KABUT
DI BUKIT GONDANG
oleh Aji Saka
1
Hujan lebat turun bagai
dicurahkan dari langit, diiringi pula dengan hembusan angin kencang. Semua itu
membuat suasana malam terasa dingin menusuk tulang. Hingga keadaan di persada
terasa sangat tidak menyenangkan. Bulan bulat yang tampak di langit tidak berdaya
memancarkan cahayanya, tertutup awan tebal danhitam yang menggantung di sana.
Glarrr!
Untuk kesekian kalinya halilintar
menyambar bumi. Seketika itu pula suasana terang-benderang. Memang, hanya
sesaat. Tapi cukup untuk menampakkan dua sosok tubuh yang berlari-lari cepat
menembus lebatnya hujan.
Glarrr!
Kembali halilintar menyambar.
Terangnya yang hanya sekejap ternyata mampu memperjelas kedua sosok itu.
Sosok yang pertama seorang lelaki
tinggi besar berpakaian serba hitam. Kumis, jenggot, dan cambang lebat menghias
wajahnya yang terlihat angker karena adanya luka codet.
Sedangkan yang satu, berada di
belakang lelaki tinggi besar itu, seorang lelaki pendek kekar. Berbeda dengan
lelaki tinggi besar, sosok ini memiliki wajah kelimis. Tidak ada kumis, jenggot,
atau cambang. Ciri-ciri yang dimilikinya benar-benar bertolak belakang dengan
lelaki berwajah codet.
"Cepat, Wulung!" seru
lelaki tinggi besar dengan keras untuk mengatasi riuh rendahnya bunyi hujan.
"Aku khawatir mereka telah mengetahui tindakan kita!"
"Larilah lebih dulu,
Ketua!" sambut lelaki pendek kekar yang dipanggil Wulung, juga dengan
pengerahan seluruh tenaga dalamnya agar bisa terdengar lelaki bercodet.
Tanggapan yang diberikan lelaki
tinggi besar ternyata sebaliknya. Dia menghentikan larinya dan menunggu
kedatangan Wulung yang tertinggal di belakang. Sebentar kemudian, Wulung telah
berada di sebelahnya.
"Mengapa kau menungguku,
Ketua?! Bagaimana kalau mereka mengetahui kepergian kita? Itu sangat
berbahaya!" ujar Wulung dengan napas terengah-engah.
"Aku tahu, Wulung,"
sahut lelaki tinggi besar, "Tapi, itu tidak menjadi alasan untuk
meninggalkanmu! Seandainya usaha ini berhasil, aku tidak mau sendirian saja.
Apa artinya aku berhasil kabur jika kau tertangkap!"
"Terima kasih atas
perhatianmu, Ketua," ucap Wulung agak tersendat. Merasa terharu mendapat
perhatian begitu besar dari ketuanya.
"Sudahlah. Hentikan
kecengengan itu. Sekarang yang penting kita harus lolos dari tempat ini!"
potong lelaki bercodet mengalihkan perhatian.
"Kau benar, Ketua. Maafkan
kelemahanku."
"Lupakanlah," lelaki
bercodet mengulapkan tangannya. "Kau masih sanggup berlari?!"
"Sanggup, Ketua," sambut Wulung mantap.
"Kalau begitu, mari
lanjutkan perjalanan!"
Usai berkara, lelaki bercodet
mengayunkan langkah meneruskan larinya yang tertunda. Wulung mengikuti langkah
ketuanya. Di malam yang gelap dan dingin itu Wulung dan pimpinannya kembali
berlari. Air memercik ke sana kemari ketika kaki-kaki mereka menapak tanah yang
bergenang air.
Mendadak lelaki bercodet menoleh,
"Kau dengar itu, Wulung?!" tanyanya
"Tidak, Ketua. Aku tidak
mendengar apa-apa," jawab lelaki pendek kekar itu. "Apa kau
mendengarnya?"
"Benar," jawab lelaki
bercodet dengan terengah. "Kudengar derap kaki kuda. Banyak, Wulung!"
"Celaka!" seru Wulung.
Napasnya menderu-deru. Lelaki pendek kekar itu keletihan. "Mereka telah
mengetahui pelarian kita, Ketua! Lebih baik kau tinggalkan aku. Tidak usah
pikirkan diriku!"
"Wulung!" sentak lelaki
bercodet berwibawa, "Jangan kira aku serendah itu. Apa pun yang terjadi
aku akan tetap bersamamu!"
"Tapi, Ketua...," meski
dengan terputus-putus, Wulung masih mencoba membantah. "Tidak ada
tapi-tapian!" tandas lelaki bercodet tegas, "Tidak usah bicara lagi.
Pusatkan
seluruh perhatian pada larimu.
Ingat! Sebentar lagi kita tiba di pantai!"
Wulung terdiam. Dia tidak berani
membantah perintah lelaki bercodet. Disadarinya betapa besar perhatian ketuanya
pada dirinya. Kalau tidak, dia telah ditinggalkan. Ketuanya memiliki ilmu lari
cepat yang berada jauh di atasnya.
Tahu kalau ketuanya telah
berkorban, Wulung tidak ingin semakin menyulitkan lelaki bercodet itu.
Dikerahkannya seluruh sisa-sisa kemampuan agar bisa berlari secepat mungkin.
Tapi meskipun demikian, berapa cepatnya lari orang yang telah lelah dengan
medan yang amat berat. Tanah becek berlumpur sudah cukup menghambat kecepatan
lari. Belum lagi pada beberapa tempat medannya licin. Juga lubang-lubang yang
meskipun tidak dalam, tapi cukup untuk membuat kaki terkilir bila terperosok ke
dalamnya.
Semua itu cukup untuk membuat
kecepatan lari seseorang berkurang. Demikian yang dialami lelaki bercodet dan
Wulung!
***
Tentu saja hal seperti itu tidak
dialami rombongan kuda yang mengejar Wulung dan ketuanya. Hingga jarak antara
mereka semakin dekat. Sampai akhirnya terdengar oleh Wulung.
Dan seperti mendukung rombongan
pengejar Wulung dan ketuanya, perlahan-lahan hujan mereda. Awan tebal dan hitam
yang menutup angkasa tertiup angin. Sehingga sinar sang Dewi Malam berhasil menembusnya
sedikit demi sedikit.
Kejadian selanjutnya seperti yang
sudah diperhitungkan akal sehat manusia. Keadaan di persada mulai terlihat.
Suasana tidak gelap seperti sebelumnya, tapi remang-remang.
Semua itu semakin menguntungkan
pihak pengejar. Rombongan yang terdiri dari enam ekor kuda yang ditunggangi
lelaki berwajah kasar mulai dapat melihat buruannya. Wulung dan ketuanya berada
kira-kira sepuluh tombak di depan mereka.
"Ha ha ha...! Mau lari ke
mana, Garang Laksa?! Jangan harap bisa lolos dari sini!" seru seorang
lelaki yang berwajah mirip kuda. "Serang!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
lelaki-lelaki kasar itu mengibaskan tangan. Wut, wut, wut!
Diiringi bunyi menderu cukup
keras, lima batang tombak meluncur ke arah Wulung dan lelaki bercodet yang ternyata
bernama Garang Laksa.
Garang Laksa dan Wulung
mengetahui serangan itu. Deru angin keras yang mengiringi tibanya serangan
menunjukkan semua itu. Maka cepat keduanya menoleh ke belakang melihat arah
luncuran tombak Lalu, melakukan lompatan harimau ke samping. Kemudian dengan
bertelekan kedua tangan, mereka menggulingkan tubuh. Hasilnya....
Cap, cap, cap!
Tombak-tombak menancap di tanah.
Garang Laksa dan Wulung berhasil menghindar. Kesempatan di saat kedua pelarian
itu menggulingkan tubuh, dipergunakan sebaik-
baiknya oleh lelaki bermuka kuda
dan lima rekannya untuk melompat dari punggung kuda. Kemudian melesat
menghampiri Garang Laksa dan Wulung. Sambil berlari, mereka menghunus golok
besar yang tergantung di punggung.
Srat, srat, srat!
Sinar terang berkilat ketika
golok-golok besar itu keluar dari sarungnya.
Tapi sebelum para pengejarnya
menghunjamkan serangan, Garang Laksa dan Wulung telah bangkit. Dan secepatnya
mengeluarkan senjata andalan masing-masing. Wulung menggenggam sepasang pedang.
Sedangkan Garang Laksa sepasang trisula. Sikap mereka terlihat waspada.
Melihat hal ini, lelaki bermuka
kuda mengangkat tangan kirinya ke atas. Seketika itu pula, lima rekannya
menghentikan serangan.
"Mengapa berhenti,
Marangsang?!" ejek Garang Laksa tanpa menghilangkan sikap waspada.
"Takut?!"
Sepasang mata lelaki bercodet
merayapi enam orang pengejarnya. Meskipun demikian, perhatian paling besar
ditujukan pada lelaki bermuka kuda. Pada lelaki bermuka kudalah ejekan itu
ditujukan.
"Tidak ada kata takut untuk
Marangsang!" seru lelaki bermuka kuda seraya membusungkan dada.
"Kaulah yang pengecut,
Garang Laksa! Kalau tidak, mengapa melarikan diri?!"
"Tidak usah banyak bicara,
Marangsang! Mampuslah!" seraya mengucapkan kata-katanya, Garang Laksa
melancarkan serangan ke arah Marangsang. Trisula yang berada di tangan kanannya
ditusukkan ke dada lawan.
Marangsang tidak berani bertindak
gegabah. Dia telah tahu keampuhan senjata itu. Dengan trisula itu, Garang Laksa
dapat membuat lawan melepaskan senjatanya secara mudah. Biasanya itu terjadi
ketika lawan melakukan tangkisan. Garang Laksa menjepit senjata lawan di antara
celah-celah barang trisulanya, kemudian menggerakkannya sedemikian rupa
sehingga senjata lawan terlepas dari genggaman.
Marangsang tahu karena telah
sering melihat. Bukan hanya keistimewaan trisula Garang Laksa, tapi juga
kelihaian lelaki bercodet itu. Sebab Garang Laksa adalah ketuanya. Pimpinan
seluruh anggota gerombolan. Sedangkan dia adalah wakilnya!
Itu sebabnya Marangsang tidak
berani menangkis serangan itu. Yang dilakukannya melompat ke belakang sehingga
serangan Garang Laksa mengenai tempat kosong, beberapa jengkal di depan
tubuhnya. Dan sebelum Garang Laksa sempat mengirimkan serangan susulan,
Marangsang memberi isyarat pada kelima anak buahnya untuk menyerang lelaki
bercodet itu.
Sing, sing, sing!
Terdengar bunyi-bunyi mendesing
ketika mata-mata golok membeset udara dalam perjalanannya menuju berbagai
bagian tubuh Garang Laksa! Serangan itu membuat Garang Laksa tidak berani
melanjutkan serangan susulannya. Lelaki bercodet itu melompat ke belakang
mengelakkan serangan.
Jliggg!
Begitu kedua kaki Garang Laksa
hinggap di tanah, di sebelahnya telah berdiri Wulung. Lelaki pendek kekar itu
siap bertarung.
"Kita tidak bisa terlalu
lama di sini, Ketua. Bahaya!" bisik Wulung di telinga Garang Laksa.
"Nanti yang lainnya keburu tiba di sini!"
"Kau benar, Wulung!"
sambut Garang Laksa berbisik, "Pantas, kelihatannya Marangsang
mengulur-ulur waktu. Kalau begitu, jangan beri kesempatan. Mari kita labrak
mereka!"
Belum juga gema ucapan itu
lenyap, Garang Laksa dan Wulung telah menghambur ke arah lawan-lawannya.
Senjata di tangan mereka langsung digunakan!
Wuttt!
Garang Laksa menusukkan
trisulanya ke leher Marangsang. Sementara Wulung menyerbu salah seorang lawan
dengan tusukan kedua pedangnya, ke arah dada kanan dan kiri.
Sing, sing, sing!
Meskipun dilakukan agak mendadak
Marangsang dan lima anak buahnya tidak terkejut. Mereka memang telah bersiap
menghadapi hal seperti itu. Bahkan kali ini Marangsang menangkis tusukan
trisula Garang Laksa. Goloknya dibabatkan dari kanan ke kiri mematahkan
serangan maut itu.
Trangngng!
Bunga api berpijar ketika golok
dan trisula berbenturan keras. Marangsang menggigit bibir merasakan telapak
tangannya pedas dan sakit. Goloknya hampir terlepas dari pegangan. Kenyataan
ini menusukkan tenaga dalamnya berada di bawah Garang Laksa.
Di saat itulah serangan susulan
Garang Laksa meluncur. Trisula di tangan kirinya ditusukkan ke arah perut.
Karena untuk menangkis tak mungkin lagi, Marangsang melompat ke belakang. Tapi,
Garang Laksa bukan orang yang mudah putus asa. Terus dicecarnya
Marangsang dengan tusukan-tusukan
trisulanya. Hingga lawan dipaksa bermain mundur. Lelaki bermuka kuda itu
benar-benar tidak diberi kesempatan memperbaiki kedudukan.
Untung saja empat orang anak
buahnya tidak tinggal diam. Serentak mereka menyerang Garang Laksa dari
berbagai arah. Tapi Garang Laksa sudah memperhitungkan hal itu. Ketika
serangan-serangan lawan hampir tiba, kakinya dijejakkan sehingga tubuhnya
melambung ke atas. Di udara tubuhnya berputar ke belakang melewati kepala para
penyerangnya. Saat itu kedua trisulanya dikelebatkan!
Crat, crat! "Akh,
akh...!"
Kejadian berlangsung demikian
cepat. Tahu-tahu tubuh dua orang penyerangnya tersuruk. Bagian belakang kepala
mereka robek terkena babatan trisula. Setelah menggelepar sesaat, keduanya diam
tidak bergerak lagi.
Jliggg! "Hih!"
Begitu kakinya menyentuh tanah,
Garang Laksa mengibaskan tangan. Singngng!
Sebatang pisau meluncur ke arah
lawan Wulung. Entah kapan lelaki bercodet ini mengambilnya. Tindakannya
demikian mendadak dan sulit diduga. Bahkan setelah melontarkan pisau, dia
menerjang Marangsang dan dua anak buahnya yang masih tersisa. Semua itu
dilakukan dalam waktu singkat
Sementara itu, anak buah
Marangsang yang menjadi lawan terkejut bukan main melihat pisau meluncur deras
ke kepalanya. Sebab pada saat yang hampir bersamaan Wulung melancarkan
serangan. Ini membuat lawan Wulung gugup. Akhirnya diambil keputusan mematahkan
serangan pisau terbang Garang Laksa. Golok diayunkan untuk memapaki.
Wuttt!Trangngng!
Pisau itu langsung terpental.
Tapi karena kuatnya tenaga luncuran pisau, lawan Wulung terhuyung. Saat itulah
pedang Wulung membabat lehernya!
Cappp!
Anak buah Marangsang yang sial
ini tidak sempat berteriak. Babatan golok Wulung memisahkan kepalanya. Dia
tewas seketika itu juga. Darah segar menyembur deras dari bagian yang terluka.
Tanpa mempedulikan keadaan lawan,
Wulung melesat ke arah pertarungan Garang Laksa dan Marangsang serta anak
buahnya. Tapi sebelum Wulung ikut campur dalam kancah pertarungan, Garang Laksa
telah mencegahnya.
"Tinggalkan tempatini,
Wulung! Cepat...! Nanti aku menyusul! Cepat...!"
Seketika itu pula gerakan Wulung
terhenti. Dirasakannya ada tekanan yang tidak menghendaki bantahan dalam
perintah Garang Laksa. Maka, meskipun dengan berat hati tubuhnya dibalikkan.
Kemudian berlari meninggalkan tempat itu.
Melihat Wulung memenuhi
perintahnya, Garang Laksa menghela napas lega. Tapi bukan berarti
kewaspadaannya mengendur. Seluruh perhatiannya tetap dipusatkan untuk
merubuhkan lawan-lawannya dengan segera.
Namun harapan demikian lebih
mudah direncanakan daripada dilaksanakan. Sekarang Marangsang dan dua anak
buahnya bertindak hati-hati. Mereka tidak ingin kejadian yang menimpa dua rekan
mereka terulang. Akibatnya, Garang Laksa menghadapi perlawanan sengit. Ketiga
lawannya menerapkan siasat saling bantu.
Sampai sepuluh jurus lebih
pertarungan berlangsung belum terlihat siapa yang akan menang. Bahkan
tanda-tanda ke arah itu belum tampak. Garang Laksa pun sadar untuk mengalahkan
lawan-lawannya membutuhkan waktu yang panjang. Padahal, kesempatan yang
dimilikinya hanya sedikit!
Kalau sampai para pengejar
lainnya tiba, dia akan celaka.
Menyadari kenyataan ini, Garang
Laksa memutuskan untuk kabur. Toh, sekarang tidak ada beban karena Wulung telah
berangkat lebih dulu. Bukan hal yang sulit baginya meninggalkan lawan-lawannya.
Ilmu lari cepatnya di atas mereka. Dan begitu mendapat kesempatan, lelaki
bercodet itu melesat kabur. Hingga para pengeroyoknya, terutama Marangsang,
sangat geram.
"Garang Laksa...! Keparat
pengecut...! Jangan lari kau...!" sambil mengeluarkan teriakan-teriakan
kalap, Marangsang mengejar. Kedua anak buahnya mengikuti.
Harapan Marangsang dengan
makian-makian yang diucapkannya Garang Laksa akan tersinggung kehormatannya dan
balik kembali. Tapi ternyata tidak! Garang Laksa terus berlari tanpa
menghiraukan makian-makian itu.Terpaksa dia berlari mengejar.
Tapi Marangsang tidak berani
mengerahkan seluruh kemampuan lari cepatnya. Jika itu dilakukan, kedua anak
buahnya akan tertinggal jauh. Kalau tiba-tiba Garang Laksa membalikkan tubuh
dan menyerangnya, dia akan celaka!
Marangsang jengkel bukan main
dengan kegagalannya. Yang dapat dilakukannya hanya memaki panjang pendek.
Memaki kuda-kudanya yang kabur karena takut melihat pertempuran. Dan
kesembronoan dua anak buahnya yang menyebabkan kematian mereka. Kalau tidak, pasti
Garang Laksa berhasil diringkus!
Karena Marangsang tidak
mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya, jarak antara dirinya dengan Garang
Laksa semakin jauh. Sementara beberapa tombak di belakangnya terlihat puluhan
sosok tubuh. Mereka adalah bekas anak buah Garang Laksa. Dan sekarang menjadi
anak buah Marangsang!
