PEMBANTAI DARI MONGOL
1
Kereta itu kecil namun indah,
bahkan terkesan mewah. Dua ekor kuda yang menarik kereta berjalan dengan
lambatnya. Rupanya, tali kendali dilepaskan oleh kusir kereta yang sekaligus
penumpangnya.
Sang kusir kereta itu seorang pemuda
berpe-nampilan rapi. Ia mengenakan pakaian yang mewah dan indah. Wajahnya
tampan dengan kulit putih ke-merahan. Pemuda itu tampak seperti seorang wanita!
Pemuda berpakaian mewah itu duduk seenaknya di atas kereta sambil meniup suling
yang tergenggam dengan kedua tangan. Terdengar alunan nada-nada indah yang enak
didengar.
Paduan bunyi langkah kaki kuda,
derit roda ke-reta, dan bunyi suling mengiringi perjalanan kereta kuda memasuki
sebuah desa. Beberapa orang yang kebetulan berpapasan meluangkan waktu untuk
meli-hat kusir kereta itu.
Pemuda berpakaian mewah itu baru
menghen-tikan permainan sulingnya ketika telah berada di de-pan sebuah rumah
makan. Suling segera diselipkan di pinggang yang dilingkari sehelai sabuk lebar
yang ter-buat dari benang keemasan. Ditariknya tali kekang kuda untuk
menghentikan laju kereta.
Setelah menambatkan kudanya pada
sebatang pohon yang berada di dekat tempat itu dan membiar-kan kudanya
merumput, pemuda berpakaian mewah itu mengayunkan kaki memasuki rumah makan.
Den-gan dada membusung, pemuda itu menghampiri se-buah meja bundar yang
terlihat masih kosong. Terlebih dulu ia mengedarkan pandangan ke sekeliling
kedai yang cukup ramai dipenuhi pengunjung.
Seorang lelaki berkulit hitam
dengan tergopoh-
gopoh menghampiri pemuda berpakaian
mewah itu. "Mau pesan apa, Tuan?" tanya lelaki berkulit hitam yang
adalah pelayan rumah makan
"Bawa kemari semua masakan
yang paling enak dan paling mahal!" tandas pemuda berpakaian mewah angkuh.
Lalu, tanpa mempedulikan pelayan yang mengangguk mengiyakan, pemuda itu
mengambil sebatang cangklong dari selipan pinggangnya.
Pemuda berpakaian mewah tidak
menoleh keti-ka pelayan kedai membalikkan tubuh untuk me-nyiapkan pesanannya.
Dia sibuk dengan cangklong yang telah diselipkan di celah-celah bibirnya. Ujung
cangklong yang berbentuk seperti mangkok kecil dima-sukkan racikan-racikan
tembakau. Dengan sepasang batu api, dinyalakannya cangklong itu. Sesaat
kemu-dian tercium bau semerbak yang aneh dan keras. Bau itu memenuhi rumah
makan.
"Aku yakin kau yang akan
menjadi pemenang dalam pertandingan nanti, Ketua. Bukankah demikian,
Baroksa?"
Terdengar percakapan dari meja di
sebelah kiri pemuda berpakaian mewah. Terlihat riak pada wajah pemuda itu.
Rupanya, percakapan yang didengarnya cukup menarik perhatiannya. Bahkan, meski
wajah-nya tertuju ke depan, ekor matanya melirik ke arah meja tempat percakapan
itu berasal.
"Benar, Ketua."
Orang yang dipanggil Baroksa
mengangguk. Di sebelah Baroksa duduk seorang laki-laki bertubuh ku-rus
jangkung. Sedangkan di depannya, duduk seorang lelaki kekar berkumis melintang.
Ketiga orang ini men-gelilingi sebuah meja bundar yang dipenuhi makanan dan
minuman.
"Kalian terlalu menganggap
remeh orang lain." lelaki berkumis melintang yang dipanggil ketua, me-
nanggapi dengan suara berat dan
berwibawa. "Orang-orang pandai di dunia ini terlampau banyak. Seperti Raja
Racun Sakti di utara dan Raja Sihir Penyebar Maut di selatan. Dua tokoh tingkat
tinggi itu tak akan mungkin bisa ku tandingi."
"Apa yang Ketua katakan
memang tidak salah. Di samping utara, Raja Racun Sakti pun menguasai barat.
Sedangkan wilayah timur juga dikuasai Raja Si-hir Penyebar Maut, di samping
daerah selatan yang memang menjadi tempat tinggalnya. Tapi, bukankah kedua
datuk itu telah mengundurkan diri karena telah berusia lanjut? Mereka sudah
bukan merupakan la-wan lagi?" Baroksa mengajukan bantahan. Tapi, terasa
betul sikap hati-hatinya.
Lelaki tinggi kurus yang menjadi
kawan Barok-sa mengangguk, mendukung ucapan rekannya. Malah, dengan sikap
bangga dia menambahkan.
"Siapa sih yang tidak
mengenal kita, Ketua? Perkumpulan kita, Perkumpulan Iblis Merah, amat terkenal
di dunia persilatan. Disegani kawan dan dita-kuti lawan. Jangankan Ketua, kami
berdua atau bah-kan salah seorang di antara kami jika maju, tokoh-tokoh persilatan
akan mundur teratur. Mereka akan berpikir beberapa kali sebelum maju menandingi
kami" Lelaki tinggi kurus mengucapkannya dengan
suara lantang sambil berdiri dan
membusungkan da-da. Tapi karena dadanya memang tidak berdaging, tingkahnya jadi
kelihatan menggelikan. Meski demi-kian, tidak mengurangi kadar kesombongan yang
ter-kandung dalam ucapan dan sikapnya.
Ketua Perkumpulan Iblis Merah
tersenyum le-bar. Kesombongannya bangkit melihat sikap yang di-tunjukkan anak
buahnya. Sepasang matanya diedar-kan ke sekeliling ruangan kedai.
Diperhatikannya orang-orang yang berada di ruangan itu. Sinar ma-
tanya seperti mengajukan
tantangan. "Pelayan...!"
Pemuda berpakaian mewah
melambaikan tan-gan. Di saat pelayan kedai tergopoh-gopoh mengham-piri, pemuda
itu mengeluarkan sapu tangan indah pe-nuh sulaman dari bagian dalam bajunya.
Diperguna-kannya sapu tangan itu untuk menyeka mulutnya yang agak berminyak.
Rupanya, ia telah selesai dengan makannya. Memang, di saat pemuda itu
mendengar-kan pembicaraan orang-orang Perguruan Iblis Merah makanan telah siap
dihidangkan di meja. Pemuda ber-pakaian mewah itu menyantap hidangannya sambil
mendengarkan. Makanan yang dipesannya banyak, ta-pi tidak dihabiskan. Sebagian
besar hanya dicicipinya.
"Ada apa, Tuan?" tanya
pelayan kedai seraya membungkuk hormat.
Tingkah pemuda berpakaian mewah
dan pe-layan kedai sempat dilihat oleh para pengunjung yang menikmati hidangan
di meja masing-masing. Teriakan pemuda berpakaian mewah yang cukup lantang tadi
membuat mereka mengalihkan perhatian. Tidak terke-cuali orang-orang Perkumpulan
Iblis Merah. Bahkan, alis Ketua Perkumpulan Iblis Merah berkerut. Ia mera-sa
seruan lantang pemuda berpakaian mewah itu dike-luarkan untuk menimpali seruan
anak buahnya tadi.
Pemuda berpakaian mewah tidak
segera mem-berikan jawaban. Dengan sikap tenang dan penuh keangkuhan,
diselipkannya cangklong yang tadi dile-takkan di meja ke dalam mulutnya.
Kemudian, dinya-lakan dan menyedotkannya dalam-dalam. Ia menge-pulkan asapnya
pada sisa makanan yang berada di atas meja.
"Berikan sisa makanan ini
pada orang-orang kurang makan di depan sana!" ujar pemuda berpa-kaian
mewah dengan angkuh.
"Baik, Tuan!" Pelayan
kedai mengangguk dan segera merapikan makanan di atas meja. Dibawanya makanan
itu keluar untuk diberikan pada para pen-gemis yang berkerumun di luar kedai.
***
"Besar lagak...!"
Lelaki tinggi kurus yang men-jadi kawan Baroksa mendengus gemas. Rupanya, dia
merasa jengkel melihat tingkah pemuda berpakaian mewah yang angkuh. "Ingin
rasanya kuhajar dia agar berkurang sombongnya!"
"Kau jangan bersikap
sembarangan, Tangkaran. Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia pasti mempunyai
kepandaian yang cukup hingga berani ber-tindak seperti itu," ujar lelaki
berkumis melintang.
Ucapan itu bagaikan minyak
menyambar api. Lelaki tinggi kurus yang bernama Tangkaran semakin merasa tidak
senang. Ucapan ketuanya tidak hanya membuatnya kesal karena seakan-akan
memberikan pembelaan terhadap pemuda berpakaian mewah, tapi juga seperti
memukulnya! Tangkaran merasakan ketu-anya meragukan kepandaiannya.
Tangkaran bangkit dari kursinya
dengan wajah merah padam.
"Biar aku yang akan
menghentikan sikap som-bongnya, Ketua! Pemuda tidak tahu aturan itu kalau tidak
diberi pelajaran akan besar kepala dan mengang-gap di dunia ini hanya dia yang
memiliki kepandaian!"
Lelaki berkumis melintang tidak
memberikan tanggapan sama sekali. Bahkan, seperti tidak menden-gar ucapan
Tangkaran. Dengan tenang dia menikmati makanannya. Sikap lelaki berkumis
melintang itu di-anggap oleh Tangkaran sebagai tanda perkenan atas tindakan
yang akan dilakukannya. Maka, dengan
langkah lebar, kakinya diayunkan
menuju meja pemu-da berpakaian mewah.
"Sungguh tidak kusangka
kalau di rumah ma-kan seperti ini ada seekor anjing merah kurus kering yang
suka menyalak!"
Ucapan yang cukup keras dan
lantang itu ke-luar dari mulut pemuda berpakaian mewah. Dia men-gucapkannya
setelah menghembuskan asap dari mu-lutnya. Kelihatannya, ucapan itu tak tertuju
jelas pada siapa. Tapi Tangkaran merasakan dadanya seperti hendak meledak. Dia
tahu ucapan pemuda itu dituju-kan padanya.
"Pemuda sombong! Berani kau
menghinaku? Rupanya, kau ingin merasakan kehebatan orang-orang Perkumpulan
Iblis Merah!" teriak Tangkaran dengan suara menggelegar ketika telah
berada di depan pemu-da berpakaian mewah, yang masih enak-enakan du-duk di
kursinya bermain dengan asap tembakau. Bah-kan, seperti tidak mempedulikan
Tangkaran yang telah berdiri di depannya dan hanya terpisah oleh meja bundar.
"Menyingkirlah dari depanku
dan berhentilah menyalak, Anjing Kurus!" sentak pemuda berpakaian mewah.
Ditudingnya Tangkaran dengan cangklongnya. "Kalau tidak, aku akan
memukulmu hingga kau ter-kaing-kaing pergi dari sini sambil menggulung ekor
mu!"
"Keparat!"
Perkataan pemuda berpakaian mewah
yang te-rakhir membuat Tangkaran tidak bisa menahan sabar lagi. Dengan sepasang
mata membelalak lebar seperti hendak melompat keluar dari rongganya, dia
membuka serangan dengan sebuah pukulan keras ke arah wajah pemuda berpakaian
mewah. Dalam kemarahannya, Tangkaran mengerahkan seluruh tenaga dan kecepa-
tannya. Terdengar bunyi berdesing
ketika tangannya yang kurus meluncur datang.
Sudah terbayang dalam benak
Tangkaran kepa-la pemuda yang sombong dan besar mulut ini akan hancur
berantakan. Karena, jangankan kepala manu-sia, batu karang yang paling keras
pun akan hancur terhantam tangannya.
Wukkk!
Dugaan Tangkaran ternyata tidak
sesuai den-gan kenyataan. Pukulannya mengenai tempat kosong. Pemuda berpakaian
mewah itu sudah tidak berada di tempatnya. Padahal, dia tidak kelihatan
bergerak atau melakukan tindakan apa pun. Tapi, tubuhnya berikut kursi yang
didudukinya bergeser jauh ke belakang se-perti memiliki roda. Bunyi berkerit
tajam mengiringi bergesernya kursi.
Amarah Tangkaran semakin
berkobar. Dengan tangan kirinya, didorongnya meja bundar yang berada di
depannya. Meja itu pun meluncur ke arah pemuda berpakaian mewah yang
enak-enakan duduk di kur-sinya sambil mengisap cangklong.
Semua pasang mata pengunjung
kedai, tak ter-kecuali lelaki berkumis melintang dan Baroksa, mulai tertarik
untuk menyaksikan keributan kecil ini. Mere-ka ingin tahu bagaimana caranya
pemuda berpakaian mewah itu meloloskan diri dari luncuran meja.
Sedikit lagi meja bundar itu
menghantam pe-muda berpakaian mewah, tiba-tiba pemuda itu bersa-ma dengan
kursinya terangkat tinggi ke atas! Meja itu pun meluncur di bawah keempat kaki
kursi yang di-duduki pemuda berpakaian mewah! Padahal, pemuda itu hanya
menjejakkan kaki kanannya pelan ke lantai. Tapi, tindakan itu mampu mengangkat
tubuh dan kursinya melayang ke atas setinggi hampir tiga tom-bak!
Yang lebih mengherankan Tangkaran
dan ham-pir semua pengunjung kedai adalah ketika kursi yang diduduki pemuda
berpakaian mewah itu mampu hing-gap di atas meja tanpa menimbulkan bunyi
berarti. Bagaikan sehelai daun kering mendarat di tanah! Pe-muda itu sendiri
dengan sikap tidak peduli enak-enakan bermain dengan asap cangklongnya.
Tindakan pemuda ini lagi-lagi
membuat para pengunjung membelalakkan mata. Bahaya yang men-gancam pemuda itu
belum lagi sirna. Meja itu masih meluncur. Bahkan kini dengan membawahi pemuda
berpakaian mewah bersama kursinya, meja itu melun-cur menuju meja-meja para
pengunjung, yang berada di belakang meja pemuda berpakaian mewah.
Pengunjung yang berada di
belakang dan kha-watir tertabrak meja yang meluncur cepat itu bergegas
meninggalkan tempat mereka. Ketika meja itu mena-brak meja yang ada di
belakangnya terdengar bunyi berderit tajam. Lantai kedai tergurat se-dalam
bebera-pa jari sepanjang luncuran itu. Keempat kaki meja tampak amblas sedalam
beberapa jari di lantai!
Sekujur tubuh Tangkaran bergetar
hebat kare-na perasaan geram. Dia merasa dipermainkan! Apalagi, ketika
dilihatnya pemuda berpakaian mewah itu masih dengan tenang mengisap
cangklongnya.
***
"Tangkaran! Mundur...!"
Lelaki berkumis melintang yang
sejak tadi memperhatikan peristiwa itu memerintahkan dengan suara keras. Ketua
Perkumpulan Iblis Merah ini tahu pemuda berpakaian mewah itu terlalu tangguh
untuk muridnya. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diingin-kan, lelaki berkumis
melintang segera mencegah.
Ketua Perkumpulan Iblis Merah ini
tahu calon lawannya memiliki ilmu meringankan tubuh dan tena-ga dalam yang
sangat tinggi. Pemuda berpakaian me-wah itu telah mengerahkan ilmu meringankan
tubuh untuk mengangkat kursinya. Dan, untuk menghenti-kan luncuran meja ia
harus mengerahkan tenaga da-lamnya.
Seruan lelaki berkumis melintang
terdengar je-las oleh Tangkaran. Meski-masih merasa penasaran, lelaki tinggi
kurus ini tidak berani membantah. Setelah melepaskan pandangan penuh ancaman
dan sikap terpaksa, Tangkaran membalikkan tubuhnya.
"Anjing merah yang kurus dan
buduk hendak pergi begitu saja setelah membuang kotorannya yang busuk dekat
seorang tuan muda? Rasanya tidak adil kalau tuan muda itu tidak memberikan
balasan yang setimpal."
Tangkaran bergegas membalikkan
tubuhnya kembali. Ia khawatir pemuda berpakaian mewah itu menyerangnya secara
gelap. Kemarahan yang belum sirna dari hatinya semakin membesar.
Tapi, pemuda berpakaian mewah
tidak me-nampakkan tanda-tanda akan menyerang. Dengan te-nang pemuda itu menyelipkan
cangklongnya ke ping-gang, setelah membuang sisa-sisa tembakau. Kemu-dian,
diambilnya suling dan diselipkan di bibirnya.
Tangkaran mengerutkan sepasang
alisnya. Ia heran melihat tingkah pemuda itu. Apakah ia hendak bermain suling?
Bukankah katanya hendak memberi-kan pembalasan setimpal atas tindakannya?
Perasaan heran juga membelit hati
para pen-gunjung lainnya. Mereka semula sudah memperkira-kan pemuda berpakaian
mewah itu akan menghukum Tangkaran. Maka, hati mereka pun kecewa ketika
me-lihat pemuda itu malah hendak bermain suling.
"Pemuda itu sudah
gila," pikir para pengunjung yang sebagian besar tokoh-tokoh persilatan.
"Ini sih bukannya menghukum tapi menghibur."
Namun lelaki berkumis melintang
tidak sepen-dapat dengan mereka. Wajah Ketua Perkumpulan Iblis Merah ini
berubah ketika melihat tindakan pemuda berpakaian mewah. "Menyingkir,
Tangkaran!" seru le-laki itu keras. Sekali kaki lelaki empat puluh lima
ta-hun ini bergerak mengungkit, meja yang berada di de-pannya melayang ke arah
pemuda berpakaian mewah. Makanan dan minuman yang berada di atas meja
ber-serakan di lantai dengan suara riuh rendah.
"Hih...!"
Pemuda berpakaian mewah mendengus
marah. Sepasang matanya yang tajam berkilat melirik sejenak ke arah meja yang
tengah meluncur. Kemudian, den-gan tangan kanan masih memegang suling yang
terse-lip di celah-celah bibir, tangan kirinya digerakkan ke arah meja yang
tengah meluncur.
Dari tangan kiri pemuda
berpakaian mewah yang kelihatan lembut itu berhembus angin dahsyat laksana
badai. Meja yang tengah meluncur ke arahnya melaju lambat. Begitu sampai di
tengah jalan, meja itu meluncur kembali ke pemiliknya, lelaki berkumis
me-lintang. Mula-mula lambat, tapi semakin lama semakin cepat!
"Uh...!"
Lelaki berkumis melintang
mengeluarkan kelu-han tertahan. Tangannya pun segera dijulurkan ke de-pan, agak
menyerong ke atas. Seperti juga yang terjadi pada pemuda berpakaian mewah, dari
tangan Ketua Perkumpulan Iblis Merah keluar angin dahsyat yang menahan luncuran
meja, untuk kemudian meluncur kembali ke arah pemuda berpakaian mewah.
Pemuda berpakaian mewah itu pun
sadar la-
wannya kali ini tidak bisa
disamakan dengan Tangka-ran. Maka sebelum meja itu meluncur lebih dekat ke
arahnya, tambahan tenaga untuk tangan kirinya sege-ra dikirimkan. Meja itu
kembali meluncur ke arah la-wan. Lelaki berkumis melintang bersikeras bertahan.
Tak pelak lagi, pemandangan yang unik pun terjadi. Meja bundar itu meluncur
berganti-ganti. Terkadang ke arah pemuda berpakaian mewah, dan tak jarang ke
arah lelaki berkumis melintang.
Tangkaran dan Baroksa serta semua
pengun-jung kedai berdebar tegang. Mereka semua tahu antara pemuda berpakaian
mewah dengan Ketua Perkumpu-lan Iblis Merah tengah terjadi pertarungan mengadu
kekuatan tenaga dalam. Siapa yang lebih unggul akan memenangkan pertarungan
ini.
Di antara para penonton,
Tangkaran yang pal-ing tegang. Sekarang dia mengerti mengapa gurunya
memerintahkannya mundur. Pemuda itu terlalu tang-guh untuk dilawan. Jangankan
dirinya, gurunya sen-diri tidak mudah mengalahkannya. Bahkan, Tangka-ran merasa
ragu gurunya akan keluar sebagai peme-nang. Pemuda berpakaian mewah itu
sepertinya belum mengeluarkan semua kemampuannya. Sikapnya terli-hat demikian
sembarangan. Tangan yang diperguna-kan hanya sebelah kiri. Padahal, Ketua
Perkumpulan Iblis Merah telah menggunakan kedua tangannya!
2
Kekhawatiran Tangkaran ternyata
beralasan. Setelah beberapa saat lamanya meja itu meluncur ber-gantian,
sekarang terlihat jelas meja itu lebih sering meluncur ke arah gurunya. Bahkan,
jaraknya telah le-
bih dekat dengan Ketua
Perkumpulan Iblis Merah itu. Bukan hanya Tangkaran yang sekarang men-
duga kekalahan akan terjadi di
pihak gurunya. Para pengunjung lainnya pun demikian. Apalagi ketika me-reka
melihat keadaan Pimpinan Perkumpulan Iblis Me-rah itu. Sekujur tubuh lelaki
berkumis melintang menggigil keras. Wajahnya penuh dibanjiri peluh. Ada asap
tipis mengepul dari kepalanya. Semua itu mem-buktikan kalau Ketua Perkumpulan
Iblis Merah telah mengerahkan tenaga dalam melebihi batas kemam-puannya!
