
ingin mengetahui kekuatan tenaga
dalam lawan lebih dahulu, agar bisa menangkis tanpa melukai, bila ternyata
tenaga dalam kakek itu berada di bawahnya. Dan seperti biasanya, pemuda berambut putih keperakan ini
menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'.
Ular Kaki Seribu terkejut bukan
main tatkala melihat lawannya mendadak lenyap, dan serangannya mengenai tempat
kosong. Sesaat lamanya kakek bermuka kuda ini kebingungan. Baru ketika
merasakan adanya sambaran angin dari arah belakang, dia tahu kalau lawan berada
di belakang, dan tengah melancarkan serangan ke arahnya.
Memang begitu telah berada di
belakang lawan, Dewa Arak segera melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah
tengkuk.
Cepat bukan main serangannya.
Tapi, gerakan Ular Kaki Seribu pun tidak kalah cepat. Segera tubuhnya
dirundukkan, sehingga serangan Arya mengenai tempat kosong. Pada saat yang
bersamaan, kaki kanannya menyapu kaki Dewa Arak sambil memutar tubuh.
"Hih...!"
Arya menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian tubuhnya melenting ke
udara. Dan dari atas, kedua tangannya meluncur cepat ke arah kepala lawan.
Hebat bukan main serangan Dewa
Arak. Apalagi datangnya begitu mendadak. Tapi, Ular
Kaki Seribu kembali menunjukkan
kalau dirinya adalah seorang pentolan tokoh sesat. Tiba-tiba kakek bermuka kuda ini menghempaskan tubuhnya. Dan dengan
bertumpu pada punggung, tubuhnya berputar. Sesaat kemudian kakinya telah
bergerak menangkis serangan Arya.
Plakkk, plakkk...!
Dengan bantuan tenaga benturan,
Dewa Arak melenting ke udara. Tubuhnya bersalto beberapa kali sebelum mendarat
beberapa tombak dari tempat semula. Pada saat yang bersamaan, Ular Kaki Seribu
pun telah bangkit berdiri. Kini kedua tokoh sakti ini saling tatap dalam jarak
tiga tombak.
Arya menatap Ular Kaki Seribu
penuh takjub. Kini dia mengerti mengapa kakek bermuka kuda ini mendapat julukan
seperti itu. Kecepatan gerak, dan kedahsyatan kakinya memang luar biasa!
"Kau hebat Dewa Arak,"
puji Ular Kaki Seribu seraya menatap tajam wajah Arya.
"Kaulah yang hebat Ular Kaki
Seribu," Arya balas memuji sejujurnya. "Aku harap kau sudi mengalah
dan membiarkan kedua orang muda itu pergi dari sini."
"Mereka harus mati!"
terdengar suara bentakan keras menggelegar. Dan sebelum gema suara itu lenyap,
sesosok tubuh berompi kuning, telah berdiri di sebelah Ular Kaki Seribu.
Monyet Tanpa Bayangan pun tak mau
ketinggalan. Segera kakek berpakaian kulit beruang ini melangkahkan kaki
menghampiri. Dan sesaat kemudian, telah berdiri di sebelah Ular Kaki Seribu dan
Wisanggeni
***
Dewa Arak mengernyitkan dahinya. Pemuda berambut putih keperakan ini
tahu kalau keadaan menguntungkan pihak lawan. Sekali lihat saja Arya tahu kalau
kedua orang yang berada di sebelah Ular Kaki Seribu, memiliki kepandaian
tinggi. Sorot mata mereka yang mencorong tajam, merupakan salah satu buktinya.
Seandainya hanya dia dan Melati
yang ada di situ, tidak jadi persoalan bagi Dewa Arak untuk menghadapi ketiga
orang ini. Tapi, karena di situ masih ada Wuraji dan Marni yang tengah
membutuhkan pertolongan, sementara kedua orang itu tengah terluka, membuat Arya
harus berpikir dua kali.
"Melati..., selamatkan kedua
orang muda itu.... Biar aku yang menahan mereka...," pesan Dewa Arak pada
Melati dengan menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh.
Gadis berpakaian putih itu rupanya
mengerti maksud tunangannya. Menyadari posisi lawan yang lebih menguntungkan.
Maka tanpa
menunggu disuruh dua kali, Melati
melesat cepat ke arah Wuraji dan Marni.
"Hei...!"
Siluman Tangan Maut terperanjat.
Cepat laksana kilat, tubuhnya berkelebat memburu tubuh Melati yang telah
melesat lebih dulu.
Kejadian seperti ini sudah
diperhitungkan sebelumnya oleh Arya. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi,
kedua tangannya segera dihentakkan ke depan. Memapak tubuh Wisanggeni.
Wusss...!
Angin keras berhawa panas
menyengat, meluncur ke arah tubuh Siluman Tangan Maut. Laki-laki berompi kuning
ini kaget bukan main. Terpaksa maksudnya dibatalkan untuk memburu Melati.
Kemudian melempar tubuhnya ke samping menghindari serangan Dewa Arak. Dan
bergulingan di tanah.
Brakkk...!
Sebatang pohon sebesar dua
pelukan orang dewasa tumbang seketika. Suara hiruk-pikuk terdengar mengbingi
robohnya pohon itu ke tanah. Batangnya hangus. Sementara daun-daunnya layu
mengering.
Dengan wajah sepucat mayat, Wisanggeni
bangkit berdiri. Keringat sebesar biji-biji jagung membasahi wajahnya. Meskipun
begitu, sorot kelegaan memancar dari sepasang matanya. Lega karena telah
berhasil lolos dari maut
Bukan hanya Siluman Tangan Maut
yang terkejut melihat kedahsyatan pukulan jarak jauh Dewa Arak. Ular Kaki
Seribu dan Monyet Tanpa Bayangan pun terperanjat. Sungguh tidak mereka sangka
kalau pemuda berambut putih keperakan itu memiliki pukulan jarak jauh yang
begitu menggiriskan.
Sementara Melati sudah langsung memanggul tubuh Marni yang sudah
terkulai tak berdaya.
"Mari kita pergi...!"
seru gadis berpakaian putih itu pada Wuraji, seraya melesat dari situ.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Wuraji yang tengah dilanda perasaan
bingung ini segera berkelebat menyusul Melati.
Tapi anak buah Siluman Tangan
Maut tidak tinggal diam. Cepat mereka mencegat lari Melati dan Wuraji. Gadis
berpakaian putih yang tengah diburu waktu ini tidak bertindak tanggung-tanggung
lagi. Segera tangan kanannya bergerak. Dan sesaat kemudian di tangan gadis ini
telah tergenggam sebatang pedang.
Secepat pedang keluar dari
sarungnya, secepat itu pula Melati menggerakkannya.
Wunggg...!
