SETAN MABUK
1
Hari sudah agak siang. Sang surya
pun telah hampir di atas kepala.
Tapi karena ada awan tebal yang menutupinya, suasana di bumi jadi agak gelap.
Mendung.
Dalam suasana yang tidak panas
dan angin bertiup lembut, tampak empat orang berwajah kasar sedang me-langkah
memasuki sebuah kedai di Desa Koneng. Rata-rata mereka mengenakan rompi dengan
sebilah golok ter-selip di pinggang.
Dengan sikap kasar dan jumawa mereka
masuk ke dalam kedai, lalu mengedarkan pandangan berkeliling. Pengunjung kedai
itu ternyata ramai juga, terbukti hampir semua bangku terisi.
Melihat kedatangan empat orang
itu, pemilik kedai yang ternyata seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh
tahun dan bertubuh kurus kering tergopoh-gopoh me-langkah menghampiri. Wajahnya
yang kurus dan terlihat kering itu dihiasi kumis dan jenggot yang
jarang-jarang. Sehingga, makin menambah kegersangan wajahnya. Menilik dari
sikapnya, jelas kalau pemilik kedai ini mengenal empat orang kasar itu
"Aduh, Den ...!" Belum
apa apa pemilik kedai itu sudah meratap-ratap. "Kasihani aku, Den. Tolong,
jangan buat keributan di sini"
Sambil berkata demikian,
laki-laki kurus kering ini merangkapkan kedua tangan di depan dada sambil
membungkuk-bungkukkan badan. Sementara pengunjung lain yang tengah menikmati
makan pun tampak ketakutan. Kini, mereka tidak lagi menyantap makanan,
melainkan bersiap-siap kaliur dari situ. Ini bisa dibuktikan dari sepasang mata
mereka yang menatap liar ke sana kemari.
Tapi, rupanya keempat orang kasar itu sudah
memperhitungkannya. Maka begitu masuk ke dalam kedai, dua di antara mereka
telah berdiri menghadang di ambang
pintu. Tangan kiri bertolak
pinggang. Sementara tangan kanan mengelus-elus dagu.
"Hmh...! Kau berani
menantangku, Giri?!"
Salah satu dari dua orang kasar
yang dihampiri pemilik kedai itu, mendengus. Tangan kanannya mencengkeram leher
baju laki-laki bertubuh kurus kering yang ternyata bernama Giri. Sementara
penduduk sekitar Desa Koneng sering memanggil dengan sebutan Ki Giri.
Dan sekali tangannya bergerak
mengangkat, tubuh Ki Giri telah terangkat naik. Mau tak mau kedua kakinya kini
tergantung sekitar dua jengkal di atas tanah. Apalagi orang yang melakukannya
memiliki tubuh tinggi besar, dan yang pasti kepandaiannya patut diperhitungkan.
Cambang bauk yang lebat tampak menghias wajahnya. Kedua tangannya yang
besar-besar, juga berbulu lebat Seperti layaknya seekor monyet
Seketika wajah Ki Giri pucat
karena mendapat per-lakuan seperti itu. Kakinya coba digerak-gerakkan untuk
mencapai lantai. Dan memang keadaan seperti itu menyakitkan lehernya. Tapi,
usahanya ini sia-sia. Kedua kakinya tetap saja tidak bisa mencapai lantai.
Jarak antara kakinya dengan lantai terlalu jauh untuk bisa dijangkau.
"Ti… ti.... Tidak, Den
Jagar...," meskipun terputus-putus, Giri berhasil juga membuka suara.
"Mana aku berani..."
"Ha... ha... ha...!"
Jagar tertawa terbahak-bahak.
Keras sekali suaranya, dan jelas dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam
tinggi. Sehingga pemilik kedai itu sampai menekapkan kedua tangan pada
telinganya karena merasa bising.
Begitu tawa itu selesai, tangan
yang mencengkeram leher baju itu bergerak melemparkan tubuh Ki Giri. Enak saja
laki-laki bertubuh tinggi besar itu melakukannya. Seolah-olah, tubuh laki-laki
kurus kering itu tak ubahnya sehelai karung basah.
Ki Giri langsung menjerit
ketakutan begitu tubuhnya melayang deras ke belakang. Dan....
Brakkk...!
Suara berderak keras seketika
terdengar begitu tubuh pemilik kedai yang malang itu menghantam bangku dan
meja. Tak pelak lagi, bangku-bangku itu terguling ke sana kemari.
Ki Giri mengaduh-aduh kesakitan.
Apalagi tubuhnya sebagian besar hanya terdiri dari tulang-tulang saja. Bisa
dibayangkan, betapa sakitnya terbentur bangku dan meja.
Jagar tidak mempedulikan keadaan
laki-laki kurus kering itu. Begitu kepalanya diegoskan, maka seketika itu juga
ketiga orang rekannya bergerak menghampiri para pengunjung kedai. Sedangkan
Jagar hanya berdiam diri, sambil mengawasi dengan kedua tangan berkacak
pinggang. Jelas, laki-laki bertubuh tinggi besar ini adalah pimpinan gerombolan
itu.
Jagar tersenyum sambil
memilin-milin kumisnya yang tebal. Matanya terus mengawasi ketiga orang
rekannya yang telah mulai dengan tugas yang memang sudah direncanakan. Merampok
harta para pengunjung kedai memang sudah jadi rencana mereka. Maka tentu saja
hal itu membuat para pengunjung kedai panik bukan kepalang. Apalagi, bagi
mereka yang kebetulan habis men-jual barang dagangannya.
"Cepat serahkan semua
hartamu...!" bentak rekan Jagar yang bertubuh kurus dan berkulit kuning,
pada salah seorang pengunjung kedai tanpa menghunus goloknya.
Rupanya, dia merasa tidak perlu
menggunakan golok-nya. Dan sambil berkata demikian tangan kanannya diulur-kan
untuk merampas buntalan uang yang terselip di pinggang.
Tapi, rupanya calon korban itu
tidak sudi membiarkan begitu saja uangnya diambil. Maka diputuskanlah untuk
mengadakan perlawanan, begitu melihat orang yang hendak merampas buntalan
uangnya seperti orang penyakitan. Kebetulan, pengunjung ini memiliki bentuk
tubuh kekar dan berotot.
Maka begitu tangan laki-laki
bertubuh kurus itu me-luncur ke arah pinggang, bergegas tangannya menangkap.
Kreppp...!
Begitu tangan laki-laki berkulit
kuning ini berhasil ditangkap, langsung dilayangkannya tinju kanan ke arah
wajah orang yang hendak merampas uangnya.
"Hmh...! Berani kau memukul
Gojang?!" dengus laki-laki bertubuh kurus yang ternyata bernama Gojang.
Tangan kirinya pun seketika bergerak. Dan...
Tappp...!
Hanya sekali gerak saja, serangan
laki-laki bertubuh kekar itu bisa dikandaskan. Bahkan jari-jari tangan Gojang
sudah mencengkeram pergelangan tangan pengunjung kedai itu.
Gojang tidak hanya bertindak
sampai di situ saja. Ber-bareng dengan gerakan tangan kiri, pergelangan
tangan-nya pun diputar.
Gila! Hanya sekali memutar
pergelangan saja, Gojang telah membuat cekalan laki-laki bertubuh kekar itu
ter-lepas. Bahkan dengan gerak tangan luar biasa, dia malah telah balas
mencekal pergelangan lawan. Hasilnya, kini Gojang telah berhasil menangkap
kedua pergelangan lawan.
Sebelum laki-laki bertubuh kekar
itu berbuat sesuatu, kedua tangan Gojang telah cepat bergerak membetot. Tak
pelak lagi, rubuh pengunjung kedai yang sial itu tertarik deras ke depan, ke
arah Gojang! Begitu kerasnya tenaga betotan itu, sampai tubuhnya
terhuyung-huyung.
Langsung laki-laki bertubuh kurus
itu tertawa menye-ramkan. Dan begitu tawanya habis, kepalanya digerakkan.
Jelas, maksudnya adalah mengadu kepala pengunjung kedai itu dengan kepalanya
sendiri. Dan karena terhuyung-huyung, kepala laki-laki bertubuh kekar itu
bergerak maju lebih dulu daripada kaki atau tubuhnya.
Duggg...!
Benturan antara dua buah kepala
yang begitu keras tak dapat dielakkan lagi. Menilai dari besarnya kedua kepala,
sebenarnya kepala Gojanglah yang akan menerima akibat yang lebih buruk. Tapi
kenyataan yang terjadi justru
sebaliknya! Laki-laki bertubuh kekarlah yang justru
memekik keras kesakitan. Dari bagian dahinya yang terluka nampak mengalir
darah.
Tubuh laki-laki yang sial itu
seketika terkulai. Tidak pingsan atau mati, tapi lemas. Sementara kepala Gojang
tetap utuh! Jangankan terluka, tergores pun tidak.
"He... he... he...!"
Gojang tertawa terkekeh-kekeh,
sehingga terdengar menyeramkan sekali. Kini pegangan tangannya berpindah.
Tangan kiri mencekal leher baju, dan tangan kanannya bergerak menampar wajah
laki-laki bertubuh kekar itu.
Plak, plak, plak...!
Suara keras beradunya telapak
tangan dengan pipi terdengar berkali-kali. Kepala pengunjung kedai yang malang
itu sampai terpaling ke kanan dan ke kiri. Darah segar muncrat-muncrat dari
mulutnya. Bahkan ada be-berapa benda putih sebesar kuku jari kelingking yang
terlompat keluar dari dalam mulutnya. Jelas, benda itu adalah gigi.
Tanpa mengenal rasa kasihan,
Gojang terus saja meneruskan tindakannya. Darah segar pun keluar lebih banyak
lagi. Bahkan kali ini tidak hanya dari mulut saja, tapi juga dari hidung.
Setelah merasa puas, Gojang lalu
melepaskan cekalan-nya. Akibatnya, rubuh laki-laki sial itu pun ambruk di tanah
seperti sehelai kain basah.
"Cuhhh…!”
Segumpal ludah kental keluar dari
mulut Gojang, dan mendarat dengan manisnya di wajah laki-laki bertubuh kekar
yang sudah megap-megap seperti ikan terdampar ke darat.
Rupanya, laki-laki berkulit
kuning ini masih belum puas dengan apa yang dikerjakannya. Sambil menyeringai
kejam yang nampak di mulutnya, kakinya ditaruh di kepala laki-laki bertubuh
kekar. Dan sekali kakinya bergerak menekan, nyawa pengunjung kedai yang sial itu
melayang ke alam baka seiring terdengarnya suara gemeretak ketika kepala
itu pecah berantakan.
Darah segar pun kembali
muncrat-muncrat. "Ha... ha... ha...!"
Gojang tertawa terbahak-bahak.
Keras sekali sehingga membuat suasana di dalam kedai menjadi gaduh. Apalagi
ketika ketiga orang kasar lainnya pun tertawa pula. Bahkan dinding-dinding
kedai itu sampai bergetar seperti akan runtuh.
Melihat kejadian mengenaskan yang
menimpa laki-laki bertubuh kekar itu, karuan saja membuat nyali para pengunjung
lain menjadi ciut. Mereka kini pasrah saja ketika rekan-rekan Jagar merampas
semua harta benda yang ada.
Tapi meskipun tidak ada yang
mengadakan perlawanan, bukan berarti para pengunjung kedai bebas dari
ke-kejaman. Dan memang, tetap saja mereka mendapat hadiah dari tiga orang kasar
itu.
Suara pukulan-pukulan nyaring
terdengar silih berganti diiringi jerit dan keluh kesakitan dari mulut
pengunjung kedai.
Tubuh-tubuh pengunjung yang sial
itu satu persatu roboh di lantai. Memang, tidak ada seorang pun yang tewas
kecuali laki-laki bertubuh kekar tadi. Tapi meskipun begitu, tidak ada seorang
pun di antara mereka yang sanggup berdiri.
Darah kini telah membasahi lantai
kedai. Semua pengunjung kedai menderita luka yang lumayan. Ada yang patah kaki,
namun tidak sedikit yang patah tangan atau copot giginya.
"Ha... ha... ha...!"
Jagar tertawa keras begitu
melihat ketiga orang rekannya telah menyelesaikan tugas, dan bergerak
meng-hampirinya dengan harta rampasan di tangan.
"Terima kasih, Ki
Giri…!" seru laki laki bercambang bauk lebat itu dengan suara keras
menggelegar. "Lain kali, kami pasti datang lagi...!"
Masih sambil tertawa-tawa, Jagar
dan kawan-kawannya
melangkah meninggalkan kedai.
Tidak ada seorang penduduk pun yang mengetahui atau mendengar adanya keributan
di situ. Memang, letak kedai agak jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya.
Tambahan lagi, pada saat seperti ini sebagian besar penduduk Desa Koneng tengah
berada di sawah. Tidak heran, karena penduduk desa itu sebagian besar adalah
petani.
Suasana kembali menjadi sepi
ketika Jagar dan rekan-rekannya telah cukup jauh meninggalkan tempat itu. Kini
yang terdengar hanyalah suara rintihan dan keluhan dari mulut-mulut orang yang
terluka.
***
Belum berapa lama Jagar dan
ketiga rekannya meninggalkan kedai milik Ki Giri, nampak seorang laki-laki
berwajah gagah dan berpakaian kuning berjalan perlahan mendekati kedai.
Usia laki-laki itu tak kurang
dari tiga puluh tahun. Kumis dan jenggotnya terawat baik, sehingga menambah
kegagahannya. Sebatang pedang bergagang kepala naga juga tampak tersampir di
punggung. Bisa ditebak kalau laki-laki ini memiliki kepandaian saat ini bisa
dibuktikan dengan adanya sulaman benang hijau bergambar seekor naga di bagian
dada sebelah kiri pakaiannya.
Dengan langkah gesit dan ringan,
laki-laki berkumis rapi ini melangkah memasuki pintu kedai. Tapi baru sebelah
kakinya masuk ambang pintu, dia terperanjat melihat sosok-sosok tubuh yang
bergeletak tak tentu arah di lantai. Bahkan beberapa buah meja dan kursi nampak
terbalik. Malah ada beberapa di antaranya yang patah-patah.
Kalau saja laki-laki berjenggot
rapi ini tidak bersiul-siul sewaktu melangkah menghampiri kedai, mungkin akan
terdengar rintihan dan keluhan dari mulut para pengunjung kedai yang terluka.
"Ki…!”
Laki-laki berkumis rapi ini
berseru ketika melihat Ki Giri
yang tengah berusaha bangkit.
Memang, di antara semua orang yang berada di situ, laki-laki bertubuh kurus
kering inilah yang menderita luka paling ringan. Dari ucapannya, bisa diketahui
kalau laki-laki berkumis rapi ini mengenal Ki Giri.
Sambil berseru demikian,
laki-laki berkumis rapi itu ber-gerak cepat menghampiri tubuh pemilik kedai.
Menilik dari gerakannya yang cepat bisa diperkirakan kalau tingkat
kepandaiannya tidak bisa dianggap enteng.
"Apa yang terjadi, Ki?!
Katakanlah...!" desak laki-laki berkumis rapi, ketika tubuhnya sudah
berjongkok di dekat tubuh Ki Giri. Ada suara gemeretak keras keluar dari
mulutnya, pertanda kalau dirinya tengah dilanda perasaan geram.
"Para pengacau datang,
merampok dan menganiaya para pengunjung kedai ini. Den Subarji...." Jelas
Ki Giri dengan suara tersendat-sendat
Laki-laki berjenggot rapi yang
ternyata bernama Subarji mengepalkan kedua tangannya, sehingga terdengar bunyi
berderak keras seperti ada tulang-tulang yang patah.
Ki Giri mengangguk.
"Siapa, Ki?!" tanya
Subarji lagi.
"Jagar dan
kawan-kawannya," jawab Ki Giri pelan, mirip desahan.
"Hm.... Kiranya Jagar....”
Subarji mengangguk-anggukkan
kepala. Dia memang telah sering mendengar nama Jagar, sebagai orang yang selalu
membuat onar. Bukan hanya di Desa Koneng saja, tapi juga di desa-desa
sekitarnya. Maka meskipun belum pernah bertemu, tapi Subarji telah mengetahui
ciri-ciri laki-laki bertubuh tinggi besar itu.
"Baru saja mereka pergi, Den
Subarji...," Ki Giri kembali membuka suara.
"Ke arah mana perginya,
Ki?" "Barat, Den."
Memang, Ki Giri tadi sempat
melihat kepergian Jagar dan kawan-kawannya ke samping kanan kedainya. Dan itu
berarti mereka pergi ke arah
Barat
"Kalau begitu, mereka harus
cepat kukejar...! Orang-orang seperti mereka harus dilenyapkan
selama-lamanya."
Setelah berkata demikian, Subarji
segera bangkit berdiri dan melesat keluar kedai. Dan secepat tubuhnya telah berada
di luar, secepat itu bergerak mengejar ke arah Barat.
***
2
Subarji berlari cepat mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Ucapan Ki
Giri yang memberi tahu kalau Jagar dan rekan-rekannya belum lama meninggalkan
kedai, membuatnya bertindak seperti itu.
Ternyata, pemberitahuan pemilik
kedai itu tidak salah. Belum berapa lama Subarji berlari, di kejauhan terlihat
empat sosok tubuh yang berjalan cepat. Kontan semangat laki-laki berkumis rapi
ini bangkit. Meskipun belum pasti kalau keempat sosok tubuh itu adalah orang
yang dicari, tapi melihat dari jumlahnya, Subarji yakin kalau yang dilihatnya
adalah Jagar dan kawan-kawannya.
Karena Subarji berlari
mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sementara empat sosok tubuh itu berlari
seenak-nya, maka jarak di antara mereka semakin lama semakin bertambah dekat.
Seiring semakin bertambah dekatnya jarak, maka sosok-sosok tubuh itu pun
semakin jelas terlihat
Dan begitu jarak di antara mereka
terpisah lima tombak lagi, Subarji yakin kalau empat sosok itu adalah
orang-orang yang dikejarnya.
Memang meskipun hanya melihat
dari belakang, laki-laki berjenggot rapi ini bisa mengetahui kalau empat sosok
tubuh di hadapannya adalah Jagar dan ketiga orang rekan-nya. Dia telah
mendengar kalau Jagar selalu mengenakan rompi berwarna kuning, yang pada bagian
belakangnya bergambar seekor kelabang. Dan kini gambar itu telah dilihatnya.
Jagar dan tiga orang rekannya
yang tengah berbincang-bincang, sama sekali tidak mengetahui kalau di belakang
ada orang yang mengejar. Mereka terus saja berlari tanpa mengerahkan ilmu
meringankan tubuh.
"Berhenti...!"
Keempat orang kasar ini baru
terkejut ketika mendengar
bentakan. Belum juga mereka menyadari, sesosok bayangan kuning telah melesat
melewati kepala mereka dan tahu-tahu telah berdiri menghadang.
Bagai diberi aba-aba, keempat
orang ini berhenti melangkah. Kini kedua belah pihak berdiri berhadapan dalam
jarak sekitar tiga tombak, dengan mata saling mengamati.
"Hmh…!"
Jagar mendengus geram begitu
melihat sosok bayangan kuning telah menghadang perjalanan mereka. Memang dia
tidak mengenal orang yang menghadang ini. Tapi dari pakaian yang dikenakan, dan
sulaman gambar naga dari benang hijau pada dada sebelah kiri, bisa diketahui
asal perguruan laki-laki berkumis rapi ini.
"Tikus usilan dari Perguruan
Naga Hijau rupanya...," kata laki-laki bercambang bauk lebat ini sambil
tersenyum mengejek.
Jagar memaki Subarji demikian
karena Perguruan Naga Hijau beraliran putih. Para muridnya selalu menentang
tindak kejahatan. Tidak heran jika murid-murid perguruan yang telah cukup
kemampuannya, harus mengamalkan ilmu. Mereka kebanyakan menyebar di berbagai
desa. Dan Subarji memilih tinggal di Desa Koneng, desa kelahirannya.
"Jadi, kau rupanya yang
bernama Jagar...," kata Subarji. Ada nada kegeraman dalam suara Subarji.
Ditatapnya
sosok tubuh tinggi besar di
hadapannya penuh selidik dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ooo... Kau baru tahu
rupanya?" Jagar tersenyum sinis. "Memang! Akulah Jagar! Lalu, kau mau
apa?!"
