EMPAT
DEDENGKOT PULAU KARANG
oleh Aji Saka
l
"Auuung...!"
Lolong anjing hutan terdengar
membelah kesunyian malam. Begitu menyayat hati, seakan-akan mengisyaratkan akan
terjadi sesuatu. Lolongan itu terusterbawaangin,sehinggasampaiketelingaempat
sosok yang tengah bersila di dalam ruangan sebuah bangunan tua di kaki bukit.
Bagai diperintah, empat sosok
tubuh yang semuanya laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun,
salingberpandangan.Tampakadasorotkeheranan,baik pada tarikan wajah maupun sorot
mata mereka.
"Aneh!Aku seperti merasakan
adanya keanehan dalamlolongananjinghutankaliini.Atau...,akuyang
terlalu berprasangka...,"
desis kakek pendek kekar bertelanjang dada, pelan.
"Lho?! Mengapa dugaan kita
bisa sama, Malaikat Pisau?" sambut kakek yang bertubuh kurus terbalut
pakaian kuning, sambil menatap wajah kakek pendek kekar, penuh rasa heran.
KakekpendekkekaryangternyataberjulukMalai-kat
Pisau menatap wajah kakek kecil kurus itu lekat-lekat. Tidak aneh kalau kakek
itu berjuluk Malaikat Pisau. Karena di bagian dadanya tampak bertengger jajaran
pisau-pisau mengkilat Dan sepak terjangnya juga bagaikan malaikat maut.
"Suatu hal yang aneh kalau
kita bisa mempunyai dugaan sama, Pendekar Tangan Sakti," desah Malaikat
Pisau pada kakek kecil kurus yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti.
"Mungkinkah ini pertanda buruk?"
"Bagaimana dengan kau,
Lodra? Petani Maut?!" tanyaPendekarTanganSaktiserayamenolehkearahdua sosok
lainnya.
Kakekyangberpakaianlusuhberwarnaabu-abudan
berkulit hitam kecoklatan, serta mengenakan sebuah caping bambu, hanya
mengangkat bahu.
"Rasanya sulit untuk
memberikan tanggapan, karena aku tidak merasakan seperti yang kalian
rasakan," jawab kakek berkulit hitam, kalem. Menilik ciri-cirinya, dialah
yang berjuluk Petani Maut
"Kalau menurut pendapatku,
untuk apa memperasalahkanhalitu?Pertemuankitaditempatini hanyalah untuk
mempererat persahabatan yang telah dibina sejak belasan tahun lalu, dan untuk
melihat kemajuanmasing-masing,"sergahkakekyangterakhir, yang dipanggil
Lodra.
Kakek yang nama panjangnya Sima
Lodra itu mempunyai ciri-ciri paling angker dibanding ketiga orang kawannya.
Tubuhnya tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat. Rambutnya hitam, panjang, dan
bergelombang.Cambangbauklebatyangmenghiaswajah, semakin menambah keangkerannya.
"Misalkan saja, dugaan
kalian berdua benar," lanjutSimaLodra,sambilmenatapberganti-gantiwajah
Malaikat Pisau dan Pendekar Tangan Sakti. "Lalu, mengapa perlu
dipusingkan? Toh, kita bukan tokoh
sembarangan.Andaikatabenaritusuatubahaya,mengapa
mesti takut menghadapinya?"
MalaikatPisaudanPendekarTanganSaktisaling
berpandangan sejenak sebelum menganggukkan kepala. Sedangkan Petani Maut sama
sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa pada wajahnya.
"Terimakasihatasnasihatmu,Lodra.Kaubenar.
Tidak selayaknya bersikap seperti itu. Aku terbawa perasaan...," ucap
Malaikat Pisau malu-malu.
Sima Lodra hanya mengangkat bahu.
"Bagaimana? Bisakah acara
ini dilanjutkan?!" desak Petani Maut tak sabar.
"Ha ha ha...!"
Tawa ketiga orang rekannya
seketika meledak. "Kau benar, Petani Maut! Kami pun sudah tidak
sabarlagiuntukmelihatkemajuanilmuyangkaumiliki!
Ingin kulihat kehebatan permainan tudung dan cangkulmu!" sambut Sima
Lodra, keras.
"Ah! Mana bisa dibandingkan
dengan jurus 'Harimau'yangkaumiliki,Lodra?!"sahutPetaniMaut, merendah.
"Tapi sehebat-hebatnya jurus
'Harimau'ku, tak akan berarti apa-apa bila menghadapi ilmu 'Tinju
Angin'PendekarTanganSakti,"kelitSimaLodrasambil mengerling ke arah kakek
kecil kurus.
PendekarTanganSaktimengarahkanpandanganke
arah Sima Lodra dan Petani Maut berganti-ganti.
"Tidakkahkalianmendengarkehebatanpermainan
pisau dari Malaikat Pisau?! Dengan pisau-pisaunya jangankan aku, nyamuk pun
tidak akan lolos dari kematian!"
MalaikatPisaumenggelengkan-gelengkankepala.
"Kau keliru, Pendekar Tangan Sakti! Apa sih,
artinya sebuah pisauku jika
dipakai untuk menghadapi tudung dan cangkul Petani Maut?! Tidak akan berarti
apa-apa!"kakekpendekkekarinitidakkalahmerendah.
"Ha ha ha...!"
Terdengar suara tawa keras
menggelegar dari mulutSimaLodra.Rupanya,kakektinggibesarinigemar tertawa.
Tawanya pun terdengar menggiriskan, mirip auman harimau!
Semula suara tawa keempat tokoh
persilatan aliranputihituterdengarbegitukeras,bagaihendak meruntuhkan bangunan
yang mereka tempati. Apalagi dalam suara tawa itu terkandung tenaga dalam.
Dan semakin lama, suara tawa itu
semakin mengecil. Sampai akhirnya, lenyap sama sekali. Dan
kinisuasanasekitartempatitupunsunyisepiseperti mati.
Tapi sebelum keempat orang kakek
sakti itu berbuatsesuatu,terdengarsebuahtawakerasmenggele-gar,namunbukandarisalahseorangdiantaramereka.
"Ha ha ha...!"
Kerasbukankepalangtawaitu,sehinggamembuat
dinding-dindingdanatapbangunanbergetarhebatbagai
terjadigempa.Jelas,tawaitudikeluarkandarimulut orang-orang bertenaga dalam
tinggi.
Bagai diberi perintah, Pendekar
Tangan Sakti, Petani Maut, Malaikat Pisau, dan Sima Lodra serentak melesat
keluar. Memang, dari sanalah suara itu
berasal.Cepatlaksanakilatgerakanmereka,sehingga
yangterlihathanyalahkelebatbayanganyangtakjelas bentuknya.
Begitu menginjakkan kaki di luar
bangunan, keempat kakek sakti itu segera melihat pemilik suara tawa keras
menggelegar tadi.
Sekitar tiga tombak di depan
Pendekar Tangan Sakti, Petani Maut, Malaikat Pisau, dan Sima Lodra, berdiri
empat sosok tinggi besar berkulit hitam. Pakaianyangdikenakansamadenganwarnakulit.Bahkan
rambut mereka keriting semuanya.
Pendekar Tangan Sakti, Malaikat
Pisau, Petani Maut, dan Sima Lodra saling berpandangan sejenak. Meskipun
demikian, langsung bisa diketahui kalau ada sebuah pertanyaan yang bergayut di
dalam hati masing-masing. Salah satu di antara mereka ternyata tidak ada yang
mengenal empat sosok berpakaian hitam itu.
"Siapakah di antara kalian
yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti?" tanya salah seorang yang dahinya
terdapat sebuah codet. Suaranya keras mengguntur, tak kalah dengan suara Sima
Lodra.
"Aku!"jawabPendekarTanganSaktimantapsambil
melangkah setindak.
Laki-laki bercodet itu menatap
wajah Pendekar Tangan Sakti penuh selidik. Seakan-akan, dia tengah menilai
dengan sinar matanya.
"Kalau begitu..., tiga orang
yang berada bersamamu ini pasti Sima Lodra, Malaikat Pisau, dan Petani
Maut," tebak laki-laki berhidung gerumpung.
"Dugaanmu tidak salah,
Kisanak! Sekarang kami yang ganti bertanya. Siapakah Kisanak semua?" Sima
Lodra yang menyambuti pertanyaan itu.
Lantang dan mantap suara Sima
Lodra. Sikapnya terlihat gagah. Apalagi sambil berkata demikian, kakinya
melangkah maju dengan dada dibusungkan.
"Kami memang tidak tersohor
seperti kalian berempat. Karena, kami memang tidak suka nama. Kami
berasaldarisebuahperguruanyangterletakdisebuah pulau yang jauh dari sini.
Kedatangan kami sengaja untukmeluaskanpengalaman.Makakamiinginmengadakan
pertarungan melawan tokoh-tokoh persilatan yang
mempunyaikepandaiantinggi.Dankamidengardipulau ini banyak tokoh sakti. Salah
satu tokoh yang kami kenal ciri-cirinya adalah Pendekar Tangan Sakti. Dan
menurutkabar,PendekarTanganSaktiselalumengadakan
pertemuandengantigaorangtemannyayangbernamaSima
Lodra,MalaikatPisau,danPetaniMaut.Untunglahpada saat yang tepat, kami bisa
bertemu kalian berempat. Maka,kalianberempatlahpilihanpertamakami.Berilah kami
pelajaran!" jelas salah seorang yang berwajah bopeng.
"Tapi sebelum pertarungan
berlangsung, kami akanmengenalkandiri,"sambunglainnyayangberbibir tebal.
"Aku Bandawasa!"
"Namaku Janaka," sebut
laki-laki berwajah bopeng.
"Aku Mahesa," sambung
laki-laki berhidung ge-rumpung.
"Mahadewa," sebut
laki-laki bercodet, tak ketinggalan.
PendekarTanganSakti,PetaniMaut,MalaikatPi-sau,danSimaLodratersenyumlebar.Legarasanyahati
mereka ketika mengetahui tidak
ada persoalan dengan keempat orang berpakaian hitam itu.
"Tapiperlukalianketahui,"sambungMahadewa.
"Meskipunpertarungannantitanpapersoalan,tapikami akan mengerahkan seluruh
kemampuan. Jadi, keluarkanlah kemampuan kalian. Jangan
sungkan-sungkan,karenabukantidakmungkindiantara kita ada yang tewas!"
Petani Maut, Pendekar Tangan
Sakti, Malaikat Pisau, dan Sima Lodra saling berpandangan. Mereka
tahu,Mahadewabermaksudbaik.Tapimeskipundemikian, tetap saja keempat tokoh
persilatan aliran putih ini tersinggung, karena merasa diremehkan.
"Kamitidakbutuhnasihatmu,Mahadewa!Kamitahu
apa yang harus dilakukan!" tandas Sima Lodra keras.
Memang,dialahyangpalingberangasandibandingketiga orang kawannya.
"Kalau begitu, bersiaplah
kalian!" Bandawasa memberi peringatan.
Serentak keempat orang berpakaian
hitam itu berpencar. Dan kelihatannya pertarungan tidak bisa dielakkan lagi.
Maka Pendekar Tangan Sakti dan rekan-rekannya pun bergerak menyebar pula.
"Haaat...!"
Diiringiteriakankerasmenggelegar,Mahadewa,
Janaka, Mahesa, dan Bandawasa
meluruk ke arah lawan masing-masing. Maka Pendekar Tangan Sakti dan ketiga
orang kawannya langsung menyambut. Sesaat kemudian, pertarungan pun
berlangsung.
Janaka ternyata tidak berbohong
sewaktu mengatakan kalau dia dan rekan-rekannya berasal dari satu perguruan.
Jelas kalau dari gerakan menunjukkan bahwa mereka berasal dari satu aliran.
Dasar-dasar, gerakan,dankuda-kudamenunjukkankemiripansatusama lain. Yang
menyebabkan adanya perbedaan pada gerakan-gerakan mereka hanya terlihat dari
bakat masing-masing saja.
"Hiyaaat..!"
Bandawasa membuka serangan dengan
sebuah pukulanluruskearahdadakiriPendekarTanganSakti.
Deruanginkerasmengiringitibanyaserangannya.Namun Pendekar Tangan Sakti tak
gugup melihat serangan
lawan. Maka, buru-buru kakinya
melangkah ke kanan sambil mendoyongkan tubuh. Dan ternyata serangan itu
mengenaitempatkosong,beberapajaridisebelahkiri Pendekar Tangan Sakti.
Tapitindakankakekkecilkurusinitidakhanya
sampai di situ saja. Cepat laksana bayangan, tangan kirinyameluncurcepatkearahrusuk.Gerakannyasama
sekali tidak terduga. Meluncur, setelah terlebih
dahuluberputarmempergunakanpangkallengan.Sungguh
tidakpercuma,kakekkecilkurusiniberjulukPendekar
TanganSakti.Gerakantangannyasangatcepatdantidak terduga-duga.
Bandawasa agak terkejut juga,
ketika melihat serangan yang meluncur tidak terduga-duga itu.
Mes-kipundemikian,kelihaiannyamasihmampuditunjukkan. Buru-buru kakinya
melangkah ke belakang, seraya mendoyongkan tubuh. Dan nyatanya, serangan itu
tidak mencapaisasaran,beberapajengkaldidepanBandawasa. Tindakan laki-laki
berbibir tebal tidak hanya sampai di situ saja. Begitu kakinya ditarik mundur,
tangan kanannya pun digerakkan untuk menangkis serangan Pendekar Tangan Sakti.
Rupanya, Bandawasa
tidak mau kalah gertak. Maka....
Plakkk!
Suara berderak keras seperti dua
logam keras berbenturan terdengar ketika dua buah tangan yang sama-sama
mengandung tenaga dalam kuat beradu. Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama
terhuyung mundurduatindak.Halinimenandakankeduabelahpihak mempunyai tenaga
dalam berimbang.
Pendekar Tangan Sakti dan
Bandawasa sama-sama menghentikangerakan.Keduanyasalingtatapsejenak, seperti
mengukur kekuatan masing-masing. Dan mereka juga sama-sama tidak menyangka,
kalau satu sama lain memiliki tenaga dalam sekuat itu.
Tapihanyasesaatsajahalitudilakukan,karena
sebentarkemudiankeduanyatdahkembalisalinggebrak disertai pengerahan seluruh
kemampuan.
BukanhanyaBandawasadanPendekarTanganSakti
saja yang terlibat dalam pertarungan sengit.
Masing-masingpihakjugaterlibatpertarunganyangtak kalah serunya. Mahesa
menghadapi Malaikat Pisau,
Mahadewa melawan Petani Maut, dan
Janakadengan Sima Lodra.
Bagaitelahberjanjisebelumnya,masing-masing
tokoh bertarung tanpa senjata. Bagi Pendekar Tangan
SaktidanSimaLodra,inimerupakansebuahkeuntungan. Karena keduanya merupakan tokoh
persilatan yang mempunyaiilmuandalantangankosong.Sementara,kedua orang rekan mereka
yang lain lebih menonjol dalam penggunaan senjata. Malaikat Pisau dengan
pisau-pisaunya, sedangkan Petani Maut dengan tudung dan cangkulnya.
Dan kedahsyatan ilmu tangan
kosong Pendekar TanganSaktidanSimaLodrabisadirasakansendirioleh
lawanmasing-masing.BandawasadanJanakayangberasal dari satu perguruan itu
berkali-kali terperanjat dan tanpa sadar terpekik, kendati bercampur kagum.
Tapi hal itu bukan berarti Bandawasa dan Janaka terdesak. Mereka sampai saat
ini buktinya masih mampu melayani lawan-lawannya.
Di jurus-jurus awal, pertarungan
berlangsung imbang.Masing-masingpihaksalingberganti-gantime-lancarkan serangan
maupun mengelak. Tapi menginjak jurus kelima puluh, mulai tampak adanya
perubahan dalam kancah pertarungan.
Empatoranglaki-lakiberpakaianhitamituter-nyata
memiliki kepandaian lebih tinggi. Buktinya,
PendekarTanganSakti,MalaikatPisau,SimaLodra,dan Petani Maut yang terkenal itu
mengalami kerepotan untukmenundukkanlawan-lawannya.Bahkansebaliknya, Petani
Maut dan Malaikat Pisau kelihatan lebih terdesak.
Semakinlama,kedudukanPetaniMautdanMalaikat
Pisau semakin mengkhawatirkan. Kedua orang lawan
merekaternyatamemilikiilmutangankosongyanghebat luar biasa.
Meskipun demikian, mereka
berusaha melakukan perlawanan sekuatnya. Tapi, usaha mereka sama sekali tidak
berarti banyak.
Begitu pertarungan menginjak
jurus kedelapan puluh....
"Hih!" Bukkk, desss!
"Akh! Hugh!"
Pada saat yang hampir bersamaan,
tubuh Petani MautdanMalaikatPisauterlemparkebelakang.Petani Maut terkena
tendangan pada paha kanannya, sedangkan MalaikatPisaumenerimasebuahpukulantelakdiperut.
Seketikaitupula,keduapentolangolonganputih
rimbapersilatanitupunmenyeringaikesakitan.Bahkan tampaknya Malaikat Pisau
terluka dalam, ketika terlihatadanyatetesandarahsegardisudutmulutnya. Meskipun
demikian, Malaikat Pisau dan Petani
Maut bukan jenis orang yang
gampang menyerah. Sambil menggertakkan gigi, mereka kembali menerjang. Malaikat
Pisau menubruk Mahesa dan Petani Maut
menerjangMahadewa.Hasilnya,pertarunganpunkembali berlangsung sengit.
Malaikat Pisau dan Petani Maut
rupanya sudah nekat. Serangan yang dilancarkan kelihatan bertubi-tubi pada
lawan masing-masing. Padahal keadaan mereka saat itu tidak menguntungkan,
karena telah sama-sama terluka.
Hasil kenekatan Petani Maut dan
Malaikat Pisau sudah bisa ditebak. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, tubuh
kedua orang itu telah kembali dibuat terjengkang ke belakang. Masing-masing
terkena pukulan pada bahu kanannya.
Brukkk!
Belum sempat Petani Maut dan
Malaikat Pisau berbuatsesuatu,tubuhPendekarTanganSaktidanSima Lodra juga
terjengkang ke belakang, lalu jatuh berdebuk di tanah. Anehnya, kedua orang itu
terkapar jatuh di dekat mereka. Berbeda dengan kedua rekannya yang masih mampu
bangkit, Pendekar Tangan Sakti dan
SimaLodrajustrusepertitakberdaya.Luka-lukayang diderita kelihatannya memang
cukup parah, begitu menerima hajaran yang cukup keras pada bagian dada.
Sementara itu, Petani Maut dan Malaikat Pisau
yangmasihberusahabangkit,kembaliharusmenelanpil pahit. Ternyata, Mahesa dan
Mahadewa kini sudah mengirimkanserangandisertaipengerahantenagalebih
kuatdaripadasebelumnya.Akibatnya,kinimerekatidak
mampu bangkit lagi.
"Hhh...!"
Bandawasa menghela napas berat.
Ditatapnya sosok-sosokyangbergeletakanditanah.Diakelihatan tidak ingin
melancarkan serangan susulan. Demikian pula ketiga rekannya.
"Sama sekali tidak kusangka
pertarungan akan berlangsung sesingkat ini," desah Bandawasa bernada
keluhan."Akukecewasekali!Apahanyasampaidisini saja tingkat kepandaian
jago-jago di pulau ini?!"
PendekarTanganSaktidanketigaorangrekannya
saling berpandangan satu sama lain. Ucapan Bandawasa
membuatmerekamerasatersinggungbukankepalang.Dan dalam pertemuan pandang itu,
mereka seperti sudah sepakat.
"Jangan berbangga hati dulu,
Bandawasa! Kemenanganmuterhadapkamibukanjaminankalaukepan-daian kalian melebihi
jago-jago persilatan di pulau
ini,"kataPendekarTanganSaktiyangmerupakanorang tertua bila dibandingkan
ketiga rekannya.
"Lho?! Mengapa demikian?
Bukankah kalian pentolan-pentolan persilatan aliran putih di pulau
ini?Dankaliantelahkamikalahkan!Bahkansedemikian rendah! Bukankah itu berarti
tingkat kepandaian kami jauh di atas jago-jago di pulau ini?!" bantah
Bandawasa, tak mau kalah.
"Ha ha ha...! Kau keliru,
Bandawasa!" Kali ini Sima Lodra yang menanggapi dengan suara parau dan
keras.
"Keliru?!" ulang Janaka
dengan kening berkernyit dalam.
"Benar!" sambut Petani
Maut, tidak mau ketinggalan.
"Mengapa kalian berkata
demikian?" tanya Mahadewa penasaran.
"Kamimemangpentolanaliranputihdipulauini.
Tapi, bukan berarti memiliki tingkat kepandaian tertinggi.Masihbanyaktokohyangmemilikikepandaian
jauhdiataskami!Salahsatunya,adalahseorangpen-dekar yang amat terkenal. Apabila
dia berhasil dikalahkan,kaubolehbersikaptakabursepertitadi," sergah
Pendekar Tangan Sakti, panjang lebar.
"Katakan siapa orang
itu?!" desak Bandawasa, penuh rasa ingin tahu.
Laki-laki berbibir tebal ini
melangkah mendekat.
"Katakan siapa dia?!"
Pendekar Tangan Sakti
menengadahkan kepala. Tanpa rasa gentar sedikit pun, ditatapnya wajah
Bandawasa. Kemudian secara lambat-lambat tapi penuh tekanan, digumamkan sebuah
julukan.
"Dewa Arak...!"
2
"Dewa Arak...?!"
Hampir berbarengan, Bandawasa dan
ketiga re-kannya mengulang julukan yang diucapkan Pendekar Tangan Sakti.
"Benar!DewaArak!"tegasPendekarTanganSakti.
"Kalau mampu mengalahkannya, baru kalian boleh
sesumbardenganmengalahkanseluruhjagopersilatandi pulau ini!"
"Dewa Arak...," Mahesa
mengulang julukan itu seperti khawatir akan terlupa. "Sebuah julukan aneh.
Nggg..., apakah dia jago minum arak?!"
"Ha ha ha...! Jago minum
arak?! Semua tokoh persilatan tahu kalau ketahanannya dalam minum arak
tidakmungkinditandingijago-jagominummanapunjuga. Dialah yang telah memenangkan
pertandingan dalam adu kekuatan minum arak dengan jago-jago minum!" sambut
SimaLodramembanggakan(Untukjelasnya,silakanbaca
serialDewaArakdalamepisode"PertarunganRaja-Raja Arak").
"Bukan hanya itu saja,"
sambut Petani Maut. "Apabila dia telah meminum araknya, jangan harap ada
seorangpunyangmampumengalahkannya.Ilmu'Belalang
Sakti'nyabelumpernahterkalahkansampai sekarang!"
"Aku jadi ingin menjajaki,
sampai di mana tingkatkepandaianDewaArak,"kataJanaka,bergetar.
"Jangan-jangan berita yang kami dengar sama
denganapayangkamidapatkan!Orang-orangpersilatan mengatakan kalau kalian adalah
pentolan aliran putih di empat penjuru angin. Tapi nyatanya...?" Bandawasa
ikut angkat bicara.
"Benar! Apa yang kami dapati
dari kalian ternyatabenar-benarmembuatkecewa!"sambungMahesa. "Tidak
kami pungkiri, julukan kami cukup terkenal dalam dunia persilatan. Aku di
Timur, PendekarTanganSaktidiSelatan,PetaniMautdiBarat, dan Sima Lodra di Utara.
Tapi, kami tidak termasuk datuk-datuk persilatan. Kami terkenal karena banyak
terlibat pertarungan melawan tokoh-tokoh aliran
hitam!" jelas Malaikat
Pisau, panjang lebar. Bandawasa, Janaka, Mahadewa, dan Mahesa
tercenung.Beberapasaatlamanyamerekaberdiamdiri,
tanpa bersuara sepatah kata pun.
"Di mana kami bisa menemukan
Dewa Arak?" tanya Bandawasa, tanpa menyembunyikan perasaan ingin tahunya.
"Bagaimanakalianbisamenemukantempatkami?"
Pendekar Tangan Sakti malah balas bertanya.
"Kami menyatroni perguruan
silatmu. Dan dari mulutsalahseorangmuridutama,kamibisatahutempat berkumpulnyakalian!Kalianberempatbersahabatbaik
sejakbelasantahunlalu.Dansetiapduatahunsekali mengadakan pertemuan untuk
menguji kemampuan ilmu," urai Mahesa, panjang lebar.
"Apa yang kalian perbuat
terhadap murid-muridku?!"sentakPendekarTanganSakti,kalap. Kakek kurus
berbaju kuning ini khawatir, jangan-jangantelahterjadimalapetakahebatterhadap
perguruan silat yang dipimpinnya.
"Tidak usah khawatir,
Pendekar Tangan Sakti. Perguruan yang kau pimpin sama sekali tidak
terobrak-abrik. Kami hanya memberi luka ringan pada
beberapamuridmuyangmembandel,"jawabMahesa,kalem. Mendengar jawaban yang
mengandung kesungguhan besaritu,hatiPendekarTanganSaktisedikittenang.
Dirasakanadakesungguhanpadanadaucapanmaupunraut
wajah Mahesa.
"Kita kembali pada pokok
persoalan, Pendekar Tangan Sakti," selak Bandawasa, cepat.
Pendekar Tangan Sakti mengalihkan
tatapan ke arah Bandawasa.
"Katakan, di mana kami bisa
menemukan Dewa Arak?!"
Pendekar Tangan Sakti saling
berpandangan de-ngan ketiga orang rekannya.
Dariadupandangsebentaritu,bisadiketahuinya
kalau ketiga orang rekannya tidak tahu Dewa Arak berada.
"Sayang sekali, Bandawasa.
Kami tidak tahu, di mana Dewa Arak dan...."
"Bohong! Kau bohong,
Pendekar Tangan Sakti!" potong Mahadewa capat. Keras bukan kepalang ucapan
Mahadewa,sehinggamembuatseluruhtempatiniseperti tergetar hebat. Jelas,
laki-laki bercodet ini mengerahkan tenaga dalam sewaktu mengeluarkan bentakan
tadi.
PendekarTanganSaktimengalihkanpandanganke
arahMahadewa.Tampakjelasadanyasinarkemarahandi matanya. Kelihatannya, kakek
berpakaian kuning ini merasa tersinggung mendengar ucapan Mahadewa.
"Kami bukan orang semacam
itu, Mahadewa! Bagi kami,lebihbaikmatidaripadaberbohong!Sekalikami berkata
hijau, tak akan berubah menjadi merah!"
Terdengarberapi-apidanpenuhsemangatucapan
Pendekar Tangan Sakti. Hatinya benar-benar tersing-gung mendengar ucapan
Mahadewa. Bahkan bukan hanya PendekarTanganSaktisaja.Ketigaorangrekannyapun
demikian pula. Tapi yang mereka lakukan hanyalah memandang Mahadewa dengan
sorot mata berapi-api.
Melihat hal ini, Bandawasa
buru-buru menjulurkan kedua tangannya ke depan.
"Tenang, Pendekar Tangan
Sakti. Bukannya kami menuduhkauberbohong.Tapirasanyaucapanmuitusama
sekalitidakmasukakal.Kaumengarakan,DewaArakitu seorang tokoh yang amat
terkenal. Jadi, mana mungkin kalian tidak tahu tempat tinggalnya!"
"Diatidakmempunyaitempattinggal,Bandawasa!
Dewa Arak seorang pengelana. Tempat tinggalnya tidak tetap. Nah! Bagaimana
mungkin aku bisa menunjukkannya?"
UcapanPendekarTanganSaktimembuatBandawasa
dan ketiga orang rekannya saling berpandangan.
"Luar biasa! Sama sekali
tidak disangka kalau Dewa Arak masih mempunyai semangat sedemikian besar, tidak
kalah dengan anak muda! Patut dipuji pengabdiannya pada sesama manusia!"
puji Bandawasa, bernada kagum.
PendekarTanganSaktidanketigarekannyasaling
berpandangan. Tarikan wajah mereka memancarkan kebingungan dan keheranan,
mendengar ucapan Ban-dawasa.
"Mengapakaliantampaknyakebingungan?"bentak
Mahadewa, keras.
Sebenarnya, bukan hanya Mahadewa
saja yang melihat wajah bingung Pendekar Tangan Sakti dan tiga orang rekannya.
Tapi, Mahadewalah yang lebih dulu mengajukan pertanyaan.
"Jadi, kalian kira Dewa Arak
itu seorang yang sudah jompo?!" Sima Lodra yang mempunyai sifat berangasan
langsung angkat bicara.
"Jadi...,DewaArakbukanseorangkakek-kakek?
Maksudku..., dia seorang pemuda?" tebak Bandawasa mulai mengerti.
"Tepat! Dewa Arak adalah
seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan," Malaikat Pisau buru-buru
menjelaskan. Ada nada kebanggaan dalam ucapannya.
"Seorang pemuda?! Bahkan
sudah menjadi jago nomorsatudipulauini?!Gila!"seruBandawasa,kaget
bercampur kagum.
"Benar," Pendekar
Tangan Sakti menganggukkan kepala.
Bandawasa dan ketiga rekannya
saling berpan-dangan. Tarikan wajah mereka menyiratkan keterkejutan. Sungguh
tidak disangka kalau Dewa Arak yangbegitudikagumiPendekarTanganSaktidanketiga
rekannya, ternyata seorang pemuda belia.
"Kalaukalianinginmenemukannya,bukanhalyang
sulit.Ciri-ciriyangdimilikinyaamatmenyolok,"kata Pendekar Tangan Sakti.
"Bagaimanaciri-cirinya?"tanyaBandawasapenuh
gairah.
Pendekar Tangan Sakti tidak
langsung menjawab pertanyaanitu.Diatermenung,sepertitengahmencari kata-kata
yang tepat untuk memulai menjelaskan.
"Nama aslinya Arya Buana.
Wajahnya tampan dan gagah. Pakaiannya berwarna ungu. Dan di punggungnya
tergantung sebuah guci arak dari perak."
"Jadiituciri-cirinya?"desakBandawasaketika
Pendekar Tangan Sakti menghentikan ucapannya.
Dahi laki-laki berbibir tebal itu
tampak berkernyit. Sikapnya memberi petunjuk kalau tengah mengingat-ingat
sesuatu.
"Belumsemuaciri-cirinyakusebutkan.Masihada
satucirilagiyanglebihmenyolok.DewaArakmempunyai
rambutpanjangsampaimelewatibahu.Danwarnanya..., putih keperakan!" sambung
Pendekar Tangan Sakti.
"Hahhh...!"
Bandawasa dan ketiga rekannya
kaget mendengar ucapan terakhir Pendekar Tangan Sakti.
"Rambutnyaputih?"desisMahesasetengah
tidak percaya.
Pendekar Tangan Sakti
menganggukkan kepala. "Benar."
UntukyangkesekiankalinyaBandawasadanketiga
rekannya termenung. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena....
"Kurasasudahcukupbanyakketeranganyangkami
dapat mengenai Dewa Arak. Sekarang, kamipergi untuk mencarinya."
Usai berkata demikian, Bandawasa
segera menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian, tubuhnya
melayangkearasdanmendaratbeberapatombakdidepan. Melihat Bandawasa telah
melesat, Janaka, Mahesa,danMahadewasegerabergerakmengikuti.Hanya dalam waktu
sebentar saja, tubuh mereka semua telah
lenyap ditelan kejauhan dan
kegelapan malam.
***
"Hhh...! Orang-orang yang
amat berbahaya," desisPendekarTanganSaktisambilmenghembuskannapas berat.
Kemudian, kakek berpakaian kuning
ini bangkit berdiri,diikutiyanglainnya.Kinilukadalammereka tidak terlalu
mengganggu lagi, karena telah diobati dengan bersemadi.
"Benar! Mudah-mudahan saja
Dewa Arak berhasil menanggulangi mereka," sambung Malaikat Pisau,
berharap.
"Mudah-mudahan," sambut
Petani Maut, berharap pula.
"Tapi..., sepertinya mereka
bukan termasuk orang jahat," ucap Pendekar Tangan Sakti lagi.
"Akumasihbelumyakin,PendekarTanganSakti,"
Sima Lodra angkat bicara.
"Heh?! Mengapa kau berkata
demikian, Lodra? Kalaumerekaberniatjahat,kitatidakakandibiarkan hidup! Mereka
tentu akan membunuh kita," bantah Pendekar Tangan Sakti.
"ApayangdikatakanPendekarTanganSaktitidak
salah, Lodra," kata Malaikat Pisau, memberi dukungan pada Pendekar Tangan
Sakti.
"Mungkinkaubenar,MalaikatPisau.Tapi,bagai-mana
ya.... Rasanya aku tidak percaya kalau kita dibiarkan hidup..."
"Ha ha ha...! Kau memang
mempunyai perasaan tajam, Sima Lodra! Ha ha ha...!"
Sebuah ucapan kasar dan parau
memotong ucapan Sima Lodra yang belum selesai. Hampir berbarengan, keempat
orang itu menoleh ke arah asal suara, yang ternyata dari atas genteng.
"Mahadewa...,"desisPendekarTanganSaktidan
ketiga rekannya berbarengan.
Memang,orangyangberdirisambilbersedakapdi
atas genteng itu ternyata Mahadewa. Entah kapan, tahu-tahu laki-laki berpakaian
hitam dan berambut keriting serta mempunyai sebuah codet didahinya itu telah
berada di situ.
"Ha ha ha...! Bagus! Bagus!
Kalian masih mengingat namaku rupanya! Ha ha ha...! Bagus!
Ingat-ingatlah, sebelum kukirim
ke neraka! Ha ha ha...!"
Masih dalam keadaan tertawa-tawa,
Mahadewa melompatturun.Laksanaseekorburunggaruda,tubuhnya melayang ringan.
Jliggg!
Ringanlaksanasehelaidaun,keduakakiMahadewa
hinggap di tanah.
"Bersiaplah menerima
kematian!"
Usai berkata demikian, Mahadewa
melompat menerjang Pendekar Tangan Sakti yang berjarak paling dekat. Jari-jari
kedua tangannya dikembangkan membentuk cakar. Lalu, tiba-tiba tangan kanannya
disampokkan ke arah pelipis. Sedangkan tangan kiri yang terletak di sisi
pinggang, belum bergerak.
Pendekar Tangan Sakti terkejut
bukan kepalang melihat serangan mendadak itu, namun tidak gugup. Buru-buru
kepalanya ditarik ke belakang sambil me-langkah mundur.
Wuttt!
SampokanMahadewaternyatahanyalewatbeberapa
jarididepanwajahPendekarTanganSakti.Rambutdan
pakaiankakekkurusyangberkibarankerasmembuktikan betapa kuatnya tenaga yang
terkandung dalam serangan lawan.
Tapi tindakan Mahadewa tidak
hanya sampai di situsaja.Begituseranganpertamanyaluput,serangan
lainnyasegeramenyusul.Kakikanannyameluncurcepat, melepaskan sebuah tendangan
lurus ke arah dada.
Maka, tidak ada pilihan bagi
Pendekar Tangan Sakti, kecuali mengelak. Disadari kalau keadaannya sekarang ini
tidak memungkinkan untuk menangkis. Apalagi kekuatan tenaga dalamnya telah
merosot jauh. Jadi,merupakansebuahtindakanbodohkalaumemaksakan diri untuk
mengadu tenaga dalam.
Mendapat pikiran demikian,
Pendekar Tangan Saktisegeramelempartubuhnyakebelakang.Hasilnya, tendangan
Mahadewa hanya mengenai tempat kosong.
Kegagalanseranganyangkeduakalinya,membuat
Mahadewa geram bukan kepalang. Maka begitu kedua kakinya hinggap di tanah,
langsung saja tubuhnya meluruk ke arah Pendekar Tangan Sakti.
Tapi, laki-laki bercodet ini
terpaksa menghentikanmaksudnya,karenaMalaikatPisau,Petani Maut, dan Sima Lodra
telah melesat menghadang. Mahadewa segera merayapi wajah-wajah penghadangnya.
Lalu....
"Ha ha ha...!"
BukanhanyaPetaniMautdanMalaikatPisausaja
yang merasa geram melihat sikap
Mahadewa. Pendekar TanganSaktidanSimaLodrapundilandaperasaansama.
Makakeempatoranginisegeramen-cabutsenjata
andalan masing-masing.
Kini dengan senjata andalan di
tangan, empat orang pentolan aliran putih ini menyerbu Mahadewa.
Dalam sekejap saja, senjata di
tangan mereka berkelebatmengancamberbagaibagiantubuhtokohyang ternyata berasal
dari Pulau Karang itu.
Hebatdanmenggiriskanserangan-seranganempat
tokoh aliran putih itu. Tapi, masih lebih hebat lagi tindakan Mahadewa. Ruyung
berbatang dua di tangannya berkelebatcepatdisekelilingtubuhnya.Danhasilnya luar
biasa! Setiap serangan yang dilancarkan empat orang lawan selalu membentur
batang ruyungnya. Kelebatan ruyung di sekujur tubuhnya laksana benteng yang
melindungi diri dari berbagai serangan.
Padahal,seranganyangdatangtidakhanyaberupa
tusukan, babatan, atau tetakan, tapi juga lemparan. Dan itu bukan sembarang
lemparan, karena yang melakukannya Malaikat Pisau dan Petani Maut.
Masing-masing dengan pisau dan caping bambu.
Tapi yang lebih menggiriskan hati
adalah lemparan caping Petani Maut Senjata berbentuk caping dari bambu itu,
mampu meluncur kembali pada pemiliknya,apabilaberhasildielakkanatauditangkis
lawan!InimemangsuatukelebihansenjatamilikPetani Maut.
Meskipun demikian, toh semua
serangan itu berhasil dimentahkan Mahadewa! Walaupun, bukan
ber-artimudahsajabagiMahadewauntukmenaklukkanlawan. Empat orang lawan itu masih
cukup tangguh meskipun kemampuan mereka telah menurun jauh.
Sejak dari pertama menggebrak
hingga berlang-sungduapuluhjurus,Mahadewamasihtetapbertahandan
belum melancarkan serangan sama
sekali. Ruyungnya digunakanhanyauntukmenangkissetiapseranganlawan.
Tapimenginjakjurusketigapuluhlima,Mahadewa mulai melancarkan serangan balasan.
Ruyungnya mulai meluncurkearahlawan.Mula-mulahanyasesekalisaja,
tapisemakinlamaporsiserangannyasemakinbertambah.
"Hiyaaa...!"
Diiringi pekik melengking
nyaring, Mahadewa memutarruyungnyadisekelilingtubuhnya.Kedahsyatan putaran
ruyungnya masih pula diiringi putaran tubuhnya.
Wuttt!
Melihat hal ini, Petani Maut,
Malaikat Pisau, SimaLodra,danPendekarTanganSaktitidakberanime-nangkis.Bahkantanganmerekatelahsejaktaditerasa
pedas-pedas dan sakit-sakit, karena terlalu sering menangkis ruyung lawan. Maka
bagai diberi perintah, keempat orang itu segera melompat mundur. Sehingga,
serangan itu lewat beberapa jengkal di depan mereka. Tapi tindakan Mahadewa
tidak hanya sampai di
situ saja. Kini, tubuhnya segera
melompat menerjang Petani Maut yang ada di hadapannya. Dan....
Wukkk!
Ruyung baja Mahadewa meluncur ke
arah kepala kakek berpakaian abu-abu lusuh itu. Apabila mengenai sasaran, sudah
bisa ditebak akibat yang akan terjadi pada kepala itu.
Tranggg!
Bunga api berpercikan ke sana
kemari begitu PetaniMautmenangkisdengancangkulnya.Seketikaitu pula, tubuh kakek
berpakaian lusuh ini terhuyung-huyung ke belakang.
DansaatitulahMahadewamenggunakankesempatan
baik di depan matanya. Langsung dilancarkannya serangan susulan. Kakinya
meluncur cepat ke arah perut, melepaskan sebuah tendangan keras bertenaga dalam
tinggi.
Desss! "Aaakh...!"
Petani Maut menjerit memilukan.
Seketika itu pula, tubuhnya terlempar ke belakang. Darah segar
seketikakeluardarimulutnya,mengiringiluncurantu-buhnya.
Pada saat tubuh Petani Maut
tengah terlempar, PendekarTanganSakti,MalaikatPisau,danSimaLodra segera
melancarkan serangan dari tiga jurusan.
"Hiyaaa...!"
"Hih!" "Haaat...!"
NamunMahadesatidakgugupkarenanya.Danmasih
dalamkeadaandiudara,ruyungditangannyadiayunkan ke belakang.
Wuttt!
Prak, prak, prakkk!
Sungguh mengagumkan tindakan
Mahadewa! Permainanruyungnyabenar-benarelok!Meskipuntanpa
melihat,diamampumengirimkanserangankebagianyang mematikan. Berturut-turut
kepala ketiga lawannya terhantambatangruyungnya,hinggahancurberantakan.
Tampaknya, Mahadewa mengerahkan seluruh tenaga dalamnya saat melepaskan pukulan
keras ke kepala lawan-lawannya.
Brukkk!
TubuhPendekarTanganSakti,MalaikatPisau,dan
SimaLodrarobohditanah.Sebentarmerekakelojotan,
lalu diam tak bergerak lagi. Mati, dengan darah membanjiri tanah.
Jliggg!
Ringan laksana sehelai daun
jatuh, kedua kaki Mahadewahinggapditanah.Sebentarsepasangmata-nya beredar ke
arah sosok-sosok tubuh lawan yang sudah tidak bergerak lagi di tanah.
"Ha ha ha...!"
Mahadewa tertawa bergelak bernada
kemenangan dan kegembiraan. Masih dengan suara tawa yang belum putus, tubuhnya
segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Cepat bukan main gerakannya.
Hanya beberapa kali lesatan saja, tubuhnya telah tidak terlihat lagi. Yang
terlihat kini hanya sebuah titik hitam di kejauhan. Semakin lama, titik itu
semakin kecil, hingga akhirnya lenyap sama sekali!
23
Sangsuryasudahhampirditengah-tengahlangit.
Tapisuasanadipersadatidakterasapanas.Banyaknya awan yang menggantung di langit,
membuat matahari terhalang dalam memancarkan sinarnya. Dan, dalam
suasanasepertiitu,duasosoktubuhtampakmelangkah memasuki Desa Ceger.
"Hey! Apa yang tengah
terjadi di sana, Kang? Mengapabanyakorangberkerumun?"tanyaseoranggadis
cantik sambil menudingkan jari telunjuknya ke depan, tanpa menghentikan
langkahnya.
Pemuda tampan berpakaian ungu
yang berjalan di sebelah gadis berpakaian putih berambut panjang itu
tidaklangsungmenjawab.Namunpandangannyadialihkan ke arah yang ditunjuk gadis
itu.
"Entahlah, Melati."
Hanya itu jawaban yang diberikan
pemuda berpakaian ungu itu.
GadisberpakaianputihyangternyataMelatidan
sekaligusputriangkatRajaBojongGadingituterdiam. Tapi sesaat kemudian, sepasang
bola mata gadis yang berjuluk Dewi Penyebar Maut itu berputar merayapi sekujur
wajah pemuda di sebelahnya.
Sepasangbolamatabeningdanindahituberhenti
agak lama ketika tertumbuk pada guci perak yang tergantung di punggung pemuda
berpakaian ungu itu. Sebagian badan guci tidak terlihat, karena tertutup rambut
berwarna putih keperakan milik pemuda itu. Memang, rambut itu panjang dan
terurai melewati punggung.
Melihatdariciri-cirinya,bisadiketahuikalau
pemuda berpakaian ungu itu adalah Arya Buana, yang berjuluk Dewa Arak.
"Man kita lihat keramaian di
depan itu dulu, Melati," putus Arya.
Melati sama sekali tidak
menyambuti. Yang dilakukannya hanya mengangkat bahu pertanda menyetujui usul
Arya.
Kini Arya dan Melati melangkah
menuju tempat keramaian terjadi. Dan saat melangkah, kini mereka mengerahkan
ilmu meringankan tubuh. Hasilnya, tubuh mereka telah berada beberapa tombak
dari tempat semula.
Hanyadalambeberapakalilesatansaja,Aryadan
Melatitelahtibadidekatkerumunanorang-orangyang memang adalah para penduduk
desa.
Arya dan Melati menghentikan
langkah. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu kembali menatap ke
arahkerumunanorang-orangyangmembentuk lingkaran. Memang, kerumunan itu
menyulitkan mereka untuk mengetahui, apa yang ada di tengah-tengahnya.
Sesaatsepasangpendekarmudainiberdiamdiri,
namun telah memasang pendengaran setajam mungkin. Mereka mencoba mendengarkan,
namun hasilnya nihil. Ternyata yang tertangkap hanyalah gumaman-gumaman tidak
jelas, mirip sekumpulan lebah yang sarangnya diobrak-abrik! Dan tentu saja
berasal dari mulut kerumunan orang-orang yang berbicara semaunya.
Karenayakintidakakanmengetahuiapapun,Arya
segera menekuk kedua lututnya. Dan sekali kakinya bergerak menekan, tubuhnya
melayang ke atas, dan langsung hinggap pada sebuah dahan pohonyang rumbuh tak
jauh dari kerumunan.
Dariataspohon,pemudaberambutputihkeperakan
itu mengarahkan pandangan pada sesuatu di tengah-tengah kerumunan orang-orang
di bawahnya. Ternyata, di situ tergeletak seorang kakek yang bersimbah darah
pada mulutnya.
Jliggg!
"Ada apa, Kang?" tanya
Melati begitu Dewa Arak telah mendarat kembali di tanah.
Gadis berpakaian putih ini
rupanya sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi, sehingga langsung
menyodorkan pertanyaan. Padahal, Dewa Arak baru saja ingin membuka mulutnya.
"Adaseorangkakektergeletakdidalamkerumunan
orang-orang itu. Aku yakin, dia terluka.Tadi sempat
kulihat adanya noda-noda darah di
sekitar mulutnya," jawab Arya. "Kita harus cepat bertindak sebelum
terlambat, Melati."
Usai berkata demikian, pemuda
berambut putih keperakan itu menghampiri kerumunan para penduduk dengan
langkah-langkah panjang.
"Permisi, Kisanak semua.
Biarkah kami menolongnya."
Kontan hampir semua kepala orang
yang tengah berkerumun,menoleh.Seketikaitupula,parapenduduk
itumenggesermemberijalanpadaDewaArakdanMelati.
"Terima kasih."
Arya mengucapkan perkataan itu
sambil meng-anggukkan kepala. Kemudian, kakinya melangkah cepat menuju ke arah
sosok tubuh yang tergolek lemas.
Hanyadalambeberapakalilangkah,DewaArakdan
Melati telah berada di dekatnya. Lalu, sepasang
pendekarmudainiberjongkokdanmemeriksakeadaansi kakek. Sementara, para penduduk
desa terus mengamati setiap gerak-gerik Arya dan Melati.
DewaArakdanMelatikontansalingberpandangan
ketika telah memeriksa keadaan sosok tubuh yang
tergolektakberdaya.Dansebentarkemudian,pandangan
merekakembaliberalihkearahsosoktubuhitu.Namun, kali ini lebih bersifat
memperhatikan.
Memang tampaknya keadaan kakek
berpakaian abu-abulusuhituamatmengkhawatirkan.Lukanyasangat
parah.AryadanMelatitahu,kakekinitelahmendapat
serangandariorangyangmemilikitenagadalamtinggi.
Dilainhal,kakekberpakaianabu-abulusuhdan
memiliki kulit hitam kecoklatan itu kelihatannya memang memiliki kepandaian
cukup tinggi. Buktinya, Arya dan Melati merasakan adanya putaran hawa yang
cukupkuatdibawahpusar.Dankelihatannya,diajuga bukan seorang penduduk biasa.
Setelahmemperhatikankakekberpakaianabu-abu
lusuh itu, Arya mengedarkan pandangan ke arah para penduduk yang masih
berkerumun di sekitarnya.
"Apakahdiantarakalianadayangmengenalkakek
ini?" tanya Dewa Arak keras, agar terdengar jelas sampai kerumunan paling
belakang.
Namun, ternyata para penduduk
hanya menggelengkan kepala. Dan Dewa Arak sudah mengerti maksudnya.
"Berarti dia bukan penduduk
desa ini, Kang," kata Melati.
Kepala Arya mengangguk,
menyetujui ucapan Melati.
"Mengapatidakadaseorangpundiantarakalian
yang tergerak untuk menolongnya? Bukankah dia tengah
terlukaparah?Setidak-tidaknya,membawanyaketempat yang lebih nyaman," kata
Arya.
Ada nada penasaran dalam
perkataan Dewa Arak. Apalagi diucapkannya sambil bangkit berdiri, dengan
sepasang mata beredar merayapi orang-orang di sekelilingnya.
Luar biasa! Setiap kepala yang
ditatap Dewa Arak, langsung tertunduk. Beberapa di antaranya mencoba untuk
balas menatap, tapi hanya berlangsung sekejap saja. Sinar mata Aryalah yang
membuat mereka tidakkuasabertahanlama-lama.Betapatidak?Sepasang
mataitumencorongtajamdanberwarnakehijauan,mirip sorot mata harimau dalam gelap!
"Kamitidakberanibertindakapa-apa,Den,"kata
salahseorangpendudukyangbertubuhkecilkurus,dan berjenggot panjang
"Mengapa, Ki?" tanya
Arya, ingin tahu.
"Dulu, hal seperti ini
pernah terjadi. Ada seseorang terluka, lalu dengan perasaan kasihan penduduk
desa menolongnya. Dan orang itupun dirawat di rumahku. Lalu kejadian
selanjutnya...."
Kakek kecil kurus itu menghentikan
ceritanya, seperti tengah mengenang suatu peristiwa yang menggores hatinya.
Ditatapnya wajah pemuda berambut putih keperakan itu penuh selidik.
"Teruskan, Ki," pinta
Arya. SebenarnyaAryasudahbisamenebakkejadianyang
diterima kakek itu. Akibat
kebaikan hatinya, yang diterimanya adalah peristiwa tidak enak. Wajah tua
yangsemulaberseri-seridanlangsungberubahmendung itulah yang menguatkan dugaan
Dewa Arak.
"Ketika telah sembuh, orang
itu malah berusaha memperkosa anak perempuanku. Dan akibatnya, anakku
bunuh diri setelah kejadian itu.
Kau bayangkan saja, Den. Dia anakku satu-satunya. Dan hidupku juga hanya
berduasajadengannya.Ah!Sayang,sikeparatitutidak ikut membunuhku pula!"
Melati seperti tidak kuasa
menahan kegeramannya. Sedangkan, Dewa Arak tampak bersikap
tetaptenang.Tapi,rautwajahdansinarmatanyamenun-jukkan perasaan ikut prihatin
atas peristiwa yang menimpa kakek kecil kurus itu.
"Aku turut prihatin atas
peristiwa yang kau alami, Ki," hanya itu yang keluar dari mulut Arya.
"Terima kasih, Den."
"Hal itu bukan kejadian satu-satunya di tempat kami, Den," sambung
seorang laki-laki bertubuh kekar.
"Jadi,masihadaperistiwalainnya?"tanyaArya.
Laki-laki kekar itu menganggukkan kepala.
"Tapi,pelakukejahatanitubukanorangyangka-
mi tolong, melainkan tokoh yang
menjadi musuh orang itu.Tokohitumengamuk,sehinggabanyakpendudukdesa yang
dibantai. Akibat kejadian-kejadian itu, kami tidak berani sembarangan lagi
menolong orang yang tengah terluka. Kecuali, bila telah diketahui kepala
desa."
AryadanMelatimenganggukkankepala.Kinibaru
disadari, mereka tidak bisa menyalahkan sikap para penduduk Desa Ceger.
"Lalu kalau tidak ingin
menolong, mengapa berkerumun di sini?" tanya Arya lagi.
"Kami tengah menunggu
kedatangan kepala desa. Salah seorang dari kami telah pergi memberitahunya.
Biarlah kepala desa yang akan mengurusnya," jawab laki-laki kekar itu.
Kembali Arya dan Melati
mengangguk-anggukkan kepala.Kagumjugasepasangpendekarmudainimelihat sikap
penduduk Desa Ceger. Meskipun beberapa kali
mengalamikejadianburuk,tapitetapsajatidakkapok memberi pertolongan pada orang
yang tengah terluka. "Kalian benar-benar memiliki hati mulia. Dan sambil
menunggu kedatangan kepala desa, aku akan
mencoba meringankan
luka-lukanya."
Setelah berkata demikian, kembali
Dewa Arak mengalihkanperhatiankearahkakekberpakaianabu-abu
lusuh. Lalu, tangannya bergerak
menotok dan mengurut sana-sini. Sesaat kemudian....
"Huakh...!"
Segumpaldarahkentalberwarnamerahkehitaman
kontankeluardarimulutkakekberpakaianabu-abuitu.
Darah mati!
"Hey!"
Para penduduk Desa Ceger berseru
kaget ketika melihat keadaan kakek berpakaian abu-abu lusuh itu. Mereka kira,
Dewa Arak bukan hendak mengobati,
melainkanmenyiksa.Makabagaidiberiperintah,mereka bergerak ke depan.
Tangan-tangan mereka pun mulai merabasisipinggang,siapmencabutsenjata.Tapi....
"Tahan...!"
Bentakan keras tlba-tiba
terdengar. Ternyata, berasal dari mulut Melati. Maka, mau tak mau langkah para
penduduk Desa Ceger berhenti.
"Apayanghendakkalianlakukan?!"tanyaMelati
keras, sambil mengedarkan pandangan berkeliling.
Tahu akan keadaan yang agak
gawat, Melati menggerakkantenagadalampadateriakannya.Hasilnya, suara yang
keluar terdengar penuh wibawa. Sehingga, membuat penduduk Desa Ceger jadi ciut
nyalinya.
"Kawanmu hendak membunuh
kakek itu. Dan kami tidak bisa membiarkannya," kata kakek kecil kurus,
mantap.
"Siapa yang ingin
membunuhnya? Kawanku itu hendak mengobatinya. Bukankah telah kalian lihat
sendiri, kalau kakek itu kini telah sadarkan diri?!" sergah Melati, masih
penuh wibawa.
"Tapi.... Tapi..., darah
itu...."
Kakek kecil kurus itu
terbata-bata mengajukan tuduhannya.
"Benar!" sambut
laki-laki kekar. "Betul!" seru yang lain tak mau kalah.
"Diam...!"
Melati mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Hebat bukan kepalang
akibatnya! Para penduduk Desa Ceger seperti kena sirep. Mereka semua
tercenungdenganrautwajahbingung.Tentusajabukan karena acungan tangan Melati,
melainkan karena
pengerahan tenaga dalam yang
dikeluarkan bersama seruannya.
4
"Kalian dengar baik-baik.
Darah yang dikeluarkan kakek itu adalah darah mati! Darah yang sudah tidak
berguna lagi, dan justru malah akan membahayakan apabila tidak dibuang! Dan
kawanku tadi berusaha mengeluarkannya. Kalian mengerti?!" kata Melati.
"Ooo..."
Sambil mengangguk-angguk pertanda
mengerti, para penduduk Desa Ceger membulatkan bibirnya.
"Sekarangkamimengerti.Maafkanataskebodohan
kami," ucap kakek kecil kurus.
"Terima kasih atas
pengertian kalian. Dan kumohon, kalian bersedia mundur sedikit. Berikan ruangan
yang agak longgar agar kawanku dapat melanjutkan pengobatannya," lanjut
Melati dengan suara lebih lunak.
Tanpamenungguperintahduakali,parapenduduk
Desa Ceger itu segera melangkah mundur.
"Terima kasih," ucap
Melati.
Lalu, gadis berpakaian putih itu
kembali mengalihkan pandangan ke arah Dewa Arak. Tampak kekasihnya itu tengah
duduk bersila dengan telapak
tanganmenempelkepunggungkakekyangjugatengahdu-dukbersila.Rupanya,DewaAraktengahmengobatiluka
dalam kakek itu dengan pengerahan hawa murni.
Melihat hal ini, Melati pun
bersikap waspada. Matanyamenatapsekitarnyadengansorotpenuhselidik. Gadis
berpakaian putih ini tahu, sekarang Dewa Arak tengah tidak berdaya. Apabila ada
lawan yang datang menyerang, pasti akan celaka. Itu sebabnya Melati perlu
menjaga dari segala kemungkinan yang akan terjadi.
Melati kini kembali mengedarkan
pandangan berkeliling.Dansesekali,sepasangmatanyatertujuke
arahAryayangmasihsibukmengobatikakekberpakaian abu-abu.
BerbedadenganMelati,parapendudukDesaCeger
sama sekali tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Pandangan mereka semua
tertuju pada Arya yang masih sibukmengobatikakekberpakaianabu-abuitu.DanArya
barumelepaskantempelantangannyadaripunggungkakek berpakaian abu-abu, ketika
bantuan-nya dirasakan telah cukup.
"Terima kasih atas
bantuanmu, Anak Muda," ucap kakek berpakaian abu-abu itu ketika telah berdiri
tegak.
"Lupakanlah,Ki.Tolong-menolongmerupakanhal
biasa. Bukan tidak mungkin, lain waktu kau yang akan ganti menolongku,"
sahut Arya buru-buru.
"Memangsudahkudugajawabanyangkuterimaakan
seperti ini. Berita yang kudengar mengenai dirimu, ternyata sama sekali tidak
menyimpang, Dewa Arak!"
KaruansajawajahAryaberubahketikamendengar
ucapan kakek berpakaian abu-abu. Sama sekali tidak terduga kalau kakek itu
mengenal julukannya.
"Aku sama sekali tidak
menyangka bisa bertemu tokoh yang menggemparkan dunia persilatan seperti
dirimu!Kalausajamasihingatnamakuyangsebenarnya, tentu akan kusebutkan, Dewa
Arak. Sayangsekali, aku telah lupa, Hanya julukan tak berguna saja yang
kumiliki. Aku berjuluk Petani Maut. Sebuah julukan yang terlalu
berlebihan," sambung kakek berpakaian abu-abu yang ternyata berjuluk
Petani Maut, sebelum Arya sempat berkata.
"Kau terlalu berlebihan.
Dari julukan yang kau sandang saja, kemampuanmu sudah bisa kuperkirakan,
Ki," Arya balas memuji.
Petani Maut tersenyum pahit.
"Hanya sebuah julukan
kosong, Dewa Arak. Menghadapi seorang tokoh yang sama sekali tidak terkenal
saja, dengan mudah aku dapat dikalahkan."
"Kalah dan menang dalam
sebuah pertempuran adalahsoalbiasa,Ki.Sekaliwaktukitamenang.Tapi bukan tidak
mungkin kalau di lain hari kita akan
dikalahkan. Tidak ada orang yang
paling sakti," ujar Arya tanpa bernada menggurui.
Petani Maut semakin bertambah
kagum mendengar ucapanArya.Perkataanpemudaberambutputihkeperakan
itudiketahuinyamengandungkebenaran,yangtidakbisa diganggu gugat lagi
kebenarannya.
Petani Maut benar-benar dibuat
terkagum-kagum oleh perkataan Dewa Arak. Sama sekali tidak disangka orang
semuda Dewa Arak mempunyai wawasan demikian
luas.Walaupunkepandaiannyaamattinggi,namuntidak nampak adanya kesombongan
sedikit pun di dalam ucapannya.InilahyangmembuatPetaniMautkagumbukan kepalang.
"Apa yang kau katakan itu
sama sekali tidak salah, Dewa Arak. Tapi...."
Petani Maut menghentikan ucapannya
di tengah jalan, karena mendengar suara ribut-ribut.
"KiMandadatang.Berijalan...!KiMandatelah
tiba...!"
Kerumunan penduduk Desa Ceger pun
menyibak, memberijalanpadaorangyangbernamaKiManda.Arya, Melati, dan Petani Maut
pun mengalihkan pandangan ke arah kerumunan penduduk yang menyibak.
Tampak seorang laki-laki setengah
baya ber-pakaian putih tengah berjalan menghampiri. Meskipun rambut di kedua
pelipisnya sebagian telah memutih, tapi masih terlihat angker. Potongan
tubuhnya kekar. Keberadaan kumis serta jenggot lebat yang menghias wajah,
semakin menambah keangkerannya. Apalagi ditambah sebatang golok pendek yang
terselip di pinggang. Lengkap sudah keangkeran itu. Inilah orang yang
disebut-sebut sebagai Ki Manda, Kepala Desa Ceger.
Di belakang Ki Manda, berjalan
dua orang yang bertubuh tinggi kekar dan dipenuhi otot melingkar-lingkar. Rompi
berwarna hitam yang membungkustubuh,takmampumenyembunyikanotot-otot yang
me-nyelimuti tubuh mereka.
Semua penduduk Desa Ceger tahu,
siapa kedua orang berompi hitam ini Mereka adalah pengawal kepercayaan Ki
Manda. Namanya, Ragola dan Paroga.
Ki Manda menghentikan langkahnya
ketika telah berjarak tiga tombak di hadapan Arya, Melati, dan Petani Maut.
"Kudengar di tempat ini ada
seorang kakek yang tengah terluka...."
OrangnomorsatudiDesaCegeritusengajatidak
meneruskan ucapan. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah di hadapannya. Sekali
lihat saja telah bisadidugakalauorangyangdimaksudadalahkakekber-pakaian
abu-abu.
"Akulahorangyangterlukaitu,Ki,"kataPetani
Maut, cepat "Tapi, kini telah sembuh karena telah ditolong Dewa
Arak."
"Dewa Arak?!"
Bukan hanya Ki Manda saja yang
terkejut bukan kepalang,tapijugaduaorangpengawalkepercayaannya. Bagai diberi
aba-aba, kedua orang itu sama-sama mengalihkan pandangan ke arah Arya. Memang,
pemuda itulahyangmempunyaiciri-cirisebagaipendekaryang menggemparkan dunia
persilatan.
"Jadi..., dia Dewa
Arak?!" tanya Ki Manda, memastikan.
Kepala Desa Ceger itu menudingkan
telunjuk kanannyakearahArya.Tapi,tatapansepasangmatanya tertuju pada Petani
Maut. Sepertinya ada nada ketidakpercayaan dalam ucapan Ki Manda.
"Ada kalanya, berita yang
tersebar di dunia persilatanbertentangandengankenyataansebenarnya,"
selaksalahseorangpengawalKiMandayangbercambang
bauklebatsebelumDewaArakdanyanglainmenyahuti. "Akutidakmengertimaksudmu,Ragola?"KiManda
mengalihkan pandangan ke arah
pengawalnya.
Pengawal bercambang bauk lebat
yang bemama Ragola itu tidak langsung menjawab. Dia berdehem sebentar.
"Begini,Ki.Adakalanyaberitayangtersebardi
duniapersilatantidaksesuaikenyataannya.Dantentu saja karena perlu diuji
kebenarannya!" kata Ragola, seraya menatap Arya dengan nada menantang.
Sementara orang yang bernama
Paroga mengangguk-anggukkan kepala, pertanda mendukung
ucapanrekannya.BahkandiapunikutmenatapDewaArak
pula.
Suasana langsung hening. Semua
pasang mata kontan tertuju pada Dewa Arak. Mereka semuanya ingin
melihattanggapanpemudaberambutputihkeperakanitu terhadap perkataan bernada
tantangan dari Pragola.
TapiternyataAryatidakterpancingolehucapan
itu. Bahkan tetap bersikap tenang. Disadari kalau Ragola dan Paroga adalah
jagoan-jagoan tanggung Desa Ceger.Danmungkin,selamainibelumpernahdikalahkan
orang.JadibegitumendengarDewaArakmendapatpujian seperti itu, mereka berniat
mengajak bertarung!
Berbeda dengan Arya, Melati dan
Petani Maut ternyatamerasatersinggungbukankepalang.Sepasang mata Petani Maut
sudah berkilat, sedangkan kedua tangan Melati telah mengepal karena amarah yang
langsung menggejolak.
Melati dan Petani Maut berharap,
Dewa Arak menanggapi tantangan Ragola.
"Mungkin ucapanmu
benar," jawab Arya, kalem. Ragola dan Paroga yang sama sekali tidak
menyangka akan mendapat jawaban
seperti itu jadi saling berpandangan. Bingung. Tapi sebelum sempat berbuat
sesuatu, tiga sosok tubuh berpakaian abu-abu dan mengenakan caping, berlari
cepat menerobos kerumunan penduduk Desa Ceger.
"Guru...! Bagaimana
keadaanmu?" salah seorang yangbarudatangitulangsungmenghampiriPetaniMaut,
dan melontarkan pertanyaan.
"Keadaanku baik-baik saja,
Rantung. Dari mana kaliantahukalauakuadadisini?"tanyaPetaniMaut.
"Kau, Rimang. Mungkin kau bisa menjawabnya."
"Baru saja kami singgah di
sini. Dan begitu melihat kerumunan orang, kami langsung bertanya pada
seorangpendudukDesaCegertentangkeberadaanmu.Dan
begitumerekamenyebutkanciri-cirinya,kamilangsung bisamendugakalauyangtengahterlukaadalahdirimu,"
jelas orang yang dipanggil Rimang.
"Hm.... Lantas, mengapa
kalian mencariku? Ada aparupanya?Kau,Jalu.Cobajawabpertanyaanku,"ujar
Petani Maut, penuh wibawa.
"Celaka, Guru...!"
hanya itu yang keluar dari mulut Jalu.
"Ada apa, Rantung?"
desak Petani Maut menga-lihkan tatapannya pada Rantung. Memang, dialah yang
paling tertua di antara murid Petani Maut.
Terdengar penuh wibawa ucapan
Petani Maut. Ada nada teguran dalam suaranya.
"Perkumpulan kita
diobrak-abrik orang jahat, Guru.Semuamuriddibunuh.Hanyakamibertigalahyang
dibiarkan hidup!" lapor Rantung, takut-takut.
"Keparat!"
Petani Maut menggeram. Jari-jari
kedua tangannya langsung dikepalkan, sehingga menimbulkan suara berkerotokan
keras seperti ada tulang-tulang patah.Kelihatankalaulaki-lakiberpakaianlusuhini
tengah dilanda kemarahan yang menggejolak.
Rantung,Rimang,danJalutentusajatahukalau
pimpinan mereka tengah murka. Maka, ketiganya pun semakin menundukkan kepala,
tidak berani balas menatap.
"Kalian kenal orang yang
telah melakukan semua kekejian itu?" tanya Petani Maut Suaranya terdengar
bergetar, setelah berhasil menenangkan hati.
Danbagaidiberiperintah,Rantung,Rimang,dan
Jalu menggelengkan kepala.
"Tapikamibisamenjelaskanciri-ciriorangitu,
Guru," kata Rantung setelah beberapa saat lamanya terdiam.
"Katakan,bagaimanaciri-ciriorangitu?"desak
Petani Maut masih dengan suara kaku.
Rantungtidaklangsungmenjawabpertanyaanitu.
Benaknya segera diputar untuk mengingat-ingat orang yang telah membunuhi
rekan-rekannya.
"Pengacau itu memiliki tubuh
tinggi besar. Kulitnya hitam, rambutnya keriting, dan ada sebuah codet di
dahinya. Pakaian yang dikenakannya berwarna...."
"Hitam," selak Petani
Maut, sebelum Rantung menyelesaikan penjelasannya.
"Benar, Guru," sahut
Rantung dengan raut wajah bingung. "Guru mengenalnya?"
"Hhh...!"
Sambil menghela napas berat,
Petani Maut menganggukkan kepala.
"Mahadewa...," desah
kakek berkulit hitam ke-coklatan ini, dalam hati.
Memang,ciri-ciriyangdiuraikanRantung
tepat mengarah pada satu orang. Mahadewa!
"Mahadewa...," desis
Petani Maut dengan suara ditekan. "Dosa yang kau perbuat semakin banyak
saja. Hanya kematianlah yang pantas untuk menebus dosa-dosamu. Aku berjanji
akan mengadu nyawa untuk menumpas sepak terjangmu!"
Pelan saja Petani Maut
mengucapkan sumpahnya. Tapi karena suasana di sekitar tempat itu hening, sumpah
itu terdengar jelas. Tak terkecuali, telinga Dewa Arak dan Melati.
"Ha ha ha...!"
Mendadak terdengar suara tawa
tergelak yang dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.Suasana di
sekitar tempat itu kontan bergetar hebat. Bahkan seluruh penduduk Desa Ceger
merasakan kakimerekamendadaklemas.Tanpadapatdicegahlagi, mereka jatuh berlutut
di tanah.
Yang masih berdiri tegak di tanah
hanya Petani Maut,DewaArak,Melati,danKiManda.SedangkanRagola
danParogamemangmasihtetapberdiri.Tapi,keduakaki mereka sudah tidak tegak lagi.
Lutut mereka terasa lemas bukan kepalang!
Hampir berbarengan, semua pasang
mata dilayangkankearahsuaratawaberasal.Tampakdiluar
kerumunanpendudukDesaCegeryangsudahbergeletakan di tanah, berdiri sesosok tubuh
tinggi berpakaian hitam.
Semua yang ada di situ menatap
dengan hati berdebar tegang. Betapa tidak? Sosok tubuh berkulit hitam, berambut
keriting, dan mempunyai sebuah codet di dahi itu kelihatan menggiriskan
sikapnya. Siapa lagi orang itu kalau bukan Mahadewa?
"Grrrhhh...!"
Bagaiseekorharimaulapar,PetaniMautyangti-
dakbisamenahankegeramannyalagilangsungmenggeram.
Sekujururat-uratsyarafdanotot-otottubuhnyatelah menegang, karena siap-siap
ingin melancarkan
serangan. Tapi ketegangan itu
langsung mengendur, karenaadaorangyangmendahuluitindakanPetaniMaut.
"Keparat! Berani kau memamerkan kemampuan di
Desa Ceger?!"
Usai berkata demikian, orang yang
tak lain Ragola itu melompat menerjang. Kedua tangannya yang
terkepal,melepaskanpukulankearahduatulangrusuk Mahadewa.
"Hmh...!"
Mahadewa hanya mendengus. Sorot
meremehkan tampak terpancar dari kedua matanya. Kelihatannya serangan Ragola
tidak dianggap sebagai sesuatu yang
membahayakan.Buktinya,diahanyadiamsaja,sekalipun serangan itu semakin mendekat!
Buk, buk, buk!
Bertubi-tubi pukulan Ragola
mengenai sasaran, karena Mahadewa sama sekali tidak mengelak. Seketika itu
pula, terdengar jeritan kesakitan yang disusul terhuyung-huyungnya tubuh.....
Ragola!
"Ha ha ha ..!"
Mahadewatertawaterbahak-bahakmelihatRagola
terhuyung-huyung ke belakang sambil menjerit-jerit
kesakitan.Tidakhanyaitusaja.Keduatangannyakon-tanbengkak-bengkakmembiru.Memang,Ragolamerasakan
seakan-akanyangdipukulnyaadalahgundukanbesibaja yang amat kuat.
"Keparat! Berani kau melukai
kawanku?!" Parogatidaktinggaldiammelihatkeadaanrekan-
nya. Seketika itu pula, tubuhnya
melompat menerjang Mahadewa.Danketikatubuhnyaberadadiudara,tangan kanannya
bergerak cepat ke arah pinggang.
Srattt!
Sinar terang kontan berkeredep,
ketika golok besar yang terselip di pinggang telah tercabut. Dan
secepatsenjataitutercabut,secepatitupulaterayun ke arah leher Mahadewa! Paroga
menggerakkan goloknya secara mendatar.
Wuttt!
Diiringi suara mendesing cukup
nyaring, golok besar itu melesat cepat menuju sasaran. Tapi seperti ketika
menghadapi serangan Ragola, menghadapi serangan ini pun Mahadewa sama sekali
tidak mengelak
atau menangkisnya. Laki-laki
bercodet itu tetap saja tertawa-tawa, seperti tidak ada bahaya yang tengah
mengancam. Maka, hasilnya pun sudah bisa diduga.
Takkk!
Telakdankerassekalimatagolokitumenghantam
sasaran.Bunyiyangterdengarmiripbenturanduabuah
logam keras.
Takkk!
Telak dan keras sekali mata golok
Paroga
menghantam leher lawan. Tetapi
Mahadewa tenang saja.
Sebaliknya dengan Paroga,
laki-laki itu malah
merasakantangannyasakitdanlinubukankepalangse-telah
goloknya membentur leher Mahadewa.
Parogakontanmerasakantangannyasakitdanlinu
bukan kepalang setelah membenturkan goloknya dengan leher Mahadewa. Bahkan
hampir-hampir senjata yang digenggamnya terlepas dari pegangan. Tubuhnya pun
terhuyung ke belakang.
Kali ini, rupanya Mahadewa
berniat unjuk gigi. Buktinya,tindakannyatidakhanyasampaidisitusaja. Masih
dengan tawa yang belum putus, telunjuk tangan kanannya langsung ditudingkan ke
arah Paroga.
Cit!
Suara mendecit nyaring seperti
ada tikus mencicit,terdengarketikaMahadewamenudingkanjari telunjuknya. Dan....
Crattt! "Aaakh...!"
Paroga langsung menjerit
kesakitan ketika tahu-tahu pelipisnya terasa perih, seperti tersayat
sebilahpisautajam.PengawalKiMandainisamasekali tidak tahu kalau ada darah yang
mengalir keluar dari pelipisnyayangterluka.Dandiajugatidaktahukalau luka itu
terjadi akibat tudingan telunjuk Mahadewa.
Memang,laki-lakibercodetitumempunyaisebuah
ilmu yang membuat jari-jari tangannya mampu melukai lawan-lawannya dari jarak
jauh! Bahkan angin serangannya tak kalah tajamnya dengan sabetan pedang tajam!
Sebentar Paroga terhuyung-huyung,
lalu ambruk di tanah. Tanpa menunggu lama lagi, nyawanya pun melayang ke alam
baka saat itu juga.
"Iblis keji!"
Ki Manda tidak bisa menahan
kemarahannya lagi melihat nasib Paroga. Cepat laksana kilat, golok pendek yang
berada di pinggang dicabutnya.
Srattt! Tapi.... "Tahan...!"
DansebelumKiMandasempatmenolehkearahasal
suara, mendadak melesat sesosok bayangan. Dan tahu-tahu, di sebelah kirinya
telah berdiri seorang pemuda berambut putih keperakan. Siapa lagi kalau bukan
Dewa Arak. Pendekar muda yang telah menggemparkan dunia persilatan ini berdiri
dengan sikap tenang.
"Siapakau,Kisanak?Mengapamenyebarkerusuhan
di sini?" tanya Dewa Arak, kalem.
5
"Ha ha ha...!"
Jawaban yang diterima Dewa Arak
ternyata hanya suara tawa keras menggelegar dari Mahadewa. Tampak jelas kalau
laki-laki bercodet ini memandang rendah Dewa Arak. Tapi seperti biasanya, Arya
sama sekali tidak terpancing. Sikapnya tetap seperti semula, tenang.
"Bukankah kau telah
mengetahui namaku, Dewa Arak. Aku Mahadewa! Apakah Petani Maut tidak
menceritakan kejadian yang dialaminya padamu?" Mahadewa malah balas
bertanya.
"Sayang sekali, Mahadewa.
Petani Maut sama sekali tidak menceritakan apa-apa padaku. Mungkin kejadian
yang dialami bersamamu dianggap sebuah
masalahyangsamasekalitidakpenting.Jadi,rasanya tidak perlu diceritakan
padaku," kalem jawaban Arya, tapi ada nada sindiran di dalamnya.
Mahadewa bukan orang bodoh! Dia
pun tahu, Dewa Arak memang sengaja mengejeknya. Maka seketika raut wajahnya
merah padam. Dengan sepasang mata membeliak lebar, ditatapnya Dewa Arak.
"Keparat! Berarti kau
main-main denganku?! Awas, kuhancurkan tubuhmu!"
Sebelumgemaancamannyalenyap,Mahadewa
telah melompat menerkam Dewa Arak. Kedua tangannya yang berbentuk cakar,
terkembang di sisi tubuhnya. Serangannyamengingatkanpadaterkamanseekorharimau
lapar.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi
tibanya serbuan Mahadewa. Betapa dahsyatnya serangan itu. Tapi, Dewa Arak tidak
gugup. Sikapnya tetap tenang, menunggu hingga luncuran tubuh Mahadewa dekat.
"Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, Dewa
Arak menghentakkan kedua tangannya ke depan untuk memapak
seranganlawan.Sebenarnyahalinimerupakantindakan yang di luar kebiasaan.
Biasanya, Dewa Arak tidak pernah menangkis saat lawan melancarkan serangan
pertama. Hal ini karena Arya tidak mau mencelakai lawan. Masalahnya, bukan
tidak mungkin tenaga yang digunakan akan terlalu kuat bagi lawan.
Tapi kali ini kebiasaan itu
terpaksa dilanggar Dewa Arak, karena melihat sikap telengas Mahadewa.
BahkanDewaAraktidaksegan-seganmengerahkanseluruh tenaga dalamnya, karena
diyakini kalau Mahadewa memiliki tenaga dalam tinggi.
Prattt!
Suara keras terdengar ketika dua
pasang tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi berbenturan.
Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama terhuyung mundur. Dewa Arak terhuyung
dua langkah, sedangkan Mahadewa empat langkah. Dari sini bisa
diketahuikalautenagadalamDewaArakberadadiatas
lawannya.
Mahadewa menggertakkan gigi
menyadari keunggulanlawan.Daribenturantadi,tokohdariPulau Karang ini geram
bukan kepalang. Apabila ketika tangannya terasa sakit-sakit. Maka begitu
kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung lenyap,
langsungsajadikeluarkannyailmu'TanganSaktiPedang dan Golok' andalannya.
Mahadewamenyusunjari-jaritangannyamembentuk
kepalaular.Sementara,DewaArakmemperhatikanpenuh waspada. Disadari kalau lawan
akan mengeluarkan ilmu andalan.
"Haaat...!"
Diawaliteriakannyaringyangmembuatsuasanadi
sekitar tempat itu tergetar
hebat, Mahadewa segera menerjang Dewa Arak. Dan selagi tubuhnya berada di
udara, tangan kanannya dibacokkan ke arah leher Dewa Arak.
Wuttt!
Suara mendesing nyaring
mengiringi tibanya seranganMahadewa.Itupunmasihditambahberkesiurnya angin tajam
yang dapat melukai kulit.
Dewa Arak sendiri tidak berani
bertindak gegabah. Dari desir angin tajam yang mengiringi tibanya serangan,
bisa diperkirakan kehebatan ilmu lawan. Maka, buru-buru tubuhnya melompat ke
belakang untukmengelakkanseranganitu,DantindakanDewaArak tidak hanya sampai di
situ. Dalam keadaan masih di udara, guci araknya diambil dan dituangkan ke
mulut.
Gluk, gluk, gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak melewati tenggorokanDewaArak.Hawahangatyangsemulaberedar di perut
perlahan-lahan naik ke atas kepala.
Jliggg!
Dengan keadaan tubuh sempoyongan,
Dewa Arak mendaratkan kedua kakinya di tanah. Lalu, tokoh muda
yangmenggemparkaninimulaimenggerak-gerakkankedua
tangannyadidepandadadengantubuhterhuyung-huyung.
Gerakankeduatangannyamengingatkanorangpadaseekor belalang yang tengah
mempermainkan kakinya.
MahadewabelumpernahmelihatilmuandalanDewa
Arak.Apalagi,membuktikankelihaiannya.Makadiaagak
bingungbegitumelihatgerakan-gerakanyangdilakukan pemuda berambut putih
keperakan itu.
Tapi sebagai seorang tokoh sakti,
laki-laki bercodetinilangsungbisamemperkirakan kedahsyatan ilmu lawannya. Maka
tindakannya tidak berani ceroboh
lagi.Mahadewatahu,DewaArakpastimengeluarkanilmu
andalannya.Dandiatidakberanilangsungmelancarkan serangan. Diperhatikannya
secara seksama tindakan tokoh muda yang telah menggemparkan dunia persilatan
itu.
"Haaat...!"
Diiringiteriakankerasmenggelegar,kiniMaha-
dewa melancarkan serangan pada
Dewa Arak. Jari-jari tangannyaterbukalurus,siapmenggunakanilmu'Tangan Sakti
Pedang dan Golok' untuk mematahkan perlawanan Dewa Arak. Dalam penggunaan ilmu
itu, Mahadewa melancarkan tusukan, bacokan, babatan, maupun tetakan. Yang
menggiriskan hati, setiap gerakan tangannya selalu menimbulkan suara angin
mencicit nyaring.
Tapi lawan yang dihadapi adalah
Dewa Arak! Seorang pendekar yang meskipun masih muda, tapi
memilikikemampuanluarbiasa.Ilmumeringankantubuh
maupuntenagadalamnyasudahmencapaitingkattinggi. Ilmu-ilmu yang dimilikinya juga
merupakan ilmu-ilmu pilihan.Itupunmasihditambahlagidenganpengalaman
bertarungnya. Gabungan dari semua kemampuan itu merupakan satu kesatuan maha
dahsyat, yang mampu menggilas habis perlawanan yang dilakukan lawan.
***
Menarikbukankepalangpertarunganyangterjadi
antara Dewa Arak menghadapi Mahadewa. Sejak awal, pertarungantelahberlangsungsengit.Mahadewatampak
bersemangat sekali untuk dapat segera merobohkan lawannya. Kedua tangannya
menusuk, membacok, membabat, dan menetak ke arah berbagai bagian tubuh Dewa
Arak diiringi suara mendesing nyaring. Tapi,
semuaseranganituberhasildielakkanDewaArakdengan
jurus 'Delapan Langkah Belalang'nya.
Mahadewa menggertakkan gigi
menahan geram ketika menyadari semua serangannya berhasil dipunahkan lawan.
Apalagi ketika melihat gerakan-gerakanDewaArakdalammengelak,samasekali
tidakpantasdinamakangerakan-gerakanilmubeladiri. Berkali-kali pemuda berambut
putih keperakan
itu seperti akan jatuh, ketika
mengelakkan serangan. Bahkan, tak jarang seperti akan menubrukkan tubuhnya pada
serangan yang tengah meluncur.
Yang membuat Mahadewa heran bukan
kepalang, ketikamenyadarikalaudengangerakansepertiituDewa
Arakmalahterbebasdariseranganyangdikirimkannya. Kekaguman Mahadewa semakin
bertambah ketika
Dewa Arak mulai melancarkan
serangan balasan. Setiap serangan pemuda berambut putih keperakan itu terasa
berat sekali dihadapinya.
Dalam waktu sebentar saja,
pertarungan telah berlangsunghampirtujuhpuluhjurus.Halituterjadi, karena kedua
belah pihak sama-sama memiliki gerakan cepat. Namun, sampai saat ini belum
nampak ada tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang.
Sementara itu, puluhan mata telah
sejak tadi memperhatikan pertarungan sengit itu dengan penuh
minat.Bahkanmatamerekahampirtidakberkedip.Tapi apa yang disaksikan ternyata
sia-sia belaka. Mereka tetapsajatidakbisamengikutijalannyapertarungan,
karenayangterlihathanyalahkelebatanbayanganhitam dan ungu saja. Dua bayangan
itu tampak saling belit, dan terkadang saling pisah. Tapi, terpisahnya hanya
sekejapsaja,karenakinisudahsalingbelitkembali! Hanya dua orang saja dari sekian
banyaknya penonton yang dapat melihat jelas pertarungan sengit itu. Mereka
adalah Melati dan Petani Maut, yang menyaksikan penuh minat. Memang, sebagai
tokoh persilatan yang berilmu tinggi, tidak ada hal yang
palingmenyenangkankecualimenyaksikanpertarungan. Terutama sekali, pertarungan
tokoh-tokoh sakti! Dan sepasangmataMelatidanPetaniMautkelihatanhampir
tidak pernah berkedip
menyaksikannya. "Haaat..!"
Di jurus keseratus dua, Mahadewa
melancarkan tusukan bertubi-tubi ke arah dada Dewa Arak.
Cit, cit cit! "Hih!"
Tak tak tak!
SuaraberderakkerasterdengarketikaDewaArak
memapak serangan itu dengan
tetakan kedua tangan berturut-turut. Bunyinya laksana dua batang logam beradu.
Dan hasilnya juga tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Baik Dewa Arak maupun
Mahadewa sama-sama terhuyung tiga langkah ke belakang.
DewaArakmenggigitbibirketikamerasakansakit
yang amat sangat pada pergelangan tangan yang
berbenturantadi.Tapi,halitutidakdipedulikannya.
Keduatangannyaterussajadihentakkankedepan.Dewa Arak melancarkan serangan jarak
jauh, mempergunakan jurus 'Pukulan Belalang'. Hal itu dilakukan saat tubuhnya
masih terhuyung-huyung.
Wusss!
Serentetananginkerasberhawapanasmenyengat
keluar dari kedua tangan Dewa
Arak yang dihentakkan. Tentu saja hal ini membuat Mahadewa terkejut bukan
kepalang.Disadariakanadanyabahayamautyangtengah mengancam, maka buru-buru daya
yang membuat tubuhnya terhuyung-huyungdipatahkandenganmenjejakkankaki.
Kemudiantubuhnyadibantingketanah,danbergulingan. Tindakan yang dilakukan
kelihatan agak tergesa-gesa. Meskipun demikian, telah cukup untuk menyelamatkan
selembar nyawanya. Pukulan jarak jauh Dewa Arak hanya meluncur jauh dari
sasaran semula. Begitu serangan itu lewat, Mahadewa segera berhenti berguling.
Lalu tubuhnya melenting ke atas, dan....
"Hey! Berhenti kau,
Pengecut!" PetaniMautyangsejaktadimemangmemperhatikan
jalannya pertarungan, langsung
berseru kaget ketika melihat Mahadewa melarikan diri. Dan sebelum gema
ucapannya lenyap, tubuhnya telah melesat menyusul
Mahadewa.SedangkanMelatiyangberdiridisebelahnya bergegas mendekati Dewa Arak.
"Kita harus mengikuti
mereka, Melati. Aku khawatir, Petani Maut akan menjadi korban Mahadewa,"
ujar Dewa Arak.
Pemudaberambutputihkeperakanitumengarahkan
pandangan pada dua sosok tubuh yang saling kejar-mengejar beberapa belas tombak
di depan.
"Tapi, Kang," Melati
berusaha membantah. "Ayolah,Melati.Mahadewaadalahtokohangkara
murka.Bukankahkautelahmendengarsendiridarimulut
murid-murid Petani Maut? Lagi pula, kulihat Petani Maut juga mempunyai urusan
dengan Mahadewa."
'Terserahmulah, Kang."
Hanya itu jawaban yang
dikemukakan Melati. KelihatannyakeputusannyatelahdiserahkanpadaDewa Arak.
"Kalaubegitu...,mailkitabergegas,Melati."
Setelahberkatademikian,pemudaberambutputih keperakan itu melesat ke arah
kepergian Mahadewa dan Petani Maut, diikuti Melati. Sepasang pendekar muda
ituberlarisambilmengerahkanilmumeringankantubuh. Kalau Melati mengerahkan
seluruh kemampuannya, maka Dewa Arak hanya mengerahkan sebagian saja. Itu pun
sudah cukup untuk menyaingi lari
Melati.
Puluhan pasang mata mengiringi
kepergian Dewa Arak dan Melati. Termasuk, Ki Manda dan Ragola. Pengawal Kepala
Desa Ceger yang tangannya masih bengkak-bengkak ini sudah tidak bisa
menyombongkan diri lagi. Lenyap sudah keinginannya untuk menguji kepandaian
Dewa Arak. Telah disaksikannya sendiri kelihaiantokohmudayangditantangnya.Dandiatahu,
Dewa Arak dengan mudah bisa menundukkannya.
Diam-diam, Ragola bersyukur Dewa
Arak tidak meladenitantangannya.Segumpalperasaanterimakasih pun bergayut di
benaknya. Dan dia pun berjanji dalam hati akan membantu, apabila pemuda
berambut putih keperakan itu mengalami kesulitan.
Kini yang dapat dilakukan Ragola
hanya menatap kepergianDewaAraksepertipuluhanpasangmatalain.
Diperhatikannyatubuhpemudaberambutputihkeperakan
itudengansorotmatapenuhterimakasih,hinggalenyap di kejauhan.
Sementara itu, orang yang
bersangkutan sama sekali tidak tahu. Dewa Arak dan Melati terus saja
berlaricepat.Tapibelumberapajauhberlari,mereka
terpaksa berhenti begitu melihat
sosok Petani Maut yangtengahberdiridiamsekitarlimatombakdidepan.
***
Petani Maut menoleh, begitu
mendengar adanya suara langkah kaki di belakangnya.
"Ah! Kiranya kau, Dewa
Arak," desah kakek berpakaian abu-abu lusuh ketika melihat keberadaan Dewa
Arak dan Melati di belakangnya.
Memang, tadi Dewa Arak dan Melati
sengaja memberatkan langkah kaki agar terdengar Petani Maut. Kini sepasang mata
pendekar muda itu mengembangkan senyum dan menganggukkan kepala, menyambut
sapaan Petani Maut.
"Bagaimana, Ki?" tanya
Arya, sambil melangkah menghampiri.
"Hhh...!Iblisituterlalulihai,DewaArak.Aku
tidak bisa mengejarnya...," desah Petani Maut.
Aryaterdiam.TanpadijawablebihjelasolehPe-taniMautpun,sudahbisadidugakalauMahadewatelah
berhasilmeloloskandiri.KetidakberadaanMahadewadi situ telah cukup menjelaskan
masalahnya.
"KaumengenalMahadewa,Ki?"tanyaAryasetelah
beberapa saat termenung.
Petani Maut tidak langsung
menjawab. Pandangannyamalahdilayangkankeatassepertitengah mencari jawabannya di
sana.
"Mengenalnya jelas sih,
tidak. Tapi, dialah orang yang telah membunuh tiga rekanku."
Kemudian, kakek berpakaian
abu-abu lusuh ini menceritakan semua kejadian yang dialami. Dan dengan penuh
perhatian, Dewa Arak dan Melati mendengarkan cerita Petani Maut. Sama sekali
cerita itu tidak diselak, hingga selesai.
"Kalausajakamidalamkeadaansewajarnya,tidak
akan semudah itu Mahadewa membunuh tiga orang sahabatku," tutur Petani
Maut menutup kisahnya.
Dewa Arak termenung ketika Petani
Maut telah menyelesaikancerita.Menilikkernyitanpadadahinya,
bisadiketahuikalauDewaAraktengahberpikirkeras.
"Kalau mendengar ceritamu,
Ki," kata Arya 1ambat-lambat."HanyaMahadewaseorangyangmempunyai
niattidakbaik,sehubungankedatangannyabersamatiga
rekannyakepulauini.Kemungkinanbesar,tindakannya itu tidak diketahui tiga orang
rekannya."
"Aku pun menduga demikian,
Dewa Arak. Perta-rungan antara kami berlangsung secara adil. Hal itu membuat
kami terkecoh, dan menyangka mereka semua adalah orang yang mempunyai watak
gagah. Tapi sama sekali tidak disangka kalau Mahadewa adalah seekor serigala
berbulu domba."
Dewa Arak mengangguk-angguk. Telah disaksikannya sendiri ketelengasan
Mahadewa. Buktinya, tanpa ragu-ragu lagi ilmu andalannya yang mengerikan
digunakan pada jurus-jurus awal.
"Apakah mereka semua selihai
Mahadewa?" Jantung Dewa Arak berdetak keras ketika
mengajukanpertanyaanini.Betapatidak?
Menundukkan Mahadewa saja sudah merupakan pekerjaan sulit. Apalagi, ditambah
tiga orang rekannya! Dewa Arak khawatirmerekaakanmembela,apabilakeadaanMahadewa
terancam.Jikahalituterjadi,DewaArakbenar-benar dilanda masalah besar.
Petani Maut menganggukkan kepala
pertanda membenarkan.
"Oya,DewaArak.Kautahu,alasanyangmendorong
mereka datang ke pulau ini?" tanya Petani Maut.
"Tidak, Ki," jawab Arya
sejujurnya, karena memang benar-benar tidak tahu.
"Mereka ingin menjajal
kepandaian tokoh-tokoh persilatanterkenaldipulauini,"jelasPetaniMaut. Dewa
Arak diam. Bisa dimaklumi tindakan tokoh-tokoh dari Pulau Karang itu. Arya tahu
kalau setiap tokoh persilatan, apalagi tokoh tingginya, pasti mempunyai
penyakit sama. Gemar mengadu kesaktian!Palingtidak,sukamenyaksikanpertarungan
antar tokoh!
"Kau pun tidak luput dari
ancaman mereka, Dewa Arak! Setelah kami berempat berhasil dikalahkan, kaulah
sasaran berikutnya!" sambut Petani Maut
"Heh...?! Mengapa
demikian?" tanya Dewa Arak,heran.
"Begitu berhasil mengalahkan
kami berempat, merekamengutarakanketidakpuasannyaatasperlawanan kami yang
dianggap tokoh tersakti di pulau ini. Nah! Karena merasa tersinggung, kami lalu
menceritakan perihaldirimu.Kukatakankalaukauadalahjagonomor satu di pulau
ini."
"Kau terlalu berlebihan, Ki.
Ucapanmu itu akan membuat banyak tokoh mencariku! Kau tahu, Ki. Dunia
amatluas.Banyakorangyangmemilikikepandaianyang
jauhlebihtinggidaripadaku.Tapi,merekatidakingin campur tangan dalam urusan
dunia persilatan. Namun, apabilamerekamendengarberitayangkausebarkanitu, aku
tidak yakin tokoh-tokoh itu akan tetap berpangku tangan."
"Maafkan aku, Dewa Arak.
Sungguh aku tidak pernahmemikirkanhalitu.Waktuitu,semuaperkataan keluar tanpa
sempat dipikir masak-masak lagi," kata Petani Maut, bernada penyesalan.
Arya mengangguk-anggukkan kepala
pertanda mengerti.
"Lupakanlah,Ki.Tidakadayangperludimaafkan.
O,ya.Mahadewatelahberhasilmenjajalkepandaianku. Mungkin, sekarang tengah memberitahukan kawan-kawannya."
"Kau benar, Dewa Arak. Kini,
kita tingal menunggu kedatangan mereka. Aku yakin, empat orang tokoh dari Pulau
Karang itu akan mencarimu," sambut Petani Maut.
Ada nada kegembiraan dalam ucapan
kakek ber-pakaian abu-abu lusuh itu, karena tidak perlu lagi
repot-repotmencarijejakMahadewa.Diahanyatinggal mengikuti, ke mana perginya
Dewa Arak.
"Akan ke mana kau sekarang,
Ki?" tanya Arya sambil lalu.
"Semula, aku tidak tahu arah
yang harus kutempuh.Tujuankuhanyainginmembalasdendamkusaja
padaMahadewa.Tapi,kiniakutahukemanaharuspergi, walaupun dengan perasaan tidak
enak"
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Ki" kata Arya sejujurnya.
"Akuterpaksaharusmengikutikemanakaupergi,
Dewa Arak. Karena aku yakin, tokoh-tokoh dari Pulau
Karang itu akan mencarimu. Itulah
yang membuatku merasa tidak enak," jelas Petani Maut
Dewa Arak tersenyum lebar.
"Hilangkan perasaan itu, Ki.
Aku sama sekali tidak merasa keberatan. O, ya. Mari kita kembali ke desa."
6
Sang surya sudah sejak tadi
tenggelam di ufuk Barat. Kini yang menggantikan tugas untuk menerangi
persadaadalahsangdewimalam.Bentuknyabulatutuh, dengan sinarnya yang memancar
lembut. Kukuk burung hantudankerikjangkriksertabinatangmalamlainnya, menambah semaraknya
suasana.
Di bawah siraman lembut sinar
bulan, tampak berkelebatan empat sosok bayangan hitam. Gerakan mereka rata-rata
cepat bukan main. Sehingga yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan yang tak
jelas bentuknya. Apabila ada orang yang melihatnya, tentu akan menyangka
hantu-hantu yang tengah bercanda.
Kaki-kakiempatsosokbayanganhitamituseperti
tidak menyentuh tanah ketika melesat cepat memasuki tembok batas Desa Ceger.
Dan masih dengan kecepatan sama, mereka melesat menuju ke lambung desa.
Empat sosok bayangan hitam itu
melesat tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Tak aneh kalau
merekatidaktahugerak-geriknyadiperhatiantigaso-sok tubuh yang bersembunyi di
atap rumah.
"Itukah tokoh-tokoh dari
Pulau Karang, Ki?" tanya sosok berpakaian ungu yang tak lain dari Dewa
Arak pelan.
Meskipun hanya Dewa Arak yang
mengajukan pertanyaan, tapi tak urung seorang gadis berpakaian putih di
sebelahnya yang memang Melati ikut menoleh. Sama seperti Arya, Melati juga
menatap Petani Maut, orang yang ditanya.
"Benar,DewaArak,"jawabPetaniMaut,singkat.
BerbedadenganDewaArakdanMelati,PetaniMaut mengeluarkan ucapan tanpa mengalihkan
pandangannya. Sepasang matanya tetap tertuju lurus ke arah empat
sosok bayangan yang bergerak
cepat di bawah.
Arya dan Melati pun mengalihkan
pandangan ke bawah,kearahempatsosokbayanganhitamyangternyata Mahadewa dan
kawan-kawannya. Sementara yang ditatap
terussajaberlari,sehinggasemakinlamasemakinjauh dari tempat Dewa Arak dan
rekan-rekannya berada.
"Akankemanamereka,Kang?"tanyaMelati,ingin
tahu,
"Ke mana lagi kalau bukan ke
rumah Ki Manda, Melati. Aku yakin, mereka akan menanyakan padanya tentang
keberadaan kita."
"Apa yang harus kita
lakukan, Kang?" tanya Melati lagi, setelah terdiam sesaat lamanya.
"Mengejarnya,Melati.Akukhawatir,merekaakan
melakukan tindakan yang tidak diinginkan apabila mendapat jawaban berbeda
dengan yang diharapkan," jelas Arya panjang lebar.
"Apa yang kau katakan itu
benar, Dewa Arak," sambutPetaniMaut,yangmemangsudahsejaktadimerasa tidak
sabar untuk segera mengejar.
"Kalaudemikian,marikitaikutimereka,"putus
Arya.
JawabandariPetaniMautadalahsebuahlompatan
ke tanah. Laksana seekor burung garuda, tubuhnya melayang ke tanah. Lalu,
ringan tanpa suara kedua kakinya hinggap di tanah.
Pada saat yang hampir
berbarengan, Melati dan Dewa Arak mendaratkan kakinya pula. Bahkan gerakan
merekaterlihatjauhlebihindahdaripadaPetaniMaut. Tapi, kakek berpakaian abu-abu
itu sama sekali tidak
melihatnya. Karena begitu kakinya
menjejak tanah, langsung saja melesat mengejar Mahadewa dan kawan-kawannya yang
semakin mengecil.
Tentusajamelihathalini,DewaAraktidakbisa
berpangku tangan. Dia pun melesat cepat mengejar Petani Maut diikuti Melati.
Meskipun Petani Maut melesat
lebih dulu, namun beberapa saat kemudian Dewa Arak dan Melati berhasil
membarenginya. Apalagi ilmu lari cepat sepasang pendekar muda itu berada di
atas Petani Maut. Bahkan kalaumau,denganmudahPetaniMautbisatersusuldan
tertinggal.
Tapi, Dewa Arak dan Melati
terpaksa harus menyesuaikan pengerahan ilmu meringankan tubuhnya sebatas
kemampuan yang dimiliki Petani Maut. Maka akibatnya, jarak di antara mereka
denganempat tokoh dari Pulau Karang semakin jauh. Semakin lama, tubuh Mahadewa
dan kawan-kawannya terlihat semakin mengecil. Hingga akhirnya, lenyap sama
sekali.
Walaupun demikian, ketiga tokoh
silat itu sama sekali tidak merasa khawatir akan kehilangan
buruannya.Merekatelahyakinkalauarahtujuanempat tokoh dari Pulau Karang itu
adalah rumah Kepala Desa Ceger.
Dewa Arak dan Melati memang tidak
tahu letak tempat tinggal Ki Manda. Maka mereka berdua tinggal
mengikutisaja,kemanaarahPetaniMautmelangkah.Dan karena kakek berpakaian abu-abu
lusuh ini sering melintasiDesaCeger,takherankalaujaditahutempat tinggal kepala
desa itu.
"Heh...?!"
Dewa Arak, Petani Maut, dan
Melati tiba-tiba berhentiberlari,dansalingberpandangan.Rautwajah mereka
menyiratkan keheranan. Betapa tidak?
Samar-samartelingamerekamenangkapsuaragaduh,yang sudah pasti timbul karena
adanya pertarungan. Terdengarnyajeritkemarahanyangditopangpengerahan tenaga
dalam dan benturan senjata, telah menjelaskan adanya pertarungan berlangsung.
"Sepertinya ada yang tengah
bertempur," bisik Petani Maut, bernada memberi tahu.
Sebenarnya pemberitahuan itu
hanya basa-basi, karena Petani Maut tahu kalau Dewa Arak dan Melati pasti juga
mendengar suara gaduh itu.
"Kau benar, Ki," hanya
itu sambutan Dewa Arak. "Arahnya dari tempat tinggal Ki Manda," kata
Petani Maut lagi.
"Jangan-jangan...."
Meskipun Petani Maut tidak
meneruskan ucapan-nya, namun Dewa Arak dan Melati bisa menerka ke-lanjutannya.
Itulah sebabnya, mereka tidak heran
melihatPetaniMautmelesat.Bahkansepasangpendekar muda ini ikut melesat ke arah
yang sama.
Hanya dalam beberapa kali lesatan
saja, asal suarakeributanitusudahterlihatDewaArak,Melati, dan Petani Maut. Dan
dugaan mereka ternyata tidak salah. Ternyata buruan yang tadi mereka
kejar-kejar, tengah bertarung menghadapi lawan-lawannya.
DewaArak,PetaniMaut,danMelatiberhenrime-lesat.
Lalu dengan penuh selidik, mereka mengalihkan
pandangankearahpertarunganyangtengahberlangsung. Maka sebentar saja, telah bisa
diketahui kalau Mahadewadankawan-kawannyatengahberhadapandengan
gabungantokoh-tokohpersilatan.Hanyasaja,DewaArak dan Melati mengenal sebagian
kecil dari mereka. Sedangkan Petani Maut mengenal sebagian besar tokoh
persilatan yang berada di situ.
Saat ini, Mahadewa dan ketiga
kawannya memang tengah bertarung melawan tokoh persilatan yang jumlahnya jauh
lebih besar. Tak kurang dari sepuluh kali lipat dari jumlah mereka yang hanya
berempat. Walaupun demikian, empat tokoh dari Pulau Karang itu
samasekalitidakterdesak.Bahkantampaknyaberadadi atas angin.
Keadaan yang menguntungkan bagi
Mahadewa dan kawan-kawannya ini diketahui secara pasti oleh Dewa Arak, Petani
Maut, dan Melati.
Sama sekali tidak mengherankan
kalau Mahadewa dan kawan-kawannya mampu berada di atas angin. Para
pengeroyoknya ternyata hanya memiliki kepandaian
tidakterlalutinggi,walaupunsudahpunyanamadalam duniapersilatan.Tapikalaudibandingkandenganempat
tokohPulauKarang,jelassangatjauh.Sebagianbesar dari para pengeroyok adalah
murid-murid Petani Maut
danPendekarTanganSakti.Sisanya,adalahtokoh-tokoh
persilatan yang memiliki kepandaian lumayan.
Pengeroyokanorang-orangitubagiMahadewadan
rekan-rekannyasamasekalitidakmenimbulkanmasalah.
Setiapseranganberhasilditanggulangisecaramudah. Sebaliknya setiap serangan
balasan Mahadewa dan kawan-kawan,selalumenimbulkanakibat.Hanyadengan
kibasan-kibasantangansaja,sudahcukupmembuattubuh lawan-lawannyaberpentalankebelakangbagaidilanda
angin ribut.
AdaperasaankagumdihatiDewaArakpadaempat
tokohPulauKarangitu.Aryamelihattidakadasatupun
lawanempattokohituyangtewas.Bahkanterlukaberat pun tidak, kecuali hanya pingsan
saja. Hal ini menandakan kalau mereka tidak mempunyai jiwa kejam. Meskipun ada
perasaan kagum, namun timbul pula
rasa heran di hati Arya. Tindakan
Mahadewalah yang membuatnya heran. Berbeda dengan penampilan pertamanya,
tindakan Mahadewa kini sama sekali tidak telengas.Sekaranglawannyadirobohkantanpadibunuh
atau dilukai.
Tapi Arya tidak bisa terlalu lama
tenggelam dalam alun pikirannya. Dan itu terjadi karena
perubahanbesardalamkancahpertarungan,ketikasemua lawan
empat tokoh dari Pulau Karang
telah berjatuhan di tanah.
Jliggg!
Hampir berbarengan, di depan
Mahadewa dan kawan-kawannya tahu-tahu telah berdiri dua sosok tubuh. Mereka
tampak tengah menatap tokoh-tokoh dari Pulau Karang itu dengan raut wajah tidak
bersahabat. Sementara itu, Petani Maut yang sejak melihat
Mahadewa, sudah merasa murka bukan
kepalang. Dan dia tidak bisa menahan diri lagi, sehingga segera melangkah
menghampiri. Tentu saja melihat hal ini, Dewa Arak ikut bergerak, diikuti
Melati. Gadis itu melangkahdibelakangkekasihnya.Kemudian,DewaArak
cepatmengulurkantangan,menyentuhbahuPetaniMaut. Kakek berpakaian abu-abu lusuh
itu langsung
menoleh.
"Kumohon kau jangan
bertindak dulu, Ki. Kita lihat dulu perkembangannya," pinta Arya, pelan.
Petani Maut tidak langsung
menganggukkan kepala. Dengan perasaan berat, permintaan pemuda berambutputihkeperakanitudisetujuinya.Buru-buru
keinginan untuk menerjang Mahadewa ditekan. Yang
dilakukannyasekarangadalahmemperhatikanperistiwa yang akan terjadi.
SecercahsenyumtampaktersunggingdimulutDewa
Arak, tatkala melihat Petani Maut memenuhi permintaannya.Kini,diabisaikuttenangmenyaksikan
keadaan yang terjadi di depan.
KiniDewaArak,Melati,danPetaniMautmenatap
duaorangyangtengahmendekatiMahadewadantigaorang kawannya. Dua orang itu
sama-sama telah lanjut usia. Yang seorang bertubuh gemuk dan besar, mirip lembu.
Sebatangtongkatdarikayuyangsalingmelilit,dengan gagang kepala ular tampak
tergenggam di tangannya. Pakaian berwarna coklat tua, semakin menambah
keangkeran penampilannya.
Sedangkan kakek yang seorang lagi
bertubuh, tinggikurusdanberwajahkekuningan.Bentukwajah-nya tirus, mirip tikus.
Pakaiannya berwarna kuning muda. Sungguh sangat jauh kalau dikatakan angker.
Kakek tinggi kurus ini mirip orang penyakitan.
Memang bagi orang yang tidak
mengenai, kakek berpakaian coklat tualah yang kelihatan lebih berbahaya. Tapi,
penilaian seperti itu tidak masuk dalam benak Dewa Arak. Sekali lihat saja,
bisa diketahui kalau kakek tinggi kurus itu tidak kalah lihai dibanding kakek
berpakaian coklat.
"Malaikat Tongkat Sakti dan
Ular Muka Kuning," desis Petani Maut pada Dewa Arak dan Melati.
AryadanMelatiagakterkejutjugamendengarnya.
Malaikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning adalah datuk-datuk persilatan yang
belum pernah ada tandingannya. Telah puluhan, bahkan mungkin ratusan
kalikeduatokohitubertarung.Danselamaitu,belum
pernahadaorangyangmampumenandingi.Bahkanmereka tetap tak terkalahkan, sampai
akhirnya mengundurkan diri dari dunia persilatan.
Kalau sampai kedua datuk ini
keluar dari tempat,pengasingannya, bisa diperkirakan penyebabnya. Jelas telah
terjadi suatu hal yang amat penting!
Brosss!
Tanah langsung amblas ketika
Malaikat Tongkat Sakti menekankan kaki kanannya ke tanah. Padahal, kelihatannya
sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalam.Namunakibatnyaluarbiasa.Darisinibisadi-perkirakankekuatantenagadalamyangdimilikiMalai-kat
Tongkat Sakti.
"Orang-orang asing...!"
Malaikat Tongkat Sakti mulai
membuka suara. Suaranya terdengar keras bukan kepalang, laksana guntur. Memang,
ucapan itu dikeluarkan disertai pengerahan tenaga dalam.
Diiringi ucapan itu, Malaikat
Tongkat Sakti menatap wajah empat tokoh Pulau Karang satu persatu.
Sikapnyaterlihatpenuhwibawa.Sehingga,tidakhanya
Mahadewadankawan-kawannyasajayangmemperhatikan. DewaArak,PetaniMaut,danMelatijugasampai-sampai
tak berkedip menatapnya.
"Sebenarnyaakusudahtidakberminatlagiuntuk
campur tangan dalam urusan kekerasan. Tapi, tindakan kalian telah melampaui
batas. Kalian terlalu angkara murka! Membanggakan kemampuan sendiri hanya untuk
berbuat sewenang-wenang! Perguruan silat yang didirikan orang yang terhitung
muridku telah kalian hancurkan!"
Malaikat Tongkat Sakti
menghentikan ucapan. Dibasahinya tenggorokannya yang kering dengan air ludahnya
sendiri.
"Sekarang, bersiaplah
menerima pembalasanku!" lanjut Malaikat Tongkat Sakti, menutup ucapannya.
Usai berkata demikian, Malaikat
Tongkat Sakti melangkah maju. Sikap dan tindak-tanduknya menun-jukkan kalau
telah siap-siap bertarung. Tapi....
"Tahan, Malaikat Tongkat
Sakti!"
Sebuah cegahan keras yang menggema
di seluruh penjuru tempat itu, membuat Malaikat Tongkat Sakti menghentikan
langkah dan menolehkan kepala. Bahkan
bukanhanyadiasajayangmenoleh.UlarMukaKuningdan
empat tokoh Pulau Karang juga
mengarahkan pandangan pada asal bantahan tadi.
Baik Malaikat Tongkat Sakti, Ular
Muka Kuning maupunempattokohPulauKarangitutahukalaupemilik
suaratadipastimemilikikepandaiantinggi.Kerasnya
suarayangterdengartaditelahmampumembuktikannya. "Siapa kau, Anak Muda? Dan
mengapa mencampuri urusan kami?" tanya Malaikat Tongkat Sakti bernada
tidak senang.
Sepasangmatadatukyangtelahlamamengasingkan
diriitumenatapwajahorangyangtelahberanimencegah
tindakannya. Kernyitan pada dahi menjadi pertanda kalau Malaikat Tongkat Sakti
tengah berpikir.
SambutanyangditatapdantaklaindariDewaArak
itu tersenyum lebar. Masih dengan mulut tersenyum, kakinya melangkah mendekat.
"Namaku Arya, Ki,"
jawab Arya masih dengan senyum."Danmaksudtindakankuinidemikebaikankita
bersama."
"Arya?! Apakah nama
lengkapmu Arya Buana, Anak Muda?!"terkaMalaikatTongkatSakti,setengahkaget.
Bukan hanya Malaikat Tongkat Sakti yang merasa terkejut ketika Arya
memperkenalkan diri. Raut keterkejutan pun tampak di wajah semua orang yang
berada di situ. Tentu saja, Melati dan Petani Maut
merupakan pengecualian.
Dengan agak berat, Arya
menganggukkan kepala. "Jadi, kau.... Dewa Arak...?!" desis Malaikat
Tongkat Sakti dengan suara
bergetar.
Untuk yang kesekian kalinya
pemuda berambut putih keperakan itu menganggukkan kepala, membenarkan.
"Ah...! Sungguh merupakan
sebuah anugerah be-sar.Ternyatadisaatakhirhayatku,masihbisabertemu seorang
pendekar muda yang telah mengukir nama besar dalam rimba persilatan. Tapi, apa
alasanmu mencegah tindakan Malaikat Tongkat Sakti, Dewa Arak?!" Ular
MukaKuningyangsejaktadidiam,mulaiangkatbicara. DewaAraktidakIangsungmenjawab.Diatercenung
sejenak, memikirkan kata-kata yang pantas untuk memulai pembicaraan. Paling
tidak, untuk mencegah
terjadinya salah pengertian.
"Sebelumnya, aku minta maaf
padamu, Ki," ucap Arya pada Malaikat Tongkat Sakti. "Bukan maksudku
untuk menggurui. Tapi alangkah bijaksananya apabila
memberikesempatanpadamerekauntukmengajukanalasan
daritindakanyangtelahdiperbuat.Akuyakin,mereka akan mengajukan alasannya,"
urai Dewa Arak panjang lebar.
Malaikat Tongkat Sakti dan Ular
Muka Kuning sekilas saling berpandangan. Tidak terlihat adanya gambaran
perasaan apa pun di wajah keduanya. Memang, baik Malaikat Tongkat Sakti maupun
Ular Muka Kuning telah bisa menguasai perasaan, sehingga tidak tampak pada
wajah mereka.
Meskipundemikian,keduabelahpihaktelahbisa
mengetahui perasaan masing-masing. Mereka sama-sama
menyadarikalauucapanDewaArakmengandungkebenaran. "Kau benar, Dewa Arak.
Terima kasih atas
alasanmu."
Meskipunperasaanmalumenjalarhati,Malaikat
Tongkat Sakti tidak ragu-ragu
mengakui kebenaran ucapan Dewa Arak.
"Ah!Kauterlalumerendah,Ki,"ucapArya,jadi
malu hati.
Tapi Malaikat Tongkat Sakti malah menyunggingkan senyum lebar.
Kemudian pandangannya beralih pada empat tokoh dari Pulau Karang.
"Kalian dengar ucapan Dewa
Arak?!"
Empat tokoh Pulau Karang itu
mengalihkan pan-dangan dari Dewa Arak, pada Malaikat Tongkat Sakti. "Ya.
Kami mendengarnya," Bandawasa yang menyahuti. "Ternyata berita yang
terdengar mengenai Dewa Arak sama sekali tidak berlebihan. Memang,
wawasannya sangat luas
dan...."
"Aku tidak ingin mendengar
ceramahmu, Orang Asing!" sergah Malaikat Tongkat Sakti, cepat. "Aku
hanya butuh alasanmu! Cepat katakan, mengapa kalian menghancurkanPerguruanTapakSakti?!Cepat!Sebelum
kesabaranku hilang!"
EmpattokohdariPulauKarangitusalingberpan-dangan.
Raut wajah mereka menyiratkan kebingungan hebat.
"Aku tidak mengerti maksud
ucapanmu, Malaikat Tongkat Sakti," kilah Bandawasa, dengan raut wajah
tidak berdosa.
"Tidak mengerti?! Rupanya
kalau tidak ditunjukkan bukti sejelas-jelasnya kalian masih
mencobamenyangkal!Baik!Apakahkalianmasihmencoba
menyangkalkalaukukatakantelahmendatangiPerguruan
TapakSakti,membuatkeonarandisana,membunuhisemua orang yang berada di sana tanpa
kecuali, kemudian membumihanguskan perguruan itu?! Katakan, kalau hal
itutidakkalianlakukan!"uraiMalaikatTongkatSakti panjang lebar, penuh
ancaman.
"Kau terlalu berlebihan,
Malaikat Tongkat Sakti!" bantah Bandawasa berapi-api. "Kuakui, kami
memang mendatangi Perguruan Tapak Sakti dan terlibat
pertarunganmelawanmurid-muridperguruanitu.Tapi, kami hanya merobohkan mereka
tanpa luka berat. Apalagi,sampaimembunuh!Itufitnah!Tapiakuyakin,
kalausajaadamuridPerguruanTapakSaktiadadisini, mereka akan mengatakan bahwa
ucapan itu benar."
"Hmh...!" dengus
Malaikat Tongkat Sakti. "Aku tahu, mengapa kau berani berharap demikian,
Orang Asing! Karena, kau yakin kalau semua murid Perguruan Tapak Sakti telah
kau binasakan! Bukankah demikian?" "Terserah kalau anggapanmu demikian,"
ujar Bandawasasambilmengangkatbahu."Tapi, percayalah.
Aku mengatakan yang
sebenarnya." "Baik!Keinginanmukupenuhi.Ketahuilah,tidak
semua murid Perguruan Tapak Sakti
berhasil kalian binasakan. Ada yang berhasil melarikan diri, lalu melaporkan
semua kekejaman yang kalian lakukan. Sumantri! Kemari kau!"
MalaikatTongkatSaktimenolehkearahsebatang
pohon besar yang terletak di belakangnya. Sesaat kemudian, dari balik pohon
menyembul keluar sesosok tubuhberpakaiancoklat.DialahyangbernamaSumantri, murid
Perguruan Tapak Sakti yang berhasil selamat.
Bandawasa dan ketiga orang
kawannya memper-hatikanpenuhselidikpadaSumantriyangtengahmenuju ke arah mereka.
Melihat dari pakaian yang dikenakan, empat tokoh Pulau Karang itu tahu kalau
orang yang
tengah berjalan menghampiri benar
murid Perguruan Tapak Sakti.
"Ceritakanlah semua kejadian
yang kau alami, Sumantri," perintah Malaikat Tongkat Sakti ketika murid
Perguruan Tapak Sakti telah berada di sebelahnya.
"Beberapa hari yang lalu,
empat orang itu menyatroni Perguruan Tapak Sakti. Mereka menanyakan guru, namun
kami tidak memberitahukan. Tapi, mereka
terusmemaksasehinggaakhirnyaterjadipertarungan."
Sumantrimenghentikanucapannyauntukmengambil
napas.
"Tapi, mereka terlalu kuat
untuk kami. Satu persatu, kami berhasil dirobohkan. Dan mereka pergi, setelah
berhasil mendapatkan keterangan mengenai guru...."
"Nah!Kaubuktikansendirikebenaranucapanku,
Malaikat Tongkat Sakti?!" selak Bandawasa, bernada penuh kemenangan.
"Jangan terburu nafsu, Orang
Asing! Ucapan Sumantri belum selesai. Ayo, Sumantri. Lanjutkan ceritamu!"
"Tak lama kemudian, salah
seorang dari mereka kembali lagi. Lalu, membunuhi semua murid Perguruan Tapak
Sakti dan membumihanguskan perguruan."
"Heh...?!"
Bandawasa dan ketiga rekannya
terperanjat. "Salah seorang di antara kami? Katakan, siapa
orang itu?!" tanya Mahadewa
tidak sabar. Sumantri tersenyum mengejek.
"Kau benar-benar ingin tahu
orang yang telah melakukankekejianitu?!"muridPerguruanTapakSakti ini malah
balas bertanya.
MeskipunyangmendapatpertanyaanituMahadewa,
tapi tanpa sadar Bandawasa, Janaka, dan Mahesa ikut
menganggukkankepala.Jantungmerekaberdebartegang,
menantijawabanyangakankeluardarimulutSumantri.
Sumantri tidak langsung menjawab.
Ditatapnya wajah-wajahyangmenyiratkanperasaanpenuhrasaingin tahu satu persatu.
Sampai akhirnya, tatapannya berhenri pada orang terakhir. Mahadewa!
"Pembunuh biadab itu adalah
kau...!" tuding Sumantri pada Mahadewa.
"Apa?!"Mahadewaterlonjakkaget."Kau...,kau
dusta! Ini fitnah! Kubunuh kau...!"
Begitu ucapannya selesai,
laki-laki bercodet inimenerkamSumantri.Gerakannyamengingatkanorang akan
tindakan seekor harimau yang hendak menyantap mangsanya.
Sumantri terkejut bukan kepalang.
Tindakan Mahadewamemangsamasekalitidakdisangka.Akibatnya, dia tidak mampu
berbuat sesuatu. Bahkan andaikata telah menduga pun, Sumantri juga tidak akan
mampu berbuat apa-apa. Tibanya serangan memang terlalu cepat.
TentusajaMalaikatTongkatSaktitidaktinggal
diammelihatadanyabahayamautyangtengahmengancam keselamatan Sumantri. Buru-buru
kaki kirinya melangkah ke depan, sambil menyilangkan kedua tangan di atas
kepala.
Prattt!
Benturanantaraduapasangtanganyangsama-sama
mengandung tenaga dalam kuat
tidak bisa dihindari lagi.Bahkanbunyiyangterdengarlebihmiripbenturan dua buah
logam keras, ketimbang dua pasang tangan manusia.
Akibatyangterjadicukuphebat.TubuhMahadewa
melayangkembaliketempatsemula.Kejadianyangsama pun dialami Malaikat Tongkat
Sakti. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa tombak. Tapi hanya dengan gerakan
sederhana, kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung telah berhasil
dipatahkan.
Hal yang sama pun berhasil
dilakukan Mahadewa. Kekuatan yang membuat tubuhnya melayang dipatahkan,
meskipununtukituharusterbawaduludiudaraselama beberapa tombak.
Jliggg!
Begitukeduakakinyamendaratditanah,Mahadewa
langsung bersiap melancarkan
serangan kembali. Sedangkan Malaikat Tongkat Sakti yang telah bisa
memperkirakankekuatanlawan,tidakmautinggaldiam. Dia pun bersiap-siap pula.
Tapi....
"Mahadewa! Tahan...!"
Mahadewa terpaksa mengendurkan
otot-otot dan urat-urat syarafnya yang telah menegang waspada, karena telah
siap bertarung. Ditatapnya wajah Bandawasa, orang yang mengeluarkan cegahan
tadi.
"Mengapa kau mencegahku,
Bandawasa? Mereka telah memfitnahku! Dan hal itu hanya bisa ditebus dengan
darah!" ujar Mahadewa berapi-api.
Bandawasa tersenyum pahit.
"Menempur mereka masalah
mudah, Mahadewa.Dan itu bisa diurus belakangan. Yang penting sekarang adalah
bantahanmu dari tuduhan yang telah mereka lontarkan. Kini, aku ingat. Kau
selalu menghilang setiap kali kita habis merobohkan lawan-lawan. Maksudku...,
kau selalu mengajukan alasan untuk memisahkan diri dari kami bertiga, setiap
kali habis meninggalkan lawan yang telah tidak berdaya. Cepat kemukakan
alasanmu!"
Mahadewa tersentak melihat sikap
Bandawasa. "Kau....Kauinianeh,Bandawasa!Mengapamalah
menyudutkanku?" tanya
Mahadewa, terbata-bata. SepasangmatanyadialihkankearahMahesadanJanaka. Tapi
wajah kedua orang rekannya itu tampak juga menyiratkan kecurigaan terhadapnya.
"Katakansaja,Mahadewa.Kemanakaupergiwaktu
itu? Aku ingat, sewaktu kita selesai mendatangi Perguruan Tapak Sakti, kau
meminta izin untuk memisahkan diri. Begitu pula, sewaktu sehabis mengalahkan
Pendekar Tangan Sakti dan ketiga orang kawannya.Ah!Mudah-mudahansajatidakterjadisesuatu
atas mereka," harap Bandawasa.
UcapanBandawasamembuatsemuaorangyangadadi
situ, terutama sekali Mahadewa, Mahesa, dan Janaka, tersentak. Bahkan Bandawasa
sendiri tersentak kaget ketika teringat, kalau tadi telah melihat keberadaan
Petani Maut. Keberadaan Dewa Arak, dan berita tak disangka-sangka mengenai
Mahadewa, membuat mereka semua melupakan keberadaan Petani Maut.
Hampir serentak, semua kepala
tertuju pada PetaniMaut.Dansebelumsemuasempatberkataapa-apa,
PetaniMautyangmemangsudahsejaktadimenahan-nahan amarah, langsung angkat suara.
"Harapanmu sama sekali tidak
terkabul, Ban-dawasa! Mahadewa waktu itu kembali dan berusaha
membantaikamisemuayangsudahtidakberdaya.Ah...! Untung aku masih mujur, hingga
bisa bertahan hidup!" "Keparat! Fitnah keji! Kurobek mulutmu yang
lancang!"
Belum hilang gema ucapan itu,
Mahadewa telah melompat menerjang Petani Maut.
"Tak akan kubiarkan kau
menyebar kekejian lagi dan mengotori nama perguruan kita, Mahadewa!"
Seiring keluarnya ucapan itu,
Bandawasa melompat memapak luncuran tubuh Mahadewa. Hal ini membuat laki-laki
bercodet itu menghentikan gerakannya.
"Kau..., kau lebih
mempercayai ucapan mereka ketimbang ucapanku, Bandawasa?!" terbata-bata
Ma-hadewa mengucapkan perkataannya.
"Aku tidak punya pilihan
lain, Mahadewa. Semua bukti memberatkanmu," jawab Bandawasa, bernada
penyesalan.
"Benar, Mahadewa,"
sambung Mahesa. "Sekarang, menyerahlah. Kau harus mempertanggungjawabkan
semua perbuatanmu. Jangan paksa kami melakukan tindak kekerasan."
"Kau telah membuat kami
semua malu, Mahadewa. Yang lebih parah lagi, kau telah mencorengkan lumpur pada
nama perguruan kita," timpal Janaka, penuh penyesalan seperti juga ketiga
rekannya.
Mahadewa menatap wajah
rekan-rekannya satu persatu.
"Baiklahkalaukaliansudahtidakmempercayaiku
lagi. Aku memang tidak mempunyai bukti untuk menyanggahnya. Tapi, aku tidak
sudi dihukum untuk kesalahan yang tidak pernah kuperbuat. Selamat
tinggal."
Secepat ucapannya selesai,
secepat itu pula Ma hadewa mengambil senjata andalannya yang terselip di
pinggang. Sebatang ruyung berbatang dua yang kedua ujungnya dihubungkan rantai
baja. Dan, ranta baja itulahyangdigunakanuntukmembelitlehernya.Lalu...
Krrrrk...!
Terdengar suara berderak keras
ketika tulan tulang leher Mahadewa hancur berantakan. Dara segar pun memancur
deras dari mulutnya. Laki-laki bercodet itu terhuyung-huyung sebentar, lalu
ambruk di tanah. Saat itu juga, nyawa Mahadewa melayang ke alam baka.
"Mahadewa...!"
Hampirberbareng,Bandawasa,Mahesa,danJanaka
berseru keras. Laksana terbang,
mereka bertiga langsung meluruk ke arah Mahadewa.
"Mahadewa...," keluh
Bandawasa sedih. Tampak jelasadanadakesedihandalamucapannya.Matanyapun tampak
merembang, menahan duka yang mendalam.
HalyangserupapunterpancardiwajahMahesadan
Janaka.MerekahanyabisamenataptubuhMahadewayang terkapar di tanah.
7
Semua orang yang berada di situ
menyaksikan jalannyakejadiandenganperasaanbingung.Merekaju-ga tidak sempat
berbuat apa-apa untuk mencegah tindakanbunuhdiriMahadewa.Masalahnya,kejadianitu
berlangsung demikian cepat dan tidak terduga-duga. Apalagi, jarak mereka cukup
jauh dengan Mahadewa.
Dandengansendirinya,suasanamenjadihening.
Tidak ada seorang pun yang berbicara, semuanya tenggelam dalam alunan pikiran
sendiri-sendiri. Bandawasa dan dua orang rekannya sibuk dengan mayat Mahadewa.
Sedangkan Dewa Arak dan yang lain sibuk dengan pertanyaan yang menggayuti
benak.
Tokoh-tokohtingkattinggiduniapersilatanitu
mempunyaipandanganluas.MelihattindakanMahadewa,
seketikatimbulkeraguandalamhati.BenarkahMahadewa
yangtelahmelakukansemuakekejianitu?Kalaubenar, mengapa demikian kerasnya
menolak? Bahkan sampai-sampaibunuhdiri.Tapi,mungkinkahPetaniMaut dan yang lain
salah melihat? Rasanya, mustahil! Atau ada orang menyamar sebagai Mahadewa?
Kalau benar, siapa dan mengapa hal itu dilakukan?
Tapi,merekatidakbisaberlama-lamaterhanyut
alun perasaan itu. Sedangkan, Bandawasa dan dua
rekannyatelahbisamenguasaiperasaansedihnya.Kini, mereka mengalihkan perhatian
pada Malaikat Tongkat Sakti dan yang lainnya.
Dankesempatanitudipergunakansebaik-baiknya
oleh Malaikat Tongkat Sakti.
"Kisanak semua," kata
Malaikat Tongkat Sake membuka pembicaraan. "Dengan tewasnya pelaku semua
kekejianitu,akumohondiri.Saatinijuga,persoalan kuanggap telah tuntas. Selamat
tinggal."
Malaikat Tongkat Sakti
menganggukkan kepala sedikit, lalu berbalik. Dan dia bersiap meninggalkan
tempat itu, namun....
"Tidaksemudahitumasalahnyaselesai,Malaikat
Tongkat Sakti!" cegah Bandawasa.
Seketikaitujuga,langkahkakiMalaikatTongkat
Sakti terhenti di udara. Kembali tubuhnya berbalik untuk menghadap Bandawasa.
"Jadi..., apa maumu
sekarang, Orang Asing?!" sambut Malaikat Tongkat Sakti, berbau tantangan.
"Menuntuttanggungjawabkaliansemua!"tandas
Bandawasa keras, sambil menudingkan jari telunjuk ke arah semua tokoh tingkat
tinggi yang berada di situ. "Heh...?! Tidak salah dengarkah aku? Kau ingin
menuntutku?!" Malaikat Tongkat Sakti meminta
ketegasan.
"Bukan hanya kau, Malaikat
Tongkat Sakti," Bandawasamembenarkan."TapijugaUlarMukaKuningdan Dewa
Arak!"
"Kau gila!" maki Ular
Muka Kuning, yang sejak tadi diam saja.
Sedangkan Dewa Arak saat ini
tetap bersikap tenang.
"Aku hanya menuntut
keadilan! Nyawa harus ditebus nyawa! Kawanku sama sekali tidak bersalah.
Tapiakibattindakankalian,diatelahtewas!Kamiakan
menuntutbalasataskematiannya,agarrohnyatenangdi alam baka."
"Heh?! Bukankah tadi kau
juga yakin kalau temanmuitubersalah?"Aryaikutmembukasuarasambil melangkah
mendekat, diikuti Melati dan Petani Maut.
Sementaraitu,Bandawasamengalihkanperhatian
pada Arya.
"Semula, aku memang yakin
kalau dia bersalah. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku yakin, rekanku bukan pelaku
semua kekejian yang dituduhkan. Ini pasti
fitnahyangtidakbisakudiamkanbegitusaja!"tandas Bandawasa, keras.
"Apayangmembuatmuberubahpikiransecepatitu,
Bandawasa?" tanya Dewa Arak, ingin tahu. "Apakah karena dia berani
bunuh diri?"
Bandawasa tidak langsung
menjawab. Ditatapnya wajahDewaAraklekat-lekat,kemudianperlahan-lahan kepalanya
terangguk.
"Perguruankamimempunyaisebuahaturankhusus,
yaitu bunuh diri dengan menggunakan senjata sendiri, untuk membuktikan
kebenarannya. Dan kini, Mahadewa melakukannya. Maka, kami yakin kalau dia tidak
bersalah. Jadi, sekarang merupakan kewajiban kami
untukmembalaskansemuasakithatiyangdideritanya," urai Bandawasa panjang
lebar.
Kini,semuatokohyangberadadisitumengerti,
mengapaBandawasabisaberubahpikirandemikiancepat. "Bersiaplahkaliansemua.Kitaharusselesaikan
urusan ini!" Janaka ikut
berbicara. Seiringucapannya,Janakamelangkahmaju.Sikap
yangdiperlihatkannyamenunjukkankesiapanbertarung.
Bahkan bukan hanya Janaka saja. Bandawasa dan Mahesa pun telah melangkah pula.
Tentu saja melihat hal ini, Malaikat
Tongkat SaktidanUlarMukaKuningtidaktinggaldiam.Mereka juga telah bersiap-siap,
untuk menyambut tibanya serangan tokoh dari Pulau Karang itu.
"Tahan...!"
Sebelumkeduabelahpihakterlibatpertarungan,
Dewa Arak telah mencegah.
DihadangnyalangkahtigatokohdariPulauKarang
itu. Mau tak mau, hal itu membuat
Bandawasa dan dua rekannya mengurungkan maksud.
"Jangan halangi kami, Dewa
Arak! Apabila kau ingin bertarung dengan kami, tunggulah hingga urusan ini
selesai!" kata Bandawasa.
"Sabar dulu, Bandawasa.
Jangan biarkan per-soalan ini berlarut-larut. Aku yakin, telah terjadi
kesalahpahaman di sini."
"Maksudmu?" Janaka
mengernyitkan kening. "Kalian percaya padaku?!" Arya malah balas
bertanya.
Bagai diberi perintah, tiga tokoh
dari Pulau Karangitumenganggukkankepala.SikapDewaArakyang tampak tidak memihak,
membuat mereka menaruh kepercayaan.
"Terima kasih atas
kepercayaan yang kalian berikan padaku. Percayalah! Aku tidak akan
menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan," ucapArya,sungguh-sungguh."Nah!Sekarang,dengarkan
baik-baik."
SampaidisiniDewaArakmenghentikanucapannya.
Kepalanya segera ditengadahkan ke langit, seperti tengah mencari-cari sesuatu
di awang-awang. Dan sebentar kemudian, pandangannya telah dialihkan kembali
pada Bandawasa dan rekan-rekannya.
"Perlukalianketahui.ApayangdikatakanPetani
MautdanmuridPerguruanTapakSakti,samasekalibukan fitnah! Mereka mengatakan yang
sebenarnya! Dan ucapanku ini keluar bukan karena ikut-ikutan, tapi
karenaakutelahmelihatdenganmatakepalasendiri!"
"Maksudmu...?!"
Bandawasa menggantung
ucapannya.
"AkutelahberhadapansendiridenganMahadewa." "Kau bertarung
melawan Mahadewa, Dewa Arak?!"
tebak Mahesa.
"Benar,"jawabDewaArak,sambilmenganggukkan
kepala.
"Lalu,bagaimanakesudahannya?"desakBandawasa
penuh minat.
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Bandawasa?" "Maksudku..., siapa yang menang?" tanya
Bandawasa, lebih lengkap.
"Entahlah," Arya
menggelengkan kepala. "Pertarungan antara kami telah bubar, sebelum usai.
Bukantidakmungkin,akuakankalahkalaupertarungan dilanjutkan. Dia memang lihai
bukan kepalang."
"Mengapa kau bertarung
dengannya, Dewa Arak?" tanya Bandawasa lebih jauh.
"Dia membunuh penduduk Desa
Ceger. Dan aku paling pantang melihat adanya tindak kekejaman di depan mataku.
Maka, dia lebih baik kutantang. Lalu, kami terlibat pertarungan," jelas
Dewa Arak panjang lebar.
Untuk kedua kalinya, Bandawasa,
Mahesa, dan Janaka saling berpandangan. Kemudian Bandawasa mengangguk-anggukkan
kepala.
"Akumengertimaksudmu,DewaArak.Bukankahkau
jugamenuduhMahadewasebagaipelakusemuapembunuhan keji itu?!" Bandawasa
memberi kesimpulan.
Dewa Arak tersenyum tenang.
"Aku yakin, pelaku semua
kekejian itu adalah Mahadewa. Tapi, Mahadewa yang mana, itulah
pertanyaannya!"
Tiga tokoh dari Pulau Karang itu
bingung mendengar ucapan Dewa Arak. Dahi mereka berkernyit dalam, menandakan
besarnya perasaan heran yang melingkupi.
BukanhanyatigatokohdariPulauKarangitusaja
yang merasa heran. Bahkan semuanya merasa bingung mendengar ucapan Dewa Arak.
"Hm....Apakahmaksuducapanmuituberarti...,
ada dua Mahadewa? Maksudmu..., Mahadewa mempunyai kembaran?" terka
Bandawasa.
"Tidak seperti itu,
Bandawasa. Tapi dugaanku, adaseseorangyangmenyamarsebagaiMahadewa.Dan...."
"Tutup mulutmu! Kau hanya mengada-ada, Dewa
Arak!" potong Bandawasa,
keras.
Setelah berkata demikian,
Bandawasa menerjang Dewa Arak.
Serangannyadibukadengansebuahpukulanlurus
ke arah dada lawan dengan tangan kiri.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi
tibanya pukulan Bandawasa, karena pukulannya disertai pengerahan tenaga dalam
kuat
Tapi, lawan yang diserangnya
bukan tokoh rendahan! Menghadapi serangan itu, Dewa Arak tidak
menjadigugup.Buru-burukakinyaditarikkebelakang.
Itupunmasihdisertaidenganliukantubuhnyakekanan. Hasilnya, serangan Bandawasa
hanya mengenai tempat kosong
TapiseranganBandawasatidakberhentisampaidi
situ saja. Begitu serangannya berhasil dielakkan, langsung dilancarkannya
serangan susulan. Kaki kanannya cepat diluncurkan dalam sebuah tendangan lurus
ke arah pusar.
"Hebat!"
Pujian tulus terlontar dari mulut
Dewa Arak. Arya memang kagum melihat serangan Bandawasa yang
bertubi-tubi.Meskipundemikian,bukanberartipemuda berambut putih keperakan itu
kerepotan. Dengan kecepatan gerakan ahli silat, kakinya langsung
digenjot.Sesaatkemudian,tubuhnyamelayangkebela-kang. Maka, kaki Bandawasa hanya
meluncur di bawah kakinya.
Jliggg!
Ringan laksana sehelai daun,
kedua kaki Dewa Arakhinggapditanah.TapibelumjugaDewaAraksempat menarik napas
lega, Bandawasa telah kembali memburu. BahkankaliinibukanhanyaBandawasasajayang
melancarkan serangan. Entah kapan, tahu-tahu Janaka
danMahesatelahbertarung.JanakamenerjangMalaikat Tongkat Sakti, sedangkan Mahesa
menyerang Ular Muka
Kuning. Dan kini, terjadilah
pertarungan sengit. Melihat hal ini, Melati, Petani Maut dan
beberapa orang yang masih berada di
situ bergegas menyingkir. Mereka semua tahu, betapa berbahayanya
beradadidekatkancahpertarungan.Jangankanterkena
langsung.Anginserangannyasaja,sudahcukupmembuat nyawa melayang!
Sementaraitu,sepertisudahdirencanakansaja,
masing-masing pasangan yang bertarung saling
memisahkandiri.Hasilnya,ditempatituterciptatiga kancah pertarungan.
SepertijugapertarunganantaraDewaArakdengan
Bandawasa, pertempuran lain yang terjadi juga tanpa
menggunakansenjata.Meskipundemikian,bukanberarti tidak berbahaya. Dengan tenaga
dalam yang dimiliki, tangan dan kaki mereka tak kalah berbahayanya
dibandingsenjatatajam.Anginserangannyasajasudah cukup membuat nyawa orang
melayang ke alam baka.
Bandawasa, Janaka, dan Mahesa
bertarung bagai macanluka.DanhalitudisebabkankematianMahadewa. Dan satu hal
lagi, mereka memang ingin bertarung melawan tokoh-tokoh tersakti di pulau ini.
Dan kini, tokoh-tokoh itu ada di hadapan mereka. Maka, kesempatan itu pun
dipergunakan sebaik-baiknya.
"Haaat...!"
Jeritankerasyangmengandungpengerahantenaga
dalam tinggi, diiringi deru angin
keras, menyemaraki jalannyapertarungan.Masing-masingtokohmengerahkan seluruh
kemampuan terbaik yang dimiliki.
Bandawasa dan dua rekannya tahu,
lawan yang dihadapi memiliki kepandaian amat tinggi. Maka tanpa
ragu-ragu,seluruhkemampuanmerekadikerahkansejak serangan pertama. Harapan
mereka adalah, merobohkan lawan-lawan secepat mungkin.
Tapi, Dewa Arak, Malaikat Tongkat
Sakti, dan Ular Muka Kuning adalah tokoh-tokoh nomor satu dunia
persilatan.Kepandaianmerekasukardiukurtingginya. Makaakibatnyasudahbisadiduga.TigatokohdariPulau
Karang itu pun mendapat perlawanan sengit!
Hebatbukankepalangpertarunganyangterjadi.
Dan hal itu berlangsung sejak jurus-jurus awal. Dan sekarang, telah memasuki
jurus ketiga puluh lima. Namun, jalannya pertarungan tetap seimbang. Sama
sekali belum terlihat adanya tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang.
Karuan saja hal ini membuat semua
pihak yang bertarung, kecuali Dewa Arak, merasa penasaran bukan main. Harga
diri masing-masing seperti tersinggung melihat lawan mampu bertahan. Apalagi,
ketika
pertarungan telah melewati jurus
kelima puluh. Hasilnya,masing-masingberusahasemakinmemperhebat serangan. Bahkan
telah mengeluarkan ilmu andalan. Dengan sendirinya, pertarungan yang terjadi
pun semakin sengit.
Di antara mereka semua, hanya
Dewa Arak yang belummengeluarkanilmuandalan.Pemudaberambutputih
keperakanitumasihsajamengandalkanilmu-ilmutangan kosong yang diterima dari
ayahnya, yakni ilmu 'Sepasang Tangan Pembunuh Naga' dan 'Delapan Cara
Menaklukkan Harimau'.
Dan walaupun hanya menggunakan
ilmu-ilmu warisan ayahnya, Dewa Arak berhasil menanggulangi
setiapseranganBandawasa.Tentusaja,halitumembuat tokoh muda yang menggemparkan
ini heran bukan kepalang.Berbagaimacampertanyaanlangsungbergayut di benaknya.
"Hanyasampaidisinisajakahtingkatkepandaian
Bandawasa? Mengapa berbeda jauh bila disbanding Mahadewa?" tanya Dewa Arak
dalam hati.
Tapi,DewaAraktidakmaumembiarkanpertanyaan
sepertiitubergayutterusdibenaknya.Disadarikalau hal itu terus dilakukan,
kemungkinan besar dia akan celaka di tangan Bandawasa.
Sementara itu, Bandawasa mulai
dirayapi pera-saan penasaran. Seluruh kepandaiannya telah
dikerahkan,tapitetapsajabelummampumendesakDewa Arak Padahal, dia tahu betul
kalau pemuda berambut putih keperakan itu belum mengeluarkan ilmu andalan.
Memang, Bandawasa telah mendengar
kabar kalau Dewa Arak selalu menenggak araknya bila ingin mengeluarkan ilmu
andalan. Dari berita inilah diketahuinya kalau tokoh yang menggemparkan dunia
persilatan itu belum mengeluarkan ilmu andalan. Dan
memang,sejaktadiDewaArakbelummenenggakaraknya.
Perasaan penasaran Bandawasa
semakin menggebu-gebu ketika menyadari kenyataan kalau dirinyalah yang
perlahan-lahan terdesak oleh Dewa Arak. Padahal, akal sehat Bandawasa mengakui
kalau Dewa Arak memang lebih unggul. Tapi karena Dewa Arak berhasil mendesak
tanpa mengeluarkan ilmu andalan, Bandawasa jadi penasaran bukan kepalang.
***
Ternyata, bukan hanya Bandawasa
saja yang mengalaminasibburuk.MahesadanJanakapundemikian pula. Dua rekan
Bandawasa ini tengah kerepotan menghadapiperlawananMalaikatTongkatSaktidanUlar
Muka Kuning. Dan itu terjadi setelah pertarungan menginjak jurus kedelapan
puluh. Perlahan-lahan, serangan-serangan dua tokoh dari Pulau Karang ini mulai
berkurang.
Seiring semakin lamanya
pertarungan berlang-sung, serangan-serangan tiga tokoh Pulau Karang semakin
berkurang. Dan mereka hanya mengelak saja. Karena tangkisan-tangkisan pun
semakin berkurang.
Sebenarnya hal ini disebabkan
kekuatan tenaga dalam Malaikat Tongkat Sakti, Ular Muka Kuning, dan Dewa Arak
yang memang di atas lawan masing-masing.
Betapatidak?Setiapkaliterjadibenturanbaiktangan atau kaki, sudah dapat
dipastikan mulut ketiga tokoh PulauKarangitulangsungmenyeringai.Itulahsebabnya
tiga tokoh dari Pulau Karang itu lebih suka mengelak daripada menangkis.
Akhirdaripertarungansudahbisaditebak.Tiga
tokoh Pulau Karang itu akan roboh di tangan lawan masing-masing. Hal ini bisa
dibuktikan dari keadaan mereka yang semakin terhimpit. Bandawasa dan kedua
rekannya terus bermain mundur. Dan kelihatannya tak lama lagi pertarungan akan
berakhir.
HalinipundisadaritigatokohdariPulauKarang
itu.Tahukalaumemenangkanpertarungansuatuhalyang tak mungkin, mereka memutuskan
untuk mengajak lawan mati bersama! Hasilnya, Bandawasa dan dua rekannya
bertindak nekat. Sekarang perhatian mereka lebih dipusatkan pada serangan.
Bandawasa, Janaka, dan Mahesabertarungtanpamempedulikanpertahananlagi.
Yangadadibenakmerekaadalahmenyarangkanserangan pada lawan.
DewaArak,MalaikatTongkatSakti,danUlarMuka
Kurring terperanjat bukan kepalang menyaksikan
perubahangayabertamnglawan.Betapatidak?Beberapa kali ketika mereka melancarkan
serangan, lawan yang
dihadapi sama sekali tidak
mengelak. Bahkan malah mengirimkan serangan pula. Jelas, tiga tokoh Pulau
Karang itu tidak mempedulikan keselamatan diri lagi. Sebagai tokoh tingkat
tinggi dunia persilatan
dan kenyang pengalaman, Dewa
Arak, Malaikat Tongkat Sakti, dan Ular Muka Kuning mengerti maksud tindakan
lawan. Dan tentu saja, mereka tidak sudi bertindak bodoh dengan mengikuti
ajakan itu.
Maka begitu melihat serangan yang
dilancarkan sama sekali tidak dipedulikan, Dewa Arak, Malaikat Tongkat Sakti,
dan Ular Muka Kuning terpaksa mengurungkan serangan. Kemudian, mereka buru-buru
mengelakkan serangan tiga tokoh Pulau Karang itu.
Melihat tindakan lawan-lawannya,
tiga tokoh dariPulauKarangjadiberbesarhati.Semangatmereka
puntimbul.Sebagaiakibatnya,serangan-seranganyang dilancarkan semakin
bertubi-tubi.
Sekarang, mulai ada perubahan
dalam kancah pertarungan. Perlahan-lahan, kedudukan tiga tokoh
PulauKarangyangsemulasudahterhimpit,mulaidiatas
anginkembali.Sedikitdemisedikit,Bandawasadandua rekannya mulai bisa menyamakan
kedudukan.
Memang,kiniDewaArak,MalaikatTongkatSakti,
dan Ular Muka Kuning segera menghentikan serangan. Mereka hanya mengelak dan
menangkis. Bahkan tidak berusaha melancarkan serangan balasan, karena
dianggaptidakakanmembawahasil.Sudahbisadiduga, di saat mereka melancarkan
serangan, lawan akan melakukan hal yang sama. Jadi, terpaksa Dewa Arak, Malaikat
Tongkat Sakti, dan Ular Muka Kuning membatalkan serangan kembali kalau tidak
ingin mati konyol.
Bandawasa dan dua rekannya jadi
bertambah se-mangat melihat hasil usaha mereka. Apalagi, setelah keadaan malah
berbalik. Merekalah yang kini lebih banyak melancarkan serangan, ketimbang
lawan-la-wannya.
Keadaansepertiituterusberlangsungbeberapa
juruslamanya.DewaArak,MalaikatTongkatSakti,dan Ular Muka Kuning terus dicecar
dan didesak.
Kini, kelihatannya tiga tokoh
Pulau Karang itu yang berada di atas angin. Sedangkan Dewa Arak,
MalaikatTongkatSakti,danUlarMukaKuningberadadi
pihak yang terdesak. Padahal, kenyataan sebenarnya tidak demikian. Ketiga tokoh
tingkat tinggi dunia persilatan itu tengah menunggu saat yangtepat untuk
bertindak.Sementaraitu,pertarungantelahmemasuki jurus kesembilan puluh tiga.
8
"Haaat...!"
Diiringipekikankerasmenquunturyangmembuat
suasana di sekitar tempat itu
bergetar hebat, Janaka melancarkan kibasan dengan kaki kanan kearah kepala
Malaikat Tongkat Sakti. Hal itu dilakukan sambil memutar tubuh.
Wukkk!
Serangan itu lewat beberapa jari
di depan sasaran, ketika Malaikat Tongkat Sakti menarik kaki kanan ke belakang
sambil mendoyongkan tubuh.
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan MalaikatTongkatSakti.Begituseranganlawanberhasil
dielakkan,sebuahseranganbalasandikirimkan.Kakek
bertubuhtinggibesarinimelancarkansebuahtendang-an kaki kiri ke arah punggung
lawan.
Bukkk!
Kejadiannya berlangsung demikian
cepat. Dan, Janaka sama sekali tidak menduga, sehingga tidak sempat berbuat
sesuatu. Tahu-tahu saja, punggungnya telah menerima tendangan keras. Seketika
itu pula, tubuhnya terlempar. Suara berderak keras dari tulang yang patah,
semburan darah dari mulut dan hidung,
bercampur jerit kesakitan,
mengiringi melayangnya tubuh Janaka.
Ternyata,tidakhanyaJanakasajayangmengalami
nasib naas. Dua rekannya pun mengalami nasib serupa.
Mahesaterpaksamenerimasebuahtetakantanganmiring Ular Muka Kuning pada lehernya.
Sedangkan Bandawasa menerima gedoran dari Dewa Arak pada perutnya.
Brukkk!
Berturut-turut tubuh tiga tokoh
dari Pulau Karang itu ambruk di tanah disertai suara berdebuk cukup keras. Lalu
tubuh mereka tidak bergerak lagi, setelah berguling-guling beberapa tombak
jauhnya.
"Hhh...!"
Malaikat Tongkat Sakti dan Ular
Muka Kuning menghela napas lega, setelah terlebih dulu menghen-tikan gerakan.
Kemudian, dua datuk yang telah menggemparkanduniapersilatanitumenataptubuhtiga
tokoh Pulau Karang yang tergolek di tanah.
Sementara itu, Dewa Arak
buru-buru melesat ke arah tempat tergoleknya tubuh tiga tokoh dari Pulau
Karang.Rautkecemasanmembayangjelaspadawajahnya, karena khawatir kalau Bandawasa
dan dua rekannya tewas.Dandiatahupasti,tigatokohdariPulauKarang itu sama sekali
tidak bersalah.
Namun sebelum maksud Dewa Arak
tercapai.... "Ha ha ha...!"
Tiba-tiba terdengar sebuah tawa
keras mengge-legar, sehingga membuat seluruh tempat itu bergetar hebat. Bisa
ditebak kalau suara tawa itu dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.
Seketika itu pula, Dewa Arak
mengurungkan maksudnya. Buru-buru langkahnya dihentikan. Memang,
suaratawaitupernahdidengarnya.Tapisayangnya,dia lupa kapan dan di mana.
Dewa Arak tidak mempedulikan hal
itu. Secepat langkahnya dihentikan, secepat itu pula kepalanya ditolehkan ke
arah asal suara. Hal yang sama pun dilakukan, Malaikat Tongkat Sakti, Ular Muka
Kuning, dan yang lainnya.
Jliggg!
Masihdengansuaratawayangbelumputus,sosok
yang mengeluarkan tawa itu
mendarat di tanah. Begitu
keduakakinyahinggap,sedikitpuntakterdengarsua-ra.Padahal,diamelompatdancabangpohonyangcukup
tinggi.
"Hah...?!"
Hampir semua pasang mata yang
berada di situ terbelalak, begitu melihat jelas si pemilik suara tawa. Betapa
tidak? Karena orang itu adalah..., Mahadewa!Tidakdapatdisangsikanlagikalauorangitu
Mahadewa!
Keterkejutan orang-orang yang
berada di situ tidak hanya terlihat dari sepasang mata yang terbelalak lebar,
tapi juga dari raut wajah yang berubah pucat. Bukankah Mahadewa telah tewas?!
Teringatakanhalitu,membuattokoh-tokohting-kattinggiduniapersilataninimenolehkearahtempat
tubuh Mahadewa tergolek. Dan..., ternyata tubuh
Mahadewamasihadadisana!Jadi...,Mahadewaadadua orang?!
"Rupanyakalianbingung,heh?!"ujarsosokyang
menyerupai Mahadewa gembira, bernada mengejek.
"Siapakau?!"tanyaMalaikatTongkatSaktisudah
tidak bisa menahan sabar lagi.
"Aku?! Bukankah aku orang
yang kalian cari-cari?!" Mahadewa malah balas bertanya.
"Jadi..., kau...?!"
Suara Malaikat Tongkat Sakti
terdengar terbata-bata. Hal ini karena dia telah mendapat gelagat kalau telah
salah menuduh orang.
"Ya! Akulah yang telah
melakukan semua pembunuhan itu!"
"Keparatjahanam!"makiMalaikatTongkatSakti,
geram.
"Manusia keji!" Ular
Muka Kuning tak mau ketinggalan.
Wajah kedua datuk tingkat tinggi
dunia persilatan itu tampak merah padam, karena tengah dilanda amarah. Dengan
sendirinya, tenaga dalam pun mengalirderaskeseluruhtubuh,sehinggamenimbulkan
suara berkerotokan keras seperti ada tulang patah. Padahal, Malaikat Tongkat
Sakti dan UlarMuka Kuning sama sekali tidak bertindak apa-apa.
"Tahan, Ki...!"
Dewa Arak yang melihat adanya
tanda-tanda Ma-laikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning akan me-lancarkan
serangan, buru-buru mencegah.
"Mengapakaumelarangkami,DewaArak?!"sergah
Malaikat Tongkat Sakti, bernada teguran.
Memang kakek ini memiliki watak
beringas. "Dialah pelaku semua kekejian itu!"
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepala. "Apa yang kau katakan itu, sama sekali tidak salah, Ki.
Dialahpelakusemuakekejianitu.Tapisebaiknyakita harus tahu alasan dia melakukan
semua tindakan keji itu."
Malaikat Tongkat Sakti kontan
tertegun mende-ngar penjelasan Dewa Arak. Disadari adanya kebenaran dalam
ucapan pemuda berambut putih keperakan itu. BahkanUlarMukaKuningmengangguk-anggukkankepala,
pertanda ikut membenarkan.
"Ha ha ha...!"
Mahadewa, yang mendengar
pembicaraan itu langsung tertawa bergelak.
"Tanpa kau tanyakan pun,
semuanya akan kujelaskan,DewaArak.Nah!Sekarang,kaliandengarkan baik-baik semua
ucapanku!"
Sosok berwajah mirip Mahadewa itu
menghetikan ucapannya,memberikankesempatanpadasemuatokohyang berada di situ
mengalihkan perhatian ke arahnya. Kemudian, kedua tangannya bergerak ke atas.
Sebentar tangannya berhenti di wajah, lalu bergerak kembali. Dan begitu kedua
tangannya disentakkan....
Bret!
Tampaklah seraut wajah tampan,
jauh berbeda denganwajahMahadewayangasli.Matanyadihiasialis lebat. Hidungnya
mancung, dengan andeng-andeng di batangnya. Sungguh jauh dengan perkiraan
semula.
"NamakuBurisrawa.Samasepertiempatorangitu,
aku juga berasal dari perguruan yang sama di Pulau
Karang.KamiberlimaadalahmuridutamaPerguruanHati Suci. Salah seorang di antara
kami, dicalonkan untuk menggantikangurukamiyanghampirpikun.Tapisayang, guru
tidak menyukai watakku. Katanya, aku berwatak jelek,dansukamempelajariilmu-ilmusesat.Jadi,aku
tidakmungkinbisamenggantikankedudukannya,"jelas
sosok Mahadewa yang kini berganti
wajah, setelah membuka topeng karet tipis. Rupanya, lelaki itu juga
mahirmembuattopeng,sehinggamampumenyamarkandiri menjadi Mahadewa.
Sosok berwajah mirip Mahadewa
yang ternyata bernama Burisrawa itu menghentikan ucapannya. Pandangannya
diedarkan, merayapi satu per satu wajah-wajah yang berada di sekitarnya.
Bukkk!
TerdengarbunyikerasketikaseranganMalaikat
Tongkat Sakti menemui sasarannya.
Hasilnya, tubuh
Burisrawa tersungkur ke belakang
seperti daun kering
tertiup angin!
"Padahal, aku sangat
berminat menjadi Ketua Perguruan Hati Suci. Maka ketika empat orang kesayangan
guruku ini memutuskan untuk memperluas pengalaman dengan berkelana, aku pun
ikut tanpa sepengetahuan mereka. Lalu, kulakukan semua pembunuhan dengan
menyamar sebagai Mahadewa, agar merekamendapatbanyakmusuhdisini.Hahaha...!Dan
kalian lihat sendiri hasilnya, bukan? Usahaku kini berhasil baik! Aku akan
menjadi ketua perkumpulan di sana,danmenjadijagonomorsatudiseluruhdunia!Ha
haha..!Kaliantakakanmampumengalahkanaku!Haha ha...!"
"Manusia sombong! Mampuslah
kau...!"
Seiring bentakan itu, Malaikat
Tongkat Sakti melompatmenerjangBurisrawa.Danbegitutelahdekat, tongkatnya
dihantamkan ke dada.
Namun sungguh aneh! Serangan
Malaikat Tongkat Sakti sama sekali tidak dielakkan Burisrawa. Tokoh
dariPulauKaranginiterussajatertawa,seolah-olah tidak tahu ada bahaya mengancam.
Akibatnya....
Bukkk!
TelakdankerassekaliseranganMalaikatTongkat
Sakti menemui sasarannya.
Hasiinya, tubuh Burisrawa melayang ke belakang seperti daun kering tertiup
angin.
Setelahmelayang-layanghampirsepuluhtombak,
tubuh Burisrawa jatuh berdebuk keras di tanah, kemudian terguling-guling. Dan
akhirnya, tubuhnya berhenti karena kekuatan yang mendorongnya telah lenyap.
Melihatkejadianitu,semuatokohyangberadadi
situ saling berpandangan penuh rasa bingung. Begitu mudahkah Burisrawa
dibinasakan?
Beberapagelintirdarisekianbanyakorangyang
berada di situ merasa curiga melihat kejadian yang
menimpa Burisrawa. Mereka adalah
Dewa Arak, Melati, Petani Maut, Ular Muka Kuning, dan Malaikat Tongkat Sakti
sendiri. Dan mereka semua tidak percaya kalau
Burisrawaakandemikianmudahditewaskan.Danternyata
kecurigaanmerekaberalasan.Sambilmengeluarkantawa bergelak bernada penuh
kegembiraan, Burisrawa langsung bangkit.
Kenyataaninimembuatsemuaorangyangberadadl
situ,merasaterkejutbukankepalang.Begitusaktikah
Burisrawa,sehinggamampumenerimaseranganMalaikat Tongkat Sakti tanpa melawan?
"Tidak mungkin!" bantah
Dewa Arak dalam hati. Pemuda berambut putih keperakan ini memang pernah
bertarung melawan Burisrawa. Maka bisa
diperkirakantingkatkepandaianBurisrawa.DewaArak tahu, Burisrawa tidak akan
mungkin mampu menerima seranganMalaikatTongkatSaktisecarademikian.Pasti
ada keganjilan di sini!
"Keparat!"
MalaikatTongkatSaktimenggerammurka,ketika
melihatBurisrawamasihsegarbugar.Bahkantokohdari Pulau Karang itu malah
menghampirinya sambil terus tertawa-tawa.
"Haaat...!"
Diiringi teriakan nyaring yang
memekakkan telinga, Malaikat Tongkat Sakti kembali menerjang Burisrawa. Dan
begitu jaraknya telah dekat, serangan yang serupa dengan sebelumnya langsung
dilancarkan. Rupanya, Malaikat Tongkat Sakti masih belum percaya
kalauBurisrawamampumenerimaserangannya.Apalagi, tanpa melawan!
"Malaikat Tongkat Sakti!
Tahan...!"
Dewa Arak yang mengkhawatirkan
keselamatan MalaikatTongkatSakti,berserumencegah.Tapisayang,
peringatannyaterlambat!Kakektinggibesaritutelah lebih dulu melancarkan serangan
dahsyat tanpa memikirkan keselamatannya.
Kali ini, Burisrawa tidak berdiam
diri. Begitu seranganMalaikatTongkatSaktitelahmenyambardekat, kedua tangannya
cepat dihentakkan untuk melancarkan tangkisan.
Blarrr!
Suara keras mengguntur seperti
gunung meletus terdengar, ketika dua pasang tangan yang sama-sama dialiri
tenaga dalam tinggi berbenturan. Beberapa tokoh yang kurang kuat tenaga
dalamnya, langsung
terjatuh,karenalututmerekaterasalemas.HanyaDe-waArakdanUlarMukaKuningsajayangsamasekalitidak
terpengaruh. Sedangkan Melati dan Petani Maut masih menerimaakibatnya,yangterlihatdaripucatnyawajah
walau hanya sesaat.
Meskipun demikian, seperti juga
Dewa Arak dan Ular Muka Kuning, Melati dan Petani Maut tetap
mengarahkanpandanganketempatterjadinyabentrokan antara Malaikat Tongkat Sakti
melawan Burisrawa.
Seketikaitupula,matamerekasemuaterbelalak.
Betapa tidak? Tampak tubuh Malaikat Tongkat Sakti terlempar ke belakang,
seperti daun kering tertiup angin.Darahsegarmengalirderasdarimulut,hidung, dan
telinganya. Seruan menyayat seperti seekor sapi disembelih, mengiringi tubuhnya
yang terlempar ke belakang.
"Gila!"
SeruanketerkejutankeluardarimulutDewaArak. Dan memang, hanya pemuda berambut
putih
keperakan ini saja yang merasa
terkejut bukan kepalang.DewaAraktahu,sampaidimanatingkattenaga
dalamBurisrawa.MerupakanhalyangmustahilkalauMa-laikat Tongkat Sakti akan tewas
demikian mengenaskan dalam sekali bentrokan tenaga dalam saja.
Dan kenyataannya, tanpa melihat
lagi pun, Dewa AraktahukalauMalaikatTongkatSaktitelahtewas.Itu
pundisaattubuhnyatengahberadadiudara.Buktinya begitu jatuh di tanah, Malaikat
Tongkat Sakti tidak bergerak-gerak lagi.
"Ha ha ha...!"
Burisrawa tertawa bergelak-gelak.
Sambil berkacak pinggang, pandangannya dialihkan ke arah tokoh-tokoh dunia
persilatan yang berada di situ.
"Siapa lagi yang ingin
menguji kesaktianku?! Kau,DewaArak?!Hahaha...!Kaliinijanganharapbisa
mempecundangiku lagi. Kau akan kulumatkan! Ha ha ha...!"
Usaiberkatademikian,BurisrawamendekatiDewa
Arak.Lambat-lambatsajakakinyamelangkah.Sikapdan tindak-tanduknya tampak tenang.
Jelas, tokoh dari PulauKaranginimerasayakinakankemampuandirinya.
Namun,DewaAraktidakmaumembiarkanBurisrawa
semakindekat,karenakhawatirMelatidanPetaniMaut akan ikut terbawa. Maka
dihampirinya Burisrawa.
Tapi....
"Minggir, Dewa
Arak...!" SebelumDewaArakdanBurisrawatibadalamjarak
tempur, sesosok bayangan kuning
berkelebat mendahului.DanhalinimembuatDewaArakterkejut.Dia tahu, siapa
sebenarnya sosok bayangan kuning itu. Siapa lagi kalau bukan Ular Muka Kuning?
Dugaan Dewa Arak sama sekali
tidak meleset. Datukduniapersilatanyangbertubuhkurusinimemang murka bukan
kepalang ketika melihat Malaikat Tongkat Sakti tewas. Dengan mata kepala
sendiri,dia melihat tubuh Malaikat Tongkat Sakti terbujur tanpa nyawa bergelimang
darahnya sendiri. Perasaan sakit hati
itulahyangmendorongUlarMukaKuningmendahuluiDewa Arak menerjang Burisrawa.
***
Ular Muka Kuning tidak
membuang-buang waktu lagi.BegitutelahmendekatiBurisrawa,langsungsaja dikirimkan
sebuah sampokan ke arah pelipis. Itu dilakukan dalam keadaan tubuh masih berada
di udara.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi
tibanya serangan
UlarMukaKuning.Halinitidakaneh,karenadatukber-tubuhkurusitumengerahkanseluruhtenagadalam-nya.
Apalagi,dalamkemarahanamatsangat.UlarMukaKuning jelas bermaksud membinasakah
Burisrawa secepat mungkin.
Maka, sudah dapat dibayangkan
kedahsyatan serangan Ular Muka Kuning. Di samping dikeluarkan
lewatpengerahantenagadalamsepenuhnya,sasaranyang dituju pun adalah bagian yang
mematikan.
Tapi seperti juga sebelumnya,
Burisrawa sama sekalitidakmempedulikannya.Bahkanmalahtersenyum
mengejek.Sikapnyaterlihatmemandangrendahsekali.
Sedikit pun tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau
Burisrawaakanmengelakataumenangkis.Mahadewapalsu
inimalahseakan-akanmembiarkanseranganitumengenai sasarannya.
"Gila...!"
Tanpa sadar Dewa Arak, Melati,
dan Petani Maut memekik kaget ketika melihat tindakan Burisrawa!
Betapatidak!DisaatseranganUlarMukaKuningsemakin mendekati sasaran, Burisrawa
malah melancarkan serangan pula!
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi,
Burisrawa melan-carkan totokan ke arah perut Ular Muka Kuning dengan susunan
jari membentuk kepala ular.
Dan ternyata Ular Muka Kuning
terkejut pula melihat hal itu. Bahkan perasaan kaget yang melanda
jauhlebihbesar.UlarMukaKuningtahu,merupakanhal mustahil untuk mengelak.
Serangan Burisrawa terlalu mendadak datangnya.
Tambahan lagi, dilancarkan dalam
jarak yang demikian dekat. Tubuhnya yang tengah berada di udara semakin
menambah kesulitannya.
DalamkeadaanterjepititulahyangmembuatUlar
MukaKuningmemutuskanuntukmelanjutkanserangan.Dia sudah bertekad untuk mati demi
membalas kematian Malaikat Tongkat Sakti.
Tentu saja keputusan yang diambil
Ular Muka KuningdiketahuiDewaArak,Melati,danPetaniMautDan mereka pun tidak bisa
menyalahkan tindakannya. Meskipunbegitu,takurungadaperasaanmenyesalyang
amatsangatmenyelinapdilubukhatiDewaArak.Tapi, apa yang bisa dilakukannya?
Kejadian itu berlangsung demikian cepat. Sedangkan dirinya berada cukup jauh
dari kancah pertarungan.
Dan yang dilakukan Dewa Arak hanya
menunggu kejadian selanjutnya. Dan tindakan seperti itu pula
yangdilakukanMelati,PetaniMaut,danbeberapatokoh
persilatanyangmasihberadadisitu.Sementaraitudi kancah pertarungan....
Prattt! Brolll!
"Aaakh...!"
Dalamselisihwaktuyangamatsingkat,serangan
kedua belah pihak mendarat di sasaran masing-masing. Sampokan Ular Muka Kuning
lebih dulu mendarat di pelipis Burisrawa. Baru sekejap kemudian, tusukan tangan
Burisrawa memporakporandakan perut Ular Muka Kuning.
Kejadianselanjutnyasudahbisaditebak.
Tubuh kedua belah pihak sama-sama terlempar. Terdengar jeritan menyayat dari
mulut Ular Muka Kuning. Darah segar tampak menyembur deras dari bagian perut
yang terkoyak-koyak mengiringi Iuncuran tubuhnya.
Tanpa diberi perintah, Dewa Arak
dan Melati melesat ke arah jatuhnya tubuh Ular Muka Kuning
Brukkk! Brukkk!
Berturut-turuttubuhUlarMukaKuningdanBuris-rawa
jatuh berdebuk di tanah.
"Hhh... hhh..., akh!"
Setelahmeregangnyawasejenak,UlarMukaKuning
menghembuskan napas terakhir.
Mati! "Hhh...!"
DewaArakhanyabisamenghelanapasberat.Sama
sekalitidakdisangka,duadatukduniapersilatanyang sama-sama tangguh itu tampaknya
telah tewas secara mengenaskan.
Karena perhatian Dewa Arak dan
Melati tengah terpusat pada Ular Muka Kuning, sama sekali tak ada
yangmenyadarikeadaanBurisrawa.Dantiba-tibasaja, terdengar jerit kesakitan dan
kematian, sehingga membuat sepasang pendekar muda itu mengalihkan perhatian.
"Hah...?!"
MulutMelatiternganga.Bahkansepasangmatanya
pun terbelalak lebar, menampakkan
keterkejutan yang amatsangat.Sementarameskipuntidakterlihatadanya raut
keterkejutan pada wajah dan sikapnya, namun sebenarnya Dewa Arak kaget bukan
kepalang. Belapa tidak! Jeritan-jeritan itu ternyata terdengar dari
muluttokoh-tokohpersilatanyangberadadisitu.Tak
terkecuali,PetaniMautsendiri.Merekarobohditanah dalam keadaan tewas! Paling
tidak, luka berat Dan pelaku semua itu adalah...
Burisrawa!
"Kang..., tidak salah lihatkah
aku?" tanya Melatidenganbibirbergetar,karenaperasaantegang. Dewa Arak
meraih tangan Melati dan meremasnya
perlahan, untuk memberi
ketenangan. "Kautidaksalahlihat,Melati.Burisrawamemang
belummati.Hhh...!Akuyakindiamemilikisebuahil-mu,sehinggamembuatnyatidakgampangmati.Kitaharus
mengetahui kelemahannya terlebih dulu, kalau tidak ingin mati konyol!"
jelas pemuda berambut putih keperakan itu.
"Apakah ilmu yang dimiliki
Burisrawa adalah 'Rawa Rontek', Kang?" tebak Melati.
"Aku belum bisa
memastikannya, Melati. Terke-cuali,apabilatelahbertarungdengannya.Tunggulahdi
sini."
"Ha ha ha...! Majulah, Dewa
Arak..!" tantang Burisrawa lantang, sambil bertolak pinggang.
Di sekeliling Burisrawa tampak
bergeletakan sosok-sosok tubuh tanpa nyawa. Semuanya adalah tokoh persilatan
yang berada di sekitar tempat itu. Termasuk, Petani Maut.
"Mengapa kau membunuh
mereka, Burisrawa?!" tegur Dewa Arak bernada geram.
"Mengapakaumenyalahkanaku,DewaArak.Mereka
memang pantas mati! Ha ha ha...!" Burisrawa tertawa bergelak gelak.
Dewa Arak hanya bisa mengepalkan
tinju menahan geram, melihat ketelengasan Burisrawa. Memang, pada saat
perhatian Dewa Arak dan Melati tengah terpusat
padaUlarMukaKuning,PetaniMautdanbeberapatokoh
persilatanlainmenghampiriBurisrawa.Mungkinmereka mengira Burisrawa telah tewas.
Tapi, siapa sangka kalautokohdariPulauKarangitujustrumasihhidup? "Kau
terlalu telengas, Burisrawa. Biar
kupertaruhkanselembarnyawakuuntukmencegahtindak
angkara murkamu!"
Begituucapannyaselesai,DewaArakmenghampiri
Burisrawa.TokohdariPulauKarangitujugamelangkah
maju.Sudahdapatdipasrikankalaupertarunganantara mereka akan segera berlangsung.
Sikap kedua belah pihakmiripduaekorayamjantanyangsiapbertarung.
Sementaraitu,DewaAraktidakberanibertindak
main-main lagi. Disadari kalau Burisrawa sekarang berbeda daripada sebelumnya.
Entah bagaimana, Dewa Arak tidak tahu. Yang jelas kepandaian Burisrawa
meningkat demikian pesat. Dewa Arak berani bertaruh kalau kepandaian Burisrawa
jauh lebih lihai daripada ketika bertarung dengannya belum lama ini.
Makasambilterusmelangkah,DewaArakmengambil
guci araknya yang tersampir di punggung. Kemudian,
gucinyadiangkatkeataskepaladanisinyadituangkan ke mulutnya.
Gluk..., gluk..., gluk...!
Terdengarsuarategukanketikaarakitumelewati
tenggorokan Dewa Arak dalam
perjalanan menuju ke lambung.Taklamakemudian,hawahangatmulaimerayap
diperutpendekarmudayangtelahmenggemparkandunia persilatan itu. Perlahan-lahan,
hawa hangat itu naik keataskepala.DanseketikaitupulalangkahkakiDewa
Arakmulaisempoyongan.Halinimenjadipertandakalau ilmu 'Belalang Sakti' telah
siap digunakan.
Burisrawa tentu saja dapat
menduga kalau Dewa Arak telah menggunakan ilmu andalannya. Tapi, dia tidak
merasa gentar sama sekali. Bahkan malah mengumbarkan tawa keras.
"Hahaha...!Akutelahmendengarkehebatanil-mu
'Belalang Sakti' andalanmu, Dewa Arak. Sekarang, aku akan mencoba
kehebatannya."
Usai berkata demikian, Burisrawa
menyusun jari-jarinya. Dewa Arak tahu, tokoh Pulau Karang itu akan mengeluarkan
ilmu 'Tangan Pedang dan Golok'
"Bersiaplah untuk mati, Dewa
Arak! Haaat...!" Burisrawa membuka serangan dengan sebuah bacokan sisi
tangan miring ke arah leher Dewa Arak.
Suara bercicitan nyaring
mengawali serangannya. DewaArakterkejutbukankepalangketikamenge-
tahui lehernya terasa perih.
Memang dia tahu, angin serangan Burisrawa tak kalah berbahaya dibanding
sebatang pedang pusaka. Tapi sungguh di luar dugaan kalau dalam jarak setengah
tombak sudah membuat lehernya terasa perih. Padahal, sebelumnya tidak
demikian!IniberartidugaankalautenagadalamBuris-rawa bertambah, sama sekali
tidak keliru.
Menyadari betapa berbahayanya
serangan itu, Dewa Arak tidak berani berrindak sembrono. Buru-buru serangan itu
dipapak dengan ayunan gucinya.
Klanggg!
Gila! Tubuh Dewa Arak kontan
terhuyung-huyung jauh ke belakang begitu terjadi benturan. Tak kurang dari lima
langkah tubuhnya terhuyung-huyung. Sementara, Burisrawa hanya bergetar saja.
"Iiih...!"
Melati terkejut bukan kepalang
melihat tubuh kekasihnyaterhuyung-huyung.Darihasilbenturanitu
bisadiketahuikalautenagadalamDewaArakkalahjauh dibanding Burisrawa. Dan hal itu
membuat Melati khawatir bukan kepalang. Tapi, kekhawatiran itu buru-buru
dibuangnya. Maka meskipun dengan perasaan kebat-kebit, pandangannya dilayangkan
ke arah pertarungan.
Diarenapertarungan,Burisrawaterusmengumbar
kepandaian. Tampak jelas kalau dia bernafsu sekali merobohkan Dewa Arak. Bahkan
seluruh kemampuannya telah dikeluarkan.
Dan memang, usaha tokoh dari
Pulau Karang ini sama sekali tidak sia-sia. Nyatanya Dewa Arak
benar-benardibuatkewalahan.Padahal,tokohmudayang
menggemparkanduniapersilatanitutelahmengeluarkan seluruh kemampuan. Kedua
tangan, guci, dan semburan-semburan araknya telah dikeluarkan untuk
menanggulangi amukan Burisrawa.
Dahsyat dan menggiriskan
pertarungan yang terjadi.Suaramencicittajamdariudarayangterobek,
menyemarakijalannyapertarungan.Danitutimbuldari angin serangan Burisrawa,
maupun semburan arak Arya. Bahkanjugamasihditingkahisuaramenderu-derutajam.
Kaliini,DewaArakbenar-benardipaksamenguras
seluruhkemampuannya.Meskipundemikian,harusdiakui
kalautingkatkepandaianBurisrawamemangdiatasnya.
Baikdalamkecepatangerakmaupuntenagadalam.Hanya berkatkeanehanilmu'BelalangSakti'lahyangmembuat
Dewa Arak mampu menandingi Burisrawa sampai hampir seratus jurus. Itu pun
dilakukan dengan susah payah. DewaArakbenar-benarterdesaksekarang. Jurus
yang lebih banyak digunakan
adalah 'Delapan Langkah
Belalang'.IniberartiDewaArakterpaksalebihbanyak
mengelak, karena tenaga dalamnya jauh di bawah Burisrawa. Berbenturan tangan
atau kaki hanya akan mengakibatkan sekujur tulang-tulangnya sakit-sakit.
Meskipun berada dalam keadaan di bawah angin,
Dewa Arak berusaha keras mencari
kelemahan lawannya. Telah dibuktikannya sendiri, ilmu yang membuat Burisrawa
sulit mati bukan 'Rawa Rontek'.
"Akh..."
Tubuh Dewa Arak kontan
terjengkang akibat menangkis serangan Burisrawa. Hal itu terpaksa dilakukan,
karena sudah tidak mempunyai kesempatan mengelak. Dan di saat Dewa Arak tengah
terhuyung-huyung,Burisrawamenerjang.Tampaksekali
kalautokohPulauKaranginibermaksudmemberipukulan terakhir.
"Serangbayangannya,Kang.Bayanganituadalah
tubuhnya yang asli.”
Tiba-tiba terdengar
pemberitahuan. Dan datangnya ternyata dari Melati.
MeskipunherandarimanaMelatimendapatdugaan
seperti itu, namun Dewa Arak memutuskan untuk menuruti. Matanya kemudian
melirik ke tanah. Tampak bayangan tubuh Burisrawa di tanah, tersorot sinar
bulan di atas sana. Tanpa membuang-buangwaktu lagi, Dewa Arak menghentakkan
tangan ke arah bayangan Burisrawa.Taktanggung-tanggunglagi,jurus'Pukulan
Belalang' dikeluarkan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Wusss! Blarrr!
Jelas sekali kalau Dewa Arak
menyerang tanah. Tapiakibatnyabenar-benaraneh.Tiba-tibaterdengar
jeritanmenyayatdarimulutBurisrawaberbarengdengan tubuhnya yang terlempar ke
belakang. Samar-samar, tercium bau sangit daging terbakar.
Brukkk!
TubuhBurisrawaambrukditanah,dandiamtidak
bergerak lagi untuk selamanya.
Tokoh sesat yang memiliki kepandaian demikian menggiriskan itu tewas dengan
tubuh hangus.
Melati langsung menghambur ke
arah Dewa Arak. Sementara, tokoh persilatan yang masih hidup dengan
sikap hati-hati mendekati tubuh
Burisrawa yang telah hangus. Mereka khawatir, tokoh dari Pulau Karang itu
bangkit kembali dan membunuh seperti tadi. Tapi, ternyata tidak.
"Terima kasih atas
pemberitahuanmu, Melati. Kalau tidak, mungkin aku sudah tewas. Hhh...!
Burisrawamemanghebatbukankepalang.Tapi,darimana kau bisa mengetahui kelemahan
ilmunya?" tanya Arya ingin tahu.
"Jangan berterima kasih
padaku, Kang," bantah Melati. "Tapi berterimakasihlah pada Bandawasa.
Dialah yang memberitahukannya padaku. Bandawasa mengakui kalau tenaga dalamnya
belum cukup untuk melenyapkanBurisrawa.Tapi,diatahukelemahannya."
"Bandawasa? Sudah kuduga kalau dia belum mati.
Mana dia, Melati?" tanya
Arya, penuh gairah.
"Baru saja pergi mencari
kereta, untuk mengangkutmayatrekan-rekannya,Kang,"jawabMelati.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
"O, ya. Apa nama ilmu yang
dimiliki Burisrawa itu, Melati. Apakah Bandawasa mengatakannya?" tanya
Arya.
Melati menggelengkan kepala.
"Bandawasatidakmaumemberitahukannya.Rahasia
perguruan, katanya. Apalagi, ilmu
yang dimiliki Burisrawa adalah ilmu-ilmu yang tidak boleh dipelajari. Dua macam
ilmu telah dikuasai Burisrawa. Yang satu membuat dia susah mati, dan yang satu
lagi membuat dia menyerap seluruh kepandaian orang yang sealiran
dengannya," urai Melati panjang lebar.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Kini baru dimengerti, mengapa kepandaian Burisrawa meningkat demikian pesat.
Seluruh kepandaian yang dimiliki Janaka, Mahadewa, dan Mahesa ternyata telah
terwaris kepadanya.
Keruyuk ayam jantan mulai
terdengar, tanda sebentar lagi pagi akan datang. Sang surya pun akan
munculdiutukTimur.Sebuahlembarankehidupanbaru, akan dimulai lagi.
SELESAI
No comments:
Post a Comment