GEGER
PULAU ES
Oleh Aji Saka
1
Trang, trang, tring!
Dentang nyaring senjata beradu
yang diiringi percikan bunga-bunga api ke udara, menambah tidak nyaman suasana
persada. Memang, saat itu musim kemarau tengah melanda bumi. Matahari tepat
berada di atas kepala, dan menyorotkan sinarnya dengan garang. Panasnya tak
terkira lagi.
Dalam suasana demikian,
pertarungan itu berlangsung. Yang lebih gila lagi, pertarungan itu terjadi di
hamparan tanah lapang luas. Sejauh mata memandang tidak terlihat pe-pohonan,
yang ada hanya rerumputan. Itu pun pendek pendek dan berwarna kuning
kecoklatan, terpanggang slnar matahari!
Tidak adanya pohon-pohon
menyebabkan sengatan garang sinar matahari langsung me-nerpa tubuh orang-orang
yang tengah bertarung. Tapi semua itu tidak dipedulikan mereka. Bahkan, sinar
garang sang Surya semakin menambah semangat bertarung mereka. Suasana riuh rendah pun melingkupi sekitar tempat
itu.
Pertarungan itu terjadi antara
dua kelompok yang memiliki perbedaan yang menyolok.
Kelompok yang satu adalah sepasukan tentara kerajaan. Ini bisa dilihat dari pakaian
yang dikenakan. Sedangkan lawan mereka se-kelompok
orang yang memiliki tindak-tanduk kasar. Pakaian yang dikenakan pun beraneka
ragam.
Rupanya, pertarungan itu sudah
berlangsung cukup lama. Wajah-wajah orang yang terlibat pertarungan telah
dibasahi cucuran peluh. Napas yang keluar dari hidung dan mulut mereka pun
terdengar memburu.
Mendadak... Crattt! “Akh!”
Salah seorang anggota pasukan
kerajaan menjerit kesakitan ketika senjata lawan mem-beset pinggangnya.
Prajurit sial itu pun men-dekapkan tangannya ke bagian tubuh yang terluka.
“Permana. .!”
Hampir serempak rekan-rekan
prajurit itu menjerit kaget. Tapi hanya sampai di situ saja. Tidak ada tindakan
pertolongan. Keadaan mereka sendiri pun tidak berbeda jauh dengan Permana.
Pasukan prajurit kerajaan rupanya tengah terdesak.
Itu tidak aneh, karena jumlah
lawan terlalu banyak untuk mereka. Satu orang prajurit harus menghadapi tiga orang lawan. Sedangkan
tingkat kepandaian mereka hanya sedikit di atas lawan-lawannya. Akibatnya,
pasukan prajurit itu kewalahan. Hingga mereka tak bisa mem-bantu Permana.
Permana, prajurit bertubuh pendek
kekar,
harus berjuang keras untuk
menyelamatkan selembar nyawanya. Tubuhnya bergerak ke sana kemari meng-hindari
bahaya maut yang datang dari sambaran senjata lawan. Untuk beberapa saat
lamanya Permana masih berhasil meng-hindar. Tapi sampai kapan dia dapat
bertahan? Begitu pun dengan rekan-rekannya. Hanya saja keadaan mereka sedikit lebih baik dari
Permana.
Di saat yang amat gawat itu,
tiba-tiba ber-kelebat dua sosok bayangan yang langsung memasuki kancah
pertarungan. Cepat bukan main gerakannya.
Betapa tidak? Dua sosok bayangan
ungu dan putih itu mampu menyelinap di antara
kelebatan senjata orang-orang yang tengah bertarung. Kalau saja tidak mempunyai
ilmu meringankan tubuh tinggi, tindakan dua sosok bayangan itu hanya akan mengakibatkan
bahaya! Tubuh mereka akan terkena sabetan senjata-senjata yang tengah
berkelebatan cepat.
Namun, kenyataannya berbeda jauh.
Kedua-nya berhasil mendarat di tengah-tengah kancah per-tarungan. Sosok
bayangan putih melesat ke arah Permana yang berada dalam bahaya. Laki-laki
pendek kekar itu tengah terpojok oleh keroyokan senjata tiga orang lawannya.
Plak, plak, plakkk!
Bunyi berdetak keras terdengar ketika
senjata-senjata itu berbenturan dengan se-pasang tangan sosok bayangan putih!
Sosok bayangan putih itu menangkis semua serangan
dengan tangan telanjang. Dapat
diperkirakan, betapa besar kekuatan tenaga dalam yang ter-salur pada kedua
tangannya.
Akibatnya, tubuh ketiga orang
kasar itu ter-huyung huyung ke belakang dengan tangan terasa sakit. Hal yang
sama pun menimpa teman-teman mereka yang menghadapi sosok bayangan ungu.
Melihat kenyataan itu, orang-orang kasar lainnya segera meninggalkan lawan-lawannya. Kemudian, mereka
berkumpul menjadi satu.
“Siapa kalian? Mengapa mencampuri
urusan kami?!” bentak salah seorang dari gerombolan orang kasar yang berjumlah
enam belas orang.
Orang itu bertubuh tinggi kurus
dan ber-kepala botak. Menilik sikapnya dia adalah sang Pemimpin. Golok besar
yang tergenggam di tangannya diacung-acungkan. Wajah orang itu menggambarkan
rasa penasaran. Betapa tidak? Kalau saja tidak ada campur tangan sosok bayangan
putih, tentu saat ini dia telah berhasil memenggal kepala Permana.
Sepasang matanya yang besar dan
buiat seperti jengkol, merayapi sekujur tubuh sosok bayang ungu yang tampak
telah berdiri ber-sebelahan. Sementara kedua sosok itu berdiri tenang,
membelakangi pasukan kerajaan yang telah berkumpul mengobati luka-luka mereka.
“Hi hi hi...!”
Sosok bayangan putih yang
ternyata seorang gadis jelita, berpakaian putih dan berambut panjang, tertawa
mengikik. Nadanya meremeh-
kan lawan.
“Orang seperti kalian ingin
mengetahui siapa kami?! Hi hi hi...! Lucu sekali!”
Wajah laki-laki berkepala botak
langsung merah padam. Amarahnya naik ke ubun-ubun! Kemarahan akibat campur
tangan gadis ber-pakaian putih itu saja belum lenyap, eh... kini ditambah
dengan hinaan itu. Siapa yang tidak kalap?
“Keparat! Mulutmu terlalu kurang
ajar, Wanita Sundal! Kau akan menerima balasan-nya. Kau akan kami telanjangi
dan akan kami perkosa ramai-ramai sampai mati! Serbu...!”
Usai berkata demikian, laki-laki
berkepala botak memberi aba-aba pada kawan-kawannya untuk menyerang.
Disadarinya kalau kedua lawannya bukan orang sembarangan. Telah dirasakan
sendiri kelihaian gadis berpakaian putih. Sedangkan kawan gadis itu, pemuda
ber-pakaian ungu, meskipun belum dirasakan sendiri kelihaiannya, tapi bisa
diperkirakan. Hingga dirinya tidak berani bertindak gegabah, dan langsung memerintahkan penyerangan bersama-sama.
Seketika itu pula, beraneka ragam
dan ber-bagai bentuk senjata meluncur ke arah sepasang muda-mudi yang berwajah
elok itu. Bunyi ber-cericitan mengiringi meluncurnya senjata-senjata itu.
Tapi, sepasang muda-mudi itu
tidak menjadi gugup. Apalagi gadis berpakaian putih! Bukan-nya gugup atau
gentar, dia malah murka bukan
main. Ucapan pemimpin orang-orang
kasar itu telah menyinggung harga dirinya. Dari mulut gadis itu keluar lengking
kemarahan. Dengan amarah berkobar-kobar, disambutnya serbuan lawan-lawannya.
Tindakan sepasang muda-mudi itu
memang patut diacungi jempol. Meskipun belasan lawan menyerbu dengan
menggunakan senjata yang beraneka ragam bentuk dan jenisnya, mereka tetap tidak
mengeluarkan senjata. Serbuan itu disambut mereka dengan tangan kosong.
Hebat! Tindakan yang diambil
sepasang muda-mudi itu bukan didorong oleh ke-sombongan,
tapi karena memang memiliki kemampuan. Lincah laksana kera dan gesit laksana
bayangan, tubuh mereka berkelebat di antara kelebatan senjata-senjata lawan.
Hasil-nya, tidak satu pun serangan lawan yang mengenai sasaran.
Sebaliknya, setiap kali tangan
atau kaki gadis berpakaian putih dan pemuda berpakaian ungu bergerak, dapat
dipastikan ada sosok tubuh yang terlempar keluar dari kancah pertarungan dengan
diiringi jerit kesakitan.
Dan serbuan belasan orang kasar
itu laksana sekumpulan laron menerjang api. Mereka roboh sebelum berhasil
melaksanakan maksudnya. Jeritan kesakitan terdengar susul-menyusul mengiringi
berpentalannya tubuh orang-orang kasar itu.
Dalam waktu singkat hampir tidak
ada lagi rombongan orang kasar yang berdiri tegak.
Semua bergeletakan di tanah, tak
mampu melanjutkan pertarungan. Tapi, tak ada seorang pun di antara mereka yang
tewas. Kini yang masih berdiri tegak hanya lelaki berkepala botak. Hal itu
memang disengaja.
“Menyingkirlah, Kakang. Biar aku
yang mem-bereskannya. Orang yang mempunyai mulut dan pikiran kotor seperti dia
tidak pantas dibiarkan hldup,” kata gadis berpakaian putih pada rekan-nya yang
berpakaian ungu.
Tanpa berkata apa pun, pemuda
berpakaian ungu yang berambut panjang dan berwarna keperakan itu melangkah
mundur. Pemuda itu ingin memberi kesempatan pada kawannya untuk melaksanakan
maksudnya.
Pemuda berambut putih keperakan
itu tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksi-kannya. Dengan sorot mata
penuh kemarahan, gadis berpakaian putih menghampiri pemimpin rombongan orang
kasar.
Laki-laki berkepala botak itu
menyadari bahaya yang mengancam. Tapi apa yang dapat dilakukannya? Lari? Tidak
mungkin! Gadis ber-pakaian putih itu tak akan membiarkannya. Akhirnya dia
bertindak nekat!
“Haaat..!”
Diiringi teriakan menggeledek,
golok besar diputar di depan dada. Kemudian, sambil me-mutar senjata lelaki berkepala botak itu
melompat menerjang lawan.
Wuk wuk wuk...! “Hmh!”
Gadis berpakaian putih mendengus,
melihat serangan yang menyambar ke arah dada. Ditunggunya hingga serangan golok
lawan menyambar dekat Lalu tangannya digerakkan. Cepat bukan main.
Tahu-tahu....
Tappp!
Mata golok laki-laki berkepala
botak berhasil dicekal tangan kanan gadis itu. Sebelum pemimpin gerombolan itu sempat berbuat sesuatu, gadis berpakaian putih
membalikkan ujung golok ke arah lawan, lalu menyorong-kannya.
Cappp! “Aaakh...!”
Laki-laki berkepala botak
menjerit ngeri ketika goloknya menembus perut hingga ke punggung. Seketika itu
pula sepasang matanya membelalak lebar. Darah muncrat dari luka di perutnya.
Tindakan gadis berpakaian putih
tidak hanya sampai di situ, kakinya melayang ke arah dada.
Bukkk!
Telak dan keras tendangan itu
mendarat di sasarannya, hingga menimbulkan bunyi
gemeretak. Sesaat kemudian, tubuh laki-laki berkepala botak terdorong ke
belakang beberapa tombak. Dan jatuh terbanting ke tanah. Saat itu juga nyawanya
melayang ke alam baka!
“Hhh...!”
Gadis berpakaian putih meghela
napas lega.
***
“Ah! Kiranya Gusti Ayu dan Raden...! Sungguh suatu
kebetulan,” kata Permana gembira seraya mengayunkan langkah
meng-hampiri.
Gadis berpakaian putih dan pemuda
berambut putih keperakan membalikkan tubuh sambil tersenyum lebar.
“Mengapa Paman semua berada di
tempat ini dan terlibat pertarungan dengan mereka? Dan apa maksud ucapan Paman
tadi?” tanya gadis berpakaian putih tenang.
Dari sikap dan nada bicaranya
agaknya gadis itu mengenal pasukan kerajaan itu.
“Kami berada di sini untuk
memenuhi perintah Yang Mulia Prabu Nalanda, Gusti Ayu Melati,” beritahu seorang
prajurit yang ber-cambang bauk lebat
“Perintah Ayahanda Prabu?!” ulang
gadis berpakaian putih yang ternyata Melati. “Apakah perintah itu, Paman?”
“Gusti Prabu memerintahkan kami
untuk mencarimu, Gusti Ayu. Bahkan kalau dapat sekaligus dengan Raden Arya. Ada
masalah penting yang melanda Kerajaan Bojong Gading.” Kali ini Permana yang
memberikan jawaban. (Untuk mengetahui lebih jelas hubungan Melati, Arya, dan
Kerajaan Bojong Gading, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode: 'Banjir
Darah di Bojong Gading.')
Melati menoleh ke arah pemuda
berpakaian ungu yang sejak tadi berdiam diri.
“Bagaimana, Kakang?” tanya Melati
pada pemuda berpakaian ungu yang tidak lain Arya dan lebih dikenal dengan
julukan Dewa Arak.
“Karena kita tidak mempunyai
keperluan lain, maka tidak ada salahnya kita patuhi perintah Prabu Nalanda,
Melati. Kalau tidak ada masalah penting, Gusti Prabu tidak akan bersusah-payah
menyuruh orang untuk mencari kita,” jawab Arya.
“Kau benar, Kakang,” Melati
mengangguk-angguk menyetujui ucapan kekasihnya.
Kemudian, perhatiannya kembali dialihkan ke arah para prajurit vang ternyata
berasal dari Kerajaan Bojong Gading.
“Apa masalah penting yang melanda
Kerajaan Bojong Gading, Paman?” tanya Melati mencoba mencari tahu.
Bukannya menjawab pertanyaan itu, Permana malah memasukkan tangannya
ke balik baju. Dan ketika dikeluarkan, tangannya menggenggam segulungan surat.
Dengan penuh hormat diberikannya surat itu pada Melati. Gadis berpakaian putih
itu segera membuka dan membacanya.
***
Melati, putriku....
Bersama surat ini, kuberitahukan
padamu bahwa Patih Juminta telah pergi bersama beberapa orang pasukan khusus
Kerajaan Bojong Gading. Beliau menyusul putranya yang pergi ke Pulau Es. Karena
perjalanan menuju Pulau Es tidak
mudah, aku mengkhawatirkan keselamatan mereka. Oleh karena itu, kutitahkan
padamu untuk menyusul mereka. Kalau bisa tentu saja bersama Dewa Arak. Pergilah
Melati. Dan bawa pulang Patih Juminta beserta putranya.
Ayahmu, Prabu Nalanda
Raja Kerajaan Bojong Gading.
“Hhh...!” Melati menghela napas berat.
Perlahan-lahan digulungnya kembali surat itu.
“Sampaikan pada Ayahanda Prabu
bahwa kami telah mengetahui perintahnya dan akan melaksana kannya. Sampaikan
pula salam hormat kami padanya,” ucap Melati penuh wibawa.
“Baik, Gusti Ayu. Semua
perintahmu akan kami sampaikan,” jawab Permana sambil mem-beri hormat Demikian
pula anggota pasukan lainnya. Permana lalu mengalihkan perhatian ke arah
pasukannya.
Tapi baru beberapa tindak Permana
dan pasukannya meninggalkan tempat itu, Melati memanggil mereka. Seketika itu
pula langkah pasukan itu terhenti.
“Apa yang dapat kami bantu, Gusti
Ayu?” tanya Permana penuh hormat.
“Hanya sebuah jawaban. Tadi aku
telah mengajukan pertanyaan. Tapi kalian belum menjawabnya. Mengapa kalian bentrok
dengan rombongan penjahat kasar itu?!” tanya Melati
sambil menudingkan jari
telunjuknya pada sosok-sosok tubuh kasar yang tergolek di tanah.
“O ya, hampir kami lupa.
Orang-orang itu hendak membalas dendam atas kematian sahabat-sahabat mereka di tangan
pasukan Kerajaan Bojong Gading dan Gusti Ayu,” jawab Permana.
“Hehhh? Aku?!” tanya Melati
setengah tak percaya.
“Benar, Gusti Ayu. Ingatkah Gusti
Ayu akan perampok-perampok di Hutan Buaran?!”
“Ya. Aku ingat. Jadi mereka anggota kelompok itu yang berhasil meloloskan
diri?” (untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode: 'Kelelawar
Beracun.')
“Bukan, Gusti Ayu. Tapi kenalan
dan sahabat mereka. Karena tahu tidak mungkin bisa mem-balas pada Gusti Ayu,
maka mereka melampias-kannya pada pasukan Kerajaan Bojong Gading. Mungkin
mereka telah lama mengetahui kami. Hanya baru berani bertindak di tempat ini.”
“O, begitu? Baiklah. Kalian boleh
pergi.” “Hamba mohon pamit, Gusti Ayu.”
“Ya,” jawab Melati singkat.
Permana dan pasukannya kembali
melanjut-kan perjalanan.
“Beritahu pada pasukan yang lain
bahwa perintah Gusti Prabu telah kita laksanakan,” perintah Permana.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
prajurit yang bertugas menyampaikan pemberitahuan segera, mengambil busur.
Kemudian dipasang
anak panah. Twang...!
Diiringi bunyi cukup keras, anak
panah itu melesat ke angkasa. Setibanya di atas, entah dengan cara bagaimana,
timbul percikan bunga api berwarna-warni.
Pemberitahuan itu tidak hanya
dilakukan satu kali. Sambil tetap melangkah meninggal-kan tempat itu, pelepasan
anak panah terus dilakukan. Dan baru berhenti ketika anak anak panah telah
habis. Sementara itu, Melati dan Arya terus memandangi hingga pasukan prajurit
Kerajaan Bojong Gading lenyap di kejauhan.
“Apa yang terjadi, Melati?” tanya
Arya kemudian.
Tanpa berkata sepatah pun Melati
meng-angsurkan gulungan surat yang masih di-pegangnya. Arya menerima, lalu
membacanya. Hanya sebentar saja. Sesaat kemudian surat itu digulungnya kembali.
'Pulau Es...?!” ucap Arya dengan
dahi ber-kernyit dalam. “Kau tahu di mana letaknya, Melati?”
“Hhh...!” Melati menghembuskan
napas berat lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan itu. “Tahu secara pasti,
tidak. Tapi aku mempunyai dugaan di mana Pulau Es itu berada.”
“Dari mana kau mengetahuinya,
Melati?” kejar Arya. “Kalau aku, jangankan tahu
tempatnya... dengar namanya saja baru kali ini.”
“Aku mengetahuinya dari almarhum
guruku, Kakang,” ucap Melati dengan nada sedih.
Perkataan itu mengingatkannya
kembali pada kematian gurunya yang mengenaskan, di tangan seorang tokoh sesat
yang mengiriskan. (Untuk jelasnya silakan baca serial dewa Arak dalam episode:
'Dendam Tokoh Buangan.')
“Maksudmu..., Ki Julaga?” ulang
Arya. Melati menganggukkan kepala.
“Benar, Kakang. Dari beliaulah aku
mengetahuinya. Bahkan tidak hanya Pulau Es. Tapi juga Pulau Air dan Pulau Api.
Tempat-tempat itu letaknya tersembunyi dan merupa-kan tempat keramat. Bahkan,
konon ditinggali tokoh-tokoh sakti yang mengasingkan diri,” papar Melati.
“Aaah...!” desah Arya kaget Tidak
disangka-nya akan mendengar cerita itu secara terperinci.
Kedua orang muda itu kemudian
terdiam. Suasana menjadi hening. Masing-masing tenggelam
dalam alun pikirannya. Tetapi
keheningan itu tidak beriangsung lama.
