PERTARUNGAN
RAJA-RAJA ARAK
Oleh Aji Saka
1
Matahari belum bergulir jauh
ketika sosok tubuh berpakaian ungu dan berambut putih keperakan keluar dari
mulut sebuah hutan kecil. Wajahnya tampan, dan bentuk badannya tegap berisi.
Melihat sebuah guci arak yang tersampir di pinggang, bisa ditebak kalau pemuda
itu adalah peminum kelas kakap. Namun dari ciri-cirinya, tak salah lagi. Dia
adalah Arya Buana, yang berjuluk Dewa Arak!
Dewa Arak kini melesat cepat
meninggalkan Hutan Koneng. Tujuannya adalah Pulau Selaksa Setan! Mau tak mau,
dia harus kembali ke Desa Koneng, lalu terus berjalan ke Utara.
Berkat ilmu meringankan tubuhnya
yang sudah mencapai tingkat tinggi, dalam waktu sebentar saja pemuda berambut
putih keperakan itu telah tiba di tembok batas Desa Koneng.
Sesampainya di sini, Arya
menghentikan larinya. Pandangannya tertumbuk pada carikan kain yang menempel di
tembok. Surat tantangan yang ditulis di atas sehelai kain, dan diajukan oleh
Setan Mabuk. Beberapa saat lamanya pemuda berambut putih keperakan itu memperhatikan,
lalu mencabutnya. Dewa Arak merobek-robek carikan kain itu, lalu membuangnya. Kemudian, kakinya
melangkah memasuki mulut desa (Agar jelas, silakan baca serial Dewa Arak dalam
episode "Setan Mabuk").
Arya sama sekali tidak merasa
heran melihat suasana sepi yang melingkupi sekeliling Desa Koneng. Jalan utama
desa begitu lengang. Rumah-rumah penduduk tampak menyedihkan. Sebagian besar
telah porak-poranda. Daun-daun pintu telah copot dari ambangnya. Begitu pula
daun jendela yang pergi entah ke mana.
Sambil terus menoleh ke sana
kemari, pemuda berpakaian ungu itu terus melangkah masuk ke dalam desa. Seperti
juga sebelumnya, hanya kesunyianlah yang dijumpainya. Desa Koneng benar-benar
telah menjadi desa mati.
Secara sambil lalu, Arya
melangkah menghampiri sebuah rumah yang sudah tidak memiliki daun pintu lagi.
Tapi begitu melongok ke dalam, secepat itu pula kepalanya ditolehkan keluar.
Ada suara menggeretak keras keluar dari mulutnya ketika kepalanya berpaling.
Jelas kalau Dewa Arak dilanda kemarahan hebat.
Betapa tidak? Di ruang tengah
rumah itu nampak empat sosok tubuh tengah tergolek mengerikan! Sekali lihat
saja, bisa diketahui kalau semuanya telah tewas.
Dua di antara empat mayat itu
adalah anak-anak. Sementara yang dua orang lagi adalah laki-laki dan wanita,
berusia sekitar tiga puluh tahunan. Yang laki-laki tewas dengan kepala terpisah
dari tubuhnya. Sedangkan yang wanita lebih mengerikan lagi keadaannya. Dia
tewas dalam keadaan pakaian tidak karuan. Dapat diduga sebelum dibunuh, lebih
dulu diperkosa!
Dengan dada terasa sesak oleh
amarah bergelora, Arya melangkah meninggalkan rumah itu. Dan kini perjalanannya
dilanjutkan kembali.
Kini Dewa Arak tidak melangkah lambat-lambat seperti sebelumnya, tapi melesat cepat mengerahkan seluruh ilmu
meringankan tubuhnya yang telah mencapai taraf kesempurnaan. Sehingga yang
terlihat kini hanyalah sekelebatan bayangan ungu yang melesat cepat keluar
desa!
***
Entah berapa lama berlari, Arya
sama sekali tidak menghitungnya. Yang ada di benaknya hanya berlari
sejauh-jauhnya dari tempat yang membuat hatinya terguncang.
Pemuda berpakaian ungu itu baru
melambatkan larinya begitu melihat tembok batas sebuah desa, tak jauh di
hadapannya.
Mendadak pandang mata Arya
terbelalak begitu melihat sesosok tubuh tengah berlari tersaruk-saruk dari
dalam desa. Menilik dari gerak-gerik orang itu, seperti ada sesuatu yang
ditakutinya. Hal ini membuat Dewa Arak semakin mempercepat larinya. Dia ingin
tahu, apa yang membuat orang itu bertindak demikian.
Tapi selagi jarak di antara
mereka masih terpisah tak kurang dari tujuh tombak, tubuh orang yang
berlari-lari itu jatuh tersungkur. Bahkan langsung diam tak bergerak lagi.
Gigi Arya bergemeletuk keras
menahan kegeraman yang amat sangat. Pandangan matanya yang tajam, tadi melihat
sekelebatan benda berkilauan menyambar punggung orang itu. Dan benda itulah
yang menyebabkan orang tadi roboh tersungkur.
Bertepatan robohnya orang yang
berlari-lari itu, muncul sesosok tubuh tinggi besar dan bercambang bauk lebat.
Sambil tertawa terbahak-bahak, kakinya menjejak tubuh orang yang tersungkur
tadi. Maka akibatnya sudah bisa diduga. Terdengar suara berderak keras dari
tulang-belulang yang berpatahan.
Terdengar geram kemarahan dari
mulut Dewa Arak melihat kekejaman yang berlangsung di depan matanya. Meskipun
berada dalam jarak sekitar dua batang tombak, tangan kanannya segera dikibaskan
ke depan.
Hebat luar biasa kibasan Dewa
Arak. Apalagi dilakukan dalam keadaan murka. Angin yang menderu hebat menyambar
ke arah laki-laki pemimpin perampok, yang dikenal bernama Jagar (Untuk
jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode "Setan Mabuk").
Laki-laki tinggi besar itu
terkejut bukan kepalang tatkala mengetahui serangan mendadak itu. Dia tadi
memang telah melihat kedatangan Dewa Arak, tapi sama sekali memandang remeh.
Bahkan tak mempedulikannya. Jagar baru terperanjat begitu merasakan angin keras
yang menyambar ke arahnya.
Dan belum sempat berbuat sesuatu,
tubuh Jagar sudah terlempar ke belakang. Dan jatuh bergulingan di tanah. Rasa
sesak yang amat sangat seketika mendera dadanya. Sehingga untuk beberapa saat
lamanya, laki-laki bercambang bauk lebat ini tidak segera bangkit berdiri.
Dicobanya untuk
bangkit tapi tetap tidak mampu.
Yang dapat dilakukannya hanya merangkak bangun. Itu pun sambil menyeringai
kesakitan.
Tapi belum juga berhasil bangkit
berdiri, pandangan matanya sudah tertumbuk pada sepasang kaki kokoh yang
berdiri di hadapannya. Tanpa mendongakkan kepala lagi pun, Jagar sudah bisa
memperkirakan orang yang berdiri itu. Siapa lagi kalau bukan pemuda berambut
putih keperakan itu?
Pemuda berambut putih keperakan?
Mendadak laki-laki tinggi besar itu teringat. Bukankah Setan Mabuk mencari
seorang pemuda yang berambut putih keperakan dan berjuluk Dewa Arak? Dan
memang, salah satu ciri-ciri tokoh muda yang menggemparkan itu adalah warna
rambutnya yang putih keperakan, di samping pakaiannya yang berwarna ungu dan sebuah
guci arak terbuat dari perak yang selalu tersandang di punggung.
Keinginan untuk membuktikan
kebenaran dugaan yang tiba-tiba muncul membuat Jagar mendongakkan kepala untuk
meneliti lebih lanjut.
Wajah laki-laki bertubuh tinggi
besar ini kontan memucat ketika ciri-ciri itu ada pada pemuda yang berdiri di
hadapannya adalah benar-benar sosok Dewa Arak! Maka dia harus cepat
memberitahukannya kepada Setan Mabuk.
Sementara itu, Arya yang telah
dilanda amarah menggelegak, telah mengambil keputusan untuk melenyapkan orang
di hadapannya. Telah dilihatnya sendiri bukti kekejaman laki-laki tinggi besar
ini.
Meskipun kemarahan melandanya,
namun Dewa Arak tidak mau bertindak saat lawan tengah berada dalam keadaan
tidak siap. Maka kakinya hanya melangkah ke belakang, memberi kesempatan pada
lawan untuk mempersiapkan diri.
Jagar menarik dan menghembuskan
napas berulang-ulang untuk menghilangkan rasa sesak yang melanda dada. Baru
ketika rasa sesak itu sudah tidak terasa lagi, dia bangkit berdiri dan langsung
mencabut goloknya. Laki-laki bercambang bauk lebat ini tahu kalau lawan adalah
tokoh berkepandaian luar biasa. Itulah sebabnya, tanpa ragu-ragu lagi senjata
andalannya langsung dicabut.
Dan begitu golok itu telah
tercabut, Jagar langsung menerjang sambil berteriak melengking nyaring. Golok
di tangannya disabetkan ke arah kepala Dewa Arak, dengan arah gerakan dari atas
ke bawah. Rupanya laki-laki tinggi besar ini ingin membelah tubuh Arya menjadi
dua bagian.
Namun Arya segera mengulurkan
tangan kanannya ke depan. Dan....
Tappp...!
Mata golok Jagar kini sudah
terjepit di antara telunjuk dan jari tengah Arya.
"Uh... uh...!"
Jagar berusaha keras menarik
kembali senjatanya. Tapi golok itu tetap tak bisa ditariknya kembali. Bahkan
wajahnya sampai merah padam, dan napasnya terengah-engah. Seolah-olah, bukan
dua buah jari tangan yang menjepitnya, tapi jepitan baja yang amat kuat.
Dan begitu kedua jari tangan Dewa
Arak bergerak menekuk, terdengar suara berderak keras disusul patahnya mata
golok Jagar.
Akibatnya, Jagar yang pada saat
itu tengah berjuang keras menarik pulang senjatanya, langsung terjengkang ke
belakang terbawa tenaga tarikannya sendiri. Goloknya yang kini tinggal sepotong
ikut terbawa tubuhnya yang terjengkang.
Di saat itulah, Dewa Arak
mengibaskan tangan kanannya. Maka, patahan mata golok yang berada dalam jepitan
kedua jarinya melesat cepat ke arah Jagar.
Sepasang mata laki-laki tinggi
besar ini terbelalak lebar karena perasaan kaget melihat ancaman maut yang
menuju ke arahnya. Serangan itu ingin dielakkan, tapi apa daya? Jangankan
mengelakkan serangan itu, untuk mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya
terhuyung-huyung saja tidak mampu! Maka....
Cappp...!
Jagar menjerit ngeri ketika mata
golok itu menancap di dahinya, sampai tidak nampak lagi. Semua patahan senjata
itu amblas ke dalam kepala laki-laki tinggi besar itu.
Berbarengan habisnya kekuatan
yang membuat Jagar terjengkang, tubuhnya pun ambruk ke tanah. Nyawanya kini
telah melayang meninggalkan raganya.
***
Dewa Arak menoleh begitu
mendengar langkah kaki mendekati tempatnya berada. Berkat pendengarannya yang
tajam luar biasa, bisa diperkirakan jumlah orang yang melangkah itu. Enam
orang!
Memang, dugaan pemuda berambut
putih keperakan itu tidak salah. Beberapa saat kemudian, muncul enam sosok
tubuh yang menatap ke arahnya dengan sorot mata penuh ancaman. Mereka kini
telah berdiri di hadapan Dewa Arak, dalam jarak sekitar empat tombak.
Arya memperhatikan enam sosok
tubuh itu. Yang berdiri paling depan adalah seorang laki-laki bertubuh kecil
kurus berkumis sedikit dan berompi hitam. Di tangannya tergenggam sebatang
cambuk yang juga berwarna hitam. Dialah yang berjuluk Kera Bukit Setan. Di
belakangnya,
berdiri lima sosok tubuh berwajah
dan bersikap kasar. Rata-rata mereka me-ngenakan rompi.
"Diakah orang yang kau
beritahukan pada Setan Mabuk?" tanya Kera Bukit Setan seraya menolehkan
kepala, menatap salah satu dari lima orang yang berdiri di belakangnya, yang
berkulit kemerahan.
"Benar, Kera Bukit
Setan," sahut laki-laki berkulit kemerahan itu sambil menganggukkan
kepala.
"Hm...!" gumam Kera
Bukit Setan pelan. Kepalanya dipalingkan kembali ke arah Arya. "Jadi kau
rupanya yang berjuluk Dewa Arak? Memang, orang usil sepertimu sudah lama ingin
kulenyapkan. Apalagi kau telah membinasakan kawan kami!"
Usai berkata demikian, laki-laki
kecil kurus ini melecutkan cambuknya ke udara.
Ctarrr...!
Arya diam saja, dan sama sekali
tidak kaget atau terkejut ketika cambuk itu meledak. Wajah pemuda berpakaian
ungu ini tetap saja tenang.
Namun sebenarnya, hati Arya sama
sekali tidak tenang. Bahkan sebaliknya, hatinya malah hampir hangus terbakar
amarah. Hanya berkat kemampuan menyimpan perasaan, semua itu tidak tampak di
wajahnya. Yang jelas, pemuda berambut putih keperakan ini telah mengambil
keputusan melenyapkan para penjahat itu selama-lamanya. Bayangan sosok tubuh
anak-anak dan wanita kembali terbayang di benaknya. Dan inilah yang menyebabkan
dia mengambil keputusan demikian.
Kera Bukit Setan menjadi geram
melihat Dewa Arak sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya. Tidak tampak
kalau pemuda berambut putih keperakan itu kaget mendengar lecutan cambuknya.
Bahkan sepasang matanya sama sekali tidak berkedip!
"Bunuh dia...!"
Kera Bukit Setan menudingkan
telunjuk tangan kirinya ke arah Dewa Arak. Sengaja disuruhnya lima orang kasar
itu bergerak menyerang lebih dulu. Ingin diketahuinya lebih dulu kelihaian
lawan. Lebih bagus lagi, kalau sampai bisa mengetahui perkembangan ilmunya.
Dengan begitu akan mudah diukur, bagaimana harus menghadapi pemuda berambut
putih ke-perakan itu.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
lima orang kasar itu mencabut senjata masing-masing.
Begitu senjata itu terhunus di
tangan, mereka segera bergerak mengurung Dewa Arak. Lima orang itu tahu kalau
lawan amat tangguh. Maka mereka harus bersikap hati-hati. Mereka tidak langsung
menyerang, melainkan bergerak menghampiri dalam sikap mengurung.
Tapi, orang yang mereka kurung
sama sekali tidak memberi tanggapan apa-apa. Dewa Arak tetap diam saja,
seolah-olah tidak mempedulikan adanya ancaman bahaya.
"Seraaang...!"
Laki-laki berkulit kemerahan
memberi aba-aba begitu kurungan mereka terhadap Arya semakin mengecil.
Seiring dengan keluar
teriakannya, laki-laki berkulit kemerahan itu melompat menerjang. Golok di
tangannya membabat kepala dari atas ke bawah. Maksudnya, ingin membelah tubuh
Dewa Arak menjadi dua bagian! Pada saat yang sama, dari berbagai penjuru
meluncur serangan
empat orang lainnya.
Senjata-senjata di tangan mereka yang berupa pedang dan golok berhamburan ke
arah berbagai bagian tubuh pemuda berambut putih keperakan itu.
Dewa Arak bersikap tenang, tidak
nampak adanya tanda-tanda kalau akan melakukan tindakan menghadapi serangan
lawan-lawannya. Baru ketika serangan-serangan menyambar dekat dan hampir
mengenai sasaran, kedua tangannya bergerak cepat. Seolah-olah, tangannya tidak
lagi dua buah, tapi puluhan banyaknya.
Terdengar suara berdebuk keras
disusul berpentalannya tubuh lima orang kasar itu. Senjata-senjata yang semula
tergenggam di tangan, berpentalan entah ke mana.
Berbarengan jatuhnya
senjata-senjata itu di tanah, tubuh lima orang itu pun jatuh berdebuk keras dan
tak mampu bangkit lagi. Mereka semua tewas seketika. Darah segar langsung
mengalir keluar dari mulut dan hidung mereka.
Kera Bukit Setan terperanjat
melihat hal ini. Sungguh di luar dugaan kalau lima orang itu akan roboh tewas
dalam segebrakan. Begitu tinggikah kepandaian pemuda itu? Ataukah lima orang
itu yang terlalu ceroboh? Rasanya mustahil kalau lawan yang semuda itu memiliki
kepandaian yang begitu tinggi.
Perasaan penasaran membuat Kera
Bukit Setan cepat melupakan keterkejutannya. Tanpa membuang-buang waktu lagi,
tangan kanannya digerakkan. Cambuk hitam di tangannya segera meluncur deras ke
arah ubun-ubun Dewa Arak. Angin berkesiutan nyaring menjadi pertanda kuatnya
tenaga dalam yang terkandung dalam serangannya.
Dewa Arak kali ini benar-benar
tidak main-main lagi. Segera seluruh tenaga dalamnya dikerahkan pada tangan
kanan. Dan begitu ujung cambuk itu hampir mengenai sasaran, tangannya bergerak
cepat me-nyambar. Dan....
Tappp!
Ujung cambuk itu berhasil
ditangkap Dewa Arak.
Untuk yang kedua kalinya, Kera
Bukit Setan terperanjat. Tapi kekagetan kali ini jauh lebih besar daripada
sebelumnya. Memang tidak disangka kalau pemuda berpakaian ungu itu berani
menangkap cambuknya. Bahkan tanpa terluka sama sekali. Dari sini saja sudah
bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Dewa Arak.
Tapi Kera Bukit Setan memang
terlalu keras kepala. Meskipun sudah bisa menerka kalau tenaga dalam lawan
berada di atas tenaga dalamnya, tapi tetap saja tidak mau melepaskan cambuknya.
Bahkan sebaliknya malah membetot. Maksudnya sudah jelas. Dia ingin menarik
kembali senjatanya.
Selebar wajah laki-laki berompi
hitam ini sampai merah padam. Dari mulutnya pun keluar suara keluhan pertanda
telah mengeluarkan tenaga melewati batas dalam usaha menarik pulang senjatanya.
Tapi, usaha-nya tetap saja sia-sia. Padahal, Dewa Arak sepertinya tidak
mengeluarkan tenaga sama sekali. Wajah pemuda berpakaian ungu itu biasa-biasa
saja.
Setelah membiarkan Kera Bukit
Setan sibuk dengan usahanya beberapa saat mendadak Arya melepaskan cekalannya.
Tak pelak lagi, tubuh laki-laki berompi hitam itu terjengkang ke belakang
terbawa tenaga tarikannya sendiri.
Tindakan Arya tidak berhenti
sampai di situ saja. Kaki kanannya langsung menendang sebuah batu sebesar
jempol kaki yang tergolek di tanah. Pelan saja kelihatannya, tapi kenyataan
yang terlihat tidak sesederhana itu.
Singgg...!
Diiringi suara mendesing nyaring
yang menyakitkan telinga, batu itu meluncur deras ke arah Kera Bukit Setan
laksana anak panah lepas dari busur.
Laki-laki bertubuh kecil kurus
itu terkejut bukan main melihat adanya bahaya maut yang mengancamnya. Dia ingin
mengelak, tapi terlambat. Apalagi keadaannya saat itu sama sekali tidak
menguntungkan. Maka....
Takkk! "Aaakh!"
Tubuh Kera Bukit Setan kontan
terjengkang. Seketika, nyawanya melayang meninggalkan raga. Ubun-ubunnya pecah
seketika terkena sambaran batu itu.
Tapi Arya sama sekali tidak
mempedulikannya lagi. Pemuda berambut putih keperakan itu langsung melesat
meninggalkan tempat itu. Dia ingin buru-buru tiba di Pulau Selaksa Setan.
Hanya dalam beberapa kali
melangkah, tubuh Arya sudah terlihat sebesar telapak kaki di kejauhan. Semakin
lama, tubuh pemuda berpakaian ungu itu semakin mengecil. Dan akhirnya lenyap di
kejauhan.
2
Kicau burung sudah tidak
terdengar lagi. Sinar sang mentari sudah tidak begitu nikmat lagi di kulit.