Terpaksa Marangsang menunggu
rombongan anak buahnya. Kemudian dengan berbondong-bondong mengejar. Tapi hanya
kekecewaan yang didapatkan. Beberapa tombak sebelum mencapai pantai, dilihatnya
Garang Laksa dan Wulung telah mengayuh perahu ke tengah laut. Kepergian mereka
tak mungkin dapat dicegah lagi. Marangsang menatap kepergian kedua buruannya
dengan geram.
2
"Ah...! Segarnya...!"
Ucapan itu dikeluarkan seorang
pemuda berpakaian ungu. Ditariknya napas dalam-dalam. Dan kedua tangannya
direntangkan ke samping kanan dan kiri, agar udara yang diisapnya masuk ke
seluruh bagian dadanya.
Gerakan serupa dilakukan sosok
yang berjalan di sebelahnya. Dia seorang gadis berwajah cantik jelita. Kulitnya
putih dan halus. Rambutnya yang panjang, hitam, dan tebal dibiarkan terurai
menambah kecantikannya. Kesan itu semakin menyolok karena pakaian serba putih
yang dikenakan.
"Lega rasanya menghirup
udara segar kembali, setelah beberapa hari ditimpa sinar sang Surya di tempat
yang tandus. Bukankah demikian, Kang Arya?" ujar gadis berpakaian putih
meminta pendapat.
"Benar, Melati," jawab
pemuda berpakaian ungu mengangguk.
Sepasang muda-mudi ini memang
Arya Buana yang dikenal dengan julukan Dewa Arak dan Melati, kekasihnya.
"Perjalanan yang jauh dan
melelahkan, Kang. Hhh...! Hampir aku tak kuat menempuh hamparan padang pasir
yang tidak ditumbuhi pohon sama sekali!" ujar Melati.
"Tapi sekarang sudah
berakhir. Tak lama lagi kita akan tiba di sebuah desa. Bukankah menurut berita
yang kita dapat Desa Sampan berada di Bukit Gondang ini?!"
"Benar, Kakang," Melati
mengangguk. "Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar di tempat ini. Aku
ingin menghirup udara segar pagi ini sepuas-puasnya."
"Sebuah usul yang baik,
Melati," Arya lang-sung menyetujui, "Tapi kita harus mencari tempat
yang benar-benar nyaman."
Pemuda berambut putih keperakan
itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepasang matanya yang tajam
berkilat-kilat dan terkadang mencorong kehijauan laksana mata harimau dalam
gelap merayapi jajaran pohon dan semak yang tumbuh di tempat itu.
"Rasanya di sana cukup
nikmat, Melati," tunjuk Arya pada sebuah tempat di bawah jajaran pohon
pinus dekat dengan kerimbunan semak.
"Itu pun boleh, Kang,"
Melati mengangguk.
Sepasang muda-mudi itu
melangkahkan kaki menuju tempat itu. Dalam beberapa tindak, keduanya telah
sampai dan menghempaskan diri di atas rumput
"Kakang...!"
"Hm...," sambut Arya
bergumam.
"Kau belum mengatakan alasan
kita mengunjungi Desa Sampan. Apakah aku tidak boleh mengetahuinya?!"
tanya Melati setengah merajuk
"Tentu saja boleh,
Melati," jawab Arya mantap, "Nah! Dengarkan baik-baik. Kepergianku ke
Desa Sampan adalah untuk memenuhi janji."
"Janji, Kang?!" Melati
mengernyitkan dahi, "Siapa yang kau beri janji? Seorang gadis
cantik?!"
"Ha ha ha...!"
Arya tergelak mendengar ucapan
kekasihnya. Pemuda itu tahu Melati tengah menggodanya.
"Untuk apa aku mengikat
janji dengan gadis lain? Bukankah aku telah memiliki seorang bidadari?"
"Ah...! Rupanya sekarang kau
sudah pandai merayu," goda Melati dengan senyum mengembang. "Sungguh
tidak kusangka. Tapi lupakanlah. Sekarang lebih baik kau ceritakan tentang
janjimu."
Arya terdiam. Kening pemuda itu
berkerut berusaha mengingat-ingat kepada siapa janjinya diucapkan. "Aku
mengikat janji dengan tiga orang pemburu. Salah satu di antara mereka bernama
Benggala. Dalam perjanjian itu aku bersedia mengajarkan mereka sedikit ilmu
silat," beri tahu Arya.
"Mengapa kau bisa terlibat
perjanjian seperti itu, Kang?!" tanya Melati dengan alis berkerut.
"Itu berarti kau guru mereka. Mengapa malah kau yang mencari mereka? Bukan
sebaliknya."
"Karena aku lebih sulit
dicari daripada mereka, Melati," jelas Arya tenang, "Aku terlibat
perjanjian itu agar dapat menyelamatkanmu. Saat itu kau berada dalam ancaman
maut. Bila tidak bertindak cepat, mungkin aku harus kehilanganmu selamanya. Kau
ingat kejadian di Perguruan Pedang Ular?!"
Melati tercenung sejenak sebelum
mengangguk. (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Dewa Arak dalam episade:
"Perkawinan Berdarah.")
"Sekarang kau mengerti
mengapa aku terlibat perjanjian itu?!" tanya Arya. "Mengerti,
Kang," jawab Melati.
"Syukurlah.kalau begitu.
Dan...." "Aaa...!"
Sebuah lolongan panjang dan
menyayat hati menghentikan ucapan Arya. Dipandangnya Melati.
Pada saat yang sama gadis
berpakaian putih itu pun menatapnya. "Kau dengar jeritan itu, Melati?"
tanya Arya.
"Dengar, Kang," seperti
jeritan orang yang berada di ambang maut." "Mari kita ke sana!"
Arya segera bangkit. Diikuti
Melati. Sesaat kemudian sepasang pendekar muda berwajah elok itu telah melesat
menuju asal jeritan. Tapi pohon-pohon dan semak belukar serta keadaan tanah
yang bertingkat-tingkat menyulitkan mereka untuk segera tiba di tempat tujuan.
Padahal, arahnya sudah mereka ketahui. Sepasang pendekar muda itu menghentikan
larinya di sebuah tempat yang agak lapang dan ditumbuhi rumput-rumput cukup
panjang.
"Aku yakin dari sinilah
jeritan itu berasal, Melati," ujar Arya seraya mengedarkan pandangan ke
sekitar tempat itu.
"Benar, Kang," dukung
Melati. Mata gadis itu pun merayapi tanah lapang itu. "Kakang...!
Lihat...!"
Seruan Melati membuat Arya
mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk gadis berpakaian putih itu.
Terlihat olehnya dua buah tong kayu kecil dan sebuah kayu cukup panjang sebesar
pergelangan tangan. Tanpa menunggu lebih lama, Arya dan Melati menghampiri
kedua benda yang tergolek sembarangah di tanah. Sepasang muda-mudi itu
membungkukkan tubuh untuk memeriksanya.
"Dugaan kita tidak salah,
Melati. Teriakan itu memang berasal dari sini. Sepertinya yang menjadi korban
penduduk desa.
Melati mengangguk-angguk.
Tong-tong dan bambu yang digunakan sebagai pikulan itu telah menjadi bukti
pemiliknya seorang penduduk. Tong-tong itu dipergunakan untuk mengambil getah.
Dan ketika mereka memeriksa lebih seksama rumput di tempat itu, bukti lain
segera diketemukan.
"Kau lihat itu,
Melati," Arya menudingkan telunjuknya pada cairan merah yang menempel di
rumput.
"Darah...," desis
Melati seraya menghampiri.
Dugaan Melati tak meleset.
Percikan-percikan cairan merah di rumput itu memang darah. Dan ternyata tidak
sedikit. Hanya saja tadi terhalang rumput. Arya dan Melati menatap genangan
darah yang belum sempat mengering itu.
"Berarti di sini... pencari
getah pohon itu dibunuh, Kang," duga Melati yakin.
"Benar. Tanda-tanda ini
menunjukkan mayat orang yang malang itu diseret ke sana." Arya menyambung
ucapan Melati seraya mengerahkan pandangan ke arah tetesan
darah dan rumput-rumput yang
tidak berdiri tegak. Kedudukan rumput menunjukkan ada sesuatu benda telah
menggilasnya. Melati melayangkan pandang ke arah yang ditunjuk kekasihnya.
Kemudian bergegas menuruti tindakan Arya menyusuri ceceran darah.
***
Sepasang pendekar muda itu tak
perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui nasib orang malang itu. Ceceran
darah yang mereka ikuti berakhir di sebuah dataran yang menurun curam. Arya dan
Melati menghentikan langkah. Keduanya melayangkan pandangan. Tampak pohon-pohon
pinus yang menjulang dan semak-semak
"Itu dia, Kang!" seru
Melati menunjuk ke satu arah.
Arya mengikuti dengan pandang
matanya. Pemuda itu pun melihatnya. Sesosok tubuh tergolek di batang pohon
pinus. Agaknya tubuh itu tersangkut di sana ketika dibuang pembunuhnya.
"Kau tunggu di sini, Melati.
Aku akan turun dan memeriksanya."
Arya segera bersiap menuruni
tebing curam itu. Kemiringan tebing sangat curam, hampir tegak lurus!
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi, Arya
melompat ke atas. Tubuhnya berputaran di udara. Dan meluruk turun ke dataran
yang jauh di bawah.
Melati yang melihat tindakan Arya
hampir terpekik kaget. Tubuh pemuda itu akan hancur luluh bila jatuh ke dataran
di bawah sana. Tapi, dia percaya tindakan itu sudah diperhitungkan masak-masak
oleh kekasihnya. Hingga gadis itu sedikit tenang.
Dugaan Melati memang tepat. Dewa
Arak telah memperhitungkan tindakannya masak-masak. Maka begitu tubuhnya
meluncur turun, kedua tangannya ditusukkan.
Jreb, jrebbb!
Kedua tangan Dewa Arak amblas ke
dalam tanah yang tak ubahnya dinding menjulang. Dengan sendirinya luncuran
tubuh pemuda berambut putih keperakan itu terhenti.
Sesaat Arya berdiam diri
membiarkan kedudukannya seperti itu. Baru kemudian tangan kanannya dicabut.
Lalu ditempelkan ke dinding tanah. Dengan tenaga dalamnya yang sudah mencapai
tingkat tinggi, tidak sulit membuat tangan itu menempel. Hal yang sama
dilakukan pada tangan kirinya. Arya bertahan di dinding tanah itu dengan
tempelan kedua telapak tangannya.
Kemudian bagai seekor cecak Dewa
Arak merayap turun! Sungguh sebuah pertunjukan tenaga dalam yang menakjubkan!
Karena hanya orang yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi saja yang dapat
melakukannya.
Semua kejadian itu tak luput dari
pandangan Melati. Gadis berpakaian putih itu menghela napas lega. Namun rasa
khawatir masih meliputi hatinya. Perbuatan Dewa Arak membutuhkan pengerahan
tenaga penuh dan terus-menerus. Padahal jarak yang ditempuhnya cukup jauh. Apakah
Dewa Arak akan sanggup?
Melati terus memperhatikan
kekasihnya. Dilihatnya Dewa Arak setapak demi setapak turun ke bawah. Tapi
kesibukan Melari terpaksa dihentikan. Saat itu dia mendengar suara
langkah-langkah kaki. Dari semakin jelasnya suara itu terdengar agaknya mereka
tengah menuju ke arahnya.
Melati berusaha keras memutar
otaknya. Gadis itu tidak ingin pemilik langkah-langkah kaki menemukannya dalam
keadaan seperti ini. Bila hal itu terjadi mereka akan mengetahui keberadaan
Dewa Arak. Jika bukan musuh, mungkin tidak masalah. Tapi bagaimana kalau
sebaliknya? Dewa Arak akan celaka!
Tapi otaknya tidak mau diajak
berpikir. Sampai capek berpikir, gadis itu tidak berhasil menemukan jalan
keluar yang baik. Akhirnya Melati memutuskan duduk di salah satu akar pohon
yang menyembul dari dalam tanah.
Baru saja Melati menghempaskan
tubuhnya, pemilik langkah-langkah kaki muncul dari balik belokan. Sikap duduk
Melati memang tidak menghadap jalan tempat munculnya sosok-sosok itu. Tapi,
dengan sudut matanya Melati bisa melihatnya.
Seperti dugaan Melati, pemilik
langkah kaki itu tidak hanya satu. Mereka cukup banyak. Belasan orang! Bahkan
hampir dua puluh. Berwajah dan bersikap kasar. Melati pura-pura tidak
melihatnya.
Sementara itu, rombongan orang
kasar telah melihat Melati. Mereka menghampiri gadis berpakaian putih itu.
Derap langkah mereka lebih keras dari sebelumnya. Kelihatannya itu memang
disengaja agar kedatangan mereka dilihat Melati.
Tentu saja itu diketahui dengan
pasti oleh Melati. Gadis itu menoleh ke arah rombongan orang kasar. Sikapnya
tampak tenang. Tidak kelihatan terkejut atau khawatir. Bahkan dia tetap duduk
di tempatnya.
Dalam waktu singkat belasan orang
kasar telah berada di dekat Melati. Dengan raut wajah dan sorot mata
menyiratkan kekurangajaran, mereka mengelilingi Melati membentuk setengah
lingkaran.
"Tak kusangka ada bidadari
tersesat ke tempat ini," ucap lelaki yang berdiri paling depan.
Dia seorang lelaki bermuka kuda.
Siapa lagi kalau bukan Marangsang?! Dan tentu saja belasan orang kasar yang
bersamanya adalah anak buahnya. Memang semula mereka anak buah Garang Laksa.
Tapi, sekarang Marangsanglah yang menjadi pimpinan.
"Benar, Ketua!" sambut
seorang lelaki kasar yang berwajah bopeng seraya menatap Melati.
Bukan hanya lelaki berwajah
bopeng itu saja yang bersikap demikian. Mereka menatap Melati seperti serigala
kelaparan mengincar anak domba yang gemuk! Penuh nafsu!
Kalau tidak ada Marangsang,
pemimpin mereka yang baru, belasan orang kasar itu pasti sudah saling berebut
untuk lebih dulu mendapatkan. Tapi karena takut pada Marangsang, keinginan itu
hanya mereka pendam.
Sebenarnya bukan hanya anak
buahnya dilanda perasaan itu. Marangsang pun demikian! Namun lelaki bermuka kuda
itu tidak terlalu menuruti keinginannya. Sebab saat ini mereka tengah
menghadapi persoalan yang amat penring dan harus diselesaikan secepatnya, yaitu
menangkap Garang Laksa! Hingga meskipun sorot kekurangajaran tampak jelas pada
tarikan wajah dan sinar matanya, dia mampu berbicara dengan tenang.
"Boleh kami bertanya
sesuatu, Nisanak?!" tanya Marangsang lembut. "Silakan. Bila tahu
pasti aku akan menjawabnya," jawab Melati tenang.
"Begini. Kami tengah menuju
Desa Sampan. Bisa kau tunjukkan arah yang harus kami tempuh?!"
"Jalan terus saja ke utara.
Nanti kalian pasti akan menemukannya."
Seperti orang yang tahu pasti,
Melati memberikan jawaban. Padahal sebenarnya dia tidak tahu arah ke desa itu.
Tapi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan diberikannya
jawaban itu.
Marangsang melayangkan pandangan
ke arah yang disebutkan Melari. Memang, di sana terben-tang jalan. Tanpa
berkata apa pun tubuhnya dibalikkan, dan mengayunkan kakinya meninggalkan
tempat itu. Melihat tindakan Marangsang, anak buahnya merasa tidak puas. Tapi,
apa yang dapat mereka lakukan selain mengikuti? Dengan lesu mereka membalikkan
tubuh dan meninggalkan Melati.
Tapi tidak semuanya berlalu. Ada
seorang yang merasa sangat tidak puas dengan tindakan Marangsang. Dia adalah
lelaki berwajah bopeng. Untuk melakukan tindakan kurang ajar dengan perbuatan
dia tidak berani, takut dihukum Marangsang, maka diputuskan mengganggu Melati
dengan ucapan untuk melampiaskan nafsunya yang menggelegak
"Apa aku boleh bertanya,
Nisanak?!" tanya lelaki berwajah bopeng dengan wajah sungguh-sungguh.
Melati tidak menanggapi. Dengan
sikap tidak peduli, dihempaskannya kembali tubuhnya ke tempat duduknya tadi.
Karuan saja sikap Melati membuat lelaki berwajah bopeng merasa tersinggung.
Kemarahannya timbul.
"Aku hanya ingin tanya, apa
benda yang menyembul di dadamu itu?!" tanya lelaki berwajah bopeng keras.
Sungguh hebat akibat pertanyaan
anak buah Marangsang itu. Melati langsung mendongakkan wajah yang semula
ditundukkan. Tampak jelas kemarahan pada wajah dan sepasang matanya. Gadis
berpakaian putih itu murka. "Keparat!"
Makian keras penuh kemarahan
meluncur dari mulut Melati. Dan seiring dengan terlontarnya ucapan itu Melati
mengirimkan tendangan ke arah lutut lelaki berwajah bopeng.
Wuttt,Tukkk! "Akh!"
Lelaki berwajah bopeng menjerit
tertahan. Kaki Melari mendarat telak di lutut kanannya. Padahal dia telah
mencoba untuk mengelak. Tapi kalah cepat! Tubuh lelaki itu terhuyung-huyung ke
belakang. Sambungan tulang lututnya terlepas!
3
Kejadian yang menimpa lelaki
berwajah bopeng mengejutkan rekannya. Marangsang dan rekan-rekan lelaki
berwajah bopeng membalikkan tubuh.
"Ada apa, Bagor?!"
tanya Marangsang bengis seraya menatap wajah lelaki berwajah bopeng dan Melati
bergantian.
"Wanita itu, Ketua. Dia
menyerangku...!" jawab lelaki berwajah bopeng yang bernama Bagor agak
terbata-bata, takut melihat sikap bengis pimpinannya.
"Keparat!" Marangsang
menggeram, "Berani kau bertindak seperti itu padanya, Wanita Liar?! Kau
tahu siapa kami?! Dengar...! Kami adalah Gerombolan Perompak Laut Hitam! Kau
akan menerima ganjaran yang setimpal atas tindakanmu!"
"Hmh!" Melati
mendengus, "Jangankan Gerombolan Perompak Laut Hitam. Biar kalian
Gerombolan Ibiis-Iblis Laut Hitam pun aku tak gentar!"
