MANUSIA
KELELAWAR
Oleh Aji Saka
l
"Ha ha ha...!"
Tawa keras menggelegar menguak
kesunyian pagi. Panjang dan hampir tidak putus-putus. Ada nada kegembiraan yang
sangat di dalamnya.
Suara itu berasal dari salah satu
di antara sekian banyak goa yang terdapat di Bukit Kematian. Sebuah bukit yang
jarang didatangi orang. Setiap orang yang datang ke sana tidak akan pernah
kembali lagi. Mungkin itulah sebabnya bukit itu dinamakan Bukit Kematian.
Menurut cerita yang tersebar di
dunia persilatan, di sekitar Bukit Kematian banyak terdapat tempat-tempat yang
berbahaya. Lumpur hidup serta jalan-jalan setapak yang terdapat di antara
hamparan padang rumput setinggi satu setengah tombak, menyembunyikan bahaya
berupa ular-ular beracun dan serangga-serangga berbisa. Semua itu hanya
sebagian kecil dari bahaya-bahaya yang menghadang perjalanan menuju Bukit
Kematian. Tak aneh jika tempat itu ditakuti tokoh-tokoh persilatan.
Sedangkan bagi penduduk sekitar
tempat itu, Bukit Kematian merupakan tempat keramat. Mereka percaya bukit itu
dihuni berbagai macam makhluk halus. Dan tidak seorang pun berani menginjakkan
kaki di sana.
Tapi kenyataannya pagi itu
terdengar suara tawa dari salah satu goa di Bukit Kematian! Apakah tawa itu
keluar dari mulut siluman atau makhluk halus lainnya seperti yang dipercayai
penduduk sekitar tempat itu?
Mendadak dari dalam goa melesat
sesosok bayangan. Gerakannya cepat bukan main. Sehingga yang terlihat hanya
sekelebatan bayangan putih yang tidak jelas. Tahu-tahu di depan goa itu telah
berdiri sesosok tubuh kurus kering berpakaian putih.
Silumankah sosok berpakaian putih itu? Rasanya tidak!
Mungkinkah siluman keluar di pagi hari? Sosok berpakaian putih itu pasti
seorang manusia! Kedua kakinya menginjak tanah!
Namun bukti yang lebih meyakinkan
kalau sosok berpakaian putih itu seorang manusia adalah pernyataannya. Ucapan
yang dikeluarkan setelah sosok itu membiarkan tubuhnya bermandikan cahaya
lembut matahari pagi.
"Sekarang tibalah waktunya
bagiku untuk mencoba kedahsyatan ilmu yang kudapat!"
Usai berkata demikian, sosok
berpakaian putih mengembangkan kedua tangannya ke samping. Gerakannya
mengingatkan orang pada unggas yang sedang membuka sayapnya. Hanya sosok itu
menggerakkannya perlahan-lahan, tapi penuh tenaga. Bunyi menderu seperti angin
ribut terdengar mengiringi.
Ini menjadi pertanda kalau sosok
berpakaian putih memiliki tenaga dalam tinggi! Hanya orang-orang yang memiliki
tenaga dalam tinggilah yang mampu menimbulkan bunyi deru angin setiap kali
menggerakkan tangannya.
Ternyata tidak hanya deru angin
saja yang timbul. Sepasang matanya pun berubah. Kelihatan seperti memanjang dan
memipih, tajam berkilat mengeluarkan sinar kehijauan. Mirip mata seekor kucing!
Hanya sesaat sosok berpakaian
putih bersikap demikian. Kemudian diawali bunyi mencicit nyaring seperti suara
tikus, sosok itu melompat ke atas. Ringan bukan main gerakan sosok berpakaian
putih. Bagai sehelai daun kering, tubuhnya melayang ke atas. Dan setibanya di
sana tangan kanannya dikibaskan.
Wuttt! Blarrr!
Bunyi hiruk-pikuk langsung
terdengar ketika angin kibasan sosok berpakaian putih menghantam batu sebesar
kerbau. Padahal batu itu berada dalam jarak tak kurang dari lima tombak! Tapi,
kenyataannya hancur! Satu bukti lagi betapa kuat tenaga dalam sosok berpakaian
putih itu.
Jliggg!
"Ha ha ha...!"
Begitu kedua kakinya mendarat
ringan di ranah, sosok berpakaian putih mengumbar tawanya yang terdengar lepas penuh dengan
kegembiraan.
"Sekarang aku telah menjadi
orang sakti! Ha ha ha...! Tidak sia-sia pengorbananku selama ini! Tunggulah
cecunguk-cecunguk tak tahu diri! Aku, Sangkala, akan membuat perhitungan dengan
kalian. Ha ha ha...!"
Masih dengan tawa yang tidak
putus sosok berpakaian putih yang ternyata bernama Sangkala melesat pergi
meninggalkan tempat itu. Luar biasa! Hanya dengan sekali lesatan tubuhnya telah
berada belasan tombak di depan. Tanpa memiliki ilmu meringankan tubuh yang
sangat tinggi jarak sejauh itu tidak akan bisa dicapai!
Baru beberapa kali lesatan
Sangkala menghentikan larinya. Pandangannya diarahkan ke depan ke tempat
terhamparnya padang rumput setinggi satu setengah tombak.
"Orang lain mungkin sulit
melewati tempat ini.... Tapi untukku.... Ha ha ha...! Tidak ada sesuatu pun
yang dapat menghalangi langkahku! Sangkala akan menjadi jago nomor satu di
dunia persilatan. Ha ha ha...!"
Untuk kesekian kalinya Sangkala
tertawa tergelak-gelak. Cukup lama sebelum akhirnya berhenti. Lebih tepatnya
dihentikan secara mendadak. Sekarang tarikan wajahnya menampakkan kesungguhan.
Tidak terlihat lagi raut kegembiraan di wajahnya.
Sangkala berdiam diri sebentar
seperti tengah berpikir keras. Mendadak ia memutar tubuhnya ke kiri dengan
dibarengi gerakan tangannya. Hingga....
Bluppp!
Tubuh Sangkala lenyap! Di
tempatnya semula berdiri tampak kepulan asap dan seekor kelelawar!
Cit, cit, cit!
Diiringi bunyi mencicit yang
keluar dari mulutnya, kelelawar itu terbang di atas hamparan rumput!
Kalau kebetulan ada yang melihat
kejadian ini tentu akan heran bukan main, Bagaimana mungkin kelelawar melakukan
kegiatannya di siang hari? Padahal binatang itu biasanya tidur di siang hari.
Dan baru keluar pada malam hari.
***
Matahari telah bergeser jauh dari
tempat terbitnya. Meskipun demikian belum mencapai titik tengah ketika sebuah
iring-iringan kereta kuda memasuki mulut Hutan Sawang.
Iring-iringan itu terdiri dari
sebuah kereta dan delapan ekor kuda. Kedudukan binatang yang rata-rata
berpenunggang sosok-sosok berwajah gagah itu melindungi kereta. Tiga di bagian
belakang dan depan serta satu pada masing-masing sisi kereta.
Seperti juga binatang
tunggangannya yang semua berwarna hitam, sosok-sosok gagah di atas punggung
kuda itu pun mengenakan pakaian yang sama. Kuning kentang. Pada bagian dada
kiri tersulam gambar kepala seekor harimau. Pedang bergagang kepala harimau
tampak di balik punggung mereka. Senjata-senjata itu membuktikan rombongan ini
bukan terdiri dari orang-orang lemah.
Menilik sikap sosok-sosok di atas
punggung kuda hitam yang terlihat begitu melindungi kereta, bisa diperkirakan
orang yang berada di dalamnya adalah orang penting.
"Hooop...!"
Tiba-tiba salah satu dari tiga
penunggang kuda terdepan mengangkat tangan kanannya ke atas seraya menarik tali
kekang binatang tunggangannya.
Seketika itu pula, rombongan yang
berada di belakang tiga sosok itu menghentikan langkah kuda mereka. Dan seiring
dengan itu, masing-masing sosok berpakaian kuning bersikap waspada. Mereka
melihat sesosok tubuh berpakaian putih berdiri menghadang jalan.
Salah seorang dari tiga
penunggang kuda terdepan, seorang lelaki tegap berkumis tebal, melompat turun.
Indah dan manis gerakannya.. Bahkan ketika kedua kakinya didaratkan di tanah,
tidak terdengar bunyi yang berarti. Itu pertanda ilmu meringankan tubuhnya cukup
tinggi.
Lalu dengan langkah dan sikap
tenang, lelaki berkumis tebal itu menghampiri sosok berpakaian putih yang
terdiri dalam jarak sepuluh tombak di depannya. Tindakan lelaki berkumis tebal
yang menjadi pimpinan iring-iringan itu tidak luput dari perhatian
rekan-rekannya dan sosok berpakaian putih.
Sosok berpakaian putih itu
ternyata seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Kulit
wajahnya pucat seperti lama tidak terkena sinar matahari. Seperti juga lelaki
berkumis tebal, pemuda itu pun bersikap tenang. Kedua tangannya tetap dilipat
di depan dada.
"Maaf, Kisanak. Bisakah kau
menyingkir sebentar? Kami hendak lewat, dan sedang memburu waktu. atas
kesediaanmu kami mengucapkan terima kasih," ujar lelaki berkumis tebal
pelan dan sopan.
"Bagaimana kalau aku tidak
mau?!" sahut pemuda berpakaian putih dingin.
Seketika itu pula wajah lelaki
berkumis tebal berubah. Sepasang matanya berkilat marah. Tapi hanya sebentar,
sesaat kemudian raut wajahnya kembali seperti biasa. Rupanya lelaki berkumis
tebal itu mampu menguasai perasaannya.
"Maaf, Kisanak. Mungkin
perlu kau ketahui kami adalah orang-orang Perguruan Harimau Terbang. Kebetulan
aku pemimpin rombongan ini. Namaku Kulana! Saat ini kami sedang mendapat tugas
yang harus cepat kami laksanakan. Kami tidak mempunyai banyak waktu. Sekali
lagi kuminta kau menyingkir dari tempatmu, Kisanak. Berilah kami kesempatan
untuk lewat."
"Cuhhh!"
Tanggapan dari pemuda berpakaian
putih adalah semburan ludah ke tanah. Kasar dan menjijikkan sekali caranya.
"Siapa pun kalian aku tidak
peduli! Dari Perguruan Harimau Terbang atau Perguruan Macan Ompong bukan
urusanku! Yang jelas kalau ingin lewat jalan ini kalian harus menyingkirkan
aku!"
"Keparat!"
Terdengar makian keras penuh
kemarahan. Disusul kemudian dengan melompatnya seorang penunggang kuda yang
tadi berada di sebelah Kulana. Dia seorang lelaki bertubuh pendek kekar.
"Biar aku yang melemparkan
pemuda sombong itu, Kakang!" pinta lelaki pendek kekar ketika telah berada
di dekat Kulana.
Kulana tidak segera menjawab.
Ditatapnya wajah lelaki pendek kekar itu sejenak.
"Baik! Tapi hati-hati,
Cakra! Jangan bertindak sembrono. Aku yakin dia bukan orang sembarangan,"
beri tahu lelaki berkumis tebal seraya melangkah mundur memberi kesempatan pada
rekannya.
"Mengapa harus
membuang-buang waktu?! Lebih baik kalian semua maju bersama!" tantang pemuda berpakaian putih tanpa
menyembunyikan rasa sombong. Hingga semua orang yang berada di dalam rombongan
Perguruan Harimau Terbang gusar.
Hal yang sama pun dialami Cakra!
Kemarahannya semakin berkobar mendengar sesumbar lawan. Maka diputuskan segera melaksanakan maksudnya.
"Manusia sombong! Awas
seranganku ! Hih!"
Cakra membuka serangan dengan
sebuah tendangan lurus ke arah dada. Deru angin cukup keras mengiringi tibanya
serangan itu, pertanda tenaga dalamnya cukup tinggi.
Tapi pemuda berpakaian putih
tetap bersikap tenang. Tidak terlihat tanda-tanda dia akan melakukan tindakan.
Baik tangkisan maupun elakan. Malah begitu serangan Cakra menyambar semakin
dekat, pemuda berpakaian putih menurunkan kedua tangannya. Sebuah tindakan yang
membuat ancaman bahaya semakin besar. Karena bagian dadanya terbuka lebar.
Karuan saja semua orang yang
berada di situ terkejut. Tidak terkecuali Cakra! Sudah gilakah pemuda
berpakaian putih itu! Kalau tidak, mana mungkin membiarkan serangan lawan
menghantamnya? Ataukah dia memiliki kepandaian yang demikian tinggi sehingga
berani menerima serangan lawan?
Pertanyaan-pertanyaan itu
menggayuti semua kepala anggota rombongan Perguruan Harimau Terbang. Sekarang
mereka menunggu kenyataan yang akan terjadi dengan perasaan tegang. Dan mereka
tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuktikan kenyataan itu. Sesaat
kemudian....
Bukkk!
Telak dan keras sekali kaki Cakra
mendarat di dada pemuda berpakaian putih.
Akibatnya benar-benar mengejutkan! Seharusnya pemuda
berpakaian putih itu kesakitan. Tapi yang terjadi sebaliknya. Cakralah yang
menjerit-jerit kesakitan sambil memegangi kakinya.
Pemuda bertubuh pendek kekar itu
merasakan kakinya bukan menghantam tubuh manusia yang terdiri dari daging dan
tulang. Tapi,
mengenai bongkahan baja keras!
Rasa sakit yang sangat langsung menderanya.
Tentu saja rekan-rekan Cakra
terkejut bukan main melihat kenyataan itu. Sekarang mereka sadar kalau pemuda
berpakaian putih memiliki kepandaian tinggi. Seketika itu pula, bagai diberi
perintah, mereka melompat dari punggung kuda masing-masing. Sudah dapat diduga
maksudnya! Apalagi kalau bukan ingin membantu Cakra? Tapi....
"Hentikan! Jangan ada
seorang pun yang berpindah dari kedudukan masing-masing!"
Seruan Kulana membuat anggota
rombongan Perguruan Harimau Terbang yang berada di samping dan belakang kereta
menghentikan tindakan. Mereka menyadari adanya kebenaran dalam ucapan itu.
"Ha ha ha...! Mengapa
berhenti? Tidak usah malu-malu! Teruskan saja maksud kalian untuk mengeroyokku
agar pertarungan jadi lebih menarik! Ha ha ha...!" pemuda berpakaian putih mengeluarkan
perkataannya dengan penuh ejekan. Sikapnya terlihat sangat memandangang rendah.
"Siapa kau, Kisanak?!
Mengapa tanpa alasan kau mengganggu kami?! Setahuku Perguruan Harimau Terbang
tidak mempunyai urusan denganmu!" ujar Kulana sambil melangkah maju.
Sedikit pun tidak dipedulikannya sikap sombong pemuda berpakaian putih.
"Ha ha ha...!"
lagi-lagi pemuda berpakaian putih tertawa sebelum menjawab pertanyaan Kulana.
"Terima kasih atas pertanyaanmu, Monyet Jelek! Memang aku lupa
memperkenalkan diri! Nah! Dengarkan baik-baik! Namaku Sangkala! Kau
dengar?!"
"Sangkala?!" gumam
Kulana dengan dahi berkerut.
Lelaki berkumis tebal ini mencoba
mengingat-ingat barangkali pernah didengarnya tokoh persilatan yang mempunyai
nama demikian. Tapi sampai lelah dia menguras benaknya tidak didapatkannya
tokoh persilatan yang mempunyai nama seperti itu.
"Kau belum mengemukakan
alasanmu menghadang perjalanan kami, Sangkala?!" ujar Kulana mengingatkan.
"Sederhana saja,
Kulana," timpal Sangkala tenang. "Apa?!"
"Membunuh kalian!"
"Keparat!" maki Kulana
geram merasa dipermainkan Sangkala. Dan....
Srattt!
Sinar terang menyilaukan mata
berpendar ketika pimpinan rombongan Perguruan Harimau Terbang mencabut
pedangnya. Kejadian
yang menimpa Cakra menyebabkan
Kulana tanpa ragu-ragu menghunus senjata. Apalagi menyadari Sangkala seorang
lawan yang tangguh.
"Hm!"
Sebuah dengusan pendek Sangkala
menyambuti tindakan Kulana. Seperti juga sebelumnya, pemuda berpakaian putih
itu tetap bersikap tenang seolah tidak ada bahaya maut mengancamnya.
"Cabut senjatamu,
Sangkala!" seru Kulana melihat pemuda berpakaian putih itu masih berdiam
diri.
"Tidak usah berlagak gagah,
Kulana!" ejek Sangkala, "Seranglah aku! Jangan ragu-ragu untuk
mengeluarkan seluruh kemampuanmu."
"Sombong! Ingat, Sangkala!
Bukan aku yang bertindak curang menyerang lawan yang tidak bersenjata. Tapi kau
sendiri yang mengabaikan kesempatan yang kuberikan!"
"Tidak usah banyak bicara!
Kalau kau memang bukan pengecut, serang aku!" tandas Sangkala tidak
peduli.
Wajah Kulana langsung merah
padam. Sepasang matanya berkilat-kilat memancarkan amarah. Geram melihat sikap
Sangkala yang terlalu sombong. Maka....
"Haaat..!"
Diawali teriakan nyaring yang
membuat suasana di sekitar tempat itu bergetar hebat Kulana melancarkan
serangan perdananya. Pedangnya ditusukkan ke arah leher Sangkala!
Cittt!
Bunyi mencicit dari udara yang
robek terdengar ketika pedang Kulana meluncur menuju sasaran.
Cepat bukan main luncuran
serangan itu. Tapi masih lebih cepat gerakan Sangkala. Hanya dengan memiringkan
kepalanya ke kanan, tanpa bergeser dari tempatnya semula, Sangkala membuat
serangan itu kandas. Ujung pedang Kulana lewat beberapa jari di sebelah kiri
leher Sangkala.
Melihat serangan perdananya
berhasil dielakkan lawan dengan mudah, Kulana jadi penasaran. Segera dikirimkan
serangan susulannya. Pedangnya diayunkan mendatar ke arah leher!
Wuttt!
Untuk yang kedua kalinya babatan
pedang Kulana hanya mengenai angin. Sangkala telah menarik kepalanya ke
belakang. Dan hebatnya gerakan itu dilakukan tanpa menggeser kaki!
Tapi Kulana tidak putus asa.
Bahkan sebaliknya! Serangan-serangan yang dikirimkannya semakin dahsyat.
Pedangnya berkelebatan cepat mengancam berbagai bagian berbahaya di tubuh
Sangkala. Disertai bunyi mencicit yang menyakitkan telinga.
Berturut-turut Kulana melancarkan
serangan dahsyat. Tapi semua berhasil dipunahkan Sangkala dengan mengelak tanpa
menggeser kaki! Laksana bayangan, tubuhnya digerakan ke sana kemari mengelakkan
serangan Kulana.
"Hih!"
Kulana menggertakkan gigi. Rasa
marah dan sakit hati berkecamuk di hatinya melihat serangan demi serangan yang
dikirimkan dipatahkan lawan dengan demikian mudah.
"Sekarang giliranku!"
Di antara bunyi riuh rendah
berkelebatannya pedang Kulana terdengar seruan Sangkala. Tapi Kulana yang
tengah dilanda amarah tidak mempedulikannya. Lelaki berkumis tebal itu terus
melancarkan serangan. Pedang di tangannya dikelebatkan ke berbagai bagian
berbahaya di tubuh Sangkala. Namun....
Tappp! "Akh!"
2
Jeritan pendek bernada kaget
keluar dari mulut Kulana ketika batang pedangnya berhasil dicengkeram Sangkala. Kejadiannya
berlangsung sangat cepat dan tidak terduga-duga.
Meskipun demikian Kulana tidak
kehilangan akal. Secepat batang pedangnya tercengkeram secepat itu pula
ditariknya seraya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tergambar di benaknya
jari-jari Sangkala putus tersayat mata pedangnya. Paling tidak tangan itu
terluka! Dan bila hal itu terjadi Sangkala pasti akan melepaskan
cengkeramannya.
Tapi harapan Kulana pupus. Pedang
itu sekali pun tidak bergeming dari cengkeramana Sangkala, Seolah bukan
dicengkeram tangan manusia tapi jepitan baja! Betapa pun dikerahkan seluruh
tenaganya, tetap saja tidak bergeming!
Meskipun demikian Kulana tidak
putus asa. Maksudnya tetap diteruskan sampai wajahnya merah padam dan napasnya
terengah-engah. Berbeda dengan Kulana, keadaan Sangkala biasa saja. Tidak
terlihat tanda-
tanda pemuda itu mengerahkan
tenaganya. Raut wajahnya tetap seperti semula. Tenang dan dingin.
Semua kejadian itu disaksikan
dengan jelas oleh semua anggota Perguruan Harimau Terbang. Terutama Cakra dan
rekannya yang berada di bagian depan. Tanpa diberitahu mereka mengerti
pimpinannya berada dalam kedudukan yang tidak menguntungkan!
Sadar jika keadaan itu dibiarkan
akan membahayakan keselamatan Kulana, Cakra dan rekannya segera bertindak!
Bagai telah disepakati sebelumnya, keduanya menghunus senjata dan melompat ke
dalam kancah pertarungan.
Sing sing sing...!