Di lain pihak, pemuda berpakaian
mewah terli-hat masih biasa-biasa saja. Hanya pada dahinya tam-pak sedikit
peluh. Pertanda kalau dia telah mengelua-rkan tenaga cukup banyak.
"Huakh...!"
Ketua Perkumpulan Iblis Merah
memuntahkan darah segar. Tubuhnya terhuyung-huyung ke bela-kang. Kekerasan hati
lelaki berkumis melintang untuk tetap bertahan melanjutkan pertarungan tidak
diim-bangi dengan kekuatan tenaga dalamnya. Pengerahan tenaga dalam yang
melampaui batas membuatnya ter-luka dalam sehingga memuntahkan darah segar.
Kejadian yang menimpa Ketua
Perkumpulan Ib-lis Merah dengan sendirinya menghentikan pertarun-gan. Karena
terjadi secara mendadak, aliran tenaga da-lam yang dikeluarkan pemuda
berpakaian mewah ti-dak menghadapi hambatan sama sekali. Meja itu me-luncur
dengan kecepatan tinggi ke arah Ketua Per-kumpulan Iblis Merah yang masih
terhuyung-huyung dengan kedua tangan mendekap dada.
Baroksa yang melihat adanya
bahaya yang mengancam ketuanya, tidak tinggal diam. Kedua tan-gannya segera
dihentakkan ke arah meja yang tengah meluncur. Lelaki pendek gemuk ini
mengerahkan selu-
ruh tenaga dalamnya. Brakkk!
Meja itu hancur berkeping-keping
sebelum mencapai sasaran. Pecahannya berpentalan ke segala penjuru. Tapi, tanpa
menemui kesulitan sedikit pun dapat dihindarkan oleh para pengunjung yang
seba-gian besar orang-orang persilatan. Meskipun tidak bisa disamakan dengan
Baroksa, Tangkaran, apalagi Ketua Perkumpulan Iblis Merah dan pemuda berpakaian
mewah.
Wajah Ketua Perkumpulan Iblis
Merah yang ta-di memucat kini tampak lega. Meskipun sinar kekha-watiran belum
sirna dari wajahnya. Lelaki berkumis melintang itu tahu nyawanya dan nyawa
kedua mu-ridnya bergantung pada pemuda berpakaian mewah itu. Tidak ada yang
dapat dilakukan Ketua Perkumpu-lan Iblis Merah.
Lelaki berkumis melintang itu
hanya menatap pemuda berpakaian mewah untuk melihat tindakan yang akan
dilakukannya. Dilihatnya pemuda itu den-gan tenang mengeluarkan sehelai sapu
tangan indah. Dengan sapu tangan itu dibasuhnya keringat yang membasahi
keningnya.
Baru setelah itu, pemuda
berpakaian mewah menyimpan kembali sapu tangannya. Kemudian, den-gan sekali
mengibaskan tangan dan tanpa menggerak-kan kaki, pemuda itu mampu membuat tubuh
dan kursinya melayang meninggalkan meja. Ia mendarat di dekat Ketua Perkumpulan
Iblis Merah.
"Kau Ketua Perkumpulan Iblis
Merah?" tanya pemuda berpakaian mewah dengan sikap angkuh yang tidak bisa
disembunyikan.
"Benar. Namaku Marong
Jurig!" jawab lelaki berkumis melintang tegas. Dia berusaha untuk
me-nunjukkan kalau keadaan dirinya biasa-biasa saja, ti-
dak terluka sama sekali. Tapi
sayang maksud itu tidak terkabul. Seringai kesakitan menghias wajahnya.
"Kudengar kau ingin ikut
dalam perebutan ke-dudukan menjadi datuk untuk wilayah timur ini?" de-sak
pemuda berpakaian mewah. Sinar matanya tajam menusuk wajah Marong Jung. Sikap
pemuda itu se-perti ingin membaca perasaan yang terkandung di da-lam hati
Marong Jurig.
"Benar. Karena kudengar
kabar Raja Sihir Pe-nyebar Maut lenyap entah ke mana. Apa salahnya ka-lau aku
mencoba untuk menjadi datuk? Andaikata ti-dak bisa menguasai timur dan selatan
seperti yang di-kuasai Raja Sihir Penyebar Maut, setidak-tidaknya wi-layah
timur ini dapat ku kuasai," jelas Marong Jurig.
"Keinginanmu terlalu muluk,
Marong!" kecam pemuda berpakaian mewah keras. "Lebih baik kau urungkan
niatmu. Karena, aku akan ikut mempere-butkan kedudukan itu. Aku tidak akan
membiarkan wilayah kekuasaan ayahku jatuh ke tangan orang lain. Dan, kudengar
pertarungan untuk memperebutkan kedudukan datuk itu diadakan di puncak Gunung
Atap Langit Apakah benar demikian?"
"Benar!" Marong Jurig
masih dapat menjawab dengan agak keras. Meski jantung dalam dadanya ber-detak
lebih cepat. Ia tidak menyangka sedikit pun pe-muda berpakaian mewah ini adalah
putra Raja Sihir Penyebar Maut.
"Kapan pertemuan itu
dilangsungkan?" desak pemuda berpakaian mewah.
"Tiga hari lagi. Tepat pada
waktu malam bulan purnama. Tapi, pertemuan di puncak Gunung Atap Langit itu
hanya untuk memperebutkan kedudukan datuk wilayah timur. Sedangkan
wilayah-wilayah lain, bukan di sana tempatnya," Marong Jurig menambah-kan.
Pemuda berpakaian mewah itu tidak
memberi-kan tanggapan. Dia telah tahu kalau di empat wilayah terjadi persaingan
untuk memperebutkan kedudukan datuk kaum sesat. Sehubungan dengan santernya
be-rita yang tersiar di dunia persilatan, bahwa Raja Sihir Penyebar Maut dan
Raja Racun Sakti lenyap tanpa ke-tahuan rimbanya, seperti di telan bumi!
"Bersyukurlah kau,
Marong." Pemuda berpa-kaian mewah berujar dengan wajah dan sikap dingin.
"Keterangan yang kau berikan membuat aku mengu-rungkan niat untuk mencabut
nyawamu. Tapi, hanya kau yang mendapatkannya, sedangkan anjing merah kurus itu
akan mendapatkan hukuman yang setim-pal!"
Tangkaran yang dituding oleh
pemuda berpa-kaian mewah menjadi pucat pasi wajahnya. Dengan sinar mata minta
tolong, lelaki tinggi kurus ini mena-tap wajah gurunya. Tapi yang ditatap hanya
menun-dukkan kepala dengan wajah muram. Melihat hal ini, Tangkaran tahu Marong
Jurig tidak mampu meno-longnya.
Pemuda berpakaian mewah hanya
tersenyum keji melihat tindakan Tangkaran. Sekilas ditatapnya Baroksa yang
kebingungan mengetahui rekannya be-rada dalam bahaya. Baroksa pun menatap
Marong Ju-rig. Tapi, wajah lelaki berkumis melintang itu tertutup oleh
rambutnya yang tergerai karena kepalanya ditun-dukkan dalam-dalam.
Baroksa beralih menatap pemuda
berpakaian mewah. Dilihatnya pemuda tampan yang pesolek itu mengeluarkan suling
yang tadi telah diselipkan di punggungnya. Ditempelkannya suling yang indah itu
di bibirnya. Kemudian, mulai ditiupnya.
Nada tinggi dan melengking yang mengusik
te-linga pun menyebar. Semakin lama semakin tinggi.
Semua orang yang berada di dalam
kedai mendekap telinga untuk menahan masuknya bunyi yang menya-kitkan itu.
Tangkaran pun demikian. Lelaki
tinggi kurus ini mendekap kedua telinganya kuat-kuat. Tapi, ber-beda dengan
orang-orang lain yang sepertinya tidak terlalu terpengaruh, Tangkaran merasa
tersiksa bukan main. Telinganya seperti ditusuk-tusuk jarum. Sakit dan nyeri.
Kian lama kian sakit. Sehingga, Tangkaran duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam
untuk melawan pengaruh suara suling. Tangkaran yang dija-dikan sasaran serangan
kelihatan sangat tersiksa.
Hanya dalam waktu singkat sekujur
tubuh Tangkaran menggigil keras. Dia tidak lagi duduk bersi-la. Tangkaran tidak
kuat menahan sakit yang melanda. Lelaki tinggi kurus ini berguling-guling di
tanah sambil menjerit-jerit. Dari hidung, mulut, dan telinganya mengalir darah
segar.
Beberapa saat lamanya Tangkaran
berada da-lam keadaan tersiksa. Berguling-guling, berkelojotan, seperti ayam
disembelih sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi. Ia tewas dengan seluruh
pembuluh da-rah pecah karena tak kuat menahan serangan tenaga dalam yang keluar
dari suara suling.
Dengan wajah dingin, pemuda
berpakaian me-wah menyimpan kembali sulingnya. Tatapannya ke-mudian beredar
menyapu isi ruangan. Sinar matanya tampak penuh tantangan.
"Barang siapa yang tidak
senang dengan tinda-kanku dan merasa penasaran, silakan maju!" tantang
pemuda berpakaian mewah itu.
Tidak seorang pun membuka suara
apalagi mengajukan diri untuk menandingi pemuda itu. Seba-gian besar dari
mereka menundukkan kepala, takut bertemu pandang dengannya. Siapa tahu akibat
hal itu
akan mengerikan. Pemuda
berpakaian mewah itu akan membunuh mereka. Hal seperti itu tidak aneh
mengin-gat pemuda ini adalah putra Raja Sihir Penyebar Maut. Hati semua tokoh
persilatan yang berada di da-
lam kedai menjadi tegang ketika
pemuda berpakaian mewah menatap semua yang berada di situ dengan so-rot mata
tajam berkilat.
"Akh...! Aaa...!
Aaa...!"
Para pengunjung kedai, tak
terkecuali Marong Jurig dan Baroksa, terlonjak kaget. Jeritan-jeritan me-nyayat
yang terdengar susul-menyusul itu menge-jutkan semua orang yang berada di dalam
rumah ma-kan.
Jeritan-jeritan itu ternyata
berasal dari luar rumah makan. Dari ambang pintu kedai yang tidak di-tutup
terlihat sebagian dari pemilik jeritan. Mereka adalah orang-orang berpakaian
compang-camping. Pengemis!
Pemuda berpakaian mewah tersenyum
keji. Tanpa berkata apa-apa dia melangkah meninggalkan rumah makan. Ketika
telah berada di luar dan tubuh para pengemis yang tergolek di tanah menghalangi
langkahnya, dengan tanpa peduli dilangkahinya. Bah-kan, beberapa sosok yang
masih menggelepar-gelepar menahan kesakitan dengan tenang diinjaknya tanpa
mengenal kasihan sedikit pun. Terdengar bunyi berke-rotokan tulang-tulang yang
patah. Tak pelak lagi, jeri-tan kesakitan mereka pun semakin bertambah.
Tapi, pemuda berpakaian mewah
tidak mempe-dulikannya. Ia mengayunkan kaki menuju kereta dan melajukan
keretanya yang mewah secara perlahan. Ba-ru ketika pemuda itu dan keretanya
telah jauh me-ninggalkan rumah makan, para pengunjung kedai ber-larian keluar
untuk melihat. Mereka bergidik ngeri ke-tika tahu para pengemis yang jumlahnya
belasan itu
mati keracunan. Pasti makanan
yang diberikan para orang-orang melarat itu telah diberi racun lebih dulu.
***
"Tunggu sebentar, Nisanak?
Tidak boleh sem-barangan orang boleh masuk ke dalam!"
Seruan itu membuat seorang gadis
berpakaian biru yang tergesa-gesa mengayunkan langkah menuju pintu gerbang
sebuah bangunan besar, menghentikan langkahnya. Apalagi, karena dua lelaki
kekar berpa-kaian rompi hitam yang menjaga pintu gerbang, berdiri tepat di
depan jalan yang akan dilalui gadis berpakaian biru.
Gadis berwajah cantik dengan
bentuk tubuh menggiurkan itu membelalakkan sepasang matanya yang indah.
"Kalian berani melarangku masuk?!" tegur gadis itu ketus sambil
bertolak pinggang. "Tahukah ka-lian siapa aku?"
Dua lelaki kekar berompi hitam
itu saling ber-tukar pandang. Sikap gadis berpakaian biru membuat mereka agak ragu.
"Cepat kalian menyingkir
sebelum kesabaranku habis!" seru gadis berpakaian biru. Nada suaranya
ter-dengar lebih tinggi. "Aku ingin bertemu dengan Danar Jati secepatnya!
Ada urusan penting!"
"Sayang sekali,
Nisanak." Salah satu dari dua penjaga, yang memiliki rajahan bergambar
cakar bu-rung di pangkal lengan kanan, berkata dengan nada menyesal.
"Permohonan mu tidak bisa kami kabulkan. Tidak ada orang yang bernama
Danar Jati di tempat ini!"
"O, begitu...." Gadis
berpakaian biru mengang-guk-anggukkan kepala seraya tersenyum sinis.
"Ru-panya sekarang dia tidak memakai nama aslinya lagi.
Baiklah kalau kalian tidak
mengenal nama Danar Jati. Mungkin perlu kuberitahu kalau Danar Jati itu
seka-rang telah berjuluk Malaikat Utara. Jelas?! Sekarang cepat panggil dia
kemari! Katakan aku, Citra Sari, da-tang untuk menghukumnya karena tindakannya
yang lancang!"
"Mulutmu semakin kurang
ajar, Nisanak Can-tik!"
Lelaki berompi hitam yang satunya
mulai bera-ni bertindak kurang ajar. Sepasang matanya menatap pada bagian-bagian
tertentu di tubuh gadis berpakaian biru dengan sinar mata penuh minat. Semula,
kedua lelaki ini tidak berani bertindak demikian karena kha-watir gadis
berpakaian biru ini merupakan kawan baik pimpinan mereka. "Sekali lagi kau
berani menghina pimpinan kami, kau akan ku telanjangi!" lanjut lelaki itu
"Keparat!"
Gadis berpakaian biru
mengeluarkan makian keras. Dia melesat menerjang. Tidak kelihatan tangan-nya
bergerak, tahu-tahu tubuh kedua lelaki berompi hitam itu telah terlempar ke
sana kemari. Gadis ber-pakaian biru itu dengan kecepatan kilat menggerakkan
tangan mengirimkan tamparan-tamparan. Beruntung gadis itu tidak bermaksud
membunuh sehingga tam-paran-tamparannya hanya ditujukan pada bagian-bagian yang
tidak berbahaya. Kendati demikian, cukup untuk membuat kedua penjaga itu tidak
mampu bangkit lagi. Mereka menderita luka dalam yang cukup parah.
Tanpa mempedulikan nasib kedua
lawannya, gadis berpakaian biru melangkah lebar memasuki pin-tu gerbang. Dalam
beberapa langkah tubuhnya telah berada di halaman depan sebuah bangunan besar
yang kokoh dan indah. Pada bagian sebelah kiri ban-
gunan besar itu terdapat hamparan
taman yang indah dan enak dipandang. Taman itu penuh dengan bunga-bunga dan
patung-patung yang indah.
"Danar Jati...! Murid
Murtad! Keluar kau...!" se-ru gadis berpakaian biru dengan mengerahkan
tenaga dalam sehingga suaranya terdengar sampai jauh.
Belum juga gema ucapan Citra Sari
lenyap, daun pintu bangunan yang terbuat dari kayu jati be-rukir bergerak
membuka. Dari dalamnya keluar seso-sok tubuh berpakaian serba putih. Di
belakang sosok berpakaian putih ini tampak beberapa sosok lain. Dari
gerak-geriknya dan sorot mata mereka, Citra Sari da-pat mengetahui mereka
adalah orang-orang golongan hitam.
Tapi Citra Sari tidak
mempedulikan mereka. Pandangan gadis berpakaian biru itu tertuju pada so-sok
berpakaian putih. Jari-jari tangannya yang lentik bergerak menuding.
"Danar Jati...! Manusia
tidak kenal budi! Ber-siaplah untuk menerima hukuman!"
Sosok berpakaian putih yang
ternyata seorang lelaki tinggi besar dengan wajah persegi seperti wajah singa,
tidak menunjukkan rasa marah mendengar ma-kian tajam itu. Dia terkekeh pelan
seraya melangkah menghampiri Citra Sari.
"Kukira siapa. Rupanya kau,
Citra Sari. Silakan masuk dan bergabung dengan kami. Dengan adanya kau,
kedudukan kami menjadi lebih kuat. Bukan tidak mungkin kalau aku menjadi datuk
nomor satu, per-kumpulan yang akan kita dirikan menjadi sebuah per-kumpulan
terkuat!" Lelaki berwajah singa yang berusia tidak lebih dari tiga puluh
lima tahun dan bernama Danar Jati itu berkata dengan tenang.
"Tutup mulutmu, Danar Jati!
Kedatanganku kemari untuk membunuhmu. Kau telah murtad. An-
daikata guru-guru tahu semua
tindakanmu, mereka akan bangkit dari lubang kuburnya!"
"Ah...! Rupanya begitu
menurutmu, Citra Sari yang manis?" Danar Jati malah mengejek.
"Keyakinan-ku tidak sepaham denganmu. Aku yakin guru-guru ju-stru merasa
bangga aku berhasil menjadi datuk wi-layah utara. Tapi, tak akan lama lagi aku
akan menjadi datuk nomor satu di seluruh penjuru dunia! Ha ha ha...!"
"Itu tidak akan terlaksana
karena kau akan mampus di tanganku, Danar Jati Keparat!"
Begitu ucapannya selesai, Citra
Sari mencabut sepasang pisau yang berkilat tajam dari balik bajunya. Kemudian,
melesat menerjang Danar Jati dengan tu-sukan pisaunya yang kanan ke arah ulu
hati! Bunyi berdesing nyaring yang mengiringi luncuran pisau me-nunjukkan
kekuatan tenaga dalam serangan Citra Sa-ri.
"Biar aku yang mewakilimu
menaklukkan kuda betina liar ini, Malaikat Utara!"
Salah seorang dari perkumpulan
orang-orang yang berada di belakang Danar Jati menyeruak maju. Dia adalah
seorang lelaki bertubuh kecil kurus tapi memiliki kumis tebal dan hitam.
Bibirnya tampak sela-lu menyunggingkan senyum. Pakaian yang dikenakan-nya
kuning bergaris-garis hitam. Sehelai kipas indah dan lebar tercekal di tangan
kanan dan selalu dikebut-kebutkan pelan di wajahnya.
Malaikat Utara menatap lelaki
kecil kurus itu sejenak sebelum menganggukkan kepala. "Silakan, Se-tan
Kipas. Kuserahkan dia padamu. Kau boleh bertin-dak apa saja padanya." ujar
Malaikat Utara seraya me-langkah ke belakang. Sehingga, serangan Citra Sari
mengenai tempat kosong.
Sebelum Citra Sari sempat
melancarkan seran-
gan susulan, lelaki berkumis
tebal itu telah lebih dulu mendahuluinya. Ia melancarkan serangkaian serangan
dahsyat dengan totokan ujung kipasnya yang dikun-cupkan.
Trak, trakk, trakkk!
Citra Sari yang tidak mempunyai
kesempatan mengelak, menangkis serangan itu dengan sepasang pisaunya. Akibat
benturan yang cukup keras itu tubuh keduanya terhuyung-huyung ke belakang.
Setan Kipas terhuyung dua langkah lebih jauh. Se tan Kipas yang sejak semula
yakin akan mampu menundukkan Citra Sari jadi berubah wajahnya.
Kenyataan ini sangat memalukan
Setan Kipas. Ia bertekad akan menutup kekalahannya. Serangan bertubi-tubi yang
tidak terduga-duga pun dilancarkan. Kipas yang indah dalam sekejap berkali-kali
berubah bentuk. Terkadang menutup, terkadang mengembang. Namun, Citra Sari
bukan dara sembarangan. Dia mampu mengimbangi permainan kipas si Setan Kipas.
Bahkan, mengirimkan serangan yang tidak kalah dah-syatnya.
Setelah bertempur beberapa jurus,
Setan Kipas mulai merasa ragu dapat mengalahkan Citra Sari. La-wannya ini meski
masih muda tapi memiliki kepan-daian demikian hebat. Baik dalam hal tenaga
dalam maupun ilmu meringankan tubuh. Hanya karena Citra Sari kurang banyak
pengalaman bertanding maka ga-dis itu tidak bisa mengembangkan permainannya.
Hingga, Setan Kipas mampu bertahan cukup lama.
Setan Kipas penasaran bukan main.
