PERTARUNGAN
DIPULAU API
Oleh Aji Saka
1
"Keparat!MonyetBusuk!KadalBuntung!"
Sambil mengeluarkan makian-makian
kotor penuh kemarahan, seorang kakek yang mengenakan pakaian terbuat dari benang
emas, menyeret perahunya ke
pinggir pantai. Pakaiannya
tampak kuning berkilauan. Apalagi, saatitu tertimpa sinar mataharipagi.
Dengan masih mengeluarkan makian, diikatnya perahu itu pada sebuah
karang es yang ada di situ. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat
itu. Dan yang tampak jelas hanya es!
"Akhirnya berhasil juga aku
sampai di sini. Hhh...! Selamat bertemu denganku, Pulau Es. Mudah-mudahan aku
tidak kedahuluan Raja Monyet Muka Hitam. Kalau tidak, dia akan lebih dulu
mendapatkan pusaka-pusaka Pulau Es," gumamkakekberpakaian kuning itu
khawatir.
Kakek itu mengayunkan langkah,
setelah sesaat mengawasi keadaan sekitar pulau. Langkahnya tampakhati-hati.Sepasang
matanya yang tajam berkilau dan terkadang mencorong seperti mata seekor harimau
dalam gelap, diedarkan ke sana kemari. Agaknya, kakek berpakaian kuning itu telah siap
siaga menghadapi segala kemungkinan
yang akan terjadi.Mendadak....
Blosss!Wusss! "Hei...!"
Kakekberpakaian kuning berseru
kaget ketika tanah ber-es yang diinjaknya amblas. Apalagi ketika dari rekahan
tanah itu menyembur api. Untung dia telah waspada sejaksemula.Sehingga kakek
itu dapat menghindardengan melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri. Api
itu menyemburdidepannya.
"Gila!" ujar kakek
berpakaian kuning penuh kengerian. Tarikan wajahnya kelihatan menyiratkan ketegangan. Kejadian itu rupanya telah
mengejutkanhatinya.
"Apa aku tidak salah
lihat?!" tanya kakek berpakaian kuning. Sepasang matanya tertuju ke arah
api yang menyembur keluar laksana air mancur!
Untuk beberapa saat, kakek itu
terpaku di tempatnya. Rasa tidak percaya terlihat jelas pada wajah dan
sorotmatanya.
"Aneh...," untuk yang
ke sekian kali ucapan tidak percaya keluar dari mulut kakek itu. Bahkan, kali
ini disertai dengan gelengan kepalanya. "Sulit kupercaya tempat ini mengandung api alam. Luar biasa! Tak masuk
akal!"
Setelah cukuplama
tenggelamdalamperasaan kagum dan telah mampu menguasai diri, kakek itu kembali melangkah memasuki pulau.
Langkah kakek itu kelihatan lebih berhati-hati dari sebelumnya. Selangkah demi
selangkah, dia berjalan menjauhi pantai. Tapi pemandangan yangditemuinya
tetapsama.Tanah yang tertutup es, gundukan-gundukan es dan bukit-bukit es.
Semua es.Dimana-mana es.
"Hm...!”
Kakek berpakaian kuning menggumam
pelan sambil mengangguk-anggukkan kepala, ketika melihat dua buah tiang es
setinggi dua tombak. Tiang itu mengapit sebuah jalan sekitar lima tombak di depannya. Dari bentuk dan keadaannya, agaknya dua buah tiang itu
merupakan pintu gerbang. Tanpa ragu-ragu dan tetap waspada, kakek itu
mengayunkan langkah menghampari. Tapi ketika jarak dirinya dengan kedua tiang
es tinggaldua tombaklagi,mendadak munculsosok-sosoktubuhberpakaian merah.
Kakek berpakaian kuning tampak
tidak terkejut. Sebab, dia sudah menduga sebelumnya kalau pulau ini
berpenghuni. Dengan tenang, langkahnya terus diayunkan. Demikian pula
sosok-sosok berpakaian merah. Kedua pihak terlihat saling mengawasi dengan
penuh selidik. Dan kakek itu tidak kelihatan kaget melihat ciri-ciri
sosok-sosokberpakaian merah yang berjumlah
lima orang itu. Padahal,
ciri-ciri mereka cukup aneh.Kulitmereka kemerahan!
Begitu jarak antara mereka
tinggal tiga tombak, lima sosok berpakaian merah yang tidak lain para penghuni
Pulau Api, melepaskan lilitan cambuk berduri pada pinggangnya. Jelas, mereka
telah siapbertarung!
Tentu maksud orang-orang
berpakaian merah itu telah diketahui kakek berpakaian kuning. Tapi, dia tidak
kelihatan gentar. Dan dengan tetap tenang kakinya diayunkan seperti tidak
terjadiapa-apa.
Sementara itu, kelima penghuni
Pulau Api sudah menyebar. Dalam waktu singkat, kakek berpakaian kuning telah
terkurung di tengah-tengah.Hingga,terpaksa kakekitu menghentikan langkahnya.
Lalu sepasang matanya yang tajam berkilat merayapi sosok-sosok tubuh pengeroyoknya. Tampak olehnya, wajah mereka bersih dari
bulu. Tidak ada seorang pun yang berkumisdan berjenggot,apalagibercambang!
"Siapa kalian? Dan apa
maksud kalian mencegat perjalananku?!" tanya kakek
berpakaian kuning tanpa rasa takut sedikit pun. Dan jawaban
pertanyaannyaadalah....
Ctar,ctar,ctar!
Bunyi keras menggelegar terdengar
ketika lima orang berpakaian merah melecutkan cambuknya. Dan sebelum gema bunyi
itu lenyap,
ujung-ujung cambuk itu telah
berbagai bagian berbahaya di berpakaian kuning.
meluncur ke tubuh kakek
"Hih!"
Kakek berpakaian kuning segera
menjejakkan kaki. Dan sesaat kemudian, tubuhnya melayang ke atas. Hingga, lecutan-lecutan cambuk mengenai tempatkosong dibawah
kakinya.
Jliggg!
Mantap dan terlihat gagah kakek itu mendaratkan kakinya di luar kepungan.
Tapi, itu hanya berlangsung sesaat. Sebentar kemudian, dengan sekari gerak
kelima penghuni Pulau Api berhasil mengurungnya kembali. Kini kakek berpakaian
kuning tidak mau bertindak ceroboh lagi. Cepat dicabutnya senjata andalannya
yang selalu terselipdipinggang.Sebuah suling emas!
Dan secepat itu pula senjatanya
diputar di depan dada. Luar biasa! Terdengar bunyi berirama. Nikmat didengar
telinga. Seakan-akan kakek berpakaian kuning itu meniupnya. Tapi, kelima orang berpakaian merah tidak
mempedulikannya. Kembali mereka melecutkan cambuk.
Ctar,ctar,ctar!
Kakek berpakaian kuning tidak segera bertindak. Dengan tenang dibiarkan
ujung-ujung cambuk menyambar lebih dekat. Baru setelah itu, suling di tangannya
diputar sedemikian rupa
hingga lenyap bentuknya. Yang
terlihat hanya segulungan sinar keemasan yang mengelilingi sekujur tubuh kakek
itu, seperti sebuah benteng yang memancarkan sinar!
Trak,trak,trak!
Terdengar bunyi benturan keras
berkali-kali
ketika suling itu berbenturan
dengan ujung lima batang cambuk. Akibatnya sungguh hebat! Tubuh kelima penghuni
Pulau Api langsung terhuyung-huyungkebelakang dengan telapaktangan terasa panas
dan pedas. Sementara kakek berpakaian kuning tidak terpengaruh sedikit pun!
Tenaga dalam kakek itu agaknya jauh lebih unggul dari lawan-lawannya.
Hal ini diketahui para penghuni
Pulau Api. Tapi mereka tidak menjadi gentar. Dengan cepat mereka segera
melancarkan serangan-serangan susulan. Bunyi meledak-ledak terdengar dari
lecutan cambuk mereka. Serangan itu langsung mendapat sambutan hangat dari kakek
berpakaian kuning. Tak pelak lagi, pertarungan pun kembali berlangsung. Sebuah
pertarungan yangpenuh denganbunyiriuh rendah.
***
Mengetahui kalau kakek berpakaian
kuning itu bukan lawan yang ringan, maka tanpa ragu-ragu lagi orang-orang berpakaian merah
membentuk penyerangan secara teratur. Dengan taktik seperti itu, mereka
kelihatan seperti
menjadi satu! Dengan kata lain,
seperti seorang yang memilikitangan dan kakilimapasang!
Dan hasilnya langsung dirasakan
kakek berpakaian kurung! Semula dia bersikap memandang
rendah, ketika dalam segebrakan telah membuat kepungan mereka berantakan. Tapi sekarang? Hasil seperti
itu sulit didapatkannya
kembali.
Memang, kerja sama yang dilakukan
orang-orang berpakaian merah itu sungguh luar biasa! Terkadang serangan dilakukan secara
bersamaan. Tiga di antara mereka bertindak sebagai penyerang, sedangkah sisanya
bertugas memusnahkan serangan balasan kakek
berpakaian kuning
Tapi, tak jarang serangan dilakukan
perorangan. Dengan taktik susul-menyusul tanpa henti seperti gelombang laut.
Yang lebih hebat, model serangan perorangan itu berbeda-beda. Seorang melakukan
serangan dengan lucutan, yang lain dengan cambuk menegang kaku, dan sisanya
membuat senjata lemas dan mati itu sepertihidup!Mereka dapat membuatcambukitu
meliuk-liuk dan mematuk-matuk seperti seekor ular!
Banyaknya model-model serangan,
membuat kakek berpakaian kuning sulit untuk menentukan lanjutan serangan
itu.Selain itu juga banyak menguras tenaga dan pikiran. Baik
serangan secara bersamaan atau
perorangan, semua memaksa kakekberpakaian kuning untuk memusatkan perhatian
menghindarinya. Suling emasnya dikelebatkan ke sana kembari mematahkan setiap serangan, dan
sekaligus melancarkan serangan balasan. Menarik dilihat dan gaduh di telinga, pertarungan itu berlangsung. Bunyi meledak-ledak dari cambuk, ditingkahi bunyi
melengking nyaring seperti suling ditiup,senantiasa terdengar.
Jurus demi jurus terus berlalu. Kini pertarungan memasuki jurus
kedua puluh. Meskipun demikian, tetap belum bisa dipastikan pihak mana yang
akan keluar sebagai pemenang. Sebab,pertarungan masih berlangsung sengit.
Rupanya, kenyataan ini membuat
kakek berpakaian kuning murka! Betapa tidak? Tenaga dan ilmu meringankan
tubuhnya berada jauh di ataslawan-lawannya. Tapi, kenyataannya dirinya sulit
untuk merobohkan mereka. Dan semua itu disebabkan oleh kerja sama yang baikdari
lawan-lawannya.
Hingga begitu pertarungan
memasuki jurus kedua puluh lima, namun tetap saja belum mampu menguasai
keadaan, kakek berpakaian kuning kehilangan kesabaran. Maka diputuskannya untuk menggunakan cara lain. Padahal,
semula dia tidak bermaksud untuk mengeluarkannya. Sebab, tingkat kemampuan
lawan-lawannya berada jauh dibawahnya.
"Hih!"
Kakek itu melempar tubuhnya ke
belakang dan bersalto beberapa kali. Tampaknya kakek itu hendak menjauhkan diri
dari lawan-lawannya. Melihat hal itu, lima orang penghuni Pulau Api tidak
tinggal diam. Mereka tahu, hanya ada dua kemungkinan yang menyebabkan lawan menjauhkan diri. Pertama, melarikan
diri. Dan kedua, hendak menggunakan ilmu andalan! Kedua-duanya tidak
dikehendaki mereka. Maka, pengejaran pun langsung dilakukan! Jangankan
melarikan diri, memperbaiki kedudukan pun tidakakan mereka biarkan!
Tapi karena kakek berpakaian kuning
memiliki ilmu meringankan tubuh jauh di atas orang-orang berpakaian merah, maka
dia berhasil menjauhkan diridarilawan-lawannya.
Jliggg!
Ringan tanpa suara kakek itu mendaratkan
kedua kakinya di tanah. Kemudian segera menempelkan sulingnya di mulut. Ujung
jari-jari tangannya ditutupkan ke lubang-lubang yang terdapat pada badan
suling. Terdengar bunyi melengking ketika kakek berpakaian kuning meniupnya.
Sedang pada saat itu, lima orang penghuni Pulau Api tengah meluruk ke arah
kakekitu.
Semula suara suling memang cukup
nikmat didengar. Tapi sekejap kemudian nadanya berubah tinggi. Melengking nyaring.
Kelihatannya sepele saja. Tapi
akibatnya benar-benar menakjubkan! Lima penghuni Pulau Api yang tengah meluruk
ke arahnya langsung mengurungkan maksud mereka. Betapa tidak? Bunyi tiupan
suling kakek berpakaian kuning terasa sakit di telinga dan dada kelima orang
itu. Semakin lama bunyi suling semakin tinggi dan tidak enak didengar telinga!
Dan semakin lama, guncangan pada dada dan rasa sakit yang melanda telinga makin
menjadi-jadi.
Akibatnya, kelima penghuni Pulau
Api tidak bisa melanjutkan perlawanan lagi. Mereka segera duduk bersila, mengambil sikap semadi.
Punggung diluruskan dan kedua tangan dipertemukan di depan dada.
Tampaknya kelima orang itu berusaha melawan pengaruh suara suling dengan
pengerahan tenaga dalam. Dengan sendirinya bentuk pertarungan berubah. Dan
kelihatan tidak menarik lagi. Satu pihak berdiri sambil meniup suling, dan
lawannya duduk bersila. Kedua belah pihak sibuk dengan urusan
masing-masingdalamjaraksatu tombak!
Di awal-awal pertarungan yang menitikberatkan pada kekuatan tenaga
dalam itu, belum dapat dipastikan pihak mana yang akan menang. Tapi sebentar
kemudian tanda-tanda keunggulan mulai terlihat!
Wajah lima orang penghuni Pulau
Api tampak semakin memerah. Bahkan dari atas kepala mereka
mengepuluapputih.Mula-mula tipis,tapi
semakin lama semakin banyak dan
tebal. Mereka mengeluarkan tenaga dalam di luar batas kemampuan mereka. Tidak
hanya itu saja yang terjadi. Dari kedua telinga dan lubang hidung orang-orang
berpakaian merah mengalir darah segar. Jelas, mereka telah terluka dalam! Darah
yang keluar tampak semakin banyak dan deras. Hingga dapatdipastikan robohnya
mereka tinggal menunggu waktu saja. Dan dugaan itu memang tidak
salah!Sesaatkemudian....
"Akh!"
Jeritan menyayat hati keluar dari
mulut salah seorang penghuni Pulau Api. Tubuh orang itu mengejang sesaat.
Kemudian terkulai lemas! Orang itu tewas dalam keadaan masih duduk bersila.
Belum lagi gema teriakan orang malang itu lenyap, jeritan menyayat lainnya
segera menyusul. Berturut-turut empat orang
berpakaian merah mengalamihasilyang sama.
"Ha ha ha...!"
Kakek berpakaian kuning tertawa
terbahak-bahak melihat lawan-lawannya terkulai tanpa nyawa. Masih dengan tawa
yang belum putus, diselipkannya suling itu di pinggang. "Itulah ganjaran
bagi orang yang berani menentang Raja IblisBaju Emas!Hahaha...!"
Setelah menatap mayat kelima
lawannya sesaat, kakek berpakaian kuning yang ternyata berjuluk Raja Iblis Baju
Emas, mengayunkan langkah untuk meneruskan maksudnya yang
sempat tertunda. Tapi belum jauh
ia melangkah, tiba-tiba kakek itu menyelinap ke celah-celah dinding tebing yang
ada di dekatnya. Rupanya, kakek itu mendengarada suara orang
berbincang-bincang.
"Bodoh! Tolol! Mengapa
kalian bisa gagal mendapatkan pusaka-pusaka itu?! Sia-sia saja aku bersusah
payah memancing Sangga Buana keluardarisarangnya!"
Terdengar jelas oleh Raja Iblis
Baju Emas ucapan bernada kemarahan itu. Kepalanya dikeluarkan sedikit dari tempat persembunyiannya untuk
melihat pemilik suara itu. Tampak tiga sosok berpakaian nerah tengah melangkah
tergesa-gesa. Dua di antara mereka mengenakan sabuk lebar merah
menyala. Sedangkan yang seorang lagi, di samping mengenakan sabuk juga
ikat kepala. Dan berwarna merah pula.
"Maafkan kami, Ketua,"
jawab salah seorang yang pinggangnya dililit sabuk. "Kalau tidak terjadi
hal-hal di luar dugaan itu, kami mungkin sudah membawa pusaka-pusaka itu ke
hadapan Ketua."
"Benar, Ketua. Sekelompok
orang berpakaian hitam yang dipimpin seorang kakek berwajah hitam dan mirip
monyet tiba-tiba datang," sambung temannya. "Di samping jumlah mereka
banyak, kakek berwajah hitam itu hebat bukan
main. Padahal, saat itu kami
tengah direpotkan oleh orang-orang Pulau Es...."
"Singkatnya, kalian gagal mendapatkan pusaka-pusaka itu kan?"
potong kakek berikat kepala merah, yang ternyata pimpinan orang-orangberpakaian
merah.
"Benar, Ketua. Pusaka-pusaka
itu dilarikan orang berwajah monyet itu," jelas dua lelaki berikat
pinggang lebar sambil menundukkan kepala. Tampak jelas kalau mereka merasa
bersalah.
"Hhh...!" kakekberwajah
kelimisitu, menghela napas berat "Sia-sia saja aku susah-payah memancing Sangga Buana meninggalkan istananya."
Ada nada kekecewaan yang sangat
dalam suara pimpinan orang-orang berpakaian merah itu. Ucapan itu tidak
mendapatkan tanggapan dari dua orang berikat pinggang merah. Mereka hanya
menundukkan kepala.
Sementara, di tempat
persembunyiannya Raja Iblis Baju Emas kelihatan terperanjat. Meskipun hanya itu pembicaraan yang tertangkap
telinganya, karena ketiga orang itu telah semakin jauh meninggalkannya, tapi
kakek itu sudah mengerti. Banyak keterangan yang
didapatkannya dari pembicaraan tiga orang berpakaian merah itu.
Dan kesimpulan yang berhasil
ditarik dari pembicaraan itu membuatnya terperanjat! Betapa
tidak? Ternyata tempat yang bukan
Pulau Es! Sungguh mengagetkan hati!
didatanginya ini kenyataan yang
Kejutan yang kedua adalah
pusaka-pusaka Pulau Es telah dicuri orang! Dan semua itu mencapai puncaknya
ketika mendengar ciri-ciri orang yang berhasilmembawa lari pusaka-pusaka itu.
Meskipun hanya mendengar ciri-cirinya, tapi kakek itu langsung bisa menebak
siapa orang itu. Ya!Raja MonyetMukaHitam.
Keparat! Tak kusangka Raja Monyet
Muka Hitam berhasil mendahuluiku..., ucap Raja Iblis Baju Emas dalam hati. Kecil sekali kemungkinannya aku
berhasil merebutnya kembali.
Meskipun demikian, apa pun yang terjadiaku harusberusaha merebutnya. Rupanya,
dia dan gerombolannya masih di Pulau Es. Tunggulah, Raja Monyet! Aku akan
datang dan merebutpusaka-pusaka itu!
Setelah mengambil keputusan
seperti itu, Raja Iblis Baju Emas bermaksud kembali ke
perahunya.
Tapi....
Ah! Aku lupa menyembunyikan mayat
kelima orang tadi. Tiga orang itu pasti akan melihatnya. Dan mereka akan tahu
kalau ada orang yang telah menyelundup kemari. Lebih baik aku bersembunyi dulu,
ucap Raja Iblis Baju Emas dalamhati.
Dan kakek itu memang tidakperlu
menunggu terlalu lama untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Karena sesaat kemudian, dari kejauhan
terdengar suara pekikan keras penuh kemarahan. Pekikan kerasyang membuat
sekitar tempat itu bergetar hebat, keluar dari mulut Pemimpin Pulau Api. Dan
penyebabnya adalah mayat kelima orang anakbuahnya.
"Keparat! Jahanam! Orang
gila dari mana yang telah melakukan semua ini?! Dia akan mendapatkan
balasannya! Bonggol!Sangora!Cari orang gila itu! Dan cincang sampai hancur
tubuhnya bila ketemu! Aku yakin dia masih berada di sini! Lihat, perahunya
masih ada!" perintah Pemimpin Pulau Api pada dua lelaki berikatpinggang
merah.