Marangsang menggertakkan gigi
mendengar ucapan Melati yang dirasakan menyinggung kehormatannya. Dengan raut
wajah bengis pandangannya dialihkan ke arah anak buahnya. Lalu....
"Tangkap dia!" perintah
lelaki bermuka kuda lantang.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
belasan orang kasar anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam segera bergerak.
Mereka mengurung Melati yang telah bersikap waspada. Rupanya gadis berpakaian
putih itu sudah siap menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Belasan anggota Gerombolan
Perompak Laut Hitam mendekati Melati dalam bentuk setengah lingkaran. Dan
ketika dirasakan jaraknya telah cukup dekat, mereka menerjang Melari. Rupanya
gerombolan itu masih menganggap ringan Melari. Mereka tidak menggunakan senjata
dalam penyerangan itu. Semua serangan dilakukan dengan tangan kosong.
"Hih!"
"Hiyaaat...!" "Hiyaaa...!"
Teriakan-teriakan keras
mengiringi meluncurnya serangan mereka. Serangan itu dilancarkan secara
bersamaan. Tapi Melati tetap tenang. Ditunggunya hingga dekat. Baru setelah itu
kakinya dijejakkan. Tubuh gadis itu melambung ke atas melewati kepala para
pengeroyoknya. Lalu....
Jiiggg!
Ringan laksana daun kering,
Melati mendaratkan kedua kakinya di luar kepungan. "Apa yang kalian
kerjakan di sana, Badut-Badut Jelek?! Aku disini!" ejek Melati. Kedua
tangannya melipat di depan dada.
Ucapan Melati membuat
lawan-lawannya membalikkan tubuh. Semula mereka heran melihat gadis berpakaian
putih itu mendadak lenyap. Memang, gerakan Melati ketika melompat terlalu
cepat. Sehingga tidak terlihat mata mereka.
"Keparat!"
Anggota Gerombolan Perompak Laut
Hitam yang berhidung besar memaki. Kemudian....
Srattt!
Sinar terang berkilat ketika
golok besar yang tergantung di punggungnya dicabut "Kucincang kau,
WanitaSundal!" teriak lelaki berhidung besar.
"Haaat..!"
Didahului teriakan keras dan
panjang, lelaki berhidung besar meluruk ke arah Melati. Golok besarnya
dibabatkan secara mendatar ke arah leher.
Wuttt!
"Heaaat!" Didahului
teriakan panjang, lelaki berhidung besar itu meluruk ke arah Melati. Golok
besarnya dibabatkan mendatar ke arah leher.
Wuttt!
Rambut Melati berkibaran ketika
golok itu lewat beberapa jari di atas kepalanya. Itu terjadi ketika Melati mengelakkan
serangan dengan mendoyongkan tubuhnya ke samping kanan.
Rambut dan pakaian Melati
berkibaran keras ketika golok itu lewat beberapa jari di atas kepalanya. Itu
terjadi ketika Melati mengelakkan serangan dengan mendoyongkan tubuhnya ke
samping kanan.
Dan sebelum anggota Gerombolan
Perompak Laut Hitam itu berbuat sesuatu, Melati telah menggerakkan tangan
kanannya. Cepat bukan main gerakannya. Sehingga....
Tappp! "Eh...?!"
Lelaki berhidung besar berseru
kaget ketika tahu-tahu pergelangan tangannya dicekal Melati. Seketika itu pula
tangannya ditarik untuk melepaskan cekalan.
Tapi betapa kagetnya lelaki
berhidung besar. Tindakannya sia-sia. Jangankan menarik pulang tangannya,
bergeming pun tidak. Tangannya seperti bukan dijepit tangan manusia. Tapi sebuah
jepit baja!
Meskipun demikian, anggota
Gerombolan Perompak Laut Hitam itu tidak putus asa. Tetap saja diusahakan
melepaskan tangannya dari cekalan Melati.
Di saat lelaki berhidung besar
berusaha keras, Melari melakukan gerakan. Gadis berpakaian putih itu ingin
memberi pelajaran pada semua anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam. Terutama
lawannya ini. Maka tanpa menunggu lebih lama, Melati menggerakkan jari-jari
tangannya. Meremas!
Krrrkkkhhh! "Aaakh...!"
Lelaki berhidung besar melolong
kesakitan. Tulang pergelangan tangannya hancur diiringi bunyi bergemeretak
keras.
Tindakan Melati tidak terhenti
sampai di situ. Sekali sentak tubuh anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam yang
sial itu tertarik ke arahnya. Dan kaki kanan Melati diluncurkan ke arah perut.
Bukkk! "Hukh!"
Sepasang mata lelaki berhidung
besar membelalak. Wajahnya merah padam. Kaki Melati mendarat telak di perut,
hingga membuatnya sesak napas.
Melati baru menghentikan
tindakannya. Cekalannya dilepaskan. Tubuh lelaki berhidung besar itu pun ambruk
ke tanah. Anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam itu pingsan.
"Siapa lagi yang ingin
mendapat hajaranku? Majulah!" tantang Melati. Tangannya dilipat di depan
dada.
Ucapan Melati membuat Marangsang
dan gerombolannya tersentak Memang, sejak tadi mereka terpaku melihat betapa
mudahnya Melati mengalahkan kawan mereka. Lebih tepatnya lagi mempermainkan.
Dan seiring dengan itu kemarahan
mereka timbul. Marangsang tampak sangat geram. "Cincang wanita liar
itu!" perintah lelaki bermuka kuda itu. Terasa jelas nada
kemarahan yang sangat dalam
suaranya.
Bagai kucing yang dibawakan sapu,
belasan lelaki kasar itu langsung bertindak Srat, srat, srat!
Sinar-sinar terang berkilauan
ketika belasan anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam mencabut senjatanya.
Kemudian dengan senjata terhunus,
mereka meluruk ke arah Melati. Ketika tiba dekat, senjata-senjata itu
diayunkan. Tak pelak lagi hujan senjata yang terdiri dari pedang, golok,
ruyung, dan senjata lainnya meluncur ke arah gadis berpakaian putih.
Tapi Melati tetap tenang. Tingkat
kepandaian lawan-lawannya terpaut jauh dengannya. Jadi, tidak ada yang perlu
dikhawatirkan. Ditunggunya hingga serangan lawan menyambar dekat. Lalu dengan
mengandalkan kecepatan geraknya semua serangan itu dielakkan.
Gesit laksana kera dan cepat
bagai bayangan, tubuh Melati menyelinap di antara kelebatan senjata lawan.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi tidak sulit Melari melakukan semua
itu.
Rupanya Melati bermaksud
mempermainkan lawan-lawannya. Sampai sepuluh jurus gadis itu hanya mengelak.
Tidak melancarkan serangan balasan satu pun. Bahkan menangkis pun tidak!
Dan kegagalan demi kegagalan
membuat Gerombolan Perompak Laut Hitam semakin kalap. Mereka tidak pernah mimpi
seorang wanita muda mampu melakukan hal ini. Menghadapi keroyokan mereka tanpa
melakukan tangkisan atau balasan sampai sepuluh jurus!
Kalau gerombolan lelaki kasar itu
tersinggung, apalagi Marangsang! Kepala Gerombolan Perompak Laut Hitam itu
mencak-mencak seperti kakek-kakek kebakaran jenggot.
***
Bagor yang ikut dalam
pengeroyokan, meskipun dengan terpincang-pincang, tak tahan lagi menahan
kedongkolannya.
"Apa kau tidak mampu
membalas, Wanita Sundal?! Apa yang kau bisa hanya mengelak saja? Hati-hati!
Bila berhasil kami tangkap, kau akan kami telanjangi, lalu kami perkosa sampai
mati!"
Untuk kedua kalinya Bagor
melakukan kesalahan berat. Bahkan kali ini lebih besar. Ucapan itu membuat
kemarahan Melati naik ke ubun-ubun. Akibatnya sungguh menggiriskan!
Saat itu juga Melati menghentikan
elakkannya. Tanpa ragu-ragu dipapakinya ayunan senjata yang tertuju ke arahnya
dengan tangan dan kaki.
Tak, tak, tak!
Bunyi berdetak keras seperti
logam beradu terdengar ketika tangan Melati berbenturan dengan senjata lawan.
Jeritan-jeritan pendek membumbung. Disusul dengan berpentalannya
senjata-senjata yang tergenggam di tangan anggota Gerombolan Perompak Laut
Hitam. Tubuh mereka terhuyung-huyung dengan tangan terasa sakit
Dan sebelum mereka bertindak,
tangan dan kaki Melati bergerak. Cepat bukan main. Anggota Gerombolan Perompak
Laut Hitam tidak mampu melihatnya. Tahu-tahu....
Buk, buk, buk!
Terdengar bunyi berdebuk keras
berturut-turut. Tubuh-tubuh anggota gerombolan terpentalan dengan nyawa
melayang meninggalkan raga. Pukulan maupun tendangan Melati telah membuat nyawa
mereka melayang. Setiap bagian tubuh yang terkena serangan hancur!
Rupanya di dalam kemarahan yang
bergelora Melati mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dan dalam menjatuhkan
serangan semua tenaga dalamnya dikerahkan. Hasilnya memang menggiriskan!
Hanya dalam segebrakan lima orang
anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam bergeletakan di tanah tanpa nyawa.
Mereka tewas setelah mengeluarkan jeritan menyayat. Bagor termasuk di antara
mereka.
Kejadian itu membuat anggota
Gerombolan Perompak Laut Hitam lainnya gentar. Mereka menghentikan serangan dan
melangkah mundur. Sementara Melati semakin beringas. Tewasnya kelima lawannya
tidak membuat gadis itu puas. Dengan wajah beringas dan sorot mata penuh
ancaman dihampirinya sisa gerombolan.
"Orang-orang seperti kalian
harus dilenyapkan dari muka bumi!" desis Melati, "Telah kuusahakan
sedapat mungkin untuk mengalah, tapi kalian terlalu memaksa. Kalianlah yang
telah menyebabkan terjadinya peristiwa ini, bukan aku. Sekarang aku tidak
bertindak tanggung-tanggung lagi."
"Sombong!"
Teriakan keras penuh kemarahan
menyambut ucapan Melari. Gadis berpakaian putih itu menoleh. Dilihatnya
Marangsang dengan wajah merah padam menahan marah.
Marangsang murka bukan main
melihat kematian anak buahnya. Lelaki itu tidak gentar melihat hasil tindakan
Melati. Dia pun mampu melakukan tindakan seperti itu. Tidak ada susahnya
membunuh gentong-gentong kosong?
"Jangan berbangga hati
karena berhasil membinasakan mereka, Wanita Sundal! Mereka hanya tong-tong
kosong! Akulah lawanmu! Hih!"
Srattt!
Marangsang mencabut golok
besarnya. Lalu sambil mengeluarkan teriakan melengking nyaring, diterjangnya
Melati.
Golok besarnya diputar di atas
kepala bagai kitiran, hingga bentuknya lenyap. Marangsang baru melancarkan
serangan ketika telah berada dekat. Golok besarnya ditusukkan bertubi-tubi ke
arah dada, ulu hati, dan leher.
Melati tahu serangan kali ini
tidak bisa disamakan dengan serangan-serangan sebelumnya. Yang menyerangnya
adalah Marangsang, sang Pimpinan. Tentu saja jauh lebih dahsyat dari serangan anak
buahnya. Tapi walaupun begitu, Melati tidak gentar.
Gadis berpakaian putih itu
bermaksud menghadapinya dengan tangan kosong!
Melati memusatkan perhatiannya
pada gerakan golok lawan. Dan ketika telah menyambar dekat, ditangkisnya
tusukan Marangsang dengan kedua telapak tangan yang dirangkapkan.
Kreppp!
Tindakan Melati berhasil. Batang
golok Marangsang terjepit di antara kedua telapak tangannya. Ujung golok hanya
berjarak beberapa jari dari dada Melati.
Hasil serangan itu membuat
Marangsang penasaran. Dengan sebuah tekanan, ujung goloknya akan menembus dada
Melati. Maka seluruh tertaga dalamnya dikeluarkan agar bisa mendorong ujung
golok itu ke dada lawan.
Tapi seperti juga anak buahnya,
Marangsang mengalami hal yang sama. Betapa pun telah dikerahkan seluruh
tenaganya, goloknya tidak mau maju. Marangsang segera sadar tidak ada gunanya
lagi usahanya diteruskan. Maka diputuskan untuk menggunakan cara lain.
Marangsang menggunakan tangan yang lain untuk melaksanakan rencananya. Tangan
kirinya mencabut golok pendek yang terselip di pinggang. Kemudian
mengayunkannya ke leher Melati.
Cepat tindakan Marangsang. Tapi
masih lebih cepat tindakan Melati. Dengan kedua tangan tetap menjepit batang
golok, Melati mendorongnya! Marangsang terjengkang ke belakang dan jatuh bergulingan.
Melihat Marangsang
terguling-guling, anak buahnya tidak bisa tinggal diam. Mereka bersiap
melancarkan serangan.
"Hmh!"
Melati mendengus melihat
kenekatan mereka. Setelah terdiam sesaat, gadis berpakaian putih itu
mengeluarkan siulan. Mula-mula pelan. Semakin lama semakin tinggi.
Dan seiring dengan semakin
meningginya siulan Melati, Marangsang dan anak buahnya merasakan sakit pada
telinga. Semakin lama rasa sakit itu makin menjadi-jadi. Bukan hanya telinga,
tapi juga dada dan kepala. Seperti ada jarum yang menusuk-nusuk.
Gerombolan Perompak Laut Hitam
kelabakan. Buru-buru senjata yang tergenggam di tangan dibuang. Kedua tangan
mereka digunakan untuk mendekap telinga, berusaha mencegah masuknya suara
siulan Melati.
Tapi usaha mereka tidak terlalu
membuahkan hasil. Siulan Melati mampu menyelusup, meski kedua telinga mereka
telah didekap. Akibatnya, belasan orang Gerombolan Perompak Laut Hitam
berkelojotan seperti cacing kepanasan. Di saat yang gawat itu, mendadak...
Bangngng, bangngng!
Bunyi berdentam-dentam keras
memendam suara siulan Melati. Saat itu juga, pengaruh siulan Melari lenyap.
Marangsang dan anak buahnya
segera bangkit. Kemudian tanpa menunggu lebih lama, melesat kabur meninggalkan
tempat itu. Gerombolan Perompak Laut Hitam sadar Melati bukan tandingan mereka.
Kalau tetap bersikeras melawan, itu sama dengan mengantarkan nyawa sia-sia.
Tindakan gerombolan itu tidak
luput dari perhatian Melati. Namun, gadis berpakaian putih itu tidak
mempedulikannya. Melati lebih memusatkan perhatian pada orang yang telah
menimbulkan bunyi riuh, hingga menghilangkan pengaruh siulannya.
Melati tidak perlu menunggu lama.
Sesaat kemudian, melesat sesosok tubuh ke arahnya. Melati hampir tidak bisa
menahan rasa gelinya ketika melihat gerakan sosok itu. Berlari atau
menggelindingkah dia? Tanya gadis itu dalam hati.
Tidak salah kalau Melati
mengeluarkan pertanyaan itu. Sosok yang tengah menuju ke arahnya memang tidak
seperti berlari, tapi menggelinding!
"Hup!"
Hanya sekejap sosok itu telah
berjarak tiga tombak dari Melati. Lalu menghentikan gerakannya. Kesempatan itu
dipergunakan Melati untuk memperhatikannya.
Kembali Melati hampir tidak kuat
menahan rasa geli. Sosok yang berdiri di hadapannya hampir tidak mirip manusia.
Sosok itu bertubuh pendek gemuk. Malah terlalu pendek dan gemuk. Kedua kaki dan
tangannya pendek-pendek!
Ciri-ciri itu saja sudah membuat
sosok itu mirip bola. Masih ditambah lagi dengan bentuk anggota tubuhnya yang
serba bulat. Matanya, hidungnya, mulutnya, juga kupingnya. Yang lebih gila
lagi, sosok itu sepertinya ingin memamerkan bentuk tubuhnya. Pakaiannya yang
berupa rompi putih terlalu kecil, sehingga mencetak tubuhnya. Bahkan bagian
perutnya tidak tertutup sama sekali.
"Mengapa tersenyum-senyum,
Anak Manis?! Apakah ada yang lucu?" tanya sosok pendek gemuk itu seraya
mengembangkan senyum.
Senyuman pada wajahnya membuat
sosok pendek gemuk terlihat lebih muda. Meskipun demikian, sulit memperkirakan
usianya. Wajah dan potongan tubuhnya masih padat. Apalagi tidak ada kumis,
jenggot, atau cambang.
Belum sempat Melati memberikan
jawaban terdengar suara serak dan keras menyahuti. Suara itu lebih pantas
keluar dari mulut seekor burung gagak.
"Monyet Busuk! Kadal Buduk!
Anjing Kurap! Lagi-lagi aku kalah cepat denganmu, SetanTertawa! Tapi, jangan
harap aku akan mengalah!"
Dan sebelum gema ucapan yang
mampu membuat tempat itu dan dada Melati bergetar hebat lenyap. Berkelebat
sesosok bayangan hitam.
Jliggg!
Ringan tanpa suara sosok bayangan
hitam mendarat di depan Melati. Juga dalam jarak tiga tombak. Bedanya sosok
pendek gemuk yang dipanggil Setan Tertawa di sebelah kanan, sedang sosok hitam
itu di sebelah kiri.
Melati mengarahkan pandangan ke
arah sosok hitam yang baru tiba. Kening gadis itu langsung berkerut. Sosok itu
memiliki ciri-ciri yang berlawanan dengan Setan Tertawa.
Sosok hitam itu bertubuh tinggi
kurus. Bahkan terlalu tinggi dan kurus, hingga tak ubahnya tangga. Wajahnya
yang dihiasi kumis dan jenggot jarang-jarang kelihatan muram. Bibirnya selalu
bergerak-gerak seperti orang menangis. Aneh sekali!
Tapi rasa heran yang melingkupi
Melari langsung lenyap ketika mendengar ucapan SetanTertawa.
"Aku pun tidak mengharapkan
kau mengalah, Dewa Pencabut Nyawa! Kita lihat saja siapa yang berhasil
mendapatkannya!" seru Setan Tertawa gembira.
"SetanTertawa? Dewa Pencabut
Nyawa?" tanya Melati dengan hati berdebar tegang. Dua julukan itu pernah
didengarnya. Menurut berita Setan Tertawa dan Dewa
Pencabut Nyawa adalah datuk-datuk
golongan hitam yang berkepandaian sangat tinggi. Setan Tertawa merajai bagian
utara, sedang bagian selatan dikuasai Dewa Pencabut Nyawa.