"Pasti kau dan rekan-rekanmu
ini yang telah merampok kedai Ki Giri, bukan?!"
Subarji langsung mengedarkan
pandangan ke arah buntalan kain yang dibawa keempat orang berwajah kasar di
depannya.
"Ha... ha... ha...! Tidak
salah...!" jawab Jagar, lantang. "Kau ingin merampasnya kembali?
Silakan!"
Subarji menggertakkan gigi
mendengar kata-kata ber-
nada tantangan itu. Sementara,
tiga orang rekan Jagar segera melemparkan buntalan-buntalan kain yang berisi
harta rampasan di tanah. Memang, harta yang dirampas dari para pengunjung
kedai, biasa dimasukkan ke dalam buntalan kain.
"Kirim tikus usilan itu ke
neraka...!" perintah Jagar pada ketiga orang rekannya.
Srattt, srattt, srattt...!
Sinar-sinar terang berkeredep
tatkala ketiga orang kasar itu menghunus golok masing-masing, seiring lenyapnya
perintah laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Mereka tahu, lawan yang kali ini
dihadapi tidak sama dengan orang-orang di kedai. Maka, tanpa ragu-ragu mereka
segera menggunakan senjata.
Begitu golok telah berada dj
tangan, ketiga orang itu menyebar mengurung Subarji. Sudah bisa ditebak
maksudnya. Ingin menyerang laki-laki berjenggot rapi ini dari tiga jurusan.
"Hm...."
Sambil menggumam, Subarji
mencabut pedangnya. Sepasang matanya beredar berkeliling, memperhatikan
gerak-gerik ketiga orang lawan yang semakin dekat dan semakin mengurungnya. Telah diputuskannya untuk melenyapkan gerombolan Jagar sebelum
semakin meraja-lela dan menimbulkan korban baru. Itulah sebabnya Subarji
langsung menghunus senjatanya.
"Haaat...! "
Sambil mengeluarkan pekik
nyaring, laki-laki berkulit kuning mendahului menyerang. Goloknya meluncur
deras ke arah dada. Memang, saat itu dia berhadapan dengan lawannya.
Belum juga serangan laki-laki
bertubuh kurus itu tiba, serangan dari dua orang lain datang menyusul. Orang
yang berada di kanan, menyabetkan goloknya ke arah leher. Sementara yang di
kiri menusuk ke arah pinggang.
Suara angin mendesir cukup
nyaring mengiringi tibanya ketiga serangan yang masing-masing mampu mengantar-
kan nyawa ke alam baka bila
mendarat.
Namun Subarji tetap bersikap
tenang. Melihat dari kecepatan serangan itu, sudah bisa diketahui kalau ilmu
meringankan tubuh ketiga orang lawan cukup jauh di bawahnya, itulah sebabnya,
dia tidak terburu-buru ber-tindak.
Baru ketika serangan itu
menyambar semakin dekat, Subarji menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian, tubuhnya
melayang ke atas. Maka semua serangan lawan hanya mengenai tempat kosong, lewat
di bawah kakinya.
Tindakan laki-laki berkumis rapi
ini tidak hanya sampai di situ saja. Begitu tubuhnya berada di udara, pedang di
tangannya langsung meluncur deras ke arah ubun-ubun laki-laki bertubuh kurus.
Sementara kaki kanannya menendang ke arah kepala lawan yang berada di sebelah
kanan. Sedangkan lawan yang berada di sebelah kiri, disampok dengan tangan
kirinya ke arah pelipis.
Balasan serangan mendadak ini
tentu saja membuat ketiga orang rekan Jagar terperanjat. Apalagi, datangnya
terlalu tiba-tiba! Mereka baru mengetahui adanya bahaya setelah serangan itu
mendekati sasaran. Hembusan angin cukup keras yang mengiringi tibanya serangan,
membuat mereka sadar akan adanya bahaya mengancam.
Karena mengelak sudah tidak
mungkin lagi, maka ketiga orang kasar itu pun memutuskan untuk menangkis.
Laki-laki bertubuh kurus menangkis dengan golok,
sementara dua rekannya menangkis dengan tangan kanan.
Tranggg, plakkk, plakkk...!
Suara berdentang keras diiringi
suara tangan dan kaki berbenturan terdengar bertubi-tubi. Akibatnya, tubuh
ketiga orang rekan Jagar terhuyung-huyung ke belakang. Sekujur tangan yang
digunakan untuk menangkis seketika bergetar hebat dan terasa ngilu bukan main.
Jelas, tenaga dalam mereka masih jauh di bawah lawan.
Sebuah keuntungan bagi mereka,
karena Subarji tidak bisa melancarkan serangan susulan. Keadaannyalah yang
tidak memungkinkan. Tubuhnya saat
itu tengah berada di udara. Maka begitu semua lawan terhuyung-huyung sehabis
menangkis serangan, kedua kakinya pun men-darat di tanah.
Begitu laki-laki berkumis rapi
ini hinggap di tanah, ketiga orang lawannya telah berhasil memperbaiki sikap
kembali. Bahkan kemudian kembali menyerang.
Dan kini pertarungan sengit pun
terjadi. Baik Subarji maupun ketiga orang rekan Jagar, sama-sama mengerah-kan
seluruh kemampuan masing-masing. Kedua belah pihak memang sudah berniat
merobohkan lawan secepat-nya.
Suara bercuitan yang cukup
nyaring pun terdengar mengiringi pertarungan itu. Masing-masing pihak mengeluarkan ilmu andalan dalam usaha
untuk meroboh-kan lawan.
Tapi, ternyata Subarji terlalu
lihai untuk bisa di-pecundangi ketiga lawannya. Belum juga pertarungan
menginjak jurus kesepuluh, laki-laki berkumis rapi itu sudah bisa mendesak
lawan-lawannya, hingga terpontang-panting ke sana kemari dalam usaha
menyelamatkan selembar nyawa.
"Keparat..!"
Jagar menggertakkan gigi melihat
keadaan rekan-rekannya yang terdesak. Maka goloknya segera dicabut dan dengan
senjata tercekal di tangan, laki-laki bertubuh tinggi besar ini melompat
menerjang. Jadi, kini Subarji dikeroyok empat orang!
Mau tak mau, Subarji harus
berjuang lebih keras lagi untuk menanggulanginya. Memang dengan ikut sertanya
Jagar dalam kancah pertarungan, membuat keadaan ketiga orang rekannya tidak
terlalu dikejar-kejar maut seperti tadi.
Tapi ketiga orang berwajah kasar
itu tidak bisa terlalu lama menarik napas lega. Bantuan dari Jagar ternyata
hanya berguna tak lebih dari tiga puluh jurus saja. Setelah masuknya laki-laki
bercambang bauk lebat itu pun, justru
Subarji kembali berhasil mendesak
kembali.
Betapapun Jagar dan ketiga
rekannya berusaha keras menanggulangi Subarji, tapi terap saja tidak mampu.
Kepandaian laki-laki berkumis rapi itu memang masih lebih tinggi dibanding
mereka berempat. Padahal, seluruh kemampuan yang dimiliki telah dikeluarkan.
Bahkan semakin lama mereka semakin terdesak. Sampai pada suatu saat...
Crasss...!
Telak dan keras sekali pedang
Subarji membabat leher laki-laki yang bertubuh kurus. Kontan darah memercik
keras dari leher yang terobek ujung pedang. Tubuh laki-laki berkulit kuning itu
terpelanting jatuh ke tanah, laki diam tak bergerak lagi untuk selamanya. Suara
mengorok terdengar keluar dari mulutnya sebelum tewas.
Gerombolan Jagar menggeram hebat
melihat kematian salah seorang rekan mereka. Tapi apa daya? Subarji memang
terlalu lihai dihadapi! Darah yang keluar dari leher laki-laki bertubuh kurus
itu belum juga berhenti ketika dua orang rekan Jagar yang tersisa menjerit
keras. Pedang Subarji kembali telah menelan korban! Tubuh mereka langsung jatuh
ke tanah, dan diam tidak bergerak lagi.
Jagar meraung melihat kematian
ketiga orang rekannya. Tanpa mempedulikan keselamatannya lagi, laki-laki
ber-tubuh tinggi besar itu melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Subarji.
Tak dipedulikan lagi pertahanannya yang terbuka di sana-sini. Yang ada di benaknya
hanya satu. Membalas kematian ketiga orang rekannya, meskipun harus kehilangan
nyawa!
Tapi bagaimana mungkin Jagar
dapat melakukannya? Dengan dibantu tiga orang rekannya saja tidak mampu
mengalahkan Subarji, apalagi kini yang tinggal hanya dia seorang. Semua
serangannya dengan mudah dapat dipatahkan lawan. Dan kini robohnya Jagar hanya
tinggal menunggu saat saja.
Dan belum juga pertarungan kedua
orang itu ber-langsung lama, tiba-tiba....
"Telah lama kudengar kalau
orang-orang Perguruan Naga Hijau memang usil! Tapi baru kali ini kulihat
sendiri kenyataannya. Mereka menganggap orang lain jahat karena sering
membunuhi orang. Tapi, padahal apa yang mereka lakukan? Membelai-belai orang?
Sama sekali tidak! Justru yang kulihat malah sebaliknya! Orang Per-guruan Naga
Hijau membunuhi orang seperti membunuh nyamuk! Keji! Sungguh keji!"
Jagar dan Subarji terperanjat.
Meskipun suara itu terdengar pelan saja, tapi mengandung getaran yang membuat
isi dada terguncang hebat. Maka dengan sendiri-nya, pertarungan antara kedua
orang itu pun terhenti.
Baru saja gema suara itu lenyap,
meluncur cepat bagai kilat seleret benda hitam yang langsung membelit mata
pedang Subarji.
Karuan saja laki-laki berkumis
rapi ini terkejut bukan main. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu, benda hitam
panjang yang ternyata sebuah cambuk berwarna hitam telah membetot pedangnya.
Keras bukan main tenaga tarikan itu, sehingga Subarji sama sekali tidak
menyangka. Bahkan tidak mampu mempertahankan senjatanya.
Subarji tidak rela pedangnya
dirampas. Maka segera tubuhnya melompat untuk menangkap kembali senjatanya.
Matanya juga sempat sekilas melihat pemilik cambuk itu. Seorang laki-laki
bertubuh kecil kurus, mengenakan rompi berwarna hitam. Sebaris bulu-bulu
berwarna hitam dan tebal menghias atas bibirnya.
Hanya ciri-ciri itu yang sempat
dilihat Subarji, karena dirinya harus sudah sibuk merampas kembali pedangnya.
Tapi sungguh di luar dugaan, belitan cambuk itu mengendur. Tak pelak lagi,
pedang Subarji terjatuh di tanah. Dan sebelum laki-laki berkumis rapi ini
berbuat sesuatu, ujung cambuk itu telah memapak lompatannya, dan langsung
melecut dadanya.
Ctarrr...!
Subarji menggigit bibir untuk
menahan rasa sakit yang mendera dada ketika ujung cambuk itu telak dan keras
sekali menghantam dada. Seketika
itu juga, tubuhnya terjengkang kembali ke belakang. Darah kental langsung
menetes di sudut-sudut bibirnya.
Meskipun begitu, Subarji masih
mampu membuktikan kalau dirinya bukan tokoh sembarangan. Kedua kakinya masih
mampu mendarat di tanah walaupun agak ter-huyung-huyung,
"Hmh...!"
Laki-laki kecil kurus berkumis
tebal mendengus. Dan kini sama sekali tidak dilancarkannya serangan lagi.
Sikapnya jelas memandang rendah sekali pada Subarji.
Subarji tidak mempedulikannya.
Dirinya tengah disibuk-kan rasa sakit yang mendera dadanya. Ditariknya napas
dalam-dalam, lalu dihembuskannya kuat-kuat sekadar untuk menghilangkan rasa
sakit.
Ctarrr...!
Ledakan cambuk membuat laki-laki
berkumis rapi ini terkejut dan bersiap-siap menghadapi serangan susulan. Tapi
ternyata tidak ada serangan yang tertuju ke arahnya. Cambuk hitam itu sama
sekali tidak menuju ke arahnya, tapi ke arah pedang miliknya yang tertancap di
ranah.
Rrrttt..!
Laksana ular membelit mangsanya
cambuk itu melilit batang pedang. Dan begitu laki-laki berkumis tebal ini bergerak
membetot pedang itu pun tercabut.
"Kukembalikan
pedangmu...!" seru laki-laki bertubuh kecil kurus itu.
Sesaat kemudian pedang yang
terlilit cambuk itu meluncur deras ke arah Subarji hingga mengeluarkan suara
mendesing nyaring. Padahal, kelihatannya pelan saja cambuk itu bergerak. Dari
pertunjukan ini saja sudah bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang
dimiliki pemilik cambuk itu.
Sementara itu Subarji terkejut bukan kepalang. Terdengar suara mengaung mengiringi
tibanya luncuran pedang itu. Maka laki-laki berjenggot rapi ini segera
menjumput sarung pedangnya, langsung menangkis
serangan itu. Tanpa
tanggung-tanggung lagi segera dikeluarkan seluruh tenaga dalam yang
dimilikinya.
Trakkk...!
Sarung pedang itu kontan hancur
berantakan ketika kedua benda itu saling berbenturan. Subarji terkejut bukan
kepalang. Tangannya seketika terasa sakit dan ngilu bukan kepalang Tubuhnya pun
tanpa dapat ditahan lagi ter-huyung-huyung ke belakang. Jelas kalau tenaga yang
terkandung dalam luncuran pedang itu lebih kuat daripada tenaga dalam miliknya.
Hal ini benar-benar membuat
Subarji terperanjat. Apalagi, diketahuinya kalau tenaga dalam lawan belum
seluruhnya dikeluarkan sewaktu melemparkan pedang dengan cambuk. Baru dengan
tenaga sebegitu saja Subarji sudah tidak mampu bertahan. Lali bagaimana kalau
pemilik cambuk itu mengerahkan seluruhnya? Sulit bagi laki-laki berkumis rapi
ini untuk membayangkannya.
Mendadak tubuh Subarji yang
terhuyung-huyung, ber-henti seketika tatkala membentur sosok tubuh berpakaian
kuning yang mendadak muncul di belakangnya.
Karuan saja hal ini membuat
Subarji kaget. Secepat tubuhnya membentur, secepat itu pula melompat ke depan.
Tubuhnya langsung berbalik dan bersikap siap siaga menghadapi serangan
mendadak.
Tapi sekujur urat-urat syaraf dan
otot-otot laki-laki berkumis rapi ini mengendur kembali ketika melihat sosok
tubuh yang dibenturnya.
"Guru...!" sebut
Subarji seraya melangkah menghampiri dan memberi hormat.
Dia ternyata seorang kakek
bertubuh tinggi kekar. Orang yang dipanggil guru oleh Subarji langsung
tersenyum. Raut wajahnya memang menyenangkan bagi orang lain yang melihatnya.
Wajahnya bulat seperti juga perutnya, dan selalu dihiasi senyum. Rambutnya yang
putih, digelung ke atas.
"Menyingkirlah, Subarji...!
Dia bukan tandinganmu...!" ujar kakek bertubuh tinggi kekar itu.
Terdengar sungguh-sungguh dan
penuh perintah ucapan yang dikeluarkan kakek itu. Tapi begitu melihat wajahnya,
orang akan mengira kalau dia tengah bercanda! Kakek itu mengucapkan perintah
begitu sungguh-sungguh, disertai senyum di bibir dan sepasang mata
bersinar-sinar seperti orang menang lotre! Selebar wajahnya pun merautkan
kegembiraan.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
laki-laki berkumis rapi ini segera melangkah mundur. Dibiarkan saja gurunya itu
melangkah mendekati si pemilik cambuk. Telah diketahuinya kelihaian gurunya.
Maka Subarji percaya kalau kakek berwajah penuh senyum itu akan mampu
mengalahkan lawan.
"Ha... ha... ha...!"
laki-laki berompi hitam itu tertawa ber-gelak. "Sungguh tidak kusangka
kalau kau bisa keluar dari kandangmu yang menjijikkan itu, Buntara!"
Kakek berwajah penuh pesona yang
ternyata bernama Buntara, sama sekali tidak merasa marah atau tersinggung atas
pertanyaan yang bernada kasar. Bahkan mulutnya tetap menyunggingkan senyum
lebar.
"Aku terpaksa keluar dari
kandang untuk mengambil sisa kotoranku yang tertinggal di sini. Dan kaulah
kotoran itu. Kera Bukit Setan!"
Luar biasa sekali ucapan Buntara.
Meskipun dikeluar-kan dengan wajah penuh keceriaan, namun mampu membuat kuping
panas. Seketika selebar wajah laki-laki berompi hitam yang berjuluk Kera Bukit
Setan jadi merah padam menahan amarah.
Sementara kedua orang itu terlibat
dalam adu mulut, Jagar dan Subarji sibuk dengan urusan masing-masing. Jagar
tampak sibuk menenangkan deru napasnya yang masih memburu sehabis bertarung
dengan Subarji. Sementara, laki-laki berkumis rapi itu tampak menahan geram.
Sehingga, tampak wajahnya masih memerah.
Meskipun begitu, tidak berarti
kalau kedua orang itu tidak mendengar percakapan antara Buntara dengan Kera
Bukit Setan. Dan karena itulah mereka tahu, kedua orang
yang tengah berhadapan itu
ternyata saling mengenal satu sama lain.
Sama sekali Subarji dan Jagar
tidak mengetahui kalau Buntara maupun Kera Bukit Setan sudah saling mengenal.
Di samping itu, Subarji juga tidak kenal siapa Kera Bukit Setan itu. Juga Jagar
tidak tahu, siapa Buntara itu. Mereka hanya mengetahui dari ciri-ciri yang
pernah didengar.
Kera Bukit Setan menggeram. Dia
memang tidak bisa berdebat. Maka begitu mendapat balasan makian dari Buntara,
dia tidak bisa membalasnya.
Sambil menghentakkan kaki
sehingga membuat tanah amblas sampai semata kaki, laki-laki berompi hitam ini
menyelipkan cambuknya di pinggang.
"Tidak ada seorang pun yang
boleh menghina Kera Bukit Setan...!" teriak laki-laki bertubuh kecil kurus
keras.
Dan belum habis gema ucapan itu,
tubuhnya telah meluruk cepat ke arah Buntara. Kedua tangannya yang berbentuk
cakar, meluncur cepat ke arah dada dan ulu hati secara bertubi-tubi.
***
3
Wuttt, Wuttt...!
Deru angin keras terdengar begitu
serangan cakar Kera Bukit Setan meluncur cepat ke arah sasaran.
Buntara tahu kedahsyatan serangan
yang mengandung tenaga dalam kuat itu. Apabila terkena, batu yang paling keras
pun akan hancur berantakan. Maka, laki-laki tua itu tidak berani bersikap
main-main. Buru-buru kaki kanannya melangkah ke kanan sambil mendoyongkan
tubuh. Pada saat yang bersamaan, tangan kirinya dikibaskan ke arah pelipis
lawan.
Wukkk...!
Kera Bukit Setan tidak terkejut
melihat serangan lawan, karena memang sudah diperkirakan. Baik mengenai
serangannya yang dapat mudah dielakkan, maupun balasan serangan itu sendiri.
Karena sudah memperkirakannya,
maka laki-laki kecil kurus ini sudah bersiap-siap menangkalnya. Buru-buru
tangan kirinya digerakkan untuk menangkis serangan itu. Arah gerakannya dari
dalam ke luar.
Takkk...!
Suara keras seperti terjadi
benturan antara dua benda logam terdengar ketika kedua tangan yang sama-sama
dialiri tenaga dalam tinggi itu beradu.
Tubuh Kera Bukit Setan langsung
terhuyung-huyung ke belakang. Mulutnya seketika menyeringai, jelas benturan itu
terasa benar akibatnya. Sekujur tulang-tulang tangan kirinya terasa sakit bukan
kepalang. Disadarinya kalau tenaga dalam Buntara berada di atasnya. Buktinya,
kakek berwajah penuh senyum itu sama sekali tidak terpengaruh oleh benturan
tadi.
Tapi Kera Bukit Setan sama sekali
tidak mempedulikan hal itu. Begitu kekuatan yang membuat tubuhnya terdorong
habis, kembali dilancarkannya serangan susulan.