Di samp-ing itu dia pun merasa malu. Di hadapan sekian ba-nyak tokoh-tokoh
persilatan dia didesak. Mau ditaruh di mana mukanya? Perasaan malu ini yang
mendorong Setan Kipas untuk terus melakukan perlawanan.
Setan Kipas menyerang
bertubi-tubi ke arah ga-dis itu. Kipas yang indah dalam sekejap berkali-kali
be-rubah bentuk. Terkadang menutup, di lain waktu sudah mengembang. Namun,
Citra Sari bukan dara sembaran-gan. Dia mampu mengimbangi permainan kipas
lelaki kurus itu. Bahkan, sesekali mengirimkan serangan den-gan sepasang
pisaunya!
Dan, kalau bisa mengalahkan
lawan.
Setan Kipas adalah seorang tokoh
hitam yang telah lama malang-melintang di dunia persilatan.
Telah puluhan kali dia terlibat
pertarungan.
Sebagian besar dapat dimenangkan.
Dalam kemenan-gan itu tidak sedikit yang didapatnya dengan cara ti-dak wajar.
Setan Kipas berlaku curang. Kali ini pun dia bermaksud bertindak demikian.
Desss!
Sebuah tendangan kaki kanan Citra
Sari yang mengenai paha kanan Setan Kipas membuat lelaki berkumis tebal itu
terlempar dan jatuh terguling-guling. Citra Sari yang marah segera memburu.
Setan Kipas segera bangkit dan berjungkir balik beberapa kali di udara. Citra
Sari yang mengetahui maksud la-wannya segera mengejar. Tapi dia terlambat Setan
Ki-pas telah lebih dulu menjejak tanah di saat Citra Sari meluruk maju dengan
tusukan pisaunya.
Setan Kipas menggesek-gesekkan
kedua ka-kinya di tanah. Hingga, tanah yang cukup keras itu terkikis cukup
banyak. Citra Sari yang tengah mener-jang melihatnya. Tapi dia tidak
mempedulikan-nya. Gadis itu tidak tahu maksud tindakan lawannya.
Wusss!
Setan Kipas baru mengebutkan
kipasnya ketika Citra Sari telah semakin dekat. Kali ini kipasnya men-gebut
tempat yang berbeda. Tanah! Akibat kebutan yang keras itu, debu tanah yang
telah terkikis beter-bangan ke arah Citra Sari.
Citra Sari kaget bukan main.
Buru-buru ma-tanya dipejamkan. Takut kalau-kalau matanya kema-sukan debu. Ini
memang kesempatan yang ditunggu-tunggu Setan Kipas. Tindakan Citra Sari sudah
masuk perhitungannya. Secepat kilat, Setan Kipas melompat mengirimkan sebuah
tendangan.
Citra Sari tahu serangan terhadap
dirinya. Pen-dengarannya yang tajam dapat mendengar bunyi men-deru serangan
Setan Kipas.
Desss!
"Hukh...!"
Citra Sari mengeluarkan seruan
kesakitan. Ka-ki Setan Kipas dengan telak mendarat di perutnya. Gadis
berpakaian biru ini tidak mempunyai kesempa-tan untuk mengelak. Di samping
keadaan tubuhnya yang tengah berada di udara, serangan lawan pun tiba demikian
cepat. Citra Sari hanya dapat mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi bagian
dalam tubuh-nya. Meskipun demikian, gadis berpakaian biru ini ter-lempar jauh
ke belakang. Darah segar membasahi su-dut-sudut mulutnya. Kalau saja saat ini
Citra Sari ti-dak mengerahkan tenaga dalam, nyawanya akan me-layang saat itu
juga.
Setan Kipas yang dalam cekaman
perasaan ma-lu dan marah karena sempat terdesak oleh Citra Sari kini menjadi
beringas. Citra Sari yang tengah tidak berdaya dan tubuhnya melayang deras,
diburunya. Ki-pasnya ditotokkan ke arah leher gadis berpakaian biru itu.
3
Trakkk! "Uh...!"
Setan Kipas mengeluarkan keluhan
tertahan. Di saat ujung kipasnya hampir berhasil mengenai sa-saran, dari arah
yang berlawanan melesat bayangan hitam dengan disertai bunyi berdesing nyaring.
Cepat bukan main dan membentur ujung kipasnya. Setan Kipas merasakan kedua
tangannya bergetar hebat
Setan Kipas berjungkir balik ke
belakang. Begi-tu menjejak tanah, dilihatnya sesosok tubuh kekar berpakaian
ungu tengah menurunkan tubuh Citra Ha-ri dari kedua tangannya. Gadis berpakaian
biru itu te-
lah ditangkap sosok tubuh kekar
berambut putih pan-jang sebelum membentur tanah.
Setan Kipas menatap sosok
berpakaian ungu yang sekarang telah membalikkan tubuh menghadap-nya. Sosok
berpakaian ungu itu ternyata seorang pe-muda berambut putih keperakan dan
berwajah tam-pan. Pemuda itu memiliki kepandaian tinggi. Ini bisa diperkirakan
Setan Kipas dari hebatnya getaran tan-gannya yang memegang kipas ketika benda
gelap yang ternyata sebutir kerikil sebesar ibu jari kaki memben-turnya.
"Siapa kau, Keparat?! Berani
betul mencampuri urusan Setan Kipas?!" gertak Setan Kipas penuh an-caman.
"Dia pasti Dewa
Arak...!"
Seruan itu keluar dari mulut
seorang nenek berpakaian penuh tambalan yang berada di belakang Malaikat Utara.
"Ah...!"
Hampir semua yang berada di situ
terlonjak ka-get mendengar siapa yang telah menolong Citra Sari. Hanya beberapa
di antara mereka yang kelihatan tidak terkejut. Mereka mampu menguasai
perasaannya se-hingga tidak terlihat di wajah. Salah satu di antara me-reka
adalah Malaikat Utara. Dia tetap berdiri tegak dengan sikap angkuhnya.
"Benarkah kau tokoh yang
sombong itu, Pemu-da Usilan?!" Setan Kipas meminta penegasan seraya
menudingkan kipasnya.
"Tidak salah! Akulah Dewa
Arak!" jawab pemu-da berambut putih keperakan yang tidak lain Arya alias
Dewa Arak. Suaranya mantap dan tegas.
"Ha ha ha...!"
Setan Kipas tertawa terbahak.
"Rupanya benar berita yang kudengar mengenai dirimu, Dewa Arak. Kau memang
sombong dan usilan. Merasa diri sendiri
paling hebat sehingga berani
mencampuri urusan orang lain. Selama ini kau boleh beruntung. Tapi seka-rang,
setelah bertemu dengan aku, Setan Kipas, kebe-runtunganmu akan berakhir! Namamu
yang besar dan menggemparkan dunia persilatan akan pupus di sini!"
Wukkk!
Setan Kipas menutup ucapannya
dengan se-buah kebutan kipasnya. Cara yang telah berhasil memperdaya Citra Sari
dipergunakan lagi terhadap Dewa Arak. Debu mengepul tinggi dan meluruk ke arah
Dewa Arak seperti ingin membungkus tubuhnya.
Meski terperanjat melihat
serangan yang dila-kukan secara tiba-tiba dan demikian curang ini, Arya tidak
kelihatan bingung apalagi gugup. Dia terlalu ser-ing berhadapan dengan bahaya
dan ancaman maut. Sehingga, menghadapi ancaman tiba-tiba seperti ini ia tidak
kehilangan akal.
Pemuda berambut putih keperakan
itu mela-kukan gerakan mendorong ke depan. Hembusan angin keras bertiup
melemparkan sekumpulan debu yang menuju ke arahnya berbalik ke arah pemiliknya.
Kha-watir tidak semua debu terusir pergi, Arya membarengi dorongannya itu
dengan tiupan mulutnya. Debu-debu itu pun melayang kembali ke arah Setan Kipas.
Lelaki berkumis tebal itu yang
baru saja menje-jakkan kaki untuk melancarkan serangan gelap terke-jut bukan
main. Debu-debu yang meluncur ke arah Dewa Arak berbalik ke arahnya. Buru-buru
dia meme-jamkan mata dan melempar tubuhnya ke belakang dengan sebuah letikan
laksana seekor lumba-lumba.
"Hik hik hik...! Kurasa
sudah waktunya bagimu untuk mundur, Setan Kipas! Kau bukan tandingan Dewa Arak.
Lagi pula kau sudah bertarung melawan gadis ingusan itu. Sekarang
menyingkirlah. Biar aku yang menghadapi Dewa Arak!"
Setan Kipas hendak membantah,
tapi niatnya segera diurungkan. Orang yang berbicara itu adalah nenek
berpakaian penuh tambalan. Nenek yang ter-kenal dengan julukan Pengemis Tongkat
Merah itu berwatak aneh. Ia akan marah dan menyerang apabila niatnya dihalangi.
Setan Kipas tidak mau hal itu terja-di. Pengemis Tongkat Merah memiliki
kemampuan di atasnya. Apalagi ketika diliriknya Malaikat Utara men-ganggukkan
kepala dan memberikan isyarat agar dia mundur. Tanpa banyak cakap lagi, Setan
Kipas pun melangkah mundur.
"Aku rasa kalian semua salah
menduga dengan maksud kedatanganku." Arya buru-buru berujar se-raya
menatap Pengemis Tongkat Merah, Malaikat Uta-ra dan tokoh-tokoh persilatan yang
berada di belakang datuk wilayah utara. "Aku datang kemari tidak untuk
bermusuhan dengan kalian. Aku datang kemari tidak sengaja, karena mendengar
bunyi riuh-rendah suara pertempuran. Jadi...."
"Kau takut Dewa
Arak...?!" Pengemis Tongkat Merah menukas tak sabar.
Merah padam wajah Dewa Arak.
"Dalam kamus hidupku tidak ada kata takut, Nek! Hanya saja aku ti-dak
ingin bertarung dan menanam permusuhan tanpa alasan yang jelas."
"Alasan!" Pengemis
Tongkat Merah membentak. "Kau kira menolong wanita itu dari tangan Setan
Kipas tidak membuatmu jadi mempunyai urusan dengan kami? Katakan saja kalau kau
takut! Aku tidak akan menyerangmu, Dewa Arak!"
"Majulah, Nek! Buktikan
kalau sesumbar mu sesuai dengan kemampuan yang kau miliki!" tandas Arya
mantap.
"Pemuda Sombong!"
Sepasang mata nenek ber-pakaian penuh tambalan membelalak lebar. "Aku su-
dah terkenal di dunia persilatan.
Dan, menjadi tokoh yang tak tertandingi sebelum kau lahir! Terimalah ini,
Pemuda Sombong!"
Wukkk!
Babatan tongkat kayu merah di
tangan Penge-mis Tongkat Merah yang mengancam pinggangnya berhasil dielakkan.
Arya menjejakkan kaki dan tubuh-nya melayang ke atas. Tongkat itu menyambar
bebera-pa jari di bawah kaki pemuda berambut putih kepera-kan itu.
Tapi, nenek berpakaian penuh
tambalan tidak percuma mendapat julukan Pengemis Tongkat Merah. Permainan
tongkatnya memang menakjubkan. Begitu berhasil dielakkan Dewa Arak, tongkat itu
berputar melingkar dan meluncur dengan sebuah tusukan ke arah dada. Serangan
ini memaksa pemuda berambut putih keperakan melompat jauh ke belakang. Pengemis
Tongkat Merah segera mengejar.
Debu mengepul tinggi. Bunyi
mengaung dan menderu-deru mengiringi gerakan tongkat Pengemis Tongkat Merah.
Tongkat itu lenyap menjadi kelebatan bayangan merah yang bergulung-gulung
seperti hen-dak membungkus tubuh Dewa Arak. Tapi, dengan lin-cahnya pemuda
berambut putih keperakan itu meng-hindar. Bahkan, beberapa kali melancarkan
serangan balasan. Dewa Arak menghadapi amukan Pengemis Tongkat Merah dengan
tangan kosong.
Tappp!
Pengemis Tongkat Merah
terperanjat. Ujung tongkat merahnya tertangkap oleh lawan saat ia mela-kukan
sodokan ke arah ulu hati. Nenek berpakaian penuh tambalan ini tidak tinggal
diam. Dengan menge-rahkan seluruh tenaga dalamnya, sodokannya dite-ruskan.
Ketika tidak bergeming juga segera ditariknya pulang. Tapi gagal. Tongkat itu
seperti dicengkeram je-
pitan baja. Padahal, jelas
terlihat oleh Pengemis Tong-kat Merah kalau Dewa Arak hanya memegangnya den-gan
satu tangan.
"Ah...!"
Pengemis Tongkat Merah
mengeluarkan seruan tertahan. Tubuhnya terangkat ketika Arya menggerak-kan
tongkatnya ke atas. Betapa pun nenek bertongkat merah ini mengerahkan tenaga
dalam untuk membe-ratkan tubuhnya, usahanya sia-sia. Tubuhnya sema-kin
terangkat ke atas.
Tindakan pemuda berambut putih
keperakan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Tangan yang mencengkeram
tongkat disodokkan ke depan. Tongkat itu pun dengan telak menghantam perut
Pengemis Tongkat Merah. Terdengar bunyi keluh kesakitan dari mulut nenek
berpakaian penuh tambalan.
Pengemis Tongkat Merah terpental
ke belakang. Tongkat merah di tangannya terlempar dari pegangan dan jatuh ke
tanah. Karena Arya yang menggenggam-nya melepaskan pegangan pada tongkat begitu
tubuh Pengemis Tongkat Merah terpental.
Malang bagi Pengemis Tongkat
Merah. Tidak ada seorang pun tokoh persilatan yang sudi menolong-nya. Maka,
ketika dia berusaha mendarat dengan ke-dua kaki, tubuhnya terhuyung-huyung
belakang dan jatuh dengan menggunakan kedua lututnya.
"Kurasa sudah cukup sampai
di sini," ujar De-wa Arak. Ditentangnya pandang mata Malaikat Utara yang
diyakininya sebagai pemimpin tokoh persilatan yang berada di situ. "Aku
pergi!"
Dengan sikap yakin kalau
lawan-lawannya ti-dak akan membokongnya, Arya membalikkan tubuh. Langkahnya
terayun mendekati Citra Sari yang masih tergolek di tanah. Arya memutuskan
untuk membawa Citra Sari meninggalkan tempat itu. Meski ia belum
merasa jelas dengan masalah
mereka. Tapi, melihat si-kap Setan Kipas dan Pengemis Tongkat Merah, Arya lebih
condong untuk membela Citra Sari.
"Tunggu, Dewa Arak!"
Terdengar teriakan lantang. Arya
terpaksa menghentikan ayunan kakinya. Tapi, pemuda beram-but putih keperakan
ini tidak membalikkan tubuh. Ia berdiri tenang dengan sekujur urat syaraf
menegang waspada.
Belum lenyap gema teriakan itu,
Arya menden-gar bunyi angin mendesir di atas kepalanya. Tapi pe-muda itu tetap
bersikap tenang. Ia tahu itu bukan bunyi angin yang ditimbulkan oleh serangan.
Sekejap kemudian, tanpa
menimbulkan bunyi berarti, beberapa tombak di depan Arya telah berdiri lelaki
berpakaian serba putih. Dialah Malaikat Utara alias Danar Jati.
"Kau memang hebat, Dewa
Arak!" puji Malaikat Utara. Kemenangan demi kemenangan yang diraih De-wa
Arak atas Setan Kipas dan Pengemis Tongkat Me-rah telah membuatnya kagum.
Seorang yang masih be-rusia demikian muda telah mempunyai kepandaian tinggi.
"Sama sekali tidak, Sobat.
Orang-orang yang kuhadapi kebetulan telah berbaik hati mau mengalah. Kalau
tidak, mana mungkin aku akan dapat mengung-guli mereka?" sambut Arya
merendah.
"Ha ha ha...!" Malaikat
Utara tertawa bergelak. Keras sekali. Tapi hanya sebentar. Kemudian langsung
ditutup dengan dengusan. Wajahnya kembali dingin seperti semula. "Kau
memang pandai merendah, Dewa Arak. Tapi, itu tidak penting! Perkenalkan, aku
adalah Malaikat Utara!"
Arya terkejut mendengar
pemberitahuan ini. Dia telah mendengar berita kalau telah muncul seo-
rang tokoh kaum sesat yang
merajai wilayah utara. Ia berjuluk Malaikat Utara. Jadi, inikah tokoh yang
ter-kenal itu? Meski demikian, pada wajah tampan Arya tidak terlihat bias
perasaannya. Wajahnya tampak te-tap tenang.
"Kiranya kau datuk sesat
wilayah utara ini, Ma-laikat Utara." Datar dan ringan ucapan yang
dikelua-rkan Arya. "Maaf kalau aku mengacau tempat mu. Ini sungguh tidak
ku sengaja. Kuharap kau mau berbesar hati membiarkan aku pergi dari sini. Untuk
itu, aku mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya."
Kembali Malaikat Utara tertawa
bergelak. Dan diakhiri dengan dengusan tajam.
"Sayang sekali, Dewa Arak.
Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Kau sudah memasuki tem-pat
tinggalku, menimbulkan kekacauan dan meroboh-kan pengikut-pengikut ku. Kalau
kubiarkan pergi, apa kata orang nanti? Mereka akan menganggap aku takut padamu.
Ini akan menjatuhkan namaku. Orang-orang akan berani keluar masuk tempat
tinggalku dengan seenaknya."
"Jadi...." Arya menggantungkan
ucapannya. Di-tunggunya jawaban Malaikat Utara. Sekujur urat-urat syarafnya
menegang penuh kewaspadaan. Arya tahu betapa pun lihai dirinya, tapi apabila
Malaikat Utara dan semua pengikutnya turun tangan dia tidak akan bisa keluar
dari tempat ini dalam keadaan hidup.
"Kau boleh keluar dari
tempat ini bila mampu memenuhi persyaratan ku!" tandas Malaikat Utara
pe-nuh wibawa. "Bagaimana? Kau setuju?"
"Tergantung persyaratan yang
kau ajukan, Ma-laikat Utara!" Arya menjawab tak kalah tegas. "Aku
ti-dak langsung menyetujui bila tidak mengetahui syarat yang akan kau
ajukan!"
"Tidak berat. Dewa Arak. Kau
hanya mencoba untuk memenangkan adu ketrampilan dengan seorang anak buahku.
Apabila kau menang, aku akan mem-biarkan kau pergi dari sini dengan membawa gadis
liar itu! Tapi bila kau kalah, kau harus berhadapan den-ganku! Kau
berani?"
"Tidak ada kata tidak bagi
sebuah tantangan yang diajukan padaku!" Dengan lantang Arya menja-wab.
Hatinya panas karena mendapat pertanyaan apa-kah dirinya berani menerima tantangan
yang diajukan Malaikat Utara.
"Bagus!" Malaikat Utara
berseru gembira. Hal itu akan
mengangkat namanya tinggi-tinggi dalam pandangan para pengikutnya. Dia mampu
memaksa Dewa Arak untuk mengikuti aturannya. Itu keuntun-gan pertama. Yang
kedua, dia telah mengangkat di-rinya karena Dewa Arak hanya akan dapat
menghada-pinya bila memenangkan pertarungan dari anak buah-nya. Malaikat Utara
telah dengan cerdiknya menem-patkan diri di atas Dewa Arak.
Dengan senyum lebar karena merasa
yakin akan kemenangan di pihaknya, Malaikat Utara mengu-lapkan tangan pada
seorang pengikutnya. Ia seorang lelaki kekar memakai rompi dari kulit harimau.
Kulit-nya hitam kecoklatan dengan rambut kemerahan. Di belakang punggungnya
tampak sebilah busur dengan sekotak panjang anak panah.
"Pengikut ku ini berjuluk
Raja Panah Berbaju Emas." Malaikat Utara memperkenalkan lelaki ber-rambut
kemerahan pada Arya. "Dialah yang akan men-jadi lawanmu, Dewa Arak."
Meski terkejut melihat calon
lawannya, Dewa Arak tetap bersikap tenang. Dalam hati dia memuji ke-cerdikan
Malaikat Utara. Tapi, Arya tidak berkecil hati. Kalau hanya permainan panah,
dia mampu melaku-
kannya. Bagi orang seperti Dewa
Arak, memanah bu-kan merupakan kepandaian asing. Pemuda berambut putih
keperakan itu mampu melakukannya dengan baik.
"Silakan kalian
bertarung," ujar Malaikat Utara. Ditinggalkannya Arya dan Raja Panah
Berbaju Emas.
"Pertarungan macam apa yang
kau inginkan Raja Panah?" tanya Arya. Ditatapnya wajah lelaki be-rambut
kemerahan itu sejenak.
Raja Panah Berbaju Emas tidak
segera menja-wab. Dia melangkah dengan menengadahkan kepala, seperti ada yang
dicarinya. Dan, wajahnya berseri keti-ka melihat titik-titik hitam di angkasa.
Burung-burung yang tengah beterbangan.
"Itulah yang akan kita
pertarungkan!" Raja Pa-nah Berbaju Emas ke angkasa. "Kau
sanggup?"
"Mengapa tidak?" jawab
Dewa Arak cepat. Pe-muda berambut putih keperakan ini merasa yakin. Ka-lau
hanya membidik burung-burung itu, Arya yakin akan mampu melakukannya.
