GOLOK KILAT
1
Seorang pemuda kekar terbungkus pakaian merah dengan ikat
kepala juga berwarna merah duduk di atas sebongkah batu karang yang berada di
pantai Teluk Menjangan. Kedua kakinya menjuntai, ke permukaan laut. Sehingga
setiap kali ombak datang, sepasang ka-kinya terhantam air. Namun, semua itu
tidak dipeduli-kannya, sikapnya tetap tenang dengan mata tajam berkilat menatap
jauh ke tengah laut.
Dengan pandangan yang tidak beralih sedikit pun, pemuda itu
menggerakkan tangannya, menyapu per-mukaan bongkahan karang yang didudukinya.
Gera-kan tangan itu terhenti, ketika menyentuh bagian ka-rang yang menonjol.
Kemudian dengan gerak pelan, ja-ri-jari tangannya mengepal.
Broll...!
Tonjolan batu karang yang keras itu tanggal. Pe-muda
berpakaian merah ini membawanya ke depan dada. Sekilas batu itu diperhatikan,
lalu dilemparkan-nya ke atas.
Potongan karang itu meluncur turun kembali, sete-lah
kekuatan lemparan habis. Pada saat yang sama, pemuda ini menggerak-gerakkan
tangannya di atas kepala seperti orang tengah memainkan pedang.
Wuk! Wuk!
Terdengar bunyi menderu tajam, ketika tangan pemuda ini
bergerak. Dan begitu potongan karang ja-tuh kembali tepat di atas paha
kanannya, telah menja-di beberapa potongan! Seakan-akan telah dibabat pe-dang
pusaka yang amat tajam.
Tepat ketika pemuda ini menatap ke depan kemba-li, di
tengah laut terlihat satu sosok seperti tengah me-
lesat di atas permukaan air yang bergelombang. Dan
pandangan matanya yang tajam segera saja mengeta-hui kalau sosok itu memang
tengah melesat. Namun dia tidak terkejut sama sekali, kendati cara berlari
so-sok itu demikian enaknya, seperti tengah berlari di ta-nah datar.
Semakin dekat semakin jelas kalau sosok yang me-lesat di
tengah laut itu adalah seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun.
Walaupun sudah dimakan usia, tubuhnya masih terlihat kokoh kuat Badannya yang
telanjang terlihat kekar. Penuh otot dan bulu-bulu hitam tebal. Celananya
hitam. Dan yang lebih menarik perhatian, sebelah matanya tertutup kain hi-tam.
Lelaki tua bertubuh kekar ini sedikit berkerut wa-jahnya
ketika melihat seorang pemuda berpakaian me-rah di tepi pantai. Meski demikian
lesatannya yang ternyata mengenakan dua bilah papan lebar di bawah alas
kakinya, tetap diteruskan. Papan-papan inilah yang membuatnya mampu melesat di
atas permukaan air.
Begitu dekat pantai, dengan bantuan gelombang le-laki
bertelanjang dada itu melompat ke depan.
"Hup!"
Di udara, tubuh lelaki itu bersalto beberapa kali, melewati
kepala pemuda berpakaian merah. Dan agaknya dia ingin mendarat di belakang
pemuda itu untuk berjaga-jaga dari kemungkinan buruk yang bakal terjadi.
Keberadaan pemuda ini dengan sikap se-perti itu, telah menimbulkan perasaan
curiga di ha-tinya.
Namun hampir lelaki bertelanjang dada ini terpe-kik, begitu
menjejakkan kaki di tanah. Ternyata, pe-muda berpakaian merah itu sudah duduk
dengan te-
nang di depan. Artinya, lelaki tua itu tidak mampu
me-lewati atas kepala pemuda ini. Sikapnya tidak peduli dengan wajah menunduk
menekuri tanah. Kini pemu-da itu sudah berpindah duduk di batang sebuah pohon
kelapa yang tumbang.
Mata lelaki bertelanjang dada yang hanya tinggal sebelah
itu menyipit. Bagaimana mungkin pemuda berpakaian merah itu bisa berada di
tempat ini tanpa terlihat bergeraknya? Padahal tadi, saat melewati kepa-lanya,
pemuda ini masih duduk tenang di tempatnya?
Perasaan tidak yakin, membuat lelaki ini menoleh ke
belakang, ke tempat tadi pemuda itu berada. Ba-rangkali saja ada dua orang muda
yang mirip pakaian dan potongan tubuhnya.
Tapi dugaan lelaki bertelanjang dada ini pupus se-ketika,
karena di tempat itu tidak ada apa-apa sama sekali. Kosong! Berarti pemuda ini
telah pindah, entah dengan cara bagaimana!
Lelaki bertelanjang dada ini kembali mengalihkan perhatian
ke depan. Kewaspadaannya mulai diting-katkan. Disadari, di samping telah
terbukti kalau pe-muda yang sikapnya tidak peduli ini memiliki kepan-daian
tinggi, pasti juga bermaksud tak baik. Kalau ti-dak, untuk apa mencegatnya?
Sungguhpun demikian, lelaki bertelanjang dada ini pura-pura
tidak tahu. Bagaikan orang yang tidak meli-hat adanya siapa pun di situ kakinya
terayun hendak pergi. Pandangannya diarahkan ke depan, lalu terus berjalan
secara biasa melewati bagian kanan pemuda ini. Jaraknya sekitar satu tombak dan
sisi lelaki ber-mata satu ini.
Lelaki bertelanjang dada menghela napas lega keti-ka telah
puluhan tindak kakinya melangkah, tidak ju-ga merasakan apa-apa. Maka
kemampuannya segera
dikeluarkan, berlari cepat disertai seluruh ilmu
merin-gankan tubuhnya.
Kini dengan kedua kaki bagai tidak menginjak ta-nah, tubuh
lelaki bertelanjang dada ini jadi tak jelas saat melesat. Yang kelihatan hanya
kelebatan bayan-gan yang bagaikan hantu tengah terbang mencari mangsa!
"Heh?!"
Tapi belum jauh berlari, mendadak lelaki ini ber-henti.
Matanya langsung menatap terbelalak ke depan, tanpa dapat menyembunyikan sinar
keterkejutan dan kengerian. Sekitar sepuluh tombak di depannya, tam-pak pemuda
berpakaian merah yang tadi ditinggalkan-nya!
Seperti juga sebelumnya, pemuda itu tampak da-lam sikap tak
acuh! Kali ini tubuhnya rebah miring di atas batang sebuah pohon yang juga
telah tumbang di tanah.
Lelaki bertelanjang dada ini merasakan bulu ku-duknya
berdiri. Dirasakannya adanya ancaman ba-haya. Sebagai seorang waras, dia tahu
kalau pemuda berpakaian merah itu sengaja mencari urusan den-gannya!
Juga amat disadari pemuda ini memiliki kepan-daian amat
tinggi! Setidak-tidaknya ilmu lari cepatnya!
Sehingga tak heran kalau pemuda itu selalu berada di
depannya, tanpa kelihatan melakukan pengejaran! Dan disadari pula, tidak ada
gunanya terus menghin-dari orang yang luar biasa ini.
Dan meski gentar bukan main, lelaki telanjang da-da ini
mengayunkan kaki mendekati pemuda di de-pannya. Langkahnya hati-hati, takut
membuat pemu-da aneh itu marah! Padahal, pemuda berpakaian me-rah ini tidur
miring dengan tubuh memunggungi.
"Bukankah kau orang yang berjuluk Singa Laut?"
Tiba-tiba terdengar suara bernada pertanyaan,
membuat lelaki bermata satu ini sampai menghentikan ayunan
kakinya. Saat ini jarak antara mereka berseli-sih dua tombak. Meski tidak
melihat, lelaki ini yakin kalau ucapan itu keluar dari mulut pemuda di
depan-nya;
"Benar! Akulah orang yang kau maksudkan itu. Dan kau
sendiri, siapa Anak Muda?"
Suara lelaki bermata satu ini terdengar kering. Pe-rasaan
ngeri yang mencekam semakin besar, begitu mendengar nada suara yang demikian
dingin.
"Namaku Lingga. Hm... Apakah kau masih kepingin hidup
lebih lama lagi?!" gumam pemuda yang mengaku bernama Lingga. Nada suaranya
semakin dingin saja.
Lelaki bermata satu yang berjuluk Singa Laut men-gerutkan
keningnya. Sepanjang ingatannya, dia belum pernah bertemu dengan pemuda berbaju
merah yang bernama Lingga ini. Lalu, kenapa pemuda ini menga-jukan pertanyaan
yang bernada ancaman seperti itu?
"Apa maksudmu, Anak Muda? Aku yakin, antara kita tidak
pernah ada urusan. Jadi, kuharap kau sudi membiarkanku lewat," sahut Singa
Laut, setelah mene-lan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak
kering karena perasaan tegang.
Singa Laut sebenarnya bukan seorang tokoh ko-song. Belasan
tahun yang lalu, julukannya amat ter-kenal sebagai kepala bajak laut yang amat
ditakuti. Di samping kepandaiannya tinggi, anak buahnya pun ba-nyak. Tapi
keberadaan pemuda berpakaian merah yang demikian luar biasa, serta sikapnya
yang berwi-bawa, mampu membuat ciut nyali orang sekejam dan seberani Singa
Laut!
"Cuhhh...!"
Pemuda berpakaian merah itu meludah.
"Apa yang kau katakan itu memang benar, Singa Laut? Di
antara kita memang tidak ada urusan. Tapi bisa saja sebaliknya, apabila aku
menghendaki. Dan mungkin perlu kuberitahukan, Singa Laut. Setiap orang yang
berurusan denganku, pasti akan mengala-mi kematian mengerikan!" tukas
Lingga bernada an-caman.
Suasana menjadi hening sejenak, begitu pemuda berpakaian
merah ini menutup pembicaraannya. Singa Laut masih terdiam, tidak mengerti
maksud pemuda itu. Tadi memang terdengar antara mereka memang ti-dak ada
urusan. Lalu, untuk apa pemuda ini mencegat perjalanannya? Aneh!
Di samping itu, Singa Laut sadar kalau tengah ber-hadapan
dengan seorang pemuda berwatak kejam! Seorang yang mungkin mampu membunuh
manusia, tak ubahnya membunuh nyamuk! Dugaan itu timbul, karena dia pun orang
semacam itu dulunya. Maka si-kapnya harus berhati-hati terhadap Lingga.
"Aku tahu, kau mempunyai sebuah senjata berna-ma Golok
Kilat! Dan aku bersedia untuk meninggalkan tempat ini, tanpa mengganggumu. Tapi
serahkanlah pedang itu padaku, Singa Laut! Bagaimana?!" Linggar
menawarkan.
Singa Laut sampai terjingkat ke belakang bagai disengat
ular berbisa, saking kagetnya. Bukan hanya karena mendengar pemuda berpakaian
merah tahu mengenai golok itu. Tapi juga karena melihat kejadian yang baginya
amat luar biasa!
Singa Laut melihat jelas kalau Lingga tidak bertin-dak
apa-apa. Tapi batang pohon yang ditidurinya lang-sung hancur berantakan menjadi
tepung! Kejadian ini saja sudah cukup membuat hatinya bergidik! Itu pun
masih ditambah kejadian menakjubkan, ketika tubuh pemuda
berpakaian merah itu mengambang sekitar dua jengkal dari tanah saat batang
pohon yang ditidu-rinya hancur.
***
"Bagaimana Singa Laut?!" tanya Lingga, setelah
membalikkan tubuhnya dan berdiri tegak menghadap lelaki bertelanjang dada itu.
Kedua orang ini sekarang berdiri berhadapan dalam jarak dua tombak.
Wajah Singa Laut semakin pias. Dirasakan adanya ancaman
dalam pertanyaan yang kedengarannya se-pele.
"Aku bukan sejenis orang sabar, Singa Laut! Apabi-la
kau tidak memberi jawaban sama sekali, jangan se-sali tindakanmu itu!"
lanjut Lingga dengan suara te-nang bernada semakin dingin.
Singa Laut menelan ludah beberapa kali, untuk membasahi
tenggorokannya agar bisa berkata-kata lancar.
"Bukannya aku tidak mau memberi senjata itu pa-damu,
Anak Muda. Tapi, ketahuilah. Aku tidak memi-likinya. Senjata itu..."
"Rupanya kau menganggapku bermain dengan an-caman yang
kukatakan, Singa Laut?!" selak Lingga membuat kata-kata Singa Laut
terhenti. Sepasang ma-tanya beringas seperti mata seekor harimau lapar mencium
darah. "Kau berani membohongiku?! Dikira aku tidak tahu, kalau kau
merampasnya dari pasukan kerajaan yang hendak mempersembahkannya kepada
kerajaan seberang sebagai hadiah?!"
"Hal itu memang tidak ku sangkal, Anak Muda,"
ki-lah Singa Laut, cepat-cepat. "Tapi, senjata itu telah di-
rampas seorang pendekar..."
"Seorang pendekar...?!" ulang pemuda berpakaian
merah ini. "Siapa orang itu?!"
"Raja Golok Bertangan Baja!" jelas Singa Laut,
pe-nuh perasaan dendam dan sakit hati.
Lingga tersenyum sinis.
"Apakah kau hendak membalas dendam pa-danya?!"
tanya Lingga.
Singa Laut mengangguk pasti.
"Itulah sebabnya aku keluar dari pulau tempat
pe-nyepianku. Lima tahun yang lalu, aku dikalahkan. Go-lokku pun dirampas.
Sesuai perjanjian, sekarang saat-nya kami bertarung lagi. Karena, aku telah
berjanji un-tuk menebus kekalahan lima tahun yang lalu," jelas Singa Laut
"Di mana kalian berjanji untuk bertemu?!" desak
Lingga, agak bernafsu. Jelas sekali kalau dia sangat menginginkan Golok Kilat
itu.
"Di Lembah Iblis," jawab Singa Laut
"Dan..., kau yakin bisa mengalahkannya?!" tanya
Lingga bernada mengejek.
Tidak sembarangan Lingga dengan perkataannya. Karena, dia
telah mendengar tentang tokoh yang berju-luk Raja Golok Bertangan Baja, yang
merupakan da-tuknya golongan putih! Mana mungkin tokoh seperti Singa Laut yang
hanya pemimpin bajak laut mampu mengunggulinya?! Jangankan berlatih lima tahun.
Biar berlatih sampai lima puluh tahun pun, tak akan mungkin bisa menandingi
datuk kaum putih itu.
"Tidak," jawab Singa Laut jujur. "Tapi,
barangkali saja nasibku tengah mujur. Tambahan lagi..., aku ti-dak sendirian.
Ada beberapa orang kawan segolongan yang bersedia bekerja sama denganku. Mereka
juga mempunyai urusan dengan Raja Golok Bertangan Baja
yang sombong itu!"
Lingga terdiam sejenak. Dahinya berkernyit dalam. Sepasang
matanya yang tajam berputar sebentar.
"Hm.,.. Aku mendengar adanya langkah-langkah kaki
mendekati tempat ini. Mungkin mereka orang-orang yang kau maksudkan,"
gumam Lingga tenang.
Pemuda itu tidak merasa khawatir sedikit pun ka-lau nanti
Singa Laut akan mengeroyok bersama ka-wan-kawannya.
Wajah Singa Laut berseri bercampur heran. Kete-rangan
pemuda ini jelas membuatnya gembira. Dan senyumnya melebar ketika melihat dua
sosok tengah melesat cepat dari bagian depan, atau dari arah bela-kang Lingga.
Dan keheranannya yang bercampur rasa terkejut, ketika melihat dua sosok yang
tengah menda-tangi itu memang kawannya. Sungguh tidak disangka kalau Lingga
bisa mengetahui kehadiran mereka. Pa-dahal, jaraknya masih amat jauh.
"Singa Laut...!"
Dua sosok yang bergerak mendatangi itu langsung berseru,
ketika telah berada lebih dari delapan tombak. Sambil terus berlari, dua sosok
itu menyempatkan diri untuk melirik pada pemuda berpakaian merah yang sekarang
berdiri bersandar pada sebatang pohon den-gan sikap tidak peduli.
"Syukur kalian telah datang, Braja, Gintung!"
sam-but Singa Laut, gembira.
"Kau meragukan janji kami?" tanya yang berkulit
hijau. Suaranya parau. Dan lehernya berkedut-kedut keras, ketika berbicara
seperti leher katak! Dialah yang bernama Braja.
"Apa yang dikatakan saudaraku ini benar, Singa Laut!
Bagi kami, janji adalah segalanya! Apalagi, bila janji itu sudah menyangkut
orang usilan yang berjuluk
Raja Golok Bertangan Baja," sahut sosok yang berkulit
hitam. Namanya, Gintung.
Gintung mempunyai satu tangan. Sedang tangan yang satu
mulai dari pergelangan tangan, diganti baja yang ujungnya berkait. Sehingga
penampilannya cu-kup mengiriskan.
"Tentu saja kau tidak meragukan janji orang-orang
seperti kalian?! Mana mungkin pemimpin Perampok Gunung Wilis akan mengingkari
janji?! Tunggu apa la-gi?! Mari lata berangkat!" ajak Singa Laut.
Dua lelaki yang merupakan dedengkot Perampok Gunung Wilis
saling berpandang dengan senyum men-gembang. Kemudian, seperti diatur, mereka
mengang-guk bersamaan.
Singa Laut pun tersenyum. Kemudian tanpa me-nunggu lebih
lama lagi, ketiga dedengkot rampok ini segera melesat meninggalkan tempat itu,
didahului Singa Laut. Sedangkan Braja dan Gintung mengikuti di belakangnya.
Sementara itu keheranan mulai menggayuti hati Braja dan
Gintung, ketika menyadari kalau hanya me-reka bertiga yang berangkat. Sedangkan
pemuda ber-pakaian merah yang berada di tempat itu tidak ikut! Padahal, semula
mereka mengira kalau pemuda itu merupakan kawan. Atau paling tidak, murid Singa
Laut! Kalau bukan, mengapa pemuda tadi berada di si-tu, tanpa tindakan apa-apa
dari Singa Laut?
Dua pemimpin Perampok Gunung Wilis ini sebe-narnya ingin
menanyakan. Tapi karena Singa Laut se-perti tidak memberikan kesempatan, mereka
pun di-am.
***
"Aneh...."
Sebuah suara mendesah bernada heran meluncur dari mulut
seorang kakek tinggi kurus berpakaian abu-abu. Kepalanya menengadah, memandang
langit. Kedua tangannya di belakang punggung.
"Benarkah pusaka yang kudapatkan itu golok Ki-lat?!
Kalau benar, mengapa tidak kutemukan kedah-syatannya seperti yang dulu tersisa?
Apakah ini golok palsu??" lanjut kakek tinggi kurus ini, seperti bertanya
sendiri.
Sambil berkata demikian, kakek ini menggerakkan pinggulnya
sedemikian rupa. Maka golok di dalam sa-rung yang tersampir di punggung pun
melesat ke atas. Seketika, kakek itu mengulurkan tangan, menangkap begitu
senjata tajam itu meluruk turun. Tindakannya bagaikan tanpa melihat sama
sekali.
Kakek berpakaian abu-abu itu mendekatkan golok ke wajahnya,
mencium beberapa saat. Kemudian di-perhatikannya adanya ukiran-ukiran di bagian
sisi ka-nan dan kiri batang golok. Cukup lama.
"Tidak salah lagi," desah kakek ini lagi, penuh
keyakinan. "Inilah Golok Kilat itu. Aku bisa merasakan pengaruhnya. Tapi,
mengapa kedahsyatannya tidak pernah muncul?!"
Setelah menutup ucapan dengan pertanyaan yang entah kapan
bisa terjawabnya, golok itu ditudingkan pada sebatang pohon yang berada dalam
jarak lima be-las tombak darinya.
"Tidak terjadi apa-apa," keluh kakek ini sambil
me-nurunkan tangannya yang memegang golok ke sisi pinggang. "Ataukah,
kedahsyatan yang dikatakan itu hanya sekadar desas-desus belaka? Ataukah...,
ada rahasia yang harus kupecahkan di sini?!"
"Katakili...!"
Mendadak terdengar seruan keras, membuat kakek berpakaian
abu-abu menoleh ke kanan, arah asal sua-ra itu. Sebentar sepasang matanya
terbelalak ketika mengetahui pemilik suara. Ternyata sosok itu adalah kakek
berpakaian coklat dengan jenggot panjang men-juntai.
"Malimbong...," desis kakek berpakaian abu-abu
yang dipanggil Katakili. "Apa maksudmu datang kema-ri?! Jangan katakan
kalau si Golok Emas yang menyu-ruhmu. Ataukah, dia telah begitu tak tahu malu.
Se-hingga, dia berani mengingkari janji yang telah dibuat-nya sendiri?"
Kakek berpakaian coklat berjenggot panjang yang dipanggil
Malimbong tersenyum sambil mengelus jeng-gotnya.
"Tidak ada yang menyuruhku untuk datang kema-ri,
Katakili. Dan tidak akan pernah ada yang akan me-nyuruhku!" tandas
Malimbong, mantap.
"Apa maksudmu, Malimbong?!" tanya Katakili sambil
mengerutkan sepasang alisnya. Heran. "Keda-tanganmu kemari tanpa
sepengetahuan si Golok Emas?!"
"Tanpa sepengetahuan si Golok Emas!" ulang
Ma-limbong sambil tertawa terkekeh. "Kau lucu sekali, Ka-takili! Apakah
kau tidak melihat ini?!"
Malimbong langsung menghunus golok yang terse-lip di
pinggang.
Sring!
Terdengar bunyi nyaring, begitu muncul sinar ke-kuningan
yang menyilaukan mata.
"Golok Emas...?!" desis Katakili kaget, sambil
me-natap tangan kanan Malimbong yang menggenggam golok berbatang kuning. Golok
Emas!.
"Syukur kau masih mengenalnya, Katakili. Dan
agar kau tidak semakin larut dalam kebingungan, per-lu
kuberitahukan bahwa orang yang berhak memegang golok emas ini adalah aku!
Malimbong! Si Golok Emas yang dulu kau kalahkan, telah kukalahkan! Jadi, aku
sekarang yang berhak menyandang julukan si Golok Emas! Akulah yang menjadi
Ketua Perguruan Golok Maut!"
Katakili menghela napas berat, tidak merasa heran lagi
sekarang. Dia telah tahu kalau Perguruan Golok Maut mempunyai peraturan aneh.
Setiap anggota per-guruan dapat menjadi ketua bila mampu mengalahkan sang
ketua. Bila sang ketua dapat dikalahkan, golok emas akan jatuh di tangan si
pemenang. Yang nan-tinya juga akan berjuluk si Golok Emas, sekaligus menjadi
ketua baru Perguruan Golok Maut (Untuk je-lasnya, silakan baca episode:
"Memburu Putri Datuk").
"Jadi..., kedatanganmu sekarang untuk menan-tangku
bertarung, Malimbong?!" tanya Katakili dengan nada pahit.
"Lalu..., kau pikir apa?! Berbincang-bincang
den-ganmu? Buang-buang waktu saja! Aku datang untuk membuktikan, siapa di
antara kita yang patut bergelar Raja Golok! Hai, Raja Golok Bertangan Baja!
Siapkah kau menerima tantanganku ini?!"
"Tentu saja, Golok Emas!" sambut Katakili yang
berjuluk Raja Golok Bertangan Baja dengan mantap. Kali ini Malimbong pun
dipanggil dengan julukan, ka-rena kakek jenggot panjang itu memanggilnya
demi-kian.
"Kalau begitu, bersiaplah, Raja Golok! Aku ingin
membuktikan, kalau Ketua Perguruan Golok Maut le-bih berhak menyandang julukan
Raja Golok daripada kau! Akan ku tebus kekalahan Golok Emas terdahulu!"
"Tunggu sebentar, Golok Emas!" cegah Raja Golok,
ketika melihat Malimbong sudah bersiap membuka se-rangan.
Si Golok Emas mengurungkan maksudnya. Dita-tapnya wajah
Katakili lekat-lekat.
"Ada apa lagi, Raja Golok?! Jangan katakan kalau kau
belum siap menghadapiku!"
***
2
Raja Golok Bertangan Baja menatap wajah si Golok Emas tak
kalah tajam. Dua pasang mata yang sama-sama berkilatan mengandung kekuatan
tenaga dalam tinggi, saling bentrok. Seakan-akan mereka hendak mengadu kekuatan
melalui pandang mata.
"Aku bukan seorang pengecut, Golok Emas! Setiap
tantangan yang tertuju padaku, pasti akan ku sambut! Tapi perlu kau ketahui.
Kedatanganmu tanpa perjan-jian. Padahal, sekarang-sekarang ini ada tokoh hitam
yang juga ingin membalaskan kekalahannya padaku. Dia berjuluk Singa Laut. Jadi,
kuharap kau sabar me-nunggu sebentar. Dan..."
"Aku tidak peduli dengan urusanmu, Raja Golok!"
potong si Golok Emas, cepat sambil mengibaskan tan-gan kirinya. "Jangankan
hanya Singa Laut. Biar Malai-kat Laut pun, aku tidak akan mau mengalah. Aku
da-tang duluan. Jadi, akulah yang lebih dulu bertarung. Kecuali..., bila kau
mengaku kalah dan menyerahkan Julukan Raja Golok padaku...."
"Pandanganmu benar-benar picik, Golok Emas. Aku tidak
mengkhawatirkan apa-apa. Apalagi nyawa-
ku! Yang ku takutkan, hanya apabila Singa Laut me-narik
keuntungan dalam hal ini! Di saat kau dan aku telah lelah bertarung, dia
datang. Maka dengan mudah kau dan aku akan habis digilasnya. Apalagi kalau dia
datang bersama kawan-kawannya. Pikirkanlah, Golok Emas?!"