Buntara yang kini sudah bisa memperkirakan kepandaian lawan, segera
menyambutnya. Tak pelak lagi, pertarungan antara kedua tokoh yang sama-sama
sakti itu pun berlangsung sengit.
Jagar dan Subarji memperhatikan
jalannya pertarungan dengan penuh perhatian. Meskipun mereka tidak bisa melihat
terlalu jelas karena begitu cepatnya kedua tokoh itu bergerak, tapi
setidak-tidaknya bisa memperkirakan siapa yang mulai unggul.
Memang karena perbedaan pakaian
yang dikenakan antara kedua tokoh itu terlalu menyolok, sehingga mem-buat Jagar
dan Subarji tidak mengalami kesulitan me-mastikannya.
Karena cepatnya pertarungan kedua
tokoh itu, maka yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan kuning dan hitam.
Terkadang saling belit, tapi tak jarang pula saling pisah.
Berkali-kali Jagar dan Subarji
melihat kalau bayangan hitam sering keluar dari kancah pertarungan. Tapi itu
tidak berlangsung lama, karena sosok bayangan kuning
langsung memburunya. Sehingga, dua bayangan itu kembali saling belit.
Ternyata perbedaan tingkat
kepandaian antara kedua tokoh itu terpaut terlalu jauh. Buktinya, belum juga
pertarungan itu berlangsung dua puluh lima jurus, Kera Bukit Setan sudah
terdesak. Kini tokoh sesat ini selalu bermain mundur, dan hanya sesekali saja
menangkis. Namun, ternyata menangkis serangan justru merugikan dirinya sendiri.
Maka dia memutuskan untuk mengelak. Hal ini disebabkan, tenaga dalamnya berada
cukup jauh di bawah lawan.
"Hih...!"
Kera Bukit Setan menggertakkan
gigi seraya melompat ke belakang. Dan begitu kedua kakinya menjejak tanah,
cambuknya langsung dilecutkan. Dia benar-benar khawatir kalau lawan akan
menyerangnya.
Tapi ternyata Buntara sama sekali
tidak melancarkan
serangan susulan. Kakek berwajah
penuh senyum itu membiarkan lawannya melompat ke belakang, sehingga serangan
cambuk sama sekali tidak mengenainya. Ujung cambuk itu meledak di udara,
menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.
Buntara tidak berani bertindak
gegabah. Padahal tingkat kepandaiannya memang lebih tinggi daripada tingkat
kepandaian yang dimiliki Kera Bukit Setan. Dan memang, dia tidak mau meladeni
lawan yang menggunakan senjata andalan dengan tangan kosong. Sebab, akibat yang
dihadapinya tidak kecil.
Maka begitu melihat lawan
mengeluarkan senjata andalan, dia pun segera menjumput pedangnya.
Srattt..!
Sinar terang berpendar ketika
pedang itu keluar dari sarungnya.
Kini dengan senjata andalan di
tangan masing-masing, kedua tokoh sakti itu kembali saling gebrak. Maka, kini
serangan-serangan kedua tokoh itu berlangsung lebih sengit. Suara mengaung,
mendesing, dan meledak-ledak meramaikan pertarungan antara Buntara dan Kera
Bukit Setan.
Tapi hanya beberapa puluh jurus
saja pertarungan antara kedua tokoh sakti itu berlangsung cukup seru. Menginjak
jurus ketiga puluh lima, Kera Bukit Setan kembali terdesak. Suara meledak-ledak
yang keluar dari lecutan cambuknya perlahan semakin jarang terdengar.
Sebaliknya, suara mendesing dan mengaung yang kini sering terdengar.
Menjelang jurus keempat puluh
tiga, keadaan Kera Bukit Setan semakin gawat. Tubuhnya sudah terpontang-panting
ke sana kemari dalam upaya menyelamatkan selembar nyawa. Sudah bisa
diperkirakan, tewasnya laki-laki bertubuh kecil kurus ini hanya tinggal
menunggu saatnya saja.
Kini ledakan cambuk laki-laki
berompi hitam itu sudah hampir tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanyalah
suara
mendesing dan mengaung dari
pergerakan pedang Buntara yang memekakkan telinga.
"He... he... he...! Lucu!
Lucu sekali...! Ada kambing kurus dan kerbau gendut tengah menari-nari!
Menari-nari..., la... la... la...!"
Suara pelan dan tak jelas seperti
keluar dari mulut orang yang tengah mengigau terdengar. Itu pun masih di-tambah
lagi dengan suara tegukan keras. Tampaknya pemilik suara itu tengah menenggak
minuman dengan cara kasar.
Hebatnya, sungguhpun terdengar
pelan saja, tapi suara itu mampu mengalahkan suara desingan dan aungan ribut
yang keluar dari gerakan pedang Buntara!
Buntara dan Kera Bukit Setan
terkejut bukan main. Sebagai tokoh sakti yang berpengalaman, mereka segera tahu
ada tokoh tangguh luar biasa datang. Bagai diberi aba-aba, kedua orang ini
segera melompat ke belakang dan langsung menoleh ke arah asal suara. Dengan
sendiri-nya, pertarungan pun terhenti.
Sekitar lima tombak di sebelah
kanan mereka, tampak berdiri seorang kakek bertubuh pendek gemuk dan ber-perut
buncit. Kepalanya botak dan licin. Tidak ada sedikit pun bulu yang menghiasi
wajahnya. Bahkan sama sekali tidak memiliki alis!
Karena perut kakek itu gendut
sekali, rompi yang terbuat dari anyaman bulu burung garuda itu sama sekali
tidak mampu menutupi bagian depan tubuhnya. Tampak di tangan kanan kakek ini
tergenggam sebuah guci besar yang selalu dituang ke mulutnya.
Glek.. glek... glek...!
Suara tegukan terdengar ketika
kakek berperut buncit itu menuangkan arak dalam guci besar itu ke mulutnya.
Kini jelas sudah, mengapa tadi sewaktu kakek itu berkata-kata terdengar juga
suara tegukan.
Beberapa tetes arak jatuh ke tanah
ketika kakek ber-kepala botak itu menuangkan araknya. Bahkan sekitar mulutnya
dibasahi arak.
Dengan gerakan kasar dan
sembarangan, kakek ber-perut buncit itu mengusap mulut dengan punggung tangan,
sehabis menuangkan arak. Kemudian, guci arak itu di-turunkan dari atas wajahnya
seraya melangkah maju.
Buntara dan Kera Bukit Setan
mengerutkan alisnya melihat kakek berkepala botak itu berkali-kali hampir jatuh
ketika melangkah. Tubuhnya oleng ke sana kemari. Jelas, kakek ini dalam keadaan
mabuk.
Mendadak wajah kedua tokoh sakti
itu memucat ketika teringat seorang tokoh yang mempunyai ciri-ciri seperti itu.
Seorang tokoh sesat yang tak kenal ampun, dan sudah lama mengasingkan diri.
Sehingga, julukannya sudah mulai dilupakan orang! Setan Mabuk, itulah julukannya!
Tapi bukankah tokoh yang menggiriskan ini tinggal di Gunung Langkat, yang jauh
dari tempat ini? Mengapa sampai tiba di sini? Berbagai pertanyaan berkecamuk di
benak kedua orang itu.
***
"He he he...! Mengapa
berhenti. Sapi Gendut..?!" sambil melangkah sempoyongan, kakek berkepala
botak yang berjuluk Setan Mabuk itu menegur Buntara. "Mengapa tarian sapi
gendut itu dihentikan?!"
Mendengar kata-kata yang bernada
hinaan, selebar wajah Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau itu merah padam.
Meskipun begitu, tetap saja raut wajahnya tidak menampakkan kemarahan. Wajah
Buntara tetap cerah, dan senyum tetap mengembang di bibirnya. Sepasang matanya
pun berbinar-binar.
"Kau juga, Kambing Kurus.
Mengapa berhenti menari? Teruskan...!"
Sambil berkata demikian. Setan
Mabuk kembali mengangkat guci araknya yang besar, dan menuangkan ke mulutnya.
Glek... glek... glek...!
Suara tegukan keras terdengar
ketika arak itu melalui
tenggorokan kakek berkepala botak
itu. "Ah...! Nikmaaat..!"
Dengan punggung tangan. Setan
Mabuk mengusap tumpahan arak yang membasahi sekitar mulutnya. Kasar sekali
caranya. Bahkan berkesan menjijikkan.
"Keparat...!"
Kera Bukit Setan berteriak
memaki. Laki-laki berompi hitam ini tidak tahan dihina seperti itu. Maka....
Ctarrr...!
Suara menggelegar keras diiringi
mengepulnya asap berwarna putih terdengar ketika ujung cambuk itu melecut di
udara. Baru kemudian, ujung cambuk itu meluncur cepat ke arah ubun-ubun kepala
Setan Mabuk.
Kejam dan telengas sekali gerakan
Kera Bukit Setan. Sekali menyerang sudah meluncurkan serangan yang dapat
membuat nyawa kakek berkepala botak itu pergi ke alam baka. Ubun-ubun merupakan
salah satu bagian terlemah pada tubuh manusia. Dan kini, ujung cambuk yang
mampu menghancurkan batu karang itu meluncur deras ke bagian itu.
Buntara terperanjat juga melihat
serangan maut itu. Apalagi, tampaknya Setan Mabuk seperti tidak mengetahui
adanya bahaya. Dia masih sibuk mencium-cium bau arak-nya.
Melihat hal ini, semula kakek
berwajah penuh senyum itu ingin menolong. Tapi niatnya segera diurungkan ketika
teringat kalau kakek ini memiliki kepandaian amat tinggi. Hal itu bisa
diketahui dari suara Setan Mabuk yang mampu menindih suara gerakan pedangnya.
Padahal, tokoh sesat pemabukan itu hanya pelan saja mengucapkannya.
Tindakan Buntara menahan
gerakannya ternyata tepat sekali. Buktinya, begitu ujung cambuk itu hampir
mengenai sasaran, tanpa mengangkat wajah, Setan Mabuk mengulur tangan
menyambut.
Wajah Buntara dan Kera Bukit
Setan berubah seketika. Apa yang dilakukan Setan Mabuk benar-benar di luar
dugaan! Ujung cambuk yang mampu menghancurkan batu
yang paling keras sekalipun,
hanya ditangkis dengan tangan kosong! Suatu hal yang tidak akan mungkin dapat
dilakukan Buntara!
Itulah sebabnya, tindakan Setan
Mabuk benar-benar menimbulkan keterkejutan Buntara dan Kera Bukit Setan.
Apalagi, cara kakek berkepala botak itu memapak, seperti-nya tanpa mengerahkan
tenaga dalam sama sekali. Gerakannya begitu sembarangan saja!
Prattt..!
Telak dan keras sekali ujung
cambuk itu berbenturan dengan tangan Setan Mabuk. Dan sebelum Kera Bukit Setan
sempat berbuat sesuatu, tangan kakek berbaju rompi bulu burung itu bergerak
menangkap. Dan...
Tappp...!
Tanpa mampu dicegah, ujung cambuk
Kera Bukit Setan telah tertangkap tangan Setan Mabuk. Dan secepat cambuk itu
tercekal, secepat itu pula kakek berkepala botak ini membetotnya.
Kera Bukit Setan tentu saja tidak
merelakan senjata andalannya dirampas. Maka begitu lawan membetot, seluruh
tenaga dalamnya dikerahkan untuk mempertahan-kannya.
Tapi usaha yang dilakukan
laki-laki berompi hitam ini sia-sia. Tenaga betotan itu memang terlalu kuat.
Karena bersikeras mempertahankan cambuk, maka Kera Bukit Setan pun ikut
tertarik ke depan.
Masih bersikap sembarangan, Setan
Mabuk kembali menggerakkan tangannya. Kali ini tangan yang meng-genggam cambuk
diputar-putarkan.
Gila! Betapapun Kera Bukit Setan
berusaha memper-tahankannya, tetap saja tubuhnya ikut terbawa arah gerakan
tangan Setan Mabuk. Dan kini tubuh laki-laki berompi hitam itu terputar-putar
di udara. Dan dengan sendirinya, Kera Bukit Setan tidak mampu mengadakan
perlawanan lagi. Tidak ada lagi landasan baginya untuk dijadikan tempat menahan
putaran tangan lawan. Kini, dia hanya bisa pasrah saja.
"He... he... he...! Menarik
sekali..! Ada kambing kurus yang bisa terbang dan berputaran di udara...!"
Setan Mabuk tertawa-tawa gembira.
Bahkan juga menambah tenaga putaran tangannya, sehingga membuat putaran tubuh
Kera Bukit Setan semakin cepat.
Laki-laki kecil kurus itu
menggigit bibir. Pening kepala-nya karena diputar-putar seperti itu.
Sekelilingnya tampak berputar cepat. Disadari, kalau tidak berbuat sesuatu,
keadaannya semakin gawat.
***
Buntara memperhatikan semua itu
dengan mata terbelalak. Kalau tidak melihatnya sendiri, dia mungkin tidak akan
percaya akan kenyataan ini. Telah dibuktikan-nya sendiri kelihaian Kera Bukit
Setan. Tapi, mengapa Setan Mabuk mampu melumpuhkannya dalam se-gebrakan?
Sulit dibayangkan, sampai di mana ketinggian ilmu kakek berkepala botak ini.
Melihat kenyataan ini saja,
Buntara tahu kalau dirinya pun bukan tandingan kakek pemabukan itu. Tapi
meskipun begitu, kakek berwajah penuh senyum ini tidak sudi ber-sikap pengecut
dan melarikan diri. Buntara memutus-kan untuk tetap berada di situ, dan melihat
perkembangan yang akan terjadi.
Sementara itu putaran tubuh Kera
Bukit Setan semakin menjadi-jadi. Tubuh laki-laki berompi hitam itu sudah tidak
tampak lagi oleh pandangan mata, karena tubuhnya begitu cepat berputar. Yang
terlihat kini hanyalah sekelebatan bayangan hitam yang berputaran cepat di atas
kepala Setan Mabuk.
"He... he... he...! Sekarang
kambing kurus ini akan pergi ke neraka...!"
Setelah berkata demikian, kakek
berkepala botak itu melepaskan cekatannya pada cambuk itu. Tak pelak lagi,
tubuh yang tengah berputaran itu terlontar jauh!
Bagai diberi aba-aba, tiga buah
kepala sama-sama
memandang ke arah tubuh Kera
Bukit Setan melayang. Kepala Buntara, Jagar, dan Subarji mengikuti arah tubuh
Kera Bukit Setan yang meluncur deras.
Kera Bukit Setan saat itu sudah
setengah sadar. Rasa pusing dan mual seketika berkumpul menjadi satu. Bahkan
telah hampir pingsan! Mungkin kalau Setan Mabuk sedikit menunda lemparannya,
laki-laki kecil kurus ini sudah pingsan.
Karena masih ada kesadaran yang
tersisa, sehingga membuat Kera Bukit Setan berusaha menyelamatkan selembar
nyawanya. Dia berusaha melihat keadaan tempat tubuhnya meluncur. Tapi rasa
pusing yang mendera, membuat pandangannya tetap berputar.
Dalam kesadaran yang hanya
tinggal sedikit itu, laki-laki berompi hitam ini berusaha terus menggunakan
akalnya. Dia tahu, saat ini pandangannya tidak bisa diandalkan. Betapapun telah
dipaksakan melihat ke depan, tetap saja seperti berputar.
Maka, untung-untungan laki-laki
kecil kurus ini men-julurkan kedua tangannya ke depan seraya mengerahkan
seluruh tenaga dalam. Maksudnya, agar bila membentur pohon besar atau batu,
kedua tangannya itulah yang menahannya lebih dulu. Dan karena tangannya telah
dilindungi pengerahan tenaga dalam, kemungkinan untuk celaka kecil sekali.
Srakkk...!
Rupanya keberuntungan masih
bersahabat dengan Kera Bukit Setan. Dan memang, ternyata tubuhnya meluncur
deras ke arah semak-semak. Suara berkerosakan nyaring yang diakhiri suara
berdebuk keras terdengar ketika tubuh laki-laki berompi hitam itu menerobos
kerimbunan semak dan roboh di tanah.
"He... he... he...! Rupanya
nasib kambing kurus itu bagus juga...!" kata Setan Mabuk sambil terkekeh.
Setan Mabuk dan juga tiga orang
lainnya terus mem-perhatikan tubuh Kera Bukit Setan. Guci arak kakek berkepala
botak itu segera diangkat kembali ke arah
wajah, lalu menuangkan isinya ke
mulut. Suara tegukan nyaring kembali terdengar ketika arak itu meluncur menuju
perutnya.
Dengan gerakan kasar, kakek
berkepala botak itu menurunkan kembali guci araknya, lalu dipegang dengan
tangan kiri. Sementara tangan kanannya, dengan gerakan kasar mengusap mulutnya
yang penuh ceceran arak di sana-sini.
"He... he... he. .! Kalian
pun akan mengalami hal yang serupa apabila tidak mau menunjukkan di mana Dewa
Arak sekarang berada. He... he... he...!"
Dengan terputus-putus karena
pengaruh hawa arak, kakek berkepala botak itu mengucapkan ancaman seraya
melangkah terhuyung-huyung mendekati Buntara.
"Dewa Arak...?!"
Hampir berbareng Buntara,
Subarji, dan Jagar meng-gumamkan julukan itu. Raut wajah mereka seketika
mem-bayangkan keterkejutan yang hebat.
"He... he... he...! Benar!
Dewa Arak...!" dengan suara tawa terkekeh yang tidak pernah tinggal dari
mulutnya, kakek berkepala botak itu menyahuti. Jelas, pengaruh araklah yang
membuatnya mudah sekali tertawa. "Kalau tidak mau memberi tahu di mana dia
berada, kalian akan mengalami nasib yang sama."
Sambil berkata demikian, Setan
Mabuk menatap tajam ke arah Buntara. Sepasang mata kakek berkepala botak ini
tampak merah menyala. Entah karena memang warna matanya yang demikian, atau
karena terlalu banyak minum arak.
"Aku memang sering mendengar
nama besarnya. Tapi aku tidak tahu di mana adanya pendekar besar itu. Andaikan
tahu, tidak bakalan akan kuberitahukan pada-mu!"
Tegas dan mantap kata-kata yang
keluar dari mulut kakek berwajah penuh senyum itu. Jelas, seperti men-cerminkan kekukuhan yang tidak mungkin mampu
digoyahkan. Apalagi sehabis mengucapkan kata-kata itu,
Buntara menyilangkan pedangnya di
depan dada. Semakin terlihat keteguhan hatinya memegang ucapannya. Hanya saja,
raut wajah kakek ini tidak terlihat bersungguh-sungguh. Sehingga orang yang
melihatnya, akan mengira Buntara bersikap main-main.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk kembali tertawa terkekeh-kekeh. "Rupanya sapi gendut ini minta
cepat-cepat disembelih!"
Buntara sama sekali tidak
mempedulikan hinaan itu. Bahkan tanpa ragu-ragu lagi segera melangkah
mendekati. Langkahnya tidak sembarangan, tapi menyilang. Semen-tara sepasang
matanya beredar mencari-cari bagian tubuh lawan yang akan diserang.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk hanya tertawa
terkekeh saja melihat sikap lawannya, dan tampak memandang remeh sekali.
"Haaat..!"
Diiringi teriakan keras yang
menggetarkan jantung, dan membuat kedua kaki Jagar dan Subarji mendadak lemas,
Buntara menusukkan pedang ke arah dada Setan Mabuk. Suara mendesing nyaring
dari udara yang terobek terdengar ketika pedang itu meluncur menuju sasaran.
***
4
Setan Mabuk tertawa terkekeh.
Kemudian dengan langkah terhuyung seperti akan jatuh, kakinya melangkah ke
kanan sambil mendoyongkan tubuh. Maka serangan itu pun kandas, lewat setengah
jengkal di samping kiri tubuh-nya.
Buntara menggertakkan giginya. Rasa penasaran
melanda hatinya. Maka begitu serangan pertamanya ber-hasil dielakkan, segera
disusuli dengan serangan bertubi-tubi lainnya.
Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau
ini mengerahkan seluruh kemampuannya. Pedang di tangannya ber-kelebatan cepat
ke arah berbagai bagian tubuh lawan. Menusuk, membacok, menetak, dan menyontek.
Tapi, tak satu pun yang mengenal sasaran. Setan Mabuk dengan gerakan seperti
akan jatuh, membuat semua serangan Buntara kandas percuma!