Terdengar suara menggerung keras
seperti di dalam pedang itu ada naga yang tengah murka. Dan sesaat kemudian,
suara jerit kematian terdengar susul-menyusul. Tubuh-tubuh tak bernyawa pun berjatuhan satu persatu.
Melati dan Wuraji bahu-membahu berjuang membuka jalan untuk bisa
lolos dari tempat itu. Pedang di tangan Melati dan sepasang tombak pendek di
tangan Wuraji berkelebatan cepat mencari sasaran. Setiap kali pedang atau
tombak mereka bergerak, sudah dapat dipastikan, ada nyawa yang terlepas dari
badan.
Sementara di arena lain, Dewa
Arak tengah berjuang keras menghadapi lawan-lawannya.
Pemuda berambut putih keperakan ini memang sengaja menahan ketiga orang
lawannya dalam usaha mencegah mereka mengejar tunangannya menyelamatkan
sepasang muda-mudi itu.
Monyet Tanpa Bayangan dan Siluman
Tangan Maut yang semula hendak mengejar Melati, jadi membatalkan maksudnya.
Beberapa kali usaha mereka untuk mengejar dihambat oleh Dewa Arak. Mau tidak
mau hal itu membuat mereka geram. Dan kegeraman itu pun
dilampiaskan pada pemuda yang telah menghalangi tindakan mereka.
Setelah kini tiga orang lawannya
memusatkan perhatian menghadapinya, baru terasa oleh Dewa
Arak betapa hebatnya kepandaian mereka. Masing-masing
lawan punya keistimewaan sendiri-sendiri.
Ular Kaki Seribu dengan
keistimewaan kakinya. Monyet Tanpa Bayangan dengan
keistimewaan ilmu meringankan tubuhnya. Sementara Siluman Tangan Maut, tak kalah lihai
dari kedua orang itu. Karena
laki-laki berompi kuning ini justru memiliki gabungan keistimewaan kedua
gurunya. Gerakan kaki yang menggiriskan, dan ilmu meringankan tubuh yang luar
biasa.
Dewa Arak menggertakkan gigi.
Pemuda berambut putih keperakan ini telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Mengerahkan ilmu 'Belalang Sakti' sampai ke puncaknya.
Pada jurus-jurus awal, Dewa Arak
masih mampu mengimbangi. Tapi menginjak jurus kelima belas, dia mulai terdesak.
Serangan-serangan ketiga lawannya datang susul-menyusul bagaikan ombak di
lautan.
Menginjak jurus ke dua puluh,
Dewa Arak hanya dapat mengelak. Sesekali menangkis. Tapi hampir tidak pernah
menyerang. Arya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menyerang. Pemuda berambut putih keperakan
ini terus didesak.
Untung saja Dewa Arak memiliki
langkah ajaib jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Sehingga beberapa kali, di saat
kritis, masih berhasil menyelamatkan selembar nyawanya.
Sambil terus mengelakkan setiap
serangan yang datang, Arya menyempatkan diri melihat Melati dan Wuraji. Lega
hatinya tatkala melihat kedua orang itu telah berhasil meloloskan diri.
"Hih...!"
Arya memekik nyaring. Dan berkat
keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti', yang membuat pemuda ini dapat melakukan
gerakan yang bagaimanapun sulitnya. Dewa Arak melentingkan tubuh menerobos
kepungan. Dan kemudian melesat meninggalkan tempat itu. Arya memang tidak ingin
mencari keributan dengan mereka.
Cepat sekali gerakan Dewa Arak.
Tapi masih lebih cepat lagi gerakan Monyet Tanpa Bayangan. Tubuhnya melesat ke
depan. Cepat bukan main gerakannya. sehingga yang terlihat hanya sekelebatan
bayangan hitam yang melesat melewati Dewa Arak.
Tapi Arya sudah memperhitungkan
hal ini. Maka begitu melihat bayangan hitam melesat, memotong arus lompatannya, segera dia
menghentakkan kedua tangannya ke depan. Inilah jurus 'Pukulan Belalang'
Wussss...!
Angin keras berhawa panas
menyengat, meluncur ke arah Monyet Tanpa Bayangan. Tapi, kakek berpakaian kulit
beruang ini dengan mudah mengelak. Ringan laksana seekor kera, tubuhnya
melenting ke atas, menghindari pukulan jarak jauh Dewa Arak.
Kesempatan yang hanya sekejap itu
dipergunakan sebaik-baiknya oleh Arya. Begitu kedua kakinya mendarat di tanah,
secepat itu pula tubuhnya berkelebat meninggalkan lawan-lawannya.
Anak buah Siluman Tangan Maut
yang hanya tinggal beberapa orang saja, tidak berani menghalangi Dewa Arak.
Mereka semua telah melihat sendiri kelihaian pemuda berambut putih keperakan
itu. Dan mereka tidak mau mencari celaka sendiri.
Ular Kaki Seribu dan Siluman
Tangan Maut tentu saja tidak membiarkan Dewa Arak lolos. Cepat mereka bergerak
mengejar. Bahkan hingga Arya telah berada di luar pun mereka terus memburu.
Monyet Tanpa Bayangan juga bergerak mengejar.
Tapi, karena Dewa Arak telah
cukup jauh meninggalkan mereka, tambahan lagi ilmu
meringankan tubuh mereka berada di bawah Dewa Arak, maka walaupun telah
berusaha sekuat tenaga, tetap saja ketiganya tidak mampu mengejar. Jangankan
mengejar, memperpendek jarak pun tidak mampu! Bahkan jarak di antara mereka
semakin jauh.
Terpaksa mereka menghentikan
pengejaran, dan membiarkan tubuh Arya lenyap di kejauhan.
Dengan langkah lunglai Ular Kaki
Seribu, Monyet Tanpa Bayangan dan Siluman Tangan Maut kembali ke markas.
***
7
"Kang...," sebuah suara
yang amat dikenal Arya, membuat Dewa Arak menghentikan larinya. Kepalanya lalu
ditolehkan ke arah rerimbunan semak yang berada di sebelah kanan. Tempat asal
suara panggilan.
Dari balik rerimbunan semak,
tahu-tahu muncul sosok tubuh ramping dari seorang gadis berpakaian putih dan
berambut panjang. Siapa lagi kalau bukan Melati.
"Bagaimana dengan lawan-lawanmu,
Kang?" tanya Melati begitu Arya menghampirinya.
"Kutinggalkan...,"
sahut Arya kalem seraya mengedipkan sebelah mata pada tunangannya.
Seketika itu juga, apa yang akan diucapkan Melati buyar. Mulut gadis
ini pun merengut. Tapi sepasang matanya sama sekali tidak menampakkan
kemarahan. Karena memang dia tidak marah. Justru bahagia.
Melati tahu, Arya menggodanya.