Ketua Perguruan Golok Maut itu terdiam sebentar. "Apa
boleh buat, Raja Golok! Bila itu terjadi, ang-
gap saja satu kesialan. Biar bagaimanapun juga, itu lebih
baik daripada pertarungan kita nanti tak seim-bang. Sebab, kau kehabisan
tenaga, setelah melawan Singa Laut!" tandas si Golok Emas.
"Kalau begitu keinginanmu, apa boleh buat! Aku sudah
siap, Golok Emas!" sambut Raja Golok, merasa tak ada pilihan lain lagi.
Baru saja kata-kata Raja Golok Bertangan Baja se-lesai, si
Golok Emas telah menerjangnya.
"Hiaaat..!"
Golok di tangan Ketua Perguruan Golok Maut itu lenyap
bentuknya ketika diputar-putar. Yang terlihat hanya segulungan sinar kuning
keemasan yang me-luncur ke arah Raja Golok.
"Ilmu golok yang bagus sekali...!" puji Raja
Golok Bertangan Baja, tulus. Golok baja yang tadi telah di-masukkan, kembali
dikeluarkan dan dipergunakan un-tuk menangkis serangan.
Trang! Trang!
Terdengar bunyi berdentang nyaring beberapa kali ketika dua
batang golok berbenturan.
Si Golok Emas menggeram penuh perasaan pena-saran ketika
tubuhnya terhuyung-huyung dua langkah dengan tangan bergetar hebat. Sementara,
Raja Golok Bertangan Baja tampak hanya bergeming sedikit.
"Kau memang hebat, Katakili. Tak aneh kakak se-
perguruanku dulu kalah di tanganmu. Tapi, aku be-lum
kalah!" dengus Golok Emas.
"Chiaaa...!"
Begitu gema ucapan itu lenyap, si Golok Emas kembali
menerjang. Gerakannya lambat, tapi penuh tenaga seperti gerak seekor gajah!
Tapi anehnya, ba-tang goloknya kelihatan jadi banyak! Bahkan itu pun ditingkahi
bunyi mendesing nyaring melengking, seba-gaimana bunyi yang keluar dari
seruling.
Untuk kesekian kalinya Raja Golok Bertangan Baja merasa
kagum. Dia sadar, Malimbong jauh lebih lihai daripada si Golok Emas yang dulu
dikalahkannya. Ba-tang golok yang seperti berjumlah banyak dan bunyi seruling,
seharusnya akan terjadi bila Malimbong menggerakkan goloknya dengan cepat! Tapi
nyatanya, dia mampu melakukannya dengan gerakan lambat.
Tapi Katakili tidak akan mendapat gelar Raja Golok bila
mendapat serangan seperti ini saja sudah kelaba-kan. Dia hanya berdiri tegak
dengan golok diacungkan ke atas tinggi-tinggi. Sepasang matanya terpejam.
Ti-dak terlihat kakek ini menggetarkan tangan, tapi ba-tang goloknya bergetar
keras hingga memperdengarkan bunyi mengaung.
Dan bunyi mengaung ini langsung menindih bunyi melengking
yang timbul dari getaran golok Malimbong. Sedangkan serangan-serangan si Golok
Emas sendiri, berhasil dipunahkan Raja Golok Bertangan Baja tanpa menggeser
kedudukan sama sekali. Dan masih dengan mata terpejam, kakek bernama Katakili
itu mengelak-kan setiap serangan. Tubuhnya doyong ke kanan dan kiri, sehingga
belum ada satu serangan pun yang mendarat di tubuhnya.
***
Sementara itu si Golok Emas dan Raja Golok Ber-tangan Baja
sama sekali tidak tahu kalau saat perta-rungan dimulai, telah ada beberapa
sosok tengah men-gawasi. Tiga sosok berada di kerimbunan semak-semak. Sedangkan
satu sosok lagi, berada di atas se-batang pohon. "
Dan disaat terdengar bunyi mendesing akibat se-rangan si
Golok Emas, tiga sosok yang tak lain dari Singa Laut, Braja, dan Gintung yang
merupakan pe-mimpin Perampok Gunung Wilis ini merasa tersiksa bukan main. Mereka
sampai duduk bersila dan menge-rahkan seluruh tenaga dalam untuk melawan
penga-ruh yang menyakitkan. Tapi, toh mereka tetap kewala-han.
Sekujur tubuh mereka menggigil keras. Peluh se-besar biji
jagung telah membanjiri wajah yang menye-ringai kesakitan. Apabila siksaan ini
terus berlang-sung, Singa Laut dan kedua kawannya akan terluka dalam yang amat
parah! Bahkan, bukan tidak mung-kin akan tewas!
"Auuung... "
Di saat yang mengkhawatirkan, mendadak terden-gar bunyi
mengaung, menekan bunyi desingan yang menyiksa. Singa Laut dan kedua kawannya
langsung merasakan kalau pengaruh yang membuat penderi-taan hebat, semakin
berkurang. Dan kini berganti rasa nyaman yang membuat mereka terbuai nikmat!
Singa Laut dan dua Pemimpin Perampok Gunung Wilis tidak
segera menyadari akan kedahsyatan penga-ruh bunyi mengaung. Mereka tidak
melakukan perla-wanan sama sekali. Rasa yang diterima demikian nik-mat,
sehingga membuat mereka malah mengikuti.
Ketiga tokoh sesat ini baru menyadari ketidakbere-san ini
ketika merasakan sekujur otot-otot dan urat-
urat syaraf terasa lelah bukan main. Demikian pula mata
mereka. Tidak ada keinginan lain lagi bagi mere-ka, kecuali merebahkan diri dan
tidur. Hanya itu yang dibutuhkan, karena mata sudah hampir tidak dapat lagi
dibuka!
Penderitaan yang sama juga dialami si Golok Emas! Dicobanya
sekuat tenaga untuk semakin memperkuat bunyi desingan goloknya. Tapi, ternyata
dia tidak kua-sa! Bunyi mengaung yang ditimbulkan Raja Golok be-nar-benar tidak
mampu ditanggulangi, dan merasuk tanpa bisa tertahan. Halus tapi pasti. Dan
anehnya, langsung menyerang bagian-bagian tertentu yang ber-hubungan dengan
syaraf istirahat!
Kini serangan-serangan si Golok Emas mengendur dengan
cepat. Bahkan terlihat ngawur karena rasa ke-lelahan yang amat sangat. Dan bila
hal ini terus ber-langsung, Ketua Perguruan Golok Maut ini akan roboh. Meskipun
demikian, bila dibandingkan Singa Laut dan kedua kawannya, keadaan si Golok
Emas jauh le-bih baik. Ketiga tokoh sesat itu telah rebah di tanah berumput,
setelah beberapa kali menggeliat dan men-
guap! Mereka telah tertidur! Tak, tak, takkk...!
Mendadak terdengar bunyi bergemeletak seperti ada dua
batang logam beradu, saat keadaan si Golok Emas telah semakin mengkhawatirkan.
Bunyi yang di-yakini berasal dari campur tangan orang lain, menye-ruak
mengatasi bunyi mengaung yang timbul dari ge-taran golok si Raja Golok! Bunyi
itu bahkan mampu menekan pengaruh bunyi mengaung. Sehingga, kea-daan si Golok
Emas berangsur-angsur pulih. Seran-gan-serangan pun semakin menghebat
Raja Golok menyadari kalau ada orang yang telah ikut campur
tangan dalam pertempuran. Rasa tidak
senangnya pun timbul. Apalagi, karena mengetahui kalau
orang usilan itu membantu si Golok Emas.
Sambil melempar tubuh ke belakang, Raja Golok mengedarkan
pandangan ke sekitarnya. Dia tahu ka-lau orang yang membantu Ketua Perguruan
Golok Maut itu memiliki kepandaian tinggi. Hal ini bisa dike-tahui tak hanya
dari bunyi bergemeletak yang telah mampu menekan bunyi aungan goloknya, tapi
asalnya pun tidak bisa dilacak. Itu berarti orang yang ikut campur tangan
memiliki ilmu 'Memindahkan Suara'. Padahal, ilmu itu hanya bisa dimiliki tokoh
yang memi-liki tenaga dalam sukar diukur.
Jantung Raja Golok berdetak lebih cepat, ketika akhirnya
berhasil mengetahui orang usil yang ikut campur tangan dalam urusannya. Orang
itu ternyata duduk bersila di atas sebatang cabang pohon, tiga tombak di
depannya. Tapi hebatnya, cabang yang hanya sebesar ibu jari kaki itu tidak
melengkung sama sekali! Seakan-akan yang berada di atasnya adalah seekor burung
gereja!
Dari sini saja bisa diketahui kalau sosok usilan itu
memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat luar bi-asa. Dan keterkejutan Raja
Golok makin bertambah ketika melihat sosok yang ternyata seorang pemuda tampan
berpakaian merah dengan ikat kepala juga me-rah itu, tengah membenturkan dua
helai daun. Ru-panya, bunyi gemeletak keras berasal dari benturan dua helai
daun itu. Gila!
Sementara itu, pemuda berpakaian merah yang tak lain Lingga
hanya tersenyum dingin ketiga beradu pandang dengan Raja Golok Bertangan Baja.
Senyum-nya hanya sebentar saja, karena Raja Golok Bertangan Baja telah kembali
disibukkan oleh serangan-serangan si Golok Emas yang semakin gencar.
Pemuda berpakaian merah itu kembali tersenyum dingin.
Sementara matanya tak lepas dari pertarungan yang tengah berlangsung, tangan
kanannya menjulur ke atas dengan jari-jari terbuka.
Brrr...!
Bagaikan dihembus angin keras, puluhan daun pohon yang
berada di atas kepala Lingga berguguran. Tapi, semuanya melayang ke arah
tangannya yang ter-buka dan jatuh bertumpuk-tumpuk!
Masih tanpa mengalihkan pandangan, pemuda ini mengibaskan
tangannya.
Wesss...!
Seketika, puluhan daun itu melayang dengan ke-cepatan
tinggi, sampai menimbulkan bunyi berdesing nyaring. Arah yang dituju kali ini
adalah si Golok Emas.
Si Golok Emas terkejut bukan main, ketika menya-dari adanya
serangan gelap. Buru-buru dipapaknya daun-daun itu dengan golok!
Brettt...! Brettt...!
Bunyi sayatan keras terdengar berkali-kali ketika batang
golok si Golok Emas berbenturan dengan daun-daun yang bertubi-tubi meluncur ke
arahnya secara satu persatu. Setiap terjadi benturan, tangan si Golok Emas
kontan bergetar hebat
Bret! "Aaakh...!"
Pada benturan kelima jari-jari tangan si Golok Emas tak
kuat lagi mencekal golok, hingga terlepas da-ri pegangan. Dan ini sampai
membuat seruan tertahan dari mulutnya. Sementara serangan daun-daun itu masih
meluncur ke arahnya.
Cepat bagai kilat Ketua Perguruan Golok Maut ini membanting
tubuhnya ke tanah, lalui menjauhkan diri
dengan bergulingan.
Sementara itu si Raja Golok Bertangan Baja sendiri tidak
luput dari serangan. Begitu melihat adanya se-rangan, segera dia melompat ke
belakang.
"Heaaat...!"
Saat itu Singa Laut dan dua kawannya yang sudah terbangun
dari tidurnya melompat keluar dari semak-semak dan langsung mengirimkan
serangan.
Singa Laut mempergunakan golok bermata gergaji. Sedangkan
Braja dan Gintung memakai tombak pen-dek dan trisula.
Raja Golok Bertangan Baja cukup terkejut menda-pat serangan
mendadak ini. Maka cepat goloknya ber-gerak memapak bertubi-tubi.
Trang, trang, trang!
Tangkisan Raja Golok Bertangan Baja membuat tubuh para
penyerangnya terhuyung-huyung ke bela-kang, karena kalah tenaga dalam.
Namun sebelum kedua belah pihak saling gebrak kembali,
Lingga telah lebih dulu melayang turun, lalu hinggap di tengah-tengah,
"Monyet-monyet kecil! Lebih baik kalian menying-kir,
sebelum aku lupa diri!" dengus Lingga dingin pada Singa Laut, Braja dan
Gintung tanpa menoleh sedikit pun.
Singa Laut tahu diri. Telah dirasakannya sendiri kehebatan
pemuda berpakaian merah ini. Maka buru-buru dia melompat mundur. Tapi, tidak
demikian hal-nya Braja dan Gintung. Mereka malah marah menden-gar kata-kata
yang diucapkan seorang pemuda kema-rin sore. Siapa yang tidak menjadi kalap?
"Pemuda gila! Mampuslah kau...!" bentak Braja.
Hampir berbareng dengan keluarnya bentakan pe-
nuh kemarahan, dua Pemimpin Perampok Gunung Wi-
lis itu menyerbu. Golok dan trisula mereka meluncur ke arah
dada dan perut Lingga.
Wut, wuttt!
Namun pemuda berpakaian merah ini tidak menge-lak sama
sekali. Akibatnya, serangan-serangan itu mendarat telak dan keras.
Buk! Duk! Trak! Trak!
Tapi, malah dua senjata itu yang patah-patah. Lingga
tersenyum mengejek melihat keterkejutan dua orang yang menyerangnya.
Kemudian....
"Cuhhh, cuhhh...!"
Begitu Lingga meludah, dua gumpalan yang sebe-narnya adalah
cairan menjijikkan, meluncur ke arah dua Pemimpin Perampok Gunung Wilis itu.
Braja dan Gintung tahu akan bahaya. Maka mere-ka segera
melompat menyamping, agar serangan ludah itu lolos dari sasaran.
"Heh?!"
Jantung dua tokoh rampok ini seperti berhenti berdetak,
ketika melihat ludah-ludah itu bagaikan bernyawa! Cairan-cairan menjijikkan
yang menggum-pal itu ikut berbelok arah, tetap mengancam keselama-tan mereka.
Kejadian yang tidak terduga ini membuat dua ka-wan Singa
Laut ini kelabakan. Mereka terpontang-panting untuk mengelak. Tapi,
gumpalan-gumpalan ludah itu tetap mengikuti. Padahal kini, keadaan me-reka
benar-benar terpojok. Sehingga....
Cras, cras! "Aaa...! Aaakh...!"
Keduanya hanya menjerit tertahan, ketika dahi me-reka
ambrol ditembus gumpalan ludah yang sebenar-nya mampu menembus batu karang.
***
Singa Laut, si Golok Emas yang telah bebas dari kejaran
daun, dan Raja Golok, terkesima melihat keja-dian itu. Apa yang terlihat
merupakan bukti nyata dari kekuatan tenaga dalam tak terukur milik pemuda
ber-baju merah ini. Sampai-sampai mampu membuat gumpalan ludah seperti,
mempunyai nyawa!
Singa Laut semakin mundur. Dia khawatir, menja-di korban
pemuda yang bersikap dingin tapi berhati keji. Lelaki bertelanjang dada ini
sempat menghem-buskan napas lega ketika melihat Lingga tidak mem-perhatikannya
sama sekali. Karena yang dijadikan sa-saran perhatian adalah Raja Golok
Bertangan Baja!
Raja Golok Bertangan Baja tahu, pemuda itu men-gincarnya.
Disadari betul kalau nyalinya tidak ciut. Bahkan begitu tahu pemuda ini tidak
bersenjata, sen-jatanya segera dimasukkan kembali ke warangkanya.
"Berikan senjata itu, Raja Golok! Dan aku berjanji
tidak akan mengambil nyawamu!" gertak Lingga, Datar dan dingin suaranya.
"Aku hanya akan memberikannya, apabila nyawa-ku telah
terlepas dari badan, pemuda keji!" balas Kata-kili, tak mau kalah gertak.
"Hih...!" Wuttt...!
Raja Golok Bertangan Baja langsung mengirimkan tamparan
tangan kanan ke arah pelipis. Serangan yang akan mampu mengirim nyawa tokoh
berkepan-daian rendah ke alam baka, walaupun hanya terkena sedikit saja!
"Huh...!"
Namun Lingga hanya mendengus. Tangan kanan-nya pun
diayunkan untuk memapak serangan.
Melihat hal ini, Raja Golok Bertangan Baja terse-nyum,
mengejek dalam hati. Pikirnya, pemuda ini be-nar-benar masih hijau, dan hanya
mengandalkan ke-sombongan belaka. Tidak tahukah pemuda itu kalau di samping
berjuluk Raja Golok, Katakili pun mendapat gelar Bertangan Baja, karena
memiliki tangan amat kuat?
Plak! "Heh?!"
Kegembiraan Raja Golok Bertangan Baja mendadak sirna,
ketika tangan pemuda ini tidak patah sama se-kali. Bahkan, justru Raja Golok
Bertangan Baja sendiri yang mengalami kejadian mengejutkan! Tangannya seakan
berbenturan dengan gumpalan kapuk! Sehing-ga, tenaganya menjadi lenyap entah ke
mana!
Belum lagi keterkejutannya sirna, Katakili telah menerima
kenyataan yang mengagetkan. Ternyata tan-gannya yang berbenturan tidak bisa
ditariknya kemba-li, melekat dengan tangan pemuda ini.
Raja Golok Bertangan Baja terkejut bukan main.
Diusahakannya sedapat mungkin untuk menarik, tapi tetap sia-sia. Hatinya
menjadi cemas bukan main. Apa-lagi ketika tiba-tiba merasakan adanya aliran
hawa panas dari tangan pemuda itu yang amat dahsyat. Seakan-akan tangannya
diletakkan dalam bubur besi yang membara!
Hanya dalam waktu sebentar saja, wajah Raja Go-lok
Bertangan Baja merah padam seperti udang rebus. Peluh sebesar biji jagung
menetes-netes dari wajahnya.
"Hih!"
Katakili mencoba mengirimkan serangan lain, menggunakan
tangan yang masih bebas, dan juga ka-ki.
Tapi sebelum maksud itu berhasil, hanya dengan
tudingan jari tangan kiri.... Tuk, tuk!
Lingga telah membuat bagian tubuh yang hendak digerakkan
Raja Golok Bertangan Baja lumpuh. Ru-panya pemuda berpakaian merah ini
menggunakan to-tokan jarak jauh.
Raja Golok Bertangan Baja gelisah bukan main. Rasa panas
yang diderita telah semakin dahsyat. Dan dia mulai tidak tahan lagi. Sepasang
matanya bahkan telah merah seperti orang sakit mata. Tak lama lagi, tokoh
golongan putih ini akan tewas secara mengeri-kan!
Kejadian ini pun diketahui si Golok Emas. Dan dia pun tidak
sampai hati membiarkannya. Antara si Go-lok Emas dengan Raja Golok Bertangan
Baja memang ada urusan. Tapi bukan berarti membenci, menden-dam, apalagi
memusuhi. Urusan yang ada hanya memperebutkan gelar. Maka melihat keadaan Raja
Go-lok Bertangan Baja, Ketua Perguruan Golok Maut ini berani membantu.
Karenanya bukan tidak mungkin, apabila berhasil membunuh Raja Golok, pemuda itu
akan membunuhnya pula. Si Golok Emas sadar kalau pemuda berpakaian merah ini
memiliki watak keji!
Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi, Golok Emas tahu
bagaimana caranya menyelamatkan Raja Golok Bertangan Baja. Maka dengan tenang,
dihampirinya dua tokoh yang tengah berkutat itu.
Kalau saja si Golok Emas memiliki watak licik, ke-sempatan
seperti itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengirim serangan. Tapi, dia
tak mela-kukan. Bertindak seperti ini saja, hatinya malu. Hanya saja perasaan
itu ditekan dengan bantahan, kalau tin-dakan yang hendak dilakukannya
semata-mata untuk menolong Raja Golok!
Begitu berada di dekat dua tokoh yang tengah ber-seteru, si
Golok Emas meluruskan dua jarinya. Kemu-dian jari-jarinya digerakkan.
Bagian yang dituju si Golok Emas adalah bawah siku, untuk
membuat tangan kanan Raja Golok Ber-tangan Baja lumpuh sejenak. Dengan demikian
aliran tenaga dalam dari pemuda itu putus. Bila hal ini terja-di, maka kekuatan
yang menyedot tangan Raja Golok Bertangan Baja terlepas!
***
3
Tuk, tukkk!
Telak dan keras sekali jari-jari tangan si Golok Emas
mendarat di sasaran. Namun kesudahannya, dia sendiri yang menjadi kaget.
Ujung-ujung jarinya sea-kan menghantam karet yang keras dan kenyal. Se-hingga
membuat tenaganya seperti tenggelam.
Sementara, Lingga hanya melirik. Terlihat adanya ancaman
yang mampu membuat detak jantung orang seperti si Golok Emas terasa bertambah
cepat.
"Kau mencari penyakit sendiri, Tua Bangka Dungu! Kau
akan menerima balasannya, setelah kakek ini ku-bereskan!"
Usai berkata demikian, Lingga segera mengerahkan tenaga
dalamnya. Akibatnya, tubuh Raja Golok Ber-tangan Baja terjengkang ke belakang.
Darah menyem-bur deras dari mulutnya. Ketika jatuh mencium tanah, tubuhnya tak
bergerak lagi.
Pemuda berpakaian merah ini mengeluarkan tan-gannya.
Kemudian dibuatnya gerakan menarik secara
keras. Srang. Wesss!
Seketika golok yang berada di punggung Raja Go-lok
Bertangan Baja melayang keluar dari rongganya, langsung meluncur ke arah Lingga
bagai ditarik tangan tak nampak!
Saat golok itu tengah melayang, si Golok Emas me-lancarkan
babatan dengan senjata andalan ke arah leher Lingga. Dan diyakininya betul
kalau pemuda berpakaian merah itu mendengar kedatangan seran-gannya. Tapi yang
diherankannya, pemuda itu tidak hendak untuk mengelak atau menangkis.
Kenyataan ini membuat si Golok Emas merasa he-ran. Dalam
hatinya, bergayut pertanyaan. Apakah pe-muda itu demikian yakin akan kekuatan
tenaga da-lamnya, sehingga tidak mau mengelakkan serangan?
Takkk!
Si Golok Emas baru yakin dengan kekuatan tenaga dalam si
pemuda ini ketika mata goloknya tidak mam-pu membuat leher itu buntung.
Goloknya kontan ter-pental kembali. Bahkan tangannya bergetar hebat.
Si Golok Emas kaget. Tapi lebih kaget lagi ketika golok
milik Katakili berhasil ditangkap Lingga. Bahkan pemuda berpakaian merah itu
menyerang tiba-tiba. Goloknya langsung diayunkan ke arah perut. Begitu cepat
gerakannya sehingga....
Brettt! "Aaakh...!"
Si Golok Emas memekik memilukan ketika ujung golok Lingga
merobek lebar perutnya secara mendatar. Darah segar langsung memancur deras.
Golok Emas limbung mendekap luka dengan mata terbelalak me-mancarkan
ketidakpercayaan.
Sementara pemuda berpakaian merah tidak mem-pedulikannya.
Bahkan tangan kirinya cepat mengibas.
Wesss! Plak! "Aaakh!"
Si Golok Emas mengeluh kesakitan ketika tangan-nya yang
menggenggam golok seperti terhantam baja! Dia tahu, itu akibat pukulan jarak
jauh yang dile-paskan pemuda ini lewat kibasannya.
Si Golok Emas yang telah jatuh terbaring di tanah tidak
teringat lagi akan golok emasnya yang terpental akibat pukulan jarak jauh
pemuda itu. Goloknya sen-diri melayang deras bagai dilemparkan. Dan arah yang
ditujunya adalah tempat Singa Laut berdiri
Singa Laut cepat menyadari akan adanya bahaya. Maka dia
cepat melompat ke samping untuk menyela-matkan diri. Tapi betapa kaget hatinya
ketika menya-dari tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali! Pa-dahal, dia
tidak melihat Lingga menggerakkan tangan ke arahnya. Memang, dengan gerakan
yang sukar di-ikuti mata, pemuda ini telah mengirimkan totokan ja-rak jauh
terhadapnya, sehingga tubuhnya tak bisa di-gerakkan lagi.
Dan Singa Laut hanya bisa menatap dengan mata terbelalak
lebar, menanti datangnya maut melalui go-lok emas milik Malimbong! Dan....
Crap! "Aaakh...!"
Tak bisa dihindari lagi golok emas itu menancap di dahi
Singa Laut. Begitu ambruk di tanah, tubuhnya menggelepar bergelimang darah.
Kemudian, diam tidak bergerak lagi untuk selamanya! Mati!
"Ha ha ha...!?
Lingga tertawa bergelak penuh kegembiraan. Pan-
dangannya dilayangkan pada mayat-mayat dengan wa-jah
menyiratkan kepuasan.
"Dewa Arak...! Di mana pun kau berada..., dengar-lah.
Kau akan mati di tanganku! Tunggulah saat kema-tianmu...!"
Pemuda berpakaian merah ini mengeluarkan tan-tangan dengan
menghadapkan wajah ke empat penju-ru.
Setelah unek-uneknya keluar, Lingga menyelipkan golok milik
Raja Golok di pinggang. Kemudian kakinya terayun meninggalkan tempat ini.
***
Derrr!
Getaran keras pada tanah yang dipijak, membuat seorang
pemuda berambut putih keperakan me-nautkan alisnya. Wajahnya yang tampan
dihadapkan ke depan, tempat asal getaran pada tanah. Langkah-nya yang semula
lambat, kini agak dipercepat, sema-kin memasuki kawasan hutan yang cukup lebat
ini.