Bunyi mendesing terdengar ketika
dua batang pedang itu meluncur ke arah leher Sangkala. Cakra mengirimkan
serangan dari sebelah kanan, sedangkan rekannya dari kiri. Kedua serangan itu
dilakukan dari atas. Tindakan itu seperti gerakan seekor burung garuda hendak
menerkam mangsa.
Hebat dan cepat serangan gabungan
ini. Namun tanggapan yang diberikan Sangkala jauh lebih cepat. Sekali jari-jari
tangannya yang mencengkeram, bergerak terdengar bunyi 'tak', disusul patahnya
pedang Kulana! Padahal saat itu Kulana tengah bersitegang menarik senjatanya!
Kelanjutan kejadian itu sudah
dapat diduga! Kulana terdorong deras ke belakang terbawa tenaga tarikannya.
Potongan pedangnya tergenggam di tangan!
Di saat itulah Sangkala
bertindak! Tangan kanannya dikibaskan! Singngng!
Seketika itu pula potongan pedang
Kulana meluncur dalam kecepatan tinggi ke arah pemiliknya! Sementara Kulana
masih terbawa tenaga tarikannya. Keadaan pimpinan rombongan Perguruan Harimau
Terbang sangat berbahaya!
Tindakan Sangkala tidak berhenti
sampai di situ. Kedua tangannya disampokkan ke atas.
Trakkk, trakkk, cappp!
"Akh...!"
Luar biasa! Dalam waktu sekejap
rentetan peristiwa itu terjadi! Kegagalan Cakra dan rekannya karena serangan
mereka berhasil dipunahkan Sangkala dengan sampokan tangannya yang membuat
pedang mereka patah hampir bersamaan dengan amblasnya potongan pedang Kulana di
perut majikannya sendiri. Kulana memekik kesakitan!
"Kakang...!"
Cakra dan rekannya menjerit kaget
melihat kejadian yang menimpa Kulana. Jeritan itu langsung keluar begitu
keduanya berhasil
mematahkan kekuatan yang membuat
tubuh mereka melayang akibat sampokan Sangkala.
Seiring keluarnya jeritan itu
Cakra dan rekannya meluruk ke arah Kulana yang berdiri limbung sambil memegangi
perutnya. Sungguh tangguh daya tahan Kulana. Dia mampu berdiri di tanah dengan
kedua kaki. Padahal potongan pedang amblas di dalam perutnya.
Bukan hanya Cakra dan rekannya
yang meluruk ke arah lelaki berkumis tebal itu. Anggota rombongan Perguruan
Harimau Terbang yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Sedangkan Sangkala
hanya tertawa-tawa. Tawa gembira penuh dengan nada ejekan.
Masih dengan tawa yang tidak
putus, Sangkala memperhatikan semua kesibukan rombongan Perguruan Harimau
Terbang. Tampak olehnya, Cakra dan kawan-kawannya mengerumuni Kulana. Tubuh
pimpinan rombongan Perguruan Harimau Terbang itu setengah terbaring di tanah.
Kalau tidak ada tangan Cakra yang menegakkan punggungnya, pasti tubuh Kulana
terbaring.
"Kakang...! Kuatkan
hatimu...! Kau akan sembuh, Kang," ucap Cakra terbata-bata dengan suara
bergetar.
Terlihat jelas kesedihan Cakra,
baik dalam nada suara maupun tarikan wajahnya. Gambaran perasaan yang sama
membias di wajah semua anggota Perguruan Harimau Terbang.
"Tidak, Cakra, Hhh...
hhh.... Aku ti... tidak kuat lagi. Hhh... hhh.... Lak., laksanakan tugas kalian
se... sebaik-baiknya. Dan... akh...!"
Seiring dengan terkulainya kepala
Kulana nyawanya pun melayang ke alam baka.
"Kang...! Kakang
Kulana...!"
Dengan kalap Cakra
mengguncang-guncangkan tubuh Kulana. Sikap lelaki pendek kekar itu menunjukkan
ketidakrelaannya akan kematian Kulana. Sebab Kulana adalah kakak kandung Cakra!
Tawa gembira penuh ejekan membuat
Cakra dan rekan-rekannya teringat kembali akan keberadaan Sangkala. Seiring
dengan itu, perasaan geram dan keinginan untuk membalas dendam pun timbul.
"Tenangkanlah hatimu, Kang.
Akan kubalaskan semua sakit hatimu!" sambil berkata demikian, dengan
hati-hati Cakra membaringkan tubuh Kulana di tanah. Kemudian dirinya kembali
berdiri dan menatap Sangkala. Terlihat jelas sinar kemarahan dan kebencian di
sana!
"Kubunuh kau, Iblis
Keji!" desis Cakra dengan suara bergetar. Lalu....
Srattt!
Sinar terang berpendar ketika
lelaki pendek kekar yang tengah dilanda amarah itu mencabut pedangnya.
Bukan hanya Cakra yang menghunus
senjata. Enam rekannya pun melakukan tindakan yang sama. Dalam cekaman perasaan
marah, rombongan Perguruan Harimau Terbang seperti tidak mempedulikan sikap
gagah lagi.
Walaupun lawan yang akan dihadapi
hanya seorang dan bertangan kosong. Sementara, mereka berjumlah tujuh orang!
Dan masih ditambah lagi dengan senjata di genggaman! Kelihatan sangat tidak
adil!
Tapi Sangkala tidak mempedulikan
hal itu. Sikap yang ditunjukkannya malah menyiratkan dia memandang remeh
lawan-lawannya. Pemuda itu tetap tenang, meskipun rombongan Perguruan Harimau Terbang
telah melakukan penyerangan.
"Haaat...!"
Diawali teriakan keras, Cakra
yang sudah tidak kuat menahan amarahnya mulai bergerak. Rekan-rekannya
mengikuti. Mereka tahu Cakra bukan tandingan Sangkala yang hebat. Kalau tidak
dibantu, lelaki pendek kekar itu akan tewas di tangan lawan.
Pertarungan pun tidak bisa
dihindarkan lagi. Tujuh orang gagah dari Perguruan Harimau Terbang menyerang
laksana macan luka. Pedang-pedang di tangan mereka berkelebat cepat mengancam
berbagai bagian tubuh Sangkala.
Tapi Sangkala tetap tenang.
Ditunggunya hingga serangan-serangan itu menyambar dekat. Baru setelah hampir
menyentuh tubuhnya, pemuda berpakaian putih itu memberikan tanggapan.
Menggiriskan sekali tindakan
Sangkala! Babatan, tetakan, dan tusukan senjata lawan dipapakinya dengan tangan
kosong. Bunyi berdetak keras seperti logam-logam keras beradu terdengar ketika
sepasang tangan Sangkala berbenturan dengan senjata-senjata lawan.
Kedua tangan Sangkala sedikit pun
tidak terluka! Malah sebaliknya, setiap kali terjadi benturan, tubuh anggota
Perguruan Harimau Terbang terhuyung-huyung ke belakang.
Meskipun demikian, mereka tidak
gentar. Tanpa mempedulikan rasa sakit, rombongan Perguruan Harimau Terbang
kembali melancarkan serangan. Pertarungan sengit kembali berlanjut.
***
Tapi setelah pertarungan
berlangsung hampir sepuluh jurus, rombongan Perguruan Harimau Terbang harus
mengakui kehebatan Sangkala. Sebenarnya sejak semula pun sudah dapat diketahui
kalau Sangkala terlalu tangguh untuk dihadapi mereka. Cakra dan kawan-
kawannya tak ubahnya semut-semut
yang menerjang api, roboh sebelum berhasil mendekati sasaran.
"Ha ha ha...! Hanya sampai
di sinikah kemampuan kalian? Benar-benar mengecewakan!" ujar Sangkala
keras mengatasi bisingnya suasana pertarungan. Jelas pemuda itu mengerahkan
tenaga dalamnya.
Tidak ada tanggapan dari anggota
rombongan Perguruan Harimau Terbang. Walaupun sebenarnya hati mereka terbakar
karena perasaan geram yang melanda, yang dilakukan mereka hanya semakin
memperhebat serangan. Tapi rupanya Sangkala tidak mempedulikan ada tanggapan
atau tidak. Ini terbukti beberapa saat kemudian!
"Bersiaplah kalian! Sekarang
aku akan membalas...!" usai berkata, Sangkala menjejakkan kaki. Seketika
itu pula tubuhnya mencelat tinggi ke atas melewati kepala para pengeroyoknya.
Lalu....
Jliggg!
Ringan laksana daun kering,
Sangkala mendaratkan kedua kakinya di tanah di luar kepungan. Kemudian tanpa
menunggu lebih lama lagi kedua tangannya dikembangkan seperti unggas membuka
sayap.
Sangkala menyusun jari-jarinya
membentuk cakar aneh. Kaki kanannya berada di depan agak dijinjitkan. Sedangkan
kaki kirinya di belakang sedikit menekuk. Inilah jurus 'Kelelawar' andalannya.
Cukup aneh pembukaan jurus 'Kelelawar' Sangkala. Tak heran jika rombongan
Perguruan Harimau Terbang terkejut bercampur heran.
Tapi hanya sesaat Cakra dan
kawan-kawannya dikungkung perasaan heran. Kemudian dengan diawali
teriakan-teriakan keras memekakkan telinga, mereka meluruk ke arah Sangkala.
Pedang di tangan mereka siap dikelebatkan.
"Cit, cit, cit!"
Bunyi mendecit terdengar dari
mulut Sangkala. Nyaring dan menyakitkan telinga. Belum lagi gema suara itu
lenyap, Sangkala melakukan tindakan yang sama dengan lawan-lawannya. Pemuda itu
memapaki serbuan rombongan Perguruan Harimau Terbang.
Melihat kenyataan itu, Cakra
tidak tinggal diam. Tanpa membuang-buang waktu mereka segera menyambut papakan
Sangkala dengan ayunan pedang.
Sing sing sing...! Crat, crat,
crat! "Akh, akh, akh...!"
Rentetan kejadian itu berlangsung
demikian cepat sehingga sulit untuk dirinci. Yang jelas, jeritan menyayat itu
keluar susul-menyusul dari mulut rombongan Perguruan Harimau Terbang.
Tubuh mereka berpentalan ke
belakang. Jatuh berdebuk di tanah. Berkelojotan sejenak sebelum akhirnya diam
untuk selamanya. Cakra dan rekan-rekannya tewas dengan mengenaskan. Cakar-cakar
Sangkala telah meminta korban.
*** "Ha ha ha...!"
Sangkala tertawa tergelak keras
dan penuh kegembiraan. Dipandanginya mayat ketujuh lawannya sejenak. Mereka korban
kedahsyatan jurus 'Kelelawar'nya.
Jurus 'Kelelawar' memang sangat
dahsyat! Dalam penggunaan ilmu itu tubuh Sangkala jadi demikian ringan.
Kecepatan geraknya menakjubkan. Dengan mengandalkan kecepatan gerak itulah
Sangkala berhasil membinasakan lawan-lawannya. Ketujuh anggota Perguruan
Harimau Terbang tewas terkena sambaran cakar pemuda berpakaian putih itu.
Masih dengan tawa yang belum
putus Sangkala mengalihkan perhatian ke arah kereta. Pertama kali yang
dilihatnya adalah kusir kereta. Lelaki anggota Perguruan Harimau Terbang itu
meremang bulu kuduknya. Nyalinya langsung menciut. Disadarinya dia bukan
tandingan Sangkala yang sangat menggiriskan!
Keyakinan akan ketidakmampuan
dirinya membuat kusir itu mengambil tindakan pengamanan. Inilah tindakan yang
diambil.
Ctar, ctar, ctar! "Hiya!
Hiyaaa...!"
Dengan perasaan kalap yang
tergambar jelas di wajahnya, lelaki itu menggebah kuda. Binatang tunggangan itu
pun berlari.
"Hmh!"
Sangkala mendengus melihat
tindakan sang Kusir! Dengan sorot mata bengis tangannya ditudingkan ke arah
binatang penghela kereta.
"Cit, cit, cit!"
Terdengar bunyi mendecit yang
menyakitkan telinga. Sesaat kemudian, akibat yang mengagumkan segera terjadi.
Lari kuda penarik kereta langsung berhenti.
Kusir kereta tampak sangat
kebingungan. Perasaan takut yang mendera membuatnya tidak dapat berpikir
panjang. Cambuk di tangannya dilecutkan ke bagian belakang tubuh kuda!
Ctar, ctar, ctar!
Keras bukan main bunyi yang
terdengar. Sang Kusir telah mengerahkan segenap tenaganya.
Tapi sampai lelah dia melecutkan
cambuknya kuda itu tetap diam! Hingga lelaki itu sadar tindakannya sia-sia.
Meskipun tidak mengetahui bagaimana hal itu terjadi, tapi dia yakin Sangkala
telah menotok kudanya dari jauh!
Kusir kereta itu pun menjadi
nekat. Pedang yang tergantung di punggungnya segera dicabut lalu melompat
turun.
Jliggg!
Begitu kedua kakinya menginjak
tanah, secepat itu pula ia melancarkan serangan ke arah Sangkala. Pedangnya
diputar seperti kitiran, kemudian ditusukkan ke dada lawan. Sangkala tersenyum
mengejek melihat serangan itu. Ditunggunya hingga dekat, baru kemudian
tangannya bergerak cepat.
Tappp!
Mata pedang anggota Perguruan
Harimau Terbang itu berhasil ditangkap Sangkala. Dan sebelum lawannya sempat
berbuat sesuatu, Sangkala telah bertindak lebih dulu. Sebagian tenaga dalamnya
dikerahkan untuk mendorong pedang yang dicengkeramnya. Akibatnya....
Cappp! "Akh...!"
Kusir kereta yang malang itu
mengeluarkan jeritan menyayat ketika pedangnya menancap di perut hingga tembus
ke punggung. Tentu saja dengan gagang lebih dulu.
Wajah sisa anggota Perguruan
Harimau Terbang menegang menahan rasa sakit yang sangat. Sepasang matanya
membelalak lebar. Namun itu hanya berlangsung sekejap. Begitu Sangkala
melepaskan cekatannya, tubuh kusir itu pun ambruk Dan seiring dengan robohnya
tubuh itu nyawanya melayang ke alam baka!
"Ha ha ha...!"
Entah untuk yang keberapa kali
Sangkala mengumbar tawa kegembiraan. Hanya kali ini lebih singkat dari
sebelumnya.
Setelah menghentikan tawa,
Sangkala mengayunkan langkah menghampiri kereta kuda. Kelihatannya sembarangan
saja kakinya dilangkahkan, tapi hasil yang dicapai benar-benar menakjubkan!
Sekali mengayun kaki pemuda itu telah berada di dekat kereta.
"Hih!" Brakkk!
Daun pintu kereta lepas dengan
menimbulkan bunyi keras ketika tangan Sangkala yang berisi tenaga dalam
menariknya.
"Auwww...!"
Teriakan melengking nyaring
terdengar seiring jebolnya pintu kereta. Jeritan itu menunjukkan pemiliknya
seorang wanita!
Dugaan itu memang tidak salah! Di
dalam kereta duduk dengan tubuh menggigil seorang gadis berusia sekitar dua
puluh tahun. Meskipun sebagian wajahnya tertutup oleh kedua tangan, tampak
wajahnya yang cantik. Kulitnya putih, halus, dan mulus. Pakaian indah berwarna
hijau pupus membungkus tubuh montoknya. Agaknya gadis itu berasal dari keluarga
berada.
"Hmh!"
Sorot kekejaman segera membayang
di wajah dan sepasang mata Sangkala ketika melihat isi kereta.
Sementara gadis berpakaian hijau
semakin ketakutan. Disadarinya ada bahaya mengancam. Maka tanpa pikir panjang,
masih dengan jeritan-jeritan minta tolong, dibukanya pintu kereta yang lain.
Kriiit...!
Seiring dengan terbukanya pintu kereta,
gadis berpakaian hijau melompat keluar. Sudah bisa diduga maksudnya. Apalagi
kalau bukan hendak Melarikan diri?
"Akan lari ke mana kau,
Makhluk Jahanam?!" desis Sangkala penuh ancaman.
Tidak hanya itu saja! Tanpa
merasa kasihan sedikit pun, diambilnya sebutir kerikil dan dilemparkan ke arah
gadis berpakaian hijau.
Wuttt! Tukkk! "Akh!"
Tubuh gadis berpakaian hijau
tersungkur ke tanah diiringi jeritan kesakitan. Batu yang dilemparkan Sangkala
mengenai belakang lututnya. Gadis berpakaian hijau itu belum sempat berbuat
sesuatu ketika Sangkala melesat menyambar tubuhnya dan membawanya kabur.
"Tolooong...! Lepaskan aku,
Iblis Keji...!" teriak gadis berpakaian hijau, kalap.
Tapi Sangkala tidak peduli.
Pemuda itu terus berlari. Hanya beberapa kali lesatan, tubuhnya telah lenyap
dari tempat itu.
3
"Apa kau mendengarnya,
Melati?" tanya seorang pemuda berpakaian ungu sambil menghentikan ayunan
langkahnya. Saat itu pemuda berpakaian ungu tengah berjalan bersisian dengan
seorang gadis berpakaian putih di dalam sebuah hutan.
"Mendengar apa, Kang?"
gadis berpakaian putih yang dipanggil Melati balas bertanya. Sepasang matanya
yang bening dan indah menatap wajah pemuda berpakaian ungu penuh selidik.
Pemuda berpakaian ungu yang
berambut panjang, berwarna putih keperakan tidak segera menjawab. Dia tercenung
sejenak seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Teriakan minta tolong. Apa
kau mendengarnya?" tanya pemuda berambut putih keperakan lebih jelas.
"Tidak, Kang Arya,"
jawab Melati setelah menelengkan kepala sebentar untuk mendengar jeritan yang
dimaksud.
"Sekarang memang sudah tidak
terdengar lagi, Melati," jawab pemuda berpakaian ungu yang tidak lain Arya
Buana yang berjuluk Dewa Arak.
"Sejak tadi pun aku tidak
mendengar apa-apa. Sebenarnya..., apakah kau mendengarnya, Kang?" Melati
jadi penasaran.
"Benar, Melati," Arya
menganggukkan kepala, "Memang samar dan tidak begitu jelas. Tapi, aku tahu
orang yang meminta tolong itu seorang wanita. Nadanya melengking tinggi.
Sepertinya dia sangat ketakutan!"
"Apakah tidak mungkin kau
salah dengar saja. Kang?" Melati meragukan pendengaran kekasihnya.
"Aku yakin tidak salah
dengar, Melati," mantap dan tegas kata-kata Arya.
"Kalau begitu, apa lagi yang
harus ditunggu? Ayo kita selidiki, Kang!" ajak Melati penuh semangat.
Sambil berkata demikian, gadis
berpakaian putih itu bersiap-siap melesat meninggalkan tempat itu. Tapi,
sekujur urat-urat saraf dan otot-otot tubuhnya yang telah menegang langsung
mengendur kembali. Arya tidak menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan tempat
itu.
"Suara yang tertangkap
telingaku terlalu lemah, Melati. Jadi tidak bisa kupastikan dari mana
datangnya. Kalau saja terdengar lagi, meskipun hanya sekali, mungkin bisa
kuketahui arahnya," Arya menerangkan keengganannya melakukan pengejaran.
"Bagaimana kalau kita
mencarinya, Kang? Aku yakin asalnya dari hutan ini!" usul Melati
bersemangat.
Pemuda berambut putih keperakan
menatap wajah kekasihnya sebentar sebelum menganggukkan kepala menyetujui.
"Asal kau tahu saja, Melati.
Hutan ini cukup luas. Mencari asal suara tadi tanpa mengetahui arahnya seperti
mencari jarum dalam tumpukan jerami! Sulit!"
"Tapi... biar bagaimanapun
itu lebih baik daripada kita berdiam diri di sini, Kang!" bantah Melati
tak mau kalah, "Aku yakin... kita akan berhasil menemukan sumber suara
itu. Mudah-mudahan kita dapat menolongnya?"
"Yang kau katakan tidak
salah, Melati," sahut Arya membenarkan. "Mari kita cari sumber
jeritan itu."
Melati menyunggingkan senyum manis. Sesaat kemudian, sepasang
muda-mudi itu mulai melakukan pencarian. Mereka mencari dengan lambat karena
mereka tidak tahu arah yang harus ditempuh. Sambil menindakkan kaki,
pendengarannya dipasang tajam-tajam. Itu dilakukan karena sepercik harapan yang
bergayut di hati. Barangkali saja jeritan itu kembali terdengar.
Cukup lama juga pasangan pendekar
muda itu mencari. Tak jarang mereka harus memapas semak-semak yang menghalangi
jalan mereka. Sampai akhirnya....
"Melati...," sapaan
Arya membuat gadis berpakaian putih itu menoleh.
"Ada apa, Kang?" tanya
Melati ingin tahu. Gadis itu tahu Arya tidak akan memanggilnya bila tidak ada
sesuatu yang ingin diberitahu.
"Lihat itu, Melati,"
jawab Arya menudingkan telunjuknya ke tanah. Melati mengarahkan pandangan ke
arah yang ditunjuk kekasihnya.
Gadis itu melihatnya. Ada lekukan
selebar dua jari di tanah tidak tertutup rumput. Lekukan itu memanjang.
Jumlahnya tidak satu, tapi dua. Jarak antara keduanya terpisah sekitar setengah
tombak.
"Bukankah ini bekas gilasan
roda kereta, Kang?" duga Melati meminta pendapat kekasihnya.