Memang, hari sudah mulai beranjak siang.
Dalam suasana seperti itu, sebuah
perahu yang ditumpangi dua sosok tubuh meluncur ke tengah laut. Menilik dari
laju perahu, bisa diperkirakan kalau mereka tengah terburu-buru.
"Sudah bisa kuperkirakan
kalau pertarungan kali ini jauh lebih ramai daripada sebelumnya, Malaikat Jari
Besi," kata salah seorang dari mereka yang tengah duduk di lantai perahu
seraya terus mengayuhkan dayung.
Dia adalah seorang laki-laki
bertubuh sedang. Rambutnya panjang melewati bahu. Wajahnya dipenuhi bintik
hitam, bekas jerawat.
"Aku pun berpikiran
demikian, Saratoga," sahut orang yang dipanggil Malaikat Jari Besi.
Malaikat Jari Besi bertubuh kekar
berotot. Jari-jari tangannya terlihat keras bukan kepalang. Laki-laki kekar ini
juga terus mengayuh dayungnya.
Perahu itu meluncur cepat sekali,
mantap dan tanpa hambatan. Gelombang yang terkadang membuat perahu mereka
terombang-ambing, kontan hancur terbelah diterjang moncong perahu. Sesekali
mereka berada di puncak gelombang, tepi tak jarang seperti terbenam. Dan
nampaknya, mereka bukan orang sembarangan.
Malaikat Jari Besi adalah tokoh
persilatan aliran putih yang cukup ternama. Disegani kawan dan ditakuti lawan.
Telah tidak terhitung lagi, tokoh persilatan aliran hitam yang tewas di
tangannya. Dan berkat keberadaannya, Desa Ampel dan desa-desa sekitarnya aman
dari gangguan orang jahat.
Tokoh yang bernama Saratoga pun
bukan orang sembarangan. Memang diakui, dia tidak setenar Malaikat Jari Besi,
rekannya. Tapi, kelihaiannya mungkin tidak di bawah laki-laki bertubuh kekar
berotot itu.
Malaikat Jari Besi dan Saratoga
terus saja mengayuh dayungnya. Dan tentu saja kayuhan itu disertai pengerahan
tenaga dalam, karena mereka tengah tergesa-gesa.
"Bisa kuperkirakan, sekarang
Pulau Selaksa Setan telah dipenuhi tokoh persilatan," Saratoga kembali
membuka percakapan.
"Sudah pasti," sahut
Malaikat Jari Besi. "Tahun-tahun sebelumnya saja, ramai. Apalagi sekarang?
Kudengar, Dewa Arak tokoh yang menggemparkan itu akan ikut dalam pertarungan
kali ini."
"Kudengar juga begitu,
Malaikat Jari Besi."
"Makanya kita harus bergegas,
agar tidak bingung memilih tempat," tandas Malaikat Jari Besi seraya
menambah tenaga kayuhan pada dayungannya.
"Kau benar."
Setelah berkata demikian,
Saratoga menambah tenaga kayuhan pada dayungannya pula, sehingga perahu itu
meluncur laksana anak panah melesat dari busur.
Saratoga dan Malaikat Jari Besi
terus saja mengayuh disertai pengerahan tenaga dalam. Sehingga, ketika matahari
hampir berada di atas kepala, pulau yang dimaksud telah tampak. Sebuah pulau
yang berbentuk tengkorak kepala manusia.
"Itu Pulau Selaksa Setan,
Saratoga...!" seru Malaikat Jari Besi seraya menudingkan telunjuk ke arah
pulau yang dimaksud.
Laki-laki berwajah penuh bintik mengangguk pertanda membenarkan. Memang, dia juga telah
melihat pulau yang begitu menyeramkan itu.
"Mengapa pulau itu mempunyai
nama yang begitu seram, Malaikat Jari Besi?" tanya Saratoga sambil menatap
wajah laki-laki bertubuh kekar berotot itu.
"Cerita sebenarnya aku pun
tidak tahu, Saratoga," sahut Malaikat Jari Besi setelah beberapa saat
lamanya tercenung. "Tapi menurut berita yang terdengar, dulu tempat ini
didiami makhluk-makhluk pemakan manusia."
"Makhluk pemakan
manusia?" selak Saratoga setengah tidak percaya. "Bagaimana bentuk
mereka?"
Malaikat Jari Besi menggeleng.
"Aku pun tidak tahu karena
hanya bersumber dari berita saja. Dan menurut berita yang kudengar pula,
makhluk-makhluk itu lenyap dua tahun yang lalu ketika badai mengamuk. Rupanya,
mereka semua hanyut dilanda badai. Dan sejak itu, mereka tidak ketahuan lagi
beritanya," jelas laki-laki bertubuh kekar berotot itu mengakhiri
ceritanya.
"Ahhh...!
Syukurlah...!" desah Saratoga. Ada nada kelegaan dalam suaranya begitu
mendengar akhir cerita tentang makhluk-makhluk itu.
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Malaikat Jari Besi tidak malanjutkan ucapan. Sementara Saratoga pun
tidak menanggapi lagi. Sekarang yang terdengar hanyalah suara riak air yang
terbelah oleh dayung-dayung mereka, dan suara gelombang laut.
Kini kedua tokoh aliran putih itu
mulai mengarahkan perahu mereka ke tepi Pulau Selaksa Setan. Dan dengan tenaga
dalam yang dimiliki, Malaikat Jari Besi dan Saratoga tidak mengalami kesulitan
untuk
melawan arah gelombang laut, dan
mengarahkan perahu ke Pulau Selaksa Setan.
Begitu perahu mereka menepi,
Saratoga dan Malaikat Jari Besi melompat ke pantai. Seperti sudah disepakati
dari semula, begitu mendarat Saratoga langsung menarik perahu ke tepi dan
menambatkannya. Sedangkan Malaikat Jari Besi langsung saja mengedarkan
pandangan ke sekeliling.
"Aneh...," gumam
laki-laki kekar berotot itu pelan. Dahinya pun berkernyit. Jelas ada sesuatu
yang membuatnya bersikap seperti itu.
"Ada apa, Malaikat Jari
Besi?" tanya Saratoga.
Dia kini telah selesai
menambatkan perahunya pada sebuah batu karang di pinggir laut. Rupanya,
laki-laki berwajah penuh bintik hitam ini mendengar adanya nada keheranan dalam
ucapan rekan seperjalanannya.
Malaikat Jari Besi merayapi
selebar wajah Saratoga dengan sorot mata sungguh-sungguh.
"Kau tidak melihat adanya
keanehan di sini, Saratoga?" Malaikat Jari Besi malah balik bertanya. Nada
suaranya menyiratkan keheranan dan juga tuntutan jawaban.
Laki-laki yang berwajah penuh
bintik-bintik hitam itu tidak langsung menjawab pertanyaan rekannya. Tapi malah
mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia ingin mengetahui keanehan yang
dimaksud kawannya.
"Bagaimana, Saratoga?"
desak Malaikat Jari Besi, tidak sabar. Saratoga menggelengkan kepala.
"Aku tidak melihat adanya
keanehan yang kau maksudkan itu, Malaikat Jari Besi," sahut Saratoga
seraya menatap wajah laki-laki kekar berotot itu lekat-lekat "Kecuali,
yahhh.... Suasana sepi yang melingkupi tempat ini..."
"Justru itulah keanehan yang
kumaksudkan!" tandas Malaikat Jari Besi cepat.
"Maksudmu...?" Saratoga kini mulai mengerti maksud pembicaraan rekannya. Dan ini
kontan membuat jantungnya berdebar tegang.
"Kau tahu, Saratoga,"
laki-laki kekar berotot itu memulai penjelasannya, dengan perasaan tegang.
"Tahun-tahun sebelumnya, suasana pertemuan ini ramai bukan main. Padahal,
pertarungan masih lima hari lagi. Tapi sekarang...? Apa yang kau lihat
Saratoga?"
Malaikat Jari Besi menghentikan
ucapannya sejenak, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Memang hanya
kesunyian dan suasana lengang yang melingkupi sekeliling tempat itu. Sejauh
mata
memandang, yang terlihat hanyalah
tanah lapangan luas dan bukit-bukit batu terjal. Tidak tampak adanya
tanda-tanda kehidupan.
Laki-laki berwajah penuh bintik
hitam itu menggelengkan kepala. "Sepi...," jawab Saratoga serak
"Tapi, barangkali saja banyak
orang persilatan yang tidak
mengetahui tempat ini...." Malaikat Jari Besi menggelengkan kepala.
"Pulau Selaksa Setan amat
terkenal, Saratoga. Hampir tidak ada tokoh persilatan yang belum mendengar
namanya. Jadi, dugaanmu sama sekali tidak masuk akal."
Saratoga terdiam. Memang diakui,
bantahan Malaikat Jari Besi mengandung kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat
lagi.
"Lalu..., bagaimana
kesimpulanmu, Malaikat Jari Besi?" tanya Saratoga.
Suara laki-laki berwajah penuh
bintik hitam itu tercekat di tenggorokan. Hatinya berdebar tegang. Meskipun
telah mempunyai dugaan sendiri, tapi dia ingin mendengar dugaan laki-laki kekar
berotot itu. Ingin diketahuinya, apakah dugaan mereka sama.
Malaikat Jari Besi tidak langsung
menjawab pertanyaan itu. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya
kuat-kuat. Seolah-olah dengan bertindak seperti itu, semua ketegangan yang
melanda ingin dibuangnya.
Betapa tidak tegang? Biasanya
lima hari menjelang pertarungan, belasan tokoh persilatan telah bermunculan di
tempat pertarungan. Tapi sekarang? Tidak datangkah mereka? Rasanya mustahil!
Berita tentang akan ikut sertanya Dewa Arak dalam pertarungan kali ini, telah
membuat dunia persilatan gempar. Mustahil kalau sampai dua hari menjelang
pertarungan, tak ada seorang pun yang datang? Tapi kalau benar mereka datang,
ke manakah lenyapnya? Ngeri hati kedua tokoh itu membayangkan belasan tokoh
persilatan yang lenyap begitu saja. Lenyap tanpa jejak.
"Aku tidak berani
menyimpulkan apa-apa, Saratoga," kata Malaikat Jari Besi akhirnya.
"Hanya saja..., aku mempunyai firasat buruk..." Jantung dalam dada
Saratoga semakin berderak tegang. Dia kenal
betul siapa rekannya. Malaikat
Jari Besi memang mempunyai firasat yang amat peka. Sepertinya, dia memiliki
indera keenam sehingga dapat mengetahui bahaya yang akan terjadi. Mungkin
firasatnya yang tajam karena kebiasaannya bergaul dengan binatang-binatang
peliharaannya. Bahkan sepertinya dia telah paham bahasa-bahasa binatang.
"Bulu tengkukku berdiri
semua, Saratoga...," sambung Malaikat Jari Besi dengan suara semakin
bergetar. "Aku yakin, bahaya yang kali ini mengancam tidak main-main lagi.
Hatiku gelisah bukan main."
"Kalau begitu..., bagaimana
kalau kita kembali saja?" usul Saratoga tiba-tiba. "Kau setuju?"
Malaikat Jari Besi tercenung
sejenak. Rupanya, usul rekannya itu tengah dipertimbangkannya.
"Sebuah usul yang
baik," sambut laki-laki kekar berotot itu. Setelah mendengar persetujuan
Malaikat Jari Besi, Saratoga
langsung bergerak kembali ke
pinggir laut, tempat perahunya ditambatkan. Sedangkan di belakang, rekannya
bergerak mengikuti.
"Celaka...!"
Mendadak Saratoga berteriak
keras. Wajah laki berwajah penuh bintik hitam ini pucat pasi menatap ke arah
tempat perahu ditambatkan. Tempat kini kosong, tidak tampak ada sepotong papan
pun di sana. Apalagi perahu! Bukan hanya Saratoga saja yang terperanjat.
Malaikat Jari Besi pun dilanda perasaan yang sama. Sesaat lamanya mereka
menatap penuh perasaan tak percaya pada tempat perahu ditambatkan yang kini
telah kosong melompong.
"Firasatku ternyata
benar...," tegas Malaikat Jari Besi dengan suara kering.
"Bersiap-siaplah, Saratoga! Aku yakin bahaya yang akan menimpa kita akan sangat
mengerikan! Hanya saja, aku tidak tahu, bahaya apa itu. Tapi yang jelas,
naluriku telah memperingatkan demikian."
Setelah berkata demikian, tangan
laki-laki kekar rotot itu segera bergerak ke arah punggung. Sesaat kemudian,
tangannya bergerak ke depan. Seketika sinar terang berkeredep begitu Malaikat
Jari Besi mencabut senjatanya. Kini di tangan laki-laki kekar berotot itu telah
tergenggam sebatang golok besar!
Saratoga tidak mau ketinggalan.
Seketika senjata andalannya dikeluarkan. Sebatang pedang yang berwarna putih
berkilat.
"Tidak ada jalan lain. Kita
harus terus masuk ke dalam pulau." Meskipun agak bergetar, tapi ucapan
yang keluar dari mulut
Malaikat Jari Besi terdengar
mantap.
"Aku belum pernah merasa
setakut ini, Malaikat Jari Besi," Saratoga berbisik pelan.
"Mengapa merasa takut,
Saratoga?" tanya laki-laki kekar berotot seraya menatap rekannya
lekat-lekat.
Laki-laki berwajah penuh
bintik-bintik itu menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat
sebelum menjawab pertanyaan rekannya tadi.
"Karena melihat rasa takut
yang melandamu, Malaikat Jari Besi," jawab Saratoga. "Aku tahu, siapa
dirimu sebenarnya. Kau adalah seorang manusia yang mempunyai naluri binatang.
Dan dari rasa takut luar biasa
yang melandamu, aku sudah bisa
memperkirakan kalau bahaya yang mengancam akan sangat mengerikan."
Laki-laki bertubuh kekar berotot
itu tidak menyahuti ucapan Saratoga, karena memang semua ucapan Saratoga itu
benar belaka. Indera keenamnya sering memperingatkan adanya bahaya yang
mengancam. Tapi, rasanya belum pernah seperti ini, sehingga membuatnya gelisah
bukan kepalang. Bahaya seperti apakah yang akan mengancam?
Malaikat Jari Besi dan Saratoga
melangkah perlahan-lahan, kian memasuki pulau. Sepasang mata mereka menatap ke
sekeliling, bersikap waspada.
Senjata-senjata yang tergenggam
erat di tangan, menjadi pertanda betapa besar perasaan tegang yang melanda hati
mereka.
Kalau tidak mengalami sendiri,
baik Malaikat Jari Besi maupun Saratoga tentu tidak akan percaya. Mereka
benar-benar dicekam rasa takut yang menggelegak, padahal bahaya yang diduga
belum tentu ada.
"Saratoga...! Lihat..!"
Dengan pandangan mata masih tetap
mengawasi sekeliling, Malaikat Jari Besi menudingkan telunjuk tangan kiri ke
tanah. Sementara tangan kanan tetap menggenggam golok andalannya erat-erat.
Laki-laki berwajah bintik-bintik
hitam itu mengalihkan pandang ke arah yang ditunjuk rekannya.
"Apa dugaanmu,
Saratoga?" tanya Malaikat Jari Besi setelah laki-laki berwajah penuh
bintik hitam itu selesai memperhatikan tanah yang ditunjukkannya. Keadaan tanah
di situ tampak porak poranda.
"Sepertinya telah terjadi
sebuah pertarungan di sini, Malaikat Jari Besi," sahut Saratoga mengajukan
dugaan. "Melihat keadaan tanah di sini, aku yakin telah terjadi sebuah
pertarungan besar-besaran."
Laki-laki kekar berotot itu
menganggukkan kepala, pertanda membenarkan dugaan rekannya.
"Tingkatkan kewaspadaan, Saratoga. Kekhawatiran kita nampaknya beralasan...."
Ucapan Malaikat Jari Besi
terpaksa dihentikan karena Saratoga memberi isyarat pada laki-laki bertubuh
kekar itu untuk menghentikan ucapannya.
"Aku mendengar
langkah-langkah kaki yang menuju kemari, Malaikat Jari Besi...," jelas
laki-laki berwajah penuh bintik-bintik hitam itu, sebelum rekannya sempat
mengajukan pertanyaan. Nada suaranya terdengar pelan, dan lebih mirip bisikan.
Malaikat Jari Besi pun memusatkan
perhatian pada kedua telinganya. Memang, ucapan rekannya sama sekali tidak
keliru. Ada banyak langkah kaki yang bergerak mendekati mereka.
"Arahnya dari sana...,"
tunjuk laki-laki bertubuh kekar berotot itu. Tangannya menuding ke tempat yang
penuh gundukan batu-batu besar.
Saratoga menganggukkan kepala
pertanda membenarkan, karena memang telah menduga demikian.
"Langkah-langkah kaki yang
ringan," sambung Malaikat Jari Besi lagi. "Mengingatkanku pada
binatang-binatang yang tengah memburu mangsa."
Saratoga mengernyitkan dahinya.
"Aku belum mengerti
maksudmu, Malaikat Jari Besi."
"Langkah-langkah kaki yang
tidak begitu jelas menapak di tanah. Padahal, jumlah mereka cukup banyak ini
membuktikan kalau gerombolan itu sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini.
Dugaanku lebih condong ke situ daripada kalau gerombolan itu rata-rata memiliki
tingkat kepandaian tinggi," jawab Malaikat Jari Besi memberi penjelasan.
"Maksudmu...?"
Meskipun sudah cukup mengerti
maksud pembicaraan rekannya, Saratoga tetap mengajukan pertanyaan. Ingin dipastikannya
ucapan yang keluar dari mulut laki-laki kekar berotot itu. Jantung laki-laki
berwajah penuh bintik hitam ini berdebar tegang ketika mendengar penjelasan
panjang lebar rekannya.
"Kita berhadapan dengan
sekelompok orang yang telah biasa berburu.... Dan menilik kegelisahanku..., aku
khawatir kita berhadapan dengan para pemburu manusia."
Saratoga menelan air liur untuk
membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.
"M…, ma..., maksudmu....
Kita berhadapan dengan manusia yang doyan makan daging manusia...?"
terdengar suara serak ketika Saratoga mengajukan pertanyaan itu.
Belum sempat Malaikat Jari Besi
menjawab pertanyaan itu, dari balik gundukan batu-batu bermunculan sosok-sosok
tubuh kekar berkulit coklat gelap.
Dan secepat mereka bermunculan,
secepat itu pula bergerak mengurung Malaikat Jari Besi dan Saratoga. Jelas,
kalau mereka sudah terbiasa dengan perbuatan seperti itu.
"Ambil posisi saling
melindungi, Saratoga," bisik Malaikat Jari Besi.
Saratoga mengerti maksud ucapan
rekannya. Maka, dia pun bergerak ke belakang Malaikat Jari Besi. Kini, kedua
orang itu mengambil posisi saling membelakangi. Punggung Malaikat Jari Besi dan
Saratoga saling beradu satu sama lain.
"Dugaanku ternyata benar,
Saratoga. Kita berhadapan dengan orang-orang yang terbiasa makan daging
manusia...," jelas Malaikat Jari Besi sambil mengedarkan pandangan ke
sekeliling.
Di sekeliling Malaikat Jari Besi
dan Saratoga, tampak belasan orang yang bertubuh rata-rata kekar dan
bertelanjang dada. Wajah dan sekujur tubuh mereka penuh coreng-moreng. Penutup
tubuh berbentuk rumbai-rumbai bertengger di bagian bawah tubuh mereka. Jelas
kalau mereka adalah kelompok manusia terasing yang terpisah dari manusia
umumnya.
"Kenapa mereka tidak
langsung menyerang kita, Malaikat Jari Besi?" tanya Saratoga ketika
melihat gerombolan orang berpakaian seadanya itu hanya mengurung seraya
mengamang-amangkan senjata di ta-ngan.
Senjata-senjata gerombolan itu
aneh dan mengerikan sekali. Kapak-kapaknya terbuat dari batu-batu cadas yang
keras, dan agak diruncingi pada bagian ujungnya.
"Kurasa menunggu pimpinan
mereka dulu, Saratoga," jawab Malaikat Jari Besi mengajukan dugaan.