"Kalau begitu, kita
mulai!"
Raja Panah Berbaju Emas
mengeluarkan seba-tang anak panah dari kantong yang tergantung di punggungnya.
Kemudian, dipasangnya pada tali busur dan dibidikkan ke angkasa mencari
sasaran. Tampak burung-burung terbang berkelompok hendak pulang ke sarang.
Memang waktu itu hari telah sore. Matahari mulai terbenam di kaki langit.
Terdengar bunyi berdes-ing dari luncuran anak panah. Sesaat kemudian, terli-hat
sesuatu melayang jatuh dan berdebuk di tanah. Seketika orang-orang berdecak
kagum ketika melihat seekor burung telah terpanggang lehernya oleh panah Raja
Panah Berbaju Emas.
"Lakukanlah seperti yang
kulakukan." Raja Pa-nah Berbaju Emas menyerahkan anak panah dan bu-
surnya pada Dewa Arak.
Pemuda berambut putih keperakan
itu mema-sang anak panah pada tali busur dan membidikkan ke atas. Agak lama
baru terdengar suara berdesing ketika anak panah itu lepas dari busurnya.
Sesaat kemudian, terdengar bunyi berdebuk. Seekor burung jatuh ke ta-nah dengan
dada tertembus panah. Raja Panah Berba-ju Emas tersenyum gembira. Dia tidak
merasa gusar dengan keberhasilan Dewa Arak. Ia mendapat seorang lawan yang
cukup tangguh. Kalau dalam segebrakan saja pemuda berambut putih keperakan itu
berhasil dikalahkan, dia malah akan kecewa.
"Kau boleh juga, Dewa Arak.
Tapi, sekarang aku yakin kau tidak akan mampu menandingi ku. Tadi hanya
permulaan saja. Hanya untuk menguji apakah kau pantas berhadapan denganku. Raja
Panah Berba-ju Emas!"
4
Begitu menerima angsuran busur
dari Dewa Arak, Raja Panah Berbaju Emas segera mengambil tiga batang anak panah
dan memasangkan ke busurnya. Arya menatapnya dengan sepasang mata heran.
Pe-muda berambut putih keperakan ini menduga-duga dalam hati. Apakah Raja Panah
Berbaju Emas ber-maksud melepaskan tiga batang anak panah itu ber-samaan?
Tanpa mempedulikan keheranan Dewa
Arak, Raja Panah Berbaju Emas menarik tali busurnya. Ke-mudian, dilepaskannya
hingga terdengar bunyi berdes-ing nyaring. Tiga batang anak panah itu melesat
ke atas. Dan, tak lama kemudian terdengar bunyi berde-buk dari jatuhnya tiga
ekor burung di tanah.
Sekarang Dewa Arak benar-benar
melihat buk-ti. Julukan yang disandang lelaki berambut kemera-han itu tidak
berlebihan kalau julukan Raja Panah Berbaju Emas diberikan padanya.
Kemampuannya da-lam memanah memang luar biasa. Tiga ekor burung itu terpanggang
anak panah pada bagian yang sulit. Leher!
Dengan perasaan bimbang, Dewa
Arak meneri-ma busur dan tiga batang anak panah yang diangsur-kan Raja Panah
Berbaju Emas. Arya tahu kemungki-nan untuk dapat melakukan hal seperti Raja
Panah Berbaju Emas kecil sekali. Memanah dengan tiga ba-tang anak panah
sekaligus, dan ketiga-tiganya menge-nai sasaran yang berbeda, merupakan
pekerjaan yang amat sulit.
"Apakah Malaikat Utara,
datuk yang merajai wi-layah utara berada di dalam? Kami harap kau keluar dan
menemui kami. Atau, kami yang akan masuk ke dalam!"
Seruan keras itu menggema ke
seluruh penjuru kediaman Malaikat Utara. Getarannya sanggup meng-guncangkan isi
dada. Hingga, semua tokoh persilatan yang berada di situ mengerahkan tenaga
dalam untuk mencegah getaran yang dapat merusak isi dada.
Seruan itu tidak hanya
mengejutkan Malaikat Utara, tapi juga semua pengikutnya. Bahkan Dewa Arak pun
demikian. Pemilik suara itu memiliki kepan-daian tinggi, terutama tenaga
dalamnya.
"Tidak perlu banyak
basa-basi, Sobat! Jika kau ingin menemuiku, silakan masuk!"
Malaikat Utara tak mau kalah
gertak. Ia menge-rahkan kemampuan tenaga dalamnya. Tidak terlihat lelaki itu
berteriak. Hanya sedikit menggerakkan bibir, tapi bunyi yang keluar dari
mulutnya laksana halilin-tar! Keras bukan main.
Baru saja seruan Malaikat Utara
keluar, dari arah pintu gerbang tampak berkelebat sesosok bayan-gan. Tahu-tahu
di tempat itu telah berdiri tegak seso-sok tubuh yang mengejutkan semua orang.
Bukan ka-rena kecepatan gerakannya, tapi karena jati dirinya!
Sosok itu memiliki tubuh kekar
terbungkus pa-kaian dari bulu binatang, semacam kambing. Sepa-sang matanya agak
sipit. Wajahnya kokoh. Tampak ke-ras, dan kasar. Tapi, memperlihatkan perbedaan
yang menyolok dengan kerasnya wajah Malaikat Utara. Dan lagi, sosok yang baru
datang ini mengenakan sebuah topi baja bundar setengah tempurung kelapa.
Tepat pada bagian tengah topi
baja itu terdapat besi runcing sepanjang dua jari. Pada bagian bawah-nya, di
sekelilingnya, terdapat hiasan-hiasan dari bulu binatang. Pada bagian belakang
topi baja itu, menutup tengkuk dan bagian belakang lehernya, ada sehelai kain
hitam dari kulit harimau kumbang. Lebar dan panjang kulit itu tak lebih dari
dua jengkal.
"Siapa kau, Sobat? Aku yakin
kau berasal dari tempat yang jauh...." Malaikat Utara membuka pembi-caraan
dengan suara berwibawa. Dia sudah mampu mengusir perasaan kaget yang semula
mendera ha-tinya. Sejak pertama kali terdengar seruan sosok itu, Malaikat Utara
sudah merasa heran. Logat yang ter-dengar demikian aneh. Ternyata pemiliknya
memang orang aneh.
"Namaku Targoutai! Aku
berasal dari negeri yang jauh dari tempat ini. Mongol, nama negeri ku"
sahut lelaki kekar berusia empat puluh lima tahun dan bertopi baja bundar itu.
Suaranya patah-patah dan kaku.
"Mongol?!" Malaikat
Utara mengernyitkan dahi. Sikapnya seperti orang yang tengah berpikir keras.
"Aku pernah mendengar akan adanya pasukan tentara
Mongol yang datang ke negeri
ini"
"Memang benar!"
Targoutai menjawab cepat. "Aku datang bersama rombongan tentara itu tanpa
se-pengetahuan mereka. Tapi aku tidak terus mengikuti mereka. Aku memisahkan
diri. Kedatangan mereka ka-rena urusan kerajaan, sedangkan aku tidak. Aku
da-tang karena ingin membuktikan sendiri berita yang kudengar. Di negeri ku,
aku merupakan salah seorang tokoh yang hampir tidak pernah tertandingi.
Kesenan-ganku yang utama adalah bertarung. Kudengar kau merupakan tokoh
terkenal wilayah utara, maka aku datang kemari."
"Kau tidak salah,
Sobat!" Malaikat Utara men-jawab sambil membusungkan dada, menampakkan
kesombongan. "Aku bukan hanya tokoh terkenal di wi-layah utara ini. Tapi,
juga tokoh nomor satu di wilayah utara! Tak lama lagi aku akan menjadi tokoh
nomor satu untuk semua wilayah. Aku akan menjadi tokoh tersakti di seluruh
penjuru mata angin! Ha ha ha...!"
"Syukurlah kalau demikian.
Memang kedatan-ganku untuk mencari tokoh-tokoh nomor satu!"
"Ku turuti kemauanmu,
Targoutai!" timpal Ma-laikat Utara angkuh.
"Hih!"
Targoutai membuka serangannya
dengan se-buah pukulan sederhana. Tangan kanannya terkepal dihantamkan ke arah
dada Malaikat Utara. Meski ter-lihat sederhana, bunyi mengaung keras mengiringi
luncuran kepalannya yang cukup besar.
Malaikat Utara yang tidak ingin
dianggap pen-gecut, di samping ingin menunjukkan kalau dirinya ja-go nomor satu
wilayah utara, tanpa pikir-pikir panjang lagi menyambuti serangan Targoutai
dengan sikap se-rupa.
Bresss!
Sepasang mata Malaikat Utara
membelalak le-bar. Akibat benturan itu Targoutai hanya terhuyung-huyung dua
langkah. Padahal, dia sendiri terhuyung sampai tiga langkah! Jari-jari
tangannya yang berben-turan dengan jari lawan terasa sakit bukan main, se-perti
membentur gumpalan besi.
Kalau Malaikat Utara sangat
terkejut, tidak demikian halnya dengan Targoutai. Lelaki kekar Mon-gol ini
malah tertawa bergelak. Ia kelihatan gembira sekali.
"Kau hebat, Malaikat Utara.
Kau merupakan seorang lawan yang amat menyenangkan! Tapi keta-huilah. Aku tidak
bertindak main-main. Sekali aku bertarung, tidak akan berhenti sampai lawanku
meng-geletak tak berdaya!"
"Tidak usah banyak cakap,
Targoutai!" Malaikat Utara hampir saja keseleo lidahnya. Nama lelaki
Mon-gol itu memang sulit untuk dihafalkan. "Aku belum ka-lah!"
Malaikat Utara membuka serangan
dengan se-buah tendangan ke arah perut Pada saat itu Targoutai tengah berdiri
dengan tubuh agak membungkuk. Ke-dua tangannya terkembang di sisi pinggang.
Dan, se-pasang matanya mengintai dari bawah.
Desss!
Tubuh Targoutai terhuyung-huyung
ke bela-kang ketika kaki Malaikat Utara dengan telak bersa-rang di sasaran.
Tapi, lelaki Mongol ini seakan-akan memiliki tubuh dari baja. Begitu kekuatan
yang mem-buat tubuhnya terhuyung usai, dia berdiri seperti se-mula. Bahkan
kemudian menubruk ke arah pinggang Malaikat Utara dengan kedua tangannya.
Malaikat Utara kaget melihat
bentuk penyeran-gan yang tampak aneh itu. Dia tidak berani bertindak gegabah.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan
tubuh, dielakkannya serangan itu.
Bahkan, kemudian balas menyerang dengan tak kalah dahsyatnya.
Pertarungan unik pun berlangsung.
Malaikat Utara harus mengakui kalau baru pertama kali ini dia menemukan lawan
yang memiliki ilmu demikian aneh seperti ini. Malaikat Utara tidak tahu kalau
Targoutai memiliki ilmu khas suku Mongol, yaitu ilmu gulat! Dengan ilmu itu,
Targoutai berusaha secepat mungkin mengalahkan Malaikat Utara.
Tappp! "Uh...!"
Malaikat Utara mengeluarkan
keluhan terta-han. Pergelangan tangannya berhasil dicekal tangan Targoutai.
Dan, kekagetannya semakin bertambah ke-tika dengan sigap dan sangat cepat,
Targoutai memu-tar tangannya. Tubuh Malaikat Utara pun ter-paksa berbalik kalau
tidak ingin tangannya patah.
Malaikat Utara baru menyadari
kehebatan ilmu gulat Targoutai. Ia tahu keadaan amat berbahaya. Ke-dudukannya
sekarang membelakangi Targoutai! Tan-gan kanannya telah ditelikung dan ditekan
ke atas. Malaikat Utara mati kutu. Mudah saja bagi Targoutai untuk mengirimkan
serangan susulan yang memati-kan!
Tapi Malaikat Utara ternyata
bukan sembaran-gan tokoh. Dalam keadaan yang mengkhawatirkan itu, dia mampu
menunjukkan kalau dirinya pantas berge-lar tokoh nomor satu wilayah utara.
Setelah menjejak-kan kaki, dia mampu membuat tubuhnya jungkir balik di udara.
Kemudian, hinggap di belakang tubuh Tar-goutai! Tapi hal ini tidak berlangsung
lama. Tangan Targoutai bergerak menyentak ke depan. Tubuh Malai-kat Utara pun
terbawa ke depan dan terbanting ke ta-nah!
Meski kepalanya terasa pening
bukan main,
Malaikat Utara menggulingkan
tubuhnya menjauh. Malaikat Utara menyeringai ketika merasakan sakit yang sangat
mendera pada bagian kiri tubuhnya. Mungkin salah satu tulang iganya ada yang
patah. Pa-dahal, tadi Malaikat Utara telah mengerahkan tenaga dalam untuk
melindungi tubuhnya.
Targoutai tidak tinggal diam.
Tangannya segera digerakkan mengambil busur dan anak panah yang tersampir di
punggung. Sesaat kemudian, terdengar bunyi berdesing nyaring ketika tiga batang
anak panah meluncur ke arah tubuh Malaikat Utara yang tengah bergulingan.
Malaikat Utara mendengar bunyi
desingan ta-jam yang mengiris telinga itu. Dia pun tahu apa ar-tinya. Tapi apa
dayanya? Saat itu dia tengah bergulin-gan. Tidak ada yang dapat dilakukannya.
Di saat ber-bahaya itu, terdengar bunyi tali busur berdentang nyaring. Raja
Panah Berbaju Emas melepaskan tiga batang anak panah untuk mencegah anak-anak
panah Targoutai! Tiga pasang anak panah itu berbenturan di udara. Anak-anak
panah Raja Panah Berbaju Emas agak terpental ke belakang, dan runtuh ke tanah!
Se-dangkan anak panah Targoutai hanya melenceng arahnya. Dari benturan ini bisa
diketahui kalau tenaga dalam Raja Panah Berbaju Emas tidak bisa
diperban-dingkan dengan Targoutai.
Targoutai menggeram keras. Dia
tampak marah sekali. Bukan karena kegagalannya membunuh Malai-kat Utara, tapi
karena campur tangan Raja Panah Ber-baju Emas. Sebagai seorang Mongol, ia
mempunyai aturan aneh di negerinya. Dalam sebuah pertandingan satu lawan satu,
tidak boleh seorang pun membantu! Begitu pun andaikata dirinya yang terdesak
oleh lawan dan terancam maut, dan kebetulan dia mempunyai teman. Targoutai dan
suku bangsanya lebih memen-
tingkan kegagahan daripada nyawa!
Itu sebabnya dia geram bukan main terhadap Raja Panah Berbaju Emas. Targoutai
menganggap Raja Panah Berbaju Emas sebagai seorang pengecut. Targoutai sangat
membenci hal itu.
"Kau ingin mengadu
kepandaian memanah denganku, Pengecut Hina?!" bentak Targoutai menan-tang
dengan suara kaku.
"Tidak ada alasan bagiku
untuk menolak. Orang Asing!" tandas Raja Panah Berbaju dengan sua-ra
keras. Terbakar amarah atas hinaan penuh tantan-gan itu.
"Bagus!" Targoutai agak
berkurang rasa sebal-nya. Sambutan lelaki berambut kemerahan terhadap tantangannya
membuat lelaki kekar dari Mongol ini menjadi lebih hormat. Sikap Raja Panah
Berbaju Emas menunjukkan kegagahan.
Hampir bersamaan dua lelaki gagah
yang sa-ma-sama memiliki keahlian memanah itu mundur be-berapa langkah untuk
mengambil jarak. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Malaikat Utara
untuk menepi. Lelaki ini sebenarnya mengalami luka dalam yang cukup parah.
Pergelangan tangan kanan-nya patah.
***
"Sekarang, semua pasang mata
tertuju ke arah Raja Panah Berbaju Emas dan Targoutai. Semuanya merasakan
jantung dalam dadanya berdetak lebih ce-pat. Biasanya para pengikut Malaikat
Utara tidak per-nah meragukan kemampuan Raja Panah Berbaju Emas. Tapi sekarang
mereka semua meragukannya. Telah mereka saksikan sendiri kemampuan Targoutai
mempergunakan anak panah.
Setelah saling menatap lawan di
hadapannya dengan mata tidak berkedip, anak-anak panah yang telah dipasang di
busur pun dilepaskan. Tidak tang-gung-tanggung. Tiga batang anak panah
sekaligus. Masing-masing tertuju pada bagian-bagian berbahaya di tubuh lawan.
Untuk pertama kalinya semua tokoh
yang be-rada di situ membelalakkan mata melihat pertarungan memanah. Tiga anak
panah yang dilepaskan dari arah yang berlawanan itu berbenturan di udara. Tepat
di tengah-tengah kedua jago panah itu. Seperti sebelum-nya, karena Targoutai
memiliki tenaga dalam yang jauh lebih kuat, tiga batang anak panahnya berhasil
melemparkan panah lawan. Meski demikian, tiga ba-tang anak panah Targoutai
kemudian runtuh karena lajunya telah terhambat.
Tapi masing-masing pihak tidak
mempedulikan hal itu. Mereka segera mengambil anak panah dan me-lepaskannya
kembali, saling adu cepat. Untuk kedua kalinya, tiga pasang anak panah itu berbenturan
di tengah jalan, tapi agak lebih dekat pada Raja Panah Berbaju Emas. Dan ketiga
kalinya, benturan itu lebih dekat lagi dengan Raja Panah Berbaju Emas. Agaknya,
tokoh golongan hitam pengikut Malaikat Utara ini ka-lah cepat dalam mengambil
anak panah! Kalah gesit di samping kalah tenaga.
Cappp! "Aaakh...!"
Raja Panah Berbaju Emas menjerit
keras. Tiga batang anak panah yang dilepaskan Targoutai menem-bus leher, dada,
dan pusarnya. Lelaki berambut keme-rahan ini baru saja selesai memasang
anak-anak pa-nah pada busurnya. Rupanya dia kalah cepat. Anak-anak panah itu
melesat ke udara karena. Raja Panah Berbaju Emas roboh ke tanah. Dia tewas!
"Ah...!"
Meski telah menduga sebelumnya,
Malaikat Utara, Setan Kipas, Pengemis Tongkat Merah, dan te-man-temannya berseru
kaget. Kehidupan Raja Panah Berbaju Emas berakhir menyedihkan. Tewas di ujung
anak panah!
Targoutai dengan wajah dingin
menyimpan bu-surnya kembali. Kemudian, tatapannya tertuju pada Malaikat Utara.
"Kita masih mempunyai
urusan, Malaikat Uta-ra. Sudah kukatakan aku tidak akan bertindak
tang-gung-tanggung bila telah bertarung denganku!" tandas Targoutai
dingin.
Tanpa sadar Malaikat Utara
bergerak mundur selangkah. Meski sebenarnya dia bukan seorang pen-gecut, tapi
sikap Targoutai benar-benar mengerikan. Setan Kipas dan Pengemis Tongkat Merah
serta bela-san tokoh-tokoh persilatan lain segera melangkah ma-ju.
Senjata-senjata mereka terhunus di tangan.
"Ha ha ha...!"
Targoutai langsung tertawa
bergelak. Dia tidak kelihatan gentar. Bahkan, merasa gembira melihat si-kap
pengikut-pengikut Malaikat Utara.
"Tidak usah ragu-ragu. Ayo
maju! Hadapi aku! Seorang demi seorang hanya akan memakan waktu sa-ja!
Majulah!"
Targoutai segera melangkah mundur
dan men-gambil sebatang lembing yang tadi ditancapkan di ta-nah ketika dia
bertarung dengan Malaikat Utara. Dekat bagian ujung lembing yang tajam berkilat
terhias bulu-bulu binatang, sejenis kambing.
Baru saja Targoutai menggenggam
lembing, be-lasan tokoh persilatan itu menerjang maju seraya mengayunkan
senjata masing-masing. Sambil tertawa bergelak, Targoutai menyambutnya.
Pertarungan tak
seimbang pun terjadi.
Malaikat Utara yang tidak ikut
dalam penge-royokan memperhatikan tanpa berkedip. Sebagai seo-rang tokoh besar,
tentu saja lelaki ini tidak mau mela-kukan pengeroyokan. Baginya, lebih baik
mati daripa-da melakukan tindakan pengecut seperti itu. Apalagi saat ini
keadaannya tidak mengizinkan untuk melaku-kan hal seperti itu
Malaikat Utara ingin membuktikan
kebenaran dugaannya. Tadi dia mendapati kenyataan yang men-gejutkan sewaktu
bertarung dengan Targoutai.
Lelaki dari Mongol itu tidak
terluka meski ter-kena tendangan telak. Malaikat Utara seperti meng-hantam
gumpalan karet keras yang kenyal.
Malaikat Utara tahu pengeroyokan
Setan Kipas dan yang lain-lain, bila dia sendiri yang menghadapi tak akan bisa
ditanggulangi. Mereka terlalu tangguh untuk ditanggulangi sendiri. Targoutai
pun tak akan mampu menghadapi mereka. Tapi, itu dalam keadaan biasa. Padahal,
Malaikat Utara tahu Targoutai memiliki kekuatan lain yang membuatnya jadi luar
biasa.