Pemuda bertubuh kekar terbungkus pakaian ungu ini yakin
getaran sedahsyat tadi tidak akan terjadi be-gitu saja. Yang jelas, ada
penyebabnya. Kalau tidak ada pohon tumbang, pasti ada batu sebesar gajah yang
jatuh ke tanah. Atau mungkin juga, jejakan kaki seo-rang tokoh persilatan yang
memiliki tenaga dalam amat tinggi.
Saat ini, jarak pemuda berpakaian ungu ini dengan penyebab
getaran itu cukup jauh juga. Rimbunnya semak-semak dan onak duri beberapa kali
harus dile-wati dan disibaknya. Baru kemudian dia menemukan penyebabnya,
Sekitar lima tombak di depan pemuda ini, tampak
beberapa pohon yang batangnya tak kurang dari tiga pelukan
tangan orang dewasa tergolek. Satu di anta-ranya masih utuh, tapi yang lain
tengah dikerjakan so-sok tubuh tinggi besar terbungkus pakaian sederhana
berwarna gelap, untuk dijadikan potongan kecil.
Sosok tubuh tinggi besar ini berdiri membelakangi pemuda
berpakaian ungu. Dan rupanya, telinganya ti-dak mendengar kedatangan pemuda
itu. Dia terus si-buk mengurusi pohon-pohonnya.
Melihat pakaiannya, pemuda berambut putih kepe-rakan ini
tahu kalau sosok itu adalah seorang pendu-duk biasa saja. Tapi, tindakan yang
dilakukan mem-buat pemuda ini tahu kalau sosok tinggi besar itu bu-kan orang
biasa.
Ternyata sosok tinggi besar. itu membelah-belah batang
pohon dengan cara luar biasa. Kaki kanannya mencungkil batang pohon itu,
sehingga terlempar ke atas. Kemudian batang pohon itu disampok dengan kedua
sisi telapak tangan;
Cepat bukan main gerakan tangan sosok itu, se-hingga yang
terlihat hanya bayangan tak jelas diikuti dengan bunyi bergemuruh. Sekejap
kemudian batang pohon itu telah jatuh ke tanah dalam bentuk poton-gan-potongan
berbentuk tongkat pendek. Bertumpuk seperti diatur tangan terampil.
Pemuda berpakaian ungu ini mendesah kagum da-lam hati.
Tindakan ini saja sudah membuktikan keli-haian sosok tinggi besar di depannya.
Dan ini mem-buat sikapnya waspada. Dia belum yakin, dari golon-gan mana sosok
tinggi besar itu. Seketika jalannya di-perlambat kembali, seperti jalan biasa.
Sosok tinggi besar itu rupanya merasakan kehadi-ran orang
lain. Seketika tubuhnya berbalik ketika pe-muda berpakaian ungu itu baru saja
berhenti tiga tin-
dak di belakangnya.
Pemuda berambut putih menatap wajah sosok tinggi besar yang
juga menatapnya. Kini dua pasang mata yang sama-sama tajam saling menatap penuh
se-lidik.
"Ah!"
Kedua belah pihak sama-sama mendesah begitu saling beradu
pandang. Sorot mata masing-masing pi-hak menyiratkan keterkejutan yang besar.
"Dewa Arak...?!" sebut sosok tinggi dengan kepala
botak itu.
Pemuda berpakaian ungu yang tak lain Arya Buana atau Dewa
Arak ini masih menatap sosok lelaki berwa-jah bersih tanpa kumis, jenggot, atau
cambang. da-hinya berkerut, karena merasa pernah mengenalinya. Maka dicobanya
untuk mengingat-ingat.
"Ha ha ha...!"
Lelaki berkepala botak itu tertawa bergelak penuh rasa
gembira. Tawanya keras dan lepas, namun sama sekali tak ada nada ejekan atau
permusuhan di da-lamnya.
"Menakjubkan sekali! Kau telah lupa padaku, Dewa
Arak?! Kau yang telah pikun atau aku yang terlalu ba-nyak berubah!
Ingat-ingatlah, Dewa Arak...!"
Alis Dewa Arak makin bertaut dalam. Suara itu pun seperti
pernah didengarnya. Berarti dia telah per-nah bertemu dan bercakap-cakap dengan
lelaki berke-pala botak ini.
"Ha ha ha...! Rupanya kau perlu bantuanku untuk
mengingat-ingat, Dewa Arak. Baiklah. Aku akan sedikit membantu ingatanmu!"
Lelaki berkepala botak ini segera menggerakkan tubuhnya,
seperti seekor ayam membersihkan debu yang melekat di tubuhnya. Pakaiannya
lepas dari tu-
buh dan melayang ke atas. Sehingga tubuhnya yang kekar dan
dipenuhi otot-otot melingkar terlihat. Keliha-tan kokoh kuat, laksana batu
karang!
"Ah..!"
Sepasang mata Arya terbelalak semakin lebar. Tapi, wajahnya
berseri-seri dan senyumnya mengembang.
"Setan Kepala Besi rupanya.... Luar biasa.... Kau
telah sangat berbeda, Kek. Aku sampai pangling. Kau benar-benar berubah
jauh...," desah Arya, setelah te-ringat siapa lelaki botak di depannya.
Lelaki tinggi besar yang ternyata Setan Kepala Besi tertawa
bergelak. Suaranya keras, sehingga membuat sekitar tempat ini bergetar keras.
Daun-daun sampai berguguran dari pohonnya.
"Syukur kau masih mengingatku, Dewa Arak, Ku-pikir kau
telah lupa. Lagi pula, apa untungnya men-gingat-ingat orang sepertiku. Tidak
ada yang luar bi-asa," sambut Setan Kepala Besi, tenang. Arya ikut
ter-tawa.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengingat, kalau kau telah
berubah demikian jauh, Kek. Perbandingan-nya bagaikan bumi dan langit. Kau
telah berubah de-mikian jauh! "
"Kau masih saja tidak berubah, Dewa Arak. Pandai
merendah. Ha ha ha....!"
Dua tokoh yang saling mengenal itu tanpa sadar teringat
kembali akan masa perkenalan mereka (Untuk jelasnya mengenai tokoh yang
berjuluk Setan Kepala Besi silakan baca serial Dewa Arak dalam episode:
"Memburu Putri Datuk" dan "Jamur Sisik Naga').
"Beginilah keadaanku sekarang, Dewa Arak," Setan
Kepala Besi kembali membuka percakapan, setelah cukup lama termenung. "Aku
telah menjauhkan diri dari kancah persilatan. Hidup di tempat ini menjadi
seorang penebang kayu agar bisa hidup. Hasil dari usahaku
ini kujual dan ku belikan makanan. Terka-dang, aku mencari binatang-binatang
untuk disantap. Menggelikan, bila mengingat dulu aku tidak perlu re-pot seperti
ini hanya untuk makan saja. Tapi, yahhh.... Nikmat sekali hidup seperti ini.
Batin jadi terang te-nang."
Arya mengangguk-angguk. Hatinya merasa bahagia mendengar
tokoh yang dulu merupakan pentolan du-nia hitam, dan telah hampir membuatnya
kelabakan untuk mengalahkannya, sekarang telah sadar dan menjauhi jalan sesat.
Dewa Arak kagum bukan main. Disadari betul kalau untuk melakukan hal demikian,
bukan suatu yang mudah.
"Apakah ada keperluan, sehingga kau bisa berada di
daerah ini, Dewa Arak?!" tanya Setan Kepala Besi, ingin tahu. Sepasang
matanya tetap tajam mencorong, namun telah kehilangan sinar kebuasannya.
Ditatap-nya wajah Arya penuh selidik. Seakan-akan ingin di-baca, apa yang
tersembunyi di hati pemuda berambut putih keperakan di depannya.
"Sama sekali tidak, Kek. Aku di sini hanya mengi-kuti
kemauan kakiku saja. Meneruskan pengemba-raan...."
"Memberantas kejahatan dan tindak ketidakadilan dl
muka bumi ini. Bukankah demikian, Dewa Arak?!" Sambung Setan Kepala Besi,
memotong ucapan pemu-da berambut putih keperakan itu.
Arya hanya tersenyum, tanpa memberi jawaban sama sekali.
"Karena tidak mempunyai urusan yang penting dan
mendesak, aku ingin kau sudi mampir di tempatku, Dewa Arak. Kita rayakan
pertemuan ini. Bagaimana? Ingat, apa pun pilihan mu aku tidak peduli. Apa pun
jawaban yang kau berikan, setuju atau tidak, kau te-tap
harus mampir ke tempatku. Akan kusediakan ma-kanan dan hidangan istimewa!"
desah Setan Kepala Besi.
Arya menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir mengulum
senyum.
"Ternyata masih ada sifatmu yang belum berubah, Setan
Kepala Besi," kata Arya merubah sapaannya.
Lelaki berkepala botak yang sebenarnya telah be-rusia
sekitar enam puluh tahun tapi masih memiliki tubuh kekar itu menatap Dewa Arak
dengan sinar ma-ta penuh selidik.
"Kau masih suka memaksakan keinginanmu sendi-ri."
Wajah Setan Kepala Besi berseri-seri mendengar jawaban itu.
"Tidak ada salahnya kan, Dewa Arak? Toh, aku
memaksakan kehendak untuk membuat hal yang baik," kilah lelaki berkepala
botak itu, membela diri.
Arya mengangkat kedua bahunya. Dan Setan Kepa-la Besi pun
tersenyum lebar. Baginya, jawaban Dewa Arak itu telah lebih dari cukup sebagai
tanda persetu-juan.
"Mari, Dewa Arak. Aku yakin Nuri akan gembira
melihatmu. Aku banyak cerita tentangmu padanya," ajak Setan Kepala Besi.
"Nuri?!" Arya mengernyitkan dahi, bingung dan
he-ran.
"Muridku, Dewa Arak," jawab Setan Kepala Besi
sambil tertawa bergelak. "Tidak usah kau pikirkan, ka-rena sebentar lagi
akan melihatnya. Ayo!"
Arya tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Setan Kepala
Besi telah melesat cepat meninggalkan tempat ini. Dia tidak membawa kayu-kayu
yang telah selesai
dibelah-belahnya. Mungkin lupa. Arya hanya men-gangkat
bahu, kemudian melesat menyusul.
***
4
"Nah! Inilah muridku, Dewa Arak. Nuri, yang ku
ce-ritakan padamu itu," jelas Setan Kepala Besi begitu mereka tiba di
pondok. Sebuah rumah sederhana ber-dinding papan dan beratap rumbia.
Sementara itu seorang gadis cantik berpakaian serba merah
tampak tersenyum manis. Dialah Nuri. Tahi lalat di bawah hidung sebelah kiri
menambah manis wajahnya kala tersenyum.
Arya balas tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya ke
atas sedikit.
"Inilah tokoh besar yang sering kuceritakan itu, Nuri.
Dia adalah pendekar yang memiliki kepandaian amat tinggi, tapi memiliki watak
rendah hati. Dewa Arak!" kata lelaki berkepala botak itu, ganti
memper-kenalkan Arya pada muridnya
Nuri menatap Arya tanpa menyembunyikan sinar kekaguman yang
memancar pada wajahnya. Dan ini membuat selebar wajah pemuda berpakaian ungu
itu seperti panas.
"Setan Kepala Besi memang pandai memuji, Nuri.
Padahal, apalah artinya kepandaianku bila dibanding dengannya," timpal
Arya merendah.
Setan Kepala Besi tertawa bergelak.
"Sekarang, kuharap kau bersedia menunggu di sini
sebentar, Dewa Arak. Aku akan mencarikan hidangan yang istimewa untukmu. Kalau
perlu apa-apa, bilang
saja pada Nuri. Dan kau, Nuri. Layani baik-baik tamu agung
ini," pesan Setan Kepala Besi pada muridnya.
Nuri mengangguk, mengiyakan. Tapi, Setan Kepala Besi tidak
melihat anggukannya karena telah keburu melesat meninggalkan tempat ini. Yang
tinggal hanya Arya dan Nuri.
"Biar ku ambilkan minuman dulu untukmu, Dewa
Arak," kata Nuri, segera berbalik dan masuk ke dalam.
Arya tidak sempat menimpali, dan hanya sempat melihat
bagian belakang tubuh gadis itu. Tak sengaja Dewa Arak memandang pinggul Nuri.
Sehingga tanpa sadar, dia menelan ludahnya sendiri melihat pinggul padat yang bergerak
naik turun, ketika gadis berpa-kaian merah itu berjalan. Hanya sebentar saja
Nuri le-nyap ke dalam, tak lama sudah kembali dengan mem-bawa sebuah guci kecil
dan gelas bambu. Arya saat ini sudah duduk di kursi dengan kedua tangan
terletak di meja. Pandangannya tertuju ke bagian dalam ruangan. Begitu melihat
Nuri, jantungnya kontan berdenyut ke-tika terbentur pada dua buah tonjolan di
bagian dada. Gadis ini terlihat manis dan menggiurkan. Buru-buru Arya
mengalihkan pandangan ke lantai.
"Sudah lama kau menjadi murid Setan Kepala Besi,
Nuri?!" tanya Arya, begitu gadis itu meletakkan guci dan gelas.
Kini Nuri duduk di depan Arya, dibatasi meja ber-bentuk
empat persegi panjang. Meja sederhana dari kayu biasa.
"Hampir lima belas tahun, Dewa Arak," jawab Nuri
sambil menatap wajah Arya. Sikapnya tenang, tidak malu-malu dan penuh percaya
diri.
Arya mengangguk-angguk kepala lebih dulu. Entah apa arti
anggukannya. Yang jelas, pertanyaannya tidak langsung disambung.
"Mungkin kau kenal tokoh yang berjuluk Dewi Pen-cabut
Nyawa?!" tanya Arya lebih jauh. "Oh, ya. Hampir aku lupa. Tolong
panggil aku dengan nama saja, Nuri. Bukankah sapaan Arya lebih mengandung
keakraban daripada Dewa Arak?"
Nuri tersenyum. Manis sekali. Bibirnya yang mun-gil dan
merah membasah jadi terlihat menggiurkan.
"Aku tidak keberatan dengan usulmu itu, De..., eh!
Arya. Tapi, aku pun punya usul juga untukmu."
"Apa itu, Nuri?!"
"Kau meminum apa yang tersaji di meja, tapi ada
syaratnya. Tentu saja kalau kau setuju," ujar Nuri, menggantung lanjutan perkataan
di tengah jalan.
"Katakan saja, Nuri. Kalau tidak berat, bukan tidak
mungkin ku penuhi," jawab Arya, tak berani menjanji-kan. Terhadap gadis
yang bersikap terbuka tapi tenang seperti Nuri, Dewa Arak memang tidak berani
berkata sembarangan.
"Aku ingin kau meminum arak ini tidak secara bi-asa.
Maksudku minum dengan cara tidak bisa dilaku-kan sembarang orang," jelas
Nuri.
Arya terdiam sebentar, kemudian tersenyum sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau tidak berbeda dengan gurumu, Nuri. Benar kata pepatah.
Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya" kata Dewa Arak, seperti meledek.
"Apa maksudmu, Arya?" tanya Nuri sambil
menge-rutkan sepasang alisnya yang berbentuk indah. Dia masih belum paham
maksud perkataan pemuda ini.
"Tidak ada maksud apa-apa," jawab Arya, kalem.
"Aku hanya sedikit kagum dengan kesamaan sikapmu dengan Setan Kepala Besi.
Begitu bertemu, gurumu kan mengujiku. Dan kau pun bertindak serupa. Tapi...,
tak apalah. Hitung-hitung menikmati hidangan sambil
mengadakan pertunjukan."
Wajah Nuri berseri. Dan Arya harus mengakui ka-lau gadis
ini jadi bertambah cantik. Kulit wajahnya yang putih, halus, dan mulus, jadi
terlihat semakin cemerlang.
"Sekarang, lihatlah baik-baik, Nuri. Aku ingin
me-minum jamuan yang kau berikan."
Arya segera meruncingkan mulutnya. Sementara Nuri
memperhatikan penuh perhatian dengan sepa-sang mata tanpa berkedip. Sepertinya,
gadis ini merasa khawatir, bila matanya berkejap, tidak akan melihat
pertunjukan yang luar bisa dan menakjubkan. Dan....
"Sruppp...!"
Sepasang mata Nuri yang bening indah jadi terbela-lak
lebar, menampakkan keterkejutan ketika dari da-lam guci meluncur keluar arak
yang disediakan. Ben-tuknya memanjang, hingga kelihatan seperti sehelai
tambang, mulai dari bibir guci sampai mulut Arya.
Pemuda berambut putih keperakan itu sendiri den-gan
nekatnya merubah bentuk mulutnya untuk mene-rima luncuran arak.
Gluk! Gluk!
Terdengar bunyi tegukan seiring bergerak turun naiknya
tenggorokan Arya saat menelan yang masuk ke dalam mulutnya. Dan tak lama, arak
pun tandas.
Dewa Arak segera mengusap mulut dengan pung-gung tangannya.
"Hebat! Kau benar-benar, hebat, Arya. Pantas guru amat
kagum terhadapmu," puji Nuri, tulus. "Tapi, apa-kah hanya cara itu
saja? Apa tidak ada cara lainnya?"
Arya tidak berkata apa-apa. Hanya saja, tangannya yang
tidak tergantung di sisi pinggang diletakkan di bagian pinggir.
Dan lagi-lagi mata Nuri membelalak. Bahkan seka-
rang lebih lebar dari sebelumnya. Gadis ini melihat arak
itu melayang naik ke atas perlahan-lahan, bagai diangkat tangan kasat mata.
Setelah mencapai keting-gian tiga jengkal dari daun meja, guci itu terdiam.
Ke-mudian, guci berisi arak ini bergerak miring dengan ujung atas mengarah pada
cangkir bambu. Begitu ujung guci menyentuh bibir bambu, dari dalamnya ke-luar
arak dan langsung masuk ke dalam cangkir bam-bu.
Nuri menatap penuh tidak percaya. Apalagi ketika melihat
guci itu kembali tegak, setelah arak di dalam cangkir bambu telah penuh. Dengan
cara sama guci ini kembali ke daun meja. Pelan bagai diletakkan tangan manusia.
Sekarang ganti cangkir bambu itu yang terangkat naik,
melayang menghampiri Dewa Arak, lalu bergerak miring bagai dilakukan tangan.
Maka arak yang berada di dalam cangkir meluncur turun ke mulut Arya yang
terbuka dengan kepala menengadah.
Plok, plok, plok...!
Nuri tak kuasa untuk tidak bertepuk tangan, keti-ka Dewa
Arak menyelesaikan pertunjukannya dengan cara luar biasa. Sorot kekaguman yang
memancar dari sepasang matanya pada Dewa Arak semakin bertam-bah besar.
"Kau benar-benar hebat, De, eh, aa...," puji Nuri
sambil menggeleng-geleng kepala.
Arya hanya tersenyum, tapi langsung dihentikan. Kini ganti
sepasang alisnya yang dikerutkan. Nuri menjadi heran melihatnya. Tapi sebelum
gadis itu sempat berkata, Dewa Arak telah lebih dulu memberi isyarat untuk
diam.
"Waspadalah, Nuri. Aku mendengar adanya
lang-kah-langkah kaki yang mendekati tempat ini. Gerakan
mereka hampir tidak tertangkap telingaku. Jelas, me-reka
orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi."
Penjelasan Arya terdengar Nuri di pinggir telin-ganya.
Gadis ini tahu kalau Arya memberitahukannya lewat ilmu mengirim suara. Karena
pemuda itu tidak terlihat menggerakkan bibir sama sekali.
Sedangkan Arya sendiri, sudah langsung menga-lihkan
perhatian pada daun pintu yang tertutup. De-mikian pula Nuri, hati gadis ini
tegang bercampur gembira. Ingin disaksikannya Dewa Arak yang sakti itu
bertempur.
***
"Setan Kepala Besi...! Keluarlah kau, Pengecut..!
Tidak ada gunanya lagi bersembunyi! Kami telah men-getahui kalau kau berada di
dalam...! Keluar...! Jangan tunggu sampai kesabaran kami habis...!"
Seketika terdengar suara keras bagai halilintar. Bahkan
Nuri yang telah bangkit berdiri kontan ter-huyung dan jatuh terduduk kembali di
atas kursinya. Teriakan yang berasal dari luar itu menyelusup ke da-lam
telinga, menimbulkan rasa sakit dan nyeri.
Bahkan di kursinya pun, gadis itu masih mende-kapkan kedua
tangannya pada telinga. Pengaruh teria-kan itu memang hebat bukan main. Bahkan,
rumah tempat Arya dan Nuri berada bergetar hebat seperti di-guncang gempa!
"Cepat keluar, Setan Kepala Besi...! Turuti perintah
kawanku...! Atau... kami bertindak kasar dengan men-gobrak-abrik
rumahmu...!"
Kali ini suara lain menyambung. Namun tak kalah keras dan
dahsyat akibatnya dari sebelumnya. Nuri yang telah mendekapkan kedua telinga
masih mengge-
liat pertanda terkena pengaruh suara yang benar-benar
menggetarkan.
Tentu saja pengaruh teriakan itu tidak menimpa Dewa Arak
yang telah memiliki tenaga dalam sukar di-ukur, saking kuatnya. Hanya dengan
mengerahkan te-naga dalamnya, pengaruh itu pupus.
Meski perhatiannya ditujukan pada pemilik suara di depan
rumah, Arya tidak lupa membagi perhatian terhadap Nuri. Maka begitu melihat
kejadian yang me-nimpa gadis ini, tanpa membuang-buang waktu. Tan-gan kanannya
dijulurkan ke depan ke arah Nuri.
Nuri yang melihat tindakan Arya, mendadak mera-sakan adanya
sesuatu yang kasat mata merayap di se-kujur tubuhnya. Sekejap kemudian, telah
dirasakan adanya kenyamanan di dalam dirinya. Lenyap sudah siksaan yang tadi
menyergap dada dan telinganya.
"Kau menghabiskan kesabaran kami, Setan Kepala
Besi...." Kembali terdengar suara, lebih lantang dari sebelumnya. Tapi
sekarang, Nuri tidak merasa tersiksa sama sekali. Perasaan nyaman tetap
melindunginya.
Di dalam hatinya, Nuri berterima kasih sekali pada Arya.
Karena dia tahu, lenyapnya siksaan dan timbul-nya rasa nyaman, adalah dari
tangan Dewa Arak yang dijulurkan padanya. Kekagumannya terhadap pemuda berambut
putih keperakan itu semakin menggebu-gebu.
Sementara di luar rumah, kesabaran sosok-sosok yang
menyatroni rumah Setan Kepala Besi agaknya sudah habis. Maka....
Blarrr, blarrr!
Saat itu juga terdengar bunyi menggelegar, mirip bunyi
geledek.
Kendati demikian, baik Arya maupun Nuri bisa ta-hu kalau
bunyi itu berasal dari benturan telapak tan-
gan sosok-sosok yang berada di luar. Nuri sampai me-rinding
bulu kuduknya ketika melihat meja dan kursi yang tidak diduduki
terguncang-guncang turun naik. Rumah itu semakin bergetar. Gadis ini sadar
betul, bi-la Dewa Arak tidak menolongnya, pasti telah pingsan! Memang pengaruh kali
ini lebih dahsyat daripada sebe-lumnya.
Blarrr!
Daun pintu hancur berantakan bagai ditabrak ga-jah liar
ketika berbenturan telapak tangan itu berlang-sung tiga kali. Nuri sampai
terlonjak dari duduknya Karena rasa kaget melihat kejadian yang mengiriskan
hatinya.
"Sobat-sobat di luar... Harap hentikan permainan tidak
lucu itu...!" teriak Dewa Arak.
Dewa Arak sadar kalau keadaan ini terus dibiarkan akan
semakin tidak karuan. Belum lagi gema ucapan-nya lenyap, tubuhnya telah berada
di luar. Arya berdiri berhadapan dengan dua sosok yang berdiri berjarak empat
tombak dari pintu rumah Setan Kepala Besi.
Dua sosok yang ternyata dua lelaki tua berpakaian hitam
bergambar bola-bola merah itu agak terperanjat ketika melihat kehadiran Dewa
Arak. Tadi mereka hanya melihat kelebatan bayangan ungu yang tak je-las. Dan
kini tahu-tahu telah berdiri seorang pemuda berpakaian ungu di depan mereka
dalam jarak dua tombak
Dewa Arak dan dua kakek berpakaian hitam saling pandang
penuh selidik. Namun Arya agak heran meli-hat pakaian aneh yang dikenakan dua
sosok itu. Teru-tama sekali coraknya. Bahkan ciri-ciri mereka pun aneh, saling
berlawanan.
Yang seorang bertubuh pendek gemuk dengar kulit merah.
Mirip seekor babi. Jenggotnya panjang sampai
melewati pusar, juga berwarna merah. Sementara ka-kek yang
satunya lagi bertubuh tinggi kurus dengan kulit putih. Jenggotnya pendek dan
putih warnanya.
"Siapa kau, Anak Muda?! Aku yakin kau bukan orang yang
kami maksud," tegur kakek cebol berkata tenang. Suaranya yang parau
bernada dingin.
Arya tersenyum, seraya menganggukkan kepala. "Apa yang
kau katakan itu memang tidak salah
Kek. Namaku Arya. Aku hanya sekadar mampir di sini dan
memang bukan orang yang kau cari," jawab Arya, sopan. "Oh, ya. Kakek
berdua sendiri siapa?"
"Kuharap, setelah mendengar julukan kami, pergi-lah
secepatnya dari sini. Aku Kumbayan. Sedangkan temanku Sembada. Kami berdua
berjuluk Sepasang Malaikat Maut. Nah, sekarang menyingkirlah, Arya," ujar
kakek kurus berkulit putih yang mengaku Kum-bayan. Suaranya kering dan melengking
seperti suara kuda meringkik
"Kami tidak ingin kesalahan tangan dan
membu-nuhmu!"