Kabarnya telah ratusan kali dua
datuk itu bertarung. Tapi tak ada seorang pun pernah mengalahkan mereka.
Jangankan mengalah, menandingi saja tidak mampu. Semuanya roboh! Selama puluhan
tahun keduanya merajalela di dunia persikitan tanpa ada yang menghalangi. Setan
Tertawa dan Dewa Pencabut Nyawa memang sangat tinggi ilmunya. Beberapa kali
mereka bertarung untuk menentukan siapa yang lebih pandai dan parut menyandang
gelar tokoh nomor satu. Tapi, selalu saja hasil pertarungan berakhir seri.
Walaupun begitu, yang membuat
tokoh-tokoh persikitan baik golongan hitam maupun putih merasa ngeri bukan
kepandaiannya. Tapi kekejamannya. Kekejaman kedua datuk sesat itu mampu membuat
tokoh yang paling kejam sekalipun bergidik ngeri! Dan sekarang dua datuk yang
menggiriskan itu berada di hadapan Melati!
Sungguh pun perasaan tegang
melanda Melati mampu bersikap tenang. Gadis itu tahu kedua kakek di hadapannya
berkepandaian tinggi. Suatu tindakan yang bijaksana bila menjauhkan terciptanya
masalah. Apalagi saat itu Dewa Arak berada dalam keadaan yang tidak
menguntungkan!
Maka dengan sikap tidak peduli
dan seakan-akan tidak mengenal kedua kakek itu, Melati mengayunkan langkah ke
tempatnya semula. Lalu duduk di akar pohon yang melintang.
4
"He he he...! Hati-hati,
Anak Manis. Jangan duduk di situ. Kadang-kadang dari atas pohon ada ular
menyerang!" ujar Setan Tertawa sambil terkekeh.
Sepintas tidak ada yang aneh
dalam ucapan Setan Tertawa. Kakek gemuk pendek itu bermaksud baik dengan
memberi nasihat.Tapi Melati bukan gadis yang masih hijau. Dia telah cukup
kenyang merasakan kerasnya dunia persikitan. Ditambah dengan pengetahuan yang
didapatnya dari Dewa Arak. Maka, Melati dapat merasakan kelainan dalam ucapan
Setan Tertawa. Ada getaran aneh di dalamnya. Bahkan sepasang mata kakek gemuk
pendek itu berkilat-kilat aneh!
Melati bersikap waspada. Seluruh
perhatiannya dipusatkan pada telinga dan mata. Saat itulah....
Ssszzz...!
Bunyi mendesis keras dari atas
pohon membuat Melati terperanjat. Apalagi ketika mendengar desir angin
menyambar ke arahnya. Melati segera mengetahui ada bahaya mengancam. Maka
tubuhnya buru-buru direbahkan. Pada saat yang bersamaan pedangnya dicabut
Srattt!
Sinar terang berkilau ketika
pedang itu terhunus. Wusss! Singngng!
Crottt!
Rentetan kejadiannya demikian
cepat. Dari atas pohon seekor ular melesat cepat hendak mematuk Melati. Tapi
sebelum binatang melata itu berhasil melaksanakan maksudnya, pedang Melati
telah lebih dulu berkelebat dan memutuskan tubuhnya.
Plukkk!
Begitu jatuh ke tanah, tubuh ular
itu lenyap. Yang terlihat di sana potongan ranting. "Permainan anak-anakmu
tidak berguna, Setan Tertawa," celetuk Dewa Pencabut
Nyawa dengan bibir bergerak-gerak
seperti orang hendak menangis. "Biarlah aku yang meneruskannya," usai
berkata, kakek tinggi kurus itu melambaikan tangan kanannya pada Melati.
Gadis berpakaian putih itu merasa
heran. Apa maksud Dewa Pencabut Nyawa? Dan sesaat kemudian, pertanyaan itu
terjawab. Melati terkejut bukan main. Sebuah kekuatan aneh yang tak nampak
menarik tubuhnya ke arah Dewa Pencabut Nyawa!
Kejadiannya berlangsung demikian
cepat. Melati yang tengah berdiri dengan pedang melintang di depan dada langsung
tertarik ke arah kakek tinggi kurus. Namun di saat tubuhnya melayang ke arah
Dewa Pencabut Nyawa, Melati tidak ringgal diam. Seluruh tenaga dalamnya
dikerahkan untuk bertahan. Usahanya tidak sia-sia. Laju tubuhnya menurun jauh!
Meskipun demikian, tubuh Melati
tetap tertarik. Hanya saja dengan cara yang tidak mudah. Kedua kaki Melati
seperti berakar dalam tanah. Sehingga meskipun tetap tertarik, akibatnya
menimbulkan guratan yang dalam pada tanah. Debu mengepul tinggi ke udara.
Melati menggertakkan gigi dalam
usahanya mengerahkan seluruh tenaga dalam. Wajahnya merah padam. Namun daya
tarik aneh itu sangat kuat. Sehingga betapa pun Melati telah mengerahkan
seluruh kemampuannya tetap saja tubuhnya meluncur ke arah Dewa Pencabut Nyawa.
Melati pun sadar tidak ada
gunanya melawan. Kekuatan lawan terlalu kuat. Tapi meskipun begitu, gadis
berpakaian putih itu tidak putus asa. Dalam waktu yang sangat sempit benaknya
diputar untuk mencari jalan meloloskan diri.
Beruntung cara itu segera
ditemukan. Melati memutuskan memanfaatkan serangan unik Dewa Pencabut Nyawa.
Melari langsung menghentikan perlawanannya. Akibatnya, tubuh gadis berpakaian
putih itu melayang deras ke arah Dewa Pencabut Nyawa. Hal inilah yang
ditunggu-tunggu Melati. Melayangnya tubuhnya ke arah lawan dipergunakan
sebaik-baiknya.
Wungngng!
Bunyi menggerung keras seperti
naga mengamuk terdengar ketika Melari menusukkan pedangnya ke arah leher Dewa
Pencabut Nyawa. Inilah 'Ilmu Pedang Seribu Naga' yang menjadi andalan Melati.
Melihat dari langsung dikeluarkannya ilmu ini, bisa diketahui Melati menyadari
Dewa Pencabut Nyawa seorang lawan yang sangat tangguh!
"Hmh!"
Dewa Pencabut Nyawa mengeluarkan
dengusan mengejek untuk menutupi keterkejutannya melihat Melati mampu
mempergunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan mematikan.
Seiring keluarnya dengusan itu
Dewa Pencabut Nyawa langsung mengibaskan tangan. Sama seperti sebelumnya,
gerakan itu dilakukan tanpa pengerahan tenaga sama sekali. Tapi hasilnya luar
biasa!
"Uh!"
Keluhan tertahan keluar dari
mulut Melati ketika dirasakan ada kekuatan tak nampak melempar tubuhnya ke
belakang. Gadis berpakaian putih itu tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
Yang diketahuinya dia merasa seperti menabrak dinding kasat mata. Kemudian ada
sebuah kekuatan tak terlihat melemparkan tubuhnya!
Tapi, untuk yang kedua kalinya
Melati berhasil mematahkan gebrakan aneh Dewa Pencabut Nyawa. Melati
menggunakan kekuatan tak nampak itu untuk bersalto di udara beberapa kali. Dan
di saat tubuhnya berada di udara tangan kirinya dihentakkan!
"Hih!" Wusss!
Serentetan angin keras menghambur
dari telapak tangan Melati. Dan meluncur ke arah Dewa Pencabut Nyawa. Inilah
jurus''Naga Merah Membuang Mustika'!
"Hehhh...?!"
Seruan kaget langsung terdengar.
Dewa Pencabut Nyawa sedikit pun tidak menyangka akan terjadi seperti ini.
Apalagi ketika menyadari serangan jarak jauh Melati sangat dahsyat.
Namun kakek tinggi kurus tidak
gentar. Kemenangan demi kemenangan yang diperolehnya selama ratusan kali
bertarung membuatnya yakin akan kemampuan diri. Maka tanpa ragu-ragu
dipapakinya serangan itu dengan bentakan tangan kirinya!
Wusss! Blarrr!
Terdengar ledakan keras laksana
halilintar menyambar. Akibatnya menggiriskan hati. Getaran dahsyat yang melanda
membuat daun-daun berguguran!
Akibat yang lebih hebat dialami
dua tokoh yang saling melancarkan pukulan jarak jauh. Baik Melati maupun Dewa
Pencabut Nyawa terdorong ke belakang. Hanya saja keadaan yang dialami Melati
jauh lebih parah. Gadis berpakaian putih itu tidak hanya terjengkang lebih
jauh, bahkan sampai terguling-guling ke tanah.
Tapi bukan berarti Melati sudah
tidak berdaya. Diakui dadanya terasa sesak, namun itu tidak menghalangi
tindakan selanjutnya. Dengan gerakan manis Melari melentingkan tubuh dan
mendarat dengan kedua kaki lebih dulu.
***
"Sudah terlalu lama kau
bermain-main dengannya, Dewa Pencabut Nyawa. Sekarang biarkan aku yang
melayaninya!" Setan Tertawa langsung bertindak. Laksana sebuah bola,
tubuhnya digelindingkan. Bunyi riuh rendah seperti batu-batu besar bergelinding
mengiringi menggelindingnya tubuh kakek gemuk pendek itu.
Melati mengernyitkan dahi melihat
cara penyerangan yang unik itu. Begitu terdengar teriakan Setan Tertawa, Melati
memang segera mengalihkan perhatiannya dari Dewa Pencabut Nyawa. Dan sekarang
gadis berpakaian putih itu menatap SetanTertawa tanpa berkedip.
Sementara itu, setelah jaraknya
semakin dekat dengan Melati, Setan Tertawa melenting ke atas. Gerakan yang
dilakukannya seperti loncatan seekor katak. Tapi, jangan coba-coba memandang
rendah. Akibatnya akan membuatnyawa melayang!
Itu disadari oleh Melati. Maka
begitu tubuh Setan Tertawa melenting, kewaspadaannya semakin ditingkatkan. Dia
tahu Setan Tertawa telah mulai menyerang. Dugaan Melati tepat.
Begitu tubuhnya berada di udara,
Setan Tertawa melancarkan serangan. Tangan kanannya disampokkan ke arah pelipis
gadis itu.
Wuttt!
Angin menderu keras begitu tangan
Setan Tertawa meluncur. Ini menjadi pertanda sampokan itu mengandung tenaga
dalam kuat. Dan memang, jangankan kepala manusia, batu karang yang paling keras
pun akan hancur bila terkena sampokan Setan Tertawa.
Tentu saja kenyataan demikian
disadari Melati. Hingga gadis itu tidak berani bertindak gegabah. Seraya
menarik kaki kanannya, tubuhnya dicondongkan ke belakang. Pada saat yang
bersamaan pedangnya dibabatkan untuk memapaki serangan lawan.
Menurut perkiraan Melati, Setan
Tertawa akan membatalkan serangannya. Sebab bila kakek gemuk pendek itu
meneruskan maksudnya, pergelangan tangannya akan berbenturan dengan pedang
Melati. Tapi betapa kagetnya Melati ketika melihat Setan Tertawa tidak
melakukan tindakan seperti yang diperkirakannya. Setan Tertawa tidak menarik
serangannya! Sudah gilakah kakek ini? Kalau tidak, mana mungkin menangkis
babatan pedang dengan tangan telanjang? Dewa Arak saja tidak berani melakukan
hal seperti itu! Ataukah Setan Tertawa memiliki tenaga dalam melebihi Dewa
Arak?!
Wungngng! Takkk! "Ikh!"
Tanpa sadar Melati menjerit
kaget. Dengan mata kepala sendiri dilihatnya pedang berbenturan dengan
pergelangan tangan Setan Tertawa. Tapi, tangan kakek gemuk pendek itu tidak
apa-apa. Jangankan putus, tergores pun tidak!
Lain halnya dengan Melari.
Benturan itu mengakibatkan telapak tangan kanannya terasa pedas. Rasa linu
melanda sekujur tangannya. Bahkan dia tidak mampu menahan tubuhnya yang terhuyung.
Sementara itu, tindakan Setan
Tertawa tidak berhenti sampai di situ. Tangan kirinya dengan jari-jari terbuka
membentuk cakar dilayangkan ke arah perut Melati.
Melati terperanjat. Cepatnya
serangan susulan itu meluncur membuatnya tidak sempat menggerakkan pedang atau
mengelak. Jalan satu-satunya hanya menangkis dengan tangan kiri. Itulah yang
dilakukannya! Melati memapaki serangan itu dengan kedudukan jari-jari tangan
sama dengan lawan.
Prattt!
Kembali benturan terjadi. Kali
ini antara dua tangan yang dialiri tenaga dalam kuat! Akibatnya tubuh Melati
terjengkang ke belakang, dan mungkin jatuh kalau tidak segera mematahkan
kekuatan daya dorongnya. Setan Tertawa pun demikian. Tapi, kakek gemuk pendek
itu hanya terhuyung-huyung dua langkah ke belakang.
"He he he...! Luar biasa...!
Luar biasa...! Baru sekarang kutemukan seorang wanita muda memiliki kemampuan
luar biasa! Kau tidak terlalu mengecewakan untuk dijadikan lawan bertarung,
Nisanak! Sayang, aku tengah mempunyai urusan yang amat penting di Desa Sampan.
Lain kali kita akan jumpa lagi! He he he...!"
Melati yang sudah bersiap
menghadapi serangan lanjutan Setan Tertawa tidak segera mempercayai ucapan itu.
Gadis itu tetap melintangkan pedangnya di depan dada. Siap menghadapi segala
kemungkinan yang tidak diharapkan. Sepatah pun tidak disambutinya ucapan
SetanTertawa. Yang menyambuti celoteh Setan Tertawa justru Dewa Pencabut Nyawa.
"Hmh...! Sejak dulu watakmu masih belum juga berubah, Setan Tertawa. Manis
di
mulut, tapi pahit dirasakan. Mana
mungkin wanita ini akan bertemu denganmu lagi! Dasar ular kepala dua!"
Wajah Dewa Pencabut Nyawa yang sudah muram itu semakin bertambah layu.
Memang, aneh untuk dilihat! Kalau
Setan Tertawa bila bicara raut wajahnya penuh seri kegembiraan, membuat usianya
seperti bertambah muda. Tidak demikian dengan Dewa Pencabut Nyawa. Setiap kali
bicara raut wajahnya yang sedih bertambah muram. Hingga terlihat bertambah tua
dan seperti orang hendak menangis!
Setan Tertawa tidak menanggapi
ucapan kawannya. Dia melesat meninggalkan tempat itu. Aneh sekali caranya
berlari. Setan Tertawa berlari seperti bola menggelinding. Melihat hal itu,
Dewa Pencabut Nyawa tidak berdiam diri. Sekali kakinya dijejakkan tubuhnya
melesat ke depan mengejar Setan Tertawa. Caranya berlari tak kalah aneh. Kakek
tinggi kurus itu tidak
hanya menggunakan kaki, tapi juga
tangan! Namun anehnya justru dengan cara itu kecepatan larinya jadi luar biasa.
***
"Hhh...!"
Melati menghela napas lega
melihat kedua datuk sesaat berkepandaian menggiriskan hati itu lenyap di balik
kerimbunan semak-semak dan pepohonan lebat. Kemudian gadis itu mengayunkan kaki
ke tempatnya menunggu Arya.
Tapi baru saja Melari melongokkan
kepalanya, dari tempat itu melesat ke atas sesosok bayangan. Kejadian-kejadian
sebelumnya membuat Melati bersikap sangat hati-hati. Maka buru-buru tubuhnya
dilempar ke belakang. Dan selagi berada di udara pedangnya dicabut.
Srattt! Jliggg!
Begitu kedua kakinya hinggap di
tanah di tangan Melati telah terhunus pedang. Semua urat saraf dan otot
tubuhnya menegang waspada, siap menghadapi segala kemungkinan.
Tapi begitu melihat sosok yang
kini telah berdiri tegak di hadapannya, seluruh otot dan urat saraf Melati
mengendur. Sosok yang melesat dari dalam jurang itu ternyata Arya!
"Ada apa, Melati?"
tanya Arya heran bercampur kaget.
"Ah... tidak Kang,"
jawab Melati sambil menyarungkan pedangnya.
Arya menatap wajah kekasihnya
penuh selidik seraya berjalan menghampiri. Dia merasa ragu mendengar jawaban
Melati. Tidak mungkin Melati akan bertindak seperti itu jika tidak terjadi
sesuatu yang luar biasa.
"Ceritakanlah, Melati Apa
yang telah terjadi sewaktu aku turun ke bawah?!" desak Arya penasaran.
Pemuda berambut putih keperakan
itu merayapi sekujur tubuh Melari dengan sorot matanya.
Tampak butiran-butiran peluh di
wajah gadis itu. Bahkan cukup banyak. Terutama di dahi dan leher. Kenyataan ini
sudah menunjukkan telah terjadi sesuatu sepeninggalnya tadi. Kecurigaan Arya
semakin bertambah ketika melihat pakaian putih kekasihnya kotor. Jelas, Melati
telah bergulingan di tanah. Tapi mengapa?
"Lebih baik kau ceritakan
dulu hasil yang kau dapat di bawah sana, Kang. Maaf, aku belum bisa
menceritakan peristiwa yang terjadi. Aku masih belum bisa menghilangkan rasa
kagetku...!"
"Baiklah kalau begitu,"
Arya mengalah.
Pemuda berambut putih keperakan
itu menyeka peluh yang membasahi wajahnya sebelum mulai bercerita. Agaknya
tindakan yang baru dilakukannya tadi telah menguras seluruh tenaganya.
"Sosok di dalam jurang itu
memang pemilik jeritan yang kita dengar," Arya memulai keterangan-nya.
"Jadi... dia masih hidup,
Kang?" selak Melari tidak sabar.
"Semula memang dia masih
hidup, tapi sekarang sudah tewas. Luka-luka yang dideritanya terlalu parah. Dia
mampu bertahan hidup sampai aku temukan. Ini merupakan suatu keajaiban. Daya
tahan tubuhnya luar biasa sekali!" jelas Arya.
"Lalu..., apakah dia sempat
memberitahu penyebab kematiannya, Kang?" kejar Melari. Arya mengangguk,
"Dia hendak mengambil hasil sadapannya. Tapi, serombongan
orang berpakaian pasukan kerajaan
menghadang. Mereka menanyakan letak Desa Sampan. Penduduk yang malang itu
memberitahukannya."