"Benar, Melati," jawab
Arya menganggukkan kepala.
"Berarti mulai ada titik
terang yang dapat membantu kita menuju sasaran, Kang."
"Kira-kira begitu,
Melati," Arya memberikan persetujuan. "Aku yakin bekas roda kereta
ini mempunyai hubungan dengan asal jeritan yang sedang kita selidiki."
"Benar, Kang," dukung
Melati atas dugaan Arya, "Bahkan aku mempunyai dugaan."
"Dugaan? Apa, Melati?
Katakanlah, jangan ragu-ragu," timpal Arya memberi dorongan.
"Jeritan yang kau dengar
berasal dari orang yang menaiki kereta ini. Dia menjerit karena dicegat
perampok-perampok?!" urai Melati.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Tampaknya pemuda itu menyetujui dugaan yang diajukan Melati.
"Sekarang titik terang telah
berhasil kita dapatkan. Melati. Hanya saja yang menjadi tanda tanya, arah mana
yang harus kita tempuh? Ingat, kita tidak lahu arah yang ditempuh kereta kuda
ini. Yang jelas salah satunya adalah tempat asal kepergiannya. Jadi, jangan
sampai kita salah memilihnya. Kupercayakan padamu arah yang harus kita tempuh.
Ba-gaimana, Melati. Mana arah yang harus dipilih?"
Mendapat kepercayaan itu, Melati
tidak berani bertindak sembarangan. Disadarinya kalau arah yang diambil benar,
mereka akan menemukan pemilik suara itu. Bahkan bukan tidak mungkin dapat
menyelamatkannya.
Itu sebabnya Melati tidak segera
menjawab. Diperhatikannya guratan roda kereta itu beberapa saat. Melati
berjongkok untuk melihat lebih jelas tanda-tanda yang ada. Beberapa saat
kemudian, Melati berhasil menetapkan pilihan.
"Kupilih yang ini,
Kang!" tunjuk Melati.
"Kalau begitu, mari kita
bergegas!" sambut Arya cepat.
Pemuda berambut putih keperakan
itu tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan tanggapan atas ajakannya.
Melati langsung melangkah lebar mengikuti jejak-jejak yang terlihat.
Arya dan Melati harus
berhati-hati sekali. Bebarapa kali jejak roda kereta itu tidak tampak. Bahkan
tidak berbekas sama sekali ketika melewati tanah berumput tebal. Tapi syukurlah
berkat keuletan mereka pencaharian itu sampai pada tempat Sangkala melakukan
penghadangan.
"Kakang! Lihat...!"
seru Melati sambil menudingkan jari telunjuk kanannya ke depan.
Sebenarnya tanpa diberitahu, Arya melihat semua itu.
Pemandangan itu demikian mencolok! Sehingga meskipun jarak mereka masih sepuluh
tombak, telah terlihat cukup jelas.
Cukup menggiriskan hati,
pemandangan yang terpampang di hadapan sepasang pendekar muda berwajah elok
itu. Mayat-mayat anggota Perguruan Harimau Terbang berserakan di sana-sini
dalam keadaan mengenaskan. Sementara tak jauh dari situ tampak sebuah kereta
dengan binatang penghelanya yang masih berdiri kaku seperti patung.
Melati yang mempunyai watak tidak
sabarar, segera mengayunkan kaki mendekati tempat bergeletakannya mayat-mayat
itu. Tapi...
"Tunggu, Melati!"
teriakan itu membuat Melati menghentikan maksudnya. Ditolehnya Arya dengan
sorot mata penuh pertanyaan.
"Jangan bertindak gegabah.
Siapa tahu pelaku semua kekejian ini belum pergi!" Arya menjelaskan maksud
cegahannya.
Melati terdiam. Ada kebenaran
yang tidak bisa dibantah dalam ucapan kekasihnya. Maka meskipun kakinya tetap
diayunkan mendekati tempat mayat-mayat itu tergolek, tindakannya lebih
berhati-hati.
Bukan hanya gadis berpakaian
putih itu saja yang bersikap waspada. Dewa Arak pun demikian. Sekujur otot dan
urat saraf mereka menegang. Pendengaran dan penglihatan mereka dipasang setajam
mungkin, siap menghadapi segala kemungkinan.
Tapi tindakan hati-hati yang
dilakukan sepasang pendekar muda itu sia-sia. Sampai mereka berada dekat dengan
mayat Kulana serta rekan-rekannya, kejadian yang tidak diharapkan tidak
terjadi. Keadaan tetap aman.
"Bagaimana, Kang? Apa yang
dapat kau simpulkan dari mayat-mayat ini?" tanya Melati tetap dengan sikap
waspada.
Dewa Arak tidak segera memberikan
tanggapan. Pemuda itu tercenung beberapa saat mencari jawaban.
"Tidak banyak, Melati. Tapi
yang jelas dugaanmu harus diperbaiki. Tidak benar orang-orang ini terbunuh
karena dicegat perampok."
"Yaaah...!" desah
Melati pelan. "Rasanya kau benar, Kang. Mayat-mayat itu sepertinya berasal
dari satu kelompok. Kurasa kepandaian mereka cukup tinggi. Jadi andaikata yang
melakukan penghadangan perampok-perampok hutan ini, sudah pasti bila terjadi
perkelahian di antara mereka ada yang tewas! Padahal kenyataannya tidak.
Berarti bukan perampok yang telah mencegat perjalanan kelompok ini"
"Aku pun menduga demikian,
Melati," dukung Arya, "Kalau tidak satu tentu ada beberapa tokoh
rimba persilatan yang mencegat perjalanan mereka. Karena lawan terlalu kuat,
mereka dapat dibinasakan."
"Aku setuju dengan dugaanmu,
Kang. Kukira pun demikian!" seru Melati keras.
Dewa Arak hanya mengangkat bahu,
"Sekarang tinggal satu lagi yang belum kita periksa yaitu kereta! Aku
yakin orang yang berada di dalam kereta merupakan tokoh penting. Buktinya dia
dikawal!"
"Apakah dia pun mengalami
nasib serupa. Kang?!"
"Jawaban itu hanya bisa
diperoleh kalau kita menyelidiki kereta itu, Melati," ucap Arya.
Melati sekilas mengalihkan
pandangan ke arah kereta kuda, "Sepertinya tidak ada kehidupan di sana.
Jangan-jangan orang yang berada di dalam kereta telah tewas. Lihat saja keadaan
pintunya?!"
Arya diam saja. Apa yang
dikatakan Melati benar. Tidak ada tanda kehidupan dari kereta kuda itu.
Meskipun demikian, Dewa Arak dan Melati tetap mendekati kereta. Masih dengan
sikap hati-hati. Maka....
"Kosong...?!" desis
Arya dan Melati hampir bersamaan ketika telah berada tepat di samping kereta
"Hm...!"
Dewa Arak bergumam sambil
mengangguk-anggukkan kepala. Diperhatikannya pintu kereta yang sudah tidak
berdaun lagi. Tanpa ada yang menceritakan pun sudah bisa ditebak peristiwa yang
telah terjadi.
"Isi kereta ini seorang
wanita, Kang," ujar Melati. Melihat kekasihnya tercenung dengan pandangan
tertuju pada bagian dalam kereta.
"Yah...," sahut Arya
mendesah seraya mengangkat wajahnya. "Dialah yang berteriak-teriak minta
tolong. Karena jaraknya terlampau jauh, tidak terdengar jelas."
Kali ini Melati tidak memberikan
tanggapan. Gadis itu berdiam diri.
"Kita semakin mendekati
sasaran, Melati. Mari teruskan pencarian kita...," sambung Arya seraya
mengayunkan langkah meninggalkan tempat itu. Tanpa membantah Melati segera
mengayunkan langkah, mengikuti Arya yang telah melangkah lebih dulu.
***
Untuk kedua kalinya Arya dan
Melati harus berusaha keras. Masih sama dengan tujuan semula, mencari pemilik
jeritan minta tolong.
Sepasang pendekar itu melakukan
pencarian dengan penuh seksama. Tak jarang semak-semak yang lebat dikuak. Mata
mereka diedarkan ke sana kemari. Pendengarannya pun dipasang setajam mungkin
agar dapat mendengar bunyi sepelan apa pun. Kesabaran serta kerja keras Dewa
Arak dan Melati ternyata tidak sia-sia.
"Ah...!"
Arya mengeluarkan seruan. Tapi
lebih tepat keluhan. Suara yang dikeluarkan demikian pelan dan dibarengi dengan
menundukkan wajah.
Tentu saja tindakan Arya membuat
Melati merasa heran. Pandangannya diarahkan ke tempat pemuda berambut putih
keperakan tadi memandang. Dan....
"Ikh...!"
Jeritan kaget langsung keluar
dari mulut Melati. Tanpa sadar tangan kanannya ditutupkan ke mulut.
Memang tidak aneh kalau Melati
sampai demikian terkejut dan Arya menundukkan kepala! Tidak jauh dari mereka,
dalam jarak sekitar tiga tombak, terpampang tubuh seorang gadis berpakaian
hijau dalam keadaan mengerikan.
Betapa tidak? Tubuhnya menempel
di sebatang pohon besar dengan kedudukan tangan dan kaki merentang, Keadaannya
amat menggiriskan hati! Hampir sekujur tubuhnya dipenuhi darah oleh luka-luka
sayatan.
Bahkan warna pakaiannya sebagian
besar telah berganti merah karena noda darah. Itu pun kalau masih bisa disebut
pakaian. Karena sudah robek di sana-sani. Keadaan gadis berpakaian hijau itu
lebih mendekati orang yang tidak berpakaian.
"Biadab!"
Setelah terdiam beberapa saat
karena perasaan hatinya yang terguncang, keluar juga sebuah makian Melati.
Tarikan wajah dan sorot matanya memancarkan kemarahan yang sangat.
"Keji!" sambung Arya
geram, "Siapa pun pelakunya, dia tidak pantas dibiarkan hidup lebih
lama!"
Dengan perasaan marah berkobar di
dada, Arya dan Melati menghampiri. Jarak yang cukup jauh membuat mereka tidak
dapat melihat mengapa tubuh gadis berpakaian hijau itu dapat menempel di batang
pohon. Hanya dalam beberapa langkah pasangan pendekar muda itu dapat mengetahui
kenyataan itu membuat kemarahan mereka semakin bergejolak.
"Iblis!"
Hampir bersamaan makian itu
keluar dari mulut Arya dan Melati. Itu terjadi ketika keduanya telah melihat
mengapa tubuh gadis malang itu dapat menempel pada batang pohon! Pada kedua
telapak tangan dan kakinya ditancapkan ranting sebesar ibu jari yang tembus
hingga ke batang pohon! Keji!
"Kalau aku tidak dapat
menemukan dan membasmi iblis keji ini, biar aku mati saja!" janji Arya
sungguh-sungguh. Untuk pertama kalinya Dewa Arak mengambil keputusan akan
membunuh calon lawannya. Padahal tokoh itu belum dilihatnya.
"Kau benar, Kang. Tanganku
pun sudah gatal ingin segera mencekik hancur batang leher iblis keji itu!"
sambung Melati tidak kalah geramnya.
"Nanti itu akan kita
lakukan, Melati. Sekarang yang paling penting menguburkan mayat gadis itu!
Lakukanlah, Melati," perintah Arya.
"Ah...!" Dewa Arak
berseru tertahan.
Melihat perubahan wajah
kekasihnya, Melati mengarahkan pandangan ke tempat pemuda berambut putih
keperakan tadi memandang. Dan....
"Ikh...!" Jerit Melati
terkejut saat melihat mayat seorang gadis yang sekujur tubuhnya dipenuhi darah
bekas luka-luka sayatan!
Gadis berpakaian putih segera
melaksanakan perintah kekasihnya. Hanya dengan sekali hentakan tubuhnya
melayang ke atas! Entah bagaimana caranya gadis itu melakukan, tapi begitu
tubuhnya melayang turun, di tangannya terpondong tubuh gadis berpakaian hijau.
Jliggg!
Ringan laksana sehelai daun
kering Melati menjejakkan kedua kakinya di tanah. Kemudian bersama-sama Arya
dicarinya tempat yang cocok untuk menguburkan gadis berpakaian hijau yang
malang itu.
Baik Arya maupun Melati tidak
tahu kalau gerak-gerik mereka diperhatikan seekor kelelawar! Kalau diperhatikan
memang aneh! Mungkinkah ada kelelawar berkeliaran di siang hari? Jawabannya
adalah mustahil! Tapi karena kelelawar itu penjelmaan Sangkala, ketidakmungkinan itu bisa saja
terjadi.
Kelelawar hitam itu terus
mengawasi perbuatan pasangan pendekar muda itu. Bahkan sampai Melati
menguburkan mayat gadis berpakaian
hijau. Sepasang matanya berpijar
ketika mendengar ucapan Melati seusai menguburkan mayat gadis itu.
"Siapa pun dirimu, aku
berjanji akan membalas sakit hatimu. Akan kucari pelaku tindak kekejian
ini!" ucap Melati sambil mendongakkan wajah.
"Hhh...!"
Arya menghela napas berat
mendengar ucapan kekasihnya. Tidak dicegahnya Melati mengucapkan janjinya.
Pemuda itu tahu Melati merasa geram pada pelaku kekejian itu. Dia pun dilanda
perasaa yang sama. Perlahan-lahan ditepuk-tepuknya pundak Melati untuk memberi
ketabahan hati.
Gadis berpakaian putih itu
menoleh menatap wajah Arya sejenak. Kemudian wajahnya dijatuhkan di pelukan
kekasihnya. Pemuda berambut putih keperakan itu mengusap-usap kepala Melati
penuh kasih.
"Mari kita cari pelaku
kekejian ini, Melati. Aku yakin dia belum pergi jauh. Darah gadis yang malang
itu masih hangat," ajak Arya pelan.
Melati hanya bisa menganggukkan
kepala. Sesaat kemudian pasangan pendekar muda itu melangkah meninggalkan
tempat itu!
4
"Cit, cit, cit!"
Diiringi suara mendecit nyaring,
kelelawar berbulu hitam meluncur turun dari pohon tempatnya bertengger.
Binatang malam itu turun ketika Arya dan Melati telah jauh meninggalkan tempat
itu.
Bluppp!
Bunyi letupan pelan terdengar.
Disusul dengan munculnya asap putih yang cukup tebal. Sebelum asap itu sirna
dari pandangan, berdiri tegak seorang pemuda berpakaian putih yang tidak lain Sangkala!
Pemuda itu menatap kuburan gadis berpakaian hijau dengan sinar mata yang sulit
diartikan.
"Kau korban pertamaku,
Wanita Sundal! Masih banyak lagi wanita lain yang akan bernasib sama
sepertimu," desis Sangkala dengan nada kejam sehingga terdengar menyeramkan.
Yang lebih menyeramkan lagi suara
itu dikeluarkan tanpa menggerakkan bibir sedikit pun! Dari sini bisa diduga
ketinggian ilmu pemuda berpakaian putih itu. Hanya orang-orang yang
berkepandaian tinggilah yang mampu melakukan hal itu.
"Trijati..., sebenarnya
kaulah yang harus jadi korban pertamaku," desis Sangkala masih tanpa
menggerakkan bibir. Tapi biarlah kau menjadi korban berikutnya.
Mengucapkan nama Trijati membuat
Sangkala teringat akan kejadian beberapa bulan lalu. Kejadian yang membuatnya
tersesat ke Bukit Kematian.
***
Matahari belum menampakkan diri.
Hari masih terlalu pagi. Tapi, dalam suasana seperti itu Sangkala sudah keluar
meninggalkan bangunan Perguruan Banteng Putih, perguruannya. Entah mengapa
pemuda itu sendiri tidak tahu. Yang jelas dia ingin pergi ke sungai dan mandi!
Berkat ilmu meringankan tubuhnya
yang cukup tinggi, tanpa membutuhkan waktu terlalu lama, Sangkala telah berada
di dekat tempat yang ditujunya. Semula Sangkala ingin segera terjun ke sungai,
tapi suara-suara yang tertangkap telinga membuat pemuda itu membatalkan
maksudnya. Suara orang bercakap-cakap diselingai percikan air. Suara wa-nita.
Seketika itu pula muncul dorongan
kuat di hati Sangkala untuk melakukan hal yang tidak pantas. Dia tahu di sungai
itu ada wanita-wanita sedang mandi. Dengan detak jantung yang lebih cepat
Sangkala menghampiri asal suara itu. Pemuda berpakaian putih itu tampak
hati-hati sekali. Dia tidak ingin tindakannya diketahui.
Usaha Sangkala tidak sia-sia.
Pemuda itu berhasil mencapai tempat yang diinginkan untuk melakukan tindakan
tidak pantasnya. Sangkala bersembunyi di balik sebuah batu besar dan mengintai
ke sungai. Deggg!
Dada Sangkala bagai diseruduk
kerbau liar ketika melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya. Dua orang
gadis tengah mandi di sungai dalam keadaan bugil!
Dalam keremangan suasana dini
hari tampak cukup jelas lekuk-lekuk tubuh dua gadis itu. Dengan susah payah
Sangkala menelan ludah membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.
Dua gadis itu dikenalnya betul. Mereka adalah kembang-kembang desanya Desa
Kawung. Wulan dan Widuri nama gadis itu.
Sangkala merayapi tubuh Wulan dan
Widuri dengan lahap. Memang diam-diam Sangkala menaruh hati pada
kembang-kembang Desa
Kawung itu. Sayangnya Sangkala
bukan termasuk lelaki yang berani mendekati wanita. Tambahan lagi wajahnya
tidak bisa diandalkan. Sangkala berwajah buruk. Kulitnya hitam dan wajahnya
dipenuhi bopeng. Tak aneh jika gadis-gadis, apalagi Wulan dan Widuri, tidak
pernah menghiraukannya. Itu sebabnya kesempatan bagus itu tidak disia-siakan
Sangkala.
Akibat selanjutnya pun harus
ditanggung. Sangkala merasa napasnya mulai memburu. Pikiran-pikiran jelek
bermunculan di benaknya.
Meskipun demikian maksud jelek
itu hanya sampai di pikiran, tidak sampai pada pelaksanaan. Sangkala adalah
murid Perguruan Banteng Putih, sebuah perguruan silat aliran putih. Pemuda itu
telah mendapat didikan menjadi seorang pendekar.
Karena itu, betapa pun keinginan
melaksanakan pikiran-pikiran yang ada di benaknya demikian besar, Sangkala
tidak mau melakukannya. Apalagi terhadap kedua orang gadis yang dikenalnya.
Rasanya keadaan akan berlangsung
seperti itu jika saja tidak terjadi sebuah peristiwa yang mengejutkan hati.
Tanpa sengaja kaki Sangkala menyentuh sebuah batu. Sialnya batu itu bulat dan
terletak di tempat yang tidak memungkinkannya diam bila tersenggol!
Dengan diiringi bunyi riuh
rendah, batu itu menggelinding ke arah sungai. Tempat Sangkala bersembunyi
letaknya memang lebih tinggi dari sungai. Tak heran bila batu itu menuju ke
sana.
Bunyi yang cukup berisik itu
menarik perhatian Wulan dan Widuri. Keduanya segera menghentikan kesibukan dan
memandang berkeliling. Tubuh mereka direndam ke dalam sungai. Sekarang yang
me-nyembul dari permukaan air mulai dari bagian dada atas. Dugaan jelek muncul
di benak dua kembang Desa Kawung itu.
"Siapa di situ? Cepat
tunjukkan diri!" seru gadis yang bertahi lalat di pipi. Itulah Widuri.
"Benar! Kalau tidak, kami
akan berteriak! Biar orang-orang desa datang dan menangkapmu!" timpal
Wulan mengancam.
Ucapan itu terpaksa dikeluarkan
Wulan ketika telah menunggu beberapa saat tidak ada tanda-tanda munculnya sosok
tubuh yang mengintai. Sementara itu Sangkala mulai bingung. Diam-diam
disesalinya keberadaan batu itu. Kalau tidak, Wulan dan Widuri tidak akan
curiga.
"Kuhitung sampai tiga!"
sambung Wulan "Bila tidak mau menunjukkan diri, kami akan berteriak agar
orang-orang desa kemari."
Karuan saja ucapan Wulan membuat
Sangkaia semakin kelabakan. Perasaan gelisah melanda hatinya. Dia khawatir
Wulan dan Widuri melaksanakan ancamannya. Dapat dibayangkan betapa malu dirinya
nanti. Sementara itu Wulan mulai menghitung.
"Satu..., dua...,
ti...!"
"Tunggu!"
Sangkala menunjukkan diri. Pemuda
berwajah bopeng itu akhirnya mengambil keputusan seperti itu. Di benaknya telah
dirancang alasan-alasan yang akan dikemukakan karena keberadaannya di tempat
itu. Tentu saja dia mengharapkan kedua gadis manis itu mau mengerti. Tapi
harapan Sangkala tampaknya tidak terwujud.
"Kau...?! Jadi kau yang
telah mengintip kami mandi?!" tanya Wulan tanpa menyembunyikan rasa
jijiknya.
"Cihhh! Manusia tak tahu
diri! Apa kau tidak bercermin?! Dasar Kadal Buduk!" timpal Widuri tak kalah
kasar.
"Cepat pergi dari sini,
Binatang!" usir Wulan tanpa kenal rasa kasihan.
