Sunday, April 21, 2019

017 Pengkhianatan Joko Galing


PENGHIANTAN JOKO GALING
Oleh Firman Raharja

1
Pagi yang cerah, langit tampak bersih tanpa mega. Angin pegunungan berhembus sejuk. Di dalam sebuah rumah bilik yang berada di lereng Pegunungan Panalu, pagi itu nampak seorang lelaki tua berusia tujuh puluh tahun dengan pakaian serba merah duduk di atas sebuah batu persegi. Di hadapan lelaki tua itu, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun du- duk bersila.
"Segala ilmu yang aku miliki telah kuturunkan pada dirimu, Joko," lelaki berjenggot serta berambut putih terurai itu berkata kepada muridnya. "Kini wak- tumu untuk mengamalkan segala ilmu yang kau mili- ki."
Lelaki muda yang dipanggil Joko Galing hanya diam saja, menundukkan kepala mendengarkan penuh perhatian ucapan sang Guru. Lima tahun sudah Joko Galing menjadi murid Ki Mandra. Selama itu pula dia dididik dan digembleng dalam asuhan orang tua sakti itu, hingga kini menjadi seorang pemuda yang memiliki ilmu dan kemampuan tinggi.

Ki Mandra memandangi Joko Galing, lalu ber- kata,
"Berjalanlah sesuai dengan apa yang selama ini aku ajarkan pada dirimu!"
Joko Galing menengadahkan kepala sambil berkata, "Baik, Guru. Akan kulaksanakan semua yang Guru petuahkan dan ajarkan kepadaku."
Ki Mandra mengangguk-anggukkan kepala, dengan bibir menyunggingkan senyum. Tampaknya le-laki tua berambut putih itu mengerti apa yang diucapkan sang Murid.
"Guru.... Kalau boleh aku ingin bertanya," ujar Joko Galing kemudian.
"Tentang apa, Joko?" Joko Galing terdiam sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Guru, apakah benar orangtua ku mati dibu- nuh Panca Iblis?"
Ki Mandra tak menyahuti, tapi dari anggukan kepalanya bisa diartikan kalau sang Guru menjawab pertanyaan sang Murid. Kemudian ditatapnya wajah Joko Galing.
"Bolehkan aku menuntut balas, Guru?" Ki Mandra tersenyum, menggelengkan kepala. "Sebagai seorang pendekar, kau tak boleh me- nyimpan dendam, sekecil apa pun, Joko. Melangkah- lah di jalan lurus. Kalau ingin menumpas Panca Iblis, kau harus mendasarkan tindakanmu pada kepentin- gan umum, dengan tujuan menegakkan kebenaran dan keadilan. Bukan karena dendam kesumatmu. Memang kebiadaban Panca Iblis telah banyak merugi- kan orang. Tumpaslah keangka-ramurkaan yang me- reka lakukan. Itulah sebenarnya jalan yang lurus bagi seorang pendekar. Kau mengerti, Joko?"
Joko Galing tidak segera menjawab. Ditariknya napas panjang, lalu menganggukkan kepala perlahan.
"Bagus." Ki Mandra bangkit dari duduknya, lalu melang- kah meninggalkan sang Murid seorang diri, menuju kamarnya. Tak lama kemudian lelaki tua itu kembali keluar dan mendekati Joko Galing. Tangannya menggenggam sebilah pedang. Ditatapnya wajah Joko Gal- ing yang duduk bersila di hadapannya.
"Joko, pedang pusaka ini sengaja kusimpan baik-baik," ujar Ki Mandra setelah menatap wajah mu- ridnya. "Dulu Pedang Lembayung Merah ini sempat menggegerkan dunia persilatan. Barang siapa mem- pergunakan pedang ini, dan memiliki ilmu pukulan 'Lembayung Merah', dia akan menjadi pendekar yang sulit dikalahkan. Kau memang tak memiliki pukulan 'Lembayung Merah' tapi kau menguasai ilmu 'Serat Kendali', yang berguna sebagai pengendali nafsu angkara murka. Pakailah pedang ini untuk kebaikan. Jan- gan kau gunakan dalam tindak kejahatan," saran Ki Mandra. Joko Galing terdiam menundukkan kepala, berusaha meresapi apa yang dikatakan gurunya.
Hatinya merasa bangga, karena yakin kalau pedang sakti ini akan menjadi miliknya. Dan setelah memiliki Pedang Lembayung Merah, dia akan menjadi pendekar yang sakti.
"Terimalah pedang ini, Joko." Ki Mandra mengulurkan tangannya, menyerah- kan Pedang Lembayung Merah pada Joko Galing. Pe- muda itu segera menyambut dengan mengulurkan ke- dua telapak tangannya ke atas. Setelah sampai di tan- gan, segera diciumnya pedang pusaka itu. Kemudian dililitkan tali pedang ke tubuhnya, hingga senjata itu tersandang di punggung Joko Galing.
"Ingat, Joko! Pedang itu hanya untuk membela kebenaran dan keadilan. Jangan kau gunakan dalam tindak kejahatan! Jika kau lakukan hal itu, celakalah dirimu. Kau akan menerima siksa dari pedang itu," tu- tur Ki Mandra memperingatkan Joko Galing yang telah menyandang senjata pusaka itu.
"Baik, Guru! Selalu kuingat segala pesanmu," sahut Joko Galing sambil menundukkan kepala.
"Joko, jika kau sudah turun gunung, carilah seorang pendekar yang bisa membantumu. Mintalah petunjuk, dan bila perlu mengabdilah padanya!" saran Ki Mandra lagi.
"Siapakah dia, Guru?" tanya Joko Galing ingin tahu.
"Aku sendiri kurang tahu namanya. Tapi di ka- langan dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Pendekar Gila. Tingkah lakunya memang seperti orang gila," jawab Ki Mandra.
Sesaat Joko Galing terdiam, dengan kening mengerut. Hatinya bertanya-tanya siapa sebenarnya Pendekar Gila. Dihelanya napas dalam-dalam, seakan-akan berusaha menenangkan perasaannya. Ingin sekali dia seperti Pendekar Gila, yang sangat kesohor dan disegani di kalangan dunia persilatan.
"Siapakah Pendekar Gila itu, Guru? Dan men- gapa dia disegani tokoh-tokoh persilatan?" dengan agak ragu, akhirnya Joko Galing bertanya.
"Hm..., dia seorang pendekar berbudi luhur. Il- munya sangat tinggi, tetapi tidak sombong dan merasa besar. Bahkan, sering merendahkan diri," jawab Ki Mandra. Joko Galing terdiam. Kepalanya mengangguk- angguk, seakan mengerti. Namun perasaan hatinya yang iri pada Pendekar Gila, tak dapat ditepiskan. Dia ingin seperti pendekar itu yang tersohor bahkan sangat ditakuti. "Ada apa lagi, Joko? Tampaknya kau bimbang," tukas Ki Mandra dengan mata menatap tajam ke wajah Joko Galing. Tatapan lelaki tua itu seperti tengah menyelidik apa yang dipikirkan sang Murid.
"Ah! Tidak, Guru! Aku mengerti." "Bagus kalau begitu." Ki Mandra sesaat menghela napas pelan. Matanya masih menatap wajah sang Murid. Kepala lelaki tua itu mengangguk-angguk. Tangan kirinya membe- lai-belai jenggotnya yang panjang dan putih.
"Berangkatlah! Amalkan semua ilmu yang telah
kau peroleh, untuk membela kebenaran dan keadilan!" perintah Ki Mandra, setelah sesaat terdiam menatapi wajah muridnya.
"Baik, Guru! Aku mohon pamit," pinta Joko Galing sambil menyembah. Kemudian dengan diikuti tatapan mata sang Guru, Joko Galing melangkah me- ninggalkan rumah gurunya.
Lima tahun terasa begitu cepat berlalu. Joko Galing tak pernah lupa pada peristiwa mengenaskan, yang menimpa keluarganya. Kedua orang tuanya di- bantai Panca Iblis.
Joko Galing menengadahkan wajah meman- dang ke langit biru. Dihelanya napas panjang-panjang, menghirup udara pagi yang sejuk.
Hm, kini aku telah punya kemampuan. Akan kubalas kematian keluargaku. Tunggulah pembala- sanku, Panca Iblis! Hutang nyawa harus dibayar nya- wa pula, batin Joko Galing penuh dendam. Tangannya memegang gagang Pedang Lembayung Merah yang ter- sampir di punggung.
Srt! Dicabutnya Pedang Lembayung Merah dari wa- rangka. Seketika tubuhnya tergetar hebat. Seakan pedang itu mengandung kekuatan sangat dahsyat yang disertai keluarnya cahaya merah menyilaukan mata.
"Ukh! Akh...!" Joko Galing mendesah. Tubuhnya mengucur- kan keringat dingin, ketika mengerahkan tenaga dalam untuk dapat menguasai kekuatan pedang itu.
"Ukh! Akh...! Pedang ini seperti menyedot selu- ruh kekuatanku," keluh Joko Galing merasakan getaran yang teramat kuat. Sehingga dirasakan tenaganya terkuras habis.
Pedang itu terus tergetar dengan hebat. Sema- kin keras getaran yang ditimbulkan, semakin terang sinar merah yang keluar.
"Ukh! Akh...!" Joko Galing terus melenguh. Tenaganya sema- kin lama terkuras. Wajahnya memucat, bagaikan tak berdarah. Rasa gentar seketika menjalar di hatinya, menyaksikan kedahsyatan Pedang Lembayung Merah di tangannya. Dia menyangka, kalau kekuatan pedang itu hebat sekali.
"Oh, tenagaku hampir habis!" keluh Joko Gal- ing dengan wajah kian memucat dan tegang, merasakan getaran pedang masih tetap kuat.
"Joko, Anakku. Kau tak akan mampu mengen- dalikan kekuatan pedang itu, jika batinmu belum tenang. Hatimu diliputi rasa dendam. Dendam adalah setan. Gunakanlah ilmu 'Serat Kendali' yang kau mili- ki. Dengan ilmu itu kau akan mampu memegang Pe- dang Lembayung Merah'," terdengar suara gurunya memberi tahu.
"O, ampunkanlah aku, Guru. Aku telah terlena melupakan petuahmu," keluh Joko Galing.
Kemudian dengan memejamkan mata, Joko Galing mengerahkan ilmu 'Serat Kendali'. Dibuangnya perasaan marah. Dan segera disatukan segenap rasa dan indra pada ketenangan jiwanya. Saat itu pula, Pe- dang Lembayung Merah mulai melemah. Getaran dan sinar merah yang menyilaukan mata tampak mereda.
Napas Joko Galing tersengal-sengal, seperti ha- bis berlari kencang ribuan tombak. Keringat masih mengucur, membasahi sekujur tubuhnya. Perlahan- lahan ditariknya napas panjang mencoba mengatur pe- rasaan. "O, betapa hebat pedang ini!" gumam Joko Gal- ing lirih. "Hati-hatilah, Anakku. Berangkatlah dengan ketenangan jiwamu! Jiwa seorang pendekar," suara Ki
Mandra gurunya kembali terdengar.
"Baik, Guru. Terima kasih atas jasamu selama ini!" sahut Joko Galing.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tu- buh, pemuda itu melesat meninggalkan tempat itu. Tubuhnya dalam sekejap saja sudah menghilang di ba- lik pepohonan hutan yang dilaluinya.
Kini tujuan Joko Galing hanya satu, mencari Panca Iblis yang telah membantai keluarganya. Juga telah membuat kesengsaraan penduduk Desa Kalasan. Kemudian yang kedua, mencari Pendekar Gila seperti yang disarankan sang Guru.
"Hea! Heaaa...!" Tubuh Joko Galing terus melesat menggunakan ilmu lari yang bernama 'Gerak Sewu". Sebuah ilmu lari yang mengandalkan kecepatan gerakan kaki. Sehingga kaki Joko Galing seperti ada seribu, karena begitu ce- pat gerakannya. Dalam sekejap saja pemuda itu telah sampai di bawah Gunung Panalu.
"Hih...!" Joko Galing menghela napas. Matanya meman- dang lepas ke atas, seolah-olah hendak melihat sang Guru yang berada di lereng gunung itu. Teringat kem- bali lima tahun yang lalu dia ditolong lelaki tua itu dari kematian yang telah merenggut keluarganya.
"Guru, sungguh besar jasamu padaku," desah Joko Galing ketika teringat kebaikan Ki Mandra yang telah mengasuhnya selama ini. Tanpa adanya lelaki tua itu, mungkin dia sudah mati pula di tangan Panca Iblis.
Baiklah, untuk mengetahui siapa sebenarnya Joko Galing kita kembali ke lima tahun yang silam. Kita akan mengikuti sejenak bagaimana sampai Joko Galing menjadi murid Ki Mandra.
***

Lima tahun yang lalu, Desa Kalasan yang di- pimpin oleh Ki Santanu diserang lima orang yang menamakan dirinya Panca Iblis dari Suwelang. Dengan menunggang kuda mereka menuju Desa Kalasan. Panca Iblis membunuh setiap orang yang di-jumpai di jalan.
"Ha ha ha...! Katakan pada Ki Santanu, setiap bulan purnama warga Desa Kalasan harus menyetor- kan upeti pada kami!" seru lelaki bertubuh besar ber- pakaian ungu. Kumis panjang melintang dan cambang bauk menghiasi wajahnya. Dialah Gaja Polo, pemimpin Panca Iblis.
"Ya! Jangan sesekali berani melawan! Kami tak segan-segan membunuh kalian!" sambung lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, yang berbadan gemuk dan pendek. Wajahnya bersih dari kumis dan cambang bauk. Lelaki berpakaian kuning gading itu bernama Barda, orang kelima dari Panca Iblis.
Warga Desa Kalasan yang ketakutan melihat sepak terjang Panca Iblis tak satu pun yang berani melawan. Semua diam membisu, meski dari pancaran mata mereka tergambar kebencian yang mendalam.
"Katakan pada Ki Santanu, agar disiapkan pes- ta meriah! Kami akan datang ke rumahnya!" seru Gaja Polo.
"Hai, jawab...! Kalian seperti orang bisu!" ben- tak Ranguwalang, lelaki bertubuh tinggi dan kurus, mengenakan pakaian biru kehitaman. Lelaki berambut kaku dan hidung pesek itu, orang ketiga dari Panca Ib- lis. Namun para warga desa yang ketakutan itu tak mampu menjawab bentakan keras itu.
"Kurang ajar! Kalian rupanya mencari mam- pus!" maki Sartakulir, orang kedua dari Panca Iblis.
Rambutnya yang panjang terurai, dengan ikat kepala kain coklat.
Crang! Sartakulir mencabut pedangnya. Kemudian di- jalankan kudanya mendekat ke kerumunan penduduk yang tak berani pergi dari tempat itu. Karena jika per- gi, melayanglah nyawa mereka.
"Ayo, jawab! Apa kalian ingin pedang ini yang bicara?!" bentak Sartakulir sambil mengancung- acungkan pedang di depan warga desa yang semakin ketakutan. Namun tiba-tiba...
"Pengecut! Kalian hanya berani dengan orang- orang lemah!" terdengar bentakan keras dari belakang.
Ketika Sartakulir menolehkan kepala, dilihat- nya dua orang berbadan tegap dengan muka tak kalah garang, telah berdiri sekitar sepuluh tombak di bela- kangnya. Kedua lelaki berpakaian sama hitam dengan loreng-loreng merah itu, tak lain tangan kanan Ki Santanu.
"Heh...! Siapa kalian?!" bentak Gaja Polo. "Be- rani benar menantang Panca Iblis!"
"Hm, apa yang mesti kami takutkan?! Sepasang Clurit dari Simolawang, tak pernah gentar!" sahut Kerto Badru. Lelaki berbadan tinggi tegap dengan kumis melintang tebal.
"Kurang ajar! Rupanya kau mencari mampus, Centeng Tolol!" bentak Gaja Polo. Matanya membelalak lebar diliputi amarah.
"Hm, kuharap kalian jangan sesekali berani menginjakkan kaki di desa ini!" kata Kerto Wala. Wa- jahnya pun menunjukkan keangkeran, seolah ingin menunjukkan pada kelima Panca Iblis kalau mereka bukan orang-orang sembarangan.
"Kurang ajar! Singkirkan mereka!" perintah Ga- ja Polo pada keempat rekannya.
"Biar aku saja yang menyingkirkan centeng to- lol itu!" sahut Barda sambil melompat dari punggung kudanya. Dengan langkah tegap sambil membusung- kan dada, Barda berjalan perlahan mendekati kedua tangan kanan Ki Santanu. Tangannya memegang golok besar yang tersandang di punggungnya.
Kedua tangan kanan Ki Santanu segera menca- but senjata masing-masing yang berbentuk clurit. Ma- ta keduanya menatap tajam lelaki berpakaian kuning gading yang melangkah semakin dekat.
"Bersiaplah kalian untuk mampus!" dengus Barda sambil menarik goloknya dari warangka.
Srt! "Hea!" "Yea!" Barda segera merangsek dengan kibasan golok besarnya. Kerto Badru dan Kerto Wala seketika ber- lompatan mundur mengelakkan babatan golok lawan. Kemudian dengan cepat keduanya balas menyerang dengan sambaran cluritnya.
"Hea!" "Yea!" Wuttt! Dalam sekejap, pertarungan telah berjalan den- gan seru. Namun tampaknya kemampuan Kerto Badru dan Kerto Wala berada setingkat di bawah lawannya. Dalam beberapa gebrakan saja, Barda mampu mengu- asai keadaan. Golok besarnya terus berkelebat cepat memburu kedua lawannya.
"Mampuslah kalian!" bentak Badra. Wrt! Golok besar itu berkelebat cepat Jreb! Jreb! "Wuaaa...!" Kedua lawan Badra menjerit kesakitan ketika golok besarnya membabat tubuh Kerto Badru dan Ker- to Wala. Kedua ambruk dengan mata terbelalak. Se- saat keduanya mengejang kesakitan, kemudian tewas.
Badra tersenyum mencibirkan bibirnya. Kemu- dian dengan angkuh didepaknya kedua tubuh tangan kanan Ki Santanu yang sudah menjadi mayat.
"Lihat! Apakah kalian ingin seperti mereka?!" seru Badra pada warga Desa Kalasan yang semakin ketakutan setelah menyaksikan kedua tangan kanan Ki Santanu dalam beberapa gebrakan saja telah tewas.
"Cepat katakan pada Ki Santanu, siapkan pe- nyambutan kami!" perintah Gaja Polo.
Warga desa yang sudah ketakutan itu pun me- nurut. Mereka segera meninggalkan tempat itu, untuk memberi tahu Ki Santanu tentang kedatangan Panca Iblis.
Ki Santanu yang tak suka kalau orang-orang jahat menginjakkan kaki di desanya, dengan tegas me- nolak kedatangan Panca Iblis. Mendengar penolakan kepala desa itu. Panca Iblis itu mengamuk, mereka membakari rumah-rumah penduduk dan membantai orang-orang Desa Kalasan. Bahkan keluarga Ki Santa- nu dibantai habis. Namun tanpa diduga, ketika pem- bantaian keji itu tengah berlangsung, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat cepat dan merenggut tubuh Joko Galing dari amukan Panca Iblis.
Sosok itu ternyata Ki Mandra. Sejak saat itu, Joko Galing diangkat sebagai murid orang tua sakti itu. Joko Galing menarik napas panjang-panjang, setelah membayangkan kembali kejadian yang menge- naskan lima tahun silam. Entah bagaimana keadaan- nya Desa Kalasan saat ini, pikir pemuda itu.
"Hm," Joko Galing menggumam tak jelas, ke- mudian melesat menuruni lereng gunung. Tujuannya hanya satu, ke Desa Kalasan.
***