"Benar!" sambung kakek pendek gemuk yang ber-nama
Sembada. "Kami hanya mencari Setan Kepala Besi. Kami mempunyai urusan
dengannya. Menying-kirlah. Kami akan lewat."
Arya tersenyum dan mengangguk sekali lagi. "Maaf, Kek.
Bukannya aku bermaksud mencampuri urusan kalian. Tapi, percayalah. Orang yang
kalian cari tidak berada di sini. Setan Kepala Besi sedang pergi. Dan se-belum
itu, dia berpesan padaku untuk tunggu di tem-patnya. Jadi, aku memiliki
kekuasaan atas rumah itu. Dengan demikian, sebelum ada perkenan dari Setan
Kepala Besi siapa pun tidak akan kubiarkan masuk!" tandas Arya, mantap.
Dua kakek berpakaian hitam berjuluk. Sepasang
Malaikat Maut menatap Arya. Sepasang mata mereka seperti
hendak mencari kebenaran dalam ucapan pe-muda berambut putih keperakan itu.
"Jadi..., benar Setan Kepala Besi tidak berada di
sini...?!" tanya Sembada.
Arya mengangguk mantap. Sepasang Malaikat Maut saling
berpandangan sebentar.
"Kau sendiri..., apa hubunganmu dengan Setan Kepala
Besi?! Sepertinya kau dipercaya sekali?!" tanya kakek pendek gemuk yang
rupanya lebih cerdik dari-pada kawannya.
"Hanya sekadar kenalan," jawab Arya sambi
men-gangkat kedua bahunya. "Beberapa waktu yang lalu, kami pernah terlibat
pertarungan. Dan Setan Kepala Besi akhirnya merasa senang padaku. Pertarungan
terhenti. Dan kami menjadi sahabat."
"Boleh ku tahu, masalah apa yang menyebabkan hal itu
terjadi!" desak Sembada.
"Dia hendak mencelakai kawanku," jawab Arya
se-tengah benar.
Kakek pendek gemuk itu terdiam. Jawaban bagi pertanyaannya
rupanya telah cukup memuaskan ha-tinya.
"Dan..., setelah kau menjadi kawannya..., apakah dia
tidak bercerita sesuatu padamu...?!"
Kali ini Kumbayan yang mengajukan pertanyaan. Nadanya penuh
selidik.
Arya mengernyitkan kening.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Kek...."
"Kalau begitu..., lupakan saja, Arya. Dan,
ketahui-lah. Kami akan pergi dari sini. Tapi syaratnya, kau ha-rus menahan dari
serangan kami. Bagaimana? Kalau kau tidak mau menerimanya, menyingkirlah dari
situ. Apabila kau pernah berhadapan dengan Seta Kepala
Besi tanpa kehilangan nyawa, berarti kau telah cukup
berharga untuk kami. Kau menerimanya bukan?!"
Arya terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengang-gukkan
kepala. Kaku dan pelan-pelan. Karena me-mang pemuda berambut putih keperakan
itu merasa berat menerimanya.
"Bagus!" sambut Sembada, gembira. "Biarlah
seka-rang giliranku sebagai penyerang pertama. Bersiap-siaplah, Arya. Buktikan
kalau kau berhasil lolos dari tangan maut Setan Kepala Besi."
"Aku siap!"
Kakek pendek gemuk itu berjongkok, seperti seekor katak.
Tenggorokannya menggembung.
"Kok! Kok!"
Terdengar bunyi berkokokan seperti ayam betina tengah
bertelur.
Melihat hal ini, Arya bersikap waspada. Pengala-mannya yang
segudang, membuatnya langsung men-getahui kalau kakek pendek gemuk itu hendak
menge-luarkan ilmu andalan. Maka sikapnya hati-hati.
Sembada segera mendorongkan kedua tangannya, secara
bergantian. Maka dari kedua tangannya melun-cur angin berciutan.
Wesss! Wesss!
Dewa Arak bersikap tenang. Kemudian, kedua tan-gannya
dihentakkan untuk memapak.
Prat! "Uh...!"
Pemuda berambut putih keperakan itu mengeluh tertahan,
ketika merasakan hawa pukulan jarak jauh kakek pendek gemuk tidak meluncur
secara lurus, tapi berputaran. Hal itu membuat papakan pukulannya le-nyap bagai
ditelan sesuatu yang tidak tampak. Puku-lan jarak jauh yang meluncur secara
berputar itulah
yang menyebabkan pukulan jarak jauh Dewa Arak se-perti
lenyap.
Arya terkejut bukan main. Apalagi ketika pukulan jarak jauh
kakek bernama Sembada terus meluncur ke arahnya, tetap dalam keadaan berputaran
seperti an-gin puting beliung.
Lebih terkejut lagi ketika Arya merasakan, sekujur tubuh
otot-ototnya terasa ngilu sebelum serangan la-wannya tiba. Tenaga dalamnya
sendiri seperti lenyap!
Tapi, Dewa Arak adalah pendekar yang telah ke-nyang
pengalaman. Maka menghadapi keadaan seperti ini, dia tidak menjadi gugup. Dan
dia cepat sadar ka-lau serangan kakek pendek gemuk itu tidak berba-haya. Paling
tidak hanya untuk melempar tubuhnya saja. Dari sini bisa ditebak kalau kakek
bernama Sem-bada bukan tokoh jahat.
***
5
Dewa Arak segera bertindak cepat. Dengan sebuah sentakan,
tenaganya yang telah lenyap jadi timbul kembali. Kemudian dikeluarkan ilmu
'Pasak Bumi'nya yang membuat kedua kakinya seakan-akan bersatu dengan bumi.
Tepat pada saat yang bersamaan, serangan kakek Sembada tiba
dan menghantamnya dengan telak
Wesss...!
Arya merasa seakan tubuhnya dihantam pusaran angin puting
beliung yang kemudian membelit dan membawa tubuhnya berputar.
Ilmu 'Pasak Bumi' memang hebat Namun, sergapan
yang menyelubungi Dewa Arak pun dahsyat bukan main! Arya
memang tidak sampai terpental. Tapi tanah tempatnya berpijak tidak mampu
menahan dua kekua-tan dahsyat yang bertemu. Dan ini membuat Dewa Arak berputar,
meski dengan kedudukan seperti semu-la. Dan putarannya baru terhenti, ketika
kedua ka-kinya terbenam sampai mata kaki!
"Luar biasa...!"
Kakek Sembada berseru penuh kagum, sambil ber-diri tegak
kembali. Pandang matanya memancarkan kekaguman. Sementara sorot yang sama
memancar dari mata Kumbayan,
"Kau benar-benar luar biasa, Arya. Tidak banyak orang
yang mampu berdiam di tempatnya terhadap se-ranganku ini. Pantas kau mampu
mempertahankan nyawamu, meski telah berhadapan dengan Setan Ke-pala Besi. Aku
mengaku kalah," kata Sembada.
Arya hanya mengangguk.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, Kek. Kalau kau
bertindak sungguh-sungguh, mana mungkin saat ini aku masih bisa hidup?"
kata Dewa Arak, merendah. "Tidak usah banyak bicara, Anak Muda,"
potong Kumbayan. "Kau boleh berbangga hati atas keberhasi-lanmu bertahan
dari serangan rekan ku. Tapi, bukan
berarti akan menang pula terhadapku!"
"Silakan, Kek. Aku sudah siap!" jawab Arya.
Kata-katanya mantap, sambil berpindah dari tempatnya se-mula. Karena dia sudah
tidak mungkin lagi berdiri te-nang, akibat lubang yang tercipta.
Dewa Arak kali ini bersikap lebih waspada. Dia ta-hu, kakek
tinggi kurus ini tidak kalah lihai dibanding rekannya. Dan yang lebih
mengkhawatirkan, kakek tinggi kurus ini memiliki watak kasar. Mungkin tidak
kejam, tapi yang jelas tidak akan bertindak lunak se-
perti rekannya.
Kumbayan menatap tajam Arya. Pada saat yang sama, pemuda
itu pun menatapnya. Dua pasang mata bertemu. Kakek tinggi kurus menyeringai
bersiap me-nyerang. Sedangkan Arya bersiap menghadapinya.
"Siapa itu?!"
Pertanyaan yang dikeluarkan Sembada secara pe-lan, membuat
Kumbayan mengurungkan maksudnya. Pandangannya seketika diarahkan ke rumah Setan
Kepala Besi.
Arya pun ikut memandang ke sana. Dia tidak kha-watir bila
kakek tinggi kurus akan membokong. Dewa Arak tahu, sebagai seorang tokoh
berkepandaian tinggi tidak akan mungkin melakukan tindakan rendah. Apa-lagi
terhadap seorang tokoh muda yang belum diketa-hui secara pasti tingkat
kepandaiannya.
Arya merutuk dalam hati ketika melihat Nuri berdi-ri di
ambang pintu yang sudah tidak berdaun lagi. De-wa Arak tidak menyalahkan gadis
itu. Dialah yang sa-lah, karena tidak melarangnya. Walaupun Arya tidak yakin
kalau Nuri akan mematuhinya.
"Siapa gadis itu, Anak Muda?!" tanya kakek
Kum-bayan penuh tuntutan. Sepasang matanya yang sipit menatap wajah Arya
seperti hendak mengupas kulit wajah dan menguaknya.
Arya menghela napas berat. Pantang baginya un-tuk
berbohong. Maka meskipun berate dia harus men-gatakannya.
"Dia murid Setan Kepala Besi," jelas Arya, pelan
dan tidak bersemangat.
Sepasang Malaikat Maut saling berpandangan. Wa-jah mereka
mendadak berubah. Arya jadi tidak enak melihatnya.
"Perjanjian batal, Anak Muda. Ada hal-hal yang ti-
dak terduga. Aku tidak perlu lagi berurusan
dengan-mu," ujar Kumbayan dengan nada dingin.
"Begitu mudahnya, Kek?!" kata Arya, seperti ingin
ketegasan.
"Benar!" sahut Sembada menambahkan. "Karena,
ada orang lain yang mempunyai hubungan dengan Se-tan Kepala Besi. Kami yakin,
apabila tahu muridnya ada pada kami, Setan Kepala Besi akan mencari. Tidak
seperti sebelumnya, kami yang pontang-panting men-carinya."
Sementara Kumbayan tidak mempedulikan Arya sama sekali. Di
saat pemuda berambut putih kepera-kan itu tengah mendengarkan ucapan rekannya,
dia menghampiri Nuri. Hanya dengan sekali ayunan kaki, dia telah mencapai jarak
tiga tombak di depan Nuri. Dari sini bisa dilihat betapa tingginya ilmu
meringan-kan tubuh Kumbayan.
Arya bertindak cepat. Dia tahu maksud kakek ting-gi kurus
itu. Apalagi kalau bukan ingin menjadikan Nuri sebagai sandera? Dan Dewa Arak
tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sekali menggerakkan kaki, maka Arya
telah berada di depan kakek tinggi kurus itu lagi.
Sembada menggeram, tak menyukai hadangan yang dilakukan
terhadapnya. Keberadaan Dewa Arak di depannya, membuat langkahnya terhalang.
"Apa maksudmu, Anak Muda?!" tanya kakek ini
ke-ras, penuh ancaman.
Arya tahu kakek inilah yang memiliki suara paling
menggelegar. Berarti dialah yang telah menghancurkan daun pintu, mengingat
wataknya yang tidak sabaran.
"Apakah kau hendak menghalangi kami? Kau hen-dak ikut
campur dalam urusan ini?!" lanjut Kum-bayan.
"Maafkan kalau aku bertindak lancang, Kek. Sebe-narnya
aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi apabi-la kau dan rekanmu ini bermaksud
menyandera gadis itu, terpaksa aku tidak tinggal diam. Sebelum pergi, Setan
Kepala Besi telah menitipkan muridnya padaku. Jadi, aku berkewajiban
menjaganya. Apapun yang ter-jadi, aku tidak akan membiarkan satu orang pun
men-celakainya. Nyawaku adalah taruhannya!" tandas Arya, tenang dan
mantap.
"Kalau begitu..., kaulah yang lebih dulu harus
ku-singkirkan! Hih!"
Kakek Kumbayan menutup ucapannya dengan se-buah cengkeraman
tangan kanan ke arah ubun-ubun. Arya cepat melompat ke belakang.
"Hih?!"
Betapa kaget Dewa Arak melihat serangan itu terus
mengejarnya. Padahal, kakek itu tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Arya
langsung menyadari kalau tangan kakek ini bisa mulur! Sebuah ilmu aneh! Mau tak
mau Dewa Arak cepat menggerakkan tangannya, menangkis.
Plak!
Tangkisan Dewa Arak ternyata membuat kakek tinggi kurus
mengkerut kembali. Namun tak urung Arya merasakan tangannya bergetar hebat.
Arya semakin terkejut ketika bermaksud balas me-nyerang.
Mendadak, tangannya yang berbenturan tadi tidak bisa digerakkan sama sekali.
Lumpuh! Segera te-naga dalamnya dikerahkan untuk memulihkan. Tapi, bagian yang
lumpuh malah bertambah. Malah, kini ra-sa pusing pun menyerangnya. Demikian
hebatnya, se-hingga pemuda berambut putih keperakan ini tidak bi-sa berdiri
tegak lagi.
Tubuh Arya terhuyung-huyung ke sana kemari
sambil memegangi kepala. Semua yang terlihat seperti
berputar. Pemuda ini tidak kuasa bertahan, lalu am-bruk di tanah.
Meski pandangannya berkunang-kunang dan tu-buhnya terasa lemas
bukan main, Arya masih sempat melihat kakek Kumbayan yang menjadi lawannya
me-langkah menghampiri. Arya yakin, kakek itu hendak melancarkan pukulan
terakhir tanpa bisa dicegahnya. Dan dia akan mati konyol di tangannya.
"Kurasa tidak ada gunanya membunuh pemuda itu. Dia
memiliki kepandaian tinggi. Berarti, gurunya pun mempunyai kesaktian luar
biasa. Matinya pemuda ini, hanya akan membuat kita terlibat dalam permu-suhan
dengan tokoh tingkat tinggi. Bukankah kita hanya berurusan dengan Setan Kepala
Besi?! Dan se-karang, muridnya akan berhasil kita dapatkan."
Meski samar-samar, Arya dapat menangkap uca-pan-ucapan
kakek Sembada yang ditujukan pada re-kannya. Tampak, kakek Kumbayan yang tadi
seperti banyak menoleh ke arah kakek Sembada. Sepasang Malaikat Maut ini saling
tatap sebelum akhirnya, ka-kek Kumbayan membantingkan kaki ke tanah karena
kesal.
"Sebenarnya..., sikap usilnya saja sudah cukup
be-ralasan untuk membunuhnya! Tapi, biarlah, sekarang kuampuni. Dan apabila
kelak kujumpai dan masih menentangku, aku tidak mempunyai pilihan lain
lagi!" desis Kumbayan.
Kakek Sembada hanya mengangkat bahu. Sikap-nya tidak
peduli.
"Nuri...! Cepat pergi...!Tinggalkan tempat
ini...!" Arya bermaksud berteriak. Bahkan seluruh tena-
ganya dikerahkan untuk berteriak. Tapi karena saat itu
keadaannya lemah, sehingga yang terdengar hanya
seruan tak ubahnya keluhan. Meski demikian, Nuri yang
memiliki kepandaian tinggi mendengarnya.
Nuri yang sejak tadi terpaku kontan tersadar begitu mendengar
teriakan Dewa Arak yang lirih. Sesaat dita-tapnya Arya dan dua kakek sakti yang
memiliki ciri-ciri aneh itu. Disadari betul kalau dirinya bukan tandingan dua
kakek yang memiliki maksud tidak baik. Dewa Arak saja tidak berdaya. Apalagi
dirinya. Maka Nuri segera berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Gadis ini
bermaksud untuk kabur melalui pintu bela-kang. Tapi, Nuri jadi terperanjat
ketika mengetahui di-rinya hanya berlari-lari di tempatnya. Betapapun selu-ruh
kemampuannya telah dikerahkan, tetap saja ke-nyataan itu tidak bisa dirubah.
Murid Setan Kepala Besi ini menjadi heran ber-campur ngeri.
Kepalanya cepat ke belakang. Dan ma-tanya jadi terbelalak, ketika melihat kakek
pendek ge-muk itu mengulurkan kedua tangan ke arahnya. Sea-kan ada kekuatan menarik
yang amat kuat muncul dari kedua tangan yang terjulur, membuat Nuri tak mampu
meninggalkan tempat.
"Mau lari ke mana, Cah Ayu? Jangan harap kau bi-sa
meninggalkan tempat ini," ejek Sembada.
Nuri tidak putus asa. Seluruh kemampuannya di-kerahkan,
tapi keadaan tidak berubah. Bahkan ketika kakek pendek gemuk itu menggerakkan
tangan me-lambai, tubuhnya kontan tertarik ke belakang tanpa mampu dicegah.
"Aaauuu....'"
Nuri menjerit tertahan begitu tubuhnya melayang keras ke
arah kakek Sembada. Sementara Arya yang melihat hanya bisa mengeluh dalam hati.
Saat ini dia memang tidak mampu berbuat apa-apa, karena penga-ruh yang menimpa
masih mengungkungi.
Nuri memaki-maki sambil meronta-ronta. Bahkan sambil
memanggil-manggil gurunya. Tapi sekali tangan kakek pendek gemuk menyentuhnya,
semua tinda-kannya terhenti. Gadis ini tertotok, sampai pingsan.
Sembada menyerahkan Nuri pada rekannya. Ke-mudian kepalanya
menoleh pada Arya.
"Dengar, Arya. Kalau Setan Kepala Besi kembali,
katakan kalau muridnya berada di tangan kami. Mu-ridnya tidak akan kami
celakai. Tapi kalau muridnya ingin dikembalikan, dia harus menyerahkan benda
yang diambilnya. Katakan, agar dia pergi ke Gua Ayam. Kami menunggu di sana.
Selamat tinggal, Arya."
Kakek Sembada berbalik, lalu melesat meninggal-kan tempat
itu. Di belakangnya, kakek Kumbayara berkelebat menyusul.
Sementara Arya hanya menghela napas berat. Di-ingatnya
baik-baik semua perkataan kakek Sembada untuk disampaikan pada Setan Kepala
Besi.
Arya berdiam diri di tempatnya, tanpa berani ber-gerak atau
mengeluarkan tenaga dalam. Dia tahu se-mua ini akan membuat pengaruh ilmu kakek
tinggi kurus itu semakin menjadi-jadi. Kalau dibiarkan saja pengaruhnya akan
lenyap sendiri. Meskipun memang harus diakui membutuhkan waktu lama. Tapi,
me-mang tidak ada pilihan lain baginya.
***
Arya berdiri penuh perasaan tidak sabar. Sebentar-sebentar,
kakinya melangkah mondar-mandir di tem-patnya. Sepasang matanya sudah tidak
terhitung lagi, diarahkan ke tempat lenyapnya Setan Kepala Besi.
Dewa Arak memang sudah sejak tadi berhasil be-bas dari
pengaruh ilmu kakek Kumbayan. Dan seka-
rang dia tengah menanti kembalinya Setan Kepala besi untuk
mengabarkan peristiwa yang menimpa Nuri. Arya yakin Setan Kepala Besi tahu
letak Gua Ayam itu.
Wajah Arya berseri, ketika melihat adanya sesosok tubuh di
kejauhan yang tengah meluncur ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Setan Kepala
Besi. Demikian dugaan pemuda berambut putih keperakan itu.
Tapi sesaat kemudian, dugaan itu pupus dari be-nak Arya.
Sosok yang bergerak cepat mendatangi itu ternyata mengenakan pakaian merah!
Padahal, Arya yakin kalau Setan Kepala Besi tadi tidak mengenakan pakaian
berwarna demikian.
Semakin dekat sosok itu, Dewa Arak semakin yakin kalau dia
bukan Setan Kepala Besi. Sosok itu adalah seorang pemuda yang cukup dikenal
Arya. Ternyata sosok itu memang seorang berpakaian merah dengan ikat kepala
juga berwarna merah.
Jantung Arya berdetak jauh lebih cepat, ketika lari pemuda
berpakaian merah itu berhenti berjarak lima tombak di depannya. Seperti juga
dirinya, pemuda itu tampak kaget. Kendati demikian tidak terlihat pera-saan itu
pada bias wajah maupun sorot matanya. Wa-jah dan sorot mata pemuda itu
kelihatan dingin, me-mancarkan sesuatu yang mengerikan!
"Dewa Arak...!"
Pemuda berpakaian merah mendesis, setelah ber-hasil
menguasai perasaannya. Terasa benar adanya kebencian dalam nada ucapannya.
"Sama sekali tidak kusangka akan jumpa dengan-mu di
sini, Orang Usil! Aku memang tengah mencari-carimu. Kelancanganmu mencampuri
urusanku akan kau tebus mahal, Pemuda Sombong!" lanjut pemuda berpakaian
merah itu.
"Atau kau yang akan menggeletak tak bernyawa di
sini, Manusia Biadab! Orang bejat sepertimu, seharus-nya
menyusul gurumu ke neraka, Lingga! Dan kali ini, kau tak akan seberuntung dulu.
Sekarang kau tidak akan bisa meloloskan diri sambil terkaing-kaing seperti
dulu!" desis Dewa Arak, tak kalah tajam.
Pemuda berpakaian merah itu ternyata memang Lingga. Dan
Arya memang mengenalnya karena pernah bertarung dengan pemuda kejam dan berhati
keji ini, Sayangnya, waktu itu Lingga lolos dari tangannya. Waktu itu Lingga
sempat digagalkan Dewa Arak ketika hampir menggarap kegadisan putri Pendekar
Tangan Sepuluh, Sri Kunti (Untuk jelasnya, silakan baca epi-sode:
"Petualang-petualang dari Nepal").
"Kau bermimpi, Dewa Usil. Kaulah yang akan bina-sa di
tanganku!"
Lingga menjejakkan kaki kanannya ke tanah seka-li.
Sementara Arya heran melihatnya. Apa maksud tin-dakan pemuda berhati keji itu?
Apalagi ketika melihat tidak adanya akibat apa-apa pada tanah yang di jejak
Lingga. Tapi....
"Ukh!"
Mendadak Arya mengeluarkan keluhan tertahan ketika
merasakan dadanya sakit bukan main seperti ditumbuk sebatang tongkat besi.
Seketika pemuda ini tahu kalau Lingga telah menyerang mempergunakan ilmu gaib!
Seringnya Arya menemukan hal-hal aneh dalam petualangan, membuatnya segera bisa
menduga demikian.
Arya bertindak cepat. Tenaga dalamnya segera di-kerahkan
untuk melenyapkan rasa sakitnya. Namun dia menjadi kaget bukan kepalang, ketika
merasakan sakit yang menyerang dadanya jadi menyebar! Keja-diannya hampir mirip
yang dialaminya ketika bertemu dengan kakek tinggi kurus.
"Ha ha ha..!"
Lingga tertawa terbahak-bahak, ketika melihat De-wa Arak
menyeringai dan kelihatan kaget. Pemuda ini yakin, sekarang Dewa Arak telah
tidak berdaya. Seran-gan gaibnya diketahui betul keampuhannya. Maka dia tidak
buru-buru melancarkan serangan.
"Bagaimana, Dewa Sombong?! Masih yakinkah kau akan
kemenanganmu kali ini?!" ejek Lingga penuh ke-menangan.
Arya tidak menanggapi. Perhatiannya dipusatkan pada luka
aneh yang dideritanya. Pemuda itu teringat akan kejadian yang dulu dialami
ketika menghadapi Setan Merah. Gurunya, Ki Gering Langit, memberi cik-al bakal
ilmu gaib. Dan dengan diiringi beberapa kali masuknya belalang raksasa ke dalam
dirinya, mem-buat pemberian itu semakin menampakkan kegu-naannya. Jauh lebih
berarti dibanding ketika pertama kali diberikan gurunya (Untuk jelasnya,
silakan baca serial Dewa Arak dalam episode: "Penganut Ilmu Hi-tam").
Sewaktu pertama kali diberikan Ki Gering Langit, kegunaan
yang dapat dilakukan Arya hanya menang-kal serangan gaib lawan. Memang
pemberian ilmu itu tidak membuat Arya jadi mampu menghilangkan pen-garuh
serangan gaib lawan.
Dan di saat Lingga tengah tertawa-tawa penuh gembira, Arya
tengah menumbuhkan cikal bakal ilmu gaib yang diberikan gurunya. Perhatiannya
segera di-pusatkan untuk menyembuhkannya.
Lingga yang masih tertawa-tawa kontan terdiam ketika
melihat Arya tersenyum. Perasaan curiganya timbul. Matanya menyiratkan tanda
tanya besar ketika menatap musuh bebuyutannya.
Arya sekarang ganti yang tersenyum mengejek.
Pemuda berambut putih keperakan ini telah bisa men-getahui,
mengapa Lingga kelihatan menatapnya lekat-lekat.
"Kau kelihatan kaget bukan main, Lingga. Apakah ada
perubahan pada diriku? Wajahku yang menjadi le-bih tampan, barangkali?!"
seloroh Arya untuk mema-nas-manasi.
***
6
Lingga menggeram bak seekor harimau luka. Sepa-sang matanya
memancarkan sinar kebencian, ketika menatap Dewa Arak.
"Rupanya kau memiliki kemampuan untuk bebas dari
pengaruh ilmuku, Orang Usil. Tapi jangan ber-bangga hati dulu! Masih banyak
ilmuku yang dapat di-pergunakan untuk mengirim nyawamu ke akherat!" desis
Lingga.
"Hiaaa...!"