Dan itu bukan untuk yang pertama kalinya. Pemuda berambut putih keperakan itu
sudah seringkali menggodanya, dengan mengedipkan sebelah mata. Anehnya, dia
sendiri senang digoda seperti itu. Malah menginginkan kekasihnya itu
menggodanya lagi
Tapi tentu saja bila keadaan
memungkinkan. Tidak seperti sekarang ini. Di situ masih ada Marni dan Wuraji.
Tapi itulah Arya! Pemuda ini selalu mengedipkan matanya bila sedang timbul
keinginan menggodanya. Sekalipun ada orang lain, dia akan mempergunakan
kesempatan sebaik-baiknya tatkala orang itu lengah.
"Mengapa kau
tinggalkan?!" tanya Melati dengan suara ketus yang dibuat-buat
"Aku tidak punya urusan
dengan mereka, Melati," sahut Arya. "Lagi pula..., aku tidak tahu ada
urusan apa antara kedua orang muda ini dengan mereka."
Melati mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dia telah tahu betul sifat Arya. Pemuda ini tidak pernah ikut campur
dalam urusan orang lain, kalau tidak benar-benar terpaksa.
"O ya, bagaimana keadaan mereka,
Melati?" tanya Dewa Arak begitu teringat pada sepasang muda-mudi yang baru
saja mereka tolong.
"Apakah keadaan mereka mengkhawatirkan?"
Melati menggelengkan kepalanya.
''Yang terluka agak parah hanya
yang wanita. Sementara kawannya tidak," sahut Melati memberi tahu seraya
melangkah menerobos semak semak.
Sesaat kemudian, Arya telah
melihat sepasang muda-mudi itu. Tampak oleh Dewa
Arak, gadis berpakaian biru
tengah bersemadi. Mencoba mengobati luka dalamnya. Sementara laki-laki
berpakaian coklat berdiri tak jauh darinya. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang
tidak diinginkan datang secara tiba-tiba.
Begitu mendengar adanya suara
langkah-langkah kaki yang mendekat, Wuraji segera menoleh. Sikapnya nampak
waspada. Bahkan wajahnya teriihat tegang. Tapi, begitu tahu siapa yang datang,
dia menganggukkan kepalanya sambil melempar senyum.
Arya pun balas tersenyum.
"Bantulah gadis itu mengobati luka dalamnya, Melati," ucap pemuda berambut putih
keperakan itu pada kekasihnya.
Melati menganggukkan kepalanya,
kemudian menghampiri Marni. Tanpa bicara apa-apa, gadis berpakaian putih ini
segera duduk bersila di belakang Marni. Kemudian menempelkan kedua tangannya ke
punggung gadis berpakaian biru itu. Menyalurkan tenaga dalamnya secara perlahan-lahan. Berusaha membantu Marni mengobati luka
dalamnya.
***
Melihat Melati telah mulai
membantu Marni mengobati luka dalamnya, Dewa Arak segera mendekati Wuraji.
Pemuda berpakaian coklat ini sejak tadi hanya termenung saja.
Dahinya tampak berkernyit dalam.
Jelas, ada sesuatu yang menggelisahkan batinnya. Bahkan tadi, sehabis
mengangguk dan tersenyum, pemuda ini kembali termenung.
"Ehm...!"
Arya mendehem sebentar, untuk
menarik perhatian pemuda berpakaian coklat itu. Dan cara yang dilakukan pemuda
ini memang terbukti ampuh. Wuraji menoleh, menatap Dewa Arak seraya melempar
senyum.
"Terima kasih atas
pertolonganmu, Dewa Arak," ucap pemuda berpakaian coklat ini pelan.
"Lupakanlah, Kisanak.
Bukankah sudah merupakan kewajiban kita untuk saling tolong-menolong antar
sesama manusia?" sahut Arya kalem. "O ya, siapa namamu?"
"Wuraji," jawab pemuda
berpakaian coklat itu. Masih pelan suaranya. Pelan dan tidak bersemangat.
"Aku Arya Buana." Dewa
Arak balas memperkenalkan diri
"Aku sudah tahu," sahut
Wuraji kalem.
"O ya?!" Arya agak
kaget juga. Tapi sesaat kemudian, dia sudah bisa menduga dari mana pemuda berpakaian coklat ini mengetahui
namanya. "Pasti Melati yang memberi tahu."
Wuraji menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu..., panggillah
aku dengan namaku saja," pinta pemuda berambut putih keperakan itu.
"Arya. Jangan Dewa Arak."
"Baiklah, Arya." Wuraji
mengalah.
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Wuraji menghentikan ucapannya.
"Kalau boleh kutahu...,
mengapa kau terlibat perkelahian dengan orang-orang yang berada di bangunan
tadi?" tanya Arya setelah beberapa saat lama nya terdiam.
"Hhh...!" Wuraji
menghela napas berat Sementara Dewa Arak tetap diam. Sabar
menunggu pemuda berpakaian coklat itu
menjawab pertanyaannya. Sepasang matanya menatap sekujur wajah Wuraji.
Tak terasa putra tunggal Ketua
Perguruan Kumbang Merah ini bergidik. Sepasang mata Dewa Arak begitu mencorong
tajam dan bersinar kehijauan. Laksana mata seekor harimau dalam gelap! Wuraji
tidak bisa membayangkan, sampai di mana ketinggian ilmu pemuda di hadapannya
ini. Tadi sempat dilihatnya dua orang guru berikut kakak seperguruannya, telah
mengeroyok pemuda ini. Tapi Dewa Arak masih mampu menyelamatkan diri. Luar
biasa!
Tanpa ragu-ragu, Wuraji
menceritakan semuanya. Semenjak kejadian yang menimpa perguruan ayahnya sampai
dia dan Marni diselamatkan Dewa Arak. Tidak lupa Wuraji menceritakan sepak
terjang Siluman Tangan Maut yang kejam. Meskipun hal itu hanya didengarnya dari
mulut Marni.
Arya mendengarkan semua cerita
Wuraji penuh perhatian. Tak sedikit pun pemuda berambut putih keperakan ini
menyelak, sampai pemuda berpakaian coklat ini selesai bercerita.
Kening Dewa Arak berkernyit
ketika Wuraji me-yelesaikan ceritanya. Jelas ada sesuatu yang dipikirkannya.
Dan memang dia tengah berpikir keras.
"Itulah yang sejak tadi membuatku
bimbang, Arya. Aku mgin membalaskan dendamku pada Siluman Tangan
Maut yang telah membunuh ayah dan
seluruh kakak seperguruanku.
Tapi, guru-guruku membela dia. Tak mungkin aku melawan mereka yang telah susah
payah mendidikku selama sepuluh tahun. Aku tidak ingin jadi murid murtad,
Arya."
"Siluman Tangan Maut?!" Arya
mengerutkan alisnya. Tampak jelas kalau pemuda berambut putih keperakan ini terperanjat.
