RAHASIA
SURAT BERDARAH
Oleh AjiSaka
Cetakan pertama Penerbit
Cintamedia, Jakarta Penyunting : Widarto K.
1
Seekor kuda coklat melangkah
pelan memasuki Miatasan Desa Rinji yang besar dan ramai. Penunggunya adalah
seorang pemuda berbadan kekar, berwajah keras. Alisnya tebalberbentukgolok.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Mulut pemuda itu berdecak. Kedua
tangannya yang menggenggam tali kekang kuda itu pun digoyang-goyangkan. Jelas
pemuda itu memaksa binatang tunggangannya agar terus berjalan.
Kuda coklat itu memang sudah
terlihat lelah. Nampaknya binatang itu telah menempuh perjalanan jauh dan
melelahkan. Dan itu memang sudah pasti, karena keadaan penunggangnya pun tidak
jauh berbeda dengan tunggangannya. Terlihat lelah. Pakaian dan wajahnya kotor
berdebu.
Laki-laki berwajah keras itu
menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sepasang alisnya yang tebal
berbentuk golok berkerut. Jelas ada sesuatu yang dicarinya. Pandang matanya
liar menatap rumah-rumah yang ada di kanan kirinya. Tak dihiraukannya pandang mata
keheranan dari pendudukyang melihatnya.
Sepasang alis yang berkerut itu
lenyap. Wajah keras itu pun berseri ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah
bangunan besar dan megah. Bangunan ini berhalaman luas dan terkurung pagar
tembok tinggi. Di depan pintu gerbangnya berdiri dengan gagahnya dua orang yang
berjaga-jaga dengan sikap waspada.
"Hooop...!"
Laki-laki berwajah keras itu
menarik tali kekang kudanya tepat di depan pintu gerbang bangunan mewah dan
megah itu. Hanya berjarak tiga tombak di depan kedua penjaga. Tentu saja hal
itu membuat ke dua penjaga memperhatikan laki-lakiberwajah keras Itu dengan
sikap penuh curiga.
"Hup...!"
Dengan sebuah gerakan yang indah
dan manis laki-laki berwajah keras itu melompat dari punggung kudanya. Ringan
tanpa suara, kedua kakinya menjejak tanah.
Kemudian sambil memegang tali
kekang kuda, dituntunnya binatang itu menuju pintu gerbang. Karuan saja
tindakan laki-laki berwajah keras itu membuat penjaga pintu gerbang terkejut.
Serentak keduan melangkah menghadang sambil meraba gagang golok masing-masing.
Bersiap menghadapi segala kemungkinan.
"Mengapa kalian menghalangi
jalanku?!" tanya laki-laki berwajah keras itu. Nada suaranya mengandung
teguran.
Kedua penjaga pintu gerbang itu
saling berpandangan. Sorot mata mereka jelas menyiratkan kebingungan. Tidak
salahkah pendengaran mereka ini?
"Maaf, kalau kami boleh
tahu, siapakah Kisanak? Dan apa maksud Kisanak datang kemari?" tanya salah
seorang penjaga yang berambut coklat, dengan suara meiendah. Teguran laki-laki
berwajah keras itu membuat mereka bersikap hati-hati.
"Kalian tidak mengenalku? O
ya, mungkin kalian orang baru di sini. Apakah kalian pernah dengar nama
Kanulaga?" laki-laki berwajah keras itu balikbertanya.
Wajah kedua penjaga itu berubah.
Mereka sebenamya bukan tergolong orang baru. Sudah sepuluh tahun mereka bekerja
pada pemilik bangunan megah dan mewah itu. Sehingga wajar kalau keduanya
mengenal semua anggota keluarga majikannya. Memang, keduanya pernah mendengar
kalau salah seorang anak majikan mereka yang bernama Kanulaga, pergi mengembara
lima belas tahun lalu. Jadi, laki-laki inikah putra sulung pemilik rumah mewah
dan megah ini? pikir mereka menduga-duga.
Kedua penjaga itu
mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya," sahut salah
seorang lagi yang memiliki sebuah tompel dipipi.
"Nah! Akulah orangnya!"
sahut laki-laki berwajah keras itu tegas.
"Ahhh...!" desah kedua
penjaga itu berbareng. Perasaan terkejut yang amat sangat menghiasiwajah
mereka.
"Kalau begitu..., maafkan
kami, Den. Kami tidak mengenal Aden, sehingga bersikap tidak sopan kepada
Aden," ucap keduanya sambil membungkuk hormat.
"Hm...," laki-laki
berwajah keras yang mengaku bernama Kanulaga itu mendengus.
"Menyingkirlah, kalian! Aku ingin lewat..!"
Penjaga yang memiliki tompel di
pipinya segara beringsut menyingkir. Tapi, tidak demikian halnya dengan yang
berambut coklat. Dia tetap berdiri menghadang jalan.
"Maafkan kami, Den. Sebelum
kami yakin kalau Aden benar-benar Aden Kanulaga, kami tidak bisa memperkenankan
Aden masuk. Maafkan kami, Den Kami tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Tuan
Suradiraja."
Si tompel tercekat Ucapan
rekannya menyadarkannya kalau laki-laki berwajah keras itu belum tentu
Kanulaga! Maka dia pun segera melangkah maju dan berdiridisebelah temannya!
Kanulaga tersenyum.
"Bagus! Aku ingin tahu
sampai di mana kepandaian kalian!" sambut laki laki yang mengaku bernama
Kanulaga. Tali kekang kudanya lalu dilepaskan, kemudian ditepuk-tepuknya leher
kuda coklat itu.
"Menyingkirlah sebentar
Manis," ujar laki-laki berwajah keras itu pelan.
Seperti mengerti ucapan
majikannya, kuda coklat itu mendengus pelan kemudian membalikkan tubuh dan
berjalan meninggalkan tuannya.
Laki-laki yang mengaku bernama
mengalihkan perhatiannya pada dua hadapannya.
Kanulaga itu kini orang penjaga "Aku
akan masuk ke dalam. Ingin kulihat apakah kalian mampu menghalangiku...?"
ujar laki-laki berwajah keras itu pelan bernada menantang.
"Maafkan kami, Den. Kami
hanya menjalankan tugas...," sahut sirambut coklat.
'Tidak usah banyak basa-basi! Ayo
serang aku!" bentak laki-lakiyang mengaku bernama Kanulaga itu
"Maafkan kami. Den.
Hiyaaa...!"
Penjaga yang memiliki tompel di
pipinya ini lalu menyerang laki-laki yang
mengaku bernama Kanulaga. Kakinya
menyambar cepat ke arah wajah dengan sebuah tendangan miring yang keras.
Laki-laki berwajah keras itu
hanya mendengus pelan. Tubuhnya didoyongkan ke belakang sehingga tendangan itu
hanya mengenai tempat kosong. Sekitar sejengkal di depan wajahnya.
Sebelum si tompel sempat berbuat
sesuatu, tahu-tahu tangan kanan laki-laki berwajah keras itu bergerak cepat!
Tappp...!
"Akh...!"
Si tompel memekik kaget tatkala
pergelangan kakinya sudah dicengkeram lawannya.
"Hih...!"
Secepat pergelangan kakinya
tertangkap, secepat itu pula laki-laki berwajah keras itu menyentakkannya. Kuat
bukan main tenaga yang terkandung dalam sentakan itu. Tak pelak lagi, si
tompelterlempar ke atas
Tapi si tompel membuktikan kalau
dirinya bukan-lah orang yang mudah dipecundangi. Tubuhnya berputar di udara.
Dan....
"Hup...!"
Meskipun agak terhuyung-huyung,
namun kedua kakinya berhasil hinggap di tanah. Mulut si tompel menyeringai,
kaki kanannya dirasakan agak sakit. Memang sentakan laki-laki berwajah keras
itu kuat bukan main Tapi si tompel tahu kalau lawan tak ingin melukainya Dia
yakin, seandainya laki-laki ber wajah keras itu mau, dengan tenaga dalamnya
yang kuat itu, tulang pangkal kakinya bisa terlepas! Bukan hanya tubuhnya saja
yang terlempar ke udara!
Penjaga yang berambut coklat
terkejut bukan main. Melihat betapa mudah rekannya dapat dipecundangi laki-laki
berwajah keras itu. Tanpa ragu-ragu la segera dicabut goloknya.
Srattt...!
Sinar terang terpancar begitu
golok pendek be warna putih, keluar dari sarungnya!
Wuk, wuk, wuk...!
Si rambut coklat memutar mutarkan
senjatanya depan dada. Angin mengiuk cukup keras, mengiringi gerakan golok itu.
"Hiyaaa...!"
Sambil mengeluarkan seruan
nyaring melengking golok di tangannya ditusukkan cepat ke perut laki-laki yang
mengaku bernama Kanulaga itu! Tapi, laki-lnl berwajah keras itu bersikap
tenang. Ditunggunya hingga serangan itu mendekat
Dan begitu serangan sudah dekat,
dengan kecepatan yang mengagumkan tubuhnya didoyongkan ke samping kiri.
Sehingga serangan itu hanya mengenai tempat kosong, lewat di samping kanan
pinggangnya. Pada saat yang bersamaan, tangan kanannya bergerak menepak.
Plakkk..! "Akh...!"
Penjaga berambut coklat itu
memekik tertahan. Tepakkan laki-laki berwajah keras itu telak dan keras sekali
menghantam pergelangan tangannya yang menggenggam golok. Tulang-tulangnya
terasa remuk, seketika itu juga, goloknya terlepas darigenggaman
Belum lagi si rambut coklat
sempat berbuat sesuatu, kaki kanan laki-laki berwajah keras itu bergerak
menendang ke arah perut.
Bukkk...! "Hugh...!"
Penjaga yang sial ini mengeluh
tertahan. Tubuhnya langsung terjengkang beberapa tombak ke belakang. Perutnya
dirasakan mules bukan kepalang. Untunglah laki-laki yang mengaku bernama
Kanulaga itu hanya mengerahkan sebagian kecil tenaga dalamnya. Sehingga ia
tidak menderita luka dalam. Hanya rasa mualdan mules melanda perutnya
Melihat penderitaan kawannya, si
tompel yang kini sudah mencabut goloknya, bergerak menyerang. Tapi gerakannya
segera terhentiketika terdengar suara bentakan keras.
'Tahan...!"
Dari dalam pintu gerbang yang
memang terbuka itu bergerakcepat seorang laki-lakisetengah baya.
Serentak tiga orang itu menoleh
ke arah laki-laki setengah baya itu.
"Ki Taji...!" seru
orang yang mengaku bernama Kanulaga, memanggil laki-laki setengah baya itu.
Laki-laki setengah baya itu
merandek kaget melihat laki laki yang tadi dilihatnya tengah bertempur dengnn
dua orang penjaga, mengenalnya Memang betul dia bernama Ki Taji. Dia adalah
kepala urusan dalam rumah tangga. Jadi, jarang keluar. Hampir tidk ada penduduk
yang mengenal namanya, kecuali hanya orang-orang yang bekerja pada Tuan
Sudiraja Tapi, yang menjadi pertanyaan baginya, mengapa laki laki berwajah
keras itu mengenalinya?
Bukan hanya Ki Taji saja yang
terkejut Dua orang penjaga pintu gerbang itu pun terkejut Kini keraguan mereka
tentang kebenaran laki-lakiberwajah keras ini adalah Kanulaga pupus.
"Siapa kau, Kisanak? Dari
mana kau tahu namaku?" tanya kepala urusan dalam rumah tangga itu setelah
mendekat. Sekujur tubuh laki-laki berwajah keras itu dipandangi penuh selidik.
"Kau lupa padaku, Ki?"
laki-laki berwajah keras itu balik bertanya. Sama sekalitak dipedulikannya
pertanyaan KiTaji.
Wajah Ki Taji terlihat tegang.
Dahinya pun berkerut-kerut. Jelas kalau laki-lakisetengah baya initengah
berpikir keras.
"Rasanya..., aku seperti
pernah mengenalmu Kisanak. Wajah dan suaramu sepertinya pernah kukenal “ ucap
Ki Taji setengah bergumam.
"Aku Kanulaga, Ki...!"
sahut laki-laki berwajah keras itu menjelaskan.
"Gusti Allah...! Aku memang
benar-benar sudah pikun, sehingga tidak mengenalimu, Den?" pekik Ki Taji
penuh rasa terkejut. Memang sejak berumur lima tahun, Raden Kanulaga akrab
dengan Ki Taji. Pada usia lima belas tahun, Kanulaga pergi meninggalkan rumah
untuk memenuhi kegemarannya, mengembara.
"Beliau adalah Aden
Kanulaga...," ucap kepala urusan dalam rumah tangga itu memberitahu kedua
penjaga pintu gerbang. Kedua penjaga itu termasuk anak buah dari kepala urusan
rumah tangga bagian luar. Hanya saja saat itu, pimpinan mereka itu sedang
keluar.
"Ah...! Kalau begitu,
maafkan kelancangan kami, Den," ucap kedua penjaga itu buru-buru, sambil
membungkuk hormat.
"Lupakanlah. Aku bangga,
kalian berdua telah menjalankan tugas dengan baik,"sahut Kanulaga
bijaksana.
Tentu saja kedua penjaga itu
menjadi girang bukan main. Tadi ketika mendengar Ki Taji memanggil pemuda
berwajah keras itu dengan sebutan Kanulaga, mereka menjadi gelisah. Menurut
dugaan mereka, Kanulaga akan menghukum mereka. Lega hari mereka tatkala
mengetahui laki-laki berwajah keras itu sama kali tidak marah atas kejadian
itu.
"Mari, Den. Ayah Aden sudah
lama sekali menunggu kepulangan Aden." ajak Ki Taji sambil menggamit
tangan Kanulaga dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Tolong urus kudaku,
Paman," pinta Kanulaga pada kedua penjaga itu.
"Baik, Den,"jawab kedua
penjaga itu berbareng.
***
Ruang tengah Itu nampak mewah dan
megah Biasanya ruangan itu kosong. Paling hanya Sudiraja yang duduk termenung
di sana. Tapi kini di ruanga tengah yang mewah dan megah itu, tampak tiga orang
tengah duduk mengelilingi sebuah meja bulat yang indah dan mewah.
"Aku gembira sekali atas
kepulanganmu, Kanulaga. Hampir saja aku mengutus orang-orangku untuk
mencarimu," ucap
seorang laki-laki setengah baya
bertubuh gemuk dan berperut gendut. Pakaiannya indah dan mewah. Bulu-bulu halus
menghiasi kedua pipinya.
"Mengapa begitu, Ayah?"
tanya Kanulaga menatapnya wajah laki-laki gendut berpakaian indah mewah yang
ternyata adalah Sudiraja. Laki-laki ber perut gendut yang kini telah berusia
enampuluh tahun itu menarik napas panjang.
"Aku sudah tua, Kanulaga.
Aku sudah lelah mengurus semua usahaku," jawab Sudiraja pelan. Tapi karena
suasana disitu hening, suara laki-lakigendut itu jaditerdengar keras.
"Lho?! Bukankah ada Jalatara
dan Nirmala? Apakah mereka tidak membantu Ayah?" tanya Kanulaga lagi.
Keheranan nampak jelas pada wajahnya. Jalatara dan Nirmala adalah adik-adik
kandung Kanulaga. "Ke manakah mereka, Ayah? Sejaktadiaku tidak melihat
mereka?"
"Hhh...!" Sudiraja
menghela napas panjang. "Beberapa tahun semenjak kepergianmu mengembara,
Jalatara pergi. Kepergiannya sama sekali tidak ada yang tahu. Belakangan baru
kuketahui, bahwa selagi bermain di halaman, ada seorang kakek yang membawanya.
Dan mengajarkannya ilmu-ilmu kesaktin. Kini kudengar dia menjadi salah seorang
pengawaladipati,"jelas Sudiraja.
"Lalu, Nirmala ke mana,
Ayah?"tanya Kanulaga
"Nirmala kutitipkan pada
sahabat karibku yang memiliki sebuah perguruan silat Aku tidak ingin anak itu
jadi perempuan yang lemah. Yahhh...! Setidak-tidaknya dia memilikisesuatu untuk
menjaga dirinya sendiri."
Kanulaga mengangguk-anggukkan
kepalanya pertanda mengerti.
"Sudah beberapa bulan ini aku
ingin beristirahat dari kesibukan-kesibukanku, Kanulaga. Kau kan tahu aku sudah
tua. Kesehatanku tidak memungkinkan lagi untuk mengurus semua usahaku," ujar laki-laki berperut gendut
itu menyambung ucapannya.
"Jadi maksud, Ayah?"
tanya Kanulaga lagi. berwajahkeras ini
masih belum mengerti pembicaraan ayahnya.
Laki-Iaki maksud
"Begini, Kanulaga." Sudiraja memutuskan untuk
mengatakannya secara gamblang dan jelas. "Aku sudah tua. Harta yang
kumiliki berlimpah ruah. Aku tidak ingin sepeninggalku nanti, kalian
gontok-gontokan memperebutkan warisanku. Jadi, sebelum aku menutup mata, aku
ingin membagi semua kekayaanku secera adil. Pamanmu inilah yang akan menjadi
saksinya."
Sudiraja menunjuk seorang
berpakaian hitam dan berkumis lebat yang duduk di sebelahnya.
Kanulaga menolehkan kepalanya,
menatap orang yang diperkenalkan ayahnya sebagai pamannya. Memang laki laki
berwajah keras itu tidak mengenal laki laki berkumis lebat itu. Laki-laki
berkumis lebat yang usianya sekitar lima puluh tahun itu datang ke rumah ini,
setelah dia pergi meninggalkan rumah untuk mengembara.
Laki-laki berkumis lebat
menggerakkan bibirnya sedikit pada Kanulaga. Mungkin laki-laki itu bermaksud
tersenyum. Tapi, Kanulaga tidak dapat menggolongkan gerakan bibir yang hanya
sedikit itu sebagai senyum. Laki-laki berwajah keras ini hanya menganggukkan
kepala sedikit pertanda menghormat. Kanulaga mengalihkan pandangannya ke arah
laki-laki yang diakui Sudiraja sebagaiadik bungsunya.
"Kalau boleh kutahu, siapakah
nama Paman?" tanya Kanulaga.
"Pandira," jawab
laki-laki berkumis lebat itu pendek. Nada suaranya dingin dan datar.
Belum lagi Kanulaga sempat
mengajukan pertanyaan lain kepada orang yang mengaku sebagai pamannya itu,
Sudiraja telah menyelanya.
"Bagaimana, Kanulaga?"
tanya Sudiraja meminta pendapat putra sulungnya itu.
'Terserah, Ayah. Aku akan menurut
semua keputusan, Ayah,"jawab Kanulaga.
"Kalau begitu, besok akan
kukirim utusan untuk memberitahukan kedua adikmu agar datang ke sini
secepatnya," ucap Sudiraja memutuskan. Kegembiraan yang besar nampak jelas
pada wajahnya.
Sementara Kanulaga hanya diam
saja. Kepalanya menundukkan dalam-dalam. Tapi dari balik bulu mata nya,
sepasang matanya memperhatikan wajah Pandira lekat-lekat
"O ya, Kanulaga. Ayah ingin
mendengar pengalamanmu selama mengembara. Apa saja yang kau dapatkan dalam
pengembaraanmu selama lima belas tahun ini. Dari Ki Taji, kudengar kau telah memilikiIlmu
kepandaian tinggi."
Kanulaga mengangkat kepalanya.
"Tidak ada yang istimewa,
Ayah," jawab laki-laki berwajah keras itu pelan.
"Lalu, ilmu kepandaianmu
itu, kau dapatkan dari mana?" desakSudiraja.
"Dari seorang kakek yang
berkenan mengangkatku sebagai murid."
"Pasti kakek itu memiliki
ilmu kepandaian yang tinggj," sahut Sudiraja lagi. "Aku hampir tidak
mengenalimu tadi, Kanulaga. Wajah dan perawakanmu jauh berubah. Sekarang kau
nampak begitu jantan dan matang. O ya, mungkin kau masih lelah sehabis menempuh
perjalanan jauh dan
melelahkan. Biar kupanggil Ki
Taji untuk mengurus kamarmu," ujar Sudiraja seraya bangkit, hendak
memanggil KiTaji.
"Tidak usah, Ayah. Biar
kuurus sendiri. Masih kamar yang dulu kan?" cegah Kanulaga seraya bangkit
dariduduknya.
Sudiraja hanya menganggukkan
kepalanya. Begitu putra sulungnya melangkah menuju kamarnya, dalam mangan itu
tinggalSudiraja dan adik bungsunya.
***
2
Hari masih pagi. Matahari belum
naik tinggi ketika seekor kuda berpacu cepat memasuki mulut sebuah hutan.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
Si penunggang melecutkan
cemetinya berkali-kali ke arah pantat kuda yang berwarna hitam putih. Nampaknya
si penunggang bermaksud memacu binatang itu berlari lebih cepat lagi.
Debu pun mengepul tinggi ke udara
ketika kaki-kaki kuda itu menapak cepat ditanah berdebu.
Belum jauh kuda itu memasuki
hutan, tiba-tiba terdengar suara mendesing nyaring. Disusul melesatnya sebuah sinar
kemerahan menyambar ke arah binatang itu.
Cappp...!
Telak sekali sinar kemerahan itu
mengenai leher kuda hitam putih itu. Seketika itu juga binatang itu meringkik
keras. Kedua kakinya terangkat tinggi-tinggi ke depan, membuat penunggangnya
terlempar ke atas.
Tapi si penunggang kuda ternyata
bukanlah orang sembarangan. Manis sekali tubuhnya bersalto beberapa kali di
udara kemudian hinggap ringan ditanah.
"Hup..,!"
Tahu kalau ada bahaya mengancam,
begitu sepasang kakinya mendarat di tanah, tangannya cepat meloloskan sebatang
pedang yang tersampir di punggungnya Sepasang matanya menatap ke arah binatang
tunggangannya yang telah tergolek tanpa nyawa. Pada leher binatang itu
tertancap sebuah benda dari logam berwarna merah, berbentuk ekor kalajengking.
Wajah si penunggang kuda berubah
pucat. Sepasang matanya menatap liar ke sekelilingnya. Rupanya orang itu kenal
betul dengan logam berbentuk ekor kalajengking merah itu. Benda itu adalah
senjata khas, Perkumpulan Kalajengking Merah!
Belum lagi penunggang kuda itu
berbuat sesuatu, mendadak melesat sesosok bayangan hitam. Sesaat kemudian sosok
serba hitam itu telah berdiri di hadapan si penunggang kuda. Pada bagian
dadanya terdapat gambar seekor kalajengking merah. Bagian wajahnya tidak
terlihat karena tertutup selubung hitam. Tangan penghadang itu menggenggam sebatang tongkat
panjang merah berujung ekor kalajengking.
"Kau...?! Mengapa menghadang jalanku? Bukankah majikanku, Tuan Sudiraja tidak pernah lalai
memberikan upeti?" tanya penunggang kuda Nada suaranya terdengar penuh
tuntutan.
"Ha ha ha...! Tidak usah
banyak bacot! Kalau kau ingin selamat, serahkan surat itu padaku!" ucap si
penghadang sambiltertawa bergelak.
"Surat? Surat apa?"
tanya si penunggang kuda itu berpura-pura tidak mengerti. Majikannya memang menugaskan
membawa surat untuk diserahkan pada Nirmala di Perguruan Hati Suci. Entah untuk
urusan apa, dia tidak tahu. Tapi yang menjadi tanda tanya bagi si penunggang
kuda, dari mana orang Perkumpulan Kala lajengklng Merah ini mengetahuinya?
"Tidak usah pura-pura!
Serahkan surat untuk Nirmala itu padaku. Atau kau ingin mampus?" sergah
orang berpakaian serba hitam itu. Keras dan kasar suaranya.
Kini utusan Sudiraja sadar, kalau
tidak ada gunanya lagi dia berpura-pura. Orang yang menghadang di depannya ini
jelas tahu tugas yang diembannya.
"Langkahi dulu mayatku! Baru
kau akan mendapatkan surat itu!"sahut utusan itu tegas.
"Hm.... Rupanya kau lebih
suka memilih mati!" dengus si penghadang murka.
Setelah berkata demikian, orang
yang di dadanya bergambar kalajengking merah ini, melompat menerjang. Senjata
di tangannya, yang berupa tongkat panjang berujung logam merah berbentuk ekor
kalajengking, disabetkan ke leher utusan Sudiraja.
Wuuuttt..!
Angin meniup cukup keras
mengawali tibanya serangan itu. Utusan Sudiraja yang tahu betapa lihainya
orang-orang Perkumpulan Kalajengking Merah, tidak berani bertindak gegabah.
Cepat-cepat kepalanya dirundukkan sehingga babatan tongkat itu lewat di atas
kepalanya. Sementara utusan Sudiraja merunduk, goloknya ditusukkan ke perut
lawan.
"Eh...?!"
Orang berpakaian serba hitam itu
memekik tertahan. Kaget juga dia melihat lawan dapat mengelakkan serangannya.
Bahkan kini mampu membalas dengan serangan yang cukup
berbahaya. Buru buru dia melompat
ke belakang, sehingga tusukan golokItu mengenaitempat kosong.
"Keparat...! Kau harus
mampus!" teriak orang yang di dadanya bergambar kalajengking merah. Hampir
saja dia celaka karena terlalu menganggap
enteng lawannya. Pengalaman pahit yang baru saja dialami, membuatnya tidak lagi
bersikap terlalu memandang rendah lawannya. "Haatttt...!"
Sambil berteriak melengking,
pertanda kemarahan hatinya, tongkat berujung ekor kalajengking itu menyambar
dahsyat ke arah lawannya. Tapi utusan Sudiraja bertekad untuk melawan
mati-matian. Dia tidak ingin mengecewakan majikannya.
Pertarungan sengit pun tak dapat
dihindari lagi. Tapi hal ini hanya berlangsung beberapa jurus saja. Pada
jurus-jurus berikutnya, nampak jelas keunggulan orang berpakaian serba hitam
itu. Tongkat merah berujung ekor kalajengking di tangannya, berkali-kali hampir
mengenai tubuh tawannya.
Utusan Sudiraja menggertakkan
gigi. Sejak semula sudah diketahui kalau dirinya bukanlah tandingan si
penghadang. Tapi tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, membuat
laki-laki ini nekad dan berusaha melawan mati-matian. Apa yang semula
diduganya, kini menjadi kenyataan. Hujan serangan lawan benar-benar membuatnya
repot bukan main. Dan robohnya dirinya, hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sret..! "Akh...l
Utusan Sudiraja memekik tertahan
ketika ekor kalajengking yang runcing itu menyerempet perutnya. Cairan merah
kental mengalir dari luka goresan itu. Seketika Itu juga rasa pening menyerang
kepalanya.
"Racun...!" pekik
utusan Sudiraja tajam. Sesaat kemudian tubuhnya limbung.
"Ha ha ha...!" si
penghadang tertawa terbahak-bahak mendengar seruan kaget lawannya.
"Keparat! Kau..., kau
curang...," maki utusan Sudiraja. Seketika kemarahannya meluap.
"Ha ha ha...!" hanya
suara tawa terbahak saja yang menyahuti makian utusan Sudiraja itu.
"Ohhh...!" keluh utusan
Sudiraja itu. Rasa pening di kepalanya semakin kuat menyerang. Sekelilingnya
dirasakan bagaiberputar-putar.
"Sekarang terimalah ajalmu,
keparat! Hiyaaa...!"
Setelah berkata demikian, orang
berpakaian serba hitam itu melompat menerjang. Tongkat merah berujung ekor kalajengking di tangannya menyambar cepat ke leher
lawannya.
Di saat gawat bagi keselamatan
utusan Sudiraja itu, mendadak sesosokbayangan putih melesat cepat. Daann...
Tranggg...! "Akh...l"
Orang yang berpakaian serba hitam
itu memekik tertahan Tubuhnya kembali terlempar ke belakang. Tapi dengan
gerakan yang indah dan manis, tubuhnya bersalto beberapa kali di udara dan
mendarat ringan di tanah. Sekujur tangannya dirasakan lumpuh. Tongkat merah
berujung ekor kalajengking ditangannya pun terpental.
"Siapa kau? Mengapa
mencampuri urusanku?!" bentak orang yang di dadanya bergambar
kalajengking. Ditatapnya orang yang telah menyelamatkan korbannya tajam-tajam.
Berdiri membelakangi utusan
Sudiraja, nampak seorang wanita cantik berpakaian serba putih. Rambut wanita
itu dibiarkan meriap. Di tangannya tergenggam sebatang pedang. Sementara agak
jauh di belakangnya, berdiri seorang pemuda tampan berambut putih keperakan
berpakaian serba ungu.
Sadar kalau lawan di hadapannya
berilmu tinggi dan lagi pula utusan Sudiraja itu pun tidak lama lagi akan
tewas, si penghadang memutuskan untuk melarikan diri. Cepat dibalikkan tubuhnya
dan berlari meninggalkan tempat itu, setelah teriebih dulu memungut senjatanya.
Gadis berpakaian serba putih itu
sama sekali tidak mengejar. Sosok serba hitam itu dibiarkan saja melarikan
diri.
Brukkk...!
Suara berdebuk jatuhnya tubuh
utusan Sudiraja, membuat pemuda berambut putih keperakan dan gadis berpakaian
serba putih itu terkejut Buru-buru keduanya melangkah menghampiri.
"Ah...! Dia terkena racun
ganas yang cepat daya kerjanya, Kang Arya," ucap gadis berpakaian serba
putih itu setelah melihat luka di perut utusan Itu.
"Hm.... Dapatkah kau
menolongnya. Melati?" tanya pemuda berambut putih keperakan yang memang
bernama Arya Buana atau lebih dikenalberjuluk Dewa Arak itu.
Gadis berpakaian putih yang
bernama Melati itu menggelengkan
kepalanya.
"Tidak, Kang. Racun ini
ganas. Lagi pula hampir mencapai jantung. Tampaknya dia tinggal menunggu
ajalnya saja," jawab Melati.
"Hhh...!" desah Arya. Nampak
jelas kalau pemuda Ini kecewa mendengar jawaban itu.
"Jangan pedulikan
aku...," tiba-tiba utusan Sudiraja itu membuka matanya yang sejak tadi
terpejam. Sekujur wajahnya dipenuhi keringat sebesar butiran-butiran jagung.
'Yang penting..., tolong selamatkan surat ini. Dan berikan pada
Nirmala...,"lanjutnya terputus-putus.
Setelah berkata demikian,
dikeluarkannya sebuah gulungan surat yang diselipkan di balik ikat pinggangnya.
Gulungan surat itu lalu diangsurkannya pada Dewa Arak
"Ke mana kami harus mengantarkannya,
Kisanak?" tanya Arya cepat, setelah menerima surat yang diangsurkan utusan
Sudiraja. Pemuda berambut putih keperakan ini khawatir kalau orang itu keburu
tewas sebelum sempat memberitahukan ke mana dia harus mengantar surat itu.
"Ke... Perguruan... Hati...
Suci...," sahut utusan itu terputus-putus. "Tolong..., jangan biarkan
orang-orang Perkumpulan Kalajengking Merah merebutnya...."
"Perkumpulan Kalajengking
Merah? Kami tidak mengerti maksudmu, Kisanak? Bisakah kau beritahukan pada kami
siapa mereka?" desak Melati.
Keringat sebesar jagung semakin
banyak bermunculan di wajah utusan yang tengah berada diambang maut itu.
"Mereka adalah perkumpulan
orang jahat dan..., kh...!" kepala utusan Sudiraja terkulai sebelum sempat menyelesaikan
keterangannya.
"Hhh...!" Dewa Arak
mendesah bingung. Kini dia dan Melati dihadapkan pada satu urusan. Dan sudah
menjadi sifat Arya untuk selalu mencampuri urusan yang dirasanya mengandung
unsur ketidakadilan. Tapi yang menjadi pertanyaan Dewa Arak, dari mana dia
harus memulainya?
"Sudahlah, Kang Arya. Yang
penting kita harus kuburkan mayatnya dulu," selak Melari ketika melihat
tunangannya hanya berdiritermangu.
"Hhh...!" Dewa Arak
mendesah. Dipungutnya golok utusan Sudiraja. Kemudian kakinya dilangkahkan ke
sebuah tempat yang agaktersembunyi dan terlindung. Golok itu dipakai untuk
menggali lubang mengubur mayat utusan Sudiraja.
Dengan tenaga dalamnya yang
memang sudah mencapai tingkatan tinggi, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk
membuat sebuah lubang yang cukup besar dan dalam. Meskipun tanah di situ keras,
tapi Arya menggali seperti orang menggali tanah lunak mempergunakan cangkulsaja
layaknya.
Dalam waktu singkat, sebuah
lubang yang cukup dalam dan lebar selesai dibuat Dewa Arak segera memasukkan
mayat itu dan menguruknya dengan tanah dan batu-batuan Tak lupa di atasnya
ditancapkan! sebuah batu persegi sebagai penggantinisan.
***
"Kang Arya...," panggil
Melati ketika dilihatnya Dewa Arak telah menyelesaikan pekerjaannya.
Arya menoleh. Dilihatnya gadis
berpakaian serba putih Itu tengah memperhatikan sebuah benda yang tergenggam di
tangannya. Arya bergegas menghampiri.
Melati segera memberikan logam berbentuk ekor kalajengking merah pada Dewa
Arak. Pemuda berambut putih keperakan Itu menerimanya. Diperhatikannya benda
yang kini dipegangnya dengan seksama.
"Dari mana kau dapatkan
benda ini, Melati?"tanya Arya.
"Dari leher kuda itu,
Kang," jawab gadis itu sambil menunjuk kuda hitam putih yang tergolek
tanpa nyawa di dekatnya.
Dewa Arak membungkukkan
diperhatikannya sekujur tubuh kuda berdiri. tubuhnya. Sejenak itu, kemudian
bangkit
"Racun yang sama,"desis
Arya pelahan.
"Senjata rahasia itu
bentuknya aneh sekali, Kang."
'Ya. Seperti ekor
kalajengking," jawab Arya sambil mengernyitkan keningnya.
Melati mengangguk-anggukkan
kepalanya.
"Ada apa, Melati?"
tanya Arya. Jelas ada suatu kesimpulan yang didapatkan
gadis itu sehingga membuatnya mengangguk-anggukpertanda mengerti.
"Jelas pembunuhnya adalah
orang dari Perkumpulan Kalajengking Merah, Kang," sahut gadis berpakaian
serba putih itu.
Dewa Arak mengernyitkan alisnya.
Memang sudah didengarnya, orang yang menitipkan surat tadi menyebutkan nama
Perkumpulan Kalajengking Merah.
"Perkumpulan Kalajengking
Merah...," gumam pemuda berambut putih keperakan itu. Sepasang matanya
menatap kosong. Jelas ada sesuatu yang dipikirkannya. "Kau pernah
mendengarnya, Melati?"
"Tidak. Kau mengetahuinya.
Kang?" Melari balik bertanya sambil menatap Arya tajam. Gadis ini memang
belum pernah mendengar nama perkumpulan Itu.
Dewa Arak menggelengkan kepalanya
"Lalu bagaimana dengan surat itu, Kang?"tanya Melari lagi.
"Yahhh..., sepertiyang telah
dipesankan oleh orang tadi." "Jadi...?"
"Ya. Kita antarkan kepada
Nirmala di Perguruan Hati Suci," jelas Arya. Melatiterdiam sejenak.
"Lalu bagaimana dengan
bangkai kuda ini, Kang? Aku khawatir racun ini akan menyebar. Tubuh binatang
ini telah mengandung racun," ucap Melati meminta pendapat Dewa Arak.
Arya tercenung sejenak. Disadari
kebenaran ucapan tunangannya ini.
"Jalan saru satunya hanyalah
membakarnya. Mengubur bangkai ini terlalu menyita waktu. Harap kau menyingkir
sebentar, Melati," pinta pemuda berambut putih keperakan Itu.
Tanpa berkata apa-apa, Melati
segera melangkah menyingkir Tanpa diberitahu pun gadis ini tahu kalau Dewa Arak
akan mempergunakan Jurus yang belum lama dikuasainya. Jurus 'Membakar
Matahari'.
Dewa Arak melangkah mundur. Jarak
antara dia dengan bangkai binatang itu sekitar empat tombak. Kemudian kedua
tangannya dengan jari-jari terkembang membentuk cakar, dihentakkan dua kali
berturut-turut
Wusss, wusss...!
Dua gumpal api meluncur dari
telapak tangan Dewa Arak ke arah bangkai kuda itu. Terdengar suara letupan
pelan ketika kedua bola api itu mengenai tubuh binatang itu. Sesaat kemudian,
api pun berkobar.
Tak lama kemudian di tempat itu
tercium bau sanglt daging terbakar, diiringi bau amis yang memuakkan. Melati
segera menyingkir lebih menjauh lagi. Kedua hidungnya ditutup untuk mencegah
bau tidak enakyang membuat perutnya mual.
Dalam waktu sekejap, api itu
telah membakar habis bangkai kuda hitam putih tersebut Kini yang tinggal
hanyalah onggokan daging dan tulang-tulang yang kemudian buyar tertiup angin.
"Hhh...!" Arya menghela
napas lega. Kakinya kemudian dilangkahkan menghampiri Melati. "Mari kita
tuntaskan tugas kita, Melati."
Gadis berpakaian serba pulih itu
menatap wajah Dewa Arak penuh takjub sesaat Baru kemudian dia pun Ikut
melangkah di sebelah Arya, meninggalkan tempat itu.
***
Matahari telah naik tinggi.
Sinarnya yang menyengat kulit menyoroti bumi dengan garang. Tapi teriknya sinar
itu tidak dirasakan oleh orang yang berada dalam bangunan termegah diDesa
Rinji.
"Apa itu, Ayah?" tanya
Kanulaga ketika melihat nyahnya tengah membungkus sesuatu dalam sebuah kantung
kain yang cukup besar.
Sudiraja terkejut bukan main.
Hampir saja dia terlonjak kaget mendengat teguran itu. Diam-diam dia memaki
dirinya sendiri, mengapa dia lupa mengunci pintu kamarnya, sehingga putra sulungnya
itu dapat masuk dan mengetahui
perbuatannya?
"Tidak ada apa-apa,
Kanulaga," jawab Sudiraja gugup. Jelas kalau kedatangan Kanulaga ke
kamarnya, diluar dugaannya.
Kanulaga mengernyitkan alisnya.
Perasaan curiganya pun timbul ketika melihat perubahan air muka nyahnya. Dengan
langkah lebar, dihampiriayahnya.
"Boleh kulihat apa yang Ayah
bungkus itu?" tanya laki-laki berwajah keras itu penuh rasa ingin tahu.
"Tidakada apa-apa, Kanulaga.
Yahhh..., hanya...."
"Tidak perlu membohongiku.
Ayah. Aku tahu apa yang Ayah bungkus itu,"selak Kanulaga cepat
"Kau tahu?!" tanya
Sudiraja setengah tidak percaya. "Ya."jawab Kanulaga singkat
"Apa!" desak Sudiraja
penasaran. Ingin diketahuinya jawaban putra sulungnya.
"Apa lagi kalau bukan harta
kekayaan ayah?!"
Wajah Sudiraja berubah pucat Tapi
hal ini hanya berangsung sesaat, sebentar kemudian wajahnya sudah kembali
sepertisediakala.
"Dugaanmu tidak salah,
Kanulaga. Ayah memang sengaja memisahkannya Yahhh...! Tempat penyimpanan harta
Ayah sudah penuh,"jelas Sudiraja mencoba tersenyum.
"Hhh...!" Kanulaga
menghela napas dalam-dalam. Ditatap wajah ayahnya lekat-lekat. "Ayah masih
saja berusaha menyembunyikan hal inipadaku,"keluhnya pelan.
"Apa maksudmu, Kanulaga?
Ayah tidak mengerti!" sergah Sudiraja dengan suara ditekan. Tapi
sungguhpun begitu, tetap saja laki-laki gendut ini tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
"Ayah masih juga
berpura-pura Aku sudah tahu untuk apa harta kekayaan itu! Aku telah tahu
semuanya!" tandas Kanulaga tegas.
Pucat pias wajah Sudiraja
mendengar ucapan anaknya. Sepasang matanya menatap liar ke kanan dan ke kiri,
seperti ada sesuatu yang ditakutinya.
"Tutup mulutmu, Kanulaga! Kau
tahu, tindakanmu itu hanya akan membahayakan dirimu sendiri!"
bentakSudiraja.
Kanulaga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat
"Perlu Ayah tahu, dalam
pengembaraanku berkali-kali aku berhadapan dengan maut Jadi, kematian bukanlah
sesuatu yang menakutkan bagiku, Ayah. Aku lebih suka mati terhormat daripada
hidup terinjak-injak," tegas dan keras kata-kata Kanulaga.
Sudiraja menatap wajah putra
sulungnya lekat-lekat
"Kau tidak tahu siapa
mereka, Kanulaga," desis laki-laki gendut itu tajam.
"Aku tahu, Ayah. Bukankah
mereka adalah Perkumpulan Kalajengking Merah?!"sahut Kanulaga tegas.
"Kau hanya tahu satu, tapi
tidak tahu yang kedua, Kanulaga!"sentakSudiraja.
"Maksud, Ayah?"tanya
Kanulaga tidak mengerti. "Kau tahu di mana markas mereka?"
Laki-lakiberwajah keras itu
mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu. Ayah. Tapi
apakah Ayah tahu?" Kanulaga balik bertanya.
Laki-laki berperut gendut itu tersenyum penuh kemenangan.
"Itulah yang membuat mereka
lebih berbahaya, Kanulaga. Tidak seorang pun tahu di mana markas mereka! Yang
jelas setiap orang yang membangkang kemauan mereka, pasti tewas!"
"Lalu, ke mana Ayah
mengantarkan upeti itu?" tanya Kanulaga lagisetelah termenung sejenak.
Sudiraja mengernyitkan alisnya.
Laki-laki berperut gendut Ini mencium gelagat yang mencurigakan pada Sikap
putera sulungnya.
"Untuk apa kau
mengetahuinya?" tanya Sudiraja. Sepasang matanya merayapi sekujur wajah
Kanulaga. Sepertinya di wajah itu dapat ditemukan jawaban daripertanyannya.
"Hanya ingin tahu
saja," sahut laki-laki berwajah keras Itu sekenanya.
"Kalau begitu, kau tak perlu
mengetahuinya, Kanulaga," jawab Sudiraja ringan.
Kanulaga menatap wajah ayahnya
berwajah keras yang juga memiliki menghembuskan napas panjang. sejenak.
Laki-laki watak keras ini
"Biar bagaimanapun juga, aku
akan berusaha agar harta itu tidak terjatuh ke tangan pemeras-pemeras terkutuk
itu!" tegas Kanulaga tandas.
Setelah berkata demikian,
Kanulaga melangkah meninggalkan kamar ayahnya.
"Kanulaga...!" panggil
Sudiraja dengan suara keras. Tapi laki-laki berwajah keras itu sama sekali
tidak menghiraukan. Terus saja dilangkahkan kakinya.
"Hhh...!" laki-laki
berperut gendut itu menghela napas dalam-dalam. "Anak tidak tahu
penyakit...," keluhnya pelan sambilterus melanjutkan pekerjaannya. .
***
3
Siang itu udara terasa panas
sekali. Sang matahari memancarkan sinarnya yang terik, menyorot garang ke bumi.
"Hhh...!" Dewa Arak
menghela napas. Disusulnya peluh yang membasahi sekujur wajah dan lehernya
dengan punggung tangan. Ditolehkan kepalanya ke arah Melati yang duduk di
sebelahnya. Gadis itu juga tengah menyusuri peluh yang membasahi wajah dan
lehernya yang berkulit putih, halus, dan mulus itu. Memang Dewa Arak dan Melari
tengah dudukberistirahat di bawah pohon yang berdaun rindang.
"Daerah di sini panas ya,
Kang," ucap Melati pelan membuka percakapan.
"Ya," sahut Arya sambil
menatap wajah gadis berpakaian serba putih itu lekat-lekat "Tapi sabarlah,
Melati. Tidak lama lagi semuanya akan berakhir. Setelah menyampaikan surat ini,
kita akan meninggalkan tempat ini secepatnya."
Seraya berkata demikian, Dewa
Arak menunjukkan surat yang terselip di pinggangnya.
"Mudah-mudahan saja,"
jawab Melati dengan suara mendesah.
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
"Sepertinya kau tidak
senang, Melati," tanya Dewa Arak setengah memastikan.
"Bukan aku tidak senang,
Kang," bantah gadis berpakaian serba putih itu cepat
"Hm , tapinada ucapanmu sepertinya
menyiratkan begitu "
Melati menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya
kuat-kuat
"Aku tidak kerasan berada di
daerah seperti ini, Kang. Apabila siang, panas bukan main. Tapi sebaliknya
malamnya dingin sekali. Tapi tugas itu...."
"Kenapa tugas ini,
Melati?"
"Tugas ini sepertinya tidak
akan mudah kita lak-1 sanakan. Kang."
"Maksudmu...?"
"Aku yakin mau tidak mau
kita akan terseret ke dalam urusan yang akan membuat kita berada di sini untuk
waktu yang cukup lama, Kang,"tegas dan jelas a kata-kata Melati.
Arya tercenung. Disadarinya
kebenaran dalam ucapan gadis yang dicintainya ini. Dia pun tidak yakin, kalau
sehabis mengantarkan surat ini, tugasnya akan selesai.
"Mungkin kau benar,
Melati," desah pemuda berambut putih keperakan inipelan.
Suasana menjadi hening ketika
Dewa Arak menyelesaikan ucapannya. Kedua pendekar muda ini tenggelam dalam
lamunannya masing-masing. Tapi tiba-tiba hampir berbareng keduanya saling
pandang. Dahi mereka berkerut-kerut
"Ada banyak langkah kaki
yang menuju kemari, Melati," ucap Dewa Arak memberitahu.
"Aku pun mendengarnya,
Kang," sahut gadis berpakaian serba putih itu. Memang, baik Melati maupun
Arya telah sama-sama mendengar suara itu.
"Waspadalah, Melati.
Sepertinya, mereka tidak bermaksud baik."
Belum juga gema suara Dewa Arak
lenyap, terdengar suara-suara mendesing nyaring. Disusul dengan berkelebatnya
belasan sinar kemerahan ke arah mereka.
Bagai dikomando, meskipun masih
dalam posisi duduk, kedua muda-muda itu serentak menghentakkan kedua tangannya
ke depan. Dewa Arak dengan jurus 'Pukulan Belalang'nya, sedangkan Melati dengan
jurus 'Naga Merah Membuang Mustika',
Angin berhembus keras ke arah
sinar-sinar kemerahan yang menyambar ke arah dua muda-mudi yang sakti itu.
Hebat akibatnya! Belasan sinar merah itu rontok, berjatuhan di tanah sebelum
sempat mendekati Dewa Arak dan Melati.
Tapi baru saja belasan sinar
merah yang ternyata adalah logam merah berbentuk ekor kalajengking itu rontok
ke tanah, belasan sosok berpakaian serba hitam muncul dari balik rerimbunan
semak dan pohon.
"Hhh...! Ada saja
gangguan...,"keluh Melati.
Dewa Arak tersenyum mendengar
gerutu gadis Itu. Tak lama kemudian, pemuda itu bangkit dari duduknya.
"Kau istirahat saja, Melati.
Biar aku yang menghadapi mereka,"ujar Arya.
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak lalu menghampiri belasan orang yang sudah siap menyerang. Diperhatikannya
mereka sejenak. Jumlah mereka sebelas orang, berpakaian serba hitam, yang di
dadanya berqambar kalajengking merah. Wajah mereka tidak terlihat karena
tertutup selubung hitam. Senjata tongkat panjang merah berujung ekor kalajengking,
tergenggamditangan mereka.
"Serahkan surat itu pada
kami, Kisanak. Dan kami berjanji akan membiarkan kau dan temanmu pergi dengan
selamat'" ucap salah seorang dari para pengepung itu. Berbeda dengan yang
lainnya, pada dahi selubungnya tertera tanda totol merah. Sementara pada dahi
selubung yang lainnya tidak terdapat tanda apa-apa.
"Sayang sekali. Aku telah
dipesan oleh yang bersangkutan untuk menyerahkan surat ini
pada yang berhak menerimanya,"sahut Arya kalem.
"Keparat! Jadi, kau tidak
mau memberikan surat itu, Kisanak?!" gertaksi selubung bertotol merah.
"Sudah kukatakan, aku hanya
akan memberikan pada yang berhak menerimanya!"tegas Dewa Arak tandas.
"Rupanya kau lebih suka
mampus! Hiyaaa...!" Setelah berkata demikian, orang berpakaian serba hitam
ini menusukkan senjata anehnya ke arah perut Arya. Tapi Dewa Arak hanya
tersenyum tipis. Tubuhnya segera didoyongkan ke samping kanan, sehingga senjata
itu lewat di samping kiri sambiltangan kanannya bergerak menangkap.
Tappp...! "Akh...!"
Si penyerang terpekik kaget
ketika tangannya telah ditangkap Dewa Arak. Dan jerit kekagetan Itu segera
berubah menjadi jerit kesakitan, ketika Arya menggerakkan jari-jari tangannya
meremas.
Terdengar suara gemeretak dari
tulang-tulang tangan yang remuk. Pemuda berambut putih keperakan Ini tahu kalau
orang-orang yang mengepungnya Ini berwatak kejam dan jahat Maka Dewa Arak
sengaja bertindak agak keras terhadap mereka.
Belum lagi, penyerang yang sial
ini berbuat sesuatu, Dewa Arak menyentakkan tangannya. Tak pelak lagi tubuh
orang itu melayang ke depan.
"Aaa..!" jerit orang
berpakaian serba hitam itu penuh rasa ngeri. Tubuhnya melayang deras ke arah
batang pohon sebesar dua pelukan orang dewasa.
Bukkk...! "Akh...!"
Terdengar keluhan tertahan dari
mulut penyerang yang sial, ketika kepalanya menghantam batang pohon. Seketika
itu juga orang berpakaian serba hitam yang pada bagian dahi selubungnya terdapat
totolmerah ini pingsan.
Seruan-seruan kaget terdengar
dari mulut para penyerang, begitu melihat rekannya roboh hanya dalam segebrakan
saja ditangan pemuda berambut putih keperakan ini.
Meskipun begitu, belasan orang
itu tidak menjadi gentar. Sambil memekik nyaring, mereka serentak menyerang
Dewa Arak. Belasan senjata tajam pun berkelebatan menghujani Arya.
Sekali lihat saja, Dewa Arak
dapat mengukur tongkat kepandaian para pengeroyoknya Memang tingkat kepandaian
mereka rata-rata cukup tinggi. Tapi masih terlalu Jauh Jika diperbandingkan
dengannya Maka, Dewa Arak tidak merasa
perlu mempergunakan ilmu
andalannya. Pemuda itu hanya menggunakan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan
Harimau'. Ilmu yang diwariskan ayahnya.
Hebat bukan main sepak terjang
Dewa Arak. Ke mana saja, tangan atau kakinya bergerak, pastilah di situ ada
lawan yang roboh. Tapi Dewa Arak yang memang tidak berwatak kejam, tidak pernah
menurunkan tangan maut pada mereka. Paling-paling dia hanya mematahkan satu kaki
atau tangan mereka untuksekedar memberipelajaran.
Jerit kesakitan terdengar
susul-menyusul seiring dengan berjatuhannya tubuh mereka satu persatu ke tanah.
"Akh...!"
"Aaa...!"
Dengan terdengarnya dua jeritan
terakhir, berakhir pula pertarungan antara Dewa Arak dengan para pengeroyoknya.
Kini tinggal Arya yang masih berdiri di arena pertarungan. Sementara para
pengeroyoknya bertebaran tanpa daya di sekelilingnya. Hanya rintihan mereka
saja yang masih terdengar.
Dewa Arak memandangi
lawan-lawannya yangj tergolek tak berdaya di tanah, sejenak. Baru setelah itu
menghampiri mereka. Arya bermaksud mengorek keterangan dari mulut mereka.
Tapi baru juga Dewa Arak berjalan
beberapa tingkah, terdengar suara bersiut nyaring, disusul dengan melesatnya
sebuah benda bulat sebesar telur angsa. Dewa Arak tidak berani bertindak
gegabah. Buru-buru tubuhnya dilempar ke belakang, dan bersalto beberapa kali di
udara.
Blarrr...!
Terdengar ledakan yang cukup
keras begitu benda bulat sebesar telur angsa itu jatuh di tanah. Asap tebal
berwama hitam pekat segera menyebar memenuhi tempat itu.
"Hup...!
Dewa Arak hinggap sekitar tujuh
tombak dari tempatnya semula. Dahi pemuda itu berkernyit ketika mencium bau
amis memuakkan dari asap yang sedikit terbawa angin ke tempatnya
"Menyingkir, Melati! Asap
itu beracun!" seru Arya pada tunangannya, seraya melesat menjauhi asap
itu.
Mendengar seruan kekasihnya,
Melati bergegas bangkit dari duduknya dan berlari menyingkir dari situ.
Menyusul Dewa Arak.
Baru setelah asap tebal berwarna
hitam itu telah sirna tertiup angin. Dewa Arak dan Melati kembali ke tempat
semula. Bergidik hati mereka melihat belasan Bosok berpakaian hitam tadi telah
tak bergerak lagi. Tewas! Sekujur kulit tubuh mereka hangus!
Dewa Arak mengalihkan perhatian
ke arah penyerang pertama yang telah dibuatnya pingsan tadi. Ternyata yang
seorang ini pun sudah tidak bernyawa pula. Kepalanya pecah!
Sepasang mata Dewa Arak bergerak
liar mengamati sekelilingnya Barangkali saja dapat menemukan penyerang gelap
yang telah melemparkan benda bulat yang dapat meledak itu Tapi sampai lelah
matanya berputar ke sana kemari, tidak juga dilihatnya halyang mencurigakan.
"Hhh...!" Dewa Arak
menghela napas. Kini persoalannya menjadigelap kembali.
Melati bergidik ngeri melihat
keadaan mayat-mayat Itu. Digamitnya lengan Dewa Arak. Kemudian ditariknya
meninggalkan tempat itu.
Arya sama sekali tidak membantah.
Pemuda ini tahu, tidak ada gunanya lagi mencari si penyerang gelap. Orang itu
pasti telah jauh meninggalkan tempati ini. Maka dibiarkan saja Melati membawanya.
***
Dewa Arak dan Melati menghentikan
langkahnya. Kepala mereka sama-sama agak menengadah, menatap sebuah papan tebal
yang tergantung di atas pintu gerbang sebuah bangunan besar berhalaman luas.
Bangunan besar itu dikelilingi pagar kayu bulat yang tinggi. Jelas terbaca oleh
mereka huruf-huruf yang tertera di papan berukir indah itu. Huruf-huruf yang
dibuat dengan tinta emas, bertuliskan 'Perguruan Hati Suci'.
"Mari kita ke sana,
Melati," ajak melangkah mendahului ke arah pintu bergegas mengikuti tangkah
kekasihnya.
Dewa Arak sambil gerbang itu.
Melati
"Maaf, Kisanak. Apakah kami
bisa bertemu dengan Nirmala?" tanya Dewa Arak sopan pada dua orang murid
Perguruan HatiSuci yang menjaga pintu gerbang.
Kedua orang murid itu saling
pandang sejenak. Raut keterkejutan jelas terbayang pada wajah mereka.
"Maaf, kalau boleh kami tahu
siapakah kisanak berdua?" tanya salah seorang daridua murid itu.
"Aku Arya dan ini
temanku..., Melati," jawab Dewa Arak memperkenalkan diri.
"Hm.., maksud kami...,
dengan Nirmala?" tanya pertanyaannya yang tadi. apa hubungan kisanak berdua
orang itu lagi memperbaiki
Dewa Arak dan Melari melongo.
Sungguh sama sekali tidak disangka kalau untuk bertemu dengan gadis itu sangat
sulit Mereka sama sekali tidak tahu, kalau keberadaan Nirmala di Perguruan Hati
Suci sangat dirahasiakan. Hanya beberapa gelintir orang saja yang mengetahuinya.
Dan kebetulan di antara mereka
adalah dua orang vang menjaga pintu gerbang ini. Tentu saja mereka terkejut
bukan main begitu melihat seorang pemuda berambut putih
keperakan dan seorang gadis
cantik berpakaian putih, mencari putriSudiraja Itu.
"Kami... kamibukan
apa-apanya. Kamihanya...."
Belum lagi Arya menyelesaikan
ucapannya, dua orang itu sudah menghunus golok masing-masing.
Srattt...! Srattt...!
Sinar terang berkilatan, ketika
kedua golok itu keluar dari sarungnya.
"Tunggu sebentar, Kisanak!
Percayalah, kami tidak bermaksud jahat,"cegah Dewa Arak buru-buru
Tapi dua orang penjaga Itu sama sekali
tidak mempedulikan kata-kata Dewa Arak. Golok di tangan mereka berkelebat cepat
menyerang Arya. Tampaknya kedua penjaga itu benar-benar menginginkan kematiai
Dewa Arak!
Melati yang memang berwatak
keras, menjadi tidak senang melihat sikap kedua orang itu.
"Kalian pikir, hanya kalian
saja yang memiliki kepandaian?" ucapnya keras, seraya melayangkan
tubuhnya. Sesaat kemudian gadis berpakaian
putih itu telah berdiri membelakangi Arya.
"Mundur, Melati...!"
teriak Dewa Arak mencegah. Pemuda berambut putih keperakan Ini tidak ingin
keadaan menjadi lebih kacau dengan ikut campur tangannya Melati, gadis yang
diketahuinya memilikiwatak keras.
Tapi Melati sama sekali tidak
mempedulikan seruan kekasihnya. Kedua tangan gadis berpakaian serba putih itu
tahu-tahu sudah bergerak cepat menangkis golok yang menyambar ke arahnya dengan
tangan kosong!
Takkk...! Takkk...!
Tappp, tappp...!
Seolah-olah yang menyambarnya
bukan dua bilah golok, tangan halus Melati menangkisnya Bahkan menangkapnya
sekaligus!
"Uh... uh...!"
Dua orang murid Perguruan Hati
Suci itu berusaha sekuat tenaga menarik pulang senjata mereka dari cengkeraman
Melati. Tapi cengkeraman itu begitu kuat bagaikan sebuah jepitan baja.
Betapapun kedua orang itu mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tetap saja usaha
mereka sia-sia.
Melatihanya tersenyum sinis.
Berbeda dengan wajah kedua murid Perguruan Hari Suci
yang memerah karena mengerahkan tenaga yang
melewati batas, wajah gadis ini terlihat biasa-biasa saja. Tak terihat kalau
Melati sedang mengerahkan tenaga dalamnya.
Beberapa saat kemudian, mendadak
Melati melepaskan cengkeramannya. Akibatnya sudah bisa didugai Kedua murid
Perguruan Hati Suci itu terjengkang ke belakang dan jatuh berdebukdi tanah,
terbawa betotan tenaga mereka sendiri.
Melati bertolak pinggang menatap
kedua lawannya yang tengah bangkit sambil tersenyum sinis. Tapi rupanya kedua
orang itu masih penasaran. Terbukti begitu bangkit, mereka sudah bersiap akan
menyerang kembali. Tapi sebelum hal itu terjadi, terdengar sebuah suara keras
mencegah.
"Tahan...!"
Belum lagi habis gema suara
bentakan itu, angin dingin berkesiur. Disusul dengan munculnya seorang lelaki
bertubuh sedang, berusia sekitar lima puluh lima tahun. Laki-laki itu berbibir
tebal dan berpakaian jingga
"Guru...!" seru kedua
murid Perguruan Hati Suci Itu berbareng sambil menjura hormat.
Laki-laki berbibir tebal yang
ternyata adalah Ketua Perguruan Hari Suci ini menatap tajam wajah kedua
muridnya, setelah sekilas melirik ke arah Melati dan Dewa Arak
"Puja, Jaya, apa-apaan
ini?" tegur laki-laki berpakaian Jingga itu.
"Maafkan kami, Guru... tapi
kedua orang ini mencurigakan," jawab salah seorang dari mereka yang
bertubuh pendek.
"Mencurigakan...?
Mencurigakan bagaimana, Puja?" tanya laki-laki berbibir tebal itu lagi.
Kembali sudut matanya melirik pada Melatidan Dewa Arak.
"Mereka mencari Nirmala,
Guru," jawab laki-laki pendek yang ternyata bernama Puja. Pelahan sekali
suaranya, seperti suara desahan saja.
Wajah Ketua Perguruan Hati Suci
langsung berubah. Penjelasan dari Puja telah cukup jelas baginya Dapat
dimaklumi sikap kedua muridnya. Kini perhatiannya dialihkan pada Melatidan Dewa
Arak.
"Maafkan atas kelancangan
kedua muridku yang kurang sopan ini, Nisanak. Tapi, benarkah apa yang dikatakan
kedua muridku?" tanya laki-laki berbibir tebal itu kepada Melati yang
berada lebih dekat dengannya. Memang, gadis berpakaian putih itu berdiriagak
jauh didepan Dewa Arak.
Melihat sikap sopan yang
ditunjukkan laki-laki berpakaian jingga itu, kedongkolan Melati pun berkurang.
Tangannya yang semula bertolakpinggang, diturunkan.
"Benar, Ki," sahut Melati sambil menganggukkan kepalanya.
Ketua Perguruan Hati Suci itu
mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau boleh kutahu,
siapakah Nisanak dan Kisanak ini sebenarnya. Dan ada urusan apa mencari
Nirmala? Aku Ki Tanu, Ketua Perguruan Hati Suci."
"Aku Melati, sedangkan
temanku Iniberjuluk Dewa Arak...," jawab Melari. Sengaja gadis ini
memperkenalkan pemuda berambut putih keperakan ini dengan julukannya, tidak
dengan namanya. Memang, julukan Dewa Arak jauh lebih dikenal ketimbang nama
Arya Buana.
Dugaan gadis berpakaian serba
putih ini tidak salah. Begitu mendengar nama Dewa Arak, terdengar seruan-seruan
kaget dari mulut ketiga orang di hadapannya. Sementara Arya sendiri hanya dapat
menghela napas. Dia tahu Melati masih merasa mendongkol dengan kejadian tadi.
"Ah, kalau begitu pasti ada
sesuatu yang penting, sehingga kalian mencari Nirmala. Mari, mari masuk. Lebih
baik kita bicarakan masalah ini di dalam," ucap Ki Tanu setelah hilang
rasa kagetnya.
Setelah berkata demikian, Ketua
Perguruan Hari Suci melangkah masuk ke dalam. Melati pun ikut melangkah masuk,
setelah teriebih dulu melempar pandang mata penuh kemenangan pada kedua orang
murid Ki Tanu. Dewa Arak yang melihat hal itu hanya tersenyum geli di dalam
hati. Sifat tidak mau kalah dari gadis itu masih belum juga hilang, ucapnya dalam
hatisambil terus melangkah ke dalam.
***
"Sekali lagi aku mohon maaf
atas perlakuan yang kurang pantas kedua muridku tadi, Dewa Arak," ucap Ki
Tanu setelah ketiganya berada dalam ruang khusus tempat Kl Tanu membicarakan
masalah-masalah penting dan rahasia.
Dewa Araktersenyum lebar.
"Tidak ada yang perlu
dimaafkan, Ki," sahut pemuda berbaju ungu itu bijaksana. "Semua
inihanya kesalahpahaman
belaka. Dan kuminta Aki
memanggllku dengan namaku saja. Arya, Ki."
"Baiklah kalau begitu, De...
eh, Arya. Kalau boleh kutahu, ada urusan apa, kau dan Nini Melati ini mencari
Nirmala?" tanya laki-lakiberpakaian jingga lni.
"Sebetulnya kami sama sekali
tidak mempunyai urusan dengan Nirmala, Ki Mengenalnya pun tidakBahkan mendengar
namanya saja belum lama," jelas Dewa Arak.
"Eh...?! Mengapa
begitu?"tanya Ki Tanu agak kaget
"Yahhh...! Hanya sebuah
ketidaksengajaan saja yang menyebabkan kami mencari Nirmala, Ki," jawab
Dewa Arak memberi penjelasan. Lalu diceritakannya tentang semua kejadian yang
dialaminya sebelumtiba di Perguruan HatiSuci.
Ki Tanu mendengarkan cerita Dewa
Arak dengan wajah sungguh-sungguh hingga pemuda berambut putih keperakan itu
menyelesaikan ceritanya.
"Bisa kulihat surat itu,
Arya?" tanya Ki Tanu setelah Dewa Arakmenyelesaikan ceritanya.
Dewa Arak mengerutkan alisnya
mendengar permintaan laki-lakiberbibir tebal itu.
"Maaf, Ki. Aku tidak dapat
memberikannya padamu. Pesan orang itu, surat Ini harus kuberikan langsung pada
Nirmala," jawab Dewa Araktegas.
Ki Tanu tersenyum. Ketua
Perguruan Hari Suci ini benar-benar mengagumi sikap Dewa Arak.
"Aku mengerti, Arya. Tapi
bila kau berikan surat itu padaku atau pada Nirmala, sama saja. Nirmala adalah
muridku. Murid istimewa. Ayah gadis itu sendiri yang menitipkannya padaku.
Sudiraja, ayah Nirmala adalah kawan akrabku. Dia biasa mengirim surat padaku
menanyakan bagaimana keadaan putrinya. Atau dia mengirimkan surat untuk
putrinya sendiri.
Tapi surat kali ini agaknya
banyak mengandung keanehan, Arya."
"Maksud, Aki?" tanya
Dewa Arak. Kini sudah jelas baginya siapa Itu Nirmala, dan siapa laki-laki
berbibir tebal ini.
'Tadi kau bilang, orang yang
bertugas mengirimkan surat ini tewas di tangan orang yang berpakaian dan
berselubung hitam, bergambar kalajengking merah di dada?" tanya Ki Tanu
lagi, meyakinkan.
"Benar, Ki. Orang Itu juga
mempunyai senjata rahasia berbentuk ekor
kalajengking berwarna merah yang
mengandung racun ganas," tambah pemuda berambut putih keperakan itu.
"Kau tahu siapa mereka,
Arya?" tanya Ki Tanu. Sepasang matanya merayapi sekujur wajah Dewa Arak.
Seolah-olah di wajah pemuda Itu terdapat jawaban bagi pertanyaannya.
"Sedikit, Ki. Sebelum mati,
pembawa surat Ini sempat mengatakan padaku, kalau orang-orang Perkumpulan
Kalajengking Merahlah yang melakukannya," jawab Dewa Arak.
"Apa yang dikatakan utusan
Sudiraja itu memang benar. Hm..., selain itu apa lagi yang kau ketahui tentang
Perkumpulan Kalajengking Merah, Arya?" desak Ki Tanu ingin tahu.
Dewa Arak menggelengkan
kepalanya. 'Tidakada lagi, Ki."
"Sudah kuduga! Aku saja yang
sudah puluhan tahun tinggal di sini, masih belum begitu jelas mengetahui
perkumpulan misterius itu. Hhh...," ujar Ki Tanu sambil menghela napas
panjang.
"Perkumpulan misterius,
Ki?" tanya Dewa Arak. Sepasang matanya menyorotkan ketidakmengertian.
"Ya," jawab laki-laki
berpakaian Jingga ini seraya menganggukkan kepalanya.
"Mengapa begitu,
Ki?"tanya Dewa Arakpenasaran.
Ki Tanu tidak langsung menjawab
Ditariknya napas dalam-dalam kemudian kuat-kuat
pertanyaan itu. dihembuskannya
"Perkumpulan itu kukatakan
misterius, karena tak seorang pun tahu di mana markasnya. Mereka selalu muncul
secara tiba-tiba. Dan andaikata ada anggotanya yang tertangkap, kalau tidak
anggota yang sial Itu mati terbunuh sebelum buka mulut, pasti dia bunuh
diri," jelas laki-laki berbibir tebal ini membentahu.
"Aneh...,"desah Dewa
Araktanpa sadar.
"Tapi ada yang lebih aneh
lagi, Arya," selak Ketua Perguruan HatiSuci itu.
"Apa, Ki?"
"Mengapa Perkumpulan
Kalajengking Merah itu begitu gigih berusaha merampas surat untuk Nirmala.
Itulah yang menjadi tanda tanya buatku. Padahal selama ini surat-surat untuk
Nirmala atau untukku selalu aman-aman saja. Yahhh..., selalu sampai di
tujuan,"ujar Ki Tanu.
"Jadi, itukah sebabnya kau
ingin mengetahui isi surat itu, Ki?"tanya Dewa Arak mulai
pahampersoalannya.
Ki Tanu menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu betul, perkumpulan
macam apa, Perkumpulan Kalajengking Merah itu. Sebuah perkumpulan misterius
yang tidak ketahuan jelas anggota dan pemimpinnya. Perkumpulan itu memeras
penduduk. Apalagi penduduk yang agak kaya. Sudah lama Gusti Adipati Palangka
hendak menghancurkan gerombolan Itu. Tapi sampai sekarang tidak pernah
berhasil. Kalau melihat gelagatnya, aku yakin kalau Perkumpulan
Kalajengking Merah hendak merebut
Kadipaten Palangka," jelas laki-laki berbibir tebal itu panjang tebar.
Dewa Arak tercenung. Sungguh tak
disangka kalau masalah yang dihadapinya menjadi sebesar ini.
"Lalu, kenapa hal Itu tidak
dilakukan, Ki?"
"Entahlah. Mungkin, takut
kalau pasukan kerajaan akan datang menghancurkan mereka," sambut Ketua
Perguruan HatiSuci itu, mendesah.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya. bisa diterimanya alasan Ki Tanu.
"Bagaimana, Arya? Bisa
kulihat isi surat itu?" tanya laki-laki berbibir tebal itu lagi.
Dewa Arak sama sekali tidak
berkata apa-apa. Diambilnyai gulungan surat dari lipatan ikat pinggangnya.
Kemudian surat itu diberikan pada Ki Tanu
"Terima kasih atas
kepercayaan yang kau berikan padaku, Arya," ucap laki-laki berpakaian
Jingga Itu sambil menerima gulungan surat yang diangsurkan Dewa Arak.
Pelahan-lahan Ketua Perguruan
Hati Suci ini membuka gulungan surat itu, lalu dibacanya. Sementara Dewa Arak
dan Melati hanya memperhatikannya saja tanpa berkeinginan untuk mengetahui isi
surat itu. Mereka sadar, apa pun isi surat itu, bukan hak mereka untuk
mengetahuinya.
"Aneh...," desah Ki Tanu
sambil menggulung surat Itu kembali. Sepasang alisnya berkerut Jelas ada
sesuatu yang membingungkan hatinya.
Dewa Arak dan Melati diam saja.
Mereka sama sekali tidak menanggapiucapan kebingungan laki-lakiberbibir
tebalitu.
Semula Ki Tanu agak heran juga.
Tapi, beberapa saat kemudian dia pun sadar. Dewa Arak dan Melati tidak mau bersikap
lancang mencampuri urusan yang jelas-jelas bukan urusannya.
"isi surat ini, biasa-biasa
saja, Arya. Sama sekali tidak ada yang penting. Tapi kenapa orang-orang
Perkumpulan Kalajengking Merah begitu bernafsu untuk mendapatkannya?"
"Kalau boleh Barangkali saja
Dewa Arak. kutahu, apa sebenarnya Isi surat itu, Ki? aku dapat menyingkap
rahasianya," pinta
Ki Tanu segera memberikan
gulungan surat Itu pada Arya. Pemuda itu pun langsung membuka gulungan surat
dan membacanya.
Nirmala,
Bila surat Ini telah kau terima,
segeralah pamit pada gurumu. Minta izin untuk pulang. Ada urusan penting yang
ingin Ayah bicarakan O ya, Ayah juga telah memanggil kakakmu, Jalatara untuk
pulang. Kakak sulungmu, Kanulaga telah kembali
Sudiraja
Setelah membaca surat itu, Dewa Arak segera
memberikannya pada Melati. Sama seperti juga Dewa Arak dan Ki Tanu, sepasang
alis gadis ini pun berkerut setelah membaca surat itu.
"Bagaimana, Arya? Ada
kesimpulan yang dapat kau tarik dariisisurat itu?"tanya Ki Tanu taksabar.
Dewa Arak tercenung sebentar.
Kemudian pelahan namun pastikepalanya pun menggeleng.
"Hhh...! Tidak ada sama
sekali, Arya?" tanya Ki Tanu, seolah-olah menuntut Dewa Arakuntukberpikir
keras.
Arya menatap wajah laki-laki
berbibir tebal itu lekat-lekat
"Bukannya kesimpulan yang
kudapatkan, Ki. Tapi malah pertanyaan-pertanyaan. Banyak hal mencurigakan
sehubungan dengan isi surat ini,"jawab Dewa Arak.
"Apa Itu, Arya?"tanya
KiTanu penuh gairah.
"Sebelum kujawab pertanyaan
Aki, bisakah Aki sedikit menjelaskan tentang keluarga Nirmala?" pinta
Arya.
"Untuk apa?" Ki Tanu
masih belum mengerti maksud pemuda berbaju ungu itu.
"Untuk lebih memperjelas
masalah, Ki," sahut Dewa Arak cepat
"Baiklah. Sudiraja adalah seorang
kaya raya Kekayaannya berlimpah ruah. Dia mempunyai, tiga orang anak. Yang
sulung bernama Kanulaga, pergi mengembara lima belas tahun yang lalu. Yang
kedua Jalatara, menjadi pengawal Adipati Palangka. Sedangkan yang bungsu,
Nirmala, dititipkan padaku di sini. Nah, sekarang jelaskan hal-hal yang
mencurigakanmu itu. Dewa Arak!"
Dewa Arak menghembuskan napas
kuat-kujat sebelum memulai ucapannya.
"Begini, Ki. Pertanyaan
pertama adalah, dari mana Perkumpulan Kalajengking Merah ini tahu mengenai
surat ini," Arya mengemukakan kesimpulannya.
Ki Tanu mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak berpikir ke situ,
Arya. Yang kupikirkan adalah mengapa Perkumpulan Kalajengking Merah itu begitu bersikeras untuk
merampas surat yang isinya menyuruh Nirmala pulang?"
"Jawaban bagi pertanyaan
itu, mudah sekali, Ki Ada dua jawaban yang mungkin bagipertanyaan itu."
"Apa, Arya?"tanya
laki-laki berbibir tebal itu ingin tahu.
"Pertama, orang-orang
Kalajengking Merah Itu salah duga mengenai isi surat Barangkali mereka mengira
surat itu berisi hal-halyang penting,"sahut Dewa Arak menduga-duga.
"Yang kedua?"selak Ki
Tanu tidak sabar.
"Mereka tahu isi surat itu!
Dan bila itu benar, berarti mereka memang sengaja tidak membiarkan Nirmala
pulang!" jelas Arya lagi.
Ketua Perguruan Hari Suci ini
mengangguk-anggukkan kepalanya Jawaban Dewa Arak bisa diterima. Kedua-duanya
masukakal.
"Aku lebih condong pada
jawaban yang kedua, Arya," ujar Ki Tanu seraya terus mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
Jelas pemuda Itu tengah berpikir keras.
"Kalau apa yang Aki katakan
benar, timbul pertanyaan lagi. Dari mana orang-orang Perkumpulan Kalajengking
Merah itu tahu kalau Nirmala disuruh pulang? Ini berarti, di dalam rumah Tuan Sudiraja ada mata-mata Perkumpulan Kalajengking
Merah!"tegas Dewa Arak menyimpulkan.
"Ahhh...! Kau benar, Arya!
Mengapa aku tidak berpikir sampai di situ?" sambut kakek itu seperti
menyesali diri. "Kini aku telah menemukan kejanggalan lain, Arya."
"Apa itu, Ki?" tanya
Arya ingin tahu. "Mengapa orang Perkumpulan Kalajengking Merah tidak
membiarkan Nirmala pulang?!"
"Mengapa Ki" tanya Arya
ingin tahu jawaban kakek berpakaian Jingga itu.
"Mereka tidak ingin rahasia
mereka terbongkar!!” jawab kakek Itu yakin.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya Bisa diterimanya alasan Ki Tanu.
Hening sejenak setelah Ki Tanu mengemukakan dugaannya.
"O ya, Ki. Bisa kami bertemu
dengan Nirmala?! tanya Dewa Arakhati-hati.
Ki Tanu menghela napas panjang.
"Sayang sekati, Arya. Gadis
itu tengah pergi berburu! Itulah sebabnya dia tidak dapat kubawa menemuimu
Tadi, telah kusuruh salah seorang muridku menyusulnya. Maafkan aku, Arya Aku
telah mengecewakanmu."
"Tidak mengapa, Ki,"
sahut Arya. "Yang jelas, surat itu telah kami sampaikan pada yang berhak.
O, ya. Kami permisi dulu, Ki, Masih banyakurusan yang harus diselesaikan."
Setelah berkata demikian, Arya
segera bangkit dari duduknya. Melati pun bergegas bangkit. Dikembalikannya
surat itu pada Ki Tanu.
Ketua Perguruan Hati Suci
mengantar Dewa Arak dan Melarisampaidipintu gerbang.
"Terima kasih atas bantuan
kalian," ucap Ki Tanu sebelum Arya dan Melati meninggalkan tempat Itu.
"Sering-seringlah kalian mampir kemari. Banyak hal yang ingin kubicarakan
denganmu."
"Mudah-mudahan,
Ki,"jawab Arya memberi harapan.
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak menggerakkan kakinya melangkah. Sepertinya pemuda berambut putih keperakan
ini hanya melangkah satu langkah saja. Tapi anehnya, tahu-tahu tubuhnya sudah
berada puluh tombak dari tempat semula. Melati pun tidak mau kalah. Sesaat
kemudian tubuhnya sudah berada disamping kekasihnya.
"Pemuda-pemudi yang
hebat..," desis Ki Tanu penuh kagum. Dipandanginya bayangan tubuh Dewa
Arak dan Melati, sampaitubuh keduanya lenyap ditelan jalan.
***
4
Seekor kuda hitam yang
ditunggangi seorang gadis, melangkah gagah merambah hutan. Gadis itu berwajah
cantik jelita. Rambutnya digelung ke atas, pakaiannya yang merah menyala semakin
menampakkan kecantikannya.
Singgg...!
Suara mendesing nyaring,
mengejutkan si gadis. Seketika itu juga, kepalanya ditolehkan ke arah asal
suara. Kontan sepasang matanya terbelalak ketika melihat sinar kemerahan
melesat cepat ke arahnya.
Gadis berpakaian merah ini sadar
akan bahaya maut yang mengancam. Maka cepat dia melompat dari atas kuda.
Bersalto beberapa kali di udara lalu mendarat ringan di tanah. Sehingga sinar
kemerahan itu menyambar tempat kosong dan menancap disebuah pohon.
Cappp....'
Gadis berpakaian merah itu
bergidik ngeri ketika melihat nasib pohon yang tertancap sinar merah, yang
ternyata adalah benda logam berbentuk ekor kalajengking berwarna merah. Pelahan
namun pasti, pohon Itu mulai mengering. Daun-daunnya pun layu berguguran.
Gadis berpakaian merah ini
menatap liar ke sekelilingnya. Namun yang nampak hanyalah kesunyian.
Sepertinya hanya dia sendiri saja
yang berada di dalam hutan itu. Kuda hitamnya sudah kabur ketika gadis Itu
melompat dari punggungnya. Rupanya naluri binatangnya yang tajam, mencium
adanya bahaya mengancam. Sehingga tanpa mempedulikan tuannya lagi, kuda hitam
itu melesat kabur.
"Ha ha ha...!"
Terdengar tawa bergelak menggema
ke seluruh penjuru hutan. Suara tawa yang mengandung getaran tenaga dalam kuat
Gadis berpakaian merah itu
memandang berkeliling dengan sikap waspada. Kedua tangannya bergerak cepat Dan
di lain saat, di kedua tangannya masing-masing tergenggam sebatang sumpit yang
ujungnya runcirig.
Tiba-tiba terdengar suara
berkerosakan dari delapan penjuru. Belum lagi suara itu lenyap, tahu-tahu dari
balik semak-semak dan pepohonan yang lebat, keluar belasan sosokyang kemudian
mengurung sigadis.
Gadis berpakaian merah itu menatap tajam para
pengurungnya. Mereka semua mengenakan pakaian yang sama Pakaian serba hitam
yang di dadanya bergambar kalajengking merah. Selubung-selubung hitam menutupi
wajah mereka Orang-orang Perkumpulan Kalajengking Merah
"Siapa kalian? Dan mengapa
menyerangku?!" tanya gadis berpakaian merah itu keras. Sepasang matanya
menatap liar ke arah orang-orang yang mengurungnya.
"Ha ha ha...! Tidak usah
bingung-bingung, Nirmala," ucap salah seorang dari pengurung itu menyapa.
Orang Itu rupanya pemimpin dari belasan orang Itu. Terbukti dengan adanya tanda
totol merah pada dahi selubungnya. Sementara pada yang lainnya tidak terdapat
tanda apa pun.
Gadis berpakaian merah itu
melengak kaget "Dari mana kau tahu namaku?.'" tanya gadis itu. Memang
Gadis berpakaian serba merah itu adalah Nirmala. Putri Sudiraja. Dan saat ini
gadis Itu dalam perjalanan pulang memenuhi panggilan ayahnya. Sore hari
sepulang berburu, gurunya datang memberi suri dari ayahnya. Ki Tanu juga
menceritakan perjalanan surat Itu hingga sampai ke tangannya.
"Jadi, benar namamu
Nirmala?! Kalau begitu kau harus mampus!"
Setelah berkata demikian, orang
yang menyapa Nirmala tadi langsung menyabetkan senjatanya yang berupa tongkat
berujung ekor kalajengking ke leher gadis itu.
Tapi Nirmala bukanlah gadis yang
lemah. Dia adalah murid terkasih dari Ketua Perguruan Hati Suci, Ki Tanu.
Apalagi, gadis ini ternyata sangat berbakat! maka tidak mengherankan kalau
dalam usia semuda! Itu hampir seluruh ilmu-ilmu gurunya telah dikuasainya.
Mudah saja Nirmala mengelakkan
serangan. Kepala gadis itu ditarik ke belakang, tanpa merubah posisi kakinya.
Wuuusss....'
Angin berbau amis memuakkan
tercium hidung indah milik gadis itu ketika senjata lawannya lewat sejengkal di
depan wajahnya. Gadis ini segera sadar kalau senjata lawannya ini mengandung
racun.
Murid Ki Tanu tidak bersikap
sungkan-sungkan lagi. Dari cerita gurunya, gadis berpakaian merah Ini tahu
kalau para penghadangnya ini adalah gerombolan yang telah membunuh utusan ayahnya. Sekarang Nirmala bertekad untuk
membalaskan dendam utusan ayahnya itu.
Begitu senjata lawannya menyambar
lewat di depan lehernya. Nirmala mengayunkan kakinya menendang ke perut orang
itu.
"Eh...?!"
Terdengar seruan kaget dari mulut
penyerang Nirmala. Rupanya dia tidak menyangka kalau gadis berpakaian merah Itu
mampu berbuat demikian cepat
Maka buru-buru pimpinan
penghadang itu melompat ke belakang, sehingga tendangan gadis itu mengenai
tempat kosong.
Tapi serangan Nirmala tidak
berhenti sampai di situ saja Begitu dilihatnya, lawan melompat ke belalang,
segera gadis ini bergegas memburu dengan tusukan-tusukan sumpit yang terbuat
daritanduk kerbau.
Suara berciutan terdengar ketika
kedua batang sumpit itu melakukan totokan bertubi-tubi ke bagian pelipis dan
ubun-ubun. Dua buah jalan darah yang mematikan.
Namun lawan yang dihadapi Nirmala
bukanlah orang berkepandaian rendah. Menghadapi totokan-Intokan sumpit
bertubi-tubi, laki-laki berselubung totol merah menggeser kakinya ke samping.
Sehingga serangan Itu lewat di samping kepalanya. Tak lupa dikirimkan sebuah
tusukan tongkat berujung ekor kalajengking Itu ke perut Nirmala.
Nirmala terperanjat! Posisi
tubuhnya yang tengah berada di udara, menyulitkannya mengelakkan serangan Itu.
Tapi, gadis berpakaian merah ini masih mampu mempertunjukkan kelihaiannya.
Digeliatkan tubuhnya sehingga tusukan tongkat lawan mengenai tempat kosong.
Sesaat kemudian keduanya sudah terlibat dalam pertempuran sengit.
DI jurus-jurus awal, pertarungan
kedua orang itu masih berlangsung imbang. Tapi memasuki jurus ke- dua puluh,
Nirmala mulai mendesak lawannya. Memang gadis berpakaian merah ini lebih unggul
segala-galanya, baik ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam. Sudah dapat
dipastikan, dalam beberapa jurus lagi Nirmala akan merobohkan lawannya.
Pada jurus ketiga puluh satu,
dengan diiringi suara teriakan nyaring, orang berselubung itu membabatkan
senjatanya ke perut Nirmala.
"Hih...!"
Nirmala melompat sehingga
serangan itu lewat di bawah kakinya. Dan dari atas, dengan gerakan tidak
terduga-duga, kedua sumpitnya menotok bertubi-tubi ke leher lawan.
Orang berselubung merah itu
terkejut bukan main. Sedapat mungkin totokan itu berusaha dielakkannya. Tapi
sayang, tak urung salah satu totokan sumpit itu mengenai pangkal lengannya.
"Akh...!"
Orang berselubung merah itu
memekik kesakitan.
Darah merembes keluar dari
pangkal lengan yang sobek terkena ujung sumpit Seketika itu juga, senjatanya
terlepas dari genggaman. Belum lagi bisa berbuat sesuatu, kaki Nirmala telah
terayun deras ke perutnya.
Bukkk...!
"Akh...!"
Pimpinan belasan penghadang itu
kembali memekik kesakitan. Tendangan gadis berpakaian merah Itu telak dan keras
sekali menghantam perutnya. Kontan tubuhnya terjengkang ke belakang. Rasa mual
dan mules pun mendera perutnya,
"Hup...!"
Ringan tanpa suara, kedua kaki
gadis berpakaian serba merah itu menjejaktanah.
"Serbu...!" teriak
orang berselubung hitam yang telah dipecundangi Nirmala Orang ini rupanya sudah
tidak sanggup menghadapi Nirmala. Kini dia memberi perintah pada anak buahnya
yang sejak tadi hanya menonton pertarungan untuk mengeroyokgadis itu.
Serentak belasan orang
berselubung hitam itu menyerbu Nirmala Senjata-senjata di tangan mereka
berkelebatan cepat mengarah ke tubuh gadis berpakaian merah itu dari segala
arah.
Kembali Nirmala mempertunjukkan
kelihaiannya. Tubuhnya menyelinap gesit di antara serbuan senjata lawan yang
datang bagaikan hujan. Gadis berpakaian merah Ini terpaksa harus mengerahkan
seluruh kemampuannya. Disadarinya betul akan bahaya senjata lawan yang beracun.
Terserempet sedikit saja mungkin akan berakibat maut!
Nirmala mengeluh dalam hati.
Pelahan-lahan murid terkasih KI Tanu ini mulai terdesak. Jumlah lawan memang
terlalu banyak. Apalagi di antara mereka ada si selubung hitam bertotol merah.
Meskipun si selubung hitam bertotol merah itu telah berkurang kelihaiannya
karena luka-luka yang dideritanya, tapi tetap saja di merupakan lawan yang
berbahaya.
Tambahan lagi, senjata
lawan-lawannya yang beracun. Membuat gadis
berpakaian serba merah Ini harus mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh
yang dimiliki. Hal inilah yang membuat Nirmala jadi cepat lelah.
"Hiyaaa...!"
Nirmala berteriak keras. Totokan
kedua sumpit di tangannya bergerakcepat
"Akh...!"
"Aaa...!"
Terdengar jerit melengking,
disusul robohnya dua sosok ke tanah ketika sepasang sumpit Nirmala mengenai
sasaran. Yang satu mengenai ubun-ubun. Dai yang satu lagi mengenai bawah
hidung. Salah satu di antara jalan darah mematikan.
Tapi sebelum Nirmala memperbaiki
posisinya, si selubung hitam totol merah telah mengirim sebuah tendangan ke perutnya.
Bukkk...! "Hugh...!"
Gadis berpakaian merah ini kontan
terjengkang akibat kerasnya tendangan itu. Di saat itu empat orang berselubung
hitam yang lain meluruk menyerbunya.
Dan empat buah tongkat berujung
ekor kalajengking pun berkelebatan mengancamke berbagaibagian tubuhnya.
Nirmala terpekik. Posisinya sama sekali tidak
memungkinkan untuk mengelak serangan itu. Tidak ada lagi yang dapat
dilakukannya. Gadis itu hanya dapat memejamkan mata, menanti datangnya maut!
Di saat gawat bagi keselamatan
gadis berpakaian merah itu, mendadak berhembus angin keras berhawa panas
menyengat Angin pukulan itu langsung memapak datangnya tubuh orang-orang
berselubung hitam yang meluruk ke arah Nirmala.
Wusss...!
Jerit kengerian terdengar berbarengan. Disusul herpentalannya empat sosok yang tadi tengah menyerbu
Nirmala. Tubuh empat anggota Perkumpulan Kalajengking Merah itu
melayang-layang. Dan kemudian Jatuh berdebuk di tanah, sepuluh tombak dari
tempatnya semula. Sekujur tubuh mereka hangus. Seketika di tempat itu menyebar
bau sangit sepertidaging yang terbakar. Empat orang itu tewas seketika!
Orang-orang Perkumpulan
Kalajengking Merah yang tersisa terperanjat Tedebih-lebih si selubung hitam
totol merah. Dari kejadian yang menimpa anak buahnya, diketahuinya kalau si
penolong yang baru datang ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Kini di belakang Nirmaia telah
berdiri dua sosok. Seorang pemuda berambut putih keperakan dan seorang gadis
cantik jelita berpakaian serba putih. Siapa lagi kalau bukan Dewa Arakdan
Melati?
Laki Iaki berselubung totol merah
menyadari kesdaan yang tidak menguntungkan pihaknya. Cepat dilemparkan sesuatu
ke arah tiga orang lawannya.
Mata Dewa Arak dan Melati yang
tajam segera melihat bentuk benda yang dilemparkan si selubung bertotol murah.
Sebuah benda bulat sebesar telur angsa
Dawa Arak dan Melari yang telah
mengenal ke dahsyatan racun yang terkandung dalam benda bulti Itu, melompat
menjauh. Tak lupa, Melati, menyambar Nirmala yang masih terdudukdi tanah.
Blarrr...!
Suara ledakan keras terdengar begitu
benda bulat sebesar telur angsa itu mengenai tanah. Seketika ini juga asap
hitam berbau busuk menyebar, memenuhi tempat di mana Dewa Arak, Melatidan
Nirmala tadiberdiri.
"Hhh..., berbahaya
sekali," desah Dewa Arak lirih Sementara Nirmala hanya mampu berdecak
ngeri bercampur takjub melihatnya
Dan seperti kejadian sebelumnya,
begitu asap tebal dan hitam itu sirna, sirna pulalah orang-orang Perkumpulan
Kalajengking Merah itu.
***
"Siapa kau, Nisanak? Mengapa
terlibat perkelahian dengan orang-orang itu?" tanya Dewa Arak Sepasang
matanya menatap tajam wajah cantik di hadapannya Dalam hatinya, Dewa Arak
mengakui kecantikan gadis berpakaian serba merah ini.
Nirmala menatap Dewa Arak dan
Melari bergantian. Inikah orang yang menyampaikan surat ayahnya itu ? tanyanya
dalam hati. Apa yang dikatakan
gurunya memang tidak salah. Wajah pemuda yang berjuluk Dewa Arak ini begitu
tampan. Tampan dan gagah. Rambutnya yang berwarna keperakan, membuat pemuda Itu
terlihat matang.
Melati mengerutkan alisnya
melihat gadis berpakaian merah Itu bukannya menjawab pertanyaan kekasihnya,
tapi malah menatap wajah mereka bergantian. Rasa cemburu pun menyeruakdihati
gadis berpakaian serba putih ini.
"Kawanku bertanya padamu,
Nisanak!" ucap Melati agak ketus.
Ucapan Melari yang bernada
teguran itu membuat Nirmala sadar. Wajah gadis ini pun memerah seketika seperti
warna pakaiannya.
"Ahhh..., maafkan aku,
Nisanak. Kalau aku tidak salah duga, bukankah Kisanak dan Nisanak ini
adalah..., Dewa Arak dan Melati?"
Dewa Arak dan Melati terjingkat
bagai disengat ular berbisa. Dari mana gadis berpakaian merah ini tahu nama
mereka?
"Tidak usah heran..., guruku
teiah bercerita banyaktentang kalian," sambung Nirmala lagi begitu melihat
kedua orang di hadapannya saling pandang «eperti orang kebingungan. Sepasang
mata gadis berpakaian serba merah itu menatap Dewa Araklekat-lekat
"Siapa gurumu?" selak
Melati cepat Dia tidak Ingin gadis berpakaian merah itu berbicara lama-lama
dengan kekasihnya
"KI Tanu...,"sahut
Nirmala memberitahu.
"KI Tanu?! Jadi, kau Ini...
Nirmala?" tanya Arya setengah menduga.
"Betul, Kang," jawab
Nirmala sambil menganggukkan kepalanya.
"Kang?" desis hati
Melati. Ada perasaan cemburu yang menyelinap di hatinya, begitu mendengar gadis
berpakaian serba merah ini memanggil 'kang'pada Dewa Arak.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya, Pemuda ini rupanya sedang berpikir keras, sehingga tidak
mempedutikan panggilan murid Ki Tanu ini. Kini dia mengerti mengapa gadis ini
bentrok dengari orang-orang Perkumpulan Kalajengking Merah.
"Kau akan menjumpai ayahmu,
Nirmala?" tanya Melati cepat sebelum Arya kembali bertanya
"Ya," jawab Nirmala
singkat Ditolehkan kepalanya ke arah Melati.
'Kalau begitu, mari kita
berangkat" ucap Melati lagi buru-buru seraya menggamit lengan gadis
berpakaian serba merah itu. Lalu dibawanya melangkah meninggalkan tempat itu.
Melihat kedua gadis cantik itu
telah meninggalkannya. Dewa Arak tak punya pilihan lagi. Segera dilangkahkan
kakinya mengikuti. Sejenak ditolehkan kepalanya, ke tempat bekas pertarungan
antara Nirmala dengan gerombolan Kalajengking Merah tadi. Tapi suasana di situ
telah sepi. Hanya ada enam mayat yang bergeletakan ditanah.
"Hhh...!" Dewa Arak
menghela napas lega. Untunglah dia dan Melari lewat hutan ini, sehingga dapat
mengetahuiadanya pertarungan dan datang pada saat yang tepat Memang, semula
mereka hendak langsung melanjutkan perjalanan. Tapi, begitu melewati hutan Ini,
tiba-tiba Melati ingin makan daging kelinci panggang. Terpaksalah mereka
menginap di hutan ini. Dan keinginan Melati akan kelinci panggang itulah yang
menjadipenyebab selamatnya Nirmala dari maut
***
Malam Itu bulan penuh nampak di
langit. Bintang-bintang pun bertebaran menghias angkasa, menambah cerahnya
suasana malam.
Kanulaga bergolek-golek resah di
pembaringan. Ingatannya selalu terbayang pada saat memergoki ayahnya yang
tengah membungkus sebagian hartanya dalam sebuah buntalan. Kanulaga tahu untuk
apa semua itu. Dia telah mendengar cerita itu dari si tompel. Setiap malam
bulan purnama, ayahnya diharuskan mengirim upeti dan menaruhnya di suatu tempat
yang selalu berlainan pada setiap pengirimannya
Dari si tompel, laki-laki
berwajah keras ini juga tahu siapa pemeras ayahnya Sebuah kelompok yang
menamakan diri Perkumpulan Kalajengking Merah. Kanulaga tidakrela ayahnya yang
telah bersusah payah mengumpulkan harta itu, memberikannya begitu saja.
Kanulaga bertekad untuk membasmipemeras ayahnya
Seluruh urat syaraf laki-laki
berwajah keras ini mendadak menegang. Pendengarannya yang tajam menangkap suara
gemerisik pelan di luar jendela kamarnya. Yakin kalau orang yang berada dekat
jendela itu tidak bermaksud baik, Kanulaga bermaksud menangkap basah.
Maka laki-laki berwajah keras Ini berpura-pura memejamkan mata. Tapi
dari balik bulu matanya, Kanulaga tetap mengintai ke arah jendela. Tercekat hati
pemuda ini ketika melihat asap putih tipis masuk ke kamarnya, melalui
kisi-kisijendela.
Pikiran laki-laki berwajah keras
Ini berputar cepat. Sungguhpun belum pasti, tapi sudah dapat diduganya kalau
asap Itu adalah asap pembius. Asap yang dapat membuatnya tertidur pulas.
Kanulaga tidak berani bertindak
gegabah. Segerai diambilnya pil pemunah racun pemberian gurunya. Tanpa
ragu-ragu lagi pil itu segera ditelannya.
Kemudian tanpa mempedulikan asap
yang semakin banyak memasuki kamarnya, Kanulaga segera membaringkan kembali
tubuhnya. Berpura-pura tidur pulas.
Tak lama kemudian, terdengar
suara berderak agak keras ketika jendela kamarnya dibuka secara paksa. Dan
seiring dengan terbukanya jendela itu, sesosok tubuh melompat masuk ke
kamarnya. Ringan bukan main gerakannya. Tanpa suara kedua kakiorang itu
mendarat di lantai.
Kemudian setelah menutupkan
jendela itu kembali, sosok yang ternyata berpakaian serba hitam dengan gambar
seekor kalajengking merah di dadanya, berjalan menghampiri pembaringan di mana
Kanulaga terbaring pulas. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup selubung yang
di dahinya bergambar ekor kalajengking merah.
"Kau hanya akan menjadi duri penghalangku, anak
keparat..!" desis sosok hitam itu. "Sekarang pergilah kau ke
neraka!"
Setelah berkata demikian,
bayangan hitam itu menggerakkan
tangan memukul kepala Kanulaga. Angin berkesiutan keras, menandakan betapa kuatnya
tenaga dalam yang terkandung dalam pukulan itu.
Tapi sebelum pukulan itu mengenai
sasaran, Kanulaga yang memang berpura-pura terbius itu menggulingkan tubuhnya.
Brakkkk...!
Pembaringan itu hancur berentakan
ketika pukulan yang berhasil dielakkan oleh Kanulaga menghantamnya. Di saat
itulah Kanulaga yang memang sudah berwaspada sejak tadi, mengayunkan kaki
kanannya ke arah perut orang yang hendak membunuhnya.
"Eh...?!"
Si pembokong itu memekik kaget
Cepat-cepat sosok itu melompat ke belakang sehingga tendangan Kanulaga mengenai
tempat kosong. Tapi, tindakan laki-laki berwajah keras itu tidak hanya sampai di
situ saja. Begitu serangannya dapat dielakkan lawan, segera tubuhnya melompat
seraya mengirimkan tendangan ke pelipis.
Wuttt...!
Angin menderu keras mengiringi tibanya serangan Kanulaga. Tapi kembali
si pembokong itu memperlihatkan kelihaiannya. Tubuhnya membungkuk, sehingga
sapuan itu lewat di atas kepalanya. Berbareng, digerakkan tangannya
memukulperut putra sulung Sudiraja itu.
Kanulaga yang tengah berada di
udara, tentu saja tidak bisa mengelakkan serangan itu. Kalau dia masih Ingin
selamat, pukulan itu harus ditangkisnya. Dan itu yang dilakukan
laki-lakiberwajah keras ini.
Plak!
Suara keras terdengar begitu dua
buah tangan yang mengandung tenaga dalam kuat itu berbenturan. Akibatnya, tubuh
Kanulaga terpental balik dan jatuh di pembaringan. Sementara tubuh si pembokong
itu Juga terjengkang ke belakang.
"Hup...!"
Hampir bersamaan keduanya dapat
kembali memperbaiki posisinya. Tapi sebelum Kanulaga sempat berbuat sesuatu, si
pembokong itu sudah bergerak cepat melompat ke arah jendela.
Brakkk..!
Jendela kamar Kanulaga langsung
hancur berkeping-keping begitu tubuh si pembokong itu menabraknya. Dan setelah
tubuhnya berada di luar, cepat-cepat sosok hitam itu melesat kabur.
"Jangan lari,
pengecut..!" bentak Kanulaga keras. Laki-laki berwajah keras ini memang penasaran
bukan main. Dari benturan yang terjadi tadi, diketahuinya kalau orang yang
hendak membunuhnya itu memiliki tenaga dalam yang amat kuat.
"Hih...”
Kanulaga segera menerobos jendela
kamarnya yang telah takberdaun lagi.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kakinya
mendarat diluar kamarnya. Tapi, si pembokong itu sudah tidak terlihat lagi
batang hidungnya. Kanulaga memandang berkeliling. Namun tetap tidakdijumpainya
bayangan sipembokong ita
"Hhh...!" desah
Kanulaga kesal melihat lawannya berhasil lolos.
Sungguhpun begitu, laki-laki
berwajah keras ini tetap melanjutkan langkahnya. Dia ingin mengetahui ke mana
ayahnya akan mengirimkan upeti malam ini. Dan untuk itu dia harus mengikuti
ayahnya secara diam-diam. Segera pemuda itu melangkah mengendap-endap menuju
kamar ayahnya yang terletakagakjauh dari kamarnya.
Kanulaga melangkahkan kakinya
pelahan. Sepasang matanya menatap rajam sekelilingnya. Memperhatikan siapa tahu
bayangan hitam tadi berusaha membokongnya lagi
Jantung laki-laki berwajah keras
ini berdetak kencang ketika melihat sosok serba hitami tengah bersembunyi di
balik sebatang pohon, dekat semak-semak yang cukup lebat. ‘Sosok tubuh
berpakaian serba hitam’ pekik Kanulaga dalamhati.
Dengan langkah hati-hati,
Kanulaga mengendap-endap menghampiri. Dia tidak ingin lawannya kembali kabur
seperti sebelumnya.
Betapapun Kanulaga telah
membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, tak juga dapat dikenalinya sosok
bayangan hitam yang rupanya tengah mengintai itu sekitar bangunan. Orang itu
bersembunyi di balik pohon, sehingga membuat cahaya obor yang menyorotiwajahnya
terhalang.
"Jangan harap dapat lolos
dari tanganku, pengecut..!" seru laki-laki berwajah keras ini tiba-tiba,
begitu telah berada di belakang sosok serba hitam Itu.
Tentu saja sosok serba hitam yang
tengah bersembunyi itu terkejut bukan main. Tubuhnya terlonjak seakan-akan
disengat ular berbisa. Segera ditolehkan kepalanya ke belakang. Seluruh
urat-urat syaraf di tubuhnya menegang waspada.
"Kau...?!" desah
Kanulaga tidak percaya ketika melihat wajah orang itu. Seorang laki-laki
setengah baya, berkumis lebat. Dikenalibetul orang itu, Pandira, adik bungsu
ayahnya
Bukan hanya Kanulaga yang
terkejut Pandira pun terkejut melihat kedatangan keponakannya. Tapi sebelum dia
sempat berbuat sesuatu, Kanulaga telah mendahuluinya.
"Ternyata kecurigaanku tidak
keliru!" dingin dan datar suara Kanulaga
"Apa maksudmu,
Kanulaga?!" tanya Pandira setengah membentak.
Kanulaga tersenyum sinis.
"Tidak usah berpura-pura
lagi, Paman. Aku sudah tahu semuanya. Permainanmu telah berakhir. Lebih baik,
kau menyerah. Sebelum aku terpaksa berbuat tidak pantas terhadapmu!"ancam
Kanulaga.
Merah wajah pria berkumis lebat
ini mendengar ucapan Kanulaga yang sama sekali tidak menaruh hormat padanya.
"Bocah kurang ajar! Orang
seperti kau sudah selayaknya diberi pelajaran. Agar tidak menyangka hanya kau
yang memiliki kepandaian di kolong langit Ini!"
Selelah berkata demikian, Pandira
segera melompat menerjang keponakannya dengan sebuah totokan beruntun ke arah
dada dan ulu hati. Cepat bukan main gerakannya.
Tapi Kanulaga yang memang sudah
bersiap sejak tadi tidak menjadi gugup. Tanpa ragu-ragu lagi dipapaknya
serangan-serangan itu.
Plak, plak, plak...!
Suara benturan keras terdengar
berkali-kali begitu dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam
kuat itu berbenturan.
Tubuh Kanulaga terhuyung dua
langkah ke belakang. Mulut laki-laki berwajah keras ini menyeringai Sekujur
tangannya terasa ngilu. Dadanya pun dirasakan sesak. Sedangkan pamannya hanya
terhuyungi satu langkah ke belakang. Sadarlah Kanulaga kalau tenaga dalamnya
bukan tandingan tenaga dalam pamannya.
Tapi Kanulaga, bukan hanya
memiliki raut wajah yang keras. Sifatnya pun keras. Kenyataan yang menunjukkan
keunggulan tenaga dalam orang yang di perkenalkan ayahnya sebagai pamannya,
tidak membuatnya menjadi jerih. Bahkan sebaliknya, perasaan penasaranlah yang
timbul. Sesaat kemudian, pemuda itu sudah menyerang kembali dengan dahsyat
"Hiyaaa...!"
Sambil berseru keras, Kanulaga
melontarkan tendangan lurus ke arah dada.
"Hm...!" Pandira
mengeluarkan dengusan kasar, menutupi keterkejutan hatinya melihat kecepatan
dan kekuatan yang terkandung dalam tendangan itu. Tapi meskipun begitu,
laki-laki berkumis lebat ini tidak menjadi gugup. Cepat-cepat tubuhnya
didoyongkan ke samping kiri. Sehingga tendangan itu lewat di sebelah kanan
pinggangnya. Berbareng dengan itu tangan kanannya melayang deras, melakukan
tebasan ke arah betis lawan
Wuttt..!
Kanulaga tersentak kaget.
Laki-laki berwajah keras ini tidak beranibertindak ceroboh. Dia tidak ingin
tulang kakinya remuk terkena tebasan tangan yang mengandung tenaga dalam tinggi
itu. Segera kakinya ditarik pulang, sehingga serangan itu mengenai tempat
kosong. Sesaat kemudian keduanya sudah terlibat dalam pertarungan sengit.
***
5
Sementara itu, di saat Kanulaga
dan Pandira terlibat dalam sebuah pertarungan sengit, sesosok bayangan hitam
melesat ke kamar Sudiraja. Sosok serba hitam itu berhenti tepat di depan jendela
yang tertutup rapat.
Tok, tok, tok...!
Diketuknya daun jendela itu
pelahan.
Sudiraja yang berada di dalam
kamar memang sudah siap dengan bungkusan hartanya. Begitu didengamya ada orang
yang mengetuk daun jendela, laki laki gendut itu segera bergerak menghampiri.
Kemudian dibukanya daun jendela itu.
Tanpa suara sedikit pun daun
jendela itu terkuak! Dan tampaklah oleh sepasang mata Sudiraja, seraut wajah
berselubung hitam. Di bagian dahi selubung itu terdapat gambar ekor
kalajengking merah.
"Mana bungkusan itu?"
tanya siselubung hitam itu pelan. "Ada,"sahut Sudiraja.
"Mana? Cepat lemparkan...,"
desis si selubung hitam itu tajam.
Sudiraja tercenung sejenak,
seperti ada sesuatu yang ditunggunya.
"Cepat..! Atau kau ingin
kubunuh, gendut..!" Desis si selubung hitam itu lagi. Dalam ucapannya
terkandung ancaman maut
Sudiraja bergidik mendengar ancaman
itu. Maka buru-buru diberikannya bungkusan itu. Si selubung hitam menerimanya
dengan sinar mata berbinar. Dibukanya sebentar buntalan itu. Baru setelah
melihat Isinya, tubuhnya kemudian melesat kabur dari situ. Cepat bukan main
gerakannya. Sehingga yang nampak hanyalah sekelebatan bayangan hitam yang
bergerak cepat dan lenyap di kegelapan malam.
"Hhh..." Sudiraja
menghela napas. Dibiarkan saja jendela kamarnya terbuka. Sedangkan sepasang
matanya bergerak liar ke sana kemari. Sepertinya ada yang lengah dicarinya.
"Mana si Pandira...,"
gumam laki-laki gendut itu. "Ataukah dia terlupa...?"
Sementara itu orang yang sedang
dinantikannya masih terlibat pertarungan sengit dengan Kanulaga. Keduanya
memang sama-sama memiliki kepandaian tinggi. Tapi setelah bertarung tiga puluh
lima jurus, Kanulaga mulaiterdesak.
"Ahhh...!" tiba-tiba
saja Pandira memekik kaget "Anak keparat..! Kau membuatku melupakan urusan
yang lebih penting...!"
Setelah berkata demikian, Pandira
melancarkan serangan beruntun ke arah Kanulaga. Tidak ada jalan lain bagi
laki-laki berwajah keras itu, kecuali melempar tubuh ke belakang dan bersalto
beberapa kali di udara
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kakinya
hinggap di lanah, berjarakbeberapa tombak dari tempat semula.
Sikapnya langsung siaga. Siap
menghadapi tibanya serangan usulan. Tapi Kanulaga jadi terperanjat. Lawan di
hadapannya telah lenyap. Betapapun laki laki berwajah keras ini mengedarkan
pandangan ke sekelilingnya tetap tidak dijumpainya laki-lakiberkumis lebat Itu.
“Pengecut keparat..!" desis
Kanulaga. Kemudian setelah termenung sesaat, tubuh anak muda itu melesat cepat
menuju kamar ayahnya. Suasana di sekitarnya kembali sunyi. Memang, begitulah
keadaan di rumah Itu pada setiap malam bulan purnama. Sudiraja selalu
meliburkan semua pekerjanya. Termasukpenjaga keamanan rumahnya.
***
Pandira berlari mengerahkan
seluruh ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Sehingga dalam waktu singkat,
kamar Sudiraja sudah terlihat
"Ahhh...! Jangan-jangan aku
terlambat...," desis laki-laki berkumis lebat ini cemas. Dan perasaan
cemasnya kian menjadi-jadi begitu dilihatnya daun jendela kamar Sudiraja
terkuak.
"Hup...!"
Begitu tiba di depan jendela itu,
segera saja dllongokkan kepalanya ke dalam. Sinar bulan purnama yang menembus
ke kamar itu membuat Pandira dapat melihat jelas keadaan di dalam.
"Kakang Sudira...,"
panggil laki-laki berkumis lebat itu. Dilihatnya seorang laki-laki berperut
gendut tengah tergolek di pembaringan.
Sudiraja membuka matanya menatap
nyalang ke Arah jendela Begitu dilihatnya wajah yang telah dikenalnya, segera
laki-lakigendut itu bangkit
"Bagaimana, Pandira begitu
berbaringnya.
Kang...? dilihatnya
Dia belum datang?" berondong
laki-laki gendut itu bangkit dari
"Dia sudah pergi...,"
sahut Sudiraja Pelan sekali suaranya. Lebih mirip sebuah desahan.
"Ah...! Jadi aku
terlambat..?" tanya laki-laki berkumis lebat itu. Nada suaranya jelas
mengandung penyesalan yang mendalam.
"Masuklah, Pandira...,"
ucap Sudiraja tanpa mempedulikan kebingungan yang melanda laki-laki berpakaian
serba hitam itu.
Dengan langkah lunglai, Pandira
melompat ke dalam kamar.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kakinya
hinggap di lantai kamar Sudiraja.
"Duduklah, Pandira,"
ujar Sudiraja mempersilakan ketika dilihatnya laki-lakiberkumis lebat itu
berdirisaja.
Tanpa banyak membantah, Pandira
duduk di sebuah bangku.
"Jelaskan padaku, mengapa
kau begitu terlambat Padahal tadi aku sudah berusaha mengulur-ulur waktu.
Menunggu kedatanganmu. Tapi ternyata kau tidak muncul-muncul!" tanya
Sudiraja begitu dilihatnya laki-laki berpakaian serba hitam itu telah duduk.
Nada suaranya terdengar penuh tuntutan.
"Hhh" Pandira menghela
napas panjang seperti hendak membuang perasaan sesal yang menyelimuti hatinya
“Semua Ini karena ulah anak keparat itu!"desisnya tajam.
Bekernyit dahi Sudiraja mendengar
ucapan laki-laki berkumis lebat.
"Siapa yang kau maksudkan,
Pandira?" tanya laki-laki gendut Itu sambil menatap tajamwajah adiknya.
"Kanulaga...,"jawab
Pandira pelan.
"Apa?! Kanulaga?!"
tanya Sudiraja tidak percaya "Apa yang dilakukannya?"
Laki laki berkumis lebat itu
menarik napas dalan dalam dan menghembuskannya kuat-kuat
"Aku tengah bersembunyi, mengintai
kedatangan! pemerasmu. Tapi tiba-tiba Kanulaga datang. Dan
mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Aku menjadi marah dan akhirnya kami
bertarung," jelas laki-laki berkumis lebat itu.
"Lalu, kau bunuh dia,
Pandira?" selak Sudiraja Secercah senyumsinis tersungging di bibirnya.
Pandira menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Sewaktu aku tengah
mendesaknya, aku teringat akan tugasku. Bergegas kutinggalkan dia. Tapi sayang
aku tertambat Si keparat itu telah pergi lebih dahulu. Ahhh...! Sia-sia saja
perjalananku kemari, keluh laki-laki berkumis lebat ini.
Belum juga Sudiraja menimpali
ucapan adik bungsunya ini, terdengar suara bentakan keras dari luar jendela.
"Kiranya kau berada di sini,
keparat!"
Tanpa menoleh pun, baik Sudiraja
maupun Pandira telah mengetahui orang yang telah mengeluarkan suara bentakan
keras itu. Suara itu telah mereka kenalbetul. Suara Kanulaga.
Seiring dengan selesainya ucapan
itu, dari luar jendela melesat sesosok tubuh yang kemudian mendarat ringan
tanpa suara di lantai.
"Jaga mulutmu,
Kanulaga!" bentak Sudiraja dengan nada keras begitu laki-laki berwajah
keras itu telah berada di dalam kamarnya. Telah dilihatnya sendiri sikap putra
sulungnya yang tidakpantas.
'Tapi, Ayah...,"Kanulaga
mencoba untuk membantah.
"Diam...!" sergah
Sudiraja memotong bantahan laki-laki berwajah keras itu.
Wajah Kanulaga memerah. Laki-laki
berwajah keras ini memang memiliki sifat yang aneh. Semakin orang bersikap
keras padanya, dia akan semakin keras.
"Bagaimana aku bisa
mendiamkan orang yang hampir saja membunuhku?!"
"Itu karena kau telah
bersikap kurang ajar padanya!" sentak laki-laki berperut gendut itu. Nada
suaranya semakin meninggi.
"Bersikap kurang ajar
bagaimana?! membunuhku, di saat aku berada di Kanulaga tak kalah keras.
Paman hendak kamarku!" sahut
"Apa?! Benarkah apa yang kau
ucapkan Itu, Kanulaga?!" tanya laki-laki berperut gendut itu sambil
menatap tajam wajah anaknya. Cerita yang didengarnya dari adik bungsunya
tidakseperti ini!
"Dia bohong!" bantah
Pandira keras. Sejak tadi laki-laki berkumis lebat itu hanya terdiam saja
mendengarkan semuanya Dia sengaja membiarkan Sudiraja menyelesaikan masalah
itu. Tapi begitu mendengar tuduhan keponakannya ini, amarahnya seketika bangkit
Kanulaga melemparkan senyum sinis
pada pamannya. Tentu saja hal ini semakin membuat kemarahan Pandira meledak.
"Anak keparat! Kau hanya
mencari-cari alasan saja. Aku malah curiga, jangan-jangan kau sendiri adalah
salah seorang dari gerombolan itu! Kau sengaja mengalihkan perhatianku agar
rekanmu itu lolos dari pengawasanku!" ujar laki-laki berkumis lebat
inibalik menuduh.
"Anggota gerombolan? Mengalihkan perhatian? Apa maksudmu, Paman?!" tanya Kanulaga
tidak mengerti. Betapapun marahnya, namun laki-laki beta wajah keras ini,
sebenarnya masih menghormatipamannya.
Sudiraja mengerutkan alisnya. Dia
melihat ada nada kesungguhan dalam cerita kedua orang ini. Bukan tidak mungkin
kalau telah terjadikesalahpahaman.
"Lebih baik kita selesaikan
persoalan ini dengan kepala dingin. Aku khawatir ada kesalahpahaman terselip di
sini," ucap laki-laki gendut ini menenangkan.
Kanulaga dan Pandira terdiam.
Mereka menyadari kebenaran yang
terkandung dalam ucapan Sudiraja. Mengikuti perasaan amarah saja tidak akan
menyelesaikan masalah, pikir mereka.
Setelah melihat kedua orang itu
sudah dapat ditenangkan, Sudiraja kembali membuka suara.
"Sekarang coba kau ceritakan
kejadian yang kau alami, Kanulaga," ucap laki-laki berperut gendut itu
pada anak sulungnya.
Kanulaga pun menceritakan
semuanya.
"Nah, ketika aku tengah
mencari bayangan hitam Itu, kulihat ada seseorang bersembunyi di balik pohon.
sikapnya mencurigakan sekali. Aku yakin kalau orang Itulah yang tadi menyerangku.
Pakaiannya sama. Aku kaget juga ketika kulihat orang itu adalah Paman Pandira.
Ribut mulut tak dapat dihindari lagi. Akhirnya kami bertarung," ujar
laki-laki berwajah keras ini mengakhiriceritanya.
"Hhh...! Sekarang sudah
jelas masalahnya. Sudah kuduga semua ini hanya salah paham saja," ucap Sudiraja
dengan suara mendesah.
"Salah paham?! Aku masih
tidak mengerti, Ayah," sahut Kanulaga. Nada suaranya menyimpan perasaan
penasaran yang mendalam.
Laki-laki berperut gendut itu
termenung sejenak belum memulai ceritanya. Dipandangi wajah Pandira
tajam-tajam.
"Bagaimana, Pandira?
Tidakkah lebih baik kalau diceritakan saja?" tanya Sudiraja meminta
pendapat laki-laki berkumis lebat itu.
Pandira mengangkat bahunya.
"Terserah kau saja, Kang," jawab laki-laki berkumis lebat Ini
menyerahkan keputusan pada Sudiraja
"Sebenarnya aku tidak
berniat memberitahumu, Kanulaga. Tapi, agar
kau tidak penasaran... terpaksa perlu kuberitahukan. Pandira
inibukanlah paman mu...."
"Sudah kuduga...,"desah
Kanulaga pelan.
"Kau sudah tahu?!"tanya
Sudiraja setengah takpercaya.
"Ya," jawab Kanulaga
seraya menganggukkan kepalanya. "Sepengetahuanku Ayah adalah anak tunggal
Aku menjadi curiga ketika Ayah memperkenalkannya sebagaipaman."
Sudiraja mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Pandira sebenarnya adalah
salah seorang pengawal rahasia Adipati Palangka," sambung laki-laki
berperut gendut itu lagi.
"Ah...!" desah Kanulaga
terkejut. "Lalu, mengapa dia berada disini dan Ayah mengakui sebagaiadik
bungsu?"
"Lebih baik kau tanyakan
saja padanya, Kanulaga. Biar dia yang akan menjelaskannya padamu. Nah Pandira.
Harap kau jelaskan pada Kanulaga!"pinta Sudiraja.
***
Pandira menghela napas panjang
ceritanya. Jelas tampak kalau laki-laki merasa berat menceritakannya.sebelum
berkumis memulai lebat ini
"Sebenarnya tugasku ini amat
rahasia, Kanulaga Demi keberhasilannya, sengaja aku tidak ingin seorang pun
tahu. Kecuali ayahmu," ucap Pandira memulaiceritanya.
Kanulaga hanya diam saja
mendengarkan. Tidak diselaknya sedikit pun cerita laki-lakiberkumis lebat Itu.
"Kau pernah mendengar
tentang Perkumpulan Kalajengking Merah?"tanya pengawalrahasia
AdipatiPalangka ini tiba-tiba.
Kanulaga tercenung sejenak
sebelum menjawab.
"Pernah juga. Sewaktu aku
mulai memasuki Kadipaten Palangka."
"Kau tahu perkumpulan macam
apa itu?" tanya Pandira lagi.
"Aku tidak tahu pasti. Tapi
menurut berita yang kudengar, Perkumpulan Kalajengking Merah adalah sebuah
perkumpulan jahat..."
"Tepat! Melihat gelagatnya,
perkumpulan itu sepertinya hendak meruntuhkan Kadipaten Palangka. Tapi karena
perkumpulan itu sangat misterius, Gusti Adipati mengalami kesulitan untuk
membasminya. Maka terpaksa Gusti Adipati mengirim beberapa orang kepercayaannya
untuk menyelidiki di mana markas perkumpulan itu," Pandira menghentikan
ceritanya sejenak Agaknya laki-laki ini ingin melihat tanggapan Kanulaga pada
ceritanya. Tapi ternyata laki-laki berwajah keras itu tidakberniat memotong
ceritanya.
"Dari penyelidikan, kami
tahu kalau perkumpulan itu membiayai usahanya dari pemerasan dan perampokan
terhadap orang-orang kaya. Gusti Adipati tahu, Kakang Sudiraja memiliki
kekayaan yang berlimpah. Dengan dibekali surat perintah dari Gusti Adipati aku
dapat tinggal di sini. Dan agar tidak menimbulkan kecurigaan, ayahmu memperkenalkanku sebagai adik
bungsunya. Tapi sayang, usahaku gagal!" keluh laki-lakiberkumis lebat ini.
"Tapi, kenapa Ayah
merahasiakan hal ini padaku,” tanya Kanulaga bernada penasaran seraya menoleh
pada ayahnya.
"Aku yang melarang ayahmu
memberitahukan kepada siapa pun. Maksudku untuk mencegah bocornya rencana ini.
Aku khawatir kalau ada anggota gerombolan itu yang menyusup dalam rumah ini.
Maaf, bukannya aku menuduh. Tapi, yahhh..., hanya ber-jaga-jaga saja,"
jelas Pandira panjang lebar.
"Lalu sekarang, bagaimana baiknya,
Pandira?" tanya Sudiraja seraya menatap wajah laki-lakiberkumis lebat itu
"Hhh...!" pengawal
rahasia Adipati Palangka itu menghela napas panjang. "Mungkin aku akan
kembali ke kadipaten, melaporkan kegagalan tugasku."
"Mengapa begitu
tergesa-gesa, Pandira?" tanya Sudiraja. Kekagetan jelas terbayang di
wajahnya. 'Tinggallah barang satu atau dua harilagi. Barangkali orang itu
muncul lagi."
Pandira tercenung sejenak.
"Baiklah, Kakang Sudiraja.
Aku akan tinggal dua hari lagi di sini."
"Maafkan atas kebodohanku
yang membuat Paman gagal menjalankan tugas Gusti Adipati," ucap Kanulaga
tiba-tiba seraya mengulurkan tangan meminta maaf.
Pandira tersenyum.
"Lupakanlah, Kanulaga. Kau
tidak salah," jawab laki-laki berpakaian serba hitam ini bijaksana.
Disambutnya uluran tangan Kanulaga dan digenggamnya erat-erat
Sudiraja hanya tersenyum
menyaksikan kejadian Itu.
***
Hari masih pagi, matahari pun
baru saja muncul di ufuk Timur, ketika tiga sosok tubuh melangkah pelahan
mendekati pintu gerbang bangunan mewah dan megah milikSudiraja.
Tiga sosok itu terdiri dari
seorang pemuda dan dua orang gadis. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun,
berambut putih keperakan dan berpakaian ungu. Sementara dua orang gadis yang
sama-sama cantik itu mengenakan pakaian dan berdandan yang berlainan. Yang
seorang berpakaian serba putih dan berambut meriap. Sementara yang seorang
lagi, berpakaian serba merah dan berambut digelung ke atas. Mereka adalah Dewa
Arak, Melati dan Nirmala.
"Maaf, siapakah kisanak
bertiga?" tanya dua orang penjaga pintu gerbang saat melihat Dewa Arak,
Melati dan Nirmala hendak melangkah masuk.
Nirmala membusungkan dada dan
menegakkan kepalanya.
"Aku Nirmala," sahut
gadis berpakaian merah itu. Nada suaranya terdengar penuh wibawa.
"Ah...I" desah kedua
penjaga itu terkejut. Meskipun belum pernah melihat wajahnya, namun kedua orang
Itu telah mengetahui semua keturunan majikan mereku. Dan Nirmala ini adalah
putri bungsu pemilikrurah ini.
"Maalkan kami, Den Ayu. Tapi
siapakah kedua orang itu ?" tanya si tompel sambil menatap tajam wajah
Dewa Arak dan Melatiyang berdiri di belakang gadis berpakaian merah itu.
"Mereka adalah
kawan-kawanku, dan akan kuperkenalkan pada Ayah! Mari, Kang Arya, Kak
Melati," ajak Nirmala sambil melangkah masuk.
Kedua penjaga itu tidak bisa lagi
menghalangi. Mereka pun menyingkir memberi jalan pada putri majikan mereka dan
kedua temannya.
Tentu saja kedatangan gadis
berpakaian merah itu menggembirakan hati Sudiraja yang saat itu tengah
berjalan-jalan di taman, menghirup kesejukan udara pagi.
"Ayah...!" seru Nirmala
seraya berlari ke arah laki-laki berperut gendut itu. Sepasang tangannya
terkembang.
"Nirmala...," sambut
Sudiraja. Kemudian. dipeluknya putri bungsunya erat-erat
"Siapa mereka, Nirmala?" tanya Sudiraja begitu pandangannya tertumbuk pada
dua orang yang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
"Eh, iya...," ucap
gadis berpakaian merah itu teringat Segera dilepaskannya pelukan sang ayah.
"Mereka adalah penolongku, Ayah. Tanpa pertolongan mereka mungkin Ayah
tidakakan pernah melihatku”
"Ah...!" seru Sudiraja
kaget. Sepasang matanya terbelalak menatap anak gadisnya, kemudian pandangannya
dialihkan pada Dewa Arak dan Melati bergantian. Berita yang didengarnya ini
benar-benar membuat laki-laki berperut gendut ini terkejut bukan kepalang.
"Mari kuperkenalkan pada
mereka, Ayah," ucap gadis itu lagi seraya berjalan mendahului ayahnya yang
sudah melangkah ke arah Dewa Arakdan Melati.
"Inilah ayahku, Kang Arya,
Kak Melari," ucap Nirmala memperkenalkan.
Sudiraja mengulurkan tangannya.
"Sudiraja," ucap laki-laki berperut gendut itu memperkenalkan
diri.
"Arya Buana," sahut
Dewa Arak sambil menyambut uluran tangan itu.
"Melati,"sahut Melati
pula.
Sudiraja menatap wajah kedua
muda-mudi di hadapannya berganti-ganti.
"Terima kasih atas pertolongan
yang kalian berikan pada anakku,"ucap laki-laki berperut gendut itu ramah.
"Ah...! Hanya kebetulan
saja, KI," sahut Dewa Arak merendah.
Sudiraja hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kagum hatinya melihat kerendahan hati pemuda
berambut putih keperakan di hadapannya ini.
"Mari kita bicara di dalam
saja," ajaknya sambil melangkah mendahului. Tidak ada pilihan lain bagi
Dewa Arak dan Mebti kecuali turut melangkah lebih dahulu.
***
Pandira dan Kanulaga yang sedang
berbincang-bincang di ruangan tengah yang mewah dan megah Itu menghentikan
pembicaraan, begitu mendengar banyak langkah kaki mendekat.
Tak lama kemudian pintu ruangan
itu pun terkuak Kanulaga dan Pandira menduga-duga dalam hati, siapakah
orang-orang yang menuju ruang ini. Bukankah ruang ini khusus untuk Sudiraja?
Semula Kanulaga dan Pandira tidak
heran begitu melihat orang yang pertama kali muncul. Tapi sepasang alis mereka
berkerut ketika melihat seorang gadis cantik berpakaian serba merah, melangkah
dibelakang laki-lakiberperut gendut itu.
Wajar apabila Kanulaga sama
sekali tidak mengenal Nirmala. Gadis berpakaian serba merah ini belum berumur
lima tahun ketika laki-laki berwajah keras ini pergi mengembara.
Pandira saja mengagumi kecantikan
Nirmala, apalagi Kanulaga yang masih muda dan berdarah panas. Pandang matanya
tidak berkedip memperhatikan Nirmala dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
Sepasang mata Kanulaga semakin
terbelalak lebar ketika dari balik pintu itu masuk lagi seorang gadis
berpakaian serba putih. Tak kalah cantiknya dari gadis berpakaian serba merah
tadi.
Tapi pandang mata kekaguman
Kanulaga dan Pandira segera lenyap, begitu melihat orang terakhir yang masuk ke
dalam ruangan. Seorang pemuda berambut putih keperakan, berbaju ungu. Sebuah
guci arak terbuat dari perak, tersampir dipunggungnya.
Berbeda dengan Sudiraja. Kanulaga
dan Pandira tahu pergolakan yang terjadi di dunia persilatan. Mereka telah
mendengar berita yang menggemparkan tentang munculnya tokoh muda berilmu
tinggi, berjuluk Dewa Arak. Inikah tokoh yang menggemparkan itu? tanya mereka
dalam hati.
"Kau kenal gadis ini,
Kanulaga?" tanya Sudiraja pada putra sulungnya. Kepalanya ditolehkan ke
arah Nirmala. Sementara gadis berpakaian merah itu hanya
tersenyumgelidalamhati.
Laki-lakiberwajah keras itu
menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak
mengenalnya?!" tanya Sudiraja lagi setengah tidakpercaya.
'Tidak, Ayah," jawab
Kanulaga, setelah dipandanginya kembali gadis berpakaian merah itu lekat-lekat
"Ha ha ha...!"
laki-laki berperut terbahak-bahak. Tentu saja hal ini terheran-heran.gendut itu
tertawa membuat Kanulaga
"Dia adikmu, Kanulaga,"
jelas Sudiraja setelah rasa gelinya lenyap.
Kanulaga terlongong.
"Adikku?" tanya
laki-laki berwajah keras irii tak percaya. "Dia.. dia Nirmala...?"
Kanulaga agaknya masih belum mempercayaiucapan ayahnya.
"Benar," sahut
Sudiraja. Sementara Nirmala tidak dapat menahan perasaan geli melihat
kebingungan kakak sulungnya
"Anak nakaL..! Awas! Nanti
kujewer telingamu...!" gurau Kanulaga dengan hatigembira.
"Lalu kedua orang ini siapa,
Kang?" tanya Pandira sambil menatap Melatidan Dewa Arak.
"Mereka adalah
penolong-penolong Nirmala. Yang gadis bernama Melati. Dan pemuda ini bernama
Arya Buana," jelas Sudiraja seraya menepuk-nepuk bahu Arya.
"Ah..., Dewa Arak...!"
seru Kanulaga dan Pandira berbareng. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau
nama Dewa Arakyang sesungguhnya adalah Arya Buana.
"Sungguh tidak disangka,
pendekar yang tersohor sepertimu bisa sampai ke Kadipaten Palangka ini,"
desah Pandira setengah tidak percaya.
"Hanya kebetulan lewat.
Paman," sahut Dewa Arak merendah seraya menatap wajah laki-laki berkumis
lebat itu.
"Ayo, Nirmala. Ceritakan
pada Ayah dan semua yang ada di sini, pengalaman yang kau alami,"ucap
Sudiraja.
Nirmala pun menceritakan
semuanya. Mulai dari surat yang bisa sampai ke tangannya atas pertolongan Dewa
Arak dan Melati, hingga dirinya diselamatkan dari tangan orang-orang
Perkumpulan Kalajengking Merah.
"Aneh sekali...," desah
Pandira begitu Nirmala mengakhiri ceritanya. Sebagai seorang pengawal rahasia
Adipati, laki-laki berkumis lebat
ini dapat merasakan adanya hal-hal mencurigakan dalam kejadian yang dialami
Nirmala.
Semua mata kini tertuju pada
Pandira. Mereka menunggu kelanjutan ucapan yang akan disampaikan pengawal
rahasia AdipatiPalangka ini.
"Apa yang aneh, AdiPandira?"
tanya Sudiraja.
Laki-lakiberkumis lebat itu
menatap tajam wajah Sudiraja.
"Sepengetahuanku, yang mengetahui kalau Kakang mengirim
surat untuk memanggil Nirmala dan Jalatara hanya Kakang Sudiraja sendiri, aku,
dan Kanulaga. Lalu mengapa sampai diketahui orang Perkumpulan Kalajengking
Merah?" Ada nada kecurigaan dalam suara pengawal rahasia Adipati Palangka.
Sementara Dewa Arak hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Diam-diam dikaguminya
kecerdikan laki-lakiberkumis lebat ini.
Kanulaga menarik napas panjang.
"Memang, aku telah
menceritakan hal ini," ucap laki-laki berwajah keras pelan. Ada nada
penyesalan dalamsuaranya.
"Kau?l" Sudiraja
membelalakkan sepasang matanya. Sementara berpasang-pasang mata lainnya juga
tertuju pada putra sulung Sudiraja ini.
"Sudah kuduga...,"
sambut Pandira cepat "Pada siapa kau menceritakannya, Kanulaga?"
"Ki Toji”
"Ki Tojl?!" Sudiraja
mengerutkan alisnya. Sementara yang lain memandang pada laki-laki berperut
gendut Ini dengan sinar mata bingung.
"Siapa itu Ki Taji, Kang?"tanya
Pandira lagi.
"Kepala urusan dalam rumah
tangga. Tapi mungkinkah dia anggota gerombolan itu?" tanya Sudiraja
setengah tidak percaya.
"Kemungkinan itu bisa juga.
Kang. Bagaimana denganmu, Dewa Arak?" tanya Pandira sambil menoleh pada
Arya yang sejaktadihanya diam saja mendengarkan.
Kini semua mata tertuju pada Dewa
Arak Tanpa setahu mereka, sejak tadi pun sudah ada sepasang mata yang menatap
Dewa Arak secara sembunyi-sembunyi. Sepasang mata bening dan indah milik
Nirmala.
"Sejak pertama kali membaca
surat itu, sebenarnya aku sudah menduga adanya orang dalam rumah Ini yang
menjadi anggota gerombolan itu," jelas Dewa Arak. Nada bicaranya
hati-hati. Pemuda itu tidak ingin menyinggung perasaan orang-orang yang ada
diruangan ini.
Sudiraja mengerutkan keningnya.
"Sayang sekali, Jalatara
belum juga tiba. Kalau tidak masalah ini akan dapat diselesaikan sekarang,
" ucap laki-laki berperut gendut itu mengalihkan persoalan.
"Memangnya ada masalah apa,
Ayah?" tanya Nirmala yang sejaktadihanya berdiam dirisaja.
"Ayah ingin beristirahat dan
menyerahkan semua usaha Ayah pada kalian bertiga," sahut Sudiraja, seakan-akan
enggan untuk menjelaskan.
"Jangan-jangan utusan yang
membawa surat Itu juga tidak pernah sampai ke sana, Ayah," duga Kanulaga.
Sepasang
matanya kembali melirik ke arah
Melati. Gadis yang berwajah cantik luar biasa itu memang telah membuat hati
laki-laki berwajah keras Ini terpikat
"Mudah-mudahan saja
tidak," sahut laki-laki gendut itu mengharap.
"Tapi sudah dua hari utusan
itu berangkat, dan sampai sekarang belum Juga kembali,"bantah Kanulaga
lagi.
"Kita tunggu saja, Kanulaga.
O ya, mungkin dua penolongmu ini ingin beristirahat, Nirmala. Antarkan mereka
beristirahat Kau juga mungkin lelah. Beristirahatlah dulu."
"Hhh...!" Kanulaga
menghela napas panjang melihat ayahnya memutuskan begitu saja pembicaraannya.
Laki-laki berwajah keras inipun terpaksa diam.
"Baik, Ayah," sambut
gadis berpakaian merah itu cepat Kemudian diantarnya Dewa Arak dan Melati yang
mau tak mau terpaksa menurut, menuju ke tempat peristirahatannya. Kanulaga
menundukkan kepalanya. Tapi sepasang matanya sempat melirik ke arah Melati,
hingga bayangan gadis berpakaian serba putih lenyap dibalik pintu.
***
6
"Aunggg...!"
Suara lolong anjing hutan memecah
kesunyian malam. Rembulan di langit kini tidak bulat lagi. Malam bulan purnama
telah bedaki kemarin.
Dalam keremangan malam itu,
berkelebat dua sol sok bayangan memasuki hutan. Gerakan mereka cepat bukan
main. Sehingga yang terlihat hanyalah bayangan merah dan hitam.
Dua sosok bayangan itu terus
berlari. Sesekali keduanya menoleh ke belakang. Sepertinya mereka khawatir
kalau ada yang mengikuti.
Kedua bayangan itu terus saja
bergerak melewati jalan berliku-liku. Lari mereka baru diperlambat setelah
mendekati sebuah bangunan tua yang sudah tidak terawat lagi. Dan tepat di depan
bangunan itu, kedua bayangan tadi menghentikan larinya.
Dalam keremangan sinar bulan,
terlihat cukup jelas kedua bayangan itu. Yang seorang berpakaian serba hitam.
Di dadanya bergambar kalajengking merah. Wajahnya tidak nampak jelas, karena
tertutup selubung. Pada dahi selubungnya terdapat gambar kalajengking merah.
Sementara yang seorang lagi
adalah seorang kakek berkulit merah. Kakek berkulit merah ini mengenakan rompi
yang juga berwarna merah. Pada bagian dahi dan dadanya, terdapat gambar
kalajengking merah. Berbeda dengan rekannya, gambar kalajungking pada kakek
berkulit merah ini tertera pada kulitnya, bukan pada pakaian atau selubungnya.
Baru saja kedua orang ini
melangkah masuk, terdengar suara sapaan penuh hormat "Hormat kami untuk
Ketua...!" Sosokberselubung hitam yang di dahi selubungnya bergambar
kalajengking, menoleh ke arah asal suara. Rupanya orang ini adalah Ketua
Perkumpulan Kalajengking Merah.
Kini di hadapan Ketua Perkumpulan
Kalajengking Merah, telah berdiri dua sosok yang tengah menjura padanya Kedua
orang itu mengenakan seragam yang sama. Pakaian serba hitam yang di dadanya
bergambar kalajengking berwarna merah.
Yang membedakan kedua orang itu
adalah pada kedua selubung wajahnya Memang mereka sama-sama mengenakan selubung
hitam. Tapi pada dahi selubungnya, tertera gambar yang berlainan. Pada yang
seorang terdapat totol merah.
Sementara pada yang lain, bergambar
ekor kalajengking merah.
Memang, Perkumpulan Kalajengking
Merah mempunyai aturan tersendiri.
Tanda tingkatan seseorang dalam perkumpulan itu dapat diketahui dengan melihat
tanda pada dahi selubungnya Tanda kalajengking merah menunjukkan kalau orang
itu adalah sang ketua. Tanda ekor kalajengking, menunjukkan wakil ketua. Tanda
totol merah menunjukkan ketua kelompok. Sementara anggota biasa sama sekali
tidak mempunyaitanda.
"Bagaimana usaha kalian?
Berhasil?" tanya saiketua.
"Maafkan kami,
Ketua...," jawab kedua orang itu berbareng.
"Jadi, kalian gagal?!" sergah
Ketua Kalajengking Merah agak keras. Sementara merah itu hanya berdiam
dirisaja.
Perkumpulan kakek berkulit
"Benar, Ketua," jawab
kedua orang itu lagi. "Hhh...! Tolol...! Membunuh dua tikus kecil saja
tidak mampu?! Haruskah aku yang turun tangan sendiri?!" bentak sang ketua gusar.
"Kau...!" tunjuk sang
pemimpin pada orang yang di dahi selubungnya bergambar ekor kalajengking, Wakil
Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah.
"Ya, Ketua," sahut si selubung bergambar ekor
kalajengking cepat
"Jelaskan mengapa kau gagal?
Hanya membunuh orang seperti Kanulaga saja tidak becus?!" sang ketua
kembali membentak,
"Pemuda itu memiliki
kepandaian tinggi, Ketua. Yang membuatku tambah repot lagi Di situ ada
Pandira," Jawab si selubung bergambar ekor kalajengking. Kemudian
diceritakan kejadian yang dialaminya.
"Pandira? Apakah orang yang
selalu berpakaian serba hitam dan memiliki kumis lebat itu?" tanya sang
ketua. Nada keterkejutan jelas terlihat pada wajahnya.
"Benar, Ketua. Ketua
mengenalnya?" tanya si selubung bergambar ekor kalajengking.
Sang pemimpin itu
mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dia adalah salah seorang
pengawal rahasia Adipati Palangka."
"Ahhh...!" seru Wakil
Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah itu terkejut "Lalu, untukapa dia
disana, Ketua?"
"Adipati Palangka sudah
mencium adanya gerakan kita. Pada saat ini Adipati Palangka sudah menyebar
pengawal-pengawal rahasianya untuk menyelidiki perkumpulan kita. Sungguh tidak
kusangka kalau Pandira bisa sampai ke sana...,"desah sang ketua.
"Kalau menurutku, Sudiraja
telah bekerjasama dengan Pandira, Ketua,"ucap si wakil itu lagi.
"Mengapa kau bisa menduga
begitu?" tanya sang ketua.
"Sewaktu aku datang meminta
upeti, kulihat Sudiraja seperti sengaja mengulur-ulur waktu. Sepertinya ada
sesuatu yang ditunggunya. Kalau tidak mengingat pesan Ketua, sudah kubunuh
dia."
"Kau bertindak bodoh kalau
membunuhnya!" sergah sang ketua keras. "Kalau kau lakukan itu, sama
saja kau menghancurkan apa yang kita cita-citakan selama ini! Menguasai
Kadipaten Palangka! Dan kemudian merebut kerajaan!"
"Ada yang membuatku heran,
Ketua," ucap orang yang di dahinya bergambar ekor kalajengking lagi.
"Apa itu?"
"Mengapa Ketua tidak
membunuh adipati itu saja. Bukankah dengan kedudukan Ketua sekarang ini, tidak
sulit untuk membunuh adipati itu?
"Apa yang kau katakan itu
benar. Tapi, untuk apa membunuh adipati itu kalau akhirnya aku tidak bisa
menggantikan kedudukannya? Lagi pula raja tidak akan tinggal diam. Beliau pasti
akan mengirimkan pasukan besar untuk menghancurkan kita. Tapi yang jelas,
rencanaku hampir sampai di puncaknya. Sayang sekali kailan gagal membunuh
Kanulaga dan Nirmala Rencanaku terpaksa berubah!" ucap sang ketua jang
lebar.
Setelah berkata demikian, Ketua
Perkumpulan Kalajengking Merah ini terdiam. Sesaat lamanya di berbuat seperti
itu. Baru kemudian perhatiannya diarahkan pada si selubung totol merah.
"Kau..., mengapa gagal
membunuh Nirmala? Padahal dua belas anggota perkumpulan telah kuberikan untuk
membantumu?" tanya sang ketua meminta penjelasan.
"Maafkan aku, Ketua.
Sebetulnya kami sudah hampir berhasil membunuh gadis itu,"ucap siselubung
totol merah.
"Lalu, kenapa gagal?!"sergah
sang ketua keras.
"Ada orang yang menolongnya,
Ketua!" sahut si selubung totolmerah.
"Hm..., siapa
orangnya?!"tanya sang ketua agakterkejut
"Aku tidak mengenalnya, Ketua.
Tapi kepandaiannya tinggi sekali. Hanya dengan angin pukulannya saja, dia bisa
menewaskan empat anggota kita sekaligus. Mereka tewas seketika dengan tubuh
hangus."
Sang ketua terdiam mendengar
penjelasan si totol merah. Sementara kakekberkulit merah tercenung.
"Bagaimana ciri-ciri orang
sok jagoan Itu?" tanya sang ketua lagi.
Si selubung bertotol merah
terdiam sejenak. Rupa nya dia sedang berusaha mengingat-ingat wajah penolong
Nirmala.
"Nggg..., pemuda berambut
keperakan, berpakaian ungu. Dipunggungnya tergantung sebuah guciarak..."
"Dewa Arak...!" potong
kakek berkulit merah keras. Ada nada keterkejutan yang amat sangat pada
wajahnya.
"Dewa Arak...?!" sentak
sang ketua terkejut mendengar ucapan kakek kulit merah itu. "Benarkah
orang itu Dewa Arak yang menggemparkan itu, Guru?" tanyanya pada kakek
berkulit merah.
Kakek berkulit merah, yang
ternyata guru sang Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah itu menganggukkan
kepalanya.
"Kalau ciri-ciri yang
disebutnya benar, sudah pasti pemuda itu adalah Dewa Arak. Seorang pendekar
muda yang telah menggemparkan dunia persilatan beberapa bulan belakangan
ini,"jelas kakek kulit merah itu lebih jauh.
Sang ketua tercenung mendengar
penjelasan gurunya.
'Terpaksa rencana harus
kuubah," ucap sang ketua. Kemudian dlhampirinya kedua anak buahnya, dan
dibisikkan rencana barunya ke telinga mereka
"Mengerti?!" tanya
Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah setelah selesai membisikkan rencananya.
"Mengerti, Ketua!"sahut
kedua orang itu serempak "Bagus! Sekarang kalian boleh pergi!"
perintah sang ketua.
Tanpa menunggu diperintah dua
kali, dua orang Itu pun melesat pergi, setelah terlebih dahulu menjura pada
sang ketua dan kakek kulit merah.
Sepeninggal kedua anak buahnya,
sang ketua mengalihkan perhatian pada kakek berkulit merah.
"Untung Guru telah kembali
Bagaimana Guru, berhasilkah Guru mendapatkan racun itu?"tanya sang ketua.
Kakek bermuka merah itu tertawa
bergelak "Jangan panggil aku Kalajengking Merah kalau tidak mampu
mendapatkannya! Ha ha ha...," sahut kakek yang ternyata berjuluk
Kalajengking Merah itu sambil tertawa bergelak.
"Terima kasih atas semua
bantuan Guru," ucap sang Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah. Kalajengking Merah mengidapkan tangannya. "Tidak
usah berterima kasih. Kau adalah muridku, apalagi kau mempunyai cita-cita yang
begitu besar. Sudah merupakan kewajibanku sebagal gurumu untuk membantu
mewujudkan cita-citamu! Tambahan lagi kau telah mengharumkan namaku
dengan menggunakan nama Kalajengking Merah sebagai nama
perkumpulan rahasiamu! Tertawalah...! Tawa untukkeberhasilan kita!"
Setelah berkata demikian, kakek
berkulit merah ini tertawa bergelak. Sang Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah
pun ikut tertawa bergelak tawa mereka yang mengandung pengerahan tenaga dalam
tinggi, menggema dan membuat bangunan tua Itu bergetar hebat
***
Hari sudah agak siang, matahari
pun sudah naik agak tinggi. Pada siang yang terik ini tampak seekor kuda
melangkah pelan memasuki perbatasan Desa Rinji.
Penunggangnya adalah seorang pemuda berusia selatar dua puluh lima tahun. Pada
wajahnya yang tampan terhias sebaris kumis tipis. Pakaiannya serba hitam.
"Hooop...!"
Tali kekang kudanya ditarik,
tepat di depan pintu gerbang rumah termegah di desa itu. Dari kejauhan, rumah
itu sudah terlihat kalau dikelilingi pagar temboktinggi.
Kuda coklat putih yang
ditungganginya meringkik. Kedua kaki depannya pun diangkat tinggi-tinggi.
"Hup...!"
Dengan gerakan manis dan indah,
pemuda berkumis tipis itu melompat dari punggung kudanya. Ringan tanpa suara
kedua kakinya mendarat di tanah.
Kemudian dipegangnya tali kekang
kudanya. Lalu binatang tunggangan itu dituntunnya menghampiripintu gerbang.
"Aku Jalatara, putra Tuan
Sudiraja," ucap pemuda berkumis tipis itu ketika melihat dua orang penjaga
mencoba menghadang.
"Ah...I Maafkan kami. Den.
Silakan masuk. Keda tangan Aden memang sudah ditunggu-tunggu," ucap salah
seorang penjaga.
Tanpa bicara apa-apa, Jalatara
melangkah ke dalam. Kuda tunggangannya ditinggalkan di depan pintu gerbang.
Pandira yang tengah duduk di teras depan, langsung mengenali Jalatara.
"Jalatara...," desis
laki-laki berkumis lebat ini pelan seraya bangkit dari duduknya dan berjalan
menyambut kedatangan pemuda berkumis tipis itu. Dikenali betul siapa Jalatara,
salah seorang kepercayaan AdipatiPalangka.
"Ah...! Kakang Pandira...!
Rupanya kau berada di sini...! Sungguh tidak kusangka!" ucap Jalatara
kaget Mulutnya menyunggingkan senyum lebar.
"Kedatanganmu yang begitu
tiba-tiba ini membuatku terkejut, Jalatara. Ah, terpaksa kepulanganku kutunda
sejenak,"ucap pengawalrahasia AdipatiPalangka ini.
"Eh...?! Mengapa begitu,
Kang?" tanya Jalatara tidak mengerti.
"Yahhh...! Tugasku gagal,
Jala! Aku baru saja akan kembali ke kadipaten sambil membawa pesan dari
ayahmu," Jelas Pandira seraya menariknapas panjang.
"Pesan? Pesan apa,
Kang?" tanya Jalatara lagi. Wajahnya terlihat agaktegang.
"Agar kau segera pulang. Ada
urusan penting yang akan dibicarakan denganmu,"beritahu Pandira.
"Urusan penting? Urusan
penting apa, Kang" tanya pemuda berkumis tipis inidengan alis berkerut.
'Tanyalah pada ayahmu,"
sahut Pandira kalem. Baru saja Jalatara hendak meninggalkan tempat Itu,
Sudiraja telah keburu keluar dari dalam rumahnya. Rupanya percakapan kedua
orang itu terdengar olehnya, sehingga buru-buru dia berlari keluar.
Jalatara mengerutkan alisnya
begitu melihat banyak orang yang berjalan di belakang ayahnya. Tapi sesaat
kemudian dia menjadi gembira begitu mengetahui dua di antara mereka adalah
saudaranya.
"O ya, Jalatara,"ucap
Sudiraja tiba-tiba.
"Ada apa, Ayah?" tanya
pemuda berkumis tipis itu. Ditolehkan kepalanya menatap ayahnya.
"Apakah surat yang Ayah
kirimkan sudah kau terima?" tanya Sudiraja.
"Surat?!" tanya
Jalatara. Sepasang alisnya berkerut dalam. Jelas ada sesuatu yang
dipikirkannya.
"Ya! Surat!"sahut
Sudiraja menegaskan. "Kau terima?"
"Tidak!" sahut Jalatara
seraya menggelengkan kepalanya. "Kapan Ayah mengirimkannya?"
"Beberapa hari yang lalu.
Hhh...! Kukira kau datang kemari karena surat itu telah kau terima."
Kemudian Sudiraja menceritakan perjalanan surat yang dikirimkan untuk Nirmala.
"Tidak, Ayah. Aku sama
sekali tidak menerima sepucuk surat pun. Aku kemari karena rindu pada
Ayah."
Sudiraja tersenyum lebar.
"Kalau begitu, lupakan saja
persoalan itu! Sekarang mari kita rayakan berkumpulnya seluruh keluarga kita dengan
minum-minum!"teriak Sudiraja penuh ra aa gembira.
"Biarlah hari ini aku yang
menjadi pelayannya, Ayah," pinta Jalatara.
Tawa Sudiraja terhenti.
'Tidak, Jala! Kau baru saja tiba
dari perjalanan yang Jauh. Kau masih capek!" bantah laki-laki berperut gendut
Ini.
Pemuda berkumis tipis Itu
tersenyum.
'Tadi, memang aku lelah, Ayah.
Tapi setelah bertemu dengan Ayah, Kakang Kanulaga dan Adik Nir mala, rasa
lelahku langsung sirna. Percayalah, Ayah. Aku sudah tidak lelah lagi."
"Kalau begitu, terserah
kaulah...,"sahut Sudiraja mengalah.
Tanpa sepengetahuan mereka,
sesosok bayangan! merah berkelebat melompati pagar tembok rumah Sudiraja yang
tinggi Itu. Ringan tanpa suara kedua kakinya menjejak tanah. Lalu cepat
bayangan itu menyelinap di balik kerimbunan pohon.
Keluarga Sudiraja, Pandira, Dewa
Arak dan Melati memasuki ruang tengah. Sudiraja berjalan paling depan. Dengan
gembira laki-laki berperut gendut ini mengajak semuanya ke dalamruangan tengah
yang mewah dan megah.
Tiba-tiba Melati merandek kaget
Dia mendengar suara bisikan halus di telinganya. Suara Itu dikenalnya betul
Suara kekasihnya, Dewa Arak!
"Masukkan benda pemberian
Gusti Prabu Nalan da dalam minumanmu nanti, Melati...."
"Ada apa, Kak Melati?"
tanya Nirmala, begitu dilihatnya Melati menghentikan langkahnya. Nirmala dan
yang lain-lainnya memang tidak mendengar ucapan itu. Dengan kepandaian yang
dimilikinya, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk mengirimkan suara kepada orang
yang dikehendakinya.
"Tidakada apa-apa,
Mala,"sahut Melaticepat
Nirmala pun terdiam. Apalagi
setelah dilihatnya gadis berpakaian serba putih itu sudah kembali melangkah.
Tak diketahuinya kalau pikiran Melati berputar keras. Gadis itu memang telah
menceritakan pada Dewa Arak bahwa semenjak dia diangkat anak oleh Prabu
Nalanda, Raja Kerajaan Bojong Gading itu memberikan pusaka istana padanya.
Pusaka itu berbentuk bulat kecil, sebesar kelereng dan berwarna bening. Apabila
benda itu dimasukkan dalam minuman yang diduga mengandung racun, benda pusaka
itu akan berubah warna. Setelah racun Itu terserap habis oleh pusaka itu, maka
benda pusaka itu akan kembali ke warna asalnya.
Tak lama kemudian mereka pun
sudah tiba di ruang tengah yang mewah dan megah. Mereka duduk di bangku yang
mengelilingi sebuah meja marmer panjang. Sementara Jalatara sibuk menyiapkan
minuman.
Sudiraja adalah seorang kaya
raya, tidak aneh kalau dia memiliki persediaan arak yang berlimpah. Semua Itu
disimpannya dalam sebuah ruang khusus di sebelah ruangan tengah ini.
Pemuda berkumis tapis itu
mengambil satu di antara sekian banyak guci arak yang berjejer. Tanpa
sepengetauan siapa
pun, diambilnya sebuah bungkusan
dari balik lipatan ikat pinggangnya. Dibukanya bungkusan yang ternyata berisi
bubuk putih, kemudian dimasukkannya ke dalam guci arak itu. Setelah itu,
Jalatara kembali ke ruang tengah. Dituangkannya arakitu ke dalam gelas-gelas
indah yang berjejer diatas meja. Setelah selesai mengisi gelas-gelas yang
berada di meja, Jalatara pun dudukdi bangku yang masih kosong.
Sementara itu, diam-diam Melati
memasukkan benda bulat berang sebesar kelereng pemberian Prabu Nalanda, ke
dalam gelasnya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya gadis ini ketika melihat
benda bulat bening itu berubah warna.
Melati mengerutkan alisnya. Gadis
itu tahu kalau pusaka pemberian Prabu Nalanda itu tengah menghiisap racun yang
terkandung dalam minuman itu. Dan memang tak lama kemudian, warna benda itu
kembalisepertisemula. Bening.
Sudiraja mengangkat gelas
minumannya. "Mari kita rayakan peristiwa besar ini...!" ucap
laki-laki bertubuh gemuk itu. Kemudian didekatkan gelasnya itu ke mulutnya dan
diminumnya. Jalatara pun mengikuti, diteguknya araknya. Tapi ekor mata pemuda
itu melirik ke orang-orang di sekelilingnya. Pemuda itu mengerutkan alisnya
saat melihat Dewa Arak sama sekali belum menyentuh minumannya. Rupanya Arya
tahu kalau arak di gelasnya mengandung racun. Ketika Sudiraja mengangkat gelas
tadi, pemuda Ini sempat melihat benda pusaka Melatiberubah warna.
"Maaf, Tuan Sudiraja. Aku
sudah terbiasa minum melalui guci. Bagaimana kalau aku minum arak dalam guciku
saja?" pinta Dewa Arak.
Jantung Jalatara berdebar tegang.
Otaknya berputar keras. Sebelum ayahnya sempat menjawab pertanyaan Arya,
buru-buru dia mendahului. Cepat diambil guci arak yang sebagian isinya sudah
dibagi-bagikan.
Dewa Arak diam-diam memaki
kecerdikan pemuda berkumis tipis itu. Tapi, bukan Arya Buana namanya kalau
menghadapiorang seperti itu saja kehilangan akal.
"Sayang sekali, Kang
Jalatara. Aku sudah terbiasa minum arak dari guciku sendiri. Boleh aku tuang
arak dalam guci ini ke dalam guciku?"
"Silakan...! Silakan, Arya.
Jangankan hanya seguci. Seratus guci pun akan kuberikan kalau kau mau!"
Sudiraja yang menyahuti.
'Terima kasih, Tuan
Sudiraja."
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak segera menuangkan arak dalam guci itu ke dalam gucinya. Memang, guci arak
pemuda itu memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah mampu membuat
semua jenis racun jadi tawar. Maka, meskipun diketahuinya kalau minuman yang
disediakan Jalatara mengandung racun, Dewa Arak tetap berani meminumnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Terdengar suara tegukan ketika arak
itu memasuki tenggorokannya.
Lega hati Jalatara, ketika
dilihatnya semua yang ada di situ telah meminum arak yang disediakannya Dia
sendiri telah lebih dulu menelan obat penawar racun itu, sehingga berani
meminumnya.
Rupanya racun yang dicampurkan
dalam minuman Itu tergolong racun yang bereaksi cepat. Sudiraja adalah orang
pertama yang menerima akibatnya. "Ah..., kok kepalaku pusing...,"
desah laki-laki berperut gendut ini sambil memegangi kepalanya Suaranya
mengambang, seperti orang pilek.
Nirmala dan Kanulaga tidak
terkejut melihat kejadian yang dialami ayahnya. Dugaan mereka, hal Itu terjadi
karena usia ayah mereka yang sudah tua.
Baru ketika tubuh Sudiraja
limbung dan sudah pasti jatuh, keadaan menjadi gempar. Untunglah Kanulaga yang
duduk di sebelahnya, sigap menangkap tubuh ayahnya. Serentak mereka bangkit dariduduk
dan mendekatiSudiraja.
Tapi sebelum berhasil mendekat,
berturut-turut mereka memegang kepalanya yang tiba-tiba mendadak pusing. Melati
dan Dewa Arak tentu saja merupakan kekecualian. Melati bingung, tak tahu harus
berbuat apa. Diliriknya wajah Dewa Arak. Dan di saat Itulah, pendengarannya
menangkap suara bisikan halus "Berpura-puralah, Melati. Kita tunggu perkembangannya...."
Melati tidak membantah. Begitu
dilihat Arya memegangi kepalanya, gadis itu pun berpura-pura memegangi
kepalanya, bersikap seolah-olah terserang pusing.
"Arakitu
beracun...,"desah Arya sebelum roboh terguling.
"Ha ha ha...!"
Suara tawa berkepanjangan menyambut
ucapan Dewa Arak. Sebuah tawa kemenangan. Tawa yang berasal dari mulut
Jalatara.
***
7
Begitu melihat yang lain pingsan,
Dewa Arak dan Melati pun turut berpura-pura pingsan. Tidak sulit bagi dua orang
sakti ini untuk berbuat seperti itu Jangankan hanya berpura-pura pingsan,
berpura-pura mati pun mereka sanggup.
Baru ketika pendengaran mereka
menangkap suara keluhan lirih dari Kanulaga dan Pandira yang mulai sadar, Dewa
Arakdan Melati pun membuka matanya
Begitu mereka membuka mata,
tahu-tahu di hadapan mereka telah berdiri Jalatara, seorang kakek berkulit
merah dan belasan orang Perkumpulan Kalajengking Merah. Pada bagian dada
pakaian hitam yang dikenakan Jalatara terdapat gambar kalajengking merah.
Nirmala dan Sudiraja merupakan
orang terakhir tersadar dari pingsannya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya
laki-laki berperut gendut itu tatkala melihat putranya berdiri bersama-sama dengan
perkumpulan yang selama ini selalu memerasnya.
"Kau...?! Jalatara...?! Apa
maksudmu?! Mengapa kau melakukan semua ini?! Dan mengapa kau berhubungan dengan
orang-orang jahat seperti mereka!" seru Sudiraja sambil menunjuk belasan
orang Perkumpulan Kalajengking Merah.
Jalatara hanya tersenyumsinis.
"Berhubungan? Aku adalah
pemimpin mereka Akulah Ketua Perkumpulan Kalajengking Merah!"
"Kau?!" sentak Sudiraja
dan Pandira berbarengan. Berbeda dengan Sudiraja yang masih bingung, Pandira
nampaknya sudah mengerti. Dan hal ini membuatnya geram bukan main. Sayangnya
racun yang dicampur dalam minuman itu telah membuat sekujur tubuhnya lemas. Walaupun sudah dipusatkan seluruh pikirannya,
namun tetap saja tidak ada getaran tenaga dalam yang bergolak. Baik di bawah
pusarnya, maupun ke tangan dan kakinya. Tenaga dalamnya telah musnah!
"Rupanya kaulah pemimpin
mereka, Jalatara! Pantas, gerombolan itu sukar dibasmi!" ujar pengawal
rahasia Adipati Palangka ini.
"Dasar kalian saja semua
yang dungu!" sahut pemuda berkumis tipis itu kasar.
"Hanya satu yang kuherankan,
Jalatara! Mengapa kau tidak membunuh Gusti Adipati sejak dulu. Bukankah kau mempunyai
banyak kesempatan untuk membunuh beliau?" tanya Pandira tidak mengerti.
"Ha ha ha...! Pertanyaanmu
itu semakin membuktikan kebodohanmu, Pandira! Buat apa aku membunuhnya kalau
aku tidak dapat menggantikan kedudukannya? Saat itu kedudukanku masih terlalu rendah. Dan bila aku
membunuhnya, pastilah kau atau yang lainnya yang akan menjadi penggantinya. Aku
tidak sebodoh itu, Pandira!" sergah Jalatara sambil tersenyum mengejek.
"Lalu kenapa tidak kau rebut
saja Kadipaten Palangka dengan kekerasan?!"pancing pengawalrahasia adipati
ini.
"Kau kira aku ini bodoh,
Pandira?! Kalau aku merebut dengan kekerasan, pasukan kerajaan tidak akan
tinggal diam. Mereka pasti akan menghancurkanku. Dan aku tidak ingin hal itu
terjadi!"jawab Jalatara agaksengit.
"Lalu sekarang,
bagaimana?" Pandira kembal bertanya.
"Sekarang saatnya sudah
tiba. Kau tahu, Pandira, Cita-citaku tidak kecil! Aku tidak hanya ingin menjadi
adipati, tapi aku ingin menjadi raja! Kau dengar, Pandira? Raja! Dan untuk
mewujudkan cita-citaku, aku membutuhkan biaya besar untuk membentukpasukan yang
besar dan terlatih!"
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya, "Jadi, itukah sebabnya kau ingin menyingkirkan Nirmala dan
Kanulaga, Jalatara?"selakArya cepat.
"Ha ha ha...! Kau pintar,
Dewa Arak. Kau tidak sebodoh si kumis lebat Ini Dari Ki Taji, kudengar ayahku
mengirim utusan untuk memanggil Nirmala dan aku pulang, karena Kakang Kanulaga
telah terlebih dahulu pulang. Ayah ingin membagi-
bagi warisan. Aku tidak ingin
warisan ayah dibagi-bagi. Aku ingin semuanya. Jalan satu-satunya untuk
memperolehnya hanyalah dengan melenyapkan Kanulaga dan Nirmala! Tapi, sayang
anak buahku gagal. Terpaksalah aku yang harus turun tangan. Yahhh..., seperti
apa yang kalian rasakan sekarang ini!" jelas Jalatara panjang lebar.
Terdengar suara geram kemarahan
dari mulut Kanulaga. Laki-laki berwajah keras ini memang geram bukan main
mendengar semua keterangan adiknya.
Ingin rasanya dia melompat
menyerang, tapi apa dayanya. Sekujur tubuhnya lemah lunglai tak bertenaga.
Bahkan tenaga dalamnya pun lenyap. Tidak ada yang dapat dilakukannya kecuali
menggeramdan mengutuk.
"Jahanam kau,
Jalatara...!" desis Kanulaga tajam. Sinar matanya menyorotkan kemarahan
hebat. Tapi ucapan kemarahan kakaknya hanya ditanggapi Jalatara dengan tawa
terbahak-bahak. Sebuah tawa kemenangan.
"Kau yakin rencanamu akan
berhasil, Jalatara?" Pandira angkat suara.
'Tentu saja!" sentak pemuda
berkumis tipis itu keras. "Aku telah merencanakannya dengan matang. Guruku
telah mendapatkan racun yang dapat kumasukkan ke makanan atau minuman adipati.
Racun yang bekerja tanpa meninggalkan bekas, seolah-olah kematian adipati
adalah kematian yang wajar. Lagi pula guruku akan membantu menyingkirkan
orang-orang kepercayaan adipati sepertimu, Pandira. Dan dengan kedudukanku
sekarang, tidak sulit bagiku menjadi adipati. Dengan harta milik ayahku, akan
kubentuk pasukan yang besar dan terlatih untuk menyerbu kotaraja. Dan kemudian
aku akan menjadiraja! Ha ha ha...!"
"Sayang sekari, usahamu
tidak akan berhasil, Jalatara!" sergah Dewa Arak seraya bangkit dari
berbaringnya. Melati pun segera pula bangkit.
"Heh?l Kau...? Kau tidak
terkena racunku?" tanya Jalatara gagap.
"Untunglah aku sedikit
menaruh curiga padamu, Jalatara," sahut Arya kalem. Diangkatnya guci
araknya ke atas kepala, kemudian dituangkan ke mulutnya. Gluk.. gluk...
gluk...!
Terdengar suara tegukan ketika
arak itu memasuki kerongkongan Dewa Arak.
"Keparat..! Hiyaaa...!"
Sambil mengeluarkan suara
bentakan nyaring Jalatara melompat menyerbu. Kedua tangannya yang membentuk cakar
aneh, menyampok deras ke arah Dewa Arak. Yang kanan ke arah pelipis, sementara
yang kiri mengancam dagu. Daribawah ke atas.
Suara berciutan nyaring terdengar
sebelum serangan itu mencapai sasaran. Tapi Dewa Arak bersikap tenang. Dengan
penuh percaya diri, dipapaknya kedua serangan itu Kedua tangannya yang
membentuk jari-jari belalang bergerak aneh, sebelum akhirnya menangkis serangan
lawannya. Dewa Arak yang mengetahui keadaan yang tidak menguntungkan, tanpa
sungkan-sungkan segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Plak, plak...! "Ah...!"
Jalatara berseru kaget. Pemuda
berkumis tipis ini langsung terjengkang ke belakang. Sekujur tangannya
dirasakan ngilu bukan main. Dadanya pun terasa sesak bukan kepalang. Sedangkan
Dewa Arak hanya mundur satu langkah ke belakang. Tampak jelas kalau tenaga
dalam Arya berada jauh diatas lawannya.
"Kau urus yang lain,
Jalatara! Biar Dewa Arak bagianku!" seru kakek berkulit merah seraya
melompat ke depan Arya.
Kalajengking Merah tahu kalau
Jalatara bukan tandingan Dewa Arak.
"Sudah lama kudengar nama
besarmu. Dewa Arak. Dan sudah lama pula aku ingin menjajal kelihaianmu. Aku,
Kalajengking Merah ingin mengetahui sampai di mana kehebatanmu yang tersohor
itu!"
Setelah berkata demikian, kakek
berkulit merah itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya, seraya mengirimkan sebuah
kibasan kaki.
Wusss...!
Angin menderu keras mengawali
tibanya serangan itu. Tapi, dengan permainan jurus 'Delapan Langkah Belalang',
tidak sulit bagi Dewa Arak untuk memunahkan serangan itu. Dengan langkah terhuyung-huyung
yang menjadi khasnya, dielakkan serangan itu. Secepat kakinya melangkah,
secepat itu pula, Dewa Arak berbalik mengancam lawan. Arya kini telah berada
dibelakang lawannya.
"Hih...!"
Dewa Arak mengayunkan guci yang
tergenggam di tangannya ke kepala lawannya.
Tapi, Kalajengking Merah memang
seorang tokoh luar biasa. Cepat-cepat tubuhnya dirundukkan, sehingga serangan
itu lewat di atas punggungnya. Berbareng dengan itu, kaki kanannya menendang ke
belakang. Persis seperti tendangan kaki belakang seekor kuda.
"Eh...?!" pekik Dewa
Arak terkejut. Serangan seperti itu sungguh di luar dugaannya. Tapi berkat
keunikan jurus 'Delapan Langkah Belalang', serangan yang datang begitu tiba-tiba
itu masih dapat dielakkan-nya
Tak lama kemudian kedua tokoh
inipun sudah terlibat dalam sebuah pertempuran sengit
Jalatara memperhatikan sejenak
pertarunganan tara gurunya menghadapi Dewa Arak
"Bunuh mereka
semua...!" perintah pemuda ber kumis tipis ini kepada anak buahnya, seraya
menunjuk beberapa tubuh yang tergoleklemah tanpa daya.
Tanpa menunggu diperintah dua
kali, belasan orang Perkumpulan Kalajengking Merah itu bergerak menyerbu.
Tongkat merah berujung ekor kalajengking mereka, berkelebatan mengancam. Tapi sebelum balasan orang itu
berhasil melaksanakan perintah sang ketua, Melati telah menghadang.
Srattt..!
Tanpa sungkan-sungkan lagi gadis
berpakaian putih ini mencabut pedangnya. Disadari akan keadaan pihak lawan yang
lebih menguntungkan, seketika Itu juga segera dikeluarkan ilmu pedang
andalannya, 'Ilmu Pedang Seribu Naga'. Terdengar suara mengaung bagaikan seekor
naga yang tengah meraung murka,
begitu Melati menggerakkan pedangnya.
"Selubung ini sudah tidak
kuperlukan lagi!" ucap orang yang pada dahi selubungnya bergambar ekor
kalajengking, seraya mencabut selubungnya.
"Ah...! Kau... kau... Ki
Taji!"
Terdengar seruan-seruan kaget
dari mulut keluarga Sudiraja begitu melihat wajah dibalik selubung itu.
Wajah Ki Taji! Kepala urusan
dalam rumah tangga. Jadi, orang yang hendak membunuh Kanulaga, dan orang yang
selama Ini menerima upetidari Sudiraja adalah Ki Taji.
"Ya, aku! Kaget?" ejek
Ki Taji sambil tersenyum sinis. 'Tunggulah. Setelah kubereskan wanita liar ini.
Baru kalian akan kubereskan!"
Setelah berkata demikian, Wakil Ketua Perguruan Kalajengking Merah itu segera membabatkan tongkat
berujung ekor kalajengking ke leher Melati.
Wuttt..!
Tongkat itu lewat di atas kepala
Melati, begitu gadis itu merendahkan tubuhnya. Tidak sampai di situ saja yang
dilakukan Melati. Pada saat yang bersamaan, pedangnya menusuk cepat ke leher Ki
Taji. Suara menggerung dahsyat bagaikan seekor naga murka, mengiringi tibanya
serangan itu. Hebat bukan main 'Ilmu Pedang Seribu Naga' yang dimiliki gadis
itu.
Ki Taji terpekik kaget Serangan
itu datang begitu cepat Tak mungkin lagi Wakil Ketua Perkumpulan Kalajengking
Merah itu mengelak. Tapi sebelum ujung pedang Melati menembus tenggorokannya,
Jalatara melesat cepat, memapak pedang itu dengan tongkat berujung ekor
kalajengking yang sejak tadi digenggamnya
Tranggg...!
Bunga-bunga api memercik ke
udara, begitu kedua senjata itu beradu. Jalatara merasakan betapa sekujur
tangannya tergetar hebat Pemuda berkumis tipis ini kaget bukan main. Sungguh di
luar dugaannya kalau tenaga dalam yang dimiliki gadis berpakaian puuh Ini kuat
sekali! Semula Jalatara menduga kalau hanya Dewa Arak sajalah yang merupakan
lawan tangguh. Sungguh tidak diduganya kalau Melati pun merupakan lawan yang
amat berat baginya.
Jalatara tidak punya pilihan
lain. Pemuda ini tidak Ingin usahanya yang telah lama dirintisnya gagal total
Maka tanpa malu-malu lagi, anak buahnya diperintah kan mengepung Melati
"Serbu...!"
Tanpa diperintah dua kali,
belasan anak buahnya meluruk menyerang Melati, Sesaat kemudian hujan senjata
pun berkelebatan ke arah gadis berpakaian serba putih itu. Jalatara pun tidak
tinggal diam. Bersama Ki Taji, pemuda berkumis tipis ini ikut menyerbu.
Melati menggertakkan gigi. Dua
belas orang anak buah Perkumpulan Kalajengking Merah bukanlah lawan yang berat
baginya. Tapi Jalatara dan Ki Taji, merupakan lawan yang patut diperhitungkan.
Mau tak mau Melati terpaksa harus mengerahkan seluruh kemampuannya, bila ingin
selamat Sesaat kemudian d ruangan Itu telah terjadi pertempuran sengit.
Sementara itu pertarungan antara
Dewa Arak melawan Kalajengking Merah sudah bergeser jauh dari tempat semula.
Ruang tengah yang sebenarnya cukup luas, terasa sangat sempit bagi kedua orang
sakti itu. Lantai dan dinding ruangan telah banyak yang retak-retak, karena
setiap kali kedua tokoh itu melancarkan pukulan, dinding ruangan itu selalu
bergetar. Hal ini membuat kedua tokoh sakti Itu tidak leluasa untuk melancarkan
serangan. Khawatir bila bangunan itu roboh dan menimpa mereka.
Kini Dewa Arak dan Kalajengkingi
Merah telah berada di halaman. Semakin bertambah luas tempat pertarungan gerakan
mereka pun semakin leluasa.
Pertarungan antara kedua orang
yang sama-sama memiliki kepandaian amat tinggi ini berlangsung cepat. Dalam
hati, Dewa Arak memuji kelihaian lawannya. Kalajengking Merah memang memiliki
kepandaian luar biasai Baik tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuhnya tidak
berada di bawah Dewa Arak.
Dan yang lebih menyulitkan bagi
Dewa Arak, adalah keanehan ilmu yang dimainkan kakek berkulit merah itu. Ilmu
milik kakek berkulit merah itu mengingatkan Arya pada binatang kalajengking dan
kuda.
Sepasang tangannya yang membentuk
cakar aneh menyambar-nyambar penuh ancaman maut ke berbagai bagian tubuh Dewa
Arak. Tapi yang lebih berbahaya adalah kibasan kakinya. Kibasan kaki itu
mengingatkan Dewa Arak pada sabetan ekor kalajengking. Di samping itu, kaki
kakek berkulit merah itu pun dapat mementil seperti seekor kuda. Itulah
sebabnya, sepasang kaki kakek itu jauh lebih berbahaya daripada kedua
tangannya.
Serangan sepasang kaki si kakek
selalu datang tiba-tiba. Kalau saja Dewa Arak tidak mempunyai jurus 'Delapan
Langkah Belalang', sudah sejak tadi pemuda berambut putih keperakan iniroboh di
tangan Kalajengking Merah.
Setelah bertarung selama seratus
enam puluh jurus, Dewa Arak belum juga mampu mendesak kakek berkulit merah itu.
Kehebatan jurus 'Belalang Mabukpupus menghadapi sepasang kaki Kalajengking
Merah yang selalu datang tiba-tiba. Beberapa kali Dewa Alah hampir saja terkena
serangan kaki yang terkadang, mengibas dan sesekali mementil itu. Tapi berkat
keunikan Jurus 'Delapan Langkah Belalang’, Arya masih mampu mengelakkannya.
Dewa Arak tidak punya pilihan
lain lagi. Pemuda itu memutuskan untuk mengeluarkan Jurus yang jarang
digunakannya kalau tidak terpaksa sekali, Jurus 'Pukulan Belalang'!
"Haaattt..!"
Sambil mengeluarkan pekikan nyaring,
di jurus ke seratus delapan puluh tujuh, Kalajengking Merah mengibaskan kaki
kanannya sambil memutar tubuh. Dan seperti biasanya, serangan itu datang secara
tidak terduga-duga, sehingga membuat Dewa Arak kaget bukan main. Tapi berkat
keistimewaan jurus 'Delapan Langkah Belalang', Arya masih sanggup mengelakkan
serangan itu.
Cepat-cepat pemuda berambut putih
keperakan ini merunduk, sehingga kibasan itu lewat sejengkal di atas kepalanya.
Rambutnya sampai berkibaran akibat kerasnya tenaga dalamyang terkandung dalam
tendangan itu.
Tapi sungguh di luar dugaan Dewa
Arak kalau tiba-tiba saja kaki kiri Kalajengking Merah menendang ke arah
perutnya.
Bukkk...!
"Hugh...!"
Dewa Arak mengeluh tertahan.
Tendangan itu keras bukan main. Seketika itu juga tubuh pemuda itu terjengkang
beberapa tombak ke belakang. Rasa sesak yang amat sangat mendera Arya. Untung
saja Dewa Arak yang terkena tendangan itu, kalau orang lain pastitewas
seketika,
"He he he...!"
Kakek berkulit merah itu
terkekeh. Tanpa memberi kesempatan lagi, segera diserbunya Dewa Arak yang masih
terhuyung-huyung ke belakang. Kedua tangannya bagaikan dua buah capit
kalajengking menyambar ganas ke pelipis dan ubun-ubun Dewa Arak.
Mendadak saja, Arya menghentakkan
kedua tangannya ke depan. Dan angin keras berhawa panas menyengat menyambar,
memapaktubuh Kalajengking Merah yang tengah melunak ke arahnya.
Kakek berkulit merah ini terpekik
kaget. Serangan Itu datangnya begitu tiba-tiba. Apalagi tubuhnya tengah berada
di udara. Belum sempat guru Jalatara itu berbuat sesuatu, jurus 'Pukulan
Belalang' Dewa Arak, telak menghantamnya.
Bresss...! "Aaakh...!"
Kalajengking Merah menyayat, dan
jatuh melayang jauh diiringi teriakan beberapa tombak dari tempatnya
semula. Kakek berkulit merah ini
menggelepar-gelepar beberapa saat sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi.
Kalajengking Merah tewas dengan sekujur tubuh hangus.
"Uhk... uhk...!"
Dewa Arak terbatuk-batuk. Ada
cairan merah kental yang memercik dari mulutnya seiring suara batuknya. Arya
memang menderita luka dalam. Tendangan Kalajengking Merah yang mengenal
perutnya memang kuat luar biasa. Tapi pengerahan tenaga dalam akhir jurus
'Pukulan Belalang' itulah yang semakin memperparah luka dalamnya.
Meskipun terluka dalam, tapi
kekhawatiran Dewa Arak akan keselamatan Melati yang tengah dikeroyok, membuat
pemuda itu mengesampingkan luka dalam nya. Bergegas Arya melangkah ke dalam
ruang tengah yang luas dan megah itu.
Pemuda berambut putih keperakan
itu menghela napas lega. Dilihatnya Melati telah berhasil menguasai keadaan.
Dua belas orang Perkumpulan Kalajengking Merah telah
bergeletakan di lantai. Semuanya tewas. Kini yang dihadapi gadis berpakaian
putih itu tinggal Jalatara dan Ki Taji saja. Itu pun keduanya sudah terdesak
hebat Memang, Melati dengan 'Ilmu Pedang Seribu Naga'nya terlalu kuat bagi
kedua lawannya.
Hati Dewa Arak tenang melihat hal
ini. Kini pemuda berbaju ungu itu tidak perlu khawatir lagi akan keselamatan
Melati. Segera saja Arya duduk bersila. Tak lama kemudian Dewa Arak sudah
tenggelam dalam semadinya untuk mengatasi luka dalamnya yang cukup parah.
Sementara itu pertarungan antara
Melati dengan kedua orang pimpinan Perkumpulan Kalajengking Merah semakin
sengit.
"Hiyaaat..!" Cappp...!
"Aaakh...!"
Ki Taji menjerit memilukan ketika
pedang Melati menghunjamperutnya. berada
dalam posisiterlentang.
Wuttt..!
Jalatara tidak menyia-nyiakan
kesempatan itu Selagi pedang Melati masih tertancap di perut Ki Taji, dari
belakang dia melompat menerjang. Dan selagi tubuhnya berada di udara, senjatanya
disabetkan ke leher Melati.
Tidak ada jalan lain bagi Melati. Pegangan pada
pedangnya terpaksa
dilepaskan, sambil
menjatuhkan diri ke lantai. Melati terpaksa bergulingan sehingga kini
gadis ini
Babatan tongkat berujung ekor kalajengking
itu mengenai tempat kosong. Dan di saat itulah Melati menghentakkan kedua
tangannya yang membentuk cakar naga ke atas, ke arah tubuh Jalatara yang masih
berada di udara. Inilah jurus 'Naga Merah Membuang Mustika'.
Wusss...! Bresss..!
"Aaakh...!"
Jalatara menjerit memilukan.
Tubuhnya yang tengah berada di udara itu melambung kembali atas. Pukulan jarak
jauh Melati telak mengenai dadanya. Seketika itu juga sekujur tulang dadanya
remuk. Darah segar mengalir deras dari
mulut, hidung, dan telinga-nya.
Pemuda berkumis tipis ini tewas sebelum tubuhnya sempat mencapai tanah. Dengan
mengeluarkan suara berdebuk keras tubuh Jalatara jatuh ke lantai.
Sudiraja, Kanulaga, dan Nirmala
menatap mayat. Jalatara dengan perasaan yang sukar untuk dilukiskan. Ada perasaan
lega melihat pemuda itu mati. Tapi perasaan sedih, mendera lebih besar lagi.
Bagaimanapun juga, pemuda itu adalah keluarga mereka. Terlebih lagi Sudiraja!
Tanpa dapat ditahannya, sepasang mainnya merembang berkaca-kaca.
Dewa Arak dan Melari menghampiri.
Sudiraja sekeluarga dan Pandira yang kini sudah tidak terlalu lemah lagi.
Mereka kini sudah mampu bangkit dan dapat berbuat sebagaimana orang biasa
layaknya. Tapi, tetap saja tenaga dalam yang mereka miliki musnah.
"Sayang sekali, kami tidak
tahu bagaimana caranya memunahkan racun itu," keluh Dewa Arak penuh sesal
setelah menyelesaikan semadinya. Kini luka-luka dalamnya telah sembuh.
"Aku dapat memunahkannya,
Dewa Arak,"sahut Kanulaga. "Kau bisa?" tanya Arya ingin
memastikan.
"Ya! Guruku ahli pengobatan.
Racun ini bukan apa-apa bagiku," ucap laki-laki berwaja keras itu seperti
menyombongkan diri.
"Lalu, kenapa sejak tadi kau
diam saja?" tanya Dewa Arak menyalahkan.
'Tadi aku belum mampu bangkit....
Eh! Dewa Arak...!" panggil Kanulaga keras. Sebelum pemuda itu
menyelesaikan ucapannya, Dewa Arak melesat pergi dari situ diikuti oleh Melati.
Tapi Arya dan Melari sama sekali
tidak mempedulikan panggilan Kanulaga. Kedua pendekar muda ini sengaja
bergegas pergi, karena tidak
ingin menerima ucapan terima kasih dari orang yang ditolongnya. Lagi pula
urusannya telah selesai. Kanulaga, Sudiraja, Pandira, dan Nirmala, hanya dapat
teriongong melihat kepergian penolong mereka.
Sementara itu, nun jauh di sana
nampak dua sejoli tengah berjalan berdampingan. Seorang pemuda berambut putih
keperakan dan seorang gadis cantik berpakaian serba putih. Kedua orang itu
adalah Dewa Arak dan Melati yang terus mengembara memenuhi tugas sebagai
pendekar pembela kebenaran
SELESAI
No comments:
Post a Comment