"Benar! Cepat pergi! Atau...
kau ingin kami panggil orang-orang desa kemari?" ancam Widuri.
Sangkala hanya berdiri terpaku.
Untung saja suasana masih remang-remang. Kalau tidak, akan terlihat jelas
betapa wajahnya berubah-ubah. Sebentar merah sebentar putih.
Sangkala sungguh tidak menyangka
akan seperti ini sambutan yang diterimanya. Pemuda itu menyadari kesalahannya
dan keburukan rupanya. Tapi tidak berarti seenaknya saja orang mempermalukan
dirinya. Sangkala mempunyai perasaan yang peka. Tak heran jika dia tersinggung
bukan main mendapat perlakuan seperti itu.
Rasa sakit hati membuat otaknya
tidak dapat berpikir jernih. Yang ada di benaknya hanya satu, membalas sakit
hati ini! Itu sebabnya pemuda itu bukannya menyingkir malah menghampiri Wulan
dan Widuri. Tentu saja tindakan Sangkala membuat kedua gadis manis itu kaget.
Mereka saling pandang dengan perasaan gugup.
"Pergi kau, Kadal
Buduk!" maki Widuri. "Benar! Pergi, manusia tak tahu diri!"
Tapi Sangkala tidak mempedulikan
ucapan kedua kembang desa itu. Kakinya tetap diayunkan menghampiri kedua gadis
itu. Mulutnya mendesiskan ancaman,
"Orang-orang seperti kalian
memang harus diberi pelajaran biar tidak seenaknya menghina orang...."
Melihat Sangkala terus saja
menghampiri, Widuri dan Wulan jadi ketakutan. Mereka merasa ada bahaya
mengancam. Tanpa mempedulikan keadaan tubuh yang polos, keduanya saling
mendahului berlari ke darat sambil berteriak-teriak minta tolong.
"Tolooong...!
Tolooong...!"
Suasana dini hari yang hening pun
pecah oleh suara teriakan Wulan dan Widuri. Hingga Sangkala merasa khawatir.
Pemuda itu takut
sebelum maksudnya terlaksana,
para penduduk Desa Kawung telah datang lebih dulu. Maka diputuskannya untuk
bertindak cepat.
Dengan beberapa kali lesatan,
Sangkala telah menghadang jalan Wulan dan Widuri. Itu tidak aneh. Kedua kembang
Desa Kawung itu tidak mempunyai kemampuan bela diri seperti halnya Sangkala.
Dan sebelum Widuri dan Wulan menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, tangan
Sangkala telah bergerak menotok.
Tuk, tukkk! "Akh!"
Disertai keluhan lirih, tubuh
mereka terkulai lemas. Sudah dapat dipastikan tubuh keduanya akan jatuh kalau
Sangkala tidak segera menangkapnya.
"Sebentar lagi kalian akan
menerima akibat kesombongan sikap kalian," desis Sangkala tajam penuh
ancaman.
Kemudian Sangkala melesat pergi
dengar membawa tubuh kedua gadis manis itu di bahunya. Dengan beberapa kali
lesatan tubuh Sangkala lenyap ditelan keremangan pagi.
Brukkk! Brukkk!
Tanpa merasa kasihan sedikit pun
Sangkala melemparkan kedua tubuh molek itu di tanah. Untunglah ada lapisan
jerami yang cukup tebal sehingga Wulan dan Widuri tidak terlalu merasa sakit.
"Hhh...!"
Sangkala menyandarkan punggungnya
ke dinding. Saat ini dia bersama dua kembang Desa Kawung berada di tempat
persembunyian yang ditemukan Sangkala secara tidak sengaja. Sebuah goa batu
yang cukup besar dan terletak di dalam Hutan Randu. Letaknya cukup tersembunyi
karena tertutup kerimbunan semak-semak dan ilalang yang lebat.
Sangkala yakin tidak ada orang
yang mengetahui tempat persembunyiannya. Dengan demikian, dia aman tinggal di
sini. Disadarinya kalau mulai saat ini dirinya menjadi buron. Penduduk Desa
Kawung tentu mencarinya. Gurunya pun tidak akan tinggal diam. Ketua Perguruan
Banteng Putih itu pasti marah besar! Sudah pasti Ki Ageng Sora, gurunya, akan
mengutus anggota Perguruan Banteng Putih untuk mencarinya.
Keyakinan bahwa tempatnya tidak
akan bisa ditemukan membuat Sangkala mengalihkan perhatian pada tubuh Widuri
dan Wulan yang tergolek dalam keadaan tanpa sehelai benang pun. Seketika itu
nafsu bifahi Sangkala kembali bangkit. Dengan napas agak memburu dan langkah
lebar didekatinya Wulan dan Widuri.
Sementara kedua kembang Desa
Kawung dilanda rasa takut yang sangat. Mereka menyadari bahaya mengerikan yang
tengah mengancam.
Sayang tidak ada yang dapat
mereka lakukan kecuali menatap Sangkala dengan ngeri.
"He he he...!"
Sangkala terkekeh. Terlihat jelas
pemuda berwajah bopeng itu gembira. Itu memang tidak salah! Sangkala gembira
melihat sorot kengerian dalam wajah maupun sinar mata Wulan dan Widuri. Padahal
biasanya wajah dan sinar mata kedua gadis itu selalu penuh hinaan dan cemoohan
bila menatap ke arahnya.
"Sekarang akan kalian
rasakan pembalasanku, Wanita-wanita Sombong!" ujar Sangkala bergetar penuh
dendam, "Mau atau tidak kalian harus menuruti keinginanku!"
Usai berkata, dengan penuh nafsu
Sangkala menindih tubuh Wulan. Dengan kasar diciuminya sekujur tubuh gadis itu.
Tidak hanya itu. Kedua tangannya bergerak liar ke sana kemari! Meremas apa yang
dapat diremas dengan kasar!
Tidak ada yang dapat dilakukan
Wulan untuk mencegah tindakan Sangkala. Tubuhnya terasa lemas. Bahkan gadis itu
tidak mampu mengeluarkan suara karena Sangkala telah menotok urat bicaranya.
Yang dapat dilakukan Wulan hanya menangis tanpa suara. Menangis karena takut
bahaya yang tengah mengancamnya dan tindakan Sangkala yang kasar.
Semua kejadian itu disaksikan
Widuri dengan perasaan ngeri. Disadarinya nasib yang dialami Wulan akan
menimpanya pula. Ingin rasanya dia menjerit sekeras-kerasnya. Tapi, sayang itu
tidak dapat dilakukan. Karena tidak tahan melihat pemandangan yang terpampang
di hadapannya, Widuri memejamkan mata.
Memang Widuri tidak mengalami
kesulitan untuk memejamkan mata. Tapi, tidak demikian dengan telinga. Gadis itu
tidak mampu menutup pendengarannya. Hingga Widuri mendengar kegaduhan yang
berada di dekatnya. Kegaduhan yang tercipta di saat Sangkala menggumuli Wulan.
Sebenarnya suara gaduh itu tidak
dapat terjadi. Urat bicara Wulan telah ditotok sehingga tidak dapat
mengeluarkan suara. Jangankan rintihan atau makian, bisikan pun gadis itu tidak
mampu. Tapi karena Sangkala tidak dapat menahan diri, suara itu terjadi. Dalam
menikmati tubuh Wulan, dari mulut Sangkala keluar bunyi riuh rendah seperti
kucing kelaparan diberi ikan!
Kegaduhan yang berasal dari mulut
Sangkala yang tidak dapat dicegah Widuri masuk ke telinga. Sehingga meskipun
tidak melihat kejadiannya, Widuri tetap merasa tersiksa.
Apalagi kegaduhan itu berlangsung
lama. Sepertinya Sangkala tidak berniat segera mengakhiri permainannya. Dan
ketika Widuri sudah
hampir tidak kuat terus-menerus
memejamkan mata, kegaduhan itu baru berakhir. Ini membuat Widuri merasa ngeri!
Terhentinya kegaduhan itu
pertanda Sangkala telah menyelesaikan kebiadabannya. Berarti kegadisan Wulan
telah dilahapnya. Kini gilirannya hanya tinggal menunggu waktu! Kalau saja
dapat, ingin rasanya Widuri membunuh diri! Tapi apa daya? Gadis itu tidak mampu
menggerakkan anggota tubuhnya.
Dugaan Widuri ternyata tidak
meleset. Dirinya pun tidak luput dari kebiadaban Sangkala. Sama seperti Wulan,
Widuri tidak mampu berbuat apa-apa. Yang dapat dilakukannya hanya mengucurkan
air mata tanpa suara, diiringi jeritan pilu di hati!
Berbeda dengan Widuri dan Wulan,
Sangkala yang telah gila oleh amukan nafsu birahi dan rasa sakit hati malah
bergembira! Tanpa rasa kasihan sedikit pun dijarahnya sekujur tubuh kedua gadis
kembang Desa Kawung dengan tidak pernah merasa puas.
Kesenangan membuat Sangkala lupa
diri. Yang ada di benaknya hanya memuaskan nafsu birahi! Tidak dipikirkannya
kemungkinan penduduk Desa Kawung menemukan tempat persembunyiannya. Telah dua
hari berlalu tidak ada tanda-tanda orang mendekati tempat persembunyiannya, membuat pemuda
itu merasa tenang.
Bagaimana mungkin orang dapat menemukan tempat persembunyianku? Pikir Sangkala
meremehkan. Dia tidak pernah keluar dari tempatnya! Makanan dan minuman
tersedia di situ. Meskipun hanya buah-buahan dan air gunung! Di goa itu memang
banyak terdapat pohon buah.
Sebenarnya tempat persembunyian
Sangkala tidak pantas disebut goa. Jalan masuknya memang berbentuk goa dengan
garis tengah satu tombak. Tapi panjangnya hanya sekitar sepuluh tombak. Setelah
itu lorong berakhir, berganti dengan ruangan persegi panjang berukuran cukup
luas. Masing-masing sisi dibatasi tebing tinggi dengan atap langit.
Di ruangan luas itulah tumbuh
berbagai jenis pohon dan terdapat sebuah danau kecil. Tempat yang dipilih
Sangkala adalah dinding tebing tempat lorong goa. Di situ terdapat celah yang
cukup luas. Jadi tempat yang dipilihnya beratapkan dinding tebing.
Karena berada di lekukan tebing,
tempat Sangkala cukup terlindung. Baik dari sinar matahari maupun hujan. Hanya
saja tidak terlindung dari hembusan angin. Perasaan yakin yang sangat akan
keamanan tempatnya menyebabkan Sangkala dapat bersenang-senang dengan tenang.
Demikian pula siang itu. Setelah
puas menikmati tubuh Widuri, entah untuk yang ke berapa, dan beristirahat
sejenak, Sangkala segera
beranjak mendekati pohon jambu
untuk menikmati makan siang. Dalam beberapa langkah, pemuda itu telah berada di
dekat pohon jambu air yang berwarna putih. Lincah laksana kera dia memanjat
kemudian memetiki buahnya dan ditaruh dalam kantung yang telah disiapkan.
Sehabis memetik jambu, seperti
biasa, Sangkala akan memandikan Wulan dan Widuri, lalu memberinya makan. Tentu
saja Sangkala membe-baskan totokannya agar kedua kembang Desa Kawung itu dapat
makan.
Tapi siang ini, di saat Sangkala
tengah sibuk memetik jambu, penduduk Desa Kawung yang dipimpin Ketua Perguruan
Banteng Putih dan Kepala Desa Kawung telah berhasil menemukan goa yang
terlindung semak-semak itu. Setelah dua hari mereka menjelajahi seluruh penjuru
hutan.
"Aku yakin dia berada di
sini, Ki Rawung," ucap Ki Ageng Sora, Ketua Perguruan Banteng Putih,
sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah goa yang berada tak jauh di depan
mereka.
Ki Rawung, Kepala Desa Kawung,
bertubuh kecil kurus itu tidak segera menanggapi ucapan Ki Ageng Sora.
Ditatapnya wajah Ketua Perguruan Banteng Putih itu sejenak.
"Bagaimana kalau Sangkala
tidak berada di sini, Ki Ageng?!" tanya Ki Rawung merasa tidak yakin.
"Kalau demikian, aku tidak
tahu lagi harus mencari ke mana, Ki. Hampir seluruh isi hutan ini telah kita
jelajahi!" Ki Ageng Sora menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil
napas. Benaknya diputar mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan
uraiannya.
"Sementara murid-muridku
yang kusebar untuk menanyakan kepada penduduk sekitar, barangkali melihat ke
mana murid murtadku itu kabur, mendapat jawaban yang tidak memuaskan! Tidak ada
seorang pun yang melihat Sangkala! Jadi kesimpulanku, Sangkala ada di hutan
ini. Aku yakin di goa inilah Sangkala bersembunyi!" tandas Ki Ageng Sora
sangat yakin.
Raut keyakinan tampak jelas pada
wajah dan sepasang mata lelaki yang memiliki potongan kurang cocok untuk
menjadi seorang ketua perguruan silat itu. Betapa tidak? Tubuh kakek itu tinggi
kurus. Bahkan terlalu kurus hingga mirip batang bambu. Kulitnya yang hitam
berkilat tampak semakin hitam karena terbungkus pakaian serba putih. Sepasang
matanya menjorok jauh di dalam rongganya, mirip mata orang yang penyakitan.
Tapi justru sepasang mata itulah
yang menjadi bukti bahwa Ki Ageng Sora bukan orang sembarangan. Matanya tajam
berkilat. Sikapnya pun terlihat berwibawa. Tarikan wajah maupun nada bicaranya
membuat orang yang mendengarnya merasa segan.
Hal demikian pula yang dialami Ki
Rawung. Mendengar uraian Ki Ageng Sora, Kepala Desa Kawung itu tidak membantah
lagi. Dia hanya mengangkat bahu dan menyerahkan keputusan itu pada Ki Ageng
Sora. Dan lelaki tinggi kurus itu tidak membuang-buang waktu dengan berdiam
diri di situ.
"Mari kita masuk. Tapi
ingat, hati-hati. Barangkali saja ada jebakan di dalamnya," beritahu Ki
Ageng Sora.
Maka dengan dipimpin Ketua Perguruan Banteng Putih, rombongan penduduk Desa
Kawung dan murid-murid Perguruan Banteng Putih berbondong-bondong masuk ke
dalam goa.
Ki Ageng Sora yang berada paling
depan bertindak sangat hati-hati. Sementara di belakangnya berbaris satu-satu
Ki Rawung, murid-murid Perguruan Banteng Putih, serta para penduduk Desa
Kawung.
Tidak berapa lama kemudian Ki
Ageng Sora melihat sinar terang. Sebagai seorang yang kenyang pengalaman dia
segera tahu, di sana terdapat dunia luar. Dengan kata lain, goa tersebut berakhir
di sana.
Setelah melangkah beberapa tindak
lagi, Ketua Perguruan Banteng Putih telah berada di bagian akhir lorong goa.
Sesampainya di sana, wajah Ki Ageng Sora berubah hebat. Wajahnya menampakkan
rasa kagetnya yang sangat. Tapi meskipun begitu kakinya tetap dilangkahkan.
5
Widuri, Wulan....
Panggilan itu hanya dikeluarkan
Ki Ageng Sora dalam hati. Dia khawatir ucapan itu akan didengar Sangkala yang
diyakininya berada di dekat situ.
Di samping itu, Ketua Perguruan
Banteng Putih tidak ingin menimbulkan kegemparan pada rombongannya.
Dikhawatirkan bila hal itu terjadi Sangkala akan menyadari adanya bahaya dan
mempergunakan kedua kembang desa itu sebagai sandera.
Karena itu, begitu kakinya hampir
meninggalkan lorong goa dan memasuki ruangan luas, tubuhnya dibalikkan. Dengan
isyarat lelaki itu memberi tahu rombongan agar tidak menimbulkan suara. Ki
Ageng Sora juga memerintahkan agar isyarat yang diberikannya diteruskan kepada
yang lain. Hasilnya, isyarat itu disampaikan secara berantai.
Usaha Ki Ageng Sora tidak
sia-sia. Ketika semua anggota rombongan melihat keadaan Wulan dan Widuri, sama
sekali tidak terdengar seruan kekagetan. Padahal raut wajah dan sorot mata
mereka memancarkan keterkejutan yang sangat.
Lagi-lagi dengan gerak isyarat,
Ki Ageng Sora memerintahkan salah seorang muridnya untuk memberi penutup tubuh
pada Wulan dan Wid Kemudian membebaskan totokan yang membelenggu mereka. Tanpa
menunggu lebih lama, orang murid Ketua Perguruan Banteng Putih segera
melaksanakan perintah itu.
Sementara itu, Ki Ageng Sora
mengedarkan pandang ke sekeliling tempat itu. Hanya dengan sekali lihat dia
dapat mengetahui tempat itu tidak mempunyai jalan keluar. Berarti Sangkala
masih berada di tempat ini!
"Itu dia...!"
Seorang pemuda berwajah tampan
serta gagah karena bentuk rahangnya yang kokoh menunjuk ke satu arah. Seketika
itu juga, semua pasang mata terarah ke sana. Dan mereka melihatnya! Sangkala
tengah sibuk memetik jambu!
Ternyata bukan hanya rombongan Ki
Ageng Sora yang mendengar seruan pemuda berahang kokoh itu, Sangkala pun
mendengarnya. Pemuda berwajah bopeng itu segera menoleh ke arah asal suara!
Saat itu Sangkala memunggungi tempat Ki Ageng Sora dan rombongannya berada.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
Sangkala melihat rombongan itu. Disadarinya bahaya besar tengah mengancam.
Tanpa menunggu, pemuda itu segera melompat dari pohon. Tak dipedulikannya
buah-buah yang telah dipetiknya berhamburan ke tanah.
Jliggg!
Karena tergesa-gesa, Sangkala
hampir jatuh tersungkur ketika mendaratkan kedua kakinya di tanah. Tapi itu
tidak dipedulikannya. Langsung saja dia berlari! Yang ada di benaknya hanya
satu, menjauhi rombongan orang-orang itu!
Sangkala tidak sempat berpikir
kalau jalan untuk lolos sudah tidak ada lagi. Jalan masuk yang sekaligus jalan
keluar dari tempat itu telah dihadang rombongan pengejarnya!
Melihat Sangkala melarikan diri,
rombongan Ki Ageng Sora yang terdiri dari murid-murid Perguruan Banteng Putih
dan penduduk Desa Ka-wung segera bergerak mengejar. Meskipun mereka tahu jalan
untuk lolos
sudah tidak ada lagi, tapi
kemarahan yang hebat membuat mereka tidak ta-han menunggu lebih lama untuk
menghukum Sangkala.
Kesudahannya sudah dapat diduga. Kejar-mengejar antara
Sangkala dan rombongan Ki Ageng Sora pun terjadi. Dari sekian banyak anggota
rombongan, hanya dua orang yang tidak ikut melakukan pengejaran. Mereka adalah
Ki Ageng Sora dan Ki Rawung. Kedua sesepuh Desa Kawung itu hanya memperhatikan
kejar-mengejar yang terjadi di de-pan mata mereka. Tidak terlihat tanda-tanda
mereka akan melakukan tindakan pencegahan.
Sementara itu, jarak antara
Sangkala dengan pengejarnya semakin dekat. Lari pemuda berwajah bopeng itu agak
terpincang-pincang. Rupanya lompatan yang dilakukan terburu-buru dari atas pohon
dan tidak mendarat dengan benar membuat kakinya terkilir!
"Mau lari ke mana, Manusia
Bejat...!" seru seorang penduduk sambil mengamang-amangkan goloknya.
"Jangan harap lolos dari
tangan kami...!" sambung penduduk lainnya.
"Kau akan menerima balasan atas
perbuatan kejimu, Sangkala!" teriak seorang murid Perguruan Banteng Putih.
"Kau akan kami bakar
hidup-hidup...!" timpa yang lain. "Siksa dia dulu sampai setengah
mati...!"
"Ganyang...!"
"Cincang tubuhnya sampai
hancur...!"
Riuh rendah teriak para pengejar
Sangkala. Hingga Sangkala semakin ketakutan. Apalagi ketika disadari jaraknya
dengan mereka semakin bertambah dekat. Perasaan takut dan cemas yang melanda
pun semakin besar.
"Hih...!"
Salah seorang murid Perguruan
Banteng Putih yang sudah tidak sabar lagi menunggu saat melakukan hukuman
melemparkan golok yang se-jak tadi digenggamnya.
Singngng...! Cappp!
"Akh...!"
Sangkala menjerit keras ketika
golok yang dilemparkan murid Perguruan Banteng Putih yang bertubuh pendek gemuk
itu menancap di bagian belakang paha kanannya. Tubuh Sangkala langsung
tersungkur.
Dan sebelum Sangkala bangkit,
para pengejarnya telah menyusul dan mengurungnya. Tapi anehnya mereka tidak
segera menyerangnya. Rupanya sengaja memberi kesempatan padanya untuk melakukan
perlawanan.
"Bangun, Manusia Berhati
Binatang!" seru pemuda berahang kokoh sangat geram.
Sangkala menggertakkan gigi.
Kemudian dengan sekali sentak, dicabutnya golok yang menancap di paha kanannya.
Darah membanjir keluar. Tapi sesaat kemudian terhenti ketika Sangkala menotok
jalan darah di sekitar luka.
