Wednesday, May 15, 2019

042 Empat Dedengkot Pulau Karang


EMPAT DEDENGKOT PULAU KARANG
oleh Aji Saka


l
"Auuung...!"
Lolong anjing hutan terdengar membelah kesunyian malam. Begitu menyayat hati, seakan-akan mengisyaratkan akan terjadi sesuatu. Lolongan itu terusterbawaangin,sehinggasampaiketelingaempat sosok yang tengah bersila di dalam ruangan sebuah bangunan tua di kaki bukit.
Bagai diperintah, empat sosok tubuh yang semuanya laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun, salingberpandangan.Tampakadasorotkeheranan,baik pada tarikan wajah maupun sorot mata mereka.
"Aneh!Aku seperti merasakan adanya keanehan dalamlolongananjinghutankaliini.Atau...,akuyang
terlalu berprasangka...," desis kakek pendek kekar bertelanjang dada, pelan.
"Lho?! Mengapa dugaan kita bisa sama, Malaikat Pisau?" sambut kakek yang bertubuh kurus terbalut pakaian kuning, sambil menatap wajah kakek pendek kekar, penuh rasa heran.
KakekpendekkekaryangternyataberjulukMalai-kat Pisau menatap wajah kakek kecil kurus itu lekat-lekat. Tidak aneh kalau kakek itu berjuluk Malaikat Pisau. Karena di bagian dadanya tampak bertengger jajaran pisau-pisau mengkilat Dan sepak terjangnya juga bagaikan malaikat maut.
"Suatu hal yang aneh kalau kita bisa mempunyai dugaan sama, Pendekar Tangan Sakti," desah Malaikat Pisau pada kakek kecil kurus yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti. "Mungkinkah ini pertanda buruk?"

"Bagaimana dengan kau, Lodra? Petani Maut?!" tanyaPendekarTanganSaktiserayamenolehkearahdua sosok lainnya.
Kakekyangberpakaianlusuhberwarnaabu-abudan berkulit hitam kecoklatan, serta mengenakan sebuah caping bambu, hanya mengangkat bahu.
"Rasanya sulit untuk memberikan tanggapan, karena aku tidak merasakan seperti yang kalian rasakan," jawab kakek berkulit hitam, kalem. Menilik ciri-cirinya, dialah yang berjuluk Petani Maut
"Kalau menurut pendapatku, untuk apa memperasalahkanhalitu?Pertemuankitaditempatini hanyalah untuk mempererat persahabatan yang telah dibina sejak belasan tahun lalu, dan untuk melihat kemajuanmasing-masing,"sergahkakekyangterakhir, yang dipanggil Lodra.
Kakek yang nama panjangnya Sima Lodra itu mempunyai ciri-ciri paling angker dibanding ketiga orang kawannya. Tubuhnya tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat. Rambutnya hitam, panjang, dan bergelombang.Cambangbauklebatyangmenghiaswajah, semakin menambah keangkerannya.
"Misalkan saja, dugaan kalian berdua benar," lanjutSimaLodra,sambilmenatapberganti-gantiwajah Malaikat Pisau dan Pendekar Tangan Sakti. "Lalu, mengapa perlu dipusingkan? Toh, kita bukan tokoh
sembarangan.Andaikatabenaritusuatubahaya,mengapa mesti takut menghadapinya?"
MalaikatPisaudanPendekarTanganSaktisaling berpandangan sejenak sebelum menganggukkan kepala. Sedangkan Petani Maut sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa pada wajahnya.
"Terimakasihatasnasihatmu,Lodra.Kaubenar. Tidak selayaknya bersikap seperti itu. Aku terbawa perasaan...," ucap Malaikat Pisau malu-malu.
Sima Lodra hanya mengangkat bahu.
"Bagaimana? Bisakah acara ini dilanjutkan?!" desak Petani Maut tak sabar.
"Ha ha ha...!"
Tawa ketiga orang rekannya seketika meledak. "Kau benar, Petani Maut! Kami pun sudah tidak
sabarlagiuntukmelihatkemajuanilmuyangkaumiliki! Ingin kulihat kehebatan permainan tudung dan cangkulmu!" sambut Sima Lodra, keras.
"Ah! Mana bisa dibandingkan dengan jurus 'Harimau'yangkaumiliki,Lodra?!"sahutPetaniMaut, merendah.
"Tapi sehebat-hebatnya jurus 'Harimau'ku, tak akan berarti apa-apa bila menghadapi ilmu 'Tinju Angin'PendekarTanganSakti,"kelitSimaLodrasambil mengerling ke arah kakek kecil kurus.
PendekarTanganSaktimengarahkanpandanganke arah Sima Lodra dan Petani Maut berganti-ganti.
"Tidakkahkalianmendengarkehebatanpermainan pisau dari Malaikat Pisau?! Dengan pisau-pisaunya jangankan aku, nyamuk pun tidak akan lolos dari kematian!"
MalaikatPisaumenggelengkan-gelengkankepala. "Kau keliru, Pendekar Tangan Sakti! Apa sih,
artinya sebuah pisauku jika dipakai untuk menghadapi tudung dan cangkul Petani Maut?! Tidak akan berarti apa-apa!"kakekpendekkekarinitidakkalahmerendah.
"Ha ha ha...!"
Terdengar suara tawa keras menggelegar dari mulutSimaLodra.Rupanya,kakektinggibesarinigemar tertawa. Tawanya pun terdengar menggiriskan, mirip auman harimau!
Semula suara tawa keempat tokoh persilatan aliranputihituterdengarbegitukeras,bagaihendak meruntuhkan bangunan yang mereka tempati. Apalagi dalam suara tawa itu terkandung tenaga dalam.
Dan semakin lama, suara tawa itu semakin mengecil. Sampai akhirnya, lenyap sama sekali. Dan kinisuasanasekitartempatitupunsunyisepiseperti mati.
Tapi sebelum keempat orang kakek sakti itu berbuatsesuatu,terdengarsebuahtawakerasmenggele-gar,namunbukandarisalahseorangdiantaramereka.
"Ha ha ha...!" Kerasbukankepalangtawaitu,sehinggamembuat
dinding-dindingdanatapbangunanbergetarhebatbagai terjadigempa.Jelas,tawaitudikeluarkandarimulut orang-orang bertenaga dalam tinggi.
Bagai diberi perintah, Pendekar Tangan Sakti, Petani Maut, Malaikat Pisau, dan Sima Lodra serentak melesat keluar. Memang, dari sanalah suara itu berasal.Cepatlaksanakilatgerakanmereka,sehingga yangterlihathanyalahkelebatbayanganyangtakjelas bentuknya.
Begitu menginjakkan kaki di luar bangunan, keempat kakek sakti itu segera melihat pemilik suara tawa keras menggelegar tadi.
Sekitar tiga tombak di depan Pendekar Tangan Sakti, Petani Maut, Malaikat Pisau, dan Sima Lodra, berdiri empat sosok tinggi besar berkulit hitam. Pakaianyangdikenakansamadenganwarnakulit.Bahkan rambut mereka keriting semuanya.
Pendekar Tangan Sakti, Malaikat Pisau, Petani Maut, dan Sima Lodra saling berpandangan sejenak. Meskipun demikian, langsung bisa diketahui kalau ada sebuah pertanyaan yang bergayut di dalam hati masing-masing. Salah satu di antara mereka ternyata tidak ada yang mengenal empat sosok berpakaian hitam itu.
"Siapakah di antara kalian yang berjuluk Pendekar Tangan Sakti?" tanya salah seorang yang dahinya terdapat sebuah codet. Suaranya keras mengguntur, tak kalah dengan suara Sima Lodra.
"Aku!"jawabPendekarTanganSaktimantapsambil melangkah setindak.
Laki-laki bercodet itu menatap wajah Pendekar Tangan Sakti penuh selidik. Seakan-akan, dia tengah menilai dengan sinar matanya.
"Kalau begitu..., tiga orang yang berada bersamamu ini pasti Sima Lodra, Malaikat Pisau, dan Petani Maut," tebak laki-laki berhidung gerumpung.
"Dugaanmu tidak salah, Kisanak! Sekarang kami yang ganti bertanya. Siapakah Kisanak semua?" Sima Lodra yang menyambuti pertanyaan itu.
Lantang dan mantap suara Sima Lodra. Sikapnya terlihat gagah. Apalagi sambil berkata demikian, kakinya melangkah maju dengan dada dibusungkan.
"Kami memang tidak tersohor seperti kalian berempat. Karena, kami memang tidak suka nama. Kami berasaldarisebuahperguruanyangterletakdisebuah pulau yang jauh dari sini. Kedatangan kami sengaja untukmeluaskanpengalaman.Makakamiinginmengadakan pertarungan melawan tokoh-tokoh persilatan yang mempunyaikepandaiantinggi.Dankamidengardipulau ini banyak tokoh sakti. Salah satu tokoh yang kami kenal ciri-cirinya adalah Pendekar Tangan Sakti. Dan menurutkabar,PendekarTanganSaktiselalumengadakan pertemuandengantigaorangtemannyayangbernamaSima Lodra,MalaikatPisau,danPetaniMaut.Untunglahpada saat yang tepat, kami bisa bertemu kalian berempat. Maka,kalianberempatlahpilihanpertamakami.Berilah kami pelajaran!" jelas salah seorang yang berwajah bopeng.
"Tapi sebelum pertarungan berlangsung, kami akanmengenalkandiri,"sambunglainnyayangberbibir tebal. "Aku Bandawasa!"
"Namaku Janaka," sebut laki-laki berwajah bopeng.
"Aku Mahesa," sambung laki-laki berhidung ge-rumpung.
"Mahadewa," sebut laki-laki bercodet, tak ketinggalan.
PendekarTanganSakti,PetaniMaut,MalaikatPi-sau,danSimaLodratersenyumlebar.Legarasanyahati
mereka ketika mengetahui tidak ada persoalan dengan keempat orang berpakaian hitam itu.
"Tapiperlukalianketahui,"sambungMahadewa. "Meskipunpertarungannantitanpapersoalan,tapikami akan mengerahkan seluruh kemampuan. Jadi, keluarkanlah            kemampuan     kalian.  Jangan sungkan-sungkan,karenabukantidakmungkindiantara kita ada yang tewas!"
Petani Maut, Pendekar Tangan Sakti, Malaikat Pisau, dan Sima Lodra saling berpandangan. Mereka tahu,Mahadewabermaksudbaik.Tapimeskipundemikian, tetap saja keempat tokoh persilatan aliran putih ini tersinggung, karena merasa diremehkan.
"Kamitidakbutuhnasihatmu,Mahadewa!Kamitahu apa yang harus dilakukan!" tandas Sima Lodra keras. Memang,dialahyangpalingberangasandibandingketiga orang kawannya.
"Kalau begitu, bersiaplah kalian!" Bandawasa memberi peringatan.
Serentak keempat orang berpakaian hitam itu berpencar. Dan kelihatannya pertarungan tidak bisa dielakkan lagi. Maka Pendekar Tangan Sakti dan rekan-rekannya pun bergerak menyebar pula.
"Haaat...!" Diiringiteriakankerasmenggelegar,Mahadewa,
Janaka, Mahesa, dan Bandawasa meluruk ke arah lawan masing-masing. Maka Pendekar Tangan Sakti dan ketiga orang kawannya langsung menyambut. Sesaat kemudian, pertarungan pun berlangsung.
Janaka ternyata tidak berbohong sewaktu mengatakan kalau dia dan rekan-rekannya berasal dari satu perguruan. Jelas kalau dari gerakan menunjukkan bahwa mereka berasal dari satu aliran. Dasar-dasar, gerakan,dankuda-kudamenunjukkankemiripansatusama lain. Yang menyebabkan adanya perbedaan pada gerakan-gerakan mereka hanya terlihat dari bakat masing-masing saja.
"Hiyaaat..!"
Bandawasa membuka serangan dengan sebuah pukulanluruskearahdadakiriPendekarTanganSakti. Deruanginkerasmengiringitibanyaserangannya.Namun Pendekar Tangan Sakti tak gugup melihat serangan
lawan. Maka, buru-buru kakinya melangkah ke kanan sambil mendoyongkan tubuh. Dan ternyata serangan itu mengenaitempatkosong,beberapajaridisebelahkiri Pendekar Tangan Sakti.
Tapitindakankakekkecilkurusinitidakhanya sampai di situ saja. Cepat laksana bayangan, tangan kirinyameluncurcepatkearahrusuk.Gerakannyasama sekali tidak terduga. Meluncur, setelah terlebih dahuluberputarmempergunakanpangkallengan.Sungguh tidakpercuma,kakekkecilkurusiniberjulukPendekar TanganSakti.Gerakantangannyasangatcepatdantidak terduga-duga.
Bandawasa agak terkejut juga, ketika melihat serangan yang meluncur tidak terduga-duga itu. Mes-kipundemikian,kelihaiannyamasihmampuditunjukkan. Buru-buru kakinya melangkah ke belakang, seraya mendoyongkan tubuh. Dan nyatanya, serangan itu tidak mencapaisasaran,beberapajengkaldidepanBandawasa. Tindakan laki-laki berbibir tebal tidak hanya sampai di situ saja. Begitu kakinya ditarik mundur, tangan kanannya pun digerakkan untuk menangkis serangan Pendekar Tangan Sakti. Rupanya, Bandawasa
tidak mau kalah gertak. Maka.... Plakkk!
Suara berderak keras seperti dua logam keras berbenturan terdengar ketika dua buah tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam kuat beradu. Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama terhuyung mundurduatindak.Halinimenandakankeduabelahpihak mempunyai tenaga dalam berimbang.
Pendekar Tangan Sakti dan Bandawasa sama-sama menghentikangerakan.Keduanyasalingtatapsejenak, seperti mengukur kekuatan masing-masing. Dan mereka juga sama-sama tidak menyangka, kalau satu sama lain memiliki tenaga dalam sekuat itu.
Tapihanyasesaatsajahalitudilakukan,karena sebentarkemudiankeduanyatdahkembalisalinggebrak disertai pengerahan seluruh kemampuan.
BukanhanyaBandawasadanPendekarTanganSakti saja yang terlibat dalam pertarungan sengit. Masing-masingpihakjugaterlibatpertarunganyangtak kalah serunya. Mahesa menghadapi Malaikat Pisau,
Mahadewa melawan Petani Maut, dan Janakadengan Sima Lodra.
Bagaitelahberjanjisebelumnya,masing-masing tokoh bertarung tanpa senjata. Bagi Pendekar Tangan SaktidanSimaLodra,inimerupakansebuahkeuntungan. Karena keduanya merupakan tokoh persilatan yang mempunyaiilmuandalantangankosong.Sementara,kedua orang rekan mereka yang lain lebih menonjol dalam penggunaan senjata. Malaikat Pisau dengan pisau-pisaunya, sedangkan Petani Maut dengan tudung dan cangkulnya.
Dan kedahsyatan ilmu tangan kosong Pendekar TanganSaktidanSimaLodrabisadirasakansendirioleh lawanmasing-masing.BandawasadanJanakayangberasal dari satu perguruan itu berkali-kali terperanjat dan tanpa sadar terpekik, kendati bercampur kagum. Tapi hal itu bukan berarti Bandawasa dan Janaka terdesak. Mereka sampai saat ini buktinya masih mampu melayani lawan-lawannya.
Di jurus-jurus awal, pertarungan berlangsung imbang.Masing-masingpihaksalingberganti-gantime-lancarkan serangan maupun mengelak. Tapi menginjak jurus kelima puluh, mulai tampak adanya perubahan dalam kancah pertarungan.
Empatoranglaki-lakiberpakaianhitamituter-nyata memiliki kepandaian lebih tinggi. Buktinya, PendekarTanganSakti,MalaikatPisau,SimaLodra,dan Petani Maut yang terkenal itu mengalami kerepotan untukmenundukkanlawan-lawannya.Bahkansebaliknya, Petani Maut dan Malaikat Pisau kelihatan lebih terdesak.
Semakinlama,kedudukanPetaniMautdanMalaikat Pisau semakin mengkhawatirkan. Kedua orang lawan merekaternyatamemilikiilmutangankosongyanghebat luar biasa.
Meskipun demikian, mereka berusaha melakukan perlawanan sekuatnya. Tapi, usaha mereka sama sekali tidak berarti banyak.
Begitu pertarungan menginjak jurus kedelapan puluh....
"Hih!" Bukkk, desss!
"Akh! Hugh!"
Pada saat yang hampir bersamaan, tubuh Petani MautdanMalaikatPisauterlemparkebelakang.Petani Maut terkena tendangan pada paha kanannya, sedangkan MalaikatPisaumenerimasebuahpukulantelakdiperut. Seketikaitupula,keduapentolangolonganputih rimbapersilatanitupunmenyeringaikesakitan.Bahkan tampaknya Malaikat Pisau terluka dalam, ketika terlihatadanyatetesandarahsegardisudutmulutnya. Meskipun demikian, Malaikat Pisau dan Petani
Maut bukan jenis orang yang gampang menyerah. Sambil menggertakkan gigi, mereka kembali menerjang. Malaikat Pisau menubruk Mahesa dan Petani Maut menerjangMahadewa.Hasilnya,pertarunganpunkembali berlangsung sengit.
Malaikat Pisau dan Petani Maut rupanya sudah nekat. Serangan yang dilancarkan kelihatan bertubi-tubi pada lawan masing-masing. Padahal keadaan mereka saat itu tidak menguntungkan, karena telah sama-sama terluka.
Hasil kenekatan Petani Maut dan Malaikat Pisau sudah bisa ditebak. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, tubuh kedua orang itu telah kembali dibuat terjengkang ke belakang. Masing-masing terkena pukulan pada bahu kanannya.
Brukkk!
Belum sempat Petani Maut dan Malaikat Pisau berbuatsesuatu,tubuhPendekarTanganSaktidanSima Lodra juga terjengkang ke belakang, lalu jatuh berdebuk di tanah. Anehnya, kedua orang itu terkapar jatuh di dekat mereka. Berbeda dengan kedua rekannya yang masih mampu bangkit, Pendekar Tangan Sakti dan SimaLodrajustrusepertitakberdaya.Luka-lukayang diderita kelihatannya memang cukup parah, begitu menerima hajaran yang cukup keras pada bagian dada. Sementara itu, Petani Maut dan Malaikat Pisau yangmasihberusahabangkit,kembaliharusmenelanpil pahit. Ternyata, Mahesa dan Mahadewa kini sudah mengirimkanserangandisertaipengerahantenagalebih kuatdaripadasebelumnya.Akibatnya,kinimerekatidak
mampu bangkit lagi. "Hhh...!"
Bandawasa menghela napas berat. Ditatapnya sosok-sosokyangbergeletakanditanah.Diakelihatan tidak ingin melancarkan serangan susulan. Demikian pula ketiga rekannya.
"Sama sekali tidak kusangka pertarungan akan berlangsung sesingkat ini," desah Bandawasa bernada keluhan."Akukecewasekali!Apahanyasampaidisini saja tingkat kepandaian jago-jago di pulau ini?!"
PendekarTanganSaktidanketigaorangrekannya saling berpandangan satu sama lain. Ucapan Bandawasa membuatmerekamerasatersinggungbukankepalang.Dan dalam pertemuan pandang itu, mereka seperti sudah sepakat.
"Jangan berbangga hati dulu, Bandawasa! Kemenanganmuterhadapkamibukanjaminankalaukepan-daian kalian melebihi jago-jago persilatan di pulau ini,"kataPendekarTanganSaktiyangmerupakanorang tertua bila dibandingkan ketiga rekannya.
"Lho?! Mengapa demikian? Bukankah kalian pentolan-pentolan persilatan aliran putih di pulau ini?Dankaliantelahkamikalahkan!Bahkansedemikian rendah! Bukankah itu berarti tingkat kepandaian kami jauh di atas jago-jago di pulau ini?!" bantah Bandawasa, tak mau kalah.
"Ha ha ha...! Kau keliru, Bandawasa!" Kali ini Sima Lodra yang menanggapi dengan suara parau dan keras.
"Keliru?!" ulang Janaka dengan kening berkernyit dalam.
"Benar!" sambut Petani Maut, tidak mau ketinggalan.
"Mengapa kalian berkata demikian?" tanya Mahadewa penasaran.
"Kamimemangpentolanaliranputihdipulauini. Tapi, bukan berarti memiliki tingkat kepandaian tertinggi.Masihbanyaktokohyangmemilikikepandaian jauhdiataskami!Salahsatunya,adalahseorangpen-dekar yang amat terkenal. Apabila dia berhasil dikalahkan,kaubolehbersikaptakabursepertitadi," sergah Pendekar Tangan Sakti, panjang lebar.
"Katakan siapa orang itu?!" desak Bandawasa, penuh rasa ingin tahu.
Laki-laki berbibir tebal ini melangkah mendekat.
"Katakan siapa dia?!"
Pendekar Tangan Sakti menengadahkan kepala. Tanpa rasa gentar sedikit pun, ditatapnya wajah Bandawasa. Kemudian secara lambat-lambat tapi penuh tekanan, digumamkan sebuah julukan.
"Dewa Arak...!"







2

"Dewa Arak...?!"
Hampir berbarengan, Bandawasa dan ketiga re-kannya mengulang julukan yang diucapkan Pendekar Tangan Sakti.
"Benar!DewaArak!"tegasPendekarTanganSakti. "Kalau mampu mengalahkannya, baru kalian boleh sesumbardenganmengalahkanseluruhjagopersilatandi pulau ini!"
"Dewa Arak...," Mahesa mengulang julukan itu seperti khawatir akan terlupa. "Sebuah julukan aneh. Nggg..., apakah dia jago minum arak?!"
"Ha ha ha...! Jago minum arak?! Semua tokoh persilatan tahu kalau ketahanannya dalam minum arak tidakmungkinditandingijago-jagominummanapunjuga. Dialah yang telah memenangkan pertandingan dalam adu kekuatan minum arak dengan jago-jago minum!" sambut SimaLodramembanggakan(Untukjelasnya,silakanbaca serialDewaArakdalamepisode"PertarunganRaja-Raja Arak").
"Bukan hanya itu saja," sambut Petani Maut. "Apabila dia telah meminum araknya, jangan harap ada seorangpunyangmampumengalahkannya.Ilmu'Belalang Sakti'nyabelumpernahterkalahkansampai sekarang!"
"Aku jadi ingin menjajaki, sampai di mana tingkatkepandaianDewaArak,"kataJanaka,bergetar. "Jangan-jangan berita yang kami dengar sama denganapayangkamidapatkan!Orang-orangpersilatan mengatakan kalau kalian adalah pentolan aliran putih di empat penjuru angin. Tapi nyatanya...?" Bandawasa
ikut angkat bicara.
"Benar! Apa yang kami dapati dari kalian ternyatabenar-benarmembuatkecewa!"sambungMahesa. "Tidak kami pungkiri, julukan kami cukup terkenal dalam dunia persilatan. Aku di Timur, PendekarTanganSaktidiSelatan,PetaniMautdiBarat, dan Sima Lodra di Utara. Tapi, kami tidak termasuk datuk-datuk persilatan. Kami terkenal karena banyak terlibat pertarungan melawan tokoh-tokoh aliran
hitam!" jelas Malaikat Pisau, panjang lebar. Bandawasa, Janaka, Mahadewa, dan Mahesa
tercenung.Beberapasaatlamanyamerekaberdiamdiri, tanpa bersuara sepatah kata pun.
"Di mana kami bisa menemukan Dewa Arak?" tanya Bandawasa, tanpa menyembunyikan perasaan ingin tahunya.
"Bagaimanakalianbisamenemukantempatkami?" Pendekar Tangan Sakti malah balas bertanya.
"Kami menyatroni perguruan silatmu. Dan dari mulutsalahseorangmuridutama,kamibisatahutempat berkumpulnyakalian!Kalianberempatbersahabatbaik sejakbelasantahunlalu.Dansetiapduatahunsekali mengadakan pertemuan untuk menguji kemampuan ilmu," urai Mahesa, panjang lebar.
"Apa yang kalian perbuat terhadap murid-muridku?!"sentakPendekarTanganSakti,kalap. Kakek kurus berbaju kuning ini khawatir, jangan-jangantelahterjadimalapetakahebatterhadap
perguruan silat yang dipimpinnya.
"Tidak usah khawatir, Pendekar Tangan Sakti. Perguruan yang kau pimpin sama sekali tidak terobrak-abrik. Kami hanya memberi luka ringan pada beberapamuridmuyangmembandel,"jawabMahesa,kalem. Mendengar jawaban yang mengandung kesungguhan besaritu,hatiPendekarTanganSaktisedikittenang.
Dirasakanadakesungguhanpadanadaucapanmaupunraut wajah Mahesa.
"Kita kembali pada pokok persoalan, Pendekar Tangan Sakti," selak Bandawasa, cepat.
Pendekar Tangan Sakti mengalihkan tatapan ke arah Bandawasa.
"Katakan, di mana kami bisa menemukan Dewa Arak?!"
Pendekar Tangan Sakti saling berpandangan de-ngan ketiga orang rekannya.
Dariadupandangsebentaritu,bisadiketahuinya kalau ketiga orang rekannya tidak tahu Dewa Arak berada.
"Sayang sekali, Bandawasa. Kami tidak tahu, di mana Dewa Arak dan...."
"Bohong! Kau bohong, Pendekar Tangan Sakti!" potong Mahadewa capat. Keras bukan kepalang ucapan Mahadewa,sehinggamembuatseluruhtempatiniseperti tergetar hebat. Jelas, laki-laki bercodet ini mengerahkan tenaga dalam sewaktu mengeluarkan bentakan tadi.
PendekarTanganSaktimengalihkanpandanganke arahMahadewa.Tampakjelasadanyasinarkemarahandi matanya. Kelihatannya, kakek berpakaian kuning ini merasa tersinggung mendengar ucapan Mahadewa.
"Kami bukan orang semacam itu, Mahadewa! Bagi kami,lebihbaikmatidaripadaberbohong!Sekalikami berkata hijau, tak akan berubah menjadi merah!"
Terdengarberapi-apidanpenuhsemangatucapan Pendekar Tangan Sakti. Hatinya benar-benar tersing-gung mendengar ucapan Mahadewa. Bahkan bukan hanya PendekarTanganSaktisaja.Ketigaorangrekannyapun demikian pula. Tapi yang mereka lakukan hanyalah memandang Mahadewa dengan sorot mata berapi-api.
Melihat hal ini, Bandawasa buru-buru menjulurkan kedua tangannya ke depan.
"Tenang, Pendekar Tangan Sakti. Bukannya kami menuduhkauberbohong.Tapirasanyaucapanmuitusama sekalitidakmasukakal.Kaumengarakan,DewaArakitu seorang tokoh yang amat terkenal. Jadi, mana mungkin kalian tidak tahu tempat tinggalnya!"
"Diatidakmempunyaitempattinggal,Bandawasa! Dewa Arak seorang pengelana. Tempat tinggalnya tidak tetap. Nah! Bagaimana mungkin aku bisa menunjukkannya?"
UcapanPendekarTanganSaktimembuatBandawasa dan ketiga orang rekannya saling berpandangan.
"Luar biasa! Sama sekali tidak disangka kalau Dewa Arak masih mempunyai semangat sedemikian besar, tidak kalah dengan anak muda! Patut dipuji pengabdiannya pada sesama manusia!" puji Bandawasa, bernada kagum.
PendekarTanganSaktidanketigarekannyasaling berpandangan. Tarikan wajah mereka memancarkan kebingungan dan keheranan, mendengar ucapan Ban-dawasa.
"Mengapakaliantampaknyakebingungan?"bentak Mahadewa, keras.
Sebenarnya, bukan hanya Mahadewa saja yang melihat wajah bingung Pendekar Tangan Sakti dan tiga orang rekannya. Tapi, Mahadewalah yang lebih dulu mengajukan pertanyaan.
"Jadi, kalian kira Dewa Arak itu seorang yang sudah jompo?!" Sima Lodra yang mempunyai sifat berangasan langsung angkat bicara.
"Jadi...,DewaArakbukanseorangkakek-kakek? Maksudku..., dia seorang pemuda?" tebak Bandawasa mulai mengerti.
"Tepat! Dewa Arak adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan," Malaikat Pisau buru-buru menjelaskan. Ada nada kebanggaan dalam ucapannya.
"Seorang pemuda?! Bahkan sudah menjadi jago nomorsatudipulauini?!Gila!"seruBandawasa,kaget bercampur kagum.
"Benar," Pendekar Tangan Sakti menganggukkan kepala.
Bandawasa dan ketiga rekannya saling berpan-dangan. Tarikan wajah mereka menyiratkan keterkejutan. Sungguh tidak disangka kalau Dewa Arak yangbegitudikagumiPendekarTanganSaktidanketiga rekannya, ternyata seorang pemuda belia.
"Kalaukalianinginmenemukannya,bukanhalyang sulit.Ciri-ciriyangdimilikinyaamatmenyolok,"kata Pendekar Tangan Sakti.
"Bagaimanaciri-cirinya?"tanyaBandawasapenuh gairah.
Pendekar Tangan Sakti tidak langsung menjawab pertanyaanitu.Diatermenung,sepertitengahmencari kata-kata yang tepat untuk memulai menjelaskan.
"Nama aslinya Arya Buana. Wajahnya tampan dan gagah. Pakaiannya berwarna ungu. Dan di punggungnya tergantung sebuah guci arak dari perak."
"Jadiituciri-cirinya?"desakBandawasaketika Pendekar Tangan Sakti menghentikan ucapannya.
Dahi laki-laki berbibir tebal itu tampak berkernyit. Sikapnya memberi petunjuk kalau tengah mengingat-ingat sesuatu.
"Belumsemuaciri-cirinyakusebutkan.Masihada satucirilagiyanglebihmenyolok.DewaArakmempunyai rambutpanjangsampaimelewatibahu.Danwarnanya..., putih keperakan!" sambung Pendekar Tangan Sakti.
"Hahhh...!"
Bandawasa dan ketiga rekannya kaget mendengar ucapan terakhir Pendekar Tangan Sakti.
"Rambutnyaputih?"desisMahesasetengah tidak percaya.
Pendekar Tangan Sakti menganggukkan kepala. "Benar."
UntukyangkesekiankalinyaBandawasadanketiga rekannya termenung. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena....
"Kurasasudahcukupbanyakketeranganyangkami dapat mengenai Dewa Arak. Sekarang, kamipergi untuk mencarinya."
Usai berkata demikian, Bandawasa segera menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian, tubuhnya melayangkearasdanmendaratbeberapatombakdidepan. Melihat Bandawasa telah melesat, Janaka, Mahesa,danMahadewasegerabergerakmengikuti.Hanya dalam waktu sebentar saja, tubuh mereka semua telah
lenyap ditelan kejauhan dan kegelapan malam.

***

"Hhh...! Orang-orang yang amat berbahaya," desisPendekarTanganSaktisambilmenghembuskannapas berat.
Kemudian, kakek berpakaian kuning ini bangkit berdiri,diikutiyanglainnya.Kinilukadalammereka tidak terlalu mengganggu lagi, karena telah diobati dengan bersemadi.
"Benar! Mudah-mudahan saja Dewa Arak berhasil menanggulangi mereka," sambung Malaikat Pisau, berharap.
"Mudah-mudahan," sambut Petani Maut, berharap pula.
"Tapi..., sepertinya mereka bukan termasuk orang jahat," ucap Pendekar Tangan Sakti lagi.
"Akumasihbelumyakin,PendekarTanganSakti," Sima Lodra angkat bicara.
"Heh?! Mengapa kau berkata demikian, Lodra? Kalaumerekaberniatjahat,kitatidakakandibiarkan hidup! Mereka tentu akan membunuh kita," bantah Pendekar Tangan Sakti.
"ApayangdikatakanPendekarTanganSaktitidak salah, Lodra," kata Malaikat Pisau, memberi dukungan pada Pendekar Tangan Sakti.
"Mungkinkaubenar,MalaikatPisau.Tapi,bagai-mana ya.... Rasanya aku tidak percaya kalau kita dibiarkan hidup..."
"Ha ha ha...! Kau memang mempunyai perasaan tajam, Sima Lodra! Ha ha ha...!"
Sebuah ucapan kasar dan parau memotong ucapan Sima Lodra yang belum selesai. Hampir berbarengan, keempat orang itu menoleh ke arah asal suara, yang ternyata dari atas genteng.
"Mahadewa...,"desisPendekarTanganSaktidan ketiga rekannya berbarengan.
Memang,orangyangberdirisambilbersedakapdi atas genteng itu ternyata Mahadewa. Entah kapan, tahu-tahu laki-laki berpakaian hitam dan berambut keriting serta mempunyai sebuah codet didahinya itu telah berada di situ.
"Ha ha ha...! Bagus! Bagus! Kalian masih mengingat namaku rupanya! Ha ha ha...! Bagus!
Ingat-ingatlah, sebelum kukirim ke neraka! Ha ha ha...!"
Masih dalam keadaan tertawa-tawa, Mahadewa melompatturun.Laksanaseekorburunggaruda,tubuhnya melayang ringan.
Jliggg! Ringanlaksanasehelaidaun,keduakakiMahadewa
hinggap di tanah.
"Bersiaplah menerima kematian!"
Usai berkata demikian, Mahadewa melompat menerjang Pendekar Tangan Sakti yang berjarak paling dekat. Jari-jari kedua tangannya dikembangkan membentuk cakar. Lalu, tiba-tiba tangan kanannya disampokkan ke arah pelipis. Sedangkan tangan kiri yang terletak di sisi pinggang, belum bergerak.
Pendekar Tangan Sakti terkejut bukan kepalang melihat serangan mendadak itu, namun tidak gugup. Buru-buru kepalanya ditarik ke belakang sambil me-langkah mundur.
Wuttt! SampokanMahadewaternyatahanyalewatbeberapa
jarididepanwajahPendekarTanganSakti.Rambutdan pakaiankakekkurusyangberkibarankerasmembuktikan betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan lawan.
Tapi tindakan Mahadewa tidak hanya sampai di situsaja.Begituseranganpertamanyaluput,serangan lainnyasegeramenyusul.Kakikanannyameluncurcepat, melepaskan sebuah tendangan lurus ke arah dada.
Maka, tidak ada pilihan bagi Pendekar Tangan Sakti, kecuali mengelak. Disadari kalau keadaannya sekarang ini tidak memungkinkan untuk menangkis. Apalagi kekuatan tenaga dalamnya telah merosot jauh. Jadi,merupakansebuahtindakanbodohkalaumemaksakan diri untuk mengadu tenaga dalam.
Mendapat pikiran demikian, Pendekar Tangan Saktisegeramelempartubuhnyakebelakang.Hasilnya, tendangan Mahadewa hanya mengenai tempat kosong.
Kegagalanseranganyangkeduakalinya,membuat Mahadewa geram bukan kepalang. Maka begitu kedua kakinya hinggap di tanah, langsung saja tubuhnya meluruk ke arah Pendekar Tangan Sakti.
Tapi, laki-laki bercodet ini terpaksa menghentikanmaksudnya,karenaMalaikatPisau,Petani Maut, dan Sima Lodra telah melesat menghadang. Mahadewa segera merayapi wajah-wajah penghadangnya. Lalu....
"Ha ha ha...!" BukanhanyaPetaniMautdanMalaikatPisausaja
yang merasa geram melihat sikap Mahadewa. Pendekar TanganSaktidanSimaLodrapundilandaperasaansama. Makakeempatoranginisegeramen-cabutsenjata
andalan masing-masing.
Kini dengan senjata andalan di tangan, empat orang pentolan aliran putih ini menyerbu Mahadewa.
Dalam sekejap saja, senjata di tangan mereka berkelebatmengancamberbagaibagiantubuhtokohyang ternyata berasal dari Pulau Karang itu.
Hebatdanmenggiriskanserangan-seranganempat tokoh aliran putih itu. Tapi, masih lebih hebat lagi tindakan Mahadewa. Ruyung berbatang dua di tangannya berkelebatcepatdisekelilingtubuhnya.Danhasilnya luar biasa! Setiap serangan yang dilancarkan empat orang lawan selalu membentur batang ruyungnya. Kelebatan ruyung di sekujur tubuhnya laksana benteng yang melindungi diri dari berbagai serangan.
Padahal,seranganyangdatangtidakhanyaberupa tusukan, babatan, atau tetakan, tapi juga lemparan. Dan itu bukan sembarang lemparan, karena yang melakukannya Malaikat Pisau dan Petani Maut. Masing-masing dengan pisau dan caping bambu.
Tapi yang lebih menggiriskan hati adalah lemparan caping Petani Maut Senjata berbentuk caping dari bambu itu, mampu meluncur kembali pada pemiliknya,apabilaberhasildielakkanatauditangkis lawan!InimemangsuatukelebihansenjatamilikPetani Maut.
Meskipun demikian, toh semua serangan itu berhasil dimentahkan Mahadewa! Walaupun, bukan ber-artimudahsajabagiMahadewauntukmenaklukkanlawan. Empat orang lawan itu masih cukup tangguh meskipun kemampuan mereka telah menurun jauh.
Sejak dari pertama menggebrak hingga berlang-sungduapuluhjurus,Mahadewamasihtetapbertahandan
belum melancarkan serangan sama sekali. Ruyungnya digunakanhanyauntukmenangkissetiapseranganlawan. Tapimenginjakjurusketigapuluhlima,Mahadewa mulai melancarkan serangan balasan. Ruyungnya mulai meluncurkearahlawan.Mula-mulahanyasesekalisaja, tapisemakinlamaporsiserangannyasemakinbertambah.
"Hiyaaa...!"
Diiringi pekik melengking nyaring, Mahadewa memutarruyungnyadisekelilingtubuhnya.Kedahsyatan putaran ruyungnya masih pula diiringi putaran tubuhnya.
Wuttt!
Melihat hal ini, Petani Maut, Malaikat Pisau, SimaLodra,danPendekarTanganSaktitidakberanime-nangkis.Bahkantanganmerekatelahsejaktaditerasa pedas-pedas dan sakit-sakit, karena terlalu sering menangkis ruyung lawan. Maka bagai diberi perintah, keempat orang itu segera melompat mundur. Sehingga, serangan itu lewat beberapa jengkal di depan mereka. Tapi tindakan Mahadewa tidak hanya sampai di
situ saja. Kini, tubuhnya segera melompat menerjang Petani Maut yang ada di hadapannya. Dan....
Wukkk!
Ruyung baja Mahadewa meluncur ke arah kepala kakek berpakaian abu-abu lusuh itu. Apabila mengenai sasaran, sudah bisa ditebak akibat yang akan terjadi pada kepala itu.
Tranggg!
Bunga api berpercikan ke sana kemari begitu PetaniMautmenangkisdengancangkulnya.Seketikaitu pula, tubuh kakek berpakaian lusuh ini terhuyung-huyung ke belakang.
DansaatitulahMahadewamenggunakankesempatan baik di depan matanya. Langsung dilancarkannya serangan susulan. Kakinya meluncur cepat ke arah perut, melepaskan sebuah tendangan keras bertenaga dalam tinggi.
Desss! "Aaakh...!"
Petani Maut menjerit memilukan. Seketika itu pula, tubuhnya terlempar ke belakang. Darah segar
seketikakeluardarimulutnya,mengiringiluncurantu-buhnya.
Pada saat tubuh Petani Maut tengah terlempar, PendekarTanganSakti,MalaikatPisau,danSimaLodra segera melancarkan serangan dari tiga jurusan.
"Hiyaaa...!" "Hih!" "Haaat...!"
NamunMahadesatidakgugupkarenanya.Danmasih dalamkeadaandiudara,ruyungditangannyadiayunkan ke belakang.
Wuttt!
Prak, prak, prakkk!
Sungguh mengagumkan tindakan Mahadewa! Permainanruyungnyabenar-benarelok!Meskipuntanpa melihat,diamampumengirimkanserangankebagianyang mematikan. Berturut-turut kepala ketiga lawannya terhantambatangruyungnya,hinggahancurberantakan. Tampaknya, Mahadewa mengerahkan seluruh tenaga dalamnya saat melepaskan pukulan keras ke kepala lawan-lawannya.
Brukkk! TubuhPendekarTanganSakti,MalaikatPisau,dan
SimaLodrarobohditanah.Sebentarmerekakelojotan, lalu diam tak bergerak lagi. Mati, dengan darah membanjiri tanah.
Jliggg!
Ringan laksana sehelai daun jatuh, kedua kaki Mahadewahinggapditanah.Sebentarsepasangmata-nya beredar ke arah sosok-sosok tubuh lawan yang sudah tidak bergerak lagi di tanah.
"Ha ha ha...!"
Mahadewa tertawa bergelak bernada kemenangan dan kegembiraan. Masih dengan suara tawa yang belum putus, tubuhnya segera melesat cepat meninggalkan tempat itu. Cepat bukan main gerakannya. Hanya beberapa kali lesatan saja, tubuhnya telah tidak terlihat lagi. Yang terlihat kini hanya sebuah titik hitam di kejauhan. Semakin lama, titik itu semakin kecil, hingga akhirnya lenyap sama sekali!



23

Sangsuryasudahhampirditengah-tengahlangit. Tapisuasanadipersadatidakterasapanas.Banyaknya awan yang menggantung di langit, membuat matahari terhalang dalam memancarkan sinarnya. Dan, dalam suasanasepertiitu,duasosoktubuhtampakmelangkah memasuki Desa Ceger.
"Hey! Apa yang tengah terjadi di sana, Kang? Mengapabanyakorangberkerumun?"tanyaseoranggadis cantik sambil menudingkan jari telunjuknya ke depan, tanpa menghentikan langkahnya.
Pemuda tampan berpakaian ungu yang berjalan di sebelah gadis berpakaian putih berambut panjang itu tidaklangsungmenjawab.Namunpandangannyadialihkan ke arah yang ditunjuk gadis itu.
"Entahlah, Melati."
Hanya itu jawaban yang diberikan pemuda berpakaian ungu itu.
GadisberpakaianputihyangternyataMelatidan sekaligusputriangkatRajaBojongGadingituterdiam. Tapi sesaat kemudian, sepasang bola mata gadis yang berjuluk Dewi Penyebar Maut itu berputar merayapi sekujur wajah pemuda di sebelahnya.
Sepasangbolamatabeningdanindahituberhenti agak lama ketika tertumbuk pada guci perak yang tergantung di punggung pemuda berpakaian ungu itu. Sebagian badan guci tidak terlihat, karena tertutup rambut berwarna putih keperakan milik pemuda itu. Memang, rambut itu panjang dan terurai melewati punggung.
Melihatdariciri-cirinya,bisadiketahuikalau pemuda berpakaian ungu itu adalah Arya Buana, yang berjuluk Dewa Arak.
"Man kita lihat keramaian di depan itu dulu, Melati," putus Arya.
Melati sama sekali tidak menyambuti. Yang dilakukannya hanya mengangkat bahu pertanda menyetujui usul Arya.
Kini Arya dan Melati melangkah menuju tempat keramaian terjadi. Dan saat melangkah, kini mereka mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Hasilnya, tubuh mereka telah berada beberapa tombak dari tempat semula.
Hanyadalambeberapakalilesatansaja,Aryadan Melatitelahtibadidekatkerumunanorang-orangyang memang adalah para penduduk desa.
Arya dan Melati menghentikan langkah. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu kembali menatap ke arahkerumunanorang-orangyangmembentuk lingkaran. Memang, kerumunan itu menyulitkan mereka untuk mengetahui, apa yang ada di tengah-tengahnya.
Sesaatsepasangpendekarmudainiberdiamdiri, namun telah memasang pendengaran setajam mungkin. Mereka mencoba mendengarkan, namun hasilnya nihil. Ternyata yang tertangkap hanyalah gumaman-gumaman tidak jelas, mirip sekumpulan lebah yang sarangnya diobrak-abrik! Dan tentu saja berasal dari mulut kerumunan orang-orang yang berbicara semaunya.
Karenayakintidakakanmengetahuiapapun,Arya segera menekuk kedua lututnya. Dan sekali kakinya bergerak menekan, tubuhnya melayang ke atas, dan langsung hinggap pada sebuah dahan pohonyang rumbuh tak jauh dari kerumunan.
Dariataspohon,pemudaberambutputihkeperakan itu mengarahkan pandangan pada sesuatu di tengah-tengah kerumunan orang-orang di bawahnya. Ternyata, di situ tergeletak seorang kakek yang bersimbah darah pada mulutnya.
Jliggg!
"Ada apa, Kang?" tanya Melati begitu Dewa Arak telah mendarat kembali di tanah.
Gadis berpakaian putih ini rupanya sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi, sehingga langsung menyodorkan pertanyaan. Padahal, Dewa Arak baru saja ingin membuka mulutnya.
"Adaseorangkakektergeletakdidalamkerumunan orang-orang itu. Aku yakin, dia terluka.Tadi sempat
kulihat adanya noda-noda darah di sekitar mulutnya," jawab Arya. "Kita harus cepat bertindak sebelum terlambat, Melati."
Usai berkata demikian, pemuda berambut putih keperakan itu menghampiri kerumunan para penduduk dengan langkah-langkah panjang.
"Permisi, Kisanak semua. Biarkah kami menolongnya."
Kontan hampir semua kepala orang yang tengah berkerumun,menoleh.Seketikaitupula,parapenduduk itumenggesermemberijalanpadaDewaArakdanMelati.
"Terima kasih."
Arya mengucapkan perkataan itu sambil meng-anggukkan kepala. Kemudian, kakinya melangkah cepat menuju ke arah sosok tubuh yang tergolek lemas.
Hanyadalambeberapakalilangkah,DewaArakdan Melati telah berada di dekatnya. Lalu, sepasang pendekarmudainiberjongkokdanmemeriksakeadaansi kakek. Sementara, para penduduk desa terus mengamati setiap gerak-gerik Arya dan Melati.
DewaArakdanMelatikontansalingberpandangan ketika telah memeriksa keadaan sosok tubuh yang tergolektakberdaya.Dansebentarkemudian,pandangan merekakembaliberalihkearahsosoktubuhitu.Namun, kali ini lebih bersifat memperhatikan.
Memang tampaknya keadaan kakek berpakaian abu-abulusuhituamatmengkhawatirkan.Lukanyasangat parah.AryadanMelatitahu,kakekinitelahmendapat serangandariorangyangmemilikitenagadalamtinggi.
Dilainhal,kakekberpakaianabu-abulusuhdan memiliki kulit hitam kecoklatan itu kelihatannya memang memiliki kepandaian cukup tinggi. Buktinya, Arya dan Melati merasakan adanya putaran hawa yang cukupkuatdibawahpusar.Dankelihatannya,diajuga bukan seorang penduduk biasa.
Setelahmemperhatikankakekberpakaianabu-abu lusuh itu, Arya mengedarkan pandangan ke arah para penduduk yang masih berkerumun di sekitarnya.
"Apakahdiantarakalianadayangmengenalkakek ini?" tanya Dewa Arak keras, agar terdengar jelas sampai kerumunan paling belakang.
Namun, ternyata para penduduk hanya menggelengkan kepala. Dan Dewa Arak sudah mengerti maksudnya.
"Berarti dia bukan penduduk desa ini, Kang," kata Melati.
Kepala Arya mengangguk, menyetujui ucapan Melati.
"Mengapatidakadaseorangpundiantarakalian yang tergerak untuk menolongnya? Bukankah dia tengah terlukaparah?Setidak-tidaknya,membawanyaketempat yang lebih nyaman," kata Arya.
Ada nada penasaran dalam perkataan Dewa Arak. Apalagi diucapkannya sambil bangkit berdiri, dengan sepasang mata beredar merayapi orang-orang di sekelilingnya.
Luar biasa! Setiap kepala yang ditatap Dewa Arak, langsung tertunduk. Beberapa di antaranya mencoba untuk balas menatap, tapi hanya berlangsung sekejap saja. Sinar mata Aryalah yang membuat mereka tidakkuasabertahanlama-lama.Betapatidak?Sepasang mataitumencorongtajamdanberwarnakehijauan,mirip sorot mata harimau dalam gelap!
"Kamitidakberanibertindakapa-apa,Den,"kata salahseorangpendudukyangbertubuhkecilkurus,dan berjenggot panjang
"Mengapa, Ki?" tanya Arya, ingin tahu.
"Dulu, hal seperti ini pernah terjadi. Ada seseorang terluka, lalu dengan perasaan kasihan penduduk desa menolongnya. Dan orang itupun dirawat di rumahku. Lalu kejadian selanjutnya...."
Kakek kecil kurus itu menghentikan ceritanya, seperti tengah mengenang suatu peristiwa yang menggores hatinya. Ditatapnya wajah pemuda berambut putih keperakan itu penuh selidik.
"Teruskan, Ki," pinta Arya. SebenarnyaAryasudahbisamenebakkejadianyang
diterima kakek itu. Akibat kebaikan hatinya, yang diterimanya adalah peristiwa tidak enak. Wajah tua yangsemulaberseri-seridanlangsungberubahmendung itulah yang menguatkan dugaan Dewa Arak.
"Ketika telah sembuh, orang itu malah berusaha memperkosa anak perempuanku. Dan akibatnya, anakku
bunuh diri setelah kejadian itu. Kau bayangkan saja, Den. Dia anakku satu-satunya. Dan hidupku juga hanya berduasajadengannya.Ah!Sayang,sikeparatitutidak ikut membunuhku pula!"
Melati seperti tidak kuasa menahan kegeramannya. Sedangkan, Dewa Arak tampak bersikap tetaptenang.Tapi,rautwajahdansinarmatanyamenun-jukkan perasaan ikut prihatin atas peristiwa yang menimpa kakek kecil kurus itu.
"Aku turut prihatin atas peristiwa yang kau alami, Ki," hanya itu yang keluar dari mulut Arya.
"Terima kasih, Den." "Hal itu bukan kejadian satu-satunya di tempat kami, Den," sambung seorang laki-laki bertubuh kekar.
"Jadi,masihadaperistiwalainnya?"tanyaArya. Laki-laki kekar itu menganggukkan kepala. "Tapi,pelakukejahatanitubukanorangyangka-
mi tolong, melainkan tokoh yang menjadi musuh orang itu.Tokohitumengamuk,sehinggabanyakpendudukdesa yang dibantai. Akibat kejadian-kejadian itu, kami tidak berani sembarangan lagi menolong orang yang tengah terluka. Kecuali, bila telah diketahui kepala desa."
AryadanMelatimenganggukkankepala.Kinibaru disadari, mereka tidak bisa menyalahkan sikap para penduduk Desa Ceger.
"Lalu kalau tidak ingin menolong, mengapa berkerumun di sini?" tanya Arya lagi.
"Kami tengah menunggu kedatangan kepala desa. Salah seorang dari kami telah pergi memberitahunya. Biarlah kepala desa yang akan mengurusnya," jawab laki-laki kekar itu.
Kembali Arya dan Melati mengangguk-anggukkan kepala.Kagumjugasepasangpendekarmudainimelihat sikap penduduk Desa Ceger. Meskipun beberapa kali mengalamikejadianburuk,tapitetapsajatidakkapok memberi pertolongan pada orang yang tengah terluka. "Kalian benar-benar memiliki hati mulia. Dan sambil menunggu kedatangan kepala desa, aku akan
mencoba meringankan luka-lukanya."
Setelah berkata demikian, kembali Dewa Arak mengalihkanperhatiankearahkakekberpakaianabu-abu
lusuh. Lalu, tangannya bergerak menotok dan mengurut sana-sini. Sesaat kemudian....
"Huakh...!" Segumpaldarahkentalberwarnamerahkehitaman
kontankeluardarimulutkakekberpakaianabu-abuitu. Darah mati!
"Hey!"
Para penduduk Desa Ceger berseru kaget ketika melihat keadaan kakek berpakaian abu-abu lusuh itu. Mereka kira, Dewa Arak bukan hendak mengobati, melainkanmenyiksa.Makabagaidiberiperintah,mereka bergerak ke depan. Tangan-tangan mereka pun mulai merabasisipinggang,siapmencabutsenjata.Tapi....
"Tahan...!"
Bentakan keras tlba-tiba terdengar. Ternyata, berasal dari mulut Melati. Maka, mau tak mau langkah para penduduk Desa Ceger berhenti.
"Apayanghendakkalianlakukan?!"tanyaMelati keras, sambil mengedarkan pandangan berkeliling.
Tahu akan keadaan yang agak gawat, Melati menggerakkantenagadalampadateriakannya.Hasilnya, suara yang keluar terdengar penuh wibawa. Sehingga, membuat penduduk Desa Ceger jadi ciut nyalinya.
"Kawanmu hendak membunuh kakek itu. Dan kami tidak bisa membiarkannya," kata kakek kecil kurus, mantap.
"Siapa yang ingin membunuhnya? Kawanku itu hendak mengobatinya. Bukankah telah kalian lihat sendiri, kalau kakek itu kini telah sadarkan diri?!" sergah Melati, masih penuh wibawa.
"Tapi.... Tapi..., darah itu...."
Kakek kecil kurus itu terbata-bata mengajukan tuduhannya.
"Benar!" sambut laki-laki kekar. "Betul!" seru yang lain tak mau kalah. "Diam...!"
Melati     mengangkat     tangan  kanannya tinggi-tinggi. Hebat bukan kepalang akibatnya! Para penduduk Desa Ceger seperti kena sirep. Mereka semua tercenungdenganrautwajahbingung.Tentusajabukan karena acungan tangan Melati, melainkan karena
pengerahan tenaga dalam yang dikeluarkan bersama seruannya.




4

"Kalian dengar baik-baik. Darah yang dikeluarkan kakek itu adalah darah mati! Darah yang sudah tidak berguna lagi, dan justru malah akan membahayakan apabila tidak dibuang! Dan kawanku tadi berusaha mengeluarkannya. Kalian mengerti?!" kata Melati.
"Ooo..."
Sambil mengangguk-angguk pertanda mengerti, para penduduk Desa Ceger membulatkan bibirnya.
"Sekarangkamimengerti.Maafkanataskebodohan kami," ucap kakek kecil kurus.
"Terima kasih atas pengertian kalian. Dan kumohon, kalian bersedia mundur sedikit. Berikan ruangan yang agak longgar agar kawanku dapat melanjutkan pengobatannya," lanjut Melati dengan suara lebih lunak.
Tanpamenungguperintahduakali,parapenduduk Desa Ceger itu segera melangkah mundur.
"Terima kasih," ucap Melati.
Lalu, gadis berpakaian putih itu kembali mengalihkan pandangan ke arah Dewa Arak. Tampak kekasihnya itu tengah duduk bersila dengan telapak tanganmenempelkepunggungkakekyangjugatengahdu-dukbersila.Rupanya,DewaAraktengahmengobatiluka dalam kakek itu dengan pengerahan hawa murni.
Melihat hal ini, Melati pun bersikap waspada. Matanyamenatapsekitarnyadengansorotpenuhselidik. Gadis berpakaian putih ini tahu, sekarang Dewa Arak tengah tidak berdaya. Apabila ada lawan yang datang menyerang, pasti akan celaka. Itu sebabnya Melati perlu menjaga dari segala kemungkinan yang akan terjadi.
Melati kini kembali mengedarkan pandangan berkeliling.Dansesekali,sepasangmatanyatertujuke arahAryayangmasihsibukmengobatikakekberpakaian abu-abu.
BerbedadenganMelati,parapendudukDesaCeger sama sekali tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Pandangan mereka semua tertuju pada Arya yang masih sibukmengobatikakekberpakaianabu-abuitu.DanArya barumelepaskantempelantangannyadaripunggungkakek berpakaian abu-abu, ketika bantuan-nya dirasakan telah cukup.
"Terima kasih atas bantuanmu, Anak Muda," ucap kakek berpakaian abu-abu itu ketika telah berdiri tegak.
"Lupakanlah,Ki.Tolong-menolongmerupakanhal biasa. Bukan tidak mungkin, lain waktu kau yang akan ganti menolongku," sahut Arya buru-buru.
"Memangsudahkudugajawabanyangkuterimaakan seperti ini. Berita yang kudengar mengenai dirimu, ternyata sama sekali tidak menyimpang, Dewa Arak!"
KaruansajawajahAryaberubahketikamendengar ucapan kakek berpakaian abu-abu. Sama sekali tidak terduga kalau kakek itu mengenal julukannya.
"Aku sama sekali tidak menyangka bisa bertemu tokoh yang menggemparkan dunia persilatan seperti dirimu!Kalausajamasihingatnamakuyangsebenarnya, tentu akan kusebutkan, Dewa Arak. Sayangsekali, aku telah lupa, Hanya julukan tak berguna saja yang kumiliki. Aku berjuluk Petani Maut. Sebuah julukan yang terlalu berlebihan," sambung kakek berpakaian abu-abu yang ternyata berjuluk Petani Maut, sebelum Arya sempat berkata.
"Kau terlalu berlebihan. Dari julukan yang kau sandang saja, kemampuanmu sudah bisa kuperkirakan, Ki," Arya balas memuji.
Petani Maut tersenyum pahit.
"Hanya sebuah julukan kosong, Dewa Arak. Menghadapi seorang tokoh yang sama sekali tidak terkenal saja, dengan mudah aku dapat dikalahkan."
"Kalah dan menang dalam sebuah pertempuran adalahsoalbiasa,Ki.Sekaliwaktukitamenang.Tapi bukan tidak mungkin kalau di lain hari kita akan
dikalahkan. Tidak ada orang yang paling sakti," ujar Arya tanpa bernada menggurui.
Petani Maut semakin bertambah kagum mendengar ucapanArya.Perkataanpemudaberambutputihkeperakan itudiketahuinyamengandungkebenaran,yangtidakbisa diganggu gugat lagi kebenarannya.
Petani Maut benar-benar dibuat terkagum-kagum oleh perkataan Dewa Arak. Sama sekali tidak disangka orang semuda Dewa Arak mempunyai wawasan demikian luas.Walaupunkepandaiannyaamattinggi,namuntidak nampak adanya kesombongan sedikit pun di dalam ucapannya.InilahyangmembuatPetaniMautkagumbukan kepalang.
"Apa yang kau katakan itu sama sekali tidak salah, Dewa Arak. Tapi...."
Petani Maut menghentikan ucapannya di tengah jalan, karena mendengar suara ribut-ribut.
"KiMandadatang.Berijalan...!KiMandatelah tiba...!"
Kerumunan penduduk Desa Ceger pun menyibak, memberijalanpadaorangyangbernamaKiManda.Arya, Melati, dan Petani Maut pun mengalihkan pandangan ke arah kerumunan penduduk yang menyibak.
Tampak seorang laki-laki setengah baya ber-pakaian putih tengah berjalan menghampiri. Meskipun rambut di kedua pelipisnya sebagian telah memutih, tapi masih terlihat angker. Potongan tubuhnya kekar. Keberadaan kumis serta jenggot lebat yang menghias wajah, semakin menambah keangkerannya. Apalagi ditambah sebatang golok pendek yang terselip di pinggang. Lengkap sudah keangkeran itu. Inilah orang yang disebut-sebut sebagai Ki Manda, Kepala Desa Ceger.
Di belakang Ki Manda, berjalan dua orang yang bertubuh tinggi kekar dan dipenuhi otot melingkar-lingkar. Rompi berwarna hitam yang membungkustubuh,takmampumenyembunyikanotot-otot yang me-nyelimuti tubuh mereka.
Semua penduduk Desa Ceger tahu, siapa kedua orang berompi hitam ini Mereka adalah pengawal kepercayaan Ki Manda. Namanya, Ragola dan Paroga.
Ki Manda menghentikan langkahnya ketika telah berjarak tiga tombak di hadapan Arya, Melati, dan Petani Maut.
"Kudengar di tempat ini ada seorang kakek yang tengah terluka...."
OrangnomorsatudiDesaCegeritusengajatidak meneruskan ucapan. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah di hadapannya. Sekali lihat saja telah bisadidugakalauorangyangdimaksudadalahkakekber-pakaian abu-abu.
"Akulahorangyangterlukaitu,Ki,"kataPetani Maut, cepat "Tapi, kini telah sembuh karena telah ditolong Dewa Arak."
"Dewa Arak?!"
Bukan hanya Ki Manda saja yang terkejut bukan kepalang,tapijugaduaorangpengawalkepercayaannya. Bagai diberi aba-aba, kedua orang itu sama-sama mengalihkan pandangan ke arah Arya. Memang, pemuda itulahyangmempunyaiciri-cirisebagaipendekaryang menggemparkan dunia persilatan.
"Jadi..., dia Dewa Arak?!" tanya Ki Manda, memastikan.
Kepala Desa Ceger itu menudingkan telunjuk kanannyakearahArya.Tapi,tatapansepasangmatanya tertuju pada Petani Maut. Sepertinya ada nada ketidakpercayaan dalam ucapan Ki Manda.
"Ada kalanya, berita yang tersebar di dunia persilatanbertentangandengankenyataansebenarnya," selaksalahseorangpengawalKiMandayangbercambang bauklebatsebelumDewaArakdanyanglainmenyahuti. "Akutidakmengertimaksudmu,Ragola?"KiManda
mengalihkan pandangan ke arah pengawalnya.
Pengawal bercambang bauk lebat yang bemama Ragola itu tidak langsung menjawab. Dia berdehem sebentar.
"Begini,Ki.Adakalanyaberitayangtersebardi duniapersilatantidaksesuaikenyataannya.Dantentu saja karena perlu diuji kebenarannya!" kata Ragola, seraya menatap Arya dengan nada menantang.
Sementara orang yang bernama Paroga mengangguk-anggukkan kepala, pertanda mendukung
ucapanrekannya.BahkandiapunikutmenatapDewaArak pula.
Suasana langsung hening. Semua pasang mata kontan tertuju pada Dewa Arak. Mereka semuanya ingin melihattanggapanpemudaberambutputihkeperakanitu terhadap perkataan bernada tantangan dari Pragola.
TapiternyataAryatidakterpancingolehucapan itu. Bahkan tetap bersikap tenang. Disadari kalau Ragola dan Paroga adalah jagoan-jagoan tanggung Desa Ceger.Danmungkin,selamainibelumpernahdikalahkan orang.JadibegitumendengarDewaArakmendapatpujian seperti itu, mereka berniat mengajak bertarung!
Berbeda dengan Arya, Melati dan Petani Maut ternyatamerasatersinggungbukankepalang.Sepasang mata Petani Maut sudah berkilat, sedangkan kedua tangan Melati telah mengepal karena amarah yang langsung menggejolak.
Melati dan Petani Maut berharap, Dewa Arak menanggapi tantangan Ragola.
"Mungkin ucapanmu benar," jawab Arya, kalem. Ragola dan Paroga yang sama sekali tidak
menyangka akan mendapat jawaban seperti itu jadi saling berpandangan. Bingung. Tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, tiga sosok tubuh berpakaian abu-abu dan mengenakan caping, berlari cepat menerobos kerumunan penduduk Desa Ceger.
"Guru...! Bagaimana keadaanmu?" salah seorang yangbarudatangitulangsungmenghampiriPetaniMaut, dan melontarkan pertanyaan.
"Keadaanku baik-baik saja, Rantung. Dari mana kaliantahukalauakuadadisini?"tanyaPetaniMaut. "Kau, Rimang. Mungkin kau bisa menjawabnya."
"Baru saja kami singgah di sini. Dan begitu melihat kerumunan orang, kami langsung bertanya pada seorangpendudukDesaCegertentangkeberadaanmu.Dan begitumerekamenyebutkanciri-cirinya,kamilangsung bisamendugakalauyangtengahterlukaadalahdirimu," jelas orang yang dipanggil Rimang.
"Hm.... Lantas, mengapa kalian mencariku? Ada aparupanya?Kau,Jalu.Cobajawabpertanyaanku,"ujar Petani Maut, penuh wibawa.
"Celaka, Guru...!" hanya itu yang keluar dari mulut Jalu.
"Ada apa, Rantung?" desak Petani Maut menga-lihkan tatapannya pada Rantung. Memang, dialah yang paling tertua di antara murid Petani Maut.
Terdengar penuh wibawa ucapan Petani Maut. Ada nada teguran dalam suaranya.
"Perkumpulan kita diobrak-abrik orang jahat, Guru.Semuamuriddibunuh.Hanyakamibertigalahyang dibiarkan hidup!" lapor Rantung, takut-takut.
"Keparat!"
Petani Maut menggeram. Jari-jari kedua tangannya langsung dikepalkan, sehingga menimbulkan suara berkerotokan keras seperti ada tulang-tulang patah.Kelihatankalaulaki-lakiberpakaianlusuhini tengah dilanda kemarahan yang menggejolak.
Rantung,Rimang,danJalutentusajatahukalau pimpinan mereka tengah murka. Maka, ketiganya pun semakin menundukkan kepala, tidak berani balas menatap.
"Kalian kenal orang yang telah melakukan semua kekejian itu?" tanya Petani Maut Suaranya terdengar bergetar, setelah berhasil menenangkan hati.
Danbagaidiberiperintah,Rantung,Rimang,dan Jalu menggelengkan kepala.
"Tapikamibisamenjelaskanciri-ciriorangitu, Guru," kata Rantung setelah beberapa saat lamanya terdiam.
"Katakan,bagaimanaciri-ciriorangitu?"desak Petani Maut masih dengan suara kaku.
Rantungtidaklangsungmenjawabpertanyaanitu. Benaknya segera diputar untuk mengingat-ingat orang yang telah membunuhi rekan-rekannya.
"Pengacau itu memiliki tubuh tinggi besar. Kulitnya hitam, rambutnya keriting, dan ada sebuah codet di dahinya. Pakaian yang dikenakannya berwarna...."
"Hitam," selak Petani Maut, sebelum Rantung menyelesaikan penjelasannya.
"Benar, Guru," sahut Rantung dengan raut wajah bingung. "Guru mengenalnya?"
"Hhh...!"
Sambil menghela napas berat, Petani Maut menganggukkan kepala.
"Mahadewa...," desah kakek berkulit hitam ke-coklatan ini, dalam hati.
Memang,ciri-ciriyangdiuraikanRantung tepat mengarah pada satu orang. Mahadewa!
"Mahadewa...," desis Petani Maut dengan suara ditekan. "Dosa yang kau perbuat semakin banyak saja. Hanya kematianlah yang pantas untuk menebus dosa-dosamu. Aku berjanji akan mengadu nyawa untuk menumpas sepak terjangmu!"
Pelan saja Petani Maut mengucapkan sumpahnya. Tapi karena suasana di sekitar tempat itu hening, sumpah itu terdengar jelas. Tak terkecuali, telinga Dewa Arak dan Melati.
"Ha ha ha...!"
Mendadak terdengar suara tawa tergelak yang dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.Suasana di sekitar tempat itu kontan bergetar hebat. Bahkan seluruh penduduk Desa Ceger merasakan kakimerekamendadaklemas.Tanpadapatdicegahlagi, mereka jatuh berlutut di tanah.
Yang masih berdiri tegak di tanah hanya Petani Maut,DewaArak,Melati,danKiManda.SedangkanRagola danParogamemangmasihtetapberdiri.Tapi,keduakaki mereka sudah tidak tegak lagi. Lutut mereka terasa lemas bukan kepalang!
Hampir berbarengan, semua pasang mata dilayangkankearahsuaratawaberasal.Tampakdiluar kerumunanpendudukDesaCegeryangsudahbergeletakan di tanah, berdiri sesosok tubuh tinggi berpakaian hitam.
Semua yang ada di situ menatap dengan hati berdebar tegang. Betapa tidak? Sosok tubuh berkulit hitam, berambut keriting, dan mempunyai sebuah codet di dahi itu kelihatan menggiriskan sikapnya. Siapa lagi orang itu kalau bukan Mahadewa?
"Grrrhhh...!" Bagaiseekorharimaulapar,PetaniMautyangti-
dakbisamenahankegeramannyalagilangsungmenggeram. Sekujururat-uratsyarafdanotot-otottubuhnyatelah menegang, karena siap-siap ingin melancarkan
serangan. Tapi ketegangan itu langsung mengendur, karenaadaorangyangmendahuluitindakanPetaniMaut. "Keparat! Berani kau memamerkan kemampuan di
Desa Ceger?!"
Usai berkata demikian, orang yang tak lain Ragola itu melompat menerjang. Kedua tangannya yang terkepal,melepaskanpukulankearahduatulangrusuk Mahadewa.
"Hmh...!"
Mahadewa hanya mendengus. Sorot meremehkan tampak terpancar dari kedua matanya. Kelihatannya serangan Ragola tidak dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan.Buktinya,diahanyadiamsaja,sekalipun serangan itu semakin mendekat!
Buk, buk, buk!
Bertubi-tubi pukulan Ragola mengenai sasaran, karena Mahadewa sama sekali tidak mengelak. Seketika itu pula, terdengar jeritan kesakitan yang disusul terhuyung-huyungnya tubuh..... Ragola!
"Ha ha ha ..!"
Mahadewatertawaterbahak-bahakmelihatRagola terhuyung-huyung ke belakang sambil menjerit-jerit kesakitan.Tidakhanyaitusaja.Keduatangannyakon-tanbengkak-bengkakmembiru.Memang,Ragolamerasakan seakan-akanyangdipukulnyaadalahgundukanbesibaja yang amat kuat.
"Keparat! Berani kau melukai kawanku?!" Parogatidaktinggaldiammelihatkeadaanrekan-
nya. Seketika itu pula, tubuhnya melompat menerjang Mahadewa.Danketikatubuhnyaberadadiudara,tangan kanannya bergerak cepat ke arah pinggang.
Srattt!
Sinar terang kontan berkeredep, ketika golok besar yang terselip di pinggang telah tercabut. Dan secepatsenjataitutercabut,secepatitupulaterayun ke arah leher Mahadewa! Paroga menggerakkan goloknya secara mendatar.
Wuttt!
Diiringi suara mendesing cukup nyaring, golok besar itu melesat cepat menuju sasaran. Tapi seperti ketika menghadapi serangan Ragola, menghadapi serangan ini pun Mahadewa sama sekali tidak mengelak
atau menangkisnya. Laki-laki bercodet itu tetap saja tertawa-tawa, seperti tidak ada bahaya yang tengah mengancam. Maka, hasilnya pun sudah bisa diduga.
Takkk! Telakdankerassekalimatagolokitumenghantam
sasaran.Bunyiyangterdengarmiripbenturanduabuah logam keras.

Takkk!


Telak dan keras sekali mata golok Paroga
menghantam leher lawan. Tetapi Mahadewa tenang saja.
Sebaliknya dengan Paroga, laki-laki itu malah
merasakantangannyasakitdanlinubukankepalangse-telah goloknya membentur leher Mahadewa.

Parogakontanmerasakantangannyasakitdanlinu bukan kepalang setelah membenturkan goloknya dengan leher Mahadewa. Bahkan hampir-hampir senjata yang digenggamnya terlepas dari pegangan. Tubuhnya pun terhuyung ke belakang.
Kali ini, rupanya Mahadewa berniat unjuk gigi. Buktinya,tindakannyatidakhanyasampaidisitusaja. Masih dengan tawa yang belum putus, telunjuk tangan kanannya langsung ditudingkan ke arah Paroga.
Cit!
Suara mendecit nyaring seperti ada tikus mencicit,terdengarketikaMahadewamenudingkanjari telunjuknya. Dan....
Crattt! "Aaakh...!"
Paroga langsung menjerit kesakitan ketika tahu-tahu pelipisnya terasa perih, seperti tersayat sebilahpisautajam.PengawalKiMandainisamasekali tidak tahu kalau ada darah yang mengalir keluar dari pelipisnyayangterluka.Dandiajugatidaktahukalau luka itu terjadi akibat tudingan telunjuk Mahadewa.
Memang,laki-lakibercodetitumempunyaisebuah ilmu yang membuat jari-jari tangannya mampu melukai lawan-lawannya dari jarak jauh! Bahkan angin serangannya tak kalah tajamnya dengan sabetan pedang tajam!
Sebentar Paroga terhuyung-huyung, lalu ambruk di tanah. Tanpa menunggu lama lagi, nyawanya pun melayang ke alam baka saat itu juga.
"Iblis keji!"
Ki Manda tidak bisa menahan kemarahannya lagi melihat nasib Paroga. Cepat laksana kilat, golok pendek yang berada di pinggang dicabutnya.
Srattt! Tapi.... "Tahan...!"
DansebelumKiMandasempatmenolehkearahasal suara, mendadak melesat sesosok bayangan. Dan tahu-tahu, di sebelah kirinya telah berdiri seorang pemuda berambut putih keperakan. Siapa lagi kalau bukan Dewa Arak. Pendekar muda yang telah menggemparkan dunia persilatan ini berdiri dengan sikap tenang.
"Siapakau,Kisanak?Mengapamenyebarkerusuhan di sini?" tanya Dewa Arak, kalem.











5

"Ha ha ha...!"
Jawaban yang diterima Dewa Arak ternyata hanya suara tawa keras menggelegar dari Mahadewa. Tampak jelas kalau laki-laki bercodet ini memandang rendah Dewa Arak. Tapi seperti biasanya, Arya sama sekali tidak terpancing. Sikapnya tetap seperti semula, tenang.
"Bukankah kau telah mengetahui namaku, Dewa Arak. Aku Mahadewa! Apakah Petani Maut tidak menceritakan kejadian yang dialaminya padamu?" Mahadewa malah balas bertanya.
"Sayang sekali, Mahadewa. Petani Maut sama sekali tidak menceritakan apa-apa padaku. Mungkin kejadian yang dialami bersamamu dianggap sebuah masalahyangsamasekalitidakpenting.Jadi,rasanya tidak perlu diceritakan padaku," kalem jawaban Arya, tapi ada nada sindiran di dalamnya.
Mahadewa bukan orang bodoh! Dia pun tahu, Dewa Arak memang sengaja mengejeknya. Maka seketika raut wajahnya merah padam. Dengan sepasang mata membeliak lebar, ditatapnya Dewa Arak.
"Keparat! Berarti kau main-main denganku?! Awas, kuhancurkan tubuhmu!"
Sebelumgemaancamannyalenyap,Mahadewa telah melompat menerkam Dewa Arak. Kedua tangannya yang berbentuk cakar, terkembang di sisi tubuhnya. Serangannyamengingatkanpadaterkamanseekorharimau lapar.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi tibanya serbuan Mahadewa. Betapa dahsyatnya serangan itu. Tapi, Dewa Arak tidak gugup. Sikapnya tetap tenang, menunggu hingga luncuran tubuh Mahadewa dekat.
"Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, Dewa Arak menghentakkan kedua tangannya ke depan untuk memapak seranganlawan.Sebenarnyahalinimerupakantindakan yang di luar kebiasaan. Biasanya, Dewa Arak tidak pernah menangkis saat lawan melancarkan serangan pertama. Hal ini karena Arya tidak mau mencelakai lawan. Masalahnya, bukan tidak mungkin tenaga yang digunakan akan terlalu kuat bagi lawan.
Tapi kali ini kebiasaan itu terpaksa dilanggar Dewa Arak, karena melihat sikap telengas Mahadewa. BahkanDewaAraktidaksegan-seganmengerahkanseluruh tenaga dalamnya, karena diyakini kalau Mahadewa memiliki tenaga dalam tinggi.
Prattt!
Suara keras terdengar ketika dua pasang tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi berbenturan. Akibatnya, kedua belah pihak sama-sama terhuyung mundur. Dewa Arak terhuyung dua langkah, sedangkan Mahadewa empat langkah. Dari sini bisa
diketahuikalautenagadalamDewaArakberadadiatas lawannya.
Mahadewa menggertakkan gigi menyadari keunggulanlawan.Daribenturantadi,tokohdariPulau Karang ini geram bukan kepalang. Apabila ketika tangannya terasa sakit-sakit. Maka begitu kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung lenyap, langsungsajadikeluarkannyailmu'TanganSaktiPedang dan Golok' andalannya.
Mahadewamenyusunjari-jaritangannyamembentuk kepalaular.Sementara,DewaArakmemperhatikanpenuh waspada. Disadari kalau lawan akan mengeluarkan ilmu andalan.
"Haaat...!" Diawaliteriakannyaringyangmembuatsuasanadi
sekitar tempat itu tergetar hebat, Mahadewa segera menerjang Dewa Arak. Dan selagi tubuhnya berada di udara, tangan kanannya dibacokkan ke arah leher Dewa Arak.
Wuttt!
Suara mendesing nyaring mengiringi tibanya seranganMahadewa.Itupunmasihditambahberkesiurnya angin tajam yang dapat melukai kulit.
Dewa Arak sendiri tidak berani bertindak gegabah. Dari desir angin tajam yang mengiringi tibanya serangan, bisa diperkirakan kehebatan ilmu lawan. Maka, buru-buru tubuhnya melompat ke belakang untukmengelakkanseranganitu,DantindakanDewaArak tidak hanya sampai di situ. Dalam keadaan masih di udara, guci araknya diambil dan dituangkan ke mulut.
Gluk, gluk, gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika arak melewati tenggorokanDewaArak.Hawahangatyangsemulaberedar di perut perlahan-lahan naik ke atas kepala.
Jliggg!
Dengan keadaan tubuh sempoyongan, Dewa Arak mendaratkan kedua kakinya di tanah. Lalu, tokoh muda yangmenggemparkaninimulaimenggerak-gerakkankedua tangannyadidepandadadengantubuhterhuyung-huyung. Gerakankeduatangannyamengingatkanorangpadaseekor belalang yang tengah mempermainkan kakinya.
MahadewabelumpernahmelihatilmuandalanDewa Arak.Apalagi,membuktikankelihaiannya.Makadiaagak bingungbegitumelihatgerakan-gerakanyangdilakukan pemuda berambut putih keperakan itu.
Tapi sebagai seorang tokoh sakti, laki-laki bercodetinilangsungbisamemperkirakan kedahsyatan ilmu lawannya. Maka tindakannya tidak berani ceroboh lagi.Mahadewatahu,DewaArakpastimengeluarkanilmu andalannya.Dandiatidakberanilangsungmelancarkan serangan. Diperhatikannya secara seksama tindakan tokoh muda yang telah menggemparkan dunia persilatan itu.
"Haaat...!" Diiringiteriakankerasmenggelegar,kiniMaha-
dewa melancarkan serangan pada Dewa Arak. Jari-jari tangannyaterbukalurus,siapmenggunakanilmu'Tangan Sakti Pedang dan Golok' untuk mematahkan perlawanan Dewa Arak. Dalam penggunaan ilmu itu, Mahadewa melancarkan tusukan, bacokan, babatan, maupun tetakan. Yang menggiriskan hati, setiap gerakan tangannya selalu menimbulkan suara angin mencicit nyaring.
Tapi lawan yang dihadapi adalah Dewa Arak! Seorang pendekar yang meskipun masih muda, tapi memilikikemampuanluarbiasa.Ilmumeringankantubuh maupuntenagadalamnyasudahmencapaitingkattinggi. Ilmu-ilmu yang dimilikinya juga merupakan ilmu-ilmu pilihan.Itupunmasihditambahlagidenganpengalaman bertarungnya. Gabungan dari semua kemampuan itu merupakan satu kesatuan maha dahsyat, yang mampu menggilas habis perlawanan yang dilakukan lawan.

***

Menarikbukankepalangpertarunganyangterjadi antara Dewa Arak menghadapi Mahadewa. Sejak awal, pertarungantelahberlangsungsengit.Mahadewatampak bersemangat sekali untuk dapat segera merobohkan lawannya. Kedua tangannya menusuk, membacok, membabat, dan menetak ke arah berbagai bagian tubuh Dewa Arak diiringi suara mendesing nyaring. Tapi,
semuaseranganituberhasildielakkanDewaArakdengan jurus 'Delapan Langkah Belalang'nya.
Mahadewa menggertakkan gigi menahan geram ketika menyadari semua serangannya berhasil dipunahkan lawan. Apalagi ketika melihat gerakan-gerakanDewaArakdalammengelak,samasekali tidakpantasdinamakangerakan-gerakanilmubeladiri. Berkali-kali pemuda berambut putih keperakan
itu seperti akan jatuh, ketika mengelakkan serangan. Bahkan, tak jarang seperti akan menubrukkan tubuhnya pada serangan yang tengah meluncur.
Yang membuat Mahadewa heran bukan kepalang, ketikamenyadarikalaudengangerakansepertiituDewa Arakmalahterbebasdariseranganyangdikirimkannya. Kekaguman Mahadewa semakin bertambah ketika
Dewa Arak mulai melancarkan serangan balasan. Setiap serangan pemuda berambut putih keperakan itu terasa berat sekali dihadapinya.
Dalam waktu sebentar saja, pertarungan telah berlangsunghampirtujuhpuluhjurus.Halituterjadi, karena kedua belah pihak sama-sama memiliki gerakan cepat. Namun, sampai saat ini belum nampak ada tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang.
Sementara itu, puluhan mata telah sejak tadi memperhatikan pertarungan sengit itu dengan penuh minat.Bahkanmatamerekahampirtidakberkedip.Tapi apa yang disaksikan ternyata sia-sia belaka. Mereka tetapsajatidakbisamengikutijalannyapertarungan, karenayangterlihathanyalahkelebatanbayanganhitam dan ungu saja. Dua bayangan itu tampak saling belit, dan terkadang saling pisah. Tapi, terpisahnya hanya sekejapsaja,karenakinisudahsalingbelitkembali! Hanya dua orang saja dari sekian banyaknya penonton yang dapat melihat jelas pertarungan sengit itu. Mereka adalah Melati dan Petani Maut, yang menyaksikan penuh minat. Memang, sebagai tokoh persilatan yang berilmu tinggi, tidak ada hal yang palingmenyenangkankecualimenyaksikanpertarungan. Terutama sekali, pertarungan tokoh-tokoh sakti! Dan sepasangmataMelatidanPetaniMautkelihatanhampir
tidak pernah berkedip menyaksikannya. "Haaat..!"
Di jurus keseratus dua, Mahadewa melancarkan tusukan bertubi-tubi ke arah dada Dewa Arak.
Cit, cit cit! "Hih!"
Tak tak tak! SuaraberderakkerasterdengarketikaDewaArak
memapak serangan itu dengan tetakan kedua tangan berturut-turut. Bunyinya laksana dua batang logam beradu. Dan hasilnya juga tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Baik Dewa Arak maupun Mahadewa sama-sama terhuyung tiga langkah ke belakang.
DewaArakmenggigitbibirketikamerasakansakit yang amat sangat pada pergelangan tangan yang berbenturantadi.Tapi,halitutidakdipedulikannya. Keduatangannyaterussajadihentakkankedepan.Dewa Arak melancarkan serangan jarak jauh, mempergunakan jurus 'Pukulan Belalang'. Hal itu dilakukan saat tubuhnya masih terhuyung-huyung.
Wusss! Serentetananginkerasberhawapanasmenyengat
keluar dari kedua tangan Dewa Arak yang dihentakkan. Tentu saja hal ini membuat Mahadewa terkejut bukan kepalang.Disadariakanadanyabahayamautyangtengah mengancam, maka buru-buru daya yang membuat tubuhnya terhuyung-huyungdipatahkandenganmenjejakkankaki. Kemudiantubuhnyadibantingketanah,danbergulingan. Tindakan yang dilakukan kelihatan agak tergesa-gesa. Meskipun demikian, telah cukup untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Pukulan jarak jauh Dewa Arak hanya meluncur jauh dari sasaran semula. Begitu serangan itu lewat, Mahadewa segera berhenti berguling. Lalu tubuhnya melenting ke atas, dan....
"Hey! Berhenti kau, Pengecut!" PetaniMautyangsejaktadimemangmemperhatikan
jalannya pertarungan, langsung berseru kaget ketika melihat Mahadewa melarikan diri. Dan sebelum gema ucapannya lenyap, tubuhnya telah melesat menyusul Mahadewa.SedangkanMelatiyangberdiridisebelahnya bergegas mendekati Dewa Arak.
"Kita harus mengikuti mereka, Melati. Aku khawatir, Petani Maut akan menjadi korban Mahadewa," ujar Dewa Arak.
Pemudaberambutputihkeperakanitumengarahkan pandangan pada dua sosok tubuh yang saling kejar-mengejar beberapa belas tombak di depan.
"Tapi, Kang," Melati berusaha membantah. "Ayolah,Melati.Mahadewaadalahtokohangkara
murka.Bukankahkautelahmendengarsendiridarimulut murid-murid Petani Maut? Lagi pula, kulihat Petani Maut juga mempunyai urusan dengan Mahadewa."
'Terserahmulah, Kang."
Hanya itu jawaban yang dikemukakan Melati. KelihatannyakeputusannyatelahdiserahkanpadaDewa Arak.
"Kalaubegitu...,mailkitabergegas,Melati." Setelahberkatademikian,pemudaberambutputih keperakan itu melesat ke arah kepergian Mahadewa dan Petani Maut, diikuti Melati. Sepasang pendekar muda ituberlarisambilmengerahkanilmumeringankantubuh. Kalau Melati mengerahkan seluruh kemampuannya, maka Dewa Arak hanya mengerahkan sebagian saja. Itu pun
sudah cukup untuk menyaingi lari Melati.
Puluhan pasang mata mengiringi kepergian Dewa Arak dan Melati. Termasuk, Ki Manda dan Ragola. Pengawal Kepala Desa Ceger yang tangannya masih bengkak-bengkak ini sudah tidak bisa menyombongkan diri lagi. Lenyap sudah keinginannya untuk menguji kepandaian Dewa Arak. Telah disaksikannya sendiri kelihaiantokohmudayangditantangnya.Dandiatahu, Dewa Arak dengan mudah bisa menundukkannya.
Diam-diam, Ragola bersyukur Dewa Arak tidak meladenitantangannya.Segumpalperasaanterimakasih pun bergayut di benaknya. Dan dia pun berjanji dalam hati akan membantu, apabila pemuda berambut putih keperakan itu mengalami kesulitan.
Kini yang dapat dilakukan Ragola hanya menatap kepergianDewaAraksepertipuluhanpasangmatalain. Diperhatikannyatubuhpemudaberambutputihkeperakan itudengansorotmatapenuhterimakasih,hinggalenyap di kejauhan.
Sementara itu, orang yang bersangkutan sama sekali tidak tahu. Dewa Arak dan Melati terus saja berlaricepat.Tapibelumberapajauhberlari,mereka
terpaksa berhenti begitu melihat sosok Petani Maut yangtengahberdiridiamsekitarlimatombakdidepan.

***

Petani Maut menoleh, begitu mendengar adanya suara langkah kaki di belakangnya.
"Ah! Kiranya kau, Dewa Arak," desah kakek berpakaian abu-abu lusuh ketika melihat keberadaan Dewa Arak dan Melati di belakangnya.
Memang, tadi Dewa Arak dan Melati sengaja memberatkan langkah kaki agar terdengar Petani Maut. Kini sepasang mata pendekar muda itu mengembangkan senyum dan menganggukkan kepala, menyambut sapaan Petani Maut.
"Bagaimana, Ki?" tanya Arya, sambil melangkah menghampiri.
"Hhh...!Iblisituterlalulihai,DewaArak.Aku tidak bisa mengejarnya...," desah Petani Maut.
Aryaterdiam.TanpadijawablebihjelasolehPe-taniMautpun,sudahbisadidugakalauMahadewatelah berhasilmeloloskandiri.KetidakberadaanMahadewadi situ telah cukup menjelaskan masalahnya.
"KaumengenalMahadewa,Ki?"tanyaAryasetelah beberapa saat termenung.
Petani Maut tidak langsung menjawab. Pandangannyamalahdilayangkankeatassepertitengah mencari jawabannya di sana.
"Mengenalnya jelas sih, tidak. Tapi, dialah orang yang telah membunuh tiga rekanku."
Kemudian, kakek berpakaian abu-abu lusuh ini menceritakan semua kejadian yang dialami. Dan dengan penuh perhatian, Dewa Arak dan Melati mendengarkan cerita Petani Maut. Sama sekali cerita itu tidak diselak, hingga selesai.
"Kalausajakamidalamkeadaansewajarnya,tidak akan semudah itu Mahadewa membunuh tiga orang sahabatku," tutur Petani Maut menutup kisahnya.
Dewa Arak termenung ketika Petani Maut telah menyelesaikancerita.Menilikkernyitanpadadahinya, bisadiketahuikalauDewaAraktengahberpikirkeras.
"Kalau mendengar ceritamu, Ki," kata Arya 1ambat-lambat."HanyaMahadewaseorangyangmempunyai niattidakbaik,sehubungankedatangannyabersamatiga rekannyakepulauini.Kemungkinanbesar,tindakannya itu tidak diketahui tiga orang rekannya."
"Aku pun menduga demikian, Dewa Arak. Perta-rungan antara kami berlangsung secara adil. Hal itu membuat kami terkecoh, dan menyangka mereka semua adalah orang yang mempunyai watak gagah. Tapi sama sekali tidak disangka kalau Mahadewa adalah seekor serigala berbulu domba."
Dewa      Arak    mengangguk-angguk.   Telah disaksikannya sendiri ketelengasan Mahadewa. Buktinya, tanpa ragu-ragu lagi ilmu andalannya yang mengerikan digunakan pada jurus-jurus awal.
"Apakah mereka semua selihai Mahadewa?" Jantung Dewa Arak berdetak keras ketika
mengajukanpertanyaanini.Betapatidak? Menundukkan Mahadewa saja sudah merupakan pekerjaan sulit. Apalagi, ditambah tiga orang rekannya! Dewa Arak khawatirmerekaakanmembela,apabilakeadaanMahadewa terancam.Jikahalituterjadi,DewaArakbenar-benar dilanda masalah besar.
Petani Maut menganggukkan kepala pertanda membenarkan.
"Oya,DewaArak.Kautahu,alasanyangmendorong mereka datang ke pulau ini?" tanya Petani Maut.
"Tidak, Ki," jawab Arya sejujurnya, karena memang benar-benar tidak tahu.
"Mereka ingin menjajal kepandaian tokoh-tokoh persilatanterkenaldipulauini,"jelasPetaniMaut. Dewa Arak diam. Bisa dimaklumi tindakan tokoh-tokoh dari Pulau Karang itu. Arya tahu kalau setiap tokoh persilatan, apalagi tokoh tingginya, pasti mempunyai penyakit sama. Gemar mengadu kesaktian!Palingtidak,sukamenyaksikanpertarungan
antar tokoh!
"Kau pun tidak luput dari ancaman mereka, Dewa Arak! Setelah kami berempat berhasil dikalahkan, kaulah sasaran berikutnya!" sambut Petani Maut
"Heh...?! Mengapa demikian?" tanya Dewa Arak,heran.
"Begitu berhasil mengalahkan kami berempat, merekamengutarakanketidakpuasannyaatasperlawanan kami yang dianggap tokoh tersakti di pulau ini. Nah! Karena merasa tersinggung, kami lalu menceritakan perihaldirimu.Kukatakankalaukauadalahjagonomor satu di pulau ini."
"Kau terlalu berlebihan, Ki. Ucapanmu itu akan membuat banyak tokoh mencariku! Kau tahu, Ki. Dunia amatluas.Banyakorangyangmemilikikepandaianyang jauhlebihtinggidaripadaku.Tapi,merekatidakingin campur tangan dalam urusan dunia persilatan. Namun, apabilamerekamendengarberitayangkausebarkanitu, aku tidak yakin tokoh-tokoh itu akan tetap berpangku tangan."
"Maafkan aku, Dewa Arak. Sungguh aku tidak pernahmemikirkanhalitu.Waktuitu,semuaperkataan keluar tanpa sempat dipikir masak-masak lagi," kata Petani Maut, bernada penyesalan.
Arya mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Lupakanlah,Ki.Tidakadayangperludimaafkan. O,ya.Mahadewatelahberhasilmenjajalkepandaianku. Mungkin,            sekarang          tengah  memberitahukan kawan-kawannya."
"Kau benar, Dewa Arak. Kini, kita tingal menunggu kedatangan mereka. Aku yakin, empat orang tokoh dari Pulau Karang itu akan mencarimu," sambut Petani Maut.
Ada nada kegembiraan dalam ucapan kakek ber-pakaian abu-abu lusuh itu, karena tidak perlu lagi repot-repotmencarijejakMahadewa.Diahanyatinggal mengikuti, ke mana perginya Dewa Arak.
"Akan ke mana kau sekarang, Ki?" tanya Arya sambil lalu.
"Semula, aku tidak tahu arah yang harus kutempuh.Tujuankuhanyainginmembalasdendamkusaja padaMahadewa.Tapi,kiniakutahukemanaharuspergi, walaupun dengan perasaan tidak enak"
"Aku tidak mengerti maksudmu, Ki" kata Arya sejujurnya.
"Akuterpaksaharusmengikutikemanakaupergi, Dewa Arak. Karena aku yakin, tokoh-tokoh dari Pulau
Karang itu akan mencarimu. Itulah yang membuatku merasa tidak enak," jelas Petani Maut
Dewa Arak tersenyum lebar.
"Hilangkan perasaan itu, Ki. Aku sama sekali tidak merasa keberatan. O, ya. Mari kita kembali ke desa."











6

Sang surya sudah sejak tadi tenggelam di ufuk Barat. Kini yang menggantikan tugas untuk menerangi persadaadalahsangdewimalam.Bentuknyabulatutuh, dengan sinarnya yang memancar lembut. Kukuk burung hantudankerikjangkriksertabinatangmalamlainnya, menambah semaraknya suasana.
Di bawah siraman lembut sinar bulan, tampak berkelebatan empat sosok bayangan hitam. Gerakan mereka rata-rata cepat bukan main. Sehingga yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan yang tak jelas bentuknya. Apabila ada orang yang melihatnya, tentu akan menyangka hantu-hantu yang tengah bercanda.
Kaki-kakiempatsosokbayanganhitamituseperti tidak menyentuh tanah ketika melesat cepat memasuki tembok batas Desa Ceger. Dan masih dengan kecepatan sama, mereka melesat menuju ke lambung desa.
Empat sosok bayangan hitam itu melesat tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Tak aneh kalau merekatidaktahugerak-geriknyadiperhatiantigaso-sok tubuh yang bersembunyi di atap rumah.
"Itukah tokoh-tokoh dari Pulau Karang, Ki?" tanya sosok berpakaian ungu yang tak lain dari Dewa Arak pelan.
Meskipun hanya Dewa Arak yang mengajukan pertanyaan, tapi tak urung seorang gadis berpakaian putih di sebelahnya yang memang Melati ikut menoleh. Sama seperti Arya, Melati juga menatap Petani Maut, orang yang ditanya.
"Benar,DewaArak,"jawabPetaniMaut,singkat. BerbedadenganDewaArakdanMelati,PetaniMaut mengeluarkan ucapan tanpa mengalihkan pandangannya. Sepasang matanya tetap tertuju lurus ke arah empat
sosok bayangan yang bergerak cepat di bawah.
Arya dan Melati pun mengalihkan pandangan ke bawah,kearahempatsosokbayanganhitamyangternyata Mahadewa dan kawan-kawannya. Sementara yang ditatap terussajaberlari,sehinggasemakinlamasemakinjauh dari tempat Dewa Arak dan rekan-rekannya berada.
"Akankemanamereka,Kang?"tanyaMelati,ingin tahu,
"Ke mana lagi kalau bukan ke rumah Ki Manda, Melati. Aku yakin, mereka akan menanyakan padanya tentang keberadaan kita."
"Apa yang harus kita lakukan, Kang?" tanya Melati lagi, setelah terdiam sesaat lamanya.
"Mengejarnya,Melati.Akukhawatir,merekaakan melakukan tindakan yang tidak diinginkan apabila mendapat jawaban berbeda dengan yang diharapkan," jelas Arya panjang lebar.
"Apa yang kau katakan itu benar, Dewa Arak," sambutPetaniMaut,yangmemangsudahsejaktadimerasa tidak sabar untuk segera mengejar.
"Kalaudemikian,marikitaikutimereka,"putus Arya.
JawabandariPetaniMautadalahsebuahlompatan ke tanah. Laksana seekor burung garuda, tubuhnya melayang ke tanah. Lalu, ringan tanpa suara kedua kakinya hinggap di tanah.
Pada saat yang hampir berbarengan, Melati dan Dewa Arak mendaratkan kakinya pula. Bahkan gerakan merekaterlihatjauhlebihindahdaripadaPetaniMaut. Tapi, kakek berpakaian abu-abu itu sama sekali tidak
melihatnya. Karena begitu kakinya menjejak tanah, langsung saja melesat mengejar Mahadewa dan kawan-kawannya yang semakin mengecil.
Tentusajamelihathalini,DewaAraktidakbisa berpangku tangan. Dia pun melesat cepat mengejar Petani Maut diikuti Melati.
Meskipun Petani Maut melesat lebih dulu, namun beberapa saat kemudian Dewa Arak dan Melati berhasil membarenginya. Apalagi ilmu lari cepat sepasang pendekar muda itu berada di atas Petani Maut. Bahkan kalaumau,denganmudahPetaniMautbisatersusuldan tertinggal.
Tapi, Dewa Arak dan Melati terpaksa harus menyesuaikan pengerahan ilmu meringankan tubuhnya sebatas kemampuan yang dimiliki Petani Maut. Maka akibatnya, jarak di antara mereka denganempat tokoh dari Pulau Karang semakin jauh. Semakin lama, tubuh Mahadewa dan kawan-kawannya terlihat semakin mengecil. Hingga akhirnya, lenyap sama sekali.
Walaupun demikian, ketiga tokoh silat itu sama sekali tidak merasa khawatir akan kehilangan buruannya.Merekatelahyakinkalauarahtujuanempat tokoh dari Pulau Karang itu adalah rumah Kepala Desa Ceger.
Dewa Arak dan Melati memang tidak tahu letak tempat tinggal Ki Manda. Maka mereka berdua tinggal mengikutisaja,kemanaarahPetaniMautmelangkah.Dan karena kakek berpakaian abu-abu lusuh ini sering melintasiDesaCeger,takherankalaujaditahutempat tinggal kepala desa itu.
"Heh...?!"
Dewa Arak, Petani Maut, dan Melati tiba-tiba berhentiberlari,dansalingberpandangan.Rautwajah mereka menyiratkan keheranan. Betapa tidak? Samar-samartelingamerekamenangkapsuaragaduh,yang sudah pasti timbul karena adanya pertarungan. Terdengarnyajeritkemarahanyangditopangpengerahan tenaga dalam dan benturan senjata, telah menjelaskan adanya pertarungan berlangsung.
"Sepertinya ada yang tengah bertempur," bisik Petani Maut, bernada memberi tahu.
Sebenarnya pemberitahuan itu hanya basa-basi, karena Petani Maut tahu kalau Dewa Arak dan Melati pasti juga mendengar suara gaduh itu.
"Kau benar, Ki," hanya itu sambutan Dewa Arak. "Arahnya dari tempat tinggal Ki Manda," kata
Petani Maut lagi. "Jangan-jangan...."
Meskipun Petani Maut tidak meneruskan ucapan-nya, namun Dewa Arak dan Melati bisa menerka ke-lanjutannya. Itulah sebabnya, mereka tidak heran melihatPetaniMautmelesat.Bahkansepasangpendekar muda ini ikut melesat ke arah yang sama.
Hanya dalam beberapa kali lesatan saja, asal suarakeributanitusudahterlihatDewaArak,Melati, dan Petani Maut. Dan dugaan mereka ternyata tidak salah. Ternyata buruan yang tadi mereka kejar-kejar, tengah bertarung menghadapi lawan-lawannya.
DewaArak,PetaniMaut,danMelatiberhenrime-lesat. Lalu dengan penuh selidik, mereka mengalihkan pandangankearahpertarunganyangtengahberlangsung. Maka sebentar saja, telah bisa diketahui kalau Mahadewadankawan-kawannyatengahberhadapandengan gabungantokoh-tokohpersilatan.Hanyasaja,DewaArak dan Melati mengenal sebagian kecil dari mereka. Sedangkan Petani Maut mengenal sebagian besar tokoh persilatan yang berada di situ.
Saat ini, Mahadewa dan ketiga kawannya memang tengah bertarung melawan tokoh persilatan yang jumlahnya jauh lebih besar. Tak kurang dari sepuluh kali lipat dari jumlah mereka yang hanya berempat. Walaupun demikian, empat tokoh dari Pulau Karang itu samasekalitidakterdesak.Bahkantampaknyaberadadi atas angin.
Keadaan yang menguntungkan bagi Mahadewa dan kawan-kawannya ini diketahui secara pasti oleh Dewa Arak, Petani Maut, dan Melati.
Sama sekali tidak mengherankan kalau Mahadewa dan kawan-kawannya mampu berada di atas angin. Para pengeroyoknya ternyata hanya memiliki kepandaian tidakterlalutinggi,walaupunsudahpunyanamadalam duniapersilatan.Tapikalaudibandingkandenganempat tokohPulauKarang,jelassangatjauh.Sebagianbesar dari para pengeroyok adalah murid-murid Petani Maut
danPendekarTanganSakti.Sisanya,adalahtokoh-tokoh persilatan yang memiliki kepandaian lumayan.
Pengeroyokanorang-orangitubagiMahadewadan rekan-rekannyasamasekalitidakmenimbulkanmasalah. Setiapseranganberhasilditanggulangisecaramudah. Sebaliknya setiap serangan balasan Mahadewa dan kawan-kawan,selalumenimbulkanakibat.Hanyadengan kibasan-kibasantangansaja,sudahcukupmembuattubuh lawan-lawannyaberpentalankebelakangbagaidilanda angin ribut.
AdaperasaankagumdihatiDewaArakpadaempat tokohPulauKarangitu.Aryamelihattidakadasatupun lawanempattokohituyangtewas.Bahkanterlukaberat pun tidak, kecuali hanya pingsan saja. Hal ini menandakan kalau mereka tidak mempunyai jiwa kejam. Meskipun ada perasaan kagum, namun timbul pula
rasa heran di hati Arya. Tindakan Mahadewalah yang membuatnya heran. Berbeda dengan penampilan pertamanya, tindakan Mahadewa kini sama sekali tidak telengas.Sekaranglawannyadirobohkantanpadibunuh atau dilukai.
Tapi Arya tidak bisa terlalu lama tenggelam dalam alun pikirannya. Dan itu terjadi karena perubahanbesardalamkancahpertarungan,ketikasemua lawan
empat tokoh dari Pulau Karang telah berjatuhan di tanah.
Jliggg!
Hampir berbarengan, di depan Mahadewa dan kawan-kawannya tahu-tahu telah berdiri dua sosok tubuh. Mereka tampak tengah menatap tokoh-tokoh dari Pulau Karang itu dengan raut wajah tidak bersahabat. Sementara itu, Petani Maut yang sejak melihat
Mahadewa, sudah merasa murka bukan kepalang. Dan dia tidak bisa menahan diri lagi, sehingga segera melangkah menghampiri. Tentu saja melihat hal ini, Dewa Arak ikut bergerak, diikuti Melati. Gadis itu melangkahdibelakangkekasihnya.Kemudian,DewaArak cepatmengulurkantangan,menyentuhbahuPetaniMaut. Kakek berpakaian abu-abu lusuh itu langsung
menoleh.
"Kumohon kau jangan bertindak dulu, Ki. Kita lihat dulu perkembangannya," pinta Arya, pelan.
Petani Maut tidak langsung menganggukkan kepala. Dengan perasaan berat, permintaan pemuda berambutputihkeperakanitudisetujuinya.Buru-buru keinginan untuk menerjang Mahadewa ditekan. Yang dilakukannyasekarangadalahmemperhatikanperistiwa yang akan terjadi.
SecercahsenyumtampaktersunggingdimulutDewa Arak, tatkala melihat Petani Maut memenuhi permintaannya.Kini,diabisaikuttenangmenyaksikan keadaan yang terjadi di depan.
KiniDewaArak,Melati,danPetaniMautmenatap duaorangyangtengahmendekatiMahadewadantigaorang kawannya. Dua orang itu sama-sama telah lanjut usia. Yang seorang bertubuh gemuk dan besar, mirip lembu. Sebatangtongkatdarikayuyangsalingmelilit,dengan gagang kepala ular tampak tergenggam di tangannya. Pakaian berwarna coklat tua, semakin menambah keangkeran penampilannya.
Sedangkan kakek yang seorang lagi bertubuh, tinggikurusdanberwajahkekuningan.Bentukwajah-nya tirus, mirip tikus. Pakaiannya berwarna kuning muda. Sungguh sangat jauh kalau dikatakan angker. Kakek tinggi kurus ini mirip orang penyakitan.
Memang bagi orang yang tidak mengenai, kakek berpakaian coklat tualah yang kelihatan lebih berbahaya. Tapi, penilaian seperti itu tidak masuk dalam benak Dewa Arak. Sekali lihat saja, bisa diketahui kalau kakek tinggi kurus itu tidak kalah lihai dibanding kakek berpakaian coklat.
"Malaikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning," desis Petani Maut pada Dewa Arak dan Melati.
AryadanMelatiagakterkejutjugamendengarnya. Malaikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning adalah datuk-datuk persilatan yang belum pernah ada tandingannya. Telah puluhan, bahkan mungkin ratusan kalikeduatokohitubertarung.Danselamaitu,belum pernahadaorangyangmampumenandingi.Bahkanmereka tetap tak terkalahkan, sampai akhirnya mengundurkan diri dari dunia persilatan.
Kalau sampai kedua datuk ini keluar dari tempat,pengasingannya,        bisa      diperkirakan penyebabnya. Jelas telah terjadi suatu hal yang amat penting!
Brosss!
Tanah langsung amblas ketika Malaikat Tongkat Sakti menekankan kaki kanannya ke tanah. Padahal, kelihatannya sama sekali tidak mengerahkan tenaga dalam.Namunakibatnyaluarbiasa.Darisinibisadi-perkirakankekuatantenagadalamyangdimilikiMalai-kat Tongkat Sakti.
"Orang-orang asing...!"
Malaikat Tongkat Sakti mulai membuka suara. Suaranya terdengar keras bukan kepalang, laksana guntur. Memang, ucapan itu dikeluarkan disertai pengerahan tenaga dalam.
Diiringi ucapan itu, Malaikat Tongkat Sakti menatap wajah empat tokoh Pulau Karang satu persatu. Sikapnyaterlihatpenuhwibawa.Sehingga,tidakhanya Mahadewadankawan-kawannyasajayangmemperhatikan. DewaArak,PetaniMaut,danMelatijugasampai-sampai tak berkedip menatapnya.
"Sebenarnyaakusudahtidakberminatlagiuntuk campur tangan dalam urusan kekerasan. Tapi, tindakan kalian telah melampaui batas. Kalian terlalu angkara murka! Membanggakan kemampuan sendiri hanya untuk berbuat sewenang-wenang! Perguruan silat yang didirikan orang yang terhitung muridku telah kalian hancurkan!"
Malaikat Tongkat Sakti menghentikan ucapan. Dibasahinya tenggorokannya yang kering dengan air ludahnya sendiri.
"Sekarang, bersiaplah menerima pembalasanku!" lanjut Malaikat Tongkat Sakti, menutup ucapannya.
Usai berkata demikian, Malaikat Tongkat Sakti melangkah maju. Sikap dan tindak-tanduknya menun-jukkan kalau telah siap-siap bertarung. Tapi....
"Tahan, Malaikat Tongkat Sakti!"
Sebuah cegahan keras yang menggema di seluruh penjuru tempat itu, membuat Malaikat Tongkat Sakti menghentikan langkah dan menolehkan kepala. Bahkan bukanhanyadiasajayangmenoleh.UlarMukaKuningdan
empat tokoh Pulau Karang juga mengarahkan pandangan pada asal bantahan tadi.
Baik Malaikat Tongkat Sakti, Ular Muka Kuning maupunempattokohPulauKarangitutahukalaupemilik suaratadipastimemilikikepandaiantinggi.Kerasnya suarayangterdengartaditelahmampumembuktikannya. "Siapa kau, Anak Muda? Dan mengapa mencampuri urusan kami?" tanya Malaikat Tongkat Sakti bernada
tidak senang. Sepasangmatadatukyangtelahlamamengasingkan
diriitumenatapwajahorangyangtelahberanimencegah tindakannya. Kernyitan pada dahi menjadi pertanda kalau Malaikat Tongkat Sakti tengah berpikir.
SambutanyangditatapdantaklaindariDewaArak itu tersenyum lebar. Masih dengan mulut tersenyum, kakinya melangkah mendekat.
"Namaku Arya, Ki," jawab Arya masih dengan senyum."Danmaksudtindakankuinidemikebaikankita bersama."
"Arya?! Apakah nama lengkapmu Arya Buana, Anak Muda?!"terkaMalaikatTongkatSakti,setengahkaget. Bukan hanya Malaikat Tongkat Sakti yang merasa terkejut ketika Arya memperkenalkan diri. Raut keterkejutan pun tampak di wajah semua orang yang berada di situ. Tentu saja, Melati dan Petani Maut
merupakan pengecualian.
Dengan agak berat, Arya menganggukkan kepala. "Jadi, kau.... Dewa Arak...?!" desis Malaikat
Tongkat Sakti dengan suara bergetar.
Untuk yang kesekian kalinya pemuda berambut putih keperakan itu menganggukkan kepala, membenarkan.
"Ah...! Sungguh merupakan sebuah anugerah be-sar.Ternyatadisaatakhirhayatku,masihbisabertemu seorang pendekar muda yang telah mengukir nama besar dalam rimba persilatan. Tapi, apa alasanmu mencegah tindakan Malaikat Tongkat Sakti, Dewa Arak?!" Ular MukaKuningyangsejaktadidiam,mulaiangkatbicara. DewaAraktidakIangsungmenjawab.Diatercenung sejenak, memikirkan kata-kata yang pantas untuk memulai pembicaraan. Paling tidak, untuk mencegah
terjadinya salah pengertian.
"Sebelumnya, aku minta maaf padamu, Ki," ucap Arya pada Malaikat Tongkat Sakti. "Bukan maksudku untuk menggurui. Tapi alangkah bijaksananya apabila memberikesempatanpadamerekauntukmengajukanalasan daritindakanyangtelahdiperbuat.Akuyakin,mereka akan mengajukan alasannya," urai Dewa Arak panjang lebar.
Malaikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning sekilas saling berpandangan. Tidak terlihat adanya gambaran perasaan apa pun di wajah keduanya. Memang, baik Malaikat Tongkat Sakti maupun Ular Muka Kuning telah bisa menguasai perasaan, sehingga tidak tampak pada wajah mereka.
Meskipundemikian,keduabelahpihaktelahbisa mengetahui perasaan masing-masing. Mereka sama-sama menyadarikalauucapanDewaArakmengandungkebenaran. "Kau benar, Dewa Arak. Terima kasih atas
alasanmu." Meskipunperasaanmalumenjalarhati,Malaikat
Tongkat Sakti tidak ragu-ragu mengakui kebenaran ucapan Dewa Arak.
"Ah!Kauterlalumerendah,Ki,"ucapArya,jadi malu hati.
Tapi Malaikat Tongkat Sakti       malah menyunggingkan senyum lebar. Kemudian pandangannya beralih pada empat tokoh dari Pulau Karang.
"Kalian dengar ucapan Dewa Arak?!"
Empat tokoh Pulau Karang itu mengalihkan pan-dangan dari Dewa Arak, pada Malaikat Tongkat Sakti. "Ya. Kami mendengarnya," Bandawasa yang menyahuti. "Ternyata berita yang terdengar mengenai Dewa Arak sama sekali tidak berlebihan. Memang,
wawasannya sangat luas dan...."
"Aku tidak ingin mendengar ceramahmu, Orang Asing!" sergah Malaikat Tongkat Sakti, cepat. "Aku hanya butuh alasanmu! Cepat katakan, mengapa kalian menghancurkanPerguruanTapakSakti?!Cepat!Sebelum kesabaranku hilang!"
EmpattokohdariPulauKarangitusalingberpan-dangan. Raut wajah mereka menyiratkan kebingungan hebat.
"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, Malaikat Tongkat Sakti," kilah Bandawasa, dengan raut wajah tidak berdosa.
"Tidak mengerti?! Rupanya kalau tidak ditunjukkan bukti sejelas-jelasnya kalian masih mencobamenyangkal!Baik!Apakahkalianmasihmencoba menyangkalkalaukukatakantelahmendatangiPerguruan TapakSakti,membuatkeonarandisana,membunuhisemua orang yang berada di sana tanpa kecuali, kemudian membumihanguskan perguruan itu?! Katakan, kalau hal itutidakkalianlakukan!"uraiMalaikatTongkatSakti panjang lebar, penuh ancaman.
"Kau terlalu berlebihan, Malaikat Tongkat Sakti!" bantah Bandawasa berapi-api. "Kuakui, kami memang mendatangi Perguruan Tapak Sakti dan terlibat pertarunganmelawanmurid-muridperguruanitu.Tapi, kami hanya merobohkan mereka tanpa luka berat. Apalagi,sampaimembunuh!Itufitnah!Tapiakuyakin, kalausajaadamuridPerguruanTapakSaktiadadisini, mereka akan mengatakan bahwa ucapan itu benar."
"Hmh...!" dengus Malaikat Tongkat Sakti. "Aku tahu, mengapa kau berani berharap demikian, Orang Asing! Karena, kau yakin kalau semua murid Perguruan Tapak Sakti telah kau binasakan! Bukankah demikian?" "Terserah kalau anggapanmu demikian," ujar Bandawasasambilmengangkatbahu."Tapi, percayalah.
Aku mengatakan yang sebenarnya." "Baik!Keinginanmukupenuhi.Ketahuilah,tidak
semua murid Perguruan Tapak Sakti berhasil kalian binasakan. Ada yang berhasil melarikan diri, lalu melaporkan semua kekejaman yang kalian lakukan. Sumantri! Kemari kau!"
MalaikatTongkatSaktimenolehkearahsebatang pohon besar yang terletak di belakangnya. Sesaat kemudian, dari balik pohon menyembul keluar sesosok tubuhberpakaiancoklat.DialahyangbernamaSumantri, murid Perguruan Tapak Sakti yang berhasil selamat.
Bandawasa dan ketiga orang kawannya memper-hatikanpenuhselidikpadaSumantriyangtengahmenuju ke arah mereka. Melihat dari pakaian yang dikenakan, empat tokoh Pulau Karang itu tahu kalau orang yang
tengah berjalan menghampiri benar murid Perguruan Tapak Sakti.
"Ceritakanlah semua kejadian yang kau alami, Sumantri," perintah Malaikat Tongkat Sakti ketika murid Perguruan Tapak Sakti telah berada di sebelahnya.
"Beberapa hari yang lalu, empat orang itu menyatroni Perguruan Tapak Sakti. Mereka menanyakan guru, namun kami tidak memberitahukan. Tapi, mereka terusmemaksasehinggaakhirnyaterjadipertarungan." Sumantrimenghentikanucapannyauntukmengambil
napas.
"Tapi, mereka terlalu kuat untuk kami. Satu persatu, kami berhasil dirobohkan. Dan mereka pergi, setelah berhasil mendapatkan keterangan mengenai guru...."
"Nah!Kaubuktikansendirikebenaranucapanku, Malaikat Tongkat Sakti?!" selak Bandawasa, bernada penuh kemenangan.
"Jangan terburu nafsu, Orang Asing! Ucapan Sumantri belum selesai. Ayo, Sumantri. Lanjutkan ceritamu!"
"Tak lama kemudian, salah seorang dari mereka kembali lagi. Lalu, membunuhi semua murid Perguruan Tapak Sakti dan membumihanguskan perguruan."
"Heh...?!"
Bandawasa dan ketiga rekannya terperanjat. "Salah seorang di antara kami? Katakan, siapa
orang itu?!" tanya Mahadewa tidak sabar. Sumantri tersenyum mengejek.
"Kau benar-benar ingin tahu orang yang telah melakukankekejianitu?!"muridPerguruanTapakSakti ini malah balas bertanya.
MeskipunyangmendapatpertanyaanituMahadewa, tapi tanpa sadar Bandawasa, Janaka, dan Mahesa ikut menganggukkankepala.Jantungmerekaberdebartegang, menantijawabanyangakankeluardarimulutSumantri.
Sumantri tidak langsung menjawab. Ditatapnya wajah-wajahyangmenyiratkanperasaanpenuhrasaingin tahu satu persatu. Sampai akhirnya, tatapannya berhenri pada orang terakhir. Mahadewa!
"Pembunuh biadab itu adalah kau...!" tuding Sumantri pada Mahadewa.
"Apa?!"Mahadewaterlonjakkaget."Kau...,kau dusta! Ini fitnah! Kubunuh kau...!"
Begitu ucapannya selesai, laki-laki bercodet inimenerkamSumantri.Gerakannyamengingatkanorang akan tindakan seekor harimau yang hendak menyantap mangsanya.
Sumantri terkejut bukan kepalang. Tindakan Mahadewamemangsamasekalitidakdisangka.Akibatnya, dia tidak mampu berbuat sesuatu. Bahkan andaikata telah menduga pun, Sumantri juga tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tibanya serangan memang terlalu cepat.
TentusajaMalaikatTongkatSaktitidaktinggal diammelihatadanyabahayamautyangtengahmengancam keselamatan Sumantri. Buru-buru kaki kirinya melangkah ke depan, sambil menyilangkan kedua tangan di atas kepala.
Prattt! Benturanantaraduapasangtanganyangsama-sama
mengandung tenaga dalam kuat tidak bisa dihindari lagi.Bahkanbunyiyangterdengarlebihmiripbenturan dua buah logam keras, ketimbang dua pasang tangan manusia.
Akibatyangterjadicukuphebat.TubuhMahadewa melayangkembaliketempatsemula.Kejadianyangsama pun dialami Malaikat Tongkat Sakti. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa tombak. Tapi hanya dengan gerakan sederhana, kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung telah berhasil dipatahkan.
Hal yang sama pun berhasil dilakukan Mahadewa. Kekuatan yang membuat tubuhnya melayang dipatahkan, meskipununtukituharusterbawaduludiudaraselama beberapa tombak.
Jliggg! Begitukeduakakinyamendaratditanah,Mahadewa
langsung bersiap melancarkan serangan kembali. Sedangkan Malaikat Tongkat Sakti yang telah bisa memperkirakankekuatanlawan,tidakmautinggaldiam. Dia pun bersiap-siap pula. Tapi....
"Mahadewa! Tahan...!"
Mahadewa terpaksa mengendurkan otot-otot dan urat-urat syarafnya yang telah menegang waspada, karena telah siap bertarung. Ditatapnya wajah Bandawasa, orang yang mengeluarkan cegahan tadi.
"Mengapa kau mencegahku, Bandawasa? Mereka telah memfitnahku! Dan hal itu hanya bisa ditebus dengan darah!" ujar Mahadewa berapi-api.
Bandawasa tersenyum pahit.
"Menempur mereka masalah mudah, Mahadewa.Dan itu bisa diurus belakangan. Yang penting sekarang adalah bantahanmu dari tuduhan yang telah mereka lontarkan. Kini, aku ingat. Kau selalu menghilang setiap kali kita habis merobohkan lawan-lawan. Maksudku..., kau selalu mengajukan alasan untuk memisahkan diri dari kami bertiga, setiap kali habis meninggalkan lawan yang telah tidak berdaya. Cepat kemukakan alasanmu!"
Mahadewa tersentak melihat sikap Bandawasa. "Kau....Kauinianeh,Bandawasa!Mengapamalah
menyudutkanku?" tanya Mahadewa, terbata-bata. SepasangmatanyadialihkankearahMahesadanJanaka. Tapi wajah kedua orang rekannya itu tampak juga menyiratkan kecurigaan terhadapnya.
"Katakansaja,Mahadewa.Kemanakaupergiwaktu itu? Aku ingat, sewaktu kita selesai mendatangi Perguruan Tapak Sakti, kau meminta izin untuk memisahkan diri. Begitu pula, sewaktu sehabis mengalahkan Pendekar Tangan Sakti dan ketiga orang kawannya.Ah!Mudah-mudahansajatidakterjadisesuatu atas mereka," harap Bandawasa.
UcapanBandawasamembuatsemuaorangyangadadi situ, terutama sekali Mahadewa, Mahesa, dan Janaka, tersentak. Bahkan Bandawasa sendiri tersentak kaget ketika teringat, kalau tadi telah melihat keberadaan Petani Maut. Keberadaan Dewa Arak, dan berita tak disangka-sangka mengenai Mahadewa, membuat mereka semua melupakan keberadaan Petani Maut.
Hampir serentak, semua kepala tertuju pada PetaniMaut.Dansebelumsemuasempatberkataapa-apa, PetaniMautyangmemangsudahsejaktadimenahan-nahan amarah, langsung angkat suara.
"Harapanmu sama sekali tidak terkabul, Ban-dawasa! Mahadewa waktu itu kembali dan berusaha membantaikamisemuayangsudahtidakberdaya.Ah...! Untung aku masih mujur, hingga bisa bertahan hidup!" "Keparat! Fitnah keji! Kurobek mulutmu yang
lancang!"
Belum hilang gema ucapan itu, Mahadewa telah melompat menerjang Petani Maut.
"Tak akan kubiarkan kau menyebar kekejian lagi dan mengotori nama perguruan kita, Mahadewa!"
Seiring keluarnya ucapan itu, Bandawasa melompat memapak luncuran tubuh Mahadewa. Hal ini membuat laki-laki bercodet itu menghentikan gerakannya.
"Kau..., kau lebih mempercayai ucapan mereka ketimbang ucapanku, Bandawasa?!" terbata-bata Ma-hadewa mengucapkan perkataannya.
"Aku tidak punya pilihan lain, Mahadewa. Semua bukti memberatkanmu," jawab Bandawasa, bernada penyesalan.
"Benar, Mahadewa," sambung Mahesa. "Sekarang, menyerahlah. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Jangan paksa kami melakukan tindak kekerasan."
"Kau telah membuat kami semua malu, Mahadewa. Yang lebih parah lagi, kau telah mencorengkan lumpur pada nama perguruan kita," timpal Janaka, penuh penyesalan seperti juga ketiga rekannya.
Mahadewa menatap wajah rekan-rekannya satu persatu.
"Baiklahkalaukaliansudahtidakmempercayaiku lagi. Aku memang tidak mempunyai bukti untuk menyanggahnya. Tapi, aku tidak sudi dihukum untuk kesalahan yang tidak pernah kuperbuat. Selamat tinggal."
Secepat ucapannya selesai, secepat itu pula Ma hadewa mengambil senjata andalannya yang terselip di pinggang. Sebatang ruyung berbatang dua yang kedua ujungnya dihubungkan rantai baja. Dan, ranta baja itulahyangdigunakanuntukmembelitlehernya.Lalu...
Krrrrk...!
Terdengar suara berderak keras ketika tulan tulang leher Mahadewa hancur berantakan. Dara segar pun memancur deras dari mulutnya. Laki-laki bercodet itu terhuyung-huyung sebentar, lalu ambruk di tanah. Saat itu juga, nyawa Mahadewa melayang ke alam baka.
"Mahadewa...!" Hampirberbareng,Bandawasa,Mahesa,danJanaka
berseru keras. Laksana terbang, mereka bertiga langsung meluruk ke arah Mahadewa.
"Mahadewa...," keluh Bandawasa sedih. Tampak jelasadanadakesedihandalamucapannya.Matanyapun tampak merembang, menahan duka yang mendalam.
HalyangserupapunterpancardiwajahMahesadan Janaka.MerekahanyabisamenataptubuhMahadewayang terkapar di tanah.











7

Semua orang yang berada di situ menyaksikan jalannyakejadiandenganperasaanbingung.Merekaju-ga tidak sempat berbuat apa-apa untuk mencegah tindakanbunuhdiriMahadewa.Masalahnya,kejadianitu berlangsung demikian cepat dan tidak terduga-duga. Apalagi, jarak mereka cukup jauh dengan Mahadewa.
Dandengansendirinya,suasanamenjadihening. Tidak ada seorang pun yang berbicara, semuanya tenggelam dalam alunan pikiran sendiri-sendiri. Bandawasa dan dua orang rekannya sibuk dengan mayat Mahadewa. Sedangkan Dewa Arak dan yang lain sibuk dengan pertanyaan yang menggayuti benak.
Tokoh-tokohtingkattinggiduniapersilatanitu mempunyaipandanganluas.MelihattindakanMahadewa, seketikatimbulkeraguandalamhati.BenarkahMahadewa yangtelahmelakukansemuakekejianitu?Kalaubenar, mengapa demikian kerasnya menolak? Bahkan sampai-sampaibunuhdiri.Tapi,mungkinkahPetaniMaut dan yang lain salah melihat? Rasanya, mustahil! Atau ada orang menyamar sebagai Mahadewa? Kalau benar, siapa dan mengapa hal itu dilakukan?
Tapi,merekatidakbisaberlama-lamaterhanyut alun perasaan itu. Sedangkan, Bandawasa dan dua rekannyatelahbisamenguasaiperasaansedihnya.Kini, mereka mengalihkan perhatian pada Malaikat Tongkat Sakti dan yang lainnya.
Dankesempatanitudipergunakansebaik-baiknya oleh Malaikat Tongkat Sakti.
"Kisanak semua," kata Malaikat Tongkat Sake membuka pembicaraan. "Dengan tewasnya pelaku semua kekejianitu,akumohondiri.Saatinijuga,persoalan kuanggap telah tuntas. Selamat tinggal."
Malaikat Tongkat Sakti menganggukkan kepala sedikit, lalu berbalik. Dan dia bersiap meninggalkan tempat itu, namun....
"Tidaksemudahitumasalahnyaselesai,Malaikat Tongkat Sakti!" cegah Bandawasa.
Seketikaitujuga,langkahkakiMalaikatTongkat Sakti terhenti di udara. Kembali tubuhnya berbalik untuk menghadap Bandawasa.
"Jadi..., apa maumu sekarang, Orang Asing?!" sambut Malaikat Tongkat Sakti, berbau tantangan.
"Menuntuttanggungjawabkaliansemua!"tandas Bandawasa keras, sambil menudingkan jari telunjuk ke arah semua tokoh tingkat tinggi yang berada di situ. "Heh...?! Tidak salah dengarkah aku? Kau ingin menuntutku?!" Malaikat Tongkat Sakti meminta
ketegasan.
"Bukan hanya kau, Malaikat Tongkat Sakti," Bandawasamembenarkan."TapijugaUlarMukaKuningdan Dewa Arak!"
"Kau gila!" maki Ular Muka Kuning, yang sejak tadi diam saja.
Sedangkan Dewa Arak saat ini tetap bersikap tenang.
"Aku hanya menuntut keadilan! Nyawa harus ditebus nyawa! Kawanku sama sekali tidak bersalah. Tapiakibattindakankalian,diatelahtewas!Kamiakan menuntutbalasataskematiannya,agarrohnyatenangdi alam baka."
"Heh?! Bukankah tadi kau juga yakin kalau temanmuitubersalah?"Aryaikutmembukasuarasambil melangkah mendekat, diikuti Melati dan Petani Maut. Sementaraitu,Bandawasamengalihkanperhatian
pada Arya.
"Semula, aku memang yakin kalau dia bersalah. Tapi, sekarang tidak lagi. Aku yakin, rekanku bukan pelaku semua kekejian yang dituduhkan. Ini pasti fitnahyangtidakbisakudiamkanbegitusaja!"tandas Bandawasa, keras.
"Apayangmembuatmuberubahpikiransecepatitu, Bandawasa?" tanya Dewa Arak, ingin tahu. "Apakah karena dia berani bunuh diri?"
Bandawasa tidak langsung menjawab. Ditatapnya wajahDewaAraklekat-lekat,kemudianperlahan-lahan kepalanya terangguk.
"Perguruankamimempunyaisebuahaturankhusus, yaitu bunuh diri dengan menggunakan senjata sendiri, untuk membuktikan kebenarannya. Dan kini, Mahadewa melakukannya. Maka, kami yakin kalau dia tidak bersalah. Jadi, sekarang merupakan kewajiban kami untukmembalaskansemuasakithatiyangdideritanya," urai Bandawasa panjang lebar.
Kini,semuatokohyangberadadisitumengerti, mengapaBandawasabisaberubahpikirandemikiancepat. "Bersiaplahkaliansemua.Kitaharusselesaikan
urusan ini!" Janaka ikut berbicara. Seiringucapannya,Janakamelangkahmaju.Sikap
yangdiperlihatkannyamenunjukkankesiapanbertarung. Bahkan bukan hanya Janaka saja. Bandawasa dan Mahesa pun telah melangkah pula.
Tentu saja melihat hal ini, Malaikat Tongkat SaktidanUlarMukaKuningtidaktinggaldiam.Mereka juga telah bersiap-siap, untuk menyambut tibanya serangan tokoh dari Pulau Karang itu.
"Tahan...!" Sebelumkeduabelahpihakterlibatpertarungan,
Dewa Arak telah mencegah. DihadangnyalangkahtigatokohdariPulauKarang
itu. Mau tak mau, hal itu membuat Bandawasa dan dua rekannya mengurungkan maksud.
"Jangan halangi kami, Dewa Arak! Apabila kau ingin bertarung dengan kami, tunggulah hingga urusan ini selesai!" kata Bandawasa.
"Sabar dulu, Bandawasa. Jangan biarkan per-soalan ini berlarut-larut. Aku yakin, telah terjadi kesalahpahaman di sini."
"Maksudmu?" Janaka mengernyitkan kening. "Kalian percaya padaku?!" Arya malah balas
bertanya.
Bagai diberi perintah, tiga tokoh dari Pulau Karangitumenganggukkankepala.SikapDewaArakyang tampak tidak memihak, membuat mereka menaruh kepercayaan.
"Terima kasih atas kepercayaan yang kalian berikan padaku. Percayalah! Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan," ucapArya,sungguh-sungguh."Nah!Sekarang,dengarkan baik-baik."
SampaidisiniDewaArakmenghentikanucapannya. Kepalanya segera ditengadahkan ke langit, seperti tengah mencari-cari sesuatu di awang-awang. Dan sebentar kemudian, pandangannya telah dialihkan kembali pada Bandawasa dan rekan-rekannya.
"Perlukalianketahui.ApayangdikatakanPetani MautdanmuridPerguruanTapakSakti,samasekalibukan fitnah! Mereka mengatakan yang sebenarnya! Dan ucapanku ini keluar bukan karena ikut-ikutan, tapi karenaakutelahmelihatdenganmatakepalasendiri!" "Maksudmu...?!"     Bandawasa     menggantung
ucapannya. "AkutelahberhadapansendiridenganMahadewa." "Kau bertarung melawan Mahadewa, Dewa Arak?!"
tebak Mahesa. "Benar,"jawabDewaArak,sambilmenganggukkan
kepala.
"Lalu,bagaimanakesudahannya?"desakBandawasa penuh minat.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Bandawasa?" "Maksudku..., siapa yang menang?" tanya
Bandawasa, lebih lengkap.
"Entahlah," Arya menggelengkan kepala. "Pertarungan antara kami telah bubar, sebelum usai. Bukantidakmungkin,akuakankalahkalaupertarungan dilanjutkan. Dia memang lihai bukan kepalang."
"Mengapa kau bertarung dengannya, Dewa Arak?" tanya Bandawasa lebih jauh.
"Dia membunuh penduduk Desa Ceger. Dan aku paling pantang melihat adanya tindak kekejaman di depan mataku. Maka, dia lebih baik kutantang. Lalu, kami terlibat pertarungan," jelas Dewa Arak panjang lebar.
Untuk kedua kalinya, Bandawasa, Mahesa, dan Janaka saling berpandangan. Kemudian Bandawasa mengangguk-anggukkan kepala.
"Akumengertimaksudmu,DewaArak.Bukankahkau jugamenuduhMahadewasebagaipelakusemuapembunuhan keji itu?!" Bandawasa memberi kesimpulan.
Dewa Arak tersenyum tenang.
"Aku yakin, pelaku semua kekejian itu adalah Mahadewa. Tapi, Mahadewa yang mana, itulah pertanyaannya!"
Tiga tokoh dari Pulau Karang itu bingung mendengar ucapan Dewa Arak. Dahi mereka berkernyit dalam, menandakan besarnya perasaan heran yang melingkupi.
BukanhanyatigatokohdariPulauKarangitusaja yang merasa heran. Bahkan semuanya merasa bingung mendengar ucapan Dewa Arak.
"Hm....Apakahmaksuducapanmuituberarti..., ada dua Mahadewa? Maksudmu..., Mahadewa mempunyai kembaran?" terka Bandawasa.
"Tidak seperti itu, Bandawasa. Tapi dugaanku, adaseseorangyangmenyamarsebagaiMahadewa.Dan...." "Tutup mulutmu! Kau hanya mengada-ada, Dewa
Arak!" potong Bandawasa, keras.
Setelah berkata demikian, Bandawasa menerjang Dewa Arak.
Serangannyadibukadengansebuahpukulanlurus ke arah dada lawan dengan tangan kiri.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi tibanya pukulan Bandawasa, karena pukulannya disertai pengerahan tenaga dalam kuat
Tapi, lawan yang diserangnya bukan tokoh rendahan! Menghadapi serangan itu, Dewa Arak tidak menjadigugup.Buru-burukakinyaditarikkebelakang. Itupunmasihdisertaidenganliukantubuhnyakekanan. Hasilnya, serangan Bandawasa hanya mengenai tempat kosong
TapiseranganBandawasatidakberhentisampaidi situ saja. Begitu serangannya berhasil dielakkan, langsung dilancarkannya serangan susulan. Kaki kanannya cepat diluncurkan dalam sebuah tendangan lurus ke arah pusar.
"Hebat!"
Pujian tulus terlontar dari mulut Dewa Arak. Arya memang kagum melihat serangan Bandawasa yang bertubi-tubi.Meskipundemikian,bukanberartipemuda berambut putih keperakan itu kerepotan. Dengan kecepatan gerakan ahli silat, kakinya langsung digenjot.Sesaatkemudian,tubuhnyamelayangkebela-kang. Maka, kaki Bandawasa hanya meluncur di bawah kakinya.
Jliggg!
Ringan laksana sehelai daun, kedua kaki Dewa Arakhinggapditanah.TapibelumjugaDewaAraksempat menarik napas lega, Bandawasa telah kembali memburu. BahkankaliinibukanhanyaBandawasasajayang melancarkan serangan. Entah kapan, tahu-tahu Janaka danMahesatelahbertarung.JanakamenerjangMalaikat Tongkat Sakti, sedangkan Mahesa menyerang Ular Muka
Kuning. Dan kini, terjadilah pertarungan sengit. Melihat hal ini, Melati, Petani Maut dan
beberapa orang yang masih berada di situ bergegas menyingkir. Mereka semua tahu, betapa berbahayanya beradadidekatkancahpertarungan.Jangankanterkena langsung.Anginserangannyasaja,sudahcukupmembuat nyawa melayang!
Sementaraitu,sepertisudahdirencanakansaja, masing-masing pasangan yang bertarung saling memisahkandiri.Hasilnya,ditempatituterciptatiga kancah pertarungan.
SepertijugapertarunganantaraDewaArakdengan Bandawasa, pertempuran lain yang terjadi juga tanpa menggunakansenjata.Meskipundemikian,bukanberarti tidak berbahaya. Dengan tenaga dalam yang dimiliki, tangan dan kaki mereka tak kalah berbahayanya dibandingsenjatatajam.Anginserangannyasajasudah cukup membuat nyawa orang melayang ke alam baka.
Bandawasa, Janaka, dan Mahesa bertarung bagai macanluka.DanhalitudisebabkankematianMahadewa. Dan satu hal lagi, mereka memang ingin bertarung melawan tokoh-tokoh tersakti di pulau ini. Dan kini, tokoh-tokoh itu ada di hadapan mereka. Maka, kesempatan itu pun dipergunakan sebaik-baiknya.
"Haaat...!" Jeritankerasyangmengandungpengerahantenaga
dalam tinggi, diiringi deru angin keras, menyemaraki jalannyapertarungan.Masing-masingtokohmengerahkan seluruh kemampuan terbaik yang dimiliki.
Bandawasa dan dua rekannya tahu, lawan yang dihadapi memiliki kepandaian amat tinggi. Maka tanpa ragu-ragu,seluruhkemampuanmerekadikerahkansejak serangan pertama. Harapan mereka adalah, merobohkan lawan-lawan secepat mungkin.
Tapi, Dewa Arak, Malaikat Tongkat Sakti, dan Ular Muka Kuning adalah tokoh-tokoh nomor satu dunia persilatan.Kepandaianmerekasukardiukurtingginya. Makaakibatnyasudahbisadiduga.TigatokohdariPulau Karang itu pun mendapat perlawanan sengit!
Hebatbukankepalangpertarunganyangterjadi. Dan hal itu berlangsung sejak jurus-jurus awal. Dan sekarang, telah memasuki jurus ketiga puluh lima. Namun, jalannya pertarungan tetap seimbang. Sama sekali belum terlihat adanya tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang.
Karuan saja hal ini membuat semua pihak yang bertarung, kecuali Dewa Arak, merasa penasaran bukan main. Harga diri masing-masing seperti tersinggung melihat lawan mampu bertahan. Apalagi, ketika
pertarungan telah melewati jurus kelima puluh. Hasilnya,masing-masingberusahasemakinmemperhebat serangan. Bahkan telah mengeluarkan ilmu andalan. Dengan sendirinya, pertarungan yang terjadi pun semakin sengit.
Di antara mereka semua, hanya Dewa Arak yang belummengeluarkanilmuandalan.Pemudaberambutputih keperakanitumasihsajamengandalkanilmu-ilmutangan kosong yang diterima dari ayahnya, yakni ilmu 'Sepasang Tangan Pembunuh Naga' dan 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'.
Dan walaupun hanya menggunakan ilmu-ilmu warisan ayahnya, Dewa Arak berhasil menanggulangi setiapseranganBandawasa.Tentusaja,halitumembuat tokoh muda yang menggemparkan ini heran bukan kepalang.Berbagaimacampertanyaanlangsungbergayut di benaknya.
"Hanyasampaidisinisajakahtingkatkepandaian Bandawasa? Mengapa berbeda jauh bila disbanding Mahadewa?" tanya Dewa Arak dalam hati.
Tapi,DewaAraktidakmaumembiarkanpertanyaan sepertiitubergayutterusdibenaknya.Disadarikalau hal itu terus dilakukan, kemungkinan besar dia akan celaka di tangan Bandawasa.
Sementara itu, Bandawasa mulai dirayapi pera-saan penasaran. Seluruh kepandaiannya telah dikerahkan,tapitetapsajabelummampumendesakDewa Arak Padahal, dia tahu betul kalau pemuda berambut putih keperakan itu belum mengeluarkan ilmu andalan.
Memang, Bandawasa telah mendengar kabar kalau Dewa Arak selalu menenggak araknya bila ingin mengeluarkan ilmu andalan. Dari berita inilah diketahuinya kalau tokoh yang menggemparkan dunia persilatan itu belum mengeluarkan ilmu andalan. Dan memang,sejaktadiDewaArakbelummenenggakaraknya.
Perasaan penasaran Bandawasa semakin menggebu-gebu ketika menyadari kenyataan kalau dirinyalah yang perlahan-lahan terdesak oleh Dewa Arak. Padahal, akal sehat Bandawasa mengakui kalau Dewa Arak memang lebih unggul. Tapi karena Dewa Arak berhasil mendesak tanpa mengeluarkan ilmu andalan, Bandawasa jadi penasaran bukan kepalang.

***

Ternyata, bukan hanya Bandawasa saja yang mengalaminasibburuk.MahesadanJanakapundemikian pula. Dua rekan Bandawasa ini tengah kerepotan menghadapiperlawananMalaikatTongkatSaktidanUlar Muka Kuning. Dan itu terjadi setelah pertarungan menginjak jurus kedelapan puluh. Perlahan-lahan, serangan-serangan dua tokoh dari Pulau Karang ini mulai berkurang.
Seiring semakin lamanya pertarungan berlang-sung, serangan-serangan tiga tokoh Pulau Karang semakin berkurang. Dan mereka hanya mengelak saja. Karena tangkisan-tangkisan pun semakin berkurang.
Sebenarnya hal ini disebabkan kekuatan tenaga dalam Malaikat Tongkat Sakti, Ular Muka Kuning, dan Dewa Arak yang memang di atas lawan masing-masing. Betapatidak?Setiapkaliterjadibenturanbaiktangan atau kaki, sudah dapat dipastikan mulut ketiga tokoh PulauKarangitulangsungmenyeringai.Itulahsebabnya tiga tokoh dari Pulau Karang itu lebih suka mengelak daripada menangkis.
Akhirdaripertarungansudahbisaditebak.Tiga tokoh Pulau Karang itu akan roboh di tangan lawan masing-masing. Hal ini bisa dibuktikan dari keadaan mereka yang semakin terhimpit. Bandawasa dan kedua rekannya terus bermain mundur. Dan kelihatannya tak lama lagi pertarungan akan berakhir.
HalinipundisadaritigatokohdariPulauKarang itu.Tahukalaumemenangkanpertarungansuatuhalyang tak mungkin, mereka memutuskan untuk mengajak lawan mati bersama! Hasilnya, Bandawasa dan dua rekannya bertindak nekat. Sekarang perhatian mereka lebih dipusatkan pada serangan. Bandawasa, Janaka, dan Mahesabertarungtanpamempedulikanpertahananlagi. Yangadadibenakmerekaadalahmenyarangkanserangan pada lawan.
DewaArak,MalaikatTongkatSakti,danUlarMuka Kurring terperanjat bukan kepalang menyaksikan perubahangayabertamnglawan.Betapatidak?Beberapa kali ketika mereka melancarkan serangan, lawan yang
dihadapi sama sekali tidak mengelak. Bahkan malah mengirimkan serangan pula. Jelas, tiga tokoh Pulau Karang itu tidak mempedulikan keselamatan diri lagi. Sebagai tokoh tingkat tinggi dunia persilatan
dan kenyang pengalaman, Dewa Arak, Malaikat Tongkat Sakti, dan Ular Muka Kuning mengerti maksud tindakan lawan. Dan tentu saja, mereka tidak sudi bertindak bodoh dengan mengikuti ajakan itu.
Maka begitu melihat serangan yang dilancarkan sama sekali tidak dipedulikan, Dewa Arak, Malaikat Tongkat Sakti, dan Ular Muka Kuning terpaksa mengurungkan serangan. Kemudian, mereka buru-buru mengelakkan serangan tiga tokoh Pulau Karang itu.
Melihat tindakan lawan-lawannya, tiga tokoh dariPulauKarangjadiberbesarhati.Semangatmereka puntimbul.Sebagaiakibatnya,serangan-seranganyang dilancarkan semakin bertubi-tubi.
Sekarang, mulai ada perubahan dalam kancah pertarungan. Perlahan-lahan, kedudukan tiga tokoh PulauKarangyangsemulasudahterhimpit,mulaidiatas anginkembali.Sedikitdemisedikit,Bandawasadandua rekannya mulai bisa menyamakan kedudukan.
Memang,kiniDewaArak,MalaikatTongkatSakti, dan Ular Muka Kuning segera menghentikan serangan. Mereka hanya mengelak dan menangkis. Bahkan tidak berusaha melancarkan serangan balasan, karena dianggaptidakakanmembawahasil.Sudahbisadiduga, di saat mereka melancarkan serangan, lawan akan melakukan hal yang sama. Jadi, terpaksa Dewa Arak, Malaikat Tongkat Sakti, dan Ular Muka Kuning membatalkan serangan kembali kalau tidak ingin mati konyol.
Bandawasa dan dua rekannya jadi bertambah se-mangat melihat hasil usaha mereka. Apalagi, setelah keadaan malah berbalik. Merekalah yang kini lebih banyak melancarkan serangan, ketimbang lawan-la-wannya.
Keadaansepertiituterusberlangsungbeberapa juruslamanya.DewaArak,MalaikatTongkatSakti,dan Ular Muka Kuning terus dicecar dan didesak.
Kini, kelihatannya tiga tokoh Pulau Karang itu yang berada di atas angin. Sedangkan Dewa Arak,
MalaikatTongkatSakti,danUlarMukaKuningberadadi pihak yang terdesak. Padahal, kenyataan sebenarnya tidak demikian. Ketiga tokoh tingkat tinggi dunia persilatan itu tengah menunggu saat yangtepat untuk bertindak.Sementaraitu,pertarungantelahmemasuki jurus kesembilan puluh tiga.









8

"Haaat...!" Diiringipekikankerasmenquunturyangmembuat
suasana di sekitar tempat itu bergetar hebat, Janaka melancarkan kibasan dengan kaki kanan kearah kepala Malaikat Tongkat Sakti. Hal itu dilakukan sambil memutar tubuh.
Wukkk!
Serangan itu lewat beberapa jari di depan sasaran, ketika Malaikat Tongkat Sakti menarik kaki kanan ke belakang sambil mendoyongkan tubuh.
Tidak hanya sampai di situ saja tindakan MalaikatTongkatSakti.Begituseranganlawanberhasil dielakkan,sebuahseranganbalasandikirimkan.Kakek bertubuhtinggibesarinimelancarkansebuahtendang-an kaki kiri ke arah punggung lawan.
Bukkk!
Kejadiannya berlangsung demikian cepat. Dan, Janaka sama sekali tidak menduga, sehingga tidak sempat berbuat sesuatu. Tahu-tahu saja, punggungnya telah menerima tendangan keras. Seketika itu pula, tubuhnya terlempar. Suara berderak keras dari tulang yang patah, semburan darah dari mulut dan hidung,
bercampur jerit kesakitan, mengiringi melayangnya tubuh Janaka.
Ternyata,tidakhanyaJanakasajayangmengalami nasib naas. Dua rekannya pun mengalami nasib serupa. Mahesaterpaksamenerimasebuahtetakantanganmiring Ular Muka Kuning pada lehernya. Sedangkan Bandawasa menerima gedoran dari Dewa Arak pada perutnya.
Brukkk!
Berturut-turut tubuh tiga tokoh dari Pulau Karang itu ambruk di tanah disertai suara berdebuk cukup keras. Lalu tubuh mereka tidak bergerak lagi, setelah berguling-guling beberapa tombak jauhnya.
"Hhh...!"
Malaikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning menghela napas lega, setelah terlebih dulu menghen-tikan gerakan. Kemudian, dua datuk yang telah menggemparkanduniapersilatanitumenataptubuhtiga tokoh Pulau Karang yang tergolek di tanah.
Sementara itu, Dewa Arak buru-buru melesat ke arah tempat tergoleknya tubuh tiga tokoh dari Pulau Karang.Rautkecemasanmembayangjelaspadawajahnya, karena khawatir kalau Bandawasa dan dua rekannya tewas.Dandiatahupasti,tigatokohdariPulauKarang itu sama sekali tidak bersalah.
Namun sebelum maksud Dewa Arak tercapai.... "Ha ha ha...!"
Tiba-tiba terdengar sebuah tawa keras mengge-legar, sehingga membuat seluruh tempat itu bergetar hebat. Bisa ditebak kalau suara tawa itu dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.
Seketika itu pula, Dewa Arak mengurungkan maksudnya. Buru-buru langkahnya dihentikan. Memang, suaratawaitupernahdidengarnya.Tapisayangnya,dia lupa kapan dan di mana.
Dewa Arak tidak mempedulikan hal itu. Secepat langkahnya dihentikan, secepat itu pula kepalanya ditolehkan ke arah asal suara. Hal yang sama pun dilakukan, Malaikat Tongkat Sakti, Ular Muka Kuning, dan yang lainnya.
Jliggg! Masihdengansuaratawayangbelumputus,sosok
yang mengeluarkan tawa itu mendarat di tanah. Begitu
keduakakinyahinggap,sedikitpuntakterdengarsua-ra.Padahal,diamelompatdancabangpohonyangcukup tinggi.
"Hah...?!"
Hampir semua pasang mata yang berada di situ terbelalak, begitu melihat jelas si pemilik suara tawa. Betapa tidak? Karena orang itu adalah..., Mahadewa!Tidakdapatdisangsikanlagikalauorangitu Mahadewa!
Keterkejutan orang-orang yang berada di situ tidak hanya terlihat dari sepasang mata yang terbelalak lebar, tapi juga dari raut wajah yang berubah pucat. Bukankah Mahadewa telah tewas?!
Teringatakanhalitu,membuattokoh-tokohting-kattinggiduniapersilataninimenolehkearahtempat tubuh Mahadewa tergolek. Dan..., ternyata tubuh Mahadewamasihadadisana!Jadi...,Mahadewaadadua orang?!
"Rupanyakalianbingung,heh?!"ujarsosokyang menyerupai Mahadewa gembira, bernada mengejek.
"Siapakau?!"tanyaMalaikatTongkatSaktisudah tidak bisa menahan sabar lagi.
"Aku?! Bukankah aku orang yang kalian cari-cari?!" Mahadewa malah balas bertanya.
"Jadi..., kau...?!"
Suara Malaikat Tongkat Sakti terdengar terbata-bata. Hal ini karena dia telah mendapat gelagat kalau telah salah menuduh orang.
"Ya! Akulah yang telah melakukan semua pembunuhan itu!"
"Keparatjahanam!"makiMalaikatTongkatSakti, geram.
"Manusia keji!" Ular Muka Kuning tak mau ketinggalan.
Wajah kedua datuk tingkat tinggi dunia persilatan itu tampak merah padam, karena tengah dilanda amarah. Dengan sendirinya, tenaga dalam pun mengalirderaskeseluruhtubuh,sehinggamenimbulkan suara berkerotokan keras seperti ada tulang patah. Padahal, Malaikat Tongkat Sakti dan UlarMuka Kuning sama sekali tidak bertindak apa-apa.
"Tahan, Ki...!"
Dewa Arak yang melihat adanya tanda-tanda Ma-laikat Tongkat Sakti dan Ular Muka Kuning akan me-lancarkan serangan, buru-buru mencegah.
"Mengapakaumelarangkami,DewaArak?!"sergah Malaikat Tongkat Sakti, bernada teguran.
Memang kakek ini memiliki watak beringas. "Dialah pelaku semua kekejian itu!"
Dewa Arak mengangguk-anggukkan kepala. "Apa yang kau katakan itu, sama sekali tidak salah, Ki. Dialahpelakusemuakekejianitu.Tapisebaiknyakita harus tahu alasan dia melakukan semua tindakan keji itu."
Malaikat Tongkat Sakti kontan tertegun mende-ngar penjelasan Dewa Arak. Disadari adanya kebenaran dalam ucapan pemuda berambut putih keperakan itu. BahkanUlarMukaKuningmengangguk-anggukkankepala, pertanda ikut membenarkan.
"Ha ha ha...!"
Mahadewa, yang mendengar pembicaraan itu langsung tertawa bergelak.
"Tanpa kau tanyakan pun, semuanya akan kujelaskan,DewaArak.Nah!Sekarang,kaliandengarkan baik-baik semua ucapanku!"
Sosok berwajah mirip Mahadewa itu menghetikan ucapannya,memberikankesempatanpadasemuatokohyang berada di situ mengalihkan perhatian ke arahnya. Kemudian, kedua tangannya bergerak ke atas. Sebentar tangannya berhenti di wajah, lalu bergerak kembali. Dan begitu kedua tangannya disentakkan....
Bret!
Tampaklah seraut wajah tampan, jauh berbeda denganwajahMahadewayangasli.Matanyadihiasialis lebat. Hidungnya mancung, dengan andeng-andeng di batangnya. Sungguh jauh dengan perkiraan semula.
"NamakuBurisrawa.Samasepertiempatorangitu, aku juga berasal dari perguruan yang sama di Pulau Karang.KamiberlimaadalahmuridutamaPerguruanHati Suci. Salah seorang di antara kami, dicalonkan untuk menggantikangurukamiyanghampirpikun.Tapisayang, guru tidak menyukai watakku. Katanya, aku berwatak jelek,dansukamempelajariilmu-ilmusesat.Jadi,aku tidakmungkinbisamenggantikankedudukannya,"jelas
sosok Mahadewa yang kini berganti wajah, setelah membuka topeng karet tipis. Rupanya, lelaki itu juga mahirmembuattopeng,sehinggamampumenyamarkandiri menjadi Mahadewa.
Sosok berwajah mirip Mahadewa yang ternyata bernama Burisrawa itu menghentikan ucapannya. Pandangannya diedarkan, merayapi satu per satu wajah-wajah yang berada di sekitarnya.
































Bukkk!
TerdengarbunyikerasketikaseranganMalaikat
Tongkat Sakti menemui sasarannya. Hasilnya, tubuh
Burisrawa tersungkur ke belakang seperti daun kering
tertiup angin!

"Padahal, aku sangat berminat menjadi Ketua Perguruan Hati Suci. Maka ketika empat orang kesayangan guruku ini memutuskan untuk memperluas pengalaman dengan berkelana, aku pun ikut tanpa sepengetahuan mereka. Lalu, kulakukan semua pembunuhan dengan menyamar sebagai Mahadewa, agar merekamendapatbanyakmusuhdisini.Hahaha...!Dan kalian lihat sendiri hasilnya, bukan? Usahaku kini berhasil baik! Aku akan menjadi ketua perkumpulan di sana,danmenjadijagonomorsatudiseluruhdunia!Ha haha..!Kaliantakakanmampumengalahkanaku!Haha ha...!"
"Manusia sombong! Mampuslah kau...!"
Seiring bentakan itu, Malaikat Tongkat Sakti melompatmenerjangBurisrawa.Danbegitutelahdekat, tongkatnya dihantamkan ke dada.
Namun sungguh aneh! Serangan Malaikat Tongkat Sakti sama sekali tidak dielakkan Burisrawa. Tokoh dariPulauKaranginiterussajatertawa,seolah-olah tidak tahu ada bahaya mengancam. Akibatnya....
Bukkk! TelakdankerassekaliseranganMalaikatTongkat
Sakti menemui sasarannya. Hasiinya, tubuh Burisrawa melayang ke belakang seperti daun kering tertiup angin.
Setelahmelayang-layanghampirsepuluhtombak, tubuh Burisrawa jatuh berdebuk keras di tanah, kemudian terguling-guling. Dan akhirnya, tubuhnya berhenti karena kekuatan yang mendorongnya telah lenyap.
Melihatkejadianitu,semuatokohyangberadadi situ saling berpandangan penuh rasa bingung. Begitu mudahkah Burisrawa dibinasakan?
Beberapagelintirdarisekianbanyakorangyang berada di situ merasa curiga melihat kejadian yang
menimpa Burisrawa. Mereka adalah Dewa Arak, Melati, Petani Maut, Ular Muka Kuning, dan Malaikat Tongkat Sakti sendiri. Dan mereka semua tidak percaya kalau Burisrawaakandemikianmudahditewaskan.Danternyata kecurigaanmerekaberalasan.Sambilmengeluarkantawa bergelak bernada penuh kegembiraan, Burisrawa langsung bangkit.
Kenyataaninimembuatsemuaorangyangberadadl situ,merasaterkejutbukankepalang.Begitusaktikah Burisrawa,sehinggamampumenerimaseranganMalaikat Tongkat Sakti tanpa melawan?
"Tidak mungkin!" bantah Dewa Arak dalam hati. Pemuda berambut putih keperakan ini memang pernah bertarung melawan Burisrawa. Maka bisa diperkirakantingkatkepandaianBurisrawa.DewaArak tahu, Burisrawa tidak akan mungkin mampu menerima seranganMalaikatTongkatSaktisecarademikian.Pasti
ada keganjilan di sini! "Keparat!"
MalaikatTongkatSaktimenggerammurka,ketika melihatBurisrawamasihsegarbugar.Bahkantokohdari Pulau Karang itu malah menghampirinya sambil terus tertawa-tawa.
"Haaat...!"
Diiringi teriakan nyaring yang memekakkan telinga, Malaikat Tongkat Sakti kembali menerjang Burisrawa. Dan begitu jaraknya telah dekat, serangan yang serupa dengan sebelumnya langsung dilancarkan. Rupanya, Malaikat Tongkat Sakti masih belum percaya kalauBurisrawamampumenerimaserangannya.Apalagi, tanpa melawan!
"Malaikat Tongkat Sakti! Tahan...!"
Dewa Arak yang mengkhawatirkan keselamatan MalaikatTongkatSakti,berserumencegah.Tapisayang, peringatannyaterlambat!Kakektinggibesaritutelah lebih dulu melancarkan serangan dahsyat tanpa memikirkan keselamatannya.
Kali ini, Burisrawa tidak berdiam diri. Begitu seranganMalaikatTongkatSaktitelahmenyambardekat, kedua tangannya cepat dihentakkan untuk melancarkan tangkisan.
Blarrr!
Suara keras mengguntur seperti gunung meletus terdengar, ketika dua pasang tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi berbenturan. Beberapa tokoh yang kurang kuat tenaga dalamnya, langsung terjatuh,karenalututmerekaterasalemas.HanyaDe-waArakdanUlarMukaKuningsajayangsamasekalitidak terpengaruh. Sedangkan Melati dan Petani Maut masih menerimaakibatnya,yangterlihatdaripucatnyawajah walau hanya sesaat.
Meskipun demikian, seperti juga Dewa Arak dan Ular Muka Kuning, Melati dan Petani Maut tetap mengarahkanpandanganketempatterjadinyabentrokan antara Malaikat Tongkat Sakti melawan Burisrawa.
Seketikaitupula,matamerekasemuaterbelalak. Betapa tidak? Tampak tubuh Malaikat Tongkat Sakti terlempar ke belakang, seperti daun kering tertiup angin.Darahsegarmengalirderasdarimulut,hidung, dan telinganya. Seruan menyayat seperti seekor sapi disembelih, mengiringi tubuhnya yang terlempar ke belakang.
"Gila!" SeruanketerkejutankeluardarimulutDewaArak. Dan memang, hanya pemuda berambut putih
keperakan ini saja yang merasa terkejut bukan kepalang.DewaAraktahu,sampaidimanatingkattenaga dalamBurisrawa.MerupakanhalyangmustahilkalauMa-laikat Tongkat Sakti akan tewas demikian mengenaskan dalam sekali bentrokan tenaga dalam saja.
Dan kenyataannya, tanpa melihat lagi pun, Dewa AraktahukalauMalaikatTongkatSaktitelahtewas.Itu pundisaattubuhnyatengahberadadiudara.Buktinya begitu jatuh di tanah, Malaikat Tongkat Sakti tidak bergerak-gerak lagi.
"Ha ha ha...!"
Burisrawa tertawa bergelak-gelak. Sambil berkacak pinggang, pandangannya dialihkan ke arah tokoh-tokoh dunia persilatan yang berada di situ.
"Siapa lagi yang ingin menguji kesaktianku?! Kau,DewaArak?!Hahaha...!Kaliinijanganharapbisa mempecundangiku lagi. Kau akan kulumatkan! Ha ha ha...!"
Usaiberkatademikian,BurisrawamendekatiDewa Arak.Lambat-lambatsajakakinyamelangkah.Sikapdan tindak-tanduknya tampak tenang. Jelas, tokoh dari PulauKaranginimerasayakinakankemampuandirinya. Namun,DewaAraktidakmaumembiarkanBurisrawa semakindekat,karenakhawatirMelatidanPetaniMaut akan ikut terbawa. Maka dihampirinya Burisrawa.
Tapi....
"Minggir, Dewa Arak...!" SebelumDewaArakdanBurisrawatibadalamjarak
tempur, sesosok bayangan kuning berkelebat mendahului.DanhalinimembuatDewaArakterkejut.Dia tahu, siapa sebenarnya sosok bayangan kuning itu. Siapa lagi kalau bukan Ular Muka Kuning?
Dugaan Dewa Arak sama sekali tidak meleset. Datukduniapersilatanyangbertubuhkurusinimemang murka bukan kepalang ketika melihat Malaikat Tongkat Sakti tewas. Dengan mata kepala sendiri,dia melihat tubuh Malaikat Tongkat Sakti terbujur tanpa nyawa bergelimang darahnya sendiri. Perasaan sakit hati itulahyangmendorongUlarMukaKuningmendahuluiDewa Arak menerjang Burisrawa.

***

Ular Muka Kuning tidak membuang-buang waktu lagi.BegitutelahmendekatiBurisrawa,langsungsaja dikirimkan sebuah sampokan ke arah pelipis. Itu dilakukan dalam keadaan tubuh masih berada di udara.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi tibanya serangan UlarMukaKuning.Halinitidakaneh,karenadatukber-tubuhkurusitumengerahkanseluruhtenagadalam-nya. Apalagi,dalamkemarahanamatsangat.UlarMukaKuning jelas bermaksud membinasakah Burisrawa secepat mungkin.
Maka, sudah dapat dibayangkan kedahsyatan serangan Ular Muka Kuning. Di samping dikeluarkan lewatpengerahantenagadalamsepenuhnya,sasaranyang dituju pun adalah bagian yang mematikan.
Tapi seperti juga sebelumnya, Burisrawa sama sekalitidakmempedulikannya.Bahkanmalahtersenyum
mengejek.Sikapnyaterlihatmemandangrendahsekali. Sedikit pun tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau Burisrawaakanmengelakataumenangkis.Mahadewapalsu inimalahseakan-akanmembiarkanseranganitumengenai sasarannya.
"Gila...!"
Tanpa sadar Dewa Arak, Melati, dan Petani Maut memekik kaget ketika melihat tindakan Burisrawa! Betapatidak!DisaatseranganUlarMukaKuningsemakin mendekati sasaran, Burisrawa malah melancarkan serangan pula!
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi, Burisrawa melan-carkan totokan ke arah perut Ular Muka Kuning dengan susunan jari membentuk kepala ular.
Dan ternyata Ular Muka Kuning terkejut pula melihat hal itu. Bahkan perasaan kaget yang melanda jauhlebihbesar.UlarMukaKuningtahu,merupakanhal mustahil untuk mengelak. Serangan Burisrawa terlalu mendadak datangnya.
Tambahan lagi, dilancarkan dalam jarak yang demikian dekat. Tubuhnya yang tengah berada di udara semakin menambah kesulitannya.
DalamkeadaanterjepititulahyangmembuatUlar MukaKuningmemutuskanuntukmelanjutkanserangan.Dia sudah bertekad untuk mati demi membalas kematian Malaikat Tongkat Sakti.
Tentu saja keputusan yang diambil Ular Muka KuningdiketahuiDewaArak,Melati,danPetaniMautDan mereka pun tidak bisa menyalahkan tindakannya. Meskipunbegitu,takurungadaperasaanmenyesalyang amatsangatmenyelinapdilubukhatiDewaArak.Tapi, apa yang bisa dilakukannya? Kejadian itu berlangsung demikian cepat. Sedangkan dirinya berada cukup jauh dari kancah pertarungan.
Dan yang dilakukan Dewa Arak hanya menunggu kejadian selanjutnya. Dan tindakan seperti itu pula yangdilakukanMelati,PetaniMaut,danbeberapatokoh persilatanyangmasihberadadisitu.Sementaraitudi kancah pertarungan....
Prattt! Brolll! "Aaakh...!"
Dalamselisihwaktuyangamatsingkat,serangan kedua belah pihak mendarat di sasaran masing-masing. Sampokan Ular Muka Kuning lebih dulu mendarat di pelipis Burisrawa. Baru sekejap kemudian, tusukan tangan Burisrawa memporakporandakan perut Ular Muka Kuning.
Kejadianselanjutnyasudahbisaditebak. Tubuh kedua belah pihak sama-sama terlempar. Terdengar jeritan menyayat dari mulut Ular Muka Kuning. Darah segar tampak menyembur deras dari bagian perut yang terkoyak-koyak mengiringi Iuncuran tubuhnya.
Tanpa diberi perintah, Dewa Arak dan Melati melesat ke arah jatuhnya tubuh Ular Muka Kuning
Brukkk! Brukkk!
Berturut-turuttubuhUlarMukaKuningdanBuris-rawa jatuh berdebuk di tanah.
"Hhh... hhh..., akh!" Setelahmeregangnyawasejenak,UlarMukaKuning
menghembuskan napas terakhir. Mati! "Hhh...!"
DewaArakhanyabisamenghelanapasberat.Sama sekalitidakdisangka,duadatukduniapersilatanyang sama-sama tangguh itu tampaknya telah tewas secara mengenaskan.
Karena perhatian Dewa Arak dan Melati tengah terpusat pada Ular Muka Kuning, sama sekali tak ada yangmenyadarikeadaanBurisrawa.Dantiba-tibasaja, terdengar jerit kesakitan dan kematian, sehingga membuat sepasang pendekar muda itu mengalihkan perhatian.
"Hah...?!" MulutMelatiternganga.Bahkansepasangmatanya
pun terbelalak lebar, menampakkan keterkejutan yang amatsangat.Sementarameskipuntidakterlihatadanya raut keterkejutan pada wajah dan sikapnya, namun sebenarnya Dewa Arak kaget bukan kepalang. Belapa tidak! Jeritan-jeritan itu ternyata terdengar dari muluttokoh-tokohpersilatanyangberadadisitu.Tak terkecuali,PetaniMautsendiri.Merekarobohditanah dalam keadaan tewas! Paling tidak, luka berat Dan pelaku semua itu adalah...
Burisrawa!
"Kang..., tidak salah lihatkah aku?" tanya Melatidenganbibirbergetar,karenaperasaantegang. Dewa Arak meraih tangan Melati dan meremasnya
perlahan, untuk memberi ketenangan. "Kautidaksalahlihat,Melati.Burisrawamemang
belummati.Hhh...!Akuyakindiamemilikisebuahil-mu,sehinggamembuatnyatidakgampangmati.Kitaharus mengetahui kelemahannya terlebih dulu, kalau tidak ingin mati konyol!" jelas pemuda berambut putih keperakan itu.
"Apakah ilmu yang dimiliki Burisrawa adalah 'Rawa Rontek', Kang?" tebak Melati.
"Aku belum bisa memastikannya, Melati. Terke-cuali,apabilatelahbertarungdengannya.Tunggulahdi sini."
"Ha ha ha...! Majulah, Dewa Arak..!" tantang Burisrawa lantang, sambil bertolak pinggang.
Di sekeliling Burisrawa tampak bergeletakan sosok-sosok tubuh tanpa nyawa. Semuanya adalah tokoh persilatan yang berada di sekitar tempat itu. Termasuk, Petani Maut.
"Mengapa kau membunuh mereka, Burisrawa?!" tegur Dewa Arak bernada geram.
"Mengapakaumenyalahkanaku,DewaArak.Mereka memang pantas mati! Ha ha ha...!" Burisrawa tertawa bergelak gelak.
Dewa Arak hanya bisa mengepalkan tinju menahan geram, melihat ketelengasan Burisrawa. Memang, pada saat perhatian Dewa Arak dan Melati tengah terpusat padaUlarMukaKuning,PetaniMautdanbeberapatokoh persilatanlainmenghampiriBurisrawa.Mungkinmereka mengira Burisrawa telah tewas. Tapi, siapa sangka kalautokohdariPulauKarangitujustrumasihhidup? "Kau terlalu telengas, Burisrawa. Biar kupertaruhkanselembarnyawakuuntukmencegahtindak
angkara murkamu!" Begituucapannyaselesai,DewaArakmenghampiri
Burisrawa.TokohdariPulauKarangitujugamelangkah maju.Sudahdapatdipasrikankalaupertarunganantara mereka akan segera berlangsung. Sikap kedua belah pihakmiripduaekorayamjantanyangsiapbertarung.
Sementaraitu,DewaAraktidakberanibertindak main-main lagi. Disadari kalau Burisrawa sekarang berbeda daripada sebelumnya. Entah bagaimana, Dewa Arak tidak tahu. Yang jelas kepandaian Burisrawa meningkat demikian pesat. Dewa Arak berani bertaruh kalau kepandaian Burisrawa jauh lebih lihai daripada ketika bertarung dengannya belum lama ini.
Makasambilterusmelangkah,DewaArakmengambil guci araknya yang tersampir di punggung. Kemudian, gucinyadiangkatkeataskepaladanisinyadituangkan ke mulutnya.
Gluk..., gluk..., gluk...! Terdengarsuarategukanketikaarakitumelewati
tenggorokan Dewa Arak dalam perjalanan menuju ke lambung.Taklamakemudian,hawahangatmulaimerayap diperutpendekarmudayangtelahmenggemparkandunia persilatan itu. Perlahan-lahan, hawa hangat itu naik keataskepala.DanseketikaitupulalangkahkakiDewa Arakmulaisempoyongan.Halinimenjadipertandakalau ilmu 'Belalang Sakti' telah siap digunakan.
Burisrawa tentu saja dapat menduga kalau Dewa Arak telah menggunakan ilmu andalannya. Tapi, dia tidak merasa gentar sama sekali. Bahkan malah mengumbarkan tawa keras.
"Hahaha...!Akutelahmendengarkehebatanil-mu 'Belalang Sakti' andalanmu, Dewa Arak. Sekarang, aku akan mencoba kehebatannya."
Usai berkata demikian, Burisrawa menyusun jari-jarinya. Dewa Arak tahu, tokoh Pulau Karang itu akan mengeluarkan ilmu 'Tangan Pedang dan Golok'
"Bersiaplah untuk mati, Dewa Arak! Haaat...!" Burisrawa membuka serangan dengan sebuah bacokan sisi tangan miring ke arah leher Dewa Arak.
Suara bercicitan nyaring mengawali serangannya. DewaArakterkejutbukankepalangketikamenge-
tahui lehernya terasa perih. Memang dia tahu, angin serangan Burisrawa tak kalah berbahaya dibanding sebatang pedang pusaka. Tapi sungguh di luar dugaan kalau dalam jarak setengah tombak sudah membuat lehernya terasa perih. Padahal, sebelumnya tidak demikian!IniberartidugaankalautenagadalamBuris-rawa bertambah, sama sekali tidak keliru.
Menyadari betapa berbahayanya serangan itu, Dewa Arak tidak berani berrindak sembrono. Buru-buru serangan itu dipapak dengan ayunan gucinya.
Klanggg!
Gila! Tubuh Dewa Arak kontan terhuyung-huyung jauh ke belakang begitu terjadi benturan. Tak kurang dari lima langkah tubuhnya terhuyung-huyung. Sementara, Burisrawa hanya bergetar saja.
"Iiih...!"
Melati terkejut bukan kepalang melihat tubuh kekasihnyaterhuyung-huyung.Darihasilbenturanitu bisadiketahuikalautenagadalamDewaArakkalahjauh dibanding Burisrawa. Dan hal itu membuat Melati khawatir bukan kepalang. Tapi, kekhawatiran itu buru-buru dibuangnya. Maka meskipun dengan perasaan kebat-kebit, pandangannya dilayangkan ke arah pertarungan.
Diarenapertarungan,Burisrawaterusmengumbar kepandaian. Tampak jelas kalau dia bernafsu sekali merobohkan Dewa Arak. Bahkan seluruh kemampuannya telah dikeluarkan.
Dan memang, usaha tokoh dari Pulau Karang ini sama sekali tidak sia-sia. Nyatanya Dewa Arak benar-benardibuatkewalahan.Padahal,tokohmudayang menggemparkanduniapersilatanitutelahmengeluarkan seluruh kemampuan. Kedua tangan, guci, dan semburan-semburan araknya telah dikeluarkan untuk menanggulangi amukan Burisrawa.
Dahsyat dan menggiriskan pertarungan yang terjadi.Suaramencicittajamdariudarayangterobek, menyemarakijalannyapertarungan.Danitutimbuldari angin serangan Burisrawa, maupun semburan arak Arya. Bahkanjugamasihditingkahisuaramenderu-derutajam. Kaliini,DewaArakbenar-benardipaksamenguras seluruhkemampuannya.Meskipundemikian,harusdiakui kalautingkatkepandaianBurisrawamemangdiatasnya. Baikdalamkecepatangerakmaupuntenagadalam.Hanya berkatkeanehanilmu'BelalangSakti'lahyangmembuat Dewa Arak mampu menandingi Burisrawa sampai hampir seratus jurus. Itu pun dilakukan dengan susah payah. DewaArakbenar-benarterdesaksekarang. Jurus
yang lebih banyak digunakan adalah 'Delapan Langkah
Belalang'.IniberartiDewaArakterpaksalebihbanyak mengelak, karena tenaga dalamnya jauh di bawah Burisrawa. Berbenturan tangan atau kaki hanya akan mengakibatkan sekujur tulang-tulangnya sakit-sakit. Meskipun berada dalam keadaan di bawah angin,
Dewa Arak berusaha keras mencari kelemahan lawannya. Telah dibuktikannya sendiri, ilmu yang membuat Burisrawa sulit mati bukan 'Rawa Rontek'.
"Akh..."
Tubuh Dewa Arak kontan terjengkang akibat menangkis serangan Burisrawa. Hal itu terpaksa dilakukan, karena sudah tidak mempunyai kesempatan mengelak. Dan di saat Dewa Arak tengah terhuyung-huyung,Burisrawamenerjang.Tampaksekali kalautokohPulauKaranginibermaksudmemberipukulan terakhir.
"Serangbayangannya,Kang.Bayanganituadalah tubuhnya yang asli.”
Tiba-tiba terdengar pemberitahuan. Dan datangnya ternyata dari Melati.
MeskipunherandarimanaMelatimendapatdugaan seperti itu, namun Dewa Arak memutuskan untuk menuruti. Matanya kemudian melirik ke tanah. Tampak bayangan tubuh Burisrawa di tanah, tersorot sinar bulan di atas sana. Tanpa membuang-buangwaktu lagi, Dewa Arak menghentakkan tangan ke arah bayangan Burisrawa.Taktanggung-tanggunglagi,jurus'Pukulan Belalang' dikeluarkan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Wusss! Blarrr!
Jelas sekali kalau Dewa Arak menyerang tanah. Tapiakibatnyabenar-benaraneh.Tiba-tibaterdengar jeritanmenyayatdarimulutBurisrawaberbarengdengan tubuhnya yang terlempar ke belakang. Samar-samar, tercium bau sangit daging terbakar.
Brukkk! TubuhBurisrawaambrukditanah,dandiamtidak
bergerak lagi untuk selamanya. Tokoh sesat yang memiliki kepandaian demikian menggiriskan itu tewas dengan tubuh hangus.
Melati langsung menghambur ke arah Dewa Arak. Sementara, tokoh persilatan yang masih hidup dengan
sikap hati-hati mendekati tubuh Burisrawa yang telah hangus. Mereka khawatir, tokoh dari Pulau Karang itu bangkit kembali dan membunuh seperti tadi. Tapi, ternyata tidak.
"Terima kasih atas pemberitahuanmu, Melati. Kalau tidak, mungkin aku sudah tewas. Hhh...! Burisrawamemanghebatbukankepalang.Tapi,darimana kau bisa mengetahui kelemahan ilmunya?" tanya Arya ingin tahu.
"Jangan berterima kasih padaku, Kang," bantah Melati. "Tapi berterimakasihlah pada Bandawasa. Dialah yang memberitahukannya padaku. Bandawasa mengakui kalau tenaga dalamnya belum cukup untuk melenyapkanBurisrawa.Tapi,diatahukelemahannya." "Bandawasa? Sudah kuduga kalau dia belum mati.
Mana dia, Melati?" tanya Arya, penuh gairah.
"Baru saja pergi mencari kereta, untuk mengangkutmayatrekan-rekannya,Kang,"jawabMelati.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
"O, ya. Apa nama ilmu yang dimiliki Burisrawa itu, Melati. Apakah Bandawasa mengatakannya?" tanya Arya.
Melati menggelengkan kepala. "Bandawasatidakmaumemberitahukannya.Rahasia
perguruan, katanya. Apalagi, ilmu yang dimiliki Burisrawa adalah ilmu-ilmu yang tidak boleh dipelajari. Dua macam ilmu telah dikuasai Burisrawa. Yang satu membuat dia susah mati, dan yang satu lagi membuat dia menyerap seluruh kepandaian orang yang sealiran dengannya," urai Melati panjang lebar.
Arya mengangguk-anggukkan kepala. Kini baru dimengerti, mengapa kepandaian Burisrawa meningkat demikian pesat. Seluruh kepandaian yang dimiliki Janaka, Mahadewa, dan Mahesa ternyata telah terwaris kepadanya.
Keruyuk ayam jantan mulai terdengar, tanda sebentar lagi pagi akan datang. Sang surya pun akan munculdiutukTimur.Sebuahlembarankehidupanbaru, akan dimulai lagi.

SELESAI


No comments:

Post a Comment