PERINTAH
MAUT
oleh Aji Saka
1
Srakkk...! "Keparat!"
Bunyi berkerosakan yang disusul
dengan suara makian keras penuh kejengkelan, merobek keheningan suasana yang
masih diselimuti kegelapan.
Sebenarnya, saat itu malam telah
berlalu. Tugas rembulan, telah hampir usai. Hanya saja sang Surya belum
menampakkan diri di ufuk timur. Meskipundemikian, kicau burung sudah mulai
terdengar. Kokok ayam jantan pun sesekali bersuara, seakan hendak menyambut
pagi.
Di tengah suasana seperti itulah
suara makian tadi terdengar dari mulut sesosok tubuh berpakaian hitam. Wajahnya
tak tampak karena tertutup kain hitam dari bawah mata sampai ke leher. Kain itu
diikatkan ke belakang kepala. Hal itu sebagai pertanda kalau dirinya tak ingin
dikenal.
"Hih!"
Dengan menggeram, sosok
berpakaian hitam itu menarik kuat-kuat kakinya. Ternyata salah satu
kakinyaterperosok ke dalam sebuah lubang yang tak terlihat karena tertutup
semak-semak dan rerumputan. Lubang itu kecil tapi cukup dalam. Sosok berpakaian
hitam itu tampak merasa kesakitan, mungkin kalau tak tertutup kain, mulutnya
meringis-ringis menahan nyeri di kaki yang terjepit lubang itu. Hanya matanya
yang tajam tampak jelalatan ke sana kemari, seperti ada yang tengah diawasi.
Namun sosok berpakaian hitam itu
tidak mempedulikan rasa sakit yang mendera. Begitu terbebas dari lubang,
kakinya kembali metanjutkan perjalanan. Langkahnya terburu-buru sekali.
Sehingga tampak agak terpincang-pincang. Karena kaki sebelah kanan yang
terperosok di lubang tadi, dirasakan masih sangat sakit ketika dijejakkan ke
tanah.
Srak! Srak! Srak!
Bunyi berkerosakan dari
semak-semak dan rerumputan yang dilewati sosok berpakaian hitam itu terdengar,
hampir tiada henti. Terlihat jelas, sosok berpakaian hitam itutengah
tergesa-gesa.
Setelah cukup lama menerobos
semak-semak dan rerumputan, akhirnya sosok berpakaian hitam itusampai di sebuah
tanah lapang yang membentang luas. Tak satu pun pohon besar yang menghalangi
tempat itu, kecuali rumput-rumput pendek dan kering.
Sosok berpakaian hitam itu menghentikan langkah dan
mengedarkan pandangan. Namun, hal itu hanya dilakukannya sebentar. Sesaat
kemudian, kakinya kembali diayunkan. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya.
Rupanya rasa sakit yang melanda kaki telah mulai berkurang.
Ternyata sosok berpakaian hitam
itu bukan orang sembarangan. Setidak-tidaknya, memiliki ilmu yang cukup tinggi.
Hal itu dapat dibuktikan dari larinya yang cepat dan gesit
Tak berapa lama kemudian, dalam
jarak belasan tombak di hadapan sosok berpakaian hitam, samar-samar tampak
sebuah bangunan. Ke tempat itulah kakinya diayunkan. Hanya dalam beberapa kali
lesatan, tubuhnya telah berada tepat di depan bangunan itu. Sebuah bangunan
yang tampak menyeramkan. Apalagi dalam suasana pagi yang masih gelap dan sunyi
seperti ini.
Setelah berhenti di depan
bangunan itu diedarkan matanya, mengawasi ke sekitar pekarangan yang luas.
Bangunan tua itu tampaknya sudah tak berpenghuni. Hal itu bisa dibuktikan dari
keadaannya yang terbengkalai seperti tak terawat. Pepohonan kecil tampak
meranggas di tengah halaman luas yang kotor.
Setelah puas memperhatikan, sosok
berpakaian hitam itu lalu melangkah menuju bagian kiri bangunan. Adasuatu yang
aneh di bagian itu. Di sana tampak tertancap sebatang tombak berwarna
mengkilat.
Setengah dari tombak itu menancap
di tanah. Hal itu membuktikan betapa kuat tenaga dalam yang telah menghunjamkannya.
Begitu berada di dekat tombak,
sosok berpakaian hitam itu menghentikan
langkah. Ditolehkan kepalanya ke sana kemari. Seakan-akan tak
ingin ada orang lain melihat tindakan yang akan dilakukanya.
Setelah merasa yakin tidak ada
orang melihat, sosok berpakaian hitam itumemasukkan tangan kanannya ke balik
baju. Sesaat kemudian tangannya telah keluar dengan menggenggam segulungan
surat dan sebuah kantung kain sebesar kepalan bayi. Kantung yang tampak
menggembung itu mengeluarkan bunyi berdencing nyaring ketika dikeluarkan
Setelah kembali menoleh ke sana
kemari, sosok berpakaian hitam itu buru-buru menggantungkan gulungan surat dan
kantung kain ke gagang tombak.
"Hhh...! Akhirnya selesai
juga tugasku. Kini tinggal menunggu hasilnya. Ha ha ha...! Tunggulah
kematianmu, BimaSeta! Ha ha ha...!" ujarnya seraya tertawa terbahak-bahak,
merasa puas dan bangga. Rasa gembira itu puntampak tersirat dari sepasang matanya
yang tak tertutup kain.
Masih dengan tawa yang belum
putus, sosok berpakaian hitam segera meninggalkan tempat itu. Hanya dalam
beberapa kali lesatan, tubuhnya telah menjauh, dan akhirnya lenyap ditelan
kegelapan pagi
***
"Aneh...! Aku takmengerti
arti semua itu, Kang."
Sebuah pertanyaan dengan suara
lembut terdengar, ketika tubuh sosok berpakaian hitam telah jauhmeninggalkan
bangunan itu. Suara itu berasal dari salah satu pohon yang berada tak jauh dari
bangunan tua.
Ternyata pada salah satu cabang
pohon besar di sebelah kanan bangunan itu, tampak dua sosok tubuh yang duduk
berdampingan. Rimbunnya dedaunan pohon ditambah suasana pagi yang masih gelap,
membuat keberadaan mereka sulit untuk diketahui.
"Aku juga tidak mengerti,
Melati," timpal sosok lainnya. "Tapi jelas..., ada seseorang yang
tengah terancam jiwanya! Dan orang itu bernama Bima Seta. Sementara orang yang
mengincar nyawanya, kuduga orang berpakaian hitam tadi. Tapi..., mengapa
tindakan yang dilakukannya seperti itu?"
Terdengar jelas perbedaan kedua suara
itu. Yang pertama lembut, dan agak melengking. Sedangkan yang belakangan
suaranya mantap, dan agak berat. Jelas, suara pertama keluar dari mulut seorang
wanita.
"Mungkin ada hubungannya dengan benda-benda yang digantungkan pada gagang tombak itu,
Kang," ujar wanita yang dipanggil Melati.
"Mungkin kau benar,"
sahut pemilik suara lelaki. "Tidak ada salahnya kalau kita memeriksanya.
Toh, ini semua demi kebaikan."
Belum juga lenyap ucapan pemilik
suara kedua itu, dari atas pohon melesat turun dua sosok bayangan, putihdan
ungu! Dan....
Jliggg!
Seringan kapas, dua sosok yang
tadi berada di atas pohon menjejakkan kaki di tanah. Jelas, keduanya mempunyai
ilmu meringankan tubuh yang telah sempurna.
Kedua sosok itu segera
menghampiri tempat sosok berpakaian hitam menaruh benda-benda yang dibawanya.
Terlihat tindakan mereka tidak begitu tergesa-gesa.
Dalam jilatan sinar bulan yang
remang-remang, terlihat cukup jelas ciri-ciri mereka. Sosok pertama seorang
gadis berwajah cantik jelita. Rambutnya panjang tergerai. Sehelai pakaian putih
membungkus tubuhnya yang ramping.
Sedangkan sosok kedua, ternyata
seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh satu tahun. Wajahnya
memperlihatkan kejantanannya. Tubuhnya yang kekar dan berotot, dibungkus
pakaian ungu.
Ada sebuah keanehan pada pemuda
berpakaian ungu itu. Rambutnya yang panjang berwarna putih keperakan. Warna
rambut yang biasanya hanya dimiliki orang-orang berusia lanjut.
Kini bisa ditebak siapa
sebenarnya pemuda berambut putih keperakan itu. Ya! Arya Buana. Lelaki muda
yanglebih terkenal dengan julukan Dewa Arak!
Dengan pandangan tertuju pada
benda-benda yang tergantung di batang tombak, Arya dan Melati terus melangkah
mendekat. Namun, ketika jarak antara pasangan muda-mudi itu dengan sasaran
tinggal tiga tombak lagi, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan hitam yang
melesat begitu cepat. Dan....
Brettt!
Dalam sekejap gulungan surat dan
kantung kecil itu telah lenyap dari tempatnya. Sosok bayangan hitam itulah yang
menyambarnya! Kemudian dengan kecepatan luar biasa, sosok bayangan itu melesat
meninggalkan tempat Dewa Arak dan Melati berada.
Kejadian itu berlangsung demikian
cepat sehingga sulit untuk dirinci rentetannya. Yang jelas, baik Dewa Arak
maupun Melati baru menyadari ketika sosok bayangan hitam itu telah melesat
jauh.
Meskipun demikian, sepasang
pendekar ini sempat melihat kalau sosok bayangan hitam itu bukanmanusia. Ya,
bukan! Melainkan seekor burung.
Sepasang pendekar muda itu hanya
bisa memperhatikan burung itu melayang di bawah cahaya bulan yang temaram. Semakin
lama semakin jauh, sampai akhirnya lenyap dari pandangan mata. Ditelan kejauhan
dan suasana remang-malang malam menjelang pagi.
Melihat kejadian barusan, Dewa
Arak dan Melati hanya saling pandang. Ada sorot keheranan dan rasa penasaran
memancar di mata mereka.
"Aku jadi semakin tidak
mengerti, Kang," ujar Melati, lirih tak ubahnya mirip bisikan. Kepalanya
menggeleng-geleng perlahan.
"Hhh...!"
Dewa Arak pun hanya menyahut
dengan helaan napas panjang. Sedangkan tatapannya diarahkan ke langit, seperti
tengah mencari jawaban atas pertanyaan kekasihnya di sana.
"Bukan kau saja yang tak
mengerti, Melati. Aku punmerasa heran. Apa arti semua kejadian aneh ini?! Hanya
satu yang berhasil kusimpulkan. Dan kurasa kau pun mengetahuinya...."
Dewa Arak menghentikan ucapannya.
Ditatapnya sejenak wajah Melati. Sikap dan pandangan matanya seakan-akan tengah
menunggu jawaban dari gadis berpakaian putih itu.
"Apa itu, Kang?"
Ternyata bukan jawaban yang
diberikan Melati, melainkan pertanyaan bernada penuh rasa ingin tahu.
"Ada seseorang yang tengah
terancam keselamatannya! Kau tahu kan siapa yang kumaksudkan?"
"Maksudmu...,
BimaSeta?!" tanya Melati, ragu-ragu.
"Tepat!" sahut Dewa
Arak sambil mengacungkan ibu jari. "Dialah yang kumaksudkan. Ada bahaya besar
yang tengah mengancam keselamatan Bima Seta. Kita harus menyelamatkannya,
Melati!"
"Aku setuju saja, Kang!
Tapi.., ke mana kita harus mencari Bima Seta? Kita belum tahu di mana tempat
kediamannya. Dan yang lebih repot lagi, kita belum pernah melihat orang itu.
Jelas, kita belum pernah mengenal nama Bima Seta. Lalu..., bagaimana cara kita
mencegah pembantaian itu?" tanya Melati, seakan-akan meragukan tindakan
pencegahan itu.
"Hanya ada dua cara,
Melati," sahut Dewa Arak cepat. "Pertama, kita cari orang yang tadi
datang kemari."
"Lalu..., apa cara yang
satunya lagi, Kang?" desak Melati tidak sabar menunggu.
"Mengejar burung yang telah
mendahului kita, menyambar barang-barang di tombak tadi. Memang, hal ini lebih
sulit. Tapi yang jelas, kita tahu arah yang ditempuh binatang itu. Kita ikuti
dan selidiki. Mudah-mudahan saja, belum terlambat!"
"Kalau begitu maksudmu, kita
harus cepat bertindak, Kang! O, ya. Apa tindakan kita sekarang?" tanya
Melati seraya menatap wajah kekasihnya.
"Mengejar orang berpakaian serba
hitam tadi!" jawab Arya dengan suara tegas dan mantap.
Usai berkata demikian, Dewa Arak
langsung mengayunkan kaki dengan gerakan luar biasa. Hanya dengan sekali
lesatan, tubuhnya telah berada dalam jarak belasan tombak dari tempat semula.
Melihat hal ini, Melati tak mau
kalah. Gadis itu pun segera mengayunkan kaki. Hanya dalam sekejap mata,
tubuhnya juga telah melesat belasan tombak. Sesaat kemudian, pasangan pendekar
muda ini telah sama-sama melesat menuju arah yang ditempuh sosok berpakaian
hitam.
***
"Tuan...!Tuan Besar...! Aku
datang, TuanBesar...!"
Suara teriakan keras dan parau
dengan logat yang aneh lerdengar beberapa kali. Sesosok tubuh yanq tengah
terbaring di atas balai-balai bambu terbangun. Perlahan-lahan kelopak matanya
membuka
"Ah...! Kau rupanya,
Raja," gumam sosok yang terbaring di atas balai-balai bambu, setelah
terlebih dulu menggeliatkan tubuh. "Sepagi ini kau sudah membangunkanku.
Apa ada pekerjaan yang harus kulakukan?"
"Benar, Tuan...! Benar! Dan
aku telah membawanya...!" sahut pemilik suara serak dengan logat aneh itu.
"Ya. Aku telah melihatnya.
Sini, berikan padaku...!" pinta sosok yang tergolek di balai-balai seraya
bangkit dari berbaring, lalu perlahan-lahan duduk.
Pemilik suara serak dan berlogat
aneh itu pun langsung meluncur menuju balai-balai bambu. Ternyata suara parau
dan berlogat aneh itu keluar dari mulut seekor burung cukup besar. Sayapnya
yang lebar terkepak.
Wrettt! Jrabbb!
Dalam sekejap burung itu telah
hinggap di bahu kanan sosok lelaki yang dipanggil Tuan Besar.
Sosok lelaki setengah baya,
berkumis tebal yang duduk di pembaringan segera mengelus burung berbulu hitam
itu. Kemudian tangannya diulurkan untuk mengambil gulungan surat dan buntalan
kecil yang tergeletak di balai-balai. Tampaknya burung besar yang dipanggil
Raja telah menjatuhkan kedua benda itu di balai-balai bambu sebelum hinggap di
bahu pemiliknya.
Perlahan-lahan dibukanya tali
pengikat gulungan surat yang terbuat dari kulit binatang itu. Pada lembaran
yang tampak halus tertera sederet tulisan hitam. Lelaki berkumis tebal itu
segera membacanya dalam hati.
Utusan dari Akhirat.
Lewat surat ini aku mengutusmu
untuk menghabisi nyawa Bima Seta. Kau tahu kan, siapa Bima Seta itu?Ya. Dia
adalahKepala Desa Jarak. Siang ini dia akan pergi berburu ke Hutan Saragan. Kau
bisa menghabisi nyawanya di sana.
O, ya. Di dalam buntalan kecil
itu telah kusediakan uang imbalannya. Hitunglah! Aku rasa jumlahnya cukup.
Sampai di sini, lelaki bertubuh
tinggi dan berkumis tebal menggulung kembali surat itu. Ada seulas senyum
tersungging di bibirnya. Lalu, setelah meletakkan gulungan kulit binatang itu di
balai-balai bambu, segera diambilnya kantung kecil dari kain hitam itu. Setelah
tali pengikat dilepas, segera dikeluarkan isinya.
Cring! Cring!
Bunyi berdencing nyaring
terdengar ketika benda-benda logam yang ternyata uang itu berjatuhan di telapak
tangannya.
"Ha ha ha...!"
Lelaki berkumis tebal itutertawa
terbahak-bahak. Sebuah tawa yang menyiratkan kegembiraan.
"Kau tahu isi surat itu,
Raja?!" tanya lelaki berkumis tebal itu pada burung hitam yang
masihbertengger di pundaknya.
"Tahu, TuanBesar! Sebuah tugas,
bukan?!"sambut burung berbulu hitam itudengan suara serak dan logat yang
aneh.
"Ha ha ha...!"
Ledakan tawa lelaki berkumis
tebal yang ternyata berjuluk Utusan dari Akherat itu pun semakin keras
menggelegar, sehingga membuat seisi ruangan bergetar hebat. Hal itu pertanda
kalau dia mengerahkan tenaga dalam ketika mengumbar tawa yang bernada penuh
kegembiraan itu.
Masih dengan suara tawa yang
belum putus, Utusan dari Akherat menimang-nimang kepingan-kepingan uang di
tangannya. Namun tiba-tiba tawanya terhenti ketika burung hitam itu menyelak.
"Tuan...! Tuan Besar...! Aku
sudah tidak tahan lagi...! Seluruh tubuhku terasa gatal! Aku ingin kembali ke
warna asliku...!"
"Oh, iya! Aku sampai lupa
Ayo, Raja! Aku pun harus segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan
tugasku!"
Usai berkata demikian, Utusan
dari Akherat langsung bangkit dari duduknya. Lalu melangkahkan kaki
meninggalkan kamar tidurnya.
2
Derap kaki kuda yang beradu
dengan bumi menambah hiruk-pikuk keadaan di dalam Hutan Saragan. Kalau semula
yang terdengar hanya kicau burung dan teriakan-teriakan binatang penghuni
hutan, kini gemuruh langkah kaki kuda seakan-akan hendak memecahkan suasana.
Namun kemudian kuda coklat
bertubuh kekar itu tampak melangkah perlahan, karena penunggangnya tidak memacu
cepat. Bahkan seperti memang disengaja agar binatang tunggangannya tidak
berjalan cepat. Dia sibuk memperhatikan keadaan sekitar tempat itu.
Penunggang kuda itu ternyata
seorang lelaki setengah baya, berpakaian coklat muda. Kepalanya menoleh ke sana
kemari, seakan-akan ada sesuatu yang tengah dicarinya. Bahkan beberapa kali
tali kekang kudanya ditarik dengan maksud agar berhenti. Sesekali langkah
binatang tunggangannya berhenti. Mata lelaki itu jelalatan mengawasi tempat di
sekitarnya yang tampak sepi dan sunyi.
Lelaki berpakaian coklat muda itu
ternyata tidak sendirian. Di belakangnya, berjajar dua ekor kuda hitam yang
masing-masing ditunggangi lelaki bertubuh kekar dan berwajah sangar. Gagang
pedang tampak menyembul dari balik punggungmereka. Berbeda dengan lelaki
berpakaian coklat muda, dua lelaki bertubuh kekar itu tampak begitu waspada.
Ketiga lelaki penunggang kuda itu
semakin jauh memasuki Hutan Saragan. Namun lelaki berpakaian coklat muda yang
berada di depan, tampaknya tak mempedulikan keadaan hutan itu.
Lelaki berpakaian coklat muda
menghentikan langkah kudanya ketika tiba di dekat hamparan padang rumput yang
luas. Dengan sebuah gerakan indah tubuhnya melompat turun dari punggungkuda.
Jliggg!
Dengan mantap dan kokoh kedua
kakinya hinggap di tanah. Kemudian pandangannya dialihkan ke arah dua lelaki
kekar yang masih duduk di punggung kuda masing-masing. Mereka segera melompat
turun.
"Ambilkan busur itu,
Birawa!" pinta lelaki berpakaian coklat muda. Salah seorang dari dua
penunggang kuda hitam itu segera mengambil busur yang tergantung di punggung.
Lalu diberikannya pada
lelaki berpakaian coklat muda.
"Ini, Ki," ucap lelaki
yang berbibir tebal dan hitam itu, penuh hormat.
Lelaki berpakaian coklat muda
hanya menganggukkan kepala perlahan seraya menerima busur besar itu. Lalu,
tanpa mempedulikan kudanya, segera melangkah menuju hamparan rerumputan yang
ada di sebelah kiri mereka.
Sambil melangkah perlahan, tangan
lelaki berpakaian coklat muda itu melolos anak panah dari kantung panjang yang
tergantung di punggungnya. Ternyata bukan hanya sebatang, melainkan dua batang
anak panah. Kemudian yang lebih mengherankan, keduanya dipasang pada tali
busur.
Dan kini, dengan sikap siap
meluncurkan anak panahnya, lelaki berpakaian coklat muda itu berjalan
mengendap-endap menyibak rerumputan. Namun tentu saja bukan karena rerumputan
yang telah menghalangi langkahnya, hingga langkahnya tampak berhati-hati
sekali. Ternyata puluhan tombak di hadapannya ada beberapa ekor kijang yang
tengah merumput. Rupanya binatang-binatang itulah yang telahmenarik
perhatiannya.
Lelaki berpakaian coklat muda bertindak hati-hati sekali.
Seolah-olah khawatir kalau kelompok binatang itu mengetahui kehadirannya.
Sehingga dengan perlahan-lahan kakinya mendekat sampai pada jarak jangkauan
panah. Sesekali tubuhnya menyelinap di balik pohon besar yang rumbuh di sekitar
tempat itu.
Sementara itu, dua lelaki
berwajah kasar yang rupanya pengawal lelaki berpakaian coklat muda itu, hanya
mengawasi dari kejauhan. Kuda mereka, seperti juga milik lelaki berpakaian
coklat muda, telah ditambatkan di bawah pohon.
"Bagaimana kalau kita
bertaruh, Sempani?!" tanya Birawa setengah mengajak.
Lelaki yang dipanggil Sempani tak
langsung memberikan jawaban. Wajahnya tampak tercenung sambil menatap tajam
mata Birawa.
"Bertaruh apa,
Birawa?!"
"Begini. Ki Bima Seta hendak
memanah kijang-kijang itu. Nah! Itulah yang akan kita pertaruhkan. Apakah Ki
Bima Seta akan berhasil atau tidak?!" jawab Birawa seraya
mengangguk-anggukkan kepala.
"Baik. Kuterima
ajakanmu," sambut Sempani. "Kutebak, beliau akan berhasil memanah
salah satu di antara kijang-kijang itu."