Seusai mengurus lukanya, Sangkala
mengalihkan perhatian kepada orang-orang yang mengurungnya. Pemuda itu tahu
dirinya tidak mungkin akan mendapat pengampunan. Maka diputuskannya untuk
mengadakan perlawanan mati-matian. Setidak-tidaknya sebelum mati dia berhasil
membawa beberapa orang di antara mereka untuk menemaninya ke akherat.
Orang pertama yang menerima
tatapan Sangkala adalah pemuda berahang kokoh. Dia tahu siapa pemuda itu.
Ranjita, putra Ki Rawung. Setelah itu pandangannya diarahkan kepada murid
Perguruan Banteng Putih yang bertubuh pendek gemuk. Bongara namanya, tatapan
Sangkala penuh dendam!
"Biar aku yang melenyapkan
manusia binatang ini!" ujar Ranjita gagah.
"Tidak, Ranjita!" bantah Bongara. "Biar aku yang
membereskannya. Ingat! Dia adalah murid Perguruan Banteng Putih, jadi merupakan
kewajiban bagiku selaku saudara seperguruan untuk memberi hukuman!"
"Tidak adil!" selak
seorang laki-laki setengah baya bertubuh tinggi kurus. "Meskipun dia
anggota Perguruan Banteng Putih, tapi yang menderita kerugian aku! Widuri
adalah putriku! Jadi akulah yang berhak menghukumnya!"
"Aku juga! Wulan, yang
menjadi korban kebiadabannya adalah anakku!" sambung penduduk Desa Kawung
lainnya.
Kemudian tanpa memberi kesempatan
kepada Bongara dan Ranjita untuk menanggapi, orangtua Wulan dan Widuri segera
meluruk ke arah Sangkala. Senjata berupa kapak dan golok yang tergenggam di
tangan mereka diayunkan ke tubuh pemuda itu.
Wuttt!
Melihat ancaman bahaya maut
meluruk ke arahnya, Sangkala tidak tinggal diam. Meskipun sebelah kakinya
terluka, yang sedikit banyak me-ngurangi kelincahannya, tetapi pemuda itu tidak
mengalami kesulitan mengelakkan serangan mereka. Kedua orang itu adalah
penduduk desa yang hampir tidak menguasai ilmu bela diri. Andaikata memiliki
pun hanya sekadarnya.
Tak aneh bila hanya dengan sebuah
elakan sederhana, Sangkala berhasil mengelakkan serangan-serangan itu. Tidak
hanya itu saja. Begitu
berhasil mengelak, kaki kirinya
bergerak berturut-turut melancarkan serangan balasan!
Bukkk, bukkk! "Akh!"
Kedua orangtua kembang Desa
Kawung itu memekik kesakitan ketika tendangan Sangkala mendarat di paha mereka.
Keras bukan main. Tubuh mereka terjengkang ke belakang dan jatuh
terguling-guling di tanah.
Karuan saja amarah penduduk
semakin berkobar. Bagai diberi perintah, mereka menyerbu Sangkala dengan
senjata di tangan.
***
Tak pelak lagi, belasan senjata
yang terdiri dari beraneka ragam bentuk itu meluruk ke segala bagian tubuh
Sangkala!
Malihat hal ini, Ranjita,
Bongara, dan murid-murid Perguruan Banteng Putih membiarkan saja. Mereka tahu
tidak ada gunanya mencegah. Penduduk yang telah kalap itu tidak akan mau
mendengarkan. Karena tidak ingin ikut mengeroyok mereka terpaksa berdiri
menonton.
Sementara, Sangkala yang melihat
ancaman bahaya maut itu berusaha melawan. Dengan golok di tangan, pemuda itu
bertarung mati-matian. Hebat bukan main tindakan Sangkala. Amukannya bagai
macan luka. Meskipun dia telah terluka, tapi tetap mampu melakukan perlawanan
sengit. Pada hal jumlah lawan tak kurang dari tiga belas orang. Pemuda itu
dapat mengimbangi. Sangkala mampu mengelakkan setiap serangan lawan. Bahkan
melancarkan serangan yang jauh lebih dahsyat!
Tidak sampai lima jurus dua
lawannya terkapar dan terlempar dari kancah pertarungan terkena babatan
goloknya. Kenyataan itu membuat teman-teman mereka menjadi geram bukan main.
Orang-orang yang menonton pun dilanda perasaan sama.
"Keparat'" geram
Ranjita penuh kemarahan. "Kalau dibiarkan terus, manusia biadab itu bisa
membunuh mereka semua!"
"Lalu..., apa yang akan kau
lakukan? Ikut terjun dalam kancah pertarungan? Mengeroyok lawan yang
terluka?!" tanya Bongara mengejek.
Wajah Ranjita langsung merah
padam.
"Aku bukan orang seperti
itu, Bongara! Kalau orang-orang dungu itu tidak mendahuluiku, tubuh manusia
berhati binatang itu telah kujadikan daging cincang!"
"Ingin kulihat bukti
ucapanmu, Ranjita," sambut Bongara meremehkan.
Bongara sedikit pun tidak bermaksud
membela Sangkala. Ucapannya itu dikeluarkan karena tidak senangnya akan
kesombongan
Ranjita. Ucapan Ranjita yang
mengatakan mampu mengalahkan Sangkala membuat Bongara tidak senang. Sebab
kepandaian Bongara boleh dibilang setingkat dengan Sangkala.
Kalau Ranjita sesumbar mampu
mengalahkan Sangkala, bukankah itu sama saja Ranjita meremehkannya? Padahal
hanya sampai di mana ke-pandaian putra kepala desa itu? Ranjita hanya belajar
ilmu silat dari Ki Rawung!
Mendengar tantangan Bongara,
Ranjita yang memang sudah dibakar amarah jadi semakin kalap.
"Orang-orang dungu!
Menyingkirlah kalian! Biarkan aku yang menghabisi nyawa manusia binatang
itu!" teriak Ranjita keras.
Tapi sampai lelah
berteriak-teriak, tidak ada tanggapan sama sekali. Penduduk tetap melancarkan
serangan terhadap Sangkala.
"Manusia-manusia
dungu!" maki Ranjita geram menyadari seruannya tidak dipedulikan.
"Biar kalian semua tewas di tangannya!"
Harapan Ranjita langsung
terkabul. Belum juga gema ucapannya lenyap, terdengar jeritan menyayat hati. Disusul
robohnya dua orang lawan Sangkala. Kepala mereka terpisah dari tubuh ketika
golok Sangkala menabas batang leher mereka.
"Keparat!" geram Ki
Ageng Sora dan Ki Rawung hamir bersamaan. Mereka saling bertukar pandang.
"Tidak akan kubiarkan murid
murtad itu semakin mencoreng nama Perguruan Banteng Putih dengan darah penduduk
Desa Kawung!" desis Ki Ageng Sora geram. Usai berkata lelaki tinggi kurus
itu memasukkan tangannya ke balik baju. Ketika dikeluarkan kembali tampak empat
batang pisau di tangannya.
Tentu saja kelakuan Ketua
Perguruan Banteng Putih tidak luput dari perhatian Ki Rawung. Namun Kepala Desa
Kawung itu tidak mengatakan apa-apa. Dia yakin Ki Ageng Sora telah memikirkan
masak-masak tindakannya. Maka lelaki kecil kurus itu diam saja.
Sementara itu, setelah
memperhatikan kancah pertarungan sesaat, Ki Ageng Sora mengibaskan tangannya.
Seketika itu pula...,
Sing, sing, sing...!
Bunyi desing nyaring yang
menyakitkan telinga terdengar ketika pisau-pisau itu meluncur ke arah Sangkala.
Bukan hanya Sangkala yang
terkejut Bongara dan semua murid Perguruan Banteng Putih pun demikian. Mereka
tidak menyangka gurunya akan turun tangan.
Tapi keterkejutan yang melanda
Bongara dan rekan-rekannya tidak sebesar Sangkala. Saat itu dia baru saja
mengelakkan serangan lawan-lawannya.
Keduduannya sangat tidak
menguntungkan. Baik untuk menangkis maupun mengelak. Tapi meskipun demikian,
Sangkala tidak mau menyerah begitu saja. Sedapat mungkin diusahakannya
mengelak. Tapi...,
Cap, cap, cap! "Akh!"
Sangkala memekik kesakitan.
Pisau-pisau itu mendarat di sasaran yang dituju Ki Ageng Sora. Dua menancap di
punggung atas. Kanan dan ki-ri. Sedangkan sisanya menancap di paha atas bagian
belakang. Juga di kanan dan kiri. Tubuh Sangkala langsung ambruk di tanah.
Tidak seperti sebelumnya. Kali ini pemuda berwajah bopeng itu tidak bisa
bangkit lagi!
Kesempatan itu tidak disia-siakan
para pengeroyoknya. Dengan sorot mata menyiratkan dendam, mereka mengayunkan
senjata masing-masing. Nyawa Sangkala sudah dapat dipastikan akan melayang saat
itu juga. Tapi sebelum hal itu terjadi...,
"Tahan...!"
Suara bentakan keras yang
mengandung pengaruh kuat membuat penduduk Desa Kawung menghentikan gerakan
mereka. Senjata-senjata yang beraneka ragam jenis itu tertahan di udara.
Dengan penuh tanda tanya mereka
mengalihkan pandangan ke arah Ki Ageng Sora. Lelaki tinggi kurus itulah yang
mengeluarkan cegahan tadi. Ternyata bukan hanya penduduk Desa Kawung itu yang
tercekam rasa heran. Ranjita dan seluruh murid Perguruan Banteng Putih pun
menatap wajah Ki Ageng Sora penuh rasa heran.
"Kalian jangan salah
paham," ujar Ki Ageng Sora tenang. "Kalian tidak perlu khawatir. Aku
tidak akan membela Sangkala. Dia tidak kuanggap sebagai murid lagi! Aku
mencegah semata-mata untuk kepentingan kalian juga!"
Ki Ageng Sora menghentikan
ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Sementara penduduk Desa Kawung,
Ranjita, dan semua murid Perguruan Banteng Putih menunggu kelanjutan ucapan itu
dengan tidak sabar.
"Perlu kalian ketahui, orang
yang mempunyai kesalahan seperti Sangkala terlalu enak untuk mati dengan
demikian mudah! Dia telah merusak masa depan dua orang gadis, membuat kotor
Desa Kawung, dan mencemarkan nama Perguruan Banteng Putih! Hukuman langsung
mati terlalu enak baginya!" urai Ki Ageng Sora.
"Lalu.., apa yang harus kita
lakukan, Ki?" tanya Ranjita ingin tahu. Putra Kepala Desa Kawung itu
sangat dendam kepada Sangkala.
Ini tentu saja ada alasanya.
Ranjita iri karena Sangkala yang berwajah buruk berhasil menikmati kegadisan
Wulan dan Widuri. Padahal dia sudah lama menginginkan mereka!
"Dia harus disiksa sebelum
dibakar hidup-hidup!" tegas Ki Ageng Sora.
"Akurrr...!"
Serentak semua orang yang ada di
situ menganggukkan tanda setuju. Ki Ageng Sora tersenyum pahit melihat sambutan
yang demikian penuh semangat. Di hati kecilnya sebenarnya dia tidak setuju.
Tapi kejahatan yang dilakukan Sangkala sangat dibencinya. Maka hatinya
dikuatkan untuk memutuskan hal itu.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi?!" tanya Ki Ageng Sora setengah memerintah. "Siksa dia! Lalu
kita seret ke desa, dan bakar di hadapan seluruh penduduk. Hukuman ini akan
membuat orang lain yang melakukan tindakan seperti ini berpikir seribu
kali!"
Saat itu juga para penduduk
menghampiri Sangkala yang tergolek di tanah. Mereka saling mendahului untuk
melihat pemuda berwajah bo-peng itu. Sesaat kemudian penyiksaan terhadap
Sangkala pun dilaksanakan. Dalam gelora amarah dan kebencian yang meluap-luap,
para penduduk Desa Kawung jadi manusia-manusia yang tidak punya rasa belas
kasihan.
Mereka menghajar sekujur tubuh
Sangkala. Tidak hanya dengan tendangan atau pukulan tangan kosong. Tapi juga
dengan senjata tumpul. Sedikit pun tidak mereka pedulikan rintih kesakitan yang
keluar dari mulut Sangkala!
Bukkk, bukkk, desss!
"Akh!"
Jeritan kesakitan tak
henti-hentinya keluar dari mulut Sangkala, seiring dengan mendaratnya
siksaan-siksaan penduduk Desa Kawung. Hanya dalam sekejap sekujur tubuhnya
telah penuh luka! Darah mengalir di sana-sini. Pakaiannya compang-camping tak
karuan. Wajahnya pun hampir tidak bisa dikenali lagi. Karena telah
bengkak-bengkak. Tapi penduduk Desa Kawung tetap meneruskan siksaannya.
Bukkk, bukkk, bukkk!
6
"Cukup!"
Untuk kedua kali Ki Ageng Sora
mengeluarkan cegahan. Seperti juga sebelumnya, penduduk Desa Kawung menuruti
perintahnya. Tapi
bukan karena patuh. Ada pengaruh
aneh yang membuat mereka terpaksa menghentikan gerakannya.
Sebenarnya Ki Ageng Sora tidak
menggunakan ilmu gaib atau sihir. Lelaki tinggi kurus itu mengerahkan tenaga
dalamnya. Getaran tenaga dalam itu menyebabkan orang yang kurang kuat tenaga
dalamnya langsung terpengaruh. Mereka terkesima. Hingga tindakan mereka
terhenti.
"Dia sudah tidak berdaya.
Bila kalian teruskan, mungkin dia akan mati! Dan jika hal itu terjadi, rencana
yang telah kita susun akan berantakan! Kalian paham?!" lanjut Ki Ageng
Sora menjelaskan.
Bagai diberi perintah, serempak
penduduk Desa Kawung mengalihkan perhatian ke arah Sangkala. Mereka membenarkan
pendapat Ki Ageng Sora. Sangkala memang sudah tidak berdaya. Keadaannya sangat
mengenaskan! Bahkan beberapa saat sebelum Ki Ageng Sora mengeluarkan cegahan,
dia sudah tidak mampu menjerit lagi. Tubuhnya telah demikian lemah.
Keadaan Sangkala pun dilihat
Ranjita dan murid-murid Perguruan Banteng Putih yang sejak tadi berdiri
menyaksikan. Senyum gembira dan puas tersungging di bibir putra Kepala Desa
Kawung. Tapi Ranjita tidak bisa terlalu lama tenggelam dalam alun
kegembiraannya. Karena....
"Mengapa kalian hanya
bengong saja?! Seret manusia biadab itu!" perintah Ki Ageng Sora lagi.
Seruan yang diucapkan keras itu membuat para penduduk kelabakan. Mereka bingung
memikirkan alat yang dapat digunakan untuk menarik Sangkala. Namun Ranjita yang
cerdik menemukan pemecahannya. Sabuk yang melilit pinggangnya di lepas.
Lalu....
Ctarrr!
Setelah lebih dulu melecutkan
sabuknya hingga mengeluarkan bunyi keras, Ranjita meluncurkan ujung sabuknya
pada tangan Sangkala.
Rrrttt!
Dengan gerakan yang indah
dipandang, sabuk itu membelit tangan Sangkala. Sungguh sebuah pertunjukan yang
cukup hebat. Dari sini bisa di-ketahui Ranjita memiliki tenaga dalam cukup
kuat. Karena hanya orang-orang yang mempunyai tenaga dalam cukup kuatlah yang
mampu memainkan sabuk! Apalagi memainkannya sebagus Ranjita!
Seperti yang sudah diduga
Ranjita, penduduk Desa Kawung terpaku melihat pertunjukannya. Tatapan mata
mereka menyiratkan kekaguman. Bahkan sorot seperti itu terlihat pula pada
sepasang mata Ki Ageng Sora! Walaupun sebenarnya lelaki tinggi kurus itu mampu
memainkan berlipat kali lebih baik dari Ranjita. Tapi tetap saja dia merasa
kagum. Sebab tidak semua murid Perguruan Banteng Putih mampu melakukan.
Kalau mau jujur dan tidak
menuruti hati yang panas, Bongara harus mengakui Ranjita memang lawan yang
tangguh. Tapi karena sejak pertama sudah muncul rasa tidak suka pada sikap
Ranjita yang terlalu memandang remeh orang, yang ditunjukkan Bongara hanya
senyum sinis. Sikapnya menunjukkan tindakan Ranjita tidak berarti apa-apa
baginya.
Ranjita tentu saja diam-diam
tahu, pemuda itu jengkel bukan main. Tapi Ranjita pura-pura tidak tahu.
Diberikannya ujung sabuk yang dipegangnya pada salah seorang penduduk Desa
Kawung
"Nih, seret..!" Hanya
itu yang diucapkan Ranjita pada penduduk Desa Kawung yang menerimanya dengan
wajah berseri-seri.
Ki Ageng Sora dan Ki Rawung
membalikkan tubuh dan berjalan meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka jelas.
Mulut goa yang menembus Hutan Randu. Di belakang kedua orang itu berjalan
Ranjita dan murid-murid Perguruan Banteng Putih. Sedangkan rombongan penduduk
Desa Kawung berada paling belakang, dengan salah seorang di antara mereka
menyeret tubuh Sangkala.
Dapat dibayangkan penderitaan
yang dialami Sangkala. Dalam keadaan lebih mendekati mati, mana sekujur
tubuhnya tidak ada yang luput dari luka, pemuda itu diseret-seret. Padahal
tanah di sini tidak rata! Banyak bagian-bagian yang menonjol dan runcing!
Dengan sendirinya luka yang diderita Sangkala semakin parah.
Memang pantas dipuji kekuatan
Sangkala. Dalam keadaan seperti itu dia masih sanggup memutar otaknya.
Disadarinya perjalanan menuju Desa Kawung masih jauh. Bahkan melalui medan yang
tidak rata. Dengan demikian dia akan tersiksa lama sebelum akhirnya dibakar
hidup-hidup dengan disaksikan orang sedesa!
Sangkala tidak menginginkan hal
itu terjadi! Dia tidak ingin mati seperti binatang! Kalau memang harus mati,
dia ingin secara terhormat. Lebih baik mati di sini daripada di Desa Kawung!
Luar biasa! Keinginan yang
demikian kuat itu membuat keadaan Sangkala membaik. Bahkan seperti tidak
terluka sama sekali. Ini sebenarnya tidak aneh! Ada saat-saat tertentu di mana
tenaga tersembunyi dapat keluar dengan kemampuan lebih hebat dari biasanya.
Tapi tentu saja ada hal-hal yang menyebabkan tenaga tersembunyi itu keluar.
Demikian pula dengan Sangkala!
Keinginan yang amat kuat untuk tidak tewas secara mengenaskan di Desa Kawung
menyebabkan kemampuan tersembunyinya keluar. Kesempatan itu segera dipergunakan
Sangkala sebaik-baiknya.
"Hih!" "Akh!"
Dengan sekali sentakan Sangkala
membuat penduduk yang menyeret tubuhnya terjengkang ke belakang. Akibatnya,
pegangan pada ujung sabuknya terlepas. Kesempatan itu dipergunakan Sangkala
untuk bangkit berdiri. Kemudian berlari!
Tentu saja tindakan Sangkala
tidak dibiarkan. Saat itu juga semua anggota rombongan, kecuali Ki Ageng Sora
dan Ki Rawung, bergegas mengejarnya. Begitu juga orang yang bertugas menyeret
Sangkala. Meski agak tertinggal di belakang teman-temannya.
***
Kembali kejar-mengejar antara
Sangkala dan rombongan Ki Ageng Sora terjadi. Tapi dalam pengaruh kekuatan
tersembunyi yang mendadak keluar, Sangkala mampu meninggalkan lawan-lawannya.
Semakin lama jarak antara mereka terpaut semakin jauh!
Semua itu tidak lepas dari
perhatian Ki Ageng Sora dan Ki Rawung. Namun Ketua Perguruan Banteng Putih
tetap berdiam diri. Lelaki tinggi kurus itu tidak terkejut melihat Sangkala
mampu melarikan diri. Bahkan dengan kecepatan yang cukup menakjubkan.
Ki Ageng Sora tidak khawatir
Sangkala dapat lolos dari tempat itu. Jika pemuda berwajah bopeng itu ingin
keluar dari tempat itu, arah yang dituju adalah arah yang ditempuh rombongannya!
Sedangkan Sangkala menuju arah lain!
Itu sebabnya Ki Ageng Sora tidak
mengambil tindakan apa pun. Yang dilakukannya hanya memperhatikan
kejar-mengejar yang tengah terjadi. Sepasang alis Ki Ageng Sora baru berkerut
ketika melihat arah yang dituju Sangkala. Bekas muridnya itu menuju danau.
Berbagai pertanyaan muncul di
benak Ki Ageng Sora. Mengapa Sangkala menuju ke sana? Apakah dia berlari tanpa
memikirkan arah yang dituju? Atau Sangkala mempunyai pemikiran lain? Barangkali
saja pemuda berwajah bopeng itu hendak menceburkan diri ke danau!
Dan Sangkala memang bermaksud
demikian! Pemuda itu tidak ingin ditangkap dan dihukum secara menyedihkan di
desa tempat tinggalnya! Maka dia melarikan diri ke danau. Sangkala ingin
menceburkan diri ke sana. Itu telah dipikirkannya sebelum memutuskan untuk
melarikan diri.
Rasanya kali ini keinginan
Sangkala akan terlaksana. Jarak antara dia dan para pengejarnya semakin jauh.