Meskipun berkali-kali serangannya
gagal, kakek ber-wajah penuh senyum itu tidak putus asa. Dia terus melancarkan
serangan bertubi-tubi. Tekadnya tidak akan membiarkan lawan melancarkan
serangan balasan.
Sampai dua puluh jurus lebih,
Buntara mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menjatuhkan serangan pada anggota
tubuh Setan Mabuk. Tapi semua usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil
seperti yang diharap-kan. Setan Mabuk dengan gerakan-gerakan aneh benar-benar
membuat serangan Buntara jadi kandas.
"He... he... he...! Kini
giliranku, Sapi Gendut..!" kata Setan Mabuk.
Dan begitu ucapannya selesai,
gerakannya pun berubah mendadak. Tidak lagi lemas dan meliuk-liuk seperti akan
jatuh. Namun kejang, keras, dan kasar penuh kekuatan.
Dan kini tangan kanan Setan Mabuk
mendadak dan tiba-tiba meluncur deras ke arah pelipis.
Buntara terkejut bukan kepalang menghadapi
perubahan yang begitu mendadak ini, sehingga membuat-nya agak gugup. Tanpa
pikir panjang lagi dia melompat ke belakang.
Usaha kakek berwajah penuh senyum
ini ternyata tidak sia-sia. Sambaran tangan itu berhasil dielakkan, lewat
beberapa jengkal dari sasaran semula.
Tapi serangan Setan Mabuk
ternyata tidak hanya sampai di situ. Begitu serangan pertama berhasil
dielak-kan, segera menyusuli dengan serangan selanjutnya.
Kini setelah kakek berkepala
botak itu melancarkan serangan balasan, dan tidak hanya mengelak saja seperti
sebelumnya, Buntara baru merasakan betapa dahsyat lawannya. Memang diakui dia
kalah dalam segala-galanya dibanding Setan Mabuk. Baik ilmu meringankan tubuh,
tenaga dalam, maupun mutu ilmu silat.
Dan begitu kakek berkepala botak
mulai balas menyerang, serangan Buntara berhenti seketika. Wakil Ketua
Perguruan Naga Hijau ini hanya mampu mengelak. Tubuhnya harus
terpontang-panting ke sana kemari untuk menghindari serangan yang berkali-kali
hampir merenggut nyawanya.
Kini Buntara hanya mampu
mengelak. Menangkis pun hanya kalau ada kesempatan saja. Bila mengelak sudah
tidak memungkinkan lagi, sementara menyerang pun hanya sekali-sekali saja
dilakukannya. Kakek berpakaian kuning ini benar-benar terdesak hebat. Sudah
bisa dipasti-kan kalau robohnya Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau ini hanya
tinggal menunggu waktu saja.
Wuttt..!
Dengan gerakan tidak terduga-duga
karena posisi kakinya tidak tetap. Setan Mabuk mengayunkan gucinya ke arah
kepala Buntara.
Karena tidak ada kesempatan
mengelakkan serangan, terpaksa Buntara memutuskan untuk menangkis demi
menyelamatkan selembar nyawanya.
Tranggg..!
Suara berdentang nyaring
terdengar ketika pedang Buntara berbenturan dengan guci Setan Mabuk. Akibatnya,
kakek berwajah penuh senyum itu langsung memekik tertahan. Tangannya terasa
lumpuh, sehingga tanpa dapat ditahan pedangnya terlepas dari pegangan dan
terlempar jauh.
Sebelum Buntara berhasil
memperbaiki posisi, tangan Setan Mabuk telah meluncur deras ke arah dadanya.
Dan....
Bukkk...!
Tubuh Buntara terlempar ke
belakang diiringi suara berderak keras dari tulang-tulang yang patah terkena
pukulan. Darah segar langsung berceceran seiring melayangnya tubuh kakek berwajah penuh senyum itu.
Brukkk...!
Tidak ada geliat-geliat pada
tubuh Buntara begitu menghantam tanah. Memang, nyawa Wakil Ketua
Perguruan Naga Hijau ini telah melayang selagi tubuhnya berada di udara.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk tertawa
terkekeh-kekeh melihat lawannya kini diam tidak bergerak lagi. Sejenak,
diperhatikannya tubuh yang tergolek diam di tanah.
***
Subarji terpaku menatap mayat
gurunya. Tapi, hanya sesaat saja dia berlaku demikian. Karena, kemarahan yang
amat sangat telah menyadarkannya kembali dari ke-terpakuan.
Maka, sambil meraung keras
seperti binatang buas ter-luka, Subarji melompat ke atas. Beberapa kali
tubuhnya berputar di udara, lalu dari atas pedangnya menusuk cepat ke arah
ubun-ubun.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk hanya tertawa
terkekeh. Dengan gerakan sembarangan, tangan kanannya segera terulur. Dan….
Tappp…!
Sungguh di luar dugaan, mata
pedang Subarji berhasil ditangkap! Bahkan tidak sedikit pun tangan Setan Mabuk
terluka. Dan secepat senjata itu tertangkap, secepat itu pula dibetotnya.
Tak pelak lagi, tubuh Subarji pun
tertarik ke bawah. Tenaganya memang jauh di bawah tenaga Setan Mabuk. Jadi,
tidak aneh jika dia ikut tertarik ke bawah sewaktu kakek berkepala botak itu membetotnya. Apalagi, keadaannya memang tidak
memungkinkan. Tubuhnya tengah berada di udara, dan tidak memiliki tandasan
untuk berpijak.
Begitu tubuh Subarji telah
tertarik. Setan Mabuk langsung menyodokkan pedang yang digenggamnya.
Blesss...! "Akh...!”
Subarji menjerit keras ketika
gagang pedang miliknya amblas ke dalam perutnya sendiri hingga sampai ke
punggung. Darah segar seketika muncrat-muncrat dari lukanya. Dan begitu kakek
berkepala botak itu melepaskan pegangan, tubuh Subarji ambruk ke tanah.
Sebentar laki-laki berkumis rapi itu menggelepar, lalu diam tak berkutik lagi.
Mati.
Perhatian Setan Mabuk kini
beralih pada Jagar yang berdiri dalam jarak sekitar tujuh tombak di hadapannya.
"Tahan, Setan Mabuk..!"
seru Jagar keras seraya men-julurkan kedua tangannya ke depan.
Laki-laki bertubuh tinggi besar
ini sengaja buru-buru berteriak mencegah, sebelum kakek berkepala botak itu
melakukan tindakan terhadapnya.
"He... he... he...! Mengapa,
Lutung Jelek?! Apakah kau tahu di mana Dewa Arak sehingga berani mencegahku?
Perlu kau ketahui, aku tidak akan mengampunimu kalau kau tidak memberi tahu di
mana adanya orang yang berani-beraninya menyaingi julukanku!"
Jagar menelan ludah untuk
membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Ucapan kakek berkepala botak itu
membuatnya merasa gentar bukan
kepalang.
"Aku memang tidak mengetahui
di mana Dewa Arak, Setan Mabuk. Tapi aku tahu, bagaimana caranya supaya dia
datang mencarimu!"
Setan Mabuk mengangguk-anggukkan
kepala.
"He... he... he...! Bagus!
Bagus sekali...! Bagaimana cara-nya, Lutung Jelek?!"
Sambil berkata begitu. Setan
Mabuk melangkah meng-hampiri Jagar. Tentu saja dengan langkahnya yang
ter-huyung-huyung seperti akan jatuh.
Kedua kaki Jagar mendadak lemas
tatkala kakek ber-kepala botak itu mendekatinya. Rasa gentar dan ngeri membuat
kedua kakinya lemas mendadak.
"Buat kekacauan saja...!
Pasti, Dewa Arak akan datang." "Kalau dia tidak muncul,
bagaimana...?!"
"Pasti datang, Setan
Mabuk'" sahut Jagar yakin. "Aku tahu betul, Dewa Arak adalah orang
yang mempunyai sifat usilan. Dia selalu ikut campur urusan orang lain."
Jagar menghentikan ucapannya sejenak.
Diperhatikan-nya wajah Setan Mabuk lekat-lekat. Tegang hatinya ketika melihat
kakek berkepala botak itu mengernyitkan dahinya, pertanda tengah berpikir
keras. Dua pilihan kini tengah ditunggunya. Apakah Setan Mabuk ini menolak,
atau menerimanya.
"Aku yakin, dia akan muncul
ke tempat kekacauan itu, Setan Mabuk. Karena aku tahu. Dewa Arak telah berada
di wilayah ini. Itu kudengar dari mulut perampok Hutan Gembor yang
diampuninya."
"He... he... he...! Kau
benar, Lutung Jelek! Aku pun men-dengarnya. Itulah sebabnya, mengapa aku keluar
dari tempatku. Ingin kulihat, seperti apa orang yang berani menyaingi
julukanku! He... he... he..!"
"Kalau begitu, aku akan
menghubungi rekan-rekanku dulu. Setan Mabuk."
"He... he... he.... Untuk
apa, Lutung Jelek?!"
"Tentu saja untuk membuat
kekacauan di mana-mana. Tapi..."
"Tapi apa?!" sentak
Setan Mabuk begitu Jagar meng-hentikan ucapannya.
Terlihat Jelas, laki-laki
bercambang bauk lebat itu merasa ragu-ragu meneruskan ucapannya. Jagar tidak
langsung menjawab, dan hanya berdiam diri dengan sikap gugup.
"Cepat katakan, sebelum
kesabaranku hilang dan kau kujadikan bangkai..!" ancam Setan Mabuk.
Wajah Jagar seketika memucat
mendengar ancaman kakek berkepala botak itu. Dia tahu. Setan Mabuk tidak pernah
bermain-main dengan ancamannya. Laki-laki ber-tubuh tinggi besar ini merasakan
adanya nada kesung-guhan dalam ucapan tokoh sesat yang menggiriskan itu.
"Selama ini, tindakan kami
selalu dihalang-halangi murid-murid Perguruan Naga Hijau...," sahut Jagar
dengan nada terpaksa.
"He... he... he...! Kukira
apa! Tak tahunya hanya itu saja, Lutung Jelek?! Mengenai Perguruan Naga Hijau,
biar aku yang urus! Aku akan datang ke sana untuk memusnahkan perguruan itu
selama-lamanya!" tandas Setan Mabuk. Keras dan lantang suaranya.
"Tapi... Tapi..., di tiap
desa ada murid-murid Perguruan Naga Hijau yang menetap, Setan Mabuk...!"
Kakek berkepala botak itu
kebingungan sesaat.
"Kau boleh pergi dengan si
kambing kurus itu...!" kata tokoh sesat pemabukan itu sambil menudingkan
telunjuk-nya ke arah kerimbunan semak-semak, tempat Kera Bukit Setan tadi
terjatuh.
Tak puas hanya dengan menunjuk.
Setan Mabuk melangkah menghampiri kerimbunan semak-semak itu. Luar biasa! Hanya
sekali langkah saja, tubuhnya telah melesat sejauh sebelas tombak. Dari sini saja
sudah bisa diketahui, betapa tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki
kakek berkepala botak ini. Tidak heran dalam sekejapan saja, dia sudah berada
di tempat yang dituju.
Srakkk…!
Terdengar suara berkerosak ketika
semak itu tersibak.
Dan bertepatan dengan terkuaknya
kerimbunan semak-semak itu. Kera Bukit Setan baru saja bangkit dari
ber-baringnya.
"Kau mau menjadi anak
buahku, Kambing Kurus?!" tanpa menunggu lebih lama lagi. Setan Mabuk
langsung mengajukan pertanyaan.
Tanpa pikir panjang lagi. Kera
Bukit Setan mengangguk-kan kepala.
"Jawab kalau kutanya,
Kambing Kurus?!" sergah kakek berkepala botak itu keras.
"Aku bersedia...!"
jawab Kera Bukit Setan.
"He... he... he...! Sekarang
dengar baik-baik perintahku." Langsung saja Setan Mabuk memberi perintah.
"Kau ber-sama lutung jelek itu harus membuat kekacauan di setiap desa. Dan
bila telah melihat kedatangan Dewa Arak, segera beri tahu aku...!
Mengerti?!"
"Mengerti, Setan
Mabuk."
"He... he... he...!
Bagus...! Bagus...! Kau memang tidak terlalu dungu, Kambing Kurus!"
Sambil berkata demikian, tangan
Setan Mabuk bergerak menepuk-nepuk pipi Kera Bukit Setan yang hanya bisa
berdiam diri saja. Laki-laki berompi hitam ini tahu, tidak ada gunanya melawan
kakek berperut buncit itu. Melawan, berarti mati. Maka lebih baik mengalah
saja.
"Ada satu lagi yang perlu
kau ingat, Kambing Kurus," sambung Setan Mabuk lagi.
"Apa itu, Setan
Mabuk?!"
"Setiap membuat kekacauan,
jangan kau membinasa-kan semua orang. Sisakan beberapa orang agar memberi
laporan pada Dewa Arak. Katakan! Bila Dewa Arak tidak ingin semua ini terjadi,
dia harus datang dan meladeni tantanganku! Jelas?!"
"Jelas!" Kera Bukit
Setan menganggukkan kepala. "Kalau begitu, pergilah...!"
Kakek berkepala botak ini lalu
mengibaskan tangannya. Perlahan saja kelihatannya, tapi akibatnya tubuh Kera
Bukit Setan terlempar jauh. Apalagi laki-laki kecil kurus ini
sama sekali tidak menduga
mendapat perlakuan seperti itu.
Baru ketika tubuhnya telah berada
di udara, Kera Bukit Setan berusaha keras agar tubuhnya tidak terbanting di
tanah. Dengan kelihaiannya, tidak sulit mematahkan daya lontaran itu. Kemudian,
kakinya mendarat ringan dan mantap di sebetah Jagar.
"Ingat! Kalau main-main,
tahu sendiri akibatnya...!" Seketika tubuh Setan Mabuk pun berkelebat dari
situ.
Hanya dalam beberapa kali lesatan
saja, tubuhnya sudah berupa titik hitam. Semakin lama semakin mengecil, dan
akhirnya lenyap di kejauhan.
"Hhh...!"
Hampir berbareng Jagar dan Kera
Bukit Setan menghela napas lega. Kini hati mereka tenang kembali begitu Setan
Mabuk tidak terlihat lagi. Keduanya kemudian saling pandang sejenak
"Kau bersedia menjadi anak
buahnya?" tanya Kera Bukit Setan sambil menatap wajah Jagar lekat-lekat.
"Apa boleh buat, daripada
nyawaku melayang," sahut laki-laki bercambang bauk lebat itu. "Toh,
tidak ada ruginya mempunyai pimpinan seperti dia. Kepandaiannya luar biasa!
Bersama dia, aku akan bebas berbuat semauku tanpa takut lagi pada orang-orang
usilan dari Perguruan Naga Hijau! Dan pasti perguruan itu tak lama lagi akan
musnah!"
"Heh...?!" Kera Bukit
Setan terperanjat "Benarkah ucapanmu itu?"
Jagar mengangguk.
"Setan Mabuk pergi ke sana
untuk menghancurkannya." Kera Bukit Setan mengangguk-anggukkan kepala per-
tanda mengerti.
***
5
Setan Mabuk berlari cepat
mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya. Tokoh sesat berkepala
botak itu ingin buru-buru tiba di tempat yang ditujunya. Padahal, markas
Perguruan Naga Hijau terletak cukup jauh dari tempatnya sekarang berada. Namun
bila dibanding desa-desa lainnya. Desa Koneng memang ter-letak paling dekat
dengan Perguruan Naga Hijau di lereng Gunung Koneng.
Berkat ilmu meringankan tubuh
yang sudah amat tinggi, dalam waktu tak berapa lama kakek berkepala botak ini
telah berada di kaki Gunung Koneng. Dan kini, dia mulai sibuk mendaki ke atas.
Lincah dan gesit laksana kera,
Setan Mabuk ber-lompatan ke sana kemari. Tubuhnya melenting ke atas, kemudian
hinggap pada batu-batuan yang menonjol. Begitu ujung kakinya menotok bebatuan,
tubuhnya kembali melenting ke atas. Begitu seterusnya. Memang bagi seorang yang
memiliki ilmu meringankan tubuh sepertinya bukan merupakan hal yang sulit untuk
melakukan semua itu.
Tak lama kemudian, pandangan
matanya sudah menangkap bangunan besar dan megah di kejauhan.
Melihat hal ini, semangat Setan
Mabuk pun semakin bertambah. Dan dengan demikian, larinya pun semakin cepat
pula.
Sementara itu di Perguruan Naga
Hijau, dua orang murid penjaga gerbang tampak mengernyitkan dahi. Mereka
melihat di kejauhan ada sesosok tubuh yang tengah bergerak mendekati perguruan.
Karena belum mengetahui maksud kedatangan sosok tubuh yang tengah bergerak,
kedua orang itu harus bersikap waspada.
"He... he... he...!"
Begitu telah berjarak dua tombak
dengan kedua orang
penjaga pintu gerbang. Setan
Mabuk tertawa terkekeh, setelah terlebih dahulu menghentikan langkahnya.
Kemudian, diangkatnya guci yang sejak tadi digenggam dengan tangan kiri.
Dan kini terdengar suara tegukan
ketika cairan arak melewati tenggorokan kakek berkepala botak itu.
"Siapa kau?!" tegur
seorang murid Perguruan Naga Hijau yang berkulit kemerahan. "Apa
keperluanmu datang kemari?"
"He... he... he...!"
Setan Mabuk menurunkan guci araknya, seraya mengusap sekitar mulutnya yang
basah dengan punggung tangan. Kemudian dengan keadaan tubuh doyong ke sana
kemari, kakinya melangkah mendekati kedua orang murid Perguruan Naga Hijau.
"Aku? Kau bertanya siapa
diriku. Kodok Buduk?! He... he... he...! Lucu! Kau tidak mengenalku? Aku Setan
Mabuk! Dengar, Setan Mabuk! Dan keperluanku adalah akan membasmi perguruan
kalian!"
"Keparat!" maki penjaga
pintu gerbang yang seorang lagi.
Dan... Srattt...!
Sinar terang berkilatan ketika
penjaga itu meloloskan pedang dari sarungnya.
"Cabut senjatamu, Setan
Mabuk! Sebelum pedang di tanganku merobek-robek perutnya yang bulat seperti
guci arakmu!"
"Hm...!" terdengar
suara gumaman dari hidung Setan Mabuk.
Mendadak... Pruhhh...!
Dari mulut Setan Mabuk tiba-tiba
keluar butir-butir arak. Rupanya kakek berperut buncit ini tadi tidak meminum
arak seluruhnya. Sebagian disimpannya di mulut, dan langsung disemburkan ke
arah murid Perguruan Naga Hijau yang telah menantangnya.
Semburan arak Setan Mabuk tidak
bisa dianggap remeh, karena dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.
Sehingga, semburan itu tak ubahnya luncuran anak panah.
Kedua orang murid Perguruan Naga
Hijau yang menjaga pintu gerbang seketika terperanjat Apalagi, rekan si
laki-laki berkulit kemerahan yang mendapat serangan itu. Dengan agak gugup pedangnya digerakkan untuk menangkis serangan semburan arak
itu.
Tring, tring. tring...! Tasss,
tasss, tasss…! "Akh...!"
Murid Perguruan Naga Hijau
menjerit memilukan ketika butiran-butiran arak itu mengenai beberapa bagian
wajahnya. Akibatnya mengerikan sekali. Sekujur wajah yang terkena semburan arak
itu berlubang. Darah segar langsung menetes dari bagian yang terkena. Tak pelak
lagi, selebar wajah murid yang sial itu dipenuhi darah. Rasa sakit dan perih
yang amat sangat mendera rekan laki-laki berkulit kemerahan itu.
Dan belum sempat murid yang sial
itu berbuat sesuatu, tangan Setan Mabuk telah bergerak melambai. Seketika murid
Perguruan Naga Hijau itu tertarik keras ke depan. Dan begitu tubuhnya telah
dekat, kakek berkepala botak itu mengayunkan gucinya ke arah kepala.
Wuttt ! Prakkk..!