Birawa tersenyum. Kepalanya
kembali mengangguk-angguk.
"Kau cerdik, Sempani! Kau
tak memberiku kesempatan lain! Apa boleh buat, meskipun aku tahu pasti kalau
majikan kita itu mempunyai kemampuan memanah yang luar biasa, terpaksa kuterima
pilihan lainnya. Asal kau tahu saja, kita bertaruh dengan sebulan penghasilan
kita!"
"Ya, aku setuju!" sahut
Sempani cepat, sambil melepas senyum gembira. Wajahnya menggambarkan keyakinan
bahwa dia bakal memenangkan taruhan itu.
Kini, Birawa dan Sempani mengalihkan pandangan, memperhatikan lelaki berpakaian
coklat muda yangternyata bernama Ki Bima Seta.
Tampak di sela-sela rerumputan
yang agak tinggi, Ki Bima Seta tengah berjalan mengendap-endap. Busur panahnya
yang besar telah siap direntang di depan wajah.
Rupanya Sempani yang akan memenangkan pertaruhan. Masalahnya, sampai Ki Bima Seta
berada para jarak jangkauan anak panahnya, kijang-kijang itu tampak masih sibuk
merumput. Mereka tampaknya tidak menyadari akan adanya ancaman maut yang tengah
mengintai.
Ki Bima Seta merasakan jantungnya
berdebar tegang. Apalagi ketika mulai membidikkan panahnya. Sudah terbayang di
benaknya betapa kedua anak panah itu akan melesat cepat dan menembus tubuh
salah satu kijang itu. Tentu saja kijang paling gemuk dan besar yang menjadi
sasarannya. Namun tiba-tiba....
Srakkk! Blukkk!
Sebuah batu sebesar kepalan
meluncur dan jatuh di dekat sekawanan kijang itu. Tentu saja kejadian itu membuat
binatang-binatang itu terkejut
bukan kepalang, dan langsung
berhamburan melarikan diri.
Kejadian yang sama sekali tak
terduga dan tiba-tiba ini membuat Ki BimaSeta terkejut danmarah bukan kepalang.
Padahal, sudah terbayang
di benaknya betapa seekor kijang
yang paling besar dan gemuk akan menggelepar tertembus anak panahnya.
Maka secara untung-untungan, dilepaskan anak panah dari busurnya.
Trakkk! Swing...!
Dengan kecepatan tinggi, kedua
anak panah melesat ke arah sekawanan kijang yang tengah berlarian dari tempat
itu. Hasilnya memang seperti yang diduga Ki BimaSeta. Kedua anak panah ituhanya
menyambar angin!
"Keparat!" maki Ki Bima
Seta geram. Disadari kalau kegagalan usahanya itu disebabkan adanya gangguan
yang tidak terduga. "Monyet gila dari mana yang telah menggangguku hari
ini, heh...?! Keluar kau, Pengecut! Jangan bersembunyi! Tampakkan dirimu!"
Sambil mengeluarkan
teriakan-teriakan geram bernada tantangan, Ki Bima Seta mengedarkan pandangan
mengawasi sekelilingnya. Hatinya merasa penasaran ingin segera melihat orang
yangtelah berbuat usil tadi.
"Siapa yang bersembunyi,
Bima Seta?!Sejaktadi akudi sini!"sahut sebuah suara.
Ki Bima Seta terjingkat kaget bagai
disengat ular berbisa, masalahnya, suara itu berasal dari atas kepalanya.
Langsung saja kepalanya didongakkan.
Untuk kedua kalinya, lelaki
berpakaian coklat muda itu terjingkat kaget. Bahkan kali ini sampai tersurut
mundur.Tepat di atas kepalanya, pada salah satu cabang pohon, duduk mencangkung
sesosok tubuh berpakaian hitam.
Dan belum sempat Ki Bima Seta
berbuat sesuatu, sosokberpakaian hitam itu telah melesat meninggalkan tempat
duduknya. Gerakan yang dilakukannya begitu cepat dan tampak indah.
Jliggg!
Dengan begitu ringan sosok
berpakaian hitam itu mendaratkan kedua kakinya di tanah. Ini menjadi pertanda
kalau ilmu meringankan tubuhnya amat tinggi.
"Siapa kau?!" tanya Ki
Bima Seta seraya menudingkan jari telunjuknya. Matanya yang tajam merayapi
sosok yang berdiri sekitar tiga tombak di depannya. Sesosok berpakaian serba
hitam itu bertubuh tinggi dan kurus. Sebuah selubung hitam yang dikenakan
membuat wajahnya tidak terlihat. Hanya sepasang matanya yang tampak karena
tepat pada bagian mata, terdapat dua buah lubang.
"Siapa diriku sebenarnya,
nanti kujelaskan belakangan. Yang lebih penting lagi kau, Bima Seta! Apa kau
terkejut karena tindakan yang
kulakukan itu, Bima
Seta?!"tanya sosok berselubung hitam bernada tak acuh.
"Dari mana kau tahu namaku,
Keparat?!" tanya Ki Bima Seta, tak dapat menyembunyikan perasaan kagetnya.
"Dan siapa sebenarnya dirimu? Aku belum pernah mengenalmu! Mengapa kau
mencampuri urusanku?!"
"He he he...! Tidak usah
kaget, Bima Seta! Aku hanya ingin memastikan saja kalau kau orang yang
kucari,"sosokberselubung hitam itu tertawa terkekeh, menyadari
pancingannya berhasil.
Ki Bima Seta kontan terdiam. Sama
sekali tidak disangka kalau dirinya telah masuk perangkap sosok berselubung
hitam itu.
"Hm..., ada apa kau
mencariku?! Aku merasa tidak pernah punya urusan denganmu," ujar Ki
BimaSeta, agak terbata-bata.
Sebenarnya laki-laki berpakaian
coklat muda ini bukan orang sembarangan. Namun, penampilan dan sikap sosok
berselubung hitam itu membuatnya harus bersikap hati-hati. Apalagi tadi telah
disaksikan sendiri kemampuan sosok tidak dikenal itu. Ilmumeringankan tubuhnya
jelas telah mencapai tingkat tinggi. Meskipun, tingkat kepandaian dan tenaga
dalam sosok ini belum dilihat, Ki Bima
Seta bisa memperkirakannya.
"Semula memang tidak, Bima
Seta," masih tetap tenang ucapan sosok berselubung hitam. "Tapi,
sekarang di antara kita ada urusan. Seseorang telah menyewaku untuk
melenyapkanmu dari muka bumi."
Ki Bima Seta tersentak kaget.
Kakinya serta-merta mundur selangkah ketika menyadari ada bahaya mengancam. Di
sampingdirinya tahu kalau sosokberselubung hitam ituakan membunuhnya, juga
karena ada sebuah dugaan yang menyelinap di benaknya begitu mendapat jawaban
itu.
***
Ki Bima Seta teringat akan
seorang tokoh misterius dalam dunia persilatan. Seorang tokoh sakti yang
mempunyai pekerjaan sebagai pembunuh bayaran. Tidak seorang pun yang mengetahui
siapa sebenarnya, karena tokoh itu selalu menyembunyikan wajah. Yang diketahui,
tokohini mempunyai julukan Utusan dari Akherat!
Hhh...! Orang inikah si pembunuh
bayaran yang berjuluk Utusan dari Akherat itu?! Tanya Ki BimaSeta dalam hati.
Rasanya memang tidak keliru.
Karena, menurut kabar, pembunuh bayaran yang berjuluk Utusan dari Akherat itu
mengenakan pakaian serba hitam.
"Siapa kau, Kisanak?!"
tanya Ki Bima Seta, ingin memasrikan kebenaran dugaannya, setelah termenung
beberapa saat.
"Mengenai namaku, sayang
sekali tidak bisa kujelaskan. Tapi, kau boleh menyebutku sebagai Utusan dari
Akherat," jawab sosok berselubung hitam yang ternyata memang Utusan dari
Akherat.
"Ah...!"
Meskipun sudah menduga
sebelumnya, Ki Bima Seta tak urung terkejut juga.
"Kau pernah mendengar
julukan itu?!" tanya Utusan dari Akherat, masih tetap bersikap tenang.
"Ya," Ki Bima Seta
menganggukkan kepala. "Bukankah kau pembunuh bayaran?"
"He he he...!"
Utusan dari Akherat menganggukkan
kepala seraya tertawa terkekeh-kekeh.
"Utusan dari Akherat,"
ucap Ki Bima Seta dengan raut wajah sungguh-sungguh. "Aku berani membayarmu
beberapa kali lipat dari orang yang telah menyewamu. Syaratnya, batalkan
maksudmu. Dan bunuh orang yang menyuruh membunuhku!"
"Sayang sekali, Bima Seta!
Aku tak dapat melakukannya. Ini menyangkut kehormatanku. Kau tahu, perintah
yang diberikan padaku, tak dapat dibatalkan lagi. Sekalipun permintaan itu
datang dari penyewaku. Setiap perintah berlaku mutlak! Tidak dapat
ditawar-tawar lagi!" jawab Utusan dari Akherat dengan tegas.
Melihat sikap keras Utusan dari
Akherat, Ki BimaSeta jengkel. "Jangan kaukira aku takut padamu, Utusandari
Akherat! Orang lain
boleh takut mendengar julukanmu.
Tapi, aku tidak!"
"Bagus, Bima Seta! Jawaban
seperti itulah yang kutunggu-tunggu sejak tadi. Kau tahu, aku tak ingin orang
yang akan kubunuh menyerah begitu saja. Nah, bersiaplah kau!"
"Kaulah yang akan kami
lenyapkan!"
Seruan keras itu keluar dari
mulut Sempani dan Birawa hampir berbarengan. Ternyata dua lelaki bertubuh kekar
ini telah berada di situ sejak tadi. Mereka ikut mendengarkan percakapan antara
Ki Bima Seta dengan Utusan dari Akherat. Keduanya tidak langsung bertindak
karena melihat majikan mereka masih terlibat percakapan dengan pembunuh bayaran
itu.
Usai berkata demikian, Sempani
dan Birawa langsung bertindak. Srat! Srat!
Cahaya berkilauan langsung
mencuat ketika Sempani Dan Birawa mencabut pedang yang tersandang di punggung.
Lalu, bagai telah saling
sepakat mereka bergerak
menghampiri Utusan dari Akherat dari arah berlawanan. Sempani dari kiri,
danBirawa sebaliknya. Lalu....
"Hiyaaat..!"
Diiringi teriakan keras yang
membuat suasana di sekitar tempat itu tergetar hebat, Sempani dan Birawa
melancarkan serangan.
Baik Birawa maupun Sempani
menggerakkan pedang berputar laksana baling-baling, sebelum akhirnya dibabatkan
ke tubuh Utusan dari Akherat. Sempani melancarkan tusukan lurus ke dada.
Sedangkan Birawa mengirimkan babatan ke leher. Bunyi menderu yang mengiringi
tibanya serangan itu menjadi pertanda kuatnya tenaga dalam yang mereka
kerahkan.
"Hmh...!"
Utusan dari Akherat mengeluarkan
dengusan bernada mengejek melihat serangan-serangan itu. Dia tetap bersikap
tenang meskipun bahaya maut tengah meluncur mengancam jiwanya. Sama sekali
takada tanda-tanda akan dilakukannya tindakan pembelaan diri, baik mengelak
ataupun menangkis.
Bukan hanya Sempani dan Birawa
yang merasa terkejut melihat tindakan Utusan dari Akherat, Ki Bima Seta pun
demikian. Apakah Utusan dari Akherat akan membiarkan kedua serangan itu
mendarat pada sasarannya? Kalau benar demikian, berarti tokohmisterius ini
telah memiliki kekuatan tenaga dalam yang sulit untuk diukur. Atau dia
me-miliki ilmuyang membuat tubuhnyatak dapat ditembus senjata tajam?
Peratanyan-pertanyaan ini merasuk
di benak Sempani, Birawa, serta Ki Bima Seta. Dan mereka tak perlu menunggu
terlalu lama untuk mendapatkan jawabannya.
Tak!Takkk!
Bunyi berdetak keras seperti
benturan logam keras terdengar ketika pedang Sempani dan Birawa mendarat pada
sasarannya.
"Hah...?!"
"Akh...?!"
Sempani dan Birawa terpekik
keras, ketika merasakan tangan mereka seketika terasa panas. Keduanya tampak
menghentikan serangan terhadap lawan. Mulut mereka meringis menahan rasa sakit
yang mendera di tangan.
"He he he...!Mengapa
berhenti?!" ejek Utusan dari Akherat melihat kedua lawan menyeringai
kesakitan, seraya menatap dirinya dengan pandangan takjub. "Pilihlah
bagian yang empuk!"
Usai berkata demikian, sosok
berselubung hitam itu melipat kedua tangannya di depan dada. Sikapnya
menunjukkan kalau dirinya siap menerima serangan Sempani danBirawa tanpa
memberikan perlawanan.
Sempani dan Birawa saling pandang
sebentar. Karena sesaat kemudian, keduanya telah kembali melancarkan serangan.
Ternyata Utusan dari Akherat
benar-benar menepati janjinya. Dia tak memberikan perlawanan sama sekali.
Dibiarkan saja semua serangan kedua lawannya. Tak pelak lagi, dua batang pedang
yang dikerahkan dengan tenaga dalam, bertubi-tubi menghantam sekujur tubuhnya.
Tak!Tak! Tak!
Namun, seperti juga kejadian
sebelumnya, Utusan dari Akherat tak terpengaruh sama sekali. Jangankan terluka,
tergores pun tidak! Karena Sempani dan Birawa mengerahkan seluruh tenaga dalam
untuk melancarkan serangan secara terus-menerus, tak aneh kalau akibatnya
mereka kelelahan bagai kehilangan daya.
"Sudah puas?! Ha ha
ha…!"
Lagi-lagi Utusan dari Akherat
tertawa terbahak-bahak mengejek. Hal itu dilakukan tanpa merubah sikap semula.
Tubuhnya tetap berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tampak
pa-kaiannya terkoyak-koyak akibat rusukan, sabetan, dan bacokan kedua pedang
lawan.
Sesaat baik Sempani maupun Birawa
menatap nanar Utusan dari Akherat. Keduanya seakan-akan tak mampu melakukan
serangan. Rupanya kedua pengawal Ki BimaSeta ini telahmenyadari kalau lawan
terlalu tangguh. Di samping itu mereka seperti telah kehabisan tenaga untuk
memberi jawaban. Cara berdiri Sempani dan Briawa yang tidak tegak lagi telah
menjadi bukti nyata kelelahan yang diderita.
"He he he...!"
Utusan dari Akherat tertawa
terkekeh. Kemudian dengan tawa yang belum putus, pandangannya diarahkan ke arah
Ki BimaSeta.
Ki Bima Seta yang masih berada di
situ, tentu saja menyaksikan semua kejadian itu.
"Sekarang giliranmu, Bima
Seta! Ketahuilah, he he he...! Nasibmu tak sama dengan mereka," ujar
Utusan dari Akherat seraya menuding Sempani dan Birawa. "Aku hanya
diperintah agar membunuhmu! Bersiaplah, BimaSeta! Padamu aku tidak bisa
bersikap lunak!"
Srat! Srat!
Ki Bima Seta mencabut sepasang
goloknya sebagai tanggapan atas peringatan yang diberikan Utusan dari Akherat.
Jelas, lelaki berpakaian coklat muda itu bermaksud untukmengadakan perlawanan.
"Jangan kau kira mudah untuk
membunuhku, Bangsat!" dengus Ki Bima Seta sengit.
Seiring dengan makian itu, Ki
Bima Seta memutar-mutarkan sepasang goloknya di depan dada.
Wunggg! Wunggg...!
Bunyi mengaung keras seperti
segerombolan lebah mengamuk kontan terdengar. Hal itumenandakan kalau Ki Bima
Seta mempunyai tenaga dalam yang amat kuat.
Dengan sepasang golok yang
diputar-putarkan, Ki Bima Seta menghampiri Utusan dari Akherat. Terlihat
hati-hati sekali tindakannya. Kakinya melangkah perlahan-lahan, dengan pandangan
terus tertuju pada lawannya. Ki Bima Seta tampaknya tengah mencari bagian dari
tubuh lawan yang akan dijadikan sasaran serangan
Hal yang sama pun dilakukan
Utusan dari Akherat. Pembunuh bayaran itu tampaknya tahu kalau yang dihadapi
kali ini tak bisa disamakan dengan lawan-lawan sebelumnya. Itulah sebabnya,
meskipun kelihatannya sosok berselubung hitam ini bersikap tenang, sebenarnya
kewaspadaan telah dipasang secara penuh.
Utusan dari Akherat mengawasi
setiap langkah Ki Bima Seta dengan seksama. Memang, kedudukannya tetap tidak
berubah. Namun, sepasang matanya beredar mengikuti setiaptindakan kaki Ki
BimaSeta.
"Haaat..!"Sing! Sing!
SepasanggolokKi Bima betabergerak cepat seperti menggunting leher Utusan dari
Akherat.
Melihat serangan yang berbahaya
ini, sosok berselubung hitam segera menarik kaki kanannya mundur, dan
mencondongkan tubuhnya ke belakang!
Beberapa saat lamanya, keadaan
berlangsung seperti itu. Utusan dari Akherat tetap berdiri diam di tempatnya.
Sedangkan Ki Bima Seta terus melangkah menghampirinya dengan sepasang senjata
siap untuk disarangkan pada sasaran. Keadaan jadi terlihat menegangkan hati.
Perasaan itu pun melanda Sempani
dan Birawa yang kini hanya bertindak sebagai penonton.
"Haaat...!"
Teriakan keras menggelegar Ki
BimaSeta memecahkan ketegangan yang melingkupi tempat itu. Lelaki berpakaian
coklat itu membuka serangan dengan sebuah jurus mematikan. Sepasang goloknya
bergerak cepat seperti menggunting leher Utusan dari Akherat.
Serangan Ki BimaSeta yangbegitu
cepat sulit untukdiduga. Hal itu karena lelaki setengah baya itu melakukan
gerakan yang sedemikian rupa. Sehingga golok yang berada di tangan kanan
membabat dari kiri, sedangkan golok di tangan kiri membabat dari kanan.
Sing! Sing!
Bunyi berdesing nyaring yang
memekakkan telinga terdengar, ketika sepasang golok itu salingberkelebat
memburu sasaran.
Utusan dari Akherat menyadari
adanya maut yang mengancam jiwanya. Namun anehnya, tak tampak sedikit pun
kegugupan atau perasaan gentar di mata lelaki berselubung kain hitam itu.
Meskipun serangan lawan meluncur demikian cepat, gerakan yang dilakukannya
ternyata jauh lebih cepat. Kaki kanannya segera ditarik mundur, sambil tak lupa
mencondongkan tubuh ke belakang.
Wuttt!Wuttt!
Hasil tindakan Utusan dari
Akherat memang tidak percuma. Serangan Ki Bima Seta lewat beberapa jari di
depan, dan membabat tempat kosong. Angin kencang dari serangan itu menerpa
kepalanya yang tertutup selubung kain hitam.
Melihat hal ini, Ki Bima Seta
tidak putus asa. Begitu serangan pertama berhasil dielakkan lawan, langsung
saja dilakukan serangan
susulan. Sambil melangkah maju,
sepasang goloknya diputar sedikit. Lalu, kembali melesat. Sasarannya kali ini
tak lain kedua pinggang lawan.
"Hebat...!"
Tanpa sadar dari mulut Utusan
dari Akherat terlontar kata pujian. Bukan sebuah pujian kosong. Rupanya sosok
berselubung hitam ini memang merasa kagum melihat kehebatan perkembangan ilmu
golok lawannya.
Meskipun demikian, bukan berarti
Utusan dari Akhirat tak mampu mematahkan serangan dahsyat itu. Sama sekali
tidak! Meskipun serangan lanjutan itu berlangsung begitu cepat, dan hampir
tidak terduga.
"Hiyaaa...!" Wut!Wut!
"Hih…!"
Dengan cepat Utusan dari Akherat
melemparkan tubuh ke belakang, sehingga serangan Ki BimaSeta kembali kandas.
Namun, Ki Bima Seta benar-benar
tak ingin memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan untuk memperbaiki
kedudukan. Tepat ketika tubuh Utusan dari Akherat tengah berada di udara,
kakinya digenjotkan untuk memburu lawan seraya melancarkan serangan
bertubi-tubi.
Pemandangan yang menarik pun
terjadi. Keadaan yang kurang pantas disebut sebagai sebuah pertarungan.
Masalahnya, Utusan dari Akherat terus-menerus bergerak menjauh, sementara Ki
Bima Seta memburunya seraya tanpa henti menghujani serangan secara beruntun.
Selama hampir sepuluh jurus Ki
Bima Seta melancarkan serangan dahsyat dan bertubi-tubi. Namun selamaitu,
taksatu punyangmengenai sasaran. Semua berhasil dielakkan Utusan dari Akherat.
Karuan saja hal ini membuat lelaki berpakaian coklat muda itu merasa penasaran
bukan kepalang. Sehingga, serangan-serangannya pun semakin dahsyat dan
susul-menyusul laksana gelombang laut.
Sebenarnya, kalau saja Ki Bima
Seta maumembuka mata dan tidak menuruti rasa penasaran, dia tak harus terlalu
bemafsu. Kegagalan demi kegagalan serangan yang dilakukan dalam belasan jurus,
telah membuktikan kalau tingkat kepandaian lawan berada jauh di atasnya.
Setidak-tidaknya dalam hal ilmu meringankan tubuh.
Namun tampaknya Ki Bima Seta
mempunyai watak keras kepala. Rasa penasaran yang berkecamuk di hati, membuat
hal itu tidak terpikirkan. Bukan menghentikan serangan dan mencari cara agar
dapat meloloskan diri, lelaki berpakaian coklat itu justru semakin gencar
melancarkan serangan.
Kembali limajurus terlewati!
Dengan begitu pertarungan itu hampir mencapai dua puluh jurus. Namun Ki Bima
Seta tak berhasil menyarangkan satu pun serangannya.
"Sekarang giliranku, Bima
Seta!"
Terdengar seruan Utusan dari
Akherat di antara deru hujan serangan sepasang golok Ki BimaSeta.