"Desa Sampan...?
Aneh...!" desah Melari dengan kening berkernyit.
"Mengapa, Melati? Apakah ada
sesuatu yang aneh?!" tanya Arya ingin tahu melihat tanggapan kekasihnya.
"Aneh sih, tidak. Hanya
saja.... Ah! Lebih baik nanti saja kueeritakan. Lalu..., mengapa dia dibunuh,
Kang?" terasa jelas nada penasaran dalam ucapan gadis berpakaian putih
itu.
"Aku sendiri tidak tahu
pasti, Melati. Mungkin karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan selanjutnya.
Orang-orang berseragam pasukan kerajaan itu menanyakan tempat tinggal orang
yang bernama Garang Laksa."
"Garang Laksa?!" ulang
Melati meminta kepastian. "Benar, Melati. Garang Laksa."
Melati terdiam. Mungkinkah ada
hubungannya dengan Gerombolan Perompak Laut Hitam, dan Setan Tertawa, serta
Dewa Pencabut Nyawa? Bukankah mereka mencari Desa Sampan? Apakah mereka juga
mencari Garang Laksa?
"Ada apa, Melati? Mengapa
kau termenung? Sekarang ceritakan apa yang telah terjadi sepeninggalku?"
Ucapan Arya membuyarkan lamunan
Melati Gadis berpakaian putih itu menatap wajah kekasihnya sesaat.
"Memang banyak terjadi
peristiwa saat kau turun ke bawah, Kang. Anehnya mereka semua menanyakan Desa
Sampan?! Mungkinkah yang mereka cari sama dengan yang tengah diselidiki
gerombolan orang berseragam pasukan kerajaan?"
Lalu Melati menceritakan semua
kejadian yang dialaminya. Arya mendengarkan dengan penuh perasaan tertarik. Tak
sekalipun dipotongnya hingga Melati menyelesaikan ceritanya.
"Itulah yang terjadi
sepeninggalmu, Kang," tutur Melati menutup ceritanya.
"Setan Tertawa... Dewa
Pencabut Nyawa.... Mereka adalah dua datuk sesat yang luar biasa pandai dan
kejam. Untung mereka tidak menurunkan tangan jahat kepadamu. Dan.... Melati!
Kenapa kau...?!"
Arya menghentikan ucapannya.
Dilihatnya tubuh Melati mendadak limbung. Wajah gadis berpakaian putih itu
pucat pasi bagai mayat. Jelas, ada sesuatu yang tengah terjadi padanya.
Demikian dugaan Arya.
Jawaban bagi pertanyaan Arya
adalah robohnya tubuh Melati. Tapi sebelum ambruk ke tanah, Arya telah lebih
dulu menangkap tubuh gadis itu.
5
Tanpa membuang-buang waktu, Arya
segera membopong Melati dan membawanya ke tempat teduh. Di bawah sebatang pohon
yang berumput tebal tubuh gadis berpakaian putih itu dibaringkan.
"Mengapa, Melati? Apa yang
kau rasakan?" tanya Arya sangat khawatir.
Bisa dimaklumi mengapa pemuda
berambut putih keperakan itu demikian khawatir. Wajah Melari pucat pasi.
Keringat sebesar-besar jagung menghias wajahnya. Tapi yang lebih membuat Arya
cemas adalah bintik-bintik hitam di wajah Melati. Bintik-bintik itu semakin
banyak!
Perlahan-lahan Melati membuka
kelopak matanya. Tapi kemudian ditutupnya kembali. "Aku... aku tidak tahu,
Kang. Aku merasa lemas dan pusing. Aku... aku tidak mampu menggerakkan
jari-jariku...," terdengar suara Melati terputus-putus seperti orang
gagap.
Arya tercenung. Pemuda itu
kelihatan sedang berpikir keras hingga dahinya berkerut "Aku yakin kau
terkena racun, Melati. Cobalah kau ingat-ingat. Barangkali ada
serangan lawan yang
mengenaimu.... Atau... ada yang telah menyemprotkan serbuk... Atau... yang
lainnya. Ingat-ingatlah, Melati."
"Akan... akan kucoba,
Kang."
Melati berusaha keras
mengingat-ingat kejadian yang telah dialaminya. "Apa yang kau duga tidak
pernah terjadi, Kang. Tidak ada satu pun serangan lawan yang mengenaiku.Tapi...
aku ingat ucapan Dewa Pencabut Nyawa sebelum pergi."
"Coba ulangi perkataannya,
Melati," desak Arya tidak sabar.
Kembali Melati mengernyitkan dahi
berusaha mengingat-ingat. "Hmh...! Sejak dulu watakmu masih belum juga
berubah, Setan Tertawa. Manis di mulut, tapi pahit dirasakan. Mana mungkin
wanita ini akan bertemu denganmu lagi! Dasar ular kepada dua!" Melati
mengulangi ucapan Dewa Pencabut Nyawa.
Arya mengangguk-angguk. Rupanya
pemuda itu telah berhasil menarik sebuah kesimpulan. "Kapan dia
mengucapkan pernyataan itu, Melati?!"
"Setelah SetanTertawa
mengucapkan pujiannya padaku, karena berhasil mematahkan serangan-serangan
beruntunnya. Ah...! Aku ingat, Kang! Aku telah berbenturan tangan dengan
SetanTertawa!"
"Kalau begitu..., biar
kulihat tanganmu!"
Dewa Arak segera menggulung
lengan baju Melati. Seketika itu pula dia terperanjat. Pada pergelangan tangan
Melari tampak bintik-bintik hitam sebesar ibu jari.
Rasa penasaran membuat Dewa Arak
menggulung lengan baju yang satu. Hasil yang didapat membuatnya yakin akan kebenaran
dugaan Melati. Pada tangan kanan, meskipun terdapat tanda hitam, tapi berupa
ritik-titik kecil. Jelas, racun itu berasal dari benturan tangan Melati dengan
Setan Tertawa.
"Dugaanmu benar,
Melati," ucap Arya. Pemuda berambut putih keperakan itu menerawangkan
pandangannya ke langit. "Setan Tertawa! Percayalah...! Aku tidak akan
melepaskanmu atas kekejian yang telah kau lakukan ini."
Arya kemudian menurunkan guci
arak dari punggungnya "Tidak ada jalan lain, Melati. Terpaksa kau harus
meminum arakku. Buka mulutmu!"
Masih dalam keadaan tetap
terpejam, Melati membuka mulutnya. Arya segera menuangkan araknya.
Gluk....Gluk.....Gluk..!
Bunyi tegukan terdengar ketika
arak itu melalui tenggorokan Melati. Kemudian Arya menaruh kembali guci araknya
di punggung. Itu semua dilakukan tanpa melepaskan perhatiannya dari Melati.
Tak berapa lama, Arya melihat
desah napas Melari mulai teratur. Tanpa memeriksa lagi ia tahu Melati telah
tertidur. Agaknya arak Arya tengah menunjukkan khasiatnya.
Di saat Melati terlelap Arya
menghubung-hubungkan semua kejadian itu. Baik yang dialaminya maupun dialami
Melati. Hasilnya adalah munculnya berbagai pertanyaan.
Mengapa tokoh-tokoh persikitan
dan orang-orang kerajaan menuju Desa Sampan? Apakah benar untuk mencari Garang
Laksa? Lalu, orang macam apakah Garang Laksa itu, sehingga datuk-datuk sesat
seperti Setan Tertawa dan Dewa Pencabut Nyawa sampai ikut-ikutan mencari?
Dewa Arak tahu tokoh seperti
Setan Tertawa dan Dewa Pencabut Nyawa tidak akan melakukan hal seperti itu
kalau tidak karena urusan yang sangat penting! Apakah urusan itu? Kembali satu
pertanyaan bergayut di benak Dewa Arak.
Mendadak Dewa Arak tersentak
ketika teringat sesuatu! Bukankah dia tengah menuju Desa Sampan juga? Dan
bukankah Benggala dan kawan-kawannya berada di Desa Sampan?! Celaka! Mereka
pasti berada dalam bahaya.
"Uh...!"
Keluhan Melati menyadarkan Arya
dari lamunannya. Buru-buru pemuda berambut putih keperakan itu mengalihkan
perhatiannya. Seketika itu pula raut wajahnya menyiratkan kegembiraan.
Titik-titik hitam di wajah Melati lenyap! Racun itu telah berhasil dipunahkan.
Rasa penasaran memaksa Arya
melihat tangan kiri Melati. Kenyataan yang dilihatnya pun sama. Tangan itu
mulus! Tidak ada noda-noda hitam sebesar ibu jari lagi. Semuanya lenyap. Arak
Arya ternyata benar-benar manjur dan bekerja cepat. Kegembiraan Arya semakin
bertambah ketika melihat Melati membuka matanya. Bahkan kemudian bangkit dan
duduk.
"Syukur racun itu berhasil
dipunahkan, Melati," ucap Arya gembira. "Arakmu memang manjur,
Kang," timpal Melati tersenyum manis. Arya hanya menyunggingkan senyum
lebar sebagai jawabannya.
"Kurasa kita harus
cepat-cepat ke Desa Sampan, Kang!" sambil berkata demikian, Melati bangkit
berdiri.
"Tenanglah, Melati. Tidak
usah terburu-buru. Kau belum sembuh benar. Dan...." "Aku sudah
sembuh, Kang," bantah Melati.
"Tapi... wajahmu masih
pucat, Melati. Lagi pula...."
"Hanya lemas sedikit. Aku
yakin di tengah perjalanan tenagaku akan pulih kembali," timpal Melati.
"Cepatlah kita ke sana, Kang. Aku khawatir mereka telah menyebar onar di
sana! Ayolah, Kang! Tunggu apa lagi?!"
Dewa Arak tidak segera menanggapi. Pemuda itu tercenung berusaha mempertimbangkan. Dan sesaat kemudian jawabannya
diberikan.
"Baiklah kalau kau memang
sanggup, Melati," ujar Arya mengalah.
***
Brakkk!
Bunyi berderak keras mengawali
hancurnya daun pintu sebuah pondok sederhana. Salah seorang dari rombongan
orang berpakaian seragam kerajaan telah menendangnya. Bunyi hiruk-pikuk itu
menyebabkan pemilik rumah bergegas keluar ingin melihat penyebab timbulnya
bunyi riuh rendah itu.
Tapi sebelum mencapai pintu sang
pemilik rumah, seorang lelaki setengah baya berjenggot jarang-jarang, segera
membalikkan tubuhnya. Sudah dapat diduga maksudnya. Lelaki itu hendak
meninggalkan tempat itu. Sebab dilihatnya pintunya hancur berantakan dan di
depan rumah berkumpul banyak orang dengan gelegat mencurigakan.
"Berhenti, Tua Bangka!
Atau... kau ingin rumahmu kujadikan lautan api!"
Langkah lelaki berjenggot
jarang-jarang itu terhenti. Kemudian, dengan tarikan wajah memancarkan rasa
takut yang sangat kakinya dilangkahkan ke luar.
"Keparat! Berani kau
mempermainkan kami, Tua Bangka?!"
Prajurit yang telah menendang
hancur daun pintu, seorang lelaki kekar berkumis melintang, rupanya tidak sabar
melihat langkah pemilik rumah yang dianggapnya terlalu lambah. Maka dengan
penuh kemarahan, dia maju menghampiri. Kemudian tangan kanannya diulurkan.
Dan....
Kreppp!
Leher baju lelaki berjenggot
jarang-jarang telah dicekal prajurit berkumis melintang. Tidak hanya itu.
Diangkatnya tubuh pemilik rumah. Lalu dilemparkan keluar!
Wuttt! Bukkk!
Tubuh pemilik rumah yang sial itu
ambruk di tanah dengan menimbulkan bunyi berdebum setelah melayang-layang
beberapa saat.
"Aduh...."
Lelaki setengah baya itu merintih
kesakitan. Dicobanya untuk bangkit, tapi tidak mampu. Rupanya banyak bagian
tubuhnya yang terkilir. Dengan menyeringai kesakitan tubuhnya kembali
direbahkan. Sementara itu, prajurit berkumis melintang segera menghampiri. Dan
hanya dalam beberapa langkah telah berada di dekatnya.
"Aku ingin mengajukan
pertanyaan, Tua Bangka! Kuharap kau mau menjawabnya! Dan dengan benar! Kalau
tidak.., kau akan tahu sendiri akibatnya! Mengerti?!"
"Mengerti, Tuan," jawab
lelaki berjenggot jarang-jarang sambil menganggukkan kepala.
"Bagus...!" puji prajurit berkumis melintang. "Nah! Sekarang
dengarkan pertanyaanku
baik-baik! Apa nama desa
ini?!" "Desa Gondang, Tuan." "Desa Gondang?!"
Prajurit itu mengulang ucapan
pemilik rumah seraya mengalihkan pandangan ke arah rekan-rekannya yang
mengawasi semua peristiwa yang berlangsung.
"Benar, Tuan."
"Hm.... Lalu... bisa kau
tunjukkan padaku di mana letak Desa Sampan?!"
"Desa Sampan? Kalau begitu,
kau tinggal menempuh arah ke timur, Tuan. Sekeluarnya dari desa ini. Kau akan
memasuki daerah Desa Sampan," jelas lelaki setengah baya.
Prajurit berkumis melintang
mengangguk-angguk, "Apakah benar orang yang bernama Garang Laksa tinggal
di Desa Sampan?!"
Pemilik rumah itu tidak segera
menjawab. Dia tercenung sejenak sebelum menggeleng. "Sayang sekali. Aku
tidak mengenalnya, Tuan. Dan...."
"Keparat! Kau berani
mempermainkan aku, Tua Bangka!" geram prajurit itu, "Apa kau sudah
bosan hidup?!"
Seketika tubuh pemilik rumah
menggigil keras karena rasa takut yang menggelegak. "Ampun, Tuan. Aku
mengatakan yang sebenarnya. Aku benar-benar tidak mengenal
orang itu. Bahkan mendengarnya
pun baru kali ini. Itu pun dari mulutmu sendiri, Tuan," ujarnya dengan
sangat takut.
"Keparat! Rupanya kau lebih
suka dikasari baru mau bicara, Tua Bangka! Hih!" Bukkk!
"Akh!"
Tubuh lelaki setengah baya itu
menggeliat. Lolong kesakitan keluar dari mulutnya. Tendangan prajurit berkumis
melintang mengenai perutnya dengan telak. Untung prajurit itu hanya menggunakan
tenaga kasar. Kalau tidak, nyawa lelaki berjenggot jarang-jarang telah melayang
ke alam baka!
"Cepat katakan,Tua Bangka!
Atau... kau ingin kusiksa lagi?" "Ampun, Tuan. Aku sungguh-sungguh
tidak tahu.... Akh!"
Lagi-lagi lelaki berjenggot
jarang-jarang menggeliat kesakitan ketika prajurit itu kembali mengirimkan
tendangan. Kali ini ke arah wajahnya, dan mengenai hidungnya. Tak pelak lagi,
cairan merah kental mengalir dari kedua lubang hidungnya.
"Ini pertanyaanku yang
terakhir, Tua Bangka! Kau mau menjawab pertanyaanku. Atau harus kuhabisi nyawamu!
Asal kau tahu saja, kesabaranku telah habis!" sambil berkata demikian,
prajurit berkumis melintang meletakkan kaki kanannya di dada lelaki setengah
baya yang telentang tak berdaya. Sekali saja tenaga dalamnya dikerahkan,
penduduk desa yang malang itu akan tewas dengan tulang dada hancur berantakan.
Namun sebelum, lelaki berjenggot
jarang-jarang memberikan jawaban, mendadak... Wuttt!Takkk!
"Akh!"
Prajurit berkumis melintang
melolong kesakitan. Sebuah batu sebesar ibu jari menghantam tulang keringnya.
Keras dan telak. Bisa dibayangkan sakitnya. Tak aneh jika
prajurit itu menjerit kesakitan
sambil melompat-lompat dengan satu kaki. Sedangkan yang satu ditekuk. Sementara
tangannya memegang bagian yang sakit.
Kejadian yang menimpa prajurit
berkumis melintang membuat rekan-rekannya kaget bercampur marah. "Orang
gila dari mana yang berani mencampuri urusan kami?!" seru rekan prajurit
berkumis melintang yang bermata sipit.
Belum juga gema ucapan prajurit
bermata sipit hilang, melesat dua sosok bayangan. Kemudian,
Jliggg! Jliggg!
Ringan laksana daun kering jatuh,
dua sosok bayangan itu mendaratkan kaki di dekat tubuh lelaki berjenggot
jarang-jarang.
"Menyingkirlah, Ki. Biar
kami yang akan membereskan manusia-manusia keji ini!" ucap sosok
berpakaian ungu dan berambut putih keperakan. Siapa lagi kalau bukan Arya alias
Dewa Arak?!
"Aku... aku tidak bisa
bergerak, Anak Muda," sahut lelaki berjenggot jarang-jarang terputus-putus
dengan suara aneh, karena batang hidungnya telah remuk.
"Bawa dia menyingkir,
Melati," ucap Arya pada sosok berpakaian putih di sebelahnya. "Baik
Kang," sahut Melati patuh. Kemudian dibawanya penduduk desa itu
menyingkir. "Monyet Busuk! Kau harus membayar mahal atas tindakanmu!
Hiyaaat...!"
Diawali teriakan keras prajurit
bermata sipit meluruk ke arah Dewa Arak. Tombak yang tergenggam di tangannya
ditusukkan ke arah perut pemuda berambut putih keperakan itu.
Wuttt!
Dewa Arak tersenyum geli melihat
serangan itu. Bagi tokoh sepertinya serangan prajurit itu tidak berarti sama
sekali! Dengan tenang ditunggunya hingga serangan itu menyambar dekat. Baru
setelah itu, dia melompat ke atas. Tidak tinggi. Lalu....
Tappp!
Bagai seekor burung, Dewa Arak
mendaratkan kedua kakinya di batang tombak lawan. Lalu mengerahkan tenaga dalam
pada kedua kakinya untuk memberatkan tubuh.
Tentu saja prajurit bermata sipit
itu kelabakan. Dirasakannya yang berada di batang tombaknya bukan manusia, tapi
seekor gajah! Meskipun begitu, dia tidak mau melepaskan senjatanya. Akibatnya
bagian ujung tombak menukik turun terbawa berat tubuh Dewa Arak. Tapi saat itu
juga Arya bertindak. Dengan ujung kaki ditendangnya mata tombak.
Tukkk!