Suara berderak keras mengiringi
pecahnya kepala rekan laki-laki berkulit kemerahan. Cairan merah bercampur
putih seketika muncrat-muncrat. Tubuh orang itu langsung ambruk tanpa bersuara
lagi. Saat itu juga, nyawa murid Perguruan Naga Hijau seketika melayang
meninggalkan raganya
Laki-laki berkulit kemerahan terperanjat melihat kematian kawannya secara begitu mudah dan mengerikan.
Tapi sesaat kemudian, rasa terkejutnya segera sirna dan berganti kemarahan yang
amat sangat. Kakek ini datang-datang telah menurunkan tangan maut pada
rekannya. Ini
tidak bisa didiamkan. Srattt...!
Laki-laki berkulit kemerahan itu
pun mencabut pedang, dan langsung menusukkannya ke arah dada kakek ber-perut
buncit.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk hanya tertawa
terkekeh. Sama sekali tidak dipedulikannya sambaran pedang yang meluncur cepat
ke arah perutnya.
Takkk...!
Pedang murid Perguruan Naga Hijau
langsung terpental kembali begitu mengenal sasaran. Sepertinya, yang ditusuk
laki-laki berkulit kemerahan adalah gumpalan karet kenyal! Maka laki-laki
berkulit kemerahan itu terperanjat begitu melihat perut lawan sama sekali tidak
terpengaruh oleh tusukan pedangnya. Bahkan justru tangannya yang terasa
bergetar hebat.
Belum lagi rasa terkejutnya
hilang, tangan Setan Mabuk telah mencengkeram pangkal lehernya. Langsung
dibentur-kannya kepala murid Perguruan Naga Hijau dengan kepalanya sendiri.
Prakkk...!
Terdengar suara berderak keras
ketika kepala laki-laki berkulit kemerahan itu hancur berantakan. Tubuhnya
limbung sejenak, lalu ambruk ke tanah. Sebentar dia menggelepar, kemudian tak
berkutik lagi.
"He... he... he...!”
Setan Mabuk tertawa terkekeh
melihat lawan tak ber-daya lagi. Kemudian bagaikan melempar sebuah karung
basah, mayat laki-laki berkulit kemerahan itu dicampakkan begitu saja ke tanah.
Lalu, tokoh sesat itu melesat ke dalam.
***
Baru saja melewati pintu gerbang
yang memang terbuka, di hadapan Setan Mabuk telah berdiri belasan
orang berseragam kuning bergambar
naga pada dada kirinya. Semuanya murid Perguruan Naga Hijau. Rupanya, mereka
mendengar adanya keributan di luar, sehingga berbondong-bondong menuju ke luar.
Betapa terkejutnya hati
murid-murid Perguruan Naga Hijau begitu melihat seorang kakek berkepala botak
telah melesat masuk sambil tertawa terkekeh-kekeh. Dari sikapnya yang kasar,
bisa diduga golongan kakek gendut itu berasal. Tidak salah lagi! Pasti golongan
hitam!
Melihat orang kasar seperti kakek
itu bisa masuk ke dalam, sudah dapat dipastikan kalau masuknya pasti dengan
cara paksa. Dan itu berarti dua orang penjaga pintu gerbang telah berhasil
digilasnya. Tanda noda darah di bagian kepala Setan Mabuk kian memperjelas
per-soalannya.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk tertawa terkekeh
melihat keterkejutan belasan murid Perguruan Naga Hijau di hadapannya. Kakek
berkepala botak ini memang sudah memutuskan untuk menghancurkan Perguruan Naga
Hijau, bukan karena ingin membantu Jagar, tapi karena ingin membuat kerusuhan
sebanyak mungkin agar Dewa Arak muncul.
Maka tanpa sungkan-sungkan lagi,
segera diserbunya belasan murid Perguruan Naga Hijau yang memang sudah bersiap
dengan senjata di tangan.
Sekali menyerang, Setan Mabuk
langsung mengeluar-kan ilmu andalannya, 'Seribu Satu Gerakan Setan Mabuk'.
Kedua tangannya yang terbentuk cakar aneh, guci, dan juga araknya dikeluarkan
untuk menghadapi belasan orang pengeroyoknya.
Sepak terjang Setan Mabuk
benar-benar menggiriskan. Setiap kali tangan, guci, atau araknya meluncur,
sudah dapat dipastikan ada sosok tubuh yang ambruk ke tanah. Dalam waktu
sebentar saja, empat orang murid Perguruan Naga Hijau roboh bergelimpangan
untuk selama-lamanya.
Murid-murid Perguruan Naga Hijau
yang tersisa terkejut bukan main melihat kehebatan kakek berperut buncit itu.
Sungguh tidak disangka kalau
dalam beberapa gebrakan saja, Setan Mabuk mampu membinasakan keempat rekan
mereka.
Pikiran seperti itu membuat mereka
memaksakan diri untuk mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Senjata-senjata mereka pun berkelebat mencari sasaran.
Tapi perlawanan keras murid-murid
Perguruan Naga Hijau sama sekali tidak berarti banyak. Setan Mabuk terlalu
tangguh untuk dapat ditandingi. Setiap serangan pedang yang menyambar, selain
ke arah matanya dibiar-kan saja.
Hebatnya, setiap serangan yang
menyambar berbagai bagian tubuh Setan Mabuk kembali membalik seperti menghantam
gumpalan karet kenyal. Tidak hanya itu saja. Tangan yang menggenggam pedang pun
bergetar hebat seperti akan lumpuh.
Sebaliknya, setiap serangan kakek
berperut buncit itu selalu diakhiri oleh lolong kesakitan yang menyayat hati.
Kedua tangan, guci, dan arak kakek itu sudah beberapa kali merenggut nyawa.
Penjagalan manusia secara tak ber-perikemanusiaan pun berlangsung di halaman
Perguruan Naga Hijau.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk kembali tertawa
terkekeh begitu tidak ada lagi lawannya yang berdiri tegak. Semua tergolek di
tanah dalam keadaan tidak bernyawa.
Setelah puas memperhatikan
mayat-mayat yang ter-kapar di tanah. Setan Mabuk bergerak menghampiri bangunan
Perguruan Naga Hijau. Diambilnya beberapa batang kayu dari sekitar bangunan,
lalu digosokkannya satu sama lain.
Dengan tenaga dalam yang
dimilikinya, bukan hal yang sulit untuk menyalakan api. Sesaat kemudian, api
pun memercik dan mulai membakar kayu-kayu itu.
"He... he... he...!"
Masih dengan tawa terkekeh, Setan
Mabuk melempar-kan potongan-potongan kayu itu ke arah bangunan.
Tak lama kemudian, api mulai
membakar bangunan itu. Semakin lama, api semakin besar dan membumbung tinggi.
Asap tebal dan hitam pun memenuhi angkasa. Tidak ada jerit kematian, karena
seluruh murid Perguruan Naga Hijau memang telah dibinasakannya. Namun, entah
berada di mana ketua perguruan itu. Mungkin saja dia tengah bersemadi di puncak
Gunung Koneng.
Seiring semakin membesarnya api,
sekeliling tempat itu pun terasa panas di kulit Setan Mabuk laki melangkah ke
belakang, karena hawa panas mulai menyengat kulit tubuhnya. Kakek berperut
buncit ini memperhatikan api yang membakar bangunan perguruan itu dari jarak
yang cukup jauh.
"He... he... he...!"
Dengan tawa terkekeh yang selalu
keluar dari mulutnya, Setan Mabuk melangkah meninggalkan tempat itu. Dengan
langkah agak terhuyung-huyung, tubuhnya melesat cepat bagai kilat.
Semakin lama, suara tawa kakek
berkepala botak itu semakin mengecil. Suara tawa itu akhirnya lenyap, seiring
dengan tubuhnya yang lenyap di kejauhan.
***
Suara gemeretak kayu yang
terbakar diiringi meletiknya beberapa gelintir bara api, menyemaraki kesibukan
seorang pemuda tampan berambut putih keperakan yang tengah memanggang seekor
ayam hutan.
Dengan jakun turun naik dan air
liur yang hampir menitik, pemuda berpakaian ungu itu terus tenggelam dalam kesibukannya. Tangan kanannya mengebut-ngebutkan daun nangka yang
dijadikannya kipas. Sedang-kan tangan kirinya sibuk memutar-mutar bambu yang
memanggang ayam.
Cuping hidung pemuda itu kembang
kempis begitu mencium bau sedap daging terbakar. Memang sebelum memanggang, dia
telah membubuhkan bumbu secukup-
nya. Tidak aneh jika akhirnya
tercium bau sedap, sehingga perut yang sudah lapar semakin menjerit-jerit minta
segera diisi.
Setelah yakin kalau panggangannya
telah matang, pemuda berambut putih keperakan itu mulai menik-matinya. Tentu
saja setelah tidak terasa panas menyengat mulut lagi.
Rupanya, pemuda itu dilanda lapar
yang amat sangat. Terbukti begitu potongan yang pertama telah habis disikat
lalu dilanjutkan dengan potongan selanjutnya. Dalam waktu tak lama, panggang
ayam hutan itu telah habis dilahap.
"Ahhh...!"
Pemuda berambut putih keperakan
itu mendesah puas. Diusapnya pinggir-pinggir mulut yang penuh minyak dengan
punggung tangan. Kemudian, tubuhnya disandarkan di pohon seraya menepuk-nepuk
perutnya yang kini sudah tidak kempes lagi.
Perlahan-lahan dijumput guci arak
yang tadi diletakkan di dekatnya, lalu didekatkan ke mulut. Dan....
Gluk... gluk... gluk...!
Terdengar tegukan ketika arak itu melewati tenggorokan. Menilik dari warna
rambut, pakaian yang dikenakan, dan guci arak yang terbuat dari perak, sudah
bisa diterka sosok pemuda itu. Ya! Dialah Arya Buana alias Dewa Arak.
Tentu saja sewaktu meminum arak,
Dewa Arak tidak bermaksud mempergunakan ilmu 'Belalang Sakti'. Pemuda berambut
putih keperakan itu hanya minum sekadarnya saja. Itulah sebabnya. Begitu
araknya diminum, dia tidak terpengaruh sama sekali.
Perut kenyang, tubuh bersandar,
dan angin pagi yang semilir, tidak aneh kalau membuat orang mengantuk. Begitu
pula dengan Arya. Rasa kantuk ini mulai menyerang matanya. Perlahan-lahan
sepasang matanya terpejam sendiri.
Tapi rasa kantuknya kontan
menguap entah ke mana
ketika terdengar langkah-langkah
kaki mendekati tempat-nya. Seketika itu juga sekujur urat-urat syaraf dan
otot-otot Arya menegang waspada, siap menghadapi segala
kemungkinan.
Semakin lama, langkah kaki itu
semakin jelas terdengar. Jelas, pemilik langkah itu tengah bergerak mendekati
Dewa Arak. Maka pemuda berambut putih keperakan ini lang-sung bergerak bangkit.
Guci arak yang tergeletak di
samping kanannya, dibiarkan saja, karena saat ini memang belum diperlukan.
Kini Dewa Arak duduk tegak
menunggu. Ingin diketahui-nya pemilik langkah itu. Menilik dari suaranya, dia
tahu kalau pemilik langkah itu tidak hanya seorang saja.
Tak lama kemudian, dari arah
sebelah kiri Dewa Arak tampak muncul serombongan orang berwajah angker. Empat
orang di antara mereka memikul sebuah tandu.
Melihat hal ini, kewaspadaan Dewa
Arak mulai mengendur. Menilik dari tandu itu, bisa diduga kalau rombongan yang
seluruhnya berjumlah enam belas orang adalah pengawal pemilik tandu yang akan
pindah tempat.
Arya melirik sekilas ke arah
rombongan itu. Tampak empat orang berada di depan tandu yang dipikul oleh empat
orang bertubuh kekar dan kuat. Sementara di belakang, berjalan tak kurang dari
delapan orang.
Kemudian tanpa mempedulikan lagi,
Dewa Arak segera menyandarkan punggungnya kembali ke pohon. Memang pohon
tempatnya bersandar berada di hadapan bagian hutan yang biasa dijadikan orang
untuk menempuh perjalanan. Maka, sudah bisa ditebak kalau tidak lama lagi
rombongan orang itu akan berlalu di depan Arya.
Semula Arya menduga kalau pemilik
banyak langkah itu adalah rombongan perampok. Itulah sebabnya, mengapa sikapnya
begitu waspada. Maka begitu tahu kalau pemilik langkah itu hanyalah rombongan
orang yang mengawal sebuah tandu yang sudah pasti dimiliki seorang saudagar,
dia pun tidak ambil peduli lagi.
Semakin lama rombongan itu
semakin dekat dengan
tempat Arya bersandar. Meskipun
terlihat tidak peduli, tapi tetap saja Dewa Arak memasang pendengarannya
tajam-tajam. Maka dia bisa tahu, rombongan itu semakin men-dekati tempatnya.
Mendadak, terdengar suara pelan
seperti ada kain ter-singkap. Dewa Arak yang merasa curiga segera membuka mata.
Secepat matanya terbuka, secepat itu pula hatinya tercekat. Suara kain yang
tersingkap ternyata berasal dari samping kanan tandu.
Yang mengejutkan Arya bukan tirai
yang tersingkap, tapi 'sesuatu' yang melesat cepat dari dalam tandu. Ternyata,
empat bilah pisau melesat ke arahnya disertai suara mendesing nyaring.
Namun Dewa Arak tidak berani
bertindak ceroboh. Menilik dari suara mendesing nyaring yang mengawali tibanya
serangan, sudah bisa diterka kekuatan tenaga dalam yang terkandung di dalamnya.
Dewa Arak tidak berani menangkis, karena tidak ada kesempatan lagi untuk
mengambil guci.
Arya tidak punya pilihan lain
lagi kecuali menggulingkan tubuhnya ke samping.
Cappp, cappp...!
Tiga bilah pisau langsung
menancap sampai gagangnya di batang pohon tempat bersandar Dewa Arak tadi. Dari
sini saja sudah bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam orang yang
melemparkannya.
Belum juga Arya sempat
memperbaiki keadaannya, dari batik tirai tandu melesat sesosok bayangan putih.
Langsung dicecarnya pemuda berambut putih keperakan itu dengan pukulan
bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati.
Kali ini Dewa Arak terpaksa
menyalahi kebiasaannya. Biasanya, pemuda berpakaian ungu ini tidak pernah
menangkis langsung serangan sebelum bisa memper-kirakan kekuatan tenaga dalam
lawan. Tapi kali ini, karena kesempatan yang dimiliki tidak memungkinkan,
terpaksa tangannya bergerak menangkis. Sadar akan kekuatan tenaga dalam lawan,
tanpa sungkan-sungkan lagi segera
seluruh tenaga dalam yang
dimilikinya dikerahkan dalam tangkisan itu.
***
6
Plak, plak…!”
Serangan sosok bayangan putih itu
semuanya berhasil dikandaskan Dewa Arak. Bahkan tubuh sosok bayangan itu pun
terpental balik ke belakang. Sementara kedua tangan Arya hanya terasa bergetar
hebat.
Lagi-lagi sebelum pemuda berambut
putih keperakan itu berhasil memperbaiki keadaannya, kembali datang serangan dahsyat. Kali ini
bukan dari sosok bayangan putih, melainkan dari orang-orang berwajah angker
yang mengawal tandu.
Secara serempak, mereka semua
meluruk memburu tubuh Dewa Arak yang masih tergeletak di tanah. Senjata-senjata
yang tergenggam dj tangan segera berkelebatan cepat ke arah berbagai bagian
tubuh Dewa Arak.
Sing, sing, sing...!
Suara-suara mendesing nyaring
mengawali tibanya serangan senjata para pengawal tandu itu.
Kali ini, Dewa Arak sama sekali
tidak mengelakkan serangan. Arya tahu, perbedaan kekuatan tenaga dalam antara
dirinya dengan orang-orang berwajah angker itu sangat jauh. Dengan kekuatan tenaga
dalam yang dimiliki, semua senjata itu mampu ditangkisnya tanpa terluka.
Tak, tak, tak...!
Suara berdetak keras terdengar
berulang-ulang ketika senjata-senjata itu berbenturan dengan kedua tangan Dewa
Arak. Arya yang tidak mau bersikap main-main lagi, langsung mengerahkan seluruh
tenaga dalam yang dimiliki. Akibatnya sudah bisa diduga. Seketika terdengar
jeritan-jeritan kaget dari mulut para pengawal tandu itu ketika tangan mereka
mendadak lumpuh. Tak pelak lagi, senjata yang digenggam pun terlepas dari
tangan dan berpentalan
entah ke mana.
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan Dewa Arak. Kedua tangannya pun diputar di depan dada. Kontan dari
kedua tangan yang berputaran itu muncul angin keras. Akibatnya, tubuh para
pengeroyoknya berpentalan tak tentu arah seperti dilanda angin topan.
“Hih…!”
Sambil mengeluarkan teriakan
keras menggetarkan jantung, sosok bayangan putih itu melompat menerjang Dewa
Arak. Tapi kali ini, Arya sama sekali tidak ingin menangkis serangan, karena
empat orang pemikul tandu telah bergerak menghampiri guci araknya yang
tertinggal. Sudah bisa diperkirakan tindakan yang akan dilakukan mereka.
Maka seketika tubuh Arya
melenting ke atas, melompati tubuh sosok bayangan putih. Pemuda berambut putih
keperakan ini berburu dengan waktu. Guci araknya harus cepat diambil lebih dulu
sebelum empat orang pemikul tandu itu merampasnya.
Menyadari kalau tidak akan sampai
lebih dulu, karena jaraknya dengan guci terlalu jauh, dan sementara empat orang
itu sudah hampir mencapainya. Dewa Arak tidak mempunyai pilihan lain lagi.
Sambil melompat, langsung dilancarkannya pukulan jarak jauh ke arah dua di
antara empat orang yang sudah hampir mencapai guci.
Wuttt..! Bresss...!
Jeritan-jeritan ngeri terdengar
ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak telak dan keras sekali menghantam punggung
dua orang yang ditujunya. Seketika itu juga, darah segar muncrat dari mulut
ketika tubuh dua orang pemikul tandu itu terjungkal ke depan. Tubuh kedua orang
yang sial itu menggelepar-gelepar sejenak, kemudian diam tidak
bergerak lagi selama-lamanya.
Sementara dua orang lainnya
terkejut bukan main melihat kejadian ini. Dengan sendirinya, langkah mereka
terhenti. Dan di saat itulah tubuh Arya melayang cepat. Seperti seekor burung
garuda menyambar mangsa, dia
meluruk dan menyambar guci
araknya. Tappp...!
Dewa Arak melentingkan tubuhnya
beberapa kali. Dan begitu kedua kakinya hinggap di tanah, pandangannya langsung
beredar ke arah para pengeroyoknya yang ternyata tidak melancarkan serangan
kembali. Arya sempat melihat kalau sosok bayangan putih itu melarang para
pengawalnya untuk melancarkan serangan lagi. Kini, sosok bayangan putih itu
melangkah menghampiri pemuda berpakaian ungu itu.
"Siapa kalian? Mengapa
menyerangku?" tanya Dewa Arak, penuh wibawa.
Mata pemuda itu langsung menatap
sosok bayangan putih yang ternyata seorang laki-laki berwajah pucat seperti
mayat. Tampangnya benar-benar menyeramkan. Pakaian-nya yang berwarna putih,
semakin menambah seram penampilannya.
"Aku berjuluk Mayat Kuburan
Koneng," sahut orang ber-pakaian putih itu. Suaranya terdengar aneh.
Pelan, tapi bergaung mirip hantu kuburan. Kedua belah pipinya hampir tidak
bergerak sama sekali ketika berbicara. Mungkin itulah yang membuat suaranya
terdengar tidak jelas. "Memang tidak setenar julukanmu, Dewa Arak!"
Arya mengernyitkan alisnya. Dia memang tidak mengenal Mayat Kuburan Koneng.
"Mengapa kau menyerangku,
Mayat Kuburan Koneng?" tanya Arya lagi, karena laki-laki berpakaian putih
bersih itu sama sekali tidak menyahuti pertanyaannya.
"Aku hanya ingin menjajal
kepandaianmu saja, Dewa Arak. Apakah julukan yang kau sandang sebanding dengan
kepandaianmu, sehingga menggemparkan dunia per-silatan?!"
"Hhh...!"
Arya mengela napas berat. Disadari
kalau pertarungan tidak bisa dielakkan lagi.