Seketika itu pula jantung Ki Bima
Seta berdetak lebih cepat mendengar ucapan itu. Namun, hal itu tetap tak
membuat serangannya semakin mengendur. Hanya saja kali ini kewaspadaannya
ditingkatkan. Disadari kalau ucapan itu mengandung pengertian kalau lawan akan
mulai melancarkan serangan balasan.
Ternyata benar, Utusan dari
Akherat langsung memenuhi janjinya. Hal itu terbukti pada jurus kesembilan
belas, tepat ketika Ki Bima Seta menusukkan sepasang goloknya ke dada lawan.
Sosok berselubung hitam cepat mengulurkan kedua tangannya.
Seketika wajah Ki Bima Seta
berubah, melihat gerakan lawan. Meskipun belum tahu pasti bentukserangan itu,
pikirannya sudah dapat menduga tindakan yang akan dilakukan Utusan dari
Akherat. Apa lagi kalau bukan hendak menangkap mata goloknya? Sudah gilakah
Utusan dari Akherat?! Atau memang dirinya mempunyai tenaga dalam yang amat kuat
sehingga dapat menangkap sepasang goloknya tanpa terluka!
Ki BimaSeta merasakan betapa
jantungnya berdebar-debar. Hal itu karena hatinya yakin Utusan dari Akherat akan
mengalami akibat yang tidak menyenangkan apabila tetap meneruskan maksudnya. Setidak-tidaknya tangan si
pembunuh bayaran itu akan terluka.
Ki BimaSeta yakinkalau lawannya
telah salah perhitungan. Utusan dari Akherat terlalu yakin dengan kekuatan
tenaga dalam yang dimiliki dan terlalu menganggap remeh kemampuan lawan.
Padahal, Ki Bima Seta tahu pasti bahwa kemampuan dan tenaga dalamnya tak bisa
disamakan dengan Sempani atau
Birawa, kedua pengawalnya. Jangankan
hanya dua orang, biar ada sepuluh Sempani atau Birawa pun tak dapat disamakan
dengan dirinya!
Karena keyakinan itulah Ki Bima
Seta mengambil keputusan untuk meneruskan serangannya. Bahkan lelaki berpakaian
coklat muda itu menggertakkan gigi, seakan-akan berusaha meningkatkan kekuatan
serangan sampai batas-batas tertinggi kemampuan yang dimilikinya.
Dugaan Ki Bima Seta tidak salah!
Utusan dari Akherat ternyata memang bermaksud memapak serangan itu dengan kedua
tangannya! Dan....
Kreppp! "Heh...?!"
Pekikan kaget keluar dari mulit
Ki Bima Seta, ketika melihat kejadian yang sama sekali tak diduga. Sepasang
goloknya berhasil direnggut cengkeraman Utusan dari Akherat! Dan jari-jari
tangan sosok berselubung hitam itu tampak tetap utuh! Jangankan putus, terluka
pun tidak! Hal ini benar-benar di luar dugaan Ki Bima Seta. Matanya terbelalak
kaget bercampur heran.
Ki Bima Seta langsung menyadari
akan keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Lelaki setengah baya itu tidak
ingin senjata andalan itu dirampas. Maka, dengan cepat ditariknya agar lepas
dari cengkeraman tangan lawan. Lelaki berpakaian coklat muda itu tahu kalau hal
itu dilakukan, setidak-tidaknya tangan Utusan dari Akherat akan terluka!
Untuk yang kedua kalinyahasil
yang diharapkan Ki BimaSeta tidak sesuai dengan kenyataan. Sepasang golok itu
sedikit puntak bergeming. Seakan-akan bukan tangan manusia yang
mencengkeramnya, melainkan sebuah jepit baja. Betapapun Ki BimaSeta mengerahkan
tenaga sampai terdengar suara ah-uh ah-uh dari mulutnya, tetap saja sia-sia!
Tiba-tiba saja, ketika Ki Bima
Seta tengah bersitegang dengan tarikannya, tanpa diduga Utusan dari Akherat melepaskan cengkeramannya. Akibatnya
pun dapat diduga! Tubuh Ki Bima Seta terjengkang ke belakang terbawa tenaga
tarikannya sendiri.
"Aaah...!"
Tanpa sadar Ki Bima Seta
mengeluarkan jeritan yang sebagian besar karena rasa kaget.
Di saat tubuh Ki Bima Seta berada dalam keadaan
terhuyung-huyung, Utusan dari Akherat memasukkkan tangan kanannya ke balik
baju. Hanya sekejap saja, tangan itu telah keluar dengan menggenggam sebatang
pisau kecil bergagang ukiran kepala tengkorak manusia.
Secepat pisau kecil ituberada di
genggaman tangan, secepat itupula Utusan dari Akherat mengibaskannya.
Singgg!
Bunyi berdesing nyaring
mengiringi lesatan pisau kecil itu ketubuh Ki BimaSeta yang belum sempat
memperbaiki kedudukannya.
Ki Bima Seta terkejut bukan
kepalang, melihat serangan itu. Masalahnya, pisau itu meluncur ketika tubuhnya masih
terhuyung-huyung. Sedapat mungkin sepasang goloknya digerakkan untuk mematahkan
serangan itu. Tapi....
Crap! "Aaakh...!"
Jeritan panjang menyayat hati
keluar dari mulut Ki Bima Seta, ketika pisau bergagang kepala tengkorak
menghunjam di ubun-ubunnya. Usahanya untuk memapak pisau itu gagal total!
Brukkk!
Tubuh Ki Bima Seta ambruk di
tanah, menggelepar-gelepar sejenak, sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi
untuk selamanya. Mati!
"Ki...!"
Hampir bersamaan Sempani dan
Birawa menjerit kaget. Bagai diperintah, keduanya segera melesat menghampiri
mayat Ki Bima Seta yang terkapar berlumur darah.
"Ha ha ha...!"
Berbeda dengan Sempani dan Birawa
yang tampak sangat terpukul atas kematian Ki BimaSeta, Utusandari Akherat malah
gembira.Sambil memperhatikan mayat korbannya, dia tertawa terbahak-bahak.
Dan masih dengan tawa yang belum
putus, pembunuh bayaran itu melesat meninggalkan tempat itu. Luar biasa! Hanya
dengan beberapa kali lesatan, tubuhnya sudah tak terlihat lagi. Hanya sebuah
titik hitam kecil tampak di kejauhan, yang akhirnya lenyap.
Kini, suasana di Hutan Saragan
kembali sunyi.Tidak terdengar lagi gemuruh pertarungan dan teriakan-teriakan
keras. Keadaan pulih seperti sedia kala.
3
Hari sudah agak siang. Sang Surya
telah cukup jauh meninggalkan tempat terbitnya, memancarkan sinar yang tidak
lagi nikmat di kulit.
Dalam suasana seperti itulah
tampak sepasang muda-mudi melangkah
cepat memasuki tapal batas
sebuah desa. Mereka mengenakan pakaian berwarna ungu dan putih. Siapa lagi kalau
bukan Dewa Arak dan Melati?!
Di ambang tembokbatas desa,
pasangan pendekar berwajah elok ini menghentikan langkah. Pandangan mereka
diedarkan ke depan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya jajaran tanaman
singkong.
Meskipun demikian bukan berarti
tidak terlihat pemandangan lainnya. Di beberapa tempat tampak sosok-sosok tubuh
bertelanjang dada yang tengah sibuk mencabuti pohon-pohon singkong. Memang,
sudah waktunya tanaman itu untuk diambil hasilnya.
Hanya sebentar saja Dewa Arak dan
Melati bersikap demikian. Kemudian dengan gerak isyarat, Dewa Arak mengajak
kekasihnya untuk menuju para petani itu. Tanpa membantah sedikit pun, gadis
berpakaian putih itumengikuti.
Tanpa mempergunakan ilmu
meringankan tubuh, Dewa Arak dan Melati menghampiri salah seorang penduduk desa
yang tengah sibuk dengan pekerjaannya Keduanya melangkah di atas jalan setapak
yang membelah jajaran pepohonan.
"Maaf, Kisanak! bisa kami
mengganggu sebentar?! Kami ingin menanyakan sesuatu," tanya Arya sopan.
Lelaki bertubuh kekar dan
berkulit hitam kecoklatan karena sering terbakar matahari itu, menghentikan
kesibukannya. Matanya sejenak menatap kedua muda-mudi di hadapannya. Sekilas
tampak sorot keterkejutan pada wajahnya. Namun hal ituhanya berlangsung
sebentar. Karena segera ditutupinya dengan secercah senyum ramah.
"Silakan, Kisanak! Katakanlah, barangkali saja aku bisa
membantu," sahut lelaki kekar ituramah.
"Begini, Kisanak. Kami
tengah mencari seseorang yang bernama Bima Seta. Apakah kau bisa menunjukkan
pada kami tempat tinggalnya?!" Arya mulai mengutarakan pertanyaan yang
sejak tadi berkecamuk di hati.
Seketika, senyum yang menghias
wajah lelaki kekar itu lenyap. Jelas, yang menjadi penyebabnya tak lain
pertanyaan Arya.
Tentu saja perubahan air muka
lelaki kekar itu tak luput dari perhatian Arya dan Melati. Dan tentu saja
kejadian itu membuat keduanya heran. Namun, baik Dewa Arak maupun Melati tak
memperlihatkan perasaan itu.
"Ada urusan apa mencarinya,
Kisanak?!" tanya lelaki kekar itu dengan nada suara kurang ramah.
Arya mengembangkan senyum lebar.
"Sebenarnya kami tidak
mempunyai urusan apa pun dengannya. Hanya saja, di tengah perjalanan, kami
mendengar ada orang yang bermaksud membunuhnya. Sayang, sebelum kami sempat mengetahuinya, dia telah keburu
kabur," jelas Arya, tetap bersikap tenang.
"Jadi..., kau menanyakan
tempat tinggalnya untuk memberitahukan adanya usaha pembunuhan itu,
Kisanak?!" tukas lelaki kekar itu, cepat.
"Benar, Kisanak," Arya
menganggukkan kepala.
Secercah senyum sinis langsung
terpampang di bibir lelaki kekar itu.
"Urungkan saja niatmu,
Kisanak!" tandas lelaki kekar itu dengan nada semakin tidak ramah.
"Percayalah! Usaha pembunuhan itu tidak akan berhasil! Nah! Sekarang,
pergilah!"
Wajah Arya berubah. Hatinya
merasa tersinggung sekali mendapat perlakuan seperti itu. Namun, karena sadar
kalau lelaki kekar itu pasti mempunyai alasan sehingga bersikap demikian, Dewa
Arak menahan diri. Ditahannya amarah yang berkobar-kobar di dalam dada.
Arya berhasil menekan
kemarahannya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Melati. Gadis
berpakaian putih ini merasa tersinggung bukan kepalang melihat perlakuan lelaki
kasar itu pada kekasihnya. Arya telah bertanya baik-baik, mengapa mendapat
sambutan seperti itu? Hatinya tak menerima.
"Apakah kau tidak bisa sopan
sedikit, Kisanak?! Kawanku bertanya baik-baik, mengapa kau memperlakukannya
seperti terhadap anjing kudisan?!"
Suara Melati terdengar bergetar, sebagai pertanda kalau sewaktu-waktu amarahnya dapat
meledak.
Hal ini pun diketahui secara
pasti oleh Arya. Maka, pemuda berambut putih keperakan ini buru-buru menyentuh
lengan Melati untuk meredakan amarah yang melanda hati kekasihnya. Arya
takinginMelati turun tangan terhadap lelaki bertubuh kekar itu.
Memang, lelaki kekar itu rupanya
mempunyai sikap keras kepala. Meskipun tahu kalau Melati tengah marah, dia
bersikap tidak peduli.
"Sopan katamu?! Dengan terus
meladeni kalian berdua saja aku sudah bersikap sangat sopan! Kalau tidak,
kalian telah kutinggalkan sejak tadi"
"Keparat! Menghadapi orang sepertimu memang harus
menggunakan kekerasan!"
Usai berkata demikian, Melati
mengibaskan tangan kanannya. Kelihatannya pelan saja dan tanpa pengerahan
tenaga. Tapi akibatnya benar-benar menakjubkan! Tubuh lelaki bertubuh kekar
itumelayang ke belakang, seperti dihembus angin badai!
"Aaa...!"
Lelaki kekar itu menjerit
ketakutan ketika mengetahui tubuhnya melayang deras ke belakang. Dan sebelum
jeritannya habis....
Srakkk! Brukkk!
Tubuh lelaki kekar itu jatuh di
tanah. Beberapa batang pohon singkong langsung patah karena tertimpa.
"Uh...!"
Lelaki kekar itu mengeluh
kesakitan ketika berusaha untuk bangkit. Meskipun demikian, tindakan itu terus
dipaksakannya. Akhirnya tubuhnya berhasil melakukan hal itu, meskipun dengan
susah payah.
"Sudah kuduga..., kalian
berdua tak ubahnya dengan orang-orang yang telah lebih dulutiba!Pura-pura
menanyakan sesuatu, lalu akhirnya menyebar maut di desa ini!" rutuk lelaki
kekar itu, geram.
Melati tersenyum sinis.
"Bisa kumaklumi kalau
orang-orang yang lebih dulu datang dari kami melakukan tindakan demikian!
Mereka tidak salah! Kaulah yang menjadi penyebabnya! Orang mana pun tentu akan
marah apabila mendapat perlakuan seperti yang kami terima!"
Melihat keadaan yang sudah mulai
memanas itu, Arya tidak bisa tinggal diam. Buru-buru dia menyelak di antara
Melati dan lelaki kekar itu. Pemuda berambut putih keperakan itu bermaksud
melerai.
"Tenang. Aku yakin ada
kesalahpahaman di sini," ujar Arya buru-buru karena takut didahului.
"Percayalah, Kisanak! Kami tidaklah sejahat yang kau sangka. Dan...."
"Asal kau tahu saja, Petani
Busuk! Kawanku ini jauh lebih mulia daripada dirimu! Apakah kau pernah
menyelamatkan nyawa orang lain? Tidak, kan? Nah! Dengar baik-baik, kawanku itu
telah meyelamatkan nyawa puluhan ribu orang! Pernah kau dengan julukan Dewa
Arak?!" selak Melati, berapi-api.
Wajah lelaki kasar itu langsung
berubah pucat. Julukan Dewa Arak yang disebutkan Melati-lah yang menjadi
penyebabnya. Memang, meskipun hanya seorang petani, dia pernah mendengar
julukan itu. Menurut kabar yang sampai ketelinganya, Dewa Arak seorang pendekar
pembela kebenaran. Benarkah pemuda yang berdiri di hadapannya ini tokoh yang
mempunyai julukan demikian? Rasanya sulit untuk dipercaya!
"Benarkah kau tokoh yang
berjuluk Dewa Arak?!" tanya lelaki kekar tak yakin. Nada suaranya pelan,
tidak kasar seperti sebelumnya.
Tidak ada pilihan lagi bagi Arya
kecuali membenarkan pertanyaan itu. Dengan senyum terkembang kepalanya
mengangguk.
"Benar, Kisanak. Itulah
julukan yang diberikan dunia persilatan padaku. Sedangkan namaku Arya Buana.
Panggil saja Arya. Sedangkan kawanku ini Melati."
"Ah...! Kalau begitu,
maafkan kelakuanku, Dewa Arak! Aku telah salah menduga. Biasanya setiap orang
yang menanyakan nama Bima Seta, pasti merupakan konco-konconya," jelas
lelaki kekar itu, membela diri.
"Lupakanlah, Kisanak! Aku
bisa memakluminya," jawab Arya, bijaksana. "Bukan begitu,
Melati?!"
Terpaksa Melati menganggukkan
kepala, menyetujui pendapat kekasihnya. Padahal, hatinya masih jengkel.
Walaupun memang tidak sebesar sebelumnya. Permintaan maaf lelaki kekar itu
telah cukup meredakan amarahnya.
"O, ya. Atas nama seluruh
penduduk Desa Kalisari, aku, Saraka, mengucapkan selamat datang di desa
ini," lanjut lelaki kekar itu agak terbata-bata.
"Terima kasih atas
sambutanmu, Kang Saraka!" Arya merubah panggilannya. "O, ya. Kurasa
lebih baik kau panggil namaku saja. Rasanya telingaku menjadi gatal
mendengarnya."
Lelaki kekar yang bernama Saraka
itutersenyum mendengar ucapan Arya, yang dikeluarkan sambil bergurau itu.
"Bagaimana, Kang Saraka?!
Bisakah kau mem-eri keterangan atas sikap bencimu terhadap Bima Seta?!"
tanya Arya, mengalihkan percakapan pada pokok permasalahan.
"Hhh...!" Saraka
menghembuskan napas berat. "Ceritanya panjang, Arya. Aku khawatir kau
tidak sabar mendengarkannya...."
"Ceritakanlah, Kang! Percayalah, aku akan sabar mendengarkannya!" terdengar
penuh keyakinan Arya memberikan jawabannya.
"Baiklah kalau memang itu
yang kau inginkan, Arya," Saraka terpaksa mengalah. "Sekarang
dengarkan baik-baik."
Sampai dl sini, Saraka
menghentikan ucapannya. Dan termenung, memikirkan kata-kata yang tepat untuk
memulai keterangannya. Arya dan Melati menggunakan kesempatan itu untuk
memusatkan perhatian pada cerita Saraka.
***
"Sebenarnya Bima Seta bukan
penduduk asli desa ini. Dia merupakan pendatang dari tempat yang tidak kami
ketahui secara jelas di mana. Meskipun demikian, hal itu tidak kami
permasalahkan. Kehadiran Bima Seta dan maksudnya untuk tinggal di desa ini kami
sambut dengan tangan terbuka," ujar Saraka memulai ceritanya.
Dewa Arak dan Melati
salingpandang sejenak. Meskipundemikian, tidak ada ucapan yang mereka
keluarkan.
"Rasa suka kami terhadap
BimaSeta semakin mendalam karena dia pandai bergaul. Hanya dalam waktu beberapa
hari saja, seisi desa telah menyukainya," Saraka kembali melanjutkan
ceritanya. "Sekitar satu
minggu setelah kedatangan Bima
Seta di desa kami, mulai bermunculan beberapa orang yang menilik gerak-geriknya
adalah tokoh-tokoh persilatan. Baik secara berkelompok maupun perorangan mereka
berdatangan kemari."
Saraka menghentikan keterangannya
untuk mengambil napas. Ditelan air liur untukmembasahi tenggorokannya yang
kering.
"Sejak saat itu, kami mulai
merasa tidak enak. Sebuah pertanyaan pun muncul di benak para warga desa.
Mengapa orang-orang kasar itu berdatangan kemari. Saat itu kami belum merasa
curiga terhadap Bima Seta."
Untuk kesekian kalinya, Saraka
menghentikan keterangannya. "Perasaan curiga terhadap Bima Seta mulai
muncul ketika kami
melihat adanya perubahan pada
sikapnya. Bima Seta mulai memasang jarak dengan penduduk desa. Sampai akhirnya,
dia melakukan tindak kekerasan. Merampok, membunuh, dan memperkosa para wanita.
Yang lebih gila lagi, tidak hanya gadis yang menjadi korbannya. Tapi juga para
wanita yang telah bersuami!"
"Apakah tidak ada perlawanan
dari para penduduk desa ini, Kang?! Guru silat desa ini, misalnya? Atau...,
kepala desa?" tanya Arya, menyelak.
"Tentu saja ada, Arya,"
jawab Saraka dengan suara mendesah. "Guru silat desa ini bersama beberapa
orang muridnya melakukan perlawanan."
"Lalu..., hasilnya?!"
kejar Arya lagi. Meskipun dari jawaban dan sikap Saraka, bisa diperkirakan
hasil perlawanan yang dilakukan terhadap Bima Seta.
"Mereka semua tewas!"
terasa jelas nada keluhan dalam ucapan Saraka. "BimaSeta bukan
orangsembarangan. Dia memiliki kepandaian amat tinggi. Apalagi, dia tidak
bertindak sendiri. Orang-orang kasar yang berdatangan ke desa ini ternyata anak
buahnya!"
"Heh...?! Mengapa bisa
demikian, Kang?!" tanya Arya, tanpa menyembunyikan perasaan terkejutnya.
"Mereka satu gerombolan,
Arya. Menurut kabar yang kami dengar, Bima Seta dan pengikut-pengikutnya
merupakan sisa-sisa perampok yang telah dihancurkan pasukan kerajaan. Yang
kusayangkan, mengapa mereka memilih desa ini sebagai tempat pelarian...."
"Sekarang aku bisa mengerti
mengapa kau bersikap kasar pada kami," ujar Arya sambil
mengangguk-anggukkan kepala.
"Terima kasih atas
pengertianmu, Arya," ucap Saraka penuh perasaan syukur. "Dan...,
kalau kau tidak keberatan..., atas nama seluruh penduduk Desa Jarak, kumohon
kau bersedia melenyapkan kedurjanaan
Bima Seta dan kelompoknya.
Bagaimana, Arya?! Maukah kau memenuhi permohonan kami?"
"Tentu saja, Kang. Aku akan
berusaha sekuat tenaga untuk melenyapkan keangkaramurkaan ini," janji
Arya, mantap.
"Kang...,"Melati yang
sejak tadi berdiam diri, angkat bicara. "Ada apa, Melati?" tanya Arya
sambil menolehkan kepala.
"Bukankah ada orang yang
bermaksud membunuh Bima Seta?! Apakah kau lupa?!"
"Aku yakin usaha ituakan
gagal, Melati,"dengan nada yakin Saraka mendahului memberikan jawaban.
"Telah banyak usaha seperti itu dilakukan. Tapi hasilnya, sia-sia! Aku
yakin, usaha pembunuhan itu pasti gagal!"
"Kita lihat saja hasilnya,
Kang," sambut Arya tak berani memastikan. "Tidak baik berputus asa.
Karena hal itu hanya akan melenyapkan semangat. Dan...."
Ucapan Arya terhenti ketika
mendengar langkah kaki kuda. Ditolehkan kepalanya untuk melihat tapal batas
desa, tempat asal bunyi itu. Melati dan Saraka pun melakukan tindakan serupa.
Tampak tiga ekor kuda tengah
berjalan pelan memasuki jalan desa. Masing-masing binatang itu membawa
penunggang. Hanya saja ada perbedaan yang mencolok di sana. Di punggung kuda
coklat yang diiringi dua pengawal tampak sesosok tubuh terkulai lemas dalam
keadaan tertelungkup.
Dewa Arak dan Melati yang
memiliki pandangan tajam, sepintas saja dapat mengetahui kalau sosok di
punggung kuda coklat itu telah tewas.