"Baik, Ketua!" jawab
dua orang berikat pinggang merah yang ternyata bernama Bonggol dan Sangora.
"Aku pergilebih
dulu,Bonggol!Kau urusorang gila yang berani mati memasuki tempat kita dan
melakukan penghinaan ini. Jangan lupa, perintahkan beberapa orang pilihan untuk
menyusulku ke Pulau Es. Barangkali saja tenaga mereka cukupberguna untuk
menghadapi cecoro-cecoropencuripusaka itu.Kau mengerti?!"
"Mengerti, Ketua. Perintahmu
akan segera kami laksanakan," jawab Bonggol, yang mempunyaibibirtebal.
"Bagus!Sekarang aku
pergi!"
Lalu tanpa menoleh lagi, Pemimpin
Pulau Api menghanyutkan perahu miliknya ke laut. Sesaat kemudian, perahu itu
meluncur cepat membelah permukaan air. Sebab, kakek bertompel itu mengerahkan
tenaga dalamnya untuk mengayuh dayung. Bonggol dan Sangora mengawasi hingga
perahu pimpinan mereka lenyap.Setelah itu,baru mereka mengalihkan perhatian ke
sekitar tempat itu. Keduanya sibuk mengira-ngira di mana pembunuh kawan-kawan
merekaberada?
"Kita harus berhati-hati,
Sangora," beritahu Bonggol. "Aku yakin orang gila itu memiliki
kepandaian tinggi. Kau lihat mayat lima rekan kita,bukan?"
'Tak perlu mengajariku, Bonggol!"
sergah Sangora tidak senang. "Tanpa kau beritahu pun aku sudah
tahu.Kematian rekan-rekan kita telah membuktikan kekuatan tenaga dalam orang
itu! Tapi, harus kau ingat' Kita tidak sama dengan kelima orang
itu!Paham?!"
Tanggapan yang diberikan Bonggol
hanya dengusan. Entah apa maksudnya, hanya dia sendiriyang tahu!
***
2
Tentu saja Sangora mengetahui
tindakan rekannya. Tapi dia bersikap tidak peduli. Pandangannya dilayangkan ke
sekitar tempat itu. Demikian pula dengan Bonggol.
Namun, seketika itu pula keduanya
tersentak kaget Bahkan tanpa sadar melangkah mundur.
Sekitar delapan tombak di hadapan
mereka tampakberdiri seorang kakekberpakaian kuning! Dengan tenang, kakek yang
tidak lain Raja Iblis Baju Emasmelangkah menuju kearah mereka.
"Keparat!"
Makian marah itu keluar dari
mulut Bonggol. Memang sudah sejak tadi, laki-laki berbibir tebal itu merasa
geram bukan main pada orang yang telah membunuh rekan-rekannya.
"Bangsat!" Sangora tak
mau ketinggalan mengumbar kemarahan. "Kaukah yang telah melakukan semua
ini,KadalBuntung?!"
"Tidak salah!" jawab
Raja Iblis Baju Emas lantang,tanpa menghentikan langkahnya.
Sikap kakek berpakaian kuning itu
tampaknya demikian tenang. Bahkan juga terkesan meremehkan. Hingga Bonggol dan
Sangora semakin kalap. Seperti kakek-kakek kebakaran jenggot.
"Kalau begitu, kau harus
menebusnya dengan nyawa busukmu!Hiyaaat..!"
Tanpa menunggu Raja IblisBaju
Emasberada lebih dekat lagi, Bonggol melompat menerkam. Tindakannya
mengingatkan orang pada seekor harimau yang menerkammangsanya.
Raja Iblis Baju Emas tetap
bersikap tenang, meskipun bahaya maut tengah mengancamnya. Ditunggunya hingga
serangan itu dekat Lalu, kakek itu melakukan lompatan harimau ke kanan.Dan
dengan bertumpu pada kedua tangan, tubuhnya digulingkan. Hasilnya memang tidak
sia-sia. Serangan Bonggol mengenai tempat kosong.
Tapi sebelum Raja Iblis Baju Emas
sempat bangkit Sangora telah meluruk ke arahnya. Lalu....
Srattt!
Sinar terang memancar ketika
golok besar yang tergantung di pinggang dicabutnya. Dan secepat itu pula
diayunkan ke arah leher Raja Iblis Baju Emas. Agaknya, Sangora bermaksud
memisahkan kepala kakekberpakaian kuning itu dari tubuhnya.
Raja Iblis Baju Emas terkejut
bukan main menerima serangan mendadak itu Apalagi, saat itu dia berada pada
kedudukan yang tak menguntungkan. Meskipun demikian, kakek itu masih mampu
menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang datuk kaum sesat Dengan kecepatan
gerak yang sulit diikuti mata, tangannya bergerakkearah pinggang.
Trakkk!
Terdengar bunyi berdetak keras
ketika Raja Iblis Baju Emas menggerakkan tangan memapaki babatan golok besar
Sangora. Akibatnya, tubuh Sangora terhuyung kebelakang.
Kesempatan yang hanya sekejap itu,
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Raja Iblis Baju Emas. Tubuhnya dilentingkan,
dan berputaran beberapa kali. Lalu mendarat mantap dengan sikap waspada.
Tangan kanannya yang menyilang di depan dada menggenggam
sebatang suling.
Rupanya, suling itulah yang
dipergunakan Raja Iblis Baju Emas untuk memapaki babatan golok Sangora. Senjata
andalannya itu diambil dari selipan ikatpinggangnya.
Kakek berpakaian kuning itu tidak
perlu menunggu lama. Dengan diiringi teriakan
menggeledek yang membuat tempat itu bergetar hebat, Bonggol kembali melancarkan
serangan. Kali ini lelaki itu tidak bertangan kosong lagi. Tangan kanannya
menggenggam sebatang golok besar.
Wungngng!
Bunyi mengaung keras seperti
segerombolan lebah tengah murka terdengar, ketika Bonggol memutar senjatanya di
atas kepala. Kemudian dengan kecepatan
menakjubkan, lelaki itu mengayunkan goloknya mendatar ke arah batang
leherRajaIblisBaju Emas.
Belum juga serangan itu tiba,
serangan Sangora telah meluncur.Sangora melompattinggi ke atas. Dan saat
tubuhnya berada tepat di atas Raja Iblis Baju Emas, ia menukik turun dengan
ujung golok mengarah ke kepala bagian atas kakek itu! Menggiriskan sekali bentuk
serangannya.
Lagi-lagi Raja Iblis Baju Emas
mempertunjukkan sikap tenangnya. Meskipun dua serangan dahsyat berbau maut
tengah meluncur ke arahnya, kakek itu tidak kelihatan gugup. Otaknya berputar
untuk memusnahkan kedua serangan lawan dengan cara yang paling menguntungkan.
Dan hanya dalam sekejap, kakek berpakaian kuning telah mendapatkannya. Raja
Iblis Baju Emas menarik mundur kaki kanannya sambil mendoyongkan tubuhnya ke
belakang. Dan mengayunkan sulingnya ke atas memapaki luncuran goloklawan!
Wurtt!Wusss!Trakkk!
Rentetan kejadian itu berlangsung
dalam waktu sangat singkat Babatan golok Bonggol menyambar lewat beberapa jari
di depannya, hampir bersamaan dengan berbenturannya suling Raja Iblis Baju Emas
dengan golok Sangora! Kedua serangan penghuni Pulau Api itu berhasil
dikandaskan RajaIblisBaju Emas!
Tapi pertarungan tidak berhenti
sampai di sini. Begitu serangan pertamanya berhasil dielakkan,
Bonggol segera melancarkan serangan
susulan dengan sebuah tendangan
kaki kanan ke arah dada kakek itu. Sementara Sangora terpental ke atas akibat
tangkisan suling Raja Iblis Baju Emas. Dengan sebuah gerakan manis, Sangora
bersalto. Kemudian sambil berputar, goloknya dibabatkan ke kuduk kakek
berpakaian kuning itu.
Cepat dan mendadak datangnya kedua serangan itu. Tapi, Raja Iblis
Baju Emas mampu bergerak lebih cepat lagi. Sebab, kakek itu telah
memperhitungkan akan mendapat serangan susulan. Tendangan Bonggol dipapaki
dengan tendangan kaki kanannya pula. Itu dilakukannya dengan memutar
tubuhsambilmerendahkan diri.
Wusss!Blakkk!
Untuk yang kedua kalinya, babatan
golok Sangora mengenai tempat kosong! Dan dengan selisih waktu yang amat
singkat terdengar benturan keras kaki Raja Iblis Baju Emasdengan kakiBonggol.
Akhirnya memang cukup menakjubkan. Tubuh Bonggol langsung terdorong
ke belakang. Rasa sakit yang sangat mendera kakinya. Demikian pula Raja
IblisBaju Emas.Hanya jarak dorong kakek berpakaian kuning itu lebih dekat, dan
tidakmenderita sakit.Dari sinibisa diketahui kalau kekuatan tenaga dalam Raja
Iblis Baju Emas berada di atas lawan. Meskipun demikian, baik Bonggol maupun
Raja Iblis Baju Emas berhasil mematahkan kekuatan daya dorong
tubuh mereka. Sesaat kemudian,
pertarungan sengit kembaliberlangsung!
Raja Iblis Baju Emas tampaknya
harus menguras seluruh kepandaiannya jika ingin selamat. Lawan-lawannya
ternyata bukan orang sembarangan. Kalau dilihat secara perorangan, Bonggol dan Sangora memang memiliki kemampuan di bawahnya. Baik dalam ilmu
meringankan tubuh maupun tenaga dalam. Tapi karena orang-orang Pulau Api itu
menghadapinya secara bersama-sama, maka tak urung Raja Iblis Baju Emas
kerepotan menghadapinya. Tambahan lagi selisih kepandaian dirinya dengan mereka
tidak terlalu jauh.
Akibatnya sudah dapat diduga.
Pertarungan berlangsung sengitdan menggiriskan hati. Betapa tidak? Bunyimengaung,mendesing,
menderu dan bunyi seperti suling ditiup, selalu terdengar setiap kalikedua
belah pihakmelancarkan serangan.
***
Jurus demi jurus berlalu cepat.
Hal itu tidak aneh. Sebab, kedua belah pihak sama-sama memiliki gerakan cepat
Hingga dalam waktu singkat lima puluh jurus telah berlalu. Dan selama itu
kedudukan masih berimbang. Masing-masing pihak silih berganti melancarkan serangan.
Raja Iblis Baju Emas
menggertakkan gigi karena penasaran bercampur geram. Dirinya adalah seorang
datuk kaum sesat yang telah ratusan kali bertarung, dengan selalu keluar
sebagai pemenang.Tapi kali ini, sampai demikian lamanya belum mampu mendesak lawan. Kenyataan ini benar-benar memukul hatinya! Kalau
menghadapi dua orang ini saja dia tidak mampu menang, bagaimana bisa keluar
dari pulau ini dengan selamat? Sebab, di pulau ini masih banyak
orang-orang berbaju merah lainnya.
Rasa penasaran itu membuat Raja
Iblis Baju Emas semakin meningkatkan serangan. Hingga serangan-serangan yang
dilancarkannya pun semakin dahsyat! Meskipun demikian, hasil yang dicapai tetap
sama. Kakek itu belum juga mampu mendesak lawan-lawannya. Sejujurnya kakek
berpakaian kuning ini harus mengakui kalau kedua lawannya memang orang-orang
yang tangguh.
Hal yang menyulitkan Raja Iblis
Baju Emas untuk merobohkan Sangora dan Bonggol adalah kemampuan kedua orang itu
untukbekerja sama. Dua orang Pulau Api itu mampu saling bantu. Mereka saling
mengisi dalam penyerangan maupun pertahanan. Dalam kerja sama itu, Sangora dan
Bonggol seperti dua orang yang dikendalikan oleh satu otak. Hingga Raja Iblis
Baju Emas mengalami kesulitan untuk
merobohkan mereka.
Meskipun demikian, bukan berarti
dua orang Pulau Api itu dapat dengan mudah merobohkan Raja Iblis Baju Emas.
Sama sekali tidak! Kakek itu terlalu tangguh untuk dapat dikalahkan dengan
mudah! Itulah sebabnya pertarungan berlangsung sengitdan menarik
Karena terlau memusatkan
perhatian pada pertarungan, kedua belah pihak tampak tidak sadar kalau
pertarungan telah bergeser jauh dari tempat semula.Yang ada dibenak mereka
adalah menyelesaikan pertarungan sedapat mungkin. Tidak hanya senjata di tangan
saja yang dipergunakan, pukulan-pukulan jarak jauh pun dikeluarkan.
"Hih!"
Pada jurus kesembilan puluh tiga,
di saat memperoleh sebuah kesempatan, Raja Iblis Baju Emas melepaskan pukulan
jarak jauh. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan sasaran yang dituju
tidak hanya Sangora. Bonggol pun dikirimkan pula.
Tapi seperti juga kejadian
sebelumnya, dua penghuni Pulau Api itu mampu menunjukkan kalau mereka bukan
orang-orang yang dapat dengan mudah dipecundangi! Tanpa menemui kesulitan, Sangora dan Bonggol berhasil
mengelakkan serangan-serangan itu. Hingga
pukulan jarak jauh kakek itu
menghantam sasaranyang tidakdiharapkan, tanah!
Blarrr!Wusss!
Batu-batu es berpentalan ke sana
kemari terhantam pukulan jarak jauh Raja Iblis Baju Emas. Dan kejadian
selanjutnya benar-benar tidak sesuai dengan yang diharapkan.Dari dalam lubang
yang terbentuk akibat serangan nyasar itu, memancarkan api! Dan tidak hanya
satu, sebab lubang yang terbentuk lebih dariitu.
Seketika itu pula pertarungan
terhenti. Kedua belah pihaksama-sama terkejut. Pandangan mata mereka tertuju ke
arah api yang menyembur tinggi ke udara. Tapi kelakuan mereka tidak berlangsung
lama. Ketiganya segera tersadar,dan melanjutkan pertarungan lagi.
Suasana hiruk-pikuk kembali
menyemarakkan kancah pertarungan. Tapi, kali ini kedua belah pihak tidakbisa
bertarung seperti sebelumnya. Dari kejauhan tampak menghampiri tujuh sosok
berpakaian merah. Rupanya kegaduhan itu telah
sampaiketelinga mereka.
Dalam beberapa kali lesatan,
tujuh sosok berpakaian merah itu telah berada dalam jarah sepuluh tombakdari
kancah pertarungan.Mereka tidak berani bergerak lebih dekat lagi, takut terkena
serangan nyasar.Kedatangan tujuh sosok berpakaian merah itu agaknya diketahui
pihak-pihak yang telah bertarung. Tapi mereka tidak
peduli, dan terus memusatkan
perhatian pada lawan masing-masing.
Ketujuh sosok berpakaian merah
itu berkulit kemerahan. Wajah mereka kelimis. Tapi ada ciri-ciri khusus yang
memisahkan mereka menjadi dua kelompok kecil! Empat di antara mereka, paha
kanannya terbelit kain merah. Sedangkan sisanya kedua paha mereka dilibatkain
merah.
Ciri-ciri itu tidak luput dari
pandangan Raja Iblis Baju Emas. Seketika itu pula, sebagai seorang datuk yang
telah luas pengalamannya, dia langsung tahu kalau keberadaan kain merah itu
mempunyai arti tersendiri. Dengan kata lain, letak kain merah itu menjadi tanda
tingkatan orang yang bersangkutan. Tapi hanya sebentar saja, Raja Iblis Baju Emas membiarkan pikirannya mengembara kearah
itu.Selanjutnya, ia memusatkan seluruh perhatiannya pada pertarungan yang
dihadapinya.
Tak terasa lima puluh jurus telah
berlalu. Dengan demikian, kedua belah pihak telah bertarung hampir seratus lima
puluh jurus. Dan selama itu belum tampak ada tanda-tanda pihak yang akan keluar
sebagai pemenang. Bahkan, tanda-tanda yang akan terdesak pun belum terlihat
Melihat kenyataan ini, Bonggol
dan Sangora sadar kalau tidak ada perubahan pertarungan akan sulit berakhir.
Dan andaikata berakhir pun akan membutuhkan waktu yang lama.,
Sedangkan saat itu mereka masih
mempunyai urusan lain. Pemimpin Pulau Api tadi menyuruh mereka untuk segera
menyusul bila Raja Iblis Baju Emas sudah berhasildiringkus! Bukan tidak mungkin saat ini ketua mereka tengah menunggu-nunggu.
Pikiran itu membuat Sangora
memutuskan untuk secepatnya melakukan perubahan.
Bagaimana caranya tidak menjadi soal. Yang penting, Raja Iblis Baju Emas harus
secepatnya diringkus. Setelah mantap dengan keputusan itu, Sangora. melempar
tubuhnya ke belakang menjauhi kancah pertarungan. Tubuhnya berputaran beberapa kalidiudara.
Jliggg!
Ringan laksana daun kering, Sangora
mendarat di tanah. Mantap, tak goyah sedikit pun. Lalu tanpa menunggu lebih
lama, kepalanya ditolehkan kearah tujuh orang rekannya.
"Apa lagi yang kalian
tunggu?! Cepat bantu kami meringkusnya! Dia telah membunuh lima orang rekan kita!" seru Sangora dengan mengerahkan tenaga dalam,
hingga suaranya terdengar menggeledek.
Usai berkata demikian, Sangora
kembali melesat memasuki kancah pertarungan. Sebab begitu dia menjauh,Bonggol
langsung kewalahan. Kawannya itu terus-menerus bergerak mundur menghadapi
cecaran serangan Raja Iblis Baju Emas.
"Haaat..!"
Diiringi teriakan menggeledek, Sangora menyeruak ke dalam arena pertempuran.
Begitu tiba, serangan dahsyat dan bertubi-tubi langsung dikirimnya ke arah Raja
Iblis Baju Emas. Mau tidak mau kakek berpakaian kuning itu
mengendurkan desakannya pada
Bonggol, kalau tidak ingin celaka tersambargolokbesarSangora.
Kesempatan itu dipergunakan
sebaik-baiknya oleh Bonggol untuk memperbaiki kedudukan. Sesaat kemudian, lelaki itu telah dapat membantu Sangora.Hingga, Raja
IblisBaju Emas harus kembali berjuang keras menghadapi kerjasama kedua orang
itu. Tapi, tidak hanya mereka saja yang harus dihadapi. Ketujuh orang Pulau Api
yang tadihanya sebagai penonton, kini ikutbertarung.
Begitu ketujuh orang itu memasuki
arena pertempuran, keadaan langsung berubah total Raja Iblis Baju Emas segera
terdesak. Hanya dalam beberapa gebrakan, kakek itu dibuat pontang-panting ke sana kemari untuk
menyelamatkan selembar nyawanya. Sekarang kakekitu hanya mampubermain mundur.
Memang tidak tanggung-tanggung
pertolongan yang diterima Sangora dan Bonggol. Ketujuh orang itu, seperti juga
Sangora dan Bonggol, ternyata juga mampu bekerjasama. Mereka memecah menjadi
dua kelompok. Yang satu beranggotakan empat orang, sedangkan sisanya
tiga. Masing-masing kelompok ini
menggunakan kerjasama yang berlainan dengan kelompok lainnya. Meskipun
demikian,antara kelompok itu bisa saling bantu dan isi.
Itu yang menyebabkan Raja Iblis
Baju Emas tidak berdaya dalam beberapa gebrakan saja. Kakek itu bingung. Ia
harus menghadapi keroyokan tiga kelompok yang menggunakan kerjasama berbeda.
Dirasakan betapa berat gelombang serangan mereka. Susul-menyusul, dan
beratlaksanahantaman gelombang laut.
Sebagaidatuk yang telah
berpengalaman luas, Raja Iblis Baju Emas tahu kalau keadaan itu tidak menguntungkan dirinya. Kalau dia memaksakan diri terus mengadakan
perlawanan, sudah dapatdipastikan nyawanya akan melayang Padahal, saat ini Raja
Iblis Baju Emas belum ingin mati. Jalan satu-satunya agar tetap hidup adalah
melarikan diri!
Saat itu, keadaan Raja Iblis Baju
Emas memang amat mengkhawatirkan. Betapa tidak? Serangan-serangan yang datang
terlalu bertubi-tubi. Belum juga serangan yang satu diatasi, serangan lainnya
datang menyusul. Demikian seterusnya. Hingga, kakek berpakaian kuning itu tidak mempunyai kesempatan untuk
melancarkan serangan balasan. Dia telah disibukkan dengan mengelak dan
menangkis seranganyang tidakkunjunghabis.