Meskipun itu berlangsung sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti Sangkala
mendekati danau. Rasanya bekas murid Perguruan Banteng Putih itu tidak bisa
terjangkau lagi oleh lawan. Kenyataan itu segera terbukti.
"Hiyaaa...!"
Diawali dengan teriakan
melengking nyaring yang membuat gema ke seluruh penjuru tempat itu, Sangkala
melompat ke danau. Sesaat tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya....
Byurrr!
Air muncrat tinggi ke udara
ketika tubuh Sangkala membentur permukaan danau. Tubuh Sangkala langsung
tenggelam!
Kejadian itu disaksikan Ranjita,
Bongara, dan yang lainnya. Tapi apa yang dapat mereka lakukan? Saat tubuh
Sangkala menimpa permukaan danau, jarak antara mereka masih terpaut beberapa
tombak! Baru setelah beberapa saat tubuh Sangkala tenggelam, rombongan pengejar
itu tiba di pinggir danau.
"Pasang mata kalian
baik-baik!" perintah Ranjita, "Aku yakin dia akan muncul ke
permukaan!"
"Benar!" sambung
Bongara mendukung ucapan Ranjita. "Apa yang dikatakan Ranjita benar. Lebih
baik kita berpencar! Dia pasti akan muncul ke permukaan!"
Tanpa menunggu lagi, rombongan
itu menyebar ke sekitar danau. Seperti juga Ranjita dan Bongara, mereka yakin
Sangkala akan muncul ke permukaan. Itu sudah pasti! Manusia mana yang sanggup
bertahan lama di dalam air?
Hanya dalam sekejap rombongan
pengejar dari Desa Kawung itu telah berada di kedudukan masing-masing.
Pandangan mereka ditujukan ke permukaan danau. Hampir tidak pernah mereka
mengedipkan mata, khawatir di saat sepasang mata mereka berkedip Sangkala
muncul ke permukaan.
Dengan tidak sabar Ranjita dan
yang lain menunggu kemunculan Sangkala. Tapi sampai cukup lama menunggu, Sangkala tidak
memunculkan diri. Padahal mata mereka telah lelah dipaksa terbelalak terus.
"Gila!"
Sebuah makian geram keluar dari
mulut Ranjita. Terlihat putra Ki Rawung itu sudah tidak kuat lagi menahan
sabar. Bongara yang berada tidak jauh dari Ranjita menoleh. Kesempatan itu
dipergunakan sebaik-baiknya oleh Ranjita.
"Rasanya tidak mungkin kita
terus-menerus menunggu seperti ini, Bongara," ujar Ranjita pelan.
"Aku pun berpendapat
demikian, Ranjita," sahut Bongara dengan nada sama. Telah lenyap
perselisihan antara mereka melihat buruan yang sama-sama dikejar berhasil
lolos. "Tapi..., apa yang dapat kita lakukan?!"
"Bagaimana kalau kita terjun
juga, Bongara?" usul Ranjita, "Siapa tahu manusia keji itu telah
menjadi setan air?!"
"Dugaanmu tidak berbeda
denganku," timpal Bongara. "Aku pun tidak percaya Sangkala mampu
bertahan begitu lama di dalam air!"
"Barangkali dia berada di
permukaan air dan menggunakan batang alang-alang untuk bernapas?!" duga
Ranjita tiba-tiba.
"Kurasa dugaanmu keliru,
Ranjita," bantah Bongara. "Aku tidak melihat benda yang kau maksudkan
di permukaan air. Aku tahu, semula aku pun berpendapat demikian. Tapi setelah
kuedarkan pandangan, dan tidak kutemukan benda itu, aku yakin Sangkala tidak
menggunakan cara itu."
"Jadi...," Ranjita
menggantung ucapannya.
"Aku lebih condong dia telah
menjadi setan air sekarang!" tegas Bongara. "Kurasa dugaan ini tidak
berlebihan. Kau tahu sendiri kan keadaannya?"
Ranjita tampak ragu. Dia tidak
memberikan tanggapan yang bersifat menyetujui pendapat Bongara.
"Memang kuakui Sangkala
terluka parah. Tapi..., apakah kau tidak melihat kejadian aneh tadi? Dia mampu
berlari dengan kecepatan lebih dari sewaktu sehatnya!"
"Itu terjadi karena
keinginannya yang besar untuk meloloskan diri, Ranjita. Aku tahu pasti
kemampuan seperti itu tidak akan bertahan lama. Lagi pula kemampuan demikian
tidak berlaku di dalam air!" bantah Bongara menguatkan alasannya.
"Kalau menambah kemampuan mungkin benar. Tapi jika kemampuan tak wajar itu
menyebabkannya mampu menahan napas demikian lama di dalam air, kurasa tidak
mungkin. Dan lagi seperti yang tadi kukatakan, kemampuan seperti itu tidak akan
bertahan lama."
Ranjita langsung terdiam. Disadari
ada kebenaran yang tidak bisa dibantah dalam ucapan Bongara.
"Jadi..., kesimpulan yang
paling mungkin Sangkala telah menjadi setan air!" tandas Ranjita.
"Itulah yang harus kita
buktikan!" sambut Bongara, "Karena itu aku menyetujui usulmu,
Ranjita. Aku khawatir ada hal-hal tidak terduga yang akan merugikan kita."
"Maksudmu..., Sangkala
berhasil meloloskan diri. Begitu?!" tanya Ranjita meminta kepastian.
"Mudah-mudahan saja
tidak," jawab Bongara berkilah.
"Kalau begitu kita harus
bergegas, Bongara! Lebih cepat kita terjun ke dalam danau lebih baik!"
tegas Ranjita cepat.
"Benar, Ranjita!" Baru
saja Bongara menyelesaikan ucapannya, Ranjita melompat ke danau! Itu dilakukan
tanpa membuka pakaiannya.
Bongara tidak mau kalah. Dia ikut
melompat menyusul tubuh putra Kepala Desa Kawung yang masih berada di udara.
Dalam kedudukan mela-yang di udara, Bongara memberi perintah.
"Kalian semua tetap di
darat! Awasi terus permukaan air!" Byurrr! Byurrr...!
Air danau muncrat tinggi-tinggi
dua kali berturut-turut. Itu terjadi ketika tubuh Ranjita dan Bongara membentur
permukaan danau kecil itu.
Tubuh kedua pemuda-perkasa itu
tenggelam ke dalam danau. Mereka menyelam semakin dalam. Berbeda dengan yang
terlihat dari daratan, dalam danau itu ternyata cukup jernih. Hingga Ranjita
dan Bongara dapat melihat pemandangan di dalamnya.
Untuk beberapa saat kedua pemuda
itu tidak melakukan pencarian. Mereka hanya mengedarkan pandangan ke sana
kemari. Barangkali saja dapat menemukan Sangkala. Setelah merasa yakin usahanya
tidak membuahkan hasil, dengan isyarat Bongara mengajak berpencar. Usul itu
langsung disetujui Ranjita. Sesaat kemudian, Bongara dan Ranjita berenang
menempuh arah pilihan masing-masing.
Ternyata meskipun kelihatannya
kecil danau itu luas juga. Beberapa kali Ranjita dan Bongara harus muncul ke
permukaan untuk mengambil napas sebelum meneruskan pencarian.
Usaha kedua pemuda perkasa itu
tidak sia-sia. Setelah bersusah-payah berenang ke sana kemari, akhirnya Ranjita
menemukan sebab mengapa Sangkala tidak muncul-muncul ke permukaan. Pada salah
satu dinding di dalam danau, ada lubang bergaris tengah sekitar setengah
tombak!
Sekali lihat Ranjita tahu lubang
itu berhubungan dengan bagian luar tempat terpencil itu. Kesimpulan ini membuat
Ranjita lemas. Sangkala telah berhasil meloloskan diri.
Meskipun demikian, karena rasa
ingin tahu, didekatinya lubang itu. Hasilnya benar-benar membuat Ranjita kaget!
Ada daya tarik yang amat kuat dari lubang itu. Padahal jarak antara dia dengan
lubang itu masih tiga tombak. Menyadari kenyataan ini, Ranjita bergegas
berenang ke permukaan. Sesampainya di sana di tunggunya Bongara muncul.
"Hentikan usahamu,
Bongara!" seru Ranjita ketika Bongara muncul ke permukaan untuk mengambil
napas. Rupanya murid Perguruan Banteng Putih itu masih bermaksud melanjutkan
pencarian.
"Mengapa, Ranjita?!"
tanya Bongara ingin tahu, "Apa kau telah menemukan Sangkala?"
Ranjita menggeleng dengan lesu.
"Dia berhasil kabur dari danau, Bongara. Aku melihat ada lubang yang
berhubungan dengan tempat di luar danau ini!"
"Keparat!"
Bongara memaki geram mendengar
pemberitahuan Ranjita. Kemudian dengan lesu diikutinya tindakan putra Ki
Rawung, berenang menuju tepi danau.
"Cepat tinggalkan tempat
ini! Sangkala telah lolos! Kita harus segera mengejarnya!" seru Bongara
ketika telah berada di pinggir danau.
Rombongan dari Desa Kawung segera
beranjak meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka adalah lorong goa tempat mereka
masuk. Bongara dan Ranjita berjalan di belakang mereka.
Ki Ageng Sora dan Ki Rawung
mendapat laporan dari Bongara. Maka tanpa membuang-buang waktu, Ki Ageng Sora
memimpin rombongan melakukan pengejaran. Tak lupa Wulan dan Widuri yang masih
tergolek pingsan mereka bawa.
Begitu berada di luar, Ki Ageng
Sora membagi rombongannya. Ketua Perguruan Banteng Putih itu tahu dengan
berpencar-pencar seperti itu kemungkinan menemukan Sangkala semakin besar. Tak lupa
diberitahukannya agar kelompok yang menemukan Sangkala memberi tanda.
Rupanya Ki Ageng Sora telah
bertekad menangkap murid yang sudah tidak diakuinya itu. Semua tenaga yang ada
dikerahkan. Semua dapat dijelajahi. Tapi Sangkala tetap tidak diketemukan.
Pemuda berwajah bopeng itu seperti lenyap ditelan bumi.
Yang lebih menyulitkan ternyata
tembusan danau kecil di tempat persembunyian Sangkala tidak ada! Ki Ageng Sora
pun sadar tembusan danau itu ada di dalam tanah!
7
"Ranjita..., Bongara..., Ki
AgengSora.... Tunggulah pembalasanku! Kalian orang-orang yang telah membuatku
sengsara," desis Sangkala penuh dendam. Rupanya ingatan akan perlakuan
yang diterimanya dari ketiga orang itu membuat Sangkala sadar dari alam
pikirannya yang melayang ke masa beberapa bulan lalu.
Bunyi berkerotokan keras seperti
tulang patah terdengar seusai desisan penuh dendamnya. Kejadian yang
menggiriskan hati. Sebab pemuda berwajah bopeng itu tidak melakukan tindakan
apa pun. Agaknya
kemarahan membuat tenaga dalamnya
berkeliaran sendiri, hingga menimbulkan bunyi berkerotokan seperti itu.
"Tapi bukan hanya kalian
yang akan menerima pembalasanku," sambung Sangkala masih dengan berdesis.
"Semua penduduk Desa Kawung akan mendapat balasannya. Ha ha ha...!"
Usai berkata, Sangkala melesat
meninggalkan tempat itu. Tujuannya Desa Kawung. Pemuda itu hendak membalas
sakit hatinya beberapa bulan lalu.
***
Sang Surya sudah sejak tadi
tenggelam di barat. Sekarang dewi malam yang menggantikan tugasnya menerangi
persada. Meskipun saat itu tidak muncul dalam bentuk yang utuh, namun cukup
mampu mangusir kegelapan. Apalagi saat itu langit tampak cerah. Bintang-bintang
bertaburan di angkasa. Berkelap-kelip ceria karena tidak ada segumpal awan pun
menggantung di sana. Hingga suasana persada semakin cerah.
Ternyata tidak hanya suasana di
langit saja yang cerah ceria. Hal yang sama pun terjadi di Desa Kawung. Obor
terpancang di setiap rumah penduduk dalam jumlah yang lebih banyak dari biasa,
sehingga keadaan desa terang benderang. Jelas ada sesuatu yang lain di Desa
Kawung.
Dan memang dugaan itu tidak
salah. Di mulut desa terpasang umbul-umbul indah dalam bentuk beraneka ragam.
Hiasan yang sama dipasang di depan rumah Ki Ageng Sora.
Di tempat tinggal Ki Ageng Sora,
di Perguruan Banteng Putih, rampak meriah. Umbul-umbul terpajang berderet rapi
dan teratur mulai dari pintu gerbang sampai ke bagian dalam. Obor-obor pun
terpancang di sana-sani, membuat tempat itu terang-benderang seperti siang
hari.
Rupanya di sana tengah
dilangsungkan pesta pernikahan. Sang Mempelai adalah Trijati, putri Ki Ageng
Sora, dengan Ranjita, putra Kepala Desa Kawung.
Kesibukan pun melanda Perguruan
Banteng Putih. Murid-murid perguruan itu, yang tidak berapa banyak, tampak
kerepotan melayani tamu yang datang untuk mengucapkan selamat. Tamu-tamu yang
hadir memang tidak sedikit. Karena kedua mempelai sama-sama berasal dari
keluarga terpandang. Para tamu tidak hanya dari Desa Kawung. Tapi juga dari
desa-desa sekitar.
Sementara itu di pelaminan
Trijati dan Ranjita tak henti-hentinya mengembangkan senyum pada tamu-tamu yang
datang. Keduanya tampak sangat gembira. Tak aneh, pernikahan itu berlangsung
atas dasar cinta kasih mereka berdua.
Tidak jauh dari sepasang
mempelai, di tempat duduk kehormatan, duduk keluarga Ki Ageng Sora, keluarga
Kepala Desa Kawung, dan tamu-tamu kehormatan, yang terdiri dari kepala-kepala
desa dan ketua-ketua perguruan silat di sekitar Desa Kawung. Mereka terlihat
tidak kalah gembiranya dengan kedua mempelai. Sesekali terdengar gelak tawa di
antara pembicaraan mereka.
"Pernikahan putrimu
membuatku merasa tua sekali, Sora," ucapan itu keluar dari mulut seorang
lelaki berpakaian coklat. Raut wajahnya gagah dengan kumis tebal melintang
menghias bawah hidungnya.
"Mengapa kau berkata
demikian, Loka?!" tanya kakek berpakaian kuning tersenyum geli. Meskipun
senyum menghias bibirnya, tapi tetap saja tidak mampu mengusir keangkeran kakek
itu. Bentuk wajahnya yang persegi mirip harimau penuh ditumbuhi bulu. Tidak
hanya kumis dan jenggot, tapi juga cambang! Sepasang alisnya tebal dan hitam.
Tubuhnya tinggi besar. Pada bagian dada kiri pakaiannya tersulam gambar kepala
seekor harimau! Lengkaplah sudah semua yang membuat kakek itu terlihat angker.
"Betapa tidak,
Jayeng?!" sahut lelaki berkumis melintang yang dipanggil Loka meminta
dukungan. "Kau kan tahu usiaku hanya selisih satu tahun dengan Ki Ageng
Sora. Kalau anaknya sudah berkeluarga, bukankah sebentar lagi dia akan menjadi
kakek?! Ku berarti aku tidak muda lagi?!"
"Ha ha ha..!"
Serempak Ki Ageng Sora dan kakek
berpakaian kuning yang dipanggil Jayeng, sebenarnya mempunyai nama lengkap Jayeng
Praja, tertawa bergerak. Geli mendengar pertanyaan Loka yang bernama lengkap
Loka Arya.
"Mengapa kalian
tertawa?!" tanya Loka Arya setengah memprotes. "Kami merasa geli,
Loka," Ki Ageng Sora menjawab setengah
tertawa. Rupanya perasaan geli
masih melanda hatinya.
"Benar, Loka," sambut
Jayeng Praja, "Sepertinya kau khawatir menjadi tua?! Percayalah, sekalipun
tua kau masih disegani kawan dan ditakuti lawan! Meskipun bertambah tua kau
tetap berjuluk Pendekar Tinju Maut!"
"Tepat!" timpal Ki
Ageng Sora cepat, "Bahkan aku berani bertaruh keampuhan tinjumu semakin
meningkat dengan semakin bertambahnya usiamu!"
"Ha ha ha...!" sekarang
ganti Loka Arya berjuluk Pendekar Tinju Maut tertawa terkekeh.
"Luar bisa! Ternyata waktu
yang sekian lama tidak mengubah sikap kalian! Kurasa sudah saatnya kalian
berdua membuang semua pujian kosong itu! Apa hebatnya ilmu 'Tinju Maut'ku
dibanding jurus 'Harimau
Terbang' milikmu, Jayeng?! Atau
permainan kepalamu yang mampu menghancurkan apa saja yang terbentur,
Sora?!" ujar Loka Arya merendah.
"Ha ha ha...!"
Ki Ageng Sora dan Jayeng Praja
tertawa bergelak.
"Aku telah mendengar kabar
perguruanmu menyediakan jasa pengawalan. Untuk orang-orang yang hendak
bepergian jauh maupun pengiriman barang berharga. Bukankah demikian,
Jayeng?!" sambung Loka Arya.
"Hhh...!"
Jayeng Praja menghela napas berat
dengan wajah mendadak berubah muram.
Tentu saja perubahan sikap kakek
berwajah mirip harimau itu membuat Ki Ageng Sora dan Pendekar Tinju Maut heran.
Senyum yang tersungging di bibir mereka langsung lenyap. Dan dengan tatapan
penuh selidik serta rasa ingin tahu dipandanginya wajah Jayeng Praja.
"Mengapa, Jayeng?! Adakah
ucapanku yang salah dan tidak berkenan di hatimu?!" tanya Pendekar Tinju
Maut sungguh-sungguh. Tidak ada lagi nada main-main dalam suara Loka Arya.
Seperti juga Ki Ageng Sora, dia tahu Jayeng Praja tidak akan bersikap seperti itu
bila tidak ada masalah.
"Tidak, Loka. Tidak ada yang
salah dengan ucapanmu," Jayeng Praja menggelengkan kepala sambil
tersenyum.
Tapi, Ki Ageng Sora dan Pendekar
Tinju Maut bukan orang bodoh. Mereka tahu senyum Jayeng Praja hanya pulasan dan
tidak keluar dari lubuk hatinya. Hingga kedua tokoh itu penasaran, terutama
Pendekar Tinju Maut yang memang memiliki watak agak berangasan.
"Kalau orang lain mungkin
dapat kau bohongi, Jayeng. Tapi, pada kami kau tidak mungkin dapat. Mulutmu
dapat membohongi kami, tapi matamu mengatakan yang sebaliknya. Apakah kau tidak
percaya lagi pada kami, Jayeng?! Sehingga kau tidak mau mengemukakan persoalan
yang kau hadapi?!" terdengar jelas nada penasaran dalam ucapan Pendekar
Tinju Maut.
Tapi, Jayeng Praja tetap diam.
Melihat kenyataan itu, Ki Ageng Sora khawatir Pendekar Tinju Maut akan
mengeluarkan ucapan bernada lebih keras. Maka diputuskannya untuk mendahului
bicara.
"Apa yang dikatakan Loka
benar, Jayeng. Kami adalah sahabat-sahabatmu. Rasanya tidak pada tempatnya jika
kau menyembunyikan masalah yang kau hadapi. Percayalah, masalahmu adalah
masalah kami juga. Katakanlah, Jayeng. Jangan buat kami penasaran. Kau ingat
ikrar kita setelah menghancurkan Gerombolan Kuda Iblis?!"
Rupanya ucapan Ki Ageng Sora
mengenai sasaran. Ada riak di wajah Jayeng Praja, meskipun dia masih tetap
diam. Melihat itu, Pendekar Tinju Maut bermaksud menyambung ucapannya yang tadi
tertunda karena didahului Ki Ageng Sora. Tapi sebelum maksudnya dilaksanakan,
Ki Ageng Sora memberi isyarat agar membiarkan Jayeng Praja.
***
Meskipun rasa tidak puas melanda
hati, Loka Arya bersedia menuruti isyarat rekannya. Dia tahu Ketua Perguruan
Banteng Putih itu mempunyai alasan melarangnya berbicara.
Dugaan Pendekar Tinju Maut tidak
salah. Ki Ageng Sora memang mempunyai alasan kuat. Ketua Perguruan Banteng
Putih itu yakin Jayeng Praja terpengaruh ucapannya. Keluarnya penjelasan kakek
tinggi besar itu hanya tinggal menunggu waktu. Memang sebenarnya demikian.
Ucapan Ki Ageng Sora berpengaruh kuat. Ucapan itu mengingatkan Jayeng Praja
pada masa mudanya. Dulu, lebih dua puluh tahun lalu, dia seperti juga Ki Ageng
Sora dan Loka Arya adalah pendekar-pendekar pembela kebenaran. Setiap ada
tindak ketidakadilan mereka pasti turun tangan. Dan mereka selalu berhasil
menumpasnya. Tak terhitung sudah tokoh-tokoh golongan hitam yang tewas.
Sehingga nama mereka bertiga menjulang di dunia persilatan.