"Dua penunggang kuda hitam
ituadalah anak-anak buah BimaSeta, Arya," ujar Saraka dengan suara
bergetar. "Birawa dan Sempani nama mereka."
Arya dan Melati saling pandang.
"Lalu..., siapa orang yang
tertelungkup di punggungkuda coklat itu, Kang?!" tanya Arya.
"Sepertinya dia telah tewas...."
"Benarkah itu, Arya?!"
tanya Saraka setengah tak percaya "Kalau melihat pakaian yang dikenakan
dan kuda tunggangannya, pasti Bima Seta! Hanya Bima Seta yang mengenakan
pakaian dan kuda berwarna coklat."
"Berarti…, pembunuh itu
telah berhasil melaksanakan tugasnya," tukas Melati.
"Benarkah itu?!" tanya
Saraka masih tak percaya "Mari kita buktikan kebenarannya!"
Setelah berkata demikian, Arya
segera mengayunkan kaki, menghampiri. Mau tidak mau, meskipun merasa gentar,
Saraka ikut serta. Itu pun setelah dilihatnya Melati melangkah mengikuti Dewa
Arak.
Tentu saja, kedatangan Dewa Arak
bersama Melati dan Saraka segera diketahui Birawa dan Sempani. Namun keduanya
tak peduli, terus menjalankan kuda mereka. Bahkan senyum mengejek tampak
tersungging di bibir mereka. Jelas, kedua orang kasar ini menganggap rendah
tiga sosok yang menghampiri mereka.
Karena kedua belah pihak
sama-sama bergerak menghampiri, dalam waktu singkat jarak mereka telah demikian
dekat, sekitar tiga tombak. Sampai di sini kedua belah pihak sama-sama
menghentikan langkah.
***
"Hih!"
Sempani melompat dari punggung
kuda. Lalu.... Srattt!
Sinar terang mencuat ketika
pedangnya dicabut.
"Rupanya kalian ingin
mencari penyakit, heh...?! Berani mencegat perjalanan kami!" seru Sempani
mengancam.
Dan sebelum gema
ucapannya lenyap, Sempani langsung melancarkan serangan. Saat
itu hatinya masih dalam keadaan gusar dan marah akibat amukan Utusan dari
Akherat. Maka langsung saja dilampiaskannya pada para penghadangnya.
Wuttt!
Sempani tidak bertindak
setengah-setengah. Dalam serangan pertama saja langsung dikirimkan serangan
mematikan. Pedangnya diluncurkan membabat tenggorokan! Dan yang menjadi sasaran
pertama adalah Dewa Arak!
Dewa Arak tetap bersikap tenang,
meskipun melihat jelas adanya ancaman maut terhadap dirinya. Tidak terlihat
adanya gelagat kalau pemuda berambut putih keperakan ini akan melakukan gerakan
untuk mengatasi serangan lawan.
Namun ketika ujung pedang Sempani
hampir mengenai sasaran, tiba-tiba Dewa Arak mengulurkan tangan. Sebuah gerakan
yang sangat cepat. Orang kasar seperti Sempani mana mampu melihat jelas tangan
Dewa Arak? Yang sempat dilihatnya hanya sekelebatan bayangan tak jelas. Dan
tahu-tahu .
Kreppp!
Batang pedang Sempani telah
tercekal. Dan sebelum anak buah Bima Seta itu sempat berbuat sesuatu, Dewa Arak
telah lebih dulu bertindak. Pemuda
berambut putih keperakan itu
memutarkan tangannya.
Sempani kaget bukan kepalang
ketika merasakan tubuhnya terbawa putaran tangan lawan. Buru-buru dikerahkannya
tenaga dalam untuk melawan. Namun ternyata tenaga Dewa Arak terlalu kuat untuk
bisa ditahan. Karena Sempani tak mau melepaskan cekalan pada gagang pedang
hingga tubuhnya terbawa putaran tangan Dewa Arak.
Wuk! Wuk!Wuk!
Tubuh Sempani terputar di atas
kepala Dewa Arak laksana baling-baling.
"Aaah...!"
Tanpa sadar mulut Sempani
mengeluarkan jeritan panjang. Teriakan yang keluar karena perasaan ngeri dan
kaget. Tubuhnya terputar-putar di udara dengan kecepatan tinggi.
4
Sempani merasa tersiksa bukan
kepalang. Apalagi ketika dirasakan putaran itu semakin lama semakin cepat.
Kepala mulai terasa pusing, pandangannya pun berkunang-kunang. Karena semua
yang dilihatnya berputaran secara cepat.
Mula-mula hanya rasa pusing yang
dideritaSempani. Namunsesaat kemudian, rasa mual timbul. Semakinlama dirasakan
perutnya bagaikan dikocok-kocok dengan kuat. Sempani yakin sebentar lagi pasti
akan muntah-muntah.
Rupanya Dewa Arak pun menyadari
kemungkinan terjadinya hal seperti itu. Terbukti sebelum Sempani muntah-muntah,
tangannya telah lebih melepaskan cekalan pada mata pedang lawan.
Tubuh Sempani seketika terlontar
dan melayang jauh. Jeritan tertahan anak buah Bima Seta itu pertanda kengerian
hatinya yang mencekam di saat tubuhnya meluncur.
Entah di mana tubuhSempani jatuh,
Dewa Arak tak mempedulikan lagi. Begitu tubuh anak buah Bima Seta itu
dilepaskan, diayunkan kakinya mendekati Birawa.
Karuan saja hal itu membuat
Birawa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia sadar pemuda berambut
putih keperakan itu memiliki kemampuan luar biasa. Keberhasilannya merobohkan
Sempani dalam waktu yang demikian singkat dandengan amat mudahitu, sebagai
bukti nyata yang tak dapat dibantah lagi!
Birawa buru-buru melompat dari
punggung kuda. Lalu, tanpa malu-malu lagi berlutut di depan Dewa Arak. Pedang
yangtergantung di punggung langsung dilemparkan begitu saja ke tanah.
"Ampun, Tuan Pendekar!
Tobat...!" ucap Birawa memohon belas kasihan.
Dewa Arak tidak menyahuti.
Ditatapnya sekujurtubuhBirawa yang berlutut tepat di depannya. Entah apa yang
terkandung dalam benak pendekar muda ini.
Dan sebelum Dewa Arak berhasil
menemukan kata-kata yang akan dikeluarkan, Saraka telah menyelak. Lelaki kekar
itu langsung mendekati Birawa.
"Manusia keji sepertimu tak
layak dibiarkan hidup! Hih!"
Saraka mengayunkan goloknya yang
terselip di pinggang, ke arah leher Birawa. Nasib rekan Sempani ini sudah bisa
diperkirakan apabila golok itumendarat di sasarannya.
Wuttt!Takkk! "Akh!"
Singgg!
Renteten kejadiannya berlangsung
demikian cepat sehingga sulit untuk diikuti mata. Tahu-tahu, golok di tangan
Saraka telah terlempar jauh.
Hal ituterjadi karena campur
tangan Dewa Arak. Di saat matagolok hampir memenggal leher, Dewa Arak
mengayunkan kaki kanan, memapak mata golok Saraka. Dengan pengerahan tenaga
dalam yang dimiliki, kakinya tak kalah kuat dengan batang baja. Itulah sebabnya
benturan yang terjadi, menimbulkan bunyi seperti dua logam keras berada
"Mengapa, Arya?! Mengapa kau
mencegahku membunuhnya...?!" tanya Saraka terbata-bata seraya menatap
tajam wajah Dewa Arak. Tarikan
wajah dan sorot mata lelaki kekar ini menyiratkan ketidakpercayaan yang dalam.
"Bukan merupakan tindakan
ksatria membunuh lawan yang tak mengadakan perlawanan, Kang!" sahut Dewa
Arak dengan suara pelan, tapi mengandung ketegasan. Seketika wajah Saraka merah
padam karena malu. Padahal, Dewa Arak telah memilih kalimat yang halus!
"Lalu..., apakah kita harus
mengampuninya, Arya?!" tanya Saraka lagi tanpa menyembunyikan rasa
penasaran yang bergolak.
Dewa Arak tersenyum lebar.
"Semua itu kuserahkan pada
kebijaksanaanmu, Kang. Kau dan penduduk Desa Jarak yang lebih berhak untuk
memutuskannya," jawab Arya, bijaksana.
Saraka langsung diam. Jawaban
Dewa Arak membuatnya merasa puas. Perasaan kagum yang sudah bersemi terhadap
pemuda berambut putih keperakan itu pun semakin tumbuh subur. "Berita itu
memang tidak berlebihan. Dewa Arak ternyata seorang pendekar besar yang dapat
bertindak bijaksana," gumam lelaki kekar ini dalam hati.
"Kalau begitu..., atas nama
penduduk Desa Jarak, kuucapkan terima kasih atas bantuan yang kau berikan,
Arya," ucap Saraka penuh rasa syukur.
"Lupakanlah! O ya, Kang. Ada
sesuatu yang ingin kutanyakan padanya."
"Silakan, Arya!"
Dewa Arak pun mengalihkan
perhatiannya pada Birawa.
"Siapa yang telah membunuh
Ki Bima Seta, Birawa?!" tanya Arya penuh wibawa.
"Seorang tokoh yang berjuluk
Utusan dari Akherat, Tuan Pendekar," jawab lelaki berbibir tebal itu
sambil mengangkat wajahnya.
"Utusan dari
Akherat...?!"
Arya mengulang julukan yang
disebutkan Birawa. Dahinya berkernyit seakan-akan tengah memutar pikiran. Hal
yang sama pun dilakukan Melati. Keduanya merasa pernah mendengar julukan itu.
Namun tidak ingat kapan dan di mana mereka mengetahuinya.
"Dia seorang pembunuh
bayaran, Tuan Pendekar," lanjut Birawa, seakan-akan mengetahui apa yang
dipikirkan Dewa Arak.
"Ah...! Sekarang aku ingat!
Ya! Aku juga pernah mendengarnya. Seorang pembunuh bayaran! Kau tidak tahu
siapa yang telah menyewanya?!" tanya Arya, ingin tahu.
"Tidak, Tuan Pendekar,"
Birawa menggelengkan kepala. "Utusan dari Akherat tak
memberitahukannya."
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepala. Jawaban seperti itu memang sudah diduganya. Karena meskipun tak pernah
berhubungan dengan urusan seperti itu, dia tahu tak mungkin seorang pembunuh
bayaran memberitahukan siapa yang telah menyewanya.
"Cukup, Kang! Sekarang
kuserahkan dia padamu."
"Terima kasih, Arya. Aku
akan membawanya ke balai desa. Seperti katamu tadi, biar para penduduk yang
akan menentukan hukuman terhadapnya."
"Itu bagus," puji Arya,
bernada gembira mendengar Saraka menyetujui usulnya.
***
Penduduk Desa Jarak gempar
mendengar kematian Ki Bima Seta. Mereka langsung merayakannya. Mulai dari mulut
desa, sampai di depan setiap rumah terpasang hiasan dan umbul-umbul. Julukan
Utusan dari Akherat pun menjadi buah bibir. Setiap penduduk memuji-mujinya
setinggi langit. Di sana-sini orang membicarakan kehebatan tokoh itu.
Tentu saja Dewa Arak pun mendapat
pujian pula. Karena dialah yang telah melumpuhkan perlawanan Birawa dan
Sempani, dua orang anak buah Ki BimaSeta.Sepasang pendekar muda berwajah elok
ini pun mendapat jamuan dan penghormatan dengan ditemani para sesepuh Desa
Jarak.
"Terima kasih atas
bantuanmu, Dewa Arak. Bantuan yang kau berikan tidak kecil artinya bagi kami.
Tanpa bantuanmu, orang-orang desa ini tidak akan hidup tenang. Aku sebagai
Kepala Desa Jarak mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya atas semua pertolonganmu," ucap seorang
laki-laki setengah baya berpakaian putih. Jenggot pendek yang telah memutih
menghias bawah dagunya. Ki Barjanala, namanya.
"Ah! Kau terlalu
melebih-lebihkan, Ki. Tanpa bantuanku pun sebenarnya Sempani dan Birawa akan
dapat kalian lumpuhkan. Kepada Utusan dari Akherat-lah seharusnya kalian
berterima kasih," sahut Arya merendah.
"Kau terlalu mengecilkan
arti bantuanmu, Dewa Arak. Kalau tidak karena mendengar julukanmu, tak akan
mungkinsisa gerombolan Bima Seta kabur dari sini," sebuah suara yang
keluar dengan susah payah, ikut campur. Pemilik suara itu seorang kakek kecil
kurus berpakaian hijau. Inilah sesepuh Desa Jarak, yang bernama Ki Kuncara.
"Apa yang dikatakan Ki
Kuncara dan Ki Barjanala memang tidak salah, Dewa Arak," tukas seorang
lelaki bertubuh tegap, kekar, dan bercambang lebat. "Apa pun alasanmu,
tetap jasa yang kau sumbangkan berarti besar. Memang, kelihatannya jasa yang
dibuat Utusan dari Akherat jauh lebih besar. Karena dia yang telah berhasil
membunuh Ki Bima Seta. Tapi ada yang kau lupakan, Utusan dari Akherat membunuh
Ki BimaSeta bukan karena
keinginan menolong para penduduk DesaJa-rak. Pembunuhan yang dilakukannya
karena suruhan seseorang."
"Kau benar, Sembada!"
ujar Ki Barjanala setengah terpekik. "Berarti, orang yang menyuruh Utusan
dari Akherat pun perlu mendapatkan ucapan terima kasih. Sayang, kita tidak tahu
di mana mereka bertempat tinggal!"
"Kau benar, Ki
Barjanala," puji Ki Kuncara dengan suara khasnya. "Seharusnya mereka
pun kita jamudi sini sebagai tanda terimakasih atas tindakan yang telah mereka
lakukan."
"Apa yang dikatakan Ki
Kuncara, tepat sekali!" Melati ikut pula menimpali karena merasa tidak
enak berdiam diri terus. "Seharusnya Utusan dari Akherat dan orang yang
menyewanya bisa berada di sini untuk merayakan pesta hancurnya kedurjanaan Bima
Seta."
"Tidak mengapa, Nisanak.
Keberadaan kalian untuk menemani kami pun sudah cukup untuk membuat hati
gembira. Siapa yang belum pernah mendengar julukan Dewa Arak yang telah
menggemparkan dunia persilatan?! Eh, silakan dicicipi hidangannya. Jangan malu-malu...!"
Sambil berkata demikian, Kepala
Desa Jarak itu mendahului mengulurkan tangan, mengambil sepotong singkong
goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Tindakan Ki Barjanala langsung
diikuti yang lainnya. Sehingga sejenak pembicaraan terputus. Yang terdengar
hanyalah suara kunyahan mereka.
***
Hembusan angin sejuk menyibakkan
rambut Arya dan Melati, tapi mereka tampak tak mempedulikan. Bahkan mereka seperti
menikmatinya. Beberapa kali mereka menarik napas dalam-dalam sambil
mengembangkan dada seakan ingin memasukkan udara segar itu sebanyak-banyaknya.
Bumi persada makin diliputi
suasana pagi ketika Dewa Arak dan Melati meninggalkan Desa Jarak. Sang
Suryayang muncul di ufuk timur masih berupa bola raksasa merah menyala.
Hembusan angin semilir menghembuskan hawa sejuk, terasa nikmat di kulit.
"Mengapa harus sepagi ini
kita meninggalkan Desa Jarak, Kang?!" tanya Melati, seraya menarik tali
kekang kuda. Wajahnya diarahkan pada kekasihnya.
Terpaksa, Arya menghentikan
langkah kudanya pula. Memang, kedua pendekar muda itu kini sama-sama
menunggangi kuda. Kuda
hitam yang sebenarnya dimiliki
Sempani dan Birawa. Ki Barjanala yang memberikannya.
Padahal Dewa Arak dan Melati
bersikeras untuk menolak. Namun, Kepala Desa Jarak itu tetap tak berubah dengan
keputusannya. Terpaksa pasangan pendekar muda ini menerima. Kuda-kuda hitam itu
pun berganti pemilik. Sedangkan pemilik mereka sebelumnya, Sempani dan Birawa
telah tewas di tangan penduduk Desa Jarak.
Kedua anak buah Bima Seta itu
tewas secara mengerikan. Betapa tidak? Mereka digantung! Lalu, setiap penduduk
melempari tubuh mereka dengan batu. Masing-masing orang sekali!
Dewa Arak dan Melati tidak sampai
hati melihatnya. Namun, mereka tak mencampurinya, karena hukuman demikian sudah
menjadi adat di tempat itu. Birawa dan Sempani memang pantas untukmendapat
hukuman. Tindak kekejian yang mereka lakukan telah melampaui batas. Melati
mengerutkan alis ketika melihat Dewa Arak tidak menjawab
pertanyaannya. Pemuda berambut
putih keperakan itu hanya diam termenung.
"Kang...!" sapa Melati
lagi dengan nada sedikit disentakkan.
"Eh, apa.... Nggg... ya...,
bukankah kau menanyakan sebab kepergian kita yang demikian cepat?!" sahut
Dewa Arak menggeragap.
"Benar, Kang," Melati
menganggukkan kepala. "Apakah ini ada hubungannya dengan Utusan dari
Akherat?!"
"Hhh...!" Arya menghela
napas seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Kau terlalu cerdik, Melati.
Tidak ada satu rahasia pun yang dapat kusembunyikan apabila kau berada di
dekatku."
"Gombal!" sergah
Melati, berpura-pura tak senang dengan memasang muka merengut. Namun, sepasang matanya yang
berbinar-binar telah menjadi bukti nyata kalau gadis berpakaian putihitu merasa
gembira. Siapa sihyangtidak senangmendapat pujian dari orang yang dicintainya?
"Ha ha ha...!"
Dewa Arak tertawa bergelak,
melihat sikap kekasihnya. Tapi hanya sebentar saja hal itu dilakukannya. Sesaat
kemudian, raut wajahnya menyiratkan kesungguhan.
"Memang, aku mempunyai
sebuah dugaan. Seperti yang kau terka, ini ada hubungannya dengan Utusan dari
Akherat. Hhh..., aku belum yakin akan kebenarannya!" ujar Arya, tanpa
menoleh pada wajahMelati.
"Katakanlah, Kang! Aku ingin
mendengarnya," sambut Melati tak sabar.
Dewa Arak hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat ketidaksabaran
kekasihnya. Telah diketahuinya betul kalau Melati memang memiliki watak keras.
"Begini, Melati," Arya mulai
memberi penjelasan. "Ada beberapa hal yang membuatku menaruh curiga
sehubungan dengan kematian BimaSeta di tangan Utusandari Akherat. Kautahu
kanmengapa Utusan dari Akherat membunuh Bima Seta?!"
"Hm...," Melati
menganggukkan kepala seraya menatap wajah Dewa Arak. "Menurut pendapatku
orang itu tidak punya tujuan, kecuali imbalan yang didapatnya."
"Tepat! Sekarang menurut
dugaanmu siapa atau pihak manakah yang telah menyewa Utusan dari
Akherat?!" tanya Dewa Arak, kali ini wajahnya menoleh ke wajah kekasihnya.
Melati tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Wajahnya tampak tercenung. Otaknya diputar berusaha mencari
jawaban atas pertanyaan itu.
"Kalau kau tanyakan
orangnya..., rasanya sulit bagiku untuk menduganya, Kang. Tapi, kalau pihak
mana, aku bisa menjawabnya. Dugaanku kuat, bahwa pihak itu berasal dari Desa
Jarak."
"Hhh...!Aku punmenduga
demikian. Tapi, mengapa tak satupundi antara mereka yang mengakui sebagai
penyewa Utusan dari Akherat?!" untuk yang kesekian kalinya Dewa Arak
melontarkan pertanyaan itu.
"Malah sepertinya tidak ada
satu pun yangteringat pada si penyewa itu, Kang. Semua puji-pujian dan ucapan
terima kasih ditujukan pada Utusan dari Akherat. Ki Barjanala dan Ki Kuncara
pun berpendapat demikian," sambung Melati.
"Tapi ada satuorang yang
mengingatnya, Melati,"timpal Arya lagi. "Dan orang itu Sembada. Kau
ingat?!"
"Ya. Aku ingat, Kang! Dia
menyebut-nyebut mengenai orang yang menyewa Utusan dari Akherat. Jadi...,
diakah orang yangtelah menyewa Utusan dari Akherat, Kang?!"
"Aku belum berani memastikan,
Melati. Ada hal-hal yang mencurigakan di sini. Sekarang mari kita membahasnya
sambil meneruskan perjalanan!" ajak Arya sambil menghentakkan tali kekang
kudanya perlahan.
Seketika pula kuda hitam
itumelangkah. Melihat hal ini Melati pun melakukan tindakan yang sama.
"Menurut akal sehat,"
ujar Arya lagi menyambung ucapan sebelumnya. "Penyewa Utusan dari Akherat
tak lain orang dari Desa Jarak. Kita kesampingkan dulu dugaan kita terhadap
penyewa yang berasa dari luar. Kurasa, kemungkinannya kecil sekali."
Melati mengangguk-anggukkan
kepala. Tampaknya hatinya
menerima pendapat Dewa Arak.
"Nah! Sekarang pertanyaannya
adalah, mengapa si penyewa Utusan dari Akherat itu tak mau mcnonjolkan diri.
Aku yakin, dia tahu penghormatan yang akan diterima, kalau orang itu mau menonjolkan
dirinya. Masalahnya, lupanya semua penduduk Desa Jarak atas jasa yang diberikan
penyewa itu, tak dapat disalahkan. Mereka semua terlalu gembira, sehingga belum
sempat terpikir kalau sebenarnya yang mempunyai jasa besar atas tewasnya Bima
Seta adalah si penyewa. Hal itu terjadi karena kesalahan si penyewa sendiri yang tak
memberitahukannya."
Dewa Arak menghentikan ucapannya
sebentar untuk menarik napas dan mencari kata-kata yang tepat sebagai pelanjut
uraiannya.
"Bisa dimaklumi kalau
penduduk Desa Jarak lupa akan jasa penyewa. Aku sendiri sama sekali tidak ingat
akan hal itu. Yang ada di benakku bahwa Utusan dari Akherat pembunuh Bima Seta.