Memang Dewa Arak telah mendengar sepak terjang tokoh yang berjuluk Siluman
Tangan Maut. Seorang tokoh jahat dan kejam, yang memiliki tingkat kepandaian
tinggi.
"Di antara tiga orang di
gedung itu, manakah yang berjuluk Siluman Tangan Maut, Wuraji?" tanya
Arya. Meskipun sebenarnya dia sudah bisa menduga, kalau yang berjuluk Siluman
Tangan Maut itu adalah orang yang memakai rompi kuning. Karena dialah orang
termuda di antara mereka. Sementara yang dua
orang lagi telah berusia lanjut.
Jadi, kemungkinan besar kedua orang itu adalah guru-guru Wuraji.
"Orang yang berompi
kuning," sahut Wuraji lirih.
"Jadi, kedua orang kakek
yang sakti tadi adalah guru-gurumu?" tanya Arya.
Wuraji menganggukkan kepalanya.
"Pantas mereka begitu lihai," desah Arya. "Arya...."
"Ada apa, Wuraji?"
tanya Dewa Arak seraya menoleh ke arah pemuda tampan berahang kokoh di
sebelahnya.
"Bagaimana menurutmu, Arya?"
Wuraji meminta pendapat "Apakah aku harus melupakan dendamku? Aku berada
dalam pilihan yang sangat sulit, Arya. Kalau tidak membalas, rasanya terlalu
enak bagi orang sekejam Siluman Tangan Maut kubiarkan begitu saja. Membalas pun
bingung juga. Tak mungkin aku melawan guruku sendiri."
"Aku ada jalan,
Wuraji," ucap Arya setelah sekian lamanya termenung.
"Katakanlah, Arya. Bagaimana
caranya?" tanya Wuraji penuh gairah.
"Kau dan Marni yang
menghadapi Siluman Tangan Maut. Sementara guru-gurumu, biar aku dan Melati yang
akan mengurus."
"Tapi, Arya...." Wuraji
masih mencoba membantah.
"Sudahlah, Wuraji,"
potong Arya. "Nanti, setelah Marni sembuh dari luka-lukanya, kita
menyerbu kediaman Siluman Tangan
Maut. Orang seperti dia harus cepat-cepat dilenyapkan dari muka bumi."
Wuraji tak bisa membantah lagi.
Pemuda berpakaian coklat ini terdiam. Dan dengan sendirinya, suasana pun jadi
hening karena Dewa Arak sendiri tidak berkata apa-apa lagi. Kini, baik Arya
maupun Wuraji mengalihkan perhatian pada Melati dan Marni yang tengah sibuk
mengobati luka dalam.
"Cukup, Melati," ucap Marni seraya
menghentikan semadinya. "Terima kasih atas bantuanmu."
Melati pun segera menarik
tangannya kembali. Dan begitu Marni bangkit gadis
berpakaian putih ini pun bangkit berdiri.
Arya dan Wuraji tersenyum lebar.
"Bagaimana, Marni?" tanya Wuraji lirih
seraya menatap wajah molek gadis
berpakaian biru itu.
Marni tersenyum lebar. Rupanya
gadis berpakaian biru ini telah sembuh dari luka dalamnya.
"Nanti malam kita menyerbu
kediaman Siluman Tangan Maut" ucap Wuraji memberi tahu. "Benarkah
itu, Kang?" tanya Marni seraya
menatap wajah Wuraji lekat-lekat
Perlahan kepala Wuraji
mengangguk.
"Lalu kedua gurumu?"
tanya Marni lagi. Nada ucapan dan suaranya menyiratkan perasaan
gentar. Dan memang sebenarnya
Marni merasa gentar bukan main. Dia telah merasa kan sendiri kehebatan guru
Wuraji yang bermuka kuda.
"Dewa Arak dan Melati yang akan menghadapi mereka," jelas Wuraji
lagi.
"Ah...!" Marni terkejut
bukan main. Tapi rasa terkejut bercampur gembira. "Benarkah itu,
Melati?"
Gadis berpakaian biru itu merasa
risih bertanya pada Arya. Oleh karena itu dia bertanya pada Melati. Tentu saja
gadis berpakaian putih yang tidak tahu apa-apa itu jadi gelagapan. Sesaat
lamanya gadis ini melongo. Baru setelah tersadar, Melati menoleh ke arah Arya.
Dewa Arak menjadi geli melihat
kekasihnya bingung. Meskipun telah berusaha menahan, tapi tetap saja seulas
senyum geli terpampang di wajahnya. Dan masih dengan senyum di bibir, pemuda berambut putih keperakan ini
menganggukkan kepala. Dan tak lupa mengedipkan sebelah matanya.
Melati merengut melihat Arya
masih sempat menggodanya. Tapi dia tidak bisa berlama-lama begitu, karena Marni
masih menunggu jawabannya.
"Eh..., nggg.... Ya. Ya
benar...," Melati menyahut agak tergagap.
Mendengar jawaban itu, seketika
wajah Marni berseri-seri.
***
Suara kepak kelelawar memecahkan keheningan malam sepi yang
hanya dihiasi bulan sepotong di langit. Angin dingin yang berhembus, dan
sesekali agak keras, terasa menusuk sampai ke tulang. Dalam suasana malam
seperti ini, orang rasanya akan lebih suka berdiam diri di rumah.
Tapi rupanya ada juga orang yang berkeliaran dalam suasana malam seperti
ini. Terbukti dengan berkelebatannya empat sosok bayangan. Gerakan mereka
rata-rata cepat. Pertanda kalau keempat orang itu memiliki ilmu meringankan
tubuh yang tidak rendah.
Empat sosok bayangan itu bergerak
cepat menuju sebuah bangunan yang besar dan megah. Bangunan yang memiliki
halaman luas dan terkurung pagar tembok tinggi.
Tapi ternyata tingginya tembok
pagar tidak bisa menghambat masuknya empat sosok bayangan itu. Dengan mudah, indah, dan
manis keempat sosok bayangan itu melompati pagar tembok. Sesaat kemudian
keempat orang itu telah berada di halaman.
Baru saja orang terakhir
mendaratkan kedua kakinya di tanah, terdengar bentakan keras menggelegar.
"Hei...! Siapa
kalian...?!"
Seiring dengan lenyapnya gema
suara bentakan, tiba-tiba di hadapan empat sosok
bayangan itu berdiri belasan
sosok tubuh bersenjata tajam. Dan langsung mengepung.
Hebatnya, empat sosok bayangan
itu sama sekali tidak merasa gugup melihat hal ini. Bahkan sebaliknya, para pengepungnya itulah yang merasa
kaget begitu melihat jelas wajah empat sosok yang mereka kurung. Mereka
mengenali empat sosok bayangan itu karena empat orang itulah yang siang tadi
telah menyerbu dan telah menimbulkan banyak korban di antara mereka.
Empat sosok bayangan itu memang
tidak lain dari Dewa Arak, Melati, Marni, dan Wuraji.