Disertai teriakan menggelegar, Lingga membuka se-rangan
dengan sebuah tendangan terbang.
Namun Arya tidak mau kalah dengan orang yang dibencinya.
Begitu Lingga melompat dan menerjang ke arahnya, disambutnya dengan tendangan
terbang pu-la.
Blarrr...!
Benturan dua kaki yang sama-sama mengandung tenaga dalam
tinggi tidak bisa dielakkan lagi. Bunyi keras menggelegar terdengar. Tubuh
masing-masing terjengkang ke belakang. Namun dengan manis, kedua pemuda perkasa
itu mampu mematahkan daya luncu-
ran lalu menjejak tanah secara manis.
Arya terkejut bukan main. Dalam benturan yang terjadi
dirasakan betapa kuat tenaga dalam Lingga. Kakinya sampai bergetar hebat begitu
menjejak tanah. Padahal, dalam bentrokan kaki, seluruh tenaga da-lamnya telah
dikerahkan. Tidak salahkah yang dirasa-kannya?
Dewa Arak benar-benar tidak yakin akan hasil yang didapat,
karena telah pernah bertarung melawan Lingga sebelumnya. Dan telah bisa
diketahui, sampai di mana kemampuan pemuda bengis ini. Dan kenya-taan kalau
Arya sendiri yang terlempar lebih jauh, be-nar-benar membuatnya kaget bukan
kepalang. Mung-kinkah Lingga mendapatkan kemajuan tenaga dalam waktu yang
demikian singkat? Rasanya mustahil!
"Heaaat..!"
Arya benar-benar tidak diberi kesempatan untuk berpikir
lebih lama. Lingga yang juga merasa penasa-ran, telah meluruk maju melepaskan
serangan-serangan mematikan!
Dewa Arak tidak punya pilihan lain lagi, kecuali mengelak
dan balas menyerang. Pertarungan sengit antara kedua pemuda sakti itu pun
terulang. Dan ka-rena sama-sama tahu kelihaian satu sama lain, ilmu-ilmu
andalan pun langsung dikeluarkan.
Dewa Arak menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'nya. Sedangkan
Lingga mengeluarkan ilmu 'Dewa Ma-buk'nya. Kedua ilmu itu boleh dibilang mirip,
membuat pertarungan terlihat aneh. Sepertinya bukan dua orang sakti yang tengah
bertempur, tapi dua orang mabuk yang tengah berjoget!
Sebenarnya, ilmu Dewa Arak jauh lebih sempurna, karena
selaras dengan senjata gucinya. Bahkan juga karenanya adanya semburan arak di
sela-sela perta-
rungan.
Tapi kesempurnaan ilmu Dewa Arak tertutupi oleh keunggulan
tenaga dalam dan ilmu meringankan tu-buh Lingga. Arya sendiri masih bingung
memikirkan, mengapa pemuda kejam ini dapat meningkatkan ke-mampuan demikian
cepat?
Desss!
Pada sebuah kesempatan, Dewa Arak berhasil menghantamkan
gucinya ke dada Lingga. Begitu keras dan telaknya, sehingga tubuh pemuda itu
terlempar jauh ke belakang.
Arya menghela napas lega. Sudah terbayang di be-naknya
kalau Lingga akan tergolek tanpa daya di ta-nah dengan luka parah yang tidak
bisa membuatnya bangun lagi.
Tapi kelegaan pemuda berambut putih keperakan itu langsung
sirna, ketika melihat Lingga tidak menga-lami kejadian seperti yang
dibayangkan. Tubuh pemu-da berpakaian merah itu memang terbanting di tanah,
tapi langsung bergulingan menjauh. Kemudian, dia bangkit dan siap bertarung
lagi.
Arya menatap Lingga dengan sepasang mata terbe-lalak lebar.
Ilmu apa lagi yang dimiliki pemuda berhati keji ini? Bulu tengkuk Dewa Arak
langsung meremang. Begitu banyak kemajuan yang diperoleh pemuda telen-gas itu
dalam waktu singkat.
"Ha ha ha...!"
Lingga malah tertawa terbahak-bahak melihat De-wa Arak
kebingungan
"Heran, Dewa Sombong?! Kau kira akan begitu mudah
membunuhku?! Jangan mimpi! Kau tahu, se-ranganmu tak ubahnya belaian tangan
seorang nenek yang tidak kuat lagi menyirih!" ejek Lingga
Gluk! Gluk! Gluk!
Arya menenggak araknya untuk meredakan kega-lauan hatinya.
Benaknya digayuti pertanyaan menge-nai kekuatan tubuh Lingga yang menakjubkan.
Na-mun Dewa Arak yakin, kekebalan Lingga tidak berhu-bungan dengan tenaga
dalam. Dengan kata lain, tidak dari hasil latihan. Arya merasakan, kalau
kekebalan itu ada unsur gaibnya.
Dan ketika kedua tokoh itu hendak saling gebrak,
mendadak...
"Hey...!"
***
Sebuah teriakan melengking keras terdengar jelas oleh Dewa
Arak dan Lingga. Seketika kedua tokoh sak-ti yang masih muda itu mengurungkan
niat, dan me-noleh ke arah teriakan tadi
Lingga tersentak. Disadari kalau orang yang berte-riak
memiliki kepandaian tinggi. Ini dibuktikan dengan kekuatan suaranya.
Seakan-akan, orang yang berte-riak berada dekat, padahal masih berada amat
jauh. Karena jauhnya, sehingga sulit dikenali.
Sementara Arya tidak merasa terkejut. Dari suara tadi, dia
yakin kalau yang datang adalah Setan Kepala Besi.
"Arya...! Dewa Arak...! Apa yang terjadi...?!"
Seruan yang kedua, kali ini tidak bisa disangsikan Dewa
Arak, kalau yang datang adalah Setan Kepala Besi. Arya merasa gembira. Bukan
karena akan men-dapatkan bantuan, tapi karena akan segera memberi-tahukan
tentang kejadian yang menimpa Nuri.
Tapi Arya tahu, penjelasannya hanya akan dapat
diberitahukan apabila telah berhasil mengalahkan Lingga.
Pikiran ini membuat Dewa Arak bermaksud mener-jang pemuda
berpakaian merah itu. Namun maksud-nya tertunda, karena Lingga telah lebih dulu
melesat meninggalkan tempat ini. Pemuda yang memiliki watak cerdik ini tahu
kalau keberadaannya di tempat ini su-dah tidak menguntungkan. Ada seorang lawan
kuat yang berdiri di pihak Dewa Arak. Jadi bila terus berada di situ, hanya
akan mencelakakan diri sendiri.
"Lagi-lagi kau bernasib baik, Dewa Arak. Tapi, In-gat.
Keberuntungan tidak akan sampai tiga kali. Apabi-la kita bertemu lagi, berarti
akhir ajalmu telah tiba! Kau akan menghadap malaikat maut! Selamat tinggal,
Dewa Arak! Kutitipkan dulu nyawa itu padamu!" kata Lingga sambil berlari.
"Hey! Mau lari ke mana kau...?!" Sosok yang
me-mang Setan Kepala Besi langsung berseru keras dan mengejar Lingga. Tapi....
"Kek...!"
Baru beberapa tombak, terdengar seruan Dewa Arak. Seketika
langkahnya berhenti dan langsung ber-balik.
"Tidak usah dikejar, Kek! Ada masalah lain yang lebih
penting!" ujar Arya.
Setan Kepala Besi menatap Arya dan menghampi-rinya. Pandang
matanya penuh pertanyaan.
"Apa artinya, Dewa Arak?! Apa yang terjadi?! Siapa
orang itu?! Dan apa yang terjadi pada pintu rumahku?! Bagaimana dengan Nuri?
Mana dia, Dewa Arak? Mana Nuri?!" berondong Setan Kepala Besi.
Arya menghela napas berat. Kemudian secara sing-kat dan
jelas diceritakan semuanya. Setan Kepala Besi mendengarkan penuh perhatian.
Beberapa kali dia berseru kaget dengan wajah berubah. Ada kemarahan, kegeraman,
tapi juga penyesalan.
Setan Kepala Besi menundukkan kepala sambil mengepal tinju,
ketika Arya menyelesaikan ceritanya. Dia tampak bingung bukan kepalang.
Berulang-ulang ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihembuskan per-lahan-lahan.
"Apakah kau tahu, di mana tempat yang dimak-sudkan
mereka, Kek?!"
Arya tidak tahan untuk berdiam diri melihat Setan Kepala
Besi tidak segera melakukan sebuah tindakan. Sedang lelaki botak itu mengangguk
lemah. Bahkan tanpa mengangkat wajah sama sekali.
"Tampaknya Sepasang Malaikat Maut mengenali-mu, Kek.
Apakah kau mempunyai urusan dengan me-reka?!" tanya Arya lebih jauh.
Lagi-lagi Setan Kepala Besi hanya mengangguk sambil
mengepal-ngepalkan kedua tangannya. Arya ja-di tidak sabar melihatnya. Meski
disadari kakek itu ti-dak kalah khawatir dengan dirinya. Tapi kenyataannya
tindakan lelaki berkepala botak itu membuatnya pena-saran dan kecewa bukan
main.
"Apakah ada hal lain yang kau lakukan, Kek? Teru-tama
yang lebih baik dan berarti daripada hanya ber-diam diri?"
Setan Kepala Besi sampai terlonjak dan mengang-kat kepala
mendengar kata-kata Dewa Arak yang tajam bukan main. Apalagi keluar dari hati
yang penasaran dan dicekam kekhawatiran. Hanya sebentar Setan Ke-pala Besi
menatap, lalu kembali menunduk. Dia meli-hat sepasang mata pemuda itu begitu
tajam menusuk, penuh teguran.
"Tentu saja ada, Dewa Arak," desah Setan Kepala
Besi, lirih seperti orang yang merasa bersalah. "Tapi, itu berarti aku
akan melibatkan diri dalam kancah du-nia persilatan lagi...."
"Aku rasa tidak sampai demikian, Kek," sergah
Arya mengajukan keberatan pendapatnya setelah ter-menung sejenak.
"Dua orang kakek itu sepertinya tidak menyukai
kekerasan. Aku yakin tindakan mereka karena terpak-sa. Kalau aku tidak salah
dengar, mereka bertindak demikian untuk meminta padamu agar menyerahkan sesuatu
benda. Sayangnya, ketika kutanyakan mereka tidak mau
memberitahukannya...."
"Itulah, Dewa Arak. Peristiwa ini mau tidak mau akan
menyeretku ke dalam kancah persilatan lagi," timpal Setan Kepala Besi
bernada pahit. "Benda yang mereka maksudkan, sudah tidak ada di tanganku.
Pa-dahal, mereka amat bernafsu untuk mendapatkannya. Keterangan yang kuberikan
tak akan dipercaya. Mere-ka pasti akan menganggapku berdusta."
Arya kontan terdiam. Sama sekali tidak disangka kalau
persoalan akan menjadi pelik begini. Semula di-kira akan mudah saja. Maka
sekarang ganti Dewa Arak yang tercenung bingung.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Kek?!" tanya
Arya memecahkan kebisuan yang mencekam.
"Aku belum tahu, Dewa Arak," jawab Setan Kepala
Besi, ragu. "Mungkin akan kusatroni tempat mereka dan meminta membebaskan
muridku. Toh, Nuri tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kami."
Arya mengangguk-anggukkan kepala. Memang bisa diterima usul
Setan Kepala Besi. Agaknya ini jalan yang paling baik.
"Maaf, Kek.... Bukannya hendak ikut campuri uru-san
atau ingin mau tahu. Hanya saja mungkin aku bi-sa membantu. Maksudku..., benda
apakah yang di-maksud Sepasang Malaikat Maut? Dan sebenarnya siapakah
pemiliknya?!"
Setan Kepala Besi tidak segera memberi jawaban. Dia malah
menghela napas berulang-ulang sambil mengepal-ngepalkan tangan.
"Sebenarnya aku malu menceritakannya, Dewa Arak.
Karena ini menyangkut masa laluku. Masa yang tidak menyenangkan untuk
diingat..."
"Maaf, Kek. Bukannya aku bermaksud menggurui. Tapi
kurasa, saat ini yang paling penting adalah kese-lamatan muridmu. Tidak ada
salahnya kalau kau buang dulu rasa malumu. Sementara ini saja, demi muridmu!
Bagaimana, Kek?!" usul Arya.
Setan Kepala Besi mengangguk-angguk setelah ter-lebih dulu
tercenung seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkan.
"Kurasa kau benar, Dewa Arak. Barangkali saja kau bisa
menolongku untuk menemukan kembali ben-da yang dimaksudkan dua kakek itu,"
kata Setan Ke-pala Besi.
Arya diam. Ditunggunya kelanjutan ucapan Setan Kepala Besi
yang hendak menceritakan masa lalunya
"Puluhan tahun yang lalu, aku terkenal sebagai da-tuk
kaum sesat yang ditakuti lawan dan disegani ka-wan. Tak terhitung sudah
tokoh-tokoh persilatan yang tewas di tanganku. Aku memang gemar mengadu
ke-saktian."
Setan Kepala Besi memulai ceritanya. Sementara, Arya
mendengarkannya tanpa memberi tanggapan. Dia tidak heran mendengar awal cerita
lelaki berkepala bo-tak ini, karena memang telah mengetahui sebelumnya.
"Tapi aku menelan kenyataan pahit, ketika menga-cau di
Perguruan Pedang Ular. Aku yang sudah merasa sebagai tokoh tak terkalahkan,
telah dikalahkan seo-rang pentolan dunia hitam. Kami, aku dan tokoh itu, memang
berasal dari tempat yang jauh berbeda. Aku di
barat, dan tokoh itu di timur. Antara kami tak pernah ada
silang sengketa sebelumnya, sehingga tak pernah terjadi bentrokan. Baru di
Perguruan Pedang Ular aku dan tokoh itu bentrok. Dan aku dikalahkan. Itu untuk
pertama kalinya aku menderita kekalahan. Beruntung, aku berhasil menyelamatkan
diri sehingga tidak tewas percuma."
"Apakah tokoh yang kau maksudkan itu Kalapati,
Kek?!" tanya Arya, setengah menduga. Dia memang te-lah mendengar cerita
seperti itu sebelumnya, dari putri Kalapati sendiri. Karmila, namanya (Untuk
jelasnya, si-lakan baca episode: "Memburu Putri Datuk").
"Rupanya kau telah mendengar cerita itu, Dewa Arak?!"
Setan Kepala Besi tersenyum pahit. "Apakah Karmila yang menceritakannya
padamu?!" Arya terse-nyum dan mengangguk. "Kekalahan untuk pertama
kalinya itu, membuatku penasaran bukan main," lan-jut Setan Kepala Besi.
"Aku bertekad menebusnya. Maka aku segera mengundurkan diri dari dunia
persi-latan untuk menambah kepandaian. Bertahun-tahun aku merambah ke seluruh
tempat. Sampai akhirnya, ku pilih Gunung..., sayang sekali aku lupa namanya. Di
sana aku menggembleng diri dan mempertinggi ke-pandaian."
Sampai di sini, Setan Kepala Besi menghentikan ceritanya.
Sedangkan Arya tidak memberi tanggapan, tetap seperti semula. Diam dan
mendengarkan.
"Aku sama sekali tidak tahu kalau di tempat itu ada
tokoh-tokoh lain yang menyepi. Hanya bedanya, mereka berada di situ memang
untuk menjauhi keras-nya kancah dunia persilatan. Mereka mengira kalau aku
bermaksud demikian. Maka dengan tangan terbu-ka, aku diperlakukan sebagai
kawan. Dua di antara mereka, adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri se-
perti yang kau sebutkan, Dewa Arak. Sedangkan yang satunya
lagi, seorang ahli nujum. Tokoh yang terakhir ini ternyata memiliki pengetahuan
luas. Terutama, di bidang pusaka-pusaka persilatan ampuh yang jarang
tandingannya dan masih beredar di dunia persilatan. Salah satu di antaranya
adalah Golok Kilat. Hanya saja menurut ahli nujum itu, golok ini mempunyai
sebuah kelemahan. Yaitu apabila lama tidak dipergunakan, meski kekuatannya
tidak berkurang, tapi keistime-waannya akan lenyap. Ahli nujum itu menuliskan
di dalam lembaran-lembaran daun lontar, mengenai keis-timewaan pusaka ini. Kau
tahu keistimewaan Golok Kilat itu, Dewa Arak?!"
Arya menggeleng.
"Tidak bisa memperkirakan sama sekali?!" desak
Setan Kepala Besi, ingin tahu.
"Sedikit," jawab Arya, setelah terlebih dulu
berpikir. "Mungkin dari ujung golok itu keluar cahaya kilat yang
menghanguskan seperti halnya kilat."
"Itu hanya salah satunya, Dewa Arak," sambung
Setan Kepala Besi penuh semangat. "Keistimewaan lainnya, mampu menyedot
tenaga dalam lawan. Se-hingga, lawan akan cepat lelah. Bisa juga untuk
me-nangkal sihir. Dapat pula untuk menarik keluar racun dari dalam tubuh. Dan
yang lebih mengerikan lagi, go-lok itu konon dapat berubah menjadi lidah kilat
yang dapat terbang sendiri menyerang lawan."
Jantung Arya seperti berhenti berdetak. Sungguh sebuah
pusaka yang amat berbahaya. Apalagi, bila ja-tuh ke tangan orang yang berwatak
telengas. Jelas, akan membuat dunia persilatan kacau!
"Aku merasa tertarik mendengar penuturan ahli nujum
itu. Maka ku putuskan untuk mendapat cata-tan ahli nujum itu mengenai Golok
Kilat. Jika memin-
ta, jelas tidak mungkin. Maka jalan satu-satunya ada-lah
mencuri. Dan itulah yang kulakukan. Di tengah ja-lan catatan itu ku baca. Tapi,
malang. Sebelum tuntas, aku terlibat pertarungan dengan seorang tokoh
persila-tan yang memiliki watak aneh. Tokoh itu memiliki tan-gan amat kuat,
mungkin lebih kuat daripada baja. Se-tiap kali berbenturan, tulang-tulangku
terasa ngilu."
Setan Kepala Besi menyeringai. Seakan-akan rasa ngilu yang
melanda itu terasa kembali,
"Pertarungan dengan tokoh aneh itu membuatku menyesal
bukan kepalang. Catatan di daun lontar yang kubawa terjatuh ke dalam laut.
Memang, waktu itu aku bertemu di tengah laut. Asal mulanya, perahu yang ku
kemudikan patah layarnya akibat angin keras. Sehingga laju perahu ku tak
terkendalikan lagi, lalu menabrak perahunya. Saat itu, badai memang baru saja
reda. Pertarungan kami mungkin akan berlang-sung lama. Namun ketika mendengar
tangisan bayi, perhatian tokoh aneh itu jadi beralih. Dan dia lebih mementingkan
sang bayi. Pertarungan pun terhenti. Dia sibuk mengurus bayi itu. Sedangkan aku
sibuk mencari-cari kitab daun lontar yang hanya beberapa lembar itu. Sialnya,
tak pernah kutemukan."
Arya tersenyum kecut. Sekarang, bisa mengerti mengapa Setan
Kepala Besi kebingungan. Bagaimana mungkin catatan daun lontar itu
dikembalikan, kalau sudah tidak berada di tangan lelaki berkepala botak itu?!
"Hilangnya catatan itu, membuat kesadaranku se-dikit
timbul. Aku membatin dalam hati. Mungkin ini hukuman atas tindakanku. Maka, aku
kembali memu-tuskan untuk menjauhkan diri dari kancah persilatan. Segera ku
pilih tempat ini, sebagai tempat tinggalku. Dan aku hidup tenang sebagai
pencari kayu bakar.
Tapi seperti sudah merupakan hukum alam, sebagai seorang
ahli silat duniaku tidak bisa ditinggalkan. Ada saja penyebab yang membuatku
menggunakan kekera-san. Di waktu aku mencari kayu bakar, kudengar sua-ra ribut-ribut.
Ternyata, rombongan bangsawan tengah terlihat keributan dengan rombongan
perampok yang mengingini hartanya. Pertarungan antara para prajurit dengan
kelompok perampok ku saksikan tanpa ada maksud mencampuri. Bahkan ketika semua
pengawal dan suami istri keturunan bangsawan itu terbunuh, aku tidak bertindak
apa-apa. Tapi, ketika seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun hendak
di-bantai pula, aku tidak bisa tinggal diam. Aku turun tangan dan langsung
mengamuk. Semua perampok kubunuh. Anak itu langsung kubawa dan kuangkat sebagai
muridku sendiri. Nuri, nama yang kuberikan padanya."
Arya melongo. Pengalaman Setan Kepala Besi ini benar-benar
menakjubkan.
"Aku hidup tenang bersama Nuri sampai dua puluh tahun
lebih. Hanya sampai di situ, karena aku tertarik lagi untuk terjun ke dunia
persilatan begitu mendengar adanya benda mukjizat yang bernama Jamur Sisik
Na-ga. Sebelumnya, sekitar tiga tahun sebelumnya, hatiku telah goncang karena
berkelana dengan seorang tokoh hitam wanita setengah tua yang berjuluk Dewi
Penca-but Nyawa. Hanya saja, aku masih mempunyai per-timbangan. Baru ketika
mendengar tentang Jamur Si-sik Naga, aku tidak tahan lagi untuk terjun ke dunia
persilatan. Ku tinggalkan Nuri. Apalagi Dewi Pencabut Nyawa juga punya andil
besar dalam menarik aku ke dunia persilatan setelah jadi istriku. Dia sering
mem-bujuk ku. Dan karena aku suaminya, aku berhasil di-bujuk. Maksudku
bercabang, ketika mengetahui Ja-
mur Sisik Naga itu berada di tempat kediaman Kalapa-ti. Aku
ingin membalas dendam. Maka kufitnahlah dia melalui perantara Waji. Kurasa
sampai di sini kau te-lah tahu kelanjutannya, Dewa Arak"
Arya mengangguk.
"Sekarang, apa yang hendak kau lakukan, Kek?!"
tanya Arya, ingin tahu. "Mungkin tenagaku bisa dis-ambungkan."
Setan Kepala Besi diam. Lelaki ini berpikir keras untuk
menemukan cara paling baik
"Bagaimana kalau kita satroni dulu tempat
pencu-lik-penculik Nuri itu, Kek," usul Arya.
"Kurasa tidak ada salahnya. Toh, di sana bisa kita
pikirkan cara selanjutnya untuk menolong Nuri," sam-but Setan Kepala Besi,
menyatakan persetujuannya.
***
7
Tang, ting, tang...!
Bunyi berdentang nyaring terdengar ketika seorang kakek
berkain lusuh yang dilibat-libatkan ke sekujur tubuh, menghantamkan penggada
pada sebatang besi yang telah berbentuk golok. Batang besi itu tampak merah
membara.
"Uh...!"
Namun, pandai besi bertubuh kurus kering berku-lit coklat
kemerahan itu mendadak mengeluh tertahan, sarat keterkejutan dan kesakitan.
Pergelangan tangan kanannya terasa sakit bukan main, ketika ada sesuatu yang
menghantam secara keras. Bahkan penggadanya terlepas dari pegangan dan
terlempar jauh.
Pandai besi itu melayangkan pandangannya ke ta-nah,
mencari-cari sesuatu yang mungkin telah meng-hantam pergelangan tangannya. Tapi
dia tidak mene-mukan apa-apa, sehingga membuatnya heran. Bagai-mana mungkin
tangannya terbentur sesuatu, tapi ti-dak terlihat yang membenturnya?
"Apa yang kau cari, Tua Bangka?! Aku tidak
mem-butuhkan apa-apa untuk membuat gada milikmu, ter-lempar. Bahkan untuk
mematahkan tanganmu sekali-pun!"
Tiba-tiba terdengar suara bernada dingin dan berkesan
menyeramkan. Seketika kakek pandai besi ini mengalihkan pandangan ke pintu
tempat suara itu berasal. Dua tombak di depan pintu, tampak berdiri angkuh
sesosok tubuh kekar seorang pemuda berpa-kaian merah dengan ikat kepala
berwarna merah juga. Siapa lagi kalau bukan Lingga.
"Siapa kau, Anak Muda? Apa maksud kedatan-ganmu kemari
dengan cara sedemikian lancang?! Kau kira bisa menggertak ku dengan permainan
konyol itu?!" sambut kakek pandai besi berani, tanpa bergem-ing dari
sikapnya. Tangan kirinya masih menggenggam golok yang belum selesai dibuat.
Wajah Lingga yang dingin tidak bergeming sama sekali. Tapi pada sepa-sang
matanya tampak kilatan hawa maut.
"Rupanya kau membutuhkan bukti kalau tindakan yang
kulakukan sesuai yang kuucapkan?!" desis Ling-ga.
Seketika pemuda berbaju merah ini menjentikkan jari
telunjuknya.
Sing...! "Aaakh...!"
Bunyi mendesing seperti ada benda meluncur ter-dengar, lalu
disusul pekikan si pandai besi. Saat itu
juga, kakek ini merasakan pergelangan tangannya seakan
terhantam sesuatu seperti batu kecil. Karena kali ini yang terkena tangan kiri,
maka golok dalam genggaman yang belum selesai kontan terlepas.
"Sudah percaya, Tua Bangka Sombong?!" dengus
Lingga, dingin.
"Pemuda telengas!" maki kakek ini tajam dan
lan-tang. Tidak terlihat adanya kegentaran sedikit pun. Baik pada wajah maupun
sorot matanya
"Kau kira permainan konyol mu ini membuatku ta-kut?!
Kau mimpi, Anak Muda! Jangan dikira aku takut mati! Apalagi di tangan orang
konyol sepertimu! Mau bunuh, silakan bunuh!"