Tidak terpikirkan akan hal lainnya. Aku baru teringat ketika Sembada
mengatakannya. Dan saat itu pula aku merasakan adanya kejanggalan dalam masalah
ini. Itulah sebabnya, kuputuskan untuk berpura-pura meninggalkan Desa
Jarak."
"Jadi...,
kautidaksungguh-sungguh bermaksud meninggalkan Desa Jarak, Kang?!" tanya
Melati, setengah tak percaya.
Arya menganggukkan kepala.
"Ah...! Aku mengerti,
Kang...! Kau bertindak demikian, pasti karena ingin menimbulkan kesan pada
penyewa Utusan dari Akherat bahwa kau telah meninggalkan Desa Jarak. Dengan
demikian, terbuka kesempatan bagi penyewa Utusan dari Akherat untuk melanjutkan
tindakannya apabila hal itu memang akan dilakukan. Bukan begitu, Kang?!"
terka Melati.
"Tepat, Melati. Memang
demikian, maksudku," 'sahut Arya, membenarkan. "Aku yakin, apabila
kita tetap berada di sana, penyewa Utusan dari Akherat merasa akan terganggu
untuk melakukan tindakan. Tentu saja, kalau orang itu hendak melakukan tindakan
lanjutan."
"Dengan kata lain, penyewa
Utusan dari Akherat itu mempunyai maksud tidak baik, Kang?!" celetuk
Melati mencari kepastian.
"Aku tak mengatakan
demikian, Melati," sahut Arya. "Hanya saja tindakan yang dilakukan
menumbuhkan rasa curigaku. Yangjelas, kalau tidak ada sebab
atau akibatnya, hhh... kurasa
janggal harus menyembunyikan tindak
kebaikannya."
"Bagaimana kalau penyewa
Utusan dari Akherat itu tidak mempunyai pamrih apa pun dalam perbuatannya,
Kang?!" Melati
mengajukan dugaan la-innya.
"Yah..., anggaplah seperti yang kita lakukan selama ini...!"
"Apa yang kau katakan memang
tidakbisakusangkal, Melati. Terus terang, aku pun berharap demikian. Tapi,
tidak ada salahnya toh, kalau kita bersikap waspada. Entah mengapa, aku tetap
merasa ada sesuatu di balik ini. Setidak-tidaknya ada maksud terselubung. Kalau
tidak, untuk apa penyewa Utusan dari Akherat itu menyembunyikan diri?!"
Melati kontan terdiam. Disadari
ada kebenaran dalam ucapan kekasihnya. Demikian pula dengan Dewa Arak. Matanya
menatap jauh ke depan, seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan dalam
benaknya.
"Apakah kau mempunyai
dugaan, siapa orangnya yang telah menyewa Utusan dari Akherat, Kang?!"
tanya Melati kemudian, setelah keduanya diam sesaat
"Hhh...!" Arya menghela
napas dalam-dalam lalu dihembuskannya. "Sebenarnya memang sudah. Tapi, aku
masih belum yakin. Bila dipikir dari satu sisi, rasanya dugaanku tidak salah.
Tapi bila diperhitungkan dari sisi lainnya, aku merasa tidak yakin dengan
dugaanku...."
Melati mengerutkan sepasang
alisnya yang berbentuk indah. "Mengapa kau masih ragu, Kang?! Aku yakin
dugaanmu tidak
salah!"
"Mengapa kau demikian yakin,
Melati? Kau tahu orang yang kucurigai?!" tanya Arya. Ada senyum dingin
tersunggjng di bibirnya yang tipis itu.
"Tentu saja!" jawab
Melati, yakin. "Bukankah orang yang kau curigai adalah Sembada?!"
Dewa Arak menganggukkan kepala
pertanda membenarkan tebakan Melati. Meskipundemikiantak tampak ada
keterkejutan pada wajahnya. Memang, Arya sudah dapat memperkirakan jawaban yang
akan diberikan kekasihnya.
"Nah! Kalau begitu..., apa
lagi yang membuatmu ragu...?!" kejar Melati, penasaran.
"Kau yakin kalau orang yang
menyewa Utusan dari Akherat adalah Sembada, Melati?" Arya malah balas
mengajukan pertanyaan.
"Tentu saja!" sahut
Melati tegas.
"Dari mana kau mengambil
kesimpulan seperti itu?i Atas dasar ucapannya?!"
"Benar, Kang!" jawab
Melati sambil menganggukkan kepala. "Kalau kau sendiri, bagaimana?"
Dewa Arak tak segera menjawab
pertanyaan itu. Pemuda berambut putih keperakan itu hanya termenung. Dahinya
berkernyit dalam seakan-akan tengah ada yang dipikirkan.
"Aku juga menaruh kecurigaan
pada Sembada, Melati. Dan dasar kecurigaanku pun sama denganmu. Yaitu
berdasarkan ucapannya. Tapi, justru itulah yangmembuatku merasa tak yakin
dengan dugaan semula.
"Aku tak mengerti maksudmu,
Kang?! Katakan saja dengan jelas, jangan berputar-putar sepert itu!"
sergah Melati, karena bingung mendengar penjelasan Dewa Arak yang dianggapnya
kurang gambling.
"Bagini, Melati," ucap
Arya setelah tercenung sejenak. "Menurut perhitungan, rasanya aneh kalau
Sambada pelakunya, ucapan seperti itu dikeluarkannya. Padahal, bukankah penyewa itu bermaksud menyembunyikan diri? Mengapa
mengeluarkan pernyataan seperti itu. Aku rasa Sembada tak terlalu bodoh untuk
mengetahui kalau ucapan yang dlkeluarkannya bisa mengundang kecurigaan orang
lain terhadap dirinya."
Melati tercenung dengan dahi
berkernyit dalam. Gadis berpakaian putih ini merasakan adanya kebenaran yang
tidak bisa dibantah dalam pernyataan Dewa Arak. Ya! Mengapa Sembada mengeluarkan
ucapan seperti itu, kalau dia penyewa Utusan dari Akherat? Bukankah
perbuatannya tidak ingin diketahui orang?
Cukup lama Melati bersikap
seperti itu. Terlihat Jelas kalau dia telah berpikir. Tentu saja, semua tindak
tanduk gadis itu tak lepas dari pandangan Dewa Arak. Namun, pemuda berambut
putih keperakan itu membiarkan saja. Dia ingin melihat kelanjutantanggapan
kekasihnya.
"Itukah yang menyebabkanmu
merasa ragu menuduh Sembada sebagai penyewa Utusan dari Akherat, Kang?!"
tanya Melati.
Dewa Arak tersenyum simpul dan
menganggukkan kepala. "Lalu..., kalau kau
berpendapat demikian, mengapa tetap
mencurigainya sebagai penyewa
Utusan dari Akherat, Kang?!" desak Melati, penuh semangat.
"Ada alasan lainnya,
Melati,"jawab Arya. "Akumempunyai dugaan kalau Sembada mengeluarkan
pernyataan itu tanpa sengaja. Atas dasar itulah kecurigaanku terhadapnya tidak
kuhilangkan."
Melati mengangguk-anggukkan kepala. Tak ada senyum tersungging di wajahnya. Namun,
tampaknya gadis cantik itu memaklumi kebenaran Dewa Arak.
"Hanya usaha dan waktu yang
dapat menjawabnya, Melati," ujar Arya kemudian.
Melati kembali
mengangguk-anggukkan kepala. "Kapan kau akan mulai menyelidikinya,
Kang?!"
"Nanti malam, Melati Kita selidiki Desa Jarak secara sembunyi-sembunyi. Kau siap?!"
"Tak usah menanyakan hal
itu, Kang!" jawab Melati penuh semangat
"Ha ha ha...!"
Dewa Arak hanya tertawa mendengar
jawaban itu.
5
Wusss!
Angin malam berhembus kencang
meniup hawa dingin. Keadaan cuaca tampak
kurang menguntungkan. Di langit awan hitam berarak-arak membuat sinar sang Dewi
Malam terhalang. Bumi persada pun tampak redup tanpa cahaya.
Semakin lama angin yang berhembus
semakin keras dan dingin. Hujan pun tampaknya akan segera turun. Suasana malam
yang telah larut, kian sunyi dan sepi.
Di tengah suasana malam yang
dingin dan tanpa cahaya bulan itu, tampak sesosok bayangan hitam melesat cepat
memasuki Desa Jarak. Laksana hantu jahat yang sedang memburu mangsa,
gerak-geriknya tampak begitu terburu-buru.
Namun, bayangan hitam itu
ternyata sosok seorang manusia. Terbukti kedua kakinya menapak di tanah ketika
menghentikan gerakan di balik pagar tembok sebuah bangunan cukup megah yang
memiliki halaman luas.
Hanya sebentar saja sosok
berpakaian hitam ituberdiam diri. Sesaat kemudian kakinya digenjotkan. Seketika
itupula tubuhnyamelenting ke atas, melompati batas atas tembok. Lalu....
Jliggg!
Hampir tak terdengar di telinga,
ketika sepasang kaki sosok berpakaian hitam itumendarat di tanah.
Sekilas sosok berpakaian hitam
itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Seakan-akan khawatir kalau kehadirannya akan
diketahui orang lain.
Setelah merasa yakin tak ada yang
melihat, sosok berpakaian hitam itu melesat cepat, menuju bangunan megah di
hadapannya. Hanya
dengan beberapa kali lesatan,
tubuhnya telah berada di dekat pintu bangunan.
Untuk yang kedua kalinya sosok berpakaian hitam itu menghentikan gerakan. Api obor yang
terpancang pada dinding depan rumah itu menerpa tubuhmu yang berpakaian serba
hitam.
Sosok berpakaian hitam itu
memiliki tubuhtinggi kurus. Wajahnya tampak kurang jelas, karena tertutup
selubung kain hitam. Hanya sepasang matanya yang tampak dari dua lubang pada
kain selubung kepala. Sosok lelaki itu ternyata Utusan dari Akherat
Sejenak sepasang matanya menatap
tajam daun pintu. Seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Namun sesaat
kemudian Utusan dari Akherat menghentakkan keras telapak tangan kanannya ke
depan.
Wusss!
.Segulung angin dahsyat keluar
dari telapak tangan kanan Utusan dari Akherat, meluncur menuju daun pintu.
Dan....
Brakkk!
Suara berderak keras terdengar
memekakkan telinga. Angin pukulan Utusan dari Akherat ternyata mampu
menghancurkan daun pintu yang terbuat dari kayu jari tebal itu.
Tanpa membuang-buang waktu Utusan
dari Akherat langsung melesat ke dalam. Pada saat yang bersamaan, dari dalam
sebuah kamar muncul sesosok tubuh berpakaian putih, yang ternyata Ki Barjanala.
Kepala Desa Jarak itu tampaknya terjaga dari tidurnya karena mendengar dobrakan
pintu rumah.
Saat itu, Ki Barjanala memang telah
mulai menempati bangunan yang semula ditempari Ki Bima Seta dan gerombolannya.
Hanya saja malam ituKi Barjanala masihmenempari sendiri. Kedua orang anaknya,
belum ikut pindah ke tempat tinggal yang baru itu.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
Ki Barjanala ketika melihat sosok berpakaian hitam telah berdiri tegak di
hadapannya.
"Siapa kau?!"
Sambil mengajukan pertanyaan, Ki
Barjanala langsung memasang sikap waspada Dia sudah dapat menduga kalau sosok
yang berdiri di hadapannya ini, tidak bermaksud baik! Cara datang dan pakaian
yanag dikenakannya menggambarkan bagaimana jiwanya saat itu.
"Kudengar kau ingin
memberikan penghormatan padaku atas pembunuhan terhadap Ki Bima Seta,
Barjanala?!" tanya Utusan dari Akherat tanpa mempedulikan pertanyaan yang
ditujukan terhadap dirinya.
"Penghormatan...? Membunuh Ki Bima Seta...?! Jadi...,
maksudmu.... Kau adalah...," sahut Ki Barjanala dengan suara menggeragap
karena perasaan takut, terkejut, dan keheranan.
"Benar," sambung Utusan
dari Akherat, seperti tahu ucapan Kepala Desa Jarak itu selanjutnya.
"Hhh..., akulah Utusan dari Akherat!"
Ki Barjanala menelan ludah untuk
membasahi tenggorokannya yang mendadak kering dan terasa getir. Sama sekali tak
disangka kalau sosok yang berjuluk Utusan dari Akherat demikian angker seperti
julukannya.
Tapi yangmembuat Ki Barjanala
merasa tegang, bukan penampilan pembunuh bayaran itu. Sikap Utusan dari Akherat yang
menyebabkannya merasa ngeri! Utusan dari Akherat sedikit puntak mau menunjukkan
perasaan bersahabat. Ataukah si pembunuh bayaran itu hendak membantai kepala
desa itu, seperti yang dilakukannya terhadap Ki BimaSeta?!
Meskipun telah menduga demikian,
Ki Barjanala tak ingin bertindak gegabah. Hal itukarena dirinya belum
mengetahui secara pasti maksud kedatangan Utusan dari Akherat. Oleh karena itu,
diputuskan untuk berpura-pura tidak tahu.
"Ah...! Kalau demikian, atas
nama seluruh penduduk Desa Jarak, kuucapkan terima kasih yang tidak terhingga.
Silakan duduk, Utusan dari Akherat!" ujar Ki Barjanala, berusaha bersikap
ramah
"Simpan saja semua
keramahtamahanmu, Barjanala!" sergah Utusan dari Akherat, keras. "Aku datang bukan untuk
berbincang-bincang denganmu! Lebih baik kau bersiap-siap, agar tak mati
sia-sia!"
"Ap..., apa maksudmu, Utusan
dari Akherat?!" Ki Barjanala masih mencoba untuk berpura-pura.
"Aku datang untuk
membunuhmu, Barjanala! Baik kau melawan atau tidak, bagiku sama saja. Karena
tetap akan kubunuh! Bersiaplah, Barjanala! Aku akan memulainya!"
***
Kini Ki Barjanala sadar, tak ada
gunanya lagi berpura-pura. Maka diputuskan untuk melakukan perlawanan. Dia tak
ingin mati percuma! maka....
Srattt!
Ki Barjanala menghunus keris yang
terselip di pinggang belakang. Sebuah keris berkeluk tujuh, berwarna hitam
pekat!
"Ha ha ha...! Begitu lebih
baik, Barjanala!" ujar Utusan dari Akherat, seraya tertawa mengejek.
"Dengan demikian kau tak akan mati penasaran!"
"Tutup mulutmu, Manusia
Busuk!" bentak Ki Barjanala keras. Lalu....
"Hih!"
Didahului gertakan gigi, Ki Barjanala
langsung melancarkan serangan dengan kerisnya. Senjata yang sarat dengan pamor
itu, ditusukkan lurus ke perut Utusan dari Akherari!
Wuttt!
Deru angin keras terdengar,
seiring dengan meluncurnya serangan itu.
Namun, Utusan dari Akherat tampak
tetap bersikap tenang. Tak tampak adanya gelagat kalau dia akan melakukan tindakan
penyelamatan diri, baikmengelak ataupun menangkis!
Melihat sikap Utusan dari
Akherat, Ki Barjanala merasa terkejut, sekaligus gembira. Apa pembunuh bayaran
itu sudah gila? Kalau tidak mengapa dibiarkannya serangan dahsyat itu.
Pertanyaan-pertanyaan itumuncul
di benak Ki Barjanala. Meskipun demikian, tak menghambat serangannya. Bahkan
kepala desa itu langsung mengerahkan seluruh tenaganya. Hal itu karena dia
ingin urusannya cepat selesai.
Ternyata Utusan dari Akherat
benar-benar tak melakukan tindakan apa pun terhadap serangan Ki Barjanala.
"Hiaaa...!" Tukkk!
Keris di tangan Ki Barjanala
mendarat telak di perut lawan. Namun kepala desa itu tersentak kaget Matanya
terbelalak, seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Keris itu
patah!
Belum hilang rasa heran dan
keterkejutan Ki Barjanala, tiba-tiba.... Cappp!
"Aaakh...!"
Pekik kematian dari mulut Ki
Barjanala terdengar memecah kesunyian malam itu. Tubuh Kepala Desa Jarak itu
terhuyung-huyung ke belakang. Pada ubun-ubunnya tertancap sebilah pisau
bergagang ukiran kepala tengkorak.
Dalam kecepatan yang sulit
dilihat mata biasa, Utusan dari Akherat berhasil menancapkan senjata khasnya.
Darah segar mengalir deras dari kepala Ki Barjanala yang tertancap pisau.
Brukkk!
Setelah terhuyung-huyung beberapa
saat lamanya, tubuh Ki Barjanala ambruk. Tanpa menggelepar-gelepar lelaki
berpakaian putih yang telah berlumuran darah itu tewas.
"Hmh!" dengus Utusan
dari Akherat penuh hinaan. Ditatapnya tubuh Ki Barjanala yang terkapar di atas
lantai tempat tinggal barunya. Sesaat kemudian lelaki berselubung kepala itu
membalikkan tubuhnya.
Namun dengan cepat Utusan dari
Akherat langsung memasang kuda-kuda. Sikapnya tampak penuh kewaspadaan. Jelas,
ada sesuatu yang telah membuat hatinya curiga, hingga harus bersikap seperti
itu. Matanya yang tajam jelalatan ke sana kemari, mengawasi sekitar ruangan
bangunan itu.
Dugaan itu ternyata tidak salah!
Sesosok bayangan putih tiba-tiba telah berdiri menghadang di ambang pintu.
Dengan sendirinya, jalan kabur pembunuh bayaran ini telah tertutup.
"Mau ke mana kau,
PembunuhTerkutuk?! Jangan harap dapat lolos dari tanganku!" tanya
sosokbayangan putih yangternyata seorang gadis. Tubuhnya yang ramping terbalut
pakaian putih. Gadis berambut panjang tergerai itu ternyata Melati.
Utusan dari Akherat tak langsung
menjawab pertanyaan Melati. Matanya yang tajam menatapi tubuh gadis berpakaian
putih itu. Diam-diam hatinya menyadari kalau calon lawan kali ini tak bisa
dianggap remeh. Gadis cantik itu tak dapat disamakan dengan Ki Barjanala. Hal
ini bisa diketahuinya dari tindakan kaki lawan yang demikian halus. Bahkan
hampir tak tertangkap oleh pendengaran yang telah terlatih baik sekalipun!
"Lebih baik, urungkan
niatmu, Nisanak! Kukatakan, aku tak punya urusan denganmu! Jangan kau membuatku
harus membunuh seorang gadis cantik seperti kau! Menyingkirlah cepat! Beri aku
jalan!"
"Jangan banyak bicara,
Utusan dari Akherat!" sahut Melati sengit "Aku tak akan menyingkir
dari sini. Kecuali kalau kau telah menjadi mayat! Hih!"
Seraya menggertakkan gigi, Melati
melompat, menerjang Utusan dari Akherat Gadis berpakaian putih ini membuka
serangan dengan sebuah kibasan kaki kanan yang dilakukan sambil membalikkan
tubuh.
Wuttt!
Deru angin keras yang mengiringi
tibanya serangan Melati membuktikan betapa kuat tenaga yang dikerahkannya.
Hal itu pun diketahui lawan.
Namun tampaknya sedikit pun Utusan dari Akherat tak merasa gentar Kemudian
tanpa ragu-ragu dipapakinya serangan Melati, juga dengan tendangan yang sama.
Sehingga…
Plakkk!
Bunyi keras terdengar, ketika
kedua kaki yang sama-sama dialiri tenaga dalam kuat itu saling mem-bentur
Melati terdorong ke belakang dengan tubuh berputar. Kemudian, tampak
terhuyung-huyung beberapa langkah. Dirasakan sakit yang hebat melanda kakinya
yang berbenturan. Di saat Melati belum sempat memperbaiki kedudukan, tiba-tiba
Utusan dari Akherat melancarkan serangan balasan. Tangannya
dikibaskan! Singgg!
Diiringi bunyi berdesing nyaring,
sebatang pisau kecil bergagang kepala tengkorak melesat memburu Melati.
Melati sadar akan adanya maut
yang mengancam jiwanya. Gadis berpakaian putih itu segera melakukan tindakan
untuk mengatasi serangan maut itu. Dengan gerakan yang hanya dapat dilakukan
tokoh berilmu meringankan tubuh tinggi, Melati menjejakkan kaki.
Dan, tindakan itulah yang
menyelamatkan nyawa Melati. Jejakan itu membuat tubuhnya melesat ke atas.
Sehingga pisau yang dilemparkan Utusan dari Akherat hanya mengenai angin.
Utusan dari Akherat menggeram
murka melihat kegagalan serangannya. Tanpa
memberi kesempatan pada Melati untuk memperbaiki kedudukan, segera dikirimkan
serangan susulan. Tentu saja dengan kedahsyatan melebihi serangan sebelumnya.
Serbuan Utusan dari Akherat
disambut baik oleh Melati. Pertarungan sengit pun tak dapat dielakkan lagi.
Baik Utusan dari Akherat maupun Melati tak ragu-ragu untuk mengerahkan seluruh
ke-mampuan yang dimiliki.
Keduanya langsung mengeluarkan
ilmu andalan masing-masing. Melati mengeluarkan ilmu 'Cakar Naga Merah'
andalannya. Sedangkan Utusan dari Akherat menggunakan ilmu 'Jari Sakti'.
Ternyata ilmu 'Jari Sakti' milik
Utusan dari Akherat tidak kalah dahsyat dibandingkan 'Cakar Naga Merah' yang
dikuasai Melati. Bunyi berdesingan nyaring selalu terdengar, setiap kali kedua
tangan pembunuh misterius itu bergerak.
Memang tak berlebihan kalau ilmu
andalan milik Utusan dari Akherat itu bernama 'Jari Sakti' Ilmu itu sangat
dahsyat dan menggiriskan. Dalam pengerahan ilmunya, Utusan dari Akherat
kadang-kadang hanya menggunakan satu jari. Tapi tak jarang dua, erripat, atau
semua jari tangannya.
Yang sangat menakjubkan,
jangankan sampai terkena langsung, angin serangannya saja sudah cukup mengoyak
pakaian sekaligus kulit tubuh. Betapa dahsyat ilmu 'Jari Sakti' milikUtusan
dari Akherat.