2
Desa Kalasan kini benar-benar bagaikan desa mati! Sepi, seperti tak berpenghuni. Sore hari pintu- pintu rumah telah tertutup, pagi dan siang tiada seorang anak pun yang tampak bermain-main di luar ru- mah. Kehidupan bagai tercekam rasa takut. Apalagi sejak Ki Santanu sebagai Kepala desa Kalasan mati di- bunuh Panca Iblis,
Segala sesuatu yang diperintahkan Panca Iblis harus dilaksanakan. Selama lima tahun Desa Kalasan di bawah kekuasaan orang-orang durjana.
Namun akhir-akhir ini warga bertambah resah dengan kedatangan seorang wanita muda dan cantik yang telah mampu mengalahkan Panca Iblis. Wanita itu menghendaki agar para pemuda tampan harus me- relakan dirinya sebagai kekasihnya. Mereka dijadikan pemuas nafsu wanita cantik itu.
"Kabarkan kepada semua penduduk, agar se- tiap malam menyerahkan anak lelaki mereka kepada- ku. Kalian mengerti...?!"
"Daulat, Nyi Mas," jawab kelima orang yang menamakan dirinya Panca Iblis yang telah takluk pada wanita cantik itu.
"Bila ada warga atau pemuda yang membantah, tumpas! Jangan beri ampun!" kembali wanita cantik berpakaian merah jambu itu berkata.
"Daulat, Nyi Mas!" jawab orang-orang Panca Ib- lis serempak.
"Barda, coba kau cari anak Ki Santanu!" Barda mengerutkan kening mendengar perintah wanita yang dipanggil Nyi Mas itu.
"Untuk apa, Nyi Mas? Bukankah anak itu nanti akan merepotkan kita?!"
"Jangan membantah, Barda!" bentak wanita cantik itu yang ternyata Nyi Mas Lindri.
Barda terdiam. Segala perintah pimpinannya memang harus dilaksanakan dan tak seorang pun yang berani membantah.
"Daulat, Nyi Mas. Saya akan mencarinya," ja- wab Barda setelah terdiam beberapa saat. "Namun, apabila kelak anak itu membahayakan kita, Nyi Mas jangan menyesali dan menyalahkanku!"
"Semua tanggung jawabku, Barda!" suara Nyi Mas Lindri meninggi, pertanda marah. Kelima lelaki yang duduk di hadapannya menundukkan kepala, tak berani bertatap pandang.
Nyi Mas Lindri memang seorang wanita cantik, tapi ilmunya di atas kelima Panca Iblis.
Barda yang tahu gelagat, segera minta pamit. Lelaki berpakaian kuning gading itu beranjak pergi un- tuk mencari Joko Galing. Walau tak tahu apa sebenar- nya maksud sang Ketua, Barda tak berani membantah apalagi menentangnya. Dengan perasaan kurang enak, Barda melangkah pergi.
"Aneh! Bukankah dulu dia yang menyuruh agar dibunuh semua keturunan Ki Santanu?! Kenapa seka- rang malah menyuruhku mencari anaknya yang hi- lang?" Barda bertanya-tanya sendiri. "Hm.... Untuk apa anak itu? Ah, memang susah bekerja sama dengan wanita!" Barda telah melangkah jauh meninggalkan Hu- tan Gendis tempat Panca Iblis berada. Namun pikiran- nya masih bingung harus menuju arah mana untuk mencari anak Ki Santanu, yang entah berada di mana. Tapi ketika Barda tengah berjalan memasuki sebuah hutan, tiba-tiba....
"Manusia keparat..! Tungguuu...!" Barda tersentak, lalu memalingkan wajah ke arah suara itu. Dilihatnya segerombolan orang berla- rian mengejar Barda. Dua puluh lima orang yang men- genakan ikat kepala bergambar tanduk merah itu ter- nyata anak buah Begal Setan Tanduk Merah. Sebuah perkumpulan begal yang akhirnya terdesak kedudu- kannya di Hutan Gendis setelah kedatangan Panca Ib- lis, apalagi semenjak Panca Iblis dipimpin Nyi Mas Lin- dri.
Siapa mereka...? Tanya Barda dalam hati. Apa urusan mereka denganku?
Barda yang belum yakin apa maksud gerombo- lan itu nampak terdiam menunggu kedatangan mereka. Namun Barda tersentak kaget, ketika melihat tan- gan orang-orang itu menggenggam senjata terhunus, seperti tengah memburu musuh.
"Siapa kalian?" tanya Barda belum mengerti. Ketua Begal Setan Tanduk Merah tersenyum sinis mendengar pertanyaan Barda. Bagi dia ucapan Barda adalah ucapan seorang pengecut. Pertanyaan seseorang yang tengah ketakutan.
"Ha ha ha...! Kenapa harus berpura-pura, Bar- da? Apa kau tak ingat dengan kami yang telah kau hi- na dulu? Setahun yang lalu. Kau dan teman-temanmu telah memaksa kami harus menyingkir dari Hutan Gendis," ujar Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah yang bernama Mangala.
Barda kembali mengerutkan kening. Dia benar- benar tak mengerti siapa sebenarnya mereka. Bertemu saja baru kali ini.
"Kedatangan Panca Iblis, telah menyebabkan kami sengsara. Kekuasaan kami di wilayah Desa Kalasan lenyap. Maka itu, kami akan menuntut balas! Nah, kini kematianmu menandai awal perjuangan kami! Anak buah, seraaang...!" perintah Mangala.
Mendengar perintah pimpinannya, seketika ke- dua puluh orang anggota Begal Setan Tanduk Merah segera mengepung Barda yang masih berusaha tenang. Semua anggota Begal Setan Tanduk Merah te- lah siaga tanpa menyerang, semua menunggu perintah dari pimpinan mereka. Mata mereka terus menatap ta- jam pada wajah Barda.
Barda menyunggingkan senyum. Kesempatan, akan aku dului mereka, gumam Barda membatin.
Srt! "Yeaaa...!" Secepat kilat Barda mencabut golok besarnya, lalu secepat kilat dibabatkan ke tubuh musuh-musuh yang merangsek dirinya.
"Awaaas...!" pekik Mangala mengingatkan pada anak buahnya. Namun serangan Barda ternyata da- tang begitu cepat. Sehingga....
Bret! Bret! Bret...! "Aaakh...!" "Wuaaa...!" Tiga orang anak buah Begal Setan Tanduk Me- rah terpekik, ketika perut mereka terbabat golok besar Barda. Mereka tak dapat berbuat apa-apa kecuali mengerang kesakitan. Sesaat ketiganya kelojotan lalu akhirnya roboh dengan tubuh berlumuran darah.
"Bangsat! Kau telah membunuh anak buahku. Kau harus mampus di tangan kami. Seraaang...!" pe- rintah Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah.
Gerombolan itu langsung menyerang dengan senjata mereka.
Wrt! "Yeaaa...!" Pedang dan golok di tangan anggota Begal Se- tan Tanduk Merah berkelebat memburu tubuh Barda. Dengan cepat Barda mengelak sambil memapakai se- rangan dengan kibasan golok besarnya.
Wrt! Trang! Trang...! Prak! Terdengar beberapa kali benturan keras. Pe- dang dan golok kedua lawan yang menyerang patah. Kedua anak buah Begal Setan Tanduk Merah tersentak dan melompat mundur menghindari babatan golok Barda.
Wrt! "Hap...!" Dua orang yang lain merangsek maju. "Hiyaaat...!" "Heaaa...!" Teriakan-teriakan keras mengiringi serangan yang dilakukan anak buah Mangala.
Wrt! Srap! Pedang dan tombak berkelebat mengarah ke tubuh Barda. Segera Barda kembali mengibaskan go- loknya. "Heaaa...!"
Wuttt! "Mampus kau Barda...!" pekik orang memegang tombak seraya menyodokkan ujung tombak yang runc- ing dan beracun ke tubuh Barda.
"Uts!" Barda tersentak, lalu melompat mundur mengelakkan serangan lawan.
Wrt! "Ihhh...!" Tombak lawan terus mencecar tubuh Barda.
Namun dengan cepat Barda bergerak ke samping dan melompat mundur mengelakkan serangan itu.
Aku harus menghalau serangannya, pikir Bar- da. Golok besar itu dikibaskan ketika tombak lawan kembali melesat ke perutnya.
Wrt! Trang! Dentangan keras pun terdengar ketika golok besar di tangan Barda berhasil membabat tombak la- wan.
Prak! "Hah...?!" Terbelalak mata orang yang menyerang Barda, ketika ujung tombaknya patah tersambar golok besar Barda. Belum sempat hilang rasa kagetnya, Barda te- lah kembali merangsek sambil membabatkan golok.
Wrt! "Ahhh...! Bangsat!" Orang itu tersentak kaget karena merasa mati langkah. Golok di tangan Barda berkelebat cepat ke tubuhnya. Hampir saja nyawanya melayang, kalau ka- wan yang lain tak segera membantu.
"Minggir...! Heaaa...!" Wuttt! Serangan cepat pedang lawan sempat membuat tersentak Barda. Namun kemudian-dengan cepat pula golok besarnya dikibaskan. Dan....
Trang! "Mampus kau!" bentak Badra. Golok besarnya terus berkelebat memapak dan melancarkan serangan ke tubuh lawan. Namun belum sempat golok itu men- genai sasaran, tiga orang melesat cepat memapak se- rangan Barda dengan trisula. Mereka dikenal dengan julukan Trisula Setan.
"Hea!"
"Yea!" Teriakan-teriakan terdengar, mengiringi seran- gan ganas mereka.
Trang, trang! Badra tersentak kaget lalu segera menarik se- rangan ke belakang dengan mata terbelalak kaget. Se- dangkan tiga orang bersenjata trisula itu tersenyum, mengejek Barda yang sejenak tampak kewalahan.
Ketiga Trisula Setan itu, merupakan penjajak- kan terakhir bagi Gerombolan Begal Setan Tanduk Me- rah. Jika ketiganya terdesak, maka Gerombolan Begal Setan Tanduk Merah akan menyerang secara serentak. "Kami lawanmu, Barda," ujar lelaki berkepala botak dan bertubuh besar. Matanya menatap tajam wajah Barda. "Nah, kini hadapilah Trisula Setan!"
"Hea...!" "Yea...!" "Hea...!" Tanpa menunggu jawaban dari Barda. Trisula Setan segera menggebrak dengan serangan. Trisula di tangan mereka langsung mencecar secara bergantian ke tubuh Barda dengan jurus 'Kembang Mayang Kara'.
Melihat serangan beruntun yang dilakukan ke- tiga lawannya. Barda segera melompat menghindar sambil membabatkan golok besarnya untuk menangkis serangan. Wuttt!
Srt! "Hah...!" Barda tersentak kaget, ketika goloknya terjepit di ujung trisula lawan. Tangan Barda menarik dengan kuat, berusaha melepaskan golok besar itu. Namun trisula yang lain langsung merangsek dan ikut menje- pit senjata Barda.
Krek!
Trang! Mata Barda membeliak kaget. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Seluruh tenaga dalam yang ada telah dikerahkan untuk membebaskan go- loknya dari jepitan trisula lawan
"Matilah kau, Barda...!" satu lagi Trisula Setan melesat, tapi tak seperti kedua rekannya. Lawan yang ketiga kini mengarahkan trisulanya ke mata Barda.
Srt! "Ahhh...!" sentak Barda sambil mengerakkan kepala, mengelakkan serangan yang hampir menusuk matanya. Lalu dengan cepat Barda bergerak melompat ke belakang dan melepaskan goloknya. Nyawanya ter- lepas dari maut, namun senjata andalannya kini ber- pindah ke tangan lawan.
"Hah...!" Mata Barda membelalak. Tubuhnya semakin terdesak serangan lawan yang terus memburu. Dengan hati diliputi rasa cemas. Barda terus melompat ke sana kemari, mengelakkan serangan lawan. Dia tak mau mati begitu saja di tangan anak buah Begal Setan Tan- duk Merah.
Sementara trisula di tangan lelaki bertubuh ku- rus terus memburu Barda.
"Ha ha ha...! Kini mampuslah kau, Barda!" seru Mangala, pimpinan Begal Setan Tanduk Merah sambil tertawa terbahak-bahak. "Kau harus memberitahukan di mana kelemahan Panca Iblis pada kami!"
"Bedebah! Sampai mati pun tak akan kuberita- hu, Kunyuk!" dengus Barda sengit.
Mangala mencibirkan bibir mengejek Barda. La- lu sambil mengibaskan tangan sebagai isyarat kepada Trisula Setan agar segera membereskan lawannya, pimpinan Begal Setan Tanduk Merah melangkah mun- dur dengan masih tertawa terbahak-bahak.
"Selamat berpisah, Barda! Hua ha ha...! Mam- puslah kau...!"
Tanpa senjata Barda terpaksa harus mengha- dapi Trisula Setan yang terus menyerang dengan ga- nas. Meskipun gerakannya untuk mengelak terus di- percepat. Namun Barda tetap semakin terdesak dan tampak kewalahan. Dia tak mampu lagi melakukan se- rangan, kecuali hanya bergerak menjauh dari ketiga lawan tangguhnya itu. "Hea...!" "Yea...!" Teriakan-teriakan keras terus terdengar, mengi- ringi serangan yang kian ganas dari Trisula Setan.
Wrt! Srt! Ketiga trisula itu terus membabat dan menusuk ke tubuh Barda yang kian mengendur pertahanannya. Hingga.... Wuttt!
Bret! "Aaakh...!" Barda terpekik ketika perutnya tersambar trisu- la di tangan salah seorang lawan.
Trisula Setan terus mengejar tubuh Barda yang kian melemah tubuhnya. Namun tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat cepat Dan....
Wrt! Trang, trang, trang...! "Aaa...!" Ketiga Trisula Setan itu terpekik. Ketiganya me- rasakan ada hawa panas menjalar lewat tangannya, ketika senjata mereka berbenturan keras dengan se- buah suling yang tiba-tiba memapaki serangan ke tu- buh Barda.
"Aha...! Rasanya tak adil, Kisanak! Satu orang harus menghadapi keroyokan...," ujar pemuda berompi kulit ular yang telah menangkis serangan Trisula Se- tan. Mulutnya cengengesan sambil menyelipkan suling ke pinggang.
"Setan...! Berani benar kau ikut campur?!" maki Mangala. Matanya seketika menatap seorang pemuda bertingkah laku seperti orang gila yang berdiri di samping Barda. "Bedebah! Kau rupanya mencari mampus, Anak Muda! Kau berani menolong penjahat!"
Pemuda yang tak lain Sena atau yang berjuluk Pendekar Gila itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pimpinan Begal Setan Tanduk Merah.
"Apakah kalian bukan penjahat? Hi hi hi...!" "Bangsat! Siapa kau, Bocah Gila!" dengus Man- gala marah. "Katakan, sebelum anak buahku ini men- cincang tubuhmu!"
"Hi hi hi.... Lucu! Aku katakan juga percuma, Kisanak! Nah, kalau kalian manusia, hendaknya me- melihara rasa kemanusiaan. Mengapa kalian mau membunuh orang yang sudah tak berdaya? Hi hi hi..!" sahut Sena.
"Bocah edan! Jangan menggurui kami! Anak buah, serang keduanya jangan beri ampun...!"
"Hiaaat..!" Gerombolan Begal Setan Tanduk Merah segera melaksanakan perintah pimpinannya. Mereka serentak mengepung dan menyerang Pendekar Gila yang beru- saha melindungi Barda.
"Sobat, apa kau bisa menjaga diri?" tanya Sena sambil cengengesan, tangannya menggaruk-garuk kepala. Padahal lawan-lawannya siap untuk melakukan serangan. Hal itu membuat Barda terheran-heran melihat tingkah laku pemuda yang menolongnya. Seakan pemuda bertingkah laku seperti orang gila itu, belum siap untuk melakukan pertarungan.
"Aku akan berusaha," sahut Barda.
"Aha, bagus! Kita akan main-main dengan me- reka, Kisanak!" ujar Sena sambil cengengesan.
"Bocah edan! Rupanya kau mencari mampus!" dengus lelaki berkepala botak, salah seorang dari Tri- sula Setan.
"Hi hi hi...! Mampus...? Aha, rupanya kau su- dah tak betah hidup, Botak..!" ujar Sena, semakin membuat orang-orang Begal Setan Tanduk Merah ber- tambah marah.
"Kurang ajar! Kupecahkan kepalamu...!" dengus Mangala. "Hiaaa...!"
"Heit! He he he...!" Dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat' Pen- dekar Gila bergerak mengelakkan serangan lawan, se- kaligus melindungi Barda.
"Hea...!" "Yea...!" Menyaksikan jurus yang dilancarkan Pendekar Gila, anak buah Begal Setan Tanduk Merah bertambah marah dan beringas. Jurus yang sepintas kelihatan lemah dan pelan itu, mengundang mereka untuk terus melakukan serangan-serangan gencar. Mereka men- ganggap pemuda bertingkah laku gila itu tak memiliki kemampuan ilmu silat.
"Kucincang tubuhmu, Bocah Edan!" maki Man- gala seraya mengayunkan pedang membabat Pendekar Gila. Namun, dengan jurus 'Gila Menari Menepuk La- lat', tubuh Sena meliuk. Kemudian sambil cengenge- san, tangannya bergerak menepuk ke dada lawan.
"Hi hi hi...! Kurang tepat, Kisanak! Hih...!" Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah tersentak kaget, ketika tangan Pendekar Gila tiba-tiba hampir menghantam dadanya. Padahal gerakan Pendekar Gila tampak pelan dan lemah.
"Edan! Jurus edan...!" maki Mangala sambil melompat mundur, mengelakkan serangan yang dilan- carkan Pendekar Gila. Matanya terbelalak, seperti tak percaya dengan apa yang terjadi. Tubuhnya hampir sa- ja terhantam telapak tangan Pendekar Gila, kalau saja tak segera mencelat ke belakang.
"Hi hi hi...!" Dengan cengengesan, Pendekar Gila kembali bergerak. Tubuhnya diputar ke arah kiri. Kemudian dengan tangan diangkat ke atas, tubuhnya mengitari Barda. Sedangkan tangannya yang telah memegang Suling Naga Sakti, kini bergerak memukul lawan- lawannya yang hendak menyerang.
"Tenang, Kisanak! Kau harus memusatkan ji- wamu agar tidak pusing," saran Sena, mengingatkan pada Barda agar tidak terpengaruh gerakan dari jurus 'Gila Melepas Lilitan Benang'. Sebuah jurus yang membuat lawan terbelalak keheranan.
"Jurus edan!" maki Mangala, pimpinan Begal Setan Tanduk Merah, merasa sangat sulit baginya dan anak buahnya untuk dapat menembus pertahanan Pendekar Gila.
"Cuih! Anak-anak, pergi...!" Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah segera menggerakkan tangan kanan, memerintah anak buah- nya agar cepat meninggalkan tempat itu. Seketika itu pula, anak buah Begal Setan Tanduk Merah berlarian meninggalkan Hutan Galadema, tempat pertarungan mereka berada.
***