Malaikat Utara tengah menanti hal
yang luar biasa itu. Sesuatu yang ditunggu-tunggu Malaikat Uta-ra ternyata
tidak muncul begitu saja. Dalam gebrakan-gebrakan pertama yang terlihat adalah
ramainya perta-rungan. Tapi, Malaikat Utara sudah dapat melihat hal-hal yang
mencurigakan.
Terlihat jelas oleh Malaikat
Utara, Targoutai hampir tidak mempedulikan pertahanan. Yang dilaku-kan lelaki
kekar dari Mongol ini adalah menyerang! Bahkan ketika lawan mengirimkan
serangan memati-kan, dia tidak mempedulikan sama sekali. Ia balas menyerang
seperti hendak mengajak mati bersama. Hal itu membuat lawan yang menyerang
membatalkan serangan.
Sepasang mata Malaikat Utara yang
tajam me-lihat kalau Targoutai hanya mengelak bila serangan itu tertuju ke arah
sepasang matanya. Tak jarang seran-gan yang meluncur ke bagian itu
ditangkisnya. Pada hal, serangan terhadap mata paling parah hanya akan membuat
sepasang mata itu buta. Tapi Targoutai menghindarinya! Serangan yang mematikan
justru di-biarkan meluncur ke arah sasaran.
Hal itu sepertinya mengherankan.
Tapi, tidak demikian halnya dengan Malaikat Utara. Datuk wi-layah utara ini
tahu dugaannya benar. Targoutai me-miliki tubuh yang kebal! Itulah sebabnya
serang-an-serangan mematikan dibiarkan saja. Sedangkan seran-gan terhadap mata
tidak disepelekan. Karena, betapa-pun saktinya seseorang tak mungkin mampu
membuat sepasang mata menjadi kebal.
Dan, keyakinan Malaikat Utara
menjadi kenya-taan. Berbagai macam senjata yang mendarat di tubuh Targoutai
hanya menyebabkan senjata-senjata itu membalik seperti berbenturan dengan karet
keras yang kenyal.
Kenyataan itu rupanya mengejutkan
pengikut-pengikut Malaikat Utara. Mereka baru menyadari Tar-goutai memiliki
tubuh yang kebal. Tidak mempan ter-hadap segala macam senjata. Setan Kipas dan
yang lain-lainnya jadi hanya mempunyai sasaran serangan yang sedikit. Berbeda
dengan Targoutai. Hingga, tak sampai menginjak jurus kedelapan salah seorang di
antara mereka tewas tertusuk lembing Targoutai.
Beberapa jurus kemudian, seorang
lagi tewas karena tertangkap Targoutai kemudian dibantingnya keras-keras.
Jeritan menyayat terdengar susul menyu-sul. Tak sampai dua puluh lima jurus
tidak ada satu pun di antara mereka yang masih berdiri tegak. Mere-ka semua
tewas dengan mengerikan. Malaikat Utara
tidak berubah wajahnya meski
melihat semua pengi-kutnya tewas. Dia tidak sudi melarikan diri. Apalagi,
keadaannya memang tidak memungkinkan. Malaikat Utara lebih suka tewas sebagai
harimau daripada mati sebagai babi! Dia tidak takut mati. Hanya saja lelaki ini
merasa kecewa karena impiannya untuk menjadi jago nomor satu harus kandas
sebelum tercapai. Justru di saat dia baru merintis!
5
"Ha ha ha...!"
Tawa bergelak keras yang bernada
meremehkan terdengar memecah suasana malam yang dingin. Tawa itu berasal dari
dalam sebuah ruangan yang luas dan megah di dalam bangunan besar. Tampak
seorang pe-muda tampan berpakaian mewah. Kulitnya halus dan mulus seperti kulit
wanita. Sebuah cangklong yang mengepulkan asap ter-genggam di tangan kanannya.
Pemuda itu tidak lain putra dari Raja Sihir Penyebar Maut. Pemuda yang telah
menggemparkan rumah ma-kan dengan tindakannya yang luar biasa.
"Kalau tidak mendengar
sendiri dari mulutmu, aku tidak akan percaya, Setan Timur! Kau yang men-guasai
wilayah timur dan menjadi datuk nomor satu di sana datang ke tempatku untuk
menceritakan hal ini? Ha ha ha...! Lucu! Lucu sekali...!"
"Kau terlalu menganggap
remeh persoalan ini, Dewa Tampan!" sambut sebuah suara yang nyata-nyata
menyiratkan kekesalan. "Aku tahu kau datuk wi-layah selatan sekarang. Tapi
aku sangsi apakah kau mampu menandingi ku. Dan...."
"Bisa kau buktikan sendiri
nanti. Dua hari lagi
kita akan mengadakan pertemuan
untuk menentukan siapa yang lebih sakti di antara kita. Ia pantas berjuluk jago
nomor satu." sambut pemuda berpakaian mewah cepat seraya menghembuskan
asap cangklongnya.
"Bukan itu maksudku, Dewa
Tampan." sergah Setan Timur. Ia seorang lelaki berusia sekitar empat puluh
lima tahun. Berkepala botak dan bercambar bauk lebat. Pakaiannya berwarna
coklat dengan lengan baju sampai di bawah siku. Tampak gelang hitam meli-lit
pergelangan tangan kanan dan kirinya. "Aku hanya memperbandingkan saja.
Harap kau ingat. Bukan be-rarti aku takut padamu. Tapi, biar bagaimanapun juga
kau perlu kuberitahu."
"Hm...!"
Dewa Tampan yang julukan
lengkapnya Dewa Tampan Dari Selatan, yang mendapat julukan itu sete-lah
kemenangannya dalam memperebutkan kedudu-kan datuk wilayah selatan yang
berlangsung di Puncak Kabut Putih, menggumam. Sikapnya memperlihatkan dia mulai
tertarik mendengarkan pernyataan Setan Timur.
"Kau tahu Malaikat Utara dan
Raksasa Barat, kan?" Setan Timur yang pandai mempergunakan ke-sempatan
segera memotong. Tidak ada jawaban dari mulut Dewa Tampan Dari Selatan. Tapi
dia tidak pedu-li. "Raksasa Barat bisa kita perkirakan kepandaiannya. Dia
adalah murid terkasih Raja Racun Sakti. Malaikat Utara tidak perlu kita
perhitungkan dulu karena dia tidak bisa kita perkirakan kepandaiannya, meski
dari keberhasilannya menjadi datuk di wilayah utara sudah cukup untuk
membuktikan kelihaiannya. Tapi kita ti-dak bisa mencari patokan. Berbeda dengan
Raksasa Barat"
Dewa Tampan Dari Selatan hanya
menggerak-kan alisnya ke atas dan mengepulkan asap cangklong-
nya. Dia tidak berbicara sedikit
pun untuk memberi-kan tanggapan terhadap pernyataan rekannya.
"Kita tahu, Raja Racun Sakti
memiliki kemam-puan setaraf dengan gurumu, Raja Sihir Penyebar Maut. Karena itu
mereka hanya dapat menguasai dua wilayah yang memang sebelumnya telah dikuasai
me-reka. Jadi, kita bisa memperkirakan kemampuan Rak-sasa Barat sebagai murid
terkasih Raja Racun Sakti yang tidak berselisih jauh denganmu sebagai putra
Ra-ja Sihir Penyebar Maut" Setan Timur menyambung. "Dan, perlu kau
ketahui, Dewa Tampan. Raksasa Barat seperti juga halnya Malaikat Utara telah
tewas di tan-gan tokoh baru dunia persilatan."
"Aku telah mendengar berita
itu. Apa anehnya?" Dewa Tampan Dari Selatan yang memiliki watak som-bong
langsung menimpali. "Justru apabila hal itu be-nar, aku tidak perlu lagi
bersusah payah mengalahkan mereka untuk mendapatkan wilayah kekuasaan mere-ka.
Meskipun andaikata mereka masih hidup aku mampu merebut wilayah mereka, itu
menjadikan aku datuk nomor satu di seluruh penjuru mata angin"
"Kau terlalu sombong, Dewa
Tampan!" Setan Timur tak kuasa menahan rasa kesalnya. "Aku tidak
heran kalau kau akhirnya akan tewas di tangan tokoh sakti yang telah menewaskan
Raksasa Barat dan Ma-laikat Utara. Mengapa aku berani berkesimpulan de-mikian?
Karena kau memiliki kemampuan di bawah Raksasa Barat!"
"Keparat!"
Dewa Tampan Dari Selatan yang
tidak boleh tersinggung sedikit pun langsung mengirimkan gedo-ran telapak
tangan terbuka ke arah dada Setan Timur. Tapi, Setan Timur memang sudah
menduga. Tanpa ra-gu disambutinya serangan itu dengan sikap serupa.
Plakkk!
Benturan keras yang terjadi
mengguncangkan tubuh Dewa Tampan Dari Selatan dan Setan Timur. Saat itu mereka
tengah duduk di kursi, saling berha-dapan dan hanya dibatasi sebuah meja bundar
yang indah.
Kegagalan serangan ini membuat
Dewa Tampan Dari Selatan tak kuasa menahan amarah.
Cangklongnya diayunkan ke arah
pelipis Setan Timur. Meskipun hanya cangklong, tapi di tangan De-wa Tampan Dari
Selatan tak kalah berbahayanya den-gan hantaman sebuah tongkat baja!
Trakkk!
Lagi-lagi serangan itu kandas.
Setan Timur memapakinya dengan pisau belati di tangan kiri. Dewa Tampan Dari
Selatan bergegas menyusulinya dengan tiupan mulutnya. Bukan sembarang tiupan.
Tadi dia baru saja mengisap tembakaunya. Sehingga, sekarang asap itu meluncur
ke arah wajah Setan Timur. Asap yang dapat membuat mata perih dan pandangan
ter-halang. Sungguh sebuah serangan yang berbahaya ka-rena dilakukan dalam
jarak dekat. Dua datuk sesat ini melakukan pertarungan di atas kursi dalam
keadaan masih duduk.
Setan Timur memang seorang tokoh
sesat yang luar biasa. Tidak percuma tokoh ini menjadi jago no-mor satu wilayah
timur. Menghadapi serangan Dewa Tampan Dari Selatan, dia tidak menjadi gugup.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Setan Timur mengambil sesuatu dari balik
bajunya, kemudian dikebutkan. Asap yang semula menghambur ke arahnya berbalik
kembali ke arah Dewa Tampan Dari Selatan. Sesuatu yang diambil Setan Timur
adalah sebuah kipas.
Tentu saja serangan asap yang
membalik itu ti-dak ada artinya bagi Dewa Tampan Dari Selatan.
Serbuan asap yang menuju ke
arahnya tidak
pedulikan. Dewa Tampan Dari
Selatan pusatkan per-hatian pada serangan lain. Dan ketika asap itu berha-sil
diusirnya, Setan Timur membarengi dengan totokan kipasnya ke arah hati. Namun
serangan itu berhasil dipunahkan Dewa Tampan Dari Selatan dengan tang-kisannya.
Tidak hanya kedua tangan saja
yang dipergu-nakan kedua datuk itu. Tapi, juga kedua kaki mereka. Kaki-kaki
mereka saling menendang dan menangkis di bawah meja. Cukup lama juga
pertarungan itu ber-langsung.
Ketika untuk kesekian kalinya
tubuh kedua da-tuk itu terguncang, Setan Timur segera mengambil ke-sempatan.
"Apakah kau ingin kita
terlibat dalam pertarun-gan, Dewa Tampan? Tahukah kau di saat kita lemah, tokoh
baru itu akan datang dan membantai kita den-gan mudah?"
"Aku tidak takut!"
sentak Dewa Tampan Dari Selatan keras. "Akan kubunuh dia di sini, apabila
be-rani datang!"
"Kaulah yang akan mati, Dewa
Tampan!" sergah Setan Timur. "Kau tahu, tokoh yang kudengar berasal
dari negeri seberang itu memiliki kemampuan luar bi-asa. Seorang diri dia mampu
membinasakan Malaikat Utara dengan kelompoknya. Juga Raksasa Barat dan
pengikut-pengikutnya. Di tempat kediaman kedua da-tuk itu pula. Markas mereka
kemudian, dibumihan-guskan!"
Dewa Tampan Dari Selatan terdiam.
Dia me-mang belum mendengar berita ini. Dia buru-buru me-nyuruh anak buahnya
berhenti bicara ketika mereka memberitahukan tentang kematian Malaikat Utara
dan Raksasa Barat. Padahal, Dewa Tampan Dari Selatan yang menyuruh
pengikut-pengikutnya mencari berita
yang tersebar di dunia
persilatan. Tapi, watak som-bongnya tidak mengizinkan untuk mendengar berita
tentang keunggulan seseorang. Baru sekarang Dewa Tampan Dari Selatan mendengar
berita ini dari mulut Setan Timur.
"Apakah kedua datuk itu
tewas dalam perta-rungan satu lawan satu?" tanya Dewa Tampan Dari Selatan.
"Mula-mula demikian."
Setan Timur mengang-gukkan kepala. "Setelah datuk-datuk itu kalah dan
te-was, pengikut-pengikutnya langsung mengeroyok to-koh asing itu. Tapi, mereka
semua habis dibantai"
"Tokoh asing?!" Dewa
Tampan Dari Selatan mengernyitkan kening. "Dari mana asalnya?"
"Kalau aku tidak salah, dari
Mongol. Tokoh itu bernama Targoutai. Kedatangannya kemari adalah un-tuk mencari
jago-jago nomor satu. Ia ingin menandin-ginya dalam hal ilmu silat. Targoutai
haus pertarun-gan."
"Dari Mongol?" Dewa
Tampan Dari Sela meng-gumam. Keningnya berkerut dalam.
"Benar...!" Setan Timur
mengiyakan. "Ku dengar dari penyelidik-penyelidik yang kukirim, di samping
ilmu silatnya tinggi, jago dari Mongol itu memiliki ilmu kebal yang luar biasa.
Ilmu gulat, ilmu memanah, dan permainan lembing yang amat mahir. Bahkan, Raja
Panah Berbaju Emas tewas dalam pertandingan adu panah dengan Targoutai."
"Ah...!"
Kali ini Dewa Tampan Dari Selatan
tidak mam-pu menahan keterkejutannya. Berita tentang tewasnya Raja Panah
Berbaju Emas di tangan Targoutai sangat mengejutkan putra Raja Sihir Penyebar
Maut ini.
Dewa Tampan Dari Selatan tahu
siapa Raja Pa-nah Berbaju Emas. Seorang ahli panah yang boleh di-
bilang tidak tertandingi. Tak ada
seorang tokoh persila-tan pun yang mampu menandinginya apalagi menga-lahkannya.
Tapi kenyataannya? Targoutai mampu me-lakukan hal itu. Berarti Targoutai
memiliki ilmu me-manah yang sungguh luar biasa!
"Perlu kau ketahui, Dewa
Tampan." Setan Ti-mur menyambung perkataannya. "Aku datang kemari dan
menceritakan semua ini karena aku tidak ingin orang asing itu menjadi jagoan di
tempat kita. Biar ba-gaimanapun juga, andaikata aku tidak men-jadi datuk nomor
satu di dunia persilatan, aku tidak ingin gelar itu jatuh ke tangan orang dari
negeri seberang!"
Dewa Tampan Dari Selatan menatap
wajah Se-tan Timur lekat-lekat, seperti ingin mencari kebenaran ucapan tokoh
nomor satu wilayah timur itu.
"Karena itu, aku ingin
perebutan gelar antar ki-ta ditunda lebih dulu. Bukankah sesuai kesepakatan
akan diadakan minggu depan?"
"Kalau itu keinginanmu, apa
boleh buat?" Dewa Tampan Dari Selatan mengangkat bahunya. "Asal kau
tahu saja, Setan Timur. Aku tidak takut dengan orang yang bernama Targoutai.
Bahkan, aku akan meroboh-kan tokoh-tokoh di daerah barat dan utara supaya
wi-layah kekuasaanku tidak hanya meliputi daerah sela-tan!"
"Lakukan apa yang kau mau,
Dewa Tampan. Dan, selamat melawat ke akherat!"
Bersamaan dengan selesainya
ucapan itu, tu-buh Setan Timur melayang ke belakang bersama den-gan kursinya.
Padahal, lelaki berkepala botak itu hanya mengibaskan kedua tangannya ke bawah.
"Tunggu sebentar, Setan
Timur! Jelaskan mak-sud ucapanmu!"
Dewa Tampan Dari Selatan tidak
mau kalah melakukan unjuk kepandaian. Dia pun menekan ke-
dua tangannya ke bawah. Tubuhnya
bersama kursi yang didudukinya mencelat ke atas melewati meja dan melayang
mengejar kursi Setan Timur. Tepat ketika kaki-kaki kursi Setan Timur hinggap di
lantai, kaki-kaki kursi Dewa Tampan Selatan pun mendarat pula.
"Aku hanya mengucapkan tanda
bukti ikut berduka cita atas kematianmu, Dewa Tampan. Kau ti-dak akan mampu
mengungguli Targoutai! Dia miliki kulit tubuh yang amat kuat. Jangankan tangan,
senja-ta tajam pun tidak mampu melukainya. Selamat ting-gal."
Tanpa mempedulikan Dewa Tampan
Dari Sela-tan yang masih termangu-mangu, Setan Timur melesat meninggalkan
ruangan itu. Dalam sekelebatan bayan-gannya sudah tidak terlihat lagi.
***
"Tolong turunkan aku, Dewa
Arak! Aku berjalan sendiri."
Seruan itu diucapkan seorang
gadis berpakaian biru yang berada dalam bopongan Dewa Arak. Pemuda berambut
putih keperakan itu tengah berlari cepat meninggalkan bangunan mewah dan megah
tempat tinggal Malaikat Utara. Arya mempergunakan kesem-patan di saat
kemunculan Targoutai untuk pergi.
"Ah.... Kalau demikian,
bagus sekali, Nisanak," Arya menyahuti. Kebetulan tempat tinggal Malaikat
Utara sudah tertinggal jauh.
Sebenarnya Arya tahu Citra Sari
tidak akan bi-sa berjalan akibat luka yang dideritanya. Tapi, karena gadis itu
memaksa, permohonan Citra Sari pun dipe-nuhi. Gadis itu dibawa Arya ke tempat
yang agak rin-dang dan dipenuhi pohon-pohon, baru kemudian ditu-runkan.
Citra Sari terhuyung ketika
berdiri dengan ke-dua kakinya. Arya sudah bersiap hendak menangkap apabila
gadis itu terjatuh. Tapi, ternyata tidak. Citra Sari mampu berdiri tegak. Gadis
itu lalu duduk bersila, ia bersemadi untuk memulihkan lukanya.
Terpaksa Arya berdiri menunggu.
Di dalam hati pemuda berambut putih keperakan ini merasa bersyu-kur kebetulan
lewat di tempat itu. Di depan bangunan besar milik Malaikat Utara, ia merasa
heran melihat dua sosok tubuh tergolek di tanah. Arya mendeka-tinya. Kemudian,
terdengar bunyi riuh rendah pertem-puran. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya
me-lesat ke dalam dan melihat Citra Sari tengah terancam bahaya. Dia pun
bergegas menolongnya.
Arya mengeluh dalam hati ketika
teringat Ma-laikat Utara. Pemuda berambut putih keperakan ini memang telah
mendengar selentingan kabar di dunia persilatan. Telah didengarnya kalau dua
datuk kaum sesat yaitu Raja Racun Sakti dan Raja Sesat Penyebar Maut telah
lenyap. Terjadi pergolakan dunia kaum se-sat untuk menjadi pengganti kedua
datuk tersebut. Arya tahu perebutan kedudukan telah berlangsung di empat
wilayah. Di utara keluar sebagai pemenang, Ma-laikat Utara. Di timur, Setan
Timur. Di selatan, Dewa Tampan Dari Selatan, sedangkan di barat, Raksasa Barat.
Dua nama terakhir adalah putra dan murid dua datuk terdahulu. Arya mengeluh
bukan karena takut, tapi karena risau. Malaikat Utara saja sudah merupa-kan lawan
yang demikian berat. Bisa diperkirakan ka-lau ditambah dengan tiga datuk yang
lain. Kepandaian mereka pasti tidak berbeda jauh. Bahkan mungkin im-bang. Kalau
mereka bergabung, ini merupakan anca-man berat bagi keamanan dunia persilatan.
Benak Arya kemudian disibukkan
dengan to-koh Mongol yang sempat dilihatnya. Tokoh Mongol itu
memiliki kepandaian tinggi.
Apakah tokoh itu terma-suk salah seorang di antara datuk-datuk lainnya? Raksasa
Barat barangkali? Atau tokoh yang berjuluk Setan Timur?
Kesibukan berpikir membuat Arya
tidak tahu Citra Sari telah lama tenggelam dalam semadinya. Pe-muda berambut
putih keperakan itu hanya tahu Citra Sari menyelesaikan semadi ketika mendengar
helaan napas gadis itu.