"Kudengar, Setan Mabuk
menantangmu. Terpaksa aku mendahuluinya. Karena apabila dia lebih dulu
bertarung
denganmu, kau tidak akan pernah
bisa bertarung kembali denganku, Dewa Arak'" sambung Mayat Kuburan Koneng
Pemuda berambut putih keperakan
ini mengerutkan alisnya.
"Setan Mabuk menantangku?
Mengapa aku tidak tahu? Jangankan tahu tentang tantangan itu, mendengar
julukan-nya saja baru kali ini! Tapi yang jelas, tokoh itu pasti memiliki
kepandaian yang amat tinggi. Mayat Kuburan Koneng yang diketahuinya memiliki
kepandaian tinggi, secara tidak langsung mengakui kalau Setan Mabuk memiliki
kepandaian di atasnya," kata hati Dewa Arak
"Ada satu hal lagi yang
membuatku terpaksa men-dahului Setan Mabuk, Dewa Arak'"
Kali ini suara laki-laki
berpakaian putih itu terdengar ber-sungguh-sungguh. Ada nada ancaman dalam
suaranya yang terdengar mengerikan itu.
"Kau kenal
Janggulapati?"
Arya mengernyitkan alisnya
sebentar, mengingat-ingat nama yang diucapkan Mayat Kuburan Koneng. Baru sesaat
kemudian, dia teringat Janggulapati adalah suami Gayatri. Mereka berdua
terkenal berjuluk Sepasang Alap-Alap Bukit Gantar (Untuk jelasnya, silakan baca
serial Dewa Arak dalam episode "Sepasang Alap-Alap Bukit Gantar").
Perlahan-lahan kepala pemuda
berpakaian ungu itu ter-angguk-angguk. Sementara tangan kanannya memegang dagu.
"Dia tewas di tanganmu,
bukan?!" desak laki-laki ber-pakaian putih dengan suara semakin tidak enak
didengar.
"Benar!" sahut Dewa
Arak, mantap. Memang dialah yang telah menewaskan Janggulapati.
"Perlu kau ketahui, Dewa
Arak. Janggulapati terhitung saudara seperguruanku. Walaupun setelah itu kami
menempuh cara sendiri-sendiri untuk memperdalam ilmu, tapi aku tidak rela dia
dibunuh orang! Bersiaplah, Dewa Arak. Aku akan membuat perhitungan denganmu
atas pembunuhan yang kau lakukan terhadap Janggulapati!"
Belum juga gema suara itu habis.
Mayat Kuburan
Koneng telah meluruk menerjang
Dewa Arak. Laki-laki berpakaian putih ini membuka serangan dengan sebuah
tendangan lurus ke arah dada.
Arya segera menarik kaki kanan ke
belakang seraya mendoyongkan tubuh. Maka serangan itu tidak mencapai sasaran,
masih berjarak sekitar sejengkal di hadapannya.
Tapi, Mayat Kuburan Koneng tidak
sudi memberi kesempatan. Begitu Dewa Arak berhasil mengelakkan serangan, segera
disusulinya dengan serangan berikut. Kaki kanannya kini sedikit ditarik pulang,
lalu meluncur lagi mengancam leher Arya dengan sebuah tendangan miring
Kali ini Arya terpaksa melompat
ke belakang untuk mengelakkan serangan itu. Kemudian dia bersalto
beberapa kali di udara. Dan begitu hinggap, tangannya telah menggenggam sebuah
guci arak.
Gluk.. gluk.. gluk..!
Suara tegukan terdengar ketika
Arya menuangkan arak ke mulutnya. Sesaat kemudian, hawa hangat merayapi
perutnya, dan perlahan naik ke atas kepala membuat tubuhnya oleng ke kanan dan
ke kiri.
Dan bertepatan dengan pemuda
berpakaian ungu itu menurunkan guci araknya, serangan dari Mayat Kuburan Koneng
telah datang menyambar.
Tak pelak lagi, pertarungan
sengit pun tidak bisa dihindari.
Mayat Kuburan Koneng mengamuk
seperti banteng terluka. Dia rupanya sangat mendendam atas kematian
Janggutapati di tangan Dewa Arak. Terbukti, setiap serangannya selalu mengancam bagian-bagian yang mematikan. Bahkan selalu dilepaskan lewat pengerahan tenaga
dalam penuh.
Suara angin bercicitan mengiringi
tibanya setiap serangan yang dilancarkan Mayat Kuburan Koneng. Jelas, setiap serangannya
mengandung tenaga dalam tinggi.
Tapi orang yang diserangnya kali
ini adalah Dewa Arak. Seorang pendekar yang meskipun masih berusia muda, tapi telah memiliki kepandaian amat tinggi. Ilmu
andalannya, yang bernama
'Belalang Sakti' merupakan sebuah ilmu aneh yang dahsyat. Dan kini menghadapi
lawannya, ilmu andalannya itu langsung dikeluarkan.
Mayat Kuburan Koneng
menggertakkan gigi karena perasaan geram yang melanda hatinya. Telah belasan
jurus menyerang kalang kabut, tapi tak satu pun yang mengenai sasaran. Padahal
sepertinya Dewa Arak hanya mengelak dengan gerakan-gerakan tidak teratur.
Tapi anehnya, setiap serangan
yang dikirimkan Mayat Kuburan Koneng selalu mengenai tempat kosong. Serangan itu selalu dielakkan Dewa
Arak dengan gerakan-gerakan seperti orang akan jatuh. Bahkan terkadang seperti
memapak serangan yang dilancarkan dengan tubuhnya. Anehnya, justru dengan
berbuat seperti itu, serangan lawan bisa dikandaskan.
Semula, Arya sama sekali tidak
bermaksud mengadakan perlawanan. Dia sama sekali tidak mempunyai perselisihan
dengan Mayat Kuburan Koneng. Tambahan lagi, rasanya tak ada alasan untuk
membunuh laki-laki berpakaian putih ini. Arya belum melihat adanya kejahatan
yang tidak terampunkan pada Mayat Kuburan Koneng.
Tapi rupanya sikap mengalah Dewa
Arak ditafsirkan lain oleh Mayat Kuburan Koneng. Laki-laki berpakaian putih ini
malah menganggap pemuda berambut putih keperakan itu meremehkannya. Dan sebagai akibatnya, serangan-serangannya
pun berlangsung semakin dahsyat.
Kesabaran Dewa Arak pun habis.
Tokoh sesat ber-pakaian putih ini benar-benar tidak bisa dikasih hati. Dia
yakin, Mayat Kuburan Koneng tahu kalau dirinya telah terlalu banyak mengalah.
Laki-laki berpakaian putih itu adalah seorang tokoh sesat yang memiliki
kepandaian tinggi. Jadi, mustahil bila tidak mengetahui kalau dirinya telah
terlalu banyak mengalah! Begitu kesimpulan yang didapat Arya.
Maka, setelah pertarungan
berlangsung lebih dari tiga puluh lima jurus, dan serangan-serangan Mayat
Kuburan Koneng malah semakin membabi buta, Arya pun memutus-
kan untuk mengadakan perlawanan.
Seketika itu pula gerakan Dewa
Arak berubah dahsyat. Kini gerakan-gerakannya tidak lagi meliuk-liuk dan lemas
seperti sebelumnya, tapi diselingi gerakan-gerakan kasar dan keras secara
mendadak. Bahkan boleh dibilang, sulit ditebak. Terkadang lemas seperti tidak
bertenaga, dan ter-huyung-huyung seperti akan jatuh. Tapi di lain saat, berubah
menjadi kasar, keras, dan penuh kekuatan. Gerakan-gerakannya pun jadi terlihat
liar! Ini pertanda kalau pemuda berpakaian ungu itu telah mengeluarkan Jurus
'Belalang Mabuk'nya.
Mayat Kuburan Koneng terperanjat
begitu merasakan perubahan yang begitu mendadak ini. Terasa adanya
tekanan-tekanan berat dari setiap serangan Dewa Arak. Seketika itu juga, porsi
serangan laki-laki berpakaian putih ini berkurang banyak.
Memang setelah Arya mulai balas
menyerang, Mayat Kuburan Koneng tidak lagi bisa leluasa melancarkan serangan
membabi buta seperti sebelumnya. Dan biasanya melakukan penyerangan berarti
membuka pertahanan. Semakin banyak menyerang, semakin banyak pertahanan yang
terbuka di sana-sini.
Tadi sewaktu Dewa Arak sama
sekali tidak melakukan perlawanan, laki-laki berpakaian putih ini bebas
menge-luarkan serangan, tanpa mempedulikan pertahanan lagi. Tapi kini pemuda
berpakaian ungu itu mulai balas me-nyerang. Dan bila Mayat Kuburan Koneng terus
menyerang membabi buta seperti sebelumnya, maka mudah bagi Dewa Arak untuk
memasukkan serangan ke berbagai bagian tubuh yang terbuka.
Memang hebat bukan kepalang,
Jurus 'Belalang Mabuk' itu. Sesuai dengan nama jurusnya, serangan-serangan itu
memang terlihat liar, ganas, dan penuh tekanan. Tidak aneh kalau dalam beberapa
jurus saja, Mayat Kuburan Koneng telah kewalahan.
Serangan-serangan Mayat Kuburan
Koneng semakin berkurang. Bahkan sebaliknya lebih banyak mengelak,
karena menangkis pun akan
menimbulkan akibat buruk. Tenaga dalam Dewa Arak jelas-jelas masih berada di
atasnya. Maka bila terus-menerus menangkis serangan, jelas akan menderita
kerugian.
Berbeda dengan Mayat Kuburan
Koneng, keadaan Dewa Arak malah sebaliknya. Serangan-serangan pemuda ini
semakin bertubi-tubi menghujani lawan.
Dalam menghadapi Mayat Kuburan
Koneng, Arya tidak menguras seluruh kemampuannya. Bahkan gucinya tidak
digunakan, karena lawan belum menggunakan senjata. Meskipun begitu, sesekali
guci araknya dijumput dan ditenggak isinya. Kemudian gucinya disampirkan
kembali ke punggung.
Tentu saja hati Mayat Kuburan
Koneng semakin ber-tambah geram. Pemuda berambut putih keperakan itu dianggap
sengaja memperlihatkan, kalau sambil minum arak, mampu bertarung. Berarti,
Mayat Kuburan Koneng sama sekali tidak dianggap Dewa Arak. Maka, kontan
kemarahannya semakin berkobar.
Kemarahan hebat yang membakar
dada, membuat Mayat Kuburan Koneng mengambil keputusan untuk mengadu nyawa. Dia
tahu, Dewa Arak terlalu sakti untuk bisa dikalahkan. Pemuda berambut putih
keperakan itu telah terlalu banyak membuatnya malu di hadapan anak buahnya.
Padahal, dendam atas kematian Janggulapati saja belum bisa terbalaskan. Yang
jelas, kalau tak bisa menewaskan Dewa Arak, dia tidak akan bisa mati meram.
Dengan munculnya tekad untuk
mengadu nyawa, kini Mayat Kuburan Koneng kembali melancarkan serangan secara
membabi buta. Bahkan tidak dipedulikan lagi per-tahanan dirinya. Yang ada di
benaknya hanya satu. Meningkatkan serangan terhadap Dewa Arak.
Arya terkejut begitu merasakan
perubahan mendadak pada serangan lawan yang menjadi liar dan kalang-kabut
kembali. Sama sekali tidak mempedulikan pertahanan diri sendiri.
Plak... plak... plak..!
Serangan bertubi-tubi yang
dilancarkan Mayat Kuburan Koneng berhasil ditangkis Dewa Arak. Akibatnya, tubuh
laki-laki berpakaian putih itu terhuyung-huyung ke belakang seraya meringis
kesakitan. Kedua tangan terasa linu dan sulit digerakkan.
Tapi, Mayat Kuburan Koneng yang
telah kalap langsung mematahkan kekuatan yang mendorong tubuhnya itu. Kembali
dilancarkannya serangan bertubi-tubi ke arah ber-bagai bagian tubuh Dewa Arak.
Melihat hal ini, Arya sadar kalau
lawan mengajaknya me-ngadu nyawa. Tentu saja pemuda berambut putih ke-perakan itu tidak meladeninya. Maka kembali di-gunakannya
jurus 'Delapan Langkah Belalang' untuk menghindari diri dari setiap serangan
lawan.
Kembali pertarungan berlangsung
seperti pada jurus-jurus awal Mayat Kuburan Koneng menyerang kalang kabut,
sementara Dewa Arak mengelak ke sana kemari dengan jurus 'Delapan Langkah
Belalang’.
Mayat Kuburan Koneng
menggertakkan gigi. Rasa marah, malu, sakit hati, dan penasaran bercampur aduk
dalam hatinya. Keinginan untuk membunuh Dewa Arak telah begitu menggebu-gebu.
Tapi sayangnya hal itu tidak mampu diwujudkannya, sehingga membuat dadanya
terasa seperti akan pecah menahan berbagai macam luapan perasaan yang
bergejolak.
Lebih dari dua puluh jurus
laki-laki berpakaian putih ini menyerang kalang kabut. Tapi, tetap saja tidak
mampu menyarangkan tangan atau kakinya pada sasaran. Bahkan, mendesak Dewa Arak
pun belum mampu.
Mayat Kuburan Koneng ingin
menjerit keras saking bingungnya. Pertarungan telah berlangsung lebih dari
seratus lima puluh jurus, tapi sampai selama itu tetap saja belum mampu
mendesak Dewa Arak.
Sementara kelelahan perlahan
mulai melandanya. Padahal lawannya tampak masih segar seperti sediakala.
Melihat keadaan ini, Mayat
Kuburan Koneng khawatir tidak akan bisa mewujudkan maksudnya untuk membunuh
Dewa Arak. Maka tanpa ragu-ragu
lagi, anak buahnya segera diberi isyarat untuk membantunya.
Begitu melihat tanda dari
pemimpinnya, belasan orang itu segera bergerak meluruk ke arah Dewa Arak.
Memang, sejak tadi orang-orang berwajah angker itu tinggal menunggu perintah
saja. Mereka sudah bersiap-siap dengan senjata terhunus di tangan.
Tak pelak lagi, hujan belasan
senjata itu menyerang ke arah Dewa Arak disertai desingan-desingan nyaring yang
merobek udara.
Arya terkejut bukan kepalang
melihat hai ini. Serangan belasan orang berwajah angker itu sama sekali tidak
diduga. Padahal, serangan Mayat Kuburan Koneng baru saja dielakkannya. Tambahan
lagi, para pengeroyok itu menyerangnya dari berbagai jurusan. Sudah dapat
diterka kalau belasan orang itu sudah terbiasa melakukan serangan secara
bersama-sama.
Tanpa membuang-buang waktu lagi.
Dewa Arak segera memutar-mutarkan kedua tangannya di depan dada. Maka kejadian
seperti yang sebelumnya terulang kembali. Tubuh sebagian para pengeroyoknya
berpentalan ke belakang seperti dilanda angin topan. Senjata-senjata mereka pun
berpentalan tak tentu arah.
Sedangkan serangan dari yang
lainnya dibiarkan saja mengenai tubuhnya. Arya memang langsung mengerahkan
tenaga dalam agar tubuhnya tak mempan dihantam senjata. Memang dengan perbedaan
tenaga dalam di antara kedua pihak yang terlalu jauh, pemuda berambut putih
keperakan itu sama sekali tidak mengalami kesulitan membuat tubuhnya tidak bisa
dilukai senjata.
Sementara, sungguh di luar dugaan
Dewa Arak kalau pada saat yang sama, Mayat Kuburan Koneng melancar-kan serangan
susulan ke arahnya. Bertubi-tubi, dan meng-ancam berbagai bagian tubuhnya.
Tidak ada kesempatan lagi bagi Dewa Arak untuk mengelakkan serangan itu. Dan
andaikata bisa, serangan lanjutan dari laki-laki berpakaian putih itu sulit
dielakkannya. Memang sebagai seorang
tokoh tingkat tinggi, Arya tahu
kalau serangan yang di-lancarkan Mayat Kuburan Koneng kali ini merupakan
serangan dalam satu rangkaian. Susul-menyusul dan sambung-menyambung laksana
gelombang laut.
Karena tidak ada pilihan lain
lagi, terpaksa Dewa Arak menghentakkan kedua tangannya ke depan. Langsung
digunakannya jurus 'Pukulan Belalang".
Wusss...!
Angin keras berhawa panas
berhembus keras dari kedua tangan Arya yang dihentakkan.
Mayat Kuburan Koneng terperanjat.
Apalagi tubuhnya tengah berada di udara, dan jaraknya sudah terlalu dekat
dengan Dewa Arak. Maka tidak ada lagi kesempatan baginya untuk menghindari
serangan itu, dan hanya sempat membelalakkan sepasang matanya. Maka....
Bresss...! "Aaa...!"
Jeritan ngeri terdengar dari
mulut laki-laki berpakaian putih itu, begitu pukulan jarak jauh Dewa Arak keras
dan telak sekali menghantam perutnya.
Seketika itu juga tubuh Mayat
Kuburan Koneng terlempar jauh ke belakang, dan baru mendarat keras di tanah
ketika telah melayang-layang jauh. Laki-laki ber-pakaian putih ini tewas dalam
keadaan seluruh tubuh gosong. Bau sangit daging yang terbakar seketika menyebar
di tempat itu.
Belasan pasang mata anak buah
Mayat Kuburan Koneng terbelalak begitu melihat kematian laki-laki ber-wajah
pucat itu. Tahu kalau lawan yang masih muda itu memiliki kepandaian luar biasa,
mereka pun cepat-cepat membalikkan tubuh dan berlari tunggang-langgang. Sama
sekali tidak dihiraukan rekan-rekan mereka yang belum mampu bangkit karena luka
yang diderita.
Namun Arya sama sekali tidak
mengejar, dan juga tidak mempedulikan para pengeroyok yang merintih-rintih di
tanah tak mampu bangkit.
Sambil menghela napas berat,
dihampirinya tubuh
Mayat Kuburan Koneng yang
tergolek di tanah. Kini tokoh sesat yang berjuluk 'mayat’ itu benar-benar telah
menjadi mayat. Untuk kesekian kalinya, ada perasaan sesal di hati Dewa Arak
karena telah menjatuhkan tangan maut pada lawannya. Memang, Arya sebenarnya
tidak ingin mem-bunuh.
Pemuda berambut putih keperakan
itu menatap sebentar mayat yang tergolek dalam keadaan hangus itu. Ditariknya
napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya kuat-kuat. Paling tidak itu untuk
mengusir perasaan sesal yang merayapi hatinya. Arya menghibur hatinya sendiri
agar perasaan sesalnya hilang. Toh, dia memang tidak ber-maksud membunuh. Tapi, lawanlah yang terlalu
memaksanya.
"Urus mayat pemimpin kalian.
Mengerti?!" ujar Dewa Arak pada beberapa orang anak buah Mayat Kuburan
Koneng yang masih tergolek di situ. Mereka semua menundukkan kepala, karena
khawatir Dewa Arak akan melepaskan tangan kejam.
"Mengerti, Tuan
Pendekar...." Hampir berbareng para pengeroyok yang tergolek, dan
berjumlah lima orang itu menganggukkan kepala.
Arya tersenyum pahit, kemudian
melangkah meninggal-kan tempat itu. Masih sempat didengarnya desah kelegaan
dari kelima orang pengeroyoknya. Pemuda berambut putih keperakan ini tahu
penyebabnya. Apa lagi kalau bukan karena tidak jadi dibunuh?
***
7
Matahari sudah naik tinggi ketika
di kejauhan Dewa Arak melihat tembok batas sebuah desa. Kontan wajah pemuda
berambut putih keperakan itu jadi berseri. Dia memang merasa agak lelah, dan
ingin singgah sebentar di sebuah kedai. Di samping untuk minum dan sedikit
melepaskan lelah, juga untuk mengisi guci araknya kembali. Memang, guci araknya
telah hampir kosong.
Terdorong perasan ingin buru-buru
tiba, Dewa Arak menambah kecepatan larinya. Hasilnya, dalam waktu sekejap saja
sudah berada dalam jarak sekitar delapan tombak dari tembok batas gerbang desa.
Mendadak dahi pemuda berambut
putih keperakan ini berkernyit, ketika melihat sesuatu pada tembok batas desa
itu. Perasaan penasaran mendorongnya untuk bergerak lebih mendekati.