Jadi, bukan tindakan keliru kalau
Raja Iblis Baju Emas memutuskan untuk meninggalkan kancah pertarungan. Sambil
terus mengelak dan menangkis serangan lawan, otaknya berputar keras mencari
kesempatan untk melarikan diri. Raja Iblis Baju Emas tidak mau bertindak
sembarangan. Dengan sabar, ditunggunya kesempatan untuk kabur sebab dia tahu kalau sekali
usahanya gagal, maka akan sulit baginya untuk mendapatkan kesempatan kedua,
karena lawan akan lebih waspada.
Akhirnya, kesempatan yang
ditunggu-tunggu Raja IblisBaju Emasdatang juga.Dengan sebuah hentakan tubuhnya
melambung ke udara. Dan sambil bersalto beberapa kali, suling, tangan, dan
kedua kakinya dipergunakan untuk mengirimkan serangan-serangan yang dapat menghambat
lawan.
"Hei!"
Sangora dan Bonggol yang baru
menyadari maksud lawannya menjerit kaget. Tapi semua sudah terlambat.Karena....
Jliggg!
Dengan susah payah,akhirnya Raja
Iblis Baju Emas berhasil keluar dari kepungan. Tanpa membuang-buang waktu lagi,
kakek itu melesat meninggalkan tempat itu. Karena untuk menuju pantai tak dapat
dilakukan, sebab lawan-lawannya menghalangi, terpaksa kakek
berpakaian kuning itu melesat
masuk ke dalam pulau.
"Kejar dia!Jangan sampai
lolos!" seru Sangora dan Bonggol bersamaan, sambil melesat mengejar.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
tujuh rekannya segera ikut mengejar.Kejar-kejaran pun tidak dapat dielakkan lagi.
Tapi, mana mampu orang-orang Pulau Api itu mengejar Raja Iblis Baju Emas. Kakek
itu memiliki kecepatan lari yang berada jauh di aras mereka. Hingga, tidak
heran jika jarakantara mereka semakin jauh.
Meskipun demikian, para penghuni
Pulau Api itu tidak berputus asa. Mereka terus melakukan pengejaran. Sangora
dan Bonggol berada paling depan. Disusul kelompok yang berjumlah tiga orang.
Sedangkan kelompok yang berjumlah empat, berada paling belakang. Mereka memang
memilikikemampuan paling rendah.
Sangora dan Bonggol tampak
penasaran bukan main. Sudah berturut-turut
mereka bertemu dengan tokoh yang tidak dapat mereka kalahkan. Pertama, Raja
Monyet Muka Hitam. Dan yang kedua, Raja Iblis Baju Emas! Bahkan sewaktu
menghadapi Raja Monyet Muka Hitam, yang datang bersama rombongannya, beberapa
anak buahnya tewas.Padahal, saat itu lima orang rekannya telah datang membantu setelah
mendapat panggilan darinya. (Untuk lebih
jelasnya, silakan baca serial
Dewa Arak dalam episode:'Geger.Pulau Es').
***
3
Dengan agak tergesa-gesa, dua sosok
berpakaian putih dan ungu mengayunkan langkah. Yang berpakaian ungu
seorang pemuda tampan berambut putih keperakan. Sebuah guci arak terbuat dari perak mengganduli punggungnya. Sedangkan yang
seorang lagi seorang wanita berpakaian putih. Wajahnya cantik jelita. Apalagi,
dengan rambut yang dibiarkan tergerailepas.
Sekarang sudah dapat diduga,
siapa pasangan muda berwajah elok itu. Ya! Mereka adalah Arya, yang lebih
dikenal dengan julukan Dewa Arak. Sedangkan gadiscantik itu Melati.Saat
ini,Dewa Arak dan Melati tengah terburu-buru menuju pantai!(Untuk jelasnya,
silakan baca serial Dewa Arakdalamepisode:'GegerPulau Es').
"Mengapa harus menuju
pantai,Kang?" tanya Melati, memecah keheningan. "Kau yakin mereka
telah meninggalkan pulau ini?"
Arya langsung menghentikan
langkah.Hingga Melati jadi ikut-ikutan menghentikan langkahnya. Kemudian gadis itu membalas tatapan
Arya.
"Sebenarnya, aku sendiri
tidak yakin orang-orang itu telah meninggalkan pulau Tapi demi keamanan,
kuputuskan untuk melihat pantai
lebih dulu. Siapa tahu mereka
tengah berkemas-kemas untuk meninggalkan tempat ini?" sahut Arya
mengemukakan alasannya.
'Tapi..., cara itu membutuhkan
waktu yang lama dan terlalu membuang tenaga, Kang! Apakah kita harus
mengelilingi pulau yang tidak kecil ini untuk membuktikan kebenaran dugaanmu?"
"Jangan khawatir, Melati.
Hal itu telah aku pikirkan. Kita tidak perlu mengelilingi pulau ini. Kita hanya
menuju pantai yang dekat dari sini. Itu pun hanya untuk memastikan saja. Bila
perahu mereka tidak kita temukan, maka kita akan pergi ke Pulau Api untuk
meminta pertanggungjawaban atas semua yang terjadi di Pulau Es ini!"
mantap dan tegas kata-kata yang keluardarimulutArya.
Melati langsung diam, tidak
membantah lagi. Gadis itu mendengar ada tekanan yang tidak ingin dibantah lagi
dalam ucapan kekasihnya. Walaupun belum melihat ada kebenaran di dalamnya,
Melati tidak memberikan bantahan. Dan karena Arya tidakberkata-kata lagi,
suasana pun menjadi hening. Tapi keadaan itu hanya berlangsung beberapa
saat.Karena....
"Kakang! Mengapa kita
demikian pelupa?!" tanya Melatikaget,setengah mengingatkan.
"Apa maksudmu, Melati? Aku tidak
mengerti?!" tanya Arya, tanpa menyembunyikan rasa heran dan ingin tahunya.
Ucapan Melari yang tiba-tiba, dan
sikap gadis itu yang demikian bersungguh-sungguh,
membuathari Arya agakberdebar. Apa gerangan yangdimaksudkan Melati?
"Akh! Kiranya kau
benar-benar telah lupa, Kang! Luarbiasa!"
'Tidak usah berteka-teki, Melati. Cepat katakan
maksudmu," desak Arya, tidak sabar melihattanggapan kekasihnya.
"Baiklah, Kang," Melati
terpaksa mengalah. "Sungguh tidak kusangka kau bisa lupa. Padahal, hal
itulah yang menjadi alasan kita mendatangi Pulau Esini."
"Ahhh...!" desah Arya
kaget. "Kau benar, Melati. Rupanya aku telah pikun! Mengapa aku bisa
melupakannya?!"
"Sekarang kau
ingat,Kang?!"
"Ya." Dewa Arak
menganggukkan kepala. "Mencari Abimanyu dan Patih Juminta beserta
rombongannya kan?!"
"Tepat!"sambutMelaticepat.
"Kalau begitu..., sekarang
tugas kita bertam-bah. Di samping mencari pusaka Pulau Es yang ada di tangan
Raja Monyet Muka Hitam dan mencari orang-orang Pulau Api, kita juga harus
menemukan Patih Juminta dan rombongannya,
serta Abimanyu," putus Arya,
mengambil jalan tengah. "Bagaimana?Setuju?"
Melati mengernyitkan alisnya yang melengkung indah. Tampak jelasgadis itu
tengah mempertimbangkan ucapan Arya. Dan sesaat kemudian, suaranya yang nyaring dan melengking terdengar
menyeruakkeheningan.
"Aku setuju saja, Kang. Tapi
perasaanku mengatakan mereka tidakberada disini."
"Hehhh?! Apa maksudmu,
Melati? Omongan macam apa itu?! Bukankah Gusti Prabu Nalanda yang telah
memberitahukan kepergian Abimanyu, Patih Juminta serta rombongan
prajuritKerajaan Bojong Gading?!"bantah Aryapenasaran.
"Ucapanmu memang tidak
salah, Kang," sambutMelati.'Tapi..., kau yakin mereka berhasil tiba
diPulau Es?!"
Kata-kata Melati membuat Dewa
Arak mengangguk-anggukkan kepala. Disadari ada kebenaran yang tidak bisa
dibantah dalam ucapan gadis itu. Benar! Bukan tidak mungkin mereka tidakpernah
tiba diPulau Es!
Melihat pemuda berambat putih
keperakan tercenung dengan kepala terangguk-angguk, Melati kembali melanjutkan
ucapannya yang belumselesai.
"Bagaimana, Kang? Apakah kita perlu
menanyakannya pada Kakek Sangga Buana?!" usulMelatihati-hati.
"Saranmu
baikjuga,Melari,"puji Arya sejujur-nya. "Nanti kita tanyakan pada
Kakek Sangga Buana. Sekarang, lebih baik kita lanjutkan pekerjaan kita.Setelah
itu,baru kita temuiKakek Sangga Buanauntukmenanyakannya."
"Begitu pun baik,
Kang," sambut Melari, gembira mengetahuiusulnya diterima.
Sepasang muda-mudi berwajah elok
itu kembali meneruskan perjalanannya menuju pantai. Tentu saja dengan kepala ditolehkan ke sana kemari.
Harapan mereka, mudah-mudahan dapat melihat orang-orang yang tengah mereka
cari. Tapi harapan itu tidak terkabulkan. Tidak ada sesosok tubuh pun yang
mereka lihat selain kesunyian. Yang mereka temui hanya gundukan-gundukan esdan
bukites.Segalanya serba es.
Tak berapa lama kemudian, pantai
telah tampak terbentang di hadapan sepasang muda-mudi berwajah elok itu. Malah
bukan hanya pantaimereka lihatTapi....
"Kau lihat itu,
Melati?!" tanya Arya setengah memberitahu. Jari telunjuk tangan kanannya
ditudingkan kedepan.
"Sebuah perahu layar besar,
Kang," jawab Melatidengan suaraberdesah.
"Benar." Arya
menganggukkan kepala. "Kau lihat bendera yang berkibar di tiang perahu
itu, Melati?!"
"Mereka..., komplotan bajak
laut, Kang?!" tanya Melati, meminta kepastian ketika melihat
benderayangberkibargagah di tiang perahu.
Tentu saja bukan bendera itu yang
dimaksud-kan Arya. Tetapi,gambaryang tertera diatasnya. Gambar tulang tengkorak
manusia yang terletak diatasdua potong tulang saling menyilang.
"Tepat!"jawab Arya
mantap.
"Kalau begitu, mari kita usir
mereka dari pulau ini, Kang. Aku yakin, kedatangan mereka kemari untuk mendapatkan pusaka-pusaka leluhurmu!"ujarMelatipenuh
semangat.
"Kau benar. Melati,"
ucapan Arya hanya sampaidisitu.
Sebab, Melati telah meluruk untuk
menyambut kedatangan rombongan bajak laut itu. Dan pemuda berambut putih
keperakan itu tidak ingin membiarkan kekasihnya menghadapi gerombolan bajak
laut seorang diri. Bila gadis berpakaian putih itu tidak ingin dibantu,
setidak-tidaknya keberadaannya di dekat Melati akan lebih mudah dan cepat untuk
memberikan bantuan.
Dalam beberapa kali lesatan, Dewa
Arak dan Melati telah berada dalam jarak lima tombak dengan pantai. Kehadiran
mereka tampaknya bertepatan dengan berlompatannya keluar
rombongan bajaklautitu dariatasperahu.
Jliggg!Jliggg!
Berturut-turut rombongan bajak
laut itu mendaratkan kaki di tanah yang tertutup es. Seperti sudah diduga Arya
dan Melati, rombongan itu terdiri dari orang-orang yang berperangai kasar.
Dalam waktu tak lama, tidak ada lagi anggota rombongan bajak laut yang melompat
turun.Pertanda jumlah mereka hanya itu saja.
Arya dan Melati menghitung dengan
pandang-an mata. Dua puluh enam orang. Jumlah yang cukup banyak. Berdiri paling
depan seorang laki-laki tinggi besar yang mempunyai rajahan tengkorak manusia
di dada. Tampak jelas, sebab orang itu tidakberbaju.
"Ha ha ha...! Tidak salahkan
penglihatanku?! Benarkah dihadapan kita ada seorang bidadari?!"
ujarlelakibertatodengan suara mengguntur.
Ada sifat kasar dalam suara dan
tindak-tanduknya. Malah sambil mengajukan
pertanyaan itu, telunjuknya ditudingkan ke depan.
"Ha ha ha...!"
Suasana di sekitar tempat itu
menjadi riuh rendah, ketika sosok-sosok tubuh kasar yang berdiridibelakang
lelakibertato ikut tertawa.
"Kau bisa saja,Tuan
Besar.Tapi,ucapan Tuan Besar memang tidak salah. Di depan kita ada
bidadari," timpal seorang lelaki kasar yang berkepalabotak.
Sementara itu, Arya dan Melati
tidak melakukan tindakan apa pun. Meskipun mendengar pembicaraan yang
berlangsung di depan mereka, tapi dibiarkan saja. Yang mereka lakukan hanya
mengamati. Dari pengamatan itu, Dewa Arak dan Melari tahu kalau lelaki bertato
itu adalah pemimpin gerombolan bajaklaut.
***
Mendadak, lelaki bertato mengangkat tangannya ke atas. Seketika itu pula
kegaduhan langsung lenyap. Tawa mereka segera terhenti. Agaknya, rombongan
orang kasar itu amat menghargailelakibertatoitu.
Begitu kegaduhan lenyap, lelaki
bertato menghampiri Dewa Arak dan Melati. Sikap sepasang pendekar muda berwajah
elok itu terlihat tenang. Tidak nampak ada perasaan gentar atau ngeri. Tarikan
wajah mereka kelihatanbiasa saja.
"Siapa kalian, Anak Muda?
Mengapa berada dii sini?Kau! Cepat tinggakan tempat ini sebelum aku kehilangan
kesabaran!" ujar lelaki bertato dengan suara keras. Ucapan itu ditujukan
pada Dewa Arak.
"Siapa sebenarnya kami, kau
tidakperlu tahu, Kisanak. Tapi agar kau tidak penasaran, biar kami beritahukan
sedikit. Kami adalah pemilik pulau ini. Jadi, tidak mungkin kami
meningggalkan tempatini. Lebih
baik kalian yang cepat pergi dari sini sebelum terlambat!" balas Arya
takkalahberwibawa.
"Apa kau bilang?!"
tanya lelaki bertato tidak percaya. "Coba ulangi. Aku ingin tahu, apakah
telingaku tidak salah dengar?!"
Dewa Arak tersenyumgetir. Pemuda
itu tahu, mengapa lelaki bertato bersikap demikian. Orang itu terlalu
membanggakan kepandaiannya, dan menganggap remeh lawan. Hingga, dia merasa
tidak yakin dengan pendengarannya saat mendengar ucapan yang berbau
tantangan atau ancaman.
Kalau Arya tidak terpengaruh
dengan ucapan lelaki bertato, tidak demikian halnya dengan Melati. Gadis
berpakaian putih itu kelihatan jengkel.
"Kawanku bilang, kau dan
gerombolanmu harus segera meninggalkan tempat ini, Kalau tidak, jangan salahkan
dia jika bertindak kasar terhadapkalian."
"Ha ha ha...!"
Seketika, meledaklah tawa
gerombolan orang kasar itu. Tak terkecuali lelaki bertato. Bahkan, tawanya jauh
lebih keras dibanding yang lain. Menggelegar sepertihalilintar.
Dan, lagi-lagi tawa itu segera
lenyap ketika lelaki bertato mengangkat tangannya ke atas sambil menghentikan
tawa. Wajahnya kini
tampak beringas. Sepasang matanya
yang besar dan kemerahan menyorot marah! Pandangan itu tertuju pada Arya.
"Sungguh berani kau
mengucapkan kata-kata seperti itu padaku, Anjing Buduk?! Kau tahu tengah
berhadapan dengan siapa sekarang?! Aku Panggala! Pemimpin Gerombolan Ular Laut!
Kelancangan itu harus kau tebus mahal!" seru lelaki bertato yang ternyata
bernama Panggala dengan suara mengguntur.
"Sayang sekali. Aku belum
pernah mendengar namamu atau nama gerombolanmu. Lagi pula andaikata kukenal pun
kami akan meneruskan maksud semula, yaitu mengusir kalian pergi dari
sini.Dan..."
"Diam!" potong Panggala
tidak kuat menahan amarah lagi. Pandangannya kemudian dialihkan pada anak
buahnya yang berada di belakangnya. "Cincang dia!"
Tanpa menunggu perintah dua kali.
Gerombolan Ular Laut menyerbu Dewa Arak dengan diiringi teriakan keras. Sesaat
kemudian, puluhan senjata tajamyang terdiridaribermacam jenisdan ukuran
meluncurkearah Dewa Arak.
'Terimalah kematianmu, Anjing
Buduk!Ha ha ha...!"
Di sela-sela melunaknya serbuan anak
buahnya, Panggala melepaskan ucapan dan tawa gembira. Tampaknya, lelaki itu
merasa yakin
pemuda berambut putih keperakan yang
membuatnya murka ituakanhabisdicincang.
Sementara, Dewa Arak tetap
bersikap tenang, Meskipun maut tengah melunak kearahnya, tapi pemuda itu tidak
menjadi gentar. Ditunggunya hingga lawan-lawannya dekat. Sedangkan Melari sudah
sejak tadi menjauh, begitu mendapat isyaratArya.
Dengan sendirinya, hanya Arya yang
menyambut serbuan Gerombolan Ular Laut. Begitu serangan-serangan itu meluncur
dekat, pemuda berambut putih keperakan itu segera bertindak. Tanpa menemui
kesulitan, tubuhnya menyelinap di antara kelebatan senjata-senjata lawan.
Terlihat lincah laksana bayangan dan gesit takubahnya gerakan kera.
Dan tindakannya tidak hanya
sampai di situ. Begitu serangan-serangan lawan berhasil
dielakkan, serangan susulannya meluncur. Hasilnya langsung terlihat.
Jeritan kesakitan terdengar silih berganti.
Diiringi dengan berpentalannya tubuh Gerombolan Ular Laut keluar
dari kancah pertarungan.
Brukkk,brukkk!
Berturut-turut tubuh anak buah
Panggala berjatuhan, tidak bangkit lagi. Tapi tak mari, pingsan!
Kejadian ini
tidak membuat anggota Gerombolan Ular Laut yang lain
menjadi gentar.
Bahkan sebaliknya. Serangan yang
mereka lancarkan semakin bertubi-tubi. Di samping karena rasa penasaran, mereka
juga ingin membalas penderitaan yang dialami rekan-rekan mereka.
Tapi keinginan mereka lebih mudah
untuk di-pikirkan dan dikatakan daripada dilaksanakan. Dewa Arak bukan orang
yang dapat mereka taklukan dengan mudah.
Semua serangan mereka selalu kandas. Tak satu pun mengenai sasaran.
Sebuah keuntungan sebenarnya
berada di pi-hak Gerombolan Ular Laut Dewa Arak tidak bersungguh-sungguh
menghadapi mereka. Di samping pemuda berambut putih keperakan itu tidak mengeluarkan ilmu 'Belalang Sakti' andalannya, kemampuannya pun tidak
dikerahkan seluruhnya. Pemuda itu lebih banyak mengelak daripada melancarkan serangan. Andaikata sebuah serangan dilancarkan pun hanya
mengerahkan sebagian kecil tenaganya. Dewa Arak tidak ingin membuat lawannya
tewas atau terluka berat.
Memang, Dewa Arak tidak bermaksud
membunuh mereka. Sebab, pemuda itu belum menyaksikan kekejaman mereka. Jadi,
tidak ada alasan yang kuat untuk membunuh mereka. Maka, pemuda berambut putih
keperakan itu bermaksud memberi peringatan pada Gerombolan UlarLaut!
Hingga, dapat dibayangkan, betapa mendongkolnya hati Dewa Arak ketika
melihat lawan-lawannya tetap melancarkan serangan. Bahkan jauh lebih menggebu-gebu dari sebelumnya. Tidakkah mereka tahu
kalau dirinya telahbersikapmengalah?
"Akh,akh...!"
Dua jeritan menyayat kembali
terdengar, ketika dua anggota Gerombolan Ular Laut terlempar keluar kancah
pertarungan. Mereka terkena kibasan tangan Dewa Arak Dan seperti rekan-rekan
mereka sebelumnya, kedua orang itu langsung jatuh pingsan! Tapi seperti yang
sudah-sudah, sisa Gerombolan Ular Laut masih tegak berdiri tetap tak menjadi gentar.
Bahkan serangan mereka makin dahsyat!
Kini, kesabaran Arya habis.
Disadari kalau tindakannya tak membuahkan hasil yang diharapkan.
Maka, segera diputuskan melakukan tindakan yang lebih menunjukkan kepandaiannya. Barangkali, bila hal itu dilakukannya mereka akan gentar dan menghentikan pertarungan. Setelah
merasa pasti dengan keputusan itu, Arya segera melaksanakannya.