3
"Hai, jangan lari...!" teriak Barda sambil beru- saha mengejar Gerombolan Begal Setan Tanduk Me- rah. Namun, Pendekar Gila segera mencegahnya.
"Aha, biarkan saja gerombolan itu pergi, Kisa- nak! Tak usah kau kejar. Sia-sia saja kau mengejar mereka," ujar Pendekar Gila sambil melangkah mende- kati Barda yang segera menghentikan langkahnya.
"Tapi mereka sangat berbahaya, Kisanak," ujar Barda cemas.
"Hi hi hi...! Kecemasan hanya ada di hati orang yang berbuat dosa dan salah...," tutur Pendekar Gila dengan cengengesan sambil tangannya menggaruk- garuk kepala. Seakan-akan berbicara pada diri sendiri.
Mendengar ucapan Pendekar Gila, Barda ter- sentak. Dia tidak menyangka, kalau pemuda tampan yang bertingkah laku seperti orang gila itu mampu berbicara seperti layaknya seorang guru besar.
Pendekar Gila melangkah sambil menengadah- kan wajah ke langit. Dilihatnya mendung berarak-arak berkumpul jadi satu. Seakan-akan mendung itu mem- beri suatu petunjuk kepada dirinya.
"Ah, mendung berkumpul. Langit tampak se- makin gelap. Mungkin akan turun hujan," gumam Sena.
Barda turut mendongak ke atas, memandang mendung yang kian menebal itu. Hatinya tersentuh ju- ga mendengar penuturan Pendekar Gila. Dia turut membenarkan ucapan pemuda aneh di hadapannya. Dihelanya napas dalam-dalam, seolah ingin mene- nangkan perasaan hatinya.
"Kisanak, tutur ucapanmu sangat menyentuh hatiku. Kalau boleh ku tahu, siapakah Kisanak sebe-
narnya?" tanya Barda dengan bola mata menatap ta- jam wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat Barda bertambah mengerutkan kening. Mata Barda semakin tak berkedip menatap pemuda itu.
"Ha ha ha, siapa pun diriku, kurasa tak pent- ing. Aku manusia biasa sepertimu. Hanya saja, mung- kin keadaan kita yang berbeda," tutur Sena dengan cengengesan persis orang tolol.
Barda menghela napas panjang-panjang. Entah mengapa, kini dia merasakan kebenaran ucapan pe- muda di hadapannya. Dan tanpa sadar, hatinya yang selama ini gelap, tiba-tiba bagaikan diterangi cahaya. Kesadaran Barda mulai timbul, bahwa segala yang pernah dilakukan selama ini salah.
"Mungkinkah pemuda ini tokoh yang dijuluki sebagai Pendekar Gila?" tanya Barda dalam hati, beru- saha menduga-duga. "Dilihat dari tindak tanduk dan ilmunya, jelas merupakan ciri-ciri Pendekar Gila. Hm, Mungkin dialah orangnya."
"Aha, apa yang kau pikirkan, Kisanak?" tiba- tiba Sena bertanya, menyentakkan Barda dari lamu- nannya. "Dan mengapa gerombolan tadi mengatakan kau orang jahat?"
Barda kembali menghela napas. Kini Barda me- rasa seperti tengah dihadapkan pada dewa yang se- dang mengadilinya. Tak bisa lagi berdusta di hadapan pemuda bertingkah laku seperti orang gila itu. Seakan ada sesuatu yang mendorong untuk menceritakan se- mua tingkah laku hidupnya selama ini;
"Apa yang mereka katakan memang benar, Ki- sanak. Aku salah seorang anggota Panca Iblis. Tapi se- jak Panca Iblis dikalahkan Nyi Mas Lindri, hatiku sela- lu ingin meninggalkan mereka...," desah Barda seakan berusaha menghilangkan beban yang mengganjal ji-
wanya. "Aha, lalu mengapa kau tak meninggalkan me- reka?" tanya Sena.
"Aku tak mampu," sahut Barda setengah men- geluh, "Nyi Mas Lindri bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu tinggi, hingga kami tak mampu menga- lahkan. Panca Iblis harus tunduk dan patuh pada setiap perintahnya.."
"Hm...," gumam Sena tak jelas. Mulutnya nyen- gir, lalu tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Tadi pun, aku harus menuruti perintahnya un- tuk mencari anak Ki Santanu. Nyi Mas Lindri bukan hanya kejam, dia semakin menambah penderitaan warga Desa Kalasan...," lanjut Barda menceritakan.
"Maksudmu...?" tanya Sena. Barda menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya mendung yang semakin menebal di langit.
"Nyi Mas Lindri tak hanya menuntut upeti dari warga Desa Kalasan. Tapi lebih dari itu, dia juga seorang wanita cabul yang doyan anak muda. Dengan il- munya yang tinggi, dia memaksakan kehendak untuk memuaskan nafsu. Warga yang memiliki anak lelaki muda diharuskan menyerahkannya pada Nyi Mas Lindri sebagai pemuas nafsu birahinya."
"Ha ha ha, tak boleh dibiarkan!" gumam Sena. "Apa selama ini tak ada yang menentang?"
"Siapa yang berani Kisanak?" sahut Barda balik bertanya. Pendekar Gila nyengir sambil menggaruk-garuk kepala. Tingkah lakunya tetap seperti orang gila. Hal itu membuat Barda mengerutkan kening keheranan.
"Aha, lalu apa Kisanak tetap mau mencari anak Ki Santanu itu?" tanya Sena.
"Entahlah. Kejadian ini membuat jalan pikiran- ku mulai terbuka. Aku ingin kembali hidup di jalan yang benar, meninggalkan duniaku yang gelap," jawab Barda sepertinya benar-benar hendak meninggalkan dunia hitamnya. Dunia yang selalu membuat dirinya bagai dikejar-kejar rasa takut dan cemas. Perasaan dosa dan musuh yang banyak.
"Benarkah kau ingin meninggalkan dunia hi- tammu?" tanya Pendekar Gila berusaha meyakinkan.
"Ya," tegas Barda. "Mulai saat ini aku bertekad untuk kembali ke jalan lurus."
"Aha, bagus! Kurasa memang secepatnya kau harus menyadari semuanya, Kisanak."
"Terima kasih! Kini bolehkah aku bertanya, sia- pa kau sebenarnya Anak Muda?"
"Namaku Sena. Tetapi orang biasa memanggil- ku dengan sebutan Pendekar Gila," jawab Sena yang membuat mata Barda terbelalak semakin lebar.
"Sudah kuduga," desis Barda dalam hati. "Ka- lau memang Pendekar Gila. Ah, beruntung sekali aku bisa bertemu dengannya. Pantas, tutur katanya begitu arif dan bijaksana."
"Aha, kau kembali termenung, Kisanak. Lalu siapa kau sebenarnya? Aku memang telah mendengar Panca Iblis. Tapi aku belum pernah bertemu dengan kalian," ujar Sena.
"Namaku, Barda," sahut Barda memperkenal- kan diri, "Kalau Kisanak tak keberatan, ingin rasanya aku menyertaimu. Aku ingin jauh dari mereka."
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak men- dengar permintaan dan ucapan Barda. Mulutnya cen- gengesan sambil menggeleng-geleng kepala, seakan- akan hendak mengatakan sesuatu.
"Ha ha ha, mengapa kau takut, Kisanak! Kebe- naran akan senantiasa dilindungi Hyang Widhi. Tak perlu Kisanak takut pada mereka!" ujar Sena. Namun, Barda nampaknya belum yakin pada dirinya sendiri.
Hatinya masih dilanda rasa takut menghadapi Nyi Mas Lindri.
"Tapi, Nyi Mas Lindri sangat kejam, Kisanak. Dia tak akan membiarkanku begitu saja," ujar Barda cemas. "Izinkanlah aku mengikutimu! Bukan hanya Nyi Mas Lindri yang akan menghukumku, tapi mung- kin anak Ki Santanu yang masih hidup. Anak itu pasti akan membalas dendam atas kematian keluarganya."
Mendengar penuturan Barda, Pendekar Gila hanya berdiam. Dihelanya napas dalam-dalam. Dia memahami kekhawatiran yang melanda hati lelaki di hadapannya. Apalagi setelah mengetahui tekad Barda untuk meninggalkan dunia hitamnya.
"Aha, baiklah! Kalau begitu kita berangkat ke tempat tinggal Panca Iblis!" ajak Sena dengan cen- gengesan.
Terbelalak mata Barda mendengar ajakan Pen- dekar Gila. Keningnya berkerut merasa heran dan tak mengerti mengapa Pendekar Gila justru mengajaknya ke tempat tinggal Panca Iblis.
"Untuk apa...?" tanya Barda. "Aha, bukankah mereka orang-orang yang ha- rus ditumpas?" tanya Sena yang membuat Barda se- makin tersentak.
"Jadi...?" Belum sempat Barda selesai berkata, Pendekar Gila dengan masih cengengesan menyahut cepat.
"Kurasa warga Desa Kalasan harus segera di- bebaskan dari penderitaan yang mereka timbulkan.
"Kau akan menyerang mereka?" "Aha, kurasa tidak, selama mereka bersedia se- cara baik-baik meninggalkan Desa Kalasan," jawab Se- na, sambil menatap wajah Barda dengan mulut cen- gengesan.
"Kenapa? Bukankah kau sendiri ingin bebas
dari mereka?"
"Benar." "Aha, kita harus segera ke sana, Barda!" sentak Sena."
"Aku tak yakin, apa kita mampu menghadapi mereka," gumam Barda lirih, tampaknya dia meragu- kan kemampuan Pendekar Gila yang masih muda itu.
"Aha, apa yang membuatmu ragu, Kisanak?" tanya Sena sambil menatap wajah Barda. Barda ter- diam, lalu menghela napas dalam-dalam. Sepertinya ada sesuatu kebimbangan yang bergayut di hatinya.
"Aku masih ragu, apakah kau mampu menga- lahkan Nyi Mas Lindri? Karena ilmunya jauh di atas ilmuku," ujar Barda setengah mendesah lirih.
Pendekar Gila tertawa sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian dihelanya napas panjang-panjang. Matanya memandang lepas ke langit yang tertutup mendung.
Barda turut terdiam, dengan perasaan yang masih diliputi kebimbangan.
Mungkinkah pemuda yang bergelar Pendekar Gila ini mampu menghadapi Nyi Mas Lindri yang sakti itu? Tanya Barda dalam hati. Telah banyak tokoh per- silatan tua dan berpengalaman menghadapi Nyi Mas Lindri. Namun, belum ada yang mampu mengalahkan- nya.
Barda memperhatikan Pendekar Gila dengan seksama, seakan masih berusaha meyakinkan dirinya akan kemampuan pemuda yang bertingkah laku gila itu.
"Aha, keraguan akan membuat langkah ter- hambat. Mengapa kau masih ragu, Barda? Bukankah mati untuk membela kebenaran dan keadilan itu tekad orang ksatria?" tanya Sena, berusaha mendorong se- mangat Barda yang masih diliputi rasa takut dan tak percaya diri.
"Baiklah, aku mengikutimu." "Aha, bagus! Kita harus segera ke sana. Ayo!" ajak Sena.
Keduanya segera melesat meninggalkan Hutan Galadema. Tak lama kemudian hujah lebat pun meng- guyur hutan ini.
***