Akibat dari penggunaan ilmu yang
sama-sama hebat ini memang luar biasa. Bunyi berdesing, mengaung dan menderu
selalu terdengar setiap kali kedua belah pihak menggerakkan tangan atau kaki
Jurus demi jurus berlangsung
cepat. Tak terasa pertarungan telah berlangsung dua puluh lima jurus. Dan
selama itu, Melati tampak terus-menerus terdesak. Kenyataan itu tak
mengherankan, karena tampaknya Utusan dari Akherat memiliki
keunggulan-keunggulan dibanding Melati. Tidak hanya di bidang tenaga dalam,
tapi juga ilmu meringankan tubuh. Dengan dua keunggulan inilah, pembunuh
bayaran itu mampumenekan serangan lawan.
Semakin lama keadaan Melati semakin mengkhawatirkan. Beberapa kali tubuhnya
terhuyung-huyung, ketika harus menangkis serangan dahsyat lawan. Namun
tampaknya gadis cantik berpakaian putih itutak ingin mati percuma. Sehingga
dengan seluruh kemampuan yang dimiliki, dirinya tetap mengadakan perlawanan.
Menginjak jurus keempat puluh
tiga, keadaan Melati semakin gawat. Serangan-sereangan yang dilakukannya
semakin mengendur. Menangkis pun hanya dapat sesekali dilakukannya. Gadis itu
lebih sering banyak bergerak untuk mengelak. Tindakan inilah yang menyebabkan
dirinya semakin terdesak hebat.
Kalau keadaan tidak berubah,
Utusan dari Akherat jelas akan mampu keluar sebagai pemenang. Karena Melati
samasekali takmampu lagi melancarkan serangan yang berarti.
Prattt! "Hih...!"
Untuk yang kesekian kalinya,
Melati terpaksa menangkis serangan lawan. Seperti pada kejadian sebelumnya,
gadis berpakaian putih itu sangat kewalahan. Malah kali ini lebih parah dari
sebelumnya. Tubuh Melati terjengkang, karena saat ituMelati berada dalam
kedudukan yang tidak menguntungkan.
Ketika itulah, Utusan dari
Akherat langsung melancarkan serangan susulan. Bagai harimau lapar menerkam
mangsa, lelaki berpakaian serba hitam itu melesat menerjang Melati. Jemari tangannya
terkembang membentuk cakar. Keduanya mengincar dada Melati.
"Ah!"
Jeritan karena perasaan kaget,
keluar dari mulut Melati. Matanya yang tajam menatap nanar cakar Utusan dari
Akherat yang siap merenggutnya. Kegentaran menyelimuti perasaan gadis itu,
karena disadarinya malaikat maut seakan-akan telah berada di depannya. Apalagi
tubuhnya kini tengah berada di udara, mengelak dari serangan lawan.
Jalan satu-satunya untuk
menyelamatkan diri hanyalah menangkis. Namun, rasanya tindakan itusangat sulit
dilakukan. Hal itukarena kedua tangannya masih dirasakan sakit akibat menangkis
serangan Utusan dari Akherat.
Namun ketika keadaan gawat tengah
mengancam keselamatan Melati, tiba-tiba sesosokbayangan ungu melesat ke tempat
pertarungan. Begitu cepat sosok bayangan itu memapak serangan Utusan dari
Akherat.
Karuan saja hal itu membuat
Utusan dari Akhriat terkejut. Meskipun demikian tetap diteruskan serangannya.
Maka....
Prattt! Prattt!
Bunyi keras terdengar seperti
logam-logam keras dibenturkan. Sesaat kemudian tubuh Utusan dari Akherat dan
sosok bayangan ungu itu langsungterlempar ke belakang. Namun, dengan gerakan
yang indah dan ringan, kedua belah pihak berhasil mengatasinya. Lalu mendarat
di tanah.
"Kau tidak apa-apa,
Melati?" tanya sosok bayangan ungu itu pada Melati yang telah berhasil
berdiri dengan kedua kakinya.
"Tidak, Kang."
Sambil tersenyum manis, Melati
menjawab pertanyaan sosok bayangan ungu yang ternyata Arya alias Dewa Arak.
Hanya sesaat Dewa Arak
memperhatikan keadaan kekasihnya. Namun kesempatan pendek itu dimanfaatkan
sebaik-baiknya oleh Utusan dari Akherat.
"Hey! Jangan lari...!"
seru Dewa Arak seraya mengejar, ketika dilihatnya lelaki berpakaian dan
berselubung kepala hitam itu melesat meninggalkan tempat pertarungan.
Tentu saja tindakan Dewa Arak
membuat Utusan dari Akherat merasa khawatir. Buru-buru tangannya dimasukkan ke
balik baju, kemudian di keluarkannya kembali. Semua itu dilakukannya tanpa
mengendurkan kecepatan lari.
"Aku tak punya urusan
denganmu, selamat tinggal...!Hih!"
Sambil berkata begitu, Utusan
dari Akherat melemparkan benda bulat sebesar ibu jari kaki ke arah Dewa Arak.
Melihat hal itu, Dewa Arak menghentikan pengejarannya. Tubuhnya dilempar ke
belakang untuk menghindar. Arya khawatir benda bulat kecil itu mengandung racun
yang mematikan
Darrr!
Ledakan keras seketika terdengar
begitu benda bulat kecil itu berbenturan dengan tanah. Seketika itu pula muncul
asap tebal hitam
yang menghalangi pemandangan ke
depan. Hal ini membuat Dewa Arak tak dapat meneruskan pengejarannya terhadap
Utusan dari Akherat.
Dan seperti yang sudah diduga
Dewa Arak, begitu asap itu lenyap dari pandangan, Utusan dari Akherat sudah
tidak terlihat lagi.
6
"Sayang sekali.... Keparat
itu berhasil meloloskan diri...," ujar Melati menyesal.
Dewa Arak mengalihkan pandangan
menatap kekasihnya yang telah berada di sisinya.
"Tak perlu kau sesali hal
itu, Melati," ujar Dewa Arak menghibur. "Masih banyak kesempatan
untuk bertemu dengannya. Yang penting kau selamat."
Wajah Melati langsung berubah.
Sepasang matanya yang bening dan indah menyiratkan ketidakpuasan.
"Mengapa kau datang
terlambat, Kang?! Kalau tidak..., kita telah berhasil membekuknya!"
"Ya..., akuterlambat karena
menunggu munculnya orang yang telah menyewa Utusan dari Akherat, di bangunan
tua itu, Melati. Aku berharap, dia akan datang, tapi, setelah kesal menunggu, dia
tetap tak muncul. Kuputuskan untuk menyusulmu kemari. Untung aku datang pada
saat yang tepat...!"
Melati terdiam. Memang, semula
telahdiadakan kesepakatan. Dewa Arak menyelidiki bangunan kuno, tempat pertama
kali mereka melihat sosok bayangan hitam. Sedangkan Melati mengawasi tempat
tinggal Ki Barjanala.
Penyelidikan terhadap tempat
tinggal Ki Barjanala, berdasarkan kecurigaan Dewa Arak. Dia menduga, bahwa
tindakan rahasia penyewa Utusan dari Akherat pasti ada hubungannya dengan
kedudukan kepala desa. Ternyata dugaan itu tidak meleset!
"Apakah tokoh yang bertarung
denganmu itu Utusan dari Akherat, Melati?" tanya Arya, mulai mengalihkan
pokok persoalan.
"Kurasa benar dia,
Kang," jawab Melati tidak berani memastikan. "Lalu... bagaimana
dengan Ki Barjanala? Apakah dia baik-baik
saja?!"
Seketika itu pula wajah Melati
berubah. Tentu saja hal ini terlihat jelas di mata Dewa Arak. Karena pemuda
berambut putih keperakan itu memang tengah memperhatikan wajah kekasihnya.
Perasaan tidak enak pun melanda batin Dewa Arak.
Namun, sebelum Dewa Arak sempat
mengajukan pertanyaan, Melati telah menyahut.
"Aku terlambat datang,
Kang," ujarnya dengan suara lirih, seakan-akan merasa sangat menyesal.
"Maksudmu...?" Arya
tidak berani melanjutkan ucapannya. "Dia telah tewas, Kang."
"Hah...!"
Dewa Arak tersentak kaget
mendengar jawaban Melati. Hatinya sama sekali tak menduga kalau hal itu akan
terjadi. Matanya terbelalak diliputi rasa kesal dan penasaran. Lalu, tanpa
menunggulebih lamalagi, Dewa Arak melesat ke dalam rumah. Tampak tubuh Kepala
Desa Jarak itu terbujur di lantai berlumuran darah.
Memperhatikan sekilas saja, Dewa
Arak mengetahui kalau Ki Barjanala memang telah tewas. Sebuah pisau bergagang
ukiran kepala tengkorak yang menancap di dahinya telah meyakinkan hati Dewa
Arak.
"Tanda seperti ini pun ada
pada mayat Ki Bima Seta," ujar Dewa Arak dengan suara pelan.
"Berarti pelaku pembunuhan
ini Utusan dari Akherat pula, Kang," timpal Melati memberikan kesimpulan.
"Yahhh...," sahut Arya
dengan suara mendesah. Kemudian membalikkan tubuh dan melangkah ke luar.
Hal yang sama dilakukan Melati.
"Aku yakin hal ini
berhubungan erat dengan kedudukan kepala desa, Melati,"tukas Arya pelan.
"Hhh...!Tidak kusangka kalau penyewa Utusan dan Akherat bertindak demikian
cepat."
"Kejadian ini semakin
memperkuat dugaanku, Kang," ujar Melati. "Memang. Semua kejadian ini
menjurus pada satu orang. Sembada.
Masalahnya, siapa lagi yang akan
menggantikan kedudukan kepala desa setelah Ki Barjanala tidak ada selain
Sembada?"
"Tapi..., masihada satu
orang lagi yang bisa menghalangi Sembada menduduki jabatan kepala desa itu,
Kang," ujar Melati tiba-tiba.
"Kau benar," sambut
Arya setengah terpekik.
"Orang itu tak lain Ki
Kuncara! Kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkannya."
"Apa yang harus kita
lakukan, Kang?" tanya Melati, setengah bingung.
Dewa Arak tak segera menjawab.
Dahinya berkernyit, pertanda tengah ada yang dipikirkan.
"Jalan satu-satunya untuk
mencegahnya hanya dengan mengamati bangunan tua itu, Melati. Ternyata tempat
itulah yang dijadikan penghubung antara Utusan dari Akherat dengan
penyewanya," ujar Arya menjelaskan.
"Bagaimana kalau kita
kecolongan lagi, Kang?!" tanya Melati, mengajukan kemungkinan yang tidak
terduga.
"Kurasa tidak. Kita awasi
tempat itu terus-menerus. Pagi, siang, sore, dan malam. Mustahil penyewa itu
lolos dari pengamatan."
"Kapan kita memulainya,
Kang?!"
"Sekarang juga!" tandas
Arya tegas. "Aku khawatir, penyewa itu telah meletakkan perintah kejinya di
sana."
"Tapi, Kang...," Melati
menggantung ucapannya di tengah jalan. "Ada apa, Melati?! Katakan
saja!" sahut Arya ketika melihat
kekasihnya merasa ragu untuk
meneruskan ucapannya.
"Mengapa mesti bersusah
payah mengawasi bangunan tua itu, Kang?! Menurut pendapatku, lebih baik kita
langsung saja pada sasaran berikutnya. Kita awasi rumah Ki Kuncara. Dengan
sendirinya, apabila ada bahaya mengancamnya, kita dapat memberikan pertolongan
sesegera mungkin."
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepala mendengar pendapat kekasihnya.
"Pada dasarnya aku setuju
dengan usulmu, Melati. Karena memang sebenarnya merupakan cara yang paling
baik. Tapi ingat, Melati, ada satu hal yang kau lupakan. Orang yang telah
menyewa Utusan dari Akherat belum tentu Sembada. Meskipun, kemungkinannya
sangat besar."
Dewa Arak menghentikan ucapannya
sejenak untuk mengambil napas.
"Itulah sebabnya, kuputuskan
untuk mengawasi bangunan itu. Kau mengerti, Melati?!"
Melati terpaksa menganggukkan
kepala walaupun sebenarnya tidak merasa puas dengan keputusan yang diambil.
"Lalu..., bagaimana dengan
Utusan dari Akherat, Kang?! Apakah dia harus dibiarkan saja?!"
"Dia akan menerima
ganjarannya pula, Melati. Utusan dari Akherat termasuk orang yang berbahaya.
Kemampuannya dapat dipergunakan
orang lain
untuk menimbulkan malapetaka. Tokoh itu harus dilenyapkan!"
"Aku pun berpendapat
demikian, Kang. Utusan dari Akherat tokoh yang amat berbahaya," ujar
Melati memberikan dukungan
"Sekarang, mari kita
tuntaskan persoalan ini, Melati!" ajak Arya seraya melesat meninggalkan
tempat itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi,
Melati pun segera menyusulnya. Sesaat kemudian, sepasang muda-mudi berwajah
elok ini telah saling berkejaran menuju bangunan tua.
***
Hari sudah agak siang. Sang Surya
telah cukup jauh bergeser dari tempat terbitnya. Bentuknya sudah mengecil dan
menyilaukan mata, memancarkan cahaya yang mulai menggigit kulit.
Namun keadaan itu tak dihiraukan
Dewa Arak yang tengah memusatkan perhatian mengawasi bangunan tua, tempat
pertama kalinya bertemu sosok berpakaian hitam.
Arya duduk di salah satu cabang
pohon yang tertutup rimbun dedaunan sehingga keberadaannya sulit diketahui.
Dari semalam, Dewa Arak berada di situ. Pandangannya tak lepas terus mengawasi
bagian bangunan tempat sebatang tombak tertancap.
Di tempat itulah pernah
dilihatnya sesosok bayangan hitam yang sekarang diketahui sebagai penyewa
Utusan dari Akherat, menaruh surat yang berisi perintah maut.
Dewa Arak mengalihkan pandangan
ke sekitarnya. Dan seperti telah diatur saja, dari kejauhan melesat cepat
sesosok tubuh.
Meskipun jaraknya masih cukup
jauh, pemuda berambut putih keperakan itu bisa mengenali sosok yang tengah
melesat cepat menuju tempat dirinya berada. Ciri-ciri sosok yang mengenakan
pakaian putih itu amat dikenalnya
Hanya dalam beberapa kali
lesatan, sosok yangtak lainMelati telah sampai di bawah pohon tempat Dewa Aiak
berada. Gadis itu langsung menggenjotkan kaki. Dan....
Jliggg!
Tanpa menimbulkan getaran sedikit
pun, Melati hinggap di cabang pohon tempat Dewa Arak berada
"Kita kecolongan lagi,
Kang," ujar Melati, buru-buru. "Kecolongan?!" Arya mengernyitkan
dahi. "Aku belum mengerti
apa yang kau maksudkan,
Melati?" "Ki Kuncara telah tewas!"
"Apa?!" tanya Arya
tersentak kaget "Bagaimana hal itu dapat terjadi, Melati?!"
"Seperti juga Ki Barjanala,
Ki Kuncara pun tewas semalam, Kang," jelas Melati.
Dewa Arak tidak menyahut. Dia
terdiam dengan mata menatap ke depan, seperti ada sesuatu yang tengah disesali.
"Berarti, setelah membunuh
Ki Barjanala, Utusan dari Akherat langsung menyatroni Ki Kuncara dan
membunuhnyapula,"lanjut Melati lagi.
"Hm..., berarti kali ini
penyewa Utusan dari Akherat langsung meminta dua orang sebagai korbannya. Dia
tak mau bertindak setengah-setengah rupanya," gumam Arya pelan, seperti
berbicara pada dirinya sendiri.
"Keadaan di Desa Jarak
kacau, Kang! Sekarang semua penduduk mengutuk Utusan dari Akherat sebagai
pembunuh keji! Padahal, baru dua hari yang lalu mereka memuji-mujinya setinggi
langit!"
Melati menceritakan peristiwa
yang diketahuinya. Memang, begitu pagi menjelang, Melati langsung pergi ke Desa
Jarak untuk melihat keadaan. Tentusaja itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
"Kacau?!" Arya
mengerutkan alis penuh perasaan heran. "Mengapa bisa demikian, Melati?!
Meskipunmemang kematian duaorang sesepuh desa itu cukup mengejutkan, tidak
perlu menyebabkan terjadinya kekacauan."
"Putra Ki Barjanala tidak
menerima kejadian ini. Dia bertekad menuntut balas."
"Itu wajar, Melati. Siapa
yang tidak merasa dendam jika orangtuanya dibunuh orang?!" sambut Arya. "Tapi,
bagaimana dia dapat memenuhi keinginannya itu? Di samping untukmengetahui
keberadaan Utusan dari Akherat sangat sulit, apakah putra Ki Barjanala itu akan
sanggup menghadapinya?"
"Itulah masalah yang
menyebabkan terjadinya kekacauan, Kang" lanjut Melati. "Bukan
terhadap Utusan dari Akherat, putra Ki Barjanala bermaksud melampiaskan
dendamnya!"
"Heh?! Aneh...! Lalu..., kepada siapa dendam itu akan dilampiaskan?!"
"Pada Sembada, Kang! Dia
menganggap, bahwa Sembada yang telah memerintahkan Utusan dari Akherat untuk
melakukan semua kekejian itu!"
"Ah!" untuk yang
kesekian kalinya Arya tersentak kaget. "Mengapa dia dapat mengambil
kesimpulan seperti itu?!"
"Entahlah, Kang!"
Melati menggelengkan kepala. "Menurut berita yang kudengar, dia
menghubung-hubungkan semua kejadian yang secara beruntun dilakukan Utusan dari
Akherat. Semua peristiwa mengenaskan itu menurut berita yang kudapat, ada
kaitannya dengan jabatan kepala desa."
"Hhh...!" Arya
menghembuskan napas berat. "Kesimpulan yang didapat putra Ki Barjanala itu
ternyata sama dengan kita, Melati. Tak bisa kusalahkan tindakan yang diambil
putra Ki Barjanala. Memang, semua kejadian ini menunjuk Sembada sebagai
pelakunya."
Melati mengangguk-anggukkan
kepala pertanda menyetujui ucapan kekasihnya. Seakan-akan gadis itu membenarkan
ucapan kekasihnya.
"Bagaimana denganmu sendiri,
Kang? Apakah kau masih ragu kalau pelaku semua kekejian itu Sambada?!"
tanya Melati, ingin tahu pendapat Arya secara pasti.
Bukan tanpa alasan gadis
berpakaian putih ini menanyakannya. Hatinya menyadari kalau dugaan Dewa Arak
tidak pernah meleset.
"Entah mengapa, aku tetap
kurang yakinkalau orang yang berada di balik semua kekejian ini Sembada.
Padahal, akal sehatku mengatakan kalau Sembada-lah yang telah memberikan
perintah-perintah terhadap Utusan dari Akherat. Tapi, entah mengapa aku merasa
ragu! Atau..., ini disebabkan karena belum kudapatkan bukti nyatanya...?"
Jawaban yang diterima Melati
tetap tidak jelas. Meskipun demikian gadis berpakaian putih itu tidak mendesak
lebih jauh. Disadari kalau Arya telah berusaha untuk memberikan jawaban yang
memuaskan.
"Apakah putra Ki Barjanala
telah melakukan penyerbuan secara terbuka pada Sembada?!" tanya Arya
mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, Kang," Melati
menggelengkan kepala. "Hanya perang dingin. Tapi aku yakin, bentrokan
pasti bakal terjadi antara mereka. Tinggal menunggu waktunya saja. Sekarang, di
desa itu telah terbentuk dua kelompok. Kelompok anak Ki Barjanala dan kelompok
Sembada. Tapi, jumlah pengikut Sembada jauh lebih sedikit. Andaikata terjadi
bentrokan, dengan mudah mereka akan dihancurkan."
"Patut kuacungkan jempol
tindakan putra Ki Barjanala. Dia tidak hanya menuruti kemarahannya saja,"
ujar Arya merasa kagum.
"Pada putra Ki Barjanala
yang mana kautujukanpujianitu, Kang?!" tanya Melati tiba-tiba, yang
membuat Dewa Arak terperanjat.
"Apa maksudmu, Melati?!
Apakah Ki Barjanala mempunyai banyak anak?!"
"Banyak sih, tidak. Tapi
hanya dua orang. Kedua-duanya lelaki. Yang tua bernama Jagapaksi. Sedangkan
adiknya bernama Suraga. Dan yang menyebabkan tercegahnya pertempuran itu adalah
Jagapaksi. Dia
menyuruh Suraga yang sudah kalap
itu untuk bersabar sebentar dan menunggu perkembangan selanjutnya," jelas
Melati panjang lebar.
Suasana berubah hening ketika
Melati menghentikan ucapannya. Dewa Arak terdiam, tak memberikan tanggapan.
Mereka berdua tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.
"Kang..," sapa Melati memecahkan
keheningan yang menyelimuti. "Hm...!" sahut Dewa Arak hanya dengan
gumaman pelan sambil
menoleh.
"Untuk apa lagi kita berada
di sini? Kurasa lebih baik kita pergi ke Desa Jarak. Sudah jelas kalau Sembada
orang yang berdiri di belakang layar. Dan..."
Ucapan Melati terhenti di tengah
jalan secara mendadak. Hal itu karena Arya tiba-tiba memberikan isyarat padanya
agar diam. Kemudian jari telunjuknya ditudingkan ke satu arah. Tempat asal
kedatangan Melati tadi.
Dengan perasaan heran, Melati
mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjukkan kekasihnya. Dan....
55
"Ah!"
Melati tersentak kaget, ketika
dari kejauhan matanya melihat sesosok tubuh tengah melesat menuju tempat mereka
berada.
Gerakan sosok tubuh mengenakan
pakaian kuning itu cukup cepat. Sayang, sepasang muda-mudi ini tidak bisa
mengenali karena wajahnya tertutup selembar kain hitam.
"Meskipun warna pakaiannya
berbeda, aku yakin kalau dialah yang kita lihat beberapa malam yang lalu.
Bagaimana menurutmu, Melati?" bisik Arya.
"Aku pun menduga demikian,
Kang. Aku yakin orang inilah yang kita lihat waktu itu. Menurutmu..., apakah
dia Sembada?!" Melati balas bertanya dengan suara berbisik.
"Entahlah," Arya
mengangkat bahu. "Tapi..., sosok tubuhnya memang mirip dia."
"Sebentar lagi akan kita
saksikan kebenarannya, Kang! Aku yakin kalau dia Sembada."
"Kalau begitu..., aku
memilih sebaliknya," ujar Arya kalem.