Marni dan Wuraji tanpa
membuang-buang waktu lagi segera mencabut senjata andalannya, dan langsung
menerjang para pengepung. Mau tidak mau, anak buah Siluman Tangan Maut terpaksa
melayani.
Tranggg, tranggg, tringgg...!
Dentang suara senjata beradu
kontan mengusik keheningan malam begitu senjata-senjata mereka sating berbenturan.
Bunga-bunga api pun memercik ke udara.
Marni dan Wuraji bertindak tidak
kepalang tanggung. Pedang di tangan Marni dan sepasang tombak pendek di tangan
Wuraji berkelebatan cepat mencari sasaran.
Suara jerit kematian terdengar
susul-menyusul mengiringi robohnya tubuh-tubuh tanpa nyawa di tanah. Roboh dan
tidak pernah bangkit lagi untuk sdama-lamanya. Memang Wuraji dan
Marni tidak bermaksud untuk
memberi ampun pada lawan-lawannya. Setiap serangan mereka selalu mengandung
hawa kematian,
Dewa Arak mengernyitkan alisnya
melihat tindakan Wuraji dan Marni. Pemuda berambut putih keperakan ini memang tidak mau membunuh lawan kecuali kalau memang
terpaksa sekali. Sementara yang dilihatnya kini, Wuraji dan Marni enak saja
menyebar maut. Dalam waktu sebentar saja hanya tinggal beberapa orang saja yang
tersisa. Dan tentu saja mereka merupakan sasaran empuk buat Marni dan Wuraji.
Sesaat kemudian, sisa gerombolan itu menjerit
memilukan. Roboh di tanah dengan nyawa teriepas dari raga.
Marni menyeka batang pedang yang
penuh berlumuran darah dengan pakaian salah seorang pengeroyok. Kemudian
menyarungkan pedangnya kembali.
Dewa Arak hanya bisa menggeleng-gelengkan
kepalanya melihat mayat-mayat yang bergeletakan di sana-sini. Tapi hal itu
tidak lama. Karena Marni dan Wuraji sudah bergerak cepat menuju ke dalam. Arya
tidak bisa membiarkan sepasang muda-mudi itu mengantar nyawa menghadapi Siluman Tangan Maut dan kedua orang gurunya. Oleh
karena itu, pemuda be-rambut putih keperakan ini segera menyusul, diiringi
Melati.
Dengan langkah gagah, Wuraji dan
Marni melangkah ke dalam. Tapi langkah keduanya langsung terhenti ketika
pandang mata mereka tertumbuk pada tiga sosok tubuh yang berdiri menghadang.
Dan tak terasa sepasang muda-mudi ini melangkah mundur begitu mengenali tiga
sosok di hadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Siluman Tangan Maut Ular Kaki
Seribu, dan Monyet Tanpa Bayangan?
Dewa Arak dan Melati segera
melangkah maju. Kini mereka berdiri di kanan kiri Wuraji dan Marni. Dengan
tenang Arya memperhatikan ketiga orang itu. Kemudian menjumput guci arak yang
berada di punggung, lalu menuangkan ke mulut
Gluk.. gluk... gluk...
Terdengar suara tegukan ketika
arak melewati kerongkongan Dewa Arak Seketika itu juga ada hawa hangat menyebar
di dalam perutnya. Kemudian perlahan-lahan hawa hangat itu naik ke atas kepala.
"Kali ini kalian tidak akan
kubiarkan lolos!" desis Ular Kaki Seribu tajam. Nada suaranya sarat dengan
ancaman. "Terutama sekali kau, Murid Murtad!"
Tanpa sadar Wuraji melangkah
mundur mendengar ucapan gurunya. Apalagi ketika kakek berpakaian kulit ular itu
menudingkan telunjuk ke arahnya begitu ucapannya selesai. Wajah pemuda tampan
berahang kokoh ini seketika pucat pasi. Bukan karena takut menghadapi kematian.
Tapi
karena tidak ingin menjadi murid
murtad yang menentang guru sendiri.
Marni tahu perasaan yang bergolak
di hati Wuraji. Segera dia mengulurkan tangannya. Kemudian menggenggam tangan pemuda berpakaian
coklat itu erat-erat. Meskipun untuk melakukan itu gadis berpakaian biru ini
harus berjuang keras memerangi perasaan malunya.
Wuraji menoleh. Pemuda berpakaian
coklat ini bukan orang bodoh. Tentu saja dia tahu maksud Marni melakukan itu.
Maka dia pun memberikan senyum penuh rasa terima kasih. Tangannya pun balas
menggenggam tak kalah erat.
"Ular Kaki Seribu...,"
ucap Dewa Arak dengan langkah kaki tidak tetap. Oleng ke sana kemari.
"Pertarungan di antara kita belum selesai." "Kau benar, Dewa
Arak! Mari kita lanjutkan pertarungan yang tertunda," sambut Ular Kaki
Seribu tak kalah gertak
Belum lagi gema kata-katanya
lenyap, kakek bermuka kuda ini sudah menerjang Arya dengan sebuah tendangan
terbang.
***
8
Karena telah merasakan sendiri
kelihaian ilmu tendangan lawannya, Dewa Arak tidak berani bersikap ceroboh.
Maka dia tidak berani langsung menangkis serangan itu. Pemuda berambut putih
keperakan ini ingin mengetahui perkembangan serangan lawan lebih dulu.
Oleh karena itu, Dewa Arak
langsung saja melempar tubuhnya ke
belakang kemudian bersalto beberapa kali di udara. Akibatnya sudah bisa diduga.
Tendangan lawan mengenai tempat kosong karena Arya sudah tidak berada di situ
lagi Ular Kaki Seribu menggertakkan gigi melihat serangannya berhasil dielakkan. Kemarahannya pada
Dewa Arak semakin berkobar-kobar. Tentu saja
akibatnya, serangan kakek bermuka kuda ini semakin dahsyat. Sambaran-sambaran kakinya
datang susul-menyusul bagaikan
angin ribut. Tapi, berkat keunikan jurus 'Delapan Langkah Belalang', Arya
tidak mengalami kesuhtan untuk
menangkalnya. Sementara itu Melati sendiri sudah mulai
sibuk menghadapi Monyet Tanpa
Bayangan. Gadis berpakaian putih ini telah melihat sendiri kesaktian lawannya.
Maka begitu menyerang, dia langsung mengeluarkan ilmu andalannya, 'Cakar Naga
Merah'. Kedua tangannya, sampai sebatas pergelangan, berubah merah seperti
darah.
"Hiyaaat..!"
Sambil mengeluarkan teriakan
melengking nyaring, Melati menyerang. Tangan kanannya dengan jari-jari terbuka,
membentuk cakar naga, meluncur deras ke arah ulu hati lawan.