"Bagaimana keadaanmu
sekarang, Nisanak?" "Lebih baik dari sebelumnya," jawab Citra
Sari
lembut. "Tapi kuharap kau
tidak memanggilku 'Nisanak', Dewa Arak. Panggil saja aku Citra, atau
Sa-ri."
"Kaupun harus demikian,
Ni... eh, Citra." Arya ikut membetulkan,
"Kau tidak usah memanggilku
dengan sebutan yang membuat telingaku gatal mendengarnya. Panggil saja aku,
Arya. Namaku adalah Arya Buana. Jadi, kau mempunyai nama lengkap Citra
Sari?"
Gadis berpakaian biru itu
mengangguk.
"Terima kasih atas
pertolongan yang kau beri-kan, Arya. Kalau tidak ada kau, mungkin nyawaku su-dah
tidak berdiam di raga lagi. Benar juga peringatan ayahku."
"Peringatan ayahmu?"
"Ya. Beliau mengingatkan aku
agar tidak usah menyatroni tempat kediaman Malaikat Utara. Karena itu hanya
akan mencelakakan nyawaku sendiri. Tapi, aku memang keras kepala. Aku sudah
kesal bukan main pada murid murtad itu. Secara diam-diam aku pergi untuk
menghukum Malaikat Utara. Tapi jangan-kan menghadapinya, baru bertarung dengan
pengikut-nya saja aku sudah tidak berdaya," Citra Sari menge-luh.
"Jadi.... Malaikat Utara itu
kakak sepergu-ruanmu?" duga Arya agak ragu.
"Bukan." Citra Sari
menggelengkan ke "Dia bu-kan kakak seperguruanku. Tapi paman
perguruan."
"Jadi..., Malaikat Utara itu
adik seperguruan ayahmu?" tanya Arya lagi. Ketika dilihatnya Citra Sari
mengangguk, ucapannya kembali diteruskan. "Bisa ku perkirakan betapa
tingginya kepandaian ayahmu, Ci-tra. Malaikat Utara saja yang menjadi adik
sepergu-ruannya memiliki kepandaian demikian tinggi."
"Tidak demikian, Arya,"
ujar Citra Sari. "Meski memang ayahku termasuk kakak seperguruannya, tapi
bila diperbandingkan, kepandaian Malaikat Utara lebih tinggi. Bahkan mungkin
berselisih jauh. Dia tidak hanya memiliki satu guru saja."
Arya mengernyitkan alis, bingung
mendengar penjelasan Citra Sari.
"Ayahku mempunyai seorang guru."
Citra Sari memutuskan untuk menerangkan semuanya agar je-las. "Guru Ayah
itu seorang pertapa di sebuah pegu-nungan. Entah di gunung mana aku tidak tahu.
Seki-tar dua puluh lima tahun yang lalu, Ayah selesai bela-jar dan turun
gunung. Kemudian, dia mempunyai seo-rang keturunan, aku. Saat aku berusia lima
tahun, Ayah mengajakku untuk menemui gurunya. Di tengah perjalanan kami
menemukan seorang anak lelaki be-rusia sekitar lima belas tahun yang
dikejar-kejar see-kor macan. Ayah segera menolongnya. Karena anak itu sudah
tidak punya keluarga, Ayah lalu membawanya serta kepada gurunya. Ternyata guru
Ayah tertarik un-tuk mengangkat anak lelaki yang bernama Danar Jati itu menjadi
murid. Bahkan, dua pertapa lain yang ke-betulan tengah mengunjungi guru Ayah ikut
tertarik untuk menjadikan Danar Jati sebagai murid. Danar Jati pun menjadi
murid tiga pertapa sekaligus.
Citra Sari menghentikan ceritanya
sejenak. Di-tatapnya Arya yang asyik mendengarkan. Melihat Arya tampak berminat
untuk terus mendengarkan, Citra Sari pun melanjutkan ceritanya.
"Aku dan Ayah tinggal di
situ hanya tiga bulan. Kemudian kami kembali. Sedangkan Danar Jati tinggal di
sana. Tapi, ketika dua bulan yang lalu aku datang ke sana, kujumpai tiga
pertapa itu telah lumpuh dan buta semua. Danar Jati telah sampai hati meracuni
mereka. Anak itu ternyata tidak berwatak baik. Setelah melapor pada Ayah, aku
lalu mencari Danar Jati. Ber-minggu-minggu aku mencarinya. Sampai aku menda-pat
berita kalau Danar Jati telah menjadi datuk di wi-layah utara dan berjuluk
Malaikat Utara. Aku datang untuk membunuhnya. Tapi hasilnya?"
Dewa Arak menghela napas berat
"Apa rencanamu sekarang, Citra?"
"Memberitahukan ayahku
mengenai hal ini. Kau mau ikut Arya? Ayahku sudah cukup lama men-dengar
kebesaran namamu. Dia ingin sekali bertemu denganmu. Sayang belum
kesampaian."
"Ayolah kalau
demikian."
Wajah Citra Sari langsung berseri
mendengar kesediaan Arya untuk menemui ayahnya.
6
"Hey...!"
Citra Sari menudingkan jari
telunjuknya ke de-pan. Menunjuk seseorang yang tengah melesat keluar dari pintu
gerbang sebuah rumah yang daun pintunya terbuka lebar. Gerakan sosok itu gesit
bukan main. Kebetulan arah yang ditujunya adalah arah yang di-
tinggalkan Citra Sari bersama
Dewa Arak. Saat itu me-reka sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal
ayahnya Citra Sari.
"Ada apa, Citra?" tanya
Arya seraya menatap sosok bayangan yang semakin dekat dengan tempat-nya. Ia
tidak bisa melihat orang itu dengan jelas kare-na cepatnya gerakan larinya.
"Sosok bayangan itu baru
keluar dari tempat tinggalku!" jawab Citra Sari penuh kekhawatiran.
"Aku jadi mencemaskan keadaan Ayah...!"
"Kalau demikian, jangan kita
biarkan sosok itu lolos sebelum kita mendapat keterangan apa yang te-lah
dilakukannya di tempat kediaman ayahmu."
Usai berkata, Arya segera
menghentikan jalan-nya dan berdiri di tengah jalan. Dihadangnya arah yang akan
dilalui sosok bayangan yang tengah melaju cepat itu.
"Perlahan dulu, Sobat. Aku
mau bicara." Untuk menarik perhatian sosok yang tengah meluncur den-gan
cepat itu, Dewa Arak tidak ragu-ragu mengerah-kan tenaga dalamnya. Tindakan itu
membuat ucapan-nya terdengar menggema, seperti berteriak di pegu-nungan.
Sosok yang tengah melesat itu
mendadak men-gurangi kecepatannya. Bahkan, beberapa saat kemu-dian menghentikan
larinya. Ia berdiri tegak dalam ja-rak tiga tombak dari Arya dan Citra Sari.
Wajah Arya dan Citra Sari berubah
ketika meli-hat sosok di depan mereka. Sosok itu bertubuh kekar dengan pakaian
terbuat dari kulit binatang. Wajahnya keras. Ia mengenakan topi baja bulat yang
pada bagian atasnya tepat di tengah tampak besi runcing. Sedang-kan pada bagian
bawahnya terdapat hiasan dari bulu binatang. Wajah yang keras itu tampak asing,
sosok ini adalah Targoutai! Pendekar Mongol yang sakti.
Seperti halnya Arya dan Citra
Sari, Targoutai pun agak berubah wajahnya. Targoutai merasa pernah melihat Dewa
Arak. Sedangkan Citra Sari meski dari tempatnya yang agak tersembunyi dan
tengah terluka, di tempat kediaman Malaikat Utara tetapi ia melihat kedatangan
Targoutai.
"Bukankah kau orang yang
akan bertarung dengan Raja Panah Berbaju Emas?" Targoutai membu-ka suara
dengan logat aneh. "Apa maksudmu meng-hentikan perjalananku?!"
"Tidak ada maksud apa pun
kecuali untuk mengajukan sebuah pertanyaan. Aku yakin kau bisa menjawabnya,
Saudara...."
"Targoutai. Namaku
Targoutai. Jago dari negeri seberang, Mongol. Aku sengaja datang kemari untuk
menjajal kelihaian jagoan-jagoan negeri ini. Sayang, tak ada seorang pun lawan
yang benar-benar tangguh. Hanya tinggal dua tokoh lagi yang namanya kudengar
cukup menggegerkan dunia persilatan. Tapi aku tidak yakin mereka akan mampu
melawanku. Dua orang yang mempunyai kedudukan setingkat dengan mereka berhasil
kukalahkan tanpa banyak mendapat kesuka-ran!"
"Targoutai?!" Arya dan
Citra Sari saling berpan-dangan mendengar nama asing itu. Tapi, perasaan he-ran
itu masih tidak seberapa bila dibandingkan dengan rasa tersinggung mendengar
ucapan Targoutai yang merendahkan jago-jago negeri mereka. Hati sepasang
muda-mudi ini panas seperti terbakar api!
"Boleh ku tahu dua tokoh
terkenal yang kau maksudkan, dan dua tokoh setingkat mereka yang te-lah kau
kalahkan?" Arya lebih dulu membuka suara sebelum Citra Sari mengajukan
pertanyaan Pemuda berambut putih keperakan ini khawatir Citra Sari akan
bertindak macam-macam dengan pertanyaannya.
"Dua tokoh yang telah
kukalahkan itu adalah Raksasa Barat dan Malaikat Utara. Sedangkan dua to-koh
setingkatan mereka yang akan kucari dan tandingi adalah...."
"Setan Timur dan Dewa Tampan
Dari Selatan!" potong Citra Sari cepat.
"Benar!" Targoutai sama
sekali tidak marah ucapannya dipotong dengan kasar seperti itu.
Mendengar jawaban ini, Dewa Arak
merasa jan-tungnya berdetak lebih cepat. Kalau benar Malaikat Utara dan Raksasa
Barat berhasil dikalahkan oleh Targoutai, berarti lelaki Mongol ini memiliki
tingkat kepandaian yang amat tinggi. Arya sendiri tidak berani memutuskan kalau
kepandaian yang dimilikinya bera-da di atas Malaikat Utara. Ia hanya tahu
Malaikat Uta-ra merupakan lawan yang amat tangguh.
"Jadi..., sewaktu kau
kulihat berada di tempat kediaman Malaikat Utara, kau sedang menantang
Ma-laikat Utara untuk bertarung?" Arya mulai mengerti dengan duduk
persoalannya.
"Benar!" Targoutai
menjawab singkat.
"Lalu, bagaimana dengan
pengikut-pengikut Malaikat Utara?" desak Arya.
"Karena mereka mencabut
senjata dan menye-rangku, aku tidak mempunyai pilihan lain selain menghadapi
mereka dan membinasakannya. Mereka terpaksa bernasib sama seperti Malaikat
Utara!"
Arya menahan nafasnya. Sekarang
dia baru ta-hu: Malaikat Utara telah tewas. Pemuda itu menelan keterkejutannya
mendengar pengikut-pengikut Malai-kat Utara tewas semua. Berita ini membuat
pemuda berambut putih keperakan ini sukar untuk memperki-rakan ketinggian ilmu
yang dimiliki Targoutai. Arya sendiri tidak yakin akan mampu menghadapi keroyo-kan
pengikut-pengikut Malaikat Utara yang diketa-
huinya memiliki kepandaian
tinggi.
"Kau sendiri siapa, Anak
Muda? Kulihat kau memiliki kepandaian yang tidak rendah. Tenaga dalam yang kau
kerahkan dalam teriakan tadi cukup kuat. Mungkin tingkat kepandaianmu tidak
berada di bawah tua bangka tidak berguna yang baru saja kubunuh!"
Targoutai baru teringat untuk mengajukan perta-nyaan.
"Siapa yang kau maksudkan,
Orang Asing Ke-parat?!" Citra Sari telah lebih dulu memotong sebelum Arya
sempat mengajukan pertanyaan.
"Pendekar Golok Salju!
Dia...." "Keparat! Kubunuh kau...!"
Citra Sari yang sudah setengah
menduga tokoh yang dimaksudkan Targoutai langsung menggeram murka. Ia mendengar
dengan telinganya sendiri tokoh yang baru saja tewas di tangan Targoutai lah Pendekar
Golok Salju, ayahnya. Gadis kaian biru itu menerjang dengan pukulan-pukulan
berantai ke arah dada dan ulu hati. Serangan-serangan yang mematikan dan da-pat
mengirim nyawa Targoutai ke akherat
"Hmh...!"
Targoutai mengeluarkan dengusan
menghindari hidungnya. Kemudian, dengan kecepatan gerak yang mengejutkan,
tangan kanan lelaki berpakaian dari bu-lu binatang itu terulur. Arya tampak
kaget ketika meli-hat tangan Targoutai mampu menangkap pergelangan Citra Sari.
Dengan kesigapan yang
mengagumkan, Targou-tai membanting tubuh Citra Sari melewati kepala lelaki
Mongol itu sendiri. Targoutai melakukan bantingan itu sambil membalikkan tubuh.
Dewa Arak yang sudah sejak tadi
bersikap sia-ga untuk menjaga keselamatan Citra Sari, karena tidak sempat
mencegah gadis berpakaian biru itu menye-
rang, tidak tinggal diam. Pemuda
berambut putih ke-perakan ini tahu bantingan seorang tokoh seperti Tar-goutai
tidak bisa dianggap ringan. Meski Citra Sari memiliki kepandaian tinggi dan
tenaga dalam yang lu-mayan, tulang-tulangnya akan hancur berantakan.
Itu sebabnya, Arya segera
bertindak cepat. Be-gitu tubuh Citra Sari diayunkan untuk dibanting pe-muda itu
menghentakkan kedua tangannya ke arah Citra Sari.
Wusss!
Dari dua tangan yang dipukulkan
terbuka itu meluncur segundukan angin keras. Hembusan angin itu tidak berbahaya
karena Arya mengirimkan untuk melemparkan tubuh Citra Sari jauh-jauh.
Setidak-tidaknya membuat daya banting tubuh Citra Sari pu-pus tertiup pukulan
jarak jauh itu.
Meski maksud Arya tidak terpenuhi
sepenuh-nya, tapi karena hembusan angin keras itu ayunan tu-buh Citra Sari ke
tanah berkurang jauh. Ada kekuatan lain yang berusaha membawanya melayang ke
samp-ing. Kekuatan ini sedikit banyak mengurangi lontaran tubuh Citra Sari ke
tanah. Maka meski tubuh Citra Sari tetap terbanting, kekuatan bantingannya
telah berkurang amat banyak.
Targoutai tidak mempedulikan
Citra Sari yang bergulingan menjauh. Pandangan dan perhatian lelaki Mongol ini
tertuju pada Arya.
"Kau lawan yang cukup
berharga juga, Anak Muda." Targoutai berkata sedikit gembira. "Sejak
tadi kau belum memperkenalkan diri. Apakah kau tak punya nama atau julukan?
Atau, kau takut menye-butkannya barangkali? Aku yakin orang dengan ke-pandaian
seperti kau pasti memiliki julukan. Tua bangka tolol yang baru saja kubunuh itu
pun mempu-nyai julukan. Pendekar Golok Salju. Hmh! Sebuah ju-
lukan yang terlalu
berlebihan!"
"Aku bukan seorang pengecut,
Targoutai!" tan-das Arya agak keras, tersinggung dengan ejekan Tar-goutai.
"Kalau kau ingin tahu namaku, akan kuberi-kan. Namaku Arya Buana. Tapi,
lebih dikenal dengan panggilan Arya saja. Singkat bukan?"
"Arya Buana? Nama yang cukup
bagus!" puji Targoutai datar. "Apakah kau hanya mempunyai nama saja,
Buana? Tidak julukan? Apakah kau tidak punya julukan, Buana? Eh, bolehkan kalau
aku memanggil-mu Buana?"
Arya tersenyum getir.
"Aku tidak keberatan,
Targoutai!. Kau bebas untuk memanggilku. Mengenai julukan memang kua-kui aku
memilikinya. Tapi aku yakin tidak terlalu be-rarti." Arya memutuskan untuk
lebih dulu mengecil-kan diri sebelum memberikan julukannya. Pemuda be-rambut
putih keperakan ini yakin Targoutai telah mendengar julukannya. Bukankah
julukan Dewa Arak telah tersebar di dunia persilatan sebelum julukan Ma-laikat
Utara dan yang lain-lainnya?
"Biarlah, Buana. Aku yakin
julukan yang kau sandang cukup bagus. Mungkin Pendekar Berambut Perak atau
Pendekar Berambut Siluman. Boleh jadi malah Pendekar Berambut Tua."
Targoutai mengaju-kan dugaan yang lucu-lucu.
"Salah semua,
Targoutai!" Arya menggeleng. "Yang benar, julukanku adalah.... Dewa
Arak...!"
"Apa...?!"
Targoutai terjingkat ke belakang
seperti disen-gat ular berbisa. Sepasang mata lelaki Mongol ini membelalak
lebar. Wajahnya menampakkan keterkeju-tan.
"Dewa Arak...?!"
"Benar. Itulah julukanku,
Targoutai. Sebuah ju-
lukan yang sederhana. Sesederhana
kepandaian yang kumiliki," Arya merendahkan diri.
"Kurasa tidak!"
Targoutai menggelengkan kepa-la. "Sebelum mati Pendekar Golok Salju
berkata kepa-daku, kalau aku berniat menjajagi kepandaian jago nomor satu dunia
persilatan negeri ini, aku harus mencari seorang tokoh yang berjuluk Dewa Arak.
To-koh ini masih muda tapi memiliki kepandaian hebat. Bahkan, kata Pendekar
Golok Salju kepandaian empat datuk sesat masih berada di bawah Dewa Arak! Jadi,
kalau aku telah mengalahkan Dewa Arak, katanya ba-ru aku boleh menganggap
diriku jago tidak terkalah-kan di negeri ini! Sungguh tidak kusangka aku dapat
bertemu denganmu, Dewa Arak! Silakan bersiap untuk bertarung!"
"Berita yang kau dapat
terlalu berlebihan, Tar-goutai. Banyak tokoh persilatan negeri ini yang
memi-liki kepandaian melebihi ku. Malah beberapa tokoh yang kutemui mampu
mengalahkanku tanpa berkerin-gat sama sekali. Tanpa menggeser kaki dari
tempatnya berdiri. Jadi, ucapan Pendekar Golok Salju mengenai kepandaian yang
kumiliki dan tokoh tersakti negeri ini adalah aku, hanya isapan jempol belaka.
Tapi, tentu saja aku tidak takut untuk meladeni mu bertarung!"
"Bagus! Silakan jaga ini,
Dewa Arak!"
Targoutai membuka serangan dengan
sebuah tusukan tangan kanan. Jari telunjuk dan tengahnya diluruskan, menotok ke
arah dahi Arya. Bunyi berdecit nyaring mengiringi luncuran jari-jari tangan
itu. Jari-jari itu mampu melubangi dahi Dewa Arak.
Arya tidak ingin membuat lawannya
berbesar hati. Ia memiringkan kepala sedikit. Lalu, menangkis dari dalam dengan
tangan kirinya.
Trakkk! Rrrttt!
"Eh...?!"
Dewa Arak terperanjat ketika
pergelangan tan-gan kirinya membentur tangan lawan. Dengan gerakan laksana
ular, tangan Targoutai berhasil mencekal per-gelangan Dewa Arak. Bahkan,
sebelum Arya sempat berbuat sesuatu, tubuhnya telah di-angkat ke atas dan
dibanting ke tanah.
Tapi Targoutai kecewa kalau
mengira akan se mudah itu menaklukkan Dewa Arak. Ketika tubuhnya dibanting,
karena tidak sempat mengerahkan tenaga dalam untuk memberatkan tubuh, Dewa Arak
sempat mengirimkan sebuah tendangan belakang!
Laksana ular, tangan Targoutai
berhasil membe-lit salah satu pergelangan Dewa Arak. Bahkan, sebelum Arya
sempat berbuat sesuatu, tubuhnya telah diangkat
tinggi-tinggi ke atas oleh tokoh
dari mongol itu! Dan... siap dibanting ke tanah!.
Desss!
Tendangan Dewa Arak itu keras
bukan main. Dan mendarat di sasaran dengan telak, di dada. Tar-goutai
terhuyung-huyung ke belakang. Sedangkan Arya sebelum tubuhnya membentur tanah
telah men-gerahkan tenaga dalam untuk mencegah kerusakan tulang-tulang dan
bagian dalam tubuhnya. Bagi orang dengan tingkat kepandaian seperti Dewa Arak,
mela-kukan hal seperti itu tidak terlalu sulit. Tubuhnya jadi selunak kapas
ketika berbenturan dengan tanah. Pe-muda berambut putih keperakan ini langsung
menggu-lingkan tubuh.
Ketika Dewa Arak telah berdiri
tegak, dilihatnya Targoutai telah bersiap untuk melancarkan serangan kembali.
Arya sempat kaget. Sikap Targoutai menun-jukkan tokoh dari Mongol ini
biasa-biasa saja. Segar-bugar seperti tidak terluka. Padahal, Dewa Arak yakin
tendangannya bersarang dengan telak. Ataukah tadi hanya perasaannya saja? Arya
jadi bingung sendiri. Targoutai kelihatan tidak terluka. Padahal, tendangan itu
cukup untuk menghancurkan batu karang paling keras sampai hancur
berkeping-keping! Tapi, kenya-taannya?