Sampai di sini, percakapan
sepasang pendekar muda ini terhenti. Keduanya tak ingin keberadaan mereka di
situ diketahui.
Sementara itu sosok berpakaian
kuning terus melanjutkan langkah. Tapi beberapa tombak sebelum mencapai
bangunan tua dan tak terawat itu, langkahnya berhenti. Kepalanya ditolehkan ke
sana dan kemari seperti tengah memastikan tak ada orang lain di tempat itu.
Sesaat kemudian, sosok berpakaian
kuning itu melesat menuju tembok bangunan megah tempat tombak putih mengkilat
terhunjam. Sampai di situ, tangan kanannya segera dimasukkan ke balik baju. Dan
begitu keluar lagi, tampak segulungan surat terbuat dari kulit binatang.
Kemudian digantungkannya gulungan surat itu, berikut satu buntalan kecil yang
berisi uang.
Saat itulah Dewa Arak dan Melati
langsung bertindak. Keduanya dengan cepat melompat dari atas pohon, dan melesat
menuju tempat sosok berpakaian kuning berada.
Sesuai kesepakatan, Dewa Arak
menujukan sasaran pada gulungan surat dan buntalan uang. Sedangkan Melati
mengincar sosok berpakaian kuning.
Karuan saja, kemunculan Dewa Arak
dan Melati membuat terkejut bukan kepalang. Menyadari adanya bahaya mengancam,
orang itu segera melesat kabur.
Namun dengan kemampuannya yang
hanya seperti itu, mana mampu dia meloloskan diri dari Melati? Setelah bersalto
beberapa kali di udara, Melati mendaratkan kaki di depan sosokberpakaian kuning
itu. Tentu saja, sosok berpakaian kuning itu semakin kalap karenanya. Buru-buru
tubuhnya dibalikkan dan langsung berlari menuju arah
lainnya.
Seperti juga kejadian sebelumnya,
baru beberapa langkah berlari terpaksa dihentikan, ketika tiba-tiba Melati
telah menghadang di depannya.
Meskipun demikian, sosok
berpakaian kuning itu tak putus asa. Lagi-lagi tubuhnya dibalikkan ke arah
lain. Kemudian berlari.
Namun, untuk yang kesekian
kalinya sosok berpakaian kuning gagal dengan usahanya. Melati telah berada di
depannya kembali. Kenyataan ini membuatnya sadar, kalau dirinya takakan mungkin
dapat meloloskan diri. Hal itumembuatnya nekat. Sebagai akibatnya....
Srattt!
Sinar terang berkilat ketika
sosok berpakaian kuning itu mencabut golok yang terselip di pinggang. Dan
dengan senjata terhunus di tangan, d-serangnya Melati. Golok ituditusukkan ke
arah perut gadis itu.
"Hmh!"
Melati mengeluarkan dengusan
mengejek seraya dengan cepat mendoyongkan tubuh kekanan. Ketika
golokitumenyambar. Hebatnya, hal itu dilakukannya tanpa melangkahkan kaki. Hanya
tampak tubuh berpakaian putih itumeliuk mengelakkan serangan lawan.
Wuttt!
Golok lawan menyambar tempat
kosong, hanya beberapa jari dari pinggang Melati.
Saat itulah Melati melancarkan
serangan balasan. Dengan cepat sisi tangan kanannya bergerak seperti membacok
tubuh lawan.
Wuttt!
Orang berpakaian kuning
itu terperanjat bukan
kepalang, menyaksikan serangan balasan lawan yang mengancam dirinya.
Dari deru angin yang terdengar, bisa diketahui kalau serangan itu mengandung
tenaga dalam kuat. Dengan kemampuan yang dimiliki, dicobanya untuk mengelakkan
serangan itu. Tapi....
Bukkk! "Uh..,!"
Menyadari dirinya tak mungkin
meloloskan diri, lelaki berpakaian kuning itu menjadi nekat...
Srat! Tangannya mencabut golok
yang terselip di pinggang, dan langsung menusukkannya ke arah perut Melati.
Ketika golok itu sudah sangat
dekat, Melati segera mendoyongkan tubuhnya ke kanan!
Sosok berpakaian kuning itu
mengeluarkan keluhan tertahan dari mulut ketika tangan Melati mendarat telak
pada sasaran yang dituju.
Seiring dengan suara keluhannya,
tubuh sosok berpakaian kuning itu ambruk di tanah. Diam tidak bergerak lagi.
Pingsan!
***
"Kau tidak membunuhnya kan,
Melati?!" tanya Arya seraya menghampiri kekasihnya.
"Tentu sajatidak,
Kang,"sahut Melati, cepat bernada bangga. "Aku pun tahu, ada pihak
yang lebihberkepentingan terhadapnya."
"Syukur kalau kau
menyadarinya," ujar Arya lega. "Ini surat dan uang yang diletakkan di
gagangtombak itu. Bacalah! Agak keras sedikit agar aku mendengarnya."
Melati menerima gulungan surat
itu. Dengan agak terburu-buru dibuka gulungannya. Kemudian dibacanya dengan
suara agak keras.
Utusan dari Akherat,
Kali ini kuminta kau membunuh
Jagapaksi. Kalau bisa malam ini juga. Aku ingin masalah ini cepat selesai.
Setelah ini semua masalah akan beres.
"Hanya itu yang ditulisnya
dalam surat itu, Melati?" tanya Arya ingin tahu.
Melati menganggukkan kepala.
"Perintah ini semakin
menambah bukti kalau dalang pembunuhan gelap ini Sembada, Kang," ujar
Melati, menarik kesimpulan.
Sambutan atas ucapan itu hanya
senyum lebar di mulut Dewa Arak. "Akan kubuktikan kebenaran ucapanku,
Kang," ucap Melati lagi
penuh semangat.
Usai berkata demikian, tubuhnya
dibungkukkan. Lalu tangannya diulurkan untuk meraih kain yang menutup wajah
sosok berpakaian kuning. Hanya dengan sekali sentak, lepaslah kain itu. Dan....
"Ah...!" Melati
terpekik kaget. Matanya terbelalak hampir tak percaya melihat sosok berpakaian
kuning itu bukan Sembada. Yang terlihat ternyata wajah seorang pemuda berwajah
buruk.
Kulit wajahnya hitam, dengan
bibir tebal yang hitam pula. Hidungnya besar, sedangkan kedua matanya seperti
selalu terbelalak.
"Ketidakyakinanku ternyata beralasan. Bukan Sembada
pelakunya," ujar Arya, tanpa menunjukkan rasa gembira atas kemenangannya
bertaruh dengan Melati.
Sementara Melati terdiam seperti
patung. Untuk yang kesekian kalinya harus diakui kalau dugaan kekasihnya tak
pernah meleset.
"Kau mengenalnya,
Melati?"tanya Arya ingin tahu. Melati hanya menggelengkan kepala.
"Lebih baik kita bawa ke
Desa Jarak. Aku yakin, ada penduduk yang mengenalnya. Kalau tidak mempunyai
hubungan di sana, untuk apa membuat onar desa itu?" ujar Arya meyakinkan.
"Aku pun bermaksud
mengusulkan demikian, Kang,"tukas Melati. Secercah senyum lebar
tersungging di bibir Dewa Arak.
"Kurasa lebih baik kau pergi
lebih dulu, Melati. Beritahukan pada para penduduk kalau orang yang berdiri di
belakang peristiwa pembunuhan terhadap Kepala dan Calon Kepala Desa jarak,
telah berhasil kita tangkap. Aku yakin, semua penduduk akan berdatangan. Dengan
cara itu, masalah ini akan selesai dan ketegangan antara dua kelompok dapat
teratasi."
"Sebuah usul yangbagus,
Kang," puji Melati sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Kau memang pandai memuji,
Melati," ujar Arya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sudahlah!
Lebih baik kau berangkat!"
"Baik, Tuan Besar! Perintah
Tuan akan segera hamba laksanakan," ucap Melati sambil membungkukkan
tubuh. Tak lupa dipasang sikap sungguh-sungguh pada wajahnya.
Kemudian, tanpa menunggu sambutan
Dewa Arak, Melati melesat cepat meninggalkan tempat itu. Hanya dalam beberapa
kali lesatan, tubuhnya telah berada jauh. Semakin lama semakin mengecil hingga
berbentuk titik kecil hitam yang akhirnya lenyap.
Dewa Arak hanya dapat
menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan
Melati. Ditunggunya beberapa
saat. Baru kemudian diangkatnya tubuh sosok berpakaian
kuning, dan diletakkan di bahunya. Lalu kakinya melangkah meninggalkan tempat
itu. Tujuannya jelas,
Desa Jarak. Karena ingin
memberikan kesempatan pada Melati memberi tahu seluruh penduduk Desa Jarak,
Dewa Arak takmengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya.
Kesempatan yang diberikan Dewa
Arak ternyata tidak sia-sia. Beberapa puluh tombak sebelum mencapai tapal batas
Desa Jarak, dilihatnya kerumunan orang menyongsong di mulut desa.
Melihat hal ini, Dewa Arak
tidakmau membuang-buang waktulagi. Segera dikerahkan seluruh ilmu meringankan
tubuhnya. Sepasang kaki pemuda berambut putih keperakan itu seperti tak
menginjak tanah, karena kecepatan gerakannya.
Hanya dalam beberapa kali
lesatan, Dewa Arak sampai sekitar lima tombak dari kerumunan penduduk Desa
Jarak.
Di sini Dewa Arak menghentikan
larinya. Kemudian pandangannya diedarkan. Hanya dalam sesaat saja, telah
disaksikan kebenaran cerita Melati. Kerumunan penduduk itu terdiri dari dua
kelompok. Yang satu dalam jumlah besar, sedangkan lainnya sedikit.
Pada bagian kelompok kecil tampak
Sembada. Dia berdiri paling depan.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghembuskan napas
berat dalam hati. Sama sekali tidak disangka kalau pihak Sembada dan pihak
keturunan Ki Barjanala masih bersitegang. Padahal, bukankah Melati telah
memberitahukan kalau penyewa Utusan dari Akherat telah berhasil ditangkap? Dari
kenyataan ini saja dapat diketahui kalau Desa Jarak belum mempunyai kepala
desa!
Baru saja Arya memutuskan untuk
berbicara, melesat sesosok bayangan putih. Dan tahu-tahu, di dekatnya telah
berdiri Melati.
"Sekarang tiba giliranmu,
Kang," ujar Melati, mempersilakan. "Bagianku telah berhasil
kuselesaikan.
Dewa Arak hanya menganggukkan
kepala sebagai jawabannya. Kemudian pandangannya diedarkan kembali,
memperhatikan para penduduk Desa Jarak yang seperti tak sabar menunggu berita
darinya.
"Wahai, penduduk Desa
Jarak..., dengarkan ucapanku...!" seru Dewa Arak dengan mengerahkan tenaga
dalam agar terdengar di telinga semua orang yang berada di situ. "Aku
mempunyai berita baik untuk kalian."
Sampai di sini Dewa Arak
menghentikan ucapannya sebentar untuk melihat tanggapan dari para warga Desa
Jarak.
"Kupinta kau tidak
bertele-tele, Dewa Arak," selakSembada. "Kami telah tahu berita
yangkau bawa. Kawanmu telahmengatakan. Bukankah kau telah berhasil menangkap
orang yang berada di balik semua
pembunuhan di Desa Jarak?!
Katakanlah cepat. Aku sudahtak sabar lagi untuk membuktikan
ketidakbersalahanku!"
Sambil berkata demikian, Sembada
mengerling ke tempat Jagapaksi berada. Tapi, putra tertua Ki Barjanala sama
sekali tak memberi sambutan. Lelaki gagah itu tetap berdiam diri dengan
pandangan tertuju lurus ke wajah Dewa Arak.
"Baiklah, kalau memang itu
yang kau mau, Sembada. Aku pun tak mau membiarkan persoalan ini berlarut-larut.
Sayang sekali aku dan kawanku tidak mengenalinya. Barangkali saja kalian kenal.
Nih! Kalian perhatikan baik-baik!"
Usai berkata demikian, Dewa Arak
segera menurunkan tubuh yang terpanggul di pundaknya. Kemudian dilemparkannya
ke depan.
Wuttt!
Tubuhsosokberpakaian kuning
itupun melayang. Seketika itupula semua mata kecuali Dewa Arak dan Melati,
tertuju ke tubuh sosok berpakaian kuning itu.
Brukkk!
Bunyi berdebuk keras terdengar
ketika tubuh lelaki berpakaian kuning ituterbanting di tanah.
Tubuhlelaki berpakaian kuning
itujatuh telentang. Sehingga semua penduduk dapat melihat jelas wajahnya.
Tubuhnya terkulai lemas, tanpa gerak. Karena Dewa Arak telah menotok sebelum
membawa ke Desa Jarak.
Wajah semua orang yang ada di
situtampak memanearkan perasaan kaget dan heran yang tidak terhingga. Sorot
mata mereka pun memanearkan keridakpercayaan yang mendalam.
"Hah...?!"
"Heh...?!" "Astaga...!"
Jeritan-jeritan bernada kaget dan
tak percaya keluar dari mulut para penduduk Desa Jarak. Sebagian besar tampak
menggeleng-geleng kepala keheranan.
8
Namun di antara sekian banyaknya
penduduk Desa Jarak, ada seorang yang dilanda perasaan kaget dan heran paling
besar. Orang itu
adalah... Jagapaksi! Sepasang
bola mata putra tertua Ki Barjanala itu seperti hendak keluar ketika menatap
sosok berpakaian kuning yang tergolek di tanah.
"Suraga...!" gumamnya
lirihdengan kepala tergeleng-geleng. Pemuda berpakaian kuning ituternyata
Suraga, adiknya.
Cukup lama juga Jagapaksi
bersikap seperti itu sebelum akhirnya secara mendadak pandangannya dialihkan
kepada Dewa Arak. Matanya yang tajam menatap wajah pemuda berambut putih
keperakan itu.
"Apa yang membuatmu menarik
kesimpulan sempit seperti ini, Dewa Arak?!" tanya Jagapaksi dengan suara
keras.
"Kesimpulan sempit?!"
ulang Arya dengan kening berkernyit. Perasaan kaget yang tadi melanda ketika
mengetahui dalang semua ini ternyata Suraga, putra kedua Ki Barjanala telah
berhasil ditekannya.
"Maksudmu..., penangkapan
yang kulakukan atas diri adikmu ini kau katakan kesimpulan sempit?!"
"Benar! Kau hanya
mengada-ada, Dewa Arak! Aku yakin kau telah bersekongkol dengan Sembada! Tapi
sayang kau keliru! Hanya orang gila yang mempercayai lelucon ini! Mana mungkin
Suraga membunuh ayahnya sendiri! Tipu muslihatmu tak masuk akal, Dewa
Arak!" seru Jagapaksi berapi-api.
"Kaulah yang mengambil
kesimpulan sempit!"selak Melati, karena tak kuat menahan amarah mendengar
hinaan terhadap kekasihnya. "Dengar baik-baik, Kambing Dungu! Adikmu yang kau
agung-agungkan itu tak lebih dari iblis berwajah manusia! Dia kami pergoki
ketika hendak mengirimkan perintah mautnya lagi pada Utusan dari Akherat!"
"Bohong! Kau bohong,
Perempuan Liar! Kau akan mendapat balasan yang setimpal atas fitnah keji yang
kau ajukan ini!" seru Jagapaksi dengan suara bergetar karena amarah yang
melanda.
"Bohong?!" Melati
tersenyum mengejek. "Ini bukti-buktinya, Kambing Dungu! Periksalah!
Benarkah ini tulisan adikmu? Dan ini uang yang seharusnya jatuh ke tangah Utusan
dari Akherat sebagai imbalan." Sambil berkata demikian, Melati melemparkan
gulungan surat dan
buntalan kecil berisi uang.
Plukkk!
Surat dan buntalan kecil berisi
uang itujatuh dekat tubuhSuraga. Jagapaksi bergerak menghampiri, dan kemudian
mengambil kedua
benda itu, lalumemeriksanya.
"Tak mungkin!" desis
Jagapaksi penuh rasa tidak percaya, setelah memeriksa surat dan uang itu.
"Tidak ada yangtakmungkindi
duniaini, Jagapaksi. Segala sesuatu dapat saja terjadi. Dan itu yang perlu kau
sadari!"
Terdengar sebuah suara menyambut
ucapan ketidakpercayaan Jagapaksi.
Jagapaksi menoleh ke arah
Sembada. Karena memang dari mulut lelaki itulah suara tadi berasal. Dirayapinya
wajah Sembada sejenak. Namun, sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Dewa Arak
telah mendahuluinya.
"Apa yang dikatakan Sembada
tidak salah. Di dunia ini perisriwa apa pun dapat sajaterjadi. Daripada kau
bersikeras tak mempercayainya, lebih baik kau korek keterangan dari mulutnya!
Tentu saja kalau kau ingin masalahnya menjadi jelas."
Jagapaksi tercenung seperti
tengah memikirkan usul Dewa Arak. Kemudian, dengan langkah pasti ditatapnya
wajah Suraga.
"Bagaimana mungkin aku bisa
menanyainya kalau dia dalam keadaan pingsan seperti ini?"tanya Jagapaksi
kebingungan.
"Ah, maaf!"
Seraya berkata demikian, Dewa
Arak menghampiri tubuh Suraga. Diurutnya tengkuk putra bungsu Ki Barjanala itu.
Hanya sekali saja. Namun tampak tubuh pemuda itutelah menggeliat.
"Uhhh...!"
Suraga mengeluarkan keluhan
tertahan. Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka.
"Kang Jagapaksi...!"
ucap Suraga setengah terpekik, karena perasaan kaget yang melanda.
Pemuda berpakaian kuning ini bergegas bangkit seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu.
"Aku bukan saudaramu!"
sentak Jagapaksi, keras. "Aku tidak sudi mempunyai seorang adik yang
menjadi pembunuh keji!"
"Kang!" seru Suraga,
tak kalah keras. "Kau mempercayai tuduhan itu?! Itu fitnah, Kang! Apakah
masuk akalmu aku bertindak demikian keji, membunuhayah kandung sendiri?!"
"Kau tidak usah mungkir,
Suraga! Tak kusangka kau memiliki watak yang sekeji ini! Tidak hanya ayah yang
kau bunuh, kau pun bermaksud membunuhku pula!" seru Jagapaksi berapi-api.
"Fitnah!" bantah Suraga
keras. "Dari mana kau mendengar tuduhan gila seperti itu, Kang! Mungkinkah
aku bermaksud membunuh kakakku sendiri?!"
"Ini bukti-buktinya! Kau
masih mau berdusta?!"
Sambil berkata demikian,
Jagapaksi melemparkan gulungan surat dan pundi-pundi berisi uang ke tubuh
Surga. Dengan sigap, pemuda berpakaian kuning ini menangkapnya. Lalu memeriksa
isinya.
"Fitnah!" lagi-lagi
Suraga melontarkan ucapan yang sama setelah membaca surat itu. "Aku tidak
pernah membuat surat seperti ini! Aku yakin ada yang telah melakukan fitnahan
terhadapku!"
Usai berkata demikian, Suraga
melayangkan pandangan ke wajah Sembada.
"Kau…! Manusia keji! Rupanya
kau tidak puas dengan hanya membunuh ayahku. Aku pun kau fitnah pula! Orang
sepertimu layak mati! Hiyaaat…!"
Suraga meluruk ke tubuh Sembada.
Tangan kanannya siap untuk dipukulkan ke dada laki-laki yang juga sesepuh desa
itu. Tentu saja Sembada tak tinqqal diam. Dia bersiap-siap untuk menyambutnya
Namun, sebelum hal itu terjadi,
Dewa Arak telah lebih dulu bertindak. Secara perlahan dan sembarangan tangannya
dikibaskan. Mendadak tubuh Suraga ambruk sebelum berhasil menyarangkan pukulannya.
"Keparat!" Jagapaksi
menggeram murka melihat hal ini. Secepat kilat tangannya digerakkan ke
pinggang. Tapi....
"Apakah kau tidak
menginginkan masalah ini cepat tuntas, Jagapaksi?!" tanya Arya dengan
suara datar. "Asal kau tahu saja, aku terpaksa bertindak seperti ini agar
masalah yang tengah kita bahas bisa selesai!"
Tangan Jagapaksi yang sudah
menggenggam gagang golok pun mengendur kembali. Apalagi ketika dilihatnya
Suraga tidak terluka, meskipun roboh secara mendadak karena lutut belakangnya
dihantam pukulan jarak jauh Dewa Arak.
"Rasanya alasan yang
dikemukakan adikku masuk akal, Dewa Arak," ujar Jagapaksi yang mulai
terpengaruh karena merasakan adanya kebenaran dalam ucapan Suraga. "Mana
mungkindiapelakunya? Sangat tak masuk akal adikku menjadi dalang atas semua
kekejian yang terjadi di desa ini. Kau tahu, salah seorang di antara korban itu
ayahku sendiri. Dan surat ini punberisikan perintahyang tidak masukakal!
Mungkinkah dia sampai hati menyuruh orang untukmembunuh kakaknya
sendiri?!"
"Benar! Mengapa aku harus memerintahkan orang
untuk membunuh kakakku sendiri. Padahal, semua penduduk tahu kalau
kebencianku tertuju pada Sembada! Kalau memang benar aku pelakunya, tentu
kuperintahkan Utusan dari Akherat untuk membunuh Sembada, dan bukan kakakku!"
timpal Suraga sambil berusaha bangkit.
Bukan hanya Jagapaksi yang
terpengaruh. Semua penduduk yang mendengarnya pun, dapat menerima kebenaran
ucapan itu. Dewa Arak dan Melati pun diam-diam memuji kecerdikan Suraga. Namun,
bukan Dewa Arak namanya kalau menghadapi alasan seperti itu saja sudah gugup.
Tidak! Pemuda berambut putih keperakan itu tetap dapat bersikap tenang.
"Bisa kuterima ucapanmu,
Jagapaksi. Tapi tidak demikian halnya dengan ucapan Suraga," ujar Dewa
Arak dengan senyum terkembang di bibir. "Aku tahu, mengapa Suraga
memerintahkan Utusan dari Akherat untuk membunuhmu! Kau tahu sebabnya? Ada
beberapa hal yang menjadi penyebabnya! Dan aku yakin dugaanku ini tidak
salah!"
Dewa Arak menghentikan ucapannya
sejenak untuk mengambil napas.
