PENDEKAR TANGAN
BAJA
1
"Hih...!”
Seorang pemuda tampan bercambang
lebat, dan berpakaian kuning, kembali melompat. Entah untuk yang ke berapa
kalinya. Tubuh pemuda berpakaian kuning itu berputar beberapa kali di udara.
Indah dan manis sekali gerakannya. Dan....
Pyarrr...!
Air sungai memercik tinggi,
begitu sepasang kaki pemuda itu mendarat kembali di permukaan air. Luar biasa!
Kalau saja ada orang yang melihatnya, tentu pemuda ini dikiranya hantu penunggu
sungai. Mana ada manusia yang dapat berdiri di atas permukaan air?
Tapi kenyataannya pemuda
bercambang lebat itu memang mampu berdiri di atas permukaan air. Bahkan
sesekali melompat dan bersalto beberapa kali di udara, kemudian kembali
mendarat di permukaan air!
Dan selagi tubuhnya berputar di
udara, terlihat kalau sepasang kaki pemuda itu ternyata tidak hanya bersepatu
saja, tapi ada sesuatu yang menempel pada kedua telapak sepatunya. Memang, pada
telapak kaki pemuda ber-pakaian kuning itu, nampak sepotong papan yang tidak
begitu tebal, tapi agak lebar. Rupanya papan itu digunakan sebagai alas agar
dapat mengapung di permukaan air. Tapi meskipun begitu, tanpa memiliki ilmu
kepandaian yang tinggi, tidak mungkin pemuda itu dapat berbuat begitu.
Tak lama kemudian, pemuda
berpakaian kuning itu ber-gegas mendekati pinggir sungai. Untungnya, di situ
sepi. Tidak nampak sebuah rumah pun yang terlihat, sehingga perbuatannya tidak
menarik perhatian.
"Hih...!"
Begitu telah mendekati pinggir
sungai, pemuda ber-cambang lebat itu melenting. Tubuhnya berputar beberapa kali
di udara, sebelum akhimya mendarat di pinggiran
sungai.
Begitu telah berada di tanah,
pemuda itu segera melepaskan potongan kayu yang terikat pada kedua kakinya.
Lalu dilemparkan begitu saja di tanah.
Kini pemuda berpakaian kuning itu
membalikkan tubuh-nya. Sepasang matanya menerawang jauh ke seberang sungai.
Cukup lama juga pemuda bercambang
lebat itu berbuat demikian, sebelum akhimya melangkah pelan meninggal-kan
tempat itu. Mulanya langkahnya satu-satu, tapi beberapa saat kemudian, bergerak
cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.
Ternyata pemuda bercambang lebat
dan berpakaian kuning itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.
Gerakannya cepat bukan main. Tubuhnya hampir tidak ter-lihat oleh mata. Yang
terlihat hanyalah sekelebaran bayangan kekuningan.
Pemuda berpakaian kuning itu
terus berlari seraya mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Sehingga dalam waktu
singkat, tempat tadi telah jauh tertinggal. Larinya baru diperlambat dan
akhimya berhenti sama sekali, begitu memasuki tembok batas sebuah desa.
Luar biasa! Sungguhpun telah
berlari menempuh jarak yang jauh, tidak nampak tanda-tanda kalau pemuda
ber-pakaian kuning ini mengalami kelelahan. Napasnya biasa saja. Tidak nampak
memburu sedikit pun. Bahkan di wajah tampannya, sama sekali tidak terlihat
setitik pun keringat.
Pemuda bercambang lebat ini
melangkah memasuki desa. Alisnya agak berkerut ketika melihat hampir semua
anak-anak kecil di desa itu bertelanjang bulat dan ber-tubuh kurus kering.
Seolah-olah mereka tidak cukup men-dapat makanan. Padahal tadi di pinggiran
desa, jelas dilihatnya hamparan padi yang tumbuh subur.
"Aneh...," gumam pemuda
berpakaian kuning itu pelan seraya melanjutkan langkahnya.
Setelah cukup jauh berjalan,
pemuda bercambang lebat ini menghentikan Langkahnya. Sayup sayup didengamya suara
bentakan-bentakan keras penuh kemarahan.
Rasa ingin tahu, membuat pemuda
berpakaian kuning ini mempercepat langkahnya menuju ke arah asal suara. Dan
dengan sendirinya, suara-suara bernada penuh kemarahan itu pun semakin keras
terdengar.
Tak lama kemudian, pandang mata
pemuda berpakaian kuning itu tertumbuk pada beberapa sosok yang nampak-nya
tengah terlibat pertengkaran. Beberapa orang ber-seragam prajurit, dan seorang
berpakaian putih. Dua di antara prajurit itu berdiri angker di hadapan orang
ber-pakaian putih yang tertunduk ketakutan.
"Rupanya kau sudah berani
menentang perintah Gusti Prabu, Paladi," ucap seorang yang berseragam
punggawa penuh kemarahan. Sementara di sebelahnya, berdiri se-orang prajurit
yang menggenggam sebatang cambuk.
"Maafkan aku, Den Rupangga.
Bukannya aku me-nentang perintah Gusti Prabu. Tapi, hasil panen kali ini tidak
sebanyak hasil sebelumnya. Kalau kami paksakan diri memberi upeti seperti
biasa, penduduk desa ini akan mati kelaparan," sahut laki-laki setengah baya
berpakaian putih yang bemama Ki Paladi.
"Aku tidak peduli!"
bentak punggawa yang bernama Rupangga. Keras sekali suaranya sehingga Ki Paladi
sampat terjingkat ke belakang saking kagetnya. Sekilas kepala laki-laki
berpakaian putih ini terangkat, tapi begitu melihat sepasang mata penuh amarah
tertuju padanya, kepalanya ditundukkan kembali, "Kedatanganku kemari bukan
untuk mendengar segala macam alasan, Paladi. Aku datang untuk meminta pajak
sesuai dengan keputusan yang ditetapkan Gusti Prabu. Dan menjadi tugasmu selaku
kepala desa untuk memenuhinya! Soal penduduk desa ini mati kelaparan bukan
urusanku! Kau mengerti, Paladi!" sergah Rupangga.
Ki Paladi yang ternyata seorang
kepala desa meng-anggukkan kepalanya.
"Aku mengerti, Den Rupangga.
Tapi kumohon Aden mau bermurah hati memberikan kami waktu untuk..."
"Keparat! Orang seperti kau
memang harus dihukum! Agar menjadi pelajaran bagi siapa saja yang berani
menentang keinginan Gusti Prabu!" selak punggawa yang bernama Rupangga
cepat, sebelum kepala desa itu menyelesaikan ucapannya. "Prajurit! Beri
pembangkang ini sepuluh cambukan!"
Prajurit yang sejak tadi berdiri
di sebelah Rupangga ter-senyum lebar. Kegembiraan terbayang jelas di wajahnya.
Memang sudah menjadi kesenangannya, melihat orang menggeliat-geliat kesakitan
menerima cambukannya. Maka begitu mendapat perintah, segera saja dia mendekati
sang kepala desa. Cambuk yang sejak tadi ter-genggam di tangannya,
ditimang-timang sambil menyeringai lebar.
"Ampun, Den Rupangga. Aku
berjanji akan meng-usahakannya..." ucap Ki Paladi memohon kebijaksanaan.
Tapi punggawa ini hanya memandangi sang kepala desa dengan tatapan dingin.
Sementara prajurit itu segera mengayunkan cambuknya.
Tarr! "Akh...!"
Kepala Desa itu menjerit
memilukan ketika ujung cambuk itu melecut punggungnya. Seketika itu juga,
tubuh-nya menggeliat-geliat. Pakaiannya di bagian punggung, kontan sobek
memanjang. Di kulit punggungnya nampak garis panjang menghitam.
"Ampun, Den
Rupangga..." rintih Ki Paladi lagi. Tapi punggawa itu tetap diam tak
bergeming. Sehingga kembali lecutan cambuk menyambar punggungnya.
Tarr! "Akh...!"
“Jahanam!" teriak pemuda
berpakaian kuning keras. Darahnya mendidih melihat adegan penyiksaan di depan
matanya. Seketika itu juga pemuda ini melesat ke arah kepala desa yang tengah
disiksa.
Wuuut..!
Untuk ke sekian kalinya, cambuk
di tangan prajurit itu
kembali dilecutkan. Tapi….
Tappp...!
Kali ini ujung cambuk itu
tertahan di udara. Semula prajurit yang tengah menyiksa Ki Paladi, agak heran
ketika merasakan cambuknya tertahan di udara. Segera dibalik-kan tubuhnya.
Tampak oleh prajurit itu apa yang menyebabkan cambuknya tertahan. Ujung cambuk
itu ternyata tergenggam di tangan seorang pemuda ber-pakaian kuning.
"Keparat…!" geram
prajurit bercambuk itu. Dengan sekuat tenaga cambuknya dihentakkan. Tapi
walaupun telah mengerahkan seluruh tenaga, tetap saja cambuk itu tidak
bergeming.
"Uh…uhhh...!"
Terdengar suara mengeluh dari
mulut prajurit itu, dalam upayanya menarik cambuk itu. Namun tetap saja cambuk
itu sama sekali tidak bergeming. Padahal nampak jelas olehnya kalau pemuda
berpakaian kuning itu sepertinya tidak mengerahkan tenaga sama sekali! Wajah
pemuda itu pun biasa saja. Tidak merah padam penuh otot-otot yang menggembung
seperti dirinya!
Mendadak pemuda bercambang lebat
itu melepaskan cekalan pada cambuknya. Padahal saat itu, si prajurit tengah
mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik kembali cambuknya. Akibatnya pun
sudah bisa diduga! Tubuh prajurit itu terjengkang ke belakang, terbawa
tenaganya sendiri.
Brukkk...!
Prajurit itu menyeringai
kesakitan ketika bokongnya menghantam tanah dengan keras. Tentu saja hal ini
mem-buat prajurit itu menjadi naik pitam. Bergegas dia bangkit, dan langsung
melecutkan cambuknya. Tapi kali ini tidak ke arah Ki Paladi, melainkan ke arah
pemuda berpakaian kuning.
Pemuda berpakaian kuning itu
mendengus. Kemudian tangannya diulurkan, menangkis lecutan cambuk itu.
Tarr!
Keras dan telak sekali ujung
cambuk itu mengenai tangan pemuda berpakaian kuning. Luar biasa! Tidak nampak
ada tanda-tanda kalau pemuda itu menderita kesakitan. Bahkan dengan kecepatan
yang luar biasa, tangannya bergerak. Dan sesaat kemudian, jari jemari tangan
pemuda berpakaian kuning itu telah men-cengkeram ujung cambuk.
"Hih...!"
Pemuda bercambang lebat itu
menggerakkan tangan menghentak. Hebat sekali! Tubuh prajurit itu kontan
ter-lempar ke depan, melewati kepala pemuda berpakaian kuning.
"Aaa...!"
Prajurit itu berteriak ngeri
tatkala mengetahui tubuhnya terlempar ke udara. Seketika itu juga, pegangan
pada cambuknya dilepaskan.
Brukkk...!
Suara berdebuk keras kembali
terdengar, begitu tubuh prajurit bercambuk itu jatuh dengan kerasnya di tanah.
Tapi kali ini, prajurit itu tidak langsung bangkit. Dia meng-geliat-geliat di
tanah. Dari mulutnya terdengar rintihan kesakitan.
Tentu saja Rupangga dan para
prajurit lainnya kaget bukan main. Sungguh sama sekali tidak disangka, kalau
prajurit bercambuk itu dapat dirobohkan dengan begitu mudah oleh pemuda
berpakaian kuning.
“Tangkap pengacau ini!" perintah
Rupangga keras pada para prajurit yang berada di kereta, seraya menudingkan
telunjuknya ke arah pemuda berpakaian kuning.
Tanpa menungu di perintah dua
kali, tiga orang prajurit yang semula hanya berdiam diri saja di atas kereta
kuda, segera berloncatan turun.
Srattt...! Srattt...!
Sinar-sinar terang menyilaukan,
langsung berpendar ketika prajurit-prajurit
itu mencabut goloknya. Dan langsung mengurung pemuda berpakaian kuning. Suara
berdesing nyaring terdengar, begitu golok-golok itu berkelebat menyambar pemuda
itu.
Lagi-lagi pemuda berpakaian
kuning hanya mendengus. Tanpa ragu-ragu lagi, segera dipapaknya kelebatan golok
yang menyambar ke arahnya dengan tangan kosong.
Takkk, takkk, takkk...!
Terdengar suara nyaring begitu
golok-golok itu ber-benturan dengan lengan pemuda berpakaian kuning.
Seolah-olah yang beradu dengan golok-golok itu bukan tangan manusia yang
terdiri daging dan tulang, melainkan sepotong baja yang amat kuat.
Tiga orang prajurit itu terkejut
bukan kepalang. Seketika itu juga serangan mereka terhenti. Dan kekagetan
mereka bertambah besar begitu melihat apa yang terjadi pada mata golok mereka.
Mata golok golok itu gompal!
"Iblis...!" desis salah
seorang dari tiga prajurit itu. Perasaan ngeri membayang di wajahnya. Tanpa
sadar sepasang matanya menatap ke arah kedua tangan pemuda berpakaian kuning.
Seketika itu juga sepasang matanya semakin membelalak lebar. Tangan pemuda
ber-cambang lebat itu ternyata memang agak berbeda dengan tangan manusia biasa.
Kedua tangan pemuda itu menyorotkan sinar kehitaman. Kedua rekannya yang juga
menatap tangan pemuda berpakaian kuning itu sama-sama terperanjat.
Semua kejadian ini tak luput dari
perhatian Rupangga. Dan punggawa ini pun dilanda kekagetan yang serupa.
"Siapa kau, Anak Muda?"
tanya Rupangga. Sepasang matanya merayapi wajah pemuda yang berdiri tak jauh di
hadapannya. "Sungguh berani kau menentang pasukan kerajaan!"
Pemuda berpakaian kuning itu
hanya tersenyum sinis. "Aku? Aku..., Pendekar Tangan Baja! Aku tidak
peduli
siapa kalian! Yang jelas, aku
tidak bisa tinggal diam, melihat kekejaman di depan mataku!" sahut pemuda
ber-pakaian kuning itu tegas.
Dua alis Rupangga berkerut.
Sekarang dia mengerti, mengapa kedua tangan pemuda itu begitu luar biasa. Dari julukannya,
punggawa itu sudah bisa memaklumi kekuatan tangan pemuda itu
"Kuperingatkan kau, Anak
Muda. Jangan sekali-kali ber-tindak sok pahlawan di depan kami. Kau tahu apa
akibat perbuatanmu? Kau akan menjadi musuh kerajaan! Kau akan jadi buruan
tentara Kerajaan!" gertak Rupangga.
“Tidak usah menggertakku,
Punggawa!" sahut pemuda berpakaian kuning yang ternyata berjuluk Pendekar
Tangan Baja itu. "Perlu kau ketahui, untuk membela kebenaran dan melawan
kelaliman, aku tidak takut menghadapi apa pun!"
"Sombong!" teriak
Rupangga keras. Wajahnya langsung memerah menahan amarah yang bergolak di
dadanya. Punggawa ini memang mempunyai sifat pemarah, maka tidak aneh jika
kemarahannya langsung bergolak begitu melihat sikap Pendekar Tangan Baja.
“Tangkap pemberontak ini!"
perintah Rupangga keras. Kedua tangannya langsung bergerak ke punggung.
Srattt, srattt...!
Sinar terang berkilauan, begitu
punggawa ini meloloskan sepasang pedangnya Dan secepat kedua pedang itu
terhunus, secepat itu pula tubuhnya meluruk ke arah Pendekar Tangan Baja,
menyusul anak buahnya yang telah menyerang lebih dulu.
Pendekar Tangan Baja tidak
menjadi gugup melihat hujan serangan yang mengancamnya. Sekali lihat saja
pemuda berpakaian kuning ini tahu kalau di antara ke empat serangan itu,
serangan Rupanggalah yang paling berbahaya. Serangan punggawa ini memang tidak
bisa disamakan dengan serangan anak buahnya. Serangan Rupangga mengandung
tenaga dalam dan kecepatan jauh di atas keempat prajurit itu.
Meskipun Rupangga melakukan penyerangan belakangan dan juga
jaraknya dengan Pendekar Tangan Baja paling jauh, tapi serangannya lebih dulu
tiba daripada serangan anak buahnya.
Wuk, wuk...!
Angin cukup keras telah lebih
dulu menyambar, sebelum serangan kedua pedang Rupangga tiba.
Pendekar Tangan Baja rupanya
tidak ingin bertindak setengah-setengah. Segera saja kedua tangannya diulurkan, memapak
sepasang pedang yang mengancam-nya. Dan secepat itu pula mencengkeramnya.
Tappp, tappp...!
Tak pelak lagi sepasang pedang
Rupangga tercekal pemuda berpakaian kuning itu. Dan sebelum punggawa itu
berbuat sesuatu, kaki kanan Pendekar Tangan Baja me-luncur cepat ke perutnya.
Wut..! Bukkk!
"Hugh...!"
Rupangga memekik tertahan.
Tubuhnya kontan ter-jengkang ke belakang ketika tendangan Pendekar Tangan Baja
telak dan keras menghantam perutnya. Seketika itu sepasang pedangnya terlepas
dari genggaman. Rasa mules dan mual yang amat sangat menyerang punggawa ini.
Untung bagi Rupangga. Pendekar
Tangan Baja tidak mengerahkan seluruh tenaga dalamnya sewaktu melontar-kan
tendangan. Kalau tidak, punggawa ini tentu sudah tidak bernyawa lagi. Walaupun
begitu, selama beberapa saat Rupangga tidak mampu bangkit.
***
Baru saja Pendekar Tangan Baja merobohkan
Rupangga, serangan tiga batang golok dari anak buah punggawa itu telah datang
bertubi-tubi bagaikan hujan. Tapi, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang berada
jauh di atas lawan-lawannya, tidak sulit bagi Pendekar Tangan Baja untuk
mengelak. Lincah laksana seekor kera, tubuhnya menyelinap di antara kelebatan
sinar golok yang menghujani.
Tidak hanya itu saja yang dilakukan
oleh Pendekar Tangan Baja. Kedua tangannya pun bergerak cepat. Sesaat kemudian
terdengar pekik kesakitan susul-menyusul, diiringi robohnya tubuh para prajurit
itu satu persatu. Pendekar Tangan Baja memandangi lima sosok yang masih
terkapar sambil merintih-rintih kesakitan. "Bagaimana Punggawa? Masih
penasaran?" tanya pemuda berpakaian kuning sambil tersernyum sinis.
Rupangga bangkit tertatih-tatih. Sepasang matanya menatap Pendekar Tangan Baja
penuh dendam.
"Kali ini kau menang,
Pendekar Tangan Baja! Tapi, ingat! Tak lama lagi kau akan merasakan
pembalasanku!" ancam punggawa itu.
Setelah mengucapkan ancaman yang
hanya ditanggapi pemuda berpakaian kuning sambil tertawa, punggawa itu berjalan
menuju kereta.
"Bangun semua, kerbau-kerbau
dungu! Kita kembali ke kotaraja!" teriak Rupangga keras.
Keempat orang prajurit itu pun
bangkit, kemudian melangkah cepat ke arah kereta, walaupun agak tertatih-tatih.
"Paladi!" ucap Rupangga
lagi sambil memandang sang kepala desa, sebelum kereta kuda bergerak.
Kepala desa yang sial itu pun
menoleh.
"Kau dan seluruh penduduk
desa ini pun akan menerima akibatnya!" ancam punggawa itu lagi.
Seketika itu juga wajah kepala
desa itu memucat. Ki Paladi kenal betul siapa itu Rupangga. Orang yang
mempunyai sifat pemarah dan pendendam. Punggawa ini tidak akan pemah membiarkan
orang menghinanya.
“Hiya...! Hiyaaa...!"
Dua ekor kuda penarik kereta itu
pun segera berlari cepat, begitu kusir kereta itu melecutkan cambuknya.
Debu mengepul tinggi begitu
kereta kuda itu bergerak meninggalkan tempat itu. Dua pasang mata melepas
kepergian kereta itu. Sepasang mata yang bersinar tajam milik Pendekar Tangan
Baja, dan sepasang mata yang menyorotkan sinar kecemasan milik Ki Paladi.
"Mengapa kau menolongku,
Anak Muda?" tanya Ki Paladi ketika kereta kuda itu sudah tidak terlihat
lagi.
Sepasang mata kepala desa ini
menatap tajam wajah pemuda berpakaian kuning di hadapannya.
Pendekar Tangan Baja terlonjak
kaget. Aneh, pertanyaan laki-laki berpakaian putih ini terdengar penuh
penyesalan. Sedikit pun tidak nampak rasa terima kasih mendapat pertolongan.
Beberapa saat lamanya pemuda berpakaian kuning hanya berdiri seperti patung.
Tidak tahu harus berkata apa.
"Kau tahu, Anak Muda.
Perbuatanmu hanya akan mem-bawa bencana bagi seluruh penduduk desa ini!"
Jelas Ki Paladi
Keras dan tajam sekali suara
kepala desa itu. Tak heran jika Pendekar Tangan Baja yang memang mempunyai
sifat keras kepala jadi bangkit emoslnya.
"Jadi, kau lebih suka kalau
kubiarkan prajurit-prajurit itu menyiksamu?!" tanya pemuda berpakaian
kuning setengah menyindir.
"Ya!" tandas Ki Paladi.
Tentu saja jawaban yang sama
sekali tidak disangkanya itu membuat Pendekar Tangan Baja terkejut. Beberapa
saat pemuda berpakaian kuning ini tercenung.
"Mengapa?" tanya
Pendekar Tangan Baja setelah ber-hasil menenangkan hati.
Ki Paladi menarik napas panjang
kemudian dihembus-kannya kuat-kuat. Seolah-olah dengan berbuat seperti itu,
keresahan hatinya dapat lenyap.
"Aku rela disiksa mereka
daripada wargaku mengalami nasib yang lebih buruk lagi...," desah kepala
desa itu perlahan. Sepasang matanya menerawang jauh ke langit.
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Ki"
"Lebih baik kau tidak usah
tahu, Anak Muda," tandas Ki Paladi.
"Ki? Jangan membuatku
penasaran! Jelaskan maksud ucapanmu tadi!" sentak Pendekar Tangan Baja
keras. Sepasang matanya menatap tajam wajah laki-laki setengah baya berpakaian
putih itu.
"Kau memang berotak bebal!
Perlukah kujelaskan lagi akibat tindakanmu tadi?!” sergah kepala desa itu tak
kalah keras.
Merah wajah pemuda berpakaian
kuning mendengar ucapan Ki Paladi. Kemarahannya pun bangkit. Tapi, Pendekar
Tangan Baja mencoba menahan amarahnya, meskipun dadanya serasa akan meledak
akibat emosi yang bergolak.
"Kau tahu, Pendekar Tangan
Baja! Kalau saja kau tidak campur tangan dalam urusan ini, paling-paling hanya
aku yang mereka siksa. Tapi karena kau telah campur tangan, maka semua penduduk
desa ini akan menanggung akibatnya. Rupangga dan anak buahnya pasti akan
kembali kemari! Bukankah kau telah mendengar ancaman tadi?" sambung laki-laki
setengah baya berpakaian putih itu berapi-api.
Pendekar Tangan Baja terkejut
bukan main. Sungguh di luar dugaan kalau campur tangannya akan membawa akibat
yang demikian besar. Perlahan emosinya pun mulai surut.
"Aku mengaku salah, Ki.
Tapi, percayalah. Kalau mereka datang lagi, aku yang akan menghadapinya!"
tegas pemuda berpakaian kuning.
"Kuhargai bantuan yang kau
tawarkan itu, Anak Muda," ucap Ki Paladi lagi. Suaranya kini telah mulai
melunak. Memang kemarahannya telah agak mereda begitu men-dengar ucapan pemuda
berpakaian kuning itu. “Tapi, sayang. Aku tidak bisa menerimanya."
"Mengapa, Ki?!" tanya
Pendekar Tangan Baja. Sepasang alis pemuda berpakaian kuning ini berkerut
dalam. Perasaan heran membayang jelas di wajahnya.
"Sebelumnya aku mohon maaf,
Anak Muda. Bukannya aku merendahkan kemampuanmu. Tapi, perlu kau ketahui, lawan
yang akan kau hadapi sangat banyak, dan memiliki kepandaian tinggi."
"Aku tidak takut Ki!"
selak Pendekar Tangan Baja cepat. "Aku percaya kau tidak takut, Anak Muda.
Tapi bagaimana dengan para penduduk? Bisakah kau melindungi sekian banyak
penduduk desa ini, sementara kau harus menghadapi lawan-lawan tangguh."
Pendekar Tangan Baja terdiam.
Disadari kebenaran yang terkandung dalam ucapan kepala desa itu.
"Aku mohon dengan amat
sangat, kau bersedia menyingkir dari desa ini, Anak Muda," pinta Ki
Paladi. Sepasang matanya menatap wajah pemuda berpakaian kuning lekat-lekat
meminta pengertian pemuda itu.
"Hhh...!" desah
Pendekar Tangan Baja setelah ter-menung sekian lamanya "Baiklah. Kalau
memang itu kemauanmu, Ki. Aku akan pergi. Tapi, bagaimana kalau mereka datang
lagi?"
"Tidak usah kau pikirkan.
Anak Muda. Aku yakin akan dapat mengatasinya," sahut Ki Paladi. Meskipun
begitu, Pendekar Tangan Baja menangkap adanya nada keraguan dalam ucapan kepala
desa ini.
"Baiklah, Ki." Pendekar
Tangan Baja akhimya terpaksa mengalah.
“Terima kasih atas pengertianmu,
Anak Muda." Pendekar Tangan Baja hanya tersenyum pahit. Dilangkahkan
kakinya meninggalkan tempat itu. Kepala desa menatap punggung pemuda berpakaian
kuning hingga lenyap di kejauhan.
"Hhh...! Mudah-mudahan saja,
aku dapat mengatasi-nya!" gumam Ki Paladi pelan. Lalu dilangkahkan kakinya
menuju rumahnya. Kepala desa ini ingin mengobati luka-luka akibat cambukan prajurit
tadi
***
2
Malam datang menjelang. Kegelapan
mulai menyelimuti Desa Bakung. Suasana sepi pun mencekam sehuruh desa. Angin
dingin berhembus menggigilkan, menusuk sampai ke tulang sumsum. Rasanya
mustahil kalau ada penduduk yang keluar rumah di malam seperti ini.
Namun, tak seorang penduduk pun
tahu kalau di malam dingin ini, berkelebatan beberapa sosok bayangan yang
bergerak cepat menuju desa. Menilik dan gerakan mereka yang rata-rata cukup
gesit itu, bisa diperkirakan kalau sosok-sosok bayangan itu memiliki kepandaian
yang cukup tinggi.
Dalam keremangan malam,
sosok-sosok bayangan yang berkelebatan tadi
tak ubahnya hantu-hantu yang bergentayangan mencari mangsa.
Tak lama kemudian, sosok-sosok
bayangan itu telah memasuki mulut Desa Bakung. Sosok-sosok bayangan itu
rata-rata berwajah kasar. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang! Dan
begitu memasuki desa, mereka berpencar. Berkelompok empat-empat, menuju rumah
rumah penduduk.
Srattt, srattt...!
Sinar terang berkilatan
susul-menyusul begitu orang-orang yang berwajah kasar itu menghunus senjatanya
masing-masing. Dan dengan senjata terhunus mereka bergerak mendekati rumah
warga desa.
Brakkk...!
Sebuah rumah yang letaknya paling
dekat dengan mulut Desa Bakung menjadi sasaran pertama. Daun pintu rumah itu
langsung hancur berantakan, mengeluarkan suara hiruk pikuk ketika sebuah kaki
kokoh menghantamnya.
Karuan saja suara ribut-ribut itu
membuat penghuni rumah tersentak bangun. Tapi, gerombolan orang kasar itu tidak
memberi kesempatan. Begitu pintu hancur, mereka bergegas menerobos masuk. Dan
langsung membabatkan senjatanya pada penghuni rumah yang baru saja beranjak
keluar kamar.
Cappp, ceppp...!
"Aaakh...!" "Aaa...!"
Terdengar jerit kematian saling
susul. Diiringi robohnya pemilik rumah yang sial itu dengan tubuh bermandikan
darah. Penduduk yang sial itu menggelepar-gelepar sejenak sebelum akhimya diam
tidak bergerak lagi. Tewas!
Malam yang begitu hening membuat
suara jeritan itu menggema ke seluruh desa. Tentu saja suara jerit kematian itu
mengejutkan penduduk yang berada di sekitar rumah itu. Tapi belum sempat mereka
berbuat sesuatu, gerombolan orang-orang kasar lainnya tiba di rumah mereka.
Dan seperti kejadian di rumah
yang pertama. Peristiwa serupa pun terjadi di rumah-rumah yang lain.
"Bakar...!"
Perintah seorang yang bertubuh
tinggi besar, dan berambut jarang, begitu melihat anak buahnya telah keluar
dari rumah yang penghuninya telah dibantai. Keras dan tegas suaranya. Rupanya
orang ini adalah pemimpin rombongan.
Begitu si tanggi besar ini
selesai mengucapkan perintah, puluhan orang berwajah kasar itu pun segera
bergerak cepat. Obor-obor yang terpancang di tiap sudut rumah diambil. Lalu
dilemparkan ke rumah-rumah penduduk yang sebagian besar berdinding bilik.
Obor-obor itu tidak hanya dilemparkan ke rumah-rumah yang penduduknya telah
terbantai, tapi juga ke rumah-rumah yang belum mereka masuki.
Akibatnya sudah bisa diduga.
Dalam sekejap saja rumah-rumah itu pun dilalap api yang lama-kelamaan semakin
membesar dan membesar. Kepanikan pun segera terjadi. Para penduduk berlarian
keluar rumah. Tapi, di luar ternyata telah menghadang bahaya yang tak kalah mengerikan.
Puluhan orang-orang kasar itu
enak saja membabatkan senjatanya ke sana kemari. Tentu saja para penduduk yang
tengah sibuk menyelamatkan diri dari amukan api, tidak siap menghadapi bahaya
yang tidak terduga itu. Dalam waktu sekejap. Desa Bakung menjadi arena
pembantaian yang mengerikan!
Jerit kesakitan dari orang yang
terluka, teriakan ketakutan dari wanita-wanita, dan tangisan anak-anak berbaur
menjadi satu, di tengah tengah kobaran api yang membumbung tinggi ke udara.
Suara hiruk-pikuk dan jeritan
yang terdengar susul menyusul, sayup sayup sampai di telinga Ki Paladi.
Laki-laki setengah baya berpakaian putih ini terkejut bukan main. Bergegas
kepala desa ini berlari ke luar rumahnya. Kontan sepasang mata kepala desa ini
terbelalak, begitu melihat api yang membumbung tinggi ke udara. Buru-buru Ki
Paladi berlari menuju ke arah asal api.
Belum juga kepala desa itu tiba
di tempat kejadian, langkahnya terhalang oleh para penduduk yang berlari-lari
ketakutan. Sementara agak jauh di belakang mereka, terlihat puluhan sosok
bergerak terus memasuki desa. Di sepanjang perjalanan, mereka membantai para
penduduk yang ditemui sambil terus membakari rumah.
Ki Paladi menggertakkan gigi.
Laki-laki setengah baya berpakaian putih ini marah bukan kepalang melihat
kejadian ini. Cepat dia melesat menuju puluhan orang kasar yang masih menyebar
maut itu.
Tapi langkah kaki kepala desa ini
segera terhenti, ketika tiba-tiba sosok bayangan berkelebat menghadang di
hadapannya. Langkah Ki Paladi terpaksa dihentikan. Sepasang matanya menatap
tajam pada sosok yang berdiri menghadang.
Sosok itu ternyata seorang
laki-laki tinggi besar berambut jarang dan berkulit putih. Pimpinan gerombolan!
"Ha ha ha...! Mau ke mana
kau, Paladi?!" tegur laki-laki tinggi besar itu kasar.
Sepasang mata Ki Paladi
terbelalak, begitu mengenan laki-laki tinggi besar di hadapannya. Tokoh itu
adalah Gajah Putih. Bersama adik kembamya yang berjuluk Gajah Hitam, laki-laki
tinggi besar ini menjadi kepala rampok yang kejam dan ganas. Biasanya
gerombolan ini beroperasi di hutan-hutan. Tapi, mengapa sekarang bisa datang ke
sini? tanya Ki Paladi dalam hati. Perasaan bingung pun melanda hati Kepala Desa
Bakung ini.
"Gajah Putih! Tidak tahukah
akibat dari perbuatanmu ini?! Gusti Prabu akan mengerahkan pasukan untuk
mem-basmi kau dan anak buahmu!" ucap Ki Paladi mencoba menggertak.
"Ha ha ha...!" Gajah
Putih tertawa bergelak begitu Kepala Desa Bakung itu menghentikan ucapannya.
"Lucu! Lucu sekali! Gusti Prabu tidak mungkin akan menangkap-ku! Tahukah
kau mengapa aku datang ke sini?"
Laki-laki setengah baya
berpakaian putih menggeleng-kan kepalanya.
"Aku datang ke sini, atas
perintah Gusti Prabu!" tandas Gajah Putih tegas.
"Apa?!" Ki Paladi
terkejut bukan alang kepalang.
"Kau terkejut Paladi? Aku
datang ke sini, untuk menangkap Pendekar Tangan Baja. Hidup atau mati.
Sekaligus membumihanguskan desa ini! Semua ini atas perintah Gusti Prabu
Jayalaksana!" jelas Gajah Putih.
"Bohong! Kau bohong, Gajah
Putih!" sentak Ki Paladi dengan wajah pucat
"Ha ha ha..! Aku tidak
peduli, kau mau percaya atau tidak! Cepat beritahukan tempat pendekar keparat itu!"
bentak Gajah Putih.
"Aku tidak tahu. Pemuda itu
sudah pergi," sahut kepala desa itu.
"Kalau begitu, sekarang
giliranmu dulu, Paladi! Kau dan seluruh penduduk desa ini! Hiyaaat. !"
Setelah menyelesaikan
kata-katanya, laki-laki tinggi besar yang berjuluk Gajah Putih itu langsung
menerjang sang kepala desa. Kepalannya yang besar, meluncur deras ke arah
kepala Ki Paladi. Angin berdesir keras mengiringi tibanya pukulan itu.
Wuuuttt..!
Tapi Ki Paladi ternyata bukanlah
orang lemah. Dengan sebuah gerakan sederhana, digeser kakinya ke kanan.
Sehingga serangan tinju Gajah Putih mengenai tempat kosong. Lewat setengah
jengkal dari pinggang laki-laki tua berpakaian putih itu.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan Ki Paladi. Pada saat itu juga, kepala desa ini mengayunkan
kakinya ke arah dada lawan.
Bukkk! "Eh...?!"
Ki Paladi memekik kaget.
Tendangannya yang telak mendarat pada sasarannya, membalik. Malah sekujur
kakinya dirasakan ngilu bukan kepalang. Seolah-olah yang ditendangnya tadi
bukanlah dada manusia, melainkan segumpal baja kuat, sehingga membuat tenaga tendangannya tak berarti. Dan belum lagi hilang rasa
terkejutnya, tangan kanan Gajah Putih menyambar kakinya.
Tappp...! "Akh...!"
Ki Paladi terkejut bukan main
tatkala menyadari pergelangan kakinya telah tertangkap Gajah Putih.
Laki-laki setengah baya
berpakaian putih ini sadar kalau dirinya berada dalam bahaya. Cepat-cepat
ditarik kakinya.
Tapi, ternyata cengkeraman tangan
Gajah Putih terlalu kuat. Jangankan terlepas, bergeming pun tidak! Kepala Desa
Bakung ini pun jadi ngeri bukan main. Ki Paladi tahu kalau nyawanya kini
terancam. Sekali saja Gajah Putih menggerakkan jari-jari mencengkeram, atau
membetot kakinya, celakalah dia.
Tapi di saat kritis bagi Ki
Paladi, sesosok bayangan kuning melesat cepat. Dan langsung mengirimkan pukulan
keras ke perut laki-laki tinggi besar berambut jarang itu.
Bukkk!
"Hugh...!" .
Tubuh Gajah Putih tertunduk. Rasa
mual dan mules yang amat sangat melanda perutnya. Seketika itu juga cengkeraman
pada kaki Ki Paladi terlepas.
Tanpa membuang-buang waktu kepala desa itu langsung melompat mundur. Tahu-tahu di
sebelah Ki Paladi telah berdiri seorang pemuda berpakaian kuning, dan
bercambang lebat
"Pendekar Tangan Baja,"
desis Ki Paladi memanggil pemuda itu.
Sang penolong yang memang
Pendekar Tangan Baja itu hanya melempar seulas senyum
***
Sementara itu Gajah Putih yang
kini sudah berhasil memulihkan rasa sakit di perutnya, segera berdiri tegak
kembali. Sepasang matanya menatap penuh kemarahan pada pemuda berpakaian kuning
yang berdiri di depannya. Tapi di samping perasaan marahnya, perasaan kaget pun
melanda hatinya. Pemuda berpakaian kuning itu mampu membuat perutnya sakit,
hanya dengan sekali pukul. Padahal selama ini belum pemah seorang lawan yang
mampu menembus kekerasan kulit tubuhnya.
"Keparat!" geram
laki-laki tinggi besar berambut jarang itu. "Jadi, kau orang yang berjuluk
Pendekar Tangan Baja?!" “Tidak salah!" sahut pemuda berpakaian kuning
seraya menganggukkan kepalanya. Gajah Putih menggeram keras.
"Kalau begitu, kau harus
mampus di tanganku! Hiyaaa...!"
Laki-laki tinggi besar berambut
jarang itu menerjang Pendekar Tangan Baja. Kedua tangannya yang terkepal,
mengirimkan serangan beruntun pada dada, ulu hati, dan perut pemuda berpakaian
kuning.
Angin menderu dahsyat mengawali
tibanya serangan Gajah Putih. Tapi pemuda berpakaian kuning itu seperti tidak
mempedulikannya. Bahkan kepalanya menoleh ke arah Ki Paladi.
"Lebih baik kau bantu para
penduduk, Ki," ucap Pendekar Tangan Baja pada Ki Paladi yang berdiri
terpaku, menonton pertarungan kedua tokoh itu.
Tentu saja sikap pemuda ini
membuat Gajah Putih ber-tambah murka. Karena dilihatnya pemuda berpakaian
kuning itu sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya!
Memang bagi Pendekar Tangan Baja,
serangan yang dilancarkan Gajah Putih tidak terlalu berbahaya. Gerakan
laki-laki tinggi besar berambut jarang ini terlalu lamban baginya. Hanya saja
setiap serangannya mengandung tenaga dalam penuh.
"Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, pemuda
berpakaian kuning menggerakkan kedua tangannya yang terkepal, memapak pukulan
Gajah Putih.
Dukkk, dukkk...!
Suara berderak keras terdengar
ketika buku-buku tulang kedua orang ini berbenturan. Hebat akibatnya. Baik
Pendekar Tangan Baja maupun Gajah Putih sama-sama terjajar ke belakang. Tenaga
dalam kedua orang ini ternyata berimbang.
Semula begitu melihat lawan
menangkis serangannya, Gajah Putih tertawa dalam hati. Laki-laki tinggi besar
ini sudah dapat meramalkan kalau kedua tangan pemuda itu akan patah-patah bila
bertemu lengannya. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hatinya begitu melihat
kedua tangan pemuda berbaju kuning itu tidak apa-apa.
Bukan hanya Gajah Putih saja yang
terkejut Pendekar Tangan Baja pun mengalami hal yang serupa. Sungguh tidak
disangkanya kalau tenaga laki-laki tinggi besar berambut jarang ini begitu
kuatnya. Sadarlah pemuda berpakaian kuning kalau kali ini dia tidak boleh
bertindak main-main. Tapi walau bagaimana pun, Gajah Putih harus secepatnya ditundukkan,
agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi.
Meskipun tengah bertempur,
Pendekar Tangan Baja sempat melihat Ki Paladi tengah bertarung menghadapi
gerombolan orang-orang berwajah kasar itu. Meskipun hanya melirik sekilas,
Pendekar Tangan Baja dapat mengetahui kalau kepala desa itu tengah terdesak.
Laki-laki setengah baya berpakaian putih itu tengah meng-hadapi keroyokan empat
orang anggota gerombolan pengacau. Sedangkan sisa gerombolan masih menyebar
maut, sambil terus melempari obor ke rumah-rumah pen-duduk. Warga desa yang
memiliki sedikit kepandaian, men-coba mengadakan perlawanan. Tapi usaha mereka
sia-sia belaka. Gerombolan orang kasar itu dengan mudah me-matahkan perlawanan
mereka, dan membantainya.
Ki Paladi menggertakkan gigi.
Laki-laki setengah baya berpakaian putih
ini sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya. Tapi ternyata empat orang lawannya
ter-lalu tangguh. Hal ini membuat kepala desa ini menjadi gelisah bukan main.
Sementara Pendekar Tangan Baja dilihatnya masih sibuk bertarung dengan Gajah
Putih. Tidak ada lagi orang yang dapat diandalkan untuk menghadapi gerombolan
liar itu.
Mendadak, pendengaran Ki Paladi
mendengar suara teriakan teriakan kesakitan, disusul dengan robohnya anggota
gerombolan itu satu persatu. Tentu saja hal ini membuat Ki Paladi kaget. Sambil
terus menghadapi empat orang pengeroyoknya, sudut matanya melirik.
Tampak oleh Ki Paladi, seorang
pemuda berpakaian ungu dan berambut putih keperakan telah berdiri di situ. Luar
biasa! Pemuda itu hanya mengibas-ngibaskan tangan-nya dengan sikap sembarangan
saja. Tapi akibatnya, gerombolan perampok itu berpentalan seperti dilanda angin
badai yang amat kuat.
Dalam waktu singkat, belasan
anggota gerombolan sudah berpentalan tak tentu arah. Dan hebatnya, setiap
anggota yang berpentalan itu tidak mampu bangkit lagi. Meskipun begitu, tidak
ada di antara mereka yang tewas!
Sementara di lain arena, Pendekar
Tangan Baja sudah menguasai keadaan. Berkat ilmu meringankan tubuh, dan
kecepatan geraknya yang jauh di atas Gajah Putih, pemuda berpakaian kuning itu
dapat menekan lawannya. Tidak sampai delapan jurus bertarung, Gajah Putih sudah
ter-desak hebat.
Gajah Punh meraung murka.
Berkali-kali laki-laki tinggi besar dan berambut jarang ini dibuat
pontang-panting menyelamatkan selembar nyawanya. Gajah Putih tidak berani
menerima setiap pukulan yang dilontarkan pemuda berpakaian kuning itu. Tapi
laki-laki tinggi besar dan berambut jarang berani membiarkan kaki Pendekar
Tangan Baja menghantam sekujur tubuhnya.
Gajah Putih memang mempunyai
kulit tubuh yang kuat seperti badak. Biasanya laki-laki tinggi besar dan
berambut jarang ini selalu memamerkan kekuatan tubuhnya, dan menerima setiap
serangan lawannya. Tapi menghadapi Pendekar Tangan Baja, dia tidak berani
mengandalkan kekuatan tubuhnya. Kehebatan tangan pemuda ber-pakaian kuning itu
sudah dia rasakan ketika menghantam perutnya tadi.
"Hiyaaat..!"
Seraya mengeluarkan teriakan nyaring. Pendekar Tangan Baja
melancarkan sebuah pukulan ke arah perut. Cepat bukan main gerakannya. Cepat
dan tidak terduga-duga. Gajah Putih terkejut bukan main. Sedapat mungkin
laki-laki tinggi besar dan berambut jarang ini berusaha mengelak. Tapi...
Bukkk! "Hukh...!"
Gajah Putih melenguh tertahan.
Tubuhnya terbungkuk seketika. Perutnya terasa mual dan mules bukan main. Dan di
saat itulah serangan susulan dan Pendekar Tangan Baja kembali menyambar. Dua
jari tangan pemuda ber-pakaian kuning itu menegang kaku dan menyambar cepat ke
arah dahi.
Wuuuttt...! Crottt..!
"Aaakh...!"
Gajah Putih menjerit memilukan.
Kedua jari Pendekar Tangan Baja amblas di dahinya. Cairan merah bercampur
cairan putih kental bermuncratan, ketika dahi laki-laki tinggi besar itu
tertembus dua jari pemuda berpakaian kuning. Tubuh laki-laki tinggi besar dan
berambut jarang itu menggelepar-gelepar sejenak. Sesaat kemudian diam, tak
bergerak untuk selamanya.
Sekilas Pendekar Tangan Baja
menatap Gajah Putih yang tergolek kaku di tanah. Baru setelah itu tubuhnya
kembali melesat. Kali ini ke arah Ki Paladi yang tengah terdesak oleh empat
orang lawannya.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara pemuda
berpakaian kuning itu mendarat di dekat Kepala Desa Bakung. Tangan dan kakinya
bergerak cepat.
"Akh...! Aaa...!"
Jerit kematian terdengar
susul-menyusul mengiringi robohnya keempat tubuh tanpa nyawa di tanah.
Ki Paladi segera melompat mundur
begitu melihat empat lawannya sudah roboh tidak bergerak lagi. Dan berbareng
dengan robohnya keempat pengeroyok Ki Paladi, pemuda berambut putih keperakan
itu sudah pula berhasil merobohkan anggota gerombolan perampok yang tersisa.
Berbeda dengan lawan yang
dihadapi Pendekar Tangan Baja, lawan yang berhadapan dengan pemuda berambut
putih keperakan itu tidak ada seorang pun yang tewas. Tapi usaha pemuda
berambut putih keperakan itu sia-sia belaka. Karena begitu orang-orang kasar
itu merasa tidak mampu melawan lagi, mereka bunuh diri!
Pemuda berambut putih keperakan
menghela napas ketika melihat semua lawan yang dirobohkan itu, semuanya mati
bunuh diri. Beberapa saat lamanya pemuda ini tercenung.
***
Sementara itu api yang berkobar
pun sudah mulai padam. Memang,
setelah pemuda berambut putih keperakan itu muncul para penduduk tidak
terganggu lagi oleh amukan gerombolan orang-orang kasar itu. Perhatian anggota
gerombolan itu, semua tertumpah pada pemuda yang lihai itu. Sehingga para
penduduk leluasa untuk menanggulangi kebakaran.
Ki Paladi beranjak menghampiri
pemuda berambut putih keperakan. Sepasang mata laki-laki tua berpakaian putih
itu merayapi sekujur tubuh pemuda di hadapannya. Dilihat juga sebuah guci arak
yang tersampir di punggung pemuda itu.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Anak Muda. Kalau tidak ada dirimu, entah apa yang terjadi dengan seluruh
penduduk desa ini." ucap Kepala Desa Bakung.
"Lupakanlah, Ki." sahut
pemuda berambut putih keperakan. Pelan dan halus suaranya "Apa yang
kulakukan ini adalah suatu hal yang biasa. Bukankah hidup di dunia ini kita
harus saling tolong menolong?"
Ki Paladi hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Pendekar Tangan Baja hanya
menggerakkan bagian atas bibimya. Entah apa maksudnya, hanya pemuda itu sendiri
yang tahu. Tapi yang jelas, Pendekar Tangan Baja diam-diam mengagumi ketinggian
ilmu yang dimiliki pemuda berambut putih keperakan itu.
"Kalau boleh kutahu, siapa
kau, Anak Muda? Dan ke mana tujuanrnu?" tanya Ki Paladi lagi.
"Namaku Arya, Ki. Aku pergi
ke mana saja kakiku melangkah. Kalau boleh kutahu, apakah yang terjadi di desa
ini, Ki?" tanya pemuda berambut putih keperakan yang ternyata adalah Arya
Buana alias Dewa Arak.
Ki Paladi tersenyum kecut.
"Sifatmu tidak jauh berbeda
dengan Pendekar Tangan Baja! Ataukah memang sifat semua orang muda begitu?
Selalu ingin mencampuri urusan orang lain?" sindir Kepala Desa Bakung itu.
Dewa Arak saling pandang dengan
Pendekar Tangan Baja. Bibir kedua pendekar
muda itu sama-sama menyunggingkan senyum.
“Tentu saja tidak semua, Ki. Yang
kucampuri hanya urusan-urusan yang di dalamnya ada ketidak adilan," sahut
Dewa Arak tandas.
Pendekar Tangan Baja
mengangguk-anggukkan kepala-nya, pertanda menyetujui ucapan Dewa Arak.
"Bisa kumengerti apa
maksudmu, Arya. Tapi, perlu kau ketahui, dalam urusan ini kuanjurkan kau dan
Pendekar Tangan Baja lebih baik tidak usah ikut campur," ucap Ki Paladi
memberi nasihat.
"Mengapa. Ki?" tanya
Pendekar Tangan Baja. Sepasang alis pemuda berpakaian kuning itu berkerut dalam
tanda kalau hatinya dilanda perasaan penasaran. "Kali ini aku mohon, kau
mau menjelaskan alasanmu, Ki. Jangan lagi berteka-teki."
Dewa Arak menatap wajah Ki Paladi
dan Pendekar Tangan Baja bergantian. Pemuda ini tidak paham maksud pembicaraan
kedua orang itu.
"Jadi, kejadian ini bukan
yang pertama kalinya. Pendekar Tangan Baja?" tanya pemuda berambut putih
keperakan itu.
"Benar, Arya," sahut
pemuda berpakaian kuning itu pelan. "Pagi tadi juga ada kejadian di desa
ini." Kemudian Pendekar Tangan Baja menceritakan semua kejadian yang
dialaminya.
"Apakah kejadian malam ini
ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi pagi, Ki?" tanya Dewa Arak.
"Hhh...!" Ki Paladi
menghela napas panjang.
Pelahan kepalanya terangguk.
Sementara Pendekar Tangan Baja menatap pemuda berambut putih keperakan itu
dengan sorot mata penuh pertanyaan. Memang belum dimengertinya maksud
pertanyaan Dewa Arak.
"Aneh...," gumam Dewa
Arak pelan. Dahi pemuda berambut putih keperakan itu berkemyit dalam. Jelas ada
sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Pendekar Tangan Baja dan Ki
Paladi menatap Dewa Arak.
"Apa yang aneh, Arya?"
tanya pemuda berpakaian kuning itu agak bingung. Sedangkan Ki Paladi hanya
terdiam.
"Bukankah pagi tadi kau
berurusan dengan prajurit-prajurit kerajaan, Pendekar Tangan Baja?" tanya
Arya tanpa mempedulikan pertanyaan pemuda berpakaian kuning itu.
"Ahhh...! Kau benar, Arya!
Mengapa aku begitu bodoh?!" sentak Pendekar Tangan Baja. Kini pemuda
berpakaian kuning itu mulai dapat meraba penyebab malapetaka di Desa Bakung
malam ini. Setelah berkata demikian, Pendekar Tangan Baja menatap wajah Ki
Paladi lekat-lekat. Sinar matanya menyiratkan keingintahuan yang mendalam.
"Panjang sekali ceritanya.
Mari ke rumahku. Akan kuceritakan semuanya, agar kalian berdua tidak penasaran
lagi!" ucap laki-laki tua berpakaian putih setelah tercenung beberapa saat
lamanya.
"Pardi!" panggil Kepala
Desa Bakung. Ditolehkan kepalanya ke arah kerumunan penduduk yang masih sibuk
memadamkan api yang mulai mengecil.
"Ya, Ki!" sahut sebuah
suara. Disusul dengan munculnya pemuda bertubuh kekar yang menyibak dari
kerumunan penduduk.
"Kau wakili aku mengurus
semua keadaan di sini," perintah Ki Paladi.
"Baik, Ki," pemuda
kekar yang bernama Pardi meng-anggukkan kepalanya.
Setelah Pardi berlalu, Ki Paladi
kembali mengalihkan perhatian kepada dua orang pemuda perkasa itu.
"Mari...," ucap kepala
desa mempersilakan, seraya men-dahului melangkah meninggalkan tempat itu.
Pendekar Tangan Baja dan Dewa Arak segera mengikuti laki-laki tua berpakaian
putih yang telah berjalan lebih dulu.
***
"Semula aku tidak ingin
menceritakannya pada kalian," ucap Ki Paladi membuka percakapan, setelah
ketiganya berada di ruang tengah yang cukup luas di rumah kepala desa.
Pendekar Tangan Baja dan Dewa
Arak hanya diam saja. Sedikit pun mereka tidak berusaha menyelak ucapan
laki-laki tua berpakaian putih itu. Meskipun begitu, pen-dengaran dan pikiran
mereka dipasang tajam-tajam, menyimak semua perkataan Ki Paladi.
"Aku sama sekali tidak
mengerti mengapa semua ini bisa terjadi," sambung laki-laki tua berpakaian
putih lagi. "Setahuku Gusti Prabu Jayalaksana adalah raja yang adil. Tidak
pernah Gusti Prabu memberatkan rakyatnya. Tapi..., beberapa pekan belakangan
ini..., banyak keputusan Gusti Prabu yang aneh. Dalam hal pajak, misalnya.
Pajak yang dibebankan Gusti Prabu pada rakyatnya terlalu mencekik leher!"
Ki Paladi menghentikan ceritanya
sejenak untuk meng-ambil napas. Sekaligus juga untuk melihat reaksi kedua
pemuda perkasa yang duduk di hadapannya. Tapi, baik Dewa Arak maupun Pendekar
Tangan Baja sama sekali tidak memberikan tanggapan. Rupanya kedua pemuda itu
ingin mendengarkan cerita itu dulu hingga selesai.
"Aku khawatir kalau keadaan
seperti ini terus berlarut-larut, rakyat akan memberontak," ucap Ki Paladi
meng-akhiri centanya.
Pendekar Tangan Baja dan Dewa
Arak saling pandang. Bahkan dahi Dewa Arak berkernyit. Suatu bukti nyata ada
hal yang mengganggu pikirannya.
"Bagaimana? Kalian masih mau
ikut campur tangan? Kalau menurutku, lebih baik kalian segera menyingkir dari
sini. Keluar dari wilayah Kerajaan Kamujang. Ingat, kalian berhadapan dengan
ribuan orang! Pikirlah baik-baik," ujar Ki Paladi menasihati.
“Terima kasih atas usulmu, Ki.
Tapi sayang, aku tidak dapat menerimanya. Aku telah telanjur mencampuri urusan ini.
Jadi mau tidak mau harus kuselesaikan hingga tuntas," tegas Dewa Arak.
"Kau hanya akan mengantar
nyawa saja, Arya. Sudah banyak pendekar yang mencoba menentang kelaliman Gusti
Prabu Jayalaksana. Tapi, hanya kematian yang mereka dapatkan. Kerajaan Kamujang
memiliki jago-jago istana yang memiliki kepandaian luar biasa!" laki-laki
tua berpakaian putih mencoba mencegah niat pemuda berambut putih keperakan itu.
"Bagus sekali, Arya!"
selak Pendekar Tangan Baja cepat "Mari kita bahu-membahu menentang
kekejaman raja lalim itu!"
Dewa Arak tersenyum mendengar
ucapan penuh semangat dari pemuda berpakaian kuning itu.
"Kau dengar sendiri, Ki?
Pendekar Tangan Baja tidak gentar! Demi membela kebenaran kami rela
mengorban-kan nyawa kami, Ki," tukas pemuda berbaju ungu itu.
"Hhh...! Terserahlah kalau
itu memang sudah menjadi tekad kalian," ujar Ki Paladi seraya menghela
napas panjang.
“Terima kasih, Ki," sahut
Dewa Arak dan Pendekar Tangan Baja berbarengan.
"Kudoakan semoga kalian
berhasil!" ucap Kepala Desa Bakung pelan. Suaranya lebih mirip desahan.
Pendekar Tangan Baja bangkit dari
duduknya Dewa Arak bangkit juga.
"Untuk kesuksesan kita,
Arya." ujar Pendekar Tangan Baja sambil mengulurkan tangan.
Dewa Arak tersenyum lebar seraya
menyambut uluran tangan pemuda berpakaian kuning itu. Dijabatnya tangan
Pendekar Tangan Baja erat-erat. Diam-diam pemuda berambut putih keperakan itu
merasa kagum ketika merasakan jari-jemari tangan pemuda di hadapannya. Sekilas
pandangan Dewa Arak singgah pada tangan Pendekar Tangan Baja. Kini pemuda
berambut putih keperakan maklum mengapa pemuda berpakaian kuning itu berjuluk
Pendekar Tangan Baja.
Jari jemari dan tangan pemuda ini
memang benar-benar lebih mirip baja ketimbang tangan manusia. Begitu kokoh dan
kuat!
"Kami permisi dulu,
Ki." ucap Dewa Arak seraya melepaskan genggaman tangannya. Kemudian
kakinya melangkah meninggalkan tempat itu. Tanpa banyak bicara Pendekar Tangan
Baja berjalan mengikuti.
Ki Paladi hanya menganggukkan kepalanya. Di pandanginya terus
tubuh dua orang pemuda itu hingga lenyap di kejauhan.
***
3
Bangunan tua itu memang besar dan
megah. Halamannya yang luas, terkurung pagar tembok tinggi dan kokoh. Tapi
terlihat kumuh dan tidak terawat. Apalagi letaknya memang terpencil, jauh di
dalam hutan. Entah siapa yang telah membangunnya. Yang jelas, sudah sejak lama,
bangunan yang terlihat menyeramkan itu tidak ditinggali orang lagi.
Tapi malam ini ternyata berlainan
dengan malam-malam biasanya. Dari dalam bangunan itu terdengar
bentakan-bentakan keras penuh kemarahan.
Ternyata di salah satu ruangan
telah berkumpul banyak orang. Mereka duduk bertebaran di lantai yang bersih.
Memang, sungguhpun dari luar terlihat tidak terawat, tetapi bagian dalam
bangunan tua itu ternyata terpelihara baik.
Sekitar dua tombak di hadapan
orang-orang yang duduk bertebaran, duduk seorang laki-laki setengah baya
ber-pakaian rompi coklat. Sebuah daun telinganya tidak terlihat.
Rupanya laki-laki setengah baya berpakaian
rompi coklat adalah pemimpin dari orang-orang ini. Dan rupanya sang Pemimpin
tengah marah-marah. Terbukti suara-suara yang dikeluarkannya sejak tadi selalu
keras bernada penuh kemarahan.
"Bodoh! Dungu! Hanya
membunuh satu orang saja, kalian tidak becus!" sang Ketua memaki.
Sementara di depannya berdiri
seorang berwajah kasar, berbibir tebal dan berkulit hitam dengan kepala
ditunduk-kan.
"Maafkan kami, Ketua. Kalau
saja tidak ada yang seorang lagi, mungkin kami berhasil membumihanguskan Desa
Bakung, sekaligus membunuh Pendekar Tangan Baja...." jawab si bibir tebal.
Memang, laki-laki berbibir tebal ini adalah salah seorang dari gerombolan
pengacau di Desa Bakung yang selamat.
"Jadi, ada orang lain yang
telah membantu Pendekar Tangan Baja?" selak laki-laki berdaun tellnga satu
itu tak sabar.
"Benar, Ketua," jawab
si bibir tebal singkat.
"Hm...," laki-laki
berompi coklat yang dipanggil ketua itu hanya menggumam "Bagaimana
ciri-ciri orang itu?"
"Orangnya masih muda,
berambut putih keperakan, dan berpakaian serba ungu...."
"Dewa Arak...!" desis
laki-laki setengah baya itu. Nada suaranya jelas memancarkan keterkejutan yang
amat sangat.
"Ketua kenal dengan pemuda
itu?" tanya laki-laki ber-bibir tebal.
Laki-laki berompi coklat
menggelengkan kepalanya. "Hanya mendengar julukannya saja. Menurut cerita
yang kudengar, dunia persilatan telah dibuat geger dengan kemunculan seorang
pemuda yang memiliki ciri-ciri seperti yang kau sebutkan. Julukannya Dewa
Arak!"
"Pemuda itu membawa guci di
punggungnya, Ketua!" ucap laki-laki berbibir tebal itu menambahkan. Kini
dia teringat. Memang pemuda berambut putih keperakan itu membawa sebuah guci di
punggungnya.
"Kalau begitu, benar dia
Dewa Arak! Kali ini kita mendapat lawan yang benar-benar tangguh! Hhh...! Aku
harus berbuat sesuatu."
Setelah berkata demikian,
laki-laki berompi coklat itu termenung. Perlahan dia bangkit dan kakinya
dilangkahkan mondar-mandir memutari ruangan. Sementara tangannya terpacak di
dagu. Jelas kalau dia tengah berpikir keras.
Tak lama kemudian, laki-laki
berompi coklat itu me-langkah memasuki sebuah kamar. Cukup lama juga dia berada
di sana. Ketika keluar dari kamar, di tangannya tergenggam sebuah bambu yang
diserut halus, dan di bagian dalamnya terdapat segulung surat.
"Berikan pada Gusti Prabu
Jayalaksana," perintah laki-laki berompi coklat kepada si bibir tebal.
"Baik, Ketua." sahut
laki-laki berbibir tebal itu seraya berjalan meninggalkan tempat itu.
"Ha... ha... ha...!"
laki-laki berpakaian rompi coklat itu tertawa bergelak setelah laki-laki
berbibir tebal itu telah tidak berada lagi di situ. Suara tawanya berkumandang,
menggema ke seluruh bangunan itu.
***
Sementara itu, di balariung
Istana Kerajaan Kamujang yang megah, tampak seorang laki-laki setengah baya
tengah duduk di atas singgasana. Wajahnya tampan dan berwibawa.
"Hhh...!" desah Prabu
Jayalaksana seraya menggulung kembali surat yang baru saja dibacanya.
Pandangannya dialihkan pada laki-laki berwajah kasar dan berbibir tebal yang
duduk bersila di depannya.
"Sampaikan pada ketuamu.
Permintaannya kukabul-kan," sabda Raja Kamujang itu penuh wibawa.
"Akan hamba sampaikan, Gusti
Prabu," sahut laki-laki berbibir tebal itu seraya memberi hormat.
Prabu Jayalaksana tersenyum
getir.
"Apabila sudah tidak ada
lagi pesan, perkenankan hamba mohon diri, Gusti Prabu."
Raja Kerajaan Kamujang ini
menganggukkan kepalanya. "Silakan," ucap Prabu Jayalaksana pelan.
Laki-laki berbibir tebal memberi
hormat, kemudian melangkah meninggalkan balariung istana.
"Prajurit...'" panggil
Prabu Jayalaksana.
Prajurit penjaga pintu balariung
Istana, bergegas masuk dan memberi hormat.
"Hamba, Gusti Prabu,"
ucap prajurit itu penuh hormat "Panggil Panglima Ramkin kemari!
Cepat..!" perintah
Prabu Jayalaksana keras.
Prajurit itu kembali melangkah ke
luar. Tak lama kemudian, prajurit itu sudah kembali bersama seorang ber-pakaian
panglima perang.
"Gusti Prabu memanggil
hamba?" tanya orang ber-pakaian panglima perang yang bertubuh tinggi besar,
dan bercambang bauk lebat. Namanya Panglima Ramkin.
"Ya." sahut Raja
Kamujang. "Kau kuperintahkan mem-bawa pasukanmu menangkap Dewa Arak dan
Pendekar Tangan Baja, hidup atau mati!" Lalu Prabu Jayalaksana
memberitahukan ciri-cirinya.
"Akan hamba laksanakan,
Gusti Prabu," sahut Panglima Ramkin tegas.
Seorang laki-laki setengah baya
berambut jarang tersentak kaget mendengar perintah itu. Patih Juminta namanya.
"Boleh hamba bicara, Gusti
Prabu?" tanya Patih Juminta hati-hati.
"Silakan, Patih."
sambut Prabu Jayalaksana.
“Maaf, Gusti Prabu. Bukannya
hamba bersikap lancang Tapi…., apakah Gusti Prabu tidak salah membuat
keputusan?"
Sepasang alis Prabu Jayalaksana
berkerut. "Aku masih belum mengerti maksudmu, Patih."
"Mengenai perintah
penangkapan itu, Gusti Prabu," jelas Patih Juminta. Nada bicaranya
terdengar berhati-hati sekali.
"Hm...! Apa ada yang aneh
dalam perintah itu, Patih?" tanya Prabu Jayalaksana. Nada suaranya jelas
menyiratkan perasaan tidak senang.
Patih Juminta tentu saja
merasakan ketidaksenangan Raja Kamujang itu. Dan ini membuatnya jadi gugup.
"Maafkan hamba, Gusti
Prabu," ucap sang Patih mem-beranikan diri.
"Katakan apa yang salah
dalam perintah itu, Patih?" desak Prabu Jayalaksana tanpa mempedulikan
permintaan maaf Patih Juminta.
"Anu..., Gusti Prabu....
Mengenai pemuda berambut putih keperakan itu. Gusti...."
"Hm...! Lalu...?"
"Kalau hamba tidak salah...,
pemuda itu pasti Dewa Arak!"
Raja Kamujang itu tersenyum
mengejek.
"Lalu mengapa kalau benar
pemuda itu Dewa Arak? Kau takut?!" sindir Prabu Jayalaksana tajam.
Merah wajah Patih Juminta
seketika. "Bukannya hamba takut. Tapi...."
"Diam!" bentak Prabu
Jayalaksana keras. "Kalau kau membuka mulut lagi, kau akan kupenjarakan,
Juminta!"
"Ampun, Gusti Prabu. Hamba
mengaku salah...," ucap Patih Juminta sambil memberi hormat.
"Panglima Ramkin," ucap
Prabu Jayalaksana pada seorang bertubuh tinggi besar dan bercambang lebat di
hadapannya.
"Hamba, Gusti Prabu."
sahut Panglima Ramkin seraya memberi hormat.
"Kau sudah tahu
tugasmu?"
"Sudah, Gusti Prabu,"
jawab panglima itu lagi.
"Bagus! Laksanakan
segera!" perintah Raja Kamujang. "Baik, Gusti Prabu," sahut
laki-laki bercambang lebat itu.
"Hamba mohon diri."
Prabu Jayalaksana hanya
menganggukkan kepalanya saja. Dan Panglima Ramkin pun berlalu setelah terlebih
dulu kembali memberi hormat. Sementara itu Patih Juminta hanya diam tertunduk.
Suasana balariung istana kembali menjadi hening.
***
Pendekar Tangan Baja dan Dewa
Arak melangkah memasuki mulut sebuah desa. Dan seperti juga Desa Bakung, keadaan
desa ini juga sangat menyedihkan. Anak-anak yang kurus kering dan tanpa
pakaian, selalu mereka temui di pinggir jalan.
Pendekar Tangan
Baja yang memang berwatak berangasan menggertakkan gigi saking geram.
"Raja lalim itu memang harus
dibinasakan!" desis pemuda berbaju kuning tajam.
Dewa Arak diam saja. Sama sekali
tidak ditanggapinya ucapan Pendekar Tangan Baja. Sepasang matanya menerawang
jauh memandang ke depan. Sementara sepasang kakinya terus dilangkahkan.
"Kalau boteh kutahu, ke mana
tujuanmu, Pendekar Tangan Baja?" tanya Dewa Arak mengalihkan pembicaraan.
"Hhh...!" pemuda berpakaian kuning itu menghela napas panjang sebelum
menjawab pertanyaan Arya. "Sebenarnya, aku tengah mencari paman
guruku." "Paman gurumu?"
"Ya," jawab Pendekar
Tangan Baja singkat.
"Boleh kutahu.... Maaf,
bukannya aku ingin mencampuri urusanmu," ucap Dewa Arak bemada ingin tahu.
Pendekar Tangan Baja tercenung
sejenak. "Paman guruku kabur dari tempat penyepiannya."
"Maksudmu...?" tanya
Dewa Arak masih kurang jelas. Memang pemuda berambut putih keperakan ini masih
belum jelas akan cerita pemuda berpakaian kuning itu.
"Begini, Arya. Di sebuah
tempat... maaf aku tidak boleh menyebutkan namanya, tinggal guruku dan adik seper-guruannya.
Guruku tahu kalau adik seperguruannya ber-watak jelek, maka beliau sengaja
mengurungnya di tempat itu. Tapi sungguh tidak disangka kalau paman guruku itu
bisa meloloskan diri dari situ. Guruku lalu menyuruhku turun gunung untuk
mencegah paman guruku itu mengacau dunia persilatan," jelas Pendekar
Tangan Baja panjang lebar.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kini sudah dimengertinya semua cerita Pendekar Tangan Baja. Tapi
mendadak dahi pemuda berambut putih keperakan berkerut ketika sepasang matanya
melihat debu mengepul tinggi di kejauhan. Di sela-sela kepulan debu terlihat
panji-panji kebesarah Kerajaan Kamujang berkibaran dengan megah. Rupanya
orang-orang itu adalah prajurit-prajurit Kamujang.
"Ada rintangan pertama di
depan, Pendekar Tangan Baja," ucap Dewa Arak pelahan seraya menolehkan
kepala menatap pemuda berbaju kuning yang berdiri di
sebelahnya.
"Kebetulan sekali! Sudah
sejak tadi tanganku gatal-gatal!" sambut Pendekar Tangan Baja. Mulutnya menyunggingkan
sebuah senyum kegembiraan.
"Kita tunggu saja dulu, apa
keinginan mereka," ujar Arya memberi nasihat. Setelah kepulan debu itu
semakin dekat, jelas terlihat kalau yang datang adalah serombongan prajurit
berkuda.
"Kurasa tidak perlu,
Arya!" bantah Pendekar Tangan Baja. "Menghadapi orang-orang kejam
seperti mereka, tidak pedu lagi sikap bijaksana "
Dewa Arak menggelengkan
kepalanya.
"Kau lupa, Pendekar Tangan
Baja! Mereka itu hanya prajurit! Bukan tidak mungkin mereka melakukan semua
perintah itu karena terpaksa," jelas Arya.
"Aku tidak peduli!"
tandas Pendekar Tangan Baja tegas. Dewa Arak menatap pemuda berbaju kuning yang
berdiri di sebelahnya tajam-tajam. Tapi yang ditatap malah mem-balasnya tak
kalah tajam.
"Selama jalan kekerasan bisa
dihindari, untuk apa kita memaksakan diri melakukannya?" sambung Dewa Arak
lagi.
"Hhh...!" Pendekar
Tangan Baja menghela napas panjang "Sayang sekali kita mempunyai pemikiran
yang berbeda, Arya."
"Hhh...!" Dewa Arak pun
menghela napas panjang.
Tapi kedua pemuda perkasa ini
tidak bisa berlama-lama terlibat pertentangan pendapat karena pasukan prajurit
berkuda telah semakin dekat.
"Hooop...!"
Seorang pasukan kerajaan berpangkat panglima
mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, seraya menarik tali kekang kudanya.
Seketika itu juga, rombongan prajurit serentak menghentikan lari kudanya.
"Hup...!"
Dengan sebuah gerakan indah dan
manis, Panglima Ramkin melompat dari punggung kudanya. Berturut-turut para
prajurit dan punggawa yang berada di belakang sang
Panglima melompat dari punggung
kuda masing-masing. Panglima Ramkin memperhatikan Dewa Arak dan
Pendekar Tangan Baja dari ujung
rambut sampai ke ujung kaki.
“Benar kalian berdua yang
berjuluk Dewa Arak dan Pendekar Tangan Baja?!" tanya laki-laki bercambang
lebat ini setengah menuduh.
"Benar! Lalu, kalian mau
apa?!" jawab Pendekar Tangan Baja cepat sebelum Dewa Arak sempat menjawab.
"Kuanjurkan lebih baik
kalian menyerah. Aku tidak segan-segan menggunakan kekerasan bila kalian
mem-bangkang!" ucap laki-laki bercambang lebat. Bibirnya menyunggingkan
senyuman sinis.
"Ha ha ha...! Boleh kau
coba!" tantang Pendekar Tangan Baja sambil tertawa bergelak. "Ingin
kulihat siapa di antara kalian yang bisa menangkap Pendekar Tangan Baja!"
Merah wajah Panglima Ramkin
mendengar tantangan itu.
“Tangkap mereka!" perintah
panglima itu keras. Tanpa menunggu diperintah dua kali, lima puluh prajurit dan
punggawa bergerak berbarengan, mengepung Dewa Arak dan Pendekar Tangan Baja.
Diam-diam Dewa Arak menyesali
kecerobohan Pendekar Tangan Baja. Tapi, kini dia tidak bisa berbuat apa-apa,
kecuali berjuang untuk menyelamatkan selembar nyawa-nya. Tapi meskipun begitu,
Dewa Arak merasa berat hati melawan pasukan kerajaan.
Berbeda dengan Pendekar Tangan
Baja, pemuda berbaju kuning ini malah tertawa bergelak begitu melihat hujan
senjata pasukan kerajaan itu. Dengan meng-andalkan keistimewaan kedua
tangannya, Pendekar Tangan Baja tanpa ragu-ragu memapak setiap serangan senjata
lawan.
Luar biasa memang kekuatan kedua
tangan Pendekar Tangan Baja. Setiap senjata yang tertangkis tangannya, langsung
patah! Suara berderak keras terdengar setiap kali pedang, golok, atau tombak
bertemu tangannya.
Suara-suara jeritan kaget
seketika terdengar dari mulut lawan-lawannya. Tapi sesaat kemudian, berubah
menjadi jeritan-jeritan kesakitan, ketika pemuda berbaju kuning mulai
melancarkan serangan balasan.
"Aaakh...!"
Seorang prajurit berpangkat punggawa, memekik nyaring ketika pukulan yang dilancarkan
Pendekar Tangan Baja mendarat telak di dadanya. Seketika itu juga tubuhnya
terlempar jauh ke belakang. Sekujur tulang-tulang dada remuk. Darah pun
menyembur keluar dari mulut, hidung, dan telinganya. Punggawa yang sial itu pun
tewas seketika!
Memang tindakan pemuda berbaju
kuning ini benar-benar menggiriskan. Setiap kali tangan atau kakinya ber-gerak,
sudah dapat dipastikan akan ada lawan yang jatuh tanpa nyawa. Sehingga dalam
waktu sekejap saja, tak kurang delapan orang telah tewas di tangan pemuda berbaju
kuning ini.
Panglima Ramkin menggeram murka
melihat anak buahnya dibuat porak-poranda. Sambil mengeluarkan seruan nyaring,
tubuhnya melesat ke arah Pendekar Tangan Baja yang tengah mengamuk hebat.
Wuttt..!
Selagi tubuhnya berada di udara,
Panglima Ramkin membabatkan golok besamya ke leher pemuda berbaju kuning!
Pendekar Tangan Baja sama sekali tidak menjadi gugup, walaupun di saat yang
bersamaan, seorang prajurit di belakangnya membabatkan golok ke arah leher.
Sementara dari arah depan, seorang punggawa
menusukkan tombak ke arah dadanya. Dan dari samping kanan dan kiri, dua orang
prajurit juga menusukkan pedang ke arah pinggangnya.
Luar biasa! Dengan sebuah
perhitungan matang dari seorang yang telah memiliki ilmu meringankan tubuh
tingkat tinggi, Pendekar Tangan Baja segera menundukkan tubuhnya serendah
mungkin. Dan dengan sendirinya serangan dari atas, belakang dan depan berhasil
dielakkannya. Semua lewat di atas kepalanya. Sementara serangan dari samping
kiri dan kanan, dihadapinya dengan cara yang lebih mengagumkan.
Serangan dua bilah pedang itu
dipunahkan oleh pemuda berbaju kuning dengan mencengkeram mata pedang itu. Dan
begitu kedua bilah pedang telah berhasil dicengkeram, Pendekar Tangan Baja
segera membetotnya dengan pengerahan seluruh tenaga dalamnya.
Kedua prajurit yang memiliki
tenaga dalam jauh di bawah Pendekar Tangan Baja, mana mampu menahan-nya?
Seketika itu juga tubuh mereka terhuyung deras ke depan. Dan di saat itulah,
pemuda berbaju kuning melancarkan serangan dengan jari-jari mengembang
mem-bentuk cakar ke arah kepala.
Crokkk, crokkk...!
"Aaakh...!" "Aaa...!"
Dua teriakan menyayat terdengar
saling susul diiringi robohnya dua prajurit naas itu. Cairan merah kental
kontan bermuncratan begitu jari-jari tangan pemuda berbaju kuning amblas ke
dalam batok kepala. Sesaat keduanya menggelepar-gelepar di tanah, sebelum
akhimya diam tidak bergerak lagi. Tewas!
Panglima Ramkin menggeram keras
melihat kematian dua orang anak buahnya lagi. Memang kejadian itu berlangsung
begitu cepat, sehingga dia dan anak buahnya tidak mampu berbuat apa-apa untuk
menolongnya.
Pendekar Tangan Baja kembali
mengamuk. Begitu dua orang lawannya tewas, segera saja tubuhnya melesat ke
prajurit yang lainnya.. Dan kembali pemuda berbaju kuning itu memulai
pembantaian.
Sementara itu di arena lainnya,
Dewa Arak mengerutkan alisnya melihat sepak terjang Pendekar Tangan Baja.
Sungguh tidak disangka kalau pemuda berbaju kuning ini tega bertindak seganas
itu. Dan diam-diam timbul perasa-an tidak senang dalam hati Dewa Arak. Memang
tindakan Arya berbeda dengan tindakan Pendekar Tangan Baja. Tak satu pun lawan
pemuda berambut putih keperakan ini yang tewas. Semua dirobohkan tanpa
mengalami luka-luka yang cukup parah.
Baik pertarungan antara Dewa
Arak, maupun Pendekar Tangan Baja dengan lawan-lawannya tidak berlangsung
imbang. Tingkat kepandaian dua orang pemuda perkasa itu memang berada jauh di
atas lawannya. Maka tidak aneh jika pasukan Kerajaan Kamujang itu terdesak
hebat. Dan semakin lama keadaan mereka pun semakin terjepit.
Satu demi satu pasukan kerajaan
itu berjatuhan. Baik dirobohkan oleh Dewa Arak maupun Pendekar Tangan Baja.
Hanya bedanya, pasukan kerajaan yang dirobohkan Pendekar Tangan Baja, roboh
untuk selama-lamanya. Sedangkan lawan yang dirobohkan oleh Dewa Arak, hanya mengalami
luka-luka. Dan itu pun tidak parah. Walaupun begitu, cukup untuk membuat mereka
tidak mampu lagi melanjutkan pertarungan.
Dewa Arak menggertakkan gig!
Kesabarannya pun habis melihat Pendekar Tangan Baja masih terus menyebar maut.
Sudah puluhan prajurit dan punggawa yang tewas di tangan pemuda berbaju kuning
itu. Dan bila perbuatannya dibiarkan terus, semua pasukan kerajaan akan tewas
semua.
"Ha... ha... ha...! Bukankah
sudah kukatakan, Panglima! Tidak mudah menangkap Pendekar Tangan Baja! Kini bersiap-siaplah
kau mati di tanganku! Ha... ha... ha...!" ejek Pendekar Tangan Baja.
Panghma Ramkin menggertakkan
gigi. Kemarahan yang amat sangat bergolak dalam hatinya, melihat anak buahnya
hampir musnah dibantai pemuda berbaju kuning ini. Ingin sekali laki-laki
bercambang bauk lebat ini menghancurkan kepala Pendekar Tangan Baja. Tapi
sayang, dia tidak mampu melakukannya. Panglima ini yakin, tak lama lagi dirinya
pun akan tewas menyusul anak buahnya.
"Hih...!"
Seorang prajurit bertombak
menusukkan senjatanya ke perut Pendekar Tangan Baja. Tapi pemuda berbaju kuning
itu hanya mendengus. Seperti biasa, ditangkisnya mata tombak itu dengan tangan
kanannya. kemudian di-cengkeramnya, lalu ditariknya.
Prajurit ini tidak mampu menahan
tarikan Pendekar Tangan Baja. Seketika itu juga tubuhnya terbetot ke depan.
"Lepaskan tombak
itu...!" teriak Panglima Ramkin keras. Tapi sebelum prajurit itu
melaksanakan perintah panglimanya, Pendekar Tangan Baja telah bertindak cepat
Begitu tubuh lawannya tertarik ke
depan, segera disodokkan tombak yang digenggamnya.
Blesss! "Aaakh...!"
Prajurit itu menjerit melengking.
Gagang tombak itu menghunjam perutnya hingga tembus ke punggung. Seketika itu
juga, darah bermuncratan. Dan ketika Pendekar Tangan Baja melepaskan pegangan
pada tombak, tubuh prajurit itu pun ambruk tak berkutik.
Kini hanya tinggal Panglima
Ramkin. Pemuda berbaju kuning ini tertawa terkekeh-kekeh. Dengan langkah satu-satu,
dihampirinya laki-laki bercambang lebat itu.
Tapi sebelum Pendekar Tangan Baja
menyerang Panglima Ramkin, sesosok bayangan ungu berkelebat. Sesaat kemudian di
depan pemuda berbaju kuning berdiri Dewa Arak. Rupanya, Arya tidak ingin kalau
panglima itu juga akan menemui ajal di tangan Pendekar Tangan Baja yang sudah
bagaikan iblis haus darah. Maka sebelum hal itu terjadi, cepat-cepat Dewa Arak
merobohkan semua lawannya. Lalu melesat untuk mencegah tindakan pemuda berbaju
kuning.
"Cukup, Pendekar Tangan
Baja! Sudah terlalu banyak korbanmu!" ucap Dewa Arak. Nada suaranya keras
dan tegas.
Pendekar Tangan Baja menatap
wajah Dewa Arak tajam. Seulas senyuman sinis tersungging di bibimya.
"Menyingkirlah, Arya. Dia
ini lawanku! Jangan coba-coba menghalangiku!" sahut pemuda berbaju kuning
itu. Datar dan dingin suaranya.
"Hhh...!" Dewa Arak
menghela napas panjang. "Kau terlalu mengumbar amarah, Pendekar Tangan
Baja. Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin. Ingat, kita belum tahu persis
permasalahannya dan...."
"Tutup mulutmu, Arya!"
sergah Pendekar Tangan Baja keras. Wajah pemuda berbaju kuning ini nampak merah
padam. "Aku bukan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa! Aku tahu apa
yang harus kulakukan! Menyingkirlah cepat, sebelum kesabaranku hilang!"
Dewa Arak tersenyum pahit.
Sungguh tidak disangkanya pemuda berbaju kuning ini begitu keras kepala, di
samping emosinya yang besar.
"Sayang sekali, Pendekar
Tangan Baja...," ucap Arya. Nada suaranya seakan akan penuh penyesalan.
"Kalau begitu, terpaksa kau
harus kusingkirkan dulu, Arya. Baru setelah itu kubereskan panglima keparat
itu!" ancam Pendekar Tangan Baja lagi.
Setelah berkata demikian,
Pendekar Tangan Baja segera melesat menerjang Dewa Arak. Sepasang tangannya
yang mengepal, bertubi-tubi dipukulkan ke dada, perut, dan ulu hati pemuda
berambut putih keperakan.
Wuuut..!
Serangkum angin keras mendahului menyambar sebelum serangan itu
sendiri tiba. Dewa Arak tidak mau bertindak gegabah. Pemuda berambut putih
keperakan memang selalu bertindak hati-hati dan tidak pernah memandang rendah
lawannya. Maka begitu melihat serangan yang menyambar ke arahnya, Arya tidak
langsung menangkisnya. Buru-buru didoyongkan tubuhnya ke kanan, sehingga semua
serangan itu lewat setengah jengkal di samping tubuhnya.
Kemudian secepat kilat, kaki
kanannya dilontarkan ke perut Pendekar Tangan Baja. Cepat bukan main
gerakan-nya. Tapi meskipun begitu, pemuda berpakaian kuning tidak menjadi
gugup. Dengan gerakan yang tidak kalah cepat, segera ditarik pulang tangan
kanannya. Sekaligus langsung melakukan bacokan pada kaki Arya yang meng-ancam
perutnya.
Takkk!
Benturan antara tangan dan kaki
yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi tidak bisa dielakkan lagi.
"Heh!?" Pendekar Tangan
Baja memekik kaget. Sekujur tangannya tergetar hebat. Bahkan tangan yang
menangkis kaki pemuda berambut putih keperakan itu terpental balik.
Bukan hanya Pendekar Tangan Baja
saja yang dilanda keterkejutan itu. Hal yang serupa juga dialami Dewa Arak.
Kaki yang berbenturan dengan tangan Pendekar Tangan Baja terasa ngilu. Arya
tahu hal ini bukan disebabkan oleh keunggulan tenaga dalam pemuda berpakaian
kuning yang berada di atasnya, tapi akibat dari keistimewaan tangan lawannya.
Pantaslah kalau pemuda berpakaian kuning ini berjuluk Pendekar Tangan Baja,
pikirnya mulai memahami.
Pendekar Tangan Baja penasaran
bukan main. Memang disadari kalau kepandaian pemuda berambut putih keperakan
itu tinggi. Tapi, sungguh di luar dugaannya kalau tenaga dalam yang dimiliki
Arya sampai sekuat ini. Dan hal iniah yang membuatnya jadi penasaran.
Sebagai seorang ahli silat Dewa
Arak pun dilanda perasaan serupa. Tapi Dewa Arak tahu, kalau dia menurut-kan
perasaan hatinya, pertentangan antara dia dan pemuda berpakaian kuning ini akan
semakin meruncing. Dan itu tidak dikehendakinya. Maka begitu dilihatnya
Panglima Ramkin dan anak buahnya yang tersisa telah menaiki kuda dan cukup jauh
meninggalkan tempat itu, pemuda berambut putih keperakan ini pun melesat kabur
dari situ.
"Arya! Jangan lari kau,
Pemuda Sombong!" teriak Pendekar Tangan Baja keras seraya berlari
mengejar.
Tapi Dewa Arak yang telah
mengetahui ketangguhan pemuda berpakaian kuning tidak bersikap main-main lagi.
Segera saja dikerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh-nya. Pendekar Tangan Baja
menggertakkan gigi. Pemuda berpakaian kuning ini pun mengerahkan seluruh ilmu meringankan
tubuhnya mengejar Dewa Arak.
Kembali Pendekar Tangan Baja
harus menerima kenyataan pahit Arya ternyata tidak bisa dikejar. Bahkan semakin
lama jarak di antara mereka bertambah jauh. Dan akhimya pemuda berambut putih
keperakan itu mulai lenyap dari pandangan.
Pemuda berpakaian kuning ini
sadar, tidak ada gunanya lagi meneruskan pengejaran. Maka dihentikan larinya.
Dipandangi tubuh Dewa Arak yang semakin lama semakin mengecil di kejauhan, dan
akhirnya lenyap.
"Kali ini kau boleh menang,
Arya. Tapi lain kali, jangan harap akan seberuntung ini..," ancam Pendekar
Tangan Baja. Kemudian pelahan dibalikkan tubuhnya, lalu berlari kembali, meneruskan perjalanan menuju Kotaraja
Kerajaan Kamujang.
***
4
Dewa Arak baru memperlambat
larinya, begitu dilihatnya Pendekar Tangan Baja tidak mengejar lagi. Karena
sudah telanjur, terpaksa dia harus mengambil jalan memutar, menuju Kotaraja
Kerajaan Kamujang. Pendekar Tangan Baja pasti akan lebih dulu tiba di sana. Dan
sudah dapat diperkirakan oleh Arya apa yang akan dilakukan pemuda pemarah itu
di sana. Apalagi kalau bukan mengamuk, mengumbar emosinya?
"Hhh...!" tanpa sadar
Arya menghela napas panjang. Kini dia sudah tidak berlari lagi, melainkan
berjalan biasa saja. Arya ingin menikmati perjalanan santai yang nikmat.
Apalagi hutan ini mempunyai barisan pepohonan yang lebat. Sehingga meskipun
matahari siang hari cukup terik, tidak membuatnya kepanasan.
Arya mengerutkan alisnya begitu
melihat seorang kakek berpakaian lusuh melangkah tertatih-tatih tidak jauh di
hadapannya. Dan karena arah yang dituju pemuda berambut putih keperakan dan
kakek itu berlawanan, semakin lama, jarak di antara mereka pun semakin dekat.
Mendadak saja, begitu jarak
antara Arya dengan kakek berpakaian lusuh itu tinggal dua tombak lagi, kakek
yang sejak tadi memang sudah melangkah terhuyung-huyung, jatuh tersungkur.
Tentu saja Arya yang memang sejak
tadi memperhatikan kakek itu, segera melesat. Cepat sekali gerakan pemuda
berambut putih keperakan ini. Sehingga sebelum tubuh kakek berpakaian lusuh itu
menyentuh tanah, Arya telah lebih dulu menangkap tubuhnya.
“Bantu aku berdiri, Anak
Muda," ucap kakek berpakaian lusuh itu seraya mengulurkan tangan hendak
meng-genggam tangan Arya. Dewa Arak yang memang berwatak welas asih ini tidak
menolak. Tapi sesaat kemudian dahi pemuda berambut putih keperakan ini
berkemyit. Ada sesuatu dalam genggaman kakek berpakaian lusuh itu. Kakek berpakaian lusuh itu rupanya menyadari kebingungan Arya. Maka sebelum
pemuda berambut putih keperakan ini sempat berkata sesuatu, kakek ini segera
mendahuluinya.
"Ambillah surat itu, Dewa
Arak! Baca. Nanti kita bertemu lagi. Aku khawatir ada yang mengawasi
kita," bisik kakek berpakaian lusuh itu pelahan.
Arya yang cerdik ini segera saja
paham. Pemuda berambut putih keperakan ini tahu kalau kakek berpakaian lusuh
ini hendak menyampaikan sesuatu, tapi secara diam-diam. Maka setelah kakek itu
telah kembali berdiri, benda yang ada dalam genggamannya secepat kilat
diselipkan pada lipatan ikat pinggangnya. Tak lupa sebelum itu sekilas sepasang
matanya mengawasi sekelilingnya.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Anak Muda. Aku Patih Juminta." ucap kakek berpakaian lusuh itu lagi.
“Tanpa bantuanmu mungkin encokku sudah kambuh kembali."
Setelah berkata demikian, kakek
berpakaian lusuh itu kembali melangkah tertatih-tatih meninggalkan Dewa Arak.
Pemuda berambut putih keperakan ini memandangi kepergiannya dengan hati
bertanya-tanya. Arya terus memandanginya hingga punggung tubuh kakek itu lenyap
ditelan kerimbunan pepohonan.
Rasa penasaran mendorong Arya untuk segera mengetahui pemberian kakek berpakaian lusuh itu.
Sesaat kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan setelah yakin tidak ada
orang yang melihatnya, segera diambilnya benda yang tadi diselipkan di pinggangnya.
Pelahan dibukanya lipatan kain itu.
Ternyata di balik lipatan kain
itu ada tulisannya. Jadi lipatan kain itu berisi pesan. Cukup singkat isinya.
Dewa Arak...
Aku telah melihat semua tindakanmu
terhadap pasukan Kerajaan Kamujang. Dan aku
mengagumi tindakanmu yang bijaksana. Perlu kau ketahui, Prabu Jayahksona bukan
seorang raja yang lalim. Gusti Prabu melakukan semua itu karena terpaksa. Harap
temui aku nanti malam di tempat ini Patih Juminta
"Hhh...!" Arya menghela
napas panjang, setelah selesai membaca tulisan yang terdapat dalam lipatan kain
itu. Sungguh sama sekali tidak diduga kalau semua kecurigaannya tepat. Tidak percuma
selama ini dia bersikap hati-hati, dan tidak sembarangan membunuh orang.
Pelahan pemuda berambut putih
keperakan ini melipat kembali kain itu, dan kembali diselipkan di balik lipatan
ikat pinggangnya.
"Sungguh tidak kusangka
kalau kakek berpakaian lusuh itu ternyata seorang patih kerajaan besar seperti
Kerajaan Kamujang," gumam Arya pelan
***
Matahari pelahan-lahan mulai
tenggelam di ufuk Barat. Kegelapan pun mulai menyelimuti bumi. Tapi hal itu
tidak berlangsung lama karena rembulan sudah muncul di langit, menyinari bumi
dengan sinamya yang lembut. Meng-gantikan tugas mentari yang sudah seharian
menyinari bumi.
Dalam keremangan malam itu terlihat sesosok bayangan ungu berkelebatan cepat, dari
balik sebatang pohon ke batang pohon lainnya. Cepat bukan main gerakannya.
Sehingga yang terlihat hanya sekelebatan bayangan ungu saja.
Tak lama kemudian bayangan ungu
itu menghentikan gerakannya di dekat sebatang pohon kamboja. Dan secepat sosok
itu tiba di situ, secepat itu pula bersembunyi di balik sebatang pohon. Dalam
keremangan sinar bulan, tampak jelas sosok ungu itu.
Sosok itu ternyata adalah seorang
pemuda berwajah jantan, berambut putih keperakan. Pakaiannya berwama ungu. Dan
di punggungnya tersampir sebuah guci arak dari perak. Sosok bayangan ungu itu
adalah Dewa Arak! Pemuda ini datang ke tempat ini untuk memenuhi permintaan
orang yang mengaku bernama Patih Juminta.
Dari balik sebatang pohon itu,
sepasang mata Arya menatap nyalang ke sekeliling. Mencari-cari barangkali orang
yang bernama Patih Juminta itu datang.
Cukup lama juga pemuda berambut
putih keperakan ini menunggu, sebelum akhirnya sepasang matanya melihat sesosok
bayangan berkelebatan cepat menghampiri tempatnya. Dan begitu tiba di
dekat tempatnya berdiri, sosok bayangan yang baru datang itu, menolehkan
kepalanya berkeliling
"Dewa Arak...," panggil
sosok bayangan itu. Pelahan sekali suaranya. Lebih mirip bisikan.
Mendengar panggilan itu, Arya pun
yakin kalau bayangan yang baru tiba ini adalah kakek berpakaian lusuh yang
siang tadi memberinya pesan. Maka tanpa ragu-ragu lagi pemuda berambut putih
keperakan ini keluar dari tempat persembunyiannya.
"Aku di sini,
Patih...," sahut Arya tak kalah pelan.
Patih Juminta yang sejak tadi
berdiri membelakangi Arya, segera membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara
sapaan dari belakangnya.
"Sudah lama menunggu, Dewa
Arak?" tanya laki-laki setengah baya berambut jarang ini.
"Lumayan," sahut Arya.
"Maafkan aku yang telah
membuatmu lama menunggu. Dewa Arak."
"Lupakanlah, Patih."
jawab Arya bijaksana. “Terima kasih, Dewa Arak"
Sesaat lamanya suasana menjadi
hening. Tapi hal itu tidak berlangsung lama.
"Apa yang hendak kau
bicarakan Patih?" tanya Arya. Nada suaranya terdengar penuh tuntutan.
Dalam keremangan sinar bulan,
Patih Juminta menatap Dewa Arak tajam.
"Kau sudah baca pesan yang
kuberikan, Dewa Arak?" tanya laki-laki berambut jarang ini memastikan.
Arya menganggukkan kepalanya.
"Kau bilang, Gusti Prabu
Jayalaksana tertekan. Kalau boleh kutahu siapa yang telah menekannya Paman
Patih?"
Patih Juminta menggelengkan
kepalanya.
"Siapa orang yang menekan
Gusti Prabu, aku juga tidak tahu, Dewa Arak. Tapi yang jelas, tanpa setahu
siapa pun, Gusti Permaisuri lenyap dari istana. Semula kami tidak tahu ke mana
perginya. Tapi, akhimya kami mengetahuinya juga. Gusti Permaisuri diculik!"
"Diculik?!" tanya Arya.
Sepasang alis pemuda berambut putih keperakan ini berkerut.
"Benar," sahut Patih
Juminta membenarkan. "Gusti Permaisuri diculik."
"Dari mana kau tahu kalau
Gusti Permaisuri diculik, Patih?" tanya Arya penasaran.
"Dari surat yang ditinggalkan
penculik itu," jawab Patih Juminta kalem.
Arya mengangguk-anggukkan kepala
pertanda mengerti. "Sejak saat itu, melalui seorang urusan, penculik itu mulai
mengajukan permintaan yang aneh-aneh. Harta, penangkapan-penangkapan terhadap
ketua-ketua per-guruan silat beraliran putih, dan penghancuran terhadap
perguruannya. Memungut upeti yang biasanya dilakukan prajurit kerajaan."
"Ah...! Sampai begitu
jauhnya?!" tanya Arya. Nada suaranya jelas memancarkan keterkejutan yang
amat sangat.
Patih Juminta menganggukkan
kepalanya.
"Mengapa Gusti Prabu memenuhi permintaan-permintaan itu?"
“Terpaksa. Penculik itu mengancam
akan membunuh
Gusti Permaisuri, bila
permintaannya tidak dipenuhi," jelas laki-laki berambut jarang ini lebih
jauh.
"Oh...!" pekik Arya
terkejut. "Apakah Patih tidak mem-punyai dugaan sama sekali mengenai
pelakunya.
"Aku curiga ada orang di
dalam lingkungan istana yang menjadi mata-mata komplotan penculik. Rasanya
mustahil kalau orang luar tahu seluk beluk istana, sehingga sampai bisa
menculik permaisuri."
"Aku sependapat denganmu,
Paman Patih," sahut Arya mendukung.
"Gusti Prabu pun berpendapat
begitu. Bahkan beliau pernah merencanakan untuk mengirimkan jago-jago silat
istana untuk membuntuti urusan penculik. Tapi penculik itu mengancam akan membunuh
Gusti Permaisuri apa bila Gusti Prabu berani mengirimkan orang-orangnya untuk
mengikuti utusannya."
Arya tercenung mendengar cerita
ini. Sekarang baru diketahuinya mengapa semua kekacauan ini terjadi.
"Di hadapan orang banyak,
Gusti Prabu Jayalaksana bersikap keras padaku. Tapi bila kami hanya berdua.
Gusti Prabu kembali menunjukkan sikap aslinya. Bahkan tugas menemuimu ini,
adalah berdasarkan perintahnya. Dewa Arak," sambung Patih Juminta lagi.
"Hm...," Arya hanya
menggumam tidak jelas.
"Beberapa hari yang lalu,
Gusti Prabu baru menerima surat dari penculik itu. Kau ingin melihat isinya,
Dewa Arak? Ini menyangkut dirimu dan Pendekar Tangan Baja."
Setelah berkata demikian,
laki-laki berambut jarang itu mengangsurkan segulungan kala Arya mengulurkan tangan
menerima, lalu dibukanya gulungan kain itu.
Prabu Jayalaksana….
Harap Gusti Prabu perintahkan
pasukan untuk menangkap seorang pemuda berbaju ungu,
berambut putih keperakan, yang berjuluk Dewa Arak. Dan seorang pemuda
berpakaian kuning, bercambang lebat, yang berjuluk Pendekar Tangan Baja. Aku
berjanji akan membebaskan permaisuri-mu, bila permintaanku ini Gusti Prabu
laksanakan.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini dimakluminya mengapa kemarin ada
pasukan kerajaan hendak menangkapnya bersama Pendekar Tangan Baja.
"Jadi, satu-sarunya cara
untuk mengetahui sarang penculik, hanya dari utusan itu?" tanya Arya lagi
meminta kepastian.
"Ya," sahut Patih
Juminta singkat.
"Kalau begitu, lain kali aku
yang akan mengikutinya," usul pemuda berambut putih keperakan tiba-tiba.
Patih Juminta menatap Dewa Arak
lekat-lekat.
“Jangan khawatir, Paman. Aku
jamin mereka tidak akan mengetahuinya," sambung Arya memberi jaminan.
“Yahhh….! Memang itulah yang
kuharapkan, Dewa Arak!" ucap laki-laki berambut jarang bernada keluhan.
"Kapan utusan itu akan
datang lagi ke Istana Kerajaan Kamujang, Paman?" tanya Arya lagi.
"Besok pagi. Utusan itu akan
datang untuk meminta upeti."
"Baiklah! Besok aku akan
mulai bertugas," janji Arya. “Terima kasih atas kesediaanmu, Dewa Arak.
Sekarang aku pergi dulu," ucap laki-laki berambut jarang itu.
"Silakan, Paman," sahut Arya mempersilakan.
Belum juga habis gema suara Arya,
Patih Juminta sudah melesat dari situ. Cepat juga gerakannya. Dalam sekejap
saja bayangan tubuhnya sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Beberapa saat lamanya Arya terpaku menatap kepergian Patih
Juminta. Baru sesaat kemudian tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu.
***
"Hhh...!" Arya menghela
napas berat. Sepasang matanya kembali menatap
liar ke sekelilingnya dari balik kerimbunan daun-daun pepohonan. Memang pemuda
ini tengah berada di cabang pohon di dalam hutan.
Semalam, setelah mendengar cerita
panjang lebar dari Patih Juminta, Arya memutuskan untuk mulai menyelidiki
misteri ini. Sejak pagi-pagi sekali, pemuda berambut putih keperakan ini sudah
berada di cabang pohon, di tempat yang biasa dilalui urusan si penculik.
Cukup lama juga Arya menunggu,
sebelum akhirnya pendengarannya yang tajam, samar-samar menangkap derap kaki
kuda yang mendekat ke arahnya. Buru-buru, Dewa Arak lebih menyembunyikan diri
di balik kerimbunan dedaunan.
Semakin lama suara derap kaki
kuda itu semakin jelas. Tak lama kemudian di bawah pohon tempat pemuda berambut
putih keperakan ini bertengger, lewat seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang
laki-laki berusia tiga puluhan, berkulit gelap dan berbibir tebal.
Sesaat kemudian, kuda yang
ditunggangi laki-laki ber-bibir tebal itu pun mulai menjauh. Kian lama kian
jauh. Dan akhirnya lenyap di kejauhan. Yang tinggal hanyalah debu yang mengepul
tinggi ke udara.
Hati Arya lega karena
penantiannya tidak sia-sia.
Kini dia menanti laki-laki
berbibir tebal itu kembali. Memang, pemuda berambut putih keperakan ini telah
memutuskan untuk mengikuti urusan penculik ini sampai di sarangnya.
Kini Dewa Arak baru mengetahui
kalau menunggu adalah sebuah pekerjaan yang sangat membosankan. Entah untuk
yang keberapa kalinya, Arya kembali menyalangkan sepasang matanya ke arah
perginya laki-laki berbibir tebal tadi. Tapi akhimya wajah pemuda itu berseri
ketika melihat debu mengepul tinggi di kejauhan.
Perasaan harap-harap cemas pun
melanda hati Arya. Harapan agar debu mengepul tinggi ke udara ini berasal dari
derap langkah kuda yang ditunggangi oleh urusan penculik permaisuri.
Tak lama kemudian, kuda itu
semakin dekat. Dan betapa lega hati Arya ketika melihat kalau penunggang kuda
itu adalah orang yang ditunggu-tunggunya sejak tadi. Laki-laki berbibir tebal,
utusan si penculik.
Sesaat kemudian kuda yang
ditunggangi laki-laki ber-bibir tebal itu pun telah mendekati tempat
pengintaian Arya. Pemuda berambut putih keperakan ini segera menyembunyikan
tubuhnya ke balik rerimbunan dedaunan, khawatir terlihat.
Sekejap kemudian kuda itu pun
telah melaju cepat melewati pohon di mana Dewa Arak bersembunyi. Pemuda
berambut putih keperakan itu menunggu beberapa saat hingga buruannya berada
cukup jauh. Baru setelah itu tubuhnya melesat dari satu pohon, ke pohon
lainnya.
Laki-laki berbibir tebal itu sama
sekali tidak menyadari kalau dirinya dikuti. Terus saja dipacu kudanya secepat
mungkin. Sementara Dewa Arak terus membayanginya. Tapi mendadak....
Singgg...!
Suara mendesing nyaring
terdengar, disusul melesatnya sebuah benda berkilat ke arah laki-laki berbibir
tebal itu. Tentu saja hal ini membuat laki-laki berwajah kasar itu ter-kejut
bukan main. Buru-buru, dia melompat dari punggung kuda.
"Hih...!" Wuuuttt..!
Benda berkilat itu menyambar
lewat di atas punggung kuda. Tubuh laki-laki berbibir tebal itu kini telah
kembali menjejak tanah, tak jauh dari tempat kudanya berdiri. Tapi sebelum
laki-laki kasar ttu berbuat sesuatu, sesosok bayangan berkelebat cepat ke arahnya.
Cepat bukan main gerakan bayangan
orang yang baru tiba itu. Dan begitu bayangan itu telah berada dekat dengan
laki-laki berbibir tebal, tangan kanannya bergerak menyampok.
Wuttt..! Prattt..!
"Aaakh...!"
Laki-laki berbibir tebal itu
menjerit melengking ketika sampokan bayangan itu telak dan keras sekali
meng-hantam dadanya. Seketika itu juga terdengar suara ber-derak keras, disusul
terjengkangnya laki-laki itu. Darah mengalir dari mulut hidung, dan telinganya.
Brukkk!
Suara berdebuk keras terdengar, begitu
tubuh laki-laki berbibir tebal itu jatuh ke tanah.
Arya terkejut bukan kepalang
melihat hal itu. Jaraknya yang cukup jauh dari utusan penculik, dan juga
kejadian-nya yang berlangsung tiba-tiba, membuat pemuda berambut putih keperakan tidak sempat berbuat
sesuatu.
"Hup...!"
Sosok yang menyerang laki-laki
berbibir tebal itu men-darat ringan di tanah. Walaupun hanya sekilas, Arya
dapat mengetahui kalau pembunuh buruannya adalah seorang laki-laki setengah
baya yang berompi coklat. Tapi aneh, telinganya hanya sebuah saja. Di bagian
yang kanan.
Dewa Arak tentu saja tidak ingin
kehilangan jejak. Harus dicegahnya laki-laki berompi coklat ini melarikan diri.
Buru-buru dilepaskan jurus 'Pukulan Belalang'! Suatu jurus yang jarang
dikeluarkannya.
Wusss...!
Angin keras berhawa panas
menyengat menyambar ke arah pembunuh laki-laki berbibir tebal itu, yang baru
saja hendak beranjak dari tempat itu.
"Akh...!" terdengar
pekikan kaget dari mulut laki-laki berompi coklat. Dengan agak gugup dilempar
tubuhnya, kemudian bergulingan di tanah menjauh.
Dewa Arak tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan. Bergegas tubuhnya melesat. Dan....
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kakinya
mendarat di tanah, berbareng dengan bangkitnya laki-laki berdaun telinga satu
itu dari bergulingnya.
"Haaat..!"
Sambil mengeluarkan pekikan
nyaring, laki-laki berompi coklat itu melesat menyerang Dewa Arak. Kedua
tangannya dengan jari-jari membentuk paruh burung, mematuk-matuk mencari
sasaran. Laki-laki berdaun telinga satu itu men-dahului serangannya dengan sebuah
patukan ke arah ubun-ubun pemuda berambut putih keperakan. Angin keras mencicit
nyaring, mengawali tibanya serangan itu.
Sekali lihat saja Dewa Arak tahu
kalau lawan menggunakan jurus 'Bangau'. Posisi jari yang membentuk paruh itulah
yang membuat Arya langsung bisa menebak-nya.
Dewa Arak mengenal keganasan
jurus itu. Apalagi jurus itu dimainkan oleh tokoh seperti laki-laki berdaun
telinga satu ini. Buru-buru kepala Arya ditarik seraya mendoyong-kan tubuhnya
ke belakang, sehingga serangan lawan mengenai tempat kosong. Namun ternyata
serangan laki-laki berompi coklat tidak hanya sampai di situ saja. Begitu
serangannya dapat dielakkan, segera disusuli dengan tendangan lurus ke arah
dada.
Dari gerakan lawan, Dewa Arak
dapat mengukur kalau laki-laki berdaun telinga satu ini berkepandaian tinggi.
Sehingga Arya tidak berani bertindak setengah-setengah lagi. Segera
dilentingkan tubuhnya ke belakang kemudian bersalto di udara beberapa kali.
Dan....
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kakinya
menjejak tanah. Di tangan kanannya kini tergenggam guci arak, yang lalu
diangkatnya ke atas kepala. Kemudian dituangkan ke mulutnya.
Gluk... gluk... gluk..!
Suara tegukan terdengar begitu arak melewati tenggorokan pemuda berambut putih
keperakan ini. Seketika itu juga ada hawa hangat merayap, mulai dari perutnya
dan terus naik ke kepala.
***
Seraya mengeluarkan teriakan
nyaring, laki-laki berdaun telinga satu itu kembali menerjang Dewa Arak begitu
tendangannya berhasil dielakkan pemuda itu. Kedua tangannya yang mematuk-matuk
ganas mencari sasaran, mengeluarkan suara angin keras bercicitan.
Tapi berkat keunikan Jurus
'Delapan Langkah Belalang', tidak sulit bagi Dewa Arak untuk mengelakkan
serangan itu. Dan begitu pemuda berambut putih keperakan mengelak, tahu-tahu
tubuhnya sudah berada di belakang lawan.
Semula laki-laki berompi coklat
itu kaget bukan main, tatkala melihat lawan yang tadi diserangnya tahu-tahu
lenyap. Padahal jelas terlihat olehnya kalau pemuda berambut putih keperakan
itu hanya melangkahkan kaki saja, itu pun dengan gerakan terhuyung-huyung. Tapi
aneh, mengapa tubuh lawannya tahu-tahu lenyap?
Namun kekagetan yang dialami
laki-laki berompi coklat itu hanya berlangsung sekejap saja. Sesaat kemudian,
dia pun tahu di mana Dewa Arak berada, begitu dirasakan adanya sambaran angin
kuat di belakangnya. Rupanya pemuda berambut putih keperakan tengah melancarkan
serangan dengan gucinya.
Wuttt…!
Sambaran guci Dewa Arak mengenal
tempat kosong, begitu laki-laki berompi coklat melempar tubuhnya ke depan
seraya bergulingan menjauh. Arya segera melompat mengejar, seraya menyampirkan
gucinya kembali ke punggung.
Baru tiga tindak Dewa Arak
melangkah, tiba-tiba saja laki-laki bertelinga satu mengibaskan tangan
kanannya.
Wusss...! "Akh...!"
Arya memekik kaget. Ada suara
mendesir halus begitu laki-laki berompi coklat itu mengibaskan tangannya.
Disusul dengan melesatnya puluhan jarum-jarum halus ke arahnya. Terpaksa Arya
mengurungkan serangannya. Segera dilempar tubuhnya ke tanah, dan bergulingan menjauh.
Kesempatan yang sedikit itu tidak
disia-siakan oleh laki-laki berompi coklat itu. Selagi Dewa Arak bergulingan di
tanah, cepat dia melesat kabur dari situ. Sepertinya masih ada urusan yang
lebih penting daripada bertarung dengan pemuda berambut putih keperakan itu.
Waktu masih panjang untuk menantang Dewa Arak bertarung.
"Keparat….!" desis Arya
geram begitu melihat lawannya sudah tidak kelihatan lagi. Entah ke arah mana
laki-laki berdaun telinga satu itu melarikan diri, pemuda berambut putih
keperakan itu sama sekali tidak mengetahuinya. Pepohonan di dalam hutan ini
sangat lebat. Sekali saja laki-laki berdaun telinga satu itu melesat, saat itu
juga tubuhnya lenyap di balik kerimbunan pepohonan.
Benar apa yang dikatakan Patih
Juminta, desis Arya dalam hati. Penculik itu bertindak sangat hati-hati.
Terbukti dia lebih suka kehilangan anak buah ketimbang sarangnya diketahui
orang lain.
"Hhh...'"
Arya mendesah pelan. Apa lagi
yang harus dilakukannya untuk mengetahui sarang penculik permaisuri itu?
pikimya bingung. Tengah pemuda berambut putih keperakan ini melangkah satu-satu
dengan benak berpikir keras, ter-dengar rintihan lirih. Kontan kepala Arya
ditolehkan ke arah asal suara.
Ternyata rintihan lirih itu
berasal dari mulut laki-laki berbibir tebal. Sungguh Dewa Arak hampir tidak
mem-percayai apa yang dilihatnya. Laki-laki berkulit hitam itu ternyata masih
hidup! Padahal tulang tulang dadanya telah remuk. Bergegas pemuda berambut
putih keperakan ini menghampiri.
"Kaukah orang yang berjuluk
Dewa Arak?" tanya laki-laki berbibir tebal itu terputus-putus. Arya yang
tengah ber-jongkok di depan laki-laki kasar itu hanya mengangguk pelan.
"Bu... bukankah, kau ingin
tahu sarang penculik permaisuri...?" tanya laki-laki berkulit hitam itu
lagi.
Suaranya terputus-putus dan
hampir tidak terdengar. "Benar. Kau mau menunjukkannya?" sahut Arya
cepat.
Disadari kalau nyawa laki-laki
berbibir tebal ini tidak bisa diselamatkan lagi. Kenyataan kalau dalam keadaan
seperti Itu masih mampu bertahan hidup, menunjukkan kalau laki-laki kasar itu
memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa.
Laki-laki berbibir tebal itu
menganggukkan kepalanya. Kemudian mulutnya bergerak seperti hendak meng-ucapkan
sesuatu. Tapi karena terlalu pelan, Dewa Arak mendekatkan telinganya ke mulut
orang kasar yang tengah menanti ajal itu. Pemuda berambut putih keperakan ini
dapat menduga mengapa laki-laki berbibir tebal ini bersedia memberi tahu sarang
penculik. Laki-laki kasar itu mendendam, karena merasa dikhianati.
Hanya sebentar saja laki-laki
berbibir tebal itu meng-gerak-gerakkan mulutnya. Sesaat kemudian kepalanya pun
terkulai. Laki-laki kasar ini tewas dengan bibir tersenyum puas. Puas telah
berhasil membalas sakit hatinya.
"Hm.... Jadi orang itu
pemimpin gerombolan penculik...," desis Arya pelan.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Kini dia telah tahu sarang penculik permaisuri itu. Tapi pemuda berambut putih keperakan
tidak langsung menuju ke sana. Dia ingin ke Kotaraja Kerajaan Kamujang dulu.
Akan dicegahnya pertumpahan darah yang terjadi akibat salah paham. Pertumpahan
darah yang akan diakibatkan oleh amukan Pendekar Tangan Baja.
***
5
Sementara itu di dalam benteng Istana Kerajaan Kamujang, Pendekar Tangan Baja tengah mengamuk. Ilmu
'Tangan Baja'nya dikerahkan sampai
ke puncak kemampuannya. Suara dentingan diikuti berpatahannya senjata-senjata
pasukan Kerajaan Kamujang, mengiringi setiap gerakan tangan pemuda berpakaian
kuning ini.
Memang sudah sejak semula
Pendekar Tangan Baja mendendam pada pasukan Kerajaan Kamujang, yang sering
dilihatnya berbuat sewenang-wenang pada pen-duduk. Maka tindakannya pun tidak
tanggung-tanggung lagi. Setiap gerakan tangan atau kaki pemuda berpakaian
kuning ini selalu menimbulkan hawa maut.
"Haaat..!"
Sambil mengeluarkan bentakan
nyaring, seorang prajurit melompat menerjang. Golok di tangannya ditusukkan ke
dada pemuda berpakaian kuning.
"Hiyaaa...!"
Dari arah belakang, prajurit
lainnya pun menusukkan tombaknya ke punggung Pendekar Tangan Baja. Tapi pemuda
berpakaian kuning ini hanya mendengus. Sekali mengenjotkan kaki, tubuhnya sudah
melenting tinggi ke atas, melewati kepala prajurit yang menyerang dari depan.
Dan begitu telah berada di atas lawan, tubuhnya berputar setengah lingkaran.
Lalu kedua tangannya mendorong punggung prajurit yang tengah menusukkan golok
itu.
Pelahan saja kelihatan tangan
pemuda berpakaian kuning itu menyentuh punggung prajurit itu. Tapi akibatnya
luar biasa! Tubuh prajurit itu terdorong ke depan, seperti diseruduk kerbau
liar. Kejadian yang sudah diperhitungkan matang oleh Pendekar Tangan Baja
terjadi.
Cappp, blesss...!
"Aaakh...!" "Aaa...!"
Kejadian itu berlangsung cepat sekali.
Dan terjadi hampir berbarengan. Akibat dorongan Pendekar Tangan Baja, prajurit itu tidak bisa mempertahankan
keseimbangannya lagi. Golok yang semula bertujuan ke arah perut pemuda
berpakaian kuning, menghunjam perut prajurit bertombak yang melancarkan
serangan dari belakang. Pada saat yang bersamaan, prajurit bertombak tadi juga
menusukkan senjatanya. Dan tak pelak lagi, perut prajurit bersenjata golok pun
mengalami nasib yang sama dengan rekannya. Perutnya terhunjam tombak hingga
tembus ke punggung!
Beberapa saat lamanya tubuh kedua
prajurit itu menggelepar-gelepar. Sesaat kemudian diam tidak ber-gerak lagi
untuk selama lamanya. Tewas!
"Hup...!"
Kedua kaki Pendekar Tangan Baja
mendarat ringan di tanah. Di wajah
tampannya tersungging senyum kegembiraan.
Tentu saja hal ini membuat pasukan Kerajaan Kamujang
yang mengepung menjadi semakin geram. Korban yang jatuh di tangan pemuda
berpakaian kuning ini sudah lebih dari sepuluh orang. Padahal pertarungan belum
berlangsung lama. Tapi sebelum para prajurit itu kembali menyerbu, tiba-tiba
terdengar suara bentakan keras.
"Tahan..!"
Kontan semua pasukan kerajaan
yang akan menyerang, menahan gerakannya dan langsung melangkah mundur. Mereka
semua mengenal betul pemilik suara bentakan itu. Siapa lagi kalau bukan Prabu
Jayalaksana?
Agak jauh di belakang pasukan
kerajaan itu, berdiri seorang laki-laki setengah baya berkumis dan berjenggot
rapi. Wajahnya menyiratkan keagungan dan kewibawaan. Hanya sayangnya, pada saat
ini wajah penuh wibawa itu terlihat muram.
Dan seperti biasanya Prabu
Jayalaksana tidak pemah sendiri. Di kiri kanannya berdiri dengan wajah angker delapan
orang berseragam gemerlapan. Dan di bagian dada sebelah kiri tersulam gambar
cakar burung garuda dari benang emas. Inilah pasukan pengawal khusus Prabu Jayalaksana,
Pasukan Kuku Garuda. Pasukan yang terdiri dari jago-jago istana nomor satu.
Pendekar Tangan Baja menatap
sosok tubuh yang berdiri di hadapannya satu persatu. Sekali lihat saja pemuda
berpakaian kuning ini mengetahui mana Prabu Jayalaksana. Pastilah orang yang
berdiri di tengah-tengah dan memandang dirinya dengan sinar mata muram,
pikirnya.
Begitu pandangannya tertumbuk
pada delapan orang yang berdiri di kanan kiri Prabu Jayalaksana, diam-diam
Pendekar Tangan Baja terkejut. Dari sorot mata delapan orang itu, pemuda
berpakaian kuning sudah dapat memperkirakan ketinggian ilmu yang mereka miliki.
Dan ini membuat pemuda pemarah ini bersikap hati-hati.
Prabu Jayalaksana melangkah maju
beberapa tindak. Delapan orang Pasukan Kuku Garuda pun ikut melangkah maju.
Kini jarak antara Raja Kamujang dengan Pendekar Tangan Baja, tinggal lima
tombak lagi.
Prabu Jayalaksana menatap
Pendekar Tangan Baja dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Sinar matanya
begitu dingin, sehingga sulit bagi pemuda berpakaian kuning ini untuk
mengetahui makna tatapan itu.
"Kaukah yang berjuluk
Pendekar Tangan Baja, Anak Muda?" tanya Raja Kamujang itu. Datar dan
dingin suaranya.
“Tidak salah!" sahut pemuda
berpakaian kuning tanpa sikap menghormat sama sekali. Tentu saja hal ini mem-buat
para prajurit punggawa, dan delapan orang Pasukan Kuku Garuda, menggeram murka.
Tangan mereka yang telah menggenggam senjata masing-masing, menegang. Siap
untuk menerjang.
Tapi Prabu Jayalaksana hanya
tersenyum tipis. Tidak nampak tanda-tanda kalau Raja Kamujang ini merasa
ter-hina. Tangan kanannya diangkat untuk meredakan kemarahan pasukannya. Dan
seketika itu juga, tangan-tangan yang telah menegang itu pelahan mengendur
kembali.
"Apa maksud kedatanganmu
kemari, Pendekar Tangan Baja?" tanya Raja Kamujang itu masih bernada
sabar.
“Tidak perlu banyak basa-basi
Prabu Jayalaksana! Kedatanganku kemari untuk melenyapkan
keangkara-murkaanmu!" tandas Pendekar Tangan Baja tegas.
Sesabar-sabamya seseorang, tentu
akan marah juga bila terus menerus dihina. Apalagi di hadapan banyak orang.
Lebih-lebih lagi, jika orang itu adalah seorang raja seperti Prabu Jayalaksana!
Seorang raja yang sudah terbiasa dihormati orang.
"Kau terlalu sombong,
Pendekar Tangan Baja! Orang sepertimu harus diberi pelajaran!"
Setelah berkata demikian, Raja
Kamujang ini menjentik-kan jarinya. Seketika itu juga, empat orang Pasukan Kuku
Garuda menghampiri Pendekar Tangan Baja. Sementara Prabu Jayalaksana segera melangkah
mundur diikuti oleh sisa Pasukan Kuku Garudanya!
Pendekar Tangan Baja bersikap
waspada. Kali ini pemuda berpakaian kuning ini tidak berani menganggap enteng
lawannya. Menilik sikap dan gerak-gerik empat orang lawannya, sudah bisa
diperkirakan kalau keempat anggota Pasukan Kuku Garuda ini memiliki kepandalan
yang tidak rendah. Maka seluruh otot-otot dan urat-urat syaraf pemuda ini
menegang. Sepasang matanya menatap liar ke arah lawan.
"Hih...!"
Seraya berteriak keras salah
seorang anggota Pasukan Kuku Garuda yang berkulit gelap, bertubuh agak tinggi
melompat menyerang. Rambut orang ini panjang dan dikepang. Dan pada ujung
ramburnya terdapat sebuah benda berbentuk segi lima, berwama hitam mengkilat.
Kepalanya digoyangkannya ke kiri. Seketika itu juga ujung ramburnya melayang
deras ke arah kepala Pendekar Tangan Baja. Angin bercicitan tajam mengiringi
tibanya serengan itu.
Pendekar Tangan Baja tidak berani
bertindak ceroboh. Sadar kalau dirinya belum mengetahui keistimewaan ilmu
lawan, maka pemuda berpakaian kuning tidak berani menangkisnya. Ingin
diketahuinya dulu perkembangan ilmu aneh lawannya ini. Itulah sebabnya, pemuda
berpakaian kuning ini cepat-cepat menarik kakinya ke belakang.
Wuuut..!
Angin berhawa panas menerpa wajah
Pendekar Tangan Baja, begitu sabetan rambut itu lewat setengah jengkal di depan
wajahnya.
"Hiyaaa...!"
Cepat bukan main gerakan pengawal
berambut kepang ini. Begitu sabetan ramburnya lolos, segera saja serangan
selanjutnya datang menyusul. Kedua tangannya dengan posisi telunjuk mengacung,
sementara jari-jari tangan lainnya terkepal, melakukan totokan-totokan beruntun
ke tenggorokan dan bawah hidung. Dua jalan darah memati-kan.
Cit, cit!
Kali ini Pendekar Tangan Baja
sama sekali tidak meng-elakkan serangan itu. Segera kedua tangannya bergerak
menangkis dengan satu jari pula.
Tak, tak! "Akh...!"
Pengawal berambut kepang itu
memekik tertahan. Jari telunjuknya dirasakan seperti hendak patah ketika
ber-benturan dengan telunjuk pemuda berpakaian kuning di hadapannya. Walaupun begitu, tetap saja tidak mengurangi niatnya
untuk kembali melancarkan serangan balasan. Kepalanya digoyangkan ke kiri.
Seketika itu juga ujung rambutnya melayang ke pelipis pemuda berpakaian kuning.
Serangan itu datang begitu cepat
dan tidak terduga-duga. Tapi walaupun begitu, tidak membuat Pendekar Tangan
Baja gugup. Buru-buru tubuhnya dirundukkan sehingga sambaran ujung rambut lewat
sejengkal di atas kepalanya. Tepat saat itu, dilancarkan serangan balasan
berupa totokan satu jari bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati pengawal khusus
Prabu Jayalaksana.
"Ah...!"
Pengawal berambut kepang terpekik
kaget. Sungguh tidak disangkanya, dalam keadaan terjepit lawannya mampu balik
menjepit dirinya. Diam-diam dalam hati salah seorang Pasukan Kuku Garuda ini,
timbul perasaan kagum. Jarang ditemuinya orang semuda laki-laki berpakaian
kuning ini yang memiliki tingkat kepandaian setinggi itu.
"Hih...!"
Tidak ada jalan lain bagi
pengawal berambut kepang kecuali melentingkan tubuh ke belakang, kemudian
ber-salto beberapa kali di udara. Manis dan indah sekali gerakannya. Dan...
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kaki
laki-laki berambut kepang ini menjejak bumi. Dari peragaan ini saja sudah bisa
diketahui ketinggian ilmu meringankan tubuh milik pengawal khusus Prabu
Jayalaksana ini.
Pendekar Tangan Baja sama sekali
tidak mengejar. Sepasang mata pemuda berpakaian kuning ini menatap lawannya
lekat-lekat.
"Kau hebat, Anak Muda,"
puji laki-laki berambut kepang itu jujur. "Tidak percuma kau berani
menyandang nama besar. Jari-jari dan tanganmu keras seperti baja. Itukah
sebabnya kau berjuluk Pendekar Tangan Baja?!"
"Aku tidak perlu pujianmu,
Kisanak," balas Pendekar Tangan Baja singkat. Dingin dan datar suaranya.
Merah wajah laki-laki berkulit
hitam itu. Pemuda di hadapannya ini benar-benar sombong. Orang seperti ini
harus diberi pelajaran, agar mau menghargai orang lain.
“Tapi itu bukan berarti aku
gentar padamu, Pemuda Sombong!" teriak
pengawal berambut kepang itu.
Kemarahannya langsung bangkit seketika.
"Apa peduliku?!" sentak
Pendekar Tangan Baja keras. "Keparat! Orang seperti kau harus diberi
pelajaran!"
Setelah berkata demikian,
pengawal berambut kepang itu kembali menerjang Pendekar Tangan Baja. Rambut
kepangnya dan juga totokan totokan telunjuknya, ber-kelebatan cepat
Bertubi-tubi mencari sasaran. Tapi lawan yang dihadapinya adalah Pendekar
Tangan Baja. Dan kini pemuda berpakaian kuning itu sudah dapat membaca
jurus-jurus yang dimainkan lawannya. Maka tanpa ragu-ragu lagi, Pendekar Tangan
Baja segera mengelak sambil mengirim serangan balasan yang tak kalah dahsyat.
Pertarungan sengit pun terjadi.
Prabu Jayalaksana, Pasukan Kuku
Garuda, dan pasukan kerajaan lainnya menonton pertarungan itu dari jarak agak
jauh dengan penuh minat. Diam-diam semua memuji kelihaian kedua orang yang
tengah bertarung.
Memang cukup menggiriskan akibat
yang ditimbulkan oleh pertarungan kedua orang itu. Suara decit angin tajam,
bersiutan dan menderu menyemaraki jalannya pertarungan itu. Tanah-tanah
terbongkar di sana sini. Ranting-ranting berpatahan dari dahan pohon yang
terserempet angin pukulan yang nyasar. Dan debu pun mengepul tinggi ke udara.
Selama beberapa jurus,
pertarungan berjalan imbang. Tapi setelah memasuki jurus kelima belas, mulai
nampak keunggulan Pendekar Tangan Baja. Memang tingkat kepandaian pengawal
berambut kepang berada jauh di bawah pemuda berpakaian kuning itu. Baik dalam
hal ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam, anggota Pasukan Kuku Garuda ini
jauh di bawah lawannya. Apalagi di samping
itu Pendekar Tangan Baja memiliki keistimewaan lainnya. Tangannya
yang kokoh dan kebal.
Maka tidak aneh jika setiap kali
tangan atau kaki kedua orang itu berbenturan. Selalu pengawal berambut kepang
itu terhuyung-huyung ke belakang. Mulutnya menyeringai kesakitan.
Semakin lama Pendekar Tangan Baja
semakin men-desak anggota Pasukan Kuku Garuda itu. Dan kini laki-laki berambut
kepang itu hanya mampu bertahan. Hanya sesekali saja dia melancarkan serangan
balasan. Itu pun dengan mudah dapat dikandaskan pemuda berbaju kuning.
Tujuh orang rekannya tentu saja
melihat keadaan laki-laki berambut kepang itu. Tapi mereka diam saja. Hanya
memandang dengan sinar mata khawatir. Mereka tidak berani bertindak lancang tanpa perintah Prabu Jayalaksana.
Walaupun tidak memiliki ilmu
kepandaian setinggi para pengawal khususnya, Prabu Jayalaksana sedikit banyak
dapat mengetahui kalau anggota Pasukan Kuku Garuda itu terdesak.
"Kalian bantu tangkap
Pendekar Tangan Baja," perintah-nya pada tiga orang yang tadi sudah
melangkah maju.
Tanpa menunggu diperintah dua
kali, tiga orang anggota Pasukan Kuku Garuda itu segera melesat ke depan.
Menceburkan diri dalam arena pertarungan, dan langsung melakukan serangan
serangan berbahaya.
Dengan adanya tambahan tiga
anggota Pasukan Kuku Garuda, Pendekar Tangan Baja terpaksa menghentikan desakan
pada laki-laki berambut kepang. Cepat pemuda berbaju kuning melentingkan
tubuhnya ke belakang, kemudian bersalto beberapa kali di udara dan hinggap di
tanah. Dan secepat itu pula bersiap.
Empat orang Pasukan Kuku Garuda
tidak mengejar. Dibiarkan saja pemuda berbaju kuning itu memperbaiki
kuda-kudanya. Sementara Pendekar Tangan Baja bersiap siaga menghadapi empat
orang jago-jago istarta ini.
Tapi sebelum Pendekar Tangan Baja
dan empat pengawal khusus Raja Kamujang ini bentrok, sebuah bisikan di telinga
pemuda berbaju kuning ini membuatnya tertegun.
"Gusti Prabu Jayalaksana
tidak bersalah, Pendekar Tangan Baja. Ada orang yang memfitnahnya...."
"Arya...?" desah pemuda
berbaju kuning ini pelan. Dikenali betul siapa pemilik suara itu. Siapa lagi
kalau bukan Dewa Arak. Perasaan kagum menyeruak dalam hati pemuda berbaju
kuning ini. Dia tahu kalau pemuda berambut putih
keperakan itu menggunakan ilmu mengirimkan suara dari jauh untuk menyampaikan
pesan itu padanya.
Beberapa saat lamanya Pendekar
Tangan Baja jadi bimbang. Antara menuruti saran Dewa Arak atau melanjut-kan
pertarungan. Tapi akhimya, pemuda berbaju kuning ini memutuskan untuk menuruti
saran Arya. Toh, kalau nanti ternyata apa yang dikatakan pemuda berambut putih
keperakan itu tidak benar, masih ada kesempatan lain untuk melaksanakan niat
nya itu.
Setelah memutuskan demikian,
Pendekar Tangan Baja segera melentingkan tubuhnya ke belakang. Bersalto
beberapa kali di udara kemudian melesat kabur dari situ.
“Tangkap...! Jangan biarkan dia
lolos...!" teriak Panglima Ramkin, yang tiba-tiba sudah datang ke tempat
itu.
Teriakan-teriakan keras bernada
perintah terdengar bersahut- sahutan. Tentu saja pasukan Kerajaan Kamujang
tidak tinggal diam. Belasan prajurit mencoba menghadang, tapi segera buyar
begitu pemuda berbaju kuning itu mengamuk membuka jalan.
Empat orang Pasukan Kuku Garuda
tidak tinggal diam. Mereka pun segera bergerak mengejar. Tapi Pendekar Tangan
Baja segera mengerahkan seluruh ilmu peringan tubuh yang dimilikinya. Tubuhnya
berkelebatan cepat. Dan beberapa saat kemudian, sudah berada di dinding tembok
istana.
"Hih...!"
Pendekar Tangan Baja
menggenjotkan kakinya. Sesaat kemudian tubuhnya pun melayang ke atas. Tepat
pada saat pasukan panah Kerajaan Kamujang melepaskan puluhan anak panah ke
arahnya.
Kembali pemuda berbaju kuning ini
membuktikan kelihaiannya. Selagi tubuhnya berada di udara, kedua tangannya
bergerak cepat menyampok puluhan anak panah yang menyambar deras ke arahnya.
Tak, tak. tak...!
Puluhan batang anak panah itu pun
berpentalan tak tentu arah ketika tersampok sepasang tangan Pendekar Tangan
Baja. Ada beberapa di antara anak-anak panah itu yang masih utuh. Tapi sebagian
besar sudah tidak berbentuk lagi.
"Hup...!"
Wataupun agak terhuyung sedikit,
karena tingginya tembok istana dan juga karena adanya gangguan, pemuda berbaju
kuning ini berhasil mendarat mulus di luar tembok istana. Tanpa membuang-buang
waktu lagi Pendekar Tangan Baja segera melesat kabur dari situ.
Belum berapa jauh Pendekar Tangan
Baja berlari, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat menghadang. Dan tahu-tahu
di depan pemuda berbaju kuning telah berdiri seorang pemuda berambut putih
keperakan.
"Arya...," desis
Pendekar Tangan Baja seraya meng-hentikan larinya.
Pemuda yang memang bukan lain
dari Dewa Arak itu tersenyum lebar.
"Sudah kuduga kalau kau mau
mendengar saranku itu, Pendekar Tangan Baja," ucap pemuda berambut putih
keperakan ini.
"Benarkah yang kau katakan
tadi, Arya?" tanya pemuda berbaju kuning. Mulutnya menyunggingkan senyuman
getir. "Benar, Pendekar Tangan Baja," sahut Dewa Arak sambil menganggukkan
kepalanya.
"Dan kau tahu siapa orang
yang memfitnahnya?" desak Pendekar Tangan Baja lagi. Ada nada
keingintahuan yang amat sangat terpancar dari raut wajahnya.
"Hhh.... Sayang sekali,
Pendekar Tangan Baja," jawab Dewa Arak sambii menghela napas panjang.
"Aku sama sekali tidak mengenalnya. Hanya yang kutahu ciri-ciri orang itu
saja."
"Bisa kau sebutkan
ciri-cirinya, Arya?" tanya pemuda berbaju kuning setengah hati.
Dewa Arak menganggukkan
kepalanya. Beberapa saat lamanya pemuda berambut putih keperakan ini tercenung.
"Seorang laki-laki setengah
baya berpakaian rompi coklat. Dan.... hanya mempunyai sebuah daun
telinga...."
"Apa?!" tanya Pendekar
Tangan Baja setengah berteriak. Keterkejutan yang amat sangat jelas membayang
di wajahnya. Sepasang matanya pun membelalak lebar. Bagaikan melihat hantu di
slang bolong. "Betulkah ciri-dri yang kau sebutkan itu, Arya?"
Tentu saja Dewa Arak jadi
terkejut campur bingung melihat sikap pemuda berbaju kuning yang nampak jelas
begitu terkejut mendengar keterangannya. Masih dengan sinar mata penuh
pertanyaan, pemuda berambut putih keperakan ini menganggukkan kepalanya.
"Ada apa, Pendekar Tangan
Baja?" tanya Arya hati-hati. Khawatir kalau pertanyaannya menyinggung
perasaan pemuda berbaju kuning yang pemarah ini.
"Ciri-ciri yang kau sebutkan
itu, mirip dengan orang yang selama ini kucari-cari, Arya," sahut Pendekar
Tangan Baja pelahan.
"Maksudmu...." Dewa Arak tidak melanjutkan
ucapannya. Memang, pemuda berbaju kuning ini pernah bercerita mengenal tugasnya
mencari paman gurunya.
"Yahhh..., paman guruku,
Arya," sahut Pendekar Tangan Baja dengan suara mendesah.
Dewa Arak terdiam mendengar
penjelasan itu. Sesaat lamanya suasana pun jadi hening.
"Kau tahu di mana paman
guruku itu berada, Arya?" Dewa Arak menganggukkan kepalanya.
"Bisa kau beritahukan aku
tempatnya?" tanya Pendekar Tangan Baja.
"Kita pergi bersama-sama
Pendekar Tangan Baja." sahut Dewa Arak.
“Tidak! Ini adalah urusan
pribadi. Kau tidak usah ikut campur, Arya," bantah pemuda berbaju kuning
itu.
Dewa Arak tersenyum. Disadari
kebenaran ucapan pemuda berbaju kuning di hadapannya.
“Tapi kini persoalan itu sudah
bukan persoalanmu sendiri, Pendekar Tangan Baja."
"Apa maksudmu? Aku masih
belum mengerti," tanya pemuda berbaju kuning ini. Nada suaranya
menyiratkan tuntutan.
"Karena paman gurumulah
orang yang telah memfitnah Prabu Jayalaksana!"
"Memfitnah?! Ceritakanlah,
Arya!" desak Pendekar Tangan Baja ingin tahu.
Tidak ada jalan lain bagi Dewa
Arak kecuali mencerita-kan hal yang sebenarnya pada pemuda berbaju kuning ini.
Dan begitu Arya menyelesaikan ceritanya. Pendekar Tangan Baja baru mengerti.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi, Arya? Mari kita serbu tempat itu!" ajak pemuda berbaju kuning itu
penuh semangat.
Dewa Arak hanya tersenyum. Sesaat
kemudian tubuh kedua pemuda perkasa itu telah melesat meninggalkan tempat itu.
Cepat bukan main gerakan kedua pemuda gagah itu. Dalam sekejap saja, bayangan
tubuh mereka telah lenyap ditelan kerimbunan pepohonan.
***
6
Dewa Arak dan Pendekar Tangan
Baja berlari cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka. Cepat bukan main
gerakan kedua pemuda perkasa itu. Sehingga yang terlihat hanyalah sekelebatan
bayangan keunguan dan kekuningan.
Diam-diam baik Pendekar Tangan
Baja maupun Dewa Arak sama-sama memuji kelihaian masing-maslng. Arya memang
sudah menduga kalau pemuda berpakaian kuning ini memiliki kepandaian tinggi.
Tapi sungguh tidak diduganya kalau sampai setinggi ini. Ilmu meringankan tubuh
Pendekar Tangan Baja ini amat luar biasa. Meskipun begitu, seandainya pemuda
berambut putih keperakan ini mau mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya,
sudah dapat dipastikan akan mampu meninggalkan pemuda berpakaian kuning.
Pendekar Tangan Baja pun dilanda
perasaan serupa. Pemuda berpakaian kuning ini adalah seorang pendekar muda yang
baru pertama kali terjun ke dunia persilatan. Sehingga belum pemah mendengar
julukan Dewa Arak alias Arya Buana yang menggemparkan dunia persilatan.
Pendekar Tangan Baja merasa kagum
bukan main melihat kehebatan pemuda berambut putih keperakan ini. Padahal dia
telah mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya, tapi tetap saja tidak mampu
meninggalkan Arya. Bahkan kini terlihat jelas kalau Dewa Arak itu pelahan namun
pasti, mulai meninggalkan beberapa langkah di depannya. Pendekar Tangan Baja
sama sekali tidak tahu kalau pemuda berambut putih keperakan ini belum
mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya.
Berkat ilmu meringankan tubuh
kedua pemuda perkasa yang telah mencapai tingkatan tinggi, tak berapa lama
kemudian, bangunan dimaksud telah terlihat oleh keduanya. Begitu bangunan itu sudah
terlihat Jelas, Dewa
Arak dan Pendekar Tangan Baja
segera menghentikan langkahnya. Agak jauh dari bangunan itu. Cepat kedua pemuda
perkasa ini berlindung di balik sebatang pohon.
"Kelihatannya sepi-sepi
saja, Arya," ucap Pendekar Tangan Baja setelah sepasang matanya mengamati
sekitar bangunan tua yang berhalaman cukup luas itu.
Dewa Arak hanya menggumam tidak
Jelas.
"Aku khawatir kalau
keterangan yang kau terima itu hanya tipuan belaka," ucap pemuda
berpakaian kuning lagi begitu dilihatnya pemuda berambut putih keperakan tidak
menyahuti ucapannya.
"Aku yakin orang itu tidak
menipu kita," sahut Dewa Arak tanpa mengalihkan perhatiannya pada bangunan
tua yang menjadi pusat perhatian mereka.
"Apa yang membuatmu begitu
yakin, Arya?"
Dewa Arak mengalihkan
pandangannya dari bangunan tak terurus itu. Ditatapnya wajah Pendekar Tangan
Baja lekat-lekat.
"Orang itu merasa sakit hati
karena dikhianati oleh pemimpinnya. Coba kau pikirkan, Pendekar Tangan Baja.
Andaikan kau yang menjadi orang itu. Lalu kau telah melaksanakan tugasmu dengan
baik, tapi kau malah dibunuhnya. Apakah kau tidak sakit hati? Tidak ingin
membalas kekejian pemimpinmu itu?" Arya balik bertanya.
"Hhh...!" Pendekar
Tangan Baja menghela napas panjang. "Itukah dasar pemikIran yang membuatmu
yakin akan keterangannya, Arya?"
"Ya." sahut Dewa Arak
singkat.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi? Mari kita serbu bangunan itu. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu
dengan paman guruku!" ajak Pendekar Tangan Baja seraya hendak beranjak
dari tempat persembunyiannya.
"Sabar, Pendekar Tangan
Baja!" ucap Dewa Arak mencegah.
"Ada apa? Kau takut?"
tanya pemuda berpakaian kuning itu seraya mengernyitkan kening.
Merah wajah Dewa Arak mendengar
ucapan itu. Sikap
Pendekar Tangan Baja begitu
keras. Dan ucapannya pun terkadang sering menyakitkan hati. Sepertinya setiap
ucapan pemuda berpakaian kuning ini keluar begitu saja tanpa dipikir lebih
dulu.
“Tidak ada kata takut dalam kamus
hidupku, Pendekar Tangan Baja!" tandas pemuda berambut putih keperakan itu
agak keras.
"Hm.... Lalu? Mengapa kau
ragu-ragu?" desak Pendekar Tangan Baja lagi.
"Dalam menghadapi setiap
persoalan, kita tidak boleh menuruti emosi saja, Pendekar Tangan Baja,"
jawab Dewa Arak setengah menggurui. Disadari kalau ucapannya itu agak keras.
Tapi Arya tidak mempedulikannya lagi. Ber-bicara dengan pemuda di hadapannya
ini memang harus tegas.
"Jadi, menurutmu... lebih
baik kita bersembunyi saja di sini. Begitu, Arya," sindir Pendekar Tangan
Baja sambil tersenyum mengejek.
"Bukan itu yang
kumaksudkan!" ucap Dewa Arak agak keras. "Ingat, kita kemari bukan
hanya untuk bertarung saja. Tapi juga menyelamatkan Permaisuri Kerajaan
Kamujang."
"Heh?! Kau salah kira
rupanya, Arya."
"Maksudmu?" tanya
pemuda berambut putih keperakan itu masih kurang mengerti.
"Aku datang kemari bukan
untuk menyelamatkan permaisuri yang diculik itu! Tapi untuk membawa paman
guruku hidup atau mati'" tandas Pendekar Tangan Baja tegas.
"Kalau begitu, hapus saja
julukan pendekarmu itu. Pendekar Tangan Baja'" sambut Dewa Arak tak kalah
keras.
"Apa hubungannya sebutan
pendekar itu dengan menyelamatkan permaisuri? Hm.... Baru kali ini kudengar
kalau seorang berhak mendapat julukan pendekar, kalau sudah menyelamatkan
seorang permaisuri!" ejek Pendekar Tangan Baja.
"Hhh...! Tak kusangka kalau
secepat ini kau melupakan janjimu pada Ki Paladi. Tak kusangka kalau kau begitu
mudahnya mengingkan janji " keluh Dewa Arak.
"Jaga mulutmu, Arya!"
sentak Pendekar Tangan Baja gusar. "Aku sama sekali tidak berjanji
menyelamatkan permaisuri raja pada Ki Paladi!"
"Bukankah kau telah bertekad
untuk menghilangkan kekacauan yang terjadi di wilayah Kerajaan Kamujang?"
tanya Arya dengan nada tinggi.
“Benar."
"Nah! Perlu kau ketahui!
Sumber semua kekacauan di Kerajaan Kamujang ini adalah karena permaisuri Prabu
Jayalaksana disandera oleh paman gurumu! Selama permaisuri masih di tangan
mereka, Raja Kamujang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menentang kekacauan
itu!" jelas Dewa Arak panjang lebar.
Pendekar Tangan Baja pun terdiam
seketika. Kini baru disadarinya kalau masalah yang tengah dihadapi tidak
sesederhana yang dia duga. Memang pemuda berpakaian kuning ini kurang mengandalkan pikirannya dalam menghadapi setiap persoalan.
"Sekarang terserah padamu!
Kalau kau tetap tidak ingin menyelamatkan permaisuri itu, aku tidak akan
memaksa! Tapi kumohon, kau menahan dulu urusan dengan paman gurumu itu sampai aku berhasil menyelamatkan permaisuri,"
pinta pemuda berambut putih keperakan itu seraya menatap tajam wajah pemuda
berpakaian kuning.
"Hhh...!" Pendekar
Tangan Baja menghela napas panjang. Kemarahannya yang sejak tadi bangkit,
pelahan mulai mereda.
“Bagaimana? Bisa kau penuhi
permintaanku ini?" tanya Dewa Arak lagi begitu melihat pemuda berpakaian
kuning belum memberikan jawaban.
"Maafkan atas kebodohanku,
Arya," ucap pemuda ber-pakaian kuning lagi. Nada suaranya menyiratkan
penyesalan yang mendalam.
"Jadi...?"
"Aku ikut denganmu. Kita
bersama-sama menyelamat-kan permaisuri dulu. Biar urusan dengan paman guruku,
kuurus setelah kita berhasil menyelamatkan permaisuri''
Dewa Arak tersenyum lebar.
Diulurkan tangannya. Pendekar Tangan Baja menyambut hangat, dan meng-genggamnya
erat-erat. Perasaan kagumnya kepada Arya semakin besar. Sungguh tidak disangka,
kalau pemuda berambut putih keperakan itu memiliki pandangan yang begitu luas.
Siapakah sebenarnya Arya ini? tanya Pendekar Tangan Baja dalam hati.
***
Matahari tepat berada di atas
kepala. Sinamya yang terik menyorot garang ke permukaan bumi Dewa Arak dan
Pendekar Tangan Baja melesat cepat mendekati pagar tembok yang mengelilingi
bangunan tua yang tak terurus itu. Berkat ilmu meringankan tubuh kedua pemuda
itu yang sudah mencapai tingkatan tinggi, dalam sekejap saja keduanya sudah
berada di balik pagar tembok.
"Kita bagi tugas, Pendekar
Tangan Baja," ucap Dewa Arak.
"Maksudmu?" tanya
Pendekar Tangan Baja seraya mengernyitkan keningnya.
"Kita harus bertindak
hati-hati. Bukankah kita belum mengetahui seberapa besar kekuatan gerombolan
paman gurumu itu? Untuk menghindari kegagalan, akan kucoba menarik perhatian
mereka "
"Bicara jangan
berbelit-belit, Arya," tegur pemuda berpakaian kuning itu. Memang Pendekar
Tangan Baja masih belum mengerti arah pembicaraan pemuda berambut putih keperakan ini.
"Aku akan membuat kekacauan.
Dan begitu semua perhatian mereka sudah tertuju padaku. Kau cari dan selamatkan
permaisuri. Mengerti?"
Pendekar Tangan Baja
menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu bersiapiah, aku akan menarik
perhatian mereka!"
Setelah berkata demikian, pemuda
berambut putih keperakan menggenjotkan kaki. Sesaat kemudian tubuh pemuda ini
pun melenting ke atas. Dan....
"Hup...!"
Indah dan manis sekali, kedua
kakinya mendarat di pagar tembok. Tapi belum sempat pemuda berambut putih
keperakan ini berbuat sesuatu, beberapa orang yang tengah berjaga-jaga di
sekitar bangunan itu telah me-mergokinya.
"Cepat lapor pada
ketua," perintah salah seorang dari mereka. Sementara dia sendiri bersama
beberapa orang lainnya segera meluruk ke arah Dewa Arak.
Arya yang memang sengaja hendak
mengalihkan perhatian, segera melompat turun dari pagar tembok batu.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kakinya
menjejak tanah, tepat pada saat delapan anggota gerombolan itu meluruk ke
arahnya dengan senjata terhunus.
Karena ingin mengalihkan
perhatian, Dewa Arak tidak bertindak setengah-setengah. Segera saja dikeluarkan
seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Singgg, singgg, wuttt….!
Delapan batang senjata tajam yang
terdiri dari tombak, pedang dan golok berkelebatan cepat ke berbagai bagian
tubuh pemuda berambut putih keperakan itu. Tapi, Dewa Arak tetap bersikap
tenang. Dibiarkan saja hujan senjata-senjata tajam itu meluruk ke berbagai
bagian tubuhnya.
Tak, tak, tak...!
Suara-suara pekikan kaget segera
terdengar begitu hujan senjata-senjata tajam itu mengenai sasarannya. Betapa
tidak? Semua senjata yang mengenai sekujur tubuh Dewa Arak berbalik kembali.
Seolah-olah yang terbabat itu bukan tubuh manusia yang terdiri dari daging dan
tulang. Melainkan gumpalan karet yang keras dan kenyal.
Tapi suara pekik kekagetan itu
segera berganti dengan pekik kesakitan, begitu tangan Dewa Arak bergerak.
Padahal gerakan tangan pemuda berambut putih
keperakan itu terlihat pelahan saja. Tapi akibatnya, delapan orang kasar
berpentalan tak tentu arah bagai dilanda angin badai!
Tapi baru juga delapan orang itu
roboh, dari dalam bangunan tua itu muncul puluhan orang bahkan mungkin seratus
orang! Berdiri paling depan adalah seorang laki-laki setengah baya berompi
coklat, berdaun telinga satu.
Dewa Arak terperanjat kaget.
Sungguh tidak disangka-nya kalau jumlah anak buah Paman Guru Pendekar Tangan
Baja begitu besar. Beberapa saat lamanya, pemuda berambut putih keperakan ini
terlihat bingung.
Belum juga Arya berhasil
menghilangkan perasaan kagetnya, tahu-tahu tangan laki-laki setengah baya ini
berkelebat. Seketika itu juga anak buahnya yang berjumlah tak kurang dari tiga
ratus orang itu bergerak cepat mengurung. Dalam sekejap Dewa Arak telah
terkurung rapat.
Dewa Arak menyadari keadaan yang
tidak menguntung-kan baginya. Maka tanpa ragu-ragu lagi segera dijumput-nya
guci arak yang tersampir di punggungnya. Kemudian dituangkan ke mulutnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar begitu
arak itu memasuki tenggorokan Arya. Seketika itu juga ada hawa hangat yang
merayap memasuki perut Dewa Arak. Dan kemudian naik ke kepala.
Baru Juga Dewa Arak menurunkan
kembali gucinya. Laki-laki berompi coklat itu telah berseru keras.
“Serang...!”
Tanpa menunggu diperintah dua
kali, orang-orang yang telah mengurung itu langsung bergerak menyerbu Dewa
Arak. Hujan senjata pun berkelebatan ke arah pemuda berambut putih keperakan
itu.
Bukan hanya Dewa Arak saja yang
terkejut melihat hal ini. Pendekar Tangan Baja pun dilanda perasaan serupa.
Kini kekagumannya pada Dewa Arak
semakin bertambah besar. Sikap hati-hati pemuda berambut putih keperakan itu
begitu tepat, gumam pemuda berpakaian kuning dalam hati.
Tapi Pendekar Tangan Baja tidak
bisa terlalu lama larut dalam keterkejutannya. Pemuda berpakaian kuning ini
tahu, betapa pun lihainya Arya, tidak mungkin mampu menghadapi sekian banyak
orang. Apalagi di situ ada paman gurunya! Maka dia harus bertindak cepat kalau
ingin Dewa Arak tetap selamat.
Sekali lagi Pendekar Tangan Baja
memandang ke arah Dewa Arak yang sudah sibuk bertarung menghadapi pengeroyokan
lawannya. Kemudian tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda berpakaian kuning
ini melesat ke belakang. Mengelilingi bagian luar pagar tembok. Pemuda
berpakaian kuning ini mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Pendekar
Tangan Baja ingin buru-buru membantu Dewa Arak. Tapi untuk itu dia harus lebih
dulu menyelamatkan permaisuri.
Setelah berada di pagar tembok
bagian belakang, Pendekar Tangan Baja menghentikan Langkahnya. Pemuda berpakaian kuning terdiam
sejenak. Kemudian digenjotkan kakinya.
"Hih...!"
Sesaat kemudian tubuhnya
melenting, melewati pagar tembok. Indah dan manis gerakannya. Dan....
"Hup...!"
Seperti yang sudah direncanakan
Dewa Arak, keadaan di sini hening dan sepi. Sesaat Pendekar Tangan Baja
mengawasi keadaan di sekitar bangunan. Lalu melesat ke dalam melalui pinru
belakang.
Tanpa mengalami kesulitan, pemuda
berpakaian kuning ini memasuki pintu itu dan terus menerobos ke dalam. Agak
bingung juga pemuda berpakaian kuning melihat begitu banyak ruangan yang
ditemuinya dalam bangunan ini. Tapi perkenalannya dengan Dewa Arak telah
membuat pemuda ini mulai bisa mempergunakan akalnya.
Pendekar Tangan Baja buru-buru
menyelinap ke balik sebuah tiang, ketika dilihatnya empat orang berwajah kasar
dan bertubuh kekar berada di depan pintu sebuah ruangan. Pikiran pemuda
berpakaian kuning ini pun bekerja. Mengapa ruangan itu dijaga sementara
ruangan-ruangan lainnya tidak? Kemungkinannya hanya satu, permaisuri Prabu
Jayalaksana ditahan di dalam ruangan itu!
Setelah yakin pada dugaannya,
pemuda berpakaian kuning ini lalu melesat Pendekar Tangan Baja tidak ingin
memberi kesempatan pada para penjaga itu untuk mempergunakan permaisuri sebagai
sandera. Pemuda berpakaian kuning ini mengerahkan seluruh ilmu
meringankan tubuh yang dimilikinya.
Tentu saja empat orang penjaga
itu kaget bukan main begitu melihat di hadapan mereka tahu-tahu berdiri seorang
pemuda berpakaian kuning. Pendekar Tangan Baja terkejut begitu mengenal salah
seorang di antara mereka adalah Rupangga. Sesaat, perasaan bimbang melanda
hatinya. Mengapa punggawa Kerajaan Kamujang ini berada di sini?
Tapi, Pendekar Tangan Baja tidak
bisa berpikir lama, Rupangga ternyata sudah mengenalnya. Terbukti, begitu
dilihatnya pemuda berpakaian kuning ini, segera dicabut goloknya. Tentu saja
ketiga rekannya mengikuti gerakan-nya itu.
Srat, srat..!
Serentak keempat orang itu
menghunus senjatanya masing-masing. Dan secepat itu pula membabatkannya ke arah
Pendekar Tangan Baja. Tak pelak lagi empat buah senjata yang terdiri dari
pedang dan golok, berkelebatan cepat mengancam berbagai bagian tubuh Pendekar
Tangan Baja.
Pendekar Tangan Baja hanya
mendengus. Sekali lihat saja, pemuda berpakaian kuning ini sudah dapat mengukur
tingkat kepandaian empat orang penjaga itu. Pendekar Tangan Baja tidak mau mengulur-ulur
waktu lagi. Cepat- cepat kedua tangannya digerakkan memapak hujan senjata yang
menyambar ke arahnya.
Tak, tak...!
Suara benturan keras terdengar
hampir bersamaan, begitu kedua tangan pemuda berpakaian kuning itu ber-benturan
dengan pedang dan golok di tangan para penjaga. Terdengar pekikan-pekikan kaget
dari mulut orang-orang kasar itu tatkala merasakan tangan-tangan mereka
tergetar hebat. Dan hampir hampir senjata mereka terlepas dari genggaman.
Dengan perasaan terkejut mereka
memandang senjata masing-masing. Seketika sepasang mata mereka ter-belalak
tatkala melihat mata senjata mereka gompal. Dan belum lagi mereka sempat
berbuat sesuatu, kedua tangan Pendekar Tangan Baja sudah bergerak cepat ke arah
mereka.
Wut, wut...! Buk! Buk!
"Hugh!" "Aaakh...!"
Jertt melengking memilukan terdengar hampir bersamaan ketika
sepasang tangan Pendekar Tangan Baja mendarat di perut mereka. Seketika itu
juga tubuh para penjaga itu terlontar jauh ke belakang bagai diseruduk banteng.
Darah segar mengalir deras dari mulut, hidung, dan telinga keempat penjaga itu.
Suara berdebukan keras terdengar
susul menyusul begitu tubuh mereka menghantam lantai. Saat itu juga keempat
orang penjaga itu diam tidak bergerak lagi. Diam untuk selama lamanya.
Tanpa mempedulikan keadaan
lawan-lawannya lagi, Pendekar Tangan Baja segera bergerak ke arah pintu.
Tinjunya dipukulkan ke daun pintu itu. Dan....
Brakkk!
Daun pintu itu hancur berantakan
ketika tinju Pendekar Tangan Baja menghantamnya. Pemuda berpakaian kuning itu
segera melesat ke dalam. Dan terlihatlah seorang wanita setengah baya
berpakaian indah beringsut ke sudut ruangan.
"Apakah Nisanak permaisuri Gusti
Prabu Jayalaksana?" tanya Pendekar Tangan Baja tanpa mempedulikan sikap
wanita setengah baya itu.
Diam tak ada jawaban dari wanita
setengah baya itu. "Bicara cepat, Nisanak! Aku tidak mempunyai banyak waktu.
Aku dan kawanku datang untuk menyelamatkan Permaisuri Kerajaan Kamujang.
Kawanku tengah meng-halangi yang lainnya. Cepat jawab, Nisanak. Benarkah kau
permaisuri Gusti Prabu Jayalaksana?" desak Pendekar Tangan Baja.
Wanita setengah baya itu menatap
wajah Pendekar Tangan Baja lekat-lekat. Kemudian pelahan kepalanya terangguk
pelan.
"Kalau begitu maafkan
aku."
Setelah berkata demikian,
Pendekar Tangan Baja melesat cepat menyambar tubuh wanita setengah baya itu.
Tappp...! "Hup...!"
Secepat tubuh Permaisuri Kerajaan
Kamujang itu dipondongnya, secepat itu pula Pendekar Tangan Baja melesat
keluar.
***
Sementara itu di halaman depan
yang luas, laki-laki berompi coklat tengah memperhatikan Dewa Arak yang sibuk
menghadapi keroyokan anak buahnya. Wajah laki-laki setengah baya ini merah
padam, menyaksikan anak buahnya berjatuhan dan tak bangun lagi setiap kali
tangan, kaki, atau guci Dewa Arak bergerak. Sedangkan setiap serangan anak
buahnya selalu kandas. Sudah belasan orang anak buahnya yang roboh bergeletakan
di tanah.
"Minggir semua...!"
teriak laki-laki berompi coklat itu keras. Seketika itu juga anak buahnya
berlompatan mundur.
"Hup...!"
Lincah dan indah laksana seekor
kera, laki-laki berompi coklat itu melompat mendekati Arya.
"Jangan harap dapat lolos
dari sini, Dewa Arak!" desis laki-laki berdaun telinga satu itu tajam.
Sepasang matanya menatap wajah pemuda berambut putih keperakan penuh ancaman.
"Kita lihat saja
buktinya!" sahut Arya tenang. Memang luar biasa sekali kekuatan hati Dewa
Arak. Meskipun berada dalam ancaman maut, masih mampu bersikap tenang.
"Hiyaaa...!"
Seraya mengeluarkan teriakan
nyaring, laki-laki berompi coklat melompat menerjang Dewa Arak. Paman Guru
Pendekar Tangan Baja ini sebelumnya memang pernah merasakan kelihaian pemuda
berambut putih keperakan itu. Maka tanpa ragu-ragu lagi segera dikeluarkan
seluruh kemampuan yang dimilikinya. Kedua tangannya yang berbentuk paruh bangau
melakukan patukan bertubi-tubi ke arah ubun-ubun dan pelipis Arya.
Dewa Arak tidak mau bersikap
main-main lagi. Pemuda berambut putih keperakan ini menyadari posisinya tidak
menguntungkan. Kalau dia bersikap setengah-setengah, sudah dapat dipastikan
akan tewas terbantai di sini. Maka tanpa ragu- ragu lagi, segera dikeluarkan
Ilmu ‘Belalang Sakti' andalannya. Dengan keunikan jurus 'Delapan Langkah
Belalang’, kakinya melangkah terhuyung-huyung seperti akan jatuh. Laki-laki
berdaun telinga satu meng-geram keras begitu melihat lawannya tahu-tahu lenyap.
Tapi berkat pengalaman sebelumnya, sudah dapat diduga kalau lawan berada di
belakangnya. Maka begitu Dewa Arak telah tidak berada lagi di depannya segera
dibalikkan tubuhnya.
Bertepatan dengan berbaliknya
tubuh laki-laki berompi coklat itu, Arya sudah melancarkan serangan, Guci di
tangan Dewa Arak terayun deras ke arah kepala laki-laki berdaun telinga satu
itu.
Laki-laki berompi coklat itu agak
gugup. Serangan itu memang datangnya begitu tiba-tiba. Tapi laki-laki setengah
baya itu mempertunjukkan kelihaiannya. Cepat dirunduk-kan tubuhnya. Sehingga
serangan guci itu menyambar tempat kosong. Lewat sekitar sejengkal di atas
kepalanya.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan oleh laki-laki berompi coklat itu. Seraya merundukkan tubuh,
kedua tangannya melakukan totokan-totokan dengan jari telunjuk yang tertekuk.
Inilah ilmu 'Totokan Bangau'!
Dewa Arak terkesima melihat
kehebatan laki-laki berompi coklat itu. Sungguh di luar dugaannya kalau dalam
keadaan terjepit seperti itu, lawan mampu berbalik meng-ancam.
Tapi berkat jurus 'Delapan Langkah
Belalang', tidak sulit bagi Dewa Arak untuk mengelakkan serangan itu. Kembali
kakinya melangkah terhuyung-huyung seperti akan jatuh. Tapi hebatnya, sesaat
kemudian serangan lawan kandas percuma. Sesaat kemudian, kedua orang sakti itu
pun terlibat dalam pertarungan sengit.
Dewa Arak kini berada dalam puncak tertinggi
pemakaian ilmunya. Banyaknya lawan dan keadaan yang terjepitlah yang menjadikan
pemuda berambut putih keperakan ini mengerahkan seluruh kemampuan yang
dimilikinya.
Pertarungan antara kedua orang
sakti ini berlangsung cepat. Sehingga dalam waktu singkat tujuh puluh jurus
telah berlalu. Meskipun begitu, belum nampak tanda-tanda ada yang akan
terdesak. Baik Dewa Arak maupun laki-laki berpakaian coklat itu sama-sama memiliki tingkat kepandaian seimbang. Dalam
hal ilmu meringankan tubuh dan kekuatan tenaga dalam, kedua orang ini pun
ternyata setingkat.
Rupanya laki-laki berdaun telinga
satu itu tidak sabar lagi untuk mengakhiri pertarungan. Tapi sampai sejauh ini
dia tidak yakin kalau Dewa Arak mampu dikalahkannya seorang diri. Bagaimana bisa mengalahkan, kalau
menyentuh baju pemuda berambut putih keperakan itu
saja sudah sulit bukan main.
Dengan langkah anehnya, Dewa Arak selalu membuat semua serangannya kandas.
Perasaan tidak sabar itulah yang
mendorong, laki-laki berompi coklat ini berteriak keras memberi perintah.
"Maju...! Tangkap pemuda
ini..!"
Belum juga habis gema perintah
itu, seorang laki-laki tinggi besar berkulit hitam dan berambut jarang telah
melesat ke depan. Laki-laki ini adalah saudara kembar dari Gajah Putih. Dia
berjuluk Gajah Hitam Begitu masuk arena pertarungan, laki-laki tinggi besar
berkulit hitam ini segera mencabut senjatanya yang berupa ganco. Dan seketika
itu juga diayunkan ke arah kepala Dewa Arak.
Wuuuttt..!
Angin berhembus keras mengiringi
tibanya serangan itu. "Hih...!"
Cepat Dewa Arak menggenjotkan
kakinya. Sekejap kemudian, tubuhnya melesat ke udara sehingga serangan ganco
itu lewat di bawah kakinya.
Tapi selagi tubuh pemuda berambut
putih keperakan masih berada di udara, laki-laki berompi coklat melompat
memburu. Kedua tangannya yang berbentuk paruh bangau itu mematuk- matuk cepat
mencari sasaran.
Tidak ada pilihan lain bagi Dewa
Arak kecuali menangkis serangan itu. Tubuhnya yang sedang berada di udara, menyulitkannya
untuk mengelakkan serangan itu.
Plak, plak….!
Terdengar suara keras begitu dua
pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi itu bertemu.
Akibatnya, balk Dewa Arak maupun laki-laki berdaun telinga satu itu sama-sama
terpental ke belakang.
"Hup...!"
Rlngan tanpa suara kedua kaki
Dewa Arak menjejak bumi. Tapi sebelum pemuda berambut putih keperakan ini
sempat berbuat sesuatu, beberapa sosok bertompatan menyerbu dengan senjata terhunus, dan langsung membabatkan senjatanya.
Dari suara desingan senjata
mereka, Dewa Arak langsung dapat mengetahui kalau penyerangnya mem-punyai
kepandaian yang tidak bisa diremehkan. Memang, mereka adalah para kepala-kepala
rampok yang ditunduk-kan dan dijadikan anak buah oleh laki-laki berompi coklat.
Arya tidak berani menangkis
serangan-serangan itu dengan tangan kosong. Cepat-cepat diayunkan gucinya
menangkis semua serangan itu.
Klang, kang, klanggg…!
Suara berkerontangan terdengar
begitu guci itu beradu dengan senjata para penyerbu itu. Seketika itu juga,
senjata-senjata terhunus di tangan para pengeroyok itu berpentalan. Bahkan
bukan hanya senjata-senjata itu saja, tapi tubuh mereka juga berpentalan.
Tapi belum sempat Dewa Arak
menarik napas lega, serangan selanjutnya datang menyusul. Seraya berteriak nyaring,
laki-laki tinggi besar berkulit hitam kembali menerjang pemuda berambut putih
keperakan itu. Dan sebelum serangan itu sendiri tiba, serangan dari laki-laki
bertelinga satu pun datang menyusul. Berturut-turut datang pula serangan
susulan lainnya.
Tidak ada jalan lain bagi Dewa
Arak kecuali melenting-kan tubuh ke belakang. Bersalto beberapa kali di udara
kemudian mendarat ringan di tanah, beberapa tombak dari tempat semula.
***
7
Baru saja Arya menjejakkan
kakinya di tanah, tahu-tahu lawan-lawannya sudah meluruk menyerbu. Pertarungan
sengit pun kembali berlangsung
Dewa Arak mengeluh dalam hati.
Betapa pun tinggi dan uniknya jurus 'Delapan Langkah Belalang", tapi
karena lawan yang dihadapinya terlalu banyak, akhirnya pemuda berambut putih
keperakan ini mulai terdesak.
"Hih...!" Wut..!
Gajah Hitam membabatkan ganconya
ke pelipis Dewa Arak. Tapi pemuda berambut putih keperakan ini tidak berani
bersikap gegabah. Dari desir angin yang mengiringi tibanya serangan itu,
pendekar muda ini sudah dapat mengukur kedahsyatan tenaga dalam yang terkandung
di dalamnya. Maka buru-buru dirundukkan tubuhnya.
Wusss...!
Sabetan ganco itu menyambar lewat
di atas kepala Dewa Arak. Belum lagi pemuda berbaju ungu ini sempat berbuat
sesuatu, laki-laki berompi coklat mengayunkan kaki ke perutnya. Agak terkejut
juga Dewa Arak. Posisiya benar-benar tidak menguntungkan, karena pada saat itu
dia baru saja mengelakkan serangan Gajah Hitam. Tidak ada jalan lain baginya,
kecuali menghadang tendangan itu dengan guci arak nya.
Bukkk...!
Keras bukan main tendangan yang
dilontarkan laki-laki berompi coklat itu. Kuda-kuda Dewa Arak sampai goyah
dibuatnya, dan tubuh pemuda berambut putih keperakan ini pun oleng ke belakang.
Keadaan ini segera dimanfaat-kan oleh empat orang kepala rampok yang kini sudah
meluruk cepat menyerbu Dewa Arak.
Tapi untunglah Dewa Arak memiliki
ilmu 'Belalang Sakti' yang membuat dirinya dapat melompat atau bergerak dalam
posisi apa pun. Kalau tidak, mungkin Dewa Arak sudah tewas. Dan kini, dengan
mempergunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang' Dewa Arak berusaha meng-elakkan
serangan-serangan itu.
Tapi di saat itu, Gajah Hitam
mengayunkan ganconya. Cepat-cepat Arya mengelak. Tapi...
Crattt..! "Akh...!"
Dewa Arak memekik pelan. Sabetan ganco itu menyerempet perutnya. Cairan merah kental pun mengalir keluar
dari perut Arya yang terobek cukup lebar. Tubuh pemuda berambut putih keperakan
ini terhuyung-huyung ke belakang.
"Ha ha ha….!" laki-laki
berompi coklat tertawa bergelak. "Sekarang terimalah kematianmu, Dewa
Arak!"
Setelah berkata demikian,
laki-laki berdaun telinga satu itu melompat menerjang Dewa Arak. Kedua
jari-Jari tangan-nya yang berbentuk cakar, meluruk ke arah dada Dewa Arak.
Tercekat hati Arya melihat hal
ini. Segera dicekalnya guci arak dengan kedua tangan, kemudian didorongkan ke
depan, memapak serangan yang menuju dadanya.
Plakkk...!
Dewa Arak terjengkang ke belakang
dan jatuh ber-gulingan di tanah saking kerasnya benturan. Darah yang mengalir
dari perutnya semakin banyak merembes keliar. Tapi pemuda berambut putih
keperakan ini bergegas bangkit. Sementara laki-laki berompi coklat, melangkah
lambat-lambat menghampiri. Namun belum tiga tindak laki-laki berdaun telinga
satu ini melangkah, tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Sanca Mauk! Akulah
lawanmu….!"
Sebuah teriakan keras membuat
langkah laki-laki berompi coklat ini terhenti. Kepalanya menoleh ke arah asal
suara. Seketika wajah laki-laki setengah baya ini berubah begitu melihat
seorang yang bergerak cepat mendatanginya.
"Gumintang….," desah
laki-laki berompi coklat yang ternyata bemama Sanca Mauk ini.
Cepat bukan main gerakan orang
yang bemama Gumintang itu. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah berada tiga tombak
di depan laki-laki berdaun telinga satu.
“Pendekar Tangan Baja,"
desah Dewa Arak begitu melihat orang yang dipanggil Gumintang.
"Ooo... Jadi, kau rupanya
orang yang berjuluk Pendekar Tangan Baja itu, Gumintang?! Ha ha ha...! Mana si
tua bangka itu?" ucap Sanca Mauk sambil tersenyum sinis.
"Untuk membawamu kembali,
tak perlu guruku turun tangan. Aku sendiri pun sanggup, Sanca Mauk!"
tandas Pendekar Tangan Baja tegas.
"Ha ha ha….! Sanca Mauk
tertawa bergelak. "Kau hanya mengantarkan nyawa saja, Bocah! Jangankan
dirimu, gurumu sendiri pun tidak akan mampu melawanku!"
"Kita lihat saja buktinya,
Sanca Mauk!" sergah Pendekar Tangan Baja keras.
Setelah berkata demikian, pemuda
berpakaian kuning ini melompat menerjang Sanca Mauk. Kedua tangannya
mengirimkan pukulan beruntun ke arah dada dan ulu hati Sanca Mauk.
Begitu Pendekar Tangan Baja telah
terlibat pertarungan dengan Sanca Mauk, anak buah laki-laki berompi coklat itu
segera menyerbu Dewa Arak. Kembali pemuda berambut putih keperakan ini harus mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk menghadapi keroyokan puluhan lawannya.
Walaupun telah terluka, Dewa Arak
masih mampu mengadakan perlawanan sengit. Ke mana saja tangan, kaki atau
gucinya bergerak, pasti ada lawan yang roboh dan tidak mampu bangkit lagi.
Tapi lawan yang dlhadapi pemuda
berambut putih keperakan ini terlalu banyak. Lagi pula tidak sedikit di antara
mereka yang memiliki kepandaian tinggi. Maka pelahan namun pasti Dewa Arak
mulai terdesak. Apa lagi, pemuda berambut putih keperakan ini memang sudah terluka.
Meskipun tidak terlalu parah, tapi sedikit banyak mengurangi kelincahannya.
Di saat Dewa Arak semakin terdesak,
terdengar suara berderak keras disusul hancumya pintu gerbang depan. Tentu saja
suara ribut-ribut itu mengejutkan semua yang ada di situ. Untuk sesaat
pertarungan terhenti. Dan kini semua perhatian tertuju ke arah pintu gerbang.
Dari sekian banyak orang yang ada di situ, hanya Pendekar Tangan Baja saja yang
tidak merasa terkejut. Karena pemuda berpakaian kuning ini sudah bisa menduga
apa yang terjadi. Apalagi kalau bukan perbuatan pasukan Kerajaan Kamujang yang
datang bersamanya! Hanya saja karena tidak sabar lagi, pemuda berpakaian kuning
ini melesat lebih dulu.
Dapat dibayangkan betapa
terkejutnya Sanca Mauk dan anak buahnya, begitu melihat beratus-ratus pasukan
kerajaan memasuki markas mereka.
Menilik dari banyaknya, mungkin tidak kurang dari lima ratus orang! Dan yang
lebih gila lagi, di antara mereka terdapat Pasukan Kuku Garuda. Dan tentu saja
di antara mereka ada pula Prabu Jayalaksana.
Begitu masuk, pasukan Kerajaan
Kamujang itu segera menceburkan diri dalam kancah pertarungan. Dan dalam sekejap
saja keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Pasukan Kerajaan Kamujang yang datang menyerbu adalah pasukan pilihan.
Maka dalam sekejap saja, anak buah Sanca Mauk berguguran.
Sepak terjang Pasukan Kuku Garuda
lebih hebat lagi. Setiap kali tangan atau kaki mereka bergerak, sudah dapat
dipastikan ada anak buah Sanca Mauk yang roboh. Amukan pasukan khusus itu baru
agak tertahan ketika berhadapan dengan Gajah Hitam dan empat orang kepala
rampok lainnya.
Sekali lihat saja, Dewa Arak
sudah dapat mengetahui kalau tanpa bantuannya pun, pasukan Kerajaan Kamujang
mampu memenangkan pertarungan. Maka pemuda berambut putih keperakan ini segera
bergerak menyingkir dari kancah pertarungan. Dan hanya berdiri memperhati-kan
saja.
Prabu Jayalaksana yang sejak tadi
berdiri mem-perhatikan jalannya pertarungan, dengan dikawal oleh empat orang
Pasukan Kuku Garuda, melangkah meng-hampiri Dewa Arak.
“Bagaimana Gusti Prabu bisa
sampai kemari?" tanya Arya. Sebenarnya dia sudah bisa menduganya. Tapi
pemuda berambut putih keperakan ini ingin mendengamya langsung dari mulut yang
bersangkutan.
"Pendekar Tangan Baja datang
ke istana sambil mem-bawa permaisuri. Pemuda perkasa itu juga menceritakan
kalau kau tengah menghadapi banyak lawan di sini. Hhh...! Mudah-mudahan saja
semua kekacauan di wilayah Kerajaan Kamujang segera berakhir karena orang dalam
yang telah menculik permaisuri, juga telah tertangkap," jelas Prabu
Jayalaksana.
"Siapa orang dalam yang
terlibat itu, Gusti Prabu?" tanya Arya setengah hati. Sekedar menyahuti
ucapan Raja Kamujang itu.
“Panglima Ramkin. Orang yang dulu
kusuruh memimpin pasukan untuk menangkapmu dan Pendekar Tangan Baja,"
jawab Prabu Jayalaksana. "Dari Dinda Permaisurilah keterlibatannya dengan
para pengacau itu kuketahui. Hhh,..! Sungguh tidak kusangka...."
Dewa Arak hanya diam
mendengarkan. Sedikit pun tidak diselanya ucapan Raja Kamujang itu.
“Ternyata Panglima Ramkin
berambisi menduduki jabatan yang lebih tinggi. Maka dia bergabung dengan
komplotan penculik untuk merongrong keutuhan Kerajaan Kamujang," sambung
Raja Kamujang lagi. "Kalau saja tidak ada dirimu dan Pendekar Tangan Baja,
mungkin usahanya akan berhasil. Seluruh daerah telah siap memberontak akibat
fitnahan yang dilancarkannya. Hhh...! Syukurlah kini semua telah
teratasi."
Arya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pandangannya segera dilayangkan ke arah pertarungan antara Pendekar Tangan Baja
melawan Sanca Mauk yang masih berlangsung sengit. Seratus jurus telah berlalu.
Tapi belum nampak tanda-tanda ada yang akan terdesak. Kepandaian kedua orang
itu ternyata seimbang.
Hebat bukan main akibat yang
ditimbulkan dari per-tarungan antara Pendekar Tangan Baja melawan Sanca Mauk
itu. Tanah terbongkar di sana-sini. Desir angin tajam, menderu dan mencicit,
menyemaraki pertarungan itu. Debu pun mengepul tinggi ke udara.
Sebetulnya tingkat kepandaian
Pendekar Tangan Baja masih di bawah Sanca Mauk. Tapi karena keistimewaan tangan pemuda ini, tambahan lagi gurunya telah
mewariskan ilmu yang dapat dipakai untuk melumpuhkan ilmu Sanca Mauk, membuat
Pendekar Tangan Baja yang bernama Gumintang ini mampu mengimbangi lawannya.
Sanca Mauk menggeram keras.
Sungguh tidak disangka kalau kepandaian yang dimiliki murid keponakannya ini
demikian tinggi. Tepat pada jurus ke seratus lima puluh, seraya membentak
keras, laki-laki berompi coklat ini mengibaskan tangannya.
Serrr...!
Pendekar Tangan Baja terkejut
bukan main begitu melihat berpuluh puluh jarum beracun menyambar ke arahnya.
Apalagi saat itu dirinya berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Cepat-cepat tubuhnya di lempar ke samping dan bergulingan di tanah beberapa
kali.
Sanca Mauk memang sudah
menduganya. Maka begitu dilihatnya Pendekar Tangan Baja melompat, segera
laki-laki berompi coklat ini melompat menyusul. Dan langsung melancarkan
serangan beruntun ke arah Pendekar Tangan Baja yang masih bergulingan di tanah.
Tidak ada jalan lain bagi
Pendekar Tangan Baja selain terus menggulingkan tubuh, menyelamatkan selembar
nyawanya. Tapi Sanca Mauk yang sudah menang posisi, tidak mau membiarkannya. Diburunya tubuh yang
bergulingan itu seraya terus melancarkan serangan bertubi-tubi.
Pendekar Tangan Baja sadar bila
keadaan masih terus seperti ini, suatu saat serangan lawan akan mengenainya
juga. Maka pemuda berpakaian kuning ini mengambil keputusan nekad. Pada suatu
kesempatan, tubuhnya melenting ke atas.
"Hih...!"
Ternyata hal itu sudah
diperhitungkan oleh Sanca Mauk. Terbukti begitu tubuh Pendekar Tangan Baja itu
melenting, kakinya bergerak menendang. Cepat bukan main gerakan-nya. Gumintang
mencoba menggeliatkan tubuh untuk mengelak, tapi...
Bukkk! "Akh...!"
Pendekar Tangan Baja memekik
tertahan. Keras dan telak sekali tendangan Sanca Mauk mengenai perutnya.
Seketika itu juga, rasa mual dan mules yang amat sangat mendera perutnya.
Cairan merah kental pun meleleh di sudut bibirnya. Belum lagi pemuda berpakaian
kuning ini berbuat sesuatu, paman gurunya kembali melancarkan serangan
bertubi-tubi
Tukkk! Plakkk!
"Akh...!"
Gumintang kembali memekik
tertahan ketika patukan tangan kanan Sanca Mauk mengenai bahunya. Sementara
tangan kiri yang mengibas mengenai dadanya. Tubuh Pendekar Tangan Baja kontan
terpental ke belakang dan terbanting keras di tanah.
Pendekar Tangan Baja berusaha
bangkit. Tapi ternyata tidak mampu. Tiga buah serangan yang diterimanya,
membuat pemuda itu terluka cukup parah. Belum lagi rasa sakit yang melanda
perutnya hilang, datang lagi rasa sesak yang amat sangat di dadanya. Bahunya
juga robek mengeluarkan darah segar, terkena patukan tangan Sanca Mauk.
“Terimalah kematianmu, Anak
Keparat!" teriak laki-laki berompi coklat itu seraya melompat menerkam
Gumintang yang sudah tergolek tidak berdaya.
Sudah dapat dipastikan kalau
Sanca Mauk akan berhasil membunuh Pendekar Tangan Baja. Tapi sebelum serangan
laki-laki berdaun telinga satu itu mengenai sasaran, Dewa Arak telah lebih dulu
melesat memapak serangannya.
Plak, plak….!
Terdengar suara keras
berkali-kali, ketika dua pasang tangan dari dua sosok tubuh yang sama-sama
berada di udara berbenturan. Akibatnya, baik tubuh Sanca Mauk maupun Dewa Arak
sama-sama terjengkang ke belakang.
Tapi baik Sanca Mauk, maupun Dewa
Arak dengan mudah meredam daya dorong itu. Indah dan manis sekali tubuh
keduanya bersalto di udara.
Serrr...!
Kembali untuk yang ke sekian
katinya, Sanca Mauk mengibaskan tangan, melepaskan jarum-jarum beracun-nya. Dan
itu dilakukannya ketika tubuhnya masih bersaho di udara. Sudah barang tentu hal
ini membuat Dewa Arak kaget. Apalagi serangan jarum itu cfilepaskan selagi
tubuhnya juga masih berada di udara.
Cepat diturunkan kedua tangannya,
dan dijadikan sebagai landasan
kaki. Sekali kakinya bergerak menggenjot
tubuh pemuda berambut putih keperakan ini telah melayang kembali ke atas.
Sehingga serangan jarum itu lewat di bawah kakinya.
Selagi berada di udara, Dewa Arak
menghentakkan kedua tangannya ke bawah, ke arah tubuh lawan yang masih berada
di udara. Dalam kemarahannya karena lawan berlaku licik, pemuda berambut putih
keperakan ini telah menggunakan jurus 'Pukulan Belalang' yang jarang
dipergunakannya.
Angin berhawa panas menyengat
berhembus keras ke arah Sanca Mauk. Laki-laki berompi coklat ini kaget bukan
main. Apalagi saat ini tubuhnya tengah berada di udara. Serangan Dewa Arak
benar-benar di luar dugaannya. Sedapat mungkin Sanca Mauk berusaha
menggeliatkan tubuhnya. Tapi…. Bresss...! "Aaakh...!"
Sanca Mauk menjerit melengking
memilukan ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak, telak menghantam tubuhnya.
Usahanya untuk menyelamatkan diri gagal total.
Brukkk!
Dengan mengeluarkan suara
berdebuk keras, tubuh Sanca Mauk terbanting di tanah. Seketika itu juga nyawa
laki-laki berdaun telinga satu ini lepas dari raganya. Sekujur tubuhnya hangus
mengeluarkan bau sangit daging terbakar.
Berbareng tewasnya Sanca Mauk,
pertarungan antara pasukan Kerajaan Kamujang dengan anak buah laki-laki berdaun
telinga satu itu pun berakhir. Pihak pasukan Kerajaan Kamujang memperoleh
kemenangan mutlak. Sebagian besar lawan tewas terbunuh. Hanya tinggal beberapa
gelintir saja yang selamat. Itu pun karena menyerah. Dan kini mereka menjadi
tawanan.
Melihat kemenangan pasukannya,
Prabu Jayalaksana gembira bukan kepalang. Sesaat lamanya Raja Kamujang ini
melupakan Dewa Arak dan Pendekar Tangan Baja. Dan ketika akhirnya Prabu
Jayalaksana teringat, kedua pemuda perkasa itu telah tidak berada lagi di situ.
Bahkan mayat Sanca Mauk pun telah lenyap.
"Hhh...!" Raja Kamujang
menghela napas dalam. Orang nomor satu di Kerajaan Kamujang ini mengetahui
betul alasan kedua pemuda itu pergi tanpa pamit. Dan ini jadi membuatnya lebih
kagum. Dewa Arak dan Pendekar Tangan Baja tidak memerlukan ucapan terima kasih
atau imbalan atas perbuatan yang mereka lakukan. Kedua pemuda perkasa itu
melakukan semua ini tanpa pamrih.
"Kalau saja di dunia ini
banyak orang seperti mereka, tidak akan ada kekacauan...," gumam Prabu
Jayalaksana. Sepasang matanya memandang kosong ke langit.
Sementara hari telah menjelang
senja. Sinar mentari yang mulai meredup, menyinari dua sosok tubuh yang tengah
berjalan pelahan. Dua sosok itu adalah Dewa Arak dan Pendekar Tangan Baja yang
tengah melangkah berdampingan. Di bahu Pendekar Tangan Baja nampak terpanggul
mayat Sanca Mauk.
Sesampainya di sebuah
persimpangan kedua pemuda perkasa ini menghentikan langkahnya.
"Kau tidak bersedia ikut
denganku, Arya? Kurasa guruku senang berkenalan denganmu," ucap Pendekar
Tangan Baja yang sudah agak sembuh dari luka dalamnya.
“Terima kasih, Pendekar Tangan
Baja! Sayang sekali aku tidak bisa memenuhi ajakanmu. Perjalananku masih jauh.
Percayalah! Suatu saat nanti, pasti aku akan mengunjungimu," janji Dewa Arak.
"Kalau begitu baiklah. Aku
akan menunggu kedatangan-mu, Arya, " sahut Gumintang mengalah. "O ya,
terima kasih atas semua bantuanmu "
"Lupakanlah, Pendekar Tangan
Baja!" sambut Dewa Arak seraya tersenyum lebar. Pendekar Tangan Baja juga
tersenyum. Kemudian pemuda berpakaian kuning ini melangkahkan kakinya
meninggalkan tempat itu.
Dewa Arak memandangi kepergian Pendekar
Tangan Baja beberapa saat. Baru setelah itu dilangkahkan kakinya meninggalkan
tempat itu. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. Tugas selaku pendekar pembela kebenaran.
SELESAI
No comments:
Post a Comment