“Kau mengenal putra Patih Juminta
itu, Melati?” tanya pemuda berambut putih ke-perakan membuka pembicaraan.
'Tidak, Kang,” Melati
menggelengkan kepala. “Aku hanya mengenal nama dan ciri-cirinya saja. Itu pun
dari cerita Patih Juminta.
“Jadi kau belum pernah bertemu
dengannya?” tanya Arya memastikan. Kembali Melati meng-gelengkan kepala.
“Lalu, bagaimana kita dapat
menemukan-nya?” sergah Arya tidak yakin.
Melati tercenung sejenak.
“Aku yakin tidak sulit, Kang.
Toh, aku telah mengetahui nama dan ciri-cirinya. Di samping itu, andaikata
bertemu, aku yakin dia akan mengenali kita. Karena kau mempunyai ciri-ciri
khas,” sahut Melati yakin.
“Tidak bisa kubantah akan
kekhasan ciri-ciri yang kumiliki, Melati. Tapi yang menjadi per-tanyaan, apakah
putra Patih Juminta mengenal diriku?” Arya mengemukakan pendapatnya.
“Jangan khawatir, Kang. Patih
Juminta kagum padamu. Dia amat memujamu. Aku yakin dia telah menceritakan semua
tentangmu pada putranya,” lagi-lagi Melati menyambut dengan nada yang mantap.
“Syukurlah kalau begjtu,” Arya
terpaksa mengalah. “Tapi, dari tadi aku belum tahu nama putra Patih Juminta.
Dan anehnya, mengapa kau tidak pernah melihatnya? Ini kan aneh! Atau... dia
tidak tinggal di Istana Kerajaan Bojong Gading?”
“Dia memang tidak tinggal di
Istana Kerajaan Bojong Gading. Dia ditugaskan oleh Ayahanda Prabu untuk menjadi
salah seorang pengawal khusus Adipati Setyaki Di Kadipaten Lawung. O ya, nama putra Patih Juminta adalah Abimanyu.”
“Lalu..., dari mana dia tahu
mengenai Pulau Es, Melati?” kejar Arya.
“Mana kutahu, Kang,” jawab Melati
sambil mengangkat bahu. “Bukankah di surat itu Ayahanda Prabu tidak
memberitahukannya?!”
“Kalau begitu .., mengapa kita
tidak ke Istana
Kerajaan Bojong Gading dulu untuk
mencari keterangan?!”
“Kalau kita ke Istana Kerajaan Bojong
Gading dulu, perjalanan ke Pulau Es akan lebih lama, Kang. Kalau dari tempat
ini, tak lama lagi kita akan sampai di tepi pantai. Nah! Dari situ kita dapat
menuju Pulau Es,” urai Melati.
Arya mengangguk-angguk. Pemuda
berambut putih keperakan itu merasa puas dengan penjelasan kekasihnya. Hingga
tidak memberi sanggahan lagi.
“Bagaimana kalau sekarang juga kita
berangkat ke Pulau Es, Kang? Kau setuju?” usul Melati.
“Tentu saja, Melati!” sambut Arya
cepat “Kalau tidak sekarang, kapan lagi?!”
Sesaat kemudian kedua pendekar
muda yang berwajah elok itu telah melesat meninggalkan tempat itu. Sementara
tubuh orang-orang kasar masih tergolek tak berdaya di atas tanah.
***
2
Sang Surya belum beranjak jauh
dari tempat terbitnya, ketika tiga orang laki-laki bertampang kasar melangkah
bergegas mendekati pantai. Mereka bertubuh tinggi besar dan kekar. Untaian otot
dan urat tubuh ketiganya tampak jelas. Sebab mereka hanya mengenakan rompi
hitam yang tak sampai menutupi dada dan perut. Kelihatan mereka orang-orang yang
menguasai ilmu bela diri. Kesimpulan ini rasanya tidak salah. Ada sebatang
golok besar tergantung di pinggang mereka.
“Menurutmu, perahu mana yang
sebaiknya kita gunakan, Kang Bandita?” tanya salah satu dari mereka yang
berkumis tebal dan hitam sambil terus mengayunkan langkah menjajari langkah dua
rekannya.
“Hm...”
Laki-laki yang bercambang lebat
tanpa kumis atau jenggot dan bernama Bandita menggumam. Sepasang matanya
disipitkan, agar dapat mem-perhatikan lebih jelas jajaran perahu yang terhampar
di tepi pantai.
“Kalau menurutku... yang merah,
Kang. Kelihatannya lebih kuat dan kokoh disbanding-kan perahu yang lain,”
laki-laki satunya lagi, yang berjenggot lebat tanpa kumis atau
cambang mengajukan usul. “Bagaimana, Kang?”
“Kelihatannya pilihanmu tidak
keliru, Reksa,” jawab Bandita memuji. Laki-laki bercambang lebat itu menyetujui
usul rekannya.
Ketiga orang kasar itu segera
mengayunkan langkah tanpa berkata-kata lagi. Tak lama kemudian, hembusan angin
laut yang menyebar-kan bau khas tercium hidung mereka. Mereka pun terus
melangkah. Arah yang mereka tuju sudah jelas. Tempat berjejernya perahu-perahu.
Langkah Bandita dan dua rekannya
baru berhenti ketika telah sampai di dekat jajaran perahu-perahu. Seperti telah
disepakati, ketiga-nya langsung mengedarkan pandangan meng-awasi perahu-perahu
yang ditambatkan di situ.
“Pilihanku tidak salah kan, Kang?
Perahu merah ini jauh lebih kokoh dan kuat daripada perahu lainnya?!” ujar
Reksa dengan bangga.
Ucapan Reksa ditanggapi dengan
cibiran ber-nada ejekan kedua kawannya. Tapi Reksa tidak mempedulikannya.
Dengan sikap tidak peduli, dilangkahkannya kaki menuju tonggak pengikat perahu.
Lelaki itu ingin melepas perahu dari tambatannya. Tapi baru saja Reksa memegang
tali pengikat perahu, terdengar teriakan nyaring dari kejauhan.
“Hey...! Apa yang hendak kalian
lakukan dengan perahuku...?!”
Seketika itu pula gerakan tangan
Reksa berhenti di tengah jalan. Maksudnya diurung-kan. Kemudian pandangannya
dilayangkan ke arah asal suara. Demikian pula kedua orang rekannya.
Terlihat oleh ketiga orang itu,
sesosok tubuh berlari cepat menuju tempat mereka. Sementara di belakang sosok
itu berlari-lari serombongan orang yang rata-rata bertubuh kekar. Tak berapa
lama kemudian, sang pemilik suara telah berada di dekat Bandita dan
kawan-kawannya.
“Siapa kalian? Dan apa yang
hendak kalian lakukan dengan perahuku?” tanya si pemilik suara terengah-engah.
Bandita dan dua rekannya tidak
segera men-jawab pertanyaan itu. Dirayapinya sekujur tubuh si pemilik perahu. Sosok
tubuh itu kekar dan berkulit hitam kecoklatan. Otot dan urat-urat memenuhi
sekujur tubuhnya.
“Kaukah pemilik perahu ini?”
tanya Reksa sedikit kasar.
“Benar,” jawab laki-laki berkulit hitam kecoklatan sambil menganggukkan kepala. “Apa yang
hendak kalian lakukan?”
“Aku hendak mengambil perahumu!”
jawab Reksa kasar. “Lalu kau mau apa?!”
Wajah lelaki pemilik perahu langsung memucat. Dia pun sadar tengah berhadapan dengan orang-orang
yang terbiasa menggunakan kekerasan
untuk mendapatkan apa yang
diinginkan. Tanpa sadar kakinya melangkah ke belakang.
“Ada apa, Gondo?”
Sebuah pertanyaan bernada ingin
tahu mem-buat lelaki pemilik perahu yang bernama Gondo menoleh ke belakang.
Keberaniannya kembali timbul ketika melihat keberadaan kawan-
kawannya.
“Mereka ingin mengambil
perahuku,” jawab Gondo bernada meminta bantuan.
“Apa?!” seru kawan-kawan Gondo
yang ber-jumlah sebelas orang setengah kaget. Betapa tidak? Baru pertama kali
ini ada orang yang ingin merampas perahu mereka. Tentu saja mereka kaget bercampur
heran.
Di saat Gondo tengah terlibat
perbincangan dengan rekan-rekannya, Reksa kembali meng-hampiri tonggak tambatan
perahu. Dengan sikap tenang dilepaskannya ikatan pada tonggak. Sedangkan kedua rekannya telah
bersiap untuk mendorong perahu ke laut
“Hentikan!”
Kali ini Gondo tidak bisa menahan
ke-sabarannya lagi. Sambil mengeluarkan seruan melarang, dia meluruk ke arah
Reksa.
Wuttt!
Tanpa ragu-ragu lagi, Gondo
.segera meng-ayunkan tangannya memukul. Tapi karena dia memang tidak bermaksud melukai Reksa,
pukulan itu ditujukan ke bahu. Gondo hanya ingin menghentikan perbuatan Reksa.
Baik Reksa maupun kedua rekannya sebenarnya mengetahui serangan itu. Tapi
mereka membiar-kannya, seakan-akan tidak mengetahui adanya serangan.
Akibatnya....
Bukkk!
Telak dan keras sekali pukulan
Gondo mendarat di sasaran. Tapi hasilnya benar-benar di luar dugaan Gondo dan
rekan-rekannya. Yang
menjerit-jerit kesakitan ternyata... Gondo! Lelaki pemilik perahu merah itu
mengaduh-aduh kesakitan sambil memegangi tangannya. Tangan itu terasa sakit
bukan main, seakan-akan yang dipukulnya bukan tubuh manusia yang terdiri dari
daging dan tulang, melainkan segundukan baja keras. Dan, orang yang dipukul
enak-enak saja meneruskan kesibukannya.
Melihat kejadian ini, teman-teman
Gondo tidak bisa tinggal diam. Serentak mereka meluruk, menyerbu Reksa dan
kawan-kawan-nya. Mengetahui ketiga orang itu bukan orang sembarangan, tanpa
ragu-ragu lagi mereka mencabut golok yang terselip di pinggang. Gondo tak mau
ketinggalan ikut menyerbu pula meski tangannya masih terasa sakit.
***
Kali ini, Reksa dan dua kawannya
tidak bisa tinggal diam. Apalagi para nelayan telah meng-gunakan senjata. Bukan
tidak mungkin kulit mereka akan sobek bila tetap berdiam diri. Mereka sendiri
mulai merasa jengkel melihat kebandelan nelayan-nelayan itu. Maka dengan geram,
mereka meninggalkan kesibukannya dan mencabut senjata masing-masing.
Srat, srat, srat!
Sinar menyilaukan langsung berkilatan ketika golok-golok besar
ketiga orang itu ter-hunus keluar dari sarungnya.
“Monyet-monyet Dungu tidak tahu
diri!” maki
Bandita geram. “Semula kami tidak
ingin me-nimbulkan korban di antara kalian. Kami sedang tergesa-gesa. Tapi
karena kalian me-maksa, terpaksa kami bertindak. Jangan harap kalian dapat
melihat matahari esok pagi!”
Bandita tidak bisa berkata lebih
banyak, karena serangan Gondo dan kawan-kawannya telah meluruk datang. Dia dan
dua kawannya segera menyambut serangan itu dengan tak kalah cepatnya.
Trang trang trang!
Bunga api berpercikan ke sana
kemari ketika senjata-senjata itu berbenturan. Bandita dan dua rekannya
berhasil mengandaskan semua serangan yang mengancam mereka, Tidak Hanya itu
saja. Begitu serangan lawan berhasil dipatahkan, secepat itu pula dikirimkan
serangan balasan.
Crat crat crat! “Akh akh akh...!”
Serangan balasan yang dikirimkan
Bandita dan dua rekannya terlalu cepat untuk bisa diikuti pandang mata Gondo dan rekan-rekannya. Tiga orang dari mereka
langsung terkapar mandi darah terkena sabetan golok.
Kejadian yang menimpa tiga
rekannya tidak membuat Gondo dan yang lainnya gentar. Bahkan sebaliknya! Mereka
malah tambah ber-semangat melancarkan serangan untuk mem-balas sakit hati
rekan-rekan mereka. Serbuan nelayan-nelayan itu semakin membabi buta.
Tapi semua tindakan mereka
sia-sia. Bandita
dan dua rekannya memiliki ilmu
bela diri yang cukup tinggi. Apalagi mereka telah terbiasa bertarung. Kecepatan
gerak mereka pun berada jauh di atas lawan. Dengan keunggulan-keunggulan itu,
mereka berhasil memusnahkan setiap serbuan lawan. Dan, mengelakkan setiap
serangan yang datang. Sebaliknya, setiap serangan balasan yang dikirimkan selalu
membuahkan hasil. Setiap kali golok di tangan mereka berkelebat, dapat
dipastikan ada lawan yang roboh dengan diiringi jeritan menyayat.
Akhir dari pertarungan itu sudah
bisa ditebak, Gondo dan rekan-rekannya akan roboh di tangan ketiga orang itu.
Apalagi sekarang jumlah mereka telah jauh berkurang. Kini hanya tinggal
sembilan orang. Itu pun keadaan mereka sudah sangat mengkhawatirkan. Tapi
rupanya nasib baik masih menyukai para nelayan yang tidak berdosa. Di saat yang
amat gawat itu, terdengar sebuah bentakan keras menggelegar.
“Hentikan pertempuran...!”
Hebat bukan main pengaruh yang
ditimbul-kan oleh bentakan itu. Semua orang yang terlibat dalam pertarungan
langsung menahan diri dan melompat mundur. Bandita dan rekan-rekannya saling
berpandangan. Tampak jelas sorot keheranan dalam pandangan mata mereka. Betapa
tidak? Mereka tidak habis mengerti, mengapa mau menuruti perintah itu.
Ada sebuah pengaruh aneh yang
membuat mereka mengikutinya. Begitu berhasil melepas-kan dari pengaruh itu,
Bandita dan rekan-
rekannya segera mengalihkan
perhatian ke arah asal bentakan.
Beberapa tombak di belakang Gondo
dan kawan-kawannya tampak berdiri dua sosok tubuh. Yang seorang pemuda berambut
putih keperakan mengenakan pakaian ungu. Sedang-kan yang satunya lagi seorang
gadis berpakaian putih. Mereka adalah Dewa Arak dan Melati! Dengan tenang, Dewa
Arak dan Melati meng-ayunkan langkah menghampiri tiga orang kasar berompi hitam
itu.
“Menyingkirlah, Kisanak. Mereka bukan tandingan kalian. Biar kami
yang akan meng-urusnya,” ucap Dewa Arak ketika melihat Gondo dan kawan-kawannya
masih ingin melanjutkan pertarungan.
Gondo dan kawan-kawannya
menolehkan kepala. Alis mereka berkernyit melihat orang yang bermaksud
menggantikan mereka meng-hadapi ketiga orang itu! Betapa tidak? Keduanya
terlihat lemah dan tidak memiliki kekuatan. Mereka yang bertenaga kuat saja bukan tandingan Bandita dan kawan-kawannya. Apalagi sepasang
muda-mudi berwajah elok itu?
Dewa Arak mengerti akan hal itu.
Ekor matanya sempat melihat ada kesan tidak percaya. Pada wajah para nelayan
itu. Bahkan mereka tetap mengayunkan langkah meng-hampiri Bandita dan
kawan-kawannya. Hanya saja mereka berjalan di belakang dirinya dan Melati.
Jarak Dewa Arak dan Melati dengan ketiga orang itu memang terpisah tiga tombak.
Dewa Arak tidak mau membuang
waktu lagi. Kemampuannya harus segera ditunjukkan
untuk meyakinkan nelayan-nelayan itu. Cepat tenaga dalam dikerahkan pada kedua
telapak kaki. Hingga....
Blos blos blos!
Gila! Hamparan pasir pantai tak
ubahnya bubur lumpur. Landasan tempat Dewa Arak berpijak langsung amblas hampir
mencapai lutut.
“Hahhh?!”
Bukan hanya Gondo dan
kawan-kawannya yang terkejut dengan pertunjukan Dewa Arak. Bandita dan dua
rekannya pun kaget Mereka tidak melihat pemuda berambut putih ke-perakan
mengerahkan tenaga dalam. Langkah-nya terlihat biasa saja. Tapi akibat yang
ditimbulkannya benar-benar menggiriskan hati!
Melihat hal itu, kesembilan
nelayan itu langsung melangkah mundur. Sekarang mereka percaya kalau sepasang
muda-mudi berwajah elok itu bukan orang sembarangan!
Begitu pun Bandita dan kedua
rekannya. Meskipun demikian, mereka tidak menjadi gentar. Ketiga orang berompi
hitam itu memang sangat membanggakan kepandaiannya. Mereka sempat mengeluarkan dengusan mengejek melihat pertunjukan Dewa
Arak hingga Melati kalap dibuatnya.
“Kau tidak usah turun tangan,
Kang. Biar aku yang menghadapi mereka,” ujar Melati pada kekasihnya.
“Silakan, Melati,” sahut Arya
mempersilakan gadis berpakaian putih menghadapi tiga lawannya sendirian.
Dewa Arak tentu tidak bertindak
gegabah. Membiarkan Melati menghadapi Bandita dan rekan-rekannya sendirian bukan tanpa
pemikiran. Pemuda itu tahu tingkat kepandaian lawan belum terlalu tinggi dan
masih terpaut jauh di bawah Melati. Dewa Arak yakin kekasih-nya akan dapat
mengalahkan mereka. Itulah sebabnya ketiga orang itu diserahkan pada Melati.
“Pencuri-pencuri tengik! Orang
seperti kalian tidak pantas dibiarkan hidup terlalu lama!” desis Melati marah
sambil melangkah mendekati tiga calon lawannya.
“Tutup mulutmu, Wanita Binal! Kau
akan menerima ganjaran atas kekurangajaranmu. Tahukah kau tengah berhadapan dengan
siapa? Kami adalah Tiga Golok Maut. Kau telah berani memaki kami. Sebagai
balasannya, kau akan kami bunuh setelah tubuhmu yang montok dan menggiurkan itu
dinikmati!” ujar Bandita.
“Keparat!” Melati menggeram bagai
harimau luka. Gadis cantik itu marah bukan main men-dengar omongan kotor Bandita. “Kurobek
mulutmu yang kotor itu, Jahanam! Hiyaaattt...!”
Diawali sebuah teriakan nyaring
yang mem-buat suasana di sekitar tempat itu bergetar hebat, Melati melancarkan
serangan. Dalam kemarahannya, tanpa ragu-ragu lagi Melati mengeluarkan ilmu
andalannya, 'Cakar Naga
Merah'.
Hebat bukan main akibat
pengerahan ilmu 'Cakar Naga Merah'. Sebatas pergelangan kedua tangan Melati
berwarna merah darah. Dengan kedudukan jari-jari tangan terkembang mem-bentuk
cakar naga, Melati mulai melancarkan serangan. Gadis cantik itu membuka
serangan dengan sebuah sapuan tangan ke arah dagu Bandita yang dilakukannya
dengan meng-ayunkan tangan dari bawah ke atas.
Cittt!
Bunyi berdecit nyaring mengawali
tibanya serangan itu. Pertanda kuatnya tenaga dalam yang terkandung di
dalamnya.
Bandita bukan orang bodoh. Dia
pun tahu kedahsyatan serangan Melati. Lelaki ber-cambang lebat itu
tidak berani bertindak sembarangan.
Tubuhnya dilemparkan ke belakang dan bersalto beberapa kali
untuk menjauhkan diri.
Melati yang tengah dilanda
kemurkaan hebat, tidak mau membiarkan musuh besarnya lolos begitu saja. Begitu
serangan pertama berhasil dikandaskan, gadis itu segera menyusuli serangannya. Dengan sekali hentak,
tubuh Melati melayang menyusul tubuh Bandita yang masih berjumpalitan di udara.