Kelihatannya perlahan dan tanpa
tenaga. Tapi akibatnya luar biasa. Tombok itu meluncur ke arah prajurit bermata
sipit. Padahal, kedua tangan prajurit itu menggengamnya erat-erat. Dan kejadian
selanjutnya sudah dapat ditebak.
Crottt!
Darah bermuncratan ketika tombak
itu menembus perut pemiliknya hingga ke punggung. Tubuh prajurit bermata sipit
roboh ke tanah. Menggelepar sesaat, kemudian diam tidak bergerak. Mati dengan
kedua tangan masih menggenggam batang tombak
6
Rentetan kejadian itu berlangsung
demikian cepat. Sehingga tak seorang pun dari para prajurit sempat berbuat
sesuatu. Baru ketika prajurit bermata sipit roboh dalam keadaan tidak bernyawa
amarah mereka meledak
"Keparat! Kau berani
membunuh prajurit Kerajaan Pakuan, Monyet Jelek! Serbu...!" seru prajurit
berkumis melintang pada kawan-kawannya.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
rombongan prajurit yang ternyata berasal dari Kerajaan Pakuan meluruk ke arah
Dewa Arak dengan tombak di tangan. Prajurit berkumis melintang yang menjadi
pimpinan ikut menyerbu. Melihat gerakannya yang tidak gesit, agaknya rasa sakit
yang melanda tulang keringnya belum lenyap.
Dewa Arak tetap tenang. Dengan
pandang mata dihitungnya jumlah lawan. Lima belas termasuk prajurit berkumis
melintang! Jumlah yang terlalu sedikit untuk dapat mengalahkannya.
Dewa Arak menunggu hingga
serangan mereka tiba. Telah diputuskan untuk melenyapkan prajurit-prajurit
Kerajaan Pakuan. Dewa Arak tahu kalau dibiarkan hidup mereka akan terus
menyebar maut. Telah disaksikannya sendiri kekejaman mereka. Sosok yang
ditemuinya di jurang kecil adalah salah satu korbannya.
Tidak hanya itu. Kalau dia dan
Melati terlambat datang dan menyerang prajurit berkumis melintang dengan batu,
mungkin lelaki berjenggot jarang-jarang telah tewas pula. Dengan pertimbangan
itu Dewa Arak memutuskan untuk membunuh rombongan prajurit Kerajaan Pakuan.
Namun Dewa Arak tidak mempunyai
banyak kesempatan untuk berpikir, serangan lawan-lawannya telah meluncur tiba.
Meskipun demikian, pemuda berambut putih keperakan itu tidak melakukan tindakan
apa pun. Tidak mengelak atau menangkis. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan
terkulai di sisi pinggang.
Tentu saja tindakan Dewa Arak
membuat lawan-lawannya heran. Namun, hanya sesaat perasaan itu bergayut. Mereka
segera membuangnya, dan berharap Dewa Arak tidak melakukan perlawanan agar
dapat secepat mungkin membinasakannya!
Tetapi kegembiraan itu segera
berganti keterkejutan. Karena.... Tak, tak tak!
Bunyi berdetak keras terdengar
susul-menyusul ketika ujung tombak prajurit-prajurit Kerajaan Pakuan mengenai
sasaran di berbagai bagian tubuh Dewa Arak. Ternyata senjata mereka tidak mampu
menembus kulit Arya yang telah dilindungi tenaga dalam. Tergores pun tidak.
Kenyataan ini membuat prajurit
berkumis melintang dan rekan-rekannya terkesima. Raut wajah dan sorot mata
mereka memancarkan ketidakpercayaan yang dalam. Untung saja Dewa Arak tidak
mempergunakan kesempatan itu untuk mengirimkan serangan balasan. Kalau tidak,
pasti mereka semua tewas.
"Bagaimana? Puas?"
tanya Arya tanpa ber-maksud mengejek
Ucapan itu menyadarkan rombongan
prajurit Kerajaan Pakuan dari tertegunnya. Dan seiring timbulnya kesadaran itu
mereka kembali meluruk ke arah Dewa Arak.
"Serang bagian-bagian yang
lemah!" seru prajurit yang memiliki kumis melintang itu mengirimkan
tusukan ke arah mata. Prajurit lainnya mengikuti jejaknya. Hasilnya,
serangan-serangan yang mereka kirimkan selalu ditujukan pada mata, leher, dan
ubun-ubun. Semuanya bagian-bagian terlemah di tubuh manusia.
"Serbu...!"
Lima belas prajurit Kerajaan
Pakuan meluruk ke arah Dewa Arak dengan tombak di tangan. Melihat serangan itu,
Dewa Arak hanya berdiri tegak dengan kedua tangan terkulai di sisi pinggang.
Pemuda berambut putih keperakan itu sama sekali tidak mengelak maupun menangkis.
Kali ini Dewa Arak tidak berani
membiarkan. Betapa pun tinggi tenaga dalamnya, tetap saja tidak membiarkan
matanya dijadikan sasaran tusukan tombak! Terpaksa kedua tangannya digerakkan
untuk menangkis.
Tak, tak, tak!
Kembali bunyi berdetak keras
terdengar. Bunyi itu tercipta karena benturan tombak-tombak itu dengan kedua
tangan Dewa Arak. Hasilnya jauh lebih dahsyat! Setiap tombak yang berbenturan
dengan tangan Dewa Arak langsung berpatahan. Hanya dalam beberapa saat saja
tidak ada satu pun senjata lawan yang utuh.
Malah bukan hanya senjata-senjata
itu yang menerima akibatnya. Tubuh prajurit Kerajaan Pakuan terjengkang ke
belakang dengan separo tubuh terasa lumpuh. Saat itu kaki Dewa Arak ikut ambil
bagian. Dengan ujung kaki ditendangnya patahan-patahan tombak yang berserakan
di tanah.
Tuk, tuk, tuk! Sing, sing, sing!
Cappp, cappp, cappp! Trang! "Akh, akh, akh!"
Jeritan-jeritan menyayat
membumbung ketika patahan tombak mendarat di tubuh prajurit Kerajaan Pakuan.
Tubuh mereka roboh di tanah. Mati dengan potongan tombak menancap ke leher atau
perut
Tapi, tidak semua prajurit tewas.
Beberapa di antara mereka berhasil menangkis potongan tombak dengan sisa tombak
yang ada. Mereka berhasil menyelamatkan nyawa, sekalipun untuk itu harus
terjengkang karena kuatnya tenaga lontaran potongan tombak
Kini, begitu potongan-potongan
tombak yang berserakan di dekat Dewa Arak habis, tinggal empat orang prajurit
yang masih hidup. Prajurit berkumis melintang termasuk di antara mereka.
Sisa prajurit Kerajaan Pakuan itu
tahu tidak ada gunanya melawan. Kenyataan yang mereka hadapi telah memberi
petunjuk Dewa Arak terlalu tangguh bagi mereka. Maka begitu bangkit berdiri,
tanpa ragu-ragu mereka membalikkan tubuh dan berlari pergi.
Dewa Arak diam saja. Dibiarkan
keempat lawannya melaksanakan keinginannya. Dia tidak mengejar atau berusaha
mencegah kepergian mereka. Pemuda berambut putih keperakan itu mempuhyai dugaan
kuat prajurit Kerajaan Pakuan jera dan tidak akan meneruskan maksudnya ke Desa
Sampan. Apalagi sampai menimbulkan keonaran seperti sebelumnya.
Tapi rupanya ada yang merasa
tidak puas. Orang itu adalah Melati. Begitu dilihatnya empat prajurit Kerajaan
Pakuan melarikan diri, gadis itu bertindak cepat. Ditendangnya empat buah batu
sebesar ibu jari yang ada di situ.
Tuk, tuk, tuk! Sing, sing, sing!
Bunyi mendesing nyaring yang
menyakitkan telinga mengiringi meluncurnya batu-batu itu. Dan,
Tak, tak, tak! "Akh, akh,
akh!"
Jerit tertahan keluar dari mulut
tiga orang prajurit. Batu-batu itu menghantam kepala mereka. Telak dan keras.
Tubuh mereka langsung roboh ke tanah. Tewas dengan kepala pecah!
Hanya seorang yang berhasil lolos
dari maut. Orang itu adalah prajurit berkumis melintang. Dia berhasil lolos
karena sempat merendahkan tubuh ketika mendengar bunyi mendesing nyaring dari
belakang. Dan sebelum Melati sempat berbuat sesuatu, prajurit berkumis
melintang telah menerobos rimbunan semak-semak lebat
"Keparat!" maki. Melati
jengkel melihat keberhasilan prajurit berkumis melintang lolos dari ancaman
maut.
"Sudahlah, Melati,"
hibur Arya seraya menghampiri kekasihnya. "Aku yakin dia jera dan kembali
ke tempatnya."
"Tapi aku tetap penasaran,
Kang," sahut Melati, "Apalagi dialah yang paling kejam."
"Dari mana kau tahu dia yang paling kejam, Melati?!" tanya Arya ingin
tahu. "Bukankah dia yang tadi melakukan penyiksaan, Kang?!" jawab
Melati cepat.
"Hm...!" hanya gumaman
yang diberikan Arya sebagai tanggapan ucapan Melati, "O ya, Melati.
Bagaimana luka-lukanya. Apakah dapat disembuhkan?" tanya Arya mencoba
mengalihkan persoalan setelah sesaat tercenung.
Dan ternyata usaha pemuda
berambut putih keperakan itu berhasil. Melati segera melupakan kejengkelannya,
dan memberikan jawaban atas pertanyaannya.
"Sebenarnya cukup parah.
Tapi berkat obat-obat peninggalan guruku, dia sudah sembuh sekarang. Hanya
perlu beristirahat beberapa hari agar sehat kembali."
Arya mengangguk-angguk puas
dengan jawaban kekasihnya. Sedangkan lelaki berjenggot jarang-jarang yang kini
sudah bisa berdiri segera membungkukkan tubuh.
"Terima kasih atas
pertolongan Tuan dan Nona Pendekar. Kalau tidak, mungkin aku telah tewas. Entah
bagaimana aku harus membalas kebaikan ini."
"Lupakanlah, Ki," jawab
Arya sopan dan lembut, "Tolong-menolong antara sesama manusia itu soal
biasa. Untung saja kami kebetulan melewati tempat ini. Tapi mengapa
prajurit-prajurit Kerajaan Pakuan menyiksamu, Ki?!"
"Karena aku tidak bisa
menjawab pertanyaan mereka, Tuan Pendekar," beri tahu lelaki berjenggot
jarang-jarang.
Arya dan Melati saling
berpandangan. Ingatan mereka segera tertuju pada petani penyadap karet yang
dibunuh dan dibuang ke dalam jurang.
"Boleh kutahu pertanyaan
yang mereka ajukan, Ki?!"
"Pertama kali mereka
menanyakan letak Desa Sampan. Langsung kutunjukkan. Tapi pertanyaan selanjutnya
mereka menanyakan tempat tinggal orang yang bernama Garang Laksa. Karena aku
tidak mengenalnya, kujawab apa adanya. Tapi mereka tidak percaya dan terus
memaksaku memberikan jawaban," urai lelaki setengah baya itu.
Arya mengangguk-angguk. Entah apa
maksud anggukannya, hanya dia yang mengerti. "Maaf, Ki. Kami tidak bisa
berlama-lama di sini. Ada urusan yang harus kami
selesaikan. Selamat tinggal!
Mari, Melati!"
Dewa Arak melesat meninggalkan
tempat itu. Melati segera menyusul. Hanya dalam beberapa kali lesatan tubuh
mereka telah terlihat sebagai benda hitam sebesar ibu jari. Semakin lama
semakin kecil dan akhirnya lenyap. Lelaki berjenggot jarang-jarang
menggeleng-gelengkan kepala dengan hati dipenuhi rasa kagum.
***
"Ah...!"
Tanpa sadar Dewa Arak dan Melati
mengeluarkan seruan kaget. Sepasang mata mereka membelalak lebar ke satu arah.
Ke depan. Tampak kepulan asap tebal dan hitam membumbung tinggi ke angkasa.
"Apakah asap itu timbul
dengan sewajarnya, Kang?" tanya Melati tanpa menghentikan lari.
"Kurasa tidak, Melati,"
jawab Arya, "Aku yakin asap itu timbul karena kebakaran. Kau lihat kan?
Ada asap merah seperti nyala api sesekali muncul di sela kepulan asap hitam?!"
Jawaban Dewa Arak membuat Melati
menatap kepulan asap tebal hitam di kejauhan. Ucapan Arya memang benar. Di
sela-sela kepulan asap tebal tampak sinar merah. Memang, hanya sesekali
munculnya. Tapi cukup untuk membuktikan kalau di depan mereka telah terjadi
kebakaran.
"Benar, Kang. Aku
melihatnya," Melati mengangguk.
"Itu berarti di depan sana
telah terjadi kebakaran," ucap Arya menegasi. "Apa?!"
Dewa Arak tersentak. Bahkan
sampai mengendurkan larinya. Kepalanya ditolehkan ke arah Melati. Sesaat lamanya
dia berbuat seperti itu dengan kedua kaki terus terayun.
"Kau benar, Melati,"
ucap Arya mengeluh seraya mengalihkan tatapannya ke depan. "Di depan kita
Desa Sampan."
"Aku yakin kebakaran itu
tidak terjadi secara wajar, Kang. Pasti ada tangan-tangan jahil yang
melakukannya! Siapa lagi kalau bukanorang-orang yang memburu Garang
Laksa?!" ujar Melati berapi-api.
"Kalau benar demikian, kita
harus bergegas, Melati! Jangan sampai semuanya berlarut-larut!" sambung
Arya seraya menambah kecepatan larinya.
Tapi Dewa Arak tidak mengerahkan
seluruh kemampuannya. Bila itu dilakukan Melati akan tertinggal jauh. Dewa Arak
tidak menginginkan hal itu terjadi. Laksana hantu, Arya dan Melati melesat.
Yang ada di benak mereka hanya satu. Tiba di Desa Sampan secepat mungkin. Saat
ini mereka masih berada di wilayan Desa Gondang. Dan mereka tengah berlari
cepat di jalan tanah yang kanan kirinya membentang hamparan sawah. Tidak
terlihat satu rumah penduduk pun di dekat situ.
Berkat ilmu meringankan tubuh
mereka yang tinggi, tak berapa lama kemudian mereka telah melihat tembok batas
Desa Sampan. Semangat Dewa Arak dan Melati semakin berkobar. Hingga kecepatan
lari mereka makin ditingkatkan. Tapi beberapa saat kemudian...
"Lihat itu, Melati!"
Arya menudingkan jari telunjuknya ke depan seraya terus berlari. Sebenarnya
tanpa diberitahu pun gadis berpakaian putih itu telah melihatnya. Yang
ditunjuk-kan Arya berada di depan
mereka. Dan terlihat sangat mencolok! "Pasti penduduk DesaSampan."
Dewa Arak mengemukakan dugaannya
tanpa mengalihkan pandangan. Sepasang matanya terus tertuju ke arah rombongan
yang tengah menuju ke arah mereka berdua. Jumlah mereka cukup banyak. Sebagian
besar terdiri dari orang tua, wanita, dan anak-anak.
"Benar, Kang. Mereka pasti
hendak mengungsi," timpal Melati.
Mendadak dari arah belakang
rombongan, melesat sesosok bayangan melewati kepala mereka yang diduga Dewa
Arak dan Melati penduduk Desa Sampan. Sosok bayangan hitam itu bersalto
beberapa kali. Lalu mendarat di depan rombongan.
Jiiggg!
Dengan mantap sosok bayangan
hitam berdiri menghadang jalan. Golok besar terhunus di tangan kanannya. Saat
itu juga langkah rombongan penduduk berhenti.
"Jangan harap kalian dapat
meninggalkan desa sebelum memberitahu tempat tinggal Garang Laksa!" teriak
sosok berpakaian hitam dengan lantang. Golok besar di tangannya
diacung-acungkan di atas kepala.
Hebat akibat ancaman sosok
berpakaian hitam. Rombongan penduduk langsung berbalik dan berlari-lari kembali
ke desa. Dewa Arak dan Melati memperhatikan semua itu. Sayang mereka tidak dapat
berbuat sesuatu. Jarak mereka masih cukup jauh, kurang lebih seratus tombak!
"Keparat!" geram Melari
penuh kemarahan, "Sepertinya aku mengenal lelaki berpakaian hitam itu,
Kang."
"Ingat-ingatlah. Tapi yang
terpenting kita harus bergegas, Melati. Korban akan banyak yang jatuh,"
sambut Arya.
"Aku ingat, Kang!" ujar
Melari ketika jarak mereka tinggal lima puluh tombak lagi. "Ya. Dia
anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam!"
"Celaka! Pasti telah banyak
jatuh korban!" ujar Arya khawatir.
Perasaan cemas akan keselamatan
penduduk Desa Sampan membuat Dewa Arak dan Melati mengerahkan seluruh ilmu lari
cepatnya. Akibatnya, dalam sekejap Melati tertinggal! Semakin lama semakin
jauh. Dewa Arak memutuskan untuk mendahului Melati. Pada saat yang bersamaan
lelaki berompi hitam tengah menggiring penduduk yang hendak kabur untuk kembali
ke desa.
"Hih!"
Dewa Arak bersalto beberapa kali
melewati kepala lelaki berpakaianhitam. Dan... Jliggg!
Dengan ringan Dewa Arak
mendaratkan kedua kakinya di hadapan lelaki berpakaian hitam. Hingga membuatnya
terkejut. Bahkan sampai terjingkat kaget.
"Keparat! Siapa kau, Kambing
Buduk?! Sung-guh berani menghadang perjalananku! Pernahkah kau mendengar
julukan Gerombolan Perompak Laut Hitam?! Nah! Aku adalah salah satu anggotanya!
Cepat berlutut dan bersihkan sepatuku dengan lidahmu. Barangkali aku akan
memberi ampunan padamu!"
Wajah Dewa Arak langsung merah
padam. Hinaan yang diterimanya telah melampaui batas. Tambahan lagi, lelaki
berpakaian hitam yang ternyata Gerombolan Perompak Laut
Hitam itu telah menimbulkan
malapetaka di Desa Sampan. Tidak ada jalan lain kecuali melenyapkannya dari
muka bumi.
"Manusia seperti kau tidak
layak dibiarkan hidup! Hih!"
Dewa Arak mengibaskan tangannya.
Kelihatan pelan dan tanpa pengerahan tenaga. Tapi akibatnya luar biasa. Dari
tangan yang mengibas itu keluar serentetan angin keras meluncur ke arah anggota
Gerombolan Perompak Laut Hitam.