"Hih!"
Pemuda berambut putih keperakan itu menjejakkan kaki. Sesaat kemudian,
tubuhnya
melayang ke belakang. Dewa Arak
bersalto beberapa kalisebelum mendaratditanah.
Jliggg!
Ringan tanpa suara laksana
jatuhnya sehelai daun kering, kedua kaki Dewa Arak hinggap di tanah. Tapi, hanya sampai
di situ saja tindakannya. Dewa Arak berdiri di tempatnya sambil
melipatkedua tangan didepan dada!
Hingga membuat Gerombolan Ular
Laut merasa heran. Mereka saling pandang sesaat dengan raut wajah bingung. Dan
begitu rasa kaget yang melanda lenyap, mereka kembali meluruk ke arah pemuda
berambut putih keperakan itu.
Wuttt,wuttt,singngng!
Untuk kesekian kalinya,
senjata-senjata yang terdiri-dari beraneka ragam jenis dan ukuran itu,
berkelebatan ke berbagai bagian tubuh Dewa Arak. Namun pemuda berambutputih
keperakan itu tetap berdiri dengan sikap semula. Tidak nampak tanda-tanda akan
melakukan suatu tindakan,baikelakan maupun tangkisan.
Dan memang, Dewa Arak tidak
melakukan tindakan apa pun hingga senjata-senjata itu
meluncurmendekatisasaran.Akibatnya....
Takkk,takkk,bukkk!
Bertubi-tubi terus hujan pedang, golok, tombak, tongkat, trisula, ruyung, dan pisau
mengenai seluruh bagian tubuh Dewa Arak.
Bunyi riuh seperti logam keras
berbenturan terdengar, ketika senjata-senjata itu mendarat di sasaran.
Dan, akibatnya sungguh
mengejutkan! Bukan hanya Gerombolan Ular Laut yang kaget, Panggala pun
demikian. Semula, begitu melihat Dewa Arak tidak melakukan tindakan apa pun,
Panggala sudah membayangkan tubuh pemuda berambut putih keperakan itu akan
luluh-lantak. Tapi, ternyata.... Dapat dibayangkan, betapa kaget lelaki itu melihat kenyataan yang
membentangdidepan matanya.
Dewa Arak tidak tewas. Apalagi
dengan sekujur tubuh hancur! Terluka sedikit pun tidak! Tokoh muda yang
menggemparkan itu tetap berdiri seperti semula. Tarikan wajahnya pun tetap
biasa. Tidak terlihat tanda-tanda pemuda itu merasa kasakitan.
Malah sebaliknya, tubuh
Gerombolan Ular Laut yang terhuyung-huyung ke belakang. Tangan mereka terasa
sakit bukan main. Seperti bukan tubuh manusia yang terdiri dari daging dan
tulang yang mereka jadikan sasaran, melainkangundukan baja kuat!
***
4
"Bagaimana? Sudah puas?
Kalau belum, kalian boleh mencoba lagi. Percayalah, aku tidak akan membalas!
Kalian boleh pilih bagian yang paling empuk!" ucap Dewa Arak sambil
menatap wajahGerombolan Ular Lautsatupersatu.
Jelas, ada tantangan dalam ucapan
itu. Tapi Gerombolan Ular Laut tidak bergeming dari tempatnya. Mereka saling
pandang satu sama lain, seakan tengah meminta pendapat rekannya yang menjadi
sasaran pandangan. Tapi, tidakada jawaban. Mereka tengah dilanda perasaan yang
sama.Bingung!
Yang memberikan tanggapan atas
tantangan Dewa Arak adalah... Panggala! Dengan wajah merah padam karena marah mendengar
tantangan Dewa Arak, lelaki bertato itu
melangkah maju.
"Apakah tantanganmu berlaku
untukku, Anjing Buduk?!" tanya Panggala sambil mengamang-amangkan senjatanya
diataskepala.
Senjata lelaki bertato itu memang
tampak mengerikan! Sebuah kapak besar dengan gagang tongkatbaja putih sepanjang
setengah tombak!
Dewa Araktidak segera menjawab
pertanyaan bernada tantangan itu. Arya tidak berani bertindak ceroboh! Terhadap
Gerombolan Ular Lautdia beranibertindakseperti itu, karena telah
diketahui kekuatan tenaga dalam mereka. Sedangkan Panggala tidak! Dia
pemimpin gerombolan, tentu tenaga dalamnya jauh lebih kuat. Apalagi dengan
senjata yang terlihat demikian dahsyat dan mengerikan! Maka, pemuda berambut putih
keperakan itu membutuhkan waktu
untuk memutuskan. Dan Dewa Arak tidak berlama-lama mengambil keputusan.
Sejenak, pemuda itu memperhatikan Panggala.Lalu....
'Tentu, Babi Busuk! Kau pun boleh
memilih bagianyang paling empuk!"tandasDewa Arak.
"Bagus! Sekarang terimalah
kemarianmu, Anjing Buduk!Hih...!"
Wukkk,wuk,wuk!
Panggala memutar kapak panjangnya
dengan segenap tenaga. Hasilnya memang
mengagumkan! Bunyi mengaung keras terdengar ketika kapak itu berputaran. Cepat
bukan main. Bahkan, mampu membuat bentuk senjata itu lenyap!Yang terlihathanya
kelebatan sinarputih berkilauan, yang membungkus tubuh lelaki
bertatoitu,sepertibenteng sinar.
Melihat pemandangan itu,
Gerombolan Ular Laut yang tinggal dua belas orang melangkah mundur.Mereka
khawatirterkena sabetan kapak pimpinan mereka. Walaupun itu tidak mungkin,
tapimereka tetap khawatir.
Berbeda dengan mereka, Dewa Arak
tetap bersikap tenang. Meskipun demikian, bukan berarti pemuda berambut putih
keperakan itu berdiam diri melihat maut tengah mengancamnya. Tenaga dalamnya
dikeluarkan semua. Dan dialirkan ke seluruh tubuhnya. Dewa Arak
siapmenghadapiserangan Panggala!
"Hiyaaat...!"
Wukkk!
Diawali teriakan keras mengguntur
yang menggetarkan tempatitu Panggala mengayunkan
kapaknya kearah leher Dewa
Arak.Sudah dapat diduga maksudnya. Lelaki bertato itu ingin memenggalkepala
Arya.Dan....
Takkk!
Terdengar keras seperti beradunya
dua logam keras, ketika mata kapak Panggala berbenturan dengan kulit leher Dewa
Arak yang telah dilindungi tenaga dalam. Panggala memekik kesakitan! Ayunan
kapaknya membalik. Tangan yang menggenggam kapak itu terasa sakit bukan main.
Tapi sebagai pemimpin gerombolan,
Panggala segera dapat memperbaiki keadaan. Hanya dengan sebuah gerakan
sederhana, lelaki itu berhasil mematahkan kekuatan daya dorong tubuhnya. Panggala bukan orang bodoh!
Disadarinya kalau pemuda berambut putih keperakan itu bukan orang sembarangan.
Kalau
pemuda itu mau, dirinya dan anak
buahnya mungkin hanya tinggal nama sekarang. Jelas, pemuda itu telah banyak
mengalah.
Kesadaran ini membuat Panggala
bimbang. Haruskah dia bertindak nekat
dan terus melancarkan serangan?
Bagaimana kalau hal itu membuat pemuda itu habis kesabarannya? Bila itu
terjadi, Panggala yakin dia dan anakbuahnya tidakakan selamat!Kehebatan pemuda
berambut putih keperakan itu telah disaksikannya sendiri!
Pertimbangan-pertimbangan itu membuat
Panggala tertegun.Hingga anakbuahnya menjadi heran. Mereka tidak mengerti,
mengapa pimpinannya bersikap seperti itu? Berbeda dengan mereka, Arya
mengetahui penyebab Panggala tertegun. Maka, kesempatan ini segera dipergunakan
sebaik-baiknya.
"Aku masih memberi
kesempatan padamu dan anak buahmu, Panggala! Tapi, kau pun tahu kesabaran ada
batasnya! Pemberitahuan ini adalah peringatan terakhir. Kalau tetap kau
abaikan, jangan salahkan aku bila bertindak keras terhadap kalian!" ujar
Dewa Arak dengan suara dan rautwajahgarang.
Panggala tidaksegera menanggapi
pertanyaan itu. Lelaki bertato itu tercenung memikirkan ancaman Dewa Arak.
Kemudian, pandangannya diedarkan ke arah dua belas anakbuahnya. Rasa bimbang
menyelimutihati lelakiini.
Dewa Arak tahu ancamannya mulai
mengena. Maka, diputuskan untuk melancarkan ancaman terakhir. Pemuda itu ingin
mengetahui, apakah Panggala menerima atau menolak tawarannya!
"Kuberi kau kesempatan
berpikir sampai pada hitungan ketiga, Panggala! Bila sampai hitungan berakhir
kau belum memberikan jawaban, maka kuanggap kau menolak usulku. Itu berarti
telah tiba waktunya bagiku untuk menggempur gerombolanmu! Bersiaplah,
Panggala! Sekarang aku akan mulai menghitung Satu...!"
Perasaan bingung yang melanda
Panggala semakin menjadi-jadi. Pandangannya berganti-ganti tertuju ke arah Dewa
Arak dan anak buahnya. Tapi, baik Dewa Arak maupun anak buahnya tidak
memberikan tanggapan. Dewa Arak terus saja menghitung sedangkan anak buahnya
tidak berani mencampuri keputusan yangakamdiambilpemimpin mereka.
"Dua...!"
Hitungan telah mendekati batas yang
ditentukan Dewa Arak,hingga
Panggala semakin gugup.
Lelaki itu belum bisa mengambil
keputusan! Di dalam hatinya berkecamuk dua keputusan. Menerima atau menolak
tawaran yang diajukan Dewa Arak. Menolak, berarti dia dan anak buahnya akan
hancur di tangan Dewa Arak. Tapi menerima pun berat,berarti ia membiarkan nama
besar Gerombolan Ular Laut hancur
di tangan seorang pemuda! Panggala bagai berhadapan dengan buah simalakama.
Bila dimakan bapak mati, tidakdimakan ibu mati!
Dewa Arakagaknya tahu akan
kegalauan hati Panggala. Tapi pemuda itu bersikap tidak peduli. Dengan raut wajah dingin hitungannya
dilanjutkan.
"Ti...."
"Tunggu!" potong
Panggala cepat sambil mengangkattangan kanan keatas.
Seruan ini membuat Dewa Arak
menghentikan hitungannya.
"Bagaimana, Panggala? Kau
telah mengambil keputusan?!"tanya Aryadingin.
Tak ada riak sedikit pun di wajah
pemuda berambut putih keperakan itu. Seakan pilihan apa pun yang diambil
Panggala tidak menjadi masalahbaginya.
"Benar," jawab Panggala
seraya mengangguk. Setelah lebih dulu menelan liur untuk
melancarkan ucapan yang akan keluar dari mulutnya.
"Hm...." Dewa Arak
menggumam pelan. "Lalu...."
"Aku telah mengambil
keputusan untuk... me-nerima tawaranrnu, AnakMuda...,"ujarPanggala agak
terbata-bata.
"Bagus!Kuhargai pilihanmu,
Panggala! Kalau begitu, sekarang kuharap kau segera tinggalkan
tempatini!"perintah Dewa Arakpenuh wibawa.
"Hhh...!"
Panggala menghela napas berat.
Kemudian berbalikmenghadapanakbuahnya. "Uruskawan-kawan yang terluka, dan
tinggalkan tempat ini! Cepat!"
"Baik, Ketua," jawab
Gerombolan Ular Laut serempak seraya menganggukkan kepala.
Kemudian, tanpa membantah dua
belas orang itu mengurus rekan-rekan mereka yang terluka. Sementara Panggala,
seusai memberi perintah, membalikkan tubuhnya menghadap Dewa Arak. Di samping
pemuda berambut putih keperakan itu telah berdiriMelati.
"Sebelum aku pergi, boleh
kutahu siapa sebenarnya dirimu, Anak Muda?" tanya PemimpinGerombolan Ular Lautpelan.
"Aku adalah ahliwaris
tunggal pulau ini. Dan aku bertekad tidak akan membiarkan seorang pun
mengotorinya!"tandasArya mantap.
'Tapi, sepengetahuanku pemilik
pulau ini adalah Sangga Buana," ujar Panggala mengingatkan.
"Ucapanmu tidak salah,
Panggala! Tapi perlu kau ketahui, dia adalah kakekku!" beritahu Dewa Arak.
Panggala mengangguk-angguk
mengerti.
"Sebagai tambahan, perlu kau
ketahui juga, Panggala," celetuk Melati. "Di daratan, kawanku ini
seorang pendekar hebat yang ditakuti lawan dan disegani kawan!"
"Melati,"tegurDewa
Arakhalus.
Tapi Melati tidak
mempedulikannya. Apalagi, ketika gadis berpakaian putih itu melihat Panggala
tertarik.Itu terbuktidengan pertanyaan yangdilontarkan lelakibertatoitu.
"Benarkah itu?Boleh kutahu
julukannya?" 'Tentu saja!" tandas Melati. "Bukan hanya
boleh, tapi harus! Kawanku ini
berjuluk Dewa Arak!"
"Hahhh?!"
Seruan kaget itu bukan hanya
keluar dari mulut Panggala. Tapi juga semua anak buahnya. Saking kagetnya, mereka menghentikan pekerjaan yang tengah dilakukan.
Betapa tidak? Mereka telah mendengar kabar akan kehebatan dan keperkasaan tokoh
muda yang berjulukDewa Arak. Meskipun demikian, mereka tidak pernah mimpi akan
bertemu orangnya. Apalagiberjumpa sebagai lawan! Maka, tak aneh jika mereka
sangatterkejut.
'Ya, ya.... Mengapa aku begini
bodoh?!" ucap Panggala terbata-bata. "Mengapa tidak kulihat ciri-ciri
yang kau miliki? Ya. Tidak salah lagi. Kaulah tokoh yang berjuluk Dewa Arak.
Warna pakaian, rambut, kepandaian, dan gucimu., ya! Kaulah Dewa Arak...!"
Sementara itu, Dewa Arak yang
tidak menyangka akan seperti ini jadinya kelihatan agak gugup. Tapi hanya
sebentar. Sesaat kemudian, pemuda itu telah dapat menguasai perasaannya.
"Jadi...,kalian telah
mengenaljulukanku?" "Bukan hanya kenal," jawab Panggala sambil
mengembangkan senyum
pahit.'Tapiamat kenal. Meskipun tidak pernah berjumpa, tapi kami tahu
banyaktentang dirimu. Semua itu kamidapatkan dari kawan-kawan."
"Apa saja yang kalian
ketahui mengenai diriku?"tanya Arya ingin tahu.
"Banyak," jawab Panggala cepat. "Di
antaranya, dikatakan kalau kau mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Tak
terhitung lagi banyaknya orangyang tewasdi tanganmu.Semua tokoh-tokoh golongan hitam.
Kau seorang pendekar pembela
kebenaran. Begitu berita yang kudengar."
Dewa Arak dan Melati saling
berpandangan. Senyuman lebar terlukisdibibirmereka.
"Lalu...,kalau kalian telah
mengetahuiaku De-wa Arak. Apa yang hendak kalian kakukan?!" tanya Arya
"Melaksanakan perintah yang
kau berikan," jawab Panggala segera. "Sebab kami sadarbahwa kemampuan
kami tidak ada artinya bagimu. Kamipergidulu,Dewa Arak."
"Silakan," jawab Dewa
Arak dan Melati hampirbersamaan.
Setelah mendengar jawaban itu,
tanpa berani membuang waktu lebih lama Pemimpin Gerombolan Ular Laut itu berbalik.
Kemudian, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu.
Dewa Arak dan Melati bertukar
pandang dengan perasaan lega.Keduanya merasa gembira telah berhasil mengusir
Gerombolan Ular Laut, tanpa ada pertumpahan darah. Dengan sorot mata
berbinar-binar, mereka menatap kepergian rombongan bajak laut itu. Sampai
rombongan tersebut bertolak meninggalkan tempat itu. Dan, sepasang muda-mudi
berwajah elok itu tetap menatap. Hingga perahu besar Gerombolan Ular Laut
lenyapdi kejauhan.Setelah itu,mereka baru mengalihkan pandang sambil
menghembuskan napaslega.
"Aku bersyukur mereka mau
berpikir sehat..," ujar Arya dengan berdesah. "Dengan demikian,
pertumpahan darah dapatdicegah."
Melati tidak menyahuti ucapan
pemuda berambut putih keperakan itu. Gadis berpakaian putih ituhanya
mengembangkan senyummanis.
"Ah! Hampir saja aku
lupa!" seru Arya setengah kaget
"Apa itu,Kang?"tanya
Melari ingin tahu.
"Bukankah kita Raja Monyet
Muka pantaiatau belum?!"
ingin mengetahui, apakah Hitam
telah meninggalkan
"O, iya, Kang. Aku juga
hampir lupa," sahut Melati terkejut
"Kalau begitu..., mari kita
lanjutkan tugas yang tertunda itu, Melati,"ajakArya.
"Tentu, Kang. Tapi..., apa
yang harus kita lakukan?"
"Menyusuripinggirpantaiini."
"Hahhh?! Sampai kapan
pekerjaan ini akan
selesai, Kang.Pulau ini tidak
kecil.Sampai kapan kita mengelilinginya?!" sahut Melati
mengingatkan.
'Tentu saja tidak semuanya,
Melati. Menurut kakek, banyak bagian pulau ini yang pantainya tidak bisa
dipergunakan perahu untuk mendarat. Contohnya, pantai-pantai sebelah kanan
tempat ini. Kira-kira lima puluh tombak dari sini, dan terus ke sana,"
jelas Arya sambil menudingkan jaritelunjuknya.
"Aku mengerti sekarang,
Kang," ujar Melati gembira. "Kita akan menuju ke sana," sambil
berkata demikian, Melati menudingkan jari telunjuknya kesebelah kanan.
"Kau memang pintar,Melati,"pujiArya.
Sambutan Melari hanya cibiran bibir. Tapi,
sorot mata
gadis cantik itu
tidak bisa menyembunyikan perasaan gembiranya
mendapat pujian seperti itu.
Sepasang mata itu berbinar-binar!
Kini sepasang muda-mudi berwajah
elok itu mengayunkan langkah, menyusuri pantai sebelah kanan mereka.
***
5
"Kakang...! Lihat...!"
seru Melari menudingkan telunjukkanannya ketengah laut.
Sebetulnya gadis berpakaian putih
itu tidak perlu berseru demikian. Arya juga telah melihatnya. Di kejauhan tampak
sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang kakek berpakaian dan berikat kepala
merah, melesat cepat membelah permukaan air laut
Dari laju perahunya,bisa
diketahuikekuatan tenaga dalam yang dimiliki pemilik perahu itu. Tanpa disertai
pengerahan tenaga dalam kuat,perahu itu . tidak akan meluncur demikian cepat.
Tentu saja hal itu tidak luput dari pengamatan Dewa Arak dan Melati.
'Tampaknya dia bukan orang
sembarangan, Kang. Maksudku..., dia tidak dapat disamakan dengan orang-orang
semacam Panggala," ucap Melati memberipenilaian.
"Memang tidak, Melati,"
jawab Arya seraya mengangguk. "Orang yang baru datang ini bukan orang
sembarangan.Dia seorang tokoh yang amat pandai. Bukan tidak mungkin tingkat kepandaiannyaberada diatas
kita."
"Hehhh...?!" Melati
terperanjat kaget, hingga sampai mengalihkan pandang. "Apakah
ucapanmu tidakterlaluberlebihan,Kang?!"
'Tidak, Melati," jawab Arya
menatap. "Kau tidak ingatcerita kakekku?!"
"Kakek Sangga Buana
maksudmu, Kang?!" Melati meminta ketegasan.
"Benar," sahutArya
singkat.
Melati tercenung sejenak. Dicobanya mengingat-ingat pembicaraan
Kakek Sangga Buana, pemilik Pulau Es. Sebab, Arya tidak menjelaskannya lebih
jauh "Ucapan Kakek Sangga Buana yang mana, Kang?!" tanya Melati,
tidak sabar ingin segera mengetahui jawabannya. Gadis itu agaknya malas
berpikir, mengingat-ingatdan menerka.
'Tentu saja mengenai orang-orang
berpakaian merah,Melati,"ucapArya."Bukankah orang yang berada di
perahu itu mengenakan pakaian merah?!"
Melati mengalihkan pandangannya
kembalike arah laut. Perahu itu kini tampak semakin jelas. Demikian pula
orangyang tengah mengayuhnya.
"Aku tahu, Kang!"
sentak Melati gembira, merasa telah dapat menerka cerita KakekSangga Buana yang dimaksudkan kekasihnya. "Bukankah cerita yang kau
maksud mengenai orang-orang Pulau Api?!”
'Tepat! Bukankah kakekku telah menceritakan cukup lengkap
tentang mereka?!" Aryabalasmengajukan pertanyaan.
"Benar, Kang. Menurut
beliau, orang-orang Pulau Api rata-rata berkepandaian tinggi. Di
samping itu mereka ahli
menggunakan racun dan memiliki daya tahan tubuh yang menggiriskan. Yang aneh,
perbedaan tingkat di antara mereka dapat kita lihat dari hiasan yang dikenakan
pada anggota tubuh atau pakaian mereka," urai Melati panjang lebar.
'Tepat sekali!" puji Arya.
"Kau masih ingat hiasan masing-masing tingkatitu,Melati?!"
"Masih, Kang," jawab
gadis berpakaian putih sambil menganggukkan kepala. "Orang terendah tidak
memiliki tanda apa pun selain pakaian yang dikenakan. Tanda itu baru muncul
pada orang yang setingkat di atas mereka, berupa sebuah belitan sabuk pada
salah satu paha mereka. Tingkatan yang lebih tinggi lagi, mempunyai belitan sabuk pada masing-masing paha. Kemudian, tingkatan selanjutnya adalah orang-orang kepercayaan
sang Pemimpin. Mereka mengenakan
sabuk lebar yang membelit
pinggang. Sedangkan sang
Ketua sendiri mempunyai tanda
berupa belitan kain merah di kepala.Dan...,ah!"
MendadakMelati menghentikan
ucapannya di tengah jalan. Tentu saja hal itu menarik perhatian Arya.
"Apa yang terjadi, Melati?!
Mengapa kau kelihatanbegitu kaget?!"
"Ng..., ti... tidak apa-apa,
Kang. Hanya aku baru mengerti, mengapa kau mengatakan orang
yang tengah berperahu itu seorang
tokoh yang amatpandai,"ujarMelatilirih.
"Sekarang kau ingat,
Melati?!" tanya Arya tenang.
"Ya, Kang," Melati
menganggukkan kepala. "Orang itu Pemimpin Pulau Api."
'Tepat! Orang yang tengah menuju
kemari adalah tokoh terpandai di Pulau Api!" sambung Arya
melengkapipertanyaan kekasihnya.
Kali ini Melati tidak menyambuti
ucapan kekasihnya. Gadis itu menganggukkan kepala sedikit. Setelah itu,
pandangannya ditujukan ke arah kakek berpakaian merah yang tengah mengayuh
perahunya menuju tempatmereka.
Melati merasakan betapa
jantungnya berdetak amat cepat
Diakuinya kalau rasa tegang menyergap hatinya. Perasaan khawatir akan
keselamatan Dewa Arak langsung menyeruak. Telah disaksikannya sendiri betapa
lihainya KakekSangga Buana.Kalau pemimpin Pulau Api itu memiliki kepandaian
setingkatdengan pemilik Pulau Es,Dewa Arakjelasbukan tandingan tokoh itu.
Sebab, tingkat kepandaian pemuda berambut putih keperakan itu berada di bawah
Kakek Sangga Buana!
Berbeda dengan Melati yang dihantui
perasaan cemas, Dewa Arak sama sekali tidak! Pemuda berambut putih keperakan
itu tetap bersikap tenang. Tidak terlihat gambaran perasaan apa pun pada wajahnya,
saatmenunggu
mendaratnya perahu yang
ditumpangi Pemimpin Pulau Api.
***
Tatapan penuh selidik tampaknya
bukan hanya dilakukan Dewa Arak dan Melati. Pemimpin Pulau Api itu pun
melakukan halyang sama. Bahkan, sebagian alis yang tidak tertutup kain merah
yang membelit kepalanya berkerut. Saat kakek itu melihat ada dua sosok tubuh
yang tidakdikenalnya berdiridipantai.
Tapi, hanya sebentar Pemimpin
Pulau Api berbuat demikian. Sesaat kemudian, dia sudah bersikap tidak peduli.
Apa yang perlu ditakuti dari dua orang muda itu? Andaikata mereka memiliki
kepandaian, sudah sampai di mana tingginya? Berapa banyak memang pengalaman
bertarungyang mereka alami?
Dengan acuh tak acuh, Pemimpin
Pulau Api terus mengayuh dayung. Dan ketika jarak antara perahunya dengan
pantai tak sampai sembilan tombak lagi, tanpa memperbaiki kedudukan, kakinya
digenjotnya.
"Hih!"
Seketika itu pula tubuh kakek
berikat kepala merah itu melayang ke udara, meninggalkan perahunya yang agak bergoyang karena
digunakan sebagai landasan untuk melakukan genjotan!
Semua tindakan Pemimpin Pulau Api
tidak luput dari perhatian Dewa Arak dan Melati. Tampak oleh sepasang pendekar
berwajah elok itu, kakekberikat kepala merah bersaltobeberapa kalisebelum
melayang turun ketanah.Dan....
Plyarrr!
Air laut berpercikan ke sana
kemari ketika Pemimpin Pulau Api mendaratkan sepasang kakinya dibagian pantai
yang berair. Melihathal ini, tanpa menunggu lebih lama lagi, Dewa Arak segera
menghampiri. Setelah memberi isyarat pada Melati untuk diam di tempatnya.
Hingga gadis itu dengan terpaksa memendam rasa inginnya untuk maju. Melati
tidak berani membangkang perintah kekasihnya! Sebab, gadis itu yakin betul
setiap tindakan yang diambil Arya hampir selalu benar!
"Siapa kau, Kisanak? Dan apa
tujuanmu datang ke pulau ini?" tanya Arya berpura-pura tidak tahu. Jarak
antara mereka terpisah satu tombak.
"Menyingkirlah, Monyet
Kecil! Jangan coba-coba membuat amarahku bangkit. Akibatnya akan
mengerikanbagimu!"
Datar dan dingin pernyataan itu.
Tapi di dalamnya terkandung ancaman mengerikan. Dan bukan Dewa Arak kalau
menghadapi ancaman seperti itu sudah mundur teratur. Meskipun tahu tokoh yang
dihadangnya berkepandaian tinggi
dan ancaman telah dikeluarkannya,
tapi Arya tetap tenang.
"Sayang sekali, aku tidak
bisa memenuhi permintaanmu, Ki. Sebelum menjawab
pertanyaanku, kau tak akan kubiarkan melangkah lebih jauh!"
mantap dan tegas kata-kata yang dikeluarkan Dewa Arak
"Keparat!"
Suara kakek berikat kepala merah
itu langsung meninggi. Tarikan wajah dan sorot matanya memancarkan kemarahan.
Tapi itu tidak seberapa. Yang mengherankan Melati dan Dewa Arak adalah bibir
Pemimpin Pulau Api yang tidak bergerak. Kalau sebelumnya masih bisa dimaklumi.
Sebab, kakek itu berbicara pelan. Tapi sekarang, kakek berikat kepala merah itu
memaki keras! Lalu, mengapa kedua bibir itu tidakbergeming?!
Belum lagi gema makiannya lenyap,
Pemimpin Pulau Api
telah mengibaskan tangannya.
Sembarangan saja, seperti orang mengusir lalat.Namun,akibatnya sungguh hebat.
Serangkum angin keras meluncur ke arah Dewa Arak.
Arya tidak menjadi gugup melihat
serangan itu. Sudah sejak tadi pemuda itu bersikap waspada. Maka begitu
merasakan ada sambaran angin keras yang mampu membuat tubuhnya terlempar,
tenaga dalamnya langsung dikerahkan
pada kedua kaki.Dengan tindakan
ini, kedua kaki Dewa Arak sepertimenghunjamkebumi.
Hasilnya memang seperti yang
diharapkan! Tubuhnya tidak bergeming ketika angin keras itu melanda. Hanya
rambut dan pakaiannya yang berkibaran keras menjadi tanda kalau pemuda berambut putih keperakan itu dilanda
segundukan angin keras. Melihat serangannya tidak membuahkan hasil, Pemimpin
Pulau Api menjadigerambukan main.
"Keparat! Pantas kau berani
kurang ajar, Monyet Kecil! Rupanya kau memiliki sedikit
kepandaian!Baik,kulayanikemauanmu!Hih!"
Kali ini, kakek berikat kepala
merah tidak segan-segan lagi melancarkan serangan. Sebuah tendangan kaki kanan
lurus langsung dikirimkan kearah dada Dewa Arak.
Wuttt!
Deru angin keras yang mengiringi
tibanya serangan itu, menandakan betapa kuat tenaga yang tersalur di dalamnya.
Tapi seperti kejadian sebelumnya, Dewa Arak tetap bersikap tenang. Kaki
kanannya ditarik ke belakang seraya mencondongkan tubuh. Pemuda itu tahu,
meskipun hanya bertindak demikian serangan kakek berikat
kepala merah telah
dapat dielakkan.
Tapi, betapa kagetnya hati pemuda
berambut putih keperakan itu ketika melihat kaki Pemimpin Pulau Api tetap meluncur ke arah
dadanya. Padahal, pemuda itu
telah melangkah mundur! Dewa Arak tampak sedikit gugup. Meskipun demikian, Arya
tidak kehilangan akal sehat. Walau dengan agak tergesa-gesa, karena sempitnya
waktu, Dewa Arak masih sempat menjejakkan kakinya sehingga tubuhnya terlemparkebelakang.
Wuttt!
Tendangan Pemimpin Pulau Api
meluncur beberapa jari di bawah kaki Dewa Arak. Hanya berselisih waktu sekejap.
Terlambat sedikit saja, kaki kakek berikat kepala merah itu akan lebih
dulubersarang diangota tubuh Dewa Arak.
Jliggg!
Setelah lebih dulu bersalto
beberapa kali, Dewa Arak mendarat dengan mantap di tanah. Dan secepat itu pula
bersikap menghadapi serangan lawan selanjutnya. Namun, Pemimpin Pulau Api tidak
melancarkan serangan susulan. Kakek itu merayapi sekujur tubuh Dewa Arak dengan
penuh selidik. Kini disadarinya kalau kepandaian pemuda itu tidak serendah
dugaannya semula. Itu bisa diketahui dari berhasilnya pemuda berambut putih
keperakan itu meloloskan diri dari serangannya. Padahal, waktunya demikian
singkat!
Sementara Arya pun tidak berani
bertindak ceroboh lagi. Pengalaman hampir celaka karena sikap gegabah yang ditunjukkannya telah memberinya pelajaran
berharga.Dewa Araktahu,
mengapa kaki lawan tetap mengejar
meski telah dielakkan. Pasti karena kakek berikat kepala merah itu memilikiilmu
yang membuat kakiatau tangannya dapatmemanjang.
Kesimpulan yang didapat Dewa
Arak, tidak diambil secara sembarangan. Arya tahu ada ilmu semacam itu di dunia
persilatan. Bahkan, kekasihnya pun memilikinya. Gadis berpakaian putih itu
dapat memanjangkan tangannya hampir dua kalilipatpanjang semula.Jurus 'Naga
Merah MengulurKuku',demikiannamanya.
Tapi, Arya tidak bisa terlalu
lama tenggelam dalam alun pikirannya. Keadaan saat itu sangat tidak
memungkinkan. Di hadapannya tengah berdiri seorang lawan yang teramat tangguh
Kalau dirinya bertindak sembrono, nyawanya akan melayang meninggalkan raga.
Sementara Pemimpin Pulau Api tampaknya sudah merasa cukup puas memperhatikan
lawannya. Kini, kakekitu telah siapmembuka serangan kembali.
"Kau cukup hebat, Anak Muda.
Rasanya, kau pantas menjadi lawanku," puji kakek berikat kepala merah
dingin. 'Tapi jangan berbangga hati dulu. Tadi hanya pemanasan saja. Sekarang
bersiaplah, Anak Muda. Aku akan memulai pertarungan sung-guhan. Hadapilah ilmu
'Tinju Topan dan Geledek'-ku ini!"
Usai berkata demikian, Pemimpin
Pulau Api menyilangkah kedua tangannya yang terkepal erat di depan dada.
Kemudian dengan perlahan-
lahan tapipenuh tenaga,ditariknya
kedua tangan itu ke sisi pinggang. Bunyi berkerotokan seperti tulang-tulang
berpatahan, mengiringi gerakan tangan itu menuju tempatyang dituju.
Melihat hal itu, Dewa Arak tidak
berani mengambil resiko. Ilmu yang dikeluarkan lawan tampaknya amat dahsyat.
Maka, diambilnya guci arak yang tergantung di punggung. Kemudian isinya
dituangkan ke mulut
Gluk....Gluk....Gluk...!
Bunyitegukan terdengar ketika
arak melewati tenggorokan Dewa Arak. Ada hawa hangat yang berpusat di perut
Lalu, perlahan-lahan hawa itu naik ke atas. Sesaat kemudian, sepasang kaki
pemuda berambut putih keperakan itu oleng. Doyong ke sana kemari. Itu pertanda
Dewa Arak telah siap mempergunakan ilmu 'Belalang Sakti'nya.
Semua gerak-gerikDewa Arak tidak
luputdari pandangan Pemimpin Pulau Api. Terlihat ada kerutan pada kedua alis
kakek berikat kepala merah itu. Kakek itu tengah dilanda perasaan heran. Ilmu
aneh apa yang akan dilakukan pemuda berambutputih keperakan itu?Bisikhati
Pemimpin Pulau Api.
Tapi, kakek itu tidak membiarkan
perasaan bingungnya terus melanda. Buru-buru diusirnya perasaan itu. Dia dapat
menduga, meskipun kelihatannya demikian, pasti ilmu yang akan dikeluarkan Dewa
Arak sebuah ilmu andalan.
Tidak sedikit ilmu-ilmu yang
kelihatan aneh, tapi di dalamnya terkandung kedahsyatan yang menggiriskan hati!
Dia sendiri banyak memiliki ilmu-ilmuaneh!
Seiring dengan timbulnya pikiran itu,
Pemimpin Pulau Apimemusatkan perhatian pada ilmuyang tengah dikeluarkannya.Kemudian....
"Haaat...!"
Diawali sebuah teriakan keras
menggelegar
yang menggetarkan tempat itu,
Pemimpin Pulau Api melancarkan serangan pembuka. Tak tanggung-tanggung lagi tindakan
kakek berikat kepala merah. Dalam gebrakan pertama, langsung dikirimkan pukulan
tangan kanan-kiri bertubi-tubi ke arah dada Dewa Arak. Bunyi ledakan keras
seperti halilintar menyambar mengiringi serangan itu. Sungguh berbahaya
serangan Pemimpin Pulau Api.Di samping dialiri tenaga dalam dahsyat, juga
meluncur dengan kecepatan menakjubkan.
Tapi orang yang diserang adalah
Dewa Arak! Pemuda berambut putih keperakan itu telah siap dengan ilmu 'Belalang
Sakti'nya. Tanpa menemui kesulitan sedikit pun, Dewa Arak berhasil mengandaskan
serangan itu dengan gerakan limbung.
Kenyataan itu membuat Pemimpin
Pulau Api penasaran bukan main. Hingga, disusulinya dengan serangan lanjutan
yang tidak kalah
dahsyat. Dan seperti juga
serangan pertamanya, bunyi meledak-ledak pun timbul mengiringi luncuran
serangan itu. Pertarungan dahsyat dan menarik tidakbisa dihindarkan lagi.
Pemimpin Pulau Api benar-benar
dipaksa untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya. Betapa tidak? Secara
bertubi-tubi dan susul-menyusul serangan dilancarkan pada Dewa Arak. Namun,
semua berhasil dikandaskan lawan dengan elakan uniknya. Itu berlangsung sampai
lima jurus!
Kegagalan demi kegagalan membuat
kakek berikat kepala merah semakin penasaran.Apalagi sampai saat itu Dewa Arak
belum melancarkan serangan balasan, hingga kakek itu merasa diremehkan.Dalam
cekaman rasa penasaran dan marah,Pemimpin Pulau Api mengeluarkan jurus-jurus
intiilmu 'Tinju Topan dan Geledek'!
"Hih!"
Laksana gasing tubuh Pemimpin
Pulau Api berpusing. Dan ketika telah melihat sasaran, kedua tangan atau
kakinya mencuat dari balik pusingan. Amat berbahaya! Karena meluncurnya
tidakdisangka-sangka.
Dewa Arak sangat terkejut
melihatperubahan gerak lawan. Sekarang pemuda itu mengerti, mengapa kakek berikat kepala merah
menamakan ilmunya 'Tinju Topan dan Geledek'. Ilmu itu memang luar biasa! Arya
mengalami kesulitan menghadapinya. Kedudukan tubuh
lawan yang berpusing, membuatnya sulit melancarkan serangan. Sebaliknya, Pemimpin Pulau Api enak
saja melancarkan serangan. Dengan sendirinya, maka kedudukan kakek berikat
kepala merah lebih menguntungkan.
Hasilnya dapat diduga, Dewa Arak
selalu menjadi sasaran serangan. Untung saja pemuda itu memiliki ilmu 'Belalang
Sakti'. Sebuah ilmu yang membuatnya mampu melakukan gerakan sesulit apa pun, dan dalam keadaan bagaimanapun. Ditambah lagi
jurus 'Delapan Langkah Belalang', yang merupakan kumpulan langkah-langkah unik
untuk mengelakkan serangan
dengan cara yang membuatheran orang yang menyaksikan.
Berkat keistimewaan ilmu
'Belalang Sakti' itulah, Dewa Arak mampu mengelakkan setiap serangan Pemimpin
Pulau Api hingga lebih dari sepuluh jurus! Kenyataan ini membuat bulu kuduk
kakek berikat kepala merah meremang! Selama hidupnya, belum pemah ditemukan
seorang lawan yang mampu memunahkan serangannya hanya dengan cara mengelak,
selama sepuluh jurus! Bahkan Sangga Buana, pemilik Pulau Es, tidak mampu
bertindak seperti ini!
Maka tidak aneh jika Pemimpin
Pulau Api semakin kalap. Kedahsyatan serangannya terus ditingkatkan. Akibatnya
langsung diterima oleh Dewa Arak. Dirasakannya tekanan serangan-
serangan lawan semakin dahsyat. Bila diumpamakan ombak, gelombang yang kini melandanya
adalah ombak-ombaksetinggibukit!
Semua kejadian di kancah
pertarungan tak lepas dari penglihatan Melati. Tampak jelas ada kecemasan dalam
sorot mata maupun raut wajahnya. Bagaimana Melati tidak cemas? Terlihat olehnya
betapa kekasihnya pontang-panting ke sana kemari menyelamatkan diri, tanpa
mampu melancarkan serangan balasan sedikit pun. Dan memang Dewa Arak berada
dalamkeadaan mengkhawatirkan.
Yang dilakukan pemuda berambut
putih keperakan ituhanya terus-menerus mengelak.
Jurus demi jurus berlalu cepat.
Tak terasa pertarungan telah berlangsung lima belas jurus. Dan selama itu Dewa
Arak masih mengandalkan keistimewaan ilmu meringankan tubuh 'Belalang Sakti',
dan jurus 'Delapan Langkah Belalang' untukmemusnahkan setiapserangan lawan.
Tapibegitu pertarungan telah
lewat lima belas jurus, Dewa Arak memutuskan untuk mengadakan perubahan cara bertarung.
Cara yang sekarang dilakukan tidak bisa digunakan terus. Amat berbahaya jika terus-menerus mengelak dari serangan-serangan
tokoh sehebat Pemimpin Pulau Api.
Hingga, di jurus-jurus
selanjutnya Dewa Arak memutuskan untuk melakukan perubahan. Toh, dirinya telah dapat mengira-ngira tingkat
kemampuan lawan, berkat
pengamatan yang dilakukannya selama melakukan elakan demi elakan.
***
6
"Hih!" Wuttt!
Diiringi bunyi menderu keras,
tinju kanan Pemimpin Pulau Api mencuat dari dalam pusingan tubuhnya. Tak
tanggung-tanggung sasaran yang dituju, ubun-ubun! Tempat yang mematikan di
tubuh manusia! Jangan mengenai telak, terserempet saja sudah cukup untuk mengirimnyawa
Dewa Arakkealambaka!
Dewa Arak benar-benar melaksanakan keputusannya. Begitu melihat
kepalan Pemimpin Pulau Api meluncur, langsung dipapakinya dengan tinju kanan.
Pemuda berambut putih keperakan itu tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan
seluruh tenaga dalamnya. Bahkan dalam
pengerahan 'TenagaSaktiIntiMatahari'!
Wuttt!
Hawa panas menyengat seiring dengan meluncurnya tinju Dewa
Arak.Kepulan asap tipis tampak keluar dari sekujur tubuhnya. Sesaat
kemudian....
Dukkk!
Sungguh dahsyatbenturan yang
terjadiantara dua kepalan yang dialiri tenaga dalam tinggi itu. Bunyi
menggelegar yang memekakkan telinga terdengar! Dan tubuh dua tokoh itu
terpental ke belakang.
Tapi dengan gerakan manis, Dewa
Arak dan Pemimpin Pulau Api mematahkan kekuatan daya dorong tubuh
mereka.Dan....
Jliggg!
Ringan laksana daun kering, dua
tokoh hebat yang memiliki perbedaan usia menyolok itu mendaratringan ditanah.
Untuk kedua kali Pemimpin Pulau
Api tidak segera melancarkan serangan. Begitu kedua kakinya menginjak tanah,
kakek itu menatap Dewa Arak dengan penuh selidik Ada sorot kekaguman dan
kekagetan di sana.Kagum ketika mengetahui tenaga dalam Dewa Arak tidak berada
dibawahnya, dan kaget karena kenyataan inidiluardugaannya.
Melihat lawannya tidak melancarkan serangan, Dewa Arak pun
melakukan hal yang sama. Bedanya, kalau Pemimpin Pulau Api berdiri dengan
mantap, maka pemuda berambut putih keperakan itu berdiri dengan kedudukan goyah
seperti akan jatuh. Dengan sikap tidak peduli, diambilnya guci arak dan
dituangkan kembali ke mulutnya. Guci itu memang telah disimpannya di tempat
semula, sewaktu dia akan bertarung.
Gluk....Gluk...Gluk...!
Kelakuan Dewa Arak membuatalis
Pemimpin Pulau Api berkerut semakin dalam.Rasa heran yang melanda hatinya
semakin besar. Tingkah laku Dewa Arakterasa aneh dilihat.
"Siapa sebenarnya kau, Anak
Muda? Mengapa berada ditempatini?"tanya Pemimpin Pulau Api, takkuatmenahan
rasa ingin tahunya.
"Seharusnya aku yang
bertanya. Bukan kau, Ki,"sergahDewa Arak
Meskipun ucapannya terputus-putus
karena pengaruh arak, Dewa Arak berhasil menyelesaikan perkataannya. Memang
walaupun kelihatan mabuk, tapi pikiran pemuda berambut putih keperakan itu
tetapjernih!
"Hehhh?! Apa alasanmu
berkata seperti itu, Anak Muda?! Jangan katakan kau penghuni pulau ini. Aku
kenal betul dengan semua penghuni tempatini!"sergah Pemimpin Pulau Api
keras.
"Memang kuakui aku bukan
penghuni pulau ini, Ki. Tapi, aku terhitung pemiliknya!" sahut Dewa Arak
masih denganucapan terputus-putus.
"Huh! Rupanya kau terlalu
mabuk untuk bisa kuajak berbincang-bincang Anak Muda!" ujar Pemimpin Pulau
Api, yang merasa bingung mendengarjawaban Dewa Arak
"Dia terlalu kuat untuk
mabuk hanya karena arak, Kakek Jelek!" celetuk Melati, terpaksa ikut
angkatbicara karena mendengar kekasihnya dise-pelekan.
"Ha ha ha...! Omonganmu pun tidak mempunyai dasar,Gadis Bau
Kencur!Bagaimana kau bisa bilang dia tidak mabukkalau ucapannya tidak bisa
dimengerti?!" sahut Pemimpin Pulau
Api seraya mengalihkan
perhatiannya pada Melati.
"Itu karena kau mempunyai
otak yang bebal, KakekJelek! Pernyataan yang demikian jelas kau katakan
membingungkan? Lucu! Lucu sekali!" ejek Melatimenggeleng-geleng.
"Keparat!" maki
Pemimpin Pulau Api sangat geram mendengar hinaan Melari. "Jelaskan maksud
ucapanmu, Wanita Sundal! Kalau tidak, jangan salahkan bila kepalamu
kuhancurkan!"
"Kau kira aku takut
padamu?!" Melati langsung naik darah mendengar ancaman itu. "Majulah!
Ingin kulihat sampai di mana kehebatanmu?!"
"Keparat! Kau memang harus
dihajar!" geram Pemimpin Pulau Api sambil mengayunkan langkah menghampiri Melati. Tapi, baru selangkah Dewa Arak telah bergerak
menghadang.
"Pertarungan antara kita
belum selesai, Ki," ucapDewa Arak menantang.
"Memang belum!" sambut
Pemimpin Pulau Api, terpaksa membatalkan maksudnya untuk menghampiri
Melari.'Tunggulah, Wanita Sundal! Setelah kubereskan pemuda pemabuk ini, kau
akan menerimaganjaran atashinaanmu itu!"
Lalu Pemimpin Pulau Api
mengalihkan perhatiannya pada Dewa Arak. Dirayapinya sekujur tubuh pemuda
berambutputih keperakan
itu sebelum mulai melancarkan
serangan. Otot-otot tubuhnya menegang,pertanda Kakekberikat kepala merah telah
bersiap-siap melancarkan serangan. Demikian pula Dewa Arak. Meskipun tubuhnya
oleng ke sana kemari, tapi pemuda berambut putih keperakan itu telah siap bertarung.
Dan sebelum kedua tokoh itu
saling terjang, tanah di tempat itu bergetar hebat. Tentu saja kejadian itu
mengejutkan Dewa Arak dan Pemimpin Pulau Api,juga Melati!
Apa yang tengah terjadi? Tanya
ketiga orang itu dalamhati.
"Hei!"
Teriakan kaget Melati membuat
Dewa Arak dan Pemimpin Pulau Api mengalihkan pandangan ke arah pandangan
gadis berpakaian putih itu.Sepasang mata kedua tokoh itu tiba-tiba membelalak
lebar melihat pemandangan yang membuat Melari menjerit. Raut wajah dan pandang mata mereka memancarkan keterkejutan yang sangat.
Betapa tidak? Tampak oleh mereka salah satu bagian lereng gunung es longsor!
Gumpalan-gumpalan batu es dalam berbagaibentukbergelindingan kebawah.
"Apa yang terjadi,
Kang?!" tanya Melati, tanpa mampu memyembunyikan perasaan ngeri yang
membalut hatinya. Kemudian, setengah berlari gadisitu menghamburkearah
kekasihnya.
"Aku juga tidak tahu,
Melati. Mungkin pulau ini akan tenggelam ke dasar laut," jawab Dewa Arak
dengan gugup. "Kalau hanya longsor saja tak mungkin getarannya sampai ke
sini. Apalagi sampai sekuat ini! Gunung itu letaknya jauh dari sini!"
'Tenggelam, Kang?!" ada rasa
ngeri yang membayang jelasdiwajah gadisberpakaian putih itu ketika
mengucapkannya.
"Itu hanya dugaanku
saja,Melati."
Arya buru-buru memperbaiki ucapannya untuk menenangkan hati
kekasihnya. Tapi usaha Dewa Arak sia-sia. Melati telah telanjur merasa
ngeri. Gadis itu tidak mudah
untuk ditenangkan kembali.Initerbukti....
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi?! Mari kita segera tinggalkan tempat ini, Kang! Aku tidak ingin mati
terkubur di dasar laut!" ucapa Melati kalap. Dalam cengkeraman rasa ngeri
yang menggelegak, tanpa sadar Melati mengguncang-guncangkan tubuhDewa Arak.
'Tidak semudah itu, Melati. Kita
harus memberitahukan kejadian ini pada kakekku. Tidak sepatutnya kita
meninggalkannya begitu saja!"tandasDewaArak.
"Kalau begitu, mari kita
pergi ke sana, Kang!" sambutMelaticepat.
Kemudian tanpa memberi kesempatan
pada Dewa Arak untuk berpikir, Melati melesat
menuju Istana Es.Karena
gadisberpakaian putih itu tidak melepaskan pegangannya, terpaksa Dewa Arak
mengikuti langkah Melati. Kalau itu tidakdilakukan,tubuhnya akan
terseret-seret.
Meskipun demikian,Dewa Arakmasih
sempat melihat ke arah Pemimpin Pulau Api tadiberdiri. Ternyata kakek berikat
kepala merah itu sudah tidak ada lagi. Pemimpin Pulau Api tengah melesat cepat
ke arah gunung yang sedang longsoritu!
Tentu saja tindakan Pemimpin
Pulau Api membuat Dewa Arak heran bukan main! Sudah gilakah kakek berikat
kepala merah itu? Kalau tidak, mengapa di saat gunung itu longsor malah
bergerak mendekati? Apakah dia ingin tertimpa gundukan-gundukan es yang
rata-rata sebesar kerbau?
Tapi Dewa Arak segera membuang
jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan itu. Yang harus
dilakukannya sekarang adalah secepatnya tiba di Istana Es,dan memberitahukan
kejadian inipada KakekSangga Buana. Mudah-mudahan kakekitu tidak
mengalamikejadian yang tidakdiinginkan.
Merupakan hal yang wajar bila
pemuda berambut putih keperakan itu mencemaskan keselamatan Kakek Sangga Buana. Sebab getaran itu semakin terasa jelas. Bahkan, semakin lama
guncangannya semakin kencang!
Rasa cemas Dewa Arak dan Melari
membuat mereka berlari seperti dikejar hantu! Karena
kedua orang muda itu mengerahkan
ilmu meringankan tubuhnya, maka hanya dalam beberapa lesaran saja Istana Es
telah terlihat. Semangat mereka semakin besar untuk segera tiba. Hingga
kecepatan lari sepasang muda-mudi itu ditambah.
"Kek...!Kakek...!"
Belum juga mencapaipintu gerbang
Istana Es, Dewa Arak telah berteriak-teriak memanggil Sangga Buana. Sebab tepat
di tengah-tengah pintu gerbang tampak sesosok tubuh yang dikenali Dewa Arak dan
Melati sebagai Sangga Buana tengah berdiri. Kakek itu kelihatan tenang-tenang
saja.
Sosok itu memang Sangga Buana!
Kakek itu tampaknya tahu kalau dirinya dipanggil-panggil, tapitetap saja dia
berdiridi tempatnya.Kelihatan seperti tidak peduli. Tapi dari tatapan yang
tertuju pada Dewa Arak dan Melati, agaknya dia tengah menunggu kedatangan
sepasang muda-mudi itu.
"Apa yang terjadi, Arya?
Mengapa kalian berlari-lari seperti dikejar hantu?" tanya Sangga Buana sebelum Dewa Arak dan Melati menghentikan lari. Rupanya, kakek
itu tidak sabarlagimenunggu.
"Pulau ini akan tenggelam,
Kek! Cepat kita tinggalkan tempat ini!" jawab Arya cepat begitu berada
dihadapan Sangga Buana.
Lalu tanpa menunggu sambutan
kakek berpakaian putih itu, Dewa Arak langsung mencekal per-gelangannya. Sudah
dapat diduga maksudnya. Arya ingin membawa Sangga Buana meninggalkan tempat
itu.
TapiDewa Arak kecewa!Tubuh Sangga
Buana tidak bergeming ketika ditariknya! Pemilik Pulau Es itu mengerahkan
tenaga dalamnya untuk memberatkan tubuh. Hingga Dewa Arak heran. Begitu pula
Melati. Dengan sorot mata penuh pertanyaan, sepasang muda-mudi berwajah elok
itu menatapwajah Sangga Buana.
'Tenang dulu, Arya," ujar
Sangga Buana kalem. "Jelaskan, mengapa kau mengambil kesimpulan seperti
itu?"
"Tidakkah kau merasakan
goncangan di seluruh penjuru pulau ini, Kek?! Bahkan, tadi kulihat jelas salah
satu lereng gunung es di sana telah longsor," jelas Arya sambi menudingkan
jari telunjuknya kearahgunung yang dimaksud.
"Ooo.... Rupanya itu yang
menyebabkan kau menduga demikian, Arya," ujar Sangga Buana setengah tertawa, seraya melayangkan pandangan ke arah gunung yang
ditunjukkan Dewa Arak. Tampak masih terlihat banyak batu-batubesardan batu-batu
kecilberguguran.
"Benar,Kek,"sahutArya
cepat.
"Kalau demikian,
tenangkanlah hati kalian. Percayalah, pulau ini tidak akan tenggelam.
Semua gejala-gejala yang kalian
lihat hanya merupakan sebuah pertanda."
"Sebuah pertanda? Pertanda
apa, Kek?" tanya Melati, setelah saling pandang sejenak dengan Dewa Arak.
Sangga Buana tidak segera Dilemparkannya seulas senyum sepasang
muda-mudi itu.
menjawab. lebar pada
"Sebelum kujawab pertanyaan
kalian, ada baiknya bila kuceritakan sebuah legenda yang kudapatkan dari
ayahku. Menurut cerita beliau, ratusan tahun yang lalu Pulau Es dan Pulau Api
tidak terpisah.Kedua pulau itu menjadi satu."
Sampai di sini Sangga Buana
menghentikan ceritanya. Sementara Dewa Arak dan Melati mendengarkan dengan
penuh minat. Meskipun saat tanah masih terguncang-guncang, Dewa Arak dan Melati
tidak khawatir lagi. Mereka percaya penuh padaSangga Buana.
"Entah karena mengapa pulau
itu terpecah dua. Yang satu dinamakan Pulau Es, sedangkan yang lain Pulau Api.
Sampai sekarang, kedua pulau yang terpecah itu tetap terpisah. Bahkan, jaraknya
semakin jauh. Tapi menurut cerita, ada saat-saat di mana antara Pulau Esdan
Pulau Api tercipta sebuah jalan yang menghubungkan kedua pulau itu. Entah
bagaimana hal itu bisa terjadi. Aku sendiri tidak mengerti. Yang jelas, sebelum
terciptanya jalan itu, pada kedua pulau terjadi guncangan keras mirip gempa.
Nah!
Kurasa inilah tanda yang
dimaksudkan ayahku. Jelas, Arya,Melati?" tanya Sangga Buana diakhir
kisahnya.
Dewa Arak dan Melati tidak segera memberikan jawaban. Mereka saling
pandang sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
"Jadi..., kedua pulau itu
bersatu kembali sepertidulu,Kek?" tanya Arya.
'Tidak, Arya," jawab Sangga Buana
menggeleng. 'Pulau Es dan Pulau Api tetap terpisah. Yang terjadi hanya sebuah
jalan tembus mirip sebuah terowongan, yang tercipta jauh di
dasarlaut.Demikian,menurutcerita ayahku."
"Apakahbeliau pernah
mengalaminya,Kek?" "Benar, Arya. Bahkan, beliau sempat
menyelidiki keanehan itu. Tapi
hanya itu yang diketahuinya. Jawaban mengapa hal seperti itu bisa terjadi,
tidak ada yang bisa menjawabnya. Yahhh...! Ini merupakan sebuah pertanda bahwa
banyak masalah di dunia ini yang tidak bisa dipecahkan otakmanusia!"
Arya mengangguk-angguk menyetujui
pendapatSangga Buana. Pemuda berambutputih keperakan itu memang percaya betul
akan kekuasaan Allah,Sang Pencipta AlamSemesta.
"Lalu... di mana terciptanya
jalan tembus itu, Kek?" tanya Arya lagiingin tahu.
"Di gunung itu, Arya,"
Sangga Buana menudingkan jari telunjuknya ke arah gunung yang salah satu
lerengnya longsor.
"Pantas...!" ujar Arya
seraya mengangguk-anggukkan kepala.
"Apanya yang pantas,
Kang?" tanya Melati penasaran.
Bukan hanya Melati saja yang
ingin tahu alasan Dewa Arak berkata seperti itu. Sangga Buana pun demikian.
Kakekberpakaian putih itu menatap cucunya dengan pandang mata penuh pertanyaan.
'Tadi kulihat seorang kakek yang
menurutku pemimpin orang-orang berpakaian merah berlari menuju gunung itu.
Semula aku tidak mengerti, mengapa dia bertindak seperti itu. Pasti dia ingin
mencarijalan tembusmenuju pulaunya."
"Jadi..., kau bertemu dengan
Pemimpin Pulau Api,Arya?!"tanyaSangga Buanaagakkaget
"Benar,KekBahkan,antara kami
telah terjadi pertempuran,"jawab Arya.
Kemudian, secara singkat tapi
jelas pemuda berambut putih keperakan itu menceritakan semuanya. Sementara Sangga Buana mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa kali kakek
berpakaian putih itu berdecak kagum mendengar cerita pertarungan Arya dengan
Pemimpin Pulau Api.
"Kalau begitu... kau harus
cepat menyusulnya, Arya,"ujarSangga Buana ketika Dewa Araktelah
menyelesaikan ceritanya.
"Boleh kutahu,
mengapabegitu,Kek?"
"Sebab, bila kau tidak
segera bertindak maka pusaka-pusaka Pulau Es akan terjatuh ke tangannya.
Orang-orang persilatan yang telah mendapatkan pusaka-pusaka itu, pasti akan
melaluijalan itu,"jelasSangga Buana.
"Apakah sudah pasti mereka
akan melalui jalan itu, Kek? Barangkali mereka melalui jalan lain, atau bahkan
tidak menemukan jalan itu," bantah Arya.
Sangga Buana tersenyumlebar.
"Kau yakin rombongan
orang-orang persilatan itu masih berada di dalam pulau?" Sangga Buana
balasbertanya.
“Yakin,Kek,”mantapdan tegasjawban
Arya. "Kalau begitu..., mereka pastiakan menuju ke
sana,"ujarSangga Buana tak
kalah yakin. "Mengapa demikian, Kek?" Arya tidak mampu
menyembunyikan perasaan herannya.
"Memang sulit untuk
dimengerti akal, Arya. Tapi itulah kenyataannya. Setiap kali jalan tembus itu
muncul, akan timbul di hati orang-orang yang berada di dalam pulau untuk menuju
ke sana.Ada kekuatan aneh menarik orang untuk pergike sana."
Dewa Arak mengalihkan pandangan
ke arah Melati yang sejak tadi hanya bertindak sebagai
pendengar. Pada saat yang
bersamaan, Melati pun tengah menatap ke arah Arya. Bentrok pandangan pun
tidakdapatdielakkan lagi.
"Apa kau merasakan hal
seperti itu, Melati?" tanya Arya ingin tahu.
"Yahhh...!" Arya menghela napas berat sebelum
memberikan jawaban. "Memang ada dorongan kuat untuk menuju ke sana.
Padahal, yang ada di benakku pergi meninggalkan pulau setelah memberitahukan
pada kakek. Anehnya dorongan itu menyuruhku meninggalkan pulau melaluigunung
itu."
"Aku pun
demikian,Kang,"timpalMelati. "Itulah keajaibanyang sampai sekarang
belum
terpecahkan," celetuk Sangga
Buana. "Sekarang kalian percaya?"
Tanpa ragu-ragu lagi, Dewa Arak
dan Melati menganggukkan kepala.Bagaimana mereka tidak percaya kalaubukti-bukti
sudah demikian jelas.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi? Mari kita segera menyusul Pemimpin Pulau Api sebelum pusaka-pusaka itu
berhasil didapatnya," ajak Sangga Buana.
Dewa Arak dan Melati kelihatan
saling pandang dengan wajah bingung.' Betapa tidak? Bukankah sebelumnya Sangga
Buana telah memberikan kekuasaan pada Dewa Arak untuk mencari dan mendapatkan
pusaka-pusaka Pulau Esyang tercuri.
Tapi hanya sebentar saja
keheranan itu melanda sepasang pendekar muda ini. Mereka segera teringat akan
kekuatan aneh yang dapat mempengaruhi orang. Pasti Sangga Buana pun
mengalamihalyang sama sepertimerekaberdua.
"Mari, Kek," sambutDewa
Arak setelah sadar. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, kemudian Dewa Arak,
Sangga Buana, dan Melati melesat meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka jelas
ke gunung es yang tengah longsor. Tanpa ragu-ragu, mereka mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya.
Tentu Dewa Arak dan Sangga Buana
tidak mengerahkan seluruh kemampuannya. Bila hal itu dilakukan, Melati akan
tertinggal jauh. Terpaksa keduanya mengerahkan tenaga sebatas lariMelati.Hingga
dapatlariberjajar.
"O ya, Kek. Boleh aku
bertanya sesuatu?" ujar Dewa Arakdi sela-sela ayunan kakinya.
"Apa,Arya?" tanpa
menghentikan lari,Sangga Buana menolehkan kepala kearah cucunya.
"Apakah ada orang yang
bernama Abimanyu, atau orang-orang yang berpakaian seragam kerajaan
mendaratdisini?"
'Tidak, Arya. Aku tahu pasti hal
itu. Orang-orang yang mendarat di pulau ini hanya dari Pulau Api, dan
tokoh-tokoh persilatan yang telah merampaspusaka.Memangnya kenapa?"
Tanpa ragu-ragu, Dewa Arak menceritakannya.
"Kalau benar demikian, mereka pasti
mendarat di Pulau Api. Kau tahu, Arya.Keadaan Pulau Api amat mirip dengan Pulau
Es. Yang membedakan hanya satu,yaitu apiyang sewaktu-waktu
menyemburdaridalamtanah es!"
Kembali Dewa Arak dan Melati
bertukar pandang. Kali ini dengan sorot mata dan tarikan wajah yang memancarkan
kekhawatiran. Mereka khawatir akan keselamatan Abimanyu dan rombongan Kerajaan
Bojong Gading. Perasaan khawatir akan keselamatan Patih Juminta dan yang lainnya,
membuat Dewa Arak dan Melati ingin segera tiba di Pulau Api. Kecepatan lari
mereka pun ditambah.
***
7
Apa yang dikatakan Sangga Buana
ternyata benar. Dewa Arak dan Melati langsung bisa membuktikan kebenarannya.
Tanah yang tadi berguncang-guncang, kini telah tenang kembali. Dan gunung es
yang tengah mereka tuju tidak lagi meruntuhkan batu-batu es.Keadaan di pulau
itu kembalitenang sepertisediakala.
Tanpa membutuhkan waktu lama,
Sangga Buana, Dewa Arak, dan Melati telah berada di kaki gunung es itu. Dan
sesampainya di sini, perjalanan yang mereka tempuh tidak mudah lagi. Sekarang
mereka harus mendaki. Tidak jarang mereka melompat ke sana kemari, atau menotok
tonjolan demi tonjolan batu agar tubuh mereka dapatmelayang keatas.
Dengan medan yang agak sulit,
apalagi sesudah terjadi longsor itu, rombongan kecil yang dipimpin Sangga Buana
membutuhkan waktu yang agak lama untuk tiba di bagian lereng gunungyang
longsor.
"Hup!"
Berturut-turutSangga Buana,Dewa
Arak,dan Melati mendarat di lereng gunung es itu. Hawa dingin menyengat kulit
tubuh mereka. Di tempat ini hawa memang jauh lebih dingin. Bahkan, tiupan angin
pun seperti hendak membekukan
tubuh. Tapi dengan mengerahkan
hawa murni, ketiga orang itu membuat serangan hawa dingin tidakberartiapa-apa.
Tanpa membuang-buang waktu lebih
lama, Sangga Buana segera mengedarkan pandangan. Melihat hal ini, Arya dan
Melati langsung melakukan tindakan serupa. Sepasang muda mudi ini tahu kalau
Sangga Buana mencari jalan tembus yang diceritakannya. Dengan sepasang mata berkeliaran
ke sana kemari, mereka mengayunkan langkah.
"Kek...!Itukah jalanyang kau
maksud?!" Seruan Melati membuat Sangga Buana dan
Arya mengalihkan pandangan ke
arah yang ditunjuk Melati. Tampak sebuah goa berbentuk bulat dengan garistengah
dua tombak, takjauh di samping kanan mereka.
"Kemungkinan besar itulah jalan
yang dimaksud, Melati," jawab Sangga Buana tidak beranimemastikan.
"Lalu... bagaimana cara membuktikan kebenarannya,Kek?!"tanya
Melati lagi.
Gadis berpakaian putih itu
menanyakannya dengan alis berkerut. Melati kelihatannya tidak puas dengan
jawaban yang diberikan Sangga Buana.
'Tentu dengan memasukinya,
Melati," sahut Sangga Buana kalem, seperti tidak mengetahui kekesalan
hatigadisberpakaian putih itu.
Sementara Dewa Arak mengetahui
perasaan yang bergolak di hati kekasihnya. Maka,
diputuskannyauntukikutcampurtangan.
"Menurutku... memang itulah
jalan tembus yang kau maksudkan,Kek."
"Hm...! Apa alasan yang
mendorongmu mengambil kesimpulan demikian, Arya?" tanya Sangga Buana
menguji.
"Keadaan goa itu, Kek,"
tegas dan mantap jawaban pemuda berambut putih keperakan itu. Terlihatada
keyakinan dalamjawabannya.
"Bisa lebih kau perjelas
maksudnya, Arya?" pinta kakekberpakaian putih itu.
Dewa Arak tidak segera menjawab
Tatapannya dialihkan ke arah Melati, mencoba untuk melihat tanggapan
kekasihnya. Ingin diketahuinya,apakah Melatitelah mengerti.
Tapi yang ditemuinya seraut wajah
yang menunjukkan ketidakmengertian. Melati belum juga menangkap maksudnya.
Berbeda dengan Sangga Buana.Wajah kakekberpakaian putih itu tampak tenang. Arya
berani bertaruh, Sangga Buana sebenarnya telah mengerti. Bahkan Dewa Arak yakin
kakek itu telah mempunyai dugaan kuat kalau goa itu jalan tembus yang dimaksud.
Sangga Buanahanya tidakmau memastikan.
"Keadaan goa ini, Kek.
Terlihat jelas kalau semuanya belum lama terbentuk,"jelasArya.
"Ha ha ha...! Kau cerdik,
Arya. Sudah kuduga kecerdikan Tribuana akan menurun padamu," kakek
berpakaian putih itu kelihatan sangat gembira.
"Kau bisa saja,Kek,"
sambutArya malu, tidak enak hati mendapat pujian seperti itu. "O, ya.
Apakah tidak lebih baik bila kita segera masuk ke goa itu?Aku khawatir kitaakan
terlambat."
"Kaubenar,Arya.Mari,"
timpalSangga Buana cepat. Kakek berpakaian putih itu tahu kalau Arya sengaja
mengalihkan perhatian.
Dengan didahului Dewa Arak, atas
permintaan Sangga Buana mereka mengayunkan langkah menuju goa. Hanya dalam
beberapa langkah ketiganya telah berada di mulut goa itu. Sampai di sini Dewa
Arak tidak langsung melangkah masuk. Untuk memastikan tidak ada bahaya yang mengancam sejenak diperhatikannya keadaan goa
itu. Pemuda berambut putih
keperakan itu memang selalu berhati-hatidalam tindakannya.
Semua itu tidak luput dari
perhatian Sangga Buana. Perasaan kagum kembali menyeruak dalam hati kakek
berpakaian putih itu. Memang seharusnya demikian tindakan seorang pendekar,
pujinyadalamhati.
Sementara itu, setelah yakin
tidakadabahaya yang mengancam, Dewa Arak melangkah masuk. Sangga Buana dan Melati menyusul di
belakangnya. Keadaan dalam goa ternyata tidak
terlalu gelap. Cukup aneh
sebenarnya, tapi Dewa Arak, Melati, dan Sangga Buana tidak
mempedulikannya. Andaikata teringat pun mereka tidak merasa heran. Sebab,
mereka tahu di dunia ini ada sejenis batu yang mampu menimbulkan cahaya
dalamgelap.
Suasana yang tidak terlalu gelap
menyebabkan rombongan yang dipimpin Dewa Arak tidak mengalami kesulitan
melakukan perjalanan.Apalagi langit-langitgoa cukup tinggi. Dan jalan dalamgoa
lurus, tidakada belokan satu pun. Hanya satu hal yang sempat membuat mereka
bertiga mengernyitkan alis heran, yaitu dasar goa yang terus menurun. Tapi
begitu teringat kalau jalan ini melalui lorong bawah tanah yang terdapat di
bawah dasar laut, keheranan mereka pun lenyap.
Setelah cukup lama menempuh jalan
menurun, akhirnya dasar goa mendatar. Jalan mendatar ini ternyata tidak kalah
panjangnya dengan jalan menurun. Kemudian, perlahan-lahan jalan yang ditempuh
mulai menanjak. Melihat kenyataan ini, Dewa Arak, Melati, dan Sangga Buana mulai meningkatkan kewaspadaan. Jalan yang
menanjak menandakan taklama lagi merekaakan tiba diPulau Api
Dugaan mereka memang tidak salah.
Tak lama kemudian, mereka melihat cahaya terang di depan mereka. Itu pertanda
di sana ada jalan yang berhubungan dengan dunia luar. Mendadak
Dewa Arak menghentikan langkah.
Hingga Melati dan Sangga Buana heran. Terpaksa mereka punberhenti.
"Mengapa berhenti,
Arya?" tanya Sangga Buana pelan.
"Aku
mendengarbunyigaduh,Kek.Sepertinya ada pertempuran di depan sana. Apa kau
mendengarnya,Kek?"
"Benar, Arya. Aku
mendengarnya. Beberapa langkah sebelum kau berhenti, aku telah mendengarnya.
Tapi kubiarkan saja. Kupikir tak lama lagi kau pun akan mendengarnya,"
urai Sangga Buana, tanpa ada nada kesombongan di dalamnya. Padahal, jawabannya sudah membuktikan kalau ketajaman
pendengarannya berada diatasArya.
"Aku... aku belum mendengar
bunyi apa pun, Kang," celetuk Melati. Setelah beberapa saat lamanya menelengkan kepala, mencoba
mendengarkanbunyiyang dimaksudkekasihnya.
'Tak lama lagi kau pun akan
mendengarnya, Melati," sahut Arya kalem. "Yang penting, persiapkanlah
dirimu. Sebentar lagi kita akan terlibatdalampertarungan."
Melati hanya menganggukkan kepala menanggapipernyataan
kekasihnya.
"Sekarang mari kita
lanjutkan perjalanan," lanjutArya seraya melangkahkan kaki.
Tanpa banyak bicara, Melati dan
Sangga Buana mengayunkan kaki.Perkataan Dewa Arak
memang benar. Beberapa ayunan langkah kemudian, Melati mendengar
bunyi riuh rendah yangdidengarDewa Arak.
***
Semakin lama sinar terang
benderang itu semakin jelas. Dugaan ketiga orang itu tidak keliru. Sinar terang
benderang itu berasal dari dunia luar. Di depan mereka tampak mulut goa
terpampang.
Kalau menuruti perasaan hati,
Dewa Arak, Melati, dan Sangga Buana ingin segera
menghambur ke sana. Tapi akal sehat melarang mereka melakukan tindakan itu.
Yang mereka lakukan malah sebaliknya, mendekati mulut goa yang akan mengantar
mereka ke dunia luar itu dengan langkah hati-hati. Tapi, kekhawatiran mereka
tidak terbukti. Sampai mereka berada sangat dekat dengan mulut goa, tidak
terjadi hal-halyang dikhawatirkan.
"Dugaanmu benar, Kek.
Orang-orang yang membawa lari pusaka Pulau Es melalui jalan ini. Mereka tengah
terlibat pertarungan dengan orang-orang Pulau Api," ujar Arya sambil
menudingkan jaritelunjuknya keluargoa.
Memang dari tempat mereka dapat
terlihat jelas pemandangan di luar. Tampak sebuah bangunan besaryang
terlihatkunoberdiri megah. Tapi bukan itu yang menarik perhatian mereka.
Melainkan pertarungan yang terjadi di depan
bangunan besar mirip istana itu.
Pertarungan besar-besaran yang terjadi antara rombongan Raja Monyet Muka Hitam
dengan para penghuni Pulau Api.Menarikbukan main.
"Jumlah rombongan Raja
Monyet Muka Hitam jauh lebih banyak, Kang," kata Melati, setelah
memperhatikan keadaan pertarungan beberapa saat lamanya.
"Benar apa yang kau katakan,
Melati," jawab Arya mengangguk 'Tapi meskipun jumlah orang-orang Pulau Api
lebih sedikit, kemampuan perorangan mereka lebih unggul. Apalagi, dengan
kemampuan mereka bekerja sama. Rasanya, kemenanganakan diraih orang-orang Pulau
Api."
Sangga Buana dan Melati
mengangguk-angguk mendengar ucapan Arya. Mereka harus mengakui kesimpulan yang
diberikan pemuda berambut putih keperakan itu memang benar. Kedudukan
orang-orang Pulau Api jauh lebih baik. Kemenangan mereka hanya tinggal menungguwaktu saja.
"Kakang...!Bukankah itu
Pemimpin Pulau Api yang telah bertarung denganmu? Siapa tokoh yang menjadi
lawannya itu?" celetuk Melati lagi. Gadis berpakaian putih itu menudingkan
jari telunjuknya ke kancah pertarungan.Hingga Arya mengalihkan pandangan ke
arah yang ditunjuk Melati.
"Benar, Melati. Dialah
Pemimpin Pulau Api. Menurut pendapatku, lawan yang dihadapinya
Raja Iblis Baju Emas! Lihat saja
pakaian yang dikenakannya,"sahutArya.
"Kau benar, Kang. Mengapa
aku begitu pelupa?Siapa lagitokoh yang tengah menghadapi Pemimpin Pulau Api
kalau bukan Raja Iblis Baju Emas. Bukankah demikian berita yang kita
dapatkan?" ucap Melati seperti menyesali diri sendiri.
"Pemimpin Pulau Api itu nama
sebenarnya Gandamata," celetuk Sangga Buana, tak tahan berdiamdiri..
"Ooo...!"
Dewa Arak dan Melari membulatkan
mulut mendengarpemberitahuan Sangga Buana.
"Kalau begitu, yang di
sebelah sana pasti Raja Monyet Muka Hitam," kembali Melati membuka suara.
Gadis berpakaian putih itu
menunjuk ke sebuah kancah pertarungan lain. Tampak seorang lelaki bertubuh
kecil yang berpakaian hitam tengah bertarung menghadapi dua penghuni Pulau Api.
Mereka tidak lain Songora dan Bonggol.
"Apakah tidak sebaiknya kita
ikut terjun dalam kancah pertarungan, Kang?" usul Melati tiba-tiba.
Dewa Arak mengembangkan senyum
lebar. "Sabar, Melati. Kita tunggu saat yang tepat.
Jangan sampai tindakan campur
tangan kita
membuat mereka bersatu menghadapi
kita. Keadaan akan menjadigawat.Karena itu,saatini biarkan saja mereka
bertarung. Setelah jumlah mereka berkurang, baru kita melakukan penyerangan untuk merampas
pusaka-pusaka Pulau Esdaritangan mereka,"uraiDewa Arak.
Sementara itu, pertarungan
terusberlangsung sengit Meskipun terdiri dari banyak kelompok pertarungan, tapi
masing-masing pertempuran menarik untuk disaksikan. Tapi tentu saja penonton,
dalam hal ini Dewa Arak, Sangga Buana, dan Melati lebih menyukai pertarungan
yang berlangsung antara tokoh-tokoh tingkat tinggi. Maka, perhatian mereka
lebih banyak terpusat pada pertarungan Raja Iblis Baju Emas dan Gandamata,
serta Raja Monyet Muka Hitam melawan Songora dan Bonggol. Dan memang,
pertarungan tokoh-tokoh itu paling dahsyat dan menarik bila dibandingkan dengan
yang lainnya. Jangankah terkena serangan langsung, angin serangan mereka saja,
mampu menewaskan pesilatyang kurang kuat tenaga dalamnya. Maka tidak aneh, jika
pertarungan tokoh-tokoh tingkat tinggi itu terpisah cukup jauh dengan
pertarungan pertarungan lainnya.
Berbeda dengan pertarungan
tokoh-tokoh itu yang terlihat berimbang, pertarungan antara rombongan Raja
Monyet Muka Hitam dan penghuni Pulau Api kelihatan tidak berimbang. Para
penghuni Pulau Api mampu mendesak
lawan-lawannya, kendati jumlah
mereka kalah banyak. Orang-orang Pulau Api itu hanya berjumlah dua belas orang.
Lima di antara mereka anggota tingkatdasar, sedangkan sisanya orang-orang yang membantu Songora dan
Bonggol sewaktu menghadapi Raja Iblis Baju Emas. Perubahan lawan tarung
disebabkan oleh terjadinya jalan tembus yang menghubungkan Pulau Apidan Pulau
Es.
Seperti juga Pulau Es, Pulau Api
mengalami hal yang sama seiring dengan terjadinya jalan tembus itu.Kejadian itu
membuat kejar-mengejar antara Raja Iblis Baju Emas dan sembilan lawannya
terhenti. Mereka takut Pulau Api akan tenggelam.Maka mereka pun melarikan
diri.Dan seperti juga perasaan yang dialami Pulau Api dan Melati,mereka
tertarikoleh kekuatan aneh untuk datang ke tempatini.Ketika mereka tiba dimulut
goa, dari sana muncul Raja Monyet Muka Hitam dan rombongannya. Pertarungan pun
tidak bisa dielakkan lagi.
Semula orang-orang Pulau Api
terdesak. Untung Gandamata segera hadir. Keadaan pun langsung berubah.Sekarang
para penghuni Pulau Api berhasil mendesak anak buah Raja Monyet Muka Hitam.
Meskipun jumlah mereka hanya sepertiga lawan.
Orang-orang Pulau Api memang
cerdik bukan main. Mereka menggunakan kerja sama kelompok untuk
menghadapi anak buah Raja
Monyet Muka Hitam. Tak heran jika
kancah pertarungan mereka terbagi tiga kelompok.
***
8
Ctarrr! "Akh!"
Lolong kesakitan terdengar ketika
seorang anak buah Raja Monyet Muka Hitam terkena cambuk lawan pada pelipisnya.
Seketika itu pula tubuhnya terhuyung ke belakang, dan ambruk di tanah, lalu
menggelepar-gelepar sejenak sebelum akhirnya diam tidak bergerak. Nyawanya
telah melayang meninggalkan raga.
Belum juga lenyap jeritannya, kembali
terdengar lolong kematian lainnya. Juga berasal dari anak buah Raja Monyet Muka
Hitam. Pemilik jeritan ini pun tewas. Setelah itu, satu persatu anak buah Raja
Monyet Muka Hitam berguguran. Hingga, dengan sendirinya keadaan mereka semakin
terdesak.Dengan jumlah mereka yang semakin sedikit kekuatan mereka pun makin
berkurang.
Anak buah Raja Monyet Muka Hitam
segera sadarkalau lawan terlalu kuatuntuk mereka,dan tidak ada harapan sedikit pun untuk
memenangkan pertarungan. Tapi meskipun
demikian, mereka tidak ingin mati percuma. Mereka ingin mengajak para penghuni
Pulau Api matibersama-sama.
Anehnya, keinginan itu timbul
secara serentak di benak pengikut Raja Monyet Muka Hitam.
Mungkin karena kedudukan mereka
yang sama-sama terjerat. Mereka pun menunggu saat yang tepatuntukmelaksanakan
tindakan nekat itu.
"Suiiit...!"
Mendadak, salah seorang anak buah
Raja MonyetMuka Hitam mengeluarkan siulan. Tentu saja bukan sembarangan siulan.
Di dalamnya terkandung maksud tertentu yang hanya
dimengerti rombongan Raja MonyetMuka Hitam. Seketika itu pula, dari tiap-tiap
kelompok pertarungan, terdengar siulan balasan bernada sama. Ini memberi arti
kalau mereka telah mengertimaksudsipemberisiulan.
Dan semua itu didengar
orang-orang Pulau Api. Mereka pun bukan orang bodoh. Siulan itu bukan keterampilan mulut belaka, tapi mengandung maksud tertentu. Sayang, mereka
tidak tahu arti siulan itu, yang dapat dilakukan mereka adalah lebih bersikap
hati-hati. Bersiap-siapmenghadapi segala kemungkinan.
''Suiiit...!"
Kembali terdengar siulan. Kali
ini nadanya berbeda dengan sebelumnya. Cepat, keras, dan singkat!
Dan,kaliiniorang-orang Pulau
Apitidakperlu pusing-pusing memikirkannya. Maksud siulan itu langsung
dibuktikan. Begitu dari masing masing kelompok terdengar siulan. Mereka segera berlompatanmenjauhiarena pertarungan
Tindakan ini membuat penghuni
Pulau Api gugup. Mereka sadar lawan tengah menggunakan sebuah siasat. Dan
mereka tidak bisa menebak, siasat apa yang akan dipergunakan. Hingga, orang
orang Pulau Api tidak berani bertindak sembrono dengan memburu lawan. Mereka
hanya berdiam diri di tempat masing-masing dengan sikapwaspada. Menurut mereka,
inilah cara yang palingbaikbila belum mengetahuisiasatlawan.
Karena tidak mendapathambatan
dari lawan-lawannya, tanpa menemui kesulitan pengikut Raja Monyet Muka Hitam
keluar dari kancah pertarungan. Dan dengan kecepatan yang
mengagumkan langsung membuat lingkaran besar, mengurung semua lawan mereka.
Semua itu dilakukan dengan cepat. Sehingga sebelum anak buah Gandamata sadar,
tahu tahu mereka telah terkurung. Dan sebelum mereka sempat berbuat sesuatu,
tangan-tangan anak buah Raja MonyetMuka Hitamdikibaskan.
Wut,wut,wut!
Seketika Itu pula, belasan bahkan
puluhan benda bulat sebesar telurbebek melayang kearah para penghuni Pulau
Api.Sambaran benda-benda bulat ini membuat orang-orang Pulau Api keheranan.
Sekejap mereka saling pandang dengan sorot mata menyiratkan
ketidakmengertian. Mereka tidak mengenal
senjata rahasia semacam itu. Sungguh mereka tidak tahu, kalau benda yang tengah
meluncur ke
arah mereka jauh lebih berbahaya
dari senjata rahasia mana pun.
Karena ketidaktahuan itu,
masing-masing kelompok saling bertukar
pandang. Hanya sekejap saja. Tapi meskipun demikian telah didapat sebuah
keputusan. Dan keputusan masing-masing kelompok ternyata tidaksama.Ini
terbuktibeberapa saatkemudian.
"Hih!"
Kelompokpenghuni Pulau Apiyang
berjumlah tiga dan empat orang mengelakkan serangan itu. Sedangkan kelompok
yang berjumlah lima orang dan bersenjatakan cambuk langsung
memapakinya dengan lecutan senjata andalannya.Dan....
Blarrr!
Ledakan dahsyat dan keras laksana
halilintar langsung terdengar ketika benda-benda sebesar telur bebek itu
berbenturan, baik dengan tanah maupunujung cambuk!
Akibatnya, sungguh luar biasa!
Bongkahan-bongkahan es berpentalan ke sana kemari! Sedangkan lima anak buah
Gandamata yang langsung memapaki benda bulat itu, mengalami kejadian yang
menggiriskan. Tubuh mereka terjengkang ke belakang seperti diseruduk puluhan
kerbau liar!
Tapi justru kejadian itulah yang
membuat mereka selamat dari kematian yang mengerikan!
Betapa tidak? Begitu
bongkahan-bongkahan es berpencaran dari dalamnya menyembur api. Tidak kepalang
tanggung lagi semburannya. Sebab, lubang yang terbentuk pun besar! Yang lebih
gila lagi, lubang itu tidak hanya satu tapi banyak!
Kematian seperti itulah yang
diterima tujuh orang anak buah Gandamata! Sebagian dari mereka tewas dengan
tubuh hangus terbakar. Sedangkan sisanya terjebloskedalamlubang api.
Nasib yang menimpa lima orang
penghuni Pu-lau Api yang bercambuk memang tidak sesial re-kan-rekannya. Tapi
bukan berarti mereka lepas dari bahaya. Begitu tubuh mereka melayang deras
hingga keluar dari kepungan, sebagian lawan-lawan mereka segera memburu dengan
senjata di tangan. Dan dalam keadaan tiga perempat mati, akibat ledakan keras
itu, lima penghuni Pulau Api ini tidak mampu berbuat banyak! Maka tanpa menemui
kesulitan sedikit pun, anak buah Raja Monyet Muka Hitam menyarangkan
serangannya.
"Akh...!"
Jeritan singkat dan menyayat
keluar dari mulut mereka ketika senjata anak buah Raja Monyet Muka Hitam
mendarat di tubuhnya. Bertubi-tubi, dan baru terhenti ketika tubuh mereka sudah
tidakberbentuklagj.Tapibaru saja menyelesaikan perbuatannya, terjadi sebuah
peristiwa yang mengejutkan anak buah Raja
Monyet Muka Hitam. Tanah yang
mereka injak bergetar keras. Dan sebelum mereka bertindak sesuatu, tanah itu
amblas! Tanpa bisa dicegah lagi,tubuh mereka amblaskedalamtanah.
Ternyata semua terjadi akibat
ledakan benda-benda bulat. Terlalu banyak yang dilepaskan hingga menimbulkan
getaran dahsyat. Padahal, tanah di Pulau Api tidak terlalu baik! Banyak
bagian-bagian yang berongga! Hasilnya, bukan hanya para penghuni Pulau Api saja
yang menjadi korban. Anak buah Raja Monyet Muka Hitam sendiri pun mengalaminya.
Mereka tewas karena tanahyang mereka injaktiba-tiba amblas!
Mengerikan sekali pemandangan yang terpampang! Di tengah-tengah hamparan es
tercipta danau api! Sulit untuk dipercaya! Tapi, tentu saja api-api itu tidak
lagi menyembur ke atas. Lubang yang terbentuk itu ternyata tidak kecil, tapi
sudah sebesardanau!
***
Kejadian demi kejadian yang
terlalu dahsyat dan bertubi-tubi itu membuat semua yang berada di situ sangat
terkejut. Bukan hanya Dewa Arak, Melati, dan Sangga Buana saja. Raja Iblis Baju
Emas, Raja Monyet Muka Hitam, Gandamata, Songora, serta Bonggol pun demikian
pula. Untung saja, tempat pertarungan tokoh-tokoh itu terpisah cukup jauh.
Sehingga, tempat mereka
bertarung tidak termasuk bagian
pulau yang amblas!
Meskipun demikian, karena terlalu dahsyatnya peristiwa yang terjadi,
tanpa sadar Songora dan Bonggol mengalihkan perhatian. Apalagi, ketika
mendengar jeritan rekan-rekan mereka di antara hiruk-pikuk itu. Kesempatan yang
hanya sejenak itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Raja Monyet Muka Hitam.
Secepat kilattangannya dihentakkan!
Wusss!Desss! "Aaakh...!"
Jeritan menyayat keluar dari
mulut Songora ketika pukulan jarak jauh Raja Monyet Muka Hitam telak dan keras
menghantam dadanya. Seketika itu pula, tubuh tokoh Pulau Api itu melayang deras
ke belakang disertai jeritan menyayat. Dari hidung dan mulutnya mengalir darah
segar! Nyawanya melayang ke alam baka saatitu juga.
"Songora...!"
Bonggol menjerit kaget melihat
kejadian yang menimpa rekannya. Kemarahan yang sangat melanda hatinya.
Diterjangnya Raja Monyet MukaHitam.
Wungngng!
Golok besarnya dibolang-balingkan
di depan dada. Dan tetap dengan gerakan seperti itu, dia menyerang Raja Monyet
Muka Hitam. Bonggol
menyerang tanpa mempedulikan
keselamatannya. Yang ada di benaknya adalah membinasakan Raja Monyet Muka
Hitam. Hal-hal lain tidakdipikirkannya.
"Hm...!"
Raja Monyet Muka Hitam mendengus
melihat serangan itu.Tanpa ragu-ragu,dipapakiserangan
Bonggoldengan tombakpendeknya.
Trangngng!
Bunga api berpercikan ke sana
kemari ketika dua senjata itu berbenturan keras.Tubuh Bonggol terhuyung-huyung
ke belakang. Sedangkan Raja Monyet Muka Hitam yang memang memiliki tenaga dalam
jauh lebih kuat, tidak mengalami kejadian apa pun. Tergetar pun tidak.
Kesempatan di saat Bonggol terhuyung-huyung segera dimanfaatkan tokoh sesat
itu. Tangan kirinya dihentakkan.
Wusss!
Serangan susulan itu terjadi
sangat cepat dan tidak disangka-sangka. Bonggol, yang tengah dilanda perasaan
kalap menjadigugup.Sebisanya dicoba untuk menyelamatkan selembar
nyawanya.Tapi....
Desss!
"Aaakh...!"
Diiringi jeritan menyayat tubuh
Bonggol melayang deras ke belakang. Darah segar keluar
dari mulut, hidung, dan
telinganya. Nyawa tokoh Pulau Apiitu pun melayang.
Dan kejadian itu tak luput dari
pandangan Gandamata. Betapa geram hati kakek itu. Dengan tewasnya Bonggol,
berarti dia tidak mempunyai anak buah lagi. Akibatnya, Raja Iblis Baju Emas
menjadi sasaran kemarahannya. Serangan-serangan yang dilancarkan terhadap
kakekberpakaian kuning itu semakin dahsyat.
"Hih!"
Raja Iblis Baju Emas
menggertakkan gigi untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya sampai ke puncak.
Sejak tadi kakek itu memang sudah terdesak. Dalam meringankan tubuh maupun
tenaga dalam Gandamata ternyata lebih unggul darinya. Hanya berkat
kecerdikannya saja, hingga pertarungan berlangsung seratus
jurusdiabelumdapatdirobohkan.
Sementara itu, begitu berhasil
menyelesaikan pertarungan Raja Monyet Muka Hitam bergegas melesat pergi dari
situ. Tapi baru beberapa kali lesatan dia berlari.Mendadak....
"Raja MonyetMuka Hitam!
Tunggu!"
Cegahan keras yang mengandung
pengerahan tenaga dalamtinggi, memaksa Raja MonyetMuka Hitam menghentikan
langkah dan membalikkan tubuh. Dalam jarak tiga tombak tampak berdiri Dewa Arak Raja Monyet Muka Hitam
mengerutkan sepasang alisnya. Dirayapinya
sekujur tubuh Dewa Arak beberapa
saat. Kemudian,kepalanya mengangguk-angguk.
"Tidak salahkah mataku?
Bukankah aku tengah berhadapan dengan tokoh sombong yang berjuluk Dewa
Arak?!" ada nada ejekan sinis dalamucapan Raja MonyetMukaHitam.
'Tidaksalah!"jawab Dewa
Araktegas. "Akulah tokohyang kau maksudkan!"
"Hm...! Apa maksudmu mencegah kepergianku, Dewa Arak?!"
tampak jelas Raja Monyet Muka Hitam memandang rendah
lawannya.
"Tidakusah berpura-pura,Raja
Monyet!Cepat serahkan pusaka-pusaka Pulau Esyang telah kau curi! Percayalah,
aku tidak akan memperpanjang urusan bila kau bersedia mengembalikannya,"
ujar Dewa Arak tenang, berusaha tidak
terpengaruh dengan sikapyang ditunjukkan calon lawannya.
"Ha ha ha...!Enaksaja kau
bicara, Dewa Arak Apa hakmu meminta pusaka yang kudapatkan dengan kepandaian
yang kumiliki, hehhh...?! Jangan kau pikiraku takutpadamu!"tandasRaja
Monyet Muka Hitamdengan suara yang bergetar marah. Datuk kaum sesaat itu murka
melihat sikap Dewa Arak yang kelihatan meremehkan dirinya.
"Aku tidak mengatakan kau
takut padaku, Raja Monyet! Aku
hanya minta kau
mengembatkan pusaka Pulau Es yang
kau curi! Kau tidak berhak membawanya pergi!" tegas Dewa Arak mantap.
"Ooo...! Jadi..., menurutmu
siapa yang berhak membawanya? Kau?!" ejak Raja Monyet Muka Hitam.
"Benar," jawab Dewa
Arak singkat penuh kesungguhan. "Karena aku adalah keturunan
terakhirpemilikPulau Es!"
"Keparat! Jangan harap kau
dapat menipuku, Dewa Arak! Kalau kau memang pemiliknya, kau boleh mengambilnya
dariku! Tentu saja dengan kepandaian. Karena aku pun mendapatkannya dengan
kepandaian yang kumiliki!" tantang Raja MonyetMuka Hitam.
"Kalau itu yang kau
inginkan, apa boleh buat, Raja Monyet! Dengan senang hari kuterima
tantanganmu!" sambut Dewa Arak tanpa merasa gentarsedikitpun.
"Kalau begitu bersiaplah
kau, Dewa Arak! Hiyaaa...!"
Didahului teriakan nyaring yang menggetarkan isidada, Raja
MonyetMuka Hitam melompat menerjang Dewa Arak. Sadar kalau lawan yang
dihadapinya bukan tokoh sembarangan, tokoh sesat itu
menggunakan senjataandalannya.
Wuk,wuk,wuk!
Tombak pendek hitam mengkilat itu
dibolang-balingkan di depan dada. Cepat bukan main, hingga bentuknya
lenyap.Mendadak...
"Hih!" Wuttt!
Dengan kecepatan gerak seorang
tokoh tingkat tinggi, Raja Monyet Muka Hitam menusukkan tombaknya ke arah perut
Dewa Arak. Bunyi menderu keras mengiringi tibanya serangan itu. Melihat
kenyataan itu, Dewa Arak tidak berani bertindak ceroboh. Buru-buru tubuhnya
dilempar ke belakang. Dan di saat tubuhnya berada di udara, guci yang tersampir di punggung
diambilnya dan dituangkan ke mulut.
Gluk....Gluk....Gluk...!
Terdengar bunyi tegukan ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian, ada hawa hangat merayap di
dalam perutnya. Perlahan-lahan hawa itu merambat ke atas.
Jliggg!
Laksana daun kering, kedua kaki
Dewa Arak ringan mendarat di tanah. Tapi, kedudukannya tidak mantap. Kedua kaki
pemuda berambut putih keperakan itu tidak berdiri tegak di tanah. Tubuhnya
oleng ke sana kemari. Pertanda ilmu 'Belalang Sakti'nya siapdipergunakan.
"Inikah ilmu 'Belalang
Sakti' yang terkenal itu?" tanya Raja Monyet Muka Hitam mengejek.
"Ingin kubuktikan sendiri
sampai di mana keampuhannya!"
Usai berkata demikian, Raja
Monyet Muka Hitam melancarkan serangan. Dewa Arak pun menyambutnya dengan
hangat. Pertarungan tak dapat dielakkan lagi. Raja Monyet Muka Hitam mengamuk.
Tombak di tangannya berkelebatan kian kemari, mengincar berbagai bagian tubuh
Dewa Arak. Terutama bagian-bagian yang berbahaya. Tetapi semua dapat diatasi
Dewa Arak. Dengan keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti' dan jurus 'Delapan Langkah
Belalang', bukan hal yang sulit baginya untuk mengelakkan semua serangan itu.
Tidak hanya sampai di situ
tindakan pemuda berambut putih keperakan itu. Serangan-serangan balasan yang tidak
kalah dahsyatnya dilancarkanpula.
Tak pelak lagi, pertarungan
sengit dan menarikpun terjadi.
"Hih!"
Raja MonyetMuka Hitam
menggertakkan gigi karena geram dan heran. Selama ini dirinya hanya mendengar
keunikan ilmu 'Belalang Sakti'. Baru kali ini dia berkesempatan mencobanya.
Memang harus diakui kalau berita yang
didengarnya itu benar adanya! Ilmu 'Belalang Sakti' benar-benar ilmu yang unik.
Tak masuk akal, tapi benar-benar ampuh! Betapa tidak?
Dengan mata kepala sendiri, Raja
Monyet Muka Hitam melihat serangan yang dilancarkannya disambut oleh Dewa Arak
dengan tubuhnya.Tapi anehnya, justru dengan cara itu serangannya
berhasildielakkan.
Bukan hanya itu saja hal-hal aneh
yang disaksikannya. Tak jarang Dewa Arak menengguk minumannya di saat dia tengah
melancarkan serangan. Pemuda berambut putih keperakan itu seperti tidak mempedulikan serangan lawan.
Meskipun demikian tidak berarti
Raja Monyet Muka Hitam menjadi gentar. Sama sekali tidak! Bahkan, semua itu
menambah semangatnya untuk segera merobohkan lawan. Kedahsyatan
serangan-serangan Raja Monyet Muka Hitam semakin meningkat.
Jurus demi jurus berlalu cepat.
Tak terasa seratus jurus telah berlalu. Dan Raja Monyet Muka Hitam berada di
pihak yang terdesak. Datuk sesat yang mirip kera itu hanya dapat bermain
mundur.
Serangan-serangannya yang semula
bertubi-tubi dan susul-menyusul laksana gelombang laut, kini jauh berkurang.
Sekarang dia lebih banyak mengelak. Robohnya Raja Monyet Muka Hitam hanya tinggal
menunggu waktu saja. Dan itu diketahui secara pasti oleh Raja Monyet Muka
Hitam!
"Haaat...!"
Pada jurus ke seratus tiga puluh
dua, Raja MonyetMuka Hitambertindaknekat. Tahu kalau dirinya tidak mungkin bisa
menang, maka diputuskannya untuk mengadu nyawa. Dia tidak ingin mati sendirian.
Tokoh sesat itu ingin membawa Dewa Arak ikut serta ke alam baka. Karena itu
diputuskan untuk melancarkan serangan balasan, tidak hanya mengelak seperti
sebelumnya.
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi, Raja
Monyet Muka Hitam menusukkan tombaknya ke perut Dewa Arak Tapi, Dewa Arak tetap
bersikap tenang. Ditunggunya hingga serangan itu semakin dekat. Kemudian dengan
kecekatan dan kepandaian seorang tokoh
tingkat tinggi, tubuhnya
didoyongkan ke kanan. Dan tangan kirinya agak sedikit diangkat. Serangan Raja
Monyet Muka Hitam pun lewat di sisi kiri dadanya. Saat itulah Dewa Arak
melakukan siasat, yang sejak tadi sudah diperhitungkan masak-masak.
Kreppp!
Batang tombak Raja Monyet Muka
Hitam terjepit di ketiak Dewa Arak. Hingga datuk sesat mirip kera itu
kelabakan. Buru-buru ditariknya kembali tombak itu untuk membebaskannya. Tapi
Dewa Arak tidak membiarkan hal itu. Tenaganya dikerahkan untuk menahan.
Akibatnya terjadi adu tenaga! Yang satu
mengambil, sedangkan yang
lain mempertahankan.
Inilah yang ditunggu-tunggu Dewa Arak. Guci yang tergenggam di tangan kanannya
diayunkan ke arah dada Raja Monyet Muka Hitam. Cepat dan tidak disangka-sangka.
Meskipun demikian, Raja Monyet Muka Hitam masih mencobauntukmengelak.Namun...
Blakkk!
Telak dan sangat keras guci Dewa
Arak menghantam sasaran. Seketika itu pula, tubuh Raja Monyet Muka Hitam
terjengkang ke belakang. Bunyi berderak tulang-tulang
berpatahan mengiringi muncratnya darah dari mulut, hidung, dan telinga Raja Monyet
Muka Hitam.
Brukkk!
Setelah terhuyung-huyung beberapa
tombak jauhnya. Raja Monyet Muka Hitam ambruk di tanah. Tokoh itu
menggelepar-gelepar.Kemudian, diamtidakbergerak.Mati.
Baru saja Dewa Arak bermaksud
melepaskan tombak yang masih terselip di ketiaknya, terdengar dua jeritan
menyayat. Saat itu juga pandangannya dialihkan ke arah asal suara. Tubuh
Gandamata dan Raja MonyetMuka Hitam ambruk di tanah. Tewas. Kepala Gandamata
remuk. Sedangkan Raja Iblis Baju Emas tewas dengan sebuah pisau menghunjamjantung.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas lega,
setelah berhasil menemukan pusaka-pusaka Pulau Es dari buntalan Raja Monyet
Muka Hitam. Lalu perhatian dialihkan pada Sangga Buana dan Melati. Kedua orang
itu tampak berlari-lari menghampiri.
"Bagaimana mereka bisa
matibersama-sama?" tanya Arya ketika kedua orang itu telah dekat
dengannya. Tidak dijelaskan pada siapa pertanyaan itu ditujukan.
"Kami tidak mengetahuinya,
Kang. Sebab, kami lebih memperhatikan pertarunganmu," jawab Melati.
Sangga Buana hanya mengangguk-anggukkan
kepala membenarkan ucapan Melati.
"Kalau begitu, mari kita
cari Abimanyu dan rombongan Patih Juminta. Mudah-mudahan mereka berada di
sini," ajak Dewa Arak mengalihkan persoalan.
Tanpa membantah sedikit
pun,Sangga Buana dan Melati melangkah mengikuti Dewa Arak yang telah
mengayunkan kaki lebih dulu. Arah yang ditujunya bangunan besar yang sebenarnya
Istana Api. Ternyata tidak sulit menemukan mereka. Di halaman depan istana yang
luas tampak terjajar Patih Juminta, Abimanyu dan rombongan pasukan Kerajaan
Bojong Gading. Mereka terikatdisebuah tonggakbesi.
"Gusti, Ayu Melati...!"
seru Patih Juminta ketika melihatMelatimenghampirinya.
"Paman...!" seru Melari. Gadis itu
menghambur ke tempat rombongan Kerajaan Bojong Gadingyang tengah tertawan.
Dewa Arak dan Sangga Buana hanya
tersenyum melihat semua itu. Akhirnya semua berakhir seperti yang diharapkan mereka.
Pusaka-pusaka Pulau Es dapat mereka rebut kembali. Dan Melati dapat menemukan
Abimanyu, Patih Juminta serta pasukan
Kerajaan Bojong Gading.
SELESAI
No comments:
Post a Comment