Sementara itu, Joko Galing yang hendak menu- ju Desa Kalasan, kini telah sampai di Desa Sangga Lumajang di kaki Gunung Panalu. Ketika kakinya se- dang menyelusuri Desa Sangga Lumajang tiba-tiba ma- tanya melihat lelaki tua tengah diseret empat orang le- laki bertampang garang.
"Hm, permainan apa lagi yang hendak dipertun- jukkan orang-orang itu...?" dengus Joko Galing sambil menghentikan langkah, dan menatap tajam ke lima le- laki yang menyeret lelaki tua itu.
"Aduh... ampun!" ratap lelaki tua kurus yang bertelanjang dada itu.
"Kalau kau minta ampun, katakan di mana anak lelakimu kau sembunyikan!" bentak lelaki berwa- jah garang yang duduk di punggung kuda.
"Sungguh, Tuan! Hamba tak menyembunyikan. Anak hamba telah pergi sebelum Tuan datang," jawab lelaki tua itu.
"Setan! Kau kira kami bisa dibohongi, heh?!" bentak lelaki berkuda itu sambil mempercepat langkah kudanya. Lelaki tua itu menjerit kesakitan. Tubuhnya lu- ka-luka tergores tanah jalanan.
"Aduh...! Ampuuun...!" teriak lelaki tua itu. Tu- buhnya yang terkapar di tanah kelojotan kesakitan.
Joko Galing yang menyaksikan kejadian itu, merasa trenyuh. Tubuhnya segera melesat. Kemudian dengan gerakan yang sangat cepat, Joko Galing men- cabut pedangnya. Lalu dalam sekejap saja, Pedang Lembayung Merah di tangannya telah membabat tali yang mengikat tangan orang tua itu.
Srt! Bret! Tali itu putus. Sementara, kuda penarik lelaki tua itu tiba-tiba menjadi liar. Tampaknya kuda coklat itu ketakutan, melihat Pedang Lembayung Merah yang mengeluarkan sinar merah.
Belum sempat lenyap rasa kaget mereka, Joko Galing dengan cepat mengelebatkan pedangnya me- nyerang keempat lelaki yang terperangah menyaksikan gerakannya.
"Kalian harus mampus! Hih...!" Wrt! Dengan mata terbelalak, keempat lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun itu melompat mundur. Mere- ka semakin terperanjat menyaksikan gerakan cepat Joko Galing. Namun....
Wuttt! Jrab! Jrab! Pedang Lembayung Merah di tangan Joko Gal- ing berhasil membabat lawan.
"Akh...!" "Wua...!" Dua orang terpekik keras, ketika Pedang Lem- bayung Merah membabat perut mereka. Mata kedua orang itu terbelalak tegang. Seketika darah menyem- bur keluar dari luka yang menganga. Sesaat tubuh ke- duanya mengejang, kemudian ambruk dan tewas.
"Bangsat! Siapa kau?! Berani sekali melawan Panca Iblis!"
Lelaki berkuda itu marah ketika menyaksikan dua orang temannya dalam sekali gebrakan saja telah tewas di tangan pemuda itu.
"Aku Joko Galing. Aku datang untuk menum- pas kalian, para begundal yang telah membuat warga menderita. Heaaa...!"
Joko Galing yang diliputi dendam kesumat tan- pa banyak kata segera mengamuk bagaikan banteng terluka. Pedang Lembayung Merah di tangannya berge- rak cepat, menyerang kedua orang lawannya.
Wrt! Cras! "Wua...!" Kedua orang itu terpekik ketika Pedang Lem- bayung Merah membabat perut mereka. Sesaat tubuh keduanya mengejang kemudian ambruk dan tewas.
Terbelalak mata lelaki yang duduk di atas punggung kuda, menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawan. Hanya dengan dua kali gebrakan saja, keempat kawannya telah tewas. Merasa dia pun tak bakal sanggup menghadapi pemuda itu, lelaki penunggang kuda yang ternyata anak buah Panca Iblis segera menggebah kudanya.
"Mau lari ke mana kau?!" bentak Joko Galing. Kemudian dengan cepat pemuda itu melesat, memburu lelaki berkuda itu.
Dengan menggunakan ilmu 'Gerak Sewu', da- lam sekejap saja Joko Galing mampu menghadang lelaki berkuda itu.
"Ah!" Lelaki bermuka garang itu tersentak kaget me- lihat Joko Galing telah berdiri menghadang di hada- pannya "Mau lari ke mana, Bajingan?!" bentak Joko Galing geram. Matanya melotot, menatap tajam wajah lelaki yang masih duduk di punggung kuda itu.
"Minggir! Jangan halangi aku!" sentak lelaki berpakaian biru tua, yang ternyata bernama Rawanda.
Joko Galing tersenyum sinis. Dengan pedang di tangan kanannya. Pemuda itu melangkah mendekati Rawanda yang masih duduk di atas punggung kuda.
Menyaksikan Joko Galing melangkah mende- kat, Rawanda mengerutkan kening. Perasaan cemas dan takut seketika menyelimuti jiwanya. Dia tahu ba- gaimana kehebatan pedang di tangan pemuda itu, ke- tika membantai keempat kawannya.
"Kau pun harus mampus, Bajingan! Tapi untuk kali ini, aku mengampunimu. Biar salah satu kuping- mu kupenggal. Katakan pada Panca Iblis, Joko Galing anak Ki Santanu akan menuntut balas," suara Joko Galing terasa tenang dan dingin sekali. Matanya yang membuka lebar, menatap tajam wajah Rawanda yang kini pucat pasi mendengar ucapan Joko Galing.
"Tidak! Jangaaan...! Ampunilah nyawaku," ra- tap Rawanda ketakutan.
"Aku tak akan membunuhmu. Aku hanya ingin minta kenang-kenangan darimu. Setelah itu, cepatlah minggat dari hadapanku," usai berkata demikian, Joko Galing melompat. Tubuhnya bersalto beberapa kali di udara, kemudian dengan cepat membabatkan Pedang Lembayung Merah ke telinga Rawanda.
"Jangaaan...!" pekik Rawanda ketakutan. Wrt! "Akh...!" Lelaki berkuda itu terpekik keras, memegangi kuping sebelah kirinya yang putus. Darah bercucuran membasahi pakaiannya. Sementara kuping yang putus itu telah berada di tangan Joko Galing.
"Enyahlah dari sini! Katakan pada pimpinan- mu, Joko Galing akan datang! Siapkan nyawa mereka!
Hea...!" Joko Galing memukul pantat kuda itu, yang seketika lari dengan tunggang-langgang.
Joko Galing tertawa melihat kejadian lucu tadi. Sebentar kemudian pemuda itu segera melesat, me- nyusul lari kuda yang ditunggangi Rawanda.
***

4
Di bawah pimpinan Nyi Mas Lindri, Panca Iblis semakin menancapkan kuku kekuasaan, mencengke- ram warga Desa Kalasan dan desa-desa lain di sekitar Hutan Gendis. Selama itu, belum ada seorang warga pun yang berani menentang kekuasaan Nyi Mas Lindri
Siang itu, Nyi Mas Lindri dan empat tokoh dari Panca Iblis berkumpul di sebuah ruang pertemuan yang juga merupakan kamar khusus Nyi Mas Lindri.
Wanita cantik bertubuh sintal itu berbaring di dipan dari kayu jati berukir. Di belakangnya, empat pemuda tampan bertelanjang dada tampak memijati tubuhnya yang mulus. Sesekali mereka men-ciumi tu- buh Nyi Mas Lindri yang hanya tertutup pakaian tipis dan tembus pandang berwarna merah jambu. Matanya yang lembut tapi tajam menatap keempat lelaki tangan kanannya.
"Barda belum juga pulang. Mungkinkah dia mendapat kesulitan di jalan...?" gumam Nyi Mas Lin- dri. Tubuhnya menggeliat kenikmatan ketika keempat pemuda tampan itu membelai dan menciumi sekujur tubuhnya.
"Kurasa Barda tak mungkin menemukan anak Ki Santanu, Nyi Mas. Lagi pula untuk apa bocah itu dicari? Bukankah hanya akan membuat repot kita?" tanya Gaja Polo, yang tampaknya tak setuju dengan rencana Nyi Mas Lindri.
"Huh! Kau tahu apa, Gaja Dungu! Menurut pe- tunjuk yang kuperoleh, justru anak Ki Santanu yang bakal membantuku mencapai cita-cita menundukkan dunia persilatan," tegas Nyi Mas Lindri.
Gaja Polo terdiam. Dia tak berani lagi memban- tah ucapan sang Pimpinan. Bagaimanapun, kemam- puannya tak sanggup menghadapi Nyi Mas Lindri yang berilmu tinggi. Ilmu wanita cantik itu, jauh berada di atasnya. "Kalian tahu, jika aku bisa menjadikan anak Ki Santanu sebagai kekasihku, maka cita-citaku menjadi ratu persilatan akan terlaksana. Itu kata petunjuk yang kuterima," tutur Nyi Mas Lindri sambil terus me- nikmati rabaan dan ciuman keempat pemuda tampan yang telah menjadi budak nafsunya.
"Apakah tak akan sebaliknya, Nyi Mas?" tanya Saratakulir.
"Kalian takut anak itu balas dendam atas ke- matian kelurganya?"
"Ya," sahut Sartakulir. "Itu yang selalu kuce- maskan." Nyi Mas Lindri tertawa terkekeh sambil mengge- leng-gelengkan kepala. Wanita cantik itu bangkit dari pembaringan, lalu duduk di dipan berukir itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Seakan hendak me- nunjukkan kecantikannya.
"Selama masih ada aku, tak mungkin dia ber- buat begitu," katanya sombong, menjadikan keempat lelaki dari Panca Iblis mengerutkan kening. Mereka se- perti belum yakin dengan apa yang diucapkan Nyi Mas Lindri.
"Sungguhkah itu, Nyi Mas?" tanya Gaja Polo ingin tahu. Nyi Mas Lindri kembali tersenyum, lalu bangkit dari duduknya, melangkah mendekati Gaja Polo dan ketiga kawannya. Matanya yang lentik, menatap tajam pada keempat tangan kanannya itu.
"Kita buktikan saja nanti! Selama Nyi Mas Lin- dri ada bersama kalian, tak mungkin dia berkutik," ujar Nyi Mas Lindri meyakinkan. Kemudian matanya memandang lepas keluar, Hutan Gendis tampak ter- hampar dengan pepohonan besar mengelilingi tempat tinggal mereka.
Keempat lelaki di hadapannya hanya mampu diam. Meski mereka belum yakin dengan apa yang di- katakan sang Pimpinan, mereka tak berani untuk me- nentang. Mereka tak ingin mati sia-sia di tangan wani- ta cantik berhati iblis yang sadis itu. Tak peduli siapa pun jika tak disukai, Nyi Mas Lindri akan membunuh dengan pukulan mautnya yang bernama 'Gelap Ngam- par'.
Ketika mereka tengah membicarakan masalah Barda yang belum juga datang. Tiba-tiba....
"Nyi Mas Lindri, aku datang...!" Dari luar terdengar suara teriakan seseorang yang sangat dikenalnya. Suara Barda yang sepertinya mengandung permusuhan itu, membuat Nyi Mas Lin- dri dan keempat Panca Iblis membelalak kaget
"Barda!" seru Nyi Mas Lindri. "Sejak kapan dia berteriak seperti itu?!"
"Nyi Mas Lindri, keluar kau!" kembali terdengar suara Barda berteriak menantang. Baik Nyi Mas Lindri maupun keempat anak buahnya belum percaya teria- kan Barda.
"Kurang ajar! Lancang sekali mulutnya!" den- gus Nyi Mas Lindri sengit. Kemudian dengan penuh amarah wanita cantik itu melesat keluar diikuti keempat Panca Iblis.
Seketika mata mereka terbelalak, melihat Barda yang didampingi pemuda bertingkah laku seperti orang gila, berdiri menantang. Hal itu membuat Nyi Mas Lin- dri semakin bertambah marah, merasa telah ditantang anak buahnya.
"Barda keparat! Rupanya kau sudah bosan hi- dup!" dengus Nyi Mas Lindri geram.
"Hm, hidup matiku bukan di tanganmu, Wanita Iblis!" balas Barda tak mau kalah, "Aku datang untuk menghentikan sepak terjangmu yang kelewat biadab!"
"Hi hi hi...! Cantik sekali kau, Nyi. Sayang, di hatimu bersarang iblis...," gumam Sena sambil cen- gengesan. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Barda keparat! Rupanya Bocah Edan itu yang membuatmu berani menantangku!" dengus Nyi Mas Lindri dengan mata melotot garang menatap Pendekar Gila.
"Hua ha ha...! Nyi Mas Lindri, kucari-cari ak- hirnya kutemui kau di sini," gumam Sena dengan cen- gengesan sambil tangan menggaruk-garuk kepala. "Se- telah gagal menyingkirkan keluarga Baginda Aji War- dana, tak bosan-bosannya kau berbuat kejahatan, Nyi!"
"Cuih! Rupanya kau memang mencari mampus, Pendekar Gila! Kau selalu saja mencampuri urusan- ku!" dengus Nyi Mas Lindri sengit, karena selama ini Pendekar Gila senantiasa menghalangi maksudnya. Rencananya menggulingkan Baginda Aji Wardana gag- al juga karena campur tangan Pendekar Gila (Untuk mengetahui lebih jelas siapa sebenarnya Nyi Mas Lin- dri, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Istana Berdarah").
"Aha, kurasa kaulah yang mencari penyakit. Perempuan Busuk!" balas Sena. "Kucari kau ke mana-mana untuk mempertanggungjawabkan pemberonta- kanmu yang gagal. Ternyata kau ada di sini, Nyi!"
"Kurang ajar! Bunuh dia...!" perintah Nyi Mas Lindri sambil menggerakkan tangan kanan pada keempat anak buahnya yang sejak tadi hanya mampu diam. Mereka tak tahu harus berbuat apa.
Mendengar perintah Nyi Mas Lindri, keempat lelaki yang tergabung dalam Panca Iblis, seketika mencabut senjata mereka dan langsung menggebrak Pen- dekar Gila.
"Yea...!" "Hi hi hi...! Mengapa tikus-tikus ini yang kau ajukan, Nyi...?" ejek Sena sambil tertawa cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Pendekar Gila masih tenang. Bahkan tingkah lakunya semakin gila. Dengan melompat-lompat sambil menggaruk-garuk kepala seperti seekor monyet, Pendekar Gila mengelakkan serangan lawan.
"Hea!" "Heit! Barda, bersiaplah! Kita akan main-main dengan tikus-tikus ini," ujar Sena sambil bergerak me- liuk-liukkan tubuhnya, mengelakkan serangan- serangan yang dilancarkan empat orang dari Panca Ib- lis. Dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat', Pende- kar Gila bergerak mengelakkan serangan-serangan lawan.
Barda yang telah bertekad kembali ke jalan lu- rus, tak mau tinggal diam. Dia segera membantu Pen- dekar Gila, menghadapi serangan yang dilancarkan keempat bekas kawannya. Dengan golok besar di tan- gan, Barda yang semakin yakin pada kebenaran dan keadilan, bagaikan macan lapar. Tangannya dengan cepat membabatkan golok besarnya.
"Hiaaa...!" Wrt!
Trang! Benturan keras senjata terdengar memecahkan suasana sepi Hutan Gendis.
"Yea!" "Barda! Keparat, kubunuh kau!" geram Gaja Po- lo, melihat temannya kini berpihak pada Pendekar Gila yang seharusnya dimusuhi. Pedang di tangannya ber- kelebat menyerang Barda. Namun, dengan cepat Barda bergerak mengelak, seraya membabatkan golok besar- nya.
"Yea!" Wrt! Trang! Gaja Polo semakin marah menyaksikan bekas kawannya tak gentar sedikit pun menghadapinya. Dengan jurus 'Kalamandaka' Gaja Polo berusaha me- nekan pertahanan Barda. Pedangnya menderu deras menusuk dan membabat ke tubuh Barda.
"Yea!" "Haits!" Melihat Gaja Polo menyerang dengan jurus an- dalannya, Barda pun tak mau tinggal diam. Kakinya melompat dua tombak ke belakang. Kemudian dengan jurus 'Genta Caragata', Barda membabatkan golok be- sarnya. "Hea!"
Wrt! Angin menderu keras, ketika golok di tangan Barda membabat ke tubuh Gaja Polo. Golok itu mam- pu mengeluarkan angin yang sangat keras. Gerakan- nya sangat cepat, melebihi serangan yang dilancarkan lawan.
"Hea!" Teriakan keras terus terdengar mengiringi se- rangan yang kian ganas dan cepat.
Wrt! Trang! "Ukh...!" Mata Gaja Polo terbelalak kaget, ketika pedangnya berbenturan dengan golok besar Barda. Tangannya dirasakan bergetar dan kesemutan. Namun kakinya segera melompat ke belakang, berusaha men- jauhi serangan lawan.
***