Lingga menyeringai kejam.
"Kau keliru, Tua Bangka! Kau tahu, aku memang haus
darah! Aku gemar membunuh! Tapi, tidak den-gan cara mudah! Jangan dikira aku
akan menewaskan mu begitu saja! Mungkin kau akan mati di tanganku, tapi setelah
mengalami siksaan yang mengerikan. Bahkan siksaan yang akan membuatmu menyesal
ber-temu denganku!"
Kakek kurus kering ini kontan merasakan bulu kuduknya
berdiri. Dirasakan adanya nada kesunggu-han dalam ucapan pemuda itu. Sebagai orang
yang te-lah banyak makan garam kehidupan, pandai besi ini tahu kalau pemuda di
hadapannya tidak main-main. Sorot mata pemuda itu yang memancarkan sinar
men-gerikan, semakin memperjelas dugaan si pandai besi akan kesungguhan ancaman
yang diterimanya.
"Tapi, aku mungkin akan mencabut ancaman itu apabila
kau bersedia memenuhi permintaanku," tam-bah Lingga lagi, tetap dingin dan
datar.
Si kakek diam, tidak memberi jawaban apa-apa. Lingga
mengambil sebatang golok sekaligus sa-
rungnya dari belakang punggung. Bagian bawah sa-rung golok
itu dipegang dengan tangan kanan, agak jauh dari wajah.
"Aku hanya menginginkan agar kau menerima pu-sakaku
ini. Dan, katakan pendapatmu!" ujar Lingga, "Bagaimana?!"
Si Kakek diam sebentar, kemudian perlahan-lahan kepalanya
mengangguk. Usul yang dikemukakan Ling-ga disetujui, kendati dengan perasaan
terpaksa. Ang-gukannya saja terlihat kaku. Malah tidak berseri di wa-jahnya.
Tapi, pemuda itu rupanya tidak peduli. Yang pent-ing adalah
keinginannya terlaksana. Masalah si pandai besi rela atau tidak, bukan jadi
masalahnya.
Dengan raut wajah masih dingin, Lingga meniup golok yang
masih diacungkan sejajar wajahnya.
"Phuih!" Srang!
Seketika golok itu melesat keluar dari sarung, me-luncur ke
arah kakek kurus kering dalam keadaan berputaran.
Mata kakek pandai besi terbelalak ketika melihat golok itu
hinggap dalam keadaan tegak di atas tonggak besi yang menancap di tanah.
Tonggak yang besarnya tak lebih dari jari kelingking! Golok itu berdiri dengan
ujungnya, tapi hanya menempel saja, tidak jatuh ke tanah.
"Periksalah, Tua Bangka! Dan katakan pendapat-mu
mengenai pusakaku. Tapi, ingat! Jangan coba-coba mempermainkan! Kau tahu,
akibatnya. Aku tidak mau dipermainkan orang! Mengerti?!" ujar Lingga,
sarat an-caman.
Si kakek tidak memberi jawaban sama sekali. Den-gan sikap
masih angkuh, dihampirinya tempat golok
Lingga bertengger. Dicekalnya gagang golok dan dita-riknya.
Tapi, lagi-lagi keterkejutan dialami si kakek pandai besi.
Golok yang kelihatan jelas hanya menempel ba-gian ujungnya pada tongkat,
ternyata tidak mampu di-tariknya. Seakan-akan senjata tajam itu telah bersatu
dengan tonggak besi!
Kakek kurus kering tidak putus asa. Tenaga da-lamnya
dikerahkan untuk menarik. Tapi sampai sele-bar wajahnya merah padam, golok itu
tetap tidak ber-geming. Dan dia pun menyerah.
Lingga mendengus, terlihat penuh nada meremeh-kan. Tangan
kanannya yang masih menggenggam sa-rung golok digerakkan ke samping, sehingga
sarung golok memalangi,
"Hih!"
Kakek pandai besi yang masih bersikeras menarik kontan
terjengkang ke belakang terbawa tenaga tari-kannya sendiri. Karena golok yang
semula seperti me-nyatu dengan tonggak besi, dapat dicabutnya dengan mudah!
Namun, kakek ini ternyata bukan orang sembaran-gan.
Kekuatan yang membuat tubuhnya terjengkang dan hampir menabrak tembok mampu
dipatahkan dengan sebuah gerakan kaki sederhana.
Kakek pandai besi menatap Lingga dengan sorot mata
menyiratkan kebencian. Tapi yang ditatap malah menatap dengan sinar mata penuh
ejekan.
Kemarahan kakek tinggi kurus tidak bisa ditahan lagi.
Tindakan pemuda ini telah melampaui batas. Ma-ka dengan penuh kegeraman yang
tidak bisa disembu-nyikan, golok milik Lingga dibantingkan keras ke lan-tai.
Jleb!
Golok itu kontan amblas ke lantai sampai hampir
setengahnya! Padahal, lantai itu tersusun dari batu padas yang amat kuat!
Sementara sepasang mata Lingga seperti meman-carkan api
ketika menatap kakek pandai besi. Kema-rahan yang amat sangat memancar jelas di
sana.
"Pungut kembali golok itu. Periksa dan berikan
pendapatmu. Atau kau akan menyesal karena melaku-kan tindakan seperti itu
terhadapku!" perintah Lingga dalam kemarahannya.
Cuhhh!
Si kakek pandai besi yang telah dikuasai marah karena
perasaan tersinggung, memberi tanggapan dengan meludah ke tanah. Sebuah
tantangan telah di-lakukan!
Maka dengan wajah dingin, Lingga menudingkan dua jari
tengahnya.
Kakek kurus kering itu mencoba mengelak atau menangkis.
Tapi sayangnya, dia tidak tahu bagian yang diserang. Walaupun demikian dia
tetap berusaha mengelak, meski secara sembarangan. Namun
Tuk! "Aaakh...!"
Kakek kurus kering menyeringai ketika merasakan ada rasa
sakit sesaat, seperti kena totok. Rasa nyeri yang amat sangat langsung mendera.
Tubuhnya yang terjatuh di tanah menggeliat-geliat bagaikan ayam dis-embelih.
Lingga tertawa bergelak. Suaranya sarat kegembi-raan.
Sepasang matanya pun berbinar-binar, seakan-akan tengah melihat pemandangan
yang menarik dan menyenangkan.
Tubuh kakek pandai besi ini terus menggelepar-gelepar ke
sana kemari. Tak peduli keadaan sekitar-
nya. Bahkan ketika beberapa kali tubuhnya berbentu-ran
dengan dinding, sama sekali tidak dirasakan! Wa-jahnya menyiratkan kenyerian
hebat
Lingga memang mulai membuktikan ancamannya. Kakek kurus
kering itu ditotok dari jarak jauh pada bagian yang membuat sekujur tubuh sakit
dan nyeri tak tertahan, bagaikan ditusuk-tusuk ribuan jarum berkarat!
"Bagaimana, Tua Bangka Sombong?!" tanya Lingga
dengan nada dingin tanpa gambaran perasaan apa-apa. "Apakah kau masih
bersikeras untuk menentang-ku?! Syarat yang ku ajukan mudah saja. Dan perlu kau
ingat, Kakek Dungu! Ini tawaran terakhir! Bila kau masih tidak mau
mendengarnya, aku akan pergi. Tapi kau akan tewas dengan cara menyedihkan dan
sangat tersiksa. Bagaimana?!"
"Kau memang bukan manusia! Kau iblis yang ber-hati
keji! Kau tidak memberi ku pilihan lain!" desis ka-kek kurus kering dengan
susah-payah karena rasa sa-kit masih menderanya.
Lingga tidak memberi tanggapan apa-apa. Tapi so-rot
sepasang matanya terlihat jelas memancarkan si-nar kemenangan. Meski, kakek ini
belum memberi ja-waban pasti, tapi perkataannya telah menunjukkan kalau
tawarannya diterima.
Tik!
Lingga menjentikkan jari telunjuknya. Maka rasa nyeri yang
mendera tubuh kakek pandai itu pun le-nyap. Geleparnya pun terhenti. Meski
demikian, tu-buhnya terlihat lunglai ketika bangkit. Peluh sebesar biji-biji
jagung tampak membasahi wajahnya, akibat rasa nyeri yang hebat.
"Kudengar kau seorang pembuat senjata yang ter-pandai.
Kau mengenal banyak senjata pusaka dan bisa
tahu dengan memperhatikannya. Kau orang yang di-kenal
dengan nama Empu Lahang Samedi, bukan?!" Lingga membuka suara.
Kakek kurus kering mengangguk tanpa menoleh. Masih dengan
langkah limbung, kakinya terayun menghampiri tempat golok Lingga yang tertancap
di lantai. Dengan kedua tangan, karena masih lemah akibat siksaan tadi, golok
itu berusaha dicabut. Tapi ternyata, si pandai besi yang bernama Empu Lahang
Samedi ini tidak mampu! Tenaganya telah terkuras habis. Bahkan golok itu tidak
bergeming sama sekali.
Melihat hal ini, Lingga menjadi tidak sabar. Maka tangan
kanannya cepat dikibaskan.
Werrr...!
Seketika angin keras menderu. Sehingga tidak hanya golok
yang tertancap, tubuh Empu Lahang Sa-medi pun terlempar. Sedangkan golok yang
tercekal erat dengan kedua tangannya tetap tergenggam, sam-pai tubuh kakek itu
menubruk dinding.
Empu Lahang Samedi merayap lemah. Kendati la-hir dan
batinnya sakit akibat perlakuan Lingga, na-mun dia tidak berani lagi
membangkang. Golok yang berada di tangan diperhatikannya penuh selidik.
Sepasang mata Empu Lahang Samedi berbinar-binar. Wajahnya
menyiratkan keterkejutan dan keti-dakpercayaan. Kedua tangannya tampak
menggigil ke-ras, ketika berbicara.
"Tidak salahkah penglihatanku...?! bukankah ini Golok
Kilat yang ajaib itu?!" gumam Empu Lahang Samedi sarat keterkejutan.
Bahkan suaranya terden-gar bergerak.
"Kau memang tidak salah, Empu Lahang!"
Untuk pertama kalinya, Lingga menyapa kakek ku-rus kering
itu dengan namanya. Tidak dengan panggi-
lan penuh hinaan.
"Golok itu memang golok keramat yang tadi kau
sebutkan. Sekarang katakan, apa lagi pendapatmu mengenai Golok Kilat
itu?!" sambung Lingga.
Empu Lahang Samedi kelihatan bingung untuk mengutarakan
pendapatnya. Sementara Lingga yang memang berwatak pemarah, kesabarannya habis.
"Apakah aku perlu melakukan kekerasan seperti tadi,
Empu?!"
Empu Lahang Samedi menghela napas berat
"Golok Kilat ini telah kehilangan keistimewaannya.
Telah kehilangan kedahsyatannya, kendati kekuatan-nya tidak lenyap..."
"Aku juga telah mengalaminya sendiri, Empu, Dan
bagaimana caranya untuk membuat pusaka itu kem-bali seperti semula?!
Maksudku..., keampuhan dan kedahsyatannya."
Kembali Empu Lahang Samedi terdiam. Kali ini Lingga tidak
memberi ancaman dan hanya menunggu. Tapi, ternyata diamnya Empu Lahang Samedi
kali ini lebih lama daripada sebelumnya.
"Kau jangan mencoba mempermainkan ku, Empu. Ingat! Aku
bukan sejenis orang yang mudah diper-mainkan. Apabila kesabaranku hilang, aku
bisa-bisa tidak membutuhkan mu lagi. Toh, masih banyak ahli senjata lain yang
bisa kuminta pendapatnya mengenai pusakaku. Ini peringatan terakhir, Empu. Mau
menga-takan apa pendapatmu..., atau..., semuanya berakhir di sini?!" desak
Lingga.
Empu Lahang Samedi yang sejak tadi hanya me-nunduk, menatap
Lingga dengan sinar mata tajam. Penuh tantangan!
"Kau boleh bunuh aku, Pemuda Gila! Siksa aku se-puas
hatimu! Tapi, Ingat! Kau tidak bisa memaksakan
untuk melakukan perintahmu! Nah! Tunggu apa lagi?! Cepat
lakukan hal yang kau inginkan!"
Sepasang mata Lingga kontan mengeluarkan sinar berkilatan
yang sarat ancaman. Pemuda ini memang memiliki watak aneh, tidak suka kalau
keinginannya dibantah. Apabila menginginkan sesuatu, orang harus melakukannya
Tapi, kali ini Empu Lahang Samedi ternyata sudah nekat.
Dibalasnya tatapan pemuda itu dengan berani. Kakek ini ternyata lebih suka mati
secara mengerikan daripada memberi pendapat mengenai Golok Kilat.
***
"Ayah...!"
Sebuah panggilan nyaring melengking membuat suasana tegang
antara Empu Lahang Samedi dan Lingga yang tengah saling tatap sedikit
terpecahkan. Wajah kedua tokoh itu berubah. Bila Lingga kelihatan gembira dengan
sepasang mata berbinar-binar, tapi Empu Lahang Samedi sebaliknya.
"Priyani...! Pergi dari sini...! Cepat..!" seru
Empu Lahang Samedi yang membaui adanya bahaya atas diri gadis bernama Priyani
yang ternyata putrinya. Na-danya menyiratkan kekhawatiran yang besar.
Kalau menuruti keinginan, ingin rasanya pandai besi ini
melesat ke tempat putrinya berada, dan mem-bawanya kabur meninggalkan tempat
itu. Paling tidak menjauhi Lingga yang ganas dan keji.
Sayangnya, niat itu lebih mudah dipikirkan dari-pada dilaksanakan.
Untuk menuju ke tempat Priyani, harus melalui Lingga lebih dulu. Karena pemuda
itu lebih dekat pintu daripada dirinya.
Sementara di luar sana gadis berpakaian kuning,
melangkah memasuki rumah Empu Lahang Samedi ini. Rambutnya
sebahu, dengan tahi lalat kecil di pipi sebelah kiri.
Priyani tadi memang mendengar seruan Empu La-hang Samedi,
dan sempat membuat langkahnya ter-henti. Bisa dirasakan adanya kekhawatiran
yang besar dalam seruan tadi. Dia tahu, Empu Lahang Samedi ti-dak akan
mengeluarkan peringatan seperti itu, kalau memang tidak ada sesuatu yang tidak
berbahaya.
Sungguhpun demikian, gadis ini tidak segera me-nuruti
anjuran ayahnya untuk meninggalkan tempat itu selekasnya. Rasa ingin tahu
sampai ayahnya demi-kian khawatir, membuatnya masih tetap ingin mema-suki
ruangan tempat pembuatan senjata milik ayah-nya. Dan lagi, Priyani memang tidak
ingin pergi. An-daikata benar ada bahaya yang mengancam, mana mungkin ayahnya
ditinggal sendirian menghadapinya.
"Ayah...? Apa yang terjadi...?! Apakah Ayah baik-baik
saja?!"
Priyani tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Dia langsung
bertanya, sebelum memasuki ruangan ayah-nya.
"Aku baik-baik saja, Priyani.,.! Kau masuklah...!
Tadi, Ayah hanya bergurau. Ayah hanya ingin melihat bagaimana kalau ada bahaya mengancam.
Apakah kau akan meninggalkan Ayah. Atau, bersama-sama mela-wan bahaya
itu?"
Seruan ini membuat keragu-raguan Priyani pupus. Dengan
langkah-langkah lebar, maksudnya diteruskan untuk masuk ke dalam ruangan khusus
ayahnya,
Begitu masuk, seketika itu juga wajah Priyani yang
berseri-seri berubah. Dia melihat Empu Lahang Same-di menempel di dinding
dengan kedua tangan dan kaki terentang. Semula, disangka ayahnya bergurau lagi.
Tapi ketika melihat wajah dan sinar matanya, Priyani bisa
menduga akan adanya hal-hal yang tidak beres. Tanpa menyadari adanya kehadiran
sosok lain di ruangan ayahnya ini, Priyani mendekati Empu Lahang Samedi.
"Ayah...! Apa yang terjadi...?!" tanya Priyani
kaget, sambil menghampiri.
Namun mendadak langkah Priyani terhenti satu tombak di
depan Empu Lahang Samedi, yang berarti telah melewati sosok Lingga yang berdiri
di belakang-nya. Pemuda itu hanya tersenyum dengan tangan ber-sedekap. Dan
berhentinya Priyani bukan karena ke-mauannya, tapi karena kedua kakinya tidak
bisa dige-rakkan. Sepasang kakinya tidak mampu diangkat, seakan-akan digayuti
batu sebesar gajah. Amat berat!
"Aku tidak apa-apa, Priyani. Aku hanya bergurau
saja."
Priyani yang terkejut bukan main, makin terperan-gah ketika
mendengar ucapan terhadapnya. Jelas ter-dengar bahwa suara itu milik ayahnya.
Tapi, mulut Empu Lahang Samedi tidak berkemik sama sekali.
Priyani memang gadis gemblengan dengan kepan-daian cukup
tinggi. Dan dia tahu, ayahnya juga berke-pandaian tinggi. Dia pun telah
mendengar tentang il-mu yang membuat orang berbicara tanpa menggerak-kan bibir.
Tapi, disadari betul kalau ayahnya tidak memiliki ilmu ini karena tingkat
kepandaiannya tidak setinggi itu. Ini berarti bukan ayahnya yang berbicara.
Yang lebih mengejutkan suara itu ternyata berasal dari
belakang Priyani. Dengan gerakan perlahan-lahan, gadis ini berbalik. Kalau saja
gadis ini mampu mengge-rakkan kaki, tentu sudah terlompat ke belakang. Tapi
karena tidak, tubuhnya saja yang terlonjak.
Di depan Priyani, tampak Lingga berdiri dengan
wajah dingin sambil menyeringai keji.
Priyani sekarang mengerti, dua ucapan terakhir ta-di keluar
dari mulut Lingga. Sedangkan Ayahnya hanya bicara sekali. Setelah itu, Lingga
yang bicara. Tentu saja setelah lebih dulu membuat Empu Lahang Samedi tidak
berkutik.
Kakek kurus kering itu tak mampu berbuat apa-apa, karena
kaki, tangan, maupun mulutnya seperti lumpuh. Entah dengan cara bagaimana,
Priyani tidak tahu. Yang jelas, gadis ini tahu kalau Lingga memiliki kepandaian
tinggi. Ayahnya yang dilumpuhkan oleh pemuda itu, menjadi bukti nyata kebenaran
dugaan-nya.
Kendati demikian, Priyani tidak menjadi gentar. Dengan
sorot mata penuh kebencian, ditatapnya Ling-ga. Namun yang ditatap malah
tenang-tenang saja, membuat kemarahan gadis itu berkobar hebat.
***
8
"Manusia jahat! Apa salah ayahku, sehingga kau berlaku
kejam terhadapnya?! Kalau memang jantan, bebaskan dia! Lepaskan juga aku dari
pengaruh sihir-mu ini! Kita bertarung sampai salah satu ada yang menggeletak
tak bernyawa!" desis Priyani, kalap.
Lingga tidak menunjukkan gambaran perasaan apa-apa
mendengar kata-kata gadis itu yang lantang dan keras berisi jiwa ksatria! Kalau
menuruti keingi-nan, Lingga malas meladeninya. Yang penting baginya adalah
Golok Kilat harus segera mampu mengeluarkan kedahsyatannya lagi. Sesegera mungkin!
Agar dia da-
pat pula melenyapkan Dewa Arak, orang yang paling
dibencinya.
Tapi, Lingga memang berwatak keji. Tantangan yang diberikan
Priyani, membuat benaknya berputar. Dicarinya cara mengenai tindakan yang akan
dilaku-kan terhadap gadis berpakaian kuning itu.
"Kalau itu yang kau mau, ku penuhi permintaan-mu, Nona
Manis," sambut Lingga, tenang dan datar.
Pemuda itu kemudian mengepretkan jari-jari kedua tangannya,
Seperti orang yang membuat tetesan air yang menempel.
Tes! Tes!
Baik Empu Lahang Samedi, maupun Priyani seke-tika merasakan
beberapa bagian tubuh mereka seperti tersentuh jari-jari tangan. Kini mereka
pun mampu bergerak kembali seperti sediakala.
"Priyani! Cepat pergi dan selamatkan dirimu! Biar Ayah
yang mencoba menahannya!" ujar Empu Lahang Samedi, keras sarat
kekhawatiran.
Berbareng keluarnya ucapan itu, Empu Lahang Samedi melompat
ke depan. Dia berdiri di depan pu-trinya. Sikapnya terlihat melindungi sekali.
"Tapi, Ayah...," Priyani mencoba untuk
memban-tah. "Aku telah berjanji bertarung dengannya sampai mati. Tidak
mungkin aku mengingkari janji yang telah kubuat sendiri."
"Jangan bodoh, Priyani! Bagi orang jahat seperti
pemuda itu, janji tak ubahnya kotoran! Tak ada harga lagi! Cepatlah pergi
tinggalkan tempat ini!" sergah Em-pu Lahang Semadi, tak sabar.
Priyani bimbang. Hatinya berperang antara meme-gang janji
dengan memenuhi perintah ayahnya..!
Sementara Lingga yang melihat dan mendengar pertengkaran
ayah dan anak itu menatap wajah dan
sinar mata dingin, bagaikan patung batu. Dia tidak khawatir
kalau Priyani kabur dari situ. Karena Lingga yakin, akan dapat mencegahnya.
Empu Lahang Samedi semakin merasa khawatir akan nasib
putrinya. Maka kesabarannya jadi hilang melihat gadis itu malah berdiam diri.
Dan....
"Heaaat...!"
Sambil mengeluarkan teriakan nyaring, kakek ini melompat
menerjang Lingga, setelah menyambar seba-tang tombak pendek.
Namun Lingga tidak mengelak sedikit pun. Maka.... Tak!
Telak sekali ujung tombak baja hitam yang kuat milik Empu
Lahang Samedi mendarat telak di dada pemuda itu.
Empu Lahang Samedi dan Priyani yang semula gembira melihat
keberhasilan serangan itu, berganti kaget ketika melihat serangan tidak
berpengaruh apa-apa terhadap Lingga. Ujung tombak yang tajam itu ti-dak mampu
menembus kulit tubuhnya, kecuali hanya menempel saja!
"Heh?!"
Empu Lahang Samedi cepat sadar dari kagetnya. Dia tahu,
pemuda ini memiliki kekebalan. Entah kare-na kuatnya tenaga dalam yang
dimiliki, atau karena memang mempunyai ilmu aneh!
Maka tanpa menunggu lebih lama, kakek kurus kering ini
menggerakkan tangan.
Empu Lahang Samedi bermaksud menyerang ba-gian pelipis kiri
melalui sebuah babatan. Namun, mak-sudnya tidak kesampaian. Tombaknya bagai
menyatu dengan dada Lingga. Jangankan bisa dibabatkan. Un-tuk digerakkan pun
tidak dapat!
"Heaaat...!"
Empu Lahang Samedi masih nekat. Dipaksakannya juga untuk
meneruskan maksudnya. Tapi, kegagalan pula yang didapatkan.
Lingga menyeringai kejam. Empu Lahang Samedi jadi gentar
bukan main. Pegangannya terhadap gagang tombak segera dilepaskan untuk dapat
menyela-matkan diri. Tapi....
"Heh?!"
Empu Lahang Samedi kebingungan ketika telapak tangannya
tidak bisa dilepaskan dengan batang tom-bak. Maka hatinya, mulai merasakan
adanya bahaya besar. Tampak perut pemuda itu mulai bergolak. Naik turun
bergelombang. Karena tangannya menempel dengan tombak, Empu Lahang Samedi mulai
meneri-ma akibatnya. Tubuhnya kontan berguncang-guncang.
"Huk! Uhugkh!"
Guncangan itu ternyata membuat Empu Lahang Samedi
terbatuk-batuk. Dan pada setiap batuk yang keluar, memercikkan darah segar.
Jelas, dia telah ter-luka dalam.
Priyani kaget, melihat betapa mudahnya Lingga melumpuhkan
ayahnya. Dia terkesima di tempatnya tak tahu harus bertindak bagaimana.
Sementara guncangan pada Empu Lahang Samedi semakin keras.
"Ohhh...!"
Dan bertepatan dengan terdengarnya keluhan ter-tahan dari
mulut Priyani, tubuh Empu Lahang Samedi terlempar deras ke belakang, langsung
menghantam dinding dengan keras.
"Ayah...!"
Priyani berseru kaget, berniat menghambur menu-ju ayahnya.
Tapi maksudnya kandas, ketika Lingga mengembangkan kedua tangan. Tindakannya
seperti
orang tengah menarik. Maka seketika tubuh gadis ber-pakaian
kuning itu tertarik ke arah Lingga.
"Auuu www.,.!"
Priyani meronta-ronta ketika tubuhnya tahu-tahu telah
berada dalam rangkulan Lingga. Tapi tindakan-nya langsung berhenti, ketika
Lingga menekan ba-hunya. Tubuhnya langsung lunglai.
"Lepaskan dia, Pemuda Telengas! Dia tidak ada sangkut
pautnya dengan urusan kita!" teriak Empu Lahang Samedi berusaha bangkit
dengan limbung. Langkahnya gontai ketika berusaha berjalan.
"Bagiku tidak demikian, Empu Lahang!" ejek Lingga
penuh kemenangan. "Mungkin menurutmu, gadis ini tidak ada urusannya dengan
kita. Tapi bila aku men-ganggap sebaliknya, kau mau apa Tua Bangka?!"
"Biadab!" desis Empu Lahang Samedi penuh
kege-raman. Hanya sampai sebatas demikian tindakan yang dilakukannya.
"Kau boleh bicara apa saja, Empu Lahang! Tapi, in-gat!