Rupanya gelar Monyet Tanpa
Bayangan yang disandang kakek kecil kurus ini bukan omong kosong. Meskipun
serangan Melati meluruk cepat ke arahnya, kakek kecil kurus ini mampu bergerak
lebih cepat lagi. Tanpa menggeser kaki, dia segera mendoyongkan tubuhnya ke
kanan sehingga serangan Melati lewat setengah jengkal di samping kiri
pinggangnya. Dan pada saat yang bersamaan, tangan kirinya disampokkan ke arah
pelipis Melati.
Tapi Melati tidak menjadi gugup.
Serangan balasan ini, sudah diperhitungkannya sejak tadi. Hanya saja yang
membuat gadis ini agak gelagapan adalah kecepatannya yang luar biasa.
Meskipun begitu, berkat pengalaman menghadapi berbagai macam
pertempuran, Melati masih dapat memunahkan serangan mendadak itu. Tangan
kanannya cepat diangkat ke atas kepala. Dan....
Plakkk...!
Suara benturan keras seperti
beradunya dua batang logam terdengar, ketika dua tangan yang sama-sama
mengandung tenaga dalam tinggi berbenturan. Baik Melati maupun Monyet Tanpa
Bayangan, sama-sama terhuyung. Dari benturan
ini dapat diketahui kalau kedua
tokoh ini memfliki tenaga dalam seimbang.
Monyet Tanpa Bayangan menggeram
keras. Rupanya kakek ini merasa penasaran bukan main. Dia adalah seorang
pentolan kaum sesat yang jarang menemukan tandingan. Selama berpuluh-puluh tahun merajalela di dunia
persilatan, dia hampir tidak pernah menemukan tandingan. Maka tentu saja kakek
kecil kurus ini jadi penasaran bukan main tatkala mengetahui ada seorang tokoh
muda yang mampu menandingi tenaga dalamnya.
Dalam luapan perasaan amarah
bercampur penasaran yang menggelora, Monyet Tanpa Bayangan mengerahkan seluruh
kemampuannya. Jurus 'Kera' yang dimilikinya langsung dimainkan. Ilmu meringankan
tubuhnya pun dikerahkan sampai ke puncaknya.
"Hiyaaat..!"
Monyet Tanpa Bayangan membanting tubuh ke tanah, dan
bergulingan beberapa kali. Kemudian langsung melompat, menyerang dengan
sampokan tangan kiri ke arah pelipis.
Melati terkejut bukan main. Gadis
berpakaian putih ini benar-benar gelagapan menghadapi cara penyerangan lawannya. Gerakannya
begitu liar, tapi sangat cepat Mengingatkan dia pada seekor kera!
Dengan agak terburu-buru Melati merundukkan tubuhnya sehingga
serangan kakek
berpakaian kulit beruang itu
lewat di atas kepalanya. Pada saat yang sama, kedua tangannya meluncur deras ke
arah dada dan perut.
Hebat bukan main serangan yang
dilakukan Melati. Apalagi pada saat itu, tubuh Monyet Tanpa Bayangan sedang
berada di udara. Posisi yang benar-benar tidak menguntungkan.
Tapi kelihaian Monyet Tanpa
Bayangan benar-benar luar biasa! Dalam keadaan seperti itu, dia masih mampu
memunahkan bahaya besar yang mengancam keselamatan nyawanya. Tangan kanannya
segera dikibaskan ke bawah, menangkis kedua serangan itu.
Prattt...!
Baik Melati maupun Monyet Tanpa Bayangan sama-sama meringis begitu terjadi
benturan. Namun kakek kecil kurus ini sama sekali tidak peduli. Dengan tubuh
yang masih berada di udara, kaki kanannya menendang dada Melati.
Wuuuttt..! "Hih...!"
Tidak ada jalan lain bagi gadis
berpakaian putih itu selain melempar tubuh ke belakang. Kemudian bersalto
beberapa kali di udara. Kembali untuk yang kesekian kalinya serangan Monyet
Tanpa Bayangan gagal total.
Dengan sebuah gerakan yang indah
dan manis, Melati mendaratkan kedua kakinya di
tanah. Pada saat yang sama,
Monyet Tanpa Bayangan pun hinggap di tanah.
Secepat kedua pasang kaki mereka
mendarat di tanah, secepat itu pula keduanya kembali terlibat dalam pertarungan
sengit. Kini Melati harus berjuang keras untuk menundukkan lawan tangguhnya
ini.
***
Sementara di arena yang lain,
Wuraji dan Marni pun tengah sibuk bahu-membahu menghadapi Siluman Tangan Maut.
Untuk yang kedua kalinya, sepasang muda-mudi ini kembali berhadapan dengan
musuh besar mereka. Bedanya, kali ini mereka bisa lebih
memusatkan perhatian pada lawan. Tidak khawatir diganggu yang lain.
Kali ini kedua belah pihak yang
bertarung sama-sama mengerahkan kemampuan sampai di puncaknya. Siluman Tangan Maut telah memainkan trisulanya. Sementara Wuraji menggunakan tombak pendek, dan pedang digunakan oleh Marni.
Suara desing, deru, dan decit
senjata tajam menyemarakkan pertarungan antara musuh
bebuyutan itu.
Baik Wisanggeni maupun Wuraji dan
Marni, sama-sama bersikap hati-hati. Kedua belah pihak telah sama-sama mengenal
kelihaian lawan,
sehingga pertarungan jadi
berlangsung seru. Tak kalah seru dengan pertarungan antara Monyet Tanpa
Bayangan dengan Melati
Memang kalau dihitung perorangan,
baik Wuraji maupun Marni bukan tandingan Wisanggeni. Siluman Tangan Maut jauh
lebih unggul daripada mereka. Baik kekuatan tenaga dalam, maupun ilmu
meringankan tubuh.
Setiap kali terjadi benturan
senjata, tubuh Marni maupun Wuraji terhuyung-huyung ke belakang dengan sekujur
tangan terasa hampir lumpuh. Di saat itulah, Siluman Tangan Maut melancarkan
serangan susulan. Kalau saja yang seorang lagi tidak membantu kawannya yang
tengah terancam, sudah sejak tadi Wisanggeni menghabisi sepasang muda-mudi ini.
Selama puluhan jurus, pertarungan
antara musuh bebuyutan itu berlangsung imbang. Tapi menginjak jurus ke enam
puluh, Siluman Tangan Maut mulai terdesak. Semakin lama laki-laki berompi
kuning ini semakin terdesak.
Pada jurus ke tujuh puluh tiga,
Marni melompat tinggi ke udara. Dan dari atas, pedangnya menyabet cepat ke arah
leher. Pada saat yang bersamaan, Wuraji
melemparkan tombak pendek di tangan kirinya. Bukan hanya itu saja. Pemuda
berpakaian coklat ini pun meloncat menerjang. Tombak pendek di tangan kanannya
menusuk deras ke arah dada.