Semula ketiga tokoh pembela
kebenaran itu tidak saling mengenal. Mereka baru berkenalan dan saling
bahu-membahu ketika menghadapi kelompok perampok yang berjuluk Gerombolan Kuda
Iblis. Karena setiap kali melakukan keonaran selalu berkuda, dan kuda yang
mereka gunakan berwarna putih. Kalau saja tidak bekerja sama, mungkin mereka
telah tewas! Gerombolan Kuda Iblis sangat tangguh dan licik. Melalui kerja sama
yang rapi, ketiganya berhasil menumpas Gerombolan Kuda Iblis.
Itulah perkenalan mereka yang
pertama dan yang terakhir. Sejak saat itu mereka berpisah dan menempuh jalan
semula. Berjuang sendiri-sendiri. Namun sebelum berpisah mereka sempat berikrar
untuk saling membantu bila ada di antara mereka bertiga yang mendapat
kesulitan.
"Hhh...!"
Jayeng Praja menghela napas berat
teringat akan kejadian itu. Kemudian pandangannya dialihkan pada Ki Ageng Sora
dan Loka Arya yang masih menunggunya mengutarakan masalahnya.
"Kalian memang kawan-kawan
yang baik, ujar Jayeng Praja mengawali pembicaraan "Semula aku tidak ingin
memberitahu siapa pun karena ini tanggung jawabku."
"Lupakanlah pendirianmu yang
keliru itu, Jayeng. Ketahuilah, masalahmu adalah masalah kami juga! Bukankah
demikian, Sora?!" Pendekar Tinju Maut segera memotong.
Ki Ageng Sora menganggukkan
kepala, "Benar, Jayeng, Loka Arya tidak salah. Masalahmu adalah masalah
kami. Tentu saja sepanjang masalah itu tidak menyangkut urusan dalam perguruan!
Namun, meskipun demikian ada baiknya kau menceritakan pada kami. Jika menurut
kami urusan itu terlampau pribadi, dengan senang hati kami akan membiarkanmu
menyelesaikan sendiri."
Pendekar Tinju Maut
mengangguk-angguk. Ucapan Ki Ageng Sora benar. Pandangan Ketua Perguruan
Banteng Putih itu demikian bijaksana. Dalam hati Loka Arya kagum atas sikap Ki
Ageng Sora.
Bukan hanya Pendekar Tinju Maut
yang mengakui kebenaran pendapat Ki Ageng Sora. Jayeng Praja pun demikian.
Untuk itu, tidak ada alasan lagi baginya menyembunyikan masalah yang merisaukan
hatinya.
"Kalau benar demikian,
kalian dengarlah baik-baik," ujar Jayeng Praja. "Seperti yang
dikatakan Loka Arya tadi, aku memang mempunyai sebuah perguruan yang kuberi
nama Perguruan Harimau Terbang. Cukup banyak murid yang kumiliki. Hingga
akhirnya aku mempunyai pemikiran menggunakan kepandaian mereka untuk mencari
uang. "
Jayeng Praja menghentikan
ucapannya untuk mengambil napas. "Sejak saat itu, Perguruan Harimau
Terbang menyediakan jasa pengawalan. Baik untuk pengiriman barang-barang
berharga maupun orang yang melakukan perjalanan."
Lagi-lagi Jayeng Praja
menghentikan ceritanya. Kali ini digunakan untuk melihat tanggapan kedua
rekannya. Tapi Ki Ageng Sora maupun Pendekar Tinju Maut tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Dengan sabar mereka menunggu Ketua Perguruan Harimau Terbang
itu melanjutkan ceritanya.
Sebenarnya baik Ki Ageng Sora
maupun Loka Arya sudah dapat menerka kelanjutan cerita Jayeng Praja. Tapi,
mereka tidak mau memotong. Seperti telah sepakat sebelumnya, keduanya memutuskan untuk mendengarkan hingga Jayeng Praja
menyelesaikan kisahnya. Dan Jayeng Praja memang melanjutkan ceritanya ketika
melihat tidak ada tanggapan dari kedua rekannya.
"Beberapa hari yang lalu,
seorang saudagar kaya datang dan meminta putrinya diantarkan ke Kadipaten
Kulon. Putri saudagar itu ingin menjenguk kakek dan neneknya. Karena khawatir
akan keselamatan putrinya, mengingat perjalanan yang sangat jauh, dia tidak
mempercayakan pengawalan itu pada tukang-tukang pukulnya."
Kembali Jayeng Praja menghentikan
cerita. Kini lebih lama dari sebelumnya. Tarikan wajah dan sinar matanya
menyiratkan perasaan terpukul yang sangat.
Ki Ageng Sora dan Pendekar Tinju
Maut tidak mau mengusiknya. Mereka membiarkan. Keduanya tahu tidak ada gunanya
menghibur Jayeng Praja. Kakek tinggi besar itu tidak membutuhkan hiburan.
"Semula saudagar itu meminta
aku sendiri yan mengawal putrinya. Tapi, kuyakinkan bahwa murid-muridku dapat
diandalkan," lanjut Jayeng Praja dengan lirih. "Hhh...! Sedikit pun
tidak kusangka kekhawatiran saudagar itu tenyata beralasan. Dua hari yang lalu
burung merpati putih dengan kain merah di kaki kanannya tiba di perguruanku!
Padahal burung merpati dengan kain kuning baru saja tiba. Itu berarti bahaya
besar tengah menimpa rombongan yang mengawal putri saudagar itu!"
"Tunggu dulu, Jayeng,"
potong Pendekar Tinju Maut cepat. "Burung merpati dengan kain merah di
kaki kanannya?! Aku tak mengerti maksudmu?!"
Jayeng Praja menatap wajah Loka
Arya sejenak. Kemudian beralih pada Ki Ageng Sora. Ketua Perguruan Banteng
Putih itu menganggukkan kepala. Ki Ageng Sora juga tidak mengerti maksud Jayeng
Praja.
"Begini Sora, Loka. Aku
mempunyai cara untuk mengetahui keadaan murid-muridku yang sedang mengadakan
pengawalan. Caranya dengan menggunakan burung merpati yang telah kami latih
untuk kembali ke perguruan meski dilepas dari tempat mana pun."
Jayeng Praja menjelaskan.
Sementara Ki Ageng Sora dan Pendekar Tinju Maut mendengarkan dengan penuh
perhatian.
Rombongan Perguruan Harimau
Terbang yang sedang bertugas kuberi tiga buah pita. Masing-masing berwarna
hijau, kuning, dan merah. Pita itu untuk diikatkan pada kaki burung merpati.
Pita hijau berarti mereka telah sampai di tujuan dengan selamat. Pita kuning
berarti rombongan tengah dihadang bahaya. Sedangkan pita merah menunjukkan
rombongan mengalami kesulitan menghadapi bahaya yang mengancam. Dengan kata
lain, lawan yang dihadapi jauh lebih kuat. Dan di antara mereka ada yang
gugur!"
Ki Ageng Sora dan Pendekar Tinju
Maut tampak mengangguk-angguk. Rupanya mereka telah memahami maksud ucapan
Jayeng Praja.
"Padahal sesaat setelah
kedatangan burung dengan pita kuning, serombongan anggota Perguruan Harimau
Terbang yang memang telah disiapkan untuk berjaga-jaga sudah akan berangkat.
Saat itulah burung berpita merah datang," lanjut Jayeng Praja.
"Jadi..., rombongan cadangan
itu tidak jadi diberangkatkan, Jayeng?!" potong Pendekar Tinju Maut.
"Tentu saja jadi,
Loka!" jawab Jayeng Praja cepat. "Dengan kuda-kuda pilihan yang
tangguh memiliki kecepatan lari mengangumkan rombongan itu berangkat."
"Dan hasilnya... bagaimana,
Jayeng?!" tan Loka Arya tak sabar. "Menyedihkan," jawab Jayeng
Praja dengan suara tersekat di
tenggorokan. Agaknya kakek
berwajah mirip harimau itu masih terpengaruh dengan kejadian itu. "Mereka
semua binasa dalam keadaan menyedihkan. Sedangkan putri saudagar itu lenyap!
Entah bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua ini..!"
"Berdoalah semoga putri
saudagar itu tidak mengalami kejadian apa pun," ucap Ki Ageng Sora ketika
Jayeng Praja telah menyelesaikan ceritanya.
"Yahhh.... Hanya itu yang
dapat kulakukan," sahut Ketua Perguruan Harimau Terbang itu dengan
mendesah. "Telah kuperintahkan sebagian besar murid-murid perguruanku
untuk mencari putri saudagar itu. Tapi hasilnya nol besar! Kami tidak
mendapatkan jejaknya sama sekali!"
"Apakah saudagar itu sudah
tahu kejadian yang menimpa putrinya?" tanya Ki Ageng Sora ingin tahu.
8
Jayeng Praja menggelengkan
kepala.
"Belum. Kami belum
memberitahukannya. Sulit kubayangkan bagaimana tanggapannya. Hhh...! Entah apa
yang harus kulakukan. Kalau harta, mungkin dapat kami usahakan penggantiannya.
Tapi ini nyawa manusia. Bagaimana pertanggungjawabannya?"
Terdengar jelas kegetiran dalam
suara Ketua Perguruan Harimau Terbang itu. Tarikan wajah dan sorot matanya
memancarkan keputusasaan yang dalam. Sementara Ki Ageng Sora dan Pendekar Tinju
Maut saling berpandangan. Mereka sadar tidak ada yang dapat dilakukan untuk
menolong Jayeng Praja.
"Apa kau tahu pelakunya,
Jayeng?!" tanya Pendekar Tinju Maut tidak berusaha menyembunyikan perasaan
geramnya.
Jayeng Praja menggeleng.
"Atau... barangkali kau
punya dugaan siapa pelakunya?" kejar Pendekar Tinju Maut.
Lagi-lagi Jayeng Praja menggeleng
tidak tahu, "Siapa adanya pelaku pembunuhan itu masih gelap bagiku,
Loka," jelas Jayeng Praja. "Orang itu tidak meninggalkan jejak sama
sekali."
"Hm...!"
Pendekar Tinju Maut menggumam.
Tangan kanannya mengelus-elus dagu. Sepasang alisnya berkerut. Tampaknya dia
sedang berpikir keras.
"Mungkinkah itu perbuatan
orang-orang yang sakit hati dengan tindakan kita dulu?!" duga Ki Ageng
Sora tiba-tiba. "Ingat, Jayeng. Kita telah banyak menanam permusuhan di
waktu lalu!"
"Itu bisa saja
terjadi," sambut Pendekar Tinju Maut mendukung. "Hhh...!"
Jayeng Praja menghela napas
berat. Mungkin saja dugaan rekan-rekannya itu benar. Tapi, dia tidak memberikan
tanggapan. Sedangkan Ki Ageng Sora dan Pendekar Tinju Maut tidak berbicara
lagi. Suasana hening pun melingkupi mereka.
Lain halnya yang terjadi pada
kelompok Ki Rawung dengan kepala-kepala desa lain yang menjadi rekannya. Antara
Ki Ageng Sora dan Ki Rawung memang telah sepakat untuk duduk di tempat yang
agak terpisah. Masing-masing ingin berkumpul dengan kawan lama.
Di kelompok Ki Rawung sesekali
terdengar tawa yang cukup memekakkan telinga. Rupanya mereka terlibat percakapan yang
menggembirakan. Demikian pula di tempat para tamu lainnya. Suara tawa sesekali
meningkahi percakapan mereka. Mendadak....
"Ha ha ha...!"
Terdengar rawa keras menggelegar
mengalahkan semua tawa yang ada. Suara tawa itu mampu membuat isi dada orang
yang mendengarnya tergetar hebat.
Seketika itu pula, semua pasang
mata tertuju ke arah asal tawa. Tidak terkecuali Ki Ageng Sora, Pendekar Tinju
Maut, dan Jayeng Praja. Sorot mata ketiga tokoh tua itu memancarkan rasa
terkejut.
Tentu saja semua itu ada
alasannya. Mereka merasakan dadanya agak terguncang oleh tawa itu. Ketiga
lelaki itu pun sadar pemilik tawa itu memiliki tenaga dalam sangat kuat. Itu berarti
seorang yang berkepandaian tinggi. Kalau tidak bermaksud baik tentu merupakan
lawan yang sangat tangguh.
Pemilik tawa itu ternyata berada
di depan perguruan. Entah bagaimana caranya dia masuk. Tahu-tahu sudah berada
di dalam tanpa sepengetahuan murid-murid Ki Ageng Sora yang bertugas menjaga
pintu gerbang. Padahal, saat itu suasana sudah sepi. Tidak ada tamu yang datang
lagi. Tapi mengapa pemilik tawa itu bisa berada di dalam? Kenyataan itu
mengejutkan penjaga-penjaga pintu gerbang. Dengan agak tergesa dua di antara
mereka bergerak menghampiri pemilik tawa.
"Hey! Berhenti! Mengapa
menimbulkan keributan di sini?! Cepat keluar sebelum kupatahkan kakimu!"
ancam seorang murid Perguruan Banteng Putih yang bermulut lebar.
Pemilik tawa itu, yang mengenakan
pakaian putih, menghentikan tawanya. Wajahnya tetap di tundukkan seperti tadi.
Dengan wajah menundu dia berbalik menghadapi dua orang murid Perguruan Banteng
Putih yang menghampirinya.
"Benarkah kalian mampu melakukannya? Kalau begitu,
lakukanlah," sahut sosok berpakaian putih tenang.
***
Sementara itu Ki Ageng Sora
mengernyitkan dahi. Lelaki tinggi kurus itu sedang berpikir. Sepasang matanya
menatap penuh selidik ke arah sosok berpakaian putih. Kelakuan Ketua Perguruan
Banteng Putih rupanya diperhatikan rekan-rekannya Jayeng Praja dan Pendekar
Tinju Maut menjadi heran.
"Mengapa, Sora?! Apa kau
mengenalnya?" tanya Jayeng Praja ingin tahu.
"Entahlah, Jayeng,"
jawab Ki Ageng Sora tidak yakin. "Rasanya aku pernah mendengar suaranya.
Bukan hanya mendengar, tapi kenal betul. Tapi aku lupa, kapan dan di mana"
Jayeng Praja dan Pendekar Tinju
Maut bertukar pandang mendengar jawaban lelaki tinggi kurus itu.
"Ingat-ingatlah, Sora. Coba
perhatikan baik-baik," beritahu Pendekar Tinju Maut, "Aku yakin kau
benar. Kau dan dia saling mengenal. Kau lihat sendiri kan. Orang itu seperti
menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat."
"Yang dikatakan Loka Arya
memang tidak salah, Sora," dukung Jayeng Praja, "Aku juga yakin kau
dan dia saling kenal"
Ucapan rekan-rekannya memaksa Ki
Ageng Sora untuk terus memperhatikan sosok berpakaian putih. Ingin diketahuinya
bagaimana tindakan sosok itu dengan ancaman dua orang muridnya. Syukur jika di
antara mereka terjadi
pertarungan. Barangkali dari gerakannya bisa diketahui siapa sebenarnya sosok
berpakaian putih itu.
Sementara murid Perguruan Banteng
Putih yang berbibir tebal sudah tidak kuat lagi menahan sabar. Tanpa menunggu
lebih lama serangannya yang berupa pukulan bertubi-tubi dilancarkan ke arah
dada sosok berpakaian putih!
"Hmh!"
Sosok berpakaian putih mendengus
melihat serangan itu. Sikapnya jelas memandang rendah serangan lawan. Sosok itu
tidak melakukan tindakan apa pun. Tidak mengelak maupun menangkis! Kesudahannya
sudah dapat diduga.
Bukkk, bukkk, bukkk!
Berturut-turut pukulan lelaki
berbibir tebal mendarat di sasaran yang dituju. Namun hasilnya membuat semua
mata yang menyaksikan terbelalak. Bukan sosok berpakaian putih yang
berteriak-teriak kesakitan, tapi lelaki berbibir tebal.
Murid Perguruan Banteng Putih itu
merasakan betapa kedua tangannya bukan memukul tubuh manusia. Tapi gumpalan
baja keras yang membuat kedua tangannya sakit.
Dan sebelum lelaki berbibir tebal
itu sempat berbuat sesuatu, tangan kanan sosok berpakaian putih berkelebat.
Cepat bukan main. Sehingga yang terlihat hanya sekelebatan bayangan putih.
Bahkan arah yang dituju sukar diketahui. Dan....
Prokkk! "Akh...!"
Lelaki berbibir tebal hanya
sempat mengeluarkan jeritan singkat ketika tangan sosok berpakaian putih
menghantam pelipisnya hingga hancur. Saat itu juga nyawanya melayang
meninggalkan raga.
Tentu saja kejadian yang sangat
mengejutkan itu membuat semua orang yang berada di situ terperanjat. Tak
terkecuali Ki Ageng Sora, Pendekar Tinju Maut, dan Jayeng Praja.
Hanya sosok berpakaian putih yang
bersikap tidak peduli. Tanpa memperhatikan teman murid Perguruan Banteng Putih yang
dibinasakannya, tubuhnya dibalikkan. Dan kakinya melangkah menuju tempat
sepasang mempelai berada.
Saat sosok berpakaian putih
berbalik itulah Ki Ageng Sora melihat wajahnya. Memang hanya sekilas. Tapi itu
sudah cukup baginya. Wajah sosok berpakaian putih itu sangat dikenalnya. Orang
itu adalah...
"Sangkala...!" desis Ki
Ageng Sora kaget.
Tak disangka secepat itu murid
murtadnya kembali, dengan membawa kepandaian menakjubkan!
"Jadi..., dia muridmu yang
murtad itu, Sora.?!" Hampir bersamaan pertanyaan diajukan Pendekar Tinju
Maut dan Jayeng Praja. Ki Ageng Sora memang telah menceritakan perihal
Sangkala.
Begitu mengetahui sosok
berpakaian putih itu Sangkala, Ki Ageng Sora segera mengetahui maksud
kedatangannya. Apalagi kalau bukan untuk membalas dendam? Dan dari tindakannya
tadi, Ki Ageng Sora tahu tingkat kepandaian Sangkala telah meningkat berlipat
kali hanya dalam waktu singkat. Entah bagaimana cara Sangkala mempelajarinya.
Ki Ageng Sora tidak mampu menduga.
***
Melihat Sangkala menghampiri
Ranjita dan Trijati, Ki Ageng Sora khawatir bukan main. Ada bahaya besar tengah
mengancam keselamatan anak dan menantunya. Maka tanpa pikir panjang lagi, ia
itu melompat dari tempat duduknya. Lelaki tinggi kurus itu bersalto beberapa
kali sebelum meluruk turun sambil melancarkan serangan berupa cengkeraman ke
kepala Sangkala. Gerakannya seperti burung garuda menyambar mangsa.
Melihat serangan itu, Sangkala terpaksa mengurungkan maksudnya mendekati
Trijati dan Ranjita. Jika dia bersikeras meneruskan maksudnya, sebelum
tercapai, cengkeraman Ki Ageng Sora akan lebih dulu tiba. Sangkala tidak
menginginkan hal itu terjadi. Pemuda itu tahu betapa dahsyatnya serangan itu.
Cengkeraman Ki Ageng Sora mampu meng-hancurkan batu karang yang paling keras.
Bisa dibayangkan bila mengenai kepala manusia!
Tapi meskipun demikian, Sangkala
tidak gentar. Tanpa ragu-ragu dipapakinya serangan itu dengan sampokan kedua
tangannya.
Prattt, prattt! "Aikh...!"
Jeritan kaget bercampur kesakitan
keluar dari mulut Ki Ageng Sora, ketika tangannya berbenturan dengan tangan
Sangkala. Jari-jari tangannya terasa sakit. Bahkan untuk beberapa saat seperti
lumpuh. Yang lebih gila tubuh Ki Ageng Sora terpental jauh ke belakang! Padahal
Sangkala sedikit pun tidak bergeming. Itu menunjukkan tenaga dalam murid murtad
Perguruan Banteng Putih itu berada jauh di atas gurunya.
Tentu saja kejadian itu tidak
hanya mengejutkan Ki Ageng Sora. Tapi juga semua yang hadir dan mengenal
Sangkala. Tidak salahkah penglihatan mereka? Benarkah Ki Ageng Sora terjengkang
karena berbenturan dengan Sangkala, bekas muridnya? Benarkah hanya dalam
beberapa bulan pemuda berwajah bopeng itu telah menjadi orang yang demikian
hebat? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu
membebani benak mereka. Tidak terkecuali Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut.
Justru mereka berdua yang mengalami keterkejutan paling besar. Mereka adalah
ahli-ahli silat yang berpengalaman luas. Karenanya mereka tahu tidak mungkin
Sangkala dapat melampaui Ki Ageng Sora, meskipun mendapat guru yang sangat
pandai.
Lagi pula, mana mungkin dalam
waktu yang sangat singkat mampu memiliki tenaga dalam melebihi Ketua Perguruan
Banteng Putih. Ki Ageng Sora bukan tokoh sembarangan. Dia merupakan tokoh
tingkat tinggi golongan putih! Walaupun tidak termasuk datuk, tapi tidak mudah
menemukan tokoh yang berkepandaian setingkat dengannya. Namun kenyataannya
dalam benturan tenaga Sangkala lebih unggul! Adakah yang salah? Atau...
jangan-jangan Ki Ageng Sora tidak mengerahkan seluruh tenaganya!
Mereka tidak tahu Ki Ageng Sora
sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kini Ketua Perguruan Banteng Putih
itu tidak gegabah lagi melancarkan serangan. Dia sadar Sangkala telah memiliki
kepandaian tinggi. Entah dengan cara bagaimana!