Keselamatan putrimu ini berada di tanganmu. Apabila kau mau memenuhi
permintaanku, mengata-kan apa yang kau ketahui tentang golok di tanganmu, aku
akan membebaskannya. Kubiarkan dia pergi dari sini dalam keadaan hidup!"
ancam Lingga.
Lingga menutup ucapannya dengan mengeratkan pelukan tangan
kiri. Wajahnya disusupkan di leher Priyani, menciumi leher mulus berkulit putih
halus itu. Empu Lahang Samedi menggertakkan gerahamnya melihat pemandangan ini.
Dia tahu Priyani terancam bahaya mengerikan. Gadis itu sendiri tidak mampu
berbuat apa-apa untuk mencegah selain keluhan-
keluhan lirih.
Tingkah Lingga semakin menggila. Hanya sekali renggut.
Brettt!
Pakaian Priyani di bagian dada sampai ke perut koyak lebar.
Seketika bukit kembar yang berbentuk indah menggiurkan dengan puting susu merah
segar segera menyembul keluar.
Lingga semakin buas dalam cekaman nafsunya. Wajahnya
disusupkan di antara dua bukit kembar yang berbentuk indah menggiurkan itu.
"Hentikan...!" teriak Empu Lahang Samedi, tak
kuat lagi bertahan.
Maksud hati kakek ini hendak berteriak keras. Tapi karena
keadaannya memang tengah payah, teriakan-nya tak ubahnya keluhan lirih orang
menjelang ajal.
Meski demikian, Lingga mendengar. Dan tindakan-nya pun
dihentikan. Sepasang matanya yang memerah dan napasnya yang memburu, menjadi
pertanda kalau nafsunya tengah bergolak. Tapi keinginannya yang le-bih besar
untuk mengetahui pendapat Empu Lahang Samedi mengenai Golok Kilat, membuatnya
mampu meredamnya.
"Bagaimana, Empu?! Kau masih bersikeras
meno-lak?!" tanya Lingga, mengambang.
"Kau memang licik, Pemuda Telengas!" Empu La-hang
Samedi malah memaki. Tidak mempedulikan ucapan Lingga. "Kau tidak memberi
ku pilihan lain! Tapi, apakah kau bisa memegang janji?"
"Tentu saja!" tandas Lingga, mantap. "Aku
berjanji akan membebaskan Priyani jika kau mau memberi pendapat mengenai Golok
Kilat!"
Empu Lahang Samedi tercenung setelah menden-gar janji
Lingga. Dia tahu betul, orang macam apa Lingga ini. Tindakannya harus sangat
hati-hati kalau tidak ingin tertipu mentah-mentah!
"Masih kurang, Manusia Keji! Ucapkan juga sang-
sinya, apabila kau melanggar!"
Sepasang mata Lingga berkilat penuh hawa maut Pemuda ini
memang paling tidak senang diatur. Tapi perasaan ingin tahu atas pendapat Empu
Lahang Sa-medi tentang Golok Kilat, membuatnya mampu mene-lan perasaan marah.
"Baik!" geram Lingga. "Apabila aku melanggar
janji dengan tidak membebaskan Priyani, maka leherku akan kugorok sendiri.
Janjiku ini kubuat berdasarkan kehormatanku!"
Empu Lahang Samedi tersenyum puas. Dia tahu, betapapun
bejatnya Lingga, tidak akan mungkin me-langgar janjinya yang bersangsi
mengerikan!
Dan memang, Lingga langsung membuktikannya. Pemuda ini
langsung mendorong tubuh Priyani ke arah orang tuanya, setelah membebaskan
totokan yang membuat gadis itu lemas.
Empu Lahang Samedi buru-buru mengulurkan tangan, menangkap
tubuh putrinya.
Priyani yang telah berhasil bebas dari totokan, hanya
membiarkan tubuhnya dipeluk ayahnya seben-tar. Namun dengan halus tapi penuh
tekanan gadis ini meronta.
Empu Lahang Samedi tidak menghalangi sama se-kali.
Dibiarkan saja ulah putrinya. Tapi tindakan Priyani ternyata tidak berhenti
hanya sampai di situ. Pisau putih berkilat yang terselip di pinggangnya
lang-sung dicabut. Kemudian dia hendak bergerak ke arah Lingga.
"Hih...!" .
Keinginan Priyani ternyata tidak sesuai perkiraan nya.
Sebelum maksudnya terlaksana, Empu Lahang Samedi yang meskipun telah melepaskan
putrinya dari pelukan, tapi tidak mengendurkan kewaspadaan. Begi-
tu melihat Priyani bergerak, lebih dulu tangannya ce-pat
mencekal pergelangan tangan putrinya ini.
"Lepaskan, Ayah...! Lepaskan...! Biar kubunuh pe-muda
jahanam itu...!" jerit Priyani sambil meronta-ronta.
"Tidak akan kulepaskan kau, Priyani. Kecuali kalau
menginginkan ayahmu menjadi seorang pengecut hina yang menjilat ludahnya
sendiri. Apabila kau suka, dengan senang hati maksudmu ku penuhi," sahut
Em-pu Lahang Samedi, tenang. Kendati demikian di dalam ketenangan itu
terkandung ketegasan.
Mendengar ucapan ayahnya, Priyani pun lemas. Urat-urat dan
otot-ototnya yang tadi menegang kaku melemas kembali. Tentu saja dia tidak
ingin ayahnya jadi seorang pengecut. Maka meski dengan hati berat, maksudnya
diurungkan.
"Ayah tidak memberi ku pilihan lain," keluh
Priya-ni, bernada menyalahkan.
"Lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini, Priyani.
Aku masih mempunyai urusan lain dengan-nya," perintah Empu Lahang Samedi,
meski diusaha-kan tidak kentara. Maksudnya tentu saja untuk me-nyelamatkan
Priyani. Karena, meski percaya kesung-guhan janji Lingga, kakek kurus kering
ini tidak berani mengambil bahaya terlalu besar.
"Apakah Ayah tidak suka aku berada di sini...?! Ayah
lebih suka aku pergi dari sini?!"
Priyani menatap wajah ayahnya lekat-lekat sambil
mengucapkan perkataan demikian. Sengaja diguna-kannya kalimat demikian, untuk
membuat ayahnya mati kutu. Priyani ingin menemani ayahnya. Dia ingin tahu,
urusan apa yang menyebabkan Lingga begitu bersemangat memaksa ayahnya
berbicara.
"Mengapa kau bisa menarik kesimpulan seperti itu,
Priyani?!" tanya Empu Lahang Samedi sambil
menge-rutkan kening. Heran atas dugaan putrinya terhadap-nya.
"Kalau tidak, tentu Ayah akan membiarkanku di sini.
Ayah, seharusnya merasa senang ku temani," sa-hut Priyani, cepat.
Empu Lahang Samedi tidak bisa memberi banta-han lagi,
kecuali mengangkat kedua bahunya. Dia ka-lah pandai bicara.
Memang, Priyani bukan jenis gadis yang pandai berbicara.
Tapi bila dibandingkan Empu Lahang Sa-medi, tentu saja gadis itu lebih unggul.
Lingga tidak memberi gambaran perasaan apa-apa melihat
akhir silang pendapat antara Empu Lahang Samedi dengan putrinya. Sejak tadi dia
malah me-nunggu berakhirnya adu pendapat itu dengan pera-saan sabar.
"Sudah selesai urusan kalian?!" tanya Lingga
sete-lah Priyani dan ayahnya tidak bersuara lagi. Nadanya datar dan dingin.
"Kalau memang sudah selesai, seka-rang penuhi janjimu, Lahang!"
Sambil menghela napas berat beberapa kali, Empu Lahang
Samedi mulai memperhatikan Golok Kilat di tangannya. Hanya sebentar saja,
kemudian pandan-gannya dialihkan pada Lingga.
Lingga sendiri sejak tadi memang memperhatikan semua
gerak-gerik Empu Lahang Samedi. Terlihat jelas adanya sorot keingintahuan dalam
pandang mata pe-muda berpakaian merah itu.
"Golok Kilat ini telah kehilangan keistimewaannya. Hal
seperti ini terjadi, karena telah lama tidak diper-gunakan," jelas Empu
Lahang Samedi, satu-satu.
"Aku telah mengetahui hal itu, Empu Lahang,"
sa-hut Lingga, dingin. "Lalu, yang lainnya...?"
Empu Lahang Samedi kelihatan bingung.
"Katakan cepat, Empu! Atau..., kau lebih suka me-lihat
kesabaranku hilang? Begitu?!"
"Untuk memulihkan kembali keistimewaannya, di-butuhkan
polesan yang mempergunakan campuran otak bayi dan darah perawan. Polesan terus
dilakukan sampai khasiatnya muncul. Dan itu bisa diketahui dengan adanya bunyi
guntur di langit!"
Lingga mengangguk-angguk, merasa puas dengan keterangan
yang diberikan. Sekali tangannya diulur-kan, golok yang berada di tangan Empu
Lahang Same-di melayang ke arahnya. Dan dengan enaknya pemuda ini menangkapnya.
"Apakah keterangan yang kuberikan cukup?!" tanya
Empu Lahang Samedi sambil tersenyum pahit.
Di dalam hati, kakek kurus kering ini merasa me-nyesal
telah memberi keterangan itu. Hal ini berarti ancaman maut bagi bayi-bayi dan
perawan-perawan, mengingat Lingga memang berwatak keji!
Lingga hanya mengangguk kaku.
"Berarti urusan antara kita sudah selesai bukan?"
tanya Empu Lahang Samedi, meminta kepastian.
"Siapa bilang?!" kilah Lingga, membuat Empu
La-hang Samedi terlonjak kaget bagai disengat kalajengk-ing. "Urusan kita
tetap ada! Bahkan terhadap nona cantik itu."
Wajah Empu Lahang Samedi berubah. Gigi-giginya
bergemelutuk, menahan geram karena merasa diper-mainkan. Di lain pihak, Priyani
mendelik! Sekujur otot-otot dan urat tubuhnya menegang kembali.
"Kau hendak mengingkari janjimu, Anak Muda?! Apakah
sangsi yang kau tujukan atas dirimu sendiri hanya omong kosong belaka?!
Haruskah aku men-ganggap ucapanmu tak ubahnya salakan seekor anjing
buduk?!"
Lingga mendengus.
"Rupanya kau tidak menyimak ucapanku, Tua Bangka!
Ingat-ingatlah semua ucapanku!"
"Aku bukan bocah kemarin sore yang tidak men-gerti
perkataan orang, Pemuda Sombong! Jelas terden-gar dan tertangkap telingaku, kau
mengatakan akan membebaskan putriku apabila bersedia menuruti
pe-rintahmu!"
"Itu memang benar!" sambung Lingga, cepat
"Lalu, mengapa kau sekarang hendak melanggar janjimu
sendiri?!" desak Empu Lahang Samedi, tanpa menyembunyikan rasa
penasarannya.
"Aku tidak melanggar janjiku, dan tidak akan per-nah!
Putrimu sesuai perjanjian, akan kubebaskan! Hanya saja waktunya tidak sekarang!
Nanti setelah urusanku dengannya selesai, baru dia kulepaskan! Apakah itu
artinya aku melanggar janji?! Tidak bu-kan?! Kau saja yang tidak teliti!"
"Keparat licik! Aku akan mengadu nyawa dengan-mu!
Hiaaat..!"
Empu Lahang Samedi melompat menerjang, dis-usul Priyani di
belakangnya.
"Hih!"
Tapi hanya dua kibasan tangan, Lingga mampu membuat tubuh
Empu Lahang Samedi terjengkang ke belakang. Sedangkan tubuh Priyani tertarik ke
depan.
Tepat ketika tubuh Empu Lahang Samedi memben-tur dinding,
tubuh Priyani terjatuh ke dalam pelukan Lingga. Gadis berpakaian kuning ini
meronta-ronta, namun hasilnya sia-sia belaka.
Rontaan Priyani berhenti ketika tangan Lingga me-nekan
bahunya.
"Chuh!"
Sambil membuang ludah, pemuda berpakaian me-rah itu melesat
meninggalkan tempat ini.
"Penjahat keji! Hendak lari ke mana kau...?! Jan-gan
harap aku akan membiarkanmu bertindak seme-na-mena...!" teriak Empu Lahang
Samedi, terhuyung-huyung ketika bangkit
Empu Lahang Samedi tak mempedulikan kepa-lanya yang masih
pening dan pandangannya yang ma-sih berkunang-kunang. Segera, dikejarnya pemuda
yang menculik putrinya.
Empu Lahang Samedi tak menghentikan pengeja-rannya, kendati
tubuh Lingga semakin mengecil di ke-jauhan. Sambil mengejar, dia memaki-maki
tak ka-ruan.
***
9
"Itulah Gua Iblis, Dewa Arak!"
Seruan bernada pemberitahuan yang diikuti tudin-gan jari
keluar dari mulut Setan Kepala Besi. Saat itu, lelaki berkepala botak itu bersama
Dewa Arak berada berjarak sepuluh tombak dari sebuah tebing berbentuk tengkorak
yang mempunyai sebuah gua yang kelihatan gelap pekat.
Arya harus mengakui kalau nama Gua Iblis tidak terlalu
berlebihan. Sesuai sekali nama dengan kenya-taannya. Di sinikah tempat tinggal
dua kakek penculik Nuri? Begitu batin pemuda ini.
"Apa yang akan kau lakukan, Kek?!" tanya Arya,
ingin tahu.
"Aku akan masuk ke dalam sana. Kau tunggu saja
dulu di sini. Aku ingin mencoba membujuk mereka un-tuk
tidak membawa-bawa Nuri dalam masalah ini. Kau tidak keberatan, Dewa
Arak?!" sahut Setan Kepala Be-si.
Arya tersenyum dan menggeleng. Dalam hati, pe-muda berambut
putih keperakan ini merasa kagum bukan main dengan kemajuan Setan Kepala Besi!
Le-laki ini benar-benar telah berpaling dari jalan sesatnya. Sampai-sampai,
sifatnya demikian berubah. Hanya un-tuk menyuruhnya menunggu, lelaki ini
menanyakan lebih dulu!
"Terima kasih, Dewa Arak! Percayalah, aku tidak akan
lama...!"
Gema suaranya masih terdengar, tapi tubuh Setan Kepala Besi
telah melesat cepat mendekati mulut gua!
Arya memperhatikan hingga Setan Kepala Besi le-nyap di
dalam gua. Ketajaman sepasang telinganya di-kerahkan, agar bisa mendengar
bunyi-bunyi tak wajar dari dalam gua. Apabila itu terjadi, Dewa Arak tidak bisa
tinggal diam lagi. Terpaksa kesepakatan yang di-buatnya bersama Setan Kepala
Besi tadi dilanggar.
Kening Arya berkerut. Keheranan melingkupi ha-tinya, ketika
melihat Setan Kepala Besi keluar dari da-lam gua. Padahal, dia baru saja masuk.
Meski merasa ingin tahu, pemuda berambut putih keperakan
ini tetap diam. Bahkan ketika akhirnya Se-tan Kepala Besi berhenti didekatnya,
Arya tidak men-gajukan pertanyaan sama sekali.
"Benarkah mereka mengatakan tempat ini, Dewa Arak?
Apakah bukan tempat lain?!" tanya Setan Kepala Besi sambil menatap wajah
Arya penuh selidik.
"Aku tidak keliru, Kek. Jelas sekali kutangkap
per-kataannya. Gua Iblis! Apakah saya yang salah?!" Arya ganti bertanya,
meski telah bisa memperkirakan akan
apa yang telah terjadi.
"Gua itu kosong, Dewa Arak! Tidak ada siapa pun di
dalamnya!" sahut Setan Kepala Besi tandas dengan suara kering.
Wajah Arya tidak berubah sungguhpun perasaan kaget yang
luar biasa menyergapnya. Pemuda ini me-mang pandai menguasai perasaan. Sehingga
apa yang bergejolak di hati, tidak terlihat pada wajahnya.
"Mungkinkah mereka sengaja berbohong?!" duga
Arya.
Setan Kepala Besi menggeleng lemah.
"Mereka bukan sejenis orang-orang berwatak se-perti
itu."
Suasana hening. Masing-masing tenggelam dalam alun
pikirannya. Pada wajah Setan Kepala Besi terlihat jelas adanya gambaran
kecemasan.
"Hanya ada dua kemungkinan, Kek," ujar Arya
memecah keheningan. "Pertama, mereka berubah piki-ran. Sedangkan yang
kedua, ada halangan yang meng-hadang mereka. Memang, kedua kemungkinan itu pun
rasanya mustahil. Tapi, tidak ada jawaban lainnya."
Setan Kepala Besi diam. Di lubuk hatinya, harus diakui
kalau kemungkinan yang diberikan Dewa Arak bisa saja terjadi.
"Kurasa rencana mereka berubah, Dewa Arak. Aku tidak
bisa berdiam diri menunggu di sini tanpa adanya kepastian mengenai keadaan
muridku. Aku akan men-cari tahu keadaannya sekarang juga!"
"Boleh aku menyumbang tenaga, Kek?!" tanya Arya,
karena melihat lelaki berkepala botak itu seperti tidak memerlukannya.
"Tentu saja, Dewa Arak! Tapi kurasa, lebih baik ki-ta
berpencar agar kemungkinan untuk menemukannya menjadi lebih besar. Kau boleh
melakukan tindakan
apa saja. Yang penting, Nuri selamat! Aku pergi dulu, Dewa
Arak!"
Arya hanya bisa mengangguk. Namun Setan Kepala Besi tidak
bisa melihatnya, karena telah berada bebe-rapa tombak di depan.
Arya memandangi hingga tubuh Setan Kepala Besi sudah tidak
terlihat lagi. Kemudian, setelah menghela napas berat, tubuhnya berbalik dan
melesat ke arah yang berbeda.
***
Aduhai dunia
Dari dulu sampai sekarang Kau tidak pernah berubah
Selalu bergolak tak pernah tenang Angkara murka merajalela
Hawa maut melingkupi bumi Akankah sang Pendekar Perkasa
Mampu mempertunjukkan gigi
Nyanyian yang didendangkan berirama dengan na-da enak
didengar menyelusup masuk ke dalam telinga Dewa Arak. Tidak keras bunyinya,
tapi pemuda be-rambut putih keperakan ini terkejut bukan main.
Keterkejutan Arya karena bunyi yang tidak keras itu mampu
membuat dadanya bergetar. Setiap kata dalam nyanyian, menimbulkan getaran pada
dada se-bagaimana layaknya jika orang mendengar bunyi be-duk! Kalau bunyi pelan
saja dapat menimbulkan pen-garuh seperti ini, apa pula akibatnya bila bunyi itu
ke-ras?!
Arya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari
biasanya. Pemuda ini yakin pasti pemilik nyanyian
itu memiliki tenaga dalam amat kuat. Dan seketika
pendengarannya dipusatkan untuk bisa mengetahui asal bunyi itu. Tapi walau
telah seluruh kemampuan-nya dikerahkan, yang dapat ditangkap benar-benar ti-dak
masuk akal! Bunyi itu berasal dari atas!
Dewa Arak sadar, pemilik nyanyian itu sengaja mengecoh. Dan
kenyataan ini semakin menambah ke-terkejutannya. Pemuda ini semakin yakin,
pemilik nyanyian itu memiliki tenaga dalam luar biasa kuat. Karena hanya tokoh
yang memiliki kekuatan tenaga dalam sukar diukurlah yang dapat memindahkan
te-naga dalam.
"Mengapa harus menujukan pandangan ke tempat yang
tidak mungkin? Teruskan langkahmu. Dan, tuju-kan pandanganmu ke arah langkah
kakimu. Maka kau akan menemukan apa yang kau cari, Pendekar Muda."
Wajah Arya memerah karena malu mendengar te-guran itu.
Kepalanya memang menengadah untuk me-lihat ke langit. Dia menduga barangkali
pemilik nya-nyian itu menaiki burung. Namun sama sekali tidak disangka kalau
tingkahnya diketahui. Secara membuta Arya mengikuti petunjuk itu yang diyakini
berasal dari mulut yang sama dengan suara nyanyian itu.
Seraya mengayunkan kaki, benak Dewa Arak men-duga-duga
siapa pemilik nyanyian itu. Dia memang merasa telah mengenai Atau,
setidak-tidaknya telah pernah mendengar suara seperti itu. Bukan dalam bentuk
nyanyian, tapi dalam percakapan biasa, seperti teguran yang berisi petunjuk
tadi.
Mendadak saja Arya sampai terjingkat ke belakang, tanpa
sadar ketika menatap lurus ke depan dengan mata terbelalak. Sorot keterkejutan
tampak jelas pada sinar matanya.
Sekitar empat tombak di depan Arya, tampak seso-
sok tubuh kurus terbaring membelakangi. Dan yang membuatnya
kaget bukan main, sosok yang terbung-kus pakaian abu-abu itu berbaring di atas
selembar daun pisang yang kebetulan pohonnya tidak terlalu tinggi.
Untuk kedua kalinya Arya terkejut. Dan dia yakin, sosok itu
memiliki ilmu meringankan tubuh yang de-mikian tinggi, sampai-sampai daun
pisang yang ditidu-rinya tidak melengkung sama sekali! Seakan-akan yang berada
di atasnya hanyalah sehelai daun kering
Dan Arya semakin yakin kalau pernah bertemu, ketika
memperhatikan lebih seksama sosok di atas daun pisang itu. Hanya saja kapan dan
di mana, dia lupa.
Dengan pandang mata tak lepas dari sosok abu-abu itu, Arya
terus melangkah mendekat. Dan ketika jaraknya tinggal tiga tombak lagi...
Tas!
Pelepah daun pisang tempat tubuh sosok abu-abu berada putus
seperti terbabat benda tajam.
Arya terpaksa menghentikan langkahnya ketika melihat
pelepah daun pisang itu melayang membawa sosok abu-abu, ke arahnya.
Seperti memiliki nyawa, daun pisang itu mendarat di tanah
dalam keadaan berdiri mempergunakan ujung pelepahnya.
Hal ini membuat sosok abu-abu yang rebah miring, jadi ikut
berdiri.
"Ki Jaran Sangkar...!" seru Arya gembira, begitu melihat
wajah sosok abu-abu itu.
Arya bisa mengenali setelah sosok itu menghadap-nya.
Sosok abu-abu yang ternyata seorang kakek yang selama ini
dikenal Dewa Arak sebagai Jaran Sangkar,
tersenyum getir.
"Selamat berjumpa lagi, Dewa Arak. Mudah-mudahan saja
kau tidak jemu bertemu denganku," sambut kakek berpakaian abu-abu ini
sambil terse-nyum. Senyum khasnya yang telah amat dikenal Dewa Arak.
"Kau pandai bergurau, Ki. Pantas dalam usia setua ini
kau tetap kelihatan sehat," balas Arya berbasa-basi. "O, ya. Aku
hampir tidak pernah menyangka-nyangka kalau kau pandai bersyair...."
"Sayangnya suaraku jelek. Bukan begitu, Dewa
Arak?!"
"Sama sekali tidak, Ki!" sergah Arya menggeleng.
"Bahkan sebaliknya. Indah. Kalau saja aku tidak men-genalmu lebih dulu,
mungkin kau yang kuanggap se-bagai si Penyair Cengeng...."
"Aku memang orang yang kau maksudkan itu, De-wa
Arak"
Wajah Arya berubah hebat.
"Apakah aku tidak salah dengar, Ki?! Kau....
Mak-sudku..., kau tokoh yang berjuluk si Penyair Cengeng itu?!"
Pemuda berambut putih keperakan ini memang pernah mendengar
tentang tokoh yang berjuluk Pe-nyair Cengeng. Seorang tokoh sakti yang
julukannya lima puluh tahun menjulang tinggi di dunia persilatan. Tokoh
berkepandaian tinggi itu senantiasa menden-dangkan syair-syair sedih, sehingga
dijuluki Penyair Cengeng. Tapi julukannya langsung lenyap begitu saja bagai
ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang tahu, ke mana perginya tokoh aneh itu.
Dan sekarang Jaran Sangkar mengaku kalau dirinya yang berjuluk Penyair Cengeng!
"Benar, Dewa Arak," sahut Jaran Sangkar men-
gangguk. "Akulah tokoh yang kau maksudkan. Karena
merasa tua dan jemu dengan dunia persilatan yang se-lalu berbau darah, aku
mengundurkan diri ke Gunung Jawul. Dan aku menamakan diri sebagai Jaran
Sang-kar yang kau kenal. Masalahnya, aku telah lupa den-gan nama asliku
sendiri...."
Arya diam, karena terlalu kaget mendengar kete-rangan yang
sama sekali tidak disangka-sangka.
"Lalu.... Maksud kedatanganmu ke tempat ini...? Dan,
keberadaanmu yang aneh itu, Ki.... Eh! Bagaima-na aku harus menyebutmu?! Jaran
Sangkar atau Pe-nyair Cengeng?!" tanya Dewa Arak, agak terpatah-patah.
"Aku sebenarnya tidak terlalu mementingkan ma-salah
sebutan, Dewa Arak. Apa pun jadi," jawab si Pe-nyair Cengeng sambil
menghela napas berat "Tapi un-tuk menghilangkan kesan pengecut karena
selama ini aku menyembunyikan julukan, dan juga karena aku mencoba jujur, tidak
hanya padamu, tapi lebih khusus pada diriku sendiri..., lebih baik kau sapa aku
dengan panggilan Penyair Cengeng."
Arya mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Kedatanganku kemari hanya untuk memberitahu-kan mu,
Dewa Arak," tambah Penyair Cengeng. "Se-buah pusaka yang dulu dibuat
seorang pandai besi yang sesat, dan selama ini berada di tangan seorang
pendekar golongan putih, telah jatuh ke tangan seo-rang yang berwatak keji.