Suasana di Hutan Gendis yang semula tenang, kini terdengar suara teriakan-teriakan pertarungan mereka. Selain itu beberapa pohon tumbang terbabat senjata dan terhantam pukulan. Rerumputan morat- marit terinjak kaki mereka. Bahkan binatang hutan tampak berlarian ketakutan.
Pendekar Gila yang menghadapi keroyokan tiga orang lawan, masih tampak tenang. Dengan jurus 'Gila Melempar Batu', Pendekar Gila berusaha menggempur pertahanan ketiga lawannya.
"Hea!" "Hi hi hi...! Kalian benar-benar seperti tikus sa- wah," ejek Sena sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian tangannya kembali bergerak, seperti me- lemparkan batu menyerang lawan-lawannya. Ketiga lawannya tersentak kaget, ketika dari gerakan melem- par yang dilakukan Pendekar Gila melesat gumpalan angin menderu keras ke tubuh mereka. Angin kencang itu, seketika menahan serangan ketiga lawannya.
"Ilmu edan!" maki Sartakulir. Dia berusaha me- nerobos serangan yang dilancarkan Pendekar Gila. Namun, angin yang menderu ke tubuhnya dirasakan begitu kuat. Sulit bagi Sartakulir untuk menembus pertahanan Pendekar Gila. "Benar-benar ilmu edan!"
"Hi hi hi...! Kalian persis tikus sawah. Hua ha ha!"
"Bocah edan, kubunuh kau!" maki Wadas Ka- pul. Lelaki bertubuh gemuk dengan alis tebal dan hidung mancung itu tampak marah karena tak mampu berkutik, terkurung angin topan dari tangan Pendekar Gila.
"Hua ha ha...!" Sena tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya melompat ke sana kemari seperti monyet, sambil menggaruk-garuk kepala. "Lucu sekali ..! Kalian seperti tikus sawah dikejar kucing. Hi hi hi...!"
"Bedebah! Bocah edan itu harus segera kusing- kirkan!" maki Nyi Mas Lindri, melihat ketiga tangan kanannya terdesak, dan tak mampu berbuat apa-apa. Wanita itu segera melesat memburu Pendekar Gila, Kemudian dengan jurus 'Sapuan Topan'nya, dia meng- halau pukulan yang dilemparkan Pendekar Gila.
"Hancur tubuhmu, Bocah Edan! Hih...!" "Aha, kebetulan sekali kau ikut campur, Nyi! Hi hi hi...!" Dengan melompat seperti monyet, Pendekar Gi- la mengelakkan pukulan yang dilontarkan Nyi Mas Lindri
Wrt! Jlegarrr...! Ledakan dahsyat terdengar, mengakibatkan ta- nah yang terkena hantaman pukulan Nyi Mas Lindri hancur dan berhamburan. Hawa panas seketika me- nyelimuti suasana di hutan ini. Beberapa pohon besar ikut hancur dan tumbang terkena pukulan dahsyat itu.
"Hi hi hi...! Kurang tepat, Nyi," ejek Sena meng- goda. Hal itu membuat Nyi Mas Lindri semakin marah. Mata wanita cantik itu melotot sengit. Nafasnya men- gendus lalu kedua telapak tangannya disatukan di dada, sepertinya hendak memusatkan kekuatan tenaga dalamnya.
"Bocah edan! Kini terimalah pukulan 'Gelap Ngampar'ku! Heaaa...!"
"Aha, ku tahu pukulanmu bernama Gelap Guli- ta, Nyi. Hi hi hi...!" ejek Sena sambil melompat ke samping ketika tangan Nyi Mas Lindri menghantam ke tubuhnya.
Wuttt! Jlegar...! "Hi hi hi...! Masih kurang tepat, Nyi," goda Sena sambil melompat-lompat kegirangan. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Mulutnya yang cengengesan membuat Nyi Mas Lindri semakin geram dan marah.
"Kurang ajar! Kau benar-benar harus mampus, Bocah Edan! Yea...!"
Nyi Mas Lindri yang merasa telah dua kali ter- ganggu rencananya karena campur tangan Pendekar Gila, semakin geram dan marah. Tangannya yang ber- kuku panjang, bergerak menyambar dan mencengke- ram pemuda itu.
Mendapat serangan begitu cepat, tidak mem- buat Pendekar Gila kalang kabut. Tingkahnya justru semakin konyol. Dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat', Pendekar Gila balas menyerang. Tubuhnya me- liuk-liuk laksana menari, sambil sesekali telapak tan- gannya menepuk ke dada lawan.
"Hi hi hi...! Hiaaa...!" "Hah...!" Nyi Mas Lindri tersentak kaget melihat serangan lawan, tiba-tiba telah berada dekat dadanya. Padahal gerakan Pendekar Gila nampak sangat lambat, tapi entah bagaimana tiba-tiba telah memburu tubuh- nya dengan tepukan yang mengeluarkan desiran angin panas yang keras.
"Hi hi hi...!" "Jurus edan!" maki Nyi Mas Lindri sambil melompat mengelakkan serangan. Kalau kurang cepat melompat mundur, niscaya dadanya terkena pukulan Pendekar Gila.
Setelah mengegoskan kaki ke samping, Nyi Mas Lindri bergerak mencakarkan tangannya ke muka lawan. Namun, dengan cepat pula, Pendekar Gila mena- rik kepalanya ke belakang mengelakkan cakaran lawan. Kemudian dengan kepala menunduk, kembali menepukkan tangannya ke dada lawan.
"Hiaaa...!" "Hait! Edan! Jurus edan...!" maki Nyi Mas Lindri sambil melompat ke samping kiri. Serangan Pendekar Gila meleset.
Sementara itu anak buahnya yang tadi berta- rung, kini terhenti. Mereka terlongong bengong melihat gerakan-gerakan ilmu silat yang dilancarkan kedua- nya.
"Ck ck ck..! Pemuda itu ternyata berilmu ting- gi," terdengar decak kagum Gaja Polo, menyaksikan jurus-jurus aneh yang dilancarkan Pendekar Gila. Baru kali ini, dia melihat seorang pemuda memiliki ilmu yang sangat tinggi.
"Untuk itu, kukatakan pada kalian. Kini bukan saatnya untuk tetap bertahan pada apa yang selama ini kita lakukan," ujar Barda. "Nyi Mas Lindri saja be- lum tentu akan mampu mengalahkan Pendekar Gila."
"Apa?! Diakah yang bernama Pendekar Gila?!" keempat orang dari Panca Iblis tersentak, setelah mendengar penuturan Barda. Mata mereka terbelalak
"Ya, dialah Pendekar Gila," sambung Barda menegaskan.
Semakin bertambah kaget mereka ketika meli- hat apa yang kini terjadi. Nyi Mas Lindri tampak terdesak dan harus berjuang mati-matian untuk dapat me- lepaskan diri dari buruan Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Bocah ini terlalu berbahaya bagi- ku," maki Nyi Mas Lindri dalam hati. Tak ada kesem- patan bagiku kalau terus begini. Aku harus pergi dari sini.
"Hi hi hi...! Apa yang kau pikirkan, Nyi? Kau harus segera dikirim ke akherat sana. Hea...!"
Pendekar Gila mempercepat jurusnya. Kali ini kedua tangannya ditarik ke belakang. Lalu diletakkan di pinggang dengan jari-jari terbuka. Itulah awal dari jurus yang dahsyat 'Gila Melebur Gunung Karang'.
Belum sempat Pendekar Gila melakukan seran- gan, Nyi Mas Lindri telah mendahului dengan melem- parkan suatu benda ke Pendekar Gila.
Jlegar! Asap hitam membubung menutupi pandangan mata Pendekar Gila dan kelima Panca Iblis. Saat itu juga, Nyi Mas Lindri melesat meninggalkan tempat itu.
"Kurang ajar! Dia pergi...!" seru Barda sengit "Aha, Iblis Betina itu benar-benar licik," dengus Sena, "Kini terserah, apakah kalian masih akan tetap pada pendirian kalian. Aku akan mengejar dia."
"Aku ikut, Sena!" kata Barda. "Hm, terserahmu." "Kami ikut!" sambung keempat orang dari Panca Iblis. Keenam lelaki itu segera melesat memburu ke arah Nyi Mas Lindri pergi.
***

5
Pagi nampak cerah, dengan langit biru tanpa awan. Udara semilir menimbulkan hawa sejuk dan basah. Burung-burung pun berkicau riang menambah indahnya pagi itu.
Di kejauhan, nampak seorang pemuda berpa- kaian merah tanpa lengan melangkah. Kepalanya ter- tutup tudung caping lebar. Pemuda itu tak lain Joko Galing. Kakinya melangkah menuju Desa Kalasan, tempat tanah kelahirannya.
Joko Galing terus melangkah, tanpa menengok ke kanan dan kiri. Dia masih ingat benar jalan-jalan yang menuju desanya.
"Hm, desa ini sekarang sepi sekali," gumam Jo- ko Galing lirih. Matanya memandang ke sekeliling. Rumah-rumah penduduk tampak tertutup. Sepertinya penduduk sangat takut menampakkan mukanya.
Joko Galing menarik napas dalam-dalam. Dia merasa sedih menyaksikan penderitaan warga de- sanya. Dendam pada Panca Iblis yang dianggap telah merubah suasana kehidupan desanya, kian membakar hatinya. "Panca Iblis keparat! Tunggulah pembalasan- ku!" dengus Joko Galing sengit. Tangannya terkepal seperti menahan kemarahan. Matanya yang tajam, memandang ke sekeliling, bagaikan seekor elang yang mencari mangsa.
Dengan langkah mantap, Joko Galing terus me- langkah menelusuri jalan Desa Kalasan yang lengang dan sepi. Di kanan dan kiri jalan memang berdiri ru- mah-rumah penduduk. Tetapi semua pintu dan jende- lanya tertutup rapat. Tak seorang pun yang tampak berada di luar rumah. Sehingga desa itu tampak seper- ti mati dan tak berpenghuni.
"Ke mana mereka semua? Apa mereka telah pindah, mengungsi ke desa lain?" tanya Joko Galing dengan mata memandangi ke rumah-rumah penduduk yang masih sangat dikenalnya dengan baik.
Joko Galing kembali menarik napas, dan meneruskan langkah kakinya. Kini dia hendak sekali meli- hat keadaan rumahnya. Dibelokkan langkah kakinya ke barat. Sampai di rumahnya Joko Galing pun hanya mendapati keadaan sunyi. Rumah kosong tak ber- penghuni. Dia langsung melangkah menuju belakang rumah. Dilihatnya tiga buah kuburan berjajar jadi sa- tu. Itulah kuburan ayah, ibu, dan adiknya.
Dendam kesumat Joko Galing semakin memun- cak, setelah menyaksikan kuburan keluarganya. Gemuruh halilintar pun bersahut-sahutan bagai menyambut sumpah Joko Galing.
"Panca Iblis keparat! Akan kuminum darah ka- lian! Ayah, Ibu, adikku, tenanglah kalian di alam sana. Akan kubalaskan sakit hati ini!" sumpahnya tegas.
"Ayah, Ibu, Adikku...! O, sungguh malang nasib kalian! Aku bersumpah, akan meminum darah mere- ka!" teriak Joko Galing dengan suara keras menggele- gar. Bersamaan dengan itu, langit yang mendung menghantarkan gemuruh halilintar bagaikan menyam- but sumpah Joko Galing. Dewa-dewa yang di kayangan seolah-olah turut memberi kesaksian.
Dendam kesumat Joko Galing semakin bergelo- ra. Kesedihan pun kembali terkuak, setelah menyaksikan kuburan keluarganya.
"Panca Iblis keparat! Kuminum darah kalian! Ayah, Ibu, Adikku, semoga tenang kalian di alam sana!" dengan menundukkan kepala, Joko Galing men- cium nisan kedua orangtua dan adiknya. Kemudian segera bangkit berdiri. Namun....
"Wua! Hi hi hi...! Ha ha ha...! La la la...!" Joko Galing tersentak kaget, ketika tiba-tiba seorang lelaki berpakaian compang-camping hendak menyerangnya. Joko Galing mengelit ke samping, kemudian dengan cepat tangannya menang-kap kaki lelaki gila berpa- kaian compang-camping.
Gusrak! Lelaki gila itu langsung terjerembab, karena ke- dua kakinya tertangkap Joko Galing.
"Hu hu hu...! Jahat! Kau jahat..!" maki lelaki gi- la sambil menangis tersedu-sedu.
Joko Galing mengerutkan kening, memandangi lelaki gila yang usianya tidak begitu jauh dengannya. Lelaki itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. Na- mun karena keadaannya, tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
Mata Joko Galing membeliak, ketika mengenali siapa lelaki gila itu.
"Kang Kasmin...? O, kaukah Kang Kasmin?" de- sis Joko Galing dengan mata masih menatap lelaki yang dipanggil Kang Kasmin.
Orang gila itu seketika menghentikan tangis- nya. Matanya menyipit dengan kening mengerut, me- natap wajah Joko Galing. Mulutnya komat-kamit, se- perti hendak mengatakan sesuatu.
"Kang.... Kang Kasmin, apakah kau lupa den- ganku," tanya Joko Galing berusaha mengingatkan pada Kasmin, siapa dirinya.
"Hi hi hi.... Siapa kau?!" bentak Kasmin sambil cengengesan. Matanya tajam, menatap wajah Joko Galing yang mendekat lalu jongkok di hadapannya.
"Aku Joko, Kang. Aku Joko Galing, yang dulu kau ajak main-main," ujar Joko Galing berusaha men- gingatkan Kasmin.
Kasmin berusaha mengingat-ingat nama Joko Galing. Seketika tangisnya meraung. Seakan lelaki gila itu telah sembuh dari ingatannya.
"Wua! Joko...! O, dari mana saja, kau Joko. Hu hu hu...!" Joko Galing semakin trenyuh mendengar tangisan Kasmin, yang kini memeluk tubuhnya. Seketika dendamnya pada Panca Iblis bertambah membara.
"Kang, apa sebenarnya yang terjadi di desa ini, sejak kematian keluargaku...?" tanya Joko Galing penasaran. Dengan masih menangis tersedu-sedu, Kasmin pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Semenjak kematian Ki Santanu, Panca Iblis semakin me- rajalela. Panca Iblis terus memaksakan kehendak, agar penduduk menyetor hasil bumi pada mereka.
Merasa tak kuat lagi dalam tekanan Panca Iblis, secara diam-diam penduduk berusaha pergi dari Desa Kalasan. Namun, penduduk yang mencoba kabur, di- bunuh. Hal itu semakin membuat para penduduk ke- takutan. Akhirnya mereka pun hanya pasrah, meneri- ma nasibnya.
Sampai akhirnya di Istana Telaga Mas terjadi pemberontakan. Tetapi pemberontakan itu dapat diga- galkan, atas bantuan seorang pendekar yang sering disebut Pendekar Gila. Pendekar Gila yang telah meng- gagalkan pemberontak, akhirnya datang ke Desa Kala- san. Kabarnya, tengah mengejar seseorang yang didu- ga dalang dari pemberontakan di Istana Telaga Mas.
Sejak kedatangan Pendekar Gila ke Desa Kala- san, perubahan terjadi. Panca Iblis akhirnya bersekutu dengan Pendekar Gila, memburu Nyi Mas Lindri. Wani- ta itu sebenarnya istri selir Baginda Aji Wardana yang dituduh Pendekar Gila sebagai pemberontak dan hen- dak ditangkap.
"Begitulah ceritanya, Joko. Semenjak keluarga Ki Lurah dibantai, penduduk semakin dicekam rasa takut. Beberapa hari sejak kedatangan Pendekar Gila warga desa agak tenang. Tetapi mereka juga masih was-was, karena Pendekar Gila kini bersekutu dengan Panca Iblis," tutur Kasmin mengakhiri ceritanya.
Joko Galing tersentak kaget mendengar penu- turan Kasmin, bahwa Pendekar Gila yang menurut gu- runya sebagai tokoh yang patut dipanuti, kini malah bersekutu dengan Panca Iblis tokoh sesat yang telah membantai keluarganya.
"Tidakkah kau salah dengar, Kang?" tanya Joko Galing masih belum percaya.
"Tentang apa?" Kasmin malah balik bertanya. "Tentang Pendekar Gila. Mana mungkin Pende- kar Gila bersekutu dengan Panca Iblis...?" tanya Joko Galing masih belum yakin dengan cerita Kamsin.
"Terserah, mau percaya atau tidak. Yang pent- ing, Pendekar Gila telah bersekutu dengan Panca Iblis. Malah mereka masih memburu Nyi Mas Lindri, yang dianggapnya pemberontak kerajaan," tutur Kasmin be- rusaha meyakinkan Joko Galing, akan kebenaran ceri- tanya.
Joko Galing tercenung, dia merasa tak habis pikir dengan cerita yang dituturkan Kasmin. Ingatan- nya kembali melayang pada gurunya, Ki Mandra yang menganjurkan agar dia mencari Pendekar Gila untuk meminta petunjuk dan pengalaman guna melengkapi segala ilmunya.
Aneh, bagaimana mungkin Pendekar Gila bisa bersekutu dengan penjahat? Tanya Joko Galing dalam hati dengan kening mengerut, belum juga bisa menye- rap kenyataan yang diceritakan Kasmin. Bukankah guru mengatakan kalau Pendekar Gila penegak kebe- naran dan keadilan? Mengapa harus menjalin hubun- gan dengan para penjahat?
Joko Galing benar-benar tak mengerti dengan cerita Kasmin. Antara percaya dan tidak, Joko Galing terus merenung. Sekilas petuah gurunya kembali te- ringat dan terngiang di telinganya.
Joko Galing mengulum bibirnya dalam-dalam, merasakan kebimbangan yang mendera di hatinya. Kemudian kata-kata Kasmin yang baru saja diucapkan terngiang.
"Siapakah yang benar? Gurukah? Atau Kang Kasmin?" batin Joko Galing berusaha memastikan mana yang benar antara ucapan gurunya dengan uca- pan Kasmin. Dihelanya napas dalam-dalam, seperti berusaha meredakan pikirannya.
"Apa yang kau pikirkan, Joko?" tanya Kasmin, "Sudah jelas Panca Iblis telah membinasakan keluar- gamu. Kau harus menuntut balas atas kematian ke- luargamu!"
Joko Galing hanya terdiam membisu. Ucapan Kasmin terasa sebuah cambuk yang menyakitkan. Seperti mendera jiwanya, agar mau menuntut balas ke- matian yang menimpa keluarganya.
Haruskah aku menuruti hawa nafsuku? Tanya Joko Galing dalam hati. Kemudian kembali teringat petuah gurunya, sebelum dia turun gunung.
Joko Galing menarik napas dalam, merasakan kebimbangan di hati. Satu sisi dia telah bersumpah di depan makam kedua orang tuanya, bahwa dia akan meminum darah Panca Iblis. Di lain sisi, dia teringat petuah yang dikatakan sang Guru.
"Kang Kasmin, aku pergi dulu," akhirnya Joko Galing yang masih bimbang segera pamit. Dia tak ingin berlama-lama di Desa Kalasan.
"Hati-hatilah, Joko!" ujar Kasmin melepas ke- pergian Joko Galing dengan pandangan mata bangga dan sedih, karena harus kembali berpisah. Bangga ka- rena merasa temannya kini telah menjadi se-orang pendekar, yang akan menumpas sepak terjang Panca Iblis.
Dengan langkah lesu, Joko Galing meninggal- kan Kasmin yang masih mengikuti langkahnya dengan tatapan mata penuh kekaguman dan kesedihan.
***