Kejadian itu membuat lelaki
berpakaian hitam terperanjat kaget. Sebisanya dicoba mengelakkan serangan.Tapi....
Bresss! "Akh!"
Anggota Gerombolan Perompak Laut
Hitam yang sial itu terjengkang deras ke belakang, terkena serangan jarak jauh
Dewa Arak yang menghantam dadanya dengan telak. Darah menyembur deras dari
mulut, hidung, dan telinganya. Lelaki berpakaian hitam itu tewas saat itu juga.
Melati tiba. Lalu bersama-sama
dengan Dewa Arak melesat ke Desa Sampan. Terpaksa pasangan pendekar muda itu
melompati kepala rombongan penduduk desa yang berlari-lari kembali ke desa.
Karena kalau mengikuti rombongan penduduk terlalu lama.
Jliggg!
Begitu mendarat di tanah, Dewa
Arak dan Melati melesat cepat. Rumah-rumah terbakar di sana-sini. Tapi,
pasangan muda itu tidak mempedulikannya. Mereka terus melesat ke dalam desa.
Langkah Dewa Arak dan Melati
terhenti ketika melihat pemandangan yang terpampang di hadapan mereka. Dalam
jarak sekitar sepuluh tombak tampak dua sosok berpakaian hitam tengah
dikelilingi belasan orang yang mengenakan pakaian be-warna sama.
Dewa Arak dan Melati merasa
heran. Mengapa orang-orang yang berpakaian sama itu berhadapan sebagai musuh?
Karena perasaan heran itulah pasangan pendekar muda berwajah elok ini berdiri
terpaku dalam jarak sepuluh tombak. Sepasang mata mereka tertuju ke arah
kelompok berpakaian hitam yang sedang ribut. Mendadak...
"Dewa Arak...!"
7
Dewa Arak menoleh ke arah asal
suara. Tampak seraut wajah yang dikenalnya tergolek di tanah. Agaknya sosok
gagah itu terluka.
"Kau..., Benggala...!"
seru Arya gembira bertemu dengan orang yang dicarinya. Pemuda berambut putih
keperakan itu segera mengayunkan langkah menghampiri Benggala. Pada saat yang
bersamaan, keributan antar kelompok berpakaianhitam semakin menjadi.
"Kuperingatkan sekali lagi,
Garang Laksa," ucap lelaki bermuka kuda yang tidak lain Marangsang, seraya
menudingkan jari telunjuknya ke arah lelaki tinggi besar. "Cepat
beritahukan di mana harta rampasan itu kau simpan. Kalau tidak, jangan salahkan
aku jika bertindak keras terhadapmu!"
Garang Laksa, lelaki tinggi besar
yang berkumis, jenggot, dan cambang lebat tersenyum mengejek. Lelaki itu tidak
merasa gentar mendengar ancaman bekas wakilnya.
"Asal kau tahu saja,
Marangsang. Aku tidak gentar dengan ancamanmu. Aku tidak takut mati! Jadi,
percuma saja kau mengancamku. Tempat penyimpanan harta itu tetap tidak akan
kuberitahu. Harta itu akan kubagikan pada orang-orang miskin yang
memerlukannya! Bukan demikian, Wulung?!" tegas dan mantap Garang Laksa
mengucapkannya.
Wulung yang berdiri di sebelah
pimpinannya mengangguk menyetujui ucapan pimpinannya.
"Kalau begitu, kalian berdua
harus mampus!" desis Garang Laksa geram. "Serbu...!" Tanpa
menunggu perintah kedua kali, Gerombolan Perompak Laut Hitam menyerbu
Garang Laksa, bekas pimpinan
mereka sendiri. Senjata yang tergenggam di tangan dibabatkan ke berbagai bagian
tubuh Garang Laksa. Bukan hanya Gerombolan Perompak Laut Hitam yang menyerbu,
Marangsang pun ikut terjun ke dalam kancah pertarungan.
Melihat adanya ancaman maut,
Garang Laksa dan Wulung tidak tinggal diam. Mereka menyambuti serbuan yang
datang dengan hangat. Pertarungan pun tidak bisa dihindarkan lagi.
Di satu arena Garang Laksa dan
Wulung berjuang keras mempertahankan nyawa dari ancaman maut Marangsang dan
anak buahnya. Di tempat lain Dewa Arak, Melati, dan Benggala terlibat dalam
percakapan.
"Apa yang terjadi,
Benggala?! Mengapa kau dan yang lainnya terluka?" tanya Arya. Sebenarnya
Dewa Arak sudah mempunyai dugaan. Tapi untuk memastikannya, pertanyaan itu
dilontarkan.
"Sederhana saja, Dewa
Arak," jawab Benggala. "Serombongan orang-orang kasar yang mengaku
berjuluk Gerombolan Perompak Laut Hitam datang ke desa ini. Mereka mencari
seseorang yang bernama Garang Laksa. Karena tidak ada yang dapat menunjukkan
tempatnya, mereka mengamuk. Menyebarkanonar dan membakar rumah-rumah."
Benggala menghentikan ceritanya
untuk mengambil napas. Sementara Dewa Arak dan Melati menunggu dengan sabar.
Sekali pun tidak dipotongnya cerita Benggala.
"Tentu saja aku dan
pemuda-pemuda desa ini tidak bisa tinggal diam. Dengan bekal senjata di tangan,
kami mengadakan perlawanan," lanjut Benggala. "Tapi ternyata mereka
terlalu kuat untuk dilawan. Sekalipun jumlah kami lebih banyak. Kemampuan
perorangan mereka jauh di atas kami, terutama orang yang mempunyai wajah
seperti kuda."
Kembali Benggala menghentikan
ceritanya. Kali ini karena luka-luka yang diderita. Bibirnya menyeringai
kesakitan.
"Satu persatu di pihak kami
korban berjatuhan. Sebagian tewas dan luka berat, sisanya luka-luka cukup
parah. Aku mendapat kesempatan roboh paling belakangan. Di saat mereka hendak
membunuh kami semua, muncul dua orang mencegah. Nyawa kami pun tertolong."
"Dua orang penolong itu
pasti yang tengah bertempur dengan mereka," potong Melati tak sabar untuk
mengajukan dugaan.
"Kau cerdik, Nisanak,"
puji Benggala.
"Kau bisa saja, Benggala.
Apa hebatnya? Aku yakin semua orang menebak seperti itu," celetuk gadis
berpakaian putih itu untuk menutupi rasa malunya karena mendapat pujian.
"Tapi..., aku tidak menduga
seperti itu," goda Arya tersenyum lebar. Karuan saja wajah Melati semakin
merah seperti udang rebus.
"Sudahlah," akhirnya
Arya juga .yang menghentikan gurauan segar itu, "Sekarang yang masih
menjadi pertanyaan, mengapa mereka satu kelompok?"
Benggala mengangkat bahu tidak
mengerti. Mereka sepertinya memang saling mengenal. Tapi kalau dikatakan mereka
satu kelompok, aku tidak setuju. Apa alasanmu menduga demikian? Apakah karena
warna pakaian mereka sama?"
"Sebagian besar memang
karena itu," jawab Arya jujur, "Tapi, sebagian lagi karena ucapan dan
tingkah laku mereka. Semuanya menunjukkan mereka berasal dari satu
kelompok!"
"Lalu... mengapa mereka
berselisih?!" tanya Benggala penasaran.
"Jawaban dari pertanyaan itu
yang harus kita cari. Yang jelas, satu hal telah kita dapatkan. Mereka
berselisih tentang harta yang kelihatannya disimpan lelaki tinggi besar.
Rupanya dia yang bernama Garang Laksa," jawab Arya yakin.
Benggala diam. Lelaki itu tidak
memberikan tanggapan. Melatilah yang menyambuti ucapan kekasihnya.
"Menurut pendapatku,
sekalipun benar mereka berasal dari kelompok yang sama, aku berpihak pada
Garang Laksa!" tegas gadis berpakaian putih itu.
"Apa alasanmu berpihak pada
Garang Laksa, Melati?" tanya Arya ingin tahu.
"Pertama, Garang Laksa yang
menyelamatkan penduduk desa ini," jawab Melati sambil menudingkan jari
telunjuknya ke arah Benggala dan kawan-kawannya yang bergeletakan di sekitar
tempat itu.
"Hm...," Arya menggumam
pelan. "Ada pertama, pasti ada yang kedua. Apa alasan keduamu,
Melati?"
"Dari percakapan yang
kudengar, jelas Garang Laksa bermaksud baik. Dia akan memberikan harta yang dimilikinya
pada orang-orang miskin. Niat itu tidak dimiliki lawan-lawannya. Nah, Kang.
Itulah dua alasan yang mendorongku membela Garang Laksa," ujar Melati.
"Alasanmu masuk akal,
Melati," puji Arya seraya mengangguk-angguk. "Tapi...."
"Kenapa, Kang? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Melati mendengar
ucapan
kekasihnya berhenti di tengah
jalan.
"Benar, Melati," Arya
membenarkan, "Aku teringat pada rombongan prajurit Kerajaan Pakuan, Setan
Tertawa, dan Dewa Pencabut Nyawa. Apakah karena harta juga mereka mengejar-ngejar
Garang Laksa? Rasanya tidak masuk akal! Kalau rombongan prajurit Kerajaan
Pakuan mungkin juga. Tapi Setan Tertawa dan Dewa Pencabut Nyawa? Rasanya
mustahil mereka masih gila harta!"
"Kau benar, Kang,"
sambut Melati mendukung, "Menurutku tak mungkin Setan Tertawa dan Dewa
Pencabut Nyawa memburu Garang Laksa karena harta. Pasti ada urusan lain."
"Aku pun menduga demikian,
Melati. Tapi apa urusannya?"
"Nanti pun masalah ini akan
terjawab, Kang. Aku yakin Setan Tertawa dan Dewa Pencabut Nyawa akan berada di
desa ini," ucap Melati yakin.
Usai berkata, gadis berpakaian
putih itu melayangkan pandangan ke arah pertarungan. Terlihat jelas keadaan
tidak seimbang. Garang Laksa dan Wulung terus-menerus didesak mundur Gerombolan
Perompak Laut Hitam.
Memang sebenarnya kalau dibuat
perbandingan tingkat kepandaian Garang Laksa tidak bisa ditandingi lawannya
mana pun. Tapi karena lawan yang di hadapi terlalu banyak, tak kurang dari
empat belas orang sementara dia hanya berdua Wulung, tak heran jika Garang
Laksa dan Wulung terdesak hebat.
Di saat pertarungan berlangsung
dengan sengit, Dewa Arak pun dilanda kesibukan. Dia berusaha keras mengobati
luka-luka Benggala dan rekan-rekannya. Beruntung Benggala dan dua kawan
pemburunya sewaktu bertemu Dewa Arak dulu berhasil disembuhkan Dewa Arak.
Demikian juga beberapa pemuda desa lainnya.
Melati yang sejak tadi
menyaksikan jalannya pertarungan Garang Laksa dan Wulung menghadapi Marangsang
dan Gerombolan Perompak Laut Hitam tidak kuasa menahan diri. Apalagi ketika
dilihatnya Garang Laksa dan Wulung semakin terdesak. Sebagai tokoh persikitan
yang berkepandaian tinggi, Melati tahu robohnya Garang Laksa dan Wulung hanya
tinggal menunggu waktu. Kedua orang itu pasti tewas di tangan lawan. Melati
tidak menginginkan hal itu terjadi. Maka....
Srattt!
Sinar terang menyilaukan mata,
berkilat ketika gadis berpakaian putih itu menghunus pedang. Lalu....
"Hiyaaat...!"
Sambil mengeluarkan teriakan
keras yang menggetarkan tempat itu, Melati melompat ke atas. Di sana tubuhnya
diputar beberapa kali sebelum meluruk ke dalam kancah pertarungan.
Trang, trang, trang!
Terdengar bunyi berdentang.
Melati memapaki beberapa serangan yang ditujukan ke arah Garang Laksa.
Akibatnya anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam terhuyung-huyung mundur dengan
tangan terasa sakit.
Tidak hanya sampai di situ.
Sehabis menangkis, Melati melancarkan serangan terhadap Gerombolan Perompak
Laut Hitam. Tidak tanggung-tanggung lagi langsung dikeluarkan 'Ilmu Pedang
Seribu Naga' andalannya.
Wungngng!
Bunyi menggerung keras seperti
naga murka keluar ketika Melati menggerakkan pedangnya. Akibatnya langsung
terlihat. Kepungan Gerombolan Perompak Laut Hitam hancur berantakan! Mereka
tercerai-berai saat itu juga.
Seperti telah disepakati saja.
Masing-masing orang memilih lawannya. Melati menghadapi keroyokan dua belas
orang Gerombolan Perompak Laut Hitam. Marangsang langsung dicegat Garang Laksa.
Sedangkan Wulung memaksa seorang anggota gerombolan untuk menjadi lawannya.
Akibatnya kancah pertarungan terpecah menjadi tiga.
Sekarang keadaan berubah jauh.
Semula Marangsang dan gerombolannya berada di atas angin. Tapi sekarang dengan
ikut campurnya Melati, ganti pihak Marangsang terdesak Melati, Garang Laksa,
dan Wulung berhasil mendesak lawan masing-masing.
Sebenarnya begitu melihat Melati
terjun dalam kancah pertarungan, Gerombolan Perompak Laut Hitam langsung
gentar. Mereka telah merasakan kehebatan gadis berpakaian putih itu. Tapi apa
boleh buat. Keadaan tidak memungkinkan untuk melarikan diri. Yang dapat
dilakukan adalah melawan dan terus melawan.
Tapi baru beberapa gebrakan
terdengar lolong kematian yang menggiriskan hati. Suara itu berasal dari
anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam yang menghadapi Melati. Tidak hanya sekali
jeritan itu terdengar. Suara lolongan diikuti ambruknya tubuh anggota
gerombolan dengan tanpanyawa.
Memang meskipun Gerombolan
Perompak Laut Hitam yang menghadapi Melati berjumlah dua belas orang, tapi
tetap saja mereka bukan tandingan gadis berpakaian putih itu. Dalam memainkan
'Ilmu Pedang Seribu Naga' Melati tak ubahnya seekor harimau yang mempunyai
sayap. Trengginas. Ke mana pun pedangnya berkelebat pasti ada sesosok tubuh
yang ambruk ke tanah dalam keadaan tanpa nyawa.
Wungngng! Srat, srattt! "Akh,
akh!"
Dua lolong kematian terakhir
membuat Melati memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung. Dengan lenyapnya
suara lolongan itu tidak ada lagi lawan yang masih berdiri tegak. Mereka semua
telah tergolek di tanah. Pertarungan itu diselesaikan Melati dengan tak lebih
dari sepuluh jurus!
Melati memandangi sosok anggota
Gerombolan Perompak Laut Hitam yang bergeletak di tanah. Lalu perhatiannya
dialihkan pada dua pertarungan lain yang masih berlangsung.
"Haaat...!"
Diiringi teriakan menggeledek,
anggota Gerombolan Perompak Laut Hitam yang menghadapi Wulung melancarkan
tusukan ke arah perut.
Melihat ancaman maut meluncur ke
arahnya, Wulung tidak berani bertindak gegabah. Cepat tubuhnya didoyongkan ke
samping kiri. Hasilnya memang tidak sia-sia. Tusukan lawan mengenai tempat
kosong beberapa jari dari pinggang kanannya.
Kesempatan yang baik itu tidak
disia-siakan Wulung. Golok besarnya ditusukkan ke pinggang anggota Gerombolan
Perompak Laut Hitam. Lawan Wulung berusaha keras untuk mengelak. Dan...
Cappp! "Akh!"
Anggota Gerombolan Perompak Laut
Hitam mengeluarkan jeritan memilukan. Golok besar Wulung menembus pinggangnya.
Darah menyembur deras dari bagian yang terluka. Apalagi ketika Wulung mencabut
kembali senjatanya.
Tubuh anak buah Marangsang yang
sial itu terhuyung-huyung. Sepasang matanya membelalak lebar menyiratkan
ketidakpercayaan akan kejadian yang dialaminya. Sementara kedua tangannya
didekapkan pada bagian yang terluka untuk mencegah terus menyemburnya darah.
Tapi hanya sesaat anggota Gerombolan
Perompak Laut Hitam itu meregang nyawa. Dia ambruk ke tanah.
Menggelepar-gelepar sejenak. Lalu diam tidak bergerak untuk selamanya. Mati!
Kini tinggal Marangsang yang
masih hidup dan terus bertarung menghadapi Garang Laksa. Tapi keadaannya pun
tidak menguntungkan. Dia terus-menerus didesak dan dihimpit
Memang di awal-awal pertarungan
berlangsung agak seimbang. Masing-masing pihak silih berganti mengirimkan
serangan. Tapi sekarang, menginjak jurus kedua puluh, keadaan sudah jauh
berubah. Jangankan menyerang, bertahan saja Marangsang hampir tidak mampu.
Akhirnya Marangsang sadar dirinya
tak mungkin mengalahkan Garang Laksa. Apalagi membunuhnya. Maka diputuskan
untuk bertindak. Dia bermaksud mengajak lawannya mati bersama!
Keinginan itu membuat Marangsang
bertindak nekat. Cara bertarungnya dirubah. Lelaki bermuka kuda itu tidak
memikirkan pertahanan lagi. Yang ada di benaknya hanya menyerang dan menyerang.
Tindakan nekat Marangsang memang
segera terlihat hasilnya. Serangan membabi buta, Marangsang memaksa Garang
Laksa melompat mundur. Sebab kalau dilayani, memang kemungkinan besar
Marangsang dapat dibinasakannya, tapi dia sendiri pun tidak akan luput dari
serangan Marangsang. Akibatnya paling tidak dia akan terluka parah!
Maka Garang Laksa mengalah.
Dibiarkan saja Marangsang mengamuk membabi buta, hingga ia terpaksa mengelak
terus-menerus. Dengan sabar Garang Laksa menunggu kesempatan yang bagus.
Dan kesempatan itu tercipta di
jurus kedua puluh tujuh. Saat itu Marangsang membabatkan goloknya dengan
mendatar ke arah leher Garang Laksa.
Wuttt,
Golok Marangsang menyambar tempat
kosong. Lewat beberapa jari di atas kepala Garang Laksa. Saat itulah Garang
Laksa melancarkan serangan balasan. Trisula di tangan kanannya ditusukkan ke
arah perut lawan.
Marangsang terkejut bukan main
melihat gerakan Garang Laksa. Disadarinya ada bahaya mengancam. Maka dia
berusaha mengelak. Hasilnya....