Hanya dalam sekejap saja, Dewa
Arak telah berada di dekat tembok batas desa itu. Sepasang matanya yang sejak
tadi menatap penuh rasa ingin tahu, kini malah ter-belalak.
Pada tembok batas desa itu
tertancap sebatang kayu sebesar jari telunjuk sepanjang tiga jengkal. Tapi
bukan itu yang menyebabkan Dewa Arak terkejut. Sebagai seorang pendekar yang
telah memiliki kekuatan tenaga dalam tinggi, dia tidak kaget melihat ada
sebatang kayu tertancap di tembok batu sedalam lebih dari setengah jengkal. Dia
sendiri pun mampu melakukan hal yang sama. Bahkan tidak hanya dengan kayu, tapi
sebatang lidi!
Yang membuat Arya terkejut adalah
sehelai kain berisi tulisan yang tertancap oleh kayu itu. Dengan perasaan ingin
tahu, pemuda berpakaian ungu itu membacanya.
Dewa Arak....
Melalui surat ini, kuberitahukan
padamu.... Kalau kau sampai tidak datang menemuiku, di Kuburan Desa Koneng,
kejadian yang menimpa desa ini akan terulang lagi di desa lain.
Setan Mabuk
"Setan Mabuk..?" sebut
Dewa Arak dengan kening berkernyit.
Lagi-lagi didengarnya julukan
tokoh itu. Pertama kali dari mulut Mayat Kuburan Koneng. Dan kini dari surat
tantangan yang ditancapkan di tembok desa. Tokoh itu sendirilah yang
mengirimkannya.
Baru saja Arya mengulurkan tangan
hendak mencabut kayu itu, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah
kaki. Arahnya dari dalam desa.
Maka, terpaksa niatnya
diurungkan. Kemudian kepala-nya menoleh ke arah asal suara itu.
Dari suara langkah kaki itu, Arya
tahu kalau orang yang datang memiliki kepandaian. Dan dari situ pula, diketahui
kalau kepandaian yang dimiliki orang itu tidak terlalu tinggi. Sesaat kemudian,
di hadapan Dewa Arak telah muncul seorang gadis cantik. Rambutnya digelung ke
atas. Pakai-annya kuning dan ada gambar seekor naga yang disulam dari benang
berwarna hijau pada dada kiri pakaiannya. Jelas kalau gadis itu ada hubungannya
dengan Perguruan
Naga Hijau.
"Kaukah orang yang berjuluk
Dewa Arak?!" tanya gadis berambut digelung itu tatkala telah berada di
hadapan Arya.
"Benar," jawab Arya
sambil menatap gadis itu penuh selidik.
Pemuda berambut putih keperakan
ini sama sekali tidak terkejut mendengar gadis yang baru saja dilihatnya itu
telah tepat menebak dirinya. Dan memang, ciri-ciri yang dimilikinya amat
mencolok.
Yang membuat Arya terkejut adalah
ketika melihat ada
kesedihan di wajah gadis cantik
itu. Bahkan sepasang matanya yang bening dan indah itu terlihat menyimpan
kesedihan yang mendalam. Bisa diterka kalau gadis itu telah mengalami kejadian
yang menyedihkan.
"Kau harus bertanggung jawab
atas semua musibah yang terjadi di sini, Dewa Arak!"
Keras dan penuh tekanan ucapan
yang keluar dari mulut gadis berpakaian kuning itu. Sepasang matanya pun
berkilat-kilat pertanda hatinya tengah dilanda kemarahan hebat. Bahkan
tangannya pun telah menyentuh gagang pedangnya.
"Sabar, Nisanak..!"
bujuk Arya menenangkan, sambil menjulurkan kedua tangan ke depan untuk mencegah
gadis itu melanjutkan tindakannya. "Aku sama sekali tidak mengetahui
maksudmu."
Gadis berambut digelung itu
menatap wajah Arya penuh selidik. Dia melihat adanya kesungguhan, baik pada
raut wajah maupun pada ucapan pemuda yang berdiri di hadapannya. Maka perlahan
tangan yang telah mengejang itu mengendur, kemudian turun kembari ke sisi
pinggang.
"Kau benar-benar tidak
mengerti?'' tanya gadis itu ber-usaha memastikan. Nada suaranya terdengar
bergetar.
Arya menggelengkan kepala sambil
tersenyum pahit. "Apakah wajahku mirip wajah seorang penipu?" pemuda
berpakaian ungu itu balas
bertanya, setengah bergurau "Aku baru saja tiba di daerah sini, Nisanak.
Jadi, sama sekali tidak mengerti maksud pembicaraanmu ini!"
Gadis berpakaian kuning itu
mengalihkan pandangan ke arah kain yang tertancap di tembok batas desa.
"Kau sudah membaca tulisan
itu?" tanya gadis berambut digelung itu lagi, seraya menudingkan
telunjuknya ke arah kain yang terpampang di tembok batas desa.
"Sudah," jawab Dewa
Arak, mantap.
"Dan kau masih belum
mengerti?!" tanya gadis ber-pakaian kuning itu setengah tidak percaya.
Dahinya nampak berkernyit ketika mengajukan pertanyaan itu.
"Sedikit," sahut Arya
kalem.
Semakin dalam kerutan pada dahi
gadis berambut di-gelung itu.
"Apa kesimpulan yang kau
dapat dari surat itu?" desak gadis berpakaian kuning.
"Ada orang yang mengajakku
bertarung untuk alasan yang aku sendiri belum tahu. Anehnya, kenapa dia
mem-bawa-bawa penduduk dalam masalah ini?"
"Karena Setan Mabuk khawatir
kau tidak berani me-menuhi tantangannya," sabut gadis berambut digelung,
cepat.
"Hm..." gumam Arya
pelan, untuk menyambuti ucapan gadis berpakaian kuning itu.
"Kau tahu..., sudah berapa
lama surat itu terpampang di situ?"
Arya menggelengkan kepala. Dan
memang, hal itu sama sekali tidak diketahuinya.
"Sudah dua hari. Setan Mabuk
tidak sabar lagi me-nunggu. Dikiranya, kau menganggap ancamannya hanya gertak
sambal belaka. Maka, ancamannya pun diwujudkan. Gerombolannya kemudian
menghancurkan Desa Gempol."
"Ah...!"
Dewa Arak mendesah kaget. Memang
pemuda be-rambut putih keperakan itu terkejut bukan kepalang. Betapa tidak? Dia
sama sekali tidak tahu tentang tantangan, tapi kenapa para penduduk yang
menjadi sasaran.
"Kalau hari ini kau tidak
datang menemuinya..., desa lain akan menjadi giliran selanjutnya," sambung
gadis berambut digelung itu. "Di mulut Desa Gempol pun dipancangkan surat
tantangan seperti ini."
Sambil berkata demikian, gadis
berpakaian kuning itu menudingkan telunjuk kanannya ke arah carikan kain yang
terpampang di tempat batas Desa Koneng.
"Apakah..., tidak ada orang
yang menentang tindakan Setan Mabuk itu?" tanya Arya setelah beberapa saat
lama-nya terdiam.
"Memang ada. Tapi hanya ada
beberapa gelintir saja.
Dan mereka adalah murid Perguruan
Naga Hijau." jawab gadis berambut digelung seraya tersenyum getir.
"Lalu..., hasilnya bagaimana?" tanya Dewa Arak setengah hati.
Namun Arya seketika baru
menyadari, betapa bodoh pertanyaannya, ketika teringat sesuatu. Tidak mungkin
usaha murid-murid Perguruan Naga Hijau akan berhasil. Buktinya sudah jelas,
sudah banyak desa dihancurkan. Itu saja sudah merupakan jawaban ketidakberhasilan
usaha mereka.
"Mereka semua tewas,"
Jawab gadis berpakaian kuning dengan suara bergetar. Jelas kalau ucapannya
diutarakan penuh perasaan.
Arya pun mengerutkan alisnya.
Terdengar ada nada kesedihan yang mendalam pada suara gadis berambut digelung
itu. Apakah ada hubungan antara gadis itu dengan murid-murid Perguruan Naga
Hijau yang terbunuh?
Tanpa sadar, pandangan Dewa Arak
tertumbuk pada sulaman benang hijau bergambar naga yang menempel di bagian dada
kiri pakaian gadis itu. Naga hijau! Apakah gadis ini juga murid Perguruan Naga
Hijau? Kembali pertanyaan itu menggayuti benak Dewa Arak.
"Apakah mereka saudara
seperguruanmu?" tanya Arya hati-hati.
Gadis berambut digelung itu hanya
menganggukkan kepala. Tapi hal itu sudah cukup untuk menjadi jawaban bagi pertanyaan
yang diajukan Dewa Arak.
"Ah...! Maaf...!" ucap
Arya buru-buru. "Aku sama sekali tidak mengira akan hal itu. Aku turut
berduka cita."
"Terima kasih," hanya
ucapan itu yang keluar dari mulut gadis berpakaian kuning itu.
"Apakah hal itu sudah kau beritahukan
pada gurumu?" tanya Arya lagi.
Gadis berambut digelung itu
menggelengkan kepalanya. "Mengapa?" kejar Arya lagi.
"Guruku yang sekaligus ayah
kandungku tengah ber-semadi di puncak Gunung Koneng. Beliau tak ingin terjun
dalam rimba persilatan, karena
sudah benar-benar tidak mau mencampuri urusan duniawi lagi. Dan yang jelas,
Perguruan Naga Hijau telah musnah."
"Ah...!"
Keluh keterkejutan keluar dari
mulut Dewa Arak begitu gadis berambut digelung itu mengakhiri ucapannya. Ada
isak tertahan yang keluar dari mulut gadis itu seiring ucapannya selesai.
Terdengar suara gemeretak dari
mulut Dewa Arak. Jelas, pemuda berambut putih keperakan ini dilanda kemarahan
yang amat sangat.
"Keji...!" Arya
mendesis pelan, tapi tajam penuh tekanan karena keluar dari hati yang penuh
diliputi amarah. "Siapa yang melakukan semua kekejian itu?"
"Setan Mabuk..." jawab
gadis berpakaian kuning masih dengan suara serak. "Dia seorang diri
mengamuk dan membasmi semua murid Perguruan Naga Hijau, dalam usahanya untuk
memancing kedatanganmu. Itulah sebab-nya, ada beberapa murid Perguruan Naga
Hijau yang tidak dibinasakannya. Dia berharap, murid-murid itu akan
menyampaikan pesannya kepadamu. Apakah kau bertemu mereka?''
Arya menggelengkan kepala.
"Sedangkan murid-murid
Perguruan Naga Hijau yang berada di desa-desa dibasmi kaki tangan Setan Mabuk.
Memang, dengan lenyapnya Perguruan Naga Hijau, mereka bebas berbuat
kejahatan."
"Heh...?!" Dewa Arak
terperanjat "Mengapa begitu?" "Karena selama ini, semua orang
yang bermaksud jahat
selalu berhasil dipukul mundur
murid-murid Perguruan Naga Hijau," gadis berpakaian kuning tersenyum
getir. Rupanya, dia teringat kembali sewaktu Perguruan Naga Hijau masih
berdiri.
Kali ini Arya sama sekali tidak
menyahuti ucapan gadis berpakaian kuning itu. Dan karena gadis itu sendiri
tidak melanjutkan ucapannya, suasana pun menjadi hening.
"O, ya.... Siapakah namamu,
Nisanak?" tanya Arya tiba-
tiba. "Rasanya aneh kalau
kita telah berbincang-bincang sekian lamanya, tapi belum saling mengenal
nama."
"Aku sudah tahu
julukanmu," kalem suara gadis berambut digelung itu. Sebuah senyuman yang
dipaksakan tersungging di bibirnya.
"O, ya?" Dewa Arak yang
ingin membuat gadis itu terlupa dengan kesedihannya mencoba melucu.
"Ayah sudah sering
membicarakanmu. Rupanya beliau amat mengagumimu."
Dewa Arak hanya tersenyum getir
mendengar namanya banyak dikagumi tokoh persilatan. Dia memang paling risih
namanya dipuja-puja orang.
"Lalu, bagaimana kejadiannya
hingga murid-murid Per-guruan Naga Hijau dibantai Setan Mabuk?" tanya Dewa
Arak mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak tahu bagaimana
kejadiannya. Yang jelas, ku-temui mayat Wakil Ketua Perguruan Naga Hijau
bersama mayat Kakang Subarji di tengah jalan..."
"Kakang Subarji..?"
Dewa Arak mengerutkan alisnya. "Murid Perguruan Naga Hijau yang telah
keluar
perguruan," jelas putri
Ketua Perguruan Naga Hijau itu dengan suara yang tidak begitu serak lagi.
Rupanya dia sudah mulai bisa menguasai perasaannya.
Dewa Arak menganggukkan kepala
pertanda mengerti. "Jadi..., kau tidak melihat siapa pembunuh
mereka?" Gadis berpakaian kuning itu mengangguk.
"Lalu..., dari mana kau tahu
kalau pembunuhnya adalah Setan Mabuk?" desak Dewa Arak ingin tahu.
"Dari mulut Kakang Subarji,
sebelum tewas," jawab gadis berambut digelung itu.
"Rupanya kau mengikuti
kepergian mereka secara diam-diam...," tuduh Arya dengan nada mendesah.
Wajah gadis itu kontan memerah.
"Ayah telah berpesan agar
aku tidak pergi ke mana-mana. Maka diam-diam aku mengikuti Paman Buntara. Aku
juga ingin mengetahui, seperti apa orang yang julukannya telah begitu
menggemparkan...."
"Tak seperti yang kau
bayangkan, bukan," tukas Arya buru-buru.
"Terus terang, aku agak
kaget melihatmu, Arya? Nama-mu Arya, kan?"
Pemuda berpakaian ungu itu
tersenyum getir. "Kau curang, Nisanak."
"Curang?!" dahi gadis
berpakaian kuning itu berkenyit. "Ya! Kau telah tahu namaku, tapi aku sama
sekali tidak
tahu namamu."
"Namaku Malinda," sebut
gadis itu malu-malu. "Malinda... sebuah nama yang bagus," tanggap
Arya. Pujian Dewa Arak membuat wajah gadis berpakaian
kuning yang ternyata bernama
Malinda jadi bersemu merah. Rupanya, dia risih juga menerima pujian. Apalagi
datangnya dari mulut orang seperti Dewa Arak! Seorang pemuda berwajah tampan
dan berkepandaian tinggi. Hati siapa yang tidak berbunga-bunga?
"Laki, apa tindakanmu
selanjutnya, Dewa Arak?" tanya Malinda, pelan.
"Memenuhi tantangan yang
diajukan Setan Mabuk!" jawab Arya tegas.
"Kalau begitu, mari kita ke
sana!" ajak Malinda cepat. "Kau tahu tempatnya, Malinda?"
Malinda mengangguk-
kan kepala. "Bagaimana?
Setuju?"
Mulut Dewa Arak menyunggingkan
senyuman lebar, kemudian perlahan kepalanya terangguk.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata
pun, gadis berambut digelung ini melesat meninggalkan tempat itu.
Arya menggeleng-gelengkan kepala.
Bisa diduga kalau gadis berpakaian kuning itu ingin menguji kepandaiannya. Maka
begitu gadis itu melesat kabur, dia pun bergerak menyusulnya.
Sesaat kemudian, yang terlihat
hanyalah dua sosok bayangan yang berkelebatan cepat. Yang satu berwarna ungu,
sementara yang satu lagi berwarna kuning.
Malinda berlari cepat mengerahkan
seluruh kemampu-
annya. Dia memang bermaksud
menguji kemampuan Dewa Arak. Maka tanpa ragu-ragu lagi, segera dikeluarkan
seluruh ilmu meringankan tubuhnya.
Semula Malinda sudah merasa
gembira begitu tidak melihat adanya bayangan pemuda berpakaian ungu itu di
belakangnya. Tapi, keceriaannya langsung memupus tat-kala mendadak di samping
kanannya muncul sesosok bayangan ungu. Seketika senyum yang tadi mengembang di
bibirnya pun lenyap.
Karuan saja hal ini membuat
Malinda merasa pe-nasaran bukan kepalang. Digertakkan gigi dalam usahanya
menambah kecepatan larinya. Tapi semua usaha yang di-lakukannya sia-sia saja.
Tetap saja Dewa Arak berada di samping kanannya.
Malinda semakin terkejut ketika
melihat raut wajah Dewa Arak. Wajah itu sama sekali tidak menunjukkan kalau
tengah mengerahkan tenaga sewaktu berlari. Raut wajah itu masih tetap tenang
seperti semula.
Setelah cukup lama berlari sambil
mengerahkan seluruh tenaga, nampak Dewa Arak masih tetap berada di sebelahnya.
Maka, gadis berpakaian kuning itu akhirnya mengalah. Perlahan-lahan kecepatan
larinya dikendurkan, dan akhirnya berhenti sama sekali.
Bertepatan dengan berhentinya
kaki Malinda, Arya pun menghentikan langkah kakinya pula.
Malinda menatap wajah Dewa Arak.
Perasaan terkejut semakin melanda hatinya tatkala melihat wajah Arya sama
sekali tidak menampakkan perubahan apa pun. Wajah itu tetap mulus, seperti
sediakala. Setetes pun tak ada peluh menggantung di sana. Deru napas pemuda itu
pun biasa-biasa saja, tidak terengah-engah.
Sedangkan dirinya? Peluh
membasahi sekujur wajah. Terutama sekali dahi dan lehernya. Napasnya pun
menderu-deru hebat. Meskipun tidak melihat sendiri, Malinda sudah bisa
memperkirakan kalau wajahnya merah padam.
"Masih jauhkah tempat itu
dari sini, Malinda?" tanya
Arya. Suaranya terdengar biasa
saja, tidak terputus-putus dan memburu seperti layaknya orang habis berlari
jauh.
Gadis berpakaian kuning itu tidak
langsung menjawab pertanyaan, dan malah sibuk menenangkan deru napasnya yang
memburu. Memang dia tadi berlari dengan mengerah-kan seluruh kemampuan yang
dimilikinya.
"Tidak jauh lagi."
sahut Malinda.
Mendengar jawaban itu, Arya
melayangkan pandangan ke depan. Tak jauh di depannya, tampak mulut sebuah
hutan.
"Hutan...?!" Dewa Arak
mengerutkan alisnya. Padahal, belum lama dia keluar dari hutan itu.
"Ah...! Hanya sebuah hutan
kecil, Dewa Arak. Tapi di hutan itulah letaknya Kuburan Koneng."
Arya mengangguk-anggukkan kepala
saja. Dewa Arak memang tidak mengetahui, di mana letaknya kuburan yang
dimaksudkan Setan Mabuk. Maka begitu mendengar jawaban itu, dia tidak
membantahnya. Tanpa bicara lagi, langkah kakinya dilanjutkan.
Kini Dewa Arak dan Malinda
melanjutkan perjalanannya dengan berjalan biasa. Dan tak lama kemudian, mulut
hutan pun sudah dilalui. Malinda terus saja melangkah. Begitu pula Arya yang
berada di sampingnya.
Mendadak Malinda menghunus pedang
yang tergantung di pinggang. Dan secepat pedang itu lolos dari sarungnya,
secepat itu pula disabetkannya ke leher Dewa Arak.
Singgg..!
Suara mendesing nyaring yang
terdengar menjadi pertanda kuatnya tenaga dalam yang terkandung dalam serangan
pedang itu.
Arya terperanjat. Keterkejutan
yang amat sangat seketika melandanya. Memang serangan itu sama sekali tidak
disangkanya. Tapi meskipun begitu, karena memang sudah terbiasa berhadapan
dengan hal yang tiba-tiba, Dewa Arak masih bisa mengelak.
Crasss...!
Namun tak urung, ujung pedang
Malinda berhasil juga
menyerempet pundak Arya. Kontan
darah segar mengalir keluar dari bagian yang terluka.
Tidak hanya itu saja menimpa
pemuda berpakaian ungu. Begitu kedua kakinya mendarat, mendadak landasan yang
diinjaknya naik ke atas. Tahu-tahu, tubuh Dewa Arak telah terkurung dalam
sebuah jaring yang tergantung di atas pohon.
Arya terperanjat begitu menyadari
tubuhnya telah terkurung dalam jaring. Segera dicengkeram tali-tali jaring itu,
laki dikerahkan tenaga dalam untuk memutuskannya. Tapi ternyata tali-tali itu
alot bukan main. Betapapun telah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, tetap saja
tidak mampu.
"Hi hi hi...!”
Malinda tertawa terkikih. Lenyap
sudah sorot kesedihan dari sinar matanya. Yang terlihat kini hanyalah sorot
kebengisan dan dendam. Dan semua itu tertuju pada Dewa Arak.
Arya terperanjat melihat sorot
mata gadis itu. Namun dia masih belum mengerti maksud gadis berpakaian kuning
ini bertindak seperti itu terhadapnya.
"Malinda...! Apa maksud
perbuatanmu ini..?!" tanya Dewa Arak ingin tahu.
"Maksudku sudah jelas.
Pemuda Sombong! Aku ingin membalaskan kematian ayahku!" tandas gadis
berambut digelung dengan nada bengis.
"Heh ..?! Bukankah ayahmu
tengah bersemadi, dan saudara seperguruanmu dibunuh oleh Setan Mabuk?"
kejar Arya penasaran.
"Kau percaya dengan semua
cerita itu, Pemuda Dungu?!" sergah Malinda keras.
"Jadi..?!" Dewa Arak
mulai paham.
"Ya! Semua cerita itu hanya
karanganku saja! Ayahku telah mati terbunuh di tanganmu, Dewa Arak! Kutegaskan
sekali lagi, ayahku tewas di tanganmu!"
Pemuda berpakaian ungu itu pun
terdiam.
"Siapakah ayahmu,
Malinda?" tanya Arya, masih tetap
lembut suaranya. Pemuda
berpakaian ungu ini masih mengharapkan semua hanya sebuah kesalahpahaman
belaka.
Suiiit...!
Terdengar suitan nyaring dari
mulut Malinda. Keras dan melengking pertanda didukung pengerahan tenaga dalam.
Tak lama kemudian terdengar suara
berkerosakan, disusul munculnya beberapa sosok tubuh yang dikenal Dewa Arak.
Mereka adalah anak buah Mayat Kuburan Koneng.
Sekejap kemudian, orang-orang
berwajah angker yang jumlahnya tak kurang dari sebelas orang itu telah berdiri
di belakang Malinda dengan kepala tertunduk. Jelas kalau kedudukan gadis itu
lebih tinggi dari mereka.
"Kau kenal mereka, Dewa
Arak?" tanya Malinda dengan bibir menyunggingkan senyuman sinis.
"Kenal sih, tidak. Tapi aku
memang pernah bentrok dengan mereka," jawab Dewa Arak, tenang.
"Kini kau bisa menerka,
siapa ayahku bukan?" Arya mengerutkan keningnya sejenak.
"Mayat Kuburan Koneng?"
duga Dewa Arak, pelan.
Arya masih merasa ragu mengingat
Malinda mengena-kan pakaian seragam yang bersulamkan gambar naga, yang dikatakan
gadis itu adalah lambang Perguruan Naga Hijau. Ataukah cerita gadis itu semua
hanyalah hasil karangan belaka, termasuk cerita mengenai Perguruan Naga Hijau
dan kehancurannya?
"Jadi, semua ceritamu tadi
hanya hasil karanganmu saja?" tanya Arya sambil memikirkan cara untuk
melolos-kan diri.
"Tidak seluruhnya, Dewa
Arak!" gadis berpakaian kuning itu menyahut, namun tetap menyunggingkan
senyum sinis. “Perguruan Naga Hijau memang benar ada dan hancur di tangan Setan
Mabuk. Begitu pula tentang maksud ke-pergiannya untuk menemuimu."
Pemuda berpakaian ungu itu
terdiam. Kini sudah dimengerti masalahnya.
"Kini sudah tiba saatnya
bagiku untuk membalas dendam, Dewa Arak!"
"He... he... he...!"
Mendadak terdengar suara tawa
yang menggetarkan jantung, menggema di sekitar tempat itu. Jelas, suara itu
dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam.
Semua yang berada di situ
terperanjat mendengar tawa mendadak itu. Hanya saja, ada perbedaan tanggapan di
antara mereka. Dewa Arak hanya terkejut saja. Tapi, tidak demikian halnya
dengan Malinda dan anak buah ayahnya. Wajah mereka mendadak pucat pasi. Dan
memang, mereka tahu pemilik suara tawa itu. Siapa lagi kalau bukan Setan Mabuk!
Dan sebelum suara tawa itu
lenyap, berhembus angin berkesiur pelan. Tak lama kemudian, muncul seorang
kakek bertubuh pendek gemuk, berperut buncit, dan ber-kepala botak. Benar!
Dialah Setan Mabuk.
Malinda menggertakkan gigi. Dia
tahu kalau tidak ber-tindak cepat, maka Dewa Arak tidak akan bisa dibunuhnya.
Dan yang jelas Setan Mabuk akan mendahuluinya. Maka tanpa mempedulikan
akibatnya nanti, gadis itu melompat. Pedangnya meluncur deras ke arah tubuh
Dewa Arak yang tengah terkurung di dalam jaring.
***
8
Singgg...!
Menilik dari suara mendesing
nyaring yang mengiringi tibanya serangan, sudah bisa diperkirakan kekuatan
tenaga dalam yang terkandung dalam serangan itu.
"He... he... he...!"
Setan Mabuk tertawa terkekeh.
Tubuhnya yang pendek berkelebat, memotong serangan Malinda. Tangan kanannya cepat terulur.
Dan....
Tappp...!
Sungguh mengagumkan! Pedang di
tangan gadis ber-pakaian kuning itu telah tertangkap tangan Setan Mabuk. Dan
sekali tangan kakek berkepala botak itu bergerak menekan, maka pedang di tangan
putri Mayat Kuburan Koneng pun patah jadi dua.
Dan sebelum Malinda sempat
berbuat sesuatu, tangan kiri Setan Mabuk telah meluncur cepat ke arah dadanya.
Seketika gadis berambut digelung ini kaget bukan kepalang. Apalagi, tubuhnya
tengah berada di udara. Dengan sebisa-bisanya tubuhnya digeliatkan untuk mengelakkan serangan itu. Tapi....
Plakkk…!
Tangan kakek berkepala botak itu
tetap saja meng-hantam tubuhnya. Hanya saja tidak mengenai dada, melainkan
bahu. Seketika itu juga tubuh putri Mayat Kuburan Koneng terlempar ke belakang
dan bergulingan di tanah. Darah segar langsung muncrat dari mulutnya. Jelas
Malinda telah terluka dalam.
"He... he... he...!"
Begitu kedua kakinya mendarat di
tanah, kakek ber-perut buncit itu sudah tertawa terkekeh-kekeh. Dengan sorot
mata penuh ancaman, kakinya melangkah meng-hampiri tubuh Malinda.
"Jangan harap bisa
mendahuluiku, Wanita Liar! Kau
tahu, di semua mulut desa telah
kusebar anak buahku. Dan mereka langsung memberitahuku begitu melihat Dewa
Arak. Dan atas kelancanganmu berani mendahului tin-dakanku, kau akan menerima
akibatnya!"
Melihat bahaya mengancam putri
majikannya, anak buah Mayat Kuburan Koneng tidak tinggal diam. Walaupun dalam
hati merasa jeri terhadap Setan Mabuk tetapi mereka tetap bergerak menyerang
kakek berkepala botak itu. Senjata-senjata di tangan mereka berkelebatan cepat,
menyambar berbagai bagian tubuh Setan Mabuk yang mematikan, diiringi suara
mendesing nyaring,
"He... he... he...!"
Setan Mabuk tertawa terkekeh.
Tanpa mempedulikan semua serangan yang bertubi-tubi mengancam, guci arak-nya
diangkat.
Glek… glek... glek...!
Suara tegukan dari arak yang
melewati tenggorokan Setan Mabuk terdengar. Dan di saat itulah senjata-senjata
anak buah Mayat Kuburan Koneng tiba.
Takkk, takkk, takkk..!
Gila! Semua senjata yang mengenai
berbagai bacaan tubuh kakek berkepala botak itu terpental balik, seakan-akan
menghantam gumpalan karet keras. Bukan hanya itu saja. Tangan yang menggenggam
senjata itu pun terasa sakit-sakit
"He... he... he...!”
Setan Mabuk hanya tertawa
terkekeh seraya meng-gerakkan tangannya. Jerit-jerit kesakitan pun terdengar
diiringi robohnya satu persatu anak buah Mayat Kuburan Koneng. Pukulan jarak
jauh yang dilepaskan Setan Mabuk sungguh dahsyat! Buktinya tidak seorang pun
dari para pengeroyok yang tersisa. Mereka semua roboh, dan tak bangun lagi.
Kini sambil tertawa
terkekeh-kekeh, Setan Mabuk me-langkah menghampiri Malinda yang belum mampu
bangkit. Memang, akibat serangan kakek berperut buncit itu hebat bukan main,
meskipun hanya mengenai bahu.
Putri Mayat Kuburan Koneng itu
berusaha bangkit, tapi tidak mampu. Sebuah seringai kesakitan yang muncul di
mulutnya telah menjadi tanda kalau gadis itu telah terluka dalam yang cukup
parah. Dan Malinda hanya bisa menatap Setan Mabuk yang menghampirinya dengan
dada berdebar tegang.
Setan Mabuk menghentikan suara
tawanya begitu telah berada di dekat Malinda. Sesaat sepasang matanya
meng-awasi sekujur tubuh gadis berpakaian kuning itu, kemudian tangan kanannya
bergerak.
Brettt..!
Suara dari kain robek terdengar
ketika tangan Setan Mabuk merenggutnya. Malinda langsung terpekik ngeri.
Pakaian yang dikenakan, dari bagian dada sampai perut telah sobek.
Arya terkejut bukan kepalang
melihat hal ini. Diakui, Malinda adalah seorang wanita sesat, dan mendendam
padanya. Tapi biar bagaimanapun, dia tidak tega kalau gadis itu diperkosa Setan
Mabuk.
Sementara kakek berkepala botak yang sudah kerasukan nafsu setan, begitu melihat
pemandangan indah yang terpampang di hadapannya, segera menubruk tubuh Malinda
dan menciuminya dengan kasar. Tangannya juga mulai sibuk melucuti sisa pakaian
putri Mayat Kuburan Koneng itu.
Malinda yang tengah tertuka
dalam, tidak mampu berbuat apa-apa selain menjerit-jerit keras dan
meronta-ronta. Tapi hal itu justru menambah nafsu setan kakek ber-perut buncit
itu membara. Dan dengan sendirinya, tindakannya pun semakin brutal
"Setan Mabuk!
Tahan...!" teriak Arya keras. "Kalau per-buatanmu dilanjutkan, aku
tidak akan sudi meladeni tantanganmu!"
Kakek berkepala botak itu
langsung menoleh dengan napas menderu hebat. Sepasang matanya telah memerah,
karena nafsu telah bergolak dalam dirinya. Tapi peringatan Dewa Arak-lah yang
membuatnya bimbang.
Setan Mabuk memang bukan orang
yang suka mem-perkosa wanita. Dan perbuatan yang akan dilakukannya terhadap
Malinda, semula bukan terdorong nafsu. Melain-kan, keinginan untuk
menghancurkan gadis itu. Namun, begitu melihat kemulusan tubuh gadis itu, dia
menjadi ter-pengaruh. Hanya saja, ancaman Dewa Arak telah mem-buatnya bimbang.
Beberapa saat lamanya Setan Mabuk
tercenung memikirkannya.
"Kali ini kau kuampuni,
Wanita Liar! Menyingkirlah cepat sebelum pikiranku berubah!"
Dengan kedua tangan menutupi
bagian tubuhnya yang terbuka lebar, Malinda berusaha bangkit. Luar biasa! Kali
ini usaha gadis berambut digelung itu berhasil. Rupanya rasa takut yang melanda
akan terjadinya peristiwa yang mengerikan, membuat kekuatannya muncul kembali.
Memang, meskipun seorang wanita sesat, tapi Malinda masih seorang gadis tulen.
"Akan kuingat budimu. Dewa
Arak...!"
Setelah berkata demikian, gadis
berpakaian kuning ini melangkah terseok-seok meninggalkan tempat itu. Tak lama
kemudian, bayangan tubuhnya lenyap ditelan lebat-nya pepohonan.
Setan Mabuk memungut pedang yang
berserakan di tanah, kemudian melontarkannya ke arah tali yang menggantung
Jaring pengurung tubuh Dewa Arak
Tasss...!
Tali itu putus seketika. Dengan
sendirinya, jaring yang membungkus tubuh Dewa Arak pun terjatuh ke tanah. Maka,
Arya pun bergegas keluar dari dalam jaring.
Begitu Arya keluar dari jaring.
Setan Mabuk langsung saja menyerang. Kedua tangannya terkembang mem-bentuk
cakar dan menyambar bertubi-tubi ke arah perut, dada, dan ulu hati pemuda
berpakaian ungu itu.
Arya langsung terperanjat.
Datangnya serangan yang ter-lampau tiba-tiba, membuatnya terkejut bukan
kepalang. Disadari kalau dirinya tidak akan bisa mengelakkan
serangan itu. Tidak ada pilihan
lagi, kecuali menangkisnya. Tanpa ragu-ragu lagi, segera dikerahkan seluruh
tenaga dalam yang dimiliki untuk menangkis.
Plak, plak, plak...!
Suara berderak keras terdengar
berkali-kali ketika kedua tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi
berbenturan. Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama terhuyung mundur selangkah
ke belakang. Jelas, tenaga dalam kedua tokoh ini berimbang.
Setan Mabuk mengawasi Dewa Arak
dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun Dewa Arak pun berbuat serupa.
"He... he... he...! Semua
berita yang kudengar tentang dirimu ternyata cocok sekali dengan kenyataan yang
kulihat," kata Setan Mabuk setelah puas memperhatikan Dewa Arak.
"Tapi aku belum puas, Dewa Arak!"
Setelah berkata demikian, Setan
Mabuk kembali menerjang Dewa Arak. Gucinya yang besar itu sama sekali tidak
dipergunakan. Memang, kakek ini belum mau mengeluarkan ilmu simpanannya.
Sebagai seorang tokoh persilatan
yang mempunyai kepandaian tinggi, Arya tentu saja tahu kalau lawan belum
menggunakan ilmu andalan. Maka Dewa Arak pun hanya mengeluarkan ilmu 'Delapan
Cara Menaklukkan Harimau' dan ilmu 'Sepasang Tangan Penakluk Naga' untuk
meng-hadapinya.
Kedua macam ilmu yang dimiliki
Dewa Arak, menitik-beratkan pada penyerangan. Begitu pula ilmu yang dimiliki
Setan Mabuk. Tak pelak lagi, pertarungan sengit pun terjadi.
Dalam sekejap saja, pertarungan
sudah berlangsung tiga puluh lima jurus. Dan selama itu, belum nampak ada
tanda-tanda yang akan terdesak.
"Cukup, Dewa Arak..!"
Terdengar seruan keras dari mulut
Setan Mabuk. Pada saat yang bersamaan, tubuhnya pun melenting ke belakang menjauhi
kancah pertarungan.
Arya pun menghentikan gerakannya.
Kini kedua belah
pihak saling menatap, dengan
penuh selidik.
"Kau tahu, mengapa aku
mencari dan menantangmu, Dewa Arak?" tanya Setan Mabuk dengan senyum
ter-kembang di bibir. Kakek berperut buncit ini merasa puas begitu mengetahui
kelihaian Dewa Arak.
Memang sudah menjadi penyakit
seorang ahli silat dia merasa gembira bila bertemu lawan yang setingkatan.
Arya menggelengkan kepala.
Memang, pemuda ber-pakaian ungu itu belum mengetahuinya.
"Karena kau berani berjuluk
Dewa Arak!" tandas Setan Mabuk lagi. "Kau tahu, sebelum kau lahir ke
dunia ini, aku sudah terkenal sebagai dedengkotnya arak. Sudah tidak terhitung
lagi, berapa kali aku mengadu kuat minum arak. Dan karena tidak pernah
terkalahkan, aku mendapat julukan-julukan Setan Mabuk."
Kakek berperut buncit itu
menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Ditatapnya wajah Dewa
Arak untuk mengetahui tanggapannya.
"Karena merasa sudah tua,
sekitar satu tahun yang lalu, aku mengundurkan diri dari dunia persilatan.
Tapi, ter-paksa aku keluar lagi, karena kudengar di dunia persilatan ada tokoh
muda yang berani berjuluk Dewa Arak. Jadi, aku merasa tertantang ingin
kubuktikan sendiri, apakah orang itu berhak mendapat julukan seperti itu."
Kini Arya mengerti akan duduk
permasalahannya. "Baiklah. Agar tidak terjadi korban di antara orang yang
tidak bersalah, aku menerima tantanganmu,
Setan Mabuk" "Bagus!" sahut Setan Mabuk gembira. "Tapi
perlu kau
ketahui, Dewa Arak. Kita tidak
hanya bertanding dalam minum arak saja. Tapi, juga dalam ilmu silat."
"Aku mengerti," kata
pemuda berambut putih keperakan itu. "Kapan waktunya, Setan Mabuk?"
"Purnama depan!"
"Purnama depan?!" Arya
mengerutkan alisnya. Karena waktu yang ditentukan masih lebih dari sepekan. "Mengapa harus
menunggu begitu lama, Setan Mabuk?"
"Karena, bulan purnama depan
adalah waktu bagi raja-
raja arak untuk mengadu kekuatan
minum dan ilmu silat," jelas kakek berperut buncit itu.
"Bertahun-tahun akulah juaranya. Tapi tahun kemarin, aku tidak
mengikutinya. Sehingga, aku tidak tahu, siapa yang menjadi juaranya."
Arya mengernyitkan dahinya.
Sungguh tidak disangka kalau persoalannya jadi semakin membesar begini.
"Bila ingin julukanmu
diresmikan raja-raja arak, kau harus mengikuti pertarungan di sana, Dewa Arak.
Dan kalau tidak, hanya dunia persilatan saja yang mengakuimu. Tapi, tidak bagi
jago-jago minum. Bagaimana? Kau ber-sedia?!"
"Aku sudah berjanji, Setan
Mabuk. Jadi, mau tak mau harus memenuhinya. Aku akan datang. Tapi..., di mana
pertarungan itu dilangsungkan?"
"Tempatnya selalu
berpindah-pindah, Dewa Arak" jawab Setan Mabuk. "Tapi yang jelas,
mereka selalu memilih tempat-tempat yang sepi. Kudengar, tahun ini tempat
pertarungan itu akan berlangsung di Pulau Selaksa Setan. Kau tahu tempatnya,
Dewa Arak?!"
Arya menganggukkan kepala. Memang
dia tahu, di mana letak pulau itu.
"Kau ingin bersamaku atau
ingin pergi sendiri, Dewa Arak?!" tanya Setan Mabuk.
"Aku pergi sendiri
saja," Jawab Dewa Arak mantap. "He... he... he...!”
Setan Mabuk tertawa terkekeh. Dan
seiring suara tawanya, tubuh kakek berperut buncit itu berkelebat dari situ.
Hanya dalam sekejapan saja, dia telah berada dalam jarak lebih dari sebelas
tombak.
Arya menggeleng-gelengkan kepala.
Dia memang sudah menduga kelihaian kakek ini dari pertarungan tadi, meskipun
hanya bertarung sebentar saja. Disadari kalau Setan Mabuk adalah seorang lawan
yang amat tangguh.
"Hhh....!”
Pemuda berambut putih keperakan
itu menghela napas berat. Dipandanginya tubuh Setan Mabuk yang semakin lama
semakin mengecil, dan akhirnya lenyap di kejauhan.
Kemudian baru kakinya melangkah
meninggalkan tempat itu. Dia harus bergegas menuju tempat yang dimaksud, untuk
memenuhi janjinya terhadap Setan Mabuk.
Apa yang akan ditemui Dewa Arak
di Pulau Selaksa Setan? Siapakah yang akan memenangkan pertarungan adu minum
itu? Dan bagaimana nasib Malinda yang mendendam pada Dewa Arak, tapi juga ingin
membalas budi? Lalu bagaimanakah Kera Bukit Setan, Jagar, dan yang lain-lain?
Apakah Arya tidak membasmi mereka? Jawaban untuk semua itu ada dalam judul
"Pertarungan Raja-Raja Arak'. Di sana, Dewa Arak akan menemui kejadian
yang sama sekali tidak pernah diduganya.
SELESAI
No comments:
Post a Comment