Arya tidak memiliki kesempatan
untuk berpikir lebih lama. Targoutai telah kembali menerjang.
Seran-gan-serangan lelaki dari Mongol ini sempat membuat Arya gelagapan karena
penuh dengan gerakan-gerakan aneh. Tidak hanya menangkis, mengelak, memukul,
atau menendang, tapi sering dipenuhi dengan tangka-pan-tangkapan. Diikuti
dengan gerakan membanting atau memuntir yang sanggup mematahkan tulang-tulang
lawan. Dewa Arak tidak tahu ilmu yang diguna-
kan lawannya. Tapi, dia tahu
Targoutai seorang lawan yang amat tangguh! Maka, Arya segera menggunakan ilmu
'Belalang Sakti' yang menjadi andalannya.
Begitu bergebrak beberapa jurus,
baik Targou-tai maupun Dewa Arak harus mengakui di dalam hati, lawan yang
dihadapi tangguh bukan main. Targoutai merasa sempat gembira mendapat lawan
yang setim-pal. Lelaki dari Mongol ini telah menguras seluruh ke-mampuan dan
kecepatannya. Tapi, ia tetap tidak mampu menangkap dan melumpuhkan Dewa Arak.
Malah serangan-serangannya banyak yang kandas. Dewa Arak demikian licin laksana
belut!
Yang membuat Targoutai lebih
penasaran ada-lah ketika melihat gaya Dewa Arak mengandaskan se-rangannya.
Dengan gerakan aneh yang sebagian besar dilakukan dengan langkah
terhuyung-huyung, Arya berhasil mengelakkan semua serangan. Kadang-kadang
pemuda itu berlari-lari di tempat, berputar mengelilingi Targoutai. Namun yang
lebih gila adalah ketika Dewa Arak memapaki datangnya serangan den-gan
tubuhnya. Tapi hebatnya, justru dengan gerakan itu Dewa Arak dapat lolos dari
serangan!
Hal lain yang membuat Targoutai
kagum ada-lah karena Dewa Arak tidak hanya memiliki kehebatan dalam mengelak.
Serangan-serangannya pun luar bi-asa. Bila mengelak tubuh pemuda berambut putih
ke-perakan itu seperti lemas tidak bertulang. Dan, sewak-tu melancarkan
serangan tampak kokoh dan kuat. Ti-dak hanya tangan, kaki, atau gucinya yang
digerakkan Arya, tapi juga semburan araknya! Targoutai harus mengakui Dewa Arak
adalah lawan paling berat yang pernah dihadapinya.
Tapi, bukan hanya Targoutai saja
yang merasa kagum. Dewa Arak pun demikian. Berkali-kali seran-gan yang
dilancarkan mendarat di berbagai bagian tu-
buh yang berbahaya, tapi hasilnya
tidak terlihat sama sekali. Tubuh Targoutai bagaikan terbuat dari baja. Ti-dak
bergeming sedikit pun. Meski setiap kali serangan Arya mendarat, tubuh lelaki
dari Mongol ini terjeng-kang ke belakang. Namun, ia segera maju kembali dengan
semangat berlipat ganda.
Untuk kesekian kalinya, Dewa Arak
dan Tar-goutai terhuyung mundur ketika tangan-tangan mere-ka berbenturan. Tubuh
mereka terhuyung tiga langkah ke belakang.
"Kau hebat, Dewa Arak!"
Targoutai yang berwa-tak jantan, tak lupa untuk memuji. Tulus dari lubuk
hatinya yang paling dalam. Karena untuk pertama ka-linya dia bertemu lawan yang
demikian tangguh.
"Kau pun tak kalah hebat,
Targoutai!" Arya ba-las memuji.
Kedua tokoh itu tidak saling
gebrak kembali. Mereka berpandangan dalam jarak sekitar dua tom-bak. Sepasang
mata kedua orang itu memancarkan kekaguman terhadap orang yang berdiri di
hadapan-nya. Tapi, di dalam kekaguman itu terpancar perasaan penasaran.
Targoutai memutar lembingnya di
atas kepala hingga mengeluarkan bunyi mengaung. Kemudian, dengan langkah silang
dan satu-satu, didekatinya De-wa Arak yang tetap berdiri di tempatnya.
Tapi, tiba-tiba Targoutai
menghentikan lang-kahnya. Bahkan, ayunan lembingnya dihentikan. Se-pasang
matanya menatap lurus ke belakang Dewa Arak. Arya yang tahu kegagahan Targoutai
dan tak mungkin tokoh ini akan membokongnya, tanpa curiga segera menolehkan
kepala ke belakang untuk melihat apa yang telah membuat Targoutai bertindak
demi-kian.
7
Beberapa tombak, mungkin sekitar
sepuluh tombak lebih di belakang Dewa Arak tampak berdiri dua sosok lelaki yang
mengenakan seragam pasukan kerajaan. Melihat topi dan hiasan yang dikenakan di
atas kepala, Dewa Arak yakin kedua orang ini adalah Bangsa Mongol. Bangsanya
Targoutai!
Kenyataan ini membuat jantung
Dewa Arak berdetak lebih cepat. Satu lawan saja belum bisa dis-elesaikan
sekarang muncul dua lagi. Meski belum ke-tahuan kemampuannya, tapi sedikit
banyak menam-bah kekuatan lawan. Dan lagi, Dewa Arak jadi khawa-tir akan
keselamatan Citra Sari.
Tampak salah seorang dari kedua
lelaki berse-ragam aneh itu menuding. Kepada siapa sosok itu me-nunjuk, Arya
bisa memperkirakan. Tapi, yang jelas sambil menunjuk kedua lelaki itu berseru.
Karena ter-lalu pelan, Arya tidak mampu mendengarnya.
Saat itulah Dewa Arak mendengar
seruan yang membuatnya merasa heran.
"Sayang sekali ada gangguan,
Dewa Arak. Lain kali aku akan mencarimu untuk meneruskan perta-rungan
kita!"
Arya telah hafal siapa pemilik
suara itu meski baru mendengarnya beberapa kali. Secepat kilat kepa-lanya
ditolehkan ke tempat Targoutai berdiri. Tapi, Targoutai hanya melemparkan
senyum sebelum mem-balikkan tubuh dan melesat meninggalkan tempat itu. Dalam
beberapa kali lompatan, tubuh lelaki perkasa dari Mongol itu telah berubah
menjadi titik hitam yang semakin mengecil di kejauhan.
Arya yang masih kebingungan dan
heran meli-hat sikap Targoutai yang seperti ketakutan, tidak
mampu mencegah kepergian lelaki
dari Mongol itu. Dia hanya dapat menatap kepergian Targoutai dengan pandangan
kagum.
Pemuda berambut putih keperakan
ini baru menolehkan kepala ketika mendengar bunyi langkah kaki mendekati
tempatnya. Ternyata dua orang yang mengenakan seragam pasukan aneh itu.
"Sayang sekali.... Lagi-lagi
dia lolos...!" ujar sa-lah seorang yang bertubuh agak kurus.
"Ini berarti banyak lagi
orang yang akan menja-di korbannya," sambung temannya. Seperti juga
re-kannya, logat bicara orang kedua ini pun terdengar aneh dan menggelitik di
telinga.
"Sebenarnya ada apa,
Tuan-tuan?" tanya Arya ingin tahu, setelah yakin kedua orang prajurit
Mongol ini tidak bermaksud jahat. Mereka agaknya bukan ka-wan Targoutai.
"Sebenarnya ini urusan pribadi
kami". Pasukan Mongol yang bertubuh agak kurus menjawab setelah terlebih
dulu menghela napas panjang. Ucapan yang dikeluarkannya satu-satu dan
terputus-putus. Terlihat kalau dia sulit mencari kata-kata, "Tapi...
karena Tar-goutai telah bentrok dengan saudara, tidak ada salah-nya kalau kami
menceritakannya...."
"Benar." Prajurit
Mongol yang satu membantu rekannya yang terdiam dengan kening berkerut
"Tar-goutai adalah anggota suku kami. Dia seorang jagoan nomor satu di
negeri kami. Kegemarannya adalah mengadu ilmu. Tanpa sepengetahuan pemerintah
ka-mi, Targoutai ikut rombongan pasukan. Untung kami dapat mengetahui dia ikut
pergi meninggalkan negeri. Maka, kami diperintahkan untuk membawa Targoutai
kembali agar tidak menimbulkan bencana di negeri ini, khususnya terhadap
orang-orang persilatan."
"Sayang, kami
terlambat." Prajurit Mongol yang
bertubuh agak kurus kembali
berbicara. "Dia telah menimbulkan cukup banyak malapetaka. Tapi,
berun-tung kami lebih dulu datang sebelum kau dicelakai."
"Terima kasih atas
pertolongan Tuan-tuan. Ka-rena kedatangan Tuan-tuan, aku bisa selamat. Terima
kasih," ujar Arya dengan sikap dongkol yang disembu-nyikan. Pemuda
berambut putih keperakan ini merasa jengkel. Ucapan Prajurit Mongol itu
menunjukkan ia memandang rendah dirinya. Padahal, dia yakin belum tentu kalah
menghadapi Targoutai yang orang asing!
"Tidak mengapa. Sudah
kewajiban kami untuk mencegah tindakan sewenang-wenang Targoutai," sa-hut
Prajurit Mongol yang bertubuh agak kurus. Ia ter-senyum seraya mengangguk-anggukkan
kepala.
Arya semakin jengkel melihatnya.
"Bagaimana mungkin Targoutai bisa kalian tangkap? Menurut pen-glihatanku,
kalian berdua bukan tandingan Targoutai yang demikian lihai!" Perasaan
jengkel membuat Arya tidak ragu-ragu menyatakan penilaiannya.
"Tidak perlu heran,"
prajurit Mongol yang ber-tubuh kurus memberikan jawaban. "Meski kami
ber-dua bukan tandingan Targoutai, tapi Targoutai tidak berani melawan kami.
Dia tidak ingin melawan pasu-kan kerajaan, pasukan pemerintah. Targoutai tidak
mau menjadi pemberontak. Jadi, apabila terjepit dia pasti akan menyerah. Dan,
selama bisa kabur, dia akan kabur!"
Sekarang Arya baru mengerti. Saat
itu pula dia teringat pada Citra Sari. Betapa kagetnya hati pemuda berambut
putih keperakan itu. Ia tidak melihat kebe-radaan Citra Sari di situ.
"Citra...!" Arya
mengerahkan tenaga agar pang-gilannya bisa terdengar sampai jauh.
Dua prajurit Mongol tampak
terperanjat men-dengar teriakan yang seperti ledakan halilintar itu. Me-
reka saling berpandangan dengan
sikap takjub. Kemu-dian, bergegas melanjutkan langkah melakukan penge-jaran
terhadap Targoutai!
Sementara Arya sambil
memanggil-manggil mengedarkan pandangan. Pemuda berambut kepera-kan ini merasa
khawatir akan keselamatan Citra Sari. Ketika pandangan Arya tertumbuk pada
bangunan cu-kup megah di kejauhan, kekhawatirannya pun mulai berkurang. Dia
yakin Citra Sari berada di sana. Pemu-da itu segera melangkah menuju ke sana.
Dugaan Arya ternyata tepat Begitu
mendekati tembok yang mengelilingi bangunan, dari dalam ter-dengar isak tangis.
Ketika Arya tiba di depan pintu gerbang yang terbuka lebar, terlihat Citra Sari
tengah menangis seraya memangku sesosok tubuh yang telah terkulai lemas.
Dewa Arak tahu tidak ada yang
bisa dilaku-kannya sekarang ini. Obat yang paling baik bagi Citra Sari saat ini
adalah menangis. Maka, Arya tidak meng-ganggunya. Bahkan tidak masuk ke dalam
pintu ger-bang. Ia malah mengayunkan kaki meninggalkan tem-pat itu.
Arya sibuk dengan alun
pikirannya. Bagaimana caranya dia dapat menaklukkan Targoutai yang demi-kian
lihai?
***
Lapangan tanah yang ditumbuhi
rumput-rumput kecil dan tidak hijau itu cukup luas. Bahkan sangat luas. Tapi,
saat itu tanah lapang yang luas ti-dak cukup untuk menampung banyaknya orang
yang berkumpul. Orang-orang dengan berbagai macam ku-lit, beraneka model
pakaian, dan berlainan rupa dan tingkah laku. Tapi, yang jelas mereka semua
adalah
orang-orang persilatan. Dan, yang
lebih jelas lagi dari golongan hitam.
Jumlah orang-orang golongan hitam
itu kurang lebih dua ratus orang. Mereka semua berdiri mengeli-lingi sebuah
panggung berbentuk persegi panjang. Tinggi panggung itu dua tombak. Cukup
tinggi!
"Hih!"
Dari kerumunan ratusan orang
tokoh golongan hitam itu meloncat ke atas sesosok bayangan. Ia ber-salto
beberapa kali di udara sebelum menjejakkan kaki dengan ringan di lantai
panggung.
"Wahai kawan-kawan sehaluan,
dengarkan baik-baik...!"
Sosok yang ternyata seorang
pemuda berpa-kaian mewah dan berwajah tampan membuka suara seraya mengangkat
tangannya ke atas tinggi-tinggi.
Bunyi riuh-rendah seperti tawon
marah yang tadi terdengar pun segera terhenti. Suasana mendadak senyap. Pemuda
berpakaian mewah yang mengenakan sabuk dari benang emas, yang terselip suling
dan cangklong di sana, memang mengerahkan tenaga da-lam. Hingga, suaranya tak
kalah dengan ledakan hali-lintar.
"Aku adalah Dewa Tampan Dari
Selatan. Datuk wilayah selatan. Aku berdiri di sini karena ingin men-gajukan
diriku sebagai datuk tidak hanya di wilayah selatan saja, tapi juga di tiga
mata angin lainnya. Aku telah menguasai satu mata angin. Dan, dua mata an-gin
lain tidak dikuasai oleh seorang datuk pun. Maka, aku mengajukan diri untuk
menjadi penguasa atau da-tuk yang merajai wilayah utara dan barat pula. Siapa
yang tidak setuju harap maju untuk menjajal kemam-puanku!"
Ratusan tokoh persilatan yang
datang karena mendengar kabar akan dilangsungkan pemilihan da-
tuk nomor satu, tentu saja tidak
memenuhi tantangan itu. Sebagian besar di antara mereka hanya ingin
me-nyaksikan jalannya pertarungan. Sebagian lain karena ingin mendapat seorang
pemimpin untuk dijadikan tempat meminta tolong bila berhadapan dengan kaum
golongan putih.
"Kau terlalu sombong, Dewa
Tampan!" Terdengar seruan parau menyambuti tantangan
Dewa Tampan Dari Selatan, setelah
beberapa saat la-manya tantangan itu tidak mendapat tanggapan. Be-lum juga gema
ucapan itu lenyap, sesosok tubuh mele-sat cepat melompat ke atas panggung. Ia
bersalto be-berapa kali di udara. Kemudian, melemparkan seutas tambang ke
lantai panggung.
Cappp!
Laksana sebatang tombak, tambang
yang pan-jangnya tak lebih dari empat tombak itu menancap di lantai panggung
yang terbuat dari papan tebal dan kuat. Sekejap kemudian, pemilik seruan itu
telah men-jejakkan salah satu telapak kakinya di ujung tambang yang menegang
seperti sebatang tombak.
Seketika tepuk tangan membahana
menyambut pertunjukan tenaga dalam yang luar biasa ini.
***
Sosok yang hinggap di atas
tambang yang me-negang kaku itu adalah seorang lelaki setengah baya. Berkepala
botak dan berpakaian coklat. Gelang-gelang hitam melingkari pergelangan tangan
kanan dan ki-rinya.
"Setan Timur...!" desis
beberapa mulut dari ba-wah panggung.
Setan Timur membusungkan dadanya.
Sepa-sang matanya merayapi wajah-wajah yang berada di
bawah panggung dengan sinar
menantang. Tapi, setiap tokoh yang menerima tantangan Setan Timur menun-dukkan
kepala, khawatir akan disuruh maju atau ter-kena amukan lelaki berkepala botak
itu. Seorang tokoh sesat seperti Setan Timur memiliki perangai yang su-kar
ditebak. Bisa saja tanpa alasan membunuh orang yang kebetulan tidak
menyenangkan hatinya.
"Aku mengajukan diri sebagai
datuk nomor sa-tu untuk seluruh mata angin! Barang siapa yang tidak setuju
silakan maju dan melawanku!" teriak Setan Ti-mur lantang.
Suasana langsung hening ketika
datuk nomor satu wilayah timur itu menyelesaikan perkataannya. Tak ada seorang
pun yang memberikan sambutan. Se-bagian besar tokoh malah saling pandang.
Sisanya menundukkan kepala dan mencari-cari tokoh yang merupakan tandingan
Setan Timur, yaitu Dewa Tam-pan Dari Selatan.
Dewa Tampan Dari Selatan sendiri
tetap bersi-kap tenang. Pemuda berpakaian mewah yang datang bersama
pengikutnya, seperti juga Setan Timur, den-gan sikap angkuh bermain-main dengan
cangklong-nya. Kepulan asap sesekali dikeluarkan dari mulutnya.
Keheningan suasana langsung pecah
dan se-mua kepala, tak terkecuali datuk timur dan selatan, menoleh ke atas
ketika terdengar bunyi mendesing ta-jam yang menyakitkan telinga.
Dari belakang kumpulan
tokoh-tokoh persila-tan melesat sesosok tubuh berpakaian bulu binatang dengan
kecepatan menakjubkan! Semua mata membe-lalak penuh kekaguman. Sosok itu
berdiri di atas bu-sur anak panah yang tengah meluncur.
Ketika telah berada di atas
kepala kumpulan tokoh persilatan yang berada di sekitar panggung, so-sok yang
tidak lain Targoutai menekan kaki kanannya
yang berada di depan. Maka,
luncuran anak panah menukik ke bawah, ke arah punggung.
"Aku yang akan maju dan
menjajal kepan-daianmu, Setan Timur!" seru Targoutai lantang.
Setan Timur telah dapat menguasai
rasa kaget-nya. Ketika melihat anak panah yang dikendalikan Targoutai meluncur
ke arahnya, buru-buru tubuhnya dilempar ke belakang dan bersalto beberapa kali
di udara. Ia mendarat di pinggir lantai panggung.
Targoutai tidak meneruskan
serangannya. Dia berhasil mendaratkan anak panah itu di lantai pang-gung secara
menakjubkan. Kemudian, berdiri di ten-gah-tengah menatap di sekitar bawah
panggung.
"Aku dari Mongol. Sebuah
negeri yang jauh. Kedatanganku kemari untuk menantang jago-jago no-mor satu
negeri ini! Siapa yang merasa memiliki ke-pandaian, silakan maju! Tapi,
sebelumnya aku akan menghadapi Setan Timur lebih dulu!"
Setan Timur melangkah mendekati
Targoutai yang berdiri tegak di tengah panggung.
"Jadi..., kau rupanya tokoh
yang telah membu-nuh Raksasa Barat dan Malaikat Utara?!" tanya Setan Timur
mencoba bersikap penuh wibawa meski jan-tungnya berdebar. Diam-diam lelaki
berkepala botak ini memang telah mengkhawatirkan kedatangan Tar-goutai. Dan,
ternyata kekhawatirannya beralasan!
"Benar!" Targoutai
mengangguk. Dicabutnya lembing yang tadi diselipkan di belakang punggung-nya.
"Sekarang bersiaplah untuk menerima kematian di tangan Targoutai!"
"Orang asing yang sombong!
Kaulah yang akan tewas di sini! Mati tanpa ada yang mengurusi kubu-ranmu!"
Setan Timur mendahului
mengirimkan seran-gan. Pisau yang telah tergenggam di tangan sewaktu
dia maju menghampiri Targoutai
langsung ditusukkan bertubi-tubi ke arah sepasang mata lelaki perkasa dari
Mongol ini. Setan Timur yang telah mendengar kekeba-lan tubuh Targoutai tidak
berani bertindak gegabah. Ia langsung mengirimkan serangan pada bagian tubuh
yang diketahuinya tidak akan bisa dibuat kebal!
Targoutai melompat ke belakang
dan mengi-rimkan serangan dengan tusukan lembingnya. Setan Timur terpaksa
melompat ke atas. Lelaki berkepala bo-tak ini bersalto beberapa kali untuk
mendekati Targou-tai. Dari atas ia mengirimkan tusukan-tusukan ke arah mata
lelaki dari Mongol.
Targoutai yang banyak
berpengalaman dalam pertarungan segera bisa menduga maksud Setan Ti-mur. Lelaki
dari Mongol ini tahu lawan mengajaknya bertarung dalam jarak dekat. Hal itu
tidak diinginkan Targoutai. Dia melompat mundur dan mengandalkan jangkauan
senjatanya yang panjang untuk mengirim-kan serangan. Targoutai berusaha memaksa
lawannya terlibat dalam pertarungan jarak jauh. Senjata Targou-tai yang berupa
lembing memang memiliki jangkauan lebih jauh daripada sepasang pisau Setan
Timur.