Wunggg...!
Siluman Tangan Maut terkejut
bukan main melihat serangan beruntun ini. Trisulanya diputar cepat laksana baling-baling dalam upaya
menyelamatkan selembar nyawanya.
Tranggg, tranggg...!
Suara berdentang nyaring
terdengar dua kali ketika trisula Wisanggeni berhasil menangkis serangan pedang
Marni dan lemparan tombak pendek Wuraji. Tapi sebelum dia sempat berbuat
sesuatu, tusukan tombak putra Ketua Perguruan Kumbang Merah telah meluncur
tiba. Dan....
Cappp...!
Telak dan keras sekali tombak
pendek Wuraji menembus perut Siluman Tangan Maut hingga ke punggung. Seketika
itu juga cairan merah kental bermuncratan dari perutnya yang robek lebar.
Tubuh Wisanggeni terhuyung-huyung
ke belakang. Kedua tangannya mendekap luka yang menganga lebar di perutnya.
Tapi pada saat itu juga, serangan susulan Marni menyambar tiba. Gadis
berpakaian biru ini mengirimkan sebuah tendangan keras ke arah dada.
Desss!
Terdengar suara berderak keras
ketika tendangan itu telak mengenai sasaran. Seketika itu juga, tubuh
Wisanggeni terlempar jauh ke belakang. Tulang dadanya remuk seketika. Cairan
merah kental mengalir deras dari mulut, hidung, dan telinganya. Nyawa Siluman
Tangan Maut telah
melayang meninggalkan raganya sebelum tubuhnya jatuh di tanah.
Ular Kaki Seribu dan Monyet Tanpa
Bayangan hanya bisa menggertakkan gigi menahan geram melihat kematian
Wisanggeni. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong Siluman Tangan
Maut karena keadaan mereka sendiri pun tengah terdesak.
Memang, baik Dewa Arak maupun
Melati, telah berhasil mendesak lawan masing-masing, setelah melalui
pertarungan sengit seratus lima puluh jurus lebih. Baik Melati maupun Monyet
Tanpa Bayangan sama-sama telah mengeluarkan senjata andalannya. Kakek kecil
kurus berpakaian kulit beruang ini telah menggunakan kipas baja berwarna merah.
***
"Haaat...!"
Arya memekik keras. Tubuhnya
melompat ke atas melewati kepala lawan. Dan sesampainya di atas, tubuhnya
berputar. Kemudian tangan kirinya menepak ke arah punggung Ular Kaki Seribu.
Plakkk!
Telak dan keras sekali tepakan
Dewa Arak mengenai sasaran. Seketika itu juga, Ular Kaki Seribu terhuyung-huyung ke depan dan tersungkur di tanah. Segumpal cairan
merah
kental menyembur dari mulutnya.
Ular Kaki Seribu terluka dalam!
Pada saat yang sama, Monyet Tanpa
Bayangan menusukkan kipas baja merahnya ke arah dada Melati. Tapi dengan
mudahnya gadis berpakaian putih itu mendoyongkan tubuh ke samping kanan, hingga
serangan itu mengenai tempat kosong. Lewat setengah jengkal di samping kirinya.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Melati. Tangan kirinya tiba-tiba meluncur cepat ke arah dada kanan
lawan.
Monyet Tanpa Bayangan segera mendoyongkan tubuh ke belakang.
Menurut perhitungannya, dengan cara seperti itu, serangan gadis berpakaian
putih tidak mungkin mengenai sasaran.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
hati kakek kecil kurus ini ketika tangan Melati terus mengejarnya. Sebisa-bisanya dia mencoba
mengelak. Tapi....
Prattt...!
Tubuh Monyet Tanpa Bayangan terjengkang ke belakang ketika tangan
Melati mengenai dada kanannya. Darah segar menyembur deras dari mulut kakek kecil
kurus ini. Jelas kalau dia terluka dalam. Kakek berpakaian kulit beruang ini
sama sekali tidak tahu kalau Melati menggunakan jurus 'Naga
Merah Mengulur Kuku', yang
membuat tangannya bisa memanjang hampir dua kali lipat
"Haaat...!" Arya
memekik keras. Tubuhnya melompat ke atas melewati kepala lawan. Dan sesampainya di atas, tubuhnya berputar.
Kemudian tangan kirinya menepak ke arah punggung Ular Kaki Seribu.
Plakkk! Telak dan keras sekali
tepakan Dewa Arak mengenai sasarannya!
Kini Ular Kaki Seribu dan Monyet
Tanpa Bayangan hanya bisa pasrah saja ketika Dewa Arak dan Melati menghampiri
mereka yang terduduk berjejer di tanah. Aneh memang, kedua kakek ini jatuh di
tempat yang berdekatan.
Tapi di saat itulah sesosok
bayangan coklat berkelebat menghadang langkah Dewa Arak dan Melati. Pemuda itu
ternyata adalah Wuraji. Sepasang tombak pendeknya disilangkan di depan dada.
Tampak jelas kalau Wuraji telah siap bertarung.
"Langkahi dulu mayatku kalau
kalian ingin membunuh guruku," tegas dan mantap sekali kata-kata yang
keluar dari mulut pemuda berpakaian coklat itu.
Ular Kaki Seribu dan Monyet Tanpa
Bayangan saling pandang dengan perasaan terharu melihat pembelaan Wuraji. Mereka tahu betul kalau
pemuda berpakaian coklat itu bukanlah lawan Dewa Arak dan gadis berpakaian
putih yang memiliki kepandaian menggiriskan. Dan seketika itu pula, timbul rasa
khawatir mereka pada keselamatan muridnya. Dari semula mereka memang telah tahu
kalau Wuraji adalah
seorang murid yang berbakti.
Hanya saja saat itu kesadaran belum timbul dalam hati mereka.
"Menyingkirlah, Wuraji.
Kedua orang itu bukan tandinganmu," ucap Ular Kaki Seribu serak seraya
berusaha bangkit yang diikuti Monyet Tanpa Bayangan.
"Tidak, Guru," bantah
Wuraji tak mau kalah. "Guru telah terluka. Biar aku yang akan menghadapi
mereka"
Ternyata bukan hanya Monyet Tanpa
Bayangan dan Ular Kaki Seribu yang merasa khawatir. Marni pun dilanda perasaan
serupa. Hanya saja kekhawatirannya berbeda. Dia
mengkhawatirkan keselamatan Wuraji. Pemuda yang menarik hatinya sejak pertama
kali bertemu.
Dan tanpa ragu-ragu lagi, gadis
berpakaian biru ini berdiri di sebelah Wuraji menentang Dewa Arak dan Melati.
Pedangnya melintang di depan dada. Kini di hadapan Dewa Arak dan Melati berdiri
empat sosok yang siap bertarung.