Cappp! "Wuaaa...!"
Marangsang melolong keras ketaka
trisula Garang Laksa menembus perutnya. Dia gagal mengelakkan serangan itu.
Karena sejak tadi memang sudah tidak mempedulikan pertahanan.
8
Tubuh Marangsang terhuyung. Kedua
tangannya didekapkan ke perutnya yang robek. Sementara goloknya terlepas dari
pegangan begitu trisula Garang Laksa menembus perut.
Saat itulah Garang Laksa kembali
meluruk. Lelaki itu mengirimkan serangan dengan trisulanya yang lain. Dengan
cepat dan tidak terduga trisula itu ditusukkan ke leher.
Crottt! "Aaa...!"
Jeritan panjang menyayat keluar
dari mulut Marangsang. Senjata andalan Garang Laksa menembus lehernya. Tak
pelak lagi, darah menyembur deras dari lukanya. Marangsang menggelepar-gelepar
seperti ayam disembelih. Kemudian diam tak bergerak. Marangsang tewas dengan
sangat mengenaskan.
"Hhh...!"
Garang Laksa menghela napas
berat. Tidak nampak seri kegembiraan di wajahnya. Padahal, dia telah berhasil
mengalahkan dan membunuh lawan. Memang sebenarnya Garang Laksa tidak sampai
hati membunuh Marangsang. Bagaimanapun juga lelaki bermuka kuda itu wakilnya.
Tapi keadaan memaksanya bertindak seperti itu. Kalau tidak, Marangsang akan
terus merongrongnya.
Setelah puas menatap mayat
Marangsang, Garang Laksa membersihkan sepasang trisulanya dari noda-noda darah,
kemudian menyelipkan lagi ke pinggang. Tapi baru saja Garang Laksa mengayunkan
langkah mendekati Wulung.
"He he he...! Mau lari ke
mana lagi kau, Garang Laksa?! Ke mana pun kau bersembunyi jangan harap bisa
mengelabuiku! He he he...!"
Meskipun Garang Laksa yang
ditegur, tapi tidak hanya lelaki tinggi besar itu saja yang mengalihkan
perhatian ke arah asal suara, Wulung, Dewa Arak, dan Benggala pun demikian.
Namun yang paling terkejut Garang Laksa dan Melati. Mereka mengenal pemilik suara
dan tawa itu.
"Ah...!"
Tanpa sadar Garang Laksa,
Benggala, dan Wulung memekik kaget menyaksikan pemandangan di depan mereka. Di
salah satu cabang pohon yang besarnya tak lebih dari ibu jari tampak duduk
bersila sesosok tubuh pendek gemuk berwajah ceria. Cabang pohon itu melengkung
tak kuat menahan beban. Tapi anehnya sosok pendek gemuk enak saja melakukan.
Padahal, dia berada hampir di ujung cabang!
"SetanTertawa...,"
desis Melati kaget.
Wajah Dewa Arak berubah begitu
mendengar julukan Setan Tertawa. Pemuda itu segera teringat akan janji yang
diucapkannya. Maka dengan tatapan tetap tertuju pada sosok yang berada di atas
cabang pohon itu, kakinya dilangkahkan menghampiri
"SetanTertawa...! Kalau kau
memang bukan seorang pengecut, turun dan hadapi aku!" tantang Dewa Arak.
Sosok yang duduk di atas cabang
pohon yang memang Setan Tertawa membuka mulutnya,
"Ha ha ha...!"
Setan Tertawa terkekeh. Biasa
saja. Tidak terlihat keanehan di dalamnya. Tapi sesaat kemudian baru terasa
perbedaannya. Tawa Setan Tertawa semakin lama semakin keras. Dan seiring dengan
semakin mengerasnya tawa itu, semua orang yang berada di bawah menerima
akibatnya.
Mula-mula tawa itu hanya
menyakitkan telinga. Itu pun hanya untuk orang-orang yang memiliki tenaga dalam
tidak tinggi. Bagi Melati, apalagi Dewa Arak, sama sekali bukan masalah.
Tapi lama-kelamaan pengaruhnya
mulai membesar. Bukan hanya pada telinga, tapi juga kepala dan dada. Tawa itu
menyebabkan kepala pusing dan dada terasa sesak. Orang-orang selain Melati dan
Dewa Arak menutup telinga untuk mencegah masuknya tawa itu. Bahkan Melati dan
Dewa Arak diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk melawannya.
Semula Dewa Arak bermaksud
membiarkan tindakan SetanTertawa. Pemuda itu ingin tahu sampai di mana serangan
tawa lawan. Tapi ketika melihat keadaan Garang Laksa, Wulung, Benggala, dan
yang lainnya, Dewa Arak pun sadar mereka akan celaka. Mereka akan tewas dengan
mengenaskan!
Maka maksudnya semula terpaksa
diurungkan. Diputuskan untuk melawan sebelum mereka semua celaka. Dewa Arak
segera memusatkan tenaga dalamnya. Kemudian dikeluarkan lewat siulan!
Sesaat kemudian, terjadi
pertarungan yang menegangkan. Pertarungan yang mengandalkan kekuatan tenaga
dalam. Tawa Setan Tertawa dan siulan Dewa Arak. Masing-masing berusaha saling
mempengaruhi.
Siulan Dewa Arak ternyata mampu
mengimbangi tawa Setan Tertawa. Meskipun tidak dapat menindihnya, siulan itu
mampu membuat tawa Setan Tertawa kehilangan pengaruh. Garang Laksa, Wulung, dan
Benggala, serta yang lainnya menarik napas lega.
Tapi SetanTertawa bukan orang
bodoh. Dia tahu tawanya tidak dapat diandalkan lagi. Maka diputuskan untuk
melompat dari cabang pohon.
Jliggg!
Laksana daun kering jatuh di
tanah, SetanTertawa mendaratkan kedua kakinya.
"He he he...! Pantas kau
berani menantangku, Anak Muda. Rupanya kau memiliki sedikit kepandaian! Tapi
jangan harap dapat mengungguli SetanTertawa! He he he...!"
Ada nada meremehkan dalam ucapan
Setan Tertawa. Tapi Dewa Arak tidak mempedulikan. Pemuda itu tenang. Yang ada
di benaknya adalah berusaha untuk memenuhi janji yang telah diucapkan.
"Setan Tertawa...! Aku tidak
mengenalmu. Mungkin demikian pula denganmu. Tapi karena tindakan kejimu
terhadap temanku dan demi menjaga ketenangan dunia persikitan, terpaksa kau
akan kulenyapkan!" mantap dan tegas Dewa Arak mengucapkan kata-katanya.
"Ha ha ha...!" Setan
Tertawa terbahak-bahak "Luar biasa! Betapa sombongnya. Rupanya kau belum
mengenal siapa aku, Anak Muda?!"
"Siapa yang tidak mengenal
julukan Setan Tertawa? Datuk sesat yang sangat pandai, tapi memiliki watak
keji!" jawab Dewa Arak lantang.
"He he he...! Kau benar,
Anak Muda. Ha ha ha...! Tak pernah kusangka ada seorang pemuda selihai dan
seberani kau. Eh, tunggu dulu! Di dunia persikitan kudengar telah muncul
seorang tokoh digdaya. Seorang pendekar yang masih muda dan berjuluk Dewa Arak.
Ciri-cirinya..., ah sama denganmu. Jadi rupanya kau Dewa Arak... sungguh tidak
kusangka akan bertemu denganmu. Mari, Dewa Arak. Ingin kubuktikan kebenaran
berita yang menggembar-gemborkan julukan itu!"
Usai berkata, SetanTertawa bersiap-siap
melancarkan serangan. Lelaki gemuk pendek itu berteriak dengan sepasang mata
terpejam. Sementara kedua tangannya disilangkan ke depan dada.
***
Melihat sikap Setan Tertawa, Dewa
Arak tidak berani bertindak gegabah. Cepat diambilnya guci arak yang bergantung
di punggung. Kemudian dituangkan ke mulut.
Gluk... Gluk... Gluk...!
Bunyi tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian hawa hangat merayap
naik ke kepala. Kedudukan kaki Dewa Arak mulai tidak menapak tetap di tanah.
Tubuh pemuda berambut putih keperakan itu limbung.
Tapi jangan dipandang rendah.
Justru pada saat seperti itu Dewa Arak berada dalam puncak kemampuannya. Semua
ciri-ciri ini menunjukkan ilmu 'Belalang Sakti' siap dipergunakan.
Setan Tertawa sempat tertegun
melihat ilmu yang dikeluarkan Dewa Arak. Tapi hanya sekejap. Buru-buru
dibuangnya perasaan itu. Lalu....
"Hiyaaat...!"
Diawali teriakan keras yang
menggetarkan tempat itu, Setan Tertawa melompat menerjang. Di saat tubuhnya
berada di udara, dengan sisi tangan kanan dihantamnya ubun-ubun Dewa Arak
Wuttt!
Setan Tertawa kecewa. Serangannya
mengenai tempat kosong. Tubuh Dewa Arak sudah tidak berada lagi di situ. Setan
Tertawa menjadi heran bukan main. Dia tidak melihat Dewa Arak mengelak. Bahkan
yang dilihatnya, dengan langkah seperti akan jatuh, Dewa Arak menyambut
serangan dengan tubuhnya. Tapi mengapa serangannya tidak mengenai sasaran?
Tapi hanya sebentar saja
pertanyaan itu bergayut di benak Setan Tertawa. Sesaat kemudian sebagai seorang
datuk sesat yang mempunyai pengalaman luas, dia segera mengetahui Dewa Arak
menggunakan sebuah ilmu yang unik
Meskipun demikian dia tidak
menjadi putus asa. Seluruh kemampuan yang dimilikinya dikeluarkan. Dicecarnya
Dewa Arak Tapi selalu saja serangannya mengenai tempat kosong. Sebaliknya,
setiap serangan balasan Dewa Arak membuat Setan Tertawa kelabakan! Tapi
meskipun demikian, kakek pendek gemuk ini mampu memberikan perlawanan yang
berarti.
Seru dan menarik pertarungan yang
berlangsung. Masing-masing mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dewa Arak
menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'. Kedua tangan, guci, dan semburan araknya
menjadi satu kesatuan yang dapat menggilas habis pertahanan lawan!
Tapi lawan yang dihadapinya
seorang datuk yang sangat tinggi ilmunya. Terlebih Setan Tertawa mengeluarkan
ilmu andalan. 'Ilmu Tangan Pasir Besi' yang mampu membuat tangannya kebal dan
beracun!
Tapi 'Ilmu Tangan Pasir Besi'
kehilangan keampuhannya ketika bertemu dengan ilmu 'Belalang Sakti'. Racun yang
terkandung dalam setiap serangan Setan Tertawa menguap kedahsyatannya.
Jurus demi jurus berlalu cepat.
Tak terasa pertarungan telah menginjak seratus dua puluh lima jurus. Dan sampai
pada jurus ini Setan Tertawa mulai terdesak dan terhimpit!
Setan Tertawa menggertakkan gigi.
Rasa penasaran yang amat sangat menggelora di dalam hatinya ketika menyadari
kenyataan lawannya jauh lebih unggul. Terpaksa senjata andalannya dikeluarkan.
Sepasang kecer.
Blammm, blammm!
Bunyi berdentam keras langsung
terdengar begitu Setan Tertawa membenturkan sepasang kecernya. Keras bukan main
laksana ledakan halilintar. Sehingga semua orang yang berada di situ ambruk ke
tanah dengan lutut terasa lemas.
Kini pertarungan kembali
berlangsung. Lebih seru dan sengit daripada sebelumnya. Karena Setan Tertawa
telah menggunakan senjata andalannya. Bunyi riuh rendah menyemaraki jalannya
pertarungan. Bunyi menderu, mencicit, dan mengaung terdengar silih berganti.
Ditimpali dengan bunyi berdentam memekakkan telinga.
Kembali jurus demi jurus berlalu
cepat. Tak terasa seratus dua puluh lima jurus lagi telah berlalu. Hingga kedua
tokoh ringkat tinggi yang berbeda usia dan aliran itu telah bertarung dua ratus
lima puluh jurus.
Sampai di sini jalannya
pertarungan mulai berubah. Gerakan-gerakan Setan Tertawa tidak selincah tadi.
Bahkan bobot serangannya jauh berkurang. Rupanya kakek pendek gemuk ini sudah
kelelahan.
Tidak demikian dengan Dewa Arak
Pemuda berambut putih keperakan itu masih tetap seperti semula. Kelincahan dan
kekuatan serangannya sedikit pun tidak berkurang. Karena setiap kali merasa
lelah dan tenaganya berkurang, Dewa Arak segera menenggak araknya. Saat itu
juga kekuatannya pulih kembali.
Dengan sendirinya Dewa Arak menguasai
pertarungan. Beberapa kali Setan Tertawa terhuyung-huyung ketika benturan
terjadi. Di jurus kedua ratus enam puluh satu Setan Tertawa menyerang kepala
Dewa Arak dengan kedua kecernya yang saling beradu. Tentu saja untuk
melakukannya dia harus melompat ke atas. Karena tinggi tubuhnya hanya sedada
Arya.
Blammm...!
Kembali serangan Setan Tertawa
mengenai tempat kosong. Dewa Arak telah merendahkan tubuhnya. Kedua kecer itu
saling berbenturan beberapa jari di atas kepala Arya. Bunyi keras memekakkan telinga.
Saat itu banyak celah-celah
terbuka di pertahanan Setan Tertawa, mulai dari dada ke bawah. Dan kesempatan
itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Dewa Arak. Secepat kilat kedua tangannya
dihentakkan ke dada lawan.
Wuttt!
Hembusan angin dahsyat menderu
mengiringi meluncurnya kedua tangan Dewa Arak. Setan Tertawa terkejut bukan
main. Disadarinya ancaman besar. Lelaki gemuk pendek itu mencoba mengegoskan
tubuhnya. Tapi....
Bukkk! "Aaa...!"
Jeritan menyayat dikeluarkan
Setan Tertawa. Tubuhnya melayang ke belakang terdorong kedua tangan Dewa Arak
yang mendarat telak di sasaran. Darah segar menyembur dari mulut, hidung, dan
telinga. Membasahi tanah sepanjang tubuhnya meluncur.
Brukkk!
Diiringi bunyi berdebuk keras,
tubuh Setan Tertawa mendarat di tanah setelah melayang-layang beberapa tombak.
Datuk sesat yang ditakuti kawan maupun lawan itu tewas dengan tulang dada
hancur!
"Hhh...!"
Dewa Arak menghembuskan napas
lega. Ditatapnya tubuh Setan Tertawa sesaat sebelum diayunkan langkahnya
menghampiri Melati. Tapi baru beberapa langkah ayunan kakinya dihentikan.
Karena....
"Kau hebat, Dewa Arak. Kau
berhasil membunuh Setan Tertawa. Tapi masih ada aku! Kelak aku akan datang
mencarimu! Aku tidak mau kau menganggapku bertindak curang, mengajak kau yang
telah lelah untuk bertarung! Sampai nanti, Dewa Arak!"
Keras dan lantang seruan itu
dikeluarkan, sehingga menggema ke seluruh penjuru tempat itu. Dan sebelum gema
suara itu lenyap, sesosok bayangan hitam tinggi seperti galah telah melesat
jauh. Larinya tidak hanya mempergunakan kaki, tapi berganti-ganti dengan
tangan. Yang luar biasa justru karena itulah kecepatan larinya mengagumkan!
"Dewa Pencabut
Nyawa...," gumam Arya.
Memang, sekalipun belum bertemu
muka, Dewa Arak bisa memperkirakan pemilik suara itu Dewa Pencabut Nyawa. Lalu
tanpa memperhartikan lebih lama, Dewa Arak mengayunkan langkah mendekati Melati
dan yang lainnya.
"Kuucapkan terima kasih atas
bantuanmu, Dewa Arak. Tanpa bantuanmu mungkin aku sudah tewas di tangan dua
datuk sesat itu," ucap Garang Laksa penuh rasa syukur.
"Lupakanlah, Garang Laksa.
Kalau boleh kutahu, mengapa mereka mengejar-ngejarmu? Juga Gerombolan Perompak
Laut Hitam dan prajurit Kerajaan Pakuan?!" Arya mengeluarkan
ganjalanhatinya.
"Panjang ceritanya, Dewa
Arak. Tapi akan kuceritakan dengan ringkas. Sebenarnya aku Pimpinan Gerombolan
Perompak Laut Hitam. Tapi, Allah berkenan memberi rahmat-Nya. Sebuah kejadian
membuatku sadar. Aku pun bermaksud kembali ke jalan yang benar. Kudatangi
kembali kampung kelahiranku. Desa Sampan. Tapi, anak buahku tidak tinggal diam.
Mereka ingin harta rampasan kami yang kusimpan. Maka aku dikejar-kejar."
Garang Laksa menghentikan
ucapannya sejenak untuk mengambil napas.
"Rupanya kepergianku tercium
pula oleh Kerajaan Pakuan. Mereka mengirim prajurit-prajurit terbaiknya untuk
menangkapku. Mereka ingin aku menyerahkan pusaka kerajaan yang telah kami
rampas."
"Lalu..., bagaimana dengan
Setan Tertawa dan Dewa Pencabut Nyawa?! Mengapa mereka
mengejar-ngejarmu?!" tanya Melati tidak sabar.
"Itu akibat kecerobohanku
sendiri. Rupanya pulau tempat harta kusimpan menjadi tempat pertemuan Dewa
Pencabut Nyawa dan Setan Tertawa untuk memamerkan ilmu-ilmu, terbaru.
Kunjunganku yang terakhir ke sana bertepatan dengan pertemuan mereka. Aku
dipergoki. Padahal, mereka tidak ingin ada seorang pun melihat ketika pertemuan
diadakan.
Hukumannya adalah mati! Maka aku
dikejar! Dan karena berhasil selamat dari kejaran itu, aku segera insaf!"
Dewa Arak dan Melati
mengangguk-angguk tanda mengerti. "Ada sebuah berita gembira,"
celetuk Benggala.
"O ya?! Apa itu,
Benggala?!" tanya Melati. "Garang Laksa adalah kakak kandungku yang
sejak kecil pergi merantau!"
"Ah! Kalau begitu, kuucapkan
selamat berkumpul kembali," ucap Dewa Arak. Sedangkan Melati mengangguk
menyetujui.
Angin berhembus lembut. Seperti
ikut merasa berbahagia melihat kegembiraan manusia-manusia yang tengah
bercengkerama.
SELESAI
No comments:
Post a Comment