Bandita terkejut bukan main melihat
kecepatan Melati mengirimkan serangan susulan. Disadarinya bahaya maut
yang meng-ancam. Padahal saat itu tubuhnya tengah berada di udara. Kedudukan
itu membuatnya
sulit untuk mengelak atau
menangkis. Tapi.... “Hiyaaat..! Haaat..!”
Wuk wuk Prat prattt!
***
3
Kejadian berlangsung demikian
cepat dan sukar diikuti mata. Tubuh Reksa dan rekannya ter-jengkang ke
belakang, sedangkan serangan Melati kandas. Gadis berpakaian putih itu
men-daratkan kakinya di tanah. Padahal, serangan yang dikirimkannya belum
mengenai sasaran.
Rupanya di saat yang amat gawat
itu, sambil berteriak keras, Reksa dan rekannya menerjang Melati untuk
menyelamatkan Bandita. Kedua rekan Bandita itu meluncurkan goloknya ke bagian
berbahaya dari tubuh Melati. Terpaksa gadis cantik itu segera mengurungkan
maksud-nya. Dengan tangan kosong, dipapakinya golok kedua orang itu.
“Hiyaaat..!”
Bandita langsung melancarkan serangan ketika Melati baru saja mendaratkan
kedua kakinya. Golok besarnya disabetkan ke leher gadis itu dengan gerakan
mendatar.
Cepat serangan Bandita. Tapi
masih lebih cepat gerakan Melati. Dengan sebuah jejakan kaki pada tanah, tubuh
Melati seperti meng-ambang. Tubuhnya melayang di udara dengan kedudukan
tengkurap. Akibatnya, babatan golok Bandita lewat di bawah tubuhnya. Inilah
jurus 'Naga Merah Mengangkat Ekor' yang me-
rupakan salah satu jurus ilmu
'Cakar Naga Merah'. Tindakan Melati tidak berhenti sampai di situ. Dalam
keadaan tubuh masih meng-ambang, tangannya dihentakkan ke depan.
Wuttt!
Bandita menyadari bahaya maut
yang tengah mengancamnya. Cakar tangan Melati meluncur deras ke arah wajah.
Bergegas kaki kanannya ditarik mundur. Dan, tubuhnya dicondongkan ke belakang.
Betapa kaget hati Bandita ketika
melihat cakar Melati tetap mengejarnya. Lelaki ber-cambang lebat itu tidak
mengerti, mengapa hal itu bisa terjadi. Bukankah dia telah mengelak, tapi
mengapa jarak wajahnya dengan tangan Melati seperti tidak berubah? Tangan itu
tetap meluruk ke wajahnya.
Tidak ada tindakan apa pun yang
dapat di-lakukan Bandita. Di samping kedudukannya tidak memungkinkan, dia pun
telah demikian gugup. Akibatnya....
Crokkk! “Aaakh...!”
Bandita mengeluarkan jeritan menyayat ketika jari-jari tangan Melati
menembus ubun-ubun dan sebagian wajahnya. Darah bercampur otak bermuncratan
dari kepala Bandita yang bolong-bolong.
Jliggg!
Melati mendaratkan kedua kakinya
di tanah, setelah menarik kembali tangannya dari batok kepala Bandita.
Buru-buru dibersihkannya noda
darah dan otak yang melekat di
jari tangannya. Sementara itu, tubuh Bandita ambruk ke tanah. Tidak bergerak
lagi untuk selamanya. Mati!
“Kakang Bandita...!”
Dua rekan Bandita menjerit keras
melihat kematian rekannya itu. Keduanya berdiri ter-paku dengan pandangan
tertuju pada tubuh Bandita. Sorot mata keduanya memancarkan rasa tidak percaya
yang sangat, akan pe-mandangan yang terpampang di hadapan mereka.
Peristiwa itu demikian cepat
terjadi, sehingga Reksa dan rekannya tidak sempat berbuat sesuatu untuk memberikan pertolongan. Apalagi, saat itu mereka
tengah sibuk mem-perbaiki kedudukan setelah memapaki serangan Melati.
“Kakang Bandita...!”
Diiringi teriakan keras
menggelegar, Reksa dan rekannya meluruk ke arah tubuh Bandita yang tergolek di
tanah. Keduanya langsung berjongkok di dekat mayat Bandita. Semua kejadian itu
tidak lepas dari perhatian Dewa Arak, Melati serta Gondo dan kawan-kawannya.
Meskipun saat itu nelayan-nelayan itu tengah sibuk mengurus kawan-kawan mereka.
“Hhh...!”
Dewa Arak menghela napas berat.
Diam-diam hati pemuda berambut putih keperakan itu menyesal melihat kematian Bandita yang demikian tragis. Tapi Dewa Arak tidak menegur
Melati. Disadarinya kalau kekasihnya melaku-
kan semua itu dalam luapan emosi
yang meng-gelegak. Dan saat ini mungkin Melati tengah menyesali tindakannya.
Dugaan Arya agaknya tidak salah. Gadis berpakaian putih itu tampak termenung.
“Kau harus menerima balasan atas
ke-kejianmu ini, Wanita Sundal!” geram Reksa penuh kemarahan setelah berhasil
menghalau perasaan sedihnya.
“Ya! Kau harus mati!” sambut
lelaki berkumis tebal tak kalah geram.
Kemudian, kedua orang berompi
hitam ini bangkit. Sepasang mata mereka menyorotkan dendam kesumat, tertuju
lurus pada Melati. Keduanya merasa sangat menyesal karena tidak sempat menolong
Bandita. Lelaki bercambang lebat itu tewas dengan membawa rasa
penasaran. Mengapa tangan Melati tetap mengenainya, padahal dirinya telah
mengelak?
Pertanyaan yang menggayuti hati Bandita
tidak melanda hati Reksa dan rekannya. Mereka melihat jelas tangan Melati
mendadak mulur! Tangan gadis berpakaian putih itu memanjang lebih dari satu
setengah kali panjang tangan aslinya! Itulah jurus 'Cakar Naga Merah' milik
Melati.
Sementara itu Melati tetap
bersikap tenang. Tanpa gentar, dibalasnya tatapan kedua rekan Bandita.
“Kawan kalian memang lebih baik
mati, dari-pada hidup di dunia cuma menyebarkan mala-petaka bagi orang lain,”
jawab gadis berpakaian
putih tenang.
Dalam ucapan Melati tersirat
alasan mem-bunuh Bandita. Di lubuk hati gadis berpakaian putih itu ada rasa
bersalah, telah membunuh lelaki bercambang lebat itu dengan cara yang demikian
mengerikan.
Tapi Reksa dan rekannya tak mau
mendengar alasan Melati. Yang mereka tahu, Bandita telah mati. Dan itu
diakibatkan oleh tangan Melati. Sekarang, yang ada di benak mereka adalah
membalas dendam kematian rekannya. Mereka berpencar untuk melakukan penyerangan
dari dua arah! Lalu....
“Tutup mulutmu, Wanita Sundal!
Hiyaaat..!” teriak Reksa sambil melompat menerjang. Goloknya ditusukkan ke arah
perut Melati.
“Haaat...!”
Pada saat yang bersamaan rekan
Reksa pun melancarkan serangan. Laki-laki berkumis tebal itu melompat ke atas.
Begitu tubuhnya berada di udara, goloknya dikelebatkan ke arah leher!
Wuttt!
Kedua serangan itu hampir tiba
bersamaan. Melati menjejakkan kakinya dan melempar tubuhnya ke belakang. Gadis
cantik itu berhasil membuat serangan itu mengenai tempat kosong, belasan jengkal
di depan Melati.
Tapi dua orang berompi hitam itu
tidak putus asa, meskipun serangannya berhasil dipunah-kan. Begitu kedudukannya
berhasil diperbaiki, serangan susulannya segera meluncur. Bahkan
serangan-serangan mereka lebih dahsyat dari
semula.
Namun hasilnya tetap sia-sia! Tingkat
kepandaian Melati berada jauh di atas lawan-lawannya. Baik di dalam tenaga
dalam maupun ilmu meringankan tubuh,
kemampuannya berada di atas Reksa dan kawannya. Dengan keunggulan itu,
mudah bagi Melati untuk menggagalkan serangan lawan.
Untungnya, Melati tidak bermaksud
mem-bunuh mereka. Hingga Melati tidak melakukan perlawanan. Gadis itu hanya
mengelakkan serangan demi serangan yang dilancarkan lawan. Lincah laksana kera
dan gesit laksana bayangan, tubuh Melati menyelinap di antara kelebatan senjata
lawan.
Kenyataan itu membuat Reksa dan
kawannya penasaran bercampur geram. Telah lebih dari sepuluh jurus mereka
melancarkan serangan, tapi tak satu pun yang mengenai sasaran. Padahal, Melati
tidak melakukan perlawanan dan hanya mengelak.
Menginjak jurus kedua belas,
Melati merasa sudah waktunya melancarkan serangan balasan. Bila dibiarkan
terus-menerus Reksa dan rekan-nya tidak akan mempunyai pikiran dan
menyadari kalau Melati telah bersikap mengalah. Hingga Melati
memutuskan untuk mengadakan perlawanan.
“Hih...!”
Sambil menggertakkan gigi, Melati
meng-genjotkan kedua kakinya hingga tubuhnya melayang ke atas melewati kepala
lawan.
Sedangkan pada saat itu, Reksa
dan rekannya tengah meluruk ke arahnya sambil melancarkan serangan. Ketika
telah berada di atas kepala keduanya, Melati membalikkan tubuh. Dan, kedua
tangannya ditepukkan. Kelihatannya pelan dan tanpa pengerahan tenaga dalam.
Tapi hasilnya tidak seperti yang diduga.
Plak plak! “Hukh! Hukh!”
Dua orang kasar berompi hitam itu
langsung terbatuk. Tubuh mereka terjerembab deras ke depan seperti ditubruk
kerbau liar. Darah segar keluar dari mulut mereka. Agaknya, keduanya terluka
dalam.
Jliggg!
Pada saat yang bersamaan Melati
men-daratkan kakinya. Kemudian gadis berpakaian putih itu berbalik dan
memperhatikan kedua lawannya yang tergoiek tanpa daya di tanah.
Mereka tidak mampu bangkit lagi
karena luka dalamnya yang parah.
Arya yang sejak tadi hanya
sebagai penonton, bergegas mengayunkan kaki mendekati Melati. Begitu pula Gondo
dan kawan-kawannya. Begitu melihat rekan-rekan Bandita berhasil diroboh-kan,
mereka langsung menghampiri Melati. Setelah mengurus kawan-kawan mereka yang
tewas atau terluka.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Nisanak Kalau tidak ada kau dan kawanmu ini, mungkin kami semua telah tewas di
tangan tiga orang jahat itu,” ucap Gondo mewakili kawan-
kawannya, kemudian kawan-kawannya
meng-angguk membenarkan ucapan Gondo.
“Jangan berterima kasih kepada kami,
Kisanak. Tapi berterima kasihlah pada Allah. Atas izin-Nya langkah kaki kami
tertuju kemari,” elak Melati merendahkan diri. “O ya, ngomong-ngomong mengapa kalian
terlibat pertarungan dengan mereka?”
“Ketiga orang itu hendak mencuri
perahu kami,” jawab Gondo. 'Tentu saja kami men-cegahnya. Karena mereka
berkeras, maka per-tarungan pun terjadi.”
“Mencuri perahu?” Melati dan Arya
saling pandang.
Dalam adu pandang itu, sepasang
muda-mudi itu menemukan jawabannya. Mungkinkah
rombongan Bandita ingin menuju Pulau Es? Kalau benar demikian, berarti berita
tentang pulau keramat itu telah tersebar luas di dunia persilatan . Kalau
orang-orang kasar seperti mereka saja tahu dan bermaksud men-datanginya,
apalagi tokoh-tokoh tingkat atas?
“Kisanak tahu, mengapa mereka
hendak mencuri perahu?” kali ini Arya yang mengajukan pertanyaan.
Gondo menggelengkan kepala.
“Sayang sekali aku tidak
mengetahuinya. Mereka hanya mengatakan tengah tergesa-
gesa. Itu saja. Tapi..., o ya aku
ingat... beberapa hari ini banyak orang-orang yang menuju ke laut. Entah apa
yang mereka cari. Kalau melihat gerak-gerik dan ciri-cirinya, mereka adalah
tokoh-tokoh persilatan ,” jelas
Gondo.
Melati dan Arya kembali saling
pandang. Kini mereka semakin yakin akan kebenaran dugaan semula. Ya! Pasti
orang-orang yang diceritakan Gondo tengah menuju Pulau Es! Dugaan itu tidak
mungkin salah!
“Terima kasih atas pemberitahuanmu, Kisanak. Kami ingin
menanyakannya pada orang-orang itu.”
Usai berkata demikian, Arya
menghampiri Reksa dan rekannya yang masih tergolek tak berdaya. Melati
mengikuti di belakang.
“Aku ingin mengajukan pertanyaan.
Kuharap kalian bersedia menjawabnya dengan benar,” ujar Arya tenang.
“Cuhhh!”
Jawaban yang diterima Dewa Arak
adalah semburan ludah Reksa. Memang tidak mengenai Arya, karena lelaki
berjenggot lebat itu tidak mampu menggerakkan kepala. Wajahnya sendiri tak
menghadap ke atas.
“Keparat!” Melati tersinggung melihat tanggapan Reksa. “Rupanya kau
sudah bosan hidup, hahhh?! Kau ingin menerima nasib seperti kawanmu itu?!”
Melati menuding mayat Bandita.
Reksa langsung terdiam. Meskipun
dendam, tapi keadaannya tidak menguntungkan. Jika menuruti perasaan hati, dia
sendiri yang akan rugi.
“Tenanglah, Melati,” Arya yang
tidak ingin Melati kelepasan tangan kembali, buru-buru
menengahi. “Biar aku yang
mengurusnya.” Melati tidak membantah. Gadis berpakaian
putih itu langsung diam.
Dibiarkannya pemuda berambut putih keperakan itu yang meng-urusnya. Gadis itu
hanya memperhatikan semua tindakan yang dilakukan kekasihnya.
“Sebenarnya, tanpa kalian jawab
pun aku telah tahu ke mana kalian hendak pergi. Pulau Es, kan?!” lebak Arya
langsung, untuk melihat tanggapan Reksa dan kawannya.
Seketika itu pula, raut wajah dua
orang berompi hitam itu berubah. Dugaan Dewa Arak tidak salah! Mereka memang
ingin menuju Pulau Es! Sungguh tidak disangka kalau Arya dan Melati mengetahui
perihal pulau keramat itu. Reksa dan rekannya memperhatikan sepasang muda-mudi itu
dengan pandangan menyelidik. Terutama terhadap Arya yang berperawakan lebih
angker dibanding Melati.
Keduanya memperhatikan dengan
sungguh-sungguh. Sepasang mata mereka menelusuri sekujur tubuh Arya mulai dari
rambut sampai ujung kaki. Hasil yang mereka dapatkan sungguh mengejutkan.
Ciri-ciri yang dimiliki Arya amat mirip dengan pendekar muda yang julukannya
saat ini tengah menggemparkan dunia persilatan!
“Kau..., apakah kau Dewa Arak?!”
tanya Reksa gagap. Dengan harap-harap cemas, ditunggunya jawaban. Demikian pula
lelaki berkumis lebat.
“Benar. Dia Dewa Arak. Namanya
adalah
Arya Buana!” Melati mendahului
menjawab dengan penuh kebanggaan. “Apakah sekarang kalian masih berani
macam-macam?!”
Reksa dan kawannya menelan ludah
dengan susah payah. Tenggorokan mereka seperti tersumbat begitu mendengar
jawaban Melati.
“Dan kalau kalian ingin tahu
siapa aku, akan kuperkenalkan. Kalian pernah mendengar
julukan Dewi Penyebar Maut?!”
Dengan gugup kedua orang berompi
hitam itu menganggukkan kepala. Mereka memang,
pernah mendengar julukan Dewi Penyebar Maut. Bahkan tokoh itu jauh lebih
ditakuti dari Dewa Arak! Karena Dewi Penyebar Maut mem-punyai watak telengas.
Tapi, hanya sebentar saja dunia
persilatan digemparkan oleh Dewi Penyebar Maut, dengan tindakan-tindakannya
yang menggiriskan hati. Setelah itu, tokoh itu lenyap tanpa bekas bagai ditelan
bumi. Hingga Reksa dan rekannya merasa heran mendapat pertanyaan tentang tokoh
itu.
“Nah! Akulah Dewi Penyebar Maut,”
jawab Melati dengan sikap dibuat seram.
“Hekh!”
Meskipun ucapan Melati sudah
dapat diduga, tapi tak urung Reksa dan kawannya terkejut juga.
“Nah! Kalau kalian tidak ingin
mati secara menyakitkan, ceritakan dari mana kalian tahu mengenai Pulau Es. Dan
mengapa kalian pergi ke sana? Ingat! Jangan coba-coba untuk ber-
bohong. Akibatnya sangat berat.
Asal kalian tahu saja, aku tahu banyak mengenai pulau itu bahkan beberapa pulau
keramat lainnya!” ancam Melati dengan bengis.
Mau tidak mau Arya hanya
bertindak sebagai penonton. Disadarinya kalau sesekali tindakan keras itu perlu
dilakukan. Maka, dibiarkannya Melati menggertak kedua orang itu.
“Baik...! Baik...! Kami akan
beritahu semua-nya,” ucap Reksa terbata-bata, karena rasa takut yang
menggelegak.
“Bagus! Nah, ceritakanlah...!”
sahut Melati.
***
4
“Kami bertiga hendak pergi ke
Pulau Es,” ujar Reksa memulai keterangannya.
“Dari mana kalian mendengar
berita tentang Pulau Es?! Dan untuk apa kalian ke sana?!” tanya Melati tak
sabar melihat lelaki berjenggot lebat itu menghentikan ucapannya.
“Dari mana tepatnya, kami tidak
tahu. Yang jelas, berita mengenai pulau itu tiba-tiba meng-gaung di dunia
persilatan. Sewaktu pertama kali mendengamya, kami sendiri merasa heran. Apa
lagi, ketika mendengar cerita selanjutnya,” Reksa menghentikan ucapannya
sebentar untuk mengambil napas. Sementara Melati dan Arya terus mendengarkan
penuh perhatian. Kali ini Melati tidak memotong cerita Reksa. Dengan sabar,
ditunggunya lelaki ber-jenggot lebat itu melanjutkan ceritanya.
“Menurut berita yang kami
dapat... pulau itu memang terbuat dari es! Baik daratan maupun bukit-bukitnya
semua terdiri dari es! Cerita itu membuat kami tertarik untuk menyaksikan pulau
itu dengan mata kepala sendiri.”
Lagi-lagi Reksa menghentikan ceritanya. Lelaki itu menelan ludah untuk
membasahi tenggerokannya yang kering.
“Rasa tertarik kami semakin besar
ketika beberapa waktu kemudian mendapat berita yang
lebih terperinci,” lanjut Reksa.
“Menurut berita yang kami dapat, pulau itu ditinggali tokoh-tokoh yang
berkepandaian tinggi. Tokoh-tokoh itu meninggal karena usia tua, tanpa
mem-punyai keturunan. Dengan sendirinya, pusaka-pusaka dan kitab-kitab yang
tersimpan di sana tidak mempunyai majikan lagi. Hal terakhir inilah yang
membangkitkan semangat kami untuk mendatangi Pulau Es. Kami ingin men-dapatkan
pusaka dan kitab-kitab yang ada di sana,” papar Reksa mengakhiri ceritanya.
Lelaki berjenggot lebat itu
kemudian menatap Arya dan Melati, ingin melihat tanggapan mereka atas
ceritanya. Reksa tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahuinya. Begitu
ceritanya selesai, sepasang muda-mudi berwajah elok itu saling pandang. Sayang,
Reksa tidak mengetahui apa yang menyebabkan Melati dan Dewa Arak berbuat
demikian. Wajah sepasang pendekar muda itu tidak menunjukkan perasaan apa pun.
Sebaliknya, Dewa Arak dan Melati
tahu pasti perasaan yang bergulat di hati masing-masing. Mulut mereka memang
tidak mengatakan sesuatu. Tapi mata mereka telah mengata-kannya secara
gamblang. Antara Dewa Arak dan Melati seperti ada tali batin. Masing-masing
dapat mengetahui apa yang dipikirkan, meskipun yang bersangkutan
tidak mengata-kannya.
Dewa Arak dan Melati ternyata
mempunyai tanggapan yang sama atas
cerita Reksa!
Keduanya terkejut dan khawatir.
Betapa tidak? Kalau semua yang diceritakan Reksa betul, berarti keadaan benar-benar gawat! Per-tumpahan
darah akan terjadi untuk mem-perebutkan pusaka dan kitab-kitab yang ada di
Pulau Es! Dan andaikata pusaka dan kitab-kitab itu jatuh ke tangan tokoh sesat,
akan terjadi bencana dalam dunia persilatan. Dewa Arak dan Melati tidak menginginkan
hal itu terjadi. Mereka harus mencegahnya. Untuk melaksana-kan tugas itu mereka
harus menuju Pulau Es secepatnya.
“O ya, ada sedikit tambahan,”
selak Reksa ketika melihat Dewa Arak dan Melati masih tercenung.
Melati dan Dewa Arak segera
mengalihkan pandangan. Mereka ingin mendengar tambahan cerita Reksa.
“Kami dengar, dua tokoh tingkat
tinggi kaum sesat pun ikut dalam perburuan pusaka Pulau Es,” jelas lelaki
berjenggot lebat itu.
“Dua tokoh tingkat tinggi kaum
sesat?!” Melati mengernyitkan dahi. Gadis itu belum mengetahui tokoh-tokoh yang
dimaksud.
“Benar,” Reksa menganggukkan kepala. “Apakah kalian
belum pernah mendengar julukan mereka?!”
Dewa Arak dan Melati saling
bertukar pandang sesaat
“Kami memang pernah mendengar
tentang tokoh-tokoh yang kau maksudkan. Sepanjang yang kami dengar, mereka
telah puluhan tahun
merajai dunia persilatan tanpa terkalahkan. Bukankah demikian?!” Arya
yang memberikan sambutan.
“Benar,” Lagi-lagi Reksa
menganggukkan kepala. “Kedua datuk sesat itu memang belum terkalahkan. Padahal,
keduanya telah ratusan kali bertarung. Tak terhitung sudah berapa orang yang
tewas di tangan mereka, baik dari aliran hitam maupun putih. Kalian juga
mengetahuinya?!”
“Kami hanya mendengar beritanya
saja,” jawab Arya. “Bukankah mereka yang berjuluk Raja Iblis Baju Emas dan Raja
Kera Muka Hitam?!”
Reksa mengangguk.
“Raja Iblis Baju Emas merajai
daerah utara. Sedangkan daerah selatan dikuasai Raja Kera Muka Hitam,” jelas
lelaki berjenggot lebat itu.
Dewa Arak mengangguk, membenarkan ucapan Reksa.
“Bila datuk-datuk sesat itu ikut
mem-perebutkan pusaka Pulau Es, berarti keadaan sudah sangat gawat,” ucap Arya
pelan, seperti berbicara pada diri sendiri.
“Kalau begitu..., tunggu apalagi,
Kang?! Mari kita segera ke sana!” usul Melati.
“Kau benar, Melati,” sambut Arya
cepat sebelum Melati memberikan tanggapan, Gondo telah memotong pembicaraan.
Sejak tadi, dia dan rekan-rekannya mendengarkan semua per-cakapan itu.
“Jadi..., kalian berdua juga
membutuhkan
perahu?!” tanya Gondo penuh rasa
ingin tahu. Karena memang membutuhkan perahu untuk
menuju Pulau Es, Arya
menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan itu.
“Kalau begitu, silakan pakai
perahuku. Itu yang merah,” ucap Gondo menawarkan jasa.
Arya dan Melati saling pandang.
“Maafkan kami, Kisanak. Bukannya
ingin menolak... tapi sebelumnya kami memang ingin membeli perahu. Dan....”
“Tidak usah kau beli, Tuan
Pendekar,” potong Gondo cepat sambil merubah panggilan. “Ambil saja perahu yang
Tuan dan Nona Pendekar inginkan. Tidak usah bayar. Percayalah. Kami ikhlas
memberikannya. Bukankah demikian, kawan-kawan?!”
“Benar, Tuan Pendekar,” sahut
rombongan nelayan serempak bagai diberi perintah. Kepala mereka dianggukkan pertanda menyetujui
keputusan Gondo.
'Tapi...,” Arya masih mencoba
membantah. “Kami harap Tuan dan Nona Pendekar tidak
menolak pemberian ini. Andaikata
tidak ada kalian berdua, bukan hanya perahu-perahu saja yang lenyap, tapi juga
diri kami,” Gondo terus mendesak
Melihat kekerasan hati Gondo,
Arya tidak bisa mengelak lagi.
“Baiklah kalau begitu, Kisanak.
Kami terima pemberian kalian. Tapi percayalah. Kami akan berusaha menjaga
perahu ini sebaik-baiknya. Jadi, andaikata kami kembali, perahu ini bisa
kami kembalikan.
'Terserah Tuan dan Nona Pendekar
sajalah. Kami setuju saja dengan keputusan kalian berdua,” ujar Gondo pasrah.
“Kami hanya menyatakan terima
kasih atas kebaikan hatimu, Kisanak Maaf, kami tidak bisa berlama-lama di sini. Urusan ini sangat mendesak,” ucap Arya, berusaha
untuk tidak berpanjang kata.
“Kami mengerti. Selamat jalan,
Tuan dan Nona Pendekar. Terima kasih atas pertolongan yang kalian berikan.”
Dewa Arak dan Melati mengangguk
sambil mengulas senyum. Lalu mereka mengayunkan langkah meninggalkan tempat
itu. Gondo dan kawan-kawannya melepas kepergian mereka dengan pandangan penuh
kekaguman dan terima kasih yang mendalam.
***
“Ke mana arah yang harus kita
tempuh, Melati?” tanya Arya sambil tetap mengayuh dayung.
Sepasang pendekar muda yang
berwajah elok itu kini telah berada di tengah laut Sejauh mata memandang yang
terlihat hanya air. Sedangkan perahu merah yang mereka tumpangi melesat cepat
membelah permukaan air. Dewa Arak dan Melati mengerahkan tenaga dalam untuk mengayuhnya. Hingga meskipun hanya dua
pasang tangan yang mengayuh, perahu itu
melaju cepat seperti dikayuh
puluhan tangan nelayan bertenaga kuat
“Ke utara, Kang,” jawab Melati
tanpa meng-hentikan kayuhannya.
“Kau sudah pernah pergi ke sana,
Melati?” “Maksudmu... ke Pulau Es, Kang?”
“Benar,” Arya menganggukkan kepala. “Pernah?!”
“Belum, Kang,” sahut gadis
berpakaian putih itu sambil menggeleng.
“Lalu..., bagaimana kau bisa tahu
arah yang harus kita tuju? Ah, ya! Pasti dari Ki Julaga, kan?!” Arya sendiri
yang menjawab pertanyaan itu.
“Benar, Kang. Dari gurulah aku
tahu arah yang harus dituju. Kebetulan pantai yang menjadi patokan
keberangkatan itu adalah pantai yang kita tinggalkan tadi. Jadi.., kita tidak
repot-repot lagi memikirkan arah yang harus kita tempuh,” urai Melati.
Arya terdiam. Melati pun tidak
melanjutkan ucapannya, hingga keheningan menyelimuti mereka. Yang terdengar
hanya bunyi dayung mengoyak-ngoyak permukaan air.
Waktu berlalu tanpa dapat
dicegah. Sang Surya terus berputar sesuai aturannya. Bola raksasa itu kini
telah condong ke barat Tapi, Arya dan Melati tidak peduli. Dayung di tangannya
terus dikayuh, menempuh arah yang mereka tuju.
Nasib baik menyertai pasangan
pendekar muda itu. Laut tetap tenang. Dan, ombak yang
bergulung-gulung tidak terlalu
besar. Hingga, mereka tidak mengalami hambatan yang berarti. Perahu yang mereka
kemudikan dengan lincah membelah gulungan ombak kecil-kecil yang datang
melanda.
Tak lama kemudian, sang Surya
tenggelam di ufuk barat. Pemandangan yang terbentang terlihat demikian indah.
Bola raksasa berwama merah itu seperti tenggelam ke dalam laut. Indah bukan main. Langit di sekitarnya dipenuhi bias-bias
kemerahan.
Kini hanya Arya yang mengemudikan
perahu. Melati sedang beristirahat untuk memulihkan tenaga, dan menyantap
makanan yang telah mereka siapkan. Ketika malam telah larut dan Melati sudah
bangun dari tidurnya, Arya pun beristirahat. Gadis berpakaian putih itu
meng-gantikan tugas kekasihnya mendayung.
Waktu terus berlalu. Dan ketika
perjalanan Arya dan Melati memasuki hari ketiga, sebuah pemandangan yang
mendebarkan hati terlihat di kejauhan.
“Kakang! Lihat..!” teriakan
Melati sambil menudingkan jari telunjuknya ke depan.
Arya melayangkan pandangan ke
arah yang ditunjuk gadis berpakaian putih itu. Sebenar-nya, tanpa diberitahu
dia telah melihatnya. Pemandangan yang membuat sepasang matanya membelalak.
Di kejauhan, tampak sebuah
daratan ber-warna putih berkilauan. Kelihatan berkilat-kilat. Sekali lihat
saja, pasangan pendekar muda
itu tahu pulau yang mereka lihat
berbeda dengan pulau pada umumnya. Itukah Pulau Es yang tengah ramai diperbincangkan
orang.
Tanpa dapat dicegah, jantung Arya
dan Melati berdetak kencang. Perasaan tegang menyelimuti hati sepasang pendekar
muda itu. Mereka teringat akan cerita Ki Julaga dan Reksa, yang mengatakan
bahwa Pulau Es dihuni tokoh-tokoh berkepandaian tinggi. Penampilan daratan
Pulau Es menimbulkan rasa kagum di hati Arya dan Melati terhadap tokoh-tokoh
yang menghuninya.
“Itukah Pulau Es...?!” tanya Arya
dengan suara agak bergetar.
“Kalau melihat ciri-ciri daratan
itu... rasanya kita tidak salah, Kang. Tapi... memang ada yang kurang....”
“Aku belum mengerti apa yang kau
maksud-kan, Melati?” tanya Arya dengan alis berkerut.
Melati tidak segera menjawab.
Gadis cantik itu tercenung. Kemudian menghembuskan napas berat
“Menurut cerita yang kudapat dari
guru... sebelum mencapai Pulau Es kita akan dihadang oleh angin topan. Tapi,
nyatanya kita tidak menemukannya,” jelas Melati.
“Jadi..., kita tidak yakin
daratan yang kita lihat itu Pulau Es, Melati?” tanya Arya penasaran.
“Bukannya tidak yakin, Kang. Tapi
kurang yakin,” ulang Melati setengah memperbaiki kata-kata Arya. “Kau sendiri
bagaimana?”
“Aku yakin daratan yang kita
lihat Pulau Es!” jawab Arya mantap. “Mengenai angin topan yang kau ceritakan,
anggaplah nasib baik tengah berpihak pada kita. Dengan kata lain, kedatangan
kita tidak pada waktu angin itu muncul.”
“Mungkin kau benar, Kang,” sahut
Melati setelah tercenung beberapa saat .
“Menurutku, lebih baik, kita
tidak usah meributkan kebenarannya sekarang. Lebih baik kita datangi dan
buktikan sendiri, benar tidak daratan itu Pulau Es. Setuju?!” usul Arya.
“Aku setuju, Kang!” mantap dan
tegas jawaban Melati.
“Bagus! Nah! Mari kita bergegas!”
Arya dan Melati kelihatan makin
ber-semangat untuk segera tiba di daratan itu. Mereka mendayung dengan sebuah
tenaga, hingga laju perahu semakin cepat Jarak antara sepasang pendekar muda
itu dengan daratan yang terlihat putih berkilauan, semakin lama bertambah
dekat. Pemandangan yang terlihat pun tampak semakin jelas.
“Kau benar, Kang. Tidak salah
lagi. Ini pasti Pulau Es,” ucap Melati ketika melihat dengan jelas.
Arya hanya mengangguk menanggapi
per-nyataan Melati. Seluruh perhatian pemuda itu tengah tertuju pada daratan
yang terpampang di depan mereka. Sorot mata dan tarikan wajah Arya menyiratkan
kekaguman yang sangat
“Kalau tidak melihat sendiri
rasanya sulit
kupercaya, Melati,” kata Arya
takjub. “Di tengah-tengah lautan luas seperti ini, terdapat Pulau Es.
Benar-benar menakjubkan! Yang membuatku heran, mengapa esnya tidak mencair?”
Melati tidak menanggapi
pernyataan Arya. Gadis berpakaian putih itu pun tengah dilibat-kan pertanyaan
yang sama. Dia pun bingung.
“Kalau benar seluruh pulau ini
terdiri dari batu-batu es, tentu bagian bawahnya akan mencair. Ataukah pulau
ini hanya merupakan pulau terapung? Bila benar demikian, tempat-nya pasti
berpindah-pindah. Atau....”
“Lebih baik tidak usah dipikirkan
mengenai hal itu, Kang. Bukan hanya kau yang akan pusing, tapi aku juga.
Menurutku, lebih baik kau buang pertanyaan-pertanyaan yang tidak
mungkin terjawab itu. Yakinkan saja dalam hatimu, bahwa bagi Allah tidak ada
hal yang tidak mungkin. Dengan kata lain, meskipun menurut pemikiran kita tidak
mungkin, tapi bagi Allah merupakan hal yang sepele. Mudah kan?!” potong Melati.
“Kau benar, Melati. Mengapa aku
harus pusing-pusing memikirkannya? Mungkin ini merupakan salah satu keajaiban.
Dan lagi ada yang lebih penting bagi kita, secepatnya men-darat di sana.
Bukankah demikian?!” Arya mem-buang jauh-jauh pertanyaan yang memenuhi
kepalanya. Tak berapa lama kemudian, perahu yang ditumpangi mereka menepi.
“Hup!”
Arya dan Melati segera melompat
dari perahu. Kemudian, Arya menambatkan perahu pada salah satu karang es yang ada
di tepi pantai.
“Luar biasa...! Betul-betul
menakjubkan...!” Seruan bernada kekaguman keluar hampir
bersamaan dari mulut Arya dan
Melati. Kedua-nya berdiri terpaku memandang ke sekeliling mereka. Pemandangan
yang terlihat memang sungguh mengagumkan. Sejauh mata me-mandang yang
terlihat hanya warna putih berkilauan. Baik itu daratan maupun bukit-bukitnya.
“Hawanya dingin ya, Kang?”
celetuk Melati. “Benar, Melati. Kita harus mengerahkan
tenaga dalam untuk melawannya,”
ujar Arya. Sebenarnya, pemberitahuan Dewa Arak tidak
perlu. Begitu merasakan dingin, dengan
sendirinya tenaga dalam yang mereka miliki bergolak melawan. Tapi, yah...
begltulah. Karena seluruh pikiran pemuda itu tengah terpusat pada
masalah yang dihadapi, maka jawaban-jawaban yang diberikan Arya ter-kadang
keluar tanpa dipikir lagi.
“Mari kita kelilingi pulau ini,
Melati. Akan kita buktikan, benarkah tempat seperti ini ditinggali manusia.
Bila hal itu benar, pasti ada sebuah tempat tinggal di sini.”
Tanpa berkata apa-apa, Melati
mengayunkan langkah mengikuti Arya yang telah lebih dulu menindakkan kaki.
Hati-hati sekali, pasangan pendekar muda itu melangkah. Tempat itu
memang masih sangat asing bagi
mereka. Hingga Dewa Arak dan Melati tidak berani bertindak gegabah. Sekujur
urat syaraf dan otot-otot tubuh mereka menegang penuh kesiagaan, bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Selangkah demi selangkah Dewa
Arak dan Melati meninggalkan pantai. Kaki-kaki mereka terus diayunkan, hingga
tanpa disadari tempat mendarat mereka telah tertinggal jauh. Mendadak kedua pendekar muda itu
saling pandang.
“Kau dengar suara-suara itu,
Melati?” tanya Arya sambil menghentikan langkah. Sepasang matanya menatap
kekasihnya penuh rasa ingin tahu.
Melati tidak segera menjawab.
Kepalanya digelengkan, dan perhatiannya dipusatkan untuk mendengar suara yang dimaksudkan Arya.
“Kau benar, Kang. Ada suara-suara
gaduh seperti tengah terjadi keributan. Tapi aku tidak bisa mengetahui dari
mana asalnya,” jawab gadis berpakaian putih itu.
“Arahnya dari sana, Melati,”
jawab Dewa Arak sambil menunjuk ke depan.
“Kalau begitu..., mari kita ke
sana, Kang!” Tanpa menunggu jawaban Dewa Arak, Melati langsung melesat dengan
mengarahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Dalam sekejap tubuh gadis itu
telah berada belasan tombak di depannya. Mau tidak mau, Dewa Arak pun
melakukan hal yang sama. Dia
tidak akan membiarkan kekasihnya menuju tempat itu seorang diri. Hanya dengan
beberapa kali lesatan, pemuda berambut putih keperakan itu berhasil menyusul
Melati. Sekarang keduanya berlari bersisian menuju asal suara yang mereka
dengar.
***
5
Begitu melewati bukit es yang
cukup besar, Dewa Arak dan Melati baru mengetahui asal suara riuh rendah itu.
Dugaan mereka tidak salah. Suara-suara itu disebabkan oleh per-tarungan. Dewa
Arak dan Melati menghentikan lari dalam jarak tujuh tombak dari pertarungan
yang tengah berlangsung. Keduanya memper-hatikan jalannya pertarungan.
Memang tidak aneh kalau
pertarungan yang terjadi demikian riuh rendah. Yang terlibat dalam pertarungan
itu tidak satu atau dua orang melainkan belasan! Pertarungan itu lebih tepat
disebut pertarungan antar kelompok. Betapa tidak? Orang-orang yang terlibat
dalam pertarungan, mengenakan pakaian seragam. Satu kelompok berseragam serba
merah, sedang-kan kelompok lainnya berseragam serba hitam.
Beberapa saat lamanya pasangan
pendekar muda itu hanya memperhatikan pertarungan yang tengah berlangsung.
Keduanya tidak tahu mengapa kedua kelompok itu bertarung. Siapa yang benar dan
yang salah tidak diketahui. Itu sebabnya, Dewa Arak dan Melati tidak ikut
campur.
“Kau mengenal mereka, Kang?” tanya
Melati pelan mirip bisikan.
“Ya. Tapi hanya kelompok yang
berseragam hitam. Kau lihat gambar cakar burung di dada kiri mereka? Nah!
Mereka adalah orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam. Sebuah per-kumpulan beraliran sesat yang cukup
terkenal. Sedangkan kelompok yang berseragam merah, aku tidak tahu. Entah
kelompok dari mana mereka. Ciri-ciri yang mereka miliki sangat aneh,” jawab
Arya.
Melati mengangguk-angguk. Ucapan
Dewa Arak memang tidak salah. Kelompok orang berpakaian merah itu mempunyai
ciri-ciri aneh. Kulit tubuh mereka kemerahan. Berambut tipis dan kekuningan
seperti rambut jagung. Yang mengerikan adalah matanya. Mata itu tidak hitam
seperti mata pada umumnya, tapi kebiruan!
“Mungkinkah mereka para penghuni
pulau ini, Melati?” duga Arya.
Melati langsung terperanjat, dan
memaki-maki dirinya. Mengapa dia begitu bodoh? Ya! Orang-orang berpakaian merah
itu pasti para penghuni pulau ini.
“Aku rasa begitu, Kang. Ya!
Mereka pasti penghuni pulau ini. Sekarang sudah bisa diketahui penyebab
pertarungan itu. Mereka ingin mengusir orang-orang itu dari tempat kediaman
mereka.”
Arya mengangguk-angguk menyetujui
pen-dapat Melati. Sementara pandangannya tetap terarah ke arena pertarungan
yang terlihat semakin menarik. Meskipun orang-orang ber-
seragam merah itu hanya berjumlah
lima orang, sedangkan lawannya berjumlah lima belas orang, namun mereka mampu
mengadakan perlawanan sengit, hingga pertarungan berjalan seimbang.
“Hm...,” Arya menggumam pelan.
“Untunglah orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam
bertindak cerdik dengan melakukan per-tarungan bersama. Kalau tidak,
orang-orang berseragam merah pasti mampu menggilas mereka dengan mudah.”
Melati mengangguk. Gadis cantik
itu melihat kebenaran ucapan kekasihnya. Kemampuan perorangan orang-orang berseragam merah
memang berada di atas orang-orang Per-kumpulan Garuda Hitam. Taktik pertarungan
kelompok Perkumpulan Garuda Hitam itu membuat pertarungan berlangsung sengit
“Kakang...,” sapaan Melati mengalihkan perhatian Arya.
“Ada apa, Melati?” tanya pemuda
berambut putih keperakan itu.
“Kalau benar orang-orang
berpakaian merah itu para penghuni Pulau Es, rasanya tempat ini tidak cocok
untuk mereka...”
“Aku belum mengerti maksudmu,
Melati?” Arya mengeryitkan dahi.
'Tindakan mereka terlalu kasar, Kang.
Kulihat setiap serangan mereka mengandung ancaman maut. Apa kau tidak melihat
kalau ilmu-ilmu mereka lebih patut dimiliki tokoh-tokoh aliran hitam?” tanya
Meteti setengah
memberi tahu.
“Ah...! Kau benar, Melati!”
sentak Dewa Arak kaget “Mengapa aku begini bodoh! Ya! Ilmu mereka memang lebih
patut dimiliki tokoh-tokoh beraliran hitam. Serangan mereka penuh dengan tipuan. Lalu..., apa maksudmu,
Melati?”
Melati tidak langsung menjawab.
Pandangan-nya kembali dilayangkan pada pertarungan, setelah gadis berpakaian
putih itu menatap kekasihnya.
“Sewaktu kau pertama kali
mendengar nama Pulau Es, dan mengetahui siapa penghuninya... apa yang terlintas
dalam benakmu tentang mereka, Kang?” Melati malah balas mengajukan pertanyaan.
“Kau benar, Melati. Kali ini
otakmu sungguh cemerlang! Kau telah memikirkan masalah yang tidak terpikir
olehku! Luar biasa! Ya! Aku baru melihat keanehannya di sini. Pantas tadi kau
mengatakan orang-orang berpakaian merah tidak cocok menghuni Pulau Es.”
“Kau belum menjawab pertanyaanku,
Kang,” ujar Melati mengingatkan. “Kalau belum men-dengar sendiri jawabanmu,
rasanya aku belum puas.”
“Baiklah, kalau begitu. Dugaanku
mereka rata-rata berusia tua, mempunyai sikap sabar dan welas asih,” jelas
Arya.
“Persis! Aku pun menduga
demikian, Kang! Itu sebabnya kukatakan kalau orang-orang berpakaian merah itu
tidak cocok menghuni Pulau Es,” sambung Melati mendukung dugaan
Arya.
Arya tercenung mendengar ucapan
Melati. Meskipun sepasang matanya menatap ke arah pertarungan yang masih terus
berlangsung, tapi pikirannya diputar untuk mencerna ucapan-ucapan Melati.
“Mungkinkah mereka bukan penghuni
pulau ini, Melati?” duga Arya tiba-tiba sambil menatap wajah Melati
lekat-lekat.
Gadis cantik itu terperanjat
Dengan raut wajah bodoh, ditatapnya wajah kekasihnya.
“Kalau begitu..., mereka dari
mana, Kang? Mereka tidak mungkin berasal dari daratan yang sama dengan kita.
Ciri-ciri mereka amat aneh....” ujar Melati.
“Barangkali berasal dari salah
satu pulau yang ada di dekat pulau ini. Mungkin dari Pulau Api atau Pulau Air?”
sahut Dewa Arak.
“Hehhh...?!” Melati tersentak.
“Mengapa kau berpikir sejauh itu, Kang?! Keberadaan peng-huni Pulau Es saja
masih merupakan tanda tanya besar. Kini kau tambah lagi dengan Pulau Air dan
Pulau Api.”
“Eh...?! Kau ini lupa atau
berpura-pura pikun, Melati. Bukankah berita tentang Pulau Air dan Pulau Api itu
kudapatkan darimu?! Tapi, mengapa malah kau yang bingung sekarang?!” ujar Arya
setengah bercanda.
***
“Akh...!”
Sebuah jerit kesakitan mengalihkan
per-hatian Melati dan Arya. Pasangan pendekar muda itu langsung melupakan
persoalan yang tengah mereka debatkan.
Seorang anggota Perkumpulan
Garuda Hitam tampak terhuyung-huyung ke belakang. Kedua tangannya didekapkan ke perutnya yang terluka. Darah merembes dari
celah-celah jari tangan.
Dewa Arak dan Melati segera
mengedarkan pandangan ke arah orang-orang berpakaian merah. Mereka ingin tahu
siapa yang telah melukai orang Perkumpulan Garuda Hitam itu.
Dan ketika pasangan pendekar muda
itu melihatnya, Melati tidak kuasa menahan jeritan. Gadis berpakaian putih itu
terkejut bukan main! Betapa tidak? Seorang lelaki berpakaian merah yang berkumis tipis, tengah memasukkan sesuatu yang berlumur
darah segar ke dalam mulutnya. Melati maupun Arya tidak mengetahui secara pasti benda
apa yang dimakan. Tapi yang jelas benda itu berasal dari dalam tubuh anggota
Perkumpulan Garuda Hitam yang terluka.
Hampir saja Melati muntah-muntah
melihat pemandangan itu. Seorang manusia memakan jantung atau hati atau ampela
atau paru-paru manusia lainnya mentah-mentah! Sungguh
tidak pemah dibayangkannya! Apalagi dengan cara demikian lahap!
Orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam pun kelihatan terkejut melihat hal itu. Hanya mereka tidak sampai
menjerit seperti Melati. Seketika itu pula pertarungan langsung terhenti. Orang-orang Perkumpulan
Garuda Hitam masih terlalu kaget untuk melanjutkan pertarungan. Sedangkan orang-orang ber-seragam merah memperhatikan kesibukan kawannya. Dengan sorot mata
penuh minat dan air liur menetes, mereka memperhatikan laki-laki berkumis tipis
yang asyik mengunyah.
Tapi, keadaan itu hanya
berlangsung sesaat. Begitu kekagetannya lenyap, yang tinggal dalam hati dan
benak setiap anggota Perkumpulan Garuda Hitam adalah, membalas sakit hati rekan
mereka yang tewas dengan cara demikian mengerikan. Anggota Perkumpulan Garuda Hitam yang malang itu memang hanya
mampu bertahan sebentar, kemudian mati. Dengan kemarahan yang menggebu-gebu,
orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam menghunus senjata masing-masing.
Srat srat, srat!
Sinar terang segera terpancar
ketika mereka mencabut senjatanya masing-masing. Sebatang keris berlekuk
sembilan berwarna putih meng-kilat. Sejak tadi pertarungan memang berlangsung dengan tangan kosong.
Orang-orang berseragam merah itu rupanya tidak mau kalah gertak. Mereka segera
mengeluarkan senjata andalannya.
Ctar ctar ctar!
Bunyi meledak-ledak seperti
halilintar ter-dengar susul-menyusul ketika kelima orang berkulit kemerahan itu
melecutkan cambuknya. Seperti orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam, orang-orang berpakaian merah ini juga memiliki senjata seragam. Senjata
mereka berupa cambuk.
Bunyi ledakan itu mengagetkan
orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam. Mereka segera ber-gerak mundur sambil
melihat senjata lawan-lawannya. Dan ketika telah berhasil melihat secara jelas,
mereka langsung bergidik ngeri! Cambuk lawan ternyata berbeda dengan cambuk
biasa. Cambuk itu mirip gada berduri! Dari pertengahan terus ke ujung penuh
dengan duri!
Tapi, perasaan kaget dan ngeri
itu hanya sebentar menyelimuti hati orang-orang
Perkumpulan Garuda Hitam. Sesaat kemudian, laki-laki berbibir tebal dan hitam
yang bertindak sebagai pemimpin mengeluarkan aba-aba penyerangan.
“Serbu...!”
Tanpa menunggu perintah dua kali,
orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam meluruk maju. Keris-keris di tangan mereka
siap di-hunjamkan ke tubuh lawan. Serbuan orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam
mendapat sambutan hangat dari lawan-lawannya. Per-tarungan sengit pun terjadi.
Dengan senjata-senjata andalan di
tangan, pertarungan berlangsung semakin seru. Jauh lebih ramai dan menarik dari
sebelumnya. Bunyi
lecutan cambuk yang menggelegar
dan desing tajam udara yang terobek keris-keris, menye-maraki suasana
pertarungan.
Kali ini, orang-orang Perkumpulan
Garuda Hitam tidak beruntung. Sejak mula melancar-kan serangan, mereka langsung dibuat
kelabakan oleh kecerdikan orang-orang ber-pakaian merah. Mereka dapat
memanfaatkan kelebihan senjata yang mereka pergunakan. Setiap kali orang-orang
Perkumpulan Garuda Hitam melancarkan serangan dan belum men-capai sasaran,
orang-orang berpakaian merah telah melancarkan serangan lebih dahulu. Terpaksa
orang-orang berseragam hitam itu mengurungkan maksudnya.
Kenyataan ini sangat merugikan orang-orang
berseragam hitam. Sebelum senjata mereka berhasil didaratkan di tubuh lawan,
senjata lawan telah lebih dulu melecut tubuh mereka. Sebab daya jangkau senjata
lawan lebih jauh. Sedangkan mereka tidak berani sembarangan memapaki serangan
lawan. Sasaran yang dituju lawan sukar dapat dipastikan.
Ini tidak berlebihan. Senjata
orang-orang ber-pakaian merah adalah senjata lemas, hingga mudah dikendalikan.
Dan lagi mereka telah amat mahir menggunakannya. Di tangan orang-orang
berseragam merah, cambuk itu mem-punyai keistimewaan beraneka ragam.
Terkadang mereka menggerakkan
cambuk itu secara biasa. Dilecutkan hingga menimbulkan bunyi menggelegar. Tapi
tak jarang gerakan
cambuk itu meliuk-liuk seperti
ular akan me-nerkam mangsa. Yang lebih hebat lagi, orang-orang yang berciri
aneh itu mampu membuat tali cambuk menegang kaku dan lurus seperti sebatang tongkat baja. Tentu untuk me-lakukannya dibutuhkan tenaga dalam tinggi.
Hanya dalam beberapa gebrakan
orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam kewalahan. Taktik yang semula akan mereka
terapkan hancur berantakan Pupus. Semula mereka bermaksud mengurung lawan
sedemikian rupa, sehingga tidak ada jalan keluar sedikit pun. Tapi, tidak
disangka niat itu gagal. Bukan lawan yang mereka kepung. Bahkan sebaliknya,
kepungan mereka hancur berantakan. Masing-masing
berjuang keras untuk menyelamatkan selembar nyawanya.
Belum sampai sepuluh jurus
bertarung, kedudukan orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam telah berada di bawah
angin. Robohnya mereka hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan, itu diketahui
pasti oleh Dewa Arak dan Melati. Tanpa kesulitan mereka dapat menyak-sikan
jalannya pertarungan. Keduanya pun tahu kalau tak lama lagi orang-orang
berpakaian merah akan mendapat kemenangan mutlak! Dugaan pasangan pendekar itu
tepat Sebab, sesaat kemudian....
Ctarrr! Prattt! “Akh!”
Jeritan tertahan keluar dari
mulut seorang anggota Perkumpulan Garuda Hitam ketika
ujung cambuk lawan menyerempet
bahunya. Sebelum gema teriakannya lenyap, rekannya menyusul ikut menjerit Dalam
sekejap, lima orang anggota Perkumpulan Garuda Hitam terkena lecutan cambuk.
Tinggal sembilan orang yang masih mampu mengelak. Tapi, giliran mereka sudah
dapat dipastikan akan tiba.
Semua kejadian itu tidak lepas dari pandangan Dewa Arak dan Melati. Sebuah
senyuman penuh kelegaan tersungging di mulut Dewa Arak. Pemuda itu melihat
lecutan cambuk orang-orang berseragam merah tidak ada yang mengenai bagian
mematikan. Bagian yang terlecut hanya bahu atau paha.
Agaknya dugaan Dewa Arak dan
Melati telah keliru selama ini. Orang-orang berserangan merah ternyata tidak
sejahat yang mereka duga. Kenyataan serangan cambuk mereka hanya mengenai bagian yang tidak berbahaya.
Padahal, untuk mencambuk ke bagian yang berbahaya mudah saja dilakukan oleh
orang-orang berpakaian merah itu.
“Dugaan kita ternyata keliru,
Melati,” kata Arya, “Orang-orang berpakaian merah ternyata tidak sejahat yang
kita kira. Kau lihat sendiri, kan?!”
Tapi sebelum Melati sempat
memberikan tanggapan, terdengar suara jeritan menyayat. Seketika itu pula
perhatian sepasang muda-mudi itu berpindah ke arah asal suara. Dan mata mereka
membelalak kaget
Suara jeritan itu berasal dari
orang-orang
Perkumpulan Garuda Hitam yang
tadi terkena cambuk. Orang-orang itu menjerit-jerit dan menggeliat-geliat
dengan raut wajah menunjuk-kan-rasa sakit yang sangat. Yang membuat bulu kuduk
berdiri, adanya kepulan asap yang keluar dari bagian tubuh yang terkena lecutan
cambuk. Mula-mula sedikit dan tipis. Tapi lama-kelamaan
semakin banyak dan tebal.
Kejadian yang menggiriskan hati
ini pun disaksikan orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam lainnya. Meskipun
mereka tengah ber-tarung hidup dan mati. Tapi, apa yang dapat mereka lakukan?
Jangankan menolong, mem-pertahankan nyawa dari serangan ujung cambuk lawan saja sudah amat
sulit. Akhimya, mereka berusaha menulikan telinga dan me-matikan perasaan akan
penderitaan yang dialami
rekan-rekannya. Sedangkan Dewa Arak dan Melati menyaksikan kejadian itu dengan
jelas dan gamblang. Keduanya memperhatikan tanpa berkedlp.
“Mereka..., apa yang terjadi atas
diri mereka, Kang?” tanya Melati terbata-bata. Tarikan wajah gadis berpakaian
putih itu menyiratkan rasa ngeri yang besar.
“Entahlah, Melati. Aku sendiri
belum bisa memastikan. Tapi, kemungkinan besar orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam itu tengah keracunan hebat... Sejenis racun yang amat keji!” desis Dewa
Arak penuh kemarahan.
“Racun?! Mereka terkena racun?
Kapan dan bagaimana mereka dapat terkena racun keji itu,
Kang?!” tanya Melati penasaran.
“Tidakkan kau lihat dari mana
keluarnya asap itu, Melati? Tempat luka-luka cambuk?! Nah! Racun itu berasal
dari cambuk orang-orang berseragam merah. Hhh...! Kini aku tahu, mengapa mereka
tidak mengarahkan lecutan cambuknya pada bagian yang mematikan!” ujar Arya
geram.
“Mengapa, Kang?!” desak Melati
tidak sabar. “Mereka tidak menginginkan orang-orang
Perkumpulan Garuda Hitam tewas
secara enak. Mereka ingin lawan tewas secara perlahan-lahan dan penuh
penderitaan. Kita salah duga, Melati. Orang-orang yang kita sangka malaikat
ternyata iblis-iblis keji yang berhati kejam. Hm.... Kalau mereka tetap
menyebar kekejian itu, jangan harap aku akan tinggal diam!” mantap dan tegas
Dewa Arak mengucapkan kata-kata.
Sementara itu keadaan orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam
yang dilanda keracunan semakin menggiriskan hati. Racun yang menyerang mereka
adalah racun ganas dan keji. Racun itu membuat kulit, daging, dan tulang mereka
hancur luluh seperti lilin ter-bakar. Asap yang keluar itu tercipta karena
melelehnya daging, kulit, dan tulang mereka. Orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam itu menanggung rasa sakit yang sangat. Lolong kesakitan dan
geliatan-geliatan tubuh mereka menjelaskan semuanya.
“Ada yang bisa kau lakukan untuk
menolong
mereka, Kang?” tanya Melati. Ada
nada per-mintaan dalam ucapannya. Gadis cantik itu sudah tidak tahan melihat
pemandangan yang terpampang di hadapannya.
“Sayang sekali, Melati. Aku tidak
bisa me-nolong mereka. Aku tidak tahu bagaimana mengobati orang yang terkena
racun seperti itu,” jawab Arya menyesal.
“Kalau begitu..., bagaimana kalau
mereka kita bunuh saja, Kang?! Aku tidak tahan me-lihatnya. Lagi pula, aku rasa
mereka lebih suka mati dibunuh daripada mati perlahan-lahan dan penuh
penderitaan seperti itu,” usul Melati .
“Sebuah usul yang baik, Melati.”
Arya mem-berikan tanggapan setelah termenung beberapa saat. 'Tapi, akan lebih
baik kalau rekan-rekan mereka sendiri yang melakukannya. Di samping untuk
melepaskan kita dari kesalahpahaman yang mungkin terjadi, nyawa mereka pun
dapat kita selamatkan. Aku tidak ingin mereka ikut menjadi korban
keganasannya!”
“Aku setuju, Kang!” dukung
Melati.
“Kalau begitu..., mari kita
selamatkan orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam itu!”
Usai berkata demikian, Dewa Arak
melesat ke arah kencah pertarungan. Demikian pula Melati. Mereka ingin menyelamatkan orang-orang
Perkumpulan Garuda Hitam dari incaran maut orang-orang berseragam merah.
Sungguh me-rupakan suatu kebetulan. Keadaan orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam memang sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka terpontang-
panting ke sana kemari
mengelakkan serangan cambuk lima orang lawan mereka.
***
6
“Harap kalian menyingkir! Dan
urus kawan-kawan kalian. Biar kami yang mengurus mereka!”
Dalam kedudukan masih berada di
udara, Dewa Arak memberi perintah. Tidak itu saja. Di samping memberi perintah
pada orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam, pemuda itu pun memberi kesempatan pada mereka untuk
melakukannya. Di saat tubuh pemuda itu melayang mendekati kancah pertarungan,
Dewa Arak dan Melati mengibaskan kedua tangannya bertubi-tubi ke arah
orang-orang berpakaian merah.
Wut, wut wut!
Deru angin keras mengiringi tibanya
serangan itu. Menjadikan peringatan bagi orang-orang berpakaian merah. Mereka
tahu pukulan-pukulan jarak jauh itu mengandung tenaga dalam amat kuat. Maka,
mereka pun segera menghindar. Dengan demikian, orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam dapat dengan leluasa memenuhi anjuran Dewa Arak. Tanpa menunggu perintah
dua kali mereka ber-lompatan mundur. Lalu, menghampiri kawan-kawannya yang
terluka. Tentu saja dalam jarak yang aman. Karena mereka khawatir akan terkena
percikan lelehan tubuh itu. Bukan tidak
mungkin melalui lelehan itu racun akan
menular!
Beberapa saat lamanya, sepuluh orang Perkumpulan Garuda Hitam yang masih sehat berdiri
terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Kalau menuruti perasaan, ingin rasanya
mereka memberi pertolongan. Tapi apa daya? Mereka tidak tahu caranya! Akhirnya
mereka tertegun bingung. Sementara kelima orang berpakaian merah telah berhasil
memperbaiki keadaannya. Tepat pada saat Dewa Arak dan Melati men-daratkan kaki.
“Siapa kalian?! Mengapa begitu
berani men-campuri urusan ini?! Apakah kalian sudah bosan hidup?!” tanya
seseorang yang berkumis tipis. Nada suaranya sarat dengan kemarahan.
“Kalian sendiri siapa?!” bukannya
menjawab, Melati malah mengajukan pertanyaan. “Beri-tahu dulu siapa kalian.
Setelah itu, dengan senang hati kami akan memberitahu siapa kami.”
“Keparat! Wanita tak tahu
diuntung! Mulut-mu terlalu lancang! Rupanya kau sudah bosan hidup, hehhh?!”
Ctarrr...!
Dengan terlebih dulu melecutkan
cambuknya ke udara sehingga mengeluarkan bunyi keras yang menggelegar dan asap
mengepul tipis ke atas, laki-laki berkumis tipis yang bertindak sebagai
pemimpin melancarkan serangan.
Hebat! Permainan cambuknya patut
men-dapat pujian. Ujung cambuk itu tidak melecut!
Tapi mematuk-matuk. Yang lebih
mengagum-kan, bagian yang dituju jalan darah kematian! Ubun-ubun, pelipis, dan
bawah hidung!
Melati tidak berani bertindak gegabah!
Disadarinya betapa berbahaya serangan itu. Bukan hanya karena bagian mematikan
yang dituju, tapi cambuk itu mengandung racun yang mengerikan! Tersentak
sedikit saja berarti maut! Melati menyadari betul akan hal itu. Karena itu,
pedangnya segera dihunus. Dengan senjata andalan di tangan, dipapaknya patukan
ujung cambuk.
Prat, prat, prat!
Terdengar bunyi cukup keras
ketika pedang dan cambuk berbenturan beberapa kali.
Tindakan Melati tidak terhenti sampai di situ. Begitu serangan lawan berhasil
dipatahkan, serangan balasan langsung dikirimkan. Diiringi bunyi menggerung
keras seperti naga murka, Melati menusukkan pedangnya ke arah leher lawan.
Laki-laki berkumis tipis itu terperanjat
Serangan balasan yang dikirimkan lawan begitu cepat Dengan agak gugup tubuhnya
dibanting ke tanah. Dan hasilnya memang jitu! Serangan Melati kandas!
Tapi Melati tidak berminat
membiarkan lawannya lolos. Gadis berpakaian putih itu mengejarnya, kemudian
kembali melancarkan serangan. Hingga lawan kewalahan. Karena untuk bangkit
tidak mungkin lagi, lelaki berkumis tipis itu mengelakkan serangan
dengan menggulingkan tubuh.
Lagi-lagi Melati tidak tinggal diam. Dikejarnya ke mana lawan mengelak, dan
menghujani dengan serangan-serangan mematikan.
Hasilnya terpampang sebuah
pemandangan yang menarik. Laki-laki berpakaian merah terus-menerus
menggulingkan tubuh, sedangkan Melati memburunya sambil melancarkan
tusukan bertubi-tubi.
Kelincahan lelaki berkumis tipis
memang patut diacungkan ibu jari. Lelaki itu mampu mengelakkan setiap serangan
Melati. Hingga berlangsung beberapa jurus. Meskipun
demikian, keadaan lelaki berpakaian merah itu tetap mengkhawatirkan. Sampai
berapa lama dia dapat bertahan dengan sikapnya itu? Dan itu disadari betul oleh
pihak-pihak yang bertarung, Dewa Arak dan orang-orang berpakaian merah lainnya.
Empat lelaki berpakaian merah itu tidak berani mengambil resiko dengan
mem-biarkan lelaki berkumis tipis terus diburu dan dihujani serangan.
“Haaat..!”
Dengan didahului teriakan melingking nyaring, empat lelaki berpakaian merah
melompat menyerbu Melati.
Ctar, ctar, ctar!
Bunyi meledak-ledak terdengar
ketika empat cambuk meluncur ke arah Melati. Masing-masing lawan melancarkan
serangan dalam bentuk yang berlainan. Melati tidak terkejut melihat serangan
mereka. Itu memang sudah
diperhitungkarmya. Pengejarannya
segera di-hentikan. Lalu tubuhnya dilempar ke belakang dan bersalto menjauhkan
diri. Hasilnya memang ampuh. Semua serangan cambuk itu berhasil dipunahkan.
Jliggg!
Begitu kedua kaki Melati mendarat
di tanah, di sebelahnya telah berdiri Dewa Arak. Pemuda berambut putih
keperakan itu tidak bisa tinggal diam melihat kekasihnya menghadapi ke-royokan lima orang lawan. Arya sadar
kalau lima orang berpakaian merah itu berkepandaian cukup tinggi.
“Sabarlah, Kisanak. Aku yakin ada
kesalah-pahaman di antara kita. Dan...”
Dewa Arak yang bermaksud mencegah
ter-jadinya pertarungan, terpaksa menghentikan ucapannya. Kelima orang itu
tidak mem-pedulikan seruannya. Mereka terus merangsek maju. Maju tidak mau
pemuda berambut putih keperakan itu melakukan perlawanan.
Berbeda dengan Melati yang
langsung meng-gunakan ilmu andalan 'Pedang Seribu Naga', pemuda berambut putih
keperakan itu tidak menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'. Yang dikeluarkannya ilmu-ilmu warisan
ayahnya. Ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' dan ilmu 'Sepasang Tangan
Pembunuh Naga' (Untuk jelasnya silakan baca Serial Dewa Arak dalam episode
perdana: 'Pedang Bintang')
***
Ctar, ctar, ctar!
Bunyi menggeletar seperti halilintar menyambar terdengar, ketika lima
orang ber-pakaian merah meluruk ke arah Dewa Arak dan Melati. Mereka menyerbu
dengan berpencar dari berbagai arah. Orang-orang berpakaian merah tidak ingin
menghadapi lawan satu-satu.
Melihat taktik lawan, Melati
langsung mem-balikkan tubuh. Gadis itu saling membelakangi dengan kekasihnya
untuk menghadapi ke-pungan lawan. Untuk menghadapi kepungan, taktik perlawanan
seperti itu memang lebih menguntungkan. Dengan begitu, mereka berdua bisa
memusatkan perhatian pada lawan yang berada di depan dan samping mereka.
“Haaat..!”
Dibarengi teriakan menggeledek
yang meng-getarkan tempat itu, lima orang berpakaian merah melancarkan
serangan. Cambuk-cambuk berduri di tangan mereka saling mendahului mencapai
sasaran. Serangan yang dilakukan berbeda-beda. Melecut, mematuk-matuk, dan
meliuk-liuk seperti ular merayap.
Pertarungan pun tidak bisa
dihindarkan lagi. Melati mempergunakan pedang sedangkan
Dewa Arak menggunakan guci, yang kali ini isinya tidak ditenggak. Karena Dewa
Arak tidak menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'.
Setelah terlibat pertarungan
langsung dengan mereka, Dewa Arak dan Melati baru mengetahui kehebatan orang-orang berpakaian merah.
Tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya
tidak bisa diremehkan. Mereka pun
mampu melakukan kerjasama dalam pertarungan
keroyokan. Sebuah kerjasama yang luar biasa!
Betapa tidak? Meskipun mereka
berlima, tapi seperti mempunyai satu pikiran. Mereka mampu saling mengisi satu
sama lain, baik dalam pertahanan maupun penyerangan. Dengan kerja sama begitu,
serangan mereka menjadi lebih dahsyat dan kekuatan pertahanan mereka lebih
kokoh!
Semua itu dirasakan sendiri oleh
Dewa Arak dan Melati. Setiap serangan mereka selalu dipapaki tiga orang lawan.
Anehnya, tenaga-lawan seperti menyatu. Hingga kekuatan lawan berlipat ganda dan
Dewa Arak serta Melati tidak bisa mengambil keuntungan dari keunggulan tenaga
mereka. Kehebatan serangan gabungan ini mampu bertahan hingga tiga puluh jurus.
Melati dan Dewa Arak tetap terkurung.
Sementara sepuluh orang anggota Perkumpulan Garuda Hitam yang selamat
tertunduk lesu. Tubuh lima orang rekan mereka yang tadi menjerit-jerit
kesakitan kini tidak terlihat lagi. Mereka telah tiada. Mati secara mengerikan
tanpa jejak. Tubuh mereka meleleh dan terserap ke dalam tanah.
Setelah berhasil meredakan rasa
sedih yang mendera, kesepuluh orang itu mengalihkan perhatian ke arah
pertempuran. Sorot mata mereka memancarkan dendam. Tapi apa yang bisa
dilakukan? Lawan terlalu kuat untuk mereka. Yang dapat dilakukan hanya berharap
agar Dewa Arak dan Melati dapat
merobohkan lawan. Sementara itu pertarungan masih berlangsung sengit. Belum terlihat
tanda-tanda pihak mana yang akan kalah. Mendadak....
“Hey...!”
Salah seorang lelaki berpakaian
merah ber-seru kaget Serangannya segera dihentikan dan jari telunjuknya
menunjuk ke angkasa. Melihat kelakuan rekannya, empat orang berseragam merah
lainnya pun menghentikan penyerangan dan melompat ke belakang. Dan di saat tubuh
mereka berada di udara, pandangannya diarah-kan ke angkasa. Terlihat oleh
mereka cahaya kemerahan yang gemerlapan.
Pemandangan itu pun tidak luput
dari peng-lihatan Dewa Arak dan Melati. Dan, mereka tidak menggunakan
kesempatan itu untuk mendesak lawan. Dewa Arak dan Melati tidak mau melancarkan
serangan di saat lawan belum siap.
Kedua pendekar muda itu melihat
betapa sikap lima lelaki berpakaian merah berubah gelisah. Mereka tidak mempedulikan ke-beradaan sepasang pendekar muda itu lagi.
Sebaliknya, saling bertukar pandang sebelum akhimya melesat
menuju tempat cahaya kemerahan itu berasal.
“Keparat keji! Tunggu...!”
Orang-orang Perkumpulan Garuda
Hitam yang dendam atas kematian rekan-rekannya langsung berseru mencegah,
melihat orang-orang berpakaian merah melarikan diri. Secepat
itu pula mereka bergerak
mengejar. Tapi orang-orang berseragam merah tidak mempedulikan teriakan itu.
Mereka terus berlari dengan kecepatan penuh. Sehingga dalam beberapa kali
lesatan, sepuluh orang-orang Perkumpulan
Garuda Hitam tertinggal jauh.
Kejadian itu diperhatikan oleh
Dewa Arak dan Melati. Kali ini, sepasang pendekar muda itu tidak mencampurinya.
Mereka tahu orang-orang berpakaian merah tidak akan meladeni permintaan
orang-orang Perkumpulan Garuda Hitam. Maka mereka pun mengalihkan per-hatian
dari sosok-sosok tubuh saling berkejaran itu. Setelah sosok sosok itu tidak
terlihat lagi, Dewa Arak dan Melati saling bertukar pandang.
“Apa yang terjadi, Kang? Mengapa
orang-orang berseragam merah tiba-tiba meninggalkan pertarungan?! Mungkinkah
cahaya kemerahan tadi merupakan isyarat dari kawan-kawan mereka yang
membutuhkan bantuan?!” tanya Melati ingin tahu.
“Aku pun menduga demikian,
Melati. Cahaya kemerahan itu dilepaskan oleh kawan-kawan mereka yang meminta
bantuan,” ujar Arya.
“Kalau benar demikian, berarti
ada bahaya yang tengah mengancam orang-orang ber-pakaian
merah! Tapi..., bahaya dari mana, Kang?” Melati kembali mengajukan pertanyaan.
“Hhh...! Entahlah, Melati.
Tapi... eh...! Ingat-kah kau akan cerita Reksa tentang dua datuk sesat?” tanya
Arya.
“Ah...! Kau benar, Kang. Pasti
bahaya itu
yang tengah menimpa rekan-rekan
orang-orang berpakaian merah,” sahut Melati yakin. “Kalau begitu... mari kita
ke sana, Kang.”
Begitu Dewa Arak menganggukkan
kepala, Melati melesat dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya.
Dewa Arak pun melesat mengikuti gadis itu. Sesaat kemudian, sepasang pendekar
muda itu telah berlari ber-sisian menuju asal cahaya kemerahan itu.
Dewa Arak dan Melati berlari
cepat sambil mengingat tempat munculnya cahaya ke-merahan di langit Tak lama kemudian,
sepasang muda-mudi itu terperanjat melihat pe-mandangan yang
terbentang tak jauh di hadapan mereka. Sebuah bangunan besar
mirip istana! Tak teriihat jelas dari kejauhan karena permukaan tanah yang
tinggi rendah. Hingga mereka hanya melihat berupa bangunan besar.
Belum juga rasa kaget kedua orang
muda itu reda, datang kejutan lainnya. Di depan
bangunan besar itu tampak banyak bergeletakan sosok tubuh. Tidak terlihat adanya
sosok yang berdiri tegak di sana. Bahkan suasana kelihatan sepi.
Melihat kenyataan ini Dewa Arak
menyuruh Melati menghentikan langkah. Dengan gerak isyarat diberitahukannya
agar gadis itu jangan bertindak gegabah. Tanpa banyak bicara Melati menurutinya. Gadis itu tidak melakukan tindakan apa pun, hingga
Dewa Arak memberi isyarat
selanjutnya. Kemudian, sepasang muda-mudi itu meng-
hampiri dengan sikap penuh
waspada. Tapi kekhawatiran mereka tidak beralasan. Sampai tiba di tempat
sosok-sosok tubuh yang ber-geletakan, tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
“Sepertinya telah terjadi
pertarungan di tempat ini, Kang,” duga Melati pelan.
Pandangan diedarkan ke arah sosok yang bergeletakan di bawah kakinya.
“Benar, Melati,” jawab Arya.
Pandangannya tertuju pada sosok-sosok yang tergolek di tanah. “Melihat keadaan
mayat-mayat ini mungkin tidak hanya dua pihak yang terlibat.”
Melati menganggukkan kepala
membenarkan dugaan kekasihnya. Telah disaksikan sendiri kenyataan itu.
Sosok-sosok yang bergeletakan tanpa nyawa itu mengenakan pakaian yang
berlainan. Bahkan beberapa di antaranya
memiliki ciri-ciri yang unik!
“Perkembangan kejadian di sini
jadi demikian memusingkan,” ujar Dewa Arak dengan dahi berkernyit. “Orang-orang
berpakaian merah belum kita ketahui asal-usulnya. Kini kita jumpai orang-orang
berpakaian serba putih dengan kulit kepucatan seperti tidak pernah terkena
sinar matahari.”
Di antara sosok-sosok itu memang
terdapat sosok yang berpakaian putih. Di samping itu, terdapat sosok-sosok yang
berpakaian hitam dan merah.
“Kakang...,” sapa Melati
hati-hati.
Arya mengangkat kepala menatap
wajah
gadis berpakaian putih itu. “Ada
apa, Melati?” “Rupanya masih ada yang hidup, Kang,” beri
tahu Melati sambil menunjuk ke
arah seorang kakek berpakaian putih.
Melihat kenyataan itu, tanpa
membuang-buang waktu Arya menghampiri dan berjongkok di dekatnya.
“Apa yang terjadi, Ki?” tanya
Arya segera. Khawatir orang itu keburu mati sebelum mem-berikan jawaban. Sebab
keadaan orang itu sudah amat parah.
“Seorang kakek mirip monyet dan
berkulit hitam... akh...!”
Sebelum sempat menyelesaikan
ucapannya, kakek berpakaian putih itu menghembuskan napas terakhir.
“Raja Monyet Muka Hitam...,” Arya
dan Melati hampir bersamaan. menyebutkan julukan itu. Kemudian perlahan-lahan
keduanya ber-gerak bangkit. Mendadak...
“Kakang...!” kembali Melati
menyapa. “Ada apa, Melati?”
“Dugaanmu tepat, Kang. Di sini
ada tempat tinggal. Berarti pulau ini tidak kosong,” Melati mengalihkan pandang
ke arah bangunan besar mirip istana yang putih berkilauan. Pulau Es.
“Ya,” hanya itu yang dapat
diucapkan Dewa Arak. Bertumpuk-tumpuk pertanyaan mem-bebani benaknya. Hingga
otaknya sukar untuk diajak berpikir.
“Sekarang yang menjadi
pertanyaan..., siapa atau lebih tepatnya kelompok mana yang
memiliki pulau ini, Kang?!” ucap
Melati lagi. “Hhh...!” Dewa Arak menghembuskan napas
berat. “Itu akan kita ketahui
nanti, Melati. Saat ini lebih baik kita mencari orang-orang ber-pakaian merah. Kita harus mendapat keterangan dari mereka, siapa atau kelompok mana pemilik
pulau ini sebenarnya. Aku yakin mereka mengetahuinya.”
“Ke mana kita harus mencarinya,
Kang. Mereka tidak ada di sini. Dan ke mana mereka pergi, kita tidak tahu.”
“Kalau begitu, sekarang kita
pusatkan per-hatian kita pada bangunan itu. Mudah-mudahan di sana ada jawabnya.
Malah bukan tidak mungkin mereka tengah berada di dalam sana,” jelas Arya
sambil menunjuk ke arah bangunan besar mirip istana.
Melati mengernyitkan dahi.
“Menurutku..., mereka tidak
berada di sana, Kang. Suasana di dalam sana tampak sangat sepi. Aku lebih
condong kalau bangunan besar itu kosong,” ujar Melati yakin.
“Mari kita buktikan
kebenarannya,” Dewa Arak mengayunkan langkah memasuki
bangunan itu. Melati mengikuti di belakangnya. Sepasang mata gadis berpakaian
putih itu merayapi bangunan yang seluruhnya tertutup es.
Sambil berjalan, Dewa Arak
berpikir keras. Korban yang berjatuhan cukup banyak, semua-nya kurang lebih
lima belas orang. Keadaan di sekitar tempat itu pun kacau balau. Pertarungan
itu pasti berlangsung sengit.
Tapi mengapa dia maupun Melati tidak mendengarnya sama sekali? Pemuda berambut
putih keperakan itu rupanya tidak tahu, bentuk dan keadaan daratan Pulau Es
telah membuat perjalanan gelombang suara dan bunyi terhambat.
Selangkah demi selangkah, pasangan pendekar muda itu mendekati
pintu gerbang yang terbuka lebar sehingga memperlihatkan sebagian isi bangunan.
Sebelum Dewa Arak dan Melati berhasil melewati daun pintu gerbang....
“Berhenti...!”
Seruan keras terdengar. Dewa Arak
dan Melati menghentikan langkah dan berbalik dengan sikap waspada. Tepat pada
saat itu, sesosok bayangan putih melesat cepat ke arah Dewa Arak. Sosok
menerjang pemuda berambut putih keperakan. Gerak serangannya meng-ingatkan
orang akan serbuan burung elang menerkam mangsanya.
Serangan yang tidak disangka-sangka
itu mengejutkan Dewa Arak. Namun, kesigapan membuatnya langsung bertindak.
Karena tidak mungkin mengelak lagi, dipapakinya serangan itu dengan pengerahan
seluruh tenaga dalamn-ya.
Wut! Plak, plak..!
***
7
Aih...!”
Diiringi jeritan kaget, tubuh
Dewa Arak dan sosok bayangan putih terjengkang. Dewa Arak terhuyung-huyung ke
belakang, sedang sosok bayangan putih terpental balik. Tapi...
“Hup!”
Dengan gerakan manis dan indah,
Dewa Arak maupun sosok bayangan putih berhasil me-matahkan kekuatan daya dorong
tubuh mereka.
Setelah berhasil memperbaiki
kedudukan, kedua orang itu kembali bersikap siaga. Dua pasang mata saling
beradu pandang. Masing-masing pihak berusaha mengukur kemampuan lawan melalui
sorot mata. Mendadak...
“Siapa kau...? Cepat katakan.
.?!” ucap sosok bayangan putih dengan suara bergetar.
Sosok itu adalah seorang kakek
yang sudah sangat tua. Pakaian yang dikenakannya serba putih. Demikian pula
rambut, alis, kumis, jenggot, dan cambangnya. Kulitnya pun pucat seperti tidak
pernah terkena sinar matahari. Kesan yang timbul, kakek itu mirip mayat.
Sesaat kemudian, wajah kakek itu
dilanda rasa kaget yang amat sangat. Tarikan wajah dan desah suaranya yang
menggeletar menjelaskan semua itu. Hingga Arya heran dibuatnya. Mengapa kakek
itu nampak demikian kaget
melihatnya?
“Aku Arya dan kawanku ini Melati.
Kami bukan orang jahat..,” jelas Dewa Arak jujur. Pemuda berambut putih
keperakan khawatir jika kakek berpakaian putih itu salah paham dan berprasangka
buruk.
“Arya?!”
Kakek berpakaian putih
mengernyitkan aiis. Ada sorot kekecewaan pada sepasang matanya. Kenyataan itu
membuat Dewa Arak dan Melati semakin heran. Tanpa sadar keduanya saling
berpandangan. Dan, Melati menduga kakek yang berdiri di hadapan mereka bukan
orang waras!
“Berapa usiamu sekarang..., Anak
Muda?!” kakek berpakaian putih itu tampak bingung untuk memanggil Dewa Arak.
Arya dan Melati bertambah kaget
bercampur heran mendengar pertanyaan itu.
“Jangan-jangan kakek ini tidak
waras, Kang,” bisik Melati. Khawatir akan terdengar kakek berpakaian putih. Dan
kekhawatiran Melati terwujud. Terbukti dari ucapan selanjutnya kakek berpakaian
putih itu.
“Jangan khawatir, Bocah Ayu. Aku
bukan orang gila. Aku hanya ingin tahu lebih jelas tentang diri kawanmu ini.
Boleh kan kalau aku ingin mengenalnya lebih jauh?!”
Melati terkejut bukan main
mengetahui kakek itu mendengar bisikannya. Arya pun agak terkejut Walaupun dia
tahu kalau kakek itu berkepandaian tinggi. Namun sungguh tidak
disangka pendengarannya demikian tajam, sehingga mampu mendengar
bisikan halus dalam jarak sekitar delapan tombak! Kenyataan ini membuat Dewa
Arak semakin berhati-hati.
“Tentu saja boleh, Ki,” jawab
Arya tenang. Pemuda berambut putih keperakan itu telah berhasil menguasai
perasaannya. “Tapi, tentu tidak adil kalau hanya aku yang mendapat pertanyaan.
Aku juga ingin mengenalmu.”
“He he he...!” kakek berpakaian
putih itu tertawa lunak. “Maaf. Maaf. Aku telah berlaku kurang sopan. Kuharap
kalian bisa memaklumi. Kedatangan orang-orang yang tidak bermaksud baik ke
pulauku, dan menyebar keonaran di sana-sini membuatku kurang bisa bersikap
layak terhadap kalian.
“Ah...!” Dewa Arak dan Melati
berserukaget “Jadi..., kau pemilik Pulau Es ini, Ki?” Arya
berusaha memastikan setelah
berhasil me-nenangkan perasaannya.
“Benar. Aku adalah pemilik pulau
ini,” kakek itu mengangguk. “Namaku Sangga Buana. Dan bangunan yang hendak
kalian masuki adalah tempat tinggalku.”
Sangga Buana?! ulang Dewa Arak
dalam hati. Rasanya dia pemah mendengar nama itu. Tapi Arya lupa. Kapan dan di
mana nama itu pernah didengamya. Benaknya berputar menggali
seluruh ingatannya. Di saat Dewa Arak tengah berkutat dengan ingatannya, Melati
mengambil alih pembicaraan.
“Kalau kau pemilik pulau ini...,
lalu siapa
orang-orang itu?!” tanya Melati
sambil me-nunjuk ke arah sosok-sosok tubuh berpakaian putih yang bergeletakan
di sekitar tempat itu.
“Hhh...!'
Kakek Sangga Buana menghembuskan
napas berat. Tarikan wajahnya menyiratkan ke-dukaan.
Pertanyaan Melatilah penyebabnya. Hingga gadis berpakaian putih itu merasa
tidak enak.
“Maafkan aku, Ki. Bukan maksudku
mem-buatmu bersedih....”
“Aku tahu!” potong kakek
berpakaian putih cepat. “Aku tahu kau tidak bermaksud demikian. Tanpa kau
bertanya pun aku sudah merasa tidak nyaman. Hhh...! Mereka adalah orang-orangku
yang setia. Menemaniku di sisa umur-ku. Bagaimana aku tidak bersedih atas
kematian mereka?” Sangga Buana menunduk-kan kepala. Tampak jelas dia merasa
terpukul akan kenyataan yang dihadapinya.
Melati tidak berani mengganggu
lagi. Dibiar-kan saja kakek berpakaian putih itu tertunduk. Ditengoknya Dewa
Arak. Tapi pemuda berambut putih keperakan itu hanya mengangkat bahu sambil
memberi isyarat agar tidak mengganggu Sangga Buana.
Tidak lama Sangga Buana tenggelam
dalam kesedihannya. Sesaat kemudian, kakek itu mengangkat wajahnya. Tidak
tampak lagi kesedihan di sana. Rupanya kakek berpakaian putih itu telah
berhasil menguasai perasaannya.
“Maafkan aku...,” ucap Sangga
Buana lemah.
“Aku telah bertindak cengeng di
hadapan kalian....”
“Ah, tidak mengapa, Ki,” jawab
Dewa Arak bijaksana. “Kami bisa memakluminya. Dan....”
“Lupakan saja, Anak Muda. Oh, ya.
Tadi aku belum selesai dengan pertanyaanku. Sekarang akan kuulangi lagi. Berapa
usiamu, Anak Muda? Maaf bukannya aku bermaksud mengejekmu. Melihat keadaan
tubuh dan wajahmu, aku yakin usiamu tidak lebih dari dua puluh lima tahun.
Tapi..., mengapa rambutmu berwarna seperti itu? Apakah memang sejak lahir
rambutmu berwarna demikian?”
'Tidak, Ki,” Arya menggeleng, “Warna
rambutku berubah seperti ini sewaktu usiaku hampir dua puluh tahun. Menurut
guruku, ini disebabkan oleh ilmu yang kupelajari.”
“Ooo...,” mulut Sangga Buana
membentuk bulatan. “Lalu... berapa usiamu yang sebenar-nya, Anak Muda?”
“Sekitar dua puluh satu tahun,
Ki,” jawab Arya.
Sangga Buana mengangguk-angguk.
“Mengenai namamu tadi... Arya bukan?
Apakah itu nama lengkapmu?” tanya
kakek itu menyelidik.
'Tidak, Ki,” Arya menggeleng.
“Namaku sebenarnya Arya Buana.”
“Dan di dunia persilatan dikenal
dengan julukan Dewa Arak, Ki,” sambung Melati bangga.
“Arya Buana?!” ulang Sangga Buana
setengah
terpekik karena rasa kaget yang
sangat. “Apa hubunganmu dengan Tribuana?”
“Tribuana?!” ulang Arya tak kalah
kaget. “Kau mengenalnya, Ki?! Beliau adalah mendiang ayahku!”
“Mendiang?! Jadi..., maksudmu
Tribuana telah meninggal dunia? Dan kau anaknya?!” kali ini ucapan kakek
berpakaian putih terdengar terbata-bata. Kakek itu dicekam rasa tegang yang
memuncak.
“Benar, Ki. Ayahku telah meninggal. Kejadiannya sudah lama terjadi. Kalau boleh kutahu...
di mana kau mengenalnya?” tanya Arya penasaran.
***
Sangga Buana tidak segera menjawab
pertanyaan itu. Kepala malah ditundukkan. Cukup lama hal itu dilakukannya
sehingga Dewa Arak dan Melati hampir kehilangan kesabaran menunggu. Dan sebelum
kedua pendekar muda itu kehilangan kesabaran, Sangga Buana telah mengangkat
wajahnya. Begitu melihatnya, tanpa sadar Arya dan Melati melangkah mundur.
Betapa tidak? Tarikan wajah
Sangga Buana menyiratkan kemarahan yang sangat. Dalam sorot matanya terpancar
kebencian yang meng-gelegak. Semua itu tertuju pada Arya!
“Apa yang terjadi, Ki? Mengapa
kau menatap-ku seperti itu?” tanya Arya kebingungan.
Pemuda berambut putih keperakan
itu merasa-kan yang tidak beres. Dugaan Dewa Arak tidak melesat. Beberapa saat
kemudian....
“Kau bilang Tribuana telah
meninggal?! Hah...! Enak saja! Kau tahu, dia berhutang nyawa padaku. Aku tidak
mau tahu. Apa pun yang terjadi, hutang nyawa itu harus dibayar!” tandas Sangga
Buana geram.
Dewa Arak mengernyitkan alis.
Sungguh tidak disangka akan jadi begini.
“Aku minta kebijaksanaanmu, Ki.
Ayahku meninggal... dan....”
“Ayahmu memang telah meninggal!
Tapi masih ada anaknya. Kaulah yang harus mem-bayar hutang nyawa itu!” potong
Sangga Buana cepat. “Bersiaplah, Arya! Ingat, aku tidak ragu-ragu untuk
membunuhmu!”
“Hhh...!” Dewa Arak menghela
napas berat. “Kau terlalu mendesakku, Ki. Apa boleh buat terpaksa kuladeni
kemauanmu. Asal tahu saja, aku hanya menuruti kehendakmu!”
Mantap dan tegas jawaban Dewa
Arak. Tapi tanggapan yang diberikan Sangga Buana dengusan penuh ejekan.
Dewa Arak segera memberi isyarat
pada Melati untuk menyingkir dari tempat itu. Tanpa banyak membantah gadis
berpakaian putih itu melaksanakan permintaan kekasihnya.
“Hati-hati, Kang,” ucap Melati
sebelum men-jauhkan diri.
Dewa Arak hanya mengangguk
Kemudian, mengalihkan perhatiannya pada Sangga Buana.
Kakek berpakaian putih itu telah
siap. Tanpa membuang waktu lagi pemuda berambut putih keperakan itu bersiap
siaga. Diambilnya guci arak yang tergantung di punggung. Lalu di-tuangkan ke
mulutnya.
Gluk.... Gluk... Gluk...!
Terdengar suara tegukan arak
melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian, terasa ada hawa hangat
berputar di dalam perut pemuda berambut putih keperakan itu. Perlahan-lahan hawa itu naik ke
atas kepala. Sekejap kemudian, kedudukan kaki Dewa Arak sudah tidak tetap lagi.
Oleng ke kanan-kiri. Ilmu 'Belalang Sari' andalannya telah siap untuk
dipergunakan.
Semua gerak-gerik Dewa Arak tidak
luput dari perharian Sangga Buana. Dahi kakek ber-pakaian putih itu berkernyit
dalam. Sangga Buana heran bukan main melihat kelakuan Dewa Arak. Rupanya kakek itu
belum pernah mendengar akan ilmu 'Belalang Sakti' yang unik dan dahsyat.
Tapi sebagai seorang tokoh
tingkat tinggi, Sangga Buana tidak berani bertindak gegabah. Disadarinya kalau
di dunia ini banyak terdapat ilmu. Tidak sedikit di antaranya yang kelihatan
aneh dan lucu, tapi mengandung kedahsyatan yang tidak terperikan. itu, sebabnya
begitu melihat tubuh Dewa Arak mulai terhuyung huyung seperti akan jatuh kakek
itu mem-persiapkan ilmunya. Tanpa ragu-ragu lagi, kakek berpakaian putih itu
mengeluarkan ilmu
andalannya. “Ssshhh...!”
Bunyi berdesis keras seperti
seekor ular besar yang murka terdengar, ketika Sangga Buana mengejangkan kedua
tangannya. Kedudukan jari-jari tangannya lurus, menegang kaku, penuh kekuatan.
Bunyi berdesis semakin keras
terdengar seiring dengan juluran kedua tangannya ke depan. Uap tipis mengepul
dari sekujur tubuh Sangga Buana. Mula-mula sedikit dan tipis, tapi makin lama
makin tebal. Dan, hawa dingin menyebar dari tubuh Sangga Buana. Inilah ilmu
andalan kakek berpakaian putih itu, ilmu 'Ular Es'.
“Ssshhh...!”
Diawali bunyi desisan keras yang
membuat bulu kuduk berdiri, Sangga Buana menghampiri Dewa Arak dengan
langkah-langkah silang. Sepasang matanya yang mencorong tajam laksana mata harimau dalam gelap,
merayapi sekujur tubuh lawan. Kakek itu tengah mencari celah-celah yang akan
dijadikan sasaran.
Begitu pula Dewa Arak. Pemuda
berambut putih keperakan itu pun segera menghampiri lawan. Kalau lawan
melangkah mantap dengan sikap penuh waspada, Dewa Arak tidak
demikian. Pendekar muda yang mempunyai julukan menggemparkan dunia
persilatan itu melangkah sembarangan.
Tanpa perhitungan. Langkahnya terhuyung-huyung seperti akan jatuh. Kelihatan
lucu. Sekali kakinya melangkah
ke depan, tiga kali mundur ke
belakang. Ditambah lagi dengan tindakannya yang mem-buat Sangga Buana heran.
Dewa arak maju sambil terus menuangkan arak ke dalam mulut-nya.
“Gluk... gluk... gluk....”
Tak lama kemudian, jarak antara
mereka telah dekat Saat Sangga Buana menerjang Dewa Arak.
“Ssshhh...!”
Dengan diawali bunyi desisan yang
tidak putus sejak tadi, Sangga Buana melancarkan serangan. Kakek berpakaian
putih itu membuka serangan dengan totokan bertubi-tubi ke arah dada dan ulu
hati!
Cit, cit, cit!
Bunyi berdecit nyaring terdengar
ketika tangan Sangga Buana meluncur menuju sasaran. Bisa diperkirakan
kekuatan tenaga dalam yang terkandung dalam serangan itu. Cepat bukan main
luncuran serangan itu. Padahal, saat itu Dewa Arak masih sibuk menenggak arak.
Tapi begitu serangan itu meluncur
dekat, dengan sekali jejak tubuh Dewa Arak melayang melewati kepala Sangga Buana. Hingga
serangan-serangan itu meluncur lewat di bawah kakinya. berada di atas, tubuh
Dewa Arak berjumpalitan di udara. Kemudian, tangan kanannya disampokkan ke arah
belakang kepala Sangga Buana.
Wuttt!
Sampokan Dewa Arak mengenai
tempat kosong. Sangga Buana merendahkan tubuhnya untuk menghindar. Jari-jari
tangan pemuda berambut putih keperakan lewat beberapa jari di atas sasaran.
Rambut dan pakaian Sangga Buana berkibar keras seperti dilanda angin keras. Betapa
kuat tenaga dalam yang ter-kandung dalam sampokan Dewa Arak. Kegagalan serangan itu rupanya sudah
diper-hitungkan Dewa Arak. Sebuah serangan susulan segera dikirimkan. Kaki
kanannya disepakkan di bawah.
Wukkk!
Kali ini Sangga Buana tidak sempat mengelak. Padahal, kaki Dewa Arak
meluncur ke arah belakang kepalanya. Bila maksud pemuda berambut putih
keperakan itu tercapai, kepalanya akan hancur berantakan. Sangga Buana tidak
menginginkan hal itu terjadi.
Kakek berpakaian putih itu lalu
mengulur tangan kanannya. Itu dilakukannya sambil menolehkan kepala ke arah datangnya
serangan.
Tappp!
Gila! Patut diacungkan jempol
kecepatan perubahan gerak Sangga Buana. Betapa tidak? Entah dengan cara
bagaimana, tahu-tahu per-gelangan kaki Dewa Arak berhasil dicekalnya. Dan
secepat itu pula disentakkan.
“Akh...!”
Dewa Arak memekik kaget ketika
tubuhnya melayang oleh sentakan Sangga
Buana.
Kejadian itu sungguh di luar
dugaan, sehingga Dewa Arak tidak sempat berbuat sesuatu.
Di saat tubuh pemuda itu tengah
melayang, Sangga Buana memburu sambil melancarkan totokan yang bertubi-tubi ke
arah bagian-bagian mematikan. Tapi bukan Dewa Arak kalau dengan cara semudah
itu dapat dipecundangj. Dalam keadaan tubuh masih melayang dipapakinya serangan-serangan Sangga
Buana.
Plak, plak, plak!
Terdengar berdetak keras seperti
beradunya lo gam-logam keras, ketika dua pasang tangan yang mengandung tenaga
dalam tinggi ber-benturan. Akibatnya, tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung ke
belakang. Setelah mem-perbaiki kedudukan masing-masing keduanya kembali saling
gebrak Pertarungan sengit pun tidak bisa dielakkan lagi.
Hebat bukan main pertarungan yang
terjadi antara dua tokoh yang sama-sama ber-kepandaian
tinggi itu. Bunyi menderu, mencicit, dan mengaung, terdengar setiap kali tangan
atau kaki Dewa Arak dan Sangga Buana bergerak. Debu mengepul tinggi ke udara.
Melati yang menjadi penonton
satu-satunya, terpaksa menyingkir lebih jauh. Sambaran angin serangan kedua
tokoh yang bertarung itu terlalu berbahaya. Hawa panas dan dingin menyebar dari
kancah pertarungan.
Sementara itu di kancah
pertarungan, baik Dewa Arak maupun Sangga Buana dilibat perasaan kagum terhadap lawan masing-
masing. Walaupun telah menduga
akan ke-lihaian lawan, namun sungguh tidak disangka kalau lawan akan setangguh
ini. Tapi perasaan kagum yang lebih besar melanda Sangga Buana. Kakek itu tidak
menyangka orang semuda Dewa Arak mempunyai kepandaian setinggi ini! Kalau tidak
mengalami sendiri, dia tidak akan percaya! Kekuatan tenaga dalam, ilmu
meringankan tubuh dan ilmu-ilmu andalan Dewa Arak sungguh luar biasa.
Di dalam hati kakek itu pun
terselip rasa penasaran yang mendalam. Setiap serangan yang dikirimkan selalu
dapat dipunahkan Dewa Arak dengan gerakan uniknya. Sebaliknya serangan balasan
pemuda berambut putih keperakan membuatnya kelabakan. Serangan-serangan Dewa
Arak tak ubahnya hantaman gelombang laut susul-menyusul dan penuh kekuatan.
Yang lebih menakjubkan adalah
hawa panas yang menyebar dan sekujur tubuh Dewa Arak. Apalagi ketika pemuda berambut putih keperakan itu melancarkan serangan. Namun dari
semuanya, yang membuat kakek ber-pakaian putih itu kewalahan adalah kecepatan
gerak Dewa Arak. Gerakan pemuda berambut putih keperakan itu sulit diterka.
Terkadang gerakannya lemas seperti tanpa tenaga, tapi sesaat kemudian keras dan
penuh kekuatan. Perubahan-perubahan gerak itu terlalu cepat untuk diduga. .
Temyata, Dewa Arak pun mengalami
hal yang
sama! Pemuda itu merasa kesulitan
mematah-kan perlawanan kakek itu. Gerakan Sangga Buana terlampau cepat dan
tiba-tiba, tapi selalu penuh dengan kekuatan! Mirip halilintar. Di samping itu,
setiap kali tangan atau kaki Sangga Buana bergerak, menyebar hawa dingin yang
sanggup membekukan otot-otot tubuh. Untunglah, Dewa Arak memiliki tenaga panas
sehingga pengaruh hawa dingin itu tidak terlalu berpengaruh baginya.
Jurus demi jurus berlalu dengan
cepat. Dalam waktu tak lama, tujuh puluh jurus telah berlalu. Selama itu tidak
nampak tanda-tanda pihak yang akan keluar sebagai pemenang. Per-tarungan masih
berlangsung seimbang.
Menginjak jurus kedelapan puluh satu,
Sangga Buana tidak sabar lagi. Bila keadaan seperti itu dibiarkan terus,
pertarungan tidak akan pernah berakhir. Maka seluruh kemam-puannya dikerahkan.
Tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya. Memang, sebelum itu kemampuan.
tertingginya belum dikerahkan.
Hasil tindakan yang diambil
Sangga Buana langsung terlihat. Tampak ketika terjadi
benturan antara mereka. Tubuh Dewa Arak terhuyung-huyung dua langkah lebih jauh
dengan seringai kesakitan di mulutnya.
Dengan mengandalkan keunggulan
tenaga dalamnya, Sangga Buana berusaha keras menekan Dewa Arak. Dipaksanya
pemuda berambut putih keperakan itu terus-menerus berbenturan tangan atau kaki.
Memang bukan
pekerjaan mudah. Tapi beberapa
kali hal itu berhasil dilakukan Sangga Buana. Dan itu tercipta karena
keunggulannya pula dalam ilmu meringankan tubuh.
Dewa Arak menggertakkan gigi. Baru disadarinya kalau sejak tadi lawan belum mengeluarkan
seluruh kemampuannya. Begitu Sangga Buana mengeluarkan kemampuan ter-tingginya,
harus diakui kalau kakek itu masih terlalu
tangguh untuknya. Perlahan-lahan dirinya berhasil ditekan.
Hingga Dewa Arak penasaran bukan
main. Tidak pernah disangka masih ada orang yang memiliki kepandaian di atasnya. Padahal kepandaiannya telah meningkat pesat! Karena sering
berlatih, dan terutama sekali karena beberapa kali belalang raksasa masuk ke
dalam tubuhnya. (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Dewa Arak dalam
episode: 'Makhluk dari Dunia Asing'.)
Semakin lama kedudukan Dewa Arak
semakin terjepit Hanya karena keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti'nya hingga
dirinya masih mampu mengadakan perlawanan. Tapi ke-kalahannya akan tiba pula.
Haruskah belalang raksasa di alam gaib sana dipanggil untuk menghadapi Sangga
Buana?! Pertanyaan itu menggayuti hati Dewa Arak.
Plak, plak, plakkk!
Untuk yang kesekian kali, dua
pasang tangan yang dialiri tenaga dalam kuat berbenturan. Kali ini lebih keras
dari sebelumnya. Akibatnya,
tubuh Dewa Arak terpelanting.
Tapi dengan sebuah genjotan, Dewa Arak berhasil berdiri di tanah dengan mantap
dan siap menghadapi serangan selanjutnya.
Tapi kesiap-siagaannya sia-sia.
Serangan yang ditunggu-tunggu tidak muncul. Sangga Buana tidak memburunya.
Kakek berpakaian putih itu malah berdiam diri dengan kedua tangan disedakapkan
di dada. Seulas senyum lebar menghias bibimya.
Karuan saja Dewa Arak heran
bercampur jengkel. Sikap Sangga Buana menunjukkan kesan seolah-olah Dewa Arak
bukan tandingan kakek itu. Dan kakek itu sengaja memberinya kesempatan untuk
memperbaiki kedudukan. Dewa Arak tersinggung. Maka diputuskan untuk mengadakan
perlawanan mati-matian. Namun sebelum Dewa Arak sempat melancarkan serangan.
“Cukup, Cucuku,” ucap Sangga
Buana. “Apa?!”
***
8
Sebuah seruan penuh kekagetan
keluar dari mulut Dewa Arak. Tarikan wajah pemuda berambut putih keperakan itu
menyiratkan keterkejutan yang sangat. Pancaran perasaan yang sama terlihat pada
sorot matanya.
“Apa katamu, Ki?” Arya mengulang
per-tanyaannya dengan suara terbata-bata karena perasaan tegang dan kaget yang
melanda.
Bukan hanya Dewa Arak yang
dilanda perasaan itu. Melati pun mengalami hal yang sama. Rasa heran dan ingin
tahu membuat gadis itu mengayunkan langkah mendekati Dewa Arak dengan pandangan
tertuju pada Sangga Buana.
“Hati-hati, Kang. Jangan-jangan
ini hanya tipu muslihatnya saja,” beritahu Melati ketika telah berada di
sebelah kekasihnya.
“Kau benar, Melati,” sahut Arya
mendesah. Seketika itu pula, perasaan tegang dan
herannya berangsur-angsur mereda. Ada kebenaran yang tidak bisa
dibantah dalam ucapan Melati.
“He he-he...! Tidak bisa
kusalahkan kalau kau curiga padaku, Cucuku. Kau memang punya alasan yang kuat
untuk itu. Tapi percayalah... aku mengatakan hal yang sesungguhnya. Kau,
cucuku.” Terdengar lembut tapi penuh
keyakinan Sangga Buana
mengatakannya. “Tidak usah berpura-pura, Ki!” sentak Arya
tegas. “Bukankah tadi kau
mengatakan ayahku berhutang nyawa denganmu, dan dengan sendirinya aku menjadi musuh
besarmu? Lalu... mengapa sekarang kau mengatakan aku adalah cucumu?!”
“He he he...! Kau memang cucuku,
Arya. Dan...”
“Tidak usah kau lanjutkan tipu
muslihatmu, Ki!” potong Melati cepat. “Percuma! Tidak akan berhasil! Kami tidak
akan mempercayainya.”
“Tenanglah, Bocah Ayu,” Sangga
Buana masih bersikap sabar. “Tahanlah emosimu. Persoalan ini tidak akan selesai
bila kita kalap. Dinginkan kepalamu dan dengarkan baik-baik penjelasanku.
Setelah itu, terserah kau dan Arya untuk memutuskan kebenaran ucapanku.”
Rupanya Melati tidak bisa
dibujuk. Tapi sebelum dia sempat mengeluarkan ucapannya, Dewa Arak telah lebih
dulu menyentuh lengan-nya dan menyuruhnya bersabar.
'Tenang, Melati. Berikan
kesempatan pada-nya. Tidak ada ruginya mendengarkan dia bicara,” pelan dan
lembut ucapan Dewa Arak.
Tidak ada alasan lagi bagi Melati
untuk memotong ucapan Sangga Buana. “Terserah kau sajalah, Kang,” hanya itu
jawaban yang diberi-kan Melati.
Melihat hal itu, Arya lalu
mengalihkan per-hatiannya kembali pada Sangga Buana. “Bicara-lah, Ki. Tapi
perlu kau tahu, aku tidak akan
mudah percaya dengan ucapanmu,”
mantap dan tegas kata-kata Dewa Arak.
“He he he...! Aku jadi lebih
kagum dengan sikap yang kau ambil, Arya. Memang seharus-nya begitu, sebelum kau
memutuskan benar tidaknya sebuah berita yang kau dengar,” puji Sangga Buana.
“Nah! Sekarang dengarkan baik-baik alasan yang membuatku mengakuimu sebagai
cucuku.”
Sampai di sini, kakek berpakaian
putih itu menghentikan ucapannya. Sangga Buana ingin memberi kesempatan pada
sepasang muda-mudi berwajah elok itu, terutama Melati, untuk memusatkan
perhatiannya pada ucapan yang akan dikatakannya.
“Sebelum kuceritakan semuanya,
perlu ku-beritahukan padamu kalau Tribuana bukan musuh besarku. Alasan itu
sengaja kuciptakan agar aku bisa bertarung denganmu. Baiklah, sekarang aku akan
menceritakan sesuatu yang menjadi alasanku memanggilmu cucu. Bagai-mana?
Bersedia untuk mendengarkan?!” tanya Sangga Buana sambil menatap Dewa Arak.
“Ceritakanlah,” sahutnya mempersilakan.
“Kami telah siap mendengarkan.”
“Puluhan tahun yang lalu, di
pulau ini yang lebih terkenal dengan sebutan Pulau Es ini, kami tinggal. Kami
yang kumaksud adalah aku, permaisuriku, anakku, pengawal-pengawal, dan
panglima. Kami tinggal di bangunan itu. Istana Es, demikian nama yang kami berikan,”
Sangga Buana memulai kisahnya.
Dewa Arak dan Melati tidak
berkeinginan memotong cerita itu. Mereka ingin men-dengarkan kisah Sangga Buana. Sebuah cerita yang menarik
tentunya.
“Kami hidup aman dan damai.
Bahagia rasanya. Apalagi, saat itu anak kami tengah lucu-lucu-nya. Dia baru
berusia satu tahun. Kami asuh dia dengan penuh kasih sayang. Sehingga tumbuh
menjadi seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun yang bertubuh sehat dan
kuat,” Sangga Buana menghentikan ucapannya untuk mengambil napas. “Karena
tempat ini ber-udara dingin, maka aku mewariskannya ilmu silat agar dia tak
mudah sakit. Anakku ternyata seorang anak yang rajin dan berbakat, sehingga
dalam usia sepuluh tahun telah mempunyai kepandaian yang cukup bisa
dibanggakan. Kami pun tidak ragu-ragu lagi melepasnya sendiri. Jarang kami
mengawasinya. Terkadang dia pergi bersama prajurit-prajurit Untuk bermain
perahu atau menangkap ikan.”
Lagi-lagi Sangga Buana
menghentikan cerita. Ditelannya air liur untuk membasahi teng-gorokannya yang
kering.
“Pada suatu hari, seperti biasa
anakku bersama dua orang prajurit pergi ke laut untuk menangkap ikan. Sungguh
tidak kami sangka pertemuan kali itu adalah pertemuan terakhir dengannya. Dalam
perjalanan pulang dari laut mereka dicegat oleh segerombolan bajak laut. Secara kasar gerombolan bajak laut itu merampas ikan-ikan hasil tangkapan dua
orang
prajuritku. Semula hal itu
dibiarkan saja asalkan mereka tidak diganggu. Kedua prajurit itu mengkhawatirkan keselamatan anakku.
Bajak laut itu pun mulai melakukan tindak kekerasan. Tidak hanya pada dua
pengawal kepercayaanku. Tapi juga terhadap anakku.”
Untuk yang kesekian kali Sangga
Buana menghentikan ceritanya. Sementara Dewa Arak dan Melati terus mendengarkan
dengan penuh perhatian. Cerita yang disuguhkan Sangga Buana sangat menarik.
Mereka terbawa tegang meskipun hanya mendengar cerita itu.
“Melihat hal itu, kedua pengawal
keper-cayaanku tidak bisa tinggal diam. Mereka pun melakukan perlawanan. Tapi
karena jumlah para bajak itu banyak dan amat ahli bertarung di laut, dengan
mudah perlawanan dua orang pengawalku dipatahkan. Perahu yang mereka tumpangi
digulingkan.”
“Ah...!” tanpa sadar Melati
menjerit kaget “Bagaimana nasib anakmu dan kedua pengawal itu?!”
Sangga Buana tersenyum getir.
“Salah seorang pengawalku tewas dengan
tubuh penuh luka tusukan dan bacokan. Sedangkan yang satunya selamat dan
berhasil tiba di pulau ini setelah berpura-pura mati. Setelah memberitahukan
semua kejadiannya padaku, dia tewas. Luka-luka yang dideritanya terlalu parah.
Keberhasilannya bertahan hidup karena ingin menyampaikan berita yang
dibawanya,” jelas kakek berpakaian putih itu.
“Bagaiman nasib anakmu, Ki?”
kembali Melati mengajukan pertanyaan karena tidak kuat menahan rasa ingjn
tahunya.
“Hhh...!”
Sangga Buana menghembuskan napas
berat. Gadis berpakaian putih itu pun dapat menduga jawaban kakek itu. Dugaan
Melati tidak salah.
“Anakku lenyap di lautan lepas,
setelah disiksa para bajak. Pengawal kepercayaanku yang selamat tidak tahu ke
mana perginya anakku. Mendengar cerita itu, aku bergegas ke laut dan
mencarinya.
Tapi sampai lelah kumencari,
menelusuri lautan lepas, tidak kutemukan anakku. Maka kupasrahkan segalanya
pada Allah. Aku yakin dia akan selamat bila Allah menghendaki,” urai Sangga
Buana.
“Lalu bagaimana dengan gerombolan
bajak itu, Ki? Apakah kau mencari mereka?” lagi-lagi Melati mengajukan
pertanyaan.
“Benar. Mereka kucari,” jawab
Sangga Buana sambil menganggukkan kepala. Ketika kutemu-kan, kuhancurkan mereka
semua! Tidak ada seorang pun yang kusisakan. Bahkan sarang mereka pun rata
dengan tanah!”
Suasana berlangsung hening saat
Sangga Buana menghentikan ucapannya. Yang ter-dengar hanya desir angin yang
berhembus pelan. Ketiga orang itu tenggelam dalam alun pikiran-nya
masing-masing.
“O, ya, Ki. Aku hampir lupa.
Sejak tadi kau tidak pernah menyebut nama anakmu. Boleh
kutahu namanya?” tanya Arya ingin
tahu.
“Kau belum bisa menebaknya,
Arya?” Sangga Buana balas bertanya.
Seketika itu pula Arya tertegun
heran mendengar jawaban kakek itu. Ditatapnya wajah Sangga Buana penuh selidik
Wajah dihiasi senyum meskipun dalam sorot matanya terpancar kedukaan yang
mendalam. Arya tersentak!
“Jadi..., anakmu adalah...
ayahku...?!” tanya Arya memastikan. Hatinya berdebar-debar tak menentu.
Berharap-harap cemas.
“Benar,” jawab Sangga Buana
seraya meng-angguk. “Tribuana adalah anakku. Wajahnya sangat mirip denganmu.
Itu sebabnya aku ter-kejut ketika pertama kali melihatmu. Kukira kau dirinya.
Untung aku langsung menyadari kalau Tribuana tidak mungkin semuda kau.
Andaikata dia masih hidup, usianya sekitar lima puluh tahun.”
“Tapi..., kalau benar ayahku
adalah anakmu... kau pasti mengetahui ciri-cirinya. Kebetulan aku melihat ada
sebuah tanda khusus di tubuhnya. Ketika kutanyakan, katanya tanda itu sudah ada
sejak lahir. Kalau kau benar ayahnya, kau pasti tahu tanda itu,” ujar Arya.
Sangga Buana tidak segera
menjawab. Kakek itu tertegun beberapa saat lamanya dengan dahi berkerut. Kakek
berpakaian putih itu tengah berusaha menggali ingatannya. Akhirnya dia
berhasil.
“Aku ingat, Arya. Di bagian
punggung atas
sebelah kiri terdapat tanda merah
sebesar daun telinga. Betul kan?!” ujar Sangga Buana yakin.
Kali ini Arya tidak ragu-ragu
lagi mengakui Sangga Buana kakeknya.
“Kakek...!” seru Arya sambil
menghambur ke arah kakek berpakaian putih itu.
Dengan tersenyum lebar, Sangga
Buana mengembangkan kedua tangannya. Sesaat
kemudian kakek dan cucu yang baru bertemu untuk pertama kalinya itu berpekikan
erat. Perasaan sedih, gembira, dan haru bercampur jadi satu.
Lalu tanpa diminta, Arya
menceritakan sebab-sebab kematian ayahnya. Sangga Buana mendengarkan dengan
penuh perhatian. Cerita Arya tidak dipotongnya hingga tuntas.
“Semula aku lupa, kapan dan di
mana pernah mendengar nama kakek. Tapi sekarang aku ingat, nama itu kudengar
dari ayah. Walau ayah sendiri lupa, siapa pemilik nama itu. Beliau hanya ingat
nama itu dan pulau yang selalu diselimuti es dan salju. Hanya itu yang
diingat-nya,” tutur Arya mengakhiri oeritanya.
“Kalau begitu..., meskipun
selamat, tapi kejadian di laut telah membuat ingatannya tentang masa lalu
lenyap. Tapi aku ikhlas melepaskan kepergiannya menghadap Allah. Dia telah
menurunkan seorang anak yang demikian luar biasa. Aku puas dan bangga dengan
dirimu, Arya. Kalau tidak kugunakan siasat bahwa aku musuh besar ayahmu, mana
mungkin tadi kau mau bersungguh-sungguh menghadapi ku? “
“Ah...! Kau memang cerdik, Kek,”
puji Arya sambil melepaskan pelukannya.
Begitu tubuh Arya dan Sangga
Buana ter-pisah, Melati bergegas menghampiri kekasihnya. Sedangkan Sangga Buana
melesat cepat ke dalam istana. Hingga pasangan pendekar muda itu merasa heran.
Tapi tak ada yang dapat mereka lakukan, selain menatap punggung kakek itu
dengan pandang mata penuh per-tanyaan.
Tidak lama Sangga Buana pergi.
Sesaat kemudian dia telah kembali. Tapi ada
kemurungan di wajahnya.
“Maukah kau menerima sebuah tugas
dariku, Arya?” tanya Sangga Buana begitu dekat Arya.
“Tentu saja mau, Kek!” sambut
Arya mantap. Pemuda itu yakin tugas yang akan diberikan kakeknya tidak akan
bertentangan dengan norma-norma kebenaran. Apalagi saat itu kakeknya tengah dilibat masalah.
Terlihat kemurungan di wajahnya.
“Cari dan selidiki orang-orang
yang terlibat dalam pertarungan ini. Aku yakin mereka telah membawa lari pusaka-pusaka Pulau Es.
Sebagian dari mereka, yang berseragam merah itu, kukenal sebagai orang-orang
dari Pulau Api. Sungguh sebuah siasat yang amat licik! Ketua-nya mengundangku
datang ke Pulau Bidadari untuk merundingkan suatu masalah. Sampai lelah kumenunggu, tidak nampak batang
hidungnya. Rupanya, dia
mempergunakan kesempatan itu untuk masuk ke dalam istanaku
dan mengambil benda-benda pusaka.
Sungguh licik!” maki Sangga Buana geram.
“Aku berjanji akan mendapatkan
kembali pusaka-pusaka itu, Kek Tapi kalau boleh kutahu, berupa apakah pusaka
pusaka itu?” tanya Arya.
“Sepasang pedang yang bernama
Pedang Matahari dan Pedang Bulan. Dan, dua buah kitab pusaka yang berisikan
pelajaran tentang Tenaga Dalam Inti Es' dan ilmu 'Ular Es'!” jawab Sangga
Buana. Kemudian memberitahukan ciri-ciri semua pusaka itu secara terperinci. “Jelas?!”
“Jelas, Kek! Sekarang juga aku
akan pergi! Ayo, Melati!”
Dewa Arak dan Melati segera
melesat meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka sudah pasti, mencari orang yang
mencuri pusaka-pusaka Pulau Es. Dan tuduhan itu jatuh pada orang-orang Pulau
Api dan Raja Monyet Muka Hitam.
Siapakah orang yang telah mengambil
pusaka-pusaka Pulau Es? Dan berhasilkah Dewa Arak mengambil
pusaka leluhurnya itu? Jawabannya ada di dalam episode yang
berjudul: 'Pertarungan di Pulau Api.'
SELESAI
No comments:
Post a Comment