"Apa maksudmu, Wuraji?"
tanya Melati seraya menghentikan langkah dan menatap pemuda berpakaian kuning
itu tajam. Nada suara gadis ini menyiratkan rasa penasaran yang amat sangat
"Kalian hanya dapat membunuh
guruku setelah terlebih dulu melangkahi mayatku!" tandas Wuraji tegas.
Kedua tangannya yang memegang sepasang tombak pendek tampak menegang. Jelas
pemuda berpakaian kuning ini telah siap bertarung.
Wajah Melati memerah. Dia merasa
tersinggung mendengar ucapan Wuraji. Gadis berpakaian putih ini memang paling
pantang mendengar tantangan yang ditujukan padanya. Tidak heran kalau ucapan
Wuraji membuat amarahnya bangkit
"Gurunya setan, muridnya pun
sudah pasti iblis!"
Setelah berkata demikian, Melati
melompat menerjang. Pedangnya menusuk cepat ke arah leher. Ada suara menggerung
keras seperti naga murka ketika pedang itu bergerak.
Cepat bukan main serangan yang
dilancarkan Melati. Tapi gerakan Wuraji pun tak kalah cepat. Sepasang tombak pendeknya
disilangkan, menangkis serangan Melati. Wuraji yang tahu kelihaian lawan,
segera mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki dalam tangkisannya.
Tranggg...!
Suara berdentang nyaring
terdengar ketika dua macam senjata itu beradu. Bunga-bunga api pun memercik ke sana kemari mengiringi
benturan itu
Wuraji menggertakkan gigi. Kedua tangannya terasa bergetar hebat
bahkan tubuhnya pun sampai terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara Melati
sama sekali tidak bergeming.
Suatu bukti kalau tenaga dalamnya
masih berada di bawah Melati.
Belum juga Melati melancarkan
serangan susulan, sebuah serangan yang mengeluarkan suara mencuit nyaring,
membuatnya melompat ke belakang untuk mengelak.
"Marni...! Kau...?!"
seru Melati tak percaya, begitu melihat orang orang telah menyerangnya.
Marni menganggukkan kepala. Memang
gadis berbaju biru inilah yang tadi telah menyerang Melati.
"Maafkan aka Melati,"
ucap Marni pelan. "Bukannya aku bermaksud melawanmu. Tapi aku tidak bisa
membiarkan kau mencelakai Wuraji."
Pelan tapi mantap suara Marni,
meskipun diucapkan dengan wajah memerah. Memang, gadis berpakaian biru ini
merasa malu karena ucapannya itu sama saja membuka rahasia hatinya terhadap
Wuraji.
"Tahan...!" seru Arya. Dan sekali
melangkahkan kaki, tubuhnya sudah berada di tengah-tengah kedua wanita cantik
itu. Mencegah pertarungan yang sudah bisa dipastikan akan terjadi.
"Sabar dulu, Melati. Sarungkan pedangmu," ucap Dewa Arak pada
tunangannya. "Dan kau juga, Marni."
Melati tidak membantah. Meskipun
dengan mulut agak cemberut, dimasukkan pedangnya ke dalam sarung.
Begitu melihat Melati telah
memasukkan pedang, Marni tanpa ragu-ragu lagi memasukkan pedangnya pula.
"Wuraji...," panggil
Arya pada pemuda tampan berahang kokoh yang kini sudah berada di sebelah Marni.
Wuraji mengangkat wajahnya,
memandang Dewa Arak.
"Jawab pertanyaanku,"
ucap Arya lagi dengan suara yang lebih tegas. "Mengapa kau menghalangi
kami?"
"Aku tidak bisa membiarkan
guru-guruku dibunuh di hadapanku!" sahut Wuraji tegas. Meskipun tahu kalau
dirinya bukan tandingan Dewa Arak, pemuda berahang kokoh ini tidak merasa
gentar.
''Tapi, guru-gurumu adalah
datuk-datuk sesat yang jahat, Wuraji," bantah Arya. "Merupakan
kesalahan besar kalau
aku membiarkan mereka mengumbar kejahatan di sana-sini."
"Biar bagaimanapun, mereka
adalah guru-guruku, Dewa Arak! Orang yang telah menanam budi besar kepadaku! Mendidikku selama bertahun-tahun. Dan kini kau menyuruhku diam melihat
mereka kau bunuh?!"
Wuraji menghentikan kata-katanya
sebentar untuk mengambil napas.
"Andaikata mereka benar
telah melakukan kejahatan besar pun, aku akan membela mereka
sekalipun untuk itu aku harus
mati di tanganmu. Hitung-hitung sebagai balas budiku atas jasa kedua guruku
selama ini! Apalagi mereka tidak melakukan kejahatan! Aku lebih berkewajiban
lagi untuk membela mereka!"
"Maksudmu.., mereka sama
sekali tidak jahat..?" tanya Arya ragu-ragu.
"Mereka telah lama
mengundurkan diri dari dunia persilatan, Arya. Dan selama bertahun-tahun aku
tinggal bersama mereka, tak sekali pun kudengar mereka melakukan kejahatan.
Siluman Tangan Maut alias Wisanggenilah yang telah mengacau dunia
persilatan!"
Arya dan Melati tercenung. Mereka
percaya sepenuhnya kebenaran ucapan Wuraji. Setelah saling pandang sejenak dan
Arya memberi isyarat. Mendadak keduanya membalikkan tubuh dan berkelebat
meninggalkan tempat itu
Tentu saja ha! itu membuat
keempat orang itu terkejut. Beberapa saat lamanya mereka memandangi arah
kepergian Dewa Arak dan Melati dengan perasaan bingung. Terutama sekali Monyet
Tanpa Bayangan dan Ular Kaki Seribu. Semakin besarlah niat mereka untuk kembali
ke jalan yang benar. Baru sesaat kemudian Wuraji tersadar.
"Guru...," panggil
Wuraji seraya memberi hormat
Kali ini Ular Kaki Seribu dan
Monyet Tanpa Bayangan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Siapakah gadis cantik ini,
Wuraji?" tanya Ular Kaki Seribu sambil menatap Marni.
"Temanku sejak kecil,
Guru," sahut Wuraji malu-malu. Sementara Marni hanya menunduk. Wajah gadis
itu merona merah.
Sejenak Ular Kaki Seribu dan
Monyet Tanpa Bayangan saling pandang. Kemudian kedua kakek ini saling melempar
senyum. Keduanya tahu kalau sepasang muda-mudi ini saling mencintai. Karena
gadis inilah Wuraji sampai berani melawan mereka. Dan karena hendak membela
Wuraji-lah, Marni berani menentang Dewa Arak dan Melati.
Sementara itu nun jauh di sana,
Dewa Arak dan Melati tengah berjalan bersisian. Wajah sepasang muda-mudi ini
nampak cerah. Satu tugas lagi telah mereka selesaikan dengan hasil baik
SELESAI
No comments:
Post a Comment