Joko Galing kini melangkah ke Hutan Gendis di mana Panca Iblis berada. Telah bulat tekad di hatinya, menumpas Panca Iblis. Kini dia tak peduli lagi dengan
Pendekar Gila. Bagaimanapun, Pendekar Gila tak ada urusan dengannya. Tetapi jika memang turut campur dan membela Panca Iblis, maka tak ada pilihan lain kecuali bertarung dengan Pendekar Gila.
Tak lama kemudian, Joko Galing sampai di Hu- tan Gendis tempat Panca Iblis berada. Mata Joko Galing menatap dengan tajam ke sekeliling tepian hutan yang sepi.
Hm, hutan ini nampak sepi. Apakah mungkin Panca Iblis telah pergi dari sini, seperti apa yang dika- takan Kang Kasmin? Tanya Joko Galing dalam hati.
Joko Galing terus melangkah, dengan hati-hati kakinya menapaki hutan itu. Matanya yang tajam, memandang ke sekeliling hutan. Diangkatnya caping penutup kepalanya.
Setapak demi setapak kaki Joko Galing me- langkah. Hati-hati sekali, karena tak ingin Panca Iblis mendengar kedatangannya.
"Hm, mungkinkah ini sebuah jebakan?" gumam Joko Galing.
Srt! Dicabutnya Pedang Lembayung Merah dari wa- rangka. Pedang itu seketika mengeluarkan sinar merah membara. Seketika suasana di Hutan Gendis yang se- mula agak gelap, tiba-tiba terang benderang karena si- nar pedang itu.
Dengan tangan memegang Pedang Lembayung Merah dan mata mengawasi sekeliling. Joko Galing terus melangkah masuk ke Hutan Gendis. Kini langkah- nya semakin dekat ke tempat yang dituju. Meski Panca Lima hanya terdiri dari lima orang, tapi mereka beril- mu tinggi. Itulah sebabnya dia langsung mengeluarkan pedang pusaka itu.
"Sepi. Mungkinkah mereka sengaja bersem- bunyi?" tanya Joko Galing sambil terus melangkah pelan, setapak demi setapak dan sangat hati-hati. Ma- tanya masih mengawasi sekeliling tempat itu. Dikerah- kan pendengarannya, sehingga jika ada suara sekecil apa pun akan cepat terdengar.
Joko Galing terus melangkah, semakin masuk ke dalam hutan. Tetapi keadaannya sangat sepi, ba- gaikan tak berpenghuni lagi. Hal itu membuat Joko Galing kian merasa heran.
"Aneh, benar-benar sepi," gumam Joko Galing semakin penasaran. Kakinya terus melangkah, beru- saha mendekat tempat tinggal Panca Iblis.
Karena kehilangan kesabarannya, Joko Galing segera melesat berusaha secepat mungkin sampai ke tempat Panca Iblis berada. Dengan Pedang Lembayung Merah di tangan, dia yakin akan mampu mengalahkan Panca Iblis.
Iblis benar-benar telah menguasai jiwa yang di- penuhi dendam dan nafsu. Tubuhnya terus melesat cepat, mendekat ke tempat tinggal Panca Iblis yang masih sepi. Setelah berada sekitar sepuluh tombak di depan rumah tempat berkumpulnya Panca Iblis, Joko Galing menghentikan langkah.
"Panca Iblis keparat, keluar kalian!" serunya menantang.
Tak ada sahutan. Suasana di hutan itu sepi. Yang terdengar hanya gema suaranya sendiri.
"Kurang ajar! Pengecut! Keluarlah kalian! Ha- dapilah Joko Galing, anak Ki Santanu! Keluarlah ka- lian...!" seru Joko Galing berkali-kali.
Kembali tak ada jawaban. Hanya suaranya saja yang bergema.
"Pengecut! Kalian benar-benar pengecut!" maki Joko Galing semakin sengit, karena seruan tantangan- nya tak mendapat sahutan.
Mata Joko Galing menatap tajam pada bangunan menyerupai candi itu, seakan belum percaya den- gan penglihatannya. Dia merasa kalau Panca Iblis ma- sih bersembunyi, dan bermaksud menjebaknya.
"Huh, Pengecut! Rupanya hanya kecoa busuk macam kalian yang telah berani membunuh keluarga- ku! Keluarlah kalian, hadapi aku! Hadapi anak Ki San- tanu!" kembali Joko Galing berseru, menantang kelima Panca Iblis. Nafasnya memburu, dibakar amarah yang meluap-luap. Bara dendam bagaikan membakar selu- ruh jiwanya.
Sepi suasana di hutan itu, bagaikan tak ada penghuninya. Hal itu membuat Joko Galing bertambah marah dan tak sabar. Nafansya mendengus keras. Ma- tanya semakin tajam memandang bangunan di hada- pannya. "Kurang ajar! Kalian benar-benar pengecut! Baik, aku yang akan membunuh kalian! Heaaa...!" ba- gaikan kesetanan, dengan Pedang Lembayung Merah Joko Galing melesat. Pedang di tangannya digerakkan dengan cepat, membabat ke depan sambil melesat ma- suk.
Wrt! "Hea!" Brakkk! Trakkk! Dengan pedang itu Joko Galing memporak- porandakan bangunan tempat tinggal Panca Iblis. Na- mun, setelah ke sana kemari tak diketemukan seorang pun lawan yang dicarinya. Yang dilihatnya hanya be- berapa mayat lelaki muda yang telah membusuk di se- buah ruangan tertutup. Mayat-mayat itu tergeletak da- lam keadaan telanjang bulat. Tampaknya mereka ada- lah para pemuda yang telah menjadi pemuas nafsu bi- rahi Nyi Mas Lindri.
"Bedebah! Mereka benar-benar telah pergi!" dengus Joko Galing sengit. "Ke mana kalian lari, tak- kan kubiarkan hidup! Akan ku hisap darah kalian!"
Dengan berteriak marah, Joko Galing kembali melesat meninggalkan Hutan Gendis.
***

6
Angin sore yang sejuk, meniup dedaunan di Hutan Palawera. Kicau burung terdengar ramai me- nyemarakkan suasana senja. Namun, tiba-tiba bu- rung-burung itu berhamburan terbang ke sana kemari. Tampaknya mereka terkejut ketika mendadak berkele- bat cepat sesosok bayangan merah yang melesat ke hutan itu. Sosok bayangan itu ternyata seorang wanita berpakaian merah jambu yang tak lain Nyi Mas Lindri.
Napas Nyi Mas Lindri terengah-engah setelah berlari sekuat tenaga, menghindari kejaran Pendekar Gila. Matanya tampak jelalatan melihat keadaan di se- kitar tempat itu. Seakan-akan hatinya khawatir dan takut kalau Pendekar Gila dapat menemukan dirinya.
"O, Pendekar Gila keparat! Kau selalu saja men- jadi perintang semua cita-citaku," dengus Nyi Mas Lin- dri dengan napas memburu. "Sayang aku tak mampu menandinginya. Kalau saja ilmuku setarap dengan il- mu Pendekar Gila, kupertaruhkan nyawaku mengha- dapi keparat itu."
Ketika Nyi Mas Lindri masih dalam keadaan menoleh ke belakang, dan saat tubuhnya hendak me- langkah balik ke depan, tubuh Nyi Mas Lindri mena- brak sesosok tubuh seorang lelaki.
Brukkk! "Akh...!" Nyi Mas Lindri tersentak kaget. Tubuhnya ditarik mundur beberapa langkah dengan ma- ta terbelalak menatap lelaki muda yang memakai tu- dung caping di kepala.
"Siapa kau?" tanya Nyi Mas Lindri dengan mata menatap tajam pemuda berpakaian rompi merah yang tersenyum padanya.
"Kaukah Nyi Mas Lindri?" tanya lelaki muda berkumis tipis dengan tubuh tegap. Bibirnya kembali tersenyum.
"Be..., benar. Siapa kau sebenarnya, Kisanak? Dan dari mana kau tahu namaku...?" tanya Nyi Mas Lindri agak menggeragap.
Lelaki muda itu membuka capingnya, dan nampaklah seraut wajah tampan.
"Aku Joko Galing, anak Ki Santanu. Tahukah kau, di mana Panca Iblis sekarang berada?" tanya Joko Galing. Matanya yang tajam bagai sepasang mata elang, tak berkedip memandang wanita cantik jelita itu.
"Kau anak Ki Santanu?" tanya Nyi Mas Lindri seakan-akan tak percaya.
"Iya," sahut Joko Galing. Mata Joko Galing menatap wajah cantik Nyi Mas Lindri yang juga tengah menatapinya. Keduanya beradu pandang dengan senyum tersungging di bibir. Mata lembut wanita itu seakan memiliki daya tarik kuat, yang mampu meluluhkan hati siapa saja yang menatapnya. Apalagi ditambah dengan senyuman ma- nisnya, semakin membuat hati lelaki akan tergetar. Begitu juga dengan Joko Galing yang masih terlalu hi- jau pengalamannya di dunia persilatan. Hatinya tiba- tiba tergetar hebat mendapat tatapan tajam mata milik Nyi Mas Lindri.
Sungguh cantik, Wanita ini! Gumam Joko Gal- ing dalam hati.
Hm, kebetulan! Pucuk dicinta ulam tiba. Lelaki yang kuharapkan akan mampu membantu dalam mencapai cita-citaku sekarang berada di depan mata- ku, desis Nyi Mas Lindri. Aku harus merayunya, agar pemuda ini memihak padaku.
Keduanya masih saling pandang, seakan beru- saha merajut benang-benang yang ada di hati masing- masing. Senyuman manis pun belum lenyap di bibir mereka. Joko Galing kian terpana melihat kecantikan wanita di depannya. Semenjak kecil dia telah sering mendengar nama Nyi Mas Lindri yang konon kecanti- kannya bagai bidadari. Pemuda itu pun tahu kalau Nyi Mas Lindri adalah selir Baginda Aji Wardana. Namun, sungguh tak menduga sebelumnya, kalau dirinya akan berjumpa seperti sekarang ini.
Sebenarnya usia Joko Galing terpaut jauh den- gan Nyi Mas Lindri. Namun anak muda yang belum memiliki pengalaman hidup di dunia persilatan ini, seakan-akan tak peduli. Apalagi, ketika hatinya mera- sakan getaran aneh. Getaran yang belum pernah di- alaminya selama ini.
Sebaliknya, Nyi Mas Lindri yang memang men- dambakan kehadiran pemuda ini, merasakan seperti mendapat anugerah. Menurut wangsit atau petunjuk gaib yang pernah diterima, Joko Galinglah orang yang akan membantu dirinya. Kini tanpa bersusah-payah mencari, akhirnya Nyi Mas Lindri menemukan tokoh muda itu. Nyi Mas Lindri segera merajut tali, mema- sang jerat bagi hati Joko.
"Joko...," desis Nyi Mas Lindri dengan gerakan kepala manja. Matanya memejam, kemudian perlahan- lahan bibirnya merekah. Tangan kanannya meremas rambut yang terurai panjang bergelombang, sedangkan tangan kiri mengelus-elus paha yang tampak tersingkir dari pakaiannya.
Joko terperanjat, seketika darah nya berdesir cepat. Ditelan ludahnya beberapa kali. Matanya tak berkedip menatap Nyi Mas Lindri yang menggeliat- geliat sambil mendesis, mengundang birahi.
Suasana redup senja di sekitar Hutan Palawera menambah gejolak di hati Joko. Pemuda itu bagaikan orang lapar dihadapkan makanan lezat yang belum pernah dirasakannya.
"Ng... ah.... Joko...," kembali Nyi Mas Lindri mendesis. Gerakan tangannya yang mengusap-usap paha kirinya, semakin membuat mata Joko melotot, "Dekatlah, Anak Manis...!"
Joko kembali menelan ludah. Matanya menatap paha Nyi Mas Lindri yang putih mulus. Kakinya mulai melangkah, mendekati tubuh Nyi Mas Lindri yang te- lah rebah di atas rerumputan. Tubuh sintal yang ter- bungkus pakaian tipis tembus pandang itu menggeliat- geliat mengundang birahi.
"Joko.... Akh..., akh...!" Joko mulai lupa daratan. Lupalah segala inga- tannya tentang Panca Iblis tentang dendamnya, dan tentang penderitaan warga Desa Kalasan. Hatinya ter- tutup nafsu birahi pada tubuh Nyi Mas Lindri yang semakin menggeliat-geliat
Gelora membara di dadanya, menimbulkan ke- beranian Joko. Pemuda itu jongkok, lalu rebah di samping tubuh Nyi Mas Lindri. Dengan agak gemetar tangannya mulai membelai paha mulus Nyi Mas Lindri. Matanya menatap wajah cantik jelita itu yang terus mendesis-desis kenikmatan.
"Kau cantik sekali, Nyi! Waktu kecil, aku sering membayangkan. Ah, ternyata kini kita bertemu," gumam Joko setengah berbisik.
"Kau ingin memiliki diriku, Joko?" desis Nyi
Mas Lindri.
"Yah...," jawab Joko dengan suara bergetar. "Aku ingin memiliki semua yang ada padamu."
"Benarkah itu, Bocah Bagus?!" tanya Nyi Mas Lindri manja.
Joko tak menyahut tapi menganggukkan kepala sambil tersenyum. Kemudian perlahan-lahan wajahnya mendekat ke wajah Nyi Mas Lindri. Bibirnya hampir melumat bibir merah wanita cantik itu.
"Kau benar-benar ingin memiliki diriku, Joko?" tanya Nyi Mas Lindri ingin meyakinkan.
"Masihkah kau tak percaya, Nyi Ayu?" "Oh, Joko...! Bagaimana kalau kini aku jadi bu- ronan Pendekar Gila? Apakah kau akan tetap ingin memiliki diriku?" tanya Nyi Mas Lindri mengeluh.
Joko yang tengah mabuk kepayang hanya ter- senyum. Diajaknya Nyi Mas Lindri duduk. Kemudian tangannya dengan lembut membelai-belai rambut wa- nita cantik itu.
"Tak akan kubiarkan orang menyakitimu, Nyi Ayu. Aku akan selalu di sisimu," jawab Joko tegas, be- rusaha membesarkan hati wanita cantik itu. Nyi Mas Lindri tersenyum manja, lalu menyandarkan kepala di pundak Joko. Hal itu membuat jantung pemuda itu berdegup semakin keras.
"Oh, Joko.... Lindungilah aku dari kejaran Pen- dekar Gila dan Panca Iblis...," ratap Nyi Mas Lindri manja. Rambutnya diusap-usapkan ke wajah Joko, seakan-akan hendak membangkitkan gairah pemuda itu. Dan benar, Joko pun segera merebahkan tubuh- nya, lalu dengan buas menciumi tubuh wanita itu.
"Aku akan melindungimu, Nyi Ayu. Asalkan kau bersedia jadi milikku," bisik Joko sambil terus menggeluti tubuh Nyi Mas Lindri di atas rerumputan.
"Aku akan menjadi milikmu, Joko. Apalagi setelah semuanya kudapatkan. Kau bakal menjadi raja, Joko, mendampingiku," desis Nyi Mas Lindri di tengah desahan nafsunya yang menggebu.
Tak lama kemudian keduanya telah saling ber- gelut memacu nafsu yang semakin menggelegak. De- sahan dan rintihan kenikmatan keluar dari Joko. Begi- tupun Nyi Mas Lindri yang telah berpengalaman den- gan banyak perjaka. Dan akhirnya desahan panjang mengiringi puncak kenikmatan terlepas dari mulut me- reka. Kemudian tubuh keduanya terkapar lemas.
Angin sore berhembus menepiskan rambut me- reka. Sesuatu telah terjadi. Joko kini telah mengecap kenikmatan yang belum pernah dialaminya. Godaan itu datang secara mendadak, di saat dirinya harus mengawali perjuangan di tengah rimba persilatan
***