Sementara itu, begitu melihat
tubuh Ki Ageng Sora terlempar, murid-murid Perguruan Banteng Putih yang
berdatangan karena mendengar bunyi ribut-ribut langsung bergerak melancarkan
serangan. Tapi...
"Tahan...! Kalian jangan turun tangan! Biar aku yang
mengurusnya. Dia bukan Sangkala yang kalian kenal! Dengan mudah akan
dibantainya kalian semua!" cegah Ki Ageng Sora buru-buru.
Murid-murid Perguruan Banteng
Putih pun mengurungkan maksudnya. Bukan takut pada Sangkala karena belum
merasakan kelihaiannya. Tapi karena patuh pada guru mereka.
"Ha ha ha...!"
Sangkala tergelak. Pemuda itu
tidak gentar meskipun tahu tidak ada jalan keluar meninggalkan tempat itu.
Bahkan pemuda berwajah bopeng itu memandang rendah lawan-lawannya.
Melihat hal itu, Ki Ageng Sora
tidak sanggup lagi menahan sabar. "Murid laknat! Bila tidak dapat membunuhmu,
lebih baik aku mati
bunuh diri! Hih!"
Baru saja ucapannya lenyap, Ki
Ageng Sora segera melancarkan serangan. Ketua Perguruan Banteng Putih itu
membuka serangan dengan tendangan kaki kanan lurus ke arah pusar.
Wuttt!
Hanya dengan mendoyongkan tubuh ke kiri dan tanpa memindahkan kaki, Sangkala berhasil
menggagalkan serangan gurunya. Kaki Ki Ageng Sora meluncur beberapa jari di
sebelah kanan Sangkala.
Tapi, serangan Ki Ageng Sora
tidak berhenti sampai di situ. Kegagalan serangan pertamanya sudah diperhitungkan.
Maka begitu Sangkala berhasil mengelak, segera disusuli dengan serangan
berikutnya. Sadar akan kelihaian bekas muridnya, Ki Ageng Sora tidak ragu-ragu
lagi mengerahkan seluruh kemampuannya. Hebat bukan main serangan-serangan
lelaki tinggi kurus itu. Bunyi menderu, dan mendecit mengiringi bergeraknya
tangan serta kakinya. Susul-menyusul hampir tiada henti seperti gelombang laut.
Meskipun demikian Sangkala mampu
meredam semua serangan lawan. Lincah bagai kera dan gesit laksana bayangan,
Sangkala mengelakkan semua serangan. Itu dilakukannya seperti tanpa mengalami
kesulitan sedikit pun.
"Mengingat kau pernah
menjadi guruku, kuberi kesempatan padamu untuk menyerangku sebanyak sepuluh
jurus. Pergunakanlah sebaik-baiknya, Ki Ageng Sora," ujar Sangkala di
sela-sela kesibukannya mengelakkan serangan.
"Tutup mulutmu. Manusia
Jahanam!" maki Ki Ageng Sora sangat geram.
Akibatnya, serangan-serangan yang
dilancarkannya semakin dahsyat. Itu terjadi karena kemarahannya. Ucapan
Sangkala menunjukkan pemuda itu memandang rendah dirinya. Ki Ageng Sora
tersinggung dan marah besar!
Namun meskipun Ki Ageng Sora menguras seluruh
kemampuannya, tetap saja semua serangannya berhasil dielakkan Sangkala. Sikap
sombong pemuda berwajah bopeng itu memang beralasan. Pemuda itu sempat
berbicara di saat serangan Ki Ageng Sora datang bertubi-tubi, membuktikan
serangan-serangan itu tidak merepotkannya.
Jurus demi jurus berlalu. Tak
terasa sudah sepuluh jurus Ki Ageng Sora melancarkan serangan. Dan selama itu
tak satu pun yang mengenai sa-saran.
"Sekarang
giliranku...!" ujar Sangkala memperingatkan. "Bersiap-siaplah, Ki
Ageng Sora! Ketahuilah, aku tidak ragu untuk membunuhmu!"
"Tutup mulutmu,
Jahanam!"
Makian penuh kegeraman menyambut
ucapan Sangkala. Ditambah dengan sebuah tendangan kaki kanan ke arah leher!
"Hmh!"
Sangkala mendengus melihat
serangan itu. Tidak terlihat tanda-tanda dia akan mengelak. Sangkala telah siap
melaksanakan maksudnya. Itu terjadi kemudian. Begitu kaki Ki Ageng Sora
menyambar dekat, dengan kecepatan yang sukar diikuti mata Sangkala menggerakkan
tangan kanannya. Dan…
Tappp! "Hehhh?!"
Ki Ageng Sora memekik kaget
melihat pergelangan kakinya dicekal lawan. Tahu ada bahaya besar mengancam
kakinya buru-buru ditarik agar lepas dari cekalan.
Kembali Ki Ageng Sora dilanda
kaget. Jangankan menarik, membuat bergeming pun tidak mampu. Kakinya seperti
terjepit catut baja!
"Ha ha ha...!"
Sangkala tertawa bergelak melihat
wajah Ki Ageng Sora yang merah padam karena mengerahkan seluruh tenaganya.
Masih dengan tawa yang belum putus, Sangkala menggerakkan jari-jari tangannya
meremas.
Krrrkkk! "Aaakh...!"
Ki Ageng Sora tidak mampu menahan
jerit kesakitan ketika tulang kakinya hancur di remas Sangkala.
Tindakan Sangkala tidak berhenti
sampai di situ. Tangannya disentakkan. Tak pelak lagi tubuh Ki Ageng Sora
terhuyung ke arahnya. Padahal, Ki Ageng Sora telah berusaha menahan. Tapi
lelaki tinggi kurus itu tidak mampu. Di saat tubuh Ki Ageng Sora melayang, tangan
kanan Sangkala bergerak menghentak ke depan!
Wuttt! Prakkk!
"Akh...!"
Hanya jeritan pendek yang dapat
dikeluarkan Ki Ageng Sora. Tubuhnya ambruk ke tanah dengan tulang pelipis
hancur! Tragis sekali kematian Ketua Perguruan Banteng Putih itu!
Rentetan kejadian itu berlangsung
demikian cepat. Tidak seorang pun sempat berbuat sesuatu. Mereka baru sadar
ketika tubuh Ki Ageng Sora telah ambruk ke tanah.
"Biadab!"
Hampir bersamaan bentakan keras
itu dikeluarkan Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut. Seiring dengan teriakan
itu keduanya melesat dari tempat duduk.
Cepat gerakan kedua kawan Ki
Ageng Sora itu, tapi masih lebih cepat tindakan murid-murid Perguruan Banteng
Putih! Diawali teriakan-teriakan kemarahan mereka menyerang Sangkala. Tempat
yang lebih dekat dengan Sangkala memungkinkan serangan mereka tiba lebih dulu
dari Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut.
Karena murid-murid Perguruan
Banteng Putih menggunakan senjata dan menyerang serempak, tak pelak lagi hujan
senjata meluruk ke berbagai bagian tubuh Sangkala. Tapi dengan kecepatan gerak
luar biasa, Sangkala menyelinap di antara sambaran senjata lawan Serangan
murid-
murid Perguruan Banteng Putih
mengenai tempat kosong! Dan dengan lihai Sangkala melesat keluar dari kepungan.
Pemuda yang diamuk dendam itu
melangkah tenang menghampiri Ranjifa dan Trijati. Karuan saja Ranjita kelabakan
bukan main. Bahaya maut sedang mengancamnya. Sementara Trijati sudah tak
sadarkan diri di bangku pengantinnya. Rupanya guncangan batin melihat kematian
ayahnya di depan mata terlalu berat untuknya
Tapi sebelum Sangkala berhasil
melaksanakan maksudnya pada Ranjita yang telah bersiap-siap mengadakan
perlawanan mendadak....
Jliggg!
Jayeng Praja dan Pendekar Tinju
Maut telah berada di depannya. "Manusia Iblis! Orang seperti kau tidak
pantas dibiarkan hidup!"
geram Jayeng Praja.
Sangkala tersenyum mengejek.
Diperhatikannya Jayeng Praja dan Pendekar Tinju Maut sesaat.
"Pakaian dan gambar macanmu
mengingatkan aku pada orang-orang yang menjadi korban pertamaku. Apa kau
mempunyai hubungan dengan mereka?!"
"Ahhh...!" Jayeng Praja
berseru kaget. Sungguh tidak disangka akan bertemu penjagal murid-muridnya.
"Jadi..., kau yang telah
melakukan tindakan keji itu?! Kau telah membunuh murid-muridku. Manusia Biadab!
Sekarang katakan di mana ga-dis yang mereka kawal?!"
"Ooo.... Jadi mereka
murid-muridmu? Lalu siapa gadis yang ada di dalam kereta? Anakmukah?!"
ejek Sangkala tenang. "Sayang dia tidak cukup kuat melayaniku sampai puas.
Maka...."
"Jahanam! Mampus kau!"
Krrrkkk!
"Aaakh...!" Jerit Ki
Ageng Sora tidak mampu menahan sakit ketika tulang kakinya hancur diremas
Sangkala. Lalu, Sangkala masih menyentakkan tangannya ke depan…
Wuttt! Prakkk!
"Akh!" tubuh Ki Ageng
Sora ambruk ke tanah!
Tanpa menunggu Sangkala
menyelesaikan ucapannya, Jayeng Praja melancarkan serangan dengan geram. Tidak
mendengar secara lengkap pun sudah dapat diduga nasib putri saudagar itu.
Mati!
Melihat Jayeng Praja telah
menyerang, Pendekar Tinju Maut tidak tinggal diam. Dia pun melakukan hal yang
sama. Sebab Jayeng Praja tidak akan mampu menghadapi Sangkala sendiri. Tingkat
kepandaian Ketua Perguruan Harimau Terbang itu setingkat dengan Ki Ageng Sora.
Tapi rupanya Sangkala tidak
berminat untuk bertarung. Pemuda itu tidak menyambut serangan lawan-lawannya.
Kakinya digenjot sehingga tubuhnya melayang ke atas melewati kepala kedua
penyerangnya. Begitu kakinya mendarat di tanah, Sangkala melesat ke arah
Trijati. Jelas, pemuda itu mengincar putri Ki Ageng Sora.
Ranjita pun tidak bisa tinggal
diam. Pemuda itu tidak ingin istrinya mengalami nasib serupa dengan Wulan dan
Widuri. Maka dengan berani
dihadangnya Sangkala. Disambutnya
kedatangan pemuda berwatak bejat itu dengan tusukan goloknya.
Namun hadangan itu tidak membuat
Sangkala mengurungkan maksudnya. Ditangkapnya golok Ranjita. Hanya dengan
sekali sentak tubuh Ranjita dilemparkan. Lalu dengan secepat kilat meluncur ke
arah Trijati. Dan....
Tappp!
Begitu tubuh putri Ki Ageng Sora
berhasil ditangkap, Sangkala melesat meninggalkan tempat itu. Tentu saja Jayeng
Praja, Pendekar Tinju Maut, murid-murid Perguruan Banteng Putih, dan yang
lainnya tidak membiarkan hal itu terjadi. Mereka segera menghadang.
Tapi kejadian sebelumnya terulang
kembali. Dengan mudah Sangkala berhasil meloloskan diri. Lalu, dengan beberapa kali
lesatan, pemuda berwatak bejat itu telah berada di luar bangunan Perguruan
Banteng Putih.
Meskipun demikian, Sangkala tidak
mengendurkan larinya. Pemuda itu terus melesat dengan kecepatan tinggi.
Sehingga dalam waktu singkat bangunan Perguruan Banteng Putih telah jauh
ditinggalkan. Baru setelah itu Sangkala mengendurkan larinya. Mendadak....
"Berhenti...!"
Terdengar bentakan keras.
Menggelegar laksana sambaran halilintar. Bentakan itu dikeluarkan dengan
pengerahan tenaga dalam tinggi. Tapi bukan Sangkala kalau menjadi gentar.
Dengan berani pemuda
itu menghentikan langkah. Lalu
berbalik untuk melihat orang yang telah mengeluarkan bentakan itu.
Empat tombak di depan Sangkala
berdiri dua orang muda-mudi. Yang gadis mengenakan pakaian putih dan berambut
panjang. Sedangkan orang yang berdiri di sebelahnya seorang pemuda berambut
putih keperakan. Pakaian ungu membungkus tubuhnya yang kekar. Siapa lagi kalau
bukan Dewa Arak dan Melati.
"Cepat serahkan wanita itu,
Manusia Biadab!" tegas Dewa Arak lantang.
"Lagi-lagi kalian,"
sahut Sangkala tersenyum mengejek, "Kuberi kesempatan pada kalian pergi
dari sini sebelum aku merubah keputusan! Cepat! Atau kalian ingin mengalami
nasib yang sama dengan rombongan yang kalian temukan di hutan beberapa hari
lalu?!"
Dewa Arak dan Melati langsung
bertukar pandang mendengar ucapan itu. Mereka sungguh tidak menyangka orang
yang menculik mempelai perempuan ternyata orang yang melakukan tindak kekejian
terhadap gadis yang telah mereka kuburkan!
Dewa Arak dan Melati telah
mengetahui Sangkala menculik mempelai wanita. Di perjalanan mereka bertemu
dengan rombongan Jayeng Praja yang melakukan pengejaran.
"Jadi..., kau penjahat
terkutuk itu?!" desis Melati geram. "Kalau begitu, mampuslah!"
Wuttt!
Bunyi deru angin keras terdengar
ketika Melati melancarkan serangan. Tangan kanannya yang terkembang membentuk cakar diluncurkan ke arah ulu hati
Sangkala. Dalam cekaman kemarahan yang menggelegak, Melati mengeluarkan ilmu
'Cakar Naga Merah' andalannya.
"Ah!"
Sangkala berseru kaget melihat tangan Melati, sebatas
pergelangan, merah seperti darah. Sekali lihat saja dia tahu kepandaian gadis
berpakaian putih itu lebih tinggi dari Ki Ageng Sora. Maka Sangkala tidak
berani bertindak main-main.
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi,
dipapakinya serangan Melati dengan pengerahan seluruh tenaga dalamnya. Dan...
Prattt!
Terdengar bunyi keras ketika dua
tangan yang mengandung tenaga dalam tinggi berbenturan. Tubuh Melati
terjengkang ke belakang. Sedangkan Sangkala terhuyung mundur selangkah. Ini
menunjukkan tenaga dalam bekas murid Ki Ageng Sora itu lebih tinggi dari lawan.
Jliggg!
Begitu berhasil mendaratkan kaki
di tanah, Melati segera bersiap melancarkan serangan berikutnya. Tapi,
maksudnya terpaksa diurungkan ketika Dewa Arak menyentuh lengannya.
"Biar aku yang
menghadapinya, Melati. Dia terlalu kuat untukmu," ujar Dewa Arak lembut.
Lalu tanpa menunggu tanggapan Melati, Dewa Arak melangkah maju. Guci araknya
yang tergantung di punggung segera diambil dan dituangkan ke mulutnya.
Gluk.... Gluk... Gluk...!
Terdengar bunyi tegukan ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian kedudukan kaki pemuda
berambut putih keperakan itu tidak jejak lagi. Oleng ke kanan dan kiri. Ilmu
'Belalang Sakti'nya telah siap dipergunakan!
Sementara itu Sangkala sadar
lawannya kali ini jauh lebih pandai dari gadis berpakaian putih. Disadari pula
Dewa Arak telah menggunakan ilmu andalan. Maka, tubuh Trijati dilemparkan ke
tanah. Lalu pemuda berwajah berbopeng itu mempersiapkan jurus 'Kelelawar'!
Diam-diam Sangkala menyesal telah
memberitahukan dirinya pelaku tindak kekejian terhadap gadis berpakaian hijau.
Itu membuatnya terlibat dalam keributan dengan tokoh-tokoh tingkat tinggi di
saat dirinya tidak ingin bertarung. Tapi, nasi telah jadi bubur. Tidak ada
jalan lain kecuali bertarung. Dan itulah yang dilakukan Sangkala sekarang.
"Cit, cit, cit!"
Diiringi bunyi berdecit nyaring
dan gerakan tangannya, Sangkala melompat menerjang Dewa Arak. Ketika berada di
udara, tangan kanannya disampokkan ke pelipis lawan.
Wuttt!
Hanya dengan merendahkan tubuh ke
kanan. Dewa Arak berhasil membuat serangan itu mengenai tempat kosong. Sampokan
Sangkala lewat beberapa jengkal di atas kepala. Dan karena kuatnya tenaga yang
terkandung dalam serangan itu, rambut dan pakaian Arya berkibaran keras.
Kegagalan serangan pertamanya
membuat Sangkala penasaran. Maka serangan-serangan susulannya pun semakin
dahsyat. Tapi, Dewa Arak sanggup memunahkan. Bahkan serangan balasan yang
dikirimkan pemuda berambut putih keperakan itu tidak kalah dahsyat. Pertarungan
sengit dan menarik antara dua tokoh muda yang berkepandaian tinggi itu pun
tidak bisa dielakkan lagi.
Hebat bukan main pertarungan yang
terjadi. Bunyi mendecit, menderu, dan mengaung menyemaraki jalannya
pertarungan. Ditambah dengan bunyi tegukan ketika Dewa Arak menenggak araknya
di sela-sela berlangsungnya pertempuran.
Jurus demi jurus berlangsung
cepat Kedua belah pihak memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan Dewa Arak dan
Sangkala memang menitikberatkan pada ilmu meringankan tubuh. Tak terasa
pertarungan telah berlangsung lebih dari seratus jurus. Dan selama itu belum
tampak tanda-tanda pihak yang akan menang. Pertarungan masih berlangsung seimbang.
Kenyataan itu membuat Sangkala
gelisah. Dewa Arak terlalu tangguh untuk dapat dirobohkan. Lagi pula, andaikan
dapat pun membutuhkan waktu yang lama. Padahal, dia tidak ingin berlama-lama di
tempat itu. Sebab keadaannya tidak menguntungkan. Bila Melati turun tangan,
atau rombongan pengejar Perguruan Banteng Putih tiba dan menge-royoknya, dia
bisa celaka. Pemikiran ini menyebabkan Sangkala memutuskan untuk melarikan
diri. Dan kesempatan untuk itu tiba. Itu terjadi pada jurus keseratus dua puluh
tiga.
"Hih!"
Sangkala melemparkan tubuhnya ke
belakang dengan bersalto beberapa kali. Lalu berbalik dan melesat kabur. Dewa
Arak yang sudah bertekad melenyapkan Sangkala tidak membiarkan hal itu. Arya
melesat
mengejar. Pada malam yang mulai
beranjak dini hari itu pun terjadi kejar-mengejar.
Melihat hal itu, Melati tidak
tinggal diam. Gadis itu ikut mengejar setelah menyambar tubuh Trijati dan
meletakkannya di bahu kanan. Sementara itu Dewa Arak berusaha keras menyusul
Sangkala. Tapi jarak antara mereka tidak berubah. Agaknya ilmu lari cepat
mereka berimbang. Hingga....
Srakkk!
Sangkala menyelinap ke balik
rimbunan semak-semak dan pepohonan. Tapi tanpa ragu sedikit pun Dewa Arak turut
menerobos.
Namun kenyataan yang dilihatnya membuat Dewa Arak
tercengang. Sangkala tidak dijumpai ada di situ. Padahal di balik jajaran semak
dan pepohonan terdapat tanah lapang yang membentang luas.
Mengapa Sangkala tidak terlihat
lagi? Apakah pemuda berwajah bopeng itu menghilang? Kalau dia terus berlari,
tentu akan terlihat oleh Arya. Karena jarak mereka sejak tadi tetap lima
tombak.
Rasa penasaran membuat Dewa Arak
mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Bahkan Arya memeriksa semak-semak
dan pepohonan yang hanya sedikit. Tapi tetap saja tidak dijumpai sosok
Sangkala. Yang dijumpai pemuda berambut putih keperakan itu hanya beberapa ekor
kelelawar yang hinggap di salah satu cabang pohon. Tidak ada lagi yang lain.
Saat itulah Dewa Arak melihat Melati di kejauhan tengah berlari ke arahnya.
"Bagaimana, Kakang?!"
tanya gadis berpakaian putih itu ketika telah berada di dekat Arya.
"Dia menghilang begitu
menyelinap ke balik semak-semak ini, Melati," jawab Arya lesu.
"Ah...! Begitukah?!"
Melati tampak agak terkejut. "Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?"
Dewa Arak tercenung sebentar
seperti sedang berpikir. "Kurasa lebih baik kita kembalikan dulu gadis itu
kepada keluarganya. Bagaimana, setuju?!"
Melati mengangguk diikutinya
langkah kekasihnya yang telah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Dewa Arak dan
Melati sungguh tidak tahu seekor kelelawar memperhatikan kepergian mereka.
Kelelawar itu adalah penjelmaan Sangkala!
Apakah tindakan Sangkala
selanjutnya? Bagaimana dengan pembalasan dendamnya? Dan bagaimana Sangkala
dapat memiliki ilmu-ilmu mukjizat hanya dalam beberapa bulan? Siapa tokoh yang
menjadi guru Sangkala? Semua pertanyaan itu akan terjawab dalam episode
'Penjarah Perawan' yang merupakan lanjutan episode ini.
SELESAI
No comments:
Post a Comment