Banjir darah kembali akan berlangsung, Dewa Arak. Kau harus mencegahnya!"
"Tentu saja, Penyair Cengeng. Itu sudah merupa-kan
kewajibanku selaku seorang pendekar. Aku akan berusaha mencegah terjadinya
angkara murka di du-nia persilatan. Hanya saja, aku belum jelas dengan
pernyataan yang kau berikan. Bisa lebih diperjelas?!"
tandas Dewa Arak, mantap.
"Begini. Puluhan tahun lalu, seorang pandai besi
membuat sebuah pusaka yang diberinya nama Golok Kilat. Sesuai namanya, golok
itu benar-benar mengeri-kan. Bahan dasar pusaka itu sebenarnya biasa saja.
Namun campurannya, membuat golok itu menjadi sen-jata pusaka yang ampuh! Kau
tahu apa campurannya, Dewa Arak?"
Arya menggeleng.
"Darah wanita yang masih perawan dan otak bayi!"
tandas Penyair Cengeng, setengah mengutuk.
Arya kontan menahan rasa mual mendengarnya. "Golok
Kilat itu," sambung Penyair Cengeng, tak
sabar. "Selama beberapa belas tahun terakhir, berada
di tangan Raja Golok Bertangan Baja. Tapi beberapa waktu yang lalu, seorang
pemuda berpakaian merah dan ikat kepala merah telah merampasnya."
Wajah Arya berubah hebat. Ciri-ciri seperti yang disebutkan
Penyair Cengeng, tidak asing baginya.
Penyair Cengeng melihat perubahan muka pende-kar muda itu.
Dan bibirnya tersenyum dikulum.
"Aku yakin kau mengenal pemuda itu, Dewa Arak.
Bukankah demikian?!" tebak Penyair Cengeng.
"Benar, Penyair Cengeng. Bahkan dia menjadi mu-suh
besarku. Lingga namanya. Kepandaiannya luar bi-asa! Ah! Aku ingat, Lingga
membawa sebuah golok yang kelihatannya ampuh. Tapi..., seingatku tidak ada
pengaruh seperti yang kau maksudkan itu, Penyair Cengeng."
"Itu hanya sementara saja, Dewa Arak," tukas
Pe-nyair Cengeng. "Tak akan lama lagi, Lingga akan mampu membuat golok itu
memiliki keistimewaan se-perti dulu. Dan caranya, adalah dengan campuran se-
perti yang dulu dibuat penciptanya?"
"Maksudmu...?!" tanya Dewa Arak, merasakan
tenggorokannya tercekat.
"Benar," Penyair Cengeng yang bisa menduga arah
jawaban Arya, segera mengangguk. "Golok itu sebentar lagi akan kembali
kedahsyatannya! Dan hingga saat ini tengah memburu bayi-bayi dan
perawan-perawan!"
"Biadab...!" desis Arya penuh perasaan geram.
Ter-dengar bunyi berkerotokan nyaring ketika tenaga da-lam pemuda ini bergerak
dengan sendirinya. "Tak akan kubiarkan dia melakukan kekejian seperti
itu."
"Sudah kuduga, kau akan mengucapkan kata-kata seperti
itu. Selamat bertugas, Dewa Arak!"
Penyair Cengeng mengedipkan sebelah matanya. Kepalanya
digerakkan sedikit. Maka pelepah daun pi-sang itu bergerak naik membawa tubuh
Penyair Cen-geng yang punggungnya seperti menempel dengan daun. Setelah
mencapai ketinggian setengah tombak, pelepah daun itu berbalik sampai mendatar.
Dan den-gan cara yang luar biasa, tubuhnya berhasil dibuat da-lam keadaan duduk
bersila di atas pelepah daun pi-sang.
Meski kagum, Arya tidak merasa kaget lagi. Telah
diketahuinya sendiri kepandaian Penyair Cengeng yang sangat tinggi. Dan dia
tetap tidak kelihatan terkejut, ketika Penyair Cengeng mampu membuat pelepah
daun pisang itu meluncur terbang ke depan setelah mengibaskan tangannya.
"Penyair Cengeng...," gumam Arya pelan sambil
te-rus menatap tubuh kakek yang mengagumkan itu sampai tidak terlihat.
Seperti memberi tanggapan terhadap ucapan Dewa Arak, di
sekitar tempat itu terdengar nyanyian lantang. Tapi, tetap saja tidak mampu
menyembunyikan nada
sedih. Cengeng!
Arya menggeleng-geleng tanpa sadar. Penyair Cen-geng itu
sendiri sudah tidak terlihat lagi batang hi-dungnya. Tapi, nyanyiannya malah
terdengar demikian lantang. Pemuda ini mendengarkannya dengan seksa-ma, karena
merasa tertarik.
Ribuan tempat kujelajahi Ribuan syair ikut menemani Ribuan
penjahat telah kubunuhi
Ribuan mulut si tertindas mensyukuri
***
"Oaa...!"
Tangis bayi berkepanjangan menguak dari sebuah rumah
sederhana yang letaknya agak terpencil dari pe-rumahan penduduk di Desa
Sangiran. Demikian nyar-ing melengking, tanpa terputus-putus.
Seorang wanita muda berusia dua puluh lima ta-hun, sambil
menggendong berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisan bayinya. Tapi hasilnya
sia-sia.
"Barangkali dia ingin tidur, Lastri," kata
seorang le-laki berumur tiga puluh tahun. Wajahnya persegi. Ka-ta-katanya
ditujukan pada wanita yang menggendong bayi. Lelaki ini duduk di dekat wanita
yang tak lain is-trinya, di sebuah bangku panjang.
Di depan kedua orang yang sebenarnya sepasang suami istri
itu, hanya dipisahkan sebuah meja, duduk sepasang muda belia. Seorang pemuda
berkumis tipis, dan seorang gadis bertahi lalat di ujung hidungnya.
Wanita yang menggendong bayi dan bernama Lastri rupanya
bisa menerima saran suaminya. Setelah lebih dulu mengangguk dan memberi
senyuman sebagai
permintaan maaf, dia bangkit dari duduknya dan ber-jalan ke
dalam.
"Ada-ada saja...," ujar lelaki wajah persegi
sambil mengalihkan perhatian pada dua orang muda di de-pannya. "Percakapan
kita jadi tertahan..."
"Hanya tertahan sebentar, Kak Wiryadi. Bukan ma-salah.
Lagi pula, menurut pendapatku, wajar saja bila seorang bayi sering-sering
menangis. Bukankah menu-rut kata orang tua tangisan bayi berarti ada sesuatu
yang diminta?"
Laki-laki berwajah persegi yang dipanggil Wiryadi tertawa
ganda.
"Rupanya kau telah siap untuk menjadi seorang ayah,
Gurit? Kapan hubunganmu dengan Linasih ini diresmikan?!" sambut Wiryadi sambil
tersenyum menggoda.
Wajah pemuda berkumis tipis bernama Gurit, dan gadis
bertahi lalat yang bernama Linasih tampak me-nyemburat merah. Kelihatan jelas
kalau mereka masih risih.
"Kak Wiryadi memang pintar menggoda orang. Lagi pula,
siapa orangnya yang sudi menikah denganku?!" kata Gurit, seraya melirik
Linasih.
Wiryadi batuk-batuk untuk menghilangkan ke-canggungan
akibat gurauannya.
"O, ya. Hampir aku lupa, Gurit."
Wiryadi buru-buru bersuara begitu sebuah bahan pembicaraan
melintas di benaknya. Dia ingin secepat-nya menepis suasana yang tidak nikmat.
"Perlu kau ketahui, anakku itu bukan tergolong bayi
cengeng. Dan andaikata menangis karena ingin tidur, lapar, ataupun buang air,
tangisnya tidak keras. Hm.... Aku menduga ada sesuatu yang aneh di sini,"
sambung Wiryadi, menduga.
Linasih saling berpandangan dengan Gurit. Wajah mereka
mulai cerah kembali. Sebuah pertanda kalau kata-kata Wiryadi, berhasil mengusir
kecanggungan. Malah wajah Linasih kelihatan amat sungguh-sungguh.
"Kalau benar demikian..., berarti ada hal aneh di
sini, Kak Wiryadi...," kata Linasih agak ragu-ragu men-gutarakannya.
***
10
Wiryadi terdiam. Tapi nyata kalau perkataan Lina-sih sangat
dipikirkannya. Dia mengerti maksud gadis itu. Tangis anaknya merupakan firasat
akan adanya sesuatu yang akan terjadi. Bayi memang memiliki ba-tin yang masih
bersih, sehingga mempunyai perasaan tajam. Bukan tidak mungkin kalau bayi akan
mampu membaui adanya bahaya yang mengancam.
Sementara Gurit merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Ucapan Linasih dan sikap Wiryadi, mem-buatnya merasa tegang. Semua itu ditambah
masih terdengarnya tangisan bayi. Tangis yang melengking keras dan panjang.
Sedangkan suara-suara Lastri yang berusaha meredakan tangis si jabang bayi jadi
tengge-lam.
Suasana jadi terasa menyeramkan, penuh ketegan-gan.
"Ha ha ha...!"
Tawa Wiryadi yang dikeluarkan secara tiba-tiba, membuat
Linasih dan Gurit terlonjak kaget bukan main. Tapi hanya sebentar, karena
mereka segera bisa
menekan perasaan itu. Dengan pandangan heran, ke-duanya
menatap Wiryadi.
"Mengapa kita jadi seperti sekumpulan bocah
pen-gecut?! Andaikata firasat bayi itu benar, apa yang ha-rus ditakuti?!"
kata Wiryadi mantap.
Linasih dan Gurit saling berpandangan, lantas ter-senyum.
Ucapan Wiryadi membuat mereka ingat kalau ketakutan itu hampir tidak beralasan.
Karena mereka bukan orang-orang lemah! Masing-masing memiliki kepandaian
tinggi. Jika benar ada bahaya mengancam, mungkinkah mereka bertiga tidak mampu
mengha-launya?!
"Apa yang kau katakan itu benar, Kak Wiryadi. Kita di
sini bertiga. Belum terhitung Lastri, istrimu. Siapa yang akan berani mati
mengacau?!" sahut Gurit.
Wajah Gurit yang penuh ketegangan dan pucat te-lah
mengendur. Keberaniannya telah muncul kembali. Di akhir ucapan, kepalan tangan
kanannya kontan se-cara keras.
Dan baru saja salah seorang hendak bicara lagi,
mendadak....
"Omongan kosong tanpa bukti sama sekali...!"
Tiba-tiba terdengar suara melecehkan, membuat Wiryadi,
Gurit, dan Linasih terkejut bukan main.
Serentak ketiga orang itu menengok berbareng, dengan arah
berlainan. Suara yang terdengar dan sea-kan berasal dari delapan penjuru mata
angin, mem-buat mereka semuanya kebingungan.
"Siapa kau...?! Kalau bukan pengecut, cepat mun-culkan
wujud mu! Hadapilah kami secara jantan. Dan, jangan bermain gelap-gelapan
Seperti itu!" seru Wirya-di keras, seraya bangkit dari kursinya.
Gurit dan Linasih segera menyadari kalau orang yang tadi
menyahuti percakapan mereka memiliki ke-
mampuan tinggi. Tanpa pikir panjang lagi mereka telah siap
mencabut golok yang terselip di pinggang.
"Hmh...!"
Suara tanpa wujud itu memberi sambutan berupa dengusan
bernada mengejek.
Tapi, ternyata dengusan itu membuat Wiryadi dan kedua
tamunya terhuyung-huyung ke belakang. Seke-tika tangan kanan masing-masing
mendekap dada yang terasa seperti ditumbuk kerbau liar. Sakit bukan main.
Terdengar suara Wiryadi dan kedua tamunya lang-sung merasa
gentar. Dengan dengusan saja, sudah mampu membuat mereka terjajar. Bagaimana
pula ka-lau serangan yang dilancarkan?!
"Kalian ingin aku menampakkan diri?! Baik! Kein-ginan
kalian ku penuhi!"
Kali ini tidak ada sedikit pun pengaruh atas Wirya-di,
Gurit, dan Linasih. Rupanya pemilik suara tanpa wujud itu, tidak lagi
melancarkan serangan dengan mempergunakan suara.
Krittt...!
Bunyi bergerit pintu, membuat pandangan Wiryadi dan kedua
tamunya diarahkan ke sana. Dan mata me-reka pun terbelalak ketika melihat pintu
tidak terbuka ke samping, tapi terbuka ke atas. Seakan-akan engsel daun pintu
ada di atas.
Begitu pintu bergerak membuka perlahan-lahan, meluncur
sesosok tubuh kekar milik seorang pemuda berpakaian merah dalam keadaan duduk
bersila. Wa-jahnya dingin, menyiratkan kebengisan. Siapa lagi ka-lau bukan
Lingga!
Kembali Wiryadi dan dua tamunya terkejut! Tubuh Lingga
dalam keadaan duduk bersila, meluncur berja-rak satu tombak dari lantai dengan
kedua tangan dili-
pat di depan dada.
Begitu tubuh Lingga melewati ambang pintu, baru daun pintu
itu bergerak menutup. Pelan-pelan seperti digerakkan tangan kasatmata.
"Sekarang aku telah berada di depan kalian. Nah! Lakukanlah
apa yang kalian kehendaki!" tantang Ling-ga, setelah berdiri tegak di
lantai.
"Kami bukan orang-orang yang gemar mencari urusan,
Sobat!" sambut Wiryadi, tenang. Walaupun jantungnya berdetak jauh lebih
cepat dari sebelumnya. Malah, dia khawatir kalau-kalau Lingga mendengar-nya.
"Hm..., jadi bagaimana maksudmu...?!" desis
Ling-ga, dingin. Nadanya memandang remeh sekali.
Sikap Lingga membuat wajah Gurit dan Linasih merah padam.
Mereka merasa marah bukan main. Ka-lau saja tidak ingat Wiryadi yang lebih berhak
bersikap terhadap tamunya yang tidak diundang, mungkin me-reka telah
menerjangnya.
Wiryadi pun terbangkit amarahnya, tapi tetap men-coba
menahan diri. Disadari, tidak ada gunanya menu-ruti kemarahan semata. Selama
jalan kekerasan belum terlalu mendesak, tak akan digunakannya.
"Maksudku begini, Sobat! Kalau kau tidak bermak-sud
menimbulkan keributan di sini, tentu saja kami ti-dak akan bertindak aneh.
Sebaliknya dengan kedua tangan terbuka, kau kuterima sebagai tamu
istimewa," jelas Wiryadi sambil mengembangkan senyum di akhir ucapannya.
Cuhhh! Jleb!
Lingga meludah dengan sikap kasar, membuat lan-tai langsung
amblas. Gurit, Linasih, dan terutama Wi-ryadi, melihat. Tapi kemarahan yang
hebat membuat
pamer kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi itu tidak sempat
diperhatikan.
Wiryadi menggertakkan gigi.
"Rupanya kedatanganmu kemari hanya untuk mencari
keributan, Sobat! Kalau itu maumu, dengan senang hati akan ku penuhi. Aku,
Wiryadi, tidak akan sudi dihina demikian. Majulah kau...!"
Lingga tersenyum dingin, tidak kelihatan marah atau
tersinggung. Hanya saja sepasang matanya seper-ti mengeluarkan sinar berapi.
"Aku tidak ingin membuat keributan di sini, Wirya-di.
Bahkan kedatanganku dengan niat baik. Kalau saja kau mau memenuhi permintaanku,
dengan tenang aku akan pergi, setelah memberi tanda mata pada kau dan
dia!" tuding Lingga pada Gurit.
Gurit sampai melangkah maju karena geram meli-hat tudingan
terhadapnya yang jelas merendahkannya! Tapi langkahnya terhenti, ketika Wiryadi
memberi isya-rat padanya untuk menahan sabar.
"Katakan permintaanmu, Sobat. Kalau saja bisa, pasti
akan kuberikan," ujar Wiryadi yang lebih suka ti-dak terjadi keributan.
Suaranya lebih lunak dari sebe-lumnya.
"Tidak banyak," jawab Lingga dengan senyum
din-gin, menyiratkan kekejian. "Aku hanya minta otak anakmu. Dan, gadis
itu ikut denganku. Aku yakin, tu-buhnya yang hangat akan membuat malam-malam
yang dingin tidak terlalu menyiksaku lagi."
"Keparat!" bentak Wiryadi keras.
Amarah lelaki ini langsung meluap. Disadari kalau Lingga
memang memperhatikannya. Berbareng benta-kannya, dia melompat menerjang dengan
pukulan ka-nan kiri bertubi-tubi.
Buk! Buk!
"Aaakh...!"
Bunyi keras terdengar dua kali, ketika kepalan Wi-ryadi
tepat mendarat di sasarannya, karena Lingga ti-dak mengelak sama sekali.
Akibatnya, justru Wiryadi yang memekik. Pekikan kaget dan ngeri.
***
Gurit Dan Linasih menatap terbelalak, antara he-ran dan
ngeri. Semula sepasang kekasih ini mengira Lingga yang mengeluarkan jeritan.
Tapi sama sekali ti-dak disangka kalau1 Wiryadilah yang menjerit-jerit.
Tampak Wiryadi meronta-ronta seperti hendak me-lepaskan
diri. Tapi, kedua tangannya seakan telah me-lekat dengan tubuh Lingga.
Wiryadi tampak terkesiap bukan main. Lelaki ini merasakan
tenaga dalamnya membanjir ke arah Lingga tanpa bisa dicegahnya sama sekali.
Hanya dalam waktu sebentar saja, Wiryadi merasa lemas. Dan
kalau dibiarkan terus, dia akan mati lemas kehabisan tenaga.
Gurit dan Linasih bisa memperkirakan, apa yang tengah
terjadi terhadap Wiryadi yang semakin lemas. Kedua kakinya telah menggigil
hebat. Dan mereka ti-dak mau membiarkan Wiryadi mati lemas.
Hampir berbareng, Gurit dan Linasih mencabut pedang yang
tersampir di punggung.
Sring! Sring!
Mereka langsung melompat dan mengayunkan sen-jata ke arah
Lingga. Dalam kecemasan melihat kesela-matan Wiryadi terancam sampai terlupakan
kalau tin-dakan mereka tidak layak sebagaimana orang-orang golongan putih.
Tak, takkk!
Pedang Gurit tepat menghantam batang leher Ling-ga.
Sedangkan ujung pedang Linasih menghujam ulu hati. Tapi kedua senjata pusaka
itu tidak mampu me-lukai Lingga sedikit pun. Seakan-akan tubuh Lingga terdiri
dari batu karang!
Tidak hanya itu saja. Kejadian yang menimpa Wi-ryadi pun
terjadi pula pada Gurit dan Linasih. Pedang mereka menempel di tubuh Lingga.
Betapapun seluruh tenaga dalam dikerahkan, usaha mereka tidak berhasil untuk
melepaskan pedang.
Sementara, Lingga tenang-tenang saja. Tidak terli-hat
sedikit pun tanda-tanda kalau mengerahkan tena-ga dalam. Wajahnya pun dihiasi
senyum ejekan penuh hawa maut ,
"Menyingkirlah kalian...!"
Lingga menggerakkan tubuhnya sedemikian rupa, seperti ayam
membersihkan tubuh sehabis bermandi abu. Akibatnya, tubuh Wiryadi, Linasih, dan
Gurit, terpental ke belakang seperti daun-daun kering diter-bangkan angin.
Brak! Brak! Brak!
Luncuran tubuh mereka baru berhenti ketika me-nabrak
dinding ruangan. Linasih, Gurit, dan Wiryadi menyeringai kesakitan. Tidak hanya
nyeri dan linu yang dirasakan, tapi juga lemas yang amat. Seluruh urat-urat
mereka seakan dilolosi.
Lingga tidak mempedulikan tiga pengeroyoknya sama sekali.
Kini kakinya terayun menuju sebuah ruangan lain yang digunakan Lastri untuk
mendiam-kan bayinya.
Sementara tangis bayi itu tetap terdengar semakin keras.
Apalagi ketika Lingga mengayunkan kaki menu-ju ke sana. Rupanya naluri sang
jabang bayi yang ma-sih suci membisikkan adanya ancaman.
Wiryadi bukannya hendak mendiamkan saja. Tapi dia sudah
tidak berdaya lagi. Seluruh tenaganya telah lenyap. Memang dialah yang paling
parah menderita serangan Lingga.
Meskipun demikian, kekhawatiran yang amat san-gat akan
keselamatan bayinya, membuat Wiryadi men-dapat tenaga bantuan entah dari mana.
Dia yang tadi tidak mampu berkutik sedikit pun, sekarang mampu berdiri. Bahkan,
mampu menerjang Lingga.
"Lastri...! Cepat tinggalkan tempat ini...!
Pergi...!" seru Wiryadi ketika tubuhnya melayang menerjang Lingga.
Lingga yang mengetahui akan adanya serangan da-ri belakang,
tidak mempedulikannya sama sekali. Baru ketika serangan telah menyambar dekat,
tanpa mem-balikkan tubuh sedikit pun tangan kirinya mengibas!
Plak! Brak!
Untuk yang kedua kalinya, tubuh Wiryadi terhem-pas ke
belakang. Kali ini lebih keras dari sebelumnya dan menabrak dinding!
Tapi, Wiryadi benar-benar tidak mempedulikan keadaan
dirinya. Begitu tubuhnya menyentuh lantai, dia berusaha menghalangi Lingga.
Keadaannya yang tidak memungkinkan, membuatnya merayap seperti ular.
Gurit dan Linasih hanya bisa menatap tingkah Wi-ryadi
dengan hati trenyuh. Mereka tidak mempunyai daya sedikit pun untuk memberikan
pertolongan.
Keadaan mereka sendiri pun, belum tentu aman dari bahaya.
Terutama sekali Linasih!
Sementara itu, teriakan Wiryadi memang terdengar Lastri di
dalam kamar. Sejak tadi pun, wanita itu men-dengar akan adanya keributan.
Bahkan sejak terja-
dinya ribut-ribut mulut. Hanya saja, dia tidak
mempe-dulikannya. Pikirnya, suaminya ada. Itu pun ditambah Linasih dan Gurit.
Dan mereka juga tak kalah lihai. Jadi apa lagi yang dikhawatirkan? Lastri pun
meneng-gelamkan diri dengan urusan pada bayinya.
Ibu muda ini baru terkejut ketika mendengar se-ruan
suaminya yang sarat kekhawatiran. Sambil menggendong tubuh bayinya yang masih
menangis ke-ras, Lastri berlari keluar kamar.
"Ohhh...?!"
Tapi langkah Lastri langsung terhenti di ambang pintu,
ketika di depannya telah berdiri Lingga yang pe-nuh ancaman. Lastri berdiri
terpaku dengan wajah pu-cat. Apalagi ketika melihat suaminya, Gurit, dan
Lina-sih tergolek tanpa daya. Lastri tahu ketiga orang itu te-lah dikalahkan
pemuda di depannya.
"Berikan bayi itu padaku," perintah Lingga,
berin-gas sambil mengulurkan tangan seperti orang memin-ta.
Bukannya memenuhi permintaan itu, Lastri malah
mundur-mundur dengan wajah pucat sambil tetap memegangi bayinya. Melihat ini,
Lingga jadi kehabisan sabar. Wajahnya berubah, bengis penuh hawa maut.
Tangan Lingga yang terjulur, digerakkan secara. ti-ba-tiba
dengan gerakan menarik.
"Auuuw...!"
Lastri menjerit ketika bayi di tangannya seperti di-tarik
tangan raksasa kasatmata. Bayi itu kontan terle-pas dari pelukannya dan
melayang ke arah Lingga!
"Kembalikan, Anakku...!" jerit Lastri kalap
sambil menghambur ke arah Lingga dengan kedua tangan terkembang, siap menerima
bayinya kembali.
"Hih...!"
Lingga mendengus sambil mengibaskan tangan ki-
rinya. Buk!
Tubuh Lastri melayang ke atas dan menempel lan-git-langit
kamar. Dan sekali lagi tangan pemuda keji ini bergerak. Maka tiga batang pedang
yang tergeletak di lantai melayang ke arah tangan kiri Lingga.
Dengan tangan kanan telah memegang bayi secara sembarangan,
Lingga meniup tiga batang pedang itu.
"Phuh...!"
Bagai dilemparkan tangan terlatih, pedang-pedang itu
melayang ke atas dan menancap di tubuh Lastri.
Crap! Crap! Crap! "Aaakh...!"
Lastri memekik tertahan. Sedangkan Wiryadi me-maki-maki
Lingga dengan keras, setelah terlebih dulu meratap-ratap memanggil istrinya
yang malang itu.
Lastri menggelepar sejenak, kemudian diam untuk selamanya.
Darah pun mengucur ke bawah dengan de-ras.
Lingga tidak mempedulikan Lastri lagi. Dia malah masuk ke
ruangan dalam. Namun baru beberapa lang-kah…
Ribuan tempat telah kujelajahi Ribuan syair ikut menemani
Ribuan penjahat telah kubunuhi
Ribuan mulut si tertindas mensyukuri
Tiba-tiba terdengar bunyi syair yang dikeluarkan dengan
penuh perasaan sedih dan meratap-ratap itu. Seketika suasana terobek. Semua
kepala menoleh ke arah daun pintu, karena asal suara dari sana.
"Penyair Cengeng...!" desis Wiryadi. Ada harapan
membayang pada sepasang matanya yang berselaput duka tebal.
Benarkah Penyair Cengeng yang datang? Benarkah Linasih akan
lolos dari kekejian Lingga?
SELESAI
No comments:
Post a Comment