Panca Iblis yang telah sadar dan bertekad kem- bali ke jalan lurus, mengikuti Pendekar Gila mencari Nyi Mas Lindri. Namun sudah dua hari mencari, mere- ka belum juga menemukan jejak wanita cantik berhati busuk itu.
"Aha, kurasa repot juga mencari wanita iblis itu. Hm, bagaimana kalau kita berpencar saja?" tanya Pendekar Gila. Dia merasa kurang leluasa bergerak bersama Panca Iblis.
Panca Iblis saling pandang mendengar saran Pendekar Gila. Meskipun berlima, mereka tampak khawatir jika harus menghadapi Nyi Mas Lindri.
"Aha, mengapa kalian masih bimbang? Tetap yakinlah terhadap tekad kalian. Kebenaran, akan se- nantiasa dalam lindungan Hyang Widhi. Lagi pula, ka- lian lima orang. Kenapa mesti takut? Ah, sebagai pen- dekar, tunjukkanlah jiwa besar kalian," tutur Sena memberi semangat pada kelima teman barunya.
"Tapi, kami belum mampu menghadapi Nyi Mas Lindri," sahut Gaja Polo cemas. Hatinya cemas dan ta- kut kalau mereka akan bertemu Nyi Mas Lindri.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak men- dengar ucapan Gaja Polo. Kepalanya menggeleng- geleng, kemudian tangannya bergerak menggaruk- garuk.
"Ha ha ha, mengapa kalian jadi pengecut begi- tu? Bukankah sudah kukatakan, bahwa kebenaran akan senantiasa dalam kemenangan. Meski kita kalah dan mati, tetapi di swargaloka akan mendapat keme- nangan," tutur Sena sambil menggeleng-geleng kepala dan tersenyum.
Kelima Panca Iblis terdiam. Mereka tampak masih bimbang untuk menentukan pendirian. Namun, setelah dipikir-pikir, memang benar apa yang dikata- kan Pendekar Gila. Lagi pula, bukankah mereka ada lima orang? Mengapa mesti takut dengan Nyi Mas Lin- dri yang hanya seorang wanita? Dulu mereka kalah bukan karena ilmu kesakitan Panca Iblis berada di bawah Nyi Mas Lindri, melainkan karena terpengaruh kecantikannya yang sangat menggiurkan.
"Baiklah, Sena. Kita memang tak mungkin ber- sama-sama begini terus," ujar Barda.
"Ya, lagi pula sangat sulit mencari lawan den- gan cara bergerombol seperti ini," sambung Gaja Polo.
"Aha, rupanya pikiran kalian telah terbuka. Ku- sarankan pada kalian, mengabdilah pada Istana Telaga Mas. Katakan pada Baginda Aji Wardana, kalau aku yang menyuruh kalian. Semoga kalian diterima!"
"Mungkinkah itu, Sena?" tanya mereka bersa- maan, seakan-akan tak percaya pada apa yang dikata- kan Pendekar Gila.
"Bagaimana mungkin kami yang bekas orang jahat menjadi prajurit kerajaan?" tanya Gaja Polo.
"Aha, jika kalian memang benar-benar ingin mengabdi pada kerajaan, tentunya baginda akan me- nerimanya. Apalagi kini mata Baginda Aji Wardana te- lah terbuka, sejak peristiwa pemberontakan yang gagal itu," tutur Sena sambil cengengesan.
Kelima Panca Iblis saling pandang, seakan- akan berusaha meyakinkan satu sama lainnya.
"Baiklah, Sena. Kami akan mengikuti saranmu. Kami hendak mengabdikan hidup, untuk Istana Telaga Mas. Sekaligus menebus dosa-dosa yang telah kami lakukan selama ini," ujar Gaja Polo mantap.
"Ya, itu bagus. Nah, sampai jumpa lagi!" ujar Sena sambil melesat meninggalkan Panca Iblis Dalam sekejap saja, tubuhnya telah lenyap dari pandangan mereka yang terkagum-kagum melihat kehebatan ilmu Pendekar Gila.
"Mungkinkah kita diterima di kerajaan?" tanya Sartakulir yang dari tadi hanya diam.
"Semoga benar, apa yang dikatakan Sena. Ayo kita segera berangkat ke istana," ajak Gaja Polo.
Panca Iblis segera meninggalkan Hutan Palung, tempat mereka berhenti, setelah dua hari dua malam mengikuti Pendekar Gila memburu Nyi Mas Lindri.
***

7
Setelah Joko Galing menjadi kekasihnya, Nyi Mas Lindri segera mengumpulkan kembali para pengi- kutnya yang dulu sempat tercerai-berai karena kehadi- ran Pendekar Gila. Para tokoh dari golongan sesat dan yang tak suka dengan Baginda Aji Wardana, dikumpulkannya. Kemudian dibentuk suatu perkumpulan yang dinamakan Serikat Iblis. Tujuan pertama Serikat Iblis tak lain merongrong kewibawaan raja. Kemudian jika semuanya berjalan baik, akan melakukan pembe- rontakan untuk menggulingkan Baginda Aji Wardana.
Malam itu, ketika bulan purnama bersinar te- rang. Serikat Iblis melakukan gerakannya di Desa Kedaungan, merampok serta menculik gadis dan perjaka desa.
"Ambil semua barang serta anak gadisnya...!" perintah Joko Galing kepada anak buahnya. "Sekaligus bawa perjakanya...!"
Tanpa diperintah dua kali anak buahnya segera mengerjakan perintah Joko Galing.
Seluruh rumah penduduk digeledah. Para war- ga yang membangkang atau melawan disiksa secara kejam.
"Tolong...!" teriak penduduk. Wrt! Cras! "Aaa...!" pekikan kematian merupakan jawaban dari mereka yang berusaha melawan. Tak seorang pun yang mampu menghadapi kebengisan orang-orang Se- rikat Iblis.
"Cepat...!" seru Joko Galing. Gerombolan yang dipimpin Joko Galing bekerja dengan cepat dan sempurna. Semua anak buahnya tak ada yang berani membangkang dan menolak perintah pimpinan mereka yang berilmu tinggi.
Penduduk yang menjadi korban kian banyak. Golok dan pedang di tangan para perampok itu terus membabat dengan ganas. Jeritan kematian terus terdengar diikuti tubuh-tubuh bergelimpangan tanpa nyawa. "Lepaskan gadis itu, Bangsat!" Salah seorang penduduk ada yang berani menggertak marah, mung- kin dia memiliki sedikit ilmu. Dan dengan sengit diba- lasnya setiap serangan yang dilakukan anggota Serikat Iblis.
"Orang tua tak tahu diri, mampus kau!" bentak salah seorang anggota Serikat Iblis.
Lelaki tua berwajah keriput itu ternyata Sena- pati Istana Telaga Mas yang bernama Sedayu sedang menyamar. Tubuhnya berkelit dari babatan golok pe- rampok yang menyerangnya. Kemudian dengan cepat pula, kaki Senapati Sedayu menendang dada lawan. Tak ampun lagi....
Bugkh! Ngek! "Aaa...!" Perampok itu menjerit, dari mulutnya meleleh darah segar. Matanya melotot, lalu ambruk tanpa nya- wa lagi. Melihat kejadian itu, kawan-kawannya segera maju menyerang Senapati Sedayu.
Wrt! "Mampus kau, Tua Bangka...!" bentak seorang garong. "Eit...! Tidak kena, Iblis!" sahut Senapati Se- dayu seraya melompat ke sana kemari menghindari se- tiap babatan dan tusukan senjata lawan. Walau usianya telah lanjut, gerakan lelaki berpakaian biru itu begitu gesit dan lincah. Bahkan dengan cepat dan ke- ras ia balik menyerang musuh. "Yang jelas kalian ha- rus ada yang mati. Hiaaat...!"
Setelah mengelit Senapati Sedayu melancarkan tinju ke muka penyerangnya. Tangan tua itu melesat cepat, dan dengan telak mendarat di wajah lawan.
Bletak! "Akh!" Orang itu terpekik ketika pukulan Senapati Sedayu mendarat. Tubuhnya bergulingan beberapa kali ke tanah, lalu bangkit berdiri.
"Bedebah! Kubunuh kau, Kunyuk!" bentak ga- rong yang lain marah. Kemudian dengan cepat me- rangsek tubuh Senapati Sedayu. Namun kini mereka benar-benar kena batunya, karena lelaki tua itu bu- kanlah lawan sembarangan. Serangan yang dilancar- kan ketiga garong, seperti tak berarti sama sekali.
Wuttt! Seorang garong menyerang dengan goloknya, tapi Senapati Sedayu segera melompat mengelakkan serangan. Kemudian mengirimkan tendangan, meng- hantam wajah lawan.
"Ini untuk kalian! Heaaa...!" kaki Senapati Se- dayu melayang dan secepat kilat menghantam wajah lawan.
Beg, beg, beg...! "Akh!" Tiga kali kaki Senapati Sedayu mendarat telak di pipi lawan. Pekikan keras terdengar mengiringi tu- buh seorang perampok terhuyung-huyung ke bela- kang.
Betapa marah Joko Galing melihat beberapa anak buahnya mati di tangan Senapati Sedayu. Den- gan geram, Joko Galing melompat maju, menghadang serangan lelaki tua yang sedang mengamuk dan ba- nyak memakan korban di pihaknya.
"Bodoh! Melawan orang tua saja kalian tak be- cus!" bentak Joko Galing. "Minggir kalian. Biar aku yang menghadapi orang tua kudisan ini!"
Orang-orang Serikat Iblis yang hendak menye- rang kembali Senapati Sedayu, seketika melompat mundur. Kini dua orang yang memiliki ilmu cukup tinggi itu saling berhadapan. Mata keduanya saling beradu pandang, berusaha menjajaki kekuatan lawan masing- masing. "Orang tua kudisan! Katakan, siapa kau sebe- narnya?" bentak Joko Galing.
"Siapa pun diriku, bukan masalah. Yang jelas, kau harus disingkirkan dari muka bumi ini!" dengus lelaki berpakaian lengan panjang tak kalah geram. Ma- tanya yang agak sipit, menatap tajam wajah Joko Gal- ing.
"Huh, rupanya kau mencari mampus, Orang Tua Busuk!" geram Joko Galing. Nafasnya mendengus, bagaikan seekor banteng yang marah. Matanya masih menatap tajam lelaki berwajah tua yang masih tenang, berdiri tiga tombak di hadapannya dengan kedudukan siap menyerang.
"Dari suaranya, jelas dia bukan orang tua. Mungkin usianya seusia denganku," gumam Joko Gal- ing setelah menyelidik dengan pandangan tajam lelaki di hadapannya. "Kau bisa kelabui orang lain. Tapi Joko Galing tidak!"
"Hm, kurasa kaulah yang mencari mampus, Murid Murtad!" balas Senapati Sedayu tak kalah sen- git. Joko Galing tersentak kaget. Sungguh tak mendu- ga, kalau lawannya tahu siapa dirinya.
"Bedebah! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Joko Galing semakin marah, merasa kedok dirinya telah di- ketahui orang berwajah tua itu.
"Sudah kukatakan, siapa aku sebenarnya, bu- kan masalah bagimu. Yang pasti, aku datang untuk menghentikan sepak terjangmu!" jawab lelaki bermuka tua itu. "Kurang ajar! Kubunuh kau, Bangsat!"
Dengan geram penuh kemarahan, Joko Galing bergerak menyerang lawan. Tangan kanannya meng- hantam ke wajah lawan, dengan disertai tenaga dalam.
Namun dengan cepat Senapati Sedayu melompat ke samping mengelakkan serangan sambil melancarkan serangan tendangan keras ke wajah Joko Galing yang tubuhnya masih condong ke depan.
"Yea!" "Hea!" Joko Galing membuang tubuhnya ke kiri, men- gelakkan serangan itu. Kemudian dengan cepat tan- gannya bergerak menyambar kaki Senapati Sedayu, disusul sebuah pukulan tangan kiri ke lambung lawan.
"Hea!" "Uts! Hea...!" Dengan cepat Senapati Sedayu melompat ke be- lakang, mengelakkan pukulan yang disertai tenaga da- lam tinggi. Sehingga deru angin keras terasa menghen- takkan tubuhnya.
"Bedebah! Siapa kau sebenarnya?" bentak Joko Galing marah merasa kedok dirinya terbuka.
"Sudah kukatakan, siapa aku sebenarnya, buka masalah bagimu!" jawab Senapati Sedayu.
"Kurang ajar! Kubunuh kau, Bangsat!" geram Joko Galing. Tangan kanannya menghantam wajah lelaki tua itu. Tapi, Senapati Sedayu cepat menghinda- rinya!
Mendapat serangan berbahaya itu Senapati Se- dayu tersentak. Matanya terbelalak kaget. Namun segera dibuang perasaan gentar yang tiba-tiba melan- danya. Lalu segera bergerak membalas serangan den- gan jurus 'Gerak Harimau Mengintai Mangsa'. Tubuh- nya melangkah dengan gerakan pelan, seirama lang- kah kaki yang tertata rapi.
"Yea!" Tangan Senapati Sedayu berkelebat cepat men- cakar ke wajah lawan. Joko Galing segera mengelit ke samping, hingga serangan lawan melesat beberapa jengkal di samping wajahnya. Kemudian pemuda be- rompi merah itu balas menyerang dengan jurus 'Ayam Jantan Mematuk Cacing'. Tangannya bergerak mema- tuk ke tubuh lawan, diikuti kibasan tangan kirinya yang disertai tenaga dalam kuat.
"Hea!" "Yea!" Dalam jurus 'Ayam Jantan Mematuk Cacing', Joko Galing terus memburu lawannya dengan seran- gan-serangan mematikan. Tangan kanannya bagaikan patuk ayam, mematuk-matuk ke wajah dan dada la- wan. Sedangkan tangan kirinya, tak ubahnya sayap ayam, mengepak dan menghantam ke dada dan ping- gang lawan dengan disertai tenaga dalam kuat. Hal itu membuat Senapati Sedayu terdesak.
"Hea!" "Yea!" "Celaka! Benar-benar bukan pemuda semba- rangan," desis Senapati Sedayu dalam hati. Dia terke- jut menyaksikan serangan-serangan yang dilancarkan Joko Galing. Namun begitu, lelaki berwajah tua itu tak mau mengalah begitu saja. Tubuhnya terus bergerak mengelakkan serangan-serangan sambil sesekali me- lancarkan serangan balasan ke tubuh Joko Galing.
"Yea!" Wrt! Tangan Joko Galing terus menderu cepat, me- matuk dan menghantam lawan yang semakin terdesak hebat. Bahkan Senapati Sedayu tak mampu melancar- kan serangan, kecuali hanya bergerak mengelakkan serangan.
"Tenaga dalamnya luar biasa," gumam Senapati Sedayu yang tampak semakin kewalahan menghadapi Joko Galing. Pemuda berompi merah itu terus mela- brak dan tak memberikan kesempatan sedikit pun kepada Senapati Sedayu untuk membalas serangan.
***

"Celaka! Benar-benar celaka aku" pekik Sena- pati Sedayu tegang, melihat serangan Joko Galing se- makin gencar dan cepat. Sampai-sampai dia hams mengerahkan segenap tenaga agar dapat mengelakkan serangan.
"Mau ke mana kau, Orang Tua Kudisan! Kini ajalmu hampir tiba! Heaaa...!"
Joko Galing terus bergerak menyerang, dengan pukulan dan patukan yang cepat dan mematikan. Se- napati Sedayu benar-benar kelabakan. Ruang gerak- nya semakin sempit, karena serangan lawan bagai mengurung.
"Terimalah ajalmu, Lelaki Kudisan! Heaaa...!" Joko Galing benar-benar bermaksud mengakhi- ri pertarungan. Serangannya semakin cepat dan dah- syat. Jurus 'Ayam Jantan Membantai Lawan' yang menjadi andalannya dikeluarkan. Kedua tangannya bagai sayap mengepak lebar. Kemudian dengan kaki kiri diangkat ke atas, Joko Galing menghantamkan tangan kanan dan kiri bergantian. Pukulan-pukulan yang mengandung tenaga dalam tinggi menderu keras.
"Celaka! Mati aku...!" keluh Senapati Sedayu yang semakin tegang, menghadapi gempuran Joko Gal- ing. Lelaki berwajah tua itu terus menghindar dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya.
Joko Galing yang semakin geram terus membu- ru lawannya dengan jurus-jurus maut
"Mau lari ke mana kau, Orang Tua Kudisan?!" dengus Joko Galing sambil terus mencecar lawan den- gan serangan-serangan yang cepat Senapati, Sedayu masih mampu mengerahkan kewaspadaannya untuk menghindari serangan.
Celaka! Benar-benar bukan lawanku, gumam Senapati Sedayu dalam hati, semakin tegang mengha- dapi serangan-serangan dahsyat itu.
"Hea!" "Uts! Hih...!" Senapati Sedayu mencoba memapak serangan lawan, dia berusaha mengukur kekuatan tenaga lawan.
Duar! Ledakan dahsyat menggelegar, ketika dua tan- gan mereka saling beradu.
"Akh...!" Senapati Sedayu memekik tertahan. Tubuhnya terlempar jauh ke belakang. Kemudian ja- tuh terduduk dengan darah meleleh di sela-sela bibirnya.
"Ukh! Hoakkk...!" "Hua ha ha! Akhirnya kau harus mampus juga, Lelaki Kudisan! Bunuh dia...!" perintah Joko Galing pada anak buahnya sambil menggerakkan tangan ka- nannya. Seketika gerombolan dari Serikat Iblis menyer- bu Senapati Sedayu. "Hea!" "Tamatlah riwayatku," desis Senapati Sedayu pasrah, karena tak mampu lagi mengelakkan serangan yang dilakukan anak buah Joko Galing. Pedang dan golok di tangan para perampok itu, siap membabat tu- buhnya. Namun tiba-tiba....
"Hea!" Dukh! Tran, trang...! "Akh...?!" Kelima perampok yang hendak membabatkan senjata mereka ke tubuh lelaki berwajah tua itu terpe- kik kaget sambil melompat ke belakang. Mereka mera- sakan hawa panas menyengat, manakala senjata me- reka tersambar senjata seorang anak muda yang telah berdiri dekat lelaki berwajah tua itu.
"Hi hi hi...! Lucu sekali! Tak kusangka, orang- orang seperti kalian hanya berani pada orang yang telah lemah," ujar pemuda bertampang gila cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Bocah edan! Jangan ikut campur urusanku!" bentak Joko Galing sengit. Matanya terbelalak, mena- tap tajam wajah pemuda berompi kulit ular. Pemuda yang ternyata Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha, rupanya kau pimpinan tikus-tikus busuk itu?!. Hi hi hi kau pun seperti tikus-tikus busuk itu!" kata Sena sambil memonyongkan mulutnya, mengejek Joko Galing yang semakin marah.
"Bocah edan! Kuhajar mulutmu yang lancang itu!" bentak Joko Galing sengit
"Aha, kurasa mulutmu yang pantas untuk di- hajar, Tikus Busuk! Sayang, aku tak ada waktu."
Usai berkata begitu, Sena segera membopong tubuh Senapati Sedayu. Kemudian tanpa menghirau- kan caci maki Joko Galing, Pendekar Gila langsung melesat meninggalkan tempat itu. Meski memanggul beban, dengan ilmu lari 'Sapta Bayu', Sena mampu melesat dengan cepat
"Kurang ajar! Kejar dia...!" perintah Joko Gal- ing.
Joko Galing dan kelima anak buah yang masih hidup, segera melesat mengejar Pendekar Gila.
***

8
Sepak terjang Joko Galing yang bersekutu den- gan Nyi Mas Lindri dan Begal Setan Tanduk Merah golongan sesat lain, akhirnya sampai di telinga Ki Man- dra. Betapa murka lelaki tua itu mengetahui sang Murid telah melanggar sumpahnya. Bahkan Pedang Lem- bayung Merah digunakan untuk keangkaramurkaan dan kejahatan, bukan untuk membela kebenaran se- perti janji Joko Galing di hadapan Ki Mandra
Ki Mandra benar-benar merasa dicoreng- moreng mukanya dengan kotoran manusia, atas perbuatan Joko Galing. Meskipun para pendekar belum menudingkan tuduhan padanya, sebagai pendekar penegak kebenaran dan keadilan. Ki Mandra merasa per-
lu menghukum muridnya. Dia menganggap Joko Gal- ing telah keterlaluan dan keluar dari ajaran yang pernah diberikan.
"Aku yang harus bertanggung jawab. Hm..., ba- gaimanapun, akulah gurunya," gumam Ki Mandra setelah menghela napas dalam-dalam. Lelaki tua itu sea- kan-akan berusaha menahan amarah.
Ki Mandra bangkit dari duduknya, melangkah masuk ke kamar tengah. Kemudian keluar lagi dengan raut wajah telah berubah. Lelaki tua itu mengenakan wajah samaran. Hal itu dilakukan agar tak terlalu menjadi perhatian tokoh-tokoh kalangan persilatan. Sebuah pedang bertengger di punggungnya. Setelah merasa yakin penyamarannya tak akan diketahui, Ki Mandra segera meninggalkan gubuk bilik di tengah hu- tan yang letaknya di Gunung Panalu.
Pagi terus merangkak dengan cepat, berubah siang yang panas. Saat itu, Ki Mandra telah sampai di Desa Sigaran Jati. Ketika Ki Mandra sampai di perba- tasan Hutan Seweru, tiba-tiba langkahnya terhenti. Di- lihatnya beberapa sosok tubuh berhamburan mengha- dang langkahnya. Sosok-sosok berpakaian merah dan bersenjata golok serta pedang yang ternyata para begal Hutan Seweru. Mereka langsung mengurung Ki Man- dra yang wajahnya tertutup topeng kulit.
"Serahkan apa yang kau bawa pada kami?!" pe- rintah Pimpinan Begal Hutan Seweru.
Para begal itu, mengenakan topi bertanduk me- rah. Mereka tentunya Gerombolan Begal Setan Tanduk Merah, yang kini dalam kekuasaan Joko Galing dan Nyi Mas Lindri.
"Aku tak membawa apa-apa, Kisanak. Hanya selembar nyawaku yang masih melekat di tubuh. Apa- kah kau juga memintanya?" tanya Ki Mandra dengan tenang. Matanya menatap tajam ke seluruh begal yang mengelilingnya.
"Cuih! Apa kau kira kami dapat kau bohongi? Serahkan bungkusan yang kau bawa itu pada kami!" bentak Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah sengit.
"Bungkusan ini bukan sembarangan. Isinya akan kuserahkan pada sahabatku, Joko Galing. San- gat menyesal sekali, kalau kuberikan pada kalian. Ten- tunya Joko Galing akan marah padaku," jawab Ki Mandra. Mendengar jawaban lelaki berwajah buruk itu, Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah tersentak kaget. Apalagi ketika mendengar nama Joko Galing disebut
"Siapa kau? Dari mana kau mengenal pimpinan kami?!" bantah Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah. Lelaki bernama Mangala itu terbelalak, matanya mena- tap tajam penuh selidik pada lelaki buruk muka di de- pannya. "Aha, kami sangat akrab, Kisanak. Aku dan Jo- ko Galing dua sahabat yang selalu bersama-sama. Ke mana pun kami pergi selalu berdua. Sayang, semenjak jadi pimpinan orang-orang seperti kalian, dia begitu saja melupakan ku," tutur Ki Mandra dengan tarikan napas yang menyiratkan kesedihan atas perpisahan- nya dengan Joko Galing.
"Bohong! Pimpinan kami masih muda, sedang- kan kau telah tua dan buruk rupa!" bentak Mangala karena tak percaya, kalau lelaki bermuka buruk itu teman pimpinannya.
"Kalau kau tak percaya, kau boleh tanya pada pimpinanmu, apakah benar Mandra itu temannya?!" ujar Ki Mandra dengan suara masih tenang. Bahkan bibirnya tersenyum, meskipun senyum itu tipis dan tersembunyi.
Mangala dan kesepuluh anak buahnya terdiam dan saling pandang. Mereka tampaknya tengah beru-
saha meyakinkan ucapan Ki Mandra. Belum juga me- reka sempat berkata, Ki Mandra yang ingin meyakin- kan Pimpinan Begal Setan Tanduk Merah berkata lagi,
"Katakan juga, aku akan berkunjung padanya. Di manakah tempatnya?!" tanya Ki Mandra kemudian.
"Kalau kau memang temannya, ikut kami," ajak Mangala. "Terima kasih," jawab Ki Mandra.
Dengan dikawal anak buah Begal Setan Tanduk Merah, Ki Mandra dibawa menuju Hutan Mentaok di dekat Bukit Jalmus. Di tempat itu markas Serikat Iblis berada. Hm, penjagaan di sini sangat ketat, gumam Ki Mandra dalam hati, menyaksikan banyak prajurit dari aliran sesat berjaga-jaga di hutan itu. Mata mereka ta- jam, dengan muka garang mengawasi Ki Mandra yang dikawal Gerombolan Begal Setan Tanduk Merah.
"Tunggu di sini, aku akan melaporkan pada pimpinan," perintah Mangala ketika mereka telah sam- pai di depan tempat kediaman Joko Galing dan Nyi Mas Lindri.
Anak buah Begal Setan Tanduk Merah menu- rut, menahan Ki Mandra di luar. Sedangkan Mangala segera melangkah masuk. Tiba-tiba dari dalam terden- gar suara Nyi Mas Lindri.
"Ada apa, Mangala?" "Ampun, Nyi Ayu! Hamba mau menghadap. Apakah tidak mengganggu?" tanya Mangala yang be- lum sempat masuk.
"Masuklah!" perintah Nyi Mas Lindri. Saat Menggali berada di dalam, seketika terlihat pemandan- gan yang tidak senonoh.
"Ada apa, Mangala?" tanya Joko Galing terse- nyum.
"Ampun, Ketua! Ada seorang lelaki bermuka
buruk yang mengaku bernama Mandra hendak mene- mui Ketua. Katanya dia sahabat Ketua," lapor Mangala sambil menundukkan kepala ketika melihat peman- dangan di depannya.
Joko Galing tersentak kaget mendengar laporan Mangala. Joko Galing segera memerintah Nyi Mas Lindri untuk merapikan pakaiannya untuk menyabut ke- datangan gurunya.
"Cepat pakai bajumu, Lindri! Guruku datang," perintah Joko Galing dengan wajah tampak tegang.
"Gurumu?" tanya Nyi Mas Lindri tersentak. "Ya, guruku," sahut Joko Galing, "Cepatlah kenakan pakaianmu!"
Nyi Mas Lindri segera menurut mengenakan pakaiannya dengan rapi. Bagaimanapun yang datang ke tempat mereka adalah guru dari calon suaminya. Dia merasa harus menghormati dan menyambutnya.
Dengan wajah tegang, Joko Galing melangkah keluar diikuti Nyi Mas Lindri dan Mangala. Mata Joko Galing menatap tajam lelaki bermuka buruk di depan rumah. Dia tahu persis wajah lelaki itu tertutup kedok kulit. Gurunya sengaja menyamar agar tidak diketahui
"Guru, selamat datang!" sapa Joko Galing sam- bil melangkah mendekat Ki Mandra. Lelaki muda itu hendak bersujud menyembah. Namun, tiba-tiba Ki Mandra membuka kedoknya sambil membentak keras.
"Murid murtad! Rupanya sumpah dan janjimu hanyalah sumpah iblis! Kau harus ku hukum!"
Joko Galing tersentak kaget, segera diurungkan niatnya menyembah. Matanya menatap nanar pada wajah sang Guru yang telah menunjukkan wajah as- linya. Wajah tua yang dingin tapi diliputi amarah.
"Guru! Apa salahku, Gum?" tanya Joko Galing belum menyadari mengapa tiba-tiba Ki Mandra sangat marah terhadapnya.
"Pengkhianat...!" maki Ki Mandra. "Tak kusang- ka, kau akhirnya menjadi budak iblis, Joko!"
Joko Galing semakin tersentak kaget menden- gar makian gurunya. Hatinya seakan tertutup, hingga tak menyadari apa yang telah dilakukan selama ini. Jiwanya yang telah terpaut Nyi Mas Lindri, bagaikan tak menghiraukan apa yang dikatakan sang Guru. Bahkan kalau Ki Mandra terus mendesak, dia pun takkan tinggal diam begitu saja.
"Guru, jangan asal menuduh! Apa salahku...?" tanya Joko Galing berusaha menyembunyikan kebu- rukannya.
"Masih kau tak mau mengakui kesalahanmu, Murid Laknat! Kau telah menjalankan ilmu yang kutu- runkan untuk kejahatan, untuk memuaskan nafsu ib- lismu. Hanya seorang wanita iblis licik yang menjadi buronan Istana Telaga Mas, kau rela mengorbankan sumpahmu, Joko!" kecam Ki Mandra masih dengan suara tertahan.
Menggelegak amarah Joko Galing, mendengar kecaman begitu rupa di depan kekasih dan anak buahnya. Harga dirinya tersinggung. Pikirannya seke- tika jadi gelap. Dia tak sadar siapa yang kini berada di hadapannya.
"Tutup mulutmu, Keparat!" dengus Joko Galing sengit
Sreng! Dicabutnya Pedang Lembayung Merah dari wa- rangka yang tersampir di punggung. Joko Galing yang telah gelap mata karena pengaruh iblis, mendengus dan maju, mendekati Ki Mandra.
"Enyah kau dari sini, sebelum pedang ini me- menggal kepalamu!" bentak Joko Galing dengan wajah merah membara bagaikan terbakar.
"Jangan sembarangan dengan pedang pusaka
itu, Bocah Laknat!" bentak Ki Mandra berusaha me- nyadarkan muridnya yang telah gelap mata.
"Jangan banyak omong! Cepat pergi dari tempat ini, atau pedang pusaka ini akan memenggalmu, Kepa- rat!" bentak Joko Galing sambil melangkah mendekat Para anak buahnya melompat mundur. Mereka tidak berani mendekat takut kalau-kalau menjadi sasaran pedang pusaka sakti di tangan Joko Galing.
"Celakalah kau, Joko! Celakalah kau, Murid Keparat!" maki Ki Mandra sambil menyurut mundur. Kemudian tangannya memegang gagang Pedang Lem- bayung Putih yang tersampir di pinggang.
Sreng! Cahaya terang berwarna putih, keluar dari pe- dang di tangan Ki Mandra. Cahaya berkilauan itu beradu dengan cahaya merah yang keluar dari pedang di tangan Joko Galing.
***

Joko Galing tersenyum sinis, menyaksikan gu- runya telah mengeluarkan pedang pusakanya. Ma- tanya yang tajam, memandang garang ke wajah sang Guru yang dengan tenang membawa Pedang Pusaka Lembayung Putih ke depan dadanya.
"Hm, bagus! Memang itulah yang kuharapkan. Aku ingin tahu, seberapa hebat ilmumu, Tua Bangka!" dengus Joko Galing dengan angkuh.
"Murid celaka! Kau akan celaka!" bentak Ki Mandra tak sabar menahan amarah yang telah lama tertahan di dalam dada. Nafasnya mendengus penuh amarah. Matanya menatap tajam wajah Joko Galing yang tersenyum mencibirkan bibirnya.
"Kaulah yang akan celaka, Orang Tua Tolol! Kau telah berani masuk ke kandang macan. Berarti

No comments:

Post a Comment