Pertarungan dua tokoh yang
sama-sama hebat itu segera saja menyita perhatian semua tokoh persila-tan.
Terutama Dewa Tampan Dari Selatan. Pemuda in-ilah yang kelihatan paling
tertarik dengan jalannya pertarungan. Sepasang matanya yang tajam hampir ti-dak
berkedip.
Diam-diam Dewa Tampan Dari
Selatan harus mengakui kekhawatiran Setan Timur. Lelaki dari Mon-gol, Targoutai
itu, memang memiliki kemampuan luar biasa. Beberapa kali dilihatnya apabila
terjadi bentu-ran senjata, tubuh Setan Timur terhuyung-huyung ke belakang
sambil menyeringai kesakitan.
Bukan hanya itu saja keunggulan
Targoutai.
Dewa Tampan Dari Selatan melihat
keanehan ilmu-ilmu Targoutai, di samping kekebalan tubuh dan kelin-cahan
gerakannya. Ilmu aneh yang membuat Setan Timur kelabakan!
Dewa Tampan Dari Selatan tahu
robohnya Se-tan Timur hanya tinggal menunggu waktu saja. Tar-goutai memang
hebat bukan main. Ia memiliki ke-mampuan di atas Setan Timur. Bahkan, Dewa
Tampan Dari Selatan pun menyadari tingkat kepandaiannya masih berada di bawah
Targoutai. Kecemasan pun me-landa hati datuk wilayah selatan ini.
8
"Arrrggghhh...!"
Setan Timur menjerit memilukan
hati. Lembing Targoutai menembus perutnya hingga ke punggung. Ketika lelaki
dari Mongol itu menarik kembali lembing-nya darah beserta usus Setan Timur
terburai keluar.
Setan Timur menatap tak percaya.
Dia berdiri gontai sebelum akhirnya ambruk untuk tidak pernah bangkit lagi.
Targoutai mengangkat lembingnya
tinggi-tinggi. Ditatapnya wajah-wajah tokoh persilatan yang berada di bawah
panggung. Lembingnya yang dipenuhi darah menetes-netes di lantai panggung.
"Siapa lagi yang bersedia
bertarung dengan Targoutai?! Tidak ada lagikah tokoh sakti di negeri ini? Hanya
sampai di sini sajakah kemampuan datuk-datuk persilatan negeri ini?
Mengecewakan sekali!"
Tantangan bernada penghinaan dari
Targoutai membuat wajah orang-orang persilatan berubah me-rah. Mereka merasa
terhina oleh ucapan orang asing
seperti Targoutai yang meremehkan
kemampuan jago-jago negeri mereka.
Tapi hanya sampai di situ saja
tindakan tokoh-tokoh persilatan itu. Mereka tahu Targoutai amat pan-dai dan
tidak akan dapat ditandingi. Tanpa sadar se-mua pasang mata tertuju ke arah
Dewa Tampan Dari Selatan dan kelompoknya berada. Sebuah tempat yang dibangun
kelompok datuk selatan itu dengan memiliki atap dan kursi untuk pemuda
berpakaian mewah itu duduk
Dewa Tampan Dari Selatan tentu
saja menge-tahui maksud tatapan tokoh-tokoh persilatan, tapi dia tidak peduli.
Pemuda ini berpura-pura tidak tahu. Dengan tenang, Dewa Tampan Dari Selatan
menyibuk-kan diri dengan cangklongnya.
Ketegangan terasa sekali
melingkupi sekitar tempat itu. Masing-masing tokoh merasakan jantung-nya
berdetak lebih cepat. Terutama sekali Dewa Tam-pan Dari Selatan. Mau tidak mau
ia harus berhadapan dengan Targoutai, kalau tidak ingin nama besarnya hancur
berantakan karena dia dianggap takut!
"Aku yang akan menghadapimu,
Targoutai!" Seruan lantang dan nyaring memecahkan ke-
heningan. Dewa Tampan Dari
Selatan yang bermaksud bangkit dari kursinya dan menghadapi Targoutai jadi
menahan keinginannya. Ia duduk kembali di kursinya.
Belum lagi gema ucapan itu
lenyap, sesosok bayangan ungu berkelebat. Di hadapan Targoutai telah berdiri
seorang pemuda berambut putih keperakan.
"Ah...! Kiranya kau, Dewa
Arak! Memang kau-lah lawan yang kutunggu-tunggu!" seru Targoutai gembira.
Dewa Arak tersenyum pahit. Pemuda
ini tidak menanggapi seruan gembira lelaki dari Mongol itu. Bahkan, Arya tidak
mempedulikan pekikan-pekikan
tertahan tokoh-tokoh persilatan.
Hampir sebagian be-sar tokoh persilatan telah mendengar julukan Dewa Arak yang
menggemparkan. Dewa Tampan Dari Sela-tan sendiri sampai menyipitkan sepasang
matanya un-tuk melihat lebih jelas tokoh yang telah lama didengar nama besarnya
itu.
"Tidak usah banyak cakap
lagi, Targoutai!" tan-das Dewa Arak. "Bukankah kau menantang
jago-jago negeri ini? Meski aku bukan orang yang tersakti di ne-geri ini, aku
maju untuk memenuhi tantanganmu!"
"Apa pun katamu, Dewa Arak.
Apabila aku te-lah berhasil mengalahkanmu, berarti aku telah menga-lahkan
seluruh jago di negerimu. Kau lawan terlihai yang pernah kuhadapi. Aku akan
berbangga hati bila sampai kalah di tanganmu, Dewa Arak!"
Targoutai menutup kata-katanya
dengan se-buah tusukan lembing ke arah lambung Dewa Arak. Serangan itu berhasil
dipatahkan Arya dengan men-gayunkan gucinya ke depan. Ketika benturan terjadi,
tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung ke belakang.
Targoutai yang bernafsu dapat
merobohkan Dewa Arak segera melancarkan serangan bertubi-tubi. Dewa Arak
menghadapinya dengan ilmu 'Belalang Sak-ti'. Pertarungan tingkat tinggi pun
berlangsung.
Hanya dalam sebentar saja
pertarungan telah memakan puluhan jurus. Dewa Arak mengeluh dalam hati. Telah
beberapa kali pukulan dan tendangannya bersarang di tubuh Targoutai, tapi tak
satu pun yang menimbulkan hasil. Sebaliknya, beberapa kali pemuda berambut
putih keperakan ini harus menguras ke-mampuannya agar mampu lolos dari
tangkapan kedua tangan Targoutai. Arya tahu, sekali tertangkap bahaya besar
akan mengancamnya.
Dewa Arak sadar jika keadaan
berlangsung se-perti ini terus, dia akan menderita kerugian. Harus di-
carinya cara lain agar dapat
mengalahkan Targoutai. Tapi, kekebalan Targoutai belum diketemukan kele-mahannya.
Serangan-serangannya dibiarkan saja oleh Targoutai. Sebaliknya,
serangan-serangan Targoutai memaksanya untuk menangkis atau mengelak.
"Seranganmu bila kau lakukan
melalui pukulan atau tendangan akan bertemu dengan kulit tubuh yang keras
laksana kulit badak. Pergunakan serangan yang mampu mendarat di sasaran tanpa
terhalang oleh kulit tubuhnya!"
Suara itu terdengar di telinga
Dewa Arak. Arya tahu suara itu dikirimkan dari jarak jauh. Ada seseo-rang yang
memberi petunjuk padanya.
"Lihat ke belakang, Dewa
Arak. Aku akan men-gangkat tinggi-tinggi senjata yang dapat menembus kekebalan
tubuh orang Mongol itu. Ambillah." Lagi-lagi suara itu tertangkap telinga
Arya, saat pemuda itu ba-ru saja mengelakkan serangan Targoutai.
Arya melompat ke belakang menjauhi
Targou-tai. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke belakang. Tampak di bawah
punggung, di deretan belakang, se-batang bambu sepanjang hampir dua jengkal
teracung tinggi-tinggi ke atas. Arya tahu bambu itu adalah seba-tang suling.
Pemuda berambut putih keperakan
ini segera bertindak cepat. Dia tahu kalau mengambil suling itu membutuhkan
sedikit waktu. Maka, kedatangan Tar-goutai yang memburunya dengan lembing di
tangan, disambutnya dengan pukulan jarak jauh dari jurus 'Pukulan Belalang'!
Bresss!
Tubuh Targoutai terpental ke
belakang ketika hembusan angin keras berhawa panas menerpa tu-buhnya.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Arya untuk mengambil suling
yang teracung. Pe-
muda ini menjulurkan tangannya ke
arah deretan ba-wah punggung. Bagai ditarik oleh tangan tak nampak, suling yang
berada sepuluh tombak dari Arya terbang melayang! Lalu, Dewa Arak segera
menangkapnya.
Dewa Arak segera duduk bersila
dan menem-pelkan suling itu ke bibirnya. Tepat pada saat itu Tar-goutai yang
tidak terpengaruh sedikit pun akibat pu-kulan jarak jauh jurus 'Pukulan
Belalang' bergerak bangkit dan melesat ke arah Dewa Arak. Padahal, bi-asanya
jurus 'Pukulan Belalang' telah cukup untuk membuat melayang tokoh yang
bagaimanapun tang-guhnya. Tubuh korban akan menghitam menjadi arang.
Terjangan Targoutai langsung
terhenti di ten-gah jalan ketika bunyi suling yang ditiup Dewa Arak mulai
terdengar. Bunyi yang mengalun laksana gen-dang perang. Dalam tiupan suling itu
seakan terdengar derap kaki puluhan ekor kuda, dentang senjata bera-du, dan
jeritan kematian yang menyayat hati.
Bunyi seperti itu yang didengar
orang-orang yang berada di bawah panggung. Tapi tidak demikian halnya dengan
Targoutai. Tidak hanya bunyi itu yang tertangkap telinganya. Tapi, kehebatan
serangan yang terkandung di dalamnya. Bunyi yang bagi orang lain terdengar
mengasyikkan bagi Targoutai amat mengeri-kan. Tidak hanya telinganya saja yang
sakit, isi da-danya pun seperti dikoyak-koyak!
Targoutai tahu adanya ancaman
bahaya. Maka, terjangannya dihentikan. Lelaki perkasa dari Mongol ini lalu
mencabut dua batang anak panah dan meng-gosok-gosokkannya. Terdengar bunyi
bergerit nyaring yang semakin lama semakin meninggi. Targoutai beru-saha
menahan gelombang serangan bunyi suling Dewa Arak dengan suara gesekan anak panahnya.
Tokoh-tokoh rendahan dan sebagian
besar to-
koh persilatan menatap
pertarungan ini dengan pera-saan heran. Tapi tidak demikian halnya dengan Dewa
Tampan Dari Selatan dan beberapa tokoh tingkat ting-gi. Mereka tahu antara Dewa
Arak dan Targoutai ten-gah terjadi pertarungan mati-matian. Pertarungan te-naga
dalam. Selisih tenaga dalam yang sedikit akan membuat nyawa salah seorang di
antara mereka me-layang ke alam baka.
Keadaan Dewa Arak dan Targoutai
semakin mengkhawatirkan. Wajah kedua tokoh itu dipenuhi pe-luh sebesar biji
jagung. Bahkan, dari atas kepala me-reka mengepul uap putih yang semakin lama
semakin tebal.
Terlihat kepulan uap di atas
kepala Dewa Arak jauh lebih sedikit. Kedudukan pemuda itu memang le-bih
menguntungkan. Alat yang digunakan memung-kinkan ia untuk dengan mudah mengubah
bentuk pe-nyerangan. Kenyataan ini membuat Targoutai kewala-han!
Pyarrr!
Bersamaan dengan patahnya
anak-anak panah, tubuh Targoutai terjengkang ke belakang. Darah segar memancur
deras dari mulutnya. Namun, Targoutai be-nar-benar seorang tokoh yang
mengagumkan. Dia ma-sih mampu berdiri meski kedua kakinya menggigil ke-ras.
"Kau..., kau hebat, Dewa
Arak. Aku mengaku kalah...!" Targoutai masih sempat memberikan pujian
sebelum tubuhnya ambruk ke tanah. Targoutai yang perkasa itu tewas.
Dewa Arak pun buru-buru bersemadi
untuk memulihkan tenaganya. Pemuda ini pun memuntah-kan darah segar dari
mulutnya. Bila ia tidak bertindak cepat dan segera mengobati luka dalamnya
bukan tak mungkin dia akan pergi menyusul Targoutai.
Tewasnya Targoutai menimbulkan
kegembiraan pada orang-orang yang menyaksikan jalannya perta-rungan. Tewasnya
Targoutai telah menolong muka ja-go-jago negeri ini. Telah terbukti kalau jago
negeri ini tak kalah oleh jago dari negeri Mongol!
Saat itulah Dewa Tampan Dari
Selatan melom-pat dari kursinya. Dengan gerakan manis, pemuda ini bersalto
beberapa kali kemudian menjejak lantai pang-gung tanpa menimbulkan bunyi
sedikit pun.
"Aku mengajukan diri sebagai
datuk nomor sa-tu dunia persilatan! Siapa yang tidak setuju silakan maju dan
tandingi aku!" seru Dewa Tampan Dari Sela-tan lantang seraya mengepulkan
asap cangklongnya.
Tidak ada tanggapan apa pun dari
bawah pang-gung. Mereka semua tahu siapa adanya Dewa Tampan Dari Selatan.
Melawan hanya mencari mati belaka. Da-lam hati sebagian besar di antara mereka
memaki-maki Dewa Tampan Dari Selatan yang licik. Tadi ketika Targoutai berdiri
sebagai penantang, pemuda pesolek ini berdiam diri saja mengulur-ulur waktu.
Sekarang setelah Targoutai tewas dan Dewa Arak terluka parah, baru Dewa Tampan
Dari Selatan maju. Sungguh licik!
Dewa Tampan Dari Selatan tertawa
bergelak. Gembira.
"Jadi, tak ada orang yang
berani melawanku?! Berarti sekarang akulah datuk nomor satu untuk selu-ruh
wilayah. Datuk golongan hitam! Dan, kalian semua adalah pengikut ku! Ingat,
siapa yang tidak taat akan kubunuh! Kalian mengerti?!"
Dewa Tampan Dari Selatan
mengedarkan pan-dangan ke bawah punggung. Ditatapnya wajah-wajah yang ada di
sana dengan sinar mata bengis. Sedikit sa-ja terlihat adanya tantangan, pemuda
pesolek ini akan menurunkan tangan kejam!
"Dan perintah pertama ku
adalah... bunuh pe-
muda ini!" Dewa Tampan Dari
Selatan menuding ke arah Dewa Arak. "Dia seorang tokoh tingkat tinggi
go-longan putih! Tak terhitung sudah rekan-rekan kita yang tewas di tangannya.
Bukan tidak mungkin kalau kalian yang akan menjadi giliran selanjutnya. Maka,
daripada dia menimbulkan korban lagi di kalangan ki-ta, cepat lenyapkan
saja!"
Seketika belasan tokoh-tokoh
persilatan yang berada di situ berlompatan ke atas punggung untuk memenuhi
perintah Dewa Tampan Dari Selatan. Sedi-kit pun tidak terbit di hati mereka
rasa terima kasih atas jerih payah Dewa Arak. Memang, bagi orang-orang golongan
hitam seperti mereka tidak ada yang na-manya balas budi. Yang ada hanya bertindak
demi keuntungan diri sendiri.
Begitu menjejak lantai panggung,
belasan tokoh persilatan itu langsung mencabut senjata masing-masing dan
mengayunkannya ke tubuh Arya yang ma-sih sibuk mengobati luka dalamnya.
Dewa Tampan Dari Selatan sudah
bisa mem-perkirakan Dewa Arak akan tewas. Maka, dengan si-kap tidak peduli
dibalikkannya tubuhnya sambil ter-senyum lebar. Pemuda ini menunjukkan kesan
kalau tewasnya Dewa Arak bukan merupakan masalah besar baginya. Sehingga, tidak
perlu diperhatikan.
Tapi, senyum Dewa Tampan Dari
Selatan lang-sung lenyap ketika mendengar teriakan-teriakan kesa-kitan yang
susul-menyusul. Tubuh-tubuh tokoh persi-latan yang tadi menyerbu Dewa Arak
berpentalan ke sana kemari seperti daun-daun kering diterbangkan angin.
Dewa Tampan Dari Selatan
membalikkan tu-buhnya kembali untuk melihat keanehan itu. Wajah pemuda ini pun
langsung pias. Berdiri membelakangi Dewa Arak yang masih duduk bersemadi, dua
orang
kakek. Yang seorang berbadan
besar dan bermuka mi-rip kuda. Sedangkan yang satunya lagi bermuka kun-ing.
"Aa... Ayah...?!" desis
Dewa Tampan Dari Sela-tan dengan suara terbata-bata.
Sepasang mata pemuda pesolek itu
menatap penuh rasa tak percaya pada kakek bermuka dua. Ka-kek yang tak lain
Raja Sihir Penyebar Maut ini tertawa. Suara tawanya lebih mendekati ringkik
kuda!
"Masih ada muka kau
memanggil Ayah, Anak Tak Tahu Diuntung?!" bentak Raja Sihir Penyebar Maut.
Suaranya parau dan lantang. "Kau sadar siapa kau sebelumnya? Hanya anak
terlantar! Ku pungut dan ku asuh kau sebagai anak sendiri! Ku wariskan
ilmu-ilmu tinggi. Tapi, setelah besar kau balas semua-nya dengan memenjarakan
aku dan Raja Racun Sakti yang tengah mengadakan pertemuan. Kau pikir aku mati?
Aku berhasil keluar bersama Raja Racun Sakti dengan menggali sebuah terowongan!
Sekarang aku datang untuk membinasakan mu!"
Dewa Tampan Dari Selatan tahu tak
ada am-punan untuknya dari Raja Sihir Penyebar Maut yang sebenarnya adalah ayah
angkatnya. Kakek bermuka kuda itu memiliki watak keji! Tak akan ada ampunan
bagi orang yang mengkhianatinya! Dewa Tampan Dari Selatan teringat kembali akan
tindakannya. Ayah ang-katnya dan Raja Racun Sakti mengadakan pertemuan di
sebuah goa di suatu puncak gunung. Dengan long-soran, pemuda pesolek ini
menutup pintu keluar goa. Hal itu dilakukannya agar dia dapat mengambil
pusa-ka-pusaka milik Ayah angkatnya. Karena telah lama dia menginginkannya tapi
tak diberikan oleh Raja Sihir Penyebar Maut.
Sekarang, Dewa Tampan Dari
Selatan segera melompat
menerjang Ayah angkatnya dengan
cangklongnya. Raja Sihir Penyebar
Maut menyambut-nya. Pertarungan pun berlangsung.
Di lain pihak, Raja Racun Sakti
dengan men-gandalkan nama besar dan kekuasaannya memerin-tahkan semua tokoh
persilatan yang berada di situ un-tuk pergi. Kakek ini yang telah memberi petunjuk
pada Dewa Arak dan juga memberikan suling untuk menga-lahkan Targoutai.
Tokoh-tokoh persilatan pun mening-galkan tempat itu.
Tapi, perasaan tertarik membuat
mereka sese-kali menoleh ke belakang. Mereka ingin mengetahui akhir pertarungan
Raja Sihir Penyebar Maut dengan Dewa Tampan Dari Selatan.
Niat mereka kesampaian. Belum
berapa jauh mereka melangkah terdengar jeritan menyayat hati. Dewa Tampan Dari
Selatan tewas dengan kepala re-muk terhantam cakar Raja Sihir Penyebar Maut.
Dengan kemunculan Raja Sihir
Penyebar Maut dan Raja Racun Sakti, pertarungan untuk mempere-butkan kedudukan
datuk pun berakhir. Bertepatan dengan tewasnya Dewa Tampan Dari Selatan, Dewa
Arak menyelesaikan semadinya.
"Kau hebat, Dewa Arak!"
puji Raja Sihir Penye-bar Maut. "Tanpa adanya kau, mungkin orang asing itu
akan mengira tidak ada tokoh negeri ini yang mam-pu menandinginya. Kau telah
menutup kesombongan-nya."
"Atas bantuanmu juga,
Kek." Arya merendah. Dia tahu kalau dua datuk ini yang telah memberikan
jalan padanya untuk mengalahkan Targoutai.
"Tak perlu merendah,"
Raja Racun Sakti mem-bantah. "Bukan tidak mungkin suatu saat kita akan
berhadapan sebagai lawan. Sekarang, kami akan pergi. Tapi bila terjadi
pertemuan di antara kita, aku akan menantangmu bertarung!"
Dewa Arak hanya menghela napas
berat. Dia tetap diam ketika dua datuk golongan hitam itu berke-lebat cepat
meninggalkan tempat itu. Tinggallah Dewa Arak dan mayat Targoutai di atas
panggung. Mayat lainnya telah dibawa pergi oleh kelompoknya masing-masing.
SELESAI
No comments:
Post a Comment