"Pertama, kaulah yang
menjadi penyebab tercegahnya penyerbuan terhadap kelompok Sembada. Kedua, kalau
Suraga memerintahkan Utusan dari Akherat membunuh Smebada, sama saja dengan
membuka kedok sendiri."
Lagi-lagi Dewa Arak menghentikan
penjelasannya.
"Lain halnya apabila kau
yang dijadikan sasaran, Suraga akan mendapat keuntungan ganda. Di samping tidak
ada penghalang penyerbuan atas diri Sembada. Semua penduduk akan menuduh
Sembada sebagai pelakunya. Dan tanpa diperintahkan lagi pun mereka akan
membunuh Sembada. Hasilnya. Jalan untuk menjadi kepala desa akan terbentang
luas bagi Suraga!"
"Fitnah!" teriak Suraga
dan Jagapaksi hampir berbarengan.
Kakak beradik putra Ki Barjanala
itu tampak geram bukan kepalang. Hal yang sama pun menimpa penduduk desa para
pengikut mereka. Kecuali Sembada dan pengikut-pengikutnya. Hanya saja mereka
memilih sikap berdiam diri.
"Baiklah, kalau kau tidak
mempercayainya, Jagapaksi. Sekarang kuminta Suraga menjelaskan, keperluannya
mendatangi bangunan tua di dalam hutan, dan meletakkan gulungan surat serta
buntalan uang itu. Asal kau tahu saja, Jagapaksi. Aku telah melihat hal ini
sebelumnya, menjelang terjadinya pembunuhan terhadap Bima Seta. Bukan kah
demikian, Kang Saraka?!"
"Benar, Arya," jawab
Saraka sambil menganggukkan kepala. Lelaki bertubuh kekar ini berada pada
kelompok Jagapaksi.
"Dia bohong, Kang! Aku tidak
pernah ke sana! Bahkan aku tak pernah tahu sama sekali semua yang dikatakannya.
Yang kutahu, saat aku sadar tahu-tahu berada di sini!" bantah Suraga
mencoba berhohong.
Jagapaksi menatap Dewa Arak
dengan sorot mata memancarkan kemenangan.
"Sayang sekali, Dewa Arak!
Fitnahan kejimu tidak memberikan hasil sama sekali. Hhh...! Sama sekali tak
kusangka kalau kau memiliki watak
serendah ini! Entah bagaimana kalau dunia persilatan mendengarnya!"
Dewa Arak dan Melati saling
pandang. Keduanya sadar kalau kedudukan mereka sekarang tidak menguntungkan.
Ternyata Suraga seorang yang berwatak licik. Sehingga dalam keadaan terjepit
seperti itu masih mampu menemukan alasan untuk menyelamatkan diri.
Tapi lagi-lagi sebuah pikiran
cemerlang timbul di benak Dewa Arak.
"Kuakui kalau alasan
bohongmu telah membuat kami habis daya untuk membuktikan, bahwa kau yang telah mengirimkan perintah-perintah maut pada
Utusan dari Akherat. Tapi, aku yakin ada penduduk yang melihatmu menuju ke
hutan. Merekalah yang akan membuktikan kebohongan ceritamu. Nah! Wajah para
penduduk Desa Jarak yang merasa melihat kepeigian Suraga ke hutan, silakan
memberikan kesaksian. Apakah kalian rela melihat Sembada yang tidak bersalah
menjadi korban! Ingat, korban kekejian Suraga akan terus berlangsung! Dan
kalianlah yang akan merasakan akibatnya"
Kegaduhan langsung melanda
penduduk Desa Jarak. Masalahnya sebagian besar dari mereka memang melihat
Suraga pergi ke hutan, dengan memakai pakaian kuning. Bukanhanya dari
kelompokSembada, tapi juga para pengikut Jagapaksi
Kesaksian pertama kali diberikan
Saraka. Lelaki bertubuh kekar itu mengacungkan tangan tinggi-tinggi.
Berturut-turut para penduduk lainnya mengacungkan tangan.
Dewa Arak tersenyum lega. Di lain
pihak, wajah Suraga berubah pucat pasi.
"Apa lagi alasan yang kau
berikan, Suraga?!" tanya Melati penuh bernada ejekan.
Suraga diam. Dia tidak memberikan
tanggapan sedikit pun atas ejekan Melati.
Tanggapan yang jauh berbeda
diberikan Jagapaksi. Tarikan wajah putra tertua Ki Barjanala ini, tampak
beringas. Kilatan sinar sepasang matanya pun memancarkan kemarahan. Tapi
itusemua bukan ditujukan pada Melati, melainkan pada Suraga.
"Manusia berhati binatang!"
desis Jagapaksi, penuh geram. "Malah binatang lebih baik daripada dirimu.
Mereka tahu mengenal budi.
Binatang tak akan mencelakai
orang yang telah menolong dan merawatnya! Tidak seperti kau, Iblis Berwajah
Manusia!"
Semua orang yang berada di situ,
tak terkecuali Dewa Arak dan Melati, merasa heran dan tidak mengerti mendengar
ucapan Jagapaksi. Mereka sama sekali tidak mengerti maksud ucapan itu.
Sementara itu Suraga tetap belum
memberikan tanggapan. Dia terdiam dengan raut wajah berubah-ubah. Sebentar
pucat sebentar merah.
"Rupanya kau lupa siapa
dirimu sebenarnya, Iblis?! Dulu kau seorang gembel kecil yang tidak berarti,
tapi ayahku memungut, dan menjadikanmu anak angkat! Kau hidup enak! Tapi apa
balasanmu sekarang, Iblis?!"lanjut Jagapaksi, dengan suara semakin
meninggi.
'Tutup mulutmu, Jagapaksi!"
setelah sekian lamanya berdiam diri, Suraga balas memaki. "Kau terlalu
melebih-lebihkannya! Selama aku dipungut menjadi anak, tak sekali pun kurasakan
adanya kasih sayang!"
Suraga menghentikan ucapannya untuk
mengambil napas. Perasaan marah yang menggelegak, membuat napasnya
terengah-engah.
"Dulu aku selalu
bertanya-tanya, mengapa Ki Barjanala yang semula kuanggap ayah, membeda-bedakan kita. Dalam setiap perselisihan yang terjadi, selalu aku
yang disalahkan. Betapapun sebe-narnya aku berada di pihak yang benar."
Suraga kembali menghentikan
ucapannya. Deru napasnya semakin memburu seperti orang yang habis berlari jauh.
Diaturnya napas agar bisa melanjutkan ucapannya. Sementara semua orang yang
berada di situ, sekarang mulai mengetahui pokok permasalahan yang tengah
terjadi.
"Salah besar, baru kuketahui
kalau diriku hanyalah seorang anak angkat. Dan seiring dengan timbulnya
kesadaran itu, dendamku pun berkobar. Harus kubalas tindak ketidakadilan atas
diriku. Untuk itulah aku pergi meninggalkan kalian selama beberapa bulan. Aku
terjun di dunia orang-orang golongan hitam. Sampai akhirnya kudapatkan berita
adanya seorang tokoh yang berjuluk Utusan dari Akherat "
Kembali Suraga memutus ceritanya.
Ditelannya liur untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan terasa getir.
"Akhirnya aku tahu, kalau
Utusan dari Akherat tengah berada tak jauh dari Desa Jarak. Segera kususun
rencana ini. Dan semuanya terjadi, persis seperti yang kurencanakan. Sayang, di
saat terakhir usahaku gagal. Dan...!"
"Mampuslah kau, Iblis!"
Sebelum Suraga sempat mengakhiri
ceritanya, Jagapaksi telah meluruk ke arahnya sambil menu-sukkan golok. Hal itu
membuat
Suraga kaget bukan kepalang
Sedapat mungkin dia berusaha mengelak. Tapi...
Jreppp!
Golok Jagapaksi dengan cepat dan
keras sekali menghunjam perut Suraga hingga tembus ke punggung! Seketika itu
pula tubuh putra angkat Ki Barjanala itu terbungkuk. Sepasang matanya
membelalak lebar.
Dan ketika Jagapaksi mencabut
goloknya, tubuh Suraga pun ambruk ke tanah. Darah segar berhamburan dari bagian
perutnya yang tersobek lebar. Sesaat Suraga menggelepar-gelepar di tanah
sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi.
"Hhh...!"
Jagapaksi menghela napas. Sukar
diketahui perasaannya saat itu. Kemudian sambil menyarungkan golok, kembali dilayangkan pandangannya ke tempat Dewa Arak dan Melati
berada. Betapa terkejut ketika dilihatnya sepasang pendekar muda itu
tidakberada lagi di situ.
Bukan hanya Jagapaksi yang merasa
kaget. Semua penduduk pun dilanda perasaan yang sama. Mereka tak tahu kapan
Dewa Arak dan Melati pergi.
Tak seorang pun yang mengetahui
kalau Dewa Arak dan Melati melesat meninggalkan tempat itu ketika melihat Jagapaksi
menyarangkan goloknya di perut Suraga.
Tentu saja bukan tanpa alasan
Dewa Arak dan Melati pergi. Di samping penyewa Utusan dari Akherat telah
berhasil dilenyapkan, mereka pun ingin segera menuju ke bangunan tua di dalam
hutan. Tujuan sepasang pendekar muda ini untuk melenyapkan Utusan dari Akherat.
Untuk melaksanakan maksud itu hanya
satu hal yang sapat mereka lakukan, memberikan sebuah tugas kepada pembunuh
bayaran itu. Dan hal itu tidak perlu dibuat dengan susah payah lagi. Dewa Arak
menggunakan surat dan uang yang semula digunakan Suraga. Memang, dia telah
mengambilnya, tanpa seorang pun yang tahu.
***
Malam itu langit tampak agak
cerah. Meskipun tak terlihat adanya bintang, sinar bulan yang hampir bulat,
memancar ke bumi tanpa terhalang sedikit pun. Di angkasa tidak terdapat awan
sama sekali. Semua ini membuat keadaan bumi persada terlihat cukup tenang.
Di saat seperti itulah, Dewa Arak
dan Melati telah siap dengan tugasnya masing-masing. Mengintai rumahJagapaksi
dari cabang pohon yang tersembunyi kerimbunan daun-daun.
Dewa Arak bersembunyi di pohon
yang berada di depan, sementara Melati di pohon belakang rumah. Cara itu
dilakukan agar dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Entah berapa lama sudah menunggu
di sana, baik Dewa Arak maupun Melati tidak mengetahuinya. Yang jelas, sepasang
muda-mudi itu merasa sangat lama. Memang, menunggu adalah suatu pekerjaan yang
paling menyebalkan.
Dan rupanya Melati, yang memiliki
watak tidak sabaran, kurang kuat bertahan. Dan ini terbukti beberapa saat
kemudian.
"Jangan-jangan Utusan dari
Akherat tak datang, Kang. Barangkali saja dia tahu kalau kita berniat menjebaknya?!"
ucap Melati dengan menggunakan ilmu pengirim suara dari jauh.
"Bersabarlah, Melati!"
hibur Dewa Arak untuk menenangkan hati gadis berpakaian putih itu. "Aku
yakin, Utusan dari Akherat itu akan datang. Mungkin..., ah! Benar, Melati. Aku
melihat sesosok bayangan hitam di kejauhan. Dia menuju ke tempat ini! Dia pasti
Utusan dari Akherat!"
"Kalau begitu..., aku akan
ke sana, Kang!" sambut Melati penuh gairah.
"Sabar sebentar, Melati! Dia
masihcukupjauh. Lebih baikkau tetap di tempatmu!" cegah Arya.
Tanpa banyak membantah Melati
mematuhinya. Kenyataan demi kenyataan menunjukkan padanya kalau keputusan yang
diambil Dewa Arak selalu benar. Itulah sebabnya, sekarang pun dia segera
menurutinya.
Sementara itu, Dewa Arak terus
memusatkan perhatian pada sosok hitam yang tengah melesat cepat ke tempat
tinggal Jagapaksi. Dari balik kerimbunan
dedaunan, pemuda
berambut putih keperakan
itu memperhatikannya.
Dugaan Dewa Arak ternyata tidak
salah. Sosok hitam itu ternyata orang yang pernah bertarung dengannya meski
hanya sebentar. Potongan tubuhnya masih dikenali betul! Ya, sosok itu adalah
Utusan dari Akherat!
Tampak di mata Dewa Arak, Utusan
dari Akherat menolehkan kepalanya ke sana kemari sebentar. Jelas diatengah
mengawasi keadaan. Baru setelah itu, pembunuh bayaran yang tidak mengenal ampun
itu, melesat memasuki halaman rumah Jagapaksi
Saat itulah, Dewa Arak melompat
turun dari pohon tempatnya bersembunyi.
Patut dipuji pendengaran Utusan
dari Akherat. Sebelum Dewa Arak sempat hinggap di tanah, sosok berpakaian hitam
itu telah lebih dulu menolehkan kepalanya. Tampaknya, pembunuh bayaran ini
mendengar desir angin!
"Uh," Utusan dari
Akherat mengeluarkan keluhan tertahan dari kerongkongannya begitu melihat
sosokyang tengah melayang turun itu. Dikenalinya sosok itusebagai orang yang
bertempur dengannya kemarin malam.
Jliggg!
Begitu kedua kakinya menjejak
tanah, sekitar dua tombak di hadapan Utusan dari Akherat, Dewa Arak langsung
bersikap siaga. Pemuda berambut putihkeperakan itu tahukalau lawan kali ini
memiliki tingkat kepandaian yang tidak bisa diremehkan.
"Beri aku jalan, Anak Muda!
Dan jangan coba-coba menghalangi pekerjaanku kalau ingin selamat!" ancam
Utusan dari Akherat dengan suara pelan.
"Sayang sekali, Kisanak!
Justru keberadaanku di sini untuk menghalangi angkara murkamu! Orang seperti
dirimu memang harus dilenyapkan dari muka bumi!" tandas Arya, tegas.
"Keparat!" desis Utusan
dari Akherat bernada tajam. "Terpaksa aku harus membunuhmu, Anak Muda!
Terlalu berani kau menghalangi tindakanku. Bersiap-siaplah untuk menerima
kematian! Heaaat...!"
Usai berkata demikian, Utusan
dari Akherat segera melesat menerjang Dewa Arak. Kedua tangannya yang
terkembang membentuk cakar, diluncurkan cepat ke dada Dewa Arak. Melihat
gerakan yang dilakukan, lelaki berpakaian serba hitam ini seakan-akan ingin
merobek dada lawan dan mengambil isinya.
Wuttt!
Deru angin
keras yang mengiringi tibanya
serangan itu, membuktikan kalau
serangan itu didukung pengerahan tenaga dalam tinggi. Dewa Arak pun
mengetahuinya. Hal itu karena dia pernah bertarung dengan lelaki berpakaian
hitam itu meski hanya dalam satu, atau dua jurus.
Itulah sebabnya, Dewa Arak segera
menjejakkan kaki. Tubuhnya melayang ke atas melewati kepala lawannya. Dan
ketika telah berada di atas Utusan dari Akherat, tanpa ragu-ragu lagi pemuda
berambut putih keperakan ini mengayunkan kedua tangannya ke belakang kepala
lawannya. Apabila mengenai sasaran, cukup untuk mengirim nyawa pembunuh bayaran
itu ke neraka.
Namun, Utusan dari Akherat
punbukan tokohsembarangan. Begitu merasakan desir angin di belakang, dia
langsung tahu adanya bahaya mengancam. Maka, sambil membalikkan tubuh, kedua
tangannya disampokkan ke belakang.
Prattt!
Benturan keras dua tangan yang
dialiri tenaga dalam tinggi, tak dapat dielakkan. Akibatnya tubuh kedua belah
pihak sama-sama terhuyung ke arah yang berlawanan
"Hup!"
Pada saat kedua kaki Dewa Arak
mendarat di tanah, Utusan dari Akherat pun berhasil memperbaiki kedudukannya.
Sesaat mereka saling pandang, tidak langsung menyerang seperti sebelumnya. Baik
Dewa Arak maupun Utusan dari Akln'int, merasakan betapa tangan mereka
sakit-sakit akibat benturan yang terjadi. Tampaknya tenaga dalam mereka
berimbang.
Utusan dari Akherat ternyata tak
mau membuang-buang waktu. Setelah bentrok untuk kedua kalinya, telah dirasakan
sendiri kehebatan lawan, dia tak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan ilmu
andalan.
Wuk! Wuk!Wuk!
Bunyi menderu terdengar ketika
Utusan dari Akherat mencabut dan memainkan ganco yang menjadi senjata
andalannya. Karena begitu cepat gerakan yang dilakukan, bentuk senjata itu
sampai lenyap! Yang terlihat hanyalah sinar putih membungkus tubuhnya. Memang,
ganco Utusan dari Akherat berwarna putih mengkilat!
Melihat hal ini, Dewa Arak tak
berani bertindak kepalang tanggung. Disadari kalau lawan telah menggunakan ilmu
andalan. Kalau tak diladeni secara sungguh-sungguh, bukan tidakmungkin nyawanya
yang akan lebih dulu melayang.
Maka buru-buru gucinya diambil.
Kemudian dituangkan ke mulutnya.
Gluk.... Gluk.... Gluk...!
Bunyi tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak dalam perjalanannya menuju ke perut.
Seketika itu pula ada hawa hangat berputar di dalam perutnya, yang kemudian
merayap ke atas. Sesaat kemudian, kedua kaki Dewa Arak pun seperti tak mampu
menapak secara tetap lagi di tanah. Oleng ke sana kemari. Hal itu sebagai
pertanda kalau ilmu 'Belalang Sakti' nya telah siap untuk dipergunakan.
"Haaat...!"
Seraya mengeluarkan teriakan
keras yang membuat suasana di sekitar tempat itu tergetar hebat, Utusan dari
Akherat meluruk
menerjang Dewa Arak. Ganco yang
tergenggam di tangan, diayunkan untuk membabat kepala.
Wukkk!
Desau angin yang keras terdengar
mengiringi tibanya serangan itu. Dari sini saja bisa diperkirakan kedahsyatan
serangan itu. Dewa Arak pun mengetahuinya. Meskipun demikian, dia tak merasa
ragu-ragu untuk memapaknya dengan ayunan guci.
Klanggg!
Bunga-bunga api bepercikan ke
sana kemari, ketika ganco dan guci berbenturan secara keras hingga memekakkan
telinga. Baik Dewa Arak maupun Utusan dari Akherat sama-sama terhuyung ke
belakang. Hanya saja Utusan dari Akherat terdorong lebih jauh.
Namun, dengan sebuah gerakan
sederhana, kedua tokoh yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi ini berhasil
mematahkan kekuatan yang membuat tubuhmereka terhuyung. Lalu, keduanya saling
terjang kembali. Pertarungan sengit pun berlangsung lagi.
Pertarungan itu berlangsung kian
hebat.Bunyi menderu, mengaung, dan berdecit menyemaraki jalannya pertarungan. Di
sana-sini tanah terbongkar, disertai debu mengepul tinggi ke udara. Tanpa
terasa pertarungan telah bergeser jauh dari tempat semula.
Pada jurus-jurus awal,
pertarungan berlangsung imbang. Namun, menginjak jurus keseratus, Utusan dari
Akherat mulai tampak terdesak. Memang, tangan, kaki, guci, dan semburan arak
dari Dewa Arak merupakan paduan kekuatan yang mampu menggilas habis pertahanan
lawan.
Perlahan-lahan Utusan dari Akherat semakin terjepit. Serangan-serangannya tampak
semakin berkurang. Dia lebih banyak mengelak dan menangkis. Tentu saja hal itu
membuat kedudukannya semakin terdesak.
Melihat hal itu, Utusan dari
Akherat sadar, cepat atau lambat akan roboh di tangan Dewa Arak. Disadari pula
bahwa kepandaian pemuda itu berada di atasnya. Kemenangan tak mungkin akan
diraihnya. Maka diputuskan kalau harus mati, maka matilah bersama lawannya.
Setelah mantap dengan keputusan
ini, Utusan dari Akherat bertindak nekat. Cara bertarungnya pun dirubah.
Sekarang dipusatkan perhatiannya untuk melancarkan serangan. Tidak dipedulikan
lagi pertahanannya yang terbuka di sana-sini. Yang dilakukannya terus bergerak
melancarkan serangan.
Ternyata hasil dari cara ini
langsung terlihat, keadaan Utusan dari Akherat langsung berubah. Kedudukannya
tak lagi terdesak. Hal itu mungkin karena Dewa Arak lebih banyak mengalah.
Tampaknya
pemuda berambut putih keperakan
itu melihat jelas, tindakan Utusan dari Akherat yang sengaja hendak mengadu
nyawa.
Betapa tidak? Begitu Dewa Arak
melancarkan serangan, tak dipedulikannya sama sekali. Bahkan ikut melancarkan
serangan pula. Tentu saja Dewa Arak tidak mau meladeni tindakan gila itu.
Pemuda berambut putih keperakan itu mengalah sambil mencari celah-celah yang
dapat dimanfaatkan.
Pada jurus keseratus dua puluh
tiga, Utusan dari Akherat membabatkan ganconya secara mendatar ke pinggang Dewa
Arak. Dengan perhitungan yang matang, pemuda berambut putih keperakan itu
melompat ke depan. Dan ketika berada di atas kepala lawan, tubuhnya bersalto
seraya mengayunkan guci ke kepala Utusan dari Akherat.
Utusan dari Akherat terkejut
bukan kepalang melihat bahaya maut yang mengancamnya. Dengan semampunya lelaki
berpakaian hitam itu mencoba mengelak.
Prakkk!
Bunyi berderak keras terdengar
ketika kepala Utusan dari Akherat pecah. Darah menyembur deras dari bagian yang
terhantam guci. Pembunuh bayaran ini pun langsungtewas.
Begitu mendaratkan kedua kakinya
di tanah, Dewa Arak menghembuskan napas berat. Ada sedikit perasaan menyesal di
hatinya melihat lawannya tewas dalam keadaan seperti itu. Tapi, apa boleh
buat?!
Dewa Arak mengalihkan
pandangannya. Tampak Melati dan Jagapaksi tersenyum lega. Kedua orang ini
ternyata sudah sejak tadi menyaksikan jalannya pertarungan. Jagapaksi keluar
rumah karena mendengar suara gaduh perkelahian.
Dewa Arak menyunggingkan senyum
lebar. Kemudian kakinya melangkah menghampiri Melati dan Jagapaksi.
SELESAI
No comments:
Post a Comment