Laki-laki berwajah penuh
bintik-bintik hitam terdiam. Jawaban Malaikat Jari Besi rasanya tidak mungkin
salah lagi. Memang, sejak tadi Saratoga telah mengedarkan
pandangan untuk menerka pimpinan gerombolan itu. Tapi sampai
lelah menolehkan lehernya, tetap saja tidak melihat sosok yang pantas menjadi
pemimpin. Semua anggota gerombolan yang mengurung mereka mempunyai penutup
tubuh yang hampir sama satu sama lain. Sang pemimpin pasti akan berbeda dengan
anak buahnya.
"Sang pemimpin telah datang,
Saratoga...," kata Malaikat Jari Besi ketika melihat dua sosok tubuh yang
berjalan tenang mendekati tempat mereka.
3
Saratoga segera membalikkan
tubuh. Hatinya kini tidak merasa khawatir lagi. Laki-laki berwajah
bintik-bintik hitam ini yakin, gerombolan itu tidak akan menyerang sebelum ada
perintah dari sang pemimpin.
Gerombolan pengepung yang berada
di depan Malaikat Jari Besi menyibak, memberi jalan ketika pemimpin mereka
muncul. Padahal, kedua sosok itu masih berjarak lebih dari dua tombak.
Mata Saratoga dan Malaikat Jari
Besi terbelalak memandang dua sosok tubuh yang bergerak mendatangi. Dua sosok
yang sudah pasti adalah sang pemimpin.
Sosok pertama adalah seorang
laki-laki bertubuh tinggi besar, dan berotot kekar. Kulit tubuhnya berwarna
hitam kecoklatan, sehingga semakin menambah keangkerannya. Apalagi dengan
adanya bulu-bulu kasar yang tumbuh di sekujur wajahnya. Sehingga membuat
laki-laki ini kian terlihat garang.
Tapi yang membuatnya kelihatan
lebih garang lagi adalah topi bulu burung garuda di kepalanya. Hal ini
membuktikan kalau laki-laki ini adalah pemimpin gerombolan itu.
Baik Saratoga maupun Malaikat
Jari Besi sama sekali tidak merasa kaget melihat penampilan pemimkn gerombolan
itu. Mereka memang sudah menduganya. Tapi, sosok kedua yang berada di sebelah
siang ketua itulah yang membuat mereka terperanjat. Betapa tidak? Sosok kedua
adalah seorang gadis yang wajahnya tidak jelas terlihat. Memang, di bagian
dahinya terlilit akar bahar yang dihiasi tirai penutup wajah, dari
rumbai-rumbai. Tapi meskipun begitu bisa ditebak kalau gadis itu memiliki wajah
yang cantik biar biasa.
Tubuh gadis itu tidak tertutup
rapat. Memang, tubuhnya hanya ditutupi ala kadarnya. Sehingga, terlihat putih,
halus, dan mulus. Bentuk tubuhnya pun menggiurkan. Sehingga Malaikat Jari Besi
dan Saratoga yang sudah tidak terbilang muda lagi, mau tak mau menelan air liur
melihat pemandangan yang terpampang di hadapan mereka.
"Bagaimana, Dewi?"
tanya pemimpin gerombolan sambil menoleh ke arah gadis cantik yang berada di
sebelahnya. "Apakah kedua orang ini harus menerima nasib yang sama dengan
orang-orang sebelumnya?"
Wanita cantik jelita yang
dipanggil Dewi itu menatap Malaikat Jari Besi dan Saratoga dari balik
rumbai-rumbai yang menutupi wajahnya.
"Mereka bukan orang yang
kucari, Dedemit Alam Akhirat" tegas wanita cantik itu.
Laki-laki berwajah kasar yang
ternyata berjuluk Dedemit Alam Akhirat itu mendengus. "Bunuh mereka!"
Setelah berkata demikian,
pemimpin gerombolan itu lalu melingkarkan tangannya ke bahu Dewi.
"Mari, Dewi! Kita saksikan
tontonan menarik ini dari tempat yang teduh."
Wanita berkulit putih itu sama
sekali tidak membantah. Kakinya kemudian melangkah mengikuti Dedemit Alam
Akhirat yang telah meninggalkan tempat itu lebih dulu.
***
Saratoga, terutama sekali
Malaikat Jari Besi terkejut bukan kepalang tatkala mendengar Dewi memanggil
pemimpin gerombolan pemakan manusia itu dengan julukan Dedemit Alam Akhirat.
Jelas, kalau panggilan itu mempunyai arti luar biasa bagi kedua tokoh itu.
Dan memang, dua tokoh aliran
putih itu tahu, siapa Dedemit Alam Akhirat. Dia adalah seorang tokoh sesat yang
mengerikan. Julukannya saja sudah membuat nyali semua orang ciut. Tokoh itu
memang terkenal memiliki kekejaman yang tidak ada taranya. Dan lagi,
kepandaiannya pun sulit diukur.
Yang lebih mengerikan lagi,
adalah kekejamannya! Dedemit Alam Akhirat ini gemar makan daging manusia
hidup-hidup begitu saja. Lalu, mengapa tahu-tahu tokoh itu berada di sini?
Itulah pertanyaan yang bergayut di benak Malaikat Jari Besi dan Saratoga.
Tapi kedua orang itu tidak bisa
terlalu lama disibuki pikiran-pikiran semacam itu. Karena, gerombolan pemakan
manusia itu sudah mendapat perintah untuk menyerang.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Saratoga segera bergerak ke belakang Malaikat Jari Besi. Maksudnya sudah bisa
diterka. Apa lagi kalau bukan untuk membuat posisi saling melindungi? Sesaat
kemudian, kedua sahabat ini telah saling mengadu punggung
"Hati-hati, Saratoga,"
Malaikat Jari Besi memberi nasihat "Tampaknya mereka bukan lawan
ringan...."
Peringatan Malaikat Jari Besi
sama sekali tidak mendapat tanggapan. Dan memang, Saratoga tidak sempat lagi
menanggapinya. Bahkan ucapan laki-laki kekar berotot itu pun terhenti secara
mendadak, karena gerombolan pemakan manusia itu sudah bergerak menyerang dengan
senjata-senjata yang berbentuk aneh.
Sambil mengeluarkan pekik
melengking nyaring yang mendirikan bulu kuduk, gerombolan orang kasar itu maju
menyerang. Senjata-senjata
mereka terayun deras ke berbagai
bagian tubuh kedua tokoh aliran putih yang terjebak itu.
Malaikat Jari Besi dan Saratoga
tentu saja tidak tinggal diam, dan segera melakukan perlawanan. Senjata yang
sejak tadi tergenggam di tangan digerakkan, untuk menyambut serangan yang
menyambar.
Sesaat kemudian dentang senjata
beradu terdengar menyemaraki pertarungan. Bunga-bunga api pun memercik ke
udara, ikut menyemaraki pertarungan.
Malaikat Jari Besi dan Saratoga
bertarung mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Mereka tahu kalau hasil
pertarungan ini menentukan hidup dan mati. Baik Malaikat Jari Besi maupun
Saratoga ter-nyata memiliki tingkat kepandaian yang berada jauh di atas
lawan-lawannya. Tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh, maupun mutu ilmu silat
kedua orang tokoh persilatan aliran putih itu ternyata jauh lebih unggul.
Kalau saja pertarungan itu
berlangsung satu lawan satu, sudah dapat dipastikan kalau Malaikat Jari Besi
dan Saratoga akan dapat merobohkan lawan-lawannya.
Tapi karena gerombolan pemakan
mausia itu menyerang secara keroyokan, pertarungan jadi berlangsung sengit.
Apalagi, anak buah Dedemit Alam Akhirat itu bertarung secara membabi buta.
Meskipun terlihat serampangan,
tapi serangan gerombolan pemakan manusia itu tampak saling susul seperti
gelombang laut. Sehingga untuk beberapa jurus lamanya, Malaikat Jari Besi dan
Saratoga tidak mampu balas menyerang. Mereka hanya mampu menghindar, dan
menangkis hujan serangan itu.
Setiap kali kedua tokoh itu
melakukan tangkisan, tubuh anak buah Dedemit Alam Akhirat terlempar balik ke belakang.
Tak terdengar jerit tertahan keluar dari mulut, meskipun tangan mereka terasa
bergetar hebat ketika senjatanya tertangkis.
Selama beberapa jurus, Malaikat
Jari Besi dan Saratoga hanya menangkis saja. Baru menjelang jurus kesepuluh
mereka mulai menyerang.
"Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi,
Malaikat Jari Besi menusukkan golok besarnya ke arah perut seorang anak buah
Dedemit Alam Akhirat.
Takkk!
Hampir saja laki-laki bertubuh
kekar berotot ini menjerit ketika goloknya terpental balik sewaktu mengenai
sasaran. Seakan-akan, yang ditusuk bukan perut manusia, tapi gumpalan karet
keras dan kenyal.
Keterkejutan ini hampir saja
mencelakakan laki-laki bertubuh kekar berotot ini. Karena pada saat itu,
serangan kapak lawan meluncur
deras ke arah kepala. Untung pada
saat terakhir kepalanya mampu dimi-ringkan.
Wusss...!
Serangan kapak itu lewat sekitar
sejari di samping kepalanya. Rambut kepalanya yang berkibar keras menjadi
petunjuk, betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam ayunan kapak tadi.
Malaikat Jari Besi merasa
penasaran bukan kepalang. Dalam benaknya berkecamuk berbagai macam dugaan.
Benarkah gerombolan pemakan manusia ini memiliki kulit tubuh yang kenyal? Atau
tadi ada sebuah kekeliruan?
Banyaknya pertanyaan yang
bergayut di benak Malaikat Jari Besi, sehingga membuatnya ingin membuktikan
sekali lagi.
Jerit kekagetan Malaikat Jari
Besi tadi, tentu saja terdengar Saratoga. Laki-laki berwajah bintik-bintik
hitam ini seketika khawatir akan nasib rekannya. Maka begitu mendapat
kesempatan, Saratoga menoleh.
Hati laki-laki berwajah
bintik-bintik hitam ini lega ketika melihat Malaikat Jari Besi tidak menderita
apa-apa. Tapi, mengapa dia tadi menjerit?
"Ada apa, Malaikat Jari
Besi?" tanya Saratoga menyempatkan diri begitu kembali mendapat
kesempatan.
"Mereka memiliki tubuh
kebal, Saratoga," jelas Malaikat Jari Besi seraya menangkis serangan
lawan.
"Benarkah itu?" tanya
Saratoga seraya menangkis serangan beruntun yang mengancam berbagai bagian
tubuhnya.
Ada nada keterkejutan dalam suara
Saratoga!
Memang sejak tadi, dia belum
berhasil menyarangkan satu serangan pun. Hujan serangan yang mengancamnya
terlalu bertubi-tubi, sehingga tidak ada kesempatan untuk melancarkan serangan
balasan.
Tapi berapa jurus kemudian, baik
Malaikat Jari Besi maupun Saratoga sudah mulai leluasa melancarkan serangan
balasan. Dan perasaan terkejut yang amat sangat pun mulai melanda, tatkala
menghadapi kenyataan kalau para pengeroyok memang memiliki tubuh kebal.
Berkali-kali golok Malaikat Jari
Besi maupun pedang Saratoga mengenai berbagai bagian tubuh anak buah Dedemit
Alam Akhirat. Tapi akibatnya, senjata-senjata itu malah terpental balik seperti
menghantam gumpalan karet kenyal.
Setelah berkali-kali menghantamkan
senjata ke berbagai bagian tubuh para pengeroyoknya tanpa hasil, baru kedua
tokoh aliran putih ini yakin akan dugaan mereka. Para pengeroyok ternyata
memang benar-benar memiliki kekebalan kulit tubuh.
Meskipun begitu, Malaikat Jari
Besi dan Saratoga sama sekali tidak putus asa. Mereka berdua tetap saja
melancarkan serangan bertubi-tubi, selama mendapat kesempatan. Hanya saja,
sasaran yang dituju selalu berganti-ganti. Bila sebelumnya bahu, kemudian ganti
leher. Begitu seterusnya. Yang jelas, mereka mencoba setiap bagian tubuh lawan.
Sebagai tokoh berpengalaman, kedua orang ini tahu kalau setiap ilmu memiliki
kelemahan. Dan mereka berusaha menemukannya.
Entah sudah beberapa bagian tubuh
yang dibacok, tusuk, tetak, maupun babat. Tapi tetap saja tidak ada hasil
seperti yang diharapkan. Senjata-senjata Malaikat Jati Besi dan Saratoga sama
sekali tidak mampu berbuat apa-apa.
Keuntungan yang ada di pihak
Malaikat Jari Besi dan Saratoga adalah tingkat ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki jauh berada di atas tawan. Sehingga, tidak terlalu sulit untuk
mengelakkan serangan balasan yang dilancarkan lawan. Tambahan lagi, tenaga
dalam mereka juga jauh di atas lawan. Sehingga setiap kali menangkis, cukup
untuk membuat orang yang ditangkis tidak mampu menyerang lagi beberapa saat.
Tapi kalau keadaan ini
berlangsung terus-menerus, tentu akan menguras seluruh kemampuan mereka. Maka
tidak aneh ketika pertarungan menginjak seratus jurus, kedua orang itu mulai
merasa lelah.
Seiring perasaan lelah yang
mendera, tenaga kedua tokoh yang terjebak itu semakin berkurang. Dan dengan
sendirinya, kegesitan mereka berkurang pula. Akibatnya sudah bisa diduga.
Perlawanan Malaikat Jari Besi dan Saratoga pun mulai mengendur.
Baik Malaikat Jari Besi maupun
Saratoga menyadari kalau lambat laun akan roboh di tangan para pengeroyok Dan
itu sudah pasti. Betapa tidak? Setiap serangan yang dilancarkan sama sekali
tidak berarti apa-apa. Sedangkan serangan para pengeroyok, setiap saat dapat
merenggut nyawa! Di atas kertas, gerombolan pemakan manusia jelas lebih unggul!
***
"Ha ha ha...! Kau lihat
Dewi? Tidak lama lagi kita akan melihat sebuah tontonan menarik. Ha ha
ha...!"
Dedemit Alam Akhirat tertawa terbahak-bahak sambil
menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah pertarungan berlangsung. Sementara
tangan kanannya yang sejak tadi melingkar di bahu yang putih, halus, dan mulus
milik Dewi, perlahan mulai merayap turun. Persis seekor ular merayap turun dari
pohon.
Dewi diam saja. Sama sekali tidak
diberikan tanggapan atas perbuatan Dedemit Alam Akhirat. Karuan saja hal ini
membuat tindakan
pemimpin gerombolan pemakan
manusia ini semakin liar. Tangan itu pun semakin merayap turun.
Telapak tangan yang semula berada
di bahu kanan Dewi, kini sudah mulai berpindah tempat. Tangan itu sudah berada
di bagian dada atas. Sehingga, laki-laki berwajah kasar itu tentu saja harus
menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Dewi. Memang, Dedemit Alam Akhirat
dan Dewi duduk di atas sebuah batu besar yang terletak agak tinggi. Dan itu
memang disengaja pemimpin gerombolan pemakan daging manusia itu.
Dan ketika jari-jari tangan
Dedemit Alam mulai menyentuh payudara kanan, Dewi buru menepiskannya dan
beranjak bangkit.
"Mengapa, Dewi?" tanya
Dedemit Alam seraya bangkit berdiri pula. Ucapannya terdengar agak terengah-engah,
pertanda mulai diamuk nafsu.
"Aku belum menemukan orang
yang kucari, tapi kau sudah hendak menagih upahnya," kata ketus.
"Tapi sampai kapan aku harus
menunggu ora yang kau inginkan, Dewi? Iya, kalau orang itu datang kemari....
Kalau tidak?!" Suara Dedemit Alam Akhirat semakin lama semakin meninggi.
Jelas kalau amarah nya mulai bangkit. "Ingat, Dewi! Kesabaran ada
batasnya. Jangan membuat aku terpaksa bertindak kasar, Dewi. Kau tahu,
akibatnya akan sangat mengerikan bagimu!"
Suasana menjadi hening sejenak
begitu Dedemit Alam Akhirat menghentikan ancamannya. Meskipun perubahan wajah
Dewi sulit diketahui karena terlindung uraian jerami, tapi menilik dari kedua
kakinya yang menggigil keras, sudah dapat diterka kalau di tengah dilanda rasa
takut yang hebat mendengar ancaman itu.
Dewi telah melihat sendiri bukti
kekejaman Dedemit Alam Akhirat beberapa hari yang lalu. Saat itu, laki-laki
berwajah kasar ini memperkosa seorang pendekar wanita, sambil memakan tubuh
wanita malang yang berhasil ditaklukkannya.
Itulah sebabnya, hatinya merasa
takut dan ngeri bukan main begitu mendengar ancaman itu. Dewi memerlukan waktu
beberapa saat untuk menenangkan hatinya. Ditarik napasnya dalam-dalam, lalu
dihembus-kannya kuat-kuat. Dan memang, setelah berbuat demikian, perasaan
hatinya mulai tenang kembali.
"Aku tidak bohong, Dedemit
Alam Akhirat. Telah kudengar sendiri pembicaraan mereka. Kedua orang itu
berjanji akan bertemu di sini untuk mengadu ilmu.... Percayalah! Bila
orang-orang yang kucari itu telah berhasil kau tangkap, dengan sukarela akan
kuserahkan diriku padamu...."
"Sebenarnya, siapa orang
yang kau cari itu, Dewi?" tanya Dedemit Alam Akhirat.
Suara laki-laki berwajah keras
itu masih agak keras, meskipun tidak sekeras sebelumnya. Kalimat terakhir yang
diucapkan gadis itulah yang telah meredakan amarahnya yang menggelegak. Tanpa
sadar, laki-laki berwajah keras ini menelan air liurnya ketika membayangkan
kemolekan tubuh gadis ini bila menyerahkan diri kepadanya.
"Dewa Arak dan Setan
Mabuk!" tegas dan mantap sekali, ucapan yang keluar dari mulut Dewi.
Dedemit Alam Akhirat
mengernyitkan dahinya jenak.
"Nama Dewa Arak sama sekali
belum pernah kudengar. Tapi Setan Mabuk, sejak dulu telah kudengar. Hanya
sayangnya, aku belum mempunyai kesempatan untuk bertarung dengannya. Padahal,
sudah lama aku ingin menjajal kepandaiannya."
"Tapi Dewa Arak justru tidak
kalah lihai dibanding Setan Mabuk, Dedemit Alam Akhirat," tegas Dewi
seperti memberi nasihat.
"Kalau dia adalah seorang
tokoh tangguh, mengapa aku belum pernah mendengar nama besarnya?!" sergah
laki-laki berwajah kasar itu. Nada suaranya terdengar penuh ketidakpuasan,
karena mendengar gadis yang diinginkannya justru memuji-muji lawan.
"Dia baru muncul beberapa
bulan belakangan ini," jelas Dewi. "Sedangkan kau mengurung diri
tempat terpencil selama hampir dua tahun. Jadi bagaimana mungkin bisa mendengar
nama besarnya yang telah menggegerkan dunia persilatan?"
Dedemit Alam Akhirat
mengangguk-anggukkan kepala.
"Kau boleh memuji-muji Dewa
Arak setinggi langit Dewi. Tapi, satu hal yang perlu kau ketahui Dedemit Alam
Akhirat tidak mungkin bisa dikalahkan oleh siapa pun! Belasan, bahkan mungkin
puluhan tahun lamanya aku malang-melintang dalam dunia persilatan. Tapi, tak
ada seorang pun yang sanggup menghalangi tindakanku. Bahkan puluhan orang
pendekar telah mengeroyokku, tapi aku berhasil membantai mereka semua,"
tandas Dedemit Alam Akhirat, jumawa.
Laki-laki berwajah kasar itu
menghentikan ucapannya sejenak. Rupanya karena terlalu berapi-api dalam
berbicara, napasnya jadi terengah-engah.
"Bahkan tanpa ada seorang
pun yang tahu, kalau aku telah melanglang buana terlampau jauh. Bahkan sampai
ke daerah kekuasaan Iblis Hitam. Kami kemudian bertarung. Kalau saja dia tidak
memiliki ke-unggulan dalam hal senjata kapaknya yang amat beracun, dan
keistimewaan jubah pusakanya, aku pasti berhasil mengalahkannya," sambung
Dedemit Alam Akhirat penuh amarah (Untuk jelasnya mengenai tokoh Iblis Hitam,
silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Peninggalan Iblis
Hitam").
"Jadi..., Iblis Hitam
berhasil mengalahkanmu, Dedemit Alam Akhirat?"
Meskipun tidak tahu-menahu
mengenai tokoh yang disebutkan pemimpin gerombolan pemakan manusia itu, tapi
Dewi memaksakan diri untuk menanyakannya. Mungkin hanya sekadar basa-basi.
Suatu hal yang wajar kalau gadis bertubuh molek ini tidak mengetahuinya, karena
tempat tinggal Iblis Hitam amat jauh dari situ. Paling tidak harus melewati
beberapa hutan, sungai, dan puluhan desa untuk bisa tiba di sana.
"Ha ha ha...! Mana mungkin
Dedemit Alam Akhirat bisa dikalahkan?! Pertarungan antara kami berlangsung
seimbang. Kau tahu, Dewi. Iblis Hitam di daerah sana telah menjadi legenda. Tak
ada seorang pun yang pernah mengalahkannya. Dia bercokol dan merajalela sampai
seratus tahun bahkan mungkin lebih."
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Dedemit Alam Akhirat menghentikan ucapannya. Sementara, Dewi sama sekali
tidak bertanya lagi. Kini mereka berdua mengalihkan pandangan kembali ke arah
pertarungan yang tengah berlangsung.
4
Sementara itu, pertarungan antara
Malaikat Jari Besi dan Saratoga dalam menghadapi gerombolan pemakan manusia
telah semakin mendekati penyelesaian. Keadaan kedua tokoh aliran putih itu
sudah semakin payah dan mengkhawatirkan.
Pertarungan memang sudah
berlangsung hampir seratus lima puluh jurus. Bukan merupakan hal yang aneh
kalau kedua tokoh aliran putih ini merasa lelah bukan main.
Sebenarnya, bukan hanya kedua
orang tokoh itu saja yang merasa lelah. Para pengeroyoknya pun demikian pula.
Tapi, rasa lelah yang melanda gerombolan pemakan manusia itu tidak seperti yang
dialami Malaikat Jari Besi dan Saratoga.
"Akh...!"
Saratoga menjerit keras ketika
tiba-tiba kapak batu lawan keras sekali menghantam bahunya. Kontan sambungan
tulang bahunya terlepas. Darah pun mengalir dari bagian yang terluka.
Akibatnya, pedang di tangan kanan laki-laki berwajah penuh bintik hitam ini
terlepas dari pegangan. Tubuhnya pun terhuyung ke belakang.
Belum sempat Saratoga berbuat
sesuatu, kapak di tangan pengeroyok yang lain telah menghantam pahanya. Suara
berderak keras terdengar mengiringi hantaman itu.
Seketika itu juga tubuh laki-laki
berwajah penuh bintik hitam ini terguling. Dan secepat itu pula,
berbondong-bondong gerombolan pemakan manusia menyergapnya.
"Saratoga...!"
Malaikat Jari Besi menjerit keras
melihat peristiwa yang menimpa rekannya. Tapi apa daya? Dia sendiri pun tengah
berada dalam keadaan terhimpit-himpit. Maka, laki-laki bertubuh kekar berotot
ini hanya sempat melihat sekilas keadaan rekannya.
Meskipun hanya sekilas, tapi tak
urung semua bulu kuduk Malaikat Jari Besi berdiri. Bahkan perutnya kontan mual!
Betapa tidak? Gerombolan pemakan manusia menghujani sekujur tubuh Saratoga
dengan senjata, tapi tidak untuk membunuhnya. Hanya membuatnya tidak berdaya
lagi.
Kemudian, setelah itu mereka
mengeluarkan pisau. Namun, sebenarnya tidak pantas bila disebut pisau, karena
matanya tumpul. Dan dengan pisau itu, anak buah Dedemit Alam Akhirat menyayat
daging Saratoga, kemudian memakannya mentah-mentah! Darah yang memancur deras
dari tubuh rekannya pun dihirup dan dijilati dengan rakusnya.
Saratoga melolong-lolong karena
rasa sakit tak terkira pada sekujur tubuhnya. Rasanya, tak tahan Malaikat Jari
Besi mendengar jeritan itu. Kalau saja bisa, sudah diterobosnya kumpulan
orang-orang biadab itu. Sayangnya, dia sendiri tidak berdaya.
Cukup lama juga Saratoga melolong-lolong
menjelang maut. Dan bertepatan dengan lenyapnya jeritan laki-laki berwajah
penuh bintik hitam itu, Malaikat Jari Besi mengalami nasib yang sama. Tanpa
dapat dicegah lagi, tubuhnya terhantam sebuah kapak batu. Keras sekali!
Seketika Malaikat Jari Besi
terhuyung-huyung ke depan. Dan sebelum sadar apa yang telah terjadi, kembali
sebuah palu batu besar menghantam dadanya. Seketika, Malaikat Jari Besi jatuh
terjungkal ke belakang. Dan di saat itulah dia disambut terkaman beberapa orang
pengeroyoknya.
Seperti juga Saratoga, laki-laki
bertubuh kekar berotot itu pun menjerit-jerit menahan rasa sakit yang tidak
terhingga ketika sedikit demi sedikit daging tubuhnya dipreteli dengan pisau
tumpul. Maka, akhirnya dia tewas secara menyedihkan.
Kini gerombolan pemakan manusia
bangkit berdiri dengan perasaan puas. Mulut mereka masih mendecap-decap
menikmati santapan yang menurut mereka lezat bukan main.
"Ha ha ha...!"
Dedemit Alam Akhirat tertawa
terbahak-bahak. Tampak jelas sekali kegembiraan di wajahnya. Sepasang matanya
menatap penuh rasa puas pada tubuh Malaikat Jari Besi dan Saratoga yang kini
tinggal tulang-belulang saja. Bahkan tidak ada darah setitik pun pada kedua
tengkorak itu. Semuanya habis dilahap.
Masih dengan suara tawa yang
belum juga lenyap, Dedemit Alam Akhirat melangkah meninggalkan tempat itu.
Tangan kanannya kini melingkar di bahu Dewi yang merasa perutnya mual dan ingin
muntah menyaksikan pemandangan di hadapannya. Kalau saja tidak ada Dedemit Alam
Akhirat yang memaksanya untuk menyaksikan, sudah sejak tadi tempat itu
ditinggalkannya.
Dengan gereng penuh kepuasan,
gerombolan pemakan manusia itu pun bergerak mengikuti. Beberapa di antara
mereka membawa tulang-belulang Malaikat Jari Besi dan Saratoga. Memang, masih
ada yang belum sempat mereka nikmati. Sumsum yang terletak di dalam tulang!
***
Dewa Arak menatap ke arah pulau
berbentuk tengkorak kepala manusia yang tampak di hadapannya. Perlahan
dayungnya dikayuh dan perahunya diarahkan ke pulau, yang tidak lain Pulau Selaksa
Setan.
Tak lama kemudian, pemuda
berambut putih keperakan itu telah mulai mendekati tepi pulau. Air pun memercik
pelan begitu sepasang kaki Dewa Arak menyentuh pinggir pantai.
Arya mengedarkan pandangan
sebentar ke sekeliling pulau, baru kemudian menyeret perahu agak ke darat.
Lalu, diambilnya sebuah kayu yang panjangnya tak kurang dari dua jengkal, dan
dihunjamkannya ke dalam tanah hingga lebih dari setengahnya. Pada patok yang
dibuat tadi, tali perahunya ditambatkan. Memang, pemuda berambut putih keperakan
itu masih membutuhkan perahu untuk meninggalkan Pulau Selaksa Setan nanti.
Arya mengedarkan pandangannya
berkeliling.
"Aneh.... Apakah belum ada
orang yang datang?" gumam Dewa Arak pelan. Dahinya pun berkernyit dalam,
pertanda tengah berpikir keras.
Dengan kepala masih tetap
memperhatikan sekeliling, Dewa Arak terus melangkah. Meskipun kewaspadaan tidak
tampak pada sikapnya, tapi sebenarnya sikapnya begitu waspada saat melihat
suasana yang hening. Seluruh urat syaraf dan otot tubuhnya menegang kaku, bersiap
menghadapi serangan mendadak.
Dan baru beberapa tombak
melangkah, Dewa Arak mendengar adanya bunyi air beriak. Memang pelan saja
kedengarannya, tapi karena tengah waspada penuh, bisa tertangkap oleh
pendengarannya. Dan seketika itu pula kepalanya menoleh ke belakang.
"Hey...!"
Pemuda berambut putih keperakan
ini berseru kaget ketika melihat beberapa sosok tubuh coklat kehitaman
berpakaian ala kadarnya, telah memotong tali perahunya.
Arya tentu saja tidak sudi
membiarkan hal itu begitu saja. Tapi sebelum dia bergerak mengejar, terdengar
banyak sekali suara mendesing nyaring disusul berkelebatannya benda-benda
berkilat ke arah berbagai bagian tubuhnya.
Dewa Arak langsung mengerutkan
keningnya. Menilik suara desingan yang begitu tajam, jelas kalau benda-benda
berkilat yang meluncur itu adalah anak panah.
Dengan pikiran masih diliputi
teka-teki tentang orang-orang berpakaian seadanya itu, Dewa Arak memutarkan
kedua tangannya.
Luar biasa! Belasan anak panah
yang meluncur ke arahnya semua tertangkis. Suara berderak keras akibat
beradunya kedua tangan Dewa Arak dengan anak-anak panah, seketika terdengar.
Sebagian besar runtuh ke
tanah, dalam keadaan patah-patah.
Sedangkan sisanya terpental balik kembali ke arah semula.
Baru saja pemuda berambut putih
keperakan itu ingin kembali mencegah perahunya yang dibawa kabur, terdengar
suara langkah kaki ribut, disusul bermunculannya belasan sosok tubuh seperti
yang semula dilihatnya.
Arya terperanjat melihat hal ini.
Meskipun belum pernah mendengar, tapi sudah bisa memperkirakan keganasan
orang-orang yang mengurungnya. Apalagi kalau bukan penghuni Pulau Selaksa Setan
yang terasing dan biadab! Apakah Setan Mabuk mendustainya mengenai akan
diadakannya pertarungan antara raja-raja arak. Kalau iya, untuk apa
menjebaknya? Bukankah kakek yang menggiriskan itu belum tentu kalah olehnya?
Tapi kalau Setan Mabuk tidak
menipunya, mengapa tempat ini penuh orang yang menilik dari pakaian yang
dikenakan adalah orang-orang biadab? Bukankah syarat utama tempat pertarungan,
seperti yang dikatakan kakek berkepala botak itu, adalah tempat sepi? Tapi
mengapa kini ramai? Dan mengapa tidak tampak adanya seorang pun di sini? Baik
orang-orang yang ingin menonton, juri, maupun tokoh-tokoh yang hendak bertarung?
Ataukah Dewa Arak telah salah
mendarat? Mungkinkah ini bukan Pulau Selaksa Setan? Ah! Tidak mungkin! Arya
tahu betul, perjalanannya tidak salah! Pulau tempatnya mendarat ini memang
benar-benar Pulau Selaksa Setan!
Dan Arya kini tidak bisa berpikir
lebih lama lagi, karena sosok yang mengurung sudah bergerak mengelilinginya.
Dewa Arak memperhatikan belasan
orang yang berpakaian sekadarnya itu. Ada perasaan kaget di hati tatkala
melihat ada taring yang tersembul di sudut-sudut mulut para pengeroyoknya.
Melihat keadaan para
pengepungnya, Arya jadi bersikap hati-hati. Kelainan pada diri merekalah yang
membuatnya jadi lebih bersikap waspada. Sepasang mata Arya berputar,
memperhatikan semua tindak-tan-duk anak buah Dedemit Alam Akhirat.
Agak heran juga hati Dewa Arak
tatkala melihat para pengeroyoknya sama sekali tidak bergerak menyerang, tapi
hanya mengurung saja. Melihat hal ini, Arya bisa menebak kalau ada sesuatu yang
tengah ditunggu gerombolan itu.
Dugaan Dewa Arak tidak keliru!
Dari balik gundukan batu besar, melesat sesosok tubuh ramping yang kemudian
hinggap dalam jarak sekitar satu batang tombak dari kepungan gerombolan pemakan
manusia itu.
Sepasang mata Dewa Arak
terbelalak lebar ketika sosok bayangan itu telah berdiri tegak. Betapa tidak?
Sosok yang baru muncul ini, amat
berbeda dengan para pengepungnya.
Dia adalah seorang wanita yang begitu cantik. Kulitnya putih, halus, dan mulus.
Bahkan bentuk tubuhnya sangat menggiurkan. Raut wajah gadis itu tidak terlihat,
karena tertutup rumbai-rumbai yang agak rapat.
"Tangkap pemuda
itu...!"
Gadis cantik yang tak lain Dewi
itu memberi perintah dengan suara keras. Seketika itu juga, gerombolan pemakan
manusia yang mengepung Arya mulai bergerak.
Berbeda dengan sebelumnya, kali
ini mereka tidak menggunakan kapak, melainkan tambang panjang berwarna putih.
Melihat dari keadaannya, bisa diperkirakan kalau tambang itu ulet dan alot
bukan ke-palang.
Dewa Arak langsung mengernyitkan
alisnya. Meskipun bisa memperkirakan kalau lawan akan menangkapnya hidup-hidup, menggunakan tambang, tapi belum bisa
diketahui apa yang akan dilakukan mereka.
Itulah sebabnya, Dewa Arak hanya
bisa memperhatikan sambil memasang sikap waspada. Seluruh urat-urat dan
otot-otot tubuhnya menegang, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Mendadak gerombolan pemakan
manusia itu berputar mengelilingi Dewa Arak dengan arah masing-masing tidak
seragam. Mereka berlari ke sana kemari tidak beraturan.
Tentu saja hal ini membuat Dewa
Arak kebingungan. Biji matanya berkeliaran mengikuti gerakan berputar
lawan-lawannya. Tapi karena tubuh-tubuh yang berputar sama sekali tidak
beraturan, sehingga pemuda berambut putih keperakan itu jadi pusing sendiri.
Apalagi, ketika tubuhnya beberapa saat ikut pula berputar. Maka, kepalanya
malah jadi pening.
Arya memang belum pernah
mengalami peristiwa seperti ini. Jadi, tidak aneh kalau jadi bingung karenanya.
Dan tahu-tahu tubuhnya telah terbelit tambang-tambang berwarna putih itu. Baru
setelah tubuh Arya terbelit, gerakan berputar para pengeroyoknya pun terhenti.
Karuan saja hal ini membuat Dewa
Arak terkejut bukan kepalang. Buru-buru tenaga dalamnya dikerahkan untuk
memutuskan tambang-tambang yang menjeratnya. Tapi, tambang-tambang itu ternyata
alot bukan main. Entah terbuat dari bahan apa, tidak diketahuinya sama sekali.
Meskipun gagal dengan usaha
pertamanya, Dewa Arak tidak putus asa. Segera tenaga dalam simpanannya
dikeluarkan. 'Tenaga Sakti Inti Matahari'.
Seketika itu juga, ada hawa panas
yang menjalar sekujur tubuhnya. Meskipun begitu, tetap saja tambang-tambang itu
tidak bisa diputuskan.
Arya sama sekali tidak putus asa.
Tetap saja 'Tenaga Sakti Inti Matahari' dikerahkan terus. Tujuannya adalah untuk
membuat para pengeroyok melepaskan pegangan pada tambang, karena tidak kuat
menahan serangan hawa panas 'Tenaga Sakti Inti Matahari' yang merayap.
Dugaan Dewa Arak memang tepat.
Belasan orang yang memegang tambang mulai menggeram-geram, begitu tangan mereka
terasa panas bukan kepalang. Tapi, rupanya anak buah Dedemit Alam Akhirat
terhitung orang-orang yang keras hati. Betapapun menyengatnya panas yang
melanda telapak tangan, tetap saja genggaman itu tidak dilepaskan.
Dewi rupanya melihat hal itu.
Hatinya khawatir juga bila lawan tangguhnya akan berhasil lolos. Maka dia pun
cepat melesat ke depan. Dan dengan jari telunjuk menegang kaku, ditotoknya
punggung Dewa Arak!
Tukkk..! "Akh...!"
Dewi menjerit keras ketika ujung
jari telunjuknya terasa patah-patah dan panas bukan kepalang ketika menyentuh
punggung Dewa Arak. Seolah-olah, yang ditotoknya tadi bukan kulit manusia,
melainkan lempengan baja tebal yang panas membara!
"Hmh...!"
Terdengar suara mendengus keras
disusul melesatnya sesosok bayangan ke arah Dewa Arak. Dan sekali sosok
bayangan itu mengulurkan jari menotok, tubuh Dewa Arak terkulai lemas.
Di sebelah Dewi, kini berdiri
sesosok tubuh berwajah kasar. Kepalanya memakai topi terbuat dari bulu burung
garuda. Siapa lagi kalau bukan Dedemit Alam Akhirat?
"Inikah orang yang kau cari
itu, Dewi?" tanya laki-laki berwajah kasar itu.
Ada kilatan rasa gembira di wajah
Dedemit Akhirat ketika mengajukan pertanyaan itu. Terbayang di benaknya, betapa
gadis yang bertubuh molek itu akan sukarela menyerahkan diri kepadanya.
Dewi mengangguk lesu. Memang,
hatinya masih merasa terkejut manakala totokannya ternyata sama sekali tidak
berarti apa-apa. Apalagi ketika teringat akan janjinya pada Dedemit Alam
Akhirat. Rasanya jijik bila membayangkan laki-laki yang berwajah kasar dan
berbau busuk itu akan menggelutinya.
"Ha ha ha...! Kalau begitu,
sudah tiba saatnya bagiku untuk menerima upahnya...!" tagih laki-laki
berwajah kasar itu keras. Sepasang matanya merayapi sekujur tubuh Dewi.
"Berikan kesempatan padaku
untuk membalas dendam pada pemuda ini, Dedemit Alam Akhirat. Aku tidak sudi
diganggu sewaktu
menyiksanya," pinta wanita
bertubuh molek itu seraya menatap wajah De-demit Alam Akhirat dengan sepasang
mata penuh permohonan.
"Hm...!" pemimpin gerombolan pemakan manusia itu menggumam. Dahinya berkemyit
dalam. Tampak jelas kalau tengah mempertimbangkan permintaan Dewi.
"Setelah puas melampiaskan
dendamku padanya, aku akan sukarela menyerahkan diri kepadamu. Terserah apa
yang akan kau lakukan pada diriku...," sambung wanita berkulit putih itu
buru-buru. "Bagaimana, Dedemit Alam Akhirat?"
Dengan susah payah laki-laki
berwajah kasar itu menelan ludah ketika di benaknya terbayang betapa nikmatnya
menggeluti tubuh molek yang memiliki kulit putih, halus, mulus, dan menggiurkan
itu.
"Baiklah. Kukabulkan
permintaanmu," jawab tokoh sesat yang menggiriskan itu dengan suara yang
mendadak serak.
Seketika wajah Dewi berseri.
"Terima kasih, Dedemit Alam
Akhirat!"
Setelah berkata demikian, gadis
bertubuh menggiurkan ini melangkah menghampiri Dedemit Alam Akhirat. Dan....
Cuppp!
Pipi laki-laki berwajah kasar itu
langsung dikecupnya.
Dedemit Alam Akhirat tidak tahan
lagi menahan nafsunya. Dengan kasar ditahannya kepala Dewi yang akan ditarik
kembali. Kemudian, dengan buas dilumatnya sepasang bibir yang merah, ranum,
menggiurkan, dan bagus bentuknya itu.
Dewi meronta-ronta, tapi Dedemit
Alam Akhirat yang tengah lupa diri tidak sudi melepaskannya. Pegangannya pun
dipertahankan pada kuduk gadis itu. Dan dengan rakus dijarahnya sepasang bibir
Dewi. Baru setelah merasa cukup puas, gadis itu dilepaskannya.
Dewi menatap dengan sinar mata
berkilat-kilat. Perutnya kini mendadak mual. Mulut Dedemit Alam Akhirat
ternyata berbau busuk. Sepertinya, di dalam mulut laki-laki berwajah kasar itu
terdapat onggokan bangkai! Sekuat tenaga, ditahannya keinginan untuk muntah.
"Sisa upahmu kutagih
belakangan, Dewi," ujar Dedemit Alam Akhirat Napasnya terdengar agak
memburu.
Tapi Dewi sama sekali tidak
mempedulikannya. Dengan gerak isyarat, disuruhnya beberapa orang anak buah
Dedemit Alam Akhirat membawa tubuh Dewa Arak.
Namun gerombolan pemakan manusia
yang diperintahnya justru malah menoleh ke arah Dedemit Alam Akhirat. Baru
ketika tokoh sesat yang menggariskan itu menganggukkan kepala, mereka bergerak
memenuhi permintaan Dewi.
Dewi pun berjalan mendahului. Di
belakangnya, berjalan gerombolan pemakan manusia yang memawa tubuh Dewa Arak.
Baru di belakangnya lagi, berjalan belasan orang gerombolan lainnya bersama
Dedemit Alam Akhirat.
5
Dengan langkah pasti, Dewi
melangkah memasuki salah satu dari sekian banyak gua yang terdapat di dinding
gundukan batu yang besar menyerupai bukit itu.
Anak buah Dedemit Alam Akhirat
yang membawa tubuh Dewa Arak yang terkulai lemas, mau tak mau ikut pula
melangkah masuk ke dalam. Tapi yang lain, dan juga Dedemit Alam Akhirat masuk
ke gua lain, tidak ikut masuk ke gua yang dimasuki Dewi.
Gua itu ternyata mempunyai lorong
yang cukup panjang dan berliku-liku. Baru setelah jarak yang ditempuh mencapai
dua belas tombak, lorong gua mulai membesar dan melebar.
Di sini, tidak hanya ada satu
lorong gua saja, tapi ada empat buah lorong. Dewi yang rupanya sudah cukup
mengetahui tempat itu segera memilih lorong gua kanan.
Setelah menempuh jalan sekitar
delapan tombak, sampailah mereka pada sebuah ruangan yang cukup luas, dan
anehnya cukup terang. Dewi sama sekali tidak pernah ambil pusing mengenai asal
sinar yang membuat ruangan gua jadi terang. Mungkin bagian atap gua yang
terbuat dari batu itu menyerap sinar, dan memantulkannya. Namun gadis bertubuh
molek itu sama sekali tidak mempedulikannya.
"Masukkan dia ke dalam
kurungan itu!" perintah Dewi sambil menudingkan telunjuk ke arah salah
satu dinding gua yang berupa ruang tahanan. "Dan tinggalkan tempat
ini!"
Dua orang anak buah Dedemit Alam
Akhirat segera melemparkan tubuh Dewa Arak ke sudut ruangan, lalu melangkah
lebar meninggalkan tempat itu. Mereka sama sekali tidak menoleh-noleh lagi.
Dewi menatap tubuh kedua orang
manusia biadab itu hingga lenyap dari pandangan, baru kemudian melangkah masuk
menghampiri Arya yang tergolek lemah tak berdaya. Totokan Dedemit Alam
Akhiratlah yang menyebabkannya demikian.
Itulah sebabnya, meskipun
tubuhnya sudah tidak terikat lagi. Dewa Arak sama sekali tidak mampu untuk
bergerak lagi.
Dewi melangkah menghampiri Dewa
Arak dengan sinar mata aneh. Tapi, pemuda berpakaian ungu itu sama sekali tidak
mengetahui karena wajahnya terhalang rumbai-rumbai.
Begitu telah berada di dekat Dewa
Arak yang terbaring, gadis bertubuh molek itu menghempaskan pantarnya dan duduk
di situ.
"Kau...," sebuah ucapan
serak keluar dari mulut Dewi. "Betapa inginnya aku membunuhmu. Kaulah yang
telah membunuh ayahku. Tapi,
mengapa kau juga yang telah
menyelamatkanku dari malapetaka yang mengerikan?"
Arya mengernyitkan alisnya,
pertanda tengah berpikir keras. Sepertinya suara seperti ini pernah
didengarnya. Tapi kapan dan di mana, dia lupa. Hanya satu hal yang dapat
diterka. Gadis yang berada di perkampungan orang biadab itu mempunyai urusan
dengannya.
"Siapakah kau sebenarnya,
Nisanak?" tanya pemuda berpakaian ungu itu setelah lama berpikir tanpa
mendapat jawaban sepotong pun.
"Jangan selak ucapanku, Dewa
Arak!" sergah Dewi keras. "Dengarkan saja dulu ceritaku, baru nanti
kau akan mengetahuinya."
Dewa Arak pun terdiam. Bukan
karena menuruti perintah gadis berkulit putih itu, tapi merasa tidak ada
gunanya bertanya lagi.
"Aku dilanda perasaan
bimbang," lanjut Dewi. "Di satu pihak, aku ingin membalas kematian
ayahku. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa melupakan begitu saja pertolonganmu
atas bahaya mengerikan yang hampir menimpaku...."
Gadis berpakaian ala kadarnya itu
menghentikan ucapan sejenak untuk menenangkan perasaannya.
"Begitu kudengar kau akan
menuju Pulau Selaksa Setan, aku bergegas mendahuluimu. Pulau ini dulu adalah
milik salah seorang yang menjadi guru ayahku. Makanya, begitu aku datang,
masalahnya langsung kuceritakan. Namun demikian, aku tidak memberitahukan nama,
sehingga dia terpaksa memanggilku Dewi. Karena, katanya wajahku cantik bukan
kepalang. Guru ayahku itu memang bersedia membantu, tapi dengan satu
syarat..."
Sampai di sini, Dewi mendadak
menghentikan ucapannya. Jelas lanjutan cerita itu menyedihkan hatinya.
Sementara itu Arya hanya diam
saja mendengarkan. Dia sama sekali tidak bertanya, meskipun gadis bertubuh
molek itu menghentikan ceritanya.
"Aku harus bersedia menjadi
pendamping hidupnya. Orang yang telah pernah menjadi guru ayahku itu
mencintaiku, Dewa Arak"
"Apakah orang yang kau
maksudkan adalah laki-laki kasar yang telah menotokku?" tanya Dewa Arak
setengah hati karena khawatir tidak akan mendapatkan jawaban Dewi. Rupanya,
pemuda berpakaian ungu ini tidak mampu juga menahan rasa ingin tahunya.
Dewi menganggukkan kepala.
"Dia berjuluk Dedemit Alam
Akhirat," sahut gadis berwajah cantik jelita itu setengah mendesah.
"Hanya untuk membalas dendam
padaku saja kau harus mempertaruhkan segalanya, Nisanak?" tanya
Dewa Arak lagi, merasa heran.
"Tidak hanya pada kau saja,
Dewa Arak," sambut Dewi cepat. "Tapi juga pada Setan Mabuk, yang
telah menghinaku!"
"Ah...!"
Seruan keterkejutan terdengar
dari mulut Dewa Arak begitu mendengar ucapan Dewi yang terakhir. Kini sudah
bisa diduga siapa sebenarnya gadis yang mengenakan rumbai-rumbai pada wajahnya
itu. Ha-nya ada seorang gadis yang diselamatkannya dari bahaya mengerikan Setan
Mabuk. Dan gadis itu adalah....
"Kau..., kau...,
Malinda...?" tanya Arya terbata-bata.
Baru saja Arya mengucapkan
demikian, wanita bertubuh menggiurkan itu merenggut rumbai-rumbai di wajahnya.
Pralll...!
Seketika itu juga seraut wajah
cantik terpampang di hadapan Dewa Arak. Dan memang, itu adalah wajah Malinda,
putri Mayat Kuburan Koneng!
"Sebelum aku membalas dendam
atas perbuatanmu terhadap ayahku..., aku ingin membalas budi padamu Dewa
Arak," kata Dewi yang ternyata adalah Malinda.
Putri Mayat Kuburan Koneng itu
menghentikan ucapannya sebentar. Tampak jelas kalau hatinya merasa berat
melanjutkan kata-katanya.
"Kau adalah pemuda pertama
yang telah melihat tubuhku, Dewa Arak. Padahal aku telah bersumpah, hanya orang
yang akan menjadi suamiku saja yang berhak melihat tubuhku. Dan apabila aku
tidak menyukainya, dia harus mati!"
Wajah Dewa Arak seketika memucat.
Disadari kalau dirinya sekarang akan berhadapan dengan sebuah persoalan rumit.
"Tapi.... Tapi..., Setan
Mabuk toh melihatnya pula. Bahkan dia lebih gila lagi...," bantah Arya
terbata-bata.
Ngeri hati Dewa Arak membayangkan
harus menjadi suami Malinda. Bagaimana nanti dengan Melati? Ah! Betapa rindu
hatinya pada gadis berpakaian serba putih itu. Hanya Melati-lah satu-satunya
wanita yang ingin dijadikan istri. Tidak ada yang lain! Tidak pula Malinda!
"Sumpahku hanya ditujukan
untuk para pemuda, Dewa Arak. Dan kaulah orang pertamanya. Bahkan kau pula yang
telah menyelamatkanku dari bahaya mengerikan itu," tandas Malinda.
"Lalu..., bagaimana janjimu pada
Dedemit Alam Akhirat?" Arya mencoba untuk berkelit.
"Aku bukan jenis orang yang
suka mengingkari janji, Dewa Arak!" dengus gadis bertubuh molek itu.
"Janjiku pada Dedemit Alam Akhirat
tetap kupenuhi. Tapi, tentu saja
setelah aku membalas budi, sekaligus dendam padamu!"
"Tapi..., bukankah kalau kau
tidak menyukai pemuda yang melihat tubuhmu, akan kau bunuh juga?" Arya
masih terus mencoba berkelit.
Kontan selebar wajah Malinda
memerah, bahkan sampai ke kedua telinganya.
"Beruntunglah kau, Dewa Arak.
Kau terhitung pemuda yang cukup menarik."
Pelan sekali ucapan yang keluar
dari mulut Malinda. Jelas kalau gadis itu merasa malu mengucapkan kata-kata
itu. Bahkan sewaktu mengatakannya, sama sekali tidak berani mengangkat kepala.
"Jadi...?" Arya
memutuskan ucapannya dengan suara bergetar karena perasaan tegang.
"Kau tetap menjadi suamiku,
sekalipun hanya sehari saja!"
Kali ini ucapan Malinda terdengar
tegas dan mantap. Bahkan diucapkan seraya mengangkat kepalanya.
Arya kontan terperanjat. Pemuda
berambut putih keperakan ini terkejut bukan kepalang. Bahkan seandainya ada
halilintar yang menyambar di dekatnya, masih tidak seperti ini kekagetan yang
melanda hatinya.
"Bagaimana, Suamiku? Kau
bersedia, bukan? Kau tahu, aku ingin mempersembahkan kesucianku ini pada orang
yang kusukai. Dan kaulah orangnya, Dewa Arak! Aku tidak ingin orang seperti
Dedemit Alam Akhirat yang merenggutnya!"
Setelah berkata demikian, tangan
Malinda membelai pipi Dewa Arak. Perlahan tangannya merayap turun ke leher,
kemudian ke dada. Gadis itu berusaha menanggalkan pakaian Dewa Arak dengan
tangan kanannya. Sementara sebelah tangannya lagi, mulai melucuti pakaiannya
sendiri.
Karuan saja hal ini membuat Dewa
Arak kalap bukan kepalang. "Kumohon, jangan lakukan itu, Malinda,"
pinta Arya mengiba. Dan inilah yang pertama kali dilakukan pemuda berambut
putih
keperakan itu. Mendapat ancaman
siksaan ataupun maut dia tidak pernah memohon. Tapi, kali ini Dewa Arak yang
terkenal itu mengajukan permohonan pada lawannya.
Tapi, Malinda sama sekali tidak
mempedulikannya. Dia terus melanjutkan pekerjaannya. Dan kini, dua buah bukit
kembar yang padat indah, dan membusung, mencuat keluar.
Arya menelan ludah melihat
pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Buru-buru matanya dimeramkan.
Diusirnya pikiran kotor yang menyelinap ke benaknya.
Arya berusaha memusatkan pikiran
untuk membebaskan totokan yang membuat tubuhnya lemas. Tapi, ternyata totokan
Dedemit Alam
Akhirat memang luar biasa. Arya
tidak mampu membebaskan dengan pengerahan tenaga dalamnya.
***
"Hmh...!"
Malinda menggertakkan gigi karena
kesal melihat Dewa Arak memejamkan mata.
"Orang seperti kau rupanya
ingin dipaksa, Dewa Arak!"
Setelah berkata demikian, putri
Mayat Kuburan Koneng itu melangkah meninggalkan Arya. Tapi, tak lama kemudian
sudah kembali sambil membawa sebuah kendi.
"Dengan minuman dalam kendi
ini, mau tidak mau kau akan melayani kemauanku, Dewa Arak!" Malinda yang
sudah tidak mengenal rasa malu lagi, mengacungkan kendi itu.
Dada Dewa Arak berdebar tegang.
Meskipun belum pernah merasakan, tapi dari cerita yang didengar bisa diketahui
isi kendi itu. Apalagi kalau bukan minuman perangsang nafsu birahi!
Dengan langkah perlahan-lahan,
putri Mayat Kuburan Koneng itu mendekati Dewa Arak, untuk meminumkan cairan di
dalam kendi itu!
Mendadak terdengar suara mendesing nyaring disusul meluncurnya sebuah benda
sebesar ibu jari tangan ke arah Malinda. Dari desingan itu saja, sudah bisa
diterka kekuatan tenaga dalam yang terkandung dalam lontaran itu.
Malinda terperanjat. Saat itu,
seluruh perhatiannya memang tengah tercurahkan pada Dewa Arak, sehingga
kewaspadaannya agak berkurang. Maka serangan yang datangnya begitu tiba-tiba
itu membuatnya agak gugup. Dan....
Pyarrr...!
Kendi di tangan gadis yang tengah
dirasuk birahi itu kontan hancur berantakan ketika benda sebesar ibu jari
tangan yang ternyata adalah batu menghantamnya. Isinya pun berpercikan ke sana
kemari.
Malinda meraung begitu melihat
minuman perangsang yang akan diberikan pada Dewa Arak habis terbuang. Bergegas
pakaiannya dirapikan kembali, lalu...
Srattt..!
Dengan didahului suara gemeretak
gigi, pedang putri Mayat Kuburan Koneng telah tercabut. Sinar terang berkilauan
ketika pedang itu keluar dari sarungnya.
Tapi kemarahan hebat yang
menggelora dalam dadanya kontan menciut,
berganti rasa gentar
ketika melihat orang
yang telah
menghancurkan kendinya. Dia
adalah seorang kakek berkepala botak. Tubuhnya pendek, gemuk, dan gendut.
Bajunya berupa rompi yang terbuat dari bulu burung garuda. Dan anehnya, tidak
ada alis yang tampak di atas matanya.
"He he he...! Selamat
berjumpa lagi, Wanita Liar...! He he he...!" Kakek berkepala botak itu
mengangkat guci araknya yang besar ke
atas kepala. Dan....
Glek.. glek.. glek..!
Suara tegukan keras terdengar
ketika arak itu melewati tenggorokannya.
"Setan Mabuk..!" desis
Malinda. Suaranya bergetar karena perasaan gentar yang melanda.
Kakek berperut gendut yang memang
Setan Mabuk itu hanya terkekeh pelan. Sementara kedudukan kedua kakinya tampak
terhuyung-huyung.
"Haaat..!"
Namun dari rasa takut tiba-tiba
Malinda jadi nekat. Gadis itu melompat menerjang Setan Mabuk. Pedang di
tangannya meluncur cepat ke arah leher kakek itu.
"He he he...!"
Kakek pemabukan itu hanya tertawa
terkekeh. Sambil menurunkan guci arak, tangan kirinya bergerak menangkap pedang
Malinda.
Tappp...!
Begitu pedang
itu tertangkap, Setan
Mabuk langsung membetotnya.
Maka putri Mayat Kuburan Koneng tak kuasa menahan. Di samping tenaga dalamnya
jauh lebih rendah, keadaan tubuhnya sekarang sangat menguntungkan lawan.
Sehingga, tubuhnya kontan tertarik ke depan! Sebuah seringai kejam nampak
tersungging di mulut Setan Mabuk. Tangannya yang menggenggam pedang segera
disorongkan ke arah perut
Malinda. Maka.... Crottt..!
Darah kontan muncrat-muncrat
ketika gagang pedang itu amblas ke dalam perut gadis bertubuh menggiurkan itu
hingga ke punggung. Ada keluhan tertahan yang keluar dari mulut putri Mayat
Kuburan Koneng. Sepasang matanya membelalak, menahan rasa sakit yang mendera.
Setan Mabuk melepaskan cekalan
pada pedangnya, maka tubuh Malinda pun ambruk ke tanah. Diam tidak bergerak
lagi untuk selamanya.
"Hhh...!"
Arya menghela napas berat melihat
semua peristiwa itu. Meskipun ada sedikit perasaan menyesal atas nasib yang
menimpa gadis berwajah
cantik jelita itu, tapi rasa
syukur di hatinya jauh lebih besar. Memang, kematian adalah jalan satu-satunya
yang terbaik untuk Malinda.
Masih dengan tawa terkekeh-kekeh,
dan sambil menenggak araknya, Setan Mabuk melangkah terhuyung-huyung
menghampiri Dewa Arak.
Sekali kakek berkepala botak ini
mengulurkan tangan menyentuh tubuhnya, maka Dewa Arak terbebas dari totokan yang
membelenggu.
Sejenak Arya menggerakkan tangan
dan kaki untuk memperlancar aliran darahnya.
"Dari mana kau tahu aku
berada di sini, Setan Mabuk?" tanya Dewa Arak. Memang pemuda berpakaian
ungu ini merasa heran melihat kemunculan kakek berkepala botak itu pada saat
yang tepat.
"He he he...!"
Setan Mabuk tidak langsung
menjawab pertanyaan itu. Dengan sikap tidak peduli, dia tertawa terkekeh seraya
menenggak araknya kembali. Suara tegukan keras terdengar ketika arak itu
melewati tenggorokannya.
"He he he...! Aku datang
lebih dulu, Dewa Arak," kata kakek itu seraya meneguk arak kembali. Kakek
berkepala botak ini ternyata benar-benar seorang tukang minum! "Tapi
ketika kulihat suasana sepi, aku jadi curiga dan tidak langsung mendarat.
Dugaanku pasti ada sesuatu yang terjadi. Maka kuputuskan untuk kembali."
Setan Mabuk menghentikan
ucapannya. Kemudian, dituangkannya guci arak itu ke mulut. Mau tidak mau, Dewa
Arak terpaksa diam menunggu kelanjutan cerita kakek itu.
"Di tengah jalan, aku
bertemu rombongan orang yang akan pergi ke Pulau Selaksa Setan. Maka segera
masalahnya kuutarakan, dan mereka kusuruh mencari pulau terdekat untuk
mendarat. Sedangkan aku kembali menyelidiki pulau itu."
Kakek berkepala botak itu kembali
menghentikan ucapannya. Guci araknya kembali di angkat ke atas kepala, kemudian
dituangkan ke mulut. Untuk yang kesekian katinya terdengar suara tegukan keras
ketika arak itu singgah di tenggorokannya.
Setan Mabuk menurunkan guci
araknya kembali, kemudian diusapnya arak yang membasahi pinggir mulutnya dengan
punggung tangan. Kasar dan menjijikkan sekali cara kakek itu membersihkan
mulut. Bahkan tanpa mengenal malu, dia bertahak. Suaranya keras mirip lenguh
seekor kerbau.
"He he he...! Ketika tiba di
sana, kulihat beberapa orang tengah menyeret perahu. Semula, aku tidak tahu
pemilik perahu itu. Tapi kemudian kau muncul lalu diserang gerombolan orang
biadab. Jelaslah sudah, siapa pemilik perahu itu. He he he...!"
Lagi-lagi Setan Mabuk
menghentikan ceritanya sebentar.
"Di saat kau terjebak tambang
mereka, hampir saja aku menolongmu. Tapi maksud itu kuurungkan, ketika muncul
sesosok tubuh yang membuatku terperanjat"
"Maksudmu..., Dedemit Alam
Akhirat?" duga Arya langsung "Heh...?! Kau mengenalnya juga, Dewa
Arak?!" Sepasang mata
Setan Mabuk terbelalak lebar.
Dewa Arak menggelengkan kepala.
"Aku mendengar julukannya
dari gadis itu...," Arya menudingkan telunjuk kanan ke arah mayat Malinda.
"He he he...! Sudah
kuduga...," kata Setan Mabuk sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi, kau belum tahu persis tentang tokoh itu, Dewa Arak?"
Pemuda berpakaian ungu itu
kembali menggelengkan kepala.
"He he he...! Kau tahu, Dewa
Arak. Dengan adanya Dedemit Alam Akhirat, sudah bisa kuperkirakan kalau anak
buah yang berpakaian sekadarnya itu adalah makhluk-makhluk pemakan manusia. Dan
memang, Dedemit Alam Akhirat berasal dari suku itu pula."
"Jadi, pertarungan itu harus
dibatalkan, Setani Mabuk?!"
"He he he...! Tentu saja
tidak, Dewa Arak!"l sambut Setan Mabuk cepat.
"Lalu, bagaimana dengan
Dedemit Alam Akhirat dan anak buahnya?"
"Kita harus menyingkirkan
mereka terlebih dahulu!" tandas Setan Mabuk.
Arya tercenung. Menyingkirkan
mereka? Haruskah ajakan kakek berkepala botak itu dipenuhinya. Padahal, dia
tidak melihat adanya kejahatan yang dilakukan penghuni pulau itu.
"He he he...! Kau ingin
makhluk-makhluk buas itu keluar dari pulau ini dan mengacau desa-desa, Dewa
Arak?!" desak kakek berperut gendut itu. "Kau tahu, mereka belum
keluar dari pulau ini, karena tengah menunggu mangsa-mangsa lain. Mereka telah
memangsa tokoh-tokoh persilatan yang berdatangan kemari! Itulah sebabnya,
tempat ini sepi."
Arya mengernyitkan dahinya. Hati
pemuda berambut putih keperakan ini bimbang bukan kepalang. Apakah semua ucapan
Setan Mabuk harus dipercayainya saja? Tidak! Dia harus bertindak hati-hati, dan
tidak langsung percaya pada ucapan itu. Arya telah tahu, siapa Setan Mabuk.
Seorang tokoh sesat yang berhati kejam dan keji!
"He he he...! Bagaimana,
Dewa Arak? Kau takut?!" Setan Mabuk memanas-manasi.
"Tidak ada istilah takut
dalam sejarah hidupku, Setan Mabuk!" sergah Dewa Arak keras.
"He he he...! Tapi kau
kelihatannya ragu-ragu, Dewa Arak! Apa lagi kalau bukan karena takut?"
sindir kakek berkepala botak itu sambil tersenyum mengejek.
"Mari kita cari
mereka!" Dewa Arak memutuskan dengan suara setengah membentak.
"He he he...!"
Setan Mabuk hanya tertawa
terkekeh-kekeh saja, kemudian melangkah terhuyung-huyung meninggalkan tempat
itu sambil menuangkan arak ke mulutnya. Dewa Arak yang telah terbakar
perasaannya mengikuti di belakang.
6
Langkah Setan Mabuk dan Dewa Arak
mendadak terhenti di ambang gua. Pemandangan yang terlihat di depan gualah yang
menyebabkan mereka bersikap demikian.
Dalam jarak sekitar dua tombak di
depan gua, tampak berdiri belasan orang penghuni pulau. Yang paling depan
adalah Dedemit Alam Akhirat. Sementara di belakangnya, bergerombol makhluk
pemakan manusia.
"Grrrhhh...!"
Dedemit Alam Akhirat menggeram
keras. Jelas sekali kalau laki-laki berwajah kasar ini dilanda kemaahan hebat.
Dan hal ini tidak aneh, karena dia sudah bisa memperkirakan nasib Dewi, begitu
melihat Dewa Arak ada di sebelah Setan Mabuk. Wanita yang menarik hatinya itu
pasti telah tewas!
"Kaukah orang yang berjuluk
Setan Mabuk?!" tanya pemimpin makhluk pemakan manusia dengan suara keras
mengguntur.
Kakek berkepala botak tidak
langsung menjawab. Dengan sikap tidak peduli, diangkat guci araknya ke atas
kepala kemudian dituangkan ke mulutnya.
Glek... glek... glek..!
Suara tegukan keras terdengar
ketika arak itu melewati tenggorokan.
"Keparat..!"
Dedemit Alam Akhirat berteriak
memaki. Kemarahannya yang memang sejak tadi sudah bernyala-nyala, jadi semakin
berkobar-kobar. Sikap tidak peduli Setan Mabuk-lah yang menyebabkan laki-laki
berwajah kasar itu kalap. Memang, Dedemit Alam Akhirat memiliki keangkuhan tinggi.
Pantang baginya diremehkan orang lain!
Belum juga gema makiannya lenyap,
laki-laki berwajah kasar lalu menggerakkan tangan kanannya. Jari telunjuk dan
jari tengah menuding lurus, sedangkan sisa jari yang bin dikepalkan.
Suara cicit tajam laksana puluhan
ekor tikus terjepit terdengar seiring gerakan tangan Dedemit Alam Akhirat.
Setan Mabuk tidak berani
bertindak main-main lagi. Dan memang, dia tidak pernah menganggap remeh Dedemit
Alam Akhirat. Maka begitu tangan lawan bergerak, dan ada serentetan angin tajam
yang menyambar ke arah kepalanya, buru-buru tubuhnya ditundukkan.
Pyarrr...!
Dinding atas mulut gua itu kontan
hancur berantakan ketika angin pukulan jarak jauh yang dilepaskan Dedemit Alam Akhirat
menghantamnya. Batu-batu kecil pun seketika berguguran.
Baik Dewa Arak maupun Setan Mabuk
tercekat melihat hal ini. Dalam hati, kedua tokoh besar dunia persilatan itu
memuji kehebatan ilmu pukulan jarak jauh lawan tadi.
"He he he...! Kalau aku
tidak salah duga, bukankah itu 'Ilmu Jari Pemutus Gunung' yang tersohor,
Dedemit?!" kata Setan Mabuk, kalem dan bernada merendahkan. Seakan-akan, pertunjukan yang dipamerkan pimpinan makhluk-makhluk pemakan
manusia itu sama sekali tidak memiliki keistimewaan apa pun.
Karuan saja sikap yang
ditunjukkan Setan Mabuk itu semakin menambah kemarahan Dedemit Alam Akhirat
"Grrrhhh...!"
Diiringi geraman yang membuat
suasana di sekitar tempat itu bergetar hebat Dedemit Alam Akhirat melancarkan
serangan bertubi-tubi menggunakan 'Ilmu Jari Pemutus Gunung'!
Alhasil, suasana di sekitar
tempat pun ramai dipenuhi suara mencicit tajam menyakitkan telinga yang
susul-menyusul.
Ternyata, serangan Dedemit Alam
Akhirat itu tidak hanya ditujukan pada Setan Mabuk saja. Tapi juga pada Dewa
Arak! Kedua tokoh berbeda aliran itu terpaksa dibuat pontang-panting dalam
menghindari serangan itu.
"He he he...! Lucu
sekali...! Baru pertama kali terjadi tiga makhluk luar biasa bertarung
sekaligus! Dewa, Dedemit, dan Setan. He he he...! Sungguh ajaib
sekali,..!"
Sambil terus bergerak ke sana
kemari, Setan Mabuk mengoceh tak karuan. Hal ini membuat kemarahan pimpinan
orang-orang biadab itu semakin menjadi-jadi.
Di saat Dedemit Alam Akhirat,
Setan Mabuk, dani Dewa Arak terlibat pertempuran, mendadak makhluk-makhluk
pemakan manusia menoleh ke arah belakang.
Ternyata, dari arah sana
berdatangan banyak sekati tokoh persilatan! Jumlah mereka tak kurang dari
seratus orang!
Kali ini tanpa menunggu
persetujuan pimpinannya lagi, orang-orang biadab itu bergerak menyerbu! Maka,
serbuan ini disambut hangat oleh tokoh-tokoh persilatan. Sesaat kemudian
pertarungan besar-besaran pun terjadi.
"Hih...!"
Mendadak Dewa Arak melenting ke
belakang, kemudian bersalto beberapa kali menjauhi kancah pertarungan. Pemuda
berambut putih
keperakan ini bermaksud
membiarkan Setan Mabuk bertarung menghadapi Dedemit Alam Akhirat. Risih rasa
hatinya bertarung keroyokan seperti itu.
***
Dedemit Alam Akhirat tidak bisa
berbuat apa-apa, selain membiarkan saja pemuda berpakaian ungu itu keluar dari
kancah pertarungan. Laki-laki berwajah kasar itu menyibukkan diri dalam
menghadapi Setan Mabuk.
Seandainya disuruh memilih,
pimpinan makhluk pemakan manusia ini memang lebih suka bertarung melawan Setan
Mabuk, daripada Dewa Arak. Banyak alasan yang mendasarinya. Di antaranya,
karena Dewa Arak seorang tokoh muda. Hal lainnya, karena Setan Mabuk telah
banyak menimbulkan kemarahan hatinya.
Kini dengan tidak adanya Dewa
Arak, Dedemit Alam Akhirat lebih leluasa melancarkan serangan. Kedua tangannya
semakin bertubi-tubi mengirimkan serangan-serangan jarak jauh dengan ilmu 'Jari
Pemutus Gunung'.
Tapi semua serangan itu mudah
berhasil dikandaskan Setan Mabuk. Sama seperti Dewa Arak, dia pun memiliki ilmu
aneh. Langkahnya terhuyung-huyung, tapi anehnya tidak ada satu serangan pun
yang berhasil mengenainya. Semuanya lolos dari sasaran yang dituju.
Dalam waktu sebentar saja,
sepuluh jurus telah terlewati. Tapi sampai sekian lamanya, Setan Mabuk belum
mampu melancarkan serangan balasan. Karena, masih berjarak terlalu jauh.
Memang, Dedemit Alam Akhirat berusaha mengajak lawan bertarung jarak jauh.
Ilmu 'Jari Pemutus Gunung' memang
menguntungkan Dedemit Alam Akhirat untuk bertarung dalam jarak jauh. Dan
memang, ilmu itu dikhususkan untuk pertarungan jarak jauh.
Setan Mabuk tentu saja tidak sudi
diajak bertarung jarak jauh. Itulah sebabnya, dalam setiap gerakan mengelak,
kakek berperut gendut ini selalu berusaha memperpendek jarak. Namun hal itu
selalu berakhir dengan kegagalan. Gerakannya sudah bisa ditebak Dedemit Alam
Akhirat. Maka usaha kakek berkepala botak itu segera dipatahkan.
Mau tak mau, Setan Mabuk terpaksa
menggunakan semburan-semburan araknya untuk balas menyerang. Apalagi dia tidak
memiliki ilmu khusus untuk bertarung jarak jauh seperti Dedemit Alam Akhirat.
Keadaan seperti ini tentu saja
menguntungkan Dedemit Alam Akhirat. Betapapun lihainya Setan Mabuk mengelak,
tapi kalau dihujani serangan terus-menerus, tentu saja akan kewalahan juga. Dan
kalau hal
seperti ini berlangsung terus,
hasil akhir dari pertarungan ini sudah bisa ditebak! Setan Mabuk akan roboh di
tangan Dedemit Alam Akhirat!
Sementara itu, setelah
memperhatikan pertarungan antara Setan Mabuk dan Dedemit Alam Akhirat sesaat
Dewa Arak mengalihkan perhatian pada pertarungan yang berlangsung antara
gerombolan pemakan manusia dengan rombongan tokoh-tokoh persilatan.
Sepasang mata pemuda berambut
putih keperakan itu terbelalak begitu melihat kejadian yang terpampang di depan
matanya.
Memang, pertarungan antara dua
buah kelompok itu telah berlangsung belasan jurus. Beberapa orang pun telah
menjadi korban, dan ternyata berasal dari pihak tokoh persilatan. Sebuah hal
wajar, mengingat gerombolan pemakan manusia itu memiliki kekebalan. Sehingga
meskipun dihujani berbagai senjata, sedikit pun mereka tidak terluka sama
sekali. Sedangkan tokoh-tokoh persilatan itu tidak memiliki kekebalan.
Tapi sebenarnya bukan kekebalan
tubuh penghuni Pulau Selaksa Setan yang membuat Arya terperanjat. Tapi,
tindakan yang dilakukan orang-orang biadab itulah yang membuat matanya
terbelalak. Tatkala ada seorang lawan yang berhasil dirobohkan, berduyun-duyun
anak buah Dedemit Alam Akhirat merubung tubuh yang tergolek meregang maut. Maka
pesta yang mengerikan pun dimulai.
Sama sekali makhluk-makhluk yang
tengah asyik berpesta pora itu tidak mempedulikan serangan-serangan yang
dilancarkan lawan-lawannya. Karena saat itu mereka tengah menyantap makanan
lezat yang terhidang.
Beberapa kali tubuh
makhluk-makhluk yang tengah sibuk menyantap itu terguling ketika
serangan-serangan yang dilancarkan lawan menghantam. Tapi dengan gesit, mereka
bangkit kembali dan meneruskan pestanya.
Kontan perut Arya mual melihat
pemandang menjijikkan yang terpampang di hadapannya. Hampir hampir saja isi
perut yang mendadak ingin keluar, tidak kuat ditahannya. Ternyata semua yang
dikatakan Setan Mabuk sama sekali benar. Orang-orang biadab itu memang pemakan
manusia! Ngeri rasanya membayangkan bila makhluk-makhluk itu keluar dari pulau,
lalu masuk ke desa-desa. Dengan kekebalan tubuhnya, jangankan orang-orang desa,
tokoh-tokoh persilatan pun akan mendapat kesulitan yang tidak sedikit dalam menanggulangi
mereka.
Pemuda berpakaian ungu ini tahu
kalau untuk mencegah orang-orang biadab itu tidak ada jalan lain kecuali
membasminya. Mereka tidak akan bisa dinasihati karena memang tidak ubahnya
binatang buas. Manusia sudah merupakan makanan pokoknya.
Memperhatikan sekilas saja, Dewa
Arak tahu kalau tokoh-tokoh persilatan pasti akan tewas semuanya. Padahal,
jumlah tokoh itu paling
sedikit lima kali lipat dari
jumlah makhluk pemakan manusia. Tapi karena lawan tidak bisa dibinasakan,
korban-korban yang berjatuhan semuanya berasal dari gerombolan tokoh
persilatan.
Maka sambil mengeluarkan suara
melengking nyaring, Dewa Arak melompat terjun dalam kancah pertarungan. Dan
begitu masuk, guci araknya langsung saja dihantamkan ke arah kepala salah
seorang makhluk biadab itu.
Tapi seperti juga kejadian yang
dialami tokoh-tokoh persilatan, kejadian yang sama pun menimpa Dewa Arak. Lawan
yang terkena hantaman guci araknya disertai pengerahan tenaga dalam sepenuhnya,
memang terpental jauh dan jatuh berdebuk di tanah. Namun, sesaat kemudian
bangkit kembali tanpa kurang suatu apa.
Arya benar-benar takjub.
Peristiwa ini mengingatkannya pada lawan tangguhnya yang juga memiliki
kekejaman luar biasa. Tokoh itu berjuluk Raksasa Kulit Baja. Dan berkat
petunjuk Ular Hitam yang membimbingnya, Dewa Arak berhasil membunuh lawan yang
luar biasa itu (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode
"Dewi Penyebar Maut").
Maka tanpa ragu-ragu lagi, Dewa
Arak segera mengeluarkan sesuatu dari bagian dalam pakaiannya. Ternyata daun
kelor! Memang sejak pertarungannya dengan Raksasa Kulit Baja, Dewa Arak selalu
mengambil daun kelor di tiap-tiap tempat.
Tapi kali ini pemuda berpakaian
ungu ini kecelik. Orang-orang biadab itu sama sekali tidak terpengaruh walaupun
ranting daun kelor itu sampai hancur lebur menggebuki sekujur tubuh mereka.
Arya tidak putus asa. Maka
dikeluarkannya bambu kuning. Tapi kejadian yang sama terulang. Sementara itu,
orang-orang biadab itu kembali berhasil melahap seorang tokoh persilatan lagi.
Dalam cekaman rasa putus asa,
Dewa Arak mengumbar jurus-jurus yang jarang digunakannya. Jurus 'Membakar
Matahari' dan jurus 'Pukulan Belalang'. Tapi, hasilnya sama sekali tidak
berbeda.
7
Setan Mabuk menjadi khawatir
melihat banyaknya tokoh persilatan yang satu demi satu berguguran. Apalagi
ketika ada beberapa di antara yang tewas itu adalah jago-jago minum yang akan
bertarung.
"Tahan Dedemit Bau ini, Dewa
Goblok! Biar aku yang akan membasmi mereka?" teriak Setan Mabuk.
Kakek berperut gendut ini memang masih belum bisa memperpendek jarak. Padahal pertarungan
sudah berlangsung lebih dari empat puluh jurus. Maka tidak aneh kalau Setan
Mabuk terdesak. Bahkan beberapa bagian rompinya telah koyak-koyak terserempet
angin serangan pukulan jarak jauh Dedemit Alam Akhirat.
Arya kini tidak ragu-ragu lagi.
Telah dibuktikan sendiri kebenaran ucapan Setan Mabuk. Maka begitu mendengar
seruan itu, tubuhnya melesat memasuki kancah pertarungan antara Setan Mabuk
dengan Dedemit Alam Akhirat.
Begitu memasuki arena
pertarungan, langsung saja Dewa Arak melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah
Dedemit Alam Akhirat mempergunakan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'.
Pemuda be-rambut putih keperakan ini sengaja mengeluarkan ilmu itu untuk
memberi kesempatan pada Setan Mabuk agar bisa keluar dari arena pertarungan.
"Hmh...!"
Dedemit Alam Akhirat mendengus
melihat serangan itu. Memang, dari deru angin kuat yang mengawalinya, bisa
diperkirakan kalau lawannya kali ini memiliki tenaga dalam kuat bukan kepalang.
Tapi, hal itu tidak mengurangi keberaniannya untuk langsung menyambuti serangan
yang bertubi-tubi itu.
Plak, plak, plak...!
Suara keras beradunya dua pasang
tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi terdengar. Bunyi benturan
itu layaknya seperti benturan antara dua batang logam keras.
Baik Dewa Arak maupun Dedemit
Alam Akhirat sama-sama terdorong ke belakang akibat benturan itu. Namun ada
satu hal yang membuat pemuda berambut putih keperakan itu terkejut. Ternyata
punggung kedua tangannya berdarah! Luar biasa! Dan memang, kedua tangan Dedemit
Alam Akhirat dalam penggunaan ilmu 'Jari Pemutus Gunung', telah menjadi lebih
tajam daripada pedang pusaka. Dan sesungguhnya, pedang pusaka sekalipun tidak
akan mampu melukai kulit Dewa Arak kalau tidak berada di tangan seorang tokoh
yang memiliki tenaga dalam amat kuat.
"Ha ha ha...!"
Dedemit Alam Akhirat tertawa
terbahak-bahak.
Dengan rakus, dijilatinya darah
dari luka di tangan Arya yang menempel pada jari-jari tangannya.
Sepasang mata Dewa Arak kontan
terbelalak. Bukan karena tangannya yang terluka, tapi karena tindakan lawan
yang menjilati darahnya! Rupanya Dedemit Alam Akhirat ini tidak ubahnya anak
buahnya sendiri. Sama-sama pemakan manusia!
Tapi Arya tidak bisa berlama-lama
dalam keterpakuannya karena laki-laki berwajah kasar itu telah kembali
menyerang. Jangankan tangannya, angin pukulan serangannya saja sudah cukup
untuk membuat kulit tubuh Dewa Arak terluka.
Sadar akan ketangguhan lawan,
Dewa Arak tidak mau bersikap sungkan-sungkan lagi. Sambil mengelak, dijumputnya
guci arak. Dan....
Gluk.. gluk.. gluk...!
Suara tegukan dari arak yang
melewati tenggorokan Arya terdengar. Dan seperti biasanya, tubuh pemuda
berpakaian ungu itu kemudian oleng ketika hawa arak yang hangat merayap naik
dari lambung, terus ke kepalanya.
Dan dengan ilmu 'Belalang Sakti'
andalannya, Dewa Arak mengadakan perlawanan terhadap Dedemit Alam Akhirat. Tak
pelak lagi, pertarungan sengit antara dua orang yang sama-sama memiliki kepandaian
tinggi pun berlangsung.
Arya kini benar-benar
mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Ilmu 'Belalang Sakti'nya di
keluarkan sampai ke puncak kemampuan. Kedua tangan, guci, dan juga semburan
araknya, dikeluarkan semua untuk menggilas habis perlawanan Dedemit Alam
Akhirat.
Tapi lawan yang dihadapi Dewa
Arak bukan orang sembarangan. Setan Mabuk yang menghadapi Dedemit Alam Akhirat
lebih dulu, telah membuktikan kelihaian pemimpin orang-orang biadab itu.
Buktinya, dia tidak mampu mengajak lawannya bertarung dalam jarak dekat.
Sama seperti ketika menghadapi
Setan Mabuk, melawan Dewa Arak pun Dedemit Alam Akhirat menggunakan kelebihan
ilmunya. Dia juga mengajak Dewa Arak untuk bertarung jarak jauh. Dipaksanya
pemuda berambut putih keperakan itu untuk bertarung yang menguntungkan dirinya.
Pertarungan antara kedua tokoh
itu berlangsung cepat. Hal ini tidak aneh, mengingat kedua belah pihak memang
sama-sama memiliki kecepatan gerak luar biasa. Suara mencicit dari setiap
serangan yang dilan-carkan Dedemit Alam Akhirat terdengar, ditingkahi bunyi
berdesir, mengaung, dan bercelegukan yang keluar dari gerakan Dewa Arak.
Sehingga, suasana pertarungan jadi hingar bingar.
***
Ramainya pertarungan antara Dewa
Arak menghadapi Dedemit Alam Akhirat ternyata tidak kalah ramainya lagi
pertarungan antara Setan Mabuk dan rombongan melawan anak buah Dedemit Alam
Akhirat.
Ternyata, Setan Mabuk tidak hanya
membual saja sewaktu mengatakan kalau sanggup membasmi orang-orang biadab yang
memiliki kekebalan pada kulit tubuhnya. Kakek berperut gendut itu ternyata
mengetahui kelemahan anak buah Dedemit Alam Akhirat.
"Pisahkan buntalan kain
hitam yang ada di pinggang mereka...!" seru Setan Mabuk lantang.
Mendengar seruan keras itu,
tokoh-tokoh persilatan yang sejak tadi sudah putus asa menjadi timbul kembali
semangatnya. Serentak pandangan mereka dialihkan pada bagian pinggang
orang-orang biadab itu.
Memang seperti yang dikatakan
kakek berkepala botak itu, pada bagian pinggang makhluk pemakan manusia itu
terdapat buntalan kain hitam kecil yang diikatkan pada tali pinggang terbuat
dari tumbuh-tum-buhan.
Sebagian besar tokoh persilatan
merasa heran mendengar perintah Setan Mabuk itu. Hanya sebagian kecil saja yang
bisa mengerti kalau buntalan kain kecil berwarna hitam itu adalah sejenis
jimat. Dan itulah yang menyebabkan kulit tubuh anak buah Dedemit Alam Akhirat
kebal. Selama ada buntalan hitam itu, mereka tetap tidak bisa dilukai. Dan
apabila tidak ada buntalan itu, baru mereka bisa dibunuh.
Meskipun tidak mengerti, tapi
tokoh persilatan yang sebagian besar itu menuruti juga perintah Setan Mabuk.
Dan memang, tidak ada salahnya mencoba-coba.
Kali ini tokoh-tokoh persilatan
itu menujukan serangan-serangan untuk memisahkan buntalan kain hitam itu dari
bagian pinggang.
Keragu-raguan yang menghinggapi
perasaan sebagian tokoh persilatan mulai memudar ketika melihat tanggapan
makhluk-makhluk pemakan manusia itu atas serangan yang tertuju ke arah buntalan
kain hitam.
Anak buah Dedemit Alam Akhirat
terlihat cemas. Kini mereka selalu mengelak dan tidak membiarkan
serangan-serangan mengenai tubuh mereka.
Hasil yang diperoleh benar-benar
membuat hati mereka berbunga-bunga. Makhluk-makhluk yang semula kebal itu, kini
bisa dilukai setelah buntalan kain hitam itu berhasil dilepaskan. Maka semakin
besarlah semangat mereka jadinya.
Sekarang keadaan berubah banyak!
Makhluk-makhluk pemakan manusia kini mulai terdesak hebat. Memang kalau dibuat
perbandingan, kepandaian yang dimiliki oleh seorang makhluk pemakan manusia itu
paling hanya menyamai seorang murid persilatan yang baru masuk perguruan.
Mereka memang tidak memiliki kepandaian yang terlalu hebat, karena Dedemit Alam
Akhirat tidak mengajari ilmu silat.
Tidak aneh jika korban di antara
mereka pun berguguran, karena satu orang di antara mereka menghadapi beberapa
orang lawan.
Tak lama kemudian,
makhluk-makhluk pemakan manusia itu pun sudah tidak ada yang berdiri tegak
lagi. Semua bergeletakan di tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Begitu semua orang biadab
Penghuni Pulau Selaksa Setan itu tewas, Setan Mabuk dan sisa tokoh-tokoh
persilatan mengalihkan perhatian pada pertarungan antara Dewa Arak menghadapi
Dedemit Alam Akhirat. Dedemit Alam Akhirat meskipun tidak bisa memperhatikan
secara jelas karena dia harus memusatkan perhatian pada Dewa Arak, ternyata
mengetahui semua kejadian yang menimpa anak buahnya. Berbagai perasaan kini
mendera hatinya.
Memang bukan Dedemit Alam Akhirat
yang memberikan jimat itu. Tapi dukun suku makhluk pemakan manusia, yang kini
telah tewas tersapu badai. Dukun itu memang ahli dalam ilmu hitam. Berbagai
ilmu hitam dimilikinya. Bermacam-macam jimat dibuatnya. Di antaranya adalah
jimat yang membuat tubuh tidak bisa dilukai!
Kalau tidak melihat buktinya
sendiri, Dedemit Alam akhirat tidak akan percaya. Betapa tidak? Isi buntalan
itu hanya berupa tulang-tulang manusia. Ada yang tulang jempol, kelingking, dan
macam-macam lagi.
Sementara itu, pertarungan Dewa
Arak melawan Dedemit Alam Akhirat telah lebih dari tujuh puluh jurus. Dan
selama itu belum nampak ada tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang.
Meskipun begitu, tampak jelas kalau Dewa Arak berada dalam pihak yang terdesak.
Pemuda berambut putih keperakan itu sama sekali tidak mampu balas menyerang.
Dan andaikata menyerang, hanya dengan semburan araknya saja. Dewa Arak lebih
sering menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang', untuk mengelakkan setiap
serangan Sedangkan jurus 'Belalang Mabuk'nya mati kutu!
Beberapa kali Dewa Arak berusaha
mengadakan pertarungan jarak dekat, tapi usahanya selalu kandas. Dia malah
kadang-kadang terpaksa melompat mundur kembali, karena cecaran serangan lawan
yang bertubi-tubi. Dedemit Alam Akhirat juga melompat mundur ke belakang, untuk
mempertahankan jarak.
Arya mengeluh dalam hati,
menyadari betapa sulitnya mendekati lawan. Disadarinya kalau keadaan begini
terus, dia akan mengalami kerugian sendiri. Betapapun hebatnya langkah ajaib
dalam jurus 'Delapan Langkah Belalang', tapi serangan yang datang ke arahnya
bagaikan hujan. Jadi, bukan suatu hal yang mustahil kalau serangan lawan
akhirnya akan berhasil mengenainya. Maka harus dicari terobosan untuk melakukan
serangan balasan agar lawan tidak terus-menerus menghujani serangan.
"Hih...!"
Sambil melenting ke atas untuk
menghindari serangan lawan, Dewa Arak menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Arya menggunakan jurus 'Pukulan Belalang', untuk membuat serangan lawan
berhenti beberapa saat. Ini dilakukan agar bisa mendesak lawan.
Wusss...!
Angin keras berhawa panas
menyengat berhembus keras ke arah Dedemit Alam Akhirat. Karuan saja hal ini
membuat laki-laki berwajah kasar itu terperanjat. Serangan Dewa Arak memang
sama sekali tidak diduga, karena datangnya secara tiba-tiba.
Tahu akan kedahsyatan serangan
pukulan jarak jauh itu, Dedemit Alam Akhirat melempar tubuh ke samping dan
bergulingan di tanah.
Dewa Arak tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Buru-buru dia melompat, memburu tubuh yang
tengah bergulingan. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk memaksa lawan
bertarung dalam jarak dekat.
Dedemit Alam Akhirat tahu maksud
lawannya. Maka, dia pun terus bergerak menjauh.
Tapi, Arya pun tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan itu. Maka, pemuda berambut putih keperakan itu terus
melompat memburu seraya melancarkan serangan bertabi-tubi.
Tak pelak lagi, sebuah
kejar-kejaran yang aneh pun terjadi. Dedemit Alam Akhirat yang terus menerus
bergulingan untuk menjauhkan diri, dan Dewa Arak yang tak henti-hentinya
bergerak memburu.
Akhirnya, Dedemit Alam Akhirat
tidak punya pilihan lagi. Kalau dipaksakan terus berguling, bukan tidak mungkin
akan celaka di tangan Dewa Arak. Maka terpaksa tangannya digerakkan untuk
menangkis.
Plakkk, plakkk, plakkk..!
Kembali terjadi benturan keras
antara dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi. Dan
untuk yang kedua kalinya, tangan Dewa Arak terluka kembali.
Kali ini Arya bertindak cepat.
Buru-buru ditotoknya jalan darah di sekitar luka untuk menghentikan aliran
darah. Kemudian, langsung dilancarkannya serangan bertubi-tubi kembali.
Dedemit Alam Akhirat tidak bisa
berbuat apa-apa lagi. Terpaksa keinginan lawannya harus diladeni untuk
bertarung dalam jarak dekat.
Dengan terjadinya pertarungan
jarak dekat ini, pertempuran yang terlihat jadi lebih menarik. Kedua belah
pihak kini dapat saling melancarkan serangan.
Sebenarnya, ilmu 'Jari Pemutus
Gunung' sama sekali tidak berkurang kedahsyatannya bila bertarung dalam jarak
dekat. Sementara ilmu 'Belalang Sakti' juga lebih mengandalkan pertarungan
jarak dekat. Bila dilakukan dalam jarak jauh, akan pupus keampuhannya.
Dedemit Alam Akhirat mengeluh
dalam hati. Kini setelah bertarung dalam jarak dekat, baru dirasakan beratnya
serangan-serangan Dewa Arak. Ilmu lawan yang begitu aneh, dan mempunyai
perkembangan tidak terduga-duga, benar-benar membuatnya kewalahan. Sukar diperkirakan serangan lanjutan yang
akan dilancarkan Dewa Arak.
Satu hal lagi yang membuat hati
pemimpin orang-orang biadab itu heran adalah, pemuda berambut putih keperakan
itu seperti tidak peduli dan malah menenggak araknya. Tapi anehnya, justru
setelah menenggak araknya dan kemudian kedudukan kalanya oleng, serangan yang
dilancarkan terhadapnya malah berhasil dielakkan.
Meskipun memang ilmu 'Belalang
Sakti' yang dimiliki Dewa Arak adalah sebuah ilmu yang luar biasa, tapi karena
yang dihadapi pun bukan lawan sembarangan, maka baru setelah melewati dua ratus
jurus, lawan mulai terdesak. Itu pun karena yang dihadapinya sudah mulai merasa
lelah.
Seiring timbulnya perasaan lelah
itu, tenaga Dedemit Alam Akhirat pun mulai mengendur. Dan dengan sendirinya,
serangan-serangan yang dilancarkannya tidak sedahsyat sebelumnya. Bahkan
gerakannya pun tidak sigap lagi.
Sementara serangan-serangan dan
kegesitan Dewa Arak tampak seperti tidak berkurang. Gerakan-gerakan pemuda
berambut putih keperakan itu masih terlihat gesit. Serangan-serangannya pun
masih terasa dahsyat. Seakan-akan, tenaga Arya sama sekali tidak berkurang.
Tidak merasa lelahkah pemuda
berpakaian ungu ini? Ah, mustahil! Tidak mungkin Dewa Arak tidak merasa lelah!
Apalagi sampai empat puluh jurus lamanya, seluruh kemampuan yang dimiliki
dikerahkan untuk memaksanya bertarung dalam jarak dekat. Berbagai macam
pertanyaan dan bantahan berkecamuk dalam benak Dedemit Alam Akhirat.
Sama sekali Dedemit Alam Akhirat
tidak tahu kalau arak yang diminum pemuda berambut putih keperakan itulah yang
telah membuat tenaganya pulih kembali.
Semakin lama, keadaan
Dedemit Alam Akhirat
semakin mengkhawatirkan, karena tenaganya terus merosot. Dan dengan
sendirinya
keampuhan ilmu 'Jari Pemutus
Gunung'nya pun jadi berkurang pula. Me-mang ilmu itu amat mengandalkan pada
kekuatan tenaga dalam. Orang yang tidak memiliki tenaga dalam tinggi, tidak
akan mampu memiliki ilmu 'Jari Pemutus Gunung'.
Tidak aneh kalau kini laki-laki
berwajah kasar ini mulai terdesak hebat. Keampuhan ilmunya semakin merosot
seiring semakin lemah tenaganya. Sementara keampuhan ilmu Dewa Arak sama sekali
tidak beru-bah, karena tenaga dalam yang dimilikinya sama sekali tidak
berkurang.
Semula, benturan tangan Dewa Arak
sama sekali tidak berpengaruh pada Dedemit Alam Akhirat. Tapi kini, keadaan
banyak berubah. Setiap kali terjadi benturan, membuat tangannya terasa sakit
dan ngilu bukan kepalang. Bahkan beberapa kali pemimpin makhluk pemakan manusia
itu terhuyung-huyung ke belakang setiap kali terjadi benturan.
"Hih...!"
Sambil mengeluarkan seruan melengking
nyaring Dewa Arak kembali melancarkan serangan bertubi-tubi. Kedua punggung
tangannya dalam permainan jurus 'Belalang Mabuk', memukul bertubi-tubi ke arah
ulu hati dan dada dengan kekuatan penuh. Namun mana mampu Dedemit Alam Akhirat
berbuat banyak?
Tak pelak lagi, tubuhnya pun
terhuyung-huyung ke belakang. Dadanya seketika terasa sesak bukan kepalang.
Terutama sekali tangannya. Kedua tangan itu seperti patah-patah!
Di saat itulah, Dewa Arak
melompat melakukan tendangan dengan kedua kaki ke arah dada lawan. Persis
seperti seekor ayam jago yang merangsek lawannya.
Desss...!
Suara berderak keras dari tulang
dada yang berpatahan dan semburan darah segar dari mulut, mengiringi
terlemparnya tubuh Dedemit Alam Akhirat. Seketika itu juga, tokoh yang
menggiriskan itu tewas tanpa sempat bersambat lagi.
Brukkk!
Diiringi suara berdebuk nyaring,
tubuh tokoh sesat yang menggiriskan itu jatuh ke tanah sekitar dua belas tombak
dari tempat semula. Setelah berkelojotan sejenak kemudian dia diam tidak
bergerak lagi untuk selamanya. Mati!
"Horeee...!"
Sambutan meriah dari tokoh-tokoh persilatan bergemuruh
menyambut kemenangan Dewa Arak. Tapi tentu saja tidak semuanya bersikap seperti
itu. Ada sebagian yang diam saja melihat kemenangan Dewa Arak. Satu di antara
mereka adalah Setan Mabuk. Dan kakek berperut gendut itu malah menenggak
araknya.
Glek...glek... glek...!
8
Waktu berlalu tak terasa.
Terkadang cepat seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, tapi tak jarang
seperti seekor keong merayap.
Akhirnya waktu yang dinantikan
untuk pertarungannya raja-raja arak tiba. Bulan bulat penuh yang tampak di
langit memancarkan sinarnya yang berwarna kuning keemasan di Pulau Selaksa
Setan. Sehingga, suasana di pulau itu cukup terang.
Di Pulau Selaksa Setan sendiri
telah berkumpul tokoh-tokoh persilatan baik dari aliran hitam, maupun dari
aliran putih. Memang, pertarungan memperebutkan kedudukan sebagai jago minum
arak ini tidak hanya terbatas untuk satu golongan saja. Tapi terbuka bebas bagi
siapa saja yang berminat.
Belasan orang tokoh persilatan
yang bertindak sebagai penonton, sekaligus juri dan saksi untuk melihat siapa
di antara mereka yang unggul, telah ramai berkumpul. Mereka berdiri
mengelilingi sebuah lapangan luas terbuka, dari di bagian tengahnya terdapat
batu-batu yang berbentuk sebagai meja dan kursi.
Di kanan kiri dua batu besar,
lebar, dan pipih terdapat dua buah batu yang jauh lebih kecil daripada batu
yang dipakai sebagai pengganti meja itu. Tapi seperti juga batu besar, batu
kecil itu pun mempunyai permukaan pipih. Bisa diperkirakan kalau kegunaan batu
kecil itu adalah sebagai pengganti bangku.
Dugaan itu tidak keliru, karena
pada batu kecil yang berada di sebelah kanan batu lebar tengah duduk seorang
laki-laki bertubuh tinggi besar. Perutnya buncit. Tampak cambang bauk lebat
menghias wajahnya. Dialah tokoh yang berjuluk Raja Minum Danau Sengon.
Dari julukannya, bisa diketahui
dari mana asal tokoh tua bercambang bauk lebat ini. Asalnya, dari Danau Sengon.
Dialah yang telah menjadi pemenang dalam pertarungan antara raja-raja arak
tahun kemarin.
Di desa-desa sekitar Danau
Sengon, julukan Raja Minum Danau Sengon amat terkenal. Dia mendapat julukan
Raja Minum, setelah tidak seorang pun jago-jago minum di daerahnya yang mampu
mengalahkannya. Telah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali dia bertarung minum
tanpa pernah kalah!
Oleh karena itu, timbul
keinginannya untuk menjadi raja minum tak terkalahkan bukan hanya di tempatnya
saja. Tapi juga di dunia persilatan.
Ternyata bukan hanya dia saja
yang berpikiran demikian. Jago-jago minum wilayah lain pun memiliki maksud
sama. Maka diadakanlah pertemuan antara mereka, dan ditentukan pertarungan
minum itu.
Selama beberapa kali pertemuan,
Setan Mabuk yang menjadi juara, baru tahun kemarin Raja Minum Danau Sengon
keluar sebagai pemenang.
Karena telah menjadi juara, maka
Raja Minum Danau Sengon yang terlebih dulu duduk di arena pertarungan.
Laki-laki pemabukan ini akan berusaha mempertahankan gelar sebagai Jago Arak
Nomor Satu.
"Siapa yang akan menjadi penantang
pertamaku?" tanya laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Suaranya keras
mengguntur. Jelas kalau dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam yang tidak
rendah. Dan me-mang, Raja Minum Danau Sengon ini bukan hanya jago minum saja,
tapi juga dalam hal ilmu silat.
Laki-laki bercambang bauk lebat
ini segera mengalihkan pandangannya ke arah tiga orang yang akan menjadi
lawannya, karena beberapa di antara raja-raja arak yang akan mengikuti
pertarungan telah tewas di tangan anak buah Dedemit Alam Akhirat. Sementara
yang lain sama sekali tidak diketahui nasibnya. Sama sekali semua orang itu
tidak tahu kalau raja-raja arak dan para tokoh persilatan yang akan menonton
telah habis dibantai makhluk-makhluk pemakan manusia itu.
Ketiga orang itu adalah Dewa
Arak, Setan Mabuk, dan seorang laki-laki yang juga berperut buncit. Tubuhnya
tinggi besar, dan berkumis tebal. Dialah yang menjadi lawan berat Raja Minum
Danau Sengon tahun lalu. Laki-laki berkumis tebal itu berjuluk Biang Guci
Gunung Kari, karena dia memang berasal dari Gunung Kari.
"Ha ha ha...!"
Sambil tertawa terbahak-bahak,
laki-laki berkumis tebal yang berjuluk Biang Guci Gunung Kari ini melangkah
meninggalkan kerumunan orang. Dia kemudian menghampiri arena pertarungan. Bukan
sembarangan tawa yang dikeluarkan Biang Guci Gunung Kari ini. Suara tawanya
ternyata dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi. Rupanya, dia tidak
mau kalah dalam hal unjuk gigi kepada musuh bebuyutannya, Raja Minum Danau
Sengon.
Berbarengan langkah majunya
laki-laki berkumis tebal itu, beberapa orang persilatan pun bergerak maju
sambil membawa guci-guci besar yang berisi arak. Mereka kemudian membawanya ke
arah tempat Raja Minum Danau Sengon.
"Akulah yang akan menjadi
lawan pertamamu, Raja Minum!" sambut Biang Guci Gunung Kari, tak kalah
keras.
"Ha ha ha...!" Raja Minum
Danau Sengon tertawai bergelak. "Apakah kau sudah berlatih keras untuk
mengalahkanku, Biang Guci?! Kalau tidak, lebih baik kau kembali daripada jatuh
di tempat yang sama sampai dua kali!"
"Kau boleh umbar bacotmu
yang busuk itu sepuasmu, Raja Minum! Yang jelas, gelar Jago Arak Nomor Satu
akan kurebut dari tanganmu!" Biang Guci Gunung Kari yang rupanya tidak
bisa berdebat, langsung saja memutus pembicaraan.
Belum lagi gema ucapannya habis,
laki-laki berkumis tebal ini sudah duduk di atas bangku kecil yang masih
kosong.
Empat orang persilatan yang
berpakaian, seragam warna kuning, dan rupanya bertindak sebagai juri,
meletakkan delapan buah guci besar yang penuh arak di atas meja batu. Tak lupa,
dua buah gelas bambu pun diletakkan di depan kedua jago minum yang akan
bertarung.
"He he he...!"
Sambil tertawa terkekeh-kekeh,
Raja Minum Danau Sengon menjumput guci araknya, kemudian menuangkan ke dalam
gelas bambunya. Ringan saja sepertinya guci itu di tangannya. Padahal guci itu
besar sekali, dan penuh berisi arak!
"Hmh...!"
Biang Guci Gunung Kari mendengus.
Dengan sikap tidak mau kalah dari lawannya, tangannya diulurkan ke arah guci
arak. Gerakannya tampak sembarangan saja. Dan sepertinya tanpa pengerahan
tenaga sama sekali. Tapi, toh guci arak itu berhasil diangkat dan juga
dituangkan ke dalam gelas bambunya.
Begitu Raja Minum Danau Sengon
meletakkan kembali guci arak itu di meja, Biang Guci Gunung Kari pun telah
meletakkan kembali gucinya di tempat yang sama. Tampak jelas kalau laki-laki
berkumis tebal itu tidak mau kalah lagak terhadap lawannya.
Kedua belah pihak saling tatap
sejenak. Masing-masing dengan sorot mata memancarkan ejekan. Baru kemudian,
Raja Minum Danau Sengon selaku pemenang tahun lalu, mengangkat gelas bambu dan
me-nenggak isinya.
Biang Guci Gunung Kari pun tidak
mau kalah. Buru-buru diangkatnya gelas bambu, dan ditenggak araknya.
Pertarungan adu minum pun telah dimulai.
Dewa Arak, Setan Mabuk, dan semua tokoh persilatan memperhatikan
jalannya pertarungan penuh perhatian. Sepasang mata mereka semua hampir tidak
berkedip memperhatikan gelas demi gelas arak yang masuk ke dalam perut Biang
Guci Gunung Kari dan Raja Minum Danau Sengon.
Sebagai orang-orang persilatan,
semua tokoh yang berada di situ tahu sesuatu yang mendukung tokoh itu bertarung
agar keluar sebagai pemenang. Selain kebiasaan meminum arak, juga tenaga dalam
yang kuat memegang peranan penting.
Semua tokoh persilatan berharap,
agar salah satu tokoh yang bertarung itu menang tipis dari lawannya. Karena
bila hal itu terjadi, pertarungan akan dilanjutkan kembali dalam adu semburan
arak dan pertarungan.
Tapi ternyata hal yang diharapkan
tidak terjadi. Baru satu guci arak yang dihabiskan, Biang Guci Gunung Kari
sudah kelenger. Kepalanya sudah berputar ke sana kemari. Mulutnya pun sudah
mengoceh tak karuan. Sementara, Raja Minum Danau Sengon baru memerah saja
wajahnya. Meskipun juga sudah terpengaruh dengan arak yang diminumnya, tapi
tidak separah lawannya. Memang arak yang disuguhkan untuk pertarungan antara
raja-raja arak itu tergolong keras.
Melihat pertunjukan ini saja,
sudah bisa diperkirakan siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dan memang,
ketika guci arak yang kedua baru ditenggak satu gelas, Biang Guci Gunung Kari
tak kuat lagi mengangkat gelas araknya. Bukan itu saja. Laki-laki berkumis
tebal ini mendadak bangkit dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan arena
pertarungan sambil mengoceh tak karuan. Jelas, kalau pikirannya sudah tidak
berjalan normal lagi. Jalannya pun lucu. Sekali melangkah ke depan, tapi
kemudian ke belakang dua kali. Itu pun dengan terhuyung-huyung.
Hanya beberapa langkah saja Biang
Guci Gunung Kari melangkah. Untuk kemudian, tubuhnya ambruk ke tanah.
Orang-orang persilatan yang
berseragam kuning pun bergegas menghampiri, dan membawa laki-laki berkumis
tebal yang sudah setengah tidak sadar untuk meninggalkan tempat itu.
"Ha ha ha...!" Raja
Minum Danau Sengon tertawa terbahak-bahak menyambuti kemenangannya. Meskipun
begitu, melihat raut wajahnya yang sudah mulai merah padam, semua orang tahu
kalau dia tidak akan mampu minum sampai satu setengah guci arak lagi.
***
Sesuai peraturan, tokoh yang
telah bertarung minum, tidak akan bertarung lagi sampai esok harinya. Maka kini
pertarungan dilanjutkan antara Dewa Arak melawan Setan Mabuk.
Menilik dari keadaan Arya, hampir
semua orang persilatan menjagoi Setan Mabuk Mereka semua tahu, siapa adanya
kakek berkepala botak itu. Dialah orang yang telah memegang gelar juara Jago
Arak Nomor Satu untuk berkali-kali pertarungan.
Bukan hanya itu saja. Perut Dewa
Arak yang tidak, buncit, dan usia Arya yang masih muda, lebih membuat tokoh
persilatan itu condong menjagoi Setan Mabuk!
Pertarungan seperti yang
berlangsung antara Raja Minum Danau Sengon dan Biang Guci Gunung Kari kembali
berlangsung. Tapi, kali ini antara Dewa Arak menghadapi Setan Mabuk.
Sebenarnya Arya tidak yakin kalau
akan mampu menandingi kemampuan Setan Mabuk dalam hal minum arak, setelah
melihat sendiri kemampuan Raja Minum Danau Sengon. Dewa Arak memang bukan
seorang pemabukan. Walaupun memang tidak bisa melepaskan arak dari
kehidupannya, tapi dia tidak pernah minum arak sampai berguci-guci. Dewa Arak
hanya minum sekadarnya saja karena bukan pecandu arak.
Kalau saja tidak mengingat janji,
Arya lebih suka menolak tantangan itu. Tapi sekarang hal itu tidak mungkin
dilakukannya lagi. Kini, Dewa Arak telah duduk berhadapan dengan Setan Mabuk
untuk mengadu kemampuan dalam hal meminum arak.
"He he ke...! Tunjukkan
kemampuanmu kalau tidak ingin julukanmu hapus, Dewa Arak!" ejek Setan
Mabuk sambil mulai menenggak arak yang berada dalam gelas bambunya.
Arya sama sekali tidak menanggapi
ejekan itu. Dengan sikap tenang diangkatnya arak yang berada di dalam gelas
bambu dan dituangkan ke mulutnya.
Kini pemuda berpakaian ungu ini mempunyai semangat memenangkan pertarungan adu minum, kalau tidak ingin
kehilangan gelarnya. Padahal, dia risih mendapat julukan seperti itu. Tapi,
alangkah malunya bila julukannya tergusur. Harus menang! Begitu keputusan Dewa
Arak!
Berbeda dengan Arya yang merasa
ragu bisa mengungguli lawan, Setan Mabuk yakin sekali kalau dirinya akan mampu
mengalahkan lawan. Banyak alasan yang menyebabkan kakek berkepala botak itu
begitu yakin. Satu di antaranya adalah usia pemuda itu yang masih begitu belia!
Sedangkan dirinya telah puluhan tahun lamanya hidup bergelimang arak. Arak
baginya sudah merupakan bagian dari hidup.
Pertarungan adu minum pun
dimulai. Gelas demi gelas ditenggak kedua tokoh berbeda aliran, dan juga
berbeda usia itu.
Para tokoh persilatan mulai
merasa heran dan takjub ketika melihat Dewa Arak ternyata sanggup menandingi
Setan Mabuk dalam meminum arak. Bahkan hingga habis satu buah guci, tidak
tampak adanya perubahan pada wajah Arya. Karuan saja hal itu membuat heran
bukan hanya tokoh-tokoh persilatan. Setan Mabuk dan juga Raja Minum Danau
Sengon pun kaget bukan kepalang. Dari pertunjukan itu saja sudah bisa dilihat
kalau kekuatan Dewa Arak berada di atas Biang Guci Gunung Kari dan Raja Minum
Danau Sengon. Buktinya, Raja Minum Danau Sengon sendiri sewaktu menghabiskan
seguci arak, wajahnya merah padam. Jelas, dia telah
terpengaruh hawa arak! Tapi,
pemuda berambut putih keperakan itu ternyata sama sekali tidak terpengaruh.
Jangankan semua orang yang
melihat, Dewa Arak sendiri pun merasa heran. Sama sekali di luar dugaan kalau
dirinya sanggup menghabiskan seguci arak itu tanpa terpengaruh sama sekali.
Padahal, semula dikira tidak akan sanggup, karena memang tidak pernah meminum
arak sampai sebanyak itu. Dan bila minum pun, baik dalam pertempuran yang
paling berat, biasanya tidak sampai seguci. Paling banyak hanya setengah guci.
Guci kecil lagi! Dan dia mabuk!
Sama sekali pemuda berpakaian
ungu itu tidak tahu kalau arak yang biasa diminumnya amat keras! Jauh lebih
keras daripada arak yang paling keras sekalipun! Bahkan arak untuk pertandingan
ini, seperti tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, karena sudah terbiasa
dengan arak yang sangat keras, Arya sama saja seperti meminum air putih biasa
saat minum arak itu!
Begitu satu guci telah selesai,
dilanjutkan dengan guci kedua. Sampai akhirnya isi guci itu pun kandas, kedua
tokoh yang bertarung belum ada yang mengalah.
Akhirnya, sampai perut kedua
tokoh itu tidak mampu lagi menenggak arak, tetap saja belum mabuk. Maka Setan
Mabuk pun menghentikan pertarungan. Memang secara pasti belum ketahuan, siapa
yang keluar sebagai pemenang. Tapi melihat raut wajah kakek berkepala botak
yang mulai merah padam, sementara wajah Arya masih biasa, sudah bisa diduga
siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dan Setan Mabuk pun mengetahui hal
itu. Maka, rasa penasarannya pun semakin menjadi-jadi.
***
Keesokan harinya, pertarungan pun
dilanjutkan. Tapi kali ini tidak adu minum arak lagi, melainkan adu ketangkasan
meruntuhkan beberapa butir batu yang digantung di atas cabang pohon. Belasan
butir batu dijajarkan. Baik Dewa Arak maupun Setan Mabuk akan mengadu kemampuan
merobohkan batu-batu itu dalam jarak tiga tombak!
"He he he...!"
Setan Mabuk tertawa terkekeh.
Dengan pongahnya kakinya melangkah maju mengambil kesempatan menjadi peserta
pertama.
Kakek berperut buncit itu
menyipitkan sepasang mata, menatap jajaran batu-batu yang digantungkan di atas
cabang pohon.
Glek... glek... glek...!
Suara tegukan keras dan kasar
terdengar ketika arak yang dituangkan kakek berperut buncit itu jatuh ke dalam
mulut. Tapi kali ini tidak langsung ditelan, melainkan disimpan dalam mulutnya
sehingga kedua pipinya tampak menggembung. Dan....
Pruhhh...!
Setan Mabuk menyemburkan arak
yang disimpan dalam mulutnya. Seketika itu juga, arak itu meluncur ke arah
tali-tali yang menggantung batu-batu itu. Suara mendesing nyaring terdengar
tatkala arak itu meluncur deras menuju sasaran.
Tasss, tasss, tasss...!
Tiga belas buah batu jatuh
berguguran ke tanah tatkala percikan-percikan arak Setan Mabuk memutuskan
tali-tali penggantungnya.
"He he he...!"
Sambil terkekeh-kekeh, Setan
Mabuk menatap Dewa Arak, penuh kemenangan. Tapi Arya sama sekali tidak
mempedulikannya. Dengan langkah tenang, pemuda berambut putih keperakan itu
melangkah menghampiri tempat gantungan batu.
Kemudian guci araknya diangkat ke
atas kepala. Dan.... Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu masuk ke dalam mulut Dewa Arak. Seperti juga Setan Mabuk, Dewa Arak
pun tidak menelan arak itu melainkan, menyemburkannya!
Pruhhh...!
Laksana anak panah, percikan arak
itu melesat ke arah batu yang bergantungan di cabang lainnya Memang, batu untuk
sasaran Dewa Arak dan Setan Mabuk ditempatkan pada cabang yang berlainan.
Tasss, tasss, tasss...!
Batu-batu kontan berguguran dan
jatuh ke tanah ketika tali-tali penggantungnya putus. Seketika itu juga
pandangan mata semua tokoh persilatan yang ada di situ, beralih ke arah
batu-batu yang bergeletakan di tanah. Batu-batu kecil yang masih terlibat tali.
Dengan pandangan mata, tokoh-tokoh persilatan itu menghitungnya. Ternyata jumlahnya
empat belas! Lebih banyak satu buah ketimbang batu yang dijatuhkan Setan Mabuk.
"Grrrhhh...! Awas serangan,
Dewa Arak!"
Setan Mabuk menggeram keras
melihat kekalahannya. Sudah dua kali dia dikalahkan Dewa Arak. Meskipun yang
pertama kali tidak secara jelas, tapi semua orang yang menonton mengetahuinya.
Seiring lenyap geramannya, kakek
berperut buncit itu melompat menerjang Dewa Arak! Guci besar tangannya meluncur
deras ke arah kepala Arya.
Dewa arak yang memang sudah
bersiaga sejak semula, tidak menjadi gugup. Buru-buru kepalanya ditundukkan.
Dan....
Wusss...!
Sambaran guci itu melesat lewat
di atas kepala Arya. Menilik dari rambut dan pakaian pemuda berambut putih keperakan
yang berkibaran keras, bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang terkandung
dalam ayunan guci lawan.
Dewa Arak tidak berani bertindak
ayal. Buru-buru guci araknya diangkat ke atas kepala. Lalu....
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak dalam perjalanan menuju ke perut.
Seketika itu juga, ada hawa hangat yang beredar di dalam perut Arya dan
perlahan naik ke atas kepala.
Pertarungan antara dua tokoh yang
sama-sama tangguh, dan sama-sama memiliki ilmu aneh pun tidak bisa dielakkan
lagi. Maka tokoh-tokoh yang berada di sekitar tempat itu buru-buru menjauh.
Kini pertarungan yang aneh pun
berlangsung. Pertarungan aneh ini mungkin untuk pertama kalinya terjadi di
dunia persilatan. Dua orang tokoh sakti yang sama-sama memiliki ilmu aneh.
Menggeliat-geliat, terkadang lemas seperti orang mabuk akan jatuh. Tapi tak
jarang secara mendadak mengejang kaku penuh kekuatan. Perubahan gerakan kedua
orang itu me-mang terjadi secara tiba-tiba. Dari lembut berubah keras. Juga,
sebaliknya.
Tapi berbeda ketika menghadapi
Dedemit Alam Akhirat melawan Setan Mabuk, Dewa Arak sama sekali tidak mengalami
kesulitan. Ilmu yang dimiliki lawan mirip ilmu yang dimilikinya. Sehingga, dia
tidak mengalami kesulitan menghadapinya.
Pertarungan antara kedua tokoh
itu berlangsung menarik, karena berkali-kali keduanya mengadu guci atau
semburan arak.
Tapi setelah pertarungan
berlangsung hampir seratus jurus, tampak keunggulan Dewa Arak. Ilmu yang
dimiliki Setan Mabuk meskipun mirip dengannya, tapi mengandung banyak kelemahan
di sana-sini. Dan ini jelas berbeda jauh dengan ilmu 'Belalang Sakti'nya.
Setan Mabuk menggertakkan gigi
ketika menyadari kalau tidak akan bisa mengungguli Dewa Arak. Tampak jelas,
pemuda berambut putih keperakan itu memiliki ilmu yang lebih tinggi mutunya.
Gerakan guci, tangan, kaki, dan araknya merupakan satu kesatuan yang saling
tunjang-menunjang dan menutup celah-celah yang dapat digunakan lawan untuk
memasukkan serangan.
Sadar kalau dirinya tidak akan
mungkin bisa mengalahkan Dewa Arak, kakek berperut buncit itu jadi nekat untuk
mengadu nyawa. Maka
tanpa mempedulikan keselamatan
diri, kakek berkepala botak itu melancarkan serangan secara membabi buta.
Arya tahu, kalau Setan Mabuk
tidak akan bisa disadarkan. Lagi pula, dia adalah seorang tokoh sesat yang
kejam dan berbahaya. Adalah suatu kewajiban baginya untuk melenyapkan tokoh itu
selama-lamanya.
"Hattt..!"
Sambil mengeluarkan pekikan
nyaring, Setan Mabuk yang telah tidak mempedulikan keselamatan diri mengayunkan
gucinya ke arah kepala Dewa Arak.
Wuttt..!
Guci itu lewat setengah jengkal
di depan wajah ketika Arya menarik kepala ke belakang. Tidak hanya itu saja
yang dilakukan pemuda berpakaian ungu itu. Pada saat yang bersamaan, kaki
kanannya mencuat ke arah leher.
Setan Mabuk yang sejak tadi sama
sekali tidak mempedulikan pertahanan, menjadi terkejut bukan kepalang. Sedapat
mungkin, dia berusaha mengelak. Tapi...
Tukkk...!
Usaha kakek berperut buncit itu
sia-sia belaka. Kala Arya telah terlebih dulu menghantam lehernya dengan telak.
Tanpa sempat bersambat lagi, Setan Mabuk jatuh berdebuk di tanah. Dan selagi
Setan Mabuk terjerembab, Dewa Arak cepat melesat kembali. Langsung dijejaknya
leher tokoh sesat itu sekali lagi. Akibatnya, kontan kakek itu tewas.
"Hhh...!"
Arya menghela napas berat.
Ditatapnya mayat Setan Mabuk. Setelah mengedarkan pandangan pada tokoh-tokoh
persilatan yang ada di sekitarnya, pemuda berambut putih keperakan itu
melangkah meninggalkan tempat itu. Hanya dalam beberapa kali langkah saja,
tubuhnya sudah berada di pinggir pantai.
Tanpa peduli pada panggilan dan
pandangan tokoh-tokoh persilatan, Dewa Arak mengambil sebuah perahu yang berada
di situ dan mengayuhnya meninggalkan pulau.
Raja Minum Danau Sengon dan semua
tokoh persilatan yang ada di situ, hanya bisa memandangi kepergian Dewa Arak
Dalam hati, mereka mengakui kalau Dewa Arak-lah yang berhak menjadi Jago Arak
Nomor Satu!
SELESAI
No comments:
Post a Comment