Thursday, May 16, 2019

050 Pertarungan Di Pulau Api


PERTARUNGAN DIPULAU API
Oleh Aji Saka


1
"Keparat!MonyetBusuk!KadalBuntung!"
Sambil mengeluarkan makian-makian kotor penuh        kemarahan,      seorang            kakek   yang mengenakan pakaian terbuat dari benang emas, menyeret      perahunya      ke      pinggir      pantai. Pakaiannya tampak kuning berkilauan. Apalagi, saatitu tertimpa sinar mataharipagi.
Dengan   masih   mengeluarkan  makian, diikatnya perahu itu pada sebuah karang es yang ada di situ. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dan yang tampak jelas hanya es!
"Akhirnya berhasil juga aku sampai di sini. Hhh...! Selamat bertemu denganku, Pulau Es. Mudah-mudahan aku tidak kedahuluan Raja Monyet Muka Hitam. Kalau tidak, dia akan lebih dulu mendapatkan pusaka-pusaka Pulau Es," gumamkakekberpakaian kuning itu khawatir.
Kakek itu mengayunkan langkah, setelah sesaat            mengawasi       keadaan           sekitar  pulau. Langkahnya tampakhati-hati.Sepasang matanya yang tajam berkilau dan terkadang mencorong seperti mata seekor harimau dalam gelap, diedarkan ke sana kemari. Agaknya, kakek berpakaian            kuning     itu    telah     siap     siaga menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.Mendadak....

Blosss!Wusss! "Hei...!"
Kakekberpakaian kuning berseru kaget ketika tanah ber-es yang diinjaknya amblas. Apalagi ketika dari rekahan tanah itu menyembur api. Untung dia telah waspada sejaksemula.Sehingga kakek itu dapat menghindardengan melompat ke belakang untuk menyelamatkan diri. Api itu menyemburdidepannya.
"Gila!" ujar kakek berpakaian kuning penuh kengerian.            Tarikan            wajahnya         kelihatan menyiratkan ketegangan. Kejadian itu rupanya telah mengejutkanhatinya.
"Apa aku tidak salah lihat?!" tanya kakek berpakaian kuning. Sepasang matanya tertuju ke arah api yang menyembur keluar laksana air mancur!
Untuk beberapa saat, kakek itu terpaku di tempatnya. Rasa tidak percaya terlihat jelas pada wajah dan sorotmatanya.
"Aneh...," untuk yang ke sekian kali ucapan tidak percaya keluar dari mulut kakek itu. Bahkan, kali ini disertai dengan gelengan kepalanya.    "Sulit    kupercaya        tempat  ini mengandung api alam. Luar biasa! Tak masuk akal!"
Setelah cukuplama tenggelamdalamperasaan kagum dan telah mampu menguasai diri, kakek itu         kembali            melangkah       memasuki        pulau. Langkah kakek itu kelihatan lebih berhati-hati dari sebelumnya. Selangkah demi selangkah, dia berjalan menjauhi pantai. Tapi pemandangan yangditemuinya tetapsama.Tanah yang tertutup es, gundukan-gundukan es dan bukit-bukit es. Semua es.Dimana-mana es.
"Hm...!”
Kakek berpakaian kuning menggumam pelan sambil mengangguk-anggukkan kepala, ketika melihat dua buah tiang es setinggi dua tombak. Tiang itu mengapit sebuah jalan sekitar lima tombak     di         depannya.        Dari            bentuk dan keadaannya, agaknya dua buah tiang itu merupakan pintu gerbang. Tanpa ragu-ragu dan tetap waspada, kakek itu mengayunkan langkah menghampari. Tapi ketika jarak dirinya dengan kedua tiang es tinggaldua tombaklagi,mendadak munculsosok-sosoktubuhberpakaian merah.
Kakek berpakaian kuning tampak tidak terkejut. Sebab, dia sudah menduga sebelumnya kalau pulau ini berpenghuni. Dengan tenang, langkahnya terus diayunkan. Demikian pula sosok-sosok berpakaian merah. Kedua pihak terlihat saling mengawasi dengan penuh selidik. Dan kakek itu tidak kelihatan kaget melihat ciri-ciri sosok-sosokberpakaian merah yang berjumlah
lima orang itu. Padahal, ciri-ciri mereka cukup aneh.Kulitmereka kemerahan!
Begitu jarak antara mereka tinggal tiga tombak, lima sosok berpakaian merah yang tidak lain para penghuni Pulau Api, melepaskan lilitan cambuk berduri pada pinggangnya. Jelas, mereka telah siapbertarung!
Tentu maksud orang-orang berpakaian merah itu telah diketahui kakek berpakaian kuning. Tapi, dia tidak kelihatan gentar. Dan dengan tetap tenang kakinya diayunkan seperti tidak terjadiapa-apa.
Sementara itu, kelima penghuni Pulau Api sudah menyebar. Dalam waktu singkat, kakek berpakaian kuning telah terkurung di tengah-tengah.Hingga,terpaksa kakekitu menghentikan langkahnya. Lalu sepasang matanya yang tajam berkilat            merayapi          sosok-sosok     tubuh pengeroyoknya. Tampak olehnya, wajah mereka bersih dari bulu. Tidak ada seorang pun yang berkumisdan berjenggot,apalagibercambang!
"Siapa kalian? Dan apa maksud kalian mencegat           perjalananku?!"           tanya    kakek berpakaian kuning tanpa rasa takut sedikit pun. Dan jawaban pertanyaannyaadalah....
Ctar,ctar,ctar!
Bunyi keras menggelegar terdengar ketika lima  orang   berpakaian       merah  melecutkan cambuknya. Dan sebelum gema bunyi itu lenyap,
ujung-ujung cambuk itu telah berbagai bagian berbahaya di berpakaian kuning.

meluncur ke tubuh kakek

"Hih!"
Kakek berpakaian kuning segera menjejakkan kaki. Dan sesaat kemudian, tubuhnya melayang ke      atas.            Hingga,            lecutan-lecutan            cambuk mengenai tempatkosong dibawah kakinya.
Jliggg!
Mantap dan        terlihat gagah   kakek   itu mendaratkan kakinya di luar kepungan. Tapi, itu hanya berlangsung sesaat. Sebentar kemudian, dengan sekari gerak kelima penghuni Pulau Api berhasil mengurungnya kembali. Kini kakek berpakaian kuning tidak mau bertindak ceroboh lagi. Cepat dicabutnya senjata andalannya yang selalu terselipdipinggang.Sebuah suling emas!
Dan secepat itu pula senjatanya diputar di depan dada. Luar biasa! Terdengar bunyi berirama. Nikmat didengar telinga. Seakan-akan kakek berpakaian kuning itu meniupnya. Tapi, kelima  orang   berpakaian       merah  tidak mempedulikannya. Kembali mereka melecutkan cambuk.
Ctar,ctar,ctar!
Kakek berpakaian          kuning tidak    segera bertindak. Dengan tenang dibiarkan ujung-ujung cambuk menyambar lebih dekat. Baru setelah itu, suling di tangannya diputar sedemikian rupa
hingga lenyap bentuknya. Yang terlihat hanya segulungan sinar keemasan yang mengelilingi sekujur tubuh kakek itu, seperti sebuah benteng yang memancarkan sinar!
Trak,trak,trak!
Terdengar bunyi benturan keras berkali-kali
ketika suling itu berbenturan dengan ujung lima batang cambuk. Akibatnya sungguh hebat! Tubuh kelima penghuni Pulau Api langsung terhuyung-huyungkebelakang dengan telapaktangan terasa panas dan pedas. Sementara kakek berpakaian kuning tidak terpengaruh sedikit pun! Tenaga dalam kakek itu agaknya jauh lebih unggul dari lawan-lawannya.
Hal ini diketahui para penghuni Pulau Api. Tapi mereka tidak menjadi gentar. Dengan cepat mereka segera melancarkan serangan-serangan susulan. Bunyi meledak-ledak terdengar dari lecutan cambuk mereka. Serangan itu langsung mendapat      sambutan         hangat  dari      kakek berpakaian kuning. Tak pelak lagi, pertarungan pun kembali berlangsung. Sebuah pertarungan yangpenuh denganbunyiriuh rendah.

***
Mengetahui kalau kakek berpakaian kuning itu bukan lawan yang ringan, maka tanpa ragu-ragu         lagi            orang-orang     berpakaian       merah membentuk penyerangan secara teratur. Dengan taktik seperti itu, mereka kelihatan seperti
menjadi satu! Dengan kata lain, seperti seorang yang memilikitangan dan kakilimapasang!
Dan hasilnya langsung dirasakan kakek berpakaian       kurung!            Semula dia       bersikap memandang rendah, ketika dalam segebrakan telah membuat kepungan mereka berantakan. Tapi sekarang?         Hasil    seperti      itu        sulit didapatkannya kembali.
Memang, kerja sama yang dilakukan orang-orang berpakaian merah itu sungguh luar biasa! Terkadang            serangan          dilakukan         secara bersamaan. Tiga di antara mereka bertindak sebagai penyerang, sedangkah sisanya bertugas memusnahkan       serangan       balasan  kakek berpakaian kuning
Tapi,       tak       jarang   serangan          dilakukan perorangan. Dengan taktik susul-menyusul tanpa henti seperti gelombang laut. Yang lebih hebat, model serangan perorangan itu berbeda-beda. Seorang melakukan serangan dengan lucutan, yang lain dengan cambuk menegang kaku, dan sisanya membuat senjata lemas dan mati itu sepertihidup!Mereka dapat membuatcambukitu meliuk-liuk dan mematuk-matuk seperti seekor ular!

Banyaknya model-model serangan, membuat kakek     berpakaian       kuning sulit      untuk menentukan lanjutan serangan itu.Selain itu juga banyak menguras tenaga dan pikiran. Baik
serangan secara bersamaan atau perorangan, semua memaksa kakekberpakaian kuning untuk memusatkan perhatian menghindarinya. Suling emasnya     dikelebatkan    ke        sana     kembari mematahkan setiap serangan, dan sekaligus melancarkan serangan balasan. Menarik dilihat dan gaduh   di         telinga,     pertarungan itu berlangsung. Bunyi meledak-ledak dari cambuk, ditingkahi bunyi melengking nyaring seperti suling ditiup,senantiasa terdengar.
Jurus      demi    jurus    terus     berlalu.            Kini pertarungan memasuki jurus kedua puluh. Meskipun demikian, tetap belum bisa dipastikan pihak mana yang akan keluar sebagai pemenang. Sebab,pertarungan masih berlangsung sengit.
Rupanya, kenyataan ini membuat kakek berpakaian kuning murka! Betapa tidak? Tenaga dan ilmu meringankan tubuhnya berada jauh di ataslawan-lawannya. Tapi, kenyataannya dirinya sulit untuk merobohkan mereka. Dan semua itu disebabkan oleh kerja sama yang baikdari lawan-lawannya.
Hingga begitu pertarungan memasuki jurus kedua puluh lima, namun tetap saja belum mampu menguasai keadaan, kakek berpakaian kuning      kehilangan       kesabaran.       Maka diputuskannya untuk menggunakan cara lain. Padahal, semula dia tidak bermaksud untuk mengeluarkannya. Sebab, tingkat kemampuan lawan-lawannya berada jauh dibawahnya.
"Hih!"
Kakek itu melempar tubuhnya ke belakang dan bersalto beberapa kali. Tampaknya kakek itu hendak menjauhkan diri dari lawan-lawannya. Melihat hal itu, lima orang penghuni Pulau Api tidak tinggal diam. Mereka tahu, hanya ada dua kemungkinan   yang     menyebabkan  lawan menjauhkan diri. Pertama, melarikan diri. Dan kedua, hendak menggunakan ilmu andalan! Kedua-duanya tidak dikehendaki mereka. Maka, pengejaran pun langsung dilakukan! Jangankan melarikan diri, memperbaiki kedudukan pun tidakakan mereka biarkan!
Tapi        karena  kakek   berpakaian       kuning memiliki ilmu meringankan tubuh jauh di atas orang-orang berpakaian merah, maka dia berhasil menjauhkan diridarilawan-lawannya.
Jliggg!
Ringan tanpa suara kakek itu mendaratkan kedua kakinya di tanah. Kemudian segera menempelkan sulingnya di mulut. Ujung jari-jari tangannya ditutupkan ke lubang-lubang yang terdapat pada badan suling. Terdengar bunyi melengking ketika kakek berpakaian kuning meniupnya. Sedang pada saat itu, lima orang penghuni Pulau Api tengah meluruk ke arah kakekitu.
Semula suara suling memang cukup nikmat didengar. Tapi       sekejap            kemudian nadanya berubah            tinggi.   Melengking      nyaring.
Kelihatannya sepele saja. Tapi akibatnya benar-benar menakjubkan! Lima penghuni Pulau Api yang tengah meluruk ke arahnya langsung mengurungkan maksud mereka. Betapa tidak? Bunyi tiupan suling kakek berpakaian kuning terasa sakit di telinga dan dada kelima orang itu. Semakin lama bunyi suling semakin tinggi dan tidak enak didengar telinga! Dan semakin lama, guncangan pada dada dan rasa sakit yang melanda telinga makin menjadi-jadi.
Akibatnya, kelima penghuni Pulau Api tidak bisa melanjutkan perlawanan lagi. Mereka segera duduk bersila,            mengambil       sikap    semadi. Punggung        diluruskan        dan      kedua     tangan dipertemukan di depan dada. Tampaknya kelima orang itu berusaha melawan pengaruh suara suling dengan pengerahan tenaga dalam. Dengan sendirinya bentuk pertarungan berubah. Dan kelihatan tidak menarik lagi. Satu pihak berdiri sambil meniup suling, dan lawannya duduk bersila. Kedua belah pihak sibuk dengan urusan masing-masingdalamjaraksatu tombak!
Di           awal-awal        pertarungan      yang menitikberatkan pada kekuatan tenaga dalam itu, belum dapat dipastikan pihak mana yang akan menang. Tapi sebentar kemudian tanda-tanda keunggulan mulai terlihat!
Wajah lima orang penghuni Pulau Api tampak semakin memerah. Bahkan dari atas kepala mereka mengepuluapputih.Mula-mula tipis,tapi
semakin lama semakin banyak dan tebal. Mereka mengeluarkan tenaga dalam di luar batas kemampuan mereka. Tidak hanya itu saja yang terjadi. Dari kedua telinga dan lubang hidung orang-orang berpakaian merah mengalir darah segar. Jelas, mereka telah terluka dalam! Darah yang keluar tampak semakin banyak dan deras. Hingga dapatdipastikan robohnya mereka tinggal menunggu waktu saja. Dan dugaan itu memang tidak salah!Sesaatkemudian....
"Akh!"
Jeritan menyayat hati keluar dari mulut salah seorang penghuni Pulau Api. Tubuh orang itu mengejang sesaat. Kemudian terkulai lemas! Orang itu tewas dalam keadaan masih duduk bersila. Belum lagi gema teriakan orang malang itu lenyap, jeritan menyayat lainnya segera menyusul.            Berturut-turut   empat   orang berpakaian merah mengalamihasilyang sama.
"Ha ha ha...!"
Kakek berpakaian kuning tertawa terbahak-bahak melihat lawan-lawannya terkulai tanpa nyawa. Masih dengan tawa yang belum putus, diselipkannya suling itu di pinggang. "Itulah ganjaran bagi orang yang berani menentang Raja IblisBaju Emas!Hahaha...!"
Setelah menatap mayat kelima lawannya sesaat, kakek berpakaian kuning yang ternyata berjuluk Raja Iblis Baju Emas, mengayunkan langkah untuk meneruskan maksudnya yang
sempat tertunda. Tapi belum jauh ia melangkah, tiba-tiba kakek itu menyelinap ke celah-celah dinding tebing yang ada di dekatnya. Rupanya, kakek itu mendengarada suara orang berbincang-bincang.
"Bodoh! Tolol! Mengapa kalian bisa gagal mendapatkan pusaka-pusaka itu?! Sia-sia saja aku bersusah payah memancing Sangga Buana keluardarisarangnya!"
Terdengar jelas oleh Raja Iblis Baju Emas ucapan bernada kemarahan itu. Kepalanya dikeluarkan      sedikit  dari            tempat persembunyiannya untuk melihat pemilik suara itu. Tampak tiga sosok berpakaian nerah tengah melangkah tergesa-gesa. Dua di antara mereka mengenakan     sabuk lebar     merah     menyala. Sedangkan yang seorang lagi, di samping mengenakan sabuk juga ikat kepala. Dan berwarna merah pula.
"Maafkan kami, Ketua," jawab salah seorang yang pinggangnya dililit sabuk. "Kalau tidak terjadi hal-hal di luar dugaan itu, kami mungkin sudah membawa pusaka-pusaka itu ke hadapan Ketua."
"Benar, Ketua. Sekelompok orang berpakaian hitam yang dipimpin seorang kakek berwajah hitam dan mirip monyet tiba-tiba datang," sambung temannya. "Di samping jumlah mereka banyak, kakek berwajah hitam itu hebat bukan
main. Padahal, saat itu kami tengah direpotkan oleh orang-orang Pulau Es...."
"Singkatnya,       kalian   gagal    mendapatkan pusaka-pusaka itu kan?" potong kakek berikat kepala merah, yang ternyata pimpinan orang-orangberpakaian merah.
"Benar, Ketua. Pusaka-pusaka itu dilarikan orang berwajah monyet itu," jelas dua lelaki berikat pinggang lebar sambil menundukkan kepala. Tampak jelas kalau mereka merasa bersalah.
"Hhh...!" kakekberwajah kelimisitu, menghela napas berat "Sia-sia saja aku susah-payah memancing  Sangga            Buana  meninggalkan istananya."
Ada nada kekecewaan yang sangat dalam suara pimpinan orang-orang berpakaian merah itu. Ucapan itu tidak mendapatkan tanggapan dari dua orang berikat pinggang merah. Mereka hanya menundukkan kepala.
Sementara, di tempat persembunyiannya Raja Iblis Baju Emas kelihatan terperanjat. Meskipun hanya itu            pembicaraan    yang     tertangkap telinganya, karena ketiga orang itu telah semakin jauh meninggalkannya, tapi kakek itu sudah mengerti.        Banyak         keterangan          yang didapatkannya dari pembicaraan tiga orang berpakaian merah itu.
Dan kesimpulan yang berhasil ditarik dari pembicaraan itu membuatnya terperanjat! Betapa
tidak? Ternyata tempat yang bukan Pulau Es! Sungguh mengagetkan hati!

didatanginya ini kenyataan yang

Kejutan yang kedua adalah pusaka-pusaka Pulau Es telah dicuri orang! Dan semua itu mencapai puncaknya ketika mendengar ciri-ciri orang yang berhasilmembawa lari pusaka-pusaka itu. Meskipun hanya mendengar ciri-cirinya, tapi kakek itu langsung bisa menebak siapa orang itu. Ya!Raja MonyetMukaHitam.
Keparat! Tak kusangka Raja Monyet Muka Hitam berhasil mendahuluiku..., ucap Raja Iblis Baju        Emas            dalam   hati.     Kecil    sekali kemungkinannya     aku     berhasil     merebutnya kembali. Meskipun demikian, apa pun yang terjadiaku harusberusaha merebutnya. Rupanya, dia dan gerombolannya masih di Pulau Es. Tunggulah, Raja Monyet! Aku akan datang dan merebutpusaka-pusaka itu!
Setelah mengambil keputusan seperti itu, Raja Iblis       Baju     Emas    bermaksud       kembali            ke perahunya.
Tapi....
Ah! Aku lupa menyembunyikan mayat kelima orang tadi. Tiga orang itu pasti akan melihatnya. Dan mereka akan tahu kalau ada orang yang telah menyelundup kemari. Lebih baik aku bersembunyi dulu, ucap Raja Iblis Baju Emas dalamhati.
Dan kakek itu memang tidakperlu menunggu terlalu lama untuk membuktikan kebenaran dugaannya. Karena            sesaat kemudian, dari kejauhan terdengar suara pekikan keras penuh kemarahan. Pekikan kerasyang membuat sekitar tempat itu bergetar hebat, keluar dari mulut Pemimpin Pulau Api. Dan penyebabnya adalah mayat kelima orang anakbuahnya.
"Keparat! Jahanam! Orang gila dari mana yang telah melakukan semua ini?! Dia akan mendapatkan balasannya! Bonggol!Sangora!Cari orang gila itu! Dan cincang sampai hancur tubuhnya bila ketemu! Aku yakin dia masih berada di sini! Lihat, perahunya masih ada!" perintah Pemimpin Pulau Api pada dua lelaki berikatpinggang merah.
"Baik, Ketua!" jawab dua orang berikat pinggang merah yang ternyata bernama Bonggol dan Sangora.
"Aku pergilebih dulu,Bonggol!Kau urusorang gila yang berani mati memasuki tempat kita dan melakukan            penghinaan      ini.       Jangan lupa, perintahkan beberapa orang pilihan untuk menyusulku ke Pulau Es. Barangkali saja tenaga mereka cukupberguna untuk menghadapi cecoro-cecoropencuripusaka itu.Kau mengerti?!"
"Mengerti, Ketua. Perintahmu akan segera kami            laksanakan,"    jawab   Bonggol,          yang mempunyaibibirtebal.
"Bagus!Sekarang aku pergi!"
Lalu tanpa menoleh lagi, Pemimpin Pulau Api menghanyutkan perahu miliknya ke laut. Sesaat kemudian, perahu itu meluncur cepat membelah permukaan air. Sebab, kakek bertompel itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengayuh dayung. Bonggol dan Sangora mengawasi hingga perahu pimpinan mereka lenyap.Setelah itu,baru mereka mengalihkan perhatian ke sekitar tempat itu. Keduanya sibuk mengira-ngira di mana pembunuh kawan-kawan merekaberada?
"Kita harus berhati-hati, Sangora," beritahu Bonggol. "Aku yakin orang gila itu memiliki kepandaian tinggi. Kau lihat mayat lima rekan kita,bukan?"
'Tak perlu mengajariku, Bonggol!" sergah Sangora tidak senang. "Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu.Kematian rekan-rekan kita telah membuktikan kekuatan tenaga dalam orang itu! Tapi, harus kau ingat' Kita tidak sama dengan kelima orang itu!Paham?!"
Tanggapan yang diberikan Bonggol hanya dengusan. Entah apa maksudnya, hanya dia sendiriyang tahu!

***
2


Tentu saja Sangora mengetahui tindakan rekannya. Tapi dia bersikap tidak peduli. Pandangannya dilayangkan ke sekitar tempat itu. Demikian pula dengan Bonggol.
Namun, seketika itu pula keduanya tersentak kaget Bahkan tanpa sadar melangkah mundur.
Sekitar delapan tombak di hadapan mereka tampakberdiri seorang kakekberpakaian kuning! Dengan tenang, kakek yang tidak lain Raja Iblis Baju Emasmelangkah menuju kearah mereka.
"Keparat!"
Makian marah itu keluar dari mulut Bonggol. Memang sudah sejak tadi, laki-laki berbibir tebal itu merasa geram bukan main pada orang yang telah membunuh rekan-rekannya.
"Bangsat!" Sangora tak mau ketinggalan mengumbar kemarahan. "Kaukah yang telah melakukan semua ini,KadalBuntung?!"
"Tidak salah!" jawab Raja Iblis Baju Emas lantang,tanpa menghentikan langkahnya.
Sikap      kakek   berpakaian       kuning itu tampaknya demikian tenang. Bahkan juga terkesan meremehkan. Hingga Bonggol dan Sangora semakin kalap. Seperti kakek-kakek kebakaran jenggot.
"Kalau begitu, kau harus menebusnya dengan nyawa busukmu!Hiyaaat..!"
Tanpa menunggu Raja IblisBaju Emasberada lebih dekat lagi, Bonggol melompat menerkam. Tindakannya mengingatkan orang pada seekor harimau yang menerkammangsanya.
Raja Iblis Baju Emas tetap bersikap tenang, meskipun bahaya maut tengah mengancamnya. Ditunggunya hingga serangan itu dekat Lalu, kakek itu melakukan lompatan harimau ke kanan.Dan dengan bertumpu pada kedua tangan, tubuhnya digulingkan. Hasilnya memang tidak sia-sia. Serangan Bonggol mengenai tempat kosong.
Tapi sebelum Raja Iblis Baju Emas sempat bangkit Sangora telah meluruk ke arahnya. Lalu....
Srattt!
Sinar terang memancar ketika golok besar yang tergantung di pinggang dicabutnya. Dan secepat itu pula diayunkan ke arah leher Raja Iblis Baju Emas. Agaknya, Sangora bermaksud memisahkan kepala kakekberpakaian kuning itu dari tubuhnya.

Raja Iblis Baju Emas terkejut bukan main menerima serangan mendadak itu Apalagi, saat itu dia berada pada kedudukan yang tak menguntungkan. Meskipun demikian, kakek itu masih mampu menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang datuk kaum sesat Dengan kecepatan gerak yang        sulit diikuti       mata, tangannya bergerakkearah pinggang.
Trakkk!
Terdengar bunyi berdetak keras ketika Raja Iblis Baju Emas menggerakkan tangan memapaki babatan golok besar Sangora. Akibatnya, tubuh Sangora terhuyung kebelakang.
Kesempatan       yang     hanya   sekejap            itu, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Raja Iblis Baju Emas. Tubuhnya dilentingkan, dan berputaran beberapa kali. Lalu mendarat mantap dengan sikap  waspada.      Tangan            kanannya     yang menyilang di depan dada menggenggam sebatang suling.
Rupanya, suling itulah yang dipergunakan Raja Iblis Baju Emas untuk memapaki babatan golok Sangora. Senjata andalannya itu diambil dari selipan ikatpinggangnya.
Kakek berpakaian kuning itu tidak perlu menunggu      lama. Dengan   diiringi teriakan menggeledek yang membuat tempat itu bergetar hebat, Bonggol kembali melancarkan serangan. Kali ini lelaki itu tidak bertangan kosong lagi. Tangan kanannya menggenggam sebatang golok besar.
Wungngng!
Bunyi mengaung keras seperti segerombolan lebah tengah murka terdengar, ketika Bonggol memutar senjatanya di atas kepala. Kemudian dengan        kecepatan menakjubkan, lelaki itu mengayunkan goloknya mendatar ke arah batang leherRajaIblisBaju Emas.
Belum juga serangan itu tiba, serangan Sangora telah meluncur.Sangora melompattinggi ke atas. Dan saat tubuhnya berada tepat di atas Raja Iblis Baju Emas, ia menukik turun dengan ujung golok mengarah ke kepala bagian atas kakek        itu!       Menggiriskan   sekali   bentuk serangannya.
Lagi-lagi Raja     Iblis     Baju     Emas mempertunjukkan sikap tenangnya. Meskipun dua serangan dahsyat berbau maut tengah meluncur ke arahnya, kakek itu tidak kelihatan gugup. Otaknya berputar untuk memusnahkan kedua serangan lawan dengan cara yang paling menguntungkan. Dan hanya dalam sekejap, kakek berpakaian kuning telah mendapatkannya. Raja Iblis Baju Emas menarik mundur kaki kanannya sambil mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Dan mengayunkan sulingnya ke atas memapaki luncuran goloklawan!
Wurtt!Wusss!Trakkk!
Rentetan kejadian itu berlangsung dalam waktu sangat singkat Babatan golok Bonggol menyambar lewat beberapa jari di depannya, hampir bersamaan dengan berbenturannya suling Raja Iblis Baju Emas dengan golok Sangora! Kedua serangan penghuni Pulau Api itu berhasil dikandaskan RajaIblisBaju Emas!
Tapi pertarungan tidak berhenti sampai di sini.  Begitu  serangan pertamanya berhasil dielakkan, Bonggol segera melancarkan serangan
susulan dengan sebuah tendangan kaki kanan ke arah dada kakek itu. Sementara Sangora terpental ke atas akibat tangkisan suling Raja Iblis Baju Emas. Dengan sebuah gerakan manis, Sangora bersalto. Kemudian sambil berputar, goloknya dibabatkan ke kuduk kakek berpakaian kuning itu.
Cepat dan           mendadak datangnya kedua serangan itu. Tapi, Raja Iblis Baju Emas mampu bergerak lebih cepat lagi. Sebab, kakek itu telah memperhitungkan akan mendapat serangan susulan. Tendangan Bonggol dipapaki dengan tendangan kaki kanannya pula. Itu dilakukannya dengan memutar tubuhsambilmerendahkan diri.
Wusss!Blakkk!
Untuk yang kedua kalinya, babatan golok Sangora mengenai tempat kosong! Dan dengan selisih waktu yang amat singkat terdengar benturan keras kaki Raja Iblis Baju Emasdengan kakiBonggol.
Akhirnya            memang           cukup  menakjubkan. Tubuh Bonggol langsung terdorong ke belakang. Rasa sakit yang sangat mendera kakinya. Demikian pula Raja IblisBaju Emas.Hanya jarak dorong kakek berpakaian kuning itu lebih dekat, dan tidakmenderita sakit.Dari sinibisa diketahui kalau kekuatan tenaga dalam Raja Iblis Baju Emas berada di atas lawan. Meskipun demikian, baik Bonggol maupun Raja Iblis Baju Emas berhasil mematahkan kekuatan daya dorong
tubuh mereka. Sesaat kemudian, pertarungan sengit kembaliberlangsung!
Raja Iblis Baju Emas tampaknya harus menguras seluruh kepandaiannya jika ingin selamat. Lawan-lawannya ternyata bukan orang sembarangan. Kalau dilihat secara perorangan, Bonggol           dan      Sangora            memang            memiliki kemampuan di bawahnya. Baik dalam ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam. Tapi karena orang-orang Pulau Api itu menghadapinya secara bersama-sama, maka tak urung Raja Iblis Baju Emas kerepotan menghadapinya. Tambahan lagi selisih kepandaian dirinya dengan mereka tidak terlalu jauh.
Akibatnya sudah dapat diduga. Pertarungan berlangsung sengitdan menggiriskan hati. Betapa tidak? Bunyimengaung,mendesing, menderu dan bunyi seperti suling ditiup, selalu terdengar setiap kalikedua belah pihakmelancarkan serangan.

***


Jurus demi jurus berlalu cepat. Hal itu tidak aneh. Sebab, kedua belah pihak sama-sama memiliki gerakan cepat Hingga dalam waktu singkat lima puluh jurus telah berlalu. Dan selama itu kedudukan masih berimbang. Masing-masing pihak   silih      berganti            melancarkan serangan.
Raja Iblis Baju Emas menggertakkan gigi karena penasaran bercampur geram. Dirinya adalah seorang datuk kaum sesat yang telah ratusan kali bertarung, dengan selalu keluar sebagai pemenang.Tapi kali ini, sampai demikian lamanya           belum  mampu            mendesak        lawan. Kenyataan ini benar-benar memukul hatinya! Kalau menghadapi dua orang ini saja dia tidak mampu menang, bagaimana bisa keluar dari pulau ini dengan selamat? Sebab, di pulau ini masih     banyak     orang-orang    berbaju            merah lainnya.
Rasa penasaran itu membuat Raja Iblis Baju Emas semakin meningkatkan serangan. Hingga serangan-serangan yang dilancarkannya pun semakin dahsyat! Meskipun demikian, hasil yang dicapai tetap sama. Kakek itu belum juga mampu mendesak lawan-lawannya. Sejujurnya kakek berpakaian kuning ini harus mengakui kalau kedua lawannya memang orang-orang yang tangguh.
Hal yang menyulitkan Raja Iblis Baju Emas untuk merobohkan Sangora dan Bonggol adalah kemampuan kedua orang itu untukbekerja sama. Dua orang Pulau Api itu mampu saling bantu. Mereka saling mengisi dalam penyerangan maupun pertahanan. Dalam kerja sama itu, Sangora dan Bonggol seperti dua orang yang dikendalikan oleh satu otak. Hingga Raja Iblis
Baju       Emas    mengalami       kesulitan          untuk merobohkan mereka.
Meskipun demikian, bukan berarti dua orang Pulau Api itu dapat dengan mudah merobohkan Raja Iblis Baju Emas. Sama sekali tidak! Kakek itu terlalu tangguh untuk dapat dikalahkan dengan mudah! Itulah sebabnya pertarungan berlangsung sengitdan menarik
Karena terlau memusatkan perhatian pada pertarungan, kedua belah pihak tampak tidak sadar kalau pertarungan telah bergeser jauh dari tempat semula.Yang ada dibenak mereka adalah menyelesaikan pertarungan sedapat mungkin. Tidak hanya senjata di tangan saja yang dipergunakan, pukulan-pukulan jarak jauh pun dikeluarkan.
"Hih!"
Pada jurus kesembilan puluh tiga, di saat memperoleh sebuah kesempatan, Raja Iblis Baju Emas melepaskan pukulan jarak jauh. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan sasaran yang dituju tidak hanya Sangora. Bonggol pun dikirimkan pula.
Tapi seperti juga kejadian sebelumnya, dua penghuni Pulau Api itu mampu menunjukkan kalau mereka bukan orang-orang yang dapat dengan mudah dipecundangi! Tanpa menemui kesulitan,      Sangora            dan      Bonggol            berhasil mengelakkan serangan-serangan itu. Hingga
pukulan jarak jauh kakek itu menghantam sasaranyang tidakdiharapkan, tanah!
Blarrr!Wusss!
Batu-batu es berpentalan ke sana kemari terhantam pukulan jarak jauh Raja Iblis Baju Emas. Dan kejadian selanjutnya benar-benar tidak sesuai dengan yang diharapkan.Dari dalam lubang yang terbentuk akibat serangan nyasar itu, memancarkan api! Dan tidak hanya satu, sebab lubang yang terbentuk lebih dariitu.
Seketika itu pula pertarungan terhenti. Kedua belah pihaksama-sama terkejut. Pandangan mata mereka tertuju ke arah api yang menyembur tinggi ke udara. Tapi kelakuan mereka tidak berlangsung lama. Ketiganya segera tersadar,dan melanjutkan pertarungan lagi.
Suasana  hiruk-pikuk      kembali menyemarakkan kancah pertarungan. Tapi, kali ini kedua belah pihak tidakbisa bertarung seperti sebelumnya. Dari kejauhan tampak menghampiri tujuh       sosok     berpakaian     merah.     Rupanya kegaduhan itu telah sampaiketelinga mereka.
Dalam beberapa kali lesatan, tujuh sosok berpakaian merah itu telah berada dalam jarah sepuluh tombakdari kancah pertarungan.Mereka tidak berani bergerak lebih dekat lagi, takut terkena serangan nyasar.Kedatangan tujuh sosok berpakaian merah itu agaknya diketahui pihak-pihak yang telah bertarung. Tapi mereka tidak
peduli, dan terus memusatkan perhatian pada lawan masing-masing.
Ketujuh sosok berpakaian merah itu berkulit kemerahan. Wajah mereka kelimis. Tapi ada ciri-ciri khusus yang memisahkan mereka menjadi dua kelompok kecil! Empat di antara mereka, paha kanannya terbelit kain merah. Sedangkan sisanya kedua paha mereka dilibatkain merah.
Ciri-ciri itu tidak luput dari pandangan Raja Iblis Baju Emas. Seketika itu pula, sebagai seorang datuk yang telah luas pengalamannya, dia langsung tahu kalau keberadaan kain merah itu mempunyai arti tersendiri. Dengan kata lain, letak kain merah itu menjadi tanda tingkatan orang yang bersangkutan. Tapi hanya sebentar saja,     Raja     Iblis            Baju     Emas    membiarkan pikirannya mengembara kearah itu.Selanjutnya, ia memusatkan seluruh perhatiannya pada pertarungan yang dihadapinya.
Tak terasa lima puluh jurus telah berlalu. Dengan demikian, kedua belah pihak telah bertarung hampir seratus lima puluh jurus. Dan selama itu belum tampak ada tanda-tanda pihak yang akan keluar sebagai pemenang. Bahkan, tanda-tanda yang akan terdesak pun belum terlihat
Melihat kenyataan ini, Bonggol dan Sangora sadar kalau tidak ada perubahan pertarungan akan sulit berakhir. Dan andaikata berakhir pun akan        membutuhkan  waktu   yang     lama.,
Sedangkan saat itu mereka masih mempunyai urusan lain. Pemimpin Pulau Api tadi menyuruh mereka untuk segera menyusul bila Raja Iblis Baju Emas sudah berhasildiringkus! Bukan tidak mungkin    saat      ini        ketua            mereka tengah menunggu-nunggu.
Pikiran itu membuat Sangora memutuskan untuk           secepatnya       melakukan       perubahan. Bagaimana caranya tidak menjadi soal. Yang penting, Raja Iblis Baju Emas harus secepatnya diringkus. Setelah mantap dengan keputusan itu, Sangora. melempar tubuhnya     ke belakang menjauhi      kancah      pertarungan.      Tubuhnya berputaran beberapa kalidiudara.
Jliggg!
Ringan    laksana            daun    kering, Sangora mendarat di tanah. Mantap, tak goyah sedikit pun. Lalu tanpa menunggu lebih lama, kepalanya ditolehkan kearah tujuh orang rekannya.
"Apa lagi yang kalian tunggu?! Cepat bantu kami meringkusnya! Dia telah membunuh lima orang       rekan            kita!"    seru      Sangora            dengan mengerahkan tenaga dalam, hingga suaranya terdengar menggeledek.
Usai berkata demikian, Sangora kembali melesat memasuki kancah pertarungan. Sebab begitu dia menjauh,Bonggol langsung kewalahan. Kawannya itu terus-menerus bergerak mundur menghadapi cecaran serangan Raja Iblis Baju Emas.
"Haaat..!"
Diiringi   teriakan            menggeledek,   Sangora menyeruak ke dalam arena pertempuran. Begitu tiba, serangan dahsyat dan bertubi-tubi langsung dikirimnya ke arah Raja Iblis Baju Emas. Mau tidak          mau     kakek berpakaian            kuning itu
mengendurkan desakannya pada Bonggol, kalau tidak ingin celaka tersambargolokbesarSangora.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Bonggol untuk memperbaiki kedudukan. Sesaat    kemudian,            lelaki    itu        telah     dapat membantu Sangora.Hingga, Raja IblisBaju Emas harus kembali berjuang keras menghadapi kerjasama kedua orang itu. Tapi, tidak hanya mereka saja yang harus dihadapi. Ketujuh orang Pulau Api yang tadihanya sebagai penonton, kini ikutbertarung.
Begitu ketujuh orang itu memasuki arena pertempuran, keadaan langsung berubah total Raja Iblis Baju Emas segera terdesak. Hanya dalam beberapa gebrakan, kakek itu dibuat pontang-panting  ke        sana     kemari untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Sekarang kakekitu hanya mampubermain mundur.
Memang tidak tanggung-tanggung pertolongan yang diterima Sangora dan Bonggol. Ketujuh orang itu, seperti juga Sangora dan Bonggol, ternyata juga mampu bekerjasama. Mereka memecah menjadi dua kelompok. Yang satu beranggotakan empat orang, sedangkan sisanya
tiga. Masing-masing kelompok ini menggunakan kerjasama yang berlainan dengan kelompok lainnya. Meskipun demikian,antara kelompok itu bisa saling bantu dan isi.
Itu yang menyebabkan Raja Iblis Baju Emas tidak berdaya dalam beberapa gebrakan saja. Kakek itu bingung. Ia harus menghadapi keroyokan tiga kelompok yang menggunakan kerjasama berbeda. Dirasakan betapa berat gelombang serangan mereka. Susul-menyusul, dan beratlaksanahantaman gelombang laut.
Sebagaidatuk yang telah berpengalaman luas, Raja Iblis Baju Emas tahu kalau keadaan itu tidak            menguntungkan           dirinya.            Kalau   dia memaksakan diri terus mengadakan perlawanan, sudah dapatdipastikan nyawanya akan melayang Padahal, saat ini Raja Iblis Baju Emas belum ingin mati. Jalan satu-satunya agar tetap hidup adalah melarikan diri!
Saat itu, keadaan Raja Iblis Baju Emas memang amat mengkhawatirkan. Betapa tidak? Serangan-serangan yang datang terlalu bertubi-tubi. Belum juga serangan yang satu diatasi, serangan lainnya datang menyusul. Demikian seterusnya. Hingga, kakek berpakaian kuning itu tidak           mempunyai      kesempatan      untuk melancarkan            serangan     balasan.     Dia     telah disibukkan dengan mengelak dan menangkis seranganyang tidakkunjunghabis.
Jadi, bukan tindakan keliru kalau Raja Iblis Baju Emas memutuskan untuk meninggalkan kancah pertarungan. Sambil terus mengelak dan menangkis serangan lawan, otaknya berputar keras mencari kesempatan untk melarikan diri. Raja Iblis Baju Emas tidak mau bertindak sembarangan.  Dengan            sabar,   ditunggunya kesempatan untuk kabur sebab dia tahu kalau sekali usahanya gagal, maka akan sulit baginya untuk mendapatkan kesempatan kedua, karena lawan akan lebih waspada.
Akhirnya, kesempatan yang ditunggu-tunggu Raja IblisBaju Emasdatang juga.Dengan sebuah hentakan tubuhnya melambung ke udara. Dan sambil bersalto beberapa kali, suling, tangan, dan kedua kakinya dipergunakan untuk mengirimkan serangan-serangan yang dapat menghambat lawan.
"Hei!"
Sangora dan Bonggol yang baru menyadari maksud lawannya menjerit kaget. Tapi semua sudah terlambat.Karena....
Jliggg!
Dengan susah payah,akhirnya Raja Iblis Baju Emas berhasil keluar dari kepungan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, kakek itu melesat meninggalkan tempat itu. Karena untuk menuju pantai tak dapat dilakukan, sebab lawan-lawannya         menghalangi,   terpaksa           kakek
berpakaian kuning itu melesat masuk ke dalam pulau.
"Kejar dia!Jangan sampai lolos!" seru Sangora dan        Bonggol           bersamaan,      sambil  melesat mengejar.
Tanpa menunggu perintah dua kali, tujuh rekannya segera ikut mengejar.Kejar-kejaran pun tidak dapat dielakkan lagi. Tapi, mana mampu orang-orang Pulau Api itu mengejar Raja Iblis Baju Emas. Kakek itu memiliki kecepatan lari yang berada jauh di aras mereka. Hingga, tidak heran jika jarakantara mereka semakin jauh.
Meskipun demikian, para penghuni Pulau Api itu tidak berputus asa. Mereka terus melakukan pengejaran. Sangora dan Bonggol berada paling depan. Disusul kelompok yang berjumlah tiga orang. Sedangkan kelompok yang berjumlah empat, berada paling belakang. Mereka memang memilikikemampuan paling rendah.
Sangora dan Bonggol tampak penasaran bukan main. Sudah berturut-turut mereka bertemu dengan tokoh yang tidak dapat mereka kalahkan. Pertama, Raja Monyet Muka Hitam. Dan yang kedua, Raja Iblis Baju Emas! Bahkan sewaktu menghadapi Raja Monyet Muka Hitam, yang datang bersama rombongannya, beberapa anak buahnya tewas.Padahal, saat itu lima orang rekannya    telah     datang  membantu        setelah mendapat panggilan darinya. (Untuk lebih
jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode:'Geger.Pulau Es').

***
3



Dengan   agak     tergesa-gesa,    dua      sosok berpakaian putih            dan ungu     mengayunkan langkah. Yang berpakaian ungu seorang pemuda tampan berambut putih keperakan. Sebuah guci arak        terbuat      dari perak       mengganduli punggungnya. Sedangkan yang seorang lagi seorang wanita berpakaian putih. Wajahnya cantik jelita. Apalagi, dengan rambut yang dibiarkan tergerailepas.
Sekarang sudah dapat diduga, siapa pasangan muda berwajah elok itu. Ya! Mereka adalah Arya, yang lebih dikenal dengan julukan Dewa Arak. Sedangkan gadiscantik itu Melati.Saat ini,Dewa Arak dan Melati tengah terburu-buru menuju pantai!(Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arakdalamepisode:'GegerPulau Es').
"Mengapa harus menuju pantai,Kang?" tanya Melati, memecah keheningan. "Kau yakin mereka telah meninggalkan pulau ini?"
Arya langsung menghentikan langkah.Hingga Melati     jadi      ikut-ikutan       menghentikan langkahnya. Kemudian gadis itu membalas tatapan Arya.
"Sebenarnya, aku sendiri tidak yakin orang-orang itu telah meninggalkan pulau Tapi demi keamanan, kuputuskan untuk melihat pantai
lebih dulu. Siapa tahu mereka tengah berkemas-kemas untuk meninggalkan tempat ini?" sahut Arya mengemukakan alasannya.
'Tapi..., cara itu membutuhkan waktu yang lama dan terlalu membuang tenaga, Kang! Apakah kita harus mengelilingi pulau yang tidak kecil      ini        untuk   membuktikan   kebenaran dugaanmu?"
"Jangan khawatir, Melati. Hal itu telah aku pikirkan. Kita tidak perlu mengelilingi pulau ini. Kita hanya menuju pantai yang dekat dari sini. Itu pun hanya untuk memastikan saja. Bila perahu mereka tidak kita temukan, maka kita akan pergi ke Pulau Api untuk meminta pertanggungjawaban atas semua yang terjadi di Pulau Es ini!" mantap dan tegas kata-kata yang keluardarimulutArya.
Melati langsung diam, tidak membantah lagi. Gadis itu mendengar ada tekanan yang tidak ingin dibantah lagi dalam ucapan kekasihnya. Walaupun belum melihat ada kebenaran di dalamnya, Melati tidak memberikan bantahan. Dan karena Arya tidakberkata-kata lagi, suasana pun menjadi hening. Tapi keadaan itu hanya berlangsung beberapa saat.Karena....
"Kakang! Mengapa kita demikian pelupa?!" tanya Melatikaget,setengah mengingatkan.
"Apa       maksudmu,      Melati? Aku     tidak mengerti?!" tanya Arya, tanpa menyembunyikan rasa heran dan ingin tahunya.
Ucapan Melari yang tiba-tiba, dan sikap gadis itu          yang     demikian          bersungguh-sungguh, membuathari Arya agakberdebar. Apa gerangan yangdimaksudkan Melati?
"Akh! Kiranya kau benar-benar telah lupa, Kang! Luarbiasa!"
'Tidak usah         berteka-teki,     Melati. Cepat katakan maksudmu," desak Arya, tidak sabar melihattanggapan kekasihnya.
"Baiklah, Kang," Melati terpaksa mengalah. "Sungguh tidak kusangka kau bisa lupa. Padahal, hal itulah yang menjadi alasan kita mendatangi Pulau Esini."
"Ahhh...!" desah Arya kaget. "Kau benar, Melati. Rupanya aku telah pikun! Mengapa aku bisa melupakannya?!"
"Sekarang kau ingat,Kang?!"
"Ya." Dewa Arak menganggukkan kepala. "Mencari Abimanyu dan Patih Juminta beserta rombongannya kan?!"
"Tepat!"sambutMelaticepat.
"Kalau begitu..., sekarang tugas kita bertam-bah. Di samping mencari pusaka Pulau Es yang ada di tangan Raja Monyet Muka Hitam dan mencari orang-orang Pulau Api, kita juga harus menemukan Patih Juminta dan rombongannya,
serta Abimanyu," putus Arya, mengambil jalan tengah. "Bagaimana?Setuju?"
Melati     mengernyitkan alisnya yang melengkung indah. Tampak jelasgadis itu tengah mempertimbangkan ucapan Arya. Dan sesaat kemudian,    suaranya          yang      nyaring      dan melengking terdengar menyeruakkeheningan.
"Aku setuju saja, Kang. Tapi perasaanku mengatakan mereka tidakberada disini."
"Hehhh?! Apa maksudmu, Melati? Omongan macam apa itu?! Bukankah Gusti Prabu Nalanda yang telah memberitahukan kepergian Abimanyu, Patih Juminta serta rombongan prajuritKerajaan Bojong Gading?!"bantah Aryapenasaran.
"Ucapanmu memang tidak salah, Kang," sambutMelati.'Tapi..., kau yakin mereka berhasil tiba diPulau Es?!"
Kata-kata            Melati  membuat Dewa Arak mengangguk-anggukkan kepala. Disadari ada kebenaran yang tidak bisa dibantah dalam ucapan gadis itu. Benar! Bukan tidak mungkin mereka tidakpernah tiba diPulau Es!
Melihat pemuda berambat putih keperakan tercenung dengan kepala terangguk-angguk, Melati kembali melanjutkan ucapannya yang belumselesai.
"Bagaimana,       Kang?  Apakah            kita      perlu menanyakannya pada Kakek Sangga Buana?!" usulMelatihati-hati.
"Saranmu baikjuga,Melari,"puji Arya sejujur-nya. "Nanti kita tanyakan pada Kakek Sangga Buana. Sekarang, lebih baik kita lanjutkan pekerjaan kita.Setelah itu,baru kita temuiKakek Sangga Buanauntukmenanyakannya."
"Begitu pun baik, Kang," sambut Melari, gembira mengetahuiusulnya diterima.
Sepasang muda-mudi berwajah elok itu kembali            meneruskan     perjalanannya  menuju pantai. Tentu saja dengan kepala ditolehkan ke sana kemari. Harapan mereka, mudah-mudahan dapat melihat orang-orang yang tengah mereka cari. Tapi harapan itu tidak terkabulkan. Tidak ada sesosok tubuh pun yang mereka lihat selain kesunyian. Yang mereka temui hanya gundukan-gundukan esdan bukites.Segalanya serba es.
Tak berapa lama kemudian, pantai telah tampak terbentang di hadapan sepasang muda-mudi berwajah elok itu. Malah bukan hanya pantaimereka lihatTapi....
"Kau lihat itu, Melati?!" tanya Arya setengah memberitahu. Jari telunjuk tangan kanannya ditudingkan kedepan.
"Sebuah perahu layar besar, Kang," jawab Melatidengan suaraberdesah.
"Benar." Arya menganggukkan kepala. "Kau lihat bendera yang berkibar di tiang perahu itu, Melati?!"
"Mereka..., komplotan bajak laut, Kang?!" tanya Melati, meminta kepastian ketika melihat benderayangberkibargagah di tiang perahu.
Tentu saja bukan bendera itu yang dimaksud-kan Arya. Tetapi,gambaryang tertera diatasnya. Gambar tulang tengkorak manusia yang terletak diatasdua potong tulang saling menyilang.
"Tepat!"jawab Arya mantap.
"Kalau begitu, mari kita usir mereka dari pulau ini, Kang. Aku yakin, kedatangan mereka kemari        untuk            mendapatkan   pusaka-pusaka leluhurmu!"ujarMelatipenuh semangat.
"Kau benar. Melati," ucapan Arya hanya sampaidisitu.
Sebab,    Melati  telah     meluruk           untuk menyambut kedatangan rombongan bajak laut itu. Dan pemuda berambut putih keperakan itu tidak ingin membiarkan kekasihnya menghadapi gerombolan bajak laut seorang diri. Bila gadis berpakaian putih itu tidak ingin dibantu, setidak-tidaknya keberadaannya di dekat Melati akan lebih mudah dan cepat untuk memberikan bantuan.
Dalam beberapa kali lesatan, Dewa Arak dan Melati telah berada dalam jarak lima tombak dengan pantai. Kehadiran mereka tampaknya bertepatan        dengan berlompatannya           keluar rombongan bajaklautitu dariatasperahu.
Jliggg!Jliggg!
Berturut-turut rombongan bajak laut itu mendaratkan kaki di tanah yang tertutup es. Seperti sudah diduga Arya dan Melati, rombongan itu terdiri dari orang-orang yang berperangai kasar. Dalam waktu tak lama, tidak ada lagi anggota rombongan bajak laut yang melompat turun.Pertanda jumlah mereka hanya itu saja.
Arya dan Melati menghitung dengan pandang-an mata. Dua puluh enam orang. Jumlah yang cukup banyak. Berdiri paling depan seorang laki-laki tinggi besar yang mempunyai rajahan tengkorak manusia di dada. Tampak jelas, sebab orang itu tidakberbaju.
"Ha ha ha...! Tidak salahkan penglihatanku?! Benarkah dihadapan kita ada seorang bidadari?!" ujarlelakibertatodengan suara mengguntur.
Ada sifat kasar dalam suara dan tindak-tanduknya.       Malah  sambil  mengajukan pertanyaan itu, telunjuknya ditudingkan ke depan.
"Ha ha ha...!"
Suasana di sekitar tempat itu menjadi riuh rendah, ketika sosok-sosok tubuh kasar yang berdiridibelakang lelakibertato ikut tertawa.
"Kau bisa saja,Tuan Besar.Tapi,ucapan Tuan Besar memang tidak salah. Di depan kita ada bidadari," timpal seorang lelaki kasar yang berkepalabotak.
Sementara itu, Arya dan Melati tidak melakukan           tindakan           apa       pun.     Meskipun mendengar pembicaraan yang berlangsung di depan mereka, tapi dibiarkan saja. Yang mereka lakukan hanya mengamati. Dari pengamatan itu, Dewa Arak dan Melari tahu kalau lelaki bertato itu adalah pemimpin gerombolan bajaklaut.

***


Mendadak,         lelaki    bertato mengangkat tangannya ke atas. Seketika itu pula kegaduhan langsung lenyap. Tawa mereka segera terhenti. Agaknya, rombongan orang kasar itu amat menghargailelakibertatoitu.
Begitu kegaduhan lenyap, lelaki bertato menghampiri Dewa Arak dan Melati. Sikap sepasang pendekar muda berwajah elok itu terlihat tenang. Tidak nampak ada perasaan gentar atau ngeri. Tarikan wajah mereka kelihatanbiasa saja.
"Siapa kalian, Anak Muda? Mengapa berada dii sini?Kau! Cepat tinggakan tempat ini sebelum aku kehilangan kesabaran!" ujar lelaki bertato dengan suara keras. Ucapan itu ditujukan pada Dewa Arak.
"Siapa sebenarnya kami, kau tidakperlu tahu, Kisanak. Tapi agar kau tidak penasaran, biar kami beritahukan sedikit. Kami adalah pemilik pulau      ini.       Jadi,     tidak    mungkin          kami
meningggalkan tempatini. Lebih baik kalian yang cepat pergi dari sini sebelum terlambat!" balas Arya takkalahberwibawa.
"Apa kau bilang?!" tanya lelaki bertato tidak percaya. "Coba ulangi. Aku ingin tahu, apakah telingaku tidak salah dengar?!"
Dewa Arak tersenyumgetir. Pemuda itu tahu, mengapa lelaki bertato bersikap demikian. Orang itu terlalu membanggakan kepandaiannya, dan menganggap remeh lawan. Hingga, dia merasa tidak     yakin   dengan            pendengarannya          saat mendengar ucapan yang berbau tantangan atau ancaman.
Kalau Arya tidak terpengaruh dengan ucapan lelaki bertato, tidak demikian halnya dengan Melati. Gadis berpakaian putih itu kelihatan jengkel.
"Kawanku bilang, kau dan gerombolanmu harus segera meninggalkan tempat ini, Kalau tidak, jangan salahkan dia jika bertindak kasar terhadapkalian."
"Ha ha ha...!"
Seketika, meledaklah tawa gerombolan orang kasar itu. Tak terkecuali lelaki bertato. Bahkan, tawanya jauh lebih keras dibanding yang lain. Menggelegar sepertihalilintar.
Dan, lagi-lagi tawa itu segera lenyap ketika lelaki bertato mengangkat tangannya ke atas sambil menghentikan tawa. Wajahnya kini
tampak beringas. Sepasang matanya yang besar dan kemerahan menyorot marah! Pandangan itu tertuju pada Arya.
"Sungguh berani kau mengucapkan kata-kata seperti itu padaku, Anjing Buduk?! Kau tahu tengah berhadapan dengan siapa sekarang?! Aku Panggala! Pemimpin Gerombolan Ular Laut! Kelancangan itu harus kau tebus mahal!" seru lelaki bertato yang ternyata bernama Panggala dengan suara mengguntur.
"Sayang sekali. Aku belum pernah mendengar namamu atau nama gerombolanmu. Lagi pula andaikata kukenal pun kami akan meneruskan maksud semula, yaitu mengusir kalian pergi dari sini.Dan..."
"Diam!" potong Panggala tidak kuat menahan amarah lagi. Pandangannya kemudian dialihkan pada anak buahnya yang berada di belakangnya. "Cincang dia!"
Tanpa     menunggu        perintah           dua      kali. Gerombolan Ular Laut menyerbu Dewa Arak dengan diiringi teriakan keras. Sesaat kemudian, puluhan senjata tajamyang terdiridaribermacam jenisdan ukuran meluncurkearah Dewa Arak.
'Terimalah kematianmu, Anjing Buduk!Ha ha ha...!"
Di           sela-sela           melunaknya     serbuan            anak buahnya, Panggala melepaskan ucapan dan tawa gembira. Tampaknya, lelaki itu merasa yakin
pemuda  berambut         putih    keperakan        yang membuatnya murka ituakanhabisdicincang.
Sementara, Dewa Arak tetap bersikap tenang, Meskipun maut tengah melunak kearahnya, tapi pemuda itu tidak menjadi gentar. Ditunggunya hingga lawan-lawannya dekat. Sedangkan Melari sudah sejak tadi menjauh, begitu mendapat isyaratArya.
Dengan   sendirinya,       hanya   Arya    yang menyambut serbuan Gerombolan Ular Laut. Begitu serangan-serangan itu meluncur dekat, pemuda berambut putih keperakan itu segera bertindak. Tanpa menemui kesulitan, tubuhnya menyelinap di antara kelebatan senjata-senjata lawan. Terlihat lincah laksana bayangan dan gesit takubahnya gerakan kera.
Dan tindakannya tidak hanya sampai di situ. Begitu      serangan-serangan       lawan   berhasil dielakkan,            serangan          susulannya     meluncur. Hasilnya langsung terlihat. Jeritan kesakitan terdengar silih berganti.
Diiringi   dengan berpentalannya            tubuh Gerombolan Ular Laut keluar dari kancah pertarungan.
Brukkk,brukkk!
Berturut-turut tubuh anak buah Panggala berjatuhan, tidak bangkit lagi. Tapi tak mari, pingsan!
Kejadian      ini     tidak     membuat     anggota Gerombolan Ular Laut yang lain menjadi gentar.
Bahkan sebaliknya. Serangan yang mereka lancarkan semakin bertubi-tubi. Di samping karena rasa penasaran, mereka juga ingin membalas penderitaan yang dialami rekan-rekan mereka.
Tapi keinginan mereka lebih mudah untuk di-pikirkan dan dikatakan daripada dilaksanakan. Dewa Arak bukan orang yang dapat mereka taklukan dengan      mudah. Semua serangan mereka selalu kandas. Tak satu pun mengenai sasaran.
Sebuah keuntungan sebenarnya berada di pi-hak Gerombolan Ular Laut Dewa Arak tidak bersungguh-sungguh menghadapi mereka. Di samping pemuda berambut putih keperakan itu tidak            mengeluarkan  ilmu     'Belalang            Sakti' andalannya,        kemampuannya           pun       tidak dikerahkan seluruhnya. Pemuda itu lebih banyak mengelak     daripada     melancarkan  serangan. Andaikata sebuah serangan dilancarkan pun hanya mengerahkan sebagian kecil tenaganya. Dewa Arak tidak ingin membuat lawannya tewas atau terluka berat.
Memang,            Dewa   Arak    tidak    bermaksud membunuh mereka. Sebab, pemuda itu belum menyaksikan kekejaman mereka. Jadi, tidak ada alasan yang kuat untuk membunuh mereka. Maka, pemuda berambut putih keperakan itu bermaksud memberi peringatan pada Gerombolan UlarLaut!
Hingga,   dapat    dibayangkan,   betapa mendongkolnya hati Dewa Arak ketika melihat lawan-lawannya tetap melancarkan serangan. Bahkan      jauh           lebih      menggebu-gebu      dari sebelumnya. Tidakkah mereka tahu kalau dirinya telahbersikapmengalah?
"Akh,akh...!"
Dua jeritan menyayat kembali terdengar, ketika dua anggota Gerombolan Ular Laut terlempar keluar kancah pertarungan. Mereka terkena kibasan tangan Dewa Arak Dan seperti rekan-rekan mereka sebelumnya, kedua orang itu langsung jatuh pingsan! Tapi seperti yang sudah-sudah, sisa Gerombolan Ular Laut masih tegak berdiri tetap tak menjadi gentar. Bahkan serangan mereka makin dahsyat!
Kini, kesabaran Arya habis. Disadari kalau tindakannya           tak       membuahkan   hasil     yang diharapkan. Maka, segera diputuskan melakukan tindakan          yang          lebih          menunjukkan kepandaiannya.     Barangkali,            bila     hal      itu dilakukannya      mereka       akan      gentar      dan menghentikan pertarungan. Setelah merasa pasti dengan     keputusan        itu,       Arya        segera melaksanakannya.
"Hih!"
Pemuda berambut putih     keperakan     itu menjejakkan kaki. Sesaat kemudian, tubuhnya
melayang ke belakang. Dewa Arak bersalto beberapa kalisebelum mendaratditanah.
Jliggg!
Ringan tanpa suara laksana jatuhnya sehelai daun kering, kedua kaki Dewa Arak hinggap di tanah.     Tapi, hanya            sampai di         situ       saja tindakannya. Dewa Arak berdiri di tempatnya sambil melipatkedua tangan didepan dada!
Hingga membuat Gerombolan Ular Laut merasa heran. Mereka saling pandang sesaat dengan raut wajah bingung. Dan begitu rasa kaget yang melanda lenyap, mereka kembali meluruk ke arah pemuda berambut putih keperakan itu.
Wuttt,wuttt,singngng!
Untuk kesekian kalinya, senjata-senjata yang terdiri-dari beraneka ragam jenis dan ukuran itu, berkelebatan ke berbagai bagian tubuh Dewa Arak. Namun pemuda berambutputih keperakan itu tetap berdiri dengan sikap semula. Tidak nampak tanda-tanda akan melakukan suatu tindakan,baikelakan maupun tangkisan.
Dan memang, Dewa Arak tidak melakukan tindakan apa pun hingga senjata-senjata itu meluncurmendekatisasaran.Akibatnya....
Takkk,takkk,bukkk!
Bertubi-tubi        terus hujan       pedang, golok, tombak, tongkat, trisula, ruyung, dan pisau mengenai seluruh bagian tubuh Dewa Arak.
Bunyi riuh seperti logam keras berbenturan terdengar, ketika senjata-senjata itu mendarat di sasaran.
Dan, akibatnya sungguh mengejutkan! Bukan hanya Gerombolan Ular Laut yang kaget, Panggala pun demikian. Semula, begitu melihat Dewa Arak tidak melakukan tindakan apa pun, Panggala sudah membayangkan tubuh pemuda berambut putih keperakan itu akan luluh-lantak. Tapi, ternyata.... Dapat dibayangkan, betapa kaget  lelaki    itu            melihat kenyataan        yang membentangdidepan matanya.
Dewa Arak tidak tewas. Apalagi dengan sekujur tubuh hancur! Terluka sedikit pun tidak! Tokoh muda yang menggemparkan itu tetap berdiri seperti semula. Tarikan wajahnya pun tetap biasa. Tidak terlihat tanda-tanda pemuda itu merasa kasakitan.
Malah sebaliknya, tubuh Gerombolan Ular Laut yang terhuyung-huyung ke belakang. Tangan mereka terasa sakit bukan main. Seperti bukan tubuh manusia yang terdiri dari daging dan tulang yang mereka jadikan sasaran, melainkangundukan baja kuat!

***
4


"Bagaimana? Sudah puas? Kalau belum, kalian boleh mencoba lagi. Percayalah, aku tidak akan membalas! Kalian boleh pilih bagian yang paling empuk!" ucap Dewa Arak sambil menatap wajahGerombolan Ular Lautsatupersatu.
Jelas, ada tantangan dalam ucapan itu. Tapi Gerombolan Ular Laut tidak bergeming dari tempatnya. Mereka saling pandang satu sama lain, seakan tengah meminta pendapat rekannya yang menjadi sasaran pandangan. Tapi, tidakada jawaban. Mereka tengah dilanda perasaan yang sama.Bingung!
Yang memberikan tanggapan atas tantangan Dewa Arak adalah... Panggala! Dengan wajah merah       padam            karena  marah  mendengar tantangan   Dewa     Arak, lelaki     bertato            itu melangkah maju.
"Apakah tantanganmu berlaku untukku, Anjing Buduk?!"         tanya    Panggala          sambil mengamang-amangkan senjatanya diataskepala.
Senjata lelaki bertato itu memang tampak mengerikan! Sebuah kapak besar dengan gagang tongkatbaja putih sepanjang setengah tombak!
Dewa Araktidak segera menjawab pertanyaan bernada tantangan itu. Arya tidak berani bertindak ceroboh! Terhadap Gerombolan Ular Lautdia beranibertindakseperti itu, karena telah
diketahui kekuatan         tenaga dalam    mereka. Sedangkan      Panggala     tidak!        Dia pemimpin gerombolan, tentu tenaga dalamnya jauh lebih kuat. Apalagi dengan senjata yang terlihat demikian dahsyat dan mengerikan! Maka, pemuda      berambut      putih      keperakan   itu membutuhkan waktu untuk memutuskan. Dan Dewa Arak tidak berlama-lama mengambil keputusan. Sejenak, pemuda itu memperhatikan Panggala.Lalu....
'Tentu, Babi Busuk! Kau pun boleh memilih bagianyang paling empuk!"tandasDewa Arak.
"Bagus! Sekarang terimalah kemarianmu, Anjing Buduk!Hih...!"
Wukkk,wuk,wuk!
Panggala memutar kapak panjangnya dengan segenap   tenaga. Hasilnya          memang mengagumkan! Bunyi mengaung keras terdengar ketika kapak itu berputaran. Cepat bukan main. Bahkan, mampu membuat bentuk senjata itu lenyap!Yang terlihathanya kelebatan sinarputih berkilauan, yang membungkus tubuh lelaki bertatoitu,sepertibenteng sinar.
Melihat pemandangan itu, Gerombolan Ular Laut yang tinggal dua belas orang melangkah mundur.Mereka khawatirterkena sabetan kapak pimpinan mereka. Walaupun itu tidak mungkin, tapimereka tetap khawatir.
Berbeda dengan mereka, Dewa Arak tetap bersikap tenang. Meskipun demikian, bukan berarti pemuda berambut putih keperakan itu berdiam    diri       melihat maut    tengah mengancamnya. Tenaga dalamnya dikeluarkan semua. Dan dialirkan ke seluruh tubuhnya. Dewa Arak siapmenghadapiserangan Panggala!
"Hiyaaat...!"
Wukkk!
Diawali teriakan keras mengguntur yang menggetarkan tempatitu Panggala mengayunkan
kapaknya kearah leher Dewa Arak.Sudah dapat diduga maksudnya. Lelaki bertato itu ingin memenggalkepala Arya.Dan....
Takkk!
Terdengar keras seperti beradunya dua logam keras, ketika mata kapak Panggala berbenturan dengan kulit leher Dewa Arak yang telah dilindungi tenaga dalam. Panggala memekik kesakitan! Ayunan kapaknya membalik. Tangan yang menggenggam kapak itu terasa sakit bukan main.
Tapi sebagai pemimpin gerombolan, Panggala segera dapat memperbaiki keadaan. Hanya dengan sebuah gerakan sederhana, lelaki itu berhasil mematahkan kekuatan daya dorong tubuhnya.  Panggala          bukan  orang   bodoh! Disadarinya kalau pemuda berambut putih keperakan itu bukan orang sembarangan. Kalau
pemuda itu mau, dirinya dan anak buahnya mungkin hanya tinggal nama sekarang. Jelas, pemuda itu telah banyak mengalah.
Kesadaran ini membuat Panggala bimbang. Haruskah   dia bertindak nekat dan           terus melancarkan serangan? Bagaimana kalau hal itu membuat pemuda itu habis kesabarannya? Bila itu terjadi, Panggala yakin dia dan anakbuahnya tidakakan selamat!Kehebatan pemuda berambut putih keperakan itu telah disaksikannya sendiri!
Pertimbangan-pertimbangan       itu        membuat Panggala tertegun.Hingga anakbuahnya menjadi heran.            Mereka            tidak    mengerti,     mengapa pimpinannya bersikap seperti itu? Berbeda dengan mereka, Arya mengetahui penyebab Panggala tertegun. Maka, kesempatan ini segera dipergunakan sebaik-baiknya.
"Aku masih memberi kesempatan padamu dan anak buahmu, Panggala! Tapi, kau pun tahu kesabaran ada batasnya! Pemberitahuan ini adalah peringatan terakhir. Kalau tetap kau abaikan, jangan salahkan aku bila bertindak keras terhadap kalian!" ujar Dewa Arak dengan suara dan rautwajahgarang.
Panggala tidaksegera menanggapi pertanyaan itu. Lelaki bertato itu tercenung memikirkan ancaman Dewa Arak. Kemudian, pandangannya diedarkan ke arah dua belas anakbuahnya. Rasa bimbang menyelimutihati lelakiini.
Dewa Arak tahu ancamannya mulai mengena. Maka, diputuskan untuk melancarkan ancaman terakhir. Pemuda itu ingin mengetahui, apakah Panggala menerima atau menolak tawarannya!
"Kuberi kau kesempatan berpikir sampai pada hitungan ketiga, Panggala! Bila sampai hitungan berakhir kau belum memberikan jawaban, maka kuanggap kau menolak usulku. Itu berarti telah tiba        waktunya bagiku untuk            menggempur gerombolanmu! Bersiaplah, Panggala! Sekarang aku akan mulai menghitung Satu...!"
Perasaan bingung yang melanda Panggala semakin menjadi-jadi. Pandangannya berganti-ganti tertuju ke arah Dewa Arak dan anak buahnya. Tapi, baik Dewa Arak maupun anak buahnya tidak memberikan tanggapan. Dewa Arak terus saja menghitung sedangkan anak buahnya tidak berani mencampuri keputusan yangakamdiambilpemimpin mereka.
"Dua...!"
Hitungan            telah     mendekati        batas    yang
ditentukan Dewa Arak,hingga Panggala semakin gugup.
Lelaki itu belum bisa mengambil keputusan! Di dalam hatinya berkecamuk dua keputusan. Menerima atau menolak tawaran yang diajukan Dewa Arak. Menolak, berarti dia dan anak buahnya akan hancur di tangan Dewa Arak. Tapi menerima pun berat,berarti ia membiarkan nama
besar Gerombolan Ular Laut hancur di tangan seorang pemuda! Panggala bagai berhadapan dengan buah simalakama. Bila dimakan bapak mati, tidakdimakan ibu mati!
Dewa Arakagaknya tahu akan kegalauan hati Panggala. Tapi pemuda itu bersikap tidak peduli. Dengan          raut            wajah   dingin  hitungannya dilanjutkan.
"Ti...."
"Tunggu!" potong Panggala cepat sambil mengangkattangan kanan keatas.
Seruan    ini        membuat          Dewa   Arak menghentikan hitungannya.
"Bagaimana, Panggala? Kau telah mengambil keputusan?!"tanya Aryadingin.
Tak ada riak sedikit pun di wajah pemuda berambut putih keperakan itu. Seakan pilihan apa pun yang diambil Panggala tidak menjadi masalahbaginya.
"Benar," jawab Panggala seraya mengangguk. Setelah   lebih    dulu     menelan           liur       untuk melancarkan ucapan yang akan keluar dari mulutnya.
"Hm...." Dewa Arak menggumam pelan. "Lalu...."
"Aku telah mengambil keputusan untuk... me-nerima tawaranrnu, AnakMuda...,"ujarPanggala agak terbata-bata.
"Bagus!Kuhargai pilihanmu, Panggala! Kalau begitu, sekarang kuharap kau segera tinggalkan tempatini!"perintah Dewa Arakpenuh wibawa.
"Hhh...!"
Panggala menghela napas berat. Kemudian berbalikmenghadapanakbuahnya. "Uruskawan-kawan yang terluka, dan tinggalkan tempat ini! Cepat!"
"Baik, Ketua," jawab Gerombolan Ular Laut serempak seraya menganggukkan kepala.
Kemudian, tanpa membantah dua belas orang itu mengurus rekan-rekan mereka yang terluka. Sementara Panggala, seusai memberi perintah, membalikkan tubuhnya menghadap Dewa Arak. Di samping pemuda berambut putih keperakan itu telah berdiriMelati.
"Sebelum aku pergi, boleh kutahu siapa sebenarnya      dirimu, Anak    Muda?"            tanya PemimpinGerombolan Ular Lautpelan.
"Aku adalah ahliwaris tunggal pulau ini. Dan aku bertekad tidak akan membiarkan seorang pun mengotorinya!"tandasArya mantap.
'Tapi, sepengetahuanku pemilik pulau ini adalah           Sangga Buana,"            ujar      Panggala mengingatkan.
"Ucapanmu tidak salah, Panggala! Tapi perlu kau ketahui, dia adalah kakekku!" beritahu Dewa Arak.
Panggala mengangguk-angguk mengerti.
"Sebagai tambahan, perlu kau ketahui juga, Panggala," celetuk Melati. "Di daratan, kawanku ini seorang pendekar hebat yang ditakuti lawan dan disegani kawan!"
"Melati,"tegurDewa Arakhalus.
Tapi Melati tidak mempedulikannya. Apalagi, ketika gadis berpakaian putih itu melihat Panggala tertarik.Itu terbuktidengan pertanyaan yangdilontarkan lelakibertatoitu.
"Benarkah itu?Boleh kutahu julukannya?" 'Tentu saja!" tandas Melati. "Bukan hanya
boleh, tapi harus! Kawanku ini berjuluk Dewa Arak!"
"Hahhh?!"
Seruan kaget itu bukan hanya keluar dari mulut Panggala. Tapi juga semua anak buahnya. Saking       kagetnya,            mereka menghentikan pekerjaan yang tengah dilakukan. Betapa tidak? Mereka telah mendengar kabar akan kehebatan dan keperkasaan tokoh muda yang berjulukDewa Arak. Meskipun demikian, mereka tidak pernah mimpi akan bertemu orangnya. Apalagiberjumpa sebagai lawan! Maka, tak aneh jika mereka sangatterkejut.
'Ya, ya.... Mengapa aku begini bodoh?!" ucap Panggala terbata-bata. "Mengapa tidak kulihat ciri-ciri yang kau miliki? Ya. Tidak salah lagi. Kaulah tokoh yang berjuluk Dewa Arak. Warna pakaian, rambut, kepandaian, dan gucimu., ya! Kaulah Dewa Arak...!"
Sementara itu, Dewa Arak yang tidak menyangka akan seperti ini jadinya kelihatan agak gugup. Tapi hanya sebentar. Sesaat kemudian, pemuda itu telah dapat menguasai perasaannya.
"Jadi...,kalian telah mengenaljulukanku?" "Bukan hanya kenal," jawab Panggala sambil
mengembangkan senyum pahit.'Tapiamat kenal. Meskipun tidak pernah berjumpa, tapi kami tahu banyaktentang dirimu. Semua itu kamidapatkan dari kawan-kawan."
"Apa saja yang kalian ketahui mengenai diriku?"tanya Arya ingin tahu.
"Banyak,"           jawab   Panggala          cepat.   "Di antaranya, dikatakan kalau kau mempunyai kepandaian yang sangat tinggi. Tak terhitung lagi banyaknya orangyang tewasdi tanganmu.Semua tokoh-tokoh     golongan     hitam.     Kau      seorang pendekar pembela kebenaran. Begitu berita yang kudengar."
Dewa Arak dan Melati saling berpandangan. Senyuman lebar terlukisdibibirmereka.
"Lalu...,kalau kalian telah mengetahuiaku De-wa Arak. Apa yang hendak kalian kakukan?!" tanya Arya
"Melaksanakan perintah yang kau berikan," jawab Panggala segera. "Sebab kami sadarbahwa kemampuan kami tidak ada artinya bagimu. Kamipergidulu,Dewa Arak."
"Silakan," jawab Dewa Arak dan Melati hampirbersamaan.
Setelah mendengar jawaban itu, tanpa berani membuang           waktu   lebih    lama     Pemimpin Gerombolan Ular Laut itu berbalik. Kemudian, memberikan isyarat pada anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu.
Dewa Arak dan Melati bertukar pandang dengan perasaan lega.Keduanya merasa gembira telah berhasil mengusir Gerombolan Ular Laut, tanpa ada pertumpahan darah. Dengan sorot mata berbinar-binar, mereka menatap kepergian rombongan bajak laut itu. Sampai rombongan tersebut bertolak meninggalkan tempat itu. Dan, sepasang muda-mudi berwajah elok itu tetap menatap. Hingga perahu besar Gerombolan Ular Laut lenyapdi kejauhan.Setelah itu,mereka baru mengalihkan pandang sambil menghembuskan napaslega.
"Aku bersyukur mereka mau berpikir sehat..," ujar Arya dengan berdesah. "Dengan demikian, pertumpahan darah dapatdicegah."
Melati tidak menyahuti ucapan pemuda berambut putih keperakan itu. Gadis berpakaian putih ituhanya mengembangkan senyummanis.
"Ah! Hampir saja aku lupa!" seru Arya setengah kaget
"Apa itu,Kang?"tanya Melari ingin tahu.
"Bukankah kita Raja Monyet Muka pantaiatau belum?!"

ingin mengetahui, apakah Hitam telah meninggalkan

"O, iya, Kang. Aku juga hampir lupa," sahut Melati terkejut
"Kalau begitu..., mari kita lanjutkan tugas yang tertunda itu, Melati,"ajakArya.
"Tentu, Kang. Tapi..., apa yang harus kita lakukan?"
"Menyusuripinggirpantaiini."
"Hahhh?! Sampai kapan pekerjaan ini akan
selesai, Kang.Pulau ini tidak kecil.Sampai kapan kita    mengelilinginya?!"       sahut    Melati mengingatkan.
'Tentu saja tidak semuanya, Melati. Menurut kakek, banyak bagian pulau ini yang pantainya tidak bisa dipergunakan perahu untuk mendarat. Contohnya, pantai-pantai sebelah kanan tempat ini. Kira-kira lima puluh tombak dari sini, dan terus ke sana," jelas Arya sambil menudingkan jaritelunjuknya.
"Aku mengerti sekarang, Kang," ujar Melati gembira. "Kita akan menuju ke sana," sambil berkata demikian, Melati menudingkan jari telunjuknya kesebelah kanan.
"Kau memang pintar,Melati,"pujiArya. Sambutan Melari hanya cibiran bibir. Tapi,
sorot     mata     gadis     cantik     itu     tidak     bisa menyembunyikan         perasaan         gembiranya
mendapat pujian seperti itu. Sepasang mata itu berbinar-binar!
Kini sepasang muda-mudi berwajah elok itu mengayunkan langkah, menyusuri pantai sebelah kanan mereka.

***
5



"Kakang...! Lihat...!" seru Melari menudingkan telunjukkanannya ketengah laut.
Sebetulnya gadis berpakaian putih itu tidak perlu berseru          demikian.         Arya    juga      telah melihatnya. Di kejauhan tampak sebuah perahu kecil yang ditumpangi seorang kakek berpakaian dan berikat kepala merah,            melesat cepat membelah          permukaan air     laut     Dari     laju perahunya,bisa diketahuikekuatan tenaga dalam yang dimiliki pemilik perahu itu. Tanpa disertai pengerahan tenaga dalam kuat,perahu itu . tidak akan meluncur demikian cepat. Tentu saja hal itu tidak luput dari pengamatan Dewa Arak dan Melati.
'Tampaknya dia bukan orang sembarangan, Kang. Maksudku..., dia tidak dapat disamakan dengan orang-orang semacam Panggala," ucap Melati memberipenilaian.
"Memang tidak, Melati," jawab Arya seraya mengangguk. "Orang yang baru datang ini bukan orang sembarangan.Dia seorang tokoh yang amat pandai.     Bukan  tidak    mungkin          tingkat kepandaiannyaberada diatas kita."
"Hehhh...?!" Melati terperanjat kaget, hingga sampai     mengalihkan    pandang.          "Apakah ucapanmu tidakterlaluberlebihan,Kang?!"
'Tidak, Melati," jawab Arya menatap. "Kau tidak ingatcerita kakekku?!"
"Kakek Sangga Buana maksudmu, Kang?!" Melati meminta ketegasan.
"Benar," sahutArya singkat.
Melati     tercenung         sejenak.           Dicobanya mengingat-ingat pembicaraan Kakek Sangga Buana, pemilik Pulau Es. Sebab, Arya tidak menjelaskannya lebih jauh "Ucapan Kakek Sangga Buana yang mana, Kang?!" tanya Melati, tidak sabar ingin segera mengetahui jawabannya. Gadis itu agaknya malas berpikir, mengingat-ingatdan menerka.
'Tentu saja mengenai orang-orang berpakaian merah,Melati,"ucapArya."Bukankah orang yang berada di perahu itu mengenakan pakaian merah?!"
Melati mengalihkan pandangannya kembalike arah laut. Perahu itu kini tampak semakin jelas. Demikian pula orangyang tengah mengayuhnya.
"Aku tahu, Kang!" sentak Melati gembira, merasa telah dapat menerka cerita KakekSangga Buana      yang            dimaksudkan   kekasihnya. "Bukankah cerita yang kau maksud mengenai orang-orang Pulau Api?!”
'Tepat!    Bukankah        kakekku           telah menceritakan cukup lengkap tentang mereka?!" Aryabalasmengajukan pertanyaan.
"Benar, Kang. Menurut beliau, orang-orang Pulau Api rata-rata berkepandaian tinggi. Di
samping itu mereka ahli menggunakan racun dan memiliki daya tahan tubuh yang menggiriskan. Yang aneh, perbedaan tingkat di antara mereka dapat kita lihat dari hiasan yang dikenakan pada anggota tubuh atau pakaian mereka," urai Melati panjang lebar.
'Tepat sekali!" puji Arya. "Kau masih ingat hiasan masing-masing tingkatitu,Melati?!"
"Masih, Kang," jawab gadis berpakaian putih sambil menganggukkan kepala. "Orang terendah tidak memiliki tanda apa pun selain pakaian yang dikenakan. Tanda itu baru muncul pada orang yang setingkat di atas mereka, berupa sebuah belitan sabuk pada salah satu paha mereka. Tingkatan yang lebih tinggi lagi, mempunyai belitan       sabuk            pada     masing-masing paha. Kemudian, tingkatan selanjutnya adalah orang-orang kepercayaan sang Pemimpin. Mereka mengenakan      sabuk     lebar            yang     membelit pinggang.     Sedangkan        sang     Ketua     sendiri mempunyai tanda berupa belitan kain merah di kepala.Dan...,ah!"
MendadakMelati menghentikan ucapannya di tengah jalan. Tentu saja hal itu menarik perhatian Arya.
"Apa yang terjadi, Melati?! Mengapa kau kelihatanbegitu kaget?!"
"Ng..., ti... tidak apa-apa, Kang. Hanya aku baru mengerti, mengapa kau mengatakan orang
yang tengah berperahu itu seorang tokoh yang amatpandai,"ujarMelatilirih.
"Sekarang kau ingat, Melati?!" tanya Arya tenang.
"Ya, Kang," Melati menganggukkan kepala. "Orang itu Pemimpin Pulau Api."
'Tepat! Orang yang tengah menuju kemari adalah tokoh terpandai di Pulau Api!" sambung Arya melengkapipertanyaan kekasihnya.
Kali ini Melati tidak menyambuti ucapan kekasihnya. Gadis itu menganggukkan kepala sedikit. Setelah itu, pandangannya ditujukan ke arah kakek berpakaian merah yang tengah mengayuh perahunya menuju tempatmereka.
Melati merasakan betapa jantungnya berdetak amat       cepat Diakuinya kalau rasa tegang menyergap hatinya. Perasaan khawatir akan keselamatan Dewa Arak langsung menyeruak. Telah disaksikannya sendiri betapa lihainya KakekSangga Buana.Kalau pemimpin Pulau Api itu memiliki kepandaian setingkatdengan pemilik Pulau Es,Dewa Arakjelasbukan tandingan tokoh itu. Sebab, tingkat kepandaian pemuda berambut putih keperakan itu berada di bawah Kakek Sangga Buana!
Berbeda  dengan Melati  yang     dihantui perasaan cemas, Dewa Arak sama sekali tidak! Pemuda berambut putih keperakan itu tetap bersikap    tenang. Tidak   terlihat     gambaran perasaan apa pun pada wajahnya, saatmenunggu
mendaratnya perahu yang ditumpangi Pemimpin Pulau Api.
***


Tatapan penuh selidik tampaknya bukan hanya dilakukan Dewa Arak dan Melati. Pemimpin Pulau Api itu pun melakukan halyang sama. Bahkan, sebagian alis yang tidak tertutup kain merah yang membelit kepalanya berkerut. Saat kakek itu melihat ada dua sosok tubuh yang tidakdikenalnya berdiridipantai.
Tapi, hanya sebentar Pemimpin Pulau Api berbuat demikian. Sesaat kemudian, dia sudah bersikap tidak peduli. Apa yang perlu ditakuti dari dua orang muda itu? Andaikata mereka memiliki kepandaian, sudah sampai di mana tingginya? Berapa banyak memang pengalaman bertarungyang mereka alami?
Dengan acuh tak acuh, Pemimpin Pulau Api terus mengayuh dayung. Dan ketika jarak antara perahunya dengan pantai tak sampai sembilan tombak lagi, tanpa memperbaiki kedudukan, kakinya digenjotnya.
"Hih!"
Seketika itu pula tubuh kakek berikat kepala merah itu melayang ke udara, meninggalkan perahunya  yang            agak     bergoyang        karena digunakan sebagai landasan untuk melakukan genjotan!
Semua tindakan Pemimpin Pulau Api tidak luput dari perhatian Dewa Arak dan Melati. Tampak oleh sepasang pendekar berwajah elok itu, kakekberikat kepala merah bersaltobeberapa kalisebelum melayang turun ketanah.Dan....
Plyarrr!
Air laut berpercikan ke sana kemari ketika Pemimpin Pulau Api mendaratkan sepasang kakinya dibagian pantai yang berair. Melihathal ini, tanpa menunggu lebih lama lagi, Dewa Arak segera menghampiri. Setelah memberi isyarat pada Melati untuk diam di tempatnya. Hingga gadis itu dengan terpaksa memendam rasa inginnya untuk maju. Melati tidak berani membangkang perintah kekasihnya! Sebab, gadis itu yakin betul setiap tindakan yang diambil Arya hampir selalu benar!
"Siapa kau, Kisanak? Dan apa tujuanmu datang ke pulau ini?" tanya Arya berpura-pura tidak tahu. Jarak antara mereka terpisah satu tombak.
"Menyingkirlah, Monyet Kecil! Jangan coba-coba membuat amarahku bangkit. Akibatnya akan mengerikanbagimu!"
Datar dan dingin pernyataan itu. Tapi di dalamnya terkandung ancaman mengerikan. Dan bukan Dewa Arak kalau menghadapi ancaman seperti itu sudah mundur teratur. Meskipun tahu tokoh yang dihadangnya berkepandaian tinggi
dan ancaman telah dikeluarkannya, tapi Arya tetap tenang.
"Sayang sekali, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu,          Ki.       Sebelum           menjawab pertanyaanku,      kau      tak        akan     kubiarkan melangkah lebih jauh!" mantap dan tegas kata-kata yang dikeluarkan Dewa Arak
"Keparat!"
Suara kakek berikat kepala merah itu langsung meninggi. Tarikan wajah dan sorot matanya memancarkan kemarahan. Tapi itu tidak seberapa. Yang mengherankan Melati dan Dewa Arak adalah bibir Pemimpin Pulau Api yang tidak bergerak. Kalau sebelumnya masih bisa dimaklumi. Sebab, kakek itu berbicara pelan. Tapi sekarang, kakek berikat kepala merah itu memaki keras! Lalu, mengapa kedua bibir itu tidakbergeming?!
Belum    lagi       gema    makiannya       lenyap, Pemimpin     Pulau      Api     telah      mengibaskan tangannya. Sembarangan saja, seperti orang mengusir lalat.Namun,akibatnya sungguh hebat. Serangkum angin keras meluncur ke arah Dewa Arak.
Arya tidak menjadi gugup melihat serangan itu. Sudah sejak tadi pemuda itu bersikap waspada. Maka begitu merasakan ada sambaran angin keras yang mampu membuat tubuhnya terlempar, tenaga dalamnya langsung dikerahkan
pada kedua kaki.Dengan tindakan ini, kedua kaki Dewa Arak sepertimenghunjamkebumi.
Hasilnya memang seperti yang diharapkan! Tubuhnya tidak bergeming ketika angin keras itu melanda. Hanya rambut dan pakaiannya yang berkibaran keras menjadi tanda kalau pemuda berambut          putih    keperakan        itu            dilanda segundukan angin keras. Melihat serangannya tidak membuahkan hasil, Pemimpin Pulau Api menjadigerambukan main.
"Keparat! Pantas kau berani kurang ajar, Monyet Kecil! Rupanya kau memiliki sedikit kepandaian!Baik,kulayanikemauanmu!Hih!"
Kali ini, kakek berikat kepala merah tidak segan-segan lagi melancarkan serangan. Sebuah tendangan kaki kanan lurus langsung dikirimkan kearah dada Dewa Arak.
Wuttt!
Deru angin keras yang mengiringi tibanya serangan itu, menandakan betapa kuat tenaga yang tersalur di dalamnya. Tapi seperti kejadian sebelumnya, Dewa Arak tetap bersikap tenang. Kaki kanannya ditarik ke belakang seraya mencondongkan           tubuh.  Pemuda            itu        tahu, meskipun hanya bertindak demikian serangan kakek            berikat     kepala     merah     telah     dapat dielakkan.
Tapi, betapa kagetnya hati pemuda berambut putih keperakan  itu        ketika   melihat kaki Pemimpin Pulau Api tetap meluncur ke arah
dadanya. Padahal, pemuda itu telah melangkah mundur! Dewa Arak tampak sedikit gugup. Meskipun demikian, Arya tidak kehilangan akal sehat. Walau dengan agak tergesa-gesa, karena sempitnya waktu, Dewa Arak masih sempat menjejakkan    kakinya            sehingga           tubuhnya terlemparkebelakang.
Wuttt!
Tendangan Pemimpin Pulau Api meluncur beberapa jari di bawah kaki Dewa Arak. Hanya berselisih waktu sekejap. Terlambat sedikit saja, kaki kakek berikat kepala merah itu akan lebih dulubersarang diangota tubuh Dewa Arak.
Jliggg!
Setelah lebih dulu bersalto beberapa kali, Dewa Arak mendarat dengan mantap di tanah. Dan secepat itu pula bersikap menghadapi serangan lawan selanjutnya. Namun, Pemimpin Pulau Api tidak melancarkan serangan susulan. Kakek itu merayapi sekujur tubuh Dewa Arak dengan penuh selidik. Kini disadarinya kalau kepandaian      pemuda            itu        tidak    serendah dugaannya semula. Itu bisa diketahui dari berhasilnya pemuda berambut putih keperakan itu meloloskan diri dari serangannya. Padahal, waktunya demikian singkat!
Sementara Arya pun tidak berani bertindak ceroboh lagi. Pengalaman hampir celaka karena sikap gegabah            yang     ditunjukkannya            telah memberinya pelajaran berharga.Dewa Araktahu,
mengapa kaki lawan tetap mengejar meski telah dielakkan. Pasti karena kakek berikat kepala merah itu memilikiilmu yang membuat kakiatau tangannya dapatmemanjang.
Kesimpulan yang didapat Dewa Arak, tidak diambil secara sembarangan. Arya tahu ada ilmu semacam itu di dunia persilatan. Bahkan, kekasihnya pun memilikinya. Gadis berpakaian putih itu dapat memanjangkan tangannya hampir dua kalilipatpanjang semula.Jurus 'Naga Merah MengulurKuku',demikiannamanya.
Tapi, Arya tidak bisa terlalu lama tenggelam dalam alun pikirannya. Keadaan saat itu sangat tidak memungkinkan. Di hadapannya tengah berdiri seorang lawan yang teramat tangguh Kalau dirinya bertindak sembrono, nyawanya akan melayang meninggalkan raga. Sementara Pemimpin Pulau Api tampaknya sudah merasa cukup puas memperhatikan lawannya. Kini, kakekitu telah siapmembuka serangan kembali.
"Kau cukup hebat, Anak Muda. Rasanya, kau pantas menjadi lawanku," puji kakek berikat kepala merah dingin. 'Tapi jangan berbangga hati dulu. Tadi hanya pemanasan saja. Sekarang bersiaplah, Anak Muda. Aku akan memulai pertarungan sung-guhan. Hadapilah ilmu 'Tinju Topan dan Geledek'-ku ini!"
Usai berkata demikian, Pemimpin Pulau Api menyilangkah kedua tangannya yang terkepal erat di depan dada. Kemudian dengan perlahan-
lahan tapipenuh tenaga,ditariknya kedua tangan itu ke sisi pinggang. Bunyi berkerotokan seperti tulang-tulang berpatahan, mengiringi gerakan tangan itu menuju tempatyang dituju.
Melihat hal itu, Dewa Arak tidak berani mengambil resiko. Ilmu yang dikeluarkan lawan tampaknya amat dahsyat. Maka, diambilnya guci arak yang tergantung di punggung. Kemudian isinya dituangkan ke mulut
Gluk....Gluk....Gluk...!
Bunyitegukan terdengar ketika arak melewati tenggorokan Dewa Arak. Ada hawa hangat yang berpusat di perut Lalu, perlahan-lahan hawa itu naik ke atas. Sesaat kemudian, sepasang kaki pemuda berambut putih keperakan itu oleng. Doyong ke sana kemari. Itu pertanda Dewa Arak telah siap      mempergunakan ilmu  'Belalang Sakti'nya.
Semua gerak-gerikDewa Arak tidak luputdari pandangan Pemimpin Pulau Api. Terlihat ada kerutan pada kedua alis kakek berikat kepala merah itu. Kakek itu tengah dilanda perasaan heran. Ilmu aneh apa yang akan dilakukan pemuda berambutputih keperakan itu?Bisikhati Pemimpin Pulau Api.
Tapi, kakek itu tidak membiarkan perasaan bingungnya terus melanda. Buru-buru diusirnya perasaan itu. Dia dapat menduga, meskipun kelihatannya demikian, pasti ilmu yang akan dikeluarkan Dewa Arak sebuah ilmu andalan.
Tidak sedikit ilmu-ilmu yang kelihatan aneh, tapi di dalamnya terkandung kedahsyatan yang menggiriskan hati! Dia sendiri banyak memiliki ilmu-ilmuaneh!
Seiring    dengan timbulnya        pikiran itu, Pemimpin Pulau Apimemusatkan perhatian pada ilmuyang tengah dikeluarkannya.Kemudian....
"Haaat...!"
Diawali sebuah teriakan keras menggelegar
yang menggetarkan tempat itu, Pemimpin Pulau Api      melancarkan    serangan          pembuka.         Tak tanggung-tanggung lagi tindakan kakek berikat kepala            merah.     Dalam          gebrakan          pertama, langsung dikirimkan pukulan tangan kanan-kiri bertubi-tubi ke arah dada Dewa Arak. Bunyi ledakan keras seperti halilintar menyambar mengiringi serangan itu. Sungguh berbahaya serangan Pemimpin Pulau Api.Di samping dialiri tenaga dalam dahsyat, juga meluncur dengan kecepatan menakjubkan.
Tapi orang yang diserang adalah Dewa Arak! Pemuda berambut putih keperakan itu telah siap dengan ilmu 'Belalang Sakti'nya. Tanpa menemui kesulitan sedikit pun, Dewa Arak berhasil mengandaskan serangan itu dengan gerakan limbung.
Kenyataan itu membuat Pemimpin Pulau Api penasaran bukan main. Hingga, disusulinya dengan serangan lanjutan yang tidak kalah
dahsyat. Dan seperti juga serangan pertamanya, bunyi meledak-ledak pun timbul mengiringi luncuran serangan itu. Pertarungan dahsyat dan menarik tidakbisa dihindarkan lagi.
Pemimpin Pulau Api benar-benar dipaksa untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya. Betapa tidak? Secara bertubi-tubi dan susul-menyusul serangan dilancarkan pada Dewa Arak. Namun, semua berhasil dikandaskan lawan dengan elakan uniknya. Itu berlangsung sampai lima jurus!
Kegagalan demi kegagalan membuat kakek berikat kepala merah semakin penasaran.Apalagi sampai saat itu Dewa Arak belum melancarkan serangan balasan, hingga kakek itu merasa diremehkan.Dalam cekaman rasa penasaran dan marah,Pemimpin Pulau Api mengeluarkan jurus-jurus intiilmu 'Tinju Topan dan Geledek'!
"Hih!"
Laksana gasing tubuh Pemimpin Pulau Api berpusing. Dan ketika telah melihat sasaran, kedua tangan atau kakinya mencuat dari balik pusingan. Amat berbahaya! Karena meluncurnya tidakdisangka-sangka.
Dewa Arak sangat terkejut melihatperubahan gerak lawan. Sekarang pemuda itu mengerti, mengapa   kakek            berikat kepala  merah menamakan ilmunya 'Tinju Topan dan Geledek'. Ilmu itu memang luar biasa! Arya mengalami kesulitan menghadapinya. Kedudukan tubuh
lawan     yang     berpusing,        membuatnya    sulit melancarkan serangan. Sebaliknya, Pemimpin Pulau Api enak saja melancarkan serangan. Dengan sendirinya, maka kedudukan kakek berikat kepala merah lebih menguntungkan.
Hasilnya dapat diduga, Dewa Arak selalu menjadi sasaran serangan. Untung saja pemuda itu memiliki ilmu 'Belalang Sakti'. Sebuah ilmu yang membuatnya mampu melakukan gerakan sesulit  apa       pun,     dan      dalam            keadaan bagaimanapun. Ditambah lagi jurus 'Delapan Langkah Belalang', yang merupakan kumpulan langkah-langkah     unik     untuk          mengelakkan serangan dengan cara yang membuatheran orang yang menyaksikan.
Berkat keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti' itulah, Dewa Arak mampu mengelakkan setiap serangan Pemimpin Pulau Api hingga lebih dari sepuluh jurus! Kenyataan ini membuat bulu kuduk kakek berikat kepala merah meremang! Selama hidupnya, belum pemah ditemukan seorang lawan yang mampu memunahkan serangannya hanya dengan cara mengelak, selama sepuluh jurus! Bahkan Sangga Buana, pemilik Pulau Es, tidak mampu bertindak seperti ini!
Maka tidak aneh jika Pemimpin Pulau Api semakin kalap. Kedahsyatan serangannya terus ditingkatkan. Akibatnya langsung diterima oleh Dewa Arak. Dirasakannya tekanan serangan-
serangan lawan   semakin           dahsyat.           Bila diumpamakan ombak, gelombang yang kini melandanya adalah ombak-ombaksetinggibukit!
Semua kejadian di kancah pertarungan tak lepas dari penglihatan Melati. Tampak jelas ada kecemasan dalam sorot mata maupun raut wajahnya. Bagaimana Melati tidak cemas? Terlihat olehnya betapa kekasihnya pontang-panting ke sana kemari menyelamatkan diri, tanpa mampu melancarkan serangan balasan sedikit pun. Dan memang Dewa Arak berada dalamkeadaan mengkhawatirkan.
Yang dilakukan pemuda berambut putih keperakan ituhanya terus-menerus mengelak.
Jurus demi jurus berlalu cepat. Tak terasa pertarungan telah berlangsung lima belas jurus. Dan selama itu Dewa Arak masih mengandalkan keistimewaan ilmu meringankan tubuh 'Belalang Sakti', dan jurus 'Delapan Langkah Belalang' untukmemusnahkan setiapserangan lawan.
Tapibegitu pertarungan telah lewat lima belas jurus,      Dewa   Arak    memutuskan    untuk mengadakan perubahan cara bertarung. Cara yang sekarang dilakukan tidak bisa digunakan terus. Amat berbahaya jika   terus-menerus mengelak dari serangan-serangan tokoh sehebat Pemimpin Pulau Api.
Hingga, di jurus-jurus selanjutnya Dewa Arak memutuskan untuk melakukan perubahan. Toh, dirinya            telah     dapat    mengira-ngira   tingkat
kemampuan lawan, berkat pengamatan yang dilakukannya selama melakukan elakan demi elakan.

***
6

"Hih!" Wuttt!
Diiringi bunyi menderu keras, tinju kanan Pemimpin Pulau Api mencuat dari dalam pusingan tubuhnya. Tak tanggung-tanggung sasaran yang dituju, ubun-ubun! Tempat yang mematikan di tubuh manusia! Jangan mengenai telak, terserempet saja sudah cukup untuk mengirimnyawa Dewa Arakkealambaka!
Dewa      Arak    benar-benar     melaksanakan keputusannya. Begitu melihat kepalan Pemimpin Pulau Api meluncur, langsung dipapakinya dengan tinju kanan. Pemuda berambut putih keperakan itu tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan seluruh     tenaga     dalamnya.     Bahkan        dalam pengerahan 'TenagaSaktiIntiMatahari'!
Wuttt!
Hawa panas menyengat  seiring dengan meluncurnya tinju Dewa Arak.Kepulan asap tipis tampak keluar dari sekujur tubuhnya. Sesaat kemudian....
Dukkk!
Sungguh dahsyatbenturan yang terjadiantara dua kepalan yang dialiri tenaga dalam tinggi itu. Bunyi menggelegar yang memekakkan telinga terdengar! Dan tubuh dua tokoh itu terpental ke belakang.
Tapi dengan gerakan manis, Dewa Arak dan Pemimpin Pulau Api mematahkan kekuatan daya dorong tubuh mereka.Dan....
Jliggg!
Ringan laksana daun kering, dua tokoh hebat yang memiliki perbedaan usia menyolok itu mendaratringan ditanah.
Untuk kedua kali Pemimpin Pulau Api tidak segera melancarkan serangan. Begitu kedua kakinya menginjak tanah, kakek itu menatap Dewa Arak dengan penuh selidik Ada sorot kekaguman dan kekagetan di sana.Kagum ketika mengetahui tenaga dalam Dewa Arak tidak berada dibawahnya, dan kaget karena kenyataan inidiluardugaannya.
Melihat   lawannya         tidak    melancarkan serangan, Dewa Arak pun melakukan hal yang sama. Bedanya, kalau Pemimpin Pulau Api berdiri dengan mantap, maka pemuda berambut putih keperakan itu berdiri dengan kedudukan goyah seperti akan jatuh. Dengan sikap tidak peduli, diambilnya guci arak dan dituangkan kembali ke mulutnya. Guci itu memang telah disimpannya di tempat semula, sewaktu dia akan bertarung.
Gluk....Gluk...Gluk...!
Kelakuan Dewa Arak membuatalis Pemimpin Pulau Api berkerut semakin dalam.Rasa heran yang melanda hatinya semakin besar. Tingkah laku Dewa Arakterasa aneh dilihat.
"Siapa sebenarnya kau, Anak Muda? Mengapa berada ditempatini?"tanya Pemimpin Pulau Api, takkuatmenahan rasa ingin tahunya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Bukan kau, Ki,"sergahDewa Arak
Meskipun ucapannya terputus-putus karena pengaruh   arak,    Dewa   Arak    berhasil menyelesaikan perkataannya. Memang walaupun kelihatan mabuk, tapi pikiran pemuda berambut putih keperakan itu tetapjernih!
"Hehhh?! Apa alasanmu berkata seperti itu, Anak Muda?! Jangan katakan kau penghuni pulau ini. Aku kenal betul dengan semua penghuni tempatini!"sergah Pemimpin Pulau Api keras.
"Memang kuakui aku bukan penghuni pulau ini, Ki. Tapi, aku terhitung pemiliknya!" sahut Dewa Arak masih denganucapan terputus-putus.
"Huh! Rupanya kau terlalu mabuk untuk bisa kuajak berbincang-bincang Anak Muda!" ujar Pemimpin Pulau Api, yang merasa bingung mendengarjawaban Dewa Arak
"Dia terlalu kuat untuk mabuk hanya karena arak, Kakek Jelek!" celetuk Melati, terpaksa ikut angkatbicara karena mendengar kekasihnya dise-pelekan.
"Ha         ha        ha...!    Omonganmu    pun      tidak mempunyai dasar,Gadis Bau Kencur!Bagaimana kau bisa bilang dia tidak mabukkalau ucapannya tidak bisa dimengerti?!" sahut Pemimpin Pulau
Api seraya mengalihkan perhatiannya pada Melati.
"Itu karena kau mempunyai otak yang bebal, KakekJelek! Pernyataan yang demikian jelas kau katakan membingungkan? Lucu! Lucu sekali!" ejek Melatimenggeleng-geleng.
"Keparat!" maki Pemimpin Pulau Api sangat geram mendengar hinaan Melari. "Jelaskan maksud ucapanmu, Wanita Sundal! Kalau tidak, jangan salahkan bila kepalamu kuhancurkan!"
"Kau kira aku takut padamu?!" Melati langsung naik darah mendengar ancaman itu. "Majulah! Ingin  kulihat            sampai di         mana kehebatanmu?!"
"Keparat! Kau memang harus dihajar!" geram Pemimpin Pulau Api sambil mengayunkan langkah            menghampiri    Melati. Tapi,    baru selangkah       Dewa         Arak    telah     bergerak menghadang.
"Pertarungan antara kita belum selesai, Ki," ucapDewa Arak menantang.
"Memang belum!" sambut Pemimpin Pulau Api, terpaksa membatalkan maksudnya untuk menghampiri Melari.'Tunggulah, Wanita Sundal! Setelah kubereskan pemuda pemabuk ini, kau akan menerimaganjaran atashinaanmu itu!"
Lalu Pemimpin Pulau Api mengalihkan perhatiannya pada Dewa Arak. Dirayapinya sekujur tubuh pemuda berambutputih keperakan
itu sebelum mulai melancarkan serangan. Otot-otot tubuhnya menegang,pertanda Kakekberikat kepala merah telah bersiap-siap melancarkan serangan. Demikian pula Dewa Arak. Meskipun tubuhnya oleng ke sana kemari, tapi pemuda berambut putih keperakan      itu telah siap bertarung.
Dan sebelum kedua tokoh itu saling terjang, tanah di tempat itu bergetar hebat. Tentu saja kejadian itu mengejutkan Dewa Arak dan Pemimpin Pulau Api,juga Melati!
Apa yang tengah terjadi? Tanya ketiga orang itu dalamhati.
"Hei!"
Teriakan kaget Melati membuat Dewa Arak dan            Pemimpin        Pulau   Api      mengalihkan pandangan ke arah pandangan gadis berpakaian putih itu.Sepasang mata kedua tokoh itu tiba-tiba membelalak lebar melihat pemandangan yang membuat Melari menjerit. Raut wajah dan pandang         mata        mereka        memancarkan keterkejutan yang sangat. Betapa tidak? Tampak oleh mereka salah satu bagian lereng gunung es longsor! Gumpalan-gumpalan batu es dalam berbagaibentukbergelindingan kebawah.
"Apa yang terjadi, Kang?!" tanya Melati, tanpa mampu memyembunyikan perasaan ngeri yang membalut hatinya. Kemudian, setengah berlari gadisitu menghamburkearah kekasihnya.
"Aku juga tidak tahu, Melati. Mungkin pulau ini akan tenggelam ke dasar laut," jawab Dewa Arak dengan gugup. "Kalau hanya longsor saja tak mungkin getarannya sampai ke sini. Apalagi sampai sekuat ini! Gunung itu letaknya jauh dari sini!"
'Tenggelam, Kang?!" ada rasa ngeri yang membayang jelasdiwajah gadisberpakaian putih itu ketika mengucapkannya.
"Itu hanya dugaanku saja,Melati."
Arya buru-buru  memperbaiki ucapannya untuk menenangkan hati kekasihnya. Tapi usaha Dewa Arak sia-sia. Melati telah telanjur merasa
ngeri. Gadis itu tidak mudah untuk ditenangkan kembali.Initerbukti....
"Kalau begitu, tunggu apa lagi?! Mari kita segera tinggalkan tempat ini, Kang! Aku tidak ingin mati terkubur di dasar laut!" ucapa Melati kalap. Dalam cengkeraman rasa ngeri yang menggelegak, tanpa sadar Melati mengguncang-guncangkan tubuhDewa Arak.
'Tidak semudah itu, Melati. Kita harus memberitahukan kejadian ini pada kakekku. Tidak sepatutnya kita meninggalkannya begitu saja!"tandasDewaArak.
"Kalau begitu, mari kita pergi ke sana, Kang!" sambutMelaticepat.
Kemudian tanpa memberi kesempatan pada Dewa Arak untuk berpikir, Melati melesat
menuju Istana Es.Karena gadisberpakaian putih itu tidak melepaskan pegangannya, terpaksa Dewa Arak mengikuti langkah Melati. Kalau itu tidakdilakukan,tubuhnya akan terseret-seret.
Meskipun demikian,Dewa Arakmasih sempat melihat ke arah Pemimpin Pulau Api tadiberdiri. Ternyata kakek berikat kepala merah itu sudah tidak ada lagi. Pemimpin Pulau Api tengah melesat cepat ke arah gunung yang sedang longsoritu!
Tentu saja tindakan Pemimpin Pulau Api membuat Dewa Arak heran bukan main! Sudah gilakah kakek berikat kepala merah itu? Kalau tidak, mengapa di saat gunung itu longsor malah bergerak mendekati? Apakah dia ingin tertimpa gundukan-gundukan es yang rata-rata sebesar kerbau?
Tapi Dewa Arak segera membuang jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan   itu.       Yang    harus dilakukannya sekarang adalah secepatnya tiba di Istana Es,dan memberitahukan kejadian inipada KakekSangga Buana. Mudah-mudahan kakekitu tidak mengalamikejadian yang tidakdiinginkan.
Merupakan hal yang wajar bila pemuda berambut putih keperakan itu mencemaskan keselamatan      Kakek Sangga Buana. Sebab getaran itu semakin terasa jelas. Bahkan, semakin lama guncangannya semakin kencang!
Rasa cemas Dewa Arak dan Melari membuat mereka berlari seperti dikejar hantu! Karena
kedua orang muda itu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, maka hanya dalam beberapa lesaran saja Istana Es telah terlihat. Semangat mereka semakin besar untuk segera tiba. Hingga kecepatan lari sepasang muda-mudi itu ditambah.
"Kek...!Kakek...!"
Belum juga mencapaipintu gerbang Istana Es, Dewa Arak telah berteriak-teriak memanggil Sangga Buana. Sebab tepat di tengah-tengah pintu gerbang tampak sesosok tubuh yang dikenali Dewa Arak dan Melati sebagai Sangga Buana tengah berdiri. Kakek itu kelihatan tenang-tenang saja.
Sosok itu memang Sangga Buana! Kakek itu tampaknya tahu kalau dirinya dipanggil-panggil, tapitetap saja dia berdiridi tempatnya.Kelihatan seperti tidak peduli. Tapi dari tatapan yang tertuju pada Dewa Arak dan Melati, agaknya dia tengah menunggu kedatangan sepasang muda-mudi itu.
"Apa yang terjadi, Arya? Mengapa kalian berlari-lari seperti dikejar hantu?" tanya Sangga Buana        sebelum            Dewa   Arak    dan      Melati menghentikan lari. Rupanya, kakek itu tidak sabarlagimenunggu.
"Pulau ini akan tenggelam, Kek! Cepat kita tinggalkan tempat ini!" jawab Arya cepat begitu berada dihadapan Sangga Buana.
Lalu tanpa          menunggu        sambutan kakek berpakaian putih itu, Dewa Arak langsung mencekal per-gelangannya. Sudah dapat diduga maksudnya. Arya ingin membawa Sangga Buana meninggalkan tempat itu.
TapiDewa Arak kecewa!Tubuh Sangga Buana tidak bergeming ketika ditariknya! Pemilik Pulau Es itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk memberatkan tubuh. Hingga Dewa Arak heran. Begitu pula Melati. Dengan sorot mata penuh pertanyaan, sepasang muda-mudi berwajah elok itu menatapwajah Sangga Buana.
'Tenang dulu, Arya," ujar Sangga Buana kalem. "Jelaskan, mengapa kau mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Tidakkah kau merasakan goncangan di seluruh penjuru pulau ini, Kek?! Bahkan, tadi kulihat jelas salah satu lereng gunung es di sana telah longsor," jelas Arya sambi menudingkan jari telunjuknya kearahgunung yang dimaksud.
"Ooo.... Rupanya itu yang menyebabkan kau menduga demikian, Arya," ujar Sangga Buana setengah tertawa,            seraya  melayangkan pandangan ke arah gunung yang ditunjukkan Dewa Arak. Tampak masih terlihat banyak batu-batubesardan batu-batu kecilberguguran.
"Benar,Kek,"sahutArya cepat.
"Kalau demikian, tenangkanlah hati kalian. Percayalah, pulau ini tidak akan tenggelam.
Semua gejala-gejala yang kalian lihat hanya merupakan sebuah pertanda."
"Sebuah pertanda? Pertanda apa, Kek?" tanya Melati, setelah saling pandang sejenak dengan Dewa Arak.

Sangga    Buana  tidak    segera Dilemparkannya seulas senyum sepasang muda-mudi itu.

menjawab. lebar pada

"Sebelum kujawab pertanyaan kalian, ada baiknya bila kuceritakan sebuah legenda yang kudapatkan dari ayahku. Menurut cerita beliau, ratusan tahun yang lalu Pulau Es dan Pulau Api tidak terpisah.Kedua pulau itu menjadi satu."
Sampai di sini Sangga Buana menghentikan ceritanya. Sementara Dewa Arak dan Melati mendengarkan dengan penuh minat. Meskipun saat tanah masih terguncang-guncang, Dewa Arak dan Melati tidak khawatir lagi. Mereka percaya penuh padaSangga Buana.
"Entah karena mengapa pulau itu terpecah dua. Yang satu dinamakan Pulau Es, sedangkan yang lain Pulau Api. Sampai sekarang, kedua pulau yang terpecah itu tetap terpisah. Bahkan, jaraknya semakin jauh. Tapi menurut cerita, ada saat-saat di mana antara Pulau Esdan Pulau Api tercipta sebuah jalan yang menghubungkan kedua pulau itu. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Aku sendiri tidak mengerti. Yang jelas, sebelum terciptanya jalan itu, pada kedua pulau terjadi guncangan keras mirip gempa. Nah!
Kurasa inilah tanda yang dimaksudkan ayahku. Jelas, Arya,Melati?" tanya Sangga Buana diakhir kisahnya.
Dewa      Arak    dan      Melati  tidak    segera memberikan jawaban. Mereka saling pandang sejenak,     sebelum     akhirnya     menganggukkan kepala.
"Jadi..., kedua pulau itu bersatu kembali sepertidulu,Kek?" tanya Arya.
'Tidak,    Arya,"  jawab   Sangga Buana menggeleng. 'Pulau Es dan Pulau Api tetap terpisah. Yang terjadi hanya sebuah jalan tembus mirip sebuah terowongan, yang tercipta jauh di dasarlaut.Demikian,menurutcerita ayahku."
"Apakahbeliau pernah mengalaminya,Kek?" "Benar,    Arya.   Bahkan,           beliau   sempat
menyelidiki keanehan itu. Tapi hanya itu yang diketahuinya. Jawaban mengapa hal seperti itu bisa terjadi, tidak ada yang bisa menjawabnya. Yahhh...! Ini merupakan sebuah pertanda bahwa banyak masalah di dunia ini yang tidak bisa dipecahkan otakmanusia!"
Arya       mengangguk-angguk    menyetujui pendapatSangga Buana. Pemuda berambutputih keperakan itu memang percaya betul akan kekuasaan Allah,Sang Pencipta AlamSemesta.
"Lalu... di mana terciptanya jalan tembus itu, Kek?" tanya Arya lagiingin tahu.
"Di gunung itu, Arya," Sangga Buana menudingkan jari telunjuknya ke arah gunung yang salah satu lerengnya longsor.
"Pantas...!" ujar Arya seraya mengangguk-anggukkan kepala.
"Apanya yang pantas, Kang?" tanya Melati penasaran.
Bukan hanya Melati saja yang ingin tahu alasan Dewa Arak berkata seperti itu. Sangga Buana pun demikian. Kakekberpakaian putih itu menatap cucunya dengan pandang mata penuh pertanyaan.
'Tadi kulihat seorang kakek yang menurutku pemimpin orang-orang berpakaian merah berlari menuju gunung itu. Semula aku tidak mengerti, mengapa dia bertindak seperti itu. Pasti dia ingin mencarijalan tembusmenuju pulaunya."
"Jadi..., kau bertemu dengan Pemimpin Pulau Api,Arya?!"tanyaSangga Buanaagakkaget
"Benar,KekBahkan,antara kami telah terjadi pertempuran,"jawab Arya.
Kemudian, secara singkat tapi jelas pemuda berambut putih keperakan itu menceritakan semuanya.    Sementara            Sangga Buana mendengarkan      dengan      penuh       perhatian. Beberapa kali kakek berpakaian putih itu berdecak kagum mendengar cerita pertarungan Arya dengan Pemimpin Pulau Api.
"Kalau begitu... kau harus cepat menyusulnya, Arya,"ujarSangga Buana ketika Dewa Araktelah menyelesaikan ceritanya.
"Boleh kutahu, mengapabegitu,Kek?"
"Sebab, bila kau tidak segera bertindak maka pusaka-pusaka Pulau Es akan terjatuh ke tangannya. Orang-orang persilatan yang telah mendapatkan pusaka-pusaka itu, pasti akan melaluijalan itu,"jelasSangga Buana.
"Apakah sudah pasti mereka akan melalui jalan itu, Kek? Barangkali mereka melalui jalan lain, atau bahkan tidak menemukan jalan itu," bantah Arya.
Sangga Buana tersenyumlebar.
"Kau yakin rombongan orang-orang persilatan itu masih berada di dalam pulau?" Sangga Buana balasbertanya.
“Yakin,Kek,”mantapdan tegasjawban Arya. "Kalau begitu..., mereka pastiakan menuju ke
sana,"ujarSangga Buana tak kalah yakin. "Mengapa demikian, Kek?" Arya tidak mampu
menyembunyikan perasaan herannya.
"Memang sulit untuk dimengerti akal, Arya. Tapi itulah kenyataannya. Setiap kali jalan tembus itu muncul, akan timbul di hati orang-orang yang berada di dalam pulau untuk menuju ke sana.Ada kekuatan aneh menarik orang untuk pergike sana."
Dewa Arak mengalihkan pandangan ke arah Melati yang sejak tadi hanya bertindak sebagai
pendengar. Pada saat yang bersamaan, Melati pun tengah menatap ke arah Arya. Bentrok pandangan pun tidakdapatdielakkan lagi.
"Apa kau merasakan hal seperti itu, Melati?" tanya Arya ingin tahu.
"Yahhh...!" Arya            menghela napas berat sebelum memberikan jawaban. "Memang ada dorongan kuat untuk menuju ke sana. Padahal, yang ada di benakku pergi meninggalkan pulau setelah memberitahukan pada kakek. Anehnya dorongan itu menyuruhku meninggalkan pulau melaluigunung itu."
"Aku pun demikian,Kang,"timpalMelati. "Itulah keajaibanyang sampai sekarang belum
terpecahkan," celetuk Sangga Buana. "Sekarang kalian percaya?"
Tanpa ragu-ragu lagi, Dewa Arak dan Melati menganggukkan kepala.Bagaimana mereka tidak percaya kalaubukti-bukti sudah demikian jelas.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Mari kita segera menyusul Pemimpin Pulau Api sebelum pusaka-pusaka itu berhasil didapatnya," ajak Sangga Buana.
Dewa Arak dan Melati kelihatan saling pandang dengan wajah bingung.' Betapa tidak? Bukankah sebelumnya Sangga Buana telah memberikan kekuasaan pada Dewa Arak untuk mencari dan mendapatkan pusaka-pusaka Pulau Esyang tercuri.
Tapi hanya sebentar saja keheranan itu melanda sepasang pendekar muda ini. Mereka segera teringat akan kekuatan aneh yang dapat mempengaruhi orang. Pasti Sangga Buana pun mengalamihalyang sama sepertimerekaberdua.
"Mari, Kek," sambutDewa Arak setelah sadar. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, kemudian Dewa Arak, Sangga Buana, dan Melati melesat meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka jelas ke gunung es yang tengah longsor. Tanpa ragu-ragu, mereka         mengerahkan   ilmu     meringankan tubuhnya.
Tentu Dewa Arak dan Sangga Buana tidak mengerahkan seluruh kemampuannya. Bila hal itu dilakukan, Melati akan tertinggal jauh. Terpaksa keduanya mengerahkan tenaga sebatas lariMelati.Hingga dapatlariberjajar.
"O ya, Kek. Boleh aku bertanya sesuatu?" ujar Dewa Arakdi sela-sela ayunan kakinya.
"Apa,Arya?" tanpa menghentikan lari,Sangga Buana menolehkan kepala kearah cucunya.
"Apakah ada orang yang bernama Abimanyu, atau orang-orang yang berpakaian seragam kerajaan mendaratdisini?"
'Tidak, Arya. Aku tahu pasti hal itu. Orang-orang yang mendarat di pulau ini hanya dari Pulau Api, dan tokoh-tokoh persilatan yang telah merampaspusaka.Memangnya kenapa?"
Tanpa     ragu-ragu,        Dewa   Arak menceritakannya.
"Kalau    benar   demikian,         mereka pasti mendarat di Pulau Api. Kau tahu, Arya.Keadaan Pulau Api amat mirip dengan Pulau Es. Yang membedakan hanya satu,yaitu apiyang sewaktu-waktu menyemburdaridalamtanah es!"
Kembali Dewa Arak dan Melati bertukar pandang. Kali ini dengan sorot mata dan tarikan wajah yang memancarkan kekhawatiran. Mereka khawatir akan keselamatan Abimanyu dan rombongan Kerajaan Bojong Gading. Perasaan khawatir akan keselamatan Patih Juminta dan yang lainnya, membuat Dewa Arak dan Melati ingin segera tiba di Pulau Api. Kecepatan lari mereka pun ditambah.
***
7


Apa yang dikatakan Sangga Buana ternyata benar. Dewa Arak dan Melati langsung bisa membuktikan kebenarannya. Tanah yang tadi berguncang-guncang, kini telah tenang kembali. Dan gunung es yang tengah mereka tuju tidak lagi meruntuhkan batu-batu es.Keadaan di pulau itu kembalitenang sepertisediakala.
Tanpa membutuhkan waktu lama, Sangga Buana, Dewa Arak, dan Melati telah berada di kaki gunung es itu. Dan sesampainya di sini, perjalanan yang mereka tempuh tidak mudah lagi. Sekarang mereka harus mendaki. Tidak jarang mereka melompat ke sana kemari, atau menotok tonjolan demi tonjolan batu agar tubuh mereka dapatmelayang keatas.
Dengan medan yang agak sulit, apalagi sesudah terjadi longsor itu, rombongan kecil yang dipimpin Sangga Buana membutuhkan waktu yang agak lama untuk tiba di bagian lereng gunungyang longsor.
"Hup!"
Berturut-turutSangga Buana,Dewa Arak,dan Melati mendarat di lereng gunung es itu. Hawa dingin menyengat kulit tubuh mereka. Di tempat ini hawa memang jauh lebih dingin. Bahkan, tiupan angin pun seperti hendak membekukan
tubuh. Tapi dengan mengerahkan hawa murni, ketiga orang itu membuat serangan hawa dingin tidakberartiapa-apa.
Tanpa membuang-buang waktu lebih lama, Sangga Buana segera mengedarkan pandangan. Melihat hal ini, Arya dan Melati langsung melakukan tindakan serupa. Sepasang muda mudi ini tahu kalau Sangga Buana mencari jalan tembus yang diceritakannya. Dengan sepasang mata berkeliaran ke sana kemari, mereka mengayunkan langkah.
"Kek...!Itukah jalanyang kau maksud?!" Seruan Melati membuat Sangga Buana dan
Arya mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Melati. Tampak sebuah goa berbentuk bulat dengan garistengah dua tombak, takjauh di samping kanan mereka.
"Kemungkinan besar      itulah   jalan yang dimaksud, Melati," jawab Sangga Buana tidak beranimemastikan.
"Lalu...   bagaimana       cara      membuktikan kebenarannya,Kek?!"tanya Melati lagi.
Gadis berpakaian putih itu menanyakannya dengan alis berkerut. Melati kelihatannya tidak puas dengan jawaban yang diberikan Sangga Buana.
'Tentu dengan memasukinya, Melati," sahut Sangga Buana kalem, seperti tidak mengetahui kekesalan hatigadisberpakaian putih itu.
Sementara Dewa Arak mengetahui perasaan yang bergolak di hati kekasihnya. Maka, diputuskannyauntukikutcampurtangan.
"Menurutku... memang itulah jalan tembus yang kau maksudkan,Kek."
"Hm...! Apa alasan yang mendorongmu mengambil kesimpulan demikian, Arya?" tanya Sangga Buana menguji.
"Keadaan goa itu, Kek," tegas dan mantap jawaban pemuda berambut putih keperakan itu. Terlihatada keyakinan dalamjawabannya.
"Bisa lebih kau perjelas maksudnya, Arya?" pinta kakekberpakaian putih itu.
Dewa      Arak    tidak    segera  menjawab Tatapannya dialihkan ke arah Melati, mencoba untuk melihat tanggapan kekasihnya. Ingin diketahuinya,apakah Melatitelah mengerti.
Tapi yang ditemuinya seraut wajah yang menunjukkan ketidakmengertian. Melati belum juga menangkap maksudnya. Berbeda dengan Sangga Buana.Wajah kakekberpakaian putih itu tampak tenang. Arya berani bertaruh, Sangga Buana sebenarnya telah mengerti. Bahkan Dewa Arak yakin kakek itu telah mempunyai dugaan kuat kalau goa itu jalan tembus yang dimaksud. Sangga Buanahanya tidakmau memastikan.
"Keadaan goa ini, Kek. Terlihat jelas kalau semuanya belum lama terbentuk,"jelasArya.
"Ha ha ha...! Kau cerdik, Arya. Sudah kuduga kecerdikan Tribuana akan menurun padamu," kakek berpakaian putih itu kelihatan sangat gembira.
"Kau bisa saja,Kek," sambutArya malu, tidak enak hati mendapat pujian seperti itu. "O, ya. Apakah tidak lebih baik bila kita segera masuk ke goa itu?Aku khawatir kitaakan terlambat."
"Kaubenar,Arya.Mari," timpalSangga Buana cepat. Kakek berpakaian putih itu tahu kalau Arya sengaja mengalihkan perhatian.
Dengan   didahului         Dewa   Arak,   atas permintaan Sangga Buana mereka mengayunkan langkah menuju goa. Hanya dalam beberapa langkah ketiganya telah berada di mulut goa itu. Sampai di sini Dewa Arak tidak langsung melangkah masuk. Untuk memastikan tidak ada bahaya          yang          mengancam          sejenak diperhatikannya keadaan goa itu.           Pemuda berambut putih keperakan itu memang selalu berhati-hatidalam tindakannya.
Semua itu tidak luput dari perhatian Sangga Buana. Perasaan kagum kembali menyeruak dalam hati kakek berpakaian putih itu. Memang seharusnya demikian tindakan seorang pendekar, pujinyadalamhati.
Sementara itu, setelah yakin tidakadabahaya yang mengancam, Dewa Arak melangkah masuk. Sangga            Buana  dan      Melati  menyusul         di belakangnya. Keadaan dalam goa ternyata tidak
terlalu gelap. Cukup aneh sebenarnya, tapi Dewa Arak,            Melati, dan      Sangga Buana  tidak mempedulikannya.      Andaikata        teringat     pun mereka tidak merasa heran. Sebab, mereka tahu di dunia ini ada sejenis batu yang mampu menimbulkan cahaya dalamgelap.
Suasana  yang     tidak    terlalu  gelap menyebabkan rombongan yang dipimpin Dewa Arak tidak mengalami kesulitan melakukan perjalanan.Apalagi langit-langitgoa cukup tinggi. Dan jalan dalamgoa lurus, tidakada belokan satu pun. Hanya satu hal yang sempat membuat mereka bertiga mengernyitkan alis heran, yaitu dasar goa yang terus menurun. Tapi begitu teringat kalau jalan ini melalui lorong bawah tanah yang terdapat di bawah dasar laut, keheranan mereka pun lenyap.
Setelah   cukup  lama     menempuh       jalan menurun, akhirnya dasar goa mendatar. Jalan mendatar ini ternyata tidak kalah panjangnya dengan jalan menurun. Kemudian, perlahan-lahan jalan yang ditempuh mulai menanjak. Melihat kenyataan ini, Dewa Arak, Melati, dan Sangga         Buana         mulai         meningkatkan kewaspadaan. Jalan yang menanjak menandakan taklama lagi merekaakan tiba diPulau Api
Dugaan mereka memang tidak salah. Tak lama kemudian, mereka melihat cahaya terang di depan mereka. Itu pertanda di sana ada jalan yang berhubungan dengan dunia luar. Mendadak
Dewa Arak menghentikan langkah. Hingga Melati dan Sangga Buana heran. Terpaksa mereka punberhenti.
"Mengapa berhenti, Arya?" tanya Sangga Buana pelan.
"Aku mendengarbunyigaduh,Kek.Sepertinya ada pertempuran di depan sana. Apa kau mendengarnya,Kek?"
"Benar, Arya. Aku mendengarnya. Beberapa langkah sebelum kau berhenti, aku telah mendengarnya. Tapi kubiarkan saja. Kupikir tak lama lagi kau pun akan mendengarnya," urai Sangga Buana, tanpa ada nada kesombongan di dalamnya.    Padahal,           jawabannya     sudah membuktikan kalau ketajaman pendengarannya berada diatasArya.
"Aku... aku belum mendengar bunyi apa pun, Kang," celetuk Melati. Setelah beberapa saat lamanya            menelengkan   kepala, mencoba mendengarkanbunyiyang dimaksudkekasihnya.
'Tak lama lagi kau pun akan mendengarnya, Melati," sahut Arya kalem. "Yang penting, persiapkanlah dirimu. Sebentar lagi kita akan terlibatdalampertarungan."
Melati     hanya   menganggukkan           kepala menanggapipernyataan kekasihnya.
"Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan," lanjutArya seraya melangkahkan kaki.
Tanpa banyak bicara, Melati dan Sangga Buana mengayunkan kaki.Perkataan Dewa Arak
memang benar. Beberapa ayunan          langkah kemudian, Melati mendengar bunyi riuh rendah yangdidengarDewa Arak.

***
Semakin lama sinar terang benderang itu semakin jelas. Dugaan ketiga orang itu tidak keliru. Sinar terang benderang itu berasal dari dunia luar. Di depan mereka tampak mulut goa terpampang.
Kalau menuruti perasaan hati, Dewa Arak, Melati,        dan      Sangga Buana  ingin    segera menghambur ke sana. Tapi akal sehat melarang mereka melakukan tindakan itu. Yang mereka lakukan malah sebaliknya, mendekati mulut goa yang akan mengantar mereka ke dunia luar itu dengan langkah hati-hati. Tapi, kekhawatiran mereka tidak terbukti. Sampai mereka berada sangat dekat dengan mulut goa, tidak terjadi hal-halyang dikhawatirkan.
"Dugaanmu benar, Kek. Orang-orang yang membawa lari pusaka Pulau Es melalui jalan ini. Mereka tengah terlibat pertarungan dengan orang-orang Pulau Api," ujar Arya sambil menudingkan jaritelunjuknya keluargoa.
Memang dari tempat mereka dapat terlihat jelas pemandangan di luar. Tampak sebuah bangunan besaryang terlihatkunoberdiri megah. Tapi bukan itu yang menarik perhatian mereka. Melainkan pertarungan yang terjadi di depan
bangunan besar mirip istana itu. Pertarungan besar-besaran yang terjadi antara rombongan Raja Monyet Muka Hitam dengan para penghuni Pulau Api.Menarikbukan main.
"Jumlah rombongan Raja Monyet Muka Hitam jauh lebih banyak, Kang," kata Melati, setelah memperhatikan keadaan pertarungan beberapa saat lamanya.
"Benar apa yang kau katakan, Melati," jawab Arya mengangguk 'Tapi meskipun jumlah orang-orang Pulau Api lebih sedikit, kemampuan perorangan mereka lebih unggul. Apalagi, dengan kemampuan mereka bekerja sama. Rasanya, kemenanganakan diraih orang-orang Pulau Api."
Sangga Buana dan Melati mengangguk-angguk mendengar ucapan Arya. Mereka harus mengakui kesimpulan yang diberikan pemuda berambut putih keperakan itu memang benar. Kedudukan orang-orang Pulau Api jauh lebih baik.    Kemenangan    mereka hanya   tinggal menungguwaktu saja.
"Kakang...!Bukankah itu Pemimpin Pulau Api yang telah bertarung denganmu? Siapa tokoh yang menjadi lawannya itu?" celetuk Melati lagi. Gadis berpakaian putih itu menudingkan jari telunjuknya ke kancah pertarungan.Hingga Arya mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Melati.
"Benar, Melati. Dialah Pemimpin Pulau Api. Menurut pendapatku, lawan yang dihadapinya
Raja Iblis Baju Emas! Lihat saja pakaian yang dikenakannya,"sahutArya.
"Kau benar, Kang. Mengapa aku begitu pelupa?Siapa lagitokoh yang tengah menghadapi Pemimpin Pulau Api kalau bukan Raja Iblis Baju Emas. Bukankah demikian berita yang kita dapatkan?" ucap Melati seperti menyesali diri sendiri.
"Pemimpin Pulau Api itu nama sebenarnya Gandamata," celetuk Sangga Buana, tak tahan berdiamdiri..
"Ooo...!"
Dewa Arak dan Melari membulatkan mulut mendengarpemberitahuan Sangga Buana.
"Kalau begitu, yang di sebelah sana pasti Raja Monyet Muka Hitam," kembali Melati membuka suara.
Gadis berpakaian putih itu menunjuk ke sebuah kancah pertarungan lain. Tampak seorang lelaki bertubuh kecil yang berpakaian hitam tengah bertarung menghadapi dua penghuni Pulau Api. Mereka tidak lain Songora dan Bonggol.
"Apakah tidak sebaiknya kita ikut terjun dalam kancah pertarungan, Kang?" usul Melati tiba-tiba.
Dewa Arak mengembangkan senyum lebar. "Sabar, Melati. Kita tunggu saat yang tepat.
Jangan sampai tindakan campur tangan kita
membuat mereka bersatu menghadapi kita. Keadaan akan menjadigawat.Karena itu,saatini biarkan saja mereka bertarung. Setelah jumlah mereka        berkurang,       baru     kita      melakukan penyerangan untuk merampas pusaka-pusaka Pulau Esdaritangan mereka,"uraiDewa Arak.
Sementara itu, pertarungan terusberlangsung sengit Meskipun terdiri dari banyak kelompok pertarungan, tapi masing-masing pertempuran menarik untuk disaksikan. Tapi tentu saja penonton, dalam hal ini Dewa Arak, Sangga Buana, dan Melati lebih menyukai pertarungan yang berlangsung antara tokoh-tokoh tingkat tinggi. Maka, perhatian mereka lebih banyak terpusat pada pertarungan Raja Iblis Baju Emas dan Gandamata, serta Raja Monyet Muka Hitam melawan Songora dan Bonggol. Dan memang, pertarungan tokoh-tokoh itu paling dahsyat dan menarik bila dibandingkan dengan yang lainnya. Jangankah terkena serangan langsung, angin serangan mereka saja, mampu menewaskan pesilatyang kurang kuat tenaga dalamnya. Maka tidak aneh, jika pertarungan tokoh-tokoh tingkat tinggi            itu        terpisah            cukup  jauh     dengan pertarungan pertarungan lainnya.
Berbeda dengan pertarungan tokoh-tokoh itu yang terlihat berimbang, pertarungan antara rombongan Raja Monyet Muka Hitam dan penghuni Pulau Api kelihatan tidak berimbang. Para penghuni Pulau Api mampu mendesak
lawan-lawannya, kendati jumlah mereka kalah banyak. Orang-orang Pulau Api itu hanya berjumlah dua belas orang. Lima di antara mereka anggota tingkatdasar, sedangkan sisanya orang-orang   yang     membantu        Songora            dan Bonggol sewaktu menghadapi Raja Iblis Baju Emas. Perubahan lawan tarung disebabkan oleh terjadinya jalan tembus yang menghubungkan Pulau Apidan Pulau Es.
Seperti juga Pulau Es, Pulau Api mengalami hal yang sama seiring dengan terjadinya jalan tembus itu.Kejadian itu membuat kejar-mengejar antara Raja Iblis Baju Emas dan sembilan lawannya terhenti. Mereka takut Pulau Api akan tenggelam.Maka mereka pun melarikan diri.Dan seperti juga perasaan yang dialami Pulau Api dan Melati,mereka tertarikoleh kekuatan aneh untuk datang ke tempatini.Ketika mereka tiba dimulut goa, dari sana muncul Raja Monyet Muka Hitam dan rombongannya. Pertarungan pun tidak bisa dielakkan lagi.
Semula orang-orang Pulau Api terdesak. Untung Gandamata segera hadir. Keadaan pun langsung berubah.Sekarang para penghuni Pulau Api berhasil mendesak anak buah Raja Monyet Muka Hitam. Meskipun jumlah mereka hanya sepertiga lawan.
Orang-orang Pulau Api memang cerdik bukan main.     Mereka            menggunakan  kerja    sama kelompok untuk menghadapi anak buah Raja
Monyet Muka Hitam. Tak heran jika kancah pertarungan mereka terbagi tiga kelompok.

***
8


Ctarrr! "Akh!"
Lolong kesakitan terdengar ketika seorang anak buah Raja Monyet Muka Hitam terkena cambuk lawan pada pelipisnya. Seketika itu pula tubuhnya terhuyung ke belakang, dan ambruk di tanah, lalu menggelepar-gelepar sejenak sebelum akhirnya diam tidak bergerak. Nyawanya telah melayang meninggalkan raga.
Belum    juga      lenyap  jeritannya,        kembali terdengar lolong kematian lainnya. Juga berasal dari anak buah Raja Monyet Muka Hitam. Pemilik jeritan ini pun tewas. Setelah itu, satu persatu anak buah Raja Monyet Muka Hitam berguguran. Hingga, dengan sendirinya keadaan mereka semakin terdesak.Dengan jumlah mereka yang semakin sedikit kekuatan mereka pun makin berkurang.
Anak buah Raja Monyet Muka Hitam segera sadarkalau lawan terlalu kuatuntuk mereka,dan tidak      ada            harapan            sedikit  pun      untuk memenangkan     pertarungan.   Tapi     meskipun demikian, mereka tidak ingin mati percuma. Mereka ingin mengajak para penghuni Pulau Api matibersama-sama.
Anehnya, keinginan itu timbul secara serentak di benak pengikut Raja Monyet Muka Hitam.
Mungkin karena kedudukan mereka yang sama-sama terjerat. Mereka pun menunggu saat yang tepatuntukmelaksanakan tindakan nekat itu.
"Suiiit...!"
Mendadak, salah seorang anak buah Raja MonyetMuka Hitam mengeluarkan siulan. Tentu saja bukan sembarangan siulan. Di dalamnya terkandung maksud            tertentu            yang     hanya dimengerti rombongan Raja MonyetMuka Hitam. Seketika itu pula, dari tiap-tiap kelompok pertarungan, terdengar siulan balasan bernada sama. Ini memberi arti kalau mereka telah mengertimaksudsipemberisiulan.
Dan semua itu didengar orang-orang Pulau Api. Mereka pun bukan orang bodoh. Siulan itu bukan            keterampilan    mulut   belaka, tapi mengandung maksud tertentu. Sayang, mereka tidak tahu arti siulan itu, yang dapat dilakukan mereka adalah lebih bersikap hati-hati. Bersiap-siapmenghadapi segala kemungkinan.
''Suiiit...!"
Kembali terdengar siulan. Kali ini nadanya berbeda dengan sebelumnya. Cepat, keras, dan singkat!
Dan,kaliiniorang-orang Pulau Apitidakperlu pusing-pusing memikirkannya. Maksud siulan itu langsung dibuktikan. Begitu dari masing masing kelompok        terdengar          siulan.  Mereka segera berlompatanmenjauhiarena pertarungan
Tindakan ini membuat penghuni Pulau Api gugup. Mereka sadar lawan tengah menggunakan sebuah siasat. Dan mereka tidak bisa menebak, siasat apa yang akan dipergunakan. Hingga, orang orang Pulau Api tidak berani bertindak sembrono dengan memburu lawan. Mereka hanya berdiam diri di tempat masing-masing dengan sikapwaspada. Menurut mereka, inilah cara yang palingbaikbila belum mengetahuisiasatlawan.
Karena tidak mendapathambatan dari lawan-lawannya, tanpa menemui kesulitan pengikut Raja Monyet Muka Hitam keluar dari kancah pertarungan. Dan     dengan kecepatan        yang mengagumkan langsung membuat lingkaran besar, mengurung semua lawan mereka. Semua itu dilakukan dengan cepat. Sehingga sebelum anak buah Gandamata sadar, tahu tahu mereka telah terkurung. Dan sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tangan-tangan anak buah Raja MonyetMuka Hitamdikibaskan.
Wut,wut,wut!
Seketika Itu pula, belasan bahkan puluhan benda bulat sebesar telurbebek melayang kearah para penghuni Pulau Api.Sambaran benda-benda bulat ini membuat orang-orang Pulau Api keheranan. Sekejap mereka saling pandang dengan sorot    mata     menyiratkan ketidakmengertian.     Mereka     tidak    mengenal senjata rahasia semacam itu. Sungguh mereka tidak tahu, kalau benda yang tengah meluncur ke
arah mereka jauh lebih berbahaya dari senjata rahasia mana pun.
Karena ketidaktahuan itu, masing-masing kelompok     saling bertukar pandang. Hanya sekejap saja. Tapi meskipun demikian telah didapat sebuah keputusan. Dan keputusan masing-masing kelompok ternyata tidaksama.Ini terbuktibeberapa saatkemudian.
"Hih!"
Kelompokpenghuni Pulau Apiyang berjumlah tiga dan empat orang mengelakkan serangan itu. Sedangkan kelompok yang berjumlah lima orang dan       bersenjatakan   cambuk            langsung memapakinya           dengan        lecutan        senjata andalannya.Dan....
Blarrr!
Ledakan dahsyat dan keras laksana halilintar langsung terdengar ketika benda-benda sebesar telur bebek itu berbenturan, baik dengan tanah maupunujung cambuk!
Akibatnya, sungguh luar biasa! Bongkahan-bongkahan es berpentalan ke sana kemari! Sedangkan lima anak buah Gandamata yang langsung memapaki benda bulat itu, mengalami kejadian yang menggiriskan. Tubuh mereka terjengkang ke belakang seperti diseruduk puluhan kerbau liar!
Tapi justru kejadian itulah yang membuat mereka selamat dari kematian yang mengerikan!
Betapa tidak? Begitu bongkahan-bongkahan es berpencaran dari dalamnya menyembur api. Tidak kepalang tanggung lagi semburannya. Sebab, lubang yang terbentuk pun besar! Yang lebih gila lagi, lubang itu tidak hanya satu tapi banyak!
Kematian seperti itulah yang diterima tujuh orang anak buah Gandamata! Sebagian dari mereka tewas dengan tubuh hangus terbakar. Sedangkan sisanya terjebloskedalamlubang api.
Nasib yang menimpa lima orang penghuni Pu-lau Api yang bercambuk memang tidak sesial re-kan-rekannya. Tapi bukan berarti mereka lepas dari bahaya. Begitu tubuh mereka melayang deras hingga keluar dari kepungan, sebagian lawan-lawan mereka segera memburu dengan senjata di tangan. Dan dalam keadaan tiga perempat mati, akibat ledakan keras itu, lima penghuni Pulau Api ini tidak mampu berbuat banyak! Maka tanpa menemui kesulitan sedikit pun, anak buah Raja Monyet Muka Hitam menyarangkan serangannya.
"Akh...!"
Jeritan singkat dan menyayat keluar dari mulut mereka ketika senjata anak buah Raja Monyet Muka Hitam mendarat di tubuhnya. Bertubi-tubi, dan baru terhenti ketika tubuh mereka sudah tidakberbentuklagj.Tapibaru saja menyelesaikan perbuatannya, terjadi sebuah peristiwa yang mengejutkan anak buah Raja
Monyet Muka Hitam. Tanah yang mereka injak bergetar keras. Dan sebelum mereka bertindak sesuatu, tanah itu amblas! Tanpa bisa dicegah lagi,tubuh mereka amblaskedalamtanah.
Ternyata semua terjadi akibat ledakan benda-benda bulat. Terlalu banyak yang dilepaskan hingga menimbulkan getaran dahsyat. Padahal, tanah di Pulau Api tidak terlalu baik! Banyak bagian-bagian yang berongga! Hasilnya, bukan hanya para penghuni Pulau Api saja yang menjadi korban. Anak buah Raja Monyet Muka Hitam sendiri pun mengalaminya. Mereka tewas karena tanahyang mereka injaktiba-tiba amblas!
Mengerikan        sekali   pemandangan  yang terpampang! Di tengah-tengah hamparan es tercipta danau api! Sulit untuk dipercaya! Tapi, tentu saja api-api itu tidak lagi menyembur ke atas. Lubang yang terbentuk itu ternyata tidak kecil, tapi sudah sebesardanau!

***
Kejadian demi kejadian yang terlalu dahsyat dan bertubi-tubi itu membuat semua yang berada di situ sangat terkejut. Bukan hanya Dewa Arak, Melati, dan Sangga Buana saja. Raja Iblis Baju Emas, Raja Monyet Muka Hitam, Gandamata, Songora, serta Bonggol pun demikian pula. Untung saja, tempat pertarungan tokoh-tokoh itu terpisah cukup jauh. Sehingga, tempat mereka
bertarung tidak termasuk bagian pulau yang amblas!
Meskipun           demikian,         karena  terlalu dahsyatnya peristiwa yang terjadi, tanpa sadar Songora dan Bonggol mengalihkan perhatian. Apalagi, ketika mendengar jeritan rekan-rekan mereka di antara hiruk-pikuk itu. Kesempatan yang hanya sejenak itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Raja Monyet Muka Hitam. Secepat kilattangannya dihentakkan!
Wusss!Desss! "Aaakh...!"
Jeritan menyayat keluar dari mulut Songora ketika pukulan jarak jauh Raja Monyet Muka Hitam telak dan keras menghantam dadanya. Seketika itu pula, tubuh tokoh Pulau Api itu melayang deras ke belakang disertai jeritan menyayat. Dari hidung dan mulutnya mengalir darah segar! Nyawanya melayang ke alam baka saatitu juga.
"Songora...!"
Bonggol menjerit kaget melihat kejadian yang menimpa rekannya. Kemarahan yang sangat melanda hatinya. Diterjangnya Raja Monyet MukaHitam.
Wungngng!
Golok besarnya dibolang-balingkan di depan dada. Dan tetap dengan gerakan seperti itu, dia menyerang Raja Monyet Muka Hitam. Bonggol
menyerang         tanpa    mempedulikan keselamatannya. Yang ada di benaknya adalah membinasakan Raja Monyet Muka Hitam. Hal-hal lain tidakdipikirkannya.
"Hm...!"
Raja Monyet Muka Hitam mendengus melihat serangan itu.Tanpa ragu-ragu,dipapakiserangan
Bonggoldengan tombakpendeknya. Trangngng!
Bunga api berpercikan ke sana kemari ketika dua senjata itu berbenturan keras.Tubuh Bonggol terhuyung-huyung ke belakang. Sedangkan Raja Monyet Muka Hitam yang memang memiliki tenaga dalam jauh lebih kuat, tidak mengalami kejadian     apa       pun.     Tergetar           pun      tidak. Kesempatan di saat Bonggol terhuyung-huyung segera dimanfaatkan tokoh sesat itu. Tangan kirinya dihentakkan.
Wusss!
Serangan susulan itu terjadi sangat cepat dan tidak disangka-sangka. Bonggol, yang tengah dilanda perasaan kalap menjadigugup.Sebisanya dicoba          untuk   menyelamatkan           selembar nyawanya.Tapi....
Desss!
"Aaakh...!"
Diiringi jeritan menyayat tubuh Bonggol melayang deras ke belakang. Darah segar keluar
dari mulut, hidung, dan telinganya. Nyawa tokoh Pulau Apiitu pun melayang.
Dan kejadian itu tak luput dari pandangan Gandamata. Betapa geram hati kakek itu. Dengan tewasnya Bonggol, berarti dia tidak mempunyai anak buah lagi. Akibatnya, Raja Iblis Baju Emas menjadi sasaran kemarahannya. Serangan-serangan yang dilancarkan terhadap kakekberpakaian kuning itu semakin dahsyat.
"Hih!"
Raja Iblis Baju Emas menggertakkan gigi untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya sampai ke puncak. Sejak tadi kakek itu memang sudah terdesak. Dalam meringankan tubuh maupun tenaga dalam Gandamata ternyata lebih unggul darinya. Hanya berkat kecerdikannya saja, hingga pertarungan berlangsung seratus jurusdiabelumdapatdirobohkan.
Sementara itu, begitu berhasil menyelesaikan pertarungan Raja Monyet Muka Hitam bergegas melesat pergi dari situ. Tapi baru beberapa kali lesatan dia berlari.Mendadak....
"Raja MonyetMuka Hitam! Tunggu!"
Cegahan keras yang mengandung pengerahan tenaga dalamtinggi, memaksa Raja MonyetMuka Hitam menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Dalam jarak tiga tombak tampak berdiri Dewa        Arak    Raja            Monyet            Muka   Hitam mengerutkan sepasang alisnya. Dirayapinya
sekujur tubuh Dewa Arak beberapa saat. Kemudian,kepalanya mengangguk-angguk.
"Tidak salahkah mataku? Bukankah aku tengah berhadapan dengan tokoh sombong yang berjuluk Dewa Arak?!" ada nada ejekan sinis dalamucapan Raja MonyetMukaHitam.
'Tidaksalah!"jawab Dewa Araktegas. "Akulah tokohyang kau maksudkan!"
"Hm...!   Apa      maksudmu       mencegah kepergianku, Dewa Arak?!" tampak jelas Raja Monyet      Muka            Hitam   memandang     rendah lawannya.
"Tidakusah berpura-pura,Raja Monyet!Cepat serahkan pusaka-pusaka Pulau Esyang telah kau curi! Percayalah, aku tidak akan memperpanjang urusan bila kau bersedia mengembalikannya," ujar   Dewa   Arak    tenang, berusaha            tidak terpengaruh dengan sikapyang ditunjukkan calon lawannya.
"Ha ha ha...!Enaksaja kau bicara, Dewa Arak Apa hakmu meminta pusaka yang kudapatkan dengan kepandaian yang kumiliki, hehhh...?! Jangan kau pikiraku takutpadamu!"tandasRaja Monyet Muka Hitamdengan suara yang bergetar marah. Datuk kaum sesaat itu murka melihat sikap Dewa Arak yang kelihatan meremehkan dirinya.
"Aku tidak mengatakan kau takut padaku, Raja      Monyet!      Aku      hanya      minta      kau
mengembatkan pusaka Pulau Es yang kau curi! Kau tidak berhak membawanya pergi!" tegas Dewa Arak mantap.
"Ooo...! Jadi..., menurutmu siapa yang berhak membawanya? Kau?!" ejak Raja Monyet Muka Hitam.
"Benar," jawab Dewa Arak singkat penuh kesungguhan. "Karena aku adalah keturunan terakhirpemilikPulau Es!"
"Keparat! Jangan harap kau dapat menipuku, Dewa Arak! Kalau kau memang pemiliknya, kau boleh mengambilnya dariku! Tentu saja dengan kepandaian. Karena aku pun mendapatkannya dengan kepandaian yang kumiliki!" tantang Raja MonyetMuka Hitam.
"Kalau itu yang kau inginkan, apa boleh buat, Raja Monyet! Dengan senang hari kuterima tantanganmu!" sambut Dewa Arak tanpa merasa gentarsedikitpun.
"Kalau begitu bersiaplah kau, Dewa Arak! Hiyaaa...!"
Didahului           teriakan            nyaring            yang menggetarkan isidada, Raja MonyetMuka Hitam melompat menerjang Dewa Arak. Sadar kalau lawan       yang       dihadapinya      bukan       tokoh sembarangan, tokoh sesat itu menggunakan senjataandalannya.
Wuk,wuk,wuk!
Tombak pendek hitam mengkilat itu dibolang-balingkan di depan dada. Cepat bukan main, hingga bentuknya lenyap.Mendadak...
"Hih!" Wuttt!
Dengan kecepatan gerak seorang tokoh tingkat tinggi, Raja Monyet Muka Hitam menusukkan tombaknya ke arah perut Dewa Arak. Bunyi menderu keras mengiringi tibanya serangan itu. Melihat kenyataan itu, Dewa Arak tidak berani bertindak ceroboh. Buru-buru tubuhnya dilempar ke belakang. Dan di saat tubuhnya berada di udara, guci yang            tersampir          di         punggung diambilnya dan dituangkan ke mulut.
Gluk....Gluk....Gluk...!
Terdengar bunyi tegukan ketika arak itu melewati         tenggorokan     Dewa   Arak.   Sesaat kemudian, ada hawa hangat merayap di dalam perutnya. Perlahan-lahan hawa itu merambat ke atas.
Jliggg!
Laksana daun kering, kedua kaki Dewa Arak ringan mendarat di tanah. Tapi, kedudukannya tidak mantap. Kedua kaki pemuda berambut putih keperakan itu tidak berdiri tegak di tanah. Tubuhnya oleng ke sana kemari. Pertanda ilmu 'Belalang Sakti'nya siapdipergunakan.
"Inikah ilmu 'Belalang Sakti' yang terkenal itu?" tanya Raja Monyet Muka Hitam mengejek.
"Ingin kubuktikan sendiri sampai di mana keampuhannya!"
Usai berkata demikian, Raja Monyet Muka Hitam melancarkan serangan. Dewa Arak pun menyambutnya dengan hangat. Pertarungan tak dapat dielakkan lagi. Raja Monyet Muka Hitam mengamuk. Tombak di tangannya berkelebatan kian kemari, mengincar berbagai bagian tubuh Dewa Arak. Terutama bagian-bagian yang berbahaya. Tetapi semua dapat diatasi Dewa Arak. Dengan keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti' dan jurus 'Delapan Langkah Belalang', bukan hal yang sulit baginya untuk mengelakkan semua serangan itu.
Tidak hanya sampai di situ tindakan pemuda berambut putih    keperakan        itu.       Serangan-serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya dilancarkanpula.
Tak pelak lagi, pertarungan sengit dan menarikpun terjadi.
"Hih!"

Raja MonyetMuka Hitam menggertakkan gigi karena geram dan heran. Selama ini dirinya hanya mendengar keunikan ilmu 'Belalang Sakti'. Baru kali ini dia berkesempatan mencobanya. Memang harus diakui kalau berita yang didengarnya itu benar adanya! Ilmu 'Belalang Sakti' benar-benar ilmu yang unik. Tak masuk akal, tapi benar-benar ampuh! Betapa tidak?
Dengan mata kepala sendiri, Raja Monyet Muka Hitam melihat serangan yang dilancarkannya disambut oleh Dewa Arak dengan tubuhnya.Tapi anehnya, justru dengan cara itu serangannya berhasildielakkan.

Bukan hanya itu saja hal-hal aneh yang disaksikannya. Tak      jarang   Dewa   Arak menengguk minumannya di saat dia tengah melancarkan serangan. Pemuda berambut putih keperakan     itu seperti tidak mempedulikan serangan lawan.
Meskipun demikian tidak berarti Raja Monyet Muka Hitam menjadi gentar. Sama sekali tidak! Bahkan, semua itu menambah semangatnya untuk segera merobohkan lawan. Kedahsyatan serangan-serangan Raja Monyet Muka Hitam semakin meningkat.
Jurus demi jurus berlalu cepat. Tak terasa seratus jurus telah berlalu. Dan Raja Monyet Muka Hitam berada di pihak yang terdesak. Datuk sesat yang mirip kera itu hanya dapat bermain mundur.
Serangan-serangannya yang semula bertubi-tubi dan susul-menyusul laksana gelombang laut, kini jauh berkurang. Sekarang dia lebih banyak mengelak. Robohnya Raja Monyet Muka Hitam hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan itu diketahui secara pasti oleh Raja Monyet Muka Hitam!
"Haaat...!"
Pada jurus ke seratus tiga puluh dua, Raja MonyetMuka Hitambertindaknekat. Tahu kalau dirinya tidak mungkin bisa menang, maka diputuskannya untuk mengadu nyawa. Dia tidak ingin mati sendirian. Tokoh sesat itu ingin membawa Dewa Arak ikut serta ke alam baka. Karena itu diputuskan untuk melancarkan serangan balasan, tidak hanya mengelak seperti sebelumnya.
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi, Raja Monyet Muka Hitam menusukkan tombaknya ke perut Dewa Arak Tapi, Dewa Arak tetap bersikap tenang.     Ditunggunya    hingga  serangan          itu semakin dekat. Kemudian dengan kecekatan dan kepandaian           seorang     tokoh     tingkat       tinggi, tubuhnya didoyongkan ke kanan. Dan tangan kirinya agak sedikit diangkat. Serangan Raja Monyet Muka Hitam pun lewat di sisi kiri dadanya. Saat itulah Dewa Arak melakukan siasat, yang sejak tadi sudah diperhitungkan masak-masak.
Kreppp!
Batang tombak Raja Monyet Muka Hitam terjepit di ketiak Dewa Arak. Hingga datuk sesat mirip kera itu kelabakan. Buru-buru ditariknya kembali tombak itu untuk membebaskannya. Tapi Dewa Arak tidak membiarkan hal itu. Tenaganya dikerahkan       untuk   menahan.
Akibatnya          terjadi adu tenaga! Yang          satu mengambil,           sedangkan       yang           lain mempertahankan. Inilah yang ditunggu-tunggu Dewa Arak. Guci yang tergenggam di tangan kanannya diayunkan ke arah dada Raja Monyet Muka Hitam. Cepat dan tidak disangka-sangka. Meskipun demikian, Raja Monyet Muka Hitam masih mencobauntukmengelak.Namun...
Blakkk!
Telak dan sangat keras guci Dewa Arak menghantam sasaran. Seketika itu pula, tubuh Raja Monyet Muka Hitam terjengkang ke belakang.         Bunyi   berderak          tulang-tulang berpatahan mengiringi muncratnya darah dari mulut, hidung, dan telinga Raja Monyet Muka Hitam.
Brukkk!
Setelah terhuyung-huyung beberapa tombak jauhnya. Raja Monyet Muka Hitam ambruk di tanah. Tokoh itu menggelepar-gelepar.Kemudian, diamtidakbergerak.Mati.
Baru saja Dewa Arak bermaksud melepaskan tombak yang masih terselip di ketiaknya, terdengar dua jeritan menyayat. Saat itu juga pandangannya dialihkan ke arah asal suara. Tubuh Gandamata dan Raja MonyetMuka Hitam ambruk di tanah. Tewas. Kepala Gandamata remuk. Sedangkan Raja Iblis Baju Emas tewas dengan sebuah pisau menghunjamjantung.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas lega, setelah berhasil menemukan pusaka-pusaka Pulau Es dari buntalan Raja Monyet Muka Hitam. Lalu perhatian dialihkan pada Sangga Buana dan Melati. Kedua orang itu tampak berlari-lari menghampiri.
"Bagaimana mereka bisa matibersama-sama?" tanya Arya ketika kedua orang itu telah dekat dengannya.            Tidak   dijelaskan        pada     siapa pertanyaan itu ditujukan.
"Kami tidak mengetahuinya, Kang. Sebab, kami lebih memperhatikan pertarunganmu," jawab Melati.
Sangga Buana hanya mengangguk-anggukkan kepala membenarkan ucapan Melati.
"Kalau begitu, mari kita cari Abimanyu dan rombongan Patih Juminta. Mudah-mudahan mereka berada di sini," ajak Dewa Arak mengalihkan persoalan.

Tanpa membantah sedikit pun,Sangga Buana dan Melati melangkah mengikuti Dewa Arak yang telah mengayunkan kaki lebih dulu. Arah yang ditujunya bangunan besar yang sebenarnya Istana Api. Ternyata tidak sulit menemukan mereka. Di halaman depan istana yang luas tampak terjajar Patih Juminta, Abimanyu dan rombongan pasukan Kerajaan Bojong Gading. Mereka terikatdisebuah tonggakbesi.
"Gusti, Ayu Melati...!" seru Patih Juminta ketika melihatMelatimenghampirinya.
"Paman...!"         seru      Melari. Gadis   itu menghambur ke tempat rombongan Kerajaan Bojong Gadingyang tengah tertawan.
Dewa Arak dan Sangga Buana hanya tersenyum melihat semua itu. Akhirnya semua berakhir seperti yang diharapkan       mereka. Pusaka-pusaka Pulau Es dapat mereka rebut kembali.     Dan            Melati  dapat            menemukan Abimanyu,     Patih          Juminta            serta     pasukan Kerajaan Bojong Gading.


SELESAI